Data Loading...

BKSN 2021 Flipbook PDF

BKSN 2021


120 Views
70 Downloads
FLIP PDF 6.08MB

DOWNLOAD FLIP

REPORT DMCA

BULAN KITAB SUCI NASIONAL 2021

YESUS SAHABAT SEPERJALANAN KITA

LEMBAGA BIBLIKA INDONESIA

Yesus Sahabat Seperjalanan Kita © Lembaga Biblika Indonesia 2021

Cover Buku/Poster BKSN 2021: Fery Kurniawan OFM Tata letak: Jerr

Lembaga Biblika Indonesia Kompleks Gedung Gajah, Blok D-E Jl. Dr. Saharjo No. 111, Tebet, Jakarta Selatan 12810 Telp. (021) 8318633, 8290247 Faks. (021) 83795929 www.lbi.or.id

“Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (Mat. 14:27)

Daftar Isi Kata Pengantar ............................................................................................ 7 Gagasan Pendukung: Yesus Sahabat Seperjalanan Kita ........................... 9 Pendahuluan .......................................................................................... 10 Pertemuan Pertama: Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Putus Asa ... 19 Pertemuan Kedua: Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Kehilangan ...... 35 Pertemuan Ketiga: Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Menderita ......... 55 Pertemuan Keempat: Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Bertobat ......... 77 Bibliografi ................................................................................................. 93 Pendalaman Kitab Suci untuk Dewasa/Lingkungan ............................... 95 Pertemuan Pertama: Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Putus Asa ... 96 Pertemuan Kedua: Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Kehilangan ...... 103 Pertemuan Ketiga: Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Menderita ......... 112 Pertemuan Keempat: Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Bertobat ......... 119 Pendalaman Kitab Suci untuk Remaja .................................................... 125 Pertemuan Pertama: Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Putus Asa ... 126 Pertemuan Kedua: Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Kehilangan ...... 133 Pertemuan Ketiga: Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Menderita ......... 141 Pertemuan Keempat: Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Bertobat ......... 147

Pendalaman Kitab Suci untuk Anak-anak ............................................ 153 Pertemuan Pertama: Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Putus Asa ... 154 Pertemuan Kedua: Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Kehilangan ...... 158 Pertemuan Ketiga: Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Menderita ......... 164 Pertemuan Keempat: Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Bertobat ......... 169 Perayaan Ekaristi ..................................................................................... 175

Kata Pengantar Dilatarbelakangi oleh situasi pandemi Covid-19 yang masih bergejolak, Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) tahun 2021 mengangkat tema Yesus Sahabat Seperjalanan Kita. Ini merupakan tema khusus, sebab pandemi telah membuat Pertemuan Nasional (Pernas) LBI tahun 2020 tertunda, sehingga tema empat tahunan bagi BKSN yang biasanya sudah ditetapkan sampai sekarang belum bisa dibicarakan bersama. Melalui rapat daring tanggal 23 Oktober 2020 yang dihadiri oleh Uskup Delegatus LBI, Pengurus Harian LBI, Penghubung Regio, Delegatus Kitab Suci, dan sejumlah narasumber, tema ini akhirnya disepakati karena dipandang aktual, relevan, dan selaras dengan kondisi yang kita hadapi sekarang. Pandemi Covid-19 bukanlah bencana kesehatan semata, sebab telah melahirkan krisis di hampir semua bidang kehidupan. Berbagai aktivitas masyarakat lumpuh karenanya, baik aktivitas ekonomi, sosial, budaya, maupun keagamaan. Sementara itu, korban jiwa dari hari ke hari terus berjatuhan, dan bisa jadi tetangga, sahabat, saudara, bahkan keluarga kita sendiri termasuk di antara mereka. Benar-benar sekarang ini kita hidup di tengah situasi yang mengguncangkan dan penuh dengan ketidakpastian. Kata Pengantar

7

Di tengah kebingungan, ketakutan, dan perasaan tidak berdaya, kita sebagai umat beriman diteguhkan oleh satu hal, yakni bahwa kita tidak sendirian. Kita mempunyai sosok yang sangat bisa diandalkan, yakni Yesus. Yesus adalah sahabat seperjalanan kita. Ia senantiasa menemani, menguatkan, dan membimbing kita manakala hidup kita berhadapan dengan jalan yang terjal, badai yang dahsyat, maupun padang gurun yang tandus. Yesus adalah sahabat bagi kita serta bagi setiap orang yang putus asa, kehilangan, menderita, dan bertobat. LBI mengucapkan terima kasih kepada R.P. Albertus Purnomo OFM yang telah menyusun Gagasan Pendukung untuk BKSN tahun ini, kepada Komisi Kerasulan Kitab Suci (K3S) Keuskupan Agung Jakarta yang telah menyusun bahan pendalaman Kitab Suci untuk kelompokkelompok, serta kepada R.P. Fery Kurniawan OFM yang kembali membuat poster BKSN yang sangat menyentuh dan indah. Mengingat pandemi masih berlangsung hingga sekarang, kegiatan-kegiatan dalam rangka BKSN hendaknya dilaksanakan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, dan dengan memprioritaskan pertemuan-pertemuan secara daring. Akhir kata, dengan bersama-sama merenungkan tema Yesus Sahabat Seperjalanan Kita, semoga kita sekalian diteguhkan, dikuatkan, dan dimampukan dalam menjalani saat-saat yang berat ini. Tuhan memberkati kita semua. Lembaga Biblika Indonesia

8

Kata Pengantar

BULAN KITAB SUCI NASIONAL 2021

YESUS SAHABAT SEPERJALANAN KITA Albertus Purnomo OFM

GAGASAN PENDUKUNG

PENDAHULUAN I Di Tengah Krisis Covid-19 Krisis multidimensional. Itulah kata yang cocok untuk menggambarkan situasi dunia ketika memasuki dekade ketiga milenium ketiga. Meskipun sebelumnya telah terjadi berbagai macam krisis di tengah masyarakat dunia, baik dalam hal ekonomi, sosial, hubungan antarbangsa, dan sebagainya, krisis yang disebabkan oleh merebaknya pandemi Covid-19 di awal tahun 2020 membuat masyarakat dunia semakin terpukul. Semua orang, dari yang masih kanak-kanak sampai yang berusia lanjut, dari yang miskin sampai yang kaya, dari yang tersingkir sampai yang berkuasa, sangat terdampak oleh krisis ini. Jutaan orang telah terinfeksi, demikan pula tidak sedikit yang meninggal karena daya tahan tubuhnya sudah tidak sanggup lagi melawan ganasnya virus ini. Di awal tahun 2021, virus Corona telah menjelma menjadi musuh bersama semua bangsa. Kemunculan sejumlah varian baru virus ini semakin membuat masyarakat dunia dicekam rasa takut dan cemas. Pertanyaan kapan virus ini bisa ditaklukkan masih tetap menjadi pertanyaan. Mutasi virus ini yang semakin cepat, serta daya serang dan penyebarannya yang semakin sulit terdekteksi dan terkendali, menempatkan manusia di tengah ketidakpastian. Memang ada upaya yang gigih untuk mengurangi dampak krisis kesehatan ini, baik dari kalangan ilmuwan maupun para pemimpin negara. Semua berjuang untuk membuat vaksin yang mampu merangsang kekebalan tubuh, sehingga manusia dapat bertahan hidup di tengah pandemi ini. Meskipun demikian, waktu berakhirnya krisis Covid-19 masih tidak dapat diprediksi dengan pasti. Singkatnya, krisis yang diawali oleh kemunculan virus Corona ini telah membuat kita terjerembab dalam ketidakpastian dan rasa khawatir akan masa depan. Pandemi Covid-19 bukanlah bencana kesehatan semata. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pandemi ini telah melumpuhkan segala aktivitas: Ekonomi, sosial, dan religius. Sebagian dari kita yang tidak terjangkit Covid-19 juga tidak bisa beraktivitas secara normal. Sekalipun bisa beraktivitas, kita selalu berada di bawah bayang-bayang ketakutan terinfeksi. Kita menjadi tidak maksimal dalam menjalankan tugas seharihari. Bagi para pengusaha, entah dalam skala besar maupun kecil, pandemi ini telah meluluhlantakkan usaha mereka. Alih-alih memperoleh 10

Gagasan Pendukung

keuntungan, justru serangkaian kerugianlah yang diperoleh. Akibatnya, banyak perusahaan gulung tikar. Sebagian karyawan terkena PHK atau dirumahkan. Di kalangan kelas menengah ke bawah, pandemi juga telah menutup lahan mereka untuk memperoleh penghasilan. Mereka mengalami kesulitan dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sama halnya dengan itu, lembaga keagamaan pun, seperti Gereja, harus berpikir keras bagaimana mencari pendapatan dan pemasukan finansial supaya aktivitas pelayanan tidak terganggu karena krisis ini. Di samping itu, pandemi juga membatasi aktivitas sosial kita. Kita didera rasa bosan karena antara kehidupan di rumah dan di luar rumah tidak seimbang. Kita takut berkumpul dengan sahabat, rekan, atau kenalan, bukan pertama-tama karena aturan dari pemerintah, tetapi karena ketakutan jangan-jangan nanti kita akan tertular atau menularkan. Hakikat kita sebagai makhluk sosial tidak teraktualkan, sehingga kita menjadi bosan. Bagi umat Katolik, pandemi telah mengubah semua bentuk aktivitas liturgis maupun non-liturgis. Meskipun sebagian Gereja dapat melaksanakan perayaan Ekaristi secara offline, tetapi kehadiran umat sangat dibatasi demi menghindari penyebaran virus. Mereka yang merindukan kehadiran Tuhan dalam Sakramen Mahakudus akhirnya hanya dapat menerima komuni batin. Tidak adanya kebersamaan dalam doa, nyanyian, dan puji-pujian menjadikan hidup rohani kering. Doa pribadi pun tidak dapat menggantikan sukacita dan kegembiraan yang ditemukan dalam perayaan Ekaristi atau doa bersama. Sama halnya dengan itu, pendalaman Kitab Suci atau doa rosario secara online maupun streaming juga tidak bisa menggantikan kekhusyukan doa jika dilakukan bersamasama dalam kehadiran yang nyata, bukan virtual saja. Parahnya lagi, dalam situasi tertekan, frustrasi, dan kebingungan karena dampak buruk pandemi, masih ada sebagian orang yang memanfaatkan kondisi ini untuk memecah belah persatuan masyarakat Indonesia. Mereka memainkan isu-isu agama dan ras untuk mengacakacak kerukunan antarumat beragama di negara kita. Masalahnya bukan terletak pada agama, ras, ataupun suku, tetapi pada kepentingan politis sekelompok individu untuk menguasai negara ini. Jika diibaratkan seperti medan pertempuran, Gereja Katolik di Indonesia sedang menghadapi dua front: Serangan pandemi Covid-19 dan ancaman diperlakukan tidak adil karena sentimen agama yang digaungkan oleh kelompok pengacau negara. Meskipun sering ditekankan prinsip “seratus persen Katolik, sePendahuluan

11

ratus persen Indonesia”, sebagai minoritas, Gereja Katolik tetap berada dalam posisi yang sulit. Semua fakta di atas sebenarnya hanyalah sebagian kecil dari dampak pandemi yang tidak diinginkan. Masih ada banyak fakta lain yang tidak perlu disebutkan di sini. Intinya, pandemi yang muncul pada tahun 2020 melahirkan kekacauan (chaos), ketakutan, kecemasan, depresi, frustrasi, kebingungan, dan sebagainya. Dampak negatif ini tampaknya akan terus berlanjut sepanjang tahun 2021. Sementara itu, kapan situasi ini akan berakhir total dan kapan kehidupan normal akan mulai berjalan lagi masih diselimuti kabut misteri. Pandemi adalah bencana yang tidak dapat kita kontrol. Kita tak dapat mengelak dari kenyataan buruk ini. Sejarah sudah mencatat terjadinya banyak pandemi yang menghancurkan masyarakat dan peradaban. Kiranya sudah menjadi takdir manusia bahwa manusia harus hidup berdampingan dengan pandemi. Bagi kita sekarang, tampaknya sudah menjadi takdir bagi kita untuk melewati pandemi Covid-19 ini. Namun, ini tidak berarti bahwa kita menyerah pasrah dengan keadaan. Pandemi memang tidak dapat kita kontrol, tetapi kita dapat mengontrol sikap dan reaksi kita terhadapnya. Dalam hal ini, kita bisa mengingat apa yang dikatakan Victor Frankl, seorang psikolog yang selamat dari peristiwa Holocaust pada Perang Dunia II, “Ketika kamu dihadapkan pada situasi yang tidak dapat kamu kontrol, kamu perlu beradaptasi dengan situasi tersebut. Kamu perlu menemukan arti dari situasi tersebut. Maksudnya, menemukan apa yang dapat dipelajari darinya dan menemukan cara yang membuat kamu dapat melewatinya. Kekuatan yang melampui kemampuanmu untuk mengontrol dapat mengambil segala sesuatu yang kamu miliki, kecuali satu hal, yaitu kebebasannmu untuk memilih bagaimana kamu akan menanggapi situasi tersebut. Kamu tidak dapat mengontrol apa yang terjadi padamu dalam hidup, tetapi kamu selalu dapat mengontrol apa yang kamu rasakan dan lakukan atas apa yang terjadi padamu.” Sebagai umat Katolik sekaligus pengikut Kristus, kita tetap harus bersikap dan bertindak di tengah situasi dan dampak dari pandemi Covid-19. Namun, kita juga harus tahu bahwa kita memerlukan Dia yang memiliki kekuatan yang melampaui pandemi ini, yaitu Allah sendiri. Kita memerlukan pendampingan Allah untuk mampu melewati semua penderitaan dan kesulitan ini. Dalam diri Putra-Nya, yaitu Yesus Kristus, kita pun dapat menemukan dasar yang kuat untuk dapat bertahan hidup dan melalui semuanya ini. Yesus adalah sahabat seperjalanan kita dalam pen12

Gagasan Pendukung

deritaan dan kesedihan ini. II Yesus sebagai Sahabat yang Senantiasa Hadir Kekristenan adalah agama dan jalan hidup yang berdasar dan berfokus pada seorang pribadi, yaitu Yesus Kristus. Jika diibaratkan bangunan, Yesus adalah fondasi utama atau, lebih spesifik, batu penjuru bagi sebuah rumah yang bernama kekristenan. Teladan dan ajaran Yesus bagaikan sebuah kompas yang menunjukkan bagaimana orang Kristen harus hidup, bergerak, dan berada. Cara berpikir, bertutur kata, dan bertingkah laku orang Kristen harus selaras dengan Yesus Kristus sendiri. Idealnya, sikap dan hidup orang Kristen seharusnya mencerminkan figur Yesus sendiri. Setiap orang Kristen dari zaman ke zaman memiliki cara pandang yang berbeda berkenaan dengan figur Yesus ini. Meskipun doktrin Gereja sedikit banyak telah mengarahkan kita pada gambaran tertentu tentang Yesus, pengalaman hidup sehari-hari juga sangat memengaruhi bagaimana kita mengenal dan memahami Yesus. Dalam Perjanjian Baru, tercatat sejumlah gelar yang disematkan kepada Yesus. Dia adalah Tuhan, Mesias, Raja Semesta Alam, Anak Allah, Anak Manusia, Gembala yang Baik, Juru Selamat, Imanuel, dan masih banyak lagi. Dari sekian banyak gelar tersebut, ada satu gelar yang menjadi fokus dalam permenungan kita selama Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) ini, yaitu Yesus sebagai sahabat kita. Lantas, bagaimana kita memahaminya? Sahabat adalah orang yang memiliki relasi yang begitu dekat dengan seseorang lebih daripada sekadar teman atau kenalan. Relasi antarsahabat biasanya didasarkan pada kasih dan saling perhatian satu sama lain. Sahabat sejati akan selalu menaruh simpati dan bertindak demi kepentingan serta kebaikan orang yang dikasihinya. Ia akan mudah tergerak dengan apa yang terjadi pada sahabatnya. Ia pun akan bergembira atas kesuksesan sahabatnya. Sebaliknya, ia akan turut merasa frustrasi dan kecewa ketika sahabatnya mengalami kegagalan. Perasaan dan reaksi tersebut persis dengan apa yang pernah dikatakan oleh Santo Paulus, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Rm. 12:15), atau seperti yang dikatakan oleh Henri Nouwen, “Saat kita bertanya secara jujur kepada diri kita sendiri siapa yang sangat berarti dalam hidup kita, kita akan menemukan bahwa Pendahuluan

13

ia adalah orang yang, daripada memberikan nasihat, solusi, atau penyembuhan, telah ikut memilih untuk merasakan penderitaan dan menyentuh luka-luka kita dengan tangan yang penuh kehangatan dan kelembutan.” Dalam Injil Yohanes, Yesus menyebut diri-Nya sebagai sahabat bagi para murid-Nya. Ketika berbicara tentang perumpamaan pokok anggur yang benar, Yesus menjelaskan bahwa sahabat sejati adalah dia yang mau mengorbankan diri demi sahabat-sahabatnya: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Di sini, Yesus juga menegaskan bahwa dasar dari pengorbanan diri ini adalah kasih: “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh. 15:12). Selain Injil Yohanes, Injil Lukas juga menampilkan sosok Yesus sebagai sahabat dalam kisah yang terkenal, yaitu perjalanan dua orang murid ke Emaus (Luk. 24:13-35). Penginjil Lukas menceritakan suatu momen, di mana pada suatu sore setelah hari kebangkitan-Nya, Yesus yang bangkit menampakkan diri kepada dua orang murid yang sedang berjalan dari Yerusalem ke Emaus. Mata hati dan budi mereka tampak sedang dibutakan oleh ketakutan, kekhawatiran, dan penyesalan karena kematian Yesus. Kesedihan dan keputusasaan telah menghalangi mereka untuk bisa melihat Yesus yang bangkit, yang sedang bersama mereka. Akan tetapi, Yesus “mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka”. Ketika kedua murid itu duduk makan bersama Yesus, barulah mereka menyadari kehadiran-Nya yang selama dalam perjalanan terus membuka mata mereka dan menyalakan api cinta kasih Allah dalam diri mereka. Di sini, Yesus hadir sebagai sahabat bagi kedua murid itu. Dia mendekati mereka yang tengah dilanda keputusasaan. Kehadiran Yesus yang bangkit akhirnya juga membangkitkan semangat hidup mereka. Kisah ini seharusnya mampu membangkitkan kepercayaan kita bahwa Yesus yang bangkit selalu hadir di tengah-tengah kita. Kita adalah pengikut Kristus, dan Kristus pasti tidak akan meninggalkan kita. Kehadiran-Nya memang tidak tampak oleh mata jasmani kita, tetapi daya dan kuasa-Nya sangat terasa dalam diri kita jika kita mau menemukan-Nya. Perjalanan kedua murid ke Emaus mirip dengan perjalanan hidup kita di dunia. Kita ibarat peziarah yang terus bergerak dalam perjalanan waktu yang tidak akan terulang kembali. Dalam penziarahan hidup ini, seperti kedua murid tersebut, dari waktu ke waktu kita sering dihadapkan pada situasi yang membuat kita sedih dan putus asa. Terkadang 14

Gagasan Pendukung

kita sulit mengelak dari kenyataaan hidup yang pahit. Pandemi Covid-19 dan dampaknya adalah contoh yang sangat jelas. Selain itu, kita juga kehilangan semangat ketika harapan kita berakhir tragis. Namun, ketika menyadari bahwa Yesus adalah sahabat kita yang kekal, setiap pencobaan, luka, dan penderitaan adalah kesempatan kita untuk menemukan Tuhan yang selalu hadir dan dekat dengan kita. Tuhan akan selalu menawarkan rahmat yang dapat mengubah hidup kita. Dia akan mendewasakan kita sebagai manusia sejati dengan pencobaan dan kesulitan yang kita alami asalkan kita mau membuka diri terhadap kehadiran-Nya. III Yesus sebagai Sahabat yang Melayani Yesus tidak hanya hadir, tetapi Dia juga datang untuk melayani. Dia bukan hanya “Allah yang menyertai kita” (Imanuel), melainkan juga Allah yang mau membimbing, menuntun, menyembuhkan, dan akhirnya menyelamatkan hidup manusia. Injil Matius mencatat perkataanNya sendiri, “… Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat. 20:28). Sebagai sahabat, Yesus juga datang untuk memberikan diri dalam karya pelayanan-Nya. Luk. 4:16-21 menyinggung dengan jelas misi pelayanan Yesus. Diceritakan demikian, “Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: ‘Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.’ Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: ‘Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya’.” Perikop di atas sering disebut perikop programatik, sebab di situ tertulis program hidup Yesus selama di dunia. Program hidup Yesus sebenarnya bukanlah penemuan-Nya sendiri. Dia mengutip dari nubuat Pendahuluan

15

Nabi Yesaya (Yes. 61:1-2). Yesus menyadari bahwa Roh Tuhan telah mengurapi-Nya untuk membawa pembebasan bagi mereka yang membutuhkan. Misi pertama-Nya adalah mempermaklumkan kabar baik bagi orang miskin. Dalam seluruh pelayanan-Nya yang tercatat dalam Injil Lukas, Yesus sangat menekankan keyakinan bahwa Allah sungguh mencintai dan memperhatikan orang-orang miskin (Luk. 6:20; 16:22), serta tanggung jawab pengikut-Nya untuk memperhatikan mereka (Luk. 12:33; 14:13; 18:22). Setelah itu, misi lainnya adalah memberitakan pembebasan kepada orang yang tertawan dan tertindas. Orang yang tertawan ini tidak harus mengacu pada mereka yang berada dalam penjara, tetapi mencakup pula mereka yang tertawan oleh dosa, kesalahan, dan oleh Iblis (Luk. 13:12-14; Kis. 10:38). Demikian pula yang dimaksud dengan penglihatan bagi orang-orang buta, tentu saja tidak hanya buta secara fisik sebagaimana orang buta di Yerikho (Luk. 18:35), tetapi juga kebutaan rohani seperti yang dialami oleh Saulus atau Paulus (Kis. 9:18; 26:18). Lebih lagi, misi Yesus ini tidak hanya diperuntukkan bagi orang Israel saja, tetapi juga seluruh bangsa, misalnya orang Samaria yang terkena sakit kusta (Luk. 17:11-19). Misi pelayanan Yesus yang diproklamasikan di sinagoga di Nazaret itu juga merupakan misi Gereja dewasa ini. Roh Tuhan menguatkan Gereja untuk melayani semua orang melampaui batas-batas status sosial dan suku bangsa. Misi Yesus untuk menegakkan keadilan, pembebasan, dan penyelamatan bagi orang yang miskin, menderita, dan tertindas adalah misi kita juga sebagai pengikut-Nya. Yesus menghendaki para pengikut-Nya agar bersatu untuk membawa kabar baik Kerajaan Allah dan memperhatikan orang yang membutuhkan. Sebagaimana Yesus adalah sahabat bagi orang miskin dan tertindas, demikian pula kita diajak dan ditantang untuk menjadi sahabat bagi mereka yang miskin, membutuhkan, dan menderita, khususnya mereka yang menderita karena pandemi Covid-19. IV Mendalami Perikop Terpilih Sosok Yesus sebagai sahabat yang selalu hadir, menyertai, mendukung, menolong, dan melayani para murid-Nya serta kita, para pengikut-Nya sekarang ini, menjadi tema besar BKSN 2021. Dengan tema ini, kita diajak untuk merenungkan dan merefleksikan kebenaran iman bah16

Gagasan Pendukung

wa Yesus senantiasa mendampingi kita dalam perjuangan hidup seharihari. Selain itu, tema ini juga diharapkan mampu meneguhkan dan memberi rasa aman bagi kita, sebab Yesus, Putra Allah, akan melindungi dan menguatkan kita dalam situasi yang sulit dan penuh ketidakpastian. Dalam waktu satu bulan, kita akan melaksanakan empat pertemuan dalam setiap minggu, di mana setiap pertemuan akan membahas subtema tertentu sesuai dengan perikop yang telah dipilih: • • • •

Minggu I: Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Putus Asa (Mat. 14:22-33) Minggu II: Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Kehilangan (Yoh. 11:1-44) Minggu III: Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Menderita (Luk. 10:25-31) Minggu IV: Yesus, Sahabat bagi Mereka yang Bertobat (Why. 3:14-22)

Dalam pertemuan pertama, kita diajak untuk mendalami dan merenungkan perikop dari Injil Matius (Mat. 14:22-33) mengenai Yesus yang mendatangi para murid-Nya di tengah Danau Galilea. Saat itu, mereka sangat lelah dan nyaris putus asa karena sudah tidak sanggup melawan amukan angin sakal di danau itu. Yesus datang dan hadir untuk memberi pertolongan dan peneguhan iman bagi mereka. Kehadiran Yesus di tengah para murid bukan hanya menghentikan angin sakal yang mengancam nyawa mereka, melainkan juga memberi ketenangan hati bagi para murid-Nya. Perikop ini menegaskan kebenaran: Jika kita percaya bahwa Tuhan senantiasa hadir dan menolong kita dalam kesulitan dan penderitaan, dalam keputusaasaan dan kehilangan semangat hidup, hati kita akan menjadi tenang dan damai. Di sini, Yesus ditampilkan sebagai sahabat yang hadir dan menguatkan mereka yang putus asa. Dalam pertemuan kedua, kita diajak untuk mendalami dan merenungkan perikop dari Injil Yohanes (Yoh. 11:1-44) yang menceritakan tentang Lazarus yang dibangkitkan. Kisah ini tidak hanya berbicara tentang mukjizat yang luar biasa, di mana seorang yang mati dapat dihidupkan lagi, tetapi juga tentang Yesus yang mau datang dan hadir di tengah keluarga yang mengalami kesedihan akibat salah seorang anggota yang mereka cintai meninggal. Kehadiran Yesus di tengah kesedihan mereka sebenarnya sudah cukup menghibur. Di sini, Yesus ditampilkan sebagai Pendahuluan

17

sahabat yang mau bersimpati dengan penderitaan mereka yang kehilangan orang tercinta. Dalam pertemuan ketiga, kita diajak untuk mendalami dan merenungkan perikop dari Injil Lukas (Luk. 10:25-31) mengenai perumpaman Yesus tentang orang Samaria yang baik hati. Perumpamaan ini mengajak kita untuk menggali lebih dalam apa makna ungkapan “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Orang Samaria dalam perumpamaan ini adalah model sahabat bagi semua orang tanpa memperhitungkan batas-batas suku bangsa dan kelas sosial. Selain itu, ia juga menjadi model sahabat yang mau mengorbankan diri dan memberikan apa yang dimiliki untuk keselamatan orang yang menderita. Sikap dan reaksi orang Samaria itu secara tidak langsung mencerminkan sikap dan reaksi Yesus kepada kita ketika kita sedang mengalami penderitaan. Di sini, Yesus hadir sebagai sahabat bagi mereka yang sedang menderita dan membutuhkan. Dalam pertemuan keempat, kita diajak untuk mendalami dan merenungkan perikop dari kitab Wahyu (Why. 3:14-22) yang berbicara tentang ajakan Yesus kepada jemaat Laodikia untuk bertobat, serta mempraktikkan nilai dan hidup sebagai orang kristiani dengan lebih bersemangat. Jemaat Laodikia sedang mengalami kemerosotan dalam kehidupan rohani karena terlalu percaya dan membanggakan harta dan kekayaan mereka. Mengandalkan hidup pada harta dan kekayaan adalah sikap yang amat berbahaya. Sikap ini akan membuat orang mengesampingkan Allah sebagai pusat hidup mereka. Dalam situasi inilah Yesus datang dan hadir bagi jemaat Laodikia untuk mengetuk pintu hati mereka dan mengingatkan akan pentingnya pertobatan bagi kedewasaan iman mereka. Di sini, Yesus hadir sebagai sahabat bagi mereka yang ingin bertobat dan mengubah hidup.



18

Gagasan Pendukung

Pertemuan Pertama YESUS, SAHABAT BAGI MEREKA YANG PUTUS ASA (Mat. 14:22-33) “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (Mat. 14:27) I Pendahuluan Kekacauan, kekhawatiran, dan ketidakpastian adalah sebagian efek negatif yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19. Kehidupan sebelum pandemi yang ditandai dengan aktivitas yang dinamis dan menggairahkan, sekarang menjadi lesu dan tidak menentu. Tidak sedikit orang yang terpaksa beralih pekerjaan karena tempat mereka bekerja sebelumnya ditutup atau karena terkena PHK. Sebagian orang bahkan terpaksa harus menganggur. Apakah nanti setelah pandemi, pekerjaan yang lama dapat kembali? Ataukah mereka akan langsung memperoleh pekerjaan baru? Jawaban atas pertanyaan itu mungkin belum sempat terpikirkan, sebab untuk sekarang, yang terpenting adalah bertahan hidup di tengah pandemi ini. Pandemi Covid-19 pasti akan berakhir. Berkaca dari sejarah sebelumnya, pandemi yang memakan banyak korban – seperti “wabah hitam” di Eropa pada 1346–1353 atau wabah flu Spanyol pada Februari 1918 sampai April 1920 – akhirnya berhenti juga. Tidak mungkin pandemi ini akan berlangsung selamanya. Fakta ini memberi harapan bagi semua penduduk dunia sekarang. Harapan ini jugalah yang memberi kekuatan bagi kita untuk tetap bersemangat menjalani aktivitas hidup yang saat ini begitu dibatasi. Intinya, apa yang perlu diperjuangkan sekarang adalah bagaimana bertahan hidup selama dan sesudah pandemi Covid-19 ini. Pandemi ini ibarat badai dahsyat yang datang secara tiba-tiba. Sekalipun orang sudah terbiasa dengan berbagai macam penyakit, tidak sedikit dari kita yang tidak siap dengan kedatangannya. Awalnya ia tidak terlalu diperhitungkan. Sebagian kalangan, termasuk ahli kesehatan dan sejumlah dokter, bahkan sempat melihat Covid-19 seperti flu biasa. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, penyakit ini semakin mengganas dan membahayakan. Semua pihak menjadi gagap dan kebingungan. Seluruh penduduk dunia, yang dapat diibaratkan sedang berada dalam 19

perahu yang sama, dilanda ketakutan, kepanikan, dan mungkin juga keputusasaan. Sekalipun vaksin sudah diproduksi, tetap saja perasaan takut dan ngeri tidak hilang begitu saja. Dalam situasi seperti ini, sikap serta perasaan tenang dan sabar dalam menghadapi situasi, sangat dibutuhkan. Hanya dengan ketenangan dan kesabaran, kemungkinan untuk bertahan hidup akan lebih besar. Injil Matius mencatat sebuah kisah tentang para murid Yesus yang mengalami perasaan yang sama dengan kita sekarang ini, yaitu takut, panik, dan gentar (Mat. 14:22-33). Dalam kisah ini, para murid dilukiskan mengalami ketakutan dan kebingungan ketika berhadapan dengan angin sakal yang menyebabkan gelombang tinggi di Danau Galilea. Tenggelam dan mati di danau itu adalah skenario terburuk yang dapat mereka alami. Dalam situasi ini, Yesus datang dan hadir di tengah mereka. Kehadiran-Nya menguatkan iman dan keyakinan bahwa mereka dapat bertahan hidup di tengah kekacauan dan ancaman kematian di tengah Danau Galilea. Kehadiran Yesus yang memberikan rasa aman dan tenang di tengah situasi yang mencemaskan dan menakutkan menjadi fokus permenungan dalam pertemuan pertama ini. Untuk memperkaya pemahaman kita, kita perlu menempatkan perikop Mat. 14:22-33 dalam konteks Injil Matius secara lebih luas. Dengan kata lain, tema dan pesan yang akan kita bahas dan kita temukan dalam perikop ini harus ditempatkan dalam gagasan teologis Injil Matius. Salah satu gagasan teologis yang relevan dengan perikop ini adalah kehadiran Allah di tengah umat-Nya dan bahwa Yesus adalah tanda nyata dari kehadiran tersebut. Pertama-tama mesti diingat, penginjil Matius (seorang Kristen keturunan Yahudi dan tinggal di Antiokhia setelah kehancuran Bait Allah di Yerusalem pada tahun 70) menekankan bahwa Yesus adalah kepenuhan nubuat yang termaktub dalam Perjanjian Lama. Selain itu, Yesus juga diyakini sebagai wujud nyata harapan Israel oleh orang Kristen Yahudi pada waktu itu. Pada saat yang sama, penginjil juga menekankan pentingnya misi untuk memperkenalkan Yesus dan ajaran-Nya kepada orang-orang bukan Yahudi. Penginjil Matius menggarisbawahi bahwa Allah telah datang dan tinggal bersama umat-Nya. Selanjutnya, manusia dapat mengalami perubahan atau transformasi dalam hidup mereka karena kehadiran Allah ini. Memang Allah tetap diyakini tinggal di surga, realitas yang berbeda jauh dengan realitas manusia (Mat. 6:9; 23:22). Namun, pada saat yang 20

Gagasan Pendukung

sama, Allah juga hadir di atas bumi. Tema terakhir inilah yang dikembangkan dalam Injil ini. Pertanyaan pertama yang muncul, “Di manakah Allah yang hadir di atas bumi ini?” Menurut Injil Matius, Allah hadir dalam diri Yesus. Sekilas, klaim ini tidak terlalu istimewa lantaran sebelumnya orang Yahudi juga mengakui bahwa Allah telah hadir dalam diri orang-orang yang dipilih-Nya, seperti Musa, Daud, dan para nabi. Akan tetapi, Matius tidak hanya memaksudkan Yesus semata-mata sebagai agen atau utusan Allah saja, atau bahwa Allah sekadar bekerja melalui diri Yesus. Lebih dari itu, Matius berpikir bahwa ketika Yesus lahir, Allah masuk ke dalam realitas dunia. Yesus adalah “Allah beserta kita” atau Imanuel. Karena itulah, menurut Matius, Yesus bagi umat adalah Dia yang patut disembah. Yesus memang menegaskan kembali ajaran tradisional Yahudi pada waktu itu bahwa orang tidak boleh menyembah selain Tuhan Allah (Mat. 4:10, bdk. 6:13). Namun, delapan kali dalam Injil ini dikatakan bahwa orang menyembah Yesus dan mereka tidak ditegur karena hal ini (2:11; 8:2; 9:18; 14:33; 15:25; 20:20; 28:9; 28:17). Intinya, Allah hadir dalam Yesus sedemikian rupa, sehingga menyembah Yesus dapat diperhitungkan sebagai menyembah Allah. Setelah orang bertanya, “Di manakah Allah?” dan memperoleh jawaban, “Dalam diri Yesus,” pertanyaan selanjutnya adalah, “Di manakah Yesus?” Jawaban yang ditemukan dalam Injil Matius adalah bahwa Yesus hadir dalam Gereja-Nya. Yesus mengatakan bahwa Dia akan ada di tengah-tengah pengikut-Nya ketika mereka berkumpul bersama dan memanjatkan doa dalam nama-Nya (Mat. 18:20). Dia juga akan menyertai para murid ketika mereka pergi ke dunia untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya (Mat. 28:19-20). Penginjil Matius kiranya tidak berpikir bahwa berada di Gereja (atau komunitas kristiani), sebagai tempat di mana dapat dijumpai Yesus yang adalah kehadiran Allah di dunia, sudah cukup. Ada misi yang harus diemban oleh para murid Yesus di tengah dunia. Gereja hadir di tengah dunia. Inilah poin penting lainnya yang ditawarkan oleh Injil Matius. Bagi penginjil, Gereja bukanlah institusi yang statis, melainkan lebih sebuah gerakan dinamis, sebuah komunitas yang pergi ke dunia seperti seekor domba di tengah serigala (Mat. 10:16) untuk membawa kabar baik, penyembuhan, dan kehidupan (Mat. 10:7-8). Pengikut Yesus akan menjadi terang dan garam dunia (Mat. 5:13-14). Dunia mungkin tidak menghargai mereka, tetapi dunia akan menjadi temPertemuan Pertama

21

pat yang lebih baik dengan kehadiran Gereja. Sesungguhnya, Gereja yang telah didirikan Yesus akan mengatasi gerbang alam maut (Mat. 16:18). Gereja akan terus bergerak melawan kekuatan jahat dan kematian yang menguasai dunia. Singkat kata, Allah hadir di dunia dalam diri Yesus, Yesus hadir dalam Gereja-Nya, dan Gereja diutus untuk hadir di tengah dunia. Tidak hanya selama Yesus hidup, tetapi juga setelah kebangkitan-Nya, Yesus berjanji untuk selalu hadir di tengah pengikut-Nya (Mat. 28.20). Yesus tidak hanya menyemangati para murid dalam kisah-kisah Injil, tetapi juga menyemangati para pembaca Injil untuk menyadari kehadiran-Nya di tengah-tengah mereka. Iman dan pengertian akan Bapa sebagai Allah Pencipta dan akan Yesus sebagai utusan-Nya harus diungkapkan dalam kehidupan sehari-hari para pengikut-Nya. II Teks Matius 14:22-33 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. 23 Dan setelah orang banyak itu disuruhNya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. 24 Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. 25 Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. 26 Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriakteriak karena takut. 27 Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” 28 Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” 29 Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. 30 Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” 31 Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” 32 Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun redalah. 33 Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”

22

22

Gagasan Pendukung

III Penafsiran Perikop Konteks Kisah Yesus berjalan di atas air dalam Injil Matius (Mat. 14:22-36, bdk. Mrk. 6:45-52; Yoh. 6:16-21) merupakan kisah mukjizat. Dalam Injil Matius, kisah mukjizat ini dibingkai oleh dua kisah mukjizat lain, yaitu kisah Yesus memberi makan lima ribu orang (Mat. 14:13-21) dan kisah Yesus menyembuhkan orang-orang sakit di Genesaret (Mat. 14:34-36). Dengan menampilkan kisah mukjizat, penginjil Matius hendak memperlihatkan figur Yesus sebagai Dia yang memiliki kualitas dan kemampuan di atas manusia. Dengan kata lain, Yesus dapat melakukan hal yang manusia normal tidak mampu melakukannya. Kisah mukjizat yang berhubungan dengan air dapat juga ditemukan dalam sejumlah kisah Perjanjian Lama. Dengan perantaraan Musa, Allah membebaskan dan menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan dan penindasan bangsa Mesir dengan perbuatan ajaib atau mukjizat di Laut Teberau (Kel. 14-15). Ketika Yosua dan bangsa Israel hendak memasuki Tanah Terjanji, terjadilah mukjizat di Sungai Yordan, di mana air sungai berhenti mengalir dan mereka berjalan di bagian yang kering dari sungai itu (Yos. 3). Demikian pula dengan Elia dan Elisa. Mereka menyibakkan Sungai Yordan, sehingga sebagian sungai itu menjadi kering (2Raj. 2). Berbeda dengan kisah mukjizat air dalam Perjanjian Lama, kisah dalam Injil Matius ini dilukiskan lebih dramatis dan penuh makna kristologis. Yesus ditampilkan sebagai figur yang mampu mengatasi keganasan air danau yang sedang bergolak. Yesus muncul sebagai Dia yang berkuasa atas alam ciptaan. Dia memiliki otoritas ilahi, sebab Dia berasal dari Allah Bapa. Dengan kata lain, kisah ini berbicara tentang Yesus sebagai tanda kehadiran Allah yang datang untuk membawa keselamatan bagi manusia yang membutuhkan. Selain tentang figur Yesus, kisah mukjizat ini juga berbicara tentang bagaimana para murid Yesus harus bereaksi dan bersikap ketika mereka mengalami kesulitan dan tantangan dalam hidup. Bersikap tenang dan selalu percaya kepada Yesus adalah kuncinya. Sebaliknya, ketakutan, kekhawatiran, dan kurangnya iman menjadi sebab mendasar mengapa murid-murid Yesus gagal mengatasi persoalan dalam hidup mereka. Dalam kisah ini, Petrus sebagai representasi para murid Yesus Pertemuan Pertama

23

menampilkan gambaran murid yang takut dan kurang iman. Namun, pada saat yang sama, kehadiran Yesus menyelamatkan dan menghindarkan Petrus dari bencana yang lebih dalam. Membaca secara mendalam Yesus berdoa Setelah memberi makan lima ribu orang (Mat. 14:13-21), Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk pergi mendahului ke seberang Danau Genesaret (atau Danau Galilea), dan menyuruh orang banyak yang telah kenyang dengan mukjizat penggadaan roti itu untuk pulang ke rumah mereka masing-masing (ay. 22). Dalam teks asli, kata yang diterjemahkan dengan “menyuruh” (Yunani: anagkazo) sebetulnya memiliki nuansa arti “mendesak”, bukan sekadar memberi instruksi untuk pulang. Penginjil Matius tidak menjelaskan alasan mengapa Yesus bertindak demikian. Berbeda dengan penginjil Matius, penginjil Yohanes tidak mengatakan bahwa Yesus mendesak orang banyak itu untuk pulang, tetapi Dia sendiri yang menyingkir dari mereka karena mereka akan menjadikan-Nya raja secara paksa (Yoh. 6:15). Saat semua orang sudah pergi, “Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri” (ay. 23). Tidak disebutkan nama bukit ini (bukit, dalam bahasa Yunani: oros, dapat juga diterjemahkan dengan “pegunungan”). Bukit ini jelas mengacu pada dataran tinggi di sekitar Danau Genesaret. Di situ, Yesus memilih untuk berada sendirian sampai malam untuk berdoa. Dalam Perjanjian Lama, bukit atau gunung merupakan tempat favorit bagi para tokoh besar dalam sejarah Israel untuk berdoa. Musa (Kel. 32:30–4) dan Elia (1 Raj. 19), misalnya, berdoa di Gunung Sinai (atau Horeb). Dalam Injil Matius, gunung adalah sebuah tempat untuk berjumpa dengan Allah dan mendengar pemakluman Kerajaan Allah yang mulia (bdk. Mat. 17:1-8). Alasan sederhana mengapa gunung menjadi tempat yang paling baik untuk berdoa adalah karena tempat ini jauh dari kerumunan dan kebisingan akibat orang banyak. Dalam kisah ini, dengan menjauh dari kerumunan kehidupan kota di tepi Danau Galilea, Yesus dapat menemukan suasana sunyi dan sendiri. Meskipun tidak dijelaskan bagaimana Yesus berdoa dan apa yang didoakan-Nya, sebagai pembaca kisah ini, kita dapat menduga bahwa Yesus sedang berkomunikasi dengan Allah, BapaNya. Ini adalah salah satu ungkapan pengabdian Yesus kepada Bapa. Selain itu, dalam kesendirian tersebut, Yesus juga sedang mengumpulkan 24

Gagasan Pendukung

kembali kekuatan dan energi untuk tugas dan pekerjaan selanjutnya. Apa yang dilakukan Yesus ini dapat ditinjau dari kebiasan doa dalam tradisi Yahudi. Orang-orang Yahudi yang saleh biasanya akan meluangkan waktu khusus selama paling tidak dua jam sehari untuk berdoa. Dalam perikop ini, Yesus kiranya menghabiskan waktu selama berjam-jam untuk itu. Meskipun tidak jelas durasinya, petunjuk waktu “menjelang malam” (Mat. 14:15) dan “ketika hari sudah malam” (Mat. 14:23) dapat menjadi penentu berapa lama Yesus berdoa. Danau yang bergolak Kira-kira lima kilometer dari tempat Yesus berdoa, perahu para murid-Nya diombang-ambingkan oleh gelombang karena angin sakal (ay. 24). Sebuah ironi muncul di sini. Sementara Yesus berkomunikasi dengan Bapa dalam kesendirian dan ketenangan, para murid berada dalam situasi yang mengancam hidup mereka. Dapat dibayangkan, mereka berjuang melawan angin dan badai. Dalam kegelapan malam, mereka terus mendayung. Energi mereka pasti habis, apalagi setelah seharian melayani lima ribu orang yang ingin mendengarkan Yesus. Mereka tidak bisa istirahat sedikit pun, tetapi sekarang terpaksa bekerja keras untuk menyelamatkan diri dari keganasan danau. Angin yang disertai badai sering muncul tiba-tiba di danau. Sebenarnya fenomena alam ini bukanlah sesuatu yang asing bagi mereka yang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Namun, bisa jadi ombak dan badai saat itu lebih ganas daripada waktu-waktu lainnya. Inilah yang menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran dalam diri mereka. Terlebih lagi, pada saat itu Yesus tidak ada bersama mereka. Sebelumnya para murid juga mengalami problem serupa di danau yang sama (Mat. 8:23-27). Pada waktu itu, Yesus menghardik angin dan danau yang sedang bergolak. Mukjizat pun terjadi: Danau itu menjadi teduh dan tenang. Sekarang ini, tanpa kehadiran Yesus, mereka harus berjuang sendirian melawan Danau Galilea yang sedang mengganas. Perlu dicatat, dalam tradisi alkitabiah, laut (atau danau) sering menjadi representasi tempat tinggal kekuatan jahat yang menentang Allah. Dalam kitab Wahyu, Kerajaan Allah, yang muncul setelah kemenangan pihak Allah terhadap pihak Iblis dan pengikutnya, ditandai dengan tidak adanya laut lagi. “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi” (Why. 21:1). Maka dari itu, jika para murid Pertemuan Pertama

25

ketakutan di tengah bergolaknya air danau, ini tidak mengherankan, sebab mungkin saja mereka berpikir bahwa kekuatan jahat sedang menantang mereka. Dalam kepanikan dan kelelahan tersebut, “kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air” (ay. 25). Kedatangan Yesus pada dini hari ini mengingatkan pada peristiwa mukjizat di Laut Teberau dalam kitab Keluaran ketika Tuhan mengeringkan laut itu dan menyeberangkan bangsa Israel, sekaligus mengalahkan bangsa Mesir pada pagi hari (Kel. 14:20). Fakta bahwa Yesus berjalan di atas air sudah menunjukkan bahwa Ia tidak takut dan gentar terhadap keganasan alam. Lebih dari itu, Yesus tampil sebagai orang yang memiliki kuasa atas alam, sebab alam tidak mampu menggoyahkan diri-Nya. Dalam Perjanjian Lama terdapat sejumlah teks yang menunjukkan bagaimana Allah berjalan di atas air. Pemazmur menyebutkan, “Melalui laut jalan-Mu dan lorong-Mu melalui muka air yang luas, tetapi jejak-Mu tidak kelihatan” (Mzm. 77:20). Dalam nubuat Nabi Yesaya dikatakan, “Beginilah firman TUHAN, yang telah membuat jalan melalui laut dan melalui air yang hebat…” (Yes. 43:16); juga, “Bukankah Engkau yang mengeringkan laut, air samudra raya yang hebat? yang membuat laut yang dalam menjadi jalan, supaya orang-orang yang diselamatkan dapat menyeberang?” (Yes. 51:10). Selain itu, dalam nubuat Habakuk dikatakan, “Dengan kuda-Mu, Engkau menginjak laut, timbunan air yang membuih” (Hab. 3:15). Teks-teks tersebut menunjukkan bahwa manusia tidak pernah mampu berjalan di atas air. Hanya Allah saja yang mampu melakukannnya. Dengan demikian, penginjil Matius hendak memperlihatkan di sini aspek keilahian Yesus. Dengan berjalan di atas air ketika hari masih gelap, Yesus, seperti Tuhan yang mahakuasa, mampu mengatasi kekuatan chaos. Sebagaimana dikatakan oleh Ayub, “(Allah itu) ... yang seorang diri membentangkan langit, dan melangkah di atas gelombang-gelombang laut” (Ayb. 9:8). Di samping itu, tindakan Yesus ini mengingatkan akan kisah penciptaan, “Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudra raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kej. 1:2). Yesus menampilkan figur sang Pencipta yang mampu mengatasi kekuatankekuatan dunia yang sukar dikendalikan. Kedatangan Yesus, yang akan memberikan pertolongan kepada para murid yang tengah berjuang di tengah Danau Galilea, justru menimbulkan kepanikan di antara mereka. Mereka terkejut dan berseru, 26

Gagasan Pendukung

“Itu hantu!” sambil berteriak-teriak ketakutan (ay. 26). Teriakan mereka itu bukan tanpa alasan. Pertama-tama, mereka mungkin tidak melihat dengan jelas muka Yesus, mungkin hanya bayangan saja, lagi pula Yesus sedang melakukan hal yang tidak masuk akal (berjalan di atas air). Selain itu, para murid hidup pada zaman kuno, di mana kepercayaan takhayul tentang adanya hantu atau roh gentayangan adalah hal yang umum, apalagi peristiwa ini terjadi pada jam tiga dini hari. Selain itu, seruan “hantu” mencerminkan kepercayaan populer bahwa roh atau makhluk halus biasa hidup di laut dan danau. Bisa jadi juga hantu adalah jelmaan dari mereka yang tenggelam di dalam air. Tenanglah! Aku ini, jangan takut! Ketakutan dan kepanikan para murid yang tidak rasional tersebut kemudian ditanggapi oleh Yesus. Ia berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (ay. 27). Perkataan Yesus ini menarik untuk ditelaah lebih mendalam. Tenanglah! Dalam perikop Mat. 8:23-27, diceritakan bahwa Yesus menenangkan angin dan danau yang sedang “mengamuk” dengan menghardiknya. Berbeda dengan itu, dalam perikop ini, Yesus tidak menenangkan angin dan danau, tetapi meminta para murid-Nya agar tenang dalam situasi sulit tersebut. Kata “tenanglah” (Yunani: tharseite, arti harfiahnya “bersemangatlah”) dapat ditemukan di perikop lain dalam Injil ini untuk membesarkan hati orang yang lumpuh (Mat. 9:2) dan perempuan yang sakit pendarahan (Mat. 9:22). Ini bukan kata teguran, melainkan kata yang memberikan semangat. Aku ini (Yunani: ego eimi). Sekilas, ungkapan ini hanyalah perkataan umum kebanyakan orang ketika memperkenalkan diri mereka. Namun, jika ditempatkan dalam kerangka teologi Injil Matius, ungkapan “Aku ini” menegaskan aspek keilahian Yesus. Sebelumnya, dengan berjalan di atas air, Yesus sudah menyatakan diri sebagai Dia yang memiliki kuasa ilahi seperti Allah Bapa-Nya. Ungkapan “Aku ini” adalah penegasan identitas tersebut. Dia sedang mewahyukan siapa diri-Nya. Apa maksudnya? Bagi pembaca awal Injil Matius, yaitu orang Kristen keturunan Yahudi, ungkapan “Aku ini” menggemakan nama ilahi. Dalam Perjanjian Lama, ungkapan tersebut muncul khususnya ketika Allah mewahyukan diri-Nya kepada orang yang Ia pilih. Dalam Kel. 3:14, misalnya, Tuhan memperkenalkan dirinya kepada Musa “AKU ADALAH AKU … Beginilah Pertemuan Pertama

27

kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” Ungkapan bahasa Ibrani dari “AKU ADALAH AKU” adalah ehyeh asyer ehyeh, yang secara harfiah berarti “Aku (akan) ada yang Aku (akan) ada”. Meskipun sangat sulit untuk dimengerti maksudnya, tetapi pewahyuan nama Tuhan ini hendak menegaskan bahwa Tuhan akan selalu menyertai umat yang dikasihi-Nya. Begitu pula dalam Yesaya 43:10 dikatakan, “Kamu inilah saksi-saksi-Ku … dan hamba-Ku yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia” (Yes. 43:10). Sejumlah ahli Kitab Suci berpendapat bahwa penyataan diri Yesus dalam ungkapan “Aku ini” adalah pusat dari kisah ini. Dengan mengucapkan nama yang diucapkan Allah dalam Perjanjian Lama, Yesus menyatakan identitas sejati-Nya sebagai Anak Allah (Mat. 4:3, 6; 8:29; 14:33; 26:63; 27:40, 54). Pada saat yang sama, Dia menegaskan diri sebagai Imanuel, Allah beserta kita (Mat. 1:23). Arti yang terakhir ini penting untuk dicermati, sebab secara tidak langsung mencerminkan situasi dan kondisi orang kristiani pada saat Injil ini ditulis. Kisah ini ditulis ketika orang kristiani, jemaat penginjil Matius, sedang dihantam oleh “badai” pengejaran dan penganiayaan dari penguasa atau pihak-pihak yang membenci kehadiran mereka. Orang kristiani bukanlah pemberontak. Sebaliknya, mereka adalah umat beriman yang setia melayani Tuhan. Kisah para murid yang ketakutan di tengah Danau Galilea mencerminkan situasi tersebut. Dengan mengatakan “Aku ini”, atau secara lebih luas “Aku beserta kalian”, Yesus secara tidak langsung memberikan kekuatan bagi orang kristiani yang sedang mengalami penderitaan. Dia yang hadir di tengah badai dan memberi semangat bagi para murid-Nya akan melakukan hal yang sama kepada orang kristiani yang mengalami situasi serupa. Ia akan menenangkan, memberi semangat, dan membebaskan mereka dari badai penganiayaan. Jangan takut. Perkataan Yesus ini sekali lagi bukanlah suatu teguran, melainkan pemberi semangat. Hanya dua figur yang mengatakan ungkapan ini dalam Injil Matius. Pertama, malaikat ketika meyakinkan Yusuf untuk mengambil Maria sebagai istri (Mat. 1:20) dan meneguhkan para perempuan di makam Yesus yang kosong (Mat. 28:5, 10). Kedua, Yesus sendiri. Selain dalam peristiwa ini, Yesus menggunakan ungkapan “jangan takut” untuk meyakinkan kedua belas rasul ketika mereka hendak pergi mewartakan Kerajaan Allah (Mat 10:26, 28, 31) dan ketika sedang berada di gunung pada saat peristiwa transfigurasi (Mat. 17:7). 28

Gagasan Pendukung

Singkatnya, perkataan Yesus, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” mengungkapkan kasih dan perhatian Yesus kepada para murid yang sedang dilanda ketakutan, sekaligus merupakan pernyataan jati diri-Nya sebagai Anak Allah, Dia yang memiliki otoritas ilahi. Datanglah! Mengetahui bahwa Yesus berada bersama mereka, Petrus sebagai representasi para murid berseru kepada-Nya, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air” (ay. 28). Mengapa Petrus tidak berjalan sendiri ke arah Yesus, tetapi menunggu perintah Yesus untuk datang kepada-Nya? Apakah Petrus mengharapkan Yesus untuk berbagi kemampuan ajaib-Nya, yaitu berjalan di atas air? Jika demikian, apakah Petrus kehilangan keyakinannya? Apakah Petrus sebenarnya sedang meminta izin dari Yesus untuk melakukan sesuatu? Untuk semua pertanyaan tersebut, jawabannya bisa ya, bisa tidak. Namun, yang lebih penting adalah bahwa dalam peristiwa ini, kita sebenarnya sedang diajak untuk mengenali sosok Petrus. Dalam situasi mencekam di tengah danau, Yesus tidak menghentikan angin dan badai walaupun Dia memiliki otoritas dan kekuatan untuk menenangkannya. Dia seolah-olah membiarkan gejolak alam di Danau Genesaret tetap berlangsung. Sepertinya Yesus sedang melatih para murid untuk tetap tenang dalam situasi yang menakutkan dan yang mengancam nyawa mereka. Di lain pihak, Petrus tampaknya ingin berpartisipasi dalam kuasa Yesus yang dapat mengatasi kekuatan alam yang tidak terkendali itu. Berbeda dari karakter Petrus yang biasanya muncul, yaitu spontan dan tidak berpikir panjang, Petrus di sini lebih bersikap menunggu apa yang diperintahkan oleh Yesus, Gurunya. Ada yang menduga bahwa Petrus sedang mencobai Yesus. Ia mencerminkan seorang manusia yang mencobai Allah, seorang manusia yang meminta Allah suatu bukti bahwa Dia sungguh-sungguh hadir di tengah kesukaran. Jika kita menghubungkan kisah ini dengan kisah pencobaan Yesus di padang gurun, terdapat sedikit kesamaan antara permintaan Petrus dan bujukan Iblis. Petrus memulai dengan berkata, “Apabila Engkau itu.” Ini menyerupai perkataan Iblis, “Jika Engkau Anak Allah” (Mat. 4:3, 6). Ketika Petrus mengatakan, “Suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air,” ini menggemakan kembali tantangan Iblis kepada Yesus, “Perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti” (Mat. 4:3), atau, “Jatuhkanlah diri-Mu ke bawah” (Mat. 4:6). Tentu saja perPertemuan Pertama

29

bandingan ini tidak bermaksud menyamakan Petrus dengan Iblis. Di sini hanya hendak ditegaskan bahwa ketika seseorang berada dalam situasi kritis, godaan untuk mencobai Allah bukannya tidak mungkin terjadi. Namun, Petrus tidak sedang mencobai Yesus. Sebaliknya, ia hanya ingin bersama dengan Yesus. Petrus ingin mengalami situasi, di mana ia dapat merasa tenang dan aman di tengah danau yang mengganas. Menanggapi keinginan Petrus ini, Yesus berkata, “Datanglah!” Setelah mendapatkan perintah dari Yesus, Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air untuk menjumpai-Nya (ay. 29). Yesus tidak mengajari atau menegur Petrus untuk bersikap lebih sopan terhadap guru-Nya. Sebaliknya, Yesus memberi Petrus semangat untuk berjumpa dengan-Nya. Tuhan, tolonglah aku! Di awal usahanya untuk berjalan di atas air, tampaknya Petrus akan sukses. Memang tidak ada informasi seberapa jauh Petrus mampu berjalan di atas air. Namun, situasinya berbalik ketika ia merasakan tiupan angin. Ia takut, mulai tenggelam, dan berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!” (ay. 30). Awalnya, Petrus yakin dan percaya, dan ia bisa melakukannya. Akan tetapi, angin membuat dirinya ragu-ragu, sehingga ia kembali takut dan tenggelam. Petrus mungkin lebih fokus melihat sekelilingnya daripada Yesus yang mengajaknya untuk datang. Di sini, Petrus sedang terombang-ambing antara kekuatan dan kelemahan, keyakinan dan keraguan. Ia ragu-ragu, tetapi ingin percaya. Saat percaya akan berhasil, ia ragu-ragu kembali. Ketika keragu-raguan semakin menguasai dirinya, jalan terakhir adalah meminta pertolongan kepada Yesus. Teriakan minta tolong Petrus ini sebenarnya adalah ungkapan iman di tengah ketakutannya. Memang ada yang mempertanyakan, bukankah Petrus adalah seorang nelayan? Tentunya ia tahu bagaimana berenang. Ketakutan karena akan tenggelam kiranya kurang masuk akal. Akan tetapi, gelombang tinggi dan angin kencang mungkin saja membuat mereka yang jago berenang pun tidak sanggup untuk melakukannya. Respons Yesus cukup sederhana: Dia mengulurkan tangan-Nya dan memegang Petrus supaya tidak semakin tenggelam. Tindakan mengulurkan tangan ini mengingatkan pada kepercayaan pemazmur terhadap Allah yang membebaskan orang dari bencana. “Ia menjangkau dari tempat tinggi, mengambil aku, menarik aku dari banjir” (Mzm. 18:16); atau, “Ulurkanlah tangan-Mu dari tempat tinggi, bebaskanlah aku dan 30

Gagasan Pendukung

lepaskanlah aku dari banjir, dari tangan orang-orang asing” (Mzm. 144:7). Berkaitan dengan penyelamatan dari bencana banjir, ada sebuah kisah yang diceritakan oleh para rabi Yahudi bahwa ketika pertama kali bangsa Israel hendak menyeberang Laut Teberau, mereka mulai tenggelam dalam ombak yang ganas, tetapi kemudian diselamatkan oleh tongkat Musa yang membelah laut tersebut. Yang menarik di sini adalah perkataan Yesus, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (ay. 31). Yesus menilai Petrus sebagai orang yang mudah bimbang karena tidak percaya. Sekalipun dinilai kurang percaya atau imannya kurang sempurna, Petrus tampaknya masih lebih berani daripada para murid lainnya yang masih berada di dalam perahu. Sekalipun mendapat teguran, Petrus akhirnya diselamatkan Yesus. Poinnya cukup jelas. Yang perlu diperhitungkan dalam situasi mencekam bukanlah kekuatan niat atau semangat, melainkan kehadiran Allah dan/atau Yesus yang menyelamatkan. Sejumlah penafsir melihat reaksi dan tindakan Petrus ini sebagai cerminan orang kristiani awal. Di tengah penganiayaan dan penderitaan, mereka takut dan bingung. Mereka mencari-cari apa yang dapat dijadikan pegangan. Mereka percaya kepada Yesus, tetapi pada saat yang sama, kepercayaan mereka mudah terombang-ambing saat melihat kesulitan yang membentang di hadapan mereka. Mereka berada dalam dua kutub, yaitu iman dan keraguan. Terkadang mereka lebih terfokus pada “badai” (kesulitan dan penderitaan), terkadang lebih terfokus pada Yesus. Sesungguhnya, Engkau Anak Allah Ketika Yesus dan Petrus naik ke perahu, angin menjadi reda (ay. 32). Setelah menyaksikan dan mengalami peristiwa yang ajaib ini, mereka yang berada di dalam perahu menyembah Yesus sambil berkata, “Sesungguhnya Engkau Anak Allah” (ay. 33). Penyingkapan identitas Yesus sebagai Anak Allah merupakan happy ending dari kisah dramatis di Danau Galilea. Dalam Injil Matius, selain para murid ini, mereka yang menyebut Yesus sebagai Anak Allah adalah Allah sendiri (Mat. 3:17) dan Iblis atau setan (Mat. 4:3, 6; 8:29). Dalam studi Kitab Suci, gelar Anak Allah cukup berkaitan dengan kebiasaan orang non-Kristen dalam menyebut para raja mereka. Meskipun orang Yahudi pada umumnya tidak akan menyebut guru atau rabi mereka sebagai Anak Allah, peristiwa ajaib di danau ini membuat para murid Yesus menggelari guru mereka sebagai Anak Allah. Pertemuan Pertama

31

IV Pesan dan Penerapan Sebagaimana sudah disinggung di atas, kisah ini bertujuan untuk membangkitkan harapan bagi komunitas kristiani yang kepadanya Injil Matius ini ditulis. Di tengah pengejaran dan penganiayaan, mereka tidak perlu takut dan khawatir, sebab Yesus, Anak Allah, tetap hadir bersama mereka. Dengan metode alegoris, Santo Agustinus pernah berkomentar, “Perahu yang membawa para murid, yaitu Gereja, terlempar dan diguncangkan oleh badai pencobaan, dan angin, yaitu Iblis, musuh Gereja, tidak pernah berhenti dan terus berusaha untuk mengganggu Gereja untuk dapat beristirahat. Namun, sungguh besarlah ‘Dia yang menjadi perantara bagi kita’.” Selain orang Kristen dalam Gereja perdana, kisah ini juga relevan bagi kita sekarang ini, terlebih ketika kita sedang mengalami penderitaan dan kesulitan dalam hidup. Kita bisa menganalogikan tokoh, tempat, dan peristiwa dalam kisah ini dengan kehidupan kita. Danau Galilea ibarat kehidupan kita: Terkadang ia tenang, menyenangkan dan memberi keindahan; terkadang ia menjadi ganas dan tidak terkendali. Kehidupan tidak selamanya memberikan segala sesuatu yang kita inginkan. Sakit, kematian, permusuhan, dan persoalan-persoalan lain adalah bagian dari kehidupan kita. Ketika kita menderita sakit, itu tidak berarti bahwa kita tidak memiliki iman yang kuat. Sebaliknya, jika kita sehat, itu juga tidak mesti merupakan bukti bahwa iman kita sedang kuat. Jika kita menghadapi permusuhan dari orang lain, itu bukanlah tanda bahwa Allah tidak suka dengan kita. Sebaliknya, jika kita menjadi makmur, itu juga tidak serta-merta menjadi bukti bahwa Allah sedang senang dan berkenan kepada kita. Kekayaan tidak dapat sematamata disamakan dengan kebaikan Allah, sementara kemiskinan jangan pula disamakan sebagai hukuman dari-Nya. Ingat, Yesus pernah berkata bahwa Allah “menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat. 5:45). Bertolak dari pengalaman Petrus, kita hendaknya mempersiapkan diri ketika segala peristiwa hidup tidak berlangsung sebagaimana mestinya. Petrus termasuk salah satu dari para murid Yesus yang kelelahan dan ketakutan di tengah Danau Genesaret yang sedang bergejolak. Ketika Yesus menampakkan diri kepada mereka, Petrus adalah satu-satunya 32

Gagasan Pendukung

murid yang mau mendekati Yesus – mungkin juga karena ia adalah ketua dari para murid tersebut – meskipun dengan risiko bahwa ia akan ditelan gelombang. Pada awalnya, kepercayaan bahwa Yesus akan menolongnya, membuat Petrus mampu berjalan di atas air. Namun, di tengah jalan, ketakutannya terhadap keganasan danau melumpuhkan kepercayaannya. Petrus mulai ragu dan tenggelam, tetapi selamat karena uluran tangan Yesus. Belajar dari Petrus, iman kepada Allah adalah dasar utama yang memampukan kita melewati segala macam persoalan dalam hidup. Iman – sekecil apa pun asalkan masih ada – sangat penting dan perlu bagi kita guna membangkitkan harapan untuk bertahan hidup di tengah dunia yang terkadang tidak teratur. Iman ibarat tombol yang membuka pintu pikiran dan hati kita untuk berani masuk ke wilayah Tuhan. Iman harus aktif dan perlu didasari oleh kerendahan hati. Karena iman, hidup kita akan lebih tenang dan stabil di tengah dunia yang tidak pernah terlepas dari kekacauan dan ketidakteraturan, sebab dengannya kita tahu bahwa Tuhan selalu beserta kita. Di tengah dunia ini, mungkin kita tidak perlu harus menemukan solusi atas persoalan dan kesulitan hidup. Bahwa kita sudah mampu melewatinya dengan selamat dan tidak tenggelam dalam persoalan tersebut, itu sudah merupakan mukjizat bagi kita. Bahwa kita akan mengalami keraguan apakah mampu melewati suatu persoalan atau tidak karena persoalan tersebut tampaknya sudah tidak dapat ditanggung, kiranya itu wajar. Yang tidak wajar adalah kalau kita lebih terfokus pada persoalan hidup daripada pada iman dan harapan bahwa Allah akan datang menolong kita. Petrus telah mengajarkan untuk tetap ingat kepada Allah ketika berada dalam kesulitan. Teriakannya, “Tuhan, tolonglah aku!” merupakan bukti nyata bahwa ia masih ingat akan Tuhan, atau bahwa ia terbuka kepada Yesus. Terkadang, badai kehidupan yang melanda kita dapat menjadi sarana berkat. Maksudnya, ketika segala sesuatu berjalan tidak baik atau menempatkan kita di titik nadir kehidupan, pikiran kita justru semakin tertuju kepada Allah, dan hati kita dapat menerima Allah sekalipun disertai dengan keluhan dan kemarahan kepada-Nya. Hati yang remuk redam dapat menjadi pintu masuk bagi Allah untuk mendatangi kita.   Pertemuan Pertama

33

V Pertanyaan Refleksi 1. Apa “badai kehidupan” (atau persoalan dan kesulitan hidup) yang menimpa diriku dan tidak jarang membuat iman kepercayaanku kepada Tuhan menjadi goyah? 2. Apakah aku mampu mempertahankan iman kepada Allah saat tenggelam dalam “badai kehidupan”? Jika tidak, mengapa? 3. Apakah aku seperti Petrus yang memiliki iman kepada Allah, tetapi langsung goyah ketika menyadari bahwa persoalan dalam hidup ternyata melebihi kemampuanku untuk mengatasinya? 4. Apakah aku seperti Yesus yang ketika sedang berkomunikasi dengan Bapa-Nya tiba-tiba harus beranjak pergi karena mengetahui bahwa para murid sedang berjuang untuk bertahan hidup di tengah danau? Apakah aku peka terhadap mereka yang sedang mengalami penderitaan dan berjuang antara hidup dan mati? 5. Apakah aku berani berteriak seperti Petrus, “Tuhan, tolonglah aku!” dan membiarkan Tuhan mengulurkan tangan-Nya untuk membantuku? Siapakah yang menjadi tangan Tuhan untuk menolongku di kala aku menderita dan kesusahan?

34

Gagasan Pendukung

Pertemuan Kedua YESUS, SAHABAT BAGI MEREKA YANG KEHILANGAN (Yoh. 11:1-45) “Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!” (Yoh. 11:36) I Pendahuluan Pemandangan yang memprihatinkan disungguhkan kepada kita setiap hari di media massa atau media sosial sejak merebaknya Covid-19 pada Maret 2020. Pemandangan itu berupa berita kematian anggotaanggota keluarga yang terinfeksi penyakit ini. Kematian tersebut datang secara tidak terduga. Mereka yang sudah lanjut usia dan yang memiliki penyakit bawaan serius menjadi korban yang paling rentan dari keganasan Covid-19. Lebih menyedihkan lagi, korban jiwa juga mencakup para dokter dan perawat di rumah sakit. Turut terinfeksi ketika mengemban tugas kemanusiaan membantu para korban Covid-19 adalah penyebabnya, padahal peran mereka sangat vital dalam kondisi saat ini. Ibarat serdadu di garis depan yang memerangi Covid-19, mereka berusaha menyelamatkan jiwa banyak orang sekalipun risikonya adalah nyawa mereka sendiri. Keluarga-keluarga yang ditinggalkan oleh para korban Covid-19 tentu saja mengalami rasa sedih yang luar biasa. Menjadi semakin pedih tatkala para saudara, sahabat, kenalan, atau tetangga tidak dapat melihat atau mengunjungi untuk terakhir kalinya karena aturan protokol kesehatan yang melarang orang berkumpul dalam jumlah besar. Kehilangan orang dekat jelas menggoreskan luka di hati mereka yang ditinggalkan. Lebih memprihatinkan lagi jika orang yang meninggal itu adalah tulang punggung keluarga. Keluarga yang ditinggalkan tentu saja harus hidup di bawah bayang-bayang ketidakpastian. Mereka menderita dan membutuhkan dukungan serta pertolongan agar dapat bertahan hidup. Tidak menutup kemungkinan bahwa kematian seorang anggota keluarga dapat membuat sebuah keluarga menjadi goyah dan terpecah. Ketidakmampuan untuk menerima dan mengatasi persoalan yang muncul menciptakan persoalan baru dalam keluarga tersebut. Karena itulah, niat untuk menjaga kesatuan dalam keluarga, terutama pada saat-saat sulit, menjadi syarat terpenting agar keluarga tidak koyak. 35

Memang, tidak semua keluarga kristiani mengalami persoalan sebagaimana yang diceritakan di atas. Akan tetapi, tidak bisa dimungkiri bahwa setiap keluarga kristiani pasti bergulat dengan berbagai persoalan hidup, termasuk kehilangan orang yang dikasihi. Mengingat jati diri keluarga kristiani adalah keluarga yang dibangun atas pribadi dan ajaran Yesus Kristus, figur Yesus tidak dapat dikesampingkan ketika keluarga sedang menghadapi problem kehidupan. Keyakinan bahwa kasih dan semangat Yesus selalu hadir di tengah keluarga untuk mendukung dan menguatkan seluruh anggota keluarga kiranya dapat menjadi salah satu unsur yang dapat membantu keluarga kristiani agar dapat bertahan hidup di tengah penderitaan dan kesusahan. Pertemuan kedua dalam BKSN 2021 akan membahas kisah tentang Lazarus yang dibangkitkan (Yoh. 11:1-45). Pada pokoknya, kisah ini berbicara tentang salah satu mukjizat Yesus, yaitu membangkitkan orang mati. Namun, selain berbicara tentang mukjizat, kisah ini juga berbicara tentang sebuah keluarga yang mengalami penderitaan dan kesedihan karena kehilangan anggota keluarga yang terkasih (yaitu karena kematian). Marta dan Maria, para saudari Lazarus, harus menerima kenyataan ditinggalkan oleh saudara mereka. Apa yang dialami oleh keluarga Betania ini dapat mencerminkan kondisi yang dialami banyak keluarga sekarang ini. Agar dapat memahami perikop Yoh. 11:1-45 secara lebih mendalam, kiranya perlu bagi kita untuk mengetahui sejumlah tema atau gagasan teologis dalam Injil Yohanes yang kemudian menjadi benang merah bagi seluruh kisah-kisah dalam Injil ini. Tema sentral Injil Yohanes adalah Yesus sebagai pewahyuan Allah atau – dengan kata lain – sebagai Dia yang membuat Allah dikenal. Yesus menyingkapkan Allah kepada manusia supaya mereka dapat mengenal Allah dan dibebaskan sekaligus diubah dengan pewahyuan tersebut. Di bagian prolog Injil Yohanes, dengan jelas dikatakan, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh. 1:14). Para teolog menggunakan istilah “inkarnasi” untuk menjelaskan Firman Allah yang menjadi manusia dan kemudian hadir di tengah kita. Kiranya, fokus utama di sini pertama-tama adalah kehadiran Allah di tengah manusia. Sementara itu, inkarnasi adalah cara bagaimana Allah hadir di dunia. Kedatangan Yesus di dunia ini adalah untuk memperkenalkan Allah. Ayat 36

Gagasan Pendukung

berikut menjelaskan gagasan tersebut, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh. 1:18). Salah satu cara yang dilakukan Yesus untuk memperkenalkan Allah adalah dengan membuat mukjizat – atau dalam bahasa Injil Yohanes disebut “tanda” (Yoh. 2:11; 4:54; 6:2, 14; 12:18). Dalam arti tertentu, mukjizat adalah tanda untuk melegitimasi sebagai bukti bahwa Yesus memiliki kekuatan dan otoritas ilahi (bdk. Yoh. 3:2; 7:31; 9:16). Ada yang percaya kepada Yesus karena mukjizat (Yoh. 2:11, 23; 4:53-54), tetapi ada pula yang tidak (Yoh. 11:47; 12:37). Mukjizat adalah tanda, sebab menunjukkan secara simbolis tentang siapa Allah dan apa yang sedang Allah kerjakan. Melalui mukjizat, Allah mengubah sesuatu yang biasa menjadi luar biasa (Yoh. 2:1-11) dan memberikan kesehatan kepada manusia (Yoh. 4:46-54), kebutuhan hidup (Yoh. 6:2-14) dan kehidupan (Yoh. 11:38-44; 12:17-18). Selain itu, Injil Yohanes menekankan pentingnya menjalin relasi dengan Yesus Kristus. Relasi ini seharusnya hidup dan mendalam. Jika orang mengklaim dirinya sebagai murid Yesus, percaya kepada Yesus sebagai Dia yang telah bangkit dari kematian tidak cukup (bdk. Yoh. 20:2429), tetapi orang itu harus juga mengasihi-Nya (Yoh. 8:42; 14:15, 21, 23; 16:27; 21:15-17) dan tinggal di dalam Dia (Yoh. 6:56; 15:4-10). Mereka yang percaya disatukan dengan Yesus Kristus dalam relasi spritual yang menguatkan (Yoh. 1:2). Mereka yang berada dalam relasi dengan Yesus diajak untuk terus-menerus memelihara keterikatan dengan sabda-Nya dan membiarkan sabda itu tinggal dalam dirinya (Yoh. 15:7), serta menjaga perintah-Nya (Yoh. 15:10), terutama perintah untuk saling mengasihi satu sama lain (Yoh. 15:12, 17). Injil Yohanes mengartikan kasih bukanlah pertama-tama sebagai sebuah perasaan, tetapi sebuah tindakan. Yesus memberikan teladan kasih ini dengan melayani satu sama lain dengan rendah hati (Yoh. 13:315; 15:13). Mereka yang mengalami dan menunjukkan kasih semacam ini akan tetap tinggal dalam relasi yang erat dengan Yesus Kristus dan mengalami sukacita (Yoh. 15:11; 17:13). Karena relasi ini, apa pun yang mereka minta akan diberikan (Yoh. 15:7). Mereka mampu melakukan pekerjaan yang diperintahkan Yesus, sebab sebenarnya Dia sendirilah yang sedang melakukan pekerjaan itu melalui diri mereka (Yoh. 14:12-13). Mereka lantas menjadi satu dengan-Nya, dengan Allah, dan dengan satu sama lain (Yoh. 17:20-23). Pertemuan Kedua

37

Untuk memahami kisah Lazarus yang dibangkitkan, tema-tema teologis di atas tidak boleh dikesampingkan. Yesus yang memperkenalkan Allah yang peduli pada keluarga yang menderita, relasi yang dekat dan penuh kasih antara Yesus dan keluarga Betania, serta mukjizat yang dialami Lazarus merupakan tema-tema pokok yang akan menjadi fokus perhatian dalam pembahasan kisah ini selanjutnya. II Teks Yohanes 11:1-45 1 Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta. 2 Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya. 3 Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” 4 Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.” 5 Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. 6 Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; 7 tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Mari kita kembali lagi ke Yudea.” 8 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: “Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?” 9 Jawab Yesus: “Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini. 10 Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya.” 11 Demikianlah perkataanNya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: “Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya.” 12 Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: “Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh.” 13 Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. 14 Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: “Lazarus sudah mati; 15 tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.” 16 Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: “Marilah kita pergi

38

Gagasan Pendukung

juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.” 17 Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. 18 Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya. 19 Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. 20 Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. 21 Maka kata Marta kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. 22 Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” 23 Kata Yesus kepada Marta: “Saudaramu akan bangkit.” 24 Kata Marta kepada-Nya: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” 25 Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, 26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” 27 Jawab Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.” 28 Dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: “Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau.” 29 Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus. 30 Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia. 31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ. 32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepadaNya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” 33 Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: 34 “Di manakah dia kamu baringkan?” Jawab mereka: “Tuhan, marilah dan lihatlah!” 35 Maka menangislah Yesus. 36 Kata orang-orang Yahudi: “Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!” 37 Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?” 38 Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu. 39 Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: “TuPertemuan Kedua

39

han, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” 40 Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” 41 Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. 42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” 43 Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah ke luar!” 44 Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.” 45 Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. III Penafsiran Konteks Perikop Yoh. 11:1-45 merupakan salah satu kisah mukjizat yang terpenting dalam Injil Yohanes, sebab di sini diperlihatkan kuasa Yesus atas kematian, nasib akhir manusia yang tidak dapat dihindari. Peristiwa Lazarus dibangkitkan dari kematian adalah tanda ketujuh dan paling penting lantaran ini secara langsung menjadi pertanda kematian dan kebangkitan Yesus sendiri. Selain itu, peristiwa ini juga merupakan puncak atau klimaks dari semua tanda yang dibuat Yesus. Jika tanda pertama Yesus adalah pada pesta perkawinan di Kana (Yoh. 2:1-11), puncak dari tanda itu adalah pada sebuah pemakaman, yaitu perikop yang kita bahas sekarang ini. Berkenaan dengan relasi antara tanda pertama dan terakhir dalam Injil Yohanes, dalam sumber-sumber kuno dikatakan bahwa perkawinan melambangkan situasi penuh sukacita, sementara penguburan melambangkan kondisi yang paling menyedihkan. Selain itu, dihubungkan dengan Perjanjian Lama, meskipun ini kurang meyakinkan, tanda pertama Yesus (mukjizat air menjadi anggur) mengingatkan pada tulah pertama di Mesir pada zaman Musa (air menjadi darah), sedangkan tanda yang menjadi puncak dari semua tanda yang dilakukan Yesus ki40

Gagasan Pendukung

ranya mengingatkan pada tulah terakhir, yaitu kematian anak sulung di Mesir. Perikop Yoh. 11:1-45 juga mengangkat tema iman akan Allah. Kisah tentang transisi dari kematian (Lazarus) menuju kehidupan berhubungan dengan transisi dari ketidakpercayaan menuju iman. Ini jelas ketika, sekalipun saudaranya telah mati, Marta menyatakan imannya terhadap Tuhan. Iman itu membuahkan mukjizat ketika Lazarus kemudian bangkit dan keluar dari kuburnya. Iman dapat mengalahkan kuasa kematian. Sejumlah peristiwa seputar kebangkitan Lazarus ini juga mengisyaratkan akan apa yang nanti terjadi dengan Yesus yang pergi ke Yudea untuk mati dan dibangkitkan dari kematian. Maria, saudari Marta, yang pergi kubur untuk meratap di sana dan bertemu dengan Yesus mengantisipasi Maria Magdalena yang meratap di makam dan bertemu dengan Yesus yang bangkit (Yoh. 20:11–16). Kematian dan kebangkitan Lazarus menjadi pertanda kematian dan kebangkitan Yesus. Namun, dalam hal ini terdapat juga perbedaan antara Lazarus dan Yesus. Lazarus dibangkitkan sesudah meninggal selama empat hari, sedangkan Yesus akan bangkit pada hari ketiga (bdk. Yoh. 2:19-22). Lazarus bangkit dan nanti akan mati lagi, sedangkan Yesus bangkit dan hidup untuk selama-lamanya. Jika dilihat secara menyeluruh, kisah tentang kebangkitan Lazarus mencakup ay. 1-54. Namun, mempertimbangkan relevansi perikop ini dengan tema besar BKSN 2021, kita akan membatasinya sampai ay. 45 saja. Secara garis besar, Yoh. 11:1-54 memiliki susunan sebagai berikut: • Ay. 1-6: Introduksi. • Ay. 7-16: Keputusan. Yesus memutuskan untuk pergi ke Yudea, dan Tomas memutuskan agar para murid menemani-Nya. • Ay. 17-27: Perjumpaan Yesus dengan Marta. Yesus mengungkapkan diri-Nya sebagai kebangkitan dan hidup, tetapi Marta salah memahami perkataan itu. • Ay. 28-37: Perjumpaan Yesus dengan Maria. Maria pergi untuk meratapi Lazarus di kuburnya bersama-sama dengan orang Yahudi lainnya. • Ay. 38-44: Mukjizat. Yesus memanggil dan membangkitkan Lazarus supaya orang-orang yang meragukan dan tidak percaya kepada-Nya menjadi percaya bahwa diri-Nya adalah Dia yang diutus oleh Allah. • Ay. 45-54: Dampak dari tanda terakhir yang dibuat Yesus. Bagian ini tidak masuk dalam pembahasan kita. Pertemuan Kedua

41

Membaca secara mendalam Keluarga Betania Di bagian awal kisah diperkenalkan para tokoh, tempat, dan persoalan yang mereka hadapi (ay. 1-6). Tiga tokoh muncul, yaitu Lazarus, Marta, dan Maria. Mereka tinggal di Betania. Betania merupakan tempat yang sering muncul dalam keempat Injil. Tempat ini adalah sebuah kampung di lereng timur, di bawah bukit Zaitun (Mrk. 11:1; Luk. 19:29), sekitar 3,5 kilometer sebelah timur Yerusalem (Yoh. 11:18). Hampir semua teks menceritakan bahwa di Betania, Yesus selalu mengunjungi Lazarus, Marta, dan Maria (Luk. 10:38-42; Yoh. 12:1-8; Mat. 21:17; Mrk. 11:11). Tiga bersaudara ini adalah sahabat dekat Yesus. Yesus masuk ke Yerusalem mulai dari Betania (Mrk. 11:1-11; Luk. 19:28-38). Sekarang ini nama Betania berubah menjadi Al-Azarieh, nama Aram dari Lazarion. Di situ, sebuah gereja dibangun di atas tempat yang dipercaya sebagai kuburan Lazarus. Dalam kisah ini disebutkan bahwa Lazarus (Ibrani: Eleazar, artinya: “Allah telah menolong”) sedang sakit (ay. 1). Sosok Lazarus di sini perlu dibedakan dengan Lazarus dalam Injil Lukas (Luk. 16:19-31, seorang laki-laki miskin yang mati, lalu diangkat ke surga, yang nasibnya berlawanan dengan orang kaya yang sebelum kematiannya tidak menaruh belas kasihan kepada orang miskin itu). Sosok lainnya adalah Maria, nama yang sangat umum pada zaman Yesus. Di sini, ia diidentifikasi sebagai “perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya” (ay. 2). Sosok ketiga adalah Marta, yang namanya mungkin berarti “nyonya” atau “tuan putri”. Nama ini agak jarang dipakai oleh masyarakat Yahudi pada masa itu. Mereka bertiga hidup bersama. Apakah mereka masing-masing memiliki keluarga atau belum, tidak ada penjelasan. Seandainya mereka bertiga masing-masing memiliki keluarga, pastinya nama suami atau istri mereka akan disebutkan. Seandainya mereka bertiga tidak menikah, kemungkinan besar hidup mereka didedikasikan untuk melayani masyarakat, seperti merawat orang sakit, dan sebagainya. Marta dan Maria mengirim kabar kepada Yesus, sahabat mereka, “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” Pesan singkat ini menyiratkan permintaan supaya Yesus mengunjungi Lazarus yang sakit. Walaupun tindakan untuk mengunjungi dan berdoa untuk orang sakit adalah kewajiban saleh dalam Yudaisme, tampaknya reputasi Yesus sebagai penyembuh menjadi alasan utama mengapa mereka memberi tahu Dia perihal sakitnya Lazarus. Memberikan informasi kepada Yesus terlihat sebagai 42

Gagasan Pendukung

sebuah permintaan yang sopan. Setelah mendengar kabar itu, Yesus memberi tanggapan, “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan” (ay. 4). Jawaban Yesus ini mungkin sedikit membingungkan. Yesus sadar bahwa penyakit Lazarus dapat menyebabkan kematian. Namun, menurut-Nya, penyakit dan kematian Lazarus akan menjadi sarana agar kemuliaan Allah menjadi nyata, dan selanjutnya Anak Allah, yaitu Yesus sendiri akan dimuliakan. Penyebabnya, penyakit dan kematian Lazarus nantinya akan menuntun pada terjadinya mukjizat, dan mukjizat sendiri adalah tanda kemuliaan Allah. Perkataan Yesus ini menunjukkan bahwa penyakit dan kematian yang menimpa Lazarus bukanlah tanpa maksud dan bukan di luar kehendak Allah. Sebagai catatan, orang Yahudi pada zaman Yesus biasa menjalani yang disebut sebagai masa ratapan, di mana seluruh keluarga akan meratapi anggota keluarga yang meninggal dalam kurun waktu tertentu. Pada umumnya, masa ratapan berlangsung selama tujuh hari, sehingga kebiasaan meratap ini disebut shivah atau “tujuh hari”. Kebiasaan ini cukup membantu pemulihan jiwa dan mental mereka yang ditinggalkan. Dengan meratap, segala kepedihan dan kesedihan mereka dapat sedikit demi sedikit dilepaskan. Selain itu, sahabat dan kenalan akan datang untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan tersebut. Dari sini dapat dibayangkan, orangorang di sekitar keluarga Marta dan Maria datang untuk mengunjungi dan menghibur mereka, sekaligus meratapi kepergian Lazarus. Ada beberapa aturan ketat tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan setelah kematian seorang anggota keluarga. Setelah penguburan, misalnya, keluarga yang ditinggalkan harus tinggal di rumah selama tujuh hari, duduk dengan kaki telanjang di lantai. Mereka tidak membasuh diri sendiri atau pakaian, tidak melakukan pekerjaan, tidak memasak, tetapi diberikan makanan oleh keluarga lainnya. Aktivitas inilah yang kiranya juga dilakukan oleh keluarga Marta dan Maria. Setelah mendengar berita dari Marta dan Maria, Yesus tinggal selama dua hari di tempat Dia berada. Agak aneh bahwa Yesus menunda permintaan mendesak dari Marta dan Maria, bahkan terkesan tidak sopan. Pastinya, dengan penundaan ini, sebelum Yesus sampai ke Betania, Lazarus sudah meninggal (Yoh. 11:14, 17).

Pertemuan Kedua

43

Keputusan Yesus Yesus akhirnya memutuskan untuk pergi ke Betania, di Yudea. Ia berkata, “Mari kita kembali lagi ke Yudea” (ay. 7). Jarak yang ditempuh untuk menuju ke Betania dari tempat Yesus berada sekitar 32 kilometer. Ini termasuk mendaki perbukitan, dari tempat yang terletak 300 meter di bawah permukaan laut menuju tempat yang berada di ketinggian 830 meter di atas permukaan laut. Dengan berjalan kaki, perjalanan ke Betania sangatlah melelahkan karena harus naik dan turun gunung. Para murid agak menentang keputusan Yesus karena alasan keamanan, “Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?” (ay. 8, bdk. 8:59). Namun ancaman kekerasan tersebut tidak mengubah keputusan Yesus. Menanggapi keberatan dari pihak para murid, Yesus menjawab dengan perkataan yang terkesan penuh simbol, “Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini. Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya” (ay. 9-10). Apa maksud perkataan ini? Yesus memperlihatkan bahwa perjalanan ke Betania (atau Yerusalem) adalah momen yang sangat penting dan menentukan bagi-Nya. Dia menggambarkannya dengan ungkapan simbolis: Terang-gelap, siangmalam, melihat-buta. Sebelumnya, Yesus telah mengajar mereka akan pentingnya berjalan dalam terang yang diberikan-Nya, yaitu terang dunia (Yoh. 9:4-5). Dengan menggunakan perhitungan jam orang Yahudi (dua belas jam untuk siang hari dan dua belas jam untuk malam hari), Dia mengatakan kepada para murid perlunya orang diarahkan oleh terang dunia, yaitu Dia sendiri. Para murid diajak untuk bergabung denganNya, sehingga tidak tersandung seperti “orang Yahudi” (bdk. Yoh. 8:12, 24). Di sini, mereka sedang dipersiapkan untuk menyambut peristiwa yang akan menimpa Yesus, sang Terang Dunia. Kiasan terang-gelap sudah merupakan bahasa yang umum pada zaman Yesus. Dalam Gulungan Laut Mati, misalnya, dikatakan bahwa anak-anak dari kebenaran akan berjalan dalam terang, tetapi mereka yang diatur oleh kejahatan adalah orang yang berjalan dalam kegelapan (1QS 3.20-21). Yesus kembali membuat pernyataan yang membingungkan para murid-Nya, “Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya” (ay 11). Untuk kesekian kalinya, para murid menafsirkan perkataan Yesus secara harfiah, “Tuhan, jikalau 44

Gagasan Pendukung

ia tertidur, ia akan sembuh” (ay. 12). Namun, Yesus tidak memaksudkan “tidur” di sini sebagai kondisi istirahat, tetapi sebagai simbol kematian (ay. 13). Dalam sejumlah tulisan Yahudi di luar Kitab Suci dan juga dalam sebagian kultur dunia kuno, “tidur” sering menjadi kiasan untuk kematian (bdk. Mat. 27:52; 1Tes. 4:13–15; 1Kor. 15:18, 20). Dalam mitologi Yunani, misalnya, Tidur dan Kematian sering digambarkan sebagai saudara kembar. Karena para murid salah menangkap perkataan-Nya, Yesus kemudian mengatakan yang sebenarnya, “Lazarus sudah mati” (ay. 14). Selanjutnya, Dia menambahkan, “Tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu” (ay. 15a). Bagi Yesus, ketidakhadiran-Nya saat Lazarus meninggal adalah hal yang baik. Mengapa? Sebab, ini adalah kesempatan baik untuk membuat para murid-Nya semakin beriman. Pada saat itu, mereka tidak tahu apa maksud perkataan tersebut. Namun, dalam kisah selanjutnya, akan diperlihatkan bahwa kematian Lazarus adalah kesempatan untuk mengungkapkan identitas Yesus. Yesus adalah Dia yang berkuasa atas kematian. Yesus pun kemudian mengambil keputusan untuk pergi ke Betania, “Marilah kita pergi sekarang kepadanya” (ay. 15b). Kembali para murid tidak menangkap maksud perkataan Yesus. Ini terlihat jelas dari respons salah satu murid-Nya, yaitu Tomas (atau Didimus), yang berkata, “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia” (ay. 16). Yesus mengatakan kepada mereka bahwa Dia akan pergi ke Yudea untuk membangkitkan Lazarus dari “tidur”-nya dengan harapan agar mereka semakin beriman. Dia tidak meminta mereka bergabung untuk sebuah misi dengan risiko kematian. Namun, para murid malah berpikir bahwa Yesus pergi ke Yudea untuk mati. Di sisi lain, pernyataan Tomas itu sering kali menjadi slogan sejumlah pengikut Kristus: Rela mati (atau menjadi martir) demi Kristus. Reaksi dan sikap Tomas mencerminkan dengan jelas semangat kemartiran. Perkataan Tomas juga menjadikannya rujukan model murid Yesus yang sejati, murid yang hidup dan mati bersama gurunya (bdk. Rm. 6:8). Sebagai catatan, kesediaan untuk mati bersama sang guru sebagai ungkapan cinta dan kesetiaan kepadanya sebenarnya jarang sekali diungkapkan oleh orang Yahudi pada masa itu. Pada umumnya, orang Yahudi mempersiapkan diri untuk mati demi Tuhan dan hukum-Nya.

Pendahuluan

45

Akulah kebangkitan dan hidup Yesus tiba di Betania dan mengetahui bahwa Lazarus telah empat hari berada dalam kubur (ay. 17). Lazarus kiranya dimakamkan tepat pada hari kematiannya. Kuburan di mana ia dibaringkan mirip dengan sebuah cekungan tanah atau gua, dengan sebuah batu berbentuk lempengan bundar sebagai penutupnya (bdk. Yoh. 11:38; 20:1). Jika mayat telah empat hari berada dalam kubur, jelas bahwa mayat itu pasti sudah mulai membusuk. Dalam pandangan orang Yahudi pada masa itu, empat hari berarti jiwa orang tersebut sudah meninggalkan tubuhnya secara definitif. Jarak Betania dengan Yerusalem sangat dekat, yaitu sekitar 3,5 kilometer. Ini memungkinkan sanak saudara Marta dan Maria yang berada di kota Yerusalem untuk datang dan menghibur mereka (ay. 18-19). Mengunjungi dan menghibur orang yang berduka pada hari-hari yang berdekatan dengan kematian anggota keluarga orang itu merupakan kewajiban agama bagi orang Yahudi. Para tetangga tentunya menyiapkan dan menyediakan makanan bagi Marta dan Maria setelah penguburan Lazarus. Kedatangan Yesus ditanggapi secara berbeda oleh Marta dan Maria. Marta pergi menjemput-Nya, sementara Maria tinggal di rumah (ay. 20; bdk. Luk. 10:38-42, di mana Marta ditampilkan sebagai sosok yang aktif dan selalu mengambil inisiatif pertama). Maria tinggal di rumah mungkin untuk melayani tamu-tamu yang datang. Itulah sebabnya, ia tidak mengetahui kedatangan Yesus (ay. 29). Marta mengamini kuasa Yesus untuk menyembuhkan. Ia juga meyakini bahwa jika Yesus datang lebih awal, Lazarus pasti tidak akan mati (ay. 21). Marta sepertinya menyesali mengapa Yesus tidak segera datang ketika ia menginformasikan perihal sakitnya Lazarus kepada-Nya. Meskipun demikian, ia meyakini bahwa Yesus memiliki akses khusus kepada Allah dan mampu melakukan sebuah mukjizat, “Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya” (ay. 22). Keyakinan yang sama sebelumnya diungkapkan oleh Nikodemus (Yoh. 3:2) dan orang yang buta sejak lahir (Yoh. 9:31-32). Di sini, Marta mengakui bahwa Yesus adalah seorang guru yang diutus Allah, yang dapat melakukan tanda-tanda ajaib karena Allah menyertai-Nya. Sampai di sini, Marta belum menyadari bahwa Yesus sendiri adalah Mesias yang memberikan kehidupan. Ia baru berada pada tahap pemahaman bahwa Yesus adalah seorang perantara Allah dan manusia. 46

Gagasan Pendukung

Yesus kemudian meyakinkan Marta dengan berkata, “Saudaramu akan bangkit” (ay. 23). Marta percaya bahwa Lazarus akan dibangkitkan, tetapi bukan saat itu, melainkan di masa depan, persisnya pada akhir zaman (ay. 24). Pada masa itu, berkembang keyakinan umum di kalangan orang Yahudi bahwa orang mati akan dibangkitkan secara badaniah pada akhir zaman. Kelompok Farisi bahkan menganggap bahwa orang-orang yang menyangkal ajaran ini, khususnya kelompok Saduki, akan dikutuk karena penyangkalan tersebut. Lantaran Marta salah paham, Yesus segera mengatakan, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (ay. 25-26a). Di sini, Yesus mengungkapkan identitas diri-Nya yang lain. Dia bukan hanya pembuat mukjizat atau perantara Allah untuk menyembuhkan manusia. Lebih daripada itu, Dia adalah sumber kehidupan dan kebangkitan. Percaya kepada-Nya merupakan jalan satu-satunya untuk menuju kebangkitan dan kehidupan. Pewahyuan diri Yesus kepada Marta menyatakan bahwa iman dalam Dia membawa kehidupan, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang (bdk. Yoh. 5:19-30). Orang-orang yang percaya, sekalipun mereka mati secara fisik, akan hidup secara rohani (ay. 25), dan mereka yang hidup secara rohani, tidak akan mati secara rohani. Marta memercayai pewahyuan diri Yesus dengan berkata, “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia” (ay. 27). Dua gelar Yesus ditampilkan di sini, yaitu Mesias (Kristus) dan Anak Allah. Para murid (Yoh. 1:41) dan perempuan Samaria (Yoh. 4:25, 29) menyebut Yesus sebagai “Mesias/Kristus”, sedangkan Natanael (Yoh. 1:49) menyebut Yesus sebagai “Anak Allah”. Orang banyak mengakui bahwa Yesus adalah Dia yang datang ke dunia (Yoh. 6:14). Intinya, Marta mengungkapkan iman yang penuh terhadap Yesus. Iman bahwa Yesus adalah sumber kehidupan dan kebangkitan adalah pesan pokok yang ingin disampaikan oleh penginjil Yohanes (bdk. Yoh. 20:31). Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya! Setelah berdialog dengan Yesus, Marta memanggil Maria dan berbisik kepadanya, “Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau” (ay. 28). Maria yang sedang menerima para tamu yang datang ke rumahnya segera bangkit dan menjumpai Yesus (ay. 29). Pada waktu itu, Yesus belum maPertemuan Kedua

47

suk ke Betania (ay. 30). Orang-orang Yahudi yang bersama dengan Maria menyangka bahwa Maria pergi ke kubur untuk meratapi Lazarus (ay. 31). Karena itu, mereka mengikuti Maria untuk bergabung dengannya meratapi Lazarus di kubur. Perkiraan mereka ternyata keliru. Maria tidak pergi ke kubur, sebaliknya menjumpai Yesus. Sikap dan perbuatan orang Yahudi ini menunjukkan bahwa fokus mereka masih pada Lazarus, bukan kedatangan Yesus. Ketika sampai di tempat Yesus, Maria tersungkur di depan kaki-Nya (ay. 32a). Sikap Maria ini mengungkapkan banyak arti. Ini bisa mengungkapkan kesedihan hatinya, permohonan Maria agar Tuhan menolong, atau hormat kepada Yesus sebagai guru. Tersungkur di tanah juga merupakan ungkapan lahiriah doa atau ibadah kepada Allah. Dalam sejumlah kisah, Maria selalu digambarkan berada di “kaki Yesus” (Luk. 10:39; Yoh. 11:2, 32; 12:3). Selanjutnya, ia mengatakan persis seperti yang dikatakan Marta sebelumnya, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati” (ay. 32b). Di depan Yesus, Maria dan orang-orang Yahudi yang bersama dengannya menangis (ay. 33). Mengungkapkan emosi secara terbuka, seperti menangis, umum dalam tradisi Yahudi. Turut ambil bagian dalam kesedihan dan penderitaan orang lain merupakan tindakan terpuji. Sebaliknya, para filsuf Yunani dan Romawi menekankan sikap tenang dan tidak terganggu dengan kematian. Dalam dunia Mediterania (sekitar Laut Tengah), tangisan perempuan terkadang diakui mampu menggerakkan laki-laki untuk melakukan tindakan yang diperlukan. Yesus juga bereaksi ketika mendengar tangisan mereka. Dikatakan bahwa hati-Nya menjadi masygul (ay. 33). Yesus bersusah hati. Kesusahan hati Yesus ini bisa jadi disebabkan oleh kematian Lazarus, tetapi bisa jadi pula oleh sikap tidak percaya mereka kepada-Nya yang mampu membuat mukjizat (Bdk. Bil. 14:11; Mrk. 4:40). Yesus meminta agar diantar ke kuburan Lazarus dengan bertanya, “Di manakah dia kamu baringkan?” (ay. 34a). Menanggapi pertanyaan tersebut, dengan rasa hormat yang tinggi (tampak dalam sapaan “Tuhan”), Maria dan orang-orang Yahudi itu mengundang-Nya, “Tuhan, marilah dan lihatlah!” Yesus tiba-tiba menangis (ay. 35). Mereka memahami tangisan Yesus ini sebagai ungkapan hati seseorang yang kehilangan sahabat yang paling dicintainya. Karena itu, tidak mengherankan jika kemudian mereka berkata, “Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!” (ay. 36). Namun, di sisi lain, tangisan Yesus tersebut dapat juga berarti bahwa 48

Gagasan Pendukung

Dia sedang tersentuh oleh takdir kematian manusia yang memilukan. Sering kali, kesedihan, kepedihan, penderitaan, atau situasi gelap lainnya di dunia ini memunculkan air mata. Sementara itu, beberapa orang lainnya seolah-olah menantang kuasa Yesus untuk mengadakan mukjizat, “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?” (ay. 37). Di sini, mereka sedang menghubung-hubungkan peristiwa kematian Lazarus dengan perbuatan mukjizat Yesus sebelumnya, yaitu menyembuhkan orang yang buta sejak lahir (Yoh. 9). Lazarus, marilah ke luar! Yesus marah ketika orang-orang Yahudi itu tidak percaya kepada-Nya (ay. 38a). Untuk mengatasi ketidakpercayaan mereka, Ia kemudian pergi ke kubur Lazarus. Dalam kisah ini, kubur Lazarus digambarkan sebagai sebuah gua yang ditutup dengan batu (ay. 38b). Pada zaman Yesus, orang mati biasanya dikuburkan dalam gua. Sebuah batu (biasanya berbentuk cakram) diletakkan di depan kubur untuk menjaga jenazah agar tidak dimakan atau dikoyak-koyak oleh binatang buas, juga agar barang-barang yang ditaruh bersama jenazah itu tidak diambil oleh pencuri. Meskipun beberapa kuburan berbentuk vertikal, tubuh orang mati diletakkan secara horizontal. Tubuh itu akan dibiarkan membusuk selama satu tahun. Setelah itu, tulang-tulangnya akan ditempatkan di osuarium (kotak tulang), kemudian akan dimasukkan ke dalam lubang atau slot di dinding. Yesus memerintahkan supaya batu penutup kubur itu diangkat (ay. 39a). Namun, Marta keberatan dengan perintah itu. Alasannya, Lazarus pasti sudah berbau karena sudah empat hari berada dalam kubur (ay. 39b). Setelah satu tahun, barulah tubuh orang mati membusuk sepenuhnya dan hanya tinggal tulang. Meskipun demikian, empat hari setelah kematiannya, pembusukan sudah berlangsung, terlebih jika saat itu bukan musim dingin. Selain itu, menurut catatan beberapa ahli, tradisi rabinik (guru-guru Yahudi) mengatakan bahwa jiwa akan meninggalkan tubuh setelah tiga hari. Jika gagasan itu benar, kebangkitan orang mati setelah empat hari dikuburkan pastilah sebuah mukjizat yang sangat luar biasa. Hanya Allah sendiri yang mampu melakukannya. Menanggapi keberatan Marta, Yesus sekali lagi menegaskan pentingnya untuk percaya supaya dapat melihat kemuliaan Allah, “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau Pertemuan Kedua

49

akan melihat kemuliaan Allah?” (ay. 40). Kemuliaan Allah hanya akan dilihat oleh mereka yang meragukan kuasa dunia dan percaya pada apa yang diwahyukan Yesus. Dalam konteks kisah ini, kebangkitan Lazarus yang awalnya diragukan oleh banyak orang nantinya akan menjadi tanda kemuliaan dan kekuasaan Allah. Setelah batu diangkat, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya terlebih dahulu, “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (ay. 41-42). Doa ini tentu didengar oleh mereka yang berada di sekitar Yesus, yaitu Marta, Maria, para murid, dan “orang-orang Yahudi”. Mengikuti sikap berdoa pada zamannya, yaitu menengadah ke atas (bdk. Yoh. 17:1; Mzm. 123:1; 17:1; Mrk. 6:41; Luk. 18:13), Yesus mengungkapkan rasa syukur dan percaya dalam persekutuan antara diri-Nya dan Bapa. Doa ini juga terkesan lebih sebagai doa syukur daripada doa permohonan untuk membuat mukjizat. Sapaan “Bapa” di awal doa-Nya mengungkapkan relasi yang begitu dekat antara Yesus dan Allah. Relasi inilah yang membuat Yesus sadar bahwa Allah selalu mendengarkan-Nya. Apa pun yang Ia mohonkan selalu selaras dengan kehendak Allah. Karena itulah tidak ada permintaan khusus dalam benak Yesus, sebab Ia selalu berada dalam persekutuan dengan Bapa-Nya, yang selalu “mendengar” Dia, termasuk pikiran dan keinginan yang tidak terucap oleh-Nya. Allah pastinya sudah mendengar permohonan Yesus berkenaan dengan Lazarus. Setelah berdoa, Yesus berseru dengan suara keras, “Lazarus, marilah keluar!” (ay. 43). Seruan ini mengingatkan pada Yoh. 5:28-29 tentang kesaksian Yesus sebagai Anak Bapa, “Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.” Lazarus kemudian datang keluar, “kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh” (ay. 44a). Mukjizat yang terjadi setelah Yesus berdoa kepada Allah menunjukkan bahwa kebangkitan Lazarus ini bukanlah semata-mata karya Yesus. Ini adalah pekerjaan Allah Bapa melalui Putra yang diutus-Nya. Karena doa Yesus didengarkan Bapa, orang50

Gagasan Pendukung

orang di sekitar Yesus melihat mukjizat itu sebagai karya Bapa. Dengan mukjizat ini, mereka juga percaya bahwa Yesus, sebagai Dia yang diutus oleh Allah, mempunyai kuasa penuh atas kematian dan orang mati. Kisah ini ditutup dengan dua perintah Yesus, “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi” (ay. 44b). Pada waktu dimakamkan, Lazarus kiranya dibungkus dengan lilitan kain yang panjang. Lilitan ini dikerjakan secara teliti, sehingga anggota badan dalam keadaan lurus, sementara bagian kepala dililit sedemikian rupa, sehingga mulut tetap tertutup. Lakilaki tidak boleh membungkus mayat perempuan, sedangkan perempuan dapat membungkus mayat laki-laki maupun perempuan. Jadi, mayat Lazarus kiranya dibungkus oleh dua saudarinya. Pembungkusan mayat ini dikerjakan secara ketat dan hati-hati, sehingga tubuh yang dibungkus – sekalipun dia orang hidup – akan sulit untuk berjalan. Jika Lazarus yang baru saja hidup lagi dan tidak memiliki tenaga ternyata dapat berjalan, ini membuktikan sekali lagi bahwa mukjizat tersebut sungguh luar biasa. Perintah untuk membuka kain pembungkus Lazarus berarti perintah untuk membebaskannya dari apa yang mengikat kematiannya supaya ia dapat pergi dan hidup normal kembali. Salah satu maksud Yesus membuat mukjizat ini adalah supaya banyak orang percaya kepada-Nya. Maksud itu berhasil, “Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya” (ay. 45). IV Pesan dan Penerapan Kisah tentang Lazarus yang dibangkitkan dalam Yoh. 11:1-45 tidak hanya berbicara tentang kuasa Yesus yang mampu mengatasi kematian manusia. Kisah ini juga berbicara tentang figur Yesus yang peduli dan berbelas kasihan terhadap para sahabat dan keluarga yang mengasihi dan dikasihi-Nya. Keluarga Betania yang terdiri atas Lazarus, Marta, dan Maria merupakan salah satu keluarga yang dikasihi Yesus. Injil menggambarkan relasi mereka yang dekat dan akrab. Setiap kali menjalankan tugas pengutusan-Nya, entah mengajar atau menyembuhkan orang sakit di wilayah Yerusalem dan Yudea, Yesus selalu menyempatkan diri untuk singgah ke rumah keluarga ini. Kedekatan dan keakraban yang terjalin itu membuat mereka merasa saling memiliki, bahkan terasa sebagai satu Pertemuan Kedua

51

keluarga. Akibatnya, apa yang dirasakan dan dialami oleh keluarga Betania seolah-olah menjadi tanggung jawab Yesus juga. Salah satu peristiwa pahit dan menyedihkan yang menimpa keluarga ini adalah kematian Lazarus. Keluarga ini harus mengalami peristiwa yang tidak diinginkan oleh hampir semua orang, yaitu kehilangan. Kematian adalah peristiwa gelap dalam hidup manusia, sebab kematian memutus relasi lahiriah antara dia yang mati dan mereka yang ditinggalkan. Meskipun relasi rohani kiranya masih hidup, bagaimanapun juga kematian membawa orang pada kepedihan yang mendalam. Terkadang kematian juga menempatkan orang dalam kegelapan hidup. Tampaknya, ini yang dialami oleh Marta dan Maria setelah kehilangan Lazarus. Dalam kondisi seperti ini, kedatangan Yesus di tengah mereka sangat berarti, bukan pertama-tama karena Yesus akan membuat mukjizat, tetapi karena kedatangan itu sendiri sudah memberi penghiburan kepada mereka yang ditinggalkan. Yesus ibarat terang yang hadir dalam kegelapan. Inilah misi kedatangan Yesus di dunia ini, yang sangat jelas dinyatakan di awal Injil Yohanes, “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh. 1:4-5). Sebagai manusia yang fana dan rapuh, kita terkadang harus berhadapan dengan pengalaman yang dialami keluarga Betania. Kesedihan, kehilangan, dan ketakutan ibarat kawan yang tiba-tiba muncul dan tidak mau beranjak pergi. Kehilangan menjadi semakin berat jika itu menyangkut mereka yang dekat dengan kita, teristimewa keluarga dan sahabat kita. Namun, kisah kunjungan Yesus kepada Marta dan Maria kiranya menyadarkan kita bahwa Ia tidak pernah meninggalkan kita, sebaliknya akan mengunjungi kita juga jika kita memiliki relasi yang dekat denganNya atau menjadi satu keluarga dengan Yesus sendiri. Dalam kisah di atas, Yesus datang dan hadir di tengah keluarga untuk membangkitkan dan menghidupkan. Selain untuk membangkitkan Lazarus yang meninggal, maksud kedatangan Yesus adalah untuk menghidupkan dan menggembirakan kembali keluarga Betania yang sedang terlilit oleh kesedihan. Tidak mudah bagi keluarga yang mengalami bencana dan kesedihan untuk bangkit kembali. Dalam kondisi seperti ini, mengandalkan daya kekuatan sendiri untuk bangkit adalah hal yang sungguh sulit. Para motivator memang selalu menekankan pentingnya bangkit lagi dengan memberdayakan kekuatan dalam diri sendiri. Namun, ketika daya dan kekuatan sudah tinggal sisa-sisanya saja, bagaima52

Gagasan Pendukung

na mungkin orang bisa bangkit dengan mengandalkan sisa-sisa kekuatan tersebut? Karena itu, kehadiran Tuhan melalui utusan-Nya, entah orang lain ataupun hal-hal lainnya, menjadi sangat penting, paling tidak untuk memberikan penghiburan dan semangat, sehingga kekuatan untuk bangkit bisa muncul dalam diri. Sekali lagi, dari sini kita dapat menduga bahwa kedatangan Yesus memiliki fungsi membangkitkan, bukan hanya Lazarus, melainkan juga Marta dan Maria berkenaan dengan semangat hidup mereka berdua. Keluarga Betania mengalami sebuah mukjizat yang mustahil: Lazarus dibangkitkan. Ini sesuatu yang mustahil lantaran hanya kuasa Allah saja yang mampu menghidupkan dan mematikan manusia. Di satu sisi, mukjizat ini merupakan maksud kedatangan Yesus di Betania. Namun, di sisi lain, mukjizat ini menunjukkan bahwa kasih Yesus terhadap keluarga tersebut mampu mengalahkan kematian. Selain itu, dengan mukjizat ini, keluarga Betania dan para tetangga diharapkan semakin percaya kepada Yesus dan semakin mengenal secara mendalam siapa Yesus sesungguhnya. Yesus adalah Dia yang diutus Allah Bapa. Peristiwa kebangkitan Lazarus ini menampilkan juga kemuliaan Allah Bapa. Pada saat yang sama, Yesus sebagai Anak dan utusan-Nya juga dimuliakan. Mukjizat ini menjadi kesempatan bagi para murid, orang-orang Yahudi, Marta, dan Maria untuk semakin percaya dan beriman bahwa Allah dikenal dengan perkataan dan perbuatan Yesus. Singkatnya, kasih Yesus kepada keluarga Betania dan relasi dekat yang dibangun di antara mereka merupakan dasar penting untuk lahirnya mukjizat yang luar biasa (kebangkitan Lazarus). Semua ini terjadi agar keluarga Betania, yang sempat meredup karena dililit kesedihan, bangkit dan hidup kembali. Lebih dari itu, peristiwa mukjizat ini semakin menambah dan menguatkan kepercayaan kepada Yesus. V Pertanyaan Refleksi 1. Apakah aku dan/atau keluargaku pernah mengalami perasaan “mati” atau “kehilangan” dalam hidup ini? 2. Sejauh mana aku menyadari kehadiran Tuhan dalam peristiwa sedih dan getir? Apakah aku masih memiliki iman bahwa Tuhan akan datang mengunjungiku?

Pertemuan Kedua

53

3. Pernahkah aku dan/atau keluargaku mengalami mukjizat yang luar biasa dan tidak masuk akal dalam hidup? Bagaimana reaksi dan sikapku ketika mengalami hal itu? Apakah semuanya itu semakin menambah dan menguatkan imanku kepada Tuhan? Ataukah aku menganggapnya sebagai kebetulan belaka? 4. Bagaimana aku mengimani Yesus sebagai kebangkitan dan hidup? 5. Jika ada sahabat atau tetanggaku yang mengalami peristiwa kematian atau kehilangan, sudahkah aku bersikap seperti Yesus, yaitu datang dan hadir untuk memberikan penghiburan dan semangat hidup?

54

Gagasan Pendukung

Pertemuan Ketiga YESUS, SAHABAT BAGI MEREKA YANG MENDERITA (Luk. 10:25-37) “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Luk. 10:27) I Pendahuluan Pandemi Covid-19 telah menempatkan kita dalam pusaran krisis yang tak kunjung henti. Gagap, bingung, dan tidak tahu mesti berbuat apa adalah reaksi yang umum dijumpai. Kebiasaan dan gaya hidup sebelum pandemi, yang membuat kita merasa senang dan nyaman, tiba-tiba harus berhenti seketika. Relasi dengan orang lain yang penuh kehangatan karena dapat bertemu dan bertatap muka satu sama lain menjadi sangat terbatas, sebab pandemi memaksa kita untuk menjaga jarak. Intinya, kita merasa terasing dengan orang lain dan bahkan terasing dengan diri sendiri. Selain krisis keterasingan, kita juga dihadapkan pada krisis kemiskinan. Pandemi telah memiskinkan kita dalam banyak hal, terutama di bidang ekonomi. Pandemi telah memaksa sejumlah perusahaan gulung tikar. Daya beli masyarakat dan tingkat konsumsi yang menurun membuat angka produksi terpaksa dikurangi. Akibatnya, banyak pekerja dirumahkan atau bahkan di-PHK untuk mengurangi ongkos produksi dan terhindar dari kebangkrutan. Mereka yang di-PHK pun kebingungan karena sulit mendapat pekerjaan lagi. Pandemi telah merampok hidup mereka habis-habisan. Dengan bahasa yang sedikit hiperbola, mereka sedang “sekarat” dalam hidupnya. Dalam situasi krisis yang berat ini, tidak mungkin orang menghadapi persoalan hidup sendirian saja. Meskipun persoalan hidup setiap orang berbeda-beda tingkatannya, toh masing-masing harus tetap memikul beban masalah itu. Karenanya, sikap belas kasihan dan tindakan menolong satu sama lain sangat diperlukan. Jika hanya memikirkan kepentingan masing-masing, jalan keluar dari krisis ini akan menjadi lebih sulit. Karena semua bergelut dengan persoalan yang hampir sama, orang tidak perlu menyeleksi atau mengotak-ngotakkan siapa yang harus ditolong. Semua orang harus menolong dan ditolong. Perbedaan status so55

sial, ekonomi, atau suku bangsa hendaknya tidak menjadi penghambat untuk melahirkan tindakan kasih, sebab semua orang dan kita sendiri adalah sesama bagi yang lain. Menanggapi situasi aktual di atas, pertemuan ketiga BKSN 2021 mengajak kita untuk mendalami, merenungkan, dan mencari pesan dari perikop Injil Lukas, yaitu perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati (Luk. 10:25-37). Perumpamaan ini sangat terkenal dan disukai oleh orang tua maupun muda. Telah terbukti bahwa perumpamaan ini menjadi salah satu inspirasi khotbah dan renungan paling populer sepanjang tahun. Jika dicari dalam Google, akan ditemukan banyak renungan maupun tafsiran dalam berbagai versi tentang perumpamaan ini. Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati dapat berbicara tentang bahaya orang yang mengagungkan kesucian ritual, tentang keamanan diri, atau tentang perawatan orang sakit. Namun, dalam konteks situasi krisis karena pandemi, perumpamaan ini sangat relevan karena mengajak orang berpikir bagaimana harus bersikap dan bertindak terhadap sesama yang menderita. Perumpamaan ini menantang kita akan banyak hal, misalnya pentingnya mentalitas inklusif dan menerima orang lain sebagai sesama kita, juga cara orang bereaksi secara positif terhadap sesama yang hampir mati karena penganiayaan atau penolakan dari masyarakat. Selain menyinggung fakta mengerikan tentang tindak kekerasan yang setiap hari dapat terjadi di depan mata kita, perumpamaan ini juga mengingatkan bahwa banyak orang menderita karena sikap tidak peduli atau masa bodoh orang lain. Ini adalah salah satu bentuk kekejaman di dunia sekarang ini. Menimbang situasi sekarang, di satu pihak, kita adalah korban yang menderita karena kekejaman Covid-19 dan korban dari orang yang tidak peduli atau masa bodoh dengan penderitaan kita; di lain pihak, kita juga bisa saja sedang berada dalam posisi tidak mau peduli dengan penderitaan orang lain, bahkan mereka yang tinggal dekat dengan kita. Luk. 10:25-37 mencerminkan salah satu gagasan teologis Injil Lukas, yaitu perhatian dan pelayanan terhadap mereka yang tersingkir, tertindas, dan tidak beruntung dalam masyarakat. Di awal tugas pengutusan-Nya, Yesus menekankan secara khusus bahwa kabar baik yang Ia sampaikan akan menjadi pesan harapan bagi semua orang (Luk. 2:32; bdk. 24:47). Dalam paradigma yang inklusif, mereka yang dipandang rendah atau bahkan tidak dipandang sama sekali akan menerima perhatian khusus dari Allah. Ini terlihat, misalnya, dalam sikap Yesus menentang 56

Gagasan Pendukung

prasangka buruk terhadap orang Samaria (Luk. 9:51-56; 10:29-37; 17:1119) dan pemungut cukai (Luk. 15:1-2; 18:9-14; 19:1-10). Selain itu, penginjil Lukas juga memberikan tempat penting bagi kaum perempuan yang umumnya dipandang sebagai warga kelas dua dalam masyarakat patriarkat seperti masyarakat Yahudi pada zaman Yesus. Sejumlah kisah melibatkan tokoh perempuan (Luk. 1:26-66; 2:36-38; 7:11-17, 36-50; 8:1-3, 42-48; 10:3842; 11:27-28; 21:1-4; 23:27-31; 23:55 – 24:11). Beberapa perempuan bahkan dikaitkan dengan sabda Allah. Maria, ibu Yesus, dipuji tiga kali karena kesetiaannya terhadap sabda Allah (Luk. 1:45; 8:21; 11:27-28). Sama halnya dengan itu, Maria, saudari Marta, dibenarkan dan dipuji Yesus karena keputusannya untuk mendengarkan perkataan-perkataan-Nya (Luk. 10:39-42). Injil Lukas juga menyoroti orang miskin secara khusus. Di sini, orang miskin mengacu terutama pada mereka yang berkekurangan secara ekonomi (meskipun arti miskin ini juga dapat dilihat dari perspektif lain, seperti kurang dihargai dan dihormati karena status sosial yang rendah). Dalam khotbah di awal tugas pelayanan-Nya, Yesus mengatakan bahwa salah satu tujuan pengutusan-Nya adalah “untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin” dan “untuk membebaskan orang-orang yang tertindas” (Luk. 4:18-19). Orang miskin dan tertindas adalah satu dan sama, sebab dalam Injil ini, kemiskinan dilihat sebagai dampak dari ketidakadilan dan akibat dari penindasan. Orang miskin memiliki sangat sedikit karena orang lain memiliki terlalu banyak. Karena itu, tidak mengherankan jika Injil Lukas kerap mengedepankan bahaya kekayaan. Dalam beberapa perumpamaan, misalnya, Yesus menggambarkan orang kaya sebagai orang bodoh yang berpikir bahwa hakikat hidup dapat ditemukan dalam harta kekayaan (Luk. 12:16-21), atau lebih buruk lagi, sebagai orang yang ditakdirkan untuk menderita secara kekal, sementara orang miskin memperoleh penghiburan (Luk. 16:19-31). Dalam hidup ini, mereka yang setia kepada Allah akan melepaskan diri mereka dari harta milik (Luk. 12:33; 14:33; 18:22) dan akan menjadi murah hati untuk membantu orang miskin (Luk. 3:11; 14:13; 18:22; 19:8). Di kehidupan yang akan datang, orang miskin adalah mereka yang akan menerima berkat (Luk. 6:20; 14:21; 16:22). Singkatnya, pembacaan dan pendalaman akan perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati sebaiknya perlu ditempatkan dalam teologi Injil Lukas: Allah selalu memperhatikan dan menolong orang yang menderita, serta akan mengangkatnya dari penderitaan tersebut. Pertemuan Ketiga

57

II Teks Lukas 10:25-37 25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 26 Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” 27 Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” 28 Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” 29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” 30 Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. 35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. 36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” 37 Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

III Penafsiran Konteks Perikop Luk. 10:25-31 merupakan dialog antara Yesus dan seorang 58

Gagasan Pendukung

ahli Taurat. Dialog ini berlangsung setelah ketujuh puluh murid-Nya menyelesaikan tugas pengutusan mereka (Luk. 10:17-20) dan Yesus mengucap syukur atas keberhasilan tersebut (Luk. 10:21-24). Selain itu, kemunculan tokoh ahli Taurat dalam perikop ini juga tidak dapat dipisahkan dari kata-kata Yesus dalam ucapan syukurnya, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu” (Luk. 10:21). Dengan mengisahkan dialog antara Yesus dan ahli Taurat, penginjil Lukas tampaknya ingin memperlihatkan bagaimana orang bijak dan pandai seperti ahli Taurat ternyata masih belum mengetahui sepenuhnya tentang misteri Kerajaan Allah. Dialog antara Yesus dan ahli Taurat ini terkesan dilakukan secara pribadi. Ahli Taurat tersebut mengajak Yesus yang masih dikelilingi oleh para murid-Nya untuk berdiskusi tentang topik yang berkaitan dengan Taurat. Di balik ajakan untuk berdiskusi ini, ia sebenarnya ingin mengecek sekaligus menguji sejauh mana reputasi Yesus sebagai seorang guru. Luk. 10:25-31 dapat dibagi dalam dua bagian utama. Setiap bagian diawali dengan sebuah pertanyaan. Bagian pertama merupakan jawaban atas pertanyaan, “Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (ay. 25-28). Sementara itu, bagian kedua berhubungan dengan pertanyaan, “Siapakah sesamaku manusia?” dan jawaban atas pertanyaan itu yang berupa perumpamaan (ay. 29-37). Jika tokoh di bagian pertama hanyalah Yesus dan ahli Taurat, tokoh di bagian kedua meliputi orang yang dirampok, staf Bait Allah (imam dan orang Lewi), dan orang Samaria. Bagian pertama perikop ini dapat dikategorikan sebagai pengajaran. Dalam diskusi ini, Yesus menggunakan cara yang umum disebut sebagai metode atau teknik Sokratik. Dia menanggapi dua pertanyaan dari ahli Taurat itu tidak dengan jawaban, tetapi dengan pertanyaan (Luk. 10:26, 36). Yesus hanya memberikan jawaban ketika menanggapi jawaban yang ditemukan oleh ahli Taurat itu sendiri (Luk. 10:28, 37). Dengan demikian, Yesus mengajak ahli Taurat tesebut untuk berpartisipasi aktif dalam menggali dan menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Sementara itu, jawaban atas pertanyaan kedua, “Siapakah sesamaku manusia?” tidak berasal dari Kitab Suci, tetapi merupakan perumpaman dari Yesus sendiri, yang sering dianggap sebagai inti perikop ini. Pertemuan Ketiga

59

Perumpamaan adalah cara atau metode yang sering dipakai Yesus dalam mengajar tentang Allah dan manusia. Ada sekitar empat puluh perumpamaan dalam keempat Injil, dan hampir sepertiga pengajaran Yesus dalam Injil Lukas berbentuk perumpamaan atau cerita. Perumpamaan menjadi salah satu metode terbaik dalam pengajaran Yesus karena biasanya berangkat dari kenyataan hidup sehari-hari, sehingga mudah menyentuh pengalaman hidup pendengar. Terkadang perumpamaan itu penuh misteri: Ada simbol, paradoks, ironi yang menggelitik rasa ingin tahu seseorang. Tidak sedikit pula perumpamaan yang disampaikan Yesus berakhir tanpa kesimpulan (open-ending), sehingga memaksa orang untuk berpikir dan merenungkannya kembali. Unsur-unsur perumpamaan tersebut dapat dijumpai dalam perikop ini. Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati hanya terdapat dalam Injil Lukas. Ini adalah satu dari delapan (atau enam) perumpamaan khas Lukas yang tidak ditemukan dalam Injil-injil lainnya. Sebagian besar dari perumpamaan-perumpamaan itu sangat khas Lukas karena berkaitan dengan kekayaan dan harta milik. Jauh dari upaya menyampaikan ajaran moral atau “kebenaran surgawi”, perumpamaanperumpamaan Yesus cenderung mengganggu dan membingungkan pola pikir pembaca (atau pendengar). Penyebabnya, terkadang ide atau gagasan di balik perumpamaan-perumpamaan itu menyerang dan bahkan membongkar pandangan konvensional. Inilah yang juga terjadi dalam perumpamaan tentang orang Samaria ini. Intinya, perikop ini merupakan contoh yang bagus bagaimana Yesus mengombinasikan cara pengajaran-Nya, yaitu dengan diskusi, dialog, dan cerita. Dia mengajar dengan berdialog dan menuntun orang untuk menemukan jawabannya sendiri. Perumpamaan adalah metode paling efektif untuk mengajak orang berpikir. Membaca secara mendalam Hidup kekal Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik (atau murah) hati sekali lagi perlu ditempatkan dalam konteks diskusi atau debat antara Yesus dan seorang ahli Taurat. Ahli Taurat adalah mereka yang sangat kompeten dan memiliki pengetahuan luas tentang Kitab Suci, khususnya Taurat (lima kitab pertama dalam Alkitab). Dengan menyapa Yesus “guru”, ia terkesan menghormati dan menghargai posisi Yesus sebagai rabi Yahudi yang ternama. Pada zaman Yesus, orang-orang yang sedang 60

Gagasan Pendukung

belajar Taurat umumnya akan duduk dan mendengarkan guru mereka. Namun, meskipun menyebut Yesus “guru”, ahli Taurat ini tampaknya tidak memosisikan diri sebagai murid yang ingin mendapat pengetahuan, sebaliknya sebagai orang terpelajar yang ingin menantang Yesus berdebat. Ini ditunjukkan dengan pemakaian kata “mencobai”, tampak pula dari isi pertanyaan yang diajukan. Intensi ahli Taurat untuk mencobai Yesus tidak mengherankan. Dalam sejumlah kisah di Injil, sebagian besar ahli Taurat yang muncul di sekitar Yesus memang bertujuan untuk mengecek dan memonitor sejauh mana Yesus masih setia menjalankan ketetapan dan hukum Taurat. Ahli Taurat dalam perikop ini hanya sekadar ingin tahu sejauh mana kemampuan Yesus mengenai Taurat atau, yang lebih buruk, ia ingin menguji Yesus dengan harapan akhirnya dapat mengatakan kepada-Nya, “Ajaran-Mu tidak sesuai dengan hukum Taurat.” Tema diskusi antara Yesus dan ahli Taurat ini adalah tentang hidup kekal, “Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (ay. 25; bdk. Luk. 18:18; Mat. 19:16). Tema ini sebenarnya sudah menjadi tema umum yang kerap menjadi bahan diskusi atau debat di kalangan para rabi Yahudi pada zaman Yesus. Agak sulit untuk menafsirkan apa yang dimaksud dengan istilah “hidup yang kekal” di sini. Sebagian ahli Kitab Suci mengaitkan istilah ini dengan pandangan keselamatan. Dari perspektif ini, pertanyaan itu lantas dapat dibahasakan dengan cara lain, “Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh keselamatan?” Di kalangan masyarakat Israel kuno, pada mulanya keselamatan dipahami sebagai kondisi hidup yang tenang dan damai di tanah yang diberikan Tuhan kepada mereka (Im. 18:5; Ul. 4:1, 40; 8:1; 16:20; 30:6, 16-20). Akan tetapi, pada perkembangan selanjutnya, keselamatan juga mengacu pada “kehidupan yang akan datang” (setelah kematian). Teks-teks seperti Daniel 12:2 dan sejumlah kitab apokaliptik Yahudi cukup menegaskan pandangan tersebut. Lantas, apakah istilah “hidup yang kekal” di sini mengacu pada kehidupan sekarang atau di masa depan? Ada kemungkinan dua-duanya, sebab keduanya mengacu pada satu hal, yaitu hidup (atau keselamatan). Yesus tidak menjawab pertanyaan tersebut. Sebaliknya, Dia justru bertanya balik, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” (ay. 26). Ini adalah gaya seorang rabi ketika mengajar muridnya. Rabi sering menjawab pertanyaan dengan pertanyaan balik. “Apa yang kaubaca di sana?” adalah pertanyaan standar dalam sekolah Pertemuan Ketiga

61

para rabi. Dengan mengarahkan ahli Taurat itu kepada (hukum) Taurat, Yesus menunjukkan bahwa kunci untuk mewarisi kehidupan kekal (atau memperoleh keselamatan) ditemukan dalam perintah Taurat. Ahli Taurat itu menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (ay. 27). Jawaban ahli Taurat ini mengacu pada apa yang disebut Shema Yisrael (Ul. 6:4-5) dan hukum kekudusan (Im. 19:18). Dalam Injil Matius (Mat. 22:34-40) dan Markus (Mrk. 22:34-40), kedua teks Perjanjian Lama tersebut menjadi jawaban atas pertanyaan, “Hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Mari kita lihat bersama apa maksud dari kedua hukum itu. Shema Yisrael Perintah “kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu” adalah bagian dari Shema Yisrael yang tertulis dalam Ul. 6:4-9. Shema Yisrael (artinya: “Dengarlah, hai Israel”) merupakan syahadat iman atau credo-nya bangsa Israel (atau Yahudi). Dalam perikop yang sama, tercatat pula bagaimana orang Israel harus mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” Bagian pertama Shema Yisrael adalah pernyataan iman paling esensial dalam iman Yahudi, “TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” Menyatakan keesaan Allah tidaklah cukup; bangsa Israel harus mengasihi Dia. Mengetahui secara intelektual sama sekali tidak menambah kualitas iman. Orang harus memiliki relasi dengan Tuhan secara tepat supaya imannya sungguh-sungguh berarti dan bernilai. Caranya, kasihilah Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan. Dengan kata lain, 62

Gagasan Pendukung

orang Israel harus mengasihi Tuhan secara total sepanjang hidup. Itu juga belum cukup. Orang Israel juga harus mengajarkan syahadat yang terdiri dari dua kalimat pendek ini kepada anak-anak mereka, mengucapkannya pada saat bangun dan hendak tidur, dan mengikatnya sebagai tanda di tubuhnya. Menurut keyakinan mereka, itulah salah satu cara untuk menjamin kehidupan (atau keselamatan) dalam bentuk panen yang berlimpah, makanan yang berlimpah, dan tersedianya rumput untuk ternak. Karena itu, tidak salah jika ahli Taurat tersebut berkata kepada Yesus bahwa kehidupan kekal diperoleh jika orang mengasihi Tuhan Allahnya. Sebagai informasi, sampai sekarang Shema Yisrael (disingkat: Shema) menjadi pusat kehidupan dan peribadatan orang Yahudi, entah di rumah atau di tempat peribadatan (sinagoga). Shema diucapkan pada pagi hari dan sore hari. Dalam liturgi Yahudi, Shema diucapkan dalam doa terakhir pada hari Yom Kippur (Hari Pendamaian), hari paling kudus dalam setahun. Mereka percaya, jika mengucapkan Shema pada hari Yom Kippur, mereka akan sampai pada tingkatan malaikat. Selain itu, secara tradisional, Shema harus diucapkan menjelang kematian seseorang atau menjadi kata terakhir yang terucap sebelum kematiannya. Orang Yahudi biasanya mengucapkan Shema dengan tangan di depan mata. Kasihilah sesamamu Perintah “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” dapat ditemukan dalam Im. 19:18. Dalam Perjanjian Baru, selain dalam Injil Lukas, perintah untuk mencintai sesama dapat ditemukan dalam Mrk. 12:31; Mat. 22:39; Rm. 13:9; Gal 5:14; Yak. 2:8; Yoh. 15:12. Im. 19:18 merupakan perintah yang dimasukkan dalam sebuah koleksi hukum, yang disebut dengan kumpulan hukum kekudusan (Im. 17 – 26). Secara lebih khusus, perintah ini adalah bagian dari kumpulan perintah dalam Im. 19:15-18. “Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran. Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah TUHAN. Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegur orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. Janganlah engkau Pertemuan Ketiga

63

menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.” Tujuan utama hukum ini adalah agar semua orang Israel menjadi kudus. Ini terlihat dengan jelas dari perkataan Tuhan di awal koleksi hukum ini, “Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus” (Im. 19:2). Arti harfiah dari kata “kudus” (Ibrani: qadosh) adalah “terpisah” atau “berbeda dari yang lain”. Dengan adanya hukum ini, Israel diharapkan menjadi bangsa yang berbeda dari bangsa lainnya, sebab mereka mempraktikkan hidup moral dan sosial dalam relasi satu dengan yang lain secara tepat, benar, dan bermartabat. Inilah tanda nyata bahwa mereka adalah umat Allah yang kudus. Kata Ibrani yang diterjemahkan dengan “sesama” adalah re‘a. Kata ini berarti “orang yang memiliki hubungan dengan”, dan ini mengacu pada sesama teman, rekan, dan saudara. Sementara itu, kata Yunani untuk “sesama” adalah plesion, yang berarti “seorang yang dekat”. Dengan demikian, istilah sesama mengacu pada orang yang dikenal dan memiliki hubungan. Kalau begitu, siapa yang dimaksud dengan sesama dalam teks Im. 19:18 ini? Jika melihat konteks kumpulan hukum itu, kata “sesama” dalam Im. 19:18 pertama-tama hanya mengacu pada sesama orang Israel. Ini perintah agar setiap orang Israel memperlakukan sesama orang Israel dengan benar dan manusiawi. Akan tetapi, jika dilihat dalam konteks yang lebih luas, dalam arti dihubungkan dengan hukum lainnya dalam kitab yang sama, perintah untuk mengasihi sesama ini dapat dimengerti pula sebagai perintah untuk mengasihi orang asing. Lantas, apa artinya “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”? Tidak sedikit yang menafsirkan teks ini dengan menambahkan kata “mengasihi” dalam frasa “seperti dirimu sendiri”, sehingga berbunyi “kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri”. Sering kali juga perspektif psikologis dipakai untuk menafsirkan teks ini, sehingga muncul penafsiran bahwa sebelum mengasihi sesama manusia, orang harus mengasihi dirinya sendiri. Tafsiran semacam ini, meskipun tidak seratus persen salah, tidak sepenuhnya tepat jika melihat konteks perintah tersebut. Jika diperhatikan dalam teks Im. 19:15-18, setiap ayat selalu berakhir dengan kata yang mengacu pada orang Israel, yaitu “orang sesa64

Gagasan Pendukung

mamu”, “orang-orang sebangsamu”, dan “saudaramu”. Jika demikian, kata terakhir “seperti dirimu sendiri” kiranya terkait dengan kata “sesama” juga. Jadi, ay. 18 seharusnya berarti, “Engkau harus mengasihi sesamamu manusia yang seperti kamu, yaitu orang-orang sebangsamu juga,” atau dengan ungkapan lain, “Kasihilah sesamamu manusia seperti engkau adalah sesama bagi yang lain.” Berkaitan dengan perintah ini, penginjil Matius menggunakan ungkapan lain, yang dikenal dengan istilah hukum emas (golden rule), “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat. 7:12). Demikian pula dalam teks rabinik, “Apa yang kamu benci jangan kamu lakukan kepada orang lain” (b. Shabbat 31a). Akan tetapi, dalam teks lain juga disebutkan perintah untuk mengasihi orang asing “seperti dirimu sendiri”. Teks Im. 19:34 berbunyi, “Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.” Perintah ini sangat mirip dengan Im. 19:19 dan merupakan bagian dari hukum yang berbicara tentang orang asing, orang bukan Israel, yang tinggal di tengah-tengah bangsa Israel. Sebagaimana sesama orang Israel harus dicintai, demikian pula orang asing pun harus dicintai. Selain kitab Imamat, sejumlah teks dari kitab lain juga memperlihatkan perintah untuk memperlakukan orang asing sebagai sesama orang Israel. Kitab Bilangan mencatat kesetaraan orang Israel dan orang asing di hadapan hukum, “Mengenai jemaah itu, haruslah ada satu ketetapan bagi kamu dan bagi orang asing yang tinggal padamu; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu turun-temurun: kamu dan orang asing haruslah sama di hadapan TUHAN. Satu hukum dan satu peraturan berlaku bagi kamu dan bagi orang asing yang tinggal padamu” (Bil. 15:15-16). Hal yang sama juga dicatat dalam kitab Ulangan, “Dan pada waktu itu aku memerintahkan kepada para hakimmu, demikian: Berilah perhatian kepada perkara-perkara di antara saudara-saudaramu dan berilah keputusan yang adil di dalam perkara-perkara antara seseorang dengan saudaranya atau dengan orang asing yang ada padanya” (Ul. 1:16). Alasan mendasar mengapa orang Israel harus mengasihi orang asing adalah karena sebelumnya mereka adalah orang asing juga. Sejumlah teks dalam Taurat menunjukkan demikian. “Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir” (Kel. 22:21). “Orang asing janganlah kamu tekan, Pertemuan Ketiga

65

karena kamu sendiri telah mengenal keadaan jiwa orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir” (Kel. 23:9). “Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia. Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu” (Im. 19:33-34). Mengapa orang Israel harus bersikap baik terhadap orang asing? Sebab, mereka tahu bagaimana rasanya menjadi orang asing. Karena itu, mengasihi mereka adalah sebuah kewajiban. Adalah pelanggaran terhadap Allah dan diri sendiri ketika mereka menganiaya, menindas, dan menghakimi secara tidak adil terhadap orang asing. Memperlakukan orang asing sebagaimana memperlakukan diri sendiri adalah ungkapan kasih kepada mereka. Akan tetapi, perintah untuk mengasihi orang asing menjadi ambigu ketika diterapkan pada zaman Yesus, yaitu pada abad pertama Masehi. Penyebabnya, orang asing pada zaman itu cukup beragam, termasuk orang Romawi yang menjajah mereka dan kelompok lain – seperti orang Samaria – yang membenci dan dibenci oleh orang Yahudi. Fakta inilah yang kemudian memunculkan penafsiran yang berbeda-beda tentang bagaimana harus mengasihi orang asing. Itulah sebabnya, ahli Taurat dalam perikop ini nantinya bertanya, “Siapakah sesamaku manusia?” Siapakah sesamaku manusia? Jawaban yang diberikan oleh ahli Taurat itu kepada Yesus sepenuhnya benar, sehingga Yesus berkata, “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup” (ay. 28). Jadi, atas pertanyaan ahli Taurat tentang bagaimana memperoleh hidup kekal, hukum Taurat mengajarkan, “Kasihilah Allahmu dengan segenap hatimu, jiwamu, akal budimu, dan kekuatanmu, dan kasihilah sesamu manusia seperti dirimu sendiri dan lakukanlah itu setiap hari.” Tanggapan Yesus, “Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup,” adalah sebuah kutipan dari Kitab Suci juga. Im. 18:5 mengatakan, “Sesungguhnya kamu harus berpegang pada ketetapan-Ku dan peraturan-Ku. Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya; Akulah TUHAN.” Pada titik inilah ahli Taurat itu merasa tidak nyaman, sebab Yesus tidak mengatakan kepadanya sesuatu yang baru. Semuanya sudah tertulis dalam Kitab Suci. Yesus hanya meminta agar orang itu memahami Kitab Suci, dan ia sudah memahaminya dengan baik. Tidak ada yang per66

Gagasan Pendukung

lu didiskusikan lagi. Jika orang ingin diselamatkan, ia harus menjalankan hukum tersebut sepanjang waktu. Merasa kurang puas dengan jawaban Yesus, ahli Taurat itu kemudian bertanya, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Yesus tidak menjawab dengan definisi yang tegas dan jelas. Sebaliknya, Dia menjawabnya dengan menceritakan sebuah perumpamaan. Perumpamaan ini menunjukkan bagaimana jawaban harus muncul dari hati, alih-alih dari kepala. Berdasarkan rumusan tradisional, jawaban atas pertanyaan “siapakah sesamaku manusia?” seharusnya adalah “salah satu dari orang Yahudi”. Namun, Yesus menceritakan perumpamaan supaya ahli Taurat itu menemukan jawaban baru darinya. Seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho Yesus mengawali perumpamaan-Nya dengan berkata, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati” (ay. 30). Orang yang berjalan dari Yerusalem ke Yerikho kemungkinan besar adalah pedagang. Tidak dijelaskan apakah ia orang Yahudi atau bukan. Dua kota penting disebutkan di sini. Yerusalem, yang berarti “kota damai”, adalah pusat pemerintahan dan keagamaan orang Yahudi pada waktu itu. Sementara itu, Yerikho memiliki nilai sejarah penting karena kota ini adalah kota pertama Kanaan yang ditaklukkan oleh Yosua dan bangsa Israel sebelum memasuki Tanah Terjanji (Yos. 6). Secara geografis, letak Yeriko lebih rendah daripada Yerusalem. Karena itu, kata kerja “turun” dipakai di sini. Jalan yang membentang di antara kedua tempat itu merupakan area favorit bagi para perampok untuk melancarkan aksi mereka, yaitu merampas atau merampok orang yang berjalan sendirian. Dalam perumpamaan ini diceritakan bahwa para perampok mengambil semua yang dimiliki orang itu, termasuk juga pakaian yang dikenakannya (“merampoknya habis-habisan”). Lebih tragis lagi, ia dipukul dan ditinggalkan dalam keadaan sekarat. Dengan kata lain, tidak lama lagi, orang ini pasti akan mati. Tidak peduli apakah orang ini Yahudi atau bukan, yang jelas ia adalah manusia yang sedang berbaring sekarat di tepi jalan, terluka parah dan membutuhkan pertolongan. Dalam situasi itu, Yesus kemudian menceritakan ada tiga orang dari ras dan status sosial yang berbeda, yang kebetulan melewati orang Pertemuan Ketiga

67

yang sekarat ini. Bagaimana reaksi ketiganya? Seorang imam “Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan” (ay. 31). Tokoh pertama adalah seorang imam. Imam termasuk kelompok elite dalam masyarakat Yahudi pada waktu itu. Sejumlah keluarga imam yang kaya tinggal di Yerikho. Tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang imam ini, hanya diceritakan bagaimana reaksinya terhadap orang yang sekarat itu. Ia tidak memperlihatkan belas kasihan dan inisiatif untuk menolong. Si imam tidak mau bersentuhan dengan orang itu dan berusaha menghindar. Ia melihat dengan jelas penderitaan orang itu, tetapi enggan untuk mengecek apakah yang bersangkutan masih hidup atau sudah mati. Ia juga tidak bertanya apakah orang itu membutuhkan pertolongannya. Bagi imam ini, ketidakpedulian atau masa bodoh adalah sebuah kebahagiaan. Jika ada orang yang mengetahui dengan baik kasih Allah dalam Taurat, pasti yang dimaksud adalah seorang imam. Dengan kualifikasinya, seorang imam seharusnya adalah pribadi yang penuh belas kasihan dan selalu bersedia untuk menolong sesama. Ironisnya, imam dalam perumpamaan ini sangat jauh dari yang seharusnya. “Kasih” tampaknya bukan kosa kata yang penting baginya. Mengapa imam itu menghindari orang yang hampir mati tersebut? Banyak yang menafsirkan bahwa alasan imam itu adalah karena hukum kemurnian. Imam harus bersih dari sesuatu yang menajiskan. Ia enggan menyentuh orang yang dirampok itu karena sebentar lagi akan menjadi mayat. Penafsiran lainnya, si imam tidak mau bersentuhan dengan darah, sebab akan menajiskannya. Akan tetapi, menurut sejumlah ahli Kitab Suci, alasan-alasan tersebut kurang mendasar dan agak meragukan. Pertama, jika ia pulang (“turun”) dari Yerusalem, ini menunjukkan bahwa ia telah menyelesaikan kewajibannya di Bait Allah di Yerusalem. Karena itu, aturan yang berkaitan dengan ketahiran dan kenajisan tidak relevan lagi. Hukum tersebut relevan jika berkaitan dengan tugas pelayanan di Bait Allah. Kedua, dalam tradisi Yahudi, imam memiliki kewajiban untuk menguburkan mayat yang telantar. Dalam kasus orang yang dirampok ini, faktanya, orang itu belum sungguh-sungguh mati. Jadi, intinya adalah imam itu tidak mau tahu dengan penderitaan orang lain. 68

Gagasan Pendukung

Seorang Lewi “Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan” (ay. 32). Tokoh kedua adalah seorang Lewi. Apa yang ia lakukan tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan si imam sebelumnya. Ia melihat orang yang menderita itu, tetapi tidak melakukan apa-apa, kecuali hanya melewatinya di sisi yang lain. Seperti si imam, orang Lewi ini pasti mengetahui ajaran kasih dalam hukum Taurat, tetapi ia tidak menerapkannya dalam kondisi yang menuntut kasih itu dipraktikkan. Alasan bahwa ia tidak ingin dirinya menjadi najis karena menyentuh orang yang berdarah dan sekarat bisa saja dikemukakan. Akan tetapi, seperti imam sebelumnya, tidak ada alasan mendasar mengapa ia harus menghindar dari orang itu. Intinya tetap sama: Orang Lewi ini tidak mau tahu alias masa bodoh dengan penderitaan orang lain. Seorang Samaria “Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan” (ay. 33). Tokoh ketiga adalah orang Samaria. Ketika seorang Samaria masuk ke wilayah orang Yahudi, itu berarti ia sedang berada di wilayah musuh. Ia sebenarnya sedang mengambil risiko berhadapan dengan kebencian dan permusuhan. Inilah sebenarnya posisi orang Samaria tersebut. Mengenai identitas orang Samaria ini, tidak ada penjelasan lebih lanjut. Namun, banyak yang menduga, orang Samaria dalam perumpamaan ini adalah seorang pedagang yang sedang melakukan perjalanan untuk kepentingan bisnis. Reaksi orang Samaria ini sangat kontras dengan dua orang sebelumnya. Diceritakan, setelah seorang imam dan orang Lewi lewat di situ dan tidak menunjukkan reaksi positif terhadap orang yang dirampok dan tergeletak hampir mati, seorang Samaria yang sedang dalam perjalanan kebetulan juga melewati tempat itu. Kehadiran orang Samaria sebagai pahlawan tentu saja sangat mengagetkan orang Yahudi yang sedang mendengarkan perumpamaan ini. Mengapa? Orang Yahudi membenci orang Samaria. Ini adalah fakta yang terjadi pada zaman Yesus. Bagi orang Yahudi, orang Samaria adalah bangsa campuran secara fisik maupun spiritual. Mereka dianggap sebagai separuh Yahudi dan separuh bangsa asing. Stereotip ini muncul Pertemuan Ketiga

69

karena sebuah peristiwa sejarah. Ketika bangsa Asyur menaklukkan kerajaan Israel (Utara) pada tahun 722 SM, mereka mengangkut sebagian penduduknya ke tempat pembuangan dan memasukkan bangsa-bangsa asing ke Samaria dan sekitarnya. Akibatnya, terjadilah perkawinan campur di antara mereka. Mereka dianggap pengikut Tuhan yang “setengahsetengah”, sebab leluhur mereka, selain berbakti kepada Tuhan, juga mempraktikkan ibadah di bukit-bukit pengurbanan kepada dewa-dewi Kanaan (lebih jelas tentang asal-usul orang Samaria, lih. 2Raj. 17). Permusuhan antara orang Yahudi dan orang Samaria memuncak dan sulit didamaikan lagi ketika sejumlah orang Yahudi menghancurkan rumah ibadah orang Samaria di Gunung Gerizim pada tahun 128 SM. Karena stereotip tersebut, orang Yahudi tidak mau melewati wilayah Samaria, dan kalau bisa menjauhi wilayah mereka. Mereka tidak hanya dianggap orang tersingkir, tetapi juga musuh orang Yahudi. Dalam kisah pengutusan kedua belas murid menurut Injil Matius, Yesus berpesan kepada mereka, “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria” (Mat. 10:5). Di sisi lain, orang Samaria juga membenci orang Yahudi karena perlakuan yang merendahkan dari pihak orang Yahudi terhadap mereka. Dalam Injil Lukas, misalnya, dikisahkan bagaimana orang Samaria tidak mau menerima Yesus karena hendak pergi ke Yerusalem (Luk. 9:52-53). Dalam perikop tentang percakapan Yesus dengan perempuan Samaria (Yoh. 4) juga terlihat dengan sangat jelas permusuhan antara orang Yahudi dan Samaria (“sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria”, Yoh. 4:9). Itu sebabnya, menampilkan sosok orang Samaria yang kemudian membantu orang Yahudi ibarat memberi tamparan keras bagi orang Yahudi (ahli Taurat) yang sedang mendengarkan perumpamaan ini. Bagaimana mungkin orang yang dibenci sekaligus membenci orang Yahudi tiba-tiba berbalik arah dan membantu musuhnya? Para pendengar berharap bahwa pahlawan yang membantu orang yang hampir mati itu adalah orang Yahudi. Namun, harapan itu gagal karena Yesus justru menampilkan orang yang selama ini mereka benci, yaitu orang Samaria. Amy-Jill Levine mengomentari alasan mengapa Yesus memunculkan sosok orang Samaria sebagai pahlawan dalam perumpamaan ini, “Perumpamaan menawarkan … sebuah visi tentang kehidupan daripada kematian … Perumpamaan ini mengungkapkan kembali kisah 2Taw. 28, yang mengisahkan bagaimana Nabi Obed meyakinkan orang Samaria untuk membantu orang Yehuda yang menjadi tawanan. Ini menunjuk70

Gagasan Pendukung

kan bahwa musuh dapat membuktikan kalau mereka adalah sesama, bahwa belas kasihan tidak memiliki batas-batas, dan bahwa menilai atau menghakimi seseorang berdasarkan agama dan suku akan membuat kita sekarat” (Biblical Archaeology Review 38:1, January/February 2012 “Biblical Views: The Many Faces of the Good Samaritan—Most Wrong”). Belas kasihan Apa yang paling membedakan orang Samaria ini dengan imam dan orang Lewi sebelumnya adalah sikap belas kasihannya. Ia lewat, melihat, dan tergerak oleh belas kasihan. Apa itu belas kasihan? Pada hakikatnya, belas kasihan adalah sebuah kesadaran dan perasaan. Ini adalah kesadaran akan penderitaan orang lain. Kesadaran ini kemudian melahirkan perasaan yang dapat menyatu dengan perasaan orang lain yang sedang menderita. Dalam bahasa Inggris, kata yang dipakai adalah compassion – secara etimologis berasal dari bahasa Latin pati (menderita) dan com (dengan) – yang berarti “menderita bersama”. Namun, lebih dari sekadar sadar dan merasa, mereka yang berbelas kasihan umumnya akan melakukan tindakan untuk menyelamatkan sesamanya yang menderita. Seorang penulis bernama Frederick Buechner melukiskan belas kasihan dengan cara ini, “Belas kasihan adalah kemampuan untuk merasakan apa yang ada di balik kulit orang lain. Ini adalah sebuah pengetahuan bahwa ‘tidak akan ada kedamaian dan sukacita untukku sampai ada kedamaian dan sukacita yang akhirnya datang padamu juga’.” Belas kasihan orang Samaria ini menjadi nyata dalam tindakannya. Ia tidak hanya tergerak oleh belas kasihan; ia melakukan perbuatan belas kasihan. “Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali” (ay. 34-35). Orang Samaria itu tidak pernah berpikir orang di depannya ini musuhnya atau bukan, atau dari bangsa apa. Ia hanya melihat orang tersebut sebagai orang sedang membutuhkan pertolongan. Ia segera mendekati dan melakukan pertolongan pertama. Dibersihkannya lukaluka orang itu dengan minyak (untuk mencuci luka) dan anggur (sering Pertemuan Ketiga

71

dipakai untuk disinfektan). Pada zaman itu, minyak dan anggur adalah barang yang tidak murah. Ia kemudian membalut luka orang itu. Orang Samaria itu tidak lalu meninggalkannya begitu saja. Ia ingin agar orang itu sembuh total. Karena itu, ia menaikkan orang itu ke atas keledai miliknya, lalu membawanya ke tempat penginapan supaya dirawat lebih lanjut. Tindakan ini menunjukkan bahwa orang Samaria itu bukanlah orang yang memikirkan dirinya sendiri. Ia rela berjalan kaki, sementara orang yang sakit berada di atas keledai. Bisa dibayangkan, betapa sulitnya membawa orang yang sakit parah di atas keledai. Diceritakan lebih lanjut, keesokan harinya, orang Samaria itu menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan. Dua dinar berarti upah seorang pekerja selama dua hari. Ia meminta kepada pemilik penginapan supaya merawat orang itu sampai sembuh. Bahkan lebih dari itu, ia akan membayar kekurangan biaya perawatan ketika kembali, mungkin setelah pulang dari berdagang. Di sini terlihat betapa orang Samaria ini murah hati. Terhadap orang asing yang baru dilihat, ia memberikan pertolongan persis seperti kepada sahabat baiknya. Orang Samaria yang menolong orang Yahudi sesungguhnya tidak hanya terjadi dalam perumpamaan Yesus. Dikisahkan dalam 2Taw. 28, ketika terjadi pertempuran antara kerajaan Israel dan kerajaan Yehuda, pasukan Yehuda kalah dan menjadi tawanan pasukan Israel. Namun, seorang nabi bernama Obed memerintahkan agar pasukan Israel membebaskan tawanan itu. Lalu terjadilah, “Orang-orang yang bersenjata itu (orang Israel/Samaria) meninggalkan tawanan (orang Yehuda) dan barang-barang rampasannya di muka para pemimpin dan seluruh jemaah. Dan orang-orang yang ditunjuk dengan disebut namanya bangkit, lalu menjemput para tawanan itu. Semua orang yang telanjang mereka berikan pakaian dari rampasan itu. Orang-orang itu diberi pakaian, kasut, makanan dan minuman. Mereka diurapi dengan minyak dan semua yang terlalu payah untuk berjalan diangkut dengan keledai, dan dibawa ke Yerikho, Kota Pohon Kurma, dekat saudara-saudara mereka. Sesudah itu orang Israel itu pulang ke Samaria” (2Taw. 28:14-15). Singkatnya, perhatian dan perawatan yang diberikan oleh orang Samaria ini tidak hanya sebagai contoh kewajiban moral terhadap orang yang membutuhkan. Lebih dari itu, ini adalah sebuah tindakan yang luar biasa, yang muncul dari belas kasihan. Ketika berhenti di jalan ke Yerikho untuk membantu orang yang tidak dikenal, orang itu menempatkan dirinya dalam bahaya. Bukan tidak mungkin bahwa ia juga akan dirampok. 72

Gagasan Pendukung

Selain itu, ia juga memberikan barang dan uangnya tanpa mengharapkan balasan. Untuk dapat merawat orang itu, ia masuk ke tempat penginapan yang mungkin juga berbahaya bagi dirinya, terlebih karena ia orang Samaria. Ketika ia melakukan perjanjian dengan pemilik penginapan soal biaya perawatan orang itu, bukannya tidak mungkin ada risiko pemerasan atau penipuan dari si pemilik penginapan terhadapnya. Intinya, orang Samaria ini mempertaruhkan banyak hal demi keselamatan orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Pergilah, dan perbuatlah demikian! Setelah selesai menceritakan perumpamaan tersebut, Yesus bertanya balik kepada ahli Taurat itu, “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” (ay. 36). Alih-alih mengulang kembali pertanyaan ahli Taurat itu sebelumnya, “Siapakah sesamaku manusia?”, Yesus menanyakan siapa yang bertindak sebagai sesama? Perubahan pertanyaan ini mengindikasikan perubahan fokus dialog mereka. Bukan lagi tentang sesama sebagai penerima kasih, tetapi tentang orang yang melakukan kasih. Selain itu, terlihat jelas juga di sini bahwa apa yang terpenting bukanlah mengidentifikasi siapa sesama, melainkan bagaimana harus bertindak sebagai sesama bagi yang lain. Dari perumpamaan tersebut sebenarnya sudah jelas siapa yang dimaksud dengan sesama. Sesama tidak hanya terbatas pada orang dari satu bangsa saja, tetapi juga dari bangsa lain. Meskipun identifikasi itu penting, bukan itu poin utamanya. Yang utama adalah tindakan atau perbuatan kasih kepada orang lain, tanpa memperhitungkan identitas orang yang dikasihi itu. Atas pertanyaan Yesus, ahli Taurat itu menjawab, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya” (ay. 37a). Ahli Taurat ini seharusnya dengan mudah menjawab, “Orang Samaria.” Akan tetapi, ia menjawab dengan rumusan lain, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan.” Meskipun jawaban itu benar, terkesan bahwa ia masih tetap sulit untuk menerima orang Samaria, yang notabene adalah musuh orang Yahudi, menjadi orang yang baik atau pahlawan dalam perumpamaan Yesus. Yesus akhirnya menutup diskusi dengan ahli Taurat itu dengan sebuah perintah, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (ay. 37b). Dengan perintah ini, ahli Taurat itu diminta secara tidak langsung untuk melakukan apa yang diperintahkan Taurat dan sekaligus mengikuti apa yang Pertemuan Ketiga

73

diteladankan oleh orang Samaria dalam perumpamaan Yesus. Hanya dengan melakukan tindakan kasih kepada sesama, hidup kekal (atau keselamatan) dapat ditemukan dan diraih.   IV Pesan dan Penerapan Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati adalah jawaban atas pertanyaan “siapakah sesama manusia”. Pertanyaan “siapakah sesama manusia” adalah kelanjutan dari pertanyaan “bagaimana memperoleh hidup kekal”. Jika pertanyaan dan jawaban itu dihubungkan, sedikit banyak dapat disimpulkan bahwa untuk memperoleh hidup kekal, orang harus mengikuti sikap dan perbuatan orang Samaria dalam perumpamaan Yesus. Sikap dan perbuatan yang dimaksud tidak lain adalah kasih terhadap mereka yang sangat membutuhkan pertolongan. Yesus mengamini pandangan bahwa menaati hukum tertinggi dalam Taurat, yaitu kasih kepada Allah dan sesama, merupakan jalan untuk memperoleh hidup kekal. Akan tetapi, Dia juga menambahkan aspek yang baru untuk memperoleh hidup kekal, yaitu memberikan apa yang dimiliki untuk membantu dan menyelamatkan orang lain yang menderita. Orang Samaria dalam perumpamaan di atas merupakan contoh nyata. Ia mencintai sesamanya, yaitu orang yang hampir mati karena dirampok, meskipun itu berarti mempertaruhkan hidupnya dan secara ekonomis biayanya cukup mahal. Orang Samaria yang ditampilkan Yesus bukan objek yang harus dikasihani (atau bahkan dicintai), tetapi sebaliknya adalah pribadi yang harus diteladani. Meskipun orang Samaria sering dipandang sebagai orang tersisih secara religius dan musuh secara sosial dari pihak orang Yahudi, ia tidak terlalu memedulikan pandangan stereotip itu ketika berhadapan dengan orang yang membutuhkan pertolongan. Belas kasihan membuat niatnya untuk selalu menolong sesama tidak kendur. Baginya, tidak ada kriteria atau syarat tertentu mengenai orang yang harus ditolong. Ia tidak terlalu memperhitungkan banyak hal, termasuk keselamatannya sendiri, asalkan orang yang menderita itu selamat. Sesama baginya adalah orang yang membutuhkan pertolongannya. Di sisi lain, mentalitas imam dan orang Lewi dalam perumpamaan di atas sering kali masih hidup dalam keseharian banyak orang. Tidak sedikit orang yang tidak mau peka dengan penderitaan orang lain. 74

Gagasan Pendukung

Meskipun sadar dan tahu bahwa banyak orang sekitar membutuhkan bantuan, mereka tidak ingin direpotkan untuk mengurusi hal itu. Mereka terlalu sibuk untuk mengurusi pekerjaan mereka sendiri. Tidak sedikit juga orang yang sangat ahli dalam berdiskusi dan berbicara tentang kemiskinan, orang miskin, penderitaan, ketidakadilan, dan sebagainya. Mereka menghabiskan waktu untuk membicarakan fakta tragis tersebut, tetapi sayangnya tidak mau bertindak untuk menolong. Seperti imam dan orang Lewi itu, mereka melihat, tetapi tidak mau bergerak untuk mendekati, apalagi menolong. Kritik Yesus terhadap imam dan orang Lewi itu bukan tentang pengetahuan mereka akan hukum kasih dalam Taurat, mereka sangat kompeten dalam hal ini, tetapi lebih tertuju pada ketidakmauan atau keraguan mereka untuk bertindak dan berbuat kasih bagi sesama. Paus Fransiskus dalam khotbahnya tentang perumpamaan ini mengatakan, “Imam dan orang Lewi, melihat tetapi bersikap masa bodoh; mereka melihat tetapi tidak menawarkan bantuan. Namun, tidak ada ibadah sejati jika ibadah tersebut tidak diungkapkan dalam pelayanan kepada sesama. Janganlah kita pernah lupa hal ini: Di hadapan penderitaan banyak orang yang lelah karena kelaparan, kekerasan, dan ketidakadilan, kita tidak dapat hanya berdiri sebagai penonton.” Pertanyaan selanjutnya bagi kita, kalau begitu siapakah sesama kita, dan apa yang seharusnya kita lakukan kepada mereka sebagai sesama? Bertitik tolak dari perumpamaan Yesus ini, sesama bukan hanya tetangga di sekitar rumah kita atau orang yang kita kenal, melainkan siapa saja yang kita jumpai dalam kondisi dan pengalaman hidup mereka. Mereka bisa saja orang asing yang kita tolong, orang yang kita beri semangat hidup, atau bahkan orang yang membenci kita tetapi kita doakan. Sesama yang kepadanya kita dipanggil untuk mengasihi sering kali bukanlah mereka yang kita pilih, tetapi yang dipilihkan Allah bagi kita. V Pertanyaan Refleksi 1. Sebagai umat Allah yang diundang untuk mencintai dan berbelas kasihan satu sama lain, sejauh mana aku sudah mempraktikkan hukum kasih kepada Allah dan kepada sesama manusia?

Pertemuan Ketiga

75

2. Apakah mentalitas imam dan orang Lewi dalam perumpamaan di atas melekat dalam diriku? Bagaimana aku mengatasinya? 3. Siapakah sesama manusia yang aku jumpai dalam hidup seharihari? 4. Apakah aku sudah meneladan orang Samaria itu yang secara spontan dan tanpa memperhitungkan untung rugi membantu orang yang menderita dan sedang membutuhkan? Apakah aku juga pernah menemukan “orang Samaria” ketika sedang membutuhkan pertolongan? 5. Apakah perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati ini menyentuh dan mengubah hidupku?

76

Gagasan Pendukung

Pertemuan Keempat YESUS, SAHABAT BAGI MEREKA YANG BERTOBAT (Why. 3:14-22) “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk” (Why. 3:20) I Pendahuluan Pandemi Covid-19, selain menimbulkan problem kesehatan yang berimbas pada jatuhnya korban jiwa, juga melahirkan beberapa problem lain. Salah satu di antaranya adalah keterbatasan dalam bergerak. Akibatnya, sejumlah aktivitas manusia menjadi lumpuh. Sektor yang paling parah mengalami kelumpuhan adalah sektor ekonomi. Pembatasan berskala besar, atau yang paling buruk adalah penguncian (lockdown), telah berimbas pada ketidakstabilan ekonomi. Perusahaan berskala besar dan menengah banyak yang tutup atau mati suri, sehingga jumlah pengangguran karena terkena PHK semakin meningkat. Selanjutnya, mereka yang masuk kategori miskin pun menjadi bertambah. Orang-orang yang sebelumnya makmur pun sekarang harus berani menerima keadaan hidup yang baru. Intinya, dalam arti tertentu, pandemi telah memiskinkan sebagian besar orang. Di sisi lain, pandemi ini juga telah menyadarkan bahwa harta, kekayaan, dan uang adalah barang fana atau sementara. Ada masanya mereka didewakan, tetapi ada masanya juga mereka tidak terlalu banyak berfungsi apa-apa. Ada yang memiliki uang dan harta yang banyak, tetapi karena pandemi ini mereka tidak dapat menggunakannya. Sebaliknya, ada pula yang tidak mempunyai uang sama sekali karena tidak mendapat sumber penghasilan baru. Inilah ironi pandemi. Sektor lain yang mengalami dampak negatif dari pembatasan aktivitas karena pandemi adalah aktivitas beribadah. Secara khusus, aktivitas liturgi di Gereja tidak dapat berjalan dengan maksimal. Sebagian besar umat hanya bisa berpartisipasi melalui layar televisi atau streaming di channel YouTube. Karena itu, banyak orang tidak dapat merasakan dan mengalami peribadatan yang penuh dan lengkap. Kepuasaan yang dirasakan ketika berpartisipasi dalam mengikuti perayaan Ekaristi secara online tetap masih di bawah standar jika dibandingkan dengan mera77

yakannya secara langsung. Setiap anggota Gereja, imam maupun awam, merasa teraniaya oleh musuh yang bernama Covid-19 ini. Dua persoalan di atas, yaitu lumpuhnya perekonomian dan aktivitas Gereja, mengingatkan kita akan betapa rapuhnya manusia. Pandemi menyadarkan kita bahwa uang dan kekayaan tidak selamanya menjamin berlangsungnya kehidupan secara normal. Ketika uang dan kekayaan tidak berfungsi sebagaimana mestinya, inilah kesempatan bagi kita untuk berpaling pada penyelanggara hidup yang sejati, yaitu Tuhan sendiri. Relasi dengan Tuhan, sang Pencipta, kiranya perlu dibangun dan diperkokoh kembali ketika hal-hal materi-duniawi tidak mampu menjamin kehidupan kita lagi. Pandemi meminta kita mawas diri supaya tidak terlalu bergantung pada kekayaan. Aktivitas Gereja, baik liturgis maupun non-liturgis, tidak berjalan normal karena pandemi. Situasi yang tidak normal ini juga memengaruhi sikap atau mental kita dalam menjalankan aktivitas hidup sebagai orang kristiani. Dalam hal berdoa dan beribadah, misalnya. Ada yang tetap setia untuk mengikuti misa streaming, tetapi tidak menutup kemungkinan ada juga yang menjalankan hidup doa dan ibadahnya secara setengah-setengah. Pandemi praktis menantang kita untuk berpikir ulang bagaimana menemukan Tuhan, atau lebih tepatnya, menempatkan diri sehingga kita merasa ditemukan oleh Tuhan. Pertemuan keempat dalam BKSN 2021 akan membahas salah satu perikop dari kitab yang sulit dimengerti, yaitu kitab Wahyu. Perikop Why. 3:14-22 kurang lebih relevan dengan situasi Gereja dan masyarakat sekarang ini. Jika Gereja dan masyarakat sekarang sedang dilanda krisis multidimensional karena pandemi, Gereja kristiani awal, yang menjadi pembaca awal kitab Wahyu ini, juga mengalami krisis yang kurang lebih serupa. Krisis ini muncul karena pengejaran dan penganiayaan dari penguasa Romawi pada saat itu. Jika sebagian umat sekarang mulai kehilangan semangat untuk menjadi murid dan saksi Kristus karena pandemi, demikian pula hal dengan jemaat Laodikia dalam kitab Wahyu yang tergoda untuk menjalani kehidupan sebagai murid Kristus secara suam-suam kuku. Singkatnya, perikop ini – meskipun tidak mudah untuk dipahami – kiranya dapat menjadi sumber inspirasi untuk menyikapi problem dalam situasi krisis seperti sekarang. Dalam membaca surat kepada jemaat Laodikia, kita perlu menempatkan diri dalam tujuan umum dituliskannya kitab Wahyu. Yohanes menulis kitab ini untuk memberikan semangat kepada orang beriman 78

Gagasan Pendukung

agar tetap bertahan menghadapi tuntutan dari penguasa Romawi untuk mempraktikkan penyembahan berhala, yaitu penyembahan terhadap kaisar. Jika tidak menuruti tuntutan itu, mereka akan dikejar-kejar, disiksa, dan bahkan dihukum mati. Yohanes menunjukkan bahwa mereka sedang berada dalam situasi kritis, sebab pertarungan antara kebaikan (disimbolkan dengan Mikhael dan para malaikatnya) melawan kejahatan (disimbolkan dengan Iblis dan para malaikatnya) sudah di ambang pintu. Penganiayaan adalah wujud nyata pekerjaan Iblis. Orang Kristen diminta untuk tetap setia dan bertahan sampai akhir. Kesetiaan tetap harus diperjuangkan, sebab mereka akan memenangkan pertempuran melawan kejahatan ketika Kristus datang kembali. Umat Allah akan masuk dalam kemuliaan dan kebahagiaan kekal bersama Allah. Ini adalah harapan yang selalu digemakan oleh Yohanes, penulis kitab Wahyu. Kesetiaan kepada Kristus di tengah penganiayaan dan godaan duniawi, serta janji kemenangan di akhir masa krisis bagi jemaat kristiani adalah harapan yang ditawarkan dalam kitab Wahyu. Memahami latar belakang ini sangat penting dalam membaca, memahami, dan menafsirkan perikop Why. 3:14-22. II Teks Wahyu 3:14-22 14 “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: 15 Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! 16 Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. 17 Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, 18 maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. 19 Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegur dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!

Pertemuan Keempat

79

20 Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. 21 Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. 22 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.”

III Penafsiran Konteks Why. 3:14-22 adalah sebuah surat yang ditujukan kepada jemaat di Laodikia. Surat ini merupakan surat terakhir dari tujuh surat yang ditujukan kepada jemaat-jemaat yang berbeda, yaitu Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia, dan Laodikia. Ketujuh surat ini ditulis dalam gaya bahasa dan penggambaran apokaliptik. Dilukiskan bahwa surat ini ditulis oleh seorang malaikat atas perintah Yesus sendiri, sang Alfa dan Omega, firman Tuhan yang kekal (Why. 1:8). Tujuan utama dituliskannya surat ini adalah untuk “membangun kembali kehidupan spiritual dan moral” jemaat Kristen awal dengan pertobatan yang benar. Kehidupan rohani jemaat diduga telah mengalami kemunduran, tidak hanya karena penganiayaan dari pihak penguasa (kekaisaran Romawi), tetapi juga karena kultur dan gaya hidup yang berkembang pada zaman itu. Dalam setiap surat hampir selalu dipaparkan segala macam cacat dan kekurangan dalam sikap dan tindakan jemaat. Jemaat mudah tergoda dengan penyembahan berhala yang dijalankan oleh orang-orang non-kristiani pada waktu itu. Ini juga berdampak dalam kehidupan bersama jemaat Kristen sendiri. Sebagian dari mereka tidak begitu bersemangat dalam menjalankan ajaran iman. Mereka mudah berkompromi dan oportunistis. Cara hidup mereka praktis jauh dari ideal sebagai orang Kristen yang sejati. Kendati demikian, Tuhan tetap memberikan jalan supaya jemaat tidak terjerumus semakin dalam di dalam segala macam dosa dan kesalahan yang mereka perbuat. Tuhan tetap membangkitkan harapan bahwa mereka yang tetap setia kepada ajaran Kristus dan cara hidup sebagai 80

Gagasan Pendukung

orang Kristen akan memperoleh ganjaran di masa yang akan datang. Kesetiaan dan kesadaran untuk tetap bertahan dalam identitas sebagai pengikut Kristus bukanlah sesuatu yang sia-sia. Persekusi dari pihak penguasa, serta godaan dari Iblis dan dunia adalah tantangan yang harus dilewati oleh jemaat kristiani. Iman akan Kristus yang bangkit akan menjadi senjata yang ampuh untuk mengatasi kedua tantangan tersebut.   Membaca secara mendalam Jemaat Laodikia Laodikia adalah kota penting pada masa kekaisaran Romawi. Kota ini didirikan oleh Antiokhus II pada pertengahan abad III SM dan memakai nama istrinya, Laodice. Laodikia adalah kota di wilayah Frigia yang paling makmur dan kaya, terletak 16 kilometer di sebelah barat Kolose, 10 kilometer di sebelah barat Hierapolis, dan 60 kilometer di sebelah tenggara Filadelfia. Dewa pelindung kota ini adalah Zeus. Meskipun demikian, penduduknya memiliki kuil untuk dewa-dewa lain seperti Apollo, Asklepios, Hades, Hera, Athena, Serapis, Dionisus, dan sebagainya. Dari sini tampak bahwa penduduk kota Laodikia sangat religius dan toleran dengan agama lain. Sejumlah orang Yahudi dan orang Kristen tinggal di sini sebagai minoritas. Dari aspek ekonomi, kota ini tergolong kaya dan makmur. Ia terletak di persimpangan lalu lintas perdagangan di wilayah Asia Kecil. Selain terkenal dengan produk kain wolnya dan pengekspor minyak untuk parfum, Laodikia merupakan pusat keuangan di wilayah Frigia dan pusat sekolah kedokteran pada zaman itu, khususnya untuk pengobatan mata. Dengan kekayaan itu, kota ini mampu membangun amfiteater, stadion olahraga besar, tempat pemandian publik yang mewah, dan pusatpusat perbelanjaan yang megah. Konsumerisme menjadi warna dominan mentalitas penduduk Laodikia. Tidak mengherankan jika penduduk kota ini sangat membanggakan kekayaan dan kemakmuran mereka. Karena hidup di tengah kultur dan mentalitas seperti itu, jemaat Laodikia juga memiliki karakter yang sama, yaitu sangat berbangga akan kekayaan mereka dan merasa diri mampu mencukupi segalanya. Sikap percaya diri yang tinggi ini cukup memengaruhi kehidupan rohani mereka dalam arti negatif. Informasi tentang jemaat di Laodikia juga dapat ditemukan dalam surat Paulus kepada jemaat di Kolose. Sebanyak empat kali Gereja Laodikia disebut (Kol. 2:1; 4:13, 15-16). Berdasarkan informasi dari surat Pertemuan Keempat

81

ini, jemaat tersebut tampaknya didirikan oleh Epafras (Kol. 1:7), dan tempat mereka berkumpul adalah di rumah Nimfa (Kol. 4:12-13, 15). Paulus rupanya cukup mengenal dengan baik jemaat di kota ini. Sayangnya, ia belum pernah mengunjungi mereka. Informasi ini menegaskan bahwa jemaat Laodikia merupakan salah satu jemaat yang cukup diperhitungkan dalam Gereja Kristen awal. Meskipun secara material jemaat Laodikia kaya, dalam hal rohani, mereka masih kurang. Permasalahan inilah yang disinggung dengan jelas dalam perikop dari kitab Wahyu yang sedang kita bahas.   Sang Amin Yesus yang memerintahkan malaikat untuk menuliskan firmanNya kepada jemaat di Laodikia disebut sebagai “Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah” (ay. 14). Di sini Yesus tampil sebagai Dia yang telah bangkit. Dengan tiga sebutan itu, Yesus menegaskan bahwa Dia adalah jawaban sekaligus solusi. Yesus menyebut dirinya sebagai “Amin”. Kata ini sangat mudah ditemukan dalam Alkitab. Dalam akar bahasa Ibrani, “amin” memiliki banyak arti, yaitu kuat, stabil, setia, benar, dan pantas dipercaya. Dalam Yes. 65:16, misalnya, disebutkan “Allah yang setia”, yang secara harfiah tertulis “Allah yang amin”. Selain itu, hampir semua doa diakhiri dengan kata “amin”, berfungsi sebagai seruan bahwa apa yang diungkapkan adalah sungguh-sungguh jujur dan benar. Dikaitkan dengan peran Yesus, dengan menyebut diri-Nya “Amin”, Yesus menegaskan diri-Nya sebagai afirmasi dari kebenaran Allah. Sebagaimana gelar Kristus, gelar “Amin” menunjukkan kemahakuasaan Yesus dan keniscayaan akan kepenuhan janji-Nya, sebab kata ini digunakan untuk mengakui dan menekankan apa yang benar dan pasti, atau apa yang penting dan signifikan. Kata “amin” juga dipakai dalam rumusan liturgis yang tercatat dalam Perjanjian Lama ketika jemaat atau individu menerima keabsahan sebuah sumpah atau kutuk dan konsekuensinya (Bil. 5:22; Ul. 27:15 dst.; Neh. 5:13; Yer. 11:5). Dalam Injil Yohanes, penulis Injil mencatat penggunaan kata “amin” oleh Yesus sebanyak dua puluh lima kali, yang diterjemahkan, “Sesungguhnya…” Tambahan pula, kata “amin” juga berhubungan dengan gagasan finalitas atau kepenuhan. Dengan begitu, gelar sebagai “Amin” menunjukkan bahwa Yesus adalah Dia yang benar dan otoritas yang final (terakhir), baik bagi kehidupan setiap orang maupun kehidupan seluruh 82

Gagasan Pendukung

dunia. Kristus adalah akhir, finalitas, dan kepastian segala sesuatu. Dengan-Nya, orang tidak perlu pengganti atau tambahan. Bersama dengan Yesus Kristus, tidak diperlukan lagi usaha untuk mencari kebenaran yang lain, sebab kebenaran sudah ada dalam Dia, dan segala kebijaksanaan dan pengetahuan tersembunyi dalam diri-Nya (Kol. 2:3). Gelar “Saksi yang setia dan benar” merupakan penegasan dari gelar “Amin”. Dalam teks sebelumnya, Yesus disebut “Saksi yang setia” (Why. 1:5) dan “Yang Benar” (Why. 3:7). Sebagai “Saksi yang setia dan benar”, Yesus akan menelanjangi segenap kepalsuan dalam diri manusia (dalam hal ini jemaat di Laodikia). Ini juga mengimplikasikan bahwa di hadapan Yesus, jemaat dituntut untuk berani melakukan introspeksi secara jujur, serta memperlihatkan keinginan yang serius dan tulus untuk perubahan hidup. Sebutan terakhir yang menarik adalah “permulaan dari ciptaan Allah”. Dalam konteks dunia Romawi, istilah “permulaan” adalah gelar ilahi. Kaisar Romawi digelari princeps, artinya “yang pertama” di antara penduduk Roma. Sedikit berbeda arti dengan pandangan dunia Romawi, gelar “permulaan” dalam teks ini lebih bermakna teologis, yaitu sebagai “sumber atau asal mula”. Dengan demikian, Yesus adalah sumber segala ciptaan. Ia berkuasa atas segala ciptaan. Ia adalah Kristus yang abadi, “Sebab” dari segala sesuatu (Yoh. 1:3; Kol. 1:16-17; Why. 1:8; 21:6). Gelar ini masih terkait dengan gelar Yesus yang disebutkan di awal dan di akhir kitab Wahyu, “Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa” (Why. 1:8); dan, “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir” (Why. 22:13). Gelar ini menegaskan bahwa Yesus bukan hanya permulaan dari ciptaan Allah sekarang ini, melainkan juga permulaan dari surga dan bumi baru yang akan datang, yang kekal dan mulia (Why. 21:1-7). Dengan menyebutkan ketiga gelar itu, penulis kitab Wahyu hendak memperlihatkan peran dan posisi Yesus dalam menegakkan kebenaran dan keadilan di dunia ini. Dia berdaulat, berkuasa, dan abadi. Gelar tersebut juga menambah keseriusan teguran Yesus kepada jemaat di Laodikia. Suam-suam kuku Yesus mengetahui apa yang dilakukan oleh jemaat di Laodikia (ay. 15a). Meskipun tidak dijelaskan secara persis seperti apa tindakan Pertemuan Keempat

83

dan pekerjaan tersebut, kita dapat menduga bahwa jemaat Laodikia menjalani hidup mereka sebagai pengikut Kristus tidak secara total dan disiplin. Mereka tampaknya masih berkompromi dengan mentalitas penduduk kota Laodikia. Istilah yang dipakai untuk menyebut kualitas hidup dan pekerjaan jemaat adalah “suam-suam kuku” serta “tidak dingin dan tidak panas”. Penulis kitab ini menggunakan istilah “suam-suam kuku” dalam kaitannya dengan kualitas air di kota Laodikia. Meskipun kaya, kota ini mempunyai permasalahan pada persediaan air yang kurang mencukupi. Ladokia menerima air yang dialirkan melalui saluran air (akuaduk) dari sumber air yang berada 10 kilometer di sebelah selatan kota. Ketika masih berada di mata air, air ini masih dingin. Namun, saat sudah berada di kota, air ini tidak panas dan tidak dingin. Sementara itu, kota-kota tetangganya, yaitu Hieropolis memiliki sumber air panas (bagus untuk mandi), sedangkan Kolose memiliki sumber air dingin (bagus untuk air minum). Hanya Laodikia yang memiliki kualitas air yang “suam-suam kuku”. Air seperti ini dapat membuat perut tidak enak, sehingga terasa ingin muntah. Inilah yang membuat penduduk kota mengeluh dan tidak puas, teristimewa mereka yang memiliki gaya hidup konsumeris dan hedonis. Kualitas air di kota Laodikia ini kemudian dipakai untuk menggambarkan kualitas hidup rohani jemaat Kristen di situ. Mereka tidak serius dan disiplin dalam mempraktikkan hidup Kristen. Mereka masih berkompromi dengan gaya hidup dan mentalitas mayoritas penduduk Laodikia. Bagi Kristus, mentalitas hidup yang panas atau dingin masih lebih baik daripada suam-suam kuku. Istilah “panas” dan “dingin” di sini dapat dimaknai secara simbolis. Kata “panas”, seperti panasnya air yang mendidih, menunjuk pada semangat yang bernyala-nyala (bdk. Rm. 12:11). Jadi, mempraktikkan cara hidup kristiani harus dijiwai dengan semangat yang bernyala-nyala. Sementara itu, kata “dingin” di sini menunjuk pada makna kesegaran. Air yang dingin dapat memuaskan dahaga, menyegarkan orang yang lelah, serta membuat otot tegang menjadi rileks. Seperti air dingin, cara hidup kristiani pun harus mampu menyegarkan jiwa dan kelakuan orang Kristen sendiri, termasuk mereka yang berkontak dengan mereka. Rupanya kedua sifat tadi, yaitu bernyala-nyala dan menyegarkan, tidak tampak dalam diri jemaat Laodikia. Itu sebabnya, Yesus digambarkan serasa ingin muntah melihat kualitas rohani jemaat yang suam-suam kuku itu. 84

Gagasan Pendukung

Semangat suam-suam kuku ini mengacu pada orang Kristen yang bersikap masa bodoh dan apatis karena mereka merasa mampu mencukupi diri sendiri dan cepat puas diri. Dengan harta dan kekayaan, mereka merasa bahwa hidupnya akan terjamin. Mentalitas ini tercermin di ay. 17 yang berbicara tentang alasan mengapa jemaat Laodikia mendapat predikat sebagai jemaat yang suam-suam kuku, “Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang.” Di sini tampak ada kontras tajam antara pernyataan jemaat dengan kenyataan yang sesungguhnya. Jemaat Laodikia membanggakan kekayaan dan percaya bahwa kekayaan itu dapat memberikan jaminan hidup dan kebahagiaan. Karena itu, mereka tidak pernah berhenti menumpuk harta dan kekayaan. Apa yang mereka miliki seolah-olah tidak pernah memberikan kepuasaan. Mereka menginginkan lebih lagi. Jika dibahasakan secara lain, orang Laodikia berkata, “Aku sudah kaya dan makmur, dan akan demikian terus. Aku tidak butuh apa-apa.” Perkataan ini bukan tanpa bukti. Ketika kota Laodikia hancur karena dihantam gempa besar pada tahun 61, mereka membangun kota ini kembali sambil menolak bantuan yang ditawarkan oleh pemeritah pusat di Roma. Namun, di balik rasa percaya diri yang kelewat besar itu, Kristus melihat bahwa secara rohani, mereka ini melarat, malang, miskin, buta, dan telanjang. Ini berbanding terbalik dengan kekayaan yang mereka miliki. Mereka begitu kaya, sehingga seolah-olah tidak membutuhkan Allah dalam hidup, atau Allah menjadi hal sekuder. Mereka mengukur kriteria keberhasilan dan kebahagiaan pertama-tama dari materi dan bukan rohani; dari aspek duniawi, alih-alih aspek surgawi. Kondisi jemaat Laodikia ini dapat menjadi peringatan bagi mereka yang tidak mengingat pentingnya kehidupan rohani dan berfokus pada materi; juga peringatan bagi mereka yang mempercayakan diri pada harta dan meninggalkan Allah. Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegur dan Kuhajar Berhadapan dengan kondisi rohani jemaat Laodikia yang memprihatinkan, Yesus memberikan tiga nasihat yang dapat ditemukan di ay. 18-19. Nasihat pertama, Yesus menasihatkan agar jemaat Laodikia, alihalih membeli barang duniawi yang mewah, membeli dari Tuhan emas Pertemuan Keempat

85

yang telah dimurnikan dalam api. Istilah “membeli” menunjuk pada konsep mendapat, mengakusisi, atau menjadikan hak milik. Tidak seorang pun sebenarnya dapat membeli sesuatu dari Kristus. Tambahan lagi, apa yang ada dalam Kristus bukanlah kekayaan duniawi, melainkan kekayaan surgawi. Karena itu, istilah “membeli” ini harus dimengerti dalam konteks mendapat kekayaan rohani dari Kristus. Konsekuensinya, istilah “emas” dalam teks ini perlu dipahami secara simbolis atau kiasan. Emas dari Kristus merepresentasikan warisan surgawi dalam kerajaan Kristus yang mulia. Emas dapat juga dipahami sebagai gambaran iman yang lahir dari sabda Allah, yang membawa orang kepada kekayaan rohani dalam Kristus pada kehidupan mereka (bdk. 1Pet. 1:7; Rm. 10:17; 5:1). Jemaat Laodikia yang miskin secara rohani harus membeli emas (sesuatu yang paling berharga) surgawi. Emas ini tidak dapat dibeli dengan harta manusia ataupun dibayar dengan jasa manusia, tetapi hanya melalui iman akan Kristus. Di sini, Tuhan menasihatkan pada jemaat Laodikia agar kembali kepada-Nya yang adalah kekayaan sejati jemaat. Nasihat kedua, karena mereka telanjang secara rohani, Tuhan meminta mereka untuk mengenakan pakaian putih. Mereka memiliki pakaian yang mewah, tetapi diminta untuk memakai pakaian yang sederhana, yaitu pakaian putih. Selain aspek kesederhanaan, warna putih menunjuk pada kemurnian dan kesucian. Dengan mengenakan pakaian putih, jemaat dimurnikan oleh pengampunan dosa melalui kurban Kristus dan memulai hidup pertobatan. Nasihat ketiga, mereka diminta untuk mengolesi mata dengan minyak supaya dapat melihat. Sekali lagi, nasihat ini perlu dipahami secara simbolis. Kota Laodikia adalah produsen minyak untuk obat mata yang terkenal di provinsi Asia Kecil (Turki sekarang). Meskipun mampu membuat obat untuk mata, sebagian penduduknya, termasuk jemaat Kristen di sana, mengalami “kebutaan” rohani. Di sini, pengolesan atau pelumasan minyak di mata harus dilihat sebagai proses penyembuhan spiritual dan pencerahan rohani yang disediakan oleh Kristus dalam dunia yang dipenuhi oleh kegelapan dan ketidakpedulian. Setelah memberi nasihat, Yesus kemudian memberi sebuah perintah tegas, “Relakanlah hatimu dan bertobatlah!” Namun, sebelumnya Yesus mengucapkan perkataan yang menarik untuk dipahami secara mendalam, “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegur dan Kuhajar” (ay. 19). Untuk memahaminya, kita perlu mengacu pada teks lain dalam Alkitab yang menyinggung hal serupa, “Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang 86

Gagasan Pendukung

dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi” (Ams. 3:12). Karena jemaat Laodikia sudah menerima Kristus, mereka menjadi anak-anak Allah. Hanya, kelakuan mereka masih belum selaras dengan semangat Kristen. Sebagaimana orang tua yang ingin mengembangkan kualitas hidup anaknya terkadang memberi teguran dan ajaran yang keras, demikianlah Yesus melakukan hal yang sama kepada jemaat ini. Para nabi dalam Perjanjian Lama juga sering kali menegur dengan katakata keras demi perubahan hidup bangsa Israel ke arah yang benar. Selalu ada intensi mulia dan luhur di balik teguran keras, apalagi jika ini berasal dari Tuhan sendiri. Kata Yunani yang diterjemahkan dengan “relakanlah hati” adalah zeleue. Secara harfiah, kata ini berarti “bersemangatlah” atau “bernyalanyalalah”. Dengan penggunaan kata ini, Yesus mengajak jemaat Laodikia untuk berubah dari mentalitas suam-suam kuku. Jemaat diminta untuk setia pada hidup Kristen dengan berdoa dan berkumpul untuk merenungkan sabda Allah, dan yang terpenting, merelakan diri untuk dipenuhi, dikuasai, dan digerakkan oleh Roh Kudus. Sementara itu, kata Yunani yang diterjemahkan dengan “bertobatlah” adalah metanoeson, atau dalam istilah populer metanoia. Metanoia tidak hanya menunjuk pada perubahan sikap dan perilaku dari yang tidak baik di masa lampau menuju yang baik di masa depan. Lebih dari itu, metanoia adalah perubahan (cara) berpikir. Pertama-tama, orang perlu mengakui kesalahan di masa lampau atau sekarang. Setelah itu, orang perlu memiliki niat, rencana, dan strategi yang tepat untuk memperbaikinya di masa depan. Perubahan sikap dan perilaku harus didasari oleh perubahan cara berpikir dan cara pandang. Dengan seruan bernada perintah ini, jemaat Laodikia diajak untuk mengubah cara berpikir mereka tentang kekayaan dan rasa percaya diri yang berlebihan, sehingga dapat berdampak pada kehidupan rohani mereka. Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk Setelah perintah untuk “lebih bersemangat” dan “bertobat”, Yesus mengundang jemaat Laodikia untuk datang kepada-Nya, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku” (ay. 20). Pertemuan Keempat

87

“Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk” merupakan undangan penuh cinta dari Yesus. Undangan ini menarik, sebab tampak di sini bahwa bukan jemaat yang pertama-tama berinisiatif mendatangi Yesus, tetapi sebaliknya, Yesus sendiri yang mendatangi jemaat-Nya. Sementara jemaat tidak melihat persoalan dan kesalahan yang telah mereka lakukan, Yesus justru mampu melihat berbagai persoalan tersebut. Ia ingin membantu mereka untuk keluar dari semuanya itu. Ia ingin memperbaiki mereka. Ia hendak membantu jemaat-Nya dalam menjalani pertobatan mereka. Di satu pihak, tindakan Yesus “mengetuk” ini mengungkapkan kesabaran-Nya untuk terus-menerus mengajak jemaat membuka hati akan kehadiran-Nya. Di lain pihak, Ia juga menawarkan rahmat kepada jemaat yang mengundang-Nya masuk ke dalam hati mereka. Jadi, inisiatif Yesus “mengetuk” hati jemaat tidak akan mungkin berhasil guna seandainya jemaat sendiri tidak memiliki keterbukaan hati untuk menerimaNya. Tindakan Yesus itu adalah sebuah tawaran akan rahmat, anugerah, dan keselamatan yang berasal dari-Nya. Tindakan jemaat untuk membuka pintu adalah tanggapan manusia atas tawaran tersebut. Sebagai sang Penyelamat, Yesus mengajak agar orang kristiani terus-menerus tinggal dalam diri-Nya, berjalan dalam Roh-Nya, dan hidup dalam sabda-Nya (bdk. Yoh. 15:1-7; 1Yoh. 1:7-10; Ef. 4:20-24; 5:14-18; Rm. 8:1-16). Apa yang diperoleh mereka yang mendengarkan suara Yesus dan membuka diri terhadap kehadiran-Nya (atau “membukakan pintu”)? Perikop ini mengatakan bahwa Yesus akan masuk mendapatkannya dan makan bersama-sama dengan dia. Ajakan Yesus untuk makan bersama di sini tentunya harus dimengerti dalam arti simbolis. Perjamuan makan adalah tanda kedekatan (intimasi), di mana tuan rumah dan para tamunya dapat mengungkapkan relasi persaudaraan atau persahabatan dengan penuh keakraban dan tanpa basa-basi. Kata Yunani yang diterjemahkan dengan “makan” adalah deipneso. Kata ini mengacu pada makan besar atau pesta perjamuan. Membayangkan sebuah pesta, perjamuan ini tentunya melibatkan banyak orang yang datang dengan sukacita dan kegembiraan. Selain itu, perjamuan ini menjadi kesempatan bagi mereka untuk berbagi keramahtamahan dan mempererat persahabatan. Dalam perikop ini, Yesus memosisikan sebagai tuan rumah. Dia sendirilah yang menyiapkan meja perjamuan; jemaat yang terbuka pada diri-Nya adalah para tamu-Nya. Berkenaan dengan ini, para ahli Kitab Suci berpendapat bahwa pesta perjamuan adalah simbol bahwa zaman atau dunia mesianik telah datang, di mana Kristus atau Mesias menjadi pusat kehidupan. 88

Gagasan Pendukung

Singkatnya, jemaat Laodikia adalah jemaat yang hidup kerohaniannya telah memudar oleh kekayaan. Mereka seperti “jemaat yang hilang”, atau dalam bahasa penginjil Lukas, mereka seperti “domba yang hilang” atau “dirham yang hilang” atau “anak yang hilang” (Luk. 15). Melihat kondisi ini, Yesus hadir dan mengetuk hati mereka untuk kembali bersama-sama dengan-Nya. Pesta perjamuan adalah ungkapan sukacita atas kembalinya “jemaat yang hilang” ini. Tinggal bersama dengan Yesus menjamin keselamatan jemaat kristiani. Duduk bersama Kristus Kepada jemaat-Nya, Yesus tidak hanya mengundang dan mau hadir bersama mereka. Lebih dari itu, Ia memberikan janji yang luar biasa, yaitu bahwa mereka akan duduk bersama-Nya di atas takhta-Nya (dan secara tidak langsung memerintah bersama-Nya). Dikatakan demikian, “Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya” (ay. 21). Sekali lagi, ayat ini harus dipahami secara simbolis. Kepada mereka yang meninggalkan semangat suam-suam kuku dan kemudian bertobat, Yesus menjanjikan sebuah ikatan persahabatan yang erat. Kepada mereka yang sudah bertobat dan kemudian “menang”, Yesus memberi janji untuk memerintah bersama. Bukan tanpa maksud istilah “menang” ditulis di sini. Yesus memanggil jemaat-Nya supaya menjadi pemenang, seperti halnya Kristus yang bangkit adalah sang Pemenang. Pemenang atas apa? Atas godaan duniawi, kesombongan, kekayaan, dan dosa. Membuka diri terhadap kehadiran Yesus hanyalah langkah pertama dari sebuah pertobatan. Langkah selanjutnya yang penting adalah menjadi pemenang, bukan pertama-tama demi kejayaan Yesus, melainkan bagi kebaikan jemaat sendiri. Dengan mempersatukan diri dengan Yesus, baik dalam pribadi maupun dalam pekerjaan-Nya di dunia, juga dengan kesetiaan untuk bertahan dalam iman di tengah ancaman dalam hidup, orang kristiani akan memperoleh ganjaran dalam pemerintahanNya kelak.   Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan Akhirnya, Yesus berkata, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat” (Why. 3:22). Pertemuan Keempat

89

Yesus mengakhiri pesan, peringatan, dan bahkan ancaman-Nya dengan perkataan ini bukan hanya kepada jemaat Laodikia. Perkataan yang sama juga ditemukan dalam surat yang ditulis kepada keenam jemaat lainnya, yaitu jemaat Efesus (Why. 2:7), Smirna (Why. 2:11), Pergamus (Why. 2:17), Tiatira (Why. 2:29), Sardis (Why. 3:6) dan jemaat Filadefia (Why. 3:13). Istilah “Roh” yang dipakai di sini jelas menunjuk pada daya Ilahi atau Allah sendiri. Dengan demikian, apa yang dituliskan ini sungguhsungguh memiliki daya yang luar biasa bagi pembaca atau pendengarnya, sebab perkataan tersebut berasal dari Allah sendiri dan bukan dari manusia. Selain itu, dengan menggunakan kata “Roh” hendak ditegaskan bahwa perkataan di sini mengandung unsur nubuat. Mereka yang mendengarnya diharapkan tidak memandang sebelah mata. Tidak mengherankan jika ungkapan “siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengarkan” selalu diulang. Para penginjil juga menggunakan ungkapan yang sama, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat. 11:15; 13:9; 13:43; Mrk. 7:16). Karena pesan-pesan dalam ketujuh surat kepada jemaat ini diucapkan oleh Roh yang kekal, Yohanes, penulis kitab ini, kiranya hendak memperingatkan bahwa pesan ini tidak hanya berlaku bagi jemaat-jemaat pada waktu itu, tetapi juga bagi generasi-generasi sesudahnya. IV Pesan dan Penerapan Pesan utama perikop Why. 3:14-22 untuk kita pada zaman ini adalah agar kita semakin mawas diri terhadap godaan untuk mempercayakan hidup kita kepada harta dan kekayaan. Hendaknya kita lebih mengarahkan dan mengakarkan hidup kita kepada Tuhan sebagai harta sejati dan kekal. Jemaat Laodikia adalah jemaat yang mencari keamanan dan keselamatan dalam bakat, kemampun, sumber daya manusia, dan kekayaan atau uang. Mereka berpikir bahwa mereka tidak akan terpengaruh dan terdampak oleh segala persoalan duniawi. Nyatanya, mereka terpengaruh, sehingga agak mengesampingkan peran Allah dalam hidup mereka. Padahal, sebagaimana tersirat dalam surat yang ditulis malaikat kepada jemaat itu, hanya Allah yang sesungguhnya menjadi sumber penghiburan dan keselamatan mereka. Seperti yang dialami oleh jemaat Laodikia, uang, harta, dan 90

Gagasan Pendukung

kekayaan adalah godaan paling berat bagi Gereja maupun masyarakat secara keseluruhan. Semuanya itu membuat orang terjebak dalam mentalitas “sudah tercukupi” (self-sufficient) karena harta, sehingga Tuhan bisa saja bukan lagi prioritas dalam hidupnya. Orang juga dapat terjatuh dalam mentalitas egoistis dan materialistis. Lebih buruk lagi, keserakahan akan harta dapat melumpuhkan hidup rohaninya. Dalam arti tertentu, pandemi telah menyadarkan kita untuk tidak lagi membanggakan harta dan kekayaan. Apakah pandemi ini merupakan cara ilahi untuk mempertobatkan kita dari kelekatan terhadap materi? Apakah pandemi ini adalah cara alternatif negatif dari Tuhan untuk memaksa orang berpaling kepada-Nya? Tidak ada jawaban pasti akan hal itu. Namun, sekurang-kurangnya dengan pandemi ini, kita diajar Tuhan untuk menjadi lebih rendah hati dan berserah kepada-Nya. Pandemi telah menempatkan kembali posisi Tuhan sebagai prioritas utama dalam hidup kita. Hidup rohani yang mungkin selama ini telah dikaburkan oleh harta dan kekayaan kembali memperoleh kesegarannya. Peringatan kepada jemaat Laodikia untuk menjauhkan diri dari mentalitas suam-suam kuku juga bergema untuk kita sekarang ini. Kondisi yang tidak memungkinkan untuk pergi ke gereja, bisa saja membuat semangat sebagian umat dalam menjalani hidup rohani semakin luntur. Penyebabnya, gedung dan perayaan di gereja, yang mungkin telah menjadi satu-satunya sarana untuk membangun dan mengembangkan hidup rohani umat, tidak befungsi dan berperan penting sebagaimana mestinya. Sekali lagi, fakta ini justru dapat menjadi kesempatan dan tantangan bagaimana kita menciptakan alternatif baru agar identitas kita sebagai murid Kristus tetap terpelihara. Menciptakan suatu alternatif baru dalam beribadah merupakan reaksi positif ketika kita mendengar Tuhan “mengetuk” pintu hati kita. Alternatif cara beribadah yang baru ini kiranya dapat menjamin kita ke depan agar terus dapat mendengar Tuhan yang selalu mengetuk setiap hari dan mengajak kita bertobat. Berkaitan dengan hal ini, kita dapat belajar dari pengalaman bangsa Israel dan jemaat Kristen perdana di masa lampau. Setelah kerajaan Yehuda diruntuhkan oleh kerajaan Babel (586 SM) dan Bait Allah di Yerusalem hancur, orang Yehuda di pembuangan Babel mencari alternatif baru agar tetap dapat beribadah kepada Tuhan ketika tidak ada lagi Bait Allah. Mereka kemudian menciptakan sistem peribadatan baru yang berpusat pada sabda Allah, dan bukan pada kurPertemuan Keempat

91

ban. Dari situlah muncul apa yang disebut sinagoga. Sistem peribadatan di sinagoga inilah yang justru bertahan sampai sekarang. Di sinagoga, mereka berkumpul dan memanjatkan doa serta puji-pujian. Yang menjadi fokus dalam cara beribadah yang baru ini adalah membaca, merenungkan, dan merefleksikan sabda Allah. Tidak hanya itu saja, mereka juga mencari pesan dan penerapan dari teks sabda Allah tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan begitu, teks Kitab Suci tetap relevan sepanjang zaman. Sama halnya dengan pengalaman Gereja Kristen perdana. Setelah terusir dari sinagoga, mereka kemudian mengadakan ibadat bersama di rumah-rumah. Intinya, pandemi menuntut sebuah cara baru dalam beribadah, sehingga relasi dengan Tuhan tidak terus berada dalam level suam-suam kuku. Selain berdoa secara pribadi, cara beribadah yang baru menjadi sarana yang tepat agar dapat mendengarkan Tuhan yang mengetuk pintu lewat sabda-Nya. Aktivitas yang semakin terbatas kiranya tidak menjadi penghalang untuk terus bergerak dan terbuka terhadap hal-hal yang baru, terutama dalam hal berkumpul dan beribadah. Hanya dengan demikian identitas kita sebagai orang kristiani, pengikut Kristus, dapat terus bertahan di tengah krisis karena pandemi ini. V Pertanyaan Refleksi 1. Apakah problem yang dihadapi oleh jemaat Laodikia juga dialami oleh Gereja Katolik sekarang? Tunjukkanlah secara konkret! Bagaimana problem itu harus diatasi dengan tepat dan benar? 2. Dalam pengalaman hidupku, apakah nafsu serakah akan harta dan kekayaan dapat mengikis iman dan kepercayaan terhadap Tuhan? Sebaliknya, sejauh mana harta dan kekayaan dapat berfungsi secara positif untuk mengembangkan hidup menggereja? 3. Apakah dalam masa krisis karena pandemi Covid ini, aku mengalami kemunduran dalam hidup rohani, sehingga terjangkiti virus “suam-suam kuku”? Bagaimana cara mengatasinya, sehingga virus itu tidak semakin menyebar dan melumpuhkan hidup rohaniku? 4. Apakah masih ada alternatif baru untuk mengembangkan cara beribadah? Apakah perayaan Ekaristi secara online atau streaming dirasa sudah cukup? 92

Gagasan Pendukung

BIBLIOGRAFI DAVIES, M., Matthew (A New Biblical Commentary) (Sheffield 1993). FRANCE, R.T., The Gospel of Matthew (The New International Commentary on the New Testament) (Grand Rapids, MI – Cambridge, UK 2007). GREEN, J.B., The Gospel of Luke (Grand Rapids 1997). HARE, D.R.A., Interpretation: Matthew (Louisville 1993). HARRINGTON, D.J., The Gospel of Matthew (Sacra Pagina) (Collegeville, MN 1991). HAGNER, D.A., Matthew 14-28 (Word Biblical Commentary; Vol. 33b) (Dallas 1995). JOHNSON, L.T, The Gospel of Luke (Collegeville 1991). KEENER. C.S., The IVP Bible Background Commentary: New Testament, Second Edition (Downers Grove, IL, 2014). LADD, G.E., A Commentary on the Revelation of John (Grand Rapids 1972). MCPOLIN, J., John (Dublin 1984). MOLONEY. F.J., The Gospel of John (Collegeville,MI 1998). MOUNCE, R H. The Book of Revelation (Grand Rapids 1977). MUDDIMAN, J - BARTON,J., The Gospels (New York 2001). POWEL, M.A., Introducing the New Testament. A Historical, Lieterary, and Theological Survey (Grand Rapids, MI 2009). BRETTLER, M.Z., “Love Your Neighbor (Lev 19:18)”, n.p. [cited 3 Dec 2020]. Online: https://www.bibleodyssey.org:443/passages/ main-articles/love-your-neighbor-as-yourself-lev-19-18. RINDGE, M.S., “Good Samaritan (Luke 10:25-37)”, n.p. [cited 3 Dec 2020]. Online: https://www.bibleodyssey.org:443/passages/ main-articles/good-samaritan. SKINNER, M.L., Matthew 14:22-33: Faith within the Chaoshttps:// www.huffpost.com/entry/on-scripture-matthew-14-faith-with in-chaos_b_916355?guccounter=1. FRIEDMAN, R.E., “Love Your Neighbor: Only Israelites or Everyone?” dalam Biblical Archaeology Review the September/October 2014. https://www.womeninthebible.net/women-bible-old new-testaments/martha-mary/. https://sermonwriter.com/biblical-commentary/matthew-1422-33/. https://www.sacredspace.ie/scripture/matthew-1422-33. 93

https://www.aish.com/jl/m/pb/48954656.html. https://www.legit.ng/1318825-30-viktor-frankl-quotes-book-manssearch-meaning.html.

94

Gagasan Pendukung

BULAN KITAB SUCI NASIONAL 2021

YESUS SAHABAT SEPERJALANAN KITA

PENDALAMAN KITAB SUCI UNTUK DEWASA/LINGKUNGAN

Pertemuan Pertama YESUS, SAHABAT BAGI MEREKA YANG PUTUS ASA (Mat. 14:22-33) Deskripsi Situasi dan Tema Fasilitator membuka pertemuan dengan membaca deskripsi singkat terkait situasi aktual dan tema BKSN 2021. Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2021 mengangkat tema: “Yesus, Sahabat Seperjalanan Kita.” Tema ini dipilih untuk menyapa situasi konkret dan aktual dunia kita saat ini yang tengah dilanda pandemi Covid-19. Pandemi ini telah melumpuhkan segala aktivitas, serta melahirkan kekacauan, ketakutan, kecemasan, depresi, frustrasi, kebingungan, dan lain sebagianya. Semua orang terdampak tanpa pandang bulu, dari yang masih kanak-kanak sampai yang berusia lanjut, dari yang miskin sampai yang kaya, dari yang tersingkir sampai yang berkuasa. Berhadapan dengan dampak buruk pandemi Covid-19, kita perlu merenungkan sosok Yesus sebagai sahabat yang datang mendekati, mengulurkan tangan, dan menolong kita yang berseru kepada-Nya. Dengan merenungkan sosok Yesus sebagai sahabat yang selalu hadir, menyertai, mendukung, dan menolong para murid-Nya, kita diharapkan semakin sadar akan kebenaran iman kita bahwa Tuhan senantiasa mendampingi, menguatkan, dan melindungi kita dalam situasi yang sulit dan penuh ketidakpastian. PEMBUKA Setelah deskripsi singkat terkait situasi dan tema disampaikan, fasilitator lalu mengajak peserta untuk memulai pertemuan pertama dengan ritus pembuka. Lagu Pembuka Pilih lagu yang sesuai dengan tema. Tanda Salib P: Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. P: Tuhan beserta kita. U: Sekarang dan selama-lamanya. 96

Pendalaman Kitab Suci untuk Dewasa/Lingkungan

Pengantar Fasilitator menyampaikan pengantar singkat di bawah ini sebelum pembacaan teks Kitab Suci. Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, dalam pertemuan pertama ini, kita diajak untuk mendalami dan merenungkan perikop dari Injil Matius (Mat. 14:22-33), mengenai Yesus yang mendatangi dan menyertai para murid-Nya, yang sangat lelah dan nyaris putus asa karena sudah tidak sanggup melawan amukan angin sakal. Dengan mendalami dan merenungkan perikop ini, kita diharapkan menyadari bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita ketika kita menghadapi tantangan dan kesulitan hidup, yang membuat kita panik, takut, kecewa, sedih, marah, putus asa, dan kehilangan harapan. Doa Pembuka P: Marilah kita berdoa. Allah, pangkal harapan sejati, hidup kami tidak selamanya tentang tawa bahagia dan cerita sukacita yang berjalan seirama dengan harapan kami. Terkadang hidup kami penuh dengan tantangan dan kesulitan, yang membuat kami mudah sedih, kecewa, putus asa, dan kehilangan harapan. Berilah kami kekuatan agar mampu bangkit kembali saat kehilangan harapan, dan agar kami terus berjuang keras mengatasi berbagai kesulitan dan tantangan dalam hidup kami dengan tetap mengandalkan Engkau. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau, dalam persekutuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. U: Amin. PENDALAMAN KITAB SUCI Pembacaan Teks Fasilitator meminta dua orang peserta yang hadir (laki-laki dan perempuan) untuk membaca Mat. 14:22-33 secara bergantian antara ayat ganjil dan genap. Ayat ganjil dibacakan oleh laki-laki dan ayat genap dibacakan oleh perempuan. Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian sambil melihat Alkitab masing-masing.

Pertemuan Pertama

97

Matius 14:22-33 22 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. 23 Dan setelah orang banyak itu disuruhNya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. 24 Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. 25 Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. 26 Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriakteriak karena takut. 27 Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” 28 Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” 29 Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. 30 Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” 31 Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” 32 Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun redalah. 33 Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.” P: Demikianlah sabda Tuhan. U: Terpujilah Kristus. Pendalaman Teks Fasilitator mengajak peserta untuk mendalami Mat. 14:22-33 dengan menjawab beberapa pertanyaan penuntun berikut ini. 1. Apa yang dilakukan Yesus setelah memerintahkan para murid untuk pergi mendahului-Nya? Lihat ay. 23. 2. Apa yang membuat para murid panik, dan apa yang dilakukan Yesus ketika melihat murid-murid-Nya diombang-ambingkan gelombang tinggi karena angin sakal? Lihat ay. 24-25. 3. Apa reaksi para murid melihat Yesus datang kepada mereka dengan berjalan di atas air, dan bagaimana Yesus memperkenalkan diriNya? Lihat ay. 26-27. 4. Apa tanggapan Petrus setelah Yesus memperkenalkan diri-Nya? Apa reaksi Petrus ketika hampir tenggelam, dan apa tanggapan Yesus? Lihat ay. 28-30. 98

Pendalaman Kitab Suci untuk Dewasa/Lingkungan

5. Apa yang mendorong para murid menyembah Yesus sebagai Anak Allah yang menyelamatkan? Lihat ay. 32-33. Penjelasan Teks Setelah mendengarkan diskusi dan jawaban peserta, fasilitator memberikan penjelasan dengan menyampaikan beberapa poin di bawah ini. 1. Penginjil Matius mengisahkan Yesus naik ke sebuah bukit untuk berdoa setelah membuat mukjizat memberi makan orang banyak hanya dari lima roti dan dua ikan (Mat. 14:13-21). Di bukit yang terletak di sekitar Danau Galilea itu, Yesus berdoa seorang diri sepanjang malam. Dalam Perjanjian Lama, bukit atau gunung merupakan tempat favorit bagi tokoh besar dalam sejarah Israel untuk berdoa, misalnya Musa (Kel. 32:30-34) dan Elia (1Raj. 19) yang berdoa di Gunung Sinai (atau Horeb). Dalam Injil Matius, gunung adalah sebuah tempat untuk berjumpa dengan Allah. Yesus berdoa untuk menjalin komunikasi dengan Bapa yang menjadi sumber kekuatan bagi-Nya dalam menjalankan misi pengutusan-Nya mewartakan Kerajaan Allah. 2. Perhatian kemudian diarahkan kepada para murid Yesus. Mereka dilukiskan sedang panik karena diombang-ambingkan gelombang tinggi lantaran angin sakal. Melihat murid-murid-Nya berada dalam situasi yang sulit dan berbahaya, Yesus mendatangi mereka dengan berjalan di atas air, lalu menenangkan mereka. Yesus seperti seorang sahabat sejati, sebab Ia mendatangi, menenangkan, dan menyertai sahabat-sahabat-Nya yang berada dalam situasi sulit. Dia datang mendekati dan menolong mereka menjelang pagi seperti yang dilakukan Allah sendiri (Mzm. 46:6; Yes. 17:14). 3. Dengan berjalan di atas air, Yesus menunjukkan bahwa Ia tidak takut dan gentar terhadap keganasan alam. Ia tampil sebagai orang yang memiliki kuasa atas alam, sebab alam tidak mampu menggoyahkan diri-Nya. Namun, para murid berteriak-teriak karena takut ketika melihat Yesus berjalan di atas air di tengah gelombang yang tinggi. Mereka mengira sedang melihat hantu. Dalam suasana inilah Yesus memperkenalkan diri-Nya, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Dengan mengatakan, “Aku ini,” atau dalam pengertian luas, “Aku beserta kalian,” Yesus secara tidak langsung memberikan kekuatan bagi mereka yang sedang berada di tengah badai. Ia hadir dan memberi mereka semangat untuk menghadapi badai tersebut. Melalui Pertemuan Pertama

99

perkenalan ini, Yesus menegaskan diri-Nya sebagai Anak Allah, yang datang mendekati dan menyertai para murid yang sedang berada dalam situasi sulit dan berbahaya yang disimbolkan oleh gelombang laut yang tinggi. 4. Menanggapi perkenalan diri Yesus, Petrus yang mewakili para murid berkata, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepadaMu berjalan di atas air” (ay. 28). Kata-kata ini menyiratkan keraguraguan Petrus, tetapi sekaligus imannya. Yesus lalu menyuruh Petrus untuk datang. Petrus pun turun dari perahu dan berjalan di atas air untuk mendapatkan Yesus. Namun, ketika merasakan tiupan angin, ia menjadi panik, takut, dan mulai tenggelam. Dia lalu berseru minta tolong kepada Yesus, “Tuhan, tolonglah aku!” (ay. 30). Seruan minta tolong ini sebenarnya merupakan ungkapan iman di tengah ketakutan. Permohonan Petrus dikabulkan Yesus yang lalu mengulurkan tangan-Nya dan memegang murid-Nya itu supaya tidak semakin tenggelam. Tindakan “mengulurkan tangan” ini mengingatkan akan kepercayaan pemazmur kepada Allah yang membebaskan orang dari bencana, “Ia menjangkau dari tempat tinggi, mengambil aku, menarik aku dari banjir” (Mzm. 18:16); atau, “Ulurkanlah tangan-Mu dari tempat tinggi, bebaskanlah aku dan lepaskanlah aku dari banjir, dari tangan orang-orang asing” (Mzm. 144:7). 5. Pengalaman para murid – melihat Yesus berjalan di atas air, melihat Yesus memanggil Petrus untuk datang kepada-Nya dengan berjalan di atas air, melihat Yesus mengulurkan tangan-Nya untuk menyelamatkan Petrus yang hampir tenggelam, dan melihat Yesus meredakan angin sakal – membuat mereka mengakui dan menyembah Yesus sebagai Anak Allah. “Sesungguhnya Engkau Anak Allah” (ay. 33). Status Yesus sebagai Anak Allah sebelumnya diwartakan oleh suara dari surga (Mat. 3:17), dan akan muncul lagi dalam pengakuan Petrus (Mat. 16:16) serta dalam pengakuan kepala pasukan Romawi (Mat. 27:54). Jadi, identitas Yesus sebagai Anak Allah, yang mengungkapkan kedekatan relasi-Nya dengan Allah, mendapat perhatian penting dalam Injil Matius.

100

Pendalaman Kitab Suci untuk Dewasa/Lingkungan

Sharing dan Aksi Nyata Setelah penjelasan teks, fasilitator mengajak peserta untuk men-sharingkan pengalaman pribadi mereka dan untuk mengungkapkan niat melakukan aksi nyata dengan arahan pertanyaan di bawah ini. Fasilitator juga perlu mengingatkan peserta agar menggunakan kata “saya” dan bukan “kita” atau “kami” dalam sharing demi menghindari kesan menggurui orang lain. 1. Persoalan dan kesulitan hidup apa yang pernah menimpa diriku dan yang membuat iman kepercayaanku kepada Tuhan menjadi goyah? 2. Apakah aku mampu untuk mempertahankan imanku kepada Allah saat hampir tenggelam karena persoalan dan kesulitan dalam hidup? Jika tidak, mengapa? 3. Apakah aku berani berteriak seperti Petrus, “Tuhan, tolonglah aku!” dan membiarkan Tuhan mengulurkan tangan-Nya untuk membantuku? 4. Siapakah yang menjadi tangan Tuhan untuk menolongku di kala aku menderita dan kesusahan? 5. Aksi nyata apa yang akan aku lakukan selama satu minggu ke depan untuk membalas kebaikan dan cinta Tuhan yang telah menolongku saat mengalami persoalan dan kesulitan yang sangat pelik? Doa Umat Setelah sharing pengalaman dan mengungkapkan niat untuk melakukan aksi nyata, fasilitator mengajak peserta untuk mengungkapkan doa umat sesuai dengan ujud masing-masing, termasuk mendoakan agar pandemi Covid-19 segera berlalu. Doa umat ditutup dengan doa Bapa Kami. PENUTUP Fasilitator mengajak seluruh peserta untuk berdoa memohon bantuan Allah agar mereka sanggup melaksanakan kehendak-Nya serta mampu mewujudkan niat pribadi untuk melakukan aksi nyata. Doa Penutup P: Marilah kita berdoa. Allah Bapa di dalam surga, ulurkanlah tangan-Mu untuk menolong kami dalam menghadapi berbagai tantangan, kesulitan, dan badai dalam hidup dan karya kami, agar kami tidak mudah putus asa, tetapi tetap tegar laksana batu karang. Tumbuhkanlah pula di dalam Pertemuan Pertama

101

U:

hati dan budi kami, kesadaran dan harapan bahwa semua tantangan, kesulitan, dan badai pasti akan berlalu jika kami terus berjuang untuk menghadapinya seraya bersandar pada pertolongan-Mu. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin

Berkat dan Pengutusan P: Marilah kita memohon berkat Tuhan. Semoga Tuhan beserta kita. U: Sekarang dan selama-lamanya. P: Semoga kita sekalian dilimpahi berkat Allah yang mahakuasa. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. Lagu Penutup Pilih lagu yang sesuai dengan tema.

102

Pendalaman Kitab Suci untuk Dewasa/Lingkungan

Pertemuan Kedua YESUS, SAHABAT BAGI MEREKA YANG KEHILANGAN (Yoh. 11:1-45) Deskripsi Situasi dan Tema Fasilitator membuka pertemuan dengan membaca deskripsi singkat terkait situasi aktual dan tema pertemuan kedua. Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, sejak merebaknya pandemi Covid-19, ada banyak orang yang kehilangan anggota keluarga, sanak saudara, sahabat, dan kenalan. Hal ini jelas menggoreskan luka di hati mereka yang ditinggalkan. Luka ini semakin dalam dan pedih ketika mereka tidak bisa menyentuh atau melihat orang-orang yang terkasih itu untuk terakhir kalinya karena aturan protokol kesehatan demi melindungi diri dari paparan Covid-19. Luka hati yang dalam dan pedih ini bisa membuat iman kita kepada Allah yang penuh kasih menjadi goyah. Menghadapi situasi dan pengalaman tersebut, kita perlu merenungkan dan menimba kekuatan dari sosok Yesus yang tampil sebagai sahabat bagi orang-orang yang kehilangan, agar kita semakin menyadari dan mengimani bahwa Yesus tidak akan pernah meninggalkan kita ketika kita sedih, kecewa, dan marah karena kehilangan sanak keluarga. Kisah kunjungan Yesus kepada Marta dan Maria kiranya menyadarkan kita bahwa Yesus tidak pernah akan meninggalkan kita. Sebaliknya, Ia akan mengunjungi kita juga, yaitu jika kita memiliki relasi yang dekat denganNya. PEMBUKA Setelah deskripsi singkat terkait situasi dan tema disampaikan, fasilitator lalu mengajak peserta untuk memulai pertemuan pertama dengan ritus pembuka. Lagu Pembuka Pilih lagu yang sesuai dengan tema. Tanda Salib P: Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. P: Tuhan beserta kita. U: Sekarang dan selama-lamanya. 103

Pengantar Fasilitator menyampaikan pengantar singkat di bawah ini sebelum pembacaan teks Kitab Suci. Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, dalam pertemuan kedua ini, kita diajak untuk mendalami dan merenungkan perikop dari Injil Yohanes (Yoh. 11:1-45), yang menceritakan tentang Lazarus yang dibangkitkan. Kisah ini tidak hanya berbicara tentang mukjizat yang luar biasa, di mana seorang yang sudah mati dapat dihidupkan kembali, tetapi juga tentang Yesus yang mau datang dan hadir di tengah keluarga sebagai seorang sahabat, yang bersimpati dengan sahabat-sahabat-Nya yang bersedih karena kehilangan orang yang dicintai. Doa Pembuka P: Marilah kita berdoa. Allah Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur karena di masa pandemi ini, Engkau selalu hadir menyertai kami, baik di saat suka maupun di saat duka, yaitu ketika kami kehilangan anggota keluarga, sanak saudara, sahabat, dan kenalan akibat Covid-19. Kami mohon, utuslah Roh Kudus-Mu untuk membantu kami memahami sabda-Mu. Semoga melalui permenungan sabda, kami semakin yakin bahwa Engkau tidak pernah meninggalkan kami dalam menghadapi kesedihan karena kehilangan orang-orang yang sangat kami cintai, sebagaimana Yesus tidak meninggalkan sahabat-sahabat-Nya ketika mereka kehilangan saudara mereka yang terkasih. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. U: Amin. PENDALAMAN KITAB SUCI Pembacaan Teks Fasilitator meminta dua orang peserta yang hadir (laki-laki dan perempuan) untuk membaca Yoh. 11:1-45 secara bergantian antara ayat ganjil dan genap. Ayat ganjil dibacakan oleh laki-laki dan ayat genap dibacakan oleh perempuan. Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian sambil melihat Alkitab masing-masing.

104

Pendalaman Kitab Suci untuk Dewasa/Lingkungan

Yohanes 11:1-45 1 Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta. 2 Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya. 3 Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” 4 Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.” 5 Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. 6 Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; 7 tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Mari kita kembali lagi ke Yudea.” 8 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: “Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?” 9 Jawab Yesus: “Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini. 10 Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya.” 11 Demikianlah perkataanNya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: “Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya.” 12 Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: “Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh.” 13 Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. 14 Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: “Lazarus sudah mati; 15 tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.” 16 Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.” 17 Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. 18 Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya. 19 Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. 20 Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. 21 Maka kata Marta kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. 22 Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan Pertemuan Kedua

105

kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” 23 Kata Yesus kepada Marta: “Saudaramu akan bangkit.” 24 Kata Marta kepada-Nya: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” 25 Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, 26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” 27 Jawab Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.” 28 Dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: “Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau.” 29 Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus. 30 Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia. 31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ. 32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepadaNya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” 33 Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: 34 “Di manakah dia kamu baringkan?” Jawab mereka: “Tuhan, marilah dan lihatlah!” 35 Maka menangislah Yesus. 36 Kata orang-orang Yahudi: “Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!” 37 Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?” 38 Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu. 39 Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” 40 Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” 41 Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. 42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” 43 Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, 106

Pendalaman Kitab Suci untuk Dewasa/Lingkungan

marilah ke luar!” 44 Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.” 45 Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. P: Demikianlah sabda Tuhan. U: Terpujilah Kristus. Pendalaman Teks Fasilitator mengajak peserta untuk mendalami Yoh. 11:1-45 dengan menjawab beberapa pertanyaan penuntun berikut ini. 1. Mengapa Yesus menunda keberangkatan-Nya ke Betania untuk mengunjungi Lazarus yang sedang sakit? Lihat ay. 4-6. 2. Apa tanggapan Marta atas kedatangan Yesus di Betania setelah Lazarus dimakamkan empat hari? Apakah dia percaya bahwa Lazarus akan dibangkitkan Yesus? Lihat ay. 20-27. 3. Apa reaksi Maria ketika berjumpa dengan Yesus? Lihat ay. 28-32. 4. Mengapa hati Yesus sangat terharu sampai menangis? Lihat ay. 3337. Penjelasan Teks Setelah mendengarkan diskusi dan jawaban peserta, fasilitator memberikan penjelasan dengan menyampaikan beberapa poin di bawah ini. 1. Maria dan Marta menyampaikan kabar kepada Yesus bahwa Lazarus, saudara mereka, sedang sakit. “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” Mereka tentu saja mengharapkan Yesus segera datang untuk menjenguk sahabat yang dikasihi-Nya itu. Mereka sangat mungkin pula mengharapkan Yesus berkenan menyembuhkannya. Namun, Yesus tidak segera datang ke Betania. Ia menunda kedatangan-Nya, sehingga baru tiba di Betania setelah Lazarus dimakamkan empat hari. Hal ini dilakukan Yesus karena penyakit dan kematian Lazarus akan menjadi sarana agar kemuliaan Allah menjadi nyata. Keagungan dan kemuliaan Allah akan tampak dalam diri Yesus ketika Ia membangkitkan Lazarus yang sudah empat hari dimakamkan. Melalui penundaan ini pula kita diingatkan dan disadarkan bahwa sikap dan tindakan Yesus ditentukan sepenuhnya oleh Allah Bapa (Yoh. 5:19), Pertemuan Kedua

107

bukan oleh tekanan dari orang-orang terdekat-Nya, seperti ibu-Nya (Yoh. 2:3-4), saudara-saudara-Nya (Yoh. 7:8-9), atau sahabat-sahabat yang dikasihi-Nya (Yoh. 11:5). 2. Mendengar kabar kedatangan Yesus, Marta pergi menjemput-Nya. Pada waktu bertemu dengan Yesus, Marta langsung berkata, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati” (ay. 21). Marta sepertinya menyesali mengapa Yesus tidak segera datang ketika dikabarkan kepada-Nya bahwa Lazarus jatuh sakit. Ia bersikap demikian karena percaya pada kuasa Yesus untuk menyembuhkan orang sakit dari berita-berita tentang mukjizat penyembuhan yang telah dilakukan-Nya. Meski menyesali kedatangan Yesus yang terlambat, Marta tetap percaya bahwa Allah akan memberikan apa pun yang diminta Yesus (ay. 22). Di sini, Marta mengakui karya Allah di balik mukjizat-mukjizat atau tanda-tanda yang dikerjakan Yesus, walaupun dia kurang percaya pada kata-kata Yesus bahwa Lazarus, saudaranya, akan bangkit lagi. Dia memang percaya bahwa Lazarus akan dibangkitkan, tetapi di akhir zaman (ay. 24), seperti keyakinan umum di kalangan orang Yahudi pada masa itu. Itulah sebabnya Yesus menyatakan diri-Nya sebagai kebangkitan dan hidup. “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (ay. 25-26). Marta semakin maju dalam imannya dengan percaya pada pewahyuan diri Yesus sebagai kebangkitan dan hidup. Walau mungkin belum memahami sepenuhnya, dia mengungkapan imannya dengan berkata, “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia” (ay. 27). Pengakuan iman ini sama dengan yang ingin dicapai oleh penginjil Yohanes, “Semua yang tercantum di sini telah dicatat supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh. 20:31). 3. Maria segera bangkit dan pergi menjumpai Yesus setelah diberitahu oleh Marta secara pribadi, “Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau.” Ketika berjumpa dengan Yesus, Maria tersungkur di depan kaki-Nya. Hal ini mengungkapkan banyak arti. Tindakan Maria ini bisa mengungkapkan kesedihan, permohonan, dan hormatnya kepada Yesus sebagai gurunya. Maria lalu mengatakan persis seperti yang dikatakan Marta, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku 108

Pendalaman Kitab Suci untuk Dewasa/Lingkungan

pasti tidak mati” (ay. 32). Sama seperti Marta, kata-kata Maria ini mengungkapkan imannya yang bercampur dengan kekecewaan. Ia juga mengungkapkan kesedihannya secara terbuka di hadapan Yesus. Walaupun Lazarus sudah dikubur empat hari, namun Maria masih menangis sedih. 4. Mendengar tangisan Maria, masygullah hati Yesus. Ia sangat terharu sampai menangis. Yesus sangat sedih melihat sahabat-sahabat yang disayangi-Nya dilanda dukacita. Sikap-Nya yang berempati dengan sahabat-sahabat-Nya yang berdukacita membuat-Nya menangis bersama dengan orang-orang yang menangis (bdk. Rm. 12:15). Yesus menunjukkan simpati yang tulus kepada orang yang berduka dengan meneteskan air mata. Namun, kesusahan hati Yesus ini bisa juga karena melihat adanya ketidakpercayaan pada kuasa-Nya untuk membuat mukjizat (bdk. Yoh. 5:39-40). Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa Yesus sedih, kesal, dan marah karena ketidakpercayaan para pengikut-Nya dan orang Yahudi pada umumnya. Dalam Injil Yohanes, kita sering melihat Yesus sedih, kesal, dan marah terhadap orang yang tidak percaya kepada-Nya (Yoh. 2:18; 6:36; 12:37-40; 15:24). Sharing dan Aksi Nyata Setelah penjelasan teks, fasilitator mengajak peserta untuk men-sharingkan pengalaman pribadi mereka dan untuk mengungkapkan niat melakukan aksi nyata dengan arahan pertanyaan di bawah ini. Fasilitator juga perlu mengingatkan peserta agar menggunakan kata “saya” dan bukan “kita” atau “kami” dalam sharing demi menghindari kesan menggurui orang lain. 1. Apakah aku dan/atau keluargaku pernah mengalami perasaan “mati” atau “kehilangan” dalam hidup ini? 2. Sejauh mana aku menyadari kehadiran Tuhan dalam peristiwa sedih dan getir? Apakah aku masih memiliki iman bahwa Tuhan akan datang mengunjungiku? 3. Pernahkah aku dan/atau keluargaku mengalami mukjizat yang luar biasa dan tidak masuk akal dalam hidup? Bagaimana reaksi dan sikapku ketika mengalami hal itu? Apakah semuanya itu semakin menambah dan menguatkan imanku kepada Tuhan? Ataukah aku menganggapnya sebagai kebetulan belaka?

Pertemuan Kedua

109

4. Sudahkah aku bersikap seperti Yesus yang datang dan hadir untuk memberikan penghiburan dan semangat hidup bagi orang yang mengalami kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai? 5. Apa aksi nyata yang akan aku lakukan selama seminggu ke depan bagi sahabat atau tetangga yang mengalami kesedihan karena berbagai alasan? Doa Umat Setelah sharing pengalaman dan mengungkapkan niat untuk melakukan aksi nyata, fasilitator mengajak peserta untuk mengungkapkan doa umat sesuai dengan ujud masing-masing, termasuk mendoakan agar pandemi Covid-19 segera berlalu. Doa umat ditutup dengan doa Bapa Kami. PENUTUP Fasilitator mengajak seluruh peserta untuk berdoa memohon bantuan Allah agar mereka sanggup melaksanakan kehendak-Nya serta mampu mewujudkan niat pribadi untuk melakukan aksi nyata. Doa Penutup P: Marilah kita berdoa. Allah Bapa yang maha pengasih, kami bersyukur atas sabda-Mu yang telah kami dengarkan dalam pertemuan ini. Kami mohon, kunjungilah keluarga kami dan jadikanlah kami sahabat-Mu dan sahabat bagi keluarga-keluarga yang mengalami kehilangan. Bantulah kami juga dengan kehadiran Roh Kudus-Mu, agar kasih dan semangat Yesus selalu hadir di tengah keluarga, sehingga kami mampu berempati dengan sesama yang menderita dan sedih karena kehilangan orangorang yang dicintai. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. U: Amin. Berkat dan Pengutusan P: Marilah kita memohon berkat Tuhan. Semoga Tuhan beserta kita. U: Sekarang dan selama-lamanya. P: Semoga kita sekalian dilimpahi berkat Allah yang mahakuasa. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin.

110

Pendalaman Kitab Suci untuk Dewasa/Lingkungan

Lagu Penutup Pilih lagu yang sesuai dengan tema.

Pertemuan Kedua

111

Pertemuan Ketiga YESUS, SAHABAT BAGI MEREKA YANG MENDERITA (Luk. 10:25-37) Deskripsi Situasi dan Tema Fasilitator membuka pertemuan dengan membaca deskripsi singkat terkait situasi aktual dan tema pertemuan ketiga. Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Pandemi Covid-19 bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan juga masalah ekonomi yang merampas habis-habisan penghasilan banyak orang, seperti yang dilakukan oleh para penyamun di tengah jalan ke kota Yerikho. Banyak orang terhimpit persoalan ekonomi lantaran banyak kegiatan perekonomian tidak bisa berjalan seperti biasa. Sebagian orang bahkan kehilangan mata pencahariannya karena sejumlah usaha tidak bisa lagi beroperasi. Menghadapi situasi sulit yang menyebabkan banyak orang menderita ini, kita perlu merenungkan sosok Yesus yang menjadi sahabat bagi mereka yang menderita, dan yang memberi tanggung jawab kepada kita untuk menolong sesama. Dengan permenungan ini, kita diajak untuk menerima orang lain yang jatuh tergeletak karena beban hidup sebagai sesama yang harus ditolong tanpa memandang status sosial, ekonomi, budaya, politik, dan agamanya. PEMBUKA Setelah deskripsi singkat terkait situasi dan tema disampaikan, fasilitator lalu mengajak peserta untuk memulai pertemuan pertama dengan ritus pembuka. Lagu Pembuka Pilih lagu yang sesuai dengan tema. Tanda Salib P: Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. P: Tuhan beserta kita. U: Sekarang dan selama-lamanya.

112

Pendalaman Kitab Suci untuk Dewasa/Lingkungan

Pengantar Fasilitator menyampaikan pengantar singkat di bawah ini sebelum pembacaan teks Kitab Suci. Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, dalam pertemuan ketiga ini, kita diajak untuk mendalami, merenungkan, dan mencari pesan dari perikop Injil Lukas tentang perumpamaan orang Samaria yang baik hati (Luk. 10:25-37). Melalui orang Samaria itu, kita diajak untuk melihat sosok Yesus sebagai sahabat bagi mereka yang menderita karena dianiaya atau ditolak oleh masyarakat. Kita juga diajak untuk meneladani Yesus yang peduli dan memperhatikan dengan penuh kasih sayang orang-orang yang menderita dan tersingkirkan. Dari situ kita diajak untuk peduli dan tidak masa bodoh dengan penderitaan orang lain. Doa Pembuka P: Marilah kita berdoa. Allah Bapa yang baik, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau selalu hadir dalam perjalanan hidup kami. Kami juga bersyukur karena dapat berkumpul dengan saudara-saudari kami untuk mendengarkan sabda-Mu. Bapa yang baik, kami mohon, curahkanlah Roh Kudus-Mu untuk membimbing kami dalam mendengarkan, mendalami, dan merenungkan sabda-Mu. Semoga melalui pendalaman dan permenungan sabda-Mu ini, kami diubah untuk rela menjadi sesama bagi yang menderita tanpa memandang status sosial, ekonomi, budaya, politik, dan agama. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. U: Amin. PENDALAMAN KITAB SUCI Pembacaan Teks Fasilitator meminta dua orang peserta yang hadir (laki-laki dan perempuan) untuk membaca Luk. 10:25-37 secara bergantian antara ayat ganjil dan genap. Ayat ganjil dibacakan oleh laki-laki dan ayat genap dibacakan oleh perempuan. Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian sambil melihat Alkitab masing-masing.

Pertemuan Ketiga

113

Lukas 10:25-37 25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 26 Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” 27 Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” 28 Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” 29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” 30 Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. 35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. 36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” 37 Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” P: Demikianlah sabda Tuhan. U: Terpujilah Kristus. Pendalaman Teks Fasilitator mengajak peserta untuk mendalami Luk. 10:25-37 dengan menjawab beberapa pertanyaan penuntun berikut ini.

114

Pendalaman Kitab Suci untuk Dewasa/Lingkungan

1. Apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? Lihat ay. 27. 2. Siapakah sesamaku? Lihat ay. 30. 3. Siapa saja yang melewati orang yang jatuh ke tangan para penyamun itu? Apa tindakan mereka ketika melihat seorang yang terluka tersebut? Lihat ay. 31-36. 4. Siapakah orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepada sesama dan yang perbuatannya layak diteladani? Lihat ay. 37. Penjelasan Teks Setelah mendengarkan diskusi dan jawaban peserta, fasilitator memberikan penjelasan dengan menyampaikan beberapa poin di bawah ini. 1. Tema pembicaraan antara Yesus dan ahli Taurat ini adalah apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal. Hidup yang kekal di sini berkaitan dengan pandangan mengenai keselamatan. Dalam masyarakat Israel kuno, keselamatan pada awalnya dipahami sebagai kondisi hidup yang tenang dan damai di tanah yang diberikan Tuhan kepada mereka. Akan tetapi, pada perkembangan selanjutnya, keselamatan dikaitkan juga dengan “kehidupan yang akan datang” (setelah kematian). Yesus menunjukkan bahwa kunci untuk mewarisi kehidupan kekal atau memperoleh keselamatan ditemukan dalam ketaatan terhadap perintah Taurat. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Jadi, hidup kekal atau keselamatan dapat ditemukan dan diraih dengan mengasihi Allah dan sesama secara nyata. 2. Pertanyaan ahli Taurat itu, “Siapakah sesamaku manusia?” tidak dijawab dengan definisi yang tegas dan jelas oleh Yesus. Sebaliknya, Yesus menjawab dengan menceritakan sebuah kisah perumpamaan dengan tujuan untuk mengajak orang itu berpartisipasi aktif dalam menggali dan menemukan sendiri jawabannya. Yesus memulai perumpamaan-Nya dengan menceritakan bahwa ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, melainkan juga memukulnya dan sesudah itu pergi meninggalkannya dalam keadaan sekarat. Identitas orang ini tidak jelas, apakah orang Yahudi atau bukan. Yang pasti, ia adalah seorang manusia yang sedang berbaring Pertemuan Ketiga

115

sekarat di tepi jalan, terluka parah, dan membutuhkan pertolongan. Dengan tidak memberi tahu identitas orang itu, Yesus ingin mengatakan bahwa sesama bukan hanya orang yang satu suku, bangsa, atau golongan, melainkan juga siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Sesama bukan hanya tetangga di sekitar rumah kita atau orang yang kita kenal, melainkan juga siapa saja yang kita jumpai dalam kondisi dan pengalaman hidup mereka. Mereka bisa saja orang asing yang kita tolong atau orang yang kita beri semangat hidup atau bahkan orang yang membenci kita tetapi kita doakan. 3. Yesus kemudian menampilkan tiga tokoh dari ras dan status sosial yang berbeda. Ketiganya memberikan reaksi dan tanggapan yang berbeda-beda ketika melihat orang yang sedang sekarat itu. Pertama, seorang imam yang termasuk kelompok elite dalam masyarakat Yahudi pada waktu itu. Ia tidak mau bersentuhan dengan orang itu dan berusaha menghindar. Ia enggan mendekati untuk mengecek apakah orang itu masih hidup atau sudah mati, apalagi menawarkan pertolongan. Ia tidak peduli dan masa bodoh, padahal mengetahui dengan baik perintah dan kehendak Allah dalam Taurat untuk mengasihi dan menolong sesama. Seharusnya imam ini menjadi pribadi yang penuh belas kasihan dan selalu bersedia untuk menolong sesama. Namun, ironisnya, ia tidak mencerminkan dirinya sebagai seorang iman yang seharusnya mewujudkan apa yang ia ketahui, ia pahami, dan ia ajarkan. Kedua, seorang Lewi. Orang Lewi ini melihat orang yang menderita itu, tetapi tidak melakukan apa-apa, kecuali hanya melewatinya di sisi lain jalan itu. Seperti imam sebelumnya, ia pasti mengetahui ajaran kasih dalam hukum Taurat, tetapi tidak menerapkannya dalam kondisi yang menuntut kasih itu dipraktikkan. Orang ini juga tidak mau tahu alias masa bodoh dengan penderitaan orang lain. Ketiga, seorang Samaria. Melihat ada orang tergeletak hampir mati di pinggir jalan, orang Samaria ini tergerak hatinya oleh belas kasihan. Ia mendekatinya dan melakukan pertolongan pertama dengan membersihkan luka-luka orang itu dengan minyak dan anggur. Ia lalu menaikkan orang itu ke atas keledai miliknya dan membawanya ke tempat penginapan untuk mendapatkan perawatan selanjutnya. Di penginapan, ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan dan memintanya untuk merawat orang itu sampai sembuh. Ia bahkan berjanji untuk membayar kekurangan biaya perawatan. Tindakan orang Samaria ini menunjukkan dengan jelas kemurahan 116

Pendalaman Kitab Suci untuk Dewasa/Lingkungan

hatinya kepada orang lain tanpa memandang identitas dan tanpa menuntut balasan. Ia memberikan pertolongan kepada orang yang tidak dikenal persis seperti kepada sahabat baiknya. 4. Orang Samaria dalam perumpamaan ini menjadi contoh nyata orang yang menunjukkan belas kasihan kepada sesama tanpa memandang identitas dan status. Ia menolong walaupun biayanya cukup mahal. Ia rela dan ikhlas mempertaruhkan banyak hal demi keselamatan orang yang tidak dikenalnya sama sekali. Dalam menolong, ia sama sekali tidak menerapkan kriteria atau syarat tertentu. Sesama baginya adalah orang yang membutuhkan pertolongannya. Itulah sebabnya orang Samaria ini ditampilkan Yesus sebagai contoh dan model yang harus kita teladani.   Sharing dan Aksi Nyata Setelah penjelasan teks, fasilitator mengajak peserta untuk men-sharingkan pengalaman pribadi mereka dan untuk mengungkapkan niat melakukan aksi nyata dengan arahan pertanyaan di bawah ini. Fasilitator juga perlu mengingatkan peserta agar menggunakan kata “saya” dan bukan “kita” atau “kami” dalam sharing demi menghindari kesan menggurui orang lain. 1. Apakah mentalitas imam dan orang Lewi yang tidak peduli dengan penderitaan orang lain itu melekat dalam diriku? Bagaimana aku dapat mengatasinya? 2. Apakah aku sudah meneladani orang Samaria, yang secara spontan dan tanpa memperhitungkan untung rugi, membantu orang yang menderita dan yang sedang membutuhkan? 3. Apakah aku juga pernah menemukan orang Samaria yang murah hati ketika aku sedang membutuhkan pertolongan? 4. Apa aksi nyata yang akan aku lakukan selama satu minggu ke depan untuk meneladani sikap dan tindakan orang Samaria yang murah hati itu? Doa Umat Setelah sharing pengalaman dan mengungkapkan niat untuk melakukan aksi nyata, fasilitator mengajak peserta untuk mengungkapkan doa umat sesuai dengan ujud masing-masing, termasuk mendoakan agar pandemi Covid-19 segera berlalu. Doa umat ditutup dengan doa Bapa Kami.

Pertemuan Ketiga

117

PENUTUP Fasilitator mengajak seluruh peserta untuk berdoa memohon bantuan Allah agar mereka sanggup melaksanakan kehendak-Nya serta mampu mewujudkan niat pribadi untuk melakukan aksi nyata. Doa Penutup P: Marilah kita berdoa. Bapa yang baik, kami bersyukur untuk sabda-Mu yang boleh kami dengar dan renungkan bersama saudara-saudari kami. Kami mohon, bimbinglah dan mampukanlah kami agar senantiasa mengasihi Engkau melalui tindakan kasih kepada sesama yang membutuhkan di dalam perjalanan hidup kami, seperti teladan yang diberikan oleh orang Samaria yang murah hati. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami, kini dan sepanjang masa. U: Amin. Berkat dan Pengutusan P: Marilah kita memohon berkat Tuhan. Semoga Tuhan beserta kita. U: Sekarang dan selama-lamanya. P: Semoga kita sekalian dilimpahi berkat Allah yang mahakuasa. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. Lagu Penutup Pilih lagu yang sesuai dengan tema.

118

Pendalaman Kitab Suci untuk Dewasa/Lingkungan

Pertemuan Keempat YESUS, SAHABAT BAGI MEREKA YANG BERTOBAT (Why. 3:14-21) Deskripsi Situasi dan Tema Fasilitator membuka pertemuan dengan membaca deskripsi singkat terkait situasi aktual dan tema pertemuan keempat. Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, sektor yang juga terdampak pandemi Covid-19 adalah keagamaan. Seperti yang kita alami, aktivitas beribadah, khususnya aktivitas liturgi di gereja, dibatasi. Umat memang tetap bisa berpartisipasi melalui layar televisi atau streaming di channel YouTube. Namun, banyak juga yang tidak bisa turut serta karena tidak memiliki sarana dan prasarana yang diperlukan. Situasi semacam ini tidak menutup kemungkinan membuat hidup doa dan ibadah umat menjadi suam-suam kuku seperti jemaat di Laodikia dalam kitab Wahyu. Itu sebabnya kita perlu mendalami dan merenungkan sosok Yesus yang tampil sebagai sahabat bagi orang-orang yang bertobat agar kita terdorong untuk terus-menerus mengupayakan pertobatan. PEMBUKA Setelah deskripsi singkat terkait situasi dan tema disampaikan, fasilitator lalu mengajak peserta untuk memulai pertemuan pertama dengan ritus pembuka. Lagu Pembuka Pilih lagu yang sesuai dengan tema. Tanda Salib P: Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. P: Tuhan beserta kita. U: Sekarang dan selama-lamanya. Pengantar Fasilitator menyampaikan pengantar singkat di bawah ini sebelum pembacaan teks Kitab Suci. Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, dalam pertemuan keempat dan terakhir ini, kita diajak untuk mendalami, merenungkan, 119

dan mencari pesan dari perikop dalam kitab Wahyu (Why. 3:14-22), yang memuat surat Yohanes kepada jemaat di Laodikia. Surat ini kurang lebih relevan dengan situasi Gereja dan masyarakat sekarang ini. Karena pandemi, sebagian umat Katolik bisa jadi mulai kehilangan semangat untuk menjadi murid dan saksi Kristus. Demikian pula hal dengan jemaat Laodikia dalam kitab Wahyu, yang tergoda untuk menjalani kehidupan sebagai murid Kristus secara suam-suam kuku. Melalui surat ini, kita diminta untuk menjalani hidup sebagai pengikut Kristus dengan penuh semangat dan dengan terus-menerus mengusahakan pertobatan. Doa Pembuka P: Marilah kita berdoa. Allah Bapa di dalam surga, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah menuntun dan menggerakkan hati kami untuk merenungkan sabda-Mu. Bukalah hati dan pikiran kami agar kami mampu memahami sabda-Mu yang Engkau sampaikan melalui bacaan dari kitab Wahyu pada pertemuan ini. Tuntunlah kami dalam merenungkan dan berbagi pengalaman agar semangat iman kami dinyalakan kembali di masa yang sulit karena pandemi ini. Kami mohonkan ini dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama dengan Dikau dan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. U: Amin. PENDALAMAN KITAB SUCI Pembacaan Teks Fasilitator meminta dua orang peserta yang hadir (laki-laki dan perempuan) untuk membaca Why. 3:14-22 secara bergantian antara ayat ganjil dan genap. Ayat ganjil dibacakan oleh laki-laki dan ayat genap dibacakan oleh perempuan. Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian sambil melihat Alkitab masing-masing. Wahyu 3:14-22 14 “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: 15 Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! 16 120

Pendalaman Kitab Suci untuk Dewasa/Lingkungan

Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. 17 Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, 18 maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. 19 Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegur dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! 20 Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. 21 Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. 22 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” P: Demikianlah sabda Tuhan. U: Syukur kepada Allah. Pendalaman Teks Fasilitator mengajak peserta untuk mendalami Why. 3:14-22 dengan menjawab beberapa pertanyaan penuntun berikut ini. 1. Apa arti sebutan dan gelar Yesus Kristus sebagai “Amin, Saksi yang setia dan benar?” Lihat ay. 14. 2. Apa yang dicela oleh Yesus dari jemaat di Laodikia? Lihat ay. 15-16. 3. Apa yang membuat jemaat Laodikia bermentalitas suam-suam kuku? Lihat ay. 17. 4. Apa perintah Yesus bagi jemaat Laodikia setelah memberi mereka nasihat? Lihat ay. 19. Penjelasan Teks Setelah mendengarkan diskusi dan jawaban peserta, fasilitator memberikan penjelasan dengan menyampaikan beberapa poin di bawah ini.

Pertemuan Keempat

121

1. Yesus, yang memberi perintah untuk menulis dan mengirim surat kepada jemaat di Laodikia, menyebut diri-Nya dengan gelar “Amin, Saksi yang setia dan benar” (ay. 14). Kata “amin” merupakan kata standar yang dipakai oleh orang Yahudi untuk mengakui kebenaran dari apa yang dikatakan oleh orang lain. Ungkapan “saksi yang setia dan benar” menegaskan kata “amin” sebelumnya. Dengan menyebut diri-Nya “Amin, Saksi yang setia dan benar”, Yesus menegaskan bahwa sabda-Nya sungguh-sungguh benar, serta dapat dipercaya dan diandalkan. Orang tidak perlu lagi berusaha mencari kebenaran yang lain, sebab kebenaran sudah ada di dalam Dia, dan segala kebijaksanaan dan pengetahuan tersembunyi dalam diri-Nya (bdk. Kol. 2:3). Sebutan dan gelar ini juga berimplikasi bahwa di hadapan Yesus, jemaat dituntut untuk berani melakukan introspeksi secara jujur, serta memperlihatkan keinginan yang serius dan tulus untuk mengubah hidup. 2. Jemaat Laodikia dicela oleh Yesus karena kurang bersemangat dalam hidup rohani dan puas dengan prestasi diri mereka sendiri. Kurangnya semangat rohani itu digambarkan dengan ungkapan “suamsuam kuku, tidak dingin atau tidak panas”. Ungkapan ini disoroti sebanyak tiga kali (ay. 15-16) untuk menggarisbawahi seriusnya persoalan hidup rohani jemaat Laodikia. Mereka tidak menjalani hidup sebagai pengikut-Nya secara total dan disiplin, sebab semangat hidup rohani mereka hanya suam-suam kuku. Dengan celaan ini, Yesus menginginkan agar mereka menghayati iman dengan semangat yang bernyala-nyala. Itu sebabnya Yesus digambarkan serasa ingin muntah melihat kualitas rohani jemaat yang setengah-setengah. 3. Semangat suam-suam kuku jemaat Laodikia disebabkan karena mereka merasa mampu mencukupi diri sendiri dan cepat puas diri. Dengan harta dan kekayaan, mereka merasa hidupnya akan terjamin (ay. 17). Di sini tampak ada kontras yang tajam antara pernyataan jemaat dan kenyataan yang sesungguhnya. Jemaat Laodikia membanggakan kekayaan, dan percaya bahwa kekayaan itu memberikan jaminan hidup dan kebahagiaan. Karena itu, mereka tidak pernah berhenti berusaha menumpuk harta. Apa yang mereka miliki seolaholah tidak pernah memberikan kepuasan, sehingga mereka menginginkan lebih lagi.

122

Pendalaman Kitab Suci untuk Dewasa/Lingkungan

4. Yesus memberikan sebuah perintah tegas, “Relakanlah hatimu dan bertobatlah!” Relakanlah hati adalah perintah agar bersemangat atau bernyala-nyala dalam semangat. Dengan kata-kata ini, Yesus mengajak jemaat Laodikia untuk berubah dari mentalitas suam-suam kuku. Mereka diminta untuk merelakan diri dipenuhi, dikuasai, dan digerakkan oleh Roh Kudus. Bertobatlah tidak hanya berarti perintah untuk mengubah sikap dan perilaku dari yang tidak baik di masa lampau menuju yang baik di masa depan, tetapi juga untuk mengubah cara berpikir. Orang perlu mengakui kesalahan di masa lampau atau sekarang, setelah itu memiliki niat, rencana, dan strategi yang tepat untuk memperbaikinya di masa depan. Perubahan sikap dan perilaku harus didasari oleh perubahan cara berpikir dan cara pandang. Dengan kedua perintah ini, jemaat Laodikia diajak untuk mengubah cara berpikir mereka tentang kekayaan dan rasa percaya diri yang berlebihan. Sharing dan Aksi Nyata Setelah penjelasan teks, fasilitator mengajak peserta untuk men-sharingkan pengalaman pribadi mereka dan untuk mengungkapkan niat melakukan aksi nyata dengan arahan pertanyaan di bawah ini. Fasilitator juga perlu mengingatkan peserta agar menggunakan kata “saya” dan bukan “kita” atau “kami” dalam sharing demi menghindari kesan menggurui orang lain. 1. Apakah problem yang dihadapi oleh jemaat Laodikia juga aku alami sekarang ini? Tunjukkanlah secara konkret! 2. Dalam pengalaman hidupku, apakah nafsu serakah akan harta dan kekayaan mengikis iman dan kepercayaanku kepada Tuhan? 3. Sejauh mana harta dan kekayaanku dapat berfungsi secara positif untuk mengembangkan hidup menggereja? 4. Selama masa krisis karena pandemi Covid ini, apakah aku mengalami kemunduran dalam hidup rohani sehingga terjangkiti virus “suam-suam kuku”? 5. Apa aksi nyata yang akan aku lakukan selama satu minggu ke depan agar virus “suam-suam kuku” tidak menyebar dan melumpuhkan hidup rohaniku?

Pertemuan Keempat

123

Doa Umat Setelah sharing pengalaman dan mengungkapkan niat untuk melakukan aksi nyata, fasilitator mengajak peserta untuk mengungkapkan doa umat sesuai dengan ujud masing-masing, termasuk mendoakan agar pandemi Covid-19 segera berlalu. Doa umat ditutup dengan doa Bapa Kami. PENUTUP Fasilitator mengajak seluruh peserta untuk berdoa memohon bantuan Allah agar mereka sanggup melaksanakan kehendak-Nya serta mampu mewujudkan niat pribadi untuk melakukan aksi nyata. Doa Penutup P: Marilah kita berdoa. Allah Bapa sumber kasih sejati, puji syukur kepada-Mu karena Engkau telah membuka hati dan pikiran kami dalam pertemuan ini. Tuntunlah kami dengan kebijaksanaan-Mu, agar kami mampu mendengar Engkau yang mengetuk pintu lewat sabda-Mu, dan mampukanlah kami untuk melakukan pertobatan secara terus-menerus. Doa ini kami mohonkan kepada-Mu dalam nama Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama dengan Dikau dan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. U: Amin. Berkat dan Pengutusan P: Marilah kita memohon berkat Tuhan. Semoga Tuhan beserta kita. U: Sekarang dan selama-lamanya. P: Semoga kita sekalian dilimpahi berkat Allah yang mahakuasa. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. Lagu Penutup Pilih lagu yang sesuai dengan tema.

124

Pendalaman Kitab Suci untuk Dewasa/Lingkungan

BULAN KITAB SUCI NASIONAL 2021

YESUS SAHABAT SEPERJALANAN KITA

PENDALAMAN KITAB SUCI UNTUK REMAJA

Pertemuan Pertama YESUS, SAHABAT BAGI MEREKA YANG PUTUS ASA (Mat. 14:22-33) Deskripsi Situasi Remaja dan Tema Pendamping membuka pertemuan dengan membaca deskripsi singkat terkait situasi aktual dan tema BKSN 2021. Adik-adik remaja yang terkasih dalam Kristus, Bulan Kitab Suci Nasional 2021 bertemakan: “Yesus, Sahabat Seperjalanan Kita.” Tema ini diangkat untuk menyapa situasi konkret dan aktual dalam dunia saat ini, termasuk dunia kita sebagai remaja, yakni pandemi Covid-19. Pandemi ini telah melumpuhkan segala aktivitas kita sebagai kaum remaja yang penuh semangat, energik, riang, dan suka akan hal-hal yang baru. Hal ini tentu saja menjadi pukulan berat lantaran kita terpaksa terus berada di rumah dalam waktu yang tidak bisa diprediksi. Kita tidak bisa lagi berkumpul, bercanda, dan bermain dengan teman-teman, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Akibatnya, kita mudah marah, sedih, kecewa, cemas, murung, stres, bosan, dan lain sebagainya. Berhadapan dengan dampak buruk pandemi Covid-19, sebagai kaum remaja, kita perlu merenungkan sosok sahabat yang mengenal dan memahami diri kita. Kita membutuhkan sahabat yang dapat memberi dukungan ketika kita memerlukannya, yang ada di saat kita menghadapi berbagai kesulitan, dan yang membantu kita melihat segala sesuatu dengan lebih jernih. Bisa kita katakan bahwa sahabat adalah kunci untuk melewati masa sulit, sebab menghabiskan waktu bersama sahabat akan membuat hidup kita dipenuhi oleh pembicaraan yang menyenangkan dan gelak tawa yang menghibur hati. PEMBUKA Setelah menyampaikan deskripsi singkat terkait situasi dan tema, pendamping mengajak peserta memulai pertemuan pertama dengan ritus pembuka. Lagu Pembuka Pilih lagu yang sesuai dengan tema.

126

Pendalaman Kitab Suci untuk Remaja

Tanda Salib P: Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. P: Tuhan beserta kita. U: Sekarang dan selama-lamanya. Pengantar Pendamping menyampaikan pengantar singkat di bawah ini sebelum pembacaan teks Kitab Suci. Siapa sosok sahabat sejati yang perlu kita dalami dan renungkan dalam pertemuan pertama Bulan Kitab Suci Nasional 2021 ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah Yesus, yang tampil sebagai sahabat bagi remaja yang putus asa. Dia datang mendekati, mengulurkan tangan, dan menolong kita sebagai anak-anak remaja pada saat kita cemas, khawatir, marah, kecewa, bosan, dan putus asa. Dengan merenungkan sosok Yesus sebagai sahabat, kita semakin sadar bahwa Tuhan Yesus senantiasa mendampingi, menguatkan, menghibur, dan melindungi kita. Karena itu, kita harus menjalin persahabatan yang erat dengan Tuhan Yesus melalui doa dan membaca Kitab Suci. Doa Pembuka P: Marilah kita berdoa. Allah Bapa di surga, kami bersyukur karena Engkau telah menganugerahkan rahmat kehidupan kepada kami. Engkau juga memberi kami berbagai pengalaman hidup, baik yang menyenangkan maupun yang menantang. Utuslah Roh Kudus-Mu untuk membimbing kami dalam merenungkan situasi sulit karena pandemi Covid-19, yang membuat kami cemas, khawatir, kecewa, bosan, marah, dan bahkan putus asa. Semoga melalui permenungan ini, kami semakin yakin bahwa situasi sulit ini pasti akan berlalu, sebab Engkau datang mendekati, mengulurkan tangan, dan menolong kami. Doa ini kami sampaikan kepada-Mu dengan perantaraan Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami. U: Amin.

Pertemuan Pertama

127

PENDALAMAN KITAB SUCI Pembacaan Teks Pendamping meminta dua anak remaja (laki-laki dan perempuan) untuk membaca Mat. 14:22-33 secara bergantian antara ayat ganjil dan genap. Ayat ganjil dibacakan oleh remaja laki-laki dan ayat genap dibacakan oleh remaja perempuan. Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian, sambil mengikuti dari Alkitab masing-masing. Matius 14:22-33 22 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. 23 Dan setelah orang banyak itu disuruhNya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. 24 Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. 25 Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. 26 Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriakteriak karena takut. 27 Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” 28 Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” 29 Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. 30 Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” 31 Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” 32 Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun redalah. 33 Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.” P: Demikianlah sabda Tuhan. U: Terpujilah Kristus. Pendalaman Teks Pendamping mengajak peserta untuk melihat kembali bacaan Injil secara perlahan-lahan untuk menemukan jawaban atas sejumlah pertanyaan penuntun di bawah ini. 128

Pendalaman Kitab Suci untuk Remaja

1. Apa yang dilakukan Yesus setelah memerintahkan para murid untuk pergi mendahului-Nya? Lihat ay. 23. 2. Apa yang membuat para murid panik, dan apa yang dilakukan Yesus ketika melihat murid-murid-Nya diombang-ambingkan gelombang tinggi karena angin sakal? Lihat ay. 24-25. 3. Apa reaksi para murid melihat Yesus datang kepada mereka dengan berjalan di atas air, dan bagaimana Yesus memperkenalkan diriNya? Lihat ay. 26-27. 4. Apa tanggapan Petrus setelah Yesus memperkenalkan diri-Nya? Apa reaksi Petrus ketika hampir tenggelam, dan apa tanggapan Yesus? Lihat ay. 28-30. Penjelasan Teks Setelah mendengarkan diskusi dan jawaban peserta, pendamping memberikan penegasan dengan menyampaikan beberapa poin di bawah ini. 1. Penginjil Matius mengisahkan Yesus naik ke sebuah bukit untuk berdoa setelah membuat mukjizat memberi makan orang banyak hanya dari lima roti dan dua ikan (Mat. 14:13-21). Di bukit yang terletak di sekitar Danau Galilea itu, Yesus berdoa seorang diri sepanjang malam. Ia menjalin komunikasi dengan Bapa-Nya yang menjadi sumber kekuatan dalam menjalankan misi pengutusan mewartakan Kerajaan Allah dan dalam memperlihatkan kedatangan-Nya. Mengapa harus di sebuat bukit? Dalam Perjanjian Lama, bukit atau gunung merupakan tempat favorit bagi para tokoh besar dalam sejarah Israel untuk berdoa. Musa (Kel. 32:30-34) dan Elia (1 Raj. 19), misalnya, berdoa di Gunung Sinai (atau Horeb). 2. Perhatian kemudian diarahkan kepada para murid Yesus. Mereka dilukiskan sedang panik karena diombang-ambingkan gelombang tinggi lantaran angin sakal. Melihat murid-murid-Nya berada dalam situasi yang sulit dan berbahaya, Yesus mendatangi mereka dengan berjalan di atas air, lalu menenangkan mereka. Yesus seperti seorang sahabat sejati, sebab Ia mendatangi, menenangkan, dan menyertai sahabat-sahabat-Nya yang berada dalam situasi sulit. Dia datang mendekati dan menolong mereka menjelang pagi seperti yang dilakukan Allah sendiri (Mzm. 46:6; Yes. 17:14). 3. Dengan berjalan di atas air, Yesus menunjukkan bahwa Ia tidak takut dan gentar terhadap keganasan alam. Ia tampil sebagai orang yang memiliki kuasa atas alam, sebab alam tidak mampu menggoyahkan Pertemuan Pertama

129

diri-Nya. Namun, para murid berteriak-teriak karena takut ketika melihat Yesus berjalan di atas air di tengah gelombang yang tinggi. Mereka mengira sedang melihat hantu. Dalam suasana inilah Yesus memperkenalkan diri-Nya, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Dengan mengatakan, “Aku ini,” atau dalam pengertian luas, “Aku beserta kalian,” Yesus secara tidak langsung memberikan kekuatan bagi mereka yang sedang berada di tengah badai. Ia hadir dan memberi mereka semangat untuk menghadapi badai tersebut. Melalui perkenalan ini, Yesus menegaskan diri-Nya sebagai Anak Allah, yang datang mendekati dan menyertai para murid yang sedang berada dalam situasi sulit dan berbahaya yang disimbolkan oleh gelombang laut yang tinggi. 4. Menanggapi perkenalan diri Yesus, Petrus yang mewakili para murid berkata, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepadaMu berjalan di atas air” (ay. 28). Kata-kata ini menyiratkan keraguraguan Petrus, tetapi sekaligus imannya. Yesus lalu menyuruh Petrus untuk datang. Petrus pun turun dari perahu dan berjalan di atas air untuk mendapatkan Yesus. Namun, ketika merasakan tiupan angin, ia menjadi panik, takut, dan mulai tenggelam. Dia lalu berseru minta tolong kepada Yesus, “Tuhan, tolonglah aku!” (ay. 30). Seruan minta tolong ini sebenarnya merupakan ungkapan iman di tengah ketakutan. Permohonan Petrus dikabulkan Yesus yang lalu mengulurkan tangan-Nya dan memegang murid-Nya itu supaya tidak semakin tenggelam. Sharing dan Aksi Nyata Setelah penjelasan teks, pendamping mengajak peserta men-sharing-kan pengalaman pribadi dan mengungkapkan niat untuk melakukan aksi nyata dengan bimbingan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini. Pendamping juga perlu mengingatkan peserta agar menggunakan kata “saya” dan bukan “kita” atau “kami” dalam sharing demi menghindari kesan menggurui orang lain. 1. Persoalan dan kesulitan apa yang pernah aku alami dan yang membuat aku marah serta kecewa kepada teman, orang tua, dan Tuhan? 2. Apakah aku berani berteriak seperti Petrus, “Tuhan, tolonglah aku!” dan membiarkan Tuhan mengulurkan tangan-Nya untuk membantuku? 130

Pendalaman Kitab Suci untuk Remaja

3. Siapakah yang menjadi tangan Tuhan untuk menolongku ketika aku cemas, khawatir, kecewa, marah, dan putus asa? 4. Aksi nyata apa yang akan aku lakukan selama satu minggu ke depan untuk membalas kebaikan dan cinta Tuhan yang telah menolongku melalui teman-teman, saudara-saudari, dan orang tua ketika aku susah, sedih, kecewa, dan putus asa? Membuat “Wall of Hope” Setelah sharing dan aksi nyata, pendamping mengajak peserta membuat “wall of hope” sebagai inspirasi rohani harian mereka selama seminggu ke depan. 1. Siapkan sebuah media untuk menulis. Kalian bisa memakai apa saja, seperti kertas karton, buku, papan tulis kecil, atau media kreatif lainnya. Media ini kita sebut sebagai “wall of hope” (atau bisa dicari istilah lain yang lebih dimengerti oleh remaja setempat). 2. Bukalah Kitab Suci dan carilah tujuh kutipan/ayat dalam Kitab Suci yang mencerminkan dan memberikan harapan. 3. Tulis kutipan/ayat yang sudah ditemukan di media masing-masing secara menarik dan kreatif. 4. Jadikan itu inspirasi rohani harian kalian dalam sepekan (pendamping dapat mengomentari satu atau dua ayat pilihan yang menarik). PENUTUP Pendamping mengajak peserta berdoa memohon bantuan Allah agar mereka sanggup melaksanakan kehendak-Nya, serta mampu mewujudkan niat pribadi untuk melakukan aksi nyata. Doa Penutup P: Marilah kita berdoa. Ya Allah, bimbinglah kami selalu dalam perjalanan hidup kami. Tanamkanlah kesadaran dan harapan dalam diri kami bahwa badai hidup yang kami alami pasti akan berlalu jika kami terus bersandar pada kekuatan-Mu. Berjalanlah bersama kami sebagai seorang sahabat yang setia agar kami bisa bangkit ketika kami susah, sedih, kecewa, dan putus asa. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. U: Amin. Pertemuan Pertama

131

Berkat dan Pengutusan P: Marilah kita memohon berkat Tuhan. Semoga Tuhan berserta kita. U: Sekarang dan selama-lamanya. P: Semoga kita sekalian dilimpahi berkat Allah yang mahakuasa. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. Lagu Penutup Pilih lagu yang sesuai dengan tema.

132

Pendalaman Kitab Suci untuk Remaja

Pertemuan Kedua YESUS, SAHABAT BAGI MEREKA YANG KEHILANGAN (Yoh. 11:1-45) Deskripsi Situasi Remaja dan Tema Pendamping membuka pertemuan dengan membaca deskripsi singkat terkait situasi aktual dan tema pertemuan kedua. Adik-adik remaja yang terkasih, sejak merebaknya pandemi Covid-19, ada banyak orang yang kehilangan orang tua, sanak saudara, sahabat, dan kenalan. Kematian orang terdekat menyebabkan mereka yang mengalaminya menjadi syok, terpukul, dan terluka. Luka ini menjadi semakin dalam dan pedih ketika mereka yang ditinggalkan tidak bisa menyentuh atau melihat orang yang terkasih dari dekat untuk terakhir kalinya karena protokol kesehatan. Menghadapi situasi dan pengalaman sedih karena kehilangan orang yang terkasih, kita perlu merenungkan dan menimba kekuatan dari sosok Yesus yang tampil sebagai sahabat bagi orang-orang yang kehilangan. Tujuannya adalah agar kita semakin menyadari dan mengimani bahwa Yesus tidak akan pernah meninggalkan kita ketika kita sedih, kecewa, hampa, dan marah karena kehilangan sanak keluarga. Kisah kunjungan Yesus kepada Marta dan Maria menyadarkan kita bahwa Yesus bersimpati dengan orang yang mengalami kehilangan. PEMBUKA Setelah menyampaikan deskripsi singkat terkait situasi dan tema, pendamping mengajak peserta memulai pertemuan kedua dengan ritus pembuka. Lagu Pembuka Pilih lagu yang sesuai dengan tema. Tanda Salib P: Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. P: Tuhan beserta kita. U: Sekarang dan selama-lamanya.

133

Pengantar Pendamping menyampaikan pengantar singkat di bawah ini sebelum pembacaan teks Kitab Suci. Adik-adik remaja yang terkasih dalam Kristus, apakah ada di antara kalian yang pernah mengalami kehilangan karena orang-orang yang kalian kasihi pergi untuk selama-lamanya? Apa perasaan kalian pada waktu mengalaminya? Dalam pertemuan kedua ini, kita diajak untuk mendalami dan merenungkan perikop dari Injil Yohanes (Yoh. 11:1-45), yang bercerita tentang Lazarus yang dibangkitkan Yesus. Melalui kisah ini, kita mengenal sosok Tuhan Yesus yang mau datang dan hadir di tengah keluarga sebagai sahabat yang bersimpati dengan sahabat-sahabat-Nya yang sedih karena kehilangan orang yang dicintai. Doa Pembuka P: Marilah kita berdoa. Allah Bapa sumber penghiburan, Engkau mengutus Putra-Mu ke dunia untuk menemani kami dalam langkah hidup kami. Ia menjadi sahabat bagi kami di kala kami kehilangan. Kami mohon, bimbinglah kami dengan Roh Kudus-Mu dalam pertemuan ini, agar kami dapat memahami sabda-Mu, sehingga kami mampu meneladani sikap dan tindakan Putra-Mu sendiri yang bersimpati dengan sahabat-sahabat-Nya yang kehilangan. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. U: Amin. PENDALAMAN KITAB SUCI Pembacaan Teks Pendamping meminta dua anak remaja (laki-laki dan perempuan) untuk membaca Yoh. 11:1-45 secara bergantian antara ayat ganjil dan genap. Ayat ganjil dibacakan oleh remaja laki-laki dan ayat genap dibacakan oleh remaja perempuan. Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian, sambil mengikuti dari Alkitab masing-masing. Yohanes 11:1-45 1 Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta. 2 Maria ialah perempuan 134

Pendalaman Kitab Suci untuk Remaja

yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya. 3 Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” 4 Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.” 5 Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. 6 Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; 7 tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Mari kita kembali lagi ke Yudea.” 8 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: “Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?” 9 Jawab Yesus: “Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini. 10 Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya.” 11 Demikianlah perkataanNya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: “Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya.” 12 Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: “Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh.” 13 Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. 14 Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: “Lazarus sudah mati; 15 tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.” 16 Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.” 17 Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. 18 Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya. 19 Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. 20 Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. 21 Maka kata Marta kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. 22 Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” 23 Kata Yesus kepada Marta: “Saudaramu akan bangkit.” 24 Kata Marta kepada-Nya: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada Pertemuan Kedua

135

akhir zaman.” 25 Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, 26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” 27 Jawab Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.” 28 Dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: “Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau.” 29 Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus. 30 Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia. 31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ. 32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepadaNya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” 33 Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: 34 “Di manakah dia kamu baringkan?” Jawab mereka: “Tuhan, marilah dan lihatlah!” 35 Maka menangislah Yesus. 36 Kata orang-orang Yahudi: “Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!” 37 Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?” 38 Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu. 39 Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” 40 Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” 41 Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. 42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” 43 Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah ke luar!” 44 Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan 136

Pendalaman Kitab Suci untuk Remaja

biarkan ia pergi.” 45 Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. P: Demikianlah sabda Tuhan. U: Terpujilah Kristus. Pendalaman Teks Pendamping mengajak peserta untuk melihat kembali bacaan Injil secara perlahan-lahan untuk menemukan jawaban atas sejumlah pertanyaan penuntun di bawah ini. 1. Mengapa Yesus menunda keberangkatan-Nya ke Betania untuk mengunjungi Lazarus yang sedang sakit? Lihat ay. 4-6. 2. Apa tanggapan Marta atas kedatangan Yesus di Betania setelah Lazarus dimakamkan empat hari? Apakah dia percaya bahwa Lazarus akan dibangkitkan Yesus? Lihat ay. 20-27. 3. Apa reaksi Maria ketika berjumpa dengan Yesus? Lihat ay. 28-32. 4. Mengapa hati Yesus sangat terharu sampai menangis? Lihat ay. 33-37. Penjelasan Teks Setelah mendengarkan diskusi dan jawaban peserta, pendamping memberikan penegasan dengan menyampaikan beberapa poin di bawah ini. 1. Kisah tentang Lazarus yang dibangkitkan tidak hanya berbicara tentang mukjizat yang dikerjakan Yesus. Kisah ini juga menekankan bahwa Yesus adalah sosok yang peduli dan berbelas kasihan terhadap para sahabat yang mengasihi dan dikasihi-Nya. Keluarga Betania (Lazarus, Marta, dan Maria) merupakan salah satu keluarga yang dikasihi Yesus. Kedekatan Yesus dengan keluarga Betania membuat mereka merasa saling memiliki dan saling memahami. Yesus memahami kesedihan Marta dan Maria akibat kematian Lazarus. Tidak ada manusia di dunia ini yang siap menghadapi kehilangan orang yang terkasih. 2. Kematian adalah peristiwa gelap dalam hidup manusia. Kita diputuskan secara fisik dengan orang yang kita kasihi. Kerap kali relasi batin yang terjalin memang tidak terputus, tetapi tetap saja kematian membawa kepedihan yang mendalam. Kehadiran Yesus di tengah kehilangan yang dirasakan oleh Marta dan Maria membawa penghiburan tersendiri. Yesus hadir bagaikan cahaya dalam kegelapan. IniPertemuan Kedua

137

lah misi kedatangan Yesus di dunia ini yang secara jelas dinyatakan dalam Injil Yohanes. “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak mengusainya” (Yoh. 1:4-5). 3. Sebagai manusia, kita pasti berhadapan dengan pengalaman seperti yang dialami oleh keluarga Betania. Namun, perasaan sedih dan kehilangan yang kita rasakan tidak boleh menghanyutkan kita dan menghilangkan kesadaran kita bahwa Allah mencintai manusia. Allah yang mencintai manusia itu nyata dalam diri Yesus Kristus. Ia tidak pernah meninggalkan kita di saat kita mengalami kehilangan. Yesus hadir untuk membangkitkan dan menghidupkan. Ia tidak hanya membangkitkan dan menghidupkan hal-hal yang bersifat fisik atau lahiriah, tetapi membangkitkan dan menghidupkan juga batin kita. 4. Kasih yang Yesus lakukan bukan hanya menyangkut perasaan, melainkan juga tindakan. Ia menyadarkan kita bahwa tindakan yang kita lakukan, yakni dengan menghibur dan hadir menemani mereka yang kehilangan, pasti mengembalikan kekuatan mereka untuk bangkit lagi. Yesus memberikan peneguhan bahwa kehilangan yang kita rasakan tidak boleh menghilangan kesadaran kita bahwa Allah selalu hadir dalam kehidupan kita. Sharing dan Aksi Nyata Setelah penjelasan teks, pendamping mengajak peserta men-sharing-kan pengalaman pribadi dan mengungkapkan niat untuk melakukan aksi nyata dengan bimbingan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini. Pendamping juga perlu mengingatkan peserta agar menggunakan kata “saya” dan bukan “kita” atau “kami” dalam sharing demi menghindari kesan menggurui orang lain. 1. Apakah aku pernah mengalami kehilangan orang-orang yang aku kasihi? Bagaimana perasaanku pada saat mengalaminya? 2. Apakah aku menyadari kehadiran Tuhan yang datang menghiburku saat aku sedih, kecewa, dan marah karena ditinggalkan orang-orang terkasih? 3. Apakah aku selama ini sudah menjadi sahabat bagi orang-orang yang mengalami kehilangan seperti yang diteladankan Yesus?

138

Pendalaman Kitab Suci untuk Remaja

4. Apa aksi nyata yang akan aku lakukan selama seminggu ke depan bagi sahabat-sahabatku yang sedih, kecewa, dan marah karena berbagai alasan? Menyapa Mereka yang Terlupakan Setelah sharing dan aksi nyata, pendamping mengajak peserta untuk meneladani Yesus dengan mengingat kembali dan menyapa teman-teman yang selama ini terlupakan. 1. Buka contacts di telepon genggam masing-masing (bisa disesuaikan dengan keadaan setempat, misalnya dengan mengajak peserta untuk mengingat teman-teman mereka). 2. Coba kalian temukan tujuh teman yang selama ini paling jarang kalian sapa. 3. Selama seminggu ke depan, coba kalian menyapa mereka satu per satu; tanyakan kabar mereka, beri semangat dan dukungan kepada mereka, dan dengan itu kalian menjalin kembali persahabatan yang sempat memudar. PENUTUP Pendamping mengajak peserta berdoa memohon bantuan Allah agar mereka sanggup melaksanakan kehendak-Nya, serta mampu mewujudkan niat pribadi untuk melakukan aksi nyata. Doa Penutup P: Marilah kita berdoa. Allah, Bapa kami, terima kasih atas teladan-Mu yang sungguh nyata dalam diri putra-Mu, Yesus Kristus. Bantulah kami agar mampu menjadi sahabat bagi sesama, dengan datang mengunjungi, menemani, dan menghibur sahabat-sahabat kami yang kehilangan orang terkasih, seperti diteladankan oleh Putra-Mu. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. U: Amin.

Pertemuan Kedua

139

Berkat dan Pengutusan P: Marilah kita memohon berkat Tuhan. Semoga Tuhan berserta kita. U: Sekarang dan selama-lamanya. P: Semoga kita sekalian dilimpahi berkat Allah yang mahakuasa. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. Lagu Penutup Pilih lagu yang sesuai dengan tema.

140

Pendalaman Kitab Suci untuk Remaja

Pertemuan Ketiga YESUS, SAHABAT BAGI MEREKA YANG MENDERITA (Luk. 10:25-37) Deskripsi Situasi Remaja dan Tema Pendamping membuka pertemuan dengan membaca deskripsi singkat terkait situasi aktual dan tema pertemuan ketiga. Adik-adik yang terkasih dalam Kristus, pandemi Covid-19 itu tidak sekadar masalah kesehatan, tetapi juga masalah ekonomi. Pandemi ini telah merampas habis-habisan penghasilan banyak orang. Banyak keluarga terhimpit masalah ekonomi, sebab banyak orang kehilangan mata pencahariannya karena sejumlah usaha tidak bisa lagi beroperasi. Masalah ini mungkin juga dihadapi oleh keluarga adik-adik, sehingga bisa jadi membuat suasana rumah menjadi kurang bersahabat. Menghadapi situasi sulit yang menyebabkan banyak orang menderita ini, sebagai remaja, kita perlu merenungkan sosok Yesus yang menjadi sahabat bagi orang yang menderita, dan yang memberi tanggung jawab kepada kita untuk menolong sesama. Dengan permenungan ini, kita diajak untuk menerima orang lain, yang jatuh tergeletak karena beban dan kesulitan ekonomi, sebagai sesama yang harus ditolong tanpa memandang status sosial, ekonomi, budaya, politik, dan agama. PEMBUKA Setelah menyampaikan deskripsi singkat terkait situasi dan tema, pendamping mengajak peserta memulai pertemuan ketiga dengan ritus pembuka. Lagu Pembuka Pilih lagu yang sesuai dengan tema. Tanda Salib P: Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. P: Tuhan beserta kita. U: Sekarang dan selama-lamanya.

141

Pengantar Pendamping menyampaikan pengantar singkat di bawah ini sebelum pembacaan teks Kitab Suci. Adik-adik remaja yang terkasih dalam Kristus, dalam pertemuan ketiga ini, kita diajak untuk mendalami, merenungkan, dan mencari pesan dari perikop Injil Lukas tentang perumpamaan orang Samaria yang baik hati (Luk. 10:25-37). Melalui perumpamaan ini, kita diajak untuk melihat sosok Yesus sebagai sahabat bagi setiap orang yang menderita karena kesulitan ekonomi lantaran pandemi Covid-19. Kita tidak boleh mengejek, menjelekkan, dan menjatuhkan teman-teman kita yang mengalami kesusahan. Sebaliknya, kita diajak untuk meneladani Yesus yang peduli dan memperhatikan orang-orang yang mengalami kesusahan dengan penuh kasih sayang. Doa Pembuka P: Marilah kita berdoa. Allah Bapa yang maha pengasih, puji dan syukur kami panjatkan kepada-Mu, sebab oleh karena kasih-Mu, Engkau telah mengutus Yesus Kristus sebagai contoh sahabat dalam kehidupan kami. Kami mohon, utuslah Roh Kudus-Mu untuk membantu kami memahami sabda-Mu, dan berikanlah kami kesanggupan untuk menjadi sahabat bagi teman-teman kami, khususnya yang membutuhkan perhatian dan pertolongan karena menderita kesulitan ekonomi. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. U: Amin. PENDALAMAN KITAB SUCI Pembacaan Teks Pendamping meminta dua anak remaja (laki-laki dan perempuan) untuk membaca Luk. 10:25-37 secara bergantian antara ayat ganjil dan genap. Ayat ganjil dibacakan oleh remaja laki-laki dan ayat genap dibacakan oleh remaja perempuan. Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian, sambil mengikuti dari Alkitab masing-masing. Lukas 10:25-37 25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh 142

Pendalaman Kitab Suci untuk Remaja

hidup yang kekal?” 26 Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” 27 Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” 28 Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” 29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” 30 Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. 35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. 36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” 37 Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” P: Demikianlah sabda Tuhan. U: Terpujilah Kristus. Pendalaman Teks Pendamping mengajak peserta untuk melihat kembali bacaan Injil secara perlahan-lahan untuk menemukan jawaban atas sejumlah pertanyaan penuntun di bawah ini. 1. Apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? Lihat ay. 27. 2. Siapakah sesamaku? Lihat ay. 30.

Pertemuan Ketiga

143

3. Siapa saja yang melewati orang yang jatuh ke tangan para penyamun itu? Apa tindakan mereka ketika melihat seorang yang terluka tersebut? Lihat ay. 31-36. 4. Siapakah orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepada sesama dan yang perbuatannya layak diteladani? Lihat ay. 37. Penjelasan Teks Setelah mendengarkan diskusi dan jawaban peserta, pendamping memberikan penegasan dengan menyampaikan beberapa poin di bawah ini. 1. Kisah tentang orang Samaria yang baik hati ini sangat terkenal, mungkin banyak dari kita yang sudah mendengarnya sampai berulang-ulang, mungkin juga kita sudah hafal siapa saja tokoh yang muncul. Tokoh utama dalam kisah ini adalah orang Samaria yang melakukan tindakan yang baik secara spontan kepada orang lain yang tidak ia kenal sebelumnya. 2. Di zaman itu, orang Yahudi tidak berteman dengan orang Samaria. Orang Samaria dianggap lebih rendah, sehingga selalu dicibir dan dicemooh oleh orang Yahudi. Salah satu penyebabnya karena orang Samaria dianggap punya keyakinan yang berbeda. Namun, dalam perumpamaan ini, orang Samaria justru dijadikan contoh seorang sahabat sejati. Hatinya tergerak untuk menolong orang yang dirampok dan terluka, padahal orang itu tidak dikenalnya sama sekali. Ia menyirami luka orang itu dengan minyak dan anggur, membalutnya, lalu membawa orang itu ke tempat penginapan untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. 3. Tiga orang, yakni seorang imam, seorang Lewi, dan seorang Samaria, sama-sama melihat orang yang tergeletak sekarat di pinggir jalan. Ternyata, hanya orang Samaria yang memiliki belas kasihan. Belas kasihan membuatnya mengutamakan keselamatan dan kesembuhan si korban, sehingga untuk sementara mengesampingkan urusanurusannya sendiri. Kasih perlu dibuktikan dengan tindakan atau perbuatan. Sering sekali berbagai alasan seperti kesibukan pribadi kita jadikan pembenaran untuk tidak melakukan tindakan atau perbuatan kasih. Sesungguhnya kasih tidak ditentukan oleh keadaan di luar kita, tetapi oleh keputusan dalam diri kita sendiri.

144

Pendalaman Kitab Suci untuk Remaja

4. Semakin kita dekat dengan sumber kasih sejati, yaitu Yesus, semakin besar kasih yang ada di dalam diri kita. Semakin kita bersahabat erat dengan Yesus, semakin kita mengenal sifat dan kebiasaan Yesus sebagai sang Sumber Kasih. Sharing dan Aksi Nyata Setelah penjelasan teks, pendamping mengajak peserta men-sharing-kan pengalaman pribadi dan mengungkapkan niat untuk melakukan aksi nyata dengan bimbingan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini. Pendamping juga perlu mengingatkan peserta agar menggunakan kata “saya” dan bukan “kita” atau “kami” dalam sharing demi menghindari kesan menggurui orang lain. 1. Apakah aku sudah menjadikan Yesus sebagai sahabat sejatiku dengan mendekatkan diri kepada-Nya? 2. Apakah aku sudah menjadi sosok sahabat yang mendukung temantemanku pada saat mereka berada dalam situasi sulit, dan yang ikut bergembira pada saat mereka bahagia? 3. Apakah aku sudah meneladani orang Samaria itu, yang secara spontan dan tanpa memperhitungkan untung rugi membantu orang yang menderita dan sedang membutuhkan? 4. Apakah aku juga pernah menemukan orang Samaria yang baik hati ketika aku sedang membutuhkan pertolongan? 5. Apa aksi nyata yang akan aku lakukan selama seminggu ke depan untuk meneladani sikap dan tindakan orang Samaria yang baik hati itu bagi teman-temanku yang tidak kukenal dekat tetapi membutuhkan pertolongan? Uji Imajinasi Setelah sharing dan aksi nyata, pendamping mengajak peserta untuk berimajinasi. Kepada peserta disodorkan suatu keadaan. Peserta diajak untuk berimajinasi hal terbaik apa yang akan mereka lakukan dalam keadaan tersebut, yang menunjukkan bahwa mereka ini adalah murid-murid Yesus yang berbelas kasihan. 1. Situasi yang berlangsung (kisah dapat disesuaikan dengan kondisi setempat): Kalian sedang melakukan perjalanan ke luar kota bersama keluarga mengendarai mobil pribadi. Pastinya kalian membawa barang dan perlengkapan yang sudah disesuaikan dengan tujuan kepergian kalian dan berapa lama kalian akan pergi, yaitu makanan Pertemuan Ketiga

145

selama dalam perjalanan, uang, dan pakaian secukupnya. Di tengah perjalanan, dengan satu dan lain cara, kalian bertemu dengan orang yang mengalami kecelakaan di pinggir jalan, di mana orang itu sendi-rian dan tidak/belum diurus oleh masyarakat sekitar. 2. Pertanyaan: Apa yang akan kalian lakukan? PENUTUP Pendamping mengajak peserta berdoa memohon bantuan Allah agar mereka sanggup melaksanakan kehendak-Nya, serta mampu mewujudkan niat pribadi untuk melakukan aksi nyata. Doa Penutup P: Marilah kita berdoa. Allah Bapa yang maha pengasih, kami bersyukur atas sabda-Mu yang telah kami dengarkan dalam pertemuan ini. Kami mohon, bantulah kami dengan Roh Kudus-Mu, agar kami dapat mengasihi sesama sebagai wujud kasih kami kepada-Mu, dan menjadi sahabat bagi teman-teman kami yang menderita karena beban dan kesulitan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. U: Amin. Berkat dan Pengutusan P: Marilah kita memohon berkat Tuhan. Semoga Tuhan berserta kita. U: Sekarang dan selama-lamanya. P: Semoga kita sekalian dilimpahi berkat Allah yang mahakuasa. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. Lagu Penutup Pilih lagu yang sesuai dengan tema.

146

Pendalaman Kitab Suci untuk Remaja

Pertemuan Keempat YESUS, SAHABAT BAGI MEREKA YANG BERTOBAT (Why. 3:14-21) Deskripsi Situasi Remaja dan Tema Pendamping membuka pertemuan dengan membaca deskripsi singkat terkait situasi aktual dan tema pertemuan keempat. Adik-adik remaja yang terkasih dalam Kristus, pandemi Covid -19 juga berdampak pada aktivitas ibadah di gereja karena harus dibatasi untuk mengurangi risiko penularan penyakit. Ibadah tidak dilakukan di gereja melainkan di rumah melalui layar televisi atau live streaming di channel YouTube. Akibatnya, hanya sebagian kecil umat yang bisa berpartisipasi dalam ibadah. Sebagian besar lainnya tidak bisa lagi turut serta, terutama yang ada di pendalaman, karena tidak memiliki sarana dan prasarana yang diperlukan. Situasi semacam ini tidak menutup kemungkinan membuat hidup doa kita menjadi suam-suam kuku seperti jemaat di Laodikia dalam kitab Wahyu. Itu sebabnya, kita perlu mendalami dan merenungkan sosok Yesus yang tampil sahabat bagi orang-orang yang bertobat agar kita terdorong untuk terus-menerus mengupayakan pertobatan. PEMBUKA Setelah menyampaikan deskripsi singkat terkait situasi dan tema, pendamping mengajak peserta memulai pertemuan keempat dengan ritus pembuka. Lagu Pembuka Pilih lagu yang sesuai dengan tema. Tanda Salib P: Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. P: Tuhan beserta kita. U: Sekarang dan selama-lamanya. Pengantar Pendamping menyampaikan pengantar singkat di bawah ini sebelum pembacaan teks Kitab Suci. 147

Adik-adik remaja yang terkasih dalam Kristus, apakah adik-adik tetap terlibat dalam aktivitas ibadah atau berdoa dan membaca Kitab Suci di rumah selama masa pandemi ini? Dalam pertemuan keempat sekaligus terakhir ini, kita diajak untuk mendalami, merenungkan, dan mencari pesan dari perikop dalam kitab Wahyu (Why. 3:14-22), yang berisi surat kepada jemaat di Laodikia. Surat ini dipandang relevan dengan situasi Gereja kita sekarang ini. Semangat hidup rohani adik-adik mungkin mulai meredup atau setengah-setengah. Hal ini mirip dengan semangat hidup jemaat Laodikia yang dilukiskan suam-suam kuku. Karena itu, Yohanes yang menulis kitab Wahyu menasihati agar adik-adik menjalani hidup sebagai pengikut Kristus dengan penuh semangat dan dengan terus-menerus mengusahakan pertobatan. Doa Pembuka P: Marilah kita berdoa. Allah yang berbelas kasih, kami datang kepada-Mu dengan rasa sesal atas dosa kami. Kami sering berpusat pada kepentingan diri sendiri dan kurang mengarahkan hati kepada-Mu. Kami masih jauh dari semangat hidup penuh kasih kepada-Mu dan sesama. Hidup rohani kami juga suam-suam kuku. Karena itu, kami mohon, karuniakanlah sikap tobat sejati kepada kami agar kami sungguh-sungguh bersemangat menghayati iman dalam hidup sehari-hari di tengah kelesuan akibat pandemi Covid-19. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. U: Amin. PENDALAMAN KITAB SUCI Pembacaan Teks Pendamping meminta dua anak remaja (laki-laki dan perempuan) untuk membaca Why. 3:14-22 secara bergantian antara ayat ganjil dan genap. Ayat ganjil dibacakan oleh remaja laki-laki dan ayat genap dibacakan oleh remaja perempuan. Peserta yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian, sambil mengikuti dari Alkitab masing-masing. Wahyu 3:14-22 14 “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan 148

Pendalaman Kitab Suci untuk Remaja

dari ciptaan Allah: 15 Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! 16 Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. 17 Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, 18 maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. 19 Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegur dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! 20 Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. 21 Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. 22 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” P: Demikianlah sabda Tuhan. U: Syukur kepada Allah. Pendalaman Teks Pendamping mengajak peserta untuk melihat kembali bacaan Injil secara perlahan-lahan untuk menemukan jawaban atas sejumlah pertanyaan penuntun di bawah ini. 1. Apa arti sebutan dan gelar Yesus Kristus sebagai “Amin, Saksi yang setia dan benar?” Lihat ay. 14. 2. Apa yang dicela oleh Yesus dari jemaat di Laodikia? Lihat ay. 15-16. 3. Apa yang membuat jemaat Laodikia bermentalitas suam-suam kuku? Lihat ay. 17. 4. Apa perintah Yesus bagi jemaat Laodikia setelah memberi mereka nasihat? Lihat ay. 19.

Pertemuan Keempat

149

Penjelasan Teks Setelah mendengarkan diskusi dan jawaban peserta, pendamping memberikan penegasan dengan menyampaikan beberapa poin di bawah ini. 1. Jemaat di Laodikia adalah orang-orang yang hidupnya serba berkecukupan. Karena alasan itu, mereka lalu cenderung malas untuk mengembangkan hidup rohani dan keimanan mereka kepada Tuhan. Hidup rohani mereka terlihat setengah-setengah atau suam-suam kuku. Aneka doa, peribadatan, dan perwujudan iman mereka lakukan seadanya saja. 2. Karena merasa diri sudah mapan tanpa perlu berdoa kepada Tuhan, jemaat di Laodikia cenderung egois dan individualis. Mereka juga tidak merasa perlu memperhatikan nasib orang lain, terutama orangorang yang miskin. 3. Meskipun mereka egois dan sombong, Tuhan Yesus ternyata bersedia datang dan mengetuk pintu hati mereka. Yesus tidak ingin kita berlama-lama hidup dalam dosa. Ia memberikan janji akan ganjaran di surga jika kita setia hidup dalam kesalehan. 4. Supaya kita selalu bersemangat dalam pertobatan dan terhindar dari sikap suam-suam kuku, kita harus bisa mengembangkan iman dan hidup rohani kita secara kreatif. Pandemi bukan halangan. Contohnya, di masa pandemi ini, kita bisa mengikuti perayaan Ekaristi secara online. Inilah cara Tuhan mengetuk hati kita untuk tetap beriman meskipun dalam masa-masa sulit. Sharing dan Aksi Nyata Setelah penjelasan teks, pendamping mengajak peserta men-sharing-kan pengalaman pribadi dan mengungkapkan niat untuk melakukan aksi nyata dengan bimbingan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini. Pendamping juga perlu mengingatkan peserta agar menggunakan kata “saya” dan bukan “kita” atau “kami” dalam sharing demi menghindari kesan menggurui orang lain. 1. Selama masa krisis karena pandemi Covid-19 ini, apakah aku mengalami kemunduran dalam hidup rohani? 2. Apakah aku hanya mengandalkan kekuatan dan kemampuanku saja dalam menjalani setiap aktivitas harianku? 3. Sikap dan tindakan apa saja yang membuat Tuhan Yesus menegur dan menasihatku? 150

Pendalaman Kitab Suci untuk Remaja

4. Apa aksi nyata yang akan aku lakukan untuk mengatasi semangat hidup rohaniku yang suam-suam kuku? Membuat “Kalender Niat Baik” Setelah sharing dan aksi nyata, pendamping mengajak peserta membuat kalender pribadi dan memberi tahu niat baik mereka kepada orang terdekat selama seminggu ke depan dengan panduan sebagai berikut. 1. Untuk seminggu ke depan, tulis satu niat kecil setiap hari untuk menjadi sabahat bagi teman-teman yang sedih, kecewa, galau, murung, dan putus asa karena terlilit oleh berbagai persoalan hidup, misalnya dengan cara mendengarkan, menemani, menghibur, memberi semangat dan lain sebagainya. 2. Beri tanda centang jika kalian berhasil melakukan niat tersebut; beri tanda silang jika kalian gagal melakukanya. Tempelkan kalender di meja belajar atau di kamar tidur kalian. 3. Sampaikan juga niat baik kalian kepada orang terdekat, entah orang tua atau saudara-saudari atau sahabat sebagai suatu bentuk pertanggungjawaban. Katakan kepadanya bahwa kalian akan melapor kalau berhasil mewujudkan niat baik kalian pada hari itu. Jika tidak melapor, berarti kalian gagal melakukannya. PENUTUP Pendamping mengajak peserta berdoa memohon bantuan Allah agar mereka sanggup melaksanakan kehendak-Nya, serta mampu mewujudkan niat pribadi untuk melakukan aksi nyata. Doa Penutup P: Marilah kita berdoa. Bapa yang murah hati, Engkau telah mengetuk pintu hati kami dan menyadarkan kami akan pentingnya pertobatan secara terus menerus. Sabda-Mu yang kami renungkan dalam pertemuan ini telah mendorong kami untuk bersemangat dalam membangun hidup rohani. Bimbinglah kami agar selalu mengusahakan pertobatan dengan sungguh-sungguh, sehingga hidup rohani kami tidak lagi suam-suam kuku. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. U: Amin.

Pertemuan Keempat

151

Berkat dan Pengutusan P: Marilah kita memohon berkat Tuhan. Semoga Tuhan berserta kita. U: Sekarang dan selama-lamanya. P: Semoga kita sekalian dilimpahi berkat Allah yang mahakuasa. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. Lagu Penutup Pilih lagu yang sesuai dengan tema.

152

Pendalaman Kitab Suci untuk Remaja

BULAN KITAB SUCI NASIONAL 2021

YESUS SAHABAT SEPERJALANAN KITA

PENDALAMAN KITAB SUCI UNTUK ANAK-ANAK

Pertemuan Pertama YESUS, SAHABAT BAGI MEREKA YANG PUTUS ASA (Mat. 14:22-33) PEMBUKA Lagu Pembuka Pendamping mengajak anak-anak untuk bersama-sama menyanyikan lagu pembuka. Sekiranya tidak dikenal dengan baik, lagu berikut dapat diganti dengan lagu lain yang sesuai. Ada Satu Sobatku Ada satu sobatku yang setia. Tak pernah Dia tinggalkan diriku. Di waktu aku susah, waktu ku sendirian. Dia s’lalu menemani diriku. Nama-Nya Yesus, nama-Nya Yesus, nama Yesus yang menghibur hatiku. (2x) Doa Pembuka Pendamping mengajak anak-anak mengatupkan tangan untuk berdoa, lalu mengajak mereka membuat tanda salib. P: Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. P: Ya Bapa, kami, anak-anak-Mu, datang kepada-Mu untuk mendengarkan firman-Mu. Kami percaya bahwa firman-Mu itu pelita bagi kaki kami dan terang bagi jalan kami. Dengan firman-Mu, Engkau senantiasa membimbing kami untuk hidup sebagai anak-anak-Mu. Karena itu, kami mohon kepada-Mu, ya Bapa, utuslah Roh KudusMu untuk menerangi hati dan budi kami, supaya kami dapat memahami firman yang Kausampaikan kepada kami. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. U: Amin.

154

Pendalaman Kitab Suci untuk Anak-anak

MENDENGARKAN SABDA TUHAN Pembacaan Kitab Suci Pendamping meminta seorang anak untuk membacakan sabda Tuhan dengan suara lantang. Anak-anak yang lain diminta untuk mendengarkan sambil melihat Alkitab masing-masing. Matius 14:22-33 22 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. 23 Dan setelah orang banyak itu disuruhNya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. 24 Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. 25 Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. 26 Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriakteriak karena takut. 27 Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” 28 Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” 29 Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. 30 Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” 31 Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” 32 Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun redalah. 33 Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.” P: Demikianlah sabda Tuhan. U: Terpujilah Kristus. Pendalaman Teks • Pendamping menceritakan kembali kisah dari perikop di atas sambil berinteraksi dengan anak-anak supaya mereka dapat menikmati kisah ini dan dapat memahaminya dengan lebih baik. • Pendamping mengajak anak-anak untuk mewarnai gambar. Gambar yang diwarnai menampilkan Yesus di pinggir danau sementara para murid ada di perahu, Yesus berjalan di atas air, dan Yesus menolong Pertemuan Pertama

155

Petrus. Setelah anak-anak selesai mewarnai, pendamping mengajukan pertanyaan berikut: 1. Siapa saja yang ada di gambar itu? 2. Apa yang dilakukan dan dikatakan oleh orang-orang yang ada di gambar itu? •

Pesan Pendamping menyampaikan pesan Tuhan untuk anak-anak dari perikop yang sudah didengarkan. P: Adik-adik terkasih, tadi kita sudah mendengarkan cerita tentang Yesus yang berjalan di atas air, dan tentang Yesus yang menolong Petrus yang hampir tenggelam karena kurang percaya kepada-Nya. Dari kisah tadi, jelas sekali bahwa Tuhan Yesus ingin agar semua murid-Nya percaya kepada-Nya. Kalau kita berseru memohon pertolongan kepada Tuhan, Ia pasti menolong kita. Misalnya, bila ada kesulitan saat belajar dalam menghadapi ujian, hendaknya kita berdoa kepada Tuhan Yesus, mohon berkat-Nya agar kita bisa belajar dengan baik. Kita harus percaya bahwa Tuhan Yesus pasti menolong kita. Kita harus senantiasa mengingat perkataan Tuhan Yesus, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Aksi Pendamping mengajak anak-anak untuk menerapkan pesan Tuhan dalam kehidupan mereka. Ketika mengulurkan tangan-Nya menolong Petrus, Tuhan Yesus sudah menghapus semua kebimbangan dan ketakutan Petrus. Apa yang akan adik-adik lakukan bila ada teman yang: 1. Kesulitan memahami pelajaran? 2. Kesulitan terhubung dengan internet selama belajar di rumah? Doa Permohonan Pendamping mengajak anak-anak mengatupkan tangan lalu menyampaikan doa-doa permohonan. Pendamping meminta anak-anak menjawab, “Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.” 1. Tuhan Yesus, Engkaulah perlindungan kami. Bantulah keluarga kami bila mengalami kesulitan. Kami mohon… 156

Pendalaman Kitab Suci untuk Anak-anak

2. Tuhan Yesus, kasih-Mu besar kepada kami. Sertailah kami dalam belajar selama pandemi ini. Kami mohon… 3. Tuhan Yesus, buatlah kami selalu sehat dan segar serta selalu bersemangat dalam beraktivitas sehari-hari. Kami mohon… Pendamping mengajak anak-anak untuk bersama-sama berdoa Bapa Kami.   PENUTUP Doa Penutup Pendamping mengajak anak-anak mengatupkan tangan untuk berdoa. P: Ya Bapa, kami bersyukur kepada-Mu karena firman-Mu yang telah Kausampaikan kepada kami, dan karena Roh Kudus yang Kaucurahkan atas diri kami. Bantulah kami supaya firman yang Kautaburkan dalam diri kami senantiasa membimbing kami untuk hidup sebagai anak-anak-Mu. Kobarkanlah dalam diri kami kasih kepada-Mu dan kepada sesama kami, supaya kami senantiasa mengasihi Engkau, Bapa kami, dan mengasihi sesama kami. Demi Kristus, Tuhan kami. U: Amin. P: Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. Lagu Penutup Pendamping mengajak anak-anak untuk bersama-sama menyanyikan lagu penutup. Sekiranya tidak dikenal dengan baik, lagu berikut dapat diganti dengan lagu lain yang sesuai. Jalan Serta Yesus Jalan serta Yesus, jalan serta-Nya setiap hari. Jalan serta Yesus, serta Yesus s’lamanya. Jalan dalam suka, jalan dalam duka. Jalan serta-Nya setiap hari. Jalan dalam suka, jalan dalam duka. Serta Yesus s’lamanya.

Pertemuan Pertama

157

Pertemuan Kedua YESUS, SAHABAT BAGI MEREKA YANG KEHILANGAN (Yoh. 11:1-45) PEMBUKA Lagu Pembuka Pendamping mengajak anak-anak untuk bersama-sama menyanyikan lagu pembuka. Sekiranya tidak dikenal dengan baik, lagu berikut dapat diganti dengan lagu lain yang sesuai. Hari Ini Kurasa Bahagia Hari ini kurasa bahagia, berkumpul bersama saudara seiman. Tuhan Yesus mempersatukan kita, tanpa memandang di antara kita. Bergandengan tangan dalam kasih dalam satu hati, berjalan dalam terang kasih Tuhan. Kau sahabatku, kau saudaraku, tiada yang dapat memisahkan kita. (2x) Doa Pembuka Pendamping mengajak anak-anak mengatupkan tangan untuk berdoa, lalu mengajak mereka membuat tanda salib. P: Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. P: Ya Bapa, kami, anak-anak-Mu, datang kepada-Mu untuk mendengarkan firman-Mu. Kami percaya bahwa firman-Mu itu pelita bagi kaki kami dan terang bagi jalan kami. Dengan firman-Mu, Engkau senantiasa membimbing kami untuk hidup sebagai anak-anak-Mu. Karena itu, kami mohon kepada-Mu, ya Bapa, utuslah Roh KudusMu untuk menerangi hati dan budi kami, supaya kami dapat memahami firman yang Kausampaikan kepada kami. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. U: Amin.

158

Pendalaman Kitab Suci untuk Anak-anak

MENDENGARKAN SABDA TUHAN Pembacaan Kitab Suci Teks Kitab Suci tidak dibacakan. Pendamping menceritakan kembali kisah tentang Yesus yang membangkitkan Lazarus dengan berinteraksi dengan anak-anak supaya mereka dapat menikmati kisah ini dan dapat memahaminya dengan lebih baik. Yohanes 11:1-45 1 Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta. 2 Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya. 3 Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” 4 Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.” 5 Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. 6 Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; 7 tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Mari kita kembali lagi ke Yudea.” 8 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: “Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?” 9 Jawab Yesus: “Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini. 10 Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya.” 11 Demikianlah perkataanNya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: “Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya.” 12 Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: “Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh.” 13 Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. 14 Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: “Lazarus sudah mati; 15 tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.” 16 Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.” Pertemuan Kedua

159

17 Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. 18 Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya. 19 Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. 20 Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. 21 Maka kata Marta kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. 22 Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” 23 Kata Yesus kepada Marta: “Saudaramu akan bangkit.” 24 Kata Marta kepada-Nya: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” 25 Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, 26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” 27 Jawab Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.” 28 Dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: “Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau.” 29 Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus. 30 Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia. 31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ. 32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepadaNya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” 33 Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: 34 “Di manakah dia kamu baringkan?” Jawab mereka: “Tuhan, marilah dan lihatlah!” 35 Maka menangislah Yesus. 36 Kata orang-orang Yahudi: “Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!” 37 Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?” 38 Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu. 39 Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” 40 Jawab Yesus:

160

Pendalaman Kitab Suci untuk Anak-anak

“Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” 41 Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. 42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” 43 Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah ke luar!” 44 Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.” 45 Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Pendalaman Teks Pendamping mengajak anak-anak untuk mendalami kisah Lazarus dengan meminta mereka menjawab pertanyaan di bawah ini secara tertulis. Pendamping membacakan pertanyaan nomor 1, lalu meminta anak-anak untuk langsung menjawabnya. Begitu seterusnya sampai pertanyaan nomor 3. 1. Ketika Lazarus sakit, apa yang dilakukan oleh Maria dan Marta, saudari-saudarinya? 2. Ketika Yesus datang, Lazarus sudah meninggal dan dikuburkan. Apa yang dilakukan Yesus terhadap Lazarus? 3. Bagaimana cara Yesus membangkitkan Lazarus yang sudah dikuburkan itu? Pesan Pendamping menyampaikan pesan Tuhan untuk anak-anak dari perikop yang sudah didengarkan. P: Adik-adik terkasih, Tuhan Yesus sangat mengasihi Lazarus dan keluarganya. Lazarus yang sakit kemudian meninggal dunia. Tuhan Yesus lalu datang ke makam dan membangkitkan Lazarus yang sudah meninggal itu. Seperti Tuhan Yesus mengasihi keluarga Lazarus, Tuhan Yesus juga mengasihi keluarga kita masing-masing. Nah, kalau Tuhan Yesus mengasihi adik-adik dan mengasihi keluarga adik-adik, Pertemuan Kedua

161

maka adik-adik sendiri juga harus mengasihi orang tua, kakak, dan adik masing-masing. Aksi Pendamping mengajak anak-anak untuk menerapkan pesan Tuhan dalam kehidupan mereka. Lazarus menderita sakit, kemudian meninggal. 1. Apa yang akan adik-adik lakukan agar keluarga adik-adik selalu dalam keadaan sehat? 2. Apa yang akan adik-adik lakukan kalau orang tua, saudara, atau teman adik-adik sakit? Doa Permohonan Pendamping mengajak anak-anak untuk menulis doa bagi orang tua dan saudara-saudaranya. 1. Isi doa untuk orang tua: Supaya orang tua selalu sehat, terhindar dari penyakit; supaya dapat mencari nafkah untuk menghidupi keluarga; supaya bersikap bijaksana dalam keluarga. 2. Isi doa untuk saudara-saudara dan diri sendiri: Supaya selalu sehat, terhindar dari penyakit; supaya dapat belajar dengan sungguh-sungguh; supaya dapat membahagiakan orang tua dan menjaga nama baik mereka. Pendamping meminta anak-anak untuk membacakan doa yang sudah mereka tulis satu demi satu. Sesudah semua membacakan doa, pendamping mengajak anak-anak memanjatkan doa Bapa Kami. PENUTUP Doa Penutup Pendamping mengajak anak-anak mengatupkan tangan untuk berdoa. P: Ya Bapa, kami bersyukur kepada-Mu karena firman-Mu yang telah Kausampaikan kepada kami, dan karena Roh Kudus yang Kaucurahkan atas diri kami. Bantulah kami supaya firman yang Kautaburkan dalam diri kami senantiasa membimbing kami untuk hidup sebagai anak-anak-Mu. Kobarkanlah dalam diri kami kasih kepada-Mu dan kepada sesama kami, supaya kami senantiasa mengasihi Engkau, Bapa kami, dan mengasihi sesama kami. Demi Kristus, Tuhan kami. U: Amin. 162

Pendalaman Kitab Suci untuk Anak-anak

P: U:

Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.

Lagu Penutup Pendamping mengajak anak-anak untuk bersama-sama menyanyikan lagu penutup. Sekiranya tidak dikenal dengan baik, lagu berikut dapat diganti dengan lagu lain yang sesuai. Terima Kasih Seribu (Gubahan) 1. Ayah ibuku mencintaiku, terima kasih. Setiap hari mengasihiku, terima kasih. 2. Teman-temanku selalu baik, terima kasih. Kami gembira slalu bersama, terima kasih. 3. Tuhan Allahku beri berkat-Nya, terima kasih. Alam yang indah diberikan-Nya, terima kasih. Refrein: Trima kasih seribu (o, trima kasih seribu). Pada Tuhan Allahku (o, pada Tuhan Allahku). Aku bahagia karena dicinta, terima kasih.

Pertemuan Ketiga

163

Pertemuan Ketiga YESUS, SAHABAT BAGI MEREKA YANG MENDERITA (Luk. 10:25-37)

PEMBUKA Lagu Pembuka Pendamping mengajak anak-anak untuk bersama-sama menyanyikan lagu pembuka. Sekiranya tidak dikenal dengan baik, lagu berikut dapat diganti dengan lagu lain yang sesuai. Ku Mendaki ke Bukit Sion Ku mendaki ke Bukit Sion, ku jalani bersama-sama. Ku mendaki ke Bukit Sion, ku jalani bergandeng tangan. Haleluya o Haleluya, ku jalani bersama-sama. Haleluya o Haleluya, ku jalani bergandeng tangan. Doa Pembuka Pendamping mengajak anak-anak mengatupkan tangan untuk berdoa, lalu mengajak mereka membuat tanda salib. P: Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. P: Ya Bapa, kami, anak-anak-Mu, datang kepada-Mu untuk mendengarkan firman-Mu. Kami percaya bahwa firman-Mu itu pelita bagi kaki kami dan terang bagi jalan kami. Dengan firman-Mu, Engkau senantiasa membimbing kami untuk hidup sebagai anak-anak-Mu. Karena itu, kami mohon kepada-Mu, ya Bapa, utuslah Roh KudusMu untuk menerangi hati dan budi kami, supaya kami dapat memahami firman yang Kausampaikan kepada kami. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. U: Amin.

164

Pendalaman Kitab Suci untuk Anak-anak

MENDENGARKAN SABDA TUHAN Pembacaan Kitab Suci Pendamping meminta seorang anak untuk membacakan perikop Injil. Setelah selesai, pendamping menceritakannya kembali supaya anak-anak dapat lebih mengerti kisah ini dengan baik. Lukas 10:25-37 25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 26 Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” 27 Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” 28 Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” 29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” 30 Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. 35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. 36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” 37 Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Pertemuan Ketiga

165

P: U:

Demikianlah sabda Tuhan. Terpujilah Kristus.

Pendalaman Teks Pendamping meminta anak-anak untuk membuat surat yang ditujukan kepada orang tua atau teman. Dalam surat tersebut, anak-anak menuliskan kisah tentang orang Samaria yang baik hati. Dua atau tiga orang anak diminta untuk membacakan surat yang mereka buat secara bergantian.   Pesan P: Adik-adik yang dikasihi Tuhan Yesus, dalam kehidupan bersama, kadang kita melihat ada teman-teman kita yang hidup dalam kekurangan dan membutuhkan bantuan. Tuhan Yesus mengajak kita untuk memiliki sikap seperti orang Samaria tadi, yang mau menolong sesamanya yang sedang terluka karena dipukuli oleh para perampok. Kita juga diajak oleh Tuhan Yesus untuk selalu berbuat baik dengan menolong sesama yang sedang mengalami kesulitan. Aksi Pendamping mengajak anak-anak untuk menerapkan pesan Tuhan dalam kehidupan mereka. Orang Samaria segera memberi pertolongan kepada orang yang terluka di pinggir jalan. 1. Apa yang akan adik-adik lakukan bila ada teman yang jatuh dari sepeda dan berdarah? 2. Apa yang akan adik-adik lakukan agar ketika pergi ke sekolah selalu dalam keadaan aman sampai di tempat tujuan? Doa Permohonan Pendamping mengajak anak-anak mengatupkan tangan lalu menyampaikan doa-doa permohonan. Pendamping meminta anak-anak menjawab, “Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.” 1. Tuhan Yesus, kami mengucap syukur mempunyai orang tua yang mengasihi kami. Berilah kesehatan dan kegembiraan untuk orang tua kami. Kami mohon… 2. Tuhan Yesus yang penuh kasih, berilah kami semangat untuk membantu teman-teman kami yang sedang berada dalam kesulitan. Kami mohon… 166

Pendalaman Kitab Suci untuk Anak-anak

3. Tuhan Yesus, kami gembira dan senang karena Tuhan selalu menjaga dan mengasihi kami. Bantu kami Tuhan, agar kami selalu bersemangat dalam belajar dan patuh kepada orang tua. Kami mohon… Pendamping mengajak anak-anak untuk bersama-sama berdoa Bapa Kami. PENUTUP Doa Penutup Pendamping mengajak anak-anak mengatupkan tangan untuk berdoa. P: Ya Bapa, kami bersyukur kepada-Mu karena firman-Mu yang telah Kausampaikan kepada kami, dan karena Roh Kudus yang Kaucurahkan atas diri kami. Bantulah kami supaya firman yang Kautaburkan dalam diri kami senantiasa membimbing kami untuk hidup sebagai anak-anak-Mu. Kobarkanlah dalam diri kami kasih kepada-Mu dan kepada sesama kami, supaya kami senantiasa mengasihi Engkau, Bapa kami, dan mengasihi sesama kami. Demi Kristus, Tuhan kami. U: Amin. P: Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. Lagu Penutup Pendamping mengajak anak-anak untuk bersama-sama menyanyikan lagu penutup. Sekiranya tidak dikenal dengan baik, lagu berikut dapat diganti dengan lagu lain yang sesuai. Hatiku Penuh Nyanyian Hatiku penuh nyanyian. Hatiku penuh nyanyian. Hatiku bernyanyi untuk Raja s’gala Raja. Hatiku penuh nyanyian. Hatiku penuh nyanyian. Hatiku bernyanyi untuk Raja s’gala Raja.

Pertemuan Ketiga

167

Sembahlah dan pujilah Dia. Sembahlah dan pujilah Dia. Sembahlah dan pujilah Dia. Raja s’gala Raja. Dialah Raja, Raja. Dialah Tuhan, Tuhan. Nama-Nya Yesus, Yesus, Yesus, Yesus. Oo… Dialah Raja.

168

Pendalaman Kitab Suci untuk Anak-anak

Pertemuan Keempat YESUS, SAHABAT BAGI MEREKA YANG BERTOBAT (Why. 3:14-22) PEMBUKA Lagu Pembuka Pendamping mengajak anak-anak untuk bersama-sama menyanyikan lagu pembuka. Sekiranya tidak dikenal dengan baik, lagu berikut dapat diganti dengan lagu lain yang sesuai. He’s Got the Whole World in His Hands He’s got the whole world in His hands. He’s got the whole world in His hands. He’s got the whole world in His hands. He’s got the whole world in His hands. He’s got the sun and the rain in His hands. He’s got the moon and the stars in His hands. He’s got the wind and the clouds in His hands. He’s got the whole world in His hands. Doa Pembuka Pendamping mengajak anak-anak mengatupkan tangan untuk berdoa, lalu mengajak mereka membuat tanda salib. P: Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. P: Ya Bapa, kami, anak-anak-Mu, datang kepada-Mu untuk mendengarkan firman-Mu. Kami percaya bahwa firman-Mu itu pelita bagi kaki kami dan terang bagi jalan kami. Dengan firman-Mu, Engkau senantiasa membimbing kami untuk hidup sebagai anak-anak-Mu. Karena itu, kami mohon kepada-Mu, ya Bapa, utuslah Roh KudusMu untuk menerangi hati dan budi kami, supaya kami dapat memahami firman yang Kausampaikan kepada kami. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. U: Amin. 169

MENDENGARKAN SABDA TUHAN Pembacaan Kitab Suci Pendamping membacakan teks Kitab Suci secara perlahan-lahan supaya dapat dicerna oleh anak-anak. Wahyu 3:14-22 14 “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: 15 Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! 16 Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. 17 Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, 18 maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. 19 Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegur dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! 20 Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. 21 Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. 22 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” P: Demikianlah sabda Tuhan. U: Syukur kepada Allah. Kemudian pendamping menceritakan keadaan Gereja Laodikia. Beberapa hal yang perlu ditekankan adalah sebagai berikut: 1. Para anggota Gereja Laodikia kurang bersemangat dalam mengikuti Yesus. Mereka suam-suam kuku, tidak dingin dan tidak panas. 170

Pendalaman Kitab Suci untuk Anak-anak

2. Tuhan Yesus menegur mereka supaya mereka bertobat dan kembali bersemangat untuk hidup sebagai anggota Gereja. 3. Tuhan Yesus akan datang ke rumah mereka dan mengetuk pintu. Jika mereka mendengar suara Tuhan dan membuka pintu, Tuhan akan masuk ke rumah mereka dan makan bersama mereka. Pendalaman Teks Pendamping meminta anak-anak (berdialog dengan 2-3 anak) untuk berbagi kisah tentang mengikuti perayaan Ekaristi selama masa pandemi. Pesan P: Adik-adik yang dikasihi Tuhan Yesus, sudah lebih dari satu tahun umat yang akan mengikuti perayaan Ekaristi di gereja dibatasi jumlahnya oleh karena keadaan kita yang sedang dilanda pandemi. Situasi ini dapat membuat kita tidak bersemangat untuk mengikuti Ekaristi dan untuk mengikuti Tuhan Yesus. Banyak di antara kita mengikuti perayaan Ekaristi dari rumah masing-masing. Semoga pembatasan ini jangan sampai menjadi penghalang bagi adik-adik untuk mengikuti perayaan Ekaristi di rumah dengan tekun dan khidmat, dan dengan demikian menunjukkan bahwa kita adalah orang kristiani pengikut setia Tuhan Yesus. Aksi Pendamping mengajak anak-anak untuk menerapkan pesan Tuhan dalam kehidupan mereka. 1. Selama masa pandemi ini, apa yang adik-adik lakukan agar tetap dapat mengikuti perayaan Ekaristi? 2. Selama masa pandemi ini, apa yang adik-adik lakukan agar tetap dapat mendengarkan sabda Tuhan? Doa Permohonan Pendamping mengajak anak-anak mengatupkan tangan lalu menyampaikan doa-doa permohonan. Pendamping meminta anak-anak menjawab, “Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.” 1. Tuhan Yesus, terima kasih karena kami selalu diberi kesehatan di saat pandemi masih melanda negara kami. Bantulah kami agar kami selalu menerapkan hidup sehat dengan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Kami mohon… Pertemuan Keempat

171

2. Tuhan Yesus, sembuhkanlah mereka yang sedang sakit agar mereka kembali berkumpul bersama keluarga mereka dengan gembira. Kami mohon… 3. Tuhan Yesus, bantulah kami agar di masa pandemi ini, kami tetap bersemangat mengikuti Ekaristi dan membaca Kitab Suci dari rumah kami masing-masing. Kami mohon... 4. Tuhan Yesus, bantulah kami agar kami tetap bersemangat menjadi anggota Gereja Katolik dan menjadi pengikut-Mu. Tolonglah kami agar situasi sulit yang kami hadapi ini tidak melemahkan iman kami kepada-Mu. Kami mohon... Pendamping mengajak anak-anak untuk bersama-sama berdoa Bapa Kami. PENUTUP Doa Penutup Pendamping mengajak anak-anak mengatupkan tangan untuk berdoa. P: Ya Bapa, kami bersyukur kepada-Mu karena firman-Mu yang telah Kausampaikan kepada kami, dan karena Roh Kudus yang Kaucurahkan atas diri kami. Bantulah kami supaya firman yang Kautaburkan dalam diri kami senantiasa membimbing kami untuk hidup sebagai anak-anak-Mu. Kobarkanlah dalam diri kami kasih kepada-Mu dan kepada sesama kami, supaya kami senantiasa mengasihi Engkau, Bapa kami, dan mengasihi sesama kami. Demi Kristus, Tuhan kami. U: Amin. P: Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. Lagu Penutup Pendamping mengajak anak-anak untuk bersama-sama menyanyikan lagu penutup. Sekiranya tidak dikenal dengan baik, lagu berikut dapat diganti dengan lagu lain yang sesuai.

172

Pendalaman Kitab Suci untuk Anak-anak

He’s Got the Whole World in His Hands He’s got the whole world in His hands. He’s got the whole world in His hands. He’s got the whole world in His hands. He’s got the whole world in His hands. He’s got you and me brother in His hands. He’s got you and me sister in His hands. He’s got you and me brother in His hands. He’s got the whole world in His hands. He’s got everybody here in His hands. He’s got everybody here in His hands. He’s got everybody here in His hands. He’s got the whole world in His hands.

Pertemuan Keempat

173

BULAN KITAB SUCI NASIONAL 2021

YESUS SAHABAT SEPERJALANAN KITA

PERAYAAN EKARISTI/PERAYAAAN SABDA Minggu Biasa XXIII - Tahun B/I 5 September 2021

RITUS PEMBUKA Perarakan Masuk Disarankan pada Hari Minggu Kitab Suci Nasional ini dilaksanakan perarakan masuk meriah dengan urutan sebagai berikut: Pembawa pedupaan yang mengepul, pembawa salib yang diapit dua pembawa lilin, pembawa Injil (Evangeliarum), pembawa Kitab Suci edisi mimbar, dan imam. Setelah diarak, Injil (Evangeliarum) diletakkan di atas altar, sedangkan Kitab Suci diletakkan di tempat khusus di depan altar. Imam kemudian mendupai altar. Lagu Pembuka “Saudara, Mari Semua” (PS 322). Tanda Salib I: Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. Salam I: Semoga rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus bersamamu. U: Dan bersama rohmu. Pengantar Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, pada hari Minggu ini, kita memasuki hari Minggu pertama dalam Bulan Kitab Suci Nasional 2021. Setiap bulan September, Gereja secara khusus mengajak umat untuk memberi perhatian lebih pada Kitab Suci melalui kegiatan-kegiatan pembacaan, permenungan, dan pendalaman Kitab Suci, baik secara pribadi maupun bersama, di lingkungan atau komunitas. Bulan Kitab Suci Nasional 2021 bertemakan Yesus Sahabat Seperjalanan Kita. Bagaimana kita memahami tema ini? Sahabat adalah orang yang memiliki relasi yang begitu dekat dengan kita, lebih dari sekadar teman atau kenalan. Relasi antarsahabat biasanya didasarkan pada kasih dan saling perhatian satu sama lain. Sahabat sejati akan selalu menaruh simpati, dan bertindak demi kepentingan serta kebaikan orang yang dikasihinya. Sahabat akan tergerak dengan apa yang terjadi pada sahabatnya. Ia akan bergembira atas kesuksesan sahabatnya, dan sebaliknya, 176

Perayaan Ekaristi/Perayaan Sabda

akan turut bersedih ketika sahabatnya mengalami kegagalan. Perasaan dan reaksi ini sama dengan yang dikatakan Santo Paulus, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Rm. 12:15). Dengan merenungkan sosok Yesus sebagai sahabat yang selalu hadir, menyertai, mendukung, dan menolong para murid-Nya, kita diharapkan semakin sadar akan kebenaran iman kita bahwa Tuhan senantiasa mendampingi, menguatkan, dan melindungi kita dalam situasi yang sulit dan penuh ketidakpastian, teristimewa akibat pandemi Covid-19 yang terjadi sekarang ini. Tobat I: Saudara-saudari, marilah kita mengakui dosa-dosa kita, supaya kita layak merayakan misteri suci ini. Hening sejenak I+U: Saya mengaku kepada Allah yang mahakuasa… I: Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup yang kekal. U: Amin. Tuhan Kasihanilah “Tuhan, Kasihanilah Kami” (PS 347). Madah Kemuliaan “Kemuliaan” (PS 348). Doa Kolekta I: Marilah kita berdoa. Allah, Bapa kami yang maharahim, hanya mereka yang tidak mau melihat, yang benar-benar buta; hanya mereka yang tidak mau mendengar, yang sungguh tuli. Kami mohon kepada-Mu, bukalah mata dan telinga kami terhadap segala kebaikan yang telah Kaulaksanakan dengan perantaraan orang-orang pilihan-Mu, sehingga kami, walau di tengah situasi sulit, dapat memberi kesaksian bahwa semua yang Engkau buat itu baik, sebab Engkau menganugerahkan Putra-Mu sebagai sahabat seperjalanan kami. Sebab, Dialah yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Perayaan Ekaristi/Perayaan Sabda

177

U:

Amin. LITURGI SABDA

Bacaan I (Yes. 35:4-7a) L: Pembacaan dari kitab Yesaya. Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: “Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!” Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara; tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam, dan tanah kersang menjadi sumber-sumber air. L: U:

Demikianlah sabda Tuhan. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan (Mzm. 146:7, 8-9a, 9bc-10) Refrein (PS 832): Betapa megah nama-Mu, Tuhan, di seluruh muka bumi. 1. Tuhan menegakkan keadilan bagi orang yang diperas, dan memberi roti kepada orang orang yang lapar. Tuhan membebaskan orangorang yang terkurung. 2. Tuhan membuka mata orang buta, dan menegakkan orang yang tertunduk. Tuhan mengasihi orang-orang benar dan menjaga orangorang asing. 3. Anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. Tuhan itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-menurun! Bacaan II (Yak. 2:1-5) L: Pembacaan dari surat Rasul Yakobus. Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka. Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kum178

Perayaan Ekaristi/Perayaan Sabda

pulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk, dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: “Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!”, sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: “Berdirilah di sana!” atau: “Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!”, bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat? Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia? L: U:

Demikianlah sabda Tuhan. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil (Mat. 4:23) Refrein: Alleluya, Alleluya. Yesus mewartakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan semua orang sakit. Bacaan Injil (Mrk. 7:31-37) I: Tuhan bersamamu. U: Dan bersama rohmu. I: Inilah Injil Suci menurut Markus. U: Dimuliakanlah Tuhan. Kemudian Yesus meninggalkan lagi daerah Tirus dan melalui Sidon pergi ke Danau Galilea, melintasi daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya di atas orang itu. Sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus mendesah dan berkata kepadanya, “Efata!”, artinya: Terbukalah! Seketika itu terbukalah telinga orang itu dan pulihlah lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada mereka supaya jangan menceritakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya, makin luas mereka memberitakannya. Mereka teramat takjub dan berkata, “Ia menjadiPerayaan Ekaristi/Perayaan Sabda

179

kan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” I: U:

Demikianlah sabda Tuhan. Terpujilah Kristus.

Homili Syahadat Doa Umat I: Kristus adalah kehadiran Kerajaan Allah yang menyelamatkan. Ia menjadikan segala-galanya baik: Yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berbicara. Marilah kita dengan mantap berdoa kepada Bapa, yang telah mengutus Yesus Kristus bagi keselamatan kita. L:

U: L:

U: L:

U: L:

180

Bagi Gereja di negara-negara berkembang. Ya Bapa, bimbinglah Gereja-Mu di negara-negara berkembang, agar tidak hanya menonjol karena perhatiannya kepada kaum miskin, tetapi berani pula membela keadilan sosial. Marilah kita mohon... Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan. Bagi masyarakat kita. Ya Bapa, berkatilah masyarakat kami agar setia dalam memperjuangkan keadilan dan kebenaran, serta mau terlibat dalam memberikan diri bagi orang-orang yang sedang mengalami penderitaan dan kesulitan. Marilah kita mohon.... Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan. Bagi orang-orang sakit, bisu, tuli, dan buta. Ya Bapa, teguhkanlah semangat dan pengharapan orang-orang yang sakit, bisu, tuli, dan buta, sehingga dapat mempersatukan penderitaan mereka dengan penderitaan Kristus demi cinta kasih sejati. Marilah kita mohon... Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan. Bagi kita semua di sini. Ya Bapa, terangilah kami agar jangan sampai silau oleh kekayaan, tetapi selalu waspada serta berbela rasa terha-

Perayaan Ekaristi/Perayaan Sabda

U: I:

U:

dap kesulitan sesama sebagai pengikut Kristus. Marilah kita mohon… Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan. Allah Bapa di surga, kami percaya akan kebaikan dan penyelenggaraan-Mu terhadap semua orang. Perkenankanlah kami mengalami dan menghayati bahwa Engkau Allah kami dan kami umat kesayangan-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin. LITURGI EKARISTI

Lagu Persembahan “Tuhan, Ambil Hidupku” (PS 376). Persiapan Persembahan I: Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah semesta alam, sebab dari kemurahan-Mu kami menerima roti yang kami persembahkan kepada-Mu, hasil bumi dan usaha manusia yang bagi kami akan menjadi roti kehidupan. U: Terpujilah Allah selama-lamanya. I: Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah semesta alam, sebab dari kemurahan-Mu kami menerima anggur yang kami persembahkan kepadaMu, hasil pokok anggur dan usaha manusia yang bagi kami akan menjadi minuman rohani. U: Terpujilah Allah selama-lamanya. I: Berdoalah, Saudara-saudari, supaya persembahanku dan persembahanmu berkenan pada Allah, Bapa yang mahakuasa. U: Semoga persembahan ini diterima demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita serta seluruh umat Allah yang kudus. Imam kemudian mengucapkan doa atas persembahan. Doa Syukur Agung Prefasi III Hari Minggu Biasa (Allah Selalu Menolong) I: Tuhan bersamamu. U: Dan bersama rohmu. I: Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan. U: Sudah kami arahkan. Perayaan Ekaristi/Perayaan Sabda

181

I: U: I:

Marilah bersyukur kepada Tuhan, Allah kita. Sudah layak dan sepantasnya. Sungguh pantas dan benar, layak dan menyelamatkan, bahwa kami selalu dan di mana pun bersyukur kepada-Mu, Tuhan, Bapa yang kudus, Allah yang mahakuasa dan kekal. Sungguh tak terhingga kemuliaan-Mu: Engkau menopang makhluk yang fana dengan keallahan-Mu; dengan mengubah kodrat yang menyebabkan kami jatuh menjadi sarana keselamatan kami, Engkau menyembuhkan kami yang fana ini dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Dengan pengantaraan Kristus itu, bala malaikat yang bersukacita di hadapan-Mu dalam keabadian menyembah keagungan-Mu. Kami mohon, perkenankanlah kami memadukan suara dengan mereka dalam sukacita bersama sambil berseru:

Kudus “Kudus” (PS 390). Doa Syukur Agung III I: Sungguh kuduslah Engkau, Tuhan, segala mahkluk ciptaan-Mu patut memuji Engkau, sebab dengan pengantaraan Putra-Mu, Tuhan kami Yesus Kristus, dan dengan daya kekuatan Roh Kudus, Engkau menghidupkan dan menguduskan segala sesuatu, dan Engkau tak henti-hentinya menghimpun umat bagi-Mu, sehingga dari terbit matahari sampai terbenamnya kurban yang murni dipersembahkan bagi nama-Mu. Maka, kami mohon dengan rendah hati kepada-Mu, Tuhan, supaya Engkau berkenan menguduskan dengan Roh-Mu, persembahan ini yang kami bawa kepada-Mu, agar menjadi tubuh dan darah PutraMu, Tuhan kami, Yesus Kristus, yang menghendaki kami merayakan misteri ini. Sebab pada malam Dia dikhianati, Dia mengambil roti, dan sambil mengucap syukur kepada-Mu, Dia mengucap berkat, memecahmecahkan, lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya seraya 182

Perayaan Ekaristi/Perayaan Sabda

berkata: Terimalah dan makanlah, kamu semua: Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagimu. Demikian pula, sesudah perjamuan, Dia mengambil piala, dan sambil mengucap syukur kepada-Mu, Dia memberkati dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, seraya berkata: Terimalah dan minumlah, kamu semua: Inilah piala darah-Ku, darah perjanjian baru dan kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Lakukanlah ini sebagai kenangan akan daku. I: U:

Agunglah misteri iman kita. Penyelamat dunia, selamatkanlah kami, karena melalui salib dan kebangkitan-Mu, Engkau telah membebaskan kami.

I:

Maka, Tuhan, sambil mengenangkan sengsara Putra-Mu yang menyelamatkan, kebangkitan-Nya yang mengagumkan dan kenaikanNya ke surga, sambil mengharapkan kedatangan-Nya kembali, kami mempersembahkan kepada-Mu kurban yang hidup dan kudus ini seraya mengucap syukur. Kami mohon, pandanglah persembahan Gereja-Mu dan indahkanlah kurban yang telah mendamaikan kami dengan Dikau. Perkenankanlah agar kami dipulihkan dengan tubuh dan darah Putra-Mu, dipenuhi dengan Roh Kudus-Nya, dijadikan satu tubuh dan satu roh dalam Kristus. Semoga kami disempurnakan oleh-Nya menjadi persembahan abadi bagi-Mu, agar kami pantas mewarisi kebahagiaan surgawi, bersama para pilihan-Mu, terutama bersama Santa Perawan Maria Bunda Allah, Santo Yosef mempelainya, para rasul-Mu yang kudus, dan para martir-Mu yang jaya, dan semua orang kudus, yang melalui doa-doa mereka di hadapan-Mu senantiasa menolong kami. Kami mohon, Tuhan, semoga kurban yang mendamaikan ini menghasilkan damai dan keselamatan seluruh dunia. Semoga Engkau berkenan memperkuat Gereja-Mu yang sedang berziarah di bumi ini dalam iman dan cinta kasih bersama hamba-Mu, Paus kami Fransiskus, Uskup kami …, bersama semua uskup dan semua rohaniwan Perayaan Ekaristi/Perayaan Sabda

183

serta seluruh umat kesayangan-Mu. Dengarkanlah dengan rela doa-doa umat-Mu yang Engkau perkenankan berhimpun di sini. Bapa yang maharahim, persatukanlah bagi-Mu semua anak-Mu di mana pun mereka berada dengan belas kasih. Terimalah dengan rela ke dalam kerajaan-Mu, saudara-saudari kami yang telah meninggal dan semua orang yang berkenan pada-Mu yang telah beralih dari dunia ini. Kami berharap di sanalah mereka menikmati kepenuhan kemuliaan-Mu selamanya, dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami, melalui Dia Engkau melimpahkan segala kebaikan kepada dunia.

U:

Dengan pengantaraan Dia, bersama Dia, dan dalam Dia, bagi-Mu, Allah Bapa yang mahakuasa, dalam persekutuan dengan Roh Kudus, segala hormat dan kemuliaan, sepanjang segala masa. Amin.

Bapa Kami I: Atas petunjuk Penyelamat kita, dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa. I+U: Bapa kami yang ada di surga… I: Tuhan, kami mohon, bebaskanlah kami dari segala yang jahat, sudilah memberi damai sepanjang hidup kami, supaya kami yang telah dikuatkan oleh kelimpahan belas kasih-Mu selalu bebas dari dosa dan dijauhkan dari segala gangguan, sambil menantikan harapan yang membahagiakan dan kedatangan Penyelamat kami, Yesus Kristus. U: Sebab Engkaulah Raja yang mulia dan berkuasa untuk selamalamanya. Doa Damai I: Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah bersabda kepada para rasul-Mu: Damai-Ku Kutinggalkan bagimu, damai-Ku Kuberikan kepadamu: janganlah memperhitungkan dosa kami, tetapi perhatikanlah iman Gereja-Mu; dan berilah kami damai dan kesatuan sesuai dengan ke184

Perayaan Ekaristi/Perayaan Sabda

U: I: U: I:

hendak-Mu. Engkau yang hidup dan meraja sepanjang segala masa. Amin. Semoga damai Tuhan selalu bersamamu. Dan bersama rohmu. Marilah kita saling memberikan salam damai.

Anak Domba Allah “Anak Domba Allah” (PS 411). Persiapan Komuni I: Lihatlah Anak Domba Allah, lihatlah Dia yang menghapus dosa dunia. Berbahagialah saudara-saudari yang diundang ke Perjamuan Anak Domba. I+U: Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh. Komuni Doa Sesudah Komuni I: Marilah berdoa. Allah Bapa yang maharahim, kami bersyukur atas sakramen cinta kasih-Mu ini. Mampukanlah kami untuk melihat dan mewartakan karya cinta kasih-Mu dalam diri Putra-Mu yang senantiasa menjadi sahabat seperjalanan yang mendampingi, menguatkan, dan melindungi kami dalam situasi sulit dan penuh ketidakpastian. Utuslah Roh Kebijaksanaan-Mu untuk membimbing kami dalam penziarahan menuju kepada-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. U: Amin. RITUS PENUTUP Pengumuman Amanat Pengutusan Imam dengan singkat menandaskan amanat perayaan, yakni Yesus sebagai sahabat seperjalanan kita, yang mendampingi, menguatkan, dan melindungi kita dalam situasi yang sulit dan penuh ketidakpastian.

Perayaan Ekaristi/Perayaan Sabda

185

Berkat I: Tuhan bersamamu. U: Dan bersama rohmu. I: Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian: Bapa dan Putra dan Roh Kudus. U: Amin. Pengutusan I: Saudara-saudari, pergilah mewartakan Injil Tuhan. U: Syukur kepada Allah. Lagu Penutup “Siapa yang Berpegang” (PS 650).

186

Perayaan Ekaristi/Perayaan Sabda