Data Loading...

Once Upon A Time Flipbook PDF

Once Upon A Time


1,311 Views
458 Downloads
FLIP PDF 1.8MB

DOWNLOAD FLIP

REPORT DMCA

Once Upon A Time ChanBaek One-Shot Collection By:

CHANBAEXO a.k.a

Raisa Chu

1

Daftar Isi By Railroad Line 9 ................................................ 3 Almamater ................................................................ 43 Subscribable ........................................................... 85 Rosegold .................................................................. 145 Roommate ............................................................... 216 Fly High.................................................................... 291

2

By Railroad Line 9 Memiliki segudang agenda sebagai seseorang yang berpengaruh dalam sebuah perusahaan raksasa membuat Chanyeol sibuk. Putra tunggal dari ketua Park Property itu menempati jabatan presiden direktur setelah melakukan serah terima jabatan satu tahun silam. Posisi yang ia tempati bukan tanpa alasan, sang ayah jelas tahu bahwa Chanyeol telah matang dan siap bergelut di dunia bisnis. Nyatanya hal itu terbukti, genap satu tahun usia jabatan itu Chanyeol telah menoreh banyak prestasi, membawa cukup banyak kemajuan yang pesat dan menjadikan perusahaan yang dirintis oleh ayahnya masuk ke dalam jajaran perusahaan top di dataran asia. Semakin banyak prestasi yang diukir, maka semakin padat pula agenda kerja yang harus Chanyeol selesaikan dalam satu kali dua puluh empat jam, ia akan mendekam di ruang kerjanya hingga larut malam atau bahkan hilir mudik ke dalam dan luar negeri untuk melakukan trip bisnis. Chanyeol tinggal di sebuah unit apartemen mewah di pusat Seoul, juga tak jarang menghabiskan waktu satu sampai dua pekan di pulau Jeju untuk mengurus cabang perusahaan di sana, ia mempunyai sopir pribadi, dua 3

asisten kerja, dan dua sekretaris yang di tempatkan di meja panjang di depan ruangannya. Pria tampan yang tidak mempunyai masalah dengan sopan santun, tahu caranya bertatakrama, memperlakukan setiap orang dengan baik, dan meninggalkan kesan menyenangkan bagi siapapun yang baru pertama kali bertemu dan mengenalnya. Karena reputasinya yang mengagumkan, banyak dari mereka yang mencoba peruntungan, para wanita penggoda yang berharap nasib mereka sama seperti Cinderella. Chanyeol memang ramah dan terbuka dengan semua orang; bukan tipikal CEO angkuh karena merasa mempunyai segalanya, namun ia merasa yakin tidak mempunyai cukup waktu untuk menyempatkan diri dekat dan menjalin hubungan dengan wanita. Disamping merasa tidak terlalu mengagungagungkan sebuah hubungan serius. Chanyeol hanya tenang, ia menjalani hidupnya seperti apa yang terpampang di depan mata. “Di depan terjadi kecelakaan beruntun, Sajangnim, dan petugas lalu lintas menutup satu jalur.” Adalah penjelasan masuk akal mengapa kini Chanyeol dan asistennya terjebak macet parah. “Apa ada jalan alternatif?” Yuri sang asisten bertanya pada sopir. “Sayangnya tidak ada, nona Kwon.” “Ke mana orang-orang itu pergi?” Lalu sang bos besar bertanya ketika segerombolan orang berbondong-

4

bondong memadati trotoar dan berjalan menuju arah sebaliknya. “Oh, mungkin mereka berjalan menuju stasiun karena tidak jauh dari blok ini ada pintu masuk subway terdekat.” Chanyeol mengusap dagu. “Apa mereka bisa mengantar kita menuju bandara?” “Tentu, Sajangnim.” “Bagaimana, Yuri? Apa kita harus berjalan ke sana untuk menghindari keterlambatan.” “Saya setuju, kita akan mengambil rute airport railroad line 9, saya sudah memeriksa di aplikasi online.” “Bagus.” Chanyeol lantas mendorong pintu dan keluar dari mobil. Tentang bisnis dan profesionalitas dalam bekerja terkadang harus mengambil keputusan dengan cepat, diutamakan tidak memakan waktu karena Chanyeol tidak sekalipun lalai dan terlambat. Pria yang mengenakan suit mahal buatan tangan dibalik mantel karya perancang busana dunia itu melenggang di trotoar, dituntun oleh Yuri yang sejatinya tahu bahwa bosnya kurang mengerti cara menggunakan transportasi umum. “Sebelah sini, Sajangnim.” Chanyeol lantas menuruni tangga menuju stasiun bawah tanah yang sejatinya baru pertama kali ia kunjungi. Memang terdengar tidak masuk akal, namun ini benar-benar pengalaman pertama Chanyeol menggunakan jalur kereta bawah tanah.

5

Suasana yang ramai karena dipadati oleh mereka yang semula terjebak macet sedikit membuat Chanyeol pengap. “Saya akan melakukan isi ulang kartu transportasi di sebelah sana.” Chanyeol mengangguk. “Saya menunggu di sini.” Setelahnya Yuri bergegas dengan tujuannya semula. Chanyeol menyandarkan punggung pada dinding lembab, tidak menaruh minat untuk memperhatikan setiap orang yang hilir mudik kecuali sebuah seruan seorang wanita yang mengundang banyak perhatian di sekitarnya. “Tolong jangan diinjak. Ada kucing di sini! Tolong, Pamam, gunakan jalan sebelah sana. Hey, anak muda, jangan mendorong, hati-hati keucingnya terinjak.” Chanyeol mencoba mencari celah dari kerumuman orang yang hendak melewati pintu masuk subway. Ia berjinjit lalu sedikit merendahkan kaki namun hasilnya tetap nihil. Chanyeol menyerah lantas tanpa ia duga sosok itu keluar dari kerumunan orang-orang, melintas di depannya seraya menggendong anak kucing. “Di mana Ibumu, hum?” Anak kucing itu menyahut dengan suara khas seolah mengerti apa yang dikatakan oleh wanita yang kini menggendongnya dengan posesif. Chanyeol tidak yakin tatapannya akan bertahan jika saja ia tidak melihat senyum lembut terulas di bibirnya yang kecil dan merah. 6

“Ughh tidak apa-apa, sekarang kau aman dengan Eonnie.” Lantas senyum wanita itu berubah sendu, seperti tengah memahami kesedihan si anak kucing yang terpisah dari induknya. Chanyeol mengerjap pelan, masih memperhatikan caranya memberi usapan lembut pada si kucing dan melindunginya dengan dekapan. “Sajangnim?” Chanyeol terhenyak kecil lalu menatap Yuri yang sejatinya telah berdiri di sana dan memanggilnya berulang kali. “Ya?” Yuri mengerjap bingung melihat bosnya yang tampak linglung. “Kita berangkat sekarang?” Lalu Chanyeol memperhatikan sekeliling, tidak lagi menjumpai wanita cantik bersurai lembut tergerai, dia menghilang dari pandangan. “Baik.” Sahutnya lalu mengulas senyum kecil. Sebenarnya tidak ada yang begitu istimewa dengan apa yang ia saksikan, namun nyatanya senyum lembut itu terngiang selama perjalanan menuju bandara.

*** Pagi ini Chanyeol memang dijadwalkan terbang ke Jeju untuk menemui relasi mancanegara yang berkunjung, kolega Chanyeol yang berasal dari Switzerland yang secara khusus meminta bos besar Park Property itu untuk bertemu dan membicarakan kerjasama di masa depan. 7

Chanyeol tentu merasa bersemangat mengingat beliau adalah satu rekan bisnis yang berpengaruh besar untuk membangun dan menciptakan banyak koneksi. “Mr. Thomas berkunjung bersama keluarga, istri dan kedua anaknya.” Chanyeol mengangguk paham, lalu meneliti lembar kerja yang ia bawa dari Seoul. “Yuri, pastikan untuk memberikan pelayanan yang sempurna kepada mereka.” “Baik. Saya sudah memberi intsruksi kepada staf resort.” Lalu Chanyeol bangkit dari sofa, mengeratkan kembali dasi yang sebelumnya ia longgarkan lalu dibantu memakai jas oleh Yuri. Tak lama lagi Chanyeol akan mengadakan pertemuan formal dengan Mr. Thomas, langkahnya tersapu di koridor resort sebelum salah satu staf menghadang jalan. “Nona Kwon, ada masalah.” Yuris bereaksi keras. “Apa yang terjadi?” Dengan nada panik. “Tamu kita dari Switzerland...” “Mr. Thomas? Apa yang terjadi?” “Putri keduanya mengalami muntah-muntah hebat setelah menyantap sarapan pagi ini.” Kali ini bukan hanya Yuri yang merasa waswas, Chanyeol terlihat terkejut dan bergegas memeriksa keadaan yang sesungguhnya. “Siapkan mobil, kita harus membawanya ke rumah sakit!”

8

Masalahnya akan runyam jika hal itu terjadi karena bahan makanan yang disiapkan oleh pihak resort, Chanyeol selaku tuan rumah dan pemilik resort di pusat wisata Jeju tersebut enggan memikirkan skenario buruk tentang apa yang saat ini terjadi.

~oOo~ “I sincerely apologize for what happened to your daughter.” Chanyeol dan Yuri membungkuk sembilan puluh derajat setelah tahu penyebab apa yang membuat putri bungsu Mr. Thomas harus dilarikan ke bangsal anak di salah satu rumah sakit umum di Jeju. Alergi yang disebabkan oleh makanan laut adalah pemicunya. “It is not your fault. My wife and I should be more careful when choosing food for our kids.” Mr. Thomas tidak menyalahkan pihak Chanyeol karena jelas mereka yang salah memesan menu sarapan. “We will give the best service for your family.” Lalu Yuri menambahkan. “Thank you. I truly appreciate it.” Lalu Chanyeol mulai memberi instruksi kepada Yuri untuk mengurus segalanya dengan baik. Pintu ruang pemeriksaan itu terbuka, seseorang menggesernya dari dalam. Seorang wanita yang terbalut pakaian resmi khas seorang perawat tersenyum kepada semua orang. “Mr. and Mrs. Thomas? Elena looking for her Daddy and Mommy.” 9

“Oh, thanks God.” Lalu tuan dan nyonya Thomas itu berhambur masuk ke dalam ruang pemeriksaan setelah mendapat info bahwa Elena telah mendapatkan penanganan. Yuri ikut masuk untuk memberi dukungan moril sementara Chanyeol telah lama mematung. Matanya mengerjap pelan, sejak awal ia mengenal suara itu. Lalu atensinya teralih pada sosok perawat yang kini membungkuk kecil dan berlalu dari hadapannya. Seolah dikomando, tubuh Chanyeol berputar mengikuti arah ke mana perawat itu melangkah, matanya tertancap kuat pada punggung wanita yang kembali mencuri perhatian di pertemuan kedua. “Sajangnim??” Lamunan Chanyeol buyar, seolah dejavu ia menatap Yuri dengan linglung. “Apa anda baik-baik saja?” “Ya.” Chanyeol menyahut cepat lalu kembali menatap koridor tempat di mana perawat cantik itu menghilang dari pandangan. Yuri mengernyit, merasa cukup aneh dengan gelagat bosnya hari ini.

~oOo~ Pertemuannya dengan Mr.Thomas ditunda, Chanyeol kembali ke resort sebelum langit menggelap dan menyerahkan segala urusan kepada Yuri. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Pakaian yang dikenakan cukup santai 10

dan ia berniat mendatangi salah satu pub untuk menjernihkan pikirannya yang tidak karuan. Tidak ada suit formal yang membalut tubuh, ia sepenuhnya Park Chanyeol; pria dewasa yang membutuhkan sedikit hiburan setelah seharian dipusingkan dengan berbagai macam agenda yang menunggu untuk diselesaikan. Kejadian yang menimpa putri bungsu Mr. Thomas sedikit memperngaruhi suasana hati, meski tidak secara jelas memperlihatkannya di depan semua orang namun ia cukup merasa waswas dan cemas. Meja bartender itu tidak terlalu banyak dihuni oleh orang-orang. Chanyeol mengambil salah satu kursi lalu memesan minuman. Samar terlihat beberapa wanita yang mencoba mengajaknya berinteraksi namun mereka harus menelan pahit, karena pria tampan yang memarkirkan mobil impor mahalnya di depan pub tidak menaruh minat lebih terhadap hal lain selain pekerjaan. Chanyeol meneguk minuman itu dengan perlahan lalu mulai membuka memori terdalam, mengorek segala sesuatu yang terjadi hari ini, kemudian tanpa sengaja sebuah senyum berkelebat dalam pandangan. Pria itu bereaksi, ia memijit pangkal hidung dan tersenyum kecil. Chanyeol pikir ada yang salah dengan otaknya. Kenapa wajah wanita itu tidak kunjung hilang dari pandangan? Tidak sekali atau dua kali, Chanyeol bertemu dengan banyak wanita meski di antara mereka tidak ada 11

yang benar-benar ia kenal dekat. Sebagian berasal dari perkenalan melalui teman dan beberapa yang tak jarang ia temui di kencan buta yang direncanakan oleh ibunya. Semua orang tidak memberi begitu banyak kesan di pertemuan pertama, namun hari ini jelas menyebalkan. Chanyeol bahkan bertemu dengannya dua kali. Kebetulan macam apa yang kini bahkan sanggup membuat kornea mata Chanyeol melebar ketika menoleh, menjumpai wanita yang sama. Pertemuan pertama di stasiun bawah tanah, Chanyeol ingat wanita itu memakai mantel tebal, lalu pertemuan kedua yang mengejutkan karena Chanyeol mendapati fakta bahwa wanita itu adalah seorang perawat di bangsal anak, lalu sekarang Chanyeol harus memutar otak untuk menebak kepribadian wanita bertubuh mungil yang kini terbalut dress pendek berbahan sutra. Pria itu lantas memalingkan wajahnya yang memanas. Bagaimana bisa mereka bertemu tiga kali ketika waktu belum sepenuhnya genap dua puluh empat jam? “Ya, hallo?... Oh, benar. Itu kucingku. Astaga, mohon maaf, aku akan segera pulang.” Hanya itu yang dapat Chanyeol dengar. Pria itu lantas berbalik dan kembali kehilangan wanita itu untuk ketiga kali. Chanyeol menggeleng seraya menandaskan minuman. Ia bukan pria naif yang yang tidak tahu alasan tepat mengapa jantungnya berdetak di luar frekuensi setiap kali wanita cantik itu menyapa atensi. 12

Setelah melakukan pembayaran, pria itu bergegas mengikuti jejak si wanita yang sejak awal mencuri perhatian. Chanyeol nyaris menggeram kecil karena kehilangan jejak, namun ia mendengus lega karena wanita itu berjalan di trotoar tak jauh dari tempatnya berdiri. Meski Chanyeol tidak yakin akan dirinya sendiri, mengingat ia akan merasa canggung jika berinteraksi dengan lawan jenis, namun nyatanya pria itu melangkah tak jauh dari wanita yang kini ia ikuti. Itu memang bukan perbuatan terpuji, Chanyeol akui saat ini ia serupa penguntit, yang rela membiarkan mobilnya terparkir di halaman pub dan berjalan cukup jauh demi sebuah kalimat yang tertahan di ujung lidah. “Oh, tidak, tidak!” Nyatanya ia bahkan tidak bisa menahan detak jantung yang menggila. Pria itu gugup dan merasa takut. Seperti seorang pecundang. Ini adalah pengalaman pertama ketika ia merasa begitu sulit mengontrol diri hanya karena seorang wanita. Pria itu berbalik lantas berhenti mengikuti si wanita. Ia melangkah cepat hingga kembali ke halaman pub dan masuk ke dalam mobil. “Konyol sekali, Park!” Ia bergumam dan merutuk kecil, pada faktanya pergi ke pub itu tidak membuat pikirannya jernih, justru semakin tidak karuan.

~oOo~ “I glad to hear that your daughter was doing fine.” 13

“Thank you very much, Mr. Park.” Lalu kedua rekan bisnis itu berjabat tangan setelah terlibat perbincangan panjang seputar rencana kerjasama di masa depan. Mereka lantas berpisah, Chanyeol melenggang di koridor barat resort lalu meneliti jam yang melingkar di tangan. “Tidak perlu. Kau tangani saja Mr. Thomas dan keluarganya, aku mempunyai urusan pribadi.” Lalu Yuri berhenti mengikuti bosnya. Chanyeol berbalik, memperlihatkan wajah ragu sebelum memberanikan diri bertanya kepada Yuri. “Yuri, apa kau pernah mengajak pria berkenalan?” “Tidak, Sajangnim.” “Kenapa tidak?” Yuri membeo, ia tidak menganut paham emansipasi, dan wanita pantang mengulurkan tangan lebih dulu kepada pria. “Karena itu tugas laki-laki. Wanita tidak harus melakukannya.” “Kurasa kaummu hanya gengsi.” Chanyeol menohok ya dengan jelas. Yuri semakin membeo. “Baiklah. Terima kasih sudah menjawab.” Meskipun sedikit kesal, Yuri tak melupakan sopan santun, ia membungkuk hormat dan membiarkan bosnya berlalu. “Kenapa sejak kemarin dia sangat aneh?”

14

*** Chanyeol melajukan kendaraannya menyapu jalan besar di pusat kota Jeju. Lalu ia memutar kemudi dan memasuki area rumah sakit. Kedatangannya ke sana adalah tanpa tujuan. Itu adalah kali pertama ia merasa tidak tentu arah. Chanyeol bahkan masih tidak mengerti mengapa ia mengurai langkah menuju bangsal anak dan mulai memperhatikan satu persatu perawat yang bertugas di sana. Hasilnya nihil, Chanyeol tidak menemukan yang ia cari. Apa dia tidak bertugas? Chanyeol merasa konyol karena untuk pertama kali dalam hidupnya, ia dibuat melangkah tanpa arah dan hanya tahu akan mencari seseorang. “Suster Byun!” Suara itu terpekik nyaris, siapa pun akan terpancing untuk menoleh. Begitu pun Chanyeol yang kini benar-benar mati kutu karena sosok yang ia cari melintas di hadapannya tanpa permisi. Samar Chanyeol memcium aroma lembut yang menguar bersama langkahnya. Semua tentangnya selalu meninggalkan kesan lembut. Dan seharusnya Chanyeol tidak harus merasa takut. Dia bisa apa? Gugup yang tak bisa diteloransi sanggup membuatnya kembali menjadi seorang pecundang.

15

Untuk ke sekian kali ia membiarkan wanita itu menghilang dari pandangan.

*** Keesokan harinya Chanyeol memberi instruksi pada Yuri untuk pulang ke Seoul terlebih dahulu mengingat Chanyeol masih mempunyai agenda kerja selama satu minggu ke depan. Chanyeol akan menetap di Jeju sampai urusannya di kantor cabang benar-benar terorganisir. Tanpa Yuri, Chanyeol mengerjakan beberapa hal seorang diri. Sebenarnya Chanyeol bisa saja meminta bantusn sekretaris yang ditempatkan di cabang Jeju, namuan pria itu merasa pekerjaannya tidak terlalu berat, ia hanya harus menyelesaikan perlahan. Meski begitu Chanyeol tetap merasa pening setelah berkutat di meja kerja dengan tumpukan kertas berisi data-data penting perusahaan sejak pagi tadi. Jam makan siang membawa SUV nya melenggang di jalanan, lalu Chanyeol menyempatkan diri mampir di sebuah restoran. Selesai makan, Chanyeol berniat kembali ke kantor namun restoran yang ia kunjungi berada beberapa blok dari rumah sakit. Ia bahkan cukup aneh karena tidak menyadarinya sejak awal. Chanyeol hendak masuk ke dalam mobil jika tidak melihat tiga orang perawat yang melintas di depan restoran, atensinya tidak akan tertancap kuat jika yang dilihatnya kini bukan wanita itu. 16

Ada apa dengan semesta? Gemar sekali membuat senyum kecil Chanyeol terulas berbarengan dengan detak jantungnya yang menggila. Wanita itu terpisah dari kedua temannya, sementara Chanyeol tanpa sadar mengikuti langkah. Pria itu tebak dia hendak kembali ke rumah sakit dan dugaannya benar. Chanyeol masih mengikutinya tanpa sebuah niat yang tetap. Melihat punggungnya dari kejauhan saja sudah cukup membuat jantung pria itu menggila. Dilihatnya wanita itu telah berada di ambang pintu masuk. Chanyeol terhenyak karena wanita itu berbalik. Tentu saja hal pertama yang Chanyeol lakukan adalah berpura-pura tengah menelepon seseorang. Lalu ia mendengus kasar setelah wanita itu berbalik dan masuk melalui pintu lobi. Ada apa denganmu Park Chanyeol? Kenapa kau mengikutinya lagi?

~oOo~ Chanyeol merenungi beberapa hal terkait tindakan konyolnya beberapa hari terakhir, ia sadar perbuatannya yang mengikuti seorang wanita setiap kali mengikutinya adalah tindakan yang tidak terpuji, meski secara teknis Chanyeol tidak sengaja. Sesuatu dalam diri wanita itu jelas adalah zat adiktif, Chanyeol terhipnotis setiap kali melihatnya.

17

Lima hari berlalu dengan merenungi kesalahan, Chanyeol menahan diri untuk tetap berada di lingkaran aman meski hari ini ia yakin akan gagal. Nyatanya benar, Chanyeol tak bisa menahan diri. Rasanya benar-benar rindu. Chanyeol merindukannya tanpa alasan yang jelas. Pria itu bertekad akan memberanikan diri kali ini. Untuk itu SUV nya kembali melenggang di jalan raya. “Kau tidak bisa menjadi pengecut selamanya, Park.” Pria itu bergumam lalu berhenti saat lampu merah menyala. Seraya menunggu ia memperhatikan jalanan yang lenggang. Lalu pada beberapa pengguna jalan hingga raut wajahnya yang biasa kini berubah saat menjumpai sosok wanita yang sejak awal menjadi tujuan utama. Chanyeol kelabakan, ia mulai mencari tempat yang aman untuk memarkirkan mobil ketika dilihatnya wanita itu berbelok ke sebuah blok. Chanyeol memperhatian dengan seksama lingkungan itu dan nyatanya ia tahu. Dari informasi yang didapat dari orang suruhan, wanita itu tinggal di sana. Chanyeol memutat kemudi lalu memarkirkan mobil di depan sebuah kafe yang sebenanrnya cukup jauh dari blok yang ia lihat tadi. Lantas pria itu keluar dari mobil dan mulai mencari jejak hingga kedua matanya berbinar mendapati sosok itu berjalan tak jauh di depannya. “Oh benar! Jangan biarkan anak wanitamu keluar malam. Ada orang mesum yang berkeliaran memamerkan alat kelamin kepada para wanita. Jadi berhati-hatilah.” 18

Kening Chanyeol mengernyit ketika tidak sengaja mendengar perbincanga dua wanita paruh baya saat ia melintas

*** Dua pasang kaki melangkah di bawah gradasi jingga senja. Tidak beriringan namun langkah lebar yang di atur sekian meter di belakang sepasang kaki ramping itu memberitahu bahwa selain tampan dan mapan, ia juga cukup posesif. Memang terdengar konyol, Chanyeol bahkan seperti seorang penguntit elit, berdasi. Seluruh karyawannya di kantor pasti akan menertawakan tingkah lakunya yang kini membuntuti seorang wanita bersurai lembut tersapu angin senja yang menggelitik. Chanyeol bisa apa? Percayalah ia bukan seorang penjahat. Tindakan tidak keren-konyol-memalukan yang kini dilakukan oleh bos besar mega real property itu hanya karena satu alasan; di persimpangan blok ke tiga apartemen yang ditinggali oleh sosok cantik yang kini ia ikuti kerap berkeliaran si mesum yang mengincar atensi para wanita untuk memamerkan alat kelamin di balik mantel. Si tinggi tampan yang masih setia mengantongi tangan di saku celana itu menghela pelan, bagaimana bisa ia membiarkan dirinya tidak tahu menahu tentang wanita itu?

19

Meskipun tidak punya cukup nyali untuk menyatakan secara gamblang bahwa ia terjebak dalam kesan kuat pandangan pertama, setidaknya menyempatkan diri memperhatikannya dari jauh setelah memainkan peran sebagai pimpinan perusahaan dengan segudang jadwal cukup mampu menegaskan satu hal. Pria itu jatuh cinta---diam-diam. Pecundang. Chanyeol menyematkan gelar itu terhadap dirinya sendiri dan kini pecundang itu melompat terkejut bahkan nyaris terjungkal karena secara tiba-tiba wanita itu berbalik. Menatap Chanyeol dengan kerjapan mata berulang. Chanyeol ikut mengerjap lalu ia menoleh ke belakang, seolah tidak tahu bahwa dirinya adalah tersangka utama. Pria itu meringis karena tidak menemukan siapapun di belakangnya. Ia lantas kembali berbalik dan menggaruk tengkuk, pecundang itu tertangkap basah. Dan tak ada lagi yang sanggup membuat jantungnya berdetak di luar frekuensi selain langkah mungil yang tertuju padanya. Pada akhirnya mereka berhadapan satu sama lain. Mulut Chanyeol kelu dan kakinya terpaku. "Kau lagi..." Dua kata yang sanggup membuat mata bulat Chanyeol bekerja dua kali lipat. "Kau mengikutiku lagi." Wanita itu menegaskan sebelum mengulas senyum berkekuatan jutaan voltase dan jika tidak memikirkan pertahan dirinya yang terakhir, Chanyeol mungkin sudah melebur menjadi butiran debu. 20

Kata 'lagi' semakin membuat Chanyeol ingin menenggelamkan dirinya ke pedalaman samudera. Lalu untuk apa senyum itu? Kenapa wanita itu sangat cantik? "Kau cantik." Kalimat yang refleks terlontar dan membuat Chanyeol melotot lucu sebelum mengutuk diri dalam hati. Baekhyun membeo kecil lalu menunduk, dia wanita biasa yang kadang kala tak mampu menahan diri untuk tersipu karena sebuah pujian. "Kenapa mengikutiku? Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?" Chanyeol menggeleng karena tidak menemukan kosa kata yang pasti untuk menjawab pertanyaan menohok tersebut. Mereka tidak saling mengenal dan seharusnya Baekhyun berwaspada, bukan malah mengulurkan tangan. "Bisa berhenti mengikutiku? Kita bisa berkenalan, namaku Baekhyun." Selain cantik, dia juga ramah, tidak mudah berprasangka dan jika boleh Chanyeol ingin menyematkan marga 'Park' di belakang namanya.

*** “Aku harap kau tidak salah paham.” Chanyeol mendongak dan menatap bernama Baekhyun itu dengan tanda tanya. “Aku mengajakmu ke tempat tinggalku...” “Oh, tidak.” 21

wanita

Baekhyun mengerjap kecil lalu tersenyum lembut. “Jadi namamu...” Chanyeol nyaris menepuk dahi karena sepuluh menit sejak ia duduk di atas sofa empuk itu, atau bahkan sejak pertemuannya di pelataran apartemen, pria itu sama sekali belum mengenalkan diri. “Aku Park Chanyeol.” Baekhyun mengangguk kecil. “Kau mau kopi? Atau teh?” “Air putih.” Baekhyun menggeleng maklum pada suara Chanyeol yang terdengar gugup. “Boleh aku bertanya?” “Tentu. Silahkan Park Chanyeol-ssi.” “Jika kau tidak ingin disalahpahami karena mengajak pria asing masuk ke tempat tinggalmu, lalu apa alasan masuk akal yang bisa kau beri?” Baekhyun kembali dan menenteng segelas air putih dan meletakkannya di atas meja. “Aku izin pulang karena merasa tidak enak badan. Jadi mengajakmu ke kafe terdekat bukan ide bagus karena di luar cuacanya sedang sangat tidak mendukung. Aku hanya akan merasa lebih baik jika di dalam sini.” “Kau sakit?” Baekhyun mengangkat bahu. “Gejala flu dan deman. Sepertinya begitu.” “Aku bisa saja orang jahat yang hendak melukaimu.”

22

“Tapi kau tidak.” Baekhyun tersenyum. Ia wanita dewasa yang tahu cara membedakan orang baik dan penjahat.” “Kenapa kau seyakin itu?” Sejujurnya Chanyeol merasa gemas. Ia tidak tahu Baekhyun itu polos atau bodoh. Bagaimana jika yang dia ajak masuk ke apartemennya adalah pria jahat? “Jika kau penjahat maka kau sudah melakukannya dari tadi. Kau bisa mengambil pisau di dapur lalu menghujam perutku, atau kau bisa merobek bajuku dan...” “Baik. Aku tidak akan bertanya lagi. Aku hanya merasa... kau tahu, berprasangka itu perlu.” “Aku tahu...” lalu Baekhyun terbatuk kecil. Perubahan warna kulit membuat Chanyeol bereaksi. “Kau pucat. Kau yakin baik-baik saja? Haruskah ku antar ke dokter?” “Tidak. Aku baik. Hanya perlu meminum antibiotik dan beristirahat.” “K-kalau begitu kau harus meminumnya. Di mana kotak obatnya?” “Di samping lemari pendingin.” Dan Chanyeol bergegas mengikuti instruksi. Ia kembali dan memberikan obat itu kepada Baekhyun. Efek obatnya terbilang luar biasa. Baekhyun sedikit terkantuk setelah menenggaknya. “Kau harus beristirahat. Aku... aku akan pulang. Dan kau bisa tidur dengan nyaman.” Baekhyun menahan lengan Chanyeol. “Adalah mimpi buruk jika aku ditinggalkan sendiri di saat sedang sakit.” 23

Chanyeol mengerjap kecil lalu kembali duduk. “Tapi... aku tidak ingin membuatmu tidak nyaman.” Baekhyun menggeleng lemah. “Kau bukan orang jahat, aku tahu itu.” Mata Baekhyun semakin berat sebelum kepalanya terkulai dengan perlahan hingga ia sepenuhnya tumbang dengan sedikit bersandar pada bahu Chanyeol. Chanyeol mematung bahkan tubuhnya menegang. Yang tersisa hanyalah hening ditemani oleh detak jarum jam di atas dinding. Bahkan ini terlalu nyata untuk sebuah mimpi, faktanya Chanyeol benar-benar duduk di samping wanita yang telah mencuri perhatiannya sejak awal bertemu. Pria itu menoleh hanya untuk mendapati aroma lembut di surai Baekhyun yang menjuntai, menutupi wajahnya yang cantik. Chanyeol bergerak pelan, niatnya merapikan rambut beraroma lembut namun ia terus mengalami kejadian-kejadian yang berpotensi membuat jantungnya meledak. Baekhyun merosot kecil hingga kepalanya terkulai sepenuhnya di atas paha Chanyeol. Chanyeol menahan napas lalu mendongak. Bagaimana bisa hal itu terjadi? Pria mencoba mengontrol deru napas lalu mematung dengan posisi duduk tegak. Apakah ia akan selamanya bertahan dengan posisi seperti itu?

24

*** Kelopak indah itu bergerak pelan, lalu kedua mata sipit itu sepenuhnya terbuka. Kepalanya pening, namun Baekhyun tidak terlalu memedulikan hal tersebut, ia telah lebih dulu mengerjap terkejut karena hal pertama yang ia lihat saat terjaga adalah wajah Chanyeol yang kini menunduk dan terpejam di atas wajahnya. Pria itu memangku tangan seraya terlelap dalam posisi duduk. Dan pertanyaannya bagaimana bisa Baekhyun terkulai dan terlelap di atas paha pria itu? Baekhyun enggan bergerak, ia takut mengganggu lelapnya Chanyeol yang tak wajar. Nyatanya tidak ada yang benar-benar bertahan dalam posisi tidur selain terlentang. Chanyeol mengernyit dalam tidur lalu mengucek kedua mata dan terjaga. Ia menyempatkan diri melirik jam di tangan dan menghela berat karena waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Berapa lama ia tertidur? Oh, badannya terasa sangat pegal. Lalu pria itu sadar akan sesuatu dan menunduk sebelum kemudian nyaris terlonjak karena Baekhyun sudah terjaga dan melempar senyum. Keduanya bersitatap dalam diam untuk waktu yang cukup lama. “Kau pria yang cukup berani. Tidur di rumah seorang wanita yang baru kau kenal.” Chanyeol mengerjap kecil. “Maaf, aku tidak sengaja.” 25

Lalu Baekhyun terkekeh di balik punggung tangan. Merasa gemas karena sejak awal pria yang mengenakan kemeja kerja yang dilipat hingga siku itu terkesan begitu murni dan polos. “Jadi, kau bekerja di mana? Aku seorang perawat.” “Aku tahu.” “Oh ya?” Chanyeol bungkam seketika, tidak bisa mengontrol ucapan. Dan kini ia berpikir Baekhyun akan menganggapnya aneh. “Kau tahu aku perawat?” “Kita... kita bertemu di rumah sakit minggu lalu.” Baekhyun memutar memori terdalam, mungkin ia melupakan sesuatu. “Aku tidak tahu kita sudah pernah bertemu sebelum kau mengikutiku keluar dari pub malam itu.” “Bagaimana kau tahu?” Chanyeol terkejut karena tertangkap basah. Baekhyun mengulum tawa. Chanyeol bisa saja mengelak dengan segala tipu daya, namun nyatanya pria itu dengan polosnya berkata jujur. Dan Baekhyun cukup terkesan dengan sifatnya. “Tentu aku tahu ketika diikuti oleh seseorang.” “Maaf. Aku tidak bermaksud, Baekhyun.” “Lalu? Kenapa kau selalu mengikutiku?” Chanyeol bungkam lalu menghindari tatapan Baekhyun. “Itu... itu karena aku ingin tahu namamu.” Baekhyun mulai menyukai pria itu, dengan segala kejujuran yang telontar dari mulutnya. “Lain kali kau harus lebih berani.” 26

Chanyeol menggeleng. “Ini pertama kalinya aku ingin tahu nama seorang wanita.” “Benarkah? Kenapa seperti itu?” Chanyeol menatap Baekhyun lalu mengerjap kecil. “Karena kau cantik. Aku ingin mengenalmu, kita bisa menjalin hubungan. Aku ingin... menjadikanmu istri.” Baekhyun mengulum tawa lalu pipinya merona. “Aku pikir kau pria penakut. Tapi kau mengatakan segalanya barusan.” “Aku bertemu banyak wanita. Bahkan Ibuku rajin mengatur kencan buta setiap satu bulan sekali dengan wanita-wanita pilihannya.” Baekhyun mendengarkannya dengan seksama, menatap pria itu dengan lembut dan mengangguk ketika Chanyeol melontarkan nada seperti tengah mengadu, lalu memberanikan diri mengelus bahunya untuk menenangkan. “Aku menjalaninya tanpa merasa terpaksa. Ku pikir bertemu dengan banyak wanita bukan sesuatu yang buruk. Kita bisa menjalin pertemanan ketika merasa tidak cocok satu sama lain. Baekhyun, aku tahu aku terdengar lancang karena ini pertemuan pertama kita, tapi aku ingin mengenalmu lebih jauh daripada aku mengenal wanitawanita itu.” Baekhyun mengangguk setuju. Itu pertemuan pertama mereka. Baekhyun tidak tahu siapa sebenarnya Park Chanyeol, dia tinggal di mana, perusahaan mana yang merekrut sosoknya dalam balutan jas dan kemeja mahal?

27

“Kau tahu wanita mana pun akan berpikir ribuan kali sebelum mengangguk setuju ketika dilamar di hari pertama mereka bertemu.” “Dan aku tidak segila itu...” Baekhyun terkekeh menyaksikan bagaimana wajah Chanyeol melempar protes kecil. “Kita bisa meluangkan banyak waktu untuk mengenal lebih jauh... aku akan menyelipkan satu pekanku untuk berada di Jeju dan bertemu denganmu.” “Kau tidak tinggal di sini?” Dan Baekhyun mendapat celah untuk bertanya lebih jauh. “Aku dari Seoul. Tapi selalu menyempatkan waktu dua pekan selama satu bulan untuk menetap di sini, karena pekerjaan.” “Seoul itu sangat jauh...” Chanyeol menggeleng kecil. “Apa aku boleh memegang tanganmu?” Baekhyun berinisiatif menggenggamnya terlebih dahulu. Hangat. Bahkan hati Chanyeol mencair. “Aku sudah mengatakannya padamu, aku sanggup menambah satu pekan untuk berada di sini. Untuk bertemu denganmu.” “Tapi itu melelahkan untukmu...” “Itu tidak melelahkan ketika kau tahu waktumu diluangkan untuk seseorang yang kau suka.” “Kau menyukaiku?” Chanyeol menunduk kecil. “Baekhyun, berhenti bertanya...”

28

Baekhyun tertawa kecil. “Astaga... lihat dirimu. Apakah kau bahkan pria dewasa?” Ia dibuat gemas oleh tingkah laku Chanyeol. Ponsel Chanyeol berdering. “Kau tidak mengangkatnya?” Mulanya Chanyeol enggan namun dengan berat hati ia menjawab panggilan Yuri. “Ya, Yuri?” “Oh, kemana anda seharian, Sajangnim?” “Bukankah aku sudah mengatakan mempunyai urusan pribadi?” “Maaf, tapi ada beberapa berkas kontrak yang harus Anda lihat dan setujui.” “Saat ini juga?” Chanyeol menoleh pada Baekhyun lalu mengusak punggung tangan wanita itu. Ia dibalas dengan tatapan yang masih sama, lembut dan menghanyutkan. “Ya, Sajangnim.” “Kirimkan melalui surel. Aku akan memeriksanya sekarang.” Lalu sambungan telepon itu terputus. Baekhyun tidak bertanya dan bukan haknya untuk tahu siapa yang menghubungi Chanyeol. “Apa aku boleh meminjam komputermu?” “Ya, tentu saja. Silahkan.” Lalu Chanyeol dituntun masuk ke dalam kamar Baekhyun tempat di mana komputernya berada di meja sudut ruangan. “Maaf.” Chanyeol memang harus merasa tidak nyaman masuk ke dalam kamar seorang wanita. 29

Lalu pria itu mulai melonggarkan dasi dan berkutat di depan komputer. “Mau ku buatkan minuman?” “Tidak. Terima kasih.” Baekhyun mengangguk kecil, sedikit merasa aneh karena Park Chanyeol berubah menjadi pria yang fokus dan menggilai pekerjaan. “Yuri? Apa semua kontrak ini mempunyai validasi yang kuat?” “Ya. Sajangnim. Tim sudah memeriksanya.” Sajang??? Baekhyun membatin ketika wanita di pembicaraan telepon itu memanggil Chanyeol dengan sebuah sebutan jabatan tertinggi di perusahaan. Lalu wanita itu berlalu dari kamar dan duduk di sofa. Menunggu cukup lama bahkan hingga terkantukkantuk. Tiga puluh menit berlalu dan Baekhyun nyaris tertidur di atas sofa jika pintu kamarnya tidak lebih dulu dibuka. Wanita itu mengerjap beberapa kali, berharap kantuknya menghilang. Lalu menatap Chanyeol yang kini tengah mengenakan jasnya. “Baekhyun, aku harus kembali ke resort.” Baekhyun bangkit dari sofa. “Ya. Tentu saja.” “Masukan nomor ponselmu, nomor telepon dan alamat surel. Aku tidak ingin jika suatu waktu kesulitan menghubungimu.” Si mungil tersenyum lebar. Ia tidak pernah diperlakukan posesif oleh seorang pria. 30

Mereka bersitatap cukup lama sebelum saling melempar senyum penuh arti dan berpisah di ambang pintu. Setelah punggung Chanyeol menghilang, Baekhyun mendengus kecil dan menetralkan debar jantung. “Dia sangat tampan.” Lalu Baekhyun menggeleng. “Oh, apa kau sudah gila, Baekhyun? Kenapa memasukkanya ke sini? Bahkan meminjamkannya komputer! Astaga kita bahkan saling berpegangan tangan!” Baekhyun meraung kecil lalu tumbang di atas ranjang. Ia menatap langit-langit kamar dan meresapi detak jantungnya yang semakin tidak karuan. “Dia tampan, polos dan lucu. Astaga, ini bahkan pertemuan pertama.” Tapi Baekhyun sudah dibuat kalangkabut.

~oOo~ Perkenalan itu berlanjut, dimulai dari saling menghubungi hingga bertemu di waktu luang. Baekhyun akan mendapati dirinya dijemput oleh SUV mahal yang membuat seluruh penghuni bangsal heboh dan bergosip lalu ia akan pulang dengan sebuket bunga yang Chanyeol beli. Perlahan mereka mengenal satu sama lain, meski sebenarnya Baekhyun masih tercengang ketika mendapati fakta bahwa Park Chanyeol adalah seorang CEO dari perusahaan mega properti yang berpusat di Seoul.

31

Park Property menjadi pusat perhatian seluruh warga negara Korea berkat kesuksesan yang diraih. Menjadi salah satu perusahaan yang masuk ke dalam daftar wajib bagi mereka yang ingin mencoba peruntungan menjadi karyawan. Untuk itu Baekhyun merasa kedekatannya dengan Chanyeol sedikit tidak wajar ketika ia hanyalah seorang perawat yang tinggal di sebuah flat sempit dan hanya memiliki empat sekat ruangan. Baekhyun tidak kehilangan kepercayaan diri, karena wanita itu mampu mempesona dengan berbagai cara, bahkan jika itu hanya dibekali oleh keadaann finansial yang pas-pasan. Baekhyun tidak kehilangan integritas sebagai seorang wanita, ia justru menghargai dirinya lebih dari apapun. Untuk itu ia mampu mengimbangi diri dengan fakta bahwa kini hubungannya dengan Chanyeol semakin dekat. “Besok aku harus kembali ke Seoul.” Baekhyun mengangguk lalu membenahi kancing teratas kemeja yang Chanyeol kenakan. “Aku akan merindukanmu.” Baekhyun tersenyum kecil lalu memakaikan dasi. “Apa itu merepotkan? Maksudku dasinya.” “Tidak. Aku suka melakukannya.” Chanyeol menatapnya beberapa saat lalu tersenyum. “Kau sangat cantik.” “Kau sudah mengatakannya sejak kemarin.”

32

“Aku tidak akan berhenti. Kau benar-benar cantik.” Lalu Chanyeol meneliti gaun tidur yang Baekhyun kenakan. Sejak malam ia tidak bisa berhenti mengalihkan pandanganya dari sosok cantik itu. “Apa semua orang tidak akan bertanya di mana bos mereka tidur semalam?” “Oh, sepertinya aku sudah mulai harus berhenti menginap di resort dan membayar satu unit apartemen di daerah ini.” Baekhyun menyentil hidungnya dengan pelan. “Atau... haruskah kita pindah ke apartemen yang lebih besar? Itu terdengar bagus ketika aku pulang dan bertemu denganmu setiap hari.” Baekhyun menggeleng pelan. “Aku masih senang tinggal di sini. Jika kau mau aku bisa menambah persediaan handuk dan pisau cukur. Lalu menambah satu set mangkuk dan sumpit.” Itu berarti Baekhyun memberi Chanyeol sebuah celah. Pria itu tersenyum lebar. “Baik, aku akan pulang ke sini mulai sekarang.” “Kau tidak sarapan?” Lalu Chanyeol bertanya karena Baekhyun tidak ikut bergabung di meja makan. “Aku harus mandi, ini sudah terlambat.” Chanyeol menggeleng kecil lalu menyantap sarapan yang Baekhyun buat. Selang tiga puluh menit, Baekhyun keluar dari kamar mandi dan hanya berbalut bathrobe. 33

“Apa kau sudah selesai dengan sarapanmu?” “Ya. Aku sudah selesai.” “Bisakah kau kemari dan bantu aku?” Chanyeol merasa tidak kebaratan, pria yang mengenakan kemeja formal berdasi tanpa selembar jas itu lantas masuk ke kamar, melihat Baekhyun tampak kesulitan menarik resleting dress. Pria itu mendekat lalu dengan sigap membantu Baekhyun. Mereka berdiri di depan cermin tinggi lalu saling melempar tatap penuh arti. “Haruskah aku menyusulmu ke Seoul?” Chanyeol menggeleng sebelum menyematkan kecupan kecil di bahu Baekhyun. “Jika itu berarti kau harus mengabaikan pekerjaanmu di rumah sakit, maka aku hanya harus menahan rindu.” Ia menarik resleting itu hingga menutup punggung telanjang Baekhyun secara keseluruhan dan memeluknya dari belakang. Baekhyun tidak ingat sejak kapan ia dan Chanyeol mulai semakin intim? Pelukan itu, kecupan kecil yang terkadang tersemat di bahu dan punggung tangan, tanpa merasa canggung tidur dalam satu ranjang meskipun tidak lebih daripada itu. Nyatanya Baekhyun tidak merasa terganggu ketika Chanyeol sanggup memberinya rasa nyaman dan aman. Baekhyun berbalik lalu merapikan dasi Chanyeol. “Sebenarnya minggu depan aku mempunyai jadwal di Seoul.” 34

Chanyeol menyentakkan kepala. “Kenapa tidak bilang sejak awal?” “Aku baru mengingatnya.” Baekhyun meringis. “Baik.” Chanyel mengecup tangan Baekhyun. “Aku akan meminta Yuri untuk menguru semua keperluanmu selama berada di Seoul.” “Lalu kau?” “Hum?” Sebelah alis Chanyeol terangkat. “Aku?” “Apa yang akan kau lakukan sehingga harus Yuri yang mengurusku?” Chanyeol lantas tersenyum lembut. “Seminggu ke depan agendanku padat. Tapi akan ku pastikan pulang ke apartemen secepatnya. Kau bisa menungguku di sana.” Baekhyun mengangguk paham lalu meraih tas kerja. “Haruskah kita berangkat sekarang?” Lalu keduanya keluar dari apartemen Baekhyun. Chanyeol menyempatkan diri mengantarkan wanitanya ke rumah sakit sebelum memulai agenda kerja di kantornya.

~oOo~ Baekhyun ingat ia berpisah dengan Chanyeol seminggu yang lalu. Entah apa yang membuatnya merasa begitu antusias hingga senyum lebar itu tak henti terulas. Langkah kecilnya terurai di bandara, lalu ia menempelkan ponsel di telinga. “Kau tidak jadi menjemputku?”

35

“Maaf, sayang. Aku lupa mempunyai jadwal meeting siang ini. Tapi aku sudah mengutus sopir pribadiku untuk menjemputmu.” “Jadi bagaimana aku bisa mengenali sopirmu ketika di sini banyak sekali orang?” “Nona Byun?” Baekhyun menoleh lalu disambut oleh senyuman kecil seorang pria paruh. “Saya diberi perintah oleh Sajangnim.” “Kurasa itu dia.” Chanyeol bergumam di seberang sana. Lalu Baekhyun mengangguk kecil dan mengekori sang sopir menuju mobil. Ada yang membuat senyum Baekhyun tak bertahan lama. Yakni ketidakhadiran Chanyeol, sebelumnya ia merasa begitu antusias karena pria itu akan menjemputnya namun lagi-lagi terhalang oleh segudang agenda kerja. Si mungil mendesah kecil dan hanya menatap jalanan dengan datar. Puluhan menit yang dilalui pada akhirnya mengantar Baekhyun menuju sebuah gedung pencakar langit, kawasan elit apartemen yang dihuni oleh orangorang penting dan berpengaruh. Lalu ia masuk ke lobi menuju elevator. Sebelumnya Baekhyun telah diberi instruksi oleh Chanyeol sehingga ia bisa dengan mudah menemukan unit yang dihuni oleh prianya itu. Si mungil sempat membeo ketika ia melangkah masuk menuju apartemen Chanyeol.

36

Tebakannya unit itu sepuluh kali lebih luas dari tempat tinggalnya di Jeju. Bel apartemen berbunyi, lalu Baekhyun keheranan melihat tiga orang wanita berdiri di depan pintu. “Sajangnim secara khusus meminta kami untuk memberikan pelayanan istimewa kepada anda.” Baekhyun sempat ragu, ia bahkan masih tidak percaya bahwa kini dirinya dikerubungi oleh tiga wanita profesional yang katanya akan memanjakannya dengan berbagai treatment kecantikan. Apa itu perlu? Lantas Baekhyun pasrah. Puluhan menit berlalu, ia melewati serangkaian treatment yang sejujurnya sanggup membuat rasa lelahnya menghilang. Baekhyun benar-benar dimanjakan. Menit dan jam semakin berjalan, nyatanya untuk memanjakan diri membutuhkan waktu yang cukup lama. Ini bukan pertama kali, di Jeju Baekhyun kerap menyempatkan diri pergi ke sebuah salon dan spa untuk menunjang penampilan dan memanjakan diri. Meski yang kini lewati jauh lebih intens dan bahkan mewah. Waktu merambat cepat setelah matahari berlari ke peraduan, dan Baekhyun telah selesai dengan segala hal. Tiga orang wanita itu telah berlalu, menyisakan Baekhyun yang kini berdiri di depan cermin tinggi, meneliti gaun panjang tanpa lengan, terkagum-kagum karena wajahnya sedikit berbeda, ia terlihat lebih cerah dan segar. 37

“Mereka benar-benar proefsional.” Bunyi ketikan sandi apartemen berbarengan dengan atensi yang melirik jam di atas dinding. Firasat Baekhyun benar, sosok pria yang baru saja masuk membuat kakinya berlari kecil sebelum menyambut kepulangannya dengan pelukan erat. “Oh, astaga...” Chanyeol menyesap aroma bahu Baekhyun dalam-dalam, lalu mengecupnya dengan lembut. “Kenapa lama sekali?” Si mungil enggan melepaskan pelukan dan kian bergelayut dengan manja. “Seoul itu identik dengan macet.” Chanyeol membela diri, enggan membuat Baekhyun merajuk karena ditinggal terlalu lama. “Astaga, aku merindukanmu.” Lantas Chanyeol menggendongnya dengan mesra. “Katakan bagaimana perjalananmu hari ini?” lantas ia bertanya setelah yakin Baekhyun telah duduk di pangkuannya. “Lumayan melelahkan tapi para wanita itu melayaniku dengan baik.” Chanyeol refleks meneliti penampilan Baekhyun yang luar biasa cantik dalam balutan gaun sutera menyapu lantai. “Kau sangat cantik.” Baekhyun mengulum senyum lalu merona. “Kau harus mandi terlebih dahulu.” Lalu ia membantu membuka dasi yang masih melingkar di leher Chanyeol. “Perlu ku siapkan air hangat?” Dan si mungil bangkit dari pangkuan prianya. “Apartemen ini luar biasa!” Ia berseru dengan nada kagum lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk menyiapkan air hangat. 38

“Sayang... kau bisa tinggal di sini jika kau suka.” Chanyeol menggodanya. “Aku lebih suka tinggal di flat kecilku.” Chanyeol mendengus kecewa lalu bersiap membersihkan diri.

*** Baekhyun tidak tahu Chanyeol memesan layanan kamar berupa hidangan mewah dan menggiurkan. Menu makan yang harganya membuat mata melotot itu disajikan di atas meja sofa. Chanyeol kembali setelah membersihkan diri. Baekhyun suka melihat wajahnya yang segar dan cerah. Wanita itu menyambutnya dengan pelukan kecil hingga keduanya duduk di atas sofa, di depan menu makan malam juga menghadap kaca besar apartemen yang menyajikan pemandangan malam kota Seoul. Mereka mengabaikan menu utama dan memilih bersulang dengan wine. Setelahnya keduanya bersitatap penuh arti. “Kau sangat cantik.” Ucap Chanyeol seraya mengecup tangan Baekhyun dan menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya. Baekhyun menggeleng kecil, mentalnya tidak lagi kuat untuk menerima sanjungan yang Chanyeol ucapkan. Ia lantas menunduk dan menenggelamkan wajah di bahu prianya. Chanyeol tersenyum maklum.

39

“Aku sudah memutuskan... bahwa lusa kau akan ku perkenalkan kepada orang tuaku. Kita pergi bersama ke rumah utama.” Baekhyun refleks menarik diri dan menatap Chanyeol dengan kornea yang melebar. “Lusa? Kenapa tidak memberitahuku lebih awal? Astaga aku tidak membawa pakaian yang bagus. Bagaimana sekarang?” “Hey, tidak perlu cemas. Yuri akan mengatur semuanya.” Baekhyun menggigit bibir dengan gugup dan hal itu tak luput dari perhatian Chanyeol. “Oh, aku merasa sangat gugup” Chanyeol mengerti, untuk itu menyematkan kecupan lembut di dahi wanitanya. “Semua akan berjalan dengan lancar.” Chanyeol terdengar sangat yakin hingga membuat Baekhyun terheran-heran. “Kau suka kembang api?” Tanya Chanyeol seraya melirik jam dinding, Diam-diam ia telah membuat rencana yang tak terduga sejak kemarin. “Aku sangat menyukainya.” Dan Chanyel tersenyum puas. “Kemarilah.” Iantas menarik tangan Baekhyun sebelum membiarkan kedunya berdiri di depan kaca. Chanyeol memeluknya dari belakang, mengecup bahu sempit itu dengan mesra. “Lima... empat... tiga... dua... satu!” Semula Baekhyun terheran-heran karena Chanyeol menghitung mundur, tak lama setelah itu melompat kecil 40

karena bunyi ledakan kembang api di langit malam Seoul yang terlihat menyita seluruh indera. Atensi Baekhyun tertancap kuat pada variasi kembang api di kejauhan lalu keningnya mulai mengernyit karena lama kelamaan kembang api itu mulai merangkai sebuah kalimat dengan canggihx “Baekhyun... menikahlah denganku.” Bisikan Chanyeol sama persis dengan apa yang diperlihatkan oleh gempita kembang api. Lalu Baekhyun berbalik dan menatap Chanyeol dengan tidak percaya. Sorot matanya menyimpan rasa haru hingga ia melompat dan memeluk prianya. “Demi Tuhan, aku jatuh cinta padamu.” Chanyeol memejamkan mata. “Ini pertama kalinya bagiku merasa begitu gelisah jauh darimu. Menikahlah denganku. Aku tidak yakin bisa menjanjikan kebahagiaan tapi aku akan berusaha.” Baekhyun memang tidak butuh sebuah janji, dan Park Chanyeol benar-benar calon suami yang tidak akan membual tentang masa depan. Dan pria itu yang Baekhyun inginkan. Untuk itu ia dapat dengan mudahnya yakin dan menyanggupi. Mereka bersitatap penuh arti sebelum Baekhyun berjinjit dan mencium bibir Chanyeol dengan perasaan yang tercurah dalam. Chanyeol memeluk pinggang ramping itu dengan posesif dan membalas ciumannya dengan mesra. “Ayo kita menikah...” Setelah kalimat itu lolos dari mulut Baekhyun, Chanyeol tidak dapat menahan diri untuk tidak 41

merengkuhnya lebih erat lalu menggendongnya menuju ranjang. “Tidak... Itu melelahkan jika kita berdiri sepanjang malam.” Chanyeol menjelaskan ketika mata Baekhyun memicing curiga. “Aku tidak akan macam-macam, hanya ingin memelukmu saat tidur. Seperti ini...” Lalu si mungil masuk ke dalam pelukan hangat. Ia terkekeh kecil. “Sebelum benar-benar terikat oleh tali pernikahan, aku akan menjagamu. Menjaga kehormatan kita berdua.” Baekhyun melambung ke langit ke tujuh. Bukankah Park Chanyeol benar-benar seorang pria sempurna?

End of By Railroad Line 9

42

Almamater "Enggak, enggak! Suruh mereka pulang aja." Chanyeol memberi pengarahan, kedua alisnya yang bertaut karena terbias terik matahari itu menjelaskan keadaannya saat ini. Peluh di pelipis sudah bosan ia seka. Pemuda itu hanya tahu bahwa keringat yang mengucur adalah bukti bahwa ia bersungguhsungguh bertekad merangsek gerbang tinggi pemerintahan yang belakangan membuat geram rakyat. "Yang junior!!!" Bentak Chanyeol, ketika rasa khawatir memuncak melihat beberapa juniornya kehabisan energi setelah melawan oknum petugas berwajib di atas permukaan kasar aspal. Bahkan ada yang terluka. "Anak baru suruh pada pulang!" Pemuda itu lantas menghampiri beberapa junior yang terduduk lemas di atas trotoar. Meneliti dengan seksama luka yang megenai beberapa titik tubuh mereka. "Gue udah bilang, kesel boleh tapi jaga diri! Lo brutal mereka tambah anarkis! Kita di sini bukan buat tawuran lo inget?" Chanyeol tidak bermaksud menyalahkan. Sekali lagi ia terluka melihat teman-temannya. Mengesampingkan fakta bahwa pelipisnya membutuhkan antiseptik dan jarum dokter karena terkena lemparan

43

batu yang berasal dari tangan para polisi ketika menarik salah satu junior dari kericuhan. "Enggak bakal bener." Gumam Chanyeol lalu menoleh pada temannya. "Kai, ni anak pada mau semaput. Lo atur, bawa pulang." Kai mengangguki Chanyeol; ketua himpunan mahasiswa. "Tapi bang..." salah satu junior mendesah protes. "Enggak ada tapi-tapi! Jangan mati sebelum pemerintah tau fungsi otak!" Tegas Chanyeol lalu mengambil botol mineral dan mengguyur luka di pelipisnya. "Masih ada besok. Sekarang lo pada pulang. Biar gue yang urus sisanya di sini." Kai segera menggiring beberapa junior yang terluka dan kelelahan untuk menjauhi area yang dipenuhi demonstran. Chanyeol menyapu atensi ke berbagai arah. Bermacam-macam yel yel dan orasi dari setiap universitas memenuhi gendang telinga. Merdu karena berisi aspirasi rakyat yang tertindas oleh ketamakan tikus politik. "Kamu mukul saya?! Kamu berani mukul cewek?!" Kening Chanyeol mengernyit. Tak lama kemudian kerumunan yang tercipta oleh warna almamaternya membuat kaki pemuda itu bangkit dengan reflek. "Ada apaan?" Setelah berhasil menyapu kerumunan, Chanyeol melihat salah satu temannya sedang beradu mulut dengan seorang perempuan. "Jay kayaknya enggak sengaja, bang."

44

"Tujuan kalian dateng ke sini buat apa? Anarkis sana-sini buat apa? Buat belain kami kaum wanita juga kan? Tapi liat ini temen kalian malah mukul saya! Omong kosong! Percuma kamu-kamu sok petantang-petenteng kalau masih berani ngangkat tangan ke cewek!" "Apa?" Chanyeol sedikit tercubit dengan kalimat yang gadis itu katakan. Ia maju lalu berdiri tepat di depannya. "Apaan? Ngomong apa?" Ulangnya dengan mata memicing galak. Tentu. Chanyeol yakin teman-temannya tidak seperti yang dituduhkan. Baekhyun, wanita itu meneliti lelaki di hadapannya. Dan menyimpulkan satu hal setelah melihat almamaternya. "Temen kamu mukul saya!" Chanyeol nyaris meledak-ledak jika tidak lebih dulu melihat lebam kecil di sudut bibir Baekhyun. Ia lantas melirk Jay dengan cepat. "Lo mukul dia?" Jay mematung. "Jay?" Dahi Chanyeol berkerut dalam. Cemas bahwa apa yang dituduhkan benar. "Gue emosi bang." Setelah Chanyeol teliti lebih jauh, Baekhyun mengenakan almamater dari salah satu universitas yang pernah berseteru dengan universitasnya. Jadi ia simpulkan hal itu yang memicu emosi Jay. Mata Chanyeol terpejam erat. Pemuda itu lantas berbalik dan menghadap Jay. Menatapnya tajam sebelum menendang tulang keringnya dengan amat keras. "Jawabannya cukup Iya atau Enggak!" Bentaknya 45

kemudian. "Kita masih ada urusan." Desisnya sebelum kembali menghadap Baekhyun. "Dia kalau emosi emang suka enggak ngotak. Sorry." Baekhyun bergeming menatap Chanyeol dengan berani. "Kenapa kamu yang minta maaf? Temen kamu!" Chanyeol mendengus kecil. "Jay..." Jay maju kepalanya menunduk. "Maaf. Maafin gue." Apa yang Jay lakukan memang salah dan tak masuk akal. Harga diri yang tersakiti memang memicu sifat kekanakkan. Mereka membubarkan diri dengan teratur setelah tidak ada lagi perselisihan. "Ini kontak gue." Chanyeol meraih menyobek ujung banner yang temannya pegang lalu menulis nomor telepon. "Lo bisa minta ganti rugi biaya pengobatan luka lebam lo ke nomor ini." Baekhyun mendecih kecil. "Yang perlu diobatin itu kamu." Gumamnya sadar sejak awal bahwa pelipiis Chanyeol terluka. Chanyeol menyapu atensi ke segala arah sebelum kembali menatap Baekhyun. "Lo salah. Yang butuh dokter itu bukan gue." "Saya juga enggak butuh dokter." Chanyeol mengangguk. "Ya. Yang mesti diobatin itu otak pemerintah. Kita di sini untuk itu kan? Jadi maafin temen gue kalau kelewatan. Gue enggak mau kita terpecah belah ketika sedang bersatu."

46

Ambigu banget... batin Baekhyun. Gadis itu lantas memalingkan wajah setelah merasa tidak cukup menahan semu merah. "Gue... Chanyeol." Uluran tangan itu berbalas. Sempat ada perbincangan kecil sebelum keduanya memutuskan untuk mengakhiri segala hal dengan senyuman canggung.

~oOo~ Negeri yang memanas karena beragam intrik politik memang sanggup membangunkan jiwa nasionalis para darah muda. Bahkan terkadang orang dewasa yang mengaku sanggup mengurus kekacauan negeri, para pemegang jabatan dan kekuasaan di kursi pemerintahan bisa kalah dalam hal pola pikir. Tentu selain daripada sebagian dari mereka adalah para cecunguk berdasi yang bepikir bahwa tidak ada yang lebih penting selain uang dan reputasi. Mereka bahkan bisa sangat handal dalam membuat muak setiap orang yang masih berpikiran waras untuk memberi yang terbaik bagi negeri tercinta. Tak terkecuali Chanyeol. Pemuda yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi itu benar-benar muak dengan kinerja sebagian para pejabat negeri. Rasa geramnya bukan tanpa alasan jika mereka tidak lagi-lagi menjadikan rakyat sebagai tameng untuk memanjakan obsesi.

47

Sudah berlangsung selama satu pekan, Chanyeol sebagai ketua himpunan mahasiswa di salah universitas terkemuka menjadi bagian dari mereka yang menyeruakan protes keras terhadap rencana pengesahan rancangan undang-undang yang dinilai akan merugikan masyarakat dan kehidupan demokrasi. Tanpa mengenal takut dan lelah, laki-laki yang dikenal bengis jika menyangkut ketidakadilan itu selalu berdiri paling berani, melakukan orasi di depan kompleks parlemen demi menyuarakan jeritan rakyat yang semakin tertindas oleh mereka yang berdalih dengan banyak omong kosong. Pada akhirnya perjuangan itu sedikit mendapatkan pencerahan, suasana kembali kondusif saat pemerintah memberikan respon yang cukup positif. Kemarahan para mahasiswa sedikit mereda meskipun mereka belum dijanjikan apapun terkait keputusan di masa depan. Para demontrasi tidak lagi memadati jalanan, mencoba memberi toleransi mungkin bisa sedikit menggerakkan hati para petinggi. Dan Chanyeol kembali beraktifitas seperti biasa, siang itu ia baru saja menyelesaikan kelas terakhir dan berniat pulang karena merasa cukup lelah setelah beberapa hari ke belakang mendedikasikan diri sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab. Perlu diingat, Chanyeol kehilangan banyak jam tidur yang membuat kepalanya kini terasa sedikit pening.

48

Setelah masuk ke dalam mobil, lelaki itu menyempatkan diri menengok pesan singkat yang baru saja masuk lalu mengernyit mendapati nomor baru. Tanpa pikir panjang Chanyeol menghubungi nomor asing tersebut, dan didering ke tiga suara seorang perempuan menyapa telinga. “Hallo?” “Hn.” “Jadi ini beneran Baekhyun?” “Ya masa bohongan!” Chanyeol menyentakkan kepala karena gadis di seberang sana terdengar ketus dan galak. “Oke, jadi gimana? Udah ke dokter?” “Kan tadi sudah di kasih tahu di sms! Gimana sih pake nanya lagi!” “Ya, oke. Tenang, tenang...” diam-diam Chanyeol meringis. “Tapi kenapa cuma tiga ribu doang?” “Tiga ribu doang kata kamu? Segitu juga uang! Udah deh jadi dateng ke kampus saya enggak?” “Jadi, gue on the way ke sana.” “Pesanan saya jangan lupa.” “Baik, Kakak.” Chanyeol menohok dengan nada khas kurir pengantar makanan. Setelah menutup sambungan telepon, Chanyeol lantas mendengus kecil. “Kiranti... yang bener aja.” Gumamnya seraya mencebi kecil.

49

*** Chanyeol menginjak pedal rem setelah mobil yang ia kendarai melintas di depan sebuah gerbang universitas. Lelaki itu turun, terik matahari membuat kacamata hitam itu bertengger kokoh di hidungnya yang bangir. Punggungnya bersandar pada badan mobil, berpangku tangan dan mengabaikan beberapa pasang mata yang melihatnya seolah ia adalah predator. Tentu, almamater yang ia kenakan memberitahu semua orang bahwa lelaki itu adalah musuh, meski kehadirannya di sana bukan untuk membumi hanguskan seisi kampus yang ia sadari betul pernah berkonflik dengan kampusnya. Berdiri cukup lama, mengamati satu persatu mahasiswa yang keluar dari gerbang di balik kacamata hitam, hingga lelaki itu akhirnya melepas kacamata tersebut. Lantas terlalu acuh untuk peduli terhadap beberapa pasang mata yang semula menghakimi kini berubah mengagumi. Sosok berbadan tinggi tegap itu hanya sibuk menghitung langkah ringkih seorang gadis yang memegang perutnya seraya meringis. Chanyeol lantas membuka pintu mobil, mengambil plastik minimarket berisi beberapa botol minuman pereda nyeri datang bulan yang cukup membuatnya konyol ketika membeli barang keramat tersebut. Buat pacarnya ya mas? Pertanyaan sang kasir minimarket tersebut terngiang dalam benak. 50

"Mau ke mana?" Chanyeol bersuara saat gadis bersurai coklat mengilat itu melengos setelah melewati gerbang ketika jelas-jelas ia berdiri di hadapannya. Gadis itu berbalik lalu memperlihatkan wajah pucat yang cukup kebingungan. "Huh?" Beonya cukup lama memandangi Chanyeol. "Oh, tiga ribu..." gumamnya lalu berbalik menuju si lelaki yang masih senantiasa mencuri perhatian setiap pasang mata. "Jadi berapa?" Tanya Baekhyun setelah menerima kantong plastik dari Chanyeol. "Serius?" Chanyeol membeo. "Sambil kuliah gue nyambi jadi kang gojek aja apa?" Nadanya terdengar menohok. Baekhyun yang tengah menahan sakit di perut karena hari pertama memicingkan mata tajam, membuat Chanyeol untuk pertama kali merasa terintimidasi dan bahkan memundurkan badan. "I-itu struknya di dalem. Ya mana gue tau harga begituan." Baekhyun mendesah kecil lalu membaca struk belanja di dalam kantung plastik. "Saya enggak ada cash." Tuturnya lalu berjalan memutari mobil Chanyeol sebelum membuka pintu dan masuk. Mata bulat Chanyeol mengerjap beberapa kali sebelum kaca mobilnya bergerak turun. "Ngapain sih? Buruan masuk!" "Huh?" Chanyeol masih bingung terhadap tingkah laku ajaib gadis bernama Baekhyun itu. "Masuk! Anter ke atm! Mau diganti enggak uangnya?" 51

Chanyeol nyaris menepuk dahi. Ia memutar matanya sedikit sebal sebelum mengalah, atau tidak ingin mengambil resiko berbahaya mengingat aura yang Baekhyun pancarkan sebagai seorang gadis yang tengah mengalami datang bulan terasa cukup menyeramkan. Setelah memasang sabuk pengaman, Chanyeol melirik Baekhyun sejenak, gadis itu terpejam, kepalanya bersandar, perutnya dipegangi dengan sedikit remasan. "Sakit banget?" "Mau tukeran? Kamu jadi cewek saya jadi cowok, biar tau rasanya." "Ogah!" Mata Baekhyun terbuka, balas menatap Chanyeol dan merutuk di dalam hati karena caranya menolak dibarengi ekspresi jenaka. "Bukain." Lantas ia kembali memerintah setelah mengutuk perusahaan yang memproduksi minuman pereda nyeri datang bulan karena terlalu ketat menutup botolnya. Chanyeol menggeleng kecil lalu memutar tutup botol dalam satu kali putaran, membuat Baekhyun membeo dan memasang wajah kesal. Kesal karena fisik wanita ditakdirkan tidak sekuat lelaki. "Saya baru tau kalau kamu itu nyebelin!!" Untuk itu ia pikir Chanyeol pantas disalahkan. "Eh? Apaan?" Chanyeol wajar terheran. "Kapan jalannya? Atm nya keburu tutup." "Yakali atm bisa tutup kapan aja." Sahut Chanyeol lalu menjalankan mobil.

52

"Bisa enggak sih enggak usah ngejawab!" Baekhyun terdengar semakin kesal. Dan aura hitam yang menguar di seluruh tubuh adalah apa yang membuat Chanyeol menciut. "Iya. Iya..." cicitnya seraya fokus mengemudi. Setelahnya hanya ada sepasang telinga Chanyeol yang memerah karena Baekhyun yang tak kunjung berhenti marah-marah.

*** “Enggak usah diganti aja gimana?” “Apa maksud kamu?” Chanyeol melirik mesin atm yang kini tengah dinanti oleh panjangnya antrian, ia lalu melirik Baekhyun yang sudah memucat karena terlalu lama berdiri, belum lagi ringisan di wajahnya. “Jelek banget lo kalo lagi kayak gitu.” “Terus kamu pikir saya peduli sama pendapat kamu?” Baekhyun menyahut dengan acuh lalu menyerahkan tas selempangnya pada Chanyeol. “Pegangin, aku pegel.” “Bisa ngomong normal juga?” “Pegangin! Pegel!” Baekhyun berseru, kali ini tidak terdengar galak melainkan merengek kecil. Chanyeol berdecak lalu mengambil tas Baekhyun dan mengalungkanya di leher. “Antriannya masih panjang.” Ia tahu Baekhyun tengah menahan sakit di perut. “Wajah lo udah kayak mayat, pucat banget.”

53

Baekhyun tidak menyahut, ia lantas meratap pada antrian yang masih panjang. “Kalau lo masih kukuh mau ganti, ya nanti aja. Enggak perlu sekarang.” Lalu Baekhyun menoleh dan menatap Chanyeol cukup lama. Si jangkung yang sejak awal menjadi pusat perhatian karena dahinya yang cemerlang ini mengangkat bahu. “Ya, udah.” Baekhyun keluar dari antrian lalu melangkah pelan dan kembali masuk ke dalam mobil Chanyeol. Sejatinya mereka bisa saja mencari atm lain, namun keduanya terlalu mendramatisir keadaan. “Mau pulang.” Baekhyun yang menyandarkan kepala pada jok itu menatap Chanyeol dengan memelas. “Lo coba minum lagi deh.” Sejujurnya Chanyeol merasa iba melihat Baekhyun yang mati-matian menahan sakit di perut. “Ini enggak bakal mereda kalau belum minum air anget.” “Oke, kita cari air anget dulu.” Lalu Chanyeol menginjak pedal gas. Mengesampingkan rasa kesal karena sejak awal Baekhyun memperlakukannya seperti seorang ajudan. Bahkan setiap kali dia berbicara dengan nada congkak namun terkesan manja, itu benar-benar terasa menyebalkan. Lantas sekian menit berlalu dan Chanyeol menghentikan mobilnya didepan convenient store.

54

Baekhyun duduk di salah satu kursi yang berjajar di depan store lalu Chanyeol masuk ke dalam. Si mungil memejamkan mata beberapa saat sebelum terdengar perbicangan kecil di depan mata. “Kamu lagi ngapain di sini?” Baekhyun memperhatikan Chanyeol yang baru saja keluar dari store dan berpapasan dengan seorang wanita. “Ini... Ibu minta dibeliin sesuatu. Jadi mampir dulu ke sini.” Chanyeol lalu melirik mobil yang membawa wanita itu. “Sama Sehun?” “Iya.” Wanita itu tersenyum canggung. Chanyeol mengangguk kecil. “Kamu sendiri ngapain di sini? Itu apa?” “Oh, ini air anget barusan ngambil sedikit di dalam. Kebetulan kenal sama kasirnya.” “Kamu sama...” lalu wanita itu mengedarkan pandangan sebelum bertemu tatap dengan Baekhyun yang sejak awal memperhatikan perbincangannya dengan Chanyeol. “Dia...?” “Buruan kek! Perut aku enggak kuat!” Baekhyun berseru setelah merasa cukup jengah menunggu. Chanyeol mengangguk lalu kembali menatap Hyejin. “Kalau gitu aku duluan.” Hyejin balas menatapnya beberapa saat lalu mengangguk dan tersenyum kecil.

55

Diliriknya Chanyeol yang kini berlutut di hadapan wanita itu dan memberinya air hangat yang dia bawa. “Ini panas!” Chanyeol bereaksi lalu memeriksa suhu air yang ia bawa dari dalam store. Dan itu memang sedikit panas. “Gimana sih!” Kesal Baekhyun yang merasa lidahnya nyaris terbakar meskipun sebenarnya ia masih sanggup meminumnya pelan-pelan. “Iya... iya... gue tiupin. Enggak usah marah-marah kenapa sih?” Baekhyun tidak terima ditegur, ia lantas memicing kesal pada Chanyeol. Chanyeol menunduk lalu meniupi air agar suhunya sedikit menurun. Setelah cukup yakin bahwa airnya sudah hangat, ia lantas memberikannya pada Baekhyun. Si mungil tidak bersuara dan memilih meminum air hangatnya pelan-pelan. “Udah enakan?” Baekhyun menggeleng. “Mau pulang...” Chanyeol mendengus kecil lalu mengangguk. “Lo tinggal di mana?” Lalu Chanyeol mengikuti instruksi Baekhyun yang memberi informasi seputar tempat tinggalnya.

~oOo~ Seseorang menyerukan namanya di koridor kampus. Chanyeol berbalik lalu menatap Hyejin yang tersenyum lebar ke arahnya. Sejujurnya ia merasa tidak 56

nyaman mengingat sudah menjadi rahasia umum bahwa wanita itu adalah mantan kekasihnya. Chanyeol paling tidak suka jika menjadi bahan omongan orang. “Aku denger kamu diundang ke acara stasiun televisi. Itu bener?” “Oh...” Chanyeol tersenyum miring lalu mengangguk. “Bukan aku aja sih, tapi berengan sama anak-anak BEM universitas lain.” “Itu masih tentang demo kemarin?” “Ya. Katanya kami mau dipertemukan dengan beberapa pejabat tinggi negara. Entahlah, mereka mau ngasih kejelasan konyol macam apa. Atau mungkin cari pembelaan.” “Kamu keren banget, apalagi seminggu ke belakang.” Chanyeol terkekeh kecil lalu melirik Hyejin. “Kalau aku keren kamu enggak mungkin minta putus dan lebih milih Sehun.” Langkah Hyejin berhenti lalu ia menatap Chanyeol dengan beragam emosi. “Aku bercanda.” Chanyeol terkekeh kecil lalu mengusak rambut Hyejin. “Kalau gitu aku duluan. Masih harus ke perpus kota.” Hyejin tidak menyahut. Dan Chanyeol tidak begitu merespon reaksi wanita itu saat ini. Ia hanya tahu bahwa ia tidak sepenuhnya bercanda, karena semua itu fakta.

57

*** Chanyeol memijit pangkal hidung setelah masuk ke dalam mobil. “Apa gue keterlaluan?” Lalu ia bertanyatanya kepada diri sendiri. Sejujurnya Chanyeol telah lama berdamai dengan kenyataan, ia tidak lagi marah karena hatinya dibuat patah. Rasa sakit selalu tahu caranya membuat semua orang belajar untuk menerima. Dan Chanyeol salah satunya. Namun kadang memori buruk itu tidak selalu sepenuhnya lenyap dari ingatan, Chanyeol sesekali mengorek luka lama dan kembali merasa kecewa. Pria itu mendengus keras, berniat menghidupkan mesin mobil namun dering teleponnya berbunyi nyaring. Chanyeol mengernyit karena belum sempat menyimpan nomor itu meskipun ia tahu siapa yang meneleponnya kali ini. “Aku udah punya uang cash. Ketemu sekarang di lotte, enggak boleh telat!” “H-hallo?” Chanyeol lantas melirik layar ponsel dan membeo kecil kala sambungan telepon itu kembali terputus. Menahan rasa kesal, Chanyeol lantas mulai membawa mobilnya keluar area kampus dan mengesampingkan niat untuk pergi ke perpustakaan kota. Enggak boleh telat! Pemuda itu lantas meringis, membayangkan skenario terburuk mengingat gadis bernama Baekhyun itu cukup galak.

58

*** Baekhyun melotot kecil setelah Chanyeol sampai dan duduk di seberangnya. “Apa melotot-melotot, gue kan enggak telat.” Masalahnya Baekhyun terusik karena kini ia dan Chanyeol menjadi pusat perhatian, meski sebenarnya beberapa pasang mata lebih mengarah kepada Chanyeol. “Kenapa harus pake kaos item sih?!” “Loh... ini kan baju gue.” Chanyeol membeo, ia rasa bahkan nyawa yang bersarang dalam tubuhnya adalah apa yang menjadi urusannya. Baekhyun mengecam kecil lalu memalingkan wajah. “Kenapa sih? Marah-marah mulu heran. Masih sakit perutnya?” “Apa peduli kamu?” Ketus Baekhyun. “Ya, udah. Katanya mau balikin duit. Mana?” Chanyeol tidak bermaksud menagih, jika Baekhyun terus menerus bersikap ketus maka Chanyeol bisa mengimbanginya. Baekhyun lantas menarik dompet dari dalam tas dan meletakkan nominal di atas meja. “Totalnya lima puluh sembilan ribu lima ratus.” Chayeol menatap recehan itu seraya menggaruk tengkuk. Gadis di hadapannya saat ini tentu unik. “Ambil.” Baekhyun memberi titah dan Chanyeol menurut. Mengapa Chanyeol sangat takut kepada gadis itu?

59

“Nah, sekarang balikin duit aku yang tiga ribu. Kamu enggak lupa kan?” Chanyeol menepuk dahi lalu menahan diri untuk tidak terjun dari lantas tiga departemen store. “Enggak ada receh, B...” “Aku enggak mau tau!” Chanyeol menggaruk kepala, sedikit meremasnya dengan frustasi. “Ada lima ribu, mau?” “Tapi kan hutang kamu Cuma tiga ribu.” “Iya tau, tapi ini enggak ada receh. Atau enggak gini aja, kamu ambil yang lima ribu ini, nanti pas pulang kita mampir ke warung kaki lima. Biasanya mereka suka nyimpen recehan buat kembalian.” “Ribet banget sih!” Tukas Baekhyun seraya memangku tangan dan mencebi ketus. Dan Chanyeol benar-benar merasa meghadapi Baekhyun adalah ujian terbesar dalam hidup. “Aku laper.” “Ya, terus?” Baekhyun memicing. “Ya, udah. Mau makan apa?” “Enggak tau. Intinya laper.” Chanyeol menekan kesabaran hingga ke tirik terendah. “Lagian kamu lagi apa sih di sini?” “Lagi cari hiburan.” “Hiburan?” Baekhyun mengedarkan pandangan sebelum ia berhenti dengan detak jantung yang mengencang, atensinya kini tertancap kuat pada sebuah toko gaun tidur belasan meter dari tempatnya berdiri. 60

Nyatanya segala informasi yang ia dapatkan dari seorang teman itu cukup membantu. “Itu...” Baekhhyun lantas menunjuk pada toko gaun tidur. Lebih tepatnya pada sosok pria paruh baya yang setia menggandeng seorang wanita cantik dan muda. “Mereka lagi selingkuh.” Chanyeol lantas mengikuti arah pandang Baekhyun. “Om-om yang pakai jas item sama wanita muda itu. Mereka lagi selingkuh.” Lalu Chanyeol memicingkan mata, mencoba memperjelas apa yang kini ia saksikan kemudian kembali menatap Baekhyun. “Enggak usah sok tau. Siapa tau mereka anak sama bapak.” Baekhyun mengibaskan tangan lalu meneguk minumannya hingga tandas. “Kalau kamu enggak percaya, aku bisa buktiin.” “Gimana— hey, mau ke mana?” Lalu Chanyeol menyusul Baekhyun yang kini berjalan menghampiri dua orang yang berada di dalam toko gaun tidur, semakin dekat dan Chanyeol mulai merasa mereka memang terlihat mesra. “Mau ngapain sih? Biarin saja itu urusan mereka.” Baekhyun seolah tuli dan memilih memantapkan hati untuk mendekat sebelum menarik rambut wanita yang sejak awal bergelayut manja pada pria paruh baya yang membuat Baekhyun muak. Lantas wanita itu terpekik.

61

Beberapa orang mulai memusatkan perhatian dan Chanyeol melotot atas tindakan Baekhyun yang barbar. “Wah, wah... serius banget milih gaun tidurnya, kenapa? Kamu lagi persiapan biar pria tua ini puas di ranjang?” “Lepas! Sakit! Mas, tolongin aku!” Sementara pria paruh baya yang sejatinya adalah ayah Baekhyun itu hanya mematung syok karena tidak menyangka akan tertangkap basah oleh putrinya sendiri. “Baekhyun, lepasin dia.” Lantas Baekhyun tertawa renyah, tidak terlalu peduli dengan kehebohan orang-orang yang kini menonton aksi barbarnya. “Punya hak apa kamu sebut nama aku?!” “Byun Baekhyun! Jaga ucapan kamu! Lepasin dia.” Namun Baekhyun semakin keras menarik rambut wanita yang menjadi simpanan ayahnya dan memicing bengis pada pria paruh baya itu. “Hebat ya kamu.” Tukasnya dengan nada menohok. “Mas, tolongin aku! Sakit!” Lalu Baekhyun melepas amarah dengan mendorong wanita murahan itu hingga tersungkur di atas lantai. “Aku enggak akan mengutuk kamu karena aku masih sanggup menerima fakta bahwa kamu adalah alasan kenapa aku ada di dunia ini, karena kamu ayah kandungku, tapi hanya sebatas itu. Sisanya yang mesti kamu tau, udah sejak lama aku enggak lagi menganggap bahwa kamu adalah sosok yang patut aku anggap ketika

62

kamu memilih curang terhadap istri dan anak-anak kamu di rumah!” Lalu Baekhyun Baekhyun melangkahi wanita simpanan ayahnya tanpa belas kasih. Siapa yang sudi? Ketika Baekhyun begitu memuja kebahagiaan sebuah keluarga yang dulu pernah singgah, lalu ayahnya berubah dan seorang wanita perusak singgah. Baekhyun berjalan dengan congkak, mempertahankan harga diri ibunya yang diinjak lalu menatap Chanyeol dengan datar. Pemuda yang masih terlihat terkejut itu lantas menyusulnya dengan langkah intens. Tak lama setelah itu Baekhyun berhenti dan berbalik. “Kamu tau rumah makan yang deket pertigaan kampus kamu?” “Itu langganan aku.” “Bagus. Kita ke sana.” “Mau ngapain?” “Mau cakar muka kamu!” Kesal Baekhyun. “Ya mau makan di situ! Aku kan udah bilang kalau aku laper.” Chanyeol menggeleng maklum sebelum mensejajarkan langkah dengan Baekhyun hingga mereka sampai di area parkir dan masuk ke dalam mobil. “Ngomong-ngomong, dari mana kamu tau ada rumah makan di pertigaan kampus aku?” “Tadi lo-gue, sekarang aku-kamu. Enggak konsisten.” Baekhyun mencebi. Dan Chanyeol baru sadar. Ia rasa ada yang salah dengan mulutnya. 63

“Kamu enggak tau aja kalau aku suka makan di sana.” “Oh ya?” “Buruan jalan, kalau kelamaan nanti malah kamu yang aku makan.” Tanpa diduga Chanyeol tertawa kecil. Setelahnya mobil itu melaju meninggalkan area department store. Baekhyun tidak lagi banyak berbicara, ia memilih menatap jendela kaca mobil, mulai memperlihatkan apa yang menjadi reaksi alami setelah mendapati fakta menyakitkan tentang ayahnya. Chanyeol melirik melalui ekor mata. “Berhenti di depan.” “Huh?” “Di depan.” Lalu Chanyeol menepikan kendaraannya di samping trotoar. “Ada apa?” Baekhyun menoleh lalu menatap Chanyeol dengan memicing. “Aku mau jambak sama cakar kamu.” “Eh?” Chanyeol mengernyit seraya terkejut. “Tatapi kenapa? Salah aku apa?” “Enggak ada. Aku lagi kesel aja.” Baekhyun sedang marah dengan keadaan, untuk itu ia ingin melampiaskannya, meskipun dengan cara yang tidak wajar. Chanyeol refleks memundurkan tubuh lalu menyilangkan tangan di depan dada. Menatap Baekhyun dengan waswas. “Terus kenapa harus aku yang jadi sasaran.” 64

“Daripada aku turun terus cakarin orang yang enggak aku kenal di luar sana.” “Kita juga enggak kenal. Demi apapun, kita baru ketemu dua tiga kali.” Baekhyun refleks melotot garang, membuat Chanyeol meringis takut. “Yang masuk akal sedikit kek, masa kamu yang kesel aku yang jadi pelampiasan.” “Ya terus siapa?” Chanyeol memijit pangkal hidung. “Enggak. Enggak. Kita pulang aja.” “Tapi aku masih kesel!” Seru Baekhyun lalu memangku tangan di dada. “B... aku ada acara sore ini.” “Ke mana?” Chanyeol mengernyit. Pertanyaan Baekhyun terdengar posesif. “Aku sama anak-anak ketu kemaren diundang live di stasiun televisi.” “Mau ngapain?” Chanyeol mengangkat bahu. “Menurut kamu?” Baekhyun mendengus. Siapa yang tidak tahu bahwa negeri ini sedang kacau? “Terus aku gimana?” “Aku anter pulang, ya?” “Tapi...” Chanyeol menunggu si mungil meneruskan kalimatnya. “Aku enggak mau ketemu sama Mama.” Chanyeol menghela kecil lalu duduk menghadap Baekhyun. “Kenapa?” “Kamu tau kok kenapa.” 65

“Terus biar apa enggak pulang ke rumah? Bukannya Mama kamu cuma perlu liat anaknya pulang dan aman? Aku yakin beliau enggak sedikit pun mau dengar berita buruk tentang suaminya.” “Mama sama Adek enggak tau.” Chanyeol mengangguk. “Pulang, ya?” Baekhyun menatap Chanyeol lalu tanpa diduga ia merengut kecil. “Besok kita main lagi.” Lalu Baekhyun bereaksi. Chanyeol kembali tidak menduga bahwa gadis itu mampu bereaksi dengan binar mata ceria. Gadis galak itu. “Beneran?” Chanyeol mengangguk lalu kembali menjalankan mobil. “Main ke mana besok?” “Ke mana saja yang kamu mau. Tapi—” Chanyeol menyela dengan cepat ketika firasat buruk tentang Baekhyun yang dirasanya akan meminta hal yang anehaneh. “Jangan aneh-aneh.” Bakehyun memasang wajah protes dengan kental. “Enggak mau!” “Lho? Enggak mau main? Ya udah.” “Mau main!! Tapi enggak boleh pake syarat.” Chanyeol menggeleng keras. “Pokoknya enggak boleh pakai syarat!” “Enggak! Jangan aneh-aneh.” “Yeay! Besok jam berapa?” 66

Lalu Chanyeol mendengus pasrah dan memilih fokus berkendara hingga mereka sampai di tempat tujuan.

~oOo~ Pria yang diduga kuat sebagai oknum pejabat tinggi negara itu membuat geger karena isu perselingkuhan dengan wanita muda. Hingga sampai saat berita ini ditayangkan, video amatir yang merekam aksi labrak oleh putri kandung terduga telah ditonton lebih dari dua juta kali di lama media sosial dan.... “Serius banget nontonnya.” Chanyeol yang masih menganga melihat berita itu menoleh kepada ibunya. “Mentang-mentang udah masuk tv.” “Enggak gitu, Bunda...” “Anak Bunda ganteng banget kemarin.” Chanyeol menggeleng kecil lalu kembali menatap layar televisi, satu fakta yang ia dapati tentang Baekhyun. Bahwa gadis itu adalah putri dari salah satu pejabat tinggi negara. Lalu alis Chanyeol mengernyit. Berarti bapak-bapak yang gue liat kemaren... Chanyeol kemudian membuka ponsel, berselancar di ruang siber demi mendapatkan sebuah informasi yang mengejutkan tentang sosok pria paruh baya yang diketahuinya adalah ayah kandung Baekhyun. Byun Myungsuk...

67

Sosok pria paruh baya yang menempati urutan pertama di situs pencarian, latar belakangnya, informasi keluarga, juga jabatan yang disandangnya di parlemen pemerintahan. Fakta terakhir membuat kornea mata Chanyeol melebar. Bahwa jabatan Byun Myungsuk membuatnya turut andil dan berperan penting dalam keputusan rencana rancangan undang-undang yang akhir-akhir ini membuat negeri berang. Chanyeol lantas mencengkram ponsel, rahangnya sudah terkatup. “Aku berangkat sekarang.” Tanpa menunjukkan amarah yang nyaris membludak kepada sang ibunda, pemuda itu lantas pamit dan meninggalkan rumah

~oOo~ Baekhyun tengah bersiap berangkat ke kampus ketika keributan terdengar dari ruang tengah. “Mana anak kurang ajar itu?! Huh?!” “Ada apa sama kamu, Mas? Ke mana kamu dari kemarin? Terus sekarang pulang marah-marah?!” Byun Myungsuk menatap istrinya dengan berang. “Di mana Byun Baekhyun?!” “Aku di sini.” Baekhyun memasuki atmosfer yang cukup menegangkan, diliriknya sang adik yang kini bersembunyi dibalik lemari kaca. Kentara sekali ketakutan mendapati sang ayah marah besar. 68

“Kamu...” geram tuan Byun seraya menunjuk dengan garang. “Lihat apa yang udah kamu perbuat?!” Lalu ia melempar surat kabar berisi headline tentang dirinya juga perselingkuhannya yang menggegerkan. “Mas! Berhenti bentak Baekhyun!” “Kamu diam!” “Aku enggak akan diam! Dia anakku! Kamu enggak pantes bentak-bentak Baekhyun.” “Anak kurang ajar ini harus diberi pelajaran!” “Kalau situasinya mulai memanas dan kacau, bukannya itu semua salah kamu?” “Byun Baekhyun!” “Baekhyun... nak... kenapa ngomong gitu sama Papa?” Nyonya Byun terlihat terkejut mendengar Baekhyun berbicara dengan berani. “Kenapa aku harus diam? Aku enggak mau jadi orang bodoh yang tutup mata sama kelakuan bejad Papa! Asal Mama tau, wanita simpanan pria ini manggil dia dengan sebutan ‘Mas’ juga. Punya hak apa pelacur itu?!” Lalu tuan Byun tidak dapat menahan diri untuk melayangkan sebuah tamparan keras di pipi Baekhyun. Nyonya Byun melotot dan menutup mulut. Ia terkejut luar biasa sebelum memasang badan di depan putrinya. “Kamu, berani-beraninya main tangan sama anakku?!” “Minggir! Anak ini harus aku kasih pelajaran biar dia mikir!” “Yang harus mikir di sini itu kamu!!!” Berang nyonya Byun, melotot dan terlihat murka.

69

Lalu tuan Byun mundur satu langkah. Seingatnya istrinya adalah wanita paling lemah lembut yang ia kenal. “Apa kamu belum puas nyakitin aku? Sekarang kamu berani main tangan sama anakku? Pengecut macam apa yang aku nikahi?!” “Mama...” Baekhyun mematung. “Kamu pikir aku enggak tau apa yang kamu perbuat selama ini? Aku tau semuanya! Aku tau suami yang aku banggain di depan semua orang sejahat apa! Sebajingan apa! Aku tau!” Tuan Byun bungkam. Rahangnya terkatup rapat. Bahunya naik turun. Ini pertama kalinya ia mendapati kemarahan sang istri yang membludak. Lalu pria itu melirik Baekhyun yang menatapnya dengan mata memerah basah. Dengus keras terlontar, ia tidak pantas melontarkan sebuah pembelaan karena semua orang tahu siapa penjahatnya. Lantas tuan Byun memilih pergi dengan sisa amarah yang suatu waktu bisa tersulut. Hanya tersisa Baekhyun yang terluka, sang ibu yang merana, dan si bungsu yang masih bertanya-tanya, ada apa dengan orang dewasa?

*** Berada di rumah dan di kelilingi oleh segudang kenangan keluarga bahagia membuat Baekhyun muak.

70

Ia enggan mengoreknya lebih jauh. Apa yang dulu sempat membuat tawanya pecah tak lagi banyak menyisakan arti. Semuanya jelas hancur ketika ayahnya memilih melupakan janji suci dan membuka hati untuk wanita lain. Baekhyun merasa buruk karena tidak pernah tahu bahwa ibunya menderita. Bahwa wanita paruh baya itu tahu sejak lama bahwa dia dicurangi. Berpura-pura acuh pun tidak banyak membantu, Baekhyun lelah memasang topeng dan memberitahu semua orang bahwa hidupnya baik-baik saja, bahwa keluarga masih seharmonis dulu. Lebih tepatnya ia muak. Dan yang saat ini terlintas dalam benak dan diyakini sanggup memperbaiki suasana hati adalah lelaki itu. Kemarin Baekhyun menikmati banyak momen saat lelaki itu memilih mengiyakan sejumlah rengekannya yang tak masuk akal ketika lelaki lain akan merasa jengah. Baekhyun tidak tahu, membayangkannya susah payah karena menuruti kemauan Baekhyun membuat gadis itu merasa dihargai untuk pertama kali Baekhyun merasa berarti. Dan ia perlu mengulang momen itu saat ini, saat di mana martabatnya sebagai seorang anak hancur diinjak oleh ayahnya sendiri. Sejujurnya Baekhyun sudah berulang kali menghubungi nomor Chanyeol untuk menagih janjinya hari ini. Namun panggilan itu tak kunjung mendapat jawaban. Untuk itu ia memutuskan untuk menemuinya sendiri, menggunakan transportasi umum. Penampilan Baekhyun kali ini sedikit berbeda, ia memakai masker 71

wajah, tidak ada maksud lain selain menutupi luka lebam keunguan di sudut bibir. Si mungil itu lantas menunggu di depan gerbang kampus. Kepalanya menunduk dalam, enggan memperlihatkan kesedihan kepada semua orang. Samar terdengar beberapa orang keluar dari gerbang, lalu Baekhyun mengangkat wajah dan menghentikan langkah seseorang. “Apa aku bisa minta tolong?” Siapa yang sanggup menolak permintaan gadis cantik? Lalu Baekhyun mendapati anggukan. “Kamu kenal Park Chanyeol enggak?” “Iya, kenal.” “Bisa tolong panggilin dia?” Dan Baekhyun kembali menunggu untuk beberapa menit sebelum akhirnya sosok yang ia tunggu muncul di balik gerbang kampus, berjalan ke arahnya, melempar ekspresi wajah yang tak biasa. Baekhyun mengesampingkan tanya sebelum kembali menjelma menjadi gadis menyebalkan yang senang membuat Chanyeol kesusahan. “Lama banget sih!” “Ada perlu apa?” Chanyeol mengesampingkan rasa penasaran tentang masker yang menutupi sebagian wajah Baekhyun. “Kamu kan punya janji mau ngajak main hari ini, gimana sih?” Chanyeol mendengus keras, kentara sekali bahwa ia jengah meski Baekhyun tidak mengerti atas perubahan 72

sikapnya. “Gue sibuk. Enggak punya waktu ngeladenin cewek kayak lo.” Mengapa Chanyeol terdengar kasar? Baekhyun mengerjap kecil lalu mencari kosa kata yang pas meski sebenarnya ia mulai kesulitan menghadapi keadaan. “Kamu sudah janji! Pokoknya kita harus main!” “Berhenti merengek ke gue!” Chanyeol meninggikan suara ketika rasa muak terhadap ayah Baekhyun tak bisa dibendung di hadapan gadis itu. “Kita enggak kenal. Gue enggak kenal sama lo, begitu pun sebaliknya. Jadi mulai sekarang kita enggak perlu ketemu.” Baekhyun mematung lalu mulai putus asa. “Apa aku buat salah sama kamu?” Tidak. Ayah Baekhyun menjadi alasan mengapa kini Chanyeol menatap Baekhyun sama seperti ia menatap para pejabat tinggi negara yang ditemuinya kemarin di acara televisi. “Jangan temuin gue lagi.” “Tapi Chanyeol...” Lelaki itu menepisnya hingga membuat Baekhyun terbelalak. “Lo sama ayah lo yang doyan banget nyusahin rakyat sama-sama bikin gue muak! Kenapa? Lo jadi bagian demonstrasi bukan buat bela kubu yang ditindas sama ayah lo dan antek-anteknya kan? Lo ada di sana buat ngetawain orang bawah kayak gue. Iya?” Chanyeol salah paham dan Baekhyun kehilangan kosa kata untuk menjelaskan.

73

Untuk terakhir kalinya Chanyeol menatap Baekhyun dengan dingin sebelum meninggalkannya seorang diri. Baekhyun masih meratapi keadaan, ia benar-benar menjelma menjadi si melankolis yang membiarkan matanya memanas dan basah. “Ya, dek?” “Kakak di mana? Mama pingsan! Kakak cepet pulang!” Tanpa pikir panjang, Baekhyun berlari menghentikan taksi. Tangis adiknya yang pecah dibarengi kabar buruk benar-benar membuat Baekhyun mengutuk hari.

~oOo~ Chanyeol melamun selama berjam-jam. Tontonannya di layar televisi diabaikan sejak tadi, pemuda itu hanya tengah berpikir keras, berperang melawan dua sisi dalam diri. Ketika ia yakin semua akan baik-baik lalu hatinya terusik. Perasaannya tidak baik-baik. Chanyeol pernah merasa kesal dan benci pada sebuah keadaan, namun ia tidak menggugu rasa sesal seperti yang kini dirasakan. “Ngelamun aja si ganteng.” Ibunda Chanyeol mencolek dagu putranya lalu duduk di salah satu sofa yang kosong. “Bunda...” “Ya, sayang?” 74

Chanyeol sempat ragu sebelum memutuskan mempertanyakan kegelisahannya saat ini. “Jadi ada salah satu temenku, dia kenal sama cewek. Mereka deket meskipun baru tiga kali ketemu. Tapi temen aku tiba-tiba marah dan mutusin buat jauhin si cewek ini.” “Alasannya?” “Karena si cewek ini punya orang tua yang jahat. Karena orang tuanya ini bikin temenku sama banyak orang kesulitan.” “Kalau kayak gitu berarti si cewek beruntung karena kehilangan sayu temen yang kayak temen kamu itu.” “Loh, kenapa kayak gitu?” “Butuh alasan kuat kenapa kita harus marah dan benci sama seseorang. Kalau alasannya cuma kayak yang kamu sebutin, itu cuma bikin temen kamu terkesan pengecut. Sekarang Bunda tanya, emangnya anak harimau pernah minta dilahirin jadi anak hewan buas dan pemangsa?” Chanyeol seketika bangkit dari kursinya. “Aku... aku mungkin bakal pulang telat.” Bunda tersenyum, memperhatikan putranya yang berlari setelah menyambar jaket dan kunci mobil. “Si ganteng deket sama cewek?” Lalu wanita paruh baya itu tertawa keibuan.

~oOo~

75

Emangnya anak harimau pernah minta dilahirin jadi anak hewan buas dan pemangsa? Chanyeol menggeleng keras lalu menginjak pedal gas, menaikkan laju kendaraan menuju sebuah komplek perumahan, sejak awal ia bertanya-tanya sekaya apa orang tua Baekhyun hingga sanggup hidup di sebuah lingkungan elit tempat di mana selebriti dan para pejabat tinggal. Lalu Chanyeol sampai dam berhenti di depan sebuah gerbang, menekan bel berulang, menunggu cukup lama sebelum seorang wanita asing keluar. Chanyeol tebak dia adalah asisten rumah tangga. “Ya? Cari siapa?” “Baekhyun. Baekhyunnya ada?” “Oh, rumah lagi kosong. Cuma ada saya, yang lainnya lagi di rumah sakit karena nyonya harus dirawat.” Kornea Chanyeol melebar. “Kalau boleh tahu rumah sakitnya di mana?” Chanyeol tidak terlihat seperti orang jahat yang mencoba mengorek informasi tentang keluarga seorang pejabat, untuk itu ia dengan mudahnya mendapatkan alamat rumah sakit. Kemudia bergegas dan kembali melajukan kendaraan menuju tempat yang dituju. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menyadari bahwa ia adalah si pengecut itu. Apa yang ibunya katakan jelas menohok dengan keras. Chanyeol salah, ia terlalu perasa bahkan berlebihan. Baekhyun... maafin aku. 76

*** Tak lama kemudian Chanyeol sampai di rumah sakit. Ia bergegas mencari keberadaan Baekhyun setelah bertanya di meja resepsionis. Elevator membawanya ke lantai tiga, lalu ia berhenti sejenak setelah melihat sosok mungil itu berdiri memangku sebelah tangan seraya menggigit kuku. Apa yang terjadi pada gadis yang biasanya galak dan tak mengenal takut? Lalu gadis itu sadar akan kehadiran seseorang. Baekhyun menoleh dan menatap Chanyeol dengan sendu. Ada banyak kesedihan yang kini menyerang kedua irisnya yang jernih. Chanyeol mendekat. Semakin dekat sebelum membiarkan sosok mungil itu jatuh ke pelukannya, membiarkannya menumpahkan kesedihan. Apa yang telah Chanyeol lakukan setelah tahu bahwa gadis itu kesulitan tentang fakta menyakitkan tentang ayahnya? Mengapa Chanyeol malah menabur garam di atas luka yang Baekhyun rasakan hanya karena berpikir gadis itu adalah sosok tangguh dan acuh? “Aku salah. Maafin aku.” Baekhyun sudah berusaha keras sejauh ini, agar kesedihannya tidak tumpah. Ia berpikir untuk tegar demi ibu dan adiknya. Namun saat Chanyeol datang dan menawarkan sebuah pelukan, tangisnya pecah. Ia manusia

77

biasa yang harus menangis saat kesulitan semakin jauh menyesaki ulu hati. “Mama nyaris kena serangan jantung.” Baekhyun menangis tersedu-sedu di dalam dekap yang Chanyeol berikan. Tidak banyak kata yang Chanyeol ucapkan. Ia sepenuhnya menyesal. Ia merasa buruk terhadap keadaan Baekhyun. “Dokter bilang apa?” Baekhyun menggeleng pelan. “Ya, udah. Kamu bisa cerita nanti.” “Kakak...” Baekhyun refleks menarik diri dari pelukan Chanyeol lalu menoleh pada adiknya yang baru saja keluar dari kamar inap ibunya. “Mama udah bangun.” Tanpa berpikir panjang, Baekhyun berlari untuk menemui ibunya. Sementara Chanyeol berdiri di luar, samar mendengar tangis gadis itu kembali pecah di dalam sana. Kali ini adalah tangis haru. Lalu ia mendengar banyak percakapan yang membuat hatinya menghangat. Chanyeol telah salah menilai Baekhyun, pikirnya gadis itu adalah anak orang kaya yang hanya tahu caranya merengek dan menyusahkan. Sepetinya Chanyeol mulai harus belajar menelaah karakter seseorang hingga ke akar, cukup sekali saja ia menghakimi Baekhyun karena alasan konyol yang sanggup mengundang tertawaan banyak orang.

78

*** “Dokter bilang kondisi Mama enggak begitu mengkhawatirkan. Mama Cuma butuh istirahat dan terhindar dari pikiran-pikiran negatif.” Chanyeol mendengarkan Baekhyun dengan seksama. Kini keduanya tengah terlibat perbincangan serius di dalam mobil. Chanyeol memang perlu berbicara empat mata dengan gadis itu. “Di mana yang lain? Aku enggak liat siapa pun kecuali kamu sama adekmu.” Baekhyun menghela kecil lalu menggeleng. “Saudara-saudara Mama udah lama memutus hubungan karena sebenarnya hubungan Mama sama Papa ditentang keluarga. Aku enggak punya siapa-siapa selain Mama sama Adek. Temen juga enggak punya, pernah coba buat deketin temen sekelas tapi dia bilang aku anak orang kaya dan dia ngerasa minder. Tapi kayaknya alasannya bukan itu deh, mereka ngejauh setelah tau posisi Papa di kursi pemerintahan.” Chanyeol merasa tersindir, ia bungkam dan menatap Baekhyun dengan sorot sesal. “B... maafin aku.” Baekhyun mengangkat bahu. “Aku udah biasa dijauhin tiba-tiba. Terus dikata-katain enggak enak. Itu makanan sehari-hari.” Lalu ia memalingkan wajah, menatap hilir mudik perawat di area taman rumah sakit. Chanyeol menggeleng. “Hey...” ia lalu memalingkan wajah Baekhyun seraya mengusap dagunya. “Maafin aku.” Mereka bersitatap cukup lama. 79

Lalu Baekhyun menggeleng keras. “Aku mohon...” “Aku enggak pernah minta punya ayah yang gila jabatan.” Lalu Chanyeol teringat apa kata ibunya. Dan ia benar-benar tertohok. “Aku enggak bisa kontrol emosiku kemarin.” “Terus kenapa aku harus maafin kamu soal itu?” Chanyeol pun tidak tahu alasan yang tepat. Ia hanya merasa buruk dan ingin memperbaiki hubungannya dengan Baekhyun. “Aku nyesel.” Chanyeol bersungguh-sungguh, menatap Baekhyun dengan rasa bersalah. Baekhyun kukuh, ia menggeleng. Chanyeol mulai putus asa, dan benar gadis yang saat ini ia hadapi tetaplah Byun Baekhyun yang tidak mudah dihadapi. “Oke, aku bakal lakuin apapun. Asal kamu maafin aku.” Barulah Baekhyun bereaksi, matanya yang berbinar membuat sinyal bahaya di otak Chanyeol menyala. “Tapi nanti kamu bentak-bentak aku lagi, kasarin aku lagi. Demi Tuhan, kamu itu bersalah banget.” Chanyeol mengangguk lalu meraih tangan Baekhyun dan menggenggamnya. “Aku salah. Salah besar.” Baekhyun semakin besar kepala. “Terus?” “Mau dipeluk enggak?” Baekhyun bereaksi lalu melotot galak. Chanyeol meringis, pikirnya Baekhyun sedang memerlukan banyak pelukan menanangkan. 80

“Kenapa harus peluk?” “Ya enggak mungkin cium kan?” “Park Chanyeol!” Kesal Baekhyun. “Iya ampun.” Chanyeol mengaduh waswas. “Emangnya kenapa cium enggak mungkin?” “Eh???” Kedua alis Chanyeol terangkat. “Ya, karena cium cuma buat orang yang pacaran.” “Terus kenapa kita enggak pacaran aja?” “Eh???” Lagi-lagi Chanyeol terkejut. “Aku cuma tanya. Ya udah, peluk saja.” Chanyeol menyentakkan kepala, merasa selesai dengan karakter Baekhyun yang unik. “Kalau dipangku berlaku enggak buat orang yang enggak pacaran.” Chanyeol menggeleng lalu menepuk paha. “Yes!!!” Baekhyun berseru sebelum berakhir di atas pangkuan Chanyeol dan memeluknya erat. Tubuh Chanyeol sempat menegang meski lama kelamaan ia terbiasa. “Wangi kamu kayak bayi.” “Aku pake skincare bayi kok.” “Eh?” Chanyeol terkejut sebelum kemudian tertawa kecil. “Apanya yang lucu?” Baekhyun menarik diri lalu memicing tajam. “Kamu. Kamu yang lucu.” “Aku enggak lucu.” “Kamu lucu.” Berani-beraninya Chanyeol melawan. Terang saja jurus merengut itu mengemuka sempurna.

81

“Aku bilang apa, kamu itu lucu. Apalagi kalau cemberut kayak gini.” Lalu Chanyeol membelai bibir Baekhyun. Si mungil hendak melemparkan protes keras namun tatapannya telah lebih dulu terkunci oleh Chanyeol. Diam-diam ia merasa iri dengan wajah Chanyeol yang kecil dan putih. Chanyeol setia menatap gadis itu dengan lamat sebelum kemudian ia meraih rahang gadis itu dan menautkan bibir mereka. Manis. Apakah Baekhyun memakan permen sebelumnya? Yang Chanyeol tahu ia semakin hanyut dalam sebuah ciuman, mengulum lembut bibir tipis itu, bahkan sesekali melumatnya dengan sensual. Sejauh ini tidak ada penolakan, cara Baekhyun merespon cukup membuat kekhawatiran Chanyeol menguap. Dipeluknya dengan erat si mungil sebelum menarik diri, melepaskan pautan bibir dan menyatukan dahi mereka. Yang lebih mungil terengah dan memejamkan mata, wajahnya merona. “K-kamu bilang cium buat yang pacaran.” Chanyeol tersenyum dan mengangguk. “Aku enggak ngelanggar aturan, karena mulai saat ini kita pacaran.” “Eh? Kata siapa? Kenapa kamu berpikir aku mau jadi pacar kamu?”

82

“Kenapa juga kamu bales ciuman aku kalau kamu enggak mau?” Wajah Baekhyun semakin memerah. Lalu ia kesal. “Nyebelin!” Serunya lantas menyembunyikan wajah di leher sang kekasih. Chanyeol terkekeh kecil lalu mengusap punggung Baekhyun dengan lembut. “Jadi pacarku, ya?” Tidak ada sahutan berarti namun si mungil itu mengangguk malu-malu di dalam dekapan. Satu hal yang membuat senyum Chanyeol semakin terulas lebar, kini ia mempunyai pacar.

End of Almamater

83

84

Subscribable Minggu lalu Baekhyun meraih plakat penghargaan dari salah satu platform penyedia layanan video atas pencapaiannya yang berhasil mendapatkan satu juta pengikut. Hobinya berbagi konten seputar makanan dan siaran langsung mendapatkan banyak respon positif dari orang-orang meski sebenarnya kesehariannya tidak melulu tentang berbagi video di jejaring sosial. Byun Baekhyun bisa mengimbangi hobi dengan kesehariannya sebagai seorang pekerja paruh waktu di beberapa tempat. Jauh dari orang tua membuatnya merasa harus mandiri dan sebisa mungkin tidak mengandalkan gaji ayahnya yang tak seberapa untuk bertahan di Seoul yang terkenal mempunyai biaya hidup tinggi. Nyatanya Baekhyun mempunyai penghasilan sendiri berkat hobinya, ia mulai terkenal sebagai salah satu pemilik channel dengan pengikut yang banyak. Beberapa alasan datang mengapa orang-orang memilih mengikuti konten Baekhyun, karena wanita itu ramah, pembawaannya di depan kamera sangat natural, banyak menebar senyum dan tawa, lantas nilai tambahan; dia cantik. Sangat cantik. “Bibi, apa aku boleh merekam di sini?” “Oh, tentu saja.” 85

Lalu Baekhyun tersenyum senang. Kini ia tengah berada di salah satu restoran terkenal, yang biasanya dikunjungi oleh orang-orang pembuat konten makanan. Baekhyun memesan menu dengan hati-hati karena menu tersebut menentukan jumlah penonton. Setela memesan ia kembali menyapa para pengikutnya di depan kamera. “Untuk yang baru saja bergabung dengan Channel ini, hai... aku Byun Baekhyun, hobiku makan.” Lalu wanita bertubuh mungil itu tertawa renyah. “Aku senang berbagi kebahagiaan dengan makanan, saat kalian menyantap sesuatu dan makanan itu mempunyai takaran bumbu dan cara pengolahan yang pas. Bukankah itu seperti kalian berada di surga?” Tanpa berhenti menebar senyum di depan kamera yang dibantu penyanga. Lantas pesanannya datang. Baekhyun menelan ludah dan menjilat bibir, sejak saat siaran terakhir ia tidak terlalu banyak mengisi perut demi menciptakan ekspresi yang bagus saat ia menyantap makanan di depan kamera. Siaran itu kembali berlangsung, Baekhyun mulai menyantap menu pesanan, ia lantas menyuap dalam porsi besar dan memasang ekspresi yang disukai oleh banyak pengikutnya. Wanita itu memang pandai menarik perhatian orang-orang, bukan hanya yang menontonnya di layar ponsel, beberapa pemgunjung restoran pun cukup terhibur dengan siarannya kali ini. “Byun Baekhyun-ssi?” Baekhyun secara refleks mematikan kamera saat seorang wanita menghampirinya di meja. 86

“Ya?” Dahi Baekhyun sedikit berkerut. Ia tidak seterkenal itu untuk bisa dikenali secara langsung oleh orang-orang, apalagi oleh seorang wanita cantik berpakaian formal. “Aku Krystal.” Lalu wanita berwajah tegas itu mengulurkan tangan. Baekhyun menjabat tangan itu lalu melempar ekspresi penuh tanda tanya. “Kau pasti merasa bingung.” Dan Krystal mengulurkan selembar kartu nama. “Ya, tentu aku bingung. Kau datang menyapaku ketika aku sedang siaran. Aku tidak memberitahu siapa pun tentang keberadaanku di sini...” “Aku memang mengikutimu.” “Maaf?” Krytsal menumpukan kedua siku di atas meja. “Aku ingin menawarkan kerja sama.” Baekhyun menggeleng kecil, tidak yakin. “Berapa pendapatan yang kau peroleh dengan berbagi video saat sedang makan?” Baekhyun mulai sedikit waswas karena wanita asing itu bahkan tahu hobinya. “Sebenarnya kau siapa?” Ia jelas merasa cemas. “Aku Krystal, dan aku bekerja sebagai asisten presdir. Kau bisa lihat di kartu nama. Perusahaanku tertulis di sana.” Baekhyun meneliti lagi nama perusahaan itu, lalu matanya membelalak kecil. “Jadi, apa kau tertarik untuk bekerja sama?”

87

“Kerja apa yang perusahaan kalian butuhkan denganku yang hanya seorang food blogger?” Setahu Baekhyun perusahaan raksasa itu bergelut di bidang real estate yang membawahi berbagai komplek mewah di setia penjuru negeri. “Bidang kalian tidak ada hubungannya dengan hobiku.” “Memang. Kau sangat cerdas.” Apa itu pujian? “Lalu?” “Tapi bosku mempunyai minat besar terhadapmu.” “Bos?” “Ya. Presdir mengutusku untuk bertemu denganmu. Dia menyukaimu. Dia selalu menonton siaranmu.” Baekhyun menegakan posisi duduk lalu mulai mencerna segala hal. “Bosmu? Presdir? Petinggi perusahaan real estate terkemuka di Korea?” Krytsal mengangguk penuh wibawa. “Menyukaiku?” “Kenapa? Kau tidak terlalu buruk.” Dahi Baekhyun mengernyit. “Dengar, Krystal-ssi, aku benar-benar tidak mengerti dengan situasi ini.” “Sebenarnya aku dilarang berbasa-basi.” Lalu ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dan menyerahkannya pada Baekhyun. Dengan ragu si mungil membacanya. “As a dominant...????” Baekhyun menatap Krystal dengan sejuta tanya. “And submissive—Krystal-ssi kontrak jenis apa ini?” 88

“Kau tidak mengerti?” Krystal membeo. Baekhyun menghela keras. “Aku mengerti. Tapi bagaimana bisa kalian sekurang ajar ini kepadaku?” “Oh, jika kau menganggapnya dari sudut pandang seperti itu maka tidak ada yang bisa ku lakukan. Aku hanya harus berkata kepada bosku bahwa kau keberatan dan aku dipecat.” Baekhyun bermasalah dengan rasa iba. Maksudnya dia kerap memikirkan nasib orang lain jika itu bersangkut paut dengan dirinya. “Your boss is a bad person!” “Yes, he is.” Krystal mengangguk. “Aku tidak mengenalnya sama sekali tapi aku bisa tahu hanya dengan membaca kontrak konyol ini.” “Apa yang tertulis di situ tidak bersifat percuma.” “Ya, kau mau bilang dia akan membayarku dengan nominal yang besar? Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk tidur dengan pria lalu dibayar seperti—” “Sudah ku bilang itu hanya sudut pandangmu saja yang berbeda. Kau tidak akan menjadi wanita murahan ketika bosku sanggup membelikanmu sebuah pulau.” “Aku tidak butuh sebuah pulau.” “Tapi kau perlu melihat Kakakmu dibebaskan dari hukuman mati.” Baekhyun membelalak seketika. “Kalian bahkan mengorek informasi tentang keluargaku?!” Desis Baekhyun dengan geram lalu membereskan peralatan siaran dan berlalu menuju kasir. “Ingat ini, Kakakmu bisa bebas. Bosku sanggup mengeluarkannya dari penjara.” 89

Baekhyun mendelik galak sebelum meninggalkan tempat itu. “Orang-orang terkutuk!” Geramnya sebelum menghentikan taksi.

~oOo~ Krytsal tidak menyerah meskipun kini pekerjaannya menjadi taruhan. Bosnya memang brengsek, semua orang tidak akan menyangka bahwa wajahnya yang serupa malaikat adalah sebentuk tipu daya. Sosok tinggi berbalut jas formal itu masih Krystal awasi, caranya menebar tawa di salah satu acara televisi sebagai bintang tamu membuat Krystal jengah. Hingga siaran langsung itu berakhir, mereka lantas meninggalkan lokasi. Krystal mengekori hingga sampai di dalam mobil. “Minhyuk meminta izinku untuk mengajakmu kencan besok malam.” “Apa yang salah dengan itu? Kami bertunangan, Sajangnim.” “Justru yang perlu dipertanyakan adalah tunanganmu itu. Kenapa dia perlu izinku untuk bisa membawamu keluar?” “Karena mungkin mencari masalah dengan orang berpengaruh nomor satu di Korea bukanlah ide bagus. Minhyuk berpikir secara rasional, dia masih ingin hidup di Korea.” “Oh, ayolah. Aku tidak senakal itu.” “Katakan itu pada orang yang gemar menghajar musuh sampai mereka kapok tinggal di negara ini.” 90

“Tapi Minhyuk bukan musuhku, dia teman yang baik hati. Aku akan memberi toleransi.” Krystal nyaris memutar bola matanya. “Jadi, apa kau membawa berita bagus dari si tukang makan Byun Baekhyun?” Krystal menatap bosnya yang kini melonggarkan dasi. “Dia bilang kau orang yang sangat buruk.” Lalu bos besar itu tertawa keras. “Dia mengatakan hal itu? Padahal aku penggemarnya.” “Seriously, boss? What do you expect form her?” Tidak ada penjelasan secara gamblang. Pria itu hanya menggila ketika celananya sesak hanya karena melihat Baekhyun menyantap makanan pedas dan panas saat sedang melakukan siaran. “Jadi? Ku tebak dia menolak.” “Bahkan memakiku.” “Wanita yang bergairah. Aku suka.” Krystal mengernyit geli. “Incar sampai dapat. Aku tidak janji akan mempertahankanmu jika kau gagal membawanya ke kamarku.” Dan benar saja, dia memamg pria brengsek yang gemar menggunakan ancaman mematikan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Tidak peduli dengan dengan cara bersih maupun kotor. Itu yang membuatnya menjadi brengsek dan memuakkan.

91

~oOo~ “Apa maksudmu? Kau bilang bisa membantuku agar Oppa bebas? Kenapa justru semakin dipersulit?” Baekhyun mengeluarkan biaya besar demi bisa melihat kakaknya bebas, ia membayar pengacara untuk membantu kasus yang membelit sang kakak. Pendapatannya menjadi seorang food blogger digunakan untuk membantu kesulitan kedua orang tuanya dalam menghadapi masalah yang melibatkan sang kakak. Dan kini kerja kerasnya terasa begitu percuma. Baekhyun enggan membayangkan betapa histerisnya kedua orang tuanya jika mendengar anak sulung mereka akan secepatnyga menjalani eksekusi. Ia enggan membayangkan penyakit jantung ayahnya kambuh dan skenario terburuk itu terngiang dalam benak. “Baekhyun, seseorang mengakuisisi perusahaan tempat di mana kakakmu terbukti melakukan kecurangan. Dan pemilik baru perusahaan itu meminta kakakmu dihukum secepatnya. Mereka berpikir perbuatan kakakmu tidak bisa dimaafkan, dan sungguh... menjadi karyawan sekaligus pengedar barang haram di perusahaan itu benar-benar sulit untuk ditoleransi. Maafkan aku.” Pada akhirnya semua orang menyerah dan mundur. Baekhyun tidak tahu lagi harus melakukan apa ketika uang sakunya telah habis terkuras, ia tidak lagi mempunyai pegangan untuk membayar pengacara yang bersedia membela kakaknya di persidangan. “Byun Baekbom, kau... benar-benar menyusahkan!” Geram Baekhyun dengan desis panjang 92

ketika percakapannya dengan Krytsal mendadak berkelebat dalam ingatan.

tadi

siang

*** Baekhyun menatap langit-langit kamar itu dengan mata nanar. Di tangannya ada selembar kartu nama sementara di tangannya yang lain menggenggam ponsel yang telah siap menekan sebuah nomor. “Terukutlah kalian orang-orang kaya, bermain kotor dengan uang.” Geramnya lalu memutuskan menekan tombol hijau. Dering ke tiga itu mendapat sebuah jawaban. “Aku tahu kau menghubungiku.” Baekhyun memutar bola mata, anehnya tidak merasa heran jika wanita bernama Krystal itu tahu nomor ponselnya. “Kau... benar-benar bisa menjamin kebebasan kakakku?” “Dia bahkan bisa dihapus dari daftar hitam. Bosku memang brengsek tapi dia berpengaruh.” Baekhyun memejamkan matanya dengan geram. “Jika aku setuju itu berarti aku menjual diri kepada si brengsek itu?” Krystal tertawa di seberang sana. “Hmm... sebetulnya tidak akan seburuk itu terdengarnya jika kau berpikir dengan positif.” “Bagaimana bisa aku berpikir positif jika harus menghadapi bajingan kaya seperti bosmu itu?”

93

“Ya. Ya. Kau menghubungiku bukan untuk marahmarah tidak jelas bukan?” Baekhyun mendengus keras. “Aku ingin memberi syarat.” “Go ahead.” “Krystal, jika kau ada di posisiku, apa yang akan kau putuskan?” Krystal sempat bungkam di seberang sana. “Bukankah kau akan merasa kesulitan.” “Hmm. Tentu. Itu tidak mudah. Bahkan akan sangat sulit jika kau memilih mengabaikan pilihan terakhir dalam hidupmu. Tidak ada yang bisa melawan kehendak bajingan-bajingan kaya jika kau masih merasa bangga dengan recehanmu yang tidak seberapa.” Krystal terdengar kejam. Namun Baekhyun tidak membantah sedikit pun ucapannya. Lantas ia mendapatkan jawaban. “Kapan kita harus bertemu?” “Aku akan menjemputmu besok. Siapkan syarat yang bagus, jangan biarkan bajingan kaya itu menang terlalu banyak.” Tanpa sadar Baekhyun tersenyum. Benar, hidup dan masa depannya dipertaruhkan di sini. Setidaknya Baekhyun tidak akan membiarkan dirinya menyesal di masa yang akan datang.

~oOo~ “Krystal, kenapa bosmu itu ingin tidur denganku?” 94

Krystal mulai suka dengan Baekhyun yang frontal. “Maksudku, bukankah dia bisa mendapatkan wanita lain?” “Lebih tepatnya dia bisa mendapatkan wanita mana pun. Termasuk dirimu.” Baekhyun mendengus. “Dia bilang dia penggemarmu.” “Huh?” Baekhyun melongo. “Jika dia penggemarku, kenapa dia justru memperlakukanku dengan kurang ajar.” Krystal menggeleng. “Baekhyun, bisakah kau menganggap ini sebagai bisnis saja? Alih-alih membuat dirimu sendiri kesal. Lagipula bosku pasti memberikan apa yang kau mau, percayalah dia orang kaya paling dermawan.” “Dia tidak dermawan jika yang dia beri mengharapkan imbalan.” “Itu sudah keluar dari porsi manusia untuk menilai.” Krystal mengangkat bahu. “Jadi apa syarat yang kau beri? Aku sudah mangatakan padanya dan dia bersedia apapun itu syaratnya.” Baekhyun menghela pelan lalu mengatur kosa kata dengan benar. “Diluar dari kebebasan yang akan diberikan kepada Kakakku. Aku tidak ingin hamil. Bagaimana pun caranya, aku tidak ingin hamil dengan cara seperti ini.” Krystal mengernyit. “Kau tidak membaca kontrak? Tidak ada alat kontrasepsi, tapi kau bisa meminum pil penghambat kesuburan.” “Aku... aku alergi terhadap beberapa jenis obat. Aku hanya tidak ingin mengambil resiko.” Krystal lantas terpejam dengan kalut. 95

“Atau kau bisa meminta bosmu untuk mengeluarkannya di dalam.” “It’s not his thing, I guess.” Krystal mulai dan menjari jalan keluar secara instan meski hasilnya benarbenar nihil. “Aku akan menemuinya terlebih dahulu. Kau bisa menunggu di sini.” Baekhyun mengangguk membiarkan Krystal keluar dari mobil dan memasuki halaman sebuah mansion mewah yang berlokasi di komplek beken dan elit.

~oOo~ “Aku tidak menumpahkan spermaku sembarangan.” Krytsal benar-benar kesal dengan si mesum itu. “Tapi hanya itu syarat yang dia beri ketika wanita lain akan memerasmu sampai ke tulang, Park Chanyeolssi. Aku tidak tahu, sepertinya Baekhyun itu sinting.” Pria bermarga Park itu mengusap dagu lalu menimang opsi. “Baiklah bawa dia masuk. Kau tahu aku sudah sangat menantikan momen ini.” “Jadi?” Chanyeol tidak mengulang kalimat yang sama, tatapan memicing yang ia lemparkan pada Krystal adalah sebuah jawaban mutlak. Krystal sedikit terintimidasi sebelum membungkuk sopan dan berlalu. “Pastikan memandikannya lalu bawa dia ke kamar istimewa.” 96

“Dia pikir memandikan apa? Baekhyun bukan kambing.” Rutuk Krystal.

~oOo~ Setelah Krystal memberitahunya bahwa syarat yang Baekhyun ajukan diterima, wanita itu lantas memberi komando kepada beberapa pelayan berpakaian seragam untuk memboyong Baekhyun ke dalam sebuah kamar mandi raksasa. Di sana Baekhyun ditelanjangi sebelum dipaksa masuk ke dalam bathtub mengilat berisi ratusan kelopak mawar. Lalu setelah diperlakukan bak puteri kerajaan, dimanjakan dengan wewangian mewah, didandani seperti seorang selebriti, dipakaikan sehelai gaun tipis menerawang yang sejatinya tidak membuat nyaman karena di balik itu ia tidak lagi memakai apa-apa. Kamar di ujung lorong itu mempunyai pintu ganda, lalu Krystal menggiring masuk. Hal pertama yang menyita perhatian Baekhyun adalah ranjang besar dengan sprei berwarna merah darah. Ada kesan tersendiri ketika semakin lama Baekhyun memandanginya. Lalu atensinya Baekhyun beralih pada tali sepanjang satu meter yang menggantung di atas headboard, sepasang borgol di atas nakas, dan juga penutup mata. Baekhyun tidak tahu seperti apa pria yang kini akan ia hadapi meski sebenarnya ia telah banyak mencari referensi tentang eksploitasi seks dalam sebuah artikel di 97

beberapa situs dewasa juga dalam sebuah film yang ia tonton. Katakan ia tidak mengetahui banyak hal namun mencerna poin pentingnya. Baekhyun tidak lupa apa yang tertulis di dalam kontrak persetujuan, ia sudah secara mandiri menanggalkan pakaian hingga sepenuhnya bertelanjang bulat, namun masih sanggup terkejut ketika Krystal mengikat tangannya pada kedua sisi headboard setelah menutup matanya hingga Baekhyun tak lagi dapat melihat gemerlapnya dunia. “Sajangnim akan tiba dalam lima menit. Jangan berbasa-basi. Dia tidak suka disambut. Jangan bertanya. Seberapa banyak pun kau merasa penasaran akan suatu hal, lebih baik tidak menanyakan itu kepadanya. Satu hal terakhir yang paling penting...” Baekhyun menunggu sampai kalimat iitu tuntas. “Mendesahlah dengan keras, dan dia akan suka jika kau bertingkah seperti hewan peliharaan.” Baekhyun tidak menyahut, ia bungkam dan menggigit bibir, pertanda gelisah. Krystal melihatnya sedikit bergetar. Tentu saja, siapa yang tidak takut jika berada di posisi Baekhyun saat ini? Seingat Krystal, Chanyeol pernah membuat salah satu submisifnya dilarikan ke rumah sakit. Baekhyun yang polos hanya tidak tahu seberapa berbahayanya seorang pria dominan. Krystal mendekat lalu memberi dukungan moril, menepuk bahu Baekhyun yang bergetar kecil. 98

“Percayalah, setelah kau keluar dari sini, dunia akan lebih bersahabat denganmu.” Krystal tahu ucapannya tidak mempan. Bahkan semakin membuat Baekhyn merasa buruk. Namun ia sudah melakukan hal yang seharusnya. Setiap orang perlu bertahan untuk tetap hidup, begitu pun dirinya. Lalu Baekhyun ditinggalkan sendiri di dalam kamar yang tak dibiarkan terjamah oleh sinar matahari tersebut. Hening memenuhi atmosfer, dalam gelapnya pandangan Baekhyun hanya ditemani oleh suara detak jarum jam di atas dinding. Tangannya mulai sedikit pegal karena posisinya setengah terbaring. Lantas ketika bergerak gelisah, terdengar seseorang memutar knop pintu, decitan pelan engsel membuat reaksi Baekhyun semakin agresif. Ia ingat beberapa petuah Krystal sesaat sebelum meninggalkannya seorang diri, untuk itu rahangnya masih terkatup rapat. Terdengar ketukan langkah yang semakin intens terdengar. Lalu Baekhyun merasa kesal karena sosok itu tak kunjung bersuara.

*** Chanyeol melenggang menaikki tangga menuju lantai dua. Pria yang mengenakan kemeja longgar

99

berbahan satin licin itu mengusap telapak tangan pada sisi kepala lalu mengurai langkahnya menuju lorong barat. Tanpa mempersiapkan diri, pria itu lantas memutar knop, membuka satu pintu ganda sebelum sepenuhnya masuk ke dalam kamar yang sejak awal menjadi tujuannya. Senyumnya terulas miring mendapati ranjang besar itu dihuni oleh makhluk mungil yang biasanya ia lihat di kanal media sosial. Si tukang makan yang selalu berhasil membuat Chanyeol kelabakan hanya karena dia kepedasan. Chanyeol memutuskan untuk mendekat seraya menggulung lengan kemaja, lalu menguak nakas besar yang menyatu dengan lemari. Diliriknya si mungil tengah bergerak gelisah di atas ranjang. “You told her that i’m a bad person.” Baekhyun bereaksi pada baritone itu lalu mencoba mencari arah sumber suara. Chanyeol mengukur setiap inci penggaris berbahan aluminium. Lalu memutari ranjang seraya menelusuri kaki telanjang Baekhyun dengan dinginnya material penggaris. Ucapannya tidak mendapati sahutan. Chanyeol bisa saja memberi pemakluman kepada seorang pemula namun hatinya tidak cukup merasa. Untuk itu ia mengayunkan penggaris sebelum melayangkan pukulan keras di betis Baekhyun.

100

Si mungil meringis keras, dingin bercampur ngilu menjalar di area kaki. “My bad, Master.” Cicitnya seraya beringsut, bergerak gelisah di atasa ranjang. Mengapa Krystal tidak mematikan terlebih dahulu suhu ruangan? Karena demi apapun saat ini Baekhyun menggigil. Chanyeol secara intens menatap Baekhyun dengan kedua mata, pada bagaimana dia bertelanjang, meringis kecil, bergetar. Tidak. Itu bukan hanya sekedar bergetar. Chanyeol mendapati satu fakta menarik. Pria itu lantas memutar pengatur suhu ruangan hingga mencapai angka delapan belas. “Hngghh...” Baekhyun melenguh karena gigil yang kian mendera, lalu tubuhnya menggeliat tak karuan di atas ranjang. “Mungkin kau bisa berpikir dua kali sebelum mengutukku di hadapan pekerjaku, Byun.” Lalu Chanyeol melepas kancing teratas kemeja seraya naik ke atas ranjang lalu menyapukan telapak tangannya di atas perut Baekhyun yang rata. Sentuhan itu jelas memberi kehangatan ketika kulit dan kulit yang lainnya bergesekkan, untuk itu Baekhyun menggeliat, tubuhnnya yang menggigil membutuhkan lebih banyak sentuhan hangat, karena demi apapun ia bisa mati karena kedinginan. “More... touch me more! Hnggh!” “You’re a naughty!” Dan Chanyeol menampar kedua sisi bokong sintal setelah mengangkat kedua kakinya ke udara. 101

“Yes, I am, Sir!” Baekhyun kelabakan, mengapa telapak tangan Chanyeol terasa begitu hangat? Demi apapun Baekhyun kedinginan. Ia bahkan nyaris merutuk kala kedua kakinya dibuka lebar hingga lenguhan kecil mengemuka, sesuatu yang basah dan hangat menyapu area intim, tubuh Baekhyun menggelepar karena sensasi asing. “Ouhh! Hngh!” Meringis, mengigit bibir lalu menjepit kepala yang terbenam di antara selangkangannya. Tubuhnya menegang hebat dan Baekhyun tidak tahu mengapa kini tubuhnya melemas. “Baru dua menit, Byun. Dan kau sudah orgasme?” Baekhyun sempat ber-OH-ria dalam hati karena baru tahu seperti itu rasanya orgasme. Rasanya seperti tersengat voltase listrik hingga membuat melemas. Si mungil terengah kecil, ia tidak tahu seperti apa sosok pria yang kini menyapukan lidah di atas paha, diselingi kecupan sensual, namun jelas pria itu sangat pandai memutar balikan suhu ruangan yang semula menusuk kini sedikit menghangat. Oleh sentuhannya. Untuk itu Baekhyun ingin disentuh lebih lama, ia benci udara dingin. “Sir...” “Ssttt...” Chanyeol menempelkan telunjuk di bibir Baekhyun. Lalu tanpa si mungil tahu pria itu tengah menanggalkan seluruh pakaian. Sesekali Chanyeol menjilat bibir karena didepannya tersaji tubuh telanjang seorang wanita yang membuatnya terobsesi. 102

Lantas Chanyeol merunduk, melarikan kedua tangan ke bawah punggung Baekhyun, menciumi lehernya dengan buas, lalu melumat bibirnya dengan rakus. “Sudah sejak lama aku menantikan saat-saat ini...” bisiknya lalu memposisikan diri dengan benar, mencari celah untuk masuk sebelum tersenyum miring dan menyentak kuat. “Aakh!!!” Apa yang membuat Chanyeol menegang dengan kedua kornea mata yang melebar bukan karena jeritan Baekhyun yang terdengar cukup keras, namun karena ia yakin sesaat yang lalu telah merusak sesuatu di bawah sana. Tanpa mengindahkan sebuah aturan yang ia buat sendiri; menutup mata submisif ketika mereka bercinta, Chanyeol lalu menarik kain yang melingkar di kepala Baekhyun, hanya untuk mendapati kedua iris bening yang basah karena air mata. Lalu keduanya bersitatap dengan ekspresi yang berbeda. “Why don’t you tell me?!” Chanyeol terdengar mendesis berbahaya. Sejak matanya tertutup, Baekhyun membayangkan seperti apa sosok pria itu, kini rasa penasaran ya terjawab meski ia kesan yang didapat terasa begitu ngeri. Sorot mata pria itu tajam namun menghanyutkan, rahangnya terkatup rapat, matanya bulat dan menatap bengis.

103

Itu bukan hal yang bagus ketika Baekhyun merasakan atmosfer berbahaya, aura kuat yang menakutkan. Apakah masih perawan adalah kesalahan fatal bagi pria itu? Lalu Chanyeol meninju headboard dengan keras dan menarik diri. Ia tidak pernah bermain dengan seorang perawan, hal itu akan merepotkan. Pria yang sejatinya mempunyai paras tampan itu berlalu tanpa sepatah kata. Lalu dari jauh Baekhyun mendengarnya meneriaki nama Krystal. Terdengar murka. Si mungil itu mencoba melepas ikatan tangan lalu memejamkan matanya dengan kalut. Apa yang baru saja terjadi? Mengapa Baekhyun merasa dicampakkan? Ia lantas menelaah diri, tubuhnya yang telanjang digerogoti oleh suhu ruangan yang menusuk, lalu hatinya menjerit meratapi noda basah yang merembes di bawah tubuh, sprei itu sejak awal berwarna merah sehingga darah suci yag dihasilkan dari robekan selaput dara itu tersamarkan. Yang Baekhyun tahu ia masih merasa begitu tak menentu ketika Krystal masuk dengan panik, melepas ikatan tangan lalu menatanya dengan sorot tidak percaya. “Kenapa kau tidak bilang bahwa kau perawan?!” “Dari mana aku harus mulai? Itu bukan hal yang harus aku umbar, bahkan sekarang tidak ada gunanya.” Baekhyun dengan tegas balas menatap Krystal. “Dia marah besar.” 104

“Kenapa masih perawan adalah kesalahan fatal baginya?” Baekhyun memakai pakaiannya dan merasa cukup kesal, ia tidak terlalu lama meratapi diri setelah dinodai, pikirnya sejak awal itu adalah sebuah konsekuensi. Tapi sikap pria itubenar-benar tidak masuk akal. “Sajangnim hanya tidak suka.” “Hanya itu? Lalu bagaimana sekarang? Akh!!” Baekhyun meringis kala perih menjalar di bawah tubuh. “Kau lihat? Yang memerawaniku justru kabur dan bersikap pengecut.” Kemudian Baekhyun meraih penggaris di sampingnya. Menebak apa yang digunakan oleh Chanyeol ketika memukulnya tadi. Sejujurnya Krystal tidak pernah menghadapi Chanyeol dengan kemarahan sejenis itu, ia pun bingung. “Dia sangat mengerikan jika sedang marah.” “Kalau begitu biarkan aku yang berbicara.” “Tidak. Kau tahu dilarang untuk melihat wajahnya.” “Aku sudah tahu wajahnya, dia sendiri yang membuka penutup mataku dan melotot dengan garang. Jika tahu akan seperti ini aku lebih baik siaran!” Krystal membeo, lagi untuk pertama kalinya dalam sejarah eksekusi, Chanyeol membuka penutup mata submisifnya. Baekhyun berdecak kesal, menahan ngilu di bawah tubuh lalu wanita itu berjalan tertatih meninggalkan kamar. “Kau mau ke mana?” 105

“Menemui bosmu, tentu saja. Aku tidak tahu bagaimana nasibku setelah ini!” Krystal menyusul dan mencoba menahannya namun Baekhyun adalah wanita paling besar. “Dia bilang akan tetap membebaskan Kakakmu. Akan membantumu jadi kau tidak perlu menemuinya lagi.” Langkah Baekhyun terhenti lalu ia menatap Krystal dengan murka. “Kau tentu tahu itu adalah tindakan yang salah!” “Ada apa denganmu?” Krystal nyaris menyerah. “Kau masih bertanya? Kau tidak lihat ini!” Lalu Baekhyun menunjuk noda darah di pahanya yang mulus. “Yang dia lakukan benar-benar membuatku marah! Dia pikir aku akan tinggal diam hanya karena dia mengatakan akan menepati janji!” Krystal berdecak frustasi. “Hey, Master! Bisakah kau bersikap lebih jantan dan hadapi aku?” Baekhyun berbicara lantang, suaranya yang menggema hingga lantai dasar membuat para pelayan mansion menaruh perhatian. “Baekhyun, hentikan itu!” Kesal Krystal pada akhirnya. Baekhyun tuli, lalu ia meneliti sebuah pintu ganda di koridor lain, firasatnya mengatakan bahwa pria pengecut itu ada di sana. “Baekhyun! Jangan masuk!” Seru Krystal. “Diamlah! Kau tidak tahu sakitnya diperawani!” Balas Baekhyun tak kalah garang, ia hendak memutar

106

knop pintu ganda di hadapannya namun yang ia pegang justru selangkangan. Benda keras apa itu? Baekhyun refleks berbalik lantas refleks bersitatap dengan Chanyeol yang membuka pintu sesaat yang lalu. “Here it is, the coward!” “Byun Baekhyun!” Geram Krystal. Chanyeol mengangkat tangannya pada Krystal lalu menarik lengan Baekhyun untuk masuk ke dalam ruangannya. Punggung Baekhyun dihempas pada permukaan dinding dan tubuhnya diperangkap dengan tatapan mematikan. “Bukankah Krystal sudah mengatakan bahwa aku akan menepati janji? Apa yang kau inginkan?” Desis pria itu. “Selangkanganku sakit!” “Ya. Karena kau perawan! Dan beraninya kau membuat kegaduhan di kediamanku!” “Hey!” Baekhyun menatap iris kelam itu dengan berani. “Kau yang menginginkanku datang! Kau yang ingin tidur denganku, kau menjanjikan segala hal konyol dan sekarang kau menyalahkanku hanya karena aku perawan, aku merasa keberatan diperlalukan semena-mena olehmu?!” Chanyeol mengernyit, ia menebak usia Baekhyun masih lebih muda. Namun mengapa wanita itu sangat pandai berbicara? “Lalu apa maumu?!”

107

“Aku tidak mau menerima apapun darimu secara cuma-cuma, selesaikan apa tertera dalam kontrak.” Baekhyun tidak akan percaya dengan kedermawanan pria yang kini masih menatapnya dengan garang. “Aku tidak bermain dengan perawan!” “Kau lupa bahwa aku sudah tidak perawan? Kau merenggutnya beberapa menit lalu dan kemudian kau kabur seperti pengecut!” Chanyeol memejamkan matanya dengan kalut. Itu karena Chanyeol terkejut, ia tidak pernah merusak kesucian seseorang. Memang terdengar konyol dan omong kosong, namun Chanyeol kini merasa buruk. “Selesaikan sekarang! Dan aku akan dengan senang hati meninggalkan tempat ini.” Baekhyun lantas menanggalkan pakaian, menarik selembar dasi dari gantungan di sudut ruangan lalu mengikat kedua tangannya. Caranya yang mandiri membuat Chanyeol terperangah, di perhatikannya si mungil yang kini bergelayut di bawah gantungan jas, membelakanginya dan membungkuk, memamerkan tubuh bagian belakang. “Bukankah aku harus melakukan ini? Aku... aku mempelajarinya di internet.” Baekhyun terdengar sangsi lalu mengigit bibir. Satu kesalahan fatal lain yang membuat Chanyeol kehilangan jati diri di samping celananya yang kini semakin menyesak. Pria itu lantas mendekat, menampar bokong Baekhyun hingga wanita itu meringis.

108

“Baik, jika kau benar-benar sekeras kepala ini. Aku—" Chanyeol menurunkan celana hingga lutut, mengarahkan kejantanannya pada kewanitaan Baekhyun yang masih berdarah. “—akan ku pastikan kau menyesal.” Lalu menghentak pinggulnya dengan keras. Seperti yang diduga, desah keras Baekhyun mengemuka, diselingi jeritan ngilu dan lenguhan kesakitan. “Hnggh!” Baekhyun menggeleng keras. Bisakah Chanyeol pelan-pelan? Tidak. Baekhyun tidak yakin pria itu akan memberinya toleransi. Tapi Baekhyun sangat kesakitan. “Akhh!! Mmhhh!!” “Say something! Huh?” Chanyeol menggeram, mencengkram kedua pinggul Baekhyun seraya menghajar liang kewanitaannya tanpa mengindahka jeritan Baekhyun. “Katakan sesuatu!!!” Bentak Chanyeol seraya menampar bokong wanita itu. “Pelan-pelan... hngghh!!!” “Apa begitu caramu meminta kepada tuanmu?” Jiwa sang dominan itu kian mendominasi. “I’d like if you begging me. Do it, you little slut!” “Akhh!! Akhh sakit!!! Mmhh!! Just please...slow down! I’m begging you.. hnggh!!” Chanyeol tersenyum senang, seorang dominan yang akan tersanjung jika submisifnya memohon diselingi desahan putus asa. “Good girl.” Ia kemudian merunduk sebelum memelankan tempo dan mencumbu punggung Baekhyun dengan sensual. 109

Baekhyun bisa bernapas sedikit teratur meski matanya masih terpejam dalam kesakitan bercampur sengatan aneh di sekujur tubuh. “Katakan padaku, apa itu sakit atau aneh? Hum?!” Baekhyun menggeliat oleh cumbuan sensual yang Chanyeol beri. “Jawabanmu menentukan nasibmu selama beberapa jam ke depan.” Baekhyun terengah lalu mengernyit. “Rasanya... aneh...” ketika Baekhyun yakin itu rasa sakit namun tubuhnya menerima dan menyambut dengan senang hati. “Jawaban yang amat sangat fatal.” Karena jika itu bukan rasa sakit sudah pasti Baekhyun rasa aneh yang Baekhyun sebut adalah kenikmatan. Dan Chanyeol mempunyai PR panjang sebelum kembali menghujam kejantanannya dengan buas. Lagi, desahan Baekhyun mengemuka, tubuhnya terombang-ambing dengan hebat. “Akkh!!” “Apa ini yang kau sebut aneh?” Chanyeol menyentaknya serupa kuda jantan. Baekhyun mengangguk. “Sopan santunmu, Byun.” “Ya! Ya!! Ini aneh! Hnggh!!” “Apa kau ingin aku berhenti?” “Tidak. Oh!! Aakhh!!!” Tubuh Baekhyun menegang, menggeliat kecil hingga secara perlahan menyerupai ulat. “Akkh!! Aku ingin buang air!”

110

Chanyeol terkekeh. “Silahkan.” Lalu menghujam dengan semakin keras, mulai terobsesi mencapai puncak secara bersamaan. Lalu di detik berikutnya Chanyeol menggeram sementara Baekhyun kian menggeliat. Tubuh keduanya menegang. Si pria menarik diri, membuat Baekhyun berlutut dengan sedikit paksaan sebelum menumpahkan sperma di wajah mungilnya yang memerah karena libido. Lalu setelahnya Chanyeol mundur beberapa langkah, menatap Baekhyun yang bersimpuh dengan kedua tangan terikat, dengan wajah yang basah oleh sperma. Si mungil dengan napasnya yang berderu, seluruh persendiannya ngilu. Wajahnya yang berantakan meringis saat memutuskan untuk bangun, menyempatkan diri memungut sehelai dress tipis dan kembali ia pakai. “Kau tidak berpikir kita sudah selesai bukan?” Lalu Baekhyun berbalik dan menatap Chanyeol dengan keheranan. “Kau tidak akan meninggalkan ruangan ini sampai aku merasa cukup lelah.” Yang benar saja? Chanyeol bahkan masih terlihat bugar, segar dan berstamina. “Tapi... ini sedikit basah dan lengket.” Baekhyun menunjuk tubuh bawahnya. Chanyeol menggeleng lalu menggerakkan telunjuk agar Baekhyun mendekat. Si mungil bergeming. “Sakit. Aku tidak bisa berjalan.” 111

Chanyeol memijit pangkal hidung lalu memilih bertahan, enggan mengalah dan membiarkan Baekhyun jengah semakin lama. Lalu perlahan si mungil melangkah pelan, ringisan di wajahnya adalah apa yang Chanyeol nikmati. “Cepatlah! Aku kembali ereksi.” Baekhyun bereaksi lalu melotot kecil pada selangkangan Chanyeol, ia bermaksud berbalik dan melarikan diri namun sejak awal Chanyeol memperhatikan gerak geriknya. Pria itu menarik tangannya lebih dulu sebelum memangku tubuh mungil itu dan mendudukannya di atas meja. Kedua tangan Baekhyun dicengkram, tidak dibiarkan menyentuh Chanyeol sedikit pun, kakinya sudah terbuka lebar lalu Chanyeol dengan mudahnya menyentak hingga melahirkan jeritan ngilu si mungil untuk ke sekian kali.

~oOo~ Baekhyun tumbang setelah sampai di apartemen. Ia menatap langit-langit kamar meringkuk dan memeluk dirinya sendiri. Lalu ponsel berdering. “Nak, kita mendapatkan kabar bagus.” Suara ayahnya terdengat di seberang sana. “Hum? Kabar bagus?”

112

“Kakakmu dinyatakan batal menghadapi eksekusi karena satu dan lain alasan. Sejujurnya Ayah tidak mengerti, tapi saat ini Ibumu sangat bahagia, begitu pun Ayah.” Baekhyun membeo kecil lalu mengerjap tak percaya. Sebesar apa kuasa pria bernama Park Chanyeol itu? Baekhyun menggigil hanya dengan membayangkan sekuat apa otoritas yang dimiliki oleh pengusaha muda tersebut? “Nak? Apa kau di sana?” “Y-ya... aku sangat senang mendengarnya. Kita tidak akan kehilangan Oppa.” “Apa kau bisa pulang? Kita haru menjenguknya secepat mungkin.” “Aku... aku tidak bisa meminta izin cuti, Ayah. Pekerjaanku sedikit menumpuk.” “Baiklah, Ayah akan sampaikan salam rindumu pada Baekbom. Berhati-hatilah terhadap cuaca, Ibumu berpesan untuk makan yang banyak, jaga kesehatanmu.” “Aku akan mengingatnya, Ayah.” Lantas sambungan telepon itu terputus. Baekhyun melempar ponselnya lalu kembali meringkuk sereya memeluk diri. Gigil itu kembali menjalar di sekujur tubuh, hari ini terasa cukup sulit. Tidak ada masa depan yang bisa Baekhyun impikan karena ia sendiri telah menghancurkannya.

113

Meski tidak ada rasa sesal karena sebuah balasan yang setimpal, namun Baekhyun tidak akan pernah lupa tentang hari ini. Ponsel kembali berdering, namun kali ini adalah sebuah notifikasi dari bank. Baekhyun seketika bangkit dari posisi tidur lalu melotot pada sebuah nominal yang baru saja masuk ke dalam akunnya. Setelah menghitung jumlah nol di belakang angka nominal, mata Baekhyun kian terbelalak. Lalu ada sebuah pesan masuk dari nomor asing. From: 0106140xxx Bonus. Baekhyun menutup mulutnya yang menganga lalu tanpa berpikir panjang ia memanggil nomor tersebut. “Bukankah urusan kita sudah selesai? Untuk apa ini semua? Aku bukan manusia munafik yang tidak senang mendapatkan uang, tapi ini berlebihan. Apa kau sedang menebak berapa harga selaput daraku yang kau rusak?” “Byun, secara teknis kita masih terikat kontrak. Jaga mulutmu jika tidak ingin ku jejali dengan kejantananku.” Baekhyun menggigit bibirnya secara refleks setelah mendengar kalimat kotor yang terlontar dari mulut Chanyeol. Lantas kenapa darahnya berdesir? “Sudah ku bilang itu bonus.”

114

“Aku ragu, jika satu miliar won ini untuk menebus harga diriku maka terkutuklah kau!” “Aku yakin kau berani berbicara tidak elegan seperti itu karena kita tidak sedang berhadapan.” Faktanya Baekhyun memang sangsi dengan keberaniannya. “Lagipula, harga diri? Pikiranmu sangat kuno. Aku melewatkan kontrak kerja bernilai fantastis hanya untuk menjawab telepon seorang wanita kasar yang masih mengelukan harga diri setelah mendesah keras di bawah tubuhku.” Baekhyun tertohok, ia melongo bercampur kesal karena tidak sedikit pun sanggup membantah. “Kontrak kita akan berakhir dalam empat puluh delapan jam. Selama kontrak berjalan, tidak ada alasan untuk tidak bertemu. Besok siang Krystal akan menjemputmu.” Baekhyun tahu tidak ada yang benar-benar berakhir setelah ia keluar dari mansion sang penguasa hari ini. “But, Sir... I have scheduled for live streaming.” “Nah, kau bisa siaran di kamarku. Aku akan meminta maid untuk mempersiapkan segala keperluanmu.” Pria itu memang tidak akan kehabisan akal karena dia adalah pemegang kunci brangkas raksasa di salah satu bank internasional yang terletak di Prancis. Segala hal baginya akan dipermudah. Bajingan kaya itu.

115

Namun Baekhyun tidak bisa membantah karena kontrak mereka masih berlaku. Sekeras apapun ia menolak nyatanya itu hanya akan membuatnya terkesan curang. Dan Baekhyun memgang prinsip kuat untuk tetap bersikap kooperatif. “Dan, Byun... aku akan memberimu kamera yang kau elu-elukan di salah satu siaranmu.” Baekhyun ingat karena ia sangat terobsesi dengan kamera tersebut. Tentu untuk menunjang pertunjukannya saat siaran. Harga yang fantastis membuat Baekhyun harus rela mengesampingkan keingannya itu sembari menabung jika suatu saat uangnya terkumpul untuk membeli kamera yang ia idam-idamkan. “Rulesnya sederhana, aku akan menentukan menu yang akan kau makan dalam siaran.” Itu tidak sulit. Ya. Itu tidaklah sulit. Kedua alis Baekhyun terangkat. “Hanya itu?” “Ya. Tentu.” “Aku setuju. Itu bukan berarti aku tergiur dengan penawaranmu.” Baekhyun menyela dengan cepat. “Hanya karena aku menyukai tantangan.” Nyatanya Baekhyun memang kerap menjawab tantangan dari para penontonnya. Sambungan telepon itu terputus, Baekhyun menatap layar ponsel lalu kembali menjelma menjadi manusia paling melankolis yang meratapi nasib miris.

116

~oOo~ Mengapa waktu berjalan begitu cepat? Baekhyun terkadang tidak mengerti meski seharusnya ia merasa cukup senang karena itu berarti semakin cepat waktu berjalan, semakin cepat pula kontraknya dengan Park Chanyeol akan berakhir. “Kenapa kau memutuskan untuk kembali?” Baekhyun melirik Krystal yang kini mengemudi. “Secara teknis kontrakku dengan kalian belum habis. Aku hanya tidak ingin menemui kendala di suatu hari.” Krystal mengangguk. “Masuk akal. Bagus. Kau memang harus mewanti-wanti jika berurusan dengan pria itu.” Baekhyun menatapnya cukup lama. “Sudah berapa lama kau bekerja dengannya?” “Sejak saat lulus kuliah. Itu sekitar empat tahun yang lalu. Technically we were friends in high school.” Krystal memutar kemudi. “Kau tahu, waktu selalu dapat mengubah sebuah pertemanan. Dia menjadi sedikit arogan meski masih begitu pengertian. Dia merekrutku menjadi asisten pribadi dan menggajiku dengan nominal yang lumayan.” Krystal terkekeh kecil. “Bajingan itu... aku tidak menyangka dia akan sekaya ini sekarang. Kau tahu? Kerjaannya di sekolah hanya mengencani para wanita, dia tidak belajar banyak tapi selalu menjadi juara kelas. Ya, dia menyebalkan sejak dahulu kala.” Tanpa diduga Baekhyun ikut terkekeh. Poin utama yang Baekhyun dapat adalah menjadi cerdas itu perlu. Otak yang pintar memang tidak selalu 117

dapat menempatkan seseorang dalam keberuntungan, namun Park Chanyeol adalah sebuah contoh yang patut dipertimbangkan terlepas dari seberapa tidak bagusnya watak yang dia miliki.

*** “Aku tidak mau!” Baekhyun protes keras setelah melihat menu yang akan menjawab tantangan dari Park Chanyeol. Lalu ia menatap pria itu dengan sedikit memelas. “Temanku masuk instalasi gawat darurat karena mamakan keripik pedas ini.” Seru si mungil seraya mencengkram dengan geram kemasan keripik terpedas di dunia. Sejujurnya telah banyak orang yang meninggalkan tantangan memakan keripik berbumbu cabai pemegang rekor terpedas dunia di laman komentar media sosial Baekhyun, namun fakta bahwa temannya harus dirawat intensif hanya karena memakan keripik terkutuk itu membuat Baekhyun sedikit ngeri dan enggan membahayakan kesehatannya. “Kau tidak mau? Ketika secara nyata aku adalah tuanmu yang berhak memintamu melakukan ini dan itu.” “Tapi...” Baekhyun meringis lalu kembali menatap kemasan keripik itu. “Kemasannya saja sudah memberitahu semua orang bahwa keripik ini berasal dari neraka.” Chanyeol mengangkat sebelah alis. “Jangan membuatku menjadi manusia kejam, aku bisa saja 118

mengeluarkan ancaman yang lebih mematikan dari pada keripik itu.” Baekhyun bereaksi lalu memicing. “Kau tidak akan menatapku seperti itu.” Siapa Baekhyun berani bersikap kurang ajar terhadap tuannya? Si mungil menautkan kedua tangan, menunduk. “My bad, Sir...” cicitnya setelah merasa cukup terintimidasi oleh sang dominan. Bisakah pria itu menyimpan suaranya yang rendah dan mematikan? “Aku akan mempertimbangkan untuk tidak menghukummu atas sikapmu yang tidak sopan itu, asal kau memenuhi tantangan ini.” Baekhyun enggan berpikir lebih jauh lagi, merasa percuma ketika rasa keberatannya tidak akan ditanggapi. “Meja siaranmu sudah siap.” Lalu Baekhyun melirik peralatan kamera yang jauh lebih canggih dibanding miliknya. “Baiklah, kau bisa membawa pulang kameranya sebagai bonus.” “Kenapa kau selalu mengiming-imingikus seperti itu?” Chanyeol mengangkat bahu lalu melirik jam tangan. “Aku hanya punya waktu tiga puluh menit sebelum memulai rapat di kantor.” Itu tandanya Baekhyun harus bergegas. Si mungil lantas mendengus kecil sebelum benarbenar mempersiapkan di depan kamera. Menarik napas pelan, memejamkan mata. Mengabaikan tuannya yang kini 119

duduk menyilangkan kaki di sofa utama. Dari caranya duduk saja suah memberitahu setiap manusia bahwa derajatnya tinggi melampaui langit ke tujuh. Menyebalkan. Padahal dia hanyalah pria yang lemah terhadap wanita perawan. Rutuk si mungil di dalam hati. “Kalian mungkin bertanya-tanya mengapa tempat siaranku berbeda? Hmm kebetulan aku sedang pulang ke ruamh orang tuaku, jadi aku meminjam meja kerja Kakak untuk merekam konten kali ini.” Chanyeol terkekeh pelan. “Wanita pembual.” Gumamnya seraya tak henti-hentinya merasa senang karena dapat melihat Baekhyun siaran secara langsung. “Ada banyak sekali komentar yang masuk tentang tantangan ini dan setelah menyiapkan batin yang kuat, aku memutuskan untuk membeli satu dan menjawab tantangan kalian.” Lalu Baekhyun mulai menjelaskan sedikit tentang keripik yang diklaim sebagai yang terpedas di dunia hingga pada saatnya tiba ia membuka kemasan itu dan menatap keripik berwarna hitam itu seraya menelan salivanya dengan ragu. Enggan membuang waktu lebih lama, Baekhyun akhirnya memberanikan diri mengunyah keripik itu dan menelannya hingga tandas. Aturannya ia harus bertahan dengan rasa pedas luar biasa selama lima menit tanpa minum. Satu menit berlalu dan Baekhyun mulai menunjukkan ekspresi yang sanggup membuat sudut bibir Chanyeol terangkat. 120

“Wow...” hanya itu yang keluar sari mulut Baekhyun saat rasa pedasnya kian menjalar di seluruh rongga mulut. Ia mulai bergerak gelisah karena sejujurnya sedikit payah jika berurusan dengan rasa pedas. “Lidahku terbakar.” Si mungil terengah kecil. Wajahnya yang mungil itu memerah, hidung dan bibirnya pun sama. Menit ke tiga berjalan dengan lambat. Baekhyun sudah bergerak dengan amat sangat gelisah. Napasnya kian berderu, mulutnya menganga dan matanya berair. Lalu dengan kurang ajarnya Chanyeol menurunkan zipper dan mengeluarkan kejantanannya yang telah mengeras dan mengacung hebat. Menjadikan ekspresi kepedasan Baekhyun saat ini sebagai sebuah imajinasi liar. Tangan besarnya mengocok penis itu dengan pelan, ia secara jujur mengakui kagum dengan apa yang kini ia tonton. Sejujurnya hanyalah Byun Baekhyun yang kelabakan karena rasa pedas di lima menit terakhir. Si mungil rasa di dalam mulutnya ada barisan panglima neraka. Setelah mengubarkan banner berisi tulisan misi yang sukses, si mungil lantas pamit kepada penonton lalu mematikan siaran. Ia bangkit dan berjalan ke sana dan ke mari dengan gelisah. “Minum. Aku mau minum.” Ia kemudian duduk di atas ranjang. 121

“Tidak ada minum.” Chanyeol sepenuhnya bertelanjang bulat. “Huh?” Baekhyun membeo masih dengan ekspresi sama. Rasa pedas itu benar-benar membuatnya kehilangan konsentrasi hingga tak sadar bahwa kini dirinya tengah ditelanjangi. “Akh pedas. Beri aku minum.” “Tidak ada minum.” Chanyeol sekali lagi menegaskan. Membaringkan Baekhyun hingga kedua kakinya terbuka lebar sebelum mencumbu kewanitaan Baekhyun dengan lidah. “Akhh!! Hnggh!! Pedas! Minum!! Aku—akhh!!” Baekhyun benar-benar kelabakan. Belum mereda rasa pedas di dalam mulut ketika cumbuan sensual di area kewanitaannya kian menghanyutkan. “Ouh! Minum! Y-ya! Ya jilat! Hngghh!” Chanyeol merasa sudah cukup memberi pelumas. Demi apapun ia menikmati wajah Baekhyun yang putus asa. Tidak ada yang lebih membuat seorang dominan sepertinya merasa bahagia selain menyaksikan wajah kesakitan submisifnya. Lalu Chanyeol menarik diri, berjalan memutari ranjang sebelum mengambil sepasang borgol. Diikatnya si mungil di sebuah meja kosong, kemudia Chanyeol mengeluarkan sebotol air putih dari dalam nakas yang membuat Baekhyun menggeliat serupa ikan. Chanyeol terkekeh melihat ekspresinya saat ini. Pria itu membuka tutup botol lalu menuangkan air itu di atas meja hingga meluber ke segala arah. 122

Baekhyun mengheleng keras, posisinya terikat oleh borgol membuatnya harus mati-matian menrunduk dan membungkuk di atas meja demi bisa menjilati tumpahan air sana. Lalu Chanyeol benar-benar memanfaatkan celah. Ketika si mungil sibuk membuat upaya agar dapat menjilat air lebih banyak, pria itu memposisikan diri dengan benar sebelum menyentakkan pinggul dari belakang. Lenguh keras terdengar. Baekhyun menggeleng menahann sensasi atas hentakan kejantantan di dalam kewanitaannya lalu mendesah seraya menjilati tumpahan air di atas meja. “Akh!! Akkkhh!! Pedas!! Lebih keras! Minum! Ohh!! Hnngghh!!” Chanyeol gemas bukan main. Lalu menampar bokong sintal itu hingga meninggalkan bekas telapak tangannya yang besar. Tubuh Baekhyun terombang-ambing, banyak hal yang mengganggu konsentrasi, rasa pedas itu menyiksa namun Chanyeol mengimbanginya dengan sengatan sensual di sekujur tubuh. “Just fuck me harder!! Hnnghh!! Please!” Baekhyun memelas seraya menjilati air. Mulutnya yang menganga serupa ikan kehausan membuat Chanyeol menggila. “Kau suka jika aku menyetubuhimu dengan keras seperti ini?! Huh?!” Chanyeol menyentak kuat, menaikkan tempo yang membuat tubuh Baekhyun menggeliat. “Ya. Ya! Aku suka! Beri aku lebih keras! Hnghh!!” “Memohonlah.” 123

“Ku mohon! Ku mohon setubuhi aku lebih keras— aakhh!! Hnghh!” Chanyeol memberinya hengakan terbaik. “Pedas! Minum! Aku mau minum! Tuan! Hngghh lebih keras!” Baekhyun berseru putus asa, desahannya semakin meliar. Chanyeol menggila. Sejauh ini, meyetubuhi Baekhyun dengan cara seperti itu adalah yang terbaik. Ia tidak sepenuhnya tuntas namun pria itu telah mendambakan persetubuhan di lain waktu dengan Baekhyun. Ia menginginkan wanita itu mendesah keras dan memohon seperti sekarang ini. Chanyeol perlu menyentak kejantantannya di tubuh Baekhyun yang sempit di lain waktu. Lalu sebuah obsesi besar mengendap di dalam hati. Chanyeol tidak memikirkan hal lain selain sebuah konspirasi. Ia tidak ingin kontrak itu berakhir. Empat puluh delapan jam amat sangat singkat ketika Chnayeol menginginkan selamanya. Untuk itu Chanyeol menyentak kuat di detik terakhir, ia tidak menarik diri. Tidak menumpahkan spermanya di mulut atau wajah Baekhyun, melainkan di dalam rahim wanita itu. Satu-satunya cara yang terbesit agar ia dan wanita itu bisa terikat kontrak untuk selamanya. “Arrgh!!” Chanyeol mendesah keras seraya menyemburkan cairan kental itu berulang.

124

Obsesinya untuk memiliki Baekhyun menguat, dan membuat wanita itu hamil adalah cara yang diyakininya paling akurat. Chanyeol melepas borgol yang membelenggu tangan Baekhyun. Lalu merangkul dan menggendong si mungil yang telah kehilangan sisa tenaga. Membaringkannya di atas ranjang sebelum menatapnya dengan senyuman lebar penuh arti.

~oOo~ Baekhyun benar-benar mengakhiri segalanya dengan Park Chanyeol tiga minggu yang lalu. Semuanya benar-benar sesuai aturan kontrak dan Baekhyun sempat tidak menyangka bahwa pria itu menjaga komitmen yang dibuat. “Tapi kenapa?” Meski sampai saat ini Baekhyun masih merasa heran. Pria itu jelas menggunakan otoritasnya untuk membantu membebaskan kakak Baekhun dari ancaman eksekusi mati, lalu satu miliar won juga barang-barang mahal yang diberikan pria itu kepadanya. Semua seolah tidak secara sukarela ketika mereka tidak lagi terikat oleh sesuatu, ketika tidak ada alasan kuat untuk mencurigai segala hal. Baekhyun menggeleng kecil lalu mengernyit seraya memijat ulu hati. Akhir-akhir ini asam lambungnya kerap naik padahal ia tidak mempunyai riwayat penyakit lambung, 125

lalu hobinya sebagai tukang makan di depan kamera akan membantah persepsi bahwa asam lambung itu naik karena kerap terlambat mengisi perut. Tentu tidak. Baekhyun jelas adalah si tukang makan. Meski akhir-akhir ini makanan yang masuk ke dalam perutnya kerap didorong oleh asam lambung hingga ia harus berlutut cukup lama di depan kloset dan memuntahkan kembali apa yang telah ia makan selama siaran. Seperti saat ini. Baekhyun membasuh mulut lalu menatap refleksi diri di depan cermin. Itu bukan hanya perasaannya saja namun beberapa orang kerap berkomentar bahwa wajahnya terlihat sedikit lebih tirus dan pucat. “Apa aku kehilangan berat badan?” Lantas tanpa berpikir panjang, Baekhyun menimbang berat badan. “Ini normal...” gumamnya dengan sedikit keheranan. Si mungil lantas berjalan menuju ruang tengah, sebelum sempat sampai matanya telah lebih dulu tertancap pada lembaran kalender yang ditempel di dinding, lalu perlaha memicingkan mata. “Tanggal berapa sekarang?” Si mungil lantas melompat, mulai menghitung periode, otaknya tidak sampai. Ia yakin telah menghitung dengan jelas namun lagi-lagi hasilnya tidak akurat. Lalu Baekhyun mulai waswas, ia berjalan ke sana dan ke mari seraya menggigit kukunya dengan gugup. “Tidak. Aku pasti salah.” Gumamnya sedikit panik.

126

Baekhyun memutuskan berdiri di depan cermin lalu mengamati perutnya cukup lama. “Tidak. Ini tidak mungkin.” Tidak ada pembuktian yang jelas, namun naluri Baekhyun memberitahu segala hal. Bahwa ia terlambat datang bulan, bahwa mualmual yang ia alami setiap pagi selama sepekan terahir diakibatkan oleh satu alasan kuat. Wanita itu kemudian bergegas pergi ke supermarket, ia menutup wajah dengan masker untuk menghindari rasa malu karena hendak membeli alat tes kehamilan. Setelah kembali ke rumah, ia sempat ragu seraya menatap alat itu dengan nanar. Namun bukankah ia perlu sebuah kejelasan? Dan pada akhirnya si mungil diharuskan menunggu selama satu menit untuk tahu hasilnya. Bahunya bergetar hebat, kedua matanya melotot dan memerah basah. Baekhyun menggeleng kecil karena tidak percaya pada dua garis merah yang terpampang nyata di depan mata.

~oOo~ “Apa masih belum ada informasi?” Tentu saja Chanyeol bertanya tentang Byun Baekhyun kepada Krystal setelah tiga minggu berpisah dengan Baekhyun. “Belum, Sajangnim.” Krystal menjawab dengan nada tegas. “Begini saja, bagaimana jika kau menyerah? 127

Dia mungkin sudah datang bulan, seyakin apa kau bahwa spermamu itu manjur?” “Soojung-a... aku tidak akan repot-repot meminta para wanita itu untuk meminum pil penghambat kesuburan jika aku tidak yakin spermaku tajam.” “Menjijikan sekali!” Kesal Krystal. “Kenapa aku harus bekerja dengan pria mesum sepertimu?” “Bagian mana yang kau sebut mesum, jika aku menyukai seks itu karena aku pria normal, bugar dan berstamina.” Pria itu selalu punya jawaban yang membuat setiap orang bertambah kesal. “Pokoknya tidak ada hal yang mencurigakan sejauh ini. Baekhyun terlihat baik-baik saja, dia bahkan terlihat bahagia. Tentu saja mengantongi satu miliar won.” “Kau tidak tahu dia mengutukku karena uang itu.” “Wanita bodoh. Aku sudah pasti akan meminta lima puluh persen dari harta kekayaanmu jika aku menjadi dia.” “Kau memang terlahir sebagai wanita serakah, Jung Soojung-ssi.” Bahu Chanyeol terangkat acuh. “Baiklah, hentikan mereka. Aku yang akan mengawasinya sendiri.” “Kau?” “Ya. Jika memang dia tidak hamil dalam percobaan pertama maka aku hanya harus memperkosanya setelah ini.” Sumpah serapah tertahan di ujung lidah Krystal, namun ia masih memikirkan masa depan, enggan dipecat dengan tidak hormat. 128

~oOo~ Baekhyun kehilangan jam tidur sejak kemarin. Memangnya siapa yang bisa terlelap saat tahu tengah mengandung janin dari pria yang sejatinya bukan siapa-siapa di hidup Baekhyun. Wanita itu mengutuk diri. Mengapa Baekhyun sangat bodoh? Ia menyesalinya saat ini. Bagaimana dengan nasibnya di masa depan? Lalu wanita itu memeluk perutnya sendiri. Tentang Park Chanyeol, Baekhyun sudah lama berburuk sangka, ia tidak yakin pria itu akan bersikap jantan dan mengakui kesalahan. Skenario terburuknya, pria itu tidak akan sudi mengakui janin yang Baekhyun kandung. Wanita itu mengusap wajahnya dengan kasar, sejak kemarin ia tidak keluar dari rumah. Menutup diri dari dunia dan menyembunyikan kehamilannya dari semua orang. Apa yang harus dia lakukan ketika meminta pertanggung jawaban adalah hal terakhir yang ia pikirkan. Park Chanyeol tidak akan pernah mau menerimanya. Pria itu adalah pria dengan perangai terburuk yang pernah Baekhyun temui. Baekhyun hanya akan jatuh ke jurang terdalam jika ia mengatakan pada pria itu bahwa ia mengandung anaknya.

129

Park Chanyeol bajingan kaya itu akan menolaknya mentah-mentah. “Ayahmu tidak akan menginginkanmu sejauh mana pun aku mempertahankanmu.” Baekhyun meremasa perut. “Aku pun tidak ingin jika kau lahir menjadi anak yang malang, tanpa seorang ayah.” Baekhyun meratap kecil lalu memikirkan keputusan terbesar dalam hidupnya. “Nak... maafkan Ibu. Tapi... ini benar-benar sulit.” Baekhyun dikenal oleh banyak orang, profesinya sebagai seorang food blogger membuatnya tak jarang mendapatkan sapaan dari orang-orang di jalanan. Baekhyun enggan memikirkan anggapan mereka tentang anak yang nantinya akan lahir tanpa seorang ayah. Itu adalah hal yang mengerikan. “Bisakah kau memahami keputusan yang akan Ibu ambil?” Lalu Baekhyun meneliti nomor kontak seorang dokter aborsi. “Ya. Kurasa usianya baru sekitar dua minggu.” “Itu akan sangat mudah. Anda tidak akan merasakan sakit, datanglah ke alamat kami.” Baekhyun mengangguk kecil, memantapkan hati dan bergegas sebelum ia berubah pikiran. Wanita itu berjalan menuju halte terdekat tanpa tahu tengah ada yang mengawasinya dari kejauhan.

130

~oOo~ Kedua alis Chanyeol bertaut, karena sosok mungil itu terlihat lebih kurus sejak terakhir kali mereka bertemu. Nyaris satu bulan. Lalu pria itu memutar kemudi dan mengikuti bus yang Baekhyun tumpangi. “Mau ke mana kau tukang makan?” Gumam Chanyeol merasa ada yang salah dengan wajah pucat Baekhyun. Apa dia sakit? Krytsal memang memberi informasi bahwa Baekhyun tidak keluar rumah sejak kemarin. Lalu Chanyeol kembali fokus mengikuti bus, memperhatikan satu persatu penumpang yang turun di setiap halte. Lima belas menit berlalu, pada akhirnya Chanyeol menyaksikan sendiri si mungil itu turun dari bus. Dahi Chanyeol mengernyit karena Baekhyun terlihat mengunjungi sebuah klinik. “Jadi dia benar sakit?” Dan wajahnya yang tirus terasa masuk akal. Chanyeol keluar dari mobil lalu diam-diam mengekori. Ia berpapasan dengan seorang pria dan wanita. Fokusnya hanya tertuju pada tangis wanita itu setelah keluar dari klinik yang sama. “Bayiku... kau jahat! Aku membencimu!”

131

“Ini semua untuk masa depan kita! Aku belum siap menjadi ayah. Tidak ada pilihan lain selain menggugurkan kandunganmu.” Kedua alis Chanyeol kian menyatu, perlahan perasannya mulai terusik. Klinik macam apa yang kini berdiri kokoh di hadapannya? Lalu di mana Baekhyun? Chanyeol merutuk dan kehilangan jejak. Ia bergegas masuk ke dalam klinik lalu menemui seorang resepsionis. “Ada yang bisa saya bantu?” “Apa ada seseoang yang mendaftar dengan nama Byun Baekhyun?” “Oh, dia baru saja dipanggil ke ruangan. Apa Anda kekasihnya? Memang sebaiknya ditemani, Karena sebagian besar pasien kami selalu ditemani oleh pihak pria sebab tidak memutuskan untuk melakukan aborsi. Silahkan di ruang nomor tiga.” “Aborsi?” Chanyeol membeo cukup lama, ia mematung sementara jantungnya nyaris melompat dari tempat. Tanpa sadar tangannya terkepal, kaki panjang itu melangkah cepat sebelum menendang pintu nomor tiga dengan geram. Di sana ia lihat Baekhyun sedang duduk di depan dokter, wanita itu menunduk dan menangis. Baekhyun menoleh pada sumber kegaduhan lalu melotot atas kehadiran Chanyeol di sana. “Kau!!!” Geram Chanyeol dengan kilatan amarah. “P-park Chanyeol...” 132

Lalu Chanyeol menatap dokter itu dengan bengis sebelum menarik tangan Baekhyun. “Jika kau berani menyentuh kandungannya, maka akan ku pastikan klinik biadab ini gulung tikar!” Ancaman Chanyeol tidak main-main, ia lantas menarik Baekhyun keluar, membuat kagaduhan, mengabaikan si mungil yang kini meronta dan melayangakn protes. “Diam!!!” Bentak Chanyeol lalu meninju dinding di samping Baekhyun. Si mungil melolot terkejut, bahunya turun naik karena gejolak emosi. Kemudian Baekhyun tidak lagi melemparkan protes saat tangannya ditarik dan masuk ke dalam mobil setelah ditatap dengan garang. Chanyeol mengusap wajah dengan kasar lalu menatap wanita yang duduk di sampingnya. “Apa kau... apa... apa kau sudah kehilangan akal sehatmu, huh?!” Bentaknya tanpa kompromi. Baekhyun kelu, matanya memerah basah. “Bbagaimana bisa aku mempertahankannya? Aku... kau tahu kau akan menolaknya mentah-mentah. Aku... tidak punya piliha lain.” “Siapa kau berani memutuskan bahwa janin itu berhak hidup atau tidak?!” Lalu Chanyeol memukul kemudi berulang kalo ketika tangannya sudah berdarah karenan meninju dinding beberapa menit yang lalu. “Kau tidak mengerti! Aku tahu pria sepertimu akan bertindak curang dan melupakan segalanya. Pikirmu akan seperti apa masa depanku dan janin ini?” 133

“Kau hanya harus mengatakannya padaku!” “Setelah itu? Aku yakin pilihan terakhir adalah memintaku menggugurkan janin ini juga.” “Setidaknya beritahu aku dulu!!! Beritahu aku bahwa kau mengandung anakku!!! Lalu aku akan memikirkan untuk bertanggung jawab! Menikahimu dengan layak! Berhenti menilaiku secara negatif hanya karena aku tidak sesuci santa, Byun Baekhyun!” Si mungil mengerjap kecil, tidak yakin dengan apa yang ia dengar. “A-apa maksudmu?” “Menikah. Pikirmu aku akan lari dan melepas tanggung jawab? Aku tidak sebajingan itu.” “Pembual!” Chanyeol mendengus keras. “Bukti apa yang kau butuhkan? Aku... aku menggilaimu!” Baekhyun menggeleng. “Aku senang melihatmu siaran. Aku... aku benarbenar jatuh. Awalnya hanya menganggap bahwa ini semua adalah obsesi semata, namun tiga minggu setelah kita berpisah, aku kehilangan jam tidur. Aku memikirkanmu. Aku... demi apapun aku merindukanmu.” Lalu Chanyeol menangkup wajah Baekhyun, menatap iris basah itu dengan lekat. “Kau bersumpah?” “Demi janin yang kau kandung. Demi calon bayi kita. Aku bahkan sudah menutup akses dan meminta Krystal untuk berhenti mencarikan seorang submisif. Aku tidak ingin menjadi cabul selamanya. Aku akan belajar fokus terhadap satu wanita. Dan itu kau.”

134

Pada akhirnya tangis Baekhyun pecah setelah Chanyeol memberinya sebuah pelukan, hangat dan melindungi. Pertemuan mereka terbilang singkat namun janin yang ada di dalam perut Baekhyun seperti sebuah koneksi yang mendekatkan. “Jangan pernah berpikir untuk mengugurkan anakku. Aku tidak akan pernah memaafkanmu untuk itu.” “Kenapa kau menghamiliku?!” Kesal Baekhyun seraya memukul dada Chanyeol berulangkali. “Tidak tahukah kau bahwa aku sangat takut dan terkejut? Kenapa mengeluarkannya di dalam pada saat itu?” Chanyeol memejamkan mata, ia hanya akan menyimpan rahasia itu hingga akhir khayat. Karena yang terpenting saat ini ia dan Baekhyun telah terikat. Betapa membahagiakannya membayangkan ia akan hidup bersama dengan wanita itu.

~oOo~ “Hnggh!! Mmh!!! Ya! Ya seperti itu!” Baekhyun menggeliat di atas ranjang, ada Chanyeol yang memacu tempo di antara kedua kakinya yang terbuka lebar. “Kau sangat sempit, dan... nikmat!” Lalu menggeleng keras karena tangannya terbelenggu oleh sebuah tali. Demi apapun Baekhyun ingin menyentuh pria itu. Kenapa ia seolah tidak dizinkan? “Hahh!! Nggh!! Aku akan... aku akan keluar!” Cicit Baekhyun seraya memejamkan mata, menggelengkan kepala karena beragam emosi yang bergejolak, lalu ia 135

terengah hebat setelah merasakan semburan hangat di dalam rahimnya. Tubuhnya menggelepar lalu Baekhyun tidur membelakangi Chanyeol setelah pria itu melepaskan ikatan. Chanyeol menarik selimut lalu mencumbu punggung wanitanya. Baekhyun pernah mendambakan sesuatu yang indah, membayangkan segala hal akan membaik setelah ia dan Chanyeol hidup bersama meski mereka masih belum terikat oleh sebuah pernikahan. Namun kini Baekhyun terusik. Chanyeol tetaplah Chanyeol. Ia tidak banyak berubah ketika menjelma menjadi pria yang terserang libido tinggi. “Aku lelah.” Tukas Baekhyun setelah Chanyeol membujuknya untuk ronde ke tiga.” “Baiklah... istirahatlah.” Kecupa di puncak kepala itu sedikit menghibur, Baekhyun bisa dengan mudah mengubah suasasan hati.

*** Di hari-hari berikutnya. Baekhyun bisa saja memberikan toleransi meski faktanya ia bukan wanita penyabar dan kekesalan itu pada akhirnya tidak mencuat ke dalam sebuah kalimat dengan nada marah. Ia harus kembali berakhir orgasme dengan kedua mata tertutup, tak jarang disetubuhi dalam keadaan berdiri, lalu dicambuk dengan keras hingga merasa lelah. 136

Telapak tangan Chanyeol masih membekas di kedua bokongnya yang sintal, pria itu gemar sekali menamparnya dengan keras. Perstubuhan itu sejak awal didominasi oleh Chanyeol, dia memegang kendali terhadap submisif, dan itu adalah Baekhyun. Pria itu akan memicingkan mata jika dibantah lalu akan akan menampar bokong Baekhyun dengan keras jika keluar sebuah rutukan dari mulut kecil si wanita. Mengapa Baekhyun merasa lelah? Hubungan apa yang ia dan Chanyeol jalani? Mengapa selalu ada hukuman untuk setiap hal yang Baekhyun lalukan dan tidak sesuai dengan keinginan Chanyeol? Sialnya Baekhyun bertambah kurus. Ia telah mengambil jeda untuk tidak melakukan siaran untuk waktu yang lama, mungkin sampai bayinya lahir ke dunia. Terkadang Baekhyun menyesal pernah nyaris membiarkan dokter aborsi menyentuh kandungannya. Baekhyun menyesali itu hingga sekarang ketika jiwa keibuan itu muncul secara alami. “Sayang...” Panggilan itu tersemat setelah kandungan Baekhyun berusia dua bulan. Perutnya belum membuncit namun Chanyeol kerap mengajaknya berbincang kecil. “Hum?” Lalu Chanyeol memeluknya dari belakang. “Apa kau mau mencoba gaya baru?” Alis Baekhyun bertaut. “Gaya baru?”

137

“Ya. Tapi ini sedikit ekstrim. Kau tidak keberatan bukan?” Baekhyun berbalik lalu menatap prianya. “Apa itu berbahaya? Maksduku... untun bayi kita.” Chanyeol membelai perut Baekhyun lalu menggeleng. “Aku akan pelan-pelan.”

*** Baekhyun meringis di menit kedua. Satu kakinya diangkat dan diikat menggantung sementara satu kakinya menapak pada lantai. Tentu saja ia bertelanjang bulat, mulut dan tangannya diisolasi. Dahinya mengernyit karena rasa ngilu di selangkangan, peluh kecil membasahi pelipis, sejak awal Baekhyun tidak merasa baik-baik saja, ia selalu mudah merasa lemas jika berdiri terlalu lama. “Mmhh!!l Dan Chanyeol baru saja melesakkan kejantanannya dengan posisi berdiri. Desahan Baekhyun terbungkam karena mulutnya dibekap. Wanita itu hanya sanggup menggeleng keras saat disetubuhi dengan gaya serupa penari balet. Satu kakinya benar-benar diangkat tinggi, namun tidak Baekhyun pungkiri bahwa Chanyeol memberinya kenikmatan luar biasa hingga air matanya meniti. Pria tidak berani menaikkan tempo, sebagai pengalihan ia hanya meremas dan sesekali menjilat payudara Baekhyun hingga tubuh wanita itu mengggelepar. 138

“Mmhh!! Mhh!!” Tubuh Baekhyun terombang-ambung sebelum ia merasakan tubuh prianya menegang hebat. Lalu Chanyeol mendesah panjang dan menyemprotka cairan kental itu hingga mengalir di paha dan betis Baekhyun. Si mungil terengah setelah mulutnya terbebas dari isolasi, lalu ia tumbang di pelukan Chanyeol setelah semua ikatannya dilepaskan. Sejujurnya Baekhyun mencoba untuk bertahan namun matanya memburam dalam hitungan detik, dunianya berputar sebelum kemudian ia jatuh pingsan, membuat Chanyeol panik bukan main.

*** “Istri Anda mengalami kelelahan dan stress ringan.” Kornea Chanyeol melebar lalu ia melirik Baekhyun yang kini masih tak sadarkan diri. “Jika dibiarkan terlalu lama dia bisa mengalami pendarahan yang membahayakan janin yang dikandung, untuk itu kami menyarankan istri Anda dirawat total.” Chanyeol mengangguk tanpa bisa berkutik. Setelah dokter berlalu, pria itu meraih tangan Baekhyun dan menggenggamnya erat. “Apa aku terlalu memforsirmu?” Chanyeol lalu menunduk dalam. Ia tidak bisa menahannya. Pria itu seolah lahir dengan bekal libido tinggi yang tak mungkin dapat dibendung bahkan dihilangkan. 139

Chanyeol mempunyai nafsu seksual yang kuat, ia bahkan sanggup membuat submisifnya kelabakan, itu alasan mengapa tidak ada satu pun wanita yang bertahan, mereka memilih mengembalikan semua aset yang Chanyeol beri dan menjauh dari pria itu. Dia berbahaya. Namun sejauh ini Baekhyun bertahan. Wanita itu kuat ketika wanita lain akan menyerah di kali pertama. Dan Chanyeol sadar ia telah tidak tahu diri dan egois. Baekhyun jelas tengah mengandung dan Chanyeol terus memforsisnya untuk melayani nafsu binatangnya yang berbahaya. Pria itu lantas terbelalak kecil saat mendapati beberapa area tubuh Baekhyun yang lecet. Chanyeol ingat menyukainya ketika Baekhyun kesakitan di atas ranjang. Namun kini Chanyeol meratap. Bagaimana bisa ia kesetanan? “Aku tidak sengaja. Maafkan aku.” Chanyeol tulus. “Aku sulit mengontrol diri karena hanya kau yang dapat mengimbangiku sejauh ini.” Kalimat Chanyeol disahuti oleh hening. “Tentang perlakuan kasarku, itu murni karena aku menderita kelainan seksual. Aku jelas cacat. Maafkan aku. Aku ingin sembuh. Aku tidak mau kau dan anak kita menjadi korban. Jadi bangunlah, aku kesulitan saat ini. Aku panik. Aku... takut kehilanganmu.”

140

Rasa itu nyata adanya. Entah sejak kapan Chanyeol menanamkan sebuah ketakutan di dalam diri. Takut jika ia kehilangan wanita itu. “Aku ingin sembuh.” “Kau bisa sembuh.” Chanyeol mengangkat wajah lalu mendengus lega mendapati Baekhyun terjaga. “Oh. Ya, Tuhan. Syukurlah kau sudah bangun.” Lalu pria itu menangkup tangan Baekhyun dan menciumnya berulang kali. “Aku dan bayi kita akan baik-baik saja...” Tidak. Chanyeol tidak yakin setelah mendengar suara parau itu. “Maafkan aku. Aku berjanji akan menemui seorang dokter profesional.” Maksud Chanyeol ia akan segera berkonsultasi atas masalahnya. Ia tidak bisa terus menerus menggugu kelainan seksualnya yang menyimpang. Itu berbahaya. Bagi Baekhyun, bayi mereka dan juga untuk Chanyeol sendiri. Baekhyun tersenyum dan mengangguk. Lalu matanya terpejam saat kecupan lembut hinggap di dahi. “Aku memikirkan sesuatu setelah dokter menyebutmu sebagai istriku.” Lalu kenapa Chanyeol merona? “Hum? Apa itu?” Baekhyun membelai wajahnya. “Aku akan meminta Krystal untuk mengurus pernikahan kita secepatnya.” Baekhyun menutup mulut lalu matanya berbinar. Mengapa rasanya terdengar begitu menyenangkan?

141

Ada apa dengan detak jantung Baekhyun yang menggila? Mengapa Baekhyun merasa bahagia oleh niat Chanyeol yang akan menikahinya. “Sejujurnya aku telah memikirkan ini beberapa waktu lalu. Karena ku pikir orang tua kita berhak tahu tentang kehamilanmu. Jika dibiarkan semakin lama aku merasa ngeri akan menimbulkan masalah. Jadi... kita harus menikah.” “Kau bersungguh-sungguh?” “Tentu, Baekhyun. Sangat mudah untuk jatuh cinta padamu. Kau yang membuatnya seperti itu.” Baekhyun menutup wajahnya yang merona, ada sesuatu yang meletup di dalam dada. “Lantas, maukah kau membuka hatimu dan belajar untuk jatuh cinta padaku juga? Aku tidak yakin akan baikbaik saja jika cintaku bertepuk sebelah tangan.” Dan Baekhyun terkekeh kecil. “Kau hanya tidak tahu bahwa aku jatuh cinta padamu setelah sadar bahwa aku mengandung anakmu. Perasaan itu meletup tiba-tiba. Aku tidak bisa mengontrolnya.” Chanyeol yang berbinar terasa begitu jenaka. Pria itu lantas menunduk dan mencium perut Baekhyun dengan sayang. “Terima kasih makhluk kecil. Kau sudah membawa cinta. Ayah akan menantimu di sini, jadilah anak baik-baik selama berada di perut Ibumu. Kau paham? Hum? Anak pintar. Anak Ayah.” Astaga Baekhyun terhibur dan terkekeh kecil. Ke mana ia selama ini?

142

Mengapa Baekhyun baru sadar bahwa bahagia sedederhana itu?

End of Subscribable

143

144

Rosegold Baekhyun yakin saat ini tidak ada yang mampu menandingi suasana ricuh di sebuah backstage peragaan busana yang dipimpin oleh lini pakaian dalam terbesar di Amerika, ruangan super luas yang dihuni oleh tiga puluh dua makeup artist, dua puluh tujuh hairstylist, sebelas manicurist dan lima puluh model yang diantaranya tengah melakukan fitting, berdiskusi dengan tim stylist, dan sebagian besar sisanya tampak nyaris tidak bisa menahan rasa antusias ketika tahu live performance tahun ini akan diisi oleh solois berkebangsaan Korea Selatan yang sukses mengepakkan karir di kancah internasional. Dengus jengah lolos untuk ke sekian kali, Baekhyun yang tidak sudi bergabung dengan rekan-rekan sesama model yang sedari tadi sibuk bergosip juga mengulang pujian yang sama pada si pria penyabet gelar solois terbaik di acara penghargaan musik bergengsi hollywood tahun ini. "Hei, B. Kalian sama-sama dari Korea, apa kau pernah melihatnya secara langsung? Bagaimana? Apa Park Chanyeol tampan seperti di tv?" Baekhyun yang duduk di depan meja rias melirik sinis rekan-rekannya. "He's the ugliest!" Celetuknya di atas fakta bahwa ia tidak pernah sekali pun bertemu dengan pria itu meskipun mereka sama-sama berasal dari Korea.

145

"Huh?" Para model seksi dari berbagai negara itu membeo sempurna. Baekhyun bangkit dari kursi setelah memastikan bahwa riasan wajah yang diterima cukup untuk menunjang penampilan sempurnanya di atas catwalk. "Dia pria terjelek di antara pria Korea lainnya. Kalian hanya membuang-buang waktu. Apa tenggorokanmu tidak sakit?" Lantas Baekhyun berpaling pada salah satu rekannya yang sedari tadi berseru heboh bahkan menjerit kala berceloteh tentang kekagumannya terhadap pria yang kini tengah mereka bicarakan. Setelahnya Baekhyun melenggang. Acuh. Menebar aura angkuh, ciri khas yang sulit dihilangkan. "Okay girls! The show is about to start!" Intruksi salah satu staf terdengar lantang, bertepatan dengan alunan musik yang menggema, pertanda bahwa peragaan busana akan segera di mulai dan tentu saja suara berat yang terdengar hingga backstage adalah apa yang membuat beberapa model menggila. "Oh, the fuck is wrong with them?" Gumam Baekhyun dengan sinis. Merasa tidak mempunyai waktu untuk mempedulikan hal lain selain karirnya sebagai supermodel internasional yang diperhitungkan. Lalu satu persatu model berbikini itu melenggang dan mengurai langkah elegan di atas catwalk. Beberapa di antaranya menebar aura seduktif, memburu pujian dan tepuk tangan dari setiap penonton bahkan mencoba mencuri perhatian satu-satunya pria

146

yang kini menggiring langkah mereka dengan sebuah lagu andalan. Suasana riuh dan setiap orang menikmati waktu mereka, para model seksi dan juga lagu yang dibawakan oleh solois terkenal. Dan hanya tersisa Baekhyun yang kini tengah menunggu giliran untuk tampil. "Standby last model, Baekhyun. Watch your step." Setelah menarik napas panjang Baekhyun pun bergegas, berjalan menuju stage lalu memulai aksi kala riuh tepuk tangan menyambut langkah apiknya di atas catwalk. Musik yang masih bergema, juga ekor mata yang melirik sekilas pada sosok pria yang menanti menit-menit berakhirnya lagu yang dibawakan. Tanpa Baekhyun duga pria itu mengulurkan tangan, bermaksud menuntun penampilan model terakhir itu menuju pangkal stage. Okay, let's do it then. Baekhyun membatin sebelum menyambut uluran tangan sang solois. Lalu berjalan berdampingan sementara pria itu kembali bernyanyi dengan profesional. Dia pria terjelek di antara pria Korea lainnya Kalimat itu seketika terngiang di dalam benak. Senyum yang diulas, ciuman jarak jauh yang ia tebar adalah sebentuk pertahanan diri, wanita itu tidak mungkin bereaksi konyol kala ucapannya tentang solois bernama Park Chanyeol itu terbantahkan oleh realita yang ada. Let go of my hand, you dummy! 147

Mengapa pria itu berlama-lama menggenggam tangannya ketika bahkan mereka telah sampai di pangkal stage? Walaupun mulai merasa risih, Baekhyun mempertahankan senyuman terbaik, menerima banyak pujian juga apresiasi tinggi dari para penonton sebelum melirik pria yang masih bernyanyi di sampingnya. Lalu dengan halus Baekhyun melepas genggaman tangan mereka sebelum berbalik dan menutup penampilan dengan langkah elegan. Meski yakin penampilannya malam ini adalah legenda lain yang berhasil dicetak, namun suasana hati Baekhyun sedikit terusik dan tidak nyaman. -oOoAfter party yang berlangsung dua hari setelah acara fashion show tahunan itu digelar dengan meriah. Para model tampil mengenakan busana terbaik demi mencetak figur sempurna yang dipotret oleh para jurnalis. Sementara yang lain bersenang-senang, merayakan kesuksekan peragaan busana yang dikenal glamour dan prestisius, Baekhyun yang menggenakan couture dress itu justru tidak sedikit pun terpengaruh oleh suasana riuh, bukan karena anti sosial, pikirannya terlalu berkecamuk hingga sulit berbaur dengan rekan-rekannya. "Kris di sini." Baekhyun melirik Luhan sang manajer dengan kedua alis terangkat. "Bukankah dia sedang melakukan perjalanan bisnis?" Luhan mengangkat bahu. 148

Lantas Baekhyun melirik ke lain arah tepat di mana pria dengan stelan formal berjalan ke arahnya. Wanita itu memutar matanya jengah lalu bangkit dan menghindar. "Kau mau kemana?" Luhan berseru di tengah keramaian pesta lalu melirik Kris yang tampak mengejar Baekhyun yang semakin menjauh dari keramaian pesta. "Babe! Wait!" "Untuk apa kau ke sini, Kris?!" Baekhyun terdengar murka, ia bahkan tidak berbalik dan mantap menghindari Kris. "Tentu saja karena aku merindukanmu." Kris menarik lengan Baekhyun hingga wanita itu berbalik. Baekhyun mendecih lalu menatap Kris dengan tajam. "Berhenti membual, siapa yang tahu kau ke sini untuk menemui Victoria." Yang Baekhyun maksud adalah rivalnya sesama model, juga wanita yang pernah tertangkap basah bersama Kris ketika bahkan pria yang memegang jabatan CEO di salah satu agensi model terkenal di Amerika itu masih menyandang status sebagai kekasih Baekhyun. "Tidak. Kau salah paham tentang hal itu, aku dan Jessi--" "I don't fucking care! You slept with her, you son of a bitch!" Tanpa diduga hati Baekhyun kembali merasa teriris. Sejauh yang diingat ia adalah wanita tangguh sebelum bertemu dan merasa begitu jatuh cinta terhadap Kris. Kini air matanya meniti tanpa bisa ditahan.

149

"Just listen to me, babe, babe!!!" Kris berseru lalu kembali mengejar Baekhyun menuju area parkir. Baekhyun lantas mengetuk kaca mobil, meminta asistennya membukakan pintu. Kris berhasil mengejar dan kembali menahan lengannya bertepatan dengan pintu mobil yang terbuka. Baekhyun mencoba untuk menepis tangan Kris telah lebih dulu mematung dan mengutuk diri karena sadar bahwa ia telah mengetuk mini van yang salah. Bukan hanya itu, apa yang membuat kornea matanya melebar adalah sosok pria di dalam mini van tersebut. Park Chanyeol? Pria yang dimaksud melempar wajah keheranan setelah menyaksikan pertengkaran kecil antara Baekhyun dan Kris di depan mini vannya. Ia menaikkan sebelah alis lalu mulai menebak situasi, dilihatnya Baekhyun si model seksi itu tidak begitu nyaman tangannya ditahan bahkan ditarik oleh Kris. Chanyeol berdeham beberapa saat sebelum memutuskan satu hal. "Oh akhirnya anda datang juga, Baekhyun-ssi. Bagaimana? Apa anda sudah siap mendiskusikan project kerja yang kita rencanakan?" Baekhyun sedikit memiringkan kepala lalu melirik Kris dengan hati-hati. "O-oh, ya... ma-maaf saya terlambat." "Kalau begitu silahkan masuk." Baekhyun lantas menepis tangan Kris sebelum terburu-buru masuk ke dalam mini van tersebut, meninggalkan Kris yang kebingungan.

150

Dengus lega lolos dari mulut Baekhyun kala mini van yang ia tumpangi melesat jauh dari area gedung party. Punggungnya bersandar pada jok, matanya terpejam kalut sementara napasnya masih berderu. "Kau baik-baik saja?" Baekhyun berjengit lalu tersadar dan melirik pria di sampingnya. Chanyeol mengernyit lalu mengibaskan tangan di depan wajah Baekhyun karena wanita itu terlihat membeo cukup lama? "Noona? Are you okay?" Noona? Baekhyun membatin sebelum kemudian mendengus kecil. "Yeah. I'm okay." Baekhyun menatap jauh ke depan. “Mau minum?” “Tidak. Terima kasih.” Chanyeol berdeham lalu mengangguk. “Ngomong-ngomong—” “Aku sedang tidak ingin berbicara saat ini.” —aku penggemarmu, Noona. Chanyeol melanjutkan ucapannya di dalam hati setelah Baekhyun menyela dengan ketus. “Turunkan aku di depan.” Chanyeop mengernyit. “Apa ini sudah dekat dengan tempat tinggalmu?” Baekhyun mendengus kecil. Sejujurnya lokasi apartemennya masih sangat jauh. Namun Baekhyun tidak nyaman, ia jelas tengah bersama orang asing meskipun mereka berkewarganegaraan yang sama. Bahkan samasama berprofesi di dunia hiburan. 151

Nyatanya itu kali pertama mereka bertemu hanya saling melihat di televisi selama ini. “Ya. Ya. Turunkan aku di depan.” Lalu Chanyeol meminta manajernya untuk berhenti. “Terima kasih.” Lalu Baekhyun keluar dari minivan itu dan menghentikan sebuah taksi. Chanyeol tidak sempat mengejarnya, pria itu hanya menatap taksi yang Baekhyun tumpangi lalu melirik tas kecil milik wanita itu, yang ternyata tertinggal di dalam mini van. Chanyeol kembali masuk lalu menyandarkan punggung dan tersenyum lebar. Ekspresi sumringahnya tak luput dari pegawasan sang manajer. “Dia benar-benar sangat cantik.” “Dan mengagumkan.” Chanyeol menimpali, merasa tidak percaya karena semesta mempertemukannya dengan sang idola. Chanyeol benar-benar penggemar model bertubuh seksi tersebut, untuk itu ia merasa sangat beruntung meski pertemuan mereka diwarnai oleh sedikit atomsfer tegang di awalnya. Siapa pria itu? Yang Chanyeol maksud adalah Kris; pria yang terlibat cekcok dengan Baekhyun. Chanyeol ingat pria itu memanggil Baekhyun dengan panggilan sayang yang membuat ia yakin bahwa mereka memiliki hubungan istimewa. “Hyung, jam berapa jadwal penerbangankita besok?”

152

“Pagi. Sekitar jam enam. Kita harus kembali secepatnya, karena jadwalmu yang lain tidak bisa ditunda.” “Tapi aku harus mengembalikan ini terlebih dahulu. Apa kau bisa menolongku untuk mencari tahu di mana alamat Byun Baekhyun?” “Itu tidak mudah, tapi akan ku usahakan.”

~oOo~ Baekhyun tidak tidur semalaman suntuk. Pikirannya berkecamuk. Patah hati memang sanggup merusak pola hidup, dan Baekhyun adalah korban. Ia jatuh cinta terlalu dalam hingga rasanya masih sanggup bertahan meski berkali-kali dikecewakan. Baekhyun mencintai Kris. Amat sangat mencintai pria itu, mereka menjalin cinta cukup lama dengan siklus yang selalu sama. Suatu waktu hubungan mereka akan kandas namun cinta membawa Baekhyun ke pelukan prianya. Selain wajah cantik dan tubuh seksi yang bisa dibanggakan, nyatanya Baekhyun kerap dikatai bodoh. Dia hanya cantik dan terkenal, namun tidak bisa menentukan nasib cintanya sendiri. Luhan sang manajer pun sudah sangat jengah melihatnya luluh oleh pria yang sama ketika bahka telah banyak kesedihan yang tumpah. Kris berkali-kali tertangkap basah dengan wanita lain. Baekhyun jelas marah dan mengeluarkan sumpah

153

serapah, namun ia tidak memiliki daya untuk menyerah. Cintanya sebesar itu. Kali ini ia kembali kecewa. Rasanya begitu sulit dan tak terbendung hingga ia memilih menghilangkan stress dengan menghisap beberapa batang sigaret dan menenggak minuman beralkohol dengan porsi yang tidak terbatas. Karena hal itu, saat terbangun Baekhyun merasakan pening hebat. Kepalanya berputar dan ia kesulitan berjalan, langkahnya sempoyongan dan mengutuk siapapun yang saat ini bertamu. Baekhyun tidak memeriksa layar interkom dan memilih membuka pintu dan melihat siapa yang bertamu. Wanita yang kini mengenakan gaun tidur tipis tanpa bra itu mengucek sebelah mata, meremas kepalanya yag berat lalu menatap pria berwajah cerah, beraroma shower gel dan shampoo, tinggi dan tersenyum memamerkan lesung pipi. Jika Baekhyun tidak salah ingat, pria itu adalah orang yang semalam membantunya. Mau apa dia? “Ya? Ada perlu apa?” Baekhyun bertanya tanpa melihat lawan bicara dan hanya fokus pada rasa sakit di balik batok kepala. “Ini...” Chanyeol membeo melihat penampilan Baekhyun, lalu sadar bahwa wanita itu adalah super model dunia yang pantas memakai apapun. Baekhyun meneliti dompet kecil di tangan Chanyeol. “Oh!” Lalu ia meringis, menyadari bahwa

154

dompetnya mungkin ketinggalan semalam. “Terima kasih. Tapi... dari mana kau tahu apartemenku?” “Manajerku—hey! Kau baik?” Seru Chanyeol secara tiba-tiba karena tubuh Baekhyun limbung. Yang ia tidak tahu, wanita itu tengah merasakan denyut nyeri di kepala. Apa yang salah dengan Baekhyun? “Aku baik-baik saj—” Chanyeol menahan tubuh ramping itu secara refleks lalu menepuk pipi Baekhyun yang sesaat lalu pingsan. Pria itu sedikit panik dan jelas terkejut sebelum kemudian memutuskan untuk menggendong Baekhyun dan masuk ke dalam apartemennya. “Noona?” Setelah membaringkan Baekhyun di sofa, Chanyeol kembali menepuk pipi Baekhyun meksipun hasilnya nihil. Pria itu memijit dahi seraya berkacak pinggang. Apa yang harus ia lakukan terjawab setelah mendapati suhu tubuh Baekhyun meninggi. Pertama, pria itu mencari selembar kain sebelum menemukan selimut tipis di atas sofa dan menutupi setengah tubuh Baekhyun. Lalu Chanyeol berjalan ke pantry, menyalakan kompor lalu memasak air. Setelah itu Chanyeol kembali untuk melepas mantel dan menarik kaos panjangnya hingga siku sebelum kemudian membereskan meja sofa yang berantakan. Ada beberapa bungkus sigaret dan botol minuman di sana.

155

Chanyeol menebak semarah apa wanita itu atas kejadian semalam. Ditatapnya Baekhyun sekilas lalu menghela kecil dan kembali ke pantry. Chanyeol terlalu sungkan untuk membongkar beberapa tempat hanya demi mencari selembar handuk, untuk itu ia merobek kaos bagian bawah, melipatnya dengan benar sebelum merendamnya dalam air hangat yang sesaat lalu ia bawa. Robekan kain itu kini sepenuhnya menempel di dahi Baekhyun dan Chanyeol menunggunya terjaga setelah merasa putus asa karena tidak menemukan bahan makanan yang bisa ia jadikan bubur. Menit demi menit berlalu, Chanyeol masih duduk tegap dan memangku tangan menunggu sosok cantik itu tersadar dari pingsan, melupakan fakta bahwa sebentar lagi adalah jadwal penerbangannya untuk kembali ke Korea. Penantian itu nyatanya memberikan hasil. Kelopak mata Baekhyun bergerak sebelum ia sepenuhnya terjaga dan mengernyit mendapati kain basah menempel di dahi. “Kau sudah sadar? Oh syukurlah.” Baekhyun menatap Chanyeol keheranan. “Memangnya aku kenapa?” “Tadi kau pingsan, Noona.” Lalu Baekhyun meremas kepala dan mengingat kejadian dengan. “Ahh, semalam aku minum terlalu banyak.” Gumamnya. “Bukankah seharusnya kau ke rumah sakit? Aku bisa mengantarmu.” 156

“Lantas apa yang akan terjadi jika ada paparazzi yang melihat ‘seorang penyanyi terkenal Korea Selatan, Park Chanyeol tertangkap basah berkencan dengan super model dunia, Byun Baekhyun’?” Chanyeol meringis kecil. “Itu terdengar mengganggu.” Baekhyun mengangguk lalu bangkit dan memijit dahi. “Ini dompetmu yang tertinggal semalam.” Chanyeol lantas bangkit setelah Baekhyun mengambil dompetnya. “Kalau begitu aku pamit. Senang bisa bertemu dan mengenalmu secara langsung, Noona.” “Ya. Mari saling mengenal dan akrab.” Baekhyun hanya berbasa-basi, namun Chanyeol salah mengartikan situasi. “Benarkah? Kalau begitu... apa kita bisa bertukar nomor?” Baekhyun menatapnya dengan ringisan kecil. Tidak menyangka pria bongsor itu akan sangat polos. “Oh... baiklah.” Dan ia terpaksa bertukar nomor ponsel dengan pria itu. Chanyeol tak bisa menahan senyumannya, bahkan binar di kedua mata tak luput dari perhatian Baekhyun. Apa dia sebahagia itu? Lalu di antara mereka terdengar bunyi sandi apartemen yang ditekan. Baekhyun menoleh pada pintu lalu ekspresi wajahnya berubah. Chanyeol yang peka mengukuti arah pandanga dan atensinya tertancap pada sosok pria di ambang pintu. 157

Itu Kris, menatapa tak bersahabat pada kehadiran Chanyeol yang sejatinya adalah pria lain di apartemen kekasihnya. “Jadi, project apa yang dikerjakan oleh sepasang pria dan wanita dewasa di dalam sebuah apartemen pribadi?” “Apa yang kau lakukan di sini?” Baekhyun jelas terdengar tak bersahabat. Chanyeol terjebak dalam atmosfer canggung. “Lalu apa yang dilakukan oleh seorang wanita yang mempunyai kekasih bersama pria lain?” Baekhyun menatapnya dengan memicing. “Tidak perlu berlebihan, Chanyeol hanya mengantarkan dompetku yang tertinggal semalam.” Ketika Kris bisa memberi seribu alasan penuh kebohongan setiap kalo tertangkap basah tengah dengan wanita lain. “Oh ya? Kenapa aku harus percaya padamu?” “Aku tidak berbohong! Chanyeol datang dengan maksud baik.” Lalu Baekhyun beralih pada Chanyeol yang kini menatapnya dengan keheranan. Baekhyun tahu ia tampak konyol, karena terdengar mati-matian menjelaskan sitausi yang sesungguhnya kepada Kris ketika bahkan Chanyeol mendengar pertengkaran mereka tadi malam. Termasuk bagian di mana Baekhyun menyebut bahwa Kris tidur dengan wanita lain. Apa yang salah dengan wanita itu? “Kau bisa pulang sekarang.”

158

Chanyeol tahu Baekhyun ingin sebuah ruang, untuk dirinya dan juga kekasihnya. Lalu Chanyeol mengangguk dan membungkuk tanda bahwa ia masih mempunyai sopan santun. Sebelum pintu benar-benar tertutup, samar Chanyeol terdengar keributan kecil sebelum ia melirik dan melihat di celah pintu bahwa pasangan itu tengah berciuman dengan Baekhyun yang posisinya ditindih di atas sofa. Chanyeol memalingkan wajah lalu menghela kecil. Pria itu berjalan menuju elevator dengan sebuah pikiran yang berkecamuk. Itu jelas adalah cinta. Maksud Chanyeol adalah tatapan yang Baekhyun lemparkan kepada Kris, sebesar apapun wanita itu menunjukkan kemarahan namun dia tidak pandai menutupi rasa cinta kepada pria itu. Dan Chanyeol hanya berharap yang terbaik. Itu sudah bukan lahannya untuk ikut campur. Memangnya kau siapa, Park?

~oOo~ Setelah dipaksa berlarian di bandara karena nyaris terlambat, pada akhirnya Chanyeol kembali menginjakkan kakinya di Korea. Seperti biasa, ia disambut oleh para penggemar dan wartawan yang bersiaga di terminal kedatangan hingga van yang ditumpanginya diikuti oleh beberapa penggemar obsesif.

159

Lalu sebuah tren muncul akibat gaya berbusana Chanyeol di bandara. Kaos yang dikenakannya di balik mantel itu mencuri perhatian karena robek. Mereka tidak tahu apa robekan itu sengaja di diberi oleh desainer pemilik brand, atau ada sebuah insiden yang membuat kaos mahal itu robek dan menjadi percuma. Namun saat ini hal itu menjadi tren meskipun baru viral beberapa jam yang lalu. “Chan, kau harus melihat ini.” Lalu sang manajer memberikan sebuah artikel selebriti mancanegara. “Ada seorang wartawan asing yang melihat Byun Baekhyun masuk ke dalam mini van kita.” Chanyeol mendesah kecil setelah membaca artikel. “Dia sedang tidak baik-baik saja untuk dapat membaca artikel konyol ini.” Gumamnya tanpa terdengar oleh sang manajer. “Jangan terlalu dipikirkan, para penggemar akan berpikir itu hanya artikel omong kosong.” Chanyeol tidak merasa cemas karena harus masuk ke dalam sebuah artikel skandal, ia hanya memikirkan bagaimana Baekhyun akan terganggu dengan rumor yang kini mungkin telah menyeruak.

~oOo~ Pada akhirnya Baekhyun kembali memberi maaf kepada Kris.

160

Itu adalah cinta. Meski yang lain mengatakan bahwa ia adalah wanita bodoh. Terang saja, Kris adalah gambaran pria brengsek sejati. Namun Baekhyun begitu mencintainya. Wanita itu dibutakan oleh cinta hingga mata dan hatinya tertutup, sebanyak apapun Kris tertangkap basah bermain wanita namun selalu ada ruang maaf di hati Baekhyun. Selalu ada pengampunan untuk pria itu. Si mungil melirik kekasihnya yang kini terlelap. Ia mendekat dan mencium punggung telanjang pria itu sebelum bangkit dari ranjang, memungut dan memakai kembali gaun tidur lalu meraih ponsel Kris di atas nakas. Dengus pelan lolos karena pria itu memberikan proteksi tinggi pada ponselnya sehingga Baekhyun tidak sama sekali bisa membukanya. Wanita itu memejamkan mata, tahu seberapa banyak rahasia yang Kris sembunyikan di ponselnya namun ia memilih untum menyerah dan meletakkan kembali ponsel itu. Baekhyun berniat membersihka tubuh ketika ponselnya di atas sofa berdering. Wanita itu lantas memeriksa pesan yang baru saja masuk. From: CY Park Noona, aku harap kau tidak terganggu dengan berita dan artikel. Semoga harimu menyenangkan. Baekhyun tidak punya waktu berpikir dan ia bergegas memeriksa laman portal berita, dan menemukan

161

namanya juga Chanyeol bersanding dalam sebuah artikel berjudul konyol. #Headline News Kerap tampil mesra dengan Kris Wu, Byun B kedapatan bertemu secara diam-diam dengan solois terkenal Korea Selatan, Park Chanyeol. Setelah menghadiri after party Newyork fashion week. Article #1 Dirumorkan putus dengan Kris Wu, supermodel Byun B telah memiliki pasangan baru. Dan masih banyak artikel lain yang serupa. Baekhyun memejamkan mata lalu mendengus keras. Ia melirik Kris yang masih terlelap dan mulai merasa cemas jika pria itu tahu tentang artikel yang kini beredar. Sejauh yang Baekhyun tahu, Kris adalah pria posesif dan pencemburu. Hal itu yang membuat kerap merasa berarti dan dicintai, semua orang tidak mengerti namun ia yakin Kris akan selalu jatuh ke pelukannya sebanyak apapun wanita yang singgah di hidup pria keturunan Canada tersebut. Pada akhirnya Baekhyun memilih menghubungi nomor Chanyeol dan ia mendapatkan jawaban di dering pertama yang membuat alisnya terangkat keheranan. “Ya, Noona?” “Bagaimana bisa foto-foto itu beredar?” Baekhyun memang tidak suka berbasa-basi. 162

“Manajerku melaporkan bahwa foto-foto itu berasal dari wartawan asing.” Baekhyun seharusnya lebih berhati-hati, jika bisa mengulang di waktu maka ia akan memilih berdebat dengan Kris ketimbang masuk ke dalam mini van yang Chanyeol tumpangi. “Banyak sekali omong kosong dalam artikel yang beredar.” “Ya. Aku tahu. Mereka sangat berlebihan, tapi tenanglah, Noona. Agensiku sedang mengurusnya. Cepat atau lambat rumor itu akan hilang dengan sendirinya.” “Masalahnya di sini ada padaku.” Baekhyun kepalang panik. “Kris tidak akan suka melihat artikel yang saat ini beredar.” “Artikel apa?” Baekhyun berjengit lalu menoleh pada Kris yang tidak ia ketahui sudah bangun. Bungkamnya Baekhyun membuat Kris curiga. “Siapa yang sedang berbicara dengamu?” Baekhyun masih mematung, dan Kris jengah. Pria itu meraih ponselnya di atas nakas lalu membuka sebuah artikel dunia hiburan. Kedua alisnya yang menukik kian menyatu dan ia lantas melirik Baekhyun dengan picingan mata tajam hingga membuat wanita itu beringsut kecil. “Apa maksudnya ini?” “A-ku pun tidak tahu. Banyak artikel yang berisi omong kosong.”

163

“Kau yakin ini semua hanya omong kosong? Tepatnya apa benar kau dan pria Korea itu terlibat project kerjasama?” “Kris? Apa kau mencurigaiku?” “Malam itu, apa yang kalian berdua lakukan? Setelah ku pikir-pikir ini terasa janggal ketika mengingat lagi pria itu datang kemari pagi-pagi buta.” “Aku sudah bilang dia hanya mengembalikan dompet! Ada apa denganmu?!” Kris mulai tersulut emosi. “Kau meninggikan suaramu padaku?” “A-aku hanya menjelaskan. Kenapa kau seperti ini ketika aku selalu memaklumi kelakuanmu selama ini!” “Ahh, jadi kau hendak berkata bahwa aku harus memaklumimu jika sebenarnya kau bermain dengan pria itu?” “Kris!” Bentakan Baekhyun terbalas oleh tamparan keras di pipi. Bukan hanya si mungil yang terkejut hebat, Kris pun beringsut seraya menatap telapak tangannya tak percaya. Apa yang merasuki Kris? Pipi Baekhyun ngilu dan memanas, bahkan matanya mulai basah dan memburam. Apa yang Kris lakukan di luar dugaan. Pria yang ia cintai, untuk pertama kali melayangkan sebuah tamparan. Kris memejamkan matanya frustasi lalu memakai pakaian dan berlalu dari apartemen Baekhyun.

164

Tanpa sebuah penjelasan, tanpa mencoba memberitahu Baekhyun bahwa dia hanya tersulut emosi. Wanita itu ambruk di atas sofa lalu mengusap pipinya yang memerah. Bukan hanya wajahnya yang meraskan ngilu, namun sesuatu di balik tulang rusuk itu retak. Menyakitkan. “Noona?” Faktanya Chanyeol masih tersambung dalam panggilan telepon. Pria itu mendengar semuanya, perdebatan Baekhyun dan Kris hingga keduanya bungkam meninggalkan sunyi yang membekas di telinga Chanyeol. Membuatnya bertanya-tanya apa yang terjadi?

*** Baekhyun memastikan tidak ada jadwal penting dalam waktu dekat sebelum memutuskan mengambil penerbangan awal menuju Korea. Ia ingin pulang. Satu-satunya hal yang dirasa akan membuat perasaannya membaik adalah kampung halaman. Baekhyun perlu menjernihkan pikiran, bersenda gurau dengan sepupunya, Kyungsoo, lalu melakukan banyak hal menyenangkan yang bisa memperbaiki sedikit suasana hati. Berbekal penampilan tertutup, Baekhyun melenggang di terminal kedatangan sebelum kelaur dari bandara dan memangil taksi.

165

Ia lantas menyandarkan punggung setelah memberitahu alamat tujuan. Matanya terpejam erat dan perasaannya belum membaik sama sekali. Satu pesan singkat masuk. Baekhyun bersemangat untuk membuka, berharap Kris membawa satu kalimat maaf namun nyatanya bukan nama pria itu yang terpampang di layar ponsel. From: CY Park Are you okay? Reply my text as soon as possible. Park Chanyeol. Baekhyun tidak tahu apa yang membuat pria itu kalut dan mengiriminya pesan singkat secara berkala sejak kemarin. Isi pesan itu masih sama, menanyakan keadaan Baekhyun hingga membuat wanita itu sedikit jengah. “Noona? Hey, kau tidak menjawab pesanku sejak kemarin. Apa kau baik-baik saja?” “Ya. Aku baik. Ada apa?” Chanyeol bungkam beberapa saat di seberang sana. “Chanyeol... aku sedang berada di Korea saat ini. Bisakah kita bertemu?” Baekhyun merasa Chanyeol terlalu tahu banyak hal tentang kehidupan asmaranya dengan Kris, dan itu tidak baik. Baekhyun perlu bertemu dan membicarakan hal serius itu secara empat mata. “Tentu! Kau di mana? Aku akan menjemputmu.”

166

Baekhyun mendengus kecil, mengapa Chanyeol terdengar sangat bersemangat? “Tidak. Kita bertemu di suatu tempat saja. Aku akn menunggumu di sana.” “Baik. Tunggu aku, Noona.” Baekhyun mematikan sambungan telepon lalu meminta supir taksi untuk memutar arah.

~oOo~ Diam-diam Chanyeol merasa bersyukur karena tengah diberi waktu untuk beristirahat total sebelum melakukan jadwal konser solonya di Seoul. Tanpa memberitahu siapa pun, pria itu bergegas menuju lantai basement, dan mengendari mobilnya menuju tempat yang Baekhyun beritahu. Apa yang membuatnya merasa cukup berantusias yakni dapat memeriksa sendiri keadaan Baekhyun. Sejak kemarin ia tidak berhenti merasa cemas karena mendengar pertengkaran wanita itu dengan kekasihnya. Mobil itu melaju kencang, Chanyeol tidak tahu apa yang membuat Baekhyun datang ke Korea. Ia berpikir mungkin wanita itu memiliki jadwal penting atau pekerjaan yang harus dilakukan. Chanyeol bisa menanyakannya sendiri dan ketika mencapai lokasi, ia melihat sosok itu berdiri di kegelapan sebelum berbalik dan menyadari kehadiran Chanyeol. Baekhyun melirik ke segala arah lalu masuk ke dalam mobil Chanyeol dan membuka masker.

167

Chanyeol memperhatikannya dengan sesaat lalu korneanya melebar tatkala mendapati wajah Baekhyun membengkak memerah dan bengkak di bagian kanan. Pria itu reflek menarik wajah mungil itu dan meneliti area bengkak dengan seksama. “Apa ini? Kenapa wajahmu bengkak? Apa kau baik-baik saja?” Baekhyun sedikit berjengit dengan perlakuan Chanyeol lalu menatap pria itu dengan keheranan. “Aku baik-baik saja.” Sahutnya seraya menepis pelan tangan Chanyeol. Chanyeol menautkan kedua alis, ekspresi yang jelas berbeda jika Kris melakukan hal yang sama. Jika kekasihnya itu akan terlihat marah dan menakutkan, namun kini Chanyeol terlihat cemas berlebihan. “Aku baik-baik saja, Chanyeol.” Baekhyun kembali menegaskan. “Apa itu sakit? Tunggu di sini, tak jauh dari sini ada minimarket. Aku akan pergi dan meminta kantong es.” “Tapi—” Baekhyun tidak melanjutkan kalimat karena Chanyeol telah lebih dulu keluar dari mobil. Wanita itu mendengus keras sebelum menyandarkan kepalanya di jok. Sepuluh menit berlalu, Chanyeol kembali dengan napas terengah. Apa dia berlari? Caranya membuka mantel dan mengglung lengan kaos itu tak luput dari perhatian Baekhyun. Pria itu tidak banyak bertanya hanya sedikit meminta izin saat akan mengompres wajah bengkak 168

Baekhyun dengan kantong es. “Ini cukup parah.” Gumam Chanyeol seraya meniupi pipi Baekhyun dengan lembut. Wanita itu sudah mematung sejak saat Chanyeol menangkup wajahnya. Baekhyun akui sejak saat kejadian, pipinya benarbenar merasa terbakar karena Kris menamparnya dengan sangat keras seolah tengah meluapkan emosi terdalam. Dan fakta itu kembali membuat Baekhyun merasa miris. Kemudian wanita itu memalingkan wajah dan menepis tangan Chanyeol. “Aku baik-baik saja.” Chanyeol tidak tahu bahwa supermodel idolanya itu mempunyai sifat yang keras kepala. Pria itu hanya sanggup menatapnya tanpa berkedip. “Dengar, aku mengajakmu bertemu karena merasa harus membicarakan banyak hal termasuk pertengkaranku dengan Kris yang kau saksikan sendiri.” Chanyeol mengangguk kecil dan mendengarkan. “Demi apapun itu masalahku dengan Kris. Kau tidak harus mengirim pesan kepadaku setiap waktu demi menanyakan keadaaanku—of course! Thank you for your corcern! Tapi ini bukan tempatmu untuk bersikap berlebihan. Kita bahkan tidak saling mengenal.” “Maaf.” Chanyeol menyahut dengan cepat. Katakan ia sama sekali tidak bermasalah dengan rasa empati, bahkan lebih banyak menggugu rasa cemas terhadap kesulitan orang lain apalagi orang-orang yang ia kenal, meskipun secara teknis ia baru saja mengenal Baekhyun secara pribadi. “Aku hanya...” 169

Baekhyun menggeleng. “Jangan berlebihan. Kita tidak cukup akrab. Kau adalah orang asing sebelum dirimu menuntun dan menggenggam tangganku di atas catwalk malam itu. Jujur, aku terganggu dengan sikapmu.” “Maaf. Aku... aku hanya...” Baekhyun mengangkat tangan. Ia merasa tidak perlu mendengarkan penjelasan Chanyeol. “Tolong bersikap sewajarnya. Media sedang memanas dengan rumor tentang kita. Itu membuatku frustasi.” Chanyeol kelu dan kehilangan kosa kata. Dugaannya benar, Baekhyun akan merasa pengap. “Hanya itu yang ingin ku sampaikan. Aku tidak mau membuat hubunganku dengan Kris bertambah buruk hanya karena rumor menggelikan itu.” Lalu Baekhyun melempar kantong es itu ke kursi belakang, tanpa sepatah kata lagi yang terucap, ia memilih keluar dari mobil, meninggalkan Chanyeol yang kini termangu dengan perasaan tak tentu.

~oOo~ “Aku terbang ke Korea karena tidak mempunyai jadwal, bukankah kau yang memberitahuku, Luhan?” “Ya! Tapi setidaknya beritahu aku terlebih dahulu. Kris datang ke kantor dan menanyakanmu.” “Beritahu dia untuk tidak menemuiku lagi!” “Apa kalian bertengkar lagi?” Baekhyun jengah dan memutus sambungan telepon.

170

“Ke mana Eonnie kau pergi setelah sampai di Korea? Aku menunggumu sampa mengantuk.” Baekhyun lantas melirik Kyungsoo, sepupunya. “Aku bertemu dengan seseorang terlebih dahulu.” “Siapa?” “Kau akan terkejut jika mendengarnya.” “Siapa? Beritahu aku.” Nyatanya rengekan Kyungsoo terabaikan karena ponsel Baekhyun telah lebih dulu berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk. From: CY Park. Byun Baekhyun-ssi, mohon maafkan sikapku yang berlebihan. Aku hanya tidak tahu harus mengekspresikan rasa antusiasku seperti apa, karena aku penggemar beratmu. Rasanya sulit percaya berada dalam satu stage bersamamu malam itu lalu mengenalmu secara pribadi. Sekali lagi maaf. Aku akan lebih berhati-hati dalam bersikap. Tentu saja, supermodel dunia bermarga Byun itu mempunyai banyak penggemar pria. Termasuk Chanyeol. Satu hal yang membuat jari Baekhyun bergerak saat pesan itu berakhir “Dari siapa?” Kyungsoo dengan jiwa keingintahuannya. Baekhyun tidak menyahut dan memilih kembali membaca tiap kata yang mulai membuat perasaannya tidak nyaman. Lalu ia kembali teringat pertemuannya dengan Chanyeol beberapa jam yang lalu. 171

Menelaah lebih jauh apa yang telah ia katakan. “Kyung... bagaimana jika aku marah terhadap seseorang lalu melampiaskannya kepada orang lain?” “Itu sangat kekanakkan.” “Bukan begitu? Itu sikap yang kekanakkan bukan?” “Ya. Dan itu menyebalkan, Eonnie. Tanpa sadar kau sudah menyakiti perasaan orang lain. “Apa aku jahat?” “Dalam posisi itu kau bahkan lebih buruk dari penjahat mana pun. Menyakiti hati seseorang tanpa alasan yang masuk akal itu adalah perbuatan keji.” Kyungsoo mendramatisir setiap kalimat yang terlontar dari mulutnya. “Apakah aku semakin jahat jika orang yang aku sakiti adalah orang yang telah menolongku, dua kali.” “Eonnie...” Kyungsoo menutup mulut tak percaya. “Ya. Aku jahat bukan? Dia bahkan mengaku sebagai penggemarku.” Kyungsoo menggeleng penuh drama. “Jahat sekali kau.” Baekhyun ingat pria itu membantunya melarikan diri dari kejaran Kris, lalu merawatnya saat deman tinggi. Jangan berlebihan. Kita tidak cukup akrab. Kau adalah orang asing. Baekhyun semakin gelisah karena rasa bersalah. “Oh, Park Chanyeol!!!” Kyungsoo berseru saat meliha solois favoritnya terpampang di layar televisi. “Berandalan itu, aku tidak menyangka dia akan setampan itu.”

172

Baekhyun mengikuti arah pandang lalu menatap layar plasma itu dengan nanar. “kau terdengar seperti mengenalnya dengan dekat.” “Tentu saja! Kami satu sekolah, bahkan satu kelas.” Baekhyun membeo. Mengapa ia tidak pernah tahu? “Kau tahu, akhir-akhir ini ada artikel aneh yang bermunculan. Mereka mengatakan bahwa kau dan Park Chanyeol menjalin hubungan. Bahkan untuk membuat berita palsu itu terkesan meyakinkan mereka bahkan menambahkan foto-foto editan kalian bersama.” Kyungsoo tergelak nikmat ketika ia tahu Baekhyun dan Chanyeol tidak saling mengenal. Baekhyun meringis. Yang Kyungsoo tidak tahu, foto-foto itu terjamin keasliannya.

*** “Aku ingin putus denganmu, Kris! Berhenti menggangguku!” “Sayang, ku mohon maafkan aku. Aku benar-benar emosi. Aku tidak bisa menahan diri.” “Ya, dan kau menamparku! Pengecut macam apa yang berani bermain tangan kepada perempuan? Tidakkah kau mencintaiku?” “I do. I love you.” Kris terdengar putus asa di seberang sana. Baekhyun menggigit bibir, mencoba untuk mempertahankan diri. “Tolong beri aku kesempatan terakhir. Aku akan berubah. Aku berjanji.” 173

“Kau mengatakan itu sejak tertangkap basah dengan para pelacurmu! Sudahlah, Kris. Aku lelah denganmu, hanya aku yang benar-benar mencintaimu di sini.” Nyatanya kesalahan Kris telah menggunung. Pria itu sadar bahwa ia telah banyak mencurangi Baekhyun tidak banyak penyesalan yang dirasa. “Sayang, beri aku kesempatan.” Baekhyun sudah merasa terlalu banyak memberikan toleransi dan ia benar-benar lelah. “Mari benar-benar berpisah. Aku lelah.” Wanita itu lantas memutus sambungan telepon. Tak dipungkiri emosinya selalu bergejolak tentang apapun yang berhubungan dengan Kris, wanita itu merasa pengap, ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan, menyembunyikan tangis kesal dan frustasi. Ia benci. Membenci dirinya sendiri karena masih sempat berpikir bahwa akan kembali ada maaf untuk pria itu. Baekhyun lantas menatap langit malam seraya menghisap sigaret yang sejak tadi menyala, terlepas dari kemarahan yang kini menguasai diri, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, sejujurnya Baekhyun merindukan Kris. Rasanya begitu menyesakkan hingga meledak di otak, ia tidak lagi dapat berpikir jernih dan memutuskan untuk mencari kesenangan dan melupakan sedikit permasalahannya.

174

~oOo~ Klub mewah di pusat Seoul itu menjadi satusatunya tempat pilihan Baekhyun untuk melepas frustasi. Tidak ada yang benar-benar sanggup membuat suasana hatinya membaik selain daripada kandungan alkohol dari minuman yang ia tenggak, sloki ke sekian yang membuat bartender yang melayaninya mengernyit heran. “Aku mau lagi.” Meskipun suaranya terdengar sudah sangat mabuk, namun Baekhyun tidak menyerah, ia perlu lebih banyak pengalihan agar hatinya yang terluka tidak terasa begitu sakit. “Bukankah kau sudah sangat mabuk?” Tanya sang bartender. Baekhyun menggeleng dan kembali meneguk minumannya. Si mungil itu mengulurkan tangan dan merogoh ponsel di dalam clutch sebelum menghubungi seseorang. “Kyungsoo-a... Eonnie berbohong padamu, Eoonie tidak pulang ke Korea karena merindukanmu, tapi Eonnie sedang melarikan diri.” Wanita itu meracau dengan suara mabuk. “Kris dan aku bertengkar. Dia... dia menamparku, Kyungsoo-a...” Baekhyun mulai terisak kecil seraya menyandarkan kepala pada meja bar dan memejamkan mata. “Pria yang aku cintai menamparku dengan keras, itu sangat menyakiti hatiku... Eonnie sangat patah hati saat ini... tidak peduli seberapa banyak dia bermain wanita,

175

Eonnie selalu bisa melapangkan dada tapi kali ini... hatiku benar-benar hancur.” Satu kalimat di akhir itu membuat kesadaran Baekhyun sepenuhnya hilang, kadar alkohol yang bersarang di tubuhnya saat ini tidak dapat mentolerasi lagi kesadaran, wanita itu tumbang dan menyisakan sambungan telepon yang belum terputus.

*** “Aku mengerti, sampai bertemu besok, hyung” Chanyeol lantas memutus sambungan telepon dan menginjak pedal gas membabi buta, tindakan brutalnya di jalanan itu bukan tanpa alasan. Jika saja Baekhyun tidak salah sambung. Chanyeol yakin Baekhyun terlalu mabuk untuk dapat fokus menekan nomor ponsel dengan benar. Keterkejutannya di awal saat nama Baekhyun terpampang terjawab setelah mendengar racauan wanita itu dalam nada mabuk. Kemudi itu dicengkram dengan kuat, Chanyeol tidak tahu pasti apa yang kini membuatnya merasa amat geram, mungkin perasaan cemasnya setelah mendengar Baekhyun mendapatkan tamparan keras dari kekasihnya. Mobilnya diparkir di depan sebuah klub yang memang menjadi tujuan utama. Demi menghindari diri dari setiap orang yang akan mengenalinya, Chanyeol memakai masker dan topi hitam sebelum masuk ke dalam klub tersebut.

176

Tak butuh waktu lama untuk dapat mengenali sosok wanita berpakaian minim yang terkulai di meja bar. “Saya sopir pengganti yang dipesan nona ini.” Bartender itu mengangguk karena ia sendiri yang berbicara dengan Chanyeol saat sambungan telepon Baekhyun tadi belum terputus. Tanpa berlama-lama, Chanyeol bergegas menggendong Baekhyun yang telah lama tumbang. Setelah sampai di dalam mobil, Chanyeol menyempatkan diri melirik Baekhyun dan menatapnya cukup lama. Lalu ia meraih ponsel Baekhyun dan mencari sebuah nama. “Kyunsoo-ssi?” Sejak awal Chanyeol tidak asing dengan nama itu. “Ya? Dengan siapa ini? Di mana Baekhyun Eonnie?” Suara wanita di seberang sana terdengar cemas. “Baekhyun-ssi mabuk berat, aku tidak tahu harus menghubungi siapa tapi dia menyebut namamu, jadi tolong kirimkan alamatmu. Aku akan mengantarnya pulang.” Chanyeol lantas bergegas setelah mendapakan alamat wanita bernama Kyungsoo tersebut.

*** Sejak awal Chanyeol memang tidak asing dengan nama Kyungsoo, lalu ia tersenyum lebar karena wanita yang ternyata adalah sepupu Baekhyun itu memang dikenalnya. 177

Setelah membaringkan Baekhyun di ranjang, mereka berbincang kecil di ruang tamu. “Bagaimana kabarmu, Kyungsoo?” “A-aku baik-baik saja. Oh, aku tidak percaya rumahku kedatangan penyanyi terkenal.” Chanyeol terkekeh. “Sudah sangat lama sejak kita lulus sekolah. Kau tidak berubah. Dan kau semakin tampan. Astaga! Apa dia melakukan bedah wajah?” Kyungsoo lantas menggeleng. “Bagaimana bisa kau mengenal Baekhyun Eonnie—astaga! Apa artikel itu benar?” Chanyeol menggeleng. “Tidak. Rumor itu tidak benar, kami hanya saling mengenal tidak lebih.” Kyungsoo lantas mengangguk disamping perasaan terkejut karena tidak menyangka mereka saling mengenal. “Kalau begitu aku pamit.” “Oh, kau sudah mau pulang?” “Ya. Baekhyun tidak akan suka jika melihatku di sini.” Memangnya kenapa? Kyungsoo betanya-tanya dalam hati. “Terima kasih banyak sudah mengantar Eonnie pulang dengan selamat.” Chanyeol mengangguk dan tersenyum sebelum benar-benar hilang dari pandangan Kyungsoo yang masih mematung di ambang pintu. Wanita itu lantas memegang dada, sesuatu di dalam sana masih berdetak dengan kencang, sama seperti dulu jika ia bertemu dengan pria itu. 178

Park Chanyeol. Cinta pertamanya.

~oOo~ “Katakan padaku bahwa kau bercanda.” “Aku bersungguh-sungguh, Park Chanyeol yang mengantarmu pulang.” Baekhyun meraung pagi ini. Wanita itu menggeleng tak percaya sebelum memerksa daftar panggilan di ponsel. “Jadi... jadi yang ku telepon semalam bukan kau melainkan... Park Chanyeol?” Kyungsoo mengangguk. “Dan dia menjemputku di klub lalu mengantarku pulang?” “Dengan selamat, tanpa kekurangan suatu apapun.” Baekhyun memejamkan mata seraya meremas permukaan sprei. “Aku tidak tahu kalau kalian saling mengenal.” Baekhyun mendengus lalu memanggil nomor Chanyeol. “Mau bertemu? Aku ingin berbicara. Aku akan memberitahu alamatnya.” Lalu ia memutus kembali sambungan telepon. “Jangan bilang kau menghubungi Chanyeol?” Baekhyun mengibaskan tangan lalu bangkit dan berjalan ke kamar mandi. “Pinjamkan aku baju yang bagus.” “Tapi ukuran baju kitta berbeda.” “Maka dari itu diet! Aku sebal melihat pipimu yang tembam.” 179

Kyungsoo merengut. Bisa apa jika seorang supermodel mengkritik postur tubuhnya? Mengelak pun akan percuma.

~oOo~ Tidak ada yang bersuara setelah mereka memutuskan untuk bertemu dan berbicara di dalam mobil saja. “Maaf, aku tidak bermaksud melewati batas lagi. Tapi Noona menghubungiku—” “Itu salah sambung!” “Ya. Betul. Tapi... maaf.” Baekhyun melirik Chanyeol lalu mulai terhibur dengannya yang menunduk canggung. Pria polos itu. “Terima kasih.” Chanyeol lantas mengangkat wajah dan menatap Baekhyun. “Terima kasih sudah mengantarku pulang semalam.” Anggukan Chanyeol terlihat begitu lucu. “Dan... maaf.” “Maaf untuk apa?” “Maaf karena aku bereaksi berlebihan kemarin. Aku... aku sedang frustasi saat itu.” “Aku tahu. Tidak apa-apa.” “Kau tahu?” Lalu Baekhyun mendengus kecil.

180

Tentu saja pria itu tahu karena Baekhyun secara tidak sengaja memberitahunya semalam. “Noona, tidakkah dia... keterlaluan?” Baekhyun tahu siapa yang Chanyeol maksud. “Maaf, aku tidak bermaksud ikut campur tapi, memukul wanta itu tidak benar.” “Aku tahu. Aku pun sangat kecewa.” Lalu Baekhyun mulai terbuka. “Dia sudah banyak menyakitiku namun aku memang wanita bodoh.” Chanyeol menggeleng tidak setuju. “Aku merasa pengap, Chanyeol.” Baekhyun mengalihkan pandangan ketika matanya terasa memanas. “Aku ingin lepas, tapi masih sanggup bertahan. Aku mencintainya.” Chanyeol kelu karena Baekhyun terdengar begitu tulus. “Hey, kau menangis?” Chanyeol menangkup wajah Baekhyun, melihat kesulitan yang teramat dalam di kedua bola matanya. “Ini benar-benar tidak mudah. Hatiku sakit, aku terluka. Tapi aku masih bisa merindukan pria itu. Tidak peduli seberapa banyak dia mempermainkan perasaanku.” Baru kali ini Baekhyun-benar terbuka kepada seseorang tentang masalah hatinya. “Ini sulit, Park Chanyeol.” Pada akhirnya Chanyeol memberikan pelukan terbaik, ia tidak banyak menyahuti ucapan Baekhyun namun tindakannya sudah cukup mampu memberikan ketenangan.

181

Setelah itu lebih banyak lagi keluh kesah yang terlontar dari mulut Baekhyun, wanita itu merasa nyaman bercerita, seolah Chanyeol adalah tempat yang tepat untuk mengadu.

~oOo~ Keesokan harinya mereka kembali bertemu. Alasannya tidak selalu tepat. Mereka hanya sedang bertukar pesan lalu memutuskan sebuah tempat untuk bertemu. Baekhyun memilih jam sore, dan Chanyeol yang benar-benar memutuskan tempat. Tebing tinggi di salah satu lokasi wisata itu pada akhirnya menjadi pilihan. Diam-diam mereka bersyukur karena tidak banyak pengunjung yang datang. Dan mereka bisa sepuasnya menikmati langit sore di atas ketinggia puluhan meter. “Di Amerika tidak ada tempat seperti ini.” Chanyeol lalu melirik Baekhyun yang masih terkagum-kagum. “Apa kau tumbuh besar di sana?” Baekhyun meneguk kaleng bir lalu mengangguk. “Aku masuk ke dunia model sejak usia sepuluh tahun. Paman memboyongku ke sana.” “Dan orang tuamu?” “Mereka meninggal sejak usiaku lima tahun.” “Maaf.” Baekhyun menggeleng, senyumnya terulas pada gradasi senja.

182

Chanyeol terus menatapnya lalu membelai wajah mungil itu, tidak bermaksud apapun, ia hanya memeriksa keadaan pipinya kemarin membengkak. “Ini masih terlihat memerah.” Baekhyun berjengit kecil lalu balas menatap Chanyeol. “Maaf, Noona... aku hanya...” “Tidak apa-apa...” Baekhyun menyahut pelan, mengusakkan pipinya di telapak tangan Chanyeol. “Tanganmu hangat.” “Jika aku boleh tahu, bagaimana hubunganmu dengan pria itu sekarang?” “Aku sudah memutuskannya. Itu memang terlambat untuk menyadari bahwa aku tidak bisa bertahan selamanya dengan pria itu.” “Kau yakin?” Chanyeol merasa sangsi karena jelas masih ada rasa cinta di kedua mata wanita itu saat ini. Baekhyun menggeleng. “Aku akan mencobanya. Meskipun aku tidak tahu harus memulainya dari mana.” Wanita itu lantas memejamkan mata, menikmati usakan jemari Chanyeol di pipinya. “Aku... aku bertanya-tanya, apakah aku bisa membantumu?” Baekhyun menarik diri lalu balas menatap Chanyeol, kemudian menggeleng. “Beri aku kesempatan.” “Tidak.” Baekhyun menolaknya dengan tegas. “Noona, ku pikir perasaan ini bukan hanya sekedar kagum—“

183

“Jangan diteruskan.” Baekhyun benar-benar menolaknya. “Aku rasa aku menyukaimu.” “Tidak. Itu tidak benar.” Bukan wanita seperti Baekhyun yang pantas untuk seorang Park Chanyeol. Baekhyun merasa terlalu buruk untuk pria itu. “Aku tahu cintamu pada pria itu masih sangat besar. Tapi aku akan menunggu. Aku bisa menunggu.” “Park Chanyeol, jangan... ku moh—“ Kalimat Baekhyun terbungkam oleh sebuah ciuman yang Chanyeol sematkan. Si mungil meronta kecil meski nyatanya sia-sia, ia melemah hingga pada akhirnya membalas ciuman itu dengan putus asa. Bagaimana bisa ia jatuh dengan mudahnya? Baekhyun seharusnya menolak, berontak dengan keras, bukan justru mengalungkan lenganya di leher Chanyeol dan semakin terbuai dengan ciumannya yang memabukkan.

*** Baekhyun pikir tidak ada yang benar-benar berakhir setelah ia dan Chanyeol pulang. Nyatanya mereka memilih kediaman Chanyeol untuk melanjutkan apa yang semula tertunda. Baekhyun tersudut pada dinding, sementara pakainnya mulai terlepas satu persatu.

184

Ciuman itu kian mesra dan sensual, Baekhyun serupa anak koala yang melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Chanyeol. Jemari lentiknya dengan lihai melepas satu persatu kancing kemeja Chanyeol, sementara pria itu menurunkan celana. Baekhyun sepenuhnya bertelanjang bulat, bahkan kini kedua payudaranya menjadi santapan buas Park Chanyeol. “Hmmh!!” Ia melenguh kecil karena permainan lidah Chanyeol, lalu meremas rambut pria itu untuk sebuah pengalihan. Nyatanya manusia selalu luput dari perasaan sabar. Chanyeol masih memangku Baekhyun lalu dengan mudahnya menyentak tubuhnya dari bawah. “Akhh!!” Desah keras Baekhyun lolos, tubuhnya terasa penuh, ia menebak berapa ukuran Park Chanyeol yang kini menyentaknya berulang kali. “Hngg!! Ohh!!” Baekhyun jelas bertumpu pada bahu tegap Chanyeol, sesekali mencakar punggungnya untuk mengalihkan sengatan adiktif yang menyerang persendian lalu mengeluarkan lenguhan-lenguhan manja yang membuat Chanyeol menggila. “Kau sangat sempit!” Geram Chanyeol lalu melempar tubuh Baekhyun ke atas ranjang, mengangkat kedua kakinya, lalu kembali menghentak pinggul dengan buas.

185

“Oohhh! Park! Hnggh!! Ku mohon jangan berhenti! Akhh!!” Chanyeol menjilat betis Baekhyun dengan sensual, menatap wanita itu dengan liar lalu menambah tempo hingga melahirkan jeritan kecil dari mulut Baekhyun. “Akhh!! Jangan berhenti! Jangan! Hngg!!” Si mungil menggeleng kenikmatan lalu mendorong tubuh Chanyeol dengan maksud ingin mengendalikan permainan. Dengan liar merangkak di atas tubuh Chanyeol lalu memasukkan kejantanan super besar itu dengan cara mendudukinya. Tubuh mungil itu menggeliat kenikmatan, lalu desahannya bertambah kala payudaranya diremas kuat oleh Chanyeol. Baekhyun telah buta oleh sebuah hasrat, ia yakin perasaannya belum membaik akibat masalah yang tengah dihadapi, namun persetubuhannya saat ini dengan Chanyeol sanggup membuang segala hal buruk dalam benak. Seks benar-benar berdampak besar terhadap suasana hati. Dan Baekhyun tidak ingin berhenti. Wanita itu semakin lihai menaik turunkan pinggul di atas tubuh Chanyeol, mendesah keras dan lantang, melahirkan sebuah pemandangan indah di kedua mata Chanyeol. “Akhh! Akh!! Aku akan keluar!” Lalu Chanyeol membantunya, pria itu menahan kedua kaki Baekhyun hingga wanita itu mengangkang lebar lalu menghujamnya dengan hentakan keras dan cepat.

186

Desahan Baekhyun sontak mengeras, ia menggeleng lalu tubuhnya menegang dan menggeliat. Chanyeol bisa merasakan hangat yang membaluri setiap inci permukaan batang kejantannya, lalu ia terpancing. Menarik diri dari Baekhyun sebelum menumpahkan cairan kentalnya di atas perut rata wanita itu. Mereka sama-sama tumbang di atas ranjang. Tubuh Baekhyun menggelepar dengan sisa orgasme yang bersarang di tubuh. Sementara Chanyeol mencoba mengontrol deru napas yang tersengal. “That was amazing.” Baekhyun melirik Chanyeol lalu tersenyum penuh arti. “You’re amazing.” Itu adalah seks terhebat yang pernah Baekhyun alami. Ia merasa tidak sedang membual, nyatanya Chanyeol memberikan yang terbaik sejak satu jam terakhir. Caranya menyentuh Baekhyun, mencumbunya, menyetubuhinya, memberikan orgasmenya, semua hal hebat terjadi beberapa saat lalu. Park Chanyeol mulai melahirkan candu di smaping fakta bahwa pria itu sosok yang menyenangkan dan kerap memberi kenyamanan.

*** Nyatanya persetubuhan itu terulang, berulangulang ketika Chanyeol menyatakan akan melakukan konser selama dua minggu ke depan.

187

Lantas seolah tiada hari esok, mereka melakukannya lagi dan lagi. Di mana pun, bahkan ketika Baekhyun tengah membuat sarapan mereka pagi itu. Chanyeol senang menggaggunya, dan Baekhyun menggila karena sentuhannya. Seperti sepasang pengantin baru yang dibuat candu oleh permainan cabul. Keduanya orgasme berkali-kali. Baekhyun menyatakan tidak suka rasa sperma, dan Chanyeol cukup tersanjung mengetahui fakta bahwa itu adalah pengalaman pertama Baekhyun merasakan orgasme pria di dalam mulutnya. Bahkan kini desahan itu kembali terulang, mereka lupa caranya berpikir dengan waras, hanya ada seks menyenangkan, hanya sentuhan dan belaian yang membuai. Terdengar cukup gila ketika mereka memutuskan menghabiskan sepanjang hari tanpa berbusana, mempermudah berbagai hal. Seperti Chanyeol yang bisa dengan mudah melesakkan kejantanannya yang mengacung keras saat Baekhyun terlelap dalam tidur siang. Lalu si mungil itu akan terusik, kemudian melotot garang sebelum akhirnya mendesah dan pasrah. Chanyeol menengadah kala orgasmenya yang ke sekian untuk hari ini pecah. Lalu diliriknya Baekhyun yang kini terkapar serupa macan tutul betina. Pria itu tersenyum kecil sebelum merengkuh tubuh mungil itu dan memeluknya di bawah selimut.

188

Baekhyun mengendus dada bidang Chanyeol, mulai hafal aroman keringatnya yang khas dan memabukkan. “Aku suka baumu.” Gumamnya lalu memejamkan mata lalu dihadiahi kecupan lembut di dahi. Baekhyun diperlakukan seperti seorang putri, paling tidak selama dua hari terakhir berada di apartemen Chanyeol. Pria itu memberinya banyak kebaikan tak terhingga, Baekhyun merasa berharga di samping fakta bahwa itu adalah pengalaman pertama ia diperlakukan seperti seorang wanita sesungguhnya. Kris tidak memberi banyak selain obsesi, amarah, seks yang akan berhenti setelah meraih pencapaian, lalu pengkhianatan setelah mulutnya mengobral kata-kata cinta. Tentang Kris, Baekhyun baru sadar ia tidak sedikit pun mengingat pria itu. Paling tidak selama berada di sisi Chanyeol. Apa yang salah dengannya? Enggan memikirkan hal-hal yang akan merusak suasana hati, Baekhyun lantas memilih masuk lebih ke dalam dekapan, senyumnya terulas berarti kala rengekan manjanya disambut oleh Chanyeol. Pria itu lihai, tahu cara memperlakukan wanita dengan benar, dan hal itu sedikit membuat perasaan Baekhyun tak menentu. “Tadi itu orgasme terakhit untuk malam ini.” “Kenapa?” Chanyeol bereaksi keras, ekspresi wajahnya yang lucu mengundang gelak tawa Baekhyun.

189

“Kau lupa besok harinya?” Tangan Baekhyun terulur membelai wajah Chanyeol. Semakin menyadari bahwa pria itu sangat tampan. “Lantas?” “Hey! Tentu saja kau harus menjaga stamina. Jangan sampai menghancurkan konsermu sendiri.” “Tapi staminaku cukup kuat.” Baekhyun percaya, mengingat Chanyeol bahkan sanggup menyetubuhinya lebih dari sepuluh kali dalam sehari. “Jangan mendebatku jika ingin aku datang ke konsermu.” “Noona akan datang?” Chanyeol berbinar. Baekhyun meringis. Sudah dapat membayangkan jeritan-jeritan memekakkan telinga dari para penggemar Chanyeol. “Kau harus berjanji.” Baekhyun mengangguk. “Cium aku dan aku akan setuju.” Setelahnya Baekhyun menyesal. Sebab bukan hanya ciuman yang didapat melainkan persetubuhan lainnya yang menguras tenaga. Malam itu mereka mengulangnya sebanyak tiga kali sebelum Baekhyun benar-benar terkapar saat jarum jam pendek menujuk angka dua.

~oOo~ “Sebenarnya Eonnie pergi ke mana selama tiga hari?” 190

Kyungsoo jelas pantas mengintrogasi Baekhyun yang kini terkapar di atas ranjang, terlihat tak bernyawa, pucat dan lemas. Tidak ada jawaban melainkan cengiran aneh yang menakutkan. “Aku merasa berada di surga selama tiga hari terakhir.” Nyatanya apa yang dilalui bersama Chanyeol benar-benar membekas dalam ingatan. Berkesan. Menyenangkan. Mengapa kini Baekhyun ingin sekali bertemu dengan pria itu ketika bahkan mereka baru berpisah selama satu jam? “Kemarin Kris datang.” Ekspresi Baekhyun berubah seratus delapan puluh derajat. “Apa maksudmu? Kris? Dia datang?” Kyungsoo mengangguk. “Dia datang mencarimu, Eonnie.” Baekhyun mulai gelisah. Faktanya bersipah dengan Kris tidak akan mudah. Ia tebak pria itu masih berada di Korea dan akan mencoba membujuknya untuk kembali ke Amerika. Baekhyun akan kembali ke Amerika, tentu saja ia berkarir di sana, namun ia akan kembali sendiri, tanpa Kris. Bel rumah berbunyi. Baekhyun dan Kyungsoo secara otomatis saling melempar pandang. “Jika itu Kris, katakan aku tidak ada!”

191

“Kenapa seperti itu? Bukankah dia kekasihmu, Eonnie?” “Aku sudah memutuskannya.” “Tapi apa masalahnya.” “Aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang temui dia.” Kyungsoo mengangguk lalu bergegas mendekati pintu. Dugaannya benar, tamu yang datang memang Kris “Aku tidak dapat menghubungi Baekhyun. Ku mohon, Kyungsoo katakan di mana dia.” “Aku benar-benar tidak tahu di mana Eonnie. Aku bahkan mengetahuinya darimu kalau dia pulang ke Korea.” “Biasanya dia akan mengunjungimu. Dia akan menetap di rumah ini jika pulang ke Korea.” Kyungsoo memangku tangan. “Apa kalian ada masalah?” Kris bungkam, ia tidak mungkin memberitahu permasalahannya dengan Baekhyun, karena di sini Kris yang salah. “Pergilah. Eonnie tidak ada di sini. Jika dia tidak bisa dihubungi atau menghindar darimu itu artinya masalahnya ada pada dirimu.” Kyungsoo lantas menutup pintu, mencebi kecil lalu berkacak pinggang saat menemui Baekhyun di kamar. “Sebenarnya ada masalah apa dengan kalian?” “Kami putus.” “Tapi Eonnie sudah berulang kali putus dengannya.” “Kali ini kita benar-benar berakhir.” 192

Kyungsoo mendengus kecil. “Well, sebenarnya itu bagus. Terima kasih, Tuhan. Akhirnya Byun Baekhyun sadar betapa tidak bergunanya menjalin cinta dengan pria pengkhianat itu.” Semua orang terdekat Baekhyun sangat hafal dengan tabiat Kris. Pria itu bahkan mendapat banyak kutukan akan kelakuannya yang gemar mempermainkan perasaaan Baekhyun.

~oOo~ Kris berada dalam fase tak menentu. Pengusaha muda kaya raya itu kehilangan kredibilitas. Semarah apapun Baekhyun, wanita itu tidak akan pernah beranjak dari Amerika dan meninggalkan Kris di sana. Fakta bahwa Baekhyun melarikan diri ke Korea adalah untuk kesalahan Kris yang kini benar-benar fatal hingga membuat pria itu harus memutar otak agar Baekhyun kembali ke pelukannya. Tentu saja Kris tidak akan melepaskan wanita itu dengan mudah, mereka telah lama bersama-sama, hanya Baekhyun yang sanggup mengimbangi perangai Kris, hanya Baekhyun yang akan selalu memaklumi Kris, bukan wanita lain. Bukan para pelacur yang kerap mengangkang di depan matanya. “Cari sampai dapat. Bawa dia padaku. Jangan menyentuhnya, wanita itu adalah milikku.”

193

Dan Kris kembali melakukan cara untuk menemukan Baekhyun, pria itu membayar mahal seorang mata-mata yang terkenal handal dalam mencari seseorang. Jika Baekhyun tidak dapat ditemukan dengan cara halus, maka Kris tidak akan berpikir ulang untuk melakukannya dengan cara kasar. Ia yang punya kuasa, Baekhyun tidak boleh membuatnya kesal terlepas dari seberapa besar Kris mencintai wanita itu.

~oOo~ From: CY Park. Noona, aku merindukanmu. Tanpa sadar senyum Baekhyun terulas. From: CY Park Konserku akan rampung dalam dua minggu di beberapa kota. Kita akan bertemu setelah itu. Park Chanyeol. Satu nama yang akhir-akhir ini membuat Baekhyun kelabakan, yang paling membekas adalah seks dengan pria yang usianya dua tahun lebih muda dari Baekhyun. From: CY Park Aku merasa bersemangat, mungkin karena kau telah memberikanku vitamin yang cukup. Kkkk

194

Baekhyun mencebi. “Bocah mesum.” Serunya lalu menjitak wajah Chanyeol yang terpampang di layar ponsel. From: CY Park Biarkan aku berusaha sedikit lebih keras, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, Noona. Lalu tatapan Baekhyun berubah nanar. From: CY Park Sampai saat itu tiba, bisakah kau menjaga diri? Aku tahu ini terdengar kurang ajar, tapi jangan jatuh ke pelukan pria itu lagi. Baekhyun menelan saliva, ia memamg tidak secara gamblang mengatakan akan memberi Chanyeol kesempatan, namun mengingat apa yang mereka berdua lalui, rasanya tidak pantas jika Baekhyun berakhir menjadikan Chanyeol sebegai partner seks. Itu jelas pilihan yang salah. From: CY Park Aku semakin jatuh dan jatuh cinta padamu. Baekhyun menggigit bibir, lalu menyalaka mode panggilan video. Seperti yang ia duga, Chanyeol langsung mengangkatnya. “Aku baru selesai gladiresik.”

195

Pria itu terlihat berkeringat, lengan ototnya menonjol karena dia mengenakan kaos tanpa lengan. Entah mengapa Baekhyun suka melihat pria itu berantakan, entah itu rambutnya atau bahkan wajahnya yang tampak lelah. Darah Baekhyun berdesir, wanita itu menggigit bibir sebelum beranjak dari ranjang dan mengunci kamar. Ia kembali menyapa Chanyeol lalu mengerling nakal. Chanyeol terkekeh di seberang sana. Pria itu terlihat berada di ruang tunggu seorang diri lalu Baekhyun berinisiatif mengganggunya. Pertama yang dilakukannya adalah menelanjangi diri, membuat Chanyeol di seberang sana memutar atensi di sekitarnya. Ekspresinya yang panik mendapati Bakehyun telanjang di layar ponsel itu terlihat lucu. Lalu setelahnya Chanyeol hanya mendengar desahan Baekhyun yang cukup keras. Tidak ada yang lebih nakal selain daripada Baekhyun yang kini bermasturbasi. “Akhhh! Chan...” Baekhyun mengangkang lebar lalu memilin area kewanitaannyya dengan jemari. “Hmmhh!! Chan... setubuhi aku. Chanyeol mengacak rambut, terlihat frustasi. “Aku akan mengunci pintu terlebih dahulu meskipun staf konser sedang sibuk ini dan itu.” Pria itu menghilang sejenak dari layar ponsel,Chanyeol lalu kembali seraya memamerkan penisnya yang telah mengeras. Baekheyun semakin liar dan bersemangat dalam bermasturbasi. 196

Lalu didengarnya pria itu menggeram kecil seraya menatap ke arahnya dengan tatapan lapar. “Ouhh!! Park Chan! Hemmhh!” Panggilan itu terdengar menggelitik pendengaran Chanyeol, Baekhyun selalu tahu caranya membuat pria itu terkesan. Lalu keduanya kembali bermasturbasi hingga fantasi liar itu menghasilkan sebuah pencapaian luar biasa liar. Baekhyun telah lebih dulu orgasme lalu Chanyeol menyusul dan menumpahkan cairan kentalnya di atas lantai. “Aku ingin mengulumnya.” Baekhyun merengut seraya menjilat lidah, terlihat lapar. Wanita itu benar-benar seksi. Chanyeol menggila dibuatnya. “Ada staf datang. Aku harus bergegas.” Lalu sambungan panggilan video terputus. Baekhyun terkikik melihat Chanyeol panik lalu ia segera bangkit dan kembali memakai baju. Untuk pertama kalinya ia bertindak gila, bermasturbasi di depan sebuah layar ponsel dan mengangkang dengan lebar demi membuat Chanyeol puas.

~oOo~ Kris mendapat kabar seminggu setelah menyewa mata-mata. Nyatanya ia merasa percuma karena telah mengeluarkan banyak uang karena ternyata Baekhyun berada di rumah Kyungsoo selama ini. 197

“Berani sekali mereka mempermainkanku.” Kris memukul kemudi sebelum keluar dari mobil dan menggedor pintu rumah Kyungsoo, tidak menekan bel. Tindakannya yang barbar membuat si empunya rumah membuka pintu tanpa berpikir dua kali. Kyungsoo melotot kecil karena mendapati Kris di depan rumah terlihat marah dan tak bersahabat. “Minggir!” “Hey! Ini rumahku, berani sekali kau menerobos.” Kris sampai di ruang tengah lalu bertemu dengan Baekhyun yang tampak terkejut. Tatapan Kris melunak, ia mendekat dan memeluk Baekhhyun dengan erat. “Lepas!” Baekhyun meronta dengan cepat. “Ku mohon jangan seperti ini. Aku tidak bisa hidup tanpamu.” Baekhyun semakin meronta karena Kris memeluknya dengan erat hingga ia merasa sesak. “Lepaskan aku, Kris!” “Tidak, ku mohon ampuni aku. Beri aku kesempatan. Aku berjanji akan berubah.” Pada akhirnya Baekhyun lepas dari pelukan lalu dengan cepat ia melayangkan tamparan. Satu hal yang tidak pernah dilakukan kepada Kris hingga membuat pria itu membeo tak lupa. “Tak bisakah kau memberiku ampunan? Ku mohon...” “Pergi!”

198

Kris tidak menyerah ketika kehilangan Baekhyun menjadi satu-satunya ketakutan terbesarnya kini. “Aku akan berubah. Maafkan aku!” “Kau tidak akan berubah, dan aku muak! Pergi dari sini! Pergilah! Aku muak melihatmu.” Baekhyun berseru lantang dan frustasi. “Kita sudah berakhir!” Lalu Bakehyun menepis tangan Kris dan meninggalkannya ke kamar. Bantingan pintu keras menjadi pertanda bahwa pertahanan diri Baekhyun kuat. Bahwa tidak akan ada ampun untuk Kris kali ini. Pria itu berbalik lalu menatap Kyungsoo dengan sorot nanar. “Aku tidak tahu apa yang membuat sepupuku amat sangat marah meski sebenarnya dia berhak meluapkan segala hal mengingat kelakuanmu yang tidak ada bedanya dengan bajingan lain selama ini. Jadi, Kris... sebelum mengais kata maaf sebaiknya pikirkan sebanyak apa kau menyakiti sepupuku selama ini.” Kyungsoo lantas membuka pintu, mempersilahkan Kris untuk pergi dari rumahnya. Apa yang membuat langkah Kris dengan mudahnya menyerah adalah sebentuk siasat lain agar ia mendapatkan pengampunan dari Baekhyun. Tentu saja Kris tidak akan berhenti. Baekhyun adalah miliknya, wanita itu harus kembali ke pelukan Kris bagaimana pun caranya.

199

*** Dua hari setelah itu Baekhyun masih sanggup berdiri dan kembali memperingati Kris untuk berhenti mengusiknya. “Ya. Kami sudah benar-benar berakhir.” “Aku harap masalahmu cepat selesai. Kau sudah terlalu lama memgambil waktu libur. Ini nyaris minggu ke dua kau berada di Korea. Kau tidak lupa bahwa kau supermodel dengan banyak kontrak kerja bukan?” “Aku ingat, Lu... aku akan pulang jika kondisiku sudah memungkinkan. Kris masih menncoba untuk menemui dan meminta maaf, tapi aku malas.” “Sebenarnya apa masalah kalian?” Luhan merasa penasaran mengingat selama ini Baekhyun selalu menggugu perangai Kris yang memuakkan. Tidak ada ampun untuk pria itu kali ini benarbenar membuat segala berubah, termasuk Baekhyun. “Dia menamparku. Bukankah kau tahu bahwa aku benci demgan pengecut semacam itu?” “Dia menamparmu?!” Luhan berseru di seberang sana. “Bajingan! Berani sekali dia menyentuh supermodelku yang berharga. Lihat saja jika dia berani mendekat atau menanyakanmu aku akan menendang selangkangannya. “Ya , silahkan. Keparat itu memang pantas mendapatkannya.” Terdengar seruan heboh Luhan karena biasanya Baekhyun akan protes keras jika seseorang mencoba mengusik Kris.

200

Itu seperti sebuah keajaiban mendapati Baekhyun telah terbuka mata dan hatinya.

~oOo~ Baekhyun tidak pernah menyangka bahwa Kris tidak sedikit pun kehilangan harap untuk mendapatkan kesempatan darinya. Meskipun itu hal yang tidak mungkin namun melihatnya terus menerus datang meski tidak mendapat penyambutan dan bahkan diusir dengan kasar sedikit membuat Baekhyun merasa tidak nyaman. Kris tidak pernah momohon, tapi kemarin dan sebelum-sebelumnya pria itu tampak putus asa. Baekhyun dapat melihatnya dengan yakin. Kris adalah seorang pria yang sibuk namun melihatnya menetap di Korea hanya demi mendapatkan pengampunan dari Baekhyun membuat wanita itu sedikit goyah. Baekhyun merasa putus asa dan perasaannya bergejolak ketika kini ia menatap pria itu dengan nanar, menatap sosok Kris yang tela terguyur air hujan seraya berlutut di depan rumah Kyungsoo. Apa yang pria itu lakukan? Dia bahkan tidak pernah merasa bersalah telah banyak mengkhianati Baekhyun, namun penyesalannya kini benar-benar terlihat nyata. Apa yang harus Baekhyun lakukan? Pada akhirnya Baekhyun memilih membuka pintu. Derasnya hujan melahirkan suhu yang amat menusuk kulit. 201

Kris yang tengah berlutut dan basah kuyup bereaksi. Menatap Baekhyun dengan penuh harap. Si mungil membuka payung lalu berjalan mendekat pada Kris. “Kau bisa demam.” Tentu saja, Baekhyun tahu Kris mempunyai pertahanan tubuh yang payah dengan udara dingin. Lalu si mungil membantunya berdiri sebelum membawanya masuk ke dalam rumah. Kris memeluknya erat kala mereka telah telah terlindung dari derasnya hujan. “Maafkan aku. Aku benarbenar tidak bisa hidup tanpamu.” Kris menyadari satu hal bahwa Baekhyun adalah hidupnya. Wanita itu apa yang ia inginkan di dalam hidupnya. Baekhyun memejamkan mata lalu menarik diri. “Tunggulah di sini, aku akan mengambil handuk dan selimut.” Beberapa saat kemudian Baekhyun kembali dengan pakaian baru. Ia duduk di samping Kris lalu membuka satu persatu kancing kemejanya hingga pria itu sepenuhnya lepas dari bajunya yang basah. Kris membelai wajah Baekhyun, menatapnya dengan lamat sebelum menciumnya dengan segenap hati. Baekhyun merespon seadanya. Ia tidak tahu apa masih ada cinta di dalam hatinya untuk pria itu? Kris mulai mencumbu lehernya dengan sensual, kehangatan yang menjalar saat kulit tubuhnya dan Baekhyun bergesekkan adalah apa yang membuatnya bergairah. 202

“Demi Tuhan aku merindukanmu.” Baekhyun menggeleng, mencoba menahan tangan Kris yang kini berusaha menanggalkan pakaiannya. Wanita itu mempunyai masalah dengan pertahanan diri, ia mudah hanyut suasana. Bahu mulus Baekhyun sudah terekspos ketika pintu akses masuk itu dibuka oleh seseorang yang senyumnya menghilang dalam hitungan detik setelah mendapati Baekhyun dan Kris dalam keadaan intim. Baekhyun terkesiap. Ia bangkit dari kursi lalu menggeleng pelan saat dilihatnya Park Chanyeol yang terlihat basah kuyup mundur satu langkah. Buket bunga itu jatuh ke lantai. Apa yang pria itu lihat benar-benar di luar dugaan. “Tidak.” Baekhyun mencicit, mencoba menahan Chanyeol yang semakin mundur. “Tidak!” Lalu suaranya sedikit berupaya saat pria itu melempar ekspresi terluka dan berbalik. Apa yang telah Baekhyun lalukan? Mengapa ia begitu mudah hanyut oleh keadaan? Apa yamg telah ia lakukan kepada Chanyeol ketika bahkan pria itu mempunyai tak pernah menyerah untuk mengais sebuah kesempatan? Baekhyun lantas kembali melirik Kris yang kini menatapnya dengan nanar. Kris mulai sadar bahwa wanitanya berubah, bahwa hatinya terusik.

203

~oOo~ Chanyeol merampungkan konsernya dengan rasa antusias yang melambung tinggi. Setelah dua minggu berlalu, mengabaikan rasa lelah pria itu memilih berlalu dari venue dan mengemudikan kendaraannya dari Busan menuju Seoul dengan kecepatan tinggi. Rasa rindunya tidak bisa dibendung, siapa yang tahu ketika ia kembali Baekhyun sudah siap memberinya hati? Senyum Chanyeol sepanjang jalan terulas cerah meski cuaca berbanding terbalik. “Noona...” ia terus menggumamkan satu nama. Benar-benar merindukannya. Setelah sampai di Seoul, Chanyeol disambut oleh huhan deras. Ia tidak pantang menyerah, tanpa berhenti untuk beristirahat atau mengisi perutnya yang kosomg setelah konser, pria itu memilih menggugu rindu. Ia harus bertemu dan memeluk Baekhyun sebanyak yang ia mau. Pada akhirnya Chanyeol sampai di lokasi, rumah Kyungsoo terletak dengan akses mobil yang kurang, Chanyeol yakin akan kesulitan memarkirkan mobil. Lalu tanpa pikir panjang, Chanyeol keluar, membawa buket bunga sebagai persembahan lalu menghadang hujan. Ia berlari menuju rumah Kyungsoo di bawah derasnya partikel air yang turun ke bumi. Setelah sempat menghubungi Kyungsoo untuk memberikan kejutan kepada Baekhyun dan diam-diam

204

Chanyeol merasa bersyukur karena Kyungsoo tengah berada di luar kota untuk sebuah urusan. Senyum Chanyeol semakin terulas kala kakinya menginjak halaman rumah Kyungsoo. Pria itu telah basah kuyup, ia berdiri di depan pintu, mengulas senyum lebar, menggenggam buketnya dengan getar gigil karena suhu cuaca sebelum kemudia memutar knop pintu. Di sana Chanyeol harus rela kehilangan senyum yang sejak awal yang berhenti terulas. Apa yang kini ia saksikan benar-benar di luar dugaan. Segala hal baik yang memuatari benak hancur bersamaan dengan buket yang jatuh di atas lantai. Mereka sama-sama terlihat syok. Lalu Chanyeol tahu bahwa tidak akan ada tempat baginya di hati wanita yang kini tengah terjebak dalam suasan intim dengan pria yang dicintainya. Mengapa rasanya begitu sakit? Mengapa seolah jantung Chanyeol akan meladak? Enggan membuat hatinya semakin teriris, Chanyeol memundurkan tubuh. Langkahnya terbata sebelum kemudian benar-benar berbalik dan meninggalkan segalanya dengan perasaan hancur.

~oOo~ “Kau baik?” Kyungsoo pantas merasa cemas karena Baekhyun tidak menyentuh makanannya selama dua har terakhir. “Eonnie... paling tidak makanlah sedikit.”

205

Baekhyun tidak menyahut dan memilih menatap kosong. “Apa kejutan yang Chanyeol buat gagal? Dia bilang akan pulang dan memberimu kejutan. Apa dia belum melakukannya—Eonnie!” Kyungsoo lantas berseru kala dilihatnya Baekhyun terisak seraya menutup wajah. “Ada apa? Apa terjadi sesuatu? Apa ini tentang Kris?” Mengapa wajah Baekhyun bahkan sangat pucat? Tentang Kris, Baekhyun benar-benar telah mengakhiri segalanya, Baekhyun membiarkan Kris pergi dengan rasa kecewa. Itu pilihan terbaik. Tidak akan ada lagi yang sama ketika segala hal telah banyak berubah. Baekhyun masih terisak pilu sebelum kemudian menyeka air mata. Bukankah tidak akan ada yang benarbenar selesai jika Baekhyun hanya diam meratapi kesalahan dan penyesalan. Paling tidak ia harus berusaha, mengais iba dan maaf adalah sebuah upaya. Ya. Baekhyun meraih mantel lalu mengindahkan seruan Kyungsoo. Si mungil itu menghentikan taksi, lalu meminta sang sopir mengantarkannya ke sebuah alamat. Baekhyun akan berlutut bila perlu. Ia tidak bisa menahan diri ketika bahkan upaya membuat panggilan seluler dan pesan singkat terabaikan hingga saat ini. Wanita itu sampai di depan gedung apartemen, ia menyempatkan diri menghentikan langkah karena pening yang menjalar di seisi kepala. Ia merasa pantas jika

206

terserang lemas dan pusing mengingat dua hari terakhir tidak menyentuh makanannya sama sekali. Baekhyun tebak bahkan berat badannya berkurang. Wanita itu tidak tahu mengapa pergerakkan elevator saja sanggup membuat tubuhnya limbung. Lalu ia sampai di sebuah lantai, mengurai langkah dengan ragu dan takut, mengabaikan pening dan gigil yang mendadak menyerang tubuhnya. Si mungil memeluk diri seraya bediri di depan pintu apartemen Chanyeol, membawa sebuah penjelasan juga harapan agar pria itu mau memberinya kesempatan. Bel itu ditekan berkali-kali, Baekhyun masih setia menunggu, menunggu meskipun ia merasa sudah tidak sanggup lagi berdiri terlalu lama, napasnya mulai payah. Lalu pintu itu pada akhirnya terbuka. Ke mana senyum cerah yang kerap pria itu perlihatkan saat menatap Baekhyun? Mengapa kini ia berubah menjadi pria dingin dengan picingan mata tajam yang sanggup mengiris hati terdalam? “A-aku...” suara Baekhyun terdengar parau. Chanyeol menatapnya dengan datar tanpa membiarkan Baekhyun masuk. Si mungil itu bergetar kecil, lututnya sudah sangat melemas. “Aku berhenti mencintai Kris sejak kita bersama waktu itu. Aku baru menyadarinya. Aku... aku tidak lagi dapat merasakan pentingnya pria itu dalam hidupku, rasanya hambar. Dia bukan lagi juara di dalam hatiku saat 207

ini... aku...” Baekhyun memejamkan mata, kalimatnya terpotong oleh rasa sakit yang menjalar di batok kepala. “...aku... hari itu aku kalut, aku salah besar. Tidak seharusnya aku menguji perasaanku sejauh itu ketika bahkan aku tahu benar-benar tidak ada lagi rasa untuk pria itu.” “Apa kau sudah selesai dengan omong kosongmu?” “Aku meminta sebuah kesempatan. Aku tahu ini terdengar tidak tahu diri tapi...” Baekhyun menggigit bibir kala lututnya kian melemas. “...tapi aku... nyatanya aku jatuh cinta padamu.” “Apa kau sudah selesai dengan omong kosongmu?” Chanyeol mengulang pertanyaan yang sama, bahakn dengan tatapan dan nada yang terdengar lebih menusuk. Lalu pria itu meninggalkan Baekhyun dengan bantingan pintu keras. Baekhyun memejamkan mata, ia merasa pantas mendapat penolakan. Wanita itu lantas menunduk seraya menumpukkan tangan pada dinding. Pening di kepalanya semakin bertambah parah bahkan kini asam lambungnya naik. Deru napas Baekhyun terdengar keras, ia mencoba untuk berjalan meski di langkah ke tiga tubuhnya limbung, pandangannya memburam dan kesadarannya terenggut, di atas lantai dingin tubuh mungil itu meringkuk, matanya terpejam dan ia benar-benar kehilangan kesadaran.

208

*** Nyatanya pertahanan diri Chanyeol cukup lemah, pria itu masih berdiri menyandarkan punggung pada pintu seraya berperang batin. Itu adalah cinta. Ketika ia memutuskan untuk kembali membuka pintu. Itu adalah kesempatan untuk Baekhyun meskipun yang kini Chanyeol saksikan sanggup membuat jantungnya melompat ke daratan. “No! No.!” Chanyeol berlari sekuat tenaga lalu memangku Baekhyun yang pingsan di koridor. “Hey! Hey!!!! A-apa yang... a-apa yang... sayang? Baekhyun!!” Chanyeol memeluknya dengan perasaan takut sebelum memutuskan membawa Baekhyun masuk dan menghubungi seorang dokter kenalan. Chanyeol kalut dan panik, sejak awal merasa terganggu dengan wajah Baekhyun yang pucat dan terlihat tirus. “Ku mohon, Noona... periksa dia!” Dokter cantik itu bernama Sandara, dia teman Chanyeol. Mereka cukup dekat dan akrab. Dara mengangguk kecil, mengabaikan rasa penasaran tentang rumor hubungan Chanyeol dan supermodel dunia yang kini terbaring di depan mata. Chanyeol mengusap wajahnya dengan kasar, benar-benar kalut. Aku meminta sebuah kesempatan. Aku tahu ini terdengar tidak tahu diri tapi nyatanya aku jatuh cinta padamu. 209

Perlahan rasa bersalah itu mengendap di hati Chanyeol. “Chan...” Lamunan Chanyeol buyar lalu ia menatap Dara yang kini juga menatapnya dengan sorot tertentu. “Bagaimana? Apa dia baik-baik saja?” “Sebelum aku menjawab, izinkan aku bertanya, apa si cantik ini kekasihmu? Maksudku kalian benar-benar menjalin hubungan?” Dara tidak bisa menahan rasa penasaran. Tanpa ragu Chanyeol mengangguk. “Ya. Baekhyun kekasihku.” Lalu senyum Dara terulas penuh arti sebelum kemudian menjabat tangan Chanyeol. “Kalau begitu selamat! Kekasihmu hamil, kandungannya masih sangat muda, mungkin memasuki minggu kedua jadi dia rentan merasa lemas dan pusing. Itu biasa, hanya jangan biarkan dia lelah terlalu banyak. Itu tidak baik untuk janinnya.” Mulanya Chanyeol merasa heran atas aksi jabat tangan yang Dara lakukan, kemudian ia mengerjap polos dan menggaruk tengkuk. “Huh?!” Dara terkekeh lalu memukul lengan Chanyeol. “You’re going to be Daddy, dude!” Chanyeol membeo panjang, mata bulatnya melebar. Ia melirik Baekhyun yang masih belum terjaga lalu kembali menatap Dara tak percaya. “Am I dreaming?” Dara menggeleng lalu tersenyum mendati sumringah di wajah Chanyeol. “Aku akan meresepkan obat khusus, kalau begitu aku pamit. Beehati-hatilah, jangan sampai terjadi sesuatu pada kandungan kekasihmu.” 210

Chanyeol mengangguk antusias lalu duduk di samping Baekhyun setelah dara berlalu. Meraih tangan Baekhyun dan mengecupnya berulang kali. Rasa kecewa itu menguap terganti dengan rasa bahagia tak terhingga. Chanyeol tidak tahu harus dengan cara apa mengekspresikan rasa bahagianya, hanya sanggup merapalkan doa seraya menangkup tangan Baekhyun di dada lalu terpejam dengan khidmat. Ketika matanya terbuka ada sepasang iris bening yang menatapanya sayu. Baekhyun terjaga. “Hey...” Chanyeol menyapa. Senyum cerah yang Baekhyun lihat membutanya tak percaya. Apakah ia sedang bermimpi? Namun dugaannya terpatahkan karena wajah pria itu terasa nyata di telapak tangan. Lalu Baekhyun merengut, matanya memanas dan ia menangis kecil. “Maafkan aku.” Chanyeol menggeleng. “Sstt... tidak apa-apa. Aku di sini...” Tangis Baekhyun semakin kencang. “Hukum aku. Aku pantas mendapatkannya, tapi jangan pergi. Jangan meninggalkanku.” Chanyeol merengkuh lalu memeluknya. “Aku menyesal, maafkan aku.” “Aku tahu. Berhenti meminta maaf.” Baekhyun memeluk prianya dengan erat seolah tiada hari esok. “Noona... jika aku melamarmu saat ini juga, apakah kau akan menolakku mentah-mentah.”

211

Baekhyun termangu beberapa saat lalu menggeleng lemah. “Jika dengan menikah akan membuat kita tetap bersama maka aku akan melakukannya. Aku... tidak mau kehilanganmu lagu.” Senyum Chanyeol terulas lembut, lalu ia membelai wajah wanitanya. “Tapi kita akan menikah untuk alasan yang lain juga.” Kedua alis Baekhyun bertaut kecil. “Hum?” Lalu ia melempar wajah penuh tanda tanya saat Chanyeol mengusap perutnya. “Kita menikah karena bayi kita membutuhkan orang tua yang lengkap.” Baekhyun mengerjap pelan, lalu korneanya melebar. Ia menatap perutnya cukup lama lalu segala perasaa aneh yang tejadi akhir-akhir ini terasa masuk akal. Baekhyun menutup mulut dan menatap Chanyeol tidak percaya. Pria itu mengangguk sebelum mendapati si mungil melompat ke pelukannya. “Aku hamil? Aku mengandung anak kita? Ya Tuhan. Aku hami!” Tawa kecil Baekhyun seperti sebuah virus yang meracuni atmoser. Si mungil terus mengulang kalimat yang sama dengn nada bahagia. Dan Chanyeol menghadiahinya kecupan sayang di seluruh wajah. Setelahnya ada pembicaraan kecil mengenai karir. Chanyeol memberi izin kepada Bekhyun untuk vakum sementara dari dunia model, namun Baekhyun menolak.

212

“Aku akan pensiun. Sekarang aku hanya ingin menjadi istri dan ibu untukmu dan bayi kita.” Chanyeol menatapnya dengan penuh haru. “Aku mencintaimu.” Ucap Baekhyun lalu menyatukan dahinya dengan Chanyeol. “Aku akan mencintaimu sepenuh hati.” Lalu tanpa sadar Chanyeol telah melapas pengait bra sebelum menelanjanginya dengan kilat. “Aku merindukanmu. Aku ingin disentuh.” Rengek Baekhyun seraya mengangkang dan merentangkan tangan. Chanyeol menanggalkan seluruh pakaian sebelum disambut oleh Baekhyun dengan pelukan. “Aku—akhh!! Ingin disetubuhi olehmu! Hnggh!!” “Aku sedang menyetubuhimu.” Bisik Chanyeol lalu menggerakkan pinggulnya pelan namun pasti. “Hngh! Setubuhi aku! Akhh!” “Ya. Apapun untukmu, untuk calon anak kita. Apapun.” Lalu Baekhyun mendesah keras, Chanyeol tidak bermain secara brutal namun jelas Baekhyun mendapatkan semua kenikmatan dalam tempo pelan. Lagi-lagi memberi banyak kesan.

End of Rosegold

213

214

215

Roommate Memulai karir sebagai seorang artis sekaligus model majalah membuat Baekhyun kelimpahan banyak job. Lalu ia terkenal dengan bakat dan pesona. Hilir mudik tampil di televisi menjadikannya sebagai selebriti yang diperhitungkan. Cantik, muda dan berbakat. Bahkan kini ia tengah mencoba peruntungan di dunia tarik suara. Baekhyun bersinar, ia terkenal. Banyak jeritan penggemar yang mengudara ketika ia menghadiri suatu acara. Nilai tambahannya adalah ia berasal dari keluarga terpandang, ayahnya adalah seorang profesor di salah satu universitas ternama, dan ibunya merupakan seorang aktivis terkenal. Banyak yang berkata bahwa latar belakang keluarga berpengaruh besar terhadap bagaimana seseorang sikap dan watak seseorang. Sayangnya, meskipun kedua orang tua Baekhyun dikenal sebagai sosok yang bijak dan menjadi panutan banyak orang, namun tidak dengan Baekhyun. Karir yang melejit membuatnya jumawa. Baekhyun merasa berada di atas angin dan sesekali risih jika ada yang menyaingi populartiasnya sebagai selebriti papan atas. 216

Sejak tiga tahun lalu, Baekhyun kerap menyabet penghargaan sebagai aktris terfavorit, lalu tahun ini ia harus ekstra kerja keras karena rivalnya merupakan nama-nama yang kerap bersaing dalam daftar reputasi para selebriti ternama. Baekhyun memiliki perangai yang cukup keras, banyak yang mengatakan bahwa ia adalah artis yang sombong dan angkuh meski pada kenyataannya Baekhyun tidak terlalu peduli terhadap komentar orang-orang. Pikirnya, bukankah wajar jika wanita tanpa kekurangan suatu apapun itu bersikap jumawa? “Gue kan udah bilang enggak makan seafood! Gimana sih?!” Tidak hanya sekali atau dua kali Baekhyun memarahi manajer baru atas tindakannya yang ceroboh. “Maaf, kak. Aku lupa.” Baekhyun yang kini tengah dirias untuk mengisi sampul majalah mengibaskan tangan dan melempar wajah ketus sekaligus jengah. “Enggak becus banget!” Gumamnya lalu kembali berselancar di medis sosial, menyapa para pengggemar dengan postingan terbaru. “Hallo, Ma?” “Hey, anak Mama yang cantik. Kamu hari ini sibuk enggak sayang?” “Aku ada pemotretan. Terus nanti siang syuting iklan.” Baekhyun lalu meminta daftar jadwal manajer barunya dengan gerakan tangan. Lalu meneliti beberapa catatan di sana. “Sorenya ada pertemuan sama sutradara film.” “Wow, anak Mama kebanjiran job.” 217

“Bukannya wajar ya? Aku kan artis papan atas.” Baekhyun memang senang menyombongkan diri. Nyonya Byun terkekeh di seberang sana. “Jadi kamu ada waktunya malem doang?” “Hmmm... iya kayaknya. Emangnya kenapa?” “Bagus. Nanti ketemu di restoran. Ada sesuatu yang mau Mama sama Papa obrolin.” Alis Baekhyun mengernyit. “Tentang apa?” “Kamu bakal tau nanti.” Baekhyun memilih untuk tidak menggugu rasa penasaran. Lalu mengangkat bahunya acuh. “Ma, pemotretannya mau mulai. Aku tutup dulu.” Proses pemotretan itu lantas berjalan tanpa hambatan, dan selesai dalam kurun waktu singkat. Baekhyun memang ditakdirkan sebagai dewi di depan kamera, ia tidak pernah membuat kesalahan sedikit pun, hal itu yang membuatnya dijuluki sebagai ratu profesionalitas. Setelah menyelesaikan satu jadwal, Baekhyun bergegeas mengerjakan yang lain, ia sibuk pergi ke beberapa tempat demi memenuhi kontrak kerja. Syuting iklan dilakukan di ruangan terbuka. Baekhyun berkali-kali mengeluh karena ia benci sinar matahari. Itu akan membuat kulitnya kusam meskipun ia mempunyai banyak uang untuk melakukan perawatan. Rasa kesalnya itu lagi berimbas pada manajernya yang baru. “Bisa kerja enggak sih? Lo mau dipecat? Ini kalorinya banyak! Gitu saja enggak tau!” Murkanya seraya melemparkan makan siang yang diberikan oleh sang manajer. 218

Perangainya yang buruk adalah rahasia umum, para staf di lokasi syuting seolah tahu bahwa artis itu bermasalah dengan kesabaran. Mereka lantas memilih bungkam meskipun di belakang tak luput mencibir. “Baekhyun?” Yang dipanggil menoleh sebelum bereaksi kecil. Lokasi syuting iklan itu mengambil latar belakang departement store, jadi ada banyak orang asing yang hilir mudik termasuk dua orang wanita yang kini mencoba merangsek keamanan di lokasi syuting. “Biarin aja, aku kenal mereka.” Lalu Baekhyun menegur petugas keamanan yang mencoba menghalangi dua wanita yang sejatinya Baekhyun kenal. “Ternyata beneran lo!” Baekhyun bereaksi seadanya. Ia mengalihkan pandangannya sejenak dari layar ponsel dan melempar senyum singkat. “Mimpi apa gue bisa ketemu sama selebriti papan atas?” “Tiff, siapa pun bisa ketemu sama dia kalau lokasi syuting yang dipilih terbilang umum kayak gini.” “Tapi gue beneran enggak nyangka, salah satu temen kelas kita bisa jadi artis terkenal.” Tiffany menyahuti Jessica. Sudut bibir Baekhyun terangkat lalu ia menatap kedua teman sekolahnya itu secara bergantian. “Tiffany bener. Siapa sangka gue bisa ketemu sama si populer Jessica? Gue inget dulu cuma si cupu yang sering banget diejek.” Tiffany dan Jessica lantas berdeham canggung. 219

Baekhyun terkekeh renyah. “Lucu banget kalau inget lagi masa-masa itu, ya ‘kan Jess? Terutama saat di mana lo selalu ngambil jatah bekal anak-anak yang lain. Termasuk punya gue. Ya Tuhan, Jessica sudah kayak preman pasar waktu itu, setuju enggak Tiff?” Tidak ada yang benar-benar menyahuti ucapan Baekhyun yang menohok. Baekhyun menghentikan tawa lalu mengibaskan tangan. “Oh, maaf itu terlalu lucu. Jadi, gimana? Apa kegiatan kalian? Hmm... kalau gue seperti yang kalian liat ya gini-gini aja, syuting, pemotretan, syuting iklan yang bayarannya bisa lah buat traktir kalian biar kalian enggak perlu malakin orang lagi kayak dulu.” Lalu ia tertawa renyah, niatnya memang bukan bergurau. Baekhyun sengaja membuat Jessica dan Tiffany kesal dan merasa terinjak. Jika mengingat perlakuan mereka dulu saat sekolah, benar-benar membuat Baekhyun muak. Ada yang benar-benar kesal menghadapi kesombongan Baekhyun. Jessica dan Tiffany tidak menyangka bahwa gadis cupu yang culun kerap mereka rasa gini berubah menjadi elegan dan berkelas. Tidak tersentuh dan membuat nyali mereka ciut. Baekhyun menyandarkan punggung setelah kedua teman sekolahnya itu berlalu dengan muka masam, senyum miringnya terulas dan ia merasa puas. Itu bahkan kali pertama ia terlihat begitu sumringah dan ceria.

220

~oOo~ Baekhyuh menyelesaikan agenda hari itu dengan rasa lelah yang luar biasa. Setelah bertemu dengan sutradara film dan berbincang tentang peran Baekhyun dalam project terbaru, wanita itu lantas menepati janji temu dengan ke dua orang tuanya di sebuah restoran. Wanita yang kini mengenakan rok mini di atas lutut atasan tanpa lengan itu berjalan memutari eksterior restoran yang mewah. Itu bukan kali pertama Baekhyun ke sana, sejujuurnya ia masih merasa penasaran hal penting dan serius apa yang akan orang tuanya sampaikan mengingat hal itu selalu terjadi jika mereka mengajaknya bertemu di restoran langganan tersebut. Beberapa orang atau bahkan nyaris seisi restoran mengenali Baekhyun, beberapa dari mereka bahkan menyalakan kamera ponsel dan merekam saat bagaiamana wanita cantik bertubuh seksi itu melenggang serupa model catwalk. Bisik-bisik samar dibarengi tatapan kagum selalu Baekhyun dapatkan di mana pun kakinya berpijak. Membuatnya berpikir bahwa ia ditakdirkan menjadi pusat perhatian. Baekhyun terlalu fokus menebar pesona ke sana dan kemari seraya melenggang menuju meja orang tuanya yang masih tak terlihat, lalu fokusnya buyar hingga tanpa sadar ia menabrak dan menginjak kaki seseorang dengan heelsnya. “Maaf.” 221

Tentu saja bukan Baekhyun yang mengucapkan kalimat dengan nada bersalah. Melainkan seorang pria tinggi bersuara berat. “Punya mata enggak sih lo?!” Geram Baekhyun ketika seharusnya ia yang lebih pantas disalahkan karena tidak fokus pada apa yang ia injak. Mereka beradu pandang sebelum pria itu memalingkan wajah, membuat Baekhyun melotot. Pria mana yang berani mengalihkan pandangan dari seorang Byun Baekhyun? Lancang! Baekhyun memeriksa diri takut ada bagian tubuh yang lecet. Tingkahnya memang selalu berlebihan. Si mungil itu lantas mendelik pada pria yang kini masih berdiri di hadapannya. “Tadi itu enggak sengaja. Kamu kurang fokus sama jalanan jadi—” “Enak bener pakai nyalah-nyalahin gue! Udah jelas lo yang salah!” Sudah jelas siapa yang sebenarnya salah. Tak lama setelah dibentak kasar oleh Baekhyun, pria yang mengenakan kacamata dan mantel biru tua modern dengan tatanan rambut klimis itu tersenyum maklum. Apa itu? Baekhyun melotot kecil, mengingat dengan jelas senyum kecil yang terulas melahirkan lesung pipi. Lalu ia mendelik lagi sebelum berbalik dan meninggalkan si pria yang sejati merasakan ngilu di bagian kaki yang terinjak heels. 222

*** Baekhyun akhirnya bertemu dengan orang tuanya. Setelah mencium pipi ayah dan ibunya, wanita itu lantas duduk di tengah lalu bertanya siapa sosok pria dan wanita paruh baya yang kini duduk di seberangnya. “Kenalin ini Om Han sama Tante Sera.” “Malam Om, Tante...” Baekhyun menunduk kecil sebagai bentuk sebuah penghormatan, belum menarih curiga sebelum mereka memanggil seseorang dengan lambaian tangan. “Di sini, nak.” Baekhyun mengikuti arah pandang sebelum mendapati pria yang sebenarnya mempunyai modal visual sejak awal insiden saling tabrak menabrak bahu sebelum Baekhyun sampai. Si mungil melotot kecil bahkan masih terlihat syok saat sosok itu duduk di hadapannya, lalu menatapnya sejenak kemudian tersenyum kecil seolah insiden yang terjadi beberapa saat lalu tidak pernah terjadi. “Maaf, saya terlambat karena ada bimbingan mahasiswa tingkat akhir.” “Kamu ngebimbing juga, Chan?” Pria itu bernama lengkap Park Chanyeol. Ia tersenyum pada ibu Baekhyun lalu mengangguk. “Alhamdulillah, Tante...” “Hebat anakmu!” Lalu pujian dari tuan Byun kepada tuan Park.

223

“Udah ganteng, pinter lagi. Kamu itu bisa dibilang dosen paling muda loh, Chan...” Chanyeol tersenyum lalu menunduk, tidak pernah terbiasa dipuji. “Anakmu itu loh lebih hebat, cantik, pemain film, istriku seneng ngeliat Baekhyun di tv.” Lalu semua orang tersadar. “Oh, kita lupa ngenalin mereka.” Tawa kecil itu serempak. “Nak, ini Baekhyun. Anaknya Om Jay, kamu inget Ayah sering cerita tentang teman Ayah semasa kuliah?” “Oh, ya... aku inget.” Chanyeol menyahut lalu melirik Baekhyun. Ia menebak wanita itu tidak nyaman, terlihat dari ekspresi wajahnya yang ketus dan kurang ramah di samping fakta bahwa pertemua mereka sebelumnya meninggalkan kesan yang kurang baik. “B... Nak Chanyeol ini baru pulang dari Amsterdam lho... dia langsung dapat panggilan buat ngajar di Universitas tempatmu kuliah S1 dulu. “ Baekhyun tidak peduli. Ia tidak ingin tahu Nyonya Byun menyenggol lengan putrinya pelan, namun nyatanya Baekhyun mulai curiga. Tak lama setelah saling berbincang dan berkenalan, mereka mulai menyantap makan malam sambil membicarakan hal random. “Jadi, kapan kita bisa atur pertunangan mereka?” Baekhyun refleks menoleh pada ayahnya.

224

“Lebih cepat lebih baik, lagian anak muda zaman sekarang ini pengennya yang instan.” Tuan Park menyahut dan tertawa kecil. Bukan hanya Baekhyun, sejak awal Chanyeol menaruh curiga terhadap pertemuan keluarga tersebut. Dilihatnya Baekhyun semakin tak nyaman dan tampak ingin melempar protes keras. “Maaf...” Baekhyun menyela. “Tapi, Pa... apa maksudnya ini semua?” Bukan Byun Baekhyun jika tidak sanggup menanyakan secara langsung tentang situasi yang tidak ia mengerti. Tuan Byun tersenyum lalu mengusap puncak kepala putrinya. “Papa sama Om Han dulu pernah buat perjanjian mau jadi besan.” Baekhyun refleks melirik Chanyeol yang sejak awal menatap dan memperhatikan setiap ekspresi yang wanita pancarkan. Tidak ada yang keluar dari mulut Baekhyun, ia masih bisa menjaga harga diri kedua orang tuanya untuk tidak meledak-ledak karena rencana perjodohan konyol itu. Meski begitu seseorang terlahir sebagai pria paling peka yang pernah ada, Chanyeol jelas menangkap sinyal itu. Ia tahu Baekhyun keberatan, caranya duduk dengan gelisah dan menatap semua orang dengan sebuah amarah. Tentu, Chanyeol tahu itu tidak akan mudah.

225

~oOo~ “Kenapa Papa sama Mama enggak rundingin dulu sama aku?” “Karena kami ingin agar ini menjadi kejutan buat kamu, nak.” “Ya! Ini kejutan yang amat sangat bikin aku syok! Papa enggak bisa kayak gini! Tolong! Aku bisa cari pendamping hidup aku sendiri.” “Oh ya? Yang kayak Daehyun si anak kurang ajar yang ninggalin kamu untuk nikah sama orang lain itu? Iya?” Suasana sedikit memanas karena nyatanya tuan Byun tidak sedikit pun menaruh kepercayaan pada putrinya yang selalu merasa bisa mencari pendamping hidup yang tepat. “Keputusan Papa enggak bisa diganggu gugat. Semakin kamu menolak semakin bikin semuanya jadi cepat. Bahkan Papa bisa nikahin kamu sama Chanyeol minggu depan!” “Pa!!!” Kesal Baekhyun. Ia hidup di zaman apa? Mengapa perjodohan dan hal konyol semacamnya masih berlaku? “Nak... Chanyeol anak baik-baik dari keluarga yang baik-baik juga. Mama yakin dia pasangan yang cocok buat kamu.” “Mama enggak ngerti.” Baekhyun pikir kedua orang tuanya masih memiliki pola pikir yang kuno.

226

“Aku lagi berkarir. Kalian enggak bisa ngerusak pencapaian yang aku raih susah payah hanya karena kata perjodohan!” “Siapa yang bilang karir kamu bakal hancur kalau kamu nikah? Chanyeol laki-laki yang suportif! Papa yakin dia enggak akan ngehalangi kamu buat tetap berkarir.” “I was just too young to get married!” “Nah, I don’t think so. Usia kamu udah jauh lebih cukup buat masuk ke tahap serius dalam berhubungan. Papa jengah ngeliat kamu gonta-ganti cowok dan masuk ke infotainment. Mending ada yang bener. Semuanya bukan laki-laki baik. Cuma Park Chanyeol yang bikin Papa sreg.” “Itu karena dia anaknya temen Papa, siapa yang tau kalau dia sama brengseknya kayak cowok-cowok lain?!” “Kamu! Jaga mulutmu! Park Chanyeol dari keluarga terhormat! Dia berpendidikan!” Setahu tuan Byun, Chanyeol menempuh S1 dan S2 nya di Mesir, lalu mengejar gelar doktor di Amsterdam. Pria muda yang tuan Byun tahu sangat memenuhi syarat untuk menjadi menantu idaman setiap orang tua. Bagaimana mungkin ia melewatkan kesempatan untuk itu? Siapa yang dapat tuan Byun percaya selain Park Chanyeol untuk mendampingi putrinya agar tetap berada di jalur kebenaran? Park Chanyeol mengantongi segala aspek kebaikan. Itu adalah rahasia umum.

227

Baekhyun sudah sangat frustasi, ia lantas memijit dahinya dengan kentara. “Pokoknya aku enggak mau dijodohin! Aku enggak mau nikah sama cowok itu.” Mengingat lagi wajah pria bermana Park Chanyeol itu membuat Baekhyun benar-benar muak. “Byun Baekhyun!” Si mungil tidak mengindahkan seruan ayahnya. Ini kali pertama ia membangkang hanya karena benci dengan kata perjodohan. Baekhyun lantas memilih kembali ke apartemen dengan segala pikiran yang berkecamuk.

~oOo~ Nyatanya kekesalan Baekhyun semakin meradang meskipun tiga hari sejak pertemuan keluarga itu berlalu. Suasana hatinya benar-benar dibuat semakin memburuk karena sebaris pesan singkat yang terpampang di layar ponsel. From: 0106140xxxx Assalamualaikum, Baekhyun. Ini saya, Chanyeol. Kamu ada waktu? Kita bisa ketemu dan ngobrol sedikit. Kalau ya, saya akan jemput kamu. Baekhyun nyaris melempar ponsel jika tidak sedang dalam sesi pembacaan naskah untuk film terbarunya. Suasana hatinya yang memburuk berpengaruh besar terhadap apa yang kini tengah dilakukan, berkali228

kalo Baekhyun salah membaca dialog dan membuat rekan sesama artisnya mengernyit heran. Karena tidak biasanya Byun Baekhyun melakukan kesalahan. Rasa geram itu berlanjut di agenda berikutnya. Baekhyun mengacaukan sesi wawancara dengan salah satu majalah hingga meluapkan kekesalannya pada sang manajer. Kesalahan kecil yang dilakukan pun tak luput dari amukannya, dia serupa dewi kecantikan yang mempunyai perangai buruk serupa panglima neraka. Semua orang merinding takut dan tak sedikit pun berniat mencari masalah. “Pindahin sisa jadwal gue hari ini jadi besok.” “Kenapa, kak? Kakak mau ke mana emangnya?” “Enggak usah banyak tanya!” Sang manajer tersentak karena dibentak, memang seharusnyania tidak banyak bertanya. Baekhyun tidak bisa membuat suasana hatinya semakin memburuk terlebih tidak ada sinyal baik dari kedua orang tuanya, ia tebak ayahnya tetap pada pendirian. Untuk itu Baekhyun menentukan sebuah tempat untuk menyetujui ajakan Chanyeol untuk bertemu. Setelah bertukar pesan singkat, Baekhyun lantas mengendarai mobilnya secara pribadi menuju tempat yang telah ditentukan. Ia pikir Chanyeol telah sampai terlebih dahulu namun di kursi taman itu, ia tidak menemukan siapa pun.

229

Dengan terpaksa Baekhyun menunggu sambil sesekali menyembunyikan identitas dari beberapa orang yang melintas. Sekian menit berlalu dan Baekhyun mulai memdengar suara langkah. Ia lantas menoleh dan pada akhirnya mendapati Chanyeol. Ada dia kursi yang berseberangan. Di tengahnya adalah jalan untuk akses orang-orang yang melintas. Chanyeol memutuskan duduk di kursi seberang Baekhyun hingga kini keduanya saling berhadapan dalam jarak dua meter. “Maaf, tadi ke mushola dulu.” Kata Chanyeol seraya meneliti jam tangan. “Kamu udah shalat?” Baekhyun bahkan tidak ingat kapan terakhir kali berwudhu. Wanita itu mengibaskan tangan. Sejak awal ia memang bertanya-tanya pada wajah dan rambut Chanyeol yang basah. Demi Tuhan. Berhenti menyisir rambut dengan jari jemari! Bukan apa-apa, telinga Baekhyun memanas mendengar bisik-bisik samar beberapa wanita yang melintas, melempar banyak perhatian terhadap Chanyeol yang terbalut stelan turtleneck yang membuat wajah kecilnya semakin tenggelam. Heran banget, cowok kok mukanya kecil. Baekhyun hanya iri. “Langsung ke intinya aja, saya enggak punya banyak waktu.”

230

Chnayeol tersenyum maklum, ia hanya tidak memberitahu Baekhyun bahwa ada dua kelas yang ia batalkan hari ini agar bisa bertemu dan berbicara dengan wanita itu. Chanyeol berdeham kecil lalu menautkan ke sepuluh jari dengan posisi duduk yang sedikit condong ke depan, dan menatap Baekhyun sekilas. “Tentang perjodohan yang diatur—“ “Saya udah nolak. Saya udah bilang sama orang tua saya kalau itu rencana yang amat sangat konyol.” Baekhyun tahu sejak awal, apa yang akan pria itu bahas. Chanyeol mengangguk jika itu pendapat Baekhyun. “Saya tau dan ngerti kalau kamu keberatan.” “Terus? Bukannya kamu juga keberatan?” Lalu Baekhyun membeo. “Kamu enggak mungkin setuju sama perjodohan ini kan? Astaga, tolong sadar siapa kamu dan siapa saya!” “Tenang, Baekhyun. Saya sadar betul siapa saya, ataupun kamu yang punya reputasi bagus sebagai seorang public figure.” “Terus buat apa ngajak saya ketemu? Kalau kamu tau sejak awal, ya udah batalin. Jangan mau diatur ini dan itu! Lemah banget sih!” Chanyeol mengangguk. “Saya bakal bicara sama kedua orang tua saya secara baik-baik, kalau perjodohan ini enggak perlu.” “Bagus.” Baekhyun bangkit dari kursi. “Kuno banget maen jodoh-jodohan.” “Tapi, Baekhyun...”

231

Kenapa pria itu terdengar tenang setiap kali mulutnya terbuka? Baekhyun kesal. “Kalau pun saya setuju dijodohin sama kamu, itu bukan berarti saya lemah dan enggak punya pendirian.” Chanyeol bangkit lalu meraih mantel dan memutari Baekhyun, berdiri di belakang wanita itu sebelum menyampirkan mantel miliknya tersebut di bahu si wanita bertubuh mungil untuk satu hal, selain karena cuaca yang kurang mendukung, Chanyeol rasa pakaian Baekhyun sedikit terlalu terbuka. Pria itu tidak menghitung dengan rinci namun jelas bannyak pria yang menatap Baekhyun lebih dari sepuluh detik di samping fakta bahwa wanita itu adalah selebriti terkenal. Chanyeol kembali berputar, menghadap Baekhyun seraya mengantongi tangan di saku celana. “Itu karena apa yang orang tua putuskan di luar kehendak kita sebagai anak enggak selalu berpengaruh buruk. Kadang itu bisa jadi doa yang baik.” Baekhyun mematung beberapa saat, pada ucapannya atau bahkan perlakuannya. Wanita itu tidak menyahut dan memutuskan untuk pergi tanpa pamit. Meninggalkan Chanyeol yang menggeleng maklum atas karakternya yang semakin transparan.

~oOo~ Keputusan Baekhyun untuk membatalkan jadwal keartisannya hari ini adalah tepat. Ia berlari kecil di 232

koridor rumah sakit sebelum melihat ibunya menangis di depan ruang tindak medis. Baekhyun sontak memeluk ibunya lalu menatap nanar sang ayah yang dikabarkan terkena serangan jantung saat sedang mengajar. “Sebenernya Papamu emang kurang sehat akhirakhir ini, terus kurang tidur, keinget kamu mulu enggak pulang-pulang.” Alasan Baekhyun tidak pulang adalah untuk menghindari perjodohan, agar bisa memenangkan hati ayahnya, bukan untuk melihat sosok paruh baya itu terbujur dengan bantuan alat pernafasan. Baekhyun merasa keputusannya salah. Ia mulai merasa kesal dan tak tentu arah. Lalu rombongan tim medis berlarian dan masuk saat kode biru menyala. Nyonya Byun semakin histeris, Baekhyun mulai tidak bisa tenang. Ia memeluk ibunya dengan erat sebelum dokter berwajah putus asa itu memberi kabar terburuk yang pernah singgah di kedua gendang telinga Baekhyun. Nyonya Byun ambruk tak sadarkan diri dan Baekhyun kehilangan arah, kakinya serasa tak berpijak, ia lupa rasanya tersentuh oleh gravitasi. Baekhyun tidak ingin percaya namun jelas sosok paruh baya yang tengah ditentukan waktu kematiannya itu mematahkan hatinya secara telak. Lalu matanya memburam saat tubuh sang ayah sepenuhnya tenggelam dalam kain putih.

233

~oOo~ Baekhyun menebus rasa bersalah terhadap mendiang sang ayah dengan menerima perjodohan yang telah diatur sebelumnya, selain karena perjodohan itu menjadi pesan terakhir yang ayahnya titipkan kepada ibunya. Lantas tepat setelah empat puluh hari kepergian sosok hangat dan penyayang, pernikahan itu digelar secara tertutup. Hanya dihadiri oleh sanak saudara bakan wartawan tidak diizinkan meliput proses sakral sekali seumur hidup yang meliputi selebiriti papan atas tersebut. Kabar pernikahan Baekhyun yang tiba-tiba tentu saja membuat semua orang terkejut, banyak yang berspekulasi dan tentu saja tidak sedikit yang menyebar kebohongan. Tidak ada kebahagiaan yang terpancar meskipun Baekhyun menjadi wanita tercantik saat proses ijab qabul itu berlangsung. Tatapannya kosong dan ia tidak lagi tahu caranya tersenyum untuk sekedar membalas ucapan tulus setiap orang. Demi Tuhan, menikah karena perjodohan adalah pilihan terakhir Baekhyun di muka bumi, maka ia merasa wajar jika dirinya tertekan tanpa sebuah kebahagiaan saat ijab qabul itu disahkan oleh setiap saksi. Dunianya seperti runtuh, Baekhyun hanya membayangkan kehancurannya di masa depan.

234

~oOo~ Lalu Baekhyun diboyong ke sebuah rumah baru, terletak di pusat metropolitan. Wanita itu sempat terkejut mengetahui Chanyeol mempunyai banyak aset bernilai fantastis ketika profesinya hanya sebagai seorang dosen muda. Kemudian ia tahu bahwa pria itu berinvestasi di beberapa sektor industri dan sukses, membuat isi atm nya menggemuk. Pria itu ternyata kaya raya. Meski fakta tersebut tidak membuat Baekhyun gelap mata. “Baekhy—“ “Aku capek.” Sudah jelas Baekhyun menghindar dari Chanyeol yang kini berstatus sebagai suaminya. Pria itu mengangguk paham. “Kamar kamu ada di sayap barat.” Baekhyun refleks berbalik lalu menatap Chanyeol tak percaya. “Kecuali kalau kamu lebih suka tidur satu ruangan sama saya.” Tentu saja Baekhyun keberatan, ia sedikit memuji tindakan Chanyeol yang dengan sigap menyiapkan kamar terpisah, mengingat pernikahan itu tidak didasari oleh apapun selain keterpaksaan. “Aku mau ngomong.” Chanyeol menghentikan kegiatan, koper besar milik Baekhyun yang ia bawa dari dalam mobil itu diletakkan di samping sofa sebelum kemudian ia duduk di 235

seberang si mungil yang kini memangku tangan, yang tak pernah lupa memasang wajah angkuh. “Aku punya beberapa syarat.” Chanyeol menautkan kedua alis. “Ya. Silahkan kalau emang itu diperlukan.” “Pertama, aku enggak mau disentuh.” Baekhyun harus memastikan masa depannya aman, siapa yang sudi menyerahkan diri kepada pria asing yang bahkan belum genap dua bulan ia kenal meskipun kini pria itu menyandang status sebagai suaminya. Chanyeol mengangguk. “Tentu. Saya enggak akan kurang ajar.” “Kedua, aku enggak bisa masak. Jadi untuk urusan perut aku angkat tangan, kamu bisa beli atau apapun itu.” “Saya bisa masak sendiri, jangan cemas.” Kenapa Baekhyun merasa tertohok? Bagaimana mencari celah kecil agar membuat sosok pria yang kini menggulung lengan kemeja itu tidak tampak terlalu sempurna? Baekhyun perlu memastikan bahwa pria itu mempunyai kekurangan, karena jika tidak, itu akan sangat berbahaya. “Terakhir, mau aku pulang jam berapa pun itu bukan urusan kamu. Jadwal aku bisa sampai pagi atau tengah malam, dan aku enggak mau kamu ngatur-ngatur aku tentang pekerjaaanku sebagai public figure.” Chanyeol diam beberapa saat, tidak buru-buru menjawab pada syarat ketiga karena merasa begitu berat meskipun pada akhirnya ia memilih menaruh

236

kepercayaan kepada Baekhyun sebelum kemudian mengangguk setuju. “Kamu udah selesai? Saya mau lanjut angkut barang.” “Tunggu. Kamu enggak kasih persyaratan juga? Anything?” Chanyeol bangkit lalu tersenyum. “Syarat apa yang bisa suami tuntut ke istrinya? Kita bukan lagi transaksi, saya menikahi kamu dengan tujuan beribadah. Karena Allah.” Apa yang kini membuat tangan Baekhyun terkepal karena ia merasa begitu tertohok. Tidak ada yang salah dengan apa yang Chanyeol katakan, namun mengapa kini Baekhyun merasa kesal dan tersinggung?

~oOo~ Lalu kehidupan rumah tangga itu bermula. Tidak ada perubahan signifikan bagi keduanya. Baekhyun dengan dunianya sendiri meskipun sebenarnya Chanyeol masih sanggup membagi waktu. Mereka tidak bertemu pada siang hari, Baekhyun berceloteh tentang jadwal keartisan bahkan akan berada di luar kota untuk syuting film terbaru selama lima hari. Chanyeol tidak keberatan karena itu sebuah tuntutan pekerjaan. Malamnya mereka sempat bertemu, meskipun tanpa tegur sapa. Chanyeol sempat bertanya apakah 237

Baekhyun memperhatikan jadwal makannya disela-sela kesibukan? Namun Baekhyun terlalu sinis untuk memberikan jawaban. Lantas rumah besar itu serupa kediaman tak berpenghuni di pekan pertama usia pasutri. “Enggak, Bunda... aku minta cariin asisten rumah tangga soalnya kasian Baekhyun. Dia harus capek dua kali ngurus rumah setelah pulang syuting atau pemotretan.” Sejujurnya Chanyeol bisa mengurus keperluannya sendiri, namun jika harus mengurus segala hal tentang seisi rumah itu di luar kendalinya. Nyatanya Baekhyun pulang hanya untuk beristirahat setelah berkutat dengan segudang jadwal seharian sebelum kembali meninggalkan rumah pagi buta. “Kalau gitu nanti Bunda cariin. Gimana kabar istri kamu? Bunda sms enggak pernah dibales, menantu Bunda pasti sibuk banget ya?” Chanyeol tak lantas menjawab, ia melirik Baekhyun yang baru saja turun dari lantai dua. “Iya. Nanti aku sampein salam Bunda.” Hanya itu yang keluar sebagai sahutan sebelum memutuskan sambungan telepon. Chanyeol tidak ingin Baekhyun salah paham jika namanya terucap di percakapan teleponnya bersama sang ibu. “Kamu enggak ada jadwal?” Chanyeol yang duduk di meja makan dengan secangkir kopi mengepul buatan sendiri juga surat kabar di tangan itu bertanya pada Baekhyun.

238

Baekhyun meliriknya lalu mengangkat bahu. “Ya masa kerja terus.” “Bener juga.” Gumam Chanyeol lalu kembali membaca surat kabar. Baekhyun menggaruk tengkuk setelah membuka lemari es. Perutnya lapar namun ia tidak tahu harus berbuat apa dengan bahan makanan mentah di dalam. Chanyeol menyesap kopi seraya memperhatikan gelagat si mungil, lalu menggeleng maklum. Ia bangkit lalu berdiri di belakang Baekhyun. “Mau makan apa?” Baekhyun terlonjak lalu menoleh ke belakang. “Kaget, Mas.” Panggilan pertama yang berbeda, meskipun Chanyeol sedikit terkejut namun ia masih bisa menahan diri untuk tidak bereksi berlebihan. “Mau makan apa? Biar saya yang bikinin.” Bakehyun kembali melirik isi lemari es lalu menggeleng kecil. “Enggak tau, apa saja. Yang penting makan.” Lalu Baekhyun berjalan menuju meja makan dan duduk di salah satu kursi. “Is omelette okay for you?” “Ya.” Baekhyun menyahut singkat lalu meneguk air putih. Sialnya ia duduk membelakangi Chanyeol, dan ketika berbalik sedikit dibuat syok melihat pria tinggi itu berkutat di tengah pantry, memakai apron, bahu lebarnya tak luput dari pandangan, bahkan telinganya yang memerah bersih menarik perhatian. Wajahnya kecil, telinganya lebar. Udah kayak Dobby. 239

Baekhyun membatin sebelum kemudian sadar telah memperhatikan Chanyeol serinci itu. Ia lantas berbalik setelah mendapati suaminya selesai di sana. Chanyeol kembali dengan satu porsi sedang omelet beraroma lezat. “Jangan lupa Bismillah.” Tukasnya seraya meletakkan menu sarapan itu di hadapan Baekhyun. Si mungil mengecap lapar lalu menyuap satu sendok tanpa mengindahkan peringatan sang suami tentang sebuah doa sebelum makan, lalu kedua alisnya terangkat untuk rasa yang membelai lidah. Enak banget. Wanita itu lantas melirik Chanyeol yang kembali fokus pada surat kabar. Gila ni orang. Baekhyun masih berusaha mencari celah cacat dalam diri seorang Park Chanyeol namun ia kesulitan, pria itu seolah dibaluti oleh kesempurnaan yang mutlak. “Baekhyun...” “Hn.” Tanpa melirik, Baekhyun menyahut dengan gumaman. “Mulai besok mungkin saya akan pulang sedikit terlambat. Ada beberapa murid bimbingan yang—” “Do what you have to do.” Baekhyun menyelesaikan sarapan lalu turun dari kursi. “Bukan urusan aku. Kita punya urusan masing-masing bukan? Lagian selalu lebih dulu kamu yang pulang dibanding aku.” Lalu wanita itu melenggang dan meninggalkan Chanyeol yang kini mengerjap pelan dan kemudian memghela kecil. 240

“Enggak perlu ngelapor ini itu sama aku. Urusanku juga banyak.” Seru Baekhyun lagi dari kejauhan. Maksud Chanyeol tidak seperti itu. Ia hanya menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami, yang harus membuat istrinya tahu kapan ia pulang ke rumah, ke mana ia pergi. Memang sederhana namun Chanyeol mulai lebih menghargai setiap waktu setelah menyandang status sebagai seorang suami. Pria itu bangkit lalu meraih piring kotor bekas Baekhyun dan mencucinya hingga kembali mengilat.

~oOo~ Baekhyun menghindari setiap pertanyaan dari wartawan seputar kehidupan pernikahan. Ia membuat semua orang bingung saat menunjukkan wajah ketus ketika pertanyaan seputar sosok suaminya mengemuka. Baekhyun memang tidak suka. Fakta bahwa ia masih begitu membenci pernikahannya membuat wanita itu terkesan semakin ketus dan sinis. Ia bahkan tidak repot-repot menunjukkannya di depan kamera. Hal itu sedikit menjadi perbincangan di kalangan awak media bahkan muncul di beberapa artikel. “Emangnya kenapa sih kalau mereka nanyain tentang suami lo, B?” Baekhyun memutar mata saat Luhan bertanya. “Ya gue males aja. Dulu cuma ada gue dan tentang gue, kenapa orang itu harus masuk ke dalam daftar pertanyaan atau wawamcara artis terkenal kayak gue?”

241

Baekhyun hanya ingin semua tentang dirinya, dia terbiasa bersinar seorang diri. “Padahal kan suami lo ganteng banget. Kalau itu posisi gue, udah gue bawa ke hadapan wartawan dan kenalin ke semua orang. Gila lo, bangga lah punya suami ganteng udah gitu dosen muda, kaya. Apa sih kurangnya dia.” Baekhyun mengangkat bahu. Merasa apa yang Kyungsoo katakan tidak penting. Ia memilih diam dan menghabiskan kebersamaan dengan kedua temannya itu untuk mengisi waktu luang.

*** Tanpa mempedulikan waktu, Baekhyun memilih bersenang-senang bersama Luhan dan Kyungsoo hingga larut malam. Mereka mengunjungi sebuah klub dan menghilangkan stress di lantai dansa, lalu menenggak belasan sloki berisi minuman dengan kadar alkohol tinggi. Gaya hidup Baekhyun di luar profesinya sebagai seorang artis papan atas. Kapan lagi Baekhyun bisa bersenang-senang di waktu luang? Lalu Baekhyun kembali menggila di lantai dansa bersama kedua temannya, mereka tertawa keras dan menikmati indahnya dunia malam hingga tak teras waktu merujuk pada angka empat pagi. Baekhyun tumbang di dalam taksi yang Luhan pesan.

242

Merkea mengantar Baekhyun pulang, terlalu beresiko jika membiark artis papan atas itu pulang sendirian. Taksi itu melenggang di jalanan sebelum benarbenar sampai di depan gerbang. Luhan meraih ponsel Baekhyun dan mengubungi nomor suaminya. “Assalamualaikum, Baekhyun? Kamu di mana? Saya telepon dari semalam enggak kamu angkat.” Terdengar nada cemas di seberang sana. Luhan meringis. “Maaf, ini bukan Baekhyun tapi temennya, bisa tolong bukain pintu? Kami di depan, Baekhyun mabuk berat.” Tak lama setelah sosok pria yang mengenakan baju koko dan peci yang bertengger di kepala. Luhan dan Kyungsoo melempar pandang lalu tersenyum menggila. “Assalamualaikum akhi.” Kata mereka serempak. Chanyeol menatap kedua teman Baekhyun lalu berdeham canggung melihat bagaiamna mereka semua berpakaian, termasuk istrinya. Chanyeol beristighfar di dalam hati lalu gusar karena satu hal. Jika ia mengambil alih Baekhyun dari rangkulan kedua temannya maka otomatis pria itu akan menyentuh tubuhnya yang kini terbalut pakaian super minim. “Waalaikumsalam... apa saya bisa minta bantuan kalian?” Luhan dan Kyungso melempar cengiran lalu mengangguk semangat. “Apapun untuk akhi.” 243

“Saya masih punya wudhu, jadi bantu saya bawa Baekhyun masuk ke dalam.” Bukan permintaan yang sulit. Luhan dan Kyungsoo lantas membawa Baekhyun masuk ke dalam. “Terima kasih udah nganterin istri saya pulang.” Luhan dan Kyungsoo mengangguk lalu pamit. Chanyeol berlutut di depan sofa setelah kedua teman Baekhyun berlalu, kemudia ia mnegernyit karena mencium bau alkohol yang menyengat dari tubuh Baekhyun yang kini terbaring di atas sofa. “Baekhyun...” panggilnya dengan suara lembut seraya memberanikan diri menepuk lengannya pelan. Si mungil bereaksi, mengernyit dan meracau kecil. “Baekhyun, shalat subuh dulu.” Chanyeol kembali menepuk lengan Baekhyun namun istrinya itu malah semakin meracau tak jelas karena lelapnya terganggu. “Shalat dulu, istriku...” Chanyeol kembali mengingatkan meski hasilnya tetap sama. Pria itu menghela sebelum bangkit dan mengambil selimut untuk menutupi tubuh Baekhyun yang sedikit menggigil. Chanyeol bisa saja memindahkan Baekhyun ke kamarnya, namun itu adalah tindakan yang tidak sopan. Pria itu lantas membiarkannya terlelap di atas sofa hingga benar-benar pagi bahkan sampi matahari meninggi.

~oOo~

244

Baekhyun memboyong dua koper besar untuk keperluannya sendiri selama proses syuting lima hari di luar kota. Chanyeol membantu membawakannya hingga kedua koper itu masuk ke dalam mobil. “Baekhyun...” Kenapa pria itu selalu memanggilnya dengan suara rendah? Baekhyun jengah. Wanita itu berbalik dan menunggu Chanyeol untuk berbicara sebelum ia benar-benar pergi. “Boleh saya minta tolong sesuatu?” Baekhyun memangku tangan lalu kembali menuntut penjelasan. “Bisa kamu luangin waktu sedikit buat bales sms. Bunda? Dia nanyain kabar kamu terus, mungkin perasaannya bakal sedikit lega kalau kamu sendiri yang jawab.” “Aku enggak ada waktu buat main hp. Udah deh, enggak penting banget.” “Tapi beliau Ibu saya.” Baekhyun bereaksi kecil pada nada suara Chanyeol terdengar berbeda. Ketika biasanya pria itu akan berbicara dengan suara rendah dan lembut kini terdengar nada tegas dan sedikit meninggi. Baekhyun menelaah lagi apa yang telah ia katakan. “Beliau penting bagi saya.” Chanyeol memejamkan mata, menahan diri untuk tidak membiarkan dirinya tersulut oleh kata-kata Baekhyun yang berpotensi mengikis kesabaran. “Paling tidak... kalau itu enggak 245

penting kamu bisa telan sendiri, enggak perlu mengatakannya di hadapan saya. Ibu saya cuma ingin tau kabar menantunya. Bukannya dia juga Ibu kamu sekarang?” Chanyeol menatap wanita itu lebih lama dari sebelumnya sebelum kemudian sadar dan beristighfar. Pria itu langas menghampiri sopir yang akan mengantar istrinya pergi ke lokasi syuting. “Pak, titip istri saya, ya.” “Baik, tuan.” Lalu Chanyeol kembali dan berjalan melewati Baekhyun tanpa satu atau dua kata lain yang terucap.

~oOo~ Kemudian lima hari berlalu dengan cepat. Baekhyun pulang dengan lelah yang luar biasa di samping rasa puas karena proses syuting film nya berjalan lancar. Rumah itu sepi ketika Baekhyun sampai. Wanita itu lantas melirik jam di dinding. Ia tebak Chanyeol belum pulang dari kampus atau bimbingan mahasiswa. Bahu Baekhyun terangkat acuh sebelum kemudian bergegas masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Wanita itu sudah memutuskan untuk tidur sepuasnya mengingat ia mendapat jatah libur selama satu minggu ke depan. Dan itu luar biasa. 246

Baekhyun akan memanfaatkannya untuk tidur dan tidur.

*** Baekhyun terbangun di hari berikutnya. Setelah membersihkan diri, wanita turun ke lantai dasar dan meminta asisten rumah tangga untuk membuatkannya sarapan. “Apa Chanyeol enggak pulang, Bi?” Kenapa pula Baekhyun bertanya, itu bukan urusannya. “Tuan pulang larut malam, nyonya.” “Terus sekarang ke mana?” “Udah berangkat lagi tadi pagi.” Baekhyun mengangguk kecil. Bukan hal yang biasa tidak mendapati Chanyeol duduk di kursi utama dengan segelas kopi hitam mengepul dan surat kabar, namun tak lama kemudian ia mengingat lagi pernyataan Chanyeol tempo hari Mulai besok mungkin saya akan pulang sedikit terlambat. Ada beberapa murid bimbingan yang... Yang? Yang apa? Baekhyun ingat ia menginterupsi kalimat pernyataan itu tempo hari. Lamunan Baekhyun buyar oleh bunyi bel pintu. “Biar saya aja.” Lalu Baekhyun bangkit dan berjalan menuju pintu utama. “Ya, cari siapa?” “Hallo, selamat pagi tante.” Tante? 247

Baekhyun mengernyit saat dipanggil setua itu oleh seorang gadis muda di ambang pintu. “Cari siapa?” Baekhyun mengulang pertanyaannya seraya memangku tangan. “Kenalin aku Somi, murid bimbingannya Mister Chan.” “Ya, lalu?” “Apa Mister udah berangkat ke kampus? Aku sms enggak dibales.” “Dia enggak ada di rumah, berarti udah berangkat.” Gadis bernama Somi itu tersenyum membuat kernyit di dahi Baekhyun mengemuka. “Kalau gitu aku pamit. Bye!” Baekhyun lantas membeo sebelum menggelenggelangkan kepala dan kembali masuk ke dalam. “Penting banget apa ngasih tau alamat rumah ke murid?” Baekhyun berceletuk hingga sampai ke telinga sang asisten rumah tangga. “Itu yang barusan muridnya tuan ya?” “Bibi tau?” Baekhyun mengernyit setelah menyuap sarapannya. “Itu udah beberapa hari ini dateng terus, kemaren waktu nyonya di luar kota, mereka bimbingan di sini.” “Sama anak cewek itu?” “Iya, nyonya.” “Kayak enggak ada tempat lain aja sih!” Selera makan Baekhyun mulai terganggu, ia menggebrak meja dengan emosi yang mulai memuncak, hingga membuat asisten rumah tangganya terlonjak kaget. 248

Baekhyun meninggalkan sisa sarapan di atas meja lalu naik ke lantai atas. Ia tidak marah tentang apapun selain fakta bahwa rumahnya terkontaminasi oleh orang luar. Baekhyun benar-benar benci jika orang asing masuk ke dalam lingkup pribadinya. Itu benar-benar mengganggu.

~oOo~ Pada akhirnya Baekhyun memilih menunggu meskipun ia tidak tahu kapan pria itu akan pulang. Ucapannya benar-benar terbukti, Chanyeol memang selalu pulang terlambat akhir-akhir ini dan Baekhyun telah tidak bertemu secara langsung dengannya selama tujuh hari. Kesibukan keduanya menjadikan komunikasi itu semakin berjarak. Mereka hanya terikat dalam status pernikahan, hidup dalam satu atap yang sama namun tidak menjalani kehidupan suami istri yang semestinya. Status itu hanyalah tameng, Baekhyun tahu betul tidak ada yang benar-benar berarti. Baekhyun nyaris merasa jengah pada jarum jam pendek yang menunjuk angka tujuh malam ketika deru mesin mobil terdengar di luar sana. Lalu ia menyaksikan sendiri bagaimana pria itu masuk dan melingas di ruang tamu. Mereka sempat bersitatap. “Aku mau ngomong.”

249

Chanyeol tidak bereaksi banyak meskipun setelahnya duduk di samping Baekhyun, menghela napas lelah. “Gimana kabar kamu?” Ia bertanya karena tidak bertemu dengan istrinya selama satu pekan. “Syuting lancar?” Baekhyun mendecih seraya memangku tangan. “Kenapa? Kamu berharap proses syuting aku berantakan supaya aku bisa lama-lama di luar kota terus kamu bisa seeenaknya masukin orang asing ke rumah?!” “Baekhyun?” Chanyeol mengernyit, tidak paham atas kemarahan Baekhyun yang tiba-tiba. “Enak banget ya kamu maen masukin orang asing ke rumah ini! Kamu anggap apa aku? Ha?!” “Baekhyun, kalau kamu mau duduk dengan tenang, saya akan jelasin.” Chanyeol menatap Baekhyun yang kini berdiri seraya berkacak pinggang, terlihat benar-benar marah. Ia tahu apa yang kini Baekhyun bahas. “Jelasin apa lagi, ha?! Kamu enggak nganggep aku sebagai penghuni rumah ini juga! Aku paling enggak suka kalau ada orang asing masuk ke rumah aku!” “Baekhyun... tolong duduk.” “Ini kenapa aku benci banget nikah sama kamu!” Bentak Baekhyun bahkan nyaris menunjuk Chanyeol tepat di depan wajahnya. Wanita itu murka dan meninggalkan Chanyeol yang kini termangu tanpa sepatah kata. Bagaiamana kata-kata Baekhyun sanggup menjelma menjadi belati tajam yang mengoyak ulu hati Chanyeol hingga ke bagian terdalam. 250

Lalu pria itu dengan cepat mengingat Sang Pencipta. Chanyeol beristighfar sebanyak yang ia bisa sambil sesekali menahan pening yang kembali mendera isi kepala.

~oOo~ “Baekhyun belum turun?” “Iya, tuan. Katanya nyonya enggak enak badan, ini minta dibikinin bubur.” Kedua alis Chanyeol menyatu, ia lantas meninggalkan cangkir berisi kopi dan surat kabarnya sebelum menggulung lengan kemeja. “Biar saya aja yang bikin buburnya. Bibi kerjain yang lain.” Sang asisten rumah tangga itu sempat ragu sebelum kemudian menuruti titah majikannya. Lalu Chanyeol mulai menyibukkan diri di seberang pantry. Kejadian semalam jelas masih terngiang dalam benak, tentang kemarahan Baekhyun. Chanyeol mulai merasa semua mutlak karena salahnya. Tidak seharusnya ia memasukkan orang asing ke dalam rumah, bahkan tanpa memberitahu istrinya, dalam keadaan sedarurat apapun, meskipun hanya untuk keperluan membimbing, Chanyeol salah. Ia merasa bersalah.

251

Selagi menunggu bubur itu matang, Chanyeol berkutat sejenak dengan layar ponsel dan mengirim pesan singkat. To: Dokter Kim Selamat pagi, Dok. Hari ini saya skip check up ya, soalnya istri saya lagi sakit. Nanti saya atur lagi jadwal. Terima kasih. Bubur itu kemudian matang. Chanyeol menyajikannya di atas mangkuk ditemani segelas air putih di atas nampan. Sedikit ragu saat naik ke lantai dua dan berjalan menuju pintu kamar Baekhyun. Meskipun pada akhirnya ia mengetuk pintu saat perasaan cemas tak lagi terbendung. “Baekhyun? Saya boleh masuk?” Tidak ada sahutan, setelah cukup lama Chanyeol akhirnya memberanikan diri memutar knop pintu. Ruangan itu temaran karena lembaran gorden masih tidak mengizinkan cahaya matahari untuk masuk. Lalu Chanyeol melihat sosok mungil itu meringkuk, setengah badannya tertutupi selimut. Helaan kecil lolos tatkala ia duduk di pinggiran ranjang setelah meletakkan bubur di atas nakas. “Baekhyun...” Chanyeol mengguncang lengannya dengan perlahan. “Baekhyun? Bangun dulu, kamu makan terus minum obat.” 252

Baekhyun terusik setelah beberapa saat sadar bahwa Chanyeol ada di kamarnya. “Ngapain kamu di kamar aku?” Lalu wanita itu membelakangi Chanyeol. “Makan dulu. Bibi bilang kamu enggak enak badan, nanti minum obat.” “Apa peduli kamu? Bukannya aku enggak dianggep di rumah ini.” Baekhyun kesal. Hal itu berimbas pada pola pikir dan daya tahan tubuh di samping ia sudah merasa tidak sehat setelah pulang dari luar kota. “Saya salah. Maafin saya.” Chanyeol menepuk lengan Baekhyun, meminta maaf dengan suara pelan. “Saya janji enggak akan ngelakuin hal-hal yang akan bikin kamu kesal lagi.” Meskipun kesalahan Chanyeol kali ini murni karena keadaan darurat. “Baekhyun...” Pria itu terdengar membujuk di telinga Baekhyun, suara lemah lembut lalu tepukan kecil di lengan. Wanita bumi mana yang tidak lemah? Bahkan sekeras apapun hati Baekhyun, wanita itu dibuat berbalik dan menatap Chanyeol dengan tatapan menyalahkan. Seolah semua salah Chanyeol, dan pria itu pantas untuk meminta maaf, membujuk, dan merasa bersalah. “Maafin saya. Hum?” Wanita mana yang tidak suka dibujuk dengan tatapan lembut dan menghangatkan?

253

“Kamu janji enggak akan bawa-bawa orang asing lagi masuk ke rumah?” Chanyeol mengangguk. “Saya janji. Itu kesalahan yang enggak akan saya ulangin.” Baekhyun masih merengut kesal, tingkah manja yang tidak pernah Chanyeol duga akan keluar dari sosok yang selama ini ia kenal sebagai wanita ketus dan pemarah. “Buburnya keburu dingin. Kamu makan dulu.” Baekhyun lantas bangkit dan duduk menyandarkan punggung pada headboard. Memangku mangkuk bubur dan menyuap pelan. “Muka kamu pucat. Kalau nanti siang masih enggak enak, kita ke dokter.” Baekhyun menggeleng. “Aku cuma kecapean, Mas.” “Tapi badan kamu juga anget.” Baekhyun nyaris berjengit saat Chanyeol menempelkan telapan tangan di keningnya. Sialnya setiap pergerakkan kecil yang pria itu buat selalu meninggalkan jejak aroma khas yang hanya akan Baekhyun temukan pada pria itu saja. Ia bertanya-tanya parfum apa yang Chanyeol pakai? “Enggak apa-apa, nanti juga mendingan.” Chanyeol mengambil mangkuk yang telah kosong dari tangan Baekhyun, menatapnya sejenak sebelum kemudian berdiri. “Kalau gitu kamu istirahat. Saya ada di bawah. “ ia menarik selimut menutupi setengah tubuh Baekhyun lalu mengusap puncak kepalanya beberapa detik. “Text me if you need something.” 254

“Kamu enggak ada kelas?” Untuk apa Baekhyun bertanya? Chanyeol menggeleng dan tersenyum sebelum benar-benar keluar dari kamar Baekhyun. Tidak memberitahu siapa pun bahwa ia membatalkan kelas karena merasa perlu ada di rumah saat istrinya sakit.

*** Chanyeol nyaris ambruk di bawah wastafel jika ia tidak lebih dulu menahan beban tubuh. Cairan merah pekat yang merembes dari hidung membuatnya kalangkabut dan segera mencari cara untuk menghentikan pendarahan tersebut. Pria itu lantas berjalan ke kamar, kaki telajangnya sempoyongan karena pening yang menyerang isi kepala, lalu ia meraih botol obat di dalam nakas sebelum menelan beberapa pil sesuai resep. Lalu satu pesan singkat masuk. Chanyeol merogoh saju celana. From: Dokter Kim Baik, Pak Chanyeol. Kalau bisa jangan diskip terlalu sering untuk check up nya, kondisi Bapak masih harus ditangani serius. Napasnya Chanyeol terengah, kepalanya menengadah, matanya terpejam erat. Chanyeol sudah berusaha meluangkan waktu untuk mengontrol kondisi terkini tentang gejala penyakit 255

yang divonis oleh dokter beberapa waktu lalu. Pria itu bahkan pulang terlambat akhir-akhir ini, demi menjalani serangkaian medis yang diperlukan. Bahkan beberapa hari terakhir ia terpaksa menjadwalkan salah satu muridnya untuk melakukan bimbingan di rumah karena saat itu kondisinya tiba-tiba kambuh. Pria itu meringkuk sepanjang jam karena terserang nyeri dada yang parah dan menyakitkan. Membuatnya kesulitan untuk keluar dari rumah ketika bahkan jadwal bimbingan itu tidak bisa untuk dilewatkan. Meskipun pada akhirnya hal itu memicu kesalahpahaman dari istrinya. Chanyeol masih merasakan nyeri di balik batok kepala ketika pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Pria itu lantas bangkit, menyembunyikan rasa sakit dalam hitungan detik sebelum membuka pintu. Baekhyun di sana, menatapnya dengan ragu. “Kamu perlu sesuatu?” Baekhyun tidak menaruh curiga pada wajah pucat Chanyeol selain fakta bahwa pria itu memang mempunyai warna kulit putih bersih. “Aku. Bosen.” Baekhyun enggan menghubungi teman-temannya yang sibuk. Chanyeol mengerjap beberapa saat lalu melirik jam dinding. “Shalat berjamaah, mau? Bosen kamu bakal ilang, saya berani jamin.” Baekhyun nyaris mendengus karena bukan itu yang diyakininya sanggup menebus rasa bosan karena harus terjebak di dalam rumah di sela-sela hari libur. “Tapi...” 256

“Ayo.” Chanyeol memaksa, lantas menuntun Baekhyun untuk turun ke lantai dasar. Mereka memutari kolam di halam belakang rumah sebelum Baekhyun dibuat terkejut karena ada penampakan mushola di sana. “Kenapa aku baru tau ada mushola di rumah ini?” Chanyeol tersenyum maklum ketika ia tahu Baekhyun kerap melewatkan shalat lima waktu. “Tapi... aku, lupa bacaan shalat.” Baekhyun tidak suka wajah basah Chanyeol setelah berwudhu karena ia yakin wajahnya kali ini kalah cerah oleh pria itu. “Apa gunanya saya kalau enggak bisa nuntun kamu?” Baekhyun memalingkan wajah. “Ambil wudhu dulu, saya tunggu di dalam.” Tak lama setelah berwudhu, Baekhyun menyusul suaminya masuk ke dalam mushola. Suasana di sana terasa sejuk dan menenangkan. Baru kali ini Baekhyun merasa begitu nyaman dengan sesuatu yang baru. Lantas wanita itu mengenakan mukena dan membuat satu-satunya pria di dalam sana mematung dan kelu. Terpesona. “Mashallah.” Gumam Chanyeol penuh rasa takjub atas ciptaan Tuhan yang kini bersiap menjadi makmumnya. Yang tak lain adalah istrinya, sosok cantik luar biasa yang kini membuat Chanyeol bersyukur memilikinya sebagai pendamping hidup. Tak lama kemudian shalat berjamaah itu berlangsung dalam sunyi, hanya terdengar bunyi kecipak 257

air mancur di tengah kolam ikan yang tak jauh dari letak mushola. Chanyeol menjelma menjadi seorang imam yang sesungguhnya, setiap gerak yang ia ciptakan menuntun Bakehyun menuju kebebaran di jalan Tuhan. Seirama ayat-ayat suci yang terlantun dengan indah, oleh suaranya yang pelan namun menggelitik indera pendengaran Baekhyun, yang anehnya membuat wanita itu betah dan ingin terus menerus mendengar lantunan ayat itu dari mulut suaminya. Rakaat terakhir menuntun sebuah salam kepada yang Maha Kuasa. Chanyeol berbalik dan menyodorkan tangan, senyum cerahnya menghipnotis Baekhyun untuk meraih tangan itu sebelum kemudian menciumnya. Mengapa Baekhyun bahkan merasa tak menentu kala puncak kepalanya diusap dengan lembut? Lalu ditatapnya punggung lebar terbalut baju koko putih, dan Baekhyun sadar rasa bosannya benarbenar menghilang. Pria itu tidak membual, Baekhyun merasakan damai, dan kemarahan dalam dirinya berkurang sekian persen, tergantikan oleh rasa tenang setelah menyempatkan diri berkonsentrasi menghadap Sang Pencipta.

~oOo~ Gadis yang sama kembali.

258

Baekhyun menatapnya tak bersahabat mengingat gadis itu adalah orang asing yang pernah masuk ke dalam rumahnya. “Mister Chan skip kelas selama dua hari, kemarin dan hari ini. Jadi aku dateng.” “Buat apa?” “Ya?” Somi membeo dengan mata membulat. “Buat apa kamu repot-repot dateng ke rumah dosen kamu yang skip kelas dua hari?” Meskipun Baekhyun merasa penasaran mengapa si profesional Park Chanyeol melakukan hal tersebut? “Aku sebagai muridnya wajib tau dong.” Baekhyun memijit pangkal hidung. “Dengar ini, gadis manis. Saya rasa kamu enggak perlu bersikap berlebihan seperti ini. Suami saya enggak ngasih tau kamu itu berarti kamu enggak penting untuk dikasih tau. Saya pikir murid suami saya bukan cuma kamu aja meskipun yang repot sendiri di sini itu ya cuma kamu.” “Apa salahnya perhatian ke guru sendiri?” “Salah besar! Dia suami orang! Suami saya! Dan sikapmu berlebihan ketika bahkan kamu cuma murid bimbingan.” Baekhyun refleks bungkam. Apa yang salah dengan dirinya? Kenapa ia terdengar kalut? “Aduh tante, jangan sensi-sensi dong. Aku juga tau tante istrinya Mister Chan. Aku juga tau tante artis terkenal meskipun aku enggak minat minta tanda tangan. Aku pulang aja deh.” Lalu Somi mengangkat bahu dan berbalik. “Hmm apa Mister pergi ke rumah sakit lagi ya...”

259

Gumaman Somi itu sampai hingga gendang telinga Baekhyun, membuat kernyit di dahi wanita itu mengemuka seketika. Rumah sakit? Baekhyun bertanya-tanya siapa yang sakit? Siapa yang mungkin Chanyeol kunjungi di rumah sakit sehingga pria itu melewatkan jadwal kelas?

~oOo~ “Hallo, B?” “Hn. Ya, Lu. Ada apa? Tumben banget nelfon jam segini?” “Suami lo ada di rumah?” “Belum pulang sih, kenapa? Lo mau mampir? Ayo ke sini lah, gue bosen.” “Enggak. Berarti yang tadi gue liat di rumah sakit itu beneran suami lo kali ya?” Baekhyun sontak menegakkan posisi duduk. “Lo ngeliat dia di rumah sakit?” Lantas Baekhyun kembali terlempar pada ucapan gadis berpipi tembam tadi siang. “Iya, gue pikir salah liat. Eh tapi bener.” “Lo tau enggak dia ngapain di sana?” “Loh... lo istrinya sendiri aja enggak tau apalagi gue.” Benar juga. Baekhyun berterima kasih atas informasi yang diberi lalu menutup sambungan telepon.

260

Tak lama setelahnya suara mesin mobil terdengar di luar. “Assalamualaikum.” “Kamu baru pulang?” “Salamnya dijawab dulu, Baekhyun...” Yang ditegur mendengus kecil. “Wa’alaikumsalam.” Chanyeol tersenyum, menjelma menjadi seorang suami paling bahagia. Ini kali kedua Baekhyun duduk di sofa ruang tengah saat Chanyeol pulang, membuatnya berpikir itu adalah sebuah sambutan. “Kamu udah makan?” “Kamu sibuk banget akhir-akhir ini. Pulang telat terus. Ke mana dulu?” “Jadi sejak kapan kamu jadi istri yang posesif?” Chanyeol terhibur, tidak biasanya Baekhyun peduli. “Aku enggak peduli sebenarnya. Cuma mau tau, kamu lebih sibuk dari aku yang seorang public figure.” Chanyeol menggeleng maklum. “Saya banyak kerjaan di kampus.” Bohong! “Cuma itu?” “Enggak ‘Cuma itu?’, Baekhyun. Jadi dosen itu sibuk lho...” Baekhyun memicing kecil, menuntut banyak penjelasan. “Kelas saya banyak hari ini.” Bohong!

261

Tidak ada penjelasan tentang rumah sakit sejauh ini. Bahkan ketika pria itu beranjak menuju kamarnya. “Baekhyun...” Chanyeol kembali berbalik. “Saya punya resep pasta yang lumayan. Kamu mau? Kalo iya, saya mandi dulu. Kita makan malam bareng.” “Aku enggak—” —makan pasta. “Okay.” Baekhyun tidak tahu apa yang membuat penolakan itu tertahan di ujung lidah. Apa karena wajah Chanyeol yang penuh pengharapan? Mengapa ia rela mengiyakan ketika tengah dalam tahap menjaga keseimbangan berat badan untuk perannya dalam sebuah project film? “Wait for me.” Mengapa bahkan senyum senang Chanyeol sanggup mengenyahkan rasa sesal?

*** “Saya enggak tau apa kamu minum wine... tapi—” “I’m okay with the thing.” “Great.” Chanyeol lalu menuangkan fermentasi anggur itu di gelas Baekhyun. Di meja itu tersaji dua porsi pasta yang menggiurkan.

262

Sejujurnya Baekhyun tidak sabar namun antusiasnya terganggu oleh lampu yang ruangan tiba-tiba padam. Baekhyun benci gelap. Baekhyun benci jika listrik padam. Ia pengap dan ketakutan. “Mas...” “Sebentar... ini kayaknya pemadaman seluruh kota.” “Kamu di mana?” Baekhyun panik karena tidak bisa melihat apa-apa. Chanyeol tidak menyahut dan kian membuat Baekhyun takut. “Mas...? “Saya ambil lilin dulu.” “Enggak!” Baekhyun refleks meraba ke segala arah hinga akhirnya menarik ujung baju suaminya. “Baekhyun?” “Di sini aja.” Chanyeol menautkan kedua alis saat dirasanya pita suara Baekhyun bergetar. Ia bahkan sedikit terkejut karena Baekhyun mencengkram bajunya kuat-kuat. “Tapi di sini gelap. Saya ambi lilin dulu dan—” “Enggak mau!” Wanita itu merengek. Chanyeol tebak dia takut gelap. Lilin adalah satu-satunya jalan keluar. Jika tidak ada penerangan maka Baekhyun akan semakin ketakutan. Karena keduanya sedang tidak memegang ponsel. “Yaudah kamu ikut.”

263

Tanpa menunggu jawaban, Chanyeol meraba tangan Baekhyun dan menggenggemnya erat. “Stay beside me.” “Ini gelap, aku enggak bisa liat.” Baekhyun bisa menjadi wanita paling manja jika sedang ketakutan. Fakta itu terkuak oleh Chanyeol yang kini tersenyum kecil dalam kegelapan. “Saya hafal interior pantry. Dari sini...” Chanyeol melangkah pelan, memutari meja besar. “Belok sedikit.” Lalu meraba salah satu laci. “Ketemu.” Gumamnya lalu menarik kemasan lilin sementara tanganya yang lain masih menggengam tangan Baekhyun. Chanyeol lantas bergegas menyalakan pemantik untuk menghidupkan lilin. Baekhyun baru dapat bernapas sedikit lega setelah melihat cahaya lilin. Chanyeol menatapnya lalu tersenyum. “Enggak apa-apa, udah terang.” Lalu pria itu kembali menuntun Baekhyun hingga mereka sampai di meja makan. Lilin itu diletakkan di tengah meja. Menjadi satusatunya cahaya yang menerangi menu makan malam mereka. Tidak ada hal lain yang tersisa selain atmosfer canggung yang tercipta. Mengapa Baekhyun merasa itu mirip dengan makan malam romantis di sebuah vip restoran yang hanya dibekali cahaya lilin? Apakah itu berlebihan?

264

Tentu. Karena kini Baekhyun tengah merutuk dalam hati. Ia bahkan mengutuk diri karena terlalu lama membiarkan tangannya digenggam oleh Chanyeol. “Baekhyun?” “Huh? Ya?” Si mungil membeo. “Pastanya keburu dingin.” “Oh. Iya...” Baekhyun lantas menyantap menu makan malam yang Chanyeol persiapkan untuk mereka. “Ini... enak.” Baekhyun memuji dengan tulus. Ia selalu mengagumi rasa lezat dari setiap makanan. Bagaiamana bisa Chanyeol sepandai itu dalam mengolah makanan? “Baekhyun...” Yang dipanggil menengadah saat suara Chanyeol terdengar serius. Pria itu meletakan garpu lalu menatap istrinya. “Pernikahan ini... menyebalkan bukan?” Kenapa Chanyeol bertanya demikian? Baekhyun tidak tahu harus menyahut apa ketika dengan jelas ia menangkap ekspresi sendu dari wajah suaminya. Ada apa? Ia bukan tipikal wanita yang mudah iba. Itu memang sudah menjadi rahasia umum. Wanita jahat itu. Namun ia merasa perlu tahu mengapa Chanyeol kerap terlihat tenang dan berwibawa itu tampak tertekan. “Saya tau, kehidupan rumah tangga ini berat buat kamu.” Mereka tidak benar-benar harmonis seperti yang dinilai oleh keluarga besar. Mereka hanya dua orang asing

265

yang terikat oleh nilai suci pernikahan dan terjebak dalam satu ruangan Baekhyun akui ia pengap. Kebebasannya terenggut, status itu ia jalani hanya untuk sekedar memenuhi pesan terakhir sang ayah sebelum meninggal. Hanya itu. “Ya. Ini sulit buat aku.” Baekhyun tengah berada di puncak kepopularitasannya sebagai seorang artis, ia benci jika apa yang telah berhasil ia raih dengan susah payah harus terkomntaminasi oleh sesuatu yang merepotkan seperti pernikahan. Bahkan sampai saat ini ia masih tidak nyaman tampil di depan kamera dengan statusnya sebagai seorang wanita yang telah bersuami. Chanyeol mengangguk paham. “Kamu tau, saya bisa cari sebuah alasan buat bilang ke keluarga besar saya kalau pernikahan ini salah. Kalau saya enggak bisa lanjut,” Baekhyun refleks menatap Chanyeol dengan kedua alis yang nyaris bertaut. “Kenapa?” Bukan pertanyaan lain yang lebih menuntut atau bahkan pernyataan setuju atas niat Chanyeol. Namun Baekhyun seolah ingin sebuah alasan yang kuat. “Gimana menurut kamu?” Chanyeol balik bertanya dan membuat garpu di tangan Baekhyun dicengkram dengan kuat. Mengapa bahkan rasa pasta itu mendadak hambar? Ada apa dengan Baekhyun ketika bahkan ia bisa secara langsung menyetujui usul Chanyeol? “Maksud kamu... kita cerai?” 266

Chanyeol menggeleng. “Saya enggak berani memikirkannya lebih jauh, itu kata-kata yang sedang saya hindari sebelum kamu benar-benar yakin bahwa berpisah emang jalan keluarnya.” Mengapa Baekhyun seolah tengah dihadapkan pada sebuah pilihan? Kenapa situasinya mendadak tidak adil? “Kenapa kamu kayak lagi mojokin aku, Mas?” Chanyeol menautkan kedua alis. “Loh, saya enggak mojokin kamu.” “Terus untuk apa pembicaraan ini?!” Baekhyun mulai kesal. Meskipun ia tidak tahu alasan tepatnya. Chanyeol mengerjap tidak mengerti. “Saya bicara berdasarkan apa yang kita rasa. Bagian mananya yang mojokin kamu?” Benar. Bahkan jika bisa dibilang, Chanyeol tengah memberi Baekhyun kesempatan untuk lolos dari ketidaknyamanan. Tengah memberi Baekhyun kesempatan untuk kembali mendapatkan kebebasannya lagi. “Baekhyun, jangan salah paham. Saya yakin kamu ngerasa muak tinggal satu atap sama laki-laki asing kayak saya. Saya bisa ngerti.” Chanyeol peka akan segala hal. Ia percaya, sebelum memutuskan untuk menerima perjodohan, Baekhyun adalah wanita dengan gaya hidup yang berbanding terbalik seperti saat ini. Baekhyun bungkam beberapa saat, ia menimang opsi untuk memikirkan tawaran Chanyeol. Sejujurnya itu bukan opsi yang sulit. Bahkan menguntungkan, jika 267

Baekhyun setuju maka ia akan kembali mendapatkan kebebasan dengan statusnya yang kembali melajang. Baekhyun akan kembali bernapas dengan lega tanpa harus merutuk pada kehidupan rumah tangga yang menjengahkan. Ya, itu benar-benar tawaran yang menarik. Lantas mengapa kini lidah Baekhyun sulit untuk memberi pendapat? Mengapa ia harus menjumpai sekelebat sendu yang berpendar di kedua mata Chanyeol? Mengapa Baekhyun merasa tidak nyaman memikirkan sebuah perpisahan? Ada apa Baekhyun? Kenapa?! Meskipun begitu, tetap saja rasa ingin bebas menjuara di dalam hatinya. “Aku...” Baekhyun menatapnya lamat-lamat. “Aku setuju.” Chanyeol mengangguk paham, hanya tidak memperlihatkan peraasaannya yang sesungguhnya terhadap Baekhyun. Dari awal pria itu sudah yakin bahwa Baekhyun akan memilih setuju dengan kata perpisahan. “Tapi, aku enggak bisa pisah sama kamu tanpa lebih dulu menunaikan kewajiban aku sebagai seorang istri...” Chanyeol kurang mengerti, ia lantas menatap Baekhyun dan menuntut penjelasan. “Mas... sentuh aku.”

268

Diam-diam Baekhyun berperang dengan dirinya sendiri. Paling tidak ia memutuskan untuk menyerahkan diri di ambang batas garis suci. “Aku yakin kamu tau dengan menyentuh aku itu bisa menyempurnakan peran aku sebagai seorang istri.” Baekhyun tidak bisa menjadi lebih brengsek lebih dari yang ia lakukan selama ini. Perpisahan itu akan mutlak jika Baekhyun telah sepenuhnya menjadi seorang istri, dan Baekhyun tahu untuk menjadi seorang istri yang sebenarnya ia harus menyerahkan diri sepenuhnya kepada sang suami. Baekhyun beranjak dari kursi, mendekat, mengulurkan tanganya kepada Chanyeol yang masih mematung akan keputusan yang diambil. Di detik itu Baekhyun menyerahkan diri. Di menit berikutnya ia akan berperan sebagai seorang istri yang siap untuk digauli. Berbekal cahaya lilin, langkah keduanya intens, saling menuntun menuju satu-satunya ruangan yang akan menjadi saksi. Ranjang besar di kamar yang seharusnya menjadi hunian pasutri sejak awal pernikahan itu pada akhirnya menjadi tempat di mana keduanya duduk saling berhadapan. Melalui cahaya temaram, Chanyeol menatap istrinya dengan perasaan mendalam. “Kamu cantik.” Tangannya terulur membelai wajah mungil itu, lalu disambut oleh kecupan kecil yang Baekhyun sematkan di telapaknya.

269

Si mungil mengulurkan tangan, tanpa mengalihkan pandangan dan mulai menanggalkan satu-persatu kancing kemeja suaminya, menatap bahu lebar itu dengan kerjapan mata pelan, diam-diam mengagumi wajah tampannya yang sejak awal sanggup memesona. Suaminya tampan. Sangat tampan meskipun akhirakhir ini wajahnya terlihat lebih tirus dan pucat. Dia tersenyum, dan itu sangat tampan. Lalu ada dekapan yang tersemat, kulit itu bergesekkan, dengan jelas bersentuhan. Chanyeol memeluknya erat. Pelukan pertama yang melahirkan beragam gejolak emosi. Seperti itu rasanya memeluk sosok istri yang sejatinya ia butuhkan untuk sebentuk dukungan atas kesulitan yang menderanya akhir-akhir ini. Baekhyun menengadah kecil kala bahunya dihirup dalam. Seperti Chanyeol tengah mencari kehidupan di sana. Di menit berikutnya ada yang kagum, pun merasa canggung tatakala tidak ada lagi sehelai benang yang membalut tubuh keduanya di dalam cahaya temaram. Baekhyun terbuai oleh caranya menatap lembut seraya mengusakkan ibu jari di pipi. Saat cumbuan kecil tersemat di pelipis kiri, garis rahang dan tulang selangka. Baekhyun menggila, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak terpesona oleh deru napas hangat suaminya yang menyentuh kulit. Chanyeol melakukan segala hal agar istrinya terhindar dari perasaan takut dan gugup. Termasuk

270

mengulas senyum kecil untuk meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Baekhyun mengerjap, mengangguk kecil lalu memejamkan mata kala sang suami meletakkan telapak tangan di keningnya lalu menggumamkan sebuah doa yang tidak ia mengerti. Lantas di menit-menit selanjutnya ada air mata yang meniti untuk sesuatu yang telah dirusak setelah menempuh kesulitan. Pedih dan perih. Chanyeol memiliki tempo paling lambat dan lembut. Baekhyun yakin pria itu memegang rekor sebagai pria penyabar dan paling penyayang. Demi apapun, lagilagi Baekhyun terbuai, terpesona hingga lupa caranya melepaskan lengan yang melingkar erat di leher kokoh suaminya. Waktu berjalan lambat, suara detak jarum jam di atas dinding tidak sendirian karena di bawah sana ada dua insan yang tengah berpacu dalam persenggamaan. Lalu hanya tersisa peluh yang mengucur deras di detik terakhir gejolak birahi. Penat merajai seluruh sendi, Chanyeol menghadiahi kecupan lembut dan penuh kasih sayang atas kesabaran Baekhyun selama satu jam ke belakang, lalu dengan senang hati menyambut istrinya ke dalam dekapan. Tubuh polos keduanya terbalut selimut. Baekhyun tidak tahu mengapa udara terasa sangat menusuk hingga membuatnya masuk lebih jauh ke dalam pelukan. Lengan berotot itu adalah bantal terbaik, dadanya yang bidang beraroma khas, memabukkan. 271

Lantas Baekhyun tidak tahu mengapa wajahnya merona ketika mengingat tubuh besar dan kekar itu yang mengungkungnya selama satu jam terakhir. Aroma persetubuhan masih menguar di udara, tidak ada yang benar-benar terlelap meskipun mata keduanya terpejam. Hingga pada akhirnya, Chanyeol yang lebih dulu kembali ke kenyataan. Ia beranjak, membuat Baekhyun mengernyit karena kehilangan kehangatan. Si mungil menatap punggung tegap itu dengan nanar. Mengapa ia merasa terluka saat pria itu mulai menciptakan jarak? Sesak apa yang kini mengendap di ulu hati kala menyaksikan sendiri bagaimana pria itu beranjak dan menjauh? Baekhyun lantas memeluk diri, meraba seluruh tubuhnya, mengingat dengan jelas sentuhan yang diberikan oleh Chanyeol lalu merasa hampa di saat yang sama. Dingin. Baekhyun mulai menggigil. Dan ia menggila, terluka dan frustasi karena merindukan kehangatan itu. Konyol setelah begitu marah oleh pernikahannya dengan pria itu. Merasa brengsek karena memperlakukan pria hebat itu dengan tidak adil, mencuranginya, tidak melayaninya dengan baik hanya karena benci dijodohkan. Berdosa. Baekhyun berdosa.

272

Tidak ada yang lebih berdosa dari dirinya yang selalu memasang wajah marah kepada sang suami. Acuh. Hanya peduli dengan dunianya sendiri. Si mungil itu mulai meratap. Semakin erat memeluk tubuhnya yang polos. Tertampar keras karena kehangatan itu tidak akan terulang. Karena esok semua tidak akan pernah sama.

~oOo~ Sepucuk surat cerai yang tergelatak di atas meja rias pagi itu sanggup membuat Baekhyun kalang kabut. Ia lantas berlari menuju kamar Chanyeol dan ambruk tatkala mendapati lemarinya kosong. Pakaiannya telah sirna, koper besar itu pun tidak ada. Baekhyun menggigit bibir hingga mendapati aroma karat. Ditatapanya surat cerai itu dengan seksama, belum terbubuh satu pun tanda tangan. Apa artinya? Baekhyun menunduk dalam, memijit pelipisnya dengan kentara. Bukankah itu keinginannya sendiri? Mengapa kebebasan yang Baekhyun idamidamkan itu serasa tidak memiliki arti? Lalu ke mana perginya Park Chanyeol? Baekhyun tidak berpikir lebih jauh sebelum turun ke lantai dasar. “Bi... Bibi...” “Ya, nyonya?” 273

“Liat suamiku enggak?” “Oh, tadi tuan pergi pagi-pagi sekali. Katanya mau ada seminar di luar kota. Bawa koper. Suruh titip pesan buat nyonya, katanya tuan pergi dulu. Enggak tega mau bangunin.” Baekhyun kembali memijit pelipisnya dengan kentara. Bagaimana lihainya Chanyeol menyembunyikan permasalahan rumah tannganya dari orang luar. Pria dewasa yang tahu menempatkan segala situasi dengan baik dan benar. Lantas kini hanya tersisa Baekhyun yang mulai mengulang memori dari awal, dari sejak ijab qabul itu terucap. Air mata apa yang kini lolos dari pelupuk mata?

~oOo~ Seminggu berlalu. Baekhyun kembali menjalani aktifitasnya sebagai seorang artis. Jadwalnya kembali padat, syuting dan pemotretan yang menyita waktu. Semua dikerjakan tanpa terkecuali. Baekhyun bahkan tidak mengeluh lelah, satu hal yang membuat manajernya merasa aneh ketika bahkan sang artis akan banyak berceloteh dengan nada marah. Nyatanya Baekhyun lebih banyak diam dan mengerjakan segala hal dengan tenang. Tidak seperti Byun Baekhyun yang sebenarnya.

274

Jika biasanya selalu ada hal kecil yang membuatnya marah dan mengeluarkan makian maka kali ini tidak. Baekhyun sepenuhnya berbeda, dan membuat orang-orang di sekitarnya berspekulasi bahwa wanita itu tidak menikmati waktu liburnya selama satu minggu ke belakang. Baekhyun memilih menyetujui penambahan jadwal, ia tidak keberatan jika harus pulang larut malam atau bahkan pagi. Bahkan baru-baru ini Baekhyun menandatangani kontrak dengan rumah produksi untuk project drama di saat wanita itu pernah bertekad untuk tidak mengambil slot selain film layar lebar. Satu hal yang membuat Baekhyun setuju adalah jadwal syuting yang intens, itu artinya Baekhyun akan menghabiskan banyak waktu dengan bekerja dan bekerja. Itu artinya Baekhyun hanya akan fokus pada kesibukannya, tidak pada hal lain. Dan tidak pada pria itu. Dengan begitu Baekhyun akan lupa dan tidak lagi merasa tersiksa. Ya. Baekhyun akui ia tersiksa setelah perpisahannya malam itu, meksipun surat cerai itu hingga saat ini masih bersih dari bubuhan tanda tangan, menjelaskan satu hal bahwa statusnya menggantung. Bahwa pria itu tengah menunggu. Kedua alis Baekhyun lantas menyatu, posisi duduknya menegak dalam hitungan detik. Itu artinya pria itu tengah menungggu.

275

Baekhyun kembali menatap surat cerai itu. Fakta bahwa Chanyeol belum membubuhkan tanda tangan adalah untuk satu hal, bahwa pria itu tengah menunggunya. Mengapa Baekhyun begitu bodoh? Wanita itu merutuk kesal pada diri sendiri, lalu kembali mengerang karena nomor Chanyeol sudah tidak berlaku. Tidak aktif dan sulit dihubungi. Baekhyun mulai gelisah. Nama Luhan terpampang di layar ponsel, lalu Baekhyun menggeser tombol hijau. “Ya. Lu?” “B... Lo di mana? Suami lo di rumah enggak?” Untuk menjaga privasi, Baekhyun memang tidak menceritakan masalah rumah tangganya pada siapa pun termasuk teman-temannya. “Gue lagi di lokasi. Ada apa, Lu?” Mengapa Luhan selalu membawa-bawa Chanyeol jika menelepon dirinya? “Gue kan lagi di rumah sakit, lo tau sendiri nyokap harus check up seminggu sekali. Nah, gue kayaknya ngeliat suami lo lagi deh di sini, sama cewek gitu, lebih muda. Apa adeknya?” Faktanya Chanyeol adalah anak tunggal. Tanpa sadar, Baekhyun mencengkram ponsel. Skenario buruk memutari benak. Baekhyun ingat Luhan memberikan laporan yang sama seminggu yang lalu, tentang Chanyeol yang berada di rumah sakit dan melewatkan jadwal kelasnya. Siapa sebenarnya yang Chanyeol temui di rumah sakit? 276

Wanita mana? Siapa? Kamu nyaranin buat cerai karena punya wanita lain? Apa hanya Baekhyun yang meratapi perpisahan mereka? Apa mungkin saat ini Chanyeol tengah bersama wanita lain yang Luhan sebutkan? Harga diri Baekhyun terjun ke dasar jurang, ia marah dan terluka. Tidak bisa. Baekhyun tidak bisa membiarkan dirinya terinjak. Merasa sia-sia karena lelah meratapi perpisahan dengan pria yang ia anggap hebat. Paling tidak Baekhyun harus menemuinya, menyelamatkan harga dirinya yang tersisa. Setelah meminta alamat rumah sakit kepada Luhan, Baekhyun bergegas meninggalkan lokasi syuting dengan alasan darurat.

*** Kemarahan Baekhyun tidak terbendung. Sebelumnya ia adalah wanita yang mempunyai pendirian sebelum dibuat luluh lantak karena sebuah sentuhan. Itu membuatnya merasa kotor. Tidak ada lagi Park Chanyeol yang ia anggap hebat, Bakehyun tidak sudi meratap untuk kedua kali. Dan berpikir keputusanya untuk berpisah adalah tepat. Ya. Paling tidak itu menyelamatkan sedikit harga dirinya. 277

...gue kayaknya ngeliat suami lo lagi deh di sini, sama cewek gitu. “Brengsek!” Maki Baekhyun seraya bergumam, ia melenggang menuju sebuah bangsal yang Luhan informasikan. Bangsal khusus yang sempat membuat kening Baekhyun mengernyit beberapa saat. Langkahnya terurai pelan karena tidak tahu di mana tepatnya pria itu ada bahkan wanita yang mungkin kini tengah ditemaninya. Tangan Baekhyun kembali terkepal, kemarahannya memuncak di ujung tombak, segala makian bersarang di mulut seiring dengan kedua atensi yang tengah mencari sebelum kemudian amarah itu tertahan di ujung lidah. Baekhyun memundurkan langkah demi memastikan bahwa di balik celah salah satu pintu kamar inap itu bukalah pria yang kini ia cari. Tentu saja, untuk apa Park Chanyeol mengenakan baju pasien? Pria itu bahkan tidak sekurus itu terakhir kali mereka bertemu dan berpisah seminggu yang lalu. Saliva Baekhyun mulai sulit tertelan, lalu kakinya terpaku. Ia mematung kala bahunya mulai bergetar, dengan jelas menyaksikan bagaimana darah segar itu merembes dari hidung Chanyeol. Baekhyun menggeleng kecil, lututnya nyaris luruh ketika memutuskan untuk mendekati pintu.

278

Tangannya bergetar lalu menggeser pintu, ketika seorang gadis di dalam sana mulai panik karena Chanyeol mengalami pendarahan dari lubang. “Somi, saya enggak apa-apa. Ini biasa.” “Tapi Mister... Somi lantas mengikut arah pandang Chanyeol. Merasa penasaran atas apa yang membuat pria itu terkejut dan syok. Baekhyun berdiri di sana, menatap Chanyeol, pria yang kini duduk di atas brangkar. Wajahnya tirus dan pucat, tubuhnya kehilangan berat badan. Chanyeol terserang panik karena tidak menduga Bakehyun akan berada di sana, lalu kepalanya berdenyut hingga merasakan sakit luar biasa. “Mister!” Somi berseru panik lalu melirik Baekhyun. “Tante jangam diem aja dong! Panggil dokter!” Lalu Baekhyun limbung, berlari ke luar, menabrak siapa pun yang mengalangi jalan. “Pe-perawat! Dokter! Ddokter!” Wanita itu berteriak panik sebelum menghadang seorang dokter di koridor. “Suami saya... tolong!” Baekhyun menangis kencang. “Suami saya! Tolongin suami saya!” Lalu tim medis bergegas menenangani Chanyeol yang kini mengerang kecil karena rasa sakit di balik batok kepala. Baekhyun tidak tahu apa yang membuat suaminya terbaring tak berdaya di sana? Baekhyun tidak tahu Park Chanyeol sakit. Baekhyun tidak tahu.

279

Ketidaktahuannya membuat tangis itu semakin kencang. Baekhyun syok ia tertampar keras atas kondisi Chanyeol setelah mendapati penanganan. Tangisnya masih berlangsung kala semua orang berlalu. Pilu. Tangan yang tidak sebesar dulu itu digenggam seraya menunduk dalam. “Kamu kenapa giniin aku, Mas?!” Kenapa Chanyeol membuat Baekhyun jahat sejahat-jahatnya? Baekhyun terpukul, tangisnya semakin pecah kala Chanyeol terjaga dan pulih. Pria yang masih terlihat tampan meskipun tengah menahan nyeri. Baekhyun tak lagi dapat menahan diri, ia berhambur memeluk suaminya dengan erat, menumpahkan kesedihan dan meratapi penyesalan. “Saya enggak apa-apa. Jangan nangis.” Baekhyun menggeleng lalu menciumi tangan Chanyeol, bahkan menghujani pipinya dengan kecupan sayang. “Baekhyun...” “Aku enggak mau ngomong sama kamu.” Baekhyun masih memeluknya erat. Lalu ia merasakan tepukan kecil di punggung. “Saya beneran enggak apa-apa.” “Tapi kamu mimisan, kamu kejang-kejang tadi!” Demi apapun Baekhyun takut. Obsesi itu mulai tertanam. “Kalau kamu mau duduk dengan tenang, saya akan jelasin.” 280

Park Chanyeol dengan segala kelemah lembutannya. “Telat. Aku enggak mau dengerin penjelasan apapun.” “Baekhyun...” Pada akhirnya Baekhyun luluh, ia menarik diri lalu menatap Chanyeol dengan mata basah. Suaminya menggeleng kecil dan menyeka tangis di pipinya. “Kenapa nangis, hum?” “Terus aku harus ketawa liat suami aku sakit?” Chanyeol tersenyum untuk pertama kalinya sejak saat ia dirawat untuk menjalani penanganan atas gejala lupus seminggu yang lalu. “Dokter bilang ini baru gejala. Masih bisa ditangani.” “Bohong!” Chanyeol merasa wajar jika Baekhyun tidak percaya mengingat ia menyembunyikannya dari wanita itu selama ini. Mereka bersitatap beberapa saat sebelum mata Baekhyun kembali memerah dan basah. “Jangan nangis terus.” Baekhyun tersedu-sedu, tidak ada lagi wanita elegan nan ketus, juga galak, hanya tersisa wanita cengeng yang tak henti-hentinya menciumi tangan sang suami. “Saya enggak apa-apa, dokter menangani saya dengan baik.” “Kamu enggak tau gimana paniknya aku waktu kamu pergi! Kamu ninggalin aku gitu aja!”

281

Untuk itu Chanyeol mengaku salah meski sebenarnya ia tidak mempunyai pilihan lain selain pergi setelah kesepkatan berpisah disetujui. “Stop crying, will you?” Dan Chanyeol memeluknya. Baekhyun semakin kencang menangis. “Iya... iya... aku salah. Aku yang salah, okay?” Ajaibnya tangis Baekhyun mereda setelah suaminya mengaku salah. Chanyeol menyeka pipinya, menatap mata sembab itu dengan seksama. “Baekhyun... kamu udah tanda tangan suratnya?” Baekhyun tahu apa yang Chanyeol maksud. “Terus kenapa kamu belum tanda tangan?” Chanyeol tidak tahu harus menjawab apa. “Mas... apa kamu beneran mau aku tanda tangani surat itu?” Kenapa Baekhyun bertanya demikian? Chanyeol menatapnya dengan mata lelah. “Baekhyun, saya ngantuk.” Si mungil menggeleng. “Kamu harus jawab.” “Boleh saya tidur dulu? Bakal saya jawab pas bangun nanti.” Suara Chanyeol mulai terdengar parau. Hanya Tuhan yang tahu bahwa pria itu sedang mengulur waktu. Kehadiran Baekhyun seperti sebuah kekuatan, ia ingin wanita itu berada di sana lebih lama. Dan satusatunya cara adalah dengan membuatnya menunggu. Baekhyun menciumi tangan sang suami, lalu mengangguk kecil.

282

Chanyeol menggenggamnya erat, seolah tidak mengizinkan wanita itu beranjak sedikit pun. Maaf kalau saya egois. Saya... Cuma mau kamu ada di sini lebih lama. Karena Chanyeol tidak yakin jika Baekhyun akan tetap berada di sisinya setelah Chanyeol memberikan jawaban.

*** “Kamu kenapa masih di sini?” Baekhyun berbicara dengan nada berbisik kepada Somi yang masih berada di sana. “Aku mau jagain Mister.” “Enggak perlu, ada saya istrinya yang jagain. Kamu pulang aja.” “Enggak bisa dong, aku nungguin Mister dari kemarin, nah tante yang katanya istrinya ke mana aja?” Baekhyun tertohok. Bahkan ia tidka tahu suaminya sakit. Somi menatapnya datar, lalu mencebi. “Yaudah deh, aku pulang saja. Kesel juga dari kemarin Mister manggil-manggil nama tante mulu.” “B-beneran?” Somi mendengus. “Tanda tangan di sini deh.” Lalu ia mengulurkan selembar kertas. “Tanda tangan yang gede. Bukan buat aku, adik aku fans nya tante.” Baekhyun membeo sebelum menggeleng maklum. “Sekarang kamu pulang. Biar saya urus suami saya.”

283

“Bawel banget deh.” Seru Somi. “Jagain Mister ya, sayang banget tu sama istrinya.” Gadis itu lantas mengangkat bahu sebelum berlalu dari ruangan itu, meninggalkan Baekhyun yang kini mematung dan mengerjap pelan. Diliriknya Chanyeol yang kini masih terlelap, lalu membelai wajahnya dengan lembut. Nyatanya hal itu membuat si pria terusik, lelapnya terganggu sebelum kemudian setengah terjaga. Baekhyun meringis kecil karena merasa bersalah lalu menepuk lengan suaminya berulang kali, berharap pria itu kembali terserang kantuk, meskipun berakhir siasia. Chanyeol sepenuhnya terjaga lalu meraih tangan Baekhyun dan mengecup punggung tangannya. “Saya mau kamu tanda tangani surat cerai itu.” Lalu ekspresi Baekhyun berubah seratus delapan puluh derajat. Bahunya merosot, tatapannya berubah nanar. Chanyeol memalingkan wajah. Tidak ingin berharap lebih jauh karena ia tahu akan sulit mendapatkan hati istrinya. “Tapi aku enggak mau.” Satu kalimat yang sanggup membuat Chanyeol kembali menatapnya. Baekhyun menggeleng. “Aku enggak mau kita cerai.” Lalu matanya memerah dan basah. “Aku mau sama kamu aja.”

284

Chanyeol mengerahkan sisa tenaga untuk bangkit, menatap Baekhyun yang kini berkaca-kaca, mencari sebuah jawaban sebelum menemukan satu rasa di sana. Wanita itu tidak sedang membual, Baekhyun bersungguh-sungguh. Dia tulus. “Aku enggak tau apa yang sekarang aku rasain, aku sedih, aku kalut. Dan aku enggak mau kehilangan kamu, Mas.” Itu cukup. Chanyeol memberikan pelukan terbaik, menampung tangis Baekhyun dan menghela panjang. Lega. “Aku enggak mau kehilangan kamu.” Baekhyun terdengar lebih menuntut. Chanyeol mengangguk, menarik diri sebelum menyatukan dahinya dengan sang istri. “Jangan tinggalin aku lagi. Aku enggak sanggup.” Baekhyun benar-benar tersiksa jauh dari Chanyeol. “Saya di sini, kita mulai dari awal.” Baekhyun menangkup wajah suaminya, menghujaninya dengan ciuman kasih sayang lalu kembali memeluknya dengan erat. Dan keduanya hanyut dalam sebuah rasa. Memang tidak terdeskripsi secara gamblang namun semesta tahu mereka tengah menuai benih cinta.

~oOo~ Keajaiban terjadi.

285

Tubuh dan kondisi Chanyeol mengalami kemajuan. Secara signifikan kesehatannya pulih. Tidak ada hal lain yang lebih menggembirakan selain daripada fakta bahwa ia mendapat banyak dukungan dari keluarga besar dan rekan. Bahkan satu-satunya sosok wanita luar biasa tidak beranjak sedikit pun selama Chanyeol menjalani penanganan medis. Penyakit yang sempat divonis dengan suatu gejala itu tidak berkembang menjadi parasit yang mematikan. Justru Chanyeol mengalami peningkatan pesat pada kesehatan tubuhnya. Ia bahkan kini telah kembali ke rumah setelah dokter memberi izin dan mengatakan tidak ada lagi yang perlu dicemaskan. Chanyeol hanya harus lebih memperhatikan kesehatan, namun Baekhyun telah lebih dulu cekatan. Wanita memutuskan untuk menunda jadwal keartisan untuk beberapa waktu mengingat ia mempunyai kewajiban untuk merawat suaminya hingga pulih total. Chanyeol sempat menolak karena ia tahu jadwal Baekhyun sebagai seorang artis tidak dapat diganggu gugat. Namun nyatanya Baekhyun memang dilahirkan menjadi wanita paling keras kepala, dan konyolnya Chanyeol menyukainya. Baekhyun mulai menguasai dapur, memberi titah ini dan itu kepada asisten rumah tangga untuk menyajikan menu makan yang boleh dan tidak untuk suaminya.

286

Lalu wanita itu mengintip malu-malu di balik pintu kamar Chanyeol dan mengatakan hal konyol. “Aku... mau pindah ke kamar ini. Boleh?” Chanyeol terkekeh kecil lalu memanggil istrinya untuk naik ke ranjang yang sama. “Sejak awal kamar ini adalah kamar kita.” Baekhyun tersenyum lebar. Ia mengulurkan tangan untuk memastikan suhu tubuh suaminya lalu mendesah lega. Chanyeol menatapnya penuh arti, menikmati raut cemas Baekhyun, merasa begitu dikasihi. Tatapan Chanyeol yang intens sontak membuat Baekhyun salah tingkah. Wanita itu memalingkan wajahnya yang merona lalu gugup mendera kala dagunya diusak oleh ibu jari Chanyeol. “Baekhyun...” “Hum?” Si mungil menyahuti dengan lembut. “Sejujurnya kita ngelewatin banyak hal.” Baekhyun tidak mengerti. “Gini...” Chanyeol mengusap puncak kepala Baekhyun dengan sayang. “Pertama kali ketemu udah diajak bahas perjodohan, pernikahan. Terus sampai akhirnya menikah karena keadaan. Kita enggak punya banyak waktu buat merasakan yang namanya pendekatan, untuk mengenal satu sama lain.” “Mas... aku enggak ngerti.” Otak Baekhyun tidak sampai, ia kemudian merengek. Chanyeol terkekeh lalu membelai wajah istrinya. “Saya ingin kenal kamu lebih jauh, ngelakuin banyak hal

287

berdua, pergi ke berbagai tempat, kayak yang dilakuin anak muda.” Baekhyun mulai mengulas tawa kecil. Mengapa Chanyeol terdengar jenaka? “Ya, terus?” “Kamu... mau enggak jadi pacar saya? Kita mulai dari sana.” “Mas...” Baekhyun mengulum tawa. “Saya serius. Kita kan enggak sempet pacaran. Mau, ya?” “Kalau pacaran berarti tidurnya pisah dong?” Chanyeol lantas memasang wajah berpikir. “Ini kan pura-pura aja.” Lalu tawa Baekhyun pecah. “Enggak baik loh kalau masih pacaran tidurnya bareng?” Chanyeol mendengus kecil. “Ya, udah batalin aja. Kita enggak jadi pacaran.” “Loh kok gitu?” Baekhyun terkikik saat mendapati Chanyeol merajuk dan tidur membelakanginya. “Mas...” “Hn.” “Mas pacar...” Diam-diam Chanyeol mengulas senyum. “Gini aja...” Baekhyun meletakkan dagunyapada lengan Chanyeol. “Pacar-pacarannya besok aja, malem ini kita...” Chanyeol refleks berbalil lalu mengulum senyum. Satu hal yang membuat Baekhyun terkekeh gemas. “Malem ini kita...?” 288

Baekhyun kemudian berbisik di telinga sang suami sebelum segala hal di mulai oleh sebuah cumbuan. Pekatnya malam, dinginnya suhu ruang tidak begitu berarti kalah titik peluh mulai membasahi. Bahkan suara binatang malam itu terusik oleh ke dua insan yang berbisik tanpa satu kalimat yang jelas. Hanya tahu caranya memacu satu waktu, mengisi kekosongan dengan belai dan sentuhan. Baekhyun tahu kehangatan itu yang ia butuhkan, dan Chanyeol adalah pria sejati yang senang memanjakan istrinya dengan sentuhan kebahagiaan.

End of Roommate

289

290

Fly High Your attention please, passengers of Korean Sky Air on flight number CB614 to Incheon please boarding from door A12, Thank you. Senyum santun itu terulas lebar, sepatu hitam mengetuk sejauh kakinya melangkah. Koper besar ditarik kala ia berjalan di tengah keramaian pengunjung bandar udara. Wanita yang kini mengenakan seragam ciri khas awak kabin maskapai penerbangan itu bertemu dengan rekan-rekannya di terminal keberangkatan lalu memeluknya satu persatu. “Aku akan sangat merindukanmu, cantik!” “Tolong kabari kami setiap waktu, Byun Baekhyun-ssi!” “Minseok Eonnie, Heechul Eonnie... Incheon mempunyai jadwal penerbangan paling padat, aku tidak janji akan selalu mengabari kalian.” Itu adalah rahasia umum, dan Baekhyun baru saja dipindah tugasakan ke base Seoul setelah sebelumnya ikut banyak penerbangan di rute Busan. Sebagai seorang pramugari profesional, Baekhyun menjalankan titah atasan dengan baik. Ia dengan senang

291

hati mengambil tanggung jawab dan mempersiapkan dengan baik kepindahannya ke Seoul. “Ugh! Sombong sekali gadis ini!” Gerutu Heechul. Baekhyun terkekeh anggun lalu kembali memeluk kedua temannya. “Aku akan menyempatkan waktu menghubungi kalian.” Lantas mereka berpisah karena jadwal penerbangan yang berbeda. Baekhyun menarik napas panjang, meyakinkan diri bahwa ia siap beradaptasi dengan base baru. Wait for me, Seoul!

~oOo~ Si cantik itu melenggang seraya menarik koper. Pramugari memiliki aura tersendiri dalam menarik perhatian setiap orang, namun nyatanya Baekhyun mempunyai nilai tambahan karena parasnya yang kerap disama-samakan dengan selebriti. Banyak yang beranggapan berlebihan, mereka bilang wajah Baekhyun lebih cocok dipampang di dalam sebuah film layar lebar atau iklan produk kecantikan dengan bayaran fantastis, profesinya sebagai pramugari dirasa kurang meski di luaran sana banyak yang mengidamkan pekerjaan yang sama. Termasuk Baekhyun sendiri. Sejak kecil bercitacinta menjadi kru awak kabin di sebuah perusahaan maskapai penerbangan. Baekhyun ingin terbang. Baekhyun menyukai terbang. Wanita itu mempunyai passion yang konsisten. 292

Kemudian si cantik itu dijadwalkan berkumpul di markas besar kru kabin dengan mereka yang sama-sama dipindah tugaskan ke base yang sama. Berlokasi sekian belas kilometer dari bandar udara internasional Incheon, gedung markas tempat berkumpulnya awak kabin salah satu maskapai penerbangan raksasa di Korea itu kini berdiri kokoh di depan mata Baekhyun. Wanita itu tersenyum lebar lalu membalas sapaan pramugari lain yang juga dipindah tugaskan dengannya. “Kau yakin sudah mendaftar menjadi model? Atau aktris musikal mungkin?” Wanita heboh bernama Luhan itu tak henti-hentinya berseru kagum atas kecantikan Baekhyun yang di luar batas. “Apa yang salah dengan menjadi pramugari?” Bakehyun bertanya dengan tutur kata halus. “Ugh, maksudku... kau terlalu cantik.” “Kita semua berbaris di sini karena itu bukan?” Baekhyun siap mendebatnya namun ia tak bisa menahan kekehan karena Luhan tampak frustasi. Ada total dua puluh pramugari dan pramugara yang dipindah tugaskan ke base utama tersebut, Baekhyun dan Luhan salah satunya. “Oh, dia Lee Sunbin. She claim that she is the queen at this base.” Luhan berbisik kecil pada Baekhyun. Jiwa penggosip itu membara karena sosok Lee Sunbin itu terkenal di kalangan kru kabin bahkan sampai ke seluruh base di setiap kota. Baekhyun melirik wanita yang berdiri di barisan para kru kabin baru. “Dia cantik.” Kata Baekhyun. 293

“Ya, tentu saja. Jika tidak cantik dia tidak mungkin jadi selir bos besar.” Satu kalimat yang terlontar dari mulut Luhan, membuat Baekhyun refleks meliriknya, menatap tak percaya. “Astaga! Kau tidak tahu?! Dia senior, itu adalah rahasia umum. Untuk itu dia berani melabeli diri sebagai ratu di base ini.” Sejak awal, cara wanita itu berdiri memangku tangan, mengangkat dagu dan memindai setiap orang terutama para pramugari dengan picingan mata memberitahu mereka bahwa dia mempunyai kuasa. Lalu mereka bertemu pandang, Baekhyun tidak tahu mengapa wanita itu kian memicing kala matanya bertemu dengan mata Baekhyun. Si mungil lantas mengalihkan perhatian, berharap itu bukan pertanda buruk. Baekhyun kembali melirik Luhan ketika teman barunya itu menyenggol lengan. “Direktur utama.” Bisik Luhan nyaris tak bersuara. Lalu Baekhyun kembali melihat ke depan. “Bos besar, kau lihat? Sunbin merapatkan diri. Tentu saja, dia sedang memberitahu semua orang kalau direktur adalah miliknya.” Baekhyun mengerjap kecil, ia tidak terkejut dengan apa yang Luhan beritahu. Atensinya yang menancap pada sosok direktur yang saat ini tengah mengontrol jalannya evaluasi para kru kabin yang baru adalah untuk satu hal. Pria itu... 294

Namanya Park Chanyeol. Tinggi tegap, terbalut stelan mahal buatan tangan, penampilan yang sesuai dengan jabatan. Bos besar dari seluruh penghuni markas dan base yang tersebar di beberapa kota besar di Korea. Direktur utama maskapai penerbangan raksasa yang belum lama ini menerima serah terima jabatan setelah direktur sebelumnya memutuskan pensiun. Muda, tampan dan memiliki aura kepemimpinan yang kuat. Lalu pandangan mereka bertemu. Baekhyun memutuskan untuk mengalihkan pandangan lebih dulu lantas merasa tidak nyaman saat dilihatnya wanita bernama Sunbin itu menyaksikan segala hal. Oh, ada apa dengan atmosfer ini?

~oOo~ Baekhyun tidak tahu mengapa para pramugari yang baru bergabung di base utama diminta untuk menghadap bos besar di ruangannya yang elit. Seingat Baekhyun evaluasi kru baru sudah berjalan dengan semestinya, ia tidak tahu apa yang masih kurang sehingga ke dua puluh wanita berseragam senada itu harus berdiri dan kembali berbaris di depan sang direktur. Lalu ada tiga senior yang tampak sedang menyeleksi. Satu persatu dari mereka diminta untuk maju, hal yang membuat kening para junior itu mengerut adalah

295

saat rekan-rekan baru mereka disuruh untuk melepas sanggul dan mengibaskan rambut di depan sang direktur. Termasuk Baekhyun yang kini benar-benar terganggu karena merasa tengah mengikuti seleksi wanita penghibur. “Don’t touch me!” Baekhyun refleks menepis tangan seniornya yang beberapa saat lalu menarik dan meraba tubuhnya seperti tengah melakukan pemeriksaan ketat.. “What kind of this thing?” Baekhyun tak segan melempar protes keras ketika rekan-rekannya yang lain terlalu takut untuk melakukannya, mengingat para senior itu terlihat garang dan berkuasa. Baekhyun merasa tengah dilecehkan di depan pria dewasa, si bos besar yang kini duduk tenang seraya mengusap dagu. Ke tiga senior tadi bereaksi keras karena merasa dibantah, mereka terlihat marah. Ke tiga wanita itu terdiri dari dua pramugari senior dan vice president yang memimpin jabatan di bawah direktur utama. Sejak awal Baekhyun menarik banyak perhatian, semula karena parasnya yang terlihat lebih cantik dari pramugari lain, dan kini karena keberaniannya yang tegas. “Bisa anda jelaskan mengapa kami semua harus melakukan seleksi konyol ini?” Baekhyun menghabiskan waktu selama tiga tahun dengan menjadi pramugari, untuk itu ia sudah sangat hafal segala prosedur atau protokol di setiap maskapai penerbangan. Seleksi khusus tidak pernah berlaku kecuali berhubungan dengan segala aturan yang sudah tertulis. 296

Bukankah kini ia merasa wajar dan berhak menuntut penjelasan dari satu-satunya pria yang kini bereaksi kecil di meja kerjanya. Park Chanyeol menautkan kedua alis, tidak pernah menemukan kegaduhan di meja kerjanya selama ini. Lalu si anak baru itu hadir dan mengganggu ketentraman. “Byun Baekhyun-ssi, kembali ke tempatmu.” Seorang senior menegur dengan nada geram. Sudah menjadi rahasia umum jika direktur utama dibuat marah maka imbasnya akan sampai ke semua orang. Chanyeol mengangkat tangan, lalu menatap ke tiga orang kepercayaannya dan memberi isyarat untuk membubarkan barisan. “Kecuali Byun Baekhyun.” Wanita berpostur tubuh ramping itu menghentikan langkah ketika rekan-rekannya yang lain membubarkan diri. Ia lantas menatap Chanyeol yang kini sibuk menelisik biodatanya di atas berkas. Hanya tersisa mereka berdua di dalam ruangan itu. Baekhyun menunggu lama sampai bos besar itu menengadah dan menatapnya dari bawah hingga atas. “Menilai penampilan seorang wanita adalah pelecehan seksual.” Baekhyun tidak tahu mengapa tawa sang direktur meledak setelah ia berbicara demikian. “Byun... Baekhyun...” Chanyeol dengan sisa tawa seraya kembali meneliti biodata yang masih berdiri di hadapannya. “Base sebelumnya di... Busan? Jam 297

terbangmu tidak terlalu banyak, hmm... itu sebabnya kau sangat polos dan naif.” “Maaf?” Baekhyun jelas merasa tersinggung. Chanyeol mengangkat bahu lalu beranjak dari kursi, berjalan lalu memutari Baekhyun. “Baekhyun... perlu ku beritahu beberapa hal menyangkut base utama ini.” Baekhyun masih bergeming tatkala bos besar itu memutari tubuhnya. “Faktanya sebuah profesi selalu memiliki sisi gelap. Berhenti naif dan merasa semuanya baik-baik saja. Itu pemikiran yang salah. Segalanya mempunyai cerita kelam.” Lalu Chanyeol mulai menjelaskan sedikit demi sedikit. “Aku tidak butuh pramugari yang tekun atau mempunyai semangat kerja yang menggebu-gebu. Aku hanya butuh agar kalian semua cantik dan menarik.” Sisi gelap dari base utama yang Baekhyun impiimpikan perlahan menjadi momok yang cukup mengerikan. “Kau buka sanggulmu, kau cantik, kau menawan, kau tidur dengan relasiku, maka kau bisa terbang ke mana pun.” Lalu Chanyeol berdiri di hadapan Baekhyun dan mensejajarkan tubuh. Pria itu tertawa melihat wajah Baekhyun yang digelayuti beragam ekspresi. Mengapa ia menikmati amarah yang berpendar di kedua bola mata Baekhyun? Mengapa bahkan wanita itu sangat cantik? 298

Baekhyun satu-satunya kru yang mempunyai potensi memikat para relasi Chanyeol dalam satu kali pertemuan. Pria itu yakin, karena bahkan ia sendiri mengaku tertarik dan berniat mencicipinya terlebih dahulu. “Oh, jangan menatapku seolah aku adalah alien pemangsa manusia bumi. Ini bisnis, apa yang kau harapkan sebagai seorang pramugari naif hanya dengan menebar senyum? Kau tidak akan menghasilkan apa-apa, Byun... Baekhyun.” Kenapa Chanyeol tidak asing dengan nama itu? Bukankah ini pertemuan pertama mereka? Lalu Baekhyun menatapnya dengan garang. Ia benci bajingan yang memanfaatkan selangkangan untuk sebuah keuntungan. Baekhyun mendengar banyak kebaikan yang ditebar oleh direktur terdahulu, ia tidak tahu bahwa direktur baru saat ini sangat bobrok dan brengsek. “Ku pikir kau akan berubah, Park Chanyeol.” Kening Chanyeol berlipat saat wanita itu menanggalkan sopan santun dan memanggilnya dengan nada akrab. “Tapi kau tetaplah Park Chanyeol yang brengsek!” “Your language, Byun.” “Kenapa? Kau keberatan? Tingkah lakumu yang mana yang perlu aku hormati selain fakta bahwa kau ada direktur bejat yang memanfaatkan selangkangan para pegawaimu untuk suatu bisnis? Huh? Atau fakta bahwa kau tetaplah Park Chanyeol yang dulu gemar bermain wanita di sekolah? Atau fakta bahwa kau menolak 299

perasaan gadis bertubuh gendut dan mengejeknya hingga dia keluar dari sekolah dan mengalami masa-masa sulit!” Kornea Chanyeol melebar, bahkan ekspresi terkejutnya tidak sulit untuk dibaca. “Apa yang...” Byun... Baekhyun? Perlahan memori Chanyeol berputar beberapa tahun ke belakang. Tepatnya ketika ia masih menginjak bangku sekolah menengah, masa keemasannya sebagai seorang murid yang digandrungi oleh para siswi. Lalu Chanyeol mengerahkan segala upaya untuk mengingat satu kejadian di masa itu, saat di mana ia pernah mendapatkan surat pernyataan cinta dari seorang gadis berpostur tubuh gendut, berwajah bengkak, memakai kacamata, dan jelek. Tidak hanya menolaknya, Chanyeol bahkan mengejeknya dulu, meskipun ia tidak tahu bahwa gadis itu keluar dari sekolah seperti yang Baekhyun katakan. “Bagaimana bisa kau tahu...” lalu Chanyeol mundur satu langkah, menatap Baekhyun dengan seksama lalu mulai merasa frustasi. Chanyeol menilanya dari bawah hingga atas, dari ukuran kakinya yang ramping, perutnya yang rata, pinggangnya yang sempurna, bentuk wajahnya yang mungil, cantik dan mempesona. “No way...” Chanyeol menggeleng, ia semakin syok. Faktanya gadis gendut yang ia tolak dan ejek itu kini menjelma menjadi wanita cantik nan elegan, bertransformasi menjadi seorang dewi yang sanggup memancing sinyal libido Chanyeol hingga mengakar ke segala arah. “Ini tidak mungkin kau...”

300

Namanya dengan sangat jelas adalah Byun Baekhyun, gadis gendut yang dulu tersedu-sedu karena ditolak mentah-mentah dan diejek oleh satu sekolah. “Lihat dirimu, kau tidak berubah sama sekali.” Kecam Baekhyun. Ya. Ketika wanita itu mengalami perubahan besar dalam hidup, tidak hanya tentang apa yang bisa semua orang nilai dari luar, namun Baekhyun benar-benar menjelma menjadi wanita karismatik yang memancing rasa sesal itu tumbuh dan lahir di lubuk hati terdalam seorang Park Chanyeol. “Baekhyun...” “Don’t touch me—who do you think you are!” Geram Baekhyun seraya menepis tangan Chanyeol. “Dengar, Park. Ketimbang menjadi santapan libido para relasimu di atas ranjang, aku memilih pulang ke Busan dan melupakan mimpiku. Secepatnya aku akan menulis surat pengunduran diri!” Mengapa Chanyeol merasa terancam? “Don’t ever think you can—.” Baekhyun menautkan kedua alis. Apa-apaan dengan nada mutlak dan posesif itu? “Jangan pernah berpikir untuk keluar dari wilayahku.” “Sinting!” Desis Baekhyun. Ada apa dengan Park Chanyeol? Jawabannya tidak lain ialah pria itu mulai menanamkan obsesi, merasa telah mengenal Baekhyun sejak lama, merasa berhak menahan wanita itu di sisinya.

301

“Terserah. Aku bisa menahanmu di sini dengan berbagai cara.” Chanyeol mulai benar-benar terdengar gila. Maksudnya pria itu tengah mempertegas satu hal, bahwa ia berkuasa. Baekhyun mengecamnya dengan ekspresi wajah yang sanggup membuat Chanyeol menggila. Pria yang saat ini masih tidak percaya atas perubahannya yang luar biasa. “Dengar ini...” Chanyeol mengikis jarak, memainkan rambut halus di pelipis Baekhyun lalu menatapnya dengan kobaran hasrat dan obsesi di kedua mata. “Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari sini.” “Brengsek.” Desis Baekhyun. “Itu tidak anggun, Byun. Setuju atau tidak, kau hanya harus di sini, di sampingku.” Itu terdengar mutlak, satu celah yang Baekhyun temukan untuk memanfaatkan keadaan. “Aku tidak sudi berada di sini jika kau masih memperdagangkan selangkangan para pramugari kepada relasimu. Demi Tuhan, ini base kru kabin pesawat, bukan komunitas postitusi!” Kalimat pedasnya benar-benar membuat Chanyeol terhibur, pria itu tidak pernah dibangkang oleh siapapun. Hanya wanita yang dulunya pernah ia tolak karena gendut dan jelek yang kini sanggup memecahkan rekor. Chanyeol mengangguk. Membuat Baekhyun waspada.

302

“Tentu aku tidak akan memperdagangkan selangkanganmu kepada siapapun. Tapi aku tidak yakin dengan yang lain. Suka atau tidak, mereka harus melayani para relasiku, rejecting means nonjob.” Baekhyun menatap Chanyeol dengan geram. “Kau sangat cantik. Aku suka jika kau melotot garang seperti ini.” “Perlu ku tegaskan satu hal, sejak dulu aku cantik, aku menghargai diriku tidak seperti seseorang. Aku bahkan tidak berubah. Aku masih Byun Baekhyun si gadis gendut yang kau tolak dan ejek.” Chanyeol tertohok setelah wanita itu mundur satu langkah. “Saya akan segara menulis surat pengunduran diri.”

*** Setelah keluar dari ruangan bos besar, Baekhyun disambut oleh seorang wanita yang ia ketahui bernama Lee Sunbin. Tatapan wanita itu selalu tidak bersahabat. Mungkin kenyataan tentang statusnya yang menjalin hubungan dengan direktur utama yang membuatnya merasa berada di atas angin dan berhak memperlakukan setiap orang dengan sinis. Baekhyun menghela kecil, menundukan kepala untuk satu hal. Bahwa wanita itu adalah seniornya. Lantas Baekhyun berlalu, meninggalkan Sunbin yang masih cukup penasaran sekaligus geram karena 303

Baekhyun berada cukup lama di dalam ruangan bos besar yang sejatinya adalah teman tidurnya. Sebelum masuk ke ruangan direktur, Sunbin menyempatkan diri menelepon vice president. “Cari tahu apa yang dibicarakan Chanyeol dengan anak baru itu.” Bahkan Sunbin sanggup memerintah siapapun yang jabatannya lebih tinggi darinya, hanya karena ia mengantongi label sebagai selir bos besar. “Jangan macam-macam, anak baru. Aku tidak akan tinggal diam.” Sejauh ini, Sunbin mengantongi predikat ratu dan yang tercantik di base utama, dan ia adalah selir bos besar, ia tahu Chanyeol menyukai wanita cantik, untuk itu ada banyak pramugari yang berparas cukup memikat yang ia hilangkan dari peradaban. Sunbin menjauhkan para pramugari cantik dari Park Chanyeol untuk menjaga kedudukannya. Ia tahu posisinya rentan tergeser, dan kehadiran si anak baru bernama Baekhyun itu sedikit mengusik ketenangan, terlebih dia menghabiskan waktu lama di dalam ruangan bos besar beberapa saat yang lalu. Tentang apa yang mereka lakukan dan bicarakan akan Sunbin korek hingga ke akar.

~oOo~ Baekhyun nyaris melompat kala bunyi klakson mobil terdengar cukup keras di belakangnya. “Masuk.” Untuk apa?

304

Mengapa Baekhyun harus mengukuti perintah pria yang kini mengemudi seraya melipat lengan kemeja. “Tidak. Terima kasih.” “Masuk atau ku jual kau ke relasiku.” “Saya bisa melapor polisi dan menjebloskan Anda ke penjara. “Aku berteman dekat dengan aparat kepolisian di seluruh kota.” Lalu Chanyeol terhibur melihat wajah kesal Baekhyun hingga ia bersorak dalam hati karena wanita itu menyegerakan diri masuk ke dalam mobil. Baekhyun sempat menengok ke belakang. Berharap tidak ada satu pun rekannya yang melihat ia masuk ke dalam mobil bos besar. Baekhyun mengalah bukan untuk kalah, ia hanya mencoba mencari celah untuk menghentikan aksi Chanyeol yang bejat. Terang saja, direktur macam apa yang menjual kehormatan para pramugarinya kepada para petinggi dan relasi? “Kau mau makan malam bersama?” Baekhyun tidak menyahut karena lebih dulu mengangkat panggilan telepon. “Apa katamu?” “...” “Kenapa dibatalkan? Aku sudah membayar sewa untuk dua bulan ke depan!” Baekhyun terdengar kesal. “...” “Tidak bisa seperti itu... ku mohon, aku tidak punya waktu lagi untuk mendapatkan tempat tinggal.” 305

“...” “Tidak, ku mohon jangan seper—hallo? Hallo?!” Baekhyun berdecak kesal lalu kembali menghubungi nomor yang sama meskipun hasilnya nihil, tidak mendapati jawaban. “Any prob?” Chanyeol yang merasa penasaran bertanya. Baekhyun tidak menyahut, ia lebih baik memikirkan cara agar mendapatkan tempat tinggal dengan segera setelah sewa flatnya dibatalkan oleh pemilik gedung. “Baekhyun...” “Aku sedang berpikir! Berhenti bertanya.” Kesal Baekhyun. Chanyeol mengangkat bahu. “Kau bermasalah dengan tempat tinggal?” Pria itu jelas mendengarkan apa yang Baekhyun katakan. Baekhyun kembali bungkam hingga ia terpekik kecil karena Chanyeol mendadak menginjak pedal rem. “Bukankah aku bertanya?” Desis Chanyeol, merasa tersinggung dengan kelakuan Baekhyun. “Ini tidak ada urusannya denganmu!” Ditatap dengan mata memicing membuat Baekhyun bertambah kesal. Wanita itu lantas mendorong pintu mobil dan keluar seraya mengambil kopernya di kursi belakang. Chanyeol menyusulnya keluar lalu meraih tangannya yang kemudian ditepis. “Mau ke mana kau? Aku yakin saat ini kau tidak memiliki tujuan.” 306

“Sudah ku bilang ini bukan urusanmu!” Tegas Baekhyun sebelum menghentikan sebuah taksi dan berlalu meninggalkan Chanyeol yang sedikit frustasi.

~oOo~ Keesokan harinya Baekhyun benar-benar menyerahkan surat pengunduran diri dan membuat pekerjaan Chanyeol berantakan karena suasana hati pria itu berubah buruk. “Kau tidur di mana semalam?” “Saya hanya ingin menyerahkan surat pengunduran diri ini.” “Aku menolaknya.” Lalu Chanyeol merobek amplop itu tanpa membukanya terlebih dahulu. “Kau akan tetap bekerja di bawah pengawasanku.” Baekhyun menghela napas kecil, merasa sudah cukup lelah karena sejak kemarin malam tidak mendapatkan sewa tempat tinggal sehingga harus menginap di sauna. Dan surat pengunduran diri itu benar-benar tepat, selain muak dengan Chanyeol ia pun tidak dapat jaminan akan menemukan tempat tinggal dengan biaya sewa yang sepadan dengan keuangannya. Wanita itu lantas membungkukkan tubuh dan mundur secara perlahan. “Stop right there. Aku tidak mengizinkanmu keluar.” Memangnya siapa Park Chanyeol berani memerintah? 307

“Byun Baekhyun!” Pada akhirnya Baekhyun benar-benar pergi dari sana. Ia mengubur impian terdalam dan bersiap kembali ke Busan dan menjalani hidup dengan normal atau melirik maskapai penerbangan lain. Chanyeol jelas mengejarnya, hingga mencuri perhatian beberapa staf kantor dan para calon pramugari yang tengah mendapatkan bimbingan dari senior mereka, Lee Sunbin. Chanyeol yang berlari mengejar Baekhyun tak luput dari perhatian Sunbin membuat wanita itu berspekulasi dengan mulai merasa geram. Chanyeol gagal mengejar Baekhyun dan mengerang frustasi saat taksi yang ditumpanginya menjauh dari pandangan. Mengapa ia merasa begitu kalut saat ini? Apa karena obsesinya kepada wanita itu yang belum tersampaikan?

~oOo~ Di hari berikutnya Chanyeol semakin merasa ada yang salah dengan dirinya. Merasa cukup terganggu membayangkan Baekhyun terlunta-lunta tanpa tempat tinggal. “Dia menginap di sauna selama dua hari terakhir dan saat ini masih berada di sana.” Chanyeol memejamkan mata setelah mendapatkan infomasi dari orang yang ia percayakan untuk mencari keberadaan Baekhyun.

308

Tempat pemandian umum atau sauna memungkinkan semua orang masuk dan bertemu, laki-laki dan perempuan. Mereka digabungkan di ruangan terbuka, bebas memilih area untuk tidur setelah menikmati fasilitas air hangat atau yang lainnya. Dan membayangkan Baekhyun menginap di sana, berbaur dengan berbagai macam manusia, lalu bertemu banyak laki-laki berbahaya membuat Chanyeol geram bukan main. “Masalahnya kau cantik. Siapa pun tidak akan berpikir dua kali untuk memperkosamu!” Desis Chanyeol seraya menaikkan laju kendaraan hingga sampai di depan sebuah bangunan sauna. Chanyeol menghubungi nomor Baekhyun lalu mendapat jawaban di dering kedua. “Hallo?” “Ini aku, keluar dan temui aku.” Baekhyun bungkam beberapa saat di seberang sana. “Aku sibuk.” “Ha! Kau sibuk melayani pria-pria tua dan jelek di dalam sauna itu?” “Jaga mulutmu!” Baekhyun terdengar terkejut di seberang sana, karena ia tidak menyangka Chanyeol tahu keberadaannya. “Keluar sekarang atau ku buat sauna ini bangkrut.” “Berhenti menjadi brengsek! Aku benar-benar membencimu!”

309

Chanyeol memejamkan mata. “Aku akan memikirkanya.” Baekhyun bungkam di seberang sana. “Aku akan memikirkan ulang untuk berhenti memperdagangkan para pramugari.” Chanyeol tidak punya pilihan lain ketika obsesinya terhadap Baekhyun kian menggebu. “Sekarang keluar, aku menunggu di depan.” Lima belas menit setelah sambungan telepon itu terputus, Chanyeol akhirnya melihat wanita itu keluar dari sauna. Ia memasangkan sabuk pengaman setelah wanita itu masuk. “Kau bersungguh-sungguh? Kau akan berhenti melakukan bisnis prostitusi?” Byun Baekhyun dengan mulut cantiknya. “Aku akan memikirkannya.” “Beri aku kepastian.” “Aku akan. Jika kau kembali bekerja. Kau tidak mau terbang?” Baekhyun sangat ingin, ia merindukan sensasi berada di atas udara. “Siapa yang tahu kau akan ingkar janji.” Chanyeol mengangkat bahu. “Aku akan memikirkannya. Banyak hal yang harus ku pertimbangkan. Reputasiku, jabatanku, otoritasku bergantung pada seberapa baik para pejabat tinggi itu mendapatkan layanan ranjang.” “Kenapa kau melakukan bisnis kotor itu?”

310

Chanyeol meraih tangan Baekhyun dan mengecupnya sensual, menyesap aroma manis itu dalamdalam. “Untuk sementara kau tinggal di apartemenku.” “Kenapa aku harus?!” Seperti yang Chanyeol duga, wanita itu akan bersungut-sungut. “Jadi kau memilih tidur di sauna kumuh itu? Ahh... apa kau menikmati tidur bercampur dengan para lelaki?” “Jaga bicaramu! Pikirmu wanita macam apa aku?” Chanyeol bisa tahu dengan pasti bahwa wanita itu berintegritas. “Kau tidur di apartemenku sebelum aku menemukan unit yang bagus untukmu.” “Aku tidak punya uang untuk sewa apartemen! Aku baru memulainya tinggal di kota ini.” “Untuk itu kembali bekerja!” “Aku tidak mau bekerja di sarang prostitusi.” “Berhenti mendebatku, Byun!” Bentak Chanyeol pada akhirnya. Baekhyun tersentak sebelum memilih bungkam dan memalingkan wajah. Pada akhirnya mereka sampai di gedung apartemen. Chanyeol menarik lengan itu dengan posesif dan mengajaknya masuk ke dalam unit hunian elit. “Kamarmu di sana. Aku tidak tinggal di sini, kenapa kau begitu cemas?” Baekhyun refleks menatapnya. “Aku tinggal di mansion. Unit ini jarang terpakai, kau bisa tinggal sampai mendapatkan sewa tempat.” 311

“Kau tahu aku akan dirajam oleh selirmu jika dia tahu rajanya memberikanku tempat tinggal.” Chanyeol mengibaskan tangan, tahu siapa yang Baekhyun maksud. Lee Sunbin hanya pelipur lara di saat libido Chanyeol tak tertahankan. Chanyeol merasa tidak ada yang salah ketika ia menunjang hidup wanita itu dengan kemewahan. “Besok kembali ke kantor untuk melapor.” “Aku tidak mau kembali ke sana sebelum kau berhenti... dengar... apa salah wanita-wanita itu sehingga mereka harus mempertahankan pekerjaan dengan menjual kehormatan?” “Buang jauh-jauh sifat naifmu. Perlu ku beri tahu tidak banyak dari mereka yang menolak, bahkan ada yang memilih bertahan menjadi simpanan para relasiku karena hanya dengan cara itu hidup mereka bisa terjamin. Kau tidak tahu mereka banyak yang tinggal di apartemen mewah ini, biaya sewa di sini tidak sedikit. Kau pikir dari mana mereka mendapatkan uang dan bergaya hidup mewah jika bukan karena memilih jalan pintas?” Baekhyun bungkam setelah mendengar penjelasan. Chanyeol menatapnya lamat-lamat. “Tapi mereka hanya ingin terbang, sama sepertiku.” Chanyeol paham. Sangat paham, namun Baekhyun perlu tahu selalu ada sisi gelap di setiap impian yang terpendam, meskipun akan Chanyeol jamin dengan pasti bahwa wanita cantik yang kini menatapnya dengan gusar

312

tidak akan ia biarkan lepas dan menjadi santapan libido para petinggi dan kolega bisnis. Chanyeol kepalang terobsesi, dan ia akan menahan Baekhyun hanya untuk dirinya sendiri.

To be continue...

313