Data Loading...

5.5 salsa Flipbook PDF

5.5 salsa


118 Views
97 Downloads
FLIP PDF 33.33MB

DOWNLOAD FLIP

REPORT DMCA

Blok 5.5 Dermato dr.Oke

Sabrina Salsabila G1A017013

INSECT BITE, ZOONOSIS dr. Ismiralda Okke, SpKK

n Bentol : digaruk semakin lebar, karena merupakan edema setempat. UKK = urtikaria. n BIntil : sesuatu yang padat, bisa timbunan metabolic atau hyperplasia. UKK = papul

A. Arthropoda Bites Semua jenis hewan ini bisa menyebabkan kelainan di kulit a. Black widow bites = menimubulkan reaksi paling berat. à acute abdomen = gejala seperti apendisitis, meningitis (kaku kuduk +), kejang (tetanus), sakau, gejala gagal gnjal akut (edema, urin sedikit), serangan jantung (nyeri dada) b. Brown = gejala seerti dermatitis kontak, edema padakaki, berbenjol benjol (pyoderma gangrenosum), echyma trauma c. Scorpion bite = gejala seperti Sndroma Guilain Barrea (lumpuh dari bawah ke atas), keracunan organofostat (sesak napas) d. Ceripate / kelabang = selulitis (kaki bengkak, merah, seperti gajah) e. Milipada = seperti dermatitis kontak, pada mata menjadi konjungtivitis karena menghasilkan toksin f. Insekta / serangga = kaki nya 3 pasang. Contoh : nyamuk. Gejala menimbulkan punktum. g. Hyomanoptera h. Lepidroptera B. Insect Bite Ø Karekteristik -

Menggigit area terbuka (tidak tertutup pakaian)

-

Urtikaria papuler (kecil-kecil) à jika papul digaruk akan semakin lebar

-

Ada bekas tusukan yang akan menimbulkan vesikulasi di bawahnya à puncak ada punktum nya à ada kehitaman di tengah lesi bekas gigitan serangga

-

Jika terjadi pada orang hipersensitif, akan menyebabkan gejala hipersensitivitas. à liken urtikatus (gatal kronik, kaki tampak seperti orang korengan) à gigitan hanya di satu sisi tubuh tapi reaksi luas

Ø Tata laksana 1. Terapi Kortikosteroid topical Ada 7 kelas kortikosteroid (mild, mild moderate, mild potent, potent, super potent) Untuk kasus ini gunakan kortikosteroid mild potent. Jika area luas à idealnya diberikan lotion Tapi kortikosteroid hanya ada krim dan salep. Pilih : AKUT à KRIM (papul eritema) à jika diberi salep saat masih basah akan lama sembuhnya KRONIK à SALEP (jika ada likenifikasi, tidak ada tanda peradangan akut, tidak ada kemerahan) à karena salep sifatnya oklusif / mengeringkan pada lesi yang kering penetrasi obatya lebih baik (karena menutup) Jika liken urtikatus cukup luas dan banyak bisa diberikan kortikosteroid sistemik 2. Edukasi •

Gunakan pakaian tertutup



Gunakan lotion anti serangga / repellent

C. Diagnosis a. Anamnesis WAJIB à Apakah ada kontak dengan serangga/tidak à hobi (kegiatan outdoor, baju terbuka, tidak menggunakan obat nyamuk) Apakah ada riwayat alergi à jika ada liken urtikatus (riwayat alergi pada mata, tht, respi, saluran cerna, dll) D. Infestasi Parasit (Zoonosis) Ø Khusus di kulit, zoonosis adalah penykit kuit yang dsebabkan oleh infestasi parasite Ø Klasifikasi 1. Arthropoda a. PEDIKULOSIS Etiologi : pediculus humanis var. capitis et corporis

1) Capitis à kutu rambut ETiologi Pedikulosis humanis capitis Penyakit rombongan. Keluhan : gatal di kepala, terasa seperti ada yang berjalan-jalan di atas kepala, tampak putih-putih melekat pada rambut (telurnya / lisa), kutu terlihat 2) Corporis Etiologi Pedikulosis humanis corporis Keluhan : Gatal di badan/daerah lipatan baju (dada, ketiak, lengan, daerah lipatan celana) à kutu nya berada di daerah lipatan baju Tanda : tampak seperti gigitan serangga di daerah lipatan baju Terjadi pada orang yang higienitas nya buruk (pakaian tidak di cuci lama, celana jins paling sering) 3) Pitiriasis Pubis Etiologi Ptirus pubis Keluhan : gatal di area kemaluan, ada bercak kehitaman pada celana dalam / Black dott (khas), Px fisik : papul eritema, macula serule (bercak keabu-abuan pada area pubis) b. SKABIES (gudikan) Gejala : gatal terutama malam hari, predileksi gatal di semua area yang kulitnya tipis (terutama sela jari, periumbilikal, daerah inguinal, lipatan payudara, ketiak), ada gejala yang sama pada orang yang tinggal bersama (pesantren, rumah, kost) PF : kanalikuli. Ingat! Ini tidak mudah terlihat karena kebanyakan membentuk sumur ke bawah kulit. Jika ingin mencari sumurnya lakukan pemeriksaan Purin test PP : kerokan kulit apakah ada tungau, telur, atau kotorannya à Dx pasti Varian klinis 1) Skabies Ineklin

Terjadi pada ornag higieitas baik, gejala khas gatal malam hari pada tempat predileksi sangat jelas, bisa ada ketrlibatan keluarga atau tidak, tidak ada gambaran klinis khas. HANYA GEJALA GATAL MALAM HARI APDA LIPATAN KULIT TANPA ADA LESI KULIT. Ini adalah scabies yang telah mengalami 2) Scabies incognito Tanda klinis yang hamper hilang karena sudah diobati oleh obat kortiksteroid sendiri, tapi tidak sembuh. 3) Scabies in Elderly Semakin tua maka kulit semakin tipis, gejala klinis bisa meluas ke hamper seluruh tubuh (kepala dan tubuh) 4) Scabies in Infant and Children Saat masih muda karena kulit nya masih tipis 5) Norwegian scabies Lesi scabies berkrusta, pada orang higienitas buruk, sanitasi rendah UKK : krusta tebal à sumber utama penyebaran scabies (biasnya tungau nya sampai ribuan) 6) Scabies nodularis Bentuk scabies yang disertai reaksi hipersensitivitas. Reaksi orang berlebiha terhadap tungau, telur, dll. Lesi nodul-nodul di pergelangan tanga, perut, lipatan paha Sering terjadi pada laki-laki yang mengenai skrotum, akan timbull rx hipersensitivitas bernodul-nodul. 7) Scabies yang ditularkan binatang Gejala klinis sangat hebat à lebih gatal, lebih mengganggu, tapi lebih responsive teradap pengobatan, sekali pake obat langsung menghilang Tata laksana 1) Permethrin 5% Capitis à ditutup plastic semaleman Corporis dan skabies à dioleskan seluruh tubuh, didiamkan 8 jam, diulang seminggu kemudian (karena siklus hidup etiologi nya muncul lagi).

Semua oranng disekitar yang kena scabies harus di obati karena nanti bisa reinfestasi. Kalo permethrin nya jarang karena gagal pengobatan tapi karena reinfestasi. 2) Gamexan Tidak boleh pada ibu hamil, bayi, anak-anak < 10 tahun karena nefrotoksik Digunakan 3x24 jam (tidak user friendly, karena harus terus menerus bau belerang) 3) Chrotamiton 10% Lini kedua pedikulosis kapitis 2. Nematoda 1) Cutaneus Larva Migran •

Etiologi : Ancylostoma duodenalis dan ..



Riwayat kontak dengan tanah ada feses kucing / anjing, kelok kelok kecil (knalikuli) hanya 4-5 mm per hari



Larva tidak bisa menmbus dermis dan darah, kalo jenis lain bisa



Creeping eruption (+)

2) Larva kuren •

Kanalikuli kelok kelok 10 mm per jam karena pergerakan nya sangat cepat menghasilkan creeping eruption (lesi kanalikuli)



Etiologi : Stroingiloides stercoralis



Creeping eruption (+)

3) Kaki gajah / filariasis limfatik •

Awal : terjadi limfangitis (bengkak hilang2)



Akhir : mengalami striktur à limefema



PF : px darah tepi dini hari( mikrofilaria )



Tata laksana : irvekmektin 20mg (ini di indonesia adanya buat hwan), yang disini diberikan dietilkarbamazepin

3. Protozoa 1) Amubasis •

Gejala



Pathogenesis : diare karena amuba, ada luka di pantat trus masuk à ulkus (PRIMER), kalo SEKUNDER karena dari penyakit lain atau alat keodkteran (abses hepar pecah,



UKK : bau busuk , purulent, progresif



Disertai limfadenopati



Terapi : metronidazole 10 hari

2) Trikomoniasis •

Keluhan : keputihan kuning kehijauan dan berbusa, bau busuk seperti cucian basah, pruritus, disparemia (nyeri saat berhubungan)



PF : strawberry cerviks appearance



Dx : ambil fornix posterior à preparat NaCl à positf di mikroskop



Tichomonas vaginalis



Berbuih karena gerakan flagel nya



Tata laksana metronidazole 7 hari

Tomcat : dermatitis kontak iritan, karena menghasilkan toksin dan toksin nya merusak kulit. PENTING : Siklus hidup, fase yang menyebabkan gejala klinis. Yang kira-kira ada pathogenesis nya dipejalari dengan baik!!! SOCA!!!!!!!

DERMATOMIKOSIS dr. Ismiralda Oke Putrianti, SpKK

n Infeksi kulit akibat jamur n Dermatofitosis : infeksi jamur pada kulit yang disebabkan oleh jamur dermatofita. n Dermatofita : Punya enzim keratinase yang dapat mencerna keratin. Keratin ada di stratum korneum à dematofita Cuma ada di sana (tipe jamur superficial) n Jamur dermatofita : -

Trichophyton

-

Microsporum

-

epidermopyhton

n Tinea capitis = kecuali epidermophyton A. Klasifikasi Berdasarkan penyerangannya : 1) Superficial Ø Sebatas kulit saja (stratum korneum) Ø Jenis : a. Dematophyta -- tinea b. Non dermatophyta -

Pitiriasis Versikolor

-

Piedra hitam

-

Piedra putih

-

Tinea nigra palmaris

-

otomikosis

2) Intermedia -- candidiasis Ø Mengenai kulit, mukosa, dapat beredar ke seluruh tubuh, dapat menginvasi organ. 3) Profunda Ø Dapat menembus kulit sampai jaringan di bawahnya (dermis, subcutan, fascia otot, tulang)

Ø Jika terhidup dapat bermanifestasi ke organ dalam Berdasarkan asal penularan jamur à untuk mengetahui fktor prediposisi 1) Geofilik / Tanah 2) Zoofilik / binatang 3) Antripofilik / manusia B. Faktor predisposisi 1. Internal -

Kegemukan (obesitas)

-

Pemakaian obat dalam waktu lama Ex : peny. Autoimun, metabolic, kortikosteroid, antibiotik, pil KB

-

Penyakit kronis à imun turun à fx kulit menurun à mudah infeksi jamur Ex : keganasan, TB

-

Hormonal Ex : DM, kehamilan

2. Eksternal -

Udara panas, lembab

-

Higienitas rendah

-

Sanitasi rendah

-

Sosek rendah

-

Pekerjaan / kebiasaan à berapa lama bekerja, ruanganya bagaimana, ventilasi dll

-

Bahan dan jenis pakaian yang dipakai. Tinea corporis, pitiriasis versikolor à Tanya baju bahan apa, lama pemakaian baju, dll.

C. Pathogenesis 1. Abrasi kulit / adanya trauma à defek. pada kulit à peningkatan hidarasi kulit à Maserasi (lecet) à Gangguan barrier st korneum à Elemen jamur masuk à Bermanifestasi. Ex : dermatofitosis & kromoblatomikosis 2. Menghisap elemen jamur Melalui saluran pernapasan

Ex : histoplasmosis 3. Kontak langsung Ex : dermatofitosis, kandidosis 4. Kontak tidak langsung Ex : ptiriasis versicolor, dermatofitosis D. Diangnosis penunjang 1. WOOD LAMP Ø Sifat non invasive Ø Adalah lampu ultraviolet yang dapat menimbulkan flourosensi. Ø Jika terkena elemen jamur dapat berpendar à Pada kasus hanya pitiriasis versikolor dan tinea capitis. Ø Untuk t. corporis dan t. cruris boleh digunakan ini asalkan punya diagnosis banding dengan eritrasma. o t. cruris : tidak akan berpendar elemen jamurnya, api pada o eritrasma : berpendar berwarna merah muda 2. Preparat langsung Mengerok kulit àKOH 10-20% Mengerok kuku/rambut àKOH 40% a. Pitiriasis versikolor hifa pendek besepta + spora pendek bergerombol (spaghetti and meatball) b. Dermatofitosis Hifa panjang bersepta c. Candidiasis : pseudohifa & yeast 3. Kultur jamur Ø Media MSA terbanyak à muncul dalam 1 minggu dalma suhu ruangan Ø Perhatikan = makroskopis, mikrokopis dengan pengecatan LPCT (lacto phi… cotton blue) Ø Dibedakan dari makrokonidia nya ( spora besar ) à ada yg bentukknya cerutu, gajah à membedakan jenis jamurnya. 4. Biopsy histopatologi Ø Untuk infeksi jamur profunda

Ø Pewarnaan PAS, HE à mewarnai dinding elemen jamur 5. Reaksi imunologis Ex : rx trikofiton, histoplasmin 6. PCR (polimerase chain reaction) Ø Digunakan jika tidak sembuh dengan pengobatan yang adekuat à curiga yang lain 1. Dermatomikosis superficial A. Non Dermatophyta a. Pitiriasis Versikolor -

Etiologi : Malasezia furfur / ptyriosporum orbiculare / ptyriosporum ovale

-

KU : gatal terutama bila berkeringat / lembab / beraktivitas

-

Tanda : bercak-bercak berwarna putih / merah / hitam, eritema

-

UKK : makula, plak, hiper/hipopigmentasi/eritem, skuama halus (KHAS pada karakteristik Pitiriasis), macula eritema berbatas tegas dengan skuama halus.

-

Malasezia merupakan flora normal kulit, terjadi over karena : Ø Karena kadar lemak bebas tinggi à tumbuh subur à berkoloni à menghasilkan asam dekarboksilat dan asam asilait à menghambat melanogenesis à tampak kulit menjadi lebih terang / hipopigmentasi. Jika jumlahnya banyak akan mematikan melanosit à hipopigmentasi nya permanen Ø Karena bergerombol dan membentuk kokloni di kulit à memberikan efek payung pada kulit à jika terkena matahari akan terlihat lebih terang dbanding area kulit lainnya yang normal Eritema à tanda inflamasi. Karena kulitnya tipis dan kolonisasi lebih dalam à rx inflamasi à tampak kemerahan Hiperpigmentasi à lanjutan pascainflamasi à tanda peradangan berkurang à rx hiperpigmentasi.

-

Penyebarannya secara tidak langsung.

Contoh : berenang. à sabun antijamur selama 5 – 10 menit à bilas Px Penunjang : 1) Lampu wood à berpendar, kuning keemasan ( + ) 2) Lab Kerokan à KOH à hifa pendek bersepta dengan spora peendek bergerombol à gambaran spaghetti and meatball Kultur Sabaour Agar harus ditambahkan dengan Koleukokos à KHAS DD (jika ada yang merah-merah) : i.

Psoriasis gutata seperti tetesan air + tanda pitiriasis à skuama, skuama dikit pada titik tengahnya, jika di kelupas akan muncul bintik perdarahan à tanda Auspitz.

Fenomena koebner dan tetesan lilin à hanya bsa dilakukan pada pitiriasis tipe luas. ii.

Pitiriasis rosea Etio : infeksi virus, human herpes virus tipe 6 ada lesi inisial plak eritem batas tegas dengan lesi numuler / anuler Herald Patch (inisial) memudar diikuti erupsi kecil-kecil mengikuti garis lipatan kulit à bentuknya lonjong-lonjong. Di punggung : Pohon Cemara Terbalik (lanjutan) Manifestasi klinis : gejala prodromal (demam, flu)

iii.

Sifilis psoriasisformis / sifilis sekunder Kecil dan menonjol / papul, mirip dnegan psoriasis gutata. Khas sifilis : selalu disertai pembesaran kelenjar getah bening generalisata. Riwayat

luka

di

kemaluan

yang

tidak

nyeri.

iv.

Lepra makula hipopigmentasi Lepromatosa = bercak putih hampir seluruh tubuh. harus dicurigai adanya tanda 5A : -

Akromia perubahan warna

-

Anestesi. Tuberkuloid ada dipertengahan lesi, lepromatosa ada di ekstremitas (telapak tangan dan kaki) / Gloves and Stcoking Anasthesia.

Terapi : 1) Ketokonazol 10 hari. Kenapa cuma 10 hari ? karena kita berusaha membatasi kolonisasi, tidak berusaha mematikan Malasezia furfur karena dia adalah flora normal. 2) Topical shampoo ketoconazole 2% di diamkan 5-15 menit sebelum dibilas. 2-4 minggu Prognosis : Jika kronis à sampai melanosit mati à hipopigmentasi nya menetap / permanen. Melanosit nya tidak bisa bermmingrasi tetapi melanin nya bisa bermigrasi. Jumlah melanosit pada setiap orang sama, yang beda hanyalah jumlah melanosom yang dihasilkan. Bentuk klinis lain : o pitirosporum folikulitis jerawat di tubuh dan gatal sekali jika berkeringat dada dan punggung jika ada lesi harus tuntas jika tidak bisa jadi skar dan keloid o dermatitis seboroik peningkatan koloni m.furfur

ketombean (bentuk ringan) / eksem kulit berminyak b. Piedra Terdapat nodul putih2 pada rambut, rambut mudah patah & kusam Piedra putih : trichosporon beigelii/ asahii (>> axilla, pubis, bulu mata/alis) piedra hitam : piedrai hortae (>> daerah kepala) Ø Klinis Metallic sound saat disisir à “cling..” Rambut mudah patah Ø Px Fisik : Inspeksi rambut à warna Palpasi à pull test à infeksi jamur : khas rambut patah bukan tercabut Ø Terapi : 1) Terbinatin 2x125mg selama 2 minggu 2) shampoo ketokonazol 2%/ selenium sulfide 2% 3) Cukur rambut à karena sampai akarnya c. Tinea Nigra Palmaris / Plantaris Etio : hortae werneckii Ø UKK : macula plak hiperpigmentasi tampak kecoklatan pd telapak tangan atau telapak kaki Ø Gejala : asimptomatik, hanya bercak2, tidak gatal (kadang karena risih aja) Ø PP : kerokan KOH 10% à Yeast dengan septa Ø Terapi Antifungi topical à azole, terbinatin selama 2-4 minggu d. Otomikosis Infeksi jamur pada CAE Ø Etiologi : -

Aspergillus niger

-

aspergillus fumigatus

-

candida sp

Ø FR :

-

kebiasaan renang

-

imunodefisiensi

-

udara panas dan lembab,

-

kebiasaan garuk-garuk / cotton bud pada telinga

Ø Gejala : tanda inflamasi liang telinga luar, gatal, kulit bersisik, rasa tidak nyaman pada liang telinga Ø PF : (otoskop) tampak miselia /elemen jamur di perbatasan telinga tengah dengan CAE Ø Terapi : 1) Ear drops antijamur (clotrimazole,miconazole,dll selama 10-14 hari) 2) irigasi debridemen CAE (THT) B. Dermatofita a. Tinea Kapitis Ø Penularan jamur zoofilik (binatang) Ø Etiologi : Trycophyton dan Microsporum!!! Ø Tipe •

Tidak meradang 1) Black dott : patahan rambut tepat di muara folikel rambut (pull test) à terdapat bintik2 kemerahan 2) Grey patch : patahan rambut bebrapa mm diatas folikel rambut à terdapat skuama di area alopesia



Meradang 1) Cherion Chelsea : mmembentuk abses pada pertengahan alopesia / menggembung, jika ditekan keluar pus dari folikel rambut, pembesrana nnll regional, nyeri tekan, demam 2) Tinea favosa : bau seperti tikus, alopesia tertutup kekuningan, jika diangkat membentuk ulkus à Skutula.

Ø Gejala : alopesia Ø Px Penunjang : -

Wood lamp

kuning kehijauan pada tipe grey patch karena spora nya berada di luar selubung rambut (eksotrik), tidak berpendar pada black dott dan Kerlon celsi (endotrik) -

Kerokan KOH 10% à hifa panjang bersepta

Ø Terapi 1) 1st GRISEOVULFIN microsized 20-25 mg/kgBB à byk anak anak à 4-5 mgg 2) 2nd TERBINAFID / ITRAKONAZOLE 3-6 mg/KgBB/hr selama 2-4 minggu 3) Shampoo ketokonazol 2% untuk cegah penularan ke area kulit yang lain selama 2-4 minggu 4) Topical azol / terbinafin b. Tinea (Facialis, Corporis, Cruris) Ø UKK : plak eritema, dengan batas tegas, tepi aktif disertai sentral healing Ø Px penunjang : -

Kerokan kulit di area aktif (pinggir) à hifa panjang bersepta Tidak perlu lampu wood

Ø Varian tinea corporis a. Tinea imbrikata -

seperti batik khas UKK lingkaran konsentris.

-

Etiologi = tinea konsentrikum.

-

Sifatnya kronik progresif

b. Tinea pedis / manus Plak eritem, batas tegas, tepi aktif, central healing •

Hiperkeratotik skuama agak tebak di telapak tangan dan kaki, sering muncul pada area medial (tengah) kalau dermatitis kontak awalnya di lateral telapak



Interdigitaslis sentral lesi, dapat meluas, batas tegas, bilateral tapi tidak simetris



Vesikuler subakut timbul pustule dan bula, nyeri hebat

Terapi : Non medikamentosa = medicure pedicure à rendam air hangat dan mengerok sisiknya untuk ditipiskan à membuang sebagian besar elemen jamur baru dioles krim antiijamur c. Tinea unguium Etiologi : trycophton Gejala : distrofi lempeng kuku, detritus / serpihan kecil Klasifikasi •

Subungual proksimal



Subungual distal



Leukonikia trikofita

Terapi : < 3 jari : topical cat kuku siklopiroksolamin setiap minggu à medicure à cat kuku dengan antijamur >3 jari à intrakonazole pulse terapi 400mg/ hari selama 7 hr pertama pada minggu pertama setiap buln , 3 mgg bebas obat. Jika jari tangan 4x siklus, jika jari kaki 6x siklus Ø Terapi - Non medikamentosa jika diperlukan, avulsi kuku à diambil kukunya, diobati lempeng kuku nya, kompres - Medikamentosa o antifungal (azole, griseofulvin sifat fungisatik à pengobatan lama) ketokonazol 200 mg 1-2x/hr (3-4 mgg) fluconazol 150 mg (1-2 mgg) itraconazol 100 mg (2 mgg) griseofulvin micronized 10mg/KgBB/hr (2-3 mgg) o (terbinatin sifat fungisidal à pengobatan lebih cepat) 250 mg/hr (2mgg) o

antihistamin

loratadin 1x10mg cetrizine 1x10 mg CTM 3x4 ESO : jika tidak teratur jamu tidak mati, bisa resisten jika tidak teratur Hati hati penggunaan KETOKONAZOLE à pemberian jangka panjang, hati hati pada orang yang pernah hepatitis karena sifatnya sangat hepatotoksik, tidak boleh dibberikan bersama obat jantung, sitostatika, antialergi (khusus flu) / terutama isinya terfenadin karena bisa menimbulkan aritmia kordis. Itrakonazole lebih aman. Atau bisa diselingi waktu minum obat kulitnya 2 jam setelah obat yang lain. 2. Dermatomikosis Intermedia Kandidiasis / Kandidosis -

Infeksi yeast.

-

Etiologi : candida albicans, candida glabrata, candida auris (resisten thdp antifungal

-

Morfologi : budding cell

-

Menyerang kulit, mukosa, organ dalam

1. Kandidiasis Mukosa Oral, tenggorok, esofagus Ø Tipe: 1) Acute pseudomembranous candidosis (trush) KU : sariawan di rongga mulut FR : -

Xerostomia

-

penggunaan inhaler steroid

-

neonates, HIV/AIDS dan keganasan

UKK : bercak putih pada mukosa oral disertai psudomembran (lapisan putih), mukosa eritema sekali pada kondisi akut 2) Eritematous candidosis KU : rasa terbakar dan kemerahan pada mulut (>> lidah)

UKK : median rhomboid glostisis (bercak merah pada pertengahan lidah), bercak pada palatum, permukaan lidah halus dan licin (depalisasi) 3) Chronic mucoucutaneus candidosis (CMC) Jarang terjadi Terjadi defek imunologi (IL-2 & IFN-g) 4) Cronik Hyperplastik candidosid (candida leukoplakia) UKK : lesi mukosa meninggi

(plak) & tjd penebalan pada daerah yang

mengadap buccal 5) Cronik multifocal oral candidosis Tanda : stomatitis angularis, median rhomboid glostisis, retrokomisura leukoplakia >1 bulan, tidak riwayat obat dan radioterapi Ø Bentuk klinis lain : Denture related stomatitis à gusi sangat eritema , bisa bergranul o Lokal : hiperemia terlokalisasi o General : >> difus ( kemerahan ke seluruh mukosa-ke gusi) o Granular : + bagian tengah palatum & alveolar Angular stomatitis à nyeri, eritem, fisura pada sudut bibir. Ø Terapi : 1) Ringan : Nistatin 4x1 kumur-kumur / ditelan (jika ada infeksi sus) 2) Berat : fluconazole 1x150 mg selama 1-2 minggu 3) Refrakter/kambuhan : itrakonazole 1x 200 selama 1 bulan 4) Kronik : fluconazole 4-6 bulan 2. Kandidiasis Vulvovaginalis Gejala : gatal hebat Tanda : -

disparemia (karena mukosa edema)

-

putih kekuningan seperti susu

-

pH turun 4,5

-

lesi korimbiformis (lesi induk satelit)

-

Inspekulo : pseudomembran, cottage cheese (sepeerti keju)

Ø Px penunjang : gram/KOH 10% : pseudohifa Ø Terapi Tanpa komplikasi : Fluconazole 1x150mg singledose (sistemik) à normal ibu hamil : nistatin intravagina selama 14 hari Berat : fluconazole 2-3x150mg setiap 72 jam 3. Balanitis Ø Peradangan pada glans penis Ø UKK : papul eritema pada glans penis Blanophosthitis à inflamasi katup glans penis pada orang yang tidak sirkumsisi Ø Terapi : Topical azol, jika berat flukonazole 4. Kandidiasis kutis Ø Tipe : 1) Intrtriginossa UKK korimbiformis 2) Interdigitaslis pada sela-sela jari UKK = bercak putih diantara kedua jari dan tidak melebar ke sekitarnya tp makin ke dalam (beda dengan tinea pedis manus) Terapi : redam air hangat à kerok di bersihkan dulu ambil yang dalem à obat topikal 3) Diaper rash popok jangka waktu yg lama pd bayi dan ortu sifatnya sebagai infeksi sekunder (dari dermatitis kontak iritan dari feses dan urin pada kulit) à iritasi klit lalu muncul candida UKK plak eritema dengan lesi satelit 4) Paronikia candida pada kuku disertai abses periungual

sifatnya kronik, tidak terlalu eritema, tapi disertai kerusakan kuku. Jika akut : biasanya disebabkan infeksi bakteri, biasanya kuku tidak apa apa karena bakteri tidak menyerang kuku (lebih sakit, eritem, pus, kuku normal) Kronik : Jamur ( kukur rusak, tidak eritem) 5) Disseminated candida infection Sist. Imun menurun ke seluruh tubuh

Ø Px penunjang : Kerokan KOH 10% à pseudohihfa Kultur à Ø Terapi : 1) Fluconazole 1x500mg selama 1-2 mgg oral, topical TERAPI UTAMA KANDIDA fluconazole 2) Itrakonazol 1x100mg selama 1-2 mgg 3) Topikal azol/terbinafine 2x/hr 3. Dermatomikosis profunda Infeksi sistemik 1. Blastomikosis Etio : blastomyces demantitidis o Pertumbuhan koloni lambat (4 mgg) o Yeast dengan Dindng double Asal : geofilik // tanah Penyebaran : aerogen à sistemik, langsung à kulit

Gejala sistemik : -

arthralgia,

-

bb turun, mudah lelah

-

demam

-

batuk

-

berkeringat malam hari

-

nyeri dada

Gejala kulit : papul plak eritem disertai nodul ditengah, bergerombol seperti buah berry Px Penunjang : Biopsy à yeast dengan double counter wall 2. Chromomycosis Etio : fonsecaea pedrosai, phialophora verrucosa, cladosporium carrionii, fonsecaea compacta Asal : zoofilik Penularan : kontak langsung (petani, pemburu) Px Penunjang : Biopsi àskelrotic sll (mediar bodies) -

elemen jamur sepeprti bola (ball shape)

-

warna coklat tembakau (sugar color)

-

dindinng tebal

Klinis : C. murni : UKK plak verukosus C. kombinasi à chromoblastomikosis à kelompok besar DD : -

keganasan

-

TB kutis

-

neurodermatis (likenifikasi)

3. Sporotrikosis Nama lain : Rose Gardener Disease Asal : geofilik Gejala :

-

Kulit Penonjolan kulit karena pembesaran kel.limfe Ascenden

-

Paru Inhalasi spora Sesak napas, nyeri dada, demam

-

Diseminata Sist. Imun rendah (>>HIV) Menyerang tulang, sendi, SSP

UKK : nodul eritema multiple berbatas tegas konfigurasi linear distribusi lokalisata. + Sepiginosa à lesi tambahan menjalar Terapi : 1) 1st amphotericin B 1-1,5mg/kgBB 2) flukonazol 50-400mg iv 3) Itrakonazol 200mg/hr

Ilustrasi kasus 1. Anak laki 10th keluhan bercak merah di hampir seluruh badan, gatal jika berkeringat, makin lama makin banyak à Pitiriasis Versikolor. DD : Tinea corporis keluhannya makin lama makin lebar! Pitiriasis alba pada area terbuka yg terpapar matahari, umumnya pada orang yang atopic (macula hipoigmentasi skuama halus batas tidak tegas), kulit kering, ada riwayat alergi Pitirasis rosea hipopigmentasi, ada gejala prodromal (flu like syndrome, myalgia, arthralgia), UKK awal nodul, membesar Lepra/Morbus Hansen khas ada mati rasa Psoriasis gutata (lebih merah, DD yang ertema) PF : macula hipopigmentasi batas tegas dengan skuama halus PP : wood lamp à fluoresensi kuning keemasan, kerokan KOH à hifa pendek bersepta dengan spora pendek bergerombol (seperti spaghetti and meatball)

Diagnosis : Pitiriasi Versikolor Terapi Ketkonazole 1x100mg selama 10 hari, sisanya shampoo ketoconazole (untuk mandi) diamkan 5-15 menit selama 2-4 mgg 2. Laki 40th keluhan bercak kehitaman di telapak tangan tidak tagal tapi rishi à Tinea Nigra Palmaris DD: Etio : Hortae werneckii Terapi : 1st Antifungal topical (fungistatik / fungisidal). Jika ada 2 pilih fungisidal (terbinafin) 3. Anak keluhan rambut botak, gatal, makin luas à Tinea Capitis DD: Non meradang à alopecia areata (peny autoimun destruksi akar rambut jd rambutnya rntok), kalo tinea tambutnya patah, pull test sampai akar, mikros pada rambut ada gambaran rambut tanda seru (excamation hair mark) ! PP : Pull test à patah di muara folikel rambut à tipe BLACK DOTT Wood lamp à tidak berpendar Kerokan KOH rambut à endotrik Genus yang tidak pernah menyebabkan tinea capitis : epidermophyton Yang menyebabkan tinea capitis jamurnya bersifat zooflik. Terapi: 1st Grisesofulvin mikrosize Prognosis : Tipe tidak meradang rambut bisa tumbuh lagi Tipe meradang dubia ad malam / penyembuhan parut 4. Wanita keluhan gatal di daerah lipat paha disertai keputihan à Kandidiasis Vulvoganilasis, kandidiasis kutis intertrikonosa DD keputihan : Trichomoniasis Bakterial Vaginosis Cervicitis Virus

DD gatal lipat paha: Tinea Cruris + berkeringat gatal Eritrasma Intertrigo infeksi akteri pyoderma Scabies Pitiriasis Pubis Pasien obes tampak plak eritem batas tegas dengan lesi satelit PP: Kerokan KOH/Gram à ada pseudohifa (infektif), kalau tinea infektifnya hifa. Terapi : KKVV à Flukonazole KKVV intertrikinosa à 1-2 mgg 5. Laki keluhan gatal kemaluan tampak bintik merah pada ujung penis à Balanitis Kandida DD: Balanitis Kandida Scabies gatal terutama malam hari Pitiriasis Pubis PF : papul eritema multiple, kontak degan istri yang sedang keputihan à Blanitis candida PP kerokan KOH à pseudohifa à Blanitis Kandida Terapi : Topikalà sistemik fukonazole single dose 6. Benjolan pada tungkai, sebelumnya tertusuk duri saat berkebun, 3 mgg setelahnya mincul benjolan makin banyak dan bergerombol PP Biopsi double wall yeast à Blastomikosis

CBT KOMPETENSI 4 : BISA APAPUN SOALNYA (ETIO< MIKRO< MAKROS< KOMPLIKASI< TALAK) BELAJAR DARI GAMBARAN KLINIS à DD à BEDAKAN

VIRAL DERMATOSIS dr. Okke, SpKK

A. Klasifikasi Berdasarkan sifat asam nukleat nya 1. RNA a. Retrovirus ( HIV, HTLV) b. Paramyxovirus ( measles, mumps) c. Togavirus (Rubella, Chikungunya) d. Picomavirus ( coxackievirus) e. Burnyavirus (arbovirus) f. Arenavirus (lassa virus) g. Flavivirus (dengue, yellow fever) 2. DNA a. Herpes virus (HHV 1-8) b. Papillomavirus (HPV) c. Polyomavirus d. Poxvirus (MCV, variola) e. Parvovirus (erythema infectiosum) f. Hepadna virus (HBV) g. adenovirus B. Patogenesis 3 jalur a. Kontak langsung denga lesi yang ada di kulit Ex : veruka, moluskum, herpes simpleks b. Infeksi sistemik (bisa lewat inhalasi) Ex : viral exanthem, rubella, morbili c. Penyebaran local dari focus internal virus masuk dan dorman di suatu tempat à imunokompromise à kembali menimbulkan klinis à HERPES ZOOSTER, HERPES SIMPLEKS RECCURENT

ex : herpes Virus masuk à RESPON IMUN SELULER à selalu. Beberapa virus menimbulka imunitas (antibody) à humoral à contoh : vaksin Derajat keparahan ditentukan : -

Respon host (sist. Imun)

-

Jenis virus (jumlah, daya infektifnya)

C. Manifestasi 1. Lokal = hanya di kulit saja, tidak ada gejala klinis / prodromal 2. Sistemik = gejala prodromal, demam, myalgia, cephalgia à setelah gejala prodromal mereda baru muncul gejala kulit à bisa di kulit luar (eksantema) / mukosa (enantema) Bercak Kemerahan (Exanthemathous Viral Diseases) 1. Measles (Morbili / Campak/ Rubeola) Ø Etio : paramyxovirus Ø Masa inkubasi : 8-12 hari Ø Masa infeksius : 1-2 hari sebelum gejala sampai 4 hari pasca erupsi kulit Ø Manifestasi klinis : -

Gejala prodromal lalu muncul erupsi kulit (bertahan 4 hari) à infeksius (hati-hati terutama pada anak yang belum dapat vaksin) + konjungtivitis, malaise

-

Enantema : di mukosa oral berupa bercak oblique, di mukosa bucal dekat molar 2à muncul 1-2 hari sebelum erupsi kulit

-

Eksanthema : Erupsi kulit muncul cephalo-caudal (belakang telinga/ leher )à lama lama menyebar ke seluruh tubuh)

Ø UKK : macula papul eritematosa (merata/rapat) miliaris generalisata (kecil, merata dan rapat) Ø Tanda khas : -

Conjungtivitis

-

Cough / batuk

-

Coryza / pilek

Ø DD :

-

Drug Eruption à harus ada riwayat minum obat. Kalau alergi obat biasanya obat-obatan yang rutin diminum / yang sudah beberapa kali diminum. Co : paracetamol kan hanya diberikan jika demam saja, belum tentu menyebabkan drug induced infeksi virus di telapak tangan dan kakinya lebih merah dibandingkan alergi obat (tidak).

-

Rubella

Ø Komplikasi 1) Otitis media 2) Pneumonia (>>fatal) 3) Bronchitis 4) Diare Ø Rubella tidak hanya menyerang kulit tapi sangat rentan à mukosa organ dalam. Ø Dapat menetap 7-10 tahun pasca infeksi rubilli à SSPE (degenerasi SSP) Ø Terapi : 1) Infeksi virus à suportif dan simptomatik 2) Antibiotik jika ada infeksi bakteri sekunder 3) Vit A 50000 IU (anak < 6 bulan) diberikan dalam 3 dosis à untuk mukosa < 6 bln à 50.000 IU 1-11à 100.000 IU 1- 5 th à 200.000. IU 3 dosis: hari 1, 2 dan 2-4 minggu pasca pemberikan ke-2 4) Jika tidak ada riwayat vaksin à saat itu juga langsung berikan vaksinasi Vaksin nya menyebabkan imunitas parsial (mencegah terjadinya komplikasi, bukan mencegah terjadinya penyakit) 2. Rubella (german measles) Ø Etiologi : togavirus Ø Masa infeksius : 5-7 hari sebelum – 14 hari sesudah eksanthema Ø Jika sudah terkena rubella, bisa menimbulkan imunitas seumur hidup

Ø Gambaran klinis : -

Diawali gejala prodromal

-

pembesaran nnll cervical, retroaurikuler, occipital,

-

enantem : Forschheimer Spot (spot nya ada di atas palatum s.d uvula) à makula eritem millier .

-

eksanthem : Warna lebih terang dari morbili, tampak berkelompok, lesi cephalo-caudal à 2-3 hari mereda Jika terjadi pada wanita, disertai arthralgia hebat (jika sudah tua arthralgia nya menetap)

Ø Komplikasi 1) Ibu hamil trimester pertama à rubella kongenital syndrome (mikrosefal, kongenital heart disease, SNHL-terbanyak) 2) Ensefalitis (jarang) Ø Penunjang -

IgM-IgG anti rubella

Ø Terapi 1) suportif 2) Pencegahan vaksin MMR 3. Fifth Disease Ø Etologi : parvovirus Ø Gejala klinis Pipi tampak merah sekali seperti bekas ditampar UKK : macula eritematosa retikuler (seperti lala-laba) Di tangan dan kaki à papul menonjol à glove and stocking syndromme 4. Epstein Barr Virus a. Mononukleosis n Intraoral : ptekie di perbatasan palatum molle dan durum n Demam, faringitis, tonsillitis + limfadenopati cervical posterior n Hepatosplenomegali

n Biasanya

muncul

setelah

pembeian

obat

golongan

penicillin

(ampicillin/amoxicillin) b. Hairy Leukoplakia n Terjadi pada orang imunosupresi n Gejala : bercak putih di pinggir lidah + Indetetion marking (lidah edema, menempel di tepian gigi dan berlekuk mengikuti pola gigi nya) n Bentuk klinis lain : -

Ca Nasofaring

-

Limfoma Burkitt

-

CTCL (cutaneous T-cell limfoma T)

-

Limfoma Hodgkin

Papul dan Vesikel 1. Coxsackie virus a. Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD) à Flu singapur n Etio : A5, A7, A10, B2, B5 dan EV-71 (gejala meningitis juga) n Penularan fecal – oral, air liur n Inkubasi : 3-6 hari n Gejala : -

lesi pada mukosa oral disertai vesikel dan ulkus, diikuti lesi pada kulit terutama pada tangan dan kaki

-

enantema : terdapat di mukosa bucal, lidah dan palatum molle, gejala sampai tidak bisa makan

b. Herpangina n Etio : A1-6, A8, A10, A22 n Lokasi : palatum mole (antara vulva dan tonsil) n Gejala : -

Didahului demam

-

Nyeri tenggorokkan

-

Sakit saat menelan + nyeir kepala

-

Anoreksia, mual, muntah

-

Nyeri perut

-

Lesi vesikuler pada laring, menetap s.d 2 minggu, gejala cukup ringan (masih bsia makan minum)

-

Lesi oral : makula eritem à plak à vesikel à ulserasi

-

Enantem murni, tidak ada manifest di kulit

c. ALP (Acute Lymphonodular Pharyngitis) n Etio : A10 n Varian herpangina tapi tidak terjadi ulserasi hanya bintik bintik aja n Disertai pembesaran nnll n Enantem murni, tidak ada manifest di kulit 2. Papilloma Virus a. Veruka n Papul plak hiperkeratotik verukosus dan multiple à kalau menyatu jadi plak n Jika dilihat oleh loop : permukaan berbenjol benjol seperti brokoli n Varian : -

Veruka palmaris/plataris

-

Veruka plana

-

Veruka vulgaris

b. Kondiloma akuminata n Papul plak verukosus seperti bunga kol n Lewat kontak seksual n Di mukosa mulut : papul verukosus di daerah sublingual (oral sex) n Konfigurasi lesi di dahi : linier à menunjukan lesi pada daerah trauma à fenomena Koebner n Terapi Prinsip : merusak jaringan 1) Kemoterapi - podofilin 20-25% 2x/minggu à biasanya kalau di dalam (intravaginal, cerviks) - asam triklor asetat 50%

- podofilotoksin 0,5%à dalam bentuk krim, bisa dipakai sendiri ES : sering muncul lagi karena kalau destrtuktif itu bisa timbulkan infeksi yg lain 2) Interferon 3) Bedah skalpel 4) Bedah listrik 5) Bedah beku 6) Laser CO2 7) Imunoterapi 8) Radioterapi 3. Pox Virus a. Moluskum Kontangiosum n Lesi papul eritematosa dengan cekungan di tengah (dome shaped) à papul bentuk kubah + cekungan ditengahnya n Jika di pencet, terdapat badan moluskum n Terapi : Prinsip ekstraksi badan moluskum Bedah istrik, laser CO2 n Pada dewasa banyak tertular dari kontak seksual à di daerah inguinal b. Variola n Mirip cacar air tapi lebih berat à berisi air, nanah, kadnag disertai perdarahan n Bersifat monomorfik à sekali muncul serentak diseluruh tubuh n Seminggu setelah terkena biasanya pasien akan meninggal 4. Herpes Virus a. Herpes Simpleks Virus HSV 1, HSV 2, HSV 3 à manifestasi papul vesikel HSV 1 dan 2 à herpes simpleks HSV 3 à varicella zoster HSV 4 à CMV

n Klasifikasi 1) Tipe 1 = herpes labialis Penularan : airborne (jika pecah maka virus bisa menyebar ke orang lain lewat udara) atau kontak langsung (ciuman) UKK : papul vesikel bergerombol diatas macula eritematosa erosi (jika pecah masih basah) 2) Tipe 2 = herpes genitalis UKK : papul vesikel bergerombol, ulkus eritema herpetiformis Karena kontak seksual n Gejala klinis : monomorfik n Sifat virus herpes à rekuren à begitu terkena, virus bisa dorman di ganglion posterior à imunitas turun bisa relaps / kambuh à menetap seumur hidup n Px penunjang : -

Tzank Test Kerok vesikel yang masih utuh sampai dasarnya à giemsa à sel datia berinti banyak

-

Deteksi antibody IgM-IgG Infeksi primer : IgM (+) Infeksi laten : IgG (+) –> sudah pernah terkena herpes Infeksi rekuren : IgM dan IgG (+)

-

PCR à untuk mengetahui DNA virus

n Terapi : 1) Berat à genital Acyclovir IV 5-10mg/kgBB/8 jam 2 – 7 hari, jika klinis membaik ganti peroral 3x400mg/hr 2) Primer biasa Acyclovir 5 x 200mg selama 7 – 10 hari Valasiklovir 2x100mg selama 7-10 hari Famsiklovir 3x250mg selama 7-10 hari 3) Rekuren

Waktu pemberian dipendekan (5 hari saja) Jika pasien mengalami rekurensi > 6 x dalam setahun à terapi supresi kronik à terapi asiklovir 2x400mg selama setahun penuh (oral) Asiklovir bekerja dengan menghambat replikasi virus. Jika diberikan salep, tidak bermanfaat sama sekali. Gausah gausah. Soalnya kalo rekuren kan munculnya di ganglion (di dalem banget) masa dikasih topical. Kalau rekuren à tempat selalu sama disitu lagi. Jika pasien udah mulai ada gejala sebelum muncul boleh lah dikasih topical untuk meminimalisir lesi kulit, bukan menyembuhkan b. Varicella zooster virus n Klasfikasi 1) Infeksi primer à varicella Polimorfik, biasanya dari badan ke tempat lain (dari papul à vesikel, gambaran macem-macem) Droman di ganglion sensoris radiks posterior 2) Reaktivasi à Herpes zoster monomorfik •

Pasca infeksi primer, virus dorman di ganglion UKK : distribusi unilateral, sesuai dematom (setinggi apa). Bisa diprediksi dari lesi terbanyak (contoh : lesi terbanyak saat varicella di dada, maka diprediksi saat herpes zoster nanti bisa munculnya di dada).



Komplikasi : -

Post Herpatic Neuralgia à sering terjadi

-

Retinal Necrosis à di daerah ofthalmica

-

Pasien mengeluh nyeri radikuler, dematom à Zooster Sine Herpete à hanya nyeri yang timbul (sesuai dermatom) tapi tidak muncul lesi kulit à susah kalau di daerah dada kiri (sering salah prediksi dengan jantung)



-

Vasculopathy

-

Myelopathy Varian klinik

a) Tanda Hautchinson muncul lesi vesikel pada puncak hidung (ada n. nasociliaris yang menghubungkan mata dan nasal) à waspada akan muncul lesi komplikasi intraokuler. b) Syndroma Ramsay Hunt tiba-tiba perot, ada gangguan pendengaran, gangguan keseimbangan, nyeri pada area telinga (n. VIIIà edema à menjepit n.VII) UKK : papulvesikel hepertiformis diliang telinga DD : bells palsy (udara dngin terus), kali ini ada gejala prodromal

c) Herpes Zooster Diseminata >> berat lesi multidermatom menyebar seluruh tubuh seperti varicella pada kasus oportunistik (HIV) atau keganasan à komplikasi organ dalam

n Terapi : 1) Asiklovir 5x800mg selama 7 hari Bisa ditambahkan kortikostroid dalam waktu pendek dan dosis kecil (untuk menghindari komplikasi) à Dexamethasone 0,5mg (maksimal 2x1 selama 3 hari).

Kalau metiprednisolon sifatnya long acting, sifatnya terlalu lama nanti virusnya malah suka. 2) Terapi NPH : analgetik, antidepresan, gabapentin c. Sarkoma Kaposi n Etio : HHV 8 n Keganasan dr pemb darah dan limfe à pada pasien AIDS n Gambaran : plak keunguan menonjol seperti bercak amalgam, bisa meluas ke kulit n UKK : papul plak keunguan liner (mengikuti limfe), biasanya simetris. n >> palatum, ginggiva, lidah & area tonsilar

KASUS 1. Aak 5 th muncul bercak merah seluruh tubuh, 2 hari sebelumnya demam batuk pilek, pada PF demam suhu 38, konjungtivitis, tidak ada pembesaran nnll, lesi enantem pada mukosa bukal à Dx Morbili. DD rubella (pembesaran nnll cervical, enantem di palatum) 2. Sariawan di mulut dan timbul lesi di tanagn dan kaki, 2 hari sebelumnya demam à Dx HFMD (biasanya rombongan) 3. Paisen mengeluh timbul lenting di daerah kemaluan, sebelumnay mersa bdan tidak enak, panas di derah kemaluan, merasa nyeri pada daerah kemaluan à dx Herpes genitalis Terapi : Asiklovir PP : Tzanck Test à multinucleated giant cell (sel datia)

BACTERIAL SKIN INFECTION dr. Ismiralda Oke, SpKK

A. Pendahuluan n Bakteri secara komensal hidup di kulit (flora normal). Bakteri ini bisa berubah menjadi infeksius jika jumlahnya berlebihan (hiperkolonisasi) karena higienitas dan sanitasi buruk, cadangan makanan banyak (bakteri penyebab jerawat). n Fx bakteri komensal : -

Menghasilkan bakteriosin untuk mencegah infeksi dari mikroorganisme lain

-

Menghasilkan nutrient yang bisa mencegah perlekatan bakteri pathogen

-

Meningkatkan respon imun à memanggil sitokin, proses tombositosis

-

Memiliki lapisan asam(lipothekoik à migrasi mast cell à menghasilkan hepsidin à antimicrobial peptide Ex : staphylococcus sp, corynebacterium spp, brevibacterium spp, acinetobacter, propionibacteria (difolikel rambut)

B. Klasifikasi Berdasarkan morfologi nya 1. Kokus a. Pyoderma Ø Proderma artinya pyogenic (= pus) à penyakit kulit yang ditandai terbentuknya nanah. Ø Terbanyak disebabkan oleh streptococcus pyogenes, staphylococcus aureus (komensal), corynobacterium minnusitium (komensal) Ø Jenis : 1) Staphylococcus a) Folikulitis •

Kolonisasi s. aureus di sekitar rambut à folikulitis Kolonisasi di permukaan (plakat)



Bisa menyebabkan bisul (vurunkel) à lebih banyak (karbunkel) à inflamasi menghasilkan pus (abses) à melepuh (impetigo bulosa) à kegawatan kulit (SSSS)



Masuk ke daerah yang lebih dalam à bisul / vurunkel UKK : nodul eritem disertai pus di puncaknya Kolonisasi sampai akar rambut Terdapat scar



Kumpulan dari vurunkel, nodulnya besar à karbunkel UKK nodul dengan multiple pustul di puncaknya



Kumpulan pus dijaringan à abses Teraba hangat



Patogenesis : oklusi daerah folikel rambut



Faktor risiko :



-

penggunaan salep

-

trauma

-

pakaian terlalu ketat

-

sering menggunaan kortikosteroid topical, antibiotic

-

sering berendam

Distribusi UKK = folikuler à menyebar di sekitar folikel rambut (karena kelenjar minyak selalu bersama folikel rambut)



Karbunkel yang pecah dan luka nya melebar à ulkus karbunkel



Jika infeksinya di dalam kulit à pengumpulan pus di suatu jaringan (dalam) à abses (teraba benjolan yang fluktuatif, teraba hangat – peradangan akut)



Tata laksana

1) kompres hangat à untuk mempercapat proses peradangan shg dupurasi nya cepat selesai dan mengurangi gatal & nyeri 2) dibersihkan dengan cairan antiseptic ex : hydrogen peroxidase, chlorhexidine, triclosan 3) insisi drainase à tertutama pada furunkel, karbunkel, dan abses (dilakukan jika tidak respon thd pengobatan) à prinsipnya nanah harus dibuang dulu baru bisa sembuh 4) fotodinamik terapi à jika berulang 5) analgetik = NSAID 6) antibiotic topical = mupirocin dan asam fusidik (> di daerah lipatan, orang yang banyak tiduran (bayi)



UKK khas lepuhnya à BULA HIPOPION (ada bula yang terbagi 2 cairannya (atas serous, bawah eksudat purulent)



Tata laksana 1) Jika bula intak/utuh à aspirasi bula di dasar bula nya

2) Jika sedikit à antibiotik topikal ( a. fusilic & mupirocin) 3) Jika banyak à antibiotic sistemik (pil utama : gol penicillin ; pil kedua : aminoglikosida / macrolide) c) SSSS ( staphylococcal Scalded Skin Syndrome) •

Klinis : kemerahan dan melepuh pada kulit



UKK : makula eritem disertai epidermolisis generalisata



Penyebab : eksotoksin



>> bayi dan anaka anak < 6th à krn fx ginjal belum sempurna à ekostoksin beredar ke seluruh tubuh dan keluar lewat ginjal



Akumulasi endotoksin dlm tubuh à inflamasi



Jika terjadi pada orang deawa, tingkat kematinannya lebih tinggi à karena ginjalnya akan rusak à tidak bisa dilakukan cuci darah dan akan terus seperti itu



Gejala : -

Demam

-

iritabel / gelisah

-

kulit melepuh

-

mudah pucat

-

nyeri

-

dehidrasi (karena seluruh tubuh bisa terjadi kekurangan cairan à syok hipovolemik)



Tanda : -

Tissue paperlap -> kulit tipis eperti tisu à terutama di daerah lipatan

-

Kemerahan meluas ke seluruh tubuh (pada neotanus di lipatan paha dan sekitar umbilical) Jika melepuh akan terkelupas à UKK erosi.



Px penunjang : Test Nickolsky (+)



Tata laksana : 1) Gawat darurat à rawat inap 2) Stabilisasi cairan à mencegah syok 3) 1st line ANTIBIOTIK à penicillin Kontraindikasi : kortikosteroid (JANGAN PERNAH PAKE) ex : gol. Penicillin ( cephalosporin) 4) Terapi suportif 5) Perawatan luka à pelembab 6) jika neonates harus di dalam inkubator



Komplikasi Sepsis, selulitis, kematian

2) Streptococcus pyogens (s b hemolitikus) a) Selulitis & erysipelas Cellulitis

Erysipelas

>> tungkai dan jaringan subkutan

Superficial cellulitis (upper dermis)

Merah, nyeri, bengkak, & gejala Merah, palak mengkillap, batas jelas sistemik,

batas

tidak

jelas,

limfadenopati regional Etio : strep. Pyogenes & s. aureus

Etio : strep. pyogene Jika mengenai jar limfe (pembuluh / kelenjar) à bisa rekuren à striktur à edema pada kaki à kaki gajah UKK: plak verukosus à elephantiasis nostras verrucosa

Pathogenesis à limfangitis à makin lama makin dilatasi à menimbulkan plak

Severe = need emergent surgery :

Severe =

• Violaceous bullae



Lepuh berat



Ptekie



nekrosis

• Cutaneous hemorrhage • Skin sloughing • Skin anesthesia • progresif • Gas in the tissue Gejala prodromal, malaise, demam

Gejala prodromal, gatal, rasa terbakar,

panas dingin

bengkak, nyeri sendi

Tata laksana : insisi drainase, antibiotic (jika parah sistemik) FR :

-

kerusakan barrier kulit (gigitan serangga, ulkus, psoriasis, athlete’s foot dan eczema)

-

trauma

-

pada neonates seing terjadi di daerah suntikan vaksin

-

infeksi nasofaring (erysipelas wajah)

-

penyakit aliran vena

-

imunodefisiensi

-

sindrom nefrotik

-

kehamilan (stasis tungkai akibat ukuran kahamilan besar à kaki edema Tata laksana : insisi drainase, antibiotic (jika parah sistemik)

b) Impetigo contangiosa crustosa (non bullous impetigo) •

Terjadi pada anak-anak yang didahului batuk pilek dulu



S. pyogens adalah flora normal di hidung à jika pilek sering dibuang ingusnya kena wajah



Khas krusta kuning seperti madu



UKK : papul eritema dengan krusta kuning seperti madu, jika da yang berdarah diserai ekskoriasi.





Di kaki à ektima (korengan) à krusta nya susah kering. Jika fase akut (limfadenopati regional, kaki inguinal, lengan aksiler) >> dalam & kronik krusta sulit dicopot akut : terdapat pembesaran nnll. regional



Tata laksana 1) Kompres basah 15 menit lalu dibersihkan, termasuk krusta nya harus dihilangkan baru dikasih terapi topical. 2) Terapi antibiotic topical : musirosin dan asam fusidat 3) Jika lesi banyak berikan antibiotic sistemik (penisilin)

3) Corynebacterium a) Erythrasma •

Etio : corynebacterium minussitimum



Px Penunjang lampu wood : gambaran merah bata (karena produksi porphyrin)



UKK erythrasma : makula eritem berbatas tegas sisik halus



Gejala : gatal



DD : -

tinea kruris (di lipat paha, UKK plak dengan tepi aktif konfigurasi anuler)

-

tinea korporis (di lipat ketiak)

-

diaper rash (di inguinal)

-

Candidiasis kutis (UKK plak eritem dnegen papul lesi satelit konfigrasi korimbformis)



Tata laksana 1) Eritromisin 4x500mg selama 7 hr oral 2) topical asam fusidat / mupirosin 3) penicllin

b) Hidradenitis supurativa •

Etio : Pyoderma sekunder



Peradangan kelenjar apokrin à ketiak, pubis, sekitar areola mammae à menghasilkan bau veromon (apokrin)



Tanda : -

timbul papul di daerah tsb à jadi nodul besar (oklusi folikel komedo)

-

lesi supuratif dan sangat nyeri

-

jika sembuh timbulkan keloid/skar, sifat hilang timbul



DD : -

TB kutis s..derma (HARUS), kalo hidradinitis bersifat akut (cardinal sign, nyeri) kalo TB kutis (kronik, tidak terlalu nyeri)



Diagnosis : ü Lesi nyeri & > 2x dalam 6 bulan ü Keterlibatan aksila, area genitofemoral, perineum, area gluteal, dan area inframammary wanita; ü adanya nodul (meradang atau tidak meradang), ü traktus sinus (meradang atau tidak meradang)

ü abses, dan jaringan parut (atrofi, seperti mesh, merah, hipertrofik, atau linier) ü Ada keterkaitan riwayat penyakit keluarga •

Tata laksana Non medikamentosa 1) operasi pengambilan kelenjar apokrin 2) pengurangan BB 3) menjaga kebersihan : menggunakan sabun ringan 4) kompres hangat 5) pakai baju longgar Medikamentosa 1) akut (antibiotic) 2) berulang (kortikosteroid)

c) Intertrigo •

Luka lecet akibat gesekan berulang pada area lipatan ( >> lipatan paha)



Bukan hanya karena bakteri tapi bisa juga karena jamur



Biasa terjadi pada orang obesitas, tinggal dilingkungan panas dan lembab à gesekan jadi mudah lecet, diabetes.



Klinis : UKK macula eritem dengan erosi, bisa memberat jika ada infeksi bakteri/jamur



Tata laksana 1) Koreksi penyeba utama ( menghindari gesekan, dll ) 2) Kompres 3) campuran kortikosteroid + antijamur (miconazol, clotrimazole) + antibiotic

d) Ulkus •

Defek epidermis sampai jaringan di bawahnya dan diperberat oleh infeksi bakteri (karbunkel-pyoderma)



Jenis: -

Ulkus tropic (oleh bakteri campuran)

-

Ulkus pyogenic (echtyma, carbuncel)

-

Ulkus TB (tb)

-

Ulkus durum (sifilis)

-

Chancroid ( mole ulcer )



Penyebab lain :

-

Tekanan à oklusi pemb darah à nekrosis à destruksi

-

Neuropati (DM)

-

Ggn pemb darah à ulkus arterial / ulkus venosum

-

Keganasan à basalioma





Jika ada ulkus, evaluasi : -

ukuran ulkus

-

bagaimana tepi dan dindingnya

-

dasarnya jaringan apa

-

lihat jaringannya (kotor / bersih)

-

ada rangsang nyeri/tidak (bedakan neuropati/bukan)

-

berdenyut/tidak (untuk bedakan ulkus arterial),

-

telengangiektasis (basalioma) Tata laksana Tergantung etiologi penyebab ulkus 1) Debridement non surgical (kompres, dibersihkan) 2) surgical (di ruang operasi) 3) Antibiotic topical / sistemik

Ø Kesimpulan Px darah = leukositosis Px Penunjang = pengecatan gram o kokus gram positif bergerombol seperti anggur – staphyloccus

kalau mau spesifik s.aureus harus dilakukan kultur o kokus gram positif berderet seperti rantai – s. pyogens o kokus seperti ada kepala – corynebacterium Ø Terapi Antibiotic sistemik (1st penicillin, 2nd macrolide, 3rd cephalosporin) Antibiotic topical (mupirosin dan asam fusidat) Secara umum : kompres 2. Basil / mycobacterium a. Lepra Ø Etio : mycobacterium leprae Ø Karakteristik : -

Pengecatan bakteri kemerahan dan bergerombol (kalau tb bakterinya soliter / sendiri2)

-

aerob obligat

-

tidak bisa dikultur

Ø Klsifikasi lesi (WHO) 1) Polibasiler 2) Multibasiler Ø Diagnosis 1) Lesi yang sesuai dengan lokasi UKK : hipoigmentasi, tepi lebih aktif, konfigurasi anuler, pertengahan lesi mengalami anastesi 2) Bisa disertai oleh pembesaran saraf tepi (wajah, lengan, tungkai). Kalau di badan biasanya tidak bisa teraba pembesaran saraf tepinya. Contoh : lesi lengan makula hipopigmentasi dengan tepi lebih aktif à px n. ulnaris, n. radialis, n. medianus à caranya dengan •

N. ulnaris à pegangan tangan, rada olecranon ke arah medial, telusuri ke arah atas dan bawah (+) : terasa kesemutan, membesar pada daerah yang ada lesi (tuberkuloid)



N. medianus à meraba jari ke 1-3 jika kesemutan (+)



N. radialis à meraba cekungan di dorsum manus



N. facialis à saraf menonjol di daerah dahi, jika dirasa seperti kabel



N. auricularis magnus à meraba m. scm pada tengokan kepala



N. peroneus lateralis à tidur di meja pemeriksaan dengan kedua kaki menggantung, raba fosa popliteal nya à paling lateral ada vena, nervus, arteri. Rada paling tengah (+) teraba pembesaran



N. tibialis posterior à raba di malleolus lateralis

Ø Tanda 5A -

Acromia = perubahan warna kulit (kemerahan/hipopigmentasi)

-

Anesthesia = hilangnya sensasi (tuberkuloid di tengah lesi), lepromatosa (telapak tangan dan kaki), bisa total anesthesia atau parastesia (lepromatosa)

-

Anhidrosis = pada lesi kulit yang tuberkuloid sangat kering. PF : Test Tinta Gunawan (goreskan tinta pada pertengahan lesi, merangsang pasien agar berkeringat dengan menyinari lampu 20mnt, di daerah anhidrosis tintanya tetap)

-

Alopesia = rontok bulu mata, di pertengahan lesi juga rambutnya akan rontok

-

Atrofi = tidak da inervasi pada muculus à claw hand Ø Pathogenesis baca sendiri Ø Px Fisik : -

Evaluasi lesi kulit

-

Sensibilitas lesi

-

Palpasi nervus perifer (ada nyeri/ ada pembesaran tidak)

Ø Jenis 1. Tuberkuloid UKK : anestesi annular hipopigmentasi eritem berbatas tegas Kering & bersisik, tidak ada pertumbuhan rambut jumlah lesi nya 1-3 dan belum ada lesi satelitnya px BTA (-) karena jar granulais nya hancurkan bakeri TB px lepromin (+) kuat

2. Borderline tuberkuloid mirip tuberlukod jumlah lesi leih banyak ada 3-5 lesi + lesi satelit ada pembesaran saraf perifer px BTA (+1 atau +2) px lepromin (+) ringan 3. Mid Borderline tuberkuloid lesi meninggi (punch out lesion) jumlah >5 lesi px BTA (+3) 4. Borderline lepromatosa distribusi generalisata disertai plak eritem disertai punch out lesion anastesi gloves and stocking BTA (+4/+5) 5. Lepromatosa terjadi perubahan daerah wajah (bernodul, tulang hidung teresak, megalolobulus pada telinga à facies leonine/seperti singa, lesi merata) parethesi simetris ekstremitas px BTA (+5/+6) px lepromin (-)



Ø Tata laksana 1. Pausibasiler

a. single : rifampicin 600, ofoloksasi 400, minoksasin 100mg single dose b. lesi 2-5 : rifampisin 600 hr pertama, dapson 100mg hr pertama-28 hari, diberikan dosis 6 bulan harus habis 9 bulan) 2. multibasiler Rifampisin 600mg, dapson 100 mg, flopasidin hari pertama à dosis 12 bulan harus habis 18 bulan.

Ø Reaksi leprosal : Type 1

Type 2

Reversal Reaction

Erythema Nodusum Leprae

Rx hipersentiviyas 4

Rx hipersentiviyas 3

kusta borderline bergeser menuju komplikasi kusta lepromatosa. kusta lepromatosa borderline dengan pengobatan. Perubahan sistem imun mendadak à Tingginya

tingkat

faktor

nekrosis

jadi baik namanya rx ascendens, jadi tumor-alfa dan deposisi kompleks imun buruk rx descenden

terkait dengan ENL

Upgrading / ascendens : awalnya lepromatosa, saat pengobatan jadi tuberkuloid, disertai dema, arthralgia, edema Downgrading / descendens : awalnya tuberkuloid jadi lepromatosa edema dan eritema lesi kulit yang ada, perkembangan nodul subkutan yang pembentukan lesi kulit baru, neuritis, meradang disertai dengan demam, dan kehilangan sensorik dan motorik.

limfadenopati, dan artralgia

Tatalaksana :

Tatalaksana :

obat (NSAID)

antiinflamasi

nonsteroid

Ringan : aspirin 600-1200 mg / hari dalam 4-6 dosis per hari. Sedang : prednison 60-80 mg / hari,

Prednison 40-60 mg / hari dengan tappering off berkurang 5-10 mg setiap tappering off 5 mg setiap 2-4 minggu 2-4 minggu Berat : thalidomide 100 mg PO 4 kali sehari

Terapi

MDT

ditambahkan

harus

teap

jalan,

kortikosteroid

untuk

membant meredakan reaksi kusta nya.

LUCIO PHENOMENON : rx hipesensitivitas tipe 3 à vaskulitis à purpura à nekrosis à ulkus perdarahan

-

komplikasi kusta multibasiler yang parah

-

plak hemoragik biru dan ulserasi nekrotik.

-

Basil dapat meluas ke sel-sel endotel bersama dengan munculnya epidermis nekrotik dan vaskulitis dengan pembentukan trombus dan proliferasi endotel.

b. TB kutis •

Etio : m. tb ekstrapulmoner



Klasifikasi : Tb cutis sejati à pada lesi kulit bisa ditemuka m. tb Reaksi tuberkuloid à rx hipersensitivitas thd kuman tb



Klasifikasi tb cutis sejati 1. Ulkus tb v Bisa terjadi pada orangnya sendiri atau orang lain à droplet infeksius masuk ke dalam luka à ulkus v Bisa terjadi pada bayi yang suntik vaksin tb

v Khas ulkus kemerahan dengan tepi keunguan (selalu pada tb), tidak terlalu nyeri karena sifatnya kronik. v limfadenopati 2. TB milier v Biasanya terjadi pada anak/ortu yang imunokompromise v Disebebkan tb paru yang menyebar hematogen à dx di biopsy v Red spot general + ulserasi

3. Lupus vulgaris v Tb cutis yang penyebabnya limfogen, bedanya dengan erisipela warna nya ini lebih keunguan (yang erysipelas kemerahan) v Lesi lebih menonjol v Diaskopi pada luka, warna nya berubah seperti cuka apel (red-brown plaque) v Telinga, wajah, leher v Progresif penyebaran limfa

4. TB orificial v terjadi luka di mulut v biasa terjadi pada tb usus v klinis nyeri, lesi punch out v merah kebiruan v ulkus dangkal

5. Sklofuloderma v terkena limfadenopati v dd nya hidradenitis, bedanya warna keunguan dan tidak nyeri. v Jika pecah à skar à mucul lagi dibawahnya à pecah à timbul lagi mengkuti aliran limfe

6. Tb verukosa v Biasanya tampak tepi merah kebiruan v disertai pembesaran nnll regional v Dd veruka vulgaris bedanya tidak ada pembesaran nnll 7. TB gumosa v Guma = pertumbuhan jaringan yang avaskuler à warna abu kebiruan yang melebar. v Serpiginosa menyebar + ulserasi



Reaksi tuberkloid 1. Liken scrofulosorum v Likenifikasi pada kulit terjadi pada orang yang emang ada tb nya v Asimptomatis v berkelompok, rapat, 1-2 mm, perifollicular, papula lichenoid v bisa rekuren

2.

Papula necrotic tuberkuloid

v necrotizing papula kulit muncul dalam kelompok dan penyembuhan dengan bekas luka varioliform v rekuren di lutut, siku, bokong atau tungkai bawah v sembuh dengan jaringan parut setelah sekitar 6 minggu v Hipersensitivitas tipe 3, mirip sama fenomena lusio, umumnya terjadi pada tungkai

3. Eritema indiratum v Sering pada wanita dengan tb, pada daerah tumit belakang. Tipe nodular vaskulitis. v Jika diaskopi pada lesi vaskulitis (+), pada darah eritem diaskopi (-) v Dx : test tuberculin, test sputum, v Terapi : seperti tb paru (2RHZE-4RH)

c. Pseudomonas

3. Spiroceta a. Frambusia •

Etio : treponema palidum perteneu



Penularan : kontak langsung sekitar, bukan penukaran seksual



terjadi paada anak > nyeri à gaya berjalan spt kepiting (crab yaws)

-

pada tes serologi (+)

c) laten gejala klinis negatf tapi jika px serolgi hasilnya (+) d) tersier -

mengeni sendi, jar ikat, deformitas

-

terjadi 5-15 tahun seteah fase laten

-

tanda nya destruksi kulit

-

Nodul subkutan membesar, berkembang tanpa rasa sakit, yang mengalami pembentukan abses, nekrosis, dan ulserasi

-

lesi tepi jelas tetapi dasar tidak jelas

-

ada kelaianan tulang, neurologic, dan mata

-

SABRE TIBIA = kaki nya melengkuk, pseudoparalisis (kecacatan)

-

px serulogi (VDRH,TPHA) , biopsy,

Ø terapi : 1) penicillin (prinsip atibiotik oleh treponema palidum), terbaru pakai azitromicin à untuk eliminasi secara epidemiologi.

Jika test serulogi (+) > 15% à berikan azitromicin pada semua populasi Jika hipoendemik 10% à berikan pengobatan pada satu rumah dan orang terdekat. Kasus 1. wanita 24 th keluhan sering berkeringat malam hari, BB naik, pf nodul eritem multiple pada area kruris à DD tb kulit eritema induratum, vaskulitis, reaksi kusta eritema nodosum, curiga TB à tata laksana : rontgen 2. pasien keluhan bercak2 putih yang mati rasa di daerah wajah à DD lepra, pf status lokalis (konfigurasi disribusi), sensibilitas, pembesaran saraf. Terapi preparat ROM (hanya satu)

INFEKSI MENULAR SEKSUAL dr. Ismiralda Oke, SpKK

Discharge uretra • Uretritis GO

• NSGI • Bakterial Vaginosis • Trikomoniasis • KVV • Servisitis GO

Fluor Albus

• NSU

Ulkus Genital

Bubo Inguinal • Sifilis • Ulkus Mole • LGV • Granuloma inguinale • Herpes genitalis

Sindrom IMS

• Ulkus durum → S I • Ulkus Mole • LGV • Granuloma inguinale • Ulkus herpes genitalis

Pembengkakan Skrotum • Uretritis GO • Inf klamidia

Tumor Genital Nyeri Perut Bag Bwh (♀) • Servisitis GO • Inf klamidia

• Kondiloma akuminatum • Moluskum kontagiosum • Kondiloma lata

Konjungtivitis neonaturum • GO • Inf klamidia 2

Sifilis Uretritis / Servisitis Gonore

IMS Mayor LGV

Ulkus Mole Granuloma Inguinale IMS Mayor : infeksi yang hampir sebagian besar ditularkan melalui sex 3

A. Sindrom IMS n Kumpulan gejala n Hanya pada pria : pembengkakan skrotum dan discharge uretra. Awal discharge uretra lalu komplikasi nya pembengkakak skrotum. Jika pasien datang keluhan pembengkakan sktorum (langsung curiga cuma 2 penyakit, ureiritis GO dan chlamidia). Urethritis GO Keluhan

Kencing nanah bakteri menghasilkan purulent)

onset

Cepat (7 hari seksual

pasca

kontak

Bersifat asenden à naik ke atas à urethritis à ortritis à kerusakan vas deferens à infertilitas

n Hanya pada wanita : fluor albus dan nyeri perut bawah.

Nyeri perut bagian bawah

Fluor albus

Infeksi ascenden

Onset awal

Cervisitis GO

Infeksi Chlamidia

Discharge

Kandidiasis

Bacterial Vaginosis

Vulvoganialis

putih Discharge bening Keputih2an

kekuningan purulent

kekuningan kental

Discharge putih ke Discharge

kekuningan seperti abu2an & susu pecah / santan

berbuih (karena pergerakan

banyak

flagel) Gatal, bau asam

Bau amis

dengan

keluhan

Bau

apek

/

malodor (karena

biasanya

udah

kuning kehijauan

jumlahnya

Asimptomatik (kalau datang

Trichomoniasis

peruaha

komplikasi

pH

>basa)

lanjut) pH normal

pH normal

pH asam (15)

&

Px penunjang :

Px penunjang :

KOH Gram ( terdapat clue Preparat

(pseudohifa)

basa

cell = epitel vagian NaCl ambil dari

(terdapat diplococcus

yang

PMN )

cocobasil batas

dibatasi forniks posterior sehingga dan di aduk di

epitel

tidak preparat

jelas

pergerakan

Wiff test à tetes trikomonas) KOH (bau amis)

n Terjadi pada kedua nya : buboinguinal, ulkus genital, tumor genital, konjungtiitas neonatorum Ulkus genital dan bulboinguinal (pembesaran nnll)

Ulkus Genital Ulkus Durum

Ulkus Mole

LGV

Granuloma Inguinale

Ulkus Genitalis

Etiologi :

Etiologi :

Etiologi :

Etiologi :

Etiologi :

Chlamydia trachomatis

Donovania granulomatis

HSV 2

sifilis std (primer)

1 Hemofilus nugrei

Herpes

(

Klinis :

Klinis :

Klinis :

Ulkus polygonal

Ulkus multiple

Ulkus multiple (dari caudoceohal) & Kenyal Lunak berderet (konfigurasi linier; Tidak nyeri Sangat nyeri pria = saophone Relatif bersih Daerah seitar penis) dasarnya ( tidak edem Pembesaran nnll ada jar. Nekrotik, Daerah yang ascenden (spt anak granulasi, sekret) berhadapan tangga) menimbulkan luka serupa Lesi ascenden (kissing phenomena)

Klinis :

Klinis :

Ulkus melebar

Didahului timbul

Penuh jar. granulasi (pembentukan pemb. darah à dasarnya berwarna seperti sosis)

vesikel Vesikel

multipel

konfigurasi hepertiformis diatas

macula

eritem à pecah jadi erosi (ulkus dangkal

multiple

bergerombol atas

di

macula

eritem) Satu-satunya didahului vesikel (lenting-lenting)

Tumor Genital Kondiloma Akuminata

Moluskum

Kondiloma Lata

Etiologi : HPV

Etiologi : POX virus

Etiologi :

UKK :

UKK:

Klinis :

Papul plak konfigurasi Papul multiple spt kubah Papul plak merah mudah, verukosus berdungkul2 spt ditengahnya (dome shape) permukaan rata & basah bunga kol dibawahnya ada cekungan Lesi bersifat diskret (berjauhan)

Konjungtivitis Neonatorum GO

chlamidia

Sekret mata purulent Px fisik :

Px fisik :

Gram diplococcus gram -

Konjungtiva cobble stone (kotak-kotak) Apus sekret (PMN >)

A. Klasifikasi 1. IMS Mayor GO Etio : Neisseria gonorrhea Diplococcus gram – intra dan ekstrasel leukosit PMN anaerob

obligat

(harus dari sel ke sel, gabisa kena udara terbuka) inkubasi : 1-4 hari (2-5 hari pasca kontak

seksual

resiko tinggi) Epidemiologi : >> usia muda (1524 tahun) Klinis :

Wanita = Asimptomatis Sindrom

fluor

albus Dysuria Px fisik : serviks edema erosi secret

purulent

OUE pria = discharge purulent terjadi

saat

bangun tidur Px

fisik

:

mengurut pangkal penis ke depan (milking)

untuk

mengeluarkan cairan kental, jika tidak

keluar

lakukan rangsang prostat untuk bisa keluar Px Penunjang : gram