Data Loading...
Materi Ibdal_Nahwu Flipbook PDF
Materi Ibdal_Nahwu
126 Views
83 Downloads
FLIP PDF 573.85KB
Materi Ibdal Pengertian Ibdal Ibdal adalah membuang atau melepas huruf dan meletakkan huruf lain pada tempatnya huruf yang dibuang. Ibdal itu menyerupai I’lal, di tinjau dari segi sama-sama melakukan perubahan, hanya saja i’lal khusus masuk pada huruf illat sedangkan ibdal bisa masuk pada huruf shohih dan juga huruf illat. 1. Huruf-Huruf Ibdal Adapun huruf ibdal itu ada 9, yaitu #
ِْ ف ت ُم ْو ِطيَا ُ َح ُر ُ ْاْلبْ َد ِال َى َدأ ْ أ.............................
a. Ha’ b. Dal c. Hamzah d. Ta’ e. Mim f. Wawu g. Tha’ h. Ya’ i. Alif 2. Kaidah-Kaidah Ibdal a. Wawu dan ya’ diganti hamzah, apabila jatuh setelah alif zaidah. Lafal Asal asal fi’il
ٌُد َعاء بناء
ُد َع ٌاو بناى ٌ
يَدعُو-َد َعا يَْب َن-بَ َن
Begitu pula alif yang berada di akhir kata dan sesudah alif zaidah juga harus diganti hamzah. Lafal
Asal
Wazan
َُحََْراء
َحََْرى
سكَْرى
Lafadz َحَْرىdengan menambahkan alif mad pada sebelum akhir ((َحَْراى, seperti halnya
َ
penambahan alif mad pada lafadz
ِ اب ٌ َكت.
َ
Kemudian alif yang kedua diganti hamzah supaya
memungkin seseorang untuk mengucapkan lafadz tersebut dikarenakan keduanya mati, maka menjadi َحَْراء.
َُ
Dan apabila wawu atau ya’ yang jatuh setelah alif zaidah tersebut diiringi atau disertai dengan ha’ ta’nis yang bertujuan untuk membedakan mudzakkar dan muannas, maka wawu atau ya’ tersebut juga diganti hamzah. lafadz Asal mudzakkar Keterangan
ٌبَنَّاءَة ٌَمشَّاءَة
ٌبَنَّايَة ٌَّاوة َ َمش
ٌبَنَّاء ٌَمشَّاء
Shighot mubalaghah
Apabila ha’ ta’nis tersebut bukan untuk membedakan mudzakkar dan muannas, maka wawu’atau ya’ terebut ditetapkan. b.
ِ Contoh: ٌاوة َ ى َدايَةٌ َع َد
Huruf wawu dan ya’ diganti hamzah ketika menjadi ‘ainnya isim fa’il dan dii’lal pada fi’ilnya. Isim fa’il Asal Fi’ilnya Asal
ال َ َ قdan c.
قَائِ ٌل قَا ِوٌل ال قَ َو َل َ َق ابئِ ٌع َابيِ ٌع ع بَيَ َع َ َاب ع َ َابasalnya adalah قَ َو َلdan بَيَ َع, wawu dan ya’ tersebut berharakat dan huruf sebelumnya
berharakat fathah, maka wawu atau ya’ diganti alif.[4] Huruf mad zaidah yang berada di isim shahih akhir dan sebagai huruf ketiga itu harus diganti
ِ م َف. Baik huruf mad tadi berupa alif, wawu, hamzah apabila isim tersebut mengikuti wazan اعل ُ
atau ya’.
Huruf mad Alif
Mufrod
ٌقَ ََل َدة َع ُج ْوٌز ٌص ِحْي َفة َ
Wawu Ya’
Jamak
قَ ََلئِ ُد َع َجائُِز ِ ف ُ ص َحائ َ
Adapun ketika mad zaidah yang berada di isim shahih akhir dan sebagai huruf ketiga itu
ِ م َفmenjadi mu’tal lam, maka jamak nya di ikutkan ketika di jamakkan mengikuti wazan اعل ُ
wazan ال َ فَ َع
Mufrod
ِ َق ٌضيَّة
Jamak
ض َاي َ َق
Asal jamak
ضائِ ُي َ َق
ضايِ ُي َ َق, kemudian ya’ yang pertama diganti hamzah karena ia bertempat setelah alif taksir (ضائِي ُ َ َ)ق, kemudian harakatnya hamzah diganti fathah, karena untuk Lafadz اي َ َ قasalnya adalah َض
meringankan (ضائَي َ َ(ق, dalam hal ini terdapat ya’ yang berharakat dan jatuh setelah huruf yang
ُ
(ضاءَا َ َ(ق, kemudian hamzah diganti ya’ (ض َاي َ َ(ق.[5] ِ Apabila alifnya jamak yang mengikuti wazan اعل ُ َم َفitu berada di antara dua huruf illat pada isim
berharakat fathah, maka ya’ diganti alif d.
shahihul akhir, maka huruf illat yang kedua diganti hamzah. Mufrad Jamak Asal
اََوائِ َل َسيَائِ َد ِ ف َ نَيَائ
اَّو َل َسيِّ ٍد ٍ ِنَي ف ّ e.
ف ُ نَيَا ِو
Apabila ada wawu yang berharokat dhammah dan berada sesudah huruf yang sukun atau sesudah huruf yang dibaca dhammah pula, maka wawu boleh diganti hamzah dan boleh pula ditetapkan (tidak diganti hamzah). Tetapi yang diganti lebih baik dari pada yang tidak. Mufrad Diganti hamzah Tetap
َد ٌار ال ٌ َح f.
اََوا ِو ُل َسيَا ِو ُد
أ َْد ُؤُر حؤْوٌل ُ
أ َْد ُوُر ُح ُوْوٍل
Setiap kata yang di dalamnya terdapat berkumpulnya dua huruf wawu yang di depan, maka wawu yang pertama wajib diganti hamzah selama wawu yang kedua tadi tidak gantian (berasal) dari alifnya ٌاعلَة َ ُم َف.
Lafadz
Asal
ِ أَو اص ُل َ ِ أَو اع ُد َ
Mufrod
ِ َُوَواصل ِ وو اع ُد ََ
ِو ٌاصلَة َ ِو ٌاع َدة َ
Adapun jika wawu yang kedua tadi merupakan gantian (berasal) dari alifnya ٌاعلَة َ ُم َف, maka
wawu yang pertama boleh ditetapkan dan boleh diganti hamzah. lafadz tetap Diganti hamzah Keterangan
اف َ َو َواقَى
ِ ف َ ُوْو ُوْوقِ َي
ِ ف َ أ ُْو أ ُْوقِ َي
Mabni Majhul
g.
Apabila fa’nya fi’il yang mengikuti wazan اِفْ تَ َعلitu berupa wawu atau ya’, maka harus diganti
َ
ta’ dan kemudian di idghamkan (masukkan) kedalam ta’nya. Lafal Asal Diganti ta’ Di idghomkan
َّص َل َ إت َّسَر َ إت إتَّ َقى
ص َل َ َإوت إيْتَ َسَر إوتَ َقى
ِ ص َل َ َاتْ ت اِتْ تَ َسَر اِتْ تَ َقى
َّص َل َ إت َّسَر َ إت إتَّ َقى
Yang demikian tadi dengan syarat bahwa ya’ tersebut tidak berasal (gantian) dari hamzah. Kalau ya’ berasal dari hamzah, maka tidak boleh diganti ta’. Lafal Asal
إيْتَ َمَر
إئتَ َمَر
Namun ada juga yang diganti ta’, tetapi hukumnya sedikit. Lafal Asal
إِت ََّزَر
إِيْتَ َزَر
Asalnya asal
إِئْ تَ َزَر
Yang termasuk ini adalah hadist Nabi, yaitu:
ِ َإِ َذا َكا َن (اى الثوب) ق صْي ًرا فَ ْليَ تَّ ِزْر بِِو
apabila pakaian itu pendek, maka pakailah dia sebagai tutup badan. h.
Apabila fa’ fi’ilnya fi’il yang mengikuti wazan إفت َ َع َلitu berupa tsa’ maka ta’nya wajib diganti tsa’ kemudian diidghamkan. Lafal Asal
َِّ ب َ اث َق
i.
ِ ب َ اثْتَ َق
Dan apabila fa’nya berupa dal, dzal, atau za’, maka huruf ta’nya wajib diganti dal. Lafal Asal
إِ َّد َعى إِ ْذ َد َكَر إِْزَد َىى
إِ ْدتَ َعى إِ ْذتَ َكَر إِْزتَ َهى
Dan apabila fa’nya berupa shad, dhad, tha’, atau dzha’, maka ta’nya wajib diganti tha’.
Lafal
Asal
صطََفى ْ ِإ ضطَ َج َع ْ ِإ إِطََّرَد
ص َذ َف ْ ِإ ضتَ َج َع ْ ِإ إِطْتَ َرَد
Boleh juga di idghomkan setelah mengganti dal dan tha’, dengan huruf yang sejenis dengan huruf yang jatuh sebelumnya. Contoh: Lafadz Asal
اِذَّ َكَر ص َفى َّ ِا
اِ ْذ َد َكَر ِ صطََفى ْا
Atau sebaliknya, yaitu dengan mengganti huruf tsa’ dengan ta’, dzal dengan dal, dzha’ dengan tha’. Contoh: Lafal Asal
ِ ب َ اتَّ َق اِ َّد َكَر اطَّلَ َم
j.
ِ ب َ اثْتَ َق اِ ْذ َد َكَر اِظْطَلَ َم
Fi’il yang fa’ fi’ilnya berupa tsa’, dzal, dal, za’, shad, dhad, tha’, atau dzha’ yang mengikuti wazan تَفَا َع َل, تَفَعَّ َل, تَفَ ْعلَ َلitu sekiranya huruf ta’ pada wazan itu kumpul dengan huruf-huruf tersebut diatas, maka boleh dilakukan penggantian huruf ta’ dengan huruf yang sesuai (sejenis) dengan huruf sesudahnya, kemudian huruf pengganti ta’ tadi diidghamkan ke dalam huruf sesudahnya. Sesudah demikian maka sulit dibaca karena huruf pertamanya berupa huruf yang sukun, maka wajib mendatangkan hamzah washal. Lafadz
Asal
اِ ََّّثقَ َل اِ َّدثََر اِذَّ َكَر اَِّزيَّ َن صبَّ َر َّ ِا ِ ع َ اضََّّر
تَثَاقَ َل تَ َدثََّر تَ َذ َّكَر تَ َزيَّ َن
صبَّ َر َ َت ع َ َت َ ضَّر
Ta’ disamakan dengan huruf sesudahnya dan diidgomkan
ََّّثقَ َل َّدثََّر ذَّ َّكَر
َّزيَّ َن صبَّ َر َّ ع َ ضََّّر
Menambahkan hamzah washol
اِ ََّّثقَ َل اِ َّدثََّر اِذَّ َّكَر اَِّزيَّ َن صبَّ َر َّ ِا ِ ع َ اضََّّر
ِ ب َ اطََّّر اِظَّلَّ َم
ِ ب َ اطََّّر اِظَّلَّ َم
ب َ طََّّر ظَّلَّ َم
ب َ تَطََّر تَظَلَّ َم
Dan terkadang tidak berupa huruf-huruf yang telah disebutkan di atas. Contoh: j.
ِ ِ َّاجَر َ اشdan ا ََّّسَ َع
Apabila ada huruf ta’, yang mati sebelum huruf dal, maka huruf ta’ wajib diganti dal dan kemudian diidghamkan ke dalam huruf dal sesudahnya. Lafal Asal Jamak dari
ٍ ِعد َّان
k.
ِعْت َد ِان
َعتُ ْوٍد
Apabila ada huruf nun mati yang berada sebelum huruf mim atau ba’, maka huruf nun itu harus diganti mim. Lafal Di baca
إِْْنَ َحى
إِ ََّّمَى َّسُْبَل
ُسْن بَل
Penggantian hanya dalam pelafalan, tidak dalam penulisan. l.
Huruf wawu diganti mim sesudah huruf ha’yang ada padanya dibuang.
Lafal
فٍَم
Asal
ٌفُ ْوه
Jamaknya
ٍأَفْ واه َ
Dan pada saat lafal tersebut dimudhafkan, maka huruf mim boleh dikembalikan berupa huruf aslinya yaitu wawu, dan boleh huruf mim sebagai pengganti wawu tadi ditetapkan. Lafal
ى َذا فُ ْو َك ك َ َى َذا فَ ُم
Keterangan Mim dikembalikan berupa wawu Mim sebagai pengganti wawu ditetapkan
m. Apabila ada dua hamzah berkumpul dalam satu kalimat, maka diperinci:[6] 1) Hamzah yang pertama berharakat dan yang kedua sukun. a) wajib mengganti hamzah kedua dengan huruf ‘illat yang sesuai dengan harakatrnya hamzah pertama. Harakat hamzah pertama:
1. fathah Hamzah kedua diganti alif. Lafadz
Asal
الر ُس ْو ُل ِِبَا أُنْ ِزَل إِلَْي ِو ِم ْن َربِِّو َّ أَاَْم َن
أَأَْم َن
2. kasrah Hamzah kedua diganti ya’. Lafadz
Asal
Lafadz
Asal
ان َوتَ ْسلِْي ًما ً ََوَما َز َاد ُى ْم إَِّّل إِْْي
ان ً إِأَْم
3. dhammah hamzah kedua diganti wawu.
َوأ ََّما َم ْن أ ُْوِتَ كِتَابَوُ بِ ِش َمالِِو
ِ َأُأْت
2) Hamzah yang kedua sukun dan yang pertama berharakat. Dalam hal ini tidak biasa bertempat pada permulaan )( موضع الفاءdikarenakan susahnya membaca huruf yang mati yang berada dipermulaan. Apabila terletak pada urutan kedua (العني pada hamzah yang kedua. Sedangkan
)موضع, maka hamzah yang pertama di idhghomkan apabila terletak pada urutan ketiga ( )موضع الَلم, maka
hamzah kedua diganti ya’, dikarenakan jatuh setelah hamzah yang sukun. Lafadz Asal Keterangan
َسأَّاْ ُل ِ ي ٌ ْقَرأ
ال ُ ََسْئ ئ ٌقَِرأْأ
موضع العني موضع الَلم
3) Keduanya Berharakat Apabila harakat hamzah kedua itu fathah dan huruf sebelumnya berharakat fathah atau dhammah, maka hamzah kedua diganti wawu.[7] Lafadz
أ ََو ِاد ُم أ َُويْ ِد ُم
Asal
أَأَ ِاد ُم أ َُؤيْ ِد ُم
Keterangan
أَاْ ِد ٌم Bentuk tashghir أَاْ ِد ٌم
Bentuk jamak dari
Sedangkan apabila harakat sebelumnya kasrah, maka hamzah diganti ya’.
Lafadz
Asal
إَِيم
إِأَم
Apabila hamzah yang kedua berharakat dhammah dan dia bertempat pada akhir kalimat, maka hamzah yang kedua diganti ya’, baik jatuh setelah fathah, dhammah atau kasrah. Lafadz Asal Keterangan
ٌقَ ْرأَأ ٌقِْرأِأ ٌقُ ْرأُأ
َي ٌ قَ ْرأ ِِ ي ٌ ق ْرأ ُي ٌ قٌ ْرأ
Jatuh setelah fathah Jatuh setelah kasrah Jatuh setelah dhammah
Sedangkan apabila tidak berada di akhir kalimat, maka hamzah yang kedua diganti wawu, baik jatuh setelah fathah, kasrah atau dhammah. Lafadz Asal Keterangan
ُب أَأ م إِأُم
ب أ َُو م إِ ُوم
أُأُم
أ ُُوم
Jatuh setelah fathah Jatuh setelah kasrah Jatuh setelah dhammah
Apabila ada dua humzah berkumpul pada satu kalimat, hamzah pertama berharakat fathah serta menunjukkan mutakalim dan hamzah yang kedua berharakat dhammah, maka hamzah yang kedua boleh diganti wawu dan boleh tidak. Lafadz
أَأُم
Keterangan
أَأُم
Menetapkan hamzah
أ َُوم
Diganti wawu
Apabila ada alif yang jatuh setelah kasrah atau jatuh setelah ya’ tashghir, maka alif tersebut diganti diganti ya’. Lafadz Asal Alif diganti ya’
صابِْي َح َ َم غَُزيِّ ٌل
n.
ص ِااب َح َ َم غَُزْي ٌل
صابِْي َح َ َم غَُزيْيِ ٌل
Apabila ada wawu bertempat pada akhir kalimat serta dalam keadaan: 1) jatuh setelah kasrah 2) jatuh setelah ya’ tashghir
3)
jatuh sebelum ta’ ta’nis
4)
jatuh sebelum dua huruf tambahan pada wazan فَ ْع ََل ُن
Maka wawu harus diganti ya’. Lafadz
o.
َر ِض َي
َر ِض َو
ي ُجَر م ٌَش ِجيَة
ُجَريْ ٌو ٌَش ِج َوة
َغ ِزَي ُن
َغ ِزَوا ُن
p.
Jatuh sebelum ta’ ta’nis jatuh
sebelum
dua
huruf
tambahan pada wazan فَ ْع ََل ُن alif dan nun
Mashdarnya ام َ َق
Mashdarnyaام َص َ
wawu jatuh setelah kasrah serta dalam keadaan:
menjadi ‘ain fi’ilnya mashdar yang mengikuti wazan فِ َعل, maka harus di shohihkan.
ٌ
keterangan
ِح َوٌل
3)
jatuh setelah ya’ tashghir
قِ َو ًاما ِص َو ًاما
Lafadz
2)
Keterangan jatuh setelah kasrah
wawu jatuh setelah kasrah dan bertempat pada mashdar dari fi’il yang mu’tal ‘ain. Lafadz Asal Keterangan
قِيَ ًاما ِصيَ ًاما
1)
Asal
Masdar
ال ََيُ ْو ُل ِح َوًّل َ َح
Menjadi ‘ain fi’ilnya jama’ yang ketika mufrad ‘ain fi’il tersebut dii’lal atau berharakat sukun, maka wawu diganti ya’. lafadz
asal
ِد َيٌر
ِد َو ٌار
ِ اب ٌ َثي
ِ اب ٌ ث َو
Keterangan Ketika mufrad ‘ain fi’il tersebut dii’lal أصله دَ َور
Berharakat sukun ketika mufrod ث َ ْوب
Menjadi ‘ain fi’ilnya jama’ yang mengikuti wazan Lafadz
َد ٌار
ٌفِ َعلَة, maka wawu harus dishohihkan. Keterangan
ٌِع َوَدة 4)
Jama’nya
Menjadi ‘ain fi’ilnya jama’ yang mengikuti wazan فِ َعل, maka boleh dishohihkan dan boleh
ٌ
diganti ya’, akan tetapi diganti ya’ lebih baik. Lafadz
Keterangan
ِد َوٌم ِ ٌَدي
q.
Mufrodnya
ٌِد ْْيَة
Wawu jatuh setelah harakat fathah dan bertempat pada lam fi’il serta bertempat pada urutan empat ke atas, maka wawu diganti ya’. Lafadz Asal
ِ معطَي ان َ ُْ
r.
ُم ْعطََو ِان
Alif jatuh setelah harakat dhammah, maka harus diganti wawu. Lafadz
ب ُ َ ض ْوِر
s.
Asal
Keterangan
ب ُ َ ضا ِر
Dimabni majhulkan
Ya’ mati ketika isim mufrad dan jatuh setelah harakat dhammah, maka ya’ diganti wawu. Lafadz Asal
ُم ْوقِ ٌن
t.
ُمْي ِق ٌن
Kalimat yang ‘ain fi’il nya berupa huruf ‘illat ya (يئي
)معتل, ketika jama mengikuti wazan فُ ْع ٌل,
maka dhammah yang sebelum ya’ tersebut dibaca kasrah. Lafadz Asal
ِىْي ٌم
u. 1) 2) 3)
عُ ْوٌد
ُىْي ٌم
Keterangan Mufrodnyaَىيَم ْأ
ُ
Ya’ ketika dalam keadaan: Menjadi lam fi’il Jatuh sebelum ta’ ta’nis Jatuh sebulum tambahan alif dan nun serta huruf sebelum ya’ berharakat dhammah Maka ya’ diganti wawu. Lafadz Asal
ض َو ُ َق
ض َي ُ َق
ٌَم ْرُم َوة َرُم َوا ُن v.
ٌَم ْرُميَة َرُميَا ُن
Ya’ yang menjadi ‘ain fi’ilnya kalimat yang ikut wazan ( )فُ ْعلَىserta menunjukan sifat maka
boleh dua bentuk 1) ya’ boleh ditetapkan dengan mengganti harakat dhammah pada huruf sebelum ya’ tersebut menjadi kasrah. 2) Ya’ diganti wawu dengan menetapkan harakat dhammah pada huruf sebelum ya’ tersebut. Lafadz
ِضْي َقى ض ْوقَى ُ
Asal
Keterangan
ضْي َقى ُ
Muannasnya lafadz َضيَ َق َأ