Data Loading...

Catholic Online :Maria dari Fatima Flipbook PDF

Penampakan Maria dari Fatima dan pandangan Gereja terhadap wahyu pribadi.


371 Views
263 Downloads
FLIP PDF 1.17MB

DOWNLOAD FLIP

REPORT DMCA

Maria dari Fatima

B

ulan juni 2016 merupakan anugerah bagi umat Katolik di Indonesia. Duplikat patung Maria dari Fatima tiba di Indonesia, tepatnya di Surabaya, pada tanggal 29 Mei 2016. Mengingat devosi umat Katolik kepada Bunda Maria begitu mendalam, kehadiran patung Maria dari Fatima merupakan suatu berkat di tahun kerahiman ini. Patung Maria dari Fatima selalu mengelilingi dunia sebagai bentuk kerinduan umat beriman kepada Bunda Maria, juga diingatkan kembali pesan-pesan Maria Fatima kepada dunia melalui 3 anak di Fatima, Portugal. Berikut adalah kisah singkat penampakan Maria di Fatima. Fatima adalah sebuah kota kecil sebelah utara kota Lisbon di Portugal. Pada tahun 1917 Bunda Maria menampakkan diri di Fatima kepada tiga orang anak gembala. Mereka adalah Lucia dos Santos berumur 10 tahun, sepupunya bernama Fransisco Marto berumur 9 tahun dan Jacinta Marto berumur 7 tahun. Penampakan Maria didahului tiga penampakan Malaikat setahun sebelumnya yang mempersiapkan anak-anak ini untuk penampakan Bunda Maria. Malaikat mengajarkan kepada anak-anak, dua doa penyilihan yang harus didoakan dengan hormat yang besar. Pada penampakan terakhir di musim gugur 1916, Malaikat memegang sebuah piala. Ke dalam piala ini meneteslah darah dari sebuah Hosti yang tergantung di atasnya. Malaikat memberi ketiga anak itu Hosti sebagai Komuni Pertama mereka dari piala itu. Anakanak tidak menceritakan penampakan ini kepada orang lain. Mereka melewatkan waktu yang lama dalam doa dan keheningan. 13 Mei 1917 Pesta Bunda Maria dari Sakramen Mahakudus. Ketiga anak itu sedang menggembalakan ternaknya di Cova da Iria, sebuah padang alam yang amat luas, kira-kira satu mil dari desa mereka. Tiba-tiba mereka melihat sebuah kilatan cahaya dan setelah kilatan yang kedua, muncul seorang perempuan yang amat cantik. Pakaiannya putih berkilauan. Perempuan yang bersinar bagaikan matahari itu berdiri di atas sebuah pohon oak kecil dan menyapa anak-anak:

"Janganlah takut, aku tidak akan menyusahkan kalian. Aku datang dari surga. Allah mengutus aku kepada kalian. Bersediakah kalian membawa setiap korban dan derita yang akan dikirim Allah kepada kalian sebagai silih atas banyak dosa -sebab besarlah penghinaan terhadap yang Mahakuasa- bagi pertobatan orang berdosa dan bagi pemulihan atas hujatan serta segala penghinaan lain yang dilontarkan kepada Hati Maria yang Tak Bernoda?" "Ya, kami mau," jawab Lucia mewakili ketiganya. Dalam setiap penampakan, hanya Lucia saja yang berbicara kepada Bunda Maria. Jacinta dapat melihat dan mendengarnya, tetapi Fransisco hanya dapat melihatnya saja.

Pemasangan veil dan mahkota pada Patung Maria Fatima Perempuan itu juga meminta anak-anak untuk datang ke Cova setiap tanggal 13 selama 6 bulan berturut-turut dan berdoa rosario setiap hari. 13 Juni 1917 ketiga anak itu pergi ke Cova. Pada kesempatan itu Bunda Maria mengatakan bahwa ia akan segera membawa Jacinta dan Fransisco ke surga. Sedangkan Lucia diminta tetap tinggal untuk memulai devosi kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda. Ketika mengucapkan

kata-kata ini, muncullah dari kedua tangan Maria sebuah cahaya. Di telapak tangan kanannya nampak sebuah hati yang dilingkari duri, Hati Maria Yang Tak Bernoda yang terhina oleh dosa manusia.

"Yesus ingin agar dunia memberikan penghormatan kepada Hatiku yang Tak Bernoda. Siapa yang mempraktekkannya, kujanjikan keselamatan. Jiwa-jiwa ini lebih disukai Tuhan, dan sebagai bunga-bunga akan kubawa ke hadapan takhta-Nya." "Janganlah padam keberanianmu. Aku tidak akan membiarkan kalian. Hatiku yang Tak Bernoda ini akan menjadi perlindungan dalam perjalananmu menuju Tuhan." 13 Juli 1917 "Berkurbanlah untuk orang berdosa. Tetapi teristimewa bila kalian membawa suatu persembahan, ucapkanlah seringkali doa ini: Ya Yesus, aku mempersembahkannya karena cintaku kepada-Mu dan bagi pertobatan orang-orang berdosa serta bagi pemulihan atas segala penghinaan yang diderita Hati Maria yang Tak Bernoda."

Patung Maria dari Fatima di Katedral Malang Kemudian Bunda Maria memperlihatkan neraka yang sangat mengerikan. Begitu ngeri sampai anak-anak itu gemetar ketakutan. "Bila kelak, pada suatu malam kalian melihat suatu terang yang tak dikenal, ketahuilah bahwa itu adalah 'Tanda' dari Tuhan untuk menghukum dunia, karena banyaklah kejahatan yang telah kalian lakukan. Akan terjadi peperangan, kelaparan dan penganiayaan terhadap Gereja dan Bapa Suci."

"Untuk menghindari hal itu, aku mohon, persembahkanlah negara Rusia kepada Hatiku yang Tak Bernoda serta komuni pemulihan pada Sabtu pertama setiap bulan." "Bila kalian berdoa Rosario, ucapkanlah pada akhir setiap peristiwa: Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami. Selamatkanlah kami dari api neraka dan hantarlah jiwa-jiwa ke surga, teristimewa

jiwa-jiwa yang sangat membutuhkan kerahiman-Mu. Amin." 13 Agustus 1917 anak-anak tidak bisa datang ke Cova karena mereka semua digiring ke pengadilan oleh penguasa daerah setempat. Mereka diancam akan dimasukkan ke dalam minyak panas. Anak-anak dijebloskan ke dalam penjara selama 2 hari. Pada tanggal 19 Agustus Bunda Maria menampakkan diri pada saat anak-anak sedang menggembalakan ternak mereka di Valinhos.

tiba di Biara Rubiah Flos Carmeli "Berdoalah, berdoalah dan bawalah banyak korban bagi orang berdosa. Sebab betapa banyak yang masuk api neraka karena tidak ada yang berdoa dan berkorban bagi mereka." 13 September 1917 Bunda Maria mendesak lagi tentang betapa pentingnya doa dan kurban. Ia juga berjanji akan datang bersama St. Yusuf dan Kanak-kanak Yesus pada bulan Oktober nanti. "Dalam bulan Oktober aku akan membuat suatu tanda heran, agar semua orang percaya."

13 Oktober 1917 Bersama anak-anak, sekitar 70.000 orang datang ke Cova untuk menyaksikan mukjizat yang dijanjikan Bunda Maria. Pagi itu hujan deras turun seperti dicurahkan dari langit. Ladang-ladang tergenang air dan semua orang basah kuyub. Menjelang siang, Lucia berteriak agar orang banyak menutup payung-payung mereka karena Bunda Maria datang. Lucia mengulangi pertanyaannya pada penampakan terakhir ini, "Siapakah engkau dan apakah yang kau kehendaki daripadaku?" Bunda Maria menjawab bahwa dialah Ratu Rosario dan ia ingin agar di tempat tersebut didirikan sebuah kapel untuk menghormatinya. Ia berpesan lagi untuk keenam kalinya bahwa orang harus mulai berdoa Rosario setiap hari. "Manusia harus memperbaiki kelakuannya serta memohon ampun atas dosa-dosanya." Kemudian dengan wajah yang amat sedih Bunda Maria berbicara dengan suara yang mengiba: "Mereka tidak boleh lagi menghina tuhan yang sudah begitu banyak kali dihinakan." Bunda Maria kemudian pergi ke pohon oak sebagai tanda penampakan berakhir.

Awan hitam yang tadinya bagaikan gorden hitam menyingkir ke samping memberi jalan matahari untuk bersinar. Kemudian matahari mulai berputar, gemerlapan berwarna-warni, berhenti sejenak dan mulai berputar-putar menuju bumi. Orang banyak jatuh berlutut dan memohon ampun. Sementara fenomena matahari terjadi, ketiga anak melihat suatu tablo Keluarga Kudus di langit. Di sebelah kanan tampak Ratu Rosario. Di sebelah kirinya St. Yosef menggandeng tangan Kanak-kanak Yesus dan membuat tanda salib tiga kali bagi umatnya. Menyusul visiun yang hanya tampak oleh Lucia seorang diri: Bunda Dukacita bersama Tuhan berdiri di sampingnya dan Bunda Maria dari Gunung Karmel dengan Kanak-kanak Yesus di pangkuannya. Matahari meluncur seolaholah akan menimpa orang banyak, tibatiba ia berhenti dan naik kembali ke tempatnya semula di langit. 70,000 orang yang berkerumun di Cova itu menyadari bahwa pakaian mereka yang tadinya basah kuyub oleh hujan lebat, tiba-tiba menjadi kering. Demikian pula tanah yang tadinya becek dan berlumpur akibat hujan tiba-tiba menjadi kering. Mukjizat matahari selama 15 menit itu disaksikan bukan hanya oleh orang-orang di Cova da Iria saja, tetapi juga oleh banyak orang di sekitar wilayah itu sampai sejauh 30 mil. Sumber: http://yesaya.indocell.net/ Sumber Foto: Diptyarsa

Perziarahan Gereja diwarnai dengan berbagai penampakan-penampakan ilahi, baik itu kejadian yang memang berasal dari Allah maupun dibuat untuk mencari keuntungan atau memiliki tujuan lain untuk merugikan Gereja. Pengalaman pribadi terhadap kejadian supranatural, pengalamannya bertemu dengan Yesus Kristus atau para kudus Allah disertai pesan-pesan meruapakan wahyu pribadi. Lalu apa yang dikatakan oleh Gereja mengenai Wahyu Pribadi?

Figure 1 Maria dari Lourdes

Katekismus Gereja Katolik No. 67 menyatakan “Dalam peredaran waktu terdapatlah apa yang dinamakan “wahyu pribadi”, yang beberapa di antaranya diakui oleh pimpinan Gereja. Namun wahyu pribadi itu tidak termasuk dalam perbendaharaan iman. Bukanlah tugas mereka untuk “menyempurnakan” wahyu Kristus yang definitif atau untuk “melengkapinya”, melainkan untuk membantu supaya orang dapat menghayatinya lebih dalam lagi dalam rentang waktu tertentu. Di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, maka dalam kesadaran iman, umat beriman tahu membedakan dan melihat dalam wahyu-wahyu ini apa yang merupakan amanat otentik dari Kristus atau para kudus kepada Gereja.Iman Kristen tidak dapat “menerima” wahyu-wahyu yang mau melebihi atau membetulkan wahyu yang sudah dituntaskan dalam Kristus. Hal ini diklaim oleh

agama-agama bukan Kristen tertentu dan sering kali juga oleh sekte-sekte baru tertentu yang mendasarkan diri atas “wahyu-wahyu” yang demikian itu.” Beberapa poin yang dapat kita petik, diantaranya: 1. Wahyu Pribadi TIDAK termasuk dalam perbendaharaan iman. 2. Wahyu Pribadi bukan untuk menyempurnakan wahyu Kristus yang definitif, APALAGI menyempurnakannya! 3. wahyu Pribadi bermanfaat membantu umat Allah untuk menghayati Iman yang Gereja wartakan 4. Wahyu Pribadi melalui wewenang Mengajar Gereja, bertugas untuk membedakan mana yang sungguh berasal dari Allah dan mana yang memang berasal dari si jahat untuk merusak kesalehan umat beriman secara “perlahan” 5. Wahyu Pribadi TIDAK dapat membetulkan atau mengubah ajaran Kristus! Dari beberapa point di atas, Gereja Katolik tidak pernah menolak wahyu Pribadi yang Ilahi (untuk membedakan wahyu palsu). Gereja memandangnya baik dan menjadi sarana yang menguatkan umat beriman dalam kedekatannya kepada sang pencipta. Praktik-praktik devosi tentunya tidak bertentangan dengan wahyu yang definitif apalagi memiliki tujuan untuk menyempurnakan wahyu definitif. Namun perlu diketahui juga, wahyu pribadi yang walaupun sudah diakui oleh Gereja, umat beriman tidak memiliki kewajiban mempercayai layaknya mempercayai dan mengimani dogma Gereja.

Figure 2 Maria dari Akita

Untuk lebih jelas, Contoh sederhananya Gereja Katolik menyatakan bahwa Maria dikandung tanpa noda (Dogma Gereja), beberapa tahun kemudian Santa Perawan Maria menampakan diri kepada St. Bernadette di Lourdes dan memperkenalkan diri sebagai “yang dikandung tanpa noda”.Wahyu pribadi St. Bernadette ini tidaklah bertentangan dengan ajaran resmi Gereja, karena memanglah demikian bahwa Maria dikandung tanpa noda. Tentu tidak mudah untuk menyatakan wahyu pribadi itu benar-benar dari sang Ilahi. Peristiwa Lourdes tentu membutuhkan masa untuk menyatakannya benar dari Allah. Contoh yang bertolak belakang adalah kisah Angelina Zambrano yang menyatakan bahwa Paus Yohanes Paulus II meninggal dan masuk neraka. Walaupun Angelina ini bukan seorang Katolik, namun dapat diangkat menjadi contoh wahyu pribadi yang mungkin dibuat-buat atau berasal dari si jahat. Bagaimana pun juga, ketika wahyu pribadi Angelina ini bermunculan di dunia maya maupun nyata, banyak umat Katolik yang merasa kebingungan dan diresahkan dengan pemberitaan ini. Tentu kisah ini dinyatakan palsu, karena Gereja telah menyatakan Paus Yohanes Paulus II sebagai santo. Beberapa penampakan / wahyu pribadi yang diakui oleh Gereja Katolik, diantaranya: Penampakan Maria dari Lourdes, Maria dari Fatima, Maria dari Akita, dan sebagainya. Tempat penampakan tersebut menjadi pusat perziarahan umat beriman, dan tentu umat beriman merasa terbantu dalam meneguhkan imannya. Dikabarkan juga bahwa terjadi banyak mukjizat yang dialami perseorangan. Walaupun demikian, sekali ditegaskan kembali, Gereja tidak pernah mewajibkan umat beriman untuk mempercayainya, disamping Gereja menyatakan bahwa penampakan/wahyu pribadi tersebut adalah benar dan berasal dari Allah. Satu hal yang tak kalah pentingnya adalah bahwa wahyu pribadi yang belum mendapat pernyataan apa-apa dari Gereja baiklah untuk tidak menyebarluaskan, apalagi yang sudah dinyatakan wahyu pribadi tersebut bukan berasal dari Ilahi, maka umat beriman wajib untuk tidak mempercayainya! Baiklah semua urusan wahyu pribadi yang membawa pesan-pesan untuk Gereja dan dunia adalah urusan Gereja untuk menyeledikinya. Sumber: VGE

Berita Gereja di Indonesia

Telah hadir: Mantilla, Kerudung Mempelai Kristus

Untuk Memesan Buku: (mendapatkan diskon 20% (belum termasuk ongkir) silakan memesan langsung dari Dioma Jakarta (utk wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, dan Sumatra), atau Dioma Malang (utk daerah lainnya).)

Dioma Jakarta Kompleks Pesona Kyoto D4 No. 24 Kota Wisata, Cibubur, Bogor 16968 Telp. 02184933259 Email. [email protected] CP. Sova atau Tri Dioma Malang Jl. Bromo No. 24 Malang Telp. 0341326370, 0341366228 Email. [email protected] CP. Ibu Anis atau Thomas