Data Loading...

17 to 30 by Baeklogy Flipbook PDF

Mereka pergi berkemah hari itu. Chanyeol dan Baekhyun yang musuh bebuyutan selalu dipersatukan di dalam tim yang sama. S


252 Views
96 Downloads
FLIP PDF 1.55MB

DOWNLOAD FLIP

REPORT DMCA

DILARANG MENYEBARLUASKAN FILE NOVEL ‘17to30’ TANPA SEPENGETAHUAN AUTHORNYA. DILARANG MENGCOPY-PASTE ISI CERITA. JADILAH ORANG JUJUR, KARENA ORANG YANG SUKA BERBOHONG AKAN MASUK NERAKA JAHANAM.

17 to 30

2

Baeklogy

17 to 30 Penulis

: Baeklogy

Desain Cover : Rei Design Studio / IG @rei_designstudio Editor

: Aybaekxing

Layout

: Aybaekxing

Cetakan Pertama Desember, 2020 I, 253; 14 x 21 cm

ABX Creativity Email

: [email protected]

Website

: abxcreativity.blogspot.com

@Abxcreativity @Aybaekxing

3

17 to 30

17 to 30 4

Baeklogy

Special thanks.....

T

erimakasih untuk semua pihak yang sudah mendukung penerbitan karya saya kedalam bentuk buku. Terimakasih pada pihak penerbit, editor, serta para pembaca yang tetap setia mendukung karya saya dengan membeli buku karya saya ini. Semoga dengan membaca buku ini, dapat setidaknya mengurangi penat dalam hidup. Semoga dengan membaca buku ini, kita semua bisa tetap percaya bahwa cinta sejati itu ada. Untuk kalian yang sudah membuat mimpi kecil seorang BAEKLOGY tidak lagi hanya sebatas angan semata, saya tahu kata terimakasih saja tidak akan cukup. Seorang penulis tanpa pembaca, bagaikan makam tanpa nisan. Ada, tetapi tidak akan menjadi apa-apa. Tidak akan bisa dikenali maupun dikenang. Begitupun seorang BAEKLOGY. Tanpa kalian, saya tetap ada, tetapi saya bukanlah siapa-siapa. Salam hangat,

Baeklogy 5

17 to 30

17 to 30 Bagian 01 "Hoi, Pendek!" Langkah kaki ramping itu terhenti ketika seseorang dari arah belakang dengan semena-mena mengubah namanya. Dia mengulum bibir bawahnya. Mata itu menutup sejenak sembari menghela nafas beberapa kali; menahan agar amarahnya tak meledak saat itu juga. Tubuhnya sedikit memutar untuk melihat sosok menyebalkan yang mengejeknya itu. Seperti yang sudah diperkirakannya, lagi-lagi orang yang sama. "Aku akan membunuhmu jika kau memanggilku seperti itu," geramnya seraya menggertakkan giginya. Pria menyebalkan itu mendekat, lalu berdiri di hadapannya. "Lalu aku harus memanggilmu seperti apa?" "Oh, God! Aku punya nama, Park Chanyeol!" ujarnya menahan rasa kesal setengah mati. "Tidak seru apabila memanggilmu dengan nama aslimu, Pendek. Tidak ada adrenalinnya." "Park Chanyeol, astaga! Kau memang ingin kupukuli, ya?" Pria yang lebih pendek dari sosok 6

Baeklogy

ParkㅡPenggangguㅡChanyeol tangannya di udara.

itu

melayangkan

"Tentu saja tidak, kau saja yang memang cocok menjadi bahan hinaan." Mata sabit itu membeliak setelah mendengar pernyataan Chanyeol. Rahangnya mengeras menahan rasa marah, tetapi lagi-lagi dia harus menahan emosinya karena dia tidak mau orang tuanya datang ke sekolah hanya gara-gara memukuli anak orang. "Dasar orang gila! Minggir!" Byun Baekhyun. Pria dengan mata sabit yang menawan itu bergerak maju dan menabrakkan lengannya ke tubuh Chanyeol hingga pemilik tubuh besar itu limbung sesaat. Karena ikut kesal, Chanyeol semakin menjadi. "Byun Baekhyun pendek, jelek, rambutnya bau, tidak pernah mandi! Wlee!" Baekhyun mengepalkan kedua tangannya seerat mungkin. "Park Chanyeol seperti raksasa, telinganya lebar, lubang hidungnya besar, bulu hidungnya panjang, matanya seperti bola ping-pong!" Mata bulat Chanyeol membesar sempurna ketika Baekhyun membalas seluruh perkataannya. "APA?!" "Kau tidak bisa mendengarnya, Park Chanyeol? Apa telinga lebar dan panjangmu itu dipenuhi 7

17 to 30

kotoran? HAHAHA!" Tawa memenuhi koridor kelas tiga.

meriah

Baekhyun

Tidak lama kemudian, terjadilah aksi kejarmengejar, lalu dilanjutkan lagi dengan aksi memiting leher satu sama lain. -o0oBaekhyun tidak bisa mengalihkan sorotnya dari Chanyeol yang kini sudah berada di kursinya. Mereka musuh bebuyutan dari awal, tetapi guru mereka selalu menyatukan keduanya dalam kelas yang sama. Bukan hanya itu, mereka juga selalu menjadikan Chanyeol dan Baekhyun teman sebangku. "Apa aku terlalu tampan hingga kau tidak bisa melepas tatapanmu dariku? Bukan apa, aku takut saja kau jatuh cinta kepadaku," Chanyeol meracau sambil menyisipkan seluruh rasa percaya dirinya dalam setiap celah kata-katanya. Baekhyun melempar telak wajah muaknya ke arah Chanyeol yang sedang tersenyumㅡsokㅡmenawan. "Bangunlah, Raksasa Sialan! Jangan bermimpi di siang bolong! Aku tidak mungkin jatuh cinta dengan pria yang punya bulu hidung panjang sepertimu," cerca si mungil itu tanpa ampun. Chanyeol mengeraskan rahangnya; geram dengan hinaan yang dilontarkan musuh sebangkunya itu. Namun, sebelum si raksasa membalas hinaan si pendek, beberapa pengurus OSIS masuk ke kelas dan menginterupsinya.

8

Baeklogy

"Minggu ini kita ada kegiatan untuk kelas dua belas. Tenang saja, kegiatan ini untuk menjernihkan pikiran kalian sebelum kalian menghadapi Ujian yang akan diadakan dua bulan lagi." Seluruh siswa di sana riuh; mereka sibuk menerka kegiatan apa yang dimaksud. "Kegiatan ini akan kita lakukan di hutan. Kita akan berkemah! Bagaimana? Setuju?" Suasana kelas semakin ramai dengan sorak-sorai gembira siswa. "Setujuuu!" Mereka secara serentak menjawab pertanyaan pengurus OSIS itu dengan kata yang serupa. Tak terkecuali Baekhyun yang malah sedang tepuk tangan tidak jelas. Melihat kehebohan yang diciptakan pria mungil itu, Chanyeol juga ikutㅡpurapuraㅡantusias sambil mendorong lengan Baekhyun berkali-kali sampai si mungil itu jatuh dari kursinya. "PARK CHANYEOL!" Seluruh teman mereka yang tadinya gaduh menjadi diam akibat teriakan sadis nan memekakkan telinga dari pria bermarga Byun itu. "Sudahlah, jangan hiraukan mereka. Mengurusi Chanyeol dan Baekhyun yang sedang bertengkar itu tidak ada gunanya," celetuk Pak Kim yang sudah terbiasa. "Silakan, lanjutkan." Pak Kim mempersilakan pengurus OSIS kembali menyampaikan pengumuman mereka.

9

17 to 30

"Kalau begitu, persiapkan diri kalian, jangan lupa izin terlebih dahulu kepada orang tua kalian agar mereka tidak khawatir, ya! Sekian yang dapat kami sampaikan, terima kasih." Kelas yang sempat diam itu membuat kegaduhan lagi, begitu pula dengan Chanyeol yang sibuk mencela Baekhyun yang dari tadi menggosok bokongnya. "Diam kau, Bodoh!" seru Baekhyun penuh tekanan di setiap katanya karena indra pendengarannya tak berhenti menangkap tawa dari Chanyeol. "Dasar pemarah! Sakit, ya? Utututu," tanya Chanyeol dengan wajah mengejeknya menciptakan guratan kesal di dahi Baekhyun. "Diam atau kujahit mulutmu!" sambar Baekhyun semakin kesal saja. Setelah bokongnya puas mencium lantai, si mungil itu kembali bangkit dan mendekati Chanyeol. "Utututu, si pendek ini bisa menjahit rupanya, eung? Sebentar, sebentar, coba kulihat bokongmu dulu, siapa tahu robek juga?" Chanyeol melayangkan tangannya ke bongkahan montok itu, kemudian meremasnya sekilas membuat mata sabit itu membeliak. Setelah melakukan itu, Chanyeol segera beranjak sebelum wajah tampannya babak belur karena kebrutalan seorang Byun Baekhyun yang murka.

10

Baeklogy

"Kau selalu menguji kesabaranku, Orang Gila! Kemarilah, kubuat kau mencium aroma neraka jahanam setelah ini!" "Coba saja kalau bisa, wlee!" Pak Kim yang sedang memerhatikan keduanya tak bisa berkata-kata lagi. Mau memperingati juga tidak akan mudah. Ya, sudah, dia memilih untuk melihat saja drama yang berakhir dengan Baekhyun menarik-narik seragam Chanyeol secara brutal, kemudian menjambak rambut pria itu tanpa ampun. "Kemari kau, Bajingan! Berani-beraninya kau meletakkan tangan kotormu di sana?!" "Kotor? Bukannya bokongmu juga kotor karena mengeluarkan kotoran juga? Malah masih bersih tanganku daripada bokongmu! ARKH!" Baekhyun menarik rambut Chanyeol hingga mata pria itu menatap langit-langit kelas. "Sebaiknya kau menutup mulutmu sebelum aku menyumpalnya dengan kotoran!" Remasan jari Baekhyun di rambut Chanyeol semakin mengerat. Mau tidak mau, Chanyeol menyerah sebelum dia mengalami kebotakan dini. "Baiklah, baiklah, aku akan diam!" Baekhyun melemaskan jemarinya dan membiarkan Chanyeol lolos. Namun, bukan Chanyeol kalau dia tidak berulah lagi. "Bokong Byun Baekhyun banyak kotorannya!" 11

17 to 30

Awalnya, Chanyeol ingin kabur lagi, tetapi tangan gesit Baekhyun melesat begitu saja dan menjambak rambut pria itu lagi. "AKH! SAKIT!" "Sakit, eung? Rasakan itu, Bajingan!" seru Baekhyun seraya meniru nada suara mengejek Chanyeol. Pak Kim menggelengkan kepalanya melihat kejadian itu. Hiburan tersendiri juga baginya. "Dasar anak-anak!"

12

Baeklogy

17 to 30 Bagian 02 Pagi buta yang dingin dan berembun di mana kebanyakan orang masih bergelung selimut dan menjelajahi mimpi mereka ini digunakan oleh murid kelas dua belas dari salah satu SMA elite di Seoul untuk berkumpul di halaman sekolah seraya menunggu aba-aba para wali kelas mereka. Sementara itu, di luar pagar sekolah, berbaris bus-bus yang akan membawa mereka ke tempat perkemahan. Kini Pak Kim selaku wali kelas 3-1 berdiri di depan barisan para muridnya dan memberikan instruksi. "Baiklah, Anak-anak, dengarkan perkataan Bapak! Di dalam sana bisa memuat empat puluh siswa, semua akan kebagian kursi, jadi jangan berdesakan, ya?" "SIAP, PAK!" sahut Baekhyun yang terlihat sangat bersemangat di barisan paling depan. "Sial, apa kau berniat menulikan pendengaranku, Pendek?!" sela pria yang berdiri di sampingnya itu seraya mengorek telinganya dengan jari kelingking.

13

17 to 30

"Salah kau sendiri berada di barisan paling depan! Lihat betapa tingginya dirimu, Park Chanyeol! Apa kau tidak sadar diri?" "Kenapa memangnya dengan tinggiku? Iri, ya?" goda Chanyeol sembari menyeringai. Mendengar itu, Baekhyun mendelik kegelian. "Orang Gila, kau tidak melihat yang lain tidak bisa melihat Pak Kim di depan karena terhalang punggungmu yang selebar tembok itu?!" Pernyataan Baekhyun kemudian disahuti keluhan dari semua teman sekelasnya membuat Chanyeol sedikit gentar dan Baekhyun diam-diam tersenyum menang. "Kalian berisik sekali! Aku hanya ingin merasakan apa yang dilihat orang-orang pendek seperti Baekhyun di depan barisan!" Baekhyun merasakan darahnya mulai mendidih dan sebentar lagi mungkin bisa meledak di kepalanya. Akan tetapi, sebelum semua terjadi, Pak Kim sudah terlebih dahulu menghentikan pertikaian yang terjadi sebelum semuanya terlambat. "Astaga, ini masih pagi buta dan kalian sudah bertengkar karena hal sepele seperti anak kecil, apa tidak malu?" tegur Pak Kim yang tak mau pagi cerahnya ini dimulai dengan peperangan antara Chanyeol dan Baekhyun. Keduanya pun akhirnya menghentikan duel mereka. Pak Kim masih memerhatikan keduanya dengan saksama.

14

Baeklogy

"Kalian pernah dengar? Mereka yang saling bermusuhan seperti ini malah bisa saling mencintai dan tidak bisa melepaskan satu sama lain di kemudian hari." Chanyeol dan Baekhyun sontak saja saling bertukar pandangan horor, kemudian memindahkan bidikan tatapan mereka ke arah Pak Kim yang tengah tersenyum tidak jelas. "Pak, apa aku tidak salah dengar? Aku mencintai dia dan tidak bisa melepaskannya? Wah, lebih baik aku menari di tengah jalan sambil telanjang daripada mengalami hal itu," kata Baekhyun bergidik ngeri saat membayangkan omongan dari Pak Kim. Kali ini Chanyeol kesal mendengar ucapan Baekhyun. "Memangnya kenapa denganku? Aku tampan, kaya, baik hati, banyak yang menyukaiku. Kenapa kau malah lebih memilih bertelanjang di jalan daripada mencintaiku? Harga dirimu hanya sampai di situ saja?!" Dan, sekarang Baekhyun yang tidak terima. "Apa kau bilang?! Aku berkata seperti itu karena hal menggelikan tersebut tidak akan pernah terjadi dalam hidupku, kau harus tahu itu!" Pak Kim menahan tawanya tatkala melihat tingkah ajaib kedua muridnya yang sedang cekcok mulut tersebut. "Baiklah, Chanyeol, Baekhyun, kalian bisa tunda kisah percintaan kalian terlebih dahulu. Sekarang kita akan masuk ke dalam bis sambil berbaris. Ayo, yang barisan paling belakang jalan lebih dulu. Letakkan 15

17 to 30

barang berat di bagasi bus dan yang ringan dibawa ke dalam bus saja." Para murid 3-1 mematuhi instruksi itu dan satu per satu murid masuk, lalu duduk di kursi yang mereka mau. Sampai akhirnya Baekhyun sadar kalau dia murid dari kelasnya yang terakhir masuk ke dalam bus. "Sial, kalau tahu begini aku akan berdiri di barisan paling belakang tadi!" Baekhyun menapaki tangga bus dengan gontai seraya membawa tas bekal dan bantal leher bermotif stroberinya. Seperti yang dipikirkannya, semua kursi bus sudah penuh dan hanya menyisakan satu di sayap kiri, itu pun bukan di sebelah jendela yang merupakan tempat kesukaannya. Baekhyun segera mengisi kekosongan di kursi tersebut. Akan tetapi, saat dia akan mengajak berbicara seseorang yang ada di sebelahnya, tiba-tiba niat itu sirna seketika tatkala menemukan wajah menyebalkan musuh bebuyutannya tengah tersenyum seraya menatap ke arahnya. "Chanyeol?" "Oh, Baekhyun? Tumben sekali kau mau duduk di sebelahku," kata Chanyeol yang terlihat--pura-pura-terkejut dan itu membuat kekesalan Baekhyun hampir memuncak. "Kau tidak lihat? Tidak ada lagi kursi yang kosong selain di sini, jadi dengan sangat terpaksa aku duduk di sini."

16

Baeklogy

Chanyeol menganggukan kepalanya. "Oh, begitu, kukira kau memang sengaja ingin dekat dengan pria tampan sepertiku." Baekhyun hampir saja menjatuhkan rahangnya sesaat setelah mendengar ucapan Chanyeol yang kelewat percaya diri tadi. "Tampan? Hahaha, yang benar saja?! Jika kau ingin dibilang tampan, maka buatlah visualmu sepertiku." "PFFFT!" Chanyeol menahan air liurnya yang hampir tersembur dari mulutnya. "Apa yang kau lakukan? Jorok sekali!" cemooh Baekhyun sedikit membuat jarak di antara mereka. "Hm, visualmu memang tidak buruk, tetapi tetap saja tidak bisa melawan visualku yang terlalu tampan ini," kata Chanyeol mengoreksi kata-kata Baekhyun. "Apa kau bilang?!" "Biar kulihat lagi." Chanyeol mencengkeram pelan rahang Baekhyun hingga membuat bibir tipis itu mengerucut. "Kupikir, kau lebih cocok untuk kata cantik daripada tampan," komentar Chanyeol seraya menatap lekat tiap jengkal dari wajah mulus Baekhyun. Dahi Baekhyun mengernyit tak suka, lalu dia tiba-tiba memukul lengan Chanyeol sehingga lepas pula cengkeraman tangan itu dari rahangnya.

17

17 to 30

"Sakit, Bodoh!" omel Chanyeol sambil mengelus lengannya yang tadi dipukul. "Lagi pula aku tidak menyuruhmu untuk mengomentari ketampanan wajahku," cicit Baekhyun yang hanya ditanggapan dengan ringisan Chanyeol. Baekhyun melirik ke arah kursi Chanyeol. Dia sangat ingin duduk di sana dan merasakan euforia menyenangkan ketika bus mulai jalan nantinya. "Chanyeol," panggil Baekhyun menyenggol Chanyeol dengan sikunya.

seraya

Chanyeol tidak menanggapi panggilan itu. Dia lebih memilih untuk sibuk sendiri daripada meladeni Baekhyun yang pasti ada maunya sekarang. "Chanyeol! Chanyeol! Chanyeol! Chanyeol!" Baekhyun tidak akan menyerah sebelum pria itu melihat ke arahnya. Chanyeol masih belum mau menolehkan kepalanya sehingga membuat bibir Baekhyun mengerucut beberapa senti. "PARK CHANYEOL!" "Chanyeol, bisakah kau menuruti saja keinginannya? Aku tidak bisa tidur kalau mendengar suaranya terus." Setelah mendengar ucapan salah satu teman kelasnya yang duduk di samping kursi mereka itu pun, akhirnya Chanyeol menoleh ke arah Baekhyun dan bertanya kenapa pada si mungil itu.

18

Baeklogy

"Bolehkan aku duduk di tempat dudukmu? Aku sering mabuk darat kalau naik bus?" tanya Baekhyun sedikit memelas. "Tidak mau," jawab Chanyeol, lalu memeletkan lidahnya. Sementara itu, Baekhyun tengah menahan emosinya untuk tidak menjambak rambut Chanyeol saat ini. Chanyeol menoleh ke arah luar jendela dan menutup matanya; dia tidak memedulikan lagi ocehan yang dilontarkan oleh si mungil itu. "Chanyeol!" pekik Baekhyun yang langsung mendapatkan protes dari teman-temannya yang lain. Alhasil, dia hanya bisa diam dan mengomel. "Baiklah, Anak-anak. Perjalanan kita akan menempuh waktu empat jam, jadi jika ada yang ingin tidur, tidur saja dulu, ya." Dengan perasaan yang kesal, Baekhyun mengambil masker di tasnya, kemudian membenarkan posisi bantal lehernya. Lebih baik dia tidur daripada makan hati. -o0oBaekhyun mengernyitkan dahinya, dia tidak merasakan gerakan pada bus lagi. Mata pria pendek itu mengitari sekitarnya, sudah sepi. Namun, yang lebih aneh lagi adalah bantalan kepalanya sungguh empuk. Baekhyun kembali ke posisi normal dan melihat apa yang dijadikannya bantalan selama dia tidur tadi. Itu adalah ... bahu lebar Chanyeol. 19

17 to 30

"Chanyeol!" Baekhyun menggoyang tubuh besar itu sampai akhirnya pemilik tubuh tersebut terbangun. "Kenapa, Pendek? Ini baru dua jam perjalanan," kata Chanyeol dengan suara seraknya sembari melihat arlojinya. "Tapi mereka semua sudah menghilang," sahut Baekhyun seraya menunjuk ke kursi-kursi bus yang kosong. "Tentu saja, karena ini adalah tempat perhentian bus, Pendek." "Perhentian bus?" "Iya, kalau kau ingin makan atau membeli sesuatu untuk mengisi perutmu, kau bisa turun." "Ahh!" Baekhyun mengangguk. Chanyeol melirik Baekhyun dengan setengah mengantuknya, "Kau tidak turun?"

mata

"Ibuku sudah menyiapkan bekal untukku." Baekhyun mengambil tas di bagasi atas dan mengeluarkan kotak makan siang. "Kau mau?" tawar Baekhyun kepada pria di sampingnya itu. "Tidak, terima kasih." Baekhyun mengomel, "Ya sudah, aku, kan, hanya berbasa-basi saja, siapa juga yang mau memberimu." "Ya sudah." "Ya sudah." 20

Baeklogy

Baekhyun membuka kotak makan siangnya dan menghabiskan seluruh isinya, setelah itu dia kembali menyimpan kotak makan siang itu ke dalam tas. "Pantas saja badanmu seperti itu, nasi sebanyak itu saja langsung kau habiskan, Pendek," komentar Chanyeol dengan mata yang masih tertutup. "Berisik, jangan mengomentari tubuhku! Urus saja dirimu!" sahut Baekhyun judes. "Oh ya, katamu kau sering mabuk darat, nyatanya tidurmu tenang-tenang saja?" kata.

Baekhyun terdiam seolah-olah kehilangan kata"Kau berbohong, kan?"

"Siapa juga yang berbohong, aku memang mabuk darat, tetapi jika aku tidur, aku tidak akan mabuk," kata Baekhyun mencoba beralibi. "Jangan berbohong padaku." Chanyeol tentu saja tidak percaya dengan apa yang dikatakan Baekhyun, karena saat dia melihat wajah damai Baekhyun ketika tidur tadi benar-benar bukan seperti orang yang sering mabuk darat. "Terserahmu saja." "Intinya, kau bohong soal mabuk darat." Chanyeol membuat kesimpulan bulat dan memosisikan dirinya lagi untuk tidur. Mata Baekhyun berputar malas. "Raksasa, aku mau duduk di tempat dudukmu. Boleh, ya?" pinta Baekhyun sembari menggoyangkan 21

17 to 30

lengan Chanyeol, kali ini dia merangkul lengan yang besarnya dua kali lebih besar dari lengannya itu dengan sangat erat sampai menyentuh dadanya. "Tidak!" jawab Chanyeol mutlak, tidak bisa diganggu gugat. "Mengalah sedikit padaku, hm?" Baekhyun berusaha membuat Chanyeol bertemu pandang dengannya, tetapi tampaknya Chanyeol semakin mengalihkan wajahnya dan masa bodoh dengan pria di sampingnya itu. "Tidak!" Karena kesal, Baekhyun menghempaskan rangkulannya dengan kuat sampai membuat Chanyeol meringis. Chanyeol sedikit melirik pria pendek itu dengan ekor matanya, dia bisa melihat Baekhyun yang kesal sedang mengerucutkan bibir mungilnya sembari mengomel tidak jelas. "Sebentar, kau mau duduk di tempat dudukku, bukan?" Baekhyun yang sibuk mengomel pun terhenti dan digantikan oleh wajahnya yang kelewat antusias. “Kalau begitu cium dulu tanganku,” kata Chanyeol santai karena Baekhyun tentu saja tidak akan melakukan hal itu karena akan menyakiti harga dirinya. Namun, ternyata Baekhyun mengikuti perintah Chanyeol, kemudian mencium punggung tangannya. “Ayo, cepat pindah!” “Belum, aku masih ada permintaan lain.” Baekhyun menghela napasnya. 22

Baeklogy

"Cium dulu di sini," sahut Chanyeol sembari menunjuk pipi kanannya, tidak lupa seringainya. Chanyeol yakin sekali kalau Baekhyun tidak akan mau melakukannya kali ini. Tetapi .... CHUP! Chanyeol terdiam, Baekhyun mencium pipinya sungguhan. Pria dengan tinggi di atas rata-rata itu tidak berkedip sama sekali, bahkan dia menahan napasnya untuk beberapa detik. "Sudahkan? Sana pindah!" Baekhyun menarik tangan Chanyeol dan yang ditarik mengikuti instruksi dari Baekhyun. Dengan tawa kecilnya, Baekhyun menduduki tempat duduk yang sebelumnya diisi oleh Chanyeol. Chanyeol memegang pipi kanannya, untuk pertama kalinya dia dicium oleh laki-laki, dan entah mengapa reaksinya malah seperti ini. Chanyeol menoleh ke arah tersangka yang menciumnya itu dan dilihatnya Baekhyun sedang menatap ke luar jendela seraya tersenyum manis dan terus mengatakan, “Woah, pemandangan dari bus memang berbeda rasanya!” Ya, Baekhyun mungkin sudah sering mencium orang makanya pria pendek itu sama sekali tidak masalah ketika disuruh menciumnya. -o0oSelama perjalanan, Baekhyun tidak lagi tidur, dia menikmati pemandangan yang disuguhkan di luar kaca jendela. Inilah mengapa dia suka duduk di tepi 23

17 to 30

jendela, padahal dia memang tidak memiliki mabuk darat. Sesampainya di tempat tujuan, Baekhyun segera mengambil tas di bagasi atasnya kemudian turun dari bus, meninggalkan Chanyeol yang masih terlelap dengan wajah yang mendongak. "Woah!" Baekhyun berputar badan ketika mata sabitnya itu bertemu pepohonan hijau yang berada di depannya saat ini. Sementara itu, Chanyeol baru saja dibangunkan oleh salah satu teman kelasnya. Dilihatnya ke sisi kiri dan Baekhyun sudah lenyap dari sana. Dia merutuki Baekhyun yang tidak membangunkannya. Lantas Chanyeol turun dari bus tersebut dengan langkah yang malas. Pasalnya, dia sudah pernah berkemah ke hutan yang menjadi tujuan mereka ini, jadi perasaan semangat itu sudah tidak ada lagi. "Anak-anak, jangan sampai kalian lengah dan ketinggalan rombongan ya!" "Iya, Bu!" Siswa-siswa tersebut pun memasuki hutan dengan tas besar di badan mereka, begitupun Baekhyun yang tampaknya kesusahan membawa tasnya yang banyak. Melihat hal itu, Pak Kim pun segera memanggil Chanyeol yang memang bawaannya tidak banyak, malah masih tampak luwes dipandang mata. "Chanyeol, kemari!" Chanyeol yang tidak mau banyak omong lagi pun segera menghampiri Pak Kim . 24

Baeklogy

"Kenapa, Pak?" tanya Chanyeol sembari berjalan beriringan dengan Pak Kim . "Kau lihat Baekhyun? Sana tolong dia!" kata Pak Kim sambil menunjuk ke arah Baekhyun yang memang tampak kesulitan membawa barang bawaannya. "Tapikan saya juga kesusahan membawa barang saya, Pak," Dengan halus, Chanyeol mencoba menolak permintaan wali kelasnya tersebut. "Saya lihat barang bawaanmu tidak banyak, malah sebelah tanganmu masih menganggur. Apa saya yang harus membantu Baekhyun?" Chanyeol melirik ke Pak Kim yang tampaknya sudah kewalahan menggendong satu tas kemah di punggungnya. "Biar saya saja." menghampiri Baekhyun

Chanyeol

langsung

saja

"Terima kasih, Chanyeol." Pak Kim tersenyum melihat punggung Chanyeol yang perlahan menjauh dari hadapannya. "Kemarikan!" Tanpa menghentikan langkahnya, Chanyeol langsung merampas tas yang menurutnya paling besar dan berat saat dibawa oleh Baekhyun. Baekhyun yang awalnya mau protes hanya bisa mengurungkan niatnya, lagi pula dia juga sudah kelelahan karena seluruh tas yang dibekali oleh ibunya itu.

25

17 to 30

17 to 30 Bagian 03 Chanyeol saling menepuk kedua tangannya untuk mengusir debu-debu hitam di tangannya. Dia habis mengumpulkan kayu bakar untuk api unggun yang akan dilaksanakan nanti malam. Karena tempat perkemahan mereka berada di dekat sungai, Chanyeol pun segera membasuh tangannya. Namun, saat dia akan kembali tendanya yang juga dihuni beberapa temannya, Chanyeol menemukan sosok pendek dengan mata kecilnya itu tampak kesulitan memasang tenda. Chanyeol memerhatikannya sebentar, Baekhyun tampak berjuang membangun tendanya sendiri, tidak ada satupun yang menolongnya karena para siswa sedang sibuk sendiri. Baekhyun memandang ke sana kemari untuk mencari bantuan, namun semua orang terlihat sibuk. "Bocah itu," gumam Chanyeol yang akan menolongnya, namun kakinya terhenti tatkala seorang alumnus yang ikut ke dalam perkemahan mereka itu mendekati Baekhyun. Chanyeol mengernyit dan menghela napas, "Baguslah ada yang membantu si pendek itu." Kemudian dia pergi dari sana. 26

Baeklogy

Baekhyun yang kedatangan alumnus tersebut tentu saja senang setengah mati dan menerima bantuan dari alumnus tersebut. "Terima kasih, Kak!" kata Baekhyun yang tidak berhenti tersenyum sejak tadi. Dia pikir tidak ada yang akan membantunya. "Tidak masalah, lagi pula kakak juga jago mendirikan tenda dalam waktu cepat, kau ingin lihat?" tawar alumnus tersebut dengan nada berbangga diri. "Mau, Kak!" ujar Baekhyun kelewat semangat. Dia menyingkir dari tempatnya berdiri dan melihat kakak alumnusnya tersebut membangun tenda. Matanya membesar dan mulutnya menganga tatkala melihat kecepatan tangan kakak alumnusnya tersebut. Bukan hanya dia yang terperangah, tetapi semua yang berada di sekitarnya tersebut. Iya, orang yang tadi sibuk semua kini memerhatikan kakak alumnusnya tersebut. "Nah, sudah selesai!" kata kakak alumnusnya tersebut, dia mendekati Baekhyun yang masih terkejut melihat penampilan apik darinya. "Oh ya, kita belum bertukar nama ya. Nama kakak, Kris Wu, kalau kau?" "Namaku Byun Baekhyun, Kak!" sahut Baekhyun cepat. "Ah, Baekhyun, namamu cantik secantik pemilik namanya." Baekhyun mengulum senyum malumalunya.

27

17 to 30

"Terima kasih, Kak," kata Baekhyun pelan, tanpa disadarinya wajahnya sudah disapu oleh warna merah muda. "Sama-sama, Baek. Kalau begitu, kakak ke tenda kakak dulu, ya, kalau butuh apa-apa kau bisa panggil kakak saja," pamit Kris dan dijawab oleh anggukan imut dari Baekhyun. Selepas kepergiannya Kris, Baekhyun menggumamkan sesuatu, "Sudah tampan, baik hati pula, tidak seperti orang itu." Baekhyun mengubah objek penglihatannya dari Kris ke Chanyeol yang letak tendanya tidak jauh darinya. Secara tidak sengaja, pandangan mereka bertemu dan Chanyeol membalas tatapannya dengan gerakan mulut yang menyalak 'Kenapa hah?!' tetapi tanpa mengeluarkan suara. Daripada menambah persentase kenaikan pada darah tingginya, Baekhyun masuk ke tendanya sembari berkemas-kemas. -o0oMalam ini mereka akan mengadakan api unggun, namun sebelum acara utama itu berlangsung, para wali kelas mengumpulkan muridnya untuk makan siang, lalu setelah itu mereka duduk berbaris sesuai kelasnya masing-masing. "Baiklah, semuanya kita akan membagi kelompok ya, kali ini kalian akan melakukannya secara berpasangan." Kelas Chanyeol dan Baekhyun adalah kelas yang paling akhir disebutkan kelompoknya, keduanya sudah mengerutkan dahi karena nama mereka belum 28

Baeklogy

muncul juga, padahal hampir seluruh nama di kelas mereka sudah disebutkan namanya. "Dan Chanyeol."

terakhir,

Baekhyun,

kau

bersama

"HAH?!" Chanyeol dan Baekhyun saling berteriak, mereka bertukar tatapan tidak mengerti. Dari sekian ratus siswa yang hadir di sini, mengapa mereka berdua yang dipasangkan? "Tidak mau!" tolak Baekhyun mentah-mentah sembari berdiri. "Hei, tidak ada murid yang menolak sepertimu, Byun Baekhyun, sudah terima saja." Pak Kim tampak tidak mau peduli dengan protes anak asuhnya tersebut. Lagi pula, ini satu cara untuk mempersatukan Chanyeol dan Baekhyun yang jika bertemu akan bertengkar terus, begitu pikirnya. Mau tidak mau, suka tidak suka Baekhyun hanya bisa menerima apa yang disampaikan oleh wali kelasnya tersebut. Baekhyun melirik tak minat ke arah Chanyeol, ketika mata mereka bertemu, Baekhyun memutar bola matanya malas. "Saya jelaskan dulu ya bagaimana permainan yang harus kalian mainkan ini," kata salah satu alumnus yang ikut serta menjadi panitia, dan alumnus tersebut adalah Kris. Semua siswa perempuan lantas menahan pekikan mereka ketika melihat mantan kakak kelas mereka yang dulunya juga kapten basket di sekolah tersebut.

29

17 to 30

"Wah, Karisma Kak Kris kuat sekali," gumam Baekhyun yang didengar oleh Chanyeol yang berada di belakangnya. "Masih kuat juga karisma aku," sahut Chanyeol dengan suara cukup besar, saking besarnya Baekhyun dan anak-anak di sekitarnya memandang ke arahnya. Chanyeol membalas semua dengan kata, "Aku benarkan?!"

pandangan

itu

"Kalian secara berpasangan harus mencari bendera merah yang sudah disebar oleh panitia di sekitaran hutan, ingat jangan terlalu jauh, ya. Siapa yang mendapatkan bendera merah paling banyak akan mendapatkan tiket liburan ke London selama seminggu, jadi seluruh biaya hidup selama seminggu di sana adalah tanggungan kami." Kris menebar senyum memesonanya ketika menyelesaikan penjelasannya. Seluruh siswa sontak saling berbisik hingga suara yang dihasilkan sudah seperti lebah yang sedang mengerumuni bunga. "Oke, setelah saya membunyikan peluit ini, kalian bisa langsung berpencar dan mencarinya!" ujar Kris yang sudah bersiap memegang peluit yang terkalung di lehernya. "Siap? Satu... dua... ti--PRIT!" Kerumunan siswa yang tadinya tenang pun mulai bangkit dari posisi duduk mereka dan berpencar masuk ke dalam hutan. Baekhyun yang tidak mau ketinggalan pun menarik tangan Chanyeol

30

Baeklogy

sampai pria berbadan besar itu terhuyung dan mengikuti langkah kakinya. "Cepatlah, Raksasa! Kau punya kaki yang panjang tapi ketika berjalan kau seperti siput, dasar!" omel Baekhyun sedikit mengomentari anggota tubuh Chanyeol. Yang dikritiki juga sudah tidak peduli saking sudah terbiasanya dia mendengar mulut mungil itu mengatai dirinya. Menurut Baekhyun, Chanyeol itu adalah manusia yang banyak kurangnya, jadi mau apapun atau sebagus apapun penampilan dan perilaku Chanyeol, akan tetap buruk di mata Baekhyun. Itu namanya hukum Baekhyun, tidak bisa lagi diganggu gugat. "Itu benderanya!" pekik Chanyeol sembari menunjuk sebuah bendera merah yang menggantung terselip di ranting pohon yang lumayan rendah tetapi cukup tinggi untuk Baekhyun meraihnya. Baekhyun yang akan mengomeli Chanyeol lagi segera berlari ke arah pohon tersebut sembari melompat-lompat agar bisa mendapatkan bendera merah itu. "Pendek, tangkap benderanya benar-benar dong! Lihat perut ratamu jadi tersingkap begitu, mau pamer, ya? Padahal tidak ada sixpacknya.” Kali ini, Chanyeol yang berkomentar. Pokoknya, mereka itu tidak pernah kehabisan kata hinaan untuk satu sama lain. "Berisik, Tukul! Kau tidak bisa lihat aku sedang kesulitan mengambilnya, jika melihat seseorang kesulitan seharusnya kau membantunya bukan malah mengomentarinya! Dasar bodoh!" 31

17 to 30

Chanyeol menghela napasnya, dia ingin sekali menampar bibir mungil itu sekali saja. Kaki panjangnya mendekati Baekhyun. "Sepertinya permainan ini memang dirancang untuk orang-orang tinggi sepertiku saja, bukan yang pendek sepertimu." Chanyeol meletakkan telunjuknya di kening Baekhyun, lalu mendorongnya pelan. Chanyeol sedikit berjinjit dan melompat, dan tanpa percobaan lagi, dia langsung mendapatkan benderanya. "Kau lihatkan seberapa mudah aku menangkapnya?" Chanyeol melambaikan bendera tersebut di depan wajah Baekhyun. Namun, pria pendek nan manis itu segera merampas bendera tersebut dari tangan Chanyeol. Lantas melanjutkan lagi pencariannya. Mereka semakin memasuki hutan dan terus masuk tanpa menyadari bahwa siang kini sudah berganti petang, meskipun bendera yang mereka bawa sudah banyak, akan tetapi Baekhyun tetap merasa bahwa bendera yang dia kumpulkan bersama Chanyeol ini kurang. "Sudahlah, Pendek, ini sudah lebih dari cukup, kau tidak bisa lihat langit sudah berubah jadi oranye?" Chanyeol menunjuk ke atas, Baekhyun mendongak dan dia merasa apa yang dikatakan oleh Chanyeol benar adanya. "Iya juga, ayo kita balik saja ke perkemahan." Mereka berbalik dan melangkah untuk pulang, tetapi perasaan janggal Baekhyun meluputi pria dengan mata sabitnya tersebut. 32

Baeklogy

"Sebentar--" Baekhyun mendongak dan memerhatikan sekitarnya, pohon-pohon di sekitar mereka kali ini tampak lebih rindang daripada yang berdekatan dengan perkemahan mereka, ditambah lagi langit yang semakin gelap. "Heh, Raksasa, apa kau membawa ponsel?" tanya si pendek itu. "Tidak, tadi aku sedang mengisi daya ponselku dengan powerbank, jadi kutinggalkan di tenda. Kalau kau?" "Aku tidak membawanya, aku lupa." Baekhyun berdecak resah sekaligus kesal, kenapa di hutan begini dia tidak membawa ponsel? Baekhyun melipat tangan di balik lehernya dan berteriak tertahan, rasanya dia ingin berteriak sampai suaranya habis saja. "Biasa saja kali, Pendek! Aku pernah kemari dua kali, jadi aku tahu jalannya, ikuti aku." Percaya pada wajah tenang si badan besar itu, Baekhyun tidak banyak bicara dan mengikuti langkah kaki panjang Chanyeol yang membawanya ke jalan tak berujung. Sementara itu, langit sudah gelap gulita dan mereka hanya membawa senter saja di saku jaket mereka. "Kita di mana ini? Sepertinya kita tersesat, Yeol." Suara Baekhyun bergetar antara menahan takut dan resah. "Tidak mungkin, ingatanku itu bagus sekali, tidak mungkin kita tersesat. Lewat sini." Chanyeol kembali berjalan ke arah yang entah diketahuinya atau tidak. Baekhyun seolah-olah melupakan segala permusuhan 33

17 to 30

mereka dan menyerahkan segalanya kepada Chanyeol yang katanya sudah pernah ke hutan ini. Diperkirakan sudah setengah jam Baekhyun mengikuti langkah kaki Chanyeol. Dan, Baekhyun pun sadar bahwa Chanyeol juga tidak tahu mereka berada di mana, belum lagi rinai hujan perlahan berjatuhan dan membasahi tanah di sekitaran mereka. "Yeol," panggil Baekhyun yang bibirnya sudah bergetar. Chanyeol berhenti dan memerhatikan Baekhyun. "Kenapa, Pendek?" tanya Chanyeol berusaha menyembunyikan ketakutan di balik wajah tenangnya. "Aku harus akui ini, aku takut sekali," kata Baekhyun dengan tubuh yang sudah bergetar ketakutan. Chanyeol tampak berpikir sejenak, lalu tangannya menengadah, "Kemarikan salah satu tanganmu," pinta Chanyeol yang kali ini lebih lembut dari biasanya. Baekhyun tidak bertanya apapun dan dia menyerahkan tangan kanannya kepada Chanyeol. Sedangkan Chanyeol dapat merasakan tangan Baekhyun dingin seperti es batu, mungkin karena suhu yang mendadak turun karena langit sudah memerah, pertanda akan turun hujan. Chanyeol sedikit tidak percaya diri untuk melakukan hal yang sedang dipikirkannya kepada Baekhyun, namun melihat wajah Baekhyun yang ketakutan sekaligus menggigil dengan samar-samar 34

Baeklogy

membuatnya tidak tega dan memilih mementingkan pikirannya. Chanyeol menghela napasnya. Lalu menggenggam tangan Baekhyun lalu memasukkannya ke dalam saku jaket. Baekhyun tentu saja terkejut, tetapi pria pendek itu tidak banyak omong dan mengikuti saja apa yang dilakukan oleh pria yang selama ini dimusuhinya tersebut. Mereka kembali berjalan dengan putus asa, sedikit harapan terlintas di benak mereka. Keduanya berharap waktu setidaknya kembali atau maju beberapa hari atau setidaknya sejam saja, tetapi yang mereka tahu, waktu bersifat continuity dengan kata lain waktu akan selalu berjalan; tidak bisa ke masa lalu ataupun ke masa depan. Baekhyun menarik tangannya dari saku jaket Chanyeol membuat langkah keduanya berhenti. Chanyeol melihat Baekhyun berjongkok sembari memeluk lututnya. "Sudah kubilang kita tersesat, mengapa kau bersikeras kalau kau tahu jalannya, Bodoh!" seru Baekhyun, dia kesal setengah mati kepada Chanyeol yang sedari tadi membawanya entah ke mana tetapi mereka belum juga menemukan tempat perkemahan mereka. "Bisakah kau tidak mengatakan aku bodoh?" Emosi Chanyeol ikut tersulut. Jujur saja, dia juga sudah lelah terus melangkahkan kakinya sedari tadi. "Kau memang bodoh!" 35

17 to 30

"Kau yang bodoh, tidak sadarkah kau bahwa kau yang membawa kita tersesat. Jadi, kau yang bodoh!" "Kau bilang kau tahu memercayaimu, kau bodoh!

jalannya

dan

aku

"Kau yang bodoh!" "Kau--ARRRGHHHH!" "ARRRRGHHHHH!" Karena pencahayaan yang kurang, mereka tidak sadar kalau sedari tadi mereka berdiri di tepi jurang dan sekarang, keduanya terjatuh; berguling di lahan miring yang penuh lumpur dan berhenti di dasar jurang yang dibawahnya terdapat sungai kecil dengan arus cukup deras dan penuh bebatuan di sekitarnya. Baekhyun menatap langit yang terus menghunjam wajahnya dengan air hujan. Seluruh tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa, bau anyir yang berpadu dengan tanah basah memasuki indra penciumannya. Baekhyun berusaha mencari Chanyeol namun nihil, terlalu gelap dan matanya juga terasa berat. Kilas balik kehidupannya terputar seperti sebuah film. Apa ini rasanya ketika malaikat maut sudah bersiap mencabut nyawa? Sakit dan sedih sekali rasanya mengeluarkan suara pun rasanya sudah tidak mampu. Matanya semakin tertutup sempurna...

memberat

36

dan

akhirnya

Baeklogy

17 to 30 Bagian 04 Baekhyun mengernyitkan dahinya tatkala tubuhnya merasakan sakit, namun sakit yang dirasakannya sekarang berbeda dengan rasa sakit yang terakhir kali terekam di ingatannya karena pada saat sebelum dia kehilangan kesadarannya, Baekhyun merasakan bagian yang teramat sakit ada pada punggungnya, akan tetapi dia hanya merasakan sakit di daerah privasinya saja sekarang. Saking takut menerima kenyataan bahwa dia sudah berada di alam baka, Baekhyun tetap memejamkan mata dan enggan membukanya sedikitpun. Jemari lentik itu meraba pelan daerah sekitarannya untuk memastikan kembali apa dia sudah di surga atau di neraka. Ketika dia meraba benda di depannya; Baekhyun kembali mengernyitkan dahinya. Kesan pertama yang bisa dia dapatkan adalah hangat, lebar, dan bidang. Lalu, jemarinya semakin bergerak ke bawah dan menemukan benda aneh yang serupa biji kelereng, hanya saja lebih kecil. "Ini apa?" 37

17 to 30

Baekhyun masih sibuk bermain dengan 'biji kelereng' itu. Dia bahkan memencet, mencubit, dan sedikit memelintirnya dengan mata yang masih tertutup, tentu saja. "Enghhh! Hentikan, itu titik sensitifku!" Mendengar suara tersebut, Baekhyun sontak saja membuka matanya lebar-lebar. "WAAA!" Baekhyun memekik tatkala dia menemukan dirinya sedang berada di dalam pelukan seorang pria. "Ada apa?! Ada apa?!" tanya pria itu yang ikut terbangun dari tidurnya, kemudian panik saat mendengar teriakan Baekhyun. Keduanya saling menatap satu sama lain. Dan ketika iris mata mereka beradu, rasanya seperti dunia sedang berhenti berputar. "CHANYEOL?!" "Baekhyun?" Keduanya sontak saling melepaskan diri dari pelukan aneh itu. Kemudian berlomba-lomba memperebutkan selimut agar bisa menutupi tubuh mereka yang tak berbusana. "Sebentar, apa aku sedang tanya Chanyeol seraya menoleh yang sibuk menutupi dadanya bagian dari selimut itu. Namun, menggelengkan kepalanya.

38

berada di surga?" ke arah Baekhyun dengan setengah Chanyeol kembali

Baeklogy

"Tidak mungkin aku berada di surga kalau masih ada kau. Ini pasti neraka!" ujarnya membuat Baekhyun tersinggung. "Sialan kau!" umpat Baekhyun kesal setengah mati. Akan tetapi, kekesalannya itu tergantikan dengan tanda tanya besar di dalam kepalanya. "Sebenarnya ini di mana? Kenapa aku malah berada di dalam ruang kamar dan seranjang denganmu?" "Dengan keadaan telanjang bulat." "Dengan keadaan telanjang—APA?" "Kau tidak sadar kalau kita sedang tidak mengenakan apapun selain selimut ini? Aku baru saja mengintip ke dalam selimut soalnya," kata Chanyeol yang membuat Baekhyun menatapnya horor. Pria mungil itu perlahan membuka selimutnya dan mengintip sesuatu di bawah selimut itu. Dan, ternyata benar apa yang dikatakan oleh Chanyeol bahwa dia sedang bertelanjang bulat sekarang. "Di mana bajuku?! AAAA!" "Berhentilah berteriak seperti itu! Lihat ke lantai, banyak baju yang berserakan, pakai saja itu dulu," celetuk Chanyeol seraya menunjuk lantai. Lalu Baekhyun pun ikut melihat ke arah lantai di sebelahnya dan benar saja. Dia melihat kemeja putih dengan bokser hitam. Ya, hanya itu. Tetapi masa bodoh, setidaknya dia bisa menutupi tubuhnya dengan itu. Sedangkan baju

39

17 to 30

Chanyeol yang berserakan itu terlihat seperti setelan jas kantoran. "Apa pakaianmu sudah terpasang?" tanya Chanyeol sebelum dia berbalik untuk berbicara kepada Baekhyun lagi. "Sudah." Chanyeol pun memutar posisi badannya hingga matanya bertemu dengan sosok mungil yang dibaluti kemeja putih panjang yang menutupi bagian atas hingga paha Baekhyun dengan bahan tipis sehingga bisa menerawang tubuh indah Baekhyun dan bokser hitam Baekhyun. "OHOK!" Chanyeol hampir saja tersedak air liurnya sendiri "Kenapa kau?" Baekhyun menatap Chanyeol tak suka. Bisa-bisanya pria itu bersikap seperti akan muntah saat melihatnya. "Aku ingin tertawa. Apa kau ingin berpenampilan seksi di hadapanku?" Baekhyun mengernyit tak mengerti, lalu menunduk dan memerhatikan pakaian yang dikenakannya. Baekhyun bisa melihat postur tubuhnya begitu terlihat jelas dari luar kemeja. "Pakaian apa ini? Mengapa aku terlihat seperti telanjang saat mengenakannya?" Baekhyun mengomel kesal dan menuju ke arah lemari besar yang siapa tahu menyimpan pakaian yang setidaknya lebih pantas untuk dikenakan. "Tapi, Baekhyun, kau terlihat sangat buncit sekarang." Baekhyun yang sedang mencari pakaian yang pas pun menghela napasnya. 40

Baeklogy

"Kau pikir buncit itu dosa?" tanya Baekhyun yang suaranya teredam. "Bukan, hanya saja bentuknya seperti busung lapar." Baekhyun yang tidak menyadari itu pun menghentikan kegiatannya dan berbalik melihat ke arah Chanyeol lagi. Kedua tangannya bergerak menyentuh perutnya. Seperti apa yang sudah dikatakan Chanyeol, perutnya membuncit, tetapi bukan buncit lemak dan ukurannya tidak biasa. "Lihatlah, ukuran buncitmu tidak biasa dan ...." Chanyeol mendekat ke arah Baekhyun dan menusuk pelan perut Baekhyun dengan jari telunjuknya."... sangat keras." Baekhyun mendongakkan kepalanya agar dia bisa menatap pria tampan itu. "A-apa aku sedang mengidap tumor perut setelah jatuh dari jurang sialan itu?" tanya Baekhyun tergagap sendiri karena rasa takut mulai menghantuinya. "Tidak mungkin, kita sudah mati. Mungkin sekarang kita sedang berada di neraka." "Neraka? Tapi mengapa tidak panas?" "Nerakanya modern?" celetuk Chanyeol tanpa pikir panjang yang sukses mendapatkan dampratan di kepalanya. "Akh, sakit!" "Sakit? Kupikir ini juga bukan mimpi. Lalu, sekarang kita berada di mana?" Baekhyun 41

17 to 30

mengedarkan indra penglihatannya ke seluruh sudut ruangan luas ini. "Di manapun kita sekarang, aku sangat senang karena akhirnya aku mendapatkan otot di perut dan di lenganku. Kau ingin lihat? Mereka sangat seksi." Baekhyun menatap Chanyeol tanpa ekspresi. "Kau yang merasa seksi, sementara perutku seperti sedang menerima azab." Chanyeol lebih memilih untuk tidak menanggapi lagi. "Tapi, bukannya ini aneh? Kita harusnya sudah mati dan berada di alam baka, tapi mengapa tempat ini seperti masih di bumi?" tanya Chanyeol yang masih terheran-heran. "Apa ini adalah dunia lain? Kita berada di dunia paralel?" Chanyeol memutar bola matanya malas. "Tidak ada hal seperti itu, Pendek!" "Siapa tahu? Kita berdua terpilih oleh Tuhan menjadi kandidat tukar dunia?" Chanyeol semakin tidak mengerti dengan otak imajinatif Baekhyun yang terlalu berlebihan itu. "Hentikan omong kosong itu. Jika kau mengatakan bahwa jurang dan kematian itu adalah mimpi belaka, mungkin aku percaya." "Tidak mungkin, harusnya keadaan kita yang sekarang inilah yang harusnya kau katakan seperti mimpi." Perdebatan itu kian memanjang dan tidak berujung. Keduanya berniat akan terus melanjutkan cekcok mulut tak berguna itu kalau saja tidak ada 42

Baeklogy

suara interupsi dari pintu yang terbuka menampakkan sosok wanita paruh baya.

dan

"Hai, Mama mencari kalian dan ternyata kalian masih berada di sini," Wanita paruh baya itu menerebos masuk ke dalam kamar dan membuka lemari dan mengambil celana untuk Baekhyun. "Baekhyun, kau bisa masuk angin jika memakai pakaian sepeti ini, setidaknya pakai dulu celanamu, ya?" Keduanya terdiam, tidak mengerti dengan sosok wanita di depan mereka ini. "Apa dia malaikat maut?" bisik Chanyeol sembari mendekatkan wajahnya ke telinga Baekhyun. Baekhyun tidak menyahuti pertanyaan itu. Dia menerima celana dari wanita yang membahasakan dirinya dengan panggilan 'Mama' itu, kemudian mengenakan celananya. "Sebentar, sebentar." Chanyeol merasa tidak asing dengan paras wanita paruh baya itu pun tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. "Ada apa, Chanyeol?" tanyanya. "Kau itu Mamaku, kan? Iya, kan?" Wanita paruh baya yang ternyata adalah sosok Mama Park itu terdiam sebentar, tidak lama setelah itu dia menempeleng kepala Chanyeol dengan tangan kanannya. "Bagaimana rasanya, Nak?" tanya Mama Park menunggu tanggapan dari Chanyeol.

43

17 to 30

"Whoa, sakit. Ternyata kau memang Mamaku. Tapi, Ma, mengapa Mama terlihat tua sekali?" tanya Chanyeol yang belum puas dengan bukti tersebut. "Kau pikir Mama tidak menua, Bodoh?! Mama tahu kalau bodoh itu gratis, tetapi jangan kau ambil semuanya juga, kasihan yang tidak kebagian." Mama Park pun menarik Baekhyun dari dalam kamar itu dan meninggalkan Chanyeol yang masih meringis karena masih tidak percaya dengan wajah Mamanya yang terlihat tua sekali, padahal terakhir bertemu kemarin, Chanyeol yakin sekali bahwa wajah cantik Mamanya masih seperti berumur tiga puluhan, tetapi sekarang malah terlihat seperti berumur lima puluh tahun lebih. "Mama, apa kau menjalani operasi plastik dan ternyata gagal?" tanya Chanyeol seraya berteriak dan berlari keluar kamar untuk menyusul mereka berdua. Baekhyun yang ditolong oleh Mama Park pun akhirnya bisa mendudukan dirinya di atas kursi konter yang berada di dapur. Lalu, Mama Park beralih ke area kompor dan menyalinkan sesuatu dari panci kecil itu ke dalam sebuah gelas bening. "Ini kau minum dulu, Nak." Mama Park menyerahkan gelas itu kepada Baekhyun. Lalu dengan sungkan, Baekhyun menerimanya dan meminum air berwarna keruh itu seteguk. Ekspresi wajah Baekhyun sontak berubah saat merasakan minumannya. "Habiskan, Nak!" Baekhyun mau tidak mau segera meneguknya sampai tetesan terakhir agar wanita paruh baya di depannya ini tidak kecewa. 44

Baeklogy

Bersamaan dengan itu, Chanyeol datang dengan napas terengah-engah. "Jahe?" Mama Park mengangguk sembari memberikan senyuman manis kepada Baekhyun. Dia mengambil gelas yang sudah habis itu, kemudian mencucinya di wastafel. "Kenapa harus jahe, Nyonya?" Baekhyun sebenarnya agak ragu memanggil Mama Park dengan panggilan itu, hanya saja mereka baru bertemu hari itu juga, jadi dia tidak ingin dicap sebagai anak yang tidak sopan terhadap orang tua. "Hahaha, nyonya? Kau bercanda, Baekhyun? Kau pikir Mama ini majikanmu, ya? Panggil Mama saja, seperti biasa," goda Mama Park selepas menaruh gelas tersebut di raknya. "Tapi itu mengingatkan Mama pada saat kita pertama kali bertemu, sebelum kau menikah dengan raksasa di sampingmu itu," ucap Mama Park menerawang. Dia mendelik ke arah putranya yang masih tampak keheranan dan bingung. "Menikah? Tidak mungkin!" potong Chanyeol tak percaya. "Iya, tidak mungkin kami menikah, Ma. Siapa yang mau menikah dengan makhluk pendek sepertinya." Baekhyun menatap tajam Chanyeol. Kalau saja mata itu adalah laser, mungkin Chanyeol sudah terbelah dua.

45

17 to 30

"Berbicara apa kalian?" Alis Mama Park bertautan heran sekaligus bingung akan maksud sang putra. "Tidak mungkin kami sudah menikah. Aku baru berumur tujuh belas tahun, Ma!" Chanyeol meremas rambutnya dengan kedua tangannya frustrasi. "Tujuh belas tahun apanya, kalian sudah berumur tiga puluh tahun dan sebentar lagi Baekhyun akan melahirkan anakmu, Chanyeol." Chanyeol ataupun Baekhyun sama-sama terdiam dan tidak dapat lagi berkata-kata. Mereka mencoba mengolah kata-kata dari Mama Park dengan baik, tapi tetap saja rasanya seperti disambar geledek di siang hari. "Tidak mungkin," gumam Baekhyun seakan tidak percaya dengan apa yang dialaminya sekarang. "Sebentar, jadi perut Baekhyun itu bukan karena tumor perut?" tanya Chanyeol sembari melebarkan matanya. "Tentu saja bukan, Bodoh! Itu..." Mama Park menunjuk perut Baekhyun yang membengkak, belum terlalu besar mungkin masih lima bulanan, "... hasil kerja keras kalian di atas ranjang, Chanyeol, Baekhyun." "Karena Baekhyun mengeluh pada Mama kalau mualnya semakin parah, padahal kehamilannya sudah masuk umur lima bulan, maka dari itu Mama datang dan memasakkan dia air jahe, Chan." Baekhyun menatap udara kosong, lalu perlahan jemarinya menyentuh perutnya yang terasa keras. 46

Baeklogy

Dadanya terasa sesak, dia melompati waktu dan menemukan dirinya tengah mengandung, dan itu terasa mustahil baginya. Dia tidak bisa menerima bahwa dirinya mengandung, terlebih dia seorang lakilaki. "Pendek, kau tidak apa-apa kan?" tanya Chanyeol memastikan pria di sampingnya. Telapak tangannya mengibas di depan wajah Baekhyun namun Baekhyun masih terlalu syok dengan kenyataan yang harus diterimanya. "Chanyeol, ini cuma mimpi, kan?" Baekhyun menatap Chanyeol dengan mata yang berkaca-kaca. Chanyeol terkesiap, wajah Baekhyun langsung memucat dan tangannya pun ikut dingin seperti es. "Baekhyun," Chanyeol melafalkan nama itu tetapi dia tidak tahu harus melanjutkannya dengan kalimat apa lagi. Dia sama terkejutnya dengan Baekhyun, dia juga tidak menyangka akan berada di umur tiga puluh tahun dan menikah dengan pria pula. Mama Park menatap keduanya bingung. Reaksi Chanyeol dan Baekhyun sungguh di luar dugaannya. Padahal, jika dipikir-pikir lagi, tidak ada satu katapun dari omongannya yang harus dihadapi dengan wajah terkejut yang berlebihan seperti itu. Namun, tidak lama kemudian, Baekhyun pingsan di pelukan Chanyeol dan membuat sepasang ibu dan anak itu terkejut bukan main. "Baekhyun!"

47

17 to 30

17 to 30 Bagian 05 Baekhyun membuka matanya perlahan, meskipun sedikit berat rasanya, namun sekuat tenaga dia mengembalikan kesadaran yang hilang. Dia berharap apa yang terjadi padanya tadi hanyalah bunga tidur belaka. Akan tetapi, ketika matanya mulai terbuka dan mendapatkan dirinya berada di kamar yang sama, Baekhyun hanya bisa menghela napasnya. Kepalanya masih terasa pening seperti ada begitu banyak beban yang menimpa kepalanya. Ditambah lagi perut buncitnya yang ternyata berisi nyawa itu. "Baekhyun!" Chanyeol yang baru saja masuk ke dalam kamar segera mendekati Baekhyun dan menggenggam tangan kanan Baekhyun. "Sudah merasa lebih baik?" tanya Chanyeol seraya menghapus peluh yang berjejak di pelipis Baekhyun. Karena tidak mau membuat Chanyeol panik, Baekhyun hanya menanggapinya dengan anggukan kepala saja. Baekhyun menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, kemudian mengelus perut buncitnya sembari menatap Chanyeol penuh tanya. Dia hanya 48

Baeklogy

ingin Chanyeol mengatakan bahwa perutnya hanya buncit biasa, tidak ada kehidupan lain di dalamnya. "Seungwan bilang bayimu baik-baik saja." Baekhyun meringis mendengarnya. Setelah mendengar pernyataan Chanyeol, rasanya bebannya semakin bertambah saja. "Sebentar, Seungwan?" tanya Baekhyun bingung saat dia baru menyadari bahwa Chanyeol menyebutkan nama asing kepadanya. "Dia dokter kandungan sekaligus teman SMPku. Terlebih, kata Mama kita sudah berlangganan padanya semenjak kau ketahuan hamil." Baekhyun menutup kedua matanya lagi seraya mengatur deru napasnya yang mendadak memburu ketika Chanyeol menyelesaikan kalimatnya. "Kau pasti sangat terkejut dengan keadaanmu sekarang ini, tetapi bertahan, ya? Kau tidak akan menyakiti bayimu, kan?" tanya Chanyeol sedikit meringis. Membayangkan Baekhyun mengurus bayi saja sudah membuatnya bergedik dulunya, apalagi melihat Baekhyun yang malah hamil sekarang. "Berhenti mengatakan bayimu-bayimu terus! Kau membuat kepalaku bertambah pusing!" protes Baekhyun sembari meremas rambut dengan kedua tangannya. "Lalu kau ingin aku mengatakan apa? Bayi kita?" Aktivitas Baekhyun terhenti, lalu wajah cantik itu menoleh ke arah Chanyeol yang memasang ekspresi bingungnya.

49

17 to 30

"Apalagi itu! Sangat menyeramkan untuk didengar," sahut Baekhyun menggeram di akhir kalimatnya. Chanyeol memutar bola matanya malas. Di saat keadaan seperti ini, pria pendek itu masih saja ingin mengajaknya bertengkar. "Sudahlah, kata Seungwan kau tidak boleh terlalu banyak pikiran, itu tidak baik untuk bayi kita-" "AAAAAA!" Baekhyun tiba-tiba saja berteriak tanpa alasan. "APA? ADA APA?" "Sudah kubilang jangan mengatakan 'bayi kita', itu sungguh sangat amat benar-benar menyeramkan." Chanyeol yang awalnya khawatir pun memasang ekspresi datarnya. Se-menyeramkan itukah sampai Baekhyun menggunakan kalimat tidak efektif sebanyak itu? "Bisakah kau berhenti bersikap berlebihan, Byun Baekhyun?" tanya Chanyeol dengan nada gemas yang terdengar seperti ingin menempeleng pria di hadapannya itu. "Kau yang berlebihan!" tuduh Baekhyun tak terima. Chanyeol menghela napas beratnya. Tidak ada gunanya juga berdebat dengan Baekhyun, tetapi tetap saja berkali-kali dia malah meladeni mulut cerewet itu. "Tapi kau tidak ada pikiran untuk mengenyahkan dia, kan?" tanya Chanyeol kemudian menunjuk perut buncit Baekhyun. "Mati saja aku takut, apalagi membunuh nyawa orang." 50

Baeklogy

"Nyawa orang? Itu anakmu, Bodoh!" omel Chanyeol yang kesal saat Baekhyun menyebut anaknya dengan sebutan 'orang'. "Sekali lagi kau mengatakan 'anakmu', akan kujambak kau sampai gundul-Akh!" "Kau kenapa? Apa yang sakit?" Chanyeol menjadi panik saat wajah galak Baekhyun berubah menjadi wajah yang sedang menahan nyeri. "Perutku!" Sorot mata Chanyeol beralih ke arah perut Baekhyun yang terlihat bergerak-gerak seperti ada yang sedang menendang dari dalam perut pria cantik itu. "Wah, seumur hidupku, aku baru melihat perut ibu-ibu hamil," ucap Chanyeol secara spontan karena terkagum sendiri melihatnya. "Ibu-ibu giginya kesal.

hamil?"

Baekhyun

menggertakkan

"Lalu apa? Bapak-bapak hamil?" "Terserahmu saja, Park Chanyeol. Aku lelah mendengar semua omong kosong yang keluar dari mulutmu." Baekhyun menggeliat ke sana kemari. Dia merasa tak nyaman dengan tendangan si janin itu. "Kenapa rasanya sangat tidak nyaman seperti ini?!" gemas Baekhyun yang tak kunjung mendapatkan ketenangannya. Chanyeol yang masih awam soal beginian juga hanya bisa memerhatikan tanpa bisa membantu apapun. Saat itu pula, Mama Park yang menunggu di luar masuk ke dalam kamar mereka. 51

17 to 30

"Bagaimana keadaanmu, Nak? Apa masih pusing?" tanya sang mertua seraya mendekati Baekhyun, kemudian mengelus rambut kecokelatan miliknya. Baekhyun mengangguk lucu, kemudian memegang perutnya yang masih bergerak akibat tendangan bayinya. Mama Park tersenyum menantu kesayangannya ini.

melihat

kepolosan

"Saat anak kalian mulai bergerak, itu pertanda bagus, dia ingin bilang ke kalian kalau dia baik-baik saja di dalam perut Papanya. Atau jika Baekhyun mulai kurang nyaman," kata Mama Park lalu meraih tangan Chanyeol dan meletakkannya di atas perut Baekhyun. "Chanyeol bisa menenangkan bayi kalian dengan cara mengelus perut Baekhyun, kalau bisa ajak juga dia bicara." Mama Park menuntun tangan Chanyeol yang ada di atas perut Baekhyun untuk bergerak mengelus perut pria cantik itu secara perlahan. Kedua iris mata Chanyeol dan Baekhyun saling beradu pandang. Keduanya menatap dalam waktu cukup lama, bahkan setelah Mama Park sudah tidak menuntun tangan Chanyeol lagi karena tangan besar pria tampan itu sudah bergerak sendiri tanpa harus diarahkan. Menyadari akan hal itu, Chanyeol secepatnya menarik tangannya yang ada di perut Baekhyun dan membuat suasana canggung menyelimuti mereka. 52

Baeklogy

Bahkan, Mama Park sampai menatap keduanya secara bergantian. "K-kau belum sarapan selain minum air jahe, kan? Aku akan membuatkan makanan untukmu." Chanyeol beranjak, namun sebelum benar-benar meninggalkan kamar, dia menatap kembali perut Baekhyun yang sudah tidak bergerak agresif seperti beberapa waktu yang lalu itu. Baekhyun juga bisa melihat bibir Chanyeol tak berhenti melakukan gestur kata 'wow'. "Lihat, anak kalian sudah tenang lagi, bukan? Jika kau mengalaminya lagi, kau bisa meminta Chanyeol mengelusnya untukmu," ucap Mama Park sambil menempatkan dirinya di bibir ranjang. "Hehehe, akan aku ingat itu, Ma," sahut Baekhyun masih terdengar sangat canggung di telinga wanita paruh baya itu.

Aneh sekali, padahal Baekhyun biasanya tidak akan canggung denganku, pikir Mama Park. "Hm, Chanyeol bisa masak, Ma?" tanya Baekhyun sebelum Mama Park menyerangnya dengan pertanyaan saat wajah bingung dan heran wanita paruh baya itu tertangkap di mata Baekhyun. "Tentu saja, dia cukup mandiri dan sangat suka bereksperimen di dapur, dan semua makanan yang dia buat sangat enak, bukannya kau sudah berkali-kali mencobanya, Baekhyun?" "Hm, Ma, aku ingin mengatakan sesuatu, tapi berjanjilah padaku kalau Mama tidak akan tertawa 53

17 to 30

saat mendengarnya." Mama Park tampak berpikir sebentar, tetapi kemudian dia mengangguk. "Sebenarnya, aku dan Chanyeol datang dari masa lalu, Ma. Aku dan dia seharusnya berada di umur tujuh belas tahun, tetapi tiba-tiba saja kita berdua terdampar di masa depan, di dalam tubuh yang berumur tiga puluh tahun ini. Maka dari itu, Mama pasti melihat keanehan dari kami berdua, kan?" Mama Park terdiam sesaat. Baekhyun berpikir Mama Park akan memercayai omongannya, tetapi... "Hahahahaha! Astaga, Nak. Sepertinya dirimu terlalu banyak menonton drama fantasi. Daripada berbohong pada Mama, lebih baik kau istirahat sebelum Chanyeol membawakan makanan untukmu, hm?" "Tapi, Ma, aku serius!" Baekhyun berusaha meyakinkan wanita itu sekali lagi. "Iya, Nak, sekarang istirahatlah lebih dulu, ya? Sepertinya Mama akan menghubungi Seungwan untuk segera memeriksa dirimu lagi." Mama Park menyelimuti Baekhyun hingga selimut itu hampir menutupi wajahnya. Kemudian, keluar dari kamar dan meninggalkan Baekhyun yang mendesah kesal. "Pasti Mama sudah menganggap aku gila." -o0o"Chanyeol," panggil sang ibunda kepada anaknya yang sedang meniriskan telur mata sapi di atas wajan, lalu meletakkannya ke atas sepiring nasi. 54

Baeklogy

"Iya, Ma?" "Bagaimana menurutmu kalau perusahaan kita berinvestasi ke perusahaan Kim? Mama lihat produknya akhir-akhir ini sedang melejit, mungkin kali ini proyek kita berhasil?" Chanyeol kebingungan dibuat sang ibunda. "Perusahaan? Investasi? Mengapa bertanya padaku, itu, kan, urusan Papa? Aku saja tidak tahu apa-apa tentang perusahaan," kata Chanyeol sembari menuangkan air putih dari teko bening ke gelasnya. "Heh, Bodoh! Kau kan sudah mengurusi perusahaan dalam kurun waktu dua tahun ini, terlebih kau sudah kami kuliahkan hingga bisa menyandang gelar magister." Chanyeol terkejut dan tersedak air putih yang sedang ditenggaknya. "Magister?!" tanya Chanyeol dengan wajah tak percaya sambil terbatuk-batuk. "Ya, magister administrasi bisnis." Kali ini Chanyeol tidak berhenti terbatuk-batuk, dia mengorek kedua telinganya dan memastikan kalau telinganya tidak rusak kali ini. "Serius, Ma?" "Apa mama pernah berbohong padamu? Sebentar, mengapa kau harus memastikan itu? Bukannya hal tersebut selama ini yang kau banggakan kepada Mama?" Mama Park pun kembali mempertanyakan pernyataan Baekhyun tentang mereka yang datang dari masa lalu. Tetapi, apakah itu mungkin?

55

17 to 30

"Memangnya tidak boleh?" tanya Chanyeol mencoba mencari-cari alasan. "Boleh, sih." "Ya, sudah." "Sebentar, Ma!" tahan Chanyeol. "Ada apa?" "Bagaimana bisa aku mengurusi perusahaan sementara aku di kelas hanya tidur saja?" Chanyeol menerawang. Selama hidupnya yang dihabiskan di sekolah, Chanyeol hanya bisa duduk di pojok kelas dan tidur dengan lelapnya di sana. "Mengapa sikapmu dan Baekhyun aneh sekali hari ini?" Chanyeol menghela napas beratnya. "Lupakan saja, Ma! Jika kuceritakan pun Mama tidak akan percaya hal apa yang sudah kami lewati." Chanyeol pergi dari sana dengan nampan yang berisi sarapan pagi untuk Baekhyun; dia meninggalkan Mama Park yang menyipitkan mata ke arahnya. -o0o"Baekhyun, ini sarapanmu!" ujar Chanyeol sembari membuka pintu kamar dengan sikutnya, lantas mendorongnya dengan lengan. "Apa bayinya bergerak lagi?" Baekhyun yang sedang mengubah posisi tidur ke duduknya hanya menggeleng lemah. "Sekarang kau makan dulu, ya?" Chanyeol meletakkan nampan itu di atas nakas. Dia 56

Baeklogy

mencampuri nasi tersebut dengan sop yang sudah dia masak tadi. Kemudian di atas nasi, dia meletakkan telur mata sapinya. Setelah puas menyiapkan semua itu, Chanyeol mengambil mangkuk nasinya dan berniat akan menyuapi pria cantik itu. Namun, Baekhyun malah membuang wajahnya. "Makanlah dulu. Setelah ini kita akan berbicara lagi tentang bagaimana ke depannya, hm?" Chanyeol berusaha memberikan pengertian kepada Baekhyun. Setidaknya, mereka harus memastikan untuk tidak membunuh makhluk lain di dunia 'tiga puluh tahun' ini. Mau tidak mau, Baekhyun akhirnya menyerah dan menerima suapan dari tangan besar tersebut. "Kita tidak boleh membunuh siapapun di dunia ini, apalagi bayi yang ada di dalam perutmu." Chanyeol melirik perut besar Baekhyun sambil memotong bagian telur mata sapinya. "Bagaimana kalau kita terjebak selamanya di sini, Chanyeol? Membayangkan perutku dibelah untuk mengeluarkan bayi ini membuatku tidak berselera makan lagi." "Kalau begitu jangan dibayangkan! Kita harus cari cara bagaimana kembali ke 'tujuh belas tahun' sebelum bayi itu meminta keluar dari perutmu. Makanya, kau tidak boleh sakit agar rencana kita berhasil." Baekhyun merasa harapannya untuk kembali ke 'tujuh belas tahun' semakin besar setelah Chanyeol mengatakan hal itu. 57

17 to 30

Baekhyun menuruti Chanyeol. Dia makan dengan lahap seraya memerhatikan Chanyeol yang fokus dengan mangkuk nasinya. "Lalu, bagaimana perasaanmu?" tanya Baekhyun tiba-tiba. "Perasaanku? Ada apa dengan perasaanku?" Chanyeol bertanya balik. "Jangan bercanda, Chanyeol!" "Aku tidak bercanda! Memangnya ada apa dengan perasaanku? Bertanyalah dengan lengkap, jangan bertele-tele!" balas Chanyeol yang hampir meninggikan suaranya karena kesal. "Kau tiba-tiba saja terbangun di umur tiga puluh tahun dan menikah dengan laki-laki yang bisa hamil, apa kau bisa menerima itu semua?" Baekhyun bertanya dengan wajahnya yang ikut penasaran pula karena pria itu terlihat santai saja. "Kau terlihat biasa saja menghadapi situasi ini. Apa kau tidak terganggu?" tanya Baekhyun lagi. Chanyeol menghentikan kegiatannya yang masih fokus mencampuri nasi dengan sop tersebut. Dia menoleh ke arah Baekhyun yang menatapnya penuh kebingungan. Chanyeol meringis sambil menjawab pertanyaan Baekhyun, "Ini semua sudah terlanjur terjadi, mau diratapi terus pun tidak akan ada gunanya. Lebih baik kita mencari cara untuk segera keluar dari dunia ini, Pendek!"

58

Baeklogy

"Hm?" Baekhyun berdehem dengan bertanya sembari memiringkan kepalanya.

nada

"Sudahlah, makan saja ini! Ayo, buka mulutmu, say A!" Chanyeol menyuapkan Baekhyun lagi tanpa banyak bicara. Baekhyun yang disuapi pun hanya bisa menerima saja. Sesudah menghabiskan makanannya, Baekhyun menyandarkan dirinya di kepala ranjang, perutnya terasa berat dan penuh, bernapas saja rasanya susah. "Bagaimana? Membawa bayi di perutmu, berat atau tidak, Pendek?" Chanyeol bertanya penasaran. "Menurutmu bagaimana?!" sahut Baekhyun setengah kesal. Sudah tahu berat, masih bertanya pula. "Hehehe! Pasti berat, ya? Boleh aku pegang lagi? Wah, tadi itu benar-benar membuatku takjub, bagaimana bisa tendangan bayi itu bisa terasa sampai ke telapak tanganku!" kata pria jangkung itu sedikit meringis, takut Baekhyun akan menolak sentuhannya lagi. Baekhyun diam sebentar, lantas dia mengangguk. Tidak dapat dibohongi, Chanyeol merasa senang setengah mati. Dia memegang perut Baekhyun dan tertawa kecil tatkala tangannya merasakan denyutan dari perut Baekhyun. Baekhyun memutar bola matanya malas. Melihat sikap Chanyeol, Baekhyun seperti sedang melihat anak kecil yang mendapatkan mainan barunya.

59

17 to 30

"Wah, bayimu aktif juga ya?" gumam Chanyeol lalu meletakkan telinganya di perut Baekhyun. Tanpa Baekhyun sadari, tangan kanannya sudah terulur ke arah rambut Chanyeol, kemudian mengelusnya perlahan dengan senyuman manis yang terlukis indah di bibir tipisnya. Chanyeol yang terkejut karena mendapat perlakuan tidak biasa itu pun langsung mendongak dan menatap wajah Baekhyun yang sama terkejutnya dengan dia. "Wah, diriku di masa ini sepertinya benar-benar sudah gila!" ujar Baekhyun tak percaya dengan apa yang dilakukannya barusan seraya menahan pergelangan tangannya tadi dengan tangan yang lain.

60

Baeklogy

17 to 30 Bagian 06 Chanyeol menarik dirinya lagi sembari berdehem canggung. Sementara itu, Baekhyun menatapnya horor. "Kenapa kau menanggapi seperti itu?" Baekhyun masih memegang tangannya tadi semakin takut saja dengan keadaannya sekarang. Chanyeol mengelus dada dirinya. "Aku tidak tahu, hanya saja rasanya jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Wah, rasanya aneh sekali." Keduanya saling menatap horor. Lama mereka saling menatap hingga tidak menyadari bahwa Mama Park menontoni mereka dari ambang pintu sembari bersedekap dada. "Apa Mama sedang menonton cuplikan dari drama?" sindir sang Mama membuat keduanya terkejut dan sontak saja menoleh ke asal suara. "Mama? Sejak kapan Mama di sana?" "Sejak kau memegang dadamu, Anak nakal!" Mama Park tersenyum, kemudian mendekati mereka. "Kalian seperti remaja yang baru merasakan jatuh cinta saja, hahaha!" Mama Park menggoda 61

17 to 30

keduanya. Sementara itu, Chanyeol hanya bisa tertawa pahit. "Nikmati hari-hari kalian! Mama tahu kalian pasti ingin merasakan lagi masa-masa di mana kalian saling jatuh cinta, bukan?" Chanyeol kembali tertawa tak nyaman dan menganggukan kepalanya agar Mamanya ini segera pergi dari sana. "Tenang saja." Mama Park melihat ke arah Baekhyun yang masih terdiam dengan tangannya yang masih mencekal tangannya yang lain, "urusan kantor bisa mama tangani hari ini, kalian bisa seharian di kamar dan melanjutkan sesuatu yang tertunda tadi." Mama Park mengedipkan sebelah matanya sebelum menutup pintu kamar. "Katakan padaku kalau semua ini hanya mimpi?" "Daripada sibuk memikirkan mimpi atau tidaknya, lebih baik kau memikirkan jalan keluar saja!" protes Chanyeol seraya menggeram kesal. "Kau yang enak, tidak ada hal buruk yang terjadi padamu, Bodoh. Sedangkan aku? Lihat perutku! Dalam satu malam sudah ada penghuninya, apa tidak horor?" Chanyeol mengernyit protes, "Salahku perutmu seperti itu? Salahkan saja dirimu sendiri yang mau saja mengangkang di depan diriku yang ada di masa depan ini." Baekhyun sontak saja menempeleng Chanyeol hingga pria tampan itu hampir limbung dibuatnya. 62

Baeklogy

"Mulutmu itu! Kau pikir aku mau mengangkang di depanmu, Hah? Kalau diriku di masa depan tahu kau berbicara seperti itu, pasti dia akan menceraikanmu!" "Hahaha, bagus kalau begitu!" balas Chanyeol dengan nada yang terdengar sangat menantang. "Kau menantangku?!" balas Baekhyun tidak kalah menantangnya, namun perutnya mengalami pergerakan lagi. "Akh!" Baekhyun mengaduh. "Kenapa?" Rona wajah Chanyeol langsung berubah saat melihat Baekhyun yang meringis kesakitan. "Kau diam saja! Berisik sekali!" ujar Baekhyun penuh penekanan. "Aku hanya bertanya, Pendek! Biar kubantu," kata Chanyeol seraya memasang posisinya. Dia kembali menyentuh perut Baekhyun dan mengelusnya seperti yang diajarkan sang Mama kepadanya tadi. Baekhyun memukul lengan Chanyeol hingga sang pemilik tangan mengaduh kesakitan. "Kenapa kau malah Chanyeol setengah emosi.

memukulku?"

tanya

"Jangan melakukan itu! Aku takut tanganku bergerak sendiri lagi." "Atau karena kau takut jatuh cinta kepadaku?"

63

17 to 30

Baekhyun hampir saja menyemburkan air liurnya di wajah Chanyeol kalau saja dia tidak menahannya sekuat tenaga. "Hahahaha!" "Kenapa kau menertawaiku? Siapa tahu, 'kan?" tanya Chanyeol tidak menerima ditertawakan seperti tadi. "Mimpimu terlalu tinggi! Jangan-jangan kau yang malah sudah jatuh dalam pesonaku?" Baekhyun mengulum bibirnya; dia menahan tawanya yang nyaris meledak. "Hahaha! Kau tidak perlu khawatir. Kau itu sangat jauh dari tipeku. Kalau mau diibaratkan, seperti dari kutub utara ke kutub selatan." Baekhyun yang lagi-lagi kesal dengan ucapan Chanyeol pun kembali melayangkan tangannya di kepala Chanyeol lagi. "Akh! Kenapa kau sangat suka memukulku, hah?" tanya Chanyeol ikut kesal. "Berhenti berbicara tentang hal yang menggelikan atau kepalamu akan kubuat besar sebelah!" ancam Baekhyun sembari membeliakkan matanya yang malah tampak lucu di mata Chanyeol. Chanyeol kembali memegang dadanya, kali ini matanya sedikit berair. "Ada apa denganmu?" Baekhyun menatapnya horor lagi. Sungguh, Baekhyun tidak mengerti mengapa perubahan emosi Chanyeol bisa berganti secepat itu. 64

Baeklogy

"Mataku tiba-tiba saja menerjemahkan ekspresi jelekmu dengan ekspresi lucu. Jantungku berdetak kencang lagi. Bagaimana ini? Kau sangat lucu, aku di masa ini jadi gemas." Baekhyun memutar bola matanya malas. "Dasar!" -o0oChanyeol maupun Baekhyun sama-sama tidak bisa memejamkan mata hari ini, mereka saling membelakangi, lalu suasana yang terang sama-sama membuat mereka tidak bisa memejamkan mata. "Boleh kumatikan lampunya?" tanya Chanyeol yang berinisiatif duluan. Siapa tahu, setelah itu dia bisa tidur. "Tentu saja," sahut Baekhyun agak kurang suka dengan posisi tidurnya sekarang. Rasanya sangat sesak karena ada bayi di dalam perutnya. Chanyeol beranjak dari ranjangnya untuk mematikan sumber penerangan dari kamar mereka itu, kemudian kembali lagi dengan posisi semulanya. Hampir setengah jam berlalu setelah lampu kamar dimatikan, tetapi keduanya belum juga bisa tidur, padahal malam semakin larut. "Chan, kau belum tidur?" "Belum, ada apa?" sahut Chanyeol singkat. Baekhyun mencoba menerawang, "Hmm, menurutmu kenapa kita bisa berada di masa depan? Aku sebenarnya tidak memercayai hal-hal yang 65

17 to 30

berbau fantasi, tetapi ketika hal itu benar-benar datang padaku rasanya aneh sekali." Baekhyun menghela napas panjangnya. "Kau tidak memercayai hal fantasi?" tanya Chanyeol memutus suara Baekhyun. "Ya, aku tidak percaya dengan hal magis, karena aku pikir setiap peristiwa memiliki ilmu pengetahuan yang logis." Chanyeol di balik sana mendelik. "Aku bahkan percaya kalau dunia paralel itu ada." Baekhyun mengernyit bingung, dia berbalik dan menatap punggung Chanyeol. Merasakan pergerakan di sebelahnya, Chanyeol ikut berbalik dan mereka saling berpandangan. "Apa itu dunia paralel?" Baekhyun bertanya tidak mengerti. Sebenarnya dia sering mendengar hal tentang dunia paralel, hanya saja dia penasaran bagaimana Chanyeol menjelaskan hal itu kepadanya. "Dunia lain yang berjalan sejajar dengan dunia kita sekarang. Di samping kehidupan yang kita kenal dan kita jalani saat ini, ada satu atau lebih kehidupan lain yang juga berjalan secara bersamaan dalam dunia paralel." Baekhyun Chanyeol dan bertautan.

tertawa mendengar pernyataan membuat alis pria tampan itu

"Kau percaya dunia seperti itu?" tanya Baekhyun tak yakin. 66

Baeklogy

"Hei, sadarlah bahwa sekarang kau berada di masa tiga belas tahun yang akan datang dari umurmu yang ketujuh belas tahun, Tuan Byun!" ujar Chanyeol tidak senang. Dia menatap tajam ke arah Baekhyun yang kehabisan kata-kata. "Tapi, kita harus menemukan sesuatu agar kita bisa kembali lagi di tahun yang mana seharusnya kita berada, Baek." "Seperti katamu, setiap peristiwa pasti memiliki alasan mengapa peristiwa itu terjadi, begitu pula apa yang sedang kita alami sekarang, 'kan?" Baekhyun mengangguk paham. "Tapi, mungkin saja ini mimpi, siapa tahu setelah kita terbangun nanti, kita sudah kembali ke tubuh kita yang berumur tujuh belas tahun!" seru Baekhyun sembari mengaminkan apa yang dikatakan olehnya. Chanyeol menatap Baekhyun lama. "Aku juga berharap seperti itu." -o0oBaekhyun membuka matanya perlahan saat dering dari ponselnya berteriak-teriak di atas meja nakas. Pria cantik itu pun bangun dengan ogahogahan, dia mengambil ponselnya dan berniat akan mematikan dering alarm itu. Namun, saat mengingat kata-katanya sendiri yang diucapkannya tadi malam, Baekhyun membuka matanya selebar mungkin. Akan tetapi, itu semua tidak seperti apa yang diharapkannya. Perutnya masih membuncit, lalu jangan lupakan pria dengan tinggi dan besar badan di 67

17 to 30

sampingnya itu masih terlelap damai dengan wajah tampannya. Baekhyun menatap lama wajah tampan itu, jika dilihat seperti ini Chanyeol benar-benar terlihat seperti pangeran tampan yang memiliki sifat lembut dan kalem. "Apa aku terlalu tampan sampai kau tatap seperti itu?" Namun, ketika dia mengeluarkan suaranya, kata pangeran itu sangat tidak cocok untuknya. "Lihatlah, kau seperti iblis!" celetuk Baekhyun sembarangan ketika Chanyeol berhasil menciduknya. "Enak saja, aku tampan begini malah dikata iblis! Tapi, tetap saja aku tampan, 'kan?" Chanyeol keluar dari balik selimutnya sembari tertawa puas. "Tidak sama sekali." "Bilang saja kau malu untuk mengatakan faktanya? Benar, 'kan?" goda Chanyeol segera lari ke dalam kamar mandi, meninggalkan Baekhyun yang kesal setengah mati. "Berisik!" -o0oChanyeol menghadap rak-rak yang besar dan memanjang di depannya, tubuhnya berputar melihat ruang koleksi setelan, sepatu, dasi, kemeja, dan jam tangan yang besarnya membuatnya terpukau. "Wow, aku mengumpulkan semua ini?" tanyanya yang hampir tidak bisa dipercaya. Selama 68

Baeklogy

ini salah satu prinsipnya itu ialah daripada membeli baju lebih baik dia membeli makanan. "Chanyeol!" Baekhyun masuk ke ruangan walk in closet milik Chanyeol tersebut dan dia ikut terkejut melihat begitu banyak koleksi di sana. "Kenapa?" tanya Chanyeol tanpa melihat ke arah pria yang kini katanya sudah menjadi suaminya. Baekhyun mendekati Chanyeol menunduk, "Bisakah kau tidak pergi?"

sembari

Chanyeol memindahkan penglihatannya ke arah Baekhyun, "Tapi, aku harus pergi, Baek. Kau tidak mendengar teriakan ibuku di telepon saat aku bilang hanya ingin tidur saja?" "Jangan...." Baekhyun melirih seraya menunduk dalam. Perlu diakuinya, Chanyeol memang manusia yang paling tidak ingin Baekhyun temui, tapi dalam masalah ini—di negeri antah berantah ini, rasanya dia harus menurunkan egonya sedikit. Chanyeol memohon, "Aku akan tinggal, kalau kau mau berbicara pada ibuku." "Bagaimana mungkin aku yang berbicara, Bodoh? Ayolah, Aku tidak tahu harus melakukan apa di dunia aneh ini, nanti aku diculik bagaimana?" Baekhyun mendongak serta memperlihatkan rona wajah Baekhyun yang memelas seperti anak kucing. Chanyeol menahan tawanya dengan punggung tangannya, "Oh, ayolah, siapa yang ingin menculik buntelan kentut sepertimu." 69

17 to 30

Baekhyun menatapnya sebal, lalu memukul keras kepala Chanyeol hingga sang empunya mengaduh. "AW! Sakit, tahu tidak?!" "Tidak tahu! Dasar manusia tidak punya perasaan. Tanpamu juga aku bisa hidup!" Baekhyun berjalan keluar namun Chanyeol menarik tangannya. "Kenapa?!" tanya Baekhyun setengah kesal. "Kau harus tahu ini, Baek! Mamaku itu galak kalau berbicara denganku. Kalau memang kau ingin aku tinggal di sisimu, kau yang berbicara langsung kepada Mamaku, bagaimana?" Baekhyun masih memasang wajah tengiknya. "Tidak mau! Aku bisa tinggal sendiri saja." kata Baekhyun masih kesal. Lantas, ketika pria cantik itu ingin pergi dari sana, lagi-lagi Chanyeol menahan langkah kakinya. "Ada apa lagi?!" sentak membulatkan kedua matanya.

Baekhyun

seraya

Lucu sekali, pikir otak Chanyeol yang sepertinya

sedang rusak lagi menurut sang empunya.

Chanyeol menunjuk sesuatu hingga pandangan Baekhyun pun melihat berbagai setelan yang tergantung di rak yang ada di depannya. "Aku tidak tahu harus memilih yang mana." Chanyeol mengulum bibir bawahnya. Dia mengerjapkan matanya bak anak kecil yang ingin dibelikan permen. 70

Baeklogy

Baekhyun menghela napasnya. Karena sudah lelah berdebat, Baekhyun pun mengambil setelan itu satu persatu, kemudian mencocokkannya ke tubuh Chanyeol. "Ini! Pakai ini!" kata Baekhyun selepas meletakkan setelan berwarna merah muda beserta pernak-perniknya di atas sofa putih kecil yang terdapat di tengah ruangan. "Kenapa warnanya itu?!" rengek Chanyeol saat melihat warna yang dipilih Baekhyun. Pria cantik itu memang sengaja memilih warna itu untuk Chanyeol, pembalas dendam karena tidak dituruti permintaannya. "Dia yang menginginkannya, bukan aku!" Baekhyun menunjuk perutnya yang mengembung. Chanyeol menatap kesal ke arah Baekhyun. Kalau saja pria cantik itu tidak sedang mengandung sekarang, mungkin Chanyeol dengan senang hati akan menendang bocah itu sampai ke kutub utara. "Kenapa menatapku seperti itu? Suka denganku?" "Kalau saja kau tidak jadi bapak-bapak hamil, sudah kugaruk wajahmu." "Baiklah! Ini garuk saja, cepat!" Baekhyun menutup matanya sambil mencondongkan badannya agar lebih mendekat ke arah Chanyeol. Chanyeol yang awalnya kesal pun mendadak hilang rasa kesalnya ketika menatap wajah tanpa pori-pori milik 'suami masa depannya' ini.

71

17 to 30

"Sudahlah! Aku ingin mengenakan bajunya dulu!" Mata Baekhyun terbuka dan sudah menemukan Chanyeol hilang dari depannya. Tidak hanya orangnya saja yang menghilang, tetapi setelan dan pernak-perniknya juga menghilang dari sana. "Dia benar-benar akan mengenakannya? Padahal aku hanya bercanda," gumam Baekhyun seraya menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal. "Ah, terserah dia saja!" Baekhyun melenggang keluar dari lemari raksasa itu.

ikut

-o0oMama Park sudah sampai di rumah Chanyeol dan Baekhyun. Sekarang, wanita yang umurnya sudah lewat setengah abad itu tengah menunggu sang putra ditemani oleh menantu manisnya yang sedang mengatur posisi duduk karena terlihat tidak nyaman dengan perut besarnya. "Ada apa, Nak? Mama rasa kau tidak nyaman dengan perutmu." "Rasanya aneh dan sedikit berat," Baekhyun hati-hati seraya tersenyum manis.

ucap

Mama Park ikut tersenyum simpul mendengar keluhan Baekhyun. "Memang seperti itu, Nak. Nanti juga akan terbiasa sendiri." Baekhyun hanya menanggapinya senyum getir dan anggukan saja.

dengan

"Hmm, bagaimana? Apa ketampananku semakin bertambah?" tanya orang yang sedari tadi ditunggutunggu pun kini berada di hadapan mereka dengan 72

Baeklogy

setelan merah mudanya dan menata rambutnya ke bawah. Baekhyun yang melihat penampakan tersebut langsung berdiri untuk melihat betapa gagah dan berkarismanya sang suami dengan setelan yang dipilihnya tadi, padahal Baekhyun sudah berusaha memilihkan warna yang bisa melunturkan pesona Chanyeol. Mama Park melihat ke arah Baekhyun yang terkejut akan penampilan Chanyeol. Lantas, Mama Park menyenggol bahu sang menantu pelan membuat sang empunya bahu tersadar akan lamunannya. Mama Park berbisik, "Kau masih terkejut melihat rupa suamimu, Nak?" Baekhyun berdehem sesekali. Pupil matanya gentar hingga membuat si cantik itu melarikan pandangannya ke arah lain. Chanyeol menyadari itu dan dia hanya bisa mengulum senyum bangganya. Chanyeol mendekati Baekhyun dan Mamanya dengan jalan yang tegap layaknya seorang artis yang berjalan di atas karpet merah. Baekhyun bersedekap dada, wajahnya sudah jauh lebih terkontrol dengan baik. Jika Chanyeol mendapatkannya tengah terpukau seperti itu, yang ada nantinya dia akan diejek oleh pria aneh tersebut. Chanyeol mendekati Baekhyun, dia mendorong wajahnya agar semakin menghapus jarak di antara mereka. Namun, Baekhyun yang tidak ada takutnya itu balas menatap Chanyeol tajam, padahal jantungnya sudah hampir kejang di dalam sana. 73

17 to 30

Chanyeol yang awalnya terlihat mencium bibir Baekhyun pun tiba-tiba mengubah arah gerakannya, dia bibirnya ke daun telinga Baekhyun memejam duluan dari tadi.

seperti ingin saja langsung mendekatkan yang sudah

"Aku tidak kalah berkarisma dari Kak Kris, 'kan?" Chanyeol menarik diri dan melemparkan seringaian jahatnya kepada Baekhyun. Pria manis itu mengernyitkan dahinya kesal. Mama Park tertawa geli tatkala matanya menangkap pemandangan yang menurutnya sangat manis itu. Apalagi ketika melihat rona wajah Baekhyun yang berubah cemberut. Sangat menggemaskan. "Kalian ini! Bukannya dua malam saja sudah cukup, ya?" tanya Mama Park sedikit menggoda pasangan di depannya itu. "Dua malam?" tanya Baekhyun tidak mengerti. "Ayolah, kau pura-pura tidak mengerti, Nak?" tanya balik Mama Park yang tidak puas dengan tanggapan Baekhyun. Baekhyun berbalik menatap Chanyeol dan menginginkan jawaban yang membuatnya mengerti. Sayangnya, Chanyeol tidak mengacuhkannya dan memilih mengalihkan pembicaraan, karena dia juga agak tidak nyaman dengan topik itu. "Sudahlah, Ma! Lebih baik kita berangkat saja, hm?" Chanyeol pun menyeret Mama Park keluar dari rumah. 74

Baeklogy

Baekhyun hanya menatap bingung ke arah mereka sampai keduanya menghilang dari balik pintu. "Dua malam? Maksudnya?" Mata Baekhyun membeliak terkejut saat pikirannya menemukan jawaban dari arti 'dua malam' yang dimaksud oleh Mamanya Chanyeol. -o0oChanyeol bersyukur karena dia sudah bisa mengemudikan mobil sejak SMP, jadi kebodohannya tidak terlalu terlihat di hadapan sang ibunda. Selesai memarkirkan mobilnya di parkiran khusus untuk para petinggi perusahaan, Chanyeol dan Mama Park segera memasuki lift yang akan mengantarkan mereka langsung ke ruangan Chanyeol. "Mama tidak tahu harus mengatakan apa. Kau sadar kalau hari ini kau bertingkah layaknya anak TK sampai bekerja pun harus Mama temani seperti ini?" komentar Mama Park sembari berkacak pinggang dan memandang ke arah sang anak. "Ma, aku amnesia mendadak, aku tidak tahu harus melakukan apa." Mama Park yang mendengar keluhan tak masuk akal itu langsung menempeleng lembut kepala Chanyeol. "Kenapa semua orang sangat berniat membuatku geger otak?" protes Chanyeol kesal sembari mengelus kepalanya. "Apa saat kau dan Baekhyun melakukannya tadi malam, kepalamu terbentur sesuatu?" pertanyaan 75

17 to 30

retoris itu keluar dengan alunan tangan sang ibunda yang menyentuh kepalanya. "Aku serius, Ma!" balas Chanyeol seraya merengek, Mama Park saja sampai mengerutkan dahinya yang sudah terdapat beberapa kerutan di sana. "Kau pikir Mama sedang bercanda, ya?" Chanyeol menoleh ke arah lain, lalu menepuk dahinya dengan wajah meringis. "Ada apa dengan reaksimu itu?" Chanyeol kembali menatap sang ibunda dan menggelengkan kepalanya dengan senyuman manisnya. "Tidak ada apa-apa, Ma! Mama terlihat cantik hari ini. Aku jadi sedikit terpukau." "Aduh! Mama jadi tersanjung, Nak." "Tapi, bohong." Chanyeol segera menghindar ketika tangan sang Mama sudah berada di udara. -o0oBaekhyun keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang digosokan ke rambutnya. Dia menatap seluruh tubuhnya yang terpantulkan cermin di sudut kamar, kemudian dia memerhatikan bajunya yang besar dan perutnya yang membuncit—tidak terlihat terlalu besar karena pakaiannya sendiri sudah selebar lapangan golf.

76

Baeklogy

"Aku terlihat seperti gajah," gumamnya seraya tersenyum tragis. Mama Park juga bilang kalau dia tidak boleh mengenakan celana yang terlalu ketat ataupun denim, jadilah dia hanya memakai celana legging hitam. Baekhyun menghela napasnya. Dia duduk di bibir ranjang, mengambil ponselnya yang menganggur sedari pagi. Baekhyun memeriksa kotak pesan yang memperlihatkan ada satu pesan yang belum dibaca, karena dia tidak sempat memeriksanya kemarin. Dahinya mengernyit saat nama 'Park Raksasa'-lah yang berada di bagian paling atas dari daftar pesan itu. Baekhyun curiga kalau itu nama kontak Chanyeol di ponselnya. Mata pria cantik itu melebar saat dia melihat isi dari pesan tersebut.

Bayi kita merindukan ayahnya. Sayang, aku harus lembur sebentar, oke? Tidurlah dahulu. Tidak! Sayang... Hmm, tubuhku juga merindukanmu, *menyisipkan stiker wajah malu-malu*

Park

Aku pulang! Mata Baekhyun sontak membeliak sempurna. "APA YANG BARU SAJA KUBACA?!"

77

17 to 30

17 to 30 Bagian 07 Malam semakin larut, namun Baekhyun tidak berhenti memikirkan isi pesan di ponselnya yang sudah dipastikan bahwa itu isi pesan antara dirinya dan Chanyeol di masa sekarang. "Ada apa denganku di masa ini? Kenapa menggelikan sekali?!" monolog Baekhyun sambil mengusap kasar wajahnya dengan kedua tapak tangannya. Memikirkannya saja sudah membuat seluruh rambut di tubuhnya ikut merinding. Untuk mengalihkan pikirannya, Baekhyun menghidupkan televisi dengan volume suara yang besar. Akan tetapi, bayang-bayang bagaimana dirinya menggoda Chanyeol lewat isi pesan tadi masih menghantui imajinasinya. Sangat menyeramkan. "Ada apa dengan isi pikiranku sekarang? Mengapa hal-hal kotor dan liar memenuhinya?" Baekhyun menggaruk kepalanya frustrasi. Si manis itu menatap ke depan dengan tatapan yang kosong, akan tetapi yang muncul adalah bayangan dirinya dan Chanyeol yang tengah bercumbu. Astaga! Baekhyun bisa gila. 78

Baeklogy

Karena sibuk bergelut dengan isi otaknya yang kotor, Baekhyun tidak sadar bahwa pria yang telah menjadi suaminya pada masa sekarang tengah berdiri di depannya sambil melambaikan tangan di depan wajah cantiknya dengan rona wajah heran. "Baek, kau baik-baik saja? Kau tidak gila, ‘kan?" panggil Chanyeol sekali. "Hei!" Chanyeol kembali melambaikan tangannya di depan wajah melongo Baekhyun. “Kenapa sekarang sosoknya malah sangat nyata? Wah, ajaib sekali pikiranku.”

terlihat

Chanyeol mengulum bibirnya. Takut saja kalau tawanya langsung menyembur di wajah Baekhyun. “Jadi kau seharian memikirkanku, ya? Manis sekali!” Baekhyun membulatkan kedua matanya. "Kau nyata?!" tanya Baekhyun yang hampir saja terlonjak dari sofa. "Tentu saja aku nyata. Terlalu sibuk memikirkanku sampai tidak bisa membedakan mana diriku yang ada di imajinasimu dan yang mana diriku yang nyata, begitu, ‘kan?" Chanyeol balik bertanya, kemudian dia menempatkan dirinya duduk di samping Baekhyun. "Tidak! Kau saja yang terlalu percaya diri!" Sekuat tenaga Baekhyun mengalihkan pandangannya, jangan sampai matanya bertemu wajah tampan itu, bisa tambah merah nanti ronanya. 79

17 to 30

“Eiy, ucapanku itu tidak pernah salah!” ucap Chanyeol dengan bangganya. “Baek, kau harus tahu, hari ini membuatku lelah sekali! Itu teriakan Mamaku mungkin bisa membuat kotoran telingaku insecure,” kata Chanyeol seraya menyenderkan punggungnya di kepala sofa berwarna abu-abu itu. Baekhyun yang awalnya memandang ke arah lain pun, perlahan menoleh ke arah Chanyeol yang kini menatap langit-langit ruang televisi. “Mungkin kau melakukan banyak kesalahan?” tanya Baekhyun ragu. “Tentu saja. Kau pikirkan sendiri aku yang berumur tujuh belas tahun dalam semalam harus mengurus kertas-kertas yang aku sendiri tidak tahu artinya.” Rona galak Baekhyun pun berubah. “Berat, ya?” tanya Baekhyun lembut. Chanyeol seperti merasa Dejavu karena dia pernah menanyakan hal yang sama. “Tentu saja berat!” “HAHAHAHA! AKU BAHAGIA KARENA BUKAN AKU SAJA YANG MERASA TERSIKSA!” Suara Baekhyun mendadak menggelegar di seluruh sudut rumah besar mereka. “Kau membuatku tambah kesal saja. Sudahlah, aku ingin istirahat saja.” Chanyeol beranjak dari sofa itu dengan raut wajah kesalnya. Kemudian, masuk ke dalam kamarnya.

80

Baeklogy

Baekhyun melongo melihat kepergian Chanyeol. Padahal dia tidak bermaksud membuat perasaan Chanyeol semakin buruk. Si manis itu pun mematikan televisi. Lantas dia masuk ke dalam kamar. “Chanyeol. Ayolah! Kau marah hanya karena aku mengejek—mu.” Kalimat Baekhyun melambat di akhir saat menemukan tubuh Chanyeol hanya dibaluti handuk putih saja di bagian pinggangnya. Baekhyun terpaku, matanya membeliak dan berkedip lambat, dia tiba-tiba saja terpaku tanpa bisa membanting setir pandangannya. “Kenapa kau hobi bertelanjang di depanku, Orang Mesum?!” tanya Baekhyun dengan intonasi yang tinggi. "Apa kau bilang? Mesum?! Kau yang asal masuk saja, tanpa mengetuk pula!” balas Chanyeol tak kalah kerasnya. "A-aku tak mengira kau akan bertelanjang di kamar. Kalau kau mau bertelanjang, lakukanlah di kamar mandi!” sahut Baekhyun tergagap sendiri, kedua pupil matanya gentar. "Aku tidak sepenuhnya bertelanjang, Pendek! Lihat? Ada handuk yang masih menutupi seperempat tubuhku! Pikiranmu saja yang kotor.” "Kau mengataiku mesum? Sadar! Siapa yang membuat ini, hah!" Baekhyun yang terlanjur emosi pun menunjuk perutnya. "Benar juga. Jadi kau sudah menerima kalau dia itu anak kita?” 81

17 to 30

Raut wajah Chanyeol yang kusut pun berubah. Untuk kali pertamanya, rasa lelahnya tergantikan dengan rasa senang yang belum pernah dia rasakan selama ini. “Dalam mimpimu!” Baekhyun membalasnya dengan ketus. "Woah, aneh sekali.” Dahi Chanyeol mengerut heran. Baekhyun mengerjapkan matanya berkali-kali. “Ada apa lagi?” “Rasa lelahku mendadak hilang setelah melihat wajahmu.” Chanyeol menatap Baekhyun, begitupun sebaliknya. Namun, tatapan Baekhyun lebih ke geli saat ditatap seperti itu. “Menggelikan! Sepertinya kau memang sudah tidak waras.” Baekhyun segera keluar dari kamar tanpa mendengar balasan dari Chanyeol. Di balik pintu, Baekhyun menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas, seperti habis masuk dari ruang sauna saja. Padahal pernyataan Chanyeol tadi terdengar menjijikkan, tetapi tanggapan tubuh Baekhyun berbeda, bak isi kepala dan hatinya tidak bisa diajak berjalan searah. Lain halnya dengan Chanyeol, pria tampan itu masih kebingungan dengan perasaannya sendiri. Jantungnya saja masih berdegup sangat kencang ketika matanya bertemu pandang dengan iris milik Baekhyun. "Sepertinya diriku di masa sekarang sudah menjadi budak cintanya Baekhyun. Tapi, aku rasa 82

Baeklogy

menikahi laki-laki tidak buruk juga," gumamnya sembari tersenyum lalu memasuki kamar mandi. -o0oHari ini Baekhyun kembali ditinggal kerja oleh Chanyeol. Sudah lebih dari seminggu ini dia tidak melakukan apapun selain duduk di depan televisi atau bermain dengan ponselnya dan itu sangat membosankan. Rona yang kusut, bibir yang maju beberapa sentimeter menghiasi wajah cantik pria itu. Baekhyun kesal dan bosan. Belum pernah dia merasakan bosannya kehidupan seperti saat ini. Baekhyun mengambil ponselnya yang ada di atas meja kopi. Dia hanya perlu menekan angka satu dan nama 'Park Raksasa' dengan emosikan hati berwarna merah di akhir nama pun keluar dengan sendirinya.

"Ada

apa,

Baek?"

tanya Chanyeol yang terdengar sibuk, bisa ditebak karena saat menelepon, pria tampan itu juga berbicara dengan seseorang dengan formal. "Aku ingin mengunjungi kantormu, boleh, ‘kan?" pinta Baekhyun dengan suara yang teramat lucu, Baekhyun sendiri tidak mengerti mengapa dia bisa melakukan hal ini, kepada Chanyeol pula. Semua itu terasa seperti dorongan dari dalam dirinya sendiri. Mungkin Chanyeol merasakan hal yang serupa saat pria tampan itu mengatakan bahwa jantungnya berdebar kencang ketika melihat Baekhyun. 83

17 to 30

"Kenapa? Nanti terjadi apa-apa dengan bayi di perutmu, bagaimana?" Suara berat nan lembut milik Chanyeol di seberang panggilan teleponnya.

sana mulai

fokus

pada

Baekhyun bahkan bisa merasakan kehangatan dari suara itu, dia seperti merasa Chanyeol sedang berbicara dengan penuh cinta kepadanya. Tapi, tentu saja tidak, ya bagaimana mungkin! “Kau berharap terjadi apa-apa padaku?!” ucap Baekhyun kesal karena dia tersinggung dengan perkataan Chanyeol. "Tentu saja tidak! Aku akan memanggil supir untukmu! Jangan menyetir sendirian, Pendek!” ujar Chanyeol terdengar serius di indra pendengaran Baekhyun. "Tidak, aku akan memanggil taksi saja. Nanti bila kau sudah selesai dengan pekerjaanmu, kita bisa pulang bersama.” "Aduh, manis sekali bapak hamil! Sudah mulai menyukaiku, ya? Sampai-sampai ingin berduaan denganku terus?” Baekhyun tidak berkata-kata, dia hanya bisa mengomel seraya menggeram kepada Chanyeol sambil mengelus perut besarnya. "Ouh, tahan, Byun! Seungwan berkata kau harus menjaga emosimu agar bayi kita tidak stres di dalam perutmu!" ujar Chanyeol lagi-lagi menggoda Baekhyun yang hampir saja memecahkan remot televisi di sebelahnya.

84

Baeklogy

“Bukan urusanmu! Kubilang jangan menyebut panggilan menjijikkan itu lagi!” Chanyeol tersenyum geli mendengar omelan sang suami. “Panggilan? Yang mana? Apa maksudmu bayi kita?” “AAAAA!” Chanyeol sontak menjauhkan ponselnya dari daun telinganya tatkala suara melengking itu hampir membuatnya tuli. "Berhenti berteriak, Byun! kanakan!" balas Chanyeol kesal.

Dasar

kekanak-

Baekhyun memasang wajah kesalnya dan bersiap protes kepada pria yang tiba-tiba menjadi suaminya dalam satu malam saja itu. Namun, Chanyeol sudah menginterupsinya lebih dulu. "Sudahlah! Intinya kau harus berhati-hati dan pastikan bayinya stres karenamu! jika kau tidak mematuhinya kau akan mendapatkan hukuman dariku, paham?!" Chanyeol mengernyit bingung karena kalimatnya juga, entah darimana keluarnya kata 'hukuman' itu. "Kau kira aku anak kecil yang bisa kau hukum?!" Intonasi suara Baekhyun kembali meninggi. "Aku tidak mau tahu! Lakukan atau kau tidak akan bisa lagi keluar dari kamarmu!" Baekhyun bersiap akan menyembur, namun Chanyeol sudah menutup teleponnya. Saat itu juga perutnya menerima tendangan lagi. Baekhyun mengelus pelan perutnya. 85

17 to 30

"Kau membela pria jelek itu? Demi apapun aku yang mengandungmu dan kau seenaknya marah padaku, huh?!" monolognya seraya mengomel kesal tak lupa mengelus pelan perutnya agar pergerakan bayinya tidak semakin intens. Bibirnya sedikit mencebik saat matanya tak sengaja melihat pigura yang memperlihatkan foto pernikahan mereka. Di sana Chanyeol tersenyum lebar sambil memeluk tubuhnya. “Harusnya kubunuh saja dia di hutan saat itu.” -o0oSesampainya di lobi utama perusahaan, Baekhyun sudah disambut oleh beberapa orang yang katanya akan mengantarkannya ke ruangan Chanyeol. Baekhyun mati-matian menahan rasa gugupnya ketika sekumpulan orang itu mengawal Baekhyun . Mereka berdiri di depan dan belakang Baekhyun sehingga membuat barisan yang cukup panjang dan berlebihan sampai-sampai dia menjadi pusat perhatian. “Si bodoh itu mengira aku apa sampai dikawal seperti ini?” bisik Baekhyun yang menahan geramannya. Namun, saat Baekhyun akan memasuki lift umum, seorang penjaga memberitahukan dirinya kalau lift tersebut bukan lift untuk Baekhyun. "Bukan disini?" tanya Baekhyun memandang sekumpulan orang itu dengan wajah bingungnya yang menggemaskan. 86

Baeklogy

"Di sini, Tuan," ucap salah seorang pengawal dengan sopan sambil berdiri di depan lift yang tampilannya berbeda dengan lift lainnya. "Nanti Tuan silakan memilih tombol executive

room."

"Executive room?" "Ya, Tuan," kata penjaga itu, "Lift ini akan langsung mengantarkan anda ke ruangan direktur.” Baekhyun masuk dan mengikuti petunjuk dari pengawal itu, menunggu beberapa waktu sampai akhirnya pintu lift terbuka. Bersamaan dengan itu, Chanyeol sudah berdiri di hadapannya dengan penampilan yang membuatnya terpana untuk kesekian kalinya. Entahlah, Chanyeol dan setelan abu-abu dengan kemeja biru pucatnya serta dasi bermotif kotak-kotak perpaduan warna biru muda dan dongker itu merupakan deskripsi terlalu tampan, belum lagi rambutnya yang dimodel ke atas yang mana memamerkan dahi Chanyeol. "Welcome!" Chanyeol merentangkan tangannya sembari tersenyum lebar. Baekhyun yang masih terkesima ikut tersenyum dengan manisnya, dia keluar dari lift tersebut lalu memeluk leher Chanyeol dan membuat pria tampan itu terkejut setengah mati. Baekhyun menaruh kepalanya di dada Chanyeol. Kepalanya sibuk mendusel dada Chanyeol

87

17 to 30

untuk mencari posisi nyamannya, tidak lupa juga memberikan beberapa ruang di daerah perutnya. "B-Baek?" panggil Chanyeol dengan terbata-bata. "Hm?" Baekhyun masih menutup sembari tersenyum di dada Chanyeol.

matanya

"Apa kau sakit?" Baekhyun melebarkan matanya berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Tersadar apa yang sedang dia lakukan, Baekhyun menarik dirinya, wajahnya sangat memerah, mungkin kepiting rebus bukan ibarat yang sempurna lagi untuk menggambarkan semerah apa wajahnya sekarang. Sontak saja, Baekhyun mendorong Chanyeol dari pelukannya, sementara itu Chanyeol tertawa terpingkal-pingkal hingga dia menjatuhkan tubuhnya ke lantai saking lelahnya menertawakan sang suami. "Aku benar-benar tidak tahu mengapa aku bisa melakukan hal itu! Kau tahu sendiri itu menggelikan bagiku!” ujar Baekhyun membela dirinya. "Ya, ya! Terserahmu saja, Hahahaha!" ucap Chanyeol seraya menggoda Baekhyun yang terlihat semakin kesal. "Jangan mengejekku!" sentak Baekhyun yang sangat ingin menampar bibir Chanyeol saat itu juga. "Baiklah, Sayang," goda Chanyeol yang membuat rona merah Baekhyun merambat hingga ke telinga.

88

Baeklogy

"Chanyeol!" Baekhyun mencubit pinggang Chanyeol sampai membuat Chanyeol mengaduh kesakitan. "Aakh, baiklah maafkan aku!" -o0oBaekhyun hanya duduk saja di sofa, sesekali dia melirik ke arah Chanyeol yang sedang membolakbalikkan map hitam tersebut. Baekhyun bisa melihat wajah Chanyeol mengerut kebingungan ketika pria tampan itu tidak mengerti dengan apa yang sedang dibacanya itu. "Kau serius mengerjakannya dengan otak tujuh belas tahunmu?" tanya Baekhyun dengan nada yang meremehkan. Chanyeol menghentikan kegiatannya, mendongak dan menatap ke arah Baekhyun.

lalu

"Kau menganggapku remeh?!" tanya Chanyeol sedikit tersinggung dengan pertanyaan Baekhyun tadi. "Tidak, maksudku otakmu itu otak remaja tujuh belas tahun, dan sekarang kau membaca pekerjaan yang harus dibaca dewasa tiga puluh tahun, apa itu tidak melewati kapasitas dirimu?" "Meskipun jiwa kita masih di umur tujuh belas tahun, tapi fisik dan memori kita sekarang berumur tiga puluh tahun, seperti yang kau lakukan tadi," kata Chanyeol membuat perempatan di dahi Baekhyun. "Tadi?"

89

17 to 30

"Yang kau memelukku tadi," lanjut Chanyeol sudah lebih dari cukup mendefinisikan 'tadi'.

Blush! Pipi Baekhyun kembali merona untuk kesekian kalinya. Chanyeol tersenyum melihat perubahan rona wajah Baekhyun "Itu menunjukkan kalau tubuh kita sudah terbiasa melakukannya, malah mungkin sudah menjadi rutinitas sehari-hari, padahal kita saja tidak pernah berpelukan seperti itu, bukan?" Baekhyun

menganggukan

benarnya juga, pikirnya.

kepalanya.

Ada

"Bagaimana bisa kau memikirkan itu? Padahal, sewaktu di kelas yang kau kerjakan hanyalah tidur?" Chanyeol kembali tersinggung dengan ucapan suaminya itu. "Otak yang berumur tiga puluh tahun ini yang memikirkannya," tukas Chanyeol berbangga diri sembari mengelus rambutnya sendiri. Baekhyun memandang Chanyeol tidak minat. Chanyeol dan kepercayaan dirinya yang tinggi itu merupakan perpaduan yang sempurna untuk dihina. "Eh, aku baru sadar," ucap Baekhyun sembari menoleh ke sana kemari, seperti mencari sesuatu. "Apa?" "Bukannya Mama ke kantor juga tadi pagi? Ke mana Mama?" tanya Baekhyun menatap wajah sang suami dengan tatapan kebingungan yang begitu menggemaskan. 90

Baeklogy

"Oh, tadi Mama ditelepon Papa, jadi dia pulang," jawab Chanyeol dan kembali pada pekerjaan di hadapannya. Cukup lama mereka berdiaman sampai pada akhirnya Chanyeol menyerah dan meninggalkan pekerjaan yang sepertinya ingin mengikis isi otaknya. Chanyeol menempatkan dirinya di sebelah Baekhyun. Sementara itu, Baekhyun yang melihat itu pun menatapnya penuh kecurigaan. "Aku harap jika bayi ini lahir ke dunia, dia menyerupai diriku,” ucap Chanyeol seraya menunjuk perut Baekhyun. Baekhyun terkejut, lalu dengan wajah protesnya dia berkata, "Tidak! Aku tidak mau anak ini mempunyai wajah jelek seperti dirimu!" Bola mata Chanyeol berotasi malas. "Aku yang sangat tampan ini sampai-sampai banyak wanita dan pria yang jatuh hati padaku, malah kau bilang jelek? Kau pasti tidak waras!" Chanyeol memajukan wajahnya ke arah Baekhyun yang ada duduk di sofa lain di sampingnya. Baekhyun membuang wajahnya lagi, memang harus diakui Chanyeol itu tampan, tapi Baekhyun masih belum bisa menerima fakta tersebut. "Tampan darimananya? Masih tampan juga Kak Kris!" gerutu Baekhyun berusaha tidak peduli. Chanyeol menggeser bokongnya agar posisi mereka lebih dekat lagi, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Baekhyun, "Kau yakin?" 91

17 to 30

"MENJAUH DARIKU, BODOH!" Baekhyun mengambil bantal sofa lalu memukuli kepala Chanyeol secara tidak berperikebantalan. "Baiklah, hentikan! Maafkan aku, sudah cukup! Hahaha!" Chanyeol menutupi wajahnya dengan kedua lengannya sembari memohon kepada pria cantik itu agar tidak dipukuli lagi. Baekhyun tetap memukuli Chanyeol sampaisampai dia tidak sadar bahwa pantatnya kini berada di atas kedua paha Chanyeol. "Enyahlah kau, Park Chanyeol! Enyah! Enyah! Enyah!" geram Baekhyun masih memukuli Chanyeol. Namun, kegiatan mereka itu lalu diganggu oleh sebuah ketukan pintu. Baekhyun menatap Chanyeol tersinggung ketika mendapati mereka di posisi intim lagi. “Apa? Salah kau sendiri yang malah naik ke atas tubuhku!” protes Chanyeol tak terima. “Ah, sudahlah! Kau tak bilang padaku akan ada tamu hari ini.” Pria cantik itu menarik dirinya dari atas paha Chanyeol. Chanyeol ikut membenarkan letak dasi dan setelannya yang kusut karena pertengkaran tidak jelas mereka tadi. "Harusnya kami bertemu di restoran, tapi karena kau mau datang tadi, aku membatalkannya dan mengundurnya sampai besok, namun dia bersikeras ingin bertemu denganku sampai menawarkan diri

92

Baeklogy

untuk datang ke kantorku,” jawab Chanyeol masih membenarkan ikatan pada dasinya. "Seorang CEO?" "Ya, dia dari Tiongkok. Namanya siapa tadi, ya? Aku lupa!” kata Chanyeol santai. "Siapa kira-kira?" "Masuklah!" titah Chanyeol dengan nada yang sopan. Lalu, pintu dengan dua buah daun pintu terbuka dan memperlihatkan seorang wanita cantik dengan balutan formalnya. "Permisi, Pak, tamu anda sudah datang." "Persilakan dia masuk, Joohyun." Bae Joohyun—sang sekretaris—hanya membungkuk hormat dan memberi jalan kepada seorang pria di belakangnya. Mata sabit Baekhyun sontak membola melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan Chanyeol tersebut. "Kak Kris?!" Pria tampan nan tinggi menjulang itu tersenyum lembut ke arah Baekhyun, "Aku tak mengira akan bertemu denganmu di sini, Baekhyun. Sudah lama kita tidak bertemu." Chanyeol mengerutkan dahinya kesal ketika melihat tatapan Baekhyun berubah menjadi tatapan memuja terhadap Kris.

'Sial, apa-apaan itu?'

93

17 to 30

17 to 30 Bagian 08 Chanyeol membolakbalikkan kertas-kertas yang ada di dalam map sembari membacanya dengan saksama. Di tengah keheningan yang ada, Baekhyun beserta tatapan memujanya pun membuka suara merdunya. "Kak Kris, terima kasih untuk tendanya, ya!" ucap Baekhyun sambil mengulum senyumnya. Chanyeol yang mendengar itu pun tidak fokus lagi pada huruf-huruf yang ada di atas kertas tersebut. Namun, pria tampan bermata besar itu berusaha tidak kentara dan tetap—pura-pura—membaca isi map tersebut. "Itu sudah lama sekali, Baek, Hahaha!" Tawa renyah Kris berkumandang dengan indahnya di ruangan besar tersebut. "Tetap saja, saat itu tidak ada satupun yang mau membantuku kecuali Kak Kris!" Baekhyun menunduk malu, kesepuluh jemarinya saling terkait satu sama lain, menunjukkan segugup apa dia sekarang di hadapan alumnus yang menolongnya saat mau mendirikan tenda. Namun, pembicaraan Kris dan Baekhyun terpotong tatkala Chanyeol dengan sengaja melempar 94

Baeklogy

map hitam tebal itu ke meja kopi hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras dan membuat kedua pria lainnya dan juga sekretarisnya terkejut bukan main. Chanyeol menoleh ke arah Baekhyun yang menatapnya kesal, mata sabit itu seolah-olah berbicara, “Menganggu saja kau!”

'Itukan karena aku keduluan, kalau tidak, ya, aku yang membantumu, Byun Baekhyun yang bodoh!' Wajah Chanyeol yang awalnya masam berubah menjadi ramah dan tersenyum manis. "Ah, maaf ya, tanganku memang licin, jadi barang yang kupegang suka tergelincir." -o0o"HAHAHA!" Chanyeol tertawa dengan kerasnya hingga membuat indra pendengaran Baekhyun pengang. Sekarang, di dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua saja, Joohyun dan Kris sudah keluar beberapa menit yang lalu. "Kau tertawa?" tanya Baekhyun yang terheranheran sendiri melihat suaminya seperti orang gila. "Apa aku tampak sedang menangis?" pertanyaan retoris Chanyeol dengan nada tidak bersahabat terlontar begitu saja. Entahlah, dia kesal saja dengan sikap Baekhyun yang membuatnya merasa tidak nyaman tadi.

95

17 to 30

Baekhyun menggulirkan bola matanya malas, "Terserah!" Chanyeol terkekeh malas, "Apa tadi itu? Kau cari perhatian ke manusia yang bernama asli Wu Yifan itu, ya?" tanyanya sembari menatap Baekhyun dengan tatapan intimidasi. Tetapi, bukan namanya Baekhyun jika tidak melawan. "Kalau iya memangnya kenapa?!" Baekhyun membesarkan matanya seolah-olah menunjukkan keberaniannya terhadap sang suami. "Kau suka padanya?" Pria besar itu kembali bertanya, kali ini nada suaranya terdengar gusar. Jelas! Dia tampan dan baik. Ada masalah untukmu?!" sahut Baekhyun tidak mau kalah. Baekhyun akan tetap menjadi Baekhyun. "Ada!" "Apa?!" "Kau sudah menikah denganku dan lihat perutmu itu! Membengkak karena sedang mengandung anakku! Berani-beraninya kau menyukai laki-laki lain!" Baekhyun terdiam, matanya mengerjap-ngerjap tanpa mengeluarkan satu patah katapun. Pasalnya, Baekhyun tidak menyangka Chanyeol akan mengeluarkan jawaban yang terdengar begitu posesif seperti itu. Senyum jahat mengembang di bibir tipis Baekhyun dengan indahnya, "Kau cemburu, ya?"

96

Baeklogy

Kini mata Chanyeol yang membesar seperti akan keluar dari tempatnya. "Tentu saja tidak, untuk apa aku cemburu?" Baekhyun mendelik ke arahnya, "Jangan membohongiku, kau tidak bisa membohongiku, Tuan Park!" "Aku tidak, Byun Baekhyun!" ujar Chanyeol cepat lalu kembali ke meja kerjanya dan berusaha menutupi wajahnya dengan map di tangannya. sofa.

Baekhyun memerhatikan pria tampan itu dari

"Hei, Park Chanyeol!" panggil Baekhyun dengan senyum yang ditahan. "Sudah kubilang tidak!" sahut Chanyeol kukuh dengan kata-katanya, tidak menyadari suatu hal. "Apanya yang tidak? Aku hanya ingin mengatakan kalau mapmu terbalik, Bodoh!" ujar Baekhyun yang puas sudah berhasil menggoda Chanyeol sampai membuat pria tampan itu bersembunyi di balik map yang terbalik. "Aku jadi heran, jangan-jangan kau yang seharusnya menjadi posisi istri, bukannya aku," celetuk Baekhyun sembari menyandarkan punggungnya di kepala sofa. "Berhentilah berbicara, nanti kau kucium!" balas Chanyeol yang sudah lebih tenang dari sebelumnya. Pria tampan itu membenarkan kerah jasnya, dan memasang wajah datar sembari membaca isi dari

97

17 to 30

mapnya, meskipun dia tidak mengetahui maksud dari isi map tersebut. "Cium saja, lagi pula di masa ini kau sudah berbuat yang macam-macam dengan tubuhku," sahut Baekhyun yang mungkin tidak tahu apa yang sedang dia bicarakan. Mendengar sahutan itu, Chanyeol langsung tersedak ludahnya sendiri. "Terbatuk, huh? Kau pikir aku takut dengan ancamanmu?" tanya Baekhyun sinis karena batuk Chanyeol tidak kunjung berhenti. "Bisa-bisanya kau mengatakan itu dengan sangat tenang?" tanya Chanyeol sedikit meninggikan suaranya. "Apakah aku salah?" tanya Baekhyun sembari memiringkan kepalanya dengan tatapan yang polos. Polos dan bodoh hanya berbeda tipis, bukan? Dan sayangnya, Baekhyun terlalu banyak bodohnya. -o0oMalam semakin larut, bahkan hampir menunjukkan pukul setengah sebelas, namun Chanyeol belum menyelesaikan pekerjaannya. Baekhyun yang kebosanan pun semakin terkantukkantuk. Melihat hal itu, Chanyeol luluh dan menyudahi semua pekerjaannya, kemudian mendekati Baekhyun. Sebenarnya jam kerja sudah selesai sedari tadi, akan tetapi Chanyeol masih sibuk menyelesaikan tugasnya agar esok tidak terlalu berat baginya. 98

Baeklogy

"Baekhyun?" Chanyeol mendudukan dirinya di samping Baekhyun, dirinya tampak ragu saat jemari besar itu ingin menggoyangkan tubuh Baekhyun. Entahlah, melihat Baekhyun terlelap seperti ini membuatnya kembali teringat momen saat mereka di bus perjalanan. Wajah yang suka sekali mengolok dirinya itu kini tampak pulas dan menggemaskan. Chanyeol menyentuh surai kecokelatan milik Baekhyun dengan jemarinya, lalu dia menyibakkan poni yang hampir menutupi mata si pendek itu. Pria dengan mata bulatnya itu tersenyum simpul, "Bagaimana bisa laki-laki bila dipandang dengan jarak sedekat ini seperti tidak memiliki poripori saja? Apa dia manusia?" Chanyeol bermonolog sendiri. Sementara itu, Chanyeol kehilangan akalnya, wajahnya mendekat lantas mengecup bibir itu. Hanya sebuah kecupan, lalu Chanyeol melepaskannya. Tidak selang beberapa lama, mata Baekhyun pun terbuka. Mereka bersinggungan selama beberapa detik. Chanyeol seolah-olah mati kutu, tubuhnya mematung, dan detak jantungnya seakan-akan berhenti tatkala menemukan Baekhyun telah memergokinya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Baekhyun sedikit parau karena dia baru saja bangun. Chanyeol menarik dirinya, menjaga jarak duduk, "Aku juga tidak tahu apa yang sudah 99

17 to 30

kulakukan barusan," ucapnya dengan nada dan rona wajah syoknya. "Kau tidak melakukan hal yang tak senonoh kepadaku, ‘kan?" tanya Baekhyun menghakimi Chanyeol. "Tentu saja tidak!" sentak Chanyeol hingga mengejutkan Baekhyun. "Ya, sudah, bilang saja tidak, tidak perlu berteriak seperti itu!" cibir Baekhyun kesal sendiri. "Aku tidak berteriak!" sentaknya lagi membuat Baekhyun semakin menatapnya aneh. "Lihat! Kau baru saja meneriakiku, Bodoh!" sahut Baekhyun tidak terima. Chanyeol hanya bisa diam dan menghardik dirinya sendiri atas kontrol tubuhnya yang belum bisa dia kuasai itu.

'Astaga! Lama-lama tubuh ini bisa melakukan hal yang menyeramkan juga!' -o0o"Aku mau makan tteokpoki!" pintanya dengan suara seperti anak kecil yang minta dibelikan permen. Chanyeol yang masih fokus menyetir menghela napas beratnya. "Tapi itu pedas dan kau sedang hamil, Baekhyun! Jika terjadi apa-apa pada perutmu bagaimana?" "Sekali saja, eum? Aku sangat ingin memakan tteokpoki di tahun ini, aku penasaran apakah rasanya sama atau sudah berubah." Baekhyun melemparkan tatapan yang begitu menggemaskan, sampai-sampai Chanyeol harus membanting setir ke bahu jalan agar 100

Baeklogy

fokusnya tidak terpecah belah karena menahan kegemasannya. "Hei, bisakah kau hentikan itu? Kau tahu sendiri kalau Jantungku di jaman ini mengalami kerusakan parah," ucap Chanyeol sambil mengusap dada kirinya yang bak digunakan lari jarak jauh. "Kalau kau tidak mau, aku akan tetap seperti ini," ucap Baekhyun masih mengedipkan matanya berulang kali sambil mengerucutkan bibirnya. itu.

Astaga, Baekhyun seperti boneka bila melakukan

Chanyeol menyandarkan punggungnya menghela napas lelah, "Hhh, Baiklah!"

dan

"Ah, Park Chanyeol, kau baik sekali!" Baekhyun memeluk leher Chanyeol dari samping, menarik-narik leher itu ke jok tempatnya duduk hingga Chanyeol mengaduh. Terbebas dari pelukan maut Baekhyun, Chanyeol menatapnya dengan mata yang menyipit, "Jangan merayuku!" "Hehehe!" -o0oBaekhyun menghabiskan semangkuk tteokpoki untuk dirinya sendiri. Lalu, Chanyeol yang melihatnya menggelengkan kepalanya heran. "Kau lapar atau doyan?" tanya Chanyeol berniat bercanda.

101

17 to 30

"Dua-duanya!" sahut Baekhyun seraya memberikan senyuman di mata sabitnya. Melihat itu, Chanyeol tidak bisa untuk menahan senyumannya. "Jangan tersenyum seperti itu!" protes Chanyeol tanpa bisa berkedip. "Kenapa?!" tanya Baekhyun sedikit judes. "Kau jauh lebih menggemaskan dari biasanya, jantungku selalu sakit bila melihatmu seperti itu," pungkas Chanyeol apa adanya. Baekhyun terdiam, dia tidak lagi tersenyum, tapi matanya mengedip dengan lucunya, seperti anak kecil yang sedang kebingungan. "Hei, hentikan!" protes Chanyeol lagi. "Aku bahkan tidak berbicara, Chanyeol!" ujar Baekhyun dengan suara yang pelan. "Nah, itu dia, bahkan kau menggemaskan walaupun dalam keadaan diam saja!" kata Chanyeol dengan penekanan di setiap kata-katanya. Bola mata Chanyeol berotasi malas, ingin sekali dia menyiram segelas air putih di depannya tepat di wajah tampan Chanyeol. Andaikan saja dia bisa, namun dirinya di masa ini tak bisa melakukannya karena perasaan aneh ini. "Sudah selesai? Mari kita pulang!" ajak Chanyeol kepada Baekhyun yang tampaknya masih begah karena perut yang besar, lalu ditambah lagi pria cantik itu telah memakan semangkuk besar tteokpoki tanpa bersisa sedikitpun.

102

Baeklogy

"Rasanya aku tidak mau bangun saja," ungkap Baekhyun sembari berdiri dengan berhati-hati. Chanyeol lekas berdiri dan membantu Baekhyun berdiri. Baekhyun memasang rona keruhnya, dahinya pun memunculkan tiga garis kerutan. "Kau pikir aku sudah kakek-kakek?" tanya Baekhyun setengah protes. Chanyeol hanya bisa menghela napas malasnya. Baekhyun memang sangat sensitif ketika mereka berada di masa ini. Mungkin memang karena Baekhyun sedang hamil saja. Mereka akhirnya pulang. Karena perjalan dari kedai tteokpoki ke rumah mereka itu cukup jauh, Baekhyun tertidur di jok penumpang dengan wajahnya yang damai. Chanyeol melirik ke arah Baekhyun dan membawa mobil sehalus mungkin agar kepala Baekhyun tidak terantuk kaca mobil. -o0oSesampainya mereka di basemen rumah, Chanyeol menghentikan mobilnya dan melepas sabuk pengamannya. "Baekhyun, kita sudah sampai, kau tidak mau bangun, hm?" tanya Chanyeol lembut dengan suaranya yang serak dan dalam itu. Tidak ada jawaban yang didengarnya, Baekhyun benar-benar terlelap. Chanyeol keluar dari mobilnya dan membuka pintu jok penumpang—tempat di mana Baekhyun berada. 103

17 to 30

"Ayolah, aku tidak mampu mengangkat badanmu, pasti bobotmu bertambah banyak! Ayo, lekas bangun!" kata Chanyeol sambil melepaskan sabuk pengaman Baekhyun yang menahan pria cantik itu. Baekhyun membuka matanya, bibirnya mengerucut lucu, lalu pria cantik itu berkata dengan suara seperti ingin menangis, "Aku mengantuk, biarkan aku tidur lima menit lagi!" Chanyeol mengernyitkan dahinya tidak terima. Untuk pertama kalinya Chanyeol melihat sisi lain dari seorang Byun Baekhyun ini. "Hei, yang benar saja? Aku tak akan mampu mengangkat tubuhmu!" protes Chanyeol kebingungan sendiri. Dia tidak mau membahayakan bayi di dalam kandungan Baekhyun "Gendong, eum?" Baekhyun mengulurkan kedua tangannya ke depan seperti balita yang ingin digendong ayahnya. Kedua matanya masih terkatup karena rasa kantuk tak kunjung menghilang. "Berhentilah merengek! Bangunlah!" "Kakiku sedang sakit, gendong untuk kali ini saja, ya?" pinta Baekhyun sembari tersenyum manis, kelewat manis malah. Chanyeol pasrah, terlalu manis, dia tidak kuat melihatnya. "Hhh, baiklah, kau menang hari ini." Bisa didengar oleh Chanyeol, Baekhyun bersorak dengan membisikkan kata 'Yes!' dengan 104

Baeklogy

suara yang sangat pelan. Tapi, bukannya kesal, Chanyeol malah menyukainya, entahlah di masa ini Chanyeol tidak bisa memarahi Baekhyun. Chanyeol menyelipkan tangan kanannya di balik dengkul Baekhyun dan yang satunya lagi di belakang punggungnya. Dengan perlahan, Chanyeol mengeluarkan Baekhyun dari mobil, dia berusaha agar perut Baekhyun tidak terhimpit. "Astaga! Rasanya aku seperti sedang menggendong truk gandeng!" ujar Chanyeol yang ditanggapi dengan dengusan dan rona marah pada wajah cantik itu. Baekhyun mengeratkan kaitan lengannya di leher Chanyeol yang sedari tadi memasang wajah bak tengah menahan kentut. Sementara itu, Baekhyun menyembunyikan wajahnya yang sedang menahan tawa di dada Chanyeol. Tanpa disadari Baekhyun sendiri, kepalanya semakin merapat ke dada Chanyeol dan menikmati kehangatan di sana. "Kau buka pintunya," kata Chanyeol saat mereka sudah sampai di depan pintu rumah mereka. Baekhyun menuruti Chanyeol. Dia melepaskan kaitan tangannya, kemudian membuka kenop pintu rumahnya. Chanyeol segera membawa tubuh berat yang berada di dalam gendongan itu ke kamar mereka, lalu meletakkannya secara hati-hati ke atas ranjang. "Aaah! Sepertinya tulang punggungku mengalami keretakan," keluh Chanyeol sembari memegangi punggungnya, dia merenggangkan ototnya agar tidak terik. 105

17 to 30

Baekhyun tertawa pelan dan itu membuat Chanyeol tersinggung. Chanyeol menghela napas beratnya, dia menggeram kesal karena tingkah sang suami. "Bisa-bisanya kau tertawa?! Sudahlah, tidur lagi saja sana!” Chanyeol menyibak selimut dan melemparnya ke arah wajah Baekhyun hingga rasa kantuk si manis itu hilang karenanya. “PARK CHANYEOL!”

106

Baeklogy

17 to 30 Bagian 09 Baekhyun terbangun dari tidurnya tatkala dirasanya seseorang yang menempati ranjang yang sama dengannya tengah bergerak gusar hingga menimbulkan gerakan yang membuatnya tak nyaman. "Apa yang kau lakukan?" tanya Baekhyun dengan kerutan di dahinya yang mulus. Dia tidak mengerti saja kepada Chanyeol yang posisinya saat ini adalah kakinya berada di atas bantal sementara kepalanya berada di sebelah kaki Baekhyun. "Ah, punggungku rasanya mau patah!" keluh Chanyeol sembari menempelkan lembaran putih berbau mint yang tajam itu ke belakang punggungnya yang tidak mengenakan sehelai benang pun. "Kau tidak tidur semalaman?" tanya Baekhyun terheran-heran. "Bagaimana bisa aku tertidur dengan tubuh yang pegal-pegal?" Chanyeol menggulirkan matanya ke atas mendengar pertanyaan Baekhyun seperti tidak bersalah pada punggungnya.

107

17 to 30

Baekhyun memajukan bibirnya beberapa senti, dia mengedik tidak peduli. "Jangan salahkan aku! Itukan permintaan bayi ini, Park Chanyeol!" "Daripada kau berbicara tidak penting, tolong aku menempelkan koyo ini ke punggungku, aku tidak bisa menempelkannya di tempat yang tepat!" ujar Chanyeol dengan nada suara yang kesal. Dengan wajah masam dan bibir yang tengah memperolok-olok Chanyeol. Dia mengambil koyo di tangan Chanyeol, lalu menempelkannya ke bagian yang ditunjuk Chanyeol dengan kasar. “Tidak bisakah kau melakukannya dengan sedikit lembut, Pendek?” ujar Chanyeol tak terima dengan perlakuan si mungil itu. Baekhyun berdiri di atas kasur. Chanyeol sontak berbalik dan mendongak. "Mau ke mana kau?" "Ke kamar mandi, lah! Apa kau mau ikut?" Baekhyun yang usil pun naik ke punggung Chanyeol dan membuat pria tampan itu berteriak seperti kucing yang diinjak ekornya. "SIALAN!" Baekhyun yang mendengar umpatan chanyeol hanya tertawa geli dan menghilang di balik pintu kamar mandi, sementara Chanyeol masih bergulingguling kesakitan di atas kasur. "Awas saja kau, Baekhyun!" geram Chanyeol sambil menatap pintu kamar mandi, lalu dia meringisringis lagi. 108

Baeklogy

-o0oMau tidak mau, Chanyeol harus kembali ke kantornya dan berkutat dengan pekerjaannya lagi. Lalu Baekhyun? Dia sibuk bermalas-malasan di rumah; menonton, makan, mendengarkan musik, dan minum susu ibu hamil dengan teratur. Begitu terus sampai dia kebosanan sendiri dan berkeinginan untuk menelepon Chanyeol. "Telepon, tidak, telepon, tidak, telepon...." Baekhyun menghabiskan hitungan di kelima jarinya agar membantunya menentukan pilihan. Namun, jawaban yang ditemukannya tidak sesuai keinginan. Tanpa disadari Baekhyun, jemarinya menyentuh tombol hijau yang bertuliskan kata 'panggil'. "Apa yang aku lakukan?!" seru Baekhyun yang salah tingkah. Tidak memerlukan waktu lama, Chanyeol mengangkat panggilannya. Melihat itu, Baekhyun ikut terheran. "Cepat sekali?"

"Apanya?" "Mengangkat panggilan teleponku."

"Kau sedang hamil, Baek. Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu." Baekhyun sedikit tersipu, entah karena penghangat ruangan atau perkataan Chanyeol.

109

17 to 30

"Aku tidak apa-apa, Chanyeol! Jangan berlebihan!" ujarnya galak, namun wajahnya semakin memerah saja.

"Iya, sekarang kau tidak apa-apa, kalau nanti bagaimana?" tanya Chanyeol di seberang sana sedikit tersinggung dengan jawaban Baekhyun.

"Jadi kau mau sesuatu yang tidak baik terjadi padaku ya?!" ujar Baekhyun dengan urat yang keluar di lehernya.

"Bukan begitu maksudku, Baek! Astaga," sahut

Chanyeol cepat agar sang mengambek kepadanya.

suami

tidak

makin

"Kau memang jahat! Kau tidak sayang kepada anak yang ada di dalam perutku ini!" Baekhyun menghakimi Chanyeol dan yang dihakimi hanya bisa memijat pasrah batang hidungnya.

"Hei, apa kau sedang datang bulan?" "AKU LAKI-LAKI, BODOH!" Tanpa pamit, Baekhyun segera memutuskan panggilan itu secara sepihak. Dadanya naik turun tidak teratur pertanda emosinya menguasainya. Niatnya ingin mengusir rasa bosannya, namun yang didapatkannya hanyalah emosi. -o0oChanyeol membuka pintu rumahnya dengan cepat, kemudian masuk ke dalamnya dan berujar, “Aku pulang!” Namun tidak ada yang menyambutnya, keadaan rumah pun tampak lenggang. 110

Baeklogy

Dengan wajah khawatirnya, Chanyeol menyusuri seisi rumah mereka, dan terakhir yang dipijaknya adalah lantai kamar yang suasananya gelap. Akan tetapi, sesuatu membuatnya bergidik, yaitu angin malam yang masuk lewat pintu balkon. "Di sana kau rupanya," monolog Chanyeol lalu berjalan dengan percaya dirinya. Sesuai dugaan, Baekhyun berdiri di tepi balkon dengan pagar pembatas yang menjadi peristirahatan tangannya. Diam-diam, Chanyeol berjalan dari belakang lalu menempati sisi kiri Baekhyun. "Hei, kenapa kau di luar?" tanya Chanyeol tanpa menyapa terlebih dahulu membuat Baekhyun tersentak. Bahkan, pria cantik itu sampai mengelus dadanya. "Kau mengagetkanku, Bodoh!" ujar Baekhyun tidak terima, yang dimarahi pun hanya bisa menggaruk kulit kepalanya. Baekhyun melirik sedikit ke arah Chanyeol, lalu menatap kembali ke hamparan kota Seoul dari tempatnya sekarang. "Eh, kapan kau pulang?" "Baru saja." Jawaban pendek itu tidak ditanggapi lagi oleh Baekhyun. Suaminya itu sibuk mengagumi pemandangan asri yang ditampilkan lewat balkon kamar. Chanyeol tersenyum melihat wajah cantik sang suami tampak senang hari ini. Apalagi angin yang memainkan surai kecokelatan milik Baekhyun. Benarbenar indah, pikirnya. 111

17 to 30

Dan, tiba-tiba sesuatu seperti sedang menggerakkan persendiannya bak otaknya sedang dikendalikan oleh orang lain. Chanyeol tersenyum dengan sendirinya, kemudian dia berdiri di belakang Baekhyun dan menyelipkan kedua tangannya di antara pinggang Baekhyun, setelahnya memeluk perut yang agak membesar itu dengan hati-hati "Astaga, serius ini bukan keinginanku, Baek!” ujar Chanyeol yang ikut terkejut atas tindakan yang dia lakukan saat ini. Dari belakang sana, Chanyeol dapat menghirup aroma mint yang menguar dari surai kecokelatan milik si manis itu. Semburat warna merah muda muncul di kedua pipi Baekhyun, bahkan dengan cepat merambat hingga ke telinganya. Baekhyun sungguh tidak pernah berharap bahwa Chanyeol akan memeluknya seperti ini. Baekhyun bergerak gusar, entahlah dia hanya merasa sedikit canggung dan tidak nyaman, sama seperti Chanyeol. Namun bukannya melepaskan, Chanyeol malah mengeratkan pelukannya, bahkan menempatkan bibirnya di belakang telinga kanan Baekhyun. Baekhyun luar biasa canggung, bulu kuduknya meremang saat napas Chanyeol menerpa tengkuknya. “Demi Tuhan, Chanyeol! Kau menakutiku sekarang!" seru Baekhyun seraya melirik ke tangan Chanyeol yang melingkar di perut besarnya dengan pandangan horornya. 112

Baeklogy

Baekhyun tidak mengerti pula dengan dirinya sendiri. Di dalam pikirannya, Baekhyun ingin menginjak kaki Chanyeol agar pria tampan itu melepaskan pelukannya, namun sesuatu menahan diri Baekhyun untuk melakukan hal tersebut. Chanyeol menggeleng pelan, dia menggesek pelan hidungnya dengan rambut belakang Baekhyun. Wajah Baekhyun semakin memerah, kegugupannya juga ikut bertambah. Astaga, bisa mati menahan napas bila lama-lama di posisi seperti ini. Pikiran Baekhyun semakin kalut, tetapi dia tidak bisa melepaskannya, seakan-akan dia juga menginginkannya. "Wah!" lirih Baekhyun terheran.

Chanyeol

sedikit

membuat

“Ada apa?” “Aku tak mengira kau akan menerima saja perlakuanku ini?” tanya Chanyeol takjub dengan apa yang dilihatnya. Baekhyun tidak tahu lagi harus menanggapi perkataan Chanyeol dengan kalimat apa lagi. Semua perkataan pria tampan itu hampir membuatnya ingin melompat saja dari balkon kamar mereka yang terletak di lantai dua ini. “Aku kebosanan di rumah. Apa kau tidak bosan juga dengan pekerjaanmu?” Chanyeol mengernyitkan dahinya tatkala suara lembut itu bertanya padanya. “Tentu saja! Tidak ada hiburan apapun. Kalau begitu aku akan mencari hari yang tepat untuk berlibur dan melimpahkan pekerjaan kepada Mama 113

17 to 30

lagi.” Baekhyun terkekeh pelan mendengar jawaban sang suami. “Kau pasti akan diomeli lagi olehnya.” “Tentu saja! Atau kau ingin bertemu dengan orang tua atau geng sekolahmu yang sok eksis itu?” Chanyeol akhirnya dapat sedikit mengontrol keinginannya, lalu melepas pelukan itu; dia beralih berdiri di samping Baekhyun. “Kau benar! Aku melupakan orang tuaku!” ujar Baekhyun seraya menepuk jidatnya hingga sang empunya jidat sendiri ikut mengaduh sakit atas tindakan bodohnya. “Dasar anak durhaka!” Baekhyun sontak mendorong lengan Chanyeol dengan wajah masamnya membuat Chanyeol tertawa lepas. “Lalu, siapa nama teman-temanmu yang sok eksis itu?” tanya Chanyeol sedikit menerawang dan mencoba mengingat nama-nama teman Baekhyun yang menyebalkan itu. “Maksudmu Jongin, Sehun, Jongdae, Kyungsoo, dan Luhan?” Baekhyun menyebutkan nama temantemannya sekaligus memastikan air muka Chanyeol. “Nah, mereka! Mereka sangat menyebalkan ketika mencoba untuk menjodoh-jodohkan kita,” kata Chanyeol sembari menggeram kesal ketika mengingat upaya teman-teman Baekhyun untuk menjodohkan mereka. “Kau saja yang terlalu bawa perasaan, Bodoh! Makanya mereka suka menggodamu.” 114

Baeklogy

“Apa karena kau menyukaiku?” celetuk Chanyeol sembari menyipitkan matanya. Sementara itu, mata Baekhyun sontak membola, terkejut akan perkataan Chanyeol barusan. “Mimpi saja kau!” -o0oPagi ini Baekhyun membuka matanya tanpa menemukan sang suami di sampingnya. Dari catatan yang dia dapatkan di meja nakas, Baekhyun bisa menyimpulkan kepergian Chanyeol tanpa berpamitan kepadanya itu karena Chanyeol harus menghadiri pertemuan bersama orang-orang penting di perusahaannya. Dan, hari ini Baekhyun kembali menghabiskan waktu membosankannya di rumah. Seperti biasa, siang hari begini Baekhyun duduk di sofa ruang keluarga dengan televisi besar di depannya sedang menyala, namun matanya lebih memilih untuk fokus ke layar ponselnya. Baekhyun tersenyum sendiri saat mengetahui bahwa dirinya masih berkomunikasi dengan baik dengan teman-temannya setelah tiga belas tahun berlalu. “Mereka tidak pernah berubah.” Kim Jongin : Dasar bapak-bapak hamil, awas saja pertemuan kita nanti akan batal karena ada pria yang sedang hamil tua sekarang.

115

17 to 30

Byun Baekhyun : Brengsek! Umur bayi yang menumpang di perutku baru akan beranjak 6 bulan, Bodoh! Luhan : Menumpang? Dia anakmu, Byun Baekhyun yang bodohnya melebihi Jongin! Do Kyungsoo : Jangan mengatai suamiku! Byun Baekhyun : Sebentar! Kau menikahi pria gila itu, Do Kyungsoo? Kau serius? Bukankah dulunya kau menyumpahiku hanya karena aku menjodohkan kalian?! Oh Sehun : Aku bahkan menikahi Luhan, Baek. Jika saja kau lupa atau amnesia. Byun Baekhyun : Wah! Dunia ini sungguh menyeramkan! Bagaimana bisa si ceroboh dan jorok bisa bersatu dengan si gila bersih? Luhan : Brengsek, kau mengataiku jorok?! Byun Baekhyun menyedihkan.

:

Kenyataan

memang

Luhan : Lihat saja, aku berharap anakmu lebih jorok daripada kejorokanku dulu. Kim Jongdae : Baek, kau harus tahu sekarang Luhan malah yang jadi pembantu di rumahnya sendiri. Luhan : Jaga mulutmu, Jongdae! Aku bapak rumah tangga yang sibuk mengurusi anak dan suamiku. Oh Sehun : Aku mencintaimu, Luhan. Luhan : Love you too, Baby. 116

Baeklogy

Byun Baekhyun : Ewh, menggelikan. Do Kyungsoo : Kau dan Chanyeol bahkan lebih parah. Sok sekali tidak mau digoda oleh kami dulunya, eh sekarang malah kau sedang mengandung anaknya. Byun Baekhyun : Berhenti menjelekkan suamiku! Hal terpenting bagiku sekarang adalah aku sangat mencintainya dan dia pun begitu! Baekhyun mengangkat kedua ibu jarinya yang sedari tadi menempelkan pada papan ketik tersebut. Dia membaca ulang ketikan yang baru saja dia kirim ke ruang percakapannya bersama sahabatnya tersebut. “Astaga, ibu jariku sepertinya sedang kerasukan iblis budak cinta!” Tidak lama kemudian, ponselnya bergetar beberapa kali hingga mengejutkan pria cantik itu. Dengan gesit, Baekhyun mengambil ponselnya dan melihat nama siapa yang muncul di layarnya. ‘Park Raksasa’ “Menyeramkan sekali, bagaimana bisa dia tahu kalau aku sedang membicarakannya?!” Mata Baekhyun melebar karena terkejut. Lalu, dia berdehem sesaat untuk membasahi kerongkongannya yang mendadak kering sebelum mengangkat panggilan dari sang suami.

"Baekhyun, besok aku ada perjalanan bisnis ke

Jeju." ujar pria di seberang sana dengan suara seraknya.

117

17 to 30

Baekhyun terdiam dan tidak membalas ujaran Chanyeol, bukan karena suara Chanyeol yang sangat seksi, dia hanya berpikir bahwa beberapa hari ke depan dia akan mati kelaparan di rumah sebesar istana ini jika Chanyeol pergi.

"Baek?" panggil pria tampan itu lagi saat dia

tidak mendengar tanggapan dari Baekhyun. Baekhyun kembali tersadar dengan lesu, "Berapa lama?"

dan

membalas

"Sekitar lima hari." "Baiklah, aku akan menunggumu di sini, tapi jangan salahkan aku bila dapur rumah kita mengalami kebakaran." Baekhyun menghela napasnya, diam-diam setelah mengucapkan kalimat terakhirnya dia berharap Chanyeol tidak jadi pergi.

"Siapa bilang kau tinggal?" Satu kalimat ini, cukup membuat alis dan dahi Baekhyun berkerut bingung sekaligus heran. "Maksudmu?"

"Tentu saja aku akan membawamu untuk ikut bersamaku, aku tidak ingin kau dan bayi kita kesepian di rumah" Lihatlah wajah Baekhyun sekarang; rona wajah bak buah jambu busuk yang terjatuh dari pohonnya itu kini menghiasi wajah cantiknya. “Park Chanyeol, sudah kukatakan berulang kali! Jangan mengatakan hal menggelikan seperti itu!” ujar 118

Baeklogy

Baekhyun sedikit menggeram gemas karena Chanyeol selalu mencoba untuk menggodanya.

“Sudah kukatakan pula padamu jangan bertingkah menggemaskan seperti itu karena tidak baik untuk jantungku, ‘kan?” Dan, rona merah jambu di wajah cantik Baekhyun pun semakin menyebar hingga ke telinganya.

119

17 to 30

17 to 30 Bagian 10 Sebelum melakukan perjalanan beberapa jam lagi, Chanyeol dan Baekhyun meluangkan waktu mereka untuk makan siang. Keduanya tidak perlu khawatir lagi soal barang bawaan mereka untuk di Jeju nanti, karena Joohyun sudah mengatur segalanya jadi Chanyeol dan Baekhyun hanya perlu membawa tubuh mereka saja. Saat ini, Chanyeol dan Baekhyun tengah berada di toko roti yang letaknya tidak jauh dari bandara. "Aku ingin yang itu, terus itu, dan itu!" Baekhyun menunjuk roti-roti yang berada di dalam etalase tersebut dengan mata yang berbinar. "Tapi bagaimana kalau kau nantinya mabuk di pesawat, Baek? Kita pesan dua roti saja, ya?" bujuk Chanyeol pelan, bukannya dia pelit. Hanya saja Baekhyun tengah hamil dan biasanya orang yang sedang hamil mudah mengalami mual, apalagi ketika mereka akan melakukan perjalanan udara nanti, pasti akan bertambah parah. "Tidak mau! Aku mau lima!" ujar Baekhyun tetap kukuh dengan permintaannya. Bibirnya mengerucut beberapa senti. Ketika Chanyeol melihat 120

Baeklogy

itu seluruh emosinya terasa tertahan di kerongkongan, alhasil dia hanya bisa menghela napas saja. "Kau mau habiskan sekarang juga?" tanya Chanyeol dengan wajah tak percayanya. "Iya, hehehe! Boleh, ya?" Baekhyun menyengir dengan mata yang melengkung seperti sabit. Sedangkan, Chanyeol mengulum bibirnya, dia menahan kegemasannya itu sampai-sampai matanya mulai memanas. "Hhh, iya boleh." Pada akhirnya, Park Chanyeol tidak membantah permintaan suami mungilnya.

bisa

-o0oPesawat sudah lepas landas setengah jam yang lalu, namun Baekhyun tampak diam di sebelah Chanyeol sekarang. Chanyeol yang terheran-heran pun tidak bisa menahan dirinya untuk tak bertanya kepada sang suami. "Kau bisa berbicara dua ratus kata dalam satu menit tadi, kenapa sekarang kau diam saja?" tanya Chanyeol berlagak sarkasme kepada Baekhyun. Baekhyun menoleh sekilas, dia meneguk ludahnya susah payah. Bukan karena dia gugup dipandangi oleh Chanyeol, melainkan isi perutnya yang seperti sedang teraduk. "Err, isi perutku rasanya naik ke atas semuanya," kata Baekhyun dengan wajahnya yang kelat. Chanyeol mendelik tidak suka, "Bukan sudah kuperingatkan tadi, ‘kan?!" 121

17 to 30

"Sepertinya aku ingin ... HUWEK!" Seperti apa yang sudah diperkirakan Chanyeol, si mungil itu kini memuntahkan semua isi perutnya di atas lengannya. Sekali lagi, di atas lengannya hingga membasahi sebagian celananya juga "ASTAGA, BYUN BAEKHYUN!” -o0oBaekhyun berdehem tidak nyaman saat Chanyeol melekatkan bokongnya ke kursinya lagi setelah kembali dari toilet. "Di mana kemejamu?" tanya Baekhyun sembari mengulum senyum malunya tatkala Chanyeol keluar hanya berbalut kaos singlet saja dan celana setengah lembab "Aku buang," jawab Chanyeol singkat. Cara bicaranya pun mendadak jadi datar dan dingin. Siapa yang tidak kesal saat ada orang yang memuntahimu? "Kenapa?" tanya Baekhyun berusaha mencairkan suasana lagi. "Baunya melekat dan benar-benar membuatku ingin muntah juga, bagaimana bisa aku menyimpannya?!" Baekhyun terkekeh sembari menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal. Dengan ragu Baekhyun bertanya pada sang suami, "Apa kau nanti keluar dari pesawat hanya menggunakan kaos singletmu saja?"

122

Baeklogy

"Tentu saja! Kau pikir itu perbuatan siapa?" tanya balik Chanyeol terlihat kesal. "Ayolah, jangan memasang wajah masam seperti itu. Lihat aku! Tersenyumlah seperti ini!” ujar Baekhyun seraya melebarkan senyumannya untuk memberikan contoh kepada Chanyeol agar ikut senyum juga. Baekhyun tak berhenti tersenyum hingga matanya tampak menyipit. Kalau sudah begini kan Chanyeol jadi tidak bisa marah lama-lama sama Baekhyun. -o0oChanyeol dan Baekhyun baru keluar dari pintu kedatangan. Beberapa orang yang ada di sana memandangi Chanyeol yang hanya memakai atasan singlet saja. Tidak, bukan memandang dengan pandangan yang 'tidak suka', malah sebaliknya. Mereka tampak memuja bentuk tubuh atletis dari pria tampan itu. Baekhyun yang melihat fenomena itu pun berusaha menutup-nutupi tubuh sang suami dengan tubuhnya. Sementara itu, Chanyeol yang terheran dengan sikap Baekhyun berhenti sesaat dan menatap wajah kecil sang suami dengan dahi yang mengerut. Kemudian, lakukan?"

dia

bertanya,

"Apa

yang

kau

"Cepat jalan! Mana mobil jemputannya? Katanya sudah sampai?!" tanya Baekhyun sedikit meninggikan suaranya karena rasa kesal dan cemburu yang menggerogoti hati. Sepanjang dia hidup, 123

17 to 30

Baekhyun tidak pernah merasa sekesal ini sebelumnya, yang mana membuatnya ingin menjambak rambut Chanyeol hingga botak saat itu juga. "Cerewet sekali kau!" gerutu Chanyeol tidak mau ambil pusing, lalu melirik orang-orang di antara kerumunan penjemput. "Nah, itu dia! Ayo, bergegaslah!" Chanyeol menunjuk seorang pria dengan pakaian formalnya sembari mengangkat papan yang bertuliskan namanya. Pria tampan itu segera menggenggam erat tangan Baekhyun, kemudian mereka bersama-sama menghampiri pria itu. Keduanya sudah berada di dalam mobil dan segera meluncur ke tempat tujuan. Selama perjalanan, Baekhyun menurunkan kaca mobil dan mengeluarkan sedikit kepalanya untuk menghirup udara Jeju yang begitu segar. "Aku pikir, sepuluh tahun yang akan datang saat kita berumur tujuh belas tahun, pemerintahan kita akan membuat Jeju menjadi kota yang menyesakkan seperti Seoul, tetapi ternyata tidak." Baekhyun bermonolog dengan takjubnya, namun Chanyeol tidak menanggapinya, melainkan memandangi paras rupawan si mungil dengan senyuman di wajahnya. Chanyeol mengulum bibirnya saat matanya bertemu pada bibir Baekhyun yang tersenyum dengan lebar. Bibir itu tipis dan merah alami tanpa harus memakai lipstik dan sejenisnya membuat matanya selalu salah fokus. 124

Baeklogy

Baekhyun menutup kaca jendela mobil saat dirasanya udara Jeju akan membuatnya masuk angin. Merasa diperhatikan oleh manusia di sebelahnya, Baekhyun lalu menoleh ke arah Chanyeol yang masih memandanginya. "Hei, Park Chanyeol!" Baekhyun melambaikan tangannya di depan Chanyeol sampai akhirnya Chanyeol tersadar dan terbatuk-batuk akibat tersedak ludahnya sendiri. "Dasar bodoh!" Baekhyun mengambil botol air mineral yang sudah disediakan di mobil, lalu memberikannya kepada Chanyeol. Dengan telaten, Baekhyun mengelus punggung Chanyeol yang tengah menghabiskan satu botol air mineral tersebut. "Apa aku memang terlalu tampan, ya? Makanya kau sampai terperangah seperti itu saat melihatku," Baekhyun bermonolog lagi, namun monolognya itu mengundang wajah protes dari Chanyeol. "Mengapa kau memandangiku seperti itu? Buktinya tadi kau menatapku seperti seorang penggemar yang tengah menatap idolanya," ungkap Baekhyun dengan pipi yang mengembung dan bibir yang mengerucut. Menggemaskan. "Apakah kita akan menginap di hotel?" Chanyeol melirik sedikit ke arah sang suami, namun dia kembali menatap lurus ke depan dan bersedekap dada dengan dagu yang sedikit mendongak.

125

17 to 30

Dengan bangganya, Chanyeol berkata, "Untuk apa hotel, Baek? Aku punya vila yang cukup besar di Jeju, dan pemandangannya jauh lebih indah daripada di hotel." Baekhyun menatap Chanyeol tak percaya dengan apa yang didengarnya. Baekhyun berdecak kesal. "Bisakah kau sedikit mengurangi rasa percaya dirimu yang berlebih itu, Tuan Park?!" tanya Baekhyun sambil menahan geramannya. Chanyeol menyeringai, "Liat saja sendiri nanti. Kau akan terperangah melihatnya!” -o0oKetika mobil yang membawa Baekhyun memasuki pagar tinggi Baekhyun tidak berhenti berdecak pemandangan vila milik Chanyeol memanjakan mata.

Chanyeol dan semampai itu, kagum melihat yang sungguh

Kepalanya sedikit menganjur ke luar jendela membuat surai rambutnya mengibar dan mengikuti arah angin. "WOAAAH!" Bibir tipis itu tidak berhenti mengumandangkan seruan kekagumannya. Bahkan, butuh beberapa menit untuk sampai ke beranda vila dari pagar yang mungkin setinggi tiga kali tingginya Chanyeol. "Sudah kubilang, ‘kan? Pemandangan di vila milik keluargaku lebih indah daripada hotel, hahaha!" Chanyeol tertawa renyah sembari berlagak bangga. 126

Baeklogy

Baekhyun tidak mengindahkan perkataan sang suami yang sibuk dengan kesombongannya itu. Persetan dengan Chanyeol, dia tidak mau melewatkan momen yang dialaminya sekarang. -o0oBaekhyun sudah menggunakan piyamanya dengan rapi, bersiap mimpi indah di atas kasur empuknya. Awalnya dia memang berencana melakukannya, akan tetapi matanya sama sekali tidak mau terkatup, itu semua karena bayi di dalam perutnyalah yang menjadi penyebab utamanya, lagi. Baekhyun meringis sambil mengelus perutnya yang mana usia kandungannya telah memasuki bulan keenam, matanya ikut berkaca-kaca karena dia benarbenar mengantuk tetapi tidak bisa karena bayinya yang menendang kuat sedari tadi. Baekhyun melirik ke sisi kirinya di mana Chanyeol sudah terlelap dengan mulut yang ternganga. Sepertinya pria tampan itu sangat lelah hari ini, jadi Baekhyun tidak berani membangunkannya. Namun gerakan di perutnya itu malah semakin intens, akhirnya air mata Baekhyun jatuh mengaliri pipi mulus yang bagaikan tak memiliki pori-pori itu, bibirnya sesekali mengeluarkan isakan karena dia ingin tidur juga. Chanyeol yang mendengarnya pun perlahan mengerjapkan matanya dengan dahi yang mengernyit bingung. Selama di masa ini, Chanyeol tidak bisa tidur terlalu lelap, entahlah padahal dulu dia bisa dibilang tidur mati. Mungkin saja karena faktor usia. 127

17 to 30

Chanyeol langsung mendudukan dirinya ketika melihat Baekhyun bukannya tidur malah bersandar di kepala ranjang sembari mengelus perutnya dan jangan lupakan air mata yang tidak berhenti keluar dari pelupuk mata sabitnya itu. "Ada apa, Baek? Tidak bisa tidur, hm?" tanya Chanyeol dengan suara parau nan seraknya. Dia menatap sang suami dengan tatapan yang setengah mengantuk dan khawatir. Baekhyun tidak menjawabnya, dia sibuk mengelap air matanya yang tidak berhenti jatuh dengan punggung tangannya. "Aku mau tidur," ucap Baekhyun diakhiri dengan isakannya. "Tapi anak ini tidak mau diam, kau tidak lihat bajuku terlihat bergerak-gerak sendiri." Tatapan khawatir Chanyeol berubah seiring lebarnya senyuman di bibir tebal itu. "Perlu bantuanku?" tanya Chanyeol menghentikan isakan dari Baekhyun.

yang

"Maaf, aku mengganggu tidurmu, ya?" tanya si mungil merasa tak enak. "Tentu saja tidak, kau tenang saja! Aku pun merasa sangat berbakat dalam hal ini." Baekhyun tidak berkomentar lagi, dia hanya memerhatikan tangan Chanyeol yang sudah terulur ke arahnya. Akan tetapi, sebelum tangan yang besarnya dua kali dari tangan Baekhyun itu menyentuh area perut, Baekhyun menahan pergelangan tangan Chanyeol. "Lakukan dengan cepat karena aku sudah sangat mengantuk!" ujar Baekhyun dengan kerjapan mata yang sudah memberat. 128

Baeklogy

Bola mata Chanyeol bergulir malas. “Dasar cerewet! Kalau begitu lakukan saja sendiri.” Chanyeol yang akan berbaring lagi tertahan oleh tangan yang menarik lengannya, jangan lupakan juga wajah memelasnya itu membuat Chanyeol tidak bisa membantah lagi. “Ah, kau sepertinya sangat senang mempermainkan kelemahanku di masa ini, ya?” tanya Chanyeol yang sudah menaruh curiga pada si mungil nan cantik itu. Baekhyun tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi malah semakin membuat ekspresi yang menurut Chanyeol berkali-kali lipat lebih menggemaskan daripada biasanya. itu?"

"Bisakah kau tidak memasang wajah seperti

"Kenapa? Apa tampan?" tanya Baekhyun yang menanti-nanti jawaban 'iya' dari Chanyeol. Chanyeol menjatuhkan rahangnya, lalu mendengus setelah mendengar pertanyaan Baekhyun. "Tampan dilihat dari mana, ya?” Baekhyun bersiap melemparkan bantal yang ada di tangannya, sampai akhirnya Chanyeol kembali menyuarakan kalimatnya dengan tergesa-gesa, "—kau itu lebih manis dan menggemaskan, seperti boneka." Wajah kusut Baekhyun berubah total, wajahnya yang merah sempurna itu akan terlihat bila lampu kamar dihidupkan, sayangnya Chanyeol harus rela melewatkan pemandangan itu karena minimnya cahaya. 129

17 to 30

“Boneka chucky, menurutku.” Baekhyun yang awalnya meleleh mendengar hal itu pun langsung saja memukul Chanyeol dengan bantal-bantal di sekitarnya. "Rasakan itu, Park Chanyeol si raksasa bodoh yang memiliki bulu hidung yang panjang!” Baekhyun tak kunjung berhenti menyerang Chanyeol. Sedangkan si raksasa yang dimaksud Baekhyun tadi tidak berusaha menghindar, dia menerima seluruh pukulan yang dilayangkan sang suami sembari tertawa. "Diamlah, Chucky!” goda Chanyeol sembari menjawil hidung mancung si cantik dengan gemasnya. "ISH!" Baekhyun bersiap melayangkan bantal lagi ke kepala Chanyeol, namun sesuatu di perutnya kembali berulah. "Aw, sakit!" Baekhyun besarnya yang terasa nyeri.

memegang

perut

"Ssshh, berbaringlah dan jangan banyak bergerak atau dia semakin menendangmu!" Baekhyun mengikuti apa yang dikatakan oleh sang suami. Chanyeol mulai mengelus perut Baekhyun dan mendekatkan kepalanya ke perut besar itu. Dia perlahan bersenandung kecil. Baekhyun dapat menangkap lagu yang disenandungkan oleh Chanyeol. Si tampan itu menyenandungkan 'Brahms lullaby' dengan gumaman saja, akan tetapi itu sudah lebih dari cukup membuat bayi mereka tenang di 130

Baeklogy

dalam perut Baekhyun. Tidak hanya itu, Baekhyun bahkan ikut memejamkan matanya dan tidur sedikit mendengkur. Chanyeol pun membenarkan posisi tidur Baekhyun dan menyelimuti pria itu hingga batas dada. "Mimpi indah," monolog Chanyeol sedikit berbisik sambil memerhatikan wajah cantik Baekhyun yang sudah terlelap dengan damainya. -o0oBaekhyun membuka matanya saat sinar matahari menembus tirai kamar. Hal pertama yang dicarinya dahulu adalah keberadaan sang suami, tetapi sayangnya Chanyeol sudah tidak berada di tempatnya lagi. Alih-alih keberadaan Chanyeol, dia malah mendapatkan secarik kertas yang mana memperlihatkan tulisan ceker ayam milik Chanyeol. "Jelek sekali tulisannya," gumam Baekhyun sambil mengambil kertas tersebut dan membacanya kata demi kata.

Dengan kedatangan surat ini menyatakan bahwa Park--Tampan--Chanyeol tidak dapat menghadiri kegiatan sarapan bersama Byun--Galak--Baekhyun dikarenakan sedang melakukan pertemuan bisnis untuk mencari sesuap nasi, diharapkan Bapak Hamil memakluminya, Terima kasih. Tertanda Park--Tampan--Chanyeol. 131

17 to 30

Setelah membaca isi dari kertas tersebut, Baekhyun memejamkan matanya untuk menahan semua amarah yang rasanya berkumpul di ujung ubun-ubunnya. Lalu, jemari lentiknya itu menggenggam kertas tersebut sampai menjadi bola kertas. "Park Chanyeol!" geram Baekhyun ingin sekali mencabik wajah tampan Chanyeol karena telah mengatainya 'Bapak Hamil'. “Raksasa sialan!” -o0oKebosanan melanda seorang Byun Baekhyun, dari tadi Baekhyun hanya mengitari kolam renang dengan jemari yang terkadang menggosok hidungnya atau hanya ingin berpegangan dengan dagunya, sementara itu dia dijaga oleh beberapa bodyguard. Chanyeol yang baru saja memasuki pintu yang mengarah ke kolam renang pun terdiam sebentar sembari memerhatikan gerak-gerik Baekhyun. "Apa kakimu tidak sakit?" tanya Chanyeol menginterupsi kegiatan Baekhyun yang dirinya sendiri tidak sadar telah melakukannya. "Chanyeol!" Rona muram si cantik itu pun seketika berseri, senyumnya kembali terukir di bibir tipisnya yang sangat menggemaskan itu. "Sudah selesai pertemuannya?" tanya Baekhyun antusias tatkala Chanyeol sudah berdiri di depannya. Chanyeol mengangguk pelan dan menjawab, "Sudah." 132

Baeklogy

"Cepat sekali," cicit Baekhyun yang terdengar oleh Chanyeol. "Aku juga bingung, biasanya aku harus membutuhkan waktu berhari-hari untuk membuat seorang investor mau menginvestasikan sedikit uangnya ke perusahaan kita," "Kau berbicara seperti pengusaha sesungguhnya," cibir Baekhyun yang kesal sendiri. "Jangan meremehkanku, seharusnya kau bangga punya suami seperti aku; tampan, baik, pebisnis, kaya pula." Bola mata Baekhyun memutar malas. Namun dia teringat akan sesuatu dan mengganti topik menyebalkan ini. "Berarti kita sudah harus berkemas?" Pria cantik itu menanyai sang suami dengan hati yang berat. Pasalnya mereka baru saja dia sampai kemarin dan belum sempat berjalan-jalan, malah sudah harus berkemas lagi. Chanyeol membuat ekspresi wajah berpikir kerasnya. "Hmm, berkemasnya nanti saja. Nah, sore ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Chanyeol menatap Baekhyun penuh makna. "Ke mana?" Mata Baekhyun mengerjap lucu. Lalu, Chanyeol pun mendekat ke arah suami mungilnya itu.

133

17 to 30

"Rahasia," menggodanya.

bisik

si

tampan

dengan

nada

-o0oSeperti apa yang dikatakan oleh Chanyeol, sore ini dia membawa Baekhyun keluar dari vila dengan mobil sedannya. "Sebenarnya kita mau ke mana, Park?" Chanyeol tidak menjawabnya sampai akhirnya mereka tiba di depan gerbang suatu pelabuhan. Akan tetapi, Baekhyun masih tidak tahu apa yang dimaksud Chanyeol. "Sudah sampai, ayo keluar!" ujar Chanyeol kemudian turun lebih dahulu. Baekhyun masih terdiam dan mencoba mengartikan apa yang akan dilakukan oleh Chanyeol. Melihat Baekhyun tak kunjung keluar dari mobil, dia pun mengitari mobil dan berdiri di samping pintu jok penumpang. Kemudian, Chanyeol mengetuk kaca jendela mobil tersebut beberapa kali. Meski tidak kunjung mendapatkan jawaban pasti dari otaknya, Baekhyun pun menuruti Chanyeol dan mengikuti ke mana arah kaki panjang itu berjalan. Hingga langkah Baekhyun terhenti tatkala mata sabitnya memandang penampakan kapal pesiar berukuran sedang di depannya. "Kapal siapa ini?" "Milik kita," jawab Chanyeol sedikit tertahan, "Ayo cepat masuk, matahari sudah mau tenggelam!" 134

Baeklogy

Chanyeol mengulurkan tangannya. Baekhyun sedikit ragu, namun dia tetap menerima uluran tersebut dan Baekhyun bisa melihat senyum tampan Chanyeol ketika tangan mereka mulai bertautan.

135

17 to 30

17 to 30 Bagian 11 Sang raja siang sudah tenggelam di ujung laut, dan kini hanya sinar rembulan yang menerangi mereka dan tentu saja lampu-lampu yang ada di kapal. Baekhyun menatap pantulan bulan di permukaan air sembari menunggu kedatangan Chanyeol yang dia sendiri tidak tahu ke mana perginya. Selang beberapa menit, Chanyeol mengisi kekosongan di sebelah Baekhyun.

kembali

"Dari mana saja kau, Park?" tanya Baekhyun tampak khawatir. Namun, Chanyeol masih saja tersenyum. "Jangan panik seperti itu, aku tidak akan meninggalkanmu, Baekhyun." Baekhyun mengerjapkan matanya lucu, pipinya yang chubby itu mengembung dengan imutnya. "Diam saja dan tunggu apa yang akan terjadi." Chanyeol mengacak surai lembut Baekhyun. Tak lagi menunggu lama, Baekhyun membolakan kedua matanya tatkala dari ujung dermaga muncul kembang api yang meloncat tinggi ke langit malam dan menghilang di udara setelahnya.

136

Baeklogy

"Woaaah!" Baekhyun terperangah melihat pemandangan di depannya yang mana dipenuhi oleh kembang api dengan segala macam bentuk dan warna di langit hitam Jeju. "Kau menyukainya?" tanya Chanyeol melihat Baekhyun tidak bergerak sama sekali saat kembang api itu berulang kali berserakan di langit. Baekhyun mengangguk kesenangan, saking senangnya dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. "Wah ...." Baekhyun menyeru dari awal sampai akhir pertunjukan kembang api itu. "Apa kau yang Baekhyun penuh harap.

merencanakannya?"

tanya

"Tentu saja tidak! Aku membaca surat kabar pada pagi hari ini dan ada berita bahwa malam ini akan ada pertunjukan kembang api," sahut Chanyeol cepat dengan nada suara seperti seseorang yang tertangkap basah mencuri sesuatu. "Benarkah?" Baekhyun meminta kepastian lagi, raut wajahnya seketika sedikit kecewa. "Begitulah!" Chanyeol sedikit mundur ke belakang. Matanya menyorot sedih ke arah punggung Baekhyun. Padahal yang dikatakannya itu adalah sebuah kebohongan semata.

"Joohyun, apa kita harus kembali ke Seoul hari ini juga?"

137

17 to 30

"Anda tidak memiliki jadwal terlalu penting, Pak. Saya bisa mengatasinya jika anda masih ingin menghabiskan waktu bersama suami bapak." "Terima kasih, Joohyun. Oh, ya, saya ingin meminta bantuanmu sekali lagi." "Dengan senang hati, Pak." "Tolong persiapkan kapal pesiarku dan atur sebuah pertunjukan kembang api dari pinggir dermaga." "Akan saya persiapkan, Pak." "Terima kasih, Joohyun." Ya, tentu saja ini rencana dari Park Chanyeol. Akan tetapi, Chanyeol tidak mau mengakuinya. Entahlah, mulut dan hatinya berbeda tanggapan. -o0oSetelah puas berada di atas kapal seraya menikmati terpaan angin malam dan kembang api, mereka pun kembali ke vila. Suasana kamar sudah meremang karena pencahayaan sudah dipadamkan, namun Chanyeol tak kunjung menutup kelopak matanya. Dia sibuk menatap wajah indah Baekhyun yang saat ini sudah tertidur dan mengarungi mimpi indahnya di bawah alam sadar sana. Wajah itu terlihat pulas dan tenang sekali, berbeda ketika pria dengan paras sangat cantik itu membuka mulutnya dan berbicara seperti tidak ada hari esok. 138

Baeklogy

Chanyeol sedikit terkejut ketika Baekhyun mengernyitkan dahinya dan mencicit seperti anak anjing, lalu pria tampan itu mengulurkan tangannya; dia menyentuh pipi Baekhyun; mengelusnya pelan. Beberapa saat kemudian, raut wajah cantik Baekhyun kembali tenang seperti sebelumnya, malah dia tersenyum dalam tidurnya. Chanyeol tidak bisa menahan senyumannya. Baekhyun terlalu menggemaskan untuk dilewatkan. “Pergilah kau jauh-jauh, Mimpi buruk! Jangan ganggu tidur si cerewet ini lagi!” ujarnya pelan seraya mengelus surai rambut Baekhyun. Perlahan, kelopak mata Chanyeol semakin memberat dan dia pun ikut mengarungi mimpi bersama sang suami mungilnya itu. -o0oKeesokan harinya mereka pulang ke Seoul dan Baekhyun pun menjalankan hari di dalam rumah yang membosankan itu tanpa tahu sampai kapan perjalanan waktunya bersama Chanyeol di masa depan ini berakhir. “Chanyeol,” panggil Baekhyun ketika dia tengah mempersiapkan setelan kerja untuk sang suami. “Ada apa?” “Hari ini aku akan pergi keluar rumah untuk bertemu teman-temanku, boleh, ‘kan?” tanya Baekhyun takut-takut. Dia khawatir Chanyeol akan melarangnya lantaran dia sedang hamil sekarang.

139

17 to 30

“Jam berapa?” Chanyeol mengambil setelan yang diberikan Baekhyun, kemudian mengenakannya. “Mungkin aku akan meminta tumpanganmu untuk mengantarkanku ke kafenya.” Chanyeol menghentikan kegiatannya, lalu menatap lama ke arah Baekhyun. “Apa tidak bisa menyuruh mereka datang ke rumah saja? Aku takut sesuatu terjadi padamu, Baek.” Baekhyun mencebikkan bibirnya. “Aku ingin bersantai di luar juga. Kau tidak pernah tahu rasanya berada di dalam rumah tanpa melakukan apapun sepanjang hari.” “Baiklah, tapi aku akan menemanimu.” Baekhyun terkejut hingga matanya membesar. “Bagaimana dengan pekerjaanmu?” “Tenang saja, Mama akan membantuku lagi.” Chanyeol tersenyum manis saat mengingat sang mama. “Astaga, kau selalu melimpahkannya ke Mama. Kasihan Mama. Biar aku pergi sendiri saja setelah kau mengantarku.” Chanyeol menghela napasnya. “Aku akan terkena amarah Mama dan Papa jika terjadi apa-apa padamu, Pendek! Jadi aku akan ikut denganmu.” Mata Baekhyun bergulir malas. “Ah, terserah kau saja!” -o0o-

140

Baeklogy

“Itu mereka!” Baekhyun menunjuk segerombolan orang yang berada di meja yang paling besar di antara meja lainnya. “Baekhyun!” Luhan lebih dulu menyadari kedatangan sahabatnya itu. Lalu, menghampiri Baekhyun dan Chanyeol. “Baekhyun, aku tiba-tiba merasa malu untuk berhadapan dengan mereka,” bisik Chanyeol kepada si mungil. “Sudah kukatakan padamu, ‘kan? Harusnya kau tak ikut bersamaku.” Belum sempat Chanyeol menanggapi ucapan Baekhyun, Luhan sudah terlebih dahulu menarik Baekhyun ke arah meja mereka tadi. “Sudah hampir dua bulan ini kita tidak bertemu lagi, Baekhyun! Aku merindukanmu!” Luhan memeluk Baekhyun dari samping, kemudian menuntun pria cantik itu untuk menempati kursi yang ada di sebelahnya. “Hei, Chanyeol! Apa yang kau lakukan di sana? Kemarilah, Brother!” ujar Sehun yang sedari tadi hanya menyesap cappuccino Ice miliknya. Chanyeol mengernyit tak suka, akan tetapi setelah mendapatkan tatapan garang dari Baekhyun, Chanyeol pun hanya bisa menuruti omongan sahabat Baekhyun itu. “Melihat kau dengan Baekhyun sudah menikah dan hampir memiliki anak itu membuatku masih tak yakin,” ucap Jongin seraya memerhatikan Baekhyun dan Chanyeol secara bergantian.

141

17 to 30

“Benar, ‘kan? Kau saja tak yakin, apalagi aku,” Chanyeol menimpali hingga tatapan Baekhyun berubah menjadi mematikan. Suasana dari kumpulan pria dewasa itu pun terdiam sejenak, sampai akhirnya seorang gadis kecil datang menghampiri mereka seraya menunjuk anak laki-laki yang sedang mengejeknya. “Papa, Kim Jongsoo mendorongku tadi!” “Dorong balik saja biar dia kapok, Nak,” sahut Luhan yang ditanggapi tatapan garang dari Kyungsoo dan Jongin. “Wah, kalian semua benar-benar sudah memiliki anak semua?” Baekhyun terkejut bukan main ketika membandingkan paras gadis kecil itu dengan wajah Luhan dan Sehun. “Tentu saja! Apakah kau mengalami lupa ingatan? Bahkan kau ke rumah sakit saat aku melahirkan Selu.” “Lalu kau, Jongdae. Apakah kau yang melahirkan?” tanya Baekhyun yang kali ini beralih pada Jongdae yang hanya menikmati minumannya di ujung meja. “Tidak, Bodoh! Minseok yang melahirkan anak untukku.” Sahut Jongdae setengah kesal. “Baekhyun memang sedikit bodoh, Jongdae. Kau harus memaklumi itu.” Chanyeol menimpali. “APA KAU BILANG?!” Baekhyun yang terlalu emosi pun mengambil segelas air putih yang ada di sampingnya—entahlah, 142

Baeklogy

gelas milik siapa itu dia pun tidak tahu—kemudian, Baekhyun melemparkan isinya ke arah Chanyeol hingga membuat wajah pria tampan itu basah. “Rasakan itu.” “BYUN BAEKHYUN!” Seluruh orang di sana tertawa melihat Chanyeol yang ingin marah, tetapi tidak bisa karena sang suami mungil tengah mengandung. “Hahahaha, maafkan aku, tanganku memang suka terpeleset.” “Lihat saja! Aku akan membalasmu nanti.” “Uhh, aku takut sekali, hahahaha! -o0oJam berganti hari, dan hari berganti bulan. Perut Baekhyun memberikan progres yang sangat menakjubkan, perutnya membesar dua kali lipat hanya dalam jangka waktu dua bulan saja, ditambah gerakan buah hati mereka juga semakin lincah di dalam perut sana. Baekhyun juga disarankan oleh Seungwan— dokter kandungan pribadinya—agar tidak sembarangan bergerak dan harus selalu memastikan posisi bayinya di dalam sana dalam posisi yang aman, meskipun pada akhirnya dia akan melakukan operasi besar pada perutnya nanti. Dan hari ini—untuk kesekian kalinya—Baekhyun hanya tercenung di depan televisi besar yang sedang menyala. 143

17 to 30

"Sepi sekali," monolog Baekhyun dengan wajah datarnya. Karena rasa bosannya yang tidak tertahan lagi pun, akhirnya si bapak hamil itu memutuskan untuk mengunjungi sang suami yang tentunya sibuk di kantor. Sebelum pergi, dia menyiapkan makan siang dan menatanya seperti membekali anak TK. Melihat hasil kerja kerasnya itu, Baekhyun bertepuk tangan girang, mengapresiasi dirinya sendiri. “Sebentar. Sejak kapan aku bisa membuat bekal seperti ini? Wah, kalian benar-benar menyeramkan,” kata Baekhyun seraya menatap horor kedua telapak tangannya. Baekhyun menggeleng cepat. Daripada dia semakin berbuat aneh lagi, sebaiknya dia segera pergi saja. Pria cantik itu sengaja tidak mengabari Chanyeol bahwa dia akan datang ke kantor hari ini. Karena tidak berani mengemudi sendirian, Baekhyun lagi-lagi memanggil taksi. Meskipun masih sulit dimengerti bahwa dia bisa hamil, setidaknya Baekhyun tidak mau membunuh nyawa yang menumpang di perutnya itu. Sesampai di kantor Baekhyun langsung saja menuju lift dengan senyuman manisnya. Kali ini Baekhyun tidak butuh pengawal lagi seperti pertama kali dirinya ke tempat itu. Kakinya berhenti tepat di depan meja sekretaris Chanyeol yang langsung menyadari kehadiran suami bosnya itu. Baekhyun menyuruh Joohyun untuk diam dan tidak memberitahukan keberadaannya karena dia ingin Mengejutkan Chanyeol dengan kedatangannya. 144

Baeklogy

Semenjak perutnya yang semakin memberat, Baekhyun sudah jarang menghampiri Chanyeol di kantornya. Hanya sesekali, setelah itu dia hanya berdiam diri di dalam rumah saja dan tidak melakukan apapun. Setelah bersiap, Baekhyun pun membuka pintu besar tersebut, namun pemandangan di depannya membuat senyuman manisnya tadi sirna seketika. Matanya mengerjap dengan sorot terluka. "Chan—!" lirih Baekhyun dikarenakan hidungnya yang mulai kesemutan akibat dari genangan air yang mulai memenuhi pelupuk matanya. Mendengar suara familier, Chanyeol yang sedang memeluk seorang wanita tersebut pun menoleh dan melirihkan nama Baekhyun. "Baek?" "Aku tidak tahu mengapa reaksiku seperti ini, tetapi aku merasa seperti sedang diselingkuhi. Kau menyelingkuhi diriku di masa depan ini?" tanya Baekhyun yang setengah kesal dan setengah lagi sedih. Percayalah, menyatukan perasaannya yang berumur tujuh belas tahun dan tiga puluh tahun itu sangat sulit sekali, alhasil rasanya begitu aneh persis dengan yang dirasakannya sekarang. "Baek, dia itu—" Baekhyun menaruh tas berisi kotak makan siang itu di atas meja kopi, lalu mendekati Chanyeol dan wanita itu, "Apa? Coba jelaskan padaku. Jangan membuat diriku terluka di masa ini." 145

17 to 30

Chanyeol menghela napasnya. “Dengar baik-baik, Pendek! Dia ini Kang Seulgi, sepupu jauhku yang baru saja datang dari Jepang tadi malam dan dia mampir kemari, Pendek.” Baekhyun mengerjap beberapa kali dan setelah itu rona merah padam pun menjalar hingga ke telinganya. Bagaimana bisa dia merasa cemburu? Mana dengan keluarga Chanyeol sendiri pula. Baekhyun merutuki dirinya yang terlalu sensitif akhir-akhir ini. “Maafkan aku, Seulgi. Aku kira kau selingkuhan si bodoh ini,” kata Baekhyun sambil tersenyum manis, lalu menjabat tangan Seulgi. “Tentu, tidak apa-apa! Wajar saja kau mengira kami tidak bersaudara. Lihat saja wajah kami, tidak ada mirip-miripnya!” Baekhyun tertawa nyaring, “HAHAHA, tentu saja! Kau cantik, sedangkan dia jelek!” Tidak perlu waktu lama, Baekhyun dan Seulgi pun sudah menjadi teman baik. “Wah, kau memiliki selera Baekhyun!” sahut Seulgi ricuh.

yang

bagus,

“Oh, itu jelas!” ujar Baekhyun seraya memelototi Chanyeol yang menatapnya kesal. -o0oDan seperti biasa, ketika Baekhyun ke kantor, maka pria cantik itu akan menunggu suaminya hingga larut malam dan malah kelelahan sendiri karena tidak 146

Baeklogy

berhenti berdebat dan berceloteh hal tak berguna dengan Chanyeol. “Sudah kukatakan, ‘kan, sebaiknya kau pulang lebih awal saja. Lihat? Kau kelelahan,” omel Chanyeol yang masih terfokus pada jalan di depannya. “Berisik sekali!” ujar Baekhyun seraya menutup mata; menyenderkan kepalanya di kaca jendela mobil. “Astaga! Aku hanya tidak ingin kau dan bayi kita mengalami hal yang tak kita inginkan, Baekhyun. Tolong mengerti!” ujar Chanyeol menekankan setiap katanya sembari melirik ke arah Baekhyun sesekali. Baekhyun membuka kedua kelopak matanya, kemudian menoleh ke arah Chanyeol; tersenyum dengan manisnya. “Tidak akan terjadi apa-apa denganku, Chanyeol! Aku bisa jamin itu.” Chanyeol kepala.”

menggeram

sesaat.

“Dasar

keras

“Kau juga!” keluh Baekhyun dengan wajah setengah mengantuknya. “Ada apa denganku?” “Berhentilah mengatakan hal yang mengerikan. Kau seolah-olah mendoakanku hal buruk setiap kau memarahiku karena hal seperti ini.” Baekhyun mengerucutkan bibirnya. “Hhhh, baiklah! Maafkan aku, tetapi lain kali, kumohon, dengarkanlah nasihat dariku, Baekhyun. Setiap kali sifat keras kepalamu itu muncul, rasa kesabaranku seperti sedang diuji.” 147

17 to 30

“Bukan kau saja! Aku juga merasa diriku semakin sensitif akhir-akhir ini. Rasanya sangat kekanakkanakan seperti tadi siang. Kau belum menjelaskan apapun kepadaku, tetapi aku sudah mengira kau mengkhianati diriku.” Baekhyun menghela napas beratnya. Setidaknya dengan saling bertukar cerita seperti itu, mereka bisa saling mengerti dan keluar dari dunia ini secepat mungkin. Chanyeol tersenyum. Dia melepaskan satu tangannya dari kemudi, kemudian menggenggam tangan Baekhyun sembari mengelus punggung tangan mulus itu dengan ibu jarinya. “Kita pasti bisa keluar dari dunia ini. Mungkin ketika kau melahirkan bayi kita, kita berdua bisa kembali lagi ke umur tujuh belas tahun.” Baekhyun menunduk, kemudian menganggukan kepalanya sembari mencebik lucu. “Sebentar.” Baekhyun menoleh lagi. “Apa?” “Wah, sebuah progres besar! Kau tidak mengomeliku lagi saat memanggil bayi di dalam perutmu itu dengan sebutan bayi kita.” Baekhyun mengernyit kesal. “Park Chanyeol!” “Baiklah, baik, aku akan diam. Kau bisa tidur dan setelah sampai di rumah, aku akan membangunkanmu.” -o0oSuasana hati Baekhyun hari ini cukup baik. Dia juga menerima semua perawatan yang biasa 148

Baeklogy

didapatkan ibu-ibu hamil, seperti senam hingga meminum susu dengan hati dan pikiran yang lebih bersih, tanpa berdebat panjang seperti sebelumnya. Hari ini Chanyeol memberitahu Baekhyun bahwa dia akan pulang cepat hari ini. Katanya, dia ingin mengelus perut Baekhyun; ingin bercengkerama dengan kedua putra mereka yang ada di dalam perutnya sebelum Baekhyun tidur lebih dulu. Kedua putra? Iya, dari hasil tes yang dijalani, Baekhyun tengah mengandung dua bayi laki-laki di dalam perutnya, itu mengapa perutnya sedikit lebih besar dari seseorang yang tengah hamil satu bayi saja. Baekhyun sibuk memakan roti-roti di atas meja kopi yang ada di ruang televisi dengan menggunakan baju kemeja besar milik sang suami yang mana bagian perutnya tidak terkancing. Semenjak perutnya semakin membengkak, Baekhyun selalu merasa kepanasan meskipun sudah menghidupkan pendingin ruangan, makanya dia lebih memilih untuk mengenakan pakaian Chanyeol yang sangat besar hingga bisa menutupi pahanya pula, jadi dia tidak perlu lagi mengenakan celana yang membuatnya gerah itu. Baekhyun mendengar suara pintu yang sengaja dibuka. Dia ingin sekali menyambut Chanyeol di depan pintu namun perut besarnya ini selalu tidak mengizinkannya. Pria cantik itu melihat sang suami memasuki ruang televisi dengan wajah yang muram. "Chan, apa itu? Kenapa wajahmu seperti kecut sekali seperti bau ketiakmu?" goda Baekhyun sembari mengelus perutnya yang bergerak-gerak lagi. 149

17 to 30

"Orang yang kau sukai datang lagi ke kantorku. Dia mengira kau ada di kantor dan ingin memberikan ini padamu.” Chanyeol menaruh sebuah kotak yang sudah dihias sedemikian rupa di atas tangan Baekhyun. Wajah kecil itu menengadah bingung, lalu bertanya, "Memangnya siapa orang yang kusukai?" "Siapa lagi kalau bukan pria yang bernama asli Wu Yifan itu,” sahut Chanyeol yang masih terdengar nada kesalnya. "Kak Kris?! Kau tidak membual, ‘kan? Astaga, tak kupercaya Kak Kris seperhatian ini padaku!" Baekhyun memeluk kotak kado tersebut dengan wajah riang seperti anak kecil. "Awas! Di dalamnya mungkin saja ada bom atau bangkai tikus!" Chanyeol berlalu dari sana dan masuk ke dalam kamarnya, menimbulkan banyak tanda tanya di kepala Baekhyun. “Ada apa dengan anak itu?” Baekhyun mengedikkan bahunya tidak peduli. Prioritasnya sekarang adalah kotak kado ini. Baekhyun segera membukanya dan menemukan berbagai skincare dari brand yang mempunyai harga yang fantastis dan sepucuk surat berwarna merah muda yang terletak tepat di atas skincare tersebut. Baekhyun mengernyit bingung, "Di antara semua barang mewah, kenapa harus skincare?" "Ah, masa bodoh, yang penting ini dari Kak Kris." Baekhyun menutup kotak tersebut dan memeluknya seerat mungkin. 150

Baeklogy

Chanyeol yang baru keluar lagi dari dalam kamar pun mematung di belakang sofa. Sesuatu dari dalam dirinya tiba-tiba saja menyeruak dan ingin meledak seperti bom. Namun, lagi-lagi Chanyeol hanya bisa menahan dan menghela napas, lalu mengambil mantel tebal yang tergantung di sudut ruangan; dia berniat keluar rumah lagi. Baekhyun yang melihat itu pun segera bertanya. "Mau ke mana? Ada keperluan di kantor lagi?" tanya Baekhyun dengan wajah kebingungannya, "Mencari udara segar." Jawaban singkat dan terkesan dingin yang didapatkan Baekhyun. "Ikut!" sahut Baekhyun cepat, dia, ‘kan, juga ingin keluar dari rumah untuk mengatasi kebosanannya ini. "Tidak, sudah malam. Kata Mama, angin malam tidak baik untuk kau yang sedang hamil." Sesudah mengatakan itu, Chanyeol membuka pintu dan menutupnya cukup keras. Sedangkan Baekhyun semakin tidak mengerti tingkah suami masa kininya ini. "Astaga! sebenarnya?"

Apa

yang

membuatnya

marah

Baekhyun tidak mau ambil pusing dengan tingkah laku Chanyeol yang begitu labil seperti anak remaja yang baru akan puber saja. Lebih baik dia tidur saja kalau begitu.

Pandai pulang sendiri nantinya, pikir Baekhyun. 151

17 to 30

Namun, di saat dia sudah merebahkan diri di atas kasur empuknya dan beberapa detik lagi, mungkin dia akan mengarungi mimpi indahnya juga. Tiba-tiba saja bel berbunyi menandakan kedatangan seseorang. Mau tidak mau, Baekhyun bergerak lagi dan berniat membukakan pintu tersebut. Akan tetapi, ketika dia melihat tamu yang bertandang ke rumahnya dari intercom membuat kedua bola matanya berotasi malas. “Park Chanyeol, kau aneh atau memang bodoh? Aku benar-benar tidak bisa memahami pria ini!” Baekhyun membukakan pintu rumah dan orang yang tak lain adalah suaminya itu segera menerjang tubuhnya, tidak kuat tetapi tetap saja membuat Baekhyun terkejut bukan main. "Hei, kau hampir membunuh bayi ini, Raksasa!" protes Baekhyun kepada Chanyeol yang sedang berbicara tidak jelas di bahunya. Chanyeol kembali menegakkan kepalanya dan menatap Baekhyun dengan mata sayunya yang tidak fokus itu, "Apa maksudmu bayi ini, huh?! Itu bayiku dan bayimu! Itu bayi kita!" "Ahh! Kau bau alkohol! Kau masih berumur tujuh belas tahun minum minuman keras? Dan, membuatku ingin muntah! Berapa minum?!"

152

bodoh? Jiwamu dan kau berani astaga baunya botol yang kau

Baeklogy

Chanyeol menengadahkan kedua tangannya sambil menekuk jemarinya satu persatu, seperti anak kecil yang menghitung permennya. "Hmm, lima? Hehehe!" Baekhyun menatap kesal wajah tampan itu. "Hei! Bagaimana bisa kau meminum sebanyak itu?!" omel Baekhyun sembari bersusah payah menutup pintu kamar dan memapah tubuh besar sang suami ke kamar. “Berhenti mengomel, Pendek! Aku lelah!” racau Chanyeol dengan kedua mata yang tertutup. "Jangan menumpu seluruh padaku, Bodoh! Aku bisa jatuh!"

berat

badanmu

Dengan susah payah, Baekhyun langsung melemparkan tubuh Chanyeol ke atas kasur setibanya mereka di kamar. Kemudian, si cantik itu pun berusaha mengambil napas sebanyak-banyaknya. Baekhyun menempatkan dirinya di samping Chanyeol dan membuka sepatu beserta kaos kaki yang dikenakan Chanyeol. "Aku menyentuh minuman keras karenamu, Byun Baekhyun yang bodoh!" racau Chanyeol lagi sembari memeluk gulingnya. "Ahh, jangan dulu tidur, lepaskan mantelmu dulu, Park Chanyeol yang lebih bodoh dariku!" seru Baekhyun yang disertai helaan napas di akhir kalimatnya. Setelah berjuang beberapa menit, akhirnya dia berhasil melepaskan mantel tebal yang masih melekat di tubuh besar Chanyeol. 153

17 to 30

Di saat Baekhyun sibuk melipat mantel tersebut, Chanyeol meletakkan tangannya di atas tangan Baekhyun. "Apa?" tanya Baekhyun judes minta ampun. Chanyeol menatap Baekhyun lalu tersenyum sampai membuat Baekhyun terdiam dan ikut menatap mata besar yang sedang tidak waras itu. "Jangan menyukainya!" Baekhyun menaikkan kedua alisnya, kebingungan. "Jangan menyukai apa? Berbicaralah dengan jelas!" ujar Baekhyun seraya tersenyum manis ketika menemukan raut lucu di wajah Chanyeol yang sedang mabuk berat. "Jangan suka pada Kris. Kau tahu sendiri jantungku pada masa ini sangatlah fragile jika itu tentang kau." Senyuman Baekhyun semakin melebar saat dia memahami maksud kalimat Chanyeol. "Kenapa tidak boleh?" "Heh, Bodoh!" Chanyeol mendudukan dirinya dan menghadap ke arah Baekhyun yang sedang memasang wajah kesalnya. "Kau pikir sendiri! Kau di masa ini adalah suamiku, pasanganku, papa dari anak-anakku! Lalu di depan mataku, kau malah menyukai dan memuja laki-laki lain. Apakah kau kira itu wajar, huh?! Kau harus dihukum, aku akan segera menghukummu, kemarilah!" Chanyeol sudah setengah sadar sebenarnya, bisa dilihat dari matanya yang sudah sangat sayu akibat menahan rasa kantuknya.

154

Baeklogy

Namun, ketika berakhirnya kalimat tersebut, bibir Chanyeol pun mendarat di atas bibir Baekhyun; menyapu lembut bibir tipis Baekhyun, kemudian mengusap pipi gembil Baekhyun dengan ibu jarinya. Chanyeol melepaskan ciuman itu ketika dirasanya dia sudah tidak mampu lagi menahan rasa pusing dan kantuknya. “Jangan pernah melirik lelaki lain! Kau harus mengerti itu!” Setelah itu, pria itu terkapar di atas ranjangnya; meninggalkan Baekhyun yang masih terdiam karena pergerakan tiba-tiba dari Chanyeol tadi.

155

17 to 30

17 to 30 Bagian 12 Baekhyun menaikkan selimutnya hingga menutupi mulutnya. Sementara itu, pupil matanya bergerak tidak nyaman, begitu pula dengan napasnya yang pendek dan tersendat-sendat seperti sehabis melakukan maraton. Baekhyun menoleh ke sisi di mana Chanyeol tengah terlelap pulas sambil menghadap ke arahnya dengan kedua pipi yang merah akibat minum minuman beralkohol terlalu banyak. Pria manis itu menghela napasnya sekali lagi, lalu bergumam, "Kau benar-benar sudah gila, ya, Park Chanyeol?” Baekhyun mengulum bibirnya sejenak, kemudian mengelusnya perlahan sembari mengikuti perintah otaknya yang membawanya teringat kembali ke kejadian tadi. Bagaimana bisa dia berciuman seperti itu dengan Chanyeol? Dia sudah gila, benarbenar gila! Pria manis itu memasang wajah kesalnya. "Dia tidur sepulas itu sementara aku tidak bisa tidur sama sekali?! Sungguh mengesankan, Park

156

Baeklogy

Chanyeol berengsek!" geram meremas tepian selimut.

Baekhyun

sembari

Baekhyun menggerakkan kakinya, sedangkan bibirnya tidak ada habis-habisnya bersuara seperti anak anjing yang sedang menangis. "AAA! Aku mau tidur!" -o0oBaekhyun tidak bisa tidur semalaman sampai matahari kian meninggi. Kini, sepasang kantung hitam melekat di bawah kelopak matanya. Dia tidak bisa tidur sama sekali, rasanya menyiksa sekali. Ranjang yang tadinya diam dan tenang menjadi bergoyang dan sedikit berdecit. Baekhyun menolehkan kepalanya ke arah Chanyeol yang sedang mendudukan dirinya sembari memegang kepala. "Ahh, kenapa pusing sekali, ya?" monolog pria tampan itu sambil memukul pelan kepalanya yang terasa sakit dan berdenyut. Chanyeol yang merasakan dipandangi terusmenerus pun menolehkan tatapannya ke arah Baekhyun yang masih berbaring dengan posisi menghadap ke arahnya. "Cepat sekali bangunnya?" tanya Chanyeol dengan suara seraknya. Baekhyun yang ditanya pun mendongak sedikit agar bisa melihat wajah tampan suaminya.

157

17 to 30

"Bangun? Tidur saja belum," gumam Baekhyun tanpa mematahkan tatapan tajamnya ke arah pria tampan yang merupakan calon ayah dari anaknya itu. "Kenapa memandangiku seperti itu?" tanya Chanyeol yang tidak mengerti arti dari tatapan Baekhyun. Dia merasa seperti sedang ditelanjangi hanya dengan sebuah tatapan saja. "Kau minum berapa botol tadi malam?" tanya balik Baekhyun dengan nada yang begitu mengintimidasi. "Sedikit saja." Chanyeol membuat pola 'sedikit' dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Namun, Baekhyun semakin bernapas tak beraturan dan membesarkan kedua matanya. "Jangan memelototiku! Aku hanya minumminum, apa salahku?!" Chanyeol berusaha memberikan perlindungan untuk dirinya sendiri. Lagi pula di jaman ini, Chanyeol sudah berumur kepala tiga, bukan bocah tujuh belas tahun lagi. Jadi, secara jasmani, dia sudah sangat boleh minum minuman keras. Begitulah pemikiran Park Chanyeol yang sama sekali tidak membuat Baekhyun merasa lega ketika mendengarnya, malah si mungil itu terlihat semakin ingin membunuhnya. “Apa masalahmu sebenarnya, Byun Baekhyun?!” tanya Chanyeol setengah frustrasi. "Tanya saja pada dirimu." Baekhyun menyingkap selimutnya, lalu masuk ke dalam kamar mandi tanpa menoleh ke belakang 158

Baeklogy

membuat Chanyeol semakin tidak mengerti dengan kemarahan sang suami. "Ah, kenapa bapak hamil sensitif sekali? Apa karena dia tidak bisa minum-minum, ya? Dia pasti iri padaku dan melampiaskannya kepadaku!" gumam Chanyeol seraya menyipitkan matanya ke arah punggung Baekhyun yang masih terlihat di matanya, namun dia sedikit terkejut tatkala Baekhyun menutup keras pintu kamar mandi. “Wah?! Apa dia ingin berperang denganku?!” Baru saja bangun tidur, belum ada berbicara apa-apa, sudah dimusuhi seperti ini, aduh, sungguh sial! -o0oBaekhyun serius dengan niatnya yang mengibarkan bendera perang hari ini, bahkan pria cantik itu memakan menu sarapannya tanpa berbicara atau menatap ke arahnya. Chanyeol diperlakukan seperti hantu, alias dia seperti tidak terlihat oleh Baekhyun. Baru saja Chanyeol akan membuka suara, Baekhyun sudah membawa piringnya ke wastafel dan mencucinya tanpa mengeluarkan satu patah kata. Chanyeol tidak bisa diperlakukan seperti itu! Oh, ayolah, setidaknya katakan saja padanya langsung apabila dia punya kesalahan. "Apa aku membuat kesalahan saat mabuk?" tanya Chanyeol lembut, bahkan tersenyum manis.

159

17 to 30

"Jangan minum-minum kalau kau tidak kuat! Menyusahkan saja!" omel Baekhyun sembari meletakkan piring dan gelasnya di rak dengan sedikit kasar hingga membuat suara gesekan yang tidak enak didengar. Baekhyun berbalik dan berniat akan kembali ke kamar, namun Chanyeol menghalangi jalannya. "Menyingkirlah, Bodoh!" sembari membesarkan matanya.

geram

Baekhyun

Dia mendorong Chanyeol cukup kuat dan mau tidak mau Chanyeol pun mengalah untuk suaminya tersebut. "Byun Baekhyun, astaga, katakan padaku, apa salahku?!" Belum ada beberapa langkah, Baekhyun menerima panggilan di ponselnya. Dia berbincang dengan sangat sopan di balik ponsel tersebut; bisa ditebak siapa yang menelepon Baekhyun. "Iya, Ma!" Chanyeol bertanya dengan wajah tengiknya, "Dari mama?" Baekhyun mengangguk. "Ah, baiklah, Ma!" ujar Baekhyun sembari menjauhkan ponselnya dari telinganya. Chanyeol menelan ludahnya susah payah. Apakah ibunya kembali menyuruhnya yang tidaktidak? "Park Chanyeol!" 160

Baeklogy

"Iya?" jawab Chanyeol dengan nyali yang ciut. "Mamamu menyuruh perlengkapan bayi."

kita

membeli

Chanyeol memiringkan wajah sok polosnya, kemudian bertanya, "Lalu?" "Lalu, ayo kita pergi, Bodoh! Kau tidak mau? Ya sudah, biar aku sendiri saja yang pergi atau mengajak teman-temanku saja." Chanyeol menautkan kedua alisnya. “Baekhyun, aku tidak ada mengatakan kata ‘tidak’ tadi, astaga. Ayolah!” Chanyeol menghalangi jalan Baekhyun lagi, dia mau masalah ini selesai. Pria tampan itu tidak akan bisa tenang jika Baekhyun masih marah padanya. “Ada apa denganmu?” “Minggir!” “Aku tidak akan minggir sebelum kau mengatakan yang sebenarnya.” Baekhyun mendongak agar dia bisa menatap wajah tampan itu dengan benar karena jarak mereka yang cukup dekat. “Kau sangat mabuk tadi malam dan menciumku seenaknya!” Chanyeol terdiam untuk beberapa saat. Perlahan, kepingan ingatan kemarin malam kembali menyatu di ingatannya. “Ah ....” Chanyeol menjauh beberapa langkah ke belakang. Wajahnya memerah malu saat kepingan ingatan ketika bibir mereka berpagutan mesra melayang-layang tanpa henti seperti kaset rusak di kepalanya. 161

17 to 30

“Sudah ingat sekarang?” Chanyeol terkekeh sembari menggaruk tengkuknya. “Tapi ciumanmu.”

anehnya,

aku

malah

membalas

Chanyeol menganggukan kepalanya. “Kalau bukan karena spontanitasmu sebagai suami yang mencintaiku di masa ini, ya, itu karena kau memang sudah jatuh hati padaku sekarang.” Kedua bola mata Baekhyun berotasi malas. “Menggelikan! Tentu saja itu karena spontanitasku di masa ini.” Baekhyun segera menjauh dari dari pria itu sebelum Chanyeol menangkap kegugupannya. “Cepatlah Raksasa!”

berkemas dan

ganti pakaianmu,

-o0oMusik easy-listening terdengar di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Seoul, di mana kini Byun Baekhyun dan suaminya sibuk mondar-mandir di pusat perbelanjaan khusus bayi dengan posisi sang suami tengah menjinjing hampir sepuluh paperbag di kedua lengan kekarnya. Jangan lupakan bibir tebal itu mengomel sembari menatap kesal ke arah punggung suami. "Sudah?" tanya Chanyeol dengan suara parau karena lelahnya. Baekhyun memutar perlahan untuk melihat penampilan sang suami yang mungkin cocok dipanggil butler sekarang.

162

Baeklogy

Si mungil dengan perutnya yang besar itu berhenti berjalan, lalu telunjuk kanannya mengetuk dagunya, terlihat seperti memikirkan sesuatu. Sebelum ide mengesalkan Baekhyun lahir, Chanyeol pun menyerobot dengan bertanya, "Setelah ini kita akan ke mana?" "Seungwan, temanmu! Aku ingin mendengarkan detak jantung dia lagi, euforianya terasa menyenangkan bagiku." Baekhyun mengelus perutnya sembari tersenyum manis. "Hahaha, padahal baru saja beberapa bulan yang lalu, kau tidak yakin dengan kehadirannya!" kata Chanyeol dengan wajah meledeknya sembari menunjuk perut Baekhyun. "Bisakah mulut cerewetmu itu diam saja, huh? Mau kujahit?!" ujar Baekhyun setengah kesal. Dia lebih memilih menatap pakaian bayi yang ada di rak daripada melihat sang suami masa kininya. Chanyeol meletakkan paperbag itu ke lantai, kemudian memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut tiba-tiba. "Bisakah kita istirahat dulu? Aku tidak ingin kau dan bayi kita kelelahan, Baekhyun!" ucap Chanyeol sembari menaikkan intonasi suaranya tanpa menyadari bahwa banyak yang tengah menonton mereka. "Baiklah, aku juga sudah sangat lapar!” Baekhyun tersenyum lebar hingga membuat kedua matanya ikut tersenyum pula.

163

17 to 30

“Cepat bawa barang-barangnya, aku ingin segera makan yang banyak!” Tanpa aba-aba, Baekhyun langsung melangkah dari sana; meninggalkan Chanyeol yang buru-buru mengambil paperbag-nya yang terletak di lantai itu. "Mengapa manusia itu tetap sangat menyebalkan setelah beberapa bulan ini!” Chanyeol menggeram kesal seraya membawa langkah kakinya pergi dari sana; menyusul Baekhyun yang sudah lebih dulu melangkah di depannya. -o0o"Wah, Park! Kau lihat itu?" Pertanyaan retorik itu dilontarkan oleh Son Seungwan, dokter kandungan yang selama ini menjadi dokter langganan keluarga Park dalam memeriksa kondisi kedua bayi Baekhyun. "Hahaha, bukannya mereka terlihat sepertiku?" Seungwan dan Baekhyun melirik Chanyeol malas. Dengan senyum yang teramat lebar, Chanyeol bertanya, "Hei, apa aku salah berkata?" "Berhenti merusak suasana, Tuan Sok Tampan!" ujar Seungwan tidak mau tahu. Dia beralih menatap Baekhyun lalu tersenyum kepada pria cantik itu. "Wah, Baekhyun! Kerutan yang terdapat di wajahmu dua bulan yang lalu telah hilang. Sepertinya, kau semakin bisa mengontrol emosimu dengan baik, ya?" tukas Seungwan sembari mengatur letak probenya sedemikian rupa di atas perut Baekhyun.

164

Baeklogy

"Aku harus menjaga emosiku, apalagi dari manusia yang tengah berdiri di depanku sekarang, tak ada hari tanpa membuatku kesal baginya." Baekhyun menyahuti pernyataan Seungwan sedikit menggeram di akhirnya. Belum lagi, mata Baekhyun yang fokus ke satu objek, siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol. Sementara objek yang dijadikan target pembicaraan itu menatapnya tersinggung dengan guratan di dahinya. aku.”

“Hei, kau yang membuatku kesal, bukannya

Seungwan dan Baekhyun kembali bertemu pandang, lalu tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal Chanyeol. -o0o"Oh, Byun Baekhyun! Ternyata kelebihanmu itu suka sekali menyebar kebohongan, ya?" Mendengar itu, telinga Baekhyun naik. Baru juga keluar dari basemen rumah sakit, sementara Chanyeol membawa argumen untuk berdebat lagi. "Menyebar kebohongan darimana?!" protes Baekhyun menatap tajam Chanyeol yang tengah fokus ke jalanan di depannya sembari memutar setir mobil dengan satu tangannya. "Setiap hari membuatmu kesal, padahal sebaliknya," sahut Chanyeol mengutip apa yang dikatakan Baekhyun kepada Seungwan tadi. "Memang kenapa? Kau ini seperti anak muda yang tidak mau kekurangannya diperlihatkan oleh 165

17 to 30

orang yang disukainya," cetus Baekhyun kemudian diam sebentar, memikirkan kata-katanya sendiri. Ditambah, Chanyeol yang tidak melawan. "Jadi, kau benar-benar menyukainya?" tanya Baekhyun tidak menyangka, dia bahkan hampir tertawa. "T-Tidak! Lagi pula jiwaku memang masih muda, 'kan? Aku secara rohani masih berusia tujuh belas tahun." Chanyeol membuka kaca mobilnya sembari terbatuk-batuk. "Apa cinta bertepuk sebelah tangan?" gertak Baekhyun semakin menyudutkan Chanyeol. "Jelas tidak!" balas Chanyeol meninggikan intonasi suaranya membuat Baekhyun terperanjat kaget. Si mungil itu diam sebentar, lalu tertawa. Tangannya terulur untuk mengusap punggung lebar sang suami. "Ternyata memang benar cinta bertepuk sebelah tangan," ucap Baekhyun menghela napasnya. "Sabar, Park Chanyeol." Baekhyun menjeda kalimatnya, "Sayang sekali kau malah menikah denganku, ya? Hahaha! Seharusnya kau berusaha lebih keras untuk mendapati hati Seungwan." Chanyeol membanting setirnya ke tepi jalan. Lalu, pria tampan itu memutar badannya agar bisa menatap Baekhyun dengan nyaman. "Berhenti merendahkan dirimu dan mengatakan seolah-olah menikahimu itu hanya opsi cadangan! Lagi pula aku tidak mempunyai perasaan apapun pada Seungwan, dia hanya sahabatku, tidak lebih!" 166

Baeklogy

Baekhyun terkejut atas perkataan yang dilontarkan si tampan itu. Rasanya aliran darahnya mendesir cepat ke seluruh tubuh. "Ah, maaf, aku pasti sudah membuatmu terkejut. Aku merasa aneh lagi dengan tubuh ini, rasanya dia melakukan segala hal tanpa memikirkannya terlebih dahulu." Chanyeol kembali membawa mobil ke badan jalan, melaju dengan mobil-mobil lainnya. Sementara itu, Baekhyun yang kali ini menurunkan kaca jendela di sampingnya. Dan, sepanjang jalan itu tidak ada yang membuka pembicaraan.

"Apa tadi terlalu kasar?" –Park Chanyeol. "Sepertinya kerja jantungku rusak lagi, aku harus memeriksakannya ke spesialis kardiologi." –Byun Baekhyun.

167

17 to 30

17 to 30 Bagian 13 Baekhyun segera keluar dari mobilnya, kemudian bergegas menjauhi Chanyeol yang memerhatikannya dari dalam mobil. "Apa dia masih marah karena aku meneriakinya tadi?" gumam Chanyeol yang terheran sendiri melihat tingkah laku Baekhyun. Chanyeol baru mengeluarkan badan besarnya dari mobil. Namun, tubuh mungilㅡmenurut ChanyeolㅡBaekhyun sudah tidak terlihat indra penglihatannya lagi. "Sungguh, Byun Baekhyun? Kau benar-benar mendiamkanku?" teriaknya entah pada siapa. Matanya nyaris membelalak karena perlakuan tibatiba dari suaminya itu. -o0oSama dengan keesokan harinya, si mungil itu tetap mendiamkannya, bahkan bertegur sapa saja tidak. Bahkan, saat sarapan tadi, Chanyeol hanya memakan buah-buahan yang ada di kulkas. Dengan berat hati, Chanyeol harus sarapan di perjalanan menuju kantornya dengan memakan 168

Baeklogy

makanan cepat saji. “Tega sekali dia padaku. Sesensitif itukah orang yang sedang hamil?” Baekhyun yang berada di rumah terus saja mengingatkan otaknya agar tidak berbicara apapun kepada Chanyeol meski dia mau. Ayolah, Baekhyun tidak mau terlalu jatuh dalam godaan pria tampan itu. Baekhyun harus bisa melawan perasaannya pada masa sekarang dan entah sampai kapan agar saat dia pulang ke masa yang seharusnya dia berada, dia tidak akan bergantung pada lelaki yang menjadi suami masa kininya itu. Iya, Baekhyun masih percaya kalau dia akan kembali lagi ke masanya. Mungkin, dia harus memikirkan bagaimana caranya. Disela-sela pemikirannya tersebut, ponselnya tiba-tiba saja bergetar beberapa kali, yang mana menandakan ada pesan masuk. Baekhyun menghela napasnya ketika melihat nama yang keluar di ambang notifikasinya. Siapa lagi kalau bukan si 'Park Raksasa' yang bukan lain adalah suaminya.

Jangan lewatkan sarapanmu. Aku tidak ingin bayi kita melewatkan jam makannya! Jadilah papa yang baik, hm? Pertahanan Baekhyun hampir runtuh saat membacanya. Meskipun, memang bukan dengan kata-kata romantis nan puitis, tapi tetap saja itu membuat peredaran darahnya dua kali bekerja lebih cepat dari biasanya hanya karena jantungnya berdebar sangat kencang. 169

17 to 30

Baekhyun menyatukan kesepuluh jarinya. Ada perasaan ingin membalas pesan tersebut, akan tetapi, dia teringat lagi dengan tujuan utama mengapa dia mendiamkan Chanyeol. Sementara itu, usaha Chanyeol untuk mencairkan suasana tidak hanya di sana, dia juga mengirimkan Baekhyun pesan lainnya pada jam-jam makan lainnya.

Makan siang. Aku tidak akan lelah mengingatkanmu untuk makan, Baekhyun. Buatlah bayi kita terlahir sehat nantinya. Tetap saja, tidak ada balasan apapun, tetapi ada tanda bahwa pesannya telah dibaca. Serius? Hanya dibaca saja? Tidak dibalas? Meskipun sudah hampir di ambang batas. Chanyeol tak berhenti di sana. Bahkan tepat saat jam makan malam pun, tak lelah, Chanyeol mengingatkan sang suami.

Makan malam. Makan makanan yang sehat untuk makan malam. Aku tidak ingin menemanimu semalaman karena perutmu yang begah lagi. Chanyeol menunggu untuk kali ini, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa Baekhyun akan membalas pesannya, padahal dia sudah memprovokasi Baekhyun untuk berdebat lagi.

Bahkan saat bertukar pesan lewat ponsel pun kau tidak ingin menjawabku? Seperti yang diperkirakan sebelumnya, sama sekali tidak ada tanggapan dari Byun Baekhyun selain membaca pesannya saja. 170

Baeklogy

“Argh! Byun Baekhyun, kau membuatku sakit kepala!” -o0oChanyeol pulang lebih awal hari ini. Siapa yang akan tenang bila orang yang berarti baginya selama beberapa bulan ini tengah mendiamkannya? Dia juga ingin memastikan kalau Baekhyun benar-benar tidak kekurangan nutrisi hari ini. Chanyeol masuk ke rumahnya yang gelap gulita. Meskipun Baekhyun cukup bisa dibilang pemalas, namun pria itu akan tetap hidup dengan pencahayaan yang cukup alias dia akan menghidupkan seluruh lampu di rumah, apalagi saat Chanyeol berada di kantor, dia akan semakin ketakutan bila tak cukup penerangan. Tapi, sekarang malah kebalikan, semua lampu di dalam rumahnya masih padam. Pria tinggi itu mengganti sepatunya dengan sandal rumah, kemudian masuk ke dalam kamarnya yang juga sama gelap gulitanya dengan kondisi di luar. "Baekhyun? Apa kau sudah tidur?" tanyanya perlahan. Chanyeol beralih ke sisi di mana dia dapat melihat paras cantik suaminya itu telah pulas tertidur. Ah, ternyata Chanyeol saja yang merasa seperti itu, padahal Baekhyun tidak benar-benar tidur. Dia tetap terjaga dari tadi. Sudah dikatakan sebelumnya bahwa dia tidak bisa hidup tanpa penerangan. Bukan tidak bisa, hanya saja dia akan merasa cemas, makanya dia belum tidur dan memilih pura-pura tidur. 171

17 to 30

Chanyeol mengulurkan tangannya untuk menyentuh rambut Baekhyun. Tidak lupa, jemari besar dan panjangnya Chanyeol ikut menyisir surai suaminya yang sudah memanjang itu, bahkan hampir menutupi mata sabitnya yang kini tengah terpejam rapat. Dia tidak bisa menahan senyumnya selagi menatap wajah lucu Baekhyun ketika tidur. Baekhyun mulai merasa sesuatu yang tidak diharapkan olehnya akan terjadi dan benar saja, Chanyeol tiba-tiba menyibakkan poni yang menutupi dahinya, kemudian mengecup dahi Baekhyun tanpa meminta izin dahulu dari sang empunya. Astaga, Baekhyun ingin sekali bangun lalu memukul kepala suaminya itu, tetapi apa yang dilakukan tubuhnya malah sebaliknya. Tubuhnya diam saja dan tidak bisa melawan. Baekhyun mencicit dalam hatinya sedari tadi, berdoa supaya Chanyeol cepat menyingkir dari sana agar dia bisa bernapas normal. Tetapi, doa Baekhyun tidak terkabul, malah dia merasakan napas Chanyeol semakin hangat ketika menerpa wajahnya lagi, itu berarti jarak wajah mereka bisa dikatakan sangatlah dekat. Baekhyun menahan napasnya, matanya terpejam secara paksa, giginya sudah menggigit pipi bagian dalamnya. Chanyeol menahan tawanya. Tepat beberapa senti lagi bibir mereka akan menyatu, tiba-tiba Chanyeol bersuara dengan sedikit berbisik. "Aku tahu kalau kau tidak tidur, Bodoh!" Baekhyun langsung saja membuka matanya selebar mungkin, lalu dia mendapati Chanyeol yang berjarak 172

Baeklogy

terlalu dekat dengan wajahnya, seperti yang sudah diperkirakannya tadi. Ah, Baekhyun menyesal telah membuka matanya secepat itu. Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mengapa suaminya itu tampak sepuluh kali lebih tampan jika dilihat sedekat ini? Begitulah pertanyaan yang memenuhi isi kepala Baekhyun saat ini. "Kau tahu dan malah mengerjaiku, huh?" tanya Baekhyun dengan intonasi tingginya. Dia merasa dirinya dipermainkan oleh pria tampan itu. "Sangat lucu dan menghibur ketika melihat raut wajahmu yang sedang kesal!" Baekhyun semakin melipat wajahnya, sepertinya dia benar-benar kesal. Kemudian, memutar badan secara perlahan ke arah sebaliknya. "Ayolah, jangan cemberut begitu, Pendek! Hanya karena itu kau sampai marah seperti ini padaku, hm?" Baekhyun tetap diam. Dia tidak mau menjawab pertanyaan itu. Dia tidak akan biarkan Chanyeol dengan mudah merayunya. Baekhyun mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Chanyeol sekarang. "Baek?" panggil Chanyeol dengan nada yang lembut, dia juga tidak lupa menggoyangkan lengan Baekhyun agar dia tidak mengacuhkannya lagi. "Bisa hentikan tanganmu? Perutku terasa tidak nyaman karena bayi ini bergerak lagi dan sekarang rasanya aku ingin muntah!" omel Baekhyun sedikit

173

17 to 30

melirik ke belakang, di mana Chanyeol tengah cemberut sambil membujuk si mungil itu. "Ah, maafkan aku! Kemarilah! Apa anak kita nakal lagi?" Kali ini Chanyeol berhasil membuat Baekhyun berbalik lagi ke arahnya. Baekhyun beranjak dari posisi tidurnya, lalu dia bersandar pada kepala ranjang dengan wajah tertunduk. Air mata Baekhyun jatuh. Dia merasa dirinya terlalu labil dan cengeng di masa hamil tuanya ini. Chanyeol menaruh kedua telapak tangannya di pipi Baekhyun, lalu bertanya pada pria cantik itu, "Kenapa menangis, hm?" Lembut sekali, berbeda dengan Chanyeol yang membuatnya kesal beberapa menit lalu. Baekhyun tidak bisa menahan air matanya lagi. Bukan hanya karena dia ingin mengabaikan Chanyeol agar tidak terlalu bergantung pada pria itu. Akan tetapi, sedari malam kemarin, anaknya tidak bisa diam dan terus menendang perutnya dari dalam, alhasil dia tidak bisa tidur dengan tenang karena harus menahan nyeri di perutnya. Namun, dia terus saja diam dan mengabaikan Chanyeol yang malah memperburuk keadaan. "Bayinya tidak bisa diam, dia terus menendangku dari semalam, aku jadi tidak bisa beristirahat." Dengan setengah menangis, Baekhyun menceritakan keluhannya pada Chanyeol dengan wajah yang begitu menggemaskan. "Begitukah?" Baekhyun mengangguk perlahan dengan kepala tertunduk. 174

Baeklogy

Chanyeol tersenyum manis, kemudian kedua tangannya perlahan mulai meraba perut Baekhyun. Kepalanya ikut menunduk, lalu menempelkan telinganya pada perut Baekhyun; mendengarkan serta merasakan kehadiran sang anak. "Apa kau sudah makan?" tanya Chanyeol yang hanya dijawab deheman dari Baekhyun. Sangat menggemaskan, pikirnya. "Aku selalu makan tepat waktu dan mengelus perutku setiap saat, tapi ternyata dia terus saja membuat perutku nyeri." Chanyeol mengelusnya lagi, tidak lupa berbicara pada bayi mereka yang masih aktif bergerak di dalam sana sampai perut Baekhyun terlihat bergerak sendiri. "Apa di sana ada lapangan hingga kau tidak berhenti menendang perut mamamu, hm?" monolog Chanyeol yang langsung dilempari tatapan kematian oleh Baekhyun. “Bicara apa kau, Bajingan?!” Intonasi suara Baekhyun kembali meninggi ketika mendengar sebutan yang tidak ingin ia dengar. Chanyeol meletakkan telunjuknya di depan bibir Baekhyun sembari mendesis agar Baekhyun tidak melanjutkan omelannya. "Diam dulu, dia tidak akan tenang jika kau marah-marah.” Baekhyun menarik napasnya perlahan, lalu menghembuskannya dan berharap emosinya ikut terbuang. Melihat Baekhyun sudah cukup tenang, Chanyeol kembali melanjutkan aktivitasnya yang 175

17 to 30

sempat tertunda. “Jangan nakal-nakal, ya? Kasihan papamu ingin istirahat, Nak!" Chanyeol mencium perut Baekhyun dan menggusel kepalanya ke perut Baekhyun membuat si cantik itu menahan gelinya sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan. Chanyeol menarik dirinya dari perut Baekhyun saat dia tidak lagi merasakan pergerakan yang berarti, "Sepertinya tendangannya sudah tidak seintens tadi, ya?" Baekhyun menatap lekat wajah tampan sang suami dengan deru napas yang tak keruan. Lewat sorot mata itu, Chanyeol bisa mendapatkan kata ‘terima kasih’ di sana. “Berhenti menatapku seperti itu, jantungku berdetak terlalu cepat rasanya.” Chanyeol beranjak dari sana, namun sebelum dia pergi, Chanyeol tertawa seraya mengacak pelan rambut Baekhyun dengan tangan kanannya. "Sekarang kau bisa tidur." Setelah mengucapkan itu, Chanyeol masuk ke dalam kamar mandi. meninggalkan Baekhyun yang hanya bisa terdiam sembari mengelus perutnya yang semakin membesar setiap bulannya. -o0oPada pagi harinya, mereka kembali harmonis lagi, bahkan Baekhyun yang kali ini mempersiapkan segala keperluan Chanyeol dari makanan sampai setelan untuk pergi ke kantor. Pria cantik itu kembali 176

Baeklogy

menghayati perannya sebagai suami Chanyeol di masa ini. Baekhyun sudah tidak peduli lagi. Dia akan menikmati semua pemberian Tuhan hingga Tuhan lelah mempermainkan takdirnya dan mengembalikannya ke tahun di mana dia dan Chanyeol seharusnya berada. Saat Baekhyun sibuk mendandani suaminya, tiba-tiba bunyi bel rumah pun berbunyi. "Apakah itu mamamu?" tanya Baekhyun kepada manusia kelebihan kalsium di depannya. "Mamaku itu tak tahu malu, dia akan langsung menerobos dan tidak akan memencet bel seperti itu." Baekhyun diam-diam menyetujui apa yang dikatakan Chanyeol. Baekhyun beranjak dari sana; dia membukakan pintu untuk orang tersebut tanpa melihat layar intercom lagi. Mata sabitnya membesar dua kali lipat. Dia tidak mengira orang di depannya itu akan datang sendiri ke rumahnya. "Halo, Baekhyun," sapa wanita paruh baya yang seingat Baekhyun tidak memiliki kerutan sebanyak itu. "Mama!" Demi apapun, Baekhyun selama ini mempersiapkan diri terlebih dahulu untuk menghadapi sang ibu beberapa bulan ini, kalau perlu, dia berharap tidak akan bertemu dengan ibunya di masa ini, tetapi malah wanita paruh baya itu sendiri yang datang kepadanya. "Bagaimana kabarmu, Sayang? Sudah lebih dari tiga bulan kau tidak menjenguk Mamamu ini, hm? 177

17 to 30

Bisa kau jelaskan alasannya?" tanya sang ibu sedikit tersinggung dengan kelakuan putranya itu. Baekhyun menelan ludahnya susah payah, bahkan dia terlihat kesulitan menggerakan bibirnya. "Maafkan aku. Tapi mengapa Mama terlihat semakin tua saja?" tanya Baekhyun sembari tersenyum sembari melihat penampilan ibunya seperti neneknenek kelewat modis. Setidaknya, Baekhyun bisa mengalihkan pembicaraan. "Anak kurang ajar! Kau tidak bisa lihat kalau Mama masih terlihat muda dengan fashion ini?" Baekhyun otomatis menggelengkan kepalanya membuat Mama Byun ingin sekali menempeleng kepala anaknya ini kalau saja tidak ada menantu yang tiba-tiba muncul di belakang sang anak. "Halo, Menantu Park!" sapa Mama Byun sambil melambaikan tangannya, tidak lupa melepaskan kacamata dengan gagang yang penuh glitter itu. "Siapa, ya? Maaf, tapi bukannya pengamen tidak dibolehkan berkeliling di rumah ini, ya?" tanya Chanyeol sangat sopan, tetapi setelah dia mengatakan hal itu, Baekhyun secepat kilat menutup mulut Chanyeol. Baekhyun pun membisikkan sesuatu kepada suaminya, "Dia Mamaku, Bodoh!" Mata Chanyeol membesar Tamatlah riwayat hidupnya.

dua

kali

lipat.

"APA KAU BILANG? PENGAMEN?!" Chanyeol merutuki kebodohannya dan meminta maaf kepada mertuanya tersebut. Berkali-kali hingga akhirnya 178

Baeklogy

beliau mau memberikan maafnya setelah diajak Chanyeol pergi berbelanja. "Tapi bukannya kau harus bekerja, Chanyeol?" tanya Baekhyun sembari berbisik; dia menahan tangan Chanyeol yang akan segera pergi dengan sang ibu. "Aku tidak ingin memperburuk keadaan, Baekhyun. Aku akan meminta Mamaku untuk menggantikanku lagi." Baekhyun melirik ibunya setengah putus asa, sedangkan Mama Byun hanya membuang muka ke arah lain. "Kalau begitu, aku akan ikut juga! Bisa bahaya nanti jika dia bertanya yang aneh-aneh nantinya." "Tenang saja, aku bisa mengatasi hal itu, kau tidak perlu takut, Baekhyun," kata Chanyeol kembali berbisik di telinga Baekhyun sampai akhirnya Mama Byun mengernyitkan dahinya. “Apa yang sedang kalian bicarakan? Kapan kita akan berangkat?”

179

17 to 30

17 to 30 Bagian 14 “Mama mau yang itu dan itu!” kata Mama Byun sambil mengarahkan jemarinya pada objek yang dia mau kepada staf toko tersebut. “Ma, itukan modelnya sama, hanya berbeda warna saja,” omel Baekhyun saat melihat barangbarang yang diinginkan oleh sang mama. “Memangnya tidak boleh?” tanya Mama Byun dengan wajah garangnya. Chanyeol mencoba menenangkan suaminya itu dengan merangkul bahu, kemudian berbisik, “Sudahlah, Baek. Biarkan Mamamu membeli hal yang diinginkannya, aku akan membayar semua tagihannya.” “Tapi .…” “Kau juga bisa memilih barang yang kau suka. Tenang saja, aku yang membayarkan tagihannya juga.” Chanyeol pun memilih untuk menawarkan Baekhyun juga daripada lelaki cantik itu terus mengomel tiada henti. “Ish, kau pikir aku materialis?” tanya Baekhyun sembari mengerutkan dahinya kesal. 180

Baeklogy

“Bukannya kau memang suka menghabiskan uangku?” tanya Chanyeol dengan wajah—sok— polosnya. “Sekali lagi kau mengatakan itu, aku akan meninju wajahmu hingga babak belur, Park Chanyeol!” geram Baekhyun seraya menggertakkan giginya. “Dengan bayi di dalam perutmu? Aku meragukan itu, Bapak Hamil.” Chanyeol melebarkan senyumannya dan itu membuat Baekhyun kesal setengah mati. “Lihat saja saat anak ini keluar, aku pasti akan meloncat ke arahmu lebih dulu, kemudian menghajarmu sepuasnya, Chanyeol.” “Ya, ya, ya, aku akan percaya itu. Dan, ke mana Mamamu pergi?” tanya Chanyeol yang tidak menyadari bahwa mertuanya itu tidak ada lagi di sekitarnya. -o0o“Aku tidak menyangka, alih-alih ibumu, malah kau yang lebih banyak barangnya daripada miliknya. Apa katamu tadi? Tidak materialis? Hahahaha!” cibir Chanyeol sembari melirik ke arah Baekhyun yang tengah duduk di jok di sebelahnya saat setelah mengantarkan Mama Byun pulang. “Katamu juga aku boleh memilih barang yang kumau. Atau sebenarnya kau tidak rela membelikan barang-barang ini kepadaku?!” tanya Baekhyun dengan intonasi suara yang sudah naik satu tingkat. “Bukan itu maksudku .…” 181

17 to 30

Chanyeol menjadi kelabakan sendiri menghadapi Baekhyun yang kembali merajuk padanya. Diliriknya sekilas dan pria cantik itu sedang membuang pandangannya ke luar kaca jendela. “Baiklah, semua kantong belanjaan di jok belakang itu milikmu, bukan milikku.” Chanyeol tidak bisa menahan senyumannya. Dia melirik sebentar ke arah Baekhyun untuk melihat wajah kesal Baekhyun yang menggemaskan itu. “Kau tertawa, huh?” Chanyeol mengedikkan bahunya dengan wajah tengiknya. “Tidak, aku hanya tersenyum.” “Park Chanyeol!” sentak Baekhyun terlalu kesal melihat tingkah laku Chanyeol. “Baiklah, aku memang suka mengeluarkan katakata yang seharusnya tak kukatakan, barang itu milikmu, jangan cemberut lagi, Oke?” Chanyeol berusaha menjelaskan, bahkan salah satu tangannya kini terulur ke arah Baekhyun dan menggenggam jemari Baekhyun. “Apa tadi itu permintaan maafmu?” tanya Baekhyun yang sekarang mengarahkan pandangannya kepada Chanyeol yang tengah fokus mengemudikan mobil dengan sebelah tangan saja. “Hm, bisa kau anggap begitu.” jawab Chanyeol santai dan itu sedikit membuat semburat merah terlihat jelas di pipi chubby milik si cantik. “Bisakah kau melepaskan tanganmu dariku?”

182

Baeklogy

“Dengar, aku juga tidak tahu mengapa tanganku bisa seagresif ini, yang jelas aku cukup menyukai euforia ini, meskipun sedikit aneh rasanya.” Baekhyun semakin menatap tajam ke arah Chanyeol. “Kau menyukaiku, ya?” Dan, Chanyeol langsung saja melepaskan genggaman tangannya dari tangan Baekhyun. “Kau bercanda? Aku hanya menyukai euforianya saja, bukan dirimu. Atau malah kau yang menyukainya, benar, ‘kan?” Raut wajah cantik itu berubah, dia menatap Chanyeol seperti sedang melihat sebuah kotoran. “Bermimpi apa kau tadi malam sampai bisa menyimpulkan hal menggelikan seperti itu?” “Aku melihat wajahmu memerah. Aku langsung tahu kalau kau pasti sangat menyukaiku, bukan begitu?” Baekhyun tertawa keras mendengar perkataan Chanyeol yang menurutnya hanya sekadar halusinasi Chanyeol saja. Namun, rona wajah Baekhyun seperti sedang menyangkal sikapnya sendiri. “Aku benar, kan?” Chanyeol semakin menggoda si cantik itu. “Teruskan saja mimpimu itu, Bodoh!” “Kau juga, ya, mimpikan aku saat kau terlelap nanti malam.” Chanyeol melirik ke arah Baekhyun lagi, lalu tersenyum jahat. “Aku tidak akan pernah membiarkan setan sepertimu masuk ke mimpi indahku. Lebih baik, Kak Kris saja yang masuk ke dalam mimpiku.” 183

17 to 30

Saat mendengar nama yang-tidak-ingin-diasebutkan itu kembali terdengar, sontak saja air muka Chanyeol berganti dan perlahan suasana love-hate yang menyenangkan tadi berubah seketika. -o0o“Wah, apa kau punya alter ego, Chanyeol? Dari tadi kau menggodaku dan sekarang kau seolah-olah menganggapku tak ada?” tanya Baekhyun kepada Chanyeol yang sedang mengambil barang-barangnya di bagasi mobil. “Chanyeol!” ujar Baekhyun sekali lagi karena dia tidak mendapatkan tanggapan yang dia mau. “Apa? Bisakah kau menyingkir dari hadapanku, huh?” tanya Chanyeol sewot dengan tatapan kesalnya sembari mengangkut seluruh paperbag yang ada. Mau tidak mau, Baekhyun menyingkir dari hadapan Chanyeol dan membiarkan pria tampan itu berjalan lebih dulu darinya, sementara si cantik mengekorinya. “kau marah karena aku menyebut Kak Kris?” tanya Baekhyun. Nada suaranya terdengar tidak yakin. Baekhyun tetap mengekori Chanyeol, hingga akhirnya langkah kaki Chanyeol berhenti dan membuat si mungil itu ikut berhenti. Chanyeol menaruh seluruh paperbag ke lantai. Dia berbalik dengan wajahnya yang merah padam karena menahan emosinya. Kemudian, si tampan itu mendekati Baekhyun dan berkata lantang di depan wajah cantik Baekhyun, “Kau pikir aku marah hanya 184

Baeklogy

karena si CEO sombong yang berniat untuk meracuni pikiranmu agar kau semakin jatuh hati padanya itu? Aku tidak kekanak-kanakan seperti itu, Baekhyun.” Baekhyun menatap lurus ke mata Chanyeol. Keduanya sama-sama terdiam lama hingga tidak menyadari bahwa ketegangan seksual di antara mereka semakin kuat. Si cantik itu terkekeh. Satu tangannya terulur untuk mengelus pipi Chanyeol. “Kau berbohong padaku, hm?” Setelah beberapa detik bertahan dengan ketegangan seksual itu, Baekhyun baru menyadari apa yang baru saja dilakukannya. Dia tidak menyangka akan melakukan hal seberani itu. Baru saja Baekhyun akan menarik tangannya dari pipi Chanyeol, namun si tampan itu malah menahan tangannya. Kedua pupil kelam itu tak berhenti menatapi matanya. “Chanyeol, sebaiknya aku menaruh paperbag itu ke kamar dulu.” Ketika Baekhyun mencoba memecahkan ketegangan seksual itu dan hendak beranjak dari sana, Chanyeol menahan Baekhyun dengan cara menangkupkan kedua tangannya di wajah kecil si cantik itu. Ketegangan seksual muncul Baekhyun tidak bisa melawan, Chanyeol mendekatkan kedua wajah perlahan dan pada akhirnya bersentuhan. 185

lagi, kali ini bahkan ketika mereka dengan bibir mereka

17 to 30

Awalnya hanya bersentuhan, namun lambat laun bibir mereka mulai bergerak dan saling menyesap satu sama lain dengan gerakan kaku mereka yang semakin memanas. Dan, saat Chanyeol mulai tidak terkontrol, Baekhyun langsung mendorong dada pria itu hingga Chanyeol terdorong beberapa langkah. Mereka saling menatap lagi. Akan tetapi, Baekhyun secepat mungkin mematahkan tatapan itu sebelum ketegangan seksual akan mengambil alih akal sehat mereka lagi. “A-aku lelah, aku akan beristirahat di kamar.” Baekhyun segera pergi dari sana dan meninggalkan Chanyeol yang masih terdiam dengan tatapan kosongnya. Pikiran Chanyeol mendadak kosong karena apa yang dilakukannya tadi murni di luar kontrolnya, rasanya sangat mengganjal dan menyesakkan di dada hingga dia tidak bisa mengontrol pikiran dan tindakannya. “Baekhyun, maafkan aku, tapi tadi aku tidak mengira kalau tindakanku bisa sejauh itu!” ujar Chanyeol sekeras mungkin agar Baekhyun dapat mendengarnya. Namun, yang didengarnya hanyalah jawaban dari pintu kamar yang ditutup dengan keras. “Yeah, dan sekarang dia marah, bodoh sekali kau, Park Chanyeol,” ucap Chanyeol seraya menghela napas beratnya. -o0o-

186

Baeklogy

Kecanggungan mewarnai hubungan Chanyeol dan Baekhyun beberapa hari ini. Keduanya tampak enggan menatap satu sama lain. Ah, jangankan menatap, berdekatan dengan jarak kurang dari dua meter saja dapat membuat keduanya salah tingkah. Oleh karena itu, Chanyeol hampir seharian menghabisi waktunya di kantor saja. Pulang sangat larut sampai Baekhyun sudah tertidur dahulu, lalu pergi ketika Baekhyun belum bangun. Semua itu sebagai bentuk pelarian Chanyeol agar dia tidak terlalu sering bertatapan dengan wajah cantik Baekhyun. Sialnya lagi, bukannya semakin fokus ke pekerjaan, Chanyeol malah selalu teringat ciumannya bersama Baekhyun itu di sela-sela kelonggaran waktu yang dimilikinya. “Aku bisa gila,” bisik Chanyeol kepada dirinya sendiri. Dia menatap kosong ke depannya dengan lingkar hitam yang semakin melebar. Lamunan Chanyeol terhenti tatkala melihat Joohyun masuk ke dalam ruangannya. “Pak, apa anda yakin ingin menghentikan kerja sama dengan Wu Enterprise? Pihak dari sana ingin memperpanjang kontrak.” “Tentu saja aku yakin. Untuk apa bekerja sama dengan perusahaan yang sudah bangkrut? Salah mereka juga yang membuat nama perusahaan mereka jadi rusak, jadi aku tidak mau perusahaan yang sudah dibangun oleh ayahku dari nol jadi ikut berakhir menyedihkan seperti itu.” Chanyeol menghela napas beratnya sembari mengedikkan bahunya tak peduli. 187

17 to 30

“Baiklah, Pak. Saya akan memberitahukan pihak Wu Enterprise bahwa kita tidak akan memperpanjang kontrak lagi dengan mereka.” Chanyeol tidak menyadari ada yang menguping dari balik pintu eksekutifnya yang sedikit terbuka. “Aku akan membalas penghinaan ini.”

188

Baeklogy

17 to 30 Bagian 15 Baekhyun mengacak rambutnya sendiri saat bayang-bayang ciuman itu masih terngiang di kepalanya. Dia mengambil ponselnya dan melihat bahwa waktu hampir mendekati tengah malam, tetapi dia belum bisa tertidur dan Chanyeol juga belum pulang. “Akh! Serius, aku bisa gila!” Si cantik itu mengelus perutnya yang lagi-lagi bergerak dan membuatnya tak nyaman. Dia pun keluar dari kamar setelah mendengar seseorang masuk ke rumah secara diam-diam. Baekhyun mendengus kesal saat Chanyeol bertingkah seperti perampok lagi. Chanyeol yang tadinya berusaha sekuat tenaga bergerak tanpa menimbulkan suara pun terdiam saat mata mereka bertemu. “Oh, Baek, kukira kau sudah tidur.” Chanyeol terkekeh seraya menggaruk rambutnya yang mendadak gatal. “Kurasa kita perlu berbicara, Chanyeol. Kita harus meluruskan hal, ya, kau tahu sendiri,” ucap Baekhyun berusaha sekuat tenaga berani mengambil aksi terlebih dahulu. Baekhyun tidak bisa diam terus189

17 to 30

terusan dan mengikuti alur cerita Chanyeol yang lari dari tanggung jawab. Awalnya Chanyeol terdiam, namun dia langsung menyadari apa yang sedang dibahas oleh Baekhyun. “Baiklah, aku akan mendengarkanmu.” Chanyeol menempatkan dirinya di sofa, begitu pula dengan Baekhyun yang duduk di hadapan Chanyeol dengan meja kopi di tengah mereka. “Ayo, kau ingin mengatakan apa?” Chanyeol tersenyum lebar dan itu membuat Baekhyun ingin sekali merobek bibir pria tampan itu. “Berhenti tersenyum menyebalkan seperti itu Chanyeol. Kau mungkin bisa melupakannya, tapi aku … argh!” Baekhyun tidak bisa melanjutkan perkataannya karena itu terlalu … memalukan. Chanyeol menghentikan senyumnya dan memijat pangkal hidungnya. Ingin rasanya Chanyeol berteriak di depan wajah cantik Baekhyun dan berkata bahwa dia juga tersiksa dengan ciuman itu, tetapi itu akan menyakiti harga dirinya. “Baiklah, kita akan perjelas ini semua. Mulai dari siapa? Kau atau aku?” tanya Chanyeol terus terang. Namun Baekhyun hanya diam dan memerhatikan Chanyeol dengan tatapan tajamnya. “Oke, dari tatapanmu aku sudah tahu. Aku akan mulai duluan. Hmm … bagaimana kalau kita anggap saja ciuman itu sebagai keinginan alam bawah sadar kita di masa ini. Kau tahu sendiri kalau di masa ini kita saling mencintai.”

190

Baeklogy

“Baekhyun, kau baik-baik saja, ‘kan?” tanya Chanyeol memastikan tatkala dia hanya melihat Baekhyun termenung beberapa waktu. “Baek?” panggil Chanyeol sekali lagi dan kali ini Baekhyun berhasil mendapatkan kesadarannya kembali. Baekhyun terkekeh pelan, lalu berkata dengan nada tingginya, “Ya, kupikir itu ide bagus juga, jadi kita tidak perlu saling mendiamkan seperti sebelumnya, ‘kan?” Chanyeol mengernyitkan dahi. “Kupikir kau tidak perlu berteriak padaku, aku mendengar suaramu dengan jelas.” “Terserah, aku ingin tidur!” Baekhyun lebih dulu beranjak dan masuk ke kamar mereka; meninggalkan Chanyeol yang terdiam karena terlalu bingung dengan sikap Baekhyun. “Baekhyun, kau tidak marah, ‘kan? Ayolah, aku salah apa lagi?” Chanyeol segera mengejar Baekhyun yang sudah meringkuk di bawah selimutnya. “Kita sudah meluruskan semuanya, tetapi mengapa kau masih terlihat sangat marah denganku? Katakan apa salahku karena aku benar-benar tidak tahu apa salahku sampai membuatmu marah seperti ini?!” “Aku tidak marah, Chanyeol! Aku sudah lelah berdebat, aku ingin tidur.” Baekhyun menarik selimutnya lagi hingga menutup setengah wajahnya. “Argh! Terserah kau saja!” Chanyeol mengambil bantalnya dan berjalan keluar kamar. 191

17 to 30

“Aku akan tidur di luar saja. Aku bisa gila karena tidak tahu apa masalahmu padaku, Tuan-TerserahAku-Ingin-Tidur.” Setelah pintu kamar itu tertutup, Baekhyun menyibakkan selimutnya dan menatap pintu kamarnya. “Astaga, kau tidak tahu juga betapa lelahnya aku dengan sifat kekanak-kanakan ini, Chanyeol.” -o0oSeorang pria jangkung dengan senjata api mencoba untuk fokus terhadap sasaran tembak yang terletak jauh di depannya. Satu tembakan mengenai area sembilan, begitu pula dengan tembakan kedua, dan saat akan menembakan peluru terakhir, seorang pria tiba-tiba menginterupsinya. “Pak Wu, Park Group tidak mau memperpanjang kontrak dengan kita. Perusahaan kita akan bangkrut jika tidak ada investor yang mau menanamkan modalnya kepada perusahaan.” “Siapkan mobilku aku akan mencoba menemui Chanyeol lagi, kalau perlu aku akan memohon padanya,” ucapnya dengan geraman. “Bagaimana jika Pak Park menolak untuk bekerja sama, Pak?” tanya lelaki yang dipastikan sekretaris dari Pak Wu tersebut. “Jika dia menolak, aku akan membuatnya menyesal, Joonmyeon.” Setelah mengatakan itu, pria itu melepaskan tembakan ketiganya dan tepat mengenai bagian area hitam yang berada di tengahtengah sasaran tembak tersebut. 192

Baeklogy

“Sempurna!” -o0oPria dengan setelan dan rambut yang acakan berlari ke arah ruangan Chanyeol, akan tetapi sebelum dia membuka pintu tersebut, Joohyun terlebih dahulu menghalangi jalan pria itu. “Biarkan aku menemuinya,” kata pria jangkung yang sedari tadi memaksa Joohyun untuk masuk ke ruangan bosnya. “Maafkan saya, Pak Wu. Tetapi, Pak Park tidak ingin menemui anda.” Joohyun berusaha menghalangi badan besar itu dengan badannya yang jauh lebih kecil tentunya. “Bisakah kau menyingkir? Aku hanya ingin berbicara dengannya, bukan akan membunuhnya!” Pria itu berteriak hingga membuat ruang di sana menggemakan suaranya. “Maafkan saya, tapi—“ BRUKH—! Pria itu mencengkeram bahu Joohyun dan mendorongnya ke dinding hingga menimbulkan suara yang cukup gaduh. Namun, berkat itu, dia bisa masuk ke dalam ruangan Chanyeol. “Chanyeol.” Chanyeol yang sedang mengerjakan sesuatu di depan meja kerjanya pun terkejut melihat siapa yang masuk. “Wah, lihat siapa yang datang? Pak Yifan Wu, ah tidak, Kak Kris yang sangat disukai Baekhyun. 193

17 to 30

Mengapa kau bisa masuk? Bukannya sudah kukatakan pada Joohyun untuk tidak membiarkanmu masuk?” Kris—pria jangkung itu—tertawa sekilas sembari mendekati meja kerja Chanyeol. “Tentu saja, aku memaksa untuk masuk, maaf untuk itu, tetapi aku perlu berbicara tentang ini. Bagaimana bisa kau memutuskan kontrak kerja sama kita?” tanya Kris sedikit meninggikan suaranya. Begitu terlihat seberapa berantaknya dia saat ini. “Siapa yang memutuskan kontak kerja? Yang kulakukan hanyalah tidak memperpanjang kontrak kerja yang sudah habis, Pak Wu,” sahut Chanyeol santai, bahkan pria itu menyilangkan kedua kakinya dan tersenyum simpul. “Meskipun begitu, mengapa kau tega tidak memperpanjang kontraknya? Bukankah kita sempat berada di sekolah yang sama? Ayolah, Chanyeol, jangan menganggapku seperti orang asing.” Chanyeol menghela nafasnya lalu berdiri dari kursinya dan mendekat ke arah Kris. “Kita memang pernah satu sekolah, tetapi bukan berarti aku ingin perusahaan yang dibangun oleh ayahku ikut terkena imbas akibat tindakan adikmu yang memalukan itu, Kris. Kudengar dia terbebas dari hukuman karena uang kalian?” tanya Chanyeol sambil menyeringai lebar. Kris yang melihat itu berusaha menahan dirinya untuk tidak melayangkan pukulan di wajah tampan Chanyeol.

194

Baeklogy

Kris membuang harga dirinya kali ini; dia menjatuhkan lututnya ke lantai sembari menundukkan kepalanya. “Chanyeol, kumohon sekali ini saja, tolong batalkan pemutusan kontrak itu. Keuangan keluarga kami benar-benar bergantung dengan kerja sama perusahaanmu,” ucap Kris parau dan terdengar sangat putus asa di indra pendengaran Chanyeol. “Maaf, Kris. Aku tidak bisa melakukan itu.” Kris sudah geram, dia bangun dan mengangkat lututnya dari lantai, lalu menarik kerah baju Chanyeol secara tiba-tiba hingga membuat Chanyeol tampak tercekik karena hal itu. Namun, sebelum Kris semakin gegabah atas tindakannya lagi, Joohyun masuk ke dalam ruangan bosnya tersebut sembari membawa dua penjaga keamanan di belakangnya. Bukan hanya itu, di samping Joohyun juga ada Baekhyun yang setengah berlari sambil memegangi sebuah kotak makan siang dan menatapnya khawatir. Para penjaga keamanan itu pun memisahkan Kris dari Chanyeol, kemudian membawa Kris yang masih memberontak itu keluar dari sana. “Pak, anda baik-baik saja?” tanya Joohyun yang disahuti dengan anggukan Chanyeol. “Jangan biarkan Kris memasuki area perusahaan ini, bahkan lobi sekalipun, perintahkan untuk semua keamanan untuk menghafal wajahnya,” instruksi Chanyeol sembari membenahi kerah kemeja dan dasi yang dia kenakan. 195

17 to 30

“Baiklah, Pak!” Setelah mendapatkan instruksi tersebut, Joohyun pun keluar, lalu meninggalkan Baekhyun dan Chanyeol berdua di sana. Baekhyun menatapnya dengan bibir yang mengerucut dan mata yang berkaca-kaca. Sementara itu, Chanyeol tersenyum lebar seraya mendekati Baekhyun yang sedari tadi tidak beranjak dari tempatnya berdiri. “Aku tidak apa-apa, Baek,” katanya lembut seakan tahu apa yang memenuhi kepala suaminya itu. “Kau membuatku takut, Park Chanyeol! Tidak bisakah kau di masa ini tidak membuat banyak musuh, apalagi musuh dalam hal pekerjaan?” tanya Baekhyun setengah mengomel. Baekhyun pergi dari hadapan Chanyeol dan memilih untuk duduk di sofa sambil membuka kotak makan siangnya. Chanyeol mendekati si cantik itu, lalu dia mendudukan dirinya di samping Baekhyun. “Dia yang mencari masalah dulu padaku! Dia yang menarik kerahku, Byun Baek! Aku sedari awal tidak berniat mencari musuh,” ucap Chanyeol sambil menanggapi semua perkataan sang suami sebelumnya dengan intonasi yang sedikit meninggi karena rasa kesalnya belum mereda “Aku tahu, aku bisa melihatnya!” Baekhyun ikut meninggikan suaranya. Namun, kali ini pria manis itu meninggalkan kotak makan tersebut agar matanya bisa lebih fokus menatap wajah tampan yang sedang duduk di sampingnya itu.

196

Baeklogy

“Lalu mengapa kepadaku?”

kau

terlihat

sangat

kesal

“Karena aku peduli padamu, Bodoh!” Baekhyun langsung menyambar pertanyaan Chanyeol dan membuat keduanya langsung terdiam beberapa waktu. “kau tahu, bagaimana jadinya bila kau memiliki musuh kerja di mana-mana, Chanyeol. Bahkan, ayahku dulu hampir celaka karena memiliki banyak musuh,” kata Baekhyun mulai bisa mengontrol suaranya. Dia menatap Chanyeol dengan tatapan yang lembut, namun Baekhyun sontak menoleh ke arah lain karena suasana di antara mereka mulai tidak nyaman. “Makanlah, Aku membuat makanan ini untukmu. Maaf, aku bersikap seperti anak kecil kemarin malam.” Baekhyun beranjak dari sofa dan melangkah menjauhi Chanyeol. Dia berniat pergi dari kantor Chanyeol. “Kau mau ke mana?” tanya Chanyeol sebelum tangan Baekhyun menyentuh kenop pintu ruangannya. Baekhyun menoleh ke belakang, lalu tersenyum manis. “Menjernihkan pikiran. Aku sangat membutuhkannya, mengingat aku sangat kekanakkanakan beberapa hari ini.” “Baiklah, hati-hati. Aku akan memakan isi kotak makan siang ini sampai habis meskipun tidak enak,” sahut Chanyeol yang dibalas kekehan dari Baekhyun.

197

17 to 30

“Dasar menyebalkan. Sampai jumpa nanti, Park Chanyeol.” Chanyeol tidak bisa melepaskan tatapannya pada sosok cantik itu sampai akhirnya punggung Baekhyun menghilang di balik pintu. Chanyeol tak bisa melepas senyumannya. Dia beralih membuka kotak makan siangnya dan senyuman itu semakin melebar tatkala melihat hasil kerja keras Baekhyun begitu terlihat pada isi kotak tersebut. “Hm. Percobaan yang bagus, Byun Baek.” Chanyeol menyendok nasi dan lauk pauknya yang sudah dihias sedemikian rupa oleh Baekhyun ke dalam mulutnya. Ketika makanan itu masuk ke mulutnya dan menyentuh indra pengecapnya, sontak saja wajah Chanyeol mengernyit. “Ini bukan nasi, tapi bubur. Mm-hm, bagus, nugget-nya juga gosong.” Meski rasanya tak terlalu enak, Chanyeol tetap menepati perkataannya pada Baekhyun untuk menghabiskan makanan tersebut, meskipun rasanya … ya, begitu. -o0oBerbeda dengan Chanyeol yang sedang berusaha mati-matian menelan makanannya, Baekhyun kini tengah bersantai di sebuah café sembari memerhatikan kesibukan orang lain dari dinding kaca yang tepat di sebelahnya. Namun, pikirannya melayang ke hal lain. Baekhyun ingin menenangkan dirinya. Dia ingin sendiri terlebih dahulu dan memikirkan sikap aneh 198

Baeklogy

dan kekanak-kanakannya selama dia berada di universe lain ini. Pria cantik itu mengutuk segalanya, dia merasa tubuhnya semakin mengontrol emosinya, bahkan tanpa dia sadari. Rasa cemburu, terlalu protektif, sayang, marah, kecewa dan seluruh rasa lainnya yang seolah-olah saling bertabrakan; membuatnya kehilangan kendali, kekanak-kanakan, dan terlihat begitu menyebalkan. Dan, satu lagi yang menyebalkan. Belakangan ini, ketika bersama Chanyeol, dia merasa semakin aneh. Apalagi ketika pria itu mulai mengelus perut atau berbicara lembut pada Baekhyun, rasanya seperti Baekhyun ingin cosplay jadi benda mati saja. “Hhhh ….” Baekhyun menghela napasnya. Dia menyesap minuman hangatnya perlahan. Dan, hampir tersedak saat perutnya kembali merasakan tendangan dari anaknya. “Oh! Baby A sudah Baekhyun sembari mengelus yang terasa berdenyut, tak bagian kirinya juga menerima

bangun, hm?” tanya perut bagian kanannya lama kemudian perut tendangan dari dalam.

“Aw, Baby B, suka sekali menendang perut papa, hm? Anak papa ingin menjadi ninja, huh?” Baekhyun terkekeh dengan perkataanya sendiri. Yang jelas, satu-satunya perasaan yang disadarinya saat ini adalah fakta bahwa dia sangat menyayangi kedua anaknya yang sekarang tengah menendang perutnya itu. Awalnya, memang terasa menggelikan untuk Baekhyun, namun lambat laun, dia mencintai kedua anaknya itu. 199

17 to 30

“Baik-baiklah di dalam sana sampai papa bisa menatap kalian, Nak.”

200

Baeklogy

17 to 30 Bagian 16 Chanyeol sibuk mondarmandir di ruang tamunya seraya melirik ke arah jam tangannya yang sudah hampir menunjukkan pukul sebelas malam. Pasalnya, Byun Baekhyun, sang suami, belum kunjung pulang dari “me time”-nya. Bahkan, Chanyeol tak sempat berganti baju saking panik dan khawatirnya dia. Namun tak lama kemudian, ponselnya bergetar berberapa kali, menandakan ada sebuah panggilan masuk dan seperti yang diharapkannya. Sang penelepon itu adalah Baekhyun. Tanpa berlama-lama, Chanyeol langsung menerima panggilan tersebut, lalu menempelkan ponselnya di telinga. “Byun Baekhyun, ke mana saja kau, huh?!” Chanyeol meneriaki oknum yang membuatnya khawatir itu tanpa disadarinya. Baekhyun yang berada di sebuah kamar itu pun mendudukan dirinya di bibir ranjang. Dia sedikit mengernyit dan menjauhkan ponselnya dari telinganya saat mendengar teriakan dari Chanyeol. “Pelankan suaramu, Park Chanyeol!” protes Baekhyun setengah kesal, akan tetapi senyuman masih terukir indah di bibirnya. 201

17 to 30

“Demi apapun, Byun Baekhyun, kau tidak tahu seberapa takutnya aku saat kau belum pulang dan tak mengangkat telepon dariku, huh?!” Baekhyun terkekeh mendengar omelan itu. “Maafkan aku, Chanyeol. Sepertinya aku butuh lebih banyak ‘me time’ untuk memikirkan sesuatu. Aku baik-baik saja dan sangat aman sekarang, kau tidak perlu khawatir.” Chanyeol memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut saat ini. Lalu, pria itu menempatkan dirinya di atas sofa sambil mengatur napasnya yang menggebu-gebu. “Damn it, Byun! Kau sedang hamil tua. Bagaimana bisa aku bisa tenang dan yakin? Bagaimana kalau bayi kita tidak bisa tidur tanpa elusan dari tangan ajaibku?” “Tidak apa. Untuk sehari ini aku bisa mengatasi Baby A dan Baby B agar tenang di dalam perutku, Chanyeol. Aku akan memutarkan rekaman suaramu yang menyandungkan “Brahms Lullaby” untuk mereka, pasti mereka akan tenang lagi kalau sedang berulah. Jangan khawatir, heum?” Baekhyun bisa mendengar Chanyeol menghela napas di seberang sana. “Besok kita akan bertemu, Chanyeol. Aku juga ingin mengatakan sesuatu kepadamu dan aku butuh persiapan untuk melakukan hal itu.” Chanyeol mengernyit mendengar itu. “Hm? Kau ingin mengatakan apa? Sekarang saja!” ujar Chanyeol tidak sabaran.

202

Baeklogy

Baekhyun menggeleng sembari mengulum bibir bawahnya. “Tidak. Aku ingin mengatakannya langsung besok.” Chanyeol mengerang gemas. “Ayolah, aku penasaran sekali! Kau tidak berniat menceraikanku setelah Baby A dan Baby B lahir, ‘kan?” Baekhyun tertawa pelan. “Mm-hmm. Aku akan memikirkan hal itu juga nanti.” “Jangan pernah memikirkan itu, Baekhyun!” protes Chanyeol tak terima. “Mengapa? Kau menyukaiku, ya?” canda Baekhyun seraya mengelus perutnya yang kembali mendapatkan tendangan dari salah satu bayinya. Namun, candaan itu membuat Chanyeol terdiam beberapa saat, begitu pula dengan Baekhyun yang seperti menunggu jawaban dari Chanyeol. “Berhenti bercanda dan lekas tidur! Besok beritahu aku di mana aku harus menunggumu.” “Mm-hmm, baiklah, kalau begitu aku akan menutup panggilannya dulu.” Baekhyun hampir saja mematikan sambungan telepon mereka, sebelum akhirnya Chanyeol menghentikan pergerakannya dengan sedikit berteriak. “Sebentar!” “Kenapa?” tanya Baekhyun kebingungan. “Aku ingin berbicara kepada bayi kita, boleh?” Baekhyun terkesiap. Dia tidak berharap kalau Chanyeol akan meminta hal itu. 203

17 to 30

“Tentu saja, aku sudah menggunakan pengeras suara, kau bisa berbicara dengan mereka.” Baekhyun mendekatkan ponselnya ke arah perut besarnya. “Siapa yang sedang bangun sekarang?” “Baby A, dia sangat aktif dari tadi pagi,” sahut Baekhyun sambil meringis pelan tatkala Baby A kembali menendang keras perutnya. “Baby A, anak Daddy yang baik, malam ini jangan membuat Papamu kesulitan tidur, ya, karena Daddy sekarang tidak berada di sisi Papamu.” “Woah!” Baekhyun terkejut saat tendangan sang bayi tidak sekuat sebelumnya. Malah sekarang sang Baby B yang menendang perutnya. “Kenapa, Baek?” “Baby A sudah tenang, tetapi sekarang giliran Baby B yang menendang kuat perutku.” Chanyeol tak kuat menahan senyumannya. “Baiklah, aku akan berbicara kepada Baby B.” Baekhyun mengalihkan ponselnya ke sisi perut yang lain. Kemudian, berbisik ke arah ponsel tersebut. “Baby B sedang mendengarkan,” kata Baekhyun seraya menirukan suara anak kecil dan itu sangat menggemaskan bagi Chanyeol. “Baby B, dengarkan Daddy, hm? Jangan membuat Papamu tidak bisa tidur malam ini, mengerti, ‘kan?” ujar Chanyeol dengan nada yang dibuat-buat.

204

Baeklogy

“Aw!” Chanyeol sontak khawatir mendengar pekikan kesakitan dari Baekhyun.

saat

“Baek, kau tidak apa-apa?” Baekhyun terkekeh. “Ahahaha, aku tidak apaapa, hanya saja Baby B malah menendangku semakin keras, Chan.” “Pasti sifat Baby B akan meniru sifatmu, Baekhyun,” goda Chanyeol yang ditanggapan dengan suara protesan dari sang suami. “Hahahaha … Oh, iya, besok kita akan bertemu di mana dan jam berapa?” “Di Exodus café jam delapan pagi.” “Baiklah. Sampai jumpa besok, Baekhyun.” “Sampai jumpa juga, Chanyeol. Awas saja kalau sampai terlambat!” ujar Baekhyun dengan sedikit nada ancaman di akhir kalimatnya. “Tidak akan, tentu saja!” -o0oDan, Chanyeol terlambat …. Dia terbangun pada pukul delapan lewat tiga puluh menit, karena malam tadi Chanyeol tidak bisa tertidur disebabkan satu hal di dalam kepalanya yang memikirkan Baekhyun terus-menerus. Dia baru bisa tidur saat jam dinding mulai mendekati angka enam dan pada akhirnya dia terlambat. Chanyeol segera bergegas mengenakan setelan formalnya sembari mengumpat di setiap helaan napas yang dibuangnya. Pasalnya, saat dia bangun tadi dan 205

17 to 30

melihat ponselnya, dia mendapatkan sebuah pesan dari Baekhyun yang menunjukkan sekali kalau pria cantik itu tengah marah padanya. Little Husband : KAU SANGAT TERLAMBAT, PARK CHANYEOL! Begitulah kira-kira isi pesan tersebut dan sudah beratus kali Chanyeol mencoba menelepon Baekhyun dan mengiriminya puluhan pesan, tetapi tidak satupun dari mereka yang ditanggapan oleh Baekhyun. Ketika kakinya tengah menyentuh lantai café, Chanyeol tidak menemukan kehadiran Baekhyun di sana. Pria tampan itu mencoba menghubungi Baekhyun berkali-kali, hingga pada percobaan yang kesepuluh kalinya, akhirnya Baekhyun mengangkat telepon darinya. “Baekhyun, aku minta maaf! Aku bangun kesiangan tadi, maafkan aku, sungguh!” ucap Chanyeol terengah-engah tanpa jeda sedikit pun. “Bagus kau mengakuinya,” sahut suara di seberang sana acuh tak acuh. “Kau di mana sekarang? Aku akan menjem— HEI!” Chanyeol sontak berlari keluar dari café tersebut setelah melihat mobilnya diderek karena parkir sembarangan. “Ada apa?” tanya Baekhyun terdengar sedikit bersahabat sekarang. “Aku terlalu terburu-buru tadi dan memarkir mobilku sembarangan. Sekarang mobilku sudah 206

Baeklogy

diderek.” Baekhyun terkekeh mendengarnya. Niat awal ingin mengambek pun hilang seketika. “Ya, aku melihat itu.” Chanyeol mengernyit kebingungan. “Lihatlah siapa yang ada di seberang jalan.” Chanyeol mengedarkan pandangannya ke arah jalanan yang dipenuhi kendaraan yang lalu-lalang. Samar-samar, Chanyeol dapat melihat seseorang tengah melambaikan tangan ke arahnya. Tanpa disadari Chanyeol sendiri, bibirnya mengukir senyuman yang amat lebar dan sebelah tangannya terulur ke atas sembari melambai ke arah pria cantik yang berdiri di seberang sana dengan perut besarnya. “Kau seperti teddy bear dari sini, Baek.” Baekhyun mengernyit kesal mendengar hal itu. “Kau memang senang bila aku marah padamu, ya?” pertanyaan retorik itu membuat Chanyeol terkekeh geli. Mendengar suara Baekhyun yang setengah kesal membuat Chanyeol merasa seperti ‘hidup’ lagi. Dia merindukan suara itu. “Aku akan segera ke sana,” kata Chanyeol seraya berbisik lembut kepada si mungil itu. “Baiklah, aku akan menunggu, Park Chanyeol.” Chanyeol masih menatap sosok cantik di seberang jalan itu dengan senyuman manisnya. Dia akan menyampaikan sesuatu yang selama ini disimpan oleh dirinya sendiri. Chanyeol ingin mengatakan langsung kepada si cantik nan mungil itu bahwa dia 207

17 to 30

sangat mendambakan pria mungil itu, dia ingin menghabiskan waktu bersama, meski mereka berdua terjebak di universe aneh ini. Namun, imajinasi Chanyeol tentang masa depannya bersama Baekhyun dan kedua bayi mereka seketika buyar tatkala dia mendapati sebuah mobil jeep berhenti tepat di depannya. Chanyeol mengernyit dan mengira-ngira siapa yang berada di dalam sana. Baekhyun yang berada di seberang jalan pun ikut mengernyit ketika pemandangannya terhadap sosok pria tampan yang menjadi suami masa kininya itu terhalang oleh mobil jeep tersebut. “Chanyeol, siapa itu?” tanya Baekhyun saat dia baru sadar bahwa sambungan telepon mereka belum terputus. Kaca mobil itu terbuka sedikit dan itu sangat aneh menurut Chanyeol. Mata Chanyeol menyipit bingung. Tak lama kemudian, sebuah benda yang memiliki diameter berukuran kecil keluar dari jendela yang sedikit terbuka tadi. Mata Chanyeol membeliak saat menyadari bahwa benda itu adalah moncong senjata laras panjang yang sedang diarahkan kepadanya. Baru saja dia berniat menghindar dari mobil itu, namun …. DOR! Semua orang yang berada di sekitar Chanyeol berteriak ketika mendengar suara tembakan itu. Sementara itu, Chanyeol melirik ke arah dada kirinya yang menjadi tempat bersarang sebuah timah panas 208

Baeklogy

yang ditembakkan ke arahnya tadi. Mobil jeep itu langsung pergi dari sana dan meninggalkan Chanyeol yang mulai kehilangan kesadarannya dan roboh. Baekhyun menggelengkan kepalanya dengan bibir yang bergetar hebat. Napasnya memburu melihat penampakan di depannya dan semua terasa begitu sepi di telinganya, suara yang awalnya begitu ramai menjadi sebuah gemaan saja. “Tidak, tidak, Chanyeol!” Tanpa Baekhyun sadari, kakinya sudah menginjak jalan raya. Dia terus berjalan tanpa menyadari beberapa mobil hampir menabrak tubuhnya. Sialnya, tragedi tidak bisa terelakkan, sebuah mobil dengan kecepatan di atas rata-rata datang ke arahnya, dan …. BRAK!— Mobil itu pun menghantam tubuhnya dengan keras hingga dia berguling di atas mobil itu, lalu jatuh dengan posisi perutnya dahulu yang menghantam aspal tersebut. “Akhhh!” Baekhyun mengerang kesakitan. Hanya rasa sakit yang dia rasakan sekarang. Samarsamar, Baekhyun bisa mencium bau anyir di sekitarnya, tubuhnya berlumur darah. Dia juga bisa melihat Chanyeol yang tidak sadarkan diri di seberang sana. Baekhyun ingin melafalkan nama sang suami, tetapi suaranya tak kunjung keluar. Dia merasa deja vu. Baekhyun pernah merasakan kesakitan ini sebelumnya. 209

17 to 30

Perlahan, kilas balik momen yang dilaluinya beberapa bulan ini bersama Chanyeol berputar di kepalanya, seperti sebuah kaset rusak, lalu tak lama kemudian, ingatannya memutar kilas balik di mana mereka masih berada di masa tujuh belas tahun. Bertengkar, lalu berbaikan, kemudian bertengkar lagi karena hal kecil. Baekhyun bisa saja mengabaikan Chanyeol yang senang menggodanya, namun dia tidak bisa melakukannya. Karena, Baekhyun menyukai perlakuan itu. Dia menyukai Chanyeol, jauh sebelum mereka terjebak di masa depan ini. Baekhyun kehilangan kesempatan itu. Dia kehilangan kesempatan yang telah Tuhan berikan untuk menyatakan perasaannya kepada Chanyeol. Dia kehilangan itu untuk yang kedua kalinya.

Aku mencintaimu, Park Chanyeol. Baekhyun

ingin mengatakan itu hari ini kepada Chanyeol, dengan senyuman bahagia, kemudian memeluknya. Namun, kini semua itu hanyalah sebuah angan yang tak akan bisa tergapai.

Tuhan sudah memberikannya kesempatan, dan dia menyia-nyiakan hal itu. Baekhyun tak kuat lagi menahan rasa sakit di tubuhnya. Perlahan, kedua matanya mulai tertutup dan kesadarannya mulai menghilang. Dia sudah siap mati kali ini dan berharap Tuhan mempersatukan mereka lagi, entah mungkin di kehidupan selanjutnya atau di universe lain. -o0o“Baekhyun … Baekhyun … Baekhyun!” 210

Baeklogy

Sayup-sayup Baekhyun dapat mendengar suara itu memasuki gendang telinganya. Dia mencoba membuka matanya, namun terlalu banyak cahaya yang masuk dan itu membuatnya pusing. Suara yang awalnya sayup-sayup terdengar itu pun perlahan terdengar jelas di telinganya. “Wake up, Sleepyhead! Bisakah kau tidak tidur seperti orang mati, huh?” Baekhyun mengernyit tidak mengerti. Itu suara Luhan yang juga sedang mengguncang tubuhnya. Baekhyun terdiam sebentar. Kemudian, dia membuka matanya lebar-lebar dan langsung mengubah posisi tidurnya menjadi duduk secara cepat. “A-aku masih hidup,” gumamnya dengan tatapan tak percaya. Baekhyun menengadahkan kedua tangannya dan menatapnya dengan saksama. Tidak ada darah dan luka sama sekali. Lalu, dia mengelus perutnya yang … rata. “Sedang apa kau?” tanya Luhan yang kebingungan. Baekhyun tidak langsung menanggapinya, dia menoleh ke sana dan kemari untuk mengetahui di mana dia berada saat ini. “Kita ada di mana, Luhan?” tanya Baekhyun seperti orang linglung, menurut Luhan. “Di tendamu, Bodoh! Sekarang, cepat keluar karena perlombaan sebelum api unggun akan segera dimulai. Aku akan tunggu di luar. Bergegaslah!”

211

17 to 30

Baekhyun segera menahan lengan Luhan yang akan beranjak dari hadapannya. “Sebentar! Berapa umur kita sekarang?!” Luhan mengernyit tak paham. “Tentu saja tujuh belas tahun, Bodoh! Ada apa denganmu?!” “Aku sudah kembali.” Baekhyun bergumam lagi dan itu membuat Luhan semakin takut. “Kyungsoo, sepertinya teman kita sudah gila!” ujar Luhan segera berlari keluar dari tenda tersebut. Baekhyun tidak bisa menahan air matanya. Dia kembali ke masa di mana dia harusnya berada. Baekhyun memeluk dirinya sendiri dengan air mata yang mengaliri pipinya. Dan, sesaat setelah itu, dia pun mengingat nama seseorang yang sangat ingin ditemuinya saat ini. “Park Chanyeol!”

212

Baeklogy

17 to 30 Bagian 17 Baekhyun bergegas keluar dari tendanya. Napasnya terengah-engah seperti sedang dikejar sesuatu. Bersamaan dengan itu, Chanyeol keluar dari tendanya dan ikut menatap ke arahnya. “Chanyeol.” Bibir Baekhyun bergetar ketika mata mereka saling beradu pandang. Baekhyun tidak mengira mereka akan dipertemukan lagi oleh Tuhan untuk ketiga kalinya. Baekhyun segera berlari ke arah Chanyeol, lalu memeluk pria itu seerat mungkin. Sontak saja, para siswa yang awalnya sibuk dengan urusan masingmasing pun seketika menatap Chanyeol dan Baekhyun dengan tatapan heboh. “Kita kembali, Chan! Kita berhasil menemukan jalan keluarnya Kupikir aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi, Chanyeol!” Kelima teman Baekhyun yang lain tercekat melihat penampakan langka di depan mereka itu. Terutama Jongin yang tak berhenti terkesiap.

213

17 to 30

“Katakan kalau penampakan di depanku ini hanyalah mimpi saja!” ujar Jongin kepada Sehun yang berdiri di sampingnya. Sehun menengadahkan tangannya ke arah Jongin. “Aku menang taruhan. Mereka saling menyukai. Sekarang, berikan aku uang satu jutanya!” “Tidak akan!” “Berengsek!” “Anak-anak! Mari berkumpul di titik kumpul, Kak Kris akan memulai instruksi lombanya!” teriak salah satu dari pihak OSIS dari arah titik kumpul. Seluruh siswa pun berbondong-bondong berjalan ke arah titik kumpul. Sebagian dari mereka tidak sabar melihat wajah tampan Kak Kris. Dan, kini hanya tinggal Baekhyun dan Chanyeol yang berdiri di depan tenda Chanyeol. “Kemarilah! Kita tidak perlu mengikuti permainan konyol itu!” Baekhyun menarik tangan Chanyeol untuk bersembunyi agar panitia tidak mendapati mereka. Baekhyun mengedarkan pandangannya ketika mereka sampai di sebuah pohon besar yang menutup keberadaan tubuh mereka dari arah titik kumpul. DIa ingin memastikan bahwa tidak ada satu orang pun yang melihat mereka. “Ada apa, Baek? Bukankah kita harus berkumpul sekarang?” tanya Chanyeol dengan dahi yang mengerut kebingungan. Baekhyun yang mendengar itu pun mengerjap beberapa kali, kemudian dia menatap wajah Chanyeol yang kebingungan. 214

Baeklogy

Saat itu pula, Baekhyun menyadari bahwa Chanyeol tidak mengingat apapun tentang perjalanan mereka ke universe lain di mana keduanya menikah dan memiliki anak yang masih berada di dalam perutnya. “Oh, Tuhan, kau tidak mengingatnya, Chanyeol?” Chanyeol semakin mengernyitkan dahinya. Dia tidak mengerti apa yang sedang dikatakan oleh pria cantik itu. “Mengingat apa?” “Aku ….” “Tentu saja aku ingat, kau Byun Baekhyun, kita satu kelas dan sebangku, lalu aku senang mengejek dan mengataimu.” Chanyeol sedikit mundur karena sikap Baekhyun saat ini sangat menakutkan baginya. “Bukan itu! Kau tidak mengingat kalau kita pernah jatuh ke dalam jurang saat kita menjalani misi lomba perkemahan ini, lalu dengan ajaibnya, kita berada di dunia di mana aku dan kau menikah, kemudian aku tengah mengandung anakmu?” Baekhyun berkata dengan penuh harap. Dia mencoba membuat Chanyeol mengingat semua hal yang mereka lalui bersama beberapa bulan di dunia lain itu. “Pendek, kau sungguh menakutiku sekarang. Jangan bercanda!” ujar Chanyeol sembari melebarkan kedua matanya. “Aku tidak ingin kehilangan kesempatan ini lagi untuk ketiga kalinya. Aku ingin mengatakan kalau aku

215

17 to 30

mencintaimu, Chanyeol,” ucap Baekhyun yang mulai merasakan pandangannya berpendar karena air mata. Tidak ada tanggapan dari Chanyeol. Pria tampan itu tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia terlalu terkejut mendengar pengakuan Baekhyun yang baginya terlalu tiba-tiba itu. Chanyeol berpikir, baru saja beberapa jam yang lalu, Baekhyun memandangnya dengan sinis, namun sekarang dia malah mendengar pengakuan dari si cantik nan mungil itu. “Baekhyun, kau tidak sedang memakai obatobatan terlarang, ‘kan?” tanya Chanyeol memastikan. “Huh? Tentu saja tidak, Bodoh! Aku serius, Chanyeol. Aku mencintaimu.” “Aku tahu ini tipuanmu saja, aku tidak akan terpedaya dengan pengakuan palsumu, Byun Baekhyun.” Chanyeol akan segera pergi dari hadapan Baekhyun. Namun, si cantik itu menarik lengan Chanyeol hingga membuat si tampan itu sedikit terhuyung ke arah Baekhyun. Baekhyun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Si cantik nan mungil itu langsung saja melingkarkan kedua lengannya di leher Chanyeol, kemudian menubrukkan punggung Chanyeol ke batang pohon yang terletak di belakang si tampan itu sampai sebuah erangan keluar dari bibir tebalnya. Keduanya saling beradu tatapan. Baekhyun dengan tatapan penuh cintanya, dan Chanyeol dengan segala kebingungannya.

216

Baeklogy

Tanpa berlama-lama lagi, Baekhyun pun menempelkan bibirnya ke bibir Chanyeol. Sontak saja, mata Chanyeol membeliak, apalagi saat Baekhyun mulai menggerakkan bibirnya dan semakin merapatkan jarak di antara mereka. Chanyeol tak bisa melawan, malah pria itu mulai terhanyut pada suasana yang tercipta. Chanyeol membalas ciuman itu dan melumat setiap jengkal bibir Baekhyun. Kedua tangannya yang sedari tadi menganggur kini bertengger di pinggang Baekhyun. Ciuman yang tadinya terasa biasa saja pun perlahan mulai memanas. Hingga akhirnya ciuman itu berakhir karena Baekhyun yang sengaja menarik dirinya. Baekhyun mengernyit heran. “Kau membalas ciumanku.” Chanyeol terkekeh pelan. “Bagaimana bisa aku tidak membalas ciuman dari seseorang, dan aku akui kalau bibirmu itu sangat, um … kissable, mungkin.” Baekhyun mengerjapkan matanya berkali-kali. Semua terasa membingungkan untuknya. Jika momen saat dia dan Chanyeol hidup di masa depan itu hanya sekadar mimpi belaka, maka hal tersebut tak dapat dipercaya karena kejadian itu terlalu nyata untuk dikatakan sebuah bunga tidur belaka. Baekhyun menarik tangan mengarahkannya ke perut rata menatap Chanyeol penuh harap.

Chanyeol dan Baekhyun. Dia

“Kau tidak ingat kalau aku tadinya mengandung anakmu? Si kembar, Baby A dan Baby B. Kau tidak mengingatnya?” Chanyeol segera menarik tangannya kembali. Tatapannya semakin menghakimi Baekhyun. 217

17 to 30

“Baekhyun, hentikan omong kosongmu. Kau pria dan tidak bisa hamil. Jangan membuatku mengataimu gila, Byun Baek!” Baekhyun mengacak rambutnya. Dia begitu frustrasi karena hanya dia yang ingat kejadian itu, sementara Chanyeol tidak. Baekhyun berbalik, membelakangi Chanyeol yang masih mencoba mengartikan sikap Baekhyun saat ini. “Tuhan, di saat aku mengutarakan perasaanku, dia tidak mengingat kejadian berbulan-bulan yang kuhabiskan bersamanya dengan perut yang membesar karena tengah mengandung darah dagingnya. Apa aku sedang hukum sekarang?” Baekhyun berteriak seperti orang gila sampai-sampai sekawanan burung yang sedari tadi bertengger manis di tangkai pohon yang ada di atas mereka beterbangan menjauhi keduanya. Tidak sampai di sana. Mungkin karena burungburung itu terkejut dengan teriakan Baekhyun, salah satu dari mereka tidak sadar buang air besar saat terbang dan berakhir mendarat di atas surai kecokelatan si cantik itu. “BWAHAHAHA!” Chanyeol tak kuat menahan tawanya ketika melihat Baekhyun memutar badannya ke arah Chanyeol dengan raut wajah ‘jelek’-nya. “AAAAAAA!” Baekhyun berteriak histeris saat tahi burung itu mulai mengalir ke dahinya. -o0oDan di sinilah Baekhyun dan Chanyeol sekarang, di sungai yang mengalir tenang serta tak jauh dari 218

Baeklogy

perkemahan untuk membersihkan rambut dan wajah Baekhyun dari tahi burung. Sementara itu, Chanyeol tak bisa menghentikan tawanya yang sudah berlangsung hampir sepuluh menit sejak kejadian tahi burung tadi. “Ew, rambutnya terlihat menjijikkan, tapi itu sangat lucu!” ujar Chanyeol di sela tawanya dan itu membuat Baekhyun kesal setengah mati. “Berhenti meledekku! Apa tahinya masih melekat di sana?” tanya Baekhyun dengan raut wajah jijiknya. “Sudah bersih, Pendek! Mendekatlah, akan kukeringkan dengan handukku.” Chanyeol menarik perlahan tubuh itu agar lebih dekat ke arahnya. Kemudian, pria tampan itu mulai mengusap handuk yang sedari bertengger di bahunya ke rambut basah Baekhyun. Dan, karena tinggi mereka yang lumayan jauh, Chanyeol cukup leluasa mengusap rambut itu tanpa kesulitan sama sekali, sementara itu Baekhyun mengalami debaran itu lagi saat wajahnya bertemu leher jenjang Chanyeol. Chanyeol merasakan ketegangan yang sekarang dialami Baekhyun. Bagaimana tidak, awalnya pria tampan itu merasakan hembusan napas dari Baekhyun sekali, namun setelah itu dia tidak merasakannya lagi. Chanyeol meninggalkan kegiatannya, kemudian mundur beberapa langkah. “Mengapa kau menahan napasmu?” 219

17 to 30

Baekhyun menarik handuk yang masih menggantung di kepalanya. Lalu, dia menghela napasnya. “Aku baru saja mengatakan pengakuan cintaku padamu, Chanyeol. Bagaimana bisa aku bernapas normal saat berdekatan denganmu?” Chanyeol tertawa terbahak-bahak sambil menahan perutnya. Setelah puas tertawa, dia menatap wajah Baekhyun yang serius. “Kau bersungguh-sungguh tentang mencintaiku?” Baekhyun menjawab dengan anggukan. Chanyeol meremas rambutnya dengan kedua tangan, lalu menggeram setengah berteriak, “Tapi, bagaimana bisa seseorang bisa berubah begitu saja dalam beberapa jam?” “Aku membutuhkan waktu sekitar tiga bulan lebih untuk tidak menyangkal perasaanku padamu, Chanyeol. Bukan hanya sehari. Sudah kukatakan padamu kalau kita kecelakaan, lalu tanpa sadar kita melakukan perjalanan ke dunia lain di mana kau dan aku berada di umur tiga puluh tahun, kemudian kita baru akan memiliki anak yang masih kukandung. Kita di dunia itu selama tiga bulan lebih, Park Chanyeol.” Chanyeol tercengang untuk kedua kalinya. Dia memang percaya kalau alam semesta ini misterius dan dia percaya adanya parallel universe, tetapi cerita Baekhyun sangat rumit untuk dipercaya. “Baiklah, katakan saja ceritamu memang benar. Lalu, bagaimana bisa kau kembali?” “Kita mengalami kecelakaan lagi. Kau ditembak, entah siapa yang melakukan itu, lalu aku tertabrak mobil saat berlari ke arahmu. Saat itu juga aku 220

Baeklogy

menyadari kalau aku sudah jatuh cinta padamu, bahkan sebelum perjalanan waktu itu berawal.” Chanyeol mengerjapkan matanya. Untuk kesekian kalinya, dia mencoba mengerti apa yang dikatakan Baekhyun. Akan tetapi, akal sehatnya selalu menyangkal semua itu. “Dengarkan aku, Baekhyun. Aku percaya terhadap hal seperti dunia parallel dan sejenisnya, tetapi untuk memercayainya di dunia nyata, apalagi kau dan diriku sendiri yang mengalaminya mungkin membutuhkan waktu, Baek.” Chanyeol tersenyum lembut, persis seperti Chanyeol yang dikenal Baekhyun saat mereka berada di ‘masa depan’. Baekhyun semakin yakin kalau apa yang dialaminya itu adalah nyata, bukan mimpi semata. Chanyeol menoleh ke arah titik kumpul di mana sudah dipenuhi para siswa lainnya. Dia menghela napasnya, lalu menatap Baekhyun dengan senyum lebar dan wajah tengiknya lagi. “Sepertinya lombanya sudah selesai. Sebaiknya kita segera berkumpul. Oh, ya, kau boleh memakai atau membuang handuk itu. Aku tidak mau memakai handuk bekas tahi burung.” Air muka Baekhyun berubah masam. Selembut apapun pria tampan itu, tetaplah namanya Park Chanyeol yang selalu menjadi seorang pria menyebalkan. -o0oApi unggun pun dimulai. Seluruh murid berkumpul dan berkerumun dengan api unggun yang menyala besar di tengah-tengah mereka. Sementara 221

17 to 30

itu, Chanyeol berkumpul dengan teman-temannya yang lain. Begitu pula dengan Baekhyun yang kini duduk berdekatan dengan kelima sahabatnya seraya memerhatikan Chanyeol tanpa berkedip. Jongdae yang menyadari itu pun menyenggol lengan Baekhyun dengan sikunya, kemudian berbisik, “Baekhyun, kau sungguh menyukainya?” Meski dengan berbisik, tetapi keempat sahabatnya yang lain dapat mendengar pertanyaan dari Jongdae. Bola mata Baekhyun berotasi malas. Dia beranjak dari posisinya dan berniat keluar dari sekumpulan orang kepo itu. Baru saja dia ingin berjalan ke arah tendanya, namun sebuah suara menghentikannya. “Baekhyun, kau mau ke mana?” Itu Kak Kris yang tengah mengatur murid-murid yang lain. Seluruh keributan itu menjadi sunyi, hanya terdengar suara retakan kayu bakar yang merekah di dalam api yang sedang menyala-nyala itu. Semua mata menatap ke arahnya, termasuk Chanyeol. “Maaf, Kak. Saya sepertinya masuk angin dan ingin istirahat, apakah saya boleh kembali ke tenda saya?” tanya Baekhyun dengan wajah yang datar. Masih segar di ingatan Baekhyun, kalau Kris pernah memukul wajah tampan Chanyeol hanya karena keinginannya tak dipenuhi. “Apakah kau membawa obat-obatan? Kakak membawa beberapa, mungkin akan membantumu mengurangi rasa sakitnya.” 222

Baeklogy

Baekhyun menyeringai sinis. “Tidak perlu.” Setelah mengatakan itu, si cantik itu langsung saja pergi dan masuk ke tendanya. Kejadian itu sontak membuat dahi Chanyeol mengerut. Dia tak mengira bahwa Baekhyun akan menanggapi Kris seperti itu. Chanyeol sangat mengerti seberapa kagumnya Baekhyun terhadap pria tinggi itu. Namun, yang dilihatnya sekarang adalah Baekhyun seperti membenci Kris dalam kurun waktu beberapa jam saja. -o0oChanyeol mengernyit tatkala ketika dia membuka matanya, dia tidak bisa melihat apapun. Di sekitarnya gelap, tak ada penerangan sama sekali. Namun, tak lama kemudian seluruh pencahayaan pun dihidupkan. Chanyeol tetap kebingungan karena dia sangat asing dengan ruang besar di depannya ini, lalu juga penerangan temaram dan perapian yang menyala. “Chanyeol.” Suara yang terdengar akrab di indra pendengaran Chanyeol pun membuat lamunan pria tampan itu terhenti. Chanyeol mencari asal suara dan dia menemukan Baekhyun tengah menyetel sebuah pemutar musik. “Baekhyun?” tanya Chanyeol hati-hati seraya memastikan. Musik pun terputar. Chanyeol mengenali lagu ini. Ini lagu kesukaannya yang berjudul “Kiss Me” dinyanyikan oleh Ed Sheeran. Bagaimana bisa

223

17 to 30

Baekhyun tahu? Chanyeol bertanya-tanya tanpa bisa bersuara. Kemudian, si cantik itu berbalik dan berjalan ke arah Chanyeol dengan senyuman yang merekah di bibirnya. Mata Chanyeol membeliak terkejut tatkala melihat perut Baekhyun yang membesar. “Aku ingin berdansa denganmu. Bolehkah?” Baekhyun mengulurkan tangannya. Chanyeol menggenggam tangan itu tanpa sadar, kemudian merangkul tubuh itu ke dalam pelukannya.

Settle down with me Cover me up Cuddle me in Chanyeol hanyut dalam suasana. Dia membiarkan tubuhnya mengambil alih atas hal apa yang harus dilakukannya saat ini; bergerak perlahan seirama musik yang tengah dimainkan. Chanyeol dapat mencium harumnya surai Baekhyun yang menggelitik hidungnya serta dia dapat merasakan hembusan napas hangat Baekhyun yang menerpa lehernya.

Lie down with me And hold me in your arms And your heart’s against my chest Your lips pressed to my neck Baekhyun menarik sedikit tubuhnya dari pelukan, lalu wajahnya menengadah untuk menatap

224

Baeklogy

wajah tampan sang suami. Pria mungil itu tersenyum begitu manis hingga Chanyeol ikut tersenyum pula.

I’m falling for your eyes But they don’t know me yet And with a feeling I’ll forget I’m in love now Baekhyun melepaskan pelukan mereka, hanya kedua tangan mereka yang masih saling menggenggam. Keduanya tersenyum lebar. Chanyeol merasa begitu bahagia sekarang, apalagi ketika melihat wajah riang itu. Rasanya begitu menyenangkan baginya.

Kiss me like you wanna be loved You wanna be loved Chanyeol menarik kedua tangan itu pelan agar Baekhyun kembali mendekat ke arahnya. Dia melepaskan genggaman tangan mereka, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Baekhyun. Si cantik itu tersenyum dan menutup matanya seakan tahu apa yang akan dilakukan oleh Chanyeol. Chanyeol melumat lembut bibir itu. Pria tampan itu menyukai sensasi ketika bibirnya menyentuh bibir Baekhyun. Dia sangat menikmati bagaimana napas mereka saling beradu saat saling berpagutan. Chanyeol dapat merasakan debaran jantungnya yang menggila. Namun, beberapa detik setelahnya, Chanyeol merasakan Baekhyun hilang dari hadapannya. Chanyeol segera membuka mata dan betapa 225

17 to 30

terkejutnya dia ketika menemukan Baekhyun terbaring di atas marmer yang dingin dengan darah yang merembes dari seluruh tubuhnya. Chanyeol terdiam beberapa saat. Napasnya menderu. Lututnya terjatuh dan dia segera merangkul tubuh dingin Baekhyun ke dalam pelukannya. “Baekhyun, apa yang terjadi? Baek, bangunlah!” Chanyeol terlalu sibuk menangisi Baekhyun dan baru menyadari sebuah sepatu hitam berdiri di hadapannya seraya menginjak darah Baekhyun. Chanyeol mendongakkan kepalanya, namun dia tidak bisa melihat wajah orang itu. Matanya membulat besar saat sebuah senjata laras panjang ditodongkan ke arahnya. DOR! “TIDAK!” Chanyeol membuka matanya selebar mungkin, lalu mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk. Si tampan itu meraba tubuhnya dan memastikan tidak ada satu pun timah panas yang bersarang di tubuhnya. Chanyeol masih berada di dalam tendanya. Namun, mimpi tadi terasa sangat nyata, bahkan sakitnya masih bisa dirasakan oleh Chanyeol. “Apa-apaan tadi itu?”

226

Baeklogy

17 to 30 Bagian 18 Baekhyun tidak menyangka kalau pria yang selama beberapa minggu ini menghindarinya sekarang muncul di depan pagar rumahnya dengan wajah pucat dan napas yang menggebu-gebu seperti sedang dikejar oleh seseorang. “Chanyeol? Kupikir kau tidak ingin bertemu denganku lagi,” kata Baekhyun dengan tatapan malasnya. Meskipun dia menyukai Chanyeol, tetapi bila pria itu menolaknya hingga menjauhinya seperti itu, lebih baik Baekhyun menyerah saja soal perasaannya. “Aku memimpikan hal aneh beberapa minggu ini, Baekhyun.” Air muka Baekhyun berubah ketika mendengar itu. Dia pun mempersilakan Chanyeol masuk ke dalam pagar. Mereka memilih berbicara di gazebo yang ada di taman kecil milik keluarga Byun itu. Baekhyun menatap wajah Chanyeol lekat-lekat dan dia bisa melihat seberapa takutnya pria di hadapannya sekarang. “Mimpi apa maksudmu?”

227

17 to 30

“Awalnya aku bermimpi kita sedang melakukan dansa di ruangan besar. lalu tiba-tiba kau terbaring di lantai dengan darah yang tidak berhenti mengalir dari tubuhmu, kemudian aku melihat seseorang menembakiku.” Baekhyun terdiam sesaat untuk mencerna cerita dari Chanyeol barusan. “Lalu, aku memimpikan hal yang serupa setiap harinya dengan berbeda latar. Aku dan kau bahagia, bersama anak kembar yang sedang kau kandung, namun semua itu berakhir tragis.” Baekhyun tidak bisa berkata-kata. Dia dapat melihat betapa tersiksanya Chanyeol lewat air muka si tampan itu. “Aku bisa merasakan kalau aku sangat mencintaimu di sana. Kita sangat bahagia, kemudian semua itu direnggut paksa dariku. Rasanya sangat menyiksaku, Baek. Padahal, selama beberapa minggu ini aku berusaha menghindarimu agar mimpi itu tidak datang lagi, tetapi semakin aku menghindar darimu, semakin menyakitkan pula rasa sakit yang kuterima.” Chanyeol menatap Baekhyun dengan mata yang berkaca-kaca oleh air mata. “Kupikir perjalananmu ke dunia parallel itu benar adanya, Baek. Semua cerita yang kau sampaikan di perkemahan itu terasa terhubung ke mimpiku.” Chanyeol menggapai kedua tangan Baekhyun dan tak melepas tatapannya sama sekali. “Aku tidak ingin mendapatkan mimpi itu lagi, Baek. Tolong bantu aku.” Baekhyun mengernyit “Membantumu bagaimana?”

228

tak

paham.

Baeklogy

“Untuk malam ini biarkan aku menginap di rumahmu.” Mata Baekhyun sontak membulat terkejut. “Bagaimana bisa kau menginap di rumahku sementara itu aku menyukaimu, Bodoh?!” tanya si mungil itu seraya meninggikan intonasi suaranya. “Bantulah aku, ya? Kumohon?” pinta Chanyeol penuh harap. Baekhyun menatap kesal ke arahnya, namun beberapa detik kemudian, Baekhyun hanya bisa menghela napas beratnya sembari mengangguk. “Tapi hanya untuk satu hari saja!” ujar Baekhyun menekankan setiap katanya. Chanyeol menanggapinya dengan anggukannya. “Terima kasih, Baek.” -o0oChanyeol mengerutkan dahinya tatkala dia mendapati dirinya berada di sebuah ruang terbuka dengan banyak permainan anak-anak di sekitarnya. “Jiwon, ayo kejar aku!” Suara anak laki-laki sekitar lima tahunan itu menghiasi taman belakang rumah yang luasnya bukan main ini. Lalu, dari arah belakang, seorang anak laki-laki sepantarannya tengah mengejar si anak dengan kakinya yang lebih pendek. “Ish, Yuan, jangan cepat-cepat! Jiwon capek!” Anak laki-laki yang lebih pendek itu pun berhenti dan menjatuhkan dirinya sendiri di atas rerumputan hijau itu. “Ugh! Jiwon payah! Jiwon payah! Jiwon payah!” ejek Yuan seraya menggoyangkan tubuhnya 229

17 to 30

dan memeletkan lidahnya, mengolok si bungsu yang tampak akan menangis. “Daddy, Papa! Huweeee! Yuan mengejek Jiwon!” Baekhyun yang datang dari belakang Jiwon pun langsung menggendong sang anak. “Yuan, jangan kau selalu senang mengejek adikmu. Tidak boleh begitu, ya?” “Baiklah, Pa.” Baekhyun menurunkan Jiwon di hadapan Yuan, kemudian memeluk erat keduanya. “Papa sangat sayang kalian berdua, dan kalian berdua juga harus saling menyayangi. Sekarang, saling minta maaf, lalu pelukan!” ujar Baekhyun dengan senyuman manisnya. “Yuan minta maaf, ya, Jiwon.” “Jiwon juga minta maaf, Yuan. Peluk?” Jiwon merentangkan kedua lengan mungilnya. Yuan yang melihat itu langsung memeluk tubuh saudaranya yang lebih mungil darinya itu. “Yuan sayang Jiwon!” “Jiwon juga!” Baekhyun yang senang melihat anaknya kembali rukun pun memanggil pria dewasa selain dirinya yang tengah memerhatikan mereka saja. “Chanyeol, kemarilah!” melambaikan tangannya.

ujarnya

seraya

Tanpa Chanyeol sadari, kakinya sudah lebih dulu melangkah ke arah Baekhyun. Setelah dia sudah berada tepat di hadapan si cantik itu, Baekhyun tiba230

Baeklogy

tiba berjinjit, lalu mengecup bibirnya hingga membuat Chanyeol terkejut, tetapi di lain hati, dia sangat menyukai perlakuan itu. Sangat aneh. “Aku mencintaimu, Park Chanyeol,” bisik Baekhyun lembut, tepat di samping telinganya hingga membuat Chanyeol menutup matanya. “Engh ….” Chanyeol kembali membuka matanya dan dia mendapatkan dirinya berbaring di atas ranjang milik Baekhyun. Tambahan, dengan wajah cantik itu yang kini berhadapan dengan wajah Chanyeol, lalu jemari lentik milik Baekhyun tengah mengelus pipinya perlahan. “Maaf, aku membangunkanmu.” “Aku memimpikanmu lagi,” ucap Chanyeol dengan suara serak dan paraunya. “Benarkah? Apa berakhir tragis lagi?” Chanyeol menggeleng pelan. “Kali ini, si kembar sudah lahir,” kata Chanyeol yang membuat Baekhyun menatapnya dengan air mata yang sudah berkumpul di pelupuk matanya. “Sungguh? Bagaimana rupa mereka?” Selama beberapa minggu ini Baekhyun merasa depresi karena dia tidak bisa menjaga anaknya dengan benar. Kehilangan anak adalah hal yang paling menyakitkan yang pernah dialaminya selama dia hidup di dunia. “Kedua laki-laki. Si kakak bernama Yuan dan adiknya bernama Jiwon. Si adik lebih pendek dari kakaknya dan si kakak sangat senang mengejeknya. Tidak ada hal tragis setelahnya, hanya ada kebahagiaan dan tawa.” 231

17 to 30

Baekhyun beranjak dari posisinya. Dia meremas dadanya yang terasa menyesakkan. “Yuan, Jiwon,” Baekhyun melafalkan nama itu dengan isakan lirihnya. Chanyeol yang terkejut ikut bangun dengan wajah khawatirnya. “Baekhyun, ada apa? Kenapa menangis?” “Aku tidak sempat melihat anak-anakku, Chanyeol. Aku mengalami kecelakaan sebelum anakku lahir.” Baekhyun menangis tersedu-sedu. Dia mencoba membayangkan paras sang buah hati. Chanyeol terdorong hati kecilnya untuk memeluk sosok rapuh di depannya itu. “Aku bisa mendeskripsikan mereka jika kau mau.” “Benarkah?” Chanyeol tersenyum, menganggukan kepalanya perlahan.

lalu

“Terima kasih, Chanyeol.” -o0o“Wah, lihat itu!” ujar Jongin kepada keempat temannya yang lain tatkala matanya menatap penampakan yang tidak biasa lagi. Chanyeol dan Baekhyun kembali sebangku, setelah beberapa minggu saling menjauh, sambil tertawa dan mencoret buku. “Baekhyun benar-benar terlihat menyeramkan beberapa minggu ini,” ucap Luhan seraya bergidik ngeri. “Kalian harus tahu, saat hari pertama di perkemahan, dia tidur siang dan ketika aku 232

Baeklogy

membangunkannya, dia langsung berbicara tentang hal aneh.” Keempat sahabat yang lain sontak menoleh ke arah Luhan secara bersamaan. “Maksudmu?” tanya Sehun penasaran. “Baekhyun membicarakan hal seperti “Aku masih hidup” lalu “Kita di mana?” dan “Aku tidak berumur tiga puluh lagi”. Dia seolah-olah berbicara kalau dia dari dunia lain, bukankah itu menyeramkan?” tanya Luhan yang membuat keempat sahabatnya berpikir keras. “Setelah itu, dia langsung memeluk Chanyeol di perkemahan dan sekarang mereka terlihat sangat dekat,” Jongdae menambahkan. “Hm, siapa tahu itu hanya akal-akalan Baekhyun agar bisa menjadi kekasih Park Chanyeol?” Jongin menimpali dengan ke-sok-tahuannya. Kyungsoo memberengut. “Huh? mengerti?”

Aku tidak

“Misalkan seperti ini, ehem! “Park Chanyeol, aku adalah istri masa depanmu, kita hidup bahagia dan memiliki anak. Mari kita wujudkan hal itu sekarang, Sayang.” Ya, kira-kira begitu,” ucap Jongin sembari menirukan suara ‘berlebihan’ saat mencontoh dialog yang ‘mungkin’ dikatakan Baekhyun ketika memeluk Chanyeol di perkemahan itu. Baekhyun yang menyadari bahwa dia menjadi pusat perhatian kelima sahabatnya pun memandang ke arah mereka sebentar sembar menyipitkan matanya. Baekhyun bisa menebak kalau mereka sedang membicarakannya saat ini. 233

17 to 30

“Ada apa, Baek?” tanya Chanyeol yang menyadari bahwa fokus Baekhyun telah terpecah. Baekhyun menoleh lagi dan menatap Chanyeol dengan senyuman manisnya. Baekhyun menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak ada apa-apa, sekarang beritahu aku bagaimana rupa Yuan.” “Dia memiliki paras sepertiku. Matanya bulat dan telinganya lebar serta panjang. Namun, dia memiliki pipi dan senyuman sepertimu.” Keduanya tertawa bersamaan. Mata Baekhyun kembali berbinar. “Lalu Jiwon? Ceritakan lagi!” ujarnya bersemangat. “Dia sangat mirip sepertimu. Hm, jika kau ada fotomu sewaktu masih bayi atau sekitar umur lima tahun, maka Jiwon persis seperti itu pula. Dia sangat manis dan cengeng karena Yuan senang menggodanya.” Chanyeol ikut bersemangat saat menceritakan kedua buah hatinya yang datang lewat mimpi itu. “Aku sangat berharap mereka datang ke mimpiku juga.” Baekhyun tertunduk sedih. Baekhyun menatap perutnya yang rata. Dia sangat merindukan tendangan dari kedua bayinya itu. “Ini mungkin terdengar bodoh, tetapi aku ingin mencobanya.” “Mencoba apa?” tanya Baekhyun bingung. “Bagaimana kalau kita tidur sambil berpegangan tangan. Siapa tahu kita bisa berbagi mimpi?” Baekhyun menatap Chanyeol beberapa saat, sebelum 234

Baeklogy

akhirnya tawanya memecahkan kesunyian di antara mereka. “Park Chanyeol, kau sudah gila, ya?” “Baekhyun, kau bahkan bilang kepadaku kalau kau sehabis melakukan perjalanan dari masa depan. Menurutmu lebih gila siapa?” Baekhyun terdiam. Chanyeol memang ada benarnya. -o0o“Kau siap?” tanya Chanyeol yang sudah bersiap di atas ranjang Baekhyun. Begitu pula dengan Baekhyun yang sudah menggunakan piyama senyaman mungkin agar mimpinya tidak terhenti nantinya, jika metode yang disarankan Chanyeol itu ampuh. “Sudah.” Baekhyun menghela napasnya. Dia mendadak gugup hanya karena ingin mimpi bertemu kedua anaknya. “Sudah buang air? Aku tidak mau saat kita terbangun nanti, tubuhku menjadi basah karena ompolanmu.” Baekhyun memberengut kesal mendengar candaan itu. “Mengapa Chanyeol?”

kau

selalu

menyebalkan,

Park

“Mungkin itu memang pesonaku!” Mata Baekhyun berotasi malas. Mereka berdua pun berbaring dengan kelima jemari mereka saling bertautan. Lambat laun, kecanggungan dalam 235

17 to 30

kesunyian mereka pun akhirnya membawa keduanya terlelap bersamaan. Namun, semua tidak berjalan sesuai harapan mereka. Bukan Jiwon dan Yuan yang mereka temui, melainkan potongan memori yang mereka habiskan bersama ketika mereka berada di dunia ‘lain’ itu. Chanyeol mengernyit tak nyaman ketika memori itu berkumpul seolah-olah mengisi setiap ruang kosong diingatannya, seperti otak disuruh untuk menyelesaikan sebuah puzzle. Begitu pun dengan Baekhyun yang kembali mendapatkan memori itu menggentayangi dirinya lagi. Keduanya bangun bersamaan ketika kecelakaan itu kembali terulang di mimpi keduanya. “AKHH!” Chanyeol terbangun sembari memegangi dadanya yang terasa seperti ditembaki sungguhan. Demikian juga dengan Baekhyun yang terbangun sembari mengambil napas sebanyak mungkin karena kecelakaan itu benar-benar membuat napasnya terasa tercekat di tenggorokannya. “Apa aku mati dengan cara seperti itu di sana?” Baekhyun menganggukan kepalanya sebagai jawaban. “Rasanya persis sekali seperti mimpi-mimpi tragisku sebelumnya. Dan, aku juga melihatmu tertabrak sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaranku.” Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan sendunya.

236

Baeklogy

“Dan itu rasanya sangat menyakitkan,” tambah Baekhyun seraya mencengkeram perutnya yang tibatiba terasa kram. “Apa kita perlu melakukannya lagi?” Baekhyun menggeleng cepat. “Aku tidak mampu jika harus menanggung rasa sakit dan memori itu berulang kali.” “Namun, jika kau bertemu dengan Yuan dan Jiwon di mimpimu lagi, tolong ceritakan padaku,” ucap si mungil penuh harap. Dia tidak ingin mengulang kejadian yang merenggut nyawanya, suami, dan kedua bayinya untuk ke sekian kali. Chanyeol tersenyum manis. “Aku akan menceritakan semua detailnya jika mereka datang lagi ke mimpiku, Baek. Aku berjanji.”

237

17 to 30

17 to 30 Bagian 19 Chanyeol dan Baekhyun semakin dekat sejak saat itu. Chanyeol menceritakan tentang seluruh mimpi aneh yang berbau supernatural tersebut kepada Baekhyun. Dan, semenjak itu pula, mimpi tragis yang menghantuinya selama berminggu-minggu hilang digantikan dengan mimpi indah bersama ‘keluarga kecil’-nya. “Mau bertaruh?” tanya Sehun kepada Luhan yang sedang melihat kedua orang itu berjalan masuk melewati pagar sekolah. “Apa?” tanya Luhan penasaran dengan hal yang akan dijadikan Sehun sebagai ‘barang’ taruhan. ini.”

“Mereka akan segera berpacaran dalam minggu “Bagaimana bisa kau tahu?”

“Oh, ayolah, Luhan! Lihatlah betapa dekatnya mereka sekarang. Bahkan orang awam pun tahu ada apa-apa di antara mereka.” Mata Luhan berotasi malas mendengar penjelasan Sehun. “Baekhyun tidak mungkin berpacaran dengan Chanyeol, mau sedekat apapun mereka.” 238

Baeklogy

Sehun terkekeh. “Aku percaya mereka akan berpacaran. Kalau begitu, jika aku menang, kau akan menjadi pacarku.” “Apa? Aku tidak mau! Berengsek kau!” Luhan mengejar Sehun yang terlebih dahulu menghilang dari sisinya. Baekhyun melihat pemandangan itu. “Ternyata di dunia ini mereka saling menyukai juga.” Chanyeol yang mendengar itu mengikuti titik fokus mata Baekhyun saat ini. “Apa Sehun dan Luhan juga ada di dunia itu?” Baekhyun tertawa kecil sembari melirik ke arah Chanyeol yang tampak antusias dengan ceritanya. “Ya, mereka juga memiliki anak yang sangat manis, tetapi tentu saja tidak semanis Yuan dan Jiwonku.” Si mungil itu berjalan mendahului Chanyeol yang mendadak menghentikan langkahnya. Mata bulatnya sibuk menatapi punggung Baekhyun yang semakin menjauh dari pandangannya. Chanyeol menyadari sesuatu berkat kedekatan mereka selama satu bulan belakangan ini. Dia menyukai Baekhyun, dia harus mengakui itu. Mungkin saja perasaan tersebut mulai tumbuh ketika mereka tidur bersama malam itu dan Chanyeol yang memimpikan kedua ‘anak’-nya. Sejak saat itu, Chanyeol hanya bisa melukiskan wajah Baekhyun di kepalanya. Di mana dan kapan pun dia berada, hanya Baekhyun yang selalu dia ingat. Senyuman yang terukir tatkala dia menceritakan sosok Yuan dan Jiwon itu benar-benar 239

17 to 30

membuat hidup Chanyeol seratus delapan puluh derajat berbeda dari biasanya. Si tampan itu tersenyum saat satu ide muncul di kepalanya. Dia akan membuat pengakuannya kepada Baekhyun menjadi suatu pengakuan yang berkesan. -o0oHari ini ada mata pelajaran pendidikan jasmani, otomatis semua siswa sekarang berada di ruang ganti khusus masing-masing. Begitu pula dengan Baekhyun yang ikut mengganti pakaian mereka, tetapi tidak dengan Chanyeol yang hanya memerhatikan gerakgerik Baekhyun, bahkan sampai ruangan itu menyisakan dia dan Baekhyun saja. “Kenapa kau tidak mengganti pakaianmu?” tanya Baekhyun sembari mengatur kerahnya, lalu menutup lokernya. “Malas.” Mata Baekhyun berotasi malas pula. “Baek,” panggil Chanyeol pelan. Dia membaringkan dirinya di atas kursi panjang yang terletak di tengah ruang ganti tersebut. “Apa?” tanya si mungil itu seraya menatap sebal Chanyeol yang malah menatap langit-langit ruangan. “Kau masih mengerutkan dahinya.

menyukaiku?”

Baekhyun

“Mengapa memangnya? Kau ingin memberitahu orang-orang kalau kisah cintaku bertepuk sebelah tangan?!” Chanyeol pun menganggukkan kepalanya sambil berdehem panjang. “Hm, ternyata masih.” 240

Baeklogy

Chanyeol langsung beranjak dari kursi itu dan tiba-tiba saja keluar dari pintu ruang ganti tanpa meninggalkan sepata kata pun kepada Baekhyun. “Apa-apaan?! Mengapa sifatnya bisa tidak berubah seperti itu? Argh, ingin kugigit saja rasanya!” ujar Baekhyun seraya menggeram. Itu kali terakhir Baekhyun melihat Chanyeol selama beberapa jam yang lalu. Entahlah, di mana bocah lelaki itu berada setelah membuat Baekhyun kesal setengah mati. Bahkan, ketika kelas di lapangan tadi telah dimulai, namun Chanyeol tidak menampakkan batang hidungnya. Tepat saat Baekhyun memutuskan untuk lebih fokus pada penjelasan gurunya di depan, tiba-tiba saja sebuah pesan masuk dari orang yang dia pikirkan. Raksasa Bodoh : Bosan tidak ada aku di sampingmu? Mau kutunjukkan apa yang seru? Baekhyun mengernyit kebingungan. Bagaimana bisa orang itu menunjukkan sesuatu yang seru di saat guru masih menjelaskan materi pelajaran di depan kelas. “Dasar orang gila, entah mengapa aku bisa menyukainya,” gumam Baekhyun yang tidak ambil pusing dengan isi pesan tersebut, kemudian menyimpan ponselnya di bawah laci meja lagi. Belum ada lima menit dia kembali fokus ke dalam pelajaran, pengeras suara di dalam kelas seketika bersuara. “Tes … tes … apa ini berfungsi? Oh, sudah berfungsi. Oke, kita mulai, ya.” 241

17 to 30

Para guru yang sedang mengajar di seluruh kelas sontak meributkan ‘siapa’ yang kini tengah berada di ruang penyiaran dan mengganggu acara mengajar mereka. Baekhyun mengerutkan dahi. Dia mengenal suara ini. “Dengan kedatangan pesan suara ini, saya yang bernamakan Park Chanyeol ingin menyampaikan sesuatu kepada Ibu dari anak-anakku, yaitu Ibunya Jiwon dan Yuan, Byun Baekhyun dari kelas 3-1. Ah, ibu atau bapak, terserah. Yang jelas, aku ingin mengungkapkan perasaanku kepadamu, Byun Baekhyun. Buka kaca jendela kelas, aku akan memberitahumu!” Bukan Baekhyun yang lebih dulu bergerak, tetapi teman-teman sekelasnya yang lain. Sementara itu, Baekhyun masih terdiam di atas bangkunya. Dia tidak yakin apa ini hanya mimpi lagi atau kenyataan. “Baekhyun, kemarilah! LIhat di sana! Chanyeol sedang menunggumu!” Jongin sontak menarik lengan Baekhyun dan membawanya ke samping jendela. Karena kelas mereka berada di lantai dua, Baekhyun dapat melihat seseorang tengah berputarputar di tengah lapangan sembari membawa pengeras suara persis seperti siswa yang siap tawuran. “Byun Baekhyun, bisa dengar, ‘kan, suara tampanku?” teriak manusia tidak tahu malu itu di sana. Baik itu tukang kebun hingga satpam berusaha menangkap Chanyeol agar menghentikan keributan yang dibuatnya. 242

Baeklogy

“Aku hanya ingin mengatakan kalau aku menyukaimu, Byun Baekhyun! Cintamu tidak bertepuk sebelah tangan karena aku juga suka padamu! Kau dengar itu, Pendek?” Baekhyun tidak bisa berkata-kata lagi tatkala mendengar perkataan Chanyeol yang sedikit terputus-putus karena dia harus berlari menghindari kejaran tukang kebun sekolah. “Jika saudara Byun Baekhyun berkenan menjadi kekasih saya, silakan keluar dari kelas dan peluk saya! Karena demi apapun, lebih enak memeluk saya daripada belajar.” Baekhyun tertawa kecil mendengar itu. Baekhyun tidak berpikir dua kali lagi. Dia langsung menghampiri Chanyeol yang sedang dikejar guru-guru dan satpam sekolah, jangan lupakan juga tukang kebunnya. Sehun dan Luhan melihat Baekhyun keluar dari kelas mereka. Lalu, si tampan dengan wajah datarnya itu pun tersenyum sangat lebar kepada Luhan yang menatapnya takut. “Tidak akan, Sehun! Aku tidak mau menjadi kekasihmu!” “Oh, tidak bisa! Kau sudah menyetujui taruhan yang kita buat!” “TIDAK MAU!” -o0oKetika melihat sosok mungil itu tengah menghampirinya, Chanyeol sontak menerjang tubuh kecil itu dengan sebuah pelukan erat. Kejaran yang 243

17 to 30

dilakukan pihak sekolah pun terhenti dan riuh tepuk tangan mengiringi pelukan mereka. “Mengapa kau melakukan hal mengerikan seperti ini,” ucap Baekhyun sambil meringis karena dinilainya terlalu berlebihan. “Agar seru saja, hahaha!” sahut Chanyeol seraya membuang pengeras suaranya ke sembarang arah. “Karena kita sudah berpacaran, mari kita membuat Yuan dan Jiwon!” ujar Chanyeol tak sabaran dan otomatis membuat pelukan mereka terlepas. “Orang gila! Kalau begitu aku tidak jadi menerima pengakuanmu,” ujar Baekhyun dengan lantang, kemudian berbalik dan ingin kembali ke kelasnya. Namun, sebelum Baekhyun benar-benar pergi, Chanyeol berulah lagi. “Aku juga mencintaimu, Byun Baekhyun!” Baekhyun sontak berbalik dan berlari ke arah Chanyeol untuk menutup mulut si ember bocor itu. “Hentikan, Bodoh! Itu sangat Menggelikan!” gemas Baekhyun yang rasanya ingin menceburkan dirinya ke dalam kolam ikan sekolah saja. Seluruh keributan semakin menjadi karena drama nyata di depan mereka sangat menarik hari dibandingkan buku pelajaran mereka. Dan, begitulah akhir dari dua orang yang awalnya saling bermusuhan yang kini malah saling mengungkapkan cinta satu sama lain.

244

Baeklogy

“Terkadang kita butuh jatuh berkali-kali agar menyadari sebuah arti dari bentuk penyangkalan, yaitu kesia-siaan.”

245

17 to 30

17 to 30 Bagian Extra Chapter Tiga belas tahun kemudian… “Jiwon, jangan berlarian, Nak!” Suara Baekhyun terdengar di sepanjang pantai dengan pasir putih yang membentang luas di depannya itu. “Papa, Jiwon mau turun!” Kali ini bocah kecil yang ada di gendongannya yang meminta untuk dilepaskan. “Tapi Jiwon harus janji sama papa kalau Jiwon tidak akan berlari?” Bocah kecil dengan lollipop di tangannya itu pun mengangguk cepat. Melihat keimutan di depannya, Baekhyun segera mencium pipi tembem sang buah hati, kemudian menurunkannya. Namun, tidak seperti yang dijanjikan oleh anak itu, Jiwon ikut berlari dan mengejar Yuan—sang kakak—yang ikut bersorak melihat kedatangan adiknya. “Hei, Jiwon, bukankah Jiwon sudah berjanji pada papa untuk tidak berlari, huh?!” ujar Baekhyun

246

Baeklogy

yang khawatir melihat kedua anaknya yang baru saja beranjak tujuh tahun dan lima tahun itu. Memang di dunia yang di tempati Baekhyun sekarang tidak seperti dunia yang dulu pernah dikunjunginya, di mana dia tidak bisa hamil secara alamiah dengan rahim, namun di dunia ini memiliki segala teknologi yang mendukung program memiliki anak untuk pasangan gay menikah seperti dirinya dan Chanyeol. “Jangan khawatir, Byun Baek! Mereka sudah lama tidak ke pantai. Biarkan mereka bersenangsenang, Sayang.” Chanyeol yang sedang mengeluarkan tikar dan payung dari bagasi mobil untuk piknik mereka pun sedikit memberikan jeda atas kegiatannya hanya untuk mengecup dahi sang suami. “Yuan, sini main pasir!” Jiwon berjongkok sambil menggenggam pasir putih itu di kedua tangan mungilnya. Yuan mendekati Jiwon dengan tatapan polosnya, namun setelah itu Jiwon tertawa, lalu melemparkan pasir tersebut ke arah Yuan; membuat beberapa butir dari pasir itu masuk ke mata si kakak. “Papa! Daddy! Huweee … sakit! Mata Yuan sakit!” “Jangan digosok! Nanti matamu iritasi, Sayang!” ujar Baekhyun yang langsung berlari menghampiri kedua buah hatinya itu. Dia membantu Yuan agar anak itu dapat membuka matanya lagi.

247

17 to 30

Jiwon yang merasa bersalah pun mencebik sedih melihat kakaknya yang kesakitan. “M-Maaf, Jiwon tidak tahu kalau pasirnya akan masuk ke mata Yuan! Yuan, maafkan Jiwon, ya?” Jiwon mencoba meraih tangan Yuan, tetapi Yuan terlebih dahulu mendorongnya hingga tubuhnya terduduk di pasir. Melihat perlakuan itu, Jiwon semakin sedih dan dia pun menangis. “Yuan, jangan begitu, ya, Jiwon itu mau minta maaf sama Yuan.” Baekhyun membantu si bungsu berdiri, kemudian merangkulnya lembut. Lalu, sang papa mulai meniup mata Yuan beberapa kali. “Sekarang kau bisa membuka matamu, Nak!” seru Baekhyun sambil mengacak rambut si kakak. Yuan perlahan membuka matanya, lalu mengerjap lucu. “Jiwon, sekarang kau coba minta maaf pada kakakmu, Oke?” Jiwon menjawabnya dengan anggukan lemah, kemudian mengulurkan tangannya ke arah Yuan. “Yuan maafkan Jiwon, ya? Jiwon tidak bermaksud memasukkan pasirnya ke dalam mata Yuan.” Yuan menatap sebentar si adik, tetapi dia tetap membalas uluran tangan adiknya itu dengan senyuman. “Tapi, Jiwon janji tidak akan melemparkan pasirnya ke Yuan lagi, ‘kan?” Jiwon tersenyum lebar saat dia merasa kembali memenangkan hati kakaknya. “Eung! Tidak akan lagi!” 248

Baeklogy

“Sekarang kalian boleh bermain, tetapi harus hati-hati dan jangan mendekati air dulu, ya? Mengerti?” ucap Baekhyun seraya menatap wajah manis kedua putranya secara bergantian. “Siap, mengerti, Papa!” Setelah mengatakan itu, kedua bocah laki-laki itu meninggalkan Baekhyun dan bersenang-senang. “Hai, Sayang. Ada apa dengan anak-anak?” tanya Chanyeol yang baru saja datang dengan payung, tikar, dan keranjang pikniknya. Baekhyun membantu Chanyeol membawa keranjang piknik tersebut sembari menghela napasnya. “Jiwon tadi melempar pasir ke Yuan dan matanya Yuan kemasukan pasirnya, tetapi sekarang mereka sudah berbaikan lagi.” Baekhyun menatap kedua anaknya yang saling mengejar satu sama lain itu dengan tatapan keibuannya. Sementara itu, Chanyeol masih sibuk menggelar tikar dan membuka payung besarnya untuk melindungi mereka dari sinar terik matahari. “Nah, sudah siap! Panggil anak-anak, kita makan siang dulu sebelum main air!” ujar Chanyeol yang terlihat bangga dengan hasil karyanya. “Yuan, Jiwon, kita makan siang dulu sebelum main air! Ayo, sini!” Mendengar teriakan sang papa, Yuan dan Jiwon langsung mengadakan lomba lari dadakan dan berakhir dengan Yuan yang lebih dahulu sampai di pelukan sang papa, kemudian disusul si bungsu.

249

17 to 30

“Yeay, makan, makan! Kita mau makan!” seru keduanya riang tatkala Chanyeol mengeluarkan isi keranjang piknik mereka. Sedangkan, Baekhyun tak kuasa menahan senyum dan tawanya melihat keimutan dari dua putranya ini. Baekhyun begitu bahagia melihat keluarga kecilnya saat ini. Dia sangat berterima kasih kepada Tuhan yang sudah memberikannya kesempatan untuk bahagia dan mengajarkannya agar tidak menyianyiakan sebuah kesempatan yang ada.

‘Terima kasih, Tuhan.’ -o0oTiga belas tahun kemudian, di ‘universe’ lain… Baekhyun memeluk erat tubuh telanjang suaminya yang jauh lebih besar daripada miliknya. Matanya masih memejam erat dengan senyuman lebar di bibirnya. “Sudah bangun, hm?” tanya Chanyeol dengan suara serak dan paraunya. Baekhyun tertawa kecil, lalu dia semakin menenggelamkan dirinya ke dalam pelukan Chanyeol. “Heuum,” sahut Baekhyun yang belum mau membuka matanya, karena saat dia membuka matanya, maka sang suami akan segera membuatnya menjauh dari tubuh itu karena si raksasa itu harus pergi bekerja. “Aku bermimpi indah tadi malam, Sayang,” ucap Chanyeol sembari menerawang mimpi yang masih dia ingat dengan jelas. 250

Baeklogy

Karena terlalu penasaran, Baekhyun pun membuka matanya, dia mendongak untuk melihat wajah tampan sang suami. “Bermimpi apa?” tanya Baekhyun tak sabaran. Kedua mata mereka saling bertemu dan bertatap lama sebelum akhirnya tangan Chanyeol bergerak dan menyentuh perut besar suami mungilnya. “Ini … aku memimpikan si kembar.” “Benarkah?! Ceritakan padaku, cepat!” Chanyeol tertawa kecil, kemudian mengusap pelan surai lembut milik si mungil itu. “Di mimpi itu memperlihatkan si kembar sudah lahir dan kita berempat piknik di pantai. Kau harus tahu, mereka sangat mirip dengan kita, Baek. Tetapi, yang menarik adalah si kembar sudah memiliki nama di sana.” Baekhyun semakin antusias mendengar cerita Chanyeol selanjutnya. “Siapa nama mereka?” “Yuan dan Jiwon.”

251

17 to 30

-The End-

252

Baeklogy

Thank you, and see you next book. Salam, ChanBaek Is Real.

Baeklogy 253