Data Loading...
Akbar Edisi 208 Flipbook PDF
Akbar Edisi 208
112 Views
75 Downloads
FLIP PDF 60.01MB
No. 208 n Tahun XIX n Agustus 2015
Dianugrahi Satyalencana Pembangunan Kisar Eksekutif
Istimewa
“Gelar Open House”
Sahur Bersama Ibu Sinta Nuriyah
Laporan Utama
Wira Usaha
Diikuti Dua Pasang Calon
Budidaya Ikan Gabus
Media Komunikasi Pemkab
No. 208 n Tahun XIX
AGUSTUS 2015
H. M. Miyadi, SAg, MM (Ketua DPRD Kabupaten Tuban) Plt Sekda Kabupaten Tuban Dr. Ir. Budi Wiyana, MSi Drs. Teguh Setyobudi, MM Setda Kabupaten Tuban)
M. Arifuddin, S.STP
Redaksi menerima kiriman naskah, opini, cerpen, dongeng, features dan bentuk tulisan lain sesuai misi Majalah Akbar. Naskah maksimal 3 halaman kuarto, dikirim ke alamat email Majalah Akbar. Redaksi berhak mengedit sepanjang tidak mengubah isi.
2 Akbar No. 208 n Agustus 2015
JAJARAN REDAKSI Majalah
Me ng uca pkan
ke-70 (17 Agustus 1945 - 17 Agustus 2015)
REDAKSI Editorial......................................4 Surat Pembaca ..........................5 Mimbar Agama ..........................6 Kisar Eksekutif ...........................8 Laporan Utama ........................10 Agustusan................................14 Opini ........................................16 Info Desa ..................................18 Istimewa...................................19
Esai .........................................23 Pendidikan...............................25 Selingan...................................29 Cermin .....................................30 Tokoh Kita ................................32 Wira Usaha...............................34 Cerpen .....................................36 Figur.........................................39
Akbar No. 208 n Agustus 2015 3
EDITORIAL
Buka Maaf, Lapangkan Kasih Sayang
J
auh-jauh, Rasul terakhir telah memberikan contoh agar selalu membuka permaafan, karena dari mendalami makna permaafan tersebutlah sesungguhnya hakikat kebenaran bisa lebih dekat difahami dan dimengerti. Sebab, bagi orang yang ringan memberikan maaf dan tidak suka membesar-besarkan persoalan, adalah kelapangan samudera kasih sayang yang berujung persaudaraan dalam keanekaragaman. Pemberi maaf adalah orang yang kuat dan tangguh, bukan berarti tidak bisa membalas dengan kekerasan. Namun, ia mengerti kekuatan maaf lebih besar manfaatnya dari pembalasan dengan cara kekerasan. Rasul terakhir Muhammad SAW memberi tauladan, seperti dikisahkan; waktu itu, Beliau berangkat untuk melaksanakan sholat di kawasan Tha`if. Ketika orang-orang yang tak sefaham (seiman) dengan Beliau mengetahuinya, serta merta mereka melempari Rasul dengan bebatuan dan kotoran Onta sembari melontarkan caci-maki, saat Rasul bersujud dalam sholatnya. Tiba-tiba malaikat Jibril datang dan menawarkan pembelaan dengan cara akan menjatuhkan batu-batu dari gunung, kepada mereka yang telah menyakiti Rasul. Seketika itu pula, Rasul mencegah malaikat Jibril untuk tidak melakukannya. Lalu, Rasul meman-
jatkan do`a: “Ya Allah, ampuni dan berikanlah kepada kaumku itu, sesungguhnya dikarenakan mereka belum mengetahui hakikat kebenaran”. Rasulullah begitu mulia. Beliau bukan hanya membuka lebar pintu maaf kepada kaum yang memusuhinya, tetapi, membalasnya dengan mendoakan agar memahami hakikat kebenaran, sekalipun mereka menghina dan menyakiti Rasul. Inilah kenyataan, bukan lagi simbol yang menunjukkan betapa tinggi hikmah dan makna pemberiaan maaf. Inilah wajah keberagaman yang santun, arif, pemaaf dan lapang dada. Tauladan ini, seharusnya menjadi cermin hidup bagi segenap manusia, bagi kita yang mengaku umatnya, di saat, banyak manusia yang mudah bereaksi dengan cara kekerasan, serta, telah kehilangan nilai-nilai kesantunan dan kearifan. Terlebih, kini masih suasana idul fitri, seharusnya semua mengheningkan hati dan fikiran, menjadikan idul fitri sebagai bahan koreksi bagi segenap wajahwajah kita yang kehilangan sikap lapang dada dan watak bijaksana. Wajah-wajah yang dipenuhi keculasan dan kecurangan, saatnya diperbaiki, diikhtiarkan berubah menjadi wajah-wajah yang damai, pemaaf, dipenuhi kehangatan jiwa sebagai tanda kesucian idul fitri.n
SIKUT
4 Akbar No. 208 n Agustus 2015
Surat Pembaca Mohon Ditertibkan Mohon Pedagang Kaki Lima (PKL) yang sudah mendapat kios di Terminal Wisata namun masih berjualan di depan Museum Kambang Putih ditertibkan, karena mengganggu pengunjung museum! (Farid - Tuban) Masalah PKL tidak hanya dihadapi oleh Tuban saja, khususnya di kota-kota besar atau yang perekonomiannya meningkat juga seringkali menempati tempat-tempat yang tidak semestinya. Namun, PKL ini juga memiliki potensi keekonomian. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) telah mengeluarkan Peraturan Mendagri No. 41 Tahun 2012 tentang Pedoman Penataan dan Pemberdayaan PKL. Berdasarkan peraturan tersebut, Pemkab Tuban telah menindaklanjuti dengan Peraturan Bupati No. 23 Tahun 2014 tentang Penataan dan Pemberdayaan PKL. Dari Peraturan Bupati tersebut melalui Keputusan Bupati No. 118 Tahun 2014 telah dibentuk Tim Koordinasi Penataan dan Pemberdayaan PKL. Dengan adanya masukan seperti ini, kami akan menyampaikan kepada tim. Koordinator Penataan diketuai oleh Kepala Bappeda, anggotanya meliputi Dinas Perhubungan, Dinas Pekerjaan Umum, Satpol PP, Camat dan Asosiasi PKL. Sedangkan Pemberdayaan Ekonomi PKL dikoordinatori Dinas Perekonomian dan Pariwisata (Disperpar) Tuban, anggotanya Badan Lingkungan Hidup dan Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kabupaten Tuban. Ke
depan akan segera kami lakukan penataan PKL yang ada di pintu gerbang Makam Sunan Bonang. (Kepala Disperpar Tuban)
Pengusahanya Ditertibkan Operasi minuman keras (miras) mohon jangan pedagangnya saja yang dirazia, pengusahanya juga perlu ditertibkan! (Aris - Tuban) Satpol PP bersama tim telah beberapa kali menertibkan miras. Selain diambil alat dan hasil produksinya, produsen juga ditindak. Berdasarkan hasil MoU yang tidak tertulis dengan Polres Tuban, untuk memunculkan efek jera, mereka dikenai UndangUndang No. 18 tahun 2012 tentang Pangan. Ancaman pidananya 2 tahun dan denda 10 milyar. Apabila menggunakan Peraturan Daerah (Perda), selain alat dan hasil produksinya disita, hanya dikenai pidana percobaan. Hal ini tentu saja kurang memiliki efek jera. Jumlah produsen miras saat ini menurun jauh, mereka biasanya menjalankan usahanya secara sembunyi-sembunyi. Jika masyarakat mengetahui adanya produsen yang masih memproduksi miras, kami mohon informasinya. Bisa menghubungi kami di nomor telepon (0356) 321003. Petugas kami akan stand by selama 24 jam. Laporan tersebut tentunya akan kami tindak lanjuti dengan operasi di lapangan. (Plt. Kepala Satpol PP Tuban)
Bupati Tuban, H. Fathul Huda, bersama jajaran Forpimda melaksanakan sholat idul fitri di Masjid Agung Tuban. Pada lebaran 2015 ini, Pak Bupati berkesempatan menjadi khatib pada khutbah sholat idul fitri. Sedang, dalam khutbahnya, Pak Huda, menjelaskan tentang hakikat bulan suci Ramadhan yang sejatinya merupakan bulan tarbiyah atau pendidikan bagi pribadi-pribadi muslim untuk menjadi pribadi yang muttaqin.
Akbar No. 208 n Agustus 2015 5
M
imbar Agama
Penghayatan Makna Ibadah Puasa (Bagian II – Habis) Oleh : Nurcholish Madjid
D
ari penjelasan itu tampak bahwa sesungguhnya inti pendidikan Ilahi melalui ibadah puasa ialah penanaman dan pengukuhan kesadaran yang sedalam-dalamnya akan ke-Maha Hadir-an (Omnipresence) Tuhan. Adalah kesadaran ini yang melandasi ketaqwaan atau merupakan hakikat ketaqwaan itu, dan yang membimbing seseorang ke arah tingkah laku yang baik dan terpuji. Dengan begitu dapat diharapkan ia akan tampil sebagai seorang yang berbudi pekerti luhur, ber-akhlaq karimah. Kesadaran akan hakikat Allah yang Maha Hadir itu dan konsekuensinya yang diharapkan dalam tingkah laku manusia, digambarkan dengan kuat sekali dalam Kitab Suci: "Tidak tahukah engkau bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di seluruh langit dan segala sesuatu yang ada di bumi?! Sama sekali tidak ada suatu bisikan dari tiga orang, melainkan Dia adalah Yang Keempat; dan tidak dari empat orang, melainkan Dia adalah Yang Kelima; dan tidak dari lima orang, melainkan Dia adalah Yang Keenam; dan tidak lebih sedikit daripada itu ataupun lebih banyak, melainkan Dia beserta mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan membeberkan apa yang telah mereka perbuat itu di Hari Kiamat. Sesungguhnya Allah Maha Tahu akan segala sesuatu." [14] Sekali lagi, dari keterangan di atas itu tampak bahwa puasa adalah suatu ibadat yang berdimensi kerahasiaan atau keprivatan (privacy) yang amat kuat. Dari situ juga dapat ditarik pengertian bahwa puasa adalah yang pertama dan utama merupakan sarana pendidikan tanggungjawab pribadi. Ia bertujuan mendidik agar kita mendalami keinsyafan akan Allah yang selalu menyertai dan mengawal kita dalam setiap saat dan tempat. Atas dasar keinsyafan itu hendaknya kita tidak menjalani hidup ini dengan santai, enteng dan remeh, melainkan dengan penuh kesungguhan dan keprihatinan. Sebab apapun yang kita perbuat akan kita pertanggungjawabkan kepada Khaliq kita secara pribadi. Tentang betapa dimensi pribadi (personal) tanggung jawab kita dalam Pengadilan Tuhan di Hari Akhirat itu, Kitab Suci Al-Qur'an memberi gambaran amat kuat sebagai berikut: “Wahai sekalian umat manusia! Bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu, dan waspadalah terhadap hari ketika seorang orang tua tidak dapat menolong anaknya, dan tidak pula seorang anak dapat menolong orang tuanya sedikitpun jua. Sesungguhnya janji Allah itu benar (pasti terjadi), maka janganlah sampai
6 Akbar No. 208 n Agustus 2015
kehidupan duniawi (kehidupan rendah) memperdayamu sekalian, dan jangan pula tentang (wajib patuh kepada) Allah itu kamu sekalian sampai terpedaya oleh apapun yang dapat memperdaya. [15] “ Waspadalah kamu sekalian terhadap hari ketika tidak seorang pun dapat membantu orang lain, dan ketika perantaraan tidak dapat diterima, dan tidak pula tebusan bakal diambil, dan mereka semuanya tidak akan dibela. [l6] Ini semuanya sudah tentu sejajar dengan berbagai penegasan dalam Islam bahwa manusia dihargai dalam pandangan Allah menurut amal perbuatannya berdasarkan taqwanya, suatu ajaran tentang orientasi prestasi yang tegas, dalam pengertian pandangan bahwa penghargaan kepada seseorang didasarkan kepada apa yang dapat diperbuat dan dicapai oleh seseorang. Sebaliknya Islam melawan orientasi prestise, yaitu pandangan yang mendasarkan penghargaan kepada seseorang atas pertimbangan segi-segi askriptif seperti faktor keturunan, daerah, warna kulit, bahasa dll. Orientasi seperti faktor keturunan, daerah, warna kulit, bahasa, dll. Orientasi prestasi berdasarkan kerja ini kemudian dikukuhkan dengan ajaran tentang tanggung jawab yang bersifat mutlak pribadi di Akhirat kelak. Puasa dan tanggungjawab kemasyarakatan Sebegitu jauh kita telah mencoga melihat hikmah ibadah puasa sebagai sarana pendidikan Ilahi untak menanamkan tanggungjawab pribadi. Tetapi justru pengertian "tanggungjawab" itu sendiri mengisyaratkan adanya aspek sosial dalam perwujudan pada kehidupan nyata di dunia ini. Dan sesungguhnya tanggungjawab sosial adalah sisi lain dari mata uang logam yang sama, yang sisi pertamanya ialah tanggungjawab pribadi. Ini berarti bahwa dalam kenyataannya kedua jenis tanggungjawab itu tidak bisa dipisahkan, sehingga tiadanya salah satu dari keduanya akan mengakibatkan peniadaan yang lain. Oleh karena itu para ulama senantiasa menekankan bahwa salah satu hikmah ibadah puasa ialah penanaman rasa solidaritas sosial. Dengan mudah hal itu dibuktikan dalam kenyataan bahwa ibadah puasa selalu disertai dengan anjuran untuk berbuat baik sebanyak-banyaknya, terutama perbuatan baik dalam bentuk tindakan menolong meringankan beban kaum fakir miskin, yaitu zakat, sedekah, infaq, dll. Dari sudut pandangan itulah kita harus melihat kewajiban membayar zakat fitrah pada bulan Ramadhan, terutama menjelang akhir bulan suci itu.
M
imbar Agama
Seperti diketahui, fithrah merupakan konsep kesucian asal pribadi manusia, yang memandang bahwa setiap individu dilahirkan dalam keadaan suci bersih. Karena itu zakat fitrah merupakan kewajiban pribadi berdasarkan kesucian asalnya, namun memiliki konsekuensi sosial yang sangat langsung dan jelas. Sebab, seperti halnya dengan setiap zakat atau "sedekah" (shadagah, secara etimologis berarti "tindakan kebenaran") pertama-tama dan terutama diperuntukkan bagi golongan fakir-miskin serta mereka yang berada dalam kesulitan hidup seperti al-riqab (mereka yang terbelenggu, yakni, para budak; dalam istilah modern dapat berarti mereka yang terkungkung oleh "kemiskinan struktural") dan al-gharimun (mereka yang terbeban berat hutang), serta ibn al-sabil (orang yang terlantar dalam perjalanan), demi usaha ikut meringankan beban hidup mereka. Sasaran zakat yang lain pun masih berkaitan dengan kriteria bahwa zakat adalah untuk kepentingan umum atau sosial, seperti sasaran amil atau panitia zakat sendiri, kaum mu'allaf, dan sabilAllah ("sabilillah", jalan Allah), kepentingan masyarakat dalam artian yang seluas-luasnya. Sebenarnya dimensi sosial dari hikmah puasa ini sudah dapat ditarik dan difahami dari tujuannya sendiri dalam Kitab Suci, yaitu taqwa. Dalam memberi penjelasan tentang taqwa sebagai tujuan puasa itu, Syeikh Muhammad 'Abduh menunjuk adanya kenyataan bahwa orang-orang kafir penyembah berhala melakukan puasa (menurut cara mereka masingmasing) dengan tujuan utama "membujuk" dewa-dewa agar jangan marah kepada mereka atau agar senang kepada mereka dan "memihak" mereka dalam urusan hidup mereka di dunia ini. Ini sejalan dengan kepercayaan mereka bahwa dewa-dewa itu akan mudah dibujuk dengan jalan penyiksaan diri sendiri dan tindakan mematikan hasrat jasmani. Cara pandang kaum musyrik itu merupakan konseknensi faham mereka tentang Tuhan sebagai yang harus didekati dengan sesajen, berupa makanan atau lainnya (termasuk manusia sendiri) yang "disajikan" kepada Tuhan. Altar di kuil-kuil bangsa Inka di banyak bagian Amerika Selatan, umpamanya, menunjukkan adanya praktek "ibadat" mendekati Tuhan dengan sesajen berupa korban manusia. Demikian pula pada bangsa-bangsa lain, praktek serupa juga tercatat dalam sejarah, seperti pada bangsa-bangsa Mesir kuna, Romawi, Yunani, India, dll. Hal itu tentu berbeda dengan ajaran agama Tawhid yang mengajarkan manusia untuk tunduk-patuh dan pasrah sepenuhnya (Islam kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam agama ini diajarkan bahwa Tuhan tidaklah didekati dengan sesajen seperti pada kaum pagan atau musyrik, melainkan dengan amal perbuatan yang baik, yang membawa manfaat dan faedah kepada diri sendiri dan kepada sesama manusia dalam
masyarakat: "Maka barangsiapa ingin berjumpa dengan Tuhannya, hendaknyalah ia berbuat baik, dan janganlah dalam berbakti kepada Tuhannya itu ia memperserikatkan-Nya dengan seseorang siapapun juga." [17] Berkaitan dengan ini, Islam memang mengenal ajaran tentang ibadah korban. Tetapi, sesuai dengan nama ibadah itu, korban (qurban) adalah tindakan mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun pendekatan itu terjadi bukan karena materi korban itu dalam arti sebagai sesajen, melainkan karena taqwa yang ada dalam jiwa pelakunya. Dan taqwa dalam ibadah korban itu tercermin dalam kegunaan nyata yang ada di belakangnya, yaitu tindakan meringankan beban anggota masyarakat yang kurang beruntung: "Tidaklah bakal sampai kepada Allah daging korban itu, dan tidak pula darahnya! Tetapi yang bakal sampai kepada-Nya ialah taqwa dari kamu." [18] Maka begitu pula dengan puasa. Yang mempunyai nilai pendekatan kepada Allah bukanlah penderitaan lapar dan dahaga itu an sich, melainkan rasa taqwa yang tertanam melalui hidup penuh prihatin itu. Dengan perkatauan lain, Tuhan tidaklah memerlukan puasa kita seperti keyakinan mereka yang memandang Tuhan sebagai obyek sesajen atau sakramen. Puasa adalah untuk kebaikan diri kita sendiri baik sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat yang lebih luas. Sekarang, seperti halnya iman yang tidak dapat dipisahkan dari amal saleh, tali hubungan dengan Allah (habl min Allah – “hablum minallah) yang tidak dapat dipisahkan dari hubungan dengan sesama manusia (habl min al-nas -"hablum minannas"),taqwa pun tidak dapat dipisahkan dari budi pekerti luhur (husn al-khuluq atau al-akhlaq al karimah). Ini antara lain ditegaskan Rasulullah dalam sebuah Hadits: "Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga ialah taqwa kepada Allah dan budi pekerti luhur." [19] Ibadah puasa selama sebulan itu diakhiri dengan Hari Raya Lebaran atau Idul Fitri (Id-al-fithr, "Siklus Fitrah"), yang menggambarkan tentang saat kembalinya fitrah atau kesucian asal manusia setelah hilang karena dosa selama setahun, dan setelah pensucian diri dosa itu melalui puasa. Dalam praktek yang melembaga dan mapan sebagai adat kita semua, manifestasi dari Lebaran itu ialah sikap-sikap dan perilaku kemanusiaan yang setulus-tulusnya dan setinggi-tingginya. Dimulai dengan pembayaran zakat fitrah yang dibagikan kepada fakir miskin, diteruskan dengan bertemu sesama anggota umat dalam perjumpaan besar pada shalat Id, kemudian dikembangkan dalam kebiasaan terpuji bersilaturahmi kepada sanak kerabat dan teman sejawat, keseluruhan manifestasi Lebaran itu menggambarkan dengan jelas aspek sosial dari hasil ibadah puasa. Adalah bersyukur atas nikmat-karunia yang merupakan hidayah Allah kepada kita itu maka pada hari Lebaran kita dianjurkan untuk memperlihatkan
Akbar No. 208 n Agustus 2015
7
M
imbar Agama
kebahagiaan dan kegembiraan kita. Petunjuk Nabi dalam berbagai Hadits mengarahkan agar pada hari Lebaran tidak seorang pun tertinggal dalam bergembira dan berbahagia, tanpa berlebihan dan melewati batas. Karena itu zakat fitrah sebenarnya lebih banyak merupakan peringatan simbolik tentang kewajiban atas anggota masyarakat untuk berbagi kebahagiaan dengan kaum yang kurang beruntung, yang terdiri dari para fakir miskin. Dari segi jumlah dan jenis materialnya sendiri, zakat fitrah mungkin tidaklah begitu berarti. Tetapi, sama dengan ibadah korban yang telah disinggung di atas, yang lebih asasi dalam zakat fitrah ialah maknanya sebagai lambang solidaritas sosial dan rasa perikemanusiaan. Dengan perkataan lain, zakat fitrah adalah lambang tanggung-jawab kemasyarakatan kita yang merupakan salah satu hasil pendidikan ibadah puasa, dan yang kita menifestasikan secara spontan. Tetapi, sebagai simbol dan lambang, zakat fitrah harus diberi substansi lebih lanjut dan lebih besar dalam seluruh aspek hidup kita sepanjang tahun, berupa komitmen batin serta usaha mewujudkan masyarakat
K
B
upati dan Wakil Bupati Tuban menggelar open house, selaras dengan perayaan lebaran idul
fitri 2015. Sebagaimana perayaan hari raya idul fitri sebelumnya, Bupati Tuban, H. Fathul Huda, menggelar
yang sebaik-baiknya, yang berintikan nilai Keadilan Sosial. Inilah antara lain makna firman Allah berkenaan dengan Hari Raya Lebaran: Hendaknya kamu sekalian sempurnakan hitungan (hari berpuasa sebulan) itu, dan hendaknya pula kamu bertakbir mengagungkan Allah atas karunia hidayah dan diberikan oleh-Nya kepadamu sekalian, dan agar supaya kamu sekalian bersyukur. [20] "Min-al-'Aidin wa-'l-Fa'izin" (Semoga kita semua tergolong mereka yang kembali ke fitrah kita - dan yang menang - atas nafsu - egoisme kita).n Catatan Kaki 14. QS. al-Mujadalah/58:7 15. QS. Luqman/31:33. 16. QS. al-Baqarah/2:48 dan 123). 17. QS. al-Kahf718:110. 18. QS. al-Hajj/22:37. 19. Hadits shahih, riwayat al-Tarmidzi dan al-Hakim (Lihat Bulugh al-maram, Hadits No. 1561) 20. QS. al-Baqarah/2:185
isar EKSEKUTIF
“Gelar Open House” Dengan didampingi istri tercintanya, Ibu Hj. Qodiriyah dan empat orang anak serta tiga cucunya, Pak Huda, begitu Bupati Tuban biasa
Hangat, sambutan Pak Huda saat menggelar open house. Menerima tamu salah seorang Anggota DPRD Kabupaten Tuban. (kdg)
open house di Rumah Dinas (Rumdis) Bupati Tuban komplek Pendopo Kridho Manunggal. Sedang, Wakil Bupati (Wabup) Tuban, Ir. H. Noor Nahar Hussein, M.Si, menggelar open house di Rudis Wabub Tuban Jalan Sunan Bonang, berdekatan dengan Masjid Agung Tuban.
8 Akbar No. 208 n Agustus 2015
disapa, menyambut satu persatu tamu yang hadir. Mereka, baik dari kalangan keluarga Bupati Tuban, kolega, teman sejawat, anggota DPRD Kabupaten Tuban, Pimpinan SKPD, Camat, tokoh masyarakat Bumi Wali, maupun dari kalangan masyarakat umum. Pemandangan
yang sama juga terlihat di Rumdis Wabup Tuban, yang tidak terlalu jauh lokasinya dengan Rumdis Bupati Tuban. Pak Noor, begitu Wabup Tuban biasa disapa, didampingi istri terncinta beserta putra-putrinya, menyambut hangat tamu yang datang. Sebelumnya, Bupati Tuban didampingi jajaran Forpimda melaksanakan sholat idul fitri di Masjid Agung Tuban. Di tahun 2015 ini, Pak Bupati berkesempatan menjadi khatib pada khutbah sholat idul fitri. Dalam khutbahnya, Pak Huda, menjelaskan tentang hakikat bulan Ramadhan yang sejatinya merupakan bulan tarbiyah atau pendidikan bagi pribadi-pribadi muslim untuk menjadi pribadi yang muttaqin. Adapun yang diajarkan oleh bulan Ramadhan, menurut Pak Huda, adalah pentingnya pengendalian diri dari nafsu duniawi, membangun kepekaan sosial dengan
K berzakat, infaq dan shodaqoh, serta jihad dalam konteks terciptanya sistem sosial guna mewujudkan masyarakat yang lebih maju, religi sejahtera dan bermartarabat. Ditambahkan oleh Pak Bupati, bahwa pada dasarnya dosa-dosa kita akan diampuni oleh Allah SWT, yaitu dosa-dosa yang menyangkut hubungan langsung dengan Allah
B
upati Tuban, H. Fathul Huda, mengingatkan agar kita tidak menjadi orang yang “bangkrut”. Manusia yang “tekor” itu dapat diartikan kurang pahalanya jika dihisab kelak. Bab mengenai orang yang “merugi” di atas disampaikan oleh
isar EKSEKUTIF
SWT. Sementara, dosa-dosa lain yang berkaitan dengan sesama manusia, ampunan Allah SWT tergantung pada permaafan masingmasing manusia yang bersangkutan. Oleh karena itu, setelah sholat ied dianjurkan saling memaafkan satu dengan lainnya. Karena, bisa jadi disengaja atau tidak terjadi
Hindarkan “Kebangkrutan” yang ditakutkan oleh kebanyakan orang, Tetapi, “orang yang bangkrut” di atas adalah yang menurut Rasulullah SAW. Dalam sebuah kisah, Rasulullah pernah berdiskusi dengan sejumlah sahabatnya me-
Sangat penting, saling memaafkan antara Bupati dan Staf. (kdg)
Pak Bupati di sela-sela acara halal bihalal bersama PNS di lingkungan Pemkab Tuban. Kegiatan hari pertama setelah beberapa hari libur lebaran idul fitri ini diselenggaraan di halaman Gedung Pemkab Tuban Jalan R.A. Kartini No. 2 Tuban. Dijelaskan oleh Pak Huda, sapaan Bupati Tuban, bangkrut bukanlah dalam hal material seperti
kesalahan dan belum saling bermaafkan. Sementara itu, malam sebelum sholat ied, Pak Huda didampingi jajaran Forpimda juga berkesempatan memberangkatkan takbir keliling yang diikuti oleh 70 kendaraan dari jaran SKPD, Sekolah dan Masyarakat, dengan mengambil start dan finish di depan Kantor Bupati Tuban.n kdg
ngenai definisi orang yang “merugi atau bangkrut”. Beberapa sahabat berpendapat bahwa “orang yang bangkrut” adalah mereka yang tidak mempunyai “dirham maupun dinar”. Juga, ada yang berpendapat bahwa “orang yang rugi itu” adalah terkait perdagangan. Sementara, Rasulullah dalam sabdanya, menjabarkan, bahwa
orang yang bangkrut adalah mereka yang pada hari kiamat banyak pahala sholat, puasa, zakat dan haji, tetapi, di sisi lain juga mencaci orang, menyakiti orang, memakan harta orang (secara bathil), menumpahkan darah dan memukul orang lain. Lantas, diadili dengan cara membagi-bagikan pahalanya kepada orang yang pernah dizali-minya, setelah habis pahalanya, ternyata masih ada yang menuntutnya, sehingga dosa orang yang menuntutnya diberikan kepadanya, dan pada akhirnya menjadi “tekor”. Sebagai manusia hindarilah “kebangkrutan” dengan selalu berbuat baik dengan sesama manusia lainnya. Jika dosa hamba kepada Allah SWT dapat dihapus dengan taubat dan istighfar, maka, untuk mengugurkan dosa atau kesalahan yang pernah dilakukan kepada sesama manusia, dilakukan dengan meminta maaf langsung kepada manusia lainnya. Oleh sebab itu, sangat penting halal bihalal diadakan, untuk menjadi ajang saling memaafkan sesama manusia. Baik antara Bupati dengan Pegawai dan masyarakatnya, juga antara bawahan dengan atasannya, antara teman dan sejawatnya. Sehingga, terjalin keharmonisan dalam menjalankan roda Pemkab Tuban.n kdg
Akbar No. 208 n Agustus 2015 9
LAPORAN
UTAMA
Diikuti Dua Pasang Calon Dua pasang Calon Bupati-Wakil bupati Tuban bakal berhelat di arena Pemilu Bupati-Wakil Bupati Tuban 9 Desember 2015. Keduanya, pasangan H. Fathul Huda-Ir. H. Noor Nahar Hussein, MSi dan Zakky Mahbub-Dwi Susiantin Budiarti.
P
asangan Pak Huda-Pak Noor merupakan pasangan incumbent, sedang Pak Zakky-Bu Dwi merupakan sosok pasangan perseorangan, atau dikenal dengan sebutan jalur independen. Pak Huda-Pak Noor, yang kini masa menjabat Bupati-Wakil Bupati Tuban, telah mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Tuban, 28 Juli 2015 siang. Begitupun pasangan perseorangan Pak ZakkyBu Dwi, yang malah telah menempuh perjalanan panjang untuk dapat “diterima” sebagai Calon BupatiWakil Bupati Tuban. Saat mendaftar ke KPU Kabupaten Tuban, pasangan Pak HudaPak Noor didukung oleh delapan (8) Parpol (Partai Politik). Kedelapan Parpol pengusung calon incumbent, masing-masing, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Demokrat, Nasional Demokrat (Nasdem), Hati Nurani Rakyat (Hanura), Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN). Pak HudaPak Noor beserta partai pendukung mendaftar ke KPU Kabupaten Tuban sekitar pukul 13.30 WIB. Pak Zakky-Bu Dwi telah menempuh perjalanan panjang sebagai calon perseorangan, atau yang disebut-sebut melalui jalur independen. Sebagaimana persyaratan untuk dapat mendaftar ke KPU Kabupaten Tuban, duet ini sebelumnya menggali sebanyak 86.637 “suara”. Selanjutnya, sejumlah 2.492 “suara” dinyatakan tidak lolos, tersisa 84.145 dukungan. Berikutnya, diverivikasi lagi dan pada akhirnya menyusut lagi menjadi 76.690 dukungan. Meski sejumlah 7.455 “suara”
Agustus 2015 10 Akbar No. 208 n
ini dinyatakan tidak sah, akan tetapi pada tanggal 15 Juli 2015 KPU Kabupaten Tuban menetapkan lolosnya pasangan Pak Zakky-Bu Dwi. Dukungan calon perseorangan agar bisa menjadi peserta Pemilihan BupatiWakil Bupati Tuban 9 Desember 2015 sebesar 6,5% dari total jumlah penduduk Kabupaten Tuban. Sehingga, apabila diangkakan, setidaknya calon perseorangan harus mengantongi dukungan sebanyak 75.634 “suara”. Begitupun dengan dengan sebaran dukungan, kalau Kabupaten Tuban memiliki 20 wilayah Kecamatan, maka “suara” calon perseorangan harus menyebar lebih dari 10 wilayah Kecamatan. “Gugurnya ribuan dukungan Pak Zakky-Bu Dwi ada banyak hal, ada lantaran kurang usia, juga ada yang merasa tidak memberikan “suaranya”,” ujar Yayuk A.S, SH, Divisi Sosialisasi, Pendidikan Politik dan Pengembangan Informasi KPU Kabupaten Tuban. Duet pasangan Pak Huda-Pak Noor juga dinilai KPU Kabupaten Tuban memenuhi persyaratan. Melalui dukungan 8 Parpol, dapat diartikan pasangan incumbent ini telah mendapatkan dukungan sebanyak 41 dari 50 kursi yang ada di DPRD Kabupaten Tuban. Sedang, dukungan kursi minimal, sebanyak 10 kursi di DPRD Kabupaten Tuban. Dukungan mayoritas kursi di DPRD Kabupaten Tuban ini sudah barang tentu menjadi kekuatan tersendiri bagi pasangan Pak Huda-Pak Noor. Sejumlah kalangan Parpol pendukung pasangan Pak Huda-Pak Noor menilai bahwa koalisasi untuk memenangkan Pemilu Bupati-Wakil Bupati Tuban bukanlah tendensiuspragmatis, melainkan tidak lebih dari
Duet pasangan Pak Huda-Pak Noor serahkan berkas. (rtn)
keinginan bersama untuk membangun Kabupaten Tuban tercinta. Sebagaimana diketahui, bahwa tantangan dalam membangun Bumi Wali semakian hari semakin bervariasi serta kompleks, untuk itu, sudah barang tentu membutuhkan “kawan” agar dapat tertata dengan baik. Jelasnya, Kabupaten Tuban tidaklah bisa dibangun dengan cara orang per orang, akan tetapi, sangat membutuhkan semangat-semangat kebersamaan. Terlebih lagi, “buah” dari pesta demokrasi itu adalah “amanah” kepemimpinan. Oleh sebab itu, akan sangat meringankan jika sebuah kepemimpinan ada banyak pihak atau elemen yang “membantu”. Dengan banyak dukungan, sudah barang tentu, beban dalam membangun Kabupaten Tuban, yang saban hari semakin bertambah berat, dapat dipikul bersama. Tentunya, segala sesuatunya itu, diorientasikan demi terwujudnya masyarakat Kabupaten Tuban yang religius, menjunjung tinggi nilainilai kemanusiaan serta bertambah meningkatnya kesejahteraan masyarakat Bumi Wali. Kebersamaan tentu juga berbeda dengan “kompromi”. Kompromi memang tidak serta merta negatif. Adapun, kebersamaan, lebih bernilai produktif. Oleh karena itu, yang dikerangkakan adalah koalisi produktif. Dengan harapan, Tuban ke depan lebih maju, lebih tertata, juga lebih sejahtera. Bukankah nilai-nilai demokrasi itu adalah kesejahteran.n rtn
LAPORAN
UTAMA
Calon Perseorangan, Coklit, Syarat Pendaftaran alon Bupati-Wakil Bupati perseorangan membutuhkan waktu relatif lama, tentunya harus melampaui beberapa tahapan (seperti di release dalam edisi terdahulu), yang mana sebelum tanggal pendaftran (26-28 Juli 2015) harus mencapai tahapan akhir, yaitu verifikasi administrasi dan factual serta perhitungan kembali hasil verifikasi. “Insya Allah, dari hasil verifikasi faktual dan penghitungan dukungan calon perorangan ini, keabsahannya melebihi ketentuan, alias berhak mengikuti Pilkada Serentak 9 Desember 2015,” tutur Yayuk Agus S, SH, Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Politik dan Pengembangan Informasi KPU Kabupaten Tuban. Bakal pasangan calon perorangan, hasil verifikasi adminstrasi dan faktual telah kelar tanggal 15 Juli 2015. Selepas tanggal tersebut, hasil verifikasi dihitung kembali. Ketika konfirmasi hitungan yang sah telah melewati ketentuan yang disyaratkan, KPU Kabupaten Tuban, s e b e l u m tanggal 26-28 Juli 2015, menyatakan positif bahwa pasangan perorangan bakal memenuhi syarat seb a g a i pendaftar Pilkada
C
Bu Yayuk. (mif)
Serentak. Untuk pendaftaran sendiri dibuka pada tanggal di atas, jam 08.00-16.00 WIB, di atas jam yang ditentukan pelayanan dinyatakan tutup. Coklit Beriringan dengan kegiatan verifikasi faktual, juga terjadi kegiatan penyempurnaan atau pembenahan pemegang hak pilih yang disebut dengan coklit (pencocokan dan penelitian) data pemilih. Coklit ini selain kegiatan verifikasi lapangan calon perorangan, di dalamnya juga mengecek DP4 (Daftar Penduduk Potensi Pemilih Pemilihan Umum) yang lalu, apakah ada perubahan atau tidak untuk disusun menjadi data DPS (Daftar Pemilih Aementara) Pilkada Serentak 2015. Langkah penyempurnaannya, dari DP4 yang dikeluarkan Mendagri diserahkan KPU Kabupaten Tuban untuk disinkronisasi. Sinkronisasi ini, mencocokkan kembali antara daftar pemilih DP4 dengan kenyataan lapangan per rumah tangga, yang didata oleh Petugas KPU di tingkat Desa (PPS-KPPS) yang menjadi PPDP (Petugas Pemutakhiran Data Pemilih). Hasilnya adalah DPS, yang nantinya akan diresmikan menjadi DPT, tentunya, setelah melalui tahapan yang sesuai dengan UU. Bukti telah diadakannya coklit adalah rumah anggota keluarga yang telah dicoklit dipasang stiker. “Jadi tidak main-main, dari DP4 menjadi DPS, oleh Petugas PPS atau KPPS dilakukan pengecekannya door to door, agar tingkat kesalahannya menjadi amat minim serta validitasnya bisa dijaga dan dipertanggungjawabkan,” tegas Bu Yayuk.
Bukti coklit. (mif)
Syarat Umum Pendaftaran Bu Yayuk memberikan keterangan terkait syarat pendaftaran, baik yang diusung oleh partai atau gabungan partai, maupun dari perorangan, di antara (tidak semua) yang dianggap penting dan sudah umum syaratnya sebagai berikut: Ijazah terendah SMA Sederajat, umur minimal 25 tahun (di antara paket calon), sehat jasmani dan rohani, tidak pernah dijatuhi pidana (dengan ancaman minimal 5 tahun), tidak sedang dicabut hak pilihnya, tidak mempunyai tanggungan hutang (tidak sedang dinyatakan pailit), belum pernah menjabat Bupati/ Wakil Bupati. Penjelasan syarat tidak pernah 2X menjadi Bupati/Wakil Bupati, artinya, jika seseorang baik berturutan maupun tidak berturutan menjabat menjadi Bupati, maka, yang bersangkutan tidak diperbolehkan mendaftarkan sebagai Bupati kembali walau pasangannya baru. Namun, diperbolehkan mendaftar sebagai Wakil Gubernur, Gubernur dan sebagainya (asal tidak Bupati/Walikota). Begitu juga, Wakil Bupati yang pernah menjabat 2X baik berturut maupun tidak, tidak boleh mendaftarkan sebagai Wakil Bupati/Wakil Wali Kota kembali. Tetapi, boleh mendaftarkan sebagai Bupati, Gubernur dan lainnya.n mif
Akbar No. 208 n Agustus 2015 11
LAPORAN
UTAMA
KPU Launching Media Centre Dari kiri: Bu Yayuk, Pak Gogot, Pak Kasmuri dan Pak Tris. (mif)
Ketua KPU (Komisi Pemilihan Umum) Kabupaten Tuban, Kasmuri, menyatakan, dengan adanya media centre KPU diharapkan dapat memberikan layanan informasi yang baik. Selain itu, aliran informasi terkait penyelenggaraan Pemilu, terkhusus Pilkada Serentak 9 Desember 2015, menjadi berimbang dan sehat.
T
erbentuknya media centre KPU, yang disertai pengukuhan PPID (Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi) KPU Kabupaten Tuban, merupakan bentuk dari layanan informasi publik, khususnya dalam jangka dekat ini adalah seputar informasi Pemilihan Bupati – Wakil Bupati Tuban. Sedang, jangka panjangnya adalah Pemilu Legislatif maupun Pemilu Presiden. Tujuan dibentuknya media centre agar masyarakat menjadi terang, dalam artian mendapatkan informasi yang benar di seputar penyelenggaraan Pemilu. Sudah barang tentu, informasi yang terkait Pemilu yang mampu berkontribusi dalam memahamkan publik atau masyarakat, semisal tentang kewajiban dan hak warga negara dalam ranah Pemilu, pun mengenai Pilkada
12 Akbar No. 208 n Agustus 2015
Serentak. “Tentu, KPU tidak mempunyai media khusus, sehingga perlu bermitra dengan media dan wartawan yang bertugas di Kabupaten Tuban,” jelas Pak Kasmuri. Dalam perhelatan launching media centre dan PPID KPU Kabupaten Tuban, undangan yang hadir, antara lain, wartawan yang tergabung dalam RPS (Ronggolawe Pers Solidarity), wartawan Majalah Akbar serta dari Radio Pradya Swara. Sedang, yang me-launching acara Gogot Cahyo Bhaskoro, S.Sos, Ketua Divisi Sosialisasi dan Kehumasan KPU Jatim, diidampingi Pak Kasmuri, Bu Yayuk dan Pak Imam Sutrisno (Ketua, Ka. Divisi Sosialisasi, Pendidikan Politik dan Pengembangan Informasi dan Sekretaris KPU Kabupaten Tuban). Animo masyarakat Ketua Divisi Sosialisasi dan Kehumasan KPU Jatim, Gogot Cahyo Bhaskora, S.Sos, menyatakan, bahwa yang melatarbelakangi pembentukan media centre dan pengembangan PPID ini di antaranya; (*) Partisipasi pemilih sejak Pemilu 1999 sampai dengan Pemilu 2014 yang bergerak fluktuatif. Pada Pemilu Legislatif, penurunan partisipasi pemilih sekitar 10% konsisten terjadi sampai pada Pemilu 2009. Sementara itu, pada Pemilu 2014, angka partisipasinya naik sebesar
5%. Berikutnya: (*) Pragmatisme politik masyarakat pemilih cukup tinggi. (*) Apatisme politik masyarakat pemilih. Juga: (*) Keterbatasan penyelenggara Pemilu dalam mengakses masyarakat. “Untuk memperbaiki kondisi yang tidak sehat pada penyelenggaraan Pemilu, dibutuhkan aliran informasi yang baik tentang Pemilu kepada masyarakat, agar tidak berlarut-larut dalam kondisi tidak sehat,” tegasnya. Dari kondisi yang ingin diperbaiki oleh KPU tersebut, maka, ada harapan ke depan bisa terbangun hubungan saling menguntungkan antara penyelenggara Pemilu dengan media. Hal ini akan berpengaruh pada tingkat kemengertian atau kefahaman masyarakat, karena informasi sampai dengan benar dan berimbang. Memelihara komunikasi yang harmonis antara lembaga dengan publiknya. Melayani kepentingan publik dengan baik. Dan, memelihara perilaku dan moralitas lembaga dengan baik. Alasan KPU membentuk media centre dan bermitra dengan media pada umunya adalah untuk memberikan pendidikan, membentuk pemikiran dan pembelajaran politik masyarakat dengan sehat dan rasional. Juga, menyampaikan informasi kepemiluan terhadap masyarakat. Selain itu, sebagai kontrol terhadap penyelenggara
LAPORAN
Pemilu, jika penyelenggaraan tidak sehat, berpihak dan tidak menaati undang-undang dan peraturan yang berlaku. “Jadi, kita ingin transfaran dan akuntabel dalam penyelenggaraan Pemilu,” terang Pak Gogot Cahyo Bhaskoro. Sangat membantu Menurut, Yayuk Agus S, SH, selama ini media centre dan pengembangan PPID mungkin belum pernah dioptimalkan fungsinya. Oleh karena itu, dengan dihadiri temanteman media baik dari komunitas
UTAMA
RPS, Majalah Akbar dan Radio Pradya Swara, tentu dalam aliran informasi sangat membantu KPU. Terutama, dalam memberikan pemahaman terkait Pemilu kepada masyarakat. Dibalik itu, media centre dan pengembangan PPID, dengan bentuk kemitraan dengan media secara umum, setidaknya keberimbangan berita tentang Pemilu pun Pilkada Serentak 9 Desember 2015 bisa dijalin. Sebab, pintu untuk konfirmasi dan menggali data dan dinamisasi pelaksanaan Pemilu pun Pilkada dalam waktu dekat ini, terbuka bagi
segenap media yang wartawannya bertugas di Kabupaten Tuban. Menurutnya, hal ini amat sesuai dengan fungsi KPU itu sendiri, yaitu, fungsi pendidikan politik bagi masyarakat, layanan informasi terkait penyelenggaraan Pemilu, fungsi penyelenggaraan Pemilu yang sehat dan benar dan fungsi yang terakhir, yaitu fungsi berjangka panjang, yaitu, mempengaruhi (affection) masyarakat agar dalam berdemokrasi secara pilihan (electoral democratic) bisa menajdi perilaku politik yang ditandai dengan nilai-bilai etika dan moralitas yang baik.n mif
Waktu Pendaftaran Pendek Pak Huda diantar Becak. (ydh)
C
uaca yang cukup terik ternyata tak menyurutkan langkah pasangan Bakal Calon (Balon) Bupati dan Wakil Bupati Tuban, H. Fathul Huda dan Ir. Noor Nahar Hussein, Msi untuk mendaftarkan diri ke Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Tuban, 28 Juli 2015. Pasangan incumbent ini resmi mendaftar sekitar pukul 13.00 WIB di kantor penyelenggara Pemilu yang terletak di Jalan Pramuka Tuban. Seolah ingin menyapa masyarakat Bumi Wali secara langsung, pasangan petahana itu berangkat dengan diarak naik becak dari rumahnya di Kelurahan Latsari menuju Kantor Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebelum sampai di KPUK Tuban. Keduanya diantar puluhan pengurus Partai Politik (Parpol) pengusung dan pendukung. Delapan parpol pengusung, yakni PKB, Nasional Demokrat (NasDem), Partai Amanat Nasional (PAN), Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hati Nurani Rakyat (Hanura), dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). ”Kita ke KPU bersama rombongan untuk melakukan pendaftaran sebagai Calon Bupati dan Wakil Bupati Tuban pada Pilkada 9 Desember 2015 men-
datang,” tutur Calon Bupati Incumbent, H. Fathul Huda. Selanjutnya, Pak Huda, begitu dia biasa disapa, mengatakan, akan melanjutkan program-program yang sudah ada. Program-program pembangunan yang telah berjalan dengan baik akan dipertajam dan dimatangkan. Sebelumnya, pada saat yang sama di pagi harinya, pasangan lain juga telah mendaftar. Pada pukul 10.00 WIB, berkas balon dari pasangan independen Zakky Mahbub-Dwi Susiatin Budiarti (Zakky-Dwi) diterima Ketua KPU Kabupaten Tuban, Kasmuri, SE. Pak Kasmuri, menerangkan, selama masa pendaftaran dibuka pada 26 hingga 28 Agustus 2015, baru pada hari terakhir pihaknya menerima pendaftaran. Sedangkan, hari pertama dan kedua nihil alias tidak ada pendaftar. “Waktu pendaftaran pasangan calon memang cukup pendek, hanya tiga hari kerja saja. Itupun terkendala libur lebaran. Sehingga, parpol serta pasangan calon perseorangan harus cermat dan tepat dalam mempersiapkan segala sesuatunya,” tegasnya. Setelah pendaftaran, KPU Kabupaten Tuban melakukan verifikasi berkas balon Bupati dan Wakil Bupati Tahun Pemilihan 2015. Selain verifikasi, pasangan tersebut juga harus lolos tes kesehatan. Terkait pemeriksaan kesehatan, KPU bekerjasama dengan RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Hal ini sesuai dengan surat rekomendasi dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Tuban. “Pemeriksaan kesehatan dilakukan secara menyeluruh. Jadwalnya satu minggu, mulai 26 Juli sampai 1 Agustus 2015,” urainya. Jika dalam verifikasi dan tes kesehatan tidak memenuhi syarat, kedua bakal pasangan calon yang sudah mendaftar itu bisa gagal.n ydh
Akbar No. 208 n Agustus 2015 13
A GUSTUSAN
Mengenang Kalimat-kalimat Perjuangan Bung Karno Ü “Berikan aku seribu (1000) orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, berikan aku satu (1) pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” . Ü “Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya”. (Pidato HUT Proklamasi 1956 Bung Karno). Ü “Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang Presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan di atas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.” Ü “Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”. Ü “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” (Pidato Hari Pahlawan 10 Nop.1961). Ü “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Ü “Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka”. (Pidato HUT Proklamasi 1963). Ü “... Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan ... “ Ü “Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat Elang Rajawali “. (Pidato HUT Proklamasi, 1949). Ü “Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita belum selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat”. (Pidato HUT Proklamasi, 1950). Ü “Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu: “Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim”. (Tuhan tidak merubah nasibnya sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merubah nasibnya)”. (Pidato HUT Proklamasi, 1964). Ü “Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali
14 Akbar No. 208 n Agustus 2015
untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang”. (Pidato HUT Proklamasi 1966). Ü “Apakah kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong”. (Pidato HUT Proklamasi, 1966). Ü “Aku lebih suka lukisan samudera yang bergelombangnya memukul, mengebu-gebu, dari pada lukisan sawah yang adem ayem tentrem. “Kadyo siniram wayu sewindu lawase” (Pidato HUT Proklamasi 1964). Ü “Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali”. (Sarinah, hlm 17/18). Ü “Berikan aku seribu (1000) anak muda maka aku akan memindahkan gunung tapi berikan aku sepuluh (10) pemuda yang cinta akan tanah air maka aku akan menguncang dunia”. Ü “Aku tahu bagaimana kecintaanmu pada tanah air. Kuhargai semangatmu yang berkobar-kobar itu. Tapi hanya itu yang kamu miliki. Engkau harus bijaksana dan bekerja dengan kepala dingin” (Bung Karno berbicara pada pemuda saat peristiwa Rengasdengklok) Bung Hatta Ü Betul, banyak orang yang bertukar haluan karena penghidupan, istimewa dalam tanah jajahan dimana semangat terlalu tertindas, tetapi pemimpin yang suci senantiasa terjauh daripada godaan iblis itu”. Ü “Memang benar pepatah Jerman: Der Mensch ist, war es iszt, artinya: “Sikap manusia sepadan dengan caranya ia mendapat makan”. Ü “Berpuluh-puluh pemimpin kita yang meringkuk dalam bui sengsara dalam pembuangan di Boven Digul, dengan tiada mempunyai pengharapan akan kembali lagi. Berapakah diantara saudara-saudara yang masih kenal akan nama-nama mereka?” Ü “Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata untuk membela cita-cita”. Ü “Untuk mencapai cita-cita yang tinggi manusia (pahlawan) melepaskan nyawanya pada tiang
A GUSTUSAN gantungan, mati dalam pembuangan, tetapi senantiasa menyimpan dalam hatinya yang luka wajah tanah air yang duka”. Ü “Saya menyebut satu nama yang patut menjadi kenang-kenangan buat selama-lamanya, Tjipto Mangunkusumo, yang meninggal kemarin pagi dalam usia 58 tahun. Sejarah hidupnya mudah diterangkan dengan beberapa kata saja: jujur, setia, ksatria, berjuang, berkorban, pembuangan, penyakitan”. (Surat Bung Hatta) Bung Tomo Ü “Merdeka atau Mati” Ü “Kita tunjukkan bahwa kita adalah benar-benar orang yang ingin merdeka … Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka”. Ü “Jangan kita serang musuh sebelum mereka menyerang kita. Jika musuh menyerang lebih dahulu, maka akan kita balas dengan penuh perjuangan”. Bung Syahrir Ü “Inilah kesempatan bagi kita pemuda untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa campur tangan Jepang! Tanpa PPKI buatan Jepang! Ya ... kemerdekaan yang murni hasil perjuangan bangsa Indonesia”. Ü “Apakah saudara-saudara siap membela kemerdekaan Indonesia? Dan siap membela tanah air Indonesia dengan jiwa dan raga, bahkan sampai titik darah penghabisan?” R.A. Kartini Ü “Peduli apa aku dengan segala tata cara itu … Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu … Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan.” (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899) Ü “Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baikbaik; orang baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi lagi, dan mereka itu meniru yang tertinggi pula ialah orang Eropa”. (Surat Kartini kepada Stella, 25 Mei 1899) Prof. Dr. Soeharso Ü ”Right or wrong my country, lebih-lebih kalau kita
tahu, negara kita dalam keadaan bobrok, maka justru itu pula kita wajib memperbaikinya”. M. Yamin Ü “Cita-cita persatuan Indonesia itu bukan omong kosong, tetapi benar-benar didukung oleh kekuatan-kekuatan yang timbul pada akar sejarah bangsa kita sendiri”. Supriadi Ü “Kita yang berjuang jangan sekali-kali mengharapkan pangkat, kedudukan, ataupun gaji yang tinggi”. Abdul Muis Ü “Jika orang lain bisa, saya juga bisa, mengapa pemuda-pemuda kita tidak bisa jika memang mau berjuang”. Jenderal Sudirman Ü ”Bahwa kemerdekaan satu negara, yang didirikan di atas timbunan runtuhan ribuan jiwa-harta-benda dari rakyat dan bangsanya, tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia siapapun juga”. Ü “Kami Tentara Republik Indonesia akan timbul dan tenggelam bersama negara”. Ü “Tentara bukan merupakan suatu golongan di luar masyarakat, bukan suatu kasta yang berdiri di atas masyarakat, tentara tidak lain dan tidak lebih dari salah satu bagian masyarakat yang mempunyai kewajiban tertentu”. Ü “Jangan mudah tergelincir dalam saat-saat seperti ini, segala tipu muslihat dan provokasi-provokasi yang tampak atau tersembunyi dapat dilalui dengan selamat, kalau kita waspada dan bertindak sebagai patriot”. Ü “Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku dilindungi benteng merah putih, akan tetap hidup, tetap menuntut bela, siapapun lawan yang aku hadapi”. Ü ”Tempat saya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah. Saya akan meneruskan perjuangan. Met of zonder pemerintah, TNI akan berjuang terus”. (Kalimat ini dosampaikan saat jam-jam terakhir sebelum jatuhnya Yogyakarta dan Jenderal Sudirman dalam keadaan sakit, ketika menjawab pernyataan Presiden yang menasihatinya agar tetap tinggal di kota untuk dirawat sakitnya).n
Akbar No. 208 n Agustus 2015 15
O
PINI
Belum (Sepenuhnya) Menjadi Indonesia Oleh : Salahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang
B
angsa Indonesia adalah hasil perjuangan bersama warga bernasib sama di wilayah Nusantara: dijajah oleh Belanda. Mereka hidup miskin, tidak mendapat pendidikan, tidak mempunyai hak sama dengan warga Belanda dan kaum priayi. Kekayaan alam Indonesia diisap oleh Belanda selama ratusan tahun. Dengan cultuurstelsel, Belanda me-manfaatkan tanah di Nusantara untuk menghasilkan produk-produk yang dikirim ke Belanda, lalu dijual dan menghasilkan uang yang amat besar. Menurut Bung Karno, mengutip dari Prof van Gelderen, Kepala Central Kantoor voor de Statistiek, dalam pidato ”Indonesia Meng-gugat” (1930), kekayaan yang diangkut dari Indonesia per tahun setidaknya mencapai 1,5 Miliar Gulden (dalam nilai sekarang mungkin 50 Miliar Euro atau sekitar Rp 600 Triliun). Mantan anggota Dewan Hindia Pruys van der Hoeven dalam buku Veerteg Jaren Indische Dienst menulis, ”Nasib orang Jawa dalam 40 tahun terakhir ini tidak banyak diperbaiki. Di luar kaum ningrat dan beberapa hamba negeri, hanya ada rakyat yang ”sekarang makan besok tidak”. Mantan Asisten Residen HEB Schmalhausen di dalam buku Over de Java en de Javanen menulis, ”Saya melihat dengan mata sendiri, bagaimana orang-orang perempuan sesudah berjalan beberapa jam, sampai di tempat yang dituju tidak bisa ikut mengetam padi karena terlalu banyak pekerja. Kami menghitung bahwa harga padi yang mereka terima sebagai upah paling banyak 0,09 Gulden per hari.” Kalau nilai Gulden dulu ekuivalen 50 kali nilai Euro kini, upah tersebut ekuivalen Rp 50.000 per hari. Kalau nilainya 20 kali, upah tersebut ekuivalen Rp 20.000 per hari. Itu sedikit lebih tinggi daripada standar Bank Dunia bahwa yang punya pendapatan di bawah 2 Dollar AS per hari tergolong miskin. Dengan standar tersebut, jumlah kelompok miskin 50 persen penduduk Indonesia atau di atas 120 juta orang. Bandingkan dengan Malaysia yang kelompok miskinnya sekitar 7 persen dari jumlah penduduk. Padahal, alam Indonesia lebih kaya dibandingkan dengan Malaysia. Fitrah manusia yang tinggal di wilayah Nusantara ialah bahwa mereka terdiri dari berbagai suku, etnis, dan ras. Ada ratusan suku hidup di wilayah itu. Mereka juga majemuk dalam hal agama. Ada sejumlah agama penduduk asli di sejumlah tempat. Perjuangan panjang sporadis secara militer melawan Belanda di beberapa daerah telah gagal. Muncullah
16 Akbar No. 208 n Agustus 2015
kesadaran bahwa perjuangan merebut kemerdekaan harus dilakukan bersama-sama dalam bidang politik. Syukur ada cukup banyak pemuda yang mendapat pendidikan tinggi dari berbagai suku dan agama. Mereka berjuang mempersatukan warga Nusantara dengan beragam latar belakang. Ikatan kebersamaan Menurut Bung Karno, Bapak Nasionalisme Indonesia adalah EFE Douwes Dekker (Setiabudi). Bersama Dr Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat, Setiabudi telah berpikir tentang suatu bangsa yang bukan diikat oleh sentimen primordial, kesamaan agama atau geografis, melainkan proklamasi sederhana tentang rasa kesetia-kawanan bangsa yang membebaskan. Bung Hatta dan kawan-kawan melalui Perhimpunan Indonesia di Belanda pada tahun 1924 menerbitkan Jurnal Indonesia Merdeka. Mahasiswa Jawa di Al-Azhar Kairo pada tahun 1922 bergabung dalam Kesejahteraan Mahasiswa Jawa Al-Azhar. Mereka juga membaca Jurnal Indonesia Merdeka. Pernyataan prinsip Perhimpunan Indonesia perlu kita catat: ”Masa depan bangsa Indonesia hanya terletak pada didirikannya satu bentuk pemerintahan yang bertanggung jawab pada amanat rakyat karena hanya bentuk pemerintahan itulah yang bisa diterima. Hanya Indonesia yang bersatu dan mengesampingkan perbedaan yang mampu mematahkan kekuatan penguasa yang menjajah. Tujuan bersama Perhimpunan Indonesia berdasar pada kesadaran dan bertumpu pada kekuatan aksi massa nasionalistis”. Kongres Pemuda 1928 menjadi wadah bagi sejumlah pemuda terpelajar sebagai representasi dari ratusan suku di seluruh Nusantara untuk bersumpah bahwa mereka mempunyai tanah tumpah darah yang satu, yaitu Indonesia; mempunyai bangsa yang satu, yaitu bangsa Indonesia; dan mempunyai bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Pencapaian bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia adalah suatu capaian luar biasa. Para pendiri bangsa menyadari realitas kebinekaan tersebut dan menetapkan Pancasila menjadi landasan bersama yang mempersatukan warga multimajemuk menjadi suatu bangsa. Masalah hubungan agama (Islam) dan negara dapat diselesaikan untuk sementara pada 1945 dan diselesaikan tuntas secara formal pada 1984 setelah NU menghasilkan dokumen Hubungan Islam dan Pancasila yang diikuti ormas dan orpol Islam.
O Indonesia gagasan ideal Roh ke-Indonesiaan termaktub dalam Pembukaan UUD yang mengandung Pancasila. Untuk bisa mewujudkan cita-cita bangsa, didirikan negara Republik Indonesia yang tujuannya dijelaskan di dalam Pembukaan UUD. Negara secara konkret diwakili pemerintah dan lembaga negara lain. Gagasan itu terasa ideal sehingga oleh Benedict Anderson dianggap sebagai ”the imagined community”. Ada beberapa aspek yang bisa menjadi ukuran sejauh mana kita telah menjadi Indonesia, yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, mewujudkan kesejahteraan umum dan keadilan sosial. Juga mengelola secara baik keragaman agama, suku, etnis, dan ras. Banyak contoh bahwa kita tidak mampu melindungi warga negara yang terpaksa bekerja di luar negeri karena sulitnya mencari pekerjaan di Tanah Air. Masalah hubungan antar suku sudah tidak jadi masalah. Perkawinan antar suku sudah amat biasa. Namun, yang sekarang kita saksikan ialah munculnya sentimen kedaerahan dalam kaitan politik. Sentimen antiTionghoa sudah jauh berkurang dan budaya Tionghoa b a h k a n menjadi bagian dari budaya kita setelah Imlek diakui sebagai hari libur. Namun, ada masalah dalam hubungan antar umat beragama dan antar umat Islam. Yang masih hangat ialah masalah GKI Yasmin di Bogor, warga anggota jemaah Ahmadiyah Indonesia di sejumlah tempat, dan pengikut Syiah di Sampang. Banyak umat Islam dan tokohtokohnya tidak mampu memisahkan atau membedakan antara masalah keagamaan dan masalah kenegaraan. Kasus yang menimpa warga Syiah di Sampang menunjukkan bahwa warga hanya memakai hukum Islam (menurut tafsiran mereka) sebagai dasar tindakan, tanpa mau tahu bahwa warga pengikut Syiah itu warga negara Indonesia yang punya hak untuk hidup. Keadilan belum hadir di Indonesia, baik dalam masalah hukum maupun sosial ekonomi. Kita semua tahu bahwa lembaga penegak hukum, mulai dari kepolisian, kejaksaan, maupun pengadilan, sulit diharapkan. Hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas. Pencuri sandal jepit dan buah tidak berharga diadili, tetapi koruptor banyak yang dibebaskan. Hukum kalah oleh uang, kalah oleh kekuasa-an, dan kalah oleh tekanan massa. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
PINI
Indonesia, dibandingkan dengan empat sila lain, adalah yang paling sedikit mendapat perhatian. Cerdaskan bangsa Yang harus dicerdaskan kehidupan bangsa, bukan sekadar orang per orang. Mencerdaskan kehidupan bangsa berarti menghilangkan sikap bangsa terjajah, sikap “inlander” yang terbelenggu oleh keterjajahan, tidak punya harga diri, minder, dan fatalis. Kehidupan bangsa yang cerdas tentu mensyaratkan adanya harga diri, harkat, martabat, kejujuran, rasa saling percaya, kemandirian, kepandaian, sikap tidak mudah menyerah, produktif, hemat, dan keadilan. Kehidupan bangsa yang cerdas akan membuat kita menjadi bangsa k u a t . Tu j u a n i t u dicapai dengan pelaksan aan dari kebijakan pendidikan yang ditujukan bagi seluruh warga negara Indonesia. UUD Pasal 28C angka (1) menjelaskan, bahwa”setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidup dan demi kesejahteraan manusia. Pasal 11 Ayat 1 dari UU No 20/ 2003 tentang Sisdiknas mengamanatkan, bahwa ”Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi”. Sampai kini ada sekitar 20 juta anak usia 7-15 tahun yang belum tersentuh pendidikan dasar. Ada sekitar 8 juta anak usia 16-20 tahun yang tidak dapat menikmati pendidikan menengah. Sekitar 3 juta tamatan sekolah menengah tidak bisa meneruskan ke perguruan tinggi. Dua pertiga tenaga kerja hanya tamat SMP. Hasil uji kompetensi awal guru yang akan ikut sertifikasi pada 2012 (10 persen dari jumlah guru) menunjukkan bahwa rata-rata untuk SD mencapai angka 36,86; untuk SMP 46,15; SMA 51,35. Kompetensi yang rendah dari para guru membuat siswa tidak siap menghadapi ujian nasional sehingga mereka stres. Pendidikan adalah kunci untuk menyiapkan anak bangsa sebagai aset sesungguhnya dari bangsa Indonesia. Jumlah penduduk usia produktif yang lebih besar dari penduduk usia non-produktif harus dimanfaatkan dengan baik. Kita harus memperbaiki kesejahteraan dan meningkatkan mutu guru, termasuk guru swasta yang berjumlah hampir 1 juta orang. Dengan melihat beberapa fakta di atas, menurut saya kita baru 15 persen menjadi Indonesia. Kenyataan pahit itu terjadi karena maraknya korupsi dalam arti luas (penyalahgunaan kekuasaan) dan kebijakan yang tidak pro rakyat.n
Akbar No. 208 n Agustus 2015 17
I
INFO DESA
Segera Gelar KIB Pemandangan salah satu kampung juara KIB 2014. (rtn)
B
adan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Tuban segera menggelar Lomba KIB (Kampung Idaman Berseri). Di tahun 2015 ini “festival” tahunan itu telah memasuki tahun keempat. Lomba KIB pertama kali digagas tahun 2014 lalu. Untuk memulai penyelenggaraan “lomba kebersihan” penunjang peraihan Adipura Kencana di atas akhir Juli 2015 BLH telah mengundang sejumlah calon Juri penilai RTRT (Rukun Tetangga) peserta “Festival KIB”. Mereka terdiri dari berbagai elemen, mulai dari unsur Satker (Satuan Kerja) terkait, elemen Jurnalis, TP-PKK (Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) Kabupaten Tuban hingga calon Juri dari elemen LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Masing-masing diundang untuk mematangkan item-item yang terkait dengan penilaian Lomba KIB. Singgih Sutoyo, SH, Kepala Bidang (Kabid) Pelestarian dan Kemitraan BLH Kabupaten Tuban, mengatakan, usai mengajak diskusi calon Juri KIB, BLH tidak lama lagi melaksanakan sosialisasi seputar penyelenggaran Lomba KIB. Pada tahun 2015 ini, sosialisasi KIB tidak lagi dipusatkan di Pendopo Kantor Kecamatan Kota Tuban, melainkan, penyelenggaraaannya disebar di tiga titik Balai Kelurahan. Tentunya, di Balai Kelurahan yang mewakili posisi Kelurahan sebelah Barat, Tengah maupun Timur. “Sebaran sosialisasi itu untuk menjaring peserta sosialisasi sebanyak-banyaknya. Dengan harapan, banyak yang paham terhadap Lomba KIB,” tutur Pak Singgih, sapaan Kabid Pelestarian dan Kemitraan BLH
18 Akbar No. 208 n Agustus 2015
Kabupaten Tuban. Pejabat BLH yang baru saja menggantikan H. Bihismo S. Adjie, SE, MM, karena bertugas di Dinas Perekonomian dan Pariwisata (Disperpar) itu, menjelaskan, sosialisasi Lomba KIB tidaklah lain adalah memotivasi warga RT agar berperilaku peduli terhadap Lingkungan Hidup (LH). Oleh karena itu, dapat pula dikatakan sebagai kegiatan edukasi maupun komunikasi di bidang LH. Selain itu, bisa dimaknai dengan pemberian wawasan maupun pengetahuan tentang pengelolaan limbah. Sebagaimana diketahui, kegiatan edukasi maupun komunikasi masyarakat di bidang LH masih penting untuk digaungkan. Hal ini untuk membangkitkan rasa kebersamaan pun kegotongroyongan dalam mengelola LH. Tidak usah kita pungkiri, bahwa masih terdapat kawasan-kawasan RT yang tampak “lusuh” serta kurang diperhatikan kebersihannya. Terlebih, terkait pengelolaan limbah keluarga maupun lingkungan RT. Masih terlihat sejumlah besar warga perkotaan kurang peduli dalam pengelolaan LH. Disamping, beranggapan bahwa pengelolaan LH adalah urusan pemerintah. Padahal, merupakan urusan bersama antara pemerintah dengan warganya. “Untuk itu anggapan ini kita luruskan. Di antaranya, pembetulan pola pikir melalui kegiatan sosialisasi Lomba KIB,” kata Pak Kabid Pelestarian dan Kemitraan BLH Kabupaten Tuban. Tumbuhnya kesadaran masyarakat diharapkan tidak semata menjelang penilaian Lomba KIB, akan tetapi harus menjadi “budaya” masyarakat sepanjang jaman. Pengelolaaan terhadap LH bukanlah sebuah tujuan jangka pendek. Tetapi, hingga akhir hayat. Pola pikir terhadap pengelolaan LH harus tertransfer secara turun menurun. Dari generasi ke generasi. Terlebih, tantangan LH setiap saat. Datang dari waktu ke waktu,
juga senatiasa menyelimuti kehidupan kita sehari-hari. Untuk itu, Lomba KIB janganlah dipandang sekedar “Lomba”, melainkan harus dimengerti sebagai kewajiban bersama dalam mengelola LH. Cinta kepada LH jadikanlah life style. Dengan begitu, akan memperingan persoalan-persoalan LH. Terlebih, semua tahu dampak kerusakan LH sangat “mengerikan”. Begitupun dengan resikonya, mengancam keselamatan anak generasi. Saat ini Kabupaten Tuban tengah bekerja keras mempertahankan predikat kota Adipura Kencana. Oleh karena itu, lambang supremasi kebersihan itu “wajib” kita jaga. Jangan sampai lepas, salah satunya dengan menggregetkan Lomba KIB. Tidak ada kelirunya warga RT berpartisipasi. Justru, keterlibatannya sangat diharapkan. Bukan untuk kepentingan pemerintah. Namun, berguna bagi kita sekalian yang bermukim di Bumi Wali tercinta. Penilaian Sementara itu, staf Pak Singgih, Gatot Marsudiono, ST, memaparkan beberapa kriteria penilaian Lomba KIB. Di antaranya, kriteria kelembagaan dan administrasi (15%), pengelolaan saluran drainase (15%), pengelolaan jalan lingkungan (10%), pengelolaan lingkungan permukiman (15%), pengelolaan sampah/bank sampah (20%), pengelolaan penghijauan (15%), pengelolaan TOGA dan tanaman organik (10%).n rtn Penilaian drainase Lomba KIB. (rtn)
istimewa
B
upati Tuban, H. Fathul Huda, menerima penghargaan Satyalencana Pembangunan Bidang Koperasi dan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah). Penghargaan tersebut diserahkan oleh Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI), Jusuf Kalla, pada puncak acara peringatan Hari Koperasi ke-68 yang dipusatkan di Rumah Dinas (Rumdis) Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kupang, 12 Juli 2015. Kabag Humas dan Media Setda Kabupaten Tuban, Drs. Teguh Setyobudi, MM, mengatakan, Pak Huda, sapaan Bupati Tuban, dinilai berhasil menumbuhkembangkan Koperasi dan UMKM melalui dukungan kelembagaan, alokasi anggaran, serta sarana dan prasarana, sehingga memberi kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan anggota Koperasi, UMKM serta masyarakat Kabupaten Tuban pada umumnya. Tanda Kehormatan Satyalencana Pembangunan diberikan kepada Bupati Tuban setelah sebelumnya menerima Penghargaan Bhakti Koperasi di tahun sebelumnya serta dikukuhkannya Kabupaten Tuban sebagai Kabupaten Penggerak Koperasi, dan dibuktikan dengan dijadikannya Kabupaten Tuban sebagai penyelenggara puncak Hari Koperasi ke-68 tingkat Propinsi Jawa Timur
Dianugrahi Satyalencana Pembangunan (Jatim) beberapa waktu yang lalu. Saat ini, di Kabupaten Tuban telah tumbuh sebanyak 1068 lembaga Koperasi yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Tuban hingga tingkat Desa dan Kelurahan. Masih 70% Sementara itu, Wapres RI, Jusuf Kalla, mengatakan, pemerintah berusaha memberikan penghargaan bagi pimpinan daerah maupun tokoh masyarakat yang telah mengeliatkan Koperasi maupun UMKM. Meski begitu, ada yang masih disayangkan, sebab masih cukup banyak Koperasi di Indonesia yang hanya “papan nama” atau “koperasi stempel”. “Itu harus ditertibkan sehingga Koperasi yang beroperasi adalah Koperasi yang betul-betul aktif, teratur dan tertib administrasi," tutur Pak Kalla, sapaan Wapres RI, di sela-sela puncak acara Hari Koperasi ke-68, yang secara nasional peringatannya dipusatkan di halaman Rumdis Gubernur NTT di Kupang. Sementara, ikut mendampingi Wapres RI di antaranya, Ketua DPR RI, Drs. Setya Novanto, Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, sejumlah Menteri Kabinet Kerja Jokowi-JK, Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin), Nurdin Halid dan ribuan undangan lainnya.
Wapres mensyukuri bahwa masih 70% Koperasi tetap aktif dan administrasinya teratur. Untuk itu, Koperasi yang ada harus meningkatkan keanggotaannya, dan pada momen peringatan 68 tahun Koperasi ini juga dijadikan hari untuk mengevaluasi sejauh mana kiprah Koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Sedang, apabila masih ada yang belum baik diimbau Wapres agar diperbaiki sehingga tujuan yang diharapkan, yaitu menyejahterakan anggotanya, dapat terwujud. Pak Kalla, menuturkan, pemerintah siap memberikan bantuan apabila “koperasi papan nama dan koperasi stempel” itu berjalan dan ada usahanya. Pemerintah, tidak mungkin mau bantu kalau koperasi hanya sekadar nama, juga tidak ada usahanya. Oleh karena itu, Wapres berharap ke depan tidak ada lagi “koperasi papan nama atau hanya stempel”. “Syukur saat ini ada sekitar 70% Koperasi yang aktif dan teratur. Koperasi itu kegiatan bersama, usaha bersama, berdasarkan azas kekeluargaan. Jadi, saya minta yang aktif, terus meningkatkan jumlah anggotanya," imbau Pak Kalla.n kdg
Akbar No. 208 n Agustus 2015 19
istimewa
Sahur Bersama Ibu Sinta Nuriyah Ibu Sinta Nuriyah. (kdg)
B
upati Tuban, H. Fathul Huda, sangat mengidolakan almarhum Presiden Republik Indonesia (RI) ke4, KH. Abdurrahman Wahid atau biasa di sapa dengan Gus Dur. Menurut Pak Huda, Gus Dur adalah guru yang mengajarkan penghormatan terhadap sesama. “Beliau, Presiden RI ke-4, yang memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia bisa hidup rukun antar umat beragama dan tidak membeda-bedakan satu sama lain,” tutur Pak Bupati, yang dinyatakan pada kegiatan Sahur Bersama Ibu Sinta Nuriyah, istri tercinta almarhum Gus Dur. Ibu Negara Presiden ke-4 diundang ke Bumi Wali atas inisiatif pengelola Klenteng Kwan Sing Bio Tuban. Nilai keberagaman dan toleransi yang diajarkan Gus Dur oleh Pemkab Tuban ditunjukkan dengan memberikan bantuan terhadap semua tempat ibadah yang ada di Bumi Wali tanpa terkecuali. Bantuan tersebut tidak dibeda-bedakan, semua mendapatkan bantuan yang sama, baik masjid, gereja maupun klenteng sama-sama mendapat bantuan dengan nominal yang sama. Mungkin bantuan ini tidak ada artinya untuk klenteng sebesar Klenteng Kwan Sing Bio atau Gereja dan Masjid-masjid yang sudah besar,
20 Akbar No. 208 n Agustus 2015
Pak Huda. (kdg)
akan tetapi yang perlu dicermati adalah rasa keadilannya, tanpa memandang kecil-besar atau unsurunsur lainnya, masing-masing mendapatkan jatah yang sama. Ketua Panitia Bersama, Gunawan Putra Wirawan, yang juga Ketua Harian TITD Klenteng Kwan Sing Bio, mengungkapkan kekaguman atas sikap pluralis serta humanis Gus Dur semasa hidupnya. Beliau bisa merangkul semua kalangan tanpa membedakan suku, agama dan hingga saat ini hal ini diteruskan para Gus Durian. Pada saat kegiatan sahur bersama yang hadir selain dari umat muslim juga dari berbagai pemeluk agama yang lain, seperti umat dari TITD Klenteng Kwan Sing Bio, para Gus Durian, kalangan Anshor, Muslimat, Fatayat, Gereja Katolik Indonesia (GKI), Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) serta berbagai pihak lainnya. Harapan dari mereka, dengan kerukunan ini dapat
menata bangsa dan mewujudkan kemakmuran. “Sahur Bersama” ini merupakan agenda rutin Ibu Sinta Nuriyah setiap bulan puasa. Belaliu melaksanakan buka dan sahur bersama keliling Nusantara, dan hal itu menunjukan indahnya kerukunan umat beragama, saling menghormati satu sama lain. Mengenai kegiatan yang dilaksanakan pada saat sahur, dengan gaya khasnya Ibu Sinta Nuriyah menjelaskan bahwa jika mengajak berbuka puasa berarti mengajak orang untuk membatalkan puasa. Sedang, jika melaksanakan sahur bersama berarti mengajak orang untuk menjalankan ibadah puasa. Sahur keliling dengan kaum dhuafa ini sudah dilakukan Ibu Sinta Nuriyah sejak Gus Dur masih “sugeng”. Di sela-sela kegiatan sahur bersama, juga dilaksanakan pembagian ratusan sembako gratis bagi kaum dhuafa. Selain itu, diadakan dialog kebangsaan.n kdg
istimewa
P
eran Sekretariat Tetap Tim Bembina Usaha Kesehetan Sekolah (Sektap UKS) harus terus ditingkatkan. Demikian diharapkan oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan setda Kabupaten Tuban, Drs. Sulistyadi, MM. “Ke depan harus dapat membangun Sektap UKS tersendiri, lepas dari Kantor Kecamatan seperti saat ini,” ujar Pak Asisten. Dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) UKS yang diselenggarakan di Gedung Korpri, Pak Didit, begitu Pak Asisten disapa, mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban sangat peduli dengan peran UKS. UKS menurutnya sebagai satu satu upaya dalam membentuk masyarakat Bumi Wali yang sejahtera, sehat jasmani serta rohani. Tidak hanya lingkungannya yang sehat, akan tetapi hidupnyapun juga harus bersih, sehat, indah dan tertib. Pelaksanaan pembentukan hidup sehat harus dimulai sejak dini. Rakerda UKS, tegas Pak Asisten, harus dijadikan kegiatan konkret dalam memasyarakatkan dan
Kader-kader UKS. (kdg)
Rakerda UKS membangun program sekolah sehat, melalui upayaupaya peningkatan kepedulian peserta didik, guru, tenaga kependidikan, Tim Pembina UKS serta maPak Asisten. (kdg) syarakat pada umumnya. Forum bersama bagi Tim Pembina UKS ini adalah wadah yang pas dalam melakukan evaluasi serta membahas dan menetapkan langkah-langkah kebijakan dalam meningkatkan pembinaan dan pengembangan UKS di Kabupaten Tuban ke depan. Saat ini, masyarakat Kabupaten Tuban patut berbangga dengan perkembangan UKS, terlebih pada tahun 2013 yang lalu SDN Latsari berhasil memenangkan Lomba Lingkungan Sekolah Sehat Tingkat Nasional. Sedang pada 2015, SDN Kebonsari 1 berlaga di ajang yang sama mewakili Propinsi Jawa Timur (Jatim). Prestasi kedua sekolah di atas, tutur Pak Didit, menunjukkan bahwa sekolah-sekolah di Bumi Wali memiliki semangat tinggi dalam mewujudkan lingkungan sekolah sehat. Adapun soal menang atau kalah bukanlah tujuan akhir. Tentunya, yang harus diperhatikan oleh semua peserta Rakerda adalah menanamkan nilai-nilai kebersihan dan kesehatan kepada anak didik sehingga dapat ditularkan kepada masyarakat di sekitarnya. Pada pelaksanaan Rakerda UKS dihadiri oleh Ketua Sektap UKS, Camat, Kepala Puskesmas, Ketua Tim Penggerak PKK se-Kabupaten Tuban dan mendatangkan Pemateri dari Sektap UKS Propinsi Jawa Timur.n kdg
H. FATHUL HUDA – Ir. H. NOOR NAHAR HUSSEIN, MSi, yang masih menjabat Bupati – Wakil Bupati Tuban, mendaftar ke Komisi Pemilhan Umum (KPU) Kabupaten Tuban sebagai Calon Bupati – Wakil Bupati Tuban pada Pemilihan Bupati – Wakil Bupati Tuban 9 Desember 2015. Keikutsertaan pada Pilkada Serentak itu untuk melanjutkan kepemimpinan Bumi Wali Periode II. Sementara, kepemimpinan Periode I diamanatkan setelah Beliau berdua memenangkan perhelatan Pemilihan Bupati – Wakil Bupati Tuban pata tahun 2011 yang lalu. Berikut detik-detik pendaftaran pasangan H. Fathul Huda – Ir. H. Noor Nahar Hussein, Msi, ke KPU Kabupaten Tuban: (*) Diantar dengan menumpangi Becak. (*) Diterima sendiri oleh Ketua KPU Kabupaten Tuban. (*) Berfoto bersama tokohtokoh partai pendukung.
Akbar No. 208 n Agustus 2015
21
istimewa
Dekatkan Warga Sekitar Perusahaan Ringankan beban masyarakat. (kdg)
M
enyongsong lebaran idul fitri 1436 H beberapa waktu lalu, empat BUMN (Badan Usaha Milik Negara) menyelenggarakan pasar murah di kompleks Gedung Graha Sandya Bogorejo. Keempat BUMN tersebut, masing-masing, PT Semen Indonesia (Persero)Tbk, Pertamina, BRI dan Pegadaian. Pasar murah yang digelar bertajuk: “Sinergi Membangun Negeri”. Sebanyak 4000 paket sembako dijual murah kepada masyarakat sekitar perusahaan. Sedang, paket sembako yang seharga Rp 150.000 dijual kepada masyarakat dengan harga Rp 50.000. Uang hasil penjualan pun disumbangkan untuk menyantuni anak yatim. Pasar murah ini adalah upaya keempat BUMN dalam meringankan beban masyarakat di tengah terpuruknya kondisi ekonomi tanah air. Selain itu, menurut Direktur Utama (Dirut) PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, Ir. Suparni, untuk mendekatkan diri dan mempererat tali silaturahmi dengan masyarakat sekitar pabrik. Perusahaan yang biasa dipendekkan menjadi PT SI itu, juga menggunakan prinsip triple bottom line, yang tidak semata mengedepankan keuntungan perusahaan tetapi juga menjaga hubungan yang harmonis dengan masyarakat sekitar dan mengelola lingkungan hidup dengan baik. Selain meringankan beban masyarakat sekitar di pabrik, pasar murah sekaligus untuk memberdayakan mitra binaan masing-masing BUMN dalam pengadaan paket sembako. Pelaksanaan pasar murah secara bersama-sama itu
22 Akbar No. 208 n Agustus 2015
adalah wujud sinergi antar BUMN dalam melaksanakan program CSR (Corporate Social Responsibility) yang efektif, juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi mikro di tanah air. Pasar murah yang sama, menurut Dirut, juga digelar oleh dua anak perusahaan lainnya, yaitu PT Semen Padang dan PT Semen Tonasa. Pasar murah BUMN itu dilaksanakan pula oleh 119 BUMN di 150 titik di seluruh Indonesia mulai 3-5 Juli 2015. Selain 1000 paket sembako, PT SI juga menyerahkan 300 paket sembako kepada Pemkab Tuban dalam rangka kerjasama program bagi sembako yang dilaksanakan pada 6-9 Juli 2015. Bahkan, tidak hanya itu, seolah ingin meraih keberkahan di bulan suci Ramadhan, produsen semen terbesar di tanah air ini menyediakan pula sembako gratis sebanyak 15.100 paket dengan nilai Rp 105.000 per paket. Dari jumlah tersebut, 11.800 paket sembako gratis didistribusikan kepada masyarakat Ring I pabrik Tuban, sedang 3.300 paket lainnya didistribusikan ke seluruh wilayah Kecamatan di Kabupaten Tuban pada 2 Juli lalu.
Apresiasi pasar murah Sementara itu, Bupati Tuban, H. Fathul Huda, mengapresiasi BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang menggelar pasar murah. Pasar murah, tutur Pak Huda, sangat membantu masyarakat di tengah tingginya kebutuhan menjelang lebaran idul fitri serta pendaftaran sekolah. Pasar murah juga berdampak menekan harga-harga kebutuhan pokok yang terus melambung tinggi. Ditambah pula, tingkat kemiskinan di Kabupaten Tuban yang masih cukup tinggi, yaitu 17 persen. Meski jumlah itu telah jauh menurun dibanding tingkat kemiskinan pada tahun 2011, yang mencapai 26,8 persen, tetapi, penurunan yang cukup signifikan di atas tidak terlepas dari peran BUMN yang ada di Bumi Wali, di antaranya keberadaan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, Pertamina, BRI dan Pegadaian. Pasar murah BUMN merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh seluruh BUMN sebagai bagian dari pelaksanaan program CSR.n kdg
Sinergi dengan BUMN. (kdg)
E SAI
Terlahir
Miftachul Munir
R
uang tengah rumah mantan Lurah terlihat sibuk. Para anggota keluarga, sanak family dan para tetangga hilir mudik di ruang tengah itu, dengan wajah tegang yang sukar disembunyikan. Apalagi setiap kali mereka mendengar rintihan panjang Yu Ndari yang begitu menyayat. “Duh Gusti… duh Pengeran.. nyuwun luwar (Ya Tuhan Ya Allah mohon bebaskan hamba dari penderitan ini)”. Anak mantan Lurah, Yu Ndari itu, hendak melahirkan bayi yang pertama. Kelahiran pertama memang serba sulit. Sejak kemarin, ia bergulat mela-wan sakit, rasa nyeri, dan pegal-pegal hampir di sekujur tubuhnya. Ia bertem-pur di batas antara bidup dan mati. “Duh Gusti nyuwun luwar ...,” rintihnya lagi. “Ya nak betul, ayo nyebut, nyebut lagi asma Allah,” sahut Mbah Dukun bayi yang sudah tua. Ribuan kasus kelahiran sudah ia tolong. Tapi, kasus Yu Ndari lebih pelik, lebih berat. Disamping jerit, nyeri, karena rasa sakit dan pegal-pegal di tubuhnya, Yu Ndari pun meredam kegelisahan jiwa memikirkan Kang Harsono, suaminya, saat ini. Kang Harsono orang upahan yang mencari pekerjaan di desadesa yang jauh, dan menginap. Ada kalanya lebih seminggu tidak pulang. Dan, itu membikin hati Yu Ndari tercabik-cabik lagi. Sedang apa ia sekarang? Dengan siapa ia duduk, atau makan? “Duh Guustiii .,.” rintihnya lagi. “Bajul buntung,” maki Mbah Dukun dalam hati. “Oh dasar laki-laki tak tahu diri, istrinya bertaruh nyawa, malah minggat tak tentu rimbanya. Oh laki-laki, semoga kamu semua melek di atas
derita istri-istrimu. Oh, kaum terkutuk yang kejam dan tak pernah belajar untuk menjadi dewasa”. Mbah Dukun sangat marah. Ia menyuarakan derita kaum perempuan yang cuma dianggap menumpang di dunia yang dibuat seolah semata buat laki-laki ini. *** Ketika akhirnya bayi Yu Ndari lahir, semua orang merasa lega. Semua merasa gembira bahwa di desa itu, pada hari itu, ada mahkluk baru yang siap meramaikan sejarah desa. Tambahan satu orang warga baru, disambut tulus dengan hati lapang oleh semua warga lama. Begitu pula bayi Yu Ndari. Ia lahir secara alamiah. Ia tunduk kepada sunnatullah, sama seperti bayibayi lain. Ia ikhlas tanpa prasangka, tanpa curiga, menerima nasib untuk lahir di dunia. Ia lahir suci, fitrah, tanpa beban, tanpa dosa. Sayang, ia tak tahu bahwa ia lahir di belahan bumi Tuhan yang dalam peta dunia disebut “Indonesia”. Sayang, ia tak tahu bahwa negeri besar seperti daerah tak bertuan, karena tak ada yang memimpin. Penguasanya ada, tetapi tak ada pemimpinnya. Bayi itupun tak tahu bahwa pada tarikan napas pertamanya ia harus membawa zat asam yang paling mahal di dunia. “Paling mahal? Apa maksudnya?” Maksudnya begitu ia lahir dan belum lagi kering darah serta air ketubannya, ia wajib memikul beban-beban utang yang dibuat para penguasa negara dan para tokoh dunia usaha yang ugal-ugalan cara hidupnya. Kurang lebih itulah kata penyair Taufiq Ismail dalam kumpulan puisi: “Malu (Aku) jadi Orang Indonesia”. Penyair Itu mengingatkan, bahwa kelahiran bayi merupakan sebuah fenomena sejarah, yang baru sedetik usianya itu, sudah terlibat langsung ke dalam sejarah politikekonomi negerinya. Ia langsung duduk ke dalam posisi sebagai
pelengkap penderita yang kelak wajib membayar utang. Termasuk dengan kesehatannya, dengan ketentraman dan kesejahteraan yang sudah dirampok orang-orang sebelumnya. Tetapi, sayang, ia tak tahu apa-apa. Kalau jadi petani di desa - kata penyair Taufiq Ismail - dia akan menyubsidi harga beras orang kota. Kalau dia jadi orang kota, dia akan menyubsidi bisnis pengusaha kaya. Dan, siapa gerangan yang akan menyubsidi hidup bayi itu? Itulah repotnya. Lurah tidak, Camat tidak, Menteri tidak. Presidenpun apalagi. Maka, apa boleh buat, subsidipun dikirim langsung dari “singgasana” Tuhan. Dan, dalam urusan kirim mengirim itu, Tuhan tak memerlukan perantara. Ia tak butuh personel, tak butuh lembaga ekonomi, tak butuh birokrasi. koperasi, Bulog, bank, Dolog, dan “benda-benda” sejenis itu di Indonesia yang banyak “tikus dan kecoaknya”. Tikus-tikusnya ganas. Mereka rakus-rakus. Apalagi tikus kepala, tikus wakil kepala, dan jajaran gudang yang - biarpun tikus memakai seragam dan lencana di dada kirinya. Di Indonesia, saya kira, tiap tikus seperti itu, wataknya lebih kejam dari pada sejuta manusia biasa. *** Masya Allah, hari ini kita sudah sampai pada waktu lebaran. Ibarat pelayaran, Ramadhan telah sampai pada pulau. Ibarat perjalanan, ramadhan telah tiba di batasnya. Ramadhan sudah bukan lagi ramadhan. Ia sudah berganti lebaran. Di hari itu kita lahir kembali sebagai bayi tanpa be-ban dosa, tanpa kecurigaan, tanpa prasangka, kembali ke fitrah semula. Kalau dari jumlah statistic, warga negara yang dua ratus lima puluh ribuan jiwa itu, lima ratus ribu jiwa saja yang sudah berhasil meraih prestasi spiritual untuk kembali ke fitrah, ke titik nol bagaikan bayi yang baru lahir, saya yakin dampaknya
Akbar No. 208 n Agustus 2015 23
E SAI dari prestasi spiritual itu, akan sangat dahsyat secara politis. Orang-orang terhormat yang kembali ke perang untuk menuju ke status asasi fitrahnya itu, akan bisa membidani kelahiran Indonesia yang keempat kalinya. (Indonesia lahir tahun 1945. Setelah beberapa saat “tenggelam”, ia lahir lagi di 1965/1966. Dan, sesudah itu kita mengalami lagi proses ketertenggelaman traumatik, parah, dan menyedihkan. Kita mampu bangkit dan melahirkan Indonesia baru pada 1998/1999, dan masih dalam tandatanda akan tenggelam, kita masih setengah tenggelam).
Tiap kekuatan saling menuding, tiap kekuatan saling menyalahkan. Kita saling mencurigai. Dan, diam-diam, semua sibuk membuat biduk-biduk bernama partai. Ada biduk besar, ada biduk kecil. Tapi pihak fanatik berat menganggap bahwa cuma biduknya yang bakal mampu mengangkat nasib Indonesia dari ketertenggelaman politikekonomi. Tuan-tuan, dan puan-puan, dalam perjuangan global, pantaskah anda mencari “moncer” (kecemerlangan) pribadi seperti itu? Lupakah Anda bahwa personal glory dan keluhuran pribadi bukan yang dibutuh-
kan Indonesia masa kini dan masa depan? Perjuangan untuk membidani kelahiran kembali Indonesia bukanlah perkara mudah. Tugas itu, maha berat. Butuh kerja sama. Butuh, pertama-tama, kesediaan kita semua untuk mengaku lemah, tanpa daya, seperti bayi. Otomatis, perlu orang lain dalam membangun kerja sama. Belajar dari bayi yang baru lahir. Bahwa, bayi baru lahir bersifat rendah hati dan tanpa prasangka, harus menjadi cermin bagi semuanya. Maka, bayi pun diam-diam mengajak kita berpikir, atau belajar tentang kerendahan hati.n
Ajak Tingkatkan Pendidikan Al Quran
B
upati Tuban, H. Fathul Huda, mengajak kita sumber daya insani agar lebih memahami, mengkaji bersama-sama meningkatkan pendidikan dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al Al Qur'an. Qur'an. Utamanya, mengaplikasi ajaran-ajaran dalam Kitab Suci itu ke dalam kehidupan sehari-hari serta unPada kesempatan peringatan Nuzulul Quran di tuk mengisi pembangunan menuju masyarakat adil dan Pendopo Kridha Manunggal, Pak Huda, sapan Bupati Tuban, menuturkan, untuk meningkatkan pendidikan Al makmur yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Quran salah satunya dengan Pada kesempatan tersebut mengevaluasi program-prodilaporkan pula hasil dari Kafigram yang belum efektif dan lah MTQ Kabupaten Tuban memaksimalkan programyang mengikuti Lomba MTQ program yang terselenggara (Musabaqah Tilawatil Quran) terkait peningkatan pendiditingkat Provinsi Jawa Timur kan Al qur'an. (Jatim) di Kabupaten Banyu“Kita selayaknya menawangi, 21 - 30 Mei lalu. Dutarik hikmah dari pembelajaran duta MTQ Kabupaten Tuban, Al Quran. Kiranya, dengan Al tutur Pak Asisten, Juara III GoQuran akan menata pola hilongan Qira'at Mujawad, Juadup kita,” kata Pak Bupati. ra Harapan II Cabang Tilawah Pemkab Tuban menyeleAl Qur'an Golongan Dewasa nggarakan peringatan Nuzulul Saat berikan bingkisan bagi yatim piatu. (why) Putra, Juara Harapan III, Cabang Qur'an 1436 H/2015 pada malam ke-24 bulan Rama- Tilawah Al Qur'an Golongan Tartil Putri, Juara Harapan II dhan 1436 H, bertepatan tanggal 10 Juli 2015. Kegiatan Cabang Syarhil Al Qur'an (MSQ), Juara II Pawai Ta'aruf di Pendopo Kridho Manunggal itu dihadiri kurang lebih dan Juaran Harapan I Pameran Produk Unggulan. 2000 undangan, terdiri dari Pegawai Negeri Sipil Sedang, melalui Badan Amil Zakat (BAZ) Kabupa(PNS), jajaran Instasi Vertikal, Tokoh Agama, Tokoh ten Tuban, dalam mengisi bulan suci Ramadhan 1436 Masyarakat, maupun Masyarakat Umum. H, telah mebagikan sebanyak 3000 Al Qur'an kepada Sementara itu, Drs. Sulistiyadi, MM, Asisten Pere- SKPD, Kantor Kecamatan, Masjid Besar dan Masjid konomian dan Pembangunan Sekda Kabupaten Tu- Jami' se-Kabupaten Tuban. Selain itu, Bupati dan Wakil ban, menuturkan, Peringatan Nuzulul Qur'an diadakan Bupati Tuban juga membagikan bingkisan secara agar kita lebih meningkatkan kualitas keimanan serta simbolis kepada ulama, tokoh masyarakat dan anak ketaqwaan kepada Allah SWT. Selain itu, meningkatkan yatim piatu.n why
24 Akbar No. 208 n Agustus 2015
P
Pramuka Bangun Karakter Bangsa
M
embangun karakter tidak semudah membalikkan telapak tangan. Proses membangun karakter memerlukan disiplin yang tinggi karena tidak pernah mudah, seketika atau instant. Diperlukan sejumlah waktu untuk membuat semua itu menjadi kebiasaan dan membentuk watak atau tabiat seseorang. Terkait pembangunan karakter, betapa pentingnya Gerakan Pramuka, apalagi di era globalisasi seperti sekarang ini. Gerakan Pramuka menitikberatkan pada pembinaan mental dan disiplin yang tinggi kepada para anggotanya. Pramuka terbukti mampu membangun akhlak anak bangsa serta melahirkan generasi muda yang baik, berbudi pekerti, tangguh, percaya diri, inovatif, setia kawan, dan bertanggung jawab. Salah satu hal yang penting dalam membangun peradaban bangsa yang mulia adalah membangun karakter. Pembangunan karakter itu bisa dilakukan di dalam Gerakan Pramuka dengan beragam jenis latihan dan ketrampilan yang dimiliki. Karena itu, tidak salah jika pada peringatan Hari Pramuka ke54 tahun 2015 tema yang diangkat adalah: “Pramuka Garda Terdepan Pelaku Perubahan dalam Pembentukan Karakter Kaum
endidikan
Muda”. Tema ini masih menitik- sianya masih sedikit, sehingga beratkan pada pembentukan karak- susah mencari pembina yang ter sebagaimana tema tahun 2014: benar-benar berjiwa Pramuka. “Mantapkan Pembentukan Karakter “Tantangannya semakin Kaum Muda Melalui Gugus Depan berat justru pada saat seperti Terakreditasi”. sekarang ini, dimana kegiatan Akreditasi Gugus Depan Pramuka diwajibkan dalam kuri(Gudep), terang Sekretaris Kwartir kulum pendidikan nasional. SeCabang Gerakan Pramuka Tuban, mentara itu, guru-guru terkait Drs. Muhdi, nantinya bisa menbelum siap untuk memberikan jadi potret kegiatan Pramuka materi dan membimbing kedi sekolah tersebut. giatan ke-Pramuka-an,” “Sejauh ini, akreujarnya. ditasi Gudep di Bumi Wali masih dalam Masih relevan tahap sosialisasi,” Meskipun Pratutur Sekretaris muka mengalami Kwartir Cabang saat yang sulit Gerakan Prakarena kurangnya muka Tuban. minat dari Selain generasi muda, akreditasi, n a m u n menurut Pramuka Kak Muhm a s i h di, hal relevan l a i n sebagai Pak Muhdi y a n g pembenperlu mendapat perhatian adalah tuk karakter generasi muda. Hal ini sertifikasi pembina. Kedua hal ini harus dibantu dengan pembinapenting untuk meningkatkan kualitas pembina yang kompeten sehingpramuka. Beruntung, Pramuka kini ga semangat ke-Pramuka-an mamasuk muatan lokal (mulok) wajib di sih bisa disampaikan kepada angsekolah, namun hal ini tidak akan gota-anggotanya. efektif jika tidak ada kepedulian dari Gerakan Pramuka sudah para pemangku kepentingan terha- saatnya melakukan kajian mengedap kegiatan Pramuka maupun ke- nai usaha meningkatkan relevansi sejahteraan pembinanya. pendidikannya, utamanya menyePramuka, terangnya, me- suaikan materi dan metode pemr u p a k a n k e g i a t a n k e l o m p o k , belajaran yang sesuai dengan penamun penilaiannya pada pribadi rubahan jaman dan kebutuhan masing-masing. Melalui pem- masyarakat. binaan sejak dini, manfaatnya akan Usaha itu adalah upaya unbisa dirasakan kelak ketika mereka tuk menarik minat para anak dan dewasa. remaja agar tertarik pada pendiKepala Sub Bagian Umum dan dikan ke-Pramuka-an. Kepegawaian pada Dinas Pendi“Harapannya, Pramuka bedikan, Pemuda, dan Olah Raga (Dis- nar-benar bisa berada di barisan dikpora) Tuban ini mengaku masih terdepan, perintis, sekaligus pelobanyak kendala yang harus diha- por dan pengawal pelaku perudapi. Antara lain, Syarat Kecakapan bahan dalam upaya pembentuUmum (SKK) dan Syarat Kecakapan kan karakter generasi muda di Khusus (SKK) masih belum maksi- Indonesia,” tutupnya. mal. Selain itu, sumber daya manuSalam Pramuka!n ydh
Akbar No. 208 n Agustus 2015 25
P
endidikan
SMAN 1 Montong:
Mereka yang “tembus” PTN. (rtn)
Lama “Semedi” Kini Terlihat “Batang Hidungnya”
Bertahun-tahun nampak “semedi”, kini SMAN 1 Montong mulai memperlihatkan “batang hidungnya”. Betapa tidak, di alumni keempatnya, 2015 ini, 15 peserta didiknya “menohok” Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Padahal, sejak sekolah “ndheso” itu didirikan, tahun 2008 yang lalu, belum satupun peserta didik menggapai PTN.
“
Sudah barang tentu “mengejutkan”. Saya merasakan, tiada tara bangganya,” ucap Drs. Edy Soekarno, M.MPd, Kasek SMAN 1 Montong. Jikalau peserta didik SMAN 1 Motong “semedi” bertahun-tahun, sebenarnya tidak ada yang keliru. Memang, tutur Pak Kasek, kondisi yang membikin mereka “tiarap”. Bukan semata-mata karena keadaan SMAN 1 Montong yang terbatas sejak 2008, akan tetapi keterbatasan juga “diderita” oleh kebanyakan peserta didiknya. Mereka kebetulan banyak yang terlahir dari keluarga yang “pas-pasan”, baik pas secara ekonomi, maupun pas karena pola pikir keluarganya. Untuk itu, merupakan tugas yang sangat menantang dalam memberdayakan anak generasi Montong. “Kalau boleh saya mengilustrasikan, posisi peserta didik SMAN 1 Montong masih dalam “Gerakan Ayo Sekolah”. Makanya tiada henti kita gaungkan gerakan tersebut,” ujar Pak Edy, sapaan Kasek SMAN 1 Montong. Masyarakat di sekitar SMAN 1 Montong, ataupun warga Bumi Wali secara keseluruhan, janganlah tersinggung dengan “Gerakan Ayo Sekolah”. “Jargon” itu memang harus terus dikumandangkan. Bukan tiada hasil menggelorakan gerakan itu,
26 Akbar No. 208 n Agustus 2015
buktinya tidak lama lagi masyarakat Bumi Wali akan menyaksikan 15 dari peserta didik SMAN 1 Montong “mewarnai” PTN di Jawa Timur (Jatim), diantaranya, sebanyak 13 lulusan SMAN 1 Montong diterima di Universitas Trunojoyo Bangkalan, 1 lulusan bakal kuliah di Universitas Negeri Malang (UNM) dan 1 lagi alumni akan menuntut ilmu Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Hebatnya, mereka menembus lewat jalur prestasi, yakni, melalui program Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). “Lo mulanya mereka tidak hasrat kuliah. Tentu, “keterbatasan” yang menjadi penyebabnya. Lantas kita suntik ... suntik ... suntik ... dan ... kita suntik terus ... sehingga pada akhirnya muncul greget berangkat kuliah,” kisah Pak Kasek, yang ketika itu terlihat “sumringah” menyiratkan rasa banggannya. Bayangkan, “nyuntiknya” mulai pendaftaran, ketika mendaftar on line ditunggui oleh Bapak-Ibu Guru. Begitupun dengan berkas-berkas pendaftaran yang dibutuhkan, dipasok maupun dibantu pemenuhannya oleh Bapak-Ibu Guru. Berangkat tes (jalur SBMPTN) ke lokasi PTN pun diantar oleh Bapak-Ibu Guru. Barangkali, pelayanan demikian
tidak pernah dilakukan oleh sekolahsekolah lain. Bahkan, yang diterima jalur SNMPTN juga diberangkan oleh Pak Kasek sendiri. Tret ... tret ... menuju Bangkalan. Luar biasanya hingga mencarikan pondokan di sekitar lokasi Kampus Trunojoyo. “Itu kisah nyata. Dijalani dengan penuh keikhlasan karena pendidik SMAN 1 Montong menginginkan keadaan yang “berubah”. Tentunya, menghendaki keadaan yang lebih baik dari sebelumnya,” kata Joko Sutopo, SPd, Guru BK dan Bahasa Inggris. Lulusan yang tidak kuliah Pelayanan bagi peserta didik yang tidak melanjutkan kuliah malah tidak “disepelekan”. Mereka, selepas lulus UN diberikan info-info bursa kerja. Lebih dari itu, sebelum Ujian Nasional (UN) berlangsung, SMAN 1 Montong memberikan pelatihan psikotes kepada seluruh peserta didik kelas XII. Latihan psikotes sudah barang tentu sangat berharga bagi peserta didik yang ingin melamar pekerjaan. Begitu pula bagi peserta didik SMAN 1 Montong yang diterima di beberapa PTN, baik yang melalui jalur SNMPTN maupun SBMPTN, menjalani psikotes. Malahan, sambung Pak Edy, di Tahun Ajaran 2015/2016 saat ini, meningkatkan kadar muatan lokal
P
endidikan
(mulok) dengan melengkapi Pendi“Sudah barang tentu “mengejutkan”. Saya dikan Ekonomi Kreatif, yaitu, mengamerasakan, tiada tara bangganya,” ucap Drs. plikasi Pendidikan Tata Boga. Hal terEdy Soekarno, M.MPd, Kasek SMAN 1 Montong. sebut sangat penting bagi peserta didik yang akan melamar pekerjaan. mempercayakan penyelenggaraanUtamanya, dalam hal pembekalan nya kepada kepengurusan OSIS ketrampilan. Sejauh ini, meski SMAN (Organisasi Siswa Intra Sekolah) 1 Montong berada di bawah SPM SMAN 1 Montong. (Standar Pelayanan Mutu), akan ma“Jelasnya, pengaruh tiga gerasih mampu memberikan beberapa Kasek SMAN 1 Montong. (rtn) kan di atas luar biasa,” kata Pak mulok, di antaranya, pembelajaran Joko, sapaan Guru BK dan Bahasa Bahasa Daerah, Lingkungan Hidup Inggris. (PLH), Bahasa Arab serta Seni. Ada“Kalau terkait keluarga miskin pun, pembelajaran TIK (Teknologi Intidak boleh ada alasan tidak sekolah Hasil UN 2015 formasi Komputer) dijadikan kompekarena biaya. Datang saja ke SMAN Hasil UN pada 2015 lalu, mi- 1 Montong jika putra-putrinya sematensi wajib bagi keseluruhan peserta salnya, Jurusan Ilmu Pengetahuan ngat,” tandas Pak Kasek. didik, walau keadaan sarana mauAlam (IPA) menempatkan SMAN 1 pun prasarana yang dimiliki SMAN 1 Montong pada Peringkat Ketiga se- Mimpi SMAN 1 Montong Montong terbatas. Kabupaten Tuban, setingkat di ba“Selain menggaungkan “Gera“Mimpi” SMAN 1 Montong berwah SMAN 1 Jatirogo dan dua ting- tekad meraih “Segitiga Mutu”, yaitu kan Ayo Sekolah” SMAN ! Montong kat di bawah SMAN 1 Tuban. Jurusan bermutu di bidang Akdemik, Non Akajuga menggemakan “Gerakan MingIlmu Pengetahuan Sosial (IPS) me- demik serta bernuansakan Religi. Kegat”. Maksudnya, agar lulusan rangsek pada Peringkat Keenam se- tiga-tiganya senantiasa diikhtiarkan. SMAN 1 Montong tidak “terpekur” di Kabupaten Tuban. Tentunya, merutempat setelah lulus, akan tetapi teTanda-tandanya kini terlihat pakan pencapaian akademik yang menggeliat. Selain sejumlah prestasi rus melakukan gerakan serta mobil memuaskan. Barangkali, tanpa “Ge- yang telah dipaparkan di atas, di bidalam menggapai masa depan. Jarakan Ayo Sekolah, Gerakan Ayo Mi- dang Akademik terlihat pula menyidi, pelayananan di atas dalam kaitan nggat maupun Gerakan Ayo Sholat”, nari duta-duta Olimpiade Sosiologi membekali “Gerakan Minggat”,” tegas Pak Kasek, yang se- “Itu kisah nyata. prestasi ini akan sulit dapat dan Matematika. Saat mengikuti dicapai. nantiasa terlihat enerjik. Olimpiade Unesa Surabaya, kandiSpirit ketiga gerakan dat Sosiologi berada pada peringkat Gerakan berikutnya, Dijalani dengan papar Pak Edy, adalah ter- penuh keikhlasan itu sepertinya merasuk luar 150 dari 1800 peserta. Matematika penting dalam kehidupan, karena pendidik biasa. Lebih dari itu, sa- mampu menembus 16 besar. Demiyaitu menggaungkan “Ge- SMAN 1 Montong ngat disambut antusias kian dengan prestasi Non Akdemik, oleh Bapak-Ibu Guru. Mes- salah seorang peserta didik SMAN 1 rakan Ayo Sholat”. SMAN 1 menginginkan ki jumlah Guru yang ber- Montong duta Bumi Wali pada even Montong bertekad memkeadaan yang status Pegawai Negeri Si- O2SN Jawa Timur (Jatim). Sedang, bentuk karakter peserta pil (PNS) di SMAN 1 Mon- nuansa Religius, sangat termotivasi didiknya dengan nilai-nilai “berubah”. tong 3 PNS, tetapi, selebih- oleh “Gerakan Ayo Sholat”. Saat ini, keagamaan. Muatan dalam nya yang berjumlah 29 orang, me- gaungnya terasa, “menggelayut” di mengisi “Gerakan Ayo Sholat”, rupakan sosok-sosok yang “hebat”. SMAN 1 Montong. antara lain, melaksanakan kegiatan Mereka bersemangat, pun enjoy daTartil Al Quran, pemahaman terhaAdapun terkait perhatian Pemelam mengajar maupun sebagai tena- rintah terhadap SMAN 1 Montong, Pak dap Suratan-suratan pendek, pemaga administrasi di SMAN 1 Montong. Kasek, menilainya peduli. Tahun ini, haman mengenai Sebenarnya, masih banyak yang di- Tahun Anggaran 2015, Pemkab Tuban Doa-doa dalam upayakan dalam memajukan SMAN melalui P-APBD menganggarkan menuntut ilmu, ser1 Montong, suatu misal, penyeleng- bantuan Komputer, juga membangunta kegiatan-kegiagaraan kuliah-kuliah umum, kegia- kan Pagar Sekolah. Selebihnya, melatan keagaaman setan-kegiatan lobi ke sejumlah PTN, lui dana APBN lewat DAK, Pemerintah perti peringatan terutama yang terkait dengan pere- Pusat membangunkan Lab Komputer Maulid Nabi, Isra' krutan mahasiswa jalur prestasi dan 3 Ruang Kelas Baru (RKB). Mi'raj dan lainmaupun aspek-aspek perkuliahan lain yang biaSudah barang tentu kepedulainnya yang berhubungah keluarga lian ini menggairahkan SMAN 1 s a n y a miskin. sekolah Montong.n rtn
Pak Joko Sutopo. (rtn)
Akbar No. 208 n Agustus 2015
27
S
ELINGAN
C Ngaji, Komunikasi dan Aksi ERMIN
Oleh : Drs. Suwarno, MPd. Email : [email protected]
T
ulisan saya kali ini termasuk sebagai respon terhadap pihak-pihak yang menyatakan atau berpendapat bahwa ulama atau kiai tidak perlu masuk di panggung pemerintahan atau berkiprah di arena politik. Ada yang pendapatnya halus dan santun, tapi terkadang mereka berpendapat dengan sinis, dengan komentar miring mereka "kiai ya ngurus ngaji saja, ngurus umat saja, nggak usah jadi Bupati, nggak usah jadi Gubernur apalagi jadi Presiden atau Ketua DPR". Konyolnya pendapat semacam itu disampaikan sendiri oleh kalangan para pejabat, staf, atau pegawai di lingkungan Pemerintahan. Saya heran juga pada mereka, kok tega “mengomentari” atasan mereka seperti itu. Mereka acapkali melontarkan sinisme yang lebih “mlete” (sombong), kata mereka: “Mbok yo yang nggak nguasai bidang pemerintahan itu nggak usah jadi pemerintah...”. Mendengar stigma seperti itu, saya terheran-heran, betapa “mlete-nya” mereka beraninya melebeli pemimpin yang sudah terpilih dengan sebutan tidak mampu memerintah. Mungkin juga mereka berpikiran demikian karena rasa iri dan dengki atas keberhasilan seseorang dalam memegang amanat menjadi pimpinan atau pengayom umat yang telah terpilih melalui Pilkada atau Pemilu. Bagaimana sebaiknya kita menyikapi mereka? Menurut saya, kita harus memaklumi mereka yang punya pandangan seperti itu karena mungkin keterbatasan pengetahuan dan ilmu mereka. Namun, jika terkadang kita terpanggil untuk memberikan klarifikasi (tabayyun) pada mereka itu juga menjadi kebaikan tersendiri. Mudah-mudahan dengan argumentasi yang dilambari keikhlasan dan niat tulus semacam ini bisa menyadarkan mereka yang semena-mena mengumbar komentar negatif melalui omong dari mulut ke mulut atau melaui media sosial terhadap pimpinan daerah maupun pemimpin level nasional. Terhadap mereka itulah tulisan ini saya arahkan. Insan religius di tampuk Pemerintahan Dalam sejarah para Nabi, kita mengenal beberapa figur yang dipilih Allah SWT sebagai Nabi dan Rasul sekaligus sebagai Pimpinan atau Raja seperti Dawud AS, Sulaiman AS, dan Yusuf AS. Mereka adalah pemimpin umat dalam bidang spiritual maupun pemimpin umat dalam hal kemasyarakatan dan kenegaraan. Nabi Dawud terkenal sebagai Raja yang sangat kuat,
Agustus 2015 30 Akbar No. 208 n
pengaruhnya besar. Nabi Sulaeman tersohor sebagai Raja yang sangat kaya raya. Hartanya melimpah, pandai, diberi kemampuan memahami bahasa binatang, memiliki pasukan yang terdiri dari jin, manusia dan burung-burung. Bahkan punya pasukan yang bisa memindah istana Bilqis dalam waktu sekejab mata. Nabi Yusuf juga demikian terkenal sebagai penguasa yang bijaksana dan alim. Nabi Muhammad SAW juga demikian selain sebagai Nabi dan Rasul juga memimpin “negara” atau “daulah” walaupun waktu itu sifatnya belum formal seperti sekarang. Para Khalifah pada masa Khulafaur Rasyidin mulai Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abu Tholib adalah figur-figur religius yang juga mengemban amanat sebagai “pemimpin pemerintahan”. Khalifah-khalifah selanjutnya juga terkenal alim seperti Umar bin Abdul Aziz juga insan religi yang mengemban amanat pemerintahan. Di Sumatera, yang terkenal dengan Samudra Pasai Sultan Iskandar Muda juga terkenal sebagai insan religius yang mengemban amanat pemerintahan. Di Jawa tokohtokoh seperti Sultan Raden Patah (Demak), Sultan Agung (Banten) dan para Susuhunan di Kerajaan Mataram Islam, adalah figur-figur religius pemegang amanat pemerintahan. Jadi, fakta sejarah membuktikan banyak insan religius atau bahasa Arabnya Rijaluddin (orang yang pandai agama) atau bahasa Jawanya Kiai yang telah memimpin negeri atau Pemerintahan. Oleh karena itu, argumen mereka bahwa para Kiai, para alim ulama tidak usah berkecimpung di Pemerintahan itu sangat lemah dan tidak berdasar. Sebetulnya mereka para pemimpin umat itu memiliki tiga keunggulan yang sudah tersinergikan sedemikian rupa, yaitu ngaji, komunikasi dan aksi. Tiga pilar inilah yang memperkuat pola kepemimpinan mereka para insan religius tersebut dalam tataran semua level pemerintahan. Ngaji (searching knowledge) Terdapat sebuah Hadist (Sabda Rasulullah SAW) yang kurang lebih menyatakan: “Barang siapa ingin mengusai dunia ada ilmunya, barang siapa ingin mengusai akhirat ada ilmunya, barang siapa ingin menguasai keduanya ada ilmunya”. (Al-Hadist). Dari Hadist tersebut bisa kita petik pelajaran bahwa suatu bidang kehidupan memerlukan ilmu atau kunci suksesnya. Tanpa ilmu kita akan kesulitan mendapatkan apa yang ingin kita capai secara maksimal. Usaha pencarian ilmu adalah proses kuntinual
C yang berlangsung terus menerus melalui sumbersumber belajar yang sangat variatif. Kian banyak sumber yang bisa diakses, memungkinkan kita menggali ilmu semakin kaya. Berbagai jenis ilmu sesuai dengan kebutuhan riil dalam kehidupan lebih baik jika kita miliki secara komprehensif. Maka, orang yang memiliki ilmu yang komplit merekalah yang lebih menguasai dunia ini. Tidak ada pembatasan bagi personal tertentu untuk menguasai ilmu tertentu saja, misalnya kiai atau ulama harus menguasai ilmu akhirat saja, tidak perlu menguasai ilmu perdagangan, ilmu pemerintahan atau ilmu teknologi misalnya. Siapa pun bebas mengembangkan ilmunya seluas dan sedalam mungkin. Ibnu Sina yang ulama juga ahli ilmu Kedokteran. Ibnu Khaldun yang ulama juga ahli ilmu Sosiologi dan Antropologi, Imam Ghozali yang ulama juga ahli ilmu Jiwa, Ibnu Farabi juga ulama dan Filosof dan masih banyak lainnya. Intinya, upaya “searching knowledge” atau menggali ilmu yang bisa kita istilahkan “ngaji” adalah perintah wajib ain dari Allah SWT kepada setiap pribadi muslim dan muslimah dari lahir hingga wafat. Ilmu yang wajib dicari mulai dari ilmu tentang tauhid, ibadah, muamalah sampai ilmu tentang kemaslahatan umat. Orang-orang bijak akan selalu melaksanakan upaya pencarian ilmu itu sepanjang hayat untuk kepentingan komprehensif di kehidupan ini. Komunikasi (silaturrahmi) Ahli komunikasi pernah menyatakan: “We cannot not communicate” (kita tidak bisa tidak berkomunikasi). Itu artinya siapa pun orangnya tidak bisa menghindar dari komunikasi. Bahkan, ketika seseorang diam itu pun juga sedang berkomunikasi. Contohnya, suami istri sedang bertengkar, lalu saling mendiamkan, itupun masing-masing sedang terlibat komunikasi. Modus komunikasinya ya dengan diam itu. Seorang tokoh sedang diwawancarai dan dia bilang “no comment”, itu pun dia sedang berkomentar “no comment”. Sehingga, komunikasi ini wajib dibangun dengan cara sebaikbaiknya untuk relasi sosial yang sehat. Komunikasi merupakan salah satu pengejawantahan dari silaturrahim. Komunikasi lisan, tulisan dan simbol-simbol akan lebih bermakna jika dilakukan
ERMIN
secara simultan. Pertemuan “face to face”, “musafahah” (bersalaman) secara fisik lebih diutamakan daripada komunikasi lewat media elektronik. Ketrampilan berkomunikasi sebagai salah satu interpersonal skill merupakan salah satu kecerdasan sosial yang menunjang keberhasilan seseorang. Inilah yang dimiliki para ulama atau kiai dalam berkiprah di tengah masyarakat. Jadi, jangan pernah iri pada kiai ketika “grassroot” dukungan massa mereka banyak, karena mereka memang sudah memiliki modal komunikasi yang handal. Aksi (karya nyata) Jargon yang dimunculkan oleh pemerintah JokowiJK dengan motto “kerjakerja-kerja”, sebetulnya sudah tidak asing lagi bagi dunia para ulama. Mereka sudah terbiasa terjun di tengah-tengah umat melakukan karya nyata. Berbagai persoalan umat mulai dari m a s alah moralitas, spiritualitas, hingga persoalan sandang, pangan dan papan acapkali dibereskan oleh peran ulama. Mereka sudah terbiasa “blusukan” bahkan hingga larut malam menuntaskan segala urusan umat. Ulama sejati tidak hanya berkutat di pesantren semata, tapi juga bersentuhan langsung dengan umat di tengahtengah kehidupan nyata. Maka, ketika ada figur kiai atau ulama yang muncul menjadi pimpinan birokrasi pemerintahan, persoalan riil masyarakat tidaklah asing bagi mereka. Apalagi di pemerintahan persoalan dana bukan halangan. Pembangunan dan penanganan persoalan rakyat sudah dianggarkan melalui APBD atau APBN. Karya nyata ulama yang terjun di dunia pemerintahan makin memperkuat status mereka sebagai pelayan masyarakat. Bahkan spektrumnya lebih luas lagi. Kalau biasanya mereka hanya melayani di komunitas terbatas pada jamaah atau jam'iyyah saja, ketika di pemerintahan peran pelayanan mereka merata ke seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian, sangat tidak betul ungkapan bahwa “ulama atau kiai tidak perlu terjun di dunia pemerintahan”. Sebaliknya, yang baik adalah: ”Orang-orang alim, orang-orang bersih, orang-orang jujur, orang-orang sederhana harus banyak yang tampil di pemerintahan, agar Indonesia ini semakin terbebas dari korupsi”. Itu pendapat saya. Bagaimana pendapat Anda?n
Akbar No. 208 n Agustus 2015
31
T
OKOH KITA
Mbah Muchith:
Potret Seorang Sufi (Bagian III)
KH. A. Muchith Muzadi.
Bukan rahasia lagi. Setelah reformasi bergulir, tidak sedikit kiai NU yang tadinya hidup bagai pertapa, khusyu', damai dan tentram dalam pondok pesantren menjadi sebuah haluan, menyeberangi dunia baru yang bernama politik praktis. Akibatnya, muncul kabar angin yang menyeruak ke ruang publik bahwa beberapa kiai telah menggunakan NU sebagai kendaraan untuk main-main dengan kekuasaan, dan menggolkan kepentingan dirinya. Tentu saja, kabar yang tidak seluruhnya benar dan dibesarbesarkan tersebut sangat merugikan NU dan membuat prihatin warga Nahdliyin.
L
alu, masih adakah kiai NU yang ikhlas, tawadhu', andap asor, qana'ah, wira'i, dan zuhud ? Masih banyak sekali. NU itu besar, dan memiliki kiai dalam jumlah besar. Tetapi, agaknya memang benar bahwa kiai dengan ciri-ciri luhur tersebut makin berkurang. Salah satu dari sekian kiai NU dengan ciri-ciri tersebut adalah KH. Abdul Muchith Muzadi, seorang kiai sepuh NU yang tinggal di rumah sederhana, berteman masjidnya yang sederhana, dan sikap hidupnya yang penuh kesederhanaan. Dengan nama besarnya, beliau seharusnya memiliki banyak jalan untuk tidak hidup sederhana. Tetapi jalan-jalan “indah” tersebut sengaja tidak dilewati. Kiai, dalam konteks sosial, haruslah menjadi kiai dan bermartabat.
32 Akbar No. 208 n Agustus 2015
Sebuah cermin “keteladanan” KH. A. Muchith Muzadi adalah sosok kiai sepuh NU yang sangat populer di kalangan anak muda. Populer, karena sikap hidup dan ke-NU-annya pantas diteladani. Mbah Muchith, begitu anak-anak muda NU menyebut beliau, memiliki penampilan yang berbeda, tak ada sorban di pundak, tak kelihatan tasbih di tangan, dan tak pernah mengenakan jubah. Aksesori kekiaian hampir tak pernah menempel di tubuhnya nan ramping dan makin lanjut. Meskipun begitu, penampilannya tak pernah mengurangi kewibawaannya, dan tidak ada yang meragukan kekiaiannya. Mbah Muchith bukan kiai kharismatik NU yang dipercaya memiliki kekuatan adikodrati atau kekuatan gaib lain seperti mengerti apa yang akan terjadi, dapat mengobati penyakit, atau dapat memberi pertolongan dengan doa-doanya. Bukan kiai seperti itu. Mbah Muchith jauh dari citra sakti atau keramat. Meskipun di kalangan NU dikenal sebagai pakar Khittah, beliau juga tidak diposisikan sebagai tokoh brillian dan flamboyan seperti Kiai Ahmad Shiddiq atau Gus Dur, atau beberapa pemikir NU yang lain. Lalu, seperti apa deskripsi yang pas untuk Mbah Muchith? Beliau adalah sosok yang sederhana, ramah, berwawasan luas, andhap asor, ikhlas, dan sangat toleran! Kesimpulannya, meskipun oleh warga NU tidak diposisikan sebagai kiai yang memiliki kapasitas luar biasa, beliau jelas bukan kiai biasa! Potret seorang sufi – seperti yang banyak disebutkan dalam kitab-kitab kuning – itulah perilaku keseharian Mbah Muchith. Hidup sederhana, nada bicaranya merendah, melayani tamu dengan sangat baik, selalu bersikap hati-hati, adalah sebagian dari perilaku kesehariannya. Padahal, semua itu adalah sebagian sifat-sifat kewalian yang sekarang sudah banyak diremehkan orang, ketika harta sudah menjadi ukuran dalam menilai seseorang. Dan lagi, Mbah Muchith juga tidak begitu tertarik untuk menumpuk harta. Padahal untuk orang sekaliber dirinya – yang sudah menjadi pegawai negeri dan anggota BPR sejak tahun 1947 – tentunya bukan suatu hal yang sulit untuk mempunyai rumah mewah, mobil
T
OKOH KITA
bagus, tanah luas, dan istri banyak. Tidak usah ditanya- tengah mereka atau tidak ada kemampuan untuk hidup kan lagi dari mana jalannya. Semua anggota (dan man- berlebihan. Kehidupan keseharian Mbah Muchith yang sangat tan anggota) DPR pasti tahu jawabnya! Orang bilang, kalau sudah menduduki jabatan strategis, mengeruk sederhana dan jauh dari kemewahan duniawi pantas diharta itu tidak perlu lagi memakai teori. Seperti ilmu jadikan kaca benggala pada zaman di mana uang, “laduni”, setiap orang akan langsung bisa dengan kekuasaan, dan kemewahan telah menjadi berhala yang diperebutkan banyak orang. Sebagai seorang kiai, Mbah sendirinya. Sosok Mbah Muchith merupakan figur yang Muchith telah berhasil menjaga citranya, meski itu bukan istimewa. Seorang kiai yang bisa membaca kitab kuning, sesuatu yang gampang. Beliau tetap ingin menjadi kenyang pengalaman, dan lagi matang politik! Namun seorang yang bercitra kiai, meski rikuh apabila dipanggil istimewanya, dia masih bertahan dalam menjaga Kiai. Sikap hidupnya mencerminkan sikap seorang sufi kehormatannya, ketika ujian harta sudah berdatangan. yang zuhud, ikhlas dan tidak neko-neko. Sosok seperti itu Bagaimana pun, menghadapi ujian kekayaan jauh lebih kini makin hari makin langka di kalangan NU. Penampiberat bila dibandingkan dengan saat bertemu ujian lannya merupakan manifestasi dari kiai NU sejati. Kesederhanaan Mbah Muchith ini mengingatkan kemiskinan. Namun, tidak banyak orang menyadarinya. kita kepada figur H. Agus Salim, PahlaJustru sebenarnya, tidak sedikit contoh Perjalanan nasib wan Nasional yang seringkali berpidato dari para pendahulu yang bersemangat di forum resmi PBB mewakili Indonesia, ketika masa berjuang, namun pada akmanusia menyerupai namun sampai akhir hayatnya masih hirnya harus bertekuk lutut di saat berhatinggal di rumah kontrakan. Atau Pak AR dapan dengan ujian harta. Moral pun perjalanan nasib para Fahruddin, mantan Ketua Umum Mubiasanya luntur dan dinomorduakan. Ketokoh wayang: kabeh hammadiyah, yang dikenal sebagai ulatika miskin mereka diuji sehingga selalu ingat kepada Tuhannya, sementara saat gumantung sing gawe ma yang sangat berpengaruh di kalangan Muhammadiyah. Beliau bisa bertabergelimang harta mereka lupa bahwa lakon (Semua han hidup dalam kesederhanaan. mereka juga sedang diuji. Dan, Mbah Dalam perjalanan pandangan Muchith bisa menghindari itu. Ia tidak sitergantung kepada Mbah Muchith, kehidupan ini tak ubahlau dan tidak terjebak. Tetap saja berjalan Yang Membuat Lakon). nya lakon dalam dunia pewayangan. lurus dalam garis ketentuan agamanya. Artinya, perjalanan nasib manusia menyerupai perjalanan nasib para tokoh wayang: kabeh Sederhana itu indah! Meski tergolong kiai berpengaruh dan punya nama gumantung sing gawe lakon (Semua tergantung kepada besar di dalam jam'iyah NU, punya banyak pengalaman Yang Membuat Lakon). Oleh karena itu, manusia harus dalam dunia politik dan birokrasi, namun kehidupan senantiasa dengan Yang Membuat Lakon (Allah SWT). Mbah Muchith sangat sederhana. Ketika beliau masih Bertumpu kepada pandangan hidup seperti itu, dalam tinggal di Jember, rumahnya tampak biasa-biasa saja. menjalani kehidupan kehidupan Mbah Muchith Tidak terlihat barang mewah di dalamnya. Bahkan memegang prinsip utama. Pertama, doa sebagai sarana dikatakan luar biasa, karena rumah itu menempati tanah komunikasi untuk membangun hubungan dengan Allah waqaf milik masjid, hingga anak-anaknya kelak tidak SWT. Sebagai khalifatullahi fil ardh manusia harus diperbolehkan untuk mewarisnya. Mbah Muchith dan mempunyai keinginan yang perlu diwujudkan. Kedua, anak cucunya dipersilakan tinggal di tempat itu, dengan ikhtiar, yaitu berusaha dengan sungguh untuk meraih syarat merawat Masjid Sunan Kalijaga yang berjarak sesuatu yang didambakan. Ketiga, tawakkal, yaitu kurang dari satu meter itu. Dan di masjid itulah Mbah berserah diri kepada Allah SWT agar keberhasilan tidak Muchith senantiasa mengajar pengajian Ahlussunnah membuahkan kesombongan dan kegagalan tidak membuahkan keputusasaan. Waljamaah setiap Jum'at malam. Kita haus keteladanan. Kesederhanaan yang Mbah Muchith menggumuli dunia politik, baik sebagai aparat pemerintah maupun wakil rakyat selama sepe- ditampilkan Mbah Muchith adalah sebuah keteladanan, rempat abad. Meskipun demikian Mbah Muchith tidak terutama pada saat bangsa ini tertatih-tatih memperbaiki mengubah pola hidupnya yang sederhana. Bagi beliau nasibnya. Di mana-mana masih terlihat kemiskinan dan kesederhanaan adalah sesuatu yang indah. Menjalani kebodohan. Bukan hanya kemiskinan materi, tapi juga hidup sederhana bukan berarti ingin tetap miskin. Bukan kemiskinan akhlak. Seorang kiai haruslah mengusung itu maunya. Hidup sederhana adalah cerminan rasa se- citra seorang kiai, bukan yang lain. Bagi seorang kiai, nasib-sepenanggungan terhadap mayoritas warga kesederhanaan dalam makna “tidak berlebihan” adalah bangsa yang masih terbelit oleh kemiskinan dan kebo- sesuatu yang diridhai.n (Drs. Nurcholis, Penulis buku dohan. Mbah Muchith merasa malu hidup “berlebihan” di Perjalanan NU Tuban dari Masa ke Masa 1935-2013)
Akbar No. 208 n Agustus 2015 33
W Peluang Usaha
ira USAHA
Ikan Gabus
mungkin jika saat ini ikan gabus menjadi salah satu ikan air tawar yang mulai dikenal dan digemari masyarakat. Tidak hanya dijual dalam bentuk ikan segar, ikan kutuk juga bisa diolah menjadi pempek, kerupuk, ikan asin, abon hingga diekstrak untuk kepentingan farmasi. Benih ikan gabus yang masih kecil juga bisa dimanfaatkan sebagai pakan ikan hias seperti arwana. Banyak keuntungan jika kita membudidayakan ikan gabus ini. Selain mudah diserap masyarakat, proses pembudidayaan ikan gabus juga cenderung mudah. Salah satu yang menjadi kendalanya, waktu panennya yang cenderung lama, yaitu 6 – 7 bulan. Berbeda dengan ikan lele dan sejenisnya, ikan gabus merupakan ikan air tawar yang cenderung liar. Ikan yang memiliki banyak nama seperti Haruan (Banjar dan Melayu), Kocolan (Betawi), Kutuk (Jawa) ini kerap memangsa ikan sejenis atau kanibal terhadap ikan yang masih kecil. Dalam wira usaha budidaya ikan gabus, sebaiknya tidak mencampur ikan yang masih kecil dengan ikan-ikan yang sudah dewasa dalam satu kolam. Jika peluang usaha ikan air tawar lainnya bisa dilakukan pemijahan buatan, ikan gabus berbeda, pemijahan hanya bisa dilakukan secara alami. Kita harus membuat kolam serta menjaga suhu air sesuai
Peluang usaha budidaya ikan gabus masih kalah populer jika dibandingkan dengan budidaya ikan air tawar lainnya, seperti lele, nila, atau gurame. Meski menyimpan potensinya yang sangat besar sekaligus bisa menghasilkan omset luar biasa, ternyata budidaya ikan ini belum banyak dibidik masyarakat. Selain enak dijadikan santapan, ikan gabus dicari karena memiliki kandungan yang juga berkhasiat untuk obat.
I
kan gabus memiliki kandungan asam amino yang sangat lengkap, baik esensial maupun non esensial. Dengan mengkonsumsi ikan gabus secara rutin, bisa menyembuhkan hepatitis, infeksi paru, stroke maupun luka bakar. Selain itu, ikan gabus juga mampu memperbaiki gizi buruk pada bayi, anak-anak serta ibu hamil. Ikan yang biasa disebut kutuk oleh masyarakat Jawa Timur ini merupakan ikan air tawar dari keluarga Channedae, karena sosoknya yang mirip dengan ular, maka ikan gabus juga kerap disebut sebagai Snakeheads. Di Indonesia sendiri ikan gabus terdapat tiga spesies, yakni Great Snackhead (ukurannya bisa mencapai lebih dari 1 meter), Forest Snackhead (ukuran panjangnya bisa mecapai 40 cm), serta Channa Gacua yang merupakan jenis ikan gabus terkecil yang umum dijumpai di perairan Jawa. Jenis Channa Gacua inilah yang umumnya di budidayakan oleh masyarakat setempat. Peluang usaha ikan gabus masih terbuka cukup lebar. Dari tahun ke tahun permintaan ikan ini terus naik disertai harga yang juga cenderung naik. Maka, bukan tidak
34 Akbar No. 208 n Agustus 2015
dengan kondisi habitat aslinya. Pemijahan bisa dilakukan di kolam beton dengan ukuran 3 x 5 meter. Karena di alam aslinya gabus hidup di perairan dengan lubuk-lubuk yang dalam dan gelap, maka kolam tempat pemijahan gabus sebaiknya juga dibuat lubang-lubang buatan. Lubang-lubang buatan ini bisa juga diganti dengan gentong yang dimiringkan, agar ikan ini merasa berada di habitat aslinya. Selain itu, jangan lupa untuk memberikan tumbuhan enceng gondok di kolam sebagai perangsang pemijahan ikan. Satu kolam ukuran 3 x 5 meter bisa dimasukkan sekitar 30 ekor indukan jantan dan 30 ekor betina, kemudian mereka dibiarkan untuk memijah sendiri. Gabus jantan ditandai dengan bentuk kepala yang lonjong dengan warna tubuhnya yang cukup gelap, lubang pada kelamin memerah, jika diurut akan mengeluarkan cairan benih. Sebaiknya indukan jantan bobotnya harus mencapai 1 kg. Ikan betina biasanya ditandai dengan bentuk kepala yang membulat, perutnya lembek serta membesar, warna tubuhnya cenderung terang, dan jika diurut perutnya akan keluar telur. Semakin tahu karakter ikan gabus, maka semakin membuka kesuksesan peluang usaha ikan gabus. Setelah masa pemijahan, telur ikan gabus kemudian diambil dengan skupnet halus.Telur tersebut kemudian ditaruh ke dalam aquarium untuk ditetaskan. Untuk ukuran aquarium sebagai tempat penetasan telur ikan gabus bisa menggunakan aquarium dengan ukuran panjang
W 60 cm, lebar 40 cm, dan tinggi 40 cm. Dalam proses penetasan, aerasi harus selalu dalam kondisi hidup, serta air dalam aquarium bersuhu 28 derajat Celsius. Telur akan menetas dalam waktu 24 jam. Larva yang baru menetas, biasanya sudah memiliki cadangan makanan, karenanya selama dua hari larva sebaiknya jangan dikasih makan. Larva yang sudah di atas 3 hingga 15 hari, segera dipisah. Dalam satu liter idealnya hanya dihuni 5 – 7 ekor larva. Pakan larva yang sudah berusia lebih dari dua hari larva bisa diberi pakan berupa baupli artemia dengan frekuensi 3 kali sehari. Jika bibit ikan gabus sudah siap, langkah selanjutnya adalah menyiapkan kolam untuk proses pembesaran ikan gabus. Kolam yang paling bagus untuk pembesaran ikan gabus adalah kolam tanah dengan ukuran 200 m2. Jika lokasi sempit, bisa menggunakan terpal. Buat kolam semirip mungkin
C
ira USAHA
dengan habitat aslinya, tambahkan juga 5 – 7 karung kotoran puyuh, ayam atau sapi yang sudah kering ke dalam kolam, akan membuat kolam memiliki ph dan suasana seperti habitat asli ikan gabus. Jika sudah diberi kotoran, kolam kemudian diberi air dengan ketinggian 40 cm,
lalu biarkan air tercampur dengan kotoran selama 5 hari. Pembesaran atau fattening dilakukan untuk menghasilkan ikan gabus ukuran konsumsi atau ukuran pasar. Dalam peluang usaha pembesaran, benih yang harus diguna-
angkrukan (kongkow) tak lagi menjadi aktivitas rasan-rasan. Sebab, cangkrukan yang digagas oleh komunitas Gerakan Tuban Menulis (GTM) ini telah menerbitkan dua (2) buku bernuansakan keilmuan dan membahas gerakan literasi di Tuban. Ketua Komunitas GTM, Mutholibin, mengatakan, cangkrukan ilmiah ini dilakukan dengan konsep diskusi santai. Tema diskusinya membahas pentingnya gerakan literasi di daerah. Ini membangitkan gerakan menulis di Tuban. Peradaban bangsa bisa dilihat terdapat banyak penulis. Sebab, seorang penulis banyak memberikan inspirasi dan perubahan di sebuah daerah. Pesan Pramoedya: “Menulislah ... karena menulis adalah pekerjaan yang abadi”. Tholibin mengakui mengajak orang menulis itu tidak mudah. Sebab, kemalasan seseorang untuk menulis menjadi penyebabnya. Sehingga, perlu ada gerakan secara bersama-sama agar sadar untuk menulis. Apalagi menulis potensipotensi daerah seperti Tuban. Untuk memulai menulis harus diawali dengan semangat membaca yang tinggi. Sehingga, apa yang akan ditulis menjadi karya yang berkualitas. Kami
kan merupakan benih yang sehat, serta sudah disortir ukuran-nya terlebih dulu. Kepadatan benih yang ideal adalah 50 – 100 ekor per m2. Sedangkan kedalaman air untuk pembesaran idealnya 80 – 100 cm. Selama pembesaran ikan gabus ini, pemberian pakan selain pellet juga bisa diberikan pakan buatan ataupun hewan-hewan kecil. Ikan gabus sangat bagus jika diberikan pakan yang mengandung protein minimal 30%. Mengingat ikan ini merupakan ikan yang rakus serta kanibal, sangat disarankan dalam pemberian pakan haruslah tepat waktu. Pakan tambahan untuk ikan gabus diantaranya ikan rucah, cacing, dan daging bekicot. Pemasaran peluang usaha budidaya ikan gabus juga tidak susah, dan tidak ada kendala yang berarti. Untuk harga, perkilo ikan gabus antara 30 - 40 ribu.n ydh (Disarikan dari www.wartausaha. com dan sumber lain)
Terbitkan Dua Buku mengajak agar para pemuda gemar membaca dan menulis. Pada kegiatan cangkrukan ilmiah beberapa waktu lalu itu, selain menunggu berbuka puasa sekaligus me-launching dua buku yang diterbitkan oleh komunitas GTM, yakni antologi cerpen dan kumpulan artikel. Dua buku itu adalah tulisan para peserta lomba menulis yang digelar komunitas tersebut. ''Kami berharap Tuban menjadi kota menulis,'' tandasnya.n Dua buku yang diterbitkan.
Akbar No. 208 n Agustus 2015 35
C Di usia yang sudah condong ke barat—begitu Uwak Bandi menggelar masa tuanya—tak ada lagi angan-angan untuk kaya. Menunaikan rukun Islam kelima adalah mutiara keinginannya sebelum ruhnya diraut maut. Uwak Bandi mengerti, seperti kata kebanyakan orang, kaya itu titi utama menuju Tanah Suci. Namun, ia masih percaya, hasratnya akan terkabul dengan niat yang terus mengepul. Tentu ia sadar, niat tersebut harus ditopang kerja keras dan doa. Soal biaya? Ah, bukankah rezeki seumpama teka-teki, sulit-sulit mudah untuk diselidiki?
15 Hari Bulan B Oleh : Al Banna Indra
anyak orang yang dinilai tak berharta, tapi lulus pergi haji. Uwak Bandi ingin masuk dalam golongan tersebut. Tak kaya, tak mengapa. Tapi, pantang baginya memiskinkan cita-cita. Asal jangan cita-cita yang disusupi cela, titah hatinya. Jangan pula sampai terjangkit penyakit riya: berlomba naik haji biar diseru kaya raya! Andai boleh memilih, ia rela dituding miskin sebelum maupun sepulang dari Mekkah. Memang, Uwak Bandi kerap mengumpamakan impiannya mencium tebing Kabah semacam orang awam hendak menggapai bulan. Namun, ia bukan orang yang mudah memberangus harapan. Terlebih dalam doa. Maka, setiap menyaksikan tanak bulan purnama, Uwak Bandi senantiasa berdoa: ”Ya Allah, perkenankan aku mencium bulan.” Mmh, bulan dalam doa tersebut bermakna Ka'bah baginya. Uwak Bandi juga sering menyemai doa tatkala memenuhi undangan menyenandungkan marhaban di berbagai acara tepung tawar haji. Ia dikenal ahli marhaban, ahli doa. Kian kukuhlah niatnya setiap diminta mendoakan kemabruran ibadah para sejawatnya. Ya, soal keinginan kuat, Uwak Bandi tak terhadang lagi. Dorongan Haji Sazali, sahabatnya, pensiunan pegawai Bea dan Cukai pun makin memanjangkan galah tekad Uwak Bandi. Pula Haji Sazali yang hendak menunaikan ibadah haji untuk kali ketiga mengajaknya pergi bersama. Jujur, percakapan keduanya, terkait apa pun, pada hilirnya menyinggung kisah Haji Sazali sewaktu di Mekkah. Berbunga-bunga hati Uwak Bandi mendengarnya. ”Mana tahu rezekimu melimpah setelah mendaftar, Bandi,” nasihat Haji Sazali suatu kali. ”Pokoknya daftar dulu. Kasih tanda jadi. Tinggal
36 Akbar No. 208 n Agustus 2015
ERPEN dicicil. Insya Allah ada jalan untuk niat muliamu itu.” Maka, seusai menyimpulkan saran Haji Sazali: niat tak akan lunas kalau terus-terusan menunggu ongkos haji cukup, Uwak Bandi pun menegakkan tiang keyakinan. Apalagi, tegurnya ke dada sendiri. Sisa pesangon—sekitar enam juta—selepas bekerja hampir 30 tahun di Socfindo (perusahaan penyulingan minyak sawit) memadailah untuk memulai rencananya. Bismillah, ia pun mendaftarkan diri sekaligus menyetor uang muka ke bank, menyusul Haji Sazali yang sudah lebih dulu. Nah, tercatat sebagai calon jemaah haji dalam daftar tunggu, Uwak Bandi tinggal memasok cicilan sekerap mungkin. Atau siapa tahu, tunggakan biaya haji bisa ditunaikan sekaligus. Hingga ia tak perlu berlamalama terjebak dalam daftar tunggu. Dengan perhitungan matang, Uwak Bandi memanjar ongkos haji sejumlah satu juta. Selebihnya, ya, diputarkan untuk usaha lain. Mmh, andai saja…. Ah, Uwak Bandi terus berjuang untuk tak terjerembab ke lumpur penyesalan. Seperti halnya Dariah, sang istri, yang sering mengungkit-ungkit kelunakan hati Uwak Bandi meminjamkan sebagian besar pesangon kepada kedua anaknya. Memang, setelah membeli sampan usang dan memodali Dariah membuka kedai lontong, ketajaman pisau sebab akibat terus menyayat daging tabungannya. Bayangkan, ia harus menanggung biaya operasi caesar putri sulungnya, Maemunah, sewaktu melahirkan anak ketiga. Ia maklum, suami Maemunah hanya pekerja kasar di pabrik pengalengan ikan. Ha, lain pula Ruslan, adik lelaki Maemunah, butuh uang demi menebus keteledorannya saat bekerja. Ruslan satpam di perusahaan pengolahan besi baja dan sedang mendapat giliran jaga ketika gudang perusahaan ditelikung maling. Sialnya, uang tebusan dibalas dengan surat pemecatan. Sejatinya, Maemunah dan Ruslan tetap menganggap bantuan ayah mereka sebagai utang yang mesti dilunasi. Namun, Uwak Bandi tak pernah sampai hati menagihnya. Apalagi kepada Ruslan, yang akhirnya harus membiayai anak-istri dari mocok-mocok—bekerja serabutan. Bahkan, meski tak sepenuhnya disetujui Dariah, ia ikhlas (tepatnya mencoba ikhlas). Memang, kalau dipikir-pikir, pesangon Uwak Bandi tempo hari hampir mencapai separuh ongkos haji. Ancang-ancangnya pun memang untuk ongkos haji. Tetapi, ya, bukankah rezeki kerap berlindung di sarang misteri? Tak tahu kapan hinggap, kapan terbang. Untuk soal itu, ia terkesan jarang mengeluh. Meski perjuangannya menghidupi keluarga tak ringan, ia tetap merasa liuk nasibnya tak securam orang lain. Tinggal di kota pelabuhan bukan jaminan untuk hidup layak. Seperti warga lainnya, Uwak Bandi hanya bisa menyambut uluran laut, juga belas kasihan deru pabrik. Ia sendiri sejak usia belasan tahun sudah pergi melaut. Teramat tekun ia menjadi nelayan. Riwayat
C
ERPEN
orang. Untung sekalian atau buntung sepenuhnya! garam tersimpan di tubuhnya. Setelah menikahi Dariah, Namun, Tuhan Maha Mengabulkan doa. Keinginan ke ia menyambi kerja sebagai buruh bongkar muat pelaMekkah memberinya kekuatan untuk belasan hari buhan. Lantas, ketika Maemunah berusia dua tahun, mengorek bangkai tambak yang Uwak Bandi merasa beruntung bisa Uwak Bandi paham, dangkal. Lumpur hasil korekan dibekerja di Socfindo meski hanya manonggok ke atas benteng tambak, dor gudang. Inilah pekerjaan yang berkeuntungan ibarat pagar tanah yang berfungsi sebagai jasa membesarkan kedua anaknya. Di lumba-lumba yang pengepung air. kota pelabuhan itu, tak banyak orangmenyenangkan dan Lantas, paloh secara alami akan tua yang mampu mengantarkan anakmemasok air asin ke tambak. Melalui anaknya tamat sekolah setingkat SMA. kerugian laksana hiu pengaturan pintu air, pasang surut Uwak Bandi adalah pengecualian. yang kejam. Rezeki paloh bakal menyegarkan tambak. Kalaupun setelah pensiun ia Beres! Tapi tentu, selama tiga bulan, harimau, kata orangmelaut lagi, bukanlah seperti dulu lagi: Uwak Bandi akan lebih banyak tinggal memburu ikan dalam hitungan malam! orang. Untung sekalian di tambak, terutama malam hari. Kalau Uwak Bandi pergi ke laut hanya untuk atau buntung tidak, maling tiger akan leluasa memmengerat kejenuhan karena tak betah buraikan isi tambak. Untuk menjaga ongkang-ongkang—cuma makan sepenuhnya! Namun, tambak, Uwak Bandi tak perlu lagi tidur—di rumah. Ia pun tak sanggup lagi Tuhan Maha mendirikan pondok di bahu tambak. ke tengah laut, hanya menjala ikan di Mengabulkan doa. Sudah ada. Dinding tepasnya pun sekitar paloh—rawa laut. Untuk itu masih pulalah, sampan bekas ia beli. Ya, hasil kuat. Ia cuma perlu menjaring ikan setengah hari di paloh lumayanlah untuk mengganti atap mengasapi mulutnya dengan rokok atau memawangi rumbianya. sakunya. Untuk keperluan sehari-hari, dipasok dari hasil *** kedai lontong Dariah. Namun, untuk memuluskan rencana naik haji, Uwak Bandi tak mungkin mengharapkan kedai lontong saja, punpaloh. Maka, ketika mengetahui A-Siong, juragan arang menyewakan tanah bekas tambak, Uwak Bandi tergiur. Sejatinya, bengkalai tambak tersebut termasuk tanah yang sudah dijual A-Siong. Katanya mau ditimbun dan dibangun pabrik. Tetapi, menurut ASiong, belum berlangsung timbang terima. Berarti masih ada peluang untuk sekali panen tambak. Nah, semua sudah ditimbang masak-masak. Uang sewa tambak seluas 45 rante, sekitar satu hektar, cuma satu juta. Tambak seluas itu mampu mengasuh 5.000 bibit udang tiger. Dibutuhkan biaya hampir tiga juta untuk bibit tiger sebanyak itu. Intinya, tak ke mana uang lima juta demi meraup keuntungan setara ongkos naik haji. Bahkan bisa lebih. Te n t u U w a k Bandi paham, keuntungan ibarat lumbalumba yang menyenangkan dan kerugian laksana hiu yang kejam. Rezeki harimau, kata orang-
Akbar No. 208 n Agustus 2015 37
C
ERPEN
Serangga laut sesekali pamer suara! Tadi, sebelum Bandi banting langkah ke pintu air. Ampun, pintu air jebol istirahat di beranda pondok, Uwak Bandi masih sempat didongkel pasang. Ia kembali ke benteng yang terluka. mengitari pematang benteng beberapa kali. Tak perlu Sebab, tak ada faedahnya mengurusi pintu air yang menenteng senter karena bulan sedang ranumroboh. Sudah pasti lubang yang bersemayam di luka ranumnya. Langit malam cerah. Hujan sore tadi telah benteng bakal mengirim isi tambak ke paloh, terus ke menanggalkan daun-daun awan. Maka, cahaya laut. Uwak Bandi terperangah, terengah. Ia sibuk merajut keemasan bebas menyapu permukaan tambak pun siasat, kewalahan mencari akal. Debur air, sepadan menuntun mata dan langkah Uwak Bandi menyusuri ternak yang hambur keluar kandang, menciutkan punggung benteng. nyalinya. Ia memang harus tetap awas. Selain maling tiger, Uwak Bandi berlari ke pondok, lalu kembali sambil masa 15 hari bulan—purnama masak—memaksa Uwak menggendong setumpuk kayu waru. Dengan tubuh Bandi harus jeli mengeja air. Pasang yang bergetar, ia tancapkan kayu-kayu besar sering terjadi pada 15 hari bulan. itu di mulut benteng yang jebol. Mana ”Ya Allah, izinkan Tak jarang pasang besar menyeberangtahu mumpuni menghadang pasang aku mencium bulan,” yang hendak pergi ke alam. Tapi, apalah kan udang ke luar tambak. Tapi Uwak zikirnya penuh geli. Bandi boleh lega karena benteng sudah daya tancapan kayu di kumparan lumpur. ditinggikannya dua hari lalu. Uwak Bandi menceburkan diri ke tamAih, tak sampai Dalam kewaspadaan, Uwak Bandi bak. Ia jongkok, menyurukkan leng-kung sepekan lagi masa masih sempat menatap purnama di punggungnya ke liang benteng. Pinakjantung langit. Pantulannya jatuh persis di panen tiba. Entahlah, pinak air seperti jemari yang mencengkeberbagai kemudahan ram lehernya. Tapi, ia tak peduli. Sepapusar tambak. Sambil memutari sisi tambak, ia membayangkan dirinya sedang memihak kepadanya. sang tangannya terus mendorongtawaf, mengelilingi Kabah. ”Ya Allah, izindorong air agar pulang ke tambak. ”Ayo, Bukankah kan aku mencium bulan,” zikirnya penuh timpas! Surut kau air!” Uwak Bandi geli. Aih, tak sampai sepekan lagi masa kemudahan namanya menghardik, terbata. Air bercampur ketika wabah panen tiba. Entahlah, berbagai kemudalumpur menerobos mulutnya. Menyumhan memihak kepadanya. Bukankah kebat kerongkongannya! penyakit tak mudahan namanya ketika wabah penyaTapi, air tak kunjung timpas—surut menyerang tiger-tiger kit tak menyerang tiger-tigerpiaraannya? tak diturut. Terkaman pasang malah piaraannya? Pun makin buas, menciptakan lubang yang Pun maling seperti enggan mengusik maling seperti enggan lebih besar. Tubuhnya tak mampu tambaknya. Mmh, kelana angannya begitu mengusik tambaknya. menjadi akar bakau penentang arus. Pasang yang bergelicak deras membemudah menaklukkan Masjidil Haram. Tapi, udara dingin yang berbisa mengemrantakkan wujud purnama di permukaan air. Cahaya keemasan pecah, menjelma kilau kecemabalikan Uwak Bandi ke tambak. Daun-daun bakau riuh san. ”Kabahku! Hancur Kabahku!” Uwak Bandi meronta disabung angin. Uap garam menyengat penciumannya. seperti kanak-kanak. Menempeleng pipi air bertubi-tubi Ia membelitkan sarung ke lehernya. Rokok disulut. untuk apa? Toh, kerumunan tiger sebesar kuncup Sebelum ke pondok, ia pergi memastikan pintu air sudah telapak tangan orang dewasa terus melintasi tubuhnya terkunci. Selanjutnya, ya, Uwak Bandi bergegas sebelum akhirnya dirampas paloh, ditelan alam. menyalakan perapian dari potongan-potongan kayu Uwak Bandi kehabisan tenaga, kehilangan doa. waru. Ampuhlah untuk menghalau nyamuk, menawar Tubuhnya dilumpuhkan air pasang. Kepalanya terdodingin. ngak ke langit. Ei, mengapa dalam gontai kuyup pandaLantas, ia duduk bersandar di beranda pondok. ngan, ia menyaksikan Haji Sazali melayang ke pekaraUwak Bandi mendapatkan dadanya sekonyongngan langit, menuju bulan? Haji Sazali tersenyum sambil konyong padang. Lapang. Diselimuti kehangatan api, ia melambaikan tangan, semacam kibas ajakan. Uwak kembali memandang bulan bak menyaksikan Kabah. Bandi ingin menyahut lambaian itu. Tapi, bentang taHe, Kabah 15 hari bulan, selorohnya ke diri sendiri. ngannya tengah berjuang menjadi benteng. Air menyanTempias angin mengatupkan kelopak matanya. Wahai, dera Uwak Bandi. Bahkan, memerosokkan tubuhnya ke Tanah Suci, aku datang, igaunya. Namun, saat kelelapan nganga lubang. Tenaga Uwak Bandi tinggal ampas. siap menyongsong, Uwak Bandi terperanjat oleh suara Tubuhnya timbul tenggelam, diisap diembuskan air debum air. Ia kumpulkan kesadaran, lalu berlari ke ufuk pasang. Ah, adakah yang mampu mendengar gelepar suara. Air pasang memenuhi tambak, membobol tangisnya di perut air? benteng. Dinding tambak terluka! ”Haji Sazali, tega nian kau meninggalkanku….”n Angin menyalak! Suara hewan malam siur! Uwak
38 Akbar No. 208 n Agustus 2015
Figur
Energi Bunda Mei Bekerja dengan orang-orang muda yang kreatif dan inovatif bisa memunculkan gairah tersendiri. Hal ini sangat dirasakan oleh Sekretaris Dinas Perekonomian dan Pariwisata (Disperpar) Tuban, Dra. Endang Trimeydia IN, M.Si, terutama ketika harus terlibat membimbing generasi muda Bumi Wali dalam kegiatan dinas maupun non dinas.
“
Generasi muda jenis ini bisa menularkan energi yang sangat luar biasa. Hasilnya, meski usia sudah tidak bisa dibilang muda lagi, tapi semangat saya dalam berkegiatan masih membara. Tidak kalah dengan anak-anak muda itu,” ujar perempuan kalem yang akrab disapa Bunda Mei ini sambil tertawa renyah. Steering Comittee Jagongan Matoh, sebuah wahana pencerdasan dan pemberdayaan menuju masyarakat unggul dan bermartabat untuk warga Kabupaten Tuban tersebut, merasa bangga bisa mendampingi serta mengarahkan generasi muda Bumi Wali agar lebih tangguh dan produktif. Sebagai salah satu Pembimbing UKM dan Koperasi seKabupaten Tuban, ibu dua anak ini berharap, koperasi yang ada bisa berkembang pesat dan mampu mencetak pengusaha-pengusaha baru di berbagai bidang. Hal ini mengingat potensi Tuban sangat melimpah. Agar upaya yang dilakukan bisa berhasil, mantan Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdiskpora) Tuban ini tak pernah lelah mengajak orang-orang di sekelilingnya untuk mengubah pola pikir serta kebiasaan menuju hidup yang berkualitas. “Dalam kehidupan ini, kadang-kadang dengan sengaja atau tidak kita akan terluka oleh orang lain. Bagaimana cara kita menangani sakit hati, akan menentukan kebahagiaan kita,” tuturnya. Bila kita memendam sakit hati dan terus menyimpan kebencian, imbuhnya, hal itu bisa meracuni hidup kita. Untuk kesehatan dan kebahagiaan diri sendiri, kita harus belajar memaafkan. Intinya, jika kita ingin hidup bahagia, sehat dan berumur panjang, harus senantiasa bersyukur dan mau berdamai dengan diri sendiri, ucapnya. Bunda Mei menekankan agar kita tidak mudah menyalahkan orang lain. Sebagai contoh, ketika anak melakukan kesalahan, kita tidak boleh terburu-buru menyalahkannya. Bisa jadi anak kita bermasalah
akibat kesalahan orang tua. Sebagai orang tua, kita juga harus berani mengakui kekurangan, karena anak adalah cerminan kita para orang tuanya, katanya sembari menerawang. Bunda Mei tidak memungkiri perkembangan teknologi digital dan gempuran informasi membawa tantangan tersendiri. Anak-anak jaman sekarang menghadapi banyak godaan, mulai dari beragam acara televisi, kesenangan bermain games, chatting, internet yang jauh lebih menarik, plus dengan minimnya kehadiran dan bimbingan orang tua, bisa dipahami kalau mereka akrab dengan perangkat digital dibandingkan dengan orang di sekitarnya. Di tengah kemajuan modern, lanjutnya, seyogyanya generasi muda tidak terlena atau hanya sekadar menikmati kemajuan saja. Mereka juga harus lebih selektif dalam menerima setiap informasi dari berbagai sumber. Selain itu, penting juga bagi generasi muda memiliki rasa kebanggaan dan nasionalisme yang tinggi terhadap negara, sehingga tumbuh menjadi generasi yang mencintai dan menghargai negeri sendiri. “Apalagi kita tengah menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean, generasi muda masa kini harus terus mengasah kemampuannya agar memiliki kreatifitas yang tinggi,” pesannya. Zaman semakin maju, selain membekali diri dengan pengetahuan dan kemampuan, Bunda Mei mengingatkan kita agar senantiasa ingat dengan Yang Maha Kuasa. Karena tanpa ridho dan rahmat-Nya, kita bukanlah apa-apa.n ydh
Akbar No. 208 n Agustus 2015 39
Dirgahayu Republik Indonesia ke-70
(17 Agustus 1945 - 17 Agustus 2015)