Data Loading...

Anak Muda Cerdas Mencegah Terorisme Flipbook PDF

Anak Muda Cerdas Mencegah Terorisme


153 Views
20 Downloads
FLIP PDF 7.9MB

DOWNLOAD FLIP

REPORT DMCA

ANAK MUDA CERDAS ANAK MUDA CERDAS MENCEGAH MENCEGAH TERORISME TERORISME Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, & Deradikalisasi BNPT 2016


“ANAK MUDA CERDAS MENCEGAH TERORISME” Cetakan Pertama, September 2015 Desain Sampul dan Tata Letak: Daniel Saroha Diterbitkan oleh : Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi


KATA PENGANTAR Dinamika terorisme di Indonesia selalu mengalami perubahan pola yang dinamis baik dalam bentuk modus, pola propaganda, rekuritmen maupun jaringannya. Terorisme seakan tidak pernah mati, dan apa yang paling berbahaya dari terorisme bukan sekedar panggung aksi kekerasan yang diperagakan, tetapi paham dan ideologinya yang mampu merubah pandangan dan pola pikir masyarakat. dan ideologi radikal terorisme adalah kalangan generasi muda. Tampaknya bukan menjadi rahasia lagi bahwa hampir mayoritas pelaku bom dan kekerasan teror di Indonesia TARGET PEMUDA - PEMUDI IDEO LOGI RADI KAL i


adalah mereka yang berumur antara 19-35 tahun. Generasi muda harapan bangsa ini telah nyata menjadi incaran dan target bagi penyebaran kelompok teror. Memang ada banyak alasan untuk menganalisa kerentanan generasi muda dari pengaruh ajakan dan propaganda kelompok radikal terorisme. Di samping karena faktor psiko sosial kalangan generasi muda yang selalu dipenuhi semangat dan idealisme yang tinggi, minimnya pengetahuan terkait bentuk, pola dan perkembangan terorisme menjadi salah satu alasannya. Karena itu, Buku ini didesain sebagai pengantar bagi generasi muda agar cerdas dalam mencegah dan menangkal paham dan ideologi radikal. Bogor, 24 September 2015 Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi Agus Surya Bakti, Mayjen TNI ii


Marilah Bersama wujudkan Indonesia damai, tanpa kekerasan. Bersama Cegah Terorisme iii


Ingin Informasi yang damai dan berita- berita terkini tentang pencegahan terorisme? Kunjungi www.damailahindonesiaku.com iv


ingin mendapatkan dan berbagi konten-konten damai dan mencerahkan ? Kunjungi www.jalandamai.org v


ingin bergabung dan berpartisipasi dalam jejaring komunitas damai di dunia maya? Kunjungi www.damai.id vi


DAFTAR ISI Mengapa Anak Muda? 1 Hah, Kawan kita menjadi korban 7 Terorisme Terus Menggoncang Dunia 13 Terorisme Masih Mengincar Negara Kita 17 Terorisme Tak Pernah Mati Gaya 20 Terorisme punya ‘Saudara Kembar‛ Loh! 27 Terorisme Menghancurkan Segalanya 35 Jangan Kira Teroris itu Bodoh 41 Teror Hi-Tech 46 Cerdas Cegah Terorisme 52 vii


Islam yang damai, Islam yang konstruktif dan Islam yang dapat mengayomi bangsa ini dengan tanpa membeda-beda- kan suku agama dan lain-lain. Itu Islam yang benar. Ke-Islaman harus satu nafas dengan Ke-Indonesia-an dan Ke-Manusia-an ~ Buya Safii Maarif ~


TARGET usia 19-35 thn Pemahaman Agama kurang penyendiri Mengapa Anak Muda? Teman-teman muda, kisah tentang generasi muda tak henti-hentinya menjadi bahasan dan perbincangan hangat. Ibarat buku, bab generasi muda menjadi bab paling memikat. Apa pasal? Ya, generasi muda terus ‘diincar‛ secara postur, usia dan masih panjangnya perjalanan hidupnya, itulah yang menarik gejolak asa. Diberbagai ranah kehidupan berbangsa dan bernegara, generasi muda makin memikat, lantaran tuntutan perannya bagi bangsa dan negara. Tentu tak berlebihan, oleh karena memang anak muda sebagai harapan bagi generasi mendatang yang akan memainkan peran bagi bangsa dan negara. 1


Harapan dan tantangan tampaknya terus bersahutan. Ada kebanggaan saat melihat keberhasilan generasi dalam berbagai prestasi. Kini tampak banyak generasi muda yang punya kesadaran untuk berdedikasi di masyarakat lewat berbagai bentuk, baik perorangan maupun secara organisasi. Dulu kita bangga dengan tampilnya tokoh-tokoh muda zaman pergerakan seperti Soekarno, Hatta, Agus Salim, Syahrir, Wahid Hasyim dan masih banyak lainnya. Mereka inilah yang menjadi “energi” kemerdekaan bangsa sekaligus pembangun format bangsa yang berkarakter dan berkepribadian. TARGET 27 thn 25 thn 22 thn 23 thn TARGET TARGET 20 thn 20 thn 32 thn 28 thn TARGET 2


Tetapi juga ada kemirisan ketika anak muda berada dalam jalan penuh tikungan. Nah, tiba-tiba kini, kita pernah tersentak satu contoh saja saat membaca kisah M. Syarif, anak muda yang dengan kalapnya melakukan bom bunuh diri di Mapolsek Cirebon di saat jamaah tengah melakukan shalat Jumat. Kok bisa-bisanya, ternyata ini akibat tersihir sebuah kelompok radikal. Ada lagi, anak-anak muda yang terdoktrin untuk tidak mau menghormati bendera merah-putih, karena meyakini bisa membawa kesyirikan. Ini jelas fakta yang mencemaskan, karena bisa menjadi “benih” radikalisme. Teror bom yang dilakukan anak muda pun kembali memantik pertanyaan, mengapa anak-anak muda itu RADIKAL ??? SYIRIK... hormat dong!! ngapain... 3


terpikat untuk ikut-ikutan melakukan aksi teror? Ya, faktanya “pengantin-pengantin” yang dijadikan “tumbal” teroris dalam melakukan aksi bom bunuh dirinya banyak dimainkan oleh anak muda. Cobalah kita simak fakta bahwa sekitar 80 persen dari 600 terduga teroris yang ditangkap adalah remaja berusia 18-30 tahun. Lagi-lagi, data ini membuktikan bahwa anak-anak muda menjadi sasaran perekrutan jihad instan untuk mencederai bangsa sendiri. Para anak muda itu sebenarnya merupakan korban dari perekrutan dan indoktrinasi konsep jihad yang kebablasan atau salah kaprah. Anak muda yang sedang mencari identitas diri itu, terpikat oleh janji surga untuk orang-orang yang berjihad, tetapi oleh mentornya tidak dijelaskan makna jihad yang sebenarnya. Mereka tidak mengerti apa yang menjadi sasaran jihad, syarat-syarat apa yang harus dipenuhi, dalam kondisi apa perintah jihad itu dilaksanakan. Akhirnya, korbannya justru diri mereka sendiri dan orang lain yang tidak berdosa. Aksi teror terus terjadi bahkan dengan langkah pastinya mereka mengkader anak-anak belia untuk tetap dalam lingkaran ideologi terorismenya. Caranya, kader yang 4


ditargetkan para pelaku terorisme tersebut adalah upaya bisa menggaet para anak muda untuk dipengaruhi dan bisa melanjutkan ideologi amoralnya. Seperti kalau lagi kita melihat pada tragedi ledakan bom di JW Marriot dan Hotel Ritz-Carlton tahun 2009, yang ternyata salah satu pelakunya adalah anak muda berusia 18 tahun yang baru saja lulus SMU. Jelas-jelas sudah bahwa kelompok radikal tidak akan berhenti regenerasi. Yah, anak muda dipilih karena mudah dicuci otak. Para suhu radikalisme selalu memasukkan pemahaman yang salah ke otak anak-anak muda. Ini akan menjadi lebih mudah karena iming-iming yang disampaikan biasanya terkait dengan mati syahid, masuk surga, dan ditemani bidadari nan cantik. fakta : remaja 80 dari 600 18-30 Sekitar % terduga teroris thn yang ditangkap 5


Peran Agama sesungguhnya adalah membuat orang sadar akan fakta bahwa dirinya bagian dari umat manusia & alam semesta. ~ GUS DUR ~


duh... itu si fulan...??? kok bisa..??? RIP RIP fulan fulan bin bin fulan fulan Hah, Kawan kita menjadi korban Agak mengagetkan kita bahwa pelaku teror akhir- akhir ini banyak melibatkan kalangan usia muda loh, mungkin ada juga yang seumuran dengan salah satu kita yang masih muda. Inilah mengapa aksi-aksi teror di Indonesia seakan tidak pernah habis, karena dari pelaku sendiri melakukan regenerasi dengan sasaran anak muda, bukan hitungan puluhan tahun saja, melainkan sudah menyasar kepada usia yang masih belasan alias masih ‘anak ingusan‛. 6


Tahukah kalian? dipilih anak muda karena semangat sedang tinggi. Bukankah anak-anak muda itu jiwanya masih labil? Ya, memang anak muda sedang mencari jati diri. Selidik punya selidik, dilakukanlah pendekatan awal misalnya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) ini negara tidak harus pergi, tapi akidah dan keyakinan berubah. Tidak ingatkah kita pelaku penembakan pos polisi di solo? Duh, 3 tersangka masih berusia 19 tahun, perakit bom buku di Bengkulu masih berusia 18 tahun, 2 pelaku perakit bom di Klaten tahun 2011 masih berstatus pelajar SMK usia 18 tahun dan 19 tahun, peledakan bom di JW Marriot tahun 2012 masih berusia 18 tahun. Ada juga kasus tersangka perakitan bom di Beji, Depok tahun 2012 berusia 19 tahun, serta tersangka yang terlibat dengan jaringan organisasi teroris dan ditangkap di daerah Mampang, Jakarta masih berusia 16 tahun. 7


Wah wah wah…, banyak juga ya usia baru belasan tahun dan pasti masih berstatus sebagai pelajar sudah ikut terlibat aktif dengan aksi dan jaringan teroris di Indonesia. Benar, sekarang kelompok teroris tidak melakukan kaderisasi di kalangan usia puluhan tahun lagi, kalangan 30 tahunan atau 40 tahunan, mereka menjadikan remaja belasan tahun menjadi tameng mereka untuk menyebarkan kebencian terhadap kelompok di luar mereka. Usia muda memang rentan mudah dimasuki oleh pengaruh perilaku maupun pemikiran luar, benar gak? Gak percaya? Nih, kita kasih contoh yang mungkin sudah agak ‘jadul‛, yaitu antara tahun 98 sampai tahun 2000-an, generasi muda Indonesia sedang dilanda demam boyband asal negara Barat seperti Amerika, Kanada, maupun Inggris. Dalam waktu sekejap, anak muda Indonesia mengikuti gaya-gaya boyband barat, dari rambut, pakaian sampai cara menarinya. 8


Sekarang terulang lagi kan, pemuda saat ini lagi demam boyband dan girlband asal Korea, banyak tuh yang mengikuti gaya mereka bahkan grup musik dalam negeri kita mengikuti model grup asal Korea. Nah, terbukti kan bagaimana anak muda cepat berpengaruh terhadap apa- apa yang ada di luar mereka. Dari sinilah, ada kelompok-kelompok yang tidak suka dengan pengaruh Barat tersebut “merasuki” pemikiran dan sikap anak muda Indonesia. Kelompok ini,-- yang pada kasus di Indonesia merupakan kelompok agamis (kelompok yang ‘kalap‛ memutlakkan tafsir piciknya terhadap nilai-nilai agama)--berusaha untuk mempengaruhi gue nasionalis KAFIR !!! 9


Lihat saja contoh kasus bom buku di kantor radio KBR 68 H Jakarta, siapa yang menjadi korban? Selain 3 anggota polisi, dua orang satpam ikut terkena dampak ledakan, dan sasaran bom tersebut adalah radio swasta. Selain itu sasaran bom buku juga mengarah ke kantor Badan Narkotika Nasional, rumah ketua Pemuda Pancasila, dan kantor vokalis yang cukup kita kenal, Ahmad Dhani. Nah, benar kan bahwa terorisme itu bisa menyasar kemana saja. Siapapun yang dibenci oleh pelaku teror, dialah yang menjadi sasaran. wah, banyak juga ya yang dibenci, tapi kok cara menegurnya seperti itu. BOOM!!! 10


BOOM!!! Terorisme Terus Menggoncang Dunia Tak ayal, lagi-lagi inilah masalah besar yang menjadi PR kita semua sampai saat ini, yaitu masih adanya tindakan terorisme. Kasus satu ini seolah tidak ada habisnya sejak adanya aksi-aksi bom yang terjadi di negeri kita tercinta selama ini. Nah, inilah yang pasti bikin penasaran teman-teman. Lalu, munculah pertanyaan seperti ini, apa sih terorisme itu? Hayo apa? Kalimat terorisme itu sendiri berawal dari kata “teror” yang merupakan asal dari bahasa Latin terrorem, artinya rasa takut yang luar biasa. Teror memiliki kata kerja, terrere berarti membuat takut atau menakut-nakuti. 11


Sedangkan pengertian tentang teror menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah menciptakan ketakutan, kengerian, atau kekejaman oleh seseorang atau golongan. Sedangkan teroris diartikan sebagai orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik. Kata terorisme adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai satu tujuan tertentu. Jadi sederhananya, terorisme merupakan suatu bentuk perilaku atau tindakan yang menimbulkan kecemasan atau ketakutan masyarakat banyak demi tujuan tertentu. Bukan main, aksi terorisme telah menjadi sebuah fenomena global yang termasuk ke dalam kategori kejahatan luar biasa (extraordinary crime). Data yang diperoleh dari “US State Department Country Report on Terrorism 2011” menyebutkan bahwa dalam kurun 2011 telah terjadi sejumlah 10.000 aksi serangan teror di 70 negara yang mengakibatkan 12.500 korban meninggal dunia. Tentu jumlah ini bertambah bila dihitung hingga tahun 2015 ini. Aksi teror ini dilakukan oleh berbagai macam pelaku 12


(baik kelompok maupun individu) yang beroperasi di Timur Tengah, Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Dunia terus berduka. Terorisme pada level dunia kembali menjadi aktual terutama sejak terjadinya peristiwa World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001, dikenal sebagai “September Kelabu”, yang memakan 3000 korban. Serangan dilakukan melalui udara, tidak menggunakan pesawat tempur, melainkan menggunakan pesawat komersil milik perusahaan Amerika sendiri, sehingga tidak tertangkap oleh radar Amerika Serikat. Tiga pesawat komersil milik Amerika Serikat dibajak, dua di antaranya ditabrakkan ke menara kembar Twin Towers World Trade Centre dan gedung Pentagon. Kejadian ini merupakan isu global yang memengaruhi kebijakan politik seluruh negara-negara di dunia, sehingga menjadi titik tolak persepsi untuk memerangi terorisme sebagai musuh internasional. Pembunuhan massal tersebut telah mempersatukan dunia melawan 13


terorisme Internasional. Terlebih lagi dengan diikuti terjadinya Tragedi Bali, tanggal 12 Oktober 2002 yang merupakan tindakan teror, menimbulkan korban sipil terbesar di dunia, yaitu menewaskan 184 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Nah, teman-teman semakin tahu bahwa terorisme terus mengembang dan meluas serta menggetarkan dunia hingga kini. Kemajuan tehnologi komunikasi justru menguatkan bangunan terorisme. Dan terorisme moderen itu tak lagi membedakan sasaran militer atau sipil. Pada umumnya, kaum teroris berpijak pada suatu ideologi yang menjadikan mereka separatis, anarkhis, pemberontak, nasionalis, revolusioner atau pemeluk agama yang radikal. Rata-rata, mereka terpincuk oleh fanatisme yang kuat. Tetapi, apapun dasar pijakannya, sebagai teroris mereka ditandai oleh tindakan kekerasan yang ditujukan kepada penduduk biasa atau non-combatting, yang tak dipersenjatai dengan sasaran mencapai khalayak yang lebih luas. Dengan cara ini, mereka berharap memperoleh pengaruh politik yang jauh lebih besar, misalnya diakui keberadaannya oleh masyarakat dunia. 14


Terorisme Masih Mengincar Negara Kita Bagaimana terorisme di negeri kita? Teman-teman juga perlu mengetahui, ternyata bibit-bibit terorisme telah lama ada semenjak Indonesia merdeka. Dan adanya tragedi 11 September 2001 dan serangan Amerika dan sekutunya ke Afghanistan, berhasil memicu produksi dan reproduksi kelompok dan jaringan teroris di Indonesia. Dari situlah muncul aksi-aksi pengeboman yang tidak hanya menyasar obyek-obyek vital, namun juga fasilitas publik dan aparat keamanan. Jika pada saat paska 1998 tepatnya tahun 2000, para pelaku teror melakukan aksinya dengan pengeboman baik dilakukan dengan bunuh diri maupun menggunakan media 15


lain seperti mobil atau tas ransel. Peledakan tersebut diantaranya sejumlah Gereja di Batam, Pekanbaru, Jakarta, Sukabumi, Mojokerto, Kudus, Mataram (24 Desember 2000), Paddy‛s Pub dan Sari Club (SC) di Bali (12 Oktober 2002), Hotel JW Marriott I (5 Agustus 2003), Kantor Kedutaan Besar Australia (9 September 2004), Hotel JW Marriott II dan Ritz-Carlton Jakarta (17 Juli 2009), Kantor Polresta Cirebon (15 April 2011), dan Kantor Polresta Poso (3 Juni 2013). Cara lain yang dilakukan oleh pelaku teror adalah dengan penembakan langsung seperti yang pernah terjadi di Kota Solo, pelaku melakukan penembakan di 3 pos polisi yang berbeda, pertama di daerah Singosaren tahun 2012, yang menggugurkan seorang polisi, kedua di Serengan Solo yang melukai dua orang polisi pada tahun yang sama. Berbeda pada kasus yang ketiga, satu pos polisi dilempar granat oleh pelaku teror juga di tahun yang sama. Selain itu, tak henti-hentinya ternyata pihak polisi telah lebih dulu menangkap pelaku yang berniat untuk melakukan aksi teror di masyarakat loh, syukur sudah tertangkap, bagaimana jika para pelaku ini lebih dulu mengeksekusi aksinya di tengah masyarakat. 16


Diantaranya ada yang tertangkap dikarenakan merakit bom siap ledak, bom buku, sampai dengan keterlibatan langsung dengan jaringan kelompok teroris. Bayangkan bagaimana jika bom-bom tersebut lebih dulu meledak? Berapa banyak lagi korban jiwa yang harus berjatuhan coba? Dan bagaimana jika jaringan teroris di Indonesia sudah terlanjur besar. Hal ini tentu tidak hanya meresahkan umat Islam yang cinta dengan toleransi dan hidup damai, namun akan dapat mengancam saudara sebangsa kita di seluruh wilayah Indonesia. Waduh..duh..duh.. pake mo nge bom segala.. mo mati kok ngajak-ngajak orang.... 17


Terorisme Tak Pernah Mati Gaya Maksudnya apa sih? Begini, seperti sudah dipaparkan di atas, terorisme itu akan selalu ‘kreatif‛ dalam menyusun siasat dan menjalankan aksinya. Yah, dalam istilah gaulnya, terorisme itu tak pernah mati gaya. Nah, dari sinilah kemudian para pakar memilah-milah tipe terorisme. Hal ini supaya memudahkan kita dalam melihat secara jelas dan tegas model terorisme yang terjadi. Kita coba merujuk pada pemilahan Hoffman yang terdapat dalam buku “Deradikalisasi Terorisme”. Menurutnya, terorisme memiliki beberapa karakter. “Deradikalisasi Terorisme” karakter 6 radikalisme Hoffman 18


1 karakter nasionalis-etnosentris, yaitu anti terhadap pemerintah dan melakukan penyerangan terhadap daerah yang aman, dalam bentuk separatis. 2 religius, dengan melakukan serangan terhadap masyarakat sipil, bentuk bom bunuh diri termasuk sebagai bentuk dari serangan ini, contohnya seperti apa yang terjadi di Indonesia, serta dalam bentuk kelompok seperti Jemaah Islamiah (JI), gerakan garis keras di Hindu seperti kelompok Sikh di India, serta Macan Tamil di Sri Lanka. 3 Ideologi (kepercayaan pada politik tertentu), propaganda menyebarkan untuk bertujuan kebencian anti terhadap imigran dan melakukan aksi pengeboman, misal apa yang dilakukan oleh gerakan Nazi di Jerman dan gerakan fasis lain di Italia. 4 ingle Issue, yaitu dengan melakukan sabotase dan menyebarkan ancaman pengeboman terhadap objek-objek vital, disebabkan karena merasa melihat adanya ancaman terhadap kelangsungan lingkungannya dan orang-orang di daerahnya. 19


5 faktor negara sponsor, yaitu dengan melakukan sabotase atau penggunaan senjata kimia yang dilakukan oleh sebuah kelompok pemerintahan. 6 faktor penderita sakit jiwa, yang dilakukan oleh individu dengan melakukan pengeboman atau perampokan. Tak cukup itu saja, kita coba menyitir pembagian menurut Departemen Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, membagi karakter terorisme menjadi 4 kelompok. 1 Karakteristik Organisasi yang meliputi organisasi, rekrutmen, pendanaan, dan hubungan internasional. 2 Karakteristik terorisme yang memiliki persamaan dalam operasi, misal perencanaan eksekusi teror, waktu, taktik dan kolusi. 20


3 Karakteristik Perilaku, yang meliputi kesamaan motivasi, dedikasi, disiplin, keinginan membunuh dan keinginan menyerah hidup-hidup. 4 Karakteristik Sumber Daya, yang meliputi kesamaan latihan, pengalaman per- orangan di bidang teknologi, persenjataan, perlengkapan dan transportasi. Nah, jelas bukan bilamana dilihat dari teori-teori diatas, terorisme itu dapat bersifat lintas agama, ras, bahkan bisa lintas batas negara. Terorisme dikatakan sebagai sebagai aksi lintas agama, artinya agama manapun bisa melakukan aksi teror terhadap agama lain, misalkan di Indonesia yang dilakukan oleh oknum kelompok Islam terhadap kelompok Kristen, Hindu atau Budha, di Myanmar yang dilakukan oleh oknum kelompok Budha terhadap kelompok Islam dengan kasus Rohingnya. Terorisme juga dapat dilakukan dengan lintas ras misal yang dilakukan oleh kelompok Nazi terhadap bangsa 21


Yahudi maupun Kelompok Fasis Italia dibawah rezim Mussolini yang membunuh bangsa negro seperti Ethiopia. Terakhir terorisme dapat menembus ke batas antar negara, seperti kelompok Boko Haram. Kelompok ini memiliki basis di Nigeria, namun selain itu, kelompok ini juga memiliki wilayah pengikut di Kamerun utara serta negara Niger. Kelompok Boko Haram, melakukan tindakan teror dengan membunuh kelompok Kristen serta pemimpin-pemimpin yang tidak sejalan dengannya, salah satunya terlibat dalam pembunuhan salah satu Walikota di wilayah Kamerun. Bahkan, kelompok Boko Hara mini membunuh sesame muslim yang dianggap berbeda dengan fahamnya yang bercorak sunni, seperti terhadap Lalu ada organisasi Al-Qaeda, yang awalnya melakukan kegiatan “jihadnya” di Afghanistan, namun sampai saat ini, operasi teror al-Qaeda sudah bisa masuk ke Amerika dengan peristiwa yang dikenal sebutan 9/11 dimana dua gedung kembar World Trade Centre (WTC) hancur dengan korban jiwa yang tidak sedikit. 22


Pengaruh al-Qaeda juga masuk ke wilayah Asia Tengara, diantaranya Malaysia, Filipina dan Indonesia. Operasi “Jihad” mereka terus dilakukan walaupun bukan ditempat perang, otomatis dong kegiatan mereka meresahkan masyarakat yang awalnya hidup damai tiba-tiba diusik oleh peperangan mereka. Dengan kata lain, area perang mereka dipindah ke wilayah aman, akhirnya wilayah yang sebelumnya aman sentosa berubah menjadi area perang yang penuh dengan kebencian. 23


Tidak penting apapun Agama mu atau suku mu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu. ~ GUS DUR ~


Terorisme punya ‘Saudara Kembar’ Loh! Teman-teman sudah mengetahui apa dan bagaimana terorisme itu. Sekarang, perlu juga diketahui teman- teman kalau terorisme itu tumbuh dari ‘benih‛ yang tertanam pada diri seseorang atau kelompok. Yah, mudahnya katakanlah, terorisme itu punya ‘saudara kembar‛, yaitu radikalisme. Memang tidak semua mereka yang radikal itu ‘berani‛ berbuat teror atau melakukan aksi terorisme. Model seperti ini disebut radikal gagasan, Kembaran... TEROR isme RADIKAL isme IDEO LOGI RADI KAL 24


yaitu kelompok yang secara gagasan radikal, namun tidak terlibat dalam aksi kekerasan. Dalam aksi demo yang dilakukan mereka menyerukan jihad, syariat Islam, dan negara Islam. Tapi, yang pasti semua teroris itu pasti radikal. Teroris itu mau melakukan aksi terornya karena didalam dirinya sudah tertancap pemahaman yang radikal. Kalau yang model ini disebut radikal Teroris, yaitu kelompok radikal yang mengusung gagasan ideologi keagamaan dan melakukan aksi teroris. Secara etimologis, bila mengutip dari David Jarry-- kata radikal berasal dari radices yang berarti a concerted attempt to change the status quo. Pengertian ini mengidentikkan istilah radikal dengan nuansa yang politis, yaitu kehendak untuk mengubah kekuasaan. Istilah ini sebenarnya mengandung varian pengertian, bergantung pada perspektif keilmuan yang menggunakannya. Dalam mendalam hingga ke akar persoalan”. Istilah radikal juga acapkali disinonimkan dengan istilah fundamental, ekstrem, dan militan. Istilah ini berkonotasi ketidaksesuaian dengan kelaziman yang berlaku. Istilah radikal ini juga acapkali diidentikkan dengan kelompok- kelompok keagamaan yang memperjuangkan prinsip- 25


prinsip keagamaan secara mendasar dengan cara yang ketat, keras, tegas tanpa kompromi. Adapun istilah radikalisme diartikan sebagai tantangan politik yang bersifat mendasar atau ekstrem terhadap tatanan yang sudah mapan. Kata radikalisme ini juga memiliki varian pengertian. Hanya saja, benang merah dari segenap pengertian tersebut terkait erat dengan pertentangan secara tajam antara nilai-nilai yang diperjuangkan oleh kelompok agama tertentu dengan tatanan nilai yang berlaku atau dipandang mapan pada saat itu. Sepintas pengertian ini berkonotasi kekerasan sifatnya ideologis. Radikal Radice kehendak mengubah kekuasaan David Jarry 26


Atas dasar itu,--menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia--radikalisme merupakan paham (isme), tindakan yang melekat pada seseorang atau kelompok yang menginginkan perubahan baik sosial, politik dengan menggunakan kekerasan, berpikir asasi, dan bertindak ekstrem. Penyebutan istilah radikalisme dalam tinjauan sosio-historis pada awalnya dipergunakan dalam kajian sosial budaya dan dalam perkembangan selanjutnya istilah tersebut dikaitkan dengan persoalan politik dan agama. Istilah radikalisme merupakan konsep yang akrab dalam kajian keilmuan sosial, politik, dan sejarah. Istilah radikalisme digunakan untuk menjelaskan fenomena sosial dalam suatu masyarakat atau negara. Adapun yang dimaksud kelompok Islam radikal adalah kelompok yang mempunyai keyakinan ideologis tinggi dan fanatik yang mereka perjuangkan untuk menggantikan tatanan nilai dan sistem yang sedang berlangsung. Islam radikal adalah kelompok yang mempunyai keyakinan ideologis tinggi dan fanatik yang mereka perjuangkan untuk menggantikan tatanan nilai dan sistem yang sedang berlangsung. 27


Nah, ketahuilah teman-teman, saat ini ajaran radikalisme masih marak di tengah masyarakat. Ajaran ini menyebar melalui dakwah-dakwah yang dilakukan di rumah-rumah ibadah, pengajian, lembaga pendidikan keagamaan, bahkan sudah menyebar di lembaga pendidikan umum seperti SMU dan universitas. Penyebaran ajaran radikal dilakukan secara terbuka maupun tertutup. Hasil pemetaan awal terhadap potensi radikal yang dilakukan BNPT kerja sama dengan The Nusa Institute tahun 2011 di 32 provinsi menunjukkan bahwa pemahaman keagamaan masyarakat secara keseluruhan berada pada tingkat “waspada terhadap radikalisme”, yaitu sebesar 66,3%. Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa pengurus masjid dan guru sekolah madrasah merupakan kelompok yang memiliki tingkat bahaya paling tinggi, masing-masing 15,4%. Penelitian yang dilakukan Center for Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2008-2009 menunjukkan tren perkembangan paham radikalisme yang menggunakan masjid sebagai media penyebarannya (Penelitian CSRS UIN Syarif Hidayatullah bersifat kualitatif dan berusaha memotret benih Islam radikal di beberapa masjid agung di Jakarta dan Solo. Hasilnya adalah beberapa masjid 28


di Jakarta telah menyuarakan gagasan Islam radikal, meskipun mayoritas masih menyuarakan gagasan moderat. Masjid-masjid di Solo juga telah dan sedang digunakan untuk menyuarakan gagasan Islam radikal. Survei yang dilakukan Lazuardi Birru dan LSI tahun 2011 yang menguatkan temuan CSRC bahwa lebih dari separoh masjid di Jabotabek pernah melakukan tindakan radikal (50.95%), sementara 20,09 % menyatakan bersedia melakukannya, dan hanya 28.95% saja yang mengatakan tidak pernah. (Dari 50,95 % masjid yang pernah melakukan tindakan radikal tersebut, 44 % merupakan tindakan penghasutan kebencian terhadap kelompok tertentu, sementara sisanya (6,95%) melakukan sweeping dan penyerangan terhadap kelompok dan rumah ibadah tertentu). Munculnya radikalisme di kalangan pesantren juga ditemukan dalam penelitian awal Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR) yang menyebutkan bahwa November 2010-April 2011 menunjukkan terdapat setidaknya 102 pesantren radikal yang tersebar di 15 provinsi di Indonesia. Sementara itu, data yang dikeluarkan oleh NII Crisis Center menunjukkan terdapat sejumlah kampus yang menjadi tempat pergerakan NII, termasuk UI, UNAS, Mustopo Beragama dan lain-lain. Survei yang 29


dilakukan LIPI di beberapa kampus di Jawa menunjukkan bahwa 80,6% responden mahasiswa yang disurvei memiliki kesetujuan terhadap Piagam Jakarta sebagai dasar negara. (Penelitian oleh Anas Saidi (LIPI) di 5 universitas yaitu UI, IPB, UGM, Unair, dan Unibraw pada Tahun 2010 tentang pemahaman keislaman dalam gerakan tarbiyah di kampus. Satu lagi, survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) di 100 SMP serta SMA umum di Jakarta dan sekitarnya bahwa dari 933 siswa di survei, sekitar 48,9% menyatakan setuju atau sangat setuju atas aksi-aksi kekerasan berbaju agama. Sementara di kalangan guru agama yang berjumlah 590 guru yang disurvei, 28,2% menyatakan setuju atas aksi-aksi kekerasan atas nama agama dan moral (LaKIP, Oktober 2010-Januari 2011). Tahukah kalian? Hasil pemetaan di 32 provinsi menunjukkan bahwa pemahaman keagamaan masyarakat berada pada tingkat “waspada terhadap radikalisme”, yaitu sebesar 66,3%. 30


STOP TERROR Terorisme Menghancurkan Segalanya Dampak radikalisme dapat terlihat pada semua aspek kehidupan masyarakat: ekonomi, keagamaan, politik, parawisata, dan sosial-keagamaan. Dari segi ekonomi, pelaku ekonomi merasa ketakutan untuk berinvestasi di Indonesia karena keamanan yang tidak terjamin. Bahkan mereka yang telah berinvestasi pun akan berpikir untuk menarik keuntungannya lalu dipindahkan ke luar negeri demi menjaga dan mempertahankan investasinya. adalah terhadap kepercayaan pelaku-pelaku ekonomi 31


di dalam dan di luar negeri. Dampak dari kepercayaan para pelaku ini sangat luas karena menentukan sikap dan perilaku mereka di berbagai sektor. Perubahan tingkat kepercayaan akan memengaruhi pengeluaran konsumsi, investasi, ekspor dan impor. Setelah peristiwa Bali Country Risk Indonesia sangat meningkat seperti yang dicerminkan oleh risiko dan biaya transaksi dengan Indonesia (premi asuransi, biaya bunga pinjaman, dan sebagainya) yang makin mahal, para investor ragu-ragu dan para pembeli luar negeri bimbang membuka order. Normalisasi keadaan ini akan memakan waktu. Kepercayaan akan kembali, secara bertahap, setelah kita dapat menunjukkan langkah-langkah dan hasil-hasil konkret di dan langkah lainnya yang memperbaiki iklim usaha. Dari segi keamanan, masyarakat tidak lagi merasa aman di negerinya sendiri. Segala aktivitas masyarakat tidak berjalan sebagaimana mestinya karena selalu dihantui oleh kekhawatiran dan ketakutan terhadap tindakan- tindakan radikal. Setiap orang curiga kepada orang lain terkait dengan aksi radikal. Hal ini akan berimplikasi pada persoalan di dalam masyarakat. 32


Dari segi politik, sistuasi politik dalam negeri tidak akan stabil karena persoalan radikalisme. Semua kekuatan politik akan terkuras energi dan pikirannya dengan persoalan ini. Pembangunan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Bahkan, secara politik luar negeri pun sangat merugikan karena pihak luar negeri menganggap bahwa Indonesia adalah sarang radikalis dan teroris. Hal ini terbukti dengan banyaknya negara mengeluarkan trevel warning kepada warganya berkunjung ke Indonesia. Dari segi pariwisata, Indonesia akan kehilangan pemasukan devisa yang tinggi. Hal ini terbukti saat kejadian Bom Bali I dan II. Semua turis berbondong- bondong meninggalkan Indonesia. Parawisata menjadi lesu. Dari segi ekonomi, parawisata telah menyumbang kemakmuran bagi rakyat, karena di bidang ini telah mempekerjakan sejumlah orang di bidang perhotelan, kuliner, pertokoan, dan selainnya. Pada saat Bom Bali pada bulan Oktober tahun 2002 di Legian, pariwisata Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya mengalami guncangan yang hebat. Eksodus turis mancanegara terjadi, tingkat hunian hotel menurun 33


drastis. Bali yang mengandalkan sektor pariwisata sebagai tulang-punggung perekonomian menjadi goyah, mulai dari masyarakat tingkat atas, menengah, sampai masyarakat tingkat bawah. Dampak ekonomi terbesar secara langsung dialami Bali. Kegiatan pariwisata yang merupakan tulang punggung (sekitar 35%) perekonomian Bali mengalami guncangan. Pembatalan pesanan hotel oleh para wisatawan, kosongnya restoran dan toko sejak peristiwa pengeboman, serta turunnya penghasilan pemilik perusahaan kecil yang usahanya bersandar pada sektor pariwisata telah terjadi secara dramatis. Peristiwa Bali juga merupakan pukulan bagi sektor pariwisata di Indonesia yang menyumbang devisa lebih dari USD 5 miliar setiap tahun terhadap neraca pembayaran nasional. Tahun lalu lebih dari 5 juta turis asing mengunjungi Indonesia. Dalam jangka pendek diperkirakan kunjungan wisatawan asing akan berkurang, baik yang bertujuan ke Bali maupun tujuan wisata lain di Indonesia. Penurunan jumlah wisatawan memengaruhi banyak kegiatan ekonomi lain. Survei BPS mengenai wisatawan 34


mancanegara menunjukkan bahwa sektor yang dipengaruhi itu termasuk: akomodasi (perhotelan), angkutan udara, angkutan darat, makanan dan minuman (restoran), hiburan, tour & sightseeing, souvenir (kerajinan), kesehatan dan kecantikan dan pelayanan (guide). Melalui sektor ini, Bali terkait dengan daerah lain. Dari segi agama, agama dipandang sebagai racun. Agama tidak dilihat dalam kerangka upaya untuk menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Karena radikalisme dan terorisme yang berkembang di Indonesia adalah radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama dan moral. Sejumlah ulama dan tokoh agama yang selama ini menjadi panutan berubah menjadi momok bagi masyarakat karena dipandang sebagai pihak yang bertanggung jawab menyebarnya paham radikalisme. Pesantren dan lembaga pendidikan lain yang selama puluhan tahun, bahkan sebelum Indonesia merdeka sebagai pusat peradaban dan pendidikan Islam terkemuka di Indonesia ternodai karena dianggap sebagai tempat bersemainya radikalisme dan terorisme. 35


Bangunlah Suatu Dunia Di mana Semuanya Bangsa Hidup dalam Damai dan Persaudaraan ~ Ir Soekarno ~


Bodoh TOLOL STUPID IDIOT Jangan Kira Teroris itu Bodoh Ketahuilah teman-teman, bahwa sebuah ideologi fanatik dan fanatisme agama seringkali lebih menonjol sebagai penyebab dan motivasi bagi terorisme. Dalam skala global, para pemimpin kelompok fundamentalis adalah anggota kelas- kelas menengah dan atas. Mereka memiliki pendidikan universitas dan banyak dengan gelar doktor, dokter dan insinyur. Mereka tidak pernah menyatakan bahwa alasan untuk aktivitas mereka kemiskinan atau kebodohan. Pelaku ‘Black September” yang berjumlah 19 orang dalam serangan teroris 11 September tinggal di 36