Data Loading...

Buddha Dharma Flipbook PDF

Book 1


142 Views
5 Downloads
FLIP PDF 2.65MB

DOWNLOAD FLIP

REPORT DMCA

BUDDHA-DHARMA MURNI DAN SEDERHANA

Buddha-Dharma Pure And Simple

佛法真義

Buku Panduan Ajaran Agama Buddha Di Era 21

MASTER HSING YUN

Diterjemahkan oleh : INSTITUT DONG ZEN INDONESIA

Buddha - Dharma Murni dan Sederhana Buddha - Dharma Pure and Simple 佛法真義

Master Hsing Yun Fo Guang Shan Institute of Humanistic Buddhism Diterjemahkan oleh : Institut Dong Zen Indonesia

KATA SAMBUTAN Kami sangat bersyukur mendapatkan kesempatan untuk menerjemahkan dan memproduksi buku ini. Pertama-tama, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Abbess Jue Cheng dan Ven. Xue Hua atas bimbingan yang welas asih serta penuh kebijaksanaan. Terima kasih kepada Ven. Ru Yin yang tanpa mengenal lelah selalu memberi semangat. Terima kasih kepada Ven. Xian Jing dan Ven. You Qian yang telah mengelola penerjemahan buku ini dari awal sampai selesai. Terima kasih kepada Ven. Xian Jiao dan Ven. Zhi Min untuk proses editing yang penuh dengan kesabaran. Terima kasih kepada Kiana Lee yang telah mengatur tata desain dan publikasi penerbitan. Kami juga ingin berterima kasih kepada semua yang telah ikut andil dalam proses penerjemahan dan penyatuan buku ini, yang kami sebut dengan proses alih bahasa. Buku ini tidak akan terbit tanpa aspirasi dari tim penerjemah internasional dan tim sukarelawan sebagai penyunting yang berada di beberapa negara di tiga benua. Dengan satu misi, yaitu keinginan untuk menerbitkan buku ini, jarak bukanlah sebuah halangan. Rasa terima kasih ini kami haturkan kepada: Fo Guang Shan Dong Zen Temple – Malaysia, Yayasan Berkah Dharma Lestari, Institut Dong Zen Indonesia (IDZI) Management Team, IDZI Translator Team, Penerjemah: Lee Mei Jing, Kiana Lee, Yudith Listiandri, Yonda Surianto, Isabella Lovalini, Thalia Viotama, Niwana, dan Juwita Sari Bachtiar.

IDZI Editor Team: Margo Sulistio, Setia Widjaja, Arifin Tanzil, Chenyany Sutanto, Maryani, Denny Saputra, Esther, Meriske, Metta, Jhonny R, Leonardo, Tjin Sheng Chong, serta Institut Dong Zen Indonesia (IDZI). Terima kasih juga kami haturkan kepada seluruh partisipan yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu. Kami juga ingin berterima kasih kepada seluruh donatur dan seluruh Pengurus Yayasan Berkah Dharma Lestari yang telah berpartisipasi dalam menjalankan program Institut Dong Zen Indonesia (IDZI) dan penerbitan buku ini. Yang terpenting, kami ingin mendedikasikan buku ini kepada Master Hsing Yun, pendiri Fo Guang Shan. Menerjemahkan dan memproduksi buku ini berhasil membawa kita untuk menjadi lebih dekat dan mengerti tentang Ajaran Hyang Buddha.

DAFTAR ISI Tentang Master Hsing Yun Kata Pengantar 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23.

Keyakinan ………………………………………………. 1 Demikianlah telah Kudengar …………………………… 5 Mendengarkan dengan Penuh Perhatian ……………….. 8 Mendengarkan, Merenungkan dan Berlatih …………..... 11 Berlindung kepada Tri Ratna …………………………... 16 Menjalankan Lima Sila ………………………………… 20 Memahami Makna Sila ………………………………… 25 Empat Kebenaran Mulia ……………………………….. 29 Jalan Mulia Berunsur Delapan ………………………… 34 Ketidakekalan …………………………………………. 38 Penderitaan …………………………………………….. 42 Kekosongan…………………………………………….. 47 Tanpa Aku ……………………………………………… 51 Sebab, Kondisi dan Akibat …………………………….. 56 Makna dari Sebab dan Akibat …………………………. 60 Hukum Sebab Akibat dalam Tiga Masa Kehidupan ……66 Buah Karma Baik dan Karma Buruk ………………….. 70 Dua Belas Rantai Hukum Sebab Akibat yang Saling Bergantungan (Pratītyasamutpāda) …………….. 74 Analogi tentang Kelahiran Kembali …………………… 78 Enam Landasan Indera ………………………………… 82 Perumpamaan Batin (Pikiran/Hati) ……………………. 86 Mengenai Roh/Jiwa ………………………………….… 91 Delapan Badai …………………………………………. 94

24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52.

Penyesalan …………………………………………….. 98 Kasih Sayang dan Welas Asih ……………………...… 102 Tekad …………………………………………………. 107 Berikrar ………………………………………………. 111 Dana ………………………………………………….. 115 Sila …………………………………………………… 120 Kesabaran ……………………………………………. 125 Ketekunan ……………………………………………. 130 Meditasi ……………...………………………………. 135 Kebijaksanaan - Prajna ………………………….…… 139 Siapakah Ibu dari Hyang Buddha? …………………... 144 Empat Sifat Luhur ………………...………………….. 149 Empat Tekad Universal …………...………………….. 154 Sepuluh Tekad Bodhisattva Samantabhadra …………. 161 Empat Cara Kualitas Menjalin Hubungan ……..…….. 168 Akulah yang Teragung …….…………………….…… 173 Sepuluh Nama (gelar) Tathagata ...………………….... 177 Tathagata yang Telah Sempurna dalam Jasa Kebajikan dan Kebijaksanaan ……………………….………….... 182 Buddha Amitabha ………………….………….…….... 185 Pendewaan oleh Manusia ………….…….………….... 189 Enam Prinsip Keharmonisan .…………....………….... 193 Ladang Kebajikan …………………..…....………….... 198 Berkat dan Menyelamatkan ……..….........………….... 203 Empat Alam Dharma ..….........…………………..….... 205 Satu adalah Banyak ….........……………………..…..... 209 Dharma sebagai Kediaman Luhur ……………….…..... 214 Pencerahan ………………………………...…….…..... 218 Bergantung pada Diri Sendiri, Bergantung pada Dharma ………………………………………….. 222 Pelimpahan Jasa ………………………...…………….. 227

Tentang Master Hsing Yun Master Hsing Yun lahir di Propinsi Jiangsu, China pada tahun 1927. Beliau belajar di beberapa sekolah tinggi Buddhis yang tersohor seperti Sekolah Tinggi Qixia Vinaya dan Sekolah Tinggi Buddhis Jiaoshan. Tak lama setelah kedatangannya di Taiwan pada tahun 1949, beliau menjadi kepala editor Human Life, sebuah majalah Buddhis. Pada 1952, beliau mendirikan Buddhist Chanting Association untuk memperkuat dasar-dasar dalam pembabaran Dharma. Master mendirikan Vihara Fo Guang Shan pada tahun 1967, dengan tujuan utama membabarkan Buddhisme Humanistik melalui pendidikan Buddhis, kebudayaan, kegiatan amal, dan penyebaran Dharma. Sejak saat itu, hampir tiga ratus cabang vihara sudah berdiri di beberapa kota besar di dunia. Beliau juga membuat galeri seni, perpustakaan, penerbitan, toko buku, klinik keliling, sekolah tinggi Buddhis, dan universitas termasuk: University of the West, Universitas Fo Guang, Universitas NanHua, Institut Nan Tien, dan Sekolah Tinggi Guang Ming. Pada 1977, Dewan Redaksi Fo Guang Tripitaka dibentuk untuk menyusun Kanon Buddhis Fo Guang dan Kamus Buddhis Fo Guang. Banyak karya lain tentang agama Buddha juga telah diterbitkan.

Master Hsing Yun mendedikasikan hidupnya untuk membabarkan Buddhisme Humanistik. Sebagai anggota masyarakat global, beliau terus menyebarkan gagasan tentang “Kebahagiaan dan keharmonisan”, “Kesatuan dan hidup berdampingan”, “Rasa hormat dan toleransi”, serta “Kesetaraan dan kedamaian” di dunia. Ketika mendirikan Buddha’s Light International Association pada tahun 1991 dan terpilih sebagai ketua kantor pusat tingkat dunia, beliau menjadi lebih dekat pada cita-citanya untuk mewujudkan "Cahaya Buddha bersinar di tiga ribu alam, dan air Dharma mengalir di lima benua."

KATA SAMBUTAN Buddha Dharma seperti yang dikatakan dalam Sutra diibaratkan seperti tiga burung yang terbang di angkasa, angkasa tidak ada batasan jarak, tetapi jejak mereka terdapat jauh dekatnya; seperti tiga satwa yang menyeberangi sungai, air tidak ada batasan kedalamannya, tetapi jejak mereka terdapat dalam dangkalnya. Artinya bahwa seperti kepakan burung elang, burung merpati, dan burung gereja yang terbang di angkasa, burung elang sekali membentangkan sayapnya dapat terbang sejauh belasan mil, burung merpati yang dengan sekuat tenaga mengepakkan sayapnya dapat terbang sejauh satu dua mil, sedangkan burung gereja hanya dapat terbang sejauh beberapa meter saja. Hal ini menunjukkan bahwa angkasa pada dasarnya tidak ada jaraknya, karena kemampuan terbang ketiga burung tersebut berbeda-beda, sehingga jarak terbangnya pun berbeda. Sama halnya dengan satwa gajah, kuda, dan kelinci yang hendak menyeberangi sungai, tubuh gajah yang sangat besar dan kuat, kakinya sekali menapak dapat menginjak ke dasar sungai, lalu melewati sungai sampai ke tepi seberang; sementara kuda dan kelinci, karena ukuran badan dan kekuatan fisiknya berbeda, sehingga ketika menyeberangi sungai belum tentu kakinya dapat menginjak sampai ke dasar sungai, tetapi mereka sama-sama akan dapat sampai ke tepi seberang. Buddha-Dharma sama seperti samudra dan angkasa. Kita berada di samudra dan angkasa, setiap orang memiliki tingkat keyakinan dan sifat dasar yang berbeda-beda, sehingga terdapat perbedaan kedalaman dan kedangkalan pengetahuan dan wawasan, janganlah terikat dengan kebenaran pendapat sendiri. Terdapat pepatah yang mengatakan bahwa terserah diri

masing-masing mau melihat secara mendalam atau dangkal, sulit mengatakan siapa benar siapa salah. Dalam contoh tiga binatang menyeberangi sungai, siapakah Anda? Apakah gajah? Kuda? Atau kelinci? Ketika Anda adalah tiga burung yang terbang di angkasa, siapakah Anda? Apakah seekor burung gereja? Atau seekor burung merpati? Atau seekor elang? Anda harus meninjaunya ke dalam diri Anda sendiri. Ajaran Buddha adalah ajaran kebajikan, welas asih, kebijaksanaan, dan kesetaraan. Namun, seperti pepatah “dapatkah burung gereja dan burung layang-layang mengetahui kehendak dari sang angsa?”, yang artinya bahwa “bagaimana orang awam dapat mengetahui aspirasi orang suci?” Seperti halnya ukuran dari panjang kain dapat diukur dengan penggaris, atau berat dari suatu benda, dapat diketahui dengan menimbangnya. Pemahaman Buddha Dharma setiap orang, haruslah diri sendiri yang dapat mengetahuinya seberapa jauh dan seberapa berat bobot keyakinan yang Anda miliki. Jika tidak, kita yang masih belajar di taman kanak-kanak, tetapi bersikeras mengaku bahwa yang dipelajari adalah pelajaran universitas. Hal ini dapat membuat orang lain menertawakan atas ketidaktahuan diri sendiri. Perkumpulan organisasi Buddhis saat ini, dapatkah menjelaskan makna yang sebenarnya dari ajaran Buddha tanpa bertentangan dengan maksud asli Hyang Buddha? Misalnya, konsep surga dan neraka adalah sebagai motivasi kita dalam belajar dan terus meningkatkan pelatihan diri. Namun, beberapa orang dengan bodohnya menggunakan konsep neraka untuk menakut-nakuti orang dan menggunakan ketakutan itu untuk menolong orang. Mengapa tidak sebaliknya menggunakan keindahan surga agar orang-orang mendambakannya?

Selain itu, beberapa umat berdedikasi untuk agama Buddha, mendukung dan memberi persembahan, seharusnya kita harus berterima kasih kepada mereka, tetapi malahan semuanya dilimpahkan ke Buddha Amitabha, dengan mengatakan ke para umat bahwa “Tenang, Buddha Amitabha akan berterima kasih atas kontribusi Anda.” Mengapa kita membiarkan Buddha Amitabha mewakili kita untuk berterima kasih kepada mereka? Bagaimana kita boleh melemparkan tanggung jawab ini? Bukankah kita yang seharusnya berterima kasih dan membalas kebajikan mereka? Bahkan ajaran Hyang Buddha paling mendasar yang dibabarkan Hyang Buddha mengenai penderitaan, memotivasi kita untuk dapat menanggung kesulitan, dengan memiliki semangat bekerja keras, oleh karenanya harus menggunakan kesulitan untuk menempa diri sendiri. Karena melalui kesulitan, seseorang dapat berkembang dan menjadi lebih kuat. Sama seperti pelajar, yang juga butuh waktu bertahun-tahun untuk belajar dengan giat supaya lulus dengan nilai terbaik. Oleh karena itu, penderitaan bagi hidup manusia adalah sesuatu yang bermakna, seperti kata pepatah, “Orang yang mampu menahan pelatihan yang sangat keras, baru dapat berhasil menjadi orang yang berkualitas.” Akan tetapi, umat Buddha masa kini ketika bertemu dengan orang-orang sering berseru, “Menderita! Menderita! Tidak ingin hidup lagi! Ingin segera meninggal! Berdoalah untuk segera terlahir kembali!” Hal ini tidak sesuai dengan makna penderitaan yang dibabarkan Hyang Buddha, yaitu agar kita dapat melampaui penderitaan dan melepaskan penderitaan. Bukankah ini semua semacam interpretasi yang salah? Di dalam Buddhisme terdapat istilah “kekosongan”, selama ribuan tahun, telah membuat orang-orang di masyarakat

mengira bahwa agama Buddha membicarakan “kekosongan empat elemen”, berarti tidak ada sama sekali, apapun tidak dibutuhkan dan apapun tidak ada. Pandangan mengenai kekosongan semacam ini, yang tidak sesuai dengan kebenaran, jika dibabarkan oleh para anggota sangha dapatkah membuat orang-orang meningkatkan keyakinan mereka? Kekosongan bersifat konstruktif; dengan kosong baru dapat berisi. Misalnya, di mana Anda akan tidur jika tidak ada kamar yang kosong? Di mana Anda akan bekerja jika tidak ada meja kerja yang kosong? Di mana Anda akan membangun rumah jika tidak ada lahan kosong? Di mana Anda akan meletakkan uang Anda jika saku Anda tidak kosong? Bagaimana Anda bisa terus hidup jika organ pencernaan Anda tidak berongga? Kekosongan sangat bagus, sangat luar biasa! Jadi mengapa menjelaskan kekosongan seolah-olah semuanya tidak ada? Kekosongan, bukannya tidak ada, tetapi penuh dengan semangat, potensi, dan kesuksesan. Hal yang sama berlaku untuk konsep ketidakkekalan. Ketidakkekalan sangat luar biasa karena itu berarti tidak ada yang tetap, sehingga kita dapat mengubah diri kita, dapat membuat kemajuan, dapat lebih meningkat, dapat lebih bajik, lebih cantik dan lebih baik. Jadi, mengapa kita harus membicarakan konsep “ketidakkelakan” seolah-olah segala hal di dunia ini akan kiamat?, sehingga membuat orang-orang merasa tidak ada harapan lagi? Kenyataannya, ketidakkekalan justru memberi harapan bagi umat Buddha untuk dapat mempelajari Jalan Tengah. Kita telah gagal memahami makna sebenarnya dari ajaran Buddha, kita telah salah paham tentang maksud dari Hyang Buddha. Oleh karena itu, kita harus mengeksplorasi kembali dan menyebarkan makna sebenarnya dari ajaran Buddha.

Selama lebih dari dua ribu tahun, karena pandangan pribadi, kesalahpahaman pribadi, takhayul pribadi, yang semuanya mengatasnamakan “Ajaran Hyang Buddha”, membuat Hyang Buddha menanggung banyak pandangan yang sesat, yang tidak mendasar. Hal ini sangatlah bertentangan dengan maksud asli Hyang Buddha. Sebagai contoh, dalam praktik berdana. Terkadang memberikan orang lain sebuah pujian, sebuah senyuman, atau pelayanan, semua itu termasuk berdana. Namun, saat ini penjelasan adalah pemberian hanya dalam bentuk sumbangan uang. Praktik memberi tidak hanya berarti meminta orang lain untuk memberi, tetapi kita juga harus ikhlas dalam memberi. Dalam mempelajari Buddhisme sering dikatakan “taat sila”, yang mana semuanya itu adalah menyuruh orang lain untuk mematuhinya dan menyuruh orang lain melakukan apa yang seharusnya dilakukan, tetapi perilaku, tindakan dan ucapan kita sendiri sama sekali tidak sesuai dengan Buddha Dharma. Jika kita sendiri tidak memiliki kesadaran, juga tidak tahu harus punya rasa malu, tidak tahu harus merasakan penderitaan, maka bagaimana kita bisa berkembang dan maju dalam Buddha Dharma? Di dalam buku Inspirasi untuk Membangkitkan Pikiran Bodhicitta, Bhiksu Xing'an mengatakan bahwa, "Dikatakan bahwa untuk mulai mempraktikkan Buddhisme, yang terpenting dimulai dari membangkitkan pikiran Bodhicitta”. Membangkitkan Bodhicitta berarti memiliki keyakinan dan pandangan yang benar. Sederhananya, belajar Buddhisme berarti belajar menumbuhkan welas asih, kasih sayang, rasa simpati, dan keseimbangan batin, belajar melaksanakan Empat Cara Menjalin Hubungan, dan Enam Paramita. Namun, Enam Paramita yang ada di Vihara kita sekarang ini, hanyalah mendorong para umat

untuk membakar dupa dan sembahyang di Vihara, dan percaya bahwa berbuat seperti itu pasti dapat menghilangkan malapetaka. Oleh karena itu, Sesepuh keenam, Master Huineng mengeluarkan teguran keras, Beliau di dalam Gatha Tanpa Bentuk, mengatakan bahwa, “Memberi uang tidak membuat kita mencapai ke-Buddha-an.” Namun, berapa banyak umat Buddha yang mendengarkan ajaran dari Sesepuh keenam? Kita perlu menyadari dan mengoreksi pandangan yang salah tentang Buddhisme dan makna asli dari ajaran Buddha yang hilang, agar dapat memahami apa yang dimaksud oleh Hyang Buddha. Sebagai contoh, pelepasan makhluk hidup secara tidak tepat, malahan menjadi sebuah tindakan bodoh, pembunuhan makhluk hidup. Misalnya, yang berharap umur panjang melakukan pelepasan makhluk hidup, hal ini membuat orang-orang memancing ikan dan menangkap burung, dan selama proses penangkapan dan pelepasan itu tidak tahu seberapa banyak yang mati? Jadi, bagaimana bisa berumur panjang? Ada juga orang -orang, yang tanpa pemahaman yang benar tentang hukum sebab dan akibat, berpikir bahwa untuk menjadi vegetarian hanya demi mendapatkan kesehatan, atau berdoa kepada Hyang Buddha demi memperoleh kemakmuran. Ini akan bertentangan dengan hukum sebab-akibat. Kemakmuran, kesehatan, keyakinan semua itu ada hukum sebab dan akibatnya. Jika kita menanam melon, bagaimana bisa berharap mendapatkan kacang? Jika kita menanam kacang, bagaimana bisa tumbuh melon? Beberapa orang menggunakan beberapa takhayul untuk menipu, dengan tindakan yang tidak sesuai dengan Dharma seperti membunyikan lonceng pertama, dan mempersembahkan dupa pertama saat Tahun Baru Lunar. Orang-orang ini tidak mengerti bahwa suara lonceng hanya untuk kewaspadaan, bukan

untuk uang; sementara mempersembahkan dupa adalah bentuk persembahan kepada Hyang Buddha dan bukan untuk jual beli. Selain itu, berbagai praktik meramal, yang hanya mementingkan permohonan agar keinginan terkabul, tidak mementingkan praktik Buddhis, bagaimana hal ini bisa sesuai dengan hukum sebab dan akibat? Prinsip Feng Shui seharusnya ada, manusia memiliki logika, emosi memiliki perasaan, objek benda memiliki bentuk fisik, bagaimana mungkin bumi tidak ada tata letak geografisnya? Namun, tata letak yang dimaksudkan bukannya harus diletakkan ke arah tertentu baru terdapat Feng Shui yang bagus. Selama ventilasi udara bagus, lingkungan bersih, tata ruang terbuka, bangunannya simetris, itulah Feng Shui yang paling baik. Jika tidak, seperti Vihara Xuankong di Shanxi, China, menurut Anda disana terdapat Feng Shui apa? Buddhisme berbicara tentang Delapan Kelompok Makhluk Surgawi. Surganya di mana? Naganya di mana? delapan kelompok itu maksudnya apa? Tentu saja mereka juga sebagai sejenis makhluk dunia, tetapi kita menganggap mereka sebagai dewa atau tentara surgawi. Dikatakan bahwa Hyang Buddha lahir dari sisi sebelah kanan ibu Beliau. Apakah Anda pernah melihatnya? Mengapa kita harus menggunakan begitu banyak mitos untuk diterapkan terhadap Hyang Buddha? Bahkan kumpulan kitab agama Buddha, pada zaman dinasti lalu terdapat orang-orang yang memiliki motif tersembunyi, dengan berkedok atas nama Hyang Buddha untuk menyebarkan agama Buddha, sehingga sekarang ini di dalam kitab suci Tripitaka, terdapat sejumlah teori semu dan tulisan yang diragukan. Buddhisme diolok-olok oleh orang-orang sebagai politeisme. Karena begitu banyak Bodhisattva dan Arahat. Terlebih lagi, semuanya terdapat dasar

Sutranya, tetapi tidak ada latar belakang sejarahnya! Siapa orang tua mereka? Mereka lahir di mana? Seperti Nagarjuna, Asanga, dan Vasubandhu, mereka semua memiliki latar belakang sejarahnya. Bagi mereka yang tidak memiliki latar belakang sejarah, kita tidak boleh menyangkalnya, karena dapat dikatakan bahwa mereka semua itu adalah berbagai reinkarnasi Hyang Buddha. ​Mengapa Anda tidak memfokuskan keyakinan kepada Hyang Buddha? Mengapa masih perlu menciptakan dewa kekayaan, dewa kota, dewa bumi, dewa Wang Ye, dewi kelahiran, dan dewa jodoh dan berbagai dewa dewi lainnya? Dikatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia, tetapi sebenarnya manusia juga menciptakan Tuhan. Agama Buddha berbeda dari agama-agama lain karena Hyang Buddha sangatlah agung, Beliau adalah manusia yang telah tercerahkan. Beliau memiliki latar belakang sejarah dan nyata, Beliau adalah seorang manusia, bukan bentuk imajinasi dari dewa ataupun makhluk surgawi. Mengapa umat Buddha tidak mengembalikan wujud kemuliaan Hyang Buddha yang sebenarnya? Buddha yang malang! Selama dua ribu tahun, Beliau telah diselimuti dengan takhayul dan ditopengi dengan wujud dewa dan hantu oleh umat yang tidak baik. Hal ini membuat Hyang Buddha kehilangan identitas aslinya, dan membuat orang menhela nafas. Misalnya, Buddhisme berbicara tentang Empat Tekad Agung, ini dimaksudkan agar kita dapat membuat tekad dan mengamalkannya. Tetapi umat Buddha sekarang ini hanya berani menggemakannya, tetapi tidak melakukannya. Jadi tentu saja tidak ada orang yang melakukannya. Dengan demikian, apa gunanya Empat Tekad Agung?

Contoh lainnya adalah bahwa Hyang Buddha mengajarkan Enam Paramita agar kita dapat belajar Jalan Bodhisattva dan dapat mencari cara untuk mempraktikkannya, yaitu membebaskan diri sendiri dan orang lain. Hal ini dapat dilakukan dengan berdana, melatih sila, melatih kesabaran, melatih ketekunan, melatih ketenangan pikiran (konsentrasi), melatih kebijaksanaan. Namun, para anggota Sangha di masa kini menganjurkan orang lain untuk melakukan Enam Paramita, tetapi mereka sendiri tidak memberi, hanya ingin menerima saja. Sejujurnya, malahan membuat para umat terselamatkan, sementara para anggota tidak bisa mencapai pantai seberang, jadi apa yang harus dilakukan? Perkumpulan Sangha seperti itu, yang hanya ada dalam Sutra Hyang Buddha, yang hanya ingin mendapatkan keuntungan dan manfaat melalui Buddha Dharma. Pemikiran dan perilaku yang terbalik seperti itu, biarkanlah masing-masing individu yang menumbuhkannya. Selain akan mendapatkan ganjaran hukuman karma di masa depan, sekarang ini ada hukum apalagi yang dapat diterapkan untuk dapat menunjukkan keaslian makna dari ajaran Hyang Buddha? Jalan Mulia Berunsur Delapan yang dibabarkan oleh Hyang Buddha, merupakan praktik yang paling utama di dunia. Saat itu, ada orang Hu dari wilayah barat yang menyebarkan ajaran Jalan Mulia Berunsur Delapan, sehingga terdapat istilah 胡說八道 - húshuō bādào, tetapi malahan dijadikan sebagai kata-kata untuk memarahi orang, yang artinya omong kosong. Apakah hal ini pantas untuk masyarakat di wilayah Utara? Antara Dinasti Sui dan Dinasti Tang, beberapa anak muda belajar agama Buddha, dan semuanya belajar dengan guru Buddhis terkemuka. Tidak hanya ke Jiangxi untuk belajar dengan Mazu, juga ke Hunan untuk bertanya kepada Chan Master Xiqian. Istilah 江湖來往 – jiāng hú lái wǎng -"menjelajahi

Jianghu" menunjukkan makna perjuangan mereka bepergian dari Jiangxi sampai ke Hunan untuk belajar. Namun, di zaman sekarang ini, istilah yang sangat bermakna itu telah digunakan untuk orang-orang yang mencari nafkah di jalan (seperti para penghibur jalanan yang menjual seni pertunjukkan) dengan menggembara ke segala penjuru (走江湖 – zǒu jiāng hú) . Hal seperti siapa yang bisa memperbaikinya? Dalam kitab suci agama Buddha terdapat Sutra Vimalakirti Nirdesa, Sutra Srimaladevi Simhanada, dan lain-lain. Apakah Anda dapat mengatakan bahwa Vimalakirti dan Srimaladevi adalah guru Dharma dari kalangan umat biasa? Mengapa hinga kini, kita berpikir bahwa para profesor dan umat perumah tangga mengajarkan Dharma itu berarti bahwa jaman berakhirnya Dharma telah dekat? Hal ini menyebabkan banyak umat Buddha yang luar biasa tidak dapat membantu Hyang Buddha membabarkan ajaran-Nya. Bukankah ini kesalahan dari mereka yang terus menyebarkan perkataan yang menyimpang semacam ini? Contoh lain adalah istilah “kehidupan kekal”. Awalnya, dalam Buddhisme istilah ini berarti bahwa hidup tidak berakhir dengan kematian tetapi terus berlanjut dalam siklus samsara. Namun, ketika orang Kristen mengatakan bahwa mereka yang beriman akan memiliki hidup yang kekal, umat Buddha menjadi takut untuk menggunakan istilah ini. Istilah lain adalah "penyelamat". Hyang Buddha adalah benar-benar penyelamat dunia, karena beliau datang ke dunia ini untuk membebaskan semua makhluk. Namun, karena agama Katolik memproklamirkan Yesus Kristus sebagai penyelamat, maka agama Buddha menjadi takut untuk menyebut Buddha sebagai penyelamat. Istilah yang indah seperti itu, semuanya digunakan oleh agama-agama lain, malahan menggunakan keyakinan yang

tidak sepantasnya, keajaiban dan mukjizat, delusi dan pandangan yang sesat diasosiasikan pada Hyang Buddha. Dalam Vinaya disebutkan bahwa “jika seseorang memberikan minuman alkohol kepada orang lain, mak ia akan terlahir kembali tanpa tangan selama lima ratus kehidupan.” Bagaimana bisa ada hukuman yang begitu berat? Guru terkemuka mana yang menetapkan sila ini? Orang ini tidak mengerti maksud asli dari Hyang Buddha dan hanya berdasarkan pemahaman yang kurang tepat dari diri sendiri, tidak adanya pengetahuan, sehingga menciptakan perkataan yang sesat seperti itu. Selain itu, mengenai Sepuluh Sila Sramanera, Anda boleh menyelidikinya, apakah dapat dilaksanakan oleh para sesepuh agama Buddha? Para Sesepuh saja tidak dapat melaksanakan sepuluh sila Sramanera, tetapi meminta para Sramenera yang baru untuk menjalankannya? Bukankah ini tidak masuk akal? Berkaitan dengan istilah “Delapan Garudharma” (delapan Vinaya tambahan untuk Bhiksuni), menurut pemahaman saya, Hyang Buddha membabarkan kesetaraan, seperti yang dapat dilihat dalam pepatah, “Ketika orang dari empat kasta meninggalkan kehidupan rumah tangga, mereka semua setara sebagai anggota sangha.” Jadi, bagaimana bisa ada Delapan Garudharma yang justru menunjukkan ketidaksetaraan gender? Guru terkemuka mana yang mencetuskan sila ini dan berkedok atas nama Buddha untuk menjalankannya? Dalam agama Buddha, menyatakan berlindung pada Tri Ratna menunjukkan semangat demokrasi dan makna dari Lima Sila adalah kebebasan. Hyang Buddha menganjurkan kesetaraan di antara Empat Kelompok Murid. Mengapa Dharma yang indah tidak digabungkan dengan nilai-nilai saat ini, yaitu kebebasan, demokrasi, dan kesetaraan?

Di lingkungan Buddhis saat ini, banyak orang mengklaim ini atau itu sebagai kata-kata Hyang Buddha. Namun, apakah semuanya benar-benar diucapkan oleh Hyang Buddha? Sebaliknya, kita juga bisa mengklaim bahwa ini dan itu tidak diucapkan oleh Hyang Buddha? Apapun yang pernah Hyang Buddha katakan, bertujuan agar kita dapat melaksanakannya, dan mempraktikkannya sebagai ajaran Dharma. Kita menyarankan orang lain untuk berlatih, belajar agama Buddha dan benar-benar menjadi Buddha, dan harus mengakui bahwa "Saya adalah Buddha". Namun, kita harus berhati-hati untuk tidak menyalahgunakan Hyang Buddha, dengan menggunakan kemelekatan sendiri dan pandangan yang salah, berkedok atas nama Hyang Buddha menyebarkan ajaran-Nya. Tindakan seperti itu akan membawa akibat yang serius. Umat ​Buddha saat ini telah menjadi sukarelawan demi agama Buddha, berdana demi agama Buddha, melindungi Dharma demi agama Buddha. Mereka telah mengadopsi agama Buddha, lalu apa yang telah diberikan Buddhisme kepada umat sebagai balasannya? Suatu kali, ketika saya sedang memimpin Wisudhi Tisarana dan Pengambilan Lima Sila, ada seorang umat menolak dan takut untuk mengambil sila. Lalu bertanya kepadanya mengapa? Karena ada salah satu sila “tidak boleh berbohong”, dia tidak berani mengambilnya. Hal ini karena dia pernah mendengar kisah tentang seorang Chan Master yang terlahir kembali sebagai rubah selama lima ratus masa kehidupan karena kesalahan satu kata yang diucapkan: 不『昧』因果 - bù “mèi” yīn guǒ (yang artinya harus menerima karma) dan 不『落』因果 - bù “luò” yīnguǒ (yang artinya tidak ada yang bisa lolos dari hukum karma). Umat ini khawatir dia akan berbohong, jadi menjadi takut. Saya percaya bahwa ketika umat Buddhis lainnya

mendengar alasannya, mereka akan menyarankan untuk tidak mengambil sila ini. Sebenarnya, daripada Anda khawatir berbohong, Anda dapat melatih berucap yang benar. Umat tersebut adalah pemilik toko tekstil, suatu ketika ada yang ingin membeli kain, akan bertanya: “Berapa harga satu kaki kain?” "Lima dolar." "Apakah warnanya bisa memudar?" Agar dapat menjual kain itu, dia akan berbohong dan berkata, "Tidak." Kemudian, saya katakan kepadanya untuk tidak menjawab seperti itu. Sebagai gantinya, saya menyarankannya untuk berkata, “Kain yang harganya lima dolar mudah pudar, tetapi kain yang harganya delapan dolar tidak.” Tidak lama kemudian, umat ini dapat membangun gedung, karena reputasi baik yang diperolehnya dari kejujuran, bisnisnya berkembang sangat pesat. Saya hanya merasa bingung, mengapa Buddha Dharma yang begitu bagusnya, tidak dijelaskan dengan pandangan positif, sehingga umat dapat menerima manfaat dari Buddha Dharma? Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana adalah rangkaian dari hampir 300 topik yang membahas pemahaman Saya tentang hal hal yang Saya temui dalam kehidupan sehari-hari. Sebenarnya masalah yang dihadapi oleh agama Buddha sangatlah sederhana. Saya hanya berharap ada orang-orang yang bertekad kuat untuk berkumpul dan membahas kembali agama Buddha secara keseluruhan, dan membawa kembali ke makna agama Buddha yang sesungguhnya sehingga ajaran yang benar dari Hyang Buddha bisa menyebar di dunia ini. Tentu saja, seiring dengan penyebaran agama Buddha ke seluruh dunia, oleh karena tata letak geografis, budaya, bahasa, tradisi, masyarakat, dan iklim setiap tempat berbeda-beda, maka

dibutuhkan suatu kemudahan dalam perubahan untuk memudahkan proses peyebaran dan ini jelas sangat diperlukan. Dalam Buddhisme Mahayana, hanya generasi keturunan Chan Master yang masih memiliki beberapa Pandangan Benar dan memahami beberapa bagian Dharma. Yang lainnya, seperti Patticasampuda dan jalan tengah dari aliran Madhyamaka tidak banyak orang mempelajarinya dan menyebarkannya. Seperti kata pepatah, “Keyakinan yang sesat muncul ketika keyakinan yang benar menurun.” Oleh karena itu, Saya ingin buku ini sebagai motivasi bagi semua orang. Jika ada ide yang disajikan dalam buku ini terdengar kurang lengkap, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Harapan saya hanyalah agar buku ini sesuai dengan ajaran Hyang Buddha, sehingga semua orang dapat menilai kembali makna Buddha Dharma yang sebenarnya. Saya bersyukur dan dengan rendah hati menerima segala pengertian dan komentar yang mencerminkan niat saya.. Inilah kata pengantar dari Saya.

Mei 2016 Pendiri Fo Guang Shan

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

1

Keyakinan

Keyakinan beragama dianggap oleh orang Tionghoa sebagai cara menerima berkah melalui doa. Sebagian besar umat Buddha juga gagal untuk memahami bahwa keyakinan beragama yang benar di bangun atas belas kasih tanpa pamrih serta pelepasan akan bentuk. Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa keyakinan beragama adalah berdasarkan pada pandangan benar, kejujuran, kebenaran serta dedikasi tanpa pamrih untuk membantu orang lain. Berbicara tentang keyakinan, orang sering kali menganjurkan bahwa "Memiliki hati yang baik sudah cukup, buat apa perlu keyakinan beragama". Namun, mengapa ada orang yang baik hati menolak keyakinan beragama? Ada juga orang yang bangga menjadi orang yang tidak beragama dan berkata, "Saya tidak percaya pada agama apapun. Saya tidak memiliki keyakinan." Namun, ketika menghadapi kesulitan seperti gagal dalam bisnis, hubungan yang mengecewakan, krisis eksistensi atau tersiksa oleh rasa sakit karena suatu penyakit, orang secara alami mencari dukungan agama. Khususnya, ketika kematian dalam keluarga terjadi, orang-orang masih sering menghubungi anggota sangha untuk memimpin upacara pemakaman. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa persoalan hidup dan mati tidak terlepas dari keyakinan beragama.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

2

Seorang penulis terkenal bernama Sima Zhongyuan ketika memberikan kuliah umum pernah berkata meskipun ia beragama Katolik, tetapi dalam tubuhnya mengalir darah agama Buddha. Dia berkata bahwa di Tiongkok, tidak peduli agama apa yang dianut seseorang, ada aliran agama Buddha dalam darahnya. Karena kebiasaan turun temurun dari generasi ke generasi dari nenek moyang selama ribuan tahun, selama orang sakit atau menghadapi penderitaan, mereka melantunkan nama "Buddha Amitabha" atau berdoa kepada "Bodhisattva Avalokitesvara". Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keyakinan terhadap Buddha adalah bagian yang melekat dalam budaya Tiongkok. Faktanya, para Buddha dan Bodhisattva tidak akan mempermasalahkan apakah seseorang mempercayai mereka atau tidak. Bagi mereka, mereka tidak mendapatkan atau kehilangan apa pun. Akan tetapi, akan sangat disayangkan jika seseorang kurang percaya pada dirinya sendiri. Keraguan diri pada kemampuan, pengetahuan dan pemahaman seseorang muncul dari kurangnya kepercayaan diri. Seseorang yang memiliki keyakinan pada diri sendiri mampu melakukan perbuatan baik dan memiliki kekuatan untuk membantu orang lain. Selain itu, mereka mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk; percaya pada kemampuan dan potensi mereka sendiri. Bukankah hal itu merupakan kehidupan yang bermakna? Tentu saja, tingkat keyakinan dapat diibaratkan seperti tingkatan sekolah yang mencakup sekolah dasar, sekolah menengah, dan universitas. Sama seperti siswa yang menyelesaikan setiap tingkatan kelas secara berurutan, keyakinan memiliki tingkat pemahaman sendiri, dimulai dengan pemahaman dasar dan berkembang secara bertahap. Mengenai tingkat keyakinan, saya pernah berkata, "Lebih

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

3

baik tidak punya keyakinan daripada punya keyakinan yang salah, memiliki keyakinan yang buta lebih baik daripada tidak memiliki keyakinan, dan mempunyai keyakinan yang benar lebih baik daripada keyakinan yang buta." Jadi, keyakinan pada akhirnya harus membangun "Keyakinan yang benar". Keyakinan yang benar bisa membuat kita memperoleh manfaat yang sangat besar. Kita tidak hanya membangun keyakinan yang benar, tetapi juga percaya pada agama dengan keyakinan yang benar; secara khusus, hal yang paling baik adalah setiap orang memiliki kepercayaan diri dan keyakinan pada diri mereka sendiri. Agama Buddha mengajarkan bahwa keyakinan yang paling penting adalah keyakinan pada diri sendiri, percaya pada potensi seseorang untuk mencapai Kebuddhaan dan dapat menjadi orang baik. Apakah Anda akan mengatakan bahwa keyakinan itu tidak penting? Keyakinan bagaikan lautan, bukankah sangat indah memiliki hati yang tak terbatas seperti lautan? Keyakinan layaknya harta di dalam pegunungan. Bukankah demikian pula, bahwa indahnya kebijaksanaan, pertobatan, kebajikan, dan kebenaran yang ada di dalam hati juga tumbuh mewakili keyakinan? Tak peduli siapapun Anda, akui bahwa Anda juga memiliki keyakinan! Hanya dengan keyakinan, hidup dapat menjadi utuh dan lengkap. Hanya dengan keyakinan, spiritualitas dan tujuan dapat dicari. Hanya melalui keyakinan, aktualisasi dan jati diri yang lebih besar dapat ditemukan. Hanya dengan jalan ini, seseorang dapat berhasil di masa depan.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

4

Praktik Buddhis menekankan “Kesan yang mendalam terhimpun melalui pendengaran.” Selain itu, tulisan ajaran Buddha dimulai dengan "Demikianlah yang kudengar," seseorang harus berusaha keras untuk mendengarkan dengan sadar, penuh perhatian dan terampil.

— “Demikianlah telah Kudengar”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

5

Demikianlah telah Kudengar

“Demikianlah yang kudengar” adalah ungkapan yang ditemukan di awal pada hampir setiap sutra Buddha. Kalimat ini berasal dari pertanyaan yang diajukan oleh Ananda kepada Buddha pada saat saat terakhir sebelum parinirvana, “Bagaimana kami menginspirasi keyakinan pada mereka yang membaca sutra (ajaran Buddha) di masa depan?” Sebagai jawaban, Hyang Buddha menginstruksikan Ananda untuk memulai setiap ajaran secara tertulis dengan “Demikianlah yang telah kudengar” yang berarti “Inilah saya, Ananda, yang telah mendengar secara langsung dari Hyang Buddha, yang sekarang dituliskan sama seperti itu.” “Demikianlah yang kudengar” sehingga memungkinkan ajaran Buddhis untuk diwariskan kepada generasi berikutnya dalam bentuk Tripitaka dengan dua belas bagian. Seperti kata pepatah, “Inti dari ajaran benar ini murni disampaikan melalui suara dan pendengaran. Jadi Siapapun yang ingin mencapai samadhi harus melatih pendengaran dengan sesungguhnya melalui suara itu,” harus diketahui bahwa ajaran Buddha dibabarkan melalui suara dalam melakukan pelayanan. Meskipun ada banyak cara praktik dalam Buddhisme, satu-satunya cara agar Dharma mengakar di dalam pikiran adalah dengan menerima ajaran Buddha melalui indera pendengaran.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

6

Seperti halnya, Bodhisattva Avalokitesvara melalui indra pendengaran memahami penderitaan makhluk hidup dengan mendengar tangisan meminta pertolongan dan kemudian menjangkau mereka di mana pun mereka berada. Beginilah cara Bodhisattva Avalokitesvara menolong semua makhluk dimanapun mereka berada, mengerti hati dan pikiran semua makhluk agar terlepas dari segala bentuk penderitaan. Beberapa orang mungkin juga bertanya-tanya mengapa bukan “Demikianlah yang telah saya lihat?” Alasannya adalah bahwa pendengaran mempunyai peran yang lebih penting daripada melihat. Misalnya, apa yang telah terjadi di masa lalu tidak dapat dilihat lagi dengan mata, tetapi dapat dikenang kembali. Sebuah insiden dari jauh mungkin tidak terlihat oleh mata, tetapi saya dapat menemuinya dengan mendengar suara atau menontonnya melalui siaran. Di sisi lain, meskipun dua orang yang dipisahkan oleh dinding tidak dapat melihat satu sama lain, mereka masih dapat mendengar satu sama lain. Mata melihat, telinga mendengarkan; setiap organ indera memiliki fungsinya sendiri-sendiri, tetapi kemampuan pendengaran jauh lebih kuat daripada mata. Itulah mengapa “Demikianlah telah kudengar” digunakan dalam sutra, bukan “Demikianlah telah aku lihat.” Praktik Buddhis menekankan “Kesan yang mendalam melalui pendengaran yang sepenuhnya”. Selain itu, karena tulisan ajaran Buddha dimulai dengan “Demikianlah kudengar,” seseorang harus berusaha untuk mendengarkan dengan penuh sadar, terampil, dan penuh perhatian. Dalam Buddhisme, praktisi yang ingin berkultivasi harus memasuki samadhi melalui “Mendengarkan, merenungkan, dan berlatih.” Ini berarti merenungkan dan merefleksikan apa yang didengar secara keseluruhan dan melalui konteks positif, serta mempraktikkannya. Ketika semua aspek mendengarkan, merenungkan, dan berlatih terpenuhi, seseorang

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

7

akan mampu menyadari dan bangkit pada Sang Jalan — dengan kata lain, mencapai samadhi. Dengan demikian, "Demikianlah yang kudengar" dahulu diartikan sebagai hanya mendengarkan kata-kata dari sebuah sutra, saat ini sama seperti mendengarkan Dharma. Ini juga mencakup arti menghormati, memberikan persembahan, merenungkan ajaran, dan mempraktikkan apa yang telah didengarnya. Oleh karena itu, semangat “Demikianlah yang kudengar” hanya dapat terwujud ketika seseorang juga percaya, menerima, dan menjunjung tinggi Dharma.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

8

Mendengarkan dengan Penuh Perhatian

Ada pepatah dalam Buddhisme, “Penyebaran Dharma sepenuhnya disampaikan melalui suara dan pendengaran." Sesuai dengan alasan ini, maka Sutra selalu dimulai dengan “Demikianlah yang telah kudengar.” Umat ​Buddha saat ini sering berbicara tentang pergi ke suatu tempat untuk “Mendengarkan” Dharma. Jarang mereka mengatakan bahwa mereka akan pergi ke suatu tempat untuk “Menyalin" sutra atau untuk "Membaca" sutra. Tentu saja, menyalin dan membaca sutra juga merupakan cara praktik, tetapi tidak seumum mendengarkan Dharma. Dalam Sutra Intan, setelah Subhuti meminta Hyang Buddha untuk menjelaskan Dharma, Hyang Buddha menjawab, “Sekarang saya akan menjawab pertanyaan Anda. Dengarkan dengan penuh perhatian! Dengarkan dengan penuh perhatian!” “Mendengarkan dengan penuh perhatian" berarti mendengarkan dengan saksama dan penuh perhatian, serta merenungkan dan mengingat. Selain mendengarkan dengan penuh perhatian, seseorang juga harus belajar mendengarkan sepenuhnya, mendengarkan semua aspek, dan mendengarkan dengan terampil. “Mendengarkan sepenuhnya” berarti tidak mengambil makna dari apa yang diucapkan di luar konteks. “Mendengarkan semua aspek” berarti mendengar dari semua perspektif, dan tidak bisa.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

9

“Mendengarkan dengan terampil” mengacu pada berpikir positif setelah mendengarkan. Itulah mengapa dicatat dalam sutra bahwa seseorang memasuki samadhi hanya melalui mendengarkan, kontemplasi, dan praktik. Seseorang yang tidak memperhatikan ketika orang lain berbicara seperti printer rusak yang menghasilkan teks dan gambar buram, atau bahkan yang gagal mencetak. Ini juga seperti benih yang ditanam di tanah yang tidak subur atau berserakan di jalan. Betapapun bagusnya benih itu, ia tidak akan bisa tumbuh. Oleh karena itu, jangan mendengarkan secara sebagian saat mendengarkan Dharma. Tidak boleh terikat pada konsep atau sengaja salah menafsirkannya. Ini semua adalah tindakan yang mengalahkan tujuan Dharma; seseorang harus memiliki keyakinan sejati pada ajaran Buddha. Pembabaran Dharma harus sering dihadiri dan didengarkan dengan penuh perhatian. Namun, kebanyakan orang saat ini gagal untuk memahami pentingnya “Mendengarkan dengan penuh perhatian”. Seperti siswa yang tidak memperhatikan pelajaran di kelas, bagaimana Dharma bisa mengalir ke dalam hati mereka? Bagaimana mereka bisa menjawab saat diuji? Siswa yang mendengarkan akan tahu cara untuk menjawab tes; mereka yang mendengarkan dengan penuh perhatian akan merasa lebih mudah untuk memahami dan terhubung dengan kebenaran. Banyak diskusi dapat diangkat tentang sikap para umat ketika mereka mendengarkan Dharma. Hari ini, ketika seseorang ditanya, “Mau pergi kemana?" Ia akan menjawab, “Saya pergi ke ceramah Dharma.” “Apa yang dibabarkan?” “Oh! Saya tidak terlalu perhatiin. Dan Saya tidak ingat lagi.” Tidak mengingat, menunjukkan bahwa Dharma tidak berakar di dalam pikiran. Jika Dharma tidak berakar, maka Dharma

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

10

tidak akan tumbuh. Tidak peduli seberapa banyak Dharma yang Anda dengarkan, semuanya akan sia-sia. Untuk alasan ini, praktisi Buddhis seharusnya tidak hanya berlatih pada tingkat yang dangkal. Seseorang harus dengan sungguh-sungguh dan tulus mendengarkan Dharma ketika ada kesempatan itu. Dengan demikian hasil yang didapat akan bermanfaat.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

11

Mendengarkan, Merenungkan dan Berlatih

Manusia di zaman sekarang menyukai segala hal yang serba "Cepat", mengerjakan sesuatu harus cepat, naik kereta api mau yang cepat dan naik pesawat terbang mau yang cepat. Kecepatan komputer dan ponsel yang semakin cepat semakin baik. Cepat memang penting, namun tak semua hal dapat diselesaikan secara tergesa-gesa. Seperti halnya belajar, sebuah pepatah mengatakan, "Butuh waktu sepuluh tahun untuk mengukir pedang yang indah nan kokoh". "Sepuluh tahun belajar dengan keras untuk meraih kesuksesan”. Bahkan di dalam sutra pun dikatakan bahwa saat Buddha mencapai penerangan sempurna, Beliau pun masih harus memahami dan merenungkan proses pencerahan selama 21 hari. Hal ini menjelaskan bahwa, dalam belajar harus melalui proses perenungan yang mendalam, baru dapat raih keberhasilan, jika berharap keberhasilan instan, maka tiada mencapai apa pun. Terutama dalam proses perenungan sebuah pemikiran tidak dapat secara tergesa-gesa, harus selangkah demi selangkah, membutuhkan kesempatan untuk memahami secara perlahan. Oleh karena itu, ajaran Buddha mengusulkan tahapan "Mendengarkan, merenungkan dan berlatih", sehingga mampu “Mencapai keadaan samadhi”, dengan berniat mendengar lebih banyak, melakukan perenungan ke dalam diri dan bertindak nyata, maka pencapaian

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

12

tertinggi akan terwujud. Ketika mencapai tingkat konsentrasi tertinggi, maka akan merealisasi pencerahan dan pembuktian atas kebenarannya, inilah yang disebut keadaan samadhi. Seperti emas dari hasil tambang, perlu diolah terlebih dahulu, sehingga dapat dibentuk jadi berbagai macam perhiasan dan memperindah dunia ini. Benih yang ditabur di dalam tanah, harus bertunas dahulu lalu tumbuh batang, baru berkembang menjadi cabang, daun, bunga juga buah dan bermanfaat bagi orang yang melewatinya. Mendengarkan seperti menggali, juga seperti menabur. Merenungkan seperti mengolah logam, juga seperti bertunas, berlatih seperti perhiasan emas yang elegan, juga seperti pohon yang berdaun dan berbuah banyak. Mendengarkan, merenungkan dan berlatih adalah tahapan yang saling mendukung dan harus dilakukan secara bersama, tak terpisahkan satu sama lain. Mendengarkan, selain mendengarkan dengan baik dan menyimak dengan penuh perhatian, juga harus mendengarkan “Suara dari hati atas isyarat yang diberikan”, “Suara dalam keheningan”, mampu mendengar dengan saksama suara hati, baru dapat disebut sebagai pendengar sejati. Selain itu, mendengarkan dalam arti yang lebih luas juga termasuk membaca, selain membaca berbagai buku dan membaca sutra suci, lebih penting lagi adalah membaca untuk jadi pribadi yang baik, membaca untuk memahami kebenaran, membaca untuk tercerahkan mengenai jalinan karma, membaca untuk memahami hati, agar menghidupkan semangat membaca dari apa yang ada di buku, harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tak menjadi seorang kutu buku saja. Setelah mendengarkan, diperlukan perenungan lebih lanjut, menelaah berulang, menyatu di dalam hati, baru bisa mendapatkan manfaat. Jika tidak, pembelajaran yang diperoleh sebanyak apa pun akan seperti jejak-jejak kaki di pasir pantai, dengan mudah terhapus

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

13

oleh air laut yang datang, jejaknya pun tak tersisa sama sekali, sangat disayangkan. Oleh karena itu, setiap kali Buddha membabarkan Dharma, selalu mengingatkan siswa-Nya: “Dengarkanlah! Dengarkanlah! Pahami dengan pikiran yang baik”. Dengarkanlah adalah tahapan pertama, mendengarkan kemudian memahami dengan pikiran baik adalah tahapan kedua, untuk terhindar dari kesalahpahaman dan penafsiran salah, diperlukan pikiran benar, pikiran baik, pikiran murni, cermat dalam pemikiran, sehingga mampu memahami dengan benar dan mendapatkan pandangan benar. Namun, mengetahui kebenaran tak sulit, praktik kebenaran yang sulit, mengerti akan kebijaksanaan tidak sulit, praktik pembuktiannya yang sulit dipraktikkan. Seberapa bagus sebuah kebenaran, jika tak dipraktikkan, dibuktikan sendiri, tak akan tercerahkan dan tak akan bermanfaat. Oleh karena itu, setelah mendengarkan dan merenungkan, harus berlatih praktik, baru bisa menyadari dan tercerahkan dengan sendiri dan juga beri manfaat bagi semua makhluk. Misalnya, setelah mendengar kata welas asih, harus digunakan dalam kehidupan agar welas asih hadir mempengaruhi dunia dan menambah keindahan dalam kehidupan manusia. Setelah belajar meditasi, harus digunakan dalam interaksi dengan sesama dan mengamati batin. Setelah meminta nasihat atas kebijaksanaan yang diperoleh para bijaksana, harus menggunakan untuk mempraktikkan ajaran Buddha, bermanfaat bagi masyarakat dan mengembangkan fungsi pembelajaran. Dapat dikatakan bahwa welas asih, kesabaran dan kebijaksanaan semuanya itu sangat penting. Oleh karena itu, dengan mempraktikkan dan menyebarkan kepada dunia, pencapaian pencerahan yang telah didengar dan direnungkan akan memberi manfaat pada sejagat raya dan mereka

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

14

tahu untuk mengikutimu perlahan namun pasti menembus makna dari kehidupan dan alam semesta. Buddha selama empat puluh sembilan tahun membabarkan Dharma dan lebih dari tiga ratus makhluk tertolong, ini membuat Buddha sempurna dalam pencapaiannya, yaitu dengan mendengarkan, merenungkan dan berlatih baru dapat mencapai keadaan samadhi. Dengan adanya mendengarkan, merenungkan dan berlatih, bagaimana mungkin kebijaksanaan tidak akan muncul? Mampu mendengarkan, merenungkan, mempraktikkan Dharma, Alam Dharma berada di dalam hati, semua makhluk juga ada di dalam hati, masihkah perlu memohon?

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

15

Tiga Permata (Tri Ratna), Buddha, Dharma dan Sangha merupakan inti dari keyakinan Buddhis, kekayaan suci yang melampaui apa pun.

— “Berlindung kepada Tri Ratna”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

16

Berlindung kepada Tri Ratna

Buddha adalah pemimpin, Dharma adalah kebenaran dan Sangha adalah guru, ketiga hal tersebut menjadi kondisi penting serta berguna dalam mencapai pembebasan bagi makhluk hidup. Perumpamaan dalam sutra mengatakan Buddha sebagai dokter yang agung, Dharma bagai obat mujarab dan Sangha ibarat perawat. Hanya dengan memiliki ketiganya, seorang pasien dapat disembuhkan. Begitu pun kehidupan, dengan mengandalkan kekuatan Tri Ratna seseorang bisa bebas dari penderitaan dan meraih kebahagiaan. Dengan demikian seseorang mendapatkan kedamaian dan menemukan pembebasan. Buddha laksana cahaya yang mengayomi semua makhluk. Cahaya bersinar, beri rasa hangat dan juga mengizinkan kehidupan bertumbuh kembang menuju kedewasaan. Cahaya mengusir kegelapan dan ketakutan. Sinar mentari bawa kehangatan dan memberikan kondisi tanaman untuk bertumbuh. Oleh karena itu, cahaya Buddha dapat menerangi pikiran. Juga dikatakan berlindung pada Buddha seperti membangun pembangkit tenaga dalam pikiran seseorang yang tiada henti menghasilkan kualitas bermanfaat dari kasih sayang, kebijaksanaan dan keyakinan.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

17

Dharma itu seperti air pelepas dahaga semua makhluk. Air membersihkan, melenyapkan kekotoran batin dan rintangan karma. Air memiliki fungsi penghilang dahaga, dapat menghilangkan rasa lapar dan haus. Air memiliki energi untuk bertumbuh, setiap bunga dan rumput perlu disiram dengan air. Air buat diri sehat dan tumbuh. Berlindung dalam Dharma seperti membangun saluran air dalam pikiran seseorang yang memelihara tubuh dan pikiran, membersihkan penderitaan dan kekotoran batin. Sangha ibarat ladang, memberi kesempatan untuk menanam jasa dan kebajikan. Sangha adalah guru, sebagai contoh, Bodhisattva Avalokitesvara, Bodhisattva Maitreya, Bodhisattva Ksitigarbha serta guru terkemuka lainnya adalah guru yang mengajar, memberi petunjuk dan mewariskan kebenaran. Sangha melayani dan memberi kedamaian bagi semua makhluk. Berlindung pada Sangha seperti memiliki ladang di mana tanaman bertumbuh dan juga menghasilkan panen berlimpah ruah dan bangunan dapat dibangun untuk meningkatkan pembangunan kota. Kekayaan duniawi bisa beri kenyamanan dalam hidup. Tri Ratna adalah permata atau kekayaan batin yang membawa kedamaian, kebahagiaan, pembebasan dan kemudahan secara alami. Hal ini, seperti orang tua yang menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan dengan aman, ketika seorang anak sedang dianiaya atau bahkan sedang sendirian tanpa orang tua berada didekatnya, ia akan berteriak “Ibu“ dan orang yang menganiayanya akan berpikir “Oh, ia memiliki ibu.” Dia tidak akan berani bertindak lebih lanjut. Demikian pula, ada banyak ajaran yang berpandangan salah sehingga menyebabkan banyak bencana. Sekali pun, Tri Ratna tak berada di sisi kita, asalkan diri teringat akan Tri Ratna dan melafalkannya, maka akan memberikan kekuatan. Makna sesungguhnya berlindung kepada Tri Ratna bermula dari pernyataan berlindung pada Tri Ratna, lalu menjadikan Tri

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

18

Ratna sebagai tempat batin berlabuh dan menjalani kehidupan sesuai anjuran. Buddha berkata bahwa semua makhluk memiliki benih kebuddhaan. Dengan berlindung kepada Tri Ratna, seseorang berlindung pada dirinya sendiri. Seperti juga dikatakan dalam sutra, bahwa pikiran, Buddha dan semua makhluk adalah satu adanya dan tiada beda. Maka dari itu, seseorang harus menaruh hormat dan memiliki keyakinan pada Tri Ratna untuk menuai manfaat. Setelah berlindung pada Tri Ratna, meskipun tidak ada aturan, namun sebenarnya berlindung dengan keyakinan itu sendiri telah menjadi pedoman bagi diri. Terlebih menyangkut keyakinan, sebetulnya telah menjadi perwakilan diri dan karakter, yang semakin tak boleh dilanggar. Sehingga hal ini memberitahukan bahwa, berlindung kepada Tri Ratna bukan berlindung pada guru, tapi berlindung pada keyakinan, berlindung pada batin, harus memiliki harapan, mengasihi diri sendiri, mematuhi etika sebagai seorang manusia yang telah dibabarkan oleh Buddha agar dapat melindungi keberadaan diri kala menjalani kehidupan. Perbuatan baik, ucapan baik dan pikiran baik atau Tiga Perbuatan Baik, yaitu tubuh melakukan tindakan terpuji, mulut melisankan kata-kata penuh kasih, pikiran memiliki kehendak baik, merupakan tiga sumber terciptanya karma melalui tindakan, ucapan dan pikiran dapat dimurnikan, hanya melalui cara ini, makna sesungguhnya berlindung pada Tri Ratna bisa dipahami sepenuhnya.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

19

Inti dari sila adalah tidak melanggar hak orang lain. Dengan mematuhi sila, Tiga Karma seseorang (karma fisik, verbal, dan mental) dapat dimurnikan. Oleh karena itu, sila menjadi fondasi semua praktik yang baik. Menegakkan Lima Sila akan meningkatkan keyakinan dan kebijaksanaan seseorang, memunculkan jasa kebajikan, dan memperkuat praktik seseorang.

— “Menjalankan Lima Sila”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

20

Menjalankan Lima Sila

Dalam agama Buddha, masing-masing aliran memiliki pendapatnya sendiri tentang ajaran yang diajarkan oleh Hyang Buddha, namun semuanya tetap berpedoman pada sila yang telah ditetapkan oleh Hyang Buddha. Umat ​Buddha menjalankan sila, sama seperti siswa mematuhi peraturan sekolah dan rakyat mematuhi hukum. Perbedaannya adalah bahwa peraturan sekolah dan hukum suatu negara adalah peraturan yang ditegakkan secara eksternal, sedangkan sila dalam agama Buddha adalah nilai-nilai dalam batin dari disiplin diri. Berlindung pada Tri Ratna adalah langkah pertama untuk belajar agama Buddha, sementara menjalankan Lima Sila adalah praktik dari keyakinan. Inti dari sila adalah tidak melanggar. Dengan tidak melanggar maka karma melalui perbuatan, ucapan dan pikiran dapat dimurnikan. Oleh karena itu, sila adalah dasar dari semua praktik yang baik. Menjalankan Lima Sila akan meningkatkan keyakinan, kebijaksanaan, pahala kebajikan, hidup damai, menambah pandangan benar, mencegah perilaku tidak bajik, akan dihormati, serta hidup berdampingan secara harmonis dengan semua orang.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

21

Lima Sila ini adalah: 1. Menghindari Pembunuhan Yang paling penting dalam sila ini adalah tidak melanggar kehidupan orang dan menghormati kebebasan hidup semua makhluk. Meskipun agama Buddha tidak memaksakan setiap orang untuk menjadi vegetarian, tetapi seseorang harus bisa menghindari pembunuhan makhluk hidup. Seperti pepatah, “Janganlah menembak burung yang terbang, sebab anak burung di sarang menantikan kepulangan induk mereka.” Oleh karena itu, menghindari pembunuhan berarti tidak melanggar atau membahayakan kehidupan orang lain dan kemudian dikembangkan dari menjunjung "Hak asasi manusia” menjadi melindungi “Hak untuk hidup”. 2. Menghindari Pencurian Tidak boleh melanggar hukum, mengambil milik orang lain secara tidak sah, yaitu mengambil tanpa izin pemiliknya dan menghormati kebebasan milik orang lain. Mengambil sesuatu tanpa izin, tidak peduli apakah itu diambil oleh diri sendiri, atas perintah orang lain atau senang melihat tindakan seperti ini, semua tindakan ini adalah tidak pantas. Selain itu, mengambil keuntungan pribadi dalam suatu krisis/bencana, korupsi, penggelapan, penyalahgunaan dana publik, bisnis ilegal atau penipuan adalah dianggap hasil ilegal yang tidak diperbolehkan dalam agama Buddha. 3. Menghindari Perbuatan Asusila Perbuatan asusila di sini mengacu pada menahan diri untuk tidak terlibat dalam hubungan di luar pernikahan, yang akan membawa kemalangan bagi keluarga dan meresahkan masyarakat. Oleh karena itu, menghindari perbuatan asusila berarti menghormati tubuh, reputasi dan integritas orang lain. Tidak hanya keluarga akan bahagia, negara dan masyarakat juga akan stabil dan harmonis.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

22

4. Menghindari Ucapan yang Tidak Benar Ucapan tidak benar di sini termasuk berkata kasar, memecah belah, ucapan yang tidak pantas atau ucapan tidak jujur. Bergosip dan memfitnah yang dapat merusak reputasi orang lain, menghancurkan perbuatan baik orang lain dan merugikan orang lain, semua ini adalah ucapan yang tidak benar. Oleh karena itu, menghindari ucapan yang tidak benar berarti menghormati reputasi dan kredibilitas orang lain. 5. Menghindari Makanan dan Minuman yang Menyebabkan Hilangnya Kesadaran Dalam Lima Sila, menghindari makanan dan minuman yang menyebabkan hilangnya kesadaran berarti tidak mengkonsumsi dari segala sesuatu yang dapat membahayakan kesehatan atau yang menyebabkan hilangnya kesadaran. Misalnya, obat terlarang seperti morfin yang tidak hanya membahayakan tubuh dan pikiran, tetapi juga merusak reputasi, kekayaan dan hubungan seseorang dengan orang lain. Contoh lainnya adalah alkohol yang merupakan minuman yang meracuni tubuh dan pikiran jika dikonsumsi secara berlebihan. Oleh karena itu, menahan diri mengkonsumsi segala sesuatu yang menyebabkan hilangnya kesadaran berarti menghormati kesehatan dan kebijaksanaan diri sendiri dan orang lain. Kelima sila ini mungkin tampak seperti lima aspek yang terpisah, tetapi pada dasarnya, hanya ada satu sila inti: yaitu untuk “tidak melanggar”. Kebebasan pribadi diperoleh dengan menghormati orang lain dan menahan diri dari melanggarnya. Menaati Lima Sila merupakan manifestasi dari kebebasan dan demokrasi yang sebenarnya. Sebagian besar dari mereka dipenjara dan dirampas kebebasannya adalah semua orang yang telah melanggar Lima Sila. Oleh karena itu, menjalankan Lima Sila sama

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

23

dengan mematuhi hukum. Hanya mereka yang menjalankan Lima Sila yang dapat bebas dari rasa takut dan khawatir, memungkinkan kehidupan yang bebas, damai, bahagia dan bermartabat. Kebanyakan umat Buddha tahu bahwa memberi dan memupuk kebajikan, ini adalah cara memberi manfaat bagi orang lain melalui pemberian materi, siapa pun yang mau memberi dapat melakukannya. Di samping itu, menjalankan Lima Sila adalah praktik untuk menghindari perbuatan salah dan memastikan perbuatan baik yang mengarah pada pemurnian diri. Praktik semacam ini menginspirasi dan memberi rasa hormat terhadap orang lain serta membawa rasa kedamaian batin dan stabilitas masyarakat sehingga kebebasan dapat dinikmati oleh semua orang. Jasa kebajikan yang diperoleh dengan tidak melanggar orang lain melampaui praktik kemurahan hati. Itulah sebabnya Hyang Buddha sangat menjunjung tinggi Lima Sila sebagai “Lima Mahadana” (Lima Persembahan Agung). Selain itu, Lima Sila dalam agama Buddha yang menghindari pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila, ucapan yang tidak benar dan mengkonsumsi makanan serta minuman yang menyebabkan hilangnya kesadaran, memiliki kesamaan dengan Lima Kebajikan Konfusianisme, yaitu kemanusiaan, kebenaran, kesopanan, kebijaksanaan dan integritas. Menghindari pembunuhan mewakili nilai kemanusiaan, menghindari pencurian mewakili nilai kebenaran, menghindari perbuatan asusila mewakili nilai kesopanan, menghindari ucapan yang tidak benar mewakili nilai integritas dan menghindari makanan dan minuman yang menyebabkan hilangnya kesadaran mewakili nilai kebijaksanaan. Namun, perbedaan antara keduanya adalah bahwa Lima Kebajikan Konfusianisme dimaksudkan untuk menasihati orang lain dan membatasi diri sendiri, sedangkan Lima Sila adalah peningkatan dari pelatihan yang pasif dengan tidak melakukan pelanggaran lalu

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

24

kemudian berkembang untuk secara aktif menghormati, memberi manfaat dan tidak melanggar orang lain. Dengan cara ini, mereka yang melindungi kehidupan dan menghindari pembunuhan secara alami akan sehat dan berumur panjang. Mereka yang gemar memberi dan menghindari pencurian secara alami akan menjadi kaya. Mereka yang menghormati integritas orang lain dan menghindari perbuatan asusila secara alami akan memiliki keluarga yang harmonis. Mereka yang memuji orang lain dan menghindari ucapan yang tidak benar secara alami akan memiliki reputasi yang baik. Mereka yang menghindari makanan dan minuman yang menyebabkan hilangnya kesadaran secara alami akan sehat. Oleh sebab itu, menjalankan Lima Sila dari sudut pandang kepentingan pribadi adalah seperti menabur benih di ladang kebajikan yang penuh berkah. Yang bahkan tanpa diminta, seseorang dengan sendirinya akan mendapatkan banyak manfaat dan akan menikmati pahala dan kebajikan yang tiada habisnya. Dari sudut pandang untuk memberi manfaat bagi orang lain, menjalankan Lima Sila adalah obat yang baik untuk memurnikan pikiran manusia. Semakin banyak orang menjalankan sila, semakin banyak manfaat yang akan mereka peroleh. Jika semua orang dalam suatu bangsa menjalankan Lima Sila, maka bangsa tersebut pasti akan menjadi damai, bahagia, bebas dan demokratis.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

25

Memahami Makna Sila

Ada pepatah Buddhis mengatakan, “Selama sila dipraktikkan, Sangha tetap utuh dan terjaga, ketika ada keutuhan Sangha, Dharma akan tetap ada". Dahulu, Buddha menetapkan sila demi menjaga kedamaian dan kemurnian Sangha, sehingga Dharma dapat bertahan. Sila jadi landasan bagi Sangha. Sila bukan dikhususkan bagi anggota Sangha saja, sila adalah akar dari semua kebajikan Dharma (Kuśalā-Dharmā). Setiap orang memerlukan sila untuk menjaga diri, membuat hidup damai nan tenteram. Sila tidak untuk dibicarakan, tetapi dijalankan. Terlebih, sila harus bisa diterapkan secara fleksibel. Menurut tradisi Mahayana, ada tiga kategori sila murni: (1) sila untuk berperilaku benar, mengajarkan cara berjalan, berdiri, duduk dan berbaring dengan sikap yang benar. (2) sila untuk berbuat kebajikan, semua tindakan harus dilandasi dengan welas asih dan kebajikan. (3) sila memberi manfaat bagi semua makhluk, secara aktif peduli dan bermanfaat. Ini disebut menegakkan sila secara dinamis. Dalam catatan sejarah Agama Buddha, zaman dahulu di India, ada raja bernama Pasenadi dan permaisurinya, Ratu Mallika. Raja dan ratu memiliki hubungan harmonis dan penuh kasih, namun sejak ratu menganut Agama Buddha, menerima dan menjalankan

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

26

Pancasila dengan ketat, mematuhi lima sila untuk bertekad menghindari pembunuhan, mengambil barang milik orang lain, perbuatan asusila, ucapan tidak benar serta minuman yang memabukkan. Suatu ketika, Raja Pasenadi tiba dari suatu pertempuran, beliau tidak puas dengan hidangan makanan yang disajikan juru masak, sehingga marah dan memberi perintah untuk eksekusi juru masak kerajaan. Ketika Ratu Mallika dengar hal ini, ia berpikir: “Bagaimana agar juru masak terselamatkan?” Akhirnya terpikir sebuah ide. Ketika bertemu Raja Pasenadi, Ratu berkata: “Wahai Yang Mulia Raja! Saya senang Anda telah kembali! Hari ini, untuk menyambut Anda, saya mengadakan jamuan dan akan menemani Anda minum.” Raja Pasenadi gembira mendengar hal ini, tapi dalam hati curiga, lalu bertanya pada Ratu Mallika: “Bukankah kamu sudah menerima sila?” Ratu Mallika menjawab, “Khusus hari ini, tidak masalah, demi menyambut Anda. Tapi raja, aku punya permintaan. Anggur bagus tak lengkap tanpa makanan enak. Saya harap juru masak kerajaan menyajikan hidangan favoritku.” Setelah mendengar hal ini, raja berpikir, “Oh tidak! Aku telah memberi perintah mengeksekusi juru masak!” Dia segera berteriak, “Tahan pedangnya! Tahan pedangnya!” Dengan segera raja mengutus orang ke tempat eksekusi untuk menyelamatkan juru masak tersebut. Pertanyaannya adalah apakah tindakan Ratu Mallika melanggar sila? Sila adalah niat dalam hati, bukan bersikeras pada isi dari sila secara tertulis. Jika berperilaku tak semestinya karena keserakahan, kebencian dan ketidaktahuan, maka anda melanggar sila. Tetapi bila demi menyelamatkan orang lain dan dunia,

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

27

sekalipun tindakannya melanggar, maka tak dianggap seperti pelanggaran sila pada umumnya. Kejadian serupa juga terjadi di Tiongkok. Pada akhir Dinasti Ming, Zhang Xianzhong melakukan pemberontakan bersenjata dan membuat kekacauan, beberapa bandit masuk ke dalam vihara, dimana selain anggota Sangha, juga terdapat rakyat jelata yang berlindung di vihara. Kepala vihara, Bhiksu Poshan, demi melindungi semua orang, bersedia menghadapi dan meminta para bandit tidak menyakiti siapa pun. Mengetahui bahwa Bhiksu Poshan menjalankan sila dengan ketat, para bandit sengaja mempersulit, dengan meminta orang membawa semangkuk daging, lalu berkata kepada kepala vihara. “Baiklah, kepala vihara. Jika Anda makan semangkuk daging ini, kami tidak akan membunuh mereka. Tapi jika tidak, tak satu orang pun yang akan terhindar. ” Seketika, tanpa ragu, Bhiksu Poshan menyantap habis semangkuk daging itu. Para bandit menepati janji dan membebaskan semua orang dalam vihara. Jadi menurut anda, apakah Bhiksu Poshan melanggar sila atau menjalankan sila? Sebenarnya, jika niat dari hati yang muncul adalah menyelamatkan manusia dan dunia, maka hal itu akan jadi sila Bodhisattva, memberi manfaat bagi semua makhluk, itulah sila dasar bagi para Anggota Sangha. Menjalankan sila bukan berarti bersikeras pada berbagai bentuk sila, namun sebaliknya, menerapkan inti sari dari sila tersebut secara kreatif dan fleksibel. Sila menekankan pada praktik dan pelatihan. Karena itu, umat Buddha harus memiliki pandangan benar tentang sila. Namun, jika seseorang mencuri sesuatu untuk seseorang hanya karena takut ancaman atau bila menolak akan dibunuh dan

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

28

kita melakukannya. Atau seseorang mengejar kita dan mengatakan bila tidak ikut keinginannya, dia akan bunuh diri, lalu demi dia, terpaksa melanggar sila. Tindakan "Satu lawan satu" ini egois dan tak masuk akal. Ini pelanggaran sila. "Sila" itu menganjurkan dan menjunjung tinggi semua tindakan bajik. Mencintai orang lain dan masyarakat, serta rela berkorban demi semua orang. Jadi, meskipun anda "Memotong daging untuk memberi makan elang dan mengorbankan diri untuk jadi makanan harimau", hal ini tak dianggap sebagai pelanggaran sila.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

29

Empat Kebenaran Mulia

Oleh karena tercerahkan dengan hukum sebab musabab (Paticca Samuppada) inilah Buddha akhirnya mencapai penerangan sempurna dan menjadi Buddha. Akan tetapi hukum sebab musabab (Paticca Samuppada) ini terlalu mendalam dan sulit dipahami, bila Buddha tetiba membabarkan, akan menakutkan bagi para makhluk yang belum memiliki keyakinan. Maka, pemutaran Roda Dharma pertama di Taman Rusa Isipatana, di Sarnath, ditujukan kepada lima pertapa terlebih dahulu, berisi tentang Empat Kebenaran Mulia, yaitu: (1) adanya penderitaan, (2) sebab penderitaan, (3) lenyapnya penderitaan dan (4) jalan menuju lenyapnya penderitaan. Empat Kebenaran Mulia ini disebut sebagai inti sari Dharma (inti sari ajaran Buddha), yang mana dijelaskan bahwa bagaimana hidup ini menyeberang dari pantai penderitaan, kekosongan dan ketidakkekalan menuju pantai kebahagiaan sejati (Nirwana) dengan pelatihan diri secara teratur. Dua Kebenaran Mulia pertama, penderitaan dan sebab penderitaan. Menggambarkan sebab dan akibat duniawi yang merupakan siklus karma, kebenaran tentang sebab penderitaan adalah penyebab, sedangkan kebenaran tentang penderitaan adalah akibat.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

30

Dua Kebenaran Mulia terakhir, lenyapnya penderitaan dan jalan menuju lenyapnya penderitaan. Menggambarkan sebab dan akibat transendental dari dunia yang telah tercerahkan, yaitu aspek Nirwana. Kebenaran jalan menuju lenyapnya penderitaan merepresentasikan penyebab dan kebenaran tentang lenyapnya penderitaan merepresentasikan akibat. Jika menurut urutan sebab dan akibat, urutan Empat Kebenaran Mulia seharusnya menjadi: (1) sebab penderitaan, (2) penderitaan, (3) jalan menuju lenyapnya penderitaan dan (4) lenyapnya penderitaan. Namun, karena sifat dasar semua makhluk hidup, akan lebih mudah memahami “Akibat” daripada “Sebab”, yang sulit diketahui. Oleh karena itu, demi kemudahan dalam membimbing menuju pencerahan, maka Buddha mengungkapkan terlebih dahulu tentang wujud dari penderitaan sehingga semua makhluk timbul rasa ingin bebas darinya (Samvega). Baru kemudian menunjukkan tentang penyebab karma, lalu kemungkinan mengakhiri sebab penderitaan, selanjutnya menunjukkan wujud dari kebahagiaan Nirwana, untuk membuat mereka kagum. Setelah itu, Beliau menjelaskan tentang cara menuju lenyapnya penderitaan, agar mereka dapat melaksanakan. Tujuannya adalah memungkinkan semua makhluk memahami penderitaan, mengakhiri sebab penderitaan, mencita-citakan Nirwana dan mempraktikkan jalan. Empat Kebenaran Mulia ini dapat diilustrasikan sebagai proses pengobatan penyakit. Ketika seseorang jatuh sakit, menderita tak tertahankan, adalah kebenaran penderitaan. Mengetahui penyebab penyakit, adalah kebenaran sebab penderitaan. Memberikan obat yang tepat, menerapkan berbagai penanganan medis, adalah kebenaran jalan menuju lenyapnya penderitaan. Terobati hingga sembuh, kesehatan pulih kembali, adalah kebenaran lenyapnya penderitaan.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

31

Penyakit badan jasmani kita memerlukan penanganan medis untuk pengobatan, racun di dalam batin pikiran, membutuhkan Dharma untuk pengobatan. Resepnya adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar dan konsentrasi benar. Dengan mempraktikkan Jalan Mulia Berunsur Delapan, dapat mengikis kekotoran batin (Kilesa) serta bebas dari penderitaan Samsara. Pandangan benar mengacu pada memiliki pemahaman dan keyakinan yang benar, serta mampu untuk menilai dengan tepat dan membedakan benar dan salah, baik dan buruk. Penilaian seperti itu menuntun pada perilaku yang benar, merupakan ciri utama dari Jalan Mulia Berunsur Delapan. Pikiran benar adalah pemikiran yang bebas dari keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, serta menghindari pandangan yang sesat atau salah dan delusi dan juga menggunakan kebijaksanaan dalam mempertimbangkan dan membedakan segala sesuatunya. Ucapan benar adalah berbicara dengan penuh kasih sayang dan cinta kasih, yang dapat menimbulkan rasa percaya diri dan kegembiraan pada diri orang lain. Perbuatan benar dan mata pencaharian benar mencakup menjunjung tinggi lima sila dalam perilaku kehidupan sehari-hari, mematuhi moralitas dan etika, dan tidak melukai dan menyakiti orang lain demi kepentingan diri sendiri (egois). Usaha benar dan perhatian benar adalah berbuat kebajikan dengan gembira dalam berdana, melakukan perbuatan yang bajik dan menghindari perbuatan buruk, menolong yang lemah dan yang membutuhkan. Konsentrasi benar adalah tetap tenang dan kuat dalam menghadapi kesulitan dan rasa kecewa, dengan menggunakan

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

32

kebijaksanaan dalam menganalisa, menyelesaikan dan menangani suatu masalah. Empat Bodhisattva Agung dalam Buddhisme, dapat dikatakan sebagai wujud yang telah mengatasi penderitaan dan sebabnya, juga yang telah mencapai akhir dari penderitaan dan jalan menuju lenyapnya penderitaan. Sebagai contoh, atas dasar welas asih dan kasih sayang, Bodhisattva Avalokitesvara menjelajahi dunia dalam berbagai manifestasi. Melihat makhluk hidup yang menderita karena Tiga Racun Kehidupan (Lobha, Dosa, Moha) atau Tujuh Bahaya penderitaan (bencana yang disebabkan oleh air, api, senjata, angin, hantu, dipenjara dan pencurian) mendengarkan tangisan derita mereka Bodhisattva muncul dan memberikan pertolongan serta meringankan penderitaan. Itulah wujud Ikrar Agung, “Bertekad untuk menyelamatkan semua makhluk hidup yang tiada batasannya”. Bodhisattva Ksitigarbha dengan kekuatan ikrar agung-Nya, bertekad untuk menyelamatkan semua makhluk di neraka yang menderita akibat dari keserakahan, kebencian, kebodohan batin dan kesombongan yang menimbulkan penderitaan. Bodhisattva Ksitigarbha bertekad memberi pertolongan dan keselamatan, dan membuat neraka memiliki hari-hari yang dipenuhi cahaya Buddha. Demikianlah “Tekad untuk mengakhiri kekotoran batin (Kilesa) yang tiada akhir”. Bodhisattva Manjusri karena kebijaksanaan-Nya yang agung, memiliki berbagai macam pahala yang luar biasa tak terbayangkan, menuntun orang dari yang terlena mendapatkan pencerahan, dari yang menderita memperoleh kebahagiaan dan memberikan berbagai kemudahan serta pembelajaran, Demikianlah praktik ikrar agung Bodhisattva Manjusri: “Bertekad untuk mempelajari ajaran yang tanpa batasan”.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

33

Melalui kekuatan pelatihan diri, Bodhisattva Samantabhadra mendorong praktik menghormati satu sama lain, memuji kebajikan orang lain, berdana untuk kebahagiaan semua makhluk, serta kekuatan untuk rasa malu berbuat jahat dan berendah hati. Dengan cara ini, Bodhisattva dapat membimbing ribuan perilaku untuk menuju tanah suci, memastikan pembebasan semua makhluk yang menderita. Demikian praktek ikrar agung Bodhisattva Samantabhadra: “Bertekad untuk mencapai jalan kebuddhaan yang tertinggi”. Kesimpulannya, Buddha Dharma tak hanya menjelaskan fenomena kehidupan alam semesta melalui kebenaran tentang penderitaan, sebab penderitaan, lenyapnya penderitaan dan jalan menuju lenyapnya penderitaan, namun yang terpenting adalah memberikan solusi menyelesaikan masalah kehidupan alam semesta. Maka dari itu, wajib memiliki niat dan tekad, melakukan pelatihan diri dan mempraktikkannya. Oleh karenanya, melalui Empat Kebenaran Mulia dan berkembang menjadi Empat Tekad Agung, serta Enam Paramita memberikan sarana kemudahan menuju pembebasan. Dan setelah memahami dengan jelas dan mengetahui konsep tentang Empat Kebenaran Mulia, diri masih perlu meneladani semangat Bodhisattva, dengan Empat Kebenaran sebagai landasan Buddha Dharma, mempraktikkan ajaran Empat Cara Merangkul (berdana, berkata baik, saling menguntungkan dan saling bekerja sama) dan Enam Paramita, untuk mencapai jalan kebodhisattvaan.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

34

Jalan Mulia Berunsur Delapan

Dalam Buddhisme, para Buddha mencapai kebuddhaan karena berikrar, merealisasikan niat dan tekad. Berikrar sama seperti bertekad, jika mampu bertekad, diri pasti akan giat berupaya untuk meraih sehingga ada semangat maju mencapai tujuan. Demikian pula, Buddhisme mengajarkan tiap insan untuk berikrar, karena bertekad memerlukan niat dan semangat untuk mewujudkan tujuan. Di masa lalu, agama Buddha selalu mengajarkan orang berbuat baik karena melakukan perbuatan baik pasti akan ada pahala baik. Namun, apa yang disebut berbuat baik? Lalu, setelah melakukan kebaikan, mendapatkan apa? Apa yang jadi ketentuan dan tujuan dalam melakukan kebajikan? Bagaimana cara membangkitkan semangat dalam melakukan perbuatan baik, karena pertanyaan ini tak memiliki jawaban pasti. Contoh lain adalah bertutur kata baik, apa yang dimaksud dengan ucapan baik? Bagaimana cara menjelaskannya? Usai berbicara akan memberi dampak apa? Sebenarnya, dalam Buddhisme, "Tujuan" mengacu pada pembebasan, tiada lagi kekotoran batin dan penderitaan. Di dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan telah diberikan panduan yang jelas

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

35

untuk mencapai tujuan. Di mana tindakan nyata dapat diaktualisasikan dalam praktik. Yang dimaksud dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan adalah delapan jalan yang memungkinkan kehidupan anda memiliki jalan menuju masa depan yang cerah. Delapan jalan ini akan membawa anda ke dalam kesejahteraan hidup, setiap jalan mampu membantu anda menuju pembebasan. Jalan Mulia Berunsur Delapan yang dimaksud adalah: 1. Pandangan Benar, yaitu wawasan dan konsep yang benar. Ibarat sebuah kamera saat mengambil gambar, ketika mau mengambil gambar harus mengatur cahaya dan fokus lensa agar mampu menghasilkan gambar yang jernih, tidak buram dan jelas. 2. Pikiran Benar, yaitu hati yang tak memiliki niat buruk, menjauhi pikiran buruk, serakah dan selalu merenungkan kebenaran dan kebijaksanaan. 3. Ucapan Benar, yaitu mengacu pada kata-kata yang benar, bebas dari delusi, ucapan yang tak mengandung fitnah, kesombongan, hinaan, kata-kata kasar, ucapan berlebihan dan tipu daya. 4. Perbuatan Benar, yaitu menjalankan kehidupan penuh kebajikan dan perbuatan benar, menjauhi perbuatan tidak benar seperti membunuh, mencuri dan perilaku yang tak pantas seperti perzinahan. 5. Mata Pencaharian Benar, yaitu mengacu pada penghasilan yang benar dan perolehan nafkah yang benar. 6. Daya Upaya Benar, yaitu memiliki keberanian menjadi lebih baik dan menuju kebenaran. 7. Perhatian Benar, yaitu mampu dengan keteguhan hati selalu merenungkan Dharma.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

8.

36

Konsentrasi Benar, yaitu bermeditasi dengan cara yang benar, menyatukan kemauan dan semangat, menyatukan jasmani dan hati kesatu pikiran. Mempraktikkan Jalan Mulia Berunsur Delapan ini mampu menjaga jalan kehidupan, jauh dari jalan yang menyimpang. Tak hanya kehidupan sekarang bebas dari kekhawatiran, namun juga menjamin kehidupan selanjutnya terus maju dalam jalan kebuddhaan. Sebenarnya, kebanyakan umat Buddha berharap dari keyakinan mereka, mampu menemukan tujuan hidup, namun mereka tak mengerti bagaimana harus praktik dan menjalani. Dalam ajaran Buddha, menganjurkan melafalkan nama Buddha, praktik meditasi Chan dan bernamaskara, namun bila tak ada bimbingan dalam praktik, itu tidak memberi penjelasan yang jelas. Jalan Mulia Berunsur Delapan adalah jalan beruas delapan yang dengan jelas membimbing praktisi menuju ke Nirwana. Sering kali kita dengar orang berkata “Sembarangan berbicara”, sesungguhnya ini bukan ucapan untuk memarahi seseorang, tetapi ucapan untuk menyadarkan diri agar menjalankan kebenaran, jika diri mampu menjalankan Jalan Mulia Berunsur Delapan dengan tulus ikhlas, maka pasti akan menuju tujuan akhir pembebasan.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

37

Jika dilihat secara negatif, ketidakkekalan berarti sesuatu yang baik akan berubah menjadi buruk. Jika dilihat secara positif, ketidakkekalan justru memungkinkan kita untuk berubah menjadi lebih baik.

— “Ketidakkekalan”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

38

Ketidakekalan

Setiap orang takut akan perubahan (ketidakkekalan), mereka menganggap bahwa perubahan berarti segala sesuatu yang ada di dunia bersifat sementara serta tidak nyata. Misalnya, kekayaan yang telah dimiliki akan habis, perasaan pun senantiasa berubah. Apa pun yang ada di dunia, tidak selamanya menjadi milik, semua akan berubah. Oleh karena itu, ketika berbicara tentang ketidakkekalan, sering dianggap sebagai hal negatif, pesimis dan tidak berarti. Namun buktinya, ketidakkekalan tak seperti yang dijelaskan, jika dilihat dari sisi berbeda, ketidakkekalan mengandung hal positif dan optimis. Saat Zaman Batu, manusia itu primitif. Jika bukan karena perubahan (tidak kekal), maka manusia masih berada di era tak beradab. Pada masa kekaisaran dulu, sistem pemerintahan bersifat monarki absolut, diktator, di mana rakyat tidak memiliki kebebasan berpendapat, jika bukan karena tidak kekal, selamanya tidak berubah, mungkin tak ada demokrasi sekarang ini? Bencana alam seperti gempa bumi dan angin topan melanda, menyebabkan bangunan runtuh, orang terluka dan tiada. Namun, segala sesuatu di dunia ini tidak kekal, maka kita bisa membangun kembali rumah kita. Melalui perbaikan serta mendirikan kembali,

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

39

bangunan dan sekolah memiliki fasilitas yang lebih baik, baru, lengkap dan terkini dari sebelumnya. Ketidakkekalan menjadikan manusia putus asa, tetapi juga buat kita memiliki keberanian untuk bangkit, karena selama masih hidup berarti masih ada harapan, kelangsungan hidup itu sebuah kekuatan. Jika segala sesuatu di dunia tidak berubah selamanya, maka tak terelakkan dunia akan jadi mati dalam keheningan. Patut diketahui bahwa semua fenomena terjadi karena sebab dan kondisi. Ketika jodoh bertemu, fenomena muncul; ketika jodoh berpisah, maka fenomena pun tak lagi ada. Inilah alasan hidup dapat terus diperbarui dan penuh semangat. Harapan selalu ada walau dalam keputusasaan. Ketidakkekalan penyebab muncul dan lenyap yang berterusan bagaikan bunga-bunga bermekaran dan layu, matahari terbit dan terbenam, bulan purnama dan menghilang, pergantian empat musim, siklus siang dan malam, semua ini adalah contoh bagaimana ketidakkekalan membawa keindahan yang berbeda bagi dunia. Ketidakkekalan buat alam terlihat indah, beragam dan dunia penuh semangat juang. Oleh karena itu, ketidakkekalan seharusnya tidak ditakuti, justru patut disyukuri, karena membuat hidup kita memiliki cakrawala pengetahuan nan luas, cita-cita setinggi langit, membuat lebih banyak ruang untuk berkembang dalam karir dan usaha. Dengan demikian, ketika melihat secara negatif, “ketidakkekalan” berarti sesuatu yang baik akan berubah menjadi buruk. Namun, bila melihat secara positif, “Ketidakkekalan” ini membantu kita menjadi lebih baik. Meskipun seseorang miskin, selama ia mau bekerja keras, menjalin hubungan baik dengan orang, lambat laun ia akan jadi orang sukses. Walau seseorang bodoh, bila dia rajin membaca, maka berangsur-angsur akan jadi pintar. Jika bukan karena “Ketidakkekalan”, maka kemiskinan dan kebodohan

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

40

tidak akan berubah, seseorang akan bodoh dan miskin seumur hidupnya. Karena kehidupan tak pasti, selama kita terus mengubah dan memperbaiki perilaku kita dan bekerja keras, secara alamiah, masa depan dan nasib seseorang akan dapat berubah. Ketidakkekalan mendidik kita lebih menghargai apa yang telah ada; ketidakkekalan buat seseorang menghargai kesempatan sebuah jalinan jodoh; kita patut bersyukur atas ketidakkekalan ini. Selangkah lebih maju, kehidupan seperti investasi. Sejumlah daya upaya yang tepat, akan memungkinkan adanya perubahan dalam hidup dan bisa membuat anda jadi tuan bagi diri sendiri. Ketidakkekalan adalah kesunyataan. Di dalam ketidakkekalan kita belajar untuk berpikir positif dan berani mengubah keadaan yang telah ada sekarang ini, agar bisa selalu melampaui dan terus bertumbuh. Tak perlu takut akan ketidakkekalan; hanya takut pada ketidakmampuan memahami hubungan antara ketidakkekalan dan kehidupan. Ketahuilah, bahwa renungan tentang ketidakkekalan dalam Buddhisme membawa harapan serta kegembiraan tiada ada habisnya.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

41

Penderitaan itu hanya sementara, bukan keseluruhan hidup, di mana kegembiraan dan kebahagiaan ditemukan. Jadi, tidak perlu takut menderita, karena itu adalah faktor positif kehidupan. Mereka yang ciut dan mundur ketika menghadapi kesulitan hanya akan mencapai sedikit. Hanya mereka yang tidak takut pada penderitaan dan kesulitan yang akan benar-benar berhasil.

— “Penderitaan”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

42

Penderitaan

Saya menjadi Anggota Sangha saat masih di usia kanak-kanak, saat itu saya selalu mendengar orang-orang berkata bahwa “Hidup adalah dukkha (penderitaan).”, “Hidup bagaikan lautan penderitaan”, “Hidup ini penuh dengan penderitaan.” Dalam Buddhisme, pengertian tentang dukkha dapat dibagi menjadi: Dua Dukkha, Tiga Dukkha, Empat Dukkha, Delapan Dukkha dan penderitaan lainnya yang tak terkira. Bahkan ketika kehidupan dirasa bahagia, kebahagiaan itu juga akan menjadi penderitaan. Pada saat itu di dalam hati tidak dapat menerimanya, tidak setuju dengan pandangan demikian. Apakah penderitaan menjadi satu-satunya alasan orang untuk mempelajari Buddhisme? Mengapa orang mau datang untuk menderita? Makna kehidupan adalah sangat menderita, belajar agama Buddha untuk menerima penderitaan itu demi melenyapkan rintangan karma. Akibatnya, umat Buddha tradisional cenderung terlalu mementingkan ideologi praktik pelatihan yang keras/penyiksaan diri, membuat orang-orang yang belajar Buddhisme mengalami penderitaan baik badan jasmani dan batinnya, kehidupan sehari-harinya dibuat menjadi suram. Menurut saya, penderitaan tidak bisa dijelaskan hanya dari sudut pandang negatif. Penderitaan memiliki makna lebih positif bagi kehidupan manusia. Manusia harus bisa menerima penderitaan,

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

43

baru dapat tumbuh berkembang, orang yang tidak bisa menahan penderitaan, di tengah penderitaan, bagaimana mungkin bisa menjadi orang yang berhasil? Tanpa mengalami penderitaan dan kesulitan, bagaimana mungkin ada kesuksesan? Sebenarnya, penderitaan adalah kebahagiaan. Tetapi, bagaimana penderitaan bisa diubah menjadi kebahagiaan? Penderitaan mengajarkan kita untuk bagaimana memperoleh kedamaian dan kebahagiaan melalui penderitaan, dengan menaklukkannya dan menerobos penderitaan itu sendiri. Karena tiada kebahagiaan yang diperoleh tanpa melalui penderitaan. Misalnya, jika ada sawah yang subur penuh dengan padi, anda tidak bekerja keras untuk memanennya, juga akan sulit untuk menyediakan bahan pangan yang dibutuhkan. Jika ada emas yang mengalir bersama dengan air pasang, anda tidak segera mengeruknya, emas itu juga bukan milik anda. Jika para pengusaha mendapatkan keuntungan, itu juga karena hasil kerja keras mereka mencari uang. Pekerja pabrik menerima gaji, itu juga diperoleh dari hasil kerja keras mereka. Oleh karena itu, tanpa penderitaan bagaimana mungkin ada kekayaan/keuntungan dan kebahagiaan? Di dunia ini, tidak ada yang bisa diperoleh tanpa melalui penderitaan. Dengan kata lain, penderitaan adalah bentuk pendidikan. Sebagai contoh, sewaktu kecil belajar dianggap sebagai suatu yang sangat sulit, tapi dengan menerima pelatihan seperti itulah, maka diperoleh nutrisi pengetahuan. Pada masa kanak-kanak, bekerja dirasakan sebagai hal yang melelahkan jika anda tidak malas, dapat menghadapinya dan menerimanya sebagai pelatihan, maka akan diperoleh nutrisi kehidupan. Penderitaan adalah salah satu bentuk kekuatan. Seberapa banyak penderitaan yang dapat kamu terima, seberapa banyak itulah kebahagiaan yang akan kamu dapat nantinya. Layaknya mengangkat beban, ada yang bisa mengangkat 10 kg, tapi 15 kg

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

44

sudah tidak bisa terangkat, tidak bisa menahan penderitaan, ada orang yang bisa mengangkat sampai 25 kg, 50 kg, masih merasa ringan dan mudah. Bagi mereka yang tidak takut menderita, tahan akan penderitaan, maka masa depan mereka akan berbeda. Penderitaan adalah semacam nutrisi. Dalam kehidupan, tanpa adanya cobaan bencana alam, orang-orang tidak akan tahu cara beradaptasi dengan perubahan alam. Jika tidak mengalami penderitaan akibat dari bencana yang disebabkan oleh perbuatan manusia, orang-orang tidak akan tahu cara menjaga diri untuk menghadapi tekanan penderitaan. Dengan demikian, orang harus tahu apa itu penderitaan. Penderitaan adalah sejenis penguatan diri. Di dalam agama Buddha, banyak praktisi dengan sengaja menjalani latihan penyiksaan diri, menggunakan penderitaan untuk melatih diri mereka sendiri. Demikian pula, para atlet Olimpiade, yang ingin meraih medali emas, jika tanpa latihan keras, bagaimana mungkin mereka dapat meraihnya? Kelaparan dan kedinginan adalah penderitaan. Dianiaya, dimarahi, dirugikan, dituduh, semua itu adalah penderitaan. Jika anda memiliki kekuatan untuk menanggung berbagai jenis penderitaan ini, maka penderitaan dapat diatasi, sehingga tidak menderita akibat penderitaan itu. Dengan kata lain, dengan mengerti apa itu penderitaan dan ingin mengakhiri penderitaan, maka harus mencari kekuatan untuk mengatasinya dan cara jauh dari penderitaan. Hidup adalah penderitaan, menurut saya pandangan ini harus diubah. Konsep ini sangat penting, dapat mempengaruhi pencapaian kesuksesan dalam hidup kita. Alkisah ada seorang wanita tua yang selalu menangis. Seorang Anggota Sangha bertanya kepadanya: “Bu, mengapa Anda selalu menangis?”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

45

Dia menjawab: “Bhiksu, Anda tidak akan mengerti. Saya punya dua anak perempuan. Yang sulung menikah dengan pembuat payung, pada saat setiap harinya matahari bersinar saya berpikir betapa sulitnya hidup putri sulung saya karena tidak ada yang membeli payungnya. Saya mengkhawatirkannya, jadi saya menangis. Yang bungsu menikah dengan pembuat bihun. Ketika turun hujan, tidak ada matahari untuk menjemur bihun, bagaimana bihun itu dapat dijual? Jadi saya menangisi putri bungsu saya.” “Ibu, jangan berpikir seperti itu! Cara pandang dapat diubah.” “Bagaimana cara mengubahnya?” “Mulai sekarang, setiap kali hujan, jangan pikirkan putri bungsu Anda. Sebaliknya, pikirkan berapa banyak payung yang dijual putri sulung Anda! Saat cuaca cerah, pikirkan putri bungsu dapat menjemur banyak bihun, sehingga bisnisnya pasti sangat menguntungkan. Jika Anda mengubah perspektif Anda dengan cara ini, maka penderitaan dan kebahagiaan akan dirasakan berbeda.” “Oh, perubahan itu bisa dilakukan!” Ibu tua itu mengubah cara berpikirnya dan berhenti menangis. Sebaliknya, setiap hari bahagia. Dia bahagia untuk putri sulungnya saat hujan dan bahagia untuk putri bungsunya saat cuaca cerah. Sejak itu, dia tidak lagi dijuluki sebagai “Wanita yang menangis”. Dia sekarang adalah “Wanita yang ceria”. Oleh karena itu, saya juga ingin mengubah pernyataan Buddhis, agar tidak setiap harinya menyerukan: “Kilesa, kilesa, menderita, menderita!” Manusia lahir ke dunia ini hanya melewati berapa musim. Mengapa anda lahir ke dunia ini? Apakah demi penderitaan? Kita lahir ke dunia ini untuk kegembiraan dan kebahagiaan. Demi kegembiraan dan kebahagiaan, penderitaan hanyalah sebuah proses sementara, kita jangan menganggap proses ini

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

46

sebagai bagian dari keseluruhan hidup kita. Oleh karena itu, penderitaan memiliki efek positif pada kehidupan, jadi kita tidak perlu takut menderita. Mereka yang tidak takut akan penderitaan dan kesulitan, baru bisa mencapai kesuksesan. Sebaliknya, bagi yang takut sebelum menghadapi penderitaan, tidak akan mendapatkan apa-apa.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

47

Kekosongan

Orang-orang di dunia ini hidup dalam “Kekosongan”, namun kebanyakan orang biasanya tidak memahaminya dan berpikir bahwa segala sesuatu di dunia adalah kosong, mana masih ada harapan dan mana masih ada masa depan? Karena itu, orang-orang tidak menyukai “Kekosongan”, bahkan takut akan hal ini. Sebenarnya, mereka yang memahami Dharma akan mengetahui bahwa hanya dengan “Kekosongan”, baru dapat tercipta “Isi”. Jika tidak kosong, maka apa pun tidak akan ada. Sebagai contoh, jika saku kantong tidak kosong, bagaimana membuat uang? Mangkuk, cangkir jika tidak kosong, bagaimana membuat makanan dan minuman di dalamnya? Tidak ada tanah kosong, bagaimana bisa dibangun rumah? Rumah jika tidak kosong, bagaimana orang-orang bisa tinggal di dalamnya? Jika tidak ada ruang kosong untuk usus dan organ lainnya, bagaimana manusia dapat bertahan hidup? Karena kekosonganlah, dunia ini baru terdapat masa depan, penuh dengan kemungkinan, agar kehidupan manusia baru ada harapan, dan tubuh manusia baru dapat berfungsi dengan normal. Dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang sering kali demi memperebutkan ruang, bahkan tidak segan-segan pergi ke pengadilan demi memperebutkan semeter tanah, sebuah dinding, tetapi di dalam hati malahan takut dengan kekosongan. Sebenarnya, “Kosong” bukan berarti tidak berisi baru disebut kosong.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

48

Sebaliknya, dengan kekosonganlah membuat kita dapat “Memiliki”. Jadi, “Kosong” bukanlah “Tidak berisi”, “Kosong” adalah “Tanpa inti”, “Tanpa inti” artinya tiada batasannya, tiada akhirnya, “Kekuatan” dari “Kekosongan” tidak terbatas. Buddhisme sejak zaman dulu, telah menerjemahkan kebenaran ini sebagai “Kekosongan” yang mana hal ini telah membuat orang-orang salah paham terhadap ajaran Buddha, menyebabkan banyak orang mendengar kosong beranggapan langit juga kosong, bumi juga kosong, manusia juga kosong, hakikat diri adalah kosong, sehingga menganggap semuanya sudah tidak ada, dan tidak berani belajar ajaran Buddha. Pada kenyataannya, harus kosong baru bisa ada, tidak kosong maka tidak ada. Kekosongan adalah kebenaran penting dalam hidup manusia. Jadi sebenarnya apa itu “Kosong”? Bagaimana baru bisa memahami tentang “Kosong”? Kita ambil meja sebagai contoh, ketika Master bertanya: “Apa ini?” seseorang akan menjawab: “Meja”. Ketika Master katakan “Salah”, orang yang mendengarnya pasti akan tidak senang, mengapa dikatakan salah? jelas-jelas itu sebuah meja. Pada kenyataannya, meja adalah tidak konkret (palsu). Master memberitahu anda bahwa bentuk aslinya adalah kayu. Jika kayu itu dirangkai menjadi bentuk sebuah meja maka dinamakan meja, dirangkai menjadi bentuk kursi maka dinamakan kursi. Karena itu, meja hanyalah kepalsuan, jika ditelusuri lebih jauh lagi, kenyataannya hanyalah sebuah kayu. Lalu sekarang Master akan bertanya lagi: “Apa ini?” “Kayu.” “Salah lagi, kayu ini juga tidak konkret (palsu).” Lalu, apa bentuk aslinya? “Itu adalah sebuah pohon.” Pada saat ditanya lagi: “Apa ini?”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

49

“Pohon.” “Salah lagi, ini bukan pohon, melainkan sebuah benih yang ada di dalam tanah, di mana dengan mendapat sinar matahari, udara, air, dan nutrisi pupuk yang diperolehnya, tumbuh melalui kekuatan alam semesta. Kemudian berubah menjadi pohon besar, diolah menjadi kayu dan dibuat menjadi meja.” Dengan demikian, keberadaan meja ini muncul karena ada awal inti, tetapi fakta sebenarnya adalah "Kosong". Ketika Master menulis kaligrafi satu goresan, kadang-kadang tertulis kata “Kosong” murid Master di samping berkata: “Venerable Master, Anda jangan selalu menulis kata 'kosong'. Orang-orang tidak menyukainya.” Lalu Master berkata: “Kosong adalah kekayaan, bagaimana bisa mereka tidak menyukainya? Saat ini sebidang tanah kosong harganya bisa jutaan!” Kosong sebenarnya berharga dan sangat mewah. Selain itu, Master sendiri juga telah menulis sepasang syair seperti ini: Kekosongan Empat Elemen berarti ada; Keharmonisan Lima Agregat (Panca Skandha) juga tidaklah nyata. Empat Elemen mengacu pada tanah, air, api, dan angin. Tanah secara universal mendukung semua makhluk, dapat menumbuhkan segala sesuatunya untuk memenuhi kebutuhan kita, oleh karenanya kita harus ramah lingkungan, harus melindungi bumi ini. Demikian juga, air sangatlah penting. Di dunia ini tiada makhluk hidup yang dapat bertahan hidup tanpa adanya air. Di mana ada air, di sanalah terdapat tumbuh-tumbuhan, makhluk hidup yang bergantung untuk bertahan hidup. Elemen api, dengan adanya sinar matahari dan adanya api, baru dapat mematangkan semua hal,

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

50

sehingga dapat bertahan hidup di dunia ini. Angin adalah udara, hidup dan mati ada pada satu tarikan napas. Keharmonisan Empat Elemen, bumi, air, api dan angin inilah yang dapat membuat kita sehat, kokoh dan membuat kehidupan kita lebih bermakna. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kekosongan empat elemen adalah kekosongan sekaligus keberadaan. Lima Agregat (Panca Skandha) yaitu bentuk, perasaan, pikiran/persepsi, perbuatan dan kesadaran. Ini adalah lima faktor yang membentuk tubuh dan pikiran manusia. Dapat dilihat dengan jelas bahwa dalam hal ini, manusia juga bergantung pada keselarasan sebab dan kondisi baru dapat bertahan hidup, bukan hanya suatu keberadaan yang dapat berdiri sendiri saja (entitas independen) karena keselarasan sebab dan kondisi lah maka dikatakan ada, tetapi secara alamiah sifatnya juga adalah kosong. Maka dari itu, jika terminologi “Kekosongan Empat Elemen” diganti dengan “Keberadaan Empat Elemen”, ini tidaklah bertentangan dengan makna dalam ajaran Buddha, tidak bermasalah. Bukankah keselarasan dari Empat Elemen melambangkan “Isi”? Pada saat membicarakan tentang “Isi”, isi adalah kosong, kosong adalah isi, mengapa kita harus menyebutnya sebagai kosong, sehingga menimbulkan prasangka dan kesalahpahaman terhadap kekosongan. Akan lebih baik jika kita perlahan-lahan memahami makna “Kosong” melalui “Isi”. Dalam ajaran Buddha, kadang-kadang dipaparkan tentang isi terlebih dahulu, setelah itu baru tentang kosong dan juga sebaliknya. Terkadang yang dipaparkan hanya salah satunya saja isi atau kosong, terkadang kosong dan isi dipaparkan bersamaan. “Kekosongan Empat Elemen” sebenarnya adalah “Keberadaan Empat Elemen”, “Kosong” “Isi” layaknya siang dan malam yang saling bergantian, tampilan dua sisi koin, yang tidak dapat terpisahkan satu sama lainnya.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

51

Tanpa Aku

Konsep tanpa aku dalam Buddhisme, membuat sebagian orang setelah mendengarnya menjadi takut dan berpikir bahwa “tanpa aku” berarti “aku” sudah tidak ada, karena orang sangat peduli terhadap diri sendiri. Tetapi, apa yang kita pedulikan tentang “aku” itu nyatakah? Dalam sutra Buddhis ada sebuah analogi berikut. Ada seorang pria kaya yang memiliki empat istri. Yang paling disukai orang kaya itu adalah istri yang keempatnya, yang paling muda dan paling cantik. Pada saat menjelang akhir hayatnya, dia berpikir bahwa perjalanan menuju akhirat sangatlah sepi, sehingga terpikir olehnya untuk mengajak istri keempatnya, yang paling dicintainya untuk menemaninya mati bersama. “Kamu temani saya pergi bersama.” kata pria kaya itu. Mendengar hal itu, wajahnya yang cantik berubah menjadi pucat dan berkata, “Aku masih sangat muda dan cantik, bagaimana mungkin aku mati bersamamu?” Tidak ada cara lain, pria kaya itu beralih ke istri ketiga, yang biasanya sangat mencintainya dan senang bersamanya, lalu mengutarakan maksud hatinya.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

52

Setelah mendengarnya, tanpa diduga istrinya berkata: “Mati bersamamu? Tidak mungkin!” “Kenapa tidak?” “Meskipun aku berterima kasih atas cinta dan perhatianmu. Tapi, setelah kamu meninggal, aku bisa menikah lagi karena aku masih muda. Jadi, aku tidak bisa mati bersamamu.” Pria kaya itu kecewa lagi, kemudian mendatangi istri keduanya. “Biasanya meski jarang menghubungi kamu, bagaimanapun juga, kamu adalah istriku. Sekarang aku sekarat, kamu temani aku mati ya.” Istri keduanya berpikir sejenak: “Tidak bisa!” “Dalam keluarga ini biasanya aku yang mengurusi urusan rumah tangga, setelah kamu meninggal, aku harus mengurusi pemakamanmu. Tapi, kamu tenang saja, sebagai istrimu, aku akan ikut serta dalam upacara pemakaman dan mengantar kamu sampai di tempat pemakaman. Pria kaya itu merasa sangat frustasi, sehingga hanya bisa mencari istri tertuanya dan bertanya, “Apakah kamu bersedia mati bersamaku?” Istri tertuanya dengan sangat seriusnya menjawab: “Kami sebagai wanita yang sudah menikah, tidak peduli suaminya seperti apa, akan selalu mengikutinya selamanya. Jadi ketika kamu akan mati, tentu saja kita akan mati bersama.” Saat itulah pria kaya itu baru menyadari bahwa istri pertamanya lah orang yang paling mencintainya. Seperti kata pepatah, teman sejati adalah teman yang menemani kita di masa-masa sulit, kekuatan seekor kuda dapat dilihat seberapa jauh perjalanan yang dapat ditempuhnya, ketulusan hati seseorang, dapat teruji seiring berjalannya waktu. Siapakah istri pertama ini? Ia adalah pokok pikiran kita,

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

53

seperti kata pepatah, “Saat kematian datang tidak ada yang bisa dibawa, hanya karma baik dan karma buruk yang diperbuatlah yang mengikuti kemana pun kita pergi.” Ketika suatu kehidupan berakhir, hanya pokok pikiranlah satu-satunya yang kita miliki, yang dapat mengikuti kita pergi. Lalu istri keempat mewakili apa? Istri keempat adalah tubuh jasmani kita, yang mana setiap harinya kita dandani, kita beri makan makanan bernutrisi, yang teramat kita cintai, tetapi ketika meninggal, tubuh jasmani ini juga bukan milik kita lagi. Istri ketiga masih muda, dapat menikah lagi dengan orang lain, dia akan pergi mengejar pasangan hidupnya lagi dan masa depannya, dia melambangkan harta benda dan kekayaan kita, yang mana biasanya semakin banyak semakin baik. Tetapi pada saat meninggal, juga tidak bisa dibawa. Istri kedua itu apa? Istri kedua melambangkan mewakili sanak saudara, kerabat, teman dan keluarga kita. Mereka tidak bisa menemani kita mati, saat kita meninggal, mereka hanya dapat datang membantu mengatur pemakaman, berdoa, dan terakhir mengantar kita ke tempat pemakaman. Istri pertama melambangkan pokok pikiran kita. Saat ketidakkekalan itu tiba, semua karma baik dan karma buruk yang dilakukan, segala hal yang baik dan buruk inilah yang akan mengikuti kita ke kelahiran berikutnya. Konsep Buddhis tentang “tanpa aku” tidak berarti bahwa diri aku yang sekarang ini tidak ada, kosong. Buddhis membahas “aku” pada konteks “tanpa-aku” berarti perubahan. Seperti manusia biasa, sepanjang hidupnya, akan terus berubah dari waktu ke waktu. Misalnya, pertumbuhan seorang wanita, melewati masa yang terus berubah dari tahun ketahun dari seorang bayi perempuan menjadi anak perempuan, lalu menjadi siswi dan gadis belia, hingga menjadi seorang ibu dan wanita tua. Pada akhirnya yang manakah

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

54

“aku”? Maka dari itu, adakah suatu kenyataan yang tidak berubah? Kesehatan, penyakit, kegembiraan, dan masalah yang dialami seseorang, semuanya itu adalah perubahan dari “keakuan”. Jadi, “keakuan” bukanlah kenyataan yang tidak berubah, melainkan disebabkan karena banyaknya keselarasan sebab dan kondisi, yang muncul dan lenyap. Di antara kelahiran dan kematian, aku yang kemarin, aku yang hari ini, aku yang besok, manakah aku yang tetap, yang tidak berubah? Tanpa aku bukan berarti tidak ada sama sekali. Sebaliknya, menunjukkan bisa menderita bisa bahagia, bisa banyak bisa sedikit, bisa besar bisa kecil, bisa cepat bisa lambat, aku yang serba bisa, serba ada, inilah yang disebut dengan “tanpa aku”. Sebenarnya “keakuan”, selanjutnya masih ada suatu keadaan Nirwana, yaitu aku yang sebenarnya, yang berada dalam kondisi keabadian, kebahagiaan, keberadaan, kemurnian, dalam dunia ini, kehidupan bersifat abadi, tidak ada kematian, damai dan tenang. Pada hakekatnya, kehidupan manusia tidak mati, bahkan jika ingin mati pun tidak akan mati, yang mati hanyalah wujud fisik badan jasmaninya saja. Kehidupan ini seperti air, air mengalir dari sungai ke lautan, meski mengalir kemana pun akan kembali lagi setelah melalui sebuah proses inilah sebuah siklus kelahiran kembali. Seperti musim yang datang silih berganti, ada musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Ketika musim dingin tidak perlu dikhawatirkan, karena musim semi akan segera datang. Semua materi/barang juga memiliki siklus pembentukan, keberadaan, kerusakan, dan kekosongan. Bangunan ini telah lapuk dan runtuh, tidak masalah, setelah runtuh masih ada ruang dan tanah kosong, bisa dibangun kembali menjadi gedung yang tinggi. Contoh lainnya adalah jarum jam, bergerak dari angka 1 ke angka 2 lalu ke angka 3 dan seterusnya sampai angka 12, setelah mencapai angka 12 dia akan kembali lagi berputar mulai dari angka 1.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

55

Oleh sebab “tanpa aku”, maka “aku” tidak dikendalikan oleh dewa atau pun diciptakan. Aku bisa mengubah dan memperbaiki diriku sendiri. Diri sendiri bisa menjadi dokter diriku sendiri, menjadi pemahat diriku sendiri, menjadi pelukis diriku sendiri. Jika ingin mengubah diri sendiri menjadi seperti apa yang diinginkan, keputusan ada pada diri sendiri. Justru karena hidup manusia tidak ada “aku” yang tetap, sebaliknya dapat melalui “aku” yang saat ini merubah “aku” yang akan datang. Maka dari itu, makna sebenarnya dari “tanpa aku” mengandung nilai yang tak terhingga. Dengan memahami “tanpa aku”, kita dapat menyingkirkan keegoisan dan tindakan yang menguntungkan diri sendiri. Juga dengan mengerti makna dari “tanpa aku”, ketika menghadapi segala macam kesulitan hidup, kita baru dapat membangkitkan sikap mental yang luar biasa.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

56

Sebab, Kondisi dan Akibat

Ketika Buddha Sakyamuni merealisasi pencerahan tertinggi nan sempurna di bawah pohon bodhi, Beliau telah sadar, memahami hakikat kehidupan dan alam semesta yaitu sebab akibat yang saling berkaitan. Segala hal di dunia ini terikat karena sebab serta didukung oleh kondisi sehingga menimbulkan akibat. Akibat ini akan menjadi awal dari sebab baru, dan saat kondisi mendukung akan menghasilkan akibat lain. Oleh karena itu, Buddhisme meyakini bahwa segala hal di dunia ini terjadi dari sebab, kondisi dan akibat. Berbicara mengenai kondisi, sebelum "sebab", berubah menjadi "akibat", diperlukan proses "kondisi". Karena itu, rangkaian ini disebut "sebab, kondisi dan akibat". Sebagai contoh, benih tak akan tumbuh di atas meja karena meja itu bukan kondisinya; benih harus ditanam di tanah yang subur dengan berbagai kondisi seperti cahaya mentari, udara, air dan beberapa kondisi yang selaras baru dapat tumbuh dan berbuah. Setiap sebab akan menghasilkan akibat dan setiap akibat akan menjadi sebab baru. Kondisi memiliki peran penting di antara sebab dan akibat. Di dalam kehidupan, seseorang boleh saja tidak percaya apapun, akan tetapi harus yakin pada sebab, kondisi dan akibat.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

57

Segala hal di alam semesta dan juga kehidupan memiliki keterkaitan satu sama lain; keberadaan sesuatu bergantung pada sebab dan kondisi. Di alam ini, bahkan serangga terkecil pun memerlukan tumbuh-tumbuhan sebagai makanan. Demikian pula, keberadaan hidup seseorang didukung oleh orang lain, seperti guru, petani, pekerja dan pengusaha yang menyediakan kebutuhan hidup, termasuk juga tubuh manusia pun terdiri dari Empat Unsur. Jika memahami sebab, kondisi dan akibat, maka akan memahami kebenaran kehidupan alam semesta, anda akan tahu bagaimana menjadi manusia, berkewajiban membantu semua makhluk, menciptakan sebab dan kondisi yang baik, tidak merugikan orang lain atau iri pada mereka, karena menghalangi orang lain juga akan membuat kita tidak dapat bertahan. Terutama, ketika anda memahami sebab, kondisi dan akibat, maka akan mengerti bahwa segala hal dalam kehidupan ini memiliki alasan untuk terbentuk. Dengan begitu, anda dapat bertanggung jawab atas diri anda sendiri. Seperti yang tertera dalam Sutra Sebab dan Akibat dari Tiga Masa kehidupan: Apa sebab seseorang memiliki pakaian dan makanan? Itu merupakan hasil dari pemberian dana teh dan nasi kepada orang kurang mampu di masa lampau. Apa faktor yang jadi sebab seseorang tidak memiliki pakaian atau makanan? Itu karena di masa lampau, kita bahkan tidak berbagi setengah sen pun. Mengapa seseorang bisa memakai sutra dan satin? Itu karena persembahan jubah kepada para Anggota Sangha di kehidupan lampau. Apa yang membuat seseorang memiliki wajah yang anggun dan sikap yang elegan?

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

58

Itu karena persembahan bunga kepada para Buddha di masa lampau. Dengan kata lain, “Kenyataan hidup saat ini adalah akibat dari perbuatan kehidupan lampau. Perbuatan kehidupan sekarang akan jadi sebab bagi kenyataan hidup akan datang.” Oleh karena itu, sebab dan akibat tidak bersifat sementara, tetapi berlanjut hingga tiga masa kehidupan. Sebagai contoh, beberapa orang terlahir di kota metropolitan, menikmati kehidupan yang beradab, sementara yang lain menjalani seluruh hidup mereka di daerah yang sunyi dan terpencil, berjuang dengan kemiskinan. Ini bukan takdir yang tidak adil atau dikendalikan para dewa, tetapi karena sebab, kondisi dan akibat yang berbeda. Jika kita mau bekerja keras, meningkatkan kualitas dan membentuk hubungan baik dengan orang lain, kita akan mendapatkan hasil yang bermanfaat dan menjadi sukses, di mana pun kita terlahir. Prinsip dari sebab, kondisi dan akibat sebenarnya sangat sederhana. Sebagai contoh, seorang nasabah menabung uang di bank, walau melakukan banyak perbuatan buruk di kehidupan saat ini, tetapi tidak ada yang bisa menghentikannya untuk menarik uang dari rekeningnya. Di sisi lain, seorang yang memiliki banyak hutang di masa lalu, walaupun di kehidupan ini berkelakuan baik, hutang tetap harus dilunasi. Tidak seorang pun terbebas dari keharusan membayar hutang karena reputasi dan karakter yang baik. Seperti halnya tabungan, perbuatan baik akan menambah pahala, perbuatan tidak baik seperti berhutang, pahala seseorang akan berkurang. Jadi karma baik dan buruk itu seperti rekening bank. Setiap transaksi setoran dan tarikan tercatat dengan jelas. Orang yang tidak baik belum mengalami pembalasan atas tindakan mereka karena waktunya belum tiba. Kita tidak bisa hanya melihat kehidupan atau periode saat ini dan beranggapan bahwa sebab

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

59

akibat itu tidak ada. Terlebih, hukum sebab dan akibat juga memiliki prinsip sendiri. Sebagai contoh, kesehatan memiliki sebab dan akibat. Untuk menjadi sehat, kita perlu menjaga kondisi tubuh dan pikiran yang sukacita, menjalani gaya hidup sehat dan olahraga. Jika kita berdoa kepada Buddha untuk kesehatan yang baik tetapi menjalani gaya hidup yang tidak sehat dan makan berlebihan, itu adalah hal yang sia-sia, seperti memanjat pohon untuk menangkap ikan. Itu tidak sesuai dengan kebenaran sebab dan akibat. Untuk menjadi sejahtera, kita harus bekerja keras. Untuk memiliki jalinan jodoh baik dengan setiap orang, kita perlu melayani orang lain. Untuk mendapatkan reputasi baik, kita perlu menumbuhkan karakter baik dan santun. Segala hal di dunia ini memiliki sebab dan akibat, entah itu terkait masalah ekonomi atau keyakinan. Buddhisme bukan polis asuransi; sebab dan akibat tidak akan keliru. Buddhisme bukan agama yang percaya dan menyerah pada nasib, melainkan yakin pada konsep sebab akibat yang saling berkaitan. Meski Buddhisme berbicara tentang sebab dan akibat pada tiga masa kehidupan; masa lampau, masa kini dan masa akan datang, tetapi Buddhisme lebih menekankan pentingnya sebab dan akibat masa kini dan yang akan datang. Sebab dan kondisi pada dasarnya tidak memiliki sifat diri yang sejati. Dari perspektif “ketidakkekalan semua fenomena yang berkondisi” dan “sifat kekosongan dari sebab akibat yang saling bergantung”, sebab-sebab yang tidak baik dari masa lalu mungkin sudah tercipta, tetapi kita dapat mengubahnya melalui kerja keras dan pengembangan spiritual dalam kehidupan saat ini. Pada saatnya, kita akan mengembangkan lebih banyak akibat baik untuk kehidupan masa akan datang.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

60

Makna dari Sebab dan Akibat

Segala hal di dunia ini memiliki keterkaitan sebab dan akibat. Dengan kata lain, suatu sebab disertai kondisi akan menjadi akibat dan ini adalah hukum kesunyataan. Ketika berbicara mengenai “sebab dan akibat”, sebagian orang sebenarnya tak bermaksud hati meragukan sebab dan akibat; namun, mereka memiliki kesalahpahaman atas konsep sebab dan akibat. Sederhananya, "menanam benih labu maka memperoleh buah labu, menanam kacang maka yang dituai adalah kacang," ini adalah prinsip sederhana yang mudah dipahami, akan tetapi, kebanyakan orang menanam labu namun ingin menuai kacang, dan mau menuai labu dengan menanam kacang. Pengertian yang kurang tepat menimbulkan kesalahpahaman konsep sebab dan akibat. Setiap orang di dunia dengan segala tindakan, termasuk ucapan dan pikiran, pasti memiliki sebab dan akibat tersendiri. Benar dan salah, ada sebab dan akibatnya masing-masing, begitu pun kekosongan dan keberadaan, fenomena dan prinsip. "Demikian penyebabnya, demikian pula akibatnya," dan ini tidak bisa diganggu gugat. Namun, sebagian besar orang meyakini bahwa berbakti pada orang tua akan menjadi kaya, merawat anak-anak mereka akan

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

61

mendapatkan kehormatan, bernamaskara kepada Buddha bisa buat panjang usia, murah hati dan sukses dalam karir. Ini adalah pemahaman keliru tentang sebab dan akibat. Berbakti pada orang tua adalah masalah etika dan moralitas; tak ada keterkaitan dengan menjadi kaya. Menjadi kaya harus memiliki sebab dan akibat sendiri. Sebab dan akibat untuk memperoleh kekayaan adalah kerja keras, memiliki modal dan keahlian mengelola usaha. Berbakti pada orang tua hanyalah etika dan moralitas dari sebab dan akibat. Mendidik serta merawat anak merupakan tanggung jawab orang tua, orang tua tak mungkin berharap untuk mendapatkan reputasi terhormat dengan memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya; ini tidak sesuai dengan sebab dan akibat. Untuk mendapatkan reputasi terhormat dan supaya nama baik dikenang, Anda harus memiliki prestasi, seperti penemuan ilmiah yang inovatif atau berkontribusi bagi kemanusiaan, masyarakat dan negara. Selain itu, berdoa kepada Buddha adalah sebab dan akibat dari keyakinan agama; tak ada keterkaitan dengan panjang usia. Kedermawanan membawa jalinan jodoh baik, bukan kesehatan prima. Untuk menjadi sehat, kita perlu olahraga, makan makanan bergizi dan menjaga kesehatan. Beberapa orang mungkin bertanya, "Saya Buddhis. Mengapa saya masih dapat mengalami kecelakaan mobil?" Secara umum, kecelakaan mobil disebabkan oleh ngebut atau kurang waspada dalam mengemudi. Anda tidak boleh menyalahkan Buddha karena tidak memberkati anda. Jika setiap orang menuntut perlindungan dari Buddha saat mereka mengemudi, bagaimana Buddha dapat mengawasi dan melindungi miliaran orang yang mengemudi setiap hari? Tidak ada seorang pun dapat melakukannya. Untuk mendapatkan perlindungan diri harus mengandalkan diri sendiri, inilah sebab dan akibat.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

62

Oleh karena itu, sebagian besar orang memiliki kesalahpahaman tentang sebab dan akibat. Di musim semi, saat bunga bermekaran, namun berharap segalanya layu, hal ini tidaklah sesuai dengan sebab dan akibat. Musim semi adalah saat bunga-bunga bermekaran. Ini adalah sebab dan akibatnya. Keinginan agar bunga mekar di musim gugur atau musim dingin, itu juga bertentangan dengan asasnya. Tanaman yang bertahan di musim dingin bersiteguh menerima ujian sebab dan akibat dari lebat siraman salju dan cuaca ekstrim, tanaman yang tidak bertahan, tidak akan tumbuh atau layu sesuai dengan penyebab dan kondisinya. Apa itu sebab dan akibat? Apa yang kamu tuai, apa yang kamu tanam. Menanam bambu menghasilkan rebung; menanam pohon persik dan pir menghasilkan buah persik dan pir. Gandum tidak akan tumbuh dari batang padi dan kacang kedelai tidak akan tumbuh di ladang gandum. Prinsip sebab dan akibat mudah dipahami, tetapi manusia tidak memiliki pemahaman jelas. Sebaliknya, manusia memiliki kekeliruan tentang prinsip sebab dan akibat yang baik serta mudah dipahami dan melakukan sesuatu tidak sesuai sebab dari akibatnya, malah menyalahkan sebab dan akibat tidak benar. Terkadang, ada orang berkata: “Orang tersebut berbuat kejahatan, korupsi, penipuan, tetapi tetap saja menjalani kehidupan yang makmur dan mewah, terhindar dari hukuman dan pembalasan.” Bukan tidak mendapat pembalasan, hal ini karena mereka masih memiliki penyebab dan kondisi baik yang terakumulasi dari masa lampau, seperti tabungan di bank. Setelah tabungan itu habis, mereka secara alami akan menghadapi buah karma mereka. Pernahkah Anda melihat orang kaya bertahan sampai lebih dari tiga sampai lima generasi? Hukum sebab akibat datang begitu cepat.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

63

Ada juga umat Buddha taat yang vegetarian, melafalkan nama Buddha dan melakukan banyak perbuatan baik seperti membangun jembatan dan mengaspal jalan. Namun, hidupnya miskin dan penuh penderitaan, mengapa Tuhan sangat tidak adil, dimana adanya hukum sebab dan akibat? Ini juga merupakan pola pikir yang salah, Anda vegetarian, melafalkan nama Buddha, membangun jembatan dan mengaspal jalan, secara alami Anda pasti mendapatkan karma baik, namun, di masa lampau, Anda masih memiliki hutang yang harus dilunasi, bank menuntut pembayaran, bank tidak dapat menghapus hutang seseorang hanya karena perbuatan baik. Setelah hutang lunas, perbuatan baik secara alami akan bawa akibat yang baik. Dalam agama Buddha, segala sesuatu memiliki sebab dan akibat. Misalnya, ekonomi memiliki sebab dan akibatnya sendiri, begitu pula moralitas dan etika, kesehatan dan relasi dengan orang lain. Untuk menuai apa yang diinginkan, seseorang harus menanam sesuai dengan itu. Logika ini sangat eksplisit. Oleh karena itu, hukum sebab akibat dalam agama Buddha tidak berbicara di satu masa kehidupan, hukum sebab dan akibat berlaku di tiga masa kehidupan. Ambil contoh tanaman, menabur benih di musim semi dan memanen di musim gugur adalah sebab dan akibat dalam kehidupan ini; menanam benih tahun ini dan panen tahun depan adalah sebab dan akibat dari kehidupan selanjutnya; menanam benih tahun ini dan memanen beberapa tahun kemudian adalah sebab dan akibat dari banyak kehidupan. Hukum sebab akibat pasti tidak pernah salah. Seperti kata pepatah: Perbuatan baik ada hasil yang baik, perbuatan buruk ada akibat buruk; Jangan katakan bahwa tidak ada pembalasan,

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

64

ini hanya masalah waktu. Dalam agama Buddha, hukum sebab dan akibat membentang di tiga masa kehidupan, ada sebuah bait yang tertulis dengan jelas: "Ingin tahu apa yang Anda lakukan di masa lalu, apa yang Anda alami saat ini adalah sebab dan akibat perbuatan Anda di masa lalu, ingin tahu seperti apa di masa mendatang, apa yang dibuat di masa kehidupan ini, Anda sudah dapat mengetahui konsekuensi seperti apa yang akan dihadapi di masa depan." Setiap berkat, keberuntungan, kemiskinan, dan kegagalan dalam hidup ini adalah akibat dari sebab-sebab masa lalu. Apakah Anda akan mengalami kemakmuran atau kemiskinan di kehidupan Anda selanjutnya? Hasilnya dapat disimpulkan melalui tindakan dan sikap anda dalam kehidupan saat ini. Di dunia ini, sulit untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Orang dapat menipu anda, bahkan cuaca berubah, bahkan matahari dan bulan redup dan bersinar tak terduga, sulit diprediksi. Tapi, hukum sebab akibat sederhana dan mudah dipahami. Mudah-mudahan, semua orang dapat menyadari bahwa ada juga kondisi yang berada di antara sebab dan akibat. Tidak mungkin kacang kedelai yang diletakkan di atas meja bisa berbunga dan menghasilkan buah, karena tidak memiliki kondisi yang diperlukan. Mustahil menanam beras dan gandum di padang pasir yang kering dapat tumbuh dan menghasilkan panen yang banyak, karena kondisi tidak mendukung, tak ada sebab dan akibat yang saling melengkapi. Oleh karena itu, seseorang harus memahami benar keterkaitan antara sebab, kondisi, dan akibat.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

65

Jika seseorang ingin mengubah sebab akibat atau mengubah nasib, hanya ada satu cara yaitu hadir penuh serta hidup sadar di saat ini dan sekarang.

— “Hukum Sebab Akibat dalam Tiga Masa Kehidupan”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

66

Hukum Sebab Akibat dalam Tiga Masa Kehidupan

Seperti kata pepatah, “Menanam benih melon akan menuai buah melon, menanam kacang akan menuai kacang.” Ada juga pepatah mengatakan “Perbuatan baik atau buruk, setiap sebab akan memiliki akibat karma yang sesuai.” Namun mengapa beberapa orang diberkati kehidupan mewah dan berlimpah, meskipun telah melakukan banyak perbuatan buruk, sementara orang baik dan berbudi luhur dilanda kemiskinan? Apa sebab, akibat dan hukum karma ada di dunia ini? Apa benar seseorang menuai apa yang dia tabur? Apakah orang yang melakukan kebajikan menerima hasil baik? Apakah orang yang melakukan tindakan tercela menghadapi akibat buruk? Untuk memahami hukum sebab akibat, dan karma, seseorang harus memahami apa yang disebut: “Kenyataan hidup saat ini adalah akibat dari perbuatan di masa lampau. Setiap perbuatan kehidupan sekarang akan menjadi sebab bagi kenyataan hidup masa mendatang." Di kehidupan saat ini, berkah atau kesulitan, kekayaan atau kemiskinan seseorang, semua adalah akibat yang dihasilkan dari perbuatan masa lampau. Semua perbuatan, bajik atau tidak bajik pada kehidupan saat ini, akan menentukan kehidupan selanjutnya.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

67

Sepertinya tidak ada aturan yang melarang orang menarik uang dari rekening tabungannya sendiri meski telah melakukan kejahatan. Begitu juga, seseorang perlu melunasi hutang masa lalu, tak peduli seberapa baik dan beretika ia sekarang. Bahkan Arahat Maudgalyayana, terkemuka dalam kekuatan gaib, tidak bisa lepas dari akibat karma lampau dan dilempari batu hingga wafat oleh sekelompok orang. Demikian pula dengan Buddha yang telah mencapai pencerahan, Beliau tetap menerima akibat dari karma masa lalu-Nya, seperti menjalani enam tahun praktik pertapaan, tidak mendapatkan persembahan, dan tidak makan apa pun kecuali biji gandum selama sembilan puluh hari. Dalam “Sutra Sebab Akibat – Hukum Karma” juga disebutkan, “Mengapa kehidupan saat ini memiliki pakaian layak dan makanan yang cukup? Karena kehidupan lampau telah berdana makan dan minum bagi orang miskin. Mengapa kehidupan saat ini tidak memiliki makanan dan pakaian? Sebab kehidupan lampau tidak pernah berdana. Mengapa kehidupan saat ini memiliki paras rupawan? Karena mempersembahkan bunga kepada Buddha. Mengapa memiliki kecerdasan dan kebijaksanaan? Sebab di kehidupan lampau melafalkan Sutra dan nama Buddha. Karma tidak ditentukan dan juga tidak dikendalikan oleh orang lain, setiap orang harus menerima konsekuensi atas tindakan mereka sendiri, karma tidak terjadi secara kebetulan dan tidak pernah keliru. Di hadapan hukum karma, setiap orang sama dan sebab akibat adalah wasit paling adil di dunia. Dengan demikian, sebab akibat tidak dapat dilihat dalam satu periode singkat atau hanya dilihat dari satu keadaan. Sebab akibat membentang di tiga masa kehidupan, saling mempengaruhi. Masa lalu mempengaruhi masa kini, masa kini menentukan masa depan, dan masa depan akan mempengaruhi waktu yang lebih lama lagi. Namun, masa lalu telah berlalu dan masa depan belum tiba;

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

68

hanya ada masa kini, momen berharga nan nyata, dapat dikatakan tiga masa kehidupan ada dalam satu pikiran. Satu pikiran baik atau buruk dapat mengubah sebab akibat dari tiga masa kehidupan juga perjalanan hidup seseorang. Jika seseorang ingin mengubah sebab akibat atau mengubah nasib, hanya ada satu cara yaitu hadir penuh serta hidup sadar di saat ini dan sekarang. Entah itu pikiran penyesalan, kebajikan, welas asih, kebaikan, rasa syukur maupun introspeksi diri hanya sebuah pikiran yang diperlukan dalam mengubah rasa sedih jadi kebahagiaan, neraka menjadi surga atau penjahat menjadi Buddha, ingin terlahir di alam bahagia atau menderita semua hanya sebuah pikiran. Pada saat ini, bahkan sebuah pemikiran yang lewat memiliki dampak jangka panjang pada ucapan serta tindakan seseorang. Mereka yang bersedia bertumbuh melakukan pembaharuan diri, orang yang memanfaatkan waktu saat ini untuk melatih serta mengolah batin jasmani, menggunakan pikiran yang baik, bijak dan benar, dengan demikian dapat memurnikan tiga masa kehidupan, memiliki karma baik serta menciptakan kemungkinan tak terbatas dalam hidup. Bagi orang yang meyakini hukum sebab akibat, mereka tahu bagaimana menerapkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang memahami dan percaya pada hukum sebab akibat, baik di kehidupan masa lampau, masa sekarang dan masa mendatang, di mana pun berada, setiap tindakan penuh integritas, batin penuh ketenangan, optimis dan bahagia, tahu bagaimana memurnikan pikiran akibat dari rangkaian sebab akibat dan tidak takut terhadap hukum sebab akibat. Seseorang boleh tidak mempercayai apa pun, akan tetapi harus yakin pada sebab akibat.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

69

Meskipun seseorang menerima akibat karma buruk setelah melakukan perbuatan baik, jangan khawatir, karena ini seperti membayar hutang. Setelah hutang dilunasi, efek dari perbuatan baik akan kembali seperti memperoleh kembali uangnya. Oleh karena itu, orang yang melakukan perbuatan baik harus memiliki pemahaman yang benar tentang akibat karma baik dan karma buruk.

— “Buah Karma Baik dan Karma Buruk”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

70

Buah Karma Baik dan Karma Buruk

“Buah karma baik dan karma buruk” adalah ajaran pokok dan mendasar dalam agama Buddha. Setiap sebab memiliki akibat karma yang sesuai, apakah itu baik atau tidak. Tidak ada fenomena di dunia ini muncul tanpa sebab dan kondisi; juga tidak mungkin menghindari akibat karma yang dilakukan. Setiap tindakan, setiap ekspresi, bahkan setiap pemikiran yang dilakukan, entah baik atau buruk, bajik atau tak bajik, akan menghasilkan akibat dan konsekuensi. Saya juga sering kali berkata, Setiap pagi, jika seseorang bangun dengan pikiran membantu dan melayani orang lain, maka ia akan berada di surga karena telah membangkitkan pikiran bajik dan niat baik. Namun, mungkin pada sore hari, setelah bertemu dengan orang yang tak menyenangkan timbul rasa kesal, bahkan marah dan benci, inilah saat jatuh kembali ke neraka. Jadi pikiran kita setiap harinya, sesaat berada di surga, sesaat di neraka, Berada di surga atau neraka sudah sampai tak tahu berapa kali telah datang dan pergi. Hal ini akan menghasilkan karma baik dan tidak baik. Jadi, "Perbuatan bajik membawa hasil bajik, perbuatan tidak bajik membawa hasil tidak bajik. Jangan khawatir bahwa tidak ada akibat; ini hanya masalah waktu." Dalam Buddhisme, konsekuensi

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

71

dari sebab dan akibat yang bajik dan tidak bajik membentang melintasi tiga masa kehidupan, dari masa lampau ke masa kini, dari masa kini ke masa depan, dan dari masa depan akan berputar kembali. Ini dikenal juga sebagai siklus penderitaan, karma dan kesengsaraan. Ketika penderitaan muncul, seseorang menciptakan karma melalui tindakan, mengarah pada penderitaan. Setelah mengalami penderitaan, malah lebih banyak kegelisahan muncul, akhirnya mengarah ke siklus tindakan dan penderitaan yang tiada akhir. "Apa yang ditabur, itulah yang akan dituai." Bahkan bila tautan antara sebab akibat dan akibat karma ini rumit, ia akan bekerja dalam urutan yang sempurna. Namun, banyak orang yang tidak memahami mekanisme dibalik alur sebab akibat. Beberapa orang jadi berkecil hati ketika mereka melihat seseorang tidak menerima hasil baik setelah melakukan perbuatan baik. Bila demikian, hal ini menjadi hal yang tidak benar. Ini seperti menempatkan deposito tetap di bank; seseorang tak dapat menarik uang sampai tanggal jatuh tempo yang diberikan. Di sisi lain, beberapa orang telah melakukan kejahatan di dunia dan masih hidup mewah. Itu karena tabungan masa lalu mereka di bank belum habis. Bank tidak dapat menolak penarikan dana seseorang hanya karena mereka jahat. Dengan demikian, seseorang akan selalu menuai apa yang mereka tabur. Tak ada yang bisa terhindar dari ini. Hasil karma baik dan buruk juga seperti bercocok tanam. Sebab dan akibat yang terjadi dalam satu tahun, karma berbuah dalam kehidupan sekarang ini, dapat disamakan dengan tanaman yang ditanam di musim semi dan panen di musim gugur. Sebab dan akibat yang terjadi dalam dua tahun, karma berbuah di masa depan yang jauh, dapat disamakan dengan tanaman yang ditanam tahun ini dan akan panen tahun depan. Sebuah penyebab membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memperoleh akibatnya, bahkan hingga

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

72

kehidupan berikut, dapat disamakan dengan tanaman yang membutuhkan tiga, lima, delapan, atau sepuluh tahun pertumbuhan untuk dipanen. Bagaikan pohon dan tanaman berbunga dan berbuah, ada perbedaan waktu dan musim untuk setiap tipe. Hasil karma baik dan tidak baik juga memiliki perbedaan dalam kerangka waktu. Entah akibat yang terjadi di kehidupan ini, kehidupan selanjutnya, atau kehidupan yang akan datang, suatu saat pasti akan ada hasilnya. Namun, sulit bagi sebagian besar orang untuk memahami arti sebenarnya dari sebab dan akibat. Misalnya, beberapa orang menjalani vegetarian, melafalkan nama Buddha atau melakukan perbuatan baik untuk menjadi kaya. Ini adalah cara berpikir yang keliru karena menjadi vegetarian, melafalkan nama Buddha, dan melakukan perbuatan baik tidak ada hubungannya dengan menjadi kaya. Sebab-sebab di atas adalah pada moralitas dan keyakinan. Jika seseorang ingin menjadi kaya, kerja keras diperlukan dalam karir, dan menjalin jodoh dengan orang lain melalui pelayanan. Inilah sebab dan akibat menjadi kaya. Beberapa orang ingin sehat, jadi mereka memperbaiki jembatan dan membangun jalan, atau menyajikan teh dan penerangan kepada orang lain. Mengapa kesehatan saya tetap kurang baik? Karena tindakan ini keliru. Untuk menjadi sehat, seseorang harus makan bergizi, olahraga, dan belajar merawat tubuh. Ini adalah penyebab kesehatan yang baik. Orang yang memperbaiki jembatan dan jalan hanya akan disebut perbuatan atas dasar kemanusiaan, orang baik yang melakukan perbuatan baik. Tindakan ini memberikan dampak yang berbeda. Jadi, menanam kedelai berharap menuai semangka, atau menanam semangka berharap menuai kedelai, adalah pemutarbalikan fakta dari hukum sebab akibat. Banyak orang salah memahami akibat dari hukum karma dalam hal waktu dan dalam

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

73

hal hubungan antara sebab dan akibat, menyalahkannya sebagai sesuatu yang tidak efektif dan tidak akurat. Namun, pada kenyataan, ganjaran dan pembalasan karma jauh lebih tepat nan akurat daripada komputer dan instrumen ilmiah, karena tidak pernah melewatkan apa pun. Seseorang dapat berbohong pada orang lain, bahkan terhadap diri mereka sendiri, tetapi akibat karma tak pernah keliru. Seseorang dapat menipu semua orang, tetapi tak akan pernah bisa lepas dari hasil ketidak jujurannya. Sementara orang mungkin tak melihat tindakan kita, langit selalu mengawasi! Hukum sebab akibat adalah sebuah catatan, tidak ada yang bisa lolos. Bagaimana Anda bisa lolos dari kebohongan Anda? Yang disebut karma baik dan jahat, "karma" ini mengacu pada perbuatan yang pasti akan membuahkan hasil. Oleh karena itu, orang yang melakukan perbuatan baik harus percaya pada sebab dan akibat dan tidak perlu khawatir tentang akibat karma. Meskipun seseorang menerima akibat karma buruk setelah melakukan perbuatan baik, jangan khawatir, karena ini seperti membayar hutang. Setelah hutang dilunasi, efek dari perbuatan baik akan kembali seperti memperoleh kembali uangnya. Oleh karena itu, orang yang melakukan perbuatan baik harus memiliki pemahaman yang benar tentang akibat karma baik dan karma buruk. Jangan percaya pada desas-desus. Jangan salah paham atau menyalahkan cara kerja sebab dan akibat. Itu adalah kebodohan kita sendiri!

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

74

Dua Belas Rantai Hukum Sebab Akibat yang Saling Bergantungan (Pratītyasamutpāda)

Siklus kehidupan manusia meliputi tiga masa (waktu), yaitu masa lalu, saat ini dan masa depan. Buddhis menguraikan proses ini secara terang melalui siklus Dua Belas Rantai Hukum Sebab Akibat yang Saling Bergantungan: 1. Kebodohan (Kegelapan Batin) 2. Bentuk-bentuk perbuatan (Kehendak) 3. Kesadaran 4. Batin Jasmani 5. Enam Landasan Indra 6. Kontak (Kesan-kesan) 7. Perasaan 8. Nafsu Keinginan 9. Kemelekatan 10. Penjelmaan 11. Kelahiran 12. Usia Tua dan Kematian Sederhananya, siklus tak berujung dari Dua Belas Rantai Hukum Sebab Akibat yang Saling Bergantungan ini, buat seseorang selalu berada dalam tumimbal lahir tiada akhir di tiga masa kehidupan.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

75

Kebodohan/Kegelapan batin dalam memahami kebenaran alam semesta dan kehidupan, semua fenomena muncul bergantung pada kondisi dan semua fenomena, hakikatnya adalah “kosong”. Karena ini, benih kebuddhaan seseorang tertutup oleh kegelapan dari kekotoran batin, ini yang disebut "kebodohan / kegelapan batin". Kelahiran kembali semua makhluk disebabkan karena “kebodohan/kegelapan batin”, kemudian jadi sebab "bentuk-bentuk perbuatan (kehendak) muncul" entah melalui tindakan, ucapan dan pikiran, diikuti dengan timbul "kesadaran". Oleh karena itu, "batin jasmani" sudah terbentuk saat di dalam rahim ibu. Himpunan mental dan materi terwujud dalam "enam landasan indera", mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran. Setelah enam landasan indera terbentuk, satu dilahirkan. Saat pertama kali berinteraksi dengan lingkungan eksternal di luar rahim ibu, maka timbul “kontak/kesan”, akibatnya "perasaan" menyenangkan dan tak menyenangkan hadir. Dengan demikian, "nafsu keinginan" pun muncul diikuti "kemelekatan", mengejar yang disukai dan menolak yang tidak disukai. Pada gilirannya, menyebabkan akibat karma yang menghasilkan akibat karma lebih lanjut dengan "penjelmaan" pada siklus selanjutnya "kelahiran, usia tua, sakit dan kematian." Begitulah kehidupan, siklus kelahiran dan kematian yang berkelanjutan. Banyak yang bertanya, "Kehidupan berawal dari mana?" Jawabannya "Hidup berasal dari kebodohan/kegelapan batin." Jawabannya, "Seseorang akan terlahir kembali sesuai dengan karmanya." Masa lalu, sekarang dan akan datang adalah sebuah rangkaian terhubung. Dua Belas Rantai Hukum Sebab Akibat yang Saling Bergantungan berlanjut berurutan tanpa akhir, karena penderitaan mengarah pada tindakan dan begitu sebaliknya,

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

76

sehingga menciptakan sebuah siklus. Masa lalu mempengaruhi masa kini dan akan tiba saat jadi masa lalu ketika masa akan datang berubah jadi masa kini. Masa lalu, sekarang dan akan datang adalah sebab dan akibat bagi satu sama lain. Menurut Sutra Sebab Akibat Tiga Masa Kehidupan, "Pengalaman hidup anda saat ini adalah hasil perbuatan anda di kehidupan lampau. Perbuatan hidup anda saat ini akan menentukan kehidupan anda di masa akan datang." Dengan kata lain, semua yang terjadi saat ini disebabkan oleh tindakan masa lalu. Untuk mengetahui akibat masa depan, seseorang hanya perlu melihat perbuatan saat ini. Oleh karena itu, tak perlu menunggu kehidupan berikut untuk mengalami tiga masa kehidupan. Setiap hari adalah pengalaman masa lalu, sekarang dan masa depan, karena itu adalah siklus berkelanjutan dari sebab, kondisi dan karma, serta sebab dan akibat. Hukum sebab akibat dalam tiga masa (waktu) kehidupan bisa menjawab pertanyaan: "Dari mana kehidupan berawal?", "Kemana seseorang akan pergi setelah akhir kehidupan?" Tak perlu mencari dewa atau peramal, karena semua itu sebenarnya dapat diketahui oleh diri sendiri. Sebaliknya, seseorang harus bertanya, "Karma apa yang telah saya sebabkan?" dan "Tindakan apa yang telah saya lakukan?" "Hasil apa yang akan mereka bawa?" Jawabannya dapat ditemukan melalui pengalaman hidup. Benih apa pun yang ditaburkan di masa sekarang, entah bermanfaat maupun tidak bermanfaat akan berakibat di masa depan. Oleh karena itu, praktisi Buddhis sejati memahami bahwa segala sesuatu bergantung pada diri sendiri, bahwa hidup ada di tangan seseorang dan kita dapat menentukan kehidupan yang akan datang.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

77

Kelahiran kembali beri kesempatan bagi kehidupan untuk berubah dan mengawali hal baru. Hal ini memungkinkan untuk mewujudkan aspirasi seseorang di masa akan datang dan menebus kesalahan masa lalu. Makna kelahiran kembali bukan menjatuhkan hukuman pada orang jahat dan mengapresiasi orang baik. Sebaliknya, memberikan pemahaman jelas tentang diri sendiri dan bangun kesadaran diri.

— “Analogi tentang Kelahiran Kembali”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

78

Analogi tentang Kelahiran Kembali

Segala fenomena di dunia tak terpisahkan dari prinsip kelahiran kembali. Segala hal di dunia, bahkan pikiran mengalami proses terbentuk, tak tergoyahkan, kemerosotan dan lenyap. Siklus empat musim, yaitu musim semi, musim panas, musim gugur hingga musim dingin. Ini merupakan siklus dari kelahiran kembali. Demikian pula, tiga masa kehidupan dan ruang adalah kelahiran kembali. Begitupun kelahiran kembali di enam alam kehidupan. Kelahiran kembali yang berlanjut menuruti prinsip serta rangkaian, melekat pada hukum sebab akibat, di mana sebab menghasilkan akibat, akibat tersebut menjadi sebab selanjutnya. Bagai detak jarum jam bergerak dari angka satu hingga dua belas, tiada henti dan berlanjut kembali dari angka satu. Peristiwa ini disebut "kelahiran kembali." Jika seseorang bertanya: “Dari mana asal usul manusia?” Sebagian besar agama memberikan penjelasan umum, berawal dari sini dan berakhir di sana, ada asal mula dan akhir kehidupan. Buddhisme menjelaskan kelahiran kembali sebagai proses tiada henti, tanpa awal dan tanpa akhir. Kelahiran kembali adalah transformasi kehidupan. Ibarat manusia menjalani proses "usia tua, sakit, mati dan lahir." Kehidupan tak berakhir pada kematian, seseorang akan terlahir kembali.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

79

Dalam Buddhisme "kelahiran kembali dalam tiga masa kehidupan," makhluk hidup sejak waktu tanpa awal, segala karma melalui perbuatan, ucapan dan pikiran merupakan siklus kehidupan yang berkelanjutan dengan adanya sebab akibat serta tanpa awal dan akhir. Siklus ini bermanifestasi sebagai enam bentuk kehidupan; makhluk surgawi, manusia, hantu dan hewan dikenal juga sebagai "siklus dari lima alam dan kelahiran kembali di enam alam kehidupan." Kelahiran kembali memungkinkan seseorang untuk mengubah nasib. Ini membuat seseorang memahami dengan jelas bahwa nasib ditentukan bukan oleh Dewa atau Tuhan, akan tetapi oleh karma diri sendiri. Bukan para Dewa yang memberikan berkah atau kemalangan pada manusia; namun akibat dari tindakan seseorang. Dalam sudut pandang kelahiran kembali, hidup bahagia atau sengsara ditentukan oleh tindakan individu dari setiap makhluk hidup. Ketika percaya dan yakin pada kelahiran kembali, seseorang akan melihat kehidupan sebagai proses berkelanjutan, bukan satu masa singkat. Kelahiran kembali menjadikan keberlanjutan hidup tiada henti; akhir dari sebuah kehidupan jadi tanda awal sebuah kehidupan baru. Bagai benih yang ditanam di tanah akan menghasilkan buah kembali, kelahiran jadi sebab kematian dan kematian jadi sebab kelahiran; kelahiran dan kematian yang tak terputus membawa harapan tak terbatas. Ini seperti kayu bakar yang terbakar: sepotong kayu akan terbakar sampai habis, tetapi nyala api terus berkobar dengan menambah kayu bakar. Kelahiran kembali beri kesempatan bagi kehidupan untuk berubah dan mengawali hal baru. Hal ini memungkinkan untuk mewujudkan aspirasi seseorang di masa akan datang dan menebus kesalahan masa lalu. Makna kelahiran kembali bukan menjatuhkan hukuman pada orang jahat dan mengapresiasi orang baik.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

80

Sebaliknya, memberikan pemahaman jelas tentang diri sendiri dan bangun kesadaran diri. Setiap kelahiran kembali, seseorang terus bertumbuh dan memurnikan diri, berlatih memperlakukan orang lain dengan baik dan welas asih serta bersikap bijak. Seorang Buddhis yang memiliki pandangan benar patut menelaah, memahami serta tak perlu takut pada kelahiran kembali. Dengan demikian, seseorang akan merasa mudah dan kuat menghadapi tantangan dan penderitaan yang timbul oleh kelahiran kembali.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

81

Ketika seseorang dapat melatih enam landasan indera, maka telah melaksanakan praktik jalan yang benar di alam manusia.

— “Enam Landasan Indera”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

82

Enam Landasan Indera

Struktur fisik manusia terdiri dari mata, telinga, hidung, lidah dan tubuh. Semua organ istimewa, berfungsi menjalankan peran secara bersama agar tubuh manusia tetap hidup. Demikian dengan hati, paru-paru, usus dan perut memiliki fungsi tersendiri dalam bekerja dan juga memelihara tubuh manusia secara teratur. Setiap hari, enam landasan indra, yaitu mata, telinga, hidung, lidah, jasmani dan pikiran berinteraksi dengan enam objek indra. Terkondisi melekat pada keadaan lingkungan luar sehingga mendesak seseorang melakukan perbuatan tidak baik. Dalam Sutra Buddhis, enam landasan indera dilukiskan sebagai enam pencuri yang selalu mencoba mencuri pahala kebajikan dan kekayaan Dharma. Ketika mengamati enam pencuri, maka terlihat dengan jelas, bahwa pikiran adalah pemimpin yang beri perintah dalam menjalankan fungsi enam landasan indera. Pikiran memberi perintah pada mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk penciuman dan anggota tubuh untuk bergerak. Saat kesadaran terhadap sensasi enam landasan indera gagal, maka seseorang harus membangun perilaku benar agar dapat terbebas dari akibat buruk. Bagaimana cara melatih enam landasan indera? Tubuh manusia ibarat mesin dan mata bagaikan kamera. Secara umum, kamera digunakan untuk memotret gambar yang

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

83

indah. Begitu pun mata, seharusnya juga melihat apa yang bajik, seperti arca Buddha yang agung, orang terhormat dan tindakan terpuji. Akan tetapi, banyak orang menggunakan mata mereka untuk melihat kesalahan orang lain, sementara mereka lupa melihat keburukan diri sendiri. Ini sebab mengapa orang selalu mengeluh, tentang apa yang mereka tidak suka dan tidak senang terhadap sesuatu. Jikalau seseorang dapat mengubah diri dan tak melihat kesalahan orang lain, namun refleksi dan introspeksi diri, maka sesungguhnya sedang melatih indra penglihatan. Telinga seperti radio. Seperti kata pepatah, “Obat yang manjur rasanya pahit; nasihat yang jujur ​tidak enak di telinga.” Umumnya, orang senang dengar pujian atau dengar musik yang menyenangkan, tetapi merasa kecewa jika dengar nasihat jujur ​dari teman. Jika seseorang lapang hati menerima nasihat orang lain, bahkan merasa senang setelah dengar saran tersebut, maka sedang melatih indra pendengaran. Hidung seperti detektor. Hidung tajam dalam mengejar harum atau bau busuk, bagai pengintai yang tengah mengumpulkan informasi militer. Namun, kebanyakan hidung sudah terbiasa memilih aroma makanan dan minuman yang nikmat. Jika saja seseorang mampu menghirup harum kebajikan dari ajaran orang suci, maka sebenarnya sedang melatih indra penciuman. Lidah seperti penerjemah atau pelantang suara. Lidah tak sekedar bisa membedakan berbagai rasa seperti asam, manis, pahit, pedas dan lainnya bila saja diri mampu memakai lidah dengan baik, "Pandai bertutur kata seperti bunga teratai", menebar kebenaran dan mengucapkan kata-kata baik untuk memberi kepercayaan dan kekuatan pada orang lain. Di sisi lain, beberapa orang bertujuan merusak situasi baik dengan kata-kata kasar, sehingga ucapan jadi sebab dari empat di antara "Sepuluh Perbuatan Tidak Bajik." Oleh karena itu, diri harus menjaga ucapan dengan baik, memuji

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

84

kebajikan seseorang, tak bicara keburukan orang lain dan berkata baik agar orang lain percaya diri. Setiap ucapan selayaknya membawa kebahagiaan bagi orang lain sehingga suaranya akan jernih dan merdu. Bagi sebagian besar orang, suatu berkah luar biasa ketika dapat menikmati semua makanan lezat dunia. Namun, secara umum juga dipahami, bahwa ‘Penyakit masuk melalui mulut dan kemalangan keluar darinya’. Oleh karena itu, secara teratur harus membiasakan lidah menikmati Dharma dan kebenaran. Melalui cara ini, seseorang dapat menyebarkan Dharma. Seperti itu seharusnya dalam melatih indra pengecapan. Tubuh adalah sebuah mesin aktif. Kaki seperti mesin berjalan. Di masa lalu, praktisi tak takut bekerja keras, mengandalkan kaki menjelajahi seluruh dunia untuk memahami pikiran dan sifat hakiki mereka. Tangan seperti komponen serbaguna yang dapat melakukan perbuatan baik atau buruk. Sebagai contoh, telapak tangan digunakan untuk pijat punggung seseorang itu sehat, tetapi memukul orang lain itu tidak baik. Tubuh dapat merasakan lingkungan luar, sebagian besar orang suka merasakan suhu sejuk, hangatnya suhu udara sekitar atau bersentuhan benda lembut dan halus. Sehingga orang ingin merasakan hidup nyaman seperti duduk di sofa, tidur di kasur dan menyegarkan diri dengan penyejuk udara ruangan. Jika seseorang dapat sesekali pergi ke vihara untuk bermeditasi, bersujud pada Buddha dan berlatih memiliki postur tegak serta mengizinkan tubuh merasakan keberadaan hakiki, ini adalah bagian dari melatih tubuh. Otak seperti markas umum, di mana pikiran bertindak sebagai panglima. Mayoritas orang mencari cara mendapatkan keuntungan, ketenaran, kekayaan dan kesuksesan. Mengambil langkah lebih jauh, bila seseorang dapat memikirkan cara meningkatkan kasih sayang, keadilan, perdamaian dan kemampuan

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

85

membantu orang lain, terutama memiliki pikiran yang "Berharap semua makhluk terbebas dari penderitaan sambil merealisasi kedamaian dan kebahagiaan diri” itulah yang dimaksud dengan pengembangan pikiran. Sesungguhnya, pelatihan bukan hanya sekedar tentang berbicara dan jelas bukan menjaga mata, telinga dan mulut secara pasif untuk diri sendiri. Sebaliknya, seseorang harus bisa mengelola diri dan berlatih. Misalnya, mata tak hanya menahan melihat sekeliling tanpa tujuan, tetapi juga harus mampu melihat dan mengubah kesulitan menjadi kondisi yang membantu seseorang bertumbuh. Tak hanya telinga dihentikan dari mendengar hal tak baik, akan tetapi seseorang juga harus mengubah ucapan sembrono jadi kata-kata yang meningkatkan kualitas diri. Tak hanya mulut berhenti berkata tidak baik, namun seseorang juga harus memuji dan mendukung orang lain dengan kata-kata baik dan bersemangat. Ketika seseorang dapat melatih enam landasan indera, maka telah melaksanakan praktik jalan yang benar di alam manusia.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

86

Perumpamaan Batin (Pikiran/Hati)

Lebih dari 2.000 tahun yang lalu, Buddha Sakyamuni mewariskan Dharma sejati pada Mahakasyapa di puncak Gunung Hering. “Kesempurnaan Batin (Pikiran)” mengacu pada kebenaran sejati diri, yang juga merupakan kebenaran alam semesta dan kehidupan. Secara tak langsung, Buddha mengamanatkan mustika Dharma kepada Bhiksu Mahakasyapa untuk disebarluaskan. Berbicara mengenai “batin (pikiran)”, dalam Samyukta Agama dijelaskan bahwa: “Bila batin diliputi kekotoran batin, makhluk hidup menderita, begitu pula, ketika batin murni, makhluk hidup juga menjadi murni.” Ketidaktahuan/kebodohan, menimbulkan kecemasan, kesedihan dan penderitaan. Hal ini dikarenakan, selain memiliki hati secara fisik, diri juga memiliki pemikiran, kehendak, akumulasi pikiran, bahkan juga ada rasa benci, iri hati, kebodohan, munafik, egois, kemelekatan. Setiap hari pikiran/hati bergelut dalam segala hal, sehingga terjadi membeda-bedakan diri sendiri dengan orang lain, berdebat tentang diri sendiri dan orang lain, maka dari itu, “pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu”, bila di dalam hati

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

87

muncul kebodohan batin, ketidaktahuan maka, kegelisahan batin dan penderitaan akan mengikuti. Sungguh beruntung, setiap individu terlahir memiliki “hati nurani”, hanya saja diliputi awan kegelapan dari kegelisahan (kekotoran batin), sehingga tak tampak, selama diri mampu melalui praktik Dharma, membiarkan “batin (pikiran/hati) yang sebenarnya” ini, yaitu benih kebuddhaan kita yang tak pernah mati ini, dimunculkan ke permukaan, dengan begitu setiap individu memiliki kesempatan menjadi Buddha. Pepatah mengatakan “Praktik Dharma membutuhkan melatih pikiran.” Dalam praktik Buddhis, menekankan “melatih diri harus mengolah batin”. Ibarat kejahatan harus dibalas dengan kebaikan, melawan keraguan dengan keyakinan, menghadapi hati yang sempit dengan kebesaran hati, kecemasan dengan ketenangan, delusi/khayalan dengan kebenaran, bahkan pada tahap tertinggi, menghadapi pikiran yang melekat dengan pikiran yang terbebas dari kemelekatan, yaitu pikiran yang tak terikat, seperti yang dibabarkan dalam Sutra Intan. Tak seperti tubuh fisik, mata, hidung, telinga, kepala, tangan dan kaki. Semua itu terlihat, akan tetapi pikiran/hati tak terlihat, setiap hari pikiran terus berubah sedemikian rupa dan begitu pelik, bahkan isi hati, tingkatan hati seberapa banyak dan tinggi, sungguh sulit digambarkan. Diri baru memperoleh pemahaman tentang pikiran/hati melalui perumpamaan dan melihat sesungguhnya seperti apakah pikiran/hati ini. Di dalam sutra Buddhis, perumpamaan yang menceritakan pikiran/hati tak terhitung jumlahnya, berikut sepuluh diantaranya untuk dijelaskan secara singkat: 1. Pikiran bagai seekor kera yang sulit dikendalikan. Pikiran seperti kera, setiap hari lompat ke sana kemari tiada henti dan tak dapat diam sesaat pun. Ia berguling ke atas ke bawah,

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

88

melompat bolak balik, sehingga buat orang tak dapat menduga dan sulit dikendalikan. 2. Pikiran bagai kilatan petir yang tetiba datang dan pergi dalam sekejap. Kecepatan cahaya adalah hal tercepat di dunia, tetapi pikiran jauh lebih cepat daripada kilat. Sebuah kilatan petir dalam sedetik dapat menempuh jutaan mil, pikiran bisa berkeliling dunia dalam satu pikiran secepat kilat. 3. Pikiran bagaikan rusa liar yang mengejar kesenangan indra. Setelah selesai makan, rusa hanya berpikir mencari penghiburan diri dengan kesenangan indra. Demikian pula, pikiran/hati manusia juga selalu mengejar nafsu indera tanpa henti. 4. Pikiran bagaikan pencuri, merampas jasa kebajikan. Dalam hidup manusia, ada suatu hal menakutkan, yaitu pikiran mampu melakukan pelanggaran sila dan kejahatan tanpa kendali dan tidak mengindahkan nilai moral. 5. Pikiran seperti musuh, jadi sebab penderitaan bagi tubuh. Terkadang melindungi, terkadang juga bisa mengkhianati. Satu bentuk pikiran yang mengarah pada perilaku tidak bajik, akan membuat hidup menderita. 6. Pikiran bagaikan pesuruh, selalu membuat masalah. Meski siap diberi tugas atau perintah, tetapi juga menyebabkan perselisihan dan penderitaan. 7. Pikiran bagaikan seorang raja yang bisa memberi perintah. Memiliki kekuasaan, mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, harus patuh pada perintahnya. Jika raja (pikiran) adalah raja yang bajik, dia dapat memimpin rakyat untuk melakukan hal baik. Jika ia adalah seorang raja yang jahat, maka rakyat akan menderita. Seperti, Raja Asoka pada masa India kuno dikenal sebagai "Asoka Hitam" dan "Asoka Putih" karena gaya

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

89

kepemimpinan yang berbeda, sebelum dan setelah Beliau mengenal agama Buddha. 8. Pikiran bagaikan mata air yang terus mengalir, tiada habis. Pikiran seperti mata air, bisa mengalir keluar air bersih yang jernih, juga bisa mengalir keluar air kotor yang tercemar. Jika mata air (pikiran) terus menerus mengalirkan air bersih (murni), maka komunitas, kolega, kerabat dan juga teman akan menikmati manfaatnya. 9. Pikiran bagai seniman yang menggambar tanpa henti. “Pikiran bagaikan pelukis profesional, dapat melukis segala objek”, setiap orang adalah pengukir, dapat mengukir diri menjadi sosok yang kita inginkan. Apa pun masalah yang ada dalam pikiran, juga dapat kita obati sendiri, kita menjadi psikolog bagi diri sendiri, karena pikiran kita adalah raja para dokter. Singkat kata, ingin membentuk diri sendiri menjadi sosok apa pun, pikiran adalah pelopornya. 10. Pikiran bagaikan ruang angkasa, luas tanpa batas. Seperti apakah pikiran yang sebenarnya? Pikiran bisa jadi seperti kera, kilatan petir, rusa liar, pencuri, musuh, budak, raja, mata air, seniman. Kebenaran pikiran sangatlah luas dan tak terbatas seperti alam semesta. Pikiran sejati adalah Tubuh Dharma (Dharmakaya) yang tak muncul dan lenyap, tiada kelahiran dan kematian, itu adalah nirwana. Oleh karena itu, pikiran juga sama seperti seorang manusia, bisa jadi orang jahat atau orang baik. Seperti pencuri atau kera, juga mampu serta layak menjadi para Buddha dan Bodhisattva. Itu semua tergantung pada bagaimana menguasai pikiran kita sendiri. “Buddha membabarkan Dharma, sebagai pengendali segala pikiran, jika tidak ada pikiran, apa gunanya Dharma?” Di

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

90

antara perumpamaan pikiran yang dijelaskan di atas, ada berupa delusi/khayalan, ada yang berupa pikiran buruk, tentu semua ini tidak diperbolehkan, sehingga diri seharusnya mengubah dan memurnikan, selama dapat mengolah pikiran, membuatnya berubah dari yang buruk jadi baik, berubah dari yang sesat menjadi tercerahkan, berubah dari delusi/khayalan menjadi kebenaran dan berubah dari sekadar pengetahuan jadi suatu kebijaksanaan, dalam hal ini, dengan adanya pikiran sejati, masih takutkah tidak dapat menyelesaikan segala masalah?

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

91

Mengenai Roh/Jiwa

Manusia hidup di dunia ini, pasti memiliki tubuh jasmani dan di dalam tubuh jasmani ini terdapat jiwa, yang dalam agama Buddha disebut sebagai kesadaran kedelapan (Kesadaran Alaya atau gudang kesadaran). Kesadaran kedelapan tidak beraktivitas sendiri, melainkan bersamaan dengan indera mata, telinga, hidung, lidah dan tubuh, perpaduan kesadaran keenam dan kesadaran ketujuh, yang biasanya kita sebut sebagai “kesadaran pikiran”. Di antara semua kesadaran, kesadaran kedelapan adalah kesadaran yang terdalam dan terhalus, yang dapat mempengaruhi ketujuh kesadaran sebelumnya. Oleh sebab itu, disebut juga sebagai “akar kesadaran”. Ketujuh kesadaran pertama, umumnya akan mengikuti kesadaran kedelapan, maka dari itu disebut sebagai "siklus tujuh kesadaran." Di dalam suatu kehidupan, seseorang akan terpengaruh oleh ketujuh kesadaran pertama, yang mana akan mengalami suka dan dukanya hidup, merasakan berbagai macam perasaan, baik itu kegembiraan, kemarahan, kesedihan dan kebahagiaan. Namun demikian, tujuh kesadaran pertama akan berhenti berfungsi ketika hidup berakhir dan hanya menyisakan kesadaran kedelapan, yang merupakan sumber kehidupan dan yang akan

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

92

mengarahkan pada kelahiran kembali seseorang. Inilah yang oleh kebanyakan teori dan dalam masyarakat umum disebut sebagai "roh". Namun, dalam agama Buddha tidak berbicara tentang “roh”, tetapi menggunakan istilah "kesadaran" sebagai gantinya. Akan tetapi, istilah kesadaran pada kesadaran kedelapan, dibutuhkan usaha yang cukup keras untuk memperkenalkan pada dunia dan membuat orang-orang mengerti. Secara khusus, kesadaran kedelapan tidak berwujud, penuh teka-teki. Sebaliknya, istilah “roh”, secara luas diketahui, digunakan dan dipahami secara umum oleh semua orang di dunia. Jika “Dharma ada di dunia, tidak terpisahkan dari pencapaian pencerahan di dunia.” Mengapa tidak mengikuti istilah di dunia pada umumnya dan membiarkan kesadaran kedelapan juga disebut sebagai “roh” agar lebih mudah dipahami semua orang. Mengapa hal ini tidak diperbolehkan? Sebenarnya dalam Buddhisme banyak sekali kemudahan dan cara efektif, seperti disebut dalam pepatah “Bermula dari keinginan lalu menariknya sehingga terjalin hubungan, setelah itu menuntunnya ke dalam kebijaksanaan seorang Buddha”. Agar orang-orang mengenal Buddhisme, mengerti Buddhisme dan ingin menyebarkan Buddhisme ke seluruh dunia, tentunya harus menggunakan sangat banyak konsep di dunia, sehingga tidak perlu menolaknya. Terhadap beberapa fenomena yang sulit dipahami, terkadang harus dijelaskan dan diakui, tetapi bukan untuk disembah, dijadikan takhayul. Selama skalanya sesuai, konsep apa pun yang ada di dunia dapat digunakan dalam Buddhisme. Misalnya, sekarang ini para ilmuwan menemukan ruang angkasa di alam semesta ini, yang dikenal sebagai istilah “Ada langit lain di luar bumi”, yang mana ada begitu banyak planet-planet. Dalam Buddhisme ketika memberi penjelasan pun

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

93

tidak harus mengatakan bahwa alam ada berapa banyak, tetapi juga dapat mengatakan kepada mereka, planet ada berapa banyak, hal ini tidak apa-apakan? Selain itu, mengenai ada atau tidaknya keberadaan alien, orang-orang banyak berkontroversi, kenyataannya, ketika Buddha membabarkan Dharma, begitu banyak Bodhisattva yang datang dari Alam Buddha lainnya, Buddha Amitabha dan Buddha dari sepuluh penjuru, semuanya dapat dikatakan sebagai “alien”, bukankah ini dalam waktu singkat dapat membuat semua orang memahaminya tanpa harus memberitahunya secara gamblang? Oleh sebab itu, saya (Master Hsing Yun) pikir penyebaran Buddhisme, harus memperhatikan penalaran dan momen waktunya, selain menyelaraskan dengan akar kebajikan semua makhluk, juga harus menyelaraskan dengan perkembangan jaman dan selanjutnya harus menyesuaikan dengan kebudayaan, ideologi dan tren pada saat itu, tidak perlu berselisih, tidak perlu menyerukan sudut pandang yang lainnya. Sama halnya dengan sebuah lagu, yang nadanya terlalu banyak akan sulit untuk dipelajari, yang lebih sederhana akan lebih mudah dimengerti. Apa pun yang berhubungan dengan kehidupan orang-orang, dapat digunakan. Oleh karena itu, mengapa kita tidak boleh menjelaskannya sebagai “roh?”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

94

Delapan Badai

Sering kali manusia hanya karena pandangan sesaat, mimik wajah atau isyarat tubuh dari orang lain, atau karena perselisihan atas kedudukan maupun kepentingan pribadi selalu menyakiti hati orang bagai angin topan, mengguncang jiwa seperti gempa bumi. Hal inilah yang mendesak seseorang terjatuh ke dalam keputusasaan dan penderitaan. Ibarat investor, terjebak dalam permainan naik turun pasar saham. Manusia juga mengalami penderitaan atas promosi atau penurunan jabatan di lingkungan kerja. Setelah memenangkan undian atau tiba-tiba menerima promosi, dapatkah seseorang tetap teguh hati? Pepatah kuno mengatakan, "Untuk tetap tak tergoyahkan oleh Delapan Badai,” Tapi hari ini, terdapat lebih dari delapan jenis angin. Selain angin sepoi di laut dan gunung, juga ada kata-kata nyinyir, badai gosip, angin topan serta angin perubahan. Semua itu menghembuskan derita ke dalam pikiran seseorang. Pada Dinasti Song, Sastrawan Su Dongpo menjadi pejabat di Guangzhou yang berada di utara sungai Yangtze, berjarak satu sungai dari Kuil Jinshan sebelah selatan sungai Yangtze. Su Dongpo sering berdiskusi Chan dengan Chan Master Foyin, kepala biara Kuil Jinshan. Suatu hari, ia merasa dirinya telah hebat dalam

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

95

pelatihan, ia pun menulis sebuah syair dan mengutus pelayan ke seberang sungai untuk menyerahkan kepada Chan Master Foyin sebagai pembuktian diri. Syair itu berbunyi : Aku bersujud pada surga di atas segala langit, ia yang memancarkan cahaya di alam semesta yang agung; duduk sigap di atas teratai ungu keemasan, tak tergoyahkan oleh Delapan Badai." Memiliki makna, penghormatan terhadap Buddha Maha Agung dan menerima berkah atas anugerah pancaran cahaya Buddha. Saat ini, pikirannya tak lagi tergoyahkan oleh Delapan Badai, bagaikan Buddha yang duduk samadhi di atas takhta teratai. Setelah baca syair tersebut, Chan Master Foyin tak berucap sepatah katapun, tapi hanya menulis satu kata di atas kertas, "Kentut!" dan meminta pelayan untuk membawanya kembali. Su Dongpo melihat pesan tersebut, sangat marah dan meminta pelayan segera menyiapkan perahu. Ketika perahu tiba di Kuil Jinshan, ia melihat Master Foyin tersenyum menyambut di tepi sungai. Su Dongpo bergegas maju dengan kesal dan berkata: "Chan Master! Apa yang salah dengan syairku? Mengapa anda kritik saya seperti itu!” Chan Master Foyin sambil tertawa, berkata “Saya pikir, anda tak tergoyahkan oleh Delapan Badai? Mengapa hanya kata sederhana, "kentut" bisa buat anda menyeberangi sungai?” "Delapan Badai" mengacu pada delapan hal yang kita jumpai dalam hidup, yaitu pujian, celaan, fitnah, kehormatan, keuntungan, kerugian, kesedihan dan kegembiraan yang menyulut emosi setiap saat, seperti "hembusan angin". Su Dongpo berpikir bahwa pikirannya tidak tergoyahkan oleh Delapan Badai eksternal.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

96

Tak terduga, ia tak mampu menahan ujian satu kata "kentut". Ini terlihat bahwa seseorang tanpa memahami pikiran sejati dan hidup dalam "khayalan", bagaimana tubuh dan pikiran bisa bebas nan damai? Hidup di dunia, pasti ada yang baik dan buruk, ada pujian juga celaan. Karena itu, saya mengatakan "Setengah-setengah" sebagai filosofi hidup. Harus ada setengah hari yang cerah juga harus memiliki setengah malam yang gelap; akan ada hangat musim semi kala bunga-bunga bermekaran dan juga ada musim dingin dengan cuaca sangat dingin. Suatu ketika, Hanshan bertanya kepada Shide, "Jika seseorang memfitnah saya, menipu saya, menghina saya, menertawakan saya, menyalahkan saya, menjelekkan saya, membenci saya, berbohong kepada saya, apa yang harus saya lakukan?" Shide menjawab: “Kalau begitu bersikap toleran padanya, biarkan dia, hindari dia, bersabar dengannya, menghormati dia, abaikan dia, tunggu beberapa tahun, lihat apa yang terjadi padanya?" Toleransi dan kesabaran menumbuhkan keluhuran hati seseorang. Menghindar dan juga memberi kesempatan pada orang lain adalah cara mencegah konflik. Menghormati serta memberi ruang menunjukkan rasa hormat bagi lawan, menjadikan seseorang besar dan kuat. Ibarat bermain basket, jika tidak ada lawan di lapangan, maka tiada permainan. Orang yang hidup di dunia, pasti menghadapi cobaan akan kehormatan, aib, keuntungan dan kerugian. Ketika keinginan terwujud akan merasa bangga. Tetapi kala kekecewaan tiba, seharusnya tak perlu hidup dalam keterpurukan diri. Ketidakkekalan, kehormatan, aib, keuntungan atau kerugian hanya sementara. Jika melekat pada itu semua, maka akan dikendalikan

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

97

oleh kehormatan, aib, keuntungan atau kerugian itu sendiri. Oleh sebab itu, kita harus belajar : Kala angin berembus di sela bambu yang tersebar, begitu lewat, suara pun pergi; Ketika seekor angsa terbang di atas kolam musim dingin, begitu berlalu, bayangan juga ikut terbang menjauh. Ketika panah beracun melesat oleh ucapan jahat, fitnah, kehormatan, kebanggaan atau aib, tak dapat mengguncang diri. Itu adalah orang yang bebas nan riang gembira, tak dapat tergoyahkan oleh Delapan Badai.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

98

Penyesalan

Penyesalan merupakan kebajikan tertinggi di dunia. Penyesalan adalah rasa malu pada diri. Sering kali diri merasa kurang pengetahuan, ketulusan hati dan welas asih sehingga merasa malu. Rasa malu karena sering meminta maaf kepada orang lain, orang tua dan teman. Oleh karena itu, penyesalan bukan kata yang digunakan untuk memarahi orang lain, sebaliknya penyesalan berarti merasa malu dengan perilaku dan pikiran buruk diri serta menyadari untuk bertobat, mengubah diri, dengan rasa malu ini memotivasi seseorang dalam meningkatkan kesadaran diri. Dalam kehidupan, seseorang pasti tak luput dari kesalahan, entah itu tindakan maupun dalam bertutur kata. Tak perlu takut berbuat salah, akan tetapi takut bila tak memiliki rasa malu dan penyesalan. Dengan memiliki rasa malu dan penyesalan, seseorang memiliki kekuatan untuk berubah dan berani untuk jadi manusia yang lebih baik. Ada pepatah dalam Konfusianisme, “Berbuat salah itu manusiawi, memperbaiki diri adalah jalan kebajikan yang terbaik." Sesepuh Buddhis sering memberi nasihat pada murid mereka, “Malu karena ketidaktahuan, malu karena tidak mampu, malu karena tidak tahu caranya, malu karena tidak murni.” Menyesal itu bagaikan mengenakan gaun elegan yang memancarkan aura

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

99

bangsawan. Seperti yang tertera dalam sutra Buddhis, “Berpakaian dengan rasa malu adalah perhiasan terindah.” Bahkan dalam ajaran Konfusianisme tentang "Empat Standar Moral dan Delapan Kebajikan" berfungsi sebagai pengingat untuk tidak pernah lupa memiliki rasa penyesalan. Seseorang yang menyesal dan bertobat tahu harus bagaimana bekerja dengan penuh semangat. Seseorang yang punya penyesalan bisa berjuang jadi yang terbaik. Oleh karena itu, rasa penyesalan dan malu adalah kebajikan. Saat memimpin Diksa Trisarana dan Pancasila, saya sering memberi contoh seorang Buddhis yang minum-minuman keras melakukan pelanggaran yang lebih ringan daripada peminum umumnya. Mengapa demikian? Apakah seseorang yang telah menerima sila berani minum di depan orang lain? Tidak berani. Sebaliknya, mereka minum di tempat yang tak terlihat oleh orang lain, setelah minum dia berkata, "Aduh! Malu, menyesal, saya sudah menerima sila masih minum alkohol, sungguh suatu pelanggaran." Dengan bertobat, pelanggaran menjadi lebih ringan. Di sisi lain, mereka yang tidak hanya terbiasa minum berlebihan sampai mabuk, tetapi juga mendorong orang lain untuk melakukan dengan mengajak orang lain dengan berkata, “Ayo! Satu cangkir lagi!” hal ini jauh lebih parah dari pelanggaran. Oleh karena itu, belajar mengakui kesalahan akan meningkatkan karakter moral seseorang. Dahulu kala, Bhiksu Tzu Hang rela memberi apapun yang dimiliki kepada orang lain, dia berkata kepada saya: "Dalam kehidupan ini, diri merasa malu tak memiliki cukup pahala kebajikan. Oleh karena itu, diri harus menghargai setiap kesempatan untuk menjalin hubungan baik secara luas." Bhiksu Daxiang pernah menulis sebuah artikel yang terdiri dari esai yang mengkritik agama Buddha, tetapi Bhiksu Yinguang menegur, "Anda melakukan karma verbal," dia secara sadar

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

100

mengungkapkan penyesalan diri dan memberi judul buku itu "Koleksi Karma Verbal" sebagai ungkapan rasa sesal diri dan bertobat. Mengambil contoh dari para master terkemuka yang berjuang untuk transformasi diri dan bertanggung jawab atas kesalahan mereka, bila seseorang menumbuhkan hati nurani yang penuh penyesalan sejak usia dini tidak akan menyinggung atau mengganggu orang lain. Mereka bisa memperbaiki kesalahan masa lalu, sehingga meningkatkan karakter dan keberanian moral mereka. Bahkan, mereka mengerti bagaimana seharusnya menghormati orang lain, membantu mengikis karma buruk dan maju menuju pembebasan. Sama seperti Bhiksu Yinguang menyebut dirinya sebagai “Bhiksu yang selalu merasa malu” di masa lalu, maka praktisi hari ini harus memiliki rasa penyesalan sebagai keyakinan dasar dalam membangun situasi interpersonal bermasyarakat. Hanya dengan mengetahui "penyesalan", seseorang dapat menjaga diri dan introspeksi diri. Tubuh dan pikiran akan secara alami terus dimurnikan, ditingkatkan dan dikembangkan.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

101

Kasih sayang dan welas asih adalah seperti passport yang tak ternilai harganya, seseorang mungkin tidak punya apa-apa, tapi kemanapun mereka pergi, kebahagiaan dan keselamatan akan mengikuti.

— “Kasih Sayang dan Welas Asih”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

102

Kasih Sayang dan Welas Asih

Kasih sayang dan welas asih merupakan kekayaan yang dimiliki oleh semua makhluk. Pancaran kasih sayang dan welas asih memberi rasa hangat dunia dengan penuh harapan. Kasih sayang dan welas asih dua kata, dimana kasih sayang bermakna membawa kebahagiaan bagi orang lain, kasih sayang dan welas asih berarti meringankan penderitaan orang lain. Ketika melihat orang lain mengalami penderitaan, bersedia melenyapkan derita dan memberi kegembiraan pada orang lain. Inilah yang dimaksud dengan kasih sayang dan welas asih. Kasih sayang dan welas asih adalah inti ajaran Buddha. Sering mendengar pepatah mengatakan, "Tumbuhkan kasih sayang tanpa syarat dan welas asih universal." Namun, kasih sayang dan welas asih tak hanya milik umat Buddha. Setiap orang sudah sepatutnya menjalankan praktik kasih sayang dan welas asih terhadap orang lain, bukan sebaliknya mengharapkan dari orang lain. Alih-alih memberikan kasih sayang, kebaikan dan welas asih hanya kepada keluarga dan teman, kasih sayang tanpa syarat berarti memberikan kebaikan dan penuh kasih, bahkan terhadap mereka yang tidak memiliki ikatan dengan kita. Kasih sayang dan welas asih yang sejati berarti membantu siapa pun yang

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

103

membutuhkan bantuan, tanpa peduli apakah kita mengenal atau berhubungan dengan orang itu. Welas asih universal berarti dapat memandang diri sendiri sama dengan orang lain. Sesungguhnya tak sulit untuk praktik menebar kasih sayang dan welas asih. Kuncinya adalah menempatkan diri di posisi orang lain. Saat orang lain memerlukan bantuan, diri menawarkan bantuan. Ketika diri membutuhkan, juga akan mencari bantuan orang lain. Dengan menempatkan diri di posisi orang lain, pikiran kasih sayang dan welas asih akan secara natural tumbuh sendiri. Saya selalu menuturkan ke murid-murid saya, "Kita bisa hidup tanpa apa pun, namun tidak bisa tanpa kasih sayang dan welas asih." Kasih sayang dan welas asih adalah fundamental Buddhisme dan juga jadi kualitas yang harus dimiliki setiap orang. Namun, bila dipraktikkan secara tak tepat, bisa menjadi hal yang tidak baik. Seperti, orang tua memaafkan perilaku anak yang salah, ini justru dapat menimbulkan masalah sosial. Toleransi terhadap kejahatan dan perbuatan yang salah menyebabkan kekacauan sosial. Penyalahgunaan uang akan mendorong mentalitas serakah. Praktik melepas makhluk hidup yang kurang bijaksana justru membahayakan, bukan menyelamatkan nyawa. Ini semua karena tidak adanya pandangan benar dan kurang keberanian moral. Karena itu, kasih sayang dan welas asih sejati harus dibimbing oleh kebijaksanaan dan pandangan benar. Jika tidak, kasih sayang dan welas asih berlebihan akan kehilangan kebajikan dan niat baik aslinya. Kasih Sayang dan welas asih yang sejati tidak hanya mencakup pujian yang ramah atau kata-kata yang menyemangati. Kasih Sayang dan welas asih yang besar terkadang dapat berbentuk kekuatan vajra untuk mengalahkan kejahatan. Misalnya, rupang Bodhisattva Maitreya di pintu masuk vihara yang tersenyum dan

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

104

menyambut semua orang yang mengunjungi vihara, memeluk mereka dengan kekuatan kasih sayang dan welas asih. Namun, setelah melewatinya, mereka akan melihat patung pelindung Dharma yang gagah berani dan perkasa, jenderal surgawi Skanda (韋陀-Wéi Tuó). Dia memakai baju besi dan membawa pedang vajra, mengalahkan kejahatan dan menundukkan kekotoran batin dengan kekuatan kasih sayang dan welas asih. Beberapa orang termotivasi untuk memperbaiki diri dengan dorongan kasih yang baik dan welas asih, sementara yang lain menjadi waspada melalui teguran tegas. Meskipun angin sepoi-sepoi di musim semi dan hujan di musim panas dapat buat segala tanaman bertumbuh, tetapi embun kristal yang tebal di musim gugur dan salju beku di musim dingin pun dapat buat segala tanaman menjadi lebih subur. Sebagian besar orang mempraktikkan "kasih sayang dan welas asih sesaat" atau "kasih sayang dan welas asih antusias." Mereka jarang praktik "kasih sayang dan welas asih tanpa suara" atau "kasih sayang dan welas asih abadi." Apa yang dimaksud dengan kasih sayang dan welas asih sesaat? Misalnya, memberikan uang kepada orang miskin hanya akan menolong sementara untuk situasi yang menyedihkan. Contoh kasih sayang dan welas asih antusias adalah pelayanan Dharma yang khusyuk dan tenteram, namun hanya mempengaruhi peserta selama kebaktian saja. Apa itu welas asih tanpa suara? Sama seperti yang terlibat dalam bersosialisasi di masyarakat, harus merasakan kesepian saat bekerja dalam kesendirian. Meski tidak disadari banyak orang, dampak yang dibuat oleh para pahlawan tanpa tanda jasa ini sangat besar. Apa itu kasih sayang dan welas asih abadi? Mencakup mereka yang mendirikan sekolah, menginspirasi pengembangan kebijaksanaan melalui pendidikan, juga para penulis yang menyebarkan ide-ide indah dan penuh kebajikan melalui tulisan.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

105

Mereka semua adalah contoh dari "kasih sayang dan welas asih abadi." Jika seseorang bisa peduli terhadap orang lain dengan pikiran kasih sayang dan welas asih, memandang dunia dengan mata welas asih, mengagumi orang lain dengan kata-kata welas asih dan melakukan perbuatan baik dengan tangan welas asih, hati kita akan selaras dengan kasih sayang dan welas asih. Kita tidak hanya akan menjadi lebih welas asih, tetapi juga memenuhi seluruh semesta dengan welas asih. Kasih sayang dan welas asih adalah seperti paspor yang tak ternilai harganya, seseorang mungkin tidak punya apa-apa, tapi kemanapun mereka pergi, kebahagiaan dan keselamatan akan mengikuti.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

106

Kekuatan niat dan tekad dapat menciptakan keajaiban. Misalnya, ketika diri bertekad untuk makan, makanan pun akan terasa nikmat. Ketika bertekad tidur, diri akan tidur dengan penuh kedamaian. Ketika bertekad menjadi orang baik, diri akan sangat bahagia dan tulus melakukan perbuatan baik.

— “Tekad”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

107

Tekad

Dalam sutra dikatakan, “Melenyapkan keburukan adalah jasa, menciptakan berkah adalah kebajikan." Jasa dan kebajikan dicapai dan dipupuk melalui niat dan tekad. Di antara sekian banyak ajaran dalam Buddhisme, membangkitkan niat dan tekad adalah hal penting. Agama Buddha mengibaratkan pikiran seperti ladang (tanah). Dengan niat dan tekad mengembangkan ladang pikiran. Melalui proses memperbaiki, ladang menjadi sesuatu yang dapat diolah dan berdaya guna. Dengan mengolah ladang, benih dapat disemai dan memanen hasil. Demikian pula, jika memahami cara mengolah ladang pikiran, satu demi satu harta terpendam dalam pikiran dapat tergali. Jika tidak mengolah ladang pikiran, tak akan mampu merawat bibit kebodhian meski kondisi eksternal selaras dan berkah serta kebajikan cukup. Ini seperti benih tanpa ladang yang baik untuk tumbuh, benih tak akan pernah bisa berbunga atau berbuah. Master Sheng'an (1686~1734) berkata, “Untuk memasuki sang jalan, niat dan tekad adalah hal terpenting. Hanya dengan niat dan tekad, kebuddhaan dapat dicapai." Di dunia ini, semakin besar niat dan tekad, maka semakin besar pencapaian. Kekuatan niat dan tekad tak terbayangkan. Penganut Konghucu sering beritahu orang

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

108

untuk memiliki keteguhan hati dan praktisi Buddha mengajarkan orang untuk berikrar/bertekad. Keteguhan hati dan tekad itulah keteguhan. Setelah hati teguh, maka tekad terpenuhi. Ada seorang praktisi yang telah mencapai tingkat kesucian Arahat. Suatu hari, ia keluar bersama murid yang mengikuti sambil membawa kopernya. Kala itu, sang murid berpikir, “Dunia ini penuh dengan bencana dan malapetaka, makhluk hidup memiliki begitu banyak penderitaan dan rintangan. Aku seharusnya memiliki tekad seperti Bodhisattva yang penuh cinta kasih dan welas asih untuk membebaskan makhluk hidup." Arahat tersebut bisa melihat dan mengetahui bahwa sang murid telah membangkitkan pikiran Bodhisattva, jadi ia berhenti dan berpaling ke sang murid, “Berikan koper itu padaku. Kau harus berjalan di depan.” Sang murid pun bingung, namun ia tetap mematuhi sang guru. Setelah berjalan beberapa saat, murid itu melihat genangan air di bawah kakinya dengan ribuan semut terperangkap di dalam. Dia berpikir, “Astaga! Dunia ini sangat besar dan ada begitu banyak makhluk hidup. Aku bahkan tak bisa menyelamatkan semut di genangan air ini. Bagaimana aku bisa menyelamatkan semua makhluk?" Sang Guru yang berjalan di belakangnya memahami pikirannya dan berkata, "Ambil koper ini dan berjalan di belakangku!" Kisah ini menunjukkan betapa sulit mempertahankan niat dan tekad yang telah muncul. Kekuatan niat dan tekad dapat menciptakan keajaiban. Misalnya, ketika diri bertekad untuk makan, makanan pun akan terasa nikmat. Ketika bertekad tidur, diri akan tidur dengan penuh kedamaian. Ketika bertekad menjadi orang baik, diri akan sangat bahagia dan tulus melakukan perbuatan baik. Pikiran seperti ladang, pantai atau garis pantai. Dengan mengolahnya akan memunculkan

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

109

potensi. Ketika tekad bulat, kualitas dari segala sesuatu yang dilakukan akan berubah. Inilah yang dimaksud pepatah, “Dengan mekarnya bunga plum; bulan yang sama di luar jendela jadi terasa berbeda." Amat disayangkan, sebagian besar orang hanya berpikir untuk mengubah ladang terlantar dan lereng bukit menjadi lahan pertanian dan gedung. Dengan terus melihat ke luar, diri tak menyadari bahwa pikiran memiliki harta karun dan potensi tanpa batas. Orang cerdas harus dapat melihat ke dalam, beralih dari dunia eksternal ke dunia internal untuk mengembangkan potensi pikiran dan hartanya. Hanya setelah mengolah ladang pikiran, diri baru dapat menabur benih, menumbuhkan dan memanen.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

110

Bertekad itu seperti menuntut ilmu, harus terus berkembang, berawal dari membuat tekad kecil, secara bertahap memperkuat tekad, harus meningkatkan kekuatan tekad.

— “Berikrar”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

111

Berikrar

Sudah menjadi pengetahuan umum bagi umat Buddha, bahwa tekad merupakan kunci bagi pencapaian Para Buddha dan Bodhisattva. Misalnya, Dua Belas Tekad Agung Bodhisattva Avalokitesvara, Sepuluh Tekad Agung Bodhisattva Samantabhadra, Empat Puluh Delapan Tekad Buddha Amitabha, dan khususnya, Tekad Bodhisattva Ksitigarbha: “Jika Aku tidak masuk ke neraka membebaskan semua makhluk di sana, siapa yang akan melakukannya? Aku tidak akan mencapai kebuddhaan sampai neraka kosong." Selain itu, ketika duduk di singgasana vajra di bawah pohon bodhi, Buddha Sakyamuni bertekad, "Aku tidak akan bangkit dari tempat duduk ini sampai Aku meraih pencerahan." Ketika Buddha hendak Parinirvana, Aniruddha berkata, "Bulan bisa menjadi panas, begitu pun matahari bisa menjadi dingin, tapi Empat Kebenaran Mulia tak akan pernah berubah." Ini mencerminkan kekuatan tekad dan keyakinan Buddha. Konghucu menitikberatkan keteguhan hati, dan Buddhis menyatakan sebagai bertekad. Manusia harus memiliki tekad dan berhasil mencapai Jalan Bodhisattva tak mungkin terwujud tanpa ikrar. Menurut tradisi Tanah Suci, seseorang terlebih dahulu mengamalkan tiga ketentuan tetap yakni keyakinan, tekad dan

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

112

praktik sebelum kita dapat terlahir kembali di Tanah Suci Sukhavati. Namun, "bertekad" tak saja mengacu pada tekad Para Buddha dan Bodhisattva. Sebagai murid Buddha, kita patut bertanya pada diri, "Apa tekad kita?" Kita bertekad menyebarkan Dharma dan memberi manfaat bagi semua makhluk. Kita bertekad untuk mengembangkan agama Buddha. Kita bertekad membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi semua makhluk. Tetapi, sudahkah kita mengambil langkah nyata dalam memenuhi tekad itu? Buddha mengomentari para praktisi kendaraan kecil, bagai “benih tandus” karena mereka tidak memiliki tekad Mahayana, tekad memberi manfaat bagi semua makhluk. Umat Buddha memahami betapa penting praktik memberi, tetapi apa kekuatan tekad kita? Ada kisah Jataka tentang “mengorbankan daging untuk memberi makan elang dan mengorbankan tubuh demi memberi makan harimau.” Tentu saja, tak harus bertekad semacam ini. Namun, kita patut mengikuti teladan dari Dua Belas Tekad Bodhisattva Avalokitesvara, Sepuluh Tekad Agung Bodhisattva Samantabhadra, dan Empat Puluh Delapan Tekad Buddha Amitabha. Menerima serta menjalani Empat Tekad Universal sebagai contoh: Makhluk hidup yang tak terbatas, Saya bertekad membebaskan mereka; Kekotoran batin yang tak ada habisnya, Saya bertekad melenyapkannya; Ajaran Dharma yang tak terbatas, Saya bertekad mempelajarinya; Kebuddhaan adalah yang paling agung,

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

113

Saya bertekad mencapainya.” Sebagian besar umat Buddha melantunkan tekad ini dengan lantang di altar utama, tetapi bila diminta mengucapkan di atas panggung, mereka tidak berani berkata, “Makhluk hidup yang tak terbatas, Saya bertekad membebaskan mereka. Kekotoran batin yang tak ada habisnya, Saya bertekad melenyapkannya." Seorang praktisi harus merasa malu dan seharusnya mengucapkan tekad ini lebih intens. Di dalam masyarakat, cakupan kesuksesan seseorang bisa ditentukan dari keinginan kuat masa kecilnya. Demikian pula dalam agama Buddha, keteguhan tekad seorang praktisi mencerminkan kedalaman pelatihan mereka. Bertekad dapat disamakan seperti memutar jam atau mengisi penuh bahan bakar ke tangki mobil, agar menghasilkan tenaga untuk maju. Bertekad juga seperti memasang kompas di kapal, atau siswa yang menyusun rencana belajar, menetapkan tujuan untuk maju. Karena itu, seperti yang tertulis dalam Bertekad Membangkitkan Bodhicitta, “Yang keras bukanlah intan melainkan tekad; yang tidak terbatas bukanlah kehampaan melainkan pikiran seseorang.” Kebesaran hati seseorang dapat terlihat dari seberapa besar kesuksesannya. Semakin teguh tekad, semakin besar kekuatannya. Bertekad itu seperti menuntut ilmu, harus terus berkembang, berawal dari membuat tekad kecil, secara bertahap memperkuat tekad, harus meningkatkan kekuatan tekad. Misalnya, bertekad untuk mengabdi dan menyebarkan Dharma kepada sejumlah orang di kehidupan ini. Atau bertekad bekerja dan berusaha keras bagi semua makhluk serta jadi pelita bagi masyarakat. Dengan kata lain, tekad untuk praktik dan melatih diri dalam jalan Buddha buat seseorang jadi luar biasa.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

Berdana tidak sepenuhnya didasarkan pada uang. Anda dapat memberikan kegembiraan kepada orang lain dengan mengatakan hal-hal yang baik untuk memuji orang lain, berwelas asih, memberikan anggukan kepala kecil kepada orang saat berpapasan, memberi sapaan sederhana, dan memberi uluran tangan untuk membantu.

— “Dana”

114

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

115

Dana

Dalam agama Buddha, Enam Paramita adalah enam metode latihan yang menuntun pada lenyapnya penderitaan dan pencapaian kebuddhaan. Dengan mempraktikkannya, tidak hanya orang bertekad untuk membebaskan orang lain, namun diri sendiri juga akan ikut terbebaskan dalam prosesnya. Oleh karena itu, Enam Paramita adalah praktik yang secara bersamaan membebaskan dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Bermula dari ‘diri sendiri terbebaskan’ sampai pada kesediaan untuk membebaskan orang lain, “Aku dan Dia terbebaskan” adalah suatu kesatuan yang memiliki dua sisi. Mungkin saja ada yang bertanya: “Diri sendiri masih belum mencapai kebuddhaan, belum pencerahan, bagaimana bisa memiliki kekuatan untuk membebaskan orang lain?” Sebenarnya, “Sebelum mencapai kebuddhaan terlebih dahulu membebaskan orang lain” adalah tekad Bodhisattva. Bodhisattva dengan sendirinya mencapai kebuddhaan dalam perjalanan membebaskan orang lain. Oleh karena itu, bebaskan orang lain terlebih dahulu, akumulasikan pahala kebajikan, pada akhirnya diri sendiri juga akan terbebaskan. Keenam Paramita tersebut adalah Dana, Sila, Kesabaran, Ketekunan, Konsentrasi Meditasi, dan Kebijaksanaan Prajna.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

116

Namun, kebanyakan orang tidak benar-benar memahami Enam Paramita, dan hanya memahaminya luarnya saja. Pada umumnya orang mengira bahwa agama Buddha hanya mengajarkan orang untuk “Kerelaan dalam memberi, disiplin dalam menjalankan sila, sabar terhadap penghinaan dan kesulitan, berlatih dengan tekun tanpa henti, dan duduk diam dalam konsentrasi meditasi.” Perkataan-perkataan seperti ini sering kali tidak sejalan dengan kemampuan bawaan makhluk hidup, sehingga menimbulkan kesalahpahaman terhadap ajaran Buddha. Sebenarnya, bukan itu maksud dari Enam Paramita. Di bawah ini saya akan menggunakan Dana sebagai contoh untuk menjelaskan makna Dharma yang sesungguhnya. Yang disebut Dana: ada dana dalam bentuk materi, dana dalam bentuk Dharma, dan dana dalam bentuk keberanian. Namun, orang-orang di zaman sekarang sering kali memaknai Dana hanya sebatas pada sumbangan uang. Pandangan agama Buddha terhadap makna Dana tidaklah sesempit itu. Secara garis besar, berdana tidak hanya tentang memberi uang, ada uang sumbangkan uang adalah tingkatan pemberian yang paling dasar. Tingkatan pemberian yang lebih tinggi daripada sumbangan uang adalah kesukarelaan untuk memberikan waktu, upaya, juga keterampilan dan keahlian profesional seseorang untuk vihara sebagai sukarelawan. Bahkan jika seseorang tidak punya uang dan tidak punya waktu untuk menjadi sukarelawan, tidak masalah, bicaralah hal-hal baik dan sebarkanlah perbuatan yang baik dan indah. Ini adalah dana dalam bentuk ucapan baik. Juga tidak perlu cemas jika tidak terampil berbicara, anda dapat turut bersukacita saat melihat kemurahan hati orang lain, saat orang lain berbicara yang baik, dan saat orang lain melakukan perbuatan baik. Pahala kebajikan dari semua perbuatan ini adalah sama. Bagaimana dengan pemberian Dharma? Kepada orang yang

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

117

tidak paham akan Dharma, babarkan Dharma dan berikan pemahaman kepadanya, bagikan pengetahuan dan ajarkan keterampilan, sehingga tidak hanya dapat meningkatkan kehidupan orang tersebut, tetapi juga dapat mengembangkan kebijaksanaannya. Pada gilirannya, mereka akan menguntungkan lebih banyak orang. Akan tetapi, kebanyakan orang bisa menerima pemberian berupa materi, namun tidak setiap orang bersedia menerima pembabaran dan prinsip-prinsip dasar Dharma yang diberikan kepada mereka. Dana dalam bentuk keberanian adalah agar orang jangan takut dan khawatir. Misalnya, saat bertemu seseorang yang ditindas, anda berinisiatif maju dan berkata, “Jangan khawatir, ada saya di sini, saya datang untuk membantumu!” Bertindak atas dasar kebenaran membuat orang tidak merasa takut. Ini adalah dana dalam bentuk keberanian. Umpamakan saya bertanya, “Apakah kegiatan berdana itu untuk memberi orang lain? ataukah sebenarnya untuk memberi diri sendiri?" Berdana tampak seperti memberi kepada orang lain. Pada kenyataannya, penerima manfaat sesungguhnya adalah diri sendiri. Hal ini sama seperti menabur benih di ladang, di masa mendatang yang akan menuai tentu saja adalah penabur itu sendiri. Berdana seperti sebuah metafora dalam Sutra Buddhis. Sebutir benih pohon beringin ditanam, setelah tumbuh besar menghasilkan puluhan juta buah. Maka, berdana memiliki manfaat "Menanam satu dan menuai sepuluh, menanam sepuluh dan menuai seratus.” Berdana juga seperti menimba air di sumur yang dalam. Semakin anda bersedia menimba air dan membaginya dengan orang-orang, baik untuk irigasi atau minum, air di sumur akan terus mengalir. Inilah yang dimaksud dengan “Bersedia dan tersedia.” Bisa untuk melepas, baru bisa untuk mendapatkan. Melalui praktek

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

118

berdana, ketamakan di dalam diri dapat dilepas, jalinan jodoh baik diperluas, dengan sendirinya akan mendapatkan kebahagiaan Dharma dan rasa lepas bebas yang tiada batas. Dalam kehidupan, janganlah dibutakan oleh emas dan perak. Pemberian yang jauh lebih berharga dari emas dan perak adalah memberi kehangatan dan menjalin jodoh baik dengan orang-orang. Berdana tidak sepenuhnya didasarkan pada uang. Anda dapat memberikan kegembiraan kepada orang lain dengan mengatakan hal-hal yang baik untuk memuji orang lain, ber welas asih, memberikan anggukan kepala kecil kepada orang saat berpapasan, memberi sapaan sederhana, dan memberi uluran tangan untuk membantu. Hal-hal ini membentuk jalinan jodoh. Kehangatan dan keindahan dalam kehidupan ini jauh lebih bermakna daripada pemberian uang.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

Oleh karena itu, semoga semuanya tidak takut menerima Sila. Kita harus menjaga Sila, seperti melindungi bola mata. Makna sejati dari menaati Sila dimulai dari tidak melanggar hak orang lain dan kemudian berkembang menjadi lebih menghargai dan melindungi semua makhluk.

— “Sila”

119

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

120

Sila

Dalam masyarakat banyak orang sering merasa sangsi saat mendengar tentang Sila dalam agama Buddha. Mereka pada umumnya mengira “berpegang teguh pada Sila” berarti seseorang tidak bisa melakukan ini dan itu, apa pun yang dilakukan akan terikat pada batasan Sila, sangat tidak bebas. Oleh sebab itu, ada orang yang pada awalnya berniat untuk belajar Dharma, namun sekali mendengar tentang Sila langsung menarik diri, berpikir bahwa “Sebaiknya saya tidak usah beragama Buddha. Jangan sampai setelah belajar Dharma, hidup semakin banyak batasan, menambah banyak ketidaknyamanan dan kesulitan.” Sebenarnya, berpegang teguh pada Sila tidak membatasi kita. Sebaliknya, memungkinkan kita untuk memperoleh kebebasan fisik dan spiritual yang sejati. Bahkan jika seseorang tidak berikrar Sila, tetapi dirinya membunuh, mencuri, berdusta, bertindak asusila, menggunakan obat-obatan terlarang, dan lain-lain. Tindakan-tindakan ini tidak hanya melanggar lima Sila dasar agama Buddha, tetapi juga melanggar hukum pidana dan standar moral dalam masyarakat. Pasti akan mendapatkan sanksi hukum dan hilangnya kebebasan.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

121

Bahkan jika lolos dari tuntutan hukum secara kebetulan, orang tersebut tidak akan lepas dari hukum karma, karena perbuatan yang tidak baik, pasti mendapatkan akibat yang tidak baik. Hukum sebab akibat ini adalah hakim teradil dalam kehidupan. Dengan demikian, tidak menaati Sila sama dengan tidak mematuhi hukum. Melanggar hukum Negara akan dipenjara dan kebebasan menjadi hilang. Sebaliknya, jika semua orang dapat menaati Sila dan mematuhi hukum, tidak hanya tidak perlu khawatir dipenjara, bahkan “tidak melakukan perbuatan buruk dalam kehidupan sehari-hari, tengah malam pintu diketuk tidaklah takut”. Tidak melakukan perbuatan buruk dalam kehidupan sehari-hari, tubuh dan pikiran tidak akan memiliki ketakutan apa pun, sehingga dapat menikmati kedamaian dan kebahagiaan sejati dalam kehidupan. Meskipun ada yang khawatir bahwa setelah berikrar Sila akan sulit untuk tidak melanggarnya. Namun bila tidak berikrar Sila, apakah tidak perlu khawatir tentang konsekuensi dari melanggar Sila? Coba renungkan, tidak berikrar Sila, apakah langsung boleh membunuh orang? Tidak berikrar Sila, apakah langsung boleh mencuri, melecehkan, bergosip, berperilaku tidak senonoh, serta membiarkan tubuh dan pikiran anda kacau? Tentu saja tidak! Jadi jangan menunggu sampai terjadi pelanggaran hukum dan mendapat sanksi pidana baru sadar bahwa telah melanggar Sila. Pada saat itu terjadi, sudah terlambat untuk menyesal. Lebih baik berikrar Lima Sila terlebih dahulu dan mengembangkan pola pikir untuk mencegah perbuatan yang tidak baik, sehingga secara otomatis tidak mudah untuk melakukan kesalahan. Bahkan jika melanggar Sila, karena memiliki rasa penyesalan dan kesadaran untuk bertobat, orang yang berikrar Sila memiliki lebih banyak kesempatan untuk memperbaiki diri dan

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

122

berubah menjadi lebih baik dibandingkan dengan yang tidak berikrar Sila. Namun, setelah berikrar Sila, untuk sungguh-sungguh melanggar Sila tidaklah mudah. Hal ini dikarenakan Sila memiliki tingkatan ringan dan berat. Satu jenis pelanggaran Sila yang sangat berat dikenal sebagai parajika, yang berarti “tidak dapat diselamatkan”. Misalnya dalam pembunuhan, hanya pembunuhan manusia yang dapat dikategorikan sebagai pelanggaran parajika. Pelanggaran ini tidak bisa teratasi dengan penyesalan. Kebanyakan orang juga tidak mudah untuk melanggar Sila ini. Ada juga jenis pelanggaran ringan yang dikenal sebagai duskrta. Dalam kehidupan sehari-hari tidak sengaja membunuh nyamuk, kecoa, atau tikus adalah pelanggaran dusktra, masuk dalam kategori perbuatan tidak baik. Meskipun tetap merupakan pelanggaran, asalkan ada penyesalan, pelanggaran ini dapat diringankan melalui pertobatan dan introspeksi diri, sehingga rasa bersalah dapat berkurang. Menaati Sila dapat dikatakan sebagai landasan dari segenap praktek kebajikan dan juga adalah akar dari segenap pelatihan spiritual. Sila tidak untuk dilantunkan, tetapi untuk dipraktekkan. Singkatnya, dalam kehidupan sehari-hari “berbuat baik, berucap baik dan berpikir baik” dari waktu ke waktu adalah untuk memurnikan tiga karma. Inilah aktualisasi dari apa yang dimaksud dengan “jangan melakukan kejahatan, perbanyaklah semua perbuatan baik dan sucikan pikiran sendiri” dari “Pesan Moralitas dari Tujuh Buddha.” Begitu juga dengan “memperlakukan orang lain dengan baik”, selalu mempertimbangkan orang lain, serta menyadari kebenaran “sebab akibat” dalam segala kehidupan sehari-hari adalah cara menaati Sila. Esensi Sila adalah agar kita tidak melanggar hak orang lain. Oleh karena itu, dalam Lima Sila, berarti menahan diri dari

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

123

membunuh adalah untuk tidak melanggar hak orang lain untuk hidup. Menahan diri dari mencuri berarti tidak melanggar hak milik orang lain. Menahan diri dari perbuatan asusila berarti tidak melanggar tubuh dan integritas orang lain. Menahan diri dari berbohong berarti tidak melanggar reputasi dan kepercayaan orang lain. Menghindari minuman yang memabukkan berarti tidak melanggar kebijaksanaan dan kesejahteraan diri sendiri dan orang lain. Dapat dikatakan bahwa Sila adalah guru yang membimbing kita tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Sila seperti benteng perlindungan yang menjaga keselamatan kita. Sila seperti sebuah buku kebajikan yang membuat kita meningkatkan moral dan penguasaan diri, sehingga orang lain merasa senang untuk berada dekat dengan kita. Sila ibarat pondasi untuk membangun istana. Tanpa perlindungan Sila, sulit bagi seseorang untuk bertahan dari badai dan guncangan kuat dalam kehidupan. Oleh karena itu, semoga semuanya tidak takut menerima Sila. Kita harus menjaga Sila, seperti melindungi bola mata. Makna sejati dari menaati Sila dimulai dari tidak melanggar hak orang lain dan kemudian berkembang menjadi lebih menghargai dan melindungi semua makhluk.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

Kesabaran bukan berarti secara pasif berkompromi atau menahan amarah, kesabaran adalah toleransi yang baik dan penuh kasih terhadap orang lain. Mereka yang melatih kesabaran dan welas asih benar-benar memahami bahwa semua adalah setara dan memahami bahwa “mengatasi perselisihan dengan perselisihan, akan tiada akhirnya, tetapi mengatasi perselisihan dengan kesabaran, adalah ajaran yang mulia”

— “Kesabaran”

124

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

125

Kesabaran

Dalam hidup kita, kesabaran adalah perilaku terpenting dari seseorang. Kurangnya kesabaran antara pasangan suami istri menyebabkan perceraian, kurangnya kesabaran di antara teman menyebabkan permusuhan dan kurangnya kesabaran di tempat kerja menyebabkan keinginan untuk mengundurkan diri dan akhirnya menjadi pengangguran. Disebutkan dalam sutra bahwa “Mereka yang tidak dapat menerima fitnahan, kritikan bagaikan minum embun, tidaklah dapat disebut sebagai orang yang kuat.” Kebanyakan orang berpikir bahwa kesabaran berarti tidak membalas saat dipukul, tidak melawan saat dimarahi, yang mana melambangkan kepengecutan dan kelemahan. Namun sebenarnya, kesabaran adalah suatu bentuk kekuatan, suatu bentuk kebijaksanaan, yang mengandung makna berkesadaran, penerimaan, bertanggung jawab dan menyelesaikan. Ketika dikritik seseorang, jika tidak dapat menahan diri maka akan terjadi perselisihan, ketika merasa dirugikan, jika tidak rela maka akan menuntut balas dendam. Jika terhadap seseorang, suatu masalah, harta benda, kita tidak memiliki sedikit saja kekuatan, tidak dapat bertanggung jawab, tidak dapat menerimanya, hidup tanpa kesabaran, apakah akan bahagia? Terkadang kesabaran bukan hanya untuk diri sendiri, tapi demi kepentingan orang lain.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

126

Jika membawa manfaat bagi orang lain, meski kita merasa dirugikan, tetap harus bersabar, jika tidak membawa manfaat bagi orang lain, meski telah mengorbankan diri sendiri, juga tidak perlu dipermasalahkan. Ada sebuah cerita: Umat datang ke vihara untuk berdoa, memiliki kebiasaan untuk membunyikan gong, mempersembahkan dupa dan bunga. Suatu hari, si gong besar yang terbuat dari perunggu sangat tidak senang dan memprotes kepada rupang Buddha yang juga terbuat dari perunggu, “Oh, Buddha! Anda dan saya sama-sama terbuat dari perunggu, mengapa para umat bersujud kepada-Mu, lalu mempersembahkan bunga dan lilin. Bukan saja saya tidak mendapat perlakuan yang sama, mereka bahkan memukul saya dan berkata bahwa, ”Bersujud kepada Buddha tanpa membunyikan gong, maka Buddha tidak akan mendengar”. Hal ini membuat saya benar-benar tidak dapat menerimanya.” Hyang Buddha mendengarkan dan menjawab, “Oh, gong besar! Kamu jangan merasa tidak adil, tidak dapat menerimanya. Jika mengingat hari ketika saya ditempa, pada saat kepala terlihat tidak rata, para pengrajin memukul dan memalu kepala saya supaya terlihat rata. Pada saat telinga terlihat terlalu panjang atau terlalu pendek, mereka menggali dan memotong telinga saya. Saya telah mengalami banyak pukulan dan ketukan dan setelah begitu banyak kesulitan dan perbaikan, maka terbentuklah sebuah rupang Buddha yang dihormati banyak orang. Semua kemuliaan ini hasil dari kesabaran. Karena hasil berkah kesabaran itulah, yang membuat orang-orang bersedia datang bersujud kepada Saya! Sebaliknya kamu, gong besar, tidak tahan pukulan orang, sedikit saja tidak dapat menahan sama sekali, orang memukul kamu sekali saja, kamu sudah berdengung / berteriak [ongong….]. Tentu saja, kita akan diperlakukan secara berbeda!”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

127

Suatu hari, seorang tuan bernama Wang Yang Ming membawa murid-muridnya berkarya wisata dan di tengah jalan mereka melihat dua wanita sedang berselisih. Yang satu memarahi, "Kamu tidak punya hati nurani." Yang lain memarahi, "Kamu yang tidak punya akal." Tuan Wang Yang Ming mendengarnya lalu berkata kepada murid-muridnya, “Mari-mari! Kalian dengarkan, di sini sedang ada pelajaran, ada pengajaran! Ketika para siswa mendengarnya lalu bertanya, “Guru! Mana ada pengajaran? Mereka sedang saling memarahi!” Tuan Wang Yang Ming menjawab, “Menuntut orang lain berarti mencaci-maki mereka, menuntut diri sendiri berarti berprinsip.” “Kesabaran yang sesaat akan membawa ketenangan dan perdamaian, setapak langkah mundur akan membuka dunia yang lebih besar.” Dalam latihan kesabaran, jika dicaci-maki oleh orang lain. Ada kalanya seseorang dicaci-maki oleh orang lain. Saya tidak akan marah kembali, walau saya tidak tahan dengan perlakuan ini, terus apa yang harus saya lakukan? Pada awalnya, walaupun kemarahan masih terlihat di wajah, setidaknya yang bisa dilakukan adalah menahan ucapan agar tidak membalas dengan kata-kata permusuhan, caci-maki atau kritikan. Selanjutnya, saat kesabaran meningkat, pada saat ditindas, dikritik atau mengatakan hal-hal yang buruk tentang kita, meskipun hati tidak senang, namun wajah tetap tersenyum. Pada akhirnya, ketika ditindas atau diserang, seseorang dapat tetap tenang dalam ucapan, fisik dan mental, bahkan tidak membandingkan, tidak perhitungan, tetap tenang dalam menghadapinya, dengan demikian tercapailah kesabaran tertinggi. “Wajah tanpa kemarahan adalah sebuah persembahan. Mulut yang tidak mengatakan kemarahan sangatlah harum dan segar.” Selalu tersenyum adalah suatu bentuk persembahan. Mulut tidak

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

128

mengeluarkan kata-kata buruk, banyak berkata baik, orang-orang baru akan menghormati anda. Kalau kita bertanya: Kesabaran adalah bentuk keuntungan atau kerugian? Jawabannya tentu saja keuntungan, bukan kerugian. Kesabaran mungkin terlihat seperti merendahkan diri sendiri, tetapi tidak lah demikian. Melalui kesabaran dapat meningkatkan jalinan jodoh antar individu, kebijaksanaan, kasih sayang dan kekuatan seseorang. Manfaat dari melatih kesabaran sungguh tiada bandingannya. Kesabaran bukan berarti secara pasif berkompromi atau menahan amarah, kesabaran adalah toleransi yang baik dan penuh kasih terhadap orang lain. Mereka yang melatih kesabaran dan welas asih benar-benar memahami bahwa semua adalah setara dan memahami bahwa “mengatasi perselisihan dengan perselisihan, akan tiada akhirnya, tetapi mengatasi perselisihan dengan kesabaran, adalah ajaran yang mulia.” Sehingga melihat segala sesuatu apa adanya, dapat menerima ketidak sepakatan dengan hati yang toleran, tidak membanding-bandingkan serta perhitungan. Maka dari itu, segala sesuatu di dunia ini, baik yang masuk akal atau tidak, bisa menjadi tambahan pahala kebajikan kita. Ini lah manfaat terbesar dari latihan kesabaran.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

Jadi, apakah ketekunan itu sulit atau menyenangkan? Kelihatannya ketekunan adalah hal yang sulit, namun kenyataannya adalah menyenangkan.

— “Ketekunan”

129

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

130

Ketekunan

Apakah ada orang yang sukses tanpa melalui kerja keras? Anda menyukai kemudahan dan kenyamanan, membenci pekerjaan melayani, meskipun uang jatuh dari langit sekalipun, ia tidak akan mendapatkannya karena telah diambil orang lain. “Menuai apa yang ditabur” adalah hukum sebab dan akibat yang tidak dapat berubah dan selalu berlaku. Seperti kata pepatah "Ketekunan akan membawa keberhasilan, hanya dengan sifat bermain-main saja tidak akan membawa hasil apa pun.” Kerja keras dan ketekunan adalah penangkal kelengahan (keengganan) dan kemalasan. Kemalasan merupakan kejenuhan/kelelahan terhadap suatu hal, yang merupakan penyakit setiap orang dalam hidupnya. Disebutkan bahwa, “Jika orang awam malas, maka mereka kehilangan segala keuntungan duniawi. Jika para anggota Sangha malas, mereka kehilangan Permata Dharma.” Oleh karena itu, ketekunan adalah kunci kesuksesan dalam hidup. Tentu saja, ketekunan merupakan perilaku yang baik dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, baru dapat disebut sebagai usaha benar. Menurut sutra Buddhis, ada empat jenis usaha benar:

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

1. 2. 3. 4.

131

Mencegah hal tidak bajik yang belum muncul. Melenyapkan hal tidak bajik yang telah muncul. Menumbuhkan kebajikan yang belum muncul. Meningkatkan kebajikan yang telah muncul. Artinya, perbuatan dan pikiran buruk yang belum muncul, cegahlah dengan menggunakan kebijaksanaan, jangan biarkan muncul; perbuatan buruk yang telah dilakukan, dengan penuh keberanian bertobat untuk melenyapkannya; pikiran bajik, perbuatan bajik yang belum dilakukan, dengan keberanian dan keteguhan hati haruslah dikembangkan; perbuatan dan pikiran bajik yang sudah ada, pertahankanlah agar dapat terus tumbuh berkembang. Singkat kata, seseorang harus bekerja keras dan tekun dalam menghindari kejahatan dan mengembangkan kebajikan. Janganlah lengah dan bersantai hati (meremehkan). Misalnya di Vihara, para anggota Sangha akan memukul mùyú (木魚- salah satu perlengkapan puja bakti Mahayana yang berbentuk ikan dan terbuat dari kayu) saat kebaktian pagi dan malam. Apa alasannya? Karena, ikan tidak pernah memejamkan matanya baik siang maupun malam. Dalam agama Buddha, hal ini melambangkan keberanian dan ketekunan para anggota Sangha dalam melatih diri. Ketika memukul atau melihat mùyú, hendaknya dapat merenungkan secara mendalam tentang ketekunan seekor ikan dan meneladaninya. Seperti yang dikatakan dalam sutra Buddhis: Satu hari telah berlalu, usia juga telah berkurang sehari; bagaikan ikan yang kekurangan air, apakah masih bisa berenang dengan gembira?; Orang-orang hendaknya rajin dan tekun berlatih, layaknya memadamkan api yang terbakar di kepala,

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

132

sangat genting; hati dan pikiran hendaknya hanya memikirkan ketidakkekalan, janganlah lengah dan memanjakan diri. Bait ini berguna untuk menasihati sekaligus juga untuk mendorong semua orang untuk rajin melatih diri dan tidak membiarkan waktu berlalu dengan sia-sia. Dalam agama Buddha, ada banyak Bodhisattva dengan nama seperti “Bodhisattva yang Tidak Pernah Istirahat Anikṣiptadhura Bodhisattva” (不休息菩薩 - Bù Xiū Xí Pú Sà) dan “Bodhisattva yang Tekun” Nityodyukta Bodhisattva (常精進菩 薩 - Cháng Jīng Jìn Pú Sà). Dimana juga sebagai pengingat bagi para praktisi Dharma untuk tidak malas dan lengah, seharusnya terus tekun berlatih. Sama halnya seperti Bodhisattva Avalokitesvara yang berkelana ke seluruh alam dunia, Bodhisattva Ksitigarbha yang menyelamatkan semua makhluk di alam neraka, bahkan para guru di masa lalu dengan rela telah bekerja tanpa lelah dan sepenuh hati bekerja demi semua makhluk. Semua Bodhisattva, mereka juga demi memenuhi ikrar mereka dengan tekun tanpa henti, rela memberikan jiwa raga mereka. Pada masa lalu, Kaisar Yongzheng dari Dinasti Qing sangat mengagumi Master Yulin—guru Kaisar Kangxi, sayangnya beliau telah wafat. Setelah mencari ke segala penjuru, akhirnya menemukan salah satu penerusnya; tetapi Kaisar sangat kecewa saat bertemu dengannya, penampilannya biasa, perkataannya tidak dapat dipahami, tidak memahami ajaran Chan secara mendalam. Merasa sangat kecewa, Kaisar Yongzheng menegur Anggota Sangha itu sebagai aib bagi leluhur Dharmanya, dan kemudian mengurung Anggota Sangha itu di sebuah ruangan. Kaisar menggantungkan pedang di atas pintu, dan memaksanya untuk segera mencapai

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

133

pencerahan dalam waktu tujuh hari atau akan dipenggal. Ditempatkan dalam pilihan hidup dan mati, Anggota Sangha itu melatih diri dengan tekun dan akhirnya tercerahkan. Oleh karena itu, ketekunan dapat mendorong perbuatan baik, dan yang berkaitan dengan pahala kebajikan. Dalam Enam Parami, jika kekurangan Parami Ketekunan, maka Lima Parami lainnya tidak akan tercapai kesempurnaan Parami-nya. Menurut Risalah Kesempurnaan Agung dari Kebijaksanaan (Mahāmati), ketekunan adalah akar dari semua kebajikan; yang membangkitkan semua Dharma, dan akhirnya mengarah pada pencapaian Ananuttara Samyak Sambodhi. Jadi, apakah ketekunan itu sulit atau menyenangkan? Kelihatannya ketekunan adalah hal yang sulit, namun kenyataannya adalah menyenangkan. Seperti yang tertulis dalam buku Sebuah Inspirasi untuk Membangkitkan Pikiran Bodhi, “Berlatihlah dengan tekun saat ini, maka akan mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan selamanya; kelengahan adalah kemudahan dan kenyamanan yang didapatkan sesaat, yang akan menyebabkan penderitaan di banyak kehidupan.”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

134

Seseorang memiliki budi daya dan keterampilan meditasi, pikiran orang itu akan sangat damai dan tidak akan terpengaruh oleh perkataan orang lain, atau gejolak apapun yang terjadi dalam kehidupan.

— “Meditasi”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

135

Meditasi

Dalam agama Buddha sering mengajarkan orang untuk "mengendalikan keenam indera" dan "mengontrol dan menjaga pikiran"; Konsentrasikan pikiran atau fokus pada satu objek, ini bisa dikatakan sebagai praktik meditasi. Apakah meditasi Chan adalah sesuatu yang aktif atau pasif? Tentu saja meditasi adalah sesuatu yang aktif. Banyak orang berpikir bahwa cara untuk mencapai konsentrasi dalam meditasi adalah dengan duduk tenang mengamati pikiran, dan gerakan akan menghambat latihan meditasi. Namun, duduk meditasi hanyalah sebuah proses dan metode yang membantu memunculkan konsentrasi dalam meditasi dan kebijaksanaan. Arti sebenarnya Chan adalah tentang kehidupan; baik itu mengambil kayu atau membawa air, minum teh atau makan makanan; berjalan, duduk, atau berbaring; berbicara, diam, dan bahkan mengangkat alis atau mengedipkan mata, semua ini mewujudkan Chan. Chan adalah kepercayaan diri dan suatu sikap yang tidak terpengaruh oleh semua fenomena kehidupan; Chan juga seperti humor ketika menghadapi permasalahan. Suatu ketika, saat berlangsung diskusi antara Master Chan Zhaozhou dan muridnya Wenyuan, ada seorang umat datang dan mempersembahkan sepotong biskuit. Zhaozhou bertanya, "Siapa di

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

136

antara kita berdua yang akan memakan biskuit ini?" "Tentu saja Anda, Guru!" kata murid itu. "Itu tidak adil," kata Zhaozhou. “Kenapa kita tidak bertaruh. Kita bertaruh untuk kalah, bukan untuk menang. Orang yang kalah mendapat biskuit.” “Apa taruhannya, Guru?” “Siapapun yang merendahkan dirinya dengan cara yang paling rendah, dialah pemenangnya.” "Silahkan Anda mulai, Guru." Zhaozhou memulai, "Saya adalah seekor keledai." Wenyuan terkejut saat gurunya membandingkan dirinya tidak hanya dengan seekor binatang tetapi dengan seekor keledai. Setelah merenung dalam-dalam, dia menjawab “Saya adalah bagian belakang keledai itu.” "Saya adalah kotoran di bagian belakang keledai." Wenyuan segera menjawab, "Saya adalah belatung di dalam kotoran." Zhaozhou tidak bisa memikirkan perbandingan yang lebih buruk dari itu, jadi dia bertanya, "Apa yang sedang dilakukan belatung sepertimu di dalam kotoran?" “Hanya bersantai.” "Bersantai di kotoran" adalah Chan. Di zaman sekarang ini, tinggal di gedung bertingkat dengan sofa dan AC masih menjadi ketidaknyamanan bagi sebagian orang, tetapi Master Chan dapat bersantai di kotoran! Bukankah ini pengendalian diri dan kenyamanan yang sempurna? Ada seseorang bertanya kepada seorang Master Chan, “Bagaimana Anda melatih diri?” “Saya makan dan tidur setiap hari.” "Begitu juga saya makan dan tidur setiap hari, jadi saya juga sedang melatih diri?" "Oh tidak. Anda makan dan tidur berbeda dengan saya. Semua yang saya makan rasanya enak, dan saya langsung tertidur begitu berbaring di tempat tidur. Makan dengan baik, tidur dengan nyenyak. Sedangkan, Anda memilih-milih makanan, dan gelisah dalam tidur. Bagaimana itu bisa disebut melatih diri?” Chan tidak dikhususkan hanya untuk agama Buddha atau

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

137

individu mana pun. Chan milik siapa? Chan adalah harta yang ada di dalam diri setiap orang. Tujuan berlatih Chan adalah untuk membangkitkan semangat Chan di dalam diri setiap orang. Jika seseorang dapat menerapkan semangat Chan dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat menjadi fleksibel dan bijaksana dalam menyelesaikan urusan sehari-hari. Semangat Chan yang menakjubkan seperti menambahkan sejumput garam ke dalam hidangan yang membuat rasanya lebih nikmat; seperti lukisan di ruang tamu, dapat mempercantik lingkungan; atau seperti bunga mekar yang menambah warna pada kehidupan. Jika anda dapat menemukan pikiran Chan anda sendiri, maka kehidupan, tindakan, atau ucapan anda akan berbeda. Chan hanya bisa direalisasi, bukan dipelajari juga bukan dipahami dari pengetahuan. Chan harus dipraktikkan dan dialami dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang memiliki budi daya dan keterampilan meditasi, pikiran orang itu akan sangat damai dan tidak akan terpengaruh oleh perkataan orang lain, atau gejolak apapun yang terjadi dalam kehidupan. Oleh karena itu, dengan semangat Chan, seseorang bisa merasa nyaman di mana saja. Dengan semangat Chan, seseorang tidak akan mendebatkan urusan kekuasaan, atau ketenaran duniawi. Bagaimana Chan dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari? Dengan fokus dan berkonsentrasi pada satu hal pada satu waktu, fokus penuh pada setiap tugas yang ada, dan bersikap baik kepada orang lain. Suatu hari, pencerahan dapat dicapai. Oleh karena itu, Praktisi Chan harus menggali makna Chan yang ada dalam diri mereka. Dengan adanya Chan, anda dapat merasakan kehidupan akan damai, nyaman, dan selaras dengan segalanya.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

138

Dengan Kebijaksanaan – Prajna seorang Bodhisattva dapat dengan senang hati memberi tanpa melekat pada pengertian kedermawanan; menjunjung tinggi sila tanpa melekat pada bentuknya; sabar tanpa melekat pada keakuan; rajin tanpa menimbulkan kesombongan; dan mempraktikkan meditasi tanpa melekat pada Samadhi.

— “Kebijaksanaan – Prajna”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

139

Kebijaksanaan - Prajna

Kebijaksanaan – Prajna dianggap sebagai “mata batin” dari enam kesempurnaan (Sad Paramita). Seperti yang disebutkan dalam sutra, “lima Paramita pertama adalah seperti orang buta dan Paramita yang keenam ini adalah pemandunya”, demikianlah kita dapat melihat betapa pentingnya Prajna ini. Apakah Kebijaksanaan – Prajna dapat dicari secara internal atau eksternal? Ketika anda mencari pengetahuan ilmu tentang ilmiah, filosofis dan lainnya, selalu akan berpendapat dengan filsafat, bukan menggunakan Kebijaksanaan - Prajna yang tercerahkan ke dalam berasal dari dalam diri (internal). Kebijaksanaan – Prajna adalah pembuktian untuk mencapai pencerahan batin. Dengan melalui“pandangan benar bahwa semua fenomena bergantung pada sebab musabab dan oleh karena itu pada hakekatnya adalah kosong”, yang pada akhirnya akan membawa kita pada munculnya kebijaksanaan yang lengkap dan sempurna, baik secara internal maupun eksternal. Hidup dengan Kebijaksanaan –Prajna membantu menghilangkan konflik antar pribadi dan memungkinkan kita terbebas dari kebodohan batin dan penderitaan. Kebijaksanaan – Prajna adalah tahap pencerahan yang mendalam dan menakjubkan yang dicapai oleh semua Buddha.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

140

Agar lebih mudah dapat dipahami oleh semua orang, secara sederhana, Kebijaksanaan – Prajna dapat dibagi menjadi empat tingkatan, yaitu: (1) Pandangan Benar: Kebijaksanaan sebagaimana dipahami oleh manusia; (2) Sebab Musabab yang Saling Bergantungan: Kebijaksanaan sebagaimana dipahami oleh Dua Kendaraan—Sravaka dan Pratyekabuddha; (3) Kekosongan: Kebijaksanaan yang dicapai oleh para Bodhisattva; dan (4) Prajna: Kebijaksanaan sejati yang hanya dicapai oleh para Buddha dari tiga periode masa. Dengan kata lain, Kebijaksanaan – Prajna hanya dapat benar-benar dipahami setelah pencapaian ke-Buddha-an. Sutra Hati Prajna Paramita menyatakan bahwa, “Bodhisattva Avalokitesvara, ketika merenungkan Prajna – Paramita secara mendalam, menyadari bahwa Panca Skandha adalah kosong”. Ini adalah pencerahan, adalah Kebijaksanaan Prajna. Kebijaksanaan – Prajna ini berbeda dari kebijaksanaan biasa, dan tidak bisa disamakan dengan ilmu pengetahuan. Karena kebijaksanaan, pengetahuan biasa memandang segala sesuatu sebagai baik atau buruk, benar atau salah, dan bermanfaat atau merugikan. Seseorang dengan Kebijaksanaan – Prajna memiliki pandangan benar yang lengkap. Mereka tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal eksternal, sehingga tidak akan menimbulkan kekotoran batin, menciptakan tindakan karma negatif, atau menderita sebagai akibatnya. Oleh karena itu, jika pandangan seseorang tentang dunia benar, maka ia memiliki Kebijaksanaan – Prajna umat awam. Para bijaksana seperti Sravaka dan Pratyekabuddha memandang dunia sebagai sebab musabab yang saling bergantungan. Hal ini berarti bahwa semua fenomena terkondisi di dunia ini tidak muncul dari ketiadaan, dan tidak dapat eksis sebagai entitasnya sendiri. Kemunculan dan keberadaan fenomena-fenomena tersebut muncul dari perpaduan berbagai sebab dan kondisi.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

141

Oleh karena itu, jika anda ingin menjalani kehidupan yang bahagia, anda harus mengembangkan sebab dan kondisi yang baik; jika anda ingin memiliki hubungan yang harmonis, anda harus memperluas jalinan hubungan yang baik dan memperbaiki jodoh karma yang baik, daripada hanya peduli pada akibat yang harus diterima, mengeluh pada nasib atau menyalahkan orang lain, ini hanya akan menjebak diri ke dalam sirkulasi kebodohan batin dan penderitaan. Kebijaksanaan - Prajna yang dipahami oleh para Bodhisattva adalah "konsep kekosongan", kekosongan adalah sifat sejati seseorang, apa yang disebut “keberadaan yang menakjubkan muncul dari kekosongan sejati”. Karena dengan adanya kekosongan baru bisa munculnya keberadaan. Segala sesuatu di alam semesta dan di dunia ini dapat menjadi ada karena kekosongan. Misalnya, dompet seseorang harus kosong untuk dapat menyimpan uang. Lubang hidung seseorang harus kosong untuk bernafas. Perut dan usus seseorang perlu dikosongkan untuk memastikan kehidupan sehat yang berkelanjutan. Jika seseorang bisa mengerti pandangan benar, sebab musabab yang saling bergantung, dan kekosongan, ini juga sangat tidak mudah dipahami. Bahkan lebih sulit lagi untuk memahami Kebijaksanaan - Prajna. Sebenarnya, apakah yang dimaksud Kebijaksanaan – Prajna itu? Prajna adalah “pencerahan atas kebijaksanaan yang sempurna” yang dicapai oleh semua Buddha melalui realisasi bentuk sejati dari semua fenomena. Prajna adalah “kebijaksanaan murni tanpa diskriminasi” — tanpa emosi atau pikiran yang penuh delusi. Prajna adalah“kebijaksanaan sejati dan tanpa bentuk” - yang merupakan realisasi langsung dari sifat intrinsik kekosongan yang mana tidak mengacu pada pencapaian apapun.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

142

Kebijaksanaan – Prajna tidak hanya menuntun seseorang untuk benar-benar sadar akan bentuk sebenarnya dari semua fenomena tetapi juga menyingkirkan salah satu dari semua delusi, ketika Bodhisattva menjalankan keenam Paramita, Ia akan mengambil Kebijaksanaan – Prajna sebagai mata-Nya, dengan Kebijaksanaan – Prajna seorang Bodhisattva dapat dengan senang hati memberi tanpa melekat pada pengertian kedermawanan; menjunjung tinggi sila tanpa melekat pada bentuknya; sabar tanpa melekat pada keakuan; rajin tanpa menimbulkan kesombongan; dan mempraktikkan meditasi tanpa melekat pada Samadhi. Prajna adalah panduan yang diikuti oleh lima Paramita lainnya; tanpa lima Paramita lainnya akan menjadi buta. Dengan kata lain, lima Paramita yang pertama adalah praktik Dharma duniawi; hanya dengan memasukkan Kebijaksanaan –Prajna baru akan menjadi praktik Dharma sejati. Sebagai contoh, mempraktikkan kedermawanan dengan Kebijaksanaan – Prajna memungkinkan seseorang untuk menyadari kekosongan dari Tiga Aspek Berdana (yaitu pemberi, penerima, dan apa yang diberikan). Menjunjung tinggi Sila dengan Kebijaksanaan – Prajna memungkinkan seseorang untuk memberi manfaat bagi semua makhluk hidup. Memiliki kesabaran dengan Kebijaksanaan – Prajna menuntun seseorang untuk menyadari kesabaran dari Dharma yang tidak muncul. Sifat rajin ditambah dengan Kebijaksanaan – Prajna dapat memberdayakan seseorang untuk maju tanpa lelah. Mempraktikkan konsentrasi meditasi dengan Kebijaksanaan – Prajna menuntun seseorang untuk menyadari dan membangkitkan ke-Buddha-an. Untuk mencapai pembebasan melalui lima Paramita pertama, seseorang harus berlatih dengan berpegang pada makna “tanpa pencapaian” (tidak melekat) —dengan kata lain, Kebijaksanaan - Prajna.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

143

Praktik Enam Paramita secara keseluruhan, meliputi: 1. Praktik kedermawanan: tidak hanya mengatasi keserakahan, tetapi juga memberi manfaat kepada orang lain. 2. Praktik disiplin: tidak hanya mencegah bahaya – diri sendiri, tetapi juga orang lain. 3. Praktik kesabaran: tidak hanya mengatasi kebencian, tetapi juga tidak akan merugikan orang lain karena kebencian. 4. Praktik ketekunan: tidak hanya mengatasi kemalasan, tetapi juga mengajarkan orang lain untuk tidak malas. 5. Praktik meditasi: tidak hanya mengatasi pikiran yang tercerai-berai dan terganggu, tetapi juga mengajarkan orang lain untuk tidak terganggu dan tidak fokus. 6. Praktik kebijaksanaan (Prajna): tidak hanya mengatasi kebodohan batin dan pandangan salah, tetapi juga mengajarkan orang lain untuk mengatasi kebodohan batin dan pandangan keliru. Oleh karena itu, Enam Paramita adalah praktik positif para Bodhisattva. Makna dibalik praktik ini sangatlah dalam, karena membantu seseorang untuk menegakkan Dharma yang bajik dalam kehidupan, mempertahankan semangat yang terus-menerus untuk belajar dalam kehidupan, dan akhirnya mencapai kesempurnaan yang tertinggi.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

144

Siapakah Ibu dari Hyang Buddha?

Sepanjang kehidupan, kita dibesarkan dari "berbagai" orang tua: "Orang tua yang melahirkan dan membesarkan kita (orang tua biologis)" adalah saat kita lahir, menjaga kita, dan mendidik kita. "Orang tua yang memberi makanan dan pakaian" adalah petani, pengrajin dan pedagang yang menyediakan kebutuhan sehari-hari; Guru bagaikan orang tua adalah teman yang bijaksana berbudi luhur memberi bimbingan pengetahuan yang baik dan semangat kepemimpinan. Bumi bagaikan orang tua adalah yang memberi rezeki dan kehidupan bagi semua makhluk. Demikian juga, orang tua yang memiliki pengetahuan sebab dan akibat adalah orang yang bisa memberi pengetahuan fenomena yang dialami seseorang sepanjang hidupnya. Apalagi, menurut Sutra Agama mengatakan bahwa makhluk yang terproses tumimbal lahir menjadikan “kebodohan batin bertindak sebagai ayah, dan keserakahan bertindak sebagai ibu.” Dengan demikian, kebodohan batin dan keserakahan juga dapat disebut sebagai “orang tua”. Bagaimana dengan Hyang Buddha? Apakah Hyang Buddha juga punya orang tua? Siapakah orang tua Hyang Buddha? Secara historis, menurut biografi Hyang Buddha, Pangeran Siddhartha lahir sebagai putra dari Raja Suddhodana dan Ratu Maya. Sedangkan orang tua Hyang Buddha adalah "Kebijaksanaan Prajna". Dengan

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

145

kata lain, meskipun tubuh fisik Buddha lahir dari orang tua manusia, tubuh Dharma Buddha lahir dari Kebijaksanaan Prajna, jadi Kebijaksanaan Prajna adalah merupakan orang tua sejati Buddha. Semua Buddha selama tiga periode waktu mengandalkan Kebijaksanaan Prajna untuk melenyapkan pikiran yang penuh delusi dan mencapai Anuttara Samyak Sambodhi. Apa itu Kebijaksanaan Prajna? Kebijaksanaan Prajna adalah sifat Buddha sejati yang dimiliki setiap orang secara intrinsik. Tidak adanya muncul atau lenyap, tidak adanya datang atau pergi, tidak adanya terikat oleh waktu dan ruang, atau tidak adanya diskriminasi. Ini adalah merupakan perwujudan asli masing-masing tiap orang. Tanpa Kebijaksanaan Prajna, seseorang memandang semua fenomena sebagai Dharma duniawi karena seseorang tidak dapat mengenali sifat sejatinya atau memahami diri sejatinya. Hanya dengan Kebijaksanaan Prajna seseorang benar-benar memiliki Dharma. Misalnya, menggunakan Kebijaksanaan Prajna dalam "Berdana” baru bisa mendapatkan kekosongan dari tiga aspek berdana; menggunakan Kebijaksanaan Prajna dalam "Sila" baru bisa mendapatkan manfaat bagi semua makhluk hidup; menggunakan Kebijaksanaan Prajna dalam "Kesabaran" baru bisa mendapatkan kesabaran pada kebenaran Dharma yang tidak muncul; menggunakan Kebijaksanaan Prajna dalam "Ketekunan" baru bisa mendapatkan usaha yang tak kenal lelah; menggunakan Kebijaksanaan Prajna dalam "Meditasi" baru bisa mencapai pencerahan. Seperti yang telah disebutkan di atas, Kebijaksanaan Prajna ini sangatlah penting. Lalu dimanakah Kebijaksanaan Prajna dapat ditemukan? Meskipun Kebijaksanaan Prajna adalah pencapaian lengkap dan sempurna yang berasal dari semua Buddha, namun ia bukanlah hal yang misterius dan perlu dipertanyakan. Kebijaksanaan Prajna harus dialami dalam kehidupan sehari-hari; apabila menjauh dari

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

146

kehidupan sehari-hari, maka tidak ada Kebijaksanaan Prajna. Bagian berikut dari pembukaan Sutra Intan menggambarkan kehidupan sehari-hari Hyang Buddha, yang memancarkan cahaya Kebijaksanaan Prajna: “Pada waktu makan, Sang Bhagavā mengenakan jubahnya, mengambil mangkuknya, dan pergi ke kota Sravasti untuk meminta dana makanan…” Demikian juga, dalam meditasi Chan, berpakaian, makan, mengambil kayu dan membawa air atau bahkan mengangkat alis, mengedipkan mata, dan setiap gerakan fisik semua dapat mewujudkan Kebijaksanaan Prajna. Seperti kata pepatah, “Dengan mekarnya bunga prem, bulan yang sama di luar jendela akan tampak berbeda.” Kehidupan biasa dengan adanya Kebijaksanaan Prajna akan mendapatkan kehidupan dengan pembebasan dan kenyamanan. Oleh karena itu, guru yang mendidik para generasi penerus sesuai dengan bakat siswanya, maka ia sedang mempraktikkan Kebijaksanaan Prajna. Para dokter dan perawat yang memberikan perawatan medis tingkat pertama dan merawat orang sakit dan yang membutuhkan pertolongan, mereka semua sedang mempraktikkan Kebijaksanaan Prajna. Petugas pemadam kebakaran yang melompat untuk melakukan penyelamatan tanpa memikirkan diri mereka sendiri, mereka sedang mempraktikkan Kebijaksanaan Prajna. Petugas kebersihan jalan yang melayani masyarakat dengan membersihkan dan menyapu jalan, mereka sedang mempraktikkan Kebijaksanaan Prajna. Orang-orang yang secara diam-diam melakukan daur ulang dan melindungi bumi, mereka juga sedang mempraktikkan Kebijaksanaan Prajna. Dengan melakukan perbuatan baik, seseorang memiliki tangan Prajna; dengan berkata baik, seseorang memiliki ucapan Prajna; melihat orang lain dengan penuh kasih, seseorang memiliki mata Prajna; dengan memiliki kebijaksanaan yang terampil dan pikiran yang tercerahkan, seseorang memiliki pikiran

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

147

Kebijaksanaan Prajna. Di mana pun Kebijaksanaan Prajna ditemukan, di sana adalah tempat yang layak dihormati. Oleh karena itu, seseorang yang mampu mengalami, mempraktikkan, dan berbagi Kebijaksanaan Prajna dengan orang lain adalah orang yang paling terhormat di dunia ini.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

Jika para praktisi Buddhis dapat menegakkan Empat Sifat Luhur; cinta kasih, welas asih, simpati, dan kerelaan, tidak hanya kebajikan dan kebijaksanaan seseorang yang akan meningkat, penderitaan juga dapat dilenyapkan, inilah empat rahasia menuju sukses dalam perjalanan hidup.

— “Empat Sifat Luhur”

148

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

149

Empat Sifat Luhur

Dikatakan dalam Sutra Avatamsaka, “Melaksanakan kelembutan dan kesabaran; berdiam dalam kebaikan, welas asih, simpati dan kerelaan.” Cinta kasih, welas asih, simpati, dan kerelaan adalah Empat Sifat Luhur; dimana juga adalah tempat kediamanan luhur. Dengan mempraktikkan Empat Sifat Luhur, seseorang dapat menaklukkan penderitaan batin seperti keserakahan, kebencian, kebodohan batin, dan kesombongan. Empat Sifat Luhur sesuai dengan “Kredo Kerja Anggota Fo Guang” pandangan yang telah saya tetapkan untuk Fo Guang Shan. Cinta kasih yang luhur adalah "memberi kepercayaan kepada orang lain;" welas asih yang luhur adalah untuk “memberikan harapan kepada orang lain;” simpati yang luhur adalah untuk “memberikan suka cita kepada orang lain;” dan kerelaan hati yang luhur adalah untuk “memberikan kenyamanan kepada orang lain.” Dengan mempraktikkan Empat Sifat Luhur, seseorang akan mampu meningkatkan hubungan interpersonal, dan mengembangkan jasa kebajikan dan kebijaksanaan yang bermanfaat bagi kedamaian dan kebahagiaan makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya. Bagaimana Empat Sifat Luhur dapat menjadi pedoman dasar untuk pembentukan diri dan menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan kita sehari-hari?

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

150

1. Cinta Kasih yang Luhur Dalam berurusan dengan orang lain, seseorang harus selalu memiliki pikiran yang baik hati yang memberi orang lain kedamaian dan kebahagiaan, dan menunjukkan empati dan kesediaan untuk melayani orang lain. Pada akhir Dinasti Qing, ada seorang pecatur hebat yang menggantung sebuah plakat di depan rumahnya yang bertuliskan “Tak Terkalahkan.” Suatu hari selama perjalanan menuju perang, Menteri Zuo Zongtang melewati rumah pecatur hebat dan melihat plakat tersebut, ia memutuskan untuk menantangnya dan mengalahkannya tiga kali berturut-turut. Dengan sombong, menteri itu berkata, “Kamu kalah tiga kali berturut-turut! Sudah waktunya untuk menurunkan plakat itu!” Beberapa bulan kemudian, Zuo kembali dengan kemenangan perang dan melewati rumah itu lagi. Ia datang untuk melihat apakah plakat itu masih ada di sana. Menteri itu bertanya mengapa plakat itu tidak disingkirkan, pecatur hebat itu berkata, "Bolehkah aku mengundangmu untuk bermain catur lagi?" Kali ini, ia mengalahkan Zuo tiga kali berturut-turut. Pecatur hebat itu kemudian menjelaskan, “Terakhir kali anda datang berkunjung, saya tidak ingin menurunkan semangat anda, karena anda sedang menuju pertempuran. Karena itu, saya sengaja mengalah dalam permainan. Sekarang setelah anda kembali dengan kemenangan, saya tidak perlu lagi menunjukkan belas kasihan kepada anda.” Pecatur hebat itu tahu kapan harus menang dan kapan harus kalah. Terkadang, kalah adalah menang, dan menang adalah kalah. Memang, dia adalah seorang pecatur hebat sejati yang bersedia memberikan kepercayaan diri kepada orang lain.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

151

2. Welas Asih yang Luhur Welas asih adalah niat membantu orang lain mengatasi penderitaan dan mencapai kebahagiaan. Sama seperti Bodhisattva Avalokitesvara menyelamatkan semua makhluk dari kesulitan, pikiran yang penuh welas asih tidak membeda-bedakan antara kaya dan miskin, teman atau musuh, dalam menghadapi penderitaan duniawi. Dengan memberi kepada semua makhluk secara setara, seseorang seperti matahari yang menyinari seluruh dunia tanpa pamrih. Di awal masa penyebaran Dharma saya di Yilan, banyak anak muda yang mengikuti saya. Hari ini, saya memiliki lebih dari seribu murid dan satu juta anggota BLIA (Buddha’s Light International Association) yang semuanya bersedia berjuang untuk Buddhisme Humanistik bersama saya. Saya tidak memiliki keterampilan atau ajaran khusus; saya hanya memberitahu mereka bahwa selalu ada harapan untuk hari esok. Dengan memberikan harapan kepada orang lain, seseorang juga bisa membangkitkan harapan tentang masa depannya. Meskipun harapan mungkin tidak selalu terwujud, namun kehidupan dengan harapan menjadikan kehidupan penuh dengan kemakmuran, dan masa depan mempunyai tujuan. Sebagai contoh, murid Buddha seperti Sariputra dan Purna tidak takut tantangan dan tetap optimis terhadap semua makhluk. Dengan welas asih membimbing makhluk yang penuh dengan kebodohan batin, mengatasi pandangan salah, dan menyebarkan Dharma yang benar. Saya berpikir, saat kita membantu orang lain, bisa menjaga welas asih, memberikan harapan kepada orang lain, hanya dengan cara ini seseorang dapat melayani semua makhluk dengan sepenuh hati dan tidak pernah khawatir tentang untung atau rugi, membantu menghilangkan kesulitan dan penderitaan sehingga mereka juga

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

152

dapat mencapai kebahagiaan. 3. Simpati yang Luhur Pikiran yang gembira akan turut bersuka cita atas keberhasilan orang lain, tidak peduli apakah mereka musuh atau teman, keluarga atau orang asing, berhubungan atau tidak berhubungan. Ketika seseorang memperlakukan orang lain dengan pikiran gembira, orang lain akan merasa hangat dan aman. Tidak ada yang lebih berharga dari kegembiraan di dunia ini. Memiliki terlalu banyak uang dapat membawa kemalangan jika disalahgunakan. Memiliki terlalu banyak barang mungkin merepotkan jika seseorang tidak memiliki ruang penyimpanan. Kekayaan atau harta duniawi yang berlebihan pasti akan menimbulkan masalah, tetapi semakin banyak kegembiraan yang diberikan, semakin besar pula kegembiraan yang dirasakan oleh kedua pihak. 4. Kerelaan yang Luhur Kerelaan berarti melepaskan perbedaan dan kemelekatan, serta keserakahan dan belenggu. Kerelaan berarti memberikan kegembiraan dan harapan kepada orang lain, serta kesediaan untuk memberikan milik sendiri. Hal ini memungkinkan seseorang untuk mengendalikan keserakahan dan keinginan, untuk mencapai pembebasan, dan untuk merasa nyaman. Seperti kata pepatah, "Memberi adalah mendapatkan." Memberi sebuah senyuman, secara aktif membantu dan melayani orang lain, seperti di tempat yang redup, menyalakan lampu yang terang; menyediakan minuman bagi orang yang membutuhkan, dll. Tindakan kebaikan yang nyaman ini, pasti akan mendapat balasan kebaikan yang sama. Sebelum mencapai kebuddhaan, seseorang harus terlebih dahulu mengembangkan hubungan yang baik. Seseorang harus secara luas membentuk hubungan yang baik dengan orang lain

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

153

dalam kehidupan. Jika para praktisi Buddhis dapat menegakkan Empat Sifat Luhur; cinta kasih, welas asih, simpati, dan kerelaan, tidak hanya kebajikan dan kebijaksanaan seseorang yang akan meningkat, penderitaan juga dapat dilenyapkan, inilah empat rahasia menuju sukses dalam perjalanan hidup.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

154

Empat Tekad Universal

Seperti yang tertera dalam sutra Buddhis, semua Buddha mencapai kebuddhaan dengan membuat tekad. Sebagai contoh, empat puluh delapan tekad agung dari Buddha Amitabha yang membantu merealisasikan Tanah Suci Sukhavati. Buddha Sakyamuni mengucapkan lima ratus tekad agung yang menuntun beliau mencapai kebuddhaan. Dalam meringankan penderitaan seluruh makhluk, Buddha Bhaiṣajyaguru (Buddha Penyembuhan dan Pengobatan) menyatakan dua belas tekad agung sehingga terealisasi Tanah Suci Lapis Lazuli. Bodhisattva Avalokitesvara membuat dua belas tekad agung sehingga dapat menjawab ribuan tangisan yang meminta pertolongan dari ribuan tempat. Bodhisattva Manjusri membuat dua belas tekad agung agar mata air kebijaksanaan dapat mengalir bebas untuk menyejukkan dunia. Bodhisattva Samantabhadra membuat sepuluh tekad agung, setiap tekadnya bersatu dengan Samudra Avatamsaka. Bodhisattva Ksitigarbha menyatakan tekad agung, “Saya tidak akan mencapai kebuddhaan sebelum neraka kosong; Saya tidak akan mewujudkan tekad bodhi sampai seluruh makhluk terbebaskan.” Tekad yang telah dibuat oleh para Buddha dan Bodhisattva tersebut dapat disimpulkan dimana tidak terlepas dari “Empat Tekad Universal.” Sebagai contoh, tekad agung Bodhisattva

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

155

Samantabhadra: tekad keenam “Memohon pemutaran Roda Dharma” dan tekad kesembilan “Selalu melayani semua makhluk hidup.” Kedua tekad tersebut sesuai dengan tekad pertama dari Empat Tekad Universal: “Makhluk hidup tak terbatas jumlahnya, bertekad untuk membebaskannya.” Tekad keempat, “Bertobat dari semua karma buruk,” mirip dengan “Kekotoran batin tidak ada batasnya, bertekad untuk memutuskannya.” Tekad kelima, “Turut bersuka cita terhadap jasa dan kebajikan yang dilakukan orang lain” dan tekad kedelapan, “Selalu belajar Dharma,” sama dengan tekad “Ajaran Dharma tak terhingga, bertekad untuk mempelajarinya.” “Mengagungkan Hyang Tathagata,” tekad ketiga, “Melatih diri dengan bersungguh-sungguh dalam memberi persembahan,” tekad ketujuh, “Memohon kehadiran Buddha di dunia,” dan tekad kesepuluh, “Melimpahkan jasa dan kebajikan kepada semua makhluk hidup,” semua itu mencerminkan “Kebuddhaan adalah yang tertinggi, bertekad untuk mencapainya.”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

Empat Tekad Universal Makhluk hidup tak terbatas jumlahnya, bertekad untuk membebaskannya Kekotoran batin tidak ada batasnya, bertekad untuk membasminya. Ajaran Dharma tak terhingga, bertekad untuk mempelajarinya.

Kebuddhaan adalah yang tertinggi, bertekad untuk mencapainya.

156

Sepuluh Tekad Agung Bodhisattva Samantabhadra Ke-6

Memohon pemutaran Roda Dharma

Ke-9

Melayani seluruh makhluk hidup

Ke-4

Bertobat untuk semua karma buruk

Ke-5

Bersukacita terhadap jasa dan kebajikan yang dilakukan orang lain

Ke-8

Selalu belajar Dharma

Ke-1

Memberi penghormatan kepada semua Buddha

Ke-2

Mengagungkan Sang Tathagata

Ke-3

Melatih diri dengan bersungguh-sungguh dalam memberi persembahan

Ke-7

Memohon kehadiran Buddha di dunia

Ke-10

Melimpahkan jasa dan kebajikan kepada semua makhluk hidup

Tabel 1. Hubungan antara Empat Tekad Universal dan Empat Tekad Agung Bodhisattva Samantabhadra

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

157

Empat Tekad Universal adalah semua tekad universal yang umum untuk semua Bodhisattva. Oleh karena itu, seperti yang tertulis di An Inspiration to Give Rise to the Bodhi Mind, “Elemen tertinggi dari elemen-elemen esensial untuk memasuki jalan (menuju pencerahan) adalah pembuatan tekad; pembuatan tekad adalah yang terpenting dalam pelatihan diri yang berkelanjutan. Ketika tekad telah dibuat, makhluk hidup dapat diantarkan ke pantai seberang; ketika ada sebuah inisiatif, kebuddhaan akan tercapai. Pengertian sebenarnya dari Empat Tekad Universal, yakni sebagai berikut: 1. Makhluk hidup tak terbatas jumlahnya, bertekad untuk membebaskannya. “Membebaskan makhluk hidup” bukanlah hanya sekedar ucapan, melainkan sebuah pelatihan diri yang harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dilakukan dengan menghargai dan tidak membuang waktu; menghargai kekayaan, tidak menyia-nyiakannya; menjadi pribadi yang hemat dan sederhana, tidak boros, adalah untuk menolong semua makhluk; atau bahkan melindungi ekologi alam tanpa mencemari atau merusaknya. Inilah pelestarian kehidupan. Di masa lalu, beberapa praktisi tidak akan maju selangkah pun kecuali untuk memberi penghormatan kepada Buddha; mereka tidak akan menyalakan sebatang lilin kecuali untuk menerangi ketika membaca sutra. Melindungi ekosistem dan menghargai sumber daya adalah dasar dari tekad, “Makhluk hidup tak terbatas jumlahnya, bertekad untuk membebaskannya.”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

158

2. Kekotoran batin tidak ada batasnya, bertekad untuk memutuskannya. Kekotoran batin dideskripsikan dalam sutra-sutra sebagai [api membara, panah beracun, macan dan serigala, lubang berbahaya] dan lainnya, yang tidak hanya membahayakan tetapi juga menghalangi seseorang mencapai kedamaian. Kekotoran batin menghalangi munculnya sifat sejati Buddha pada diri seseorang. Contohnya, Tiga Racun Kehidupan; keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin, mengganggu tubuh dan pikiran seseorang, menutupi kebijaksanaan, dan menghalangi kemajuannya di jalan yang benar. Oleh karena itu, refleksi diri dan pertobatan yang terus-menerus adalah jalan terbaik untuk melenyapkan kekotoran batin, menyucikan pikiran, dan menjadi terbebas dan tenang. 3. Ajaran Dharma tak terhingga, bertekad untuk mempelajarinya. Seperti kata pepatah, “Jutaan kekayaan tidak dapat dibandingkan dengan sebuah keterampilan yang didapat.” Orang awam harus memiliki keterampilan dan pengetahuan untuk menjalani kehidupan. Selain keterampilan dan pengetahuan tersebut, para praktisi harus memiliki Buddha Dharma untuk membebaskan makhluk hidup. Maka dari itu, penting untuk mempelajari ajaran Buddha yang tak terhingga. “Gunung Taishan merupakan yang tertinggi karena tidak menolak sekecil apapun tumpukan tanah; laut adalah yang terdalam karena tidak menghalangi aliran sungai yang sempit.” Seseorang yang ingin mempelajari Dharma dan menapaki jalan kebuddhaan harus memiliki hati yang lapang seperti halnya Gunung Taishan atau samudera yang tak terbatas.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

159

4. Kebuddhaan adalah yang tertinggi, bertekad untuk mencapainya. Perlu pelatihan diri yang sungguh-sungguh selama ratusan kalpa dan penyempurnaan kebajikan serta kebijaksanaan selama tiga asamkheya kalpa untuk mencapai kebuddhaan. Kesuksesan dalam pelatihan diri tidaklah mudah; namun, jika seseorang dapat terus melatihnya terlepas dari semua kesulitan, bertekad sebagai motivasi untuk berjuang membebaskan semua makhluk hidup sehingga dapat bersama-sama mencapai kebuddhaan, maka ini adalah arti yang sesungguhnya dari “Kebuddhaan adalah yang tertinggi, bertekad untuk mencapainya.” Pada umumnya, Empat Tekad Universal diucapkan di hadapan Buddha selama kebaktian pagi dan sore. Mereka tidak membicarakannya pada kehidupan sehari-hari karena mereka percaya bahwa tekad agung hanya dapat dicapai oleh Bodhisattva. Bagaimana orang biasa dapat mencapainya? Namun, Master Huineng, Patriark Keenam dari tradisi Chan, memberi dorongan kepada kita bahwa “Dharma ada di dunia ini, tidak terlepas dari dunia ini.” Dalam mencapai pencerahan, seseorang harus dipandu oleh Empat Tekad Universal sebagai sebuah sumber kekuatan untuk terus maju dalam mencapai kebuddhaan. Demikian juga, Buddhisme Humanistik yang saya sebarkan, juga berharap umat Buddha "Daripada memohon kepada Buddha lebih baik mempraktikkan ajaran Buddha", yaitu, dari "Mencari Buddha", "Mempercayai Buddha", "Bersujud kepada Buddha", dan kemudian "Mempraktekkan ajaran Buddha.” Mulai sekarang, umat Buddha harus menilai ulang nilai dan pentingnya Empat Tekad Universal dalam kehidupan. Tidak hanya diucapkan demi Buddha dan Bodhisattva; namun harus dibicarakan dan didiskusikan, dan lebih jauh dipraktikan dan direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

Tekad yang dibuat oleh para Buddha dan Bodhisattva adalah seperti siswa membuat jadwal pelajaran: dengan sebuah tujuan dan motivasi jelas, seseorang dapat mewujudkan impiannya selangkah demi selangkah

— “Sepuluh Tekad Bodhisattva Samantabhadra”

160

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

161

Sepuluh Tekad Bodhisattva Samantabhadra

Pencapaian dalam pelatihan diri tergantung pada aspirasi dan kekuatan tekad seseorang. Ketika Pangeran Siddhartha duduk di kursi Vajra di bawah pohon bodhi, Pangeran bertekad, "Saya tidak akan bangkit dari kursi ini sebelum mencapai pencerahan." Buddha Amitabha juga membuat empat puluh delapan tekad untuk membangun dan memperagung Tanah Suci Sukhavati. Buddha Bhaisajyaguru dan Bodhisattva Avalokitesvara, masing-masing mengucapkan dua belas tekad. Buddha Bhaisajyaguru bertekad untuk menghias Tanah Suci Lapis Lazuli, dan Bodhisattva Avalokitesvara bertekad untuk mendengarkan suara penderitaan makhluk hidup dan menyelamatkan mereka. Membuat tekad adalah kondisi penting yang membantu keberhasilan setiap usaha. Di vihara Tsung Lin, setiap hari para anggota Sangha melafalkan Sepuluh Tekad Agung Bodhisattva Samantabhadra selama kebaktian pagi dan sore. Sepuluh Tekad Agung merupakan aspirasi dalam pelatihan diri seseorang yang pada akhirnya mengarah pada kebuddhaan yang sempurna. Arti sebenarnya dari Sepuluh Tekad Agung Bodhisattva Samantabhadra dijelaskan sebagai berikut:

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

162

1. Menghormati semua Buddha: menghormati semua makhluk. Semua makhluk hidup memiliki sifat kebuddhaan. Menghormati semua Buddha berarti menghormati semua makhluk. Jika kita dapat berkomunikasi satu sama lain dan menyadari bahwa "Setiap orang memiliki hati dan pikiran yang sama", secara alami kita akan saling menghormati. Dalam Sutra Teratai, Bodhisattva Sadaparibhuta berkata kepada setiap orang yang ditemuinya, “Saya tidak berani meremehkan salah satu dari kalian, karena kalian semua adalah Buddha di masa depan.” Memberi penghormatan kepada para Buddha berarti menghormati semua makhluk hidup; dan dalam proses belajar menghargai orang lain, kepribadian seseorang juga akan berkembang. 2. Mengagungkan Tathagata: berdana melalui ucapan dan bahasa yang baik. “Tathagata” tidak selalu mengacu pada Buddha, karena semua makhluk memiliki kebijaksanaan dan kebajikan Tathagata. Bila kita dapat lebih banyak berdana ucapan baik terhadap setiap orang, inilah mengagungkan Tathagata. Di kehidupan lampau, Buddha Sakyamuni dan Buddha Maitreya awalnya melatih diri bersama, tetapi Buddha Sakyamuni mampu mencapai kebuddhaan sepuluh kalpa lebih awal karena praktik metode memuji. Memberikan pujian tidak hanya mendukung dan memfasilitasi hubungan interpersonal, tetapi juga merupakan aspek penting dari pelatihan diri.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

163

3. Melatih diri dengan sungguh-sugguh dalam memberikan persembahan: praktik menjalin jodoh yang baik. Ada banyak jenis persembahan dalam agama Buddha; persembahan melalui perbuatan, ucapan, dan pikiran yang murni merupakan yang terbaik. Seperti syair berikut: Wajah tanpa kemarahan adalah sebuah bentuk persembahan; Ucapan tanpa kemarahan menyebarkan aroma yang wangi; Hati tanpa amarah bagaikan permata yang tak ternilai; Hal ini adalah kebenaran sejati. Memuji orang lain melalui ucapan, dan memberi dengan ketulusan, kegembiraan, dan rasa hormat adalah cara terbaik untuk menjalin jodoh baik dengan orang lain. 4. Bertobat dari semua karma buruk: praktik introspeksi dalam kehidupan sehari-hari. Menurut ajaran Buddha, melanggar sila bukanlah hal yang menakutkan; tetapi yang fatal adalah tidak bertobat setelah melanggarnya. Sama seperti pakaian kotor dapat dicuci bersih dengan air, begitu pula kerisauan batin dan rintangan karma dapat dijernihkan dengan air Dharma pertobatan. Pada masa kehidupan Buddha, Devadatta, setelah melakukan lima kejahatan keji, ia terselamatkan melalui pertobatan. Dengan demikian, introspeksi dan pertobatan membebaskan seseorang dari penjara pikiran, sehingga mencapai kedamaian, kebebasan, dan ketenangan. 5. Bersukacita atas jasa dan kebajikan orang lain: pemurnian pikiran.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

164

Praktisi Buddhis berharap untuk memanen ladang jasa mereka suatu hari nanti, maka dari itu mereka harus terus-menerus menabur benih. Namun, untuk memupuk jasa kebajikan diperlukan aspirasi yang gembira dan murni. Misalnya, seseorang dapat memuji, melakukan pelayanan, selalu tersenyum, berdana harta, mendukung sepenuhnya dan bersimpati. Pada zaman kehidupan Buddha, Visakha sangat senang setelah mendengarkan Dharma sehingga ia mendanakan gaun mutiara dan menyelesaikan pembangunan cetiya. Menambah tempat mendengar Dharma, melatih diri untuk para Anggota Sangha, Upasaka, Upasika. Mengikuti proses jodoh, bersukacita adalah Buddha Dharma. Tidak ada yang akan hilang ketika seseorang bersukacita untuk orang lain; sebaliknya, lebih banyak lagi jalinan jodoh baik dan keberuntungan yang diperoleh. 6. Memohon pemutaran roda Dharma: penyebaran ajaran benar. Buddha Dharma adalah sebuah perahu yang mengantarkan makhluk-makhluk di dunia ini ke pantai seberang. Ketika Buddha pertama kali memutar roda Dharma di Sarnath, Beliau pertama-tama “Memutar roda Dharma pembahasan fase,” kemudian “Memutar roda Dharma untuk menasihati,” dan terakhir “Memutar roda Dharma perwujudan, pembuktian nyata.” Tingkatannya sudah sangat jelas, sehingga semua makhluk dapat memahami dan mendapat manfaat dari ajaran tersebut. Meskipun Buddha telah tiada, sebagai Buddhis dapat menjadi sebuah manifestasi kebenaran, memutar roda Dharma kapan saja dan di mana saja, dan bersukacita dalam berbagi Dharma kepada semua orang, kapan saja, serta dalam kondisi apa pun, selalu berdana Dharma.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

165

7. Memohon kehadiran para Buddha di dunia: hormat dan sopan kepada yang bijak dan berbudi luhur.

Ketika Buddha berada di dunia, saya tersesat, setelah Buddha Parinirvana, saya lahir; Saya bertobat untuk semua rintangan karma saya, yang telah menghalangi saya untuk melihat tubuh emas Tathagata. Meskipun tidak dapat bertemu langsung dengan Buddha, tetapi dapat memahami bahwa setiap orang memiliki sifat kebuddhaan, dan setiap orang adalah Buddha atau Bodhisattva, maka lindungilah kebajikan agung selalu dalam Dharma dan selalu menyebarkan Dharma. 8. Selalu belajar Dharma: mengikuti orang bijak. Sepuluh siswa utama dan 1.250 Anggota Sangha yang mengikuti dan berlatih bersama Buddha. Mereka dengan cepat dapat mencapai tingkat pencerahan. Sekarang setelah Buddha Parinirvana, bagaimana seseorang dapat mempelajari Dharma? Bagaimana seseorang dapat mengikuti orang bijak dan teman Dharma yang bijaksana? Seseorang perlu memunculkan Empat Tekad Universal: Makhluk hidup tak terbatas jumlahnya, bertekad untuk membebaskannya; Kilesa tidak ada batasnya, bertekad untuk memutuskannya; Ajaran Dharma adalah tak terhingga, bertekad untuk mempelajarinya;

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

166

Kebuddhaan adalah yang tertinggi, bertekad untuk mencapainya. Seseorang perlu mengembangkan Empat Sifat Luhur; kasih sayang, welas asih, simpati dan kerelaan. Untuk selalu mempelajari Dharma, kita perlu menyadari bahwa “Di mana ada Dharma, di situ ada jalan.” 9. Melayani semua makhluk hidup: memperhatikan pendapat dan kebutuhan makhluk hidup. Mempraktikkan kebuddhaan berarti melepaskan keegoan diri (kemelekatan), dan membimbing orang lain sesuai bakatnya sehingga orang-orang di sekitar kita akan merasa gembira dan mau belajar ajaran Buddha. Konsep Buddhis tentang "Mengajar dalam manifestasi yang berbeda sesuai dengan bakat yang berbeda sama-sama menerimanya" dan ajaran Konfusianisme "Pengajaran tidak memihak, mengajar sesuai dengan kemampuan siswa" adalah manifestasi dari kasih sayang, welas asih, dan kebijaksanaan. Dengan ini Dharma dapat diajarkan dengan tepat sesuai dengan bakat. 10. Melimpahkan jasa dan kebajikan kepada semua makhluk hidup: keselarasan semua alam Dharma. Melimpahkan jasa berarti menabung, mirip seperti menyimpan uang di bank. Teori pelimpahan jasa serupa dengan menyalakan satu lilin dengan lilin lainnya; nyala lilin pertama tidak akan mati, melainkan membuat ruangan lebih terang karena lebih banyak lilin yang menyala. Bodhisattva Samantabhadra adalah simbol dari pelatihan diri, sekaligus contoh praktik Bodhisattva dalam Buddhisme Mahayana. Tekad yang dibuat oleh para Buddha dan Bodhisattva

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

167

adalah seperti siswa membuat jadwal pelajaran: dengan sebuah tujuan dan motivasi jelas, seseorang dapat mewujudkan impiannya selangkah demi selangkah. Dengan demikian, setiap orang harus bercita-cita untuk berikrar sehingga memiliki kekuatan untuk maju.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

168

Empat Cara Kualitas Menjalin Hubungan

Ada banyak cara untuk membebaskan makhluk hidup dalam agama Buddha, salah satunya adalah empat cara kualitas menjalin hubungan, yang mengacu pada menjalin semua makhluk hidup dengan empat latihan, yaitu: kedermawanan, berkata baik, altruisme, dan empati. Menurut Sutra Avatamsaka, “Jika seseorang mampu mencapai empat cara kualitas menjalin hubungan, ia dapat membawa manfaat tanpa batas bagi semua makhluk.” Empat cara kualitas menjalin hubungan, dijalankan oleh Bodhisattva untuk membebaskan semua makhluk dari kebodohan batin sesuai dengan bakat dan sifatnya masing-masing sehingga dapat menuju pencerahan. Salah satu contoh, yakni melatih kedermawanan menimbulkan kesan yang baik, memuji orang lain mengembangkan hubungan yang baik, tindakan altruistik memberikan kenyamanan kepada orang lain, dan persahabatan yang penuh pengertian menimbulkan kepercayaan dari orang lain. Dengan cara ini, kita dapat membimbing orang lain untuk mempelajari ajaran Buddha.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

169

Inilah yang disebut dengan “Pertama-tama mengenalkan dan kemudian membimbing menuju kebijaksanaan Buddha.” Kedermawanan berarti memperluas jodoh baik dengan orang lain. Dalam agama Buddha, pujian sering ditujukan kepada orang yang “berdana” memiliki “jasa kebajikan tak terhingga.” Maksud "tak terhingga" di sini tidak mengacu pada jumlah kontribusi seseorang, melainkan tingkat tekad mereka. Semakin murah hati seseorang, semakin luas jodoh yang dijalin. Sebagaimana disebutkan dalam Sutra Intan, “Ketika seorang Bodhisattva berdana tanpa pamrih, jasa kebajikannya tidak terbatas.” Berdana tanpa keterikatan pada diri kita sebagai pemberi, penerima dana, dan apa yang kita danakan, juga tidak mengharapkan balasannya. Dengan demikian, seseorang merealisasi kekosongan dari tiga aspek berdana, yang merupakan dana yang benar-benar murni. Berkata baik adalah seni berbahasa. Beberapa orang berbicara dengan kata-kata yang menyakitkan, tidak tulus atau tidak jujur, sehingga tidak dapat menyentuh hati orang lain. Kata-kata yang baik bukanlah ungkapan pujian yang berlebihan, kemunafikan, atau omong kosong. Pujian sebaiknya diberikan pada saat yang tepat, dan dengan cara yang menginspirasi. Bahasa yang digunakan untuk mengajar harus menginspirasi sehingga pendengarnya dapat menerima, memahami, dan dengan senang hati mempraktikkannya. Misalnya, Master Chan Xian Ya menyentuh hati seorang Samanera (calon Anggota Sangha) dengan berkata, “Cuaca malam ini dingin, pastikan pakai baju berlapis.” Mendengar hal itu, Samanera itu bertekad untuk melatih diri dengan sungguh-sungguh, tidak bermalas-malasan. Demikian pula, Master Chan Liang Kuan menginspirasi keponakannya ketika ia berkata, “Saya semakin tua, dan kesulitan mengikat tali sepatu saya.” Oleh karena itu, berbicara

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

170

harus membuat orang lain merasakan ketulusan dan kebaikan kita sehingga mereka dapat menerimanya. Altruisme berarti membantu orang lain untuk maju. Pepatah Tionghoa mengatakan bahwa, “Seseorang harus memberi sebelum menerima.” Sebelum menerima perhatian orang lain, seseorang harus terlebih dahulu melayani orang lain dengan membantu mereka tumbuh dan berkembang, serta memberikan kondisi yang mendukung orang lain sehingga mereka maju dan mencapai tujuan mereka. Selain itu, berbuat baik, berkata baik, dan berpikir baik juga merupakan cerminan dari tindakan altruistik. Misalnya, menjelaskan tugas kepada seseorang yang tidak mengerti atau membantu mereka yang membutuhkan. Jika seseorang melayani orang lain dengan tulus, dan melakukan praktik bermanfaat dengan hati gembira, maka sebab dan kondisi yang baik akan muncul. Empati berarti bekerja sama dengan orang lain. Dalam masyarakat, orang-orang berkumpul untuk membentuk partai, komunitas, atau afiliasi tertentu karena mempunyai ideologi yang sama. Demikian pula, jika seseorang ingin menjalin hubungan dengan orang lain sebagai teman atau kolega, pertama-tama ia harus menemukan ide dan nilai-nilai yang sama untuk berinteraksi dan bekerja sama sehingga dapat diterima oleh orang lain. Misalnya, ketika bertemu dengan seorang petani tua, berbincang-bincanglah tentang topik yang akrab bagi petani tersebut. Saat bertemu dengan anak, bicarakan topik yang mudah dipahami dan menarik bagi anak. Apa pun yang diinginkan atau disukai orang lain, tempatkan diri anda pada posisinya dan pikirkan kebutuhan mereka. Kerja sama dan koeksistensi dalam hubungan interpersonal bergantung pada kesamaan pemikiran dan cita-cita. Ketika berurusan dengan orang lain, kita harus menyentuh hati mereka, agar mereka muncul rasa suka terhadap kita; memberi manfaat untuk orang lain, dan kesempatan kepada mereka untuk berhasil

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

171

sehingga mereka dapat menerima kita. Artinya tidak menuntut setiap orang menjadi sama dengan diri sendiri, baik itu teman, kolega, keluarga, pasangan, atau saudara kandung. Empat cara kualitas menjalin hubungan, melalui kasih sayang, welas asih, dan cara yang nyaman untuk orang lain, merupakan cara yang baik untuk meningkatkan hubungan interpersonal dan juga dapat menjadi pedoman hidup yang perlu kita jalankan.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

Keutamaan dari Buddhisme Humanistik adalah dalam ajarannya. Seperti disebutkan dalam sutra, seseorang harus “Bergantung pada diri sendiri, bergantung pada Dharma dan tidak bergantung pada yang lain.”

— ”Akulah yang Teragung”

172

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

173

Akulah yang Teragung

Saat berusia dua puluhan tahun, saya bertekad menulis sebuah "Biografi Buddha Sakyamuni" agar orang-orang dapat lebih mengenal Hyang Buddha, pendiri Buddhisme. Tentunya saya mencari buku-buku referensi untuk memahami hal-hal yang Buddha lakukan di sepanjang hidupnya. Pada awalnya, saya menemui beberapa kesulitan. Misalnya, Ratu Maya melahirkan Pangeran Siddhartha dari sebelah kanan perutnya, apakah ini masuk akal? Siapa yang menyembuhkan luka di perut tersebut? Setelah lahir, Pangeran Siddharta langsung berjalan tujuh langkah, dengan bunga teratai mekar di setiap langkahnya, ditambah juga dengan sang pangeran yang dimandikan dengan air yang disemburkan oleh sembilan naga. Bisakah bayi yang baru lahir langsung berjalan dengan sendirinya? Hal ini sepertinya tidak mungkin dari sudut pandang medis, di mana naga itu? Saya juga belum pernah melihatnya. Akan tetapi, salah satu tokoh terkenal dunia, seperti Wen Tianxiang (Keberuntungan Surgawi), dinamakan demikian karena muncul tanda-tanda keberuntungan di langit pada saat kelahirannya. Ada sangat banyak legenda seperti ini, sehingga tidak diherankan,

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

174

pada saat kelahiran Hyang Buddha, ratusan bunga mekar dan memberi keharuman. Ini semua adalah hal yang tidak perlu diragukan. Namun di antara legenda tersebut, ada sebuah perkataan di mana Buddha mengarahkan satu jarinya ke atas dan satu jarinya ke bawah sambil berkata: "Akulah yang teragung di dunia." Makna sesungguhnya dari frasa ini adalah "Buddha adalah yang teragung di dunia." Hal ini karena semua makhluk pada dasarnya memiliki sifat kebuddhaan yang agung, tidak berbeda dari Buddha. Buddha menyadari kebenaran ini dan berkata: “Di langit dan bumi, tidak ada yang seperti Buddha, begitu juga di sepuluh penjuru dunia. Dari semua yang pernah aku lihat di dunia, tidak ada yang bisa dibandingkan dengan Buddha.” Sementara untuk frasa "Akulah yang teragung", beberapa Anggota Sangha sombong di masa lalu berpikir bahwa kalimat ini berarti "hanya diri sendiri yang terbaik" dan masih menyatakan bahwa Buddha sendiri yang mengatakannya. Ini adalah kurang hormat terhadap Buddha. Saya rasa hal ini tidak bisa diterima. Hyang Buddha adalah sosok yang sangat rendah hati dan tercerahkan, tidak akan mengucapkan kesombongan seperti itu. Saya jadi bertanya-tanya: Siapa yang mendengar Buddha mengatakan hal tersebut? Oleh karena itu, Buddhisme Humanistik saat ini ingin mengembalikan tujuan awal Hyang Buddha. Buddhisme yang dibawa oleh Hyang Buddha harus dipisahkan dari Buddhisme yang menyimpang dan tidak benar, pemujaan kepada dewa-dewi, Buddhisme yang berhubungan dengan hantu dan Buddhisme yang percaya takhayul. Keutamaan kemanusiaan Buddha adalah dalam

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

175

ajarannya. Seperti yang disebutkan dalam sutra Buddhis: “Bergantung pada diri sendiri, berpegang pada Dharma dan tidak bergantung pada yang lain.” Hyang Buddha tidak pernah menyombongkan dirinya sendiri, sebaliknya mendorong semua makhluk hidup untuk mengandalkan diri mereka sendiri karena setiap makhluk memiliki sifat kebuddhaan, setiap makhluk dapat mencapai kebuddhaan. Selain Buddha Dharma, segala sesuatu yang lain tidak dapat diandalkan. Sejak menulis “Biografi Buddha Sakyamuni” dan menjadi Anggota Sangha selama lebih dari delapan puluh tahun, saya semakin mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang kehidupan Hyang Buddha. Menurut saya, orang-orang saat ini harus berhenti menambahkan takhayul, pengetahuan tentang dewa dan hantu, ramalan ciamsi dan ramalan papan ba gua pada ajaran Buddha, di mana hal-hal tersebut membuat Buddha menanggung beban yang berat.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

176

Umat ​Buddha secara bertahap telah sepakat menyebut Buddha sebagai "Buddha". Oleh karena itu, kita berharap di masa depan, semua orang akan berhenti pura-pura pintar dan membagi Buddha menjadi banyak gelar yang tidak pantas dan tidak umum dipakai, kita harus berpegang teguh pada arti sesungguhnya dari "Buddha".

— “Sepuluh Nama (gelar) Tathagata”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

177

Sepuluh Nama (gelar) Tathagata

Ketika seorang anak lahir, lumrah orang tua meminta nasihat orang bijak nan berbudi luhur untuk memberi nama yang baik. Demikian pula, ketika Buddha lahir, ayahnya, Raja Suddhodana bertanya pada orang bijak dan beliau memberi nama Siddhartha yang berarti “Tercapailah cita-citanya.” Setelah mencapai penerangan sempurna, Buddha menjadi tercerahkan nan bijaksana bila dibandingkan dengan pencapaian orang biasa. Dengan rasa hormat kepada Buddha, para murid memberi beberapa nama (gelar) yang secara umum dikenal sebagai Sepuluh Nama Tathagata. Ini bagaikan kehormatan yang diberikan oleh seorang kaisar melalui gelar "Guru Nasional" bagi biarawan yang telah memberikan kontribusi teladan bagi negara. Sepuluh Nama Tathagata adalah: 1. Seseorang yang telah pergi (menjadi sempurna) dan Seseorang yang telah datang (menemukan kebenaran) 2. Yang maha suci 3. Yang telah mencapai penerangan sempurna 4. Sempurna pengetahuan serta perilaku-Nya 5. Sempurna menempuh sang jalan (Nirwana) 6. Pengenal segenap alam 7. Yang tak tertandingi

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

178

8. Pembimbing manusia yang tiada taranya 9. Guru para dewa dan manusia 10. “Yang sadar” dan “Yang patut dimuliakan” Meski gelar ini tak diketahui di era mana dan kebajikan agung mana yang diberikan pada Buddha, kita tahu bahwa arti asli dari "Sepuluh Nama Tathagata" adalah menunjukkan kebajikan suci dan memuji keagungan Buddha. Sebagai contoh: 1. “Seseorang yang telah pergi (menjadi sempurna) dan seseorang yang telah datang (menemukan kebenaran)” melambangkan kemunculan Buddha dari kesucian sejati untuk membebaskan semua makhluk di dunia ini. 2. “Yang maha suci” menandakan rahmat Buddha dalam menerima persembahan dari para dewa dan manusia karena kesempurnaan kebijaksanaan dan kebajikan. 3. “Yang telah mencapai penerangan sempurna” menggambarkan kesempurnaan Buddha dan pengetahuan sempurna tentang semua fenomena duniawi. 4. “Sempurna pengetahuan serta tindak tanduk-Nya” menekankan pada perilaku bajik dan teladan Buddha. 5. “Sempurna menempuh sang jalan (Nirwana)” menyampaikan pencapaian kebuddhaan dengan memutuskan semua kekotoran batin dengan kebijaksanaan tak terbatas. 6. “Pengenal segenap alam” berarti tiada satu alam pun yang tak diketahui oleh Buddha. 7. “Yang tak tertandingi” menyatakan bahwa Buddha telah melampaui semua makhluk dan tak tertandingi. 8. “Pembimbing manusia yang tiada taranya” menunjukkan cara terampil Buddha dalam mengajar dan menaklukkan semua makhluk yang keras kepala dan terikat.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

179

9. “Guru para dewa dan manusia” menegaskan bahwa Buddha adalah guru para dewa/makhluk surgawi dan manusia. 10. “Yang sadar” dan “Yang patut dimuliakan” Buddha sebagai seorang bijak yang sadar, paling terhormat dan tak tertandingi di alam semesta. Demikian Sepuluh Nama (gelar) Tathagata, namun apakah Sepuluh Nama Tathagata di atas benar-benar memuji Buddha? Apakah mampu menunjukkan karakter dan integritas Buddha? Apakah sebutan ini universal dan terkenal? Selain daripada "Demikianlah Tathagata", digunakan oleh sebagian besar umat Buddha, sisanya tak diketahui. Sedikit yang menyebut Buddha sebagai “Yang maha suci” Kita tidak biasa untuk mengatakan: “Kami memberi hormat kepada Yang maha suci” atau “Kami melakukan puja bunga kepada Yang maha suci.” Demikian pula, tidak ada yang mengatakan, “Kami pergi ke vihara untuk menghormati Yang telah mencapai penerangan sempurna, sempurna pengetahuan serta tindak tanduk-Nya, pengenal segenap alam." Bahkan lebih sedikit orang yang tahu nama "Yang tak tertandingi" atau “Pembimbing manusia yang tiada taranya.”Dengan demikian, jelas bahwa Sepuluh Nama (gelar) Buddha tidak lagi ditampilkan dalam percakapan sehari-hari. Jadi, apa tujuan dari sepuluh nama ini? Daripada mempertahankan begitu banyak sebutan yang berbeda, entah sepuluh nama, delapan nama, "Buddha" seharusnya jadi satu-satunya nama yang digunakan. Pada umumnya umat masih dapat menyebut Buddha, jika kita menghormat-Nya bisa dengan menyebut “Yang tercerahkan,” "Yang maha bijaksana," dan "Yang sempurna" sebagai tanda hormat. Namun, secara keseluruhan, lebih tepat menggunakan nama “Buddha.” Hanya sebagai satu kesatuan nama.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

180

Umat ​Buddha secara bertahap telah sepakat menyebut Buddha sebagai "Buddha". Oleh karena itu, kita berharap di masa depan, semua orang akan berhenti pura-pura pintar dan membagi Buddha menjadi banyak gelar yang tidak pantas dan tidak umum dipakai, kita harus berpegang teguh pada arti sesungguhnya dari "Buddha".

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

181

Jika dapat menyadari bahwa diri anda seperti Buddha, memiliki dua kaki, menyadari kemuliaan dan martabat diri, maka anda dapat memupuk jasa kebajikan dan mengembangkan kebijaksanaan hingga mencapai kesempurnaan. Melalui cara ini, bukankah semua juga dapat menjadi Tathagata yang telah sempurna dalam jasa kebajikan dan kebijaksanaan?

— “Tathagata yang Telah Sempurna dalam Jasa Kebajikan dan Kebijaksanaan”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

182

Tathagata yang Telah Sempurna dalam Jasa Kebajikan dan Kebijaksanaan

Ketika menyatakan berlindung pada Triratna, akan mengucapkan, “Aku berlindung kepada Buddha, Tathagata yang sempurna dalam jasa kebajikan dan kebijaksanaan.” Umat awam mungkin tidak mengerti apa artinya ini. Mengapa Buddha menghendaki kita berlindung kepada-Nya sebagai Tathagata yang telah sempurna dalam jasa kebajikan dan kebijaksanaan? Istilah ini memiliki makna dan isi yang sangat mendalam. Pertama, Buddha telah mencapai penerangan sempurna, sempurna dalam jasa kebajikan dan kebijaksanaan. Sebagaimana diketahui, “Diperlukan tiga asaṃkhyeya kalpa dalam melatih diri dengan tekun, mengumpulkan jasa kebajikan dan kebijaksanaan untuk mencapai kebuddhaan”. Buddha telah menyempurnakan kedua hal tersebut. Bukankah sepatutnya Beliau dimuliakan? Mengenai jasa kebajikan dan kebijaksanaan, Buddhisme mengatakan, Mengembangkan kebajikan tanpa kebijaksanaan bagaikan seekor gajah yang berkalung permata,

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

183

mengembangkan kebijaksanaan tanpa kebajikan, layaknya seorang Arahat yang tak menerima pemberian. Praktisi Buddhis tak saja menjunjung tinggi pemahaman dan praktik dalam mempelajari Buddhisme, tetapi juga memupuk jasa kebajikan maupun kebijaksanaan. Jasa kebajikan dan kebijaksanaan seperti sepasang sayap seekor burung, satu dan lain tak terpisahkan. Dalam memupuk jasa kebajikan dibutuhkan kebijaksanaan sebagai panduan dan kebijaksanaan adalah akumulasi dari jasa kebajikan yang telah dilakukan. Oleh karena itu, dalam sutra diuraikan dengan jelas bahwa dalam pelatihan diri harus mengembangkan jasa kebajikan dan kebijaksanaan secara bersamaan, baru bisa mencapai keberhasilan. Bukan hanya agar terlahir di Alam Sukhavati, seseorang juga tidak boleh kekurangan akar penyebab jasa kebajikan. Terutama untuk mencapai kebuddhaan, tak ada metode khusus, hanya bisa dicapai melalui praktik jasa kebajikan dan kebijaksanaan. Buddha telah mencapai kesempurnaan mengembangkan jasa kebajikan dan kebijaksanaan secara bersamaan, oleh karenanya disebut sebagai “Tathagata yang telah sempurna dalam jasa kebajikan dan kebijaksanaan”. Selain itu, di antara makhluk hidup, entah berkaki dua, empat, sepuluh atau seratus, bahkan tidak berkaki pun, manusialah yang termulia, karena hanya manusia mampu berdiri tegak di atas kedua kakinya dengan ubun-ubun kepala menghadap ke langit dan kaki berpijak pada bumi. Kebuddhaan bisa dicapai oleh manusia. Di dunia ini, Buddha lahir, melatih diri dan mencapai pencerahan. Kebenaran yang dibabarkan Buddha mampu membebaskan semua makhluk hidup dari penderitaan.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

184

Oleh karena itu, di antara semua manusia, makhluk yang berkaki dua di dunia ini, tiada lagi yang dapat membandingkan kemuliaan Buddha. Dengan demikian, ketika ber namaskara pada Buddha, diri mengucapkan, “Aku berlindung kepada Buddha, Tathagata yang telah sempurna dalam jasa kebajikan dan kebijaksanaan” Jika dapat menyadari bahwa diri anda seperti Buddha, memiliki dua kaki, menyadari kemuliaan dan martabat diri, maka anda dapat memupuk jasa kebajikan dan mengembangkan kebijaksanaan hingga mencapai kesempurnaan. Melalui cara ini, bukankah semua juga dapat menjadi Tathagata yang telah sempurna dalam jasa kebajikan dan kebijaksanaan?

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

185

Buddha Amitabha

“Omithofo” merupakan pelafalan dalam bahasa Mandarin untuk Buddha Amithaba, yang telah menjadi ungkapan umum di kalangan Buddhis maupun non Buddhis. Ketika berpapasan muka di vihara, saling kenal atau pun tidak, satu sama lain memberi sapaan salam “Omithofo!”. Terkadang digunakan juga sebagai ucapan selamat pada seseorang yang memperoleh promosi jabatan. Bisa juga ungkapan rasa empati terhadap orang yang sedang menderita kerugian besar: “Omithofo!” saat seseorang tergelincir dan jatuh: “Omithofo! Apakah kamu terluka?” Selain itu, rasa syukur seseorang kala menerima pemberian: “Omithofo! Terima kasih!” Bagi orang canggung dalam mengekspresikan diri, kata “Omithofo” yang sederhana sudah cukup untuk menyampaikan ketulusan hatinya. Dapat dikatakan, bahwa tak ada ungkapan di alam semesta yang begitu baik nan bermakna daripada kata “Omithofo”. Tiada kata yang dapat menandingi dan juga dapat diterima secara baik oleh umum. Meski begitu, masih banyak orang yang belum memahami sepenuhnya arti kata “Omithofo.” “Omithofo” adalah transliterasi Sansekerta yang berarti “cahaya tak terbatas” dan “kehidupan tak terbatas”, melampaui waktu dan ruang, mewakili kehidupan yang tidak terbatas,

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

186

kebenaran dan kekuatan tak terbatas. Ini mengungkapkan pengembangan dari jasa kebajikan dan kebijaksanaan serta pembebasan dari kelahiran dan kematian. Dahulu kala, ada seorang pemuda mendengar pembabaran Dharma oleh Anggota Sangha tua mengenai pahala dan kebajikan yang sangat besar dengan melafalkan nama Buddha. Dia sangat tidak yakin dan berkata, “Bhiksu tua! Bagaimana mungkin melafalkan empat suku kata O Mi Tho Fo dapat membangkitkan kesadaran, melenyapkan bencana serta menambah berkah seseorang?” Anggota Sangha tua tersebut mendengar pertanyaan konyol ini, beliau tanpa sungkan berteriak singkat, “Idiot!” Pemuda itu pun marah dan berkata, “Anda adalah seorang pemuka agama, bagaimana bisa Anda memarahi orang!” Anggota Sangha tua menjawab dengan tenang, “’Idiot’ hanya dua suku kata, namun kamu sudah bereaksi dengan begitu keras. ‘O Mi Tho Fo’ terdiri dari empat suku kata, tentu saja pahala dan kebajikannya jauh lebih besar.” Ketulusan hati dalam melafalkan nama Buddha dapat mengatasi pikiran keliru, kemudian berkembang dari pikiran benar menuju tidak ada pikiran (kekosongan). Hasil dari praktik ini adalah sebagaimana maksud dengan perkataan, “Dalam pikiran ada Buddha jadi melafalkan Buddha dengan pikiran, melafalkan sampai pikiran kekosongan dan dengan demikian memperoleh pencapaian sejati.” Melafalkan Omithofo bukan hanya untuk praktisi Tanah Suci atau bagi mereka yang ingin terlahir di Tanah Suci Sukhavati. Nama Buddha Amitabha yang suci mengandung pahala dan jasa kebajikan tak terbatas. Nama ini, selayaknya konsep kekosongan yang mencakup makna tak terbatas. Coba bayangkan jika nama anda Hasan dan orang-orang

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

187

selalu memanggil anda, “Hasan!” Apa itu Hasan? Kata “Hasan” ini tidak selalu memiliki hubungan langsung dengan anda. Namun, jika seseorang mengatakan “Omithofo” kepada anda, maka anda akan bisa menjadi seperti Buddha Amitabha, anda dapat beresonansi dan menjadi satu dengan konsep kekosongan. Jadi, nama “Buddha Amitabha” memiliki manfaat besar dan penting bagi Anda. Di zaman dahulu, hidup seorang umat awam bernama Shimpei yang merupakan seorang penganut taat kepercayaan Tanah Suci serta rajin melatih diri. Siang malam, dia selalu melafalkan “Omithofo”. Meski ia sangat menghormati dan memiliki keyakinan teguh terhadap agama Buddha, akan tetapi kebijaksanaan dirinya tak bertumbuh. Ketika Guru Chan Sengai mengetahui kondisi ini, beliau bermaksud untuk memberi semangat serta dukungan. Suatu hari, Shimpei pergi ke vihara untuk bersujud kepada Buddha. Ketika Guru Sengai melihatnya, ia berkata, “Tuan Shimpei!” Shimpei melihat Guru Chan tersebut dan langsung menjawab, “Omithofo!” Guru Sengai memanggil lagi, “Tuan Shimpei!” Shimpei menjawab lagi, “Omithofo!” Guru Sengai memanggil lagi, “Tuan Shimpei!” Pada saat ini, Shimpei bingung, namun tetap menjawab, “Omithofo!” Guru Sengai kemudian bertanya, “Semua yang kamu ucapkan selalu ada kata “Omithofo” di dalamnya. Apakah kamu tidak merasa bahwa telah mengusik Buddha Amitabha?” Shimpei menjawab, “Omithofo! Saya adalah praktisi pelafalan nama Buddha, jadi tentu saja, nama Buddha tidak pernah lepas dari mulut dan pikiran saya.” “Omithofo!” jawab Guru Sengai sambil berlalu. Guru Sengai bermaksud memberitahu Shimpei, bahwa

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

188

dalam pelatihan diri, seseorang tidak bisa hanya bergantung pada Buddha Amitabha. Jika seseorang menanamkan Buddha Amitabha dengan kuat dalam pikiran dan menjadi diri seperti Buddha Amitabha, bukankah ini lebih baik? Itulah mengapa saya sering mengatakan bahwa pelafalan nama Buddha adalah “melafalkan tanpa berpikir untuk melafalkan, tidak melafalkan namun masih melafalkan.” Melafalkan nama Buddha juga membutuhkan tanggung jawab diri. Selain melafalkan nama Buddha, seseorang harus belajar dari ajaran Buddha, mengikuti jejak Buddha dan melayani masyarakat. Makna sesungguhnya dari melafalkan nama Buddha Amitabha untuk meneladani empat puluh delapan tekad agung Buddha Amitabha, setiap tekad merupakan welas asih dan kebijaksanaan untuk membebaskan semua makhluk dari penderitaan. Ini baru adalah makna melafal Omithofo.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

189

Pendewaan oleh Manusia

Setiap negara memiliki beberapa kepercayaan setempat akan dewa/dewi, biasa disebut sebagai agama rakyat. Selain itu, mereka juga yakin pada beberapa agama internasional atau global, dikenal sebagai agama dunia. Agama dunia tidak terikat pada satu negara atau komunitas; bersifat global, sehingga memiliki konsep, “agama tanpa batas”. Saat ini, yang termasuk agama dunia yaitu agama Buddha, Katolik, Kristen, Islam, Yahudi, Taoisme dan Konghucu. Untuk menjadi agama dunia, agama tersebut harus diakui dan diterima terlebih dahulu di seluruh dunia sehingga dianggap layak. Di samping itu, penganut kepercayaan lain tidak dapat bertahan lama; cepat atau lambat, mereka terpencar dan gugur. Kepercayaan agama rakyat setempat, sebagian besar percaya pada dewa/dewi. Beberapa orang bahkan percaya pada makhluk abadi, roh rubah, hantu dan asura, tetapi tak satupun di antaranya dikenal secara luas, bisa dikatakan bahwa sosok tersebut tercipta hanya demi memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri. Misalnya, ketika timbul perselisihan dan polisi diminta untuk mendamaikan kedua belah pihak. Namun, bila salah satu pihak merasa kurang adil pada mediator (polisi), ia akan bangun

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

190

sebuah kuil Tudigong (Dewa Bumi) untuk mengawasi mediasi. Bagi orang ini, Dewa Bumi ibarat sebagai kantor polisi dan dewa yang memimpin mediasi dengan adil. Bagi mereka yang kalah dalam pengadilan dan merasa dirugikan, mereka akan bangun sebuah kuil Chenghuangshen (Dewa Kota), hanya demi memperoleh keadilan dan agar Chenghuangshen adil dalam mengawasi hasil keputusan (pengadilan) tersebut. Berdasarkan beberapa contoh yang telah ada dapat disimpulkan, bahwa orang dapat merancang agama sendiri sesuai kebutuhan mereka. Misalnya, petani percaya pada Shennong (Dewa Pertanian), para kontraktor percaya pada Lu Ban (Dewa Pelindung para Pekerja Bangunan) dan pengusaha percaya pada Guan Gong (Dewa Kekayaan). Beginilah asal muasal pendewaan dan pemujaan terhadap dewa dewi. Beberapa orang memuja fenomena alam, seperti kilat, guntur, awan dan hujan untuk menjadi dewa yang mereka hormati dan segan. Beberapa lainnya memuja alam, seperti gunung, sungai dan bumi. Dalam beberapa kasus ada orang bangun kuil leluhur untuk mengenang kaisar agung atau pahlawan di masa lampau. Bahkan rakyat biasa yang memiliki kontribusi kecil pada suatu daerah akan didewakan dan di sembah sujud oleh penduduk lokal sebagai ungkapan terima kasih. Oleh sebab itu, alih-alih dewa menciptakan dunia seperti yang diyakini sebagai agama, bisa dikatakan bahwa manusia yang menciptakan para dewa tersebut. Namun, keyakinan umat Buddha yang benar tidaklah sama. Buddha Sakyamuni, pendiri agama Buddha, bukan dewa melainkan manusia. Beliau lahir di Kapilavastu, India dan memiliki orang tua bernama Raja Suddhodana & Ratu Maha Maya. Ada catatan sejarah mengenai kehidupannya di istana, termasuk praktik pertapaan saat menjalani pelatihan diri. Setelah beberapa tahun melatih diri dan bertapa dengan tekun, beliau menyadari kebenaran sejati. Karena

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

191

telah meraih pencerahan sempurna, pikirannya seluas alam semesta dan masa hidupnya tak terukur waktu. Melampaui waktu dan ruang, Buddha mengajarkan semua makhluk dengan cara penyembuhan (pelepasan dari penderitaan) dan kesadaran yang luar biasa. Buddha berbeda dari dewa, karena tak mengabulkan permintaan. Akan tetapi, beliau mengajarkan Dharma sejati tentang sebab, proses dan akibat. Buddha tidak memberi hukuman; beliau mengajarkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas perbuatan sendiri. Beliau adalah makhluk tercerahkan, orang bijak yang telah melampaui semua agama dan dewa. Beliau mengubah dan mendidik manusia dengan Dharma sejati, bukan menjanjikan keselamatan, kebahagiaan, kekayaan dan kehormatan. Memiliki keyakinan terhadap Buddha, dalam pengertian tradisional berarti menghormati Buddha dan yakin akan kebajikan, keberadaan serta manfaat dari ajaran-Nya. Buddhisme Humanistik saat ini juga tidak berbeda. Maka, jika seseorang percaya pada Buddha, ia harus kembali ketujuan awal dari Buddha. Buddha tidak menciptakan manusia, begitu pun manusia tidak menciptakan Buddha. Setiap orang tak bisa lari dari konsekuensi atas tindakan yang telah dilakukan dan bertanggung jawab sebab dan akibatnya. Seperti yang telah disabdakan, “Bersandar pada diri sendiri, mengandalkan Dharma dan tidak bergantung pada yang lain.” Ini adalah prinsip keyakinan tertinggi dalam agama Buddha.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

192

Enam Prinsip Keharmonisan juga dikenal sebagai enam cara untuk menciptakan dunia yang harmonis. Jika setiap orang mempraktikkannya dengan benar, tentu saja kehidupan bermasyarakat akan bebas dari pertikaian, dan negara akan stabil dan makmur.

— “Enam Prinsip Keharmonisan”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

193

Enam Prinsip Keharmonisan

Sejak dahulu kala, para bijak telah menekankan pentingnya kerukunan antar individu. Sebagai contoh, Konfusianisme mengajarkan bahwa “Kedamaian tidak ternilai harganya,” “Kerukunan akan membawa keberuntungan,” “Kedamaian dan kenyamanan membawa ketenangan,” dan “Hidup berdampingan secara damai tanpa terbawa arus.” Dalam Buddhisme, sering dikatakan bahwa “Sebuah vihara akan makmur ketika tidak ada perselisihan.” Perselisihan bisa dihindari ketika kerukunan antar individu tercapai. Enam Prinsip Keharmonisan dipraktekkan oleh anggota Sangha untuk menjaga kerukunan, dalam berinteraksi, dan melaksanakan aktivitas sehari-hari. Oleh sebab itu, Anggota Sangha juga disebut sebagai héshàng (和尚, yang mulia). Hé (和) mengacu pada kerukunan, dan shàng (尚), menjunjung tinggi; dengan kata lain, héshàng adalah seseorang yang menjunjung tinggi kedamaian dan kerukunan. Anggota Sangha diharuskan untuk berpedoman pada Dharma dalam seluruh aspek kehidupannya dan mematuhi Enam Prinsip Keharmonisan. Termasuk dalam interaksi satu sama lain, berpendapat atau pandangan, kehidupan sehari-hari, dan bahkan dalam hal pelatihan spiritual. Dengan kesepakatan (atas pedoman

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

194

dan prinsip) dan pelatihan ini, anggota Sangha dapat hidup berdampingan dalam kebahagiaan dan kerukunan tanpa perselisihan. Yang disebut “Kerukunan” disini mengacu pada kerukunan dalam prinsip keharmonisan dan pelatihan diri. Dengan kata lain, para anggota Sangha hidup secara berdampingan dengan berbagi pemahaman yang sama mengenai kebenaran dan cara hidup sehari-hari. Enam Prinsip Keharmonisan tersebut adalah: 1.

Keselarasan Pandangan menjadi satu pemahaman Hal ini berarti kesamaan ideologi dan mempunyai kesepakatan bersama dalam pemahaman akan suatu hal. Jika ada perselisihan pandangan, maka akan sulit untuk hidup dan bekerja bersama. Oleh sebab itu, harus ada kerukunan dan kesepakatan dalam suatu pandangan. 2.

Keselarasan Moral dengan menjalankan Vinaya yang sama Hal ini berarti kesetaraan aturan. Setiap orang harus taat pada Vinaya dan aturan yang sama tanpa terkecuali. Tidak ada yang diistimewakan. Dengan kata lain, setiap orang adalah sama di depan hukum (aturan). 3.

Keseimbangan Ekonomi (kebutuhan) melalui pembagian yang setara Hal ini berarti pembagian ekonomi (kebutuhan) yang setara, dimana semua kebutuhan hidup didistribusikan secara merata di antara semua anggota Sangha. Tidak ada diskriminasi berdasarkan posisi atau peringkat. Oleh karena itu, setiap orang memiliki hak yang sama.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

195

4.

Keharmonisan Mental bawa kegembiraan Hal ini berarti kerukunan dalam niat (pikiran). Seseorang harus sopan, memiliki etika yang baik, santun, rukun, dan menghormati satu sama lain saat tinggal dalam komunitas. 5.

Keharmonisan Ucapan dengan menghindari perselisihan Hal ini berarti berbagi sukacita melalui kata-kata. Tidak ada argumen atau perselisihan; semua percakapan diucapkan dalam bahasa yang sesuai di vihara. Misalnya: “Bolehkah saya menanyakan nama Dharma anda, Yang Arya?” “Mohon untuk memberikan ceramah Dharma, Yang Arya.” “Saya, seorang murid, tidak berani menerima kehormatan ini.” “Murid dengan segala kerendahan hati, saat ini dipenuhi dengan kesulitan untuk itu memohon bimbingannya.” Di mana ada Dharma, tidak akan ada perselisihan. 6.

Keharmonisan Jasmani (fisik) ketika hidup bersama Hal ini berarti lingkungan hidup yang stabil dan penuh kegembiraan. Sebuah vihara merupakan sebuah komunitas dimana semua orang tinggal bersama-sama. Karena setiap orang telah memilih jalan pelatihan spiritual untuk kebahagiaan, maka setiap orang harus hidup berdampingan dengan hati yang gembira. Di dalam Enam Prinsip Keharmonisan, Keselarasan pandangan menjadi satu pemahaman, keselarasan moral dengan menjalankan Vinaya yang sama, keseimbangan ekonomi melalui pembagian yang setara, merupakan intisari dari kerukunan; keharmonisan mental bawa kegembiraan, keharmonisan ucapan dengan menghindari perselisihan, keharmonisan fisik ketika hidup bersama merupakan kinerja (perwujudan) dari kerukunan. Menurut saya “keharmonisan” itu sungguh mengagumkan. Misalnya, ketika seseorang mengenakan pakaian yang

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

196

berwarna-warni, tetapi kalau warnanya serasi, ia akan terlihat anggun. Kelima indera mungkin terlihat berbeda satu dengan lainnya, tetapi ketika mereka berfungsi selaras, ia akan terlihat rupawan. Organ dalam tubuh memiliki fungsi yang berbeda, tetapi ketika mereka bekerja secara selaras, seseorang akan sehat. Kebahagiaan dan ketenangan tercapai karena komunitas Sangha taat pada Enam Prinsip Keharmonisan. Demikian juga, sebuah keluarga yang mempraktekkan Enam Prinsip Keharmonisan juga akan berbahagia dan bebas dari perselisihan. Sebuah tim yang mengikuti Enam Prinsip Keharmonisan akan memaksimalkan potensi kerja timnya. Masyarakat yang menjalankan Enam Prinsip Keharmonisan akan damai, bahagia, dan saling mendapatkan manfaat. Negara yang mewujudkan Enam Prinsip Keharmonisan akan makmur, sentosa, maju, dan tertata. Kesimpulannya, Enam Prinsip Keharmonisan juga dikenal sebagai enam cara untuk menciptakan dunia yang harmonis. Jika setiap orang mempraktikkannya dengan benar, tentu saja kehidupan bermasyarakat akan bebas dari pertikaian, dan negara akan stabil dan makmur.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

Menanam ladang kebajikan adalah dengan mengembangkan pahala dan kebijaksanaan melalui pemahaman Dharma dan pelatihan diri, seseorang mengembangkan pikirannya dengan menanamkan benih pada ladang kebajikannya.

— “Ladang Kebajikan”

197

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

198

Ladang Kebajikan

Dulunya negara Tiongkok adalah negara agraris, dimana masyarakatnya hidup dengan bercocok tanam. Dapat dikatakan pada awalnya berburu adalah mata pencaharian nenek moyangnya, sampai pada akhirnya perlahan-lahan berubah menjadi bercocok tanam sebagai sumber kehidupan, ini adalah peningkatan besar dalam integritas manusia. Saat bercocok tanam, orang tahu bahwa ladang yang subur menghasilkan panen yang baik, sedangkan ladang yang tandus menghasilkan panen yang jelek. Oleh karena itu, orang kaya di zaman dulu, memiliki ribuan hektar tanah yang subur, sehingga saat panen, mereka mendapatkan penghasilan yang banyak. Dalam Buddhisme, pikiran kita diibaratkan ladang, jika anda menabur benih di ladang, maka akan ada panen; demikian juga dengan ladang pikiran, apa yang kita tanam, tentu saja akan berbuah. Dalam agama Buddha, para anggota Sangha sering kali diibaratkan sebagai ladang kebajikan. Dengan kata lain, anggota Sangha yang suci dalam pikiran dan moralitas dianggap patut menerima persembahan dari manusia dan makhluk surgawi. Mereka yang berdana kepada Sangha akan menerima pahala kebajikan yang besar. Selain itu, kashaya (jubah Bhikkhu/Bhikkhuni) yang dikenakan oleh anggota Sangha disebut “jubah ladang kebajikan.”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

199

Jubah ditambal agar terlihat menyerupai lahan pertanian, diumpamakan bahwa para anggota Sangha mendukung tubuh jasmaninya melalui persembahan dari umat. Sebagai gantinya, para umat awam mengembangkan kebijaksanaannya dengan menerima ajaran Dharma dari anggota Sangha, anggota Sangha dan umat bersama-sama saling membantu mengembangkan jasa dan kebajikan. Dalam Buddhisme ada pepatah, pahala dan kebijaksanaan dilatih bersama, menitikberatkan pemahaman Dharma dan pelatihan diri, apa yang dimaksud dengan pemahaman adalah memiliki kapasitas pengetahuan tentang berbagai macam aliran yang berbeda, konsep, sejarah agama Buddha, semua ini diperlukan wawasan yang luas. “Pelatihan diri” mengacu pada pengembangan spiritual, seperti melafalkan nama Buddha, meditasi dan bersujud kepada Buddha. Menanam ladang kebajikan adalah dengan mengembangkan pahala dan kebijaksanaan melalui pemahaman Dharma dan pelatihan diri, seseorang mengembangkan pikirannya dengan menanamkan benih pada ladang kebajikannya. Di dalam sutra mengatakan ada delapan jenis orang yang dianggap sebagai “ladang kebajikan”: Buddha, Orang Suci (bijak), Sangha, Upadhyaya (pembimbing), Acarya (guru), Ayah, Ibu, dan Orang Sakit. Diantara delapan jenis ini, melayani Tri Ratna, berbakti kepada orang tua, menghormati guru, menjadi seorang teman yang baik, memuji orang lain dan tidak berbicara yang tidak baik, tentu saja semua ini ada pahalanya. Namun, ada sebuah pepatah Buddhis menyatakan bahwa “Diantara delapan ladang kebajikan, menjenguk orang sakit, adalah pahala yang terbaik.” Ini berarti agama Buddha menekankan perlunya memberikan perhatian lebih kepada makhluk hidup yang sakit dan menderita. Oleh karena itu, terhadap anak-anak yang terbatas, miskin, menderita, orang-orang yang mengalami kesulitan di pelosok

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

200

daerah, saya pikir mereka layak mendapatkan bantuan kita. Jika dapat memberikan bantuan dan perhatian kepada beberapa anak yatim piatu, orang sakit, dan pasien yang menderita di rumah sakit, memberikan perhatian dan pengobatan, di rumah sakit, semua ini adalah contoh untuk mengembangkan ladang kebajikan. Di dalam agama Buddha tidak harus berarti dengan melakukan perjalanan ziarah ke vihara yang jauh atau mempersembahkan dupa disebut berlatih diri. Di lingkungan kita, siapa yang bukan ladang kebajikan bagi kita? Bisa juga dikatakan bahwa masyarakat saat ini adalah ladang kebajikan, saya membantunya dan saya mendapatkan beberapa pengetahuan darinya. Dulu, ada umat berdana ke Fo Guang Shan, beberapa orang bertanya dengan iri, “Mengapa selalu memberi dana kepada Fo Guang Shan dan bukan kepada kami?” Umat ini menjawab, “Tidak mudah bagi kami untuk menghasilkan uang. Berdana itu seperti menanam pada ladang kebajikan; kita juga harus melihat ladang ini, berapa banyak yang kita dapat panen, dan bagaimana kita berinvestasi, selama para anggota Sangha di vihara berdedikasi mengembangkan lahan kebajikannya dengan membabarkan Dharma untuk kepentingan umat dan melayani masyarakat. Maka kami akan selalu mendukung dan membantu mereka, dengan meneladani dan mendukung mereka, kami juga menanam di ladang kebajikan kami sendiri.” Seseorang yang menginginkan pahala kebajikan harus memulai dengan menjalin jodoh karma yang baik. Seperti kata pepatah, “Sebelum seseorang mempelajari Jalan Buddha, pertama-tama ia harus menjalin jodoh dengan yang lainnya.” Semakin luas jodoh karmanya, maka semakin banyak yang bisa dituai di ladang kebajikannya. Jika kamu ingin sukses di bisnis lainnya, apakah kamu masih ragu tidak akan berjalan dengan

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

201

lancar? Untuk menuai panen yang melimpah, benih tidak boleh disemai di jalanan atau terkubur di bawah rumput liar, karena mereka tidak akan tumbuh. Hanya dengan memilih lahan yang subur untuk ditanami lah seseorang akan menuai hasil yang baik. Demikian pula, Buddha, Dharma, dan Sangha adalah lahan kebajikan terbaik untuk dipilih. Mari kita memilih ladang yang baik untuk ditanam.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

Berkat yang dimaksud adalah kekuatan batin dan pengalaman spiritual; dengan adanya kekuatan dan pengalaman seperti itulah disebut berkat.

— “Berkat dan Menyelamatkan”

202

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

203

Berkat dan Menyelamatkan

Pada umumnya, umat Buddha membaca sutra dan bersujud kepada Buddha dengan harapan untuk memperoleh berkat dari Buddha dan Bodhisattva. Berkat yang dimaksud adalah kekuatan batin dan pengalaman spiritual; dengan adanya kekuatan dan pengalaman seperti itulah disebut berkat. Sebagai contoh, seorang anak di luar sana terintimidasi lalu ibunya memberikan sebuah pelukan, dukungan, maka itulah berkat. Di vihara, umat datang bersujud kepada Buddha dan mendengarkan wejangan Dharma, sehingga ketakutan mereka sirna, itulah berkat. Ketika terjadi bencana, aparat pemerintah datang untuk menyelamatkan, membawa para korban ke tempat yang aman, menjamin keselamatan jiwa mereka, dengan bantuan-bantuan seperti inilah, mereka mendapatkan berkat. Demikian juga, semua makhluk, yang lemah dan dipenuhi ketakutan, membutuhkan sebuah keyakinan, serta kekuatan yang lain, pikiran, welas asih, dan berkat secara rohaniah. Misalnya ketika seseorang bersujud dan memiliki keyakinan pada Buddha dan Bodhisattva, maka kita akan diberikan tuntunan, berkat, sehingga dapat membantu kita menenangkan jasmani, hati dan pikiran, meningkatkan keyakinan dan kekuatan, mengembangkan kebijaksanaan serta memiliki kemampuan dalam menyelesaikan masalah. Akan tetapi, umat Buddha seharusnya tidak memohon secara berlebihan saat bersujud (berdoa) kepada Buddha dan

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

204

Bodhisattva untuk mengharapkan reaksi interaksi atau perlindungan dari-Nya. Buddha dan Bodhisattva bukanlah polisi kriminal ataupun jaksa di dunia ini. Beliau tidak lagi terlibat dengan segala penghargaan ataupun hukuman, dan juga bukan penegak hukum (penegak keputusan). Oleh karena itulah, kita harus beranggapan bahwa Buddha dan Bodhisattva adalah transenden (melampaui manusia/melampaui hal duniawi). Kejahatan yang kita lakukan di dunia ini, akan dihukum sesuai dengan sanksi hukum yang berlaku, tidak dapat dicampur tangan oleh Buddha dan Bodhisattva. Buddha dan Bodhisattva adalah perwujudan dari kebenaran, dan akan selalu selaras dan tidak pernah berlawanan dengan kebenaran. Terpenting dari berkat adalah dari kekuatan berkat-Nya (Buddha dan Bodhisattva) sampai menjadi berkat dari diri sendiri. Keyakinan, cinta kasih, welas asih, kebijaksanaan, kesabaran dan pengembangan diri, semua yang ada dalam diri kita itulah bentuk dari berkat yang berasal dari diri kita sendiri. Dalam Sutra, semua ajaran yang diajarkan oleh Buddha dan Bodhisattva pada akhirnya berpesan kepada para umat untuk menjadi tuan rumah bagi diri sendiri. Kita adalah pemilik karma kita sendiri, perbuatan baik dan perbuatan buruk, kebajikan dan kejahatan, semua itu harus ditanggung sendiri. Buddha dan Bodhisattva hanya memberikan petunjuk dan jalan. Oleh karena itu, setelah mendengarkan ajaran-ajaranNya, seseorang hendaknya percaya, menerima, dan mempraktikkan nya, bagaimanapun juga tidak boleh meminta-minta kepada Buddha dan Bodhisattva, tidak bisa semuanya mengandalkan-Nya untuk menganugerahi kita. Jika demikian maka di dunia sudah tidak ada lagi hukum sebab akibat atas perbuatan baik dan buruk. Oleh karena itu, para umat harus memiliki keyakinan dan menerima anugerah yang diberikan oleh para Buddha dan Bodhisattva. Di saat yang sama, tidak memohon perlindungan secara berlebihan, sehingga tidak mengindahkan hukum sebab dan akibat. Jika demikian akan menjadi pemahaman yang salah dan permohonan yang tidak sesuai.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

205

Empat Alam Dharma

Dalam agama Buddha, segala hal di alam semesta, entah itu prinsip, spiritual atau pun material, dikategorikan ke dalam “Alam Dharma”. Masing-masing memiliki nama, fungsi dan batasan. Misalnya, enam organ indra, enam objek indra dan enam kesadaran secara kolektif dikenal sebagai Delapan Belas Alam. Demikian pula di dalam Sutra Avatamsaka, cara mengamati dunia dirangkum ke dalam Empat Alam Dharma. 1. Alam Fenomena Segala hal di alam semesta, termasuk matahari dan bulan, yin dan yang, gunung dan air, dibedakan berdasarkan batasan sifatnya. Gunung adalah gunung, air adalah air, anda adalah anda, dan saya adalah saya. Dengan demikian semua fenomena dibedakan berdasarkan karakteristik. Sebagai contoh, mata berbeda dengan telinga dan telinga berbeda dengan hidung. Zhang San bukan Li Si dan Li Si bukan Wang Wu. Segala fenomena yang sangat beragam dalam semua hal disebut sebagai Alam Fenomena. 2. Prinsip Alam Meskipun segala sesuatu di alam semesta ini sangat berbeda, hanya ada satu wujud sejati dari pikiran dan kebenaran; hanya ada

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

206

satu wujud pikiran di Alam Dharma ini, yaitu kebajikan yang dihormati oleh semua. Begitu pula, segala sesuatu memiliki prinsip tersendiri. Manusia mengikuti prinsip humanis, benda di angkasa mengikuti prinsip langit. Perasaan timbul sesuai dengan prinsip emosional, situasi mengikuti prinsip logika dan materi mengikuti prinsip fisika. Oleh karena itu, semua Dharma, meskipun semua kondisi bersatu dan semua hal adalah satu, tetapi mereka masih memiliki batas-batas yang terpisah; semua kebenaran memiliki norma dan prinsipnya sendiri. Motivasi mendasar dan kekuatan pendorong di dunia ini adalah kebenaran dan sifat kebuddhaan kita. Mengamati dunia dengan menggunakan cara ini dikenal sebagai Prinsip Alam. 3.

Alam Dharma Tanpa Hambatan Prinsip dan Fenomena Prinsip dan fenomena saling berkaitan erat dan tidak mengganggu satu sama lain. Dengan kata lain, prinsip diuraikan hanya melalui fenomena, dan fenomena dijelaskan hanya melalui prinsip. Sebagai contoh, jika seseorang ingin membuat sebuah meja tanpa prinsip manufaktur, maka hasil akhir tidak akan terlihat seperti sebuah meja. Seperti itu pula, membangun sebuah rumah tanpa desain arsitektur agak mustahil. Oleh karena itu, prinsip dan fenomena saling bergantung satu sama lain. Fenomena menunjukkan prinsip, dan prinsip ada di dalam fenomena. Hal ini dikenal sebagai Alam Dharma Tanpa Hambatan Prinsip dan Fenomena. 4. Alam Dharma Tanpa Hambatan Semua Fenomena Fenomena tak terhitung jumlah, materi dan objek di dunia ini, memiliki aspek yang berbeda, akan tetapi semua memiliki inti yang sama, tidak ada kontradiksi, tak satupun saling bertentangan. Oleh

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

207

sebab itu, kita tidak perlu membeda-bedakan ini dengan itu, atau timur dengan barat. Semua fenomena saling terkait secara sempurna. Seperti yang diajarkan Konfusius tentang keselarasan langit, bumi dan manusia. Agama Buddha menguraikan lebih lanjut dan menjelaskan bahwa “Alam Dharma yang Saling Bergantung”. Satu dan banyak tidaklah berbeda, besar dan kecil saling mendukung. Semua fenomena tercermin satu sama lain dalam kaitan yang tak ada habisnya. Demikianlah disebut Alam Dharma Tanpa Hambatan Semua Fenomena. Empat Alam Dharma, sebagaimana dijelaskan dalam Sutra Avatamsaka, memberi pemahaman benar tentang alam semesta, bahwa semua Dharma berasal dari pikiran. Ini adalah tuntunan untuk belajar melepas kemelekatan, prasangka, perselisihan dan konflik di tengah segudang fenomena serta dunia yang semu. Sebaliknya, seseorang harus mengamati setiap prinsip dan fenomena melalui sebab akibat yang saling bergantungan, kesetaraan dan keharmonisan. Hal ini selaras dengan makna dasar dari Empat Alam Dharma seperti yang diajarkan dalam Sutra Avatamsaka.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

Orang bisa berkumpul bersama ketika kondisi tepat, dan berpisah ketika kondisi tak lagi mendukung. Karena kondisi timbul tenggelam secara berkelanjutan, tak perlu selisih paham mengenai benar atau salah, baik atau jahat.

— “Satu adalah Banyak”

208

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

209

Satu adalah Banyak

Di dalam Alam Dharma Tanpa Hambatan Fenomena, satu dari Empat Alam Dharma yang diajarkan dalam Sutra Avatamsaka, tidak ada halangan antara prinsip dan fenomena, diri dan orang lain atau satu dan banyak. Dari sudut pandang Sutra Avatamsaka, “Satu belum tentu sedikit, demikian juga satu miliar tidaklah banyak.” Satu adalah satu, tapi bisa juga dianggap banyak. Banyak adalah banyak, tetapi juga dapat dianggap sebagai satu. Satu dan banyak adalah non dualistis; karena itu “satu adalah banyak, banyak adalah satu.” Sebagai contoh, Kami di sini memberikan pelajaran menggunakan kapur untuk menulis, debu dari kapur bertebaran ke bawah. Setiap partikel debu begitu halus, hampir tak terlihat. Dan debu itu berada dimana-mana, namun setiap partikel debu itu merupakan bagian dari sebatang kapur tersebut, hasil dari proses produksi dan pengemasan yang melelahkan sebelum dijual di toko. Baru ada sebatang kapur ini, dan satu partikel debu ini. Maka, satu partikel debu bukan hanya “satu”, tapi perpaduan dari berbagai sebab, kondisi dan daya upaya hingga akhirnya menjadi ada. Contoh lain: Saya berada disini sebagai “seseorang” dalam “sebuah” kelas, yang terletak di “sebuah” kampus, dan lebih lanjut lagi berlokasi di “sebuah” tempat yaitu Taiwan, di “sebuah” bumi,

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

210

dalam “sebuah” kesunyataan. Anda katakan apakah saya ada berkata salah? Jika membandingkan “satu” partikel debu dengan “sebuah” kesunyataan, maka definisi dari besar dan kecil, “satu” partikel debu lebih besar? Atau “sebuah” kesunyataan, lebih besar? Apakah “satu” itu banyak, atau “banyak” itu banyak? Melalui cara ini, sebuah partikel debu dapat mencakup Tri Sahasra Maha Sahasra Loka Dhatu (alam miliaran dunia, alam semesta, jagad raya) sebuah ilustrasi dari konsep “satu adalah banyak”. Demikian pula, Tri Sahasra Maha Sahasra Loka Dhatu dapat diartikan sebagai “satu”, namun tidak berkurang dalam ukuran dan jumlah. Dalam agama Buddha aliran Mahayana, perspektif tentang alam semesta dan kehidupan tak sama dengan sebagian besar orang ketahui dan amati dengan pikiran diskriminasi. Karena kamu ada pandangan diskriminatif tentang kamu baik dan dia jahat, kamu besar dan aku kecil, kamu tinggi dan aku rendah, dan kamu miskin dan saya kaya, segala macam pertentangan, segala macam perbedaan, jadi ada benar dan salah di dunia, menimbulkan ketakutan dan kekotoran batin. Seandainya, di dalam dunia dapat menyatukan konsep satu dan banyak, banyak dan sedikit, diri dan orang lain, serta benar dan salah. Saya ada dalam diri anda dan anda ada dalam diri saya, dan dengan cara ini, alasan apa lagi yang tersisa untuk menimbulkan pertikaian atau kebencian? Setiap orang di dunia ini saling terhubung satu sama lain. Orang bisa berkumpul bersama ketika kondisi tepat, dan berpisah ketika kondisi tak lagi mendukung. Karena kondisi timbul tenggelam secara berkelanjutan, tak perlu selisih paham mengenai benar atau salah, baik atau jahat. Praktisi Buddhis harus belajar melihat keseluruhan Tri Sahasra Maha Sahasra Loka Dhatu dari sebuah partikel debu. Seperti kata pepatah “Buddha melihat bahwa, sebutir beras sama

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

211

besar dengan Gunung Semeru”. Bagaimana sebutir beras bisa disamakan dengan Gunung Semeru? Namun, dari perspektif lain, sebutir beras itu datang dari orang yang menjual beras dan dari petani yang bekerja keras menanam. Bahkan dari langit dan bumi, matahari dan bulan, sinar mentari dan curah hujan, atau irigasi buatan yang memerlukan perpaduan daya upaya langit dan bumi agar menghasilkan butiran beras. Jika segala sebab dan kondisi dari sebutir beras sudah terpenuhi, apakah tidak dapat melebihi Gunung Semeru? Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa “kecil” adalah “besar”, “satu” sesungguhnya “banyak”. Setelah mengetahui hal ini, tak lagi perlu bersikap diskriminasi atau menolak orang lain. Merangkul perbedaan, buat hati seseorang menjadi dermawan dan memperluas cakrawala. Secara alami kesuksesan seseorang juga akan lebih besar. Ungkapan berikut dapat ditemukan sewaktu membaca Sutra Manjushri: “Batin merangkul kekosongan yang begitu luas dan hati tanpa batas, seperti dunia yang tak terhitung jumlahnya.” Sederhananya: meluaskan hati sampai dapat menutupi kekosongan yang luas. Dengan membiarkan seluruh alam semesta dan semua alam dharma masuk ke dalam hati seseorang, maka akan sama seperti seluas alam semesta dan semua alam dharma. Cuma dengan merangkul semua, hati seseorang baru bisa menjadi “tak terbatas bagai butiran pasir yang tak terhitung di dunia.” Praktik Buddhisme Humanistik tidak fokus pada hal mistis, namun pada kemurahan hati dan kesabaran ketika berinteraksi dengan setiap orang di sela rutinitas kehidupan. Apa seseorang sanggup memahami bahwa segala sesuatu di alam semesta ini ada karena berbagai sebab dan kondisi, dan karena itu segala sesuatu saling terkait? Jika demikian, maka patut bersyukur atas berbagai sebab dan kondisi yang buat seseorang jadi seperti saat ini. Jangan

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

212

sampai tersia-siakan; akan tetapi menghargai, raih dan bikin sebab dan kondisi untuk diri sendiri dan orang lain. Ini adalah praktik hakiki dari agama Buddha.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

213

Dharma adalah rumah sekaligus juga surga indah nan sejuk. Memiliki Dharma sebagai kediaman luhur buat hidup bertumbuh dan berkembang. Inilah yang disebut “menjadikan Dharma sebagai rumah tinggal,” yang bermakna “Dharma sebagai kediaman luhur diri.”

— “Dharma sebagai Kediaman Luhur”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

214

Dharma sebagai Kediaman Luhur

Sebagian besar orang beranggapan Dharma sebatas kitab suci, sumber kebenaran, bahkan ada pula keyakinan, hanya untuk membabarkan Sutra dalam rangka penyebaran Buddha Dharma. Dimana Dharma berada? Bila ada di ruang penyimpanan Sutra, maka Dharma sulit terjangkau oleh masyarakat umum. Jika dalam hati Anggota Sangha terkemuka, maka Dharma tak dapat diketahui masyarakat umum. Kalau di sebuah kuil di atas gunung, maka Dharma tak menjangkau semua orang. Sesungguhnya, Dharma ada di mana? Dharma ada di dalam kesunyataan dunia; segala fenomena di dunia adalah Dharma. Bahkan segala sesuatu, hidup dan bertumbuh, seperti kata pepatah “Bambu hijau yang subur adalah kebenaran menakjubkan; bunga kuning yang subur tak lain adalah Prajna,” semua ini adalah Dharma. Semua Dharma adalah kebenaran yang disabdakan oleh Buddha, mampu membebaskan diri dari kekotoran batin, penderitaan, sekaligus meningkatkan kebijaksanaan dan keyakinan pada diri sendiri. Oleh karena itu, Buddha mengajarkan untuk “mengandalkan diri sendiri, mengandalkan Dharma serta tidak mengandalkan hal lain.” Ketika seseorang berlindung pada Tri Ratna dan berpegang teguh pada Pancasila Buddhis, maka Tiga Permata dan Pancasila

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

215

Buddhis adalah Dharma. Dharma tak seharusnya dipandang sebagai ideologi abstrak semata, namun kebenaran yang luas dan tak berwujud. Dharma memiliki tingkatan, terdapat Dharma untuk duniawi dan Dharma yang adi duniawi. Demikian pula, praktisi awam memiliki ajaran Dharma untuk awam dan para Anggota Sangha memiliki ajaran Dharma untuk Sangha. Sila dapat disejajarkan sebagai hukum; seperti layaknya kebenaran dalam Sutra Buddhis, setiap kalimat serta makna yang terkandung ibarat guru, semua ini adalah Dharma. Istilah “Dharma sebagai Kediaman luhur”, Dharma seumpama rumah di mana seseorang tinggal. Di mana seseorang tinggal? Tentunya bisa tinggal di villa, gedung pencakar langit atau apartemen, akan tetapi Dharma tak berada di sana. Ada istilah, “Tiga Alam ini bagai rumah yang terbakar”, Anda tinggal di dunia yang dipenuhi dengan lima keinginan dan enam debu, seperti tinggal di rumah yang terbakar, seseorang tidak akan mencapai pencerahan. Oleh karena itu, seseorang harus berdiam dalam Dharma. Jika memiliki keyakinan pada Dharma, keyakinan ini adalah tempat berdiam diri. Jika melantunkan Sutra, maka Sutra jadi rumah berdiam diri. Dengan demikian, “Dharma sebagai Kediaman luhur” berarti Dharma sebagai rumah; berdiam di dalam dan menjadikan Dharma sebagai rumah kita. Ketika Dharma dijelaskan secara panjang lebar, belum tentu diri bisa memahami betapa penting Dharma bagi kita; namun, dengan perumpamaan rumah, kita bisa memahami betapa penting rumah bagi diri. Seperti apa yang dikatakan, “Di antara tempat tinggal yang terbuat dari emas maupun perak, tak lebih baik dari tempat tinggal sederhana milik sendiri.” Meskipun Dharma tak terhitung, tak terbatas dan tak terukur, jika saja bisa mendapatkan sedikit dari Dharma, itu akan menjadi milik dan bermanfaat. Ini sama seperti uang satu dollar bisa membeli kue

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

216

untuk dimakan dan menghilangkan rasa lapar. Jika seseorang berlatih dan praktik salah satu aspek Sad Paramita (dana, sila, kesabaran, semangat, konsentrasi dan kebijaksanaan), maka bisa terbebaskan. Sebagai contoh, berbicara dengan kata-kata santun dan penuh perhatian pada orang lain, satu sama lain memandang dengan kebaikan dan penuh kasih, tegur sapa dengan hangat dan kasih sayang, menggunakan tangan dengan baik serta welas asih saat membantu orang lain juga memberkati orang lain dengan kasih sayang, jika bisa menerapkan hal ini, maka diri akan meraih pembebasan. Dharma adalah rumah sekaligus juga surga indah nan sejuk. Memiliki Dharma sebagai kediaman luhur buat hidup bertumbuh dan berkembang. Inilah yang disebut “menjadikan Dharma sebagai rumah tinggal,” yang bermakna “Dharma sebagai kediaman luhur diri.”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

Praktisi Buddhis tak boleh beranggapan pencerahan itu mustahil. Pencerahan bukan hal yang mustahil, ada praktik ada kebajikan, tidak sulit untuk tercerahkan jika anda memiliki kultivasi dalam pelatihan.

— “Pencerahan”

217

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

218

Pencerahan

Dalam kehidupan, begitu banyak misteri, ada yang mengarah pada pertanyaan tidak terjawab dan juga membingungkan. Jika saja seseorang telah mencapai “pencerahan” dan memahami segalanya, apa masih sulit untuk mencapai kebuddhaan? Sejak zaman dahulu, para Master Chan hanya berusaha mendapat pencerahan, bukan mencapai kebuddhaan. Banyak yang berpikir bahwa pencerahan adalah suatu hal misterius dan sulit, namun sesungguhnya ada berbagai tingkat dalam pencerahan. Seperti saat menuntut ilmu, pengetahuan menentukan tingkat pemahaman, ini dapat dianggap sebagai suatu bentuk pencerahan. Agama Buddha meyakini bahwa keraguan kecil menuju pencerahan kecil, keraguan besar menuju pencerahan besar, tidak ada keraguan yang tak menuju pada pencerahan. Oleh karena itu, penting untuk bertanya dan bertanya. Hanya dengan pertanyaan, seseorang dapat bertumbuh lebih bijak dan terinspirasi. Hanya dari pertanyaan, jalan keluar dan pemahaman timbul. Inilah yang disebut mencapai pencerahan. Banyak ilmuwan di dunia, seperti Thomas Edison menemukan lampu pijar, Wright bersaudara menemukan pesawat terbang, Isaac Newton menemukan gravitasi dan Benjamin Franklin

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

219

menemukan listrik, ini adalah penemuan dan ini juga merupakan pencerahan. Namun, pencerahan yang mereka raih sebatas pengetahuan duniawi, teori yang berkontribusi pada dunia atau pencerahan duniawi, tidak seperti para Master Chan yang memiliki pencerahan sejati tentang "Dari mana kehidupan berawal dan kemana seseorang akan pergi setelah kematian ?" Praktisi yang telah mencapai pencerahan, tidak peduli peristiwa yang telah lama berlalu, dapat kembali pada ingatannya, tidak peduli tempat itu seberapa jauhnya, akan muncul di depan matanya. Orang yang telah tercerahkan terhadap waktu, entah di masa lalu, sekarang atau masa depan, sekejap semua ada dipikirannya. Di segenap ruang dari sepuluh penjuru, timur, selatan, barat, utara, jaraknya hanya bagaikan satu inci. Secara langsung memiliki Tri Sahasra Maha Sahasra Loka Dhatu (alam tiga ribu maha ribu atau bisa disebut tanah Buddha dalam membabarkan Dharma). Su Dongpo, seorang penyair dinasti Song, menulis tiga syair yang menguraikan tiga fase dari Chan dan pencerahan. Fase pertama: sebelum berlatih Chan. Bagai melihat sebuah barisan pegunungan saat jauh di seberang, jika dari sisi samping, akan terlihat seperti sebuah puncak. Jauh, dekat, tinggi serta rendah, memiliki sisi pandang berbeda; Walau sudah berada di tengah gunung, tapi tidak tahu bentuk sebenarnya dari Gunung Lu. Ini seperti melihat gunung sebagai gunung, melihat air sebagai air, sebuah pola pikir yang terbentuk dalam pikiran delusi.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

220

Fase kedua: kondisi pikiran saat berlatih Chan, sebelum tercerahkan. Hujan berkabut di Gunung Lu, pasang surut ombak di Zhejiang, fenomena belum tiba, ribuan kebencian telah muncul, saat hujan berkabut di Gunung Lu, pasang surut ombak Zhejiang tiba, ternyata bukan apa-apa. Ini diartikan sebagai sebuah tahapan di mana “gunung bukan lagi sebuah gunung, dan air bukan lagi air.” Gunung dan air tak terlihat seperti sebelumnya. Ketika seseorang melihat dengan kebijaksanaan kedua hal tersebut menjadi hal yang tidak serupa. Fase ketiga: pikiran setelah tercerahkan. Suara aliran air sungai seperti lidah yang panjang nan lebar; Pegunungan yang indah, tak lain hanya bagai tubuh murni. Langit malam bawa delapan puluh empat ribu lantunan syair, bagaimana berperilakunya seseorang di masa depan? Setelah tidak melekat pada keserakahan dan keinginan, seseorang melihat dan memperhatikan bahwa “gunung masih tetap gunung, dan air masih tetap air”. Gunung dan air yang dilihat seseorang dari mata air kebijaksanaan mengalir dari pikiran. Dengan demikian, seseorang dapat melihat segala hal dengan pikiran yang tenang.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

221

Baik anggota Sangha maupun umat awam, tak perlu memohon terbebaskan dari malapetaka atau kesulitan, seharusnya berusaha untuk tercerahkan. “Bagai orang mabuk, merasa telah menyelesaikan masalah, padahal sedang melarikan diri dari kenyataan.” Ini adalah dunia fana, “Satu pencerahan mengerti ribuan masalah.” Ini baru dunia yang sebenarnya. Kita bernamaskara kepada Buddha untuk meminta pencerahan, melafal nama Buddha untuk meminta pencerahan, melakukan perbuatan baik untuk meminta pencerahan, tentu saja melatih Chan juga untuk meminta pencerahan. Pencerahan adalah sebuah harapan yang harus dimiliki, sedangkan ketidaktahuan adalah sumber penderitaan. Ketidaktahuan jadi sebab kelahiran kembali, bila ketidaktahuan lenyap maka selesai sudah tumimbal lahir. Apapun yang terjadi, saat tercerahkan, hidup atau mati, seseorang akan menghadapi segala hal dengan pikiran jernih. Huineng, Patriark Chan ke-6 yang tuna aksara bisa tercerahkan. Ketika Master Taixu pada usia 19 tahun berlatih di Gunung Pu Tuo, Beliau tidak pernah ke sekolah namun bisa tercerahkan jua. Sama halnya, saat ini pun, banyak umat Buddha yang telah tercerahkan, namun mungkin mereka memilih untuk diam serta tak mengungkapkan. Tidak seperti di masa lampau, Buddha dapat mengetahui seseorang telah tercerahkan hanya dengan mendengarnya bicara, namun sekarang tidak ada saksinya terhadap pencapaian pencerahan seseorang. Praktisi Buddhis tak boleh beranggapan pencerahan itu mustahil. Pencerahan bukan hal yang mustahil, ada praktik ada kebajikan, tidak sulit untuk tercerahkan jika anda memiliki kultivasi dalam pelatihan.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

222

Bergantung pada Diri Sendiri, Bergantung pada Dharma

Tentu saja, kita mengetahui bahwa agama Buddha memiliki sejarah yang panjang, memiliki banyak penganut dan juga memiliki kekayaan budaya yang beragam. Buddhisme cocok untuk biarawan dan perumah tangga, tidak mencampuri urusan politik nasional tetapi berfokus kepada pendidikan dan mendukung stabilitas dan tatanan sosial dengan meningkatkan nilai moral dan etika seseorang dan masyarakat, oleh sebab itulah Buddhisme dianggap maha agung. Tetapi keagungan ajaran Buddha sejati terletak pada doktrin dan ajarannya. Seperti yang dikatakan dalam Āgama sutra (阿含經, kumpulan dari Teks Buddhis Awal) mengatakan bahwa "Bergantung kepada diri sendiri, bergantung kepada Dharma dan tidak bergantung pada hal lainnya." Apabila perkataan ini dipahami secara dangkal, tanpa pemahaman yang sebenarnya, keagungan dari ajaran Buddha tidak dapat terjangkau. Bahkan Hyang Buddha sendiri tidak menyebut diri-Nya yang maha agung. Melainkan, Beliau berkata bahwa Dharma lah yang maha agung. Hyang Buddha percaya bahwa seseorang harus bergantung kepada Dharma untuk mencapai kebuddhaan. Hal ini

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

223

dikarenakan dengan adanya Dharma, maka ada Buddha dan Sangha. Seperti yang dikatakan, “Dari segala persembahan yang ada, persembahan Dharma adalah yang utama.” Hyang Buddha pun bergantung pada Dharma dalam pelatihan-Nya hingga tercapainya pencerahan. Dalam ajaran Buddha Dharma, Hyang Buddha menguraikan berbagai ajaran yang menjelaskan mengenai kebenaran alam semesta dan kehidupan manusia. Sebagai contoh, sebab musabab yang saling bergantungan dan jalan tengah, kebenaran sejati akan hakikat diri, sebab dan akibat dari hukum karma, tiga alam samsara yang diciptakan oleh pikiran, berbagai fenomena yang berasal dari gudang kesadaran, non-dualitas, dan lain-lain. Namun, saya merasa bahwa realisasi Hyang Buddha terhadap alam semesta ini dan makna dari menemukan diri sejati yang berasal dari kalimat “Bergantung pada diri sendiri, bergantung pada Dharma.” Dari kedua kalimat ini, saya dapat memahami bahwa ini membuat orang-orang menjadi sangat terkesan dan menghormati Dharma. Yang disebut "Bergantung pada diri sendiri" adalah seperti halnya Hyang Buddha tidak mengharuskan semua orang untuk menuruti apa yang dikatakan-Nya, mengikuti-Nya dan meniru-Nya, Beliau mengajarkan kita untuk menemukan hakikat sejati diri sendiri. Hyang Buddha mengatakan bahwa kita harus "Bergantung pada diri sendiri", dengan cara berlindung, mempercayai dan mengembangkan diri sendiri dan melampaui diri kita sendiri. Ini adalah harapan yang tulus dari Hyang Buddha. Selain dari " Bergantung pada diri sendiri", kita juga harus “Bergantung kepada Dharma". Hyang Buddha tidak pernah menyatakan bahwa diri-Nya (Buddha) adalah yang teragung di dunia ini. Dia percaya bahwa Dharma dan Kebenaran adalah yang teragung. Oleh sebab itu, kita harus beralih kepada Dharma dan

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

224

Kebenaran. Oleh karena itu, dalam agama Buddha, dikatakan bahwa "Kita harus bergantung kepada Dharma tidak bergantung kepada individu." Sebagai Buddhis kita harus mandiri, bergantung kepada Dharma, selalu memperbaiki diri, transendensi diri, selaras dengan kebenaran dan kita harus memiliki tujuan dan pemahaman yang benar dan jelas akan tujuan kita di masa depan. Sangat disayangkan apabila manusia tidak menyadari potensi besar mereka dan tidak mau untuk berkembang. Beberapa tertarik pada uang/materi, beberapa didominasi oleh cinta dan beberapa melekat kepada Enam Objek diluar, seperti penglihatan, suara, aroma, rasa, sentuhan dan buah pemikiran, atau Lima Keinginan, yaitu kekayaan, nafsu keinginan, ketenaran, makanan dan tidur. Bergantung pada materi duniawi hanyalah belenggu yang tidak dapat dilepaskan, bergantung pada ketenaran dan kekayaan duniawi hanyalah sia-sia. Seperti awan sekilas di langit, mereka tidak dapat diandalkan karena pada akhirnya, kita tidak akan punya apa-apa. Bahkan ada sebagian orang mengandalkan kekuatan makhluk lainnya dan membiarkan kekuatan teokratis mengatur diri mereka, ini yang membuat mereka semakin tidak dapat terbebas dari penderitaan. Misalkan seperti yang diajarkan Hyang Buddha, seseorang yang berlindung kepada dirinya sendiri maka ia akan terbebas oleh usaha yang dilakukannya, ia tidak perlu untuk mengandalkan kekuatan eksternal dari makhluk lainnya, ia harus mengandalkan dirinya sendiri. Untuk memiliki kasih sayang, seseorang harus mempunyai Prajna (kebijaksanaan), untuk tercerahkan seseorang harus memiliki pandangan benar dan selaras dengan kebenaran di alam semesta ini. Anda harus memahami bahwa "Jalan pencerahan tidak terbatas pada masa lalu atau masa depan, pencerahan ada di momen

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

225

saat ini." Dengan menegaskan bahwa saya adalah Buddha, Dharma dan Sangha, seseorang menjadi teladan, perwujudan dan contoh dari kebenaran. Jika seseorang dapat mengembangkan dirinya dengan cara ini, ia tidak perlu lagi bergantung pada dewa atau kekuatan mistik. Segala sesuatu tidaklah muncul dengan sendirinya, singkatnya tidaklah gratis. Anda bahkan tidak perlu bergantung pada Hyang Buddha, Hyang Buddha tidak akan menghadiahi anda dengan manfaat apa pun. Manfaat terbesar yang beliau berikan kepada kita adalah memberitahukan kita jalan menuju pembebasan diri. "Bergantung kepada diri sendiri, bergantung kepada Dharma", saya merasa terkesan dan kagum dengan kebenaran absolut yang ditemukan di dalam ajaran Buddha. "Bergantung pada diri sendiri, juga berarti bergantung kepada Dharma." Ajaran ini sangat penting untuk perbaikan diri, perubahan diri dan pembebasan diri kita. Pada saat ini, manusia tertekan oleh perang dan politik, tertipu oleh berbagai kekuatan mistik dan takhayul. Mereka tidak dapat melihat cahaya dan masa depan diri mereka sendiri. Jika kita dapat mempraktikkan dua kalimat dari Buddha "Bergantung kepada Diri sendiri, Bergantung kepada Dharma" dengan setulus hati dan memahami arti sebenarnya, saya berpikir, ini akan memiliki arti yang berbeda dibandingkan dengan kebenaran Buddhis tentang hukum sebab akibat, karma, sebab musabab yang saling bergantungan, Jalan Tengah, dan kebenaran sebagai hakikat diri sejati.

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

226

Pelimpahan jasa adalah tindakan memberi tanpa pamrih. Jika orang-orang dapat mempertahankan pikiran baik seperti itu, pastinya akan menambah keharmonisan dan kebahagiaan yang tak tertandingi bagi dunia ini.

— ”Pelimpahan Jasa”

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

227

Pelimpahan Jasa

Di dalam vihara-vihara, setiap harinya setelah melakukan kebaktian pagi dan sore akan diakhiri dengan pembacaan Tri Sarana dan pelimpahan jasa. Setelah makan pagi dan makan siang bersama di aula makan, juga akan diakhiri dengan pelimpahan jasa. Biasanya pada upacara kematian yang dilakukan untuk para umat terdapat pelimpahan jasa untuk kematian, pada upacara permohonan doa juga terdapat pelimpahan jasanya tersendiri. Mengapa kegiatan keseharian di vihara, terakhir selalu diselesaikan dengan pelimpahan jasa? Apa makna dari pelimpahan jasa tersebut? Yang disebut dengan pelimpahan jasa berarti “menabung”, misalnya anda memiliki banyak uang dan menaruh di rumah tidaklah aman, sehingga menyimpannya di bank. Anda telah melakukan jasa kebajikan, berharap mendapat kesehatan bagi orang tua, mendapat keselamatan bagi keluarga, inilah makna dari "pelimpahan jasa". Pelimpahan jasa layaknya seperti menabur benih, lalu merawatnya dengan hati-hati, agar dapat tumbuh, berbunga dan menghasilkan buah yang berlimpah. Dengan bibit (sebab) yang kecil dapat menghasilkan buah (akibat) yang banyak. Pelimpahan jasa juga layaknya seperti sebuah lilin yang dapat menyalakan lilin lainnya, meski cahaya lampunya terus menyebar,

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

228

cahaya lilinnya itu sendiri tidak akan melemah, justru semakin terang. Pelimpahan jasa juga merupakan semacam kebesaran hati sebagaimana kemuliaan untuk Hyang Buddha, kesuksesan untuk orang banyak, manfaat untuk vihara, jasa kebajikan untuk para umat. Oleh karena itu, pelimpahan jasa memiliki banyak arti, antara lain: (1) Melimpahkan jasa dari yang kecil untuk yang besar. (2) Melimpahkan jasa dari diri sendiri untuk orang lain. (3) Melimpahkan jasa dari yang berbentuk fenomena untuk yang nyata/mutlak. (4) Melimpahkan jasa dari sebab untuk akibat. (5) Melimpahkan jasa dari yang isi untuk yang kosong, dan lainnya. Yang dimaksud dengan melimpahkan jasa dari yang kecil untuk yang besar adalah sama seperti kita mendanakan sepotong kecil roti, lalu melimpahkan jasa ini kepada para rakyat sederhana di dunia ini semoga mereka mendapatkan sandang dan pangan yang cukup. Atau kita menyumbang seratus yuan untuk dana pembangunan universitas, lalu melimpahkan jasa ini kepada para siswa-siswi, semoga lahir dan batin mereka tenang sehingga dapat mencapai kemajuan dalam studi mereka. Awalnya hanya sepotong kecil roti, seratus yuan, tetapi melalui pelimpahan jasa yang kita lakukan, maka semua orang di dunia ini dapat memperoleh jasa kebajikan ini. Sementara itu, melimpahkan jasa dari diri sendiri untuk orang lain, seperti kita melimpahkan jasa untuk orang tua, atas kebajikan pembacaan sutra dan bernamaskara kepada Buddha, dengan harapan semoga mereka panjang umur. Atau kita melimpahkan jasa kebajikan untuk anak-anak, atas kebajikan turut

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

229

berpartisipasi dalam membantu pencetakan sutra, agar mereka memiliki kepandaian dan kebijaksanaan. Yang dimaksud dengan menguntungkan diri sendiri dan orang lain, inilah makna dari melimpahkan jasa dari diri sendiri untuk orang lain. Apa yang dimaksud dengan melimpahkan jasa dari yang berbentuk fenomena untuk yang nyata/mutlak? Dapat dijelaskan sebagai berikut, diri kita bersedia menjadi segelas air untuk menghilangkan dahaga, diri kita bersedia membuat sebuah jalan agar orang-orang dapat melaluinya tanpa hambatan, diri kita bersedia menjadi sebuah pohon besar untuk memberikan keteduhan bagi orang-orang, diri kita bersedia menjadi anak yang berbakti agar orang tua makmur dan bahagia, diri kita bersedia menjadi orang tua yang baik agar menjadi panutan bagi anak-anaknya. Kesemuanya ini, meskipun faktanya hanya sedikit saja, tetapi karena pikiran tidak terbatas, maka pada prinsipnya segalanya dapat diberikan secara universal. Ada lagi, melimpahkan jasa dari sebab untuk akibat. Dalam kehidupan kita saat ini, apa yang diperbuat dan dilakukan, semuanya itu adalah "tahapan penyebab (Kausalitas)”. Namun, dengan adanya penyebab dalam kehidupan saat ini, tentunya di masa depan atau kehidupan yang akan datang pasti akan berbuah. Sama seperti menabur benih di musim semi, panen di musim gugur, menabur benih tahun ini, panen di tahun depan. Penyebab dan karma baik yang ditanam dalam kehidupan ini, akan memperoleh buah baik yang berlimpah di masa depan, inilah melimpahkan jasa dari penyebab untuk akibat. Selanjutnya, melimpahkan jasa dari yang isi untuk yang kosong. Melakukan pelimpahan jasa pasti ada sasarannya, tetapi sebenarnya terbatas. Anda dapat mengubah yang terbatas menjadi tanpa batas, inilah melimpahkan dari yang isi untuk yang kosong. Sama seperti angkasa (ruang kosong) dapat memuat semua yang

Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana

230

ada di alam ini, dengan melihat bahwa Lima Kelompok Unsur Kehidupan (Panca Skandha) adalah kosong, maka seseorang dapat mengatasi semua penderitaan dan kesakitan. Oleh karena itu, yang berwujud kembali ke tak berwujud, yang berkondisi kembali ke tak berkondisi. Hati dan pikiran saat melakukan pelimpahan jasa hendaknya seluas angkasa, seluas alam Dharma (Dharmadhatu). Dalam kehidupan kita sehari-hari, kapan saja dan di mana saja dapat mempraktekkan ajaran pelimpahan jasa. Asal ada sedikit saja niat pikiran baik, atau bahkan sekalipun itu hanyalah sedikit perbuatan baik, juga dapat melakukan pelimpahan jasa. Kita dapat melakukan pelimpahan jasa kepada orang lain sesuai dengan kemampuan kita, layaknya setetes air yang kecil pun dapat menjadi lautan yang luas, tidak peduli seberapa lemahnya cahaya lilin, tetap dapat menerangi kegelapan. Pelimpahan jasa adalah tindakan memberi tanpa pamrih. Jika orang-orang dapat mempertahankan pikiran baik seperti itu, pastinya akan menambah keharmonisan dan kebahagiaan yang tak tertandingi bagi dunia ini.

Tentang Institute of Humanistic Buddhism Fo Guang Shan Didirikan pada tahun 2013 oleh Master Hsing Yun, Institute of Humanistic Buddhism Fo Guang Shan memiliki tujuan untuk membabarkan ajaran Hyang Buddha dan gagasan Master Hsing Yun tentang Buddhisme Humanistik. Institut ini berusaha merekrut para ahli dan mendidik para pembelajar Buddhisme, mengumpulkan tulisan-tulisan Kanon Buddhis kuno maupun kontemporer, juga menyusun karya lengkap Master Hsing Yun. Melalui Pusat Urusan Internasional, institut ini menerjemahkan karya-karya Master dan menyelenggarakan simposium tahunan tentang Buddhisme Humanistik. Selain itu, institut ini juga mengadakan forum-forum akademik lainnya dalam lingkup internasional yang menyambut para pembelajar dan muda-mudi yang luar biasa di seluruh dunia untuk mempelajari agama Buddha.

Welas asih, kasih sayang, simpati dan kerelaan meliputi seluruh alam semesta. Menghargai berkah dan menjalin ikatan jodoh antar sesama serta memberi manfaat bagi semua makhluk. Mempraktekkan meditasi, aliran Sukhavati serta menjalankan Sila dan keseimbangan batin untuk memperoleh kesetaraan dan kesabaran. Melaksanakan tekad agung dengan kerendahan hati dan bersyukur.

First Draft

Mengandalkan diri sendiri; Mengandalkan Dharma; Tidak mengandalkan hal lainnya.

Di lingkungan Buddhis saat ini, banyak klaim telah dibuat atas apa yang telah diajarkan Hyang Buddha. Namun, apakah itu benar-benar diucapkan oleh Sang Buddha? Buku Buddha-Dharma: Murni dan Sederhana mengeksplorasi lebih dari 300 topik, di mana Master Hsing Yun mengklarifikasi ajaran Buddha dengan cara yang sederhana dan mudah dimengerti oleh pembaca modern. Pandangan Buddhis yang salah harus dikoreksi, makna Dharma yang sebenarnya harus dilestarikan agar sesuai dengan maksud asli Sang Buddha Buku pertama ini berisi 52 artikel tentang topik keyakinan dan pedoman, menjadi dasar bagi para pembaca untuk mempelajari dan mempraktikkan jejak Sang Buddha. Selain itu, buku ini juga menjadi inspirasi bagi para praktisi untuk berjuang mencapai kebuddhaan dan meyakini bahwa “Saya adalah seorang Buddha.” Master Hsing Yun adalah pendiri Vihara Buddhis Fo Guang Shan. Sebagai seorang anggota Sangha, beliau mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menyebarkan ajaran Buddhisme Humanistik ke seluruh dunia selama lebih dari delapan puluh tahun.

Diterjemahkan oleh : INSTITUT DONG ZEN INDONESIA