Data Loading...
001 Muqaddimah Flipbook PDF
001 Muqaddimah
118 Views
17 Downloads
FLIP PDF 1.44MB
Abu Ezra Laili Al-Fadhli
• Judul Manzhumah: • Manzhumah At-Tanbihat Al-Wadhihah Litilawati Suratil Fatihah • Penyusun: • Syaikh Abu Yusuf Akram Al-Hasyimi Al-Baghdadi • (Baghdad, 15 Februari 1980 - …) • Matn ini beserta syarhnya disebarkan secara langsung oleh penyusun dalam beberapa forum online.
• Mengapa memilih Nazhm ini? • Diuraiakan beragam permasalahan tilawah, khususnya dalam surat Al-Fatihah, • Disusun berdasarkan hasil evaluasi beberapa nazhm serupa yang telah ditulis sebelumnya, • Telah mendapat rekomendasi dari salah seorang pakar ilmu qiraat, Fadhîlatusy Syaikh Al-Muqri Hasan Mushthafâ Al-Warrâqiy.
• An-Nazhim mengatakan:
َُ ََ م َ م م آن ِ مِن فضلِهِ ت َِلوة ٱلقر
مَُ َ َ م ََ م َ ان ِ • أۡحد من اسبغ ل ِۡلنس
• Aku memuji Dzat yang telah menyempurnakan bagi manusia, kenikmatan dan keutamaan berupa tilawah Al-Quran dan kenikmatan lainnya berupa ganjaran dan pahala.
• An-Nâzhim (penyusun syair) r mengawali syairnya dengan mengucapkan pujian bagi Allâh c, dengan kalimat: “Aku memuji Dzat yang telah menyempurnakan bagi manusia, kenikmatan dan keutamaan berupa tilawah Alquran dan kenikmatan lainnya berupa ganjaran dan pahala.”
• Beliau juga memulai syair ini dengan hamdalah untuk ber-qudwah (mengambil teladan) kepada Alquran, dan sebagai bentuk pengamalan atas hadits Ibnu Mâjah, َ َ م َ ُ مyang َ َ ُ مdiriwayatkan َ َ م ه َ ُ مoleh ََُ َ ُم َ ُّ ُ م ال َل يبدأ فِيهِ ِِبم ِد ٱَّللِ فه َو أجذم أو أقطع أو ٍ • َُكَ أم ٍر ذِي ب ُأ مبت • Setiap urusan yang memiliki kemuliaan yang tidak dimulai dengan hamdalah maka ia terputus.
• An-Nazhim mengatakan:
َ َُ مُ ُ َ َ َ م ال ِ خۡي مرت ٍِل وخۡي ت
ُ َ ً ََ ه َ م • مصلِيا لَع ٱنل ِِب وٱۡل ِل
• Aku bershalawat dengan shalawat atas Nabi dan keluarganya. Beliaulah sebaik-baik orang yang mentartilkan Al-Quran, dan sebaik-baik orang yang mengikuti kandungan Al-Quran.
• An-Nâzhim melanjutkan bait-bait syairnya dengan shalawat ke atas Nabi g denganُ َ َ ُ ً perkataannya: ()مصلِيا, maknanya adalah ( أص ِل ُ )م َصل ِ ًيا: “aku bershalâwât dengan shalâwât” atas seorang Nabi. َ م • An-Nâzhim melanjutkan (“ )وٱۡل ِلbeserta keluarganya”.
• Keluarga Nabi g (Ahlul Bait) memiliki dua makna: pertama makna umum, yaitu ummat ijâbah yang mencakup seluruh pengikut beliau. • Kedua: makna khusus, yaitu Ahlul Bait yang tidak berhak menerima zakat dan shadaqah.
• Tartîl berasal dari kata rattala-yurattilu-tartîlan, subjeknya adalah murattil dan objeknya adalah murattal. Artinya adalah terstruktur rapi, teratur, dan jelas. Dalam konteks membaca Al-Qur`an, Ar-Râghib Al-Asfahânî mengatakan dalam Al-Mufradât bahwa tartil bermakna:
َِٱست َقامة • إ مر َس ُال مٱل ََك َمةِ م َِن مٱل َفم ب ُس ُهولَةِ َو م ِ ِ ِ ِ ِ
• “Mengeluarkan setiap kata dari mulut dengan ringan dan tepat.” • Sedangkan Al-Imâm Ibnul Jazariy meriwayatkan dalam An-Nasyr, dari Al-Imâm ‘Alî bin Abî Thâlib h bahwa tartil bermakna: •
َ م ُ ُ َ َ م ُ ُ ُم َُُ َ م َُ م وف ِ • ٱلتتِيل هو َتوِيد ٱۡلر ِ وف ومع ِرفة ٱلوق
“Tartil adalah mentajwidkan huruf dan mengetahui kaidah waqf.”
Mentajwidkan huruf berarti membaca huruf sesuai dengan tempat keluarnya dengan disertai sifat hak dan mustahaknya. Sedangkan yang dimaksud ma’rifatul wuquf artinya memahami kapan dan di mana kita boleh atau harus berhenti, serta kapan dan di mana kita boleh atau harus memulai membaca Al-Quran. Sungguh, tidaklah seseorang memahami persoalan wuquf, kecuali bila ia memahami makna yang terkandung pada setiap ayat yang dibaca.
Secara istilah, tajwid bermakna:
ُ ُ َ م م َم َ َم َرجهِ َم َع إ مع َطائهِ َح هق ُه َو ُم مس َت َ ُح هقه م ُك حر ٍف مِن ِ ِ ِ ِ إِخراج
“Mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya beserta memberikan sifat hak dan mustahaknya.” [Taysirurrahmaan Fii Tajwiidil Quran, hal. 23]
Membaca dengan tajwid juga berarti membaca AlQuran sebagaimana dahulu pertama kali diturunkan Allaah ﷻkepada Nabi Muhammad ﷺmelalui Malaikat Jibril ‘alayhis salaam. Inilah yang dikehendaki oleh Allaah ﷻdan yang lebih disukai-Nya. Dari Zaid bin Tsabit, dari Nabi ﷺ bersabda: َ َ ُ
َ ه ه َ ُ ُّ م ُ م َ َ َ م ُ م َ ُ َ َ م إِن ٱَّلل ُيِب أن يقرأ هذا ٱلقرءان كما أن ِزل
“Sesungguhnya Allaah menyukai Al-Quran ini dibaca sebagaimana Al-Quran diturunkan”. [HR. Ibnu Khuzaimah]
• Membaca Al-Qur`an sebagaimana dahulu diturunkan berarti membacanya dengan bahasa, cara, dan gaya membaca orang-orang Arab yang hidup pada masa nubuwwah (zaman kenabian), yakni para Sahabat j. Karena mereka menyimak secara langsung bagaimana Rasûlullâh g membacakannya kepada mereka. Karenanya, kita juga diperintahkan untuk membaca Al-Qur`an dengan dialek dan gaya bahasa orang-orang Arab yang fasih, yakni dialek dan gaya bahasa para Sahabat j. Diriwayatkan dari Hudzayfah bin Al-Yaman, Rasûlullâh g bersabda:
ُ َ َمَُم مُ م َ ُُ َ ُ م َ َ َ م َ َ َ ه َ ُ َ َ سق ِ • ٱقرءوا ٱلقرءان بِلح ِ أهل ٱلكِتاب ِ ون ٱلعر ِ أهل ٱل ِف ِ يو ِ ب وأصوات ِها وإيكم وۡلون
• “Bacalah Al-Qur`an dengan dialek orang Arab dan suara-suaranya yang fasih. Dan berhati-hatilah kalian dari dialeknya Ahli Kitab dan langgamnya orang-orang fasik.” [HR. Ath-Thabarâniy dan Al-Bayhâqiy]
• Berkaitan dengan hal ini, Al-Imâm Ibnul Jazariy berkata dalam Thayyibatun Nasyr:
م ُ َ َ م َ ُ ُ م م َ ب ِ • مع حس ِن صو ٍت بِلح ِ ون ٱلعر َُهً َُهً م َ َ مرتَل ُمودا بِٱلعر ِب
• “Dengan suara yang indah, yakni: dengan dialek Arab, dengan tartîl (khusyu’ dan tadabbur), dengan tajwid (tepat makhrajnya dan sempurna sifatnya), serta dengan bahasa Arab (yang paling fasih).”
Bahkan, Al-Imam Ibnul Jazariy juga menegaskan kewajiban mempraktikkan tajwid saat membaca Al-Quran dalam Muqaddimahnya. Beliau berkata,
َ َ َُ َم َُ م ُان آث ِم من لم ُيوِدِ ٱلقر َ َ َ ََ َ َ َ م ُ َم وهَٰكذا مِنه إَِلنا وصَل
ََ م ُاتل مجوي ِد َح متم ََلزم ٱۡل مخ ُذ ب ه و ِ ِ َِ َ َ م َ َٰ ُ م َه ُ ٱۡلله أنزَل ِ ِِۡلنه بِه
“Dan mengamalkan tajwid kewajiban yang hukumnya tetap bagi seluruh muslim mukallaf. Siapa saja orang yang (sengaja) tidak mengamalkan tajwid saat membaca Al-Quran (sampai mengubah makna), maka ia berdosa, Karena bersama dengan tajwid Allaah menurunkan Al-Quran dan cara membacanya. Serta bersama dengan tajwid pula Al-Quran dan cara membacanya dari-Nya sampai kepada kita.”
Lebih khusus, berkaitan dengan kesempurnaan melafazhkan huruf-huruf hijaiyyah, telah sampai kepada kita sebuah riwayat dari Ummu Salamah radhiyallaahu ‘anha saat ditanya bagaimanakah karakterisitik bacaan Nabi: َ
ًَُ ه ًَ َ مً َم َ َه َ َ م َ ُ ه َ َ أنها نعتت ق ِراءة ٱلرسو ِل ﷺ مفَّسة حرفا حرفا
Dari Ummu Salamah radhiyallaahu ‘anha, bahwa sesungguhnya dia telah menyifati bacaan Rasuulullaah ﷺ, (yaitu membaca dengan) memperjelas huruf demi huruf. [HR.Tirmidzi 2923]
Al-Imam Ibnul Jazariy dalam Muqaddimah-nya mengatakan:
َُ َ ه ً َ َ م ََم ُّ ُ ِ قبل ٱلُّش وع أوَل أن يعلموا َ م ُ َ َم َ ُّ ات ِ َِلل ِفظوا بِأفص ِح ٱللغ
م َُ ُ َ َم َ ُُم هتم جب علي ِهم ِ إذ وا َ َ َ ُم َ َ ُ ات ِ َمارِج ٱۡلر ِ ٱلصف ِ وف و
“Wajib bagi mereka para Qurra’ untuk memperhatikan, Sebelum memulai membaca Al-Qur`an hendaklah mempelajari Makharij huruf dan sifat-sifatnya, Agar mampu mengucapkan dengan bahasa yang paling fasih.”
• Tilâwah berasal dari kata talâ-yatlû-tilâwatan, subjeknya adalah tâli, dan objeknya adalah matluw. Maknanya membaca atau mengikuti. • Secara istilah, Syaikh Ayman Rusydi Suwaid membedakan antara tilâwah dengan qirâah. Tilâwah adalah bacaan AlQur`an yang sudah menjadi wirid harian. Disebut tilâwah karena ia dilakukan secara rutin dan terus menerus. Sedangkan qirâah maknanya lebih umum, mencakup tilâwah atau bacaan lain selain tilâwah. • Dalam bait ini, An-Nâzhim mengatakan bahwa sebaik-baik orang yang bertilawah serta men-tartîl-kan Al-Qur`an adalah Rasûlullâh g, dan telah berlalu penjelasannya.
• Baik dalam tilâwah atau qirâah biasa, dan lebihlebih dalam majlisul adâ, maka termasuk adab dalam membaca Al-Qur`an adalah: melafazhkannya dengan tajwid yang sempurna. Al-Imâm Ibnulَ Jazariy r mengatakan: َ َ َُم ً َُ َ م َِ َِلوة َِ َوز مي َن ُة ٱۡل َداءِ َو مٱلقِ َراءة حلية ٱتل ِ • وهـو أيضا ِ • “Dan tajwid juga merupakan perhiasannya tilâwah, serta memperindah adâ dan qirâah.”
• An-Nazhim mengatakan:
م َ َُ َ َ ََ َ م اضحة ِ أحَكمها بيِنة وو
ََم ُ ُ م ُم ً ُم مَ َم ِ وبعد خذ نظما نلِ ط ِق ٱلف اِتة
• Dan pelajarilah sebuah Nazhm (Syarir) untuk menjelaskan tata cara membaca surat AlFatihah. • Hukum-hukum tajwidnya diuraikan dengan jelas, ringkas, dan mudah dipahami.
• Dalam bait ini An-Nâzhim mengisyaratkan agar para pembaca Alquran hendaknya mempelajari bait-bait dalam syair yang disusunnya ini agar dapat melafalkan ayat demi ayat dalam surat AlFatihah dengan benar. • An-Nâzhim juga memberikan alasan mengapa َ م ُ َ harus ini, yakni dengan perkataannya: (ا ه م َك أح َ َ َ مsyair َ اضحة ِ “ )بَيِنة ووHukum-hukum tajwidnya diuraikan dengan jelas, ringkas, dan mudah dipahami.”
• An-Nazhim mengatakan: َ َ م م َ َ م َ َ م َ م م َ ُ م َ خذ لفظ َها َم مو ُروثة ٱل ِق َر اءة • أع ِِن ب ِ ِذي ٱۡلحك ِم بِٱتل َِل َوة • Yakni hukum-hukum tajwid yang diamalkan untuk bertilawah • Ambillah lafazh dan bacaannya secara turun temurun melalui talaqqi dari generasi sebelumnya
• Jadi, hukum-hukum yang dimaksud dalam syair ini maksudnya bukanlah hukum-hukum fiqih yang berkaitan dengan surat AlFatihah, melainkan hukum-hukum tajwid dalam surat Al-Fatihah. Dalam syair ini akan diuraikan beberapa peringatan dalam permasalahan sifat-sifat huruf dan hukum-hukum tajwid secara umum. • Adapun cara memperbaiki dan membaguskan bacaan Alquran mesti diambil lafazh-lafazhnya sekaligus cara membacanya secara turuntemurun dari generasi terdahulu, yang mewarisi lafazh-lafazh Alquran dari generasi sebelumnya kemudian mewariskannya kepada generasi yang datang kemudian. Demikianlah Alquran diwariskan dari generasi ke generasi. Karenanya para ulama mengatakan bahwa inti dari pembelajaran tajwid dan qiraat adalah talaqqi dan musyâfahah.
• Asy-Syaikh Husniy Syaikh ‘Utsmân mengatakan dalam Haqqut Tilâwah hal.َ 47: َ َ َ ُ َ َ مُ م َ َََ َ َ َ َ ُ َ ه ُ َ ِوٱۡلسنادِ ع ِن ٱلشيوخ • ف معل ق ِ ُ ارِ ِى َ ٱلق ُر َآن أن م ي م ِ أخ َذ ق َِرائتَ َٰه َ َلَع ُّط ِر َ ِ يق َٱتلهل َ َ َ َ ُ َ ُ ِ ُ َ َ ِق م َ خ ِذ خ ِهم َك ي ِصل إِل تأك ٍد مِن أن ت َِلوته تطابِق ما جاء عن ينه عن شيو ٱۡل ِ ِ َ ب َس َندg َِر ُسول ٱَّلل .يح ُمت ِص ٍل ح ص ِ ٍ ٍ ِ ِ • “Maka hendaknya para pembaca Al-Qur`an mengambil bacaannya (mempelajari Al-Qur`an) dengan jalan talaqqî dan (mengambil) sanad, dari para Syaikh (guru) yang mereka mendapatkan (bacaan itu) dari guru-guru mereka, agar sampai pada kepastian bahwa bacaan yang dipraktikkan tersebut sesuai dengan apa yang datang dari Rasûlullah g dengan sanad yang bersambung lagi shahih.”
• Beliau melanjutkan: َ َ َ َ م ُ َ َ م َ ه َ َ َ ُ َ ُ َ أ مو تقلِيد ما,لَع ما ق َ َرأ ف ُب ُطون ٱلكتب َ • أما إن ٱعت َمد ف ق َِر َٰ س ِمعه َم ُِّن ه ت اء ِ ِ ٍ ِ ِ ِ َ َ ُ ِ ِم َ َ ِ َ َ ُ ُ َ م َ َ َ َ َ م َ م َ ََ ه ه ُ َ ِقراء وتعد.ِح َيحةِ ٱثلَلثة ِ َ ٱۡلذاء ِ َ في َكون قد َهدم مأ َحد أرَك ِن َٱل َقِر ماء ُة ِ ٱلص م,ات ِ ُ ُ م َ ق َِر َٰ .ان ٱلك ِري ِم ِن م – ب ذ اب ِك ل ند ع ه ك ب ذ ت ٱل اء ب ِ ِ ِ الرواي ِة ٱلقر ِ ِ ِ ِ • “Adapun apabila ia hanya menyandarkan bacaannya pada apa-apa yang telah ia baca dari buku-buku, atau sekadar mengikuti apa yang ia dengar dari rekaman para Qari, maka artinya ia telah menjadi orang yang meruntuhkan salah satu dari tiga rukun bacaan yang shahih. Sedangkan bacaannya yang ia riwayatkan pada orang lain dapat terhitung sebagai salah satu kedustaan terhadap periwayatan Al-Qur`an Alkarim.”
• Al-Imâmً Ibnul Jazariy menyebutkan dalam Thayyibatun Nasyr: َ
َ َ ََ َ ه م م وَكن ل ِلر َس ِم ٱحت ِ َماَل ُيوِي ََٰ ُ َ ه َُ م َ ٱثلَل َثة ٱۡلرَكن ه ذ ه ف ِ ِ َ ُ ُ َِِٱلس مبعة وذهُ ل َ مو أنه ُه ف ه شذ ِ
َ ُ ُّ َ َ َ َ َ م َ م • فك ما وافق وجه م َنو ِ ُ ََ َ ه َ ً َُ ُم • وصح إِسنادا هو ٱلقرءان َ َ م ُ َ َ م َ ُّ ُ م م ت ِ ِ • وحيثما َيتل ركن أثب
• “Dan setiap yang sesuai dengan kaidah nahwu, juga sesuai dengan rasm (‘Utsmâniy) walaupun dari satu sisinya, • Serta shahih (bersambung) sanadnya itulah Al-Qur`an, Maka inilah tiga rukun (bacaan yang benar), • Kapan saja salah satunya tidak terpenuhi, Maka (bacaan tersebut) syâdz (janggal) walaupun termasuk dalam Qira’ah Sab’ah.”
• An-Naazhim mengatakan: َ َ م َُ م م م ُم َ ُ َ م َ َم َ َ آن ان ِ مع ِرفة ٱۡلداءِ ل ِلقر ِ جب قالوا مِن ٱۡلعي ِ • إِذ وا • Sungguh hukumnya fardhu ‘ain menurut para ‘Ulama, memahami cara membaca Al-Quran yang benar. • Al-Adaa = membaca Al-Quran di hadapan seorang guru dalam konteks pengambilan riwayat
• Asy-Syaikh Mahmûd Khalîl Al-Hushary mengatakan dalam Ahkâmu Qiraatil Quran: م َ َ َ هم ُ َ ه َ َُ َ َ َ َ َ ً م م م ُ ٱت ب ٱل ِف ٱلل ع و ٱنل ذ ه و ً معاقب,سل ِ ِمي م اق ع َش ام ر ح ن ح ِن م ا • ِ ِ َ ِ َ ً َ َ ُ َ َ ُ ََ َ َُ َ م َ ُ ََه َ َ ُ م ً م . فإِن فعله نا ِسيا أو جاهَِل فَل حرمة.عليهِ فاعِله إِن تعمده • “Dan lahn jenis ini (jaliy) secara hukum syar’i haram berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Pelakunya mendapat dosa apabila melakukannya dengan sengaja. Apabila ia melakukannya karena lupa atau tidak tahu, maka tidak haram.”
• Dr. Rihâb Muhammad Mufîd Syaqaqi dalam Hilyatut Tilâwah م ه ُ م ُ ه ُ هmengatakan: ُ َ َ َ ُ م ًَ َهُ َ م ََم ُم َ َ َم م َ َ م َ ۡي ُّها َتت مح ُرف ِ ۡللف ِ َ هِۡلن َه تغ َيِۡي َ م, َ َهو ح َرام َم َط هلقا:ل ِ اظ َ مٱل َقر َ م ِ آن َ ٱل ِت َ َبِتغي ِ ُ ِ • َح َكم َٱللَ هح ِن م َٱۡل َ َٱتل َع ِلم ف َيق َرأ ما َ م َ ُ ه َ يع أو َل ميق موي َلَع وأ َم َا,َِمعانِيه ِ َ َ َو مأ َما ُ م من ََل يَست ِط,ٱۡلا َه َِل ُفعَليهِ أ َن ًيتع َل َم ُ ُ ُ . وَل ُيهر بِٱلقِراءة ِ ِف ُمال ِِس ٱلمسل ِ ِمي, وَل يص ِل إِماما,ت ِص ُح بِهِ صَلته • “Hukum lahn jaliy: adalah haram secara mutlak, karena mengubah lafazh Al-Qur`an yang karena perubahan tersebut dapat menyimpangkan maknanya. Adapun orang awam, wajib baginya belajar (hingga terbebas dari lahn jaliy). Orang yang tidak bisa belajar atau tidak sanggup lagi mengikuti pembelajaran, maka wajib baginya (terus belajar sampai bisa) membaca Al-Qur`an dengan benar surat yang menjadi rukun shalat (Alfatihah), tidak menjadi imam shalat, dan tidak mengeraskan bacaannya dalam majlis-majlis kaum muslimin.”
• An-Nazhim mengatakan: َ ه َ ََ م َ َ ه م ُ َ ُم ُ ه َ ِ • َل ِسيما ف ِ ات فٱللحن فِيها يب ِطل ٱلصَلة ِ اِتة ٱۡلي • Terlebih lagi ayat-ayat dalam surat AlFatihah, karena kekeliruan padanya dapat berpotensi membatalkan shalat.
• Lahn artinya:
َ ُ َ مَمُ َ م ه َ اب ِ • ٱلميل و ِ ٱَلَنِراف ع ِن ٱلصو • “Menyimpang dari yang benar.” • Adapun yang dimaksud lahn dalam membaca Alquran adalah kekeliruan atau penyimpangan dalam membaca ayat-ayat Alquran, baik itu mengurangi hak dan mustahak huruf atau berlebihan padanya.
م َ ُي َ َ َ م َ َ َ ي م َ م َ ُ ف ِف ٱۡل ِف • َوٱللح من ق ِسم ِ ان ج ِل م وخ ِف ُك حر َام م َع ٍخ َُّل م ِ َ َ َ َخ َطأ ف ٱل َم مب َِن َخ هل بهِ أ مو َل ََيِل ٱل َم معِن • أما ٱۡل ِل ف ِ ِ
• “Dan lahn itu ada dua jenis: lahn jaliy dan lahn khafiy.
Keduanya haram, namun sebagian Ulama Qiraat berbeda pendapat mengenai hukum lahn khafiy, apakah ia haram atau makruh. • Adapun lahn jaliy adalah kekeliruan dalam masalah tata bahasa, baik mengubah ataupun tidak mengubah makna. Seperti mengubah, menambah atau mengurangi huruf, dan mengubah harakat.”
• Kekeliruan dalam membaca Al-Quran yang membatalkan shalat adalah kekeliruan yang dapat mengubah makna, seperti: • 1. Mengubah huruf, • 2. Menambah/ mengurangi huruf, • 3. Mengubah harakat.
BACAAN BENAR
ح َٱۡل حم ُد َ هّلِلَ َرب ٱلح َعَٰلَمي َ َ َ
َٱل ح َه حم ُد َ هّلِلَ َرب ٱٓأۡلل َمي َ َ
Segala puji bagi Allâh rabb semesta alam
Segala kehancuran bagi Allâh rabbnya rasa sakit
َ اك َن حع ُب ُد ِإَويه َ إيه ُاك ن َ حس َتعَي َ Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada engkaulah kami memohon pertolongan
BACAAN SALAH
َ َاك َن حع ُب ُد ِإَوي َ َإي ُاك ن َ حس َتعَي َ Kepada cahaya matahari-Mu kami menyembah dan kepada cahaya matahari-mu kami memohon pertolongan
• Al-Imâm Asy-Syâfi’î mengatakan dalam Al-Umm (1/215): َ ُ
َ م َ َ ً ُ ُ ِ مُ َشء م مِن َها ,ل َ مم أ َر َص ََلتَهُ م َ يل َم مع َِن َ ٍم َ ِ ا آن ف • ان ر م ن إن ُي ۡل ق أ ۡل و ٱل ِ ِ ِ م َ ُم ًَ َ مُ ََ َ ه م َ مَ ُ ۡل َن ف َغ مۡي َها َكر مه ُت ُهَ ,ول َ مم أرَ َ ل خ ُم ِإَون ف َل و ة ئ ز . ه ن م ع , ه ن ع ِ ِ ِ ِ َ َ ُ ُ َ َم َ ًَ ه ُ َم ََ َ َ ََ َ م ِ مُ م َ َ ِ مُ م آن عليهِ إِعدة ُِۡ ,لنه لو َترك ق ِراءة َ غ آن وأت مب ِ َأم ٱلمقر َ ِ ۡي أمَ ٱلقَر ِ ِ َ َ َ م ُ م م َُ َ ُُ َ ِإَوذا أ مج َزأتم ُه أ مج َزأ مت َم من َخلف ُه إن شاءَ ص ر َل َت ج ت ئ ز و ه ه أن ت . َ ُ ُ مِ ِ ُ م َ َ َ هُ ََ َ ۡل ُن ُه ف أ ِم مٱل ُق مرآن َو َغ مۡي َها َل ُيِيل ٱل َم معِنَ م َٱَّلل َتعالِ َ .إَون ََكن َ ِ ِ َ ِ م َ م َ ُُ َ م َُ َ ُ َ ً َ ال. أجزأت صَلته وأكره أن يكون إماما ِِب ٍ
• “Orang yang keliru dalam surat Al-Fâtihah dengan lahn yang menyebabkan perubahan makna, saya berpendapat bahwa shalatnya tidak sah. Begitupula tidak sah orang yang shalat di belakangnya (menjadi makmum). Adapun jika kekeliruannya (yang mengubah makna itu) pada selain Al-Fâtihah, maka saya tidak menyukainya, namun saya tidak berpendapat bahwa ia mesti mengulangi shalatnya. Karena kalaupun ia meninggalkan (tidak membaca) surat selain AlFâtihah dan hanya membaca Al-Fâtihah saja, saya berharap shalatnya diterima. Apabila (dengan itu) shalatnya sah, maka begitupula shalat makmum di belakangnya, insyaallah. Jika kekeliruannya terjadi pada surat Al-Fâtihah atau surat yang lainnya namun tidak sampai mengubah makna, maka shalatnya sah. Namun saya tidak menyukai ia menjadi imam, bagaimanapun keadaannya.”
• Al-Imâm An-Nawawiy berkata dalam Al-Majmu’ (3/ َ َ 392):
ُ ُ َ ََم َ َ َُ ه مََ َ م ََ َم ََ ُ َ َُ م ً َ َ ه َ ن أ َر مب َع َع َُّشةً تش َ ِديدة َ ِف وه,اِتةِ ِف ٱلصَلة ِ ِبميعِ حروف ِها وتشديدات ِها َت ِ• م َ ِ َ ب َق َِراءة م ُٱل هف م َ َ فَلَ مو أَ مس َق ِ َط ِ َح مر َفًا م مِن َها أَ مو َخ هفِ َف ُم َش هد ًدا أَ مو أبدل ح مرفا ِِب مرف مع,ث َ ٍَ َ َ َ ه َ َل ه َ َ ُ ُ َ َ م م َ َ ه َ ه َ ٱلب هسملةِ َمِنهن َ مث ِصحةِ ق ِراءتِهِ وصَلتِه ِ ولو أبدل الضاد بِالظا ِء ف ِف.ص م َحةِ ل ِسان ِ َهِ َ ل ُّم ُت ِص َح ق َِراء ُّته ِ َ َ .صح ِ (أصحهما) َل ت...ان ِ وجه • “Wajib membaca surat Al-Fâtihah di dalam shalat dengan menyempurnakan seluruh huruf dan tasydidnya yang berjumlah empat belas, dan di antaranya tiga tasydid pada basmalah. Apabila ada huruf yang tidak terbaca atau meringankan tasydid (membaca huruf bertasydid dengan biasa, sebagaimana tanpa tasydid), atau mengganti sebuah huruf dengan huruf yang lain, padahal lisannya sehat, maka bacaannya (di dalam shalat tersebut) tidak sah. Apabila ia mengganti huruf Dhad menjadi Zha, maka dalam permasalahan keabsahan bacaan dan shalatnya terdapat dua pendapat. Pendapat yang paling shahih adalah tidak sah.”
• َ Al-Imâm َ An-Nawawiy َ melanjutkan (3/ 393):
َ ََ ۡل َن ف مٱل َف ِ َ ت أوم اء أ من َع مم َ ۡل ًنا َُيِ ُّل ٱل م َم مع َِن بأ من َض هم تَ َ اِتةِ َ م ا • إذ ِ ِ َ َ َ َ َ َ م َ َّس ََك َف إيه َ اك َن مع ُب ُد أ مو قَ َال إيه اء ب َه مم َز َت مي ل َ مم تَصحه َ َ َ كَّسها أو ك ِ ِ َ ِ م َ َُُ َ َ َ ُُ م ََه َ َ َ ُ َ َُ م َ َ م م َ َ َ ه م َتب إعدة َٱلقِراءة ِ إن لم يتعمدَِ .إَون َق ِراءته و مصَلته َإن تعمد ,و ِ م ُ ه َمَ َم َ َمُُ َُ َ َ َ م َ َ م ُ َ لم َيِل ٱلمعِن كفت ِح دا ِل نعبد ون ِص ون نستعِي وصادِ ِ ِ اط وَنوِ َ َ َم َمُ م َ َ ُُ ََ َ َُُ ََ هُ َ م ك ُروه َو َي مح ُر ُم َت َع ُّم ُدهُ. كنه م ذل َِك لم تب َطل صَلته وَل ق َِراءته َول ِ َ م ََ ه َ ُ م َمُ م اءتُ ُه َوَل َصَلتُ ُه َه َذا ُه َو الصه حيحُ. َ َ ولو تعمده لم تبطل ق ِر ِ
• “Jika ia melakukan kekeliruan dalam surat Al-Fâtihah dengan lahn yang mengubah makna, seperti mendhammahkan huruf Ta pada kata “an’amta” (menjadi an’amtu) atau mengkasrahkannya (menjadi “an’amti”), atau mengkasrahkan huruf Kaf pada kata “iyyâka na’budu” (menjadi “iyyâki”), atau ia membacanya menjadi “iyyâ`a” dengan dua huruf Hamzah, maka bacaan dan shalatnya tidak sah, bila dilakukan dengan sengaja. Adapun apabila kekeliruannya tidak mengubah makna, seperti memfathahkan huruf Dal pada kata “na’budu” (menjadi “na’buda”) atau huruf Nun pada kata “nasta’înu” (menjadi nasta’îna) atau huruf Shad pada kata “shirâtha” (menjadi “sharâtha”) atau halhal yang semisalnya, maka shalat dan bacaannya tidak batal, namun makruh melakukannya dan haram hukumnya apabila dilakukan dengan sengaja. Apabila ia melakukan semua itu dengan sengaja, maka shalat dan bacaannya tidak batal. Inilah pendapat yang shahih.”
• Al-Imâm dalam Al-Mughnî (I/348) mengatakan: م َ مIbnu Qudâmah م م
َ ًَ َمَُُ َم َ َ َ َ َ َ َُهًَ ُ َ ه َ مً ُ ُ َ مَ َ م م َ ُ َ ِ • يَلز َمه َ أن يأ ِتَ بِقِ َراء ًة ِ ٱل مف فإ ِ َن.َ ون َف مِيها ۡل منا ُيِ َيل َ ٱلمع هِن ُ غ مۡي م َملح,اِت َةِ م َرتبة َم ًشد ُدة ٍ ُ م َ َّس َكف َ (إياك) أوم م َ َ ِ ۡلنا ُيِيل ٱلمعِن مِثل أن يك ۡل َن م َ َ ت َرك ت مرت َِيب َه َا أ مو ش هدة َ مِن َها أو َ ُ ه َ َ مَم َ م َمََ َ م َ ُ َ م َ َم َ مَه َ َ ه م م َ لم يعتد بِقِراءتِهِ إَل أن يكون,)ت) َ أو يفتح أل ِف ٱلوص ِل ِف (ٱه ِدنا ََٰ اء م(أن َع مم َ ي َضم ً ت .ۡي هذا ِ ع ِ جزا عن غ • “Wajib baginya untuk membaca surat Al-Fâtihah secara tertib urutannya dan ditunaikan tasydidnya, tanpa terjatuh pada kekeliruan yang dapat mengubah makna. Apabila ia meninggalkan urutannya atau tidak membaca tasydidnya, atau terjatuh pada kekeliruan yang mengubah makna seperti mengkasrahkan huruf Kaf pada kata “iyyâka” (menjadi “iyyâki”) atau mendhammahkan huruf Ta pada kata “an’amta” (menjadi “an’amtu”), atau memfathahkan Alif Washl pada kata “ihdinâ” (menjadi “ahdinâ”), maka bacaannya tidak terhitung (tidak sah), kecuali apabila ia benar-benar dalam kondisi tidak mampu untuk membacanya dengan benar.”
• Syaikhul Islâm Ibnu Taymiyyah mengatakan dalam Majmû’ul Fatâwâ (23/ 350): َ
ََ َُُ م َُ م ََ م َ ُ فَل ي م َص ِل َ خلف.َم من هو مِثله ُ أخ َر َج ُه م مِن َط َر ِف ٱلف ِم ك َما ه َو
َ مَ ُ ه ََ َ ََ ه َ م َ ُ ُ َ ََ م َ ُ ِ • و مأ َم ما من ه َل يقِيم ُ ق ِراءة ً ٱلف إَل َ اِتةِ ف هَل ي َ مص َ ِل خ هلفه َ ٱۡلثلَ ٱَّلِي ُي َبدل َح مرفا ِب مر ِف إَل حرف ٱلضادِ إذا ِغ ِ ِ َ َُع َدة ِ ۡي م َِن ٱنله اس ث ك ِ ٍ
• “Dan adapun seseorang yang tidak bisa membaca Al-Fâtihah (dengan benar), maka janganlah shalat di belakangnya (menjadi makmum), (karena shalatnya tidak sah) kecuali bagi orang yang semisal dengannya. Maka janganlah shalat (menjadi makmum) di belakang orang yang cadel berat yang dapat mengubah sebuah huruf menjadi huruf yang lain. Kecuali apabila perubahannya terjadi pada huruf Dhad saat ia mengeluarkannya dari ujung mulutnya, sebagaimana hal tersebut sudah menjadi kebiasaan bagi banyak orang (mengubahnya menjadi huruf Zha).”
)• Dalam Bughyatul Mustarsyidîn, Habîb Abdurrahmân (w. 1320 H menjelaskan dengan terperinci terkait hukum dan kondisi-kondisi di mana kita boleh dan tidak boleh mufâraqah (memisahkan diri) dari imam. Beliau َ berkata: َ َ
م م َ ُ مَ م َ ُ َ ً َ م مَ ُ ه َ م َ م ُ م َ َ م َ تيهِ ٱۡلحَكم مٱۡلمسة وا • جبا كأن اصل أن قطع ٱلقدوة ِ تع ٱۡل ِ ِ ِ َ َ َُ ََُ َُه َ َ ِ ُهً َم ُ َ ودةً م م ً َ ُ م ت ٱۡلمام سنة م مقص و م ب ل م إ س ب ام ر ب ِت ل ن ل ط س ه أ ك ة ا ى ِ ِ ٍ ِ ِ ِ ِ َ ٍ م َ َ َ م ََ َ م َ ُ ََ ُ ً َُ ً َ َو ُم َب ً َ ه ٱۡلماعةِ إِن ة يل ض ِف ل ا ت و ف م ا وه ر ك م و ام م ٱۡل ل و ط ن أ ك ا اح ِ ِ ِ ِ َ َ َ َ َم ُ م ه َ َ َ ً َ َ َ َ م م َ َ ُ َ َ ت ۡي ع مذ ٍر وحراما إِن توقف ِ ٱلشعار عليهِ أو وجب ِ َك من ل ِغ ُ َِ ٱۡل َم َ ٱۡل ُمعةَِ َ اعة ك ُ
• “Hasilnya adalah bahwa memisahkan diri dari imam dalam shalat jamaah memliki lima hukum. Wajib, jika melihat imam melakukan perkara yang membatalkan shalat. Sunnah, karena imam meninggalkan perkara yang sangat disunnahkan. Mubah, jika imam terlalu memanjangkan shalat. Makruh dan bisa menggugurkan keutamaan berjamaah jika memisahkan diri tanpa uzur. Haram, jika ada unsur syiar atau wajib berjamaah seperti shalat Jumat.”
• Apakah orang yang mufâraqah kehilangan pahala jamaah? • Jawabannya adalah iya apabila mufâraqah yang dilakukannya tanpa sebab. Sedangkan apabila mufâraqah yang dilakukannya diiringi dengan sebab syar’i, maka ia tidak akan kehilangan pahala jamaah, berdasarkan hadits: َ َ َ َ ه َ اح فَ َو َج َد ٱنله َ وءهُ ُث هم َر ُ اس قَ مد َصل موا أ مع َطاهُ ه م مِث َل أ مجر َمنمe ٱَّلل َ • َم من تَ َو هضأ فَأ مح َس َن ُو ُض ِ ُ َ َ ََ َ َ َ ََ ه ًنق ُص َذَٰل َِك م مِن أَ مجرهِم َشيمئا صَلها وحَضها َل ي ِ • Siapa yang berwudhu dengan sempurna kemudian dia menuju masjid, ternyata dia jumpai jamaah shalat telah selesai, maka Allâh akan berikan untuknya seperti pahala orang yang mengikuti shalat jamaah itu dan menghadirinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. [HR. Ahmad, Abû Dâwûd 564, An-Nasa`i]
• Al-Khafiy berarti tersembunyi, yaitu kekeliruan ketika membaca Al-Qur`an yang tidak diketahui secara umum kecuali oleh orang yang pernah mempelajari ilmu tajwid. Bahkan sebagian di antaranya hanya diketahui oleh para ulama yang memiliki pengetahuan mengenai kesempurnaan membaca Al-Qur`an. Asy-Syaikh ‘Utsmân Murad mengatakan dalam As-Salsabîl: َ َم م َ ه مَ َ َ َ َ م َ م َم م م ُ م َ ۡي إِخَل ٍل كتكِ ٱلوص ِف • أما ٱۡل ِف فخطأ ف ٱلعر ِف ِ مِن غ • “Adapun lahn khafiy adalah kekeliruan dalam ‘urf (tata cara membaca Al-Qur`an yang telah disepakati Ulama Qiraat), dan tidak mengubah makna kandungan Al-Qur`an, contohnya seperti tidak menyempurnakan sifat-sifat huruf hijaiyyah.”
Dari sisi Makna dan I’rab Wajib Disebabkan para ulama sepakat menjaga makna merupakan kewajiban
Dari sisi ‘Urf Tahsiniyyah
Majlis adaa: wajib
Tilawah biasa: Qari Mutqin tercela bila meninggalkan, awam tidak mengapa