Data Loading...

Akbar Edisi 233 Flipbook PDF

Akbar Edisi 233


126 Views
14 Downloads
FLIP PDF 12.67MB

DOWNLOAD FLIP

REPORT DMCA

Warta Tuban Bumi Wali

NO. 233 n TAHUN XXI n SEPTEMBER 2017

Raih Adipura 2017 Laporan Utama

Istimewa

Bumi Wali-Generasi Qur'ani

Lomba Produk IKM

Kisar Eksekutif

Wira Usaha

Pemkab Gandeng Notaris

Budidaya Ikan Bawal

Media KOMUNIKASI PEMKAB

No. 233 n Tahun XXI

SEPTEMBER 2017

Agus Heru Purnomo, S.P

2

No. 233 n September 2017

S

ERAMBI REDAKSI

“Agar Tidak Jenuh”

Dilantik juga disumpah. (kdg)

Bupati Tuban, H. Fathul Huda, kembali melantik pejabat struktural di Pendopo Kridho Manunggal. Selain mengisi Jabatan yang kosong, mutasi ini ditujukan untuk memberikan penyegaran terhadap Organisasi Pemerintah Daerah (OPD). “AGAR TIDAK TERJADI kejenuhan yang dapat mengganggu kinerja,” ujar Pak Bupati. Dengan adanya kinerja yang baik, para pejabat dapat optimal memberikan pelayanan kepada masyarakat, apalagi dalam hal pengentasan kemis-

Serambi Redaksi . . . . . . . . . . . . . . 3 Editorial . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4 Mimbar Agama. . . . . . . . . . . . . . . 5 Kisar Eksekutif . . . . . . . . . . . . . . . 8 Laporan Utama . . . . . . . . . . . . . . 10 Agustusan . . . . . . . . . . . . . . . . . . 14 Selingan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 16 Info Desa. . . . . . . . . . . . . . . . . . . 18

No. 233 n September 2017

kinan, yang saat ini menjadi fokus utama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban. Para pejabat juga diharapkan memiliki inovasi, dapat membangun manajemen yang baik di lingkungan kerjanya serta menguasai bidang yang ditangani dan memiliki integritas yang tidak diragukan. Penilaian pejabat yang dilantik meliputi kompetensi manajerial, kompetensi bidang, tes kesehatan serta rekam jejak. Dan yang paling utama, jelas Pak Huda, sapaan Bupati Tuban, meminta agar para penjabat yang baru dilantik selalu memegang teguh komitmen untuk berdedikasi pada tugas yang akan diemban. Para pejabat yang ikut dalam gerbong mutasi kali ini di antaranya Kepala Bagian (Kabag) Humas dan Protokol, Drs. Agus Wijaya, yang menempati jabatan baru sebagai Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan. Drs. Sudarmaji, MM, yang sebelumya Kepala Bagian (Kabag) Kesra kini Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman. Kemudian, dr. Saiful Hadi definitif sebagai Direktur RSUD dr. R. Koesma Tuban. Dari deretan Camat, Drs. Sugeng Winarno, MM, yang sebelumnya Camat Merakurak menempati posisi Camat Jenu. Dua nama selanjutnya, Ir. Rohmad, Camat Palang dan Drs. Bambang Sumadiyo, Camat Semanding. Posisi Kabag Humas dan Protokol diisi Drs. Rohman Ubaid dan Jabatan Kabag Kesra dijabat Eko Julianto, S.STP.n kdg

Istimewa . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 19 Kesehatan . . . . . . . . . . . . . . . . . . 23 Pendidikan . . . . . . . . . . . . . . . . . 24 Cermin . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 30 Wira Usaha . . . . . . . . . . . . . . . . . 32 Ragam Peristiwa . . . . . . . . . . . . . 34 Sastra dan Budaya . . . . . . . . . . . 35 TapRose . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 39

3

E DITORIAL

Selamat Datang Jamaah Haji

H

aji merupakan momen yang memberi inspirasi bagi kemajuan kemanusiaan. Secara etimologis, sebagaimana dikemukan Ibn Mandzur dalam kitabnya, Lisaan alArab, kata “hajj” antara lain berarti “menuju pada target tertentu” (al-qashd). Lebih spesifik lagi, alIshfahani dalam kitabnya, Mufradaat Alfaadz alQur`aan, menjelaskan pengertian “hajj” sebagai “menuju kepada target tertentu untuk dikunjungi” (alqashd li al-ziyarah). Proses ini ditandai dengan jutaan manusia berbondong-bondong ke Baitul Ka’bah, simbol pemersatu umat Islam. Ritual haji, memperlakukan manusia sama dan adil, tanpa melihat ras, suku dan latar belakang dunia lainnya. Harkat dan martabat mereka sebagai manusia adalah sama. Hak dan kewajiban mereka sebagai hamba juga sama. Tujuan dan arah perjuangan hidup mereka hakikatnya juga sama, yaitu berusaha meraih kebahagiaan yang sejati abadi, kebahagiaan ilahian, kebahagiaan transcendental. Itulah hikmah dan tujuan utama syariat dari ibadah haji. Jadi, substansi haji adalah mencari dan mengukuhkan sandaran atau landasan yang hakiki, bagi kehidupan menuju kebahagiaan sejati yang merupakan fokus perhatian dan target pencarian yang dituju oleh seluruh umat manusia. Karena itu,

4

banyak ulama menyebutkan, “haji mabrur” adalah yang disertai dengan tanda-tanda “ke-mabrur-an” setelah berhaji, di antaranya akhlak dan amal perbuatannya menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Nilai-nilai kemabruran haji akan membawa virus positif kehidupan masyarakat yang lebih humanis, lebih berakhlak dan lebih beriman. Kita berharap, haji yang dijalankan para jamaah bukan sekadar haji ritual, tetapi, haji yang membawa perubahan. Hal itu pula, dilakukan para jamaah haji di masa perjuangan kemerdekaan. Bahwa nilai-nilai haji dari tanah suci menjadi spirit perjuangan melawan penjajahan kafir (Belanda). Kita menginginkan hal serupa, bahwa para jamaah nantinya bisa membawa nilai-nilai spirit keislaman, untuk menjadikan masyarakat yang berperadaban akhlak mulia dan selalu mendapat karunia dari Allah SWT. Bukan sebaliknya, yang mengeraskan suatu sikap yang justru menaburkan ekslusifis, seolah telah sempurna sebagai manusia. Sehingga, kemabruran yang diharapkan oleh segenap orang di lingkunggannya, berubah makna menjadi kekaburan tuntutan syariat, sebagai puncak tertinggi ajaran Rukun Islam. Yang membutuhkan persyaratan berat bagi muslim, bukan hanya kemampuan material untuk mencapainya.n

No. 233 n September 2017

M IMBAR AGAMA

Konsep Asbab Al-Nuzul Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan Oleh : Masdar F. Mas'udi

J

adi firman itu memang turun kepada Nabi berkenaan dengan suatu peristiwa konkret yang menyangkut sepasang suami-istri. Dapat dilihat bahwa dalam peristiwa Zaid dan Zainab dan yang "ditangani" langsung oleh kitab suci itu terdapat kaitan antara suatu nilai hukum kulli (universal), yaitu pembatalan makna legal praktek mengangkat anak, dengan sebuah kasus jaz'I (partikular), yaitu perceraian Zaid dari Zainab dan perkawinan Nabi dengan Zainab, bekas "menantu"-nya. Masalah selanjutnya yang lebih esensial dari contoh di atas itu ialah, bagaimana suatu nilai dari sebuah kasus dapat ditarik dari dataran generasitas yang setinggitingginya. Dengan begitu nilai tersebut tidak lagi terikat oleh kekhususan peristiwa asal mulanya dan dapat diberlakukan pada kasus-kasus lain di semua tempat dan sepanjang masa (dan inilah makna universalitas suatu nilai). Para ahli hukum Islam telah membuat patokan untuk masalah ini, dengan kaidah mereka. "Pengambilan makna dilakukan berdasarkan generalitas lafal, tidak berdasarkan partikularitas penyebab" (Al-Ibrah bi umum al-lafdh, la bi khushush al-sabab). Tetapi sebuah generalisasi hanya dapat dilakukan jika inti pesan suatu firman dapat ditangkap. Ini dengan sendirinya menyangkut masalah kemampuan pemahaman yang mendalam sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Lalu, pada urutannya, tersangkut pula masalah tafsir, atau bahkan mungkin ta'wil (interprestasi metaforis) yang tidak jarang menimbulkan kontroversi. Sebab dalam melakukannya selalu ada kemungkinan dicapai suatu pandangan, atau tindakan, yang pada lahirnya seperti meninggalkan atau menyimpang dari ketentuan Kitab. Contoh klasik dari persoalan tersebut ialah tindakan Umar ibn al-Khaththab pada waktu menjabat sebagai khalifah. Komandan kaum beriman (Amir al-Mu'minin) itu tidak membenarkan seorang tokoh Sahabat Nabi kawin dengan wanita Ahl al-Kitab (Yahudi atau Kristen), padahal al-Qur'an jelas membolehkannya. Penyebutan tentang dibolehkannya lelaki Muslim kawin dengan wanita Kristen atau Yahudi dalam al-Qur'an ada dalam rangkaian dengan penyebutan tentang dihalalkannya makanan kaum Ahl alKitab itu bagi kaum beriman, sebagimana makanan kaum beriman halal bagi mereka: Mereka bertanya kepada engkau (Nabi) tentang apa yang dihalalkannya untuk mereka. Jawablah, "Dihalalkan-

No. 233 n September 2017

nya bagi kamu apa saja yang baik; juga (dihalalkan bagi kamu binatang yang ditangkap) oleh binatang-binatang berburu yang kamu latih dengan kamu biasakan menangkap binatang buruan dan kamu ajari binatang-binatang itu dengan sesuatu (ketrampilan) yang diajarkan Allah kepada kamu, karena itu makanlah apa yang ditangkap oleh binatang berburu itu untuk kamu, dan sebutlah nama Adlah atasnya, serta bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Cepat dalam perhitungan. Pada hari ini dihalalkan pada kamu perkara yang baik-baik. Makanan mereka yang mendapat Kitab Suci (Ahl al-Kitab) adalah halal bagi kamu, dan makanan kamu halal bagi mereka. Dan (halal, yakni dibenarkan kawin, bagi kamu) para wanita merdeka dari kalangan wanita beriman, juga wanita merdeka dari kalangan mereka yang mendapat Kitab Suci sebelum kamu, jika kamu beri mereka mahar-mahar mereka, dan kamu nikahi mereka (secara sah), tanpa kamu menjadikan mereka objek seksual semata (zina), dan tanpa kamu memperlakukan mereka sebagai gundik. Barangsiapa menolak untuk beriman, maka sungguh sia-sialah amal perbuatannya, dan ia di akhirat akan tergolong orang-orang yang merugi." (QS. al-Maidah/5:4-5). Tapi Umar seperti dalam beberapa kasus lain, tidak berpegang kepada makna lahiriah bunyi lafal firman itu. Suatu ketika Umar menerima surat dari Hudzaifah ibn alYamman, yang isinya menceritakan bahwa ia telah kawin dengan seorang wanita Yahudi di kota al-Mada'in, ketika Hudzaifah meminta pendapat. Maka Umar, dalam surat jawabannya memberi peringatan keras, antara lain dengan mengatakan: "Kuharap engkau tidak akan melepaskan surat ini sampai dia (wanita Yahudi) itu engkau lepaskan. Sebab, aku khawatir kaum Muslim akan mengikuti jejakmu, lalu mereka mengutamakan para wanita Ahl al-Dzimmah (Ahl al-Kitab yang dilindungi) karena kecantikan mereka. Hal ini sudah cukup sebagai bencana bagi para wanita kaum muslim". Menurut julur penuturan lain, Umar menegaskan bahwa kaum lelaki muslim kawin dengan wanita Ahl alKitab tidaklah terlarang atau haram. Ia hanya mengkawatirkan terlantarnya wanita muslimah. Disebabkan oleh meluasnya daerah kekuasaan politik kekhalifahan Islam, dan banyaknya bangsa-bangsa bukan muslim yang menjadi rakyat kekhalifahan itu, maka kesempatan nikah dengan wanita Kristen dan Yahudi juga menjadi terbuka lebar. Apabila kelak, setelah Persia

5

M IMBAR AGAMA dibebaskan (di zaman Umar sendiri) dan lembah Indus oleh Muhamad ibn Qasim (di zaman al-Walid ibn al-Malik), konsep tentang Ahl al-Kitab diperluas meliputi kaum Majusi dan Hindu-Buddha. Karena itu banyak ahli fiqih yang berpandangan bahwa konsep Ahl al-Kitab tidak terbatas hanya kepada kaum Yahudi atau Kristen saja, tetapi dapat diperluas juga kepada kaum Majusi atau Zoroastri (sudah sejak Umar), dan kepada kaum Hindu, Buddha, Konfusianis, Taois, Shinthois dll. Sebab, seperti dikatakan oleh Abd al-Hamid Hakim, seorang tokoh terkemuka pembaharuan Islam di Sumatra Barat, asalusul agama-agama Asia itupun adalah paham Ketuhanan Yang Maha Esa atau Tauhid, dan agama-agama itu mempunyai kitab suci. [3] Maka apa yang dikuatirkan khalifah sungguhsungguh dapat menjadi kenyataan, yaitu terlantarnya kaum muslimah sendiri jika kaum muslim lelaki diizinkan dengan bebas menikah dengan wanita Ahl al-Kitab. Sebab waktu itu kaum muslim itu hanya terbatas kepada minoritas kecil para penguasa politik dan militer dan hamper terdiri hanya dari bangsa Arab saja, dan belum banyak kalangan dari bangsa lain yang memeluk Islam, sekalipun berada di negara Islam. Meskipun ternyata larangan (sementara) Umar itu lambat laun ditinggalkan (dan bangsa Arab umumnya melakukan integrasi total dengan penduduk di mana mereka hidup sehingga lebur dengan bangsa setempat), namun kebijakan khalifah kedua itu menjadi preseden dalam yurisprudensi Islam tentang kemungkinan dilakukannya kebijakan khusus sesuai dengan tuntutan ruang dan waktu. Jadi ada timbangan sisi historis dan humanis dalam menetapkan suatu hukum. Masalah Kepentingan Umum (Al-Maslahat Al-Ammah) Maka berdasarkan tindakan Umar itu, para ahli hukum Islam masa lalu, seperti, misalnya, Muhamad ibn al-Husain, mengatakan, "Kita ikuti pendapat Umar itu, namun kita tidak memandang perkara tersebut (lelaki muslim kawin dengan wanita Ahl al-Kitab) sebagai terlarang. Kita hanya berpendapat hendaknya para wanita muslim diutamakan, dan itulah juga pendapat Abu Hanifah." Kemudian Rrektor Universitas al-Azhar, Dr. Abd-al-Fattah Husaini al-Syaikh, mengatakan , bahwa tindakan khalifah kedua itu menyalahi nas atau lafal Kitab Suci, juga menyalahi apa yang dilakukan sebagian para Sahabat Nabi. Sebab, selain Hudzaifah, ada beberapa tokoh Sahabat Nabi yang beristrikan wanita Ahl al-Kitab, seperti, misalnya, Utsman bin Affan, khalifah ketiga, yang beristrikan wanita Kristen Arab, Na'ilah al-Kalbiyah, dan Thalhah ibn Ubaid-Allah yang beristrikan seorang wanita Yahudi dari Syam (Syiria). Tetapi, kata Rektor al-Azhar lebih lanjut, Umar tidak melakukan larangan itu kecuali setelah melihat adanya hal yang kurang menguntungkan bagi masyarakat Islam. Dan Umar tidaklah mengatakan sebagai haram - hal mana tentu akan berarti menentang hukum Allah - melainkan hanya sekedar menjalankan

6

suatu patokan yang sudah tetap di kalangan para ahli, bahwa pemerintah boleh melarang sementara sesuatu yang sebenarnya halal jika ada faktor yang merugikan masyarakat. Tetapi factor itu lenyap, maka dengan sendirinya lenyap pula alas an melarangnya. [4] Karena itu ada yang menyatakan bahwa tindakan khalifah kedua itu adalah sejenis tindakan politik (tasharuf siyasi), yang timbul karena pertimbangan kemanfaatan (expediency) menurut tuntutan zaman dan tempat. Kekhalifahan Umar adalah masa permulaan pembebasan negeri-negeri sekitar Arabia, khususnya Syria, Mesir dan Persia, yang dalam hal ini adalah jauh lebih kaya daripada Hijaz di Jazirah Arabia. Kekayaan yang melimpah ruah secara tiba-tiba akibat banyaknya harta rampasan perang, termasuk juga wanita tawanan (yang menurut hukum perang di seluruh dunia pada waktu itu tawanan perang, lelaki maupun lebih-lebih lagi perempuan, adalah sepenuhnya berada dibawah kekuasaan dan menjadi "milik" perampasnya), membuat ibu kota, Madinah, mengalami berbagai perubahan sosial yang besar, yang dapat menjadi sumber krisis. Maka Umar dengan berbagai kebijakannya adalah seorang penguasa yang berusaha mengurangi sesedikit mungkin efek kritis perubahan sosial itu. Dan Umar tidak hanya menerapkan kebijakan politik melarang sementara perkawinan dengan wanita Ahl alKitab. Ia juga dicatat membuat deretan berbagai kebijaksanaan "kontroversial" seperti meniadakan hukum potong tangan bagi pencuri di masa sulit seperti paceklik; penghapusan perlakuan khusus pada para mu'allaf; larangan berkumpul untuk selamanya bagi wanita dengan lelaki yang tidak dikawininya pada saat menunggu (iddah), pengefektifan hukum talak tiga (talak batin yang dilarang rujuk) bagi orang yang menyatakan talak tiga kali kepada istrinya meskipun pernyataan itu diucapkan sekaligus dan tanpa tenggang waktu; pembagian tanah-tanah pertanian di Syria dan Irak kepada penduduk setempat (tidak kepada tentara Islam seperti sebagian besar Sahabat Nabi berpendapat demikian); pembagian tingkat penerimaan "ransum" (semacam gaji tetap) bagi tentara Islam berdasarkan seberapa jauh ia banyak atau kurang berjasa dalam sejarah Islam sejak zaman Nabi (padahal Abu Bakar, pendahulunya, menerapkan prinsip penyamarataan antara semuanya). Semua tindakan tersebut tidaklah dilakukan khalifah menurut kehendak hatinya sendiri. Menurut Dr Abd-alFattah, Khalifah dalam menetapkan kebijakan hukumnya menerapkan prinsip bahwa semua hukum agama mengandung alasan hukum (illah, ratio legis) yang harus diperhatikan dalam pelaksanaannya, sejalan dengan kepentingan umum (al-mashlahat al-ammah) dan sesuai dengan tanggungjawab seorang penguasa dan pelaksana hokum bersangkutan. [6] Dan meskipun, sebagai misal, Umar berbeda dengan Abu Bakar dalam kebijakannya tentang penyamarataan atau pembedaan

No. 233 n September 2017

M IMBAR AGAMA besarnya jumlah ransum tentara, namun kedua-duanya bermaksud membela keadilan. Abu Bakar berpendapat bahwa keadilan terwujud dengan penyamarataan antara semua tentara Islam, tanpa memandang masa lampau mereka. Sebaliknya Umar justru berpendapat akan tidak adil jika masa lalu masing-masing tentara itu diabaikan, padahal sebagian dari mereka benar-benar jauh lebih berjasa daripada sebagian yang lain. Rasa keadilan mengatakan bahwa sebagian orang yang berbuat lebih banyak tentunya juga harus mendapatkan balas jasa dan penghargaan lebih banyak. Masalah Historis Ajaran Keagamaan Itulah wujud contoh apa yang dikemukakan di atas, yaitu bahwa masalah penarikan atau pengangkatan makna umum (generalisasi) suatu nilai hukum akan menyangkut masalah penafsiran dan kemampuan memahami lebih mendalam inti pesan yang dikandungnya. Dan karena kemampuan tersebut dapat berbedabeda antara berbagai pribadi, maka hasilnya pun dapat berbeda-beda pula. Yang jelas ialah, seperti dikatakan Rektor al-Azhar, pendirian Abu Bakar dan Umar membuktikan bahwa yang dituju oleh hukum ialah makna atau pesan yang dikandungnya (al-ahkam turadu li ma aniha). [6] Ini membawa kita kembali pada polemik sekitar kiblat shalat yang telah dikemukakan di atas. Yaitu bahwa kiblat, dalam arti wujud fisiknya yang menyangkut formalitas penghadapan wajah ke suatu arah tertentu, tidaklah

S

ebagai “soko guru” perekonomian, Koperasi dituntut senantiasa berbenah diri, meningkatkan kualitas agar mampu bersaing, dengan tetap menjunjung tinggi kegotongroyongan. Demikian dinyatakan Wakil Bupati (Wabup) Tuban, Ir. H. Noor Nahar Hussein, M.Si, saat Resepsi HUT Koperasi Ke-70 di Pendopo Kridho Manunggal. Melalui tema: “Koperasi Kuat Menjamin Pemerataan Ekonomi Mewujudkan Keadilan Sosial”, Pak Wabup berharap dijadikan tekad dalam mewujudkan amanat Pasal 33 UUD 1945 yang esensinya mengatur tentang prinsip-prinsip dasar perekonomian nasional sebagai perwujudan usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Oleh karena itu, Koperasi jangan hanya menjadi mesin penggerak simpan pinjam, tetapi juga dalam penyerapan tenaga kerja, dan men-

dimaksudkan pada dirinya sendiri, melainkan dimaksudkan maknanya. Dan karena lebih penting daripada formalitas, maka makna tidak boleh ditinggalkan, sementara formalitas dalam keadaan tertentu boleh ditinggalkan. Konsep asbab al-Nuzul mempunyai kaitan yang erat dengan konsep lain yang juga amat penting, yaitu nasikhmansukh, berkenaan dengan sumber-sumber pengambilan ajaran agama, baik Kitab maupun Sunnah. Konsep itu, seperti yang pandangan teoretisnya dikembangkan oleh para ahli fiqih dengan kepeloporan Imam al-Syafi'i, menyangkut masalah adanya bagian tertentu dari al-Qur'an ataupun Hadits yang "dihapus" (mansukh) dan yang "menghapus" (nasikh). [7] Meskipun teori "hapus-menghapuskan" ini tidak lepas dari kontroversi, namun sebagian besar ulama menganutnya, dengan perbedaan disana-sini dalam hal materi mana yang menghapus dan mana pula yang dihapus. Yang jelas ialah bahwa dalam kaitannya dengan konsep tentang asbab al-Nuzul, konsep nasikh-mansukh juga mengandung kesadaran historis di kalangan ahli hukum Islam. Adalah kesadaran historis ini, menurut Hodgson, yang menjadi salah satu tumpuan harapan bahwa Islam akan mampu lebih baik dalam menjawab tantangan zaman di masa depan. Kata Hodgson, yang ikut berharap bahwa umat Islam akhirnya akan mampu menjawab tantangan zaman.n

Harapkan Koperasi Modern jadi pelopor penerapan teknologi informasi modern. “Dulu kita hanya mengenal pembayaran dengan sistem tunai, sekarang bisa pakai kartu kredit dan aplikasi telepon seluler, tentunya ini harus diikuti Koperasi, sehingga tidak terkesan konvensional, dan menjadi usaha modern serta online system,” pesannya. Secara nasional Produk Domestik Bruto (PDB) Koperasi mengalami peningkatan, semula hanya berkisar 1,75% sekarang menjadi 3,99%. Ini tentunya masih jauh dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Denmark, Finlandia, Belanda maupun Perancis, yang sudah mencapai 18%. Begitu pula di bidang Kewirausahaan Nasional, tahun ini meningkat dari

No. 233 n September 2017

angka 1,55% menjadi 3,01%. Untuk itu, harus digerakkan terus hingga mencapai angka 7% seperti di Singapura dan negara maju lainnya. Saat ini, jumlah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Tuban mencapai 65.696 dan Koperasi sebanyak 1.303, dengan nilai aset lebih dari Rp 600 Miliar dan Volume Usaha lebih Rp 670 Miliar per Tahun. Sedang, Koperasi aktif kisaran 80%. Resepsi HUT Koperasi Ke-70 dirangkai dengan penyerahan penghargaan dalam rangka Gelar Kreasi Pemuda Koperasi Jawa Timur, Lomba Cerdas Cermat Hari Koperasi, Lomba Paduan Suara, Lomba Koperasi Berprestasi, dan Kecamatan Penggerak Koperasi se- Kabupaten Tuban.n kdg

7

K ISAR EKSEKUTIF

CJH Jaga “Ke-Indonesia-an”

Saat berangkatkan CJH. (kdg)

B

upati Tuban, H. Fathul Huda, melepas Calon Jemaah Haji (CJH) Tuban Kloter 16 dan 17 di Pendapa Kridha Manunggal. Sesampai di Tanah Suci, diharapkan CJH menjaga ‘ke-Indonesiannya’, tidak mudah terpengaruh jamaah dari negara lain, karena di Mekkah jutaan orang dari seluruh dunia berkumpul membawa kebiasaan dan adat serta cara ibadah masing-masing. “Tetap menjunjung tinggi karakter orang Jawa, santun dan saling tolong menolong.” Pesan Pak Bupati. Ibadah haji adalah ibadah yang meliputi 3 aspek, yakni hati, badan dan harta. Menjalankan ibadah haji adalah menata hati, fisik, kemudian harus memiliki bekal. CJH dituntut menata hati dengan niat ikhlas. Dalam ayatayat Al Quran, yang berkaitan dengan haji, selalu didahului dengan kata “Lillah”. “Semua ayat yang menerangkan haji pasti Walillahi Alannasi Hijul Bait, berbeda dengan ibadah yang lain,” terangnya. Hal ini menjelaskan mengapa harus Lillah, karena ibadah haji adalah ibadah yang rawan godaan untuk tidak ikhlas. Sebab, setelah beribadah haji, jemaah akan memperoleh predikat al haj (haji). “Ini berbeda dengan ibadah yang lain. Orang yang puasa tidak dapat gelar shoim, begitupun orang sholat gak ada yang dapat gelar musholin,” sambungnya. Selain keikhalasan, sifat takabur harus dfijauhkan. Jika jamaah melakukan atau berpikiran buruk, maka akan langsung mendapat teguran dari Allah. Selain itu, fisik juga harus siap, terlebih sekarang musim panas. Kemudian, dari sisi harta atau ibadah “maliyah”, apabila ada kewajiban-kewajiban yang sekiranya harus dilunasi, maka segeralah dilunasi. Haji kita mungkin sah, namun untuk diterima menjadi haji mabrur, harus ikhlas, tidak takabur, tidak riya, dan tidak ujub. Kepala Kantor Kementian Agama Kabupaten Tuban, Sahid, mengatakan, CJH yang berangkat di hari

8

pertama sebanyak 889 orang, terbagi dua Kloter, Kloter 16 dan 17, dengan 20 armada bus. Rombongan transit ke Asrama Haji Sukolilo Surabaya, keesokan harinya bertolak ke Makkah. Untuk Kloter 21 sebanyak 23 CJH, diberangkatkan dari halaman Kantor Pemkab Tuban oleh Wakil Bupati Tuban, Ir. Noor Nahar Hussein, Msi. Jumlah CJH 2017 sebanyak 915 CJH, namun tiga di antaranya batal, 1 meninggal dan 2 sisanya sakit. CJH tertua berusia 86 tahun asal Desa Sendang, Senori atas nama Muti’atun, termuda 21 tahun atas nama Hilda Intani asal Desa Sugiharjo, Tuban. Dipaparkan lebih lanjut oleh Pak Bupati, saat Bimbingan Manasik Haji Masal II CJH 2017 di Graha Sandiya, bahwa ada tiga indikator ibadah ini diterima Allah SWT. Pertama, memiliki efek dalam kehidupan di masyarakat. Kedua, semakin semangat melakukan ibadah. Ketiga, istiqomah dalam melaksanakan ibadah. Pak Huda, menjelaskan, bahwa untuk menimbulkan efek, maka dalam setiap ibadah haruslah memahami ibadahnya, karena serangkaian rukun dalam ibadah hanyalah ritual, namun jauh daripada itu harus dipahami dimensi spiritualnya. Misalnya, mengapa kita pakai ihram? Ini agar ada efeknya harus dihayati dan dipahami. Pak Bupati juga menjelaskan secara runtut ritual ibadah haji beserta makna spiritual yang terkandung di dalamnya. Diawali dengan mikat, mandi sebelum memakai pakaian ihram. Mikat adalah batas, mulai mikat harus berniat ada perubahan sebelum dan setelah haji. Selembar Kain Lalu, berpakaian ihram, terkandung makna bahwa saat manusia mati tidak ada yang dibawa, hanya selembar kain. Mau Bupati, Kapolres, dan semuanya, kalau mati pakaiannya sama. Ini harus dihayati bahwa derajat manusia itu sama Selanjutnya, tawaf. Menurutnya, sisi Ka’bah yang berbentuk persegi empat memiliki makna tersendiri, yakni sebagai anak manusia, semua hidup melewati 4 alam, yakni alam arwah, rahim, dunia dan barzah. Sedangkan, Sai’, melambangkan bahwa manusia hidup harus bergerak. Setiap orang haruslah berusaha dalam menggapai rezeki. Sedangkan, puncak haji saat Wukuf di Padang Arafah. Di Arafah semua doa akan dikabulkan, maka berdoalah dengan kerendahan hati, mengharap kepada dzat pencipta alam. Sedangkan, dalam melempar jumrah, melambangkan bagaimana Nabi Ibrahim dulu mendapat godaan setan saat akan menyembelih Ismail. Adapun kalau dipahami, bahwa yang dilempari adalah nafsu yang ada di dalam diri kita. Sedangkan, ritual tahalul, atau menggunting rambut, bermakna membuang mahkota.n kdg

No. 233 n September 2017

K ISAR EKSEKUTIF

Gandeng Kalangan Notaris

P

emerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban ingin menyertakan berbagai kalangan di dalam pembangunan Kabupaten Tuban, termasuk di dalamnya kalangan pengusaha dan profesional seperti Notaris. Khusus, pelibatan kalangan Notaris, dikemas dalam acara “Temu Gayeng Bupati dan Wakil Bupati Tuban bersama Notaris seKabupaten Tuban” di Rumah Dinas (Rumdis) Bupati Tuban kompleks Pendopo Kridho Manunggal. Hadir dalam acara tersebut sedikitnya 28 Notaris. “Bapak Bupati ingin semua masyarakat terlibat, mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan pembangunan, tak kecuali pelibatan kalangan profesional seperti Notaris ,” tutur Dr. Ir. Budi Wiyana, MSi, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tuban. Dituturkan oleh Pak Sekda, pelibatan kalangan Notarsis adalah hal yang awal dan merupakan yang pertama digandeng Pemkab Tuban untuk bersinergi dalam pembangunan Kabupaten Tuban. Membuka jalinan komunikasi dengan Notaris bukanlah tanpa sebab, mengingat terkait dengan pengelolaan keuangan dan aset daerah. Menurut Pak Bud, sapaan Sekda Kabupaten Tuban, pengelolaan aset Pemkab Tuban belum optimal. Hal Ini karena belum sempurnanya dokumen administrasi aset lahan Pemkab Tuban. Dari 1.835 bidang lahan Pemkab Tuban, baru sebanyak 336 yang bersertifikat. Bahkan, ada yang sudah bersertifikat, tapi belum atas nama Pemkab Tuban. Pemkab Tuban berharap kepada kepada kalangan Notaris, yang notabene Pajabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), agar membantu dalam

Foto bersama para Notaris. (kdg)

proses percepatan pengurusan aset Pemkab Tuban. Selain itu, kepada mereka, Pemkab Tuban juga berharap pengoptimalan perolehan atas Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Karena, dari inilah menjadi salah satu sumber pendapatan daerah yang disalurkan kembali kepada masyarakat melalui pembangunan, terutama infrastuktur. Bupati Tuban, H. Fathul Huda, mengatakan, perlu disadari bahwa saat ini masih banyak yang tidak jujur dalam membayar BPHTB, terutama dalam pengenaan Nilai Perolehan Objek Pajak, sehingga dirasa kurang optimal kontribusinya. Padahal, dari situlah salah satu sumber pembangunan yang harus terus berjalan. Dicontohkan, saat ini kondisi infrastruktur banyak kekurangan. Bukan tanpa sebab, mengingat jumlah penduduk dari tahun ke tahun semakin meningkat, begitupun dengan jumlah kendaraan. “Lima tahun yang lalu baru sejuta, sekarang sudah 1,3 juta. Belum lagi kendaraan yang setiap tahunnya bertambah antara 37-40 ribu,” tuturnya. Didasari atas kenyataan tersebut, maka bukan hal yang aneh jika jalan-jalan di Kabupaten Tuban perlu dilebarkan guna memfasilitasi masyarakat. Saat ini, baru jalan poros kecamatan yang dilebarkan. Sedang, di desa-desa harusnya juga dilebarkan, tidak hanya sekedar perbaikan. Jalan-jalan pertanian perlu kita tingkatkan agar cost pertanian tidak terlalu

No. 233 n September 2017

mahal. Tanamkan keyakinan Pak Bupati juga, menuturkan, perlu ada fasilitas bagi para remaja sering keberadaan di tempat-tempat keramaian atau hiburan. Butuh membangun Alun-alun untuk menjadi ruang terbuka. Selain itu, dibutuhkan pula biaya untuk pembangunan sport centre. Tempat seperti itu akan jadi sarana dalam menekan kenakalan remaja. Untuk itu, mari ditata bersama, dan semua sektor akan dilibatkan. Bagi para Notaris, mari kita tanamkan keyakinan pada masyarakat bahwa pajak yang dibayarkan akan kembali ke mereka lagi. Semua itu harus memiliki keyakinan akan kembali ke masyarakat. Termasuk, orang dalam bertindak, berdasarkan keyakinan. Selain pertemuan dengan kalangan Notaris, pertemuan yang sama juga akan dijadwalkan dengan kalangan profesional lainnya. Harapannya, semua dapat berpartisipasi aktif dalam pembangunan. Siap Bantu Pemkab Tuban Ketua Ikatan Notaris Indonesia Kabupaten Tuban, Nurul Yaqin, SH, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Pemkab Tuban atas undangan yang diberikan. Dirinya, juga Notaris /PPAT di Kabupaten Tuban siap membantu Pemkab Tuban dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi, baik dalam hal aset, juga dalam optimalisasi penerimaan pendapatan daerah melalui BPHTB.n kdg

9

L APORAN UTAMA

Bumi Wali - Generasi “Qur’ani Keberadaan Taman Pen-didikan Al-Qur’an (TPA/TPQ) sangat strategis sebagai wahana pembentukan generasi qur’ani.

S

elain itu, merupakan benteng iman dan akhlak bagi anak usia dini, karena yang digarap ada-lah anak-anak dalam periode emas. Menyaksikan banyaknya krisis moral sekarang ini, maka pendidikan keagamaan menjadi salah satu solusi yang terbaik untuk menyelamatkan karakter generasi penerus bangsa. Demikian disampaikan Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Sekretariat Daerah Kabupaten Tuban, Drs. Sudarmaji, MM. Sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pendidikan Akhlak Mulia, ujarnya, Bupati Tuban menginginkan Bumi Wali menjadi Kabupaten yang lebih religius. Salah satu implementasinya, anak yang lulus dari Sekolah Dasar (SD) dan a k a n

melanjutkan pendidikan ke tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus memiliki “syahadah” atau ijazah TPA/TPQ. Untuk menguatkan hal tersebut, tutur Kabag Kesra, disiapkan sarana pendukungnya. Pejabat yang biasa disapa Pak Darmaji itu, menambahkan, selain menyiapkan sarana dan prasarana fisik, perlu juga dilakukan peningkatan mutu Sumber Daya Manusia (SDM). Mantan Camat Grabagan ini, menjelaskan, pihaknya telah mengagendakan kegiatan Silaturokhim ke TPQ Solusi Terciptanya Insan Qur’ani (SI-TITIQ). Dalam kegiatan tersebut, Bupati Tuban meninjau secara langsung kondisi TPQ yang akan diberi dana hibah. Karena memang tahun 2018 dana hibah akan disalurkan kepada TPA/TPQ yang ada di Tuban. Dalam kunjungan tersebut, Pak Darmaji, menyebutkan, Pak Bupati Tuban akan memutuskan TPQ yang layak menerima dana hibah sekaligus menentukan besaran bantuan yang akan diberikan. Rata-rata TPA/TPQ tersebut mendapatkan suntikan dana sebesar Rp 25 Juta. Nominal tersebut bisa kurang maupun lebih tergantung dari kondisinya. Kunjungi 34 TPQ Dikatakan, Pak Bupati sudah mengunjungi 34 TPQ yang ada di 20 Kecamatan se-Kabupaten Tuban. Adapun dana yang disiapkan pada kegiatan tersebut mencapai Rp 2.082.000.000. Dana ini diambilkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2018. “Pak Bupati tidak mau setengah-setengah dalam upayanya mence-

tak generasi qur’ani. Salah satu jalan untuk mewujudkannya adalah TPQ kita harus bagus. Karenanya, hibah tahun depan sepenuhnya untuk TPQ. Syaratnya, TPQ itu sedang membangun dan memiliki murid yang banyak,” ucapnya. Sebelumnya, dana hibah ini dialokasikan untuk masjid, musholla maupun pondok pesantren. Namun, tidak menutup kemungkinan jika ada masjid, musholla dan pondok pesantren yang membutuhkan bantuan, tetap akan dilihat terlebih dahulu dan diberikan bantuan sesuai dengan kebutuhannya. Alumni Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN), yang juga pernah menjadi ajudan Bupati ini, menyadari, tidak mudah mencetak generasi yang komitmen terhadap Al-Qur’an sebagai sumber perilaku, pijakan hidup dan rujukan segala urusannya. Tapi, pihaknya optimistis dengan sinergi yang baik dari semua pihak, niscaya hal itu akan dapat diwujudkan. Sesuai dengan arahan Bupati Tuban, Sekretaris Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Tuban itu, berharap TPQ yang sudah ada dapat dikelola secara baik, dengan manajemen yang bagus, silabus maupun kurikulum yang telah ditetapkan dengan tepat, sehingga dapat berkembang dan menghasilkan generasi yang mampu membaca dengan benar, tahu arti dan maknanya. Tingkatkan Profesionalisme Selain menyiapkan sarana dan prasarana fisik, Pak Darmaji, sapaannya, mengungkapkan, pihaknya berupaya meningkatkan mutu dan profesionalisme para guru TPQ melalui program-programnya, serta tak lupa meningkatkan kesejahteraan mereka. “Kami punya hibah berupa

Pak Darmaji. (ydh)

10

No. 233 n September 2017

L APORAN UTAMA insentif kepada guru ngaji Rp 100.000 per Bulan. Jika ditotal angkanya mencapai Rp 10 miliar setiap tahun. Setiap tahun juga ada peningkatan mutu pendidik TPQ yang digelar secara kontinyu,” katanya. Lebih lanjut, pejabat yang berdomisili di Kelurahan Perbon, Kecamatan Tuban ini, menjelaskan, pihaknya masih memberi kebebasan kepada lembaga-lembaga pendidikan Al-Qur’an yang ada untuk mengadakan ujian. Namun, mulai tahun depan seluruhnya akan diatur oleh Pemerintah Daerah.

Jika sebelumnya ujian rata-rata diselenggarakan oleh Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), selanjutnya akan dipegang Lembaga Pengembangan Tilawati Qur’an (LPTQ) Kabupaten Tuban. Kabag Kesra asal Trenggalek ini, mengakui, pihaknya kini tengah menyusun Peraturan Bupati (Perbup) sebagai tindak lanjut Perda Akhlak Mulia. Intinya, anak yang telah menyelesaikan pendidikan SD dan akan masuk ke SMP wajib mempu-

nyai “syahadah” dari TP. Sedangkan, anak yang mau ke Sekolah Menengah Atas (SMA) harus memiliki “syahadah” dari Madrasah Diniyah (Madin). TPQ Award Tidak hanya itu, pihaknya juga berencana mengadakan pemilihan TPQ-TPQ terbaik melalui ajang TPQ Award. Kegiatan ini bertujuan untuk menstimulus TPQ sebagai tempat pembelajaran Al-Qur’an yang akan mencetak generasi-generasi qur’ani terbaik.n ydh

Beruntung Memiliki “Kalpataru”

Pak Kiai Mundzir. (ydh)

K

etua Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Tuban, Ahmad Mundlir, mengatakan, Tuban sangat beruntung memiliki warisan toleransi dari Sunan Bonang yang dituangkan dalam bentuk prasasti Kalpataru. Pak Kiai Mundlir, sapaan karibnya, menilai, prasasti tersebut menjadi bukti otentik dari buah pemikiran Sunan Bonang yang berhasil membawa perubahan besar dalam hal memeluk kepercayaan. Peninggalan karya monumental yang berwujud empat cabang pada pohon berukir ini menggambarkan perbedaan dalam beragama dan berkeyakinan. Sunan Bonang meyakini apapun agama yang dipegang teguh

setiap insan dalam satu masyarakat utuh dapat hidup harmonis. Sehingga, pada prasasti setinggi 180 centimeter tersebut kita dapat melihat ukiran empat tempat ibadah untuk agama berbeda-beda yakni masjid, candi, klenteng, dan wihara, serta arca megalitik yang mewakili pemujaan leluhur. Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Tuban ini, mengungkapkan, Kalpataru merupakan cerminan toleransi, tanpa mengusik keberadaan agama dan kepercayaan lain yang sudah lebih dulu ada. Kehadiran Sunan Bonang yang memiliki tujuan mulia menyebarkan ajaran Islam tersebut terbukti tidak merusak tatanan masyarakat, malah mengajarkan kehidupan yang harmonis dengan merangkul semua penganut agama dan keyakinan yang ada. Sikap sejuk yang dibawa Sunan Bonang dalam syiar agama tersebut, membuat Islam diterima dengan tangan terbuka tanpa ada konflik dan pertumpahan darah. “Karena itu, selain mengusulkan branding city Tuban sebagai Bumi Wali The Spirit of Harmony,

No. 233 n September 2017

Kalpataru juga bisa menjadi simbol atau ikon Tuban,” ujarnya. Pak Kiai, berharap, semangat Kalpataru dapat dikembangkan secara luas. Bahkan, semangat kerukunan beragama dan kebersamaan masyarakat bisa kita awali dari Tuban. Baginya, Tuban berasal dari kata “Tuba” yang artinya negeri yang penuh kejayaan, karena masyarakatnya mendapat warisan kebersamaan. Selain Kalpataru, pesan kebersamaan dan kerukunan ini juga tercermin dalam branding city Bumi Wali The Spirit of Harmony. Untuk itu, masyarakat harus dipahamkan agar semangat toleransi dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Memahami dan memaknai branding city ini harus memakai “rasa”. Semua pihak juga harus terlibat aktif bekerjasama membangkitkan semangat toleransi. “Penting membangun monumen Kalpataru dan branding city dengan menggunakan warna-warna yang membangkitkan semangat,” kata Pak Kiai yang berprinsip: “Hidup sekali harus berarti, mati dalam suasa kita sedang mengabdi”.n ydh

11

L APORAN UTAMA Ketua Sekolah Tinggi Kesehatan (Stikes) Nahdlatul Ulama (NU) Tuban, Dr. Miftahul Munir, S.KM, M.Kes, DIE, menyampaikan, untuk membangun generasi qur’ani, atau generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, dibutuhkan motivasi yang tinggi serta partisipasi yang nyata dari setiap individu. Selain itu, juga harus didukung oleh semua pihak baik itu keluarga, sekolah maupun masyarakat.

Optimis Bangun Generasi Qur’ani

Pak Munir. (ydh)

D

ikatakan, membangun generasi qur’ani merupakan tanggung jawab bersama. Tidak terkecuali bagi pihaknya yang bergerak di bidang pendidikan dan pelayanan kesehatan, diharapkan mampu mendidik generasigenerasi untuk lebih mencintai AlQur’an. Pak Munir, begitu dia biasa disapa, mengungkapkan, sejak awal tahun 2000, dirinya bersama beberapa tokoh NU Tuban mempunyai mimpi besar agar Tuban dapat menjadi contoh pendidikan dan pelayanan kesehatan yang baik. Sehingga, lahirlah Akademi Kebidanan (Akbid) NU Tuban pada 2003 lalu. Akbid NU yang kini menjelma menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) NU diharapkan mampu mencetak para tenaga kesehatan berakhlakul karimah yang dibekali dengan ilmu agama yang memadai. Oleh karena itu, Wakil Ketua Lembaga Kesehatan Pengurus Besar NU (LK PBNU) Jakarta ini, juga memasukkan pelajaran agama Islam dalam kegiatan perkuliahan. Berdasarkan penuturannya, untuk membentuk karakter Islami, mahasiswa diberikan pengetahuan agama Islam yang masuk di dalam kegiatan perkuliahan. Selain itu, mahasis-

12

wa baru diwajibkan tinggal di asrama selama satu tahun. “Jadi kita berikan pengetahuannya dulu sehingga dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, perilaku yang telah terbentuk itu, diharapkan dapat menjadi kebiasaan karena dipraktekkan sehari-hari,” ucapnya. Ketua Lembaga Kesehatan NU Tuban ini, menegaskan, pihaknya senantiasa menumbuhkan dan mendorong praktek kehidupan sehari-hari yang bernafaskan Islam tidak hanya berlaku di dalam kampus melainkan juga di lingkungan aktivitas mereka. Hal ini tidak hanya berlaku untuk mahasiswa saja, tapi juga segenap civitas akademika yang ada. “Selalu kami sampaikan ruh-ruh qur’ani setiap hari seperti rutin menggelar sholat dhuha bersama, membaca surat Al Waqi’ah, serta wirid dan dzikir rotibul haddad setiap pagi. Sebagai penguatan, kami menjadikan ulama-ulama sebagai pembimbing yang secara rutin memberikan materi keagamaan,” rincinya. Mahal, Pintar Jujur Bapak dua anak yang juga menjabat sebagai Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Tuban ini, menyadari, tidak mudah untuk mewujudkan generasi qur’ani di Tuban. Karenanya, sangat mengapresiasi langkah Bupati Tuban yang dari awal kepemimpinannya sangat concern dalam pembentukan

Sumber Daya Manusia (SDM). Menurut, pendapatnya, membangun fisik relatif lebih mudah. Namun, membentuk SDM seringkali dibutuhkan proses panjang dan jalan berliku. Maka dari itu, semuanya harus bersinergi dalam mewujudkannya. “Saya pernah mengatakan kepada Pak Bupati Fathul Huda, kalau mengangkat orang pintar itu gampang, tapi mengangkat orang jujur perlu proses. Lebih mahal menjadikan orang pintar menjadi jujur daripada sebaliknya,” tandasnya. Lebih lanjut, Doktor Ilmu Kesehatan dari Universitas Airlangga ini, beranggapan, bahwa kesehatan itu adalah segalanya. Tidak ada jalan lain untuk mengubah segalanya kecuali dengan pendidikan yang baik. Menurutnya, branding city Tuban saat ini, yaitu Bumi Wali The Spirit of Harmony sangat luar biasa guna memotivasi kita dalam menjadikan Tuban lebih religius, maju dan sejahtera. Sayangnya, branding city tersebut masih belum terlihat. Artinya, kesadaran bersama untuk mengimplementasikan visi misi Bupati Tuban juga masih kurang menonjol. Pak Munir, menilai, langkah Pak Bupati mengubah imej Tuban dari Kota Tuak menjadi Bumi Wali sangat berani. Maka, niat yang baik ini harus kita dukung bersama, dimulai dari diri masing-masing. “Saya mengajak masyarakat Tuban untuk menggelorakan slogan Bumi Wali nerawal dari diri Saya. Dari pribadi masing-masing. Meski tidak gampang, saya optimistis ke depan Tuban akan menjadi lebih baik,” pungkasnya.n ydh

No. 233 n September 2017

L APORAN UTAMA

Sekilas Tentang Pendidikan Al Qur’an

A

da beberapa istilah pada lembaga pendidikan Al-Qur’an. Misalnya, MDA (Madrasah Diniyah Al-Qur’an), TKQ (Taman Kanak-kanak AlQur’an), TPQ (Taman Pendidikan Qur’an), TA (Taman Al-Qur’an), BBA (Bimbingan Baca Al-Qur’an), SPA (Sanggar Pendidikan Al-Qur’an), LPQ (Lembaga Pendidikan Qur’an). Perbedaan–perbedaan di atas tidaklah bersifat prinsipil, yang penting mempunyai misi dan tujuan yang sama. TPQ kepanjangan dari Taman Pendidikan Qur’an, merupakan lembaga pendidikan dan pengajaran AlQur’an untuk usia SD (7-12 tahun). Lembaga ini hampir sama dengan Taman Kanak-kanak Al-Qur’an atau lembaga pendidikan untuk anak usia TK (4-6 tahun). Perbedaannnya terletak pada usia anak didiknya serta frekuensi hari masuknya. Jika TKA masuk 6 kali dalam seminggu sedang TPQ minimal 3 kali dalam seminggu. Istilah TPQ berasal dari tiga suku kata, yaitu Taman, Pendidikan dan Qur’an. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Taman” adalah tempat yang menyenangkan dan sebagainya. Dalam Kamus Modern Bahasa Indonesia, “Taman” adalah sekolah menengah atas perkumpulan taman siswa atau kanak-kanak sebagai sekolah pendahuluan pada jenjang umur 3, 4 dan 5 tahun. Sedangkan pengertian “Pendidikan”, dalam Pasal 1 Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan “Pendidikan” adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar anak didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan

dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dewey yang dikutip oleh Arifin mengemukakan bahwa “Pendidikan” sebagai suatu proses pemben-

No. 233 n September 2017

tukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan.n

Metode-Metode Baca Alquran METODE QIROATI, Semarang. Metode ini paling awal, disusun tahun 1963 dan buku panduannya saat itu berjumlah 10 jilid. Penyusunnya K.H. Dachlan Salim Zarkasyi (1928-2000). Awalnya metode ini hanya untuk mengajar anak didik Beliau. Setelah berhasil, ulama Semarang, H. Ja’far, mengajak ke KH Arwani Kudus untuk diteliti dan dikoreksi, akhirnya direstui dan diperkenalkan kepada masyarakat Semarang dan sekitarnya. Kini Qiroati terdiri dari enam jilid buku, plus buku panduan mempelajari tajwid dan gharib (bacaan yang sulit dan langka). Metode Iqra’, Yogyakarta. Dikenal dan menyebar luas di masyarakat. Penyusunnya KH As’ad Humam (1933-1996), yang sempat belajar kepada K.H. Dachlan Salim Zarkasyi. Metode Iqra’ dikenalkan sekitar tahun 1988. Metode ini pengembangan dari Metode Qiroati. Awalnya, K.H. As’ad Humam menggunakan Qiroati dan melakukan berbagai eksperimen dalam pengajarannya. KH As’ad mengembangkan Metode Iqra’ bersama sahabat-sahabatnya di Tim Tadarrus Angkatan Muda Masjid dan Mushalla (AMM) Yogyakarta. Metode an-Nahdliyah, Tulungagung. Metode ini diusun KH Munawir Kholid bersama rekan-rekannya, antara lain Kiai Munawir Kholid, Kiai Manaf, Kiai Mu’in Arif, Kiai Hamim, Kiai Masruhan, dan Kiai Syamsu Dluha. An-Nahdliyah sempat berubah nama tiga kali. Pertama bernama Metode Cepat Baca Al–Qur’an Ma’arif (format disusun PCNU Tulungagung pada tahun 1985). Kedua, Metode Cepat Baca Al–Qur’an Ma’arif Qiroati (dengan meminta izin penyusun Qiroati untuk dicetak dengan nama tersebut). Ketiga, Metode Cepat Baca Al–Qur’an Ma’arif AnNahdliyah (mulai dicetak pada tahun 1991). Metode an-Nahdliyah juga tediri dari 6 jilid. Ciri khas pengajaran metode ini penggunaan tongkat untuk menjaga irama bacaan agar sesuai panjang pendek bacaannya. Metode Yanbu’a, Kudus. Metode ini rumusan para kiai Al Qur’an pengasuh Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an, antara lain KH Agus M. Ulin Nuha Arwani, KH Ulil Albab Arwani dan KH M. Manshur Maskan (Alm). Terlibat pula tokoh lain: KH Sya’roni Ahmadi (Kudus), KH Amin Sholeh (Jepara), Ma’mun Muzayyin (Kajen Pati), KH Sirojuddin (Kudus), dan KH Busyro (Kudus), alumni Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an yang tergabung dalam majelis “Nuzulis Sakinah” Kudus. Terbit awal tahun 2004, terdiri dari 6 jilid materi utama disusul buku pegangan pengajar dan buku materi hafalan. Metode ini menekankan penggunaan Mushaf Rasm Usmani ala Timur Tengah yang banyak dipakai di negara-negara Islam. Metode Tartili, Jember. Metode ini dicetuskan oleh Ustaz Syamsul Arifin Al-Hafidz, pengasuh Pondok Pesantren Darul Hidayah, Kesilir, Wuluhan, Jember. Metode Tartili terdiri dari 4 jilid buku panduan. Sejak diperkenalkan pertengahan tahun 2000, metode ini mulai menyebar ke berbagai daerah Indonesia.n

13

A GUSTUSAN Dalam mengisi kemerdekaan, semua anak bangsa harus menjadi bagian dari pembangunan. Masyarakat harus kreatif, jangan terfokus pada halhal yang tidak perlu. Demikian tutur Kapolres Tuban, AKBP Fadly Samad, SH, SIK, MH, saat melepas Gerak Jalan Umum di depan Kantor Pemerintah Kabupaten Tuban.

Harus Meriah

Tapi Ingat Sholat kendati demikian harus tetap memperhatikan waktu ibadah sholat,” pesan Pak Bupati.

Bersama para juara. (kdg)

D

ikatakan, negara lain sudah berjalan ke bulan, tetapi kita masih memikirkan hal-hal yang sudah dibicarakan sebelum kemerdekaan Tidak perlu ada contoh, menghabiskan energi. Di hadapan 213 peserta lomba, perwira asal Makasar ini berpesan, kegiatan seperti ini jangan hanya jadi seremonial ketika hari besar Negara, namun harus diresapi dari dasar lubuk hati yang terdalam. Hal senada diungkapkan Dandim 0811 Tuban, Letkol Inf. Sarwo Supriyo, ketika memberngkatkan Lomba Gerak Jalan SMP/MTS. Menurutnya, dengan memeperingati

14

HUT Kemerdekaan membuktikan bahwa kita cinta kepada negara, juga sebagai salah satu cara menumbuhkan jiwa nasionalisme dan patriotisme. Lomba gerak jalan tersebut diikuti sebanyak 79 regu. Bupati Tuban, H. Fathul Huda, saat memberangkatkan Pawai Budaya Nusantara, menandaskan, mencintai negara berarti cinta budayanya. Indonesia memiliki banyak budaya, sebagaimana yang diperlihatkan dalam Pawai Budaya Nusantara ini. Melalui pawai ini kita kian mengenal keberagaman Indonesia. “Kegiatan memperingati HUT harus meriah dan penuh semangat,

Balap Sepeda Sementara itu, setelah lumayan vakum, Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Tuban menggelar kembali balap sepeda. Lomba kali ini bagi pelajar tingkat pemula. Mengambil lokasi di Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Mondokan, puluhan peserta berpacu. Ketua ISSI Tuban, Murtadji, mengataan, puluhan peserta berasal dari berbagai sekolah. Meski belum mencapai ratusan tetapi puluhan peserta ini cukup banyak, mengingat persiapan yang mepet. ISSI Tuban juga melakukan pemantauan, jika menemukan peserta berbakat akan dilatih dan dibina. Ketua Umum KONI Tuban, Mirza Ali Manshur, mengatakan, balap sepeda di Tuban memiliki sejarah prestasi membanggakan, bukan hanya tingkat nasional namun juga Asean, seperti nama Eedi Keling dan Uyun Muziah. Untuk itu, harus dimunculkan kembali Eedi dan Uyun lainya. Melihat animo peserta, sepanjang empat tahun terakhir vakum, pihaknya cukup optimis balap sepeda akan bergeliat kembali serta memunculkan pembalap-pembalap muda berprestasi.n kdg

No. 233 n September 2017

A GUSTUSAN

Tawaran

K

kuliner. Bahkan, bersama masyarakat enalkan potensi lokal, Pebertekad menjadikan tape sebagai merintahan Desa (Pemembrio usaha yang besar bagi warga des) Tawaran, Kecamatan Tawaran. Melalui kekayaan Sumber Kenduruan, menggelar Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Pekan Raya Ikonik (PRI) “Tape TawaManusia (SDM) yang dimiliki, optimisran”, 14 - 20 Agustus 2017. Penyelengtis Desa Tawaran bisa menjadi Desa garaan PRI itu diharapkan memotivasi yang lebih maju. produsen lokal agar lebih terpacu Mengingat beragam potensi industri kreatifnya. yang ada di Kecamatan yang berbataKepala Desa (Kades) Tawaran, san langsung dengan Kabupaten Mohammad Arief, S.H, mengatakan, Rembang ini, Pak Hendro, sapaan Tawaran adalah desa penghasil takaribnya, berkeinginan menjadipe berkualitas. Namun, distribusi kan wilayahnya tidak hanya sepenjualannya kurang merata. Sebagai konsumen, namun juga hingga, kelezatan tape Tawaran, tuan rumah penyedia pangan. yang khas dengan berbalut daun Untuk itu, perlu dukungan seploso itu, belum banyak dikenal mua pihak. Masyarakat menmasyarakat, apalagi luar Tuban. dambakan keberadaan pasar. Kades peraih Juara II LomPasar itu diyakini dapat memba Desa Kabupaten Tuban 2016 bangkitkan jiwa usaha dan mengini, mengungkapkan, kegiatan gerakkan roda ekonomi. yang dihelat dalam rangka meme“Kampanyekan” riahkan HUT RI ke-72, juga sebagai tape Tawaran. (ydh) SDA-SDM Harus Dimaksimalkan salah satu media promosi dan pemberDi bagian lain, Sekretaris Dinas Kopedayaan ekonomi masyarakat. Selain itu, rasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopinmenaikkan pamor tape sekaligus memperkenaldag), Dra. Endang Trimeidiya IN, M.Si, mengatakan, kan ikon Desa Tawaran sebagai desa penghasil tape Desa Tawaran kaya potensi baik SDA maupun SDM. berkualitas. Untuk itu, dua kekuatan itu harus dimaksimalkan. “Dalam even ini kami juga menghelat kegiatan Dengan kekayaan kuliner khas ini, tambahnya, seperti membungkus tape (kerapian dan kecepatan), layak dijadikan desa wisata. Untuk itu, perlu inovasilomba masakan berbahan tape dan pesta makan tape. inovasi baru yang menarik minat wisatawan agar berkunJuga, untuk memunculkan pengusaha lokal yang kreatif jung ke Tawaran dan mencicipi tapenya. Perempuan sehingga mendorong perekonomian masyarakat,” yang kerap disapa dengan Bu Mei ini, menegaskan, Disungkap pengusaha mebel itu. kopindag siap melakukan pendampingan dan memfaPak Inggi, sapaannya, menerangkan, kegiatan silitasi Tawaran agar dapat meningkatkan penjualan yang dipungkasi dengan jalan santai dan hiburan rakyat tape. Tentu saja tape tersebut harus memiliki tampilan tersebut telah mampu melahirkan beberapa inovasi yang lebih menarik dan tahan lama. Karena, waktu kuliner berbahan tape seperti sirup tape, roti tape, dodol tape, dan es krim tape. Bapak dua anak ini berharap, konsumsi tape memang relatif singkat. “Diskopindag dengan Tim Jagongan Matoh siap kegiatan tersebut dapat dihelat berkesinambungan. Hal mendampingi dan membantu pemasarannya. Bahkan, ini untuk menumbuhkan kecintaan kepada potensi dan sudah mengajukan bantuan bagi Tawaran agar bisa daerah sendiri, tidak sekadar rutinitas belaka. menjual tape secara kekinian. Misalnya, dari sisi Camat Kenduruan, Hendro Basuki, S.H, mengakemasan dan tempat jualannya,” ujarnya. presiasi kegiatan ini. PRI “Tape Tawaran” dapat menjadi cikal bakal lahirnya even yang lebih besar. Meski saat ini Berdasarkan pantauan Akbar, penutupan PRI berlangsung meriah. Usai menggelar jalan santai, gunungan masih dalam skala kecil tapi ada keinginan untuk berbuat dalam memberikan informasi potensi-potensi yang tape yang oleh panitia disusun menyerupai tumpeng dimakan bersama dan dibagikan kepada pengguna jalan ada di Kenduruan, khususnya Desa Tawaran. yang melintasi jalur Jatirogo-Blora itu. Tampak beberapa “PRI ini sangat menarik, menggali dan menampilpejabat Pemerintah Kecamatan, Kabupaten dan Komite kan potensi serta keunggulan desa yang selama ini Jagongan Matoh yang hadir, antusias mengikuti rangmungkin kurang terekspos,” ucapnya. kaian acara penutupan PRI yang digelar di area Kantor Pak Camat asal Parengan ini, menuturkan, desa yang terletak di ujung barat Kabupaten Tuban itu adalah Desa Tawaran. Mereka berbaur bersama panitia, membakebangaan dan layak dijadikan ikon Bumi Wali bidang gikan tape ketan kepada sejumlah pengguna jalan.n ydh

Gelar PRI

No. 233 n September 2017

15

S ELINGAN

Pamerkan produk unggulan dan Area demplot Jagung. (rtn)

P

Pekan Daerah 2017

ekan Daerah (Peda) Petani Nelayan III dinilai membangkitkan gairah petani-nelayan Bumi Wali. Kegiatan yang diprakarsai oleh Dinas Pertanian dan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Tuban ini berlangsung dua hari di Lapangan Desa Leran Wetan Kecamatan Palang, 2-3 Agustus 2017. Selain mempertemukan petani-nelayan se-Kabupaten Tuban, gelaran Peda Petani Nelayan III 2017 itu juga diramaikan oleh para proPak Wabup buka Peda Petani Nelayan III 2017. (rtn) dusen pertanian, baik perusahaan yang bergerak di bidang benih, pupuk, pestisida “bidikan” terhadap Jagung, mengmaupun alat-alat mesin pertanian ingat menjelang musim tanam Ja(alsintan). Oleh karena itu, boleh dikagung. Sedang, menyaksikan demplot ta, menjadi ajang komunikasi positif Bawang Merah, karena petani di yang menginformasikan berbagai beberapa wilayah Kecamatan tengah macam produk maupun kecanggimengembangkannya, di antaranya han teknologi pertanian. Tentunya, wilayah Kecamatan Tambakboyo, Paajang ekspo agrobisnis ini sangat lang, Rengel, Soko, Bancar dan Jenu. bermanfaat bagi petani-nelayan KaMalahan, hasil panenan Bawang bupaten Tuban, utamanya dalam meMerah di areal pertanian Kecamatan ningkatkan hasil-hasil produksi pertaRengel, Palang dan Soko ikut dipanian. Lebih dari 50 stan menghiasi merkan di even Peda Petani Nelayan arena Peda Petani Nelayan III 2017, III 2017. termasuk di dalamnya stan-stan Unit “Jadi luar biasa animonya, terPelaksana Teknis (UPT) Dinas Pertamasuk pencermatan petani terhadap nian se-Kabupaten Tuban. pengembangan tanaman Jeruk,” ujar Peda Petani Nelayan III 2017 Edy Sunarto, S.Hut, Kepala Bidang menyiapkan pula areal demplot. Di (Kabid) Sarana dan Prasarana Dinas antara komuditi yang “disuguhkan”, Pertanian dan Ketahanan Pangan Kaantara lain Jagung, Kacang Tanah, bupaten Tuban. Melon, Semangka, Bawang Merah, Timun dan lain-lain. Demplot yang Swasembada Pangan menjadi “lirikan”, selain Jagung juga Ditambahkan oleh Ir. Aris Yuli komoditi Bawang Merah, disamping Setianto, Kepala Seksi (Kasi) Kelemkomoditi-komoditi yang lain. Khusus bagaan dan Ketenagaan Bidang Sa-

16

Gairahkan Petani-Nelayan rana dan Prasarana Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tuban, bahwa penyelenggaraan Peda Petani Nela-yan III 2017 dihajatkan untuk membangkitkan semangat, tanggung jawab, kemandirian petani-nelayan serta masyarakat pelaku agrobisnis, dalam rangka meningkatkan pembangunan di bidang pertanian, khususnya dalam kerangka menyukseskan program swasembada pangan. Disamping itu, merupakan wadah pertemuan kontak tani-nelayan se Kabupaten Tuban, agar saling mengisi, tukar menukar informasi serta memperkuat kepemimpinan agribisnis tingkat petani-nelayan. Lebih dari itu, kehadiran tokohtokoh petani-nelayan, pelaku agrobisnis yang telah sukses, diharapkan memberi motivasi kepada petani-nelayan dan berinteraksi serta bersinergi untuk memanfaatkan sumber daya alam pertanian yang tersedia di wilayahnya masing-masing. Juga, menularkan pengalamannya kepada petani-nelayan agar pengetahuan dan ketrampilannya meningkat, utamanya yang terkait dengan peningkatan mutu produksi pertanian serta produktivitas dan komoditasnya. Dengan begitu, petani-nelayan akan terpacu untuk bekerja keras, yang selanjutnya akan berimbas pada peningkatan kesejahteraan.

No. 233 n September 2017

S ELINGAN “Lantaran itu merupakan wahana belajar, mengajar, tukar menukar informasi, pengalaman serta pengembangan kemitraan dan jejaring kerja sama antara petani-nelayan, masyarakat pelaku agrobisnis, peneliti, penyuluh, pihak swasta-pengusaha dan pemerintah, sehingga terjalin kerjasama yang harmonis dan sinergis dalam menyukseskan pembangunan pertanian, khususnya swasembada pangan” tandas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tuban, Murtaji, S.Pi MM. Agribisnis Berdaya Saing Wakil Bupati Tuban, Ir. H Noor Nahar Hussein, M.Si, yang membuka Peda Petani Nelayan III 2017, menga-

takan, tema “Kita Tingkatkan Ketahanan dan Kedaulatan Pangan” sangat berarti, mengingat 60% penduduk Kabupaten Tuban adalah petani. Melalui penyelenggaraan Peda Petani Nelayan III 2017, Pak Wabup berharap agar petani-nelayan dapat mengadopsi perkembangan dan inovasi dunia pertanian, maupun perikanan. Sehingga, berperan serta dalam memajukan pertanian Kabupaten Tuban. “Dengan even ini, petani-nelayan hendaknya memanfaatkan waktu seluang-luangnya untuk belajar banyak dari para ahli yang diundang,” pintanya. Adapun, pergelaran Peda Petani Nelayan III 2017, selain diproyeksikan untuk meningkatkan motivasi,

kegairahan dan kemandirian petaninelayan, juga diharapkan dapat membangun sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan melalui kemitraan dengan para pelaku agrobisnis yang saling menguntungkan. Dengan begitu, berimbas pada peningkatan kesejahteraan petani-nelayan. Sementara itu, di arena demplot Jagung, menghasilkan panenan Jagung “dhewo” (gedhe-dowo). Di lahan percobaan sekitar area Peda Petani Nelayan III 2017, dapat menghasilkan panenan 13,09 Ton Jagung per Hektar. Sedang, hasil panenan Jagung selama ini di kisaran 8-9 Ton Jagung per Hektar.n kdg

IMUNISASI Campak introduksi MR bertujudan Rubella agar anak teran menurunkan transhindar dari penyakit itu. misi penyebaran Virus Kabupaten Tuban menarRubella, menekan anggetkan peserta imunisasi ka kematian dan kecasebanyak 244.561 anak catan akibat Campak dari usia 9 bulan -15 tahun. Rubella. Data di Dinas “Vaksin ini sangat diKesehatan, terdapat tekankan Pemprov Jatim, sebanyak 240.617 juga Pemkab Tuban. Soanak di Kabupaten Tusialisasi harus digalakban, sehingga Vaksikan,’’ tandas Bupati Tunasi dibagi dua tahap. ban, H. Fathul Huda, saat Pertama, pada Agusmembuka acara Pencanatus 2017 Vaksinasi ngan Kampanye dan Introakan terkosentrasi di Sukseskan imunisasi Campak-Rubella. (kdg) duksi Measles Rubella TK/Paud, SD/MI, SMP/ (MR) di Aula SD Bina Anak Soleh. MTS, serta SDLB dan SMPLB . Kedua, di Posyandu, PoPak Bupati, mengatakan, perlu kesadaran kepada lindes, Pustu, Puskesmas, serta pelayanan kesehatan masyarakat akan pentingnya vaksinasi MR. Hal ini kalainnya, mengingat tahap kedua ini anak usia 9 bulan rena indikator keberhasilan Indeks Pembangunan Keusia SD. sehatan Masyarakat (IPKM) adalah keberhasilan Vaksi“Target penyelenggaraan di Tuban keseluruhan nasi. Program Pak Huda, sapaan Bupati Tuban, optimis anak. Semakin banyak yang divaksin semakin program nasional itu berhasil di Kabupaten Tuban. Terbersyukur,” ujar Pak Dokter, sapaannya. lebih, Dinas Kesehatan berpengalaman dalam menaVirus Campak tergolong berbahaya, tidak segera ngani vaksinasi, berulang-ulang menyelenggarakan ditangani cenderung mematikan. Gejala Campak diPekan Imunisasi Nasional (PIN), dan keberhasilannya tandai dengan panas tinggi, batuk, pilek dan timbul di atas 100%. ruam merah pada kulit, bahkan pada fase lanjutan Pak Bupati, mengimbau sosialisasi terus digalakpenderita dapat mengalami pendarahan. Komplikasi kan, disertakan pada kegiatan masyarakat, apakah itu dari Campak yang parah menyerang otak. Sedangkan, Jamaah Tahlil, Fatayat, Muslimat, Aisiyah ataupun saat Rubella, mirip Campak. Meski tidak mengancam jiwa khotbah sholat Jumat, juga saat ibadah umat lainnya. namun dampak yang ditumbulkan dapat mengakibatKepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten kan sindrom dan kecacatan lahir pada bayi. Kalau sinTuban, dr. Syaiful Hadi, yang baru dilantik menjadi Didrom tersebut menyerang, dapat membuat bayi buta rektur RSUD dr. Koesma, mengatakan, kampanye dan lahir dan tuli lahir. Terparah, otak bayi mengecil.n kdg

No. 233 n September 2017

17

I NFO DESA

Bancar Cair Tercepat ADD KEPALA Dinas PemSelanjutnya, tim berdayaan Masyarakat, asistensi dari kabuDesa dan KB Kabupaten paten sudah turun ke Tuban, Drs. Mahmudi, M.Si, kecamatan untuk melamenyatakan, saat ini hanya kukan monitoring dan ada satu kecamatan yang evaluasi tata cara seluruh desanya sudah mencairkan Alokasi Dana Desa (ADD) Tahap II, yakni Pak Mahmudi. (ydh) Bancar. Berdasarkan berkas yang masuk, sebenarnya terdapat 7 Kecamatan yang sudah mencairkan ADD Tahap II, yaitu Kecamatan Bancar, Senori, Semanding, Kerek, Parengan, Montong dan Bangilan, namun hanya Kecamatan Bancar yang sudah cair secara keseluruhan, sedangkan KecaSekcam dan Camat Bancar. (ydh) matan lainnya baru sebagian desa. mengajukan ADD maupun Dana DeSesuai dengan regulasi, pesa (DD) Tahap II kepada Kepala Desa ngajuan pencairan ADD Tahap II di(Kades) dan Bendahara. Selain semulai pada 1 Juli 2017 dengan syarat gera melengkapi berkas untuk penmasing-masing desa harus meramcairan ADD, laki-laki berkacamata pungkan Laporan Pertanggungini, juga menghimbau agar Desa jawaban (LPJ) realisasi ADD Tahap I mempersiapkan berkas kelengka2017 dan pelunasan PBB. pan pengajuan Dana Desa (DD) Ta“Memang baru Kecamatan hap II, karena pencairannya akan Bancar, Kecamatan lainnya masih dimulai awal Agustus tahun ini. terbentur dengan kendala persyara“Kami berharap semuanya bisa tan administrasi maupun pelunasan lancar dan tepat waktu. Untuk itu, diPajak Bumi dan Bangunan (PBB),” butuhkan kerja sama dari semua kata Pak Mahmudi sapaannya. pihak,” terangnya. Dituturkannya, saat ini sudah ada beberapa berkas yang masuk Konsolidasi dengan Pemdes masih dalam proses koreksi. NantiSementara itu, Camat Bancar, nya, setelah selesai dikoreksi akan Drs. Danardji, MM, mengungkapkan, langsung diproses dan dinaikkan ke bahwa Bancar bisa tepat waktu daBadan Pendapatan, Pengelolaan Kelam mencairkan ADD karena pihakuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) nya terus menjaga konsolidasi deKabupaten Tuban. ngan Pemerintah Desa (Pemdes), tePak Mahmudi, mengungkaprutama dalam hal pelunasan PBB. kan, pencairan ADD 2017 di Bumi Sehingga, pada pengajuan persyaWali dibagi menjadi dua tahapan daratan pencairan ADD 2017 tidak melam satu tahun. Yakni tahap awal di nemukan halangan yang berarti. bulan Januari-Juni sebesar 50 per“Kami beserta seluruh jajaran sen, kemudian sisanya di tahap beribekerja semaksimal mungkin. Hasilkutnya bulan Juli-Desember.

18

nya, kami menjadi ranking tiga dalam pelunasan PBB dan pencairan ADD Tahap II tercepat,” ucapnya dengan nada bahagia. Kemudian, laki-laki klimis ini, membagikan kiat suksesnya dalam hal pelunasan pembayaran PBB di wilayahnya. Salah satunya adalah model pendekatan persuasif, serta seringnya bersilaturahmi dan berkomunikasi dengan warga di setiap kesempatan, baik acara formal maupun non formal. Yang tidak kalah penting adalah menjalin kerja sama yang baik dengan masing-masing Pemdes, khususnya Kades. “Saya sering mengajak masyarakat untuk berbincang tentang pembangunan desa dan selalu menekankan untuk secepat mungkin melakukan pelunasan pajak sebelum jatuh tempo. Harapannya, mereka akan akan mengerti dan memahami arti penting pajak, serta memiliki kesadaran untuk membayar pajak,” tukasnya. Terkait kendala administrasi yang seringkali muncul, Pak Camat, sapaannya, mengaku hal itu tidaklah menjadi rintangan. Pasalnya, setiap kali ada perubahan regulasi, pihaknya selalu aktif menggelar pertemuan guna mencari solusi bersama. “Tidak hanya sekadar menginformasikan perubahan tersebut, pihak Kecamatan melalui Kepala Seksi (Kasi) Pemerintahan juga memfasilitasi dengan menyediakan formatformat yang dibutuhkan,” tegasnya. Pak Camat, berharap, semua program pembangunan yang telah direncanakan bisa selesai tepat waktu. Baginya, kelancaran pembangunan di desa merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan di Kecamatan Bancar.n ydh

No. 233 n September 2017

Raih Kembali

Adipura

Raih terus penghargaan Adipura. (kdg)

M

enteri LHK, mengatakan, guna meningkatkan transparansi dan akuntabilitas anugerah Adipura, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2016 mereformulasi penghargaan Adipura dengan strategi rebranding Adipura. Salah satu diantaranya, terkait proses penilaian yang harus dilalui oleh para Bupati/Walikota nominator penerima penghargaan Adipura, dilakukan presentasi dan wawancara di hadapan Dewan Pertimbangan Adipura, Praktisi Pengelolaan Sampah dan Bidang Pemasaran, Pejabat KLHK, Akademisi Perguruan Tinggi, Lembaga Swadaya Masyarakat dan rekan-rekan Media Massa. “Dalam penerapan program Adipura perlu terobosan baru yang mengarah pada peningkatan dampak positif dari program Adipura,” tutur Menteri LHK. Hal ini sesuai arahan Wakil Presiden (Wapres), Jusuf Kalla, pada saat penyerahan penghargaan Adipura di Siak, 22 Juli 2016 lalu, yang menyampaikan agar adanya aturan dan kriteria yang lebih ketat da-lam penilaian program Adipura. Sejalan dengan hal tersebut, saat ini KLHK melakukan rebranding strategi Adipura. Sebagai dasar hukum pelaksanaan program Adipura disusun berdasarkan Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.53/Menlhk/ Setjen/Kum.1/6/ 2016 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adipura. Dalam Permen LHK ini, program Adipura diharapkan mampu mendorong

Kabupaten Tuban kembali meraih Adipura. Penghargaan bergengsi di bidang lingkungan hidup tahun ini diserahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, di Auditorium Manggala Wanabakti, Jalan Jendral Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

penyelesaian berbagai isu lingkungan hidup, yaitu Pengelolaan Sampah dan Ruang Terbuka Hijau, Pemanfaatan Ekonomi dari Pengelolaan Sampah dan RTH, Pengendalian Pencemaran Air, Pengendalian Pencemaran Udara, Pengendalian Dampak Perubahan Iklim, Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan akibat Pertambangan, Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, serta Penerapan Tata Kelola Pemerintahan yang baik. Rebranding Adipura adalah upaya untuk melakukan sistematika ulang penghargaan Adipura agar mudah dipahami masyarakat. Terlebih, isu lingkungan semakin kompleks sehingga harus diiringi dengan peningkatan tata pemerintahan yang berorientasi pada lingkungan. Melalui sistematika ulang, dengan fokus tertentu, misalnya orientasi sosial dan pemberdayaan masyarakat untuk Adipura Buana dan Adipura Kirana, yang bersifat visualisasi. “Program Adipura harus mendorong terwujudnya kota-kota di Indonesia yang tidak hanya bersih, hijau dan sehat, namun juga berkelanjutan dalam mewujudkan kota yang layak huni (livable city). Kota-kota yang berkelanjutan harus mengintegrasikan aspek pembangunan ekonomi, pembangunan sosial, juga pembangunan lingkungan dengan turut mendorong partisipasi aktif masyarakatnya,” pesan Bu Menteri. Pada kurun waktu satu tahun, pemerintah Kabupaten/Kota juga diharapkan menjaga kondisi kota yang

No. 233 n September 2017

bersih, teduh, sehat dan berkelanjutan. Tidak menghendaki satu kota bersih hanya pada saat dipantau oleh tim saja, seperti yang terjadi pada kota yang dilaporkan kondisinya kotor oleh masyarakat setelah menerima penghargaan Adipura. Untuk hal ini, sangat serius memperhatikannya dan Dewan Pertimbangan Adipura juga sangat memberikan perhatian penuh terhadap informasi dari masyarakat. Tidaklah Mudah Komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban terus berupaya mewujudkan lingkungan yang bersih, hijau serta sehat, sehingga menjadikan Kabupaten Tuban kian layak huni bagi masyarakatnya. Bupati Tuban, H. Fathul Huda, mengatakan, untuk mewujudkan lingkungan kota yang bersih dan indah tidaklah mudah, diperlukan dukungan seluruh komponen masyarakat. Oleh karena itu, mengajak masyarakat berpartisipasi menjaga kebersihan lingkungan, sehingga Adipura terus dapat diraih. Bupati berharap capaian yang sudah baik harus dipertahankan dan ditingkatkan. Bukan karena penghargaan, tetapi bagaimana terus membudayakan serta terus berpola hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari. Untuk Jawa Timur (Jatim), selain Kabupaten Tuban, penghargaan Adipura diraih pula oleh Kabupaten Sidoarjo, Banyuwangi, Probolinggo, Malang, Pasuruan dan Mojokerto, sedangkan Kota Surabaya, Kota Malang dan Kabupaten Jombang meraih Adipura Kencana.n kdg

19

20

No. 233 n September 2017

No. 233 n September 2017

21

Gelar Lomba Inovasi Produk Makanan Ringan Agar kian menggeliat lagi Industri Kecil Menengah (IKM) di Bumi Wali, Dinas Koperasi, Industri dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Tuban mengadakan Lomba Inovasi Produk Makanan Ringan. Greget penyelenggaraan lomba dititikberatkan pada inovasi-inovasi produk makanan ringan yang berbasis agro (pertanian) dan perikanan.

Bangga produk IKM. (rtn)

S

tresing menginovasi produk makanan ringan berbasis pertanian dan perikanan, mengingat Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki Kabupaten Tuban. Usaha-usaha pertanian, ataupun bididaya-budidaya perikanan, merupakan “kekayaan” Bumi Wali. Adapun, pemanfaatan terhadap dua SDA ITU, dirasa masih kurang, utamanya yang “direkayasa” atau diolah menjadi produk makanan ringan. Oleh karena itu, untuk mengoptimalkan lebih lanjut pemanfaatan sumber daya pertanian maupun perikanan, perlu dirangsang dengan penggelaran Lomba Inovasi Produk Makanan Ringan. “Jadi itulah spirit lomba, salah satunya untuk mengoptimasi kekayaan alam Kabupaten Tuban,” kata Edy Sukirno, Kepala Bidang (Kabid) Perindustrian Diskoperindag Kabupaten Tuban. Terhitung, sebanyak 226 peserta Lomba Inovasi Produk Makanan Ringan. Mereka dari kalangan pelaku usaha IKM, Pelajar maupun Mahasiswa. Lomba tidak dikhususkan bagi para pelaku usaha IKM karena

22

Produk-produk makanan ringan peserta.

Diskoperindag ingin pula menumbuhkan jiwa wira usaha di ranah Pelajar dan Mahasiswa. Mereka adalah generasi penerus, sebagian mungkin terus menekuni dunia akademik, tetapi tidak menutup kemungkinan ada yang potensial menekuni bisnis. Bagi kalangan Pelajar dan Mahasiswa yang “terpikat” dunia usaha, sudah barang tentu Lomba Inovasi Produk Makanan Ringan dijadikan ajang pengenalan, atau pintu masuk menuju sebuah kompetisi. Oleh karena itu, merupakan porsi tersendiri jikalau Diskoperindag memberikan kesempatan kepada Pelajar dan Mahasiswa mengikuti Lomba Inovasi Produk Makanan Ringan Berbasis Pertanian dan Perikanan. “Kali ini peserta kalangan pelaku usaha IKM 203. Sedang, Pelajar dan Mahasiswa sebanyak 23. Patut kita apresiasi, jumlah sebanyak itu sebenarnya diluar perkiraan, alias “membludak”,” tutur Pak Edy, sapaan Kabid Perindustrian Diskoperindag. Dipaparkan, makanan ringan, atau “camilan”, adalah produk yang digemari dan keberadaannya hampir ada di setiap wilayah pelosok Nu-

santara, termasuk di dalamnya Kabupaten Tuban. Memang, tidak sedikit pelaku usaha IKM yang menekuni usaha makanan ringan. Meski begitu, masih terbuka peluang pasarnya, apalagi disentuh oleh sosok-sosok peracik makanan ringan yang kreatif. Perlu dicermati, masyarakat pengonsumsi makanan ringan bukan semata anak-anak, akan tetapi juga dinikmati bagi mereka yang sedang santai, beristirahat, berwisata, menonton televisi, begadang, menonton layar lebar, belajar, atau pada saat beraktivitas lainnya. Oleh karena itu, bisnis makanan ringan masih menjadi usaha yang prospektif ke depan. Berkualitas Kaitan dengan Lomba Inovasi Produk Makanan Ringan, mengingat makanan ringan yang dijual harus berkualitas, baik dari segi bahan baku, pengolahan maupun pengemasan. Sedangkan, di ajang lomba, sangat memperhatikan hal tersebut. Begitu pula dengan kemasanaanya, desain harus memikat. Pelaku usaha IKM yang berhasil adalah pengusaha yang selalu kreatif, baik dalam menciptakan makanan ringan yang unik, khas maupun berbeda. Juga, model kemasannya yang memikat. Selain itu, visioner, berpikir besar dan berpikir positif. “Nah semua itu dipertaruhkan di ajang Lomba Inovasi Produk Makanan Ringan. Lantaran itu, manfaatkan even ini bagi kesuksesan usaha IKM,” kata Kabid Perindustrian Diskoperindag ini.n rtn

No. 233 n September 2017

K ESEHATAN

Puskesmas Jenu

Dukung Bulan Timbang

Dukung kegiatan Bulan Timbang di Posyandu)

Mungkin pernah dengar tentang bulan penimbangan di Posyandu? Baiklah, mari kita kupas bersama upaya perbaikan gizi masyarakat di seluruh pelosok tanah air itu, utamanya di wilayah kerja Puskesmas Jenu.

U

paya perbaikan gizi masyarakat tentu tak lepas dari peran kegiatan Posyandu di Desa. Namun, apakah kegiatan Posyandu sudah sesuai dengan prosedur atau tidak, mari kita lihat pelaksanaan Posyandu yang sesuai dengan standar Posyandu. Bulan Penimbangan Balita adalah bulan dimana semua anak balita dipantau pertumbuhannya di Posyandu dan diberikan VIT- A sekaligus diberikan pelayanan kesehatan dasar. Kegiatan bulan timbang ini dilaksanakan setiap bulan Februari dan Agustus bertepatan dengan pemberian Vit-A. Dalam bulan timbang ini diharapkan peran serta se-

mua lintas sektor agar berjalan sesuai rencana, yaitu meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap pelaksanaan Posyandu sehingga hasil bulan timbang bisa dipakai sebagai pemantauan pertumbuhan Balita. Kasus-kasus Balita gizi buruk kerap terjadi namun tidak terdeteksi dengan kegiatan Posyandu tiap bulannya, meski demikian, dengan penyelenggaraan bulan timbang dapat mengantisipasi lebih awal kasus yang berbagai macam latar belakang karena adanya sweeping (kunjungan) Balita yang tidak datang di Posyandu, maka akan muncul kasus –kasus tertentu yang selama ini mungkin tidak terjangkau oleh petugas maupun kader Posyandu yang ada. Di Puskesmas Jenu ada 17 Desa dengan latar belakang budaya berbeda, namun memiliki kesamaan dalam mendukung proses perbaikan gizi masyarakat melalui Posyandu. Dengan sebanyak 69 Posyandu, didukung 168 Kader Posyandu, dapat melaksanakan kegiatan bulan timbang bersama dengan lintas sek-

No. 233 n September 2017

tor, terutama Pokjanal Posyandu di tingkat Kecamatan, Tim penggerak PKK Kecamatan dan Kelurahan/ Desa, Lembaga Swadaya Masyarakat, Organisasi Profesi dan Organisasi Kemasyarakatan lain yang ada di wilayah Jenu guna meningkatkan derajat kesehatan yang optimal menuju masyarakat sehat. Apabila ada Balita tidak datang ke Posyandu maka dilakukan sweeping rumah oleh kader agar sasaran pelaksanaan Posyandu terpenuhi. Setelah itu, diberikan waktu merekap pelaksanaaan kegiatan dan dilaporkan sesuai garis pertumbuhan. Kalaupun ada Balita yang gizi buruk /gizi kurang akan dilakukan penanganan sesuai dengan prosedur Balita gizi buruk, baik rawat inap maupun rawat jalan bekerjasama dengan tim yang lain terutama koordinasi dengan lintas program yang terkait dalam menyelesaikan kasus yang ada. Sehingga, tepat dan cepat dalam mengambil langkah upaya perbaikan/penanganan kasus secara terpadu. Jadi, di bulan timbang, kalaupun ada kasus emergncy dapat dilakukan penanganan secara terpadu. Bulan timbang membawa kita menuju pertumbuhan Balita yang optimal, apabila terjadi kasus-kasus tertentu, mudah dideteksi lebih awal. Dengan melakukan bulan timbang dapat memonitor pertumbuhan Balita sehingga membantu mengoptimalkan kegiatan di Posyandu dan mendapatkan gambaran/pemetaan Balita di seluruh Kecamatan Jenu. Akhirnya, dengan optimalisasi Posyandu membantu kita menuju ke arah yang lebih baik dan mengurangi masalah gizi di Indonesia tetutama di wilayah Puskesmas Jenu.n jnu

23

P ENDIDIKAN

R

ektor Unirow, Dr. Supianan Dian Nurtjahyani, M.Kes, menyatakan Unirow dan Pemkab Tuban berupaya meletakkan pondasi kerjasama yang sinergis bertumpu pada perbaikan kualitas masyarakat Tuban. Sebagai salah satu Kampus yang ada di Tuban, Unirow berkepentingan membangun langkah bersama dengan Pemkab Tuban, bukan karena letak geografis yang berada di wilayah Kabupaten Tuban, tetapi, sudah sewajarnya sebagai lembaga Perguruan Tinggi Swasta (PTS) ikut mengontribusi kemaslahatan umat, baik dalam koridor pendidikan yang bertujuan meninggikan kualitas generasi melalui perkuliahan, juga dalam bentuk kemaslahatan lainnya yang lebih luas, sepanjang berada dalam koridor Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sambutan Rektor Unirow tersebut disampaikan saat acara pelepasan KKN 2017 Unirow di Pendopo Krido Manunggal Tuban. Pelepasannya secara simbolis dilakukan H. Fathul Huda, Bupati Tuban. Pak Bupati bersama Rektor Unirow menandai pelepasan dengan menyematkan atribut KKN pada perwakilan peserta, serentak diikuti oleh sebanyak kurang lebih 1.200 mahasiswa perserta KKN. Mereka, setelah pelepasan, sebulan penuh melaksanakan program KKN di 49 Desa tersebar di 20 Kecamatan Kabupaten Tuban. Penandatangan MoU KKN Unirow yang bertemakan “Pemberdayaan Masyarakat Mendorong Upaya Pengentasan Kemiskinan” juga diikuti dengan penandatangan MoU antara Unirow dengan Pemkab Tuban. MoU ini dilakukan sebagai pintu awal terbangunnya sinergi, dengan pola kerjasama yang sebelumnya antara Pemkab dengan Unirow, diantaranya, profil desa, aplikasi sistem informasi di Dinas Kominfo, pembinaan kelompok pebudidaya ikan/udang, dan lainnya yang telah berjalan sebelumnya.

24

Teken kerjasama. (mif)

Bangun Sinergi, Entaskan Kemiskinan Terkait KKN, ada muatan kerjasama pemberdayaan masyarakat yang terarah untuk mendorong pengentasan kemiskinan. Hal itu tampak dari beberapa program yang disepakati, seperti pemberdayaan, pemberian ketrampilan untuk masyarakat, menggali potensi desa sebagai kontribusi untuk Pemkab, teknologi tepat guna dan lainnya. Mengenai hal tersebut, mahaiswa KKN telah mendapat pembekalan bukan hanya dari para pejabat dan dosendosen Unirow, tetapi juga mengundang beberapa OPD (Organisasi Perangkat Daerah) yang terkait dengan tema KKN Unirow. “Pemkab Tuban membangun kerjasama bukan hanya dengan PTS, tetapi juga dengan elemen masyarakat lainnya. Semua untuk memperbaiki, bukan hanya bidang ekonomi, akan tetapi, juga kualitas hidup masyarakat kabbupaten Tuban,” tutur H. Fathul Huda, Bupati Tuban, saat memberikan sambutan pelepasan KKN Unirow 2017. Pak Bupati juga berpesan kepada peserta KKN agar potensi yang melekat pada mahaasiswa harus puola disertai dengan keberanian untuk maju, karena hal tersebut akan berdampak kepada masyarakat. Generasi muda harus menjadi garda terdepan untuk perubahan ke-

baikan dan kemaslahatan masyarakat. Kemiskinan Pak Huda, sapaan Bupati Tuban, juga menyampaikan, bahwa persoalan pokok saat ini adalah mengangkat kedudukan Kabupaten Tuban agar tidak lagi menjadi Kabupaten yang dinyatakan sebbagai “Kabupaten Miskin”. KKN Unirow harus memberikan dorongan bukan hanya kemampuan-kemapuan ketrampilan dan teknik, tetapi harus juga memberikan rangsangan yang benar pada mindset masyarakat Tuban yang kebanyakan petani, untuk berpola pikir yang lebih maju. “Kunci kemajuan Kabupaten Tuban tidak terletak pada seberapa besar potensi SDA, tetapi seberapa berdaya SDM yang dimiliki mampu mengembangkan, termasuk mindset masyarakat yang mampu menyesuaikan diri dengan arus perkembangan dan kemajuan,” tegas Pak Huda. Terkait kerjasama, Pak Bupati, membuka lebar, bahkan menyarankan ada tindak lanjut dan prosedural. Juga, meninginstruksikan kepada Sekda Kabupaten Tuban, agar membangun kerjasama yang tertuju pada pengentasan kemiskinan.n mif-kdg

No. 233 n September 2017

P ENDIDIKAN

Prodi IK dan IP Akreditasi B

D

ekan Fakultas Perikanan dan Kelautan (Fakanlut) Unirow, Dr.Dede Nuraida, M.Si, bersyukur atas teraihnya nilai Akreditasi B dari BAN-PT (Badan Akreditasi NasionalPerguruan Tinggi) pada dua Program Studi (Prodi) Ilmu Perikanan dan Kelautan. Pencapaian nilai B tersebut merupakan buah kerja keras dari segenap punggawa Fakanlut. Terlebih, Rektor Unirow Dr.Supian Dian Nurtjahyani, M.Kes, mencanangkan agar di tahun 2018 nanti ke semua Prodi di Unirow mampu bernilai B. Hal ini, menurut, Rektor, adalah tuntutan yang harus dipenuhi, sebab dengan Akreditasi B akan berdampak kepada lulusan Unirow, juga bagian dari tuntutan kualitas. Syukuran Anugerah yang tercermin dari keberhasilan upaya Fakanlut dalam meningkatkan kualitas itu, membuat jajaran Fakanlut mensyukuri dengan cara sederhana, yaitu mengadakan tumpengan. Acara tersebut mengundang semua Fakultas dan Prodi, Rektorat, Yayasan serta karyawan unirow. Syukuran, bukan hanya untuk mengungkapkan rasa syukur, tetapi juga memohon doa dari jajaran Unirow agar Prodi Perikanan dan Kelautan ke depan bisa menjaga angerah itu, bahkan mampu meningkatkannya. Bu Dede, sapaan Dekan Fakanlut, menegaskan, untuk mencapai perbaikan perlu penguatan internal Fakanlut. Penguatan tidak akan terjadi jika personel di dalamnya tidak mau bahu membahu dan menjaga kekompakan. Untuk itu, disampaikan kepada semua yang hadir agar Prodi yang belum terakdetasi B dimohon memperhatikan kekompakan segenap personilnya, karena merupakan kunci penting meraih peningkatan kualiitas. Perhelatan itu menjadi titik penting bagi Fakanlut, yang semula kurang diminati, sebagai alasan peminatan di Fakanlut yang kurang diminati karena nilai akreditasinya belum B. Salah satu syarat penting dalam bursa kerja baik untuk perusahaan swasta maupun PNS selalu menanyakan akreditasi Prodi, terutama test CPNS, menyaratkan nilai akreditasi Prod harus B. “Syukuran ini mempunyai makna penting, dengan teraihnya nilai akreditasi B animo calon mahasiswa Faakanlut,” tutur Dekan Fakanlut. Kualitas Berbicara Unirow Tuban, oleh Rektornya, dipacu agar mampu meningkatkan kualitas. Alasannya, selain da-

No. 233 n September 2017

Suasana syukuran. (mif)

ya tarik sarana prasana, hal paling dicari adalah kualitas dalam memproses perkuliahannya. Cerminan dari kualitas perkuliahan salah satunya adalah akreditasi. selain itu kiprah Unirow sendiri di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu, Bu Dian, sapaannya, sekuat tenaga mendekatkan Unirow kepada kiprah yang benar-benar bermanfaat bagi msyarakat. Hal ini terwujud dalam beberapa kerjasama di tingkat kabupaten, dengan Pemkab Tuban yang terealisasi dengan beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Kerjasama juga dijalin dengan beberapa perusahaan di Tuban dan Bojonegoro, seperti dengan PT Semen Indonesia, Holcim, Exon Mobile dan beberapa perusahaan serta komunitas masyarakat lainnya. Untuk antar perguruan tinggi di JawaTimur (Jatim), jelas-jelas Unirow mengagendakan beberapa bentuk kerjasama, dengan ITS, Unesa, Unmuh Malang dan lainnya. Itu semua akan dituai dalam janka panjang, yang muaranya adalah peningkatan manajerial dalam mengelola kampus, penumbbuhan budaya mutu, serta langkah-langkah mengupayakan tumbuhnya kualitas dan prestasi. Internal Unirow sendiri, secara jelas telah berubah besar-besaran. Terutama, manajemen penggelolaannya. Dari Universitas se-Jatim kini berada ranking 44 dai 328 PTS yang ada di Jatim, dan hal ini menjadikan Unirow berada di Klaster Madya. Klaser ini, memberikan snyal, bahwa di dalamnya mempunyai tanggung jawab yang meningkat, sebagai contoh, mampu menyelenggarakan seminar nasional, mempunyai terbitan jurnal ber-ISSN (Unirow mempunyai 3 terbitan). “Bukan itu saja konsekwensi dari Klaster Madya, kualitas pembelajarannya juga harus sesuai kurikulum KKNI dan kualitas pengabdian kepada masyarakat harus juga meningkat kualitasnya.” jelas Bu Dian di ruang kerjanya.n mif

25

P ENDIDIKAN

B

upati Tuban, H. Fathul Huda, mengunjungi peserta Raimuna Nasional (Rainas) ke XI Tahun 2017 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur, Jakarta Timur. Pada kesempatan ini, Pak Huda, sapaan Bupati Tuban, menyemangati para peserta serta menyerukan agar mengambil pengalaman sebanyak mungkin. Di arena Rainas, berkumpul peserta dari Pramuka Penegak dan Pandega utusan dari setiap Kwartir Cabang dan Kwartir Daerah se-Indonesia. Pengalaman yang diperoleh dari kegiatan Rainas, 13-21 Agustus 2017, diharapkan ditularkan kepada Pramuka Tuban, bahkan bukan hanya di lingkup Pramuka, tetapi juga kepada kalangan muda pada umumnya. Kontingen Tuban yang mengikuti Rainas ke-XI sebanyak 24 orang, terdiri 12 perempuan dan 12 laki-laki. Sekretaris Kwarcab Tuban, yang juga Kepala Bagian (Kabag) Humas dan Protokol Setda Kabupaten Tuban, Drs. Agus Wijaya, menuturkan, sebelum berangkat peserta mengikuti pembekalan yang cukup. Mereka dilatih kedisiplinan, kemandirian dan mendapat motivasi langsung dari Ketua Kwarcab Tuban, Kakak Sulistiadi. Raimuna, jelas Kak Agus, merupakan pertemuan Pramuka Penegak dan Pandega dalam bentuk perkemahan besar. Tujuan kegiatan ini membina dan mengembangkan persaudaraan serta persatuan antar Pramuka Penegak dan Pandega. Kegiatan pada Raimuna dikemas kreatif, rekreatif, produktif dan edukatif. Raimuna diselenggarakan secara berjenjang berdasarkan penyelenggara dan pesertanya. Macam tingkatan Raimuna sebagai berikut, Raimuna Nasional (Rainas), diselenggarakan Kwartir Nasional (Kawarnas) dengan peserta dari seluruh Indonesia. Raimuna Daerah (Raida), diselenggarakan Kwartir Daerah (Kwarda) dengan peserta utusan da-

26

Pak Huda Kunjungi

Kontingen Rainas XI ri masing-masing Kwarcab di Kwarda. Raimuna Cabang (Raicab), diselenggarakan Kwartir Cabang (Kwarcab) dengan peserta dari utusan dari Kwaran dan Gugus Depan (Gudep) di Kwarcab. Raimuna Ranting (Rairan), diselenggarakan Kwartir Ranting (Kwaran) dengan peserta dari utusan Gudep di Kwarran. “Rainas telah diselenggarakan 10 kali. Terakhir kali Rainas di Jayapura, Papua, 2012 silam. Dan berikutnya, Rainas XI ini, diselenggarakan di Cibubur, dibuka Presiden Joko Widodo, 14 Agustus 2017 yang lalu,” ujar Kak Agus. Raimuna berasal dari bahasa Ambai, daerah Yapen Timur, Kabupaten Yapen Waropen, Papua. Kata Raimuna merupakan gabungan dua kata, yaitu Rai dan Muna. Rai berarti sekelompok orang yang berkumpul untuk mencapai tujuan tertentu yang ditetapkan bersama. Sedangkan Muna adalah daya kekuatan jiwa seseorang yang berpengaruh baik dalam mencapai kesuksesan. Dengan demikian, Raimuna memiliki arti sekelompok orang yang hidup dalam suatu kekuatan dengan dijiwai oleh sesuatu daya kekuatan yang selalu memberi semangat tinggi dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu, untuk membina dan mengembangkan persaudaraan serta persatuan di kalangan Pramuka Penegak dan

Pramuka Pandega, perlu dilaksanakan Rainas. Kegiatan Rainas XI Kegiatan dalam Rainas 2017 dibagi 8 kelompok, yaitu Kegiatan Umum dan Persaudaraan, meliputi Ibadah Keagamaan, Upacara Adat Bhinneka Tunggal Ika, Upacara Pembukaan, Upacara Hari Pramuka Ke-56, Upacara Hari Kemerdekaan RI Ke- 72, Upacara Bendera, Olahraga, Korve Tenda, Malam Bhinneka Tunggal Ika dan Upacara Penutupan. Adapun, kegiatan Khusus meliputi Mural Painting and Baliho, Malam Selamat Datang, Gapura Nusantara, Jumpa Tokoh Inspiratif, Hari Kemerdekaan RI Ke-72, Malam Refleksi Kebangsaan, Kegiatan Pimpinan Kontingen Daerah dan Bindamping, Kegiatan Global Development Village & Science meliputi Zona Kewirausahaan, Zona Komunitas dan Zone Teknologi dan Informasi. Dilaksanakan pula Tur Edukasi, Budaya, Ketrampilan, Teknologi dan Sejarah. Rover Challenge meliputi Adventure Land, Water Activity, High Rope. Subcamp oleh Kwarda Jawa Barat dan Kwarda Banten. Seni dan Budaya dengan Pentas Seni Daerah dan Variety Show serta Festival Raimuna Nasional 2017 demeriahkan dengan Karnaval Nusantara, Masak Besar dan Kuliner Nusantara.n kdg

No. 233 n September 2017

P ENDIDIKAN

“Aku Pramuka Indonesia”

G

erakan Pramuka (Praja Muda Karana) kini berusia 56 tahun. Di usianya itu, nilai-nilai Satya Dharma Pramuka diharapkan tertanam dalam hati setiap insan Pramuka sebagai pedoman bersikap dan berperilaku. Demikian disampaikan Bupati Tuban, H. Fathul Huda, membacakan Sambutan Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka, Dr. Adhyaksa Daut, SH, M.Si, pada Apel Besar Gerakan Pramuka, 14 Agustus 2017. Pak Huda, sapaannya, selain Bupati Tuban, juga Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Kamabicab) Kwarcab Gerakan Pramuka Tuban. Dituturkan, melalui tema “Bekerja untuk Kaum Muda, Mewariskan yang Terbaik Bagi Bangsa”, mengindikasikan bahwa Gerakan Pramuka tetap konsisten dan fokus mendidik kaum muda yang berkarakter, melalui berbagai kegiatan, menyiapkan generasi mileneal menjadi pemimpin bagi bangsanya. Pramuka adalah garda terde-

pan bangsa, garda terdepan Pancasila, yang merupakan aset bagi keutuhan NKRI. Diharapkan, khususnya para orangtua dan guru agar tidak ragu-ragu memberikan kesempatan dan dukungannya kepada putraputrinya untuk mengikuti kegiatan ke-Pramuka-an di Gugus Depan (Gudep) masing-masing. Gerakan Pramuka adalah pendidikan nonformal yang melengkapi pendidikan informal yang diperoleh anak-anak dalam keluarga, juga pendidikan formal di sekolah. Mengingat, pendidikan formal tidaklah cukup menghasilkan kaum muda handal berkarakter. Sedangkan, peran keluarga sebagai pendidik informal sangat penting dalam membentuk karakter anak-anak. Gerakan Pramuka adalah penyatuan dari 60 organisasi Kepanduan untuk bisa menjadi perekat bangsa. Presiden Pertama RI, Soekarno, menyerahkan Panji Gerakan Pramuka kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Ketua Kwarnas

No. 233 n September 2017

Gerakan Pramuka pada tanggal 14 Agustus 1961, dan berpesan bahwa Gerakan Pramuka untuk membina dan memantapkan karakter kaum muda Indonesia. “Berusahalah sehebat-hebatnya untuk mengembangkan dan meluaskan gerakan kita. Sampai pada suatu ketika setiap anak dan pemuda serta pemudi kita, baik mahasiswa yang di kota maupun yang menggembala kerbau di desa, dengan rasa bangga dan terhormat dapat menyatakan “Aku Pramuka Indonesia,” ucap Pak Bupati, bersemangat menirukan pesan Bung Karno kala itu. Gerakan Pramuka adalah ‘rumah besar’ bersama, menyatukan bangsa ini ketika banyak pihak berkepentingan. Potensi gerakannya besar, demikian mimpi dan visi-misinya. Anggotanya tersebar di seluruh pelosok Tanah Air, begitu pula dengan jaringannya, kuat dengan pengorganisasian yang terstruktur dan sistematis.n kdg

27

P ENDIDIKAN

Pemenang Pertama LSS Nasional

Penganugran Juara I Lomba LSS Nasional 2017. (dok)

Dari kiri ke kanan: Drs. Sya’roni, Dra. Susiyaningsih, Hasan Asj’ari, S.Pd., Sri Utami Septa S, M.Pd, A. Hamam Rosyidi, S.Pd, MA, Winuk Supiati, M.Pd. (rtn)

S

etelah all out, akhirnya SMPN 3 Tuban dinobatkan sebagai Pemenang Pertama Lomba Lingkungan Sekolah Sehat (LSS) Nasional 2017. Malahan, bertekad menjadi pemenang LSS sepanjang hayat. “Esensi lomba LSS PHBS (Perilaku Hidup Bersih Sehat). La itu yang kita pertahankan selama-lamanya di SMPN 3 Tuban,” ujar Dra. Titik Susiyaningsih, salah seorang Guru yang juga sosok Penjamin Mutu SMPN 3 Tuban. Dijelaskan, lomba LSS Nasional adalah kegiatan kolaborasi antara empat kementerian, diantaranya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Pemenang lomba dibagi ke dalam dua kategori, masing-masing kategori Best Achievement (Pencapaian Terbaik) dan Best Performance (Pencapaian Terbaik). SMPN 3 Tuban yang berjuluk SMPN Sunan Kalijaga pemenang kategori Best Achievement. “Karenanya membanggakan. Lagian lomba LSS ini prestisius. Jika tidak keliru, peserta lomba LSS tingkat Nasional 2017 diikuti 500 sekolah se-Indonesia, baik setingkat TK, SD, SMP maupun SMA,” tutur Bu Titik, sapaannya. Sebagai pemenang kategori Best Achievement, SMPN 3 Tuban dinilai memiliki sarana prasarana sekolah yang baik. Selain itu, memenuhi persyaratan kesehatan dan pengetahuan serta sikap peserta didik terhadap penerapan PHBS. Sedangkan,

28

Area Promosi Kesehatan SMPN 3 Tuban. (rtn)

sekolah lain yang mendapatkan anugrah sebagai pemenang kategori Best Performance, dinilai memiliki komitmen dan upaya pengembangan dan pelaksanaan UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) yang dilakukan Tim Pembina UKS, baik tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota dan Kecamatan serta Sekolah. Meski begitu, bukannya UKS SMPN 3 Tuban tidak bagus, justru memiliki Kader Kesehatan Remaja (KKR) yang jumlahnya melampaui standar persyaratan. Berdasarkan ketentuan, jumlah KKR peserta lomba LSS tingkat Nasional setidaknya 10% dari jumlah peserta didik, adapun SMPN 3 Tuban mempunyai 134 KKR dari keseluruhan peserta didik yang berjumlah 693. “Kalau tahu kipra KKR kita … luar biasa … mampu memberikan penyuluhan-penyuluhan, antara lain ke SDN Latsari, SD BAS, Masjid Al Falah hingga ke Posyandu terdekat. Lantaran itu, tidak salah mememangkan SMPN 3 Tuban kategori Best Achievement, mengingat partisipasi aktif KKR-nya,” tambah Drs Sya’roni, Kepala Sekolah (Kasek) SMPN 3 Tuban.

Demikian halnya dengan sarana prasarana sekolah yang dimiliki, misalnya saja keberadaan kamar mandi, yang juga sebagai salah satu kriteria penilaian lomba LSS tingkat Nasional 2017, SMPN 3 Tuban memiliki 23 kamar mandi. Rasio yang dipersyaratkan 1 kamar mandi untuk 40 peserta ddidik laki-laki dan 1 kamar mandi bagi peserta didik perempuan. Belum lagi kepemilikan urinoar, tempat cuci tangan, semuanya diperhatikan. Singkat kisah, ingin menjadikan peserta didik nyaman dan kerasan di sekolah. Adiwiyata Mandiri Sebenarnya, banyak hal yang tersisip dibalik prestasi LSS tingkat Nasional, satu diantaranya tekad SMPN 3 Tuban menciptakan kultur budaya sehat, baik sehat jiwa, raga, rasa maupun hati. Kalau warga sekolah sehat jasmani dan rokhani, tutur Pak Kasek, maka terciptalah PHBS dengan sendirinya. Adapun lingkungan yang ber-PHBS sangat mendukung kegiatan belajar dan mengajar. “Jadi marilah juara selamanya. Sangat penting bagi kita menciptakan kultur budaya yang sehat dan berwawasan lingkungan,” ajak Pak Sya’roni, sapaan Kasek SMPN 3 Tuban. Saat ini, SMPN 3 sudah menjadi sekolah “rujukan”, setidaknya akan dikunjungi SMPN 8 Yogyakarta. Sedang, yang sudah studi banding, sekolah dari Kabupaten Garmas Raya Sumatera dan Jawa Barat. Prestasi bergengsi lain yang digapai SMPN 3 Tuban Adiwiyata Mandiri. Saat ini, masih berpredikat Adiwiyata Nasional.n rtn

No. 233 n September 2017

P ENDIDIKAN

Gelar Pemilu OSIS Suasana Pemilu OSIS SMPN 3 Tuban. (dok)

TERKAIT pembelajaran demokrasi, SMPN 3 Tuban menggelar Pemilihan Umum (Pemilu) Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Hajatan politik ini memilih Ketua Umum OSIS SMPN 3 Tuban, Ketua I dan Ketua II. Winuk Supiati, M.Pd, Kesiswaan SMPN 3 Tuban, mengatakan, Pemilu OSIS bagian dari implementasi Permendknas Nomor 39 Tahun 2008. Memang tidak semua sekolah menyelenggaran Pemilu OSIS, akan tetapi sekolah yang berjuluk SMPN Sunan Kalijaga ini bertekad menunaikan amanah dari perundang-perundangan di atas. Dampak positifnya, memberikan bekal sejak dini makna berdemokrasi. Disamping itu, menanamkan sejak awal mengenai pen-

tingnya memilih seorang pemimpin. “Jadi agar paham bila kelak berdemokrasi sungguhan,” ujar Bu Winuk, sapaannya. Selain difasilitasi, Pemilu OSIS SMPN 3 Tuban dihadiri personil Komisi Penyelenggara Pemilu Daerah (KPUD) Tuban. Malahan, mempersilahkan peserta didik SMPN 3 Tuban belajar mekanisme Pemilu di Sekretariat KPUD Tuban. Bantuan yang diberikan KPUD Tuban, antara lain 3 buah Kotak Suara. Penyelenggaraan Pemilu OSIS SPMN 3 Tuban dirancang sebagaimana Pemilu yang diselenggaran KPUD Tuban. Sebagai gambaran, ada mekanisme penetapan DPT (Daftar Pemilih Tetap), pembentukan Kelompok Penyelenggara Pemilihan Umum (KPPS), penetapan calon peserta Pemilu, masa kampanye, minggu tenang dan Hari H pencoblosan.

Mengenai calon peserta Pemilu OSIS SMPN 3 Tuban, A. Hamam Rosyidi, S.Pd, MA, Pembina OSIS, mengatakan, ditetapkan oleh Majelis Perwakilan Kelas (MPK). MPK adalah perwakilan dari masing-masing kelas, setiap kelas memiliki 2 orang wakil di MPK. MPK kemudian menetapkan 3 pasang calon peserta Pemilu OSIS SMPN 3 Tuban. Terpilih ketika itu: Balon 1, Sofi Amanda Puspita Sari, Gracia Venly Stephanie dan Kemal Andra Ihsan. Balon 2, Kartika Taufani, Devita Shafira Az-Zahra dan Lukman Hakim F. Balon 3, Ghaitsa Farahnajla Aidah, M. Reza Ardyansyah dan Revalina Ines Jovota. Sedang pemenangnya pasangan Balon 2. “Bapak-Ibu Guru punya hak suara. Dari jumlah DPT 765, saat berlangsung Pemilu ada 27 suara tidak sah dan 22 suara tidak hadir,” jelas Pak Hamam.n rtn

Empat Kali Juara I Sekali Juara II

menarik kala itu, celetuk Bu Utami, sapaan Wakasek SMPN 3 Tuban. Bahkan, tambah Hasan Asj’ari, S,Pd, Humas SMPN 3 Tuban, memiliki nilai tambah, yaitu keberadaan “barisan merah putih”. Pasukan ini menyiratkan LIMA Tahun terakhir penyepesan bahwa kita semua halenggaraan Pawai Budaya Nusanrus berjiwa nasionalis dan tara, 4 kali SMPN 3 Tuban meraih cinta kepada Tanah Air. Juara I, sedang sekalinya Juara II. Meski memiliki banyak adat Prestasi di arena 17-an ini meistiadat yang berbeda dan nyempurnakan sekolah itu sebaberaneka rupa, tetapi cinta kegai Sekolah Menengah Pilihan pada Indonesia tidak boleh diluPertama (SMP) yang menjadi bipakan, termasuk di dalamanya tidikan masyarakat Kabupaten Mobil Hias Rumah Adat Sulawesi Selatan. dak boleh diabaikan oleh para penTuban. “Kita senantiasa membaguskan pekerjaan, pe- didik, tenaga kependidikan maupun para peserta didik kerjaan apa pun di SMPN 3 Tuban harus bagus, terma- SMPN 3 Tuban. SMPN 3 Tuban tidak pernah asal-asalan suk keikutsertaan dalam Pawai Budaya Nusantara, yang menjadi peserta Pawai Budaya Nusantara, melainkan merupakan agenda tahunan,” ujar Sri Utami Septa S, senantiasa menitipkan “pesan-pesan kebangsaan”. “Lantaran demikian, maka mendapatkan penilaian M.Pd, Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) SMPN 3 Tuban. baik dari Dewan Juri. Selain selalu tematik, juga sesuai Di even Pawai Budaya Nusantara 2017, yang dengan hajatan Pawai Budaya Nusantara,” tutur Pak sudah berlangsung 20 Agustus lalu, sekolah yang berjuluk SMPN Sunan Kalijaga itu menampilkan tema Hasan, bangga. Sedang dari sisi ketentuan Pawai Budaya Nusanadat Sulawesi Selatan. Tim kreatif mengemas dalam barisan bernuansakan pakaian adat, juga merancang tara, tidak pernah dilanggar. Suatu misal, persyaratan mobil hias yang didesain menjadi bentuk Rumah Adat peserta sebanyak 100 anak, dipatuhi. Tidak “latah”, selalu Sulawesi Selatan. Disamping itu, memperagakan tari kontekstual dan tidak glamour. Menyangkut pembiayaan, serta mengisahkan legenda Makasar. Pendek kata, dalam batas kewajaran, juga tidak berlebihan.n rtn

No. 233 n September 2017

29

C

ERMIN

Narasi Patung Yang Mis Kontekstual Oleh: Drs. Suwarno, MPd. Email : [email protected]

M

embahas kontroversi patung “Dewa Perang” di Klenteng Kwan Sing Bio Tuban, saya sadar betul itu bukan hal yang ringan namun cukup pelik dan berisiko. Perlu kecermatan, kematangan, keseimbangan dan kebijaksanaan. Apalagi berita tentang Patung Kuan Sing Tee Koen sudah menjadi viral baik di Medsos maupun di media mainstream, tidak hanya media dalam negeri yang ramai memberitakan namun juga media mancanegara seperti BBC, New York Times, bahkan televisi berbahasa Mandarin di Hongkong juga memberitakan kontroversi Patung Dewa Perang ini dengan sangat gamblang. Silang Pendapat Menyikapi Pendirian Patung Pro kontra menyikapi pendirian Patung Kuan Sing Tee Koen tak terbendung lagi. Mulai dari tokoh lokal, nasional hingga tokoh internasional. Bagi kelompok yang kontra beralasan bahwa pendirian Patung di Klenteng yang konon disebut terbesar se Asia Tenggara tersebut belum mengantongi izin secara lengkap antara lain perizinan IMB dan AMDAL. Pemkab Tuban sudah beberapa kali mengirimkan surat peringatan, namun pihak pendiri patung tidak serta merta menghentikan proses pendirian patung tersebut. Pihak yang kontra menuntut agar patung itu “ditiadakan” atau bahasa kasarnya “dirobohkan”. Sikap kontra tersebut secara terang benderang terlihat dari desakan 30 elemen yang menamakan diri Forum Ormas LSM Jawa Timur saat bertemu DPRD Provinsi pada tanggal 7 Agustus 2017. Sehari setelah itu, mereka kembali mengultimatum agar patung ini betul-betul segera diratakan dengan tanah. Kehebohan publik baik di dunia riil maupun dunia maya tidak bisa dihindarkan atas berdirinya patung ini. Bagi yang bersikeras menolak dida-

30

sari anggapan dan pendapat bahwa pendirian patung itu sebagai bentuk “pelecehan” terhadap kota Tuban sebagai Bumi Wali. Yang berpendapat seperti itu termasuk tokoh agama di Jakarta Felix Siau. Terdapat juga yang menyayangkan pendirian patung itu sebagai anti nasionalisme, bagi mereka lebih baik membangun patungpatung pahlawan nasional yang jelas kontribusinya untuk bangsa Indonesia daripada membangun patung yang tidak ada konteksnya dengan perjuangan lokal atau nasional. Ada juga alasan yang muncul di media sosial dengan mencemaskan politik internasional Tiongkok yang agresif dan mengancam kedaulatan Indonesia. Itulah alasan keberatan dari kelompok yang menentang keberadaan patung yang konon tingginya mencapai 30,4 meter itu. Tapi terus terang saya kurang percaya kalau patung itu mencapai setinggi itu. Saya beberapa kali mengunjungi Klenteng dan melihat patung tersebut, sampai sekarang saya masih ragu kalau ketinggian patung itu mencapai lebih dari 30 meter.

Pemkab Tuban bertindak Bijaksana Ada pula pihak yang menyikapi dengan tengah-tengah. Sebagaimana Ketua MUI Pusat KH. Ma’ruf Amin meminta polemik patung Dewa Raksasa di Klenteng Kwan Sing Bio diselesaikan dengan cara damai. Kiai Makruf tidak ingin penyelesaian kontroversi patung itu dengan cara anarkis. “Selesaikan saja dengan cara yang damai. Jangan ada kekerasan”, kata KH. Makruf pada 10 Agustus 2017 di kantor PBNU. Dia meminta agar Pemkab Tuban agar bisa mengambil solusi yang damai dan sejuk. Beliau juga menitipkan pesan bagi masyarakat Tuban agar jangan ada aksi anarkis. Pokoknya harus ada kesepakatan bersama. “Kan, bangsa ini selalu ada solusi dan kesepakatan” tandas beliau. Pihak yang juga bertindak tengah-tengah dan bijaksana juga tercermin oleh Pemerintah Kabupaten Tuban yang menyarankan agar patung itu ditutup kain putih. Mencermati derasnya tuntutan penutupan paksa oleh sejumlah ormas Islam itu, maka Pemerintah Kabupaten Tuban memutuskan untuk memerintahkan bagi pihak Klenteng agar menutupi patung tersebut dengan “kain kafan” berwarna putih. Hal itu saya kira, sementara menjadi solusi yang cukup elegan untuk meredam tuntutan penutupan patung tersebut secara permanen. Argumen dari Pihak Pendukung Bagi pihak yang pro tentu saja mengkritik keras terhadap pihak yang minta patung itu dirobohkan. Tuntutan perobohan patung itu bagi pihak yang pro mencerminkan mental inferior dalam memahami peristiwa secara sepenggal, tanpa melihat konteks yang lebih jernih. Di sisi lain, ada juga pihak yang mendukung pendirian patung ini dan menganggapnya simbol keberanian dan kebijaksanaan. Menanggapi kontroversi ini, Pengurus

No. 233 n September 2017

C Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) Bidang Hukum, Sofyan Jimmy Yosadi, menganggap tidak ada yang perlu diperdebatkan dalam pembangunan patung ini. Sosok Kwan Sing Tee Koen atau Kwan Kong merupakan pemujaan umat Konghucu sejak ratusan tahun lalu di bumi Nusantara. Kwan Kong dipuja menjadi ritual persembahyangan umat Bhudda. Kwan Kong juga dikenal sebagai Satya Dharma Boddhisatva atau Sanggarama Boddhisatva bagi penganut Buddha (Mahayana). Kelompok yang Pro juga mengkritik kelompok yang kontra sebagai kelompok “gagal paham” yang sering melihat orang Tionghoa dengan cara berpikir warisan kolonial. Pandangan Komprehensif dari Sang Budayawan Di akhir tuisan saya kali ini, saya tampilkan tulisan Budayawan Abdul Hadi WM dengan porsi yang amat komprehensif dan seimbang. Sikap saya secara pribadi juga tercermin di tulisan ini. Berikut adalah tulisan Sang Budayawan itu selengkapnya yang saya ambil dari situs Misykat.net (15/8/2017). Patung adalah sebuah narasi. Apalagi jika ia dibuat besar di tengah

keramaian, tentu dengan tujuan tertentu. Salah satu tujuan pembuatan sebuah patung besar adalah untuk menghalangi tampilnya narasi lain yang berbeda dan bertentangan. Sebagai sebuah narasi tentu ia juga dimaksudkan untuk mempengaruhi pandangan dan kesadaran publik tentang sesuatu. Tidak dapat dibayangkan apa reaksi masyarakat jika di tengah kota Jakarta dibangun patung Jan Pieter Zon Coen atau Daendels. Tidak pula dapat dibayangkan jika di Beijing dibangun patung raksasa Ku Bilai Khan dan di tengah kota Teheran dibangun patung Bush. Ini letak persoalan mengapa patung Dewa Perang itu menimbulkan heboh. Marilah kita beri contoh di kota lain, misalnya di Teheran Iran. Di kota Teheran memang banyak patung besar dibangun. Tetapi pada umumnya yang dpatungkan adalah tokoh-tokoh sejarah nasional mereka di bidang ilmu pengetahuan, politik, sastra, keagamaan, seni, dan filsafat. Di sana ada patung penyair besar Persia seperti Umar Khayyam, Ferdawsi, `Attar, Hafiz, dan lain-lain. Tetapi tidak ada patung penyair Yunani atau Arab seperti Homeros atau Mutannabi. Masyarakat pun tahu bahwa pa-

ERMIN

tung sebagai karya seni berpengaruh besar kepada jiwa dan kesadaran pembacanya. Patung di tengah kota tidak dibuat dari kekosongan sejarah dan makna. Pematung yang cerdas tahu pengaruh patung kepada jiwa penikmatnya. Dan khalayak yang cerdas tahu pula bagaimana cara menanggapi patung yang bagus. Di Jakarta misalnya, mengapa tidak dibuat patung Sukarno Hatta dan Jendral Sudirman yang besar, selain patung Gajah Mada, Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Sultan Agung, Pangeran Jayakarta, Chairil Anwar, Raden Saleh, dan lain-lain? Salah satu faktor penyebabnya ialah rendahnya kesadaran sejarah dari elit dan pemimpin kita, sebab mereka yang kuasa membangun patung besar dan bukan rakyat jelata. Itulah pandangan Budayawan Abdul Hadi WM menyikapi patung yang ada di Klenteng Tuban, kesimpulannya pihak Klenteng Kwan Sing Bio telah melakukan “narasi” yang tidak kontekstual. Narasi patung yang tidak mencerminkan kepekaan terhadap konteks lokal. Karena tidak kontekstual tentu mengakibatkan “luka” dan “ketersinggungan”. Solusinya bagaimana? Kita tunggu episode berikutnya.n

Warga RT 02 RW 06 Meriah HUT Ke-72 MEMPERINGATI HUT Ke-72 Republik Indonesia bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti di RT 02 RW 06 Kelurahan Latsari Kecamatan Tuban. Memeriahkan di Gang Mangga, belakang Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Tuban, warga antusias mengikuti jalan sehat, dilanjutkan lomba-lomba. Ketua RT setempat, Zali Hartono, mengatakan, kegiatan memperingati HUT RI ini sengaja mendahului kegiatan lainnya dengan harapan tidak mengganggu kegiatan di Kecamatan atau Kabupaten yang diikuti warganya. Tujuannya, mempererat tali silaturahmi antar warga. Kegiatan jalan sehat mengambil start di Jalan Sunan Kalijaga, selanjutnya menuju Jalan Diponegoro, belok kiri ke Latsari Gang 2, belok kiri lagi ke Latsari Gang 1 dan sampai perempatan depan Kantor Kecamatan Tuban kembali ke Jalan Sunan Kalijaga, finish di Gang Mangga lagi. Acara dilanjutkan dengan berbagai lomba,

berlangsung meriah penuh kebersamaan, diantaranya lomba balap lari kelereng, bermain bola dengan terong, memasukkan paku ke dalam botol, mencantolkan topi dan lomba ‘nyunggi tampah’ bagi Bapak dan Ibu. Hadiah jalan sehat terdiri dari ratusan hadiah hiburan alat rumah tangga, mulai dari sotil, panci, timba, gayung, bak sampah, detergen, sabun mandi, sapu dan banyak lainnya. Hadiah utama, setrika, kipas angin dan magic com. Selain jalan sehat dan lomba, juga diselenggarakan malam seni dan pada tanggal 16 Agustus 2017 mengadakan malam tirakatan bersama seluruh warga. Warga RT 02 RW 06 juga berpastisipasi dalam lomba yang digelar oleh Karang Taruna Kelurahan Latsari, yaitu lomba Sepakbola Berdaster bagi Bapak-bapak dan Tarik Tambang bagi Ibu-ibu, yang dilaksanakan di arena Car Free Day Lapangan Sepak Bola Gor Rangga Jaya Anoraga.n kdg

31

W IRA USAHA terang), bibit bawal dapat ditebar pada kolam pembesaran.

Budidaya ikan Bawal sejak dulu hingga sekarang masih cukup menjanjikan. Ikan yang menjadi salah satu unggulan budidaya perikanan air tawar ini masih banyak diminati konsumen.

B

udidaya ikan Bawal air tawar (Colossoma Macropomum) relatif mudah. Ikan Bawal tergolong ikan yang cukup tahan banting, sehingga tidak rentan hama dan penyakit. Selain itu pertumbuhannya relatif cepat dan mudah dibesarkan. Ikan Bawal memiliki ketahanan yang tinggi terhadap kondisi lingkungan yang kurang mendukung, tergolong Omnivora atau pemakan segala jenis makanan namun lebih cenderung makan dedaunan, rasa dagingnya juga gurih dan lezat hampir menyerupai ikan Gurami. Apalagi, harga jual ikan Bawal relatif tinggi dan stabil dari jenis ikan darat kelas menengah lain. Usaha budidaya ikan Bawal ini dimaksudkan untuk memperoleh ikan ukuran konsumsi atau ukuran yang disenangi oleh konsumen. Pembesaran ikan ini dapat dilakukan di kolam tanah maupun kolam permanen secara monokultur (pembudidayaan satu jenis) atau multikultur (pembudidayaan lebih dari satu jenis). CARA BUDIDAYA IKAN BAWAL 1. Persiapan Kolam untuk Budidaya Ikan Bawal Persiapan kolam ini dimaksudkan untuk menumbuhkan makanan alami dalam jumlah yang cukup. Setelah dasar kolam benar-benar kering, dasar kolam perlu dikapur dengan kapur tohor maupun dolomit dengan dosis 25 kg/100 meter persegi. Tujuan pengapuran ini untuk meningkatkan pH tanah, serta membunuh hama maupun patogen yang masih tahan terhadap proses pengeringan.

32

Budidaya

IKAN BAWAL Kolam pembesaran tidak mutlak harus dipupuk karena makanan ikan Bawal sebagian besar diperoleh dari makanan tambahan atau buatan. Tapi bila dipupuk dapat menggunakan pupuk kandang 25 – 50 kg/100 m2 dan TSP 3 kg/100 m2. Pupuk kandang yang digunakan harus benar-benar yang sudah matang, agar tidak menjadi racun bagi ikan. Setelah pekerjaan pemupukan selesai, kolam diisi air setinggi 2-3 cm dan dibiarkan selama 2-3 hari, kemudian air kolam ditambah sedikit demi sedikit sampai kedalaman awal 40-60 cm dan terus diatur sampai ketinggian 80-120 cm tergantung kepadatan ikan. Setelah 7-10 hari pemupukan (warna air sudah hijau

2. Pemilihan dan Penebaran Benih Ikan Bawal Pilih benih yang baik agar hasilnya maksimal. Sebelum ditebar, benih ikan perlu diadaptasikan agar tidak dalam kondisi stres saat berada dalam kolam. Caranya, ikan yang masih terbungkus dalam plastik yang masih tertutup rapat dimasukan ke dalam kolam, biarkan sampai dinding plastik mengembun tanda suhu air kolam dan air dalam plastik sudah sama. Setelah itu buka plastiknya dan air dalam kolam dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam plastik tempat benih sampai benih terlihat dalam kondisi baik. Selanjutnya benih ditebar dalam kolam ikan secara perlahan-lahan. 3. Kualitas Pakan dan Cara Pemberian Pakan Ikan Bawal Kualitas pakan yang baik adalah pakan yang mempunyai gizi yang seimbang baik protein, karbohidrat maupun lemak serta vitamin dan mineral. Karena ikan Bawal bersifat Omnivora, maka makanan yang diberikan bisa berupa daun-daunan maupun pelet. Pakan diberikan 3-5 % dari berat badan ikan dengan cara ditebar secara langsung. 4. Panen Hasil Ikan Bawal Panen hasil usaha pembesaran dapat dilakukan setelah ikan Bawal

Bawal jenis ikan tahan banting.

No. 233 n September 2017

W IRA USAHA Analisa Bisnis Budidaya Ikan Bawal Investasi Peralatan Harga Sewa lahan Pembuatan kolam ikan bawal Pompa air Jaring Pengadaan bibit ikan bawal Drum Wadah dan jerigen Selang dan paralon Timba Peralatan pembersih kolam Terpal Peralatan tambahan yang lainnya

Rp. 2.421.000 Rp. 2.624.500 Rp. 424.000 Rp. 124.000 Rp. 826.300 Rp. 264.500 Rp. 86.400 Rp. 94.200 Rp. 54.600 Rp. 76.400 Rp. 164.200 Rp. 74.000

Jumlah Investasi

Rp. 7.234.100

Biaya Operasional per Bulan Biaya Tetap Penyusutan sewa tempat 1/12 x Rp. 2.421.000 Penyusutan pembuatan kolam ikan bawal 1/62 x Rp 2.624.500 Penyusutan pompa air 1/62 x Rp 424.000 Penyusutan jaring 1/62 x Rp 124.000 Penyusutan pengadaan bibit ikan bawal 1/62 x Rp 826.300 Bibit ikan bawal 1/62 x Rp 826.300 Penyusutan drum 1/44 x Rp. 264.500 Penyusutan wadah dan jerigen 1/62 x Rp. 86.400 Penyusutan selang dan paralon 1/62 x Rp. 94.200 Penyusutan timba 1/44 x Rp. 54.600 Penyusutan peralatan pembersih kolam 1/44 x Rp.76.400 Pembersih kolam 1/44 x Rp.76.400 Penyusutan terpal 1/44 x Rp. 164.200 Penyusutan peralatan tambahan 1/44 x Rp.74.000 Gaji karyawan Total Biaya Tetap

Nilai Rp.

201.750

Rp.

42.313

Rp.

6.839

Rp.

2.000

Rp.

13.327

Rp.

13.327

Rp.

6.011

Rp.

1.394

Rp.

1.519

Rp.

1.300

Rp.

1.736

Rp.

1.736

Rp.

3.732

dipelihara 4-6 bulan, waktu tersebut ikan telah mencapai ukuran kurang lebih 500 gram/ekor, dengan kepadatan 4 ekor/m2. Panen dapat dilakukan secara selektif maupun secara total. Biasanya alat yang digunakan berupa jaring bemata jala lebar. Ikan hasil pemanenan sebaiknya ditampung di tempat yang tidak sempit dan keadaan airnya selalu mengalir.n (Diolah dari berbagai sumber)

Biaya Variabel Pakan ikan bawal Rp. 37.000 x 30 = Rp. 1.110.000 Pakan tambahan Rp. 23.700 x 30 = Rp.

711.000

Bahan lainnya Rp. 17.500 x 30

= Rp.

525.000

Vitamin Rp. 21.800 x 30

= Rp.

654.000

Obat-obatan Rp. 21.300 x 30

= Rp.

639.000

Pengemas Rp. 16.500 x 30

= Rp.

495.000

Biaya angkut Rp. 25.000 x 30

= Rp.

750.000

Air dan listrik Rp. 41.000 x 30

= Rp. 1.230.000

Total Biaya Variabel

= Rp. 6.114.000

Total Biaya Operasional Biaya tetap + biaya variabel = Rp. 7.797.115 Pendapatan per Bulan Harga ikan Bawal 78 Kg x Rp. 23.000 = Rp. 1.794.000 Rp. 1.794.000 x 6 hr = Rp. 10.764.000 Keuntungan per Bulan Laba = Total Pendapatan - Total Biaya Operasional Rp. 10.764.000 - 7.797.115 = Rp. 2.966.885 Lama Balik Modal

Rp. 1.194 Rp. 1.400.000 Rp. 1.683.115

No. 233 n September 2017

Total Investasi / Keuntungan = Rp. 7.234.100 : 2.966.885 = 2 bln Dari analisa di atas dapat disimpulkan apabila bisnis budidaya ikan bawal sangat menguntungkan dimana modal Rp 7.234.100 dengan kentungan per bulan Rp 2.966.885 dan balik modal dalam 2 bulan. Sumber analisa usaha : http://www.agrowindo.com/peluang-usaha-budidaya-ikanbawal-dan-analisa-usahanya.htm Sumber foto : http://www.bibitikan.net/analisa-usahabudidaya-pembesaran-ikan-bawal/

33

R AGAM PERISTIWA peta ibu hamil; pengorganisasian ambulans desa, suami siaga, dan tata cara rujukan; kemitraan dukun bayi dan bidan, pemanfaatan Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) oleh masyarakat; penyebarluasan informasi dalam menurunkan AKB, penyuluhan pada masyarakat dan keluarga ibu hamil. Sedang, indikator keberhasilan sebelum dan sesudah KSI dapat dilihat dari semakin meningkat dan mantapnya peran organisasi masyarakat sehingga dapat memunculkan ide-ide baru terkait KSI.

Salami pemenang Lomba KSI. (ydh)

Gelar Lomba KSI

D

alam rangka peningkatan dan perbaikan kualitas perempuan sebagai Sumber Daya Manusia (SDM), Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Tuban menggelar Lomba Kecamatan Sayang Ibu (KSI) 2017. Berdasarkan hasil evaluasi dan tinjauan di lapangan oleh tim penilai lomba pada 25 – 27 Juli 2017 lalu, Jatirogo terpilih menjadi Juara I atau Pelaksana KSI terbaik. Juara II diraih Kecamatan Grabagan, Juara III Kecamatan Bancar, Juara Harapan I Kecamatan Tambakboyo, dan Kecamatan Tuban Juara Harapan II. Penyerahan hadiah dilaksanakan pada Resepsi HUT ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia di Pendopo Krido Manunggal Tuban. Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Perempuan dan Anak Dinsos P3A Kabupaten Tuban, Menik Musyahadah, SST, mengatakan, KSI merupakan gerakan yang dilaksanakan untuk masyarakat bersama dengan pemerintah. Program nasional ini bertujuan untuk mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) karena hamil, melahirkan dan nifas, serta Angka Kematian Bayi (AKB). Menurut perempuan berkacamata yang akrab disapa Bu Menik ini, selain meningkatkan kualitas hidup perempuan dan anak melalui upaya penurunan AKI dan AKB, diharapkan KSI juga meningkatkan pengetahuan, sikap, perilaku suami istri dan masyarakat mengenai hak-hak dan kesehatan reproduksi, serta menghilangkan hambatan-hambatan yang mempengaruhi upaya peningkatan kualitas hidup perempuan. “Strategi yang dilakukan pendekatan kemasyarakatan. Melalui desentralisasi, kemandirian, keluarga dan kemitraan,” ucapnya. Beberapa kriteria penilaian KSI, antara lain pembentukan satgas KSI; pendataan dan pembuatan

34

Dituturkan, dengan peningkatan pengetahuan dan pemahaman mengenai KSI, masyarakat dapat mempersiapkan segala kemungkinan yang dapat ditimbulkan selama kehamilan dan persalinan, serta melaksanakan keadilan dan kesetaraan gender. Di Indonesia AKI masih tinggi. Hal ini terjadi karena faktor-faktor penyulit yang dapat menyebabkan terjadinya keadaan berbahaya bagi kehamilan dan persalinan. Jika muncul tanda bahaya kehamilan, tandasnya, harus segera ke tempat pelayanan kesehatan terdekat. Bu Menik, mengungkapkan, untuk mencegah terjadinya penyulit kehamilan, maka perlu menghindari 3 Terlambat (3T) dan 4 Terlalu (4T). 3T meliputi terlambat dalam mencapai fasilitas kesehatan, terlambat dalam mendapatkan pertolongan yang cepat dan tepat di fasilitas pelayanan, dan terlambat dalam mengenali tanda bahaya kehamilan dan persalinan. Sedangkan, 4T adalah terlalu muda (usia di bawah 16 tahun), terlalu tua ( usia di atas 35 tahun), terlalu sering (perbedaan usia antara anak sangat dekat), dan terlalu banyak (memiliki lebih dari empat orang anak). “Selama ini sebagian masyarakat menganggap bahwa kelahiran dan persalinan hanyalah persoalan perempuan, padahal merupakan tanggung jawab bersama. Pasangan suami istri perlu merencanakan kehamilan dengan mempertimbangkan kesehatan istri dan memberi peluang istri berkiprah di berbagai bidang. Dengan demikian, akan terwujud ibu sehat dan sejahtera,” tegasnya.n ydh

No. 233 n September 2017

S ASTRA dan BUDAYA Seorang warga memelihara hantu di rumahnya. Berita itu mula-mula menjadi bahan tertawaan. Tetapi ketika beberapa warga mulai datang untuk menengok hantu itu dan diam-diam minta pertolongan, masalahnya jadi berbeda.

A

da yang datang untuk minta kesembuhan. Ada yang ingin kaya. Ada yang minta naik pangkat. Minta jodoh. Anak-anak sekolah juga datang mau lulus ujian tanpa harus belajar. Ada juga koruptor-koruptor teri yang minta jangan sampai ulahnya ketahuan, tapi bukan untuk kapok, malahan mau meneruskan kariernya. Tengah malam ada wakil rakyat, mau berdialog dengan hantu dan meminta supaya diberikan petunjuk bagaimana mengurus masyarakat agar jangan bergolak. Ia membaca berita dan desas-desus bahwa gerakan menumbangkan Mubarak di Mesir telah mengalir ke seluruh Timur Tengah. Gaddafi yang angker itu juga sudah dikepret. Ia takut teori domino akan menjalar ke arahnya. Pemilik hantu menikmati kedatangan orang-orang itu. Ia mulai buka warung kecil. Kemudian juga menyediakan kamar bagi yang ingin menginap. Akhirnya ia mengenakan tiket masuk, bagi yang ingin berjumpa dengan peliharaannya. Kabar terakhir, ia memasang plakat di depan rumahnya, bahwa hantunya sudah beranak. Sekarang ia punya sembilan hantu. Masing-masing hantu punya keahlian sendiri-sendiri dan tarif ketemu juga sendiri-sendiri. Ketemu juga sendirisendiri. “Ini kebodohan yang harus

meninggalkan amplop yang tentu saja akhirnya jatuh ke tangan pemilik rumah. Apalagi yang pernah meninggalkan amplop tebal, mengaku seluruh permintaannya terkabul. “Jangan dikira hantu tidak mengerti duit,” kata tamu yang sudah berkalikali datang, “kalau duit yang kita masukkan ke amplop itu kotor apalagi palsu, tahu sendiri akibatnya. Mesti duit baru dari bank. Kalau pakai dollar, serinya harus jelas!” Pemilik hantu itu sendiri tidak punya komentar apa-apa. “Tiket ini gunanya untuk membatasi dan mengatur aliran pengunjung supaya tertib,” katanya memberikan argumentasi, “kami sama sekali tidak mengomersialkan hantu. Uang tiket itu kan untuk kebersihan. Adapun amplop-amplop yang ditinggal pengunjung itu, ya itu urusan pengunjung itu sendiri dengan hantu. Kami hanya menyiapkan tempat pertemuan. Silakan berdialog sendiri. Amplopnya karena ditinggal, ya kami tampung saja sebagai tanda persahabatan. Tidak seberapa kok!” Dia bohong. Orang segera tahu berapa besar isi amplop-amplop itu, sejak di depan rumahnya mulai nangkring mobil Kijang Inova. Istrinya tidak pernah lagi jalan kaki keluar rumah. Ke tetangga pun ia diantar Inova. “Supaya cepat. Habis kalau lama ditinggal nanti hantu-hantunya tidak ada yang ngurus. Sekarang sudah beranak lagi. Jumlahnya sudah 21.” Sukses membuat tetangga juragan hantu itu, masuk ke dalam koran. Dengan nada sinis beberapa wartawan serentak mencerca ulah memelihara hantu itu sebagai tanda kebodohan masyarakat. Mereka mengundang petugas agar bertindak. Jangan sampai terlambat karena itu jelasjelas menenggelamkan masyarakat

Boikot Oleh: Putu Wijaya

dibasmi!” kata Ami memanasi Amat supaya bertindak. “Masak di negeri yang berKetuhanan Yang Maha Esa ini, masih ada orang yang memelihara hantu. Bapak harus bertindak. Ini penipuan!” Bu Amat setuju. “Ya, betul! Sebagai orang yang disegani karena dianggap orang tua di lingkungan kita ini Bapak jangan biarkan tetangga itu memelihara hantu. Kan ada Puskesmas, kalau sakit ya berobatnya ke situ. Jangan minta sama hantu. Lihat, sejak tetangga memelihara hantu, anak-anak tidak mau belajar lagi, padahal ujian sudah dekat! Mereka percaya hantu itu akan membantu mereka lulus!” Amat hanya ketawa. “Biarin saja. Kalau dilarang, nanti dikira kita iri. Dia kan banjir uang sejak memelihara hantu. Lihat rumahnya sekarang dibangun. Tiga lantai lagi!” Memang betul, hantu itu membawa perbaikan ekonomi. Yang datang, tak hanya beli tiket, tapi juga membawa oleh-oleh. Kalau pulang

No. 233 n September 2017

35

S ASTRA dan BUDAYA ke dalam alam mimpi…. Tetapi serangan oleh koran itu malah membuat hantu-hantu yang dipelihara itu semakin terkenal. Orangorang dari kota lain mulai berdatangan. Bahkan dari Bandung dan Jakarta. Juga tamu dari Kalimantan dan Sulawesi membanjir. Masyarakat ikut menikmati kedatangan orang-orang itu. Tukangtukang ojek, angkot dan warung-warung jadi panen. Beberapa penduduk ambil kesempatan menyediakan fasilitas parkir dan menginap bagi tamutamu. Tapi para mahasiswa mulai bertindak. Dimotori oleh Ami dan kawankawannya, mereka menyelenggarakan gerakan anti hantu. Beramairamai mereka mencoba menghalang-halangi pengunjung dengan memberikan keterangan bahwa semua itu isapan jempol. Tapi usaha itu gagal, yang datang tidak peduli. “Bukan soal percaya-atau tidak pada hantu,” kata mereka, “kami hanya mencoba mencari jalan alternatif untuk membereskan persoalan-persoalan kami yang sudah tidak sanggup kami hadapi sendiri. Siapa tahu ini akan berhasil. Saudara-saudara mahasiswa tidak berhak melarang kami! Jangan pikir karena kalian mahasiswa, kalian yang paling benar! Kami juga warga negara!” Para mahasiswa keki. Mereka tak bisa lagi menahan beberapa anggotanya menyerbu rumah hantu itu dengan lemparan batu. Tapi itu sama sekali tidak membuat rumah hantu itu ditutup. Malah tetangga itu menyediakan beberapa tukang pukul, menjamin kenyamanan para pengunjungnya. “Ini negara merdeka dan tidak ada larangan untuk memelihara hantu!” protes pemilik hantu itu pada Amat. “Saya sudah difitnah! Suarasuara negatif dari mahasiswa dan koran-koran itu semuanya dimotivasi kebencian, kedengkian karena iri hati. Mereka cemburu. Apa salahnya kalau hantu-hantu itu mendatangkan rezeki buat kami? Apa bedanya usaha saya ini dengan usaha jasa

36

yang lain. Coba lihat, ada yang sudah 10 kali datang ke mari. Itu kan jelas membuktikan, usaha saya ini membantu masyarakat!” “Apa mereka pikir enak memelihara hantu? Sekarang kehidupan pribadi saya sudah terganggu karena setiap detik rumah penuh dengan tamu. Saya sudah hampir tidak bisa bernapas lagi karena ngurus tamu. Sementara hantu-hantu itu terus berkembangbiak cepat. Sekarang jumlahnya sudah 100. Saya sekeluarga sudah capek. Saya sudah mau berhenti. Tapi karena dicaci, dicerca, dipojokkan, saya jadi berbalik. Itu semua bukan kritik, itu fitnah! Kritik itu berisi pikiran sehat. Tapi mereka hanya mencaci-maki, menjelek-jelekkan, menghasut masyarakat, menggiring opini publik untuk membenci saya! Saya akan lawan fitnah itu! Rumah hantu ini akan saya lestarikan, biar hantunya terus berkembang sampai jutaan!” Para mahasiswa yang memprotes tetangga yang memelihara hantu itu semakin garang. Setiap kali ada saja usaha mereka mengganggu yang mereka sebut “bisnis terkutuk” itu. Kadang-kadang sampai terjadi perkelahian antara mereka dan para tukang pukul yang berusaha melindungi para pengunjung yang ingin berdialog dengan hantu. Penduduk menjadi resah karena kenyamanannya terganggu. Akhirnya mereka lapor pada Pak RW yang rumahnya bersebelahan tembok dengan tetangga pemilik hantu. Pak RW langsung bertindak. Rupanya ia juga sudah lama kesal. “Memelihara hantu itu perbuatan yang terkutuk. Apalagi mencari nafkah, memperkaya diri, membeli mobil, membangun rumah loteng sehingga menutup pemandangan rumah tetangga, dari hasil menjual jasa bertemu dengan hantu, itu perbuatan kriminal. Kita harus memboikot perilaku asosial itu. Boikot!” Pernyataan Pak RW terdengar oleh wartawan . Langsung dikibarkan di koran lokal. Masyarakat jadi ramai. Mereka ingin tahu apa yang dimak-

sudkan dengan boikot. Apakah itu berarti tetangga itu akan dikucilkan dari lingkungan. Atau diusir? Atau hanya sekadar digertak. Dilalah seruan boikot itu membuat rumah yang memelihara hantu itu semakin ramai dikunjungi. Yang semula menganggap itu dagelan, karena penasaran akhirnya datang. Mereka beli tiket. Membawa oleh-oleh seperti yang lain. Dan setelah jumpa dengan hantu, meninggalkan amplop. Ada juga yang datang kembali, seperti ketagihan ketemu hantu. Para mahasiswa pun meningkatkan kegiatannya. Mereka mendirikan posko dan gencar memberi informasi kepada para tamu. “Sudah waktunya dunia mistik, klenik dan semacamnya disikat habis. Manusia Indonesia harus hidup rasional, realistis dan bekerja kalau mau maju. Jangan meminta pertolongan hantu.” Omzet rumah hantu itu melonjak. Tetangga pemilik hantu kebanjiran duit. Tukang pukulnya bertambah. Mereka sudah diperlengkapi dengan walkie-talkie dan pakai motor dalam menyambut dan mengamankan tamu-tamu yang mau diskusi dengan hantu. “Sudahlah hentikan protes dan demo,” kata Bu Amat menasihati Ami. “Lihat hasilnya, malah hantunya semakin laris dan pemiliknya tambah kaya. Jangan-jangan nanti kalian dituduh kerja sama, menolong mengiklankan dagangan hantunya!” Ami terkejut. “Amit-amit, kami mau memberantas irasionalitas dari negeri ini, mana mungkin kami membantu orang yang memperdagangkan hantu?” “Ibu mengerti. Tapi protesprotes kalian sudah membuat pengunjungnya tambah banyak. Nanti kalau ada wartawan dari Jakarta, kalian bisa dituduh sudah kongkalikong. Perjuangan kalian yang suci akan ternoda, Ami!” Ami marah. Bersama kawankawannya dia mendesak Pak RW untuk mengambil tindakan. Pak RW lalu mengumpulkan warga dan sekali

No. 233 n September 2017

S ASTRA dan BUDAYA lagi menyerukan: boikot. Tak cukup hanya di lingkungan sendiri, para mahasiswa mengajak Pak RW menghadap yang berwenang. Lalu tetangga yang memelihara hantu itu datang lagi ke Pak Amat, curhat. “Pak Amat,” katanya panik, “maaf beribu maaf, saya tidak paham, mengapa saya dicaci-maki dan difitnah seperti ini? Boikot itu kan hukuman keras yang berat sekali. Itu lebih kejam dari pembunuhan. Dan yang lebih mengherankan saya, kenapa Pak RW yang mengatakannya? Kalau Ami dan adik-adik mahasiswa itu, saya mengerti, karena itu merupakan aspirasi kaum muda yang kelebihan energi. Tapi seorang RW yang bertugas mengayomi warganya, kok sudah mengucapkan sanksi sosial yang sangat keji seperti itu. Boikot itu kan bukan main-main, Pak. Padahal hasil dari usaha memelihara hantu kan sudah saya sumbangkan, untuk memelihara jalan, kebersihan dan juga pendirian sekolah? Kenapa saya dihujat, Pak Amat?” Amat tak sanggup menjawab. Dia lama terdiam. Akhirnya hanya bisa menatap. Tetangga itu merasa tetapan itu memberinya angin. “Betul, Pak Amat, saya punya catatan. Kalau dijumlahkan, sejak memelihara hantu, saya sudah menyumbang hampir Rp 50 juta kepada Pak RW untuk dimanfaatkan buat lingkungan kita. Itu semuanya saya

dapat dari mereka yang berkunjung mau ngobrol dengan hantu. Tetapi kenapa saya dikutuk terus oleh pejabat yang saya hormati seperti Pak RW? Lho, Pak Amat tidak keberatan kan saya memelihara hantu? Ini kan wiraswasta yang tidak memberikan dampak polisi. Ya kan, Pak Amat? Setuju Pak Amat?” Amat manggut-manggut. Sebenarnya tidak berarti membenarkan, hanya bermaksud menunjukkan ia paham jalan pikiran tetangganya itu. Tapi tetangga itu seperti dapat angin. “Orang seperti Pak Amat ini, yang saya hargai objektivitas, kenetralannya yang tanpa pamrih, punya partisipasi besar pada perjuangan. Pak Amat saja tidak protes, kok Pak RW yang saya harapkan akan melindungi saya sebagai salah seorang warganya, kok ngomong boikot. Lho saya bukan orang yang supersensitif yang tidak bisa menerima kritik. Sama sekali tidak. Saya orangnya terbuka kok. Pak Amat lihat sendiri kan, itu bukan kritik, saya sudah jadi korban, itu cercaan, fitnah, saya dijelekjelekkan. Kenapa? Karena saya dapat keuntungan? Tapi saya sudah menyumbang Rp 50 juta kan? Bagaimana pendapat Pak Amat? Apa saya harus menghentikan memelihara hantu? Ini kan sumber penghidupan saya sekarang? Sumber pemasukan buat lingklungan juga! Bagaimana Pak Amat?”

Kenduren K

enduren lebet Kamus ageng basa Indonesia (KBBI) nduwe artos jampen tedha konjuk ngelingi kedadosan, nedha berkah lan sak panunggalane. Kenduren utawi ingkang langkung dipuntepang kaliyan sadamelan wilujengan utawi kenduren (nami kenduren kunjuk masyarakat Jawi) sampun enten riyin-riyin sadereng mlebetipun agami datheng Nusantara. Lebet praktikya, kenduren ngrupikaken setunggal acara ngempal, ingkang umume dipuntumindakake dening kakung, kaliyan tujuan nedha kelan-

No. 233 n September 2017

Amat menggeleng-geleng tak tahu harus menjawab bagaimana. Tapi tetangga yang punya usaha hantu itu menganggap gelengan itu sebagai dukungan. “Ya hanya Pak Amat yang bisa saya ajak bicara. Hanya Pak Amat yang mendukung saya… Perkara tidak suka, boleh saja. Tapi kita kan sudah merdeka dan hidup di alam demokrasi. Boleh dong saya juga punya pendapat dan kebebasan berusaha. Kok diboikot? Tindakan saya bener kan Pak Amat.” Amat mengangguk, tapi bukan membenarkan. Dia sudah mulai tahu bagaimana harus menanggapi. Dia menatap tetangga yang memelihara hantu itu dengan pandangan bahwa dia sudah mendengar semua keluhannya, tapi bukan berarti dia setuju. Mereka berpandang-pandangan. Ketika Amat mau membuka mulut, tiba-tiba tetangga itu meraih tangan Amat dan menjabatnya sangat erat. “Terimakasih, Pak Amat. Pak Amatlah satu-satunya yang orang yang sudah memberikan kritik pada saya. Yang lainnya itu hanya fitnah orang yang iri karena tidak kebagian. Terima kasih!” Tetangga itu cepat-cepat pergi. Tapi esoknya dia langsung menghentikan bisnis memelihara hantunya, sehingga lingkungan aman kembali.n

caran inggil samukawis ingkang dihajatkan saking sang penyelenggara ingkang nimbal tiyang-tiyang sekitar konjuk datheng ingkang dipunpangagengi dening tiyang ingkang dipunsepuhaken utawi tiyang ingkang nggadhahi keahlian wonten bidang tersebut kados Kiai. Ing umume, kenduren dipuntumindakake saksampune ba'da isya, uga dipuncawisaken setunggal sekul tumpeng uga besek (panggen yg kedamel darr anyaman deling bertutup bentukipun segi sekawan ingkang dipunbekta mantuk dening satiyang saking acara selametan utawi kenduren konjuk tamu undangan. Sawegaken kunjuk kaum estri, kenduren nyukakaken ruang privasi konjuk kaum estri lebet ngunjuk informasi sae babagan keluarga piyambak kersa

37

S ASTRA dan BUDAYA tanggi ingkang lain. Ing mrikia estri sanguh sami linton cerios kaliyan bebas tanpa pambengan saking kaum laki-laki salebetipun piyambake sedaya njagikaken tedhan, amargi estri badhe nyambut damel njagikaken kenduren lebet wanci ingkang relatif dangu, yaiku sekitar 47 dinten ing masa perayaan. Ing zaman sakmenika, kenduren taksih kathah dipuntumindakake dening samukawis lingkup masyarakat. Amargi kenduren ngrupikaken setunggal mekanisme sosial konjuk merawat kewetahan, kaliyan cara konjuk mantunaken keretakan, uga ngekahaken wangsul cita-cita sareng, sisan numindakake kontrol sosial inggil penyimpangan saking cita-cita sareng. Kenduren dados mukawis institusi sosial ndhusun uga merepresentasikan kathah kepentingan. Jenise Kenduren Kenduren Selapanan. Tujuan kenduren selapanan yaiku konjuk mendoakan anak kesebat (ingkang didoakan) terhindar saking sesakit, dados anak ingkang mbektos dhateng tiyang sepuh, terhindar saking bencana, uga dados anak ingkang nggina lebet bermasyarakat. Biyasanipun kenduren niki dipunentenaken saksampune anak berumur 35 dinten utawi selapan. Kenduren Suronan. Tujuan dipunentenaken kenduren suronan yaiku konjuk ngelingi taun jawa. Biyasanipun udhar 10 Suro uga wontenaken dening sedaya warga dhusun kaliyan mbekta berkat piyambak-piyambak. Kenduren Mitoni. Tujuan kenduren mitoni yaiku konjuk ngelingi kengandhegan anak setunggal ingkang taksih lebet kandungan uga berumur kirang langkung pitung wulan. Kenduren Puputan. Tujuan dipunentenaken kenduren puputan yaiku konjuk ngelingi uculipun tangsul puser anak. Biyasanipun dipuntumindakake sadereng anak berumur selapan utawi menawi tangsul puseripun ucul. Kenduren Syukuran. Tujuan dipunentenaken kenduren syukuran yaiku konjuk mengucapkan raos syukur amargi ingkang setunggal hal ingkang dipunkersakaken sampun tercapai uga tiyang ingkang ngawontenaken kenduren syukuran niki bersedekah kaliyan masyarakat sekitare. Kenduren Munggahan. Kenduren niki miturut

38

cerios tujuanipun konjuk minggahaken para leluhur datheng swargi (beberapa panggen mastaninipun kaliyan selamaten pati). Kenduren niki ditujukan dados do’a konjuk ahli petak saking keluarga ingkang nggelar kenduren. Uga, kenduren niki saged dipunpara dados macem-macem, yaiku: kenduren/wilujengan datheng-3 (Kenduren Telongdinanan), datheng-7 (Kenduren Pitungdinanan), datheng-40 (Kenduren Patangpuluhan), datheng-100 (Kenduren Nyatusan), uga datheng-1000 (Kenduren Nyewu) dinten sedane tiyang. Kenduren Badan (Wiyaran/Mudunan). Kenduren niki dipunwontenaken ing riyadi Idul Fitri, ing udhar 1 syawal. Kenduren niki sami kados kenduren Likuran, konon namung tujuanipun ingkang benten yaiku konjuk mandhapaken leluhur kajengipun saged kepanggih uga bertegur sapa. Ingkang mupuran namung, sadereng kenduren badan, biyasanipun karumiyinan kaliyan nyekar datheng makam leluhur saking masingmasing keluarga. Kenduren Weton. Kenduren niki kanaman wetonan amargi tujuanipun konjuk selametan ing dinten lair (weton, Jawi) satiyang. ing beberapa panggen, kenduren jenis niki dipuntumindakake dening hampir saben warga, biyasanipun setunggal keluarga setunggal weton ingkang dirayakan, yaiku ingkang paling sepuh utawi dipunsepuhaken lebet keluarga tersebut. Kenduren niki ing tumindakake sacara rutinitas saben selapan dinten (1 wulan). Kenduren Sko. Kenduren niki ngrupikaken kendurenan paling ageng lebet masyarakat Kerinici. Kenduren niki biyasanipun dipunwontenaken saksampune panen pikantuk sabin ingkang ing awale dipuntumindakake konjuk tujuan ningkataken raos kesarengan terna sesami masyarakat ingkang memanen. Kenduren Selikuran. Tujuan dipunentenaken kenduren Selikuran yaiku konjuk ngelingi siyani sampun 21 hari. Biyasanipun dipunwontenaken dening sedaya warga dhusun kaliyan mbekta berkat piyambakpiyambak. Kenduren Angsumdahar. Tujuan dipunentenaken kenduren niki yaiku konjuk ngelingi calon pengantin sadereng resmi emah-emah uga biyasanipun dipunwontenaken 2 dinten sadereng calon pengantin kesebat rabi.n

No. 233 n September 2017

T@pRose

Fasilitasi Website Desa

Pak Agus. (ydh)

A

gus Heru Purnomo, S.P, Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan dan Pengembangan Teknologi Informasi (TI) Dinas Komunikasi dan Informatika (DKI) Kabupaten Tuban, menyatakan, pengembangan SID yang dimaksud bukan hanya sebatas aplikasi, melainkan juga perangkat keras, perangkat lunak, jaringan dan sumber daya manusia. Pemerintah Daerah juga berkewajiban memberikan pendampingan dan penguatan atas tata kelola informasi dan data pembangunan di tingkat Desa. “Di era TI, Desa harus mengikuti perkembangan. Misalnya, membangun Website untuk pelayanan informasi publik,” tukasnya. Tujuan membangun Website Desa, mempublikasikan keberadaan Desa beserta potensinya, memudahkan masyarakat mengakses informasi sebagai bentuk keterbukaan informasi publik, serta masyarakat dapat berpartisipasi memberikan dan mendapatkan informasi secara cepat dalam rangkaian percepatan pembangunan Desa. Dalam mewujudkan Desa yang berdaya, diperlukan keterpaduan pembangunan Desa, partisipasi masyarakat dan keberpihakan. Sehingga, orientasi kegiatan baik dalam proses maupun pemanfaatan hasil untuk seluruh masyarakat Desa. Laki-laki yang akrab disapa Pak Agus ini, menuturkan, proses pengumpulan persyaratan bagi penamaan domain Desa dilakukan pada bulan Agustus 2017. Setelah persyaratan tersebut dipenuhi, akan dilakukan pendaftaran ke Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Pendaftaran domain desa dapat dilakukan oleh Desa melalui Pemerintah Desa atau Pemerintah Daerah melalui Sekretaris Daerah dan salah satu Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan tugas pokok dan fungsi Kominfo. Namun, untuk memudahkan Desa-desa di Kabupaten Tuban, pendaftaran dilakukan secara kolektif.

No. 233 n September 2017

“Khusus, untuk Website Desa, penamaan domainnya gratis. Desa bisa mendaftarkan domain secara mandiri. Tapi untuk memudahkan Desa, kami daftarkan kolektif. Syaratnya mudah, hanya mengumpulkan scan kartu identitas diri dan surat pernyataan dari Kepala Desa (Kades),” ucapnya. Adapun penamaan Website, tambah laki-laki berperawakan tinggi besar itu, berekstensi atau berdomain go.id di bawah naungan Pemkab Tuban dengan alamat: ds-(nama desa).tubankab.go.id. Pak Agus merinci, hingga akhir bulan Agustus 2017, tercatat 14 desa di Tuban yang sudah memiliki Website. Dari 14 Website Desa tersebut, tambahnya, 12 Website sudah dapat dikatakan sebagai SID karena terintegrasi dengan Data Desa. Alumni Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur ini, menerangkan, SID mengandung Data Desa, Data Pembangunan Desa, Kawasan Desa dan informasi lain yang berkaitan dengan pembangunan Desa. Informasi-informasi ini dibuka menjadi data publik yang dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Tantangan Menurutnya, akses data menjadi salah satu tantangan, karena terkadang Desa tidak memiliki data yang memadai. Alhasil, berpengaruh pada perencanaan pembangunan di tingkat Desa. Di sisi lain, penerapan teknologi juga perlu mempertimbangkan ketersediaan akses masyarakat atas teknologi. Jika terlalu dipaksakan, akan menimbulkan permasalahan tersendiri. Sedang, terkait SID, berencana menerapkan aplikasi yang bersifat terbuka (open source). Namun, rencana ini harus dikoordinasikan terlebih dahulu dengan dinas atau instansi yang membawahi Desa. Pada intinya penerapan SID harus mengakomodir kebutuhan Desa untuk tetap memiliki, mengembangkan, dan menggunakan data sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari perencanaan di tingkat Desa. Melalui SID pengawasan pembangunan Desa semakin jelas dan tepat sasaran, kondisi dan sektor-sektor yang menjadi potensi unggulan Desa dapat didokumentasikan dengan baik, serta menguatkan kualitas pelayanan publik Desa. "Tuban ini menuju Smart City, karena itu ingin mewujudkan aparatur pemerintah dan masyarakat yang melek TI. Selanjutnya, bisa mempromosikan wilayah melalui sistem dalam jaringan,” ujarnya.n ydh

39