Data Loading...

30. SD Si Buncir Flipbook PDF

30. SD Si Buncir


121 Views
63 Downloads
FLIP PDF 11.84MB

DOWNLOAD FLIP

REPORT DMCA

Cerita Rakyat Jawa Barat

SI BUNCIR

Ditulis oleh Asep Rahmat Hidayat I

SI BUNCIR Penulis : Asep Rahmat Hidayat Penyunting : Sutejo Ilustrator : EorG Penata Letak : Desman Diterbitkan pada tahun 2016 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jalan Daksinapati Barat IV Rawamangun Jakarta Timur Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan penulisan artikel atau karangan ilmiah.

PB 398.209 598 2 HID s

Katalog Dalam Terbitan (KDT) Hidayat, Asep Rahmat Si Buncir/Asep Rahmat Hidayat. Penyunting: Sutejo. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016 viii 64 hlm; 21 cm ISBN 978-602-437-147-0 1. KESUSASTERAAN RAKYAT-JAWA 2. CERITA RAKYAT-JAWA

II

Kata Pengantar Karya sastra tidak hanya rangkaian kata demi kata, tetapi berbicara tentang kehidupan, baik secara realitas ada maupun hanya dalam gagasan atau citacita manusia. Apabila berdasarkan realitas yang ada, biasanya karya sastra berisi pengalaman hidup, teladan, dan hikmah yang telah mendapatkan berbagai bumbu, ramuan, gaya, dan imajinasi. Sementara itu, apabila berdasarkan pada gagasan atau cita-cita hidup, biasanya karya sastra berisi ajaran moral, budi pekerti, nasihat, simbol-simbol filsafat (pandangan hidup), budaya, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Kehidupan itu sendiri keberadaannya sangat beragam, bervariasi, dan penuh berbagai persoalan serta konflik yang dihadapi oleh manusia. Keberagaman dalam kehidupan itu berimbas pula pada keberagaman dalam karya sastra karena isinya tidak terpisahkan dari kehidupan manusia yang beradab dan bermartabat. Karya sastra yang berbicara tentang kehidupan tersebut

menggunakan

bahasa III

sebagai

media

penyampaiannya dan seni imajinatif sebagai lahan budayanya. Atas dasar media bahasa dan seni imajinatif itu, sastra bersifat multidimensi dan multiinterpretasi. Dengan menggunakan media bahasa, seni imajinatif, dan matra budaya, sastra menyampaikan pesan untuk (dapat) ditinjau, ditelaah, dan dikaji ataupun dianalisis

dari

berbagai

sudut

pandang.

Hasil

pandangan itu sangat bergantung pada siapa yang meninjau, siapa yang menelaah, menganalisis, dan siapa yang mengkajinya dengan latar belakang sosialbudaya serta pengetahuan yang beraneka ragam. Adakala seorang penelaah sastra berangkat dari sudut pandang metafora, mitos, simbol, kekuasaan, ideologi, ekonomi, politik, dan budaya, dapat dibantah penelaah lain dari sudut bunyi, referen, maupun ironi. Meskipun demikian, kata Heraclitus, “Betapa pun berlawanan mereka bekerja sama, dan dari arah yang berbeda, muncul harmoni paling indah”. Banyak pelajaran yang dapat kita peroleh dari membaca karya sastra, salah satunya membaca cerita rakyat yang disadur atau diolah kembali menjadi cerita anak. Hasil membaca karya sastra selalu menginspirasi IV

dan memotivasi pembaca untuk berkreasi menemukan sesuatu yang baru. Membaca karya sastra dapat memicu imajinasi lebih lanjut, membuka pencerahan, dan menambah wawasan. Untuk itu, kepada pengolah kembali cerita ini kami ucapkan terima kasih. Kami juga menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada Kepala Pusat Pembinaan, Kepala Bidang Pembelajaran, serta Kepala Subbidang Modul dan Bahan Ajar dan staf atas segala upaya dan kerja keras yang dilakukan sampai dengan terwujudnya buku ini. Semoga buku cerita ini tidak hanya bermanfaat sebagai bahan bacaan bagi siswa dan masyarakat untuk menumbuhkan budaya literasi melalui program Gerakan Literasi Nasional, tetapi juga bermanfaat sebagai bahan pengayaan pengetahuan kita tentang kehidupan masa lalu yang dapat dimanfaatkan dalam menyikapi perkembangan kehidupan masa kini dan masa depan. Jakarta,

Juni 2016

Salam kami, Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum. V

Sekapur Sirih Jawa Barat merupakan wilayah yang diperkaya oleh tiga budaya, yaitu Sunda, Melayu-Betawi, dan JawaCirebon. Ketiga budaya itu memiliki kekayaan budaya yang khas. Cerita Si Buncir ini berasal dari cerita lisan yang beredar dan populer pada zaman dahulu dalam masyarakat Jawa Barat yang berbahasa Sunda. Pada zamannya, cerita ini dijadikan juga sebagai bahan pengajaran kepada anak-anak. Upaya memperkenalkan kembali cerita rakyat ini dilakukan untuk mendukung Gerakan Literasi Nasional yang sejalan dengan kebijakan Penumbuhan Budaya Literasi dan Penumbuhan Karakter anak-anak Indonesia. Cerita ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bacaan untuk pembiasaan membaca produktif siswa di kelas. Cerita Si Buncir ini bertemakan kejujuran dan ketulusan hati yang sepatutnya menjadi karakter masyarakat dan bangsa Indonesia. Melalui cerita ini, pembaca, terutama anak-anak, diberi contoh dan diyakinkan bahwa dengan karakter jujur dan tulus, kehidupan mereka dalam kehidupan sosial akan lebih utama dan bermakna. VI

Daftar Isi Kata Pengantar...............................................iii Sekapur Sirih..................................................vi Daftar Isi.......................................................viii 1. Kampung Di Kaki Gunung.............................1 2. Penyabit Rumput.........................................4 3. Si Buncir.....................................................9 4. Si Buncir Menyabit Rumput..........................13 5. Berkelana...................................................21 6. Kerajaan Salaka..........................................25 7. Gandarasa..................................................34 8. Pernikahan.................................................38 9. Penobatan Raja...........................................43 10. Pertemuan Kembali....................................48 11. Akhir Yang Bahagia...................................56 Glosarium.......................................................59 Biodata Penulis...............................................60 Bidata Penyunting...........................................62 Biodata Ilustrator...........................................63

VII

1. KAMPUNG DI KAKI GUNUNG

Dari kejauhan tampak gunung yang tinggi menjulang. Puncaknya berselimut awan putih. Jika mencapai puncaknya, seakan kita melayang di atas awan. Penduduk setempat pun menyebutnya Gunung Manglayang. Semua penduduk menjaga lingkungan di sekitar Manglayang dengan sungguh-sungguh. Mereka memiliki pantangan untuk menebang pohon di Gunung Manglayang. Mereka hanya menggunakan ranting-ranting dan batang pohon yang telah mati sebagai kayu bakar. Alam membalas perilaku mereka dengan harta yang tak bernilai. Manglayang memberikan banyak sumber mata air yang tidak pernah surut sepanjang tahun. 1

Di kaki gunung terdapat sebuah kampung yang dikenal dengan nama Ciherang. Kampung itu dinamai Ciherang karena dilewati sebuah sungai yang airnya selalu jernih. Sungai Ciherang bersumber dari mata air Gunung Manglayang. Kampung

Ciherang

merupakan

sebuah

kampung yang sunyi dan damai. Penduduknya tidak banyak. Mereka terpencar dalam beberapa kelompok yang hanya berisi satu atau dua rumah. Penduduk Ciherang hidup dari bertani dan berternak. Mereka berternak domba, kerbau, dan sapi. Mereka juga menanam padi, singkong, dan aneka sayuran. Domba diternakkan untuk berbagai kebutuhan. Domba Ciherang terkenal karena memiliki kualitas yang

bagus.

Domba-domba

Ciherang

selalu

diikutkan dalam kontes ketangkasan yang diadakan setiap bulan. Dalam acara itu ditampilkan juga berbagai kesenian yang dimainkan oleh penduduk. Singkong ditanam sebagai bahan baku makanan khas Ciherang, yaitu peuyeum atau tapai. Tapai 2

Ciherang terkenal karena rasa manisnya yang alami. Selain itu, singkong diolah juga menjadi keripik singkong. Demikianlah,

dengan

kreativitas

mereka,

penduduk Ciherang dapat memenuhi hidup mereka yang sederhana. Meskipun sederhana, penduduk hidup dalam kedamaian dan kerukunan.

3

2. PENYABIT RUMPUT

Tidak semua penduduk Ciherang beruntung memiliki hewan untuk dipelihara. Tidak semua penduduk juga memiliki lahan untuk ditanami. Di Kampung Ciherang hidup seorang yang kurang beruntung itu. Pekerjaannya menyabit jukut

atau rumput. Oleh karena itu, ia dikenal

dengan sebutan Ki Jukut. Ki Jukut hidup dalam kemiskinan. Ia tinggal di rumahnya yang kumuh. Istrinya telah meninggal beberapa tahun lalu. Ia hidup bersama seorang anaknya, si Buncir. Setiap pagi, Ki Jukut meninggalkan anaknya di rumah. Ia pergi untuk mencari rumput. Semua tegalan di Kampung Ciherang sudah pernah ia datangi. 4

Jika beruntung, ia dapat menyabit rumput di tegalan yang tidak terlalu jauh. Dengan demikian, ia dapat mengambil rumput beberapa kali dalam sehari. Namun, tak jarang juga ia harus pergi ke tegalan yang lebih jauh untuk memperoleh rumput. Karena jauhnya, ia hanya dapat mengambil rumput sekali selama seharian penuh. Setelah menetapkan tegalan yang akan dituju, ia memanggil si Buncir. “Nak, Bapak pergi mencari rumput ke tegalan yang ada di utara sungai. Hati-hatilah di rumah, jangan bermain terlalu jauh.” “Iya, Pak, aku akan bermain di sungai untuk menangkap

anggay-anggay,

lalu

kembali

ke

rumah.” “Oh, jangan bermain terlalu jauh ke lubuk, ya, bahaya. Kalau lapar, makanlah, Bapak sudah menanak nasi di dapur.” Setelah menasihati anaknya dan membungkus bekal nasi dan garam, Ki Jukut segera berangkat. Ia berjalan menyusuri pinggiran sungai ke arah 5

utara. Setelah sampai di tegalan yang dituju, ia segera menyabit rumput yang masih banyak tumbuh liar di sana. Siang hari, Ki Jukut beristirahat sejenak untuk menunaikan salat dan beristirahat. Ia segera menuju sungai untuk berwudu dan salat di atas batu yang agak lebar memanjang. Setelah salat, ia membuka bekal makanan dan melahapnya dengan cepat. Di saat-saat seperti itu, ia selalu terkenang istrinya yang telah lama tiada. Ia merasa menyesal tidak dapat menghidupinya dengan layak. Ia bertekad akan menjaga si Buncir, buah hati

mereka

sebaik-baiknya.

Semilir

angin

segera menyadarkan Ki Jukut untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia melanjutkan kembali menyabit rumput. Setelah semua keranjang dipenuhi rumput, Ki Jukut memutuskan untuk segera kembali.

6

7

Rumput yang ia peroleh kemudian dibawa pulang. Ia menjual rumput itu kepada tetangganya untuk makanan ternak-ternak mereka. Yang

diperolehnya

Adakalanya

ia

tidak

menerima

selalu

makanan

uang. sebagai

pengganti rumputnya. Di waktu lain, ia diberi pakaian bekas untuk rumput yang diberikan kepada tetangganya.

8

3. SI BUNCIR

Kepalanya kecil dan gundul. Tangan dan kakinya kecil dan pendek. Perutnya buncit. Kulitnya legam. Karena rupanya itu, ia dipanggil si Buncir. Ia anak semata wayang Ki Jukut. Ia kehilangan ibunya ketika ia dilahirkan. Ia tinggal berdua dengan bapaknya di rumah yang kumuh. Ketika bapaknya pergi menyabit rumput, si Buncir sering bermain sendiri. Anak-anak sebaya si Buncir cukup banyak di Kampung Ciherang. Mereka pun sering mengajak si Buncir. Meskipun si Buncir hidup miskin, anak-anak Ciherang tak pernah menghina atau mengucilkannya. Di saat, sendiri seperti itu, sebetulnya dia merasa leluasa untuk membayangkan sosok ibu 9

yang tak dikenalnya. Ia hanya mengenal ibunya dari cerita bapaknya. Di saat seperti itu, ia memilih untuk mengakrabi kesepian, kesedihan, dan kerinduannya, serta mengubahnya menjadi keteguhan untuk menerima takdir. “Cir, Bunciiir! Main, yuk?” teriak beberapa anak saat melihat si Buncir sedang duduk di depan rumah. “Kalian bermainlah, aku akan pergi ke sungai,” tolak si Buncir dengan halus. Si Buncir memang senang menyendiri. Ia tahu tak seorang anak pun yang tidak mau bermain dengannya. Namun, ia memang senang bermain sendiri. Mungkin ia terbiasa menghabiskan waktu sendiri. Mungkin juga ia tidak nyaman bermain dengan teman-temannya yang memiliki berbagai mainan. Ia adalah seorang anak yang lugu. Pikirannya sederhana saja. Ia pun tak pernah meminta halhal yang menyusahkan bapaknya.

10

Si

Buncir

memiliki

kesukaan

menangkap

ikan. Setiap hari ia menghabiskan waktu untuk menangkap ikan di sungai. Ia selalu membawa bubu untuk menangkap ikan. Namun, tak pernah sekalipun ia berhasil menangkap ikan. Suatu hari, seperti biasanya si Buncir pergi ke sungai. Ia memasang bubunya di antara dua batu besar. Ia menunggu sambil bermain air sungai. Setelah sekian lama menunggu, bubu kecilnya bergerak-gerak. Senang benar si Buncir. Ia segera

11

mengangkat bubunya. Namun, bukan ikan yang terperangkap, melainkan seekor anggay-anggay yang bergerak-gerak berusaha keluar dari bubu. Sejak itu, si Buncir tidak pergi lagi ke sungai. Ia memelihara anggay-anggay itu sebagai peliharaan. Ia membawa anggay-anggay itu di dalam batok kelapa. Setiap hari, ia hanya bermain anggayanggay. Ki Jukut bukannya tidak mengetahui kesukaan anaknya. Namun, ia tidak memiliki uang untuk membeli ikan. Ia juga seharian mencari rumput dan tidak memiliki waktu luang untuk menangkap ikan. Ketika melihat si Buncir hanya bermain anggayanggay, bapaknya berkata kepadanya, “Nak, lebih baik kamu ikut bapak menyabit rumput daripada bermain terus dengan anggay-anggay. Jika rumput dijual, kamu tentu memiliki uang untuk membeli ikan kesukaanmu.” “Baiklah, Bapak, besok aku ikut menyabit rumput,” jawab si Buncir. 12

4. SI BUNCIR MENYABIT RUMPUT

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali si Buncir sudah bersiap. Si Buncir pergi bersama bapaknya. Ia ikut menyabit rumput. Sebelum berangkat, ia menyiapkan bekal untuk makan siang. Ia pun lalu menitipkan anggay-anggay kepada neneknya. Setelah seharian mencari rumput, mereka pulang ke rumah. Yang pertama diingat si Buncir tentulah

bintang

peliharaannya.

Sepulangnya

menyabit rumput, ia segera menemui neneknya untuk

mengambil

anggay-anggay

dititipkannya. “Nek, Nenek!” “Iya, tunggu sebentar, Cucuku!” “Anggay-anggay-ku mana, Nek?”

13

yang

“Aduh, nenek minta maaf, Cu.Tadi nenek pergi ke jamban, saat kembali seekor ayam memakan peliharaanmu.” Si Buncir menangis sejadi-jadinya. Ia meminta ayam yang memakan anggay-anggay itu sebagai pengganti anggay-anggay-nya yang mati. Neneknya merasa kasihan melihat si Buncir. Sambil sekali lagi meminta maaf, ia memberikan ayam itu kepada si Buncir. Keesokan

harinya,

si

Buncir

pergi

lagi

bersama bapaknya untuk menyabit rumput. Ia bingung dengan peliharaannya. Ia tidak mau lagi menitipkan peliharaannya kepada neneknya. Ia melihat ada seorang perempuan yang sedang menumbuk padi. Ia menghampiri perempuan itu. “Bibi, bolehkah aku menitip ayam ini sebentar saja?” “Memangnya Ujang mau ke mana?” “Aku

hendak

menyabit

bapak.”

14

rumput

bersama

“Oh, kalau begitu, ikat saja ayammu dekat lesung.” Si Buncir merasa tenang. Ia segera mengikat ayamnya dekat lesung perempuan penumbuk padi. Setelah itu, ia segera berlari menyusul bapaknya. Sore hari sepulangnya menyabit rumput, ia segera menemui perempuan penumbuk padi untuk mengambil ayam yang dititipkannya. Ternyata, ayamnya mati tertimpa alu. “Bibi,

aku

mau

mengambil

ayam

yang

kutitipkan,” kata si Buncir. “Maafkan bibi, Ujang. Bibi tidak sengaja menjatuhkan alu itu.” Si Buncir menangis sejadi-jadinya. Ia meminta alu itu sebagai ganti ayamnya yang mati. “Bibi ini bagaimana? Aku menitipkan ayam itu supaya aman dalam penjagaan Bibi,” ujarnya sambil terisak-isak. “Ehm, Ujang, apa gunanya sebatang alu buatmu?” tanya perempuan penumbuk padi itu.

15

“Bibi ganti saja ayam itu dengan uang, ya? Nanti Ujang bisa beli ayam yang baru,” bujuk si perempuan penumbuk padi. “Tidak Bibi, aku tidak mau uang Bibi!” “Aku mau alu yang telah membunuh ayamku, Bibi!” Perempuan penumbuk padi tidak memiliki pilihan selain memberikan alu itu kepada si Buncir. Keesokan harinya, si Buncir ikut menyabit rumput.

Ia

bingung

untuk

menitipkan

alu

miliknya. Di tengah perjalanan ia melihat seorang penggembala kerbau. Ia menitipkan alunya kepada penggembala kerbau itu. “Kang, bolehkah aku menitip alu ini sebentar saja?” “Memangnya kamu mau ke mana?” “Aku

hendak

menyabit

rumput

bersama

bapak.” “Oh, kalau begitu, simpan saja di bawah pohon itu.”

16

Sore hari sepulangnya menyabit rumput, ia segera menemui penggembala kerbau untuk mengambil alu yang dititipkannya. Ternyata, alunya patah tertinjak kerbau. “Aku minta maaf! Siang tadi matahari sangat terik, kerbauku kepanasan. Aku membawanya berteduh di bawah pohon. Aku lupa di situ ada alu yang kautitipkan. Alu itu patah terinjak.” Ia menangis sejadi-jadinya. Ia meminta kerbau yang menginjak alunya sebagai pengganti alunya yang patah. “Pokoknya, aku meminta kerbau itu sebagai ganti aluku yang patah,” teriak si Buncir. Si penggembala tidak berani memberikan kerbau itu karena takut dimarahi bapaknya. “Maaf, aku tidak bisa menyerahkan kerbau ini. Aku tentu akan dimarahi oleh bapakku,” tolak si penggembala kerbau. Si Buncir tidak terima. Ia kemudian menghadap hakim dan mengadukan kasusnya. Si pemilik kerbau

17

pun dipanggil. Hakim memutuskan si pemilik kerbau harus menyerahkan kerbau itu kepada si Buncir.

18

Keesokan harinya, si Buncir ikut menyabit rumput. Ia bingung untuk menitipkan kerbaunya. Di tengah perjalanan, ia melihat seorang petani. Ia segera menghampiri petani untuk menitipkan kerbaunya. “Pak Tani, bolehkah aku menitip kerbau ini sebentar saja?” “Memangnya kamu mau ke mana?” “Aku

hendak

menyabit

rumput

bersama

bapak.” “Oh, kalau begitu, ikat saja kerbaumu di bawah pohon limus.” Si Buncir mengikat kerbau di bawah pohon limus. Setelah itu, ia segera menyusul bapaknya untuk menyabit rumput. Sore hari sepulangnya menyabit rumput, ia segera menemui petani untuk mengambil kerbau yang dititipkannya. Ternyata, kerbaunya mati tertimpa buah limus. “Aku minta maaf! Siang tadi matahari sangat terik, aku kehausan. Aku memanjat pohon untuk 19

memetik buah limus. Kerbaumu mati tertimpa buah limus.” Si Buncir menangis sejadi-jadinya. Ia meminta buah limus yang menimpa kerbaunya sebagai pengganti kerbaunya yang mati. Petani itu dengan senang hati memberikan buah limus itu.

20

5. BERKELANA

Sejak kematian kerbau peliharaannya, si Buncir tidak mau lagi menyabit rumput. Ia berpikir beberapa saat. Ia merasa ketidakberuntungan selalu menimpanya jika tetap tinggal di Ciherang. Sore hari ketika bapaknya sampai di rumah, si Buncir segera menghampiri bapaknya. Ia menyampaikan keinginannya. “Pak, usia ujang ‘kan sudah bertambah. Ujang juga merasa tidak beruntung kalau terus di sini.” “Ujang mau pergi ke mana?” “Ujang mau mencari pengalaman, Pak. Ujang mau berkelana, pergi dari Ciherang.” “Aduh, jangan, Ujang! Bapak khawatir dengan keselamatanmu.”

21

“Tetaplah tinggal bersama bapak, meskipun hidup miskin, bapak masih bisa menjagamu.” “Tekad ujang sudah bulat, Bapak. Ujang berjanji akan kembali nanti,” ujarnya meyakinkan bapaknya. “Baiklah, jika itu keinginanmu, tetapi pergilah esok hari biar kumasakkan bekal buatmu.” Pagi-pagi buta, si Buncir sudah bangun. Ia membungkus nasi dan ikan asin yang dimasak bapaknya. Tak lupa, ia juga membawa buah limus pemberian petani. Ia mencium tangan bapaknya dan segera berpamitan untuk pergi. “Pak, ujang berangkat sekarang, mumpung masih pagi.” “Jika bapak tak bisa menghalangi tekadmu, pergilah! Ingat selalu bahwa bapak dan mendiang ibumu

akan

selalu

menyayangimu.

Maafkan

bapak, jika selama ini belum dapat memenuhi kebutuhanmu. Hati-hati di jalan dan merendah hatilah!” “Baik, Pak!“ 22

Si Buncir pergi meninggalkan Ciherang. Di batas kampung ia berhenti sejenak. Ia menengok ke belakang, menatap Kampung Ciherang dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa sedih. Ia teringat ibu yang tak pernah dilihatnya sejak lahir. Ia teringat bapaknya yang sangat sabar memeliharanya selama ini.

23

“Ibu,

doakan

aku

supaya

bertemu

keberuntungan.” “Bapak, maafkan aku. Bukannya membalas jasamu, aku malah pergi meninggalkanmu. Aku berjanji akan kembali dan membahagiakan Bapak.” Ia berjalan kembali meneruskan perjalanannya. Selepas batas kampung, ia harus menjelajahi hutan yang tak pernah diinjaknya. Ia masuk ke dalam hutan. Berhari-hari ia berjalan di dalam hutan yang lebat. Bekal nasi dan ikan asin telah habis. Hanya tersisa buah limus pemberian petani. Ia mulai merasa lapar. Ia membuka bekal yang hanya menyisakan buah limus. Limus itu tetap segar meski telah berhari-hari dibawa berjalan di dalam hutan. Ia mengurungkan niat untuk memakan limus itu. Ia memanjat pohon buah-buahan. Selama itu, ia memakan daun-daunan dan buah-buahan hutan untuk menepis rasa laparnya.

24

6. KERAJAAN SALAKA

Tanpa terasa telah berbulan-bulan si Buncir keluar hutan. Si Buncir berjalan menjelajahi dusundusun dan kampung-kampung. Ia tiba di sebuah gapura kerajaan. Gerbang kerajaan itu dijaga oleh dua orang prajurit kerajaan. Keduanya berbadan tegap dan gagah. Di pinggang mereka terselip pedang panjang. Si Buncir dengan ragu-ragu menghampiri kedua prajurit itu. “Mmm... maaf juragan, di manakah hamba sekarang ini?” “Ini gerbang Kerajaan Salaka, siapa kamu? Mau apa kau ke sini?” 25

“Mmm... maaf juragan, nama hamba Buncir.” “Kalau juragan mengizinkan, hamba hendak mencari penghidupan di kerajaan.” “Tentu saja boleh, asalkan kamu mengikuti peraturan di kerajaan.” “Terima kasih, tentu saja hamba patuh dan taat pada peraturan kerajaan. Terima kasih.” Si Buncir memasuki gerbang dan melanjutkan perjalanan.

Ia

berjalan

menyusuri

pinggiran

kerajaan. Ia mendengar suara perempuan yang sedang menembang. Ia mendekati suara itu. Ia melihat seorang putri cantik yang sedang menenun kain. Putri itu menyanyikan tembang sambil menenun kain. Si Buncir menghampiri putri yang cantik itu. “Maaf, Nyai Putri siapakah gerangan Nyai Putri ini?” “Saya, Mayangsari, putri Kerajaan Salaka. Kamu siapa?” “Saya Buncir, saya sedang mencari pekerjaan. Saya telah berjalan jauh dan merasa kegerahan.” 26

“Bolehkah, saya menitipkan buah limus ini, Tuan Putri? Saya hendak menyegarkan diri dulu di sungai.” “Simpan saja di balai-balai itu, aku sedang menenun kain.” Setelah mengucapkan terima kasih, si Buncir segera pergi. Ia segera menceburkan diri ke sungai untuk membersihkan dan menyegarkan diri. Putri Mayangsari tak menghiraukan si Buncir. Ia asyik menenun kain. Sesaat ia melirik buah limus milik si Buncir. Limus itu terlihat sangat segar dan menggiurkan. Putri Mayangsari tak tahan melihat limus itu. Ia menghentikan alat tenunnya. Ia menuruni tangga menuju balai-balai tempat limus itu disimpan. Ia segara memakan buah limus itu sampai habis. Ia lalu melanjutkan menenun kain. Setelah merasa cukup segar, si Buncir segera menemui Putri Mayangsari untuk mengambil buah limus yang dititipkannya. Ketika mendapati limusnya tinggal biji dan kulit, si Buncir marah. 27

“Tuan Putri, siapakah yang memakan limusku?” “Maaf Buncir, aku tadi sangat haus, aku memakan limusmu.” “Kamu

seorang

putri

kerajaan,

tetapi

kelakuanmu tidak mencerminkan seorang putri. Kamu tidak mampu menjaga amanat.” “Sekali lagi aku minta maaf, Buncir!” “Aku seorang putri, hartaku banyak. Aku akan memberimu uang emas sebagai pengganti limus itu.” “Aku tidak mau, aku tidak memerlukan uang emasmu!” “Kalau begitu, aku akan memberimu barangbarang yang sangat bagus.” “Tidak, Putri, aku tidak memerlukan semua itu!” “Lantas, apa maumu?” “Karena kau telah memakan limus-ku, aku meminta dirimu sebagai penggantinya!” “Apa?” Putri terperanjat.

28

Putri merasa bingung. Ia merasa sangat bersalah karena memakan makanan yang bukan miliknya. Kelakuannya sama saja dengan seorang pencuri. Akan tetapi, menyerahkan diri kepada si Buncir sungguh sesuatu yang sangat mustahil. “Baiklah, Buncir, kamu tunggu di sini. Aku akan meminta pendapat bapak dan ibuku.” Putri segera berangkat ke istana. Sesampainya di istana, ia segera menceritakan peristiwa yang terjadi sambil menangis terisak-isak. Ratu memeluk putri sambil menangis. Raja hanya menarik napas panjang. Tak sepatah kata pun terucap dari mulutnya. Setelah terdiam beberapa lama, raja memanggil Ki Lengser. “Ki Lengser segera pergi, cari, dan bawa si Buncir ke istana!” titah raja kepada Ki Lengser. “Daulat Tuanku, hamba segera pergi,” jawab Ki Lengser sambil mengundurkan diri dari hadapan raja.

29

Ki Lengser tiba di tempat putri biasa menenun. Ia melihat ada seorang anak berkulit hitam sedang duduk termenung. “Apakah

kamu

yang

bernama

Buncir?”

tanyanya. “Iya, Bapak, aku Buncir. Bapak siapa?” “Aku Lengser, aku membawa perintah raja untuk membawamu ke istana.” Tidak lama di perjalanan, sampailah keduanya di istana. “Benarkah kamu yang bernama Buncir?” tanya raja. “Benar Paduka, hamba Buncir dari Kampung Ciherang.” “Bagaimana kamu sampai ke kerajaanku? Ceritakanlah kepadaku!” Si Buncir kemudian menceritakan kisahnya sambil melagukannya dalam kawih. Aku menangkap ikan, mendapat anggayanggay, anggay-anggay dimakan ayam, mendapat ayam, ayam ditimpa alu, mendapat alu, alu diinjak 30

kerbau, mendapat kerbau, kerbau ditimpa limus, mendapat limus, limus dimakan putri, mendapat putri. “Jadi benar kamu meminta putriku sebagai pengganti limus yang dimakannya?” “Maaf, Paduka, benar hamba meminta putri sebagai pengganti limus-ku.” Raja

kembali

termenung.

Ia

kemudian

menyuruh si Buncir untuk keluar sambil menunggu keputusan Raja. Raja kemudian memanggil patih kerajaan. “Patih, kamu telah mendengar kisah si Buncir, bagaimana pendapatmu?” “Daulat Paduka, anak itu memang lugu dan jujur. Dia meminta putri bukan karena tahu bahwa dia putri Paduka. Dia tidak berharap mendapat kemewahan. Dia meminta putri karena dia telah memakan limus-nya. Jika yang memakan limusnya itu seorang putri petani yang miskin, tentu ia tetap akan meminta putri itu sebagai gantinya.” “Aku juga berpikir begitu, Patih.” 31

“Tetapi, Paduka, si Buncir memang tidak pantas bersanding dengan Tuan Putri.” “Itulah yang membuatku bingung.” “Jika aku tidak memenuhi permintaan si Buncir tentu aku dianggap sebagai raja yang tidak adil.” “Padahal,

bapakku

selalu

mengingatkan

bahwa raja adil, raja disembah, raja lalim, raja disanggah.” Raja termenung kembali beberapa saat, dalam hatinya ia bergumam. “Ya, Tuhan, setiap hari aku berdoa supaya diberikan menantu yang gagah dan tampan yang dapat menggantikanku sebagai raja.” Raja

akhirnya

sadar

takdir

tak

dapat

dimungkiri, kadar tak dapat dihindar. Ia meyakini bahwa semua ini tidak terlepas dari takdir Tuhan Yang Mahakuasa. Akhirnya,

Raja

mengajukan

penyelesaian.

Patih harus membawa si Buncir ke rumahnya dan dipelihara sebagaimana anaknya sendiri. Si Buncir harus diganti namanya menjadi Gandarasa. 32

Nanti, setelah dianggap tepat, raja dan patih akan berbesan, dengan menikahkan Putri Mayangsari dan Gandarasa. “Daulat Paduka, jika itu keputusan Tuan, hamba akan melaksanakannya,” ucap patih itu. Ki Lengser memanggil kembali si Buncir ke istana. si Buncir diberi tahu bahwa ia akan tinggal bersama patih sampai waktu yang tepat untuk menyerahkan sang putri.

33

7. GANDARASA Patih membawa si Buncir ke rumahnya. Istri patih kaget bukan main melihat suaminya membawa anak gundul berkulit hitam itu ke rumah. “Siapakah anak ini dan mengapa kau bawa ke rumah?” “Sssttt! Pelankan suaramu!” “Anak ini titipan raja. Rawatlah dia dengan baik!” jawab patih. Ia menceritakan apa yang terjadi kepada istrinya. “Jadi, ingat ya! Jika ada yang bertanya, katakan bahwa anak itu anak kita dan namanya adalah Gandarasa.”

34

35

Patih menghampiri si Buncir dan mengajaknya berbincang. Si Buncir mempertanyakan perlakuan patih. “Juragan, mengapa aku di bawa ke sini?” tanya si Buncir sambil menyapukan pandangan ke penjuru rumah yang besar itu. “Nak, aku belum memiliki anak. Kamu pasti bersedia jika kuanggap sebagai anakku sendiri, bukan?” “Tetapi, hamba kemari hanya untuk bekerja, mencari pengalaman.” “Tentu saja, kamu boleh bekerja, bahkan, di istana sekalipun, tetapi kamu harus tinggal dulu di sini, turuti dan patuhi apa yang kusampaikan dan kuajarkan kepadamu.” “Baiklah, juragan.” “Lalu, ingat satu hal! Perkenalkan dirimu sebagai anakku kepada siapapun.” “Baik, juragan!“ Sejak itu, tinggallah si Buncir di rumah patih. Setiap hari ia dimandikan. Badannya dibersihkan 36

dan dipelihara dengan baik-baik. Pakaiannya pun berganti dengan pakaian yang bagus sebagaimana pakaian anak-anak bangsawan. Patih

dan

istrinya

mengajari

Gandarasa

dengan berbagai pengetahuan dan ketrampilan. Mereka juga mengajari Gandarasa dengan aturan dan tata krama yang berlaku di istana Kerajaan Salaka. Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Sekian lama, Gandarasa tinggal di rumah patih. Ia menjelma menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan. Sikapnya terjaga sebagaimana seorang bangsawan.

37

8. PERNIKAHAN

Pada suatu hari, Raja Salaka memanggil patih ke istana. Ia bertanya tentang kabar Gandarasa. Patih lalu menceritakan semua hal tentang Gandarasa. Raja merasa senang mendengar kabar itu. “Jika demikian, kini saatnya sudah tepat untuk mempertemukan Gandarasa dan putriku, Patih.” “Daulat Tuanku!” Patih merasa senang dengan keputusan raja. Ia segera pulang ke rumah untuk mengabari istri dan anaknya. “Istriku! Kemarilah!” “Apa gerangan kabar yang kaubawa suamiku? Wajahmu tampak senang sekali.” “Aku membawa kabar gembira, istriku!” 38

“Raja,

telah

memutuskan

untuk

segera

menikahkan putrinya dan Gandarasa.” “Jika demikian, Gandarasa harus segera mengetahuinya.” “Tentu saja, istriku. Panggil dia!” “Gandarasa.... kemarilah!” Tak lama kemudian Gandarasa segera menemui kedua orang tuanya itu. “Gandarasa! Raja telah memutuskan untuk menikahkanmu

dengan

putrinya.

Bagaimana

menurutmu?” “Hamba

menyerahkan

nasib

hamba

sepenuhnya.” “Baiklah jika demikan, besok akan kusampaikan kepada raja bahwa Ananda sudah siap meminang putrinya.” Keesokan harinya, patih menemui raja. Ia menyampaikan kemudian

kesiapan

membicarakan

Gandarasa. rencana

Mereka

pernikahan

Gandarasa dan Putri Mayangsari. Mereka sepakat

39

pernikahan

akan

diselenggarakan

seminggu

kemudian. Patih dan istrinya segera mempersiapkan semua keperluan untuk pernikahan. Istri patih menyiapkan berbagai barang yang bagus dan indah sebagai mas kawin dan pemberian untuk putri raja. Sementara itu, patih mengajari dan menasihati Gandarasa cara berperilaku di lingkungan istana dan berbagai kepatutan sebagai menantu raja. Beberapa hari sebelum pernikahan, para pegawai istana mulai sibuk mempersiapkan pesta pernikahan. Panggung besar didirikan di alun-alun depan istana. Gapura dan sisi-sisi istana berhias bunga dan berbagai hiasan lainnya. Seminggu

kemudian,

pernikahan

digelar.

Istana tampak semarak berhias bunga dan berbagai hiasan khas pesta pernikahan. Gandarasa dan Putri Mayangsari bersanding di pelaminan. Berbagai upacara adat dan ritual keagamaan digelar mengiringi upacara pernikahan supaya pesta berlangsung aman dan pengantin diberkati 40

Tuhan Yang Mahakuasa. Setelah berbagai upacara terlewati, raja resmi menikahkan Gandarasa alias si Buncir dengan Putri Mayangsari. Alun-alun ramai dan penuh sesak. Rakyat berjejal untuk menyaksikan sepasang pengantin yang cantik dan gagah. Mereka turut bergembira dan berbahagia dengan pernikahan anak raja yang mereka hormati. Raja menetapkan selama seminggu akan digelar berbagai hiburan dan keramaian di alunalun. Berbagai kesenian dan hiburan digelar bergantian. Hari pertama dipertunjukkan kesenian wayang golek oleh dalang Kerajaan Salaka. Hari kedua digelar kesenian calung. Hari ketiga dipertontonkan kesenian ronggeng. Hari keempat para penari menarikan tari ketuk tilu dan tari topeng. Hari kelima rakyat mempersembahkan tarian panen padi. Sebagai penutup, digelar kembali wayang golek selama dua hari berturutturut. Rakyat sangat senang dan turut bergembira.

41

Raja resmi menikahkan Gandarasa alias si Buncir dengan Putri Mayangsari. Setelah itu, Raja juga mengumumkan bahwa ia menyerahkan kerajaan kepada Gandarasa. Ia merasa sudah tua dan memutuskan untuk menyepi dan menjadi begawan. Meriam dibunyikan berkali-kali sebagai tanda penobatan tersebut.

42

9. PENOBATAN RAJA

Sebulan sudah pernikahan Putri Mayangsari dan

Gandarasa.

Mereka

masih

menikmati

kebersamaan mereka di istana. Putri Mayangsari benar-benar tidak mengenali Gandarasa yang aslinya adalah si Buncir. Suatu hari seperti biasa, raja duduk di singgasana.

Ia

memanggil

permaisuri

dan

berbincang dengannya. “Istriku,

ada

yang

hendak

kusampaikan

padamu.” “Daulat

suamiku,

apa

gerangan

yang

kaupikirkan?” “Aku merasa usiaku sudah tua untuk memimpin kerajaan ini.”

43

“Aku hendak menyepi, mendekatkan diri pada Tuhan Yang Mahakuasa.” “Bagaimana menurutmu, istriku?” “Daulat rajaku yang berwibawa, suamiku yang kusayang, apa pun keputusanmu, akan selalu kujunjung tinggi.” “Terima kasih, istriku, tampaknya ini saat yang tepat untuk meninggalkan istana. Biarlah anak-anak kita yang akan meneruskan Kerajaan Salaka ini.” Permaisuri menyampaikan sembah dan segera beranjak dari hadapan raja. Raja segera memanggil patih dan para pembantunya. Raja

menyampaikan

maksudnya.

Mereka

semua dimintai pendapatnya. Pada dasarnya tentu mereka mendukung niat dan maksud raja. Ada yang meragukan kesiapan pewaris kerajaan. Namun, kebanyakan mereka menyampaikan bahwa Gandarasa sudah mampu untuk meneruskan kepemimpinan di Kerajaan Salaka.

44

Setelah berembuk cukup lama, raja semakin yakin dengan keputusannya. Ia segera menyuruh pegawai

istana

untuk

mempersiapkan

acara

penobatan raja baru. Raja segera memanggil Gandarasa dan Putri Mayangsari.

Raja

menyampaikan

maksudnya

untuk segera mewariskan tahta Kerajaan Salaka. “Anakku, Gandarasa dan Mayangsari! Ayah merasa sudah saatnya mendekatkan diri pada Tuhan Yang Mahakuasa. Aku sudah memutuskan untuk menobatkan kalian sebagai raja dan ratu di Kerajaan Salaka.” “Daulat Ayahanda, sebagai anak dan menantu, hamba menjunjung semua keputusan Paduka,” sembah Gandarasa. “Baiklah,

persiapkan

diri

kalian

untuk

penobatan besok!” Mereka menyampaikan sembah dan segera berlalu dari hadapan raja.

45

Keesokan hari, istana sudah dipersiapkan untuk acara penobatan. Rakyat sudah berkumpul di alun-alun untuk menyaksikan penobatan itu. Raja keluar dari istana menuju pendopo yang menghadap ke alun-alun. Raja mengumumkan bahwa

ia

menyerahkan

kerajaan

kepada

Gandarasa. “Rakyatku sekalian, cepat atau lambat hari seperti ini akan datang juga. Aku merasa hidupku sudah cukup untuk memimpin kalian. Aku akan menyepi di tempat baru. Aku akan menghabiskan sisa usiaku untuk beribadah dan berbakti kepada Sang Maha Pencipta.” Rakyat menunjukkan kesedihan mendengar kata-kata raja mereka. Raja yang mereka patuhi bukan karena takut, melainkan karena sifatnya yang melindungi dan mengayomi. Tentu mereka akan merasa kehilangan. “Aku

memutuskan

kepemimpinan

kerajaan

46

untuk ini

mewariskan

kepada

anakku,

Gandarasa. Dengan ini sekaligus kunobatkan Gandarasa sebagai Raja Salakanagara.” Raja

kemudian

melepas

mahkota

dan

memasangkannya di kepala Gandarasa. Ia juga menyerahkan pedang pusaka kerajaan kepada Gandarasa.

Seketika

itu,

meriam

dibunyikan

berkali-kali sebagai tanda penobatan tersebut. Sehari setelah penobatan, raja tua dan permaisuri meninggalkan istana. Mereka menuju ke sebuah padepokan yang telah disiapkan di pinggiran kerajaan. Sejumlah prajurit dengan setia mengikuti untuk menjaga keselamatan raja dan permaisuri. Raja menjalani kehidupan seharihari sebagai begawan di padepokan tersebut.

47

10. PERTEMUAN KEMBALI

Sejak

pernikahan,

Gandarasa

dan

Putri

Mayangsari tinggal di istana. Mereka menggantikan raja dan ratu memerintah di Kerajaan Salaka. Mereka memerintah dengan adil dan bijaksana. Beberapa saat setelah kepergian orang tuanya, Mayangsari merasakan kehilangan. Sejak kecil ia tidak terbiasa berpisah dengan mereka. Akan tetapi, kehadiran Gandarasa dapat membuat perasaannya menjadi tenang. Gandarasa

dan

Mayangsari

memerintah

dengan adil dan bijaksana. Mereka mengayomi rakyatnya sebagaimana raja terdahulu. Bahkan, rakyat merasakan kehidupan mereka semakin aman dan tenteram. Sudah

beberapa

tahun

sejak

Gandarasa

menjadi raja Kerajaan Salaka, bayangan bapak dan 48

kampung halamannya mulai sering mengganggu pikirannya. Ia berpikir untuk menemui bapaknya. Suatu hari, Mayangsari terbangun dari tidur dan tak mendapati suaminya. Ia segera keluar dari kamar dan mendapati suaminya sedang duduk termenung sendiri. Raut mukanya terlihat sedih. “Suamiku, apa gerangan yang kaupikirkan?” tanyanya. “Istriku, entah mengapa, aku teringat bapakku di Ciherang.” “Sekian lama aku meninggalkan bapakku dan kini rindu menderaku.” “Mengapa risau, suamiku? Undanglah bapak ke istana.” “Hmmm,

jika

bapak

mendengar

kisahku,

mungkinkah ia memercayai apa yang kualami?” “Mungkinkah ia akan mengingatku dan mau menemuiku?” Demikian gumamnya dalam hati. Setelah sekian lama berpikir, ia akhirnya menyetujui usul istrinya. Ia akan menyuruh Ki Lengser untuk menemui bapaknya. 49

Gandarasa menyetujui usul istrinya. Ia segera memanggil Ki Lengser ke istana. Ia menyuruh Ki Lengser untuk pergi ke Kampung Ciherang dan mengajak bapaknya ke istana. “Ki Lengser, hari ini juga harus pergi ke Kampung Ciherang!” “Daulat Tuanku.” “Cari orang tua yang bernama Ki Jukut. Katakan dia diundang dan ajak dia ke istana!” “Baik, Paduka, hamba segera berangkat.” Tanpa

menunda

waktu

lagi,

Ki

Lengser

segera berangkat menuju Kampung Ciherang. Ia mengendarai kuda terbaik dan dua prajurit mengawalnya. Berhari-hari Ki Lengser dan pengawalnya menembus rimba belantara yang menjadi pemisah Kerajaan

Salaka

dan

Ciherang.

Sepanjang

perjalanan, mereka hanya beristirahat untuk makan dan tidur. Mereka ingin segera sampai di tempat tujuan.

50

Sesampainya di Kampung Ciherang, Ki Lengser segera mencari rumah Ki Jukut. Tentu tidak sulit menemukan rumah gubuk di antara rumah-rumah bagus di Ciherang. Ia lalu menuju rumah Ki Jukut. “Sampurasun,” salam Ki Lengser. “Rampes,” terdengar jawaban dari dalam rumah. Pintu terbuka dan seorang tua keluar dari dalam rumah. Ki Jukut merasa ketakutan melihat orang tak dikenal dengan pakaian kerajaan dan senjata di pinggang. Dengan sedikit gemetar, ia memberanikan diri untuk bertanya. “Juragan siapa dan ada keperluan apa?” “Saya Ki Lengser dari Kerajaan Salaka. Saya diperintahkan raja untuk menjemput dan membawamu ke istana.” “Hah? Ke istana? Ada apa gerangan?” Kaget bukan main Ki Jukut mendengarnya. “Ceritanya panjang, sudahlah, kita berangkat sekarang juga!”

51

“Salah apa hamba, juragan?” tanya Ki Jukut dengan suara gemetar. “Kamu tidak salah apa-apa. Kamu ikut saja, aku tidak akan mencelakaimu!” “Ba....ba...baik,

juragan.

Izinkan

saya

menyiapkan diri.” Dengan ketakutan dan penuh pertanyaan dalam benaknya, Ki Jukut segera masuk dan berkemas. Tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, ia segera mengikuti Ki Lengser menuju ke Kerajaan Salaka. Tunda kisah mereka di perjalanan. Akhirnya, mereka sampai juga di Kerajaan Salaka. Ki Lengser segera menghadap raja. “Daulat Tuanku, hamba telah melaksanakan tugas. Ayahanda Paduka sudah ada di istana.” “Mengapa tidak segera kaubawa masuk?” Ki Lengser segera meninggalkan raja dan menemui Ki Jukut. Ki Jukut dibawa dan dihadapkan ke hadapan raja.

52

Dengan suara gemetar karena perasaan takut dan wajah tertunduk tak berani menatap wajah raja, Ki Jukut bertanya. “Ampun, Paduka, kesalahan apa yang telah hamba

lakukan

sehingga

Paduka

memanggil

hamba?” Raja Gandarasa tersenyum. Ia segera turun dari singgasana. Ia menghampiri dan memegang pundak Ki Jukut. “Bapak, lihatlah aku!” Gandarasa bertemu kembali dengan ayahnya. Dengan ragu-ragu, Ki Jukut mengangkat mukanya dan menatap wajah raja. “Bapak tidak mengenaliku?” Ki Jukut hanya menggelengkan kepala. Tak sepatah kata pun terucap dari mulutnya. “Aku Buncir, Bapak!” Ki Jukut memandang kembali dalam-dalam wajah raja. “Buncir? Buncir? Benarkah kau Buncir?”

53

“Iya, Bapak, ini aku, anakmu. Bertahun-tahun lalu aku meninggalkan Bapak dan tiba di Kerajaan Salaka.” “Siapakah orang tua itu? Mungkinkah itu bapak suamiku?” gumam Mayangsari sambil berjalan menghampiri mereka. Melihat segera

kedatangan

memanggil

istrinya,

dan

Gandarasa

memperkenalkannya

kepada bapaknya. “Bapak, ini anakmu, istriku, putri Raja Salaka terdahulu.” Manyangsari bersimpuh dan menyampaikan sembah hormat kepada Ki Jukut. Mereka Perpisahan

berpelukan

sambil

bertahun-tahun

menangis.

menyebabkan

air

mata tertumpah karena rasa rindu. Raja Gandarasa alias si Buncir menceritakan perjalanan hidupnya sejak meninggalkan Ciherang sampai ia menjadi raja di Kerajaan Salaka. “Syukurlah, kebahagiaan.

Nak!

Hidupmu

Bertahun-tahun, 54

bapak

bertemu merasa

kehilanganmu. Bapak selalu berusaha mencari kabar tentangmu. Tak sepotong berita pun kudengar. Kau hilang bagai ditelan bumi.” “Iya, Bapak. Maafkan aku. Meskipun tak mengabari, aku tak pernah melupakan Bapak. Aku selalu mendoakan Bapak selalu sehat.” Obrolan tiada habis-habisnya sebagai pelepas rindu antara bapak dan anak itu. Ki Jukut kemudian dipersilahkan untuk memasuki kamar yang telah disiapkan.

55

11. AKHIR YANG BAHAGIA

Begitulah, meskipun telah menjadi raja, si Buncir tidak menjadi sombong dan tinggi hati. Ia tetap jujur dan sederhana. Ia masih tetap mengakui bapaknya yang miskin. Sejak pertemuan itu, mereka hidup bersama dan berkumpul kembali di istana Kerajaan Salaka. Mereka pun kemudian hidup bahagia di istana. Kehadiran Ki Jukut di istana akhirnya diketahui juga oleh rakyat Salaka. Mereka akhirnya mengetahui bahwa raja mereka berasal dari kalangan miskin seperti rakyat kebanyakan. Hal itu tidak membuat kewibawaan Gandarasa berkurang. Rakyat bahkan semakin bangga dengan raja mereka. Raja mereka seorang yang jujur dan apa 56

adanya sehingga kepemimpinannya pun sederhana. Mereka bahkan yakin dengan latar belakang itu, raja mereka akan semakin memahami kehidupan rakyat. Gandarasa dan Putri Mayangsari pun memerintah dengan adil bijaksana. Rakyat pun hidup sejahtera dan damai. Demikianlah, Kerajaan Salaka semakin termasyhur

dengan

kedamaian

dan

kearifan

pemimpinnya. Begitulah, meskipun telah menjadi raja, si Buncir tidak menjadi sombong dan tinggi hati. Ia tetap jujur dan sederhana. Sejak itu, mereka hidup bersama dan berkumpul kembali di istana Kerajaan Salaka. Mereka pun kemudian hidup bahagia di istana. Gandarasa dan Putri Mayangsari memerintah dengan adil bijaksana. Rakyat pun hidup sejahtera dan damai.

57

58

Glosarium anggay-anggay : sejenis serangga, termasuk famili oryllotalpidae jukut

: rumput

juragan

: tuan, sebutan untuk orang yang dihormati

kang

: kependekan dari akang, sebutan untuk kakak laki-laki atau laki-laki yang lebih tua

limus

: jenis mangga yang

lisung

: lesung, penumbuk padi

peuyeum

: tape, singkong yang dipermentasikan sehingga teksturnya menjadi lembut dan manis.

59

Biodata Penulis Nama lengkap : Asep Rahmat Hidayat, S.S., M.Hum. Pos-el

: [email protected]

Bidang keahlian : bahasa dan sastra Riwayat pekerjaan/profesi 1. 2003--2016: PNS di Balai Bahasa Jawa Barat 2. 2014: Pengajar Bahasa Indonesia di Balai Diklat Keuangan, Cimahi, Jawa Barat 3. 1998--2004: Guru Bahasa dan Sastra Indonesia di MTs dan MA Tjokroaminoto, Garut, Jawa Barat Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar: 1. S-2: Jurusan Susastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia (2007--2009) 2. S-1: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran (1995--2000)

60

Judul Buku dan Tahun Terbit 1. Penelitian Kekerabatan dan Pemetaan Bahasa Bahasa di Wilayah Jawa Barat dan Banten Tahun 2007, Balai Bahasa Bandung, ISBN 978-979-685698-5 (ditulis bersama tim). 2. Ikhtisar Perkembangan Sastra Sunda: Periode Prakemerdekaan dan Pascakemerdekaan, Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat, 2013, ISBN 978-6021686-01. 3. Teroka Bahasa: Untaian Artikel

Kebahasaan di

Media Massa, Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat, 2012, ISBN 978-602-18382-1-1. Informasi Lain: Lahir di Garut, 09 November 1976. Menikah dan dikaruniai empat anak. Saat ini menetap di Bandung. Sehari-hari bekerja sebagai peneliti muda, penyunting di Jurnal Metasastra, penyuluh bahasa dan sastra, ahli bahasa dalam kasus-kasus pidana, dan pendamping bahasa untuk penyusunan dokumen di berbagai instansi di Jawa Barat.

61

Biodata Penyunting Nama lengkap : Drs. Sutejo Pos-el : [email protected] Bidang keahlian : Bahasa dan sastra Riwayat pekerjaan/profesi 1. 1993, Bidang perkamusan dan peristilahan, Pusat Bahasa 2. 2013—sekarang Kepala Subbidang Pengendalian, Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Riwayat Pendidikan Tinggi S-1 Program Studi Bahasa Indonesia universitas Jember Judul Buku dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir) 1. Tim Penyusun KBBI edisi III 2. Penggunaan istilah politik dalam propaganda politik (Seminar nasional DPR di UMS tahun 1995) 3. Penulis buku Bahasa Indonesia SMP kelas 7—9 kurikulum 2013. Informasi Lain: Dilahirkan di Ponorogo pada tanggal 30 November 1965 62

Biodata Ilustrator Nama

: Evelyn Ghozalli, S.Sn. (nama pena EorG)

Pos-el

: [email protected]

Bidang Keahlian : Ilustrator Riwayat Pekerjaan 1. Ilustrator dan desainer buku lepas untuk lebih dari lima puluh buku anak yang terbit di bawah nama EorG (2005--sekarang) 2. Pendiri dan pengurus Kelir Buku Anak (kelompok ilustrator buku anak Indonesia), (2009--sekarang) 3. Creative Director & Product Developer di Litara Foundation (2014--sekarang) 4. Illustrator Facilitator untuk Room to Read - Provisi Education (Januari--April 2015) Riwayat Pendidikan S-1 Desain Komunikasi Visual, Institut Teknologi Bandung Judul Buku dan Tahun Terbit 1. Seri Petualangan Besar Lily Kecil (GPU, 2006) 2. Dreamlets (BIP, 2015) 3. Melangkah dengan Bismillah (Republika-Alif, 2016) Informasi Lain Sebagai ilustrator, Evelyn Ghozalli atau lebih dikenal

63

dengan nama pena EorG telah mengilustrasi lebih dari lima puluh cerita anak lokal. Dalam menggeluti profesinya sebagai ilustrator, Evelyn mempelajari keahlian lain seperti mengonsep, mendesain, dan menulis buku anak secara autodidak. Beberapa karya yang telah diilustrasi Evelyn antara lain adalah Seri Petualangan Besar Lily Kecil (GPU), Dreamlets (BIP), Dari Mana Asalnya Adik? (GPU), Melangkah dengan Bismillah (Republika), Taman Bermain dalam Lemari (Litara), yang mendapat penghargaan di Samsung KidsTime Author Award 2015, dan Suatu Hari di Museum Seni (Litara), yang juga mendapat penghargaan di Samsung KidsTime Author Award 2016. Lulusan Desain Komunikasi Visual ITB ini memulai karirnya sejak tahun 2005 dan mendirikan komunitas ilustrator buku anak Indonesia bernama “Kelir” pada tahun 2009. Saat ini Evelyn aktif di Yayasan Litara sebagai divisi kreatif dan menjabat sebagai Regional Advisor di Society Children’s Book Writer and Illustrator (SCBWI) Indonesia. Karyanya bisa dilihat di AiuEorG.com.

64