Data Loading...

297. Jelajah Kota Anging Mammiri Flipbook PDF

layanan untuk streaming PDF online. Tidak ada unduhan, Silahkan memilih buku sesuai kenginan anda. Selamat Membaca


123 Views
47 Downloads
FLIP PDF 8.97MB

DOWNLOAD FLIP

REPORT DMCA

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Bacaan untuk Anak Tingkat SD Kelas 4, 5, dan 6

MILIK NEGARA TIDAK DIPERDAGANGKAN

I

Jelajah Kota Anging Mammiri Penulis

: Muhammad Randhy Akbar

Penyunting : Kity Karenisa Ilustrator

: Muhammad Randhy Akbar

Penata Letak: Brahmani Hanum Meutiasari Diterbitkan pada tahun 2018 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jalan Daksipati Barat IV Rawamangun Jakarta Timur Hak Cipta Dilindungi Undang-undang Isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan penulisan artikel atau karangan ilmiah.

PB 398.209 598 AKB j

Katalog Dalam Terbitan (KDT) Akbar, Muhammad Randhy Jelajah Kota Anging Mammiri/Muhammad Randhy Akbar; Penyunting: Kity Karenisa; Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018 vii; 60 hlm.; 21 cm. ISBN 978-602-437-514-0 1. CERITA ANAK-INDONESIA 2. KESUSASTRAAN ANAK-INDONESIA

SAMBUTAN Sikap hidup pragmatis pada sebagian besar masyarakat Indonesia dewasa ini mengakibatkan terkikisnya nilai-nilai luhur budaya bangsa. Demikian halnya dengan budaya kekerasan dan anarkisme sosial turut memperparah kondisi sosial budaya bangsa Indonesia. Nilai kearifan lokal yang santun, ramah, saling menghormati, arif, bijaksana, dan religius seakan terkikis dan tereduksi gaya hidup instan dan modern. Masyarakat sangat mudah tersulut emosinya, pemarah, brutal, dan kasar tanpa mampu mengendalikan diri. Fenomena itu dapat menjadi representasi melemahnya karakter bangsa yang terkenal ramah, santun, toleran, serta berbudi pekerti luhur dan mulia. Sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat, situasi yang demikian itu jelas tidak menguntungkan bagi masa depan bangsa, khususnya dalam melahirkan generasi masa depan bangsa yang cerdas cendekia, bijak bestari, terampil, berbudi pekerti luhur, berderajat mulia, berperadaban tinggi, dan senantiasa berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, dibutuhkan paradigma pendidikan karakter bangsa yang tidak sekadar memburu kepentingan kognitif (pikir, nalar, dan logika), tetapi juga memperhatikan dan mengintegrasi persoalan moral dan keluhuran budi pekerti. Hal itu sejalan dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu fungsi pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membangun watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Penguatan pendidikan karakter bangsa dapat diwujudkan melalui pengoptimalan peran Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang memumpunkan ketersediaan bahan bacaan berkualitas bagi masyarakat Indonesia. Bahan bacaan berkualitas itu dapat digali dari lanskap dan perubahan sosial masyarakat perdesaan dan perkotaan, kekayaan bahasa daerah, pelajaran penting dari tokoh-tokoh Indonesia, kuliner Indonesia, dan arsitektur tradisional Indonesia. Bahan bacaan yang digali dari sumber-sumber tersebut mengandung nilai-nilai karakter bangsa, seperti nilai religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif,

iii

mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Nilai-nilai karakter bangsa itu berkaitan erat dengan hajat hidup dan kehidupan manusia Indonesia yang tidak hanya mengejar kepentingan diri sendiri, tetapi juga berkaitan dengan keseimbangan alam semesta, kesejahteraan sosial masyarakat, dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Apabila jalinan ketiga hal itu terwujud secara harmonis, terlahirlah bangsa Indonesia yang beradab dan bermartabat mulia. Salah satu rangkaian dalam pembuatan buku ini adalah proses penilaian yang dilakukan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuaan. Buku nonteks pelajaran ini telah melalui tahapan tersebut dan ditetapkan berdasarkan surat keterangan dengan nomor 13986/H3.3/PB/2018 yang dikeluarkan pada tanggal 23 Oktober 2018 mengenai Hasil Pemeriksaan Buku Terbitan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Akhirnya, kami menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Kepala Pusat Pembinaan, Kepala Bidang Pembelajaran, Kepala Subbidang Modul dan Bahan Ajar beserta staf, penulis buku, juri sayembara penulisan bahan bacaan Gerakan Literasi Nasional 2018, ilustrator, penyunting, dan penyelaras akhir atas segala upaya dan kerja keras yang dilakukan sampai dengan terwujudnya buku ini. Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi khalayak untuk menumbuhkan budaya literasi melalui program Gerakan Literasi Nasional dalam menghadapi era globalisasi, pasar bebas, dan keberagaman hidup manusia. Jakarta, November 2018 Salam kami, ttd Dadang Sunendar Kepala Badan Pengembangan Pembinaan Bahasa

iv

dan

SEKAPUR SIRIH Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kasih sayang-Nya sehingga buku cerita ini dapat diselesaikan tepat waktu. Buku yang berjudul Jelajah Kota Anging Mammiri

ini adalah ajakan kepada setiap orang

khususnya generasi muda untuk mengingat kembali sejarah Kota Makassar atau sering juga disebut sebagai Kota Anging Mammiri yang berarti ‘angin berembus’. Julukan itu disematkan karena Makassar terkenal dengan pantainya. Buku ini mencoba mempelajari bagaimana Kota Makassar tumbuh dari kepingan-kepingan cerita. Buku ini berisi cerita tentang delapan tempat yang mungkin bisa menggambarkan sejarah pertumbuhan Kota Makassar. Delapan tempat itu juga menceritakan bagaimana Makassar tumbuh dari kota pelabuhan menjadi kota metropolitan seperti sekarang. Seperti kota pelabuhan lainnya, keberagaman mengiringi pertumbuhan Makassar. Hal ini penting diketahui oleh generasi mendatang bahwa sebuah kota tidak terbentuk dari satu etnis semata, tetapi terbentuk pada umumnya oleh keberagaman, baik itu dari suku, ras, maupun agama yang sama-sama memiliki andil terhadap perkembangan kota. Oleh sebab itu, sikap toleransi dan menghargai perbedaan perlu dikedepankan.

v

Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih kepada istri tercinta Brahmani Hanum Meutiasari yang mendorong untuk menuliskan cerita anak ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Kepala Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jakarta karena telah memberi kesempatan dan kepercayaan pada penulis untuk turut serta menulis cerita ini. Kritik dan saran penulis butuhkan di masa yang akan datang agar menjadi penyemangat dalam berkarya. Makassar, November 2018 Muhammad Randhy Akbar

vi

DAFTAR ISI Sambutan.................................................................... iii Sekapur Sirih.............................................................. v Daftar Isi..................................................................... vii Anging Mammiri......................................................... 1 Abad yang Berlalu...................................................... 9 Di Bawah Sebuah Pohon............................................ 19 Penyu dan Hutan Pandan.......................................... 27 Pedagang dari Timur.................................................. 33 Kereta Pasar Butung.................................................. 37 Lonceng Berdentang................................................... 41 Jejak Masa Lalu.......................................................... 45 Jalan Kebahagiaan..................................................... 51 Daftar Pustaka............................................................ 56 Glosarium.................................................................... 57 Biodata Penulis dan Ilustrator.................................. 59 Biodata Penyunting.................................................... 60

vii

viii

I

Anging Mammiri bam adalah seorang anak SD kelas 5 yang sangat menyukai sejarah. Ayahnya bekerja di Museum Radya Pustaka Solo, sebelum dipindahkan ke

Museum Kota Makassar. Tahun ini tahun kedua keluarga Ibam tinggal di Kota Makassar. Akan tetapi, belum banyak sejarah Kota Makassar yang diketahuinya. Hal itu membuat Ibam penasaran dengan kota kelahiran ayahnya. Pada tengah semester, sekolah Ibam diliburkan seminggu. Untuk mengisi hari libur, sekolahnya membuka kelas ekstrakulikuler. Murid-murid bebas memilih kelas

1

yang ingin diikuti. Ada kelas ilmu pengetahuan alam, matematika, bahasa Inggris, sejarah, dan kelas lainnya. Ibam memilih kelas sejarah. Hari

terakhir

menjelang

libur

Ibam

diminta

berkumpul di kelas yang sudah ditentukan. Di depan kelas Ibu Alma berdiri dan menunggu peserta yang akan mengikuti kelasnya. Ibam peserta pertama yang datang. “Silakan duduk, Ibam.” “Terima kasih, Bu.” Tidak berselang lama Udin dan Fajar datang. Disusul Linlin yang berjalan tergesa. “Maaf, Bu. Linlin terlambat.” “Kelas belum dimulai. Silakan mengisi bangku yang masih kosong,” pinta Bu Alma. “Karena peserta sudah lengkap, mari kita memulai kelas.” “Tapi, Bu, pesertanya cuma empat orang?” tanya Fajar. “Iya,” Bu Alma menjawab singkat. Kelas sejarah memang kurang diminati oleh muridmurid di sekolah Ibam. Murid-murid lebih memilih mengikuti kelas matematika dan bahasa Inggris. Tahun lalu kelas sejarah hanya berisi tiga orang. Tahun lalunya

2

lagi cuma dua orang. Ibu Alma sangat bersyukur karena tahun ini bertambah satu jika dibandingkan dengan tahun lalu. Ibam dan Fajar berasal dari kelas 5a, sedangkan Udin dan Linlin dari kelas 5b. Pertemuan pertama dimulai Ibu Alma dengan bertanya tentang pengetahuan sejarah kepada para peserta. “Baiklah, Anak-Anak! Kita mulai kelas dengan pertanyaan, adakah di antara kalian yang tahu sejarah tentang Candi Prambanan?” tanya Bu Alma. Ibam dengan cepat mengangkat tangan.

3

“Yah, Ibam. Silakan.” Ibam mulai bercerita. Candi Prambanan terletak di Jawa Tengah. Tepatnya di Kabupaten Klaten. Orang juga menyebutnya dengan nama Candi Roro Jonggrang. Candi dibangun pada abad ke-9 Masehi. Dikisahkan seorang pemuda bernama Bandung Bondowoso jatuh hati kepada Putri Roro Jonggrang. Untuk bisa meminangnya, dia diperintahkan membangun 1.000 candi dalam semalam. Namun, baru candi ke-999, ayam berkokok karena Roro Jonggrang meminta penduduk desa menumbuk padi dan membuat penerangan agar kelihatan seperti pagi. “Roro Jonggrang pun dikutuk menjadi candi yang ke-1.000 karena berbuat curang,” ujar Ibam mengakhiri ceritanya. “Wow!” Linlin, Udin, dan Fajar berdecak kagum mendengar cerita Ibam. Jelas saja Ibam hafal. Sewaktu di Solo, hampir sebulan sekali Ibam diajak ayahnya berjalan-jalan ke Prambanan. Lokasinya juga tidak terlalu jauh dari rumah Ibam ketika masih tinggal di Solo. Ayahnya dengan terperinci menceritakan sejarah Prambanan kepada Ibam. Bisa dikatakan Candi Prambanan adalah tempat favorit Ibam. “Bagus sekali, Ibam!” Bu Alma memuji muridnya.

4

“Kalau sejarah Monumen Nasional, ada yang tahu?” tanya Bu Alma kemudian. Kali ini giliran Fajar dan Linlin yang mengangkat tangan. “Linlin, silakan!” Monumen Nasional atau biasa disingkat Monas dirancang oleh Fredeirich Silaban dan Soedarsono. Mulai dibangun pada 17 Agustus 1961 dan selesai tahun 1975. Di puncak Monas dibuat patung menyerupai kobaran api yang terbuat dari 38 kilogram emas, melambangkan semangat bangsa Indonesia. Emas itu disumbangkan oleh Teuku Markam. Seorang saudagar kaya dari Aceh.

5

Presiden Soekarno menginginkan ada bangunan seperti Menara Eiffel di Indonesia. “Tetapi sayang, Presiden Soekarno tidak sempat melihat Monas selesai.” Linlin menutup ceritanya dengan wajah sedih. “Oh iya, Bu! Presiden Soekarno mendapat julukan Putra Sang Fajar,” kata Linlin sambil menunjuk Fajar yang diiringi tawa seiisi ruangan. “Cerita yang sangat bagus, Lin,” kata Bu Alma. Kali ini Ibu Alma lebih bersemangat mengajar. Kelasnya berisi murid-murid yang menggemari sejarah. Di kelas sebelumnya Ibu Alma lebih banyak menjelaskan dan muridnya lebih banyak mendengarkan. “Ibu ingin bertanya satu lagi. Ada yang tahu sejarah Kota Makassar?” Seisi ruangan terdiam. Tak satu pun murid mengangkat tangan. “Fajar, Udin, Linlin, Ibam?” tanya Bu Alma kepada muridnya yang disambut gelengan kepala mereka. “Kalau tidak ada yang tahu, mari kita mencari tahu bersama-sama.” Ibu Alma lalu mengambil kertas dan memotongnya menjadi delapan bagian dan diberi nomor berbeda,

6

kemudian digulung. Setiap murid mendapatkan dua gulungan kertas. “Ini akan menjadi tugas kalian. Ibu telah menulis petunjuk tentang lokasi yang akan kita datangi di setiap kertas yang kalian dapatkan. Tempat-tempat itu akan menjawab pertanyaan Ibu tadi tentang sejarah Kota Makassar. Silakan kalian menebaknya. Besok Ibu tunggu di halaman sekolah pukul 10 pagi. Sekarang kalian boleh pulang.” Ibam dan lainnya senang mendengar rencana Ibu Alma. Besok mereka akan memulai petualangan menelusuri sejarah Kota Makassar. Oleh Ibu Alma, kelompok mereka dinamai Anging Mammiri yang berarti angin yang berembus.

~~~

7

8

P

Abad yang Berlalu

ersiapan sudah selesai. Sesuai dengan waktu yang ditentukan kemarin, murid-murid berkumpul di halaman sekolah. Mereka tampak bersemangat.

Ibu Alma menyambut mereka dengan senyuman. “Udin, apakah kamu sudah bisa menebak petunjuk pertama? Coba bacakan agar teman-temanmu juga mengetahuinya.” “Merah api meratakannya dengan tanah. Senja membawa Anak Makassar entah ke mana.” “Menurut saya ini berhubungan dengan kebakaran yang sangat hebat, Bu,” kata Udin.

9

“Hmm, kalimat kedua mungkin ada hubungannya dengan pelabuhan,” ujar Ibam menimpali. “Kebakaran di Pelabuhan Makassar, Bu!” Linlin mencoba menebak. “Kalian hebat! Sekarang kita akan pergi ke selatan Makassar yang dulunya dikenal sebagai Pelabuhan Makassar. Tempat itu pernah mengalami kebakaran yang sangat hebat. Ayo, kita bersiap!” ujar Ibu Alma. Ibu Alma dan lainnya bergegas menuju mobil yang sedari tadi terparkir di halaman sekolah. Ibam duduk di depan dan yang lainnya duduk di tengah. Ibu Alma bertugas sebagai sopir. Mereka memulai penelusuran pertama. Tidak terasa mereka sampai di sebuah jembatan yang cukup panjang. Di bawahnya terdapat sungai yang dikenal dengan nama Je’neberang. Tanaman enceng gondok banyak tumbuh di sungai itu. Di pintu gerbang tertulis “Selamat datang di Kawasan Benteng Somba Opu”. “Bu, bukannya kita mau ke pelabuhan?” protes Fajar yang tidak mendapat tanggapan dari lainnya. Mobil terus bergerak melewati beberapa penjual tanaman hias. Di kawasan itu juga terlihat beberapa rumah warga bercampur dengan rumah-rumah adat

10

khas Sulawesi Selatan dan sebuah tempat wisata. Mobil mereka berhenti tepat di depan rumah adat Gowa. “Ayo, kita ke sana!” ajak Bu Alma menunjuk sebuah susunan batu bata panjang. “Benteng Somba Opu dulunya dikenal dengan nama Pelabuhan Makassar,” kata Bu Alma membuka cerita.

11

“Benteng Somba Opu dibangun tahun 1525 atas usaha Raja Gowa Ke-9, Daeng Matanre Karaeng Mannuntungi

Tumapa’risi’ka

Kallonna.

Awalnya

dinding benteng terbuat dari tanah liat dan putih telur sebagai pengganti semen. Benteng tersebut berfungsi sebagai pelabuhan dagang dan pusat Kerajaan Gowa. Selain itu, Kerajaan Gowa juga membangun beberapa benteng pertahanan seperti Benteng Tallo, Ujungtanah, Jumpandang, Barobboso, Mariso, Garassi, Panakkukang, Barombong, Galesong, Sanrobone, Anak Gowa, dan Kale Gowa. Benteng-benteng itu mengelilingi Somba Opu dan menjadi benteng pengawal. Pada masa itu Kerajaan Gowa tumbuh pesat. Pedagang dari luar berdatangan. Ada dari Portugis, Norwegia, Denmark, Cina, Belanda, Perancis, Swedia, dan lainnya. Mereka membuka kantor dagang di sekitar benteng. Tidak sedikit pula yang menetap di sana dan mendirikan kampung-kampung. Benteng Somba Opu tumbuh menjadi pusat perdagangan rempah-rempah terbesar di Nusantara setelah Malaka takluk. Luas benteng diperkirakan sekitar 11,3 hektare dengan tebal dinding sampai 3,5 meter dan tinggi 7 meter. Masa pemerintahan Raja Gowa Ke-10, I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng (1546--1565), dinding benteng diganti menjadi batu

12

keras. Raja selanjutnya, Karaeng Tunijallo, melengkapi benteng dengan meriam di setiap sudut sehingga jumlah keseluruhan meriam sebanyak 130 buah. Di dinding bagian barat yang berhadapan dengan Selat Makassar, terdapat Baluwara Barat Daya, Baluwara Tengah, dan Baluwara Barat Laut yang juga disebut Baluwara Agung. Di Baluwara Agung inilah sebuah meriam yang dahsyat ditempatkan. Orang-orang menyebutnya Anak Makassar. Anak Makassar adalah meriam andalan Benteng Somba Opu. Dibuat khusus oleh orang Makassar atas usulan dari Raja Tallo, Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang, seorang cendikiawan dan Mangkubumi Kerajaan Gowa. Meriam ini memiliki panjang 6 meter. Diameter lubang peluru sebesar 41,5 cm dan berat berkisar 9 ton. Anak Makassar merupakan meriam terbesar yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Pada masa Sultan Hasanuddin terjadi perang yang sangat mengerikan. Perang Makassar namanya. Perang itu berlangsung pada tahun 1666--1669 dan membawa kemunduran bagi Kerajaan Gowa, khususnya Benteng Somba Opu. Perang bermula ketika perusahaan dagang milik Belanda yang dikenal dengan nama VOC (Verenigde Oost-Indie Compagnie) ingin menguasai dan mengatur jalur perdagangan di Selat Makassar. Keinginan itu

13

14

ditentang oleh Kerajaan Gowa. Raja beranggapan bahwa setiap orang berhak atas laut di wilayah Makassar. Perang pun terjadi dan menghabiskan waktu selama tiga tahun. Pada serangan akhir tanggal 15 Juni 1669, VOC yang dipimpin oleh Speelman melakukan serangan total setelah mengepung benteng selama sebulan. Pertempuran berlangsung siang-malam. VOC mengeluarkan lebih dari 30.000 peluru meriam untuk menembus benteng. Hingga di suatu sore, tepatnya tanggal 24 Juni 1669, benteng berhasil dikuasai VOC. Persenjataan Kerajaan Gowa dirampas oleh Speelman, termasuk meriam Anak Makassar. Speelman memerintahkan untuk menghancurkan benteng. Lebih dari 2.000 kilogram bahan peledak digunakan. Tanah Somba Opu berhamburan ke angkasa. Langit

menyala

merah.

Kerajaan

Gowa

dipaksa

menandatangani Perjanjian Bongaya dan tunduk kepada VOC, meskipun sebagian dari rakyat Gowa memilih terus melawan. Sebagian lainnya memilih pindah ke daerah lain dan melakukan perlawanan terhadap VOC di sana. Anak-anak Makassar terpencar. Ada yang ke Sumatera, Banten, Thailand, bahkan ke Prancis.”

15

Murid-murid hanya bisa menganga mendengar cerita Ibu Alma. Mereka takjub akan kebesaran Kerajaan Gowa sekaligus sedih mendengar benteng hancur lebur bersama tanah. “Lalu, meriam Anak Makassar sekarang di mana?” tanya Ibam. “Setelah benteng hancur, Speelman membawa meriam itu ke Batavia saat ini disebut Jakarta. Sepuluh tahun kemudian dibawa ke Belanda dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya,” jawab Bu Alma. “Sayang sekali, ya.” “Jadi, kalian sudah mengetahui petunjuk pertama?” “Iya, Bu,” jawab murid-murid serentak. “Sekarang masih siang. Ibu akan mengajak kalian ke satu tempat.” Mereka

lalu

beranjak

meninggalkan

kawasan

Benteng Somba Opu. Murid-murid lebih banyak diam setelah mendengar cerita Bu Alma. Mungkin mereka membayangkan berada di masa itu, berbaur dengan masyarakat yang datang dari berbagai negara, atau mereka justru enggan berada di sana setelah mendengar kisah kedahsyatan Perang Makassar. Hari ini mereka mendapat satu cerita yang akan terus mereka ingat. Cerita tentang satu kawasan peninggalan

16

sejarah. Kawasan yang kini mulai dilupakan. Kawasan yang banyak meninggalkan kenangan akan kejayaan masa silam. Kawasan yang menyimpan kesedihan mendalam, sekaligus kawasan yang membawa harapan untuk terus bangkit.

~~~

17

18

D

Di Bawah Sebuah Pohon

i perjalanan Udin terus membaca petunjuk yang diberikan. Tidak banyak yang dia ketahui, kecuali bahwa tempat yang akan dituju adalah

sebuah masjid. “Saya tahu kalau itu pasti masjid. Cuma tidak tahu masjid mana.” Udin menatap kertas petunjuk tanpa berkedip. “Coba sini saya lihat, Din,” kata Ibam. Ibam lalu membaca dengan lantang petunjuk kedua, “Azan berkumandang. Raja bersujud mengikuti panggilan Tuhan untuk pertama kali.” Murid yang lain menyimak setiap kata yang diucapkan Ibam.

19

“Masjid pertama di Makassar?” tanya Fajar ragu. “Iya, saya yakin itu. Benarkan, Bu?” Kali ini Udin yakin dengan jawabannya. Ibu Alma hanya tersenyum, tidak mengeluarkan sepatah kata pun sampai mereka berhenti di depan sebuah masjid. “Anak-Anak, kita sudah sampai!” “Apa saya bilang! Masjid ‘kan!” kata Udin dengan wajah gembira. “Masjid ini memiliki tiga nama, yaitu Masjid Katangka, Masjid Syekh Yusuf, dan sering juga disebut Masjid Al-Hilal. Masjid ini merupakan masjid tertua di Sulawesi Selatan. Masjid Katangka berdiri pada tahun 1603, pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV bernama Imangngarangi Daeng Marabiya atau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Alauddin. Masjid ini berawal ketika datang rombongan ulama dari Yaman. Mereka bermaksud untuk menghadap Raja Gowa dan mengajak raja memeluk agama Islam. Saat berada di perjalanan mereka singgah di sebuah tempat yang banyak ditumbuhi pohon katangka. Tempat itu cukup rimbun dan teduh sehingga mereka memilih melaksanakan salat Jumat di sana. Setelah salat, mereka melanjutkan perjalanan menuju kediaman raja yang tidak terlalu jauh dari tempat tadi.”

20

“Jadi, ulama Yaman itu berhasil mengislamkan raja?” ujar Udin memotong cerita Bu Alma. “Sabar. Dengar dulu, Din. Biar Ibu melanjutkan cerita.” “Di kediaman raja, mereka disambut dengan hangat. Para ulama itu pun menyampaikan niatnya. Raja sempat terkejut karena ulama itu menawarkan Islam secara keseluruhan dan meninggalkan semua budaya Gowa yang bertentangan dengan Islam. Tawaran itu pun ditolak secara halus oleh raja.” “Bagaimana mungkin saya dan rakyat meninggalkan budaya yang telah bertahun-tahun kami jalankan?” Ibu Alma menirukan raja. “Karena mendapat tolakan dari raja, para ulama pun kecewa dan bergegas pergi. Mereka menuju pesisir pantai. Di sana mereka berjumpa dengan rombongan lain. Tiga ulama yang berasal dari Kota Tengah Minangkabau. Mereka lalu terlibat diskusi panjang. Ulama Yaman menceritakan perihal niat mereka untuk mengislamkan raja. Sebaliknya, ulama Minangkabau juga berniat untuk menyebarkan dakwah Islam. Salah seorang dari ulama itu dijuluki Khatib Tunggal yang bernama asli Abdul Makmur atau yang dikenal dengan Datuk Ri Bandang. Dua ulama lainnya dikenal sebagai Khatib Sulung yang bernama

21

Sulaiman atau Datuk Patimang dan Khatib Bungsu Abdul Jawad atau Datuk Ri Tiro. Mereka dikenal dengan sebutan Datuk Tallua (Tiga Datuk). Datuk Tallua inilah yang berjasa menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan. Setelah mengislamkan Datuk Luwu’ La Patiware Daeng Parabu, Datuk Ri Bandang kemudian menuju kediaman Raja Gowa. Dia kembali menawarkan Islam kepada raja. Kali ini Islam berhasil diterima oleh raja. Karena Datuk Ri Bandang menawarkan Islam dengan tetap menggabungkan unsur budaya. Datuk Ri Bandang mengislamkan Raja Gowa dan Raja Tallo sebagai penganut Islam pertama di Makassar. Raja kemudian memerintahkan untuk mendirikan masjid. Dipilihlah tempat ulama Yaman melaksanakan salat Jumat sebagai lokasi masjid. Beberapa pohon katangka ditebang dan dijadikan bahan untuk membangun masjid. Masjid itu kemudian dikenal dengan nama Masjid Katangka yang masih berdiri kokoh sampai sekarang. Masjid Katangka menjadi saksi sejarah perkembangan Islam di Sulawesi Selatan. Masjid ini juga digunakan sebagai pusat penyebaran agama Islam. Pada tanggal 9 November 1607 diadakan salat Jumat di dua lokasi berbeda. Pertama, di Balla’ Kalompoa Kaletojeng (sekarang Karebosi) dipimpin oleh Raja Tallo, I

22

23

Mallingkang Daeng Manyonri Karaeng Katangka. Kedua, di Masjid Mangallekana Somba Opu dipimpin oleh Raja Gowa, Sultan Alauddin. Dilaksanakannya salat Jumat itu menandai Islam secara resmi menjadi agama Kerajaan Gowa-Tallo.” “Peristiwa itulah yang dijadikan sebagai hari jadi Kota Makassar,” tutup Bu Alma. Tugas Udin sebagai pemandu hari ini cukup berhasil. Udin dan lainnya setidaknya bisa menebak lokasi yang akan dikunjungi. Meskipun tidak secara terperinci, paling tidak mereka telah mengetahui sedikit tentang sejarah Kota Makassar. Rasa bahagia hinggap di hati mereka. “Untung kita ikut klub sejarah ya,” kata Ibam yang disetujui oleh lainnya. “Kita baru memecahkan dua petunjuk. Masih ada enam petunjuk yang akan menjawab rasa penasaran kalian,” Bu Alma mengingatkan murid akan tugasnya memecahkan semua petunjuk yang diberikan. “Siap, Bu! Kami pasti akan memecahkannya,” kata Fajar dengan rasa percaya diri. “Ya, sudah. Sekarang Ibu antar kalian ke rumah masing-masing.

Besok

kita

penyelusuran kita.”

24

akan

menyelesaikan

Murid-murid

merasa

sedikit

kecewa

karena

petualangan hari ini harus selesai. Namun, mereka juga memang harus pulang. Hari sudah sore. Mereka harus istirahat. Ditambah tugas dari Ibu Alma yang mesti mereka pecahkan.

~~~

25

26

E

Penyu dan Hutan Pandan sok hari. Pagi sekali mereka sudah berkumpul di halaman sekolah. Ibu Alma memang menyuruh mereka datang lebih awal. Dia akan mengajak

murid-murid kembali menyelusuri sisa petunjuk yang diberikan. “Sudah siap?” “Siap, Bu!” “Hari ini Ibu akan mengajak kalian ke beberapa tempat. Akan tetapi, seperti kemarin, kalian harus memecahkan petunjuk terlebih dahulu. Kita mulai dari Fajar.” Fajar membuka kertas petunjuk yang dia dapatkan. Di kertas itu tertulis, “Kumpulan pandan tumbuh subur mengitari penyu yang menatap lautan luas.” Fajar

27

belum pernah sekalipun melihat penyu secara langsung. Dia hanya menontonnya di televisi atau melihatnya di majalah. “Kita akan ke pantai, Bu?” “Sekitar pantai tepatnya,” jawab Bu Alma “Memang ada pandan di sana?” tanya Udin penasaran. “Ayo kita berangkat! Nanti di sana Ibu ceritakan.” Mereka segera menaiki mobil dan menuju barat Kota Makassar. Hari ini akan menjadi hari yang panjang bagi mereka. Masih ada enam petunjuk yang belum diselesaikan. Artinya ada enam tempat yang akan mereka kunjungi. Di pagi hari pada jam kerja, beberapa titik jalan Makassar macet. Apalagi, tujuan mereka berada di kawasan Kota Tua Makassar yang juga merupakan pusat perkantoran. Agar murid-murid tidak merasa bosan, Ibu Alma membuka cerita. “Kalian tahu itu?” Bu Alma menunjuk sebuah stadion sepak bola yang berada di kanan jalan. “Iyalah, Bu. Saya sering diajak ayah saya menonton PSM di sana,” kata Udin. “Dulunya Stadion Mattoangin itu adalah peternakan sapi. Di sana juga dijual susu murni yang setiap pagi diantarkan

ke

rumah-rumah

28

pelanggan.

Namun,

perusahaan itu tutup dan dibangunlah stadion pada tahun 1955 untuk menyambut Pekan Olahraga Nasional yang berlangsung dua tahun setelahnya. Saat itu yang menjadi Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia adalah Andi Matalatta.” “Ooo, makanya nama Stadion Mattoangin diganti Andi Matalatta ya, Bu?” tanya Linlin. Ibu Alma banyak bercerita tentang Makassar zaman dulu. Mulai dari nama-nama jalan yang masih memakai bahasa Belanda, motor dan mobil dari Italia yang banyak menghiasi Makassar di tahun 1940-an, sampai hutan pandan yang tumbuh subur sebelum Makassar menjadi sebuah kota. Dia juga menjelaskan arti kata mattoangin yang berarti ‘menengok angin’, sebuah kebiasaan yang dilakukan pelaut sebelum berlayar. Tidak terasa mobil mereka sampai di sebuah benteng. Benteng itu tampak sangat terawat. Di depannya berdiri patung Sultan Hasanuddin yang sedang menunggangi kuda. “Fort Rotterdam.” Ibam membaca sebuah papan nama yang berada di depan benteng. “Ayo, kita masuk!” ajak Bu Alma. Mereka memasuki gerbang yang cukup besar. Di sebelah kiri terdapat pos penjaga. Pengunjung yang ingin masuk diminta mengisi buku tamu dan membayar

29

tiket. Dinding benteng memiliki tinggi sekitar 5 meter dan tebal 2 meter. Dibangun pada tahun 1545 masa kepemimpinan Raja Gowa Ke-10, Karaeng Tunipalangga Ulaweng. Benteng ini merupakan salah satu benteng dari 17 benteng yang dimiliki Kerajaan Gowa. “Benteng ini awalnya bernama Benteng Jumpandang, sebelum berganti nama menjadi Fort Rotterdam. Benteng Jumpandang

juga

dikenal

dengan

nama

Benteng

Pannyua,” ujar Bu Alma mulai bercerita. “Apabila kita melihat dari atas, benteng ini memang berbentuk seekor penyu. Bentuk tersebut dipilih untuk menggambarkan kejayaan Kerajaan Gowa. Pada masa itu, Gowa mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik dalam hal perdagangan maupun kemiliteran. Gowa juga dikenal memiliki armada laut yang tangguh. Benteng inilah yang menjadi markas armada laut Kerajaan Gowa. Penyu melambangkan kejayaan Kerajaan Gowa di laut ataupun di darat. “Jadi, awalnya benteng ini milik Kerajaan Gowa, Bu?” tanya Ibam. “Iya. Benteng ini merupakan salah satu benteng pertahanan. Namun, setelah dikalahkan oleh VOC pada tahun 1669, benteng ini dikuasai oleh Belanda.”

30

“VOC lalu mengubah nama benteng ini menjadi Fort Rotterdam. Sesuai dengan nama kota kelahiran Speelman, pemimpin VOC masa itu,” lanjut Bu Alma. Fort Rotterdam kemudian dijadikan sebagai pusat pemerintahan VOC di wilayah timur Nusantara. Selain itu juga, benteng berfungsi sebagai pusat perdagangan dan tempat untuk menyimpan hasil bumi dan rempahrempah. Beberapa bangunan ditambah untuk memperkuat benteng. Para pejabat VOC menempati benteng sebagai lokasi tempat tinggal. Sebagian lainnya mendirikan rumah di sekitaran benteng. Lambat laun, pusat kota berpindah dari Benteng Somba Opu ke Benteng Rotterdam. Orangorang dari luar Makassar berdatangan dan membentuk kampung. Nama kampung disesuaikan dengan nama daerah asal orang yang menempati kampung tersebut, seperti Kampung Melayu, Kampung Arab, Kampung Wajo, Kampung Buton, Kampung Belanda, Kampung Maluku, dan Kampung Cina. Kampung-kampung inilah yang membentuk kota Makassar seperti sekarang.

~~~

31

32

S

Pedagang dari Timur

ejam berlalu. Mereka bergerak menuju utara Kota Makassar. Kali ini Fajar membuka petunjuk kedua yang dia dapatkan dari Bu Alma. Di kertas

itu tertera tulisan, “Aroma dupa memenuhi bangunan merah. Naga datang dari negeri yang jauh.” “Aku tahu!” ujar Linlin. “Tidak salah lagi, kita akan ke klenteng ‘kan, Bu?” Linlin yakin dengan jawabannya. “Betul sekali, Lin.” “Saya tinggal di dekat klenteng itu,” kata Linlin yang tinggal di kawasan pecinan.

33

Mereka memang menuju ke sebuah klenteng yang terletak di Jalan Sulawesi. Bangunan itu merupakan klenteng tertua yang ada di Makassar. Xian Ma namanya, diambil dari nama seorang dewi Konghucu. Klenteng itu dibangun sekitar tahun 1864 dan mengalami perombakan beberapa kali. Sesampainya di sana, mereka disambut oleh patung dewa yang berada di dekat pintu masuk. Bangunan itu dipenuhi warna merah. Aroma dupa yang keluar altar sesajian menambah kesan akan tempat ini. Di beberapa bagian terdapat patung dewa lengkap dengan papan informasi yang menjelaskannya. Wilayah di sekitar klenteng inilah dikenal dengan nama Kampung Cina atau Pecinan. Hampir seluruh kota di Indonesia tidak bisa lepas dari peran orang-orang Tionghoa. “Bagaimana mereka bisa menetap di sini, Bu?” tanya Udin. “Sama dengan pendatang lainnya. Berdagang!” Sebenarnya, orang-orang Tionghoa sudah banyak datang ke Nusantara di abad ke-15. Mereka berdagang hasil tangkapan laut seperti teripang, sisik penyu, dan kerang. Teh juga menjadi dagangan andalan dari Cina. Mereka lalu bermukim dan membangun kampung. Kebanyakan kampung Cina bisa kita jumpai di daerah pesisir pantai, termasuk di Makassar.

34

Ada empat etnis Tionghoa terbesar di Makassar, Hokkian, Hakka, Kanton, dan Hainan. Mereka datang dan membawa tradisi dan kekhasan dari kampung asal mereka. Tradisi itulah yang bercampur dengan tradisi lokal Makassar. Itu bisa dijumpai dari beberapa makanan khas Makassar, seperti mi, coto, dan palubasa. Sejak dulu Makassar dikenal sebagai daerah yang terbuka dan menghormati pendatang. Ini terbukti dengan banyaknya kampung pendatang yang ada di Makassar. Kampung Cina juga dikenal dengan sebutan Pattunuang. “Pembakaran, Bu?” tanya Udin. “Di Kampung Cina ada satu tempat yang digunakan untuk mengkremasi orang yang sudah meninggal. Makanya orang-orang menyebut kawasan itu sebagai Pattunuang.” “Terima kasih, Bu. Akhirnya saya tahu asal mula leluhur saya di sini,” ujar Linlin sambil tersenyum. Setelah berkeliling di klenteng, mereka lalu beranjak pergi. Kali ini Ibu Alma meminta Linlin menuntun mereka ke petunjuk selanjutnya.

~~~

35

36

L

Kereta Pasar Butung

inlin membaca petunjuk berikutnya, “Suara kereta bersahutan. Orang-orang berjualan di Kampung Buton.”

“Kampung Buton? Saya rasa tidak jauh dari sini,”

kata Fajar berusaha menebak. “Memang ada kereta di sana? Bukankah rel kereta sementara dibangun di luar kota?” Ibam terlihat bingung dengan tebakan Fajar. “Orang berjualan? Pasar, Bu? Kalau pasar di sekitar sini namanya Pasar Butung, bukan Buton!” Kali ini tebakan Linlin benar lagi.

37

“Wah wah wah, kalian memang hebat! Ayo kita ke Pasar Butung!” Bu Alma makin bangga dengan muridmuridnya. Setiap hari Pasar Butung dipadati oleh kendaraan pembeli. Makanya, mereka agak susah mencari tempat parkir di sana. Ibu Alma memarkir mobil agak jauh dari lokasi pasar. Mereka lalu berjalan menuju pasar. “Kita ke sana. Ibu akan mentraktir kalian.” Ibu Alma menunjuk sebuah gerobak es yang disambut gembira oleh para muridnya. Di penjual es Ibu Alma bercerita tentang Kampung Butung. Kampung ini dulu disebut Kampung Buton karena banyak orang yang berasal dari Buton, Sulawesi Tenggara yang mendiami lokasi ini. Kata Buton lamakelamaan dieja menjadi Butung oleh orang-orang sekitar. Di tahun 1917

pemerintah Belanda meresmikan

Pasar Butung. Lokasi Kampung Butung dipilih karena memang bagus, terletak di daerah perkampungan sekaligus dekat dengan wilayah perkantoran yang berbatasan langsung dengan pelabuhan. Dulu pintu masuk Pasar Butung berada tepat di sebelah barat bibir pantai.

38

Pasar ini merupakan pasar terbesar dan teramai yang ada di Makassar. Seperti pasar-pasar lainnya, Pasar Butung juga dulu memiliki pasar basah atau juga menjual ikan, sayur, dan lain-lain. Akan tetapi, sekarang pasar ini hanya menjual kain dan pakaian. Pasar ini mengalami perombakan beberapa kali sampai seperti sekarang ini. Pasar ini menjadi jantung ekonomi kota. “Oh iya, dulu di sebelah pasar ada stasiun kereta!” “Benarkah, Bu?” Ibam seakan tidak percaya. Pada tahun 1922 pemerintah Belanda di Makassar yang dipimpin oleh F.C Vorstman membangun rel kereta api. Rel itu menghubungkan Pelabuhan Makassar, Gowa, dan berakhir di Takalar. Setahun kemudian rel tersebut resmi digunakan untuk mengangkut barang, khususnya mengangkut prajurit dan alat-alat militer Belanda untuk menghadapi perjuangan rakyat di Gowa. “Setelah Belanda berhasil menangkap para pejuang, kereta api itu tidak lagi digunakan. Stasiun resmi ditutup pada tanggal 1 Agustus 1930.” “Ok, kalian siap dengan petunjuk berikut?” tambah Bu Alma. Mereka lalu beranjak dan meninggalkan Pasar Butung.

~~~ 39

40

T

Lonceng Berdentang

idak terasa hari sudah siang. Matahari tampak menyengat dari luar mobil. Namun, itu sama sekali tidak mengurangi semangat Ibu Alma dan

murid-murid memecahkan petunjuk selanjutnya. Linlin membuka lipatan kertas petunjuk dan membacanya dengan lantang, “Salib kudus menunggu. Lonceng berbunyi di hari Minggu.” “Aha! Saya tahu! Gereja Kateldar!” Fajar terlihat sangat percaya diri. “Katedral, Fajar,” ujar Linlin memperbaiki ucapan Fajar yang diiringi tawa oleh lainnya, termasuk Fajar.

41

“Yang di dekat Karebosi sana?” tanya Ibam sambil menunjuk sebuah gereja yang tepat berada di samping Lapangan Karebosi. “Kalian pasti lapar! Ayo kita singgah makan.” Ibu Alma menghentikan mobil dan memarkir tepat di depan gerobak bakso yang berada tidak jauh dari gereja. Gereja Katedral Hati Kudus Yesus begitu nama yang diberikan. Gereja yang sering juga disebut Gereja Katedral Makassar itu terletak di Jalan Kajaolalido. Bangunan itu didirikan pada tahun 1898 dan merupakan gereja tertua di Sulawesi Selatan. Di sebelah selatan gereja bisa dijumpai tiga buah lonceng yang berumur hampir seratus tahun. Loncenglonceng itu diletakkan ke dalam menara gereja. Gereja Katedral Makassar merupakan pusat kegiatan umat Kristiani di Sulawesi Selatan. “Keberadaan umat Katolik sebenarnya sudah ada sejak 1537. Akan tetapi, saat itu belum ada pastor yang menetap di Makassar. Baru pada tahun 1545 datang seorang pastor dari Portugis yang bernama Vicente Viegas dan menetap selama tiga tahun. Di masa-masa berikutnya bergantian datang pastor-pastor Portugis untuk menyebarkan Katolik di Sulawesi Selatan.

42

Namun, perkembangan Katolik tidak begitu pesat jika dibandingkan dengan perkembangan agama lainnya. Pada saat Islam resmi menjadi agama Kerajaan GowaTallo, raja menunjukkan sikap yang sangat toleran terhadap umat lainnya, termasuk umat Katolik. Raja

menerima

setiap

perbedaan

yang

ada,

baik itu perbedaan agama, suku, maupun ras. Tidak mengherankan saat itu banyak pendatang yang betah tinggal di Makassar,” ucap Bu Alma. “Raja sangat bijaksana ya, Bu,” sambung Ibam. “Akan tetapi, mengapa gereja ini baru dibangun ratusan tahun kemudian?” tanya Linlin heran. “Ya, setelah Gowa menandatangani perjanjian dengan VOC, situasinya berubah. Salah satu syarat yang harus dipenuhi, yaitu orang-orang Portugis harus meninggalkan Makassar, termasuk para pastor.” Pada tahun 1800-an, Katolik menjadi agama resmi Kerajaan Belanda. Kerajaan lalu mengutus beberapa pastor untuk datang ke Indonesia. Pada tahun 1892, datang seorang pastor yang dipindahkan dari Flores. Pastor itu bernama Aselbergs. Dialah yang membangun gereja katedral ini.

~~~ 43

44

I

Jejak Masa Lalu bam mengeluarkan kertas itu perlahan. Dia terlihat begitu serius. Dibukanya petunjuk

yang ada di

kertas dengan hati-hati. “Apa petunjuknya?” tanya Linlin tidak tenang. “Ayo bacakan.” Udin ikut berkomentar. “Tunggu, biar saya buka dulu,” kata Ibam. “Angin

berembus

perlahan.

Sisa

masa

lalu

tersimpan di sini.” Begitu kalimat yang tertera pada kertas petunjuk yang didapatkan Ibam. Seketika yang lainnya juga terlihat serius. Mereka mencoba menerka

45

apa maksud dari kalimat tersebut. Di cermin mobil Ibu Alma memperhatikan keseriusan muridnya. Sesekali dia memasang senyum. “Ayo, siapa yang bisa menebak?” “Ibu beri petunjuk lagi. Kali ini kita akan ke tempat di mana biasanya benda-benda sejarah disimpan.” “Museum?” tanya Ibam ragu. “Iya! Saya tahu. Saya tahu. Benar, museum!” ucap Udin yakin dengan jawabannya. “Yaaa, mestinya saya tahu dari awal. Ayah saya ‘kan bekerja di museum.” Ibam sedikit menundukkan kepalanya. “Jangan kecewa, Ibam. Itu siapa yang menjemput kita?” Bu Alma menunjuk seseorang yang sedang menunggu di depan bangunan tua. “Ayah? Eh, kita ke tempat kerja ayah saya?” “Anak-Anak, kita ke sana.” Di depan bangunan tua tersebut terdapat sebuah papan nama tertulis “Museum Kota Makassar”. Tempat ayah Ibam bekerja. Ibu Alma sebelumnya sudah mengabari ayah Ibam bahwa mereka akan berkunjung ke sana. Ayah Ibam menyambut mereka dengan gembira. “Selamat datang, Anak-Anak. Selamat datang, Bu Alma,” sambut ayah Ibam dengan ramah.

46

“Sekarang saya akan menjadi pemandu kalian,” lanjutnya. “Museum ini memang belum terlalu lama diresmikan, baru berusia sekitar 18 tahun. Tempat ini dibuka sejak tahun 2000 pada masa Wali Kota HB. Amiruddin Maula. Akan tetapi, bangunan yang ditempatinya sudah berusia lebih dari seratus tahun. Ini merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda, dulunya digunakan sebagai kantor wali kota. Di museum ini terdapat peta dunia peninggalan masa lalu. Peta itu digunakan oleh para pelaut untuk berdagang. Selain itu, ada juga foto dari Ratu Belanda, yaitu Wilhelmina dan Yuliana. Juga ada beberapa foto bangunan dan lokasi Makassar tempo dulu sampai fotofoto dari Wali Kota Makassar.” “Itu siapa?” tanya Fajar sambil menunjuk sebuah foto Wali Kota Makassar. “Dia bernama Muhammad Daeng Patompo. Saya akan menceritakan sedikit sejarah Kota Makassar,” kata ayah Ibam. “Daeng

Patompo

begitu

orang-orang

akrab

memanggilnya. Beliau resmi menjabat sebagai Wali Kota Makassar pada tahun 1965. Patompo dikenal sebagai wali kota yang bersahaja dan memiliki ide yang sangat

47

luar biasa. Di tangannya, Makassar tumbuh menjadi kota yang luar biasa. Dia memiliki program untuk memberantas kemiskinan, kebodohan, dan kemelaratan. Selain itu, dia melakukan perluasan Kota Makassar dengan mengambil sedikit wilayah dari Maros dan Gowa. Maka, dikenallah sekarang wilayah Tamalate, Panakkukang, dan Biringkanaya. Pada masanya jugalah nama Makassar diubah menjadi Ujung Pandang. Sebelum kembali menjadi Makassar pada tahun 2000. Daeng Patompo juga membangun jalan-jalan dalam kota, membangun tanggul di sekitar Sungai Je’neberang, dan membangun beberapa sekolah dasar. Dia juga mendorong tumbuhnya ekonomi dengan memudahkan penanaman modal di Makassar, termasuk membuka kawasan perdagangan yang kita kenal dengan Jalan Somba Opu.” “Penjual emas itu, Yah?” tanya Ibam. “Iya, itu salah satunya.” Di museum ini anak-anak banyak mendapatkan tambahan informasi tentang tempat-tempat bersejarah yang beberapa sudah mereka kunjungi. Ayah Ibam juga banyak menceritakan pemimpin Makassar. Salah satunya Daeng Patompo. Selain itu, ayah Ibam juga bercerita tentang seorang wali kota yang kerjanya

48

membangun taman. Dia bernama Abustam. Selama masa kepemimpinannya pembangunan taman hampir di setiap sudut kota.” Tidak terasa hari sudah sore. Museum sudah hampir tutup. Ibu Alma dan lainnya bergegas meninggalkan museum dengan perasaan senang. “Mari kita ke petunjuk terakhir!”

~~~

49

50

I

Jalan Kebahagiaan bam membuka petunjuk terakhir. “Rosario mungkin asal namaku. Di Jalan Kebahagiaan kita bertemu.” “Gereja lagi?” tanya Linlin. “Masa gereja, Bu?” Fajar menyela. “Mungkin memang gereja. Rosario ‘kan alat yang

digunakan umat Katolik berdoa,” ujar Ibam untuk mencoba meyakinkan temannya. “Hehehe, coba ditebak lagi.” Bu Alma sedikit tertawa mendengar murid-muridnya dalam kebingungan. “Rosario asal namaku. Di jalan … kita bertemu,” Ibam terus menggumam. “Aduh, Bu, sepertinya kami tidak bisa menebak petunjuk yang satu ini,” ucap Linlin.

51

“Iya. Terlalu susah. Saya sama sekali tidak punya gambaran tentang tempat yang dimaksud,” kata Ibam menyerah. “Baiklah! Ibu yakin kalian bisa menebak kalau mendengar kata ini: pisang epe!” “Pantai Losari!” seru murid-murid secara serentak. “Ya! Kita akan ke Pantai Losari. Di sana kita bisa menghabiskan sore sembari menunggu matahari terbenam.” Bergegas mereka menuju Pantai Losari di barat Kota Makassar. Jalanan Makassar di sore hari sangat ramai. Orang-orang bersiap pulang ke rumah setelah seharian menjalankan aktivitas masing-masing. Begitu pula di kawasan Pantai Losari. Jalanan dipadati kendaraan sehingga mereka menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke sana. Padahal, jarak antara museum dan pantai hanya berkisar satu kilometer. Sesampai di sana, Ibu Alma mengajak muridnya berjalan di pinggir tanggul beton yang menjadi pembatas air laut. Sembari menikmati embusan angin, Ibu Alma bercerita. “Pantai ini dulu dijuluki meja terpanjang sedunia.” “Mengapa bisa, Bu?” tanya Ibam.

52

“Iya, karena dulu banyak tenda warung berjejer di sini, memanjang hampir satu kilometer.” Pantai ini juga disebut Pasar Ikan karena dulu warga berjualan ikan di sini. Di sore hari biasanya banyak pedagang kacang. Warga Kota Makassar sering datang ke sini untuk melepas kebosanan atau sekadar menikmati matahari terbenam. “Mengapa pantai ini tidak berpasir seperti pantai lainnya, Bu?” Udin terlihat heran. “Pantai ini berbatasan langsung dengan Selat Makassar yang terkenal memiliki ombak ganas. Makanya pada tahun 1945, pemerintah Kota Makassar membangun tanggul untuk melindungi kota dari derasnya ombak.” “Lalu, mengapa namanya Losari? Apa hubungannya dengan rosario di petunjuk yang ibu berikan?” tanya Ibam dipenuhi rasa penasaran. “Di pantai ini dulu sering dikunjungi para biarawati dan pastor. Mereka sering mengalungi lehernya dengan rosario. Mungkin dari situ awal dari nama Losari.” “Akan tetapi, ada juga yang bilang kalau losari itu berasal dari dua kata, yaitu los dan ari. Dalam bahasa Jawa los berarti tempat berjualan dan ari bermakna pembungkus atau penyuplai karena di lokasi ini orangorang sering berjualan.”

53

“Terus, mana yang betul, Bu?” Linlin juga sepertinya tidak bisa melepaskan rasa penasarannya. “Pantai ini sudah terkenal sejak dulu. Orang-orang datang dengan berbagai aktivitas: berjualan, berkunjung, atau sekadar menghabiskan waktu. Oleh sebab itu, losari diartikan sebagai Jalan Penghidupan atau Kebahagiaan,” tutup Bu Alma. “Sekarang Ibu minta kalian mengurutkan kertas petunjuk sesuai dengan angka yang ada.” Murid-murid membuka tas mereka, mengambil kertas petunjuk dan mengurutkan sesuai dengan permintaan Bu Alma. “Huruf pertama di setiap petunjuk yang kalian dapatkan telah Ibu tebalkan. Coba kalian gabungkan huruf-huruf itu.” Apa kalian bisa membacanya?” “M-A-K-A-S-S-A-R. Makassar!” seru murid-murid. Angin berembus perlahan mengiringi matahari yang sebentar lagi tenggelam. Mereka duduk menikmati senja di Makassar, senja yang selalu dirindukan oleh siapa saja yang pernah datang ke kota ini.

54

55

Daftar Pustaka Gibson, Thomas. 2009. Kekuasaan Raja, Syeikh, dan Ambtenaar:

Pengetahuan

Simbolik

dan

Kekuasaan

Tradisional Makassar 1300-2000. Penerbit Ininnawa. Makassar. Poelinggomang, Edward Lambertus. 2016. Makassar Abad XIX: Studi tentang Kebijakan Maritim. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta. Pradadimara, Dias. 2005. Penduduk Kota, Warga Kota, dan Sejarah Kota: Kisah Makassar. Dalam “Kota Lama Kota Baru: Sejarah Kota-kota di Indonesia.” Yogyakarta: Ombak.

56

Glosarium Anging Mammiri: Bahasa Makassar yang berarti ‘angin berembus’; digunakan juga sebagai julukan dari Kota Makassar yang terkenal dengan pantainya. Je’neberang: Nama sungai yang terletak di Sulawesi Selatan; memiliki panjang antara 75--80 km; mengalir dari timur ke barat dari Gunung Bawakaraeng Kabupaten Gowa, menuju ke Selat Makassar. Kata je’neberang dalam bahasa Makassar berarti ‘air yang berasal dari pedang’. Menurut legenda, Raja Gowa memerintahkan paranormal (boto’) untuk membuat sungai. Kemudian, paranormal itu berjalan sambil menorehkan pedangnya dari hulu Bawakaraeng ke arah barat. Torehan pedangnya itu diikuti aliran air yang berasal dari kaki Gunung Bawakaraeng mengalir sampai daerah pesisir dekat istana Benteng Somba Opu. Katangka: Nama pohon khas Makassar; berdaun kecil dan memiliki bunga berwarna putih; memiliki kayu yang keras dan ulet seperti kayu jati; dahulu sering digunakan untuk bahan rumah. Katangka juga merupakan nama wilayah di Kabupaten Gowa yang merujuk pada lokasi

57

Masjid Katangka. Tempat itu dulunya banyak ditumbuhi pohon katangka. Sekarang pohon katangka hampir sulit dijumpai. Pecinan: Tempat permukiman orang Cina; sering juga disebut Kampung Cina; terletak di Kecamatan Wajo dan Kecamatan Ujung Pandang; berjarak 400 meter dari Lapangan Karebosi. Pisang Epe: Makanan khas Makassar berbahan dasar pisang kepok. Pisang dikupas dan dipanggang di atas bara api hingga setengah matang. Pisang lalu diletakkan di atas alat yang terbuat dari balok kayu untuk kemudian ditekan hingga berbentuk pipih atau agak gepeng. Lalu, pisang tersebut dipanggang lagi. Proses pembakaran pisang dilakukan dua tahap dengan tujuan agar pisang terasa sedikit renyah saat dinikmati. Setelah proses pembakaran selesai, pisang diletakkan di atas piring saji dan diguyur dengan lelehan gula merah beraroma durian atau nangka.

58

Biodata Penulis dan Ilustrator

Nama Lengkap : Muhammad Randhy Akbar Ponsel

: 081342213334

Pos-el

: [email protected]

Akun Facebook : Randie Akbar Alamat Kantor : Jl. Sultan Alauddin No. 259 Lt. 5 Bidang Keahlian : Desain Grafis dan politik perkotaan Riwayat Pekerjaan (10 Tahun Terakhir): 1. 2008--kini : Fasilitator di Komunitas Ininnawa 2. 2008--kini : Peneliti di Active Society Institute 3. 2012--kini : Pustakawan di Katakerja 4. 2017--kini : Staf Pengajar di Unismuh Makassar Judul Buku dan Tahun Terbit: 1. Antologi Esai Dunia dalam Kota (2013) 2. Antologi Esai Telinga Palsu (2016)

59

Biodata Penyunting Nama : Kity Karenisa Pos-el : [email protected] Bidang Keahlian: Penyuntingan Riwayat Pekerjaan: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2001— sekarang) Riwayat Pendidikan: S-1 Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1995—1999) Informasi Lain: Lahir di Tamianglayang pada tanggal 10 Maret 1976. Lebih dari sepuluh tahun ini, aktif dalam penyuntingan

naskah di beberapa lembaga, seperti di Lemhanas, Bappenas, Mahkamah Konstitusi, dan Bank Indonesia, juga di beberapa kementerian. Di lembaga tempatnya bekerja, menjadi penyunting buku Seri Penyuluhan, buku cerita rakyat, dan bahan ajar. Selain itu, mendampingi penyusunan peraturan perundang-undangan di DPR sejak tahun 2009 hingga sekarang.

60

Berabad-abad lamanya, Kota Makassar tumbuh dari kota pelabuhan ke kota metropolitan. Banyak cerita yang mengiringi perkembangan itu. Beragam suku, etnis, budaya, dan agama ikut mewarnai. Kota ini akan selalu tumbuh seiring angin yang terus berembus.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta Timur

62