Data Loading...
Akbar Edisi 218 Flipbook PDF
Akbar Edisi 218
148 Views
92 Downloads
FLIP PDF 4.03MB
Kisar Eksekutif
Istimewa
Momen Perbaharui Trisakti
Sukseskan GNM
Laporan Utama Optimis Bawa Perubahan Media Komunikasi Pemkab
Wira Usaha Budidaya Singkong Gajah
No. 218 n Tahun XX
JUNI 2016
H. M. Miyadi, SAg, MM (Ketua DPRD Kabupaten Tuban) Sekda Kabupaten Tuban Dr. Ir. Budi Wiyana, MSi Drs. Teguh Setyobudi, MM Setda Kabupaten Tuban)
Arman Mitra, S.IP Hermanto, SH (Kasubag Publikasi)
Redaksi menerima kiriman naskah, opini, cerpen, dongeng, features dan bentuk tulisan lain sesuai misi Majalah Akbar. Naskah maksimal 3 halaman kuarto, dikirim ke alamat email Majalah Akbar. Redaksi berhak mengedit sepanjang tidak mengubah isi.
2 Akbar No. 218 n Juni 2016
Ucapan Redaksi. Editorial . . . . . . Surat Pembaca . Mimbar Agama . Kisar Eksekutif . Laporan Utama . Ramadhan . . . . Kesehatan . . . . Istimewa . . . . .
. . . . . . . . .
. . . . . . . . .
. . . . . . . . .
. . . . . . . . .
. . . . . . . . .
. . . . . . . . .
. . . . . . . . .
.3 .4 .5 .5 .8 12 16 18 19
Kesehatan . Info Desa . . Cermin . . . . Tokoh Kita . . Wira Usaha Selingan . . . Budaya . . . . Cerpen . . . . Figur . . . . .
. . . . . . . . .
. . . . . . . . .
. . . . . . . . .
. . . . . . . . .
. . . . . . . . .
. . . . . . . . .
. . . . . . . . .
. . . . . . . . .
. . . . . . . . .
. . . . . . . . .
23 26 28 30 32 34 35 36 39
Akbar No. 218 n Juni 2016 3
EDITORIAL
Menata Jati Diri di Pusaran Bulan Suci
S
ebuah komunitas yang terdiri dari banyak individu di masyarakat, tak dipungkiri menyimpan berbagai kisah. Ibarat perjalanan, selalu ada cerita dari para orang di perjalanan tersebut. Sebab, waktu tak pernah selesai, tak pernah lelah, mengantarkan segenap orangorang, komunitas, ataupun apa sebutan yang tepat ke tujuan sebenarnya, yang menurut ajaran Islam adalah akhirat. Dunia, hanyalah sebuah tempat menampung segala peristiwa hari demi hari, bulan, tahun, bahkan berabad-abad. Dari sekian waktu yang dinamai hari, minggu bulan dan tahun itu ada satu pos yang dinamakan bulan Ramadhan. Oleh umat IsIam, merupakan prasasti bulan di antara bulan lainnya, karena terdapat keistimewaan di dalamnya dan seringkali dijadikan wahana untuk menata diri, memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri. Bulan istimewa ini harus dilalui oleh laku kontemplatif. Bagaimana tidak? Sebulan harus dilalui dengan menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga maghrib, baru diperbolehkan menyantap makanan, dengan berbagai disiplin dan aturan, yang jika ditaati banyak sekali manfaatnya. Bukan itu saja, bulan ini juga menyediakan porsi pada ranah spiritual, utamanya orang-orang yang meyakininya. Maka, perjalanan spiritual selama sebulan itu, di
SIKUT
4 Akbar No. 218 n Juni 2016
dalamnya dijanjikan bagi orang-orang yang melaksanakannya dengan taat dan ikhlas, akan memperoleh rakhmat, barokah dan maghfiroh dari Allah SWT. Tak heran jika momen bulan ini selalu disambut dengan penuh kesadaran, sebab bukan hanya untuk memenuhi kewajiban, tetapi, banyak muatan di dalamnya bagi orang-orang yang mau merenungi hikmahnya. Semoga, kecenderungan tersebut mampu diraih secara memadai, agar meningkatkan perbaikan kualitas kehidupan mental spiritualnya. Ibarat perjalanan, kisah dalam bulan Ramadhan bukanlah kisah tanpa rujukan yang jelas. Cerita tentang fakir miskin dan terlantar, bisa langsung dirasakan contohnya, dengan merasakan lapar dan haus selama seharian. Cerita ini bukan isapan jelmpol jika pelaku puasa nantinya mendapatkan pencerahan, munculnya rasa kepekaan dan kasih sayang antar sesama. Berjamaah tarawih, membangun kerukunan, berdoa dan mngaji, memberikan perenungan akan kesatuan komunitas, mempererat, serta merasakan langsung bagaimana bulan ini memberikan banyak persepektif positif bagi umat Islam yang melakukannya, yang semuanya menuju muara pencerahan. Mengenali jati diri, seberapa jauhkah kualitas jati diri telah tertata, hal ini sangat privasi, hanya Tuhan dan diri sendirilah yang mengetahui.n
Surat Pembaca Portal Depan Koramil Semanding Portal jalan di depan Koramil Semanding mohon dibuka, supaya mobil yang agak tinggi bisa lewat, terutama mobil pengangkut jerami! (Warga Semanding) Portal merupakan salah satu rambu yang perlu dipasang apabila memang diperlukan. Hal ini sesuai dengan rekayasa lalu lintas maupun berdasarkan hasil survey dari Dinas Perhubungan (Dishub), sebagaimana adanya polisi tidur, dan lain sebagainya. Portal jalan Koramil Semanding ke timur sudah sesuai dengan rekayasa lalu lintas, memang perlu dipasang. Fungsinya untuk membatasi arus lalu lintas yang
M
melewati jalan tersebut. Berdasarkan kesepakatan dalam rapat Rukun Tetangga (RT) setempat, yang juga melibatkan Dishub Tuban, jalan tersebut banyak dilalui kendaraan-kendaraan yang membahayakan, baik itu untuk lalu lintas maupun dimungkinkan akan mengakibatkan kerusakan jalan itu sendiri. Maka dari itu, setelah disurvey, maka dipasang portal sesuai dengan aturan yang berlaku. Pada pemasangan portal, sudah diukur ketinggian kendaraan dan beban muatan yang bisa melintasi jalan tersebut. Jika kendaraan tersebut melebihi ukuran dan beban yang disyaratkan, tentu saja kendaraan tersebut tidak bisa melintas karena melanggar batas ketentuan yang berlaku.n (Dinas Perhubungan Tuban)
imbar Agama
Zakat Implikasinya Pada Pemerataan (Habis) Oleh : A. Rahman Zainuddin Bagi Garaudy (1981, 32), zakat itu bukanlah suatu karitas, bukan suatu kebaikan hati pihak orang yang memberikannya, tapi suatu bentuk keadilan internal yang terlembaga, suatu yang diwajibkan, sehingga dengan rasa solidaritas yang bersumber dari keimanan itu orang dapat menaklukkan egoism dan kerakusan dirinya.
D
alam kesempatan yang lain (1986, 337) ia menyatakan bahwa al-Qur'an dan Sunnah mengatur pembagian kekayaan dengan jalan melembagakan zakat, yaitu suatu pungutan yang bukan bersifat sukarela, tapi pungutan wajib, yang bukan berdasarkan penghasilan, melainkan berdasarkan kekayaan. Ia selanjutnya menyatakan bahwa dengan tarif umum dua setengah persen setahun maka kekayaan itu akan habis dalam waktu satu generasi, yaitu dalam jangka waktu empat puluh tahun, dengan demikian tak akan ada orang yang dapat hidup sebagai parasite dari kekayaan yang diwarisinya dari orang tuanya. Ia berpendapat bahwa dalam suatu masyarakat dimana hukum seperti ini dilaksanakan dengan tuntas, maka tak akan ada orang yang terpaksa mencuri, selain dari orang yang berpenyakit seperti kleptomaniak. Boisard (64-65) menyitir pendapat-pendapat yang mengatakan zakat itu menyucikan manusia yang
memberikannya, dengan kemenangan terhadap egoisme, atau bahwa ia memperoleh kepuasan moral, karena ia telah ikut mendirikan sebuah masyarakat Islam yang lebih adil. Zakat baginya bukanlah belas kasihan, akan tetapi kewajiban orang kaya dan hak orang miskin. Zakat adalah pembagian sesama sekutu dalam kekayaan umum, dan menjelmakan persaudaraan dan solidaritas. Dan lebih daripada orang yang lebih banyak melihat unsur pajak dalam zakat, maka orang Islam memandangnya sebagai kewajiban agama. Ia juga merupakan penegasan kembali kenyataan bahwa semua harta benda yang dimiliki manusia pada hakikatnya milik Tuhan, sedangkan apa yang ada pada manusia adalah hak guna saja. Karena itu, zakat tak lebih dari mengembalikan sebagian harta itu kepada pemiliknya yang asli (Tuhan), demi menghindarkan diri dari penderitaan yang akan ditimbulkannya nanti di akhirat. Salamah (1978, 98-99) berpendapat bahwa dalam permasalahan manusia yang bersifat keuangan dan perekonomian, Islam menentukan batas-batas dan meletakkan kaidah-kaidah yang sangat jelas, yaitu yang sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, keadilan dan kepercayaan. Islam menyatakan bahwa harta benda itu bukan tujuan dalam hidup ini, akan tetapi hanya alat semata untuk mempertukarkan manfaat dan saling memenuhi keperluan, yang
Akbar No. 218 n Juni 2016 5
M
imbar Agama
digunakan untuk mencapai keadilan sosial yang dicitacitakan Islam. Harta benda itu sendiri sebagai alat yang tunduk kepada kehendak manusia adalah netral. Jadi kehendak manusia itu dapat menjadikan harta benda itu sebagai nikmat, rejeki, dan kurnia yang berguna, demi untuk mencapai yang baik. Namun kehendak manusia itu pulalah yang dapat mengubah harta benda itu menjadi sumber azab dan sengsara bagi manusia itu sendiri. Salamah (h. 100) merasa heran karena dewasa ini umat Islam pada umumnya mentolerir praktek-praktek riba dalam bidang keuangan dan ekonomi, yang berdasarkan eksploitasi dalam bentuknya yang paling buruk, sehingga gejala ini memperlihatkan bahwa harta benda itu telah menguasai hak-hak asasi manusia. Ia berpendapat bahwa kegiatan yang berdasarkan riba ini pulalah yang menyebabkan mengapa sebagian besar harta benda menumpuk di tangan segelintir kecil manusia yang sangat kaya. Zakat sebagai rukun Islam ketiga, menurut pendapatnya, disamping membersihkan jiwa dan harta benda, juga merupakan alat pemerataan yang ampuh dari harta benda dalam masyarakat (h. 102). Ia juga berpendapat bahwa zakat merupakan sebagian besar dari pendapatan negara yang menjadikan negara-negara dulu kaya dan makmur, serta tak mengenal kemiskinan dan penderitaan. Selanjutnya ia memandang bahwa relevansi zakat di masa sekarang menjadi semakin penting, terlepas daripada pajak yang telah ada, karena tempat penyalurannya berbeda. Zakat merupakan faktor utama dalam pemerataan harta benda di kalangan masyarakat, dan juga merupakan sarana utama dalam menyebarluaskan perasaan senasib-sepenanggungan dan persaudaraan di kalangan umat manusia. Karena itu dapat dikatakan bahwa zakat, kalau akan dinamakan pajak, maka ia adalah pajak dalam bentuk yang amat khusus (h. 103). Bagi Tawati (1986, h. 27), kedatangan Islam adalah untuk memperbaiki kehidupan manusia yang dipenuhi ketidak-adilan. Dalam hubungan ini zakat adalah suatu kerangka teoritis untuk mendirikan keadilan social dalam masyarakat Islam. Ia bertujuan membersihkan jiwa manusia dari kekotoran, kebakhilan dan ketamakan, serta untuk memenuhi kebutuhan mereka yang fakir miskin dan diselubungi penderitaan. Zakat juga digunakan untuk mendirikan segala sesuatu yang penting
6 Akbar No. 218 n Juni 2016
bagi kepentingan umat, seperti memerangi inflasi dan memperkecil jurang antara berbagai lapisan sosial. Menurut pendapat Tawati, definisi-definisi yang diberikan para ulama terhadap zakat memberikan kesan, semuanya itu bermuara pada seruan mendirikan masyarakat Islam yang kokoh, kerjasama antara anggota umat berdasarkan kebaikan dan ketaqwaan, dan seruan untuk berusaha sedapat mungkin agar semua orang dapat hidup dalam suatu tingkat kehidupan yang layak dan mulia, karena kepentingankepentingannya yang utama dalam hidup telah terpenuhi (h. 28). Perbedaan yang mendasar antara zakat dan pajak, menurut pendapatnya, adalah bahwa pajak dibayar orang karena terpaksa, tapi zakat dibayarkan sebagai lambing kerjasama, persaudaraan yang sungguh-sungguh, yang dilaksanakan dengan cara yang berbeda pula (h. 30). Dan yang lebih penting lagi adalah kenyataan bahwa zakat itu adalah ibadah (h. 31). Sementara itu, studi-studi kaum orientalis semenjak dulu telah berusaha memberikan gambaran yang salah dan penafsiran yang tak benar tentang Islam pada umumnya, termasuk mengenai zakat ini (Daniel 1980, 222-223). Bagi mereka, kata-kata zakat itu sendiri tak jelas asal usulnya dalam bahasa Arab dan baru dikenal Nabi dalam pengertian yang lebih luas karena beliau mengetahuinya dari pengertian yang diberikan orang Yahudi dan orang Aramaik. Bersama dengan sadaqah, Rasul mungkin mengenal konsep ini dari orang Yahudi yang ditemuinya di Madinah. Konsep seperti ini sangat diperlukannya terutama dalam rangka memberikan bantuan pada orang muhajirin yang baru datang dari Makkah. Suatu praktek yang pada mulanya sangat bernapaskan agama. Lama-lama kehilangan motif keagamaannya. Harta benda yang diperoleh dari zakat itu tak hanya untuk menolong fakir miskin, tapi juga untuk tujuan-tujuan militer dan politik. Untuk hal ini, yang dirasakan berat bagi kebanyakan orang, maka ia menggunakan nama Allah, atau untuk jalan Allah (Schacht 1961). Dalam pemikiran para sarjana Muslim di Indonesia, zakat adalah alat pemerataan dan mencegah tertumpuknya modal sehingga tak akan lahir monopoli dan monopsoni (Kuntowijoyo 1991, 167). Baginya zakat berpusat pada keimanan, tapi ujungnya adalah menciptakan terwujudnya kesejahteraan sosial (h. 229). Penelitian membuktikan, zakat telah terbukti dapat
M
imbar Agama
mengurangi jumlah orang miskin di beberapa tempat tertentu (h. 257). Karena itu zakat dapat dipahami dalam konteks yang lebih real dan lebih faktual (h. 284). Mas'udi (h. 139) melaporkan bahwa ada pendapatpendapat di Indonesia yang ingin lebih memberikan penekanan pada tariff yang tinggi (20%) dari zakat dengan berpegang kepada rikaz, yang dirasakan Mas'udi sendiri merupakan suatu kebuntuan. Memang merupakan masalah apakah kaum Muslim, atau para ulama mereka, berhak mengubah suatu ketentuan agama yang telah baku (qath'i) demikian saja berdasarkan perubahan situasi dan kondisi. Bagi golongan Syi'ah hal ini tak menjadi masalah, karena seperti dilaporkan Nasr (1975), dalam kalangan Syi'ah praktek khums adalah suatu praktek yang telah biasa. Penulis juga tertarik oleh apa yang dilaporkan Thabbarah (h. 317-318) tentang perbedaan antara fakir dan miskin dalam membicarakan golongan-golongan orang yang berhak menerima zakat. Menurut pendapat 'Akramah Maula Ibn 'Abbar, yang dimaksud dengan fakir itu adalah golongan miskin kaum Muslim, sedangkan yang dimaksud dengan miskin itu adalah golongan miskin kaum non-Muslim (ahl al-kitab). Pendapat ini diperkuat pula oleh pendapat 'Umar bin Khattab yang menafsirkan al-masakin dengan golongan lemah ahl al-
Zakat tak lebih dari mengembalikan sebagian harta itu kepada pemiliknya yang asli (Tuhan), demi menghindarkan diri dari penderitaan yang akan ditimbulkannya nanti di akhirat. kitab. Suatu kali ia melihat seorang zhimmi yang buta tergeletak di pintu kota. Umar bertanya kepadanya, "Kenapa Anda?" Ia menjawab, "Dahulu mereka memungut jizyah dariku. Ketika saya telah buta, mereka menelantarkan saya. Tak ada orang yang membantu saya sedikitpun". Umar menjawab, "Kalau begitu, kami telah berlaku tak adil terhadapmu." Setelah itu ia memerintahkan agar diberi makan dan belanja untuk memperbaiki tingkat hidupnya. 'Umar berpendapat ini adalah penafsiran perkataan Tuhan, innama' I-shada-qatu li 'Ifuqara' wa 'I masakin. Jadi baginya, masakin itu adalah orang-orang ahl al-kitab yang tak mampu lagi bekerja, atau menderita penyakit yang tak dapat sembuh lagi. Namun pendapat itu tentu saja bertentangan dengan pendapat jumhur ahli fiqh yang berpendapat, zakat itu hanya diberikan kepada orang Islam saja.n
Daftar Kepustakaan Affar, Muhammad 'Abd al-Mun'im. 1977. "An-Nizham al-lqtishadi al-Islami." Al-Wa'y al Islami, 154: 36-43. Boisard, Masrcel A. 1980. Humanisme dalam Islam. Edisi Indonesia terjemahan Prof. Dr. H.M. Rasjidi. Jakarta: Bulan Bintang. Booth, Jr., Newell S. 1970. "The Historical and the Non Historical in Islam". The Muslim World LX (2): 109-122. Daniel, Norman. 1980. Islam and the West: The Making of an Image. Edinburgh: University Press. Garaudy, Roger. 1986. Mencari Agama pada Abad XX: Wasiat Filsafat Roger Garaudy. Edisi Indonesia terjemahan Prof Dr. H.M. Rasjidi. Jakarta: Bulan Bintang. Garaudy, Roger. 1981. Promesses de l'Islam. Paris: Editions de Seuil. Ibn Khaldun. 1958. The Muqaddimah: An Introduction to History. Diterjemahkan Franz Rosenthal ke dalam bahasa Inggris dalam tiga jilid. New York: Bollingen Foundation. Kuntowijoyo. 1991. Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Mizan. Mas'udi, Masdar F. 1991. Agama Keadilan: Risalah Zakat (Pajak) dalam Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus. Mubarak, Muhammad. 1972. Nizham al-Islam: al-Iqtishad, Mabadi wa Qawa'id 'Ammah. Makkah: Dar al-Fikr. Musholi, 'Abdullah bin Mahmud bin Maudud al-. 1951. Al-Ikhtiyar li Ta'lil al-Mukhtar. Lima Jilid. Kairo: Mustafa al-Halabi. Nasr, Seyyed Hossein. 1975. Ideals and Realities of Islam. Boston: Beacon Press. Sabiq, as-Syaid. 1973. Fiqh as-sunnah. 2 jilid. "Zakat" di jilid I. Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi. Salamah, 'Abd al-Rahim bin. 1987. "al-Siyasat al-Maliyah fi'l Islam al-Manhal 48 (No. 407): 98-109. Samarqandi, 'Ala al-din as-. 1958. Tuhfat al-Fuqaha'. Tiga Jilid, Damaskus: Universitas Damaskus. Schacht, J. 1961. "Zakat". Shorter Encyclopedia of Islam, ed. H.A.R. Gibb dan J.H. Kramers. Leiden: EJ. Brill. Shalih, Subhi as-. 1965. Al-Nuzhum al-Islamiyah: Nasyatuha wa Tathawwuruha. Beirut: Dar al-'Ilmi li-'l-malayin. Tabataba'i, Muhammad Husayn. 1975. Shi'ite Islam. London: Allen & Unwin. Tawati, 'Abd al-Karim at-.1986. "Mafhum al-Zakah wa Ab'aduha wa Hikmatu Tasyri'iha fi 'l-Islam". al-Manhal 447: 24-41. Thabbarah, 'Afif 'Abd al-Fattah. 1959. Ruh al-Din al-Islami. Beirut: Dar al-'Ibad.
Akbar No. 218 n Juni 2016 7
K
Harkitnas Momen Perbaharui Trisakti Melalui kemajuan teknologi digital, ancaman radikalisme dan terorisme mendapatkan medium baru untuk penyebaran paham dan praktiknya. Demikian diungkapkan Komandan Kodim 0811 Tuban, Letkol Inf Sarwo Supriyo, pada Upacara Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-108 di Alon-alon Tuban.
S
elain itu, saat ini juga dihadapi permasalahan ketahanan bangsa secara kultural. Munculnya kekera-san dan pornografi, terutama yang terjadi pada generasi yang masih sangat belia, adalah satu dari beberapa permasalahan kultural utama bangsa ini yang akhir-akhir ini mengemuka dan memprihatinkan. “Medium baru teknoiogi digital berperan penting dalam penyebaran informasi, baik posisif maupun negatif, secara cepat dan masif. Ketika berbicara tentang lanskap dunia dalam konteks teknologi digital tersebut, kita juga menghadapi problem kaburnya batas-batas fisik antara domestik dan internasional,” terang Dandim, membacakan Sambutan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudi Antara. Saat ini, potensi pergaulan dan kerjasama saling menguntungkan akibat relasi dengan dunia internasional tumbuh makin intens, tetapi
8 Akbar No. 218 n Juni 2016
isar EKSEKUTIF
juga sekaligus makin rentan ter- bangsa untuk memenangkan perhadap penyusupan ancaman terha- saingan-persaingan global, karena dap keutuhan NKRI dari luar wilayah lawan tanding kita semakin hari senegeri ini. Tantangan-tantangan baru makin muncul dari seantero dunia. yang muncul di depan tersebut Sebagai satu kesatuan, mau tak mau memiliki dua dimensi terpenting, kita harus bangkit menjadi bangsa yaitu kecepatan dan cakupan. Tentu, yang kompetitif dalam persaingan semua tidak ingin kedodoran dalam tingkat global. Pada aspek-aspek menjaga NKRI akibat terlambat kerja nyata, kemandirian, dan mengantisipasi kecepatan dan meluasnya anasiranasir ancaman karena tak tahu bagaimana mengambil bersikap dalam konteks dunia yang sedang berubah ini. Menjadi kewajiban seluruh komponen bangsa Indonesia secara konsisten untuk menjaga, melindungi dan memeliSerahkan kunci kendaraan operasional. (kdg) hara tegaknya NKRI dari gangkarakter kitalah kunci untuk memeguan apapun, baik dari dalam maunangkannya. pun dari luar dengan cara menerapSaat ini bukan saatnya lagi mekan prinsip dan nilai-nilai nasionangedepankan hal-hal sekadar pelisme dalam kehidupan sehari-hari. ngembangan wacana yang sifatnya Tema "Mengukir Makna Keseremonial dan tidak produktif. Kini bangkitan Nasional dengan Mewusaatnya bekerja nyata dan mandiri iudkan Indonesia yang Bekeria dengan cara-cara baru penuh inisiaNyata, Mandiri dan Berkarakter" til bukan hanya mempertahankan untuk peringatan Harkitnas 2016 undan membenarkan cara-cara lama tuk menunjukkan bahwa tantangan sebagaimana yang telah dipraktikapapun yang dihadapi harus dijakan selama ini. Hanya karena telah wab dengan memfokuskan diri pada menjadi kebiasaan sehari-hari, kerja nyata secara mandiri dan berbukan berarti sesuatu telah benar karakter. dan bermanfaat. Kita harus mem“Saya berpendapat bahwa ada biasakan yang benar dan bukan penekanan pada dimensi internasiosekadar membenarkan yang biasa. nal dalam tema tersebut. Kerja nyata “Untuk saudara-saudaraku, kita, kemandirian kita, dan karakter yang diberi amanat Allah mekita semua terpusat pada pemahangemudikan bahtera pemerintahan, man bahwa saat ini kita dihadapkan saya mengajak untuk menyelengdalam kompetisi global,” ungkap garakan proses-proses secara lebih Pak Dandim. efisien. Mari pangkas segala proses Persaingan bukan lagi muncul pelayanan yang berbelit-belit dan dari tetangga-tetangga di sekitar berkepanjangan tanpa alasan yang lingkungan kita saja, sebaliknya jusjelas. Mari bangun proses-proses tru inilah saat paling tepat bahuyang lebih transparan. Mari berikan membahu bersama sesama anak layanan tepat waktu sesuai jangka
K
isar EKSEKUTIF
waktu yang telah dijanjikan,” seru Dandim. Bung Karno Proklamator dan Presiden Pertama RI, Ir Soekarno, pernah menekankan tentang pentingnya membangun karakter bangsa. Menurut Bung Karno, membangun suatu negara, membangun ekonomi, membangun teknik, membangun pertahanan, adalah pertama-tama dan pada tahap utamanya, membangun jiwa bangsa. Tentu saja keahlian adalah perlu, tetapi keahlian saja tanpa dliandaskan pada jiwa yang besar, tidak akan dapat mungkin mencapai tujuannya. Demikian juga tentang pentingnya kerja nyata, Bung Karno, berpesan bahwa amal semua buat kepentingan semua. Keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis kuntul
Dandim 0811 Tuban. (kdg) baris buat kepentingan semua. Dandim berpesan agar peringatan Harkitnas dijadikan momen untuk memperbarui semangat “Trisakti”: berdaulat dalam politik,
berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Jika kita konsisten, yakin jalan kemandirian ini insya Allah akan membawa bangsa Indonesia mengalami kebangkitan yang selanjutnya, yaitu menjadi bangsa yang lebih jaya dan kompetitif dalam kancah internasional. Sementara itu, di sela Upacara Harkitnas ke-108, Bupati Tuban, H. Fathul Huda, berkesempatan memberikan bantuan Mobil Operasional Donor dan Transfusi Darah dari Pemkab Tuban kepada PMI (Palang Merah Indonesia) Cabang Tuban. Selain itu, menyerahkan bantaun kendaraan operasional berupa Ambulance dan Sepeda Motor kepada beberapa Puskesmas. Kegiatan peringatan Harkitnas 2016 ditutup dengan Tabur Bunga di Taman Makam Pahlawan Ronggolawe Tuban.n kdg
Gotong Royong Jaga Pilar Kebangsaan Gubernur Jatim, Dr. H. Soekarwo, minta agar semangat gotong royong kembali dihidupkan sebagai bagian dari roh pembangunan. Hal itu karena gotong royong telah menjadi esensi baru dalam menjaga empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.
G
ubernur menyampaikan hal di atas pada puncak peringatan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke-13 dan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-44 Provinsi Jatim Tahun 2016 di Pendopo Kabupaten Tuban. Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Jatim, mengatakan, saat ini pemerintah ingin memperkuat
Dari kiri, Pangdam, Gubernur Jatim, Pak Huda. (kdg)
nilai-nilai gotong royong. Karena, negara manapun yang akan maju, basis yang sangat mendasar adalah kohesifitas masyarakatnya, yakni kerukunannya, dan gotong royong termasuk di dalamnya. “Hal yang perlu diperhatikan dalam gotong royong adalah kepe-
dulian terhadap lingkungan dan kepedulian terhadap masyarakatnya. Itu jadi nilai yang diangkat ke dalam program, dan sekarang coba kita digerakkan,” ujarnya. Gotong royong adalah salah satu ciri bangsa Indonesia. Merupakan bagian dalam konsep kesatuan
Akbar No. 218 n Juni 2016 9
K dan persatuan bangsa. Untuk itu, harus diperkuat, karena awareness, kepedulian, rasa bersama-sama, dan konsep kultural seperti berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, ada dalam diri bangsa Indonesia. Saat membacakan Sambutan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) pada Peringatan BBGRM dan HKG PKK, Pakde Karwo mengajak kembali menggelorakan semangat gotong royong serta melawan kemiskinan dan ketertinggalan. Gotong royong memiliki hakekat yang luar biasa karena hakekat membangun negeri adalah kebersamaan. Sema-
isar EKSEKUTIF
Sehubungan dengan peringatan HKG PKK ke-44, Pakde Karwo mengapresiasi serta mengucapkan terima kasih karena Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) berperan besar dalam menyejahterakan masyarakat secara keseluruhan mulai dari tingkat keluarga. Perempuan sebagai entitas ekonomi adalah luar biasa, sebagian besar dari mereka gemi nastiti. Oleh karena itu, terus menggerakkan perekonomian perempuan, salah satunya melalui koperasi wanita. Sekarang ini, empat bulan lebih
Bude Karwo buka pameran. (kdg)
ngat itu harus ditumbuhkan sejalan dengan semangat revolusi mental. Potret nyata gotong royong adalah pemenang lomba pelaksana gotong royong terbaik tingkat desa dan kelurahan berasal dari daerah terpencil, bukan pusat perkotaan. Ini menandakan bahwa nilai gotong royong masih mengakar kuat di desa-desa. Sejalan dengan pelaksanaan UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, pemimpin desa seperti Kepala Desa, Lurah hendaknya bersama-sama dengan Lembaga Kemasyarakatan Desa menjaga harmoni dengan memberdayakan dan mendayagunakan Lembaga Kemasyarakatan Desa. Apesiasi PKK
Juni 2016 10 Akbar No. 218 n
kita memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), kinerja ekonomi Jatim menunjukkan angka luar biasa. Triwulan I Tahun 2016, Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim tumbuh sebesar 5,34% lebih tinggi dari PDB Nasional yang sebesar 4,92%. Selain itu, net ekspor luar negeri (non migas tanpa jasa), Triwulan I 2016 surplus sebesar 12,612 Triliun. Sedang, total net ekspor non migas Jatim pada Triwulan I 2016 sebesar 47,556 Triliun. Pada sektor perdagangan di ASEAN, Jatim lebih tinggi dibanding negara-negara ASEAN kecuali Thailand. Triwulan I 2016 ini defisit perdagangan Jatim hanya dengan Thailand, dimana tiga besar komoditi impor Jatim dari Thailand, yaitu
gandum-ganduman, gula dan kembang gula, serta hasil penggilingan. Menghadapi MEA, Gubernur mengajak Bupati - Walikota agar membantu dan mendorong pelaku usaha kecil, salah satunya dengan skema linkage program. Skema kredit linkage program itu menggandeng BPR Daerah, tentunya dengan bunga murah, cara mudah, dan layanan yang cepat. Pacu Ekonomi Tuban Bupati Tuban, H. Fathul Huda, menyatakan terus memacu laju ekonomi Kabupaten Tuban, sesuai dengan kemampuan APBD. Mengembangkan produk-produk lokal, baik dalam skala UKM maupun produk lainnya. Penumbuhan ekonomi itu, jelas Pak Huda, sapan Bupati Tuban, merupakan program utama, sebagaimana dalam sejumlah rancangan program yang sudah dilakukan Pemkab Tuban. “Geliat ekonomi Tuban kita tingkatkan terus, demi membangun ekonomi masyarakat Tuban,” ujar Pak Bupati. Dikatakan, meski Kabupaten Tuban kota kecil, tetapi telah menyumbangkan ketahanan pangan nasional, seperti produksi jagung, Kabupaten Tuban menjadi daerah nomor 1 se-Jawa Timur. Juga, keberadaan populasi sapi, nomor 2 seJatim. Begitu pula keberadaan TPPKK Kabupaten Tuban, telah banyak sumbangsihnya dalam membangun masyarakat Kabupaten Tuban, diantaranya telah melaksanakan gerakan menghapus buta aksara. TP-PKK, baik tingkat Desa, Kecamatan maupun Kabupaten, tidak tinggal diam, akan tetapi ikut menanggulangi sebagian masyarakat yang buta aksara. ”PKK sudah bergerak, tidak hanya di bidang ekonomi dan kesejahteraan keluarga,” tandas Pak Bupati. Serahkan Penghargaan
K Gubernur Jatim secara simbolis memberikan penghargaan kepada pemenang Lomba Pelaksana Gotong Royong kategori Kelurahan dan Desa. Untuk kategori Kelurahan, Juara I diraih Kelurahan Dandangan, Kota Kediri, Juara II diraih Kelurahan Meri, Kota Mojokerto dan Juara III diraih Kelurahan Turi Kota Blitar. Sedang kategori Desa, Juara I diraih Desa Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, Juara II diraih Desa Malasan, Kabupaten Trenggalek, dan Juara III diraih Desa Pabean, Kabupaten Probolinggo. Pakde Karwo menyerahkan pula bantuan program dari sejumlah SKPD Pemprov Jatim, diantaranya, bantuan penanganan dan rehabilitasi sosial bagi penyandang disabilitas berupa alat bantu kursi roda dari Dinas Sosial Provinsi Jatim, program pengembangan agribisnis pertanian berupa alat tanam padi dari Dinas Pertanian Provinsi Jatim, program penguatan ekonomi masyarakat tembakau dari Dinas Pertanian Provinsi Jatim, dan program jalin matra berupa bantuan rumah tangga sa-
isar EKSEKUTIF
ngat miskin dari Bapemas Provinsi Jatim. Bude Karwo Ketua TP PKK Prov. Jatim, Dra. Hj. Nina Soekarwo, M.Si, menyampaikan, Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan di Provinsi Jatim terus menurun. Saat ini, AKI di Jatim tercatat 83/100.000 kelahiran hidup. Angka ini lebih baik dari standar Suistanable Development Goals (SDGs) sebesar 102/100.000 kelahiran hidup. “Tentu terus kita tingkatkan dan pertahankan, semua berkat semangat dan peran Kader-kader PKK di Jatim”, ujar Bude Karwo, sapaan akrabnya. Saat membacakan Sambutan Ketua TP-PKK Pusat, disampaikan bahwa TP-PKK merupakan mitra kerja pemerintah dan wadah aktivitas sosial pada keluarga. Oleh karena itu, gerakan PKK harus berperan terutama di tingkat keluarga sehingga mampu mencetak keluarga yang maju, mandiri dan sejahtera. Beberapa hal yang harus diper-
hatikan TP-PKK adalah Posyandu. Bude Karwo meminta agar Posyandu terus diperhatikan sebagai layanan dasar ibu dan balita. Juga, agar Kader PKK terus menjalin komunikasi dan kemitraan dengan Provinsi demi tercapainya visi dan misi PKK. Bude Karwo juga menyerahkan secara simbolis penghargaan Lomba 10 Program PKK Tingkat Kabupaten. Pelaksana Terbaik I diraih oleh TP-PKK Desa Gondang, Kabupaten Tulungagung, Pelaksana Terbaik II diraih TP-PKK Desa Bogoharjo, Kabupaten Pacitan, dan Pelaksana Terbaik III diraih TP PKK Desa Ngrendeng, Kabupaten Ngawi. Selain itu, menyerahkan pula secara simbolis Penghargaan Adi Bhakti Madya PKK berupa Penyematan Pin Emas kepada Kader PKK yang telah mengabdi selama 15 tahun. Puncak kegiatan BBGRM dan HKG PPK dilanjutkan dengan berkeliling stan Pameran UKM dan Dagang se-Jatim di Alon-alon Tuban. Bude Karwo membuka pameran dengan pemotongan untaian bunga.n kdg
Resmikan RTLH
U
sai “memimpin” Puncak Peringatan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke-13 dan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-44 Provinsi Jatim Tahun 2016 di Pendopo Kabupaten Tuban, Gubernur Jatim bersama Pangdam V Brawijaya, Bupati dan Wakil Bupati Tuban, meresmikan pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kelurahan Perbon, Kecamatan Tuban. Peresmian ditandai peletakan batu pertama rehab RTLH. Gubernur, menyampaikan, di Jatim pembangunan RTLH mencapai 253.334 rumah. Untuk itu, kemiskinan masih lumayan tinggi. Perlu adanya dorongan percepatan pembangunan agar bisa merubah tatanan ekonomi masyarakat. Di Tuban lebih dari 1000 unit, langsung akan dibangun oleh TNI bekerjasama dengan masyarakat, tutur Pak De Karwo. Pangdam V Brawijaya, Mayor Jendral TNI Sumardi, mengatakan, jumlah RTLH yang akan dibangun TNI mencapai 8000 unit, dengan anggaran bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Semuanya
Gubernur salami penerima program. (kdg)
dikerjakan oleh TNI bersama masyarakat secara swadaya, merupakan upaya pendekatan TNI dengan masyarakat luas. Anggaran yang diterima dari Pemprov Jatim, setiap rumah Rp 6,5 juta. Bupati Tuban, H. Fatkhul Huda, mengapresiasi peran serta TNI membantu masyarakat, dengan membangun RTLH menjadi LH (layak huni). Oleh karena itu, harus didorong agar tidak ada lagi kemiskinan yang mendera masyarakat.n kdg
Akbar No. 218 n Juni 2016 11
LAPORAN
UTAMA
Berharap Lebih Greget Membangun Bumi Wali Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tuban, M. Miyadi, S.Ag, M.M, menilai kinerja Bupati H. Fathul Huda dan Wakil Bupati Ir. Noor Nahar Huseein, M.Si saat memimpin Tuban pada periode 2011-2016 sudah cukup baik. Setelah dilantik hingga lima tahun ke depan berharap pasangan tersebut lebih berani menentukan sikap dan kebijakan demi kemajuan Bumi Wali tercinta.
B
eberapa indikator keberhasilan kepemimpinan keduanya pada periode pertama, menurut Sekretaris Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Tuban ini, antara lain program-program yang dijalankan sudah mengarah pada visi misi yang telah dicanangkan, banyaknya penghargaan yang telah diraih baik di tingkat regional maupun nasional, serta penekanan angka kemiskinan melalui program Gerakan Bersama Membantu Masyarakat Miskin (Gematumaskin) dan program sejenis lainnya. Sayangnya, program-program pro rakyat tersebut kurang mendapat dukungan dari perangkat yang ada. Yang dimaksudkan oleh laki-laki kelahiran Bojonegoro ini adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait kurang menerjemahkan keinginan Bupati dalam memacu pembangunan di Kabupaten Tuban. “Perlu “greget” dari SKPD dalam menerjemahkan kemauan dalam jiwa entrepreneur Pak Bupati, sehingga ada program yang terbengkalai. Ada juga program yang dilaksanakan secara acak-acakan,” tuturnya. Pak Miyadi, sapaannya, menegaskan, alangkah baiknya Pak
12 Akbar No. 218 n Juni 2016
yang harus diisi meliputi KeBupati melakukan evaluasi pala Dinas Pertanian, Kepala secara menyeluruh tanpa Badan Pelaksana Penyuluhan tebang pilih. Menurut ketedan Ketahanan Pangan rangannya, Bupati Tuban (BP2KP), Kepala Dinas Perharus segera mengambil tambangan dan Energi, tindakan, agar roda Kepala Badan Penapembangunan tinggulangan Bencana dak tersendat akiDaerah (BPBD), bat lemahnya kiKepala Satuan Polisi nerja SKPD. Pamong Praja (Satpol “Jika hal ini PP). diabaikan, akan “Selain itu, lima berdampak buruk jabatan staf ahli, yang terhadap proses terisi baru satu, sisapembangunan di nya masih kosong. Kabupaten Tuban, Oleh karenanya, mutermasuk berpelai sekarang Bupati dan ngaruh juga terhaWakil Bupati sudah harus dap pertumbuhan mempersiapkan semuaekonomi,” tandasnya. Hal ini penting untuk nya. Ketua DPRD Tuban. (ydh) meningkatkan pelayaLaki-laki yang nan kepada masyarasebagian rambutkat,” ucapnya. nya sudah berubah warna ini, mengatakan, DPRD Kabupaten Tuban Pertahankan Kebersamaan mendorong Bupati agar melakukan Namun, dia mengakui, Bupati pergantian bagi pejabat berkinerja mendapatkan kendala teknis di lemah itu. Jika tidak, ucapnya, hasillapangan alias terbentur aturan. Senya tidak akan jauh berbeda dengan suai peraturan yang berlaku, Kepala lima tahun ini. Dijelaskannya, mutasi Daerah tidak boleh melakukan pejabat harus dilakukan secara mutasi jabatan struktural menjelang cermat dan matang. Mutasi pejabat enam bulan sebelum pelaksanaan mengacu pada evaluasi kinerja serta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). berdasarkan kebutuhan dalam menBaru bisa mengganti pejabat enam jawab tantangan ke depan. Tidak bulan setelah dilantik. semata-mata karena kewenangan Pasca Sarjana dari Sekolah saja, melainkan memperhatikan norTinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Maharma-norma kepegawaian yang berdika Surabaya ini, mengungkapkan, laku. DPRD Tuban memanggil Kepala “Harus dipertimbangkan juga SKPD setiap tiga bulan sekali dalam masalah kompetensi, integritas dan upaya mendorong pencapaian tardari berbagai aspek manajemen get yang telah dicanangkan oleh sumber daya manusia lainnya,” kata Pemerintah Daerah, khususnya lelaki supel ini. terkait penyerapan anggaran. Selanjutnya, selain melakukan Kader Nahdatul Ulama (NU) evaluasi terhadap SKPD yang bertulen ini juga menekankan pentingkinerja lemah, Bapak tiga anak ini nya kemampuan Pemkab Tuban juga mendesak pengisian kursi jabauntuk melakukan inovasi dan metan struktural yang hingga kini masih munculkan kreatifitas dalam kosong. Dia menyebutkan jabatan
LAPORAN
berbagai bidang. Hal ini, urainya, untuk menjawab tantangan ke depan yang semakin berat. Sebagai fungsi pengawasan, pihaknya juga sangat mengharapkan kerjasama dengan Pemerintah
UTAMA
Kabupaten (Pemkab) Tuban. Menurutnya, antara Pemkab dan DPRD tidak bisa dipisahkan dalam pembangunan. Oleh sebab itu, hubungan baik antara legislatif dan eksekutif harus tetap dijaga dan ditingkatkan.
“Kebersamaan ini harus dipertahankan. Jika proses kebersamaan itu seimbang, tidak ada permasalahan, maka proses pembangunan juga akan berjalan dengan baik,” tegasnya.n ydh
Optimis Bumi Lebih Maju
D
i periode kedua, Fatayat berharap kepemimpinan Bupati H. Fathul Huda dan Wakil Bupati Ir. Noor Nahar Hussein, M.Si, bisa memaksimalkan kinerjanya, khususnya dalam mengurai beberapa permasalahan yang terjadi di Bumi Wali. Hal ini disampaikan Ketua Pengurus Cabang (PC) Fatayat Nahdatul Ulama (NU) Tuban, Hj. Umi Kulsum, S.Ag, M.Pd.I. Mbak Umi, begitu dia biasa disapa, menyatakan, sebagai salah satu elemen organisasi sosial keagamaan, Fatayat senantiasa mendukung langkah Bupati beserta segenap jajarannya, terutama dalam bidang pemberdayaan masyarakat dan pembentukan mental spiritual. Melalui sederet program yang dijalankan, tukasnya, Fatayat tidak mau ketinggalan ikut serta berpartisipasi. “Kami berupaya keras mewujudkan program-program yang sudah disusun sedemikian rupa, termasuk yang bersinergi dengan Pemkab Tuban, agar tidak hanya sekadar menjadi kesepakatan, namun bisa dijalankan dengan maksimal,” katanya. Mbak Umi kemudian menyebutkan salah satu program yang dimaksud melalui Lembaga Konsultasi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (LKP3A). Menurutnya, LKP3A didirikan sebagai respon
Mbak Umi. (ydh)
atas semakin banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia, serta Tuban pada khususnya. “Tentu saja yang paling banyak menjadi korban kekerasan adalah anak perempuan. Kekerasan itu sendiri bisa berupa fisik, psikis, eksploitasi ekonomi hingga seksual,” ucapnya. Perempuan yang dipercaya memimpin Fatayat selama dua periode ini, menegaskan, perlindungan hak anak seharusnya menjadi prioritas pemerintah, mengingat anak adalah tumpuan masa depan. Karena itu, dia memberikan apresiasi terhadap pemerintahan Bupati Fathul Huda yang telah memiliki Peraturan Daerah (Perda) tentang Perlindungan Perempuan dan Anak. Menurutnya, semua harus bahu membahu menjalankan Perda tersebut secara maksimal, dengan melibatkan partisipasi masyarakat dan seluruh pemangku kepen-
tingan. Agar tidak hanya sekadar di atas kertas, tentunya harus ditunjang anggaran yang memadai. Selain LKP3A, Fatayat juga membuka Layanan Konsultasi Keluarga Sakinah. Layanan ini, menurut keterangannya, dibuka dengan dasar keprihatinan atas maraknya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan tingginya angka perceraian. Lebih lanjut ditegaskan, baik buruknya suatu bangsa dapat dimulai pembentukannya dari keluarga. Keluarga merupakan lembaga sosial paling dasar dan utama dalam mencetak generasi berkualitas yang memiliki ketahanan moral, etika, dan akhlak mulia. Temuan di lapangan, berupa kekerasan yang semakin tidak terkendali, maraknya kasus pencabulan, pemerkosaan dan trafficking pada remaja serta anak di bawah umur, juga disebabkan karena rapuhnya pondasi agama, bangunan
Akbar No. 218 n Juni 2016 13
LAPORAN
keluarga yang kurang kuat, minimnya pemahaman pasangan suami istri terhadap fungsi dan peran masing-masing dalam keluarga, juga kurangnya manajemen konflik. Layanan Konsultasi Keluarga Sakinah, tuturnya, akan membantu masyarakat agar menemukan solusi dari berbagai permasalahan keluarga yang dialami, sehingga dapat kembali menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Bentuk kegiatan yang dihelat, antara lain sosialisasi, konsultasi, manajemen konflik, dan lain sebagainya. “Kami merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap tinggi-
UTAMA
nya angka perceraian di Tuban. Ditambah lagi kejadian-kejadian yang marak terjadi seperti kekerasan seksual, tentu sangat meresahkan. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama,” ujar ibu dua anak ini. Optimis Lebih Maju Meski sering terkendala dalam bidang pendanaan, ucapnya, tidak lantas menjadikan Fatayat patah semangat. Apalagi, Bupati Fathul Huda senantiasa menekankan kemandirian kepada kami, tukas Kepala Seksi Penyelenggara Syariah pada Kantor Kementrian Agama Kabupaten Tuban ini. Fatayat juga tetap optimistis
Bumi Wali ke depan bisa lebih maju. Perempuan bersuara khas ini berharap agar pembangunan Tuban di segala bidang semakin hari semakin baik. Sehingga, keinginan untuk menjadikan masyarakat Tuban menjadi lebih mandiri, maju, religius dan sejahtera bisa benar-benar terwujud. “Namun, kemajuan ini tidak akan berarti tanpa ada dukungan dari penyelenggara pemerintahan maupun masyarakat. Dukungan Fatayat diwujudkan dengan tetap concern membantu program-program keagamaan dan pem-berdayaan perempuan,” pungkasnya.n ydh
Optimis Bawa Perubahan
14 Akbar No. 218 n Juni 2016
kY ak
in
.(
yd h
)
tegasnya, harus segera dicarikan solusi, karena menjadi tanggung jawab bersama. “Hal ini juga merupakan salah satu upaya Muhammadiyah untuk menggalakkan dakwah amar ma’ruf nahi munkar,” tukas laki-laki asal Kabupaten Lamongan itu. Muhammadiyah juga berharap peningkatan di bidang ekonomi. Ketua PD Muhammadiyah periode 2015-2020 ini, mengatakan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban harus bisa menggaet lebih banyak investor. Tujuannya, menambah semarak sektor ekonomi, menciptakan lapangan pekerjaan, sekaligus menekan angka kemiskinan.n ydh
Pa
K
etua Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kabupaten Tuban, Nurul Yakin, S.H, mengharapkan pasangan Bupati H. Fathul Huda dan Wakil Bupati Ir. Noor Nahar Hussein, M.Si bisa membawa perubahan berarti di Bumi Wali dalam berbagai bidang. Pak Nurul, sapaannya, menyatakan optimisme duet kepemimpinan tersebut membawa Tuban menjadi “Bumi Wali” yang lebih religius dan sejahtera, menjadi modal untuk membangkitkan semangat
warga Tuban menuju ke arah yang lebih baik. Upaya tersebut, tuturnya, tentu harus dibarengi dengan kerja keras dan dukungan aktif dari berbagai pihak. Karena itu, laki-laki kalem ini berharap agar pasangan yang dilantik untuk kali kedua ini mau mengajak dan merangkul seluruh elemen masyarakat Tuban ikut aktif berpartisipasi dalam pembangunan tanpa terkecuali. Notaris sekaligus Pejabat Pembuat Akta Tanah ini juga mengatakan, banyak hal yang harus mendapatkan perhatian bersama. Misalnya, kasus prostitusi, narkoba dan minuman keras (miras). Berawal dari keprihatinan atas maraknya kasus-kasus tersebut, Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Tuban me-launching Garansi (Gerakan Berjama’ah Melawan Narkoba dan Prostitusi) pada Februari lalu. Menurut Sarjana Hukum dari Universitas Airlangga Surabaya ini, permasalahan narkoba dan prosMbak Inul. (ydh) titusi sudah sangat serius menjangkiti masyarakat Tuban. Kedua permasalahan yang meresahkan itu,
LAPORAN
UTAMA
Perlu Kerjasama Tanamkan Nilai Keagamaan Pemerintah dan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) keagamaan perlu bekerjasama dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan. Keduanya harus bersinergi dalam membangun keumatan, juga memahami peran dan fungsinya masing-masing. Demikian disampaikan Ketua Muslimat Nahdatul Ulama (NU) Tuban, Siti Syarofah, saat ditemui Akbar di kediamannya.
B
u Syarofah, sapaan akrabnya, mengatakan, pada dasarnya pemerintahan Bupati H. Fathul Huda dan Wakil Bupati Ir. Noor Nahar Hussein, M.Si (Hudanoor) sudah sesuai dengan harapan masyarakat. Namun, masih ada beberapa faktor yang harus dibenahi, seperti di bidang pendidikan. Menurut ibu empat anak ini, bantuan di bidang pendidikan sudah banyak digulirkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban. Meski demikian, ke depan diharapkan bantuan yang dikucurkan bisa disalurkan seadil-adilnya dan tepat sasaran. Terkait wacana syarat masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), salah satunya harus mempunyai syahadah atau ijazah mengaji, Bu Syarofah berharap dinas instansi terkait bisa memberikan sosialisasi dan pemahaman yang baik kepada masyarakat. Sehingga, kebijakan tersebut bisa dipahami secara utuh bukan hanya setengah-setengah. Bu Syarofah juga sepakat dengan Bupati, bahwa usia SMP adalah usia yang masih labil dan mudah mendapat pengaruh dari luar. Oleh sebab itu, harus dibekali dengan pengetahuan agama yang kuat. Hal lain yang juga harus mendapat perhatian adalah Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ). Sesuai yang diharapkan Bupati, setiap TPQ harus memiliki kurikulum tentang pendidikan sholat, karena untuk membangun masyarakat religi maka sholatnya juga harus dibangun.
dalam pemberdayaan perempuan. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tuban periode 2004-2009 ini kemudian menyebutkan, bahwa pihaknya telah melaSelanjutnya, pekukan pemberantasan rempuan yang sudah buta huruf serta pedua kali dipercaya ningkatan pemberdamemegang tampuk yaan ekonomi melalui kepemimpinan di Mukoperasi berbasis slimat ini, menegassyariah. Ketua Muslimat. (ydh) kan, pentingnya keta“Tahun lalu kami hanan keluarga. Apaberhasil dalam pemlagi, sekarang ini marak terjadi perberantasan buta huruf sebanyak ceraian juga pernikahan dan keha1.210 orang dan peningkatan pemmilan yang tidak diinginkan di kaberdayaan ekonomi lewat koperasi langan generasi muda. Menurutnya, syariah sebanyak 84 buah,” tukaspenanaman ketahanan keluarga binya sambil menyenandungkan syair sa dimulai sejak dini. Pelajaran moral Lagu Indonesia Raya yang ber-bunyi dan akhlak, katanya, tidak sekadar “Bangunlah jiwanya, bangunlah bapada pelajaran agama saja. Namun, dannya”, sembari menekankan penbisa disisipkan di seluruh mata tingnya membangun “jiwa”. pelajaran. Lebih lanjut, berharap kepeAlumni Pondok Pesantren mimpinan Pak Huda dan Pak Noor (Ponpes) Darul Arkam Madiun ini juNahar menggandeng seluruh elega menyoroti berbagai persoalan men masyarakat dan melanjutkan yang mencuat akhir-akhir ini, seperti program kerja yang strategis, aktual, kekerasan dan tindak asusila yang nyata, dan berdaya guna menuju semakin merajalela. Hal ini, tuturnya, masyarakat Tuban yang lebih maju, jelas menimbulkan keprihatinan terreligius, sejahtera, dan bermartabat. sendiri bagi Muslimat. Dikatakan, Perempuan energik ini juga Muslimat sebagai organisasi sosial meminta pemerintah lebih bijak mekeagamaan merasa terpanggil dan nyikapi kondisi masyarakat dan memiliki tanggung jawab moral unmemberi ruang gerak kepada meretuk bisa berpartisipasi dalam mencaka untuk ikut berpartisipasi dan berri solusi atas permasalahan yang kompetisi dalam pembangunan. terjadi. Seterusnya berpesan kepada ma“Kalau anak-anak tidak dididik syarakat agar berbagai kemudahan dengan agama yang baik, siapa dan bantuan yang diterima dari yang bisa menyelamatkan? Selama pemerintah tidak membuat mereka ini yang digarap hanya orang-orang terlena dan bermalas-malasan. di kalangan kami sendiri. Tapi kami “Stimulus yang diberikan seakan selalu siap bermitra dan beryogyanya membuat mereka termosinergi dengan pemerintah demi tivasi untuk bekerja lebih giat lagi kebaikan bersama,” tandasnya. untuk meningkatkan kesejahteraan Dalam upaya membangun keluarganya dan dalam rangka memental spiritual, Muslimat juga berngisi pembangunan,” pungkaskomitmen untuk turut berperan aktif nya.n ydh
Akbar No. 218 n Juni 2016 15
R Marhaban ya Ramadhan Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "marhaban" diartikan sebagai "kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu (yang berarti selamat datang)". Ia sama dengan ahlan wa sahlan yang juga dalam kamus tersebut diartikan "selamat datang". Walaupun keduanya berarti "selamat datang" tetapi penggunaannya berbeda. Para ulama tidak menggunakan ahlanwasahlan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, melainkan "marhaban ya Ramadhan". Ahlan terambil dari kata ahl yang berarti "keluarga", sedangkan sahlan berasal dari kata sahl yang berarti mudah. Juga berarti "dataran rendah" karena mudah dilalui, tidakseperti "jalan mendaki". Ahlan wa sahlan, adalah ungkapan selamat datang, yang dicelahnya terdapat kalimat tersirat yaitu, "(Anda berada di tengah) keluarga dan (melangkahkan kaki di) dataran rendah yang mudah". Marhaban terambil dari kata rahb yang berarti "luas" atau "lapang", sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima dengan dada lapang, penuh kegembiraan serta dipersiapkan baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Dari kata yang sama dengan "marhaban", terbentuk kata rahbat yang antara lain berarti "ruangan luas untuk kendaraan, untuk memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan". Marhaban ya Ramadhan berarti "Selamat datang Ramadhan" mengandung arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan; tidak dengan menggerutu dan menganggap kehadirannya" mengganggu ketenangan" atau suasana nyaman kita. Marhaban ya Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga
16 Akbar No. 218 n Juni 2016
amadhan
Puasa
Oleh: M. Quraish Shihab
kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah Swt. Ada gunung yang tinggi yang harus ditelusuri guna menemui-Nya,
itulah nafsu. Di gunung itu ada lereng yang curam, belukar yang lebat, bahkan banyak perampok yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak melanjutkan. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu, akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya, Allah Swt.
Demikian kurang lebih perjalanan itu dilukiskan dalam buku Madarij As-Salikin. Tentu kita perlu mempersiapkan bekal guna menelusuri jalan itu. Tahukah Anda apakah bekal itu? Benih-benih kebajikan yang harus kita tabur di lahan jiwa kita. Tekad yang membaja untukmemerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama, bangsa dan negara. Semoga kita berhasil, dan untuk itu mari kita buka lembaran Al-Quran mempelajari bagaimana tuntunannya. Puasa menurut Al-Quran Al-Quran menggunakan kata shiyam sebanyak delapan kali, kesemuanya dalam arti puasa menurut pengertian hukum syariat. Sekali Al-Quran juga menggunakan kata shaum, tetapi maknanya adalah menahan diri untuk tidak bebicara: “Sesungguhnya Aku bernazar puasa (shauman), maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun”. (QS Maryam [19]: 26). Demikian ucapan Maryam a.s. yang diajarkan oleh malaikat Jibril ketika ada yang mempertanyakan tentang kelahiran anaknya (Isa a.s.). Kata ini juga terdapat masingmasingsekali dalam bentuk perintah berpuasadi bulan Ramadhan, sekali dalam bentuk kata kerja yang menyatakan bahwa "berpuasa adalah baik untuk kamu", dan sekali menunjuk kepada pelaku-pelaku puasa pria dan wanita, yaitu ash-shaimin wash-shaimat. Kata-kata yang beraneka bentuk itu, kesemuanya terambil dari akar kata yang sama yakni sha-wama yang dari segi bahasa maknanya berkisar pada "menahan" dan "berhenti atau "tidak bergerak". Kuda yang berhenti berjalan dinamai faras shaim. Manusia yang berupaya menahan diri dari satu aktivitas –
R apapun aktivitas itu- dinamai shaim (berpuasa). Pengertian kebahasaan ini, dipersempit maknanya oleh hukum syariat, sehingga shiyam hanya digunakan untuk "menahan diri dari makan, minum, dan upaya mengeluarkan sperma dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari". Betapa pun, shiyam atau shaum -bagi manusia- pada hakikatnya adalah menahan atau mengendalikan diri. Hadis qudsi yang menyatakan antara lain bahwa, "Puasa untukKu, dan Aku yang memberinya ganjaran" dipersamakan oleh banyak ulama dengan firman-Nya dalam surat Az-Zumar (39): 10. “Sesungguhnya hanya orangorang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas”. Orang sabar yang dimaksud di sini adalah orang yang berpuasa. Puasa Ramadhan Uraian Al-Quran tentang puasa Ramadhan, ditemukan dalam surat Al-Baqarah (2): 183, 184, 185, dan 187. Ini berarti bahwapuasa Ramadhan baru diwajibkan setelah Nabi Saw. tiba diMadinah, karena ulama Al-Quran sepakat bahwa surat AlBaqarahturun di Madinah. Para sejarawan menyatakan bahwa kewajiban melaksanakanpuasa Ramadhan ditetapkan Allah pada 10 Sya'ban tahun kedua Hijrah. Apakah kewajiban itu langsung ditetapkan oleh Al-Quran selama sebutan penuh, ataukah bertahap? Kalau melihat sikap Al-Quran yang seringkali melakukan penahapan dalam perintah-perintahnya, maka agaknya kewajiban berpuasa pun dapat dikatakan demikian. Ayat 184 yang menyatakan ayyaman ma'dudat (beberapa hari tertentu) dipahami oleh sementara ulama sebagai tiga hari dalam sebutan yang merupakan tahap awal dari kewajiban berpuasa. Hari-hari tersebut kemudian diperpanjang dengan turunnya ayat 185: “Barangsiapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggal-
amadhan
nya) pada bulan itu (Ramadhan), maka hendaklah ia berpuasa (selama bulan itu), dan siapayang sakit atau dalam perjalanan, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya”. Pemahaman semacam ini menjadikan ayat-ayat puasa Ramadhan terputus-putus tidak menjadi satu kesatuan. Merujuk kepada ketiga ayat puasa Ramadhan sebagai satu kesatuan, penulis lebih cenderung mendukung pendapat ulama yang menyatakan bahwa Al-Quran mewajibkannya tanpa penahapan. Memang, tidak mustahil bahwa Nabi dan sahabatnya telah melakukan puasa Sunnah sebelumnya. Namun itu bukan kewajiban dari Al-Quran, apalagi tidak ditemukan satu ayat pun yang berbicara tentang puasa sunnah tertentu. Uraian Al-Quran tentang kewajiban puasa di bulan Ramadhan, dimulai dengan satu pendahuluan yang mendorong umat islam untuk melaksanakannya dengan baik, tanpa sedikit kekesalan pun. Perhatikan surat Al-Baqarah (2): 185. ia dimulai dengan panggilan mesra, "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa". Di sini tidak dijelaskan siapa yang mewajibkan, belum juga dijelaskan berapa kewajiban puasa itu, tetapi terlebih dahulu dikemukakan bahwa, "sebagaimana diwajibkan terhadap umatumat sebelum kamu." Jika demikian, maka wajar pula jika umat Islam melaksanakannya, apalagi tujuan puasa tersebut adalah untuk kepentingan yang berpuasasendiri yakni "agar kamu bertakwa (terhindar dari siksa)". Kemudian Al-Quran dalam surat A1-Baqarah (2): 186 menjelaskan bahwa kewajiban itu bukannya sepanjang tahun, tetapi hanya" beberapa hari tertentu," itu pun hanya diwajibkan bagi yang berada di kampung halaman tempat tinggalnya, dan dalam keadaan sehat, sehingga "barangsiapa sakit atau
dalam perjalanan," maka dia (boleh) tidak berpuasa dan menghitung berapa hari iatidak berpuasa untuk digantikannya pada hari-hari yang lain. "Sedang yang merasa sangat berat berpuasa, maka (sebagai gantinya) dia harus membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin". Penjelasan di atas ditutup dengan pernyataan bahwa "berpuasa adalah baik." Setelah itu disusul dengan penjelasan tentang keistimewaan bulan Ramadhan, dan dari sini datang perintah-Nya untuk berpuasa pada bulan tersebut, tetapi kembali diingatkan bahwa orang yang sakit dan dalam perjalanan (boleh) tidak berpuasa dengan memberikan penegasan mengenai peraturan berpuasa sebagaimana disebut sebelumnya. Ayat tentang kewajiban puasa Ramadhan ditutup dengan "Allah menghendaki kemudahan untuk kamu bukan kesulitan," lalu diakhiri dengan perintah bertakbir dan bersyukur. Ayat 186 tidak berbicara tentang puasa, tetapi tentang doa. Penempatan uraian tentang doa atau penyisipannya dalam uraian Al-Quran tentang puasa tentu mempunyai rahasia tersendiri. Agaknya ia mengisyaratkan bahwa berdoa di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang sangat dianjurkan, dan karena itu ayat tersebut menegaskan bahwa "Allah dekat kepada hambahamba-Nya dan menerima doa siapa yang berdoa". Selanjutnya ayat 187 antara lain menyangkut izin melakukan hubungan seks di malam Ramadhan, di samping penjelasan tentang lamanya puasa yang harus dikerjakan, yakni dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.n
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas”.
Akbar No. 218 n Juni 2016 17
K SBH Puskesmas Jenu Helat PPGD esehatan
pertama, antara lain: APD (Alat Pelindung Diri), Evakuasi atau Cara Pengangkatan Korban, ABC (Airway Breathing Circulation), Pembadain dan PP (Pertolongan Pertama). Hari kedua, materi yang disampaikan pada hari pertama, dipraktekkan di hari kedua, dengan berkegiatan jelajah ke Bukit Puncak Wilis. Disamping itu, menyelenggarakan permainan-permainan sebagai penghibur serta cara untuik lebih menciptakan rasa kekeluargaan.
Gerakan Pramuka Satuan Karya (Saka) Bakti Husada Pangkalan Puskesmas Jenu Kwartir Ranting Jenu menyelenggarakan Pelatihan PPGD (Pertolongan Pertama Gawat Darurat). Pelatihan dilaksanakan pada 16 - 17 Mei 2016 di Aula Puskesmas Jenu.
K
egiatan diikuti 30 orang peserta, berasal dari siswa-siswi SMA Manbail Huda, MA Manbail Futuh dan MA Al Hidayah. Pelatihan PPGD resmi dibuka oleh dr Dede Kurniawati, Kepala Puskesmas Jenu, juga Pimpinan Saka Bakti Husada Kwartir Ranting Jenu. Ikut hadir pula Pamong Saka Bakti Husada, Kak Suzana dan Instruktur Saka Bakti Husada Kwartir Ranting Jenu. Dalam sambutanya, dr Dede menyatakan kebanggaannya atas pelaksanaan Pelatihan PPGD. Selain itu, yang paling diapresiasi, tentang ketepatan waktu, jangan hanya berhenti di situ, akan tetapi sikap disiplin tersebut harus pula diterap-kan dalam kehidupan sehari hari. Dengan diadaakannya Pelatihan PPGD Bu Dokter berharap kepada seluruh peserta agar sepulang
18 Akbar No. 218 n Juni 2016
dari pelatihan dapat mengembangkan ilmu yang telah diberikan dan bisa diaplikasikan di sekolah masing masing. Lebih dari itu, jangan sungkan mengajak Saka Bakti Husada untuk ikut berbagi tentang ilmu kesehatan, mungkin kalau mengundang SBH di sekolah masing masing. Latih Ketrampilan Kegiatan PPGD bertujuan untuk melatih ketrampilan penanganan pertolongan pertama gawat darurat, membekali Pramuka di Jenu dengan pengetahuan PPGD, meningkatkan keaktifan anggota Pramuka yang ada di Jenu dalam kegiatan membangun masyarakat di bidang kesehatan, mencetak Kader Kesehatan di setiap sekolah agar ketika ada kasus di sekolah dapat menangani sebelum dibawa ke tempat rujukan. Materi yang disampaikan, hari
Ajang Silaturrahmi Kak Fifi, Ketua Panitia, menuturkan, kegiatan PPGD selain untuk memberikan bekal tentang PPGD serta mencetak Kader Kesehatan, juga merupakan ajang untuk bersilaturrahmi antara Pramuka Penegak yang ada di Jenu. Selain itu, sepulang dari kegiatan, peserta yang dilatih PPGD dapat mengamalkan ilmunya ketika ada yang membutuhkan pertolongan pertama saat ada kegiatan di Gudep masing masing. Sementara, salah satu peserta, Mila, mengatakan," kalau hari pertama terasa malas, tetapi semakin mengikuti terus tiba-tiba bersemangat karena materinya semakin menarik dan menantang. Bertambah pengalaman, yang belum tahu menjadi tahu, dan berharap kegiatan PPGD dapat diselenggarakan kembali di masa-masa yang akan dating.n fst
istimewa
Manusia Terdidik Kunci Kemajuan Bangsa
B
upati Tuban, H. Fathul Huda, menegaskan, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang kita rayakan sebagai hari kesadaran tentang pentingnya kualitas manusia. Presiden Jokowi menggariskan bahwa Indonesia akan menjadi bangsa yang disegani dunia dan akan berhasil dalam berbagai kompetisi era global jika tinggi kualitas manusianya. “Manusia yang terdidik dan tercerahkan adalah kunci kemajuan bangsa,” ujar Pak Huda, sapaan Bupati Tuban. Segala capaian yang kita raih, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa kolektif, menurut Pak Bupati, tak lepas dari persinggungan dengan pendidikan. Mutu dan jenjang pendidikan berdampak besar pada ruang kesempatan untuk maju dan sejahtera. Maka memastikan setiap manusia Indonesia mendapatkan akses pendidikan yang bermutu sepanjang hidupnya sama dengan memastikan kejayaan dan keberlangsungan bangsa. Dunia saat ini, papar Bupati Tuban, adalah dunia yang sangat berbeda dengan beberapa dekade lalu. Perubahan terjadi begitu cepat dalam skala eksponensial yang tidak pernah ditemui dalam sejarah umat manusia sebelumnya. Revolusi teknologi menjadi pendorong lompatan perubahan yang akan berpengaruh pada cara kita hidup, cara kita bekerja, dan tentu saja, cara kita belajar. Meramalkan masa depan menjadi semakin sulit karena ketidakpastian
perubahan yang ada. Namun yang harus kita pastikan kepada anak anak kita bahwa kita memberikan dukungan sepenuhnya kepada mereka untuk menyiapkan diri meraih kesempatan yang terpampang di hadapannya. Salah satu dukungan yang perlu kita berikan pada anak-anak Indonesia adalah memastikan bahwa apa yang mereka pelajari saat ini adalah apa yang memang mereka butuhkan untuk menjawab tantangan jamannya. Ketrampilan utuh yang dibutuhkan oleh anak - anak Indonesia di abad 21 ini mencakup tiga komponen yaitu kualitas karakter, kemampuan literasi dan kompetensi. Karakter, tutur Pak Bupati, terdiri dari dua bagian. Pertama, karakter moral, sesuatu yang sering kita bicarakan. Karaker moral itu antara lain adalah nilai Pancasila, keimanan, ketakwaan, intergitas, kejujuran, keadilan, empati, rasa welas asih, sopan santun. Kedua dan tak kalah pentingnya adalah karakter kinerja. Di antara karakter kinerja adalah kerja keras, ulet, tangguh, rasa ingin tahu, inisiatif, gigih, kemampuan beradaptasi, dan kepemimpinan. Kita ingin anak - anak Indonesia menumbuhkan kedua bagian karakter ini secara seimbang. Kita tak ingin anak - anak Indonesia menjadi anak yang jujur tapi malas, atau rajin tapi culas. Literasi dasar menjadi komponen kemampuan abad 21. Literasi dasar memungkinkan anak - anak
meraih ilmu dan kemampuan yang lebih tinggi serta menerapkannya kepada kehidupan hariannya. Bila selama ini kita berfokus pada literasi baca - tulis dan berhitung yang masih harus kita perkuat, maka kini kita perlu pula memperhatikan literasi sains, literasi teknologi, literasi finansial dan literasi budaya. Terakhir, dan tak kalah pentingnya adalah komponen kompetensi. Abad 21 menuntut anak - anak Indonesia mampu menghadapi masalah - masalah yang kompleks dan tidak terstruktur. Maka mereka membutuhkan kompetensi kemampuan kreativitas, kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah, kemampuan komunikasi serta kemampuan kolaborasi. Pembelajar Setiap anak lahir sebagai pembelajar, tumbuh sebagai pembelajar. Kita semua menyaksikan sendiri betapa anak - anak terlahir dengan rasa ingin tahu yang besar dan keberanian untuk mencoba. Proses belajarnya didapatkan melalui permainan dan petualangan. Lalu saat ia mulai melangkah masuk ke sekolah, ia mulai berhadapan dengan struktur dan berbagai peraturan sebagai bagian dari sebuah model masyarakat mini. Struktur dan berbagai peraturan yang ia hadapi ini dapat mengarahkan mereka terus menjadi pembelajar, atau justru sebaliknya, meredupkan hasrat belajarnya. Tahun ini kita memilih tema “Nyalakan Pelita, Terangkan Cita cita” sebagai tema keriaan Hardiknas. Kita ingin pendidikan benar benar berperan sebagai pelita bagi setiap anak Indonesia yang akan membuatnya bisa melihat peluang, mendorong kemajuan, menumbuhkan karakter, dan memberikan kejernihan dalam menata dan menyiapkan masa depannya. Mari kita perluas keriaan pendidikan dan kebudayaan selama sebulan ke depan. Kita bayar balik apa yang telah kita dapatkan dari pendidikan, kita gelorakan semangat
Akbar No. 218 n Juni 2016 19
istimewa bergerak untuk pendidikan, dan kita teruskan ikhtiar bersama ini. Kepada semua yang telah merasakan manfaat pendidikan dan di bulan pendidikan ini, sapalah para pendidik kita dulu. Tanyakan kabarnya, ucapkan
terima kasih dan tunjukkan apresiasi pada mereka, para pendidik dan pejuang pendidikan. Lalu mari sama - sama kita tetapkan bahwa ikhtiar memajukan pendidikan akan kita lanjutkan dan kembangkan.n kdg Bupati Tuban. (kdg)
Dukung GNM
P
emkab Tuban berpartisipasi menyukseskan Gerakan Nusantara Mengaji (GNM) yang digagas mantan Menteri Tenaga Kerja, Muhaimin Iskandar beserta Majelis Tahfidz dan Khataman Al Qur’an. Bupati Tuban, H. Fathul Huda, di Rumah Dinasnya mengapresiasi GNM yang akan mengkhatamkan Al Quran sebanyak 300.000 kali seIndonesia. GNM bertujuan agar umat Islam se-Nusantara berdoa bagi keselamatan, kesejahteraan dan keberkahan bangsa. GNM bertujuan mewujudkan kebersamaan dalam persatuan melalui hubungan spiritual. Menurut Pak Bupati, gerakan tersebut mengajak masyarakat mengejawantahkan nilai-nilai moral agama. “GNM relevan dengan brand Bumi Wali yang disandang Kabupaten Tuban. Selayaknya, GNM mendapat dukungan banyak pihak,” ujar Pak Huda, sapaan Bupati Tuban. Melalui Surat Edaran yang ditandatanganinya, Pak Huda berharap GNM didukung SKPD, Camat dan Sekolah. Sedang, di Tuban, kha-
20 Akbar No. 218 n Juni 2016
taman GNM sudah terpantau sedari tanggal 7 dan 8 Mei 2016, dilaksanakan di Masjid, Mushola atau Sekolah. Lebih luas GNM diharapkan menumbuhkan kesadaran akan kebutuhan ilmu agama, caranya dengan kembali menggalakkan ‘ngaji’ di setiap Musholla, Masjid seperti jaman dulu. Orang tua diharapkan kembali aktif mendukung anak-anaknya ‘ngaji’ “. GNM adalah kegiatan menghatamkan Al Qur’an sebanyak 300.000 kali khatam serentak se-Indonesia dalam waktu 24 jam pada tanggal 78 Mei 2016. GNM diinisiatori oleh A. Muhaimin Iskandar. GNM dimulai serentak 7 Mei 2016 yang lalu pada pukul 19:00 WIB/20:00 WITA/21.00 WIT di seluruh Indonesia dengan komando dari inisiator di salah satu Televisi Nasional. Peserta GNM tersebar hampir di seluruh kota se-Indonesia. Peserta GNM adalah mereka yang terdaftar di pangkalan data GNM, baik secara offline maupun online. Bagi peserta yang mendaftar
secara offline berkumpul di lokasi khataman yang telah ditentukan. Sedangkan, peserta yang mendaftar secara online (melalui www.nusantaramengaji), boleh membaca di rumah masing-masing. Pendaftar online juga diperbolehkan bergabung dengan ribuan peserta lain di lokasi hataman di kota masing-masing. Semua peserta membaca bagian juz masing-masing dalam waktu 24 jam (maksimal pada Ahad 8 Mei 2016 yang lalu pukul 18:59 WIB/19:59 WITA/20:59 WIT). Masyarakat Indonesia antusias mengikuti gelaran GNM. Tercatat, dalam satu hari sebelum GNM dibuka, terbilang ada 313.339 khataman, berarti telah melebihi target dari 300.000 ribu khataman. Jumlah khataman sebanyak itu dibaca di 67.813 lokasi di 401 kabupaten/lokasi dan 34 provinsi. Total pembacanya mencapai 2.089.610 orang yang mengkhatamkan selama 24 jam, mulai dari pukul 19.30 di Sabtu, 7 Mei 2016, dan Minggu pukul 18.00 sore. “Ini bukti masifnya sambutan masyarakat. Umat Islam bersemangat mengaji. Ini adalah kerelaan masyarakat mendoakan bangsa agar lebih baik,” komentar inisiator acara GNM. Bahkan, respon positif juga diperlihatkan sejumlah bupati, walikota, wakil gubernur juga enam menteri. Keenam pejabat negara di atas, masing-masing, Menko Perekonomian, Darmin Nasution, Menkominfo, Rudiantara, Menteri Desa dan PDTT, Marwan Jafar, Menpora, Imam Nachrowi, Menaker, Hanif Dakhiri dan Menristekdikti, Muhammad Nasir. Mereka telah mendapat restu dari Presiden Jokowi.n kdg
Ajak Bangun Desa A
sisten Pembangunan dan Perekonomian Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tuban, Ir. Hery Prasetyo S, M.M, mengajak masyarakat Bumi Wali segera melunasi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), karena merupakan salah satu instrumen penerimaan negara bagi pelaksanaan dan peningkatan pembangunan nasional, termasuk untuk penyaluran Dana Desa (DD) serta Alokasi Dana Desa (ADD). “Bumi dan bangunan memberi keuntungan sosial ekonomi bagi orang atau badan yang mempunyai suatu hak, oleh karena itu wajar apabila mereka diwajibkan membe-
Pentas Cak Sogol dan Pak Teguh. (ydh)
rikan sebagian dari manfaat yang diperolehnya kepada negara melalui pajak,” tuturnya, saat memberikan sambutan pada kegiatan Pertunjukan Rakyat (Pertura) 2016 di Desa Remen Kecamatan Jenu. Pak Asisten, sapaannya, menyatakan, dengan berlakunya Undang-undang (UU) Nomor 60 Tahun 2014 tentang Desa, Desa diberi kewenangan untuk mengelola DD dan ADD. Penggunaan dana tersebut, menurutnya, antara lain untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat desa. Laki-laki murah senyum ini, mengatakan, kucuran dana milyaran
istimewa
tersebut langsung ke Desa, Piala Adipura. Juga, pengabertujuan mewujudkan pernugerahan Apresiasi Top 99 tumbuhan ekonomi yang inInovasi Pelayanan Publik klusif dengan lebih meTahun 2016 oleh Menteri meratakan pendapaPendayagunaan Apatan. Oleh karena itu, ratur Negara dan tandasnya, masyaraReformasi Birokrasi kat juga harus ikut (Menpan RB) mengawasi. Menukepada Sekolah rutnya, penyalahguMenengah Pertanaan dana tersebut ma (SMP) Negeri bisa terjadi karena 3 Tuban. beberapa faktor, seperti kurangnya sumApresiasi Seni ber daya manusia mauTradisional Pak Asisten. (ydh) pun pemerintah desa yang Pada kesempatan tidak transparan dan akuntabel. yang sama, Kepala Bagian “Karena itu, perlu dilakukan (Kabag) Humas dan Media Setda beberapa hal agar pemanfa- Tuban, Drs. Teguh Setyobudi, M.M, atan dana tersebut tepat sa- menyatakan, Pertura diselenggasaran. Mulai dari mengop- rakan sebagai wujud apresiasi tertimalkan organisasi peme- hadap nilai seni tradisional, melesrintahan desa, pemerin- tarikan budaya, sekaligus membetahan desa yang akuntabel rikan hiburan kepada masyarakat dan transparan, serta Tuban. pengawasan terhaHarapannya, bisa menggerakdap anggaran,” kan kesadaran masyarakat akan penujarnya. tingnya peran serta dalam kegiatan S e l a n j u t pembangunan di berbagai bidang, nya, Pak Asis- khususnya di Bumi Wali. ten, menjelasPertura rutin dihelat setiap tahun kan, keberha- oleh Bagian Humas dan Media pada silan Pemerin- Sekretariat Daerah (Setda). Tahun ini, tah Kabupa- kegiatan tersebut dihelat di empat ten (Pemkab) tempat, yaitu Desa Remen KecamaTuban di ba- tan Jenu (04/05), Desa Dasin Kecawah kepemimpinan Bupati Fathul matan Tambakboyo (13/05), Desa Huda dan Wakil Bupati Ir. Noor Nahar Margomulyo Kecamatan Kerek Hussein, M.Si selama kurun waktu (20/05) dan di Kecamatan Rengel. 2015 sampai dengan 2016 hingga di- Pada kesempatan tersebut, undaganjar beberapa penghargaan. ngan dan masyarakat yang hadir dihiPenghargaan yang diraih pada bur pertunjukan campursari dan latahun lalu, antara lain, Pembina wak, sekaligus sosialisasi pelunasan Kesehatan dan Keselamatan Kerja PBB, DD dan ADD. (K3) Terbaik Tingkat Provinsi Jawa Kegiatan yang dihelat pada Timur, Pemerintah Daerah Berprestasi malam hari itu dihadiri Camat, peKinerja Terbaik Tingkat Nasional, rangkat Kecamatan, semua Kepala Samkaryanugraha Parasamiya Purna Desa, Muspika, dan tokoh masyaKarya Nugraha dari Presiden rakat. Hiburan Campursari Grebeg Republik Indonesia (RI), Indonesia Budoyo dan Lawak Cak Sogol asal Atractiveenees Index, Satya Lancana Tuban itu selalu dipadati warga. Pembangunan Bidang Koperasi dan Mereka cukup antusias menyaksikan Usaha Kecil Menengah (UKM), dan kegiatan tahunan tersebut.n ydh
Akbar No. 218 n Juni 2016 21
istimewa Wakil Bupati (Wabup) Tuban, Ir. H. Noor Nahar Hussein, M.Si, menerima kunjungan Tim Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Wilayah Pertahanan Pasis Dikreg LIV Lembaga Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) 2016 di Gedung Korpri komplek Pendopo Kridho Manunggal.
R
Terima KLL dan Berorasi Ilmiah
dirumuskan oleh Pokja Mabesad,” ombongan dari ungkap Perwira Koordinator Tim KKL. Seskoad di atas Selain melakukan dialog interaksebanyak 19 orang tif, tim juga melihat langsung di lapaterdiri dari 15 perngan permasalahan yang ada di wira siswa dan 4 orang pensatuan, baik Satuan Tempur, Satuan damping. Hadir pula dalam Banpur dan Satuan Kewilayahan, kegiatan itu Sekda Kabupaten yang nantinya sebagai masukan baTuban, Asisten dan sejumlah gi siswa Seskoad. Esensi dari kegiaKepala SKPD Kabupaten Tuban. tan KKL, tegas Perwira itu, memberiPak Wabup menyambut baik kan pembelajaran bagi perwiradan mendukung pelaksanaan kePak Wabub Dan Pak Junaedi. (kdg) perwira siswa sebagai kader-kader giatan itu. Juga, berharap agar propimpinan di satuan, khususnya latihan, kemudian diimplegram positif ini dapat terselenggara lancer, tertib, sesuai mentasikan ke dalam pembinaan teritorial di suatu wilayah. rencana, sehingga dapat memberikan sumbangsih bagi pemikiran kita semua untuk kemajuan bangsa dan negara Orasi Ilmiah kita tercinta, terutama bagi Kabupaten Tuban. Sementara itu, selain menerima KKL, Pak Wabup Selama ini, tutur Pak Noor, sapaan Wabup Tuban, juga berorasi ilmiah dihadapan 492 siswa-siswi SMKN 2 hubungan baik telah terjalin antara Pemkab Tuban dan Tuban yang mengikuti prosesi purna siswa di Graha SanTNI, melalui Kodim 0811 Tuban beberapa program dya. Saat ini, menurutnya, lulusan SMK adalah aset menupemerintah mendapat bantuan, misalnya, pembangunan ju Indonesia Emas 2045, 100 tahun Indonesia merdeka. Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dan program Pertanian. Dikatakan, Indonesia merupakan negara dengan Didukung pula dengan rekan Polri dalam menjaga jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia. Hasil sensus penkondusifitas, sehingga tercipta lingkungan aman dan duduk 2010 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), total nyaman di Kabupaten Tuban. penduduk Indonesia mencapai 237,56 juta jiwa. Penduduk Perwira Koordinator Tim KKL, Kolonel Inf Junaedi, Indonesia terus mengalami peningkatan, jika sebagian mengemukakan, KKL Wilayah Pertahanan itu bertujuan besar usia produktif maka Indonesia Emas akan tercapai. mempelajari dan memahami implementasi pembinaan Sedang, menyikapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), teritorial TNI AD. Hasil KKL dijadikan bahan diskusi dan ketrampilan lulusan SMK dituntut bersaing dengan tenaga seminar terkait profesionalitas menuju transformasi TNI kerja luar negeri yang mulai merambah Indonesia. Hal ini AD dalam melaksanakan tugas pokok. Disamping itu, tidak harus ditakuti, tetapi harus dijadikan motivasi agar sebagai sampel yang dijadikan bekal Pasis Dikreg LIV lulusan SMK Indonesia bisa bekerja di kawasan ASEAN. Seskoad 2016 dalam melaksanakan tugas di satuan. Tantangan globalisasi dunia, tandas Pak Noor, meSelain itu, tambahnya, bertujuan meningkatkan nuntut SDM yang memiliki kemampuan dan kompetensi kemampuan dalam mengidentifikasi permasalahan di wilayah agar mampu menjawab tuntunan perkembangan tinggi. Tidak hanya skill dasar yang harus dikuasai namun juga kemampuan menghasilkan produk yang berkualitas. zaman guna meningkatkan profesionalitas prajurit TNI AD. Selain peningkatan kompetensi SDM, hal lain yang dibuJuga, berharap agar hasil KKL disinergiskan dan diintetuhkan, peningkatan berbagai infrastruktur dan peninggrasikan dengan kebijakan pembangunan daerah. Lebih katan kemampuan berbahasa, minimal bahasa Inggris. lanjut, dituturkan bahwa penelitian tentang pembinaan te“Tidak hanya belajar teori, tapi learning by doing ritorial merupakan suatu pengetahuan (knowledge) untuk untuk mendapatkan pengalaman langsung. Terpenting dikembangkan menjadi pengetahuan ilmiah (science). lagi, lulusan SMK harus memiliki sikap dan mental yang “Ini dalam rangka memberikan saran dan masukan jujur serta konsisten,” kata Pak Wabup.n kdg strategi transformasi TNI AD Bidang Binter yang sedang
22 Akbar No. 218 n Juni 2016
K Siap Layani Publik esehatan
G
edung Graha AryoTejo, gedungbaru di kompleks Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. R. Koesma, siap melayani kesehatan publik. Bupati Tuban, didampingi Wakil Bupati (Wabup) Tuban dan jajaran Forpimda, meresmikan gedung berlantai lima tersebut. “"Saya berharap fasilitas ini dapat dioptimalkan, terutama dalam pelayanan dan kebersihannya," tandas Pak Huda, sapaan Bupati Tuban. Pak Bupati memproyeksikan gedung baru itu mampu meningkatkan pelayanan kesehatan daerah. Sebab, sampai bulan Maret 2016 jumlah kamar yang tersedia masih over load. Kondisi ini jelas merugikan pasien yang hendak berobat, dan sudah menjadi tanggung jawab Pemkab Tuban memberikan solusi atas keadaan tersebut. Dengan ditambahnya fasilitas 30 bed di Graha AryoTejo diharapkan mampu menampung semua pasien. Nama Graha Aryo Tejo sendiri diambil dari nama bangsawan pada masa kerajaan yang memiliki andil besar terhadap kemajuan Kabupaten Tuban. Nama itu diadopsi sebagai nama gedung untuk mencerminkani “kepiawaian” sosok Aryo Tejo. Direktur RSUD dr. R. Koesma Tuban, dr. Zainul Arifin, menjelaskan, Gedung Aryo Tejo. (dok)
Diresmikan Pak Huda. (kdg)
dari lima lantai yang dimiliki graha, lantai dasar berfungsi sebagai tempat registrasi dan pelayanan umum. Lantai dua sampai empat sebagai instalasi rawat inap. Masingmasing lantai terdapat delapan kamar, kemudian lantai teratas mempunyai enam ruangan. Graha ini dikhususkan bagi masyarakat dengan ekonomi kelas menengah ke atas. Usai meresmikan, Pak Bupati beserta rombongan meninjau Graha Aryo Tejo, mengelilingi beberapa unit kamar, menyusuri dari lantai per lantai menggunakan lift, serta menandatangani prasasti dengan tinta emas. “Keramahan harus diperhatikan dalam pelayanan terhadap pasien,” pungkasnya. Senilai Rp 22 Milliar Sebagaimana diketahui, sebagai bentuk pemberian pelayanan terbaik kepada masyarakat, serta pengembangan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban mengucurkan dana Rp 22 Miliar membangun Gedung Aryo Teja di kompleks RSUD dr. R. Koesma Tuban. Dana tersebut dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD)
Tahun 2015. Gedung Aryo Tejo dibangun karena gedung paviliun yang ada sudah tidak memadai, sehingga perlu pembangunan gedung baru agar pelayanan RSUD dr. R. Koesma bisa lebih maksimal. Gedung baru, yang pembangunannya memakan waktu sekitar enam bulan tersebut, berlantai lima dan memiliki 30 kamar. Gedung Aryo Tejo diharapkan memenuhi kebutuhan pasien yang menginginkan kenyamanan pelayanan di rumah sakit, khususnya kelas VIP dan VVIP. Dalam memenuhi kebutuhan tenaga medis, telah bekerjasama dengan dokter spesialis jantung dari Surabaya yang akan memberikan pelayanan untuk pasien sakit jantung, khusus hari Sabtu. Juga, melengkapi dokter spesialis bedah mulut dan konservasi gigi, rehabilitasi medik, ahli radiologi, bidan, perawat, dan tenaga administrasi. Tipe B RS yang sudah masuk tipe B ini kini juga memiliki ruang laundry yang dilengkapi dengan dua mesin cuci dan tiga mesin pengering. Rencana ke depan, laundry tidak hanya membersihkan sarana-sarana milik rumah sakit, namun juga melayani pasien umum.n kdg
Akbar No. 218 n Juni 2016 23
K
esehatan
Bentuk Posbindu PTM Kepala Puskesmas Compreng, dr. Masyhudi, menuturkan, penyakit degeneratif menjadi pembicaraan hangat di berbagai kalangan. Pesatnya perkembangan penyakit tersebut mendorong masyarakat luas untuk memahami dampak yang ditimbulkannya.
P
enyakit degeneratif, lanjutnya, adalah istilah medis untuk menjelaskan suatu penyakit yang muncul akibat proses kemunduran fungsi sel tubuh, yaitu dari keadaan normal menjadi lebih buruk. Penyakit yang masuk dalam kelompok ini, antara lain: diabetes melitus, stroke, jantung koroner, kardiovaskular, obesitas, dan sebagainya. Dari berbagai hasil penelitian diketahui bahwa munculnya penyakit degeneratif memiliki korelasi kuat dengan bertambahnya proses penuaan usia seseorang. Meskipun begitu faktor keturunan berperan cukup besar. Dipengaruhi Gaya Hidup Di Indonesia, penyakit degeneratif saat ini banyak terjadi di kalangan masyarakat perkotaan. Penyebab utamanya, perubahan gaya hidup akibat urbanisasi dan modernisasi. Pola makan makanan yang serba instan saat ini memang sangat digemari sebagian masyarakat perkotaan, misalnya gorengan, jenis makanan murah meriah dan mudah didapat dijual di pinggir jalan, rasanya memang enak. Sementara, jajanan lain ada yang menggunakan pewarna sintetis, pengawet, penyedap
24 Akbar No. 218 n Juni 2016
Sambil menunggu antrian dilakukan penyuluhan kelompok, Kader kesehatan ikut mensukseskan pelaksanaan posbindu PTM dengan membantu pengukuran lingkar perut, tinggi badan dan berat badan.
rasa yang tidak sesuai standar atau tidak masuk dalam daftar Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang telah ditetapkan pemerintah. Namun, banyak orang yang tidak tahu bahwa makanan gorengan adalah makanan yang memiliki risiko tinggi sebagai pemicu penyakit degeneratif seperti penyakit diabetes melitus, kardiovaskular, serta stroke. “Salah satu penyakit degeneratif yang banyak menimpa adalah diabetes militus,” tegas dr. Masyhudi. Penyakit ini merupakan penyakit degeneratif non infeksi yang bersifat menahun, akibat tingginya kadar glukosa dalam darah. Diabetes sangat berbahaya karena dapat menyebabkan munculnya penyakit-penyakit lain yang lebih berbahaya seperti jantung, ginjal dan kebutaan. Penyakit degeneratif dapat dicegah dengan cara meminimalkan faktor-faktor risiko penyebabnya. Faktor-faktor risiko ini sebenarnya telah diketahui secara luas oleh hampir semua kalangan masyarakat. Faktor-faktor risiko utama penyebab penyakit degeneratif adalah pola makan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, serta konsumsi rokok. Ketiga faktor risiko ini meningkat seiring dengan perubahan kebiasaan makan masyarakat, ke arah konsumsi makanan tinggi lemak dan gula, dan jenis pekerjaan yang tidak banyak mengeluarkan tenaga.
Posbindu PTM Dari keterangan Agung Prabowo, Pengelola Program Promosi Kesehatan Puskesmas Compreng, sesuai Petunjuk Teknis Posbindu (Pos Pembinaan Terpadu) PTM (Pengendalian Penyakit Tidak Menular), disebutkan, saat ini peningkatan prevalensi penyakit tidak menular menjadi ancaman serius, khususnya dalam perkembangan kesehatan masyarakat. Salah satu strategi yang dikembangkan pemerintah untuk mengendalikan penyakit tidak menular itu, dikembangkan model Pengendalian Posbindu PTM. Posbindu PTM merupakan peran serta masyarakat dalam upaya pengendalian faktor risiko secara mandiri dan berkesinambungan. Posbindu PTM merupakan kegiatan deteksi dini dan pemantauan faktor resiko PTM Utama yang dilakukan secara terpadu, rutin dan periodik. Faktor resiko meliputi, merokok, konsumsi minuman beralkohol, pola makan tidak sehat, kurang aktifitas fisik, obesitas, strees, hipertensi, hiperkolesterol. Kemudian, menindaklanjuti secara dini faktor resiko yang ditemukan melalui konseling kesehatan dan segera merujuk ke fasilitas kesehatan dasar. Kelompok PTM Utama adalah diabetes militus, penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit paru obstruktif kronis, gangguan akibat kecelakaan dan tindak kekerasan. Pengembangan Posbindu
K
Agung Prabowo (Pengelola Program Promkes)
PTM dapat dipadukan dengan upaya yang telah terselenggara di masyarakat, misal di tempat kerja atau klinik perusahaan, lembaga pendidikan dan tempat lain dimana masyarakat dalam jumlah tertentu berkumpul - beraktivitas secara rutin, misal di tempat ibadah mesjid, gereja, klub olahraga, pertemuan organisasi masyarakat. Berdasarkan jenis kegiatan deteksi dini dan tindak lanjut yang dapat dilakukan oleh Posbindu PTM, maka dapat dibagi menjadi 3 kelompok tingkatan Posbindu PTM, yaitu: Pertama, Posbindu PTM Dasar meliputi pelayanan deteksi dini faktor resiko sederhana, yang dilakukan dengan wawancara terarah melalui penggunaan instrumen, pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar perut, Indek Massa Tubuh (IMT), alat analisa lemak tubuh, pengukuran tekanan darah serta penyuluhan mengenai pemeriksaan payudara sendiri untuk mencari kelainan pada payudara. Kedua, Posbindu PTM Plus meliputi Pelayanan Posbindu PTM dasar yang ditambah dengan pemeriksaan analisa lemak tubuh, pemeriksaan gula darah, kolesterol dan trigliserida termasuk pemeriksaan uji fungsi paru sederhana untuk mengetahui gangguan mekanik pada organ pernapasan. Ketiga, Posbindu
esehatan
PTM Utama yang meliputi pelayanan Posbindu PTM Plus ditambah pemeriksaan IVA dengan pelaksana tenaga kesehatan terlatih di desa/bidan. Untuk penyelenggaraan Posbindu PTM Utama dipadukan dengan Pos Kesehatan Desa, atau Desa Siaga maupun kelompok masyarakat yang memiliki tenaga berkompeten untuk melakukan IVA. Pelaksanaan “Pelaksanaan Posbindu PTM dapat diselenggarakan satu bulan sekali, bila diperlukan dapat lebih dari satu kali dalam sebulan untuk kegiatan pengendalian faktor resiko PTM lainnya,” lontar Pak Agung.
Misalnya, olah raga bersama, sarasehan, sedang hari dan waktu yang dipilih sesuai dengan kesepakatan serta dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Tempat pelaksanaan sebaiknya berada pada lokasi yang mudah dijangkau dan nyaman bagi peserta, misal, di salah satu rumah warga, balai desa, salah satu ruang perkantoran/klinik perusahaan, ruangan khusus di sekolah dan lain-lain. Untuk pelaksanaan dengan menggunakan tahapan layanan yang disebut sistem lima meja, namun dalam situasi kondisi tertentu dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kesepakatan bersama. Kegiatan tersebut berupa pelayanan deteksi dini dan tindak
lanjut sederhana terhadap faktor resiko penyakit tidak menular termasuk rujukan ke Puskesmas. Puskesmas Compreng, dalam upaya pengembangan Posbindu PTM ini, membentuk Posbindu PTM di Desa Mlangi dengan nama “Posbindu PTM Glatik”. Jenis pelayanan, selain pelayanan Posbindu TTM Dasar yang ditambah dengan pemeriksaan gula darah, pemeriksaan kolesterol dan asam urat. Pelaksana kegiatan dibentuk tim terdiri dari Penanggung Jawab, dr. H. Moh. Masyhudi, Pengelola Program Posbindu PTM Puskesmas/Koordinator, Atty Lestariningsih, Petugas Promosi Kesehatan Puskesmas,
Agung Prabowo, Petugas Laboratorium Puskesmas, Setiyadi, Bidan Desa Mlangi, Ruminah, Amd. Keb, dan dibantu oleh Kader Kesehatan. Menurut Pengelola Program Posbindu PTM Puskesmas Compreng, Atty Lestariningsih, tahun ini direncanakan pengembangan dengan membentuk Posbindu PTM baru di Desa Sumberjo dan Desa Minohorejo.n mif
Posbindu PTM merupakan kegiatan deteksi dini dan pemantauan faktor resiko PTM Utama yang dilakukan secara terpadu, rutin dan periodik.
Akbar No. 218 n Juni 2016 25
I
NFO DESA
Perlu Langkah Strategis - Matematis Kembangkan Ternak Jatim adalah pemasok 31% kebutuhan daging nasional, artinya, Kabupaten di Jatim yang populasi ternaknya tinggi otomatis rangking-nya tinggi seperti Tuban. Apakah ma-sih bisa didorong menjadi rangking satu? Pak Huda optimis mampu dan rasional bisa dicapai.
Mengapresiasi peternak “jawara”. (mif)
Bupati Tuban, H. Fathul Huda, menegaskan, posisi terbaru terkait populasi ternak sapi Tuban rangking kedua nasional. Mmestinya, jangan rangking dua tetapi tapi harus peringkat satu.
P
ernyataan di atas disampaikan Pak Huda, sapaan Bupati Tuban, dalam acara penyerahan hadiah “Kontes Ternak” se-Kabupaten Tuban di Desa Kedungsoko Kecamatan Plumpang (24-25 Mei 2016). Acara tersebut, dihadiri segenap Pimpinan Satker, Forpimda, mulai dari Dandim, Kapolres, Ketua DPRD Tuban serta Kajari Tuban. Selain itu, dihadiri pula Dekan Peternakan UB (Universitas Brawijaya) Malang Prof Dr. Aulia yang asli Tuban beserta mahasiswanya, Tim Penilai Gabungan dari Dinas Peternakan Jawa Timur dan UB Malang. Juga, para peternak peserta kontes dan undangan. “Terbukti dari rangking tiga seJatim naik ke rangking dua Jatim. Dan hal itu mencerminkan pula kedudukan ranking di tingkat nasional,” ujar Pak Huda. Tetapi, motivasi yang disampaikannya cukup beralasan, sebab,
Langkah yang Diterapkan Bupati Tuban getol dalam menyejahterakan petani, di dalamnya termasuk peternak. Untuk peternakan, Pak Huda menyosialisasikan bahwa populasi sapi harus mencerminkan 50% dari total jumlah penduduk. Dari jumlah populasi yang 50% dari jumlah penduduk Tuban itu, 30%-nya harus sapi betina produktif. Sebab, jika tidak, maka peningkatan populasi ternak yang diupayakan tidak berkembang, sebab kurang sapi betina produkti. Utnuk itu, Pak Bupati mengajukan dua langkah dalam pengembangan ternak, yaitu, (1) langkah matematis, (2) langkah stategis. Langkah matematis sesuai dengan target yang selalu disosialisasikan, yaitu harus benar-benar menghitung jumlah peduduk, sehingga diketahui 50%-nya berapa. Dengan cara matematis lainnya berlandaskan usia subur/produkti penduduk Tuban angkanya berapa, lalu diambil 50%nya. Angka usia subur perempuan di Kabupaten Tuban 400 ribu, maka, indukan sapi produktif harusnya 200%. “Hal ini untuk antisipasi ke depan agar pertumbuhan sapi juga tercermin ke depannya, bukan hanya jumlahnya saja, tetapi tidak mengkaji produktifitas pengembangnnya,” tegas Pak Huda. Langkah matematis berikutnya harus diimbangi adopsi sperma sapi unggul. Dari data dan keterangan kementerian terkait peternakan, sperma produk sapi dari Spanyol adalah yang paling unggul saat ini. Untuk memperoleh turunan sapi
berkualitas harus pula diperoleh straw (sperma sapi) yang unggul. Ke depannya, Insemenasi Buatan harus sudah dari straw unggul. Kalau tidak disayangkan, karena program ini akan berdampak signifikan pada penduduk Tuban dalam hal kesejahteraannya. “Tugas pemerintah, baik Pusat, Provinsi maupun Kabupaten adalah memediasi, memotivasi, memfasilitasi program pro rakyat tersebut,” ungkapnya. Untuk itu, harus ada subsidi dari pemerintah untuk para peternak, utamanya yang di pedesaan. Dulu, setiap penggarap sawah atau tegalan, apalagi pemilik lahan pertanian, selalu mempunyai ternak. Barangkali, filosofis “Rojo Koyo” harus pula digaungkan agar dunia ternak Tuban berkembang kembali. Kontes Sapi adalah salah satu cara membangkitkan kembali seamangat beternak di Tuban. Langkah Strategis Selain langkah matematis, harus pula dibarengi langkah strategis. Sebab, menurut Pak Huda, percuma menempuh langkah matematis namun langkah strategisnya ditingalkan. Langkah strategis yang dimaksudkan Bupati Tuban ini, diantaranya, untuk pemotongan ternak betina, harus diseleksi benar, artinya jika masih usia produktif, maka, harus tegas tindakannya (tidak diperbolehkan). Jika pemotongan sapi jantan, harus diupayakan beratnya tidak kurang dari 500 kg. Hal ini, upaya untuk menjaga populasi sapi dan perkembangnnya ke depan. Pemerintah harus mengupayakan petugas pendamping bagi peternak. Setiap desa yang ada ternaknya harus terjangkau oleh petugas, Keswan, IB dan Petugas lainnya. Agar, mendapatkan informasi dan
26 Akbar No. 218 n Juni 2016 Sapi unggul. (mif)
I penanganan ternak yang baik. Sebab, jika tidak, kesehatan hewan ditakutkan tidak terawasi. Jika hewan ternaknya sehat maka upaya penciptaan pengembangan populasi, keberhasilannya bukan hanya di sisi kuantitasnya saja, tetapi juga kwalitasnya.
NFO DESA
“Terpenting perubahan mindset peternak,” tandas Pak Huda. Jika orientasi beternaknya untuk mencari keuntungan, maka, tak bisa ditolak langkah strategis tersebut. Misal, dulu beternak itu tidak mau mengeluarkan modal untuk pakannya. Sekarang, harus berubah, mengeluarkan biaya
untuk pakan (yang sehat dan berkualitas) tak mengapa, asal studi kelayakannya masih menguntungkan. Sebab, dengan pakan yang baik akan menghasilkan kualitas ternak yang baik, harga jualpun beda dengan ternak yang diberi pakan tidak kualitas, padahal waktunya sama.n mif
Harus Siap Hadapi Bencana
Salami peserta pelatihan. (kdg)
K
abupaten Tuban harus selalu siap menghadapi bencana, baik bencana alam maupun non alam. Demikian tegas Bupati Tuban, H. Fathul Huda, saat membuka Pelatihan Relawan Penanggulangan Bencana. “Sat ini Kabupaten Tuban mendapatkan skor 175, yang berarti urutan ke 145 dari Kabupaten/Kota se Indonesia terhadap kerentanan resiko bencana alam dan non alam,” ujar Pak Bupati. Diingatkan, bahwa bencana kapanpun bisa terjadi dan semua komponen harus siap menghadapi-nya. Bencana alam yang sering terjadi di wilayah Kabu-paten Tuban, antara lain luapan air Sungai Bengawan Solo, banjir bandang di wilayah pegunungan kapur dan gelombang pasang air laut Pantai Utara Pulau Jawa (Pantura). Selain itu, harus mewaspadai bencana non alam yang disebabkan oleh kegagalan teknologi industry, karena saat ini Kabupaten Tuban sudah berkem-bang menjadi kota industry serta selalu mewaspadai adanya kebakaran hutan. Ada tiga hal penting terkait penanganan bencana, yaitu, tahap siaga darurat, darurat bencana dan paska bencana. Pak Huda, sapaan Bupati Tuban, membe-rikan apresiasi kepada para relawan, karena atas kesadaran sendiri dengan melihat potensi kerawanan bencana di
wilayah Kabupaten Tuban cukup tinggi. Dengan mengikuti pelatihan diharapkan berbagai unsur masyarakat ini mampu menjadi relawan jika bencana dating melanda. Tentunya, pengetahuan yang didapat juga dapat ditularkan kepada orang lain di sekitarnya, sehingga sikap waspada terhadap bencana dapat dimiliki semua orang. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tuban, Joko Ludiyono, mengatakan, kegiatan di Mangrove Center Desa Jenu, Kecamatan Jenu itu diselenggarakan untuk mempersiapkan relawan baru sebagaimana telah dilaksanakan setiap tahun sejak berdirinya BPBD Kabupaten Tuban tahun 2013. Kegiatan pelatihan, dengan tujuan memberikan pemahaman dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana serta mendorong peran aktif warga dalam penanganan darurat bencana. “Sejak tahun 2013 BPBD selalu mencetak relawan tanggap bencana. Mereka diharapkan menjadi ujung tombak penanganan darurat bencana jika tiba-tiba terjadi bencana di sekeliling mereka,” ujarnya. Peserta pelatihan terdiri berbagai unsur. Diantaranya, 66 relawan, 5 petugas pemadam kebakaran, 4 orang Karang Taruna, 5 perwakilan media, juga 20 orang dari Banser. Menurut Pak Joko, sapaannya, para peserta digembleng dengan berbagai materi, antara lain, Managemen Mencegah Kebakaran, Materi Medi-cal Firs Responder (MFR) dan Materi Peran BPBD Kabupaten Tuban. Selain itu, juga materi yang kaitan-nya dengan kesiapsiagaan dan pencegahan atau penanganan bencana. Dari tulisan Bayu Gawtama, "Relawan yang baik adalah yang tahu persis apa yang akan dan bisa dikerjakannya. Ketika berada di lokasi bencana ia tidak bingung dan tidak banyak bertanya apa yang mesti dikerjakan, ia bisa melihat kemampuannya sendiri dan menempatkan dirinya secara tepat sesuai kemampuannya itu. Dalam hal ini termasuk para dermawan yang secara ikhlas dan sadar diri tidak terjun langsung ke lokasi bencana lantaran khawatir justru merepotkan tim yang tengah bekerja".n kdg
Akbar No. 218 n Juni 2016 27
C Tantangan Generasi Android ERMIN
Oleh : Drs. Suwarno, MPd. Email : [email protected]
S
iapa yang tidak sedih? Siapa yang tidak menunduk haru dan pilu? Kasus demi kasus pelecehan, perkosaan, penistaan, bahkan sampai pembunuhan sadis mulai terkuak muncul ke permukaan. Diawali dari kasus Yuyun di Bengkulu yang sangat heboh. Lalu kasus yang lain susul menyusul terkuak dan terbongkar. Yuyun gadis 14 tahun asal Kabupaten Rejanglebong, Bengkulu. Yuyun merupakan pelajar kelas II SMP Negeri 5, Kecamatan Padang Ulak Tanding. Gadis malang itu diperkosa oleh 14 pemuda usai pulang sekolah pada bulan April, dan setelah itu dibunuh. Tragis sekali nasibnya. Muncul lagi kasus pemerkosaan dan pembunuhan yang lebih “gila”. Kasus pemerkosaan dan pembunuhan EnoParinah 19 tahun di Banten yang amat tragis ini menimbulkan banyak kegeraman pada masyarakat. Pelaku perkosaan pada Eno adalah siswa yang baru duduk di bangku SMP disertai beberapa orang dewasa. Mereka dengan kejam merendahkan martabat serta hak asasi perempuan hanya karena ditolak cintanya.Eno tewas dengan sangat mengenaskan. Ada gagang cangkul yang dimasukan ke dalam alat vitalnya. Ngeri sekali kita membayangkannya. Jawa Pos (14 Mei 2016) juga memberitakan bahwa Bunga (nama samaran) 14 tahun, di Kali Bokor Surabaya dicabuli dan diperkosa oleh delapan anak sebayanya. Pelaku paling muda berusia 9 tahun, dan tertua 14 tahun. Parah, dan menyedihkan. Kasus lokal juga muncul, dari Radar Tuban(Kamis 19 Mei 2016) pencabulan pada seorang siswi yang baru duduk di kelas II SD.
28 Akbar No. 218 n Juni 2016
Kejadian yang menimpa gadis Desa Dawung, Palang itu menurut pihak berwajib pemicunya adalah video porno, dari ponsel. Milik siswa tertua kelas II SMP yang ibunya kerja sebagai TKI di Malaysia. Kasatreskrim Polres Tuban AKP Suharta mengomentari ponsel penyebab rusaknya mental bocah-bocah pelaku. Kata beliau yang menonton video porno tersebut terdapat 10 anak. Inilah dampak teknologi yang kini sudah kita mulai rasakan. Pengaruh ponsel canggih, media gambar bergerak (audio visual) yang mudah diunduh dan diakses menyebabkan generasi muda gelap mata dan hatinya. Mereka kotori jiwa dan otaknya dengan tontonan yang tidak layak. Hakikat Perubahan Zaman Dunia tidak statis. Dunia bergerak dinamis. Situasi zaman selalu berubah dan berkembang. Hari ini tidak sama dengan kemarin. Bulan lalu tidak sama dengan bulan sekarang, tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Masa mendatang jauh lebih berkembang lagi, teknologi berkembang secara eksponesial (lebih cepat). Memang kemajuan teknologi saat ini tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Berbagi informasi yang terjadi diberbagai belahan dunia kini dapat langsung kita ketahui berkat kemajuan teknologi. Inilah realitas era global. Di era ini kemajuan teknologi dengan segala dampak dan konsekwensinya adalah sebuah keniscayaan. Sulit kita hindari. Tapi kita harus berupaya mengantisipasinya. Plus Minus Kemajuan Teknologi Informasi Perkembangan kemajuan teknologi komunikasi dengan kian
canggihnya iphone dan android memang sangat baik bagi semua kalangan terutama untuk para remaja. Mereka dengan leluasa bisa menambah wawasan, melalui internet di android, kita dapat dengan mudah menemukan informasiinformasi yang penting diketahui oleh pembaca. Inilah yang menyajikan kepada kita kekuatan daya imajinasi dan teknologi komunikasi yang memungkinkan tersebarnya informasi dalam kualitas yang hampir sempurna dalam waktu yang sangat cepat. Namun, dibalik dampak positif tersebut, tersembunyi pengaruh buruk teknologi informasi melalui android yang sudah meluas ini. Bila anak-anak dan remaja dibiarkan menggunakan berpaket internet secara sembarangan, pengaruhnya bisa jadi sangat destruktif. Pengaruh buruk itu antara lain 1) Pengaruh buruk dari bermain games android yang berlebihan. Salah satu contoh pengaruh buruknya adalah kemungkinan besar tanpa sepengetahuan orangtua, anak 'mengkonsumsi' games yang menonjolkan unsur-unsur seperti kekerasan dan agresivitas. Banyak pakar pendidikan mensinyalir bahwa games beraroma kekerasan dan agresi ini adalah pemicu munculnya perilaku-perilaku agresif dan sadistis pada diri anak. 2) Pengaruh pornografi yang berbahaya. Melalui internetlah berbagai materi bermuatan seks, kekerasan, dan lain-lain dijajakan secara terbuka dan tanpa penghalang. Sebuah studi yang menunjukkan bahwa satu dari 12 anak di Canada sering menerima pesan yang berisi muatan seks, tawaran seks, saat tengah berselancar di internet. 3) Malas belajar dan malas berfikir. Kecanduan
C bermain android ditengarai memicu anak menjadi malas menulis, menggambar ataupun melakukan aktivitas sosial. Kecanduan bermain android bisa terjadi terutama karena sejak awal orangtua tidak membuat aturan bermain teknologi ini di rumah. Perlunya Solusi Komprehensif Dari bahaya yang mengancam tersebut, masyarakat perlu waspada. Presiden Jokowi bahkan telah menyatakan bahwa bangsa ini telah mengalami darurat kekerasan seksual selain darurat narkoba. Maka peningkatan kewaspadaan adalah hal yang tidak bisa kita tawar lagi. Prof. Akh. Muzakki di Jawa Pos (19 Mei 2016) memberikan solusi untuk meningkatkan kewaspadaan semacam itu perlu adanya pilar pendidikan yang lebih kuat pada ranah masyarakat. Beliau mengusulkan supaya masyarakat membentuk FKDP (Forum Kewaspadaan Dini Pendidikan), dan perlu juga membentuk FKDM (Forum Kewasdaan Dini Masyarakat). Melalui dua forum tersebut masyarakat segera dapat berkordinasi untuk menindaklanjuti segala kemungkinan yang bisa dilaksanakan untuk mengatasi berbagai penyimpangan yang terjadi di kalangan remaja kita. Selain kewaspadaan secara kemasyarakatan perlu penanaman nilai keagamaan yang kokoh di lingkungan keluarga. Di samping itu, orang tua harus pandai membuat “time management” agar kegiatan
ERMIN
anak di rumah dalam kendali waktu yang efektif dan efisien. Pengaturan waktu ini perlu dilakukan agar anak tidak berpikir bahwa bermain android atau komputer adalah satusatunya kegiatan yang menarik bagi mereka. Pengaturan ini perlu diperhatikan secara ketat oleh orangtua, setidaknya sampai anak berusia 12 tahun. Pada usia yang lebih dewasa lagi, diharapkan anak sudah lebih mampu mengatur waktu dengan baik.
Kuncinya memang ada di basis keluarga, karena waktu anak atau remaja kita terbanyak ada di tengah keluarga mereka. Maka, menimbang untung ruginya mengenalkan android atau komputer pada anak, pada akhirnya memang amat tergantung pada kesiapan orangtua dalam mengenalkan dan mengawasi putera puteri mereka.
Selain itu, juga pihak sekolah/madrasah atau lembaga pendidikan formal harus ikut andil dalam memberikan pengarahan terbaik agar siswa/siswi dapat mempergunakan teknologi infor-masi dan komunikasi ke arah yang positif. Pemerintah sebagai pengen-dali semua sistem penyedia infor-masi harusnya lebih aktif dalam mengontrol penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk generasi anak bangsa ini. Baik dan buruknya generasi mendatang bisa tercermin dari kondisi remaja dan pemuda saat ini. Jangan sampai remaja saat ini dirusak moralnya oleh sajian dari teknologi android yang bebas tanpa batas. Itulah tantangan berat yang dihadapi “generasi android” saat ini. Semoga Kabupaten Bumi Wali diselamatkan Allah SWT dari semua yang merusak itu.n Amiin.
Bermain android ditengarai memicu anak menjadi malas menulis, menggambar ataupun melakukan aktivitas sosial. Kecanduan bermain android bisa terjadi terutama karena sejak awal orangtua tidak membuat aturan bermain teknologi ini di rumah.
Akbar No. 218 n Juni 2016
29
T Djawoto: Duta Besar dan Tokoh Jurnalis Internasional OKOH KITA
Sejarah hidup Djawoto menggambarkan dengan jelas bahwa sejak muda sekali ia sudah menjadi nasionalis kiri yang berjuang melawan kolonialisme Belanda, kemudian terjun dalam dunia pendidikan sebagai guru, sebelum dalam jangka waktu yang lama sekali menjadi wartawan dan pimpinan Kantor Berita Nasional Antara, dan kemudian dipilih oleh Presiden Soekarno menjadi Duta Besar RI untuk RRT dan Mongolia. Sikapnya sebagai nasionalis kiri yang mendukung berbagai politik Bung Karno tidak saja diembannya ketika ia bekerja sebagai wartawan atau Ketua PWI-Pusat, atau Sekretaris Jenderal PWAA (Persatuan Wartawan Asia-Afrika) melainkan juga ketika sudah menjadi Duta Besar (Dubes).
Dari Guru Terjun ke Dunia Politik DJAWOTO lahir 10 Agustus 1906 di Tuban, Jawa Timur, berasal dari keluarga pangreh praja. Setelah menamatkan sekolah menengahnya, Djawoto mengikuti kursus guru dan kemudian ia menjadi guru di berbagai sekolah swasta antara lain di Taman Siswa yang dipimpin Ki Hadjar Dewantara, Pamong Putra dan Tjahaja Kemadjuan, di Kepu, Jakarta. Ia mengabdikan dirinya sebagai guru selama 15 tahun. Sejak muda Djawoto sudah ikut dalam perjuangan untuk memajukan bangsa dan melawan kolonialisme Belanda. Sejak tahun 1927 ia sudah menjadi sekretaris PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia) yang dipimpin HOS Tjokroaminoto di Makassar dan kemudian pindah menjadi anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dipimpin Bung Karno. Ketika PNI dibubarkan oleh Mr. Sartono, Djawoto bergabung dengan PNI (Pendidikan Nasional Indonesia) di bawah pimpinan Sjahrir. Dan setelah kemerdekaan, ia bergabung dengan Partai Sosialis yang dipimpin oleh Amir Sjarifuddin dan Sjahrir. Ia menjabat sebagai Kepala Departemen Pendidikan dari partai tersebut. Ketika Partai Sosialis pecah pada bulan Februari 1948, kelompok Sjahrir membentuk Partai Sosialis Indonesia (PSI) sementara kelompok Amir Sjarifuddin membentuk Partai Sosialis. Djawoto tidak memilih salah satu dari keduanya, melainkan memusatkan perhatian dan tenaganya pada Kantor Berita “Antara”. Selama pendudukan tentara Jepang ia bekerja di kantor berita “Domei” bersama Adam Malik, dan kemudian, setelah Jepang kalah, ia bekerja di kantor
30 Akbar No. 218 n Juni 2016
berita “Antara”. Pada masa revolusi kemerdekaan, Djawoto ikut aktif berjuang bersama-sama dengan para pemuda lainnya. Ia termasuk salah seorang yang bersama-sama dengan Adam Malik, Chaerul Saleh, Sukarni, B.M. Diah, Anwar Tjokroaminoto, Harsono Tjokroaminoto, Pandu Karta Wiguna, Wikana, Supeno, Trimurti, Dr. Muwardi, Sudiro, Sutomo (Bung Tomo), Chailid Rasjidi, Maruto Nitimihardjo, dan lain-lain terlibat dalam "Peristiwa Rengasdengklok", yang memaksa Bung Karno dan Bung Hatta mengumumkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Karier Djawoto terus bersinar, ia diangkat menjadi anggota DPR-GR, anggota MPRS, anggota Pengurus Besar Front Nasional dan juga anggota Dewan Pertimbangan Pers (1963). Pada tahun 1964 ia diangkat oleh Presiden Soekarno menjadi Duta Besar Indonesia untuk Republik Rakyat Cina dan Republik Rakyat Mongolia yang berkedudukan di Beijing. Terjun ke Dunia Pers Djawoto seorang otodidak. Ia menguasai bahasa Belanda, Inggris dan menekuni ilmu ekonomi dan politik. Djawoto juga belajar sendiri untuk menjadi wartawan dengan membaca setiap hari. Bukunya "Jurnalistik dalam Praktek" adalah hasil pengalaman pekerjaannya sehari-hari. Sejak tahun 1928 Djawoto sudah mulai menulis sebagai wartawan sampai kedatangan tentara pendudukan Jepang. Selama Perang Dunia II Djawoto bekerja sama dengan Adam Malik di Kantor Berita "Domei", satu-satunya kantor berita yang diizinkan hidup selama pendudukan Jepang. Pada tahun 1945 Kantor Berita "Antara" dibuka kembali dan Djawoto kembali bekerja untuk kantor berita tersebut. Ketika Yogyakarta menjadi ibu kota Republik Indonesia, kantor berita ini pun pindah ke Yogyakarta dan Djawoto dipilih menjadi
T
OKOH KITA
pemimpin Redaksi. Karier Djawoto sebagai wartawan terus menanjak. Pada tahun 1950-an ia terpilih sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Ia dipilih kembali untuk jabatan tersebut pada kongres PWI di Makassar, 26 Mei 1961. Sebagai anggota Dewan Kehormatan PWI, Djawoto bersama H. Agus Salim menyusun untuk pertama kalinya Kode Etik Jurnalistik (KEJ) PWI. Kiprah di Dunia internasional Pada tahun 1950-an Djawoto memimpin Lembaga Persahabatan Indonesia-Tiongkok. Sebagai ketua PWI pusat, pada 1962 Djawoto mengemukakan kepada Presiden Soekarno usul penyelenggaraan Konferensi Wartawan Asia Afrika di Bandung. Konferensi ini terselenggara pada 1965, sementara gagasan awalnya telah tercetus sejak Konferensi Asia Afrika pada 1955. Sebelumnya, pada 24 April 1963 ia terpilih menjadi Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Asia-Afrika (PWAA). Ketika G-30-S meletus, Djawoto dan keluarganya tidak kembali ke Indonesia karena khawatir keselamatan nyawanya terancam. Karena itu Djawoto dan keluarganya menetap di Beijing. Setelah peristiwa G-30S itu, Presiden Soekarno tersingkir dan terjadilah pembersihan besar-besaran di Indonesia atas semua orang yang pernah terlibat dalam pemerintahan Soekarno dan mereka yang dicurigai sebagai anggota atau simpatisan PKI dan ormas-ormasnya. Dalam situasi demikian itu, pada 16 April 1966 Djawoto dengan tegas berpihak dan membela Presiden Soekarno, memutuskan meletakkan jabatannya sebagai Dubes Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk RRT dan Republik Mongolia, karena tidak mau bekerja di bawah pemerintahan Orde Baru. Segera sesudah itu, ia kembali ke bidang kewartawanan dengan menjabat Sekjen PWAA sampai tahun 1978. Penghormatan yang Tinggi di Beijing Selama Djawoto menjabat sebagai Sekjen PWAA, betapa besar penghargaan kalangan Persatuan Wartawan Seluruh Tiongkok (All China Journalists Association) dan pemerintah Tiongkok terhadap Djawoto. Ia bersama keluarganya mendiami suatu gedung yang besar, yang tadinya dipakai oleh kalangan diplomatik dari negara sahabat Tiongkok. Untuk keperluan sehari-hari disediakan satu mobil limousine, serupa yang dipakai oleh para pemimpin tertinggi Tiongkok, bersama sopir yang siap setiap waktu dibutuhkan. Bahkan, untuk menjaga keselamatan Djawoto kalau pergi ke mana pun selalu ada pengawal atau ajudannya. Penghargaan yang tinggi terhadap Djawoto tercermin juga dari seringnya ia mendapat undangan
untuk menghadiri upacara dan peristiwa-peristiwa penting. Entah sudah berapa kali ia naik di bangunan kuno yang terkenal di seluruh dunia, Tian An Men, bersama Ketua Mao Tse Tung, PM Chou En-lai dan pembesar-pembesar pemerintah dan Partai Komunis Tiongkok ketika merayakan Hari Kemerdekaan RRT, 1 Oktober. Dan entah berapa kali ia diundang untuk hadir dalam jamuan-jamuan makan yang diselenggarakan di Gedung Kongres Rakyat yang megah itu, yang biasanya disediakan untuk tokoh-tokoh penting dan tamu-tamu terhormat. Penghormatan dari pemerintah dan rakyat Tiongkok terhadap Djawoto ini tidak hanya karena ia menjabat sebagai Sekjen PWAA, tetapi juga karena kualitasnya sebagai sahabat Tiongkok, yang sudah disandangnya sejak di Indonesia ketika ia menjadi pimpinan Lembaga Persahabatan Indonesia-Tiongkok. Boleh dikatakan bahwa ketokohan Djawoto di Tiongkok sebagai Sekjen PWAA, sejajar dengan tamu-tamu atau sahabat-sahabat Tiongkok asing lainnya, di antaranya: Anna Louise Strong (dari Amerika), Israel Epstein (Amerika), Rewy Alley (Selandia Baru), Muller (Jerman) Sidney Shapiro (Amerika). Pindah ke Negeri Kincir Angin Dengan wafatnya Mao Tse-tung pada tanggal 9 September tahun 1976, maka secara bertahap, politik dalam negeri dan luar negeri Tiongkok mengalami perubahan. Setelah menetap di Tiongkok selama sekitar 15 tahun, Djawoto beserta keluarganya berangkat dari Tiongkok ke ujung Eropa Barat. Djawoto pindah ke Belanda pada 1979 hingga wafatnya. Djawoto meninggal dunia pada tanggal 24 Desember 1992, dalam usia 86 tahun. Diantar oleh beratus-ratus orang dari kalangan masyarakat Indonesia dan Belanda yang turut berdukacita mendampingi keluarganya. Jenazah Djawoto dimakamkan di pemakaman Wetsgaarde, Osdorp, Amsterdam pada tanggal 30 Desember 1992. Pejuang dan perintis kemerdekaan sekaligus tokoh kewartawanan Indonesia ini wafat dengan meninggalkan seorang isteri dan empat putera puteri yang dicintainya. Djawoto menikah dengan Hasnah Sutan Diatas (lahir di Padang 28 Januari 1922 – wafat 4 November 2005), yang berasal dari Minangkabau dan dikaruniai empat orang anak: Djoko Martono, Ratna Aprilia, Ratni Utami, dan Ratni Lestari. Djawoto adalah “tokoh besar”, besar sebagai pejuang nasionalis, besar sebagai wartawan, besar sebagai Soekarnois, dan besar sebagai pejuang rakyat Asia-Afrika. Dan ia menjadi lebih besar lagi, karena dalam segala kebesarannya itu ia selalu tetap bersikap rendah hati, hidup sederhana, tidak suka menyombongkan diri, dan tidak suka menyakiti hati orang lain.n (Drs. Nurcholis)
Akbar No. 218 n Juni 2016 31
W Budidaya Singkong Gajah ira USAHA
Anak Prof. Ristono panen Singkong Gajah
S
ingkong yang dalam bahasa latinnya disebut Manihot Esculenta Crantz sangat akrab dengan kita.Tanaman asli Brazil yang sering disebut ketela pohon ini sering dianggap sebagai makanan kelas rendah.Singkong atau ubi kayu itu dibawa masuk ke Indonesia oleh bangsa Portugis, salah satu bangsa asing yang pernah menjajah negara kita. Di daerah asalnya (Amerika Latin) umbi singkong merupakan makanan pokok karena diketahui memiliki kalori yang tinggi.Bangsa Portugis tidak sekadar membawa singkong namun mulai membuat program untuk menanam singkong secara komersial mengingat potensi besar yang dapat dihasilkan. Singkong merupakan tanaman yang unik. Tanaman ini mudah tumbuh, sekalipun di daerah tandus yang tanahnya miskin akan hara. Singkong tidak memerlukan perawatan yang rumit tapi biasanya memiliki hasil panen cukup besar (setelah 9 bulan masa tanam).
32 Akbar No. 218 n Juni 2016
Hampir tidak ada yang terbuang dari ketela pohon.Seluruh bagian dari tanaman ini mengandung potensi pemanfaatan yang besar. Daunnya kaya akan zat besi dan sering dijadikan sayuran. Bagian utamanya yaitu umbi, memiliki kalori yang lebih tinggi dari nasi. Karena berbagai keunggulannya,saat ini singkong telah naik kelas menjadi tanaman yang mengandung gengsi. Singkong tidak lagi dianggap makanan kelas bawah.Apalagi kini sudah banyak makanan olahan singkong yang enak, bergizi, dan memiliki tampilan yang menarik.Selain itu, singkong dapat digunakan sebagai pakan alternatif bagi ternak hingga bahan baku industri yang bisa mendatangkan keuntungan yang sangat banyak. Hal ini ditunjang dengan adanya pemuliaan tanaman singkong oleh para ahli pertanian di Indonesia. Jika jaman dulu kita mengenal ketela mukibat yang umbinya lumayan besar, kini telah muncul singkong super yang diberi nama Singkong Gajah. Prof. Dr. Ristono MS, seorang peneliti dari Samarinda yang telah berhasil menemukan varietas singkong super tersebut. Singkong temuan mantan Dosen di Universitas Mulawarman ini memiliki umbi berukuran super besar dibandingkan singkong pada umumnya.Jika singkong biasa berat umbi maksimal rata-rata 3 kg per pohon, singkong gajah bisa mencapai 50 kg per pohon. Disamping ukurannya yang super besar, rasa singkong gajah relatif lebih enak, gurih, dan tekstur umbinya lebih lunak dibandingkan dengan singkong biasa. Selain itu, lebih tahan terhadap serangan hama.
Mengingat banyaknya permintaan singkong baik untuk makanan, pakan ternak, maupun bahan baku industri, budidaya singkong gajah ini layak untuk diusahakan secara profitable. Apalagi bibit singkong gajah kini sudah banyak menyebar di Indonesia, seperti di Jawa Timur dan Kalimantan Timur. Budidaya Singkong Gajah Lokasi yang bagus untuk budidaya singkong gajah adalah tanah yang berstruktur remah, gembur, tidak terlalu liat, dan tidak terlalu poros serta kaya bahan organik. Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk budidaya ketela pohon berkisar antara 4,5 – 8,0 dengan pH ideal 5,8. Agar dapat berproduksi optimal, singkong memerlukan curah hujan 150- 200 mm pada umur 1-3 bulan, 250-300 mm pada umur 4-7 bulan, dan 100- 150 mm pada fase menjelang dan saat panen (Wargiono, dkk, 2006). Suhu udara minimal bagi tumbuhnya singkong sekitar 10 derajat C dengan kelembaban udara antara 60%-65%.Suhu di bawah itu dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat dan menjadi kerdil karena pertumbuhan bunga yang kurang sempurna.Sinar matahari yang dibutuhkan bagi tanaman singkong sekitar 10 jam/hari terutama untuk kesuburan daun dan perkembangan umbinya. Untuk bibit, pilih varietas unggul yang berasal dari tanaman induk yang cukup tua (10-12 bulan), pertumbuhannya normal dan sehat, batang telah berkayu dan berdiameter ± 2,5 cm lurus, serta belum tumbuh tunastunas baru. Sebelum proses penanaman, perlu dilakukan pengolahan media tanam, meliputi persiapan, pembukaan dan pembersihan lahan, pembentukan bedelangan (guludan), serta pengapuran (bila diperlukan). Pada proses persiapan, lakukan pengukuran pH tanah dan analisa jenis tanah untuk mengetahui ketersediaan unsur hara dan kandungan bahan organiknya. Perhitungkan jadwal tanam dengan asumsi waktu
W tanam bersamaan dengan tanaman lainnya (tumpang sari), sehingga sekaligus dapat memproduksi beberapa variasi tanaman sejenis. Pengaturan volume produksi juga penting diperhitungkan karena berkaitan erat dengan perkiraan harga saat panen dan pasar. Pembukaandanpembersihanla han dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar tanaman sebelumnya untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang, menghilangkan tumbuhan inang bagi hama, dan penyakit yang mungkin ada. Bedengan (pelarikan) dibuat pada saat lahan sudah 70% dari tahap penyelesaian.Tujuannya untuk memudahkan penanaman dan pemeliharaan tanaman.Pengapuran diberikan pada waktu pembajakan atau saat pembentukan bedengan kasar bersamaan dengan pemberian pupuk kandang untuk menaikan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat asam/tanah gambut. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit/kaptan (CaCO3) dengan dosis 1 - 2,5 ton/hektar. Penentuan pola tanam harus memperhatikan musim dan curah hujan.Pada lahan tegalan/kering, waktu tanam yang paling baik adalah awal musim hujan atau setelah penanaman padi.Jarak tanam yang digunakan pada pola monokultur adalah 80 x 120 cm. Untuk menjaga pertumbuhan dari bibit, sebelum ditanam disarankan agar bibit direndam terlebih dahulu dengan pupuk hayati MiG-6 Plus yang telah dicampur dengan air selama 3-4 jam.Cara penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung bawah stek singkong, kemudian tanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian stek tertimbun tanah.Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal saja. Apabila ada bibit yang mati/abnormal segera dilakukan penyulaman, dengan cara mencabut dan mengganti dengan bibit baru. penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari, saat cuaca
ira USAHA
tidak terlalu panas. Jenis rumput/tanaman liar/ pengganggu (gulma) yang hidup di sekitar tanaman perlu dibuang dengan cara penyiangan. Dalam satu musim penanaman minimal dilakukan 2 kali penyiangan.Periode kritis atau periode tanaman harus bebas gangguan gulma adalah antara 5-10 minggu setelah tanam.Bila pengendalian gulma tidak dilakukan selama periode kritis tersebut, produktivitas dapat turun sampai 75% dibandingkan kondisi bebas gulma. Selanjutnya, perlu dilakukan pembumbunan. Caranya dengan menggemburkan tanah di sekitar tanaman dan setelah itu dibuat seperti
gundukan.Untuk menghemat biaya, waktu pembubunan bersamaan dengan penyiangan. Lakukan pemangkasan atau pembuangan tunas karena karena minimal setiap pohon harus mempunyai 2 atau 3 cabang, agar bisa digunakan sebagai bibit lagi di musim tanam mendatang. Pada masa pemupukan sebaiknya menggunakan pupuk cair organik MiG-6 Plus.Dengan demikian maka penggunaan pupuk kimia akan berkurang sampai dengan 50%. Secara tidak langsung hal tersebut akan menghemat biaya untuk pemupukan. Tiga (3) hari sebelum proses penanaman berikan 2 liter MiG-6 Plus dengan dosis 1 liter MiG-6 Plus dicampur 200 liter air. Semprotkan pupuk pada lahan yang akan ditanami singkong. Untuk pemupukan susulan diberikan ketika tanaman berumur 2 bulan yakni dengan memberikan MiG-6 Plus sebanyak 2 liter, kemudian pemberian pupuk dilakukan setiap 2 bulan sekali dengan dosis yang sama
sampai tanaman berumur 8 bulan. Selain memberikan pupuk organik, ketika tanaman berumur 60-90 hari juga diberikan pupuk kimia. Pupuk yang diberikan berupa Urea: 85 kg dan KCL: 85 kg. Lima (5) hari setelah masa tanam sebaiknya juga diberikan pupuk NPK berupa campuran TSP/SP36: 75 kg dan KCL: 50 kg pada lahan 1 hektar. Dosis untuk satu bibit tanaman diberikan pupuk sebanyak 22.5 gram dengan cara ditugalkan pada jarak 15 cm dari tanaman dengan kedalaman 10 cm. Upayakan untuk membuat tanaman singkong dalam keadaan lembab tapi tidak tergenang air hingga umur 5 bulan setelah tanam.Pada musim kemarau lakukan penyiraman dengan sistem genangan di sela-sela bedengan sehingga air lebih mudah meresap ke dalam tanah dan diserap oleh akar tanaman.Sistem genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan berdasarkan kebutuhan. Singkong memiliki ketahanan yang baik terhadap serangan hama dan penyakit. Namun, apabila diperlukan bisa dilakukan penyemprotan pestisida sesuai dosis pada pagi hari setelah embun hilang atau pada sore hari.Penggunaan pestisida harus hatihati agar serangga yang menguntungkan tidak ikut mati. Singkong gajah bisa dipanen ketika memasuki usia 8 bulan (untuk bahan makanan) atau 10 bulan (untuk dijadikan tepung). Ciri tanaman singkong sudah siap panen adalah daunnya menguning dan berguguran. Lakukan pemangkasan batang sepertiganya atau sekitar 15 cm, sehingga memudahkan untuk mencabutnya. Jangan menggunakan cangkul dikhawatirkan mengenai umbi singkong. Saat panen, kita bisa sekaligus mengambil bibit dari batang-batang singkong pilihan.Pilihlah cabang yang tidak terlalu tua dan juga tidak terlampau muda.Tebang dengan pisau tajam, lalu potong-potong menjadi ukuran sekitar 20 cm. Singkong gajah, budidaya mudah dengan hasil melimpah.n (Disarikan dari http://www.singkonggajahindonesia.com dan sumber-sumber lain)
Akbar No. 218 n Juni 2016 33
S
ELINGAN
Kucurkan 120 Ekor Kambing Pak Kanif “ngedrop” kambing. (ydh)
D
inas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) K a b u p a t e n Tu b a n memberikan bantuan 120 ekor kambing kepada 12 Kelompok Usaha Bersama (KUBE) di 4 kecamatan dari 20 kecamatan yang ada di Bumi Wali. Bantuan ternak kambing ini dilakukan langsung kepada penerima melalui Program Kegiatan Pembinaan dan Bantuan Bagi Keluarga Rawan Sosial Tahun Anggaran 2016. “Tahun ini, bantuan ternak kambing diberikan pada Kecamatan Merakurak, Jenu, Jatirogo dan Parengan. Masing-masing desa terdiri dari 3 KUBE. Setiap KUBE 10 orang penerima, berdasarkan proposal yang diusulkan masing-masing kepala desa dan telah diverifikasi,” kata Abd. Latif, S.H, Kepala Bidang (Kabid) Bantuan, Pemberdayaan dan Organisasi Sosial Dinsosnaker Kabupaten Tuban. Menurutnya, pemberian bantuan, yang rutin dilaksanakan setiap tahun ini, dimaksudkan untuk memberdayakan keluarga miskin atau keluarga rawan sosial ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Agar dalam pengelolaannya sesuai harapan, tambahnya, terlebih dahulu penerima diberikan pemahaman agar bantuan yang sifatnya sebagai stimulus tersebut benar-
34 Akbar No. 218 n Juni 2016
benar dimanfaatkan dengan baik dan tepat sasaran. Bahkan, Dinsosnaker Tuban secara rutin melaksanakan monitoring dan evaluasi bantuan sosial pada penerima manfaat yang telah mendapatkan bantuan sosial tersebut. Kepala Seksi (kasi) Bantuan Bencana dan Pemberdayaan Keluarga, Kanif Kamanudin, S.Sos, menambahkan, bantuan kambing tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan, ketrampilan, dan menumbuhkan kegiatan usaha ekonomi produktif bagi keluarga miskin serta rawan sosial ekonomi. Bantuan yang diberikan pada masing-masing kelompok, diharapkan mampu mengubah pola pikir dan sikap mental keluarga miskin dari ketergantungan dan konsumtif menjadi mandiri dan produktif. Menurut, Pak Kanif, sapaannya, KUBE bisa menjadi salah satu wadah untuk meningkatkan kegiatan usaha ekonomi produktif khususnya dalam peningkatan pendapatan keluarga serta sebagai motivasi untuk lebih maju baik secara ekonomi maupun sosial. Adapun bantuan ternak kambing yang diberikan, lanjutnya, merupakan pancingan bagi KUBE dalam mengembangkan dan menjalankan usaha ekonomi produktifnya.
Menghemat Biaya Dia menjelaskan, bantuan yang diberikan sudah sesuai dengan permintaan kelompok. Tidak melulu bantuan ternak, kelompok yang ada bisa saja mendapatkan pelatihan atau bentuk bantuan yang lain. Pak Kanif, mengatakan, sebelumnya bahkan ada yang meminta diberikan pelatihan untuk home industry, seperti pembuatan batik cap, tempe, dan lain sebagainya. Laki-laki berkumis ini, tidak memungkiri masih banyak masyarakat miskin yang meminta bantuan berupa hewan ternak, sebab dinilai mudah cara pemeliharaannya. Selain itu, juga menghemat biaya karena bisa mendapatkan pakan di sekitar tempat tinggalnya. Pak Kanif berharap bantuan tersebut bisa dikelola dengan baik sehingga dapat menekan dan mengurangi perkembangan penduduk miskin di Tuban.n ydh
Pak Latif. (ydh)
B Unirow Ladang Berkesenian UDAYA
kampus ini ladang subur untuk berkesenian,” lontarnya, disela kegiatannya sebagai pemateri workshop penulisan puisi.
Sosiawan Leak, saat baca puisi. (mif)
Penyair, Sosiawan Leak, asal Solo, mengapresisasi antusias mahasiswa terhadap kepenulisan sastra, serta menyatakan atmosfer berkesenian sangat menjanjikan di Unirow.
P
ernyataan seniman yang malang melintang di kancah kepenyairan, teaterdan penulisan fiksi nasional itu, disampaikan padaacara dies natalis ke-11 “Himbas” (Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Satra Indonesia). Dalam kesempatan itu, Leak, sapaan akrabnya, didapuk menjadi pemateri workshop penulisan puisi, khususnya mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unirow. “Sebelumnya saya tak pernah tahu Unirow, begitu tahu, merasakan atmosfer yang baik, dan merasakan
Launching Buku Selain sebagai pemateri workshop, Sosiawan Leak juga memeriahkan acara dies natalis “Himbas” dengan membaca puisinya dari antologi berjudul “Wathathita” (Terhenyak/Kaget). Beberapa judul dalam antologi tersebut, dibacakannya dengan amat elok, sehingga mahasiswa, dosenserta beberapa undangan dari komnitas seni di Tuban terkesan dan kagum. Sosiawan Leak sengaja memilih Unirow sebagai ajang performance baca puisinya, sekalian berkepentingan terhadap launching karyanya berupa antologi puisi berjudul “Wathathita”, sekaligus berkeinginan menjalin kemitraan lebih jauh dengan Unirow. Kemitraan yang dibangun Unirow bukan hanya dengan Sosiawan Leak, tercatat beberapa seniman besar Indonesia, seperti Aming Aminudin, Herry Lamongan, Tengsu Tjahyono dan lainnya, merupakan mitra Unirow dalam membangkitkan dan mengembangkan bakat mahasiswa baik itu Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, juga Prodi lain yang mempunyai ketertarikan pada dunia sastra. Seusai baca puisi, malam pamungkas, acara talk show Sosiawan sebagai nara sumber. Dalam talkshow dimeriahkan beberapa pertunjukkan musik dari komunitas “Gamelawan” dari Paciran Lamongan, Komunitas “Langit”, sebuah komunitas pelaku penulisan sastra dari Tuban, serta komunitas musik tradisional dari Rengel “UnenUnen”, komunitas sastra “Warna” dan komunitas musik “Buncah” dari Pati Jawa Tengah, ditambah
beberapa penampilan alumni Prodi Bahasa danSastra Indonesia. Bekali Kemampuan Lulusan Dihelatnya dies natalis “Himbas” yang bergelora dan meriah ini, menurut Ka-Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Dra. Sri Yanuarsih, M.Pd, diniatkan agar para lulusan mempunya ketrampilan Ka-Prodi Bahasa dan Sastra sesuai karakter keIndonesia. (mif) prodiannya. Terlebih, dalam bursa kerja, diharapkanlulusan yang berketrampilan kesusastraan maupun seni pertunjukan (teater), mampu berkiprah di dunia kerja. Mereka yang diberi bekal melalui kemitraan dengan komunitas serta para tokoh seni seperti Sosiawan leak dan lainnya, lulusan diharapkan banyak yang menjadi penggerak teater, jurnalis serta penulis yang bagus. Menurut Ka-Lab Bahasa dan Sastra Indonesia, Drs. Suhariyadi, M.Pd, bahwa sebuah Prodiharus bisa membaca peluang. Untuk itu, laboratorium harus mampu pula membaca dan meresponnya dengan cara memproses mahasiswa ke arah kebutuhan. Sebenarnya, tidak pernah ada keberhasilan yang baik, jika tidak mau berproses dengan baik. Proses adalah kunci dari keberhasilan dan prestasi. Pak Har, sapaannya, berpesan kepada mahasiswa, darimanapun latar belakang dan datangnya, jika mau tekun berproses, tentu akan mendapati ketrampilan. Begitu pun universitas, melalui laborat maupun
Akbar No. 218 n Juni 2016 35
B
UDAYA
pembibingan lainnya, harus bersusah payah menyediakan diri, pikiran dan waktu untukpeningkatan prestasi. Unirow, menurutnya, seperti yang dikatakan Sosiwan Leak, yakni ladang subur berkesenian. Tetapi, harus diingat, tidak boleh terlena dan putus pembinaan. Proses membutuhkan kontinuitas.n mif
Saat workshop. (mif)
C
Bedhug Dening: Djajus Pete
Bedhug masjidku swarane kepleg. Pangiraku, olehe kepleg kuwi merga kayu klonthongane bedhug kurang gedhe. Garis tengahe klonthongan 70 sentimeteer, dawane ora ana semeter. Kelingan yen ing kuburan ana wit jati gedhe, aku banjur rerasan karo lurah Bakir. Wose setengah usul yen dianggep prayoga, apa jati gedhe ing kuburan iku kene dianggo ngganti bedhug?
L
urah wangsulan yen arep ngrungokngrungokake luwih dhisik awit sing duwe jati iku masyarakat. Yen masyarakat sarujuk lan takmir masjid mathuk, Lurah lagi nganakake musyawarah antara LKMD, tokoh masyarakat, takmir masjid, lan alim ulama. Saka senengku duwe gagasan digatekake, gage tak kojahake marang lik merbot Khomad. Lik Khomad sing omahe cilik sedhak masjid iku paklikku cer. Wiwit taun 1960 lik Khomad enggone dadi merbot. Ayahane merbot kejabah kuwajiban nabuh bedhug minangka tandha tekane wanci sholat, uga reresik njeron masjid tekan sakupenge pekarangan. Mbukak nutup lan ngisi kolah. Mesthine lik merbot seneng duwe ponakan kaya aku sing gelem mikir kanggo apike masjid. Nanging sajrone aku kojah ngethuprus, lik merbot kaya ora butuh nyelani. Aku mung diingeti wae. Sarampunge kojahku,
36 Akbar No. 218 n Juni 2016
ERPEN lik merbot lagi kumecap. “Ckk, ora susah diganti. Bedhug iki wis apik,” wangsulane tanpa greget. “Kepleg ngonten kok sae.” “Ckk, iku rak kupingmu sing ndleya.” Mangkel aku, malah kupingku sing diluputake. Aja ora sungkan, aku kepingin balik nudhuh nganggo nalar sing genah. Apa ora lik merbot dhewe sing wis suda pangrungone?Nalare maton, patut saumpama wis suda krungon, awit kejaba umure wis 50 taun munggah, dhasare kulina brebegen bedhug kang ditabuh sasuwene dadi merbot 30 taun lawase.Mangkel aku, kupingku waras-wiris dielokake ndleya. Nanging merga aku isih bisa ngurmati wong tuwa, mula tembungku isih tak gawe sareh. “Sing mastani kepleg niku sanes kula dhewe, Lik. Kathah tiyang celak-celak mriki sing mastani ngonten.” “Wiwit madege masjid iki, bedhuge ya kuwi. Rung tau ganti. Yen bedhug iku ora apik, mesthine wis diselehake.” “Sampeyan wastani sae rak mergi sampeyan dhewe sing nabuh. Nggih banter ta, wong mireng sampeyan king celakan. Cobi sampeyan mirengaken king tebihan. King kidul mriku mawonlah, mboten sah tebih-tebih, mengke ra...”durung tutug rembugku, lik merbot terus nglungani, ninggal aku ijen ing buk regoling pekarangan masjid. Lik merbot nguripake mesin sanyo, nyedhot banyu saka sumur disekake menyang kolah. Mesin sanyo iku tukon saka dhuwit bantuwane pemerintah. Masjidku antuk bantuwan dhuwit puluhan yuta engga gelare masjidku malih gedhe ngengkreng. Jobin sing maune bata warasan, diganti tegel traso gilap, digelari karpet ijo. Serambine nggantheng dibangun tingkat. Khubah makuthane saka semen kang kukuh, digempur, diganti khubah alumunium gedhe mblendhuk. Samubarange wis dibangun. Emane isih ana sing kesingsal, prakara bedhug cilik kang swarane kepleg kuwi. Geneya ora ana sing ada-ada ngajak ngganti
C bedhug gedhe kareben swarane ulem ngumandhang? Karepku apik, urun pikiran, ngamal gagasan. Lha kok malah ditanggapi nylekit dening merbot. Nanging lik merbot ora mbantah ora nulak nalika katut diundang musyawarah. Wangune lik merbot wis bisa nggagapi yen kabeh bakal sarujuk bedhug diganti. “Leresipun sampun dangu anggen kula kepingin nawaraken jatos menika kangge sarana tempat ibadah. Soal bagaimana bedhug menika dibikin, kula sumanggakaken dhateng pihak takmir masjid ingkang langkung mangertos. Biaya negor sampai mengeluarkan kayu dari kuburan saya tanggung,” tembunge Lurah Bakir sajak mongkog. Gela atiku krungu temunge Bakir karo ora jujur iku. Kudune Bakir pratela yen gagasan ganti bedhug kuwi saka usulku. Idhe gagasanku malah dirampas tanpa rikuh pakewuh. Saka gelaku, aku kebacut wegah melu caturan. Sekdes Desiran sing keprungu semaut, kandha nyumbang seket ewu kanggo ongkos tukang. “ Wa c u c a l i pun kula tanggel,” semaute Haji Mas'ud, pedagang palawija. “Alhamdulillah... Jaza kumullohu. Mugi amal panjenengan sedaya pikantuk piwales langkung kathah saking Pangeran,” puji dongane Akmal Sholeh, ketua takmir masjid. “Lajeng, ingkang sae kadamel bedhug menika wacucal manapa pak Merbot?' pitakone Haji Mas'ud mengo menyang pernah lik merbot kang lungguh mencil ing larikan kursi mburi dhewe. “Ah, kula menika namung sadermi nabuh.” “Ya aja ngono. Iki ngono musyawarah kanggo mufakat. Golek giliging rembug gathuke panemu,” tumanggape Akmal Sholeh. “Kula kuwatos badhe mungel wacucal anu menika sae. Kadhung digega, mengke nyatanipun gek mboten sae. Ungelipun gek awon, gek mboten saged banter ngumandhang. Lah, pripun...rak kula mengke ingkang dipun paido tiyang kathah,” semambunge lik merbot. “Umumipun ingkang dipun damel bedhug menika wacucal lembu. Sae, ungelipun saged bening. Menawi saking wacucal maesa, awon, ungelipun sok kebluk,” aloke lik merbot.
ERPEN “Jangan-jangan lulange gek kendhor niku. Saka nggonku kana ya blas gadhas ndhak jelas ki, swarane. Bleg, bleg, ngono. Kadhang krungu, kadhang ora,” semaute Lurah Bakir kang mimpin musyawarah ing pendhapaning omahe, wayah bubar Isya. Dohe omahe Lurah Bakir saka masjid watara 300 meter. Isih cedhak omahku saka masjid, kurang saka 200 meter. Merga omahku cedhak masjid, aku kerep ndeleng panggarape bedhug anyar kang digarap tukang ing ngiringan masjid. Tukange loro. Siji nggarap klonthongan, sijine nggarap jlagrag tumpangane bedhug. Putusaning musyawarah, bedhuge ora dipapanake gumandhul kaya bedhug lawas, nanging ditumpangake kaya sumelehe kendhang gamelan. Lulang sapi bakal raining bedhug sumbangane Haji Mas'ud wis cepak. Kuciwane panggarape bedhug kurang rancang awit tukange kerep ora menyang. Malah antarane Lurah Bakir lan Anwar Ali kedadeyan kemreseg. Karepe Anwar Ali nembung sisa kayu arep dienggo sulam blandar payon kolah. “Kok tekan blandar kolah barang. Itu kan tidak katut diprogram,” wangsulane ditirokake Anwar Ali marang aku. “Blandar sepinten, wong ming alit mawon kok. Wit jatos sementen agengipun mongsok sisanipun sampun mboten wonten. Taktakoni ngono ki, ndadak makpendelik..., prempeng, nesu-nesu. Lho, bicaramu kok seperti ngoreksi saya. Aku dielokeke ngono.” “Takonmu ngono. Ya makcos! Wong sisane kayu sing keri ing kuburan wis embuh parane diangkut pedagang.” “Aku ki ra krungu maune. Karo isih prempalprempul njur kandha yen sisane kayu wis diedol atas musyawarah LKMD kanggo kebutuhan desa.” “Iku rak unine. Kepala SD-ku rak ya pengurus LKMD. Nyatane kok ya kresah-kresuh ora ngerti playune kayu,” tembungku. “Karepku ki rak mumpung isih ana tukang. Kena diselag ngganti blandar payon kolah sing dipangan rongos. Saiki tukange malah kerep lowok. Ning ya ora nyalahke tukange wong olehe nukang iku kanggo ngingoni anak-bojone. Yen ana sing nganggokake baune, sing kene ya ditinggal.” Tukange kang suwe ora ngaton, ditemoni Akmal Sholeh lan Lurah Bakir. Malah saka karepe Lurah,
Akbar No. 218 n Juni 2016 37
C ditambah tukang ukir. Anane Bakir gedandapan nyengkakake tukang jalaran ana sambunge karo enggone mentas dipriksa Sospol lan Irwilkab.Pancen ana sing kirim surat kaleng marang Bupati, prakara sisa kayu kuburan sprapat kibig. Sing nyurat kaleng iku benere kepala SD-ku. Ukarane disusun bareng karo aku ing tengah wengi. Anwar Ali sing ora ngerti kenthang-kimpule, misuhmisuh ketiban awu anget. Kandha marang aku yen dheweke diambu-ambu Bakir. Dirasani sing akal-akal ngaleng mendhuwur. “Ngawur tenan. Kok njur digothak-gathukake karo enggone mentas kemreseg karo aku. Bakir rak mentas didhuni Sospol, dipriksa ing kantor kecamatan.” “O....ya, ya, piye,piye,” panyelahku manthukmanthuk kaya lagi krungu kasuse Bakir dipriksa. “Jare wong kecamatan, Bakir ditekan supaya mbantu bisane bedhug iku enggal dadi.” “Lho, lho! Menggoke kok nyeklek menyang perkara bedhug. Kasuse rak penggelapan kayu jati.” “Jare merga bedhug ukuran raksasa, ngiras kena dipamerake Bupati sing arep Jumatan kliling mrene.” Panggarape bedhug disengkud, dilembur-lembur. Eling-eling asale saka idheku, mareming atiku ora kayaan weruh dadine bedhug. Garis tengahe 120 senimeter. Dadi bedhug gedhe bregas. Klonthongan lan jlagrage diukir ngrawit, diplitur meleng-meleng.Wiwite arep digunakake kanthi ngadhani tumpengan panggang buceng telung ambeng. Dikepung ing serambi masjid. Tumpenge diangkah rampung wayah tabuh Magrib kanthi nganyari swarane bedhug gedhe iku. Bedhug anyar klakon ditabuh Akmal Sholeh. Aku njombak krungu swarane sing mleset saka panganenku. Lurah Bakir uga katon mlenggong. Sawetara perangkat desa lan tokoh masyarakat kang diundang uga mlengok gumun. “Weh, lha kok gini. Bedhug gedhene sahohah kok ya nggedablug. Iki apane sing kurang sip. Padahal sesuk kuwi pak Bupati arep Jumatan keliling mrene,” guneme Bakir karo ndemek-ndemek bedhug gedhe. “Napa angsale Jumatan keliling pak Bupati niku kalih mreksani bedhug-bedhug ta, Pak?” ana swara nyangkal njalari polatane Bakir malih rengu. Bakir nyawang mider menyang pernahe santrisantri enom kaya nggoleki asaling swara. Nanging Bakir ora bisa ndumuk sapa sing mentas clebung mengkono mau. Sateruse Bakir grenengan, “Iki ing njero masjid lho. Yen guneman sing apik. Aja sengak-sengak. Dosa.” Sawenah pengurus takmir masjid ana kang banjur cluluk, supaya swarane luwih apik, njero klonthongan dipasang benthangan pir loro utawa telu kanggo getaran suara. Pire bisa digawe saka kawat biasa, diluker-luker kaya pir. Saka anane gunem kang dianggep ngerti marang akal carane gawe bedhug, njalari Bakir adreng prentah
38 Akbar No. 218 n Juni 2016
ERPEN marang Akmal Sholeh supaya bedhug iku dibongkar. “Rumangsaku wis apik swarane,” ujare Akmal Sholeh. “Eh, apik piye. Gung marem. Apike dibongkar saiki wae. Ora nubyak-nubyak. Sempit wektune yen sesuk lagi dibenahi,” wangsulane Bakir. Akmal Sholeh sing kulina grudag-grudug karo Bakir wekasane manut. Pantek kayu nyrangap kang maku ngencengi ubenge lulang dicabuti santri enom. Rai bedhug dicopot sasisih. Bakir cucul dhuwit kanggo tuku kawat menyang toko ngarep pasar.Perkara oleh berkat, akeh sing terus mulih. Mengkono uga aku. Mula aku ora ngerti sateruse, dilembur tekan jam pira bedhug anyar kuwi. Sing tak rungu sabanjure, wayah Subuh atiku kaget ngungun krungu swarane bedhug banter ngongang kuwara nggeterake atiku. Sarandhuning awakku krasa mrinding. Swarane empuk ulem kaya ndudut, kaya nggeret-nggeret atiku. Notolku kepingin mara ora kena tak candhet. Ora sabar aku metu kemulan sarung, tanpa srandhal. Lurung dalanku peteng, jemek cemer mentas udan. Lakuku kepleset-pleset. Cenunukan. Mendhunge isih nggameng. Hawane atis kemreyes. Lambeku cethatuken. Masjid sepi. Sikilku gembel blethok. Aku ngadeg ing ngarep serambi masjid. Weruh lik merbot mentas wudu, aku aruh-aruh, “Lik, lik merbot.” Lik merbot nyawang pernahku ngadeg. Epekepeke ditungkulake ndhuwur mripate, kaya ulap kena sunaring lampu. “Kula mireng swanten bedhug ulem ngumandhang, Lik. Swantene bedhug enggal ta niku wau?” “Bedhug lawas sing taktabuh.” “Ya Allah...! panguwuhku kaget. Bedhug anyar tak weruhi isih njegadhah ing ngisor kaya nalika diundhunake sore mau. Gedhe ngedhangkrang, mlompong tanpa rai. Raining bedhug kang dicopot sasisih durung dibenakake. Sikilku gemeter. Mripatku kekembeng. Atiku nangis, nangisi awakku, nangisi uripku kang isih uncla-unclu ing umur 40 taun. “Mlebua. Wisuhana sikilmu kang rusuh kuwi. Paklik melu bungah kuping atimu wis bolong, kowe wis ora sengsem marang swara bedhug,” tembunge lik merbot njalari atiku saya ngondhok-ondhok. Ya Allah, Ya Robbi. Mripatku saya kekembeng. Eluhku ora kena takampet. Aku menyang kolah karo ngeling-eling urutane wudu lan dongane wudu. Ana kopiyah nganggu cumanthel cagak. Lik merbot ngulungake kopiyah iku marang aku. Jamaah Subuh, lik merbot sing ngimami. Makmume ora akeh, mung wong wolu.n (Diambil dari buku“Kreteg Emas Jurang Gupit”, Kumpulan Crita Cekak Djajus Pete)
F i gU R
Melalui “Gemerlap” Raih ISO 9001 : 2008
Terlintas rasa bangga pada diri Kepala Dinas (Kadis) Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Tuban, Joni Martoyo, S.H, M.Hum.
B
etapa tidak, upayanya dalam memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat membuahkan Sertifikat Internasional Organization for Standardization (ISO) 9001 : 2008 dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementrian Dalam Negeri. “Ya … bagaimana ya … yang jelas itu soal dedikasi kerja,” ujarnya. Bapak yang biasa disapa Pak Joni ini, mengatakan, sertifikat tersebut merupakan keberhasilan pencapaian dalam bidang manajemen administrasi sesuai tugas dan fungsi pokok Disdukcapil, yakni memberikan pelayanan bidang kependudukan dan catatan sipil. Selain aspek manajemen, imbuhnya, juga adanya semangat dan kemauan besar Disdukcapil Tuban memberikan pelayanan yang semakin baik kepada masyarakat, mudah, cepat, dan tepat. Dicontohkan salah satu inovasinya dalam peningkatan pelayanan kependudukan, yakni program Gerakan Bersama Pelayanan Rekam Kartu Tanda Penduduk Elektronik (Gebyar KTP-el) dan Gerakan Mengurus Langsung Administrasi Kependudukan (Gemerlap). Menurut sosok yang mengge-mari olahraga fitnes ini, pada program Gebyar KTP-el, petugas berupaya memberikan fasilitas bagi masyarakat yang belum melakukan perekaman KTP elektronik dengan sistem jemput bola. Artinya,
petugas tidak segan mendatangi rumah atau sekolah jika ada permintaan perekaman. Sedangkan, program “Gemerlap” bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat agar mau mengurus sendiri administrasi kependudukannya tanpa melalui perantara. “Kami juga sudah mengujicobakan pembuatan Kartu Keluarga (KK) secara online di dua Kecamatan, yaitu Kecamatan Bancar dan Widang. Ke depan, kami berharap pengurusan online bisa dilakukan di tingkat desa,” urainya. Pak Joni, menuturkan, dengan ISO, kapasitas Disdukcapil untuk melakukan pelayanan bisa terukur dengan jelas. Selain itu, bisa dijadikan barometer atau titik awal dalam upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan. Pengakuan ISO 9001 : 2008 menandakan bahwa pelayanan kependudukan di Tuban telah sesuai dengan standar operasional yang ada, kata mantan Kepala Bagian Humas dan Media ini. Menurutnya, Kabupaten Tuban patut berbangga karena tercatat sebagai salah satu di antara 17 Kabupaten/ Kota di Indonesia yang memiliki pelayanan berstandar ISO. Dosen Universitas Sunan Bonang Tuban ini juga tidak memungkiri masih banyak pengaduan yang masuk terhadap pelayanan administrasi dan kependudukan. Namun, Disdukcapil Tuban terus mengevaluasi kinerjanya, khususnya bagian pelayanan agar terus dan terus meningkat. “Kami juga akan terus meningkatkan grade untuk menjaga kualitas pelayanan, sekaligus mendapatkan ISO di tingkat yang lebih tinggi,” tukasnya, penuh optimesme.n ydh
Akbar No. 218 n Juni 2016 39