Data Loading...

FIKIH_ MI_ KELAS_ III_KSKK_2020_CompressPdf Flipbook PDF

FIKIH_ MI_ KELAS_ III_KSKK_2020_CompressPdf


158 Views
32 Downloads
FLIP PDF NAN

DOWNLOAD FLIP

REPORT DMCA

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

i

FIKIH MI KELAS III Penulis

: Sutrisno

Editor

: Holilur Rohman

Cetakan ke-1, Tahun 2020 Hak Cipta © 2020 pada Kementerian Agama Republik Indonesia Dilindungi Undang-Undang

MILIK NEGARA TIDAK DIPERDAGANGKAN Disklaimer: Buku Siswa ini dipersiapkan Pemerintah dalam rangka mengimplementasikan KMA Nomor 183 Tahun 2019 tentang Kurikulum PAI dan Bahasa Arab pada Madrasah. Buku ini disusun dan ditelaah oleh berbagai pihak di bawah koordinasi Kementerian Agama, dan dipergunakan dalam proses pembelajaran. Buku ini merupakan “Dokumen Hidup” yang senantiasa diperbaiki, diperbaharui, dan dimutakhirkan sesuai dengan dinamika perubahan zaman. Masukan dari berbagai kalangan diharapkan dapat meningkatkan kualitas buku ini.

ISBN 978-623-6687-04-8 (jilid lengkap) ISBN 978-623-6687-07-9 (jilid 3) Y

Diterbitkan Oleh: Direktorat KSKK Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Jl. Lapangan Banteng Barat No 3-4 Lantai 6-7 Jakarta 10110

ii

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Bismillahirrahmanirrahim Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, puji syukur hanya milik Allah Swt. yang telah menganugerahkan hidayah, taufiq dan inayah sehingga proses penulisan buku teks pelajaran PAI dan bahasa Arab pada madrasah ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam semoga tercurah keharibaan Rasulullah Saw. Amin. Seiring dengan terbitnya KMA Nomor 183 Tahun 2019 tentang Kurikulum PAI dan Bahasa Arab pada Madrasah, maka Kementerian Agama RI melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam menerbitkan buku teks pelajaran. Buku teks pelajaran PAI dan Bahasa Arab pada madrasah terdiri dari; al-Qur’an Hadis, Akidah Akhlak, Fikih, SKI, dan Bahasa Arab untuk jenjang MI, MTs dan MA/ MAK semua peminatan. Keperluan untuk MA Peminatan Keagamaan diterbitkan buku Tafsir, Hadis, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, Ushul Fikih, Ilmu Kalam, Akhlak Tasawuf, dan Bahasa Arab berbahasa Indonesia, sedangkan untuk peminatan keagamaan khusus pada MA Program Keagamaan (MAPK) diterbitkan dengan menggunakan Bahasa Arab. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan komunikasi di era global mengalami perubahan yang sangat cepat dan sulit diprediksi. Kurikulum PAI dan Bahasa Arab pada madrasah harus bisa mengantisipasi cepatnya perubahan tersebut di samping menjalankan mandat mewariskan budaya-karakter bangsa dan nilai-nilai akhlak pada peserta didik. Dengan demikian, generasi muda akan memiliki kepribadian, berkarakter kuat dan tidak tercerabut dari akar budaya bangsa namun tetap menjadi aktor di zamannya. Pengembangan buku teks mata pelajaran pada madrasah tersebut di atas diarahkan untuk tidak sekadar membekali pemahaman keagamaan yang komprehensif dan moderat, namun juga memandu proses internalisasi nilai keagamaan pada peserta didik. Buku mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab ini diharapkan mampu menjadi acuan cara berpikir, bersikap dan bertindak dalam kehidupan sehari- hari, yang selanjutnya mampu ditransformasikan pada kehidupan sosial-masyarakat dalam konteks berbangsa dan bernegara. Pemahaman Islam yang moderat dan penerapan nilai-nilai keagamaan dalam kurikulum PAI di madrasah tidak boleh lepas dari konteks kehidupan berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila, berkonstitusi UUD 1945 dalam kerangka memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Guru sebagai ujung tombak implementasi kurikulum harus mampu mengejawantahkan prinsip tersebut dalam proses pembelajaran dan interaksi pendidikan di lingkungan madrasah. Kurikulum dan buku teks pelajaran adalah dokumen hidup. Sebagai dokumen hidup memiliki fleksibilitas, memungkinkan disempurnakan sesuai tuntutan zaman dan imlementasinya akan terus berkembang melalui kreatifitas dan inovasi para guru. Jika ditemukan kekurangan maka harus diklarifikasi kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI c.q. Direktorat Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan Madrasah (KSKK) untuk disempurnakan. Buku teks pelajaran PAI dan Bahasa Arab yang diterbitkan Kementerian Agama merupakan buku wajib bagi peserta didik dan pendidik dalam melaksanakan pembelajaran di madrasah. Agar ilmu berkah dan manfaat perlu keikhlasan dalam proses pembelajaran, hubungan guru dengan peserta didik dibangun dengan kasih sayang dalam ikatan mahabbah fillah, diorientasikan untuk kebaikan dunia sekaligus di akhirat kelak. Dan akhirnya ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan atau penerbitan buku ini. Semoga Allah Swt. memberikan pahala yang tidak akan terputus, dan semoga buku ini benar-benar berkah-manfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Amin Ya Rabbal ‘Alamin. Jakarta, Agustus 2020 Direktur Jenderal Pendidikan Islam Muhammad Ali Ramdhani FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

iii

BERDASARKAN SKB MENAG DAN MENDIKBUD NOMOR 158 TAHUN 1987 dan NOMOR 0543 b/U/1987 1. Fenom konsonan bahasa Arab yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf, dalam transliterasi ini sebagian dilambangkan dengan huruf dan sebagian dengan tanda, dan sebagian lain lagi dengan huruf dan tanda sekaligus. Dibawah ini daftar Arab itu dan transliterasinya dengan huruf lain: Huruf Arab ‫ﺍ‬ ‫ﺐ‬ ‫ﺕ‬ ‫ﺙ‬ ‫ﺝ‬ ‫ﺡ‬ ‫ﺥ‬ ‫ﺩ‬ ‫ﺫ‬ ‫ﺮ‬ ‫ﺰ‬ ‫ﺲ‬ ‫ﺵ‬ ‫ﺹ‬ ‫ﺽ‬ ‫ﻁ‬ ‫ﻅ‬ ‫ﻉ‬ ‫ﻍ‬ ‫ﻒ‬ ‫ﻖ‬ ‫ﻙ‬ ‫ﻞ‬ ‫ﻢ‬ ‫ﻥ‬ ‫ﻭ‬ ‫ﻫ‬ ‫ﺀ‬ ‫ﻱ‬

iv

Nama

Huruf Latin

Nama

alif ba ta sa jim ha kha dal zal ra zal sin syin sad dad ta za ’ain gain fa qaf kaf lam mim nun wau ha hamzah ya

Tidak dilambangkan B T S J H Kh D z r z s sy s d t z ...’... g f q k i m n w h ..’... y

Tidak dilambangkan be te es (dengan titik diatas) je ha (Dengan titik dibawah) ka dan ha de zet (Dengan titik diatas) er zet es es dan ye es (Dengan titik dibawah) de (Dengan titik dibawah) te (Dengan titik dibawah) ze ((Dengan titik bawah) koma terbalik (diatas) ge ef ki ka el em en we ha apostrof ye

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

2. Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berubah harakat dan huruf, transliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu : Huruf Latin

Huruf Arab

Nama

‫…ﻲ‬..‫ ﺎ‬.... ‫…ﻲ‬. ‫…… ﯘ‬

fathah dan alif atau ya

Contoh :

kasrah dan ya dammah dan wau

a i u

Nama a dan garis di atas i dan garis di atas U dan garis di atas

‫ = ﻗﻭﻟﻭﺍ‬qulu ‫ = ﺍﻟﺮﺣﻤﻥ‬arrahman ‫ = ﺍﻟﺮﺣﻳﻢ‬arrahim

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

v

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................................................

i

HALAMAN PENERBITAN ....................................................................

ii

KATA PENGANTAR ..............................................................................

iii

PEDOMAN TRANSLITERASI ..............................................................

iv

DAFTAR ISI ............................................................................................

vi

DAFTAR GAMBAR ...............................................................................

x

DAFTAR TABEL ....................................................................................

xi

KOMPETENSI INTI (KI) DAN KOMPETENSI DASAR (KD) ............

xii

PEMETAAN KOMPETENSI DASAR (KD) ..........................................

xiv

SEMESTER GANJIL BAB I

BAB II

vi

AYO SHALAT SUNNAH RAWATIB ...........................

1

A. Mengenal Shalat Sunnah Rawatib ........................

5

B. Ketentuan Shalat Sunnah Rawatib .........................

6

C. Lafadz Niat Shalat Sunnah Rawatib .....................

7

D. Hikmah Shalat Sunnah Rawatib ...........................

8

E. Membiasakan Shalat Sunnah Rawatib ..................

9

Rangkuman ...........................................................

12

Uji Kompetensi .....................................................

14

MUDAHNYA SHALAT DALAM PERJALANAN .......

16

A. Ketentuan Shalat Jama’ dan Qasar .......................

21

1. Shalat Jama’ .....................................................

21

2. Shalat Qasar ......................................................

22

B. Praktik Shalat Jama’ dan Qasar ............................

23

1. Cara Mengerjakan Shalat Jama’ ........................

23

2. Cara Mengerjakan Shalat Qasar .........................

25

3. Cara Menjama’ sekaligus Mengqasar ................

25

4. Niat Shalat Jama’ dan Qasar ..............................

26

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Rangkuman ...........................................................

30

Uji Kompetensi .....................................................

32

MUDAHNYA SHALAT BAGI ORANG SAKIT ..........

34

A. Ketentuan Shalat bagi Orang yang Sakit ..............

39

B. Tata Cara Shalat bagi Orang yang Sakit ................

39

1. Shalat dengan Cara Duduk.................................

39

2. Shalat dengan Cara Berbaring ..........................

40

3. Shalat dengan Cara Telentang ...........................

41

C. Hikmah shalat bagi Orang yang Sakit ...................

42

Rangkuman ............................................................

44

Uji Kompetensi .....................................................

46

RINGANNYA SHALAT BAGI MUSAFIR .................

48

A. Ketentuan Rukhsah Shalat bagi Musafir ...............

52

1. Mengqasar (Meringkas) Shalat ..........................

53

2. Menjama’ (Menggabung) Shalat ......................

53

3. Shalat di Atas Kendaraan ...................................

55

4. Tayamum bagi Musafir ......................................

56

5. Batas mulai Diperbolehkan Mengambil Rukhshoh ..

56

B. Hikmah Rukhsah Shalat bagi Musafir ..................

56

Rangkuman ............................................................

59

Uji Kompetensi .....................................................

61

Penilaian Akhir Semester .....................................................................

63

BAB III

BAB IV

SEMESTER GENAP BAB V

SEMANGAT BERPUASA RAMADAN ........................

67

A. Ketentuan Puasa Ramadan ....................................

71

1. Pengertian Puasa ................................................

72

2. Syarat Sah Puasa ...............................................

72

3. Syarat Wajib Puasa ...........................................

72

4. Rukun Puasa ......................................................

73

5. Sunnah Puasa ....................................................

73

6. Hal-hal yang Dapat Membatalkan Puasa ..........

74

7. Orang yang Boleh Tidak Berpuasa ...................

75

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

vii

BAB VI

B. Hikmah Puasa Ramadan ........................................

75

Rangkuman ............................................................

78

Uji Kompetensi .....................................................

81

INDAHNYA BULAN RAMADAN ................................

83

A. Keutamaan Bulan Ramadan ..................................

87

1. Bulan Diturunkannya Al-Qur’an (Nuzulul Qur’an) .............................................................

87

2. Perintah Untuk Berpuasa ...................................

88

3. Perintah Berzakat ...............................................

88

4. Bulan Penuh Keberkahan ...................................

88

5. Malam Lailatul Qadar ........................................

88

6. Bulan Pengampunan Dosa (Maghfirah) ............

89

7. Ramadan Pintu Surga Dibuka Pintu Neraka Ditutup ...............................................................

89

B. Amalan Bulan Ramadan .......................................

89

1. Melaksanakan Shalat Tarawih dan Witir ...........

90

2. Mengakhirkan Sahur dan Menyegerakan

BAB VII

BAB VIII

viii

Berbuka Puasa ...................................................

90

3. Berdo’a Ketika Berbuka Puasa ..........................

90

4. Membaca dan Mempelajari al-Qur’an ...............

91

5. I’tikaf di Masjid .................................................

91

6. Memperbanyak Sedekah ....................................

91

Rangkuman ...........................................................

94

Uji Kompetensi .....................................................

96

PUASA SUNNAH PAHALA MELIMPAH ...................

98

A. Ketentuan Puasa Sunnah .......................................

103

B. Jenis Puasa Sunnah dan Niatnya ...........................

103

C. Hukum Puasa Sunnah ............................................

106

D. Hikmah Puasa Sunnah ..........................................

106

Rangkuman ...........................................................

109

Uji Kompetensi .....................................................

111

AYO SHALAT TARAWIH DAN WITIR ....................

113

A. Ketentuan Shalat Tarawih dan Witir .....................

118

1. Pengertian dan Hukum Shalat Tarawih dan Witir

118

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

2. Waktu dan Bilangan Shalat Tarawih dan Witir ....

118

3. Cara Mengerjakan Shalat Tarawih dan Witir .......

118

B. Doa sesudah Shalat Tarawih dan Witir ..................

119

1. Doa sesudah Shalat Tarawih ................................

119

2. Doa sesudah Shalat Witir .....................................

120

C. Keutamaan Shalat Tarawih dan Witir ....................

120

1. Keutamaan Shalat Tarawih ................................

120

2. Keutamaan Shalat Witir .....................................

122

Rangkuman ............................................................

126

Uji Kompetensi .....................................................

128

Penilaian Akhir Tahun ..........................................................................

130

Daftar Pustaka .........................................................................................

134

Glosarium .................................................................................................

135

Indeks ......................................................................................................... 137

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

ix

Gambar I. 1 Shalat Sunnah Rawatib ............................................................................. 5 Gambar II. 1 Keluarga di Kendaraan sedang Bepergian................................................ 20 Gambar II. 2 Keluarga yang sedang shalat jama’ di Masjid Rest Area ........................ 20 Gambar III. 1 Orang sedang berbaring sakit ................................................................ 38 Gambar III. 2 Orang sakit shalat dengan cara duduk .................................................... 39 Gambar III. 3 Orang sakit shalat dengan cara berbaring .............................................. 40 Gambar III. 4 Orang sakit shalat dengan cara telentang ............................................... 41 Gambar IV. 1 Perjalanan dengan pesawat terbang ....................................................... 52 Gambar IV. 2 Perjalanan dengan kapal laut ................................................................. 52 Gambar V.1 Keluarga sedang sahur bersama ............................................................... 71 Gambar VI.1 Anak-anak sedang melaksanakan shalat tarawih .................................... 87 Gambar VII.1 Keluarga sedang buka puasa ................................................................. 102 Gambar VIII.1 Jamaah shalat tarawih .......................................................................... 117

x

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Tabel 1 Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) Semester Ganjil ............... xii Tabel 2 Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) Semester Genap ................ xiii Tabel 3 Pemetaan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) .......................... xiv Tabel I. 1 Kompetensi Inti Shalat Sunnah Rawatib ....................................................... 2 Tabel I. 2 Kompetensi Dasar Shalat Sunnah Rawatib ................................................... 2 Tabel II. 1 Kompetensi Inti Shalat Jama’ dan Qasar ...................................................... 17 Tabel II. 2 Kompetensi Dasar Shalat Jama’ dan Qasar .................................................. 17 Tabel III. 1 Kompetensi Inti Shalat bagi Orang yang Sakit ........................................... 35 Tabel III. 2 Kompetensi Dasar Shalat bagi Orang yang Sakit ....................................... 35 abel IV. 1 Kompetensi Inti Shalat bagi Musafir ............................................................ 49 Tabel IV. 2 Kompetensi Dasar Shalat bagi Musafir....................................................... 49 Tabel V. 1 Kompetensi Inti Puasa Ramadan ................................................................. 68 Tabel V. 2 Kompetensi Dasar Puasa Ramadan ............................................................. 68 Tabel VI. 1 Kompetensi Inti Keutamaan Bulan Ramadan ............................................ 84 Tabel VI. 2 Kompetensi Dasar Keutamaan Bulan Ramadan ........................................ 84 Tabel VII. 1 Kompetensi Inti Puasa Sunnah ................................................................. 99 Tabel VII. 2 Kompetensi Dasar Puasa Sunnah ............................................................. 99 Tabel VIII. 1 Kompetensi Inti Shalat Tarawih dan Witir ............................................. 114 Tabel VIII. 2 Kompetensi Dasar Shalat Tarawih dan Witir.......................................... 114

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

xi

Tabel 1 KOMPETENSI INTI (KI) DAN KOMPETENSI DASAR (KD) FIKIH KELAS III MADRASAH IBTIDAIYAH SEMESTER GANJIL KOMPETENSI INTI

KOMPETENSI DASAR

1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya

1.1 Menjalankan shalat sunnah rawatib 1.2 Menerima kebenaran bahwa shalat harus dikerjakan dalam kondisi apapun 1.3 Menerima hikmah yang terkandung dalam ketentuan shalat bagi orang sakit 1.4 Menerima hikmah yang terkandung dalam ketentuan shalat bagi musafir

2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya

2.1 Menjalankan sikap rajin dan tanggung jawab sebagai implementasi dari mempeljari ketentuan shalat sunnah rawatib 2.2 Menjalankan sikap tanggung jawab dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya 2.3 Menjalankan sikap istikamah dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari 2.4 Menjalankan sikap istikamah dan tanggung jawab dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya

3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah

3.1 Memahami ketentuan shalat sunnah rawatib 3.2 Memahami ketentuan shalat jama’ dan qasar 3.3 Menganalisis ketentuan shalat bagi orang yang sakit 3.4 Menganalisis ketentuan shalat bagi musafir 4.1 Mempratikkan tata cara shalat sunnah rawatib 4.2 Mempraktikkan tata cara shalat jama’ dan qasar 4.3 Mempraktikkan tata cara shalat bagi orang yang sakit 4.4 Mempraktikkan tata cara shalat bagi musafir

4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

xii

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Tabel 2 KOMPETENSI INTI (KI) DAN KOMPETENSI DASAR (KD) FIKIH KELAS III MADRASAH IBTIDAIYAH SEMESTER GENAP KOMPETENSI INTI

KOMPETENSI DASAR

1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya

1.1 Menjalankan puasa Ramadlan sebagai perintah Allah Swt. 1.2 Menghayati keutamaan puasa Ramadlan sarana muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah Swt. 1.3 Menghayati keutamaan puasa Sunnah sebagai sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt. 1.4 Menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam shalat Tarawih dan Witir

2. Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya

2.1 Menjalankan perilaku sabar dan jujur sebagai implementasi dari mempelajari ketentuan puasa 2.2 Menjalankan sikap jujur dan peduli dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya 2.3 Menjalankan perilaku jujur dan sabar sebagai implementasi dari mempelajari ketentuan puasa sunnah 2.4 Menjalankan perilaku sabar dan disiplin sebagai implementasi dari mempelajari shalat sunnah Tarawih dan Witir

3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah

3.1 Memahami ketentuan puasa Ramadlan 3.2 Menganalisis keutamaan bulan Ramadlan 3.3 Memahami ketentuan puasa sunnah 3.4 Menerapkan tata cara shalat Tarawih dan Witir

4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

4.1 Mengomunikasikan pengalaman berpuasa Ramadlan 4.2 Mengomunikasikan hasil analisis tentang keutamaan bulan Ramadlan 4.3 Mengomunikasikan ketentuan puasa sunnah 4.4 Mempraktikkan shalat Tarawih dan Witir

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

xiii

Tabel 3 PEMETAAN KOMPETENSI INTI (KI) DAN KOMPETENSI DASAR (KD) FIKIH KELAS III MADRASAH IBTIDAIYAH BAB

JUDUL

I

AYO SHALAT SUNNAH RAWATIB

II

MUDAHNYA SHALAT DALAM PERJALANAN

xiv

KI

KD

INDIKATOR

SEMESTER GANJIL 1. 1.5 Menjalankan shalat sunnah rawatib 2. 2.1 Menjalankan sikap rajin dan tanggung jawab sebagai implementasi dari mempeljari ketentuan shalat sunnah rawatib 3. 3.5 Memahami ketentuan 1. Menjelaskan ketentuan shalat sunnah rawatib shalat sunnah rawatib 2. Menyebutkan jenis shalat sunnah rawatib 4. 4.5 Mempratikkan tata cara dan bilangan rakaatnya shalat sunnah rawatib 3. Melafadzkan niat shalat sunnah rawatib 4. Menyebutkan hikmah shalat sunnah rawatib 5. Menuliskan pengalaman shalat sunnah rawatib 5. Mempratikkan tata cara shalat sunnah rawatib 1. 1.6 Menerima kebenaran bahwa shalat harus dikerjakan dalam kondisi apapun 2. 2.2 Menjalankan sikap tanggung jawab dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya 3. 3.6 Memahami ketentuan 1. Menjelaskan ketentuan shalat jama’ dan qasar shalat jama’ dan qasar 2. Menjelaskan syarat 4. 4.6 Mempraktikkan tata shalat jama’ dan qasar cara shalat jama’ dan 3. Menjelaskan jenis shalat qasar jama’ dan qasar 4. Mempratikkan tata cara shalat jama’ dan shalat qasar 5. Mempraktikkan shalat jama’ dan qasar

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

1.

2.

III

MUDAHNYA SHALAT BAGI ORANG SAKIT

3.

4.

1.

2.

IV

RINGANNYA SHALAT BAGI MUSAFIR

3. 4.

1.7 Menerima hikmah yang terkandung dalam ketentuan shalat bagi orang sakit 2.3 Menjalankan sikap istikamah dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari 3.7 Menganalisis ketentuan shalat bagi orang yang sakit 4.7 Mempraktikkan tata cara shalat bagi orang yang sakit

1.4 Menerima hikmah yang terkandung dalam ketentuan shalat bagi musafir 2.4 Menjalankan sikap istikamah dan tanggung jawab dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya 3.4 Menganalisis ketentuan shalat bagi musafir 4.8 Mempraktikkan tata cara shalat bagi musafir

1. Menjelaskan tata cara shalat bagi orang yang sakit 2. Menyebutkan hikmah shalat bagi orang yang sakit 3. Mempraktikkan tata cara shalat bagi orang yang sakit

1. Menjelaskan ketentuan rukhsah shalat bagi musafir 2. Menjelaskan hikmah shalat bagi musafir 3. Mempraktikkan tata cara shalat bagi musafir

SEMESTER GENAP 1.

V

SEMANGAT BERPUASA RAMADAN

2.

3.

1.5 Menjalankan puasa Ramadlan sebagai perintah Allah Swt. 2.5 Menjalankan perilaku sabar dan jujur sebagai implementasi dari mempelajari ketentuan puasa 3.5 Memahami ketentuan puasa Ramadan

1. Menjelaskan ketentuan puasa

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

xv

4.

4.5 Mengomunikasikan pengalaman berpuasa Ramadan

1.

1.6 Menghayati keutamaan puasa Ramadan sarana muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah Swt. 2.6 Menjalankan sikap jujur dan peduli dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya 3.6 Menganalisis keutamaan bulan Ramadan 4.6 Mengomunikasikan hasil analisis tentang keutamaan bulan Ramadan

2.

VI

INDAHNYA BULAN RAMADAN

3.

4.

1. VII

xvi

PUASA SUNNAH PAHALA MELIMPAH

2.

1.7 Menghayati keutamaan puasa Sunnah sebagai sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt. 2.7 Menjalankan perilaku jujur dan sabar sebagai

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

2. Menyebutkan syarat sahnya dan syarat wajib puasa 3. Menyebutkan rukun dan sunnah puasa 4. Menyebutkan hal-hal yang membatalkan puasa 5. Menyebutkan orang yang boleh tidak berpuasa 6. Menjelaskan hikmah puasa Ramadan 7. Menghafalkan niat puasa dan doa berbuka puasa 8. Menceritakan pengalaman berpuasa Ramadan

1. Menjelaskan keutamaan-keutamaan yang ada di bulan Ramadan 2. Menyebutkan amalanamalan di bulan Ramadan 3. Membiasakan melaksanakan amalan Ramadan 4. Menceritakan keutamaan-keutamaan bulan Ramadan

3. 4.

1.

2.

3.

VIII

AYO SHALAT TARAWIH DAN WITIR

4.

implementasi dari mempelajari ketentuan puasa sunnah 3.7 Memahami ketentuan puasa sunnah 4.7 Mengomunikasikan ketentuan puasa sunnah

1. Menjelaskan ketentuan puasa sunnah 2. Menyebutkan jenis puasa sunnah dan niatnya 3. Menjelaskan hikmah puasa sunnah 4. Menceritakan pengalaman melakukan puasa sunnah

1.8 Menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam shalat Tarawih dan Witir 2.8 Menjalankan perilaku sabar dan disiplin sebagai implementasi dari mempelajari shalat sunnah Tarawih dan Witir 3.8 Menerapkan tata cara 1. Menjelaskan ketentuan shalat Tarawih dan shalat tarawih dan witir Witir 2. Menjelaskan waktu dan bilangan rakaat shalat 4.12 Mempraktikkan shalat tarawih dan witir Tarawih dan Witir 3. Menjelaskan tata cara shalat tarawih dan witir 4. Menghafalkan doa sesudah shalat tarawih dan witir 5. Menceritakan keutamaan shalat tarawih dan witir 6. Mempratikkan tata cara shalat tarawih dan witir 7. Menceritakan pengalaman mengerjakan shalat tarawih dan witir

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

xvii

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

1

KOMPETENSI INTI Tabel I.1 Kompetensi Inti KOMPETENSI INTI 1

KOMPETENSI INTI 2

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

2. Menunjukkan 3. Memahami perilaku jujur, pengetahuan faktual disiplin, tanggung dengan cara jawab, santun, mengamati peduli, dan percaya (mendengar, diri dalam melihat, membaca) berinteraksi dengan dan menanya keluarga, teman, berdasarkan rasa guru, dan ingin tahu tentang tetangganya dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah

4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

(SIKAP SOSIAL)

(SIKAP SPIRITUAL) 1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya

KOMPETENSI DASAR Tabel I.2 Kompetensi Dasar 1.8 Menjalankan shalat sunnah rawatib

2

2.1 Menjalankan sikap 3.8 Memahami rajin dan ketentuan shalat tanggung jawab sunnah rawatib sebagai implementasi dari mempeljari ketentuan shalat sunnah rawatib

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

4.13 Mempratikkan tata cara shalat sunnah rawatib

INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

Peserta didik mampu: 1.1.1 Menjalankan shalat sunnah rawatib 1.1.2 Menerima ketentuan shalat sunnah rawatib 2.1.1 Memiliki sikap rajin menjalankan shalat sunnah rawatib 2.1.2 Memiliki tanggung jawab menjalankan shalat rawatib 3.1.1 Menjelaskan ketentuan shalat sunnah rawatib 3.1.2 Menyebutkan jenis shalat sunnah rawatib dan bilangan rakaatnya 3.1.3 Menyebutkan hikmah shalat sunnah rawatib 4.1.1 Menceritakan pengalaman shalat sunnah rawatib 4.1.2 Mempraktikkan shalat sunnah rawatib

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

3

PETA KONSEP

Menjalankan shalat sunnah rawatib Sikap Spiritual Menerima ketentuan shalat sunnah rawatib

Memiliki sikap rajin menjalankan shalat

sunnah rawatib Sikap Sosial Memiliki tanggung jawab menjalankan shalat rawatib

Shalat Sunnah Rawatib

Menjelaskan ketentuan shalat sunnah rawatib

Pengetahuan

Menyebutkan jenis shalat sunnah rawatib dan bilangan rakaatnya

Menyebutkan hikmah shalat sunnah rawatib

Menuliskan pengalaman shalat sunnah rawatib Keterampilan Menceritakan pengalaman shalat sunnah rawatib

4

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Bismillahirrohmanirrohim Salah satu amalan yang bisa kita lakukan untuk menyempurnakan amalan dari ibadah wajib adalah amalan sunnah, termasuk ibadah dalam shalat yang dilengkapi dengan shalat sunnah. Tentu di antara kalian pasti sudah ada yang pernah melaksanakannya, shalat sunnah apa saja yang pernah kalian lakukan? Nah, kali ini kita akan mempelajari salah satu jenis shalat sunnah yang diperintahkan kepada kita yaitu shalat sunnah rawatib, karena banyak sekali keutamaan yang akan kita dapatkan dengan mengamalkannya.

A. Mengenal Shalat Sunnah Rawatib Banyak sekali amalan sunnah yang bisa kita kerjakan untuk menambah pahala ibadah wajib. Salah satunya adalah mengerjakan shalat sunnah yang selalu dikerjakan oleh Rasulullah Saw. dan bisa kita amalkan pula, yaitu shalat sunnah rawatib. Bagaimana Nabi Saw. mengajarkannya? Untuk mengetahui jawabannya ayo kamu ikuti uraian di bawah ini! Amati dan ceritakan gambar berikut!

Gambar I.1. Shalat Sunnah Rawatib

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

5

Setelah kamu mengamati gambar di atas, apa yang kamu pikirkan? Dapatkah kamu membuat kalimat pertanyaan dari apa yang telah kamu pikirkan? Kamu tentu bisa, tulislah kalimat-kalimat pertanyaan tersebut pada kolom di bawah ini! 1. ……………………………………………………………………........... 2. ……………………………………………………………………........... 3. ……………………………………………………………………........... Tahukah kamu, apakah shalat sunnah rawatib itu? Shalat sunnah rawatib adalah shalat sunnah yang mengiringi salat fardlu, yaitu shalat yang dikerjakan sebelum dan sesudah shalat fardlu. Shalat sunnah rawatib yang dilakukan sebelum shalat fardlu dinamakan shalat sunnah qabliyyah, sedangkan yang dilakukan sesudah shalat fardlu disebut shalat sunnah ba’diyyah. Hukum mengerjakan shalat sunnah rawatib adalah sunnah yaitu bila dikerjakan mendapat pahala sedangkan apabila ditinggalkan tidak mendapat dosa, akan tetapi rugi jika tidak melakukan karena tidak mendapatkan pahala.

B. Ketentuan Shalat Sunnah Rawatib Shalat sunnah rawatib ada yang sering dilakukan oleh

Teladan Rasul:

Nabi Muhammad Saw. dan ada juga yang jarang

Dua raka'at fajar

dilakukannya.

(salat sunnah

Shalat sunnah rawatib yang sering dilakukan oleh Nabi

yang dikerjakan

Saw. disebut shalat sunnah muakkad (sangat dianjurkan

sebelum shubuh)

untuk mengerjakannya) sedangkan yang jarang dilakukan

itu lebih baik

oleh Nabi Saw. disebut shalat sunnah ghairu muakkad

daripada dunia

(tidak ditekankan untuk mengerjakannya).

dan seisinya.

1.

HR. Muslim

Shalat Sunnah Rawatib Muakkad Yang dimaksudkan dengan shalat sunnah

Rawatib

. seperti dijelaskan Muakkad yaitu shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari dalam riwayat At Tirmidzi, dari ‘Aisyah. Nabi Saw. bersabda:

ُّ َ َ َ َ َ ْ َ َّ َ ْ ً ْ َ ُ َ ُ َّ َ َ َّ ُّ َ ً َ ْ َ َ َ ْ َ ْ َ ْ َ َ َ َ َ ْ َ ‫ات ﻗ ْب َل ﺍﻟظ ْه ِﺮ‬ ٍ ‫من ثابﺮ على ِثنتى عشﺮة ركعة ِمن ﺍﻟسن ِة بنى َّللا ﻟه بيتا ِفى ﺍلجن ِة أرب ِع ركع‬ ْ ْ ْ ْ َ ْ ْ َْ َْ َ ‫َﻭ َرك َع َت ْي ِﻥ َب ْع َد َها َﻭ َرك َع َت ْي ِﻥ َب ْع َد ﺍْلغ ِﺮ ِب َﻭ َرك َع َت ْي ِﻥ َب ْع َد ﺍﻟ ِعش ِاء َﻭ َرك َع َت ْي ِﻥ ﻗ ْب َل ﺍﻟف ْج ِﺮ‬

6

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Artinya: “Barang siapa merutinkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas rakaat tersebut adalah empat rakaat sebelum dzuhur, dua raka’at sesudah dzuhur, dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah Isya’, dan dua rakaat sebelum shubuh”. (HR. Bukhari dan Muslim) Dari hadis tersebut kita mengetahui ada lima macam shalat sunnah rawatib yang sangat dianjurkan untuk mengerjakannya dan sering dilakukan oleh Nabi Saw., yaitu: a. 2 rakaat sebelum Dzuhur b. 2 rakaat sesudah Dzuhur c. 2 rakaat sesudah Maghrib d. 2 rakaat sesudah Isya’ e. 2 rakaat sebelum Shubuh 2.

Salat Sunah Rawatib Ghairu Muakkad terdiri dari : a. 4 rakaat sebelum Dzuhur (maksudnya yaitu 2 rakaat pertama termasuk sunnah muakkad, 2 rakaat berikutnya termasuk ghairu muakkad) b. 4 rakaat sesudah Dzuhur (maksudnya yaitu 2 rakaat pertama termasuk sunnah muakkad, 2 rakaat berikutnya termasuk ghairu muakkad) c. 4 rakaat sebelum Ashar d. 2 rakaat sebelum Maghrib e. 2 rakaat sebelum Isya’

C. Lafadz Niat Shalat Sunnah Rawatib 1. Niat shalat sunnah rawatib 2 rakaat sebelum Shubuh

ٰ َ ٰ ً َ َ َ َ َ ْ ُّ َ َّ ُ ْ ِّ َ ُ ‫لِل تعالى‬ ِ ِ ‫ﺍص ِلى سنة ﺍﻟصب ِح ركعت ِيﻥ ﻗ ِبلية‬ Artinya : Aku niat shalat sunnah dua rakaat sebelum Shubuh karena Allah Ta’ala. 2. Niat shalat sunnah rawatib 2 rakaat sebelum Dzuhur

ٰ َ ٰ ً َ َ َ َ َ ْ ُّ َ َّ ُ ْ ِّ َ ُ ‫لِل تعالى‬ ِ ِ ‫ﺍص ِلى سنة ﺍﻟظه ِﺮ ركعت ِيﻥ ﻗ ِبلية‬ Artinya : Aku niat shalat sunnah dua rakaat sebelum Dzuhur karena Allah Ta’ala.

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

7

3. Niat shalat sunnah rawatib 2 rakaat sesudah Dzuhur

ٰ َ ٰ ً ِّ ْ َ َ َ َ ْ ُّ َ َّ ُ ْ ِّ َ ُ ‫لِل تعالى‬ ِ ِ ‫ﺍص ِلى سنة ﺍﻟظه ِﺮ ركعت ِيﻥ بع ِدﻳة‬ Artinya : Aku niat shalat sunnah dua rakaat sesudah Dzuhur karena Allah Ta’ala. 4. Niat shalat sunnah rawatib 2 rakaat sesudah Maghrib

ٰ َ ٰ ً ِّ ْ َ َ َ َ ْ َ ْ َ َّ ُ ْ ِّ َ ُ ‫لِل تعالى‬ ِ ِ ‫ﺍص ِلى سنة ﺍْلغ ِﺮ ِب ركعت ِيﻥ بع ِدﻳة‬ Artinya : Aku niat shalat sunnah dua rakaat sesudah Maghrib karena Allah Ta’ala. 5. Niat shalat sunnah rawatib 2 rakaat sesudah Isya’

ٰ َ ٰ ً ِّ ْ َ َ َ َ َ ْ َ َّ ُ ْ ِّ َ ُ ‫لِل تعالى‬ ِ ِ ‫ﺍص ِلى سنة ﺍﻟ ِعشا ركعت ِيﻥ بع ِدﻳة‬ Artinya : Aku niat shalat sunnah dua rakaat sesudah Isya’ karena Allah Ta’ala. D. Hikmah Shalat Sunnah Rawatib Beberapa keutamaan dari shalat sunnah rawatib antara lain: 1. Menyempurnakan pahala ibadah shalat fardlu 2. Dapat menghapus dosa yang kita lakukan 3. Mencegah perbuatan yang buruk 4. Pahalanya lebih baik daripada dunia dan isinya Rasulullah Saw. bersabda:

ْ ُّ َ ٌ ْ َ ْ َ ْ َ َ ْ َ ‫ﺍﻟدن َيا َﻭ َما ِف َيها‬ ‫ركعتا ﺍﻟفج ِﺮ خير ِمن‬

Artinya: “Dua rakaat fajar (shalat sunnah yang dikerjakan sebelum shubuh) itu lebih baik daripada dunia dan seisinya” (HR. Muslim) 5. Akan mendapat rahmat dari Allah Rasulullah Saw. bersabda:

َ ْ َ ْ َ ْ َ َّ َ ً َ ْ ُ َّ َ َ ‫ص ِﺮ أ ْرَب ًعا‬ ‫ر ِﺣﻢ َّللا ﺍمﺮأ صلى ﻗبل ﺍﻟع‬

Artinya: “Semoga Allah merahmati orang yang shalat 4 rakaat sebelum Ashar.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Turmudzi dari Ibnu Umar).

8

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

6. Rutin mengerjakan shalat rawatib 12 rakaat dalam sehari akan dibangunkan rumah di surga. Rasulullah Saw. bersabda:

َ ْ َ َ ْ َّ َ ْ َ ً ْ َ ْ ‫صلى ﺍث َن َت ْى َعش َﺮة َرك َعة ِفى َﻳ ْو ٍم َﻭﻟ ْيل ٍة ُب ِن َى ﻟ ُه ِب ِه َّن َب ْي ٌت ِفى ﺍل َج َّن ِة‬ ‫من‬

Artinya: “Barang siapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 rakaat, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangunkan sebuah rumah di surga.” E. Membiasakan Shalat Sunnah Rawatib Tata cara pelaksanaan shalat sunnah rawatib sama dengan shalat fardlu. Perbedaannya ada pada niat pelaksanaannya. Selain itu shalat sunnah rawatib dikerjakan secara munfarid artinya dilaksanakan secara sendiri-sendiri tidak dilakukan secara berjamaah. Bacaan dalam salat sunah rawatib tidak dinyaringkan. Mari mulai dari sekarang kalian membiasakan diri untuk melaksanakan shalat sunnah rawatib sebelum dan setelah shalat fardlu. Rasulullah Saw. bersabda : “Pertama kali amal (perbuatan) yang dihisab atas seorang hamba pada hari kiamat (nanti) adalah shalat, maka jika (ternyata) shalat itu baik, maka baiklah seluruh amalnya, dan jika (ternyata) shalatnya rusak (jelek), maka rusaklah (jeleklah) seluruh amalnya”. Dan Sabdanya lagi : “Pada tiap antara dua adzan (adzan dan iqamat) ada shalat (sunnah), pada tiap adzan dan iqamat ada shalat (sunnah), pada tiap adzan dan iqamat ada shalat (sunnah) setelah mengatakan tiga kali, bagi siapa yang mau mengerjakannya”. (HR. Bukhari dan Muslim). Dua hadis tersebut memberikan pengertian pada kita bahwa kita dituntut untuk menyempurnakan dan memperbaiki shalat fardlu kita, karena besok pada hari hisab (amal-amal manusia diteliti), shalatlah yang menjadi tolak ukur baik dan buruknya amal seseorang, maka apabila shalatnya baik, akan baiklah seluruh amal lainnya. Begitupun sebaliknya apabila shalatnya rusak (jelek), maka rusaklah seluruh amalnya. Oleh karena itu kita disyariatkan (diperintahkan) mengerjakan shalat sunnah setelah disyariatkan shalat fardlu yang lima waktu, untuk menyempurnakan kekurangankekurangan dari shalat fardlu yang kita kerjakan agar menjadi sempurna seperti yang kita harapkan. Adapun perintah mengerjakan shalat sunnah qabliyyah dapat kita simpulkan dari hadis tersebut yaitu pada lafal “setiap antara adzan dan iqamah ada shalat (sunnah)”. FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

9

Kamus Mini Sunnah muakkad

: sangat dianjurkan untuk mengerjakannya

Sunnah ghairu muakkad

: tidak ditekankan untuk mengerjakannya

Sunnah qabliyyah

: dilakukan sebelum shalat fardu

Sunnah ba’diyyah

: dilakukan sesudah shalat fardu

Munfarid

: shalat yang dilaksanakan sendiri

Insya Allah Aku Bisa Aku hafal niat shalat sunnah rawatib.

Hati-Hati Tidak ada shalat sunnah rawatib sesudah salat Shubuh dan Ashar

Hikmah Sesungguhnya amal ibadah seorang hamba yang akan dihitung pertama kali pada hari kiamat adalah shalat. Jika baik shalatnya maka baik pula seluruh amalnya dan jika buruk shalatnya maka rusak pula seluruh amalnya.

Tentukan Sikapmu! Berilah tanda centang (√) pada kolom Ya atau Tidak di bawah ini! No

10

Pernyataan

1.

Kita boleh melaksanakan shalat sunnah rawatib tanpa melaksanakan shalat fardu

2.

Dengan membiasakan diri melaksanakan shalat sunnah rawatib hidup kita menjadi lebih bahagia

3.

Shalat sunnah rawatib harus dibiasakan sejak kecil

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Ya

Tidak

4

Kita boleh melaksanakan shalat sunnah rawatib kapan saja

5.

Kita hanya membiasakan shalat sunnah rawatib ghairu muakkad saja

Kelompokkan jenis shalat rawatib di bawah ini dengan benar, pasangkan dengan cara memberi tanda anak panah seperti contoh!

2 Rakaat sebelum Dzuhur

2 Rakaat sesudah Isya’

4 Rakaat sebelum Ashar

2 Rakaat sebelum Isya’

Shalat Sunnah Rawatib Muakkad

Shalat Sunnah Rawatib Ghairu Muakkad

2 Rakaat sebelum Maghrib

2 Rakaat sebelum Shubuh

2 Rakaat sesudah Maghrib

2 Rakaat sesudah Dzuhur

Berilah tanda centang (√) pada kolom shalat sunnah rawatib yang kamu kerjakan selama satu minggu! Hari Shalat Paraf No. Rawatib Senin Selasa Rabu Kamis Jum’at Sabtu Ahad Ortu 1.

2 rakaat sebelum Shubuh FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

11

2.

3.

4.

5.

2 rakaat sebelum Dzuhur 2 rakaat sesudah Dzuhur 2 rakaat sesudah Maghrib 2 rakaat sesudah Isya’

1. Shalat sunnah rawatib yaitu salat yang dikerjakan sebelum dan sesudah salat fardu. 2. Shalat sunah rawatib yang dilakukan sebelum salat fardu dinamakan shalat sunnah qabliyyah 3. Shalat sunnah rawatib yang dilakukan sesudah shalat fardhu disebut shalat sunnah ba’diyyah. 4. Shalat sunnah rawatib dikerjakan secara munfarid artinya dilaksanakan secara sendiri-sendiri. 5. Bacaan dalam salat sunah rawatib tidak dinyaringkan. 6. Hukum mengerjakan shalat sunnah rawatib adalah sunnah 7. Tidak ada shalat sunnah rawatib sesudah shalat Shubuh dan Ashar 8. Hikmah shalat sunnah Rawatib yaitu: (1) Menyempurnakan pahala ibadah shalat fardhu; (2) Dapat menghapus dosa yang kita lakukan; (3) Menecegah perbuatan yang buruk; (4) Pahalanya lebih baik daripada dunia dan isinya

Hikmah “Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah Swt adalah amal yang terus menerus dikerjakan meskipun sedikit.”

12

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Sikapku Berilah tanda centang (√) pada kolom Ya atau Tidak kotak di bawah ini! No 1. 2. 3.

Uraian

Ya

Tidak

Aku ingin meningkatkan ketaqwaan dengan melakukan shalat sunnah rawatib Aku berusaha melaksanakan shalat rawatib muakkad dan ghairu muakkad Aku meyakini bahwa shalat sunnah rawatib menjadi penyempurna shalat fardlu

1. Shalat sunnah yang dikerjakan sebelum shalat fardlu disebut .... 2. Shalat fardlu yang tidak diikuti oleh shalat sunnah ba’diyyah adalah .... 3. Shalat sunnah rawatib dikerjakan secara munfarid artinya .... 4. Shalat sunnah yang diutamakan disebut shalat sunnah ... 5. Hukum mengerjakan shalat sunnah rawatib adalah ....

Praktikkan shalat sunnah Rawatib qabliyyah Shubuh dengan benar dan tertib!

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

13

Kompetensi A. Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, atau c di depan jawaban yang paling tepat! 1. Shalat yang dikerjakan sebelum dan sesudah shalat fardlu disebut .... a. witir b. rawatib c. tarawih

2. Shalat sunnah yang dikerjakan setelah shalat dzuhur dinamakan .... a. ba’diyyah dzuhur b. sunnah dzuhur c. qabliyyah dzuhur

3. Berikut merupakan hukum melaksanakan shalat sunnah rawatib adalah …. a. sunnah muakad dan ghoiru muakad b. wajib kifayah dan sunnah muakad c. sunnah muakad dan sunnah kifayah

4. Shalat sunnah yang sangat disukai dan hampir tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah Saw. adalah....... a. dua rakaat sebelum shubuh b. dua rakaat sesudah maghrib c. dua rakaat sesudah ashar

5. Pernyataan yang benar adalah....... a. dua rakaat sebelum maghrib termasuk rawatib muakkad b. empat rakaat sebelum ashar adalah muakkad c. dua rakaat sesudah isya’ adalah muakkad

6. Setiap melaksanakan sebelum dzuhur berjamaah, para siswa MI selalu diperintahkan oleh Bapak dan Ibu guru untuk shalat sunnah terlebih dahulu. Shalat semacam ini disebut .... a. ba’diyyah dzuhur b. qabliyyah dzuhur c. sunnah dzuhur

7. Sehabis Maghrib, Ali selalu mengerjakan shalat sunnah. Jumlah rakaat yang dikerjakan Ali dalam shalat sunnah tersebut adalah … a. satu b. dua c. tiga

8. Shalat sunnah rawatib yang dikerjakan setelah shalat fardhu disebut … a. qabliyyah b. ba’diyyah c. muakkad

14

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

9. Hadis tentang shalat rawatib menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda : “Tidak ada shalat fardlu kecuali di antara keduanya ada …. a. dua rakaat b. shalat wajib c. adzan dan iqomah

10. Shalat rawatib lebih baik dilaksanakan secara .... a. sendirian b. berjamaah c. langsung B. Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat!

11. Shalat yang mengiringi shalat fardhu disebut shalat sunnah …. 12. Mengerjakan shalat sunnah dua rakaat sebelum salat Shubuh termasuk.... 13. Shalat sunnah dua rakaat yang sangat diutamakan oleh Rasulullah Saw. sampai akhir hayatnya adalah......

14. Tujuan dilaksanakannya shalat sunnah adalah untuk melengkapi kekurangan .... 15. Menurut sebuah hadis dan Umar bin Khaththab riwayat Tirmidzi menerangkan bahwa barang siapa yang mengerjakan shalat sunnah empat raka’at sebelum ashar maka Allah akan memberi.......

C. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan tepat!

16. Tulislah niat shalat rawatib sesudah Isya’ lengkap dengan harakatnya! 17. Sebutkan 3 contoh yang termasuk shalat sunnah rawatib muakkad! 18. Sebutkan 4 hikmah mengerjakan shalat sunnah rawatib! 19. Mengapa ibadah shalat sunnah yang paling utama adalah shalat sunnah rawatib? 20. Bagaimana cara mengerjakan shalat sunnah rawatib?

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

15

16

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

KOMPETENSI INTI Tabel II.1 Kompetensi Inti KOMPETENSI INTI 1

KOMPETENSI INTI 2

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

2. Menunjukkan 3. Memahami perilaku jujur, pengetahuan faktual disiplin, tanggung dengan cara jawab, santun, mengamati peduli, dan percaya (mendengar, diri dalam melihat, membaca) berinteraksi dengan dan menanya keluarga, teman, berdasarkan rasa guru, dan ingin tahu tentang tetangganya dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah

4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

(SIKAP SOSIAL)

(SIKAP SPIRITUAL) 1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya

KOMPETENSI DASAR

Tabel II. 2 Kompetensi Dasar 1.9 Menerima kebenaran bahwa shalat harus dikerjakan dalam kondisi apapun

2.2 Menjalankan sikap 3.9 Memahami tanggung jawab ketentuan shalat dalam berinteraksi jama’ dan qasar dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya

4.14 Mempraktikkan tata cara shalat jama’ dan qasar

=

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

17

INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

Peserta didik mampu: 1.9.1 Menerima kebenaran shalat dikerjakan dalam kondisi apapun 1.9.2 Menjalankan shalat dalam kondisi apapun 2.2.1 Memiliki sikap tanggung jawab menjalankan shalat dalam kondisi apapun 2.2.2 Memiliki sikap disiplin menjalankan shalat dalam kondisi apapun 3.2.1 Menjelaskan ketentuan shalat jama’ dan qasar 3.2.2 Menjelaskan syarat dan jenis shalat jama’ dan qasar 4.2.1 Menuliskan pengalaman shalat jama’ dan qasar 4.2.2. Mempraktikkan shalat jama’ dan qasar

18

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

PETA KONSEP Menerima kebenaran shalat dikerjakan dalam kondisi apapun Sikap Spiritual

Sikap Sosial Shalat Jama’ dan Qasar

Menjalankan shalat dalam kondisi apapun

Memiliki sikap tanggung jawab menjalankan shalat dalam kondisi apapun

Memiliki sikap disiplin menjalankan shalat dalam kondisi apapun

Menjelaskan ketentuan shalat jama’ dan qasar Pengetahuan Menjelaskan syarat dan jenis shalat jama’ dan qasar

Menuliskan pengalaman shalat jama’ dan qasar Keterampilan Mempraktikkan shalat jama’ dan qasar

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

19

Melaksanakan shalat lima waktu adalah salah satu kewajiban bagi kita sebagai umat muslim yang harus dilaksanakan. Namun, kadangkala ada sesuatu hal yang menyebabkan kita terpaksa untuk tidak melaksanakan shalat wajib tepat pada waktunya, misalnya saat kita sedang dalam perjalanan yang sangat jauh dan tidak memungkinkan melakukan shalat pada waktunya. Jika kita dalam keadaan demikian, kita masih tetap bisa melaksanakan shalat fardlu dengan cara dijama’ dan diqasar. Apakah itu shalat jama’ dan qasar? Mari kalian ikuti penjelasannya di bawah ini!

Sumber: simomot.com

Sumber: al-khoirot.net

Gambar II. 1 Keluarga sedang mudik melaksanakan shalat jama’ di Masjid Rest Area

Setelah kamu mengamati gambar di atas, pasti kamu bisa membuat kalimat pertanyaan dari apa yang telah kamu pikirkan? Coba tulislah kalimat-kalimat pertanyaan tersebut pada kolom di bawah ini! Sumber: al-khoirot.net Sumber: simomot.com

1. …………………………………………………………………….......... 2. ……………………………………………………………………......... 3. ……………………………………………………………………..........

20

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

A. Ketentuan Shalat Jama’ dan Qasar Seringkali kita mengadakan perjalanan jauh sehingga

Mutiara Hikmah:

kesulitan untuk melaksanakan shalat, meskipun demikian

Dalam beribadah Allah Swt. tidak pernah menyulitkan umatnya. Salah satu bentuk kasih sayang Allah Swt kepada umatnya adalah dengan memudahkan pelaksanaan shalat jika sewaktu-waktu kamu dalam perjalanan jauh/musafir.

tidak ada alasan untuk tidak melaksanakan shalat fardlu karena Islam tidak memberatkan, kita bisa shalat dengan cara dijama’ (digabungkan) dan qasar (diringkas), hal ini merupakan rukhsah (keringanan) yang diberikan Allah Swt. agar manusia tidak meninggalkan shalat fardlu walau dalam keadaan apapun, sebab Allah tidak menghendaki kesukaran pada hamba-Nya. Apa itu shalat jama’ dan qasar? Untuk mengetahui jawabannya ayo kamu ikuti uraian di bawah ini!

1. Shalat Jama’ Shalat jama’ adalah shalat yang digabungkan, maksudnya menggabungkan dua shalat fardlu

yang

dilaksanakan

pada

satu

waktu.

Misalnya

menggabungkan shalat Dzuhur dan Ashar dikerjakan pada waktu Dzuhur atau pada waktu Ashar. Atau menggabungkan shalat Maghrib dan Isya’, dikerjakan pada waktu Maghrib atau pada waktu Isya’. Sedangkan shalat Shubuh tetap pada waktunya tidak boleh digabungkan dengan shalat lain. Hukum mengerjakan shalat jama’ adalah mubah (boleh) bagi orang-orang yang memenuhi persyaratan. Dalam sebuah hadis pernah dikisahkan bahwa: Hukum mengerjakan shalat jama’ adalah dibolehkan (mubah)) bagi orang-orang yang memenuhi persyaratan. Hadis Rasulullah Saw:

ْ َ ُّ َّ َ ُ ْ َّ َ َ ْ َ َ ْ َ َ َ َ ْ َ َ َّ َ َ ْ َ َ ُ َّ َ ُ ُ َ َ ‫س أخ َرالظ ْه َر ِإلى َوق ِت‬ ‫هللا صلى هللا علي ِه وسلم ِإذا ارتحل قبل أن ت ِزيغ الشم‬ ِ ‫كان َرسول‬ ُ ُّ َّ َ َ َ ْ َ ْ َ َ ْ َ ُ ْ َّ ْ َ َ ْ َ َ ُ َ ْ َ َ َ َ َ َ َ َ َّ ُ ْ َ ْ ‫صلى الظ ْه َرث َّم َر ِك َب‬ ‫العص ِرثم نزل فجمع بينهما ف ِإن زاغت الشمس قبل أن يرت ِحل‬

Artinya: “Bahwa Rasulullah Saw. apabila beliau bepergian sebelum matahari tergelincir, maka ia mengakhirkan salat dzuhur sampai waktu ashar, kemudian berhenti lalu menjamak antara dua shalat tersebut, tetapi apabila matahari telah tergelincir (sudah masuk waktu dzuhur) sebelum pergi, maka melakukan shalat dzuhur (dahulu) kemudian beliau naik kendaraan (berangkat)," (HR. Bukhari dan Muslim).

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

21

Dari

hadis

di

atas

dapat

disimpulkan

bahwa

Rasulullah

Saw.

pernah

menjama’ shalat karena ada suatu sebab yaitu bepergian. Hal ini menunjukkan bahwa menggabungkan dua shalat diperbolehkan dalam Islam namun harus ada sebab tertentu. Shalat jama’ boleh dilaksanakan karena salah satu dari dua alasan (halangan) yaitu: a. Dalam perjalanan jauh minimal 81 kilometer (menurut kesepakatan sebagian besar imam madzhab) dan perjalanan tersebut tidak bertujuan untuk maksiat. b. Dalam keadaan sangat ketakukan atau khawatir misalnya perang, sakit, hujan lebat, angin topan dan bencana alam. Shalat jama’ dibagi dua yaitu: a.

Jama’ Taqdim (jama’ yang didahulukan), yakni menjama’ dua shalat yang dilaksanakan pada waktu yang pertama. Misalnya menjama’ shalat dzuhur dengan ashar, dikerjakan pada waktu dzuhur (4 rakaat shalat dzuhur dan 4 rakaat shalat ashar), atau menjama’ shalat maghrib dengan isya’ dilaksanakan pada waktu maghrib (3 rakaat shalat maghrib dan 4 rakaat shalat isya’). Dalam melaksanakan salat jama’ taqdim maka harus berniat menjama’ shalat kedua pada waktu yang pertama, mendahulukan shalat pertama dan dilaksanakan bersegera, tidak diselingi perbuatan atau perkataan lain. Pelaksanaan shalat jama’ takdim, pada shalat yang kedua harus masih berada dalam perjalanan

b. Jama’ Ta’khir (jama’ yang diakhirkan), yakni menjama’ dua shalat yang dilaksanakan pada waktu yang kedua. Misalnya menjama’ shalat dzuhur dengan ashar, dikerjakan pada waktu ashar atau menjama’ shalat maghrib dengan isya’ dilaksanakan pada waktu isya’. Adapun saat melaksanakan jamak ta’khir maka harus berniat menjama’ di waktu shalat yang pertama. Tidak disyaratkan harus mendahulukan shalat pertama. Boleh mendahulukan shalat pertama baru melakukan shalat kedua atau sebaliknya. Pelaksanaan shalat jama’ ta’khir, pada shalat yang kedua harus masih berada dalam perjalanan

2. Shalat Qasar Shalat qasar adalah shalat yang dipendekkan (diringkas), yaitu melakukan shalat fardlu dengan cara meringkas dari empat rakaat menjadi dua rakaat. Shalat fardlu yang boleh diringkas adalah shalat yang jumlah rakaatnya ada empat yaitu dzuhur, ashar dan isya’. Hukum melaksanakan salat qasar adalah mubah (diperbolehkan) jika syaratnya terpenuhi.

22

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Firman Allah:

ُ َ ْ ْ َ ُ ْ ْ َ َّ َ ُ ُ ْ َ ْ َ ٌ َ ُ ْ ُ ْ َ َ َ ْ َ َ ْ َ ْ ْ ُ ْ َ َ َ َ ‫الصَل ِة ِإن ِخفت ْم أن َيف ِتنك ُم‬ ‫ض فليس عليكم جناح أن تقصروا ِمن‬ ِ ‫و ِإذا ضربتم ِفي اْلر‬ َ ْ َّ َُ ُ َ َ َ َ َ َّ ً ‫ين كانوا لك ْم َع ُدوا ُم ِبينا‬ ‫اف ِر‬ ِ ‫ال ِذين كف ُروا ِإن الك‬

Artinya: “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidak mengapa kamu menqasar shalatmu, jika kamu takut diserang orang-orang kafir, sesungguhnya orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagimu,” (QS. An- Nisa (4): 101). Shalat qasar boleh dilaksanakan karena salah satu dari dua alasan (halangan) dibawah ini: a. Dalam perjalanan jauh minimal 81 kilometer (menurut kesepakatan sebagian besar imam madzhab) dan perjalanan tersebut tidak bertujuan untuk maksiat, dan harus dilakukan setelah melewati batas desa b. Dalam keadaan sangat ketakukan atau khawatir misalnya perang, sakit, hujan lebat, angin topan dan bencana alam. B. Praktik Shalat Jama’ dan Qasar Jika telah memenuhi syarat sah sebagai rukhsah, selain dijama’, shalat fardlu juga dapat di qasar maupun jama’ qasar asalkan memenuhi syarat. Hal ini merupakan rukhsah (keringanan) yang diberikan Allah agar manusia tidak meninggalkan shalat fardlu walau dalam keadaan apapun, sebab Allah tidak menghendaki kesukaran pada hambaNya.

1. Cara Mengerjakan Shalat Jama’ Ada dua macam cara mengerjakan shalat jama’ yaitu: a. Cara Melaksanakan Salat Jama’ Taqdim Misalnya shalat dzuhur dengan ashar: shalat dzuhur dahulu empat rakaat kemudian shalat ashar empat rakaat, dilaksanakan pada waktu duhur. Tata caranya sebagai berikut: 1) Berniat shalat dzuhur dengan jama’ taqdim. Bila dilafalkan yaitu:

َ َ ُ َ ْ َ ِّ َ ُ ً َ ْ َ َ َ ْ ْ َ ً َ ‫ﺍﻟظ ْهﺮ َﺍ ْرَب َع َر َك َع‬ ‫ﺍص ِلى فﺮض‬ ‫هلل ت َعالى‬ ٍ ِ ‫ات ج ْﻤعا تق ِدﻳ ًﻤا مع ﺍﻟعص ِﺮ ف ْﺮضا‬ ِ

Artinya: ” Saya niat shalat dzuhur empat rakaat digabungkan dengan shalat ashar dengan jama’ taqdim karena Allah Ta’alaa” 2) Takbiratul ihram 3) Shalat dzuhur empat rakaat seperti biasa.

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

23

4) Salam 5) Berdiri lagi dan berniat shalat yang kedua (ashar), jika dilafalkan sebagai berikut;

َ َ ً َ ُ َ َ ْ ْ َ ً َ ‫صﺮ َﺍ ْرَب َع َر َك َع‬ َ ‫ض‬ َ ‫ُﺍ‬ ْ ‫ﺍﻟع‬ َ ‫ص ِّلى َف ْﺮ‬ ‫هلل ت َعالى‬ ٍ ِ ‫ات ج ْﻤعا تق ِدﻳ ًﻤا مع ﺍﻟظ ْه ِﺮ ف ْﺮضا‬ ِ ِ

Artinya: “ Saya niat shalat ashar empat rakaat digabungkan dengan shalat dzuhur dengan jama’ taqdim karena Allah Ta’alaa”. 6) Takbiratul ihram 7) Shalat ashar empat rakaat seperti biasa. 8) Salam. Setelah salam pada shalat yang pertama harus langsung berdiri, tidak boleh diselingi perbuatan atau perkataan misalnya dzikir, berdo’a, bercakap-cakap dan lain-lain. b. Cara Melaksanakan Shalat Jama’ Ta’khir Misalnya shalat maghrib dengan isya’: boleh shalat magrib dulu tiga rakaat kemudian shalat isya’ empat rakaat, dilaksanakan pada waktu isya’. Tata caranya sebagai berikut: 1) Berniat menjama’ shalat maghrib dengan jama’ ta’khir. Bila dilafalkan yaitu:

َ َ ً َ َ َ َ ْ َ ً َ ٍ ‫ض ﺍْلَ ْغﺮب َث َال َث َر َك َع‬ َ ُ َ ‫صلى َف ْﺮ‬ ‫هلل ت َعالى‬ ِ ‫ات ج ْﻤعا ت ِأخي ًرﺍ مع ﺍﻟ ِعش ِاء ف ْﺮضا‬ ِ ‫ﺍ‬ ِِ Artinya: “Saya niat shalat maghrib tiga rakaat digabungkan dengan shalat isya’ dengan jama’ ta’khir karena Allah Ta’alaa” 2) Takbiratul ihram 3) Shalat maghrib tiga rakaat seperti biasa. 4) Salam. 5) Berdiri lagi dan berniat shalat yang kedua (isya’), jika dilafalkan sebagai berikut;

َ َ َ ِّ َ ُ ً َ ْ َ َ َ ْ َ ً َ ‫ض ﺍﻟع َساء َﺍ ْرَب َع َر َك َع‬ ‫هلل ت َعالى‬ ٍ ِ ِ َ ‫ﺍصلى ف ْﺮ‬ ِ ‫ات ج ْﻤعا ت ِأخي ًرﺍ مع ﺍْلغ ِﺮ ِب ف ْﺮضا‬ Artinya: “Saya berniat shalat isya’ empat rakaat digabungkan dengan shalat maghrib dengan jama’ ta’khir karena Allah Ta’alaa”.

24

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

6) Takbiratul Ihram 7) Shalat isya’ empat rakaat seperti biasa. 8) Salam.

2. Cara Mengerjakan Shalat Qasar Tata cara shalat qasar adalah sebagai berikut: Ambil contoh shalat qasar dzuhur caranya adalah sebagai berikut: a.

Berniat shalat dengan cara qasar, jika dilafalkan sebagai berikut:

َ َ ً ْ َ ْ َ َ ْ َ ْ ُ َ ْ َ ِّ َ ُ ‫هلل ت َعالى‬ ِ ‫ﺍصلى فﺮض ﺍﻟظه ِﺮ ركعتي ِﻥ ﻗصﺮﺍ‬

Artinya: “Saya berniat shalat dzuhur dua rakaat diqasar karena Allah Ta’alaa” b. Takbiratul ihram. c. Shalat dua rakaat d. Salam

3. Cara Menjama’ sekaligus Mengqasar Cara menjama’ sekaligus mengqasar shalat adalah menggabungkan dua shalat fardlu dalam satu waktu sekaligus meringkas (qasar). Hukum dan syaratnya sama dengan shalat jama’ dan shalat qasar. Shalat jama’ qasar dapat dilaksanakan secara taqdim maupun ta’khir. Misalnya shalat dzuhur dengan ashar, tata caranya sebagai berikut: a. Berniat menjama’ qasar shalat dzuhur dengan jama’ taqdim. Jika dilafalkan sebagai berikut:

َ َ ْ ْ َ َ َ ْ َ ْ َ ً ْ ْ َ ْ َ ْ َ َ ْ َ ُ َ َ ِّ َ ُ ‫هلل ت َعالى‬ ِ ‫ﺍصلى ف ْﺮض ﺍﻟظ ْه ِﺮ ركعتي ِﻥ ﻗص ًﺮﺍ مج ُﻤوعا ِﺍﻟي ِه ﺍﻟعص ُﺮ ج ْﻤع تق ِدﻳ ًﻤا‬

Artinya: “Saya berniat shalat dzuhur dua rakaat digabungkan dengan shalat ashar dengan jama’ taqdim, diqasar karena Allah Ta’alaa” b. Takbiratul ihram. c. Shalat duhur dua rakaat (diringkas) d. Salam. e. Berdiri dan niat shalat ashar, jika dilafadzkan sebagai berikut:

َ َ ْ ْ َ َ َ ُ َ ً ْ ْ َ ْ َ ْ َ َ ْ َ ْ َ َ َ ِّ َ ُ ‫هلل ت َعالى‬ ِ ‫ﺍصلى ف ْﺮض ﺍﻟعص ِﺮ ركعتي ِﻥ ﻗص ًﺮﺍ مج ُﻤوعا ِﺍلى ﺍﻟظ ْه ِﺮ ج ْﻤع تق ِدﻳ ًﻤا‬ FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

25

Artinya: “Saya berniat shalat ashar dua rakaat digabungkan dengan shalat dzuhur dengan jamak taqdim, diqasar karena Allah Ta’alaa” f. Takbiratul ihram. g. Shalat ashar dua rakaat (diringkas).

4. Niat Shalat Jama’ dan Qasar a. Niat Shalat Jama’ Taqdim 1) Niat Shalat Dzuhur Jama’ Taqdim dengan Shalat Ashar

َ َ ُّ َ ْ َ ِّ َ ُ َ ‫ات َم ْج ُﻤ ْو ًعا َم َع‬ َ ‫ﺍﻟظ ْهﺮ َﺍ ْرَب َع َر‬ ْ ‫صﺮ َج ْﻤ َع َت ْقد‬ ْ ‫ﺍﻟع‬ ‫هلل ت َعالى‬ ‫ﻢ‬ ‫ﻳ‬ ‫كع‬ ‫أص ِلي فﺮض‬ ٍ ِ ٍ ِ ِ ِ Artinya: “Aku niat shalat fardlu dzuhur empat rakaat digabung dengan shalat ashar jama’ taqdim karena Allah Ta’alaa.” 2) Niat Shalat Ashar Jama’ Taqdim dengan Shalat Dzuhur

َ َ ْ ْ َ َ َ ُّ َ َ ً ْ ْ َ َ ْ َ َ َ َ ْ َ َ َ ِّ َ ُ ‫هلل ت َعالى‬ ِ ‫ﺍص ِلى ف ْﺮض ﺍﻟعص ِﺮﺍ ْربع ركعا ٍت مج ُﻤوعا مع ﺍﻟظ ْه ِﺮ ج ْﻤع تق ِدﻳ ٍﻢ‬ Artinya: “Aku niat shalat fardlu ashar empat rakaat digabung dengan shalat dzuhur jama’ taqdim karena Allah Ta’alaa.” 3) Niat Shalat Maghrib Jama’ Taqdim dengan shalat Isya’

َ َ ِّ ْ ْ َ َ ْ َ َ ْ َ َ ً ْ ُ ْ َ َ َ َ َ َ َ ْ َ ْ َ ْ َ ِّ َ ُ ‫لِل ت َعالى‬ ٍ ‫ﺍص ِلى فﺮض ﺍْلغ ِﺮ ِب ثالث ركع‬ ِ ِ ‫ﻟعش ِاء جﻤع تق ِدﻳ ٍﻢ‬ ِ ‫ات مجﻤوعا مع ﺍ‬ Artinya: “Aku niat shalat fardlu maghrib tiga rakaat digabung dengan shalat isya’ jama’ taqdim karena Allah Ta’alaa.” 4) Niat Shalat Isya’ Jama’ Takdim dengan Shalat Maghrib

َ َ ِّ ْ ْ َ َ ْ َ ْ َ ْ َ َ ً ْ ْ َ َ َ َ َ ْ َ َ ْ َ ْ َ ِّ َ ُ ‫لِل ت َعالى‬ ٍ ‫ﺍص ِلى فﺮض ﺍﻟ ِعش ِاء ﺍربع ركع‬ ِ ِ ‫ات مج ُﻤوعا مع ﺍْلغ ِﺮ ِب جﻤع تق ِدﻳ ٍﻢ‬ Artinya: “Aku niat shalat fardlu maghrib tiga rakaat digabung dengan shalat isya’ jama’ taqdim karena Allah Ta’alaa.” b. Niat Shalat Jama’ Ta’khir 1) Niat Shalat Dzuhur Jama’ Ta’khir dengan Shalat Ashar

26

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

َ َ ْ ‫صﺮ َج ْﻤ َع َت ْأخ‬ ْ َ َ َ ً ْ ُ ْ َ َ ْ َ َ َ ْ َ ْ ُّ َ ْ َ ِّ َ ُ ‫لِل ت َعالى‬ ‫ر‬ ‫ي‬ ِ ٍِ ِ ِ ‫ﺍص ِلى فﺮض ﺍﻟظه ِﺮﺍربع ركعا ٍت مجﻤوعا مع ﺍﻟع‬ Artinya: “Aku niat shalat fardlu dzuhur empat rakaat digabung dengan shalat ashar jama’ ta’khiri karena Allah Ta’alaa.” 2) Niat Shalat Ashar Jama’ Ta’khir dengan Shalat Dzuhur

َ َ ُّ َ َ ً ْ ُ ْ َ َ ْ َ َ َ ْ َ ْ َ َ ْ َ ِّ َ ُ ْ ‫ﺍﻟظ ْهﺮ َج ْﻤ َع َت ْأخ‬ ‫لِل ت َعالى‬ ‫ر‬ ‫ي‬ ‫ﺍص ِلى فﺮض ﺍﻟعص ِﺮﺍربع ركعا ٍت مجﻤوعا مع‬ ِ ٍِ ِ ِ Artinya: “Aku niat shalat fardlu ashar empat rakaat digabung dengan shalat dzuhur jama’ ta’khiri karena Allah Ta’alaa.” 3) Niat Shalat Maghrib Jama’ Ta’khir dengan shalat Isya’

َ َ ِّ ْ ْ َ َ ْ َ َ ْ َ َ ً ْ ُ ْ َ َ َ َ َ َ َ ْ َ ْ َ ْ َ ِّ َ ُ ‫لِل ت َعالى‬ ٍ ‫ﺍص ِلى فﺮض ﺍْلغ ِﺮ ِب ثالث ركع‬ ِ ِ ‫ﻟعش ِاء جﻤع تأ ِخي ٍر‬ ِ ‫ات مجﻤوعا مع ﺍ‬ Artinya: “Aku niat shalat fardlu maghrib tiga rakaat digabung dengan shalat isya’ jama’ ta’khir karena Allah Ta’alaa.” 4) Niat Shalat Isya’ Jama’ Ta’khir dengan shalat Maghrib

َ َ ِّ ْ ْ َ َ ْ َ ْ َ ْ َ َ ً ْ ْ َ َ َ َ َ ْ َ َ ْ َ ْ َ ِّ َ ُ ‫لِل ت َعالى‬ ٍ ‫ﺍص ِلى فﺮض ﺍﻟ ِعش ِاء ﺍربع ركع‬ ِ ِ ‫ات مج ُﻤوعا مع ﺍْلغ ِﺮ ِب جﻤع تأ ِخي ٍر‬ Artinya: “Aku niat shalat fardlu isya’ empat rakaat digabung dengan shalat maghrib jama’ ta’khir karena Allah Ta’alaa.” c. Niat Shalat Qasar a. Niat Shalat Qasar Dzuhur

َ َ ً ْ َ ْ َ َ ْ َ ْ ُّ َ ْ َ ْ ِّ َ ُ ‫لِل ت َعالى‬ ِ ِ ‫أص ِلي فﺮض ﺍﻟظه ِﺮ ركعتي ِﻥ ﻗصﺮﺍ‬

Artinya: “Aku niat shalat fardlu dhuhur 2 rakaat qasar, karena Allah Ta’alaa”. b. Niat Shalat Qasar Ashar

َ َ ً ْ َ ْ َ َ ْ َ ْ َ ْ َ ْ َ ِّ َ ُ ‫ِهلل ت َعالى‬ ِ ‫ﺍص ِلى فﺮض ﺍﻟعص ِﺮركعتي ِﻥ ﻗصﺮﺍ‬

Artinya: “Aku niat shalat fardlu ashar 2 rakaat qasar, karena Allah Ta’alaa.” c. Niat Shalat Qasar Isya’

َ َ ً ْ َ ْ َ َ ْ َ َ ْ َ ْ َ ِّ َ ُ ‫ِهلل ت َعالى‬ ِ ‫ﺍص ِلى فﺮض ﺍﻟ ِعش ِاءركعتي ِﻥ ﻗصﺮﺍ‬

Artinya: “Aku niat shalat fardlu isya’ 2 rakaat qasar, karena Allah Ta’alaa.” FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

27

d. Niat Shalat Jama’ sekaligus Qasar Adapun niat shalat Jama’ sekaligus Qasar adalah sebagai berikut: 1) Niat Shalat Jama’ Taqdim dengan Qasar a) Shalat Dzuhur dan Ashar, yang dilakukan di waktu Dzuhur (jama’ taqdim)

ٰ َ ً ْ َ ْ ْ َ َ ْ َ ْ َ ْ ً ْ ُ ْ َ ْ َ َ ْ َ ْ ُّ َ ْ َ ِّ َ ُ ‫لِل ت َعالى‬ ِ ِ ‫ﺍص ِلى فﺮض ﺍﻟظه ِﺮ ركعتي ِﻥ مجﻤوعا ِباﻟعص ِﺮ جﻤع تق ِدﻳ ِﻢ ﻗصﺮﺍ‬ Artinya: “Aku berniat shalat fardlu dzuhur dua rakaat digabungkan dengan shalat ashar dengan jama’ taqdim, diringkas karena Allah Ta’alaa”.

ٰ َ ً ْ َ ْ ْ َ َ ْ َ ْ ُّ َ ً ْ ُ ْ َ ْ َ َ ْ َ ْ َ ْ َ ْ َ ِّ َ ُ ‫لِل ت َعالى‬ ِ ِ ‫ﺍص ِلى فﺮض ﺍﻟعص ِﺮ ركعتي ِﻥ مجﻤوعا ِﺍلى ﺍﻟظه ِﺮ جﻤع تق ِدﻳ ِﻢ ﻗصﺮﺍ‬ Artinya: “Aku berniat shalat ashar dua rakaat digabungkan dengan shalat dzuhur dengan jama’ taqdim, diringkas karena Allah Ta’alaa.” b) Shalat Maghrib dan Isya’, yang dilakukan di waktu maghrib (jama’ taqdim)

ٰ َ ً ْ َ ْ َْ َ ْ َ ْ َ ْ ً ْ ُ ْ َ ْ َ َ ْ َ َ ْ َ ْ َ ِّ َ ُ ‫لِل ت َعالى‬ ‫ﺍ‬ ‫ﺮ‬ ‫ص‬ ‫ﻗ‬ ‫ر‬ ‫ي‬ ‫خ‬ ‫أ‬ ‫ت‬ ‫ع‬ ‫ﻤ‬ ‫ج‬ ‫ب‬ ‫ﺮ‬ ‫غ‬ ِ ِ ِ ِ ‫ﺍص ِلى فﺮض ﺍﻟ ِعش ِاء ركعتي ِﻥ مجﻤوعا ِباْل‬ ِ ِ Artinya: “Aku berniat shalat fardlu isya’ dua rakaat digabungkan dengan shalat maghrib dengan jama’ ta’khir, diringkas karena Allah Ta’aala”

ٰ َ ْ ْ َ َ َ َ ْ َ ً ْ ْ َ ‫ض ْﺍْلَ ْغﺮب َث َال َث َر َك َع‬ َ ُ َ ‫ص ِّلى َف ْﺮ‬ ‫لِل ت َعالى‬ ٍ ِ ِ ‫ات مج ُﻤوعا ِﺍلى ﺍﻟ ِعش ِاء ج ْﻤع تأ ِخي ِر‬ ِ ‫ﺍ‬ ِِ Artinya: “Aku berniat shalat fardlu maghrib tiga rakaat digabungkan dengan shalat isya’ dengan jama’ ta’khir, karena Allah Ta’alaa”. 2) Niat Shalat Jama’ Ta’khir dengan Qasar a) Shalat Dzuhur dan Ashar, dilakukan di waktu Ashar (jama’ ta’khir)

ٰ َ ً ْ َ ْ ْ َ َ ْ َ ْ ُّ ً ْ ْ َ ْ َ َ ْ َ ْ َ ْ َ َ ِّ َ ُ ‫لِل ت َعالى‬ ِ ِ ‫ﺍص ِلى ف ْﺮض ﺍﻟعص ِﺮ ركعتي ِﻥ مج ُﻤوعا ِباﻟظه ِﺮ جﻤع تأ ِخي ِر ﻗصﺮﺍ‬

Artinya: “Aku berniat shalat fardlu ashar dua rakaat digabungkan dengan shalat dzuhur dengan jama’ ta’khir, diringkas karena Allah Ta’alaa.”

ٰ َ ً ْ َ ْ ْ َ َ ْ َ ْ َ ْ َ ً ْ ُ ْ َ ْ َ َ ْ َ ْ ُّ َ ْ َ ِّ َ ُ ‫لِل ت َعالى‬ ِ ِ ‫ﺍص ِلى فﺮض ﺍﻟظه ِﺮ ركعتي ِﻥ مجﻤوعا ِﺍلى ﺍﻟعص ِﺮ جﻤع تأ ِخي ِر ﻗصﺮﺍ‬ Artinya: “Aku berniat shalat fardlu dzuhur dua rakaat digabungkan dengan shalat ashar dengan jama’ ta’khir, diringkas karena Allah Ta’alaa”

28

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

b) Shalat maghrib dan isya’, yang dilakukan di waktu isya’ (jama’ ta’khir)

ٰ َ ً ْ َ ْ َْ َ ْ َ ْ َ ْ ً ْ ْ َ ْ َ َ ْ َ َ ْ َ َ ِّ َ ُ ‫لِل ت َعالى‬ ِ ِ ‫ﺍص ِلى ف ْﺮض ﺍﻟ ِعش ِاء ركعتي ِﻥ مج ُﻤوعا ِباْلغ ِﺮ ِب جﻤع تأ ِخي ِر ﻗصﺮﺍ‬ Artinya: “Aku berniat shalat fardlu isya’ dua rakaat digabungkan dengan shalat maghrib dengan jama’ ta’khir, diringkas karena Allah Ta’alaa.”

ٰ َ ْ ْ َ َ َ َ ْ َ ً ْ ْ َ ‫ض ْﺍْلَ ْغﺮب َث َال َث َر َك َع‬ َ ُ َ ‫ص ِّلى َف ْﺮ‬ ‫لِل ت َعالى‬ ٍ ِ ِ ‫ات مج ُﻤوعا ِﺍلى ﺍﻟ ِعش ِاء ج ْﻤع تأ ِخي ِر‬ ِ ‫ﺍ‬ ِِ Artinya: “Aku berniat shalat fardlu maghrib tiga rakaat digabungkan dengan shalat isya’ dengan jama’ ta’khir, karena Allah Ta’alaa.”

Kamus Mini Mubah Jama’ Qasar Jama’ taqdim Jama’ ta’khir

: boleh dilakukan maupun ditinggalkanpun tidak berdosa : menggabungkan : meringkas : jamak yang didahulukan : jamak yang diakhirkan

Insya Allah Aku Bisa 1. Aku bisa hafal niat shalat yang dijama’ 2. Aku bisa hafal niat shalat yang diqasar 3. Aku bisa hafal niat shalat yang dijama’ sekaligus diqasar

Hati-Hati Tidak semua shalat fardlu bisa dijama’ dan di qasar

Hikmah Allah memberikan keringanan (rukhsah) kepada muslim muslimat untuk tetap dapat menunaikan kewajiban shalat karena kondisinya darurat atau sedang perjalanan jauh.

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

29

Tentukan Sikapmu! Berikut ini adalah pernyataan-pernyataan yang terkait dengan pelaksanaan shalat jama’ dan qasar. Berilah tanda centang (√) pada kolom yang sesuai dengan sikapmu!

No. 1. 2. 3. 4. 5.

Pernyataan

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Kita boleh melaksanakan shalat jama’ dan qasar kapan saja Dengan melaksanakan shalat jama’ dan qasar hidup kita menjadi lebih berat Shalat jama’ boleh dilakukan di semua shalat fardlu Kita hanya boleh melaksanakan shalat qasar pada shalat fardlu yang jumlah rakaatnya empat Mengerjakan shalat jama’ sekaligus qasar boleh dilaksanakan setiap kali kita bepergian dari rumah

1. Shalat jama’ adalah shalat yang digabungkan, artinya menggabungkan dua shalat fardlu yang dilaksanakan pada satu waktu. 2. Jama’ taqdim artinya menjama’ dua shalat yang dilaksanakan pada waktu yang pertama. 3. Jama’ ta’khir artinya menjama’ dua shalat yang dilaksanakan pada waktu yang kedua. 4. Shalat yang boleh dijamak adalah pasangan shalat dzuhur dengan ashar dan shalat magrib dengan isya’. 5. Shalat yang tidak boleh dijamak yaitu shalat shubuh dan shalat ashar dengan maghrib. 6. Shalat qasar adalah shalat yang diringkas, artinya melakukan shalat fardlu dengan cara meringkas dari empat rakaat menjadi dua rakaat. 7. Menjama’ sekaligus mengqasar shalat adalah menggabungkan dua shalat fardlu dalam satu waktu sekaligus meringkas (qasar).

30

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Hikmah Allah Swt. menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu

Sikapku Berilah tanda centang (√) pada kolom Ya atau Tidak kotak di bawah ini! No 1.

2. 3.

Uraian Aku ingin meningkatkan ketaqwaan dengan meyakini bahwa shalat jama’ dan qasar adalah kemudahan yang diberikan Allah Swt. Aku berusaha melaksanakan shalat fardlu lima waktu walaupun sedang bepergian jauh Aku meyakini bahwa shalat jama’ sekaligus qasar adalah bentuk keringanan Allah yang tidak menyulitkan umat-Nya

Ya

Tidak

1. Mengumpulkan dua shalat dan dikerjakan dalam waktu shalat yang pertama disebut .... 2. Mengerjakan dua shalat dalam satu waktu dan sekaligus meringkasnya disebut .... 3. Shalat yang dapat diqasar adalah shalat yang jumlah rakaatnya .... 4. Shalat fardlu yang tidak dapat dijama’ dan diqasar adalah .... 5. Salah satu syarat diperbolehkannya shalat jama' dan qasar adalah ....

Praktikkan shalat Dzuhur dan Ashar yang dikerjakan dengan jama’ sekaligus qasar!

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

31

Kompetensi A. Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, atau c di depan jawaban yang paling tepat! 1. Shalat yang boleh di jama' adalah .... a. shalat Dzuhur dengan Ashar b. shalat Subuh dengan Dzuhur c. shalat Maghrib dengan Subuh 2. Seseorang diizinkan melakukan shalat jama' apabila.... a. dalam keadaan sibuk b. dalam perjalanan jauh c. dalam keadaan pikiran bingung 3. Rosyid bersama teman-temannya pergi tamasya ke Jakarta. Mereka berangkat dari Semarang pukul 05.30 WIB. Mereka berhenti di masjid pada jam 12.30 WIB untuk istirahat dan melakukan shalat. Rosyid dan teman-temannya melakukan shalat Dzuhur 2 rakaat, kemudian mengerjakan shalat Ashar 2 rakaat. Shalat yang dilakukan oleh mereka adalah shalat.... a. jama' taqdim b. jama' ta’khir c. jama’ qasar 4. Pernyataan di bawah ini adalah contoh shalat jama' ta’khir adalah.... a. shalat Maghrib dan Isya’ dikerjakan pada waktu Isya’ b. shalat Dzuhur dan Ashar dikerjakan pada waktu Dzuhur c. shalat Subuh dan dzuhur dikerjakan pada waktu Dzuhur 5. Contoh shalat yang dapat diqasar adalah.... a. shalat Dzuhur b. shalat Magrib c. shalat Subuh 6. Perhatikan niat shalat berikut:

َ َ ُّ َ ْ َ ِّ َ ُ َ ‫ﺍﻟظ ْهﺮ َﺍ ْرَب َع َر‬ ْ ْ َ َ َ ْ َ َ َ ً ْ ْ َ ٍ ‫كع‬ ‫هلل ت َعالى‬ ‫أص ِلي فﺮض‬ ِ ‫ات مج ُﻤوعا مع ﺍﻟعص ِﺮ ج ْﻤع تق ِدﻳ ٍﻢ‬ ِ

Kalimat di atas merupakan niat shalat.... a. shalat Dzuhur digabung dengan Ashar b. shalat Magrib digabung dengan Isya’ c. shalat Isya digabung dengan Magrib 7. Bila kita mengqasar shalat Dzuhur dan Ashar berarti kita melaksanakan shalat.... a. 2 rakaat Dzuhur dan 2 rakaat Ashar b. 2 rakaat sekaligus Dzuhur dan Ashar c. 4 rakaat Dzuhur dan Ashar

32

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

8. Syarat sah shalat qasar adalah.... a. niat qasar pada saat doa iftitah. b. niat qasar pada saat takbiratul ikhram. c. berpergian jauh minimal 80,640 km. 9. Aminah pergi ke salah satu pesantren yang ada di Tuban Jawa Timur. Aminah berangkat pukul 06.00 WIB dari kota Pekalongan, tiba di Rembang pukul 13.00 WIB. Aminah mampir ke masjid melaksanakan shalat Dzuhur 4 rakaat dan sekaligus shalat Ashar 4 rakaat. Shalat yang dilakukan Aminah adalah.... a. jama' taqdim b. jama' ta’khir c. jama' qasar. 10. Ilham pergi dari Demak untuk mengunjungi neneknya di Surabaya, sampai di Lamongan pukul 13.15 WIB, ia berhenti ke masjid melaksanakan shalat Dzuhur dan Ashar dengan cara diqasar. Pelaksanaan shalat yang dilakukan Ilham ini menurut hukum agama adalah.... a. dibenarkan b. boleh-boleh saja. c. tidak dibenarkan. B. Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang benar! 11. Perbedaan shalat jama' taqdim dan jama' ta’khir adalah .... 12. Melakukan shalat dzuhur dan ashar dikerjakan pada waktu ashar dan meringkasnya masing-masing dua raka’at disebut .... 13. Fatimah pergi ke salah satu pesantren yang ada di Bandung. Fatimah berangkat pukul 06.00 WIB, dan tiba di sana menjelang shalat dzuhur. Aminah melaksanakan shalat Dzuhur dan Ashar sekaligus meringkas shalatnya. Shalat yang dilakukan Fatimah disebut .... 14. Pak Darman adalah seorang pedagang toko kelontong, karena sibuknya melayani pembeli ia menjama’ shalatnya. Shalat jama’ yang dilakukan Pak Darman hukumnya .... 15. Fakhri melaksanakan perjalanan selama sehari semalam karena ingin berkunjung ke neneknya di Yogyakarta. Dari Karawang Fakhri menggunakan transportasi kereta. Ketika berhenti di satu stasiun, dia menyempatkan untuk melaksanakan shalat di Mushala yang ada di Stasiun dengan meringkas jumlah rakaatnya. Shalat yang dilakukan Fakhri disebut .... C. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan tepat! 16. Jelaskan sebab-sebab diperbolehkannya menjama’ shalat! 17. Bagaimana cara mengerjakan shalat jama’ ta’khir dzuhur dan ashar? 18. Tulislah dasar hukum pelaksanaan shalat qasar beserta artinya! 19. Bagimana cara menjama’ taqdim qasar shalat maghrib dan isya’? 20. Tulislah niat shalat Magrib dijama' dengan shalat Isya’ dikerjakan pada waktu Maghrib!

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

33

34

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

KOMPETENSI INTI

Tabel III.1 Kompetensi Inti KOMPETENSI INTI 1

KOMPETENSI INTI 2

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

2. Menunjukkan 3. Memahami perilaku jujur, pengetahuan faktual disiplin, tanggung dengan cara jawab, santun, mengamati peduli, dan percaya (mendengar, diri dalam melihat, membaca) berinteraksi dengan dan menanya keluarga, teman, berdasarkan rasa guru, dan ingin tahu tentang tetangganya dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah

4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

(SIKAP SOSIAL)

(SIKAP SPIRITUAL) 1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya

KOMPETENSI DASAR Tabel III.2 Kompetensi Dasar 1.10 Menerima hikmah yang terkandung dalam ketentuan shalat bagi orang sakit

2.3 Menjalankan sikap istikamah dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari

3.10 Menganalisis ketentuan shalat bagi orang yang sakit

4.15 Mempraktikkan tata cara shalat bagi orang yang sakit

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

35

INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

Peserta didik mampu: 1.10.1 Meyakini ketentuan shalat bagi orang sakit 1.10.2 Menerima hikmah shalat bagi orang sakit 2.3.1 Menjalankan sikap istikamah dalam kehidupan sehari-hari 2.3.2 Memiliki tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari 3.3.1 Menjelaskan tata cara shalat bagi orang yang sakit 3.3.2 Menjelaskan hikmah shalat bagi orang yang sakit 4.3.1 Menceritakan pengalaman shalat sebagai orang yang sakit 4.3.2. Mempraktikkan tata cara shalat bagi orang yang sakit

36

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

PETA KONSEP Meyakini ketentuan shalat bagi orang sakit Sikap Spiritual Menerima hikmah shalat bagi orang sakit

Sikap Sosial

Menjalankan sikap istikamah dalam kehidupan seharihari

Memiliki tanggung jawab dalam kehidupan seharihari

Shalat Bagi Orang Sakit

Pengetahuan

Menjelaskan tata cara shalat bagi orang yang sakit

Menjelaskan hikmah shalat bagi orang yang sakit

Keterampilan

Menceritakan pengalaman shalat sebagai orang yang sakit

Mempraktikkan tata cara shalat bagi orang yang sakit

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

37

Shalat diwajibkan kepada semua Muslim yang baligh dan berakal. Merekalah mukallaf, orang yang terkena beban syariat. Yang dibolehkan untuk meninggalkan shalat adalah orang yang bukan mukallaf, yaitu anak yang belum baligh dan orang yang tidak berakal. Agama Islam penuh dengan kemudahan, semua yang diperintahkan dalam Islam disesuaikan dengan kemampuan hamba-Nya. Allah Swt. berfirman:

َ ْ َ َ َّ ُ َّ َ ‫ﺍس َتط ْع ُت ْﻢ‬ ‫فاتقوﺍ َّللا ما‬

Artinya: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah semaksimal kemampuanmu”. (QS. At-Taghabun (64):16). Termasuk dalam ibadah shalat, ibadah yang paling agung dalam Islam. Terdapat banyak kemudahan dan keringanan di dalamnya. Dalam kesempatan kali ini akan dibahas mengenai kemudahan dan keringanan shalat bagi orang yang sakit. Amati dan ceritakan gambar berikut!

Gambar III. 1 Orang sedang berbaring sakit

Dari gambar di atas silahkan kamu amati, pasti kamu bisa membuat kalimat pertanyaan dari apa yang telah kamu pikirkan? Coba tulislah kalimat-kalimat pertanyaan tersebut pada kolom di bawah ini! 1. …………………………………………………………………….............. 2. …………………………………………………………………….............. 3. ………………………………………………………………......................

38

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Dari gambar di atas, apakah mereka tetap diharuskan shalat sambil berdiri? Lalu bagaimana cara shalat bagi orang yang sedang sakit? Untuk mengetahui jawabannya ayo kamu ikuti uraian di bawah ini!

A. Ketentuan Shalat bagi Orang yang Sakit Allah Swt. memerintahkan kepada hamba-Nya sesuai dengan tingkat kemampuannya. Orang yang sakit tetap diwajibkan untuk melaksanankan shalat fardlu lima waktu. Akan tetapi Allah Swt. memberikan keringanan bagi mereka dalam mengerjakan shalat. Di sini Allah Swt. memberi kemudahan kepada kita yang sedang sakit, jika kita tidak mampu shalat sambil berdiri maka diperbolehkan sambil duduk, jika itu

Mutiara Hikmah: “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa (shalat ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’”

tidak mampu, maka sambil berbaring. Jika itupun tidak mampu maka dengan terlentang. Jika itupun juga tidak mampu maka diperbolehkan dengan isyarah, kedipan mata atau dengan hati. Berdasarkan sabda Nabi Muhammad Saw.:

َ َ َ َ َ َ َ ََ ْ َ ْ َ َْ ْ َ ‫ ف ِإ ْﻥ ﻟ ْﻢ ت ْس َت ِط ْع ف َعلى َج ْنب‬،‫اع ًدﺍ‬ ِ ‫ ف ِإﻥ ﻟﻢ تست ِطع فق‬، ‫ص ِ ِّل ﻗا ِئ ًﻤا‬

Artinya: “Shalatlah sambil berdiri, jika kamu tidak mampu sambil duduk, dan jika kamu tidak mampu, sambil berbaring miring.” (HR. Bukhari). B. Tata Cara Shalat bagi Orang yang Sakit Tata cara shalat bagi orang yang sakit antara lain: 1. Shalat dengan cara duduk

Gambar III. 2 Orang sakit shalat dengan cara duduk

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

39

Shalat dengan cara cara duduk dilakukan bagi orang yang tidak sanggup melakukan shalat dengan cara berdiri. Tata cara shalat sambil duduk yaitu: a. Duduklah menghadap kiblat dengan posisi iftirasy (seperti duduk tahiyat awal) kemudian berniat sesuai shalat yang akan dikerjakan, dan bertakbiratul ihram sambil mengangkat kedua tangan. b. Setelah takbiratul ihram kedua belah tangan disedekapkan diatas dada dengan posisi pergelangan tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri, sesudah itu membaca do’a iftitah, surah al-Fatihah dan surah dari al-Qur’an. c. Sesudah itu ruku’ yaitu dengan duduk membungkuk sedikit ke arah depan dengan membaca tasbih ruku’. d. I’tidal dengan cara duduk kembali seperti semula serta membaca tasbih i’tidal. e. Sesudah itu sujudlah sebagaimana sujud biasa serta bacalah tasbihnya atau jika tidak mampu dengan membungkukkan badan lebih rendah dari pada ruku’, kemudian duduklah kembali menyempurnakan rakaat yang kedua, sebagaimana rakaat yang pertama. 2. Shalat dengan cara berbaring

Gambar III. 3 Orang sakit shalat dengan cara berbaring

(Berbaring ke kanan seluruh anggota badan dihadapkan ke kiblat) Shalat dengan cara berbaring dilakukan bagi orang yang tidak mampu mengerjakan shalat dengan cara berdiri maupun duduk. Adapun tata cara shalat dengan cara berbaring yaitu: a. Yang dimaksud dengan berbaring ialah tidur miring diatas rusuk yang sebelah kakan dengan membujur ke sebelah selatan, telinga sebelah kanan tertindih oleh kepala sebelah kanan pula.

40

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

b. Selanjutnya wajah dan perut, dada dan kaki menghadap ke arah kiblat dengan disertai niat dan bertakbir seperti biasa. c. Untuk melakukan ruku’ dan sujud cukup dengan anggukan kepala atau dengan menggunakan kedipan pelupuk mata. d. Jika semua tidak dilakukan dengan anggukan kepala dan kedipan mata, maka gunakanlah hati selama kita masih sadar. Demikianlah seterusnya hingga salam selesai. 3. Shalat dengan cara telentang

Gambar III. 4 Orang sakit shalat dengan cara telentang

(Terlentang kaki menghadap kiblat) Shalat dengan cara telentang dilakukan jika tidak mampu lagi untuk berbaring miring. Tata cara shalat telentang adalah sebagai berikut: a. Posisi badan telentang dengan posisi kedua kaki diluruskan ke kiblat. b. Kepala diganjal bantal berada di sebelah timur, agar muka menghadap ke kiblat (usahakan kepala diganjal agak tinggi) kemudian berniat shalat sesuai dengan niat shalat yang akan dikerjakan. c. Untuk melakukan ruku’ dan sujud cukup dengan isyarat seperti menganggukkan kepala atau kedipan mata, jika tidak mampu maka cukup dengan isyarat hati saja selama masih sadar. d. Bacaan shalat dilafadzkan seperti biasa, jika tidak mampu cukup dilafadzkan di dalam hati. Demikianlah tata cara shalat bagi orang yang sakit. Ibadah shalat tetap harus dilaksanakan dalam keadaan apapun selama akal masih sehat atau sadar. FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

41

C. Hikmah Shalat Bagi Orang Yang Sakit Hikmah shalat bagi orang yang sakit, diantaranya adalah: 1. Mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dengan selalu mengerjakan shalat kita akan menjadi lebih dekat kepada Allah Swt. 2. Hati menjadi lebih tenang. Ketenangan hati akan kita dapatkan dengan beribadah kepada Allah Swt. 3. Menyadari kemurahan Allah Swt. Allah Swt. memberikan kemurahan berupa keringanan dalam beribadah kepada-Nya ketika sedang sakit. 4. Mensyukuri nikmat sehat yang diberikan Allah Swt. Shalat dalam keadaan sakit akan lebih menambah rasa syukur kita terhadap nikmat kesehatan yang diberikan Allah Swt. 5. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt. akan bertambah dengan senantiasa beribadah kepada-Nya dalam setiap keadaan. 6. Dicintai Allah Swt. Allah mencintai orang-orang yang selalu beribadah kepada-Nya.

Kamus Mini Mukallaf

: orang yang terkena beban syariat

Baligh

: telah sampainya usia seseorang pada tahap kedewasaan

Duduk iftirasy : duduk di atas kaki kiri sedangkan kaki kanan ditegakkan

Aku bisa praktik shalat dengan duduk, berbaring dan telentang.

Hati-Hati Jangan sekali-kali meninggalkan shalat fardlu walaupun dalam keadaan sakit.

42

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Hikmah Allah memerintahkan kepada hamba-Nya sesuai dengan tingkat kemampuannya

Tentukan Sikapmu! Berikut ini adalah pernyataan-pernyataan yang terkait dengan pelaksanaan shalat bagi orang yang sakit. Berilah tanda centang (√) pada kolom yang sesuai dengan pendapatmu!

No.

Setuju (S)

Pernyataan

1.

Kita boleh meninggalkan shalat ketika sedang sakit

2.

Orang yang sakit boleh shalat dengan cara duduk

3. 4 5.

Shalat harus dilakukan dalam keadaan apapun selama akal masih sehat/sadar Shalat sambil berbaring tidak usah membaca takbiratul ihram Kita tidak boleh shalat berjamaah sambil duduk

Nama No. Absen

Lembar Pengamatan Praktik Shalat Sambil Duduk. : ....................................... : .......................................

4 No. 1. 2. 3.

4. 5.

Tidak setuju (TS)

Aspek yang dinilai

Sangat Baik

3 Baik

Skor 2 Cukup

1 Perlu Bimbing an

Juml Skor

Posisi duduk menghadap kiblat Bacaan niat shalat Takbiratul ihram dan tangan bersedekap dengan posisi pergelangan tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri Ruku’ dilakukan dengan posisi badan agak membungkuk I’tidal dilakukan dengan posisi duduk seperti semula FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

43

6.

7.

Sujud dilakukan seperti sujud biasa atau jika tidak mampu dengan membungkukkan badan lebih rendah dari pada ruku’ Tertib

Nilai = Jumlah perolehan skor x 100 Skor maksimal

1. Ibadah shalat tetap harus dilaksanakan dalam setiap keadaan apapun selama akal masih sehat atau sadar. 2. Orang yang sakit tetap diwajibkan untuk melaksanakan shalat fardlu lima waktu 3. Tata cara salat bagi orang yang sakit yaitu: a. Shalat dengan cara duduk b. Shalat dengan cara berbaring c. Shalat dengan cara telentang 4. Hikmah shalat bagi orang sakit antara lain: a. Mendekatkan diri kepada Allah. b. Hati menjadi lebih tenang. c. Menyadari kemurahan Allah Swt. d. Mensyukuri nikmat sehat yang diberikan Allah Swt. e. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. f. Dicintai Allah Swt.

Hikmah Dengan shalat dan selalu mengingat kepada Allah Swt., hati akan terasa damai dan tenang

44

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Sikapku Berilah tanda centang (V) pada kolom Ya atau Tidak kotak di bawah ini! No

Uraian

1.

Aku meyakini bahwa shalat bagi orang yang sedang sakit

Ya

Tidak

merupakan keringanan Allah yang diberikan pada hamba-Nya 2.

Aku tetap mengerjakan shalat di waktu sakit karena aku ingin selalu dicintai Allah.

3.

Hatiku menjadi gelisah jika kita harus melaksanakan shalat ketika dalam keadaan sakit.

4.

Shalat ketika sakit merupakan rasa syukurku atas nikmat sehat yang diberikan Allah Swt.

5.

Shalat dalam keadaan sakit menunjukkan bahwa perintah Allah memberatkan umat-Nya.

1. Orang yang tidak mampu shalat berdiri, boleh melakukan shalat dengan cara .... 2. Ibadah yang tetap harus dikerjakan walaupun dalam keadaan sakit adalah .... 3. Orang yang sakit sudah tidak mampu lagi menggerakkan tubuhnya maka shalatnya dengan cara .... 4. Ada tiga cara shalat bagi orang yang sakit yaitu .... 5. Salah satu hikmah dari shalat bagi orang yang sakit adalah ....

Praktikkan shalat dengan cara duduk dengan benar dan tertib!

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

45

Kompetensi A. Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, atau c di depan jawaban yang paling tepat! 1. Ibadah yang tetap harus dilaksanakan dalam setiap keadaan apapun selama akal masih sehat atau sadar adalah .... a. puasa b. zakat c. shalat 2. Perhatikan pernyataan-pernyataan berikut: I. Posisi badan menghadap kiblat II. Gerakan shalat dilakukan dengan isyarat seperti menganggukkan kepala, kedipan mata ataupun dengan isyarat hati. III. Bacaan shalat dilafadzkan seperti biasa, jika tidak mampu cukup dilafalkan di dalam hati. Pernyataan di atas adalah tata cara shalat orang yang sakit dengan .... a. berbaring b. telentang c. duduk 3. Ruku’ dilakukan dengan posisi badan agak membungkuk sedangkan sujud dilakukan seperti sujud biasa atau jika tidak mampu dengan membungkukkan badan lebih rendah dari pada ruku’ adalah shalatnya orang sakit dengan cara .... a. duduk b. berbaring c. telentang 4. Orang yang sudah terkena beban syariat tidak diperbolehkan meninggalkan kewajiban shalat disebut .... a. Muallaf b. Mukallaf c. Munfarid 5. Posisi badan miring ke kanan dan menghadap kiblat, sedangkan posisi tangan bersedekap merupakan shalatnya orang yang sakit dengan cara .... a. telentang b. berbaring c. duduk B. Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat! 6. Hukum shalat bagi orang yang sakit adalah .... 7. Orang yang tidak mampu berdiri dapat melakukan salat dengan cara …. 8. Shalat dengan berbaring dilakukan dengan posisi badan miring ke ….

46

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

9. Gerakan shalat sambil berbaring dilakukan dengan isyarat menganggukkan kepala atau …. 10. Orang yang sakit dan tidak mampu lagi menggerakkan tubuhnya maka shalatnya dengan cara ….

C. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan tepat ! 11. Bagaimana cara mengerjakan ibadah shalat ketika dalam keadaan sakit? 12. Mengapa kita boleh melaksanakan ibadah shalat dalam posisi selain berdiri ketika sedang sakit? 13. Bagimana tata cara ketika ibadah shalat sambil duduk? 14. Bagaimana tata cara ketika ibadah shalat sambil berbaring? 15. Sebutkan 4 hikmah shalat bagi orang yang sakit

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

47

48

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

KOMPETENSI INTI

Tabel IV. 1 Kompetensi Inti KOMPETENSI INTI 1

KOMPETENSI INTI 2

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

2. Menunjukkan 3. Memahami perilaku jujur, pengetahuan faktual disiplin, tanggung dengan cara jawab, santun, mengamati peduli, dan percaya (mendengar, diri dalam melihat, membaca) berinteraksi dengan dan menanya keluarga, teman, berdasarkan rasa guru, dan ingin tahu tentang tetangganya dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah

4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

(SIKAP SOSIAL)

(SIKAP SPIRITUAL) 1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya

KOMPETENSI DASAR

Tabel IV. 2 Kompetensi Dasar 1.11 Menerima hikmah yang terkandung dalam ketentuan shalat bagi musafir

2.4 Menjalankan sikap istikamah dan tanggung jawab dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya

3.4 Menganalisis ketentuan shalat bagi musafir

4.16Mempraktikkan tata cara shalat bagi musafir

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

49

INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

Peserta didik mampu: 1.11.1 Menerima hikmah ketentuan shalat bagi musafir 1.11.2 Menjalankan ketentuan shalat bagi musafir 2.4.1 Menunjukkan sikap istikamah ketentuan shalat bagi musafir 2.4.2 Memiliki tanggung jawab dalam ketentuan shalat bagi musafir 3.4.1 Menjelaskan ketentuan shalat bagi musafir 3.4.2 Menjelaskan hikmah shalat bagi musafir 4.16.1 Menuliskan pengalaman shalat sebagai musafir 4.16.2 Mempraktikkan tata cara shalat bagi musafir

50

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

PETA KONSEP

Menerima hikmah ketentuan shalat bagi musafir Sikap Spiritual Menjalankan ketentuan shalat bagi musafir

Menunjukkan sikap istikamah ketentuan shalat bagi musafir Sikap Sosial Memiliki tanggung jawab dalam ketentuan shalat bagi musafir

Shalat Bagi Musafir

Menjelaskan ketentuan shalat bagi musafir Pengetahuan Menjelaskan hikmah shalat bagi musafir

Menuliskan pengalaman shalat sebagai musafir Keterampilan Mempraktikkan tata cara shalat bagi musafir

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

51

Safar secara bahasa berarti melakukan perjalanan. Sedangkan secara istilah, safar adalah seseorang keluar dari daerahnya dengan maksud ke tempat lain yang ditempuh dalam jarak tertentu. Orang yang melakukan perjalanan disebut musafir. Seseorang disebut musafir jika memenuhi tiga syarat, yaitu: (1) niat, (2) keluar dari daerahnya, dan (3) memenuhi jarak tertentu. Lalu, bagaimana musafir melaksanakan shalat ketika harus melakukan perjalanan jauh? Amati dan ceritakan gambar berikut!

Gambar IV. 1 Perjalanan dengan pesawat terbang dan kapal laut

Dari gambar di atas silahkan kamu amati, pasti kamu bisa membuat kalimat pertanyaan dari apa yang telah kamu pikirkan? Coba tulislah kalimat-kalimat pertanyaan tersebut pada kolom di bawah ini! 1. ……………………………………………………………………........................... 2. ……………………………………………………………………........................... 3. ………………………………………………………………................................... Dari beberapa pertanyaan yang sudah kamu tulis, maka untuk mengetahui jawabannya ayo kamu ikuti uraian di bawah ini! A. Ketentuan Rukhsah Shalat Bagi Musafir Seorang musafir mendapatkan rukhsah atau keringanan dari Allah Swt. dalam pelaksanaan shalat. Rukhsah tersebut adalah (1) Mengqashar shalat yang bilangannya empat rakaat menjadi dua, (2) Menjama’ shalat Dzuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’, (3) Shalat di atas kendaraan, (4) Tayamum

52

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Mutiara Hikmah: “Jika seseorang sakit atau bersafar, maka dicatat baginya pahala sebagaimana ia mukim atau ketika ia sehat.” (HR. Bukhari)

dengan debu/tanah pengganti wudlu dalam kondisi tidak mendapatkan air. 1. Mengqasar (Meringkas) Shalat Mengqasar shalat adalah meringkas shalat yang 4 rakaat menjadi 2 rakaat, yaitu pada shalat Dzuhur, Ashar dan Isya’. Allah Swt. berfirman:

َ َ َّ َ ْ ُ ُ ْ َ ْ َ ٌ َ ُ ْ ُ ْ َ َ َ ْ َ َ ْ َ ْ ْ ُ ْ َ َ َ َ ُ ‫ﺍﻟصل ٰو ِة ِﺍ ْﻥ ِخ ْف ُت ْﻢ ﺍ ْﻥ َﻳ ْف ِت َنك ُﻢ‬ ‫ض فليس عليكﻢ جناح ﺍﻥ تقصﺮﻭﺍ ِمن‬ ِ ‫ﻭِﺍذﺍضﺮبتﻢ ِفى ﺍالر‬ ْ َّ ْ َ َ َ ْ َّ َُ ُ َ ً ‫لكف ِرْي َن كان ْوالك ْم َع ُدو ُّام ِب ْينا‬ ِ ‫ﺍﻟ ِذﻳن كف ُﺮﻭﺍ ِان ا‬ Artinya: ”Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqasar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu” (QS. anNisaa’(4):101). Dari ‘Aisyah ra. berkata :

ُ َ َ ْ ُ َ ْ َ َ ْ َ ْ َ ُ َ ُ َّ َ َ َ َّ َّ َ َ ‫ﺍلح‬ َ ‫ص َال ُة‬ َ ‫ﺍﻟس َفﺮ َﻭ ُأت َّﻤ ْت‬ ‫أﻥ‬ ‫ض ِﺮ‬ ِ ِ َّ ‫فأ ِﻗ َّﺮت صالة‬،‫ﺍﻟصالة أﻭل ماف ِﺮضت ركعتي ِﻥ‬ Artinya: “Pertama kali shalat diwajibkan adalah dua rakaat, maka tetaplah shalat musafir dua rakaaat dan shalat orang yang muqim (menetap) sempurna (empat rakaat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syarat Mengqasar (Meringkas) Shalat a. Daerah yang dituju harus ditentukan. Hal ini agar bisa diketahui apakah boleh mengqasar shalatnya atau tidak. b. Tujuan perjalanannya harus mubah bukan untuk bermaksiat, karena rukhsoh (izin) untuk mengqashar shalat dibolehkan bagi musafir yang bukan bertujuan untuk maksiat.

2. Menjama’ (Menggabung) Shalat Bagi musafir boleh menjama’ (menggabung) antara dua shalat yaitu menggabungkan antara shalat dzuhur dengan ashar atau maghrib dengan isya’ dan dikerjakan dalam waktu salah satunya yaitu boleh dikerjakan dalam waktu dzuhur atau dalam waktu ashar begitu pula dalam waktu maghrib atau dalam waktu isya’.

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

53

Hendaklah adzan untuk satu kali shalat dan iqomah pada setiap shalat yaitu satu kali adzan cukup untuk dzuhur dan ashar dan iqomah untuk setiap shalat. Jadi seorang musafir boleh menjama’ (menggabung) shalatnya baik jama’ taqdim atau jama’ ta’khir.

َ ُ َّ َّ َ ُّ َّ َ َ َ َ َ ُ ْ َ ُ َّ َ َ َّ َ ْ ْ َ َّ ْ َْ َ َ ْ ‫َّللا َعل ْي ِه َو َسل َم َي ْج َم ُع َب ْين اْلغ ِر ِب َوال ِعش ِاء‬ ‫اس ر ِض ي َّللا عنهما قال كان الن ِبي صلى‬ ٍ ‫عن اب ِن عب‬ َّ ‫إ َذا َج َّد به‬ )‫الس ْي ُر (رواه الشيخان‬ ِِ ِ Sesuai dengan hadits dari Ibnu Abbas ra ia berkata: ”Sesungguhnya Rasulullah Saw. menjama’ (menggabung) antara maghrib dan isya’ jika dalam perjalanan. (HR.Muttafaqun ’alih). Syarat Mendahulukan (Mentaqdim) Shalat a. Shalat yang pertama harus didahulukan baru setelah itu shalat yang kedua (shalat Dzuhur lebih dahulu kemudian mentaqdim shalat Ashar, begitu pula shalat Maghrib lebih dahulu kemudian mentaqdim shalat isya’). b. Harus niat menggabung (jama’) antara shalat pertama dan kedua dan niat dilakukan waktu melakukan shalat pertama. ُ ‫ص ِلِّي فَ ْرضَ ال‬ ‫ظه ِْر َر ْكعًتَي ِْن َج ْمعًا بِالعَص ِْر تَ ْق ِد ْي ًما َو َقص ًْرا هللِ تَعَا َلى‬ َ ُ ‫نَ َويْتُ أ‬ Artinya: “Saya berniat shalat dzuhur dua raka’at jama’ taqdim dengan ashar dan diqasar karena Allah ” c. Kedua shalat harus dilakukan secara berturut-turut (tertib) yaitu tidak boleh ditunda terlalu lama atau jangan diselangi dengan waktu yang panjang. Karena kedua shalat dianggap satu shalat. Rasulallah Saw. sewaktu menjama’ kedua shalat beliau lakukan secara berturut-turut dan tidak melakukan shalat sunnah antara kedua shalat. d. Harus masih dalam keadaan musafir sewaktu melakukan shalat kedua.

Syarat Menunda (Menta’khir) Shalat a. Niat menunda (menta’khir) shalat pertama ke dalam shalat kedua di waktu shalat yang pertama, misalnya niat menunda shalat Dzuhur ke waktu shalat Ashar (masuknya waktu shalat dzuhur dalam keadaan tidak shalat), begitu pula niat menunda shalat Maghrib ke waktu shalat Isya’ (masuknya waktu shalat Maghrib dalam keadaan tidak shalat).

54

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

َ َ ً ْ َ َ ًْ َ ْ َ ُ َ ْ َ ِّ َ ُ ُ ْ َ َ ً ‫الظ ْهر َر ْك ًع َت ْين َج ْم‬ ‫هلل ت َعالى‬ ‫ا‬ ‫ر‬ ‫ص‬ ‫ق‬ ‫و‬ ‫ا‬ ‫ر‬ ‫ي‬ ‫أخ‬ ‫ت‬ ‫ر‬ ‫ص‬ ‫الع‬ ‫ب‬ ‫ا‬ ‫ع‬ ‫نويت أص ِلي فرض‬ ِ ِ ِ ِ ِ ِ Artinya: “Saya berniat sholat dhuhur dua raka’at jama’ takhir dengan ashar dan diqashar karena Allah” b. Harus masih dalam keadaan musafir saat selesai shalat kedua 3. Shalat di Atas Kendaraan Pada asalnya, shalat wajib tidak boleh ditunaikan di atas kendaraan. Hendaknya dikerjakan dengan turun dari kendaraan sebagaimana perbuatan Nabi Saw. terkecuali dalam keadaan terpaksa seperti khawatir akan habisnya waktu shalat. Jabir bin ‘Abdillah ra. mengatakan:

َ َ ِّ َ ُ َ َ َ َّ َ َ ْ َ َ ُ َّ َ َّ َّ َّ َْ ‫ص ِل ْي َعلى َر ِﺍﺣل ِت ِه َن ْح َو ﺍْل ْش ِﺮ ِق‬ ‫أﻥ ﺍﻟن ِبي صلى هللا علي ِه ﻭ سلﻢ كاﻥ ﻳ‬ َ ْ َ ْ ِّ َ ُ ْ َ َ َ َ َ َ ‫ص ِل ْي ﺍْلك ُت ْو َبة َن َز َل‬ ‫ف ِإذﺍ أرﺍد أﻥ ﻳ‬

Artinya: “Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat (sunnah) di atas kendaraannya ke arah timur. Apabila beliau hendak shalat wajib maka beliau turun dari kendaraan kemudian menghadap kiblat”. (HR. Al Bukhari). Adapun tata cara shalat di atas kendaraan, baik itu pesawat, bus, kereta, atau kapal laut adalah sebagai berikut: a. Hendaklah shalat dengan berdiri menghadap kiblat apabila mampu. Jika tidak, maka shalatlah dengan duduk dan berisyarat ketika ruku’ dan sujud. Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang shalat di atas perahu. Beliau menjawab:

َ ْ ْ َ َ ْ َ ْ ً َ ِّ َ ‫ﻟغ َﺮ َق‬ ‫ص ِل ﻗا ِئﻤا ِإﻥ ﻟﻢ تخف ﺍ‬ Artinya: “Shalatlah dengan berdiri kecuali apabila kamu takut tenggelam.” (HR. Al Hakim) b. Berusahalah tetap shalat berjama’ah (terutama bagi laki-laki). Apabila dalam kendaraan ada ruang yang bisa digunakan shalat berjama’ah maka shalatlah dengan berjama’ah walaupun hanya dua orang. Bila tidak, maka shalatlah berjama’ah dengan duduk.

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

55

c. Kerjakan shalat seperti biasa: niat dalam hati, takbiratul ihram, membaca doa iftitah, membaca al-Fatihah, membaca surat dalam al-Qur’an, ruku’, kemudian bangkit dari ruku’, lalu sujud. d. Bila tidak mampu ruku’, maka cukup dengan menundukkan kepala dan engkau dalam keadaan berdiri. e. Bila tidak mampu sujud, maka cukup dengan duduk seraya menundukkan kepala. f. Apabila shalatnya dikerjakan dalam keadaan duduk, maka ketika ruku’ dan sujud cukup dengan menundukkan kepala dan jadikan posisi kepala untuk sujud itu lebih rendah. 4. Tayamum bagi Musafir Saat bepergian atau di atas kendaraan, untuk melaksanakan shalat terkadang mengalami kendala sulitnya mencari air. Maka pada saat tidak menemukan air untuk berwudlu, atau ada air namun oleh pemilik air tidak diperbolehkan digunakan berwudlu, seperti ketika berada di dalam pesawat, oleh petugas tidak diperbolehkan menggunakan air untuk berwudlu, karena dikhawatirkan dapat mengganggu sistem pesawat, sehingga dikhawatirkan membahayakan keselamatan para penumpang. Maka dalam kondisi ini diperbolehkan tayamum, yaitu bersuci dengan debu. 5. Batas mulai Diperbolehkan Mengambil Rukhshoh Batas mulai diperbolehan jama’ dan qasar adalah pada saat musafir telah melewati batas desanya. Begitu juga batas akhir mulai tidak diperbolehkan melakukan qasar atau jama’ bagi seorang musafir adalah pada saat mulai memasuki batas desa dimana dia akan tinggal atau bermukim. Kalau musafir melakukan qasar dan jama’ ta’khir saat perjalanan pulang, hendaknya melakukannya sebelum masuk batas desanya. Kalau musafir terlanjur masuk desa tersebut, maka tidak lagi berhak atas keringanan seperti jama’ atau qasar.

B. Hikmah Rukhsah Shalat Bagi Musafir Adanya rukhsah (keringanan) merupakan bagian dari kasih sayang Allah Swt. pada hamba-Nya dan bukti bahwa Islam adalah agama yang mudah dan tidak memberatkan sebagaimana firman -Nya:

َ ْ ُ ْ ُ ُ َّ ُ ْ ُ ‫َّللا ِبك ُﻢ ﺍﻟ ُي ْس َﺮ َﻭال ُﻳ ِﺮْي ُد ِبك ُﻢ ﺍﻟ ُع ْس َﺮ‬ ‫ﻳ ِﺮيد‬

Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah (2):185)

56

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Juga firman Allah Swt. yaitu:

َ ِّ َ ُ ْ َ ُ َّ ُ ْ ُ ُ ‫ف َع ْن ُك ْﻢ َﻭ ُخل َق ْﺍْل ْن َس‬ َ ‫اﻥ‬ ‫ﻳ ِﺮيد َّللا أﻥ ﻳخ ِف‬ ‫ض ِع ْي ًفا‬ ِ ِ

Artinya: “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisa’ (4):28) Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra., Rasulullah Saw. bersabda:

َ ِّ َّ َ ُ ْ َ َ ٌ ْ ُ َ ْ ِّ َّ َ َ َّ ‫ﺍﻟد ْﻳ َن أ َﺣ ٌد إال غل َب ُه‬ ِ ‫ﺍﻟدﻳن يسﺮ ﻭﻟن يشاد‬ ِ ‫إﻥ‬

Artinya: “Sesungguhnya agama ini mudah dan tidak ada orang yang berlebih-lebihan dalam agama ini kecuali akan mengalahkannya (tidak mampu melakukannya).” (HR. Bukhari)

Kamus Mini Safar Musafir Rukhshah Menjama’ shalat Mengqasar shalat Tayamum

: melakukan perjalanan : orang yang bepergian jauh dan kiranya tidak mampu melewati waktu-waktu shalat dengan pasti. : hukum yang merubah dari kesulitan menjadi kemudahan. : mengumpulkan dua shalat menjadi satu : meringkas shalat yang 4 rakaat menjadi 2 rakaat : bersuci dengan debu

Insya Allah Aku Bisa Aku bisa praktik shalat di atas kendaraan dengan cara duduk

Hati-Hati Orang yang safar diperbolehkan meringkas shalatnya apabila telah berangkat dan meninggalkan tempat tinggalnya.

Hikmah ” Seorang muslim yang baik tentu saja tidak akan melalaikan kewajiban utamanya untuk tetap beribadah pada Allah meski pun berada dalam kondisi safar yang melelahkan.”

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

57

Tentukan Sikapmu! Berikut ini adalah pernyataan-pernyataan yang terkait dengan pelaksanaan shalat bagi Musafir. Berilah tanda centang (√) pada kolom yang sesuai dengan pendapatmu! No. 1. 2. 3. 4 5.

Setuju (S)

Pernyataan

Tidak setuju (TS)

Kita boleh meninggalkan shalat ketika sedang bepergian jauh Seorang musafir boleh mengqasar dan menjama’ semua shalat fardlu Shalat harus dilakukan dalam keadaan apapun walaupun di atas kendaraan Meskipun kita sebagai musafir, terutama bagi laki-laki berusahalah tetap shalat berjama’ah. Rukhshah untuk mengqasar shalat dibolehkan bagi musafir yang bertujuan untuk maksiat

Lembar Pengamatan Praktik Shalat di atas Kendaraan dengan Cara Duduk Nama : ....................................... No. Absen : ....................................... Skor No.

1. 2. 3.

Aspek yang dinilai Posisi shalat dengan duduk menghadap kiblat Ruku’ dengan menundukkan kepala Sujud dengan menundukkan posisi kepala lebih rendah.

Nilai = Jumlah perolehan skor x 100 Skor maksimal

58

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

4 Sangat Baik

3 Baik

2

1

Cukup

Perlu Bimbin gan

Juml skor

1. Seseorang disebut musafir jika memenuhi tiga syarat, yaitu: (1) niat, (2) keluar dari daerahnya, dan (3) memenuhi jarak tertentu 2. Seorang musafir mendapat rukhsah untuk meringkas (qasar) shalat wajib dari empat raka’at mejadi dua raka’at yaitu shalat Dzuhur, shalat Ashar dan shalat Isya’ 3. Seorang musafir mendapat rukhsah untuk taqdim (mendahulukan) shalat yaitu taqdim shalat Ashar di waktu Dzuhur dan taqdim shalat Isya’ diwaktu Maghrib 4. Seorang musafir mendapat rukhsah untuk ta’khir (menunda) shalat yaitu menunda (takhir) shalat Dzuhur di waktu Ashar dan menunda (ta’khir) shalat Maghrib di waktu Isya’ 5. Seorang musafir mendapat rukhsah tidak melakukan shalat Jum’at atau tidak wajib baginya shalat Jum’at jika ia melakukan perjalanan yang memenuhi syarat untuk mangqasar shalat dan menggantikannya dengan shalat Dzuhur.

Hikmah “Rasulullah Saw. pernah shalat sunnah di atas kendaraannya dan menghadap sesuai arah kendaraannya.” (HR. Bukhari)

Sikapku Berilah tanda centang (√) pada kolom Ya atau Tidak kotak di bawah ini! No

Uraian

1.

Aku ingin meningkatkan ketaqwaan karena Allah sangat memudahkan shalat bagi musafir Aku meyakini bahwa Allah Swt Maha Mengetahui ibadah apapun yang dikerjakan oleh manusia Aku berusaha melaksanakan shalat fardlu walaupun sedang musafir Aku meyakini bahwa shalat bagi orang yang sedang musafir merupakan keringanan Allah yang diberikan pada hamba-Nya

2. 3. 4.

Ya

Tidak

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

59

1. Seseorang disebut sebagai musafir jika memenuhi tiga syarat yaitu .... 2. Diantara rukhsah yang diberikan kepada musafir dalam ibadah shalat adalah .... 3. Tujuan perjalanannya harus mubah bukan untuk bermaksiat, hal ini merupakan syarat dari .... 4. Shalat fardlu yang boleh diqasar ketika melakukan perjalanan sebagai musafir adalah .... 5. Syarat yang harus dipenuhi untuk menta’khir shalat bagi musafir adalah ....

Praktikkan shalat Dzuhur dan Ashar dengan cara jama’ ta’khir!

60

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Kompetensi A. Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, atau c di depan jawaban yang paling tepat! 1. Seseorang disebut musafir jika memenuhi tiga syarat, yaitu .... a. keluar dari daerahnya b. memenuhi jarak tertentu c. pergi untuk tujuan maksiat 2. Seorang musafir mendapatkan rukhsah atau keringanan dari Allah Swt. dalam pelaksanaan ..... a. shalat b. zakat c. infaq 3. Menjama’ shalat tidak boleh dilakukan pada shalat .... a. Dzuhur dan Ashar b. Maghrib dan Isya’ c. Isya’ dan Subuh 4. Seorang musafir tidak mendapat rukhsah untuk mengqasar shalat .... a. Dzuhur b. Ashar c. Maghrib 5. Perhatikan niat shalat berikut:

َ َ ًْ ََ ًْ َْ ْ َ ُ َ ْ َ ِّ َ ُ ُ ْ َ َ ً ‫الظ ْهر َر ْك ًع َت ْين َج ْم‬ ‫هلل ت َعالى‬ ‫ا‬ ‫ر‬ ‫ص‬ ‫ق‬ ‫و‬ ‫ا‬ ‫م‬ ‫ي‬ ‫د‬ ‫ق‬ ‫ت‬ ‫ر‬ ‫ص‬ ‫الع‬ ‫ب‬ ‫ا‬ ‫ع‬ ‫نويت أص ِلي فرض‬ ِ ِ ِ ِ ِ ِ

Bacaan niat shalat di atas untuk .... a. shalat dzuhur jama’ taqdim dengan ashar diqasar b. shalat dzuhur jama’ ta’khir dengan ashar diqasar c. shalat maghrib jama’ taqdim dengan isya’ diqasar

B. Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat! 6. Seseorang keluar dari daerahnya dengan maksud ke tempat lain yang ditempuh dalam jarak tertentu disebut ....

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

61

7. Seorang musafir mendapatkan keringanan dari Allah Swt. dalam pelaksanaan shalat, keringanan tersebut yaitu .... 8. Menjama’ shalat dengan cara menggabungkan antara shalat maghrib dengan isya’ dikerjakan pada waktu isya’ disebut .... 9. Seorang musafir mendapat rukhsah untuk mengqasar shalat wajib dari empat raka’at mejadi dua raka’at yaitu shalat .... 10. Orang yang tidak mampu berdiri ketika melakukan shalat di atas kendaraan dapat melakukan salat dengan cara ….

C. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan tepat ! 11. Sebutkan syarat-syarat mengqasar shalat bagi musafir! 12. Bagaimana cara melaksanakan shalat di atas kendaraan bagi musafir? 13. Sebutkan rukhsah dari Allah yang diberikan kepada seorang musafir! 14. Sebutkan syarat-syarat menjama’ shalat dengan cara taqdim yang dilakukan oleh musafir! 15. Tuliskan niat shalat dzuhur jama’ ta’khir dengan ashar dan diqasar lengkap dengan artinya!

62

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Penilaian Akhir Semester

A. Berilah tanda silang (X) pada salah satu huruf a, b, dan c jawaban yang paling tepat! 1. Shalat sunnah yang mengiringi shalat fardlu disebut .... a. tahajud b. rawatib c. witir 2. Shalat sunnah ghairu muakkad artinya .... a. shalat yang dianjurkan b. shalat yang dipentingkan c. shalat yang tidak dipentingkan 3. Shalat sunnah ba’diyyah artinya .... a. shalat sebelum shalat fardlu b. shalat sesudah shalat fardlu c. shalat ketika masuk masjid 4. Hukum melaksanakan shalat rawatib adalah .... a. wajib b. makruh c. sunnah 5. Shalat sunnah rawatib Ashar dilaksanakan .... a. sebelum ashar b. sesudah ashar c. tidak ada rawatib 6. Shalat sunnat rawatib qabliyyah shubuh jumlahnya ... rakaat a. 2 b. 3 c. 4 7. Shalat dua rakaat sebelum dzuhur termasuk .... a. sunnah ghairu muakkad b. sunnah muakkad c. mubah 8. Mengumpulkan dua shalat fardlu yang dikerjakan secara diringkas dalam satu waktu disebut shalat …. a. jama’ b. qasar c. jama’ qasar FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

63

9.

Rombongan MIN 1 Jakarta study tour ke Malang, ketika waktu Dzuhur tiba mereka shalat Dzuhur dua rakaat setelah salam lalu salah seorang dari mereka mengumandangkan iqamah lalu shalat Ashar dua rakaat, pelaksanaan seperti ini dinamakan…. a. shalat jama’ taqdim b. shalat jama’ taqdim qasar c. shalat jama’ ta’khir qasar

10. Pak Ustadz Zaenudin sedang bepergian ke Surabaya, berangkat dari Tegal jam 17.00 WIB tiba di Rembang jam 22.00 WIB istirahat dan sekaligus shalat Maghrib tiga rakaat setelah salam, lalu shalat Isya’ dua rakaat. Pelaksanaan shalat seperti ini disebut…. a. jama’ taqdim b. jama’ taqdim qasar c. jama’ ta’khir qasar 11. Firman Allah surah an-Nisa (4): 101

َ َّ َ ْ ُ ُ ْ َ ْ َ ٌ َ ُ ْ ُ ْ َ َ َ ْ َ َ ْ َ ْ ْ ُ ْ َ َ َ َ .......‫وة‬ ‫ل‬ ِ ‫ض فليس عليكﻢ جناح ﺍﻥ تـقصﺮﻭﺍ ِمن ﺍﻟص‬ ِ ‫ﻭِﺍذﺍ ضﺮبتﻢ ِفى ﺍال ر‬

Ayat ini yang mendasari untuk melaksanakan shalat dengan cara…. a. jama’ taqdim b. jama’ ta’khir c. shalat qasar

12. Perhatikan tabel berikut! I Sakit II Musafir III Sibuk bekerja IV Perang Yang termasuk syarat diperbolehkannya menjama’ shalat adalah .... a. I, II, dan III b. II, III, dan IV c. I, II, dan IV 13. Jika kita akan bepergian jauh yang memenuhi syarat untuk melakukan shalat dalam keadaan darurat berangkat jam 10.00 WIB dari Semarang ke Cirebon lama perjalanan kurang lebih 6 jam, maka yang tepat melaksanakan…. a. jama’ ta’khir b. jama’ taqdim c. shalat qasar 14. Anisa pulang dari Semarang ke Pekalongan naik bus umum berangkat pukul 17.00 WIB, perjalanan sampai di rumah pukul 21.00 WIB, maka ia harus melakukan shalat maghrib dengan cara…. a. jama’ taqdim b. jama’ ta’khir c. shalat qasar

64

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

15. Contoh pelaksanaan shalat jama’ ta’khir yang benar adalah....... a. shalat dzuhur dan ashar dikerjakan pada waktu zhuhur b. shalat maghrib dan isya’ dikerjakan pada waktu isya’ c. shalat ashar dan maghrib dikerjakan pada waktu maghrib 16. Shalat jama’ dan qasar merupakan rukhsah dalam ajaran agama Islam, rukhsah artinya…. a. keharusan b. keringanan c. kewajiban 17. Orang yang tidak mampu shalat dengan cara berdiri, boleh melakukan shalat dengan cara yaitu .... a. tiduran b. berbaring c. jongkok 18. Shalat orang yang sakit dengan duduk ruku’nya dilakukan dengan cara .... a. membungkukkan badan sedikit ke arah depan b. mengangkat kedua tangan ke atas c. menundukkan kepala ke arah bawah 19. Orang yang sakit dan tidak mampu lagi menggerakkan tubuhnya maka shalatnya adalah .... a. cukup di dalam hati b. membayangkan shalatnya c. tidak melakukan shalat 20. Perhatikan tabel berikut! I Mendekatkan diri kepada Allah II Hati menjadi gelisah III Mensyukuri nikmat sehat yang diberikan Allah IV Dicintai oleh Allah Yang termasuk hikmah shalat bagi orang sakit adalah .... a. I, II, dan III b. II, III, dan IV c. I, III, dan IV 21. Berikut ini yang bukan merupakan syarat seorang musafir adalah .... a. adanya niat yang baik b. masih berada di daerahnya c. memenuhi jarak tertentu 22. Melakukan shalat dzuhur dan ashar dikerjakan pada waktu ashar dan meringkasnya masing-masing dua raka’at disebut .... a. shalat jama’ taqdim b. jama’ ta’khir qasar c. jama’ taqdim qasar

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

65

23. Pelaksanaan shalat jama’ yang tidak sah adalah .... a. shalat dzuhur dan ashar dikerjakan pada waktu dzuhur b. shalat maghrib dan isya’ dikerjakan pada waktu isya’ c. shalat ashar dan maghrib dikerjakan pada waktu maghrib 24. Perhatikan tabel berikut! I Mengqasar shalat II Menqadha’ shalat III Shalat di atas kendaraan IV Tayamum Yang termasuk rukhsah bagi seorang musafir adalah .... a. I, II, dan III b. I, III, dan IV c. I, III, dan IV 25. Pak Darmaji adalah seorang pedagang, karena sibuknya melayani pembeli ia menjama’ shalatnya. Shalat jama’ yang dilakukan Pak Darmaji hukumnya....... a. tidak sah b. sunnah c. mubah C. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat! 26. Sebutkan macam-macam shalat sunnah rawatib muakkad ! 27. Apa yang dimaksud shalat sunnah ba’diyyah dan shalat sunnah qabliyyah? 28. Jelaskan bagaimana tata cara shalat orang yang sakit dengan cara duduk dan telentang? 29. Jelaskan apa yang dimaksud dengan shalat jamak taqdim? Berikan contohnya! 30. Sebutkan 4 hikmah shalat bagi orang yang sakit!

66

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

67

KOMPETENSI INTI

Tabel V. 1 Kompetensi Inti KOMPETENSI INTI 1

KOMPETENSI INTI 2

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

2. Menunjukkan 3. Memahami perilaku jujur, pengetahuan faktual disiplin, tanggung dengan cara jawab, santun, mengamati peduli, dan percaya [mendengar, diri dalam melihat, membaca] berinteraksi dengan dan menanya keluarga, teman, berdasarkan rasa guru, dan ingin tahu tentang tetangganya dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah

4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia

(SIKAP SOSIAL)

(SIKAP SPIRITUAL) 1. Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya

KOMPETENSI DASAR

Tabel V. 2 Kompetensi Dasar 4.6 Menjalankan puasa Ramadlan sebagai perintah Allah Swt.

68

2.5 Menjalankan perilaku sabar dan jujur sebagai implementasi dari mempelajari ketentuan puasa

3.9

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Memahami ketentuan puasa Ramadlan

4.17 Mengomunikasikan pengalaman berpuasa Ramadlan

INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

Peserta didik mampu: 4.6.1 Menerima puasa Ramadlan sebagai perintah Allah Swt. 4.6.2 Menjalankan puasa Ramadlan sebagai perintah Allah Swt. 2.5.1 Menunjukkan perilaku sabar menjalankan perintah puasa Ramdlan 2.5.2 Menjalankan perilaku jujur menjalankan puasa Ramadlan 3.9.1 Menjelaskan ketentuan puasa 3.9.2 Menyebutkan syarat, rukun dan sunnah puasa 3.9.3 Menyebutkan hal-hal yang membatalkan puasa 3.9.4 Menjelaskan hikmah puasa Ramadlan 4.17.1 Menuliskankan pengalaman berpuasa Ramadlan 4.17.2 Menceritakan pengalaman berpuasa Ramadlan

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

69

PETA KONSEP Menerima puasa Ramadan sebagai perintah Allah Swt. Sikap Spiritual Menjalankan puasa Ramadan sebagai perintah Allah Swt.

Menunjukkan perilaku sabar menjalankan perintah puasa Ramadan Ramdlan Sikap Sosial Menjalankan perilaku jujur menjalankan puasa Ramadan

Menjelaskan ketentuan puasa

Puasa Ramadan

Menyebutkan syarat, rukun dan sunnah puasa Pengetahuan Menyebutkan hal-hal yang membatalkan puasa

Menjelaskan hikmah puasa Ramadan

Keterampilan

Menuliskan pengalaman berpuasa Ramadan

Menceritakan pengalaman berpuasa Ramadan

70

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Puasa pada bulan Ramadan merupakan pelaksanaan dari rukun Islam yang keempat dalam ajaran Islam. Menurut ajaran Islam puasa pada bulan Ramadan merupakan puasa yang wajib dilaksanakan selama satu bulan penuh rahmat. Sehingga jika dengan sengaja tidak melaksanakan ibadah puasa pada bulan Ramadan maka seseorang tersebut akan berdosa sesuai dengan Firman Allah dalam Qur'an Surah al-Baqarah (2):183 yang berbunyi:

َّ َ ُ َّ َ ُ َ ُ َ ِّ ُ ُ ْ َ َ َ ُ ْ ُ َ ٰ َ ْ َّ َ ُّ َ ٰٰٓ ‫ﺍﻟص َي ُام ك َﻤا ك ِت َب َعلى ﺍﻟ ِذ ْﻳ َن ِم ْن ﻗ ْب ِلك ْﻢ ﻟ َعلك ْﻢ َت َّت ُق ْو َﻥ‬ ِ ‫ﻳايها ﺍﻟ ِذﻳن ﺍمنوﺍ ك ِتب عليكﻢ‬

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqarah (2): 183) Namun apakah kalian sudah tahu apa itu pengertian puasa Ramadan yang sesungguhnya? Dalam berpuasa, ada beberapa ketentuan yang harus dilaksanakan dan dihindari. Ayo, kita pelajari bersama! A. Ketentuan Puasa Ramadan Amati dan diskusikan gambar berikut ini dengan kelompokmu!

Gambar V.1 Keluarga sedang sahur bersama

Diskusikan gambar di atas dengan kelompokmu masing-masing! Dapatkah kamu membuat kalimat pertanyaan dari apa yang telah kamu pikirkan? Kamu tentu bisa, tulislah kalimatkalimat pertanyaan tersebut pada kolom di bawah ini! Kemudian ceritakan hasil kerja kelompokmu di depan kelas! 1. ……………………………………………………………………......................... 2. ……………………………………………………………………......................... 3. ……………………………………………………………………......................... FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

71

1. Pengertian Puasa Puasa dalam bahasa Arab sama dengan ash-shiyam atau ashshaum yang artinya menahan diri dari sesuatu. Menurut istilah puasa artinya menahan diri dari makan dan minum serta segala sesuatu yang dapat membatalkannya mulai dari terbit fajar sampai dengan terbenamnya matahari dengan niat karena Allah Swt. 2. Syarat Sah Puasa Syarat sah puasa diantaranya adalah: a. Beragama Islam. Orang yang tidak beragama Islam tidak sah puasanya.

Sabda Rasul Saw.: "Barang siapa beribadah di malam Ramadlan karena iman kepada Allah dan mengharap pahala, maka ia dihapus dosanya yang telah lampau.” (HR. Bukhari).

b. Mumayiz artinya sudah dapat membedakan antara hal yang baik dan yang buruk. c. Suci dari haid dan nifas bagi perempuan. d. Pada waktu yang diperbolehkan berpuasa. Tidak sah berpuasa pada waktu-waktu yang dilarang melakukannya, seperti hari Tasyrik, hari Idul Fitri, dan Idul Adha. 3. Syarat wajib puasa Syarat wajib puasa diantaranya adalah: 1. Berakal. Orang yang gila tidak wajib berpuasa. 2. Baligh. Adapun tentang tidak wajib berpuasa bagi mereka yang tidak berakal dan belum baligh, maka berdasarkan sabda Rasulullah Saw.:

َ ْ َ ْ َ َّ َ َْ َ ََ َ ْ َ ُ َ َ ْ َ ُ َّ ‫ َﻭ َعن‬،‫ﺍْل ْج ُن ْوﻥ َﺣ َّتى َﻳف ْي َق‬ َّ ‫ َﻭ َعن‬،‫ظ‬ ‫ﺍﻟص ِب ِّ ِي‬ ‫ﺍﻟنا ِئ ِﻢ ﺣتى يستي ِق‬ ‫ ع ِن‬:‫ر ِفع ﺍﻟقلﻢ عن ثالث ٍة‬ ِ ِ ِ ِ َ ‫ﺣ َّتى َﻳ ْح َت ِل َﻢ‬. Artinya: “Telah diangkat pena dari tiga golongan: dari orang gila sampai ia sadar, dari orang tidur hingga ia bangun, dan dari anak kecil hingga ia baligh.” 3. Kuat untuk berpuasa. Orang yang tua, lemah atau sakit parah tidak wajib berpuasa.

72

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Firman Allah Swt.:

َ ُ َ ٌ َ َ َ َ ً َ َ َ ْ ََ ‫يضا أ ْﻭ َعل ٰى َسف ٍﺮ ف ِع َّدة ِم ْن أ َّﻳ ٍام أخ َﺮ‬ ‫ﻭمن كاﻥ م ِﺮ‬

Artinya: “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah (2): 185) 4. Rukun Puasa Rukun puasa ada 2 yaitu: a. Niat di malam hari Lafal niat puasa Ramadlan.

َ َ َ َّ َ َ َ َ ْ َ ََ ْ َ َ َ ْ َ ُ َْ َ ‫ِهلل ت َعالى‬ ِ ‫هذ ِه السن ِة‬ ِ ‫ض ش ْه ِر َرمضان‬ ِ ‫نويت صوم غ ٍد عن اد ِاء فر‬ Artinya : “Aku niat puasa besok pagi untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadlan tahun ini karena Allah Ta’aala”. b. Menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari. 5. Sunnah Puasa Hal-hal yang termasuk sunnah puasa adalah: a. Mengakhirkan makan sahur b. Menyegerakan berbuka puasa Rasulullah Saw. bersabda :

ْ ْ ُ َ ُ َّ ُ َ َ َ ‫اس ِبخ ْي ٍر َما َع َّجلوﺍ ﺍﻟ ِفط َﺮ‬ ‫ال ﻳزﺍل ﺍﻟن‬

Artinya: “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

selama

mereka

c. Membaca do’a sebelum berbuka puasa Do’a berbuka puasa:

َ َّ َ َ ْ َ َ َ َ ْ َ ُ ْ َ ْ َ َ ْ َ َ َ ُ ْ َ َ َ ُ ْ ُ َ َ َّ ُ ِّ َ ‫الر ِح ِم ْين‬ ‫اللهم لك صمت و ِبك آمنت وعلى ِرز ِقك أفطرت ِبرحم ِتك يا ارحم‬ Artinya : “Ya Allah untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu kami beriman, dan atas rizki-Mu aku berbuka, dengan rahmat-Mu wahai Zat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.” FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

73

d. Berbuka dengan sesuatu yang manis e. Memberi makan pada orang yang berbuka puasa

َ َ ‫صائ ًﻤا َك‬ َ َّ َ ْ َ َّ ‫ص م ْن َأ ْجﺮ‬ ُ ‫اﻥ َﻟ ُه م ْث ُل َأ ْجﺮه َغ ْي َر َأ َّن ُه َال َﻳ ْن ُق‬ ‫ﺍﻟصا ِئ ِﻢ ش ْي ًئا‬ ِ ‫من فط َﺮ‬ ِ ِِ ِ ِ Artinya : “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” f. Memperbanyak sedekah g. Memperbanyak membaca al-Qur’an (tadarus)

6. Hal-hal yang Dapat Membatalkan Puasa Hal-hal yang dapat membatalkan puasa antara lain: a.

Makan dan minum dengan disengaja. Seseorang yang makan atau minum dengan sengaja di siang hari maka puasanya batal.

b.

Muntah yang disengaja Seseorang yang muntah dengan sengaja dapat membatalkan puasa. Namun, apabila muntah terjadi secara tiba-tiba dan tidak disengaja maka orang tersebut bisa melanjutkan puasanya hingga matahari terbenam.

c.

Keluar darah haid atau nifas (darah setelah melahirkan) pada perempuan. Seorang perempuan yang mengalami haid atau nifas seusai persalinan maka dinyatakan batal puasanya. Orang yang mengalami haid atau nifas berkewajiban untuk mengganti puasa di hari lain.

d.

Gila atau hilang akal Seseorang dalam kondisi gila saat menjalani puasa maka puasanya dianggap batal. Sebab, ia dalam kondisi hilang akal atau tidak sadar.

e. Keluar mani dengan sengaja Apabila keluar air mani lantaran mimpi basah di siang hari maka hal itu tidak membatalkan puasa. f. Keluar dari agama Islam atau murtad Seseorang yang memutuskan untuk keluar dari agama Islam dan berpindah ke agama lain saat sedang menjalani puasa, maka puasanya batal. g. Berniat untuk membatalkan puasa

74

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Seseorang yang berniat untuk membatalkan puasa saat sedang menjalani puasa, maka puasanya langsung batal 7. Orang yang Boleh Tidak Berpuasa Ada beberapa golongan orang yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa pada bulan Ramadlan. Mereka itu adalah: a. Orang yang sakit (sakit yang mengharuskan dia tidak berpuasa) b. Orang yang dalam perjalanan (musafir) dengan jarak perjalanan 81 km. c. Orang yang tua renta d. Perempuan hamil atau menyusui Orang yang boleh tidak berpuasa, mereka wajib menggantinya. Cara menggantinya sebagai berikut : No.

Orang yang Boleh Tidak Berpuasa

Cara Menggantinya

1.

Orang yang sedang sakit

Berpuasa di lain hari di luar bulan Ramadlan (mengqadha’)

2.

Orang yang dalam perjalanan jauh (musafir)

Berpuasa di lain hari di luar bulan Ramadlan

3.

Orang tua yang lemah

4.

Perempuan hamil atau menyusui bayi

Membayar fidyah (memberi makan fakir miskin) a. Jika mengkhawatirkan dirinya saja, maka berpuasa di lain hari di luar bulan Ramadlan b. Jika mengkhawatirkan bayinya namun dirinya kuat berpuasa ataupun mengkhawatirkan diri dan bayinya, maka berpuasa di lain hari dan membayar fidyah.

B. Hikmah Puasa Ramadan Puasa Ramadan harus kita lakukan dengan baik dan benar sesuai dengan ketentuannya agar kita bisa memperoleh hikmah dan keutamaannya. Di antara hikmah dan keutamaan puasa Ramadan adalah: 1. Menghapus dosa-dosa yang telah lalu. Rasulullah Saw. bersabda:

َْ ََ َ ُ َ َ ََ َ َ ْ َ ْ ‫اﻥ إ َﻳﻤ ًانا َﻭ‬ ‫ﺍﺣ ِت َس ًابا غ ِف َﺮ ﻟ ُه َما تق َّد َم ِم ْن ذن ِب ِه‬ ِ ‫من صام رمض‬

Artinya: “Barangsiapa berpuasa Ramadan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim). FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

75

2. Meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Tujuan diperintahkan ibadah puasa Ramadan adalah agar kita menjadi manusia yang bertakwa 3. Menyehatkan badan. Puasa dapat membersihkan organ pencernaan seperti lambung dan usus, memperbaiki kerjanya serta membersihkan tubuh dari sisa-sisa endapan makanan. Sehingga puasa dapat menyehatkan tubuh kita. Hal itu sesuai dengan Hadis Nabi Saw.:

َ ُ ُ ‫وم ْوﺍ ت ِص ُّح ْوﺍ‬ ‫ص‬

Artinya: “Berpuasalah kalian niscaya kalian akan sehat.” 4. Menumbuhkan kasih sayang kepada fakir miskin. Banyak orang-orang di sekitar kita yang hidup kekurangan dan membutukan bantuan. Dengan berpuasa kita bisa merasakan lapar sehingga hal ini dapat mendorong kita untuk lebih peduli terhadap penderitaan kaum dhuafa dan fakir miskin. 5. Meningkatkan rasa syukur kepada Allah Swt. Pada saat berpuasa tubuh kita terasa lemah, haus dan lapar tetapi semuanya itu berubah menjadi kenikmatan yang luar biasa pada saat berbuka puasa. Hal ini menambah rasa syukur kita terhadap segala kenikmatan yang telah Allah berikan . 6. Melatih hidup disiplin. Di bulan Ramadan kita terbiasa bangun pagi untuk makan sahur dan berbuka puasa dengan waktu yang telah ditentukan oleh Allah Swt. Oleh karena itu puasa Ramadan dapat melatih kita untuk terbiasa hidup disiplin. 7. Menghindarkan diri dari perbuatan yang buruk. Selain menahan diri dari makan dan minum dan hal-hal yang membatalkan puasa, sebaiknya kita juga menahan diri dari perbuatan yang dapat mengurangi pahala puasa, diantaranya, berkata kotor, berbohong, bertengkar, mencaci maki dan lain sebagainya. 8. Melatih kesabaran. Puasa akan melatih kita untuk bersabar dari segala hal yang bisa membatalkannya seperti makan dan minum di siang hari ataupun hal-hal lain yang bisa mengurangi pahala puasa. Oleh karena itu puasa sering dikatakan separuh dari kesabaran.

76

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Kamus Mini Fidyah : memberi makan fakir miskin Ash-shiyam/ash-shaum : menahan diri dari sesuatu Mumayiz : orang yang dapat membedakan antara baik dan buruk Musafir : orang yang dalam perjalanan jauh Murtad : keluar dari agama Islam Nifas : darah yang keluar setelah melahirkan

Insya Allah Aku Bisa Aku mampu menjalankan Puasa Ramadan

Ingat-ingat Ya! Hindari perbuatan yang buruk, perbuatan seperti berbohong, bertengkar dan sebagainya karena perbuatan itu bisa mengurangi pahala puasa kita.

Hikmah Banyak orang yang berpuasa tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu selain dari rasa lapar dan haus.

1. Secara bahasa ash-shaum artinya …. 2. Sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk adalah pengertian dari …. 3. Berbuka puasa disunnahkan dengan makanan yang …. 4. Orang yang boleh tidak berpuasa di antaranya adalah .... 5. Di antara hikmah dari puasa adalah dapat melatih ….

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

77

Nama No. Absen

Lembar Pengamatan Hafalan Do’a Berbuka Puasa : ............................................ : ............................................. Skor

No.

Aspek yang dinilai

1.

Kelancaran dalam melafadzkan

2.

Keutuhan bacaan do’a

3.

Keurutan bacaan do’a

4.

Mengartikan bacaan do’a

4

3

2

1

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

Jumlah skor

Nilai = Jumlah perolehan skor x 100 Skor maksimal

1. Puasa dalam bahasa Arab sama dengan ash-shiyam atau ash-shaum yang artinya menahan diri dari sesuatu. 2. Menurut istilah puasa artinya menahan diri dari makan dan minum serta segala sesuatu yang dapat membatalkannya mulai dari terbit fajar sampai dengan terbenam matahari dengan niat karena Allah Swt. 3. Syarat sah puasa yaitu beragama Islam, mumayiz, suci dari haid dan nifas dan dilaksanakan pada waktu yang diperbolehkan berpuasa. 4. Syarat wajib puasa yaitu berakal, baligh dan kuat untuk berpuasa. 5. Rukun puasa yaitu niat di malam hari dan menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai terbenam matahari. 6. Hal-hal yang membatalkan puasa antara lain: (a) makan dan minum yang disengaja, (b) muntah yang disengaja, (c) keluar darah haid, (d) gila, (e) keluar mani dengan sengaja, ( f) murtad, (g) berniat untuk membatalkan puasa. 7. Orang yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa pada bulan Ramadlan adalah: (a) orang yang sakit, (b) orang yang dalam perjalanan jauh (musafir), (c) orang yang tua renta, (d) perempuan hamil atau menyusui. 8. Hikmah puasa Ramadan antara lain menghapus dosa-dosa yang telah lalu, meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt., menyehatkan badan, menumbuhkan kasih sayang kepada fakir miskin, meningkatkan rasa syukur kepada Allah Swt., melatih hidup disiplin, menghindarkan diri dari perbuatan yang buruk, melatih kesabaran.

78

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Hikmah Dan sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum dari aroma kasturi

Sikapku Berilah tanda centang (√) pada kolom Benar atau Salah sesuai dengan pendapatmu! No. 1. 2. 3. 4 5.

Pernyataan

Benar

Salah

Orang yang sudah tua renta tetap diwajibkan untuk berpuasa Ketika terdengar suara adzan maghrib kita segera berbuka puasa Berbuka puasa dianjurkan dengan makan makanan yang enak Anak yang masih berumur 7 tahun belum wajib untuk berpuasa Orang yang sudah bisa bersabar tidak perlu lagi untuk berpuasa

1. Menahan diri dari makan dan minum dari terbit fajar sampai terbenam matahari karena Allah disebut .... 2. Salah satu yang termasuk sunnah puasa adalah .... 3. Termasuk amalan di bulan Ramadan adalah memperbanyak membaca .... 4. Salah satu orang yang diperbolehkan tidak berpuasa adalah .... 5. Di atara hikmah puasa adalah ....

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

79

Ayo ceritakan pengalaman kamu berpuasa Ramadan di bawah ini!

Pengalamanku Berpuasa Ramadan

80

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Kompetensi A. Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, atau c di depan jawaban yang paling tepat! 1. Puasa yang wajib dilakukan umat Islam selama satu bulan adalah puasa .... a. Syawal b. Sya’ban c. Ramadlan 2. Selain menahan untuk makan dan minum, saat puasa kita harus menahan diri dalam .... a. melakukan perbuatan tercela b. shalat lima waktu dengan tepat c. bermain dengan teman-teman 3. Beragama Islam, mumayiz, suci dari haid dan nifas adalah .... a. rukun dari puasa b. syarat sah puasa c. syarat wajib puasa 4. Perhatikan daftar berikut: I Murtad II Haid III Sikap gigi siang hari IV Berkumur sewaktu wudu V Muntah tidak disengaja Yang tidak membatalkan puasa, yaitu… a. I, II, dan III b. I, III, dan IV c. II, III, dan IV d. III, IV, dan V 5. Mampu melaksanakan puasa termasuk ... puasa a. syarat wajib b. syarat sah c. rukun 6. Berikut ini orang yang boleh meninggalkan puasa tetapi wajib baginya untuk mengqadha’ puasanya, yaitu .... a. orang yang sakit dan orang yang dalam perjalanan jauh b. orang yang sakit dan orang tua yang sudah renta c. orang tua yang sudah renta dan perempuan yang hamil 7. Niat di malam hari dan menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai terbenam matahari disebut .... a. syarat puasa b. rukun puasa c. hikmah puasa FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

81

8. Di antara syarat sah puasa adalah seseorang yang sudah mampu membedakan antara sesuatu yang baik dan buruk disebut .... a. mumayiz b. muallaf c. musafir 9. Di antara manfaat puasa dalam segi kesehatan adalah memberi kesempatan pada alat pencernaan yang kita miliki untuk .... a. beristirahat b. tidak berfungsi c. berhenti 10. Jika seorang ibu mengkhawatirkan bayinya namun dirinya kuat berpuasa ataupun mengkhawatirkan diri dan bayinya, maka ia wajib .... a. berpuasa di lain hari dan membayar fidyah b. mengqada’ puasanya di hari lain c. memberi makan fakir miskin

B. Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang benar! 11. Umat Islam diperintahkan puasa agar menjadi semakin .... 12. Perintah untuk melaksanakan puasa wajib bagi umat Islam di bulan Ramadlan terdapat dalam Qur’an surah ... ayat .... 13. Berbohong pada teman saat berpuasa mengakibatkan .... 14. Orang tua yang sudah renta dan pikun boleh meninggalkan puasa tetapi wajib baginya untuk.... 15. Menghapus dosa-dosa yang telah lalu, menumbuhkan kasih sayang kepada fakir miskin, dan melatih hidup disiplin adalah merupakan ....

C. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan jawaban yang tepat! 16. Jelaskan pengertian puasa secara bahasa dan istilah! 17. Sebutkan syarat wajib dan syarat sah puasa! 18. Sebutkan hal-hal yang dapat membatalkan puasa! 19. Sebutkan sunah-sunah puasa! 20. Sebutkan orang-orang yang dibolehkan tidak berpuasa dan ketentuan menggantinya!

82

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

83

KOMPETENSI INTI

Tabel VI. 1 Kompetensi Inti KOMPETENSI INTI 1

KOMPETENSI INTI 2

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

(SIKAP SOSIAL)

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

(SIKAP SPIRITUAL) 1. Menerima, 2. Menunjukkan menjalankan, perilaku jujur, dan disiplin, tanggung menghargai jawab, santun, ajaran agama peduli, dan percaya yang diri dalam dianutnya berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya

3. Memahami 4. Menyajikan pengetahuan faktual pengetahuan faktual dengan cara dalam bahasa yang mengamati jelas, sistematis dan [mendengar, logis, dalam karya melihat, membaca] yang estetis, dalam dan menanya gerakan yang berdasarkan rasa mencerminkan anak ingin tahu tentang sehat, dan dalam dirinya, makhluk tindakan yang ciptaan Tuhan dan mencerminkan kegiatannya, dan perilaku anak benda-benda yang beriman dan dijumpainya di berakhlak mulia rumah dan di sekolah

KOMPETENSI DASAR Tabel VI. 1 Kompetensi Inti 4.7 Menghayati keutamaan puasa Ramadlan sarana muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah Swt.

84

2.6 Menjalankan sikap jujur dan peduli dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya

3.10 Menganalisis keutamaan bulan Ramadlan

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

4.18 Mengomunikasikan hasil analisis tentang keutamaan bulan Ramadlan

INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

Peserta didik mampu: 4.7.1 Menerima keutamaan puasa Ramadlan 4.7.2 Menghayati keutamaan puasa Ramadlan 2.6.1 Menjalankan sikap jujur dalam kehidupan sehari-hari 2.6.2 Menjalankan sikap peduli dalam kehidupan sehari-hari 3.10.1 Menjelaskan keutamaan-keutamaan yang ada di bulan Ramadlan 3.10.2 Menyebutkan amalan-amalan di bulan Ramadlan 4.18.1 Membiasakan menjalankan amalan-amalan Ramadlan 4.18.2 Menceritakan keutamaan-keutamaan bulan Ramadlan

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

85

PETA KONSEP Menerima keutamaan puasa Ramadan

Sikap Spiritual

Menghayati keutamaan puasa Ramadan

Menjalankan sikap jujur dalam kehidupan sehari-hari Sikap Sosial Menjalankan sikap peduli dalam kehidupan sehari-hari

Keutamaan Bulan Ramadan

Menjelaskan keutamaankeutamaan yang ada di bulan Ramadan Pengetahuan Menyebutkan amalan-amalan di bulan Ramadan

Membiasakan menjalankan amalan-amalan Ramadan Keterampilan Menceritakan keutamaankeutamaan bulan Ramadan

86

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Bulan suci Ramadan menjadi waktu yang paling dinanti seluruh umat muslim di dunia. Sebab ia adalah bulan yang penuh keberkahan dan dilipatgandakannya segala amalan baik. Karena bulan ini merupakan waktu yang spesial, maka kita pun perlu mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Salah satunya adalah mengetahui keutamaan-keutamaan apa saja yang ada di dalamnya agar kita bisa melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Lalu apa saja keutamaannya? Ayo, amati gambar berikut ini!

Gambar VI. 1 Anak-anak sedang melaksanakan shalat tarawih

Setelah kamu mengamati gambar di atas, apa yang kamu pikirkan? Dapatkah kamu membuat kalimat pertanyaan dari apa yang telah kamu pikirkan? Kamu tentu bisa, tulislah kalimatkalimat pertanyaan tersebut pada kolom di bawah ini! 1. …………………………………………………………………….......................... 2. ……………………………………………………………………........................... 3. ……………………………………………………………………..........................

A. Keutamaan Bulan Ramadlan Bulan suci Ramadan merupakan kesempatan bagi setiap hamba Allah Swt. untuk lebih meningkatkan ketakwaan, dikarenakan bulan ini memiliki beberapa keutamaan antara lain: 1. Bulan diturunkannya Al-Qur’an (Nuzulul Qur’an)

Mutiara Hikmah: Sabar itu sebagaian dari iman dan puasa sebagian dari kesabaran.

Ramadan merupakan syahrul Qur’an (bulan al-Qur’an).

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

87

Diturunkannya al-Qur’an pada bulan Ramadan menjadi bukti nyata atas kemuliaan dan keutamaan bulan Ramadan. Allah Swt. berfirman yang artinya: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk tersebut dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah (2): 185). 2. Perintah Untuk Berpuasa Allah Swt. mewajibkan umat Islam untuk berpuasa selama satu bulan dalam bulan Ramadlan. Kewajiban berpuasa tidak ada pada bulan lainnya. Allah Swt. berfirman yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”( QS. AlBaqarah (2): 183) 3. Perintah Berzakat Zakat menurut istilah berarti mengeluarkan sebagian harta yang dimiliki untuk diberikan kepada orang yang berhak menerimanya. Zakat yang wajib dikeluarkan di bulan Ramadlan adalah zakat fitrah berupa makanan pokok di suatu negara. Di Indonesia, umat Islam mengeluarkan zakat fitrah berupa beras. Hukum zakat fitrah adalah fardlu ‘ain yaitu kewajiban perorangan yang wajib dilakukan oleh seorang muslim dan tidak dapat diwakilkan. Zakat fitrah diberikan kepada fakir miskin dan orang yang berhak menerima lainnya. Dengan kewajiban berzakat maka akan tertanam sikap peduli antarsesama untuk saling membantu. 4. Bulan Penuh Keberkahan Bulan ini disebut juga dengan bulan syahrun mubarak. Hal ini adalah berdasarkan pada dalil hadis Nabi Rasulullah Saw. yang artinya :”Sungguh telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah. Pada bulan ini diwajibkan puasa kepada kalian..” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi). Dan juga bahwa setiap ibadah yang dilakukan di bulan Ramadlan, maka Allah akan melipat gandakan pahalanya. Dan di dalam bulan penuh kemuliaan dan keberkahan ini maka tidak hanya keberkahan di dalam menuai pahala, namun banyak keberkahan lainnya. 5. Malam Lailatul Qodar Kemuliaan bulan Ramadlan salah satunya adalah dengan hadirnya malam penuh kemuliaan dan keberkahan di salah satu malam pada malam-malam terakhir dan ganjil di

88

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

bulan Ramadlan yaitu malam Lailatul Qodar. Pada bulan Ramadlan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Menurut pendapat ulama, pada 10 hari terakhir bulan Ramadlan adalah saat hadirnya malam Lailatul Qadar. 6. Bulan Pengampunan Dosa (Maghfirah) Allah Swt. menyediakan Ramadlan sebagai fasilitas penghapusan dosa selama kita menjauhi dosa besar. Hadis Nabi Saw.:

َ ُ َ َ َّ َّ َ ُ ْ َ َ ُ ‫ص َّلى‬ ُ ‫ﺍلج ُﻤ َع ُة إ َلى‬ ُ ‫ َﻭ‬، ‫س‬ َ – ‫ﺍﻟنب ِّي‬ َ ‫ َﻗ‬، – ‫هللا َع َل ْي ِه َﻭ َس َّل َﻢ‬ ُ ‫ﺍلخ ْﻤ‬ ، ‫ﺍلج ُﻤ َع ِة‬ ‫ ( ﺍﻟصلوﺍت‬: ‫ال‬ ِ ِ ِ ‫ ع ِن‬، ‫ﻭعنه‬ َ َ ‫ض‬ ُ َ ٌ ‫ ُم َك ِّفﺮ‬، ‫اﻥ‬ َ ‫اﻥ إ َلى َ َم‬ ْ ‫ﺍت َما َب ْي َن ُه َّن إ َذﺍ‬ )‫ﺍج ُت ِن َب ِت ﺍﻟك َبا ِئ ُﺮ ) ( َر َﻭ ُﺍه ُم ْس ِل ٌﻢ‬ ‫َﻭ َر َمض ِ ر‬ ِ ِ Artinya: Dari Abu Hurairah ra., Nabi Saw. bersabda: ”Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat dan Ramadlan ke Ramadlan menghapuskan dosa-dosa di antara masa-masa itu selama dosadosa besar dijauhi”. (HR. Muslim). Melalui berbagai aktivitas ibadah di bulan Ramadlan Allah Swt. menghapuskan dosa kita. Di antaranya adalah puasa Ramadlan, sebagaimana sabda Nabi Saw.:

َْ ََ َ ُ َ َ ََ َ َ ْ َ ْ ‫اﻥ إ َﻳﻤ ًانا َﻭ‬ ‫ﺍﺣ ِت َس ًابا غ ِف َﺮ ﻟ ُه َما تق َّد َم ِم ْن ذن ِب ِه‬ ِ ‫من صام رمض‬

Artinya: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Swt, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.(HR. Bukhari dan Muslim). 7. Ramadan Pintu Surga Dibuka Pintu Neraka Ditutup Keberkahan kemuliaan di dalam bulan Ramadlan adalah bahwa pintu-pintu surga terbuka dan pintu-pintu neraka tertutup serta syaithan-syaithan diikat. Dengan demikian, Allah Swt. telah memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk masuk surga dengan ibadah dan amal shalih yang mereka perbuat pada bulan Ramadlan.

B. Amalan Bulan Ramadan Amalan terpenting di bulan Ramadlan adalah berpuasa. Namun selain berpuasa, ada amalan-amalan utama yang harus dilakukan selama Ramadlan agar kita mendapatkan manfaat, sebab bulan suci Ramadlan terdapat kebaikan punya nilai pahala lebih serta berlipat ganda. Pada bulan tersebut terdapat amalan-amalan sunnah yang tidak terdapat FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

89

pada bulan lainnya. Maka dari itu, jangan menyia-nyiakan kesempatan bulan Ramadlan ini, mari kita gunakan untuk berlomba-lomba mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Amalan-amalan yang dianjurkan selama berpuasa antara lain: 1. Melaksanakan shalat Tarawih dan Witir Shalat Tarawih hanya dilaksanakan pada malam bulan Ramadlan, sayang sekali jika kita melewatkan begitu saja. Supaya berkah Ramadlan sebanyak-banyaknya kita dapatkan, maka shalat tarawih sebaiknya kita laksanakan setiap hari. 2. Mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka Dalam sebuah hadis, dijelaskan bahwa Abu Dzarr berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

َّ ‫ﺍل ُأ َّمت ْي ب َخ ْير َما َع َّج ُل ْوﺍ ْﺍْل ْف َط َار َﻭ َأ َّخ ُﺮ ْﻭﺍ‬ ُ َََ )‫ﺍﻟس ُح ْو َر – (رﻭﺍه أﺣﻤد‬ ٍ ِ ِ ‫ال تز‬ ِ

Artinya: "Umatku senantiasa dalam keadaan baik selama mereka menyegerakan berbuka dan menta’khirkan sahur” (HR. Ahmad). Hadis ini menyebutkan bahwa salah satu amalan yang disunahkan adalah mengakhirkan makan di waktu sahur sebelum masuknya waktu menuju terbitnya fajar atau shalat subuh.

3. Berdoa ketika berbuka puasa. Dengan doa yang dituntunkan untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah Swt. yaitu: Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu dan berdoa sesudah berbuka puasa yaitu: Dzahabadh-dhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatil ajru insya Allah. Hal ini diterangkan dalam hadis berikut ini:

َّ ُ َّ َ َ َ َ َ ْ َ َ َ َّ َ َ ْ َ َ ُ َّ َ ُ ُ َ َ َ ‫َع ْن ْﺍبن ُع َﻤ َﺮ َﻗ‬ ‫ال ذ َه َب ﺍﻟظ َﻤأ َﻭ ْﺍب َتل ِت‬ ‫هللا صلى هللا علي ِه ﻭسلﻢ ِإذﺍ أفطﺮ ﻗ‬ ِ ‫ال آﺍﻥ َرسول‬ ِ َ ْ ُ َْ ْ َ َََ ُ ُُ ْ ُ َ )‫ (رﻭﺍه أبو دﺍﻭد‬- .‫ﺍﻟعﺮﻭق ﻭثبت ﺍألجﺮ ِإﻥ شاء هللا‬ Artinya: “Dari Ibnu Umar ra. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Apabila Rasulullah Saw. berbuka, beliau berdoa: Dzahabadh-dhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatil ajru insya Allah (Hilanglah rasa haus dan basahlah urat-urat (badan) dan insya Allah mendapatkan pahala)” (HR. Abu Dawud).

90

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

4. Membaca dan mempelajari al-Qur’an Kita diperintahkan untuk membaca dan menghatamkan al-Qur’an pada bulan Ramadan sekaligus mempelajarinya. Sebagaimana hadis Nabi Saw.:

َ َ ْ ُ َّ ‫هللا َع َل ْيه َﻭ َس َّل َﻢ َأ ْج َو َد‬ ُ ‫ص َّلى‬ َ ‫ال َآ َﺍﻥ َر ُس ْو ُل هللا‬ َ ‫َع ْن ْﺍبن َع َّباس َﻗ‬ ‫اس ِبال َخ ْي ِر َﻭآ َﺍﻥ أ ْج َو ُد َما َﻳكو ُﻥ‬ ‫ﺍﻟن‬ ِ ِ ٍ ِ ِ َ َْ َ َ َ ََ َ ‫ض‬ َ ‫ﻳل في ُآ ِّل َﻟ ْي َلة م ْن َ َم‬ ُ‫ص َّلى هللا‬ ْ ُ َ ‫اﻥ َف ُي َدﺍر ُس ُه ْﺍﻟ ُق ْﺮ َآﻥ َف َل َﺮ ُس ْو ُل هللا‬ ُ ‫ِفي رمضاﻥ ِﺣيﻥ ﻳلقاه ِجب ِر ِ ِ ٍ ِ ر‬ ِ ِ َ َ ْ ُ ْ ِّ ْ ْ َ ْ ُ َ ْ َ ُ ْ ُ َ ْ َ َ َ َّ َ َ ْ َ َ )‫ – (متفق عليه‬.‫ﺍﻟﺮ ِيح ﺍْلﺮسل ِة‬ ِ ‫علي ِه ﻭسلﻢ ِﺣيﻥ ﻳلقاه ِجب ِرﻳل أجود ِبالخي ِر ِمن‬ Artinya: "Dari Ibnu Abbas ra. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah Saw. adalah orang yang paling dermawan, apalagi pada bulan Ramadan, ketika ditemui oleh Malaikat Jibril pada setiap malam pada bulan Ramadan, dan mengajaknya membaca dan mempelajari al-Qur’an. Ketika ditemui Jibril, Rasulullah Saw. adalah lebih dermawan daripada angin yang ditiupkan.” (Muttafaq ‘Alaih). 5. I’tikaf di Masjid Mendekatkan diri kepada Allah dengan cara i’tikaf atau berdiam diri di dalam masjid, terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan, sebagaimana dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Diriwayatkan dari Ibnu Umar:

ْ َ ُ َ ْ َ َ َّ َ َ ْ َ َ ُ َّ َ َّ ‫ُ َ َ َ َ ُ َ ْ ُ َ َ َ َ َ َ ُ ُل‬ ْ َ ‫ﺍﻟعش َﺮ‬ ‫َّللا صلى هللا علي ِه ﻭسلﻢ يعت ِكف‬ ِ ‫ كاﻥ رسو‬: ‫ ﻗال‬،‫ﺍبن عﻤﺮ ر ِض ي َّللا عنهﻤا‬ ِ ‫ع َن‬ َ َ َ ‫ض‬ َ ‫ﺍأل َﻭﺍخ َﺮ م ْن َ َم‬ )‫اﻥ ( ُم َّتف ٌق َعل ْي ِه‬ ‫ِ ِ ر‬

Artinya: " Dari Ibn Umar ra. berkata: Rasulullah Saw. selalu beriktikaf pada sepuluh hari yang penghabisan di bulan Ramadan.” (Muttafaq ‘Alaih). 6. Memperbanyak Sedekah Menyediakan makanan berbuka untuk orang-orang yang berpuasa, juga dapat dijadikan sebagai ladang amal selama Ramadan. Nabi Saw. bersabda:

َ َ ‫صائ ًﻤا َك‬ َ ‫َم ْن َف َّط َﺮ‬ َّ ‫ص م ْن َأ ْجﺮ‬ ُ ‫اﻥ َﻟ ُه م ْث ُل َأ ْجﺮه َغ ْي َر َأ َّن ُه َال َﻳ ْن ُق‬ ‫ﺍﻟصا ِئ ِﻢ ش ْي ًئا‬ ِ ِ ِ ِ ِ ِ Artinya: "Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga" (HR. Tirmidzi).

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

91

Kamus Mini Syahrun Mubarak

: bulan penuh keberkahan

I’tikaf

: berdiam diri di dalam masjid

Fardlu ‘ain

: kewajiban perorangan yang wajib dilakukan oleh seorang muslim dan tidak dapat diwakilkan

Syahrul Qur’an

: bulan al-Qur’an

Lailatul Qadar

: malam kemuliaan

Nuzulul Qur’an

: turunnya al-Qur’an

Insya Allah Aku Bisa Aku akan berusaha melaksanakan amalan-amalan bulan Ramadan dengan ikhlas dan terus menerus

Ingat-ingat Ya! Mengingat mulianya keutamaan Ramadan, maka sangat disayangkan bila Ramadlan datang dan berlalu meninggalkan kita begitu saja, tanpa ada usaha maksimal dari kita untuk meraihnya dengan melakukan berbagai ibadah dan amal shalih

Hikmah Orang yang berpuasa akan meraih dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagian ketika berjumpa dengan Allah Swt.

92

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Berilah tanda centang (√) pada kotak jika pernyataan di bawah ini kamu anggap benar atau salah! No

Pernyataan

Benar

1.

Tadarus al-Qur’an hanya diperintahkan pada bulan Ramadlan

2.

I’tikaf adalah amalan bulan Ramadlan yang dilakukan di rumah

3.

Shalat tarawih amalan yang hanya dikerjakan di malam bulan Ramadlan

4.

Lailatul Qadar adalah suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan pada bulan Ramadlan

5.

Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka pahalanya sama dengan orang yang berpuasa tersebut

Salah

Bulan Ramadlan ini, kamu sudah melaksanakan ibadah puasa dan mengerjakan amalan-amalannya. Berilah tanda centang (√) dengan jujur! Nama No. Absen

No.

: ............................... : ...............................

Amalan Ramadlan

1.

Shalat Tarawih dan Witir

2.

Tadarus al-Qur’an

3.

Menyegerakan berbuka puasa

4.

Belajar

5.

Bersedekah

Sering sekali

Keterangan Sering Kadang Tidak -kadang pernah

Paraf Orang Tua

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

93

1. Bulan Ramadan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt., karena bulan ini memiliki beberapa keutamaan antara lain: a. Bulan diturunkannya al-Qur’an (Nuzulul Qur’an). b. Perintah untuk berpuasa c. Bulan penuh keberkahan d. Malam Lailatul Qadr e. Bulan pengampunan dosa (maghfirah) f. Ramadan pintu surga dibuka pintu neraka ditutup 2. Amalan-amalan bulan Ramadan antara lain: a. Shalat tarawih dan witir b. Mengakhirkan makan di waktu sahur dan menyegerakan berbuka puasa c. Membaca dan belajar al-Qur’an d. I’tikaf di Masjid e. Memperbanyak sedekah

Hikmah Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah seperti bau kasturi.

Sikapku Berilah tanda centang (√) pada kolom Ya atau Tidak sesuai dengan pendapatmu! No.

Uraian

1.

Aku meyakini bahwa keutamaan-keutamaan di bulan Ramadan adalah keberkahan yang diberikan dari Allah Swt. Aku bisa bersabar ketika menjalankan ibadah berpuasa Aku akan memperbanyak sedekah pada saat bulan Ramadan

2. 3.

94

4.

Aku selalu mengeluarkan zakat fitrah

5.

Aku sangat senang akan datangnya bulan Ramadan

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Ya

Tidak

1. Bulan suci Ramadan merupakan kesempatan bagi setiap hamba Allah untuk lebih meningkatkan .... 2. Suatu malam di bulan Ramadan yang lebih baik dari seribu bulan disebut .... 3. Termasuk amalan di bulan Ramadan adalah mengakhirkan ... dan menyegerakan .... 4. Salah satu amalan yang hanya ada di bulan Ramadan adalah .... 5. Perintah untuk berpuasa terdapat dalam Qur’an surah ... ayat ....

Ayo ceritakan tentang keutamaan dan amalan-amalan di bulan Ramadan di depan guru dan teman-temanmu!

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

95

Kompetensi A. Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, atau c di depan jawaban yang paling tepat! 1. Mendekatkan diri kepada Allah dengan cara berdiam diri di dalam masjid disebut .... a. iftitah b. i’tikaf c. iftirasy 2. Nabi Saw. bersabda: Barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka .... a. diampuni dosa-dosanya yang telah lalu b. dilipatgandakan pahalanya oleh Allah c. dimasukkan ke syurga tanpa dihisab 3. Zakat yang wajib dikeluarkan di bulan Ramadan adalah .... a. zakat an’am b. zakat fitrah c. zakat tijarah 4. Yang bukan merupakan keutamaan bulan Ramadan adalah a. perintah untuk berpuasa b. perintah berzakat c. perintah berhaji 5. Perhatikan daftar berikut! I Tadarus al-Qur’an II Memperbanyak sedekah III I’tikaf di rumah IV Shalat tarawih dan witir Yang termasuk amalan-amalan Ramadan adalah .... a. I, II, dan III b. I, II, dan IV c. II, III, dan IV B. Isilah titi-titik di bawah ini dengan jawaban yang benar! 6. Bulan suci Ramadan merupakan kesempatan bagi setiap hamba Allah untuk .... 7. Suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan pada bulan Ramadan disebut .... 8. Menurut pendapat ulama, hadirnya malam Lailatul Qadar terjadi pada ... bulan Ramadan 9. Bulan Ramadan disebut juga dengan bulan “Syahrun Mubarak” artinya .... 10. Salah satu keutamaan bulan Ramadan adalah perintah untuk ....

96

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

C. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan tepat! 11. Sebutkan keutamaan-keutamaan yang ada di bulan Ramadan! 12. Sebutkan amalan-amalan yang bisa dilaksanakan pada bulan Ramadan! 13. Mengapa bulan Ramadan disebut Syahrul Qur’an? 14. Jelaskan tujuan zakat fitrah yang dikeluarkan pada bulan Ramadan! 15. Nabi bersabda, "Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga". Jelaskan maksud hadis tersebut!

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

97

98

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

KOMPETENSI INTI

Tabel VII. 1 Kompetensi Inti KOMPETENSI INTI 1

KOMPETENSI INTI 2 (SIKAP SOSIAL)

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

(SIKAP SPIRITUAL) 1. Menerima, 2. Menunjukkan menjalankan, perilaku jujur, dan disiplin, tanggung menghargai jawab, santun, ajaran agama peduli, dan percaya yang dianutnya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya

3. Memahami 4. Menyajikan pengetahuan faktual pengetahuan faktual dengan cara dalam bahasa yang mengamati jelas, sistematis dan [mendengar, logis, dalam karya melihat, membaca] yang estetis, dalam dan menanya gerakan yang berdasarkan rasa mencerminkan anak ingin tahu tentang sehat, dan dalam dirinya, makhluk tindakan yang ciptaan Tuhan dan mencerminkan kegiatannya, dan perilaku anak benda-benda yang beriman dan dijumpainya di berakhlak mulia rumah dan di sekolah

KOMPETENSI DASAR

Tabel VII. 2 Kompetensi Dasar 4.8 Menghayati keutamaan puasa Sunnah sebagai sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt.

2.7 Menjalankan perilaku jujur dan sabar sebagai implementasi dari mempelajari ketentuan puasa sunnah

3.11Memahami ketentuan puasa sunnah

4.19Mengomunikasikan ketentuan puasa sunnah

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

99

INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

Peserta didik mampu: 4.8.1 Menerima keutamaan puasa Sunnah 4.8.2 Menghayati puasa Sunnah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah 2.7.1 Menunjukkan perilaku jujur menjalankan puasa sunnah 2.7.2 Menunjukkan perilaku sabar menjalankan puasa sunnah 3.11.1 Menjelaskan ketentuan puasa sunnah 3.11.2 Menyebutkan jenis puasa sunnah dan niatnya 3.11.3 Menjelaskan hikmah puasa sunnah 4.19.1 Membiasakan melakukan puasa sunnah 4.19.2 Menceritakan pengalaman melakukan puasa sunnah

100

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

PETA KONSEP Menerima keutamaan puasa Sunnah

Sikap Spiritual

Menghayati puasa Sunnah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah

Menunjukkan perilaku jujur menjalankan puasa sunnah

Sikap Sosial Puasa Sunnah

Menunjukkan perilaku sabar menjalankan puasa sunnah

Menjelaskan ketentuan puasa sunnah Pengetahuan

Menyebutkan jenis puasa sunnah dan niatnya

Menjelaskan hikmah puasa sunnah

Keterampilan

Membiasakan melakukan puasa sunnah

Menceritakan pengalaman melakukan puasa sunnah

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

101

Puasa merupakan ibadah yang dilakukan dengan menahan diri dari makan dan minum mulai terbit fajar sampai terbenam matahari. Ini tidak hanya dilakukan di bulan Ramadan, namun selain puasa Ramadan ada beragam jenis puasa sunnah yang juga utama untuk dilakukan umat Islam. Meskipun hukumnya dianjurkan untuk dilakukan di waktu-waktu tertentu, puasa sunnah tidak boleh dilakukan berturut-turut tanpa berbuka sama sekali (dilakukan setiap hari). Jika puasa Ramadan hukumnya wajib dan merupakan ibadah inti, maka puasa sunnah adalah ibadah pelengkap. Sama dengan shalat wajib yang dilengkapi shalat sunnah, puasa sunnah juga tidak wajib dilakukan namun memiliki banyak keutamaan bagi yang melaksanakannya. Apakah kalian sudah biasa menjalankan puasa sunnah? Bagaimana ketentuan puasa sunnah yang sesungguhnya? Ayo kita pelajari bersama!

Amati dan ceritakan gambar berikut ini!

Gambar VII. 1 Keluarga sedang buka puasa

1. Buatlah pertanyaan-pertanyaan dari gambar di atas! 2. Diskusikan gambar di atas dengan teman sebelahmu, kemudian kemukakan hasil diskusimu di depan kelas!

102

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

A. Ketentuan Puasa Sunnah 1. Pengertian Puasa Sunnah Puasa sunnah adalah puasa yang tidak wajib dilakukan oleh umat Islam. Jika orang Islam melakukannya, maka dia akan mendapatkan pahala sedangkan jika dia tidak melakukannya maka dia tidak mendapatkan dosa. 2. Praktek Puasa Sunnah Beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang Mutiara Hikmah:

muslim yang melakukan puasa sunnah adalah: a. Niat di malam hari atau sampai pada waktu dzuhur di hari puasa tersebut. b. Makan sahur pada dini hari. c. Menghindari makan dan minum serta hal-hal yang dapat membatalkan puasa. d. Menahan diri dari perbuatan tercela dan menjaga

Allah Swt. lebih menyukai ibadah yang sedikit namun dilakukan terusmenerus dari pada yang banyak tapi hanya dilaksanakan sekali saja.

lisan dari perkataan yang kotor. e. Memperbanyak amal ibadah dan berdoa serta sedekah. f. Menyegerakan berbuka jika telah mendengar adzan Maghrib, dan berdoa ketika berbuka.

B. Jenis Puasa Sunnah dan Niatnya 1. Puasa Senin Kamis Jenis puasa satu ini merupakan puasa sunnah yang paling umum. Puasa yang dilaksanakan setiap hari Senin dan Kamis merupakan ibadah puasa sunnah yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah Saw. Karena hari Senin merupakan hari kelahiran beliau sedangkan hari Kamis adalah hari pertama kali al-Qur’an diturunkan. Niat puasa Senin dan Kamis yaitu:

َ َ ً َّ ُ ْ َ ْ ْ ْ َ َ َ ْ َ ُ ْ َ َ ‫ِهلل ت َعالى‬ ِ ‫نويت صوم غ ٍد ِﻟيو ِم ﺍ ِْلثني ِﻥ سنة‬

Artinya: “Saya niat puasa esok hari Senin sunnah karena Allah Ta‘ alaa“

َ َ ً َّ ُ ْ َ ْ ْ َ َ َ ْ َ ُ ْ َ َ ‫ِهلل ت َعالى‬ ِ ‫س سنة‬ ِ ‫نويت صوم غ ٍد ِﻟيو ِم ﺍلخ ِﻤي‬ Artinya: “Saya niat puasa esok hari Kamis sunnah karena Allah Ta‘ alaa“

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

103

2. Puasa Asyura Bulan Muharram adalah bulan yang disunnahkan untuk memperbanyak puasa, boleh di awal bulan, pertengahan, ataupun di akhir. Namun, puasa paling utama adalah pada hari Asyura yakni tanggal sepuluh pada bulan Muharram. Puasa ini dikenal dengan istilah Yaumu Asyura yang artinya hari pada tanggal kesepuluh bulan Muharram. Niat puasa Asyura yaitu:

َ َ ً َّ ُ َ ْ ُ َ ْ َ َ َ ْ َ ُ ْ َ َ ‫ِهلل ت َعالى‬ ِ ‫نويت صوم غ ٍد ِﻟيو ِم عاشور ِﺍء سنة‬

Artinya: “Saya niat puasa esok hari ‘Asyura sunnah karena Allah Ta‘ alaa“ 3. Puasa Sya‘ban Tidak hanya bulan Ramadlan yang mempunyai keistimewaan, bulan Sya’ban juga memiliki keistimewaan tersendiri. Pada bulan Sya’ban dianjurkan agar umat Islam mencari pahala sebanyak-banyaknya. Salah satunya adalah dengan melakukan puasa pada awal pertengahan bulan Sya’ban sebanyak-banyaknya. Niat puasa Sya’ban yaitu:

َ َ ً َّ ُ َ َ ْ َ ْ َ َ َ ْ َ ُ ْ َ َ ‫ِهلل ت َعالى‬ ِ ‫نويت صوم غ ٍد ِﻟشه ِﺮ شعباﻥ سنة‬

Artinya: “Saya niat puasa esok hari pada bulan Sya‘ban sunnah karena Allah Ta‘ alaa“ 4. Puasa Syawal Puasa Syawal adalah berpuasa selama enam hari di bulan Syawal. Puasa ini bisa dilakukan secara berurutan dimulai dari hari kedua syawal ataupun bisa dilakukan secara tidak berurutan. Niat puasa Syawal yaitu:

َ َ ً َّ ُ َّ َ ْ َ َ َ ْ َ ُ ْ َ َ ‫ِهلل ت َعالى‬ ِ ‫نويت صوم غ ٍد ِﻟشه ِﺮ شو ٍﺍل سنة‬

Artinya: “Saya niat puasa esok hari pada bulan Syawal sunnah karena Allah Ta‘ alaa“ 5. Puasa Tarwiyah Puasa Tarwiyah adalah puasa yang dilaksanakan pada hari tarwiyah yakni tanggal 8 Dzulhijjah. Istilah tarwiyah sendiri berasal dari kata tarawwa yang berarti membawa bekal air. Hal tersebut karena pada hari itu, para jamaah haji membawa banyak bekal air zam-zam untuk persiapan Arafah dan menuju Mina. Niat puasa Tarwiyah yaitu:

104

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

َ َ ً َّ ُ َ َّ ْ َ ْ َ َ َ ْ َ ُ ْ َ َ ‫ِهلل ت َعالى‬ ِ ‫نويت صوم غ ٍد ِﻟيو ِم تﺮ ِﻭية سنة‬ Artinya: “Saya niat puasa esok hari Tarwiyah sunnah karena Allah Ta‘ alaa“ 6. Puasa Arafah Puasa arafah adalah jenis puasa sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji. Sedangkan bagi umat Islam yang sedang berhaji, tidak ada keutamaan untuk puasa pada hari arafah atau tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa arafah sendiri mempunyai keistimewaan bagi pelaksananya yaitu akan dihapuskan dosa-dosa pada tahun lalu serta dosa-dosa di tahun yang akan datang. (HR. Muslim). Niat puasa Arafah yaitu:

َ َ ً َّ ُ َ َ َ َ ْ َ َ َ ْ َ ُ ْ َ َ ‫ِهلل ت َعالى‬ ِ ‫نويت صوم غ ٍد ِﻟيو ِم عﺮفة سنة‬

Artinya: “Saya niat puasa esok hari ‘Arafah sunnah karena Allah Ta‘ alaa“ 7. Puasa Ayyamul bidh Umat Islam disunnahkan berpuasa minimal tiga kali dalam sebulan. Namun puasa lebih utama dilakukan pada ayyamul bidh, yaitu pada hari ke-13, 14, dan 15 dalam bulan Hijriyah atau bulan pada kalender Islam. Ayyamul bidh sendiri mempunyai arti hari putih karena pada malam-malam tersebut bulan purnama bersinar dengan sinar rembulannya yang putih. Niat puasa Ayyamul bidh yaitu:

َ َ ً َّ ُ َ َ ْ َ ُ ْ َ َ ‫ِهلل ت َعالى‬ ِ ‫نويت صوم غ ٍد سنة‬

Artinya: “Saya niat puasa esok hari sunnah karena Allah Ta‘ alaa“ 8. Puasa Dawud Jenis puasa ini merupakan puasa unik karena pasalnya puasa Daud adalah puasa yang dilakukan secara selang-seling (sehari puasa, sehari tidak). Puasa Daud bertujuan untuk meneladani puasanya Nabi Daud as. Puasa jenis ini juga ternyata sangat disukai Allah Swt. Niat puasa Daud yaitu:

َ َ ً َّ ُ َ َ ْ َ ُ ْ َ َ ‫ِهلل ت َعالى‬ ِ ‫نويت صوم غ ٍد سنة‬ FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

105

Artinya: “Saya niat puasa esok hari sunnah karena Allah Ta‘ alaa“ C. Hukum Puasa Sunnah Hukum puasa sunnah adalah tidak wajib, akan tetapi puasa sunnah merupakan puasa yang dianjurkan untuk dijalankan oleh semua umat Islam. Jika umat Islam melakukannya maka mereka akan mendapatkan pahala, sedangkan jika tidak melakukannya maka akan tidak mendapat dosa, akan tetapi rugi jika tidak melakukan karena tidak mendapatkan pahala. D. Hikmah Puasa Sunnah 1. Melatih diri mengendalikan hawa nafsu Larangan untuk makan, minum dan menahan hawa nafsu adalah sebuah latihan untuk membuat kita mampu mengelola hawa nafsu dan emosi. Puasa sunnah juga mengajarkan kita untuk sabar dan makan dengan jumlah yang sewajarnya saat sahur dan berbuka. 2. Melatih kesederhanaan hidup Normalnya ketika kita berpuasa, konsumsi makanan akan berkurang dibanding harihari biasa. Ini bisa melatih kita untuk hidup sederhana dan bercermin pada nasib orang lain yang tidak seberuntung kita. Dengan melakukan puasa kita bisa lebih mudah merasakan hal yang sama dengan orang-orang yang kurang beruntung. 3. Menjaga kesehatan tubuh Dengan melakukan puasa, secara otomatis membuat tubuh membuang racun-racun di dalamnya sekaligus beristirahat dari segala macam makanan dan minuman yang tidak menyehatkan. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa puasa bisa membantu menurunkan kadar gula dan kolesterol dalam darah. Puasa sunnah bisa menjadi pilihan ibadah yang menyehatkan untuk kita. 4. Membiasakan diri untuk taat beribadah Puasa sunnah ada banyak jenisnya karena hukumnya tidak wajib, maka banyak orang yang pasti merasa berat melakukannya. Memilih salah satu dari jenis puasa sunnah dan melakukannya secara terus menerus akan membuat kita terbiasa dalam beribadah. Dengan melaksanakan ibadah sunnah, ibadah wajib pun akan menjadi semakin mudah dilaksanakan. 5. Meniru kebiasaan mulia Rasulullah Saw. Rasulullah Saw. adalah sebaik-baiknya suri tauladan, segala kebaikan yang dilakukan oleh beliau adalah contoh yang patut kita tiru, termasuk kebiasaannya melakukan

106

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

puasa sunnah. Saat ibadah sunnah dilakukan secara baik, ini akan menjadikan kita pengikut Rasulullah Saw. yang beruntung.

Kamus Mini Sunnah Ayyamul bidh Tarwiyah Yaumu Asyura Puasa Daud

: dikerjakan mendapat pahala, ditinggalkan tidak berdosa : hari putih : membawa bekal air : hari pada tanggal kesepuluh bulan Muharram : puasa yang dilakukan secara selang-seling

Insya Allah Aku Bisa Aku bisa melaksanakan puasa sunnah dengan ikhlas

Ingat-ingat Ya! Orang yang berpuasa akan dilipat gandakan pahalanya maka jangan suka riya’ tapi perbanyaklah amal shalih

Hikmah Orang yang berpuasa akan mendapatkan rahmat Allah dan pengampunan dari Allah Swt.

Berilah tanda centang (√) pada kotak jika pernyataan di bawah ini kamu anggap benar atau salah! No 1. 2. 3.

Pernyataan

Benar

Salah

Puasa sunnah adalah ibadah yang tidak wajib dilakukan oleh umat Islam. Menjalankan puasa sunnah tidak perlu melakukan niat. Puasa tarwiyah adalah puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

107

4.

Puasa Daud yaitu puasa yang dilakukan secara selangseling (sehari puasa, sehari tidak)

5.

Jika puasa Ramadlan hukumnya wajib dan merupakan ibadah inti, maka puasa sunnah adalah ibadah pelengkap.

Lembar pengamatan hafalan niat puasa sunnah Senin Kamis. Nama : .......................... No. Absen : .......................... Skor No.

Aspek yang dinilai

1.

Kelancaran dalam melafadzkan

2.

Keutuhan bacaan do’a

3.

Keurutan bacaan do’a

4.

Mengartikan bacaan do’a

Nilai = Jumlah perolehan skor x 100 Skor maksimal

108

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

4 Sangat Baik

3 Baik

2

1

Cukup

Perlu Bimbin gan

Jumlah skor

1. Puasa sunnah adalah puasa yang tidak wajib dilakukan oleh umat Islam. Jika melakukannya akan mendapatkan pahala sedangkan jika tidak melakukannya tidak mendapatkan dosa. 2. Hukum puasa sunnah adalah tidak wajib, akan tetapi puasa sunnah merupakan puasa yang dianjurkan untuk dijalankan oleh semua umat Islam. 3. Beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang muslim yang melakukan puasa sunnah yaitu niat di malam hari atau sampai pada waktu dzuhur di hari puasa tersebut, makan sahur pada dini hari, menghindari makan dan minum serta hal-hal yang dapat membatalkan puasa, menahan diri dari perbuatan tercela dan menjaga lisan dari perkataan yang kotor, memperbanyak amal ibadah dan berdoa serta sedekah, menyegerakan berbuka jika telah mendengar adzan Maghrib, dan berdoa ketika berbuka. 4. Jenis-jenis puasa sunnah diantaranya puasa Senin Kamis, puasa Asyura, puasa Sya’ban, puasa Syawal, puasa Tarwiyah, puasa Arofah, puasa Ayyamul bidh, puasa Dawud 5. Hikmah puasa sunnah diantarnya melatih diri mengendalikan hawa nafsu, melatih kesederhanaan hidup, menjaga kesehatan tubuh, membiasakan diri untuk taat beribadah, meniru kebiasaan mulia Rasulullah Saw.

Hikmah Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah seperti bau kasturi.

Sikapku Berilah tanda centang (√) pada kolom Ya atau Tidak sesuai dengan pendapatmu! No. 1.

Uraian Aku menyakini bahwa puasa sunnah mendatangkan keberkahan dari Allah Swt.

Ya

Tidak

akan

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

109

2.

Aku bisa melaksanakan puasa sunnah dengan sabar dan terus menerus

3.

Aku akan memperbanyak puasa sunnah setiap kali datang waktunya

4

Aku akan melaksanakan kemapuanku

5.

Aku sangat senang menjalankan puasa sunnah walaupun tidak wajib

puasa

sunnah

sesuai

1. Disunnahkan puasa hari Senin karena ... dan hari Kamis karena .... 2. Puasa sunnah yang dilakukan minimal tiga kali dalam sebulan disebut puasa .... 3. Puasa Arofah dilaksanakan pada tanggal .... 4. Puasa sunnah yang dilakukan dengan cara selang seling sehari puasa sehari tidak disebut .... 5. Salah satu hikmah puasa sunnah adalah ....

Ayo ceritakankan pengalamanmu menjalankan salah satu puasa sunnah! Aku Melakukan Puasa Sunnah ....

110

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Kompetensi A. Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, atau c di depan jawaban yang paling tepat! 1. Di bawah ini yang bukan jenis puasa sunnah adalah .... a. puasa Arofah dan puasa Dawud b. puasa Sya’ban dan puasa Syawal c. puasa Tarwiyah dan puasa Tasryik 2. Puasa sunnah yang dikerjakan pada bulan Dzulhijjah adalah … a. puasa Sya’ban b. puasa Arafah c. puasa Asyura 3. Setelah bulan Ramadan selesai, Umar selalu mengerjakan puasa selama 6 hari. Puasa yang dimaksud adalah … a. puasa Syawal b. puasa Arafah c. puasa Muharram 4. Hari yang diharamkan untuk berpuasa adalah … a. hari Senin dan Kamis b. hari Muharam c. hari Tasyrik 5. Keutamaan puasa 6 hari pada bulan Syawal adalah … a. seperti mengerjakan puasa sepanjang masa b. diampuni dosa pada setahun yang akan datang c. diampuni dosa yang telah dikerjakan pada setahun yang lalu 6. Puasa yang dikerjakan pada tanggal 9 Dzulhijjah adalah .... a. Puasa Asyura b. Puasa Arafah c. Puasa Tarwiyah 7. Berikut yang merupakan manfaat mengerjakan puasa Arafah adalah … a. seperti mengerjakan puasa sepanjang masa b. diampuni dosa yang telah dikerjakan pada setahun yang lalu c. diampuni dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang 8. Berikut yang merupakan sunnah puasa adalah … a. menunda waktu berbuka b. mengakhirkan makan sahur c. mengerjakan shalat berjamaah di masjid

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

111

9. Puasa sunnah yang dikerjakan pada bulan Muharam dinamakan .... a. puasa Arafah b. puasa Asyura c. puasa Tarwiyah 10. Puasa sunnah yang dikerjakan dengan cara selang-seling sehari puasa sehari tidak disebut .... a. puasa Ayyamul bidh b. puasa Asyura c. puasa Dawud B. Isilah titik-titik dibawah ini dengan jawaban yang benar! 11. Hukum puasa sunnah adalah .... 12. Puasa sunnah Tarwiyah dan Arafah dilaksanakan pada tanggal .... 13. Puasa sunnah yang dilaksanakan enam hari setelah hari raya Idul Fitri dinamakan .... 14. Perhatikan niat puasa berikut!

َ َ ً َّ ُ َ َ َ َ ْ َ َ َ ْ َ ُ ْ َ َ ‫ِهلل ت َعالى‬ ِ ‫نويت صوم غ ٍد ِﻟيو ِم عﺮفة سنة‬

Niat di atas untuk melaksanakan puasa .... 15. Puasa sunnah yang dikerjakan pada bulan Muharram dinamakan ....

C. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan tepat! 16. Sebutkan 5 macam puasa Sunnah! 17. Jelaskan 4 hal yang harus dilakukan seorang muslim ketika melakukan puasa sunnah! 18. Jelaskan apa hikmah melaksanakan puasa Arafah! 19. Sebutkan 4 hikmah melaksanakan puasa sunnah! 20. Tuliskan dengan lengkap niat puasa sunnah Senin dan Kamis!

112

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

113

KOMPETENSI INTI

Tabel VIII. 1 Kompetensi Inti KOMPETENSI INTI 1

KOMPETENSI INTI 2 (SIKAP SOSIAL)

KOMPETENSI INTI 3 (PENGETAHUAN)

KOMPETENSI INTI 4 (KETERAMPILAN)

(SIKAP SPIRITUAL) 1. Menerima, 2. Menunjukkan menjalankan, perilaku jujur, dan disiplin, tanggung menghargai jawab, santun, ajaran agama peduli, dan percaya yang dianutnya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya

3. Memahami 4. Menyajikan pengetahuan faktual pengetahuan faktual dengan cara dalam bahasa yang mengamati jelas, sistematis dan [mendengar, logis, dalam karya melihat, membaca] yang estetis, dalam dan menanya gerakan yang berdasarkan rasa mencerminkan anak ingin tahu tentang sehat, dan dalam dirinya, makhluk tindakan yang ciptaan Tuhan dan mencerminkan kegiatannya, dan perilaku anak benda-benda yang beriman dan dijumpainya di berakhlak mulia rumah dan di sekolah

KOMPETENSI DASAR

Tabel VIII. 2 Kompetensi Dasar 4.9

114

Menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam shalat Tarawih dan Witir

2.8 Menjalankan perilaku sabar dan disiplin sebagai implementasi dari mempelajari shalat sunnah Tarawih dan Witir

3.12 Menerapkan tata cara shalat Tarawih dan Witir

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

4.20 Mempraktikkan shalat Tarawih dan Witir

INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

Peserta didik mampu: 4.9.1 Menerima nilai-nilai kandungan shalat Tarawih dan Witir 4.9.2 Menghayati nilai-nilai kandungan shalat Tarawih dan Witir 2.8.1 Menunjukkan perilaku sabar menjalankan shalat sunnah Tarawih dan Witir 2.8.2 Menunjukkan perilaku disiplin menjalankan shalat sunnah Tarawih dan Witir 3.12.1 Menjelaskan ketentuan shalat tarawih dan witir 3.12.2 Menjelaskan waktu dan bilangan rakaat shalat tarawih dan witir 3.12.3 Menjelaskan tata cara shalat tarawih dan witir 4.20.1 Menghafalkan doa sesudah shalat tarawih dan witir 4.20.2 Menuliskan pengalaman mengerjakan shalat tarawih dan witir 4.20.3 Mempraktikkan shalat Tarawih dan Witir

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

115

PETA KONSEP Menerima nilai-nilai kandungan shalat Tarawih dan Witir

Sikap Spiritual

Menghayati nilai-nilai kandungan shalat Tarawih dan Witir

Menunjukkan perilaku sabar menjalankan shalat sunnah Tarawih dan Witir Sikap Sosial Menunjukkan perilaku disiplin menjalankan shalat sunnah Tarawih dan Witir

Shalat Tarawih dan Witir

Menjelaskan ketentuan shalat tarawih dan witir

Pengetahuan

Menjelaskan waktu dan bilangan rakaat shalat tarawih dan witir

Menjelaskan tata cara shalat tarawih dan witir

Menghafalkan doa sesudah shalat tarawih dan witir

Keterampilan

Menuliskan pengalaman mengerjakan shalat tarawih dan witir

Mempraktikkan shalat Tarawih dan Witir

116

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Shalat tarawih hanya dilaksanakan pada malam bulan Ramadlan, sayang sekali jika kita melewatkan begitu saja. Supaya berkah Ramadlan sebanyak-banyaknya kita dapatkan, maka shalat tarawih sebaiknya kita laksanakan setiap hari agar kita mendapat pahala yang berlipat ganda. Gambar berikut ini jamaah sedang melaksanakan shalat tarawih, amati dan diskusikan dengan kelompokmu!

Gambar VIII. 1 Jamaah shalat tarawih

1. Ceritakan gambar di atas menurut pengamatanmu dan kelompokmu ! 2. Kapan dan dimana biasanya shalat tarawih dilaksanakan? 3. Kemukakan hasil diskusi kelompokmu di depan kelas! Pada pelajaran kali ini kita akan belajar bersama tentang tata cara pelaksanaan shalat tarawih dan witir. Ayo ikuti pembahasannya berikut ini!

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

117

A. Ketentuan Shalat Tarawih dan Witir 1. Pengertian dan Hukum Shalat Tarawih dan Witir a.

Pengertian dan hukum shalat tarawih Shalat tarawih adalah shalat sunnah yang dilakukan pada malam hari setelah shalat isya’ pada bulan Ramadan. Shalat tarawih boleh dikerjakan sendirisendiri atau berjamaah. Istilah tarawih berasal dari kata “raha” artinya istirahat. Disebut demikian karena pada shalat tarawih ada waktu untuk beristirahat sejenak, khususnya setelah dua kali salam (empat rakaat). Ada juga yang berpendapat bahwa arti tarawih adalah santai. Shalat tarawih disebut juga dengan Qiyamu Ramadan

Sabda Rasul Saw.:

“ Barang siapa mengerjakan shalat (sunnah di malam hari) bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala (Allah), niscaya dosadosanya yang terdahulu diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

yaitu ibadah sunnah yang dikerjakan pada malam Ramadan. Hukum melaksanakannya adalah sunnah muakkad. b.

Pengertian dan hukum shalat witir Shalat witir adalah shalat sunnah yang jumlah rakaatnya ganjil yang dilakukan pada malam hari setelah Isya’ sampai menjelang fajar. Hukum melaksanakan shalat witir adalah sunnah.

2. Waktu dan Bilangan Shalat Tarawih dan Witir a. Waktu dan bilangan rakaat shalat tarawih Waktu pelaksanaan shalat tarawih adalah setelah shalat Isya’ pada malam bulan Ramadan sampai menjelang terbit fajar/waktu shalat Subuh. Jumlah bilangan rakaat shalat tarawih ada yang 8 rakaat dan ada yang 20 rakaat. b. Waktu dan bilangan rakaat shalat witir Waktu pelaksanaan shalat witir adalah setelah salat Isya’ sampai menjelang terbit fajar, namun pada bulan Ramadan shalat witir dilaksanakan setelah shalat tarawih. Jumlah rakaat shalat witir paling sedikit satu rakaat dan paling banyak 11 rakaat.

3. Cara Mengerjakan Shalat Tarawih dan Witir a. Cara Mengerjakan Shalat Tarawih Niat shalat tarawih 2 rakaat dan cara mengerjakannya yaitu:

118

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

َ َ َّ َ َّ ُ ِّ َ ُ ْ ‫ﺍﻟت َرﺍﻭ ْيح َر ْك َع َت ْيﻥ ُم ْس َت ْقب َل ْﺍﻟق ْب َلة َم ْأ ُم‬ ً ‫ِهلل ت َعالى‬ ‫ا‬ ‫م‬ ‫و‬ ‫ﺍص ِلى سنة‬ ِ ِ ِ ِ ِ ِِ Artinya : “Saya niat shalat tarawih dua rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah Ta’alaa” Bagi orang yang mengerjakan shalat tarawih dua rakaat cara mengerjakannya adalah setiap dua rakaat salam sampai genap delapan rakaat atau dua puluh rakaat dan ditutup dengan shalat sunnah witir 3 rakaat. b. Niat Shalat Witir dan Cara Mengerjakannya 1) Niat shalat witir satu rakaat

َ َ ْ ُ ْ َ َ َ َ ْ ْ ْ َ ْ ُ ً َ ْ َ ْ ْ َ ًّ ُ ِّ َ ُ ‫ِهلل ت َعالى‬ ِ ‫ﺍص ِلى سنة ﺍﻟ ِوت ِﺮركعة مستق ِب َل ﺍﻟ ِقبل ِة ﺍد ًﺍء مأمو ًما‬ Artinya : “Saya niat shalat witir satu rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah Ta’alaa”. 2) Niat shalat witir tiga rakaat

َ َ َ َ َ َ ْ ْ َ ًّ ِّ َ ُ ْ ‫ات ُم ْس َت ْقب َل ْﺍﻟق ْب َلة َﺍ َد ًﺍء َم ْأ ُم‬ ً ‫ِهلل ت َعالى‬ ‫ﺍ‬ ‫ا‬ ‫م‬ ‫و‬ ٍ ‫ص ِلى ُسنة ﺍﻟ ِوت ِﺮ ثالث َرك َع‬ ِ ِ ِ ِ Artinya: “Saya niat shalat witir tiga rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah Ta’alaa.” Cara mengerjakan shalat witir yaitu: jika mengerjakan salat witir 3 rakaat maka dikerjakan langsung salam tanpa tahiyat awal.

B. Doa sesudah Shalat Tarawih dan Witir 1. Doa sesudah Shalat Tarawih Setelah melaksanakan shalat, biasanya kita selalu berdoa. Begitu juga setelah shalat Tarawih. Tahukah kamu, doa apa yang dibaca setelah shalat Tarawih? Ayo kita baca doa sesudah melaksanakan shalat Tarawih berikut ini:

َ َ َّ َ َ ْ َ َ َّ َ َ ْ ِّ َ ُ ْ ‫ﻟله َّﻢ‬ َ َ ْ َ َ ْ َ َ ْ ْ ‫ﺍج َع ْل َنا ب‬ ُ ‫ َﺍ‬. ‫َﻭْلَا ِع ْن َد َك‬ ‫اع ِل ْي َﻥ‬ ‫ ﻭِﻟ‬.‫ض مؤ ِدﻳن‬ ِ ‫ ﻭِﻟلزك ِاة ف‬.‫لصال ِة ﺣا ِف ِظيﻥ‬ ِ ِ ِ ِ ‫ ﻭِﻟلفﺮ ِﺍئ‬.‫اْلﻳﻤ ِاﻥ ك ِام ِليﻥ‬ َ ْ ْ َّ ْ ْ َ ْ َ َ َ َ َ َ ُّ َ َ ْ ْ ْ ْ َ َ َ َ َ َ َ ْ ْ َ ِّ ُ ُ َ ‫آلخ َﺮ ِة‬ ِ ‫ ﻭ ِفى ﺍ‬.‫ ﻭ ِفى ﺍﻟدنيا ز ِﺍه ِدﻳن‬.‫ ﻭع ِن ﺍﻟلغ ِو مع ِﺮ ِضيﻥ‬.‫ ﻭ ِباﻟ ُهدى متﻤ ِس ِكيﻥ‬.‫ ﻭِﻟعف ِوك َر ِﺍجيﻥ‬.‫ط ِاﻟ ِبيﻥ‬ َ َ ْ َ َ َ ْ َ . ‫هللا‬ ُ َّ َ َ ُ َ َ َ ْ َ َ َ ْ َ َ َ ْ َ َ َ َ ْ َ َ ْ َّ َ ‫ﺍض ْي َﻥ‬ ِ ‫ ﻭتحت ﻟو ِﺍء مح َّﻤ ٍد صلى ر‬.‫ ﻭعلى ﺍﻟبال ِء ص ِاب ِﺮين‬.‫ﻭِﻟلنعﻤ ِاء ش ِاك ِﺮين‬ ِ ‫ ﻭباﻟقض ِاء َر‬.‫ﺍغ ِبيﻥ‬ َ َّ َ َ َ ْ َ َّ َ ْ َ َ َ ْ َ ْ َ ْ َ َ َ ْ َ َ َ ْ َ ْ َ َ َّ َ َ ْ َ َ ‫ َﻭ َعلى‬.‫ﺍﻟن ِار ن ِاج ْي َﻥ‬ ‫ ﻭ ِمن‬.‫ ﻭ ِإلى ﺍلجن ِة د ِﺍخ ِليﻥ‬.‫ض ﻭﺍ ِر ِدﻳن‬ ِ ‫علي ِه ﻭسلﻢ ﻳوم ﺍﻟ ِقيام ِة س ِائ ِﺮين ﻭ ِإلى ﺍلحو‬ FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

119

َ َ َ َ َْ ْ َ ‫ َﻭ ِم ْن‬.‫ َﻭ ِم ْن ُس ْن ُد ٍس َﻭِﺍ ْس َت ْب َر ٍق َﻭ ِد ْﻳ َب ٍاج ُم َتل ِِّب ِس ْي َﻥ‬.‫ َﻭ ِم ْن ُﺣ ْو ٍر ِع ْي ٍﻥ ُمت َز ِّ ِﻭ ِج ْي َﻥ‬.‫اع ِد ْﻳ َن‬ ِ ‫س ِﺮي ِﺮﺍﻟك َﺮﺍم ِة ﻗ‬ َ َْ َّ َ ‫ ب َأ ْك‬.‫ص ًّفى َشارب ْي َﻥ‬ َ ‫ َﻭم ْن َﻟ َبﻥ َﻭ َع َسل ُم‬.‫َط َعام ْﺍل َج َّنة آكل ْي َﻥ‬ ‫ َم َع ﺍﻟ ِذ ْﻳ َن‬.‫ﺍب َّﻭأ َبا ِرْي َق َﻭكأ ٍس ِِّم ْن َم ِع ْيﻥ‬ ‫و‬ ِِ ِ ٍ ٍ ِ ٍ ِ ِ ِِ ُ ْ َ ُّ َ َ َ َ ً ِّ ْ ‫ ذﻟ َك ﺍﻟف‬.‫ﺍﻟصالح ْيﻥ َﻭ َﺣ ُس َن أﻭﻟئ َك َرف ْيقا‬ َّ ‫َأ ْن َع ْﻤ َت َع َل ْيه ْﻢ م َن‬ َ‫ﺍﻟصد ْﻳق ْيﻥ َﻭﺍﻟش َهدآء ﻭ‬ َ‫ﺍﻟنب ِّي ْيﻥ ﻭ‬ ِّ َّ ُ‫ضل‬ ِ ِ ِ ِ ِِ ِ ِ ِ ِ ِ ِِ ْ َ َ ْ َ َّ ُ َ َّ َّ َََ َ َ َ َ َ ْ َ َ ْ ُّ ‫هذه ﺍﻟل ْيل ِة ﺍﻟش ْهﺮﺍﻟشﺮيف ِة ﺍْل َب َارك ِة من‬ ُ ‫ ﺍ‬.‫اهلل ع ِل ْي ًﻤا‬ ‫ﺍﻟسعد ِﺍء‬ ِ ‫هللا ﻭكفى ِب‬ ِ ‫ِمن‬ ِ ِ ِ ‫ﻟله َّﻢ ﺍجعلنا ِفى‬ ِ ِ َ ُ ‫ص َّلى‬ َ ‫هللا َع َلى َس ِّيد َنا ُم َح َّﻤ ٍد َﻭآﻟه َﻭ‬ َ ‫ َﻭ‬.‫ َﻭ َال َت ْج َع ْل َنا م َن ْﺍ َأل ْشق َياء ْﺍْلَ ْﺮ ُد ْﻭد ْﻳ َن‬.‫ْﺍْلَ ْق ُب ْوﻟ ْي َﻥ‬ .‫ص ْح ِبه أ ْج َﻤ ِع ْي َﻥ‬ ِ ِ ِِ ِ ِ ِ ِ َ َ‫ﺍﻟﺮﺍﺣﻤ ْي َﻥ َﻭ ْﺍل َح ْﻤ ُد ِّلِل َ ِّب ْﺍﻟ َع َاْل ْيﻥ‬ َ َ َ َ َْ ِ ِ ِ َّ ‫ِب َﺮﺣﻤ ِتك ﻳاأ ْرﺣﻢ‬ ِ‫ِ ِ ر‬ 2. Doa sesudah Shalat Witir Tahukah kamu, doa apa yang dibaca setelah shalat Witir? Ayo kita baca doa sesudah melaksanakan shalat Witir berikut ini:

ً َ ً ْ َ َ ُ َ ْ َ َ ً َ ً ْ َ ُ َ ْ َ َ ً َ ً ْ َ َ ُ َ ْ َ َ ً َ ً َ ْ َ ُ َ ْ َ َّ َّ ُ ٰ َ ،‫ص ِادﻗا‬ ‫ﻭنسأﻟك ﻳ ِقينا‬،‫ ﻭنسأﻟك ِعلﻤا نا ِفعا‬،‫اشعا‬ ِ ‫ ﻭنسأﻟك ﻗلبا خ‬،‫ﺍﻟلهﻢ ِإنا نسـأﻟك ِﺍﻳﻤانا دﺍ ِئﻤا‬ َ َ َ ْ َ َ ْ َ ْ َ ُ َ ْ َ َ ً ْ َ ً ْ َ َ ُ َ ْ َ َ ً ِّ َ ً ْ َ ُ َ ْ َ َ ً َ ً َ َ َ ُ َ ْ َ َ ،‫ ﻭنسأﻟك ﺍﻟعفو ﻭﺍﻟعا ِفية‬،‫ ﻭنسأﻟك خيرﺍ ك ِثيرﺍ‬،‫ ﻭنسأﻟك ِدﻳناﻗ ِيﻤا‬،‫ﻭنسأﻟك عﻤال ص ِالحا‬ ُّ َ ُ َ ْ َ َ َ َ ْ َ َ َ َ ُ َ ْ َ َ َّ ‫ َﻭ َن ْس َأ ُﻟ َك ْﺍﻟغ َن َاء َعن‬،‫ﺍﻟش ْك َﺮ َع َلى ْﺍﻟ َعاف َية‬ ‫اس‬ ‫ﺍﻟن‬ ‫ ﻭنسأﻟك‬،‫ﻭنسأﻟك تﻤام ﺍﻟعا ِفي ِة‬ ِ ِ ِ ِ ِ َ َ َ ‫ص َال َت َنا َﻭص َي َام َنا َﻭﻗ َي َام َنا َﻭ َت ُخ ُّش َع َنا َﻭ َت‬ ُ ‫ض ُّﺮ َع َنا َﻭت َع ُّب َد َنا َﻭ َت ِّﻤ ْﻢ َت ْقص ْي َرَنا َﻳا ﺍ‬ َ ‫َﺍ ٰﻟل ُه َّﻢ َرَّب َنا َت َق َّب ْل م َّنا‬ ‫هلل‬ ِ ِ ِ ِ ِ َ َ َ َ ْ َّ ُ ‫صلى‬ َ ‫هللا َعلى َخ ْير َخلقه ُم َح َّﻤ ٍد َﻭ َعلى ﺍﻟه َﻭ‬ َ ‫ َﻭ‬.‫ﺍﻟﺮﺣﻤ ْي َﻥ‬ َ َ َ َ ُ َ َ ُ َ َ ،‫ص ْح ِب ِه ﺍ ْج َﻤ ِع ْي َﻥ‬ ِِ ِِ ِ ِ ِ َّ ‫ﻳاﺍهلل ﻳاﺍهلل ﻳاﺍ ْرﺣﻢ‬ َ ْ ُ َ ْ َ ‫ِهلل َر ِ ِّب ﺍﻟ َع ِاْل ْي َﻥ‬ ِ ‫ﻭﺍلح ْﻤد‬ C. Keutamaan Shalat Tarawih dan Witir 1. Keutamaan Shalat Tarawih Suatu ketika Nabi Muhammad Saw. ditanya tentang keutamaan shalat tarawih dalam bulan Ramadan, maka beliau menjawab : 

Pada malam ke-1, keluarlah dosa orang mukmin (yang melakukan shalat tarawih) sebagaimana ibunya melahirkan ia di dunia.



Pada malam ke-2, orang yang melaksanakan shalat tarawih akan diampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin.



Pada malam ke-3, jika melaksanakan shalat tarawih para malaikat menyeru dari bawah ‘Arsy: “Mulailah untuk melakukan amal kebajikan, maka Allah Swt. akan mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu”.



Pada malam ke-4, orang yang beriman akan mendapat pahala layaknya orang yang membaca kitab Taurot, Zabur, Injil dan Al-Qur’an.

120

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3



Pada malam ke-5, Allah Swt. akan menganugerahkan pahala layaknya orang yang shalat di Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha.



Pada malam ke-6, Allah Swt. memberikan padanya pahala seperti pahala bagi orang yang melakukan thowaf di Baitul Makmur dan Bebatuan memohonkan ampunan baginya.



Pada malam ke-7, bagi yang melaksanakan shalat tarawih seakan-akan menemui zaman Nabi Musa as. dan menolongnya dari serangan bala tentara Fir'aun dan Haman.



Pada malam ke-8, Allah Swt. akan memberikan segala sesuatu yang sudah diberikan-Nya kepada Nabi Ibrahim as.



Pada malam ke-9, orang yang shalat tarawih mendapat pahala seperti layaknya pahala ibadah yang dilakukan oleh para Nabi.



Pada malam ke-10, Allah Swt. akan memberikan kebaikan dunia dan akhirat bagi yang shalat tarawih.



Pada malam ke-11, bagi orang yang shalat tarawih kelak ia akan keluar dari dunia (mati) seperti hari di mana ia baru dilahirkan dari rahim ibunya.



Pada malam ke-12, dia akan berjalan di hari kiamat dengan wajah yang bersinar bagaikan rembulan di bulan purnama.



Pada malam ke-13, pada saat hari kiamat tiba, yang melaksanakan shalat tarawih akan selamat dari segala macam keburukan.



Pada malam ke-14, malaikat menjadi saksi bagi yang tarawih, sehingga kelak di hari kiamat dia tidak perlu dihisab (dihitung) amalnya.



Pada malam ke-15, seluruh malaikat dan malaikat yang menyangga ‘Arsy bersamasama mendoakan selamat kepada orang yang shalat tarawih.



Pada malam ke-16, Allah Swt. kelak akan menulisnya termasuk ke dalam golongan orang yang selamat dari api neraka dan mendapat keberuntungan masuk surga.



Pada malam ke-17, yang shalat tarawih akan diberi pahala seperti layaknya para Nabi.



Pada malam ke-18, para Malaikat berseru: “Hai hamba Allah (shalat tarawih), sesungguhnya Allah Swt. telah memberi ampunan kepadamu dan kedua orang tuamu”.



Pada malam ke-19, Allah Swt. kelak akan mengangkat derajat yang shalat tarawih di surga Firdaus.

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

121



Pada malam ke-20, bagi yang shalat tarawih diberi pahala layaknya orang yang mati syahid dan orang-orang shalih.



Pada malam ke-21, Allah Swt. kelak akan membangunkan untuknya sebuah rumah yang terbuat dari cahaya di surga.



Pada malam ke-22, jika hari kiamat kelak tiba, maka yang akan selamat dari segala bentuk kesusahan dan kebingungan.



Pada malam ke-23, Allah Swt. akan membangunkan sebuah kota di Surga ini tentunya bagi yang shalat tarawih.



Pada malam ke- 24, bagi yang shalat tarawih Allah Swt. memberikan 24 do’a yang akan dikabulkan.



Pada malam ke-25, Allah Swt. akan menghilangkan siksa kubur untuknya.



Pada malam ke- 26, Allah Swt. meningkatkan baginya pahala selama 40 tahun.



Pada malam ke-27, tiba di hari kiamat kelak, dia akan melewati jembatan (syirathal mustaqiim) seperti kilat yang menyambar.



Pada malam ke-28, Allah Swt. mengangkat seribu derajat baginya di dalam surga.



Pada malam ke-29, Allah Swt. akan memberikan pahala seribu (1.000) kali ibadah haji yang diterima.



Pada malam ke-30, Allah Swt. berfirman: “Wahai hambaku makanlah buah surga, minumlah minuman surga, mandilah dari air surga, Aku Tuhanmu dan kamu hamba-Ku”.

Demikian penjelasan kitab Durratun Nasihin. Dalam riwayat itu setiap tarawih pada malam-malam Ramadan mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri, seakan akan bila tertinggal salah satu malam tidak dapat digantikan malam yang lain.

2. Keutamaan Shalat Witir Shalat witir memiliki keutamaan antara lain: a. Sebagai tambahan shalat Shalat witir sebagai shalat tambahan. Hadis Nabi menjelaskan bahwa shalat witir adalah shalat yang dianjurkan untuk dikerjakan di antara waktu shalat fardlu yakni isya’ dan sebelum waktu subuh datang. b. Sebagai penyempurna shalat malam Shalat witir adalah penutup dari shalat malam yang dilaksanakan baik sebelum maupun setelah bangun tidur dan tanpa shalat witir tidak akan sempurna shalat malam atau qiyamul lail seseorang.

122

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

c. Shalat witir dicintai Allah Allah sangat menyukai sesuatu yang ganjil karena Allah adalah satu. Sebagaimana rakaat shalat witir yang ganjil, dan witir merupakan salah satu ibadah yang dicintai Allah. d. Dikabulkan doanya Waktu melaksanakan shalat witir adalah waktu yang tepat untuk berdoa dan merupakan waktu yang dekat dengan Allah Swt. e. Shalatnya disaksikan malaikat Shalat witir yang dilaksanakan di penghujung malam disaksikan oleh malaikat dan malaikat tentunya akan membawa berkah dan ikut mendoakan kita kepada Allah Swt. f. Tidak pernah ditinggalkan Rasulullah Saw. Rasul tidak pernah meninggalkan shalat witir dan apabila ia meninggalkannya, beliau akan mengqadha shalat witir yang ditinggalkannya tersebut. g. Diberi petunjuk dan kekuatan oleh Allah Swt. Orang yang melaksanakan shalat witir akan senantiasa merasa kuat dalam menghadapi cobaan di dunia ini dan doanya akan senantiasa di dengar oleh Allah Swt.

Kamus Mini Raha

: istirahat

Witir

: ganjil

Qiyamul lail

: amalan ibadah shalat pada malam hari

Qiyamu Ramadan

: ibadah sunnah yang dikerjakan pada malam Ramadan

Sunnah

: dikerjakan mendapat pahala ditinggalkan tidak berdosa

Sunnah Muakkad

: sunnah yang sangat dianjurkan untuk melakukannya

Syirathal mustaqim : jalan yang lurus

Insya Allah Aku Bisa Aku bisa melaksanakan shalat tarawih dan witir dengan ikhlas

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

123

Ingat-ingat Ya! Shalat tarawih dan witir jangan dilaksanakan dengan tergesa-gesa

Hikmah Sesungguhnya Allah Swt. itu ganjil. Dia suka witir (shalat ganjil) maka shalat witirlah kamu hai ahli al-Qur’an. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Pasangkan malam bulan Ramadlan di bawah ini dan keutamaan shalat Tarawih dengan cara menarik garis anak panah!

Pada malam ke-17

Pada malam ke-19

Pada malam ke-21

Pada malam ke-23

Pada malam ke-25

Pada malam ke-28

124

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Allah Swt. kelak akan membangunkan untuknya sebuah rumah yang terbuat dari cahaya di surga. Allah Swt. akan membangunkan sebuah kota di Surga ini tentunya bagi yang shalat tarawih Allah Swt. mengangkat seribu derajat baginya didalam surga. Allah Swt. akan menghilangkan siksa kubur untuknya. Yang shalat tarawih akan diberi pahala seperti layaknya para Nabi. Allah Swt. kelak akan mengangkat derajat yang shalat tarawih di surga Firdaus.

Berilah tanda centang (√) pada kotak jika pernyataan di bawah ini kamu anggap benar atau salah! No. 1.

Pernyataan

Benar

Shalat tarawih sebaiknya dilakukan dengan cepat

3.

Shalat tarawih kita lakukan hanya pada malam bulan Ramadan Shalat tarawih boleh dilaksanakan sebelum shalat Isya’

4.

Shalat tarawih ditutup dengan melaksanakan shalat witir

5.

Shalat tarawih lebih baik dikerjakan secara berjamaah

2.

Salah

Lembar Pengamatan Hafalan Do’a Setelah Shalat Tarawih. Nama : ................................ No. Absen : ................................ Skor No.

Aspek yang dinilai

1.

Kelancaran dalam melafadzkan

2.

Keutuhan bacaan do’a

3.

Keurutan bacaan do’a

4 Sangat Baik

3 Baik

2

1

Cukup

Perlu Bimbin gan

Jumlah skor

Nilai = Jumlah perolehan skor x 100 Skor maksimal

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

125

1. Shalat tarawih adalah shalat sunnah yang dilakukan pada malam hari di bulan Ramadan yang boleh dikerjakan dengan berjamaah atau munfarid. 2. Shalat witir adalah shalat sunat yang jumlah rakaatnya ganjil dan pada bulan Ramadan dikerjakan sebagai penutup shalat Tarawih. 3. Hukum melaksanakan shalat tarawih adalah sunnah muakkad, sedangkan hukum melaksanakan shalat witir adalah sunnah. 4. Shalat tarawih bisa dikerjakan sebanyak 8 atau 20 rakaat. 5. Waktu pelaksanaan shalat Tarawih antara setelah shalat Isya’ sampai terbit fajar (waktu shalat Subuh). 6. Jumlah rakaat shalat Witir paling sedikit satu rakaat dan pada umumnya dilaksanakan 3 rakaat. 7. Keutamaan shalat witir antara lain: (a) pahalanya lebih baik dari pada harta dunia, (b) pelakunya dicintai oleh Allah, (c) menghindarkan dari perbuatan yang buruk, (d) memberikan tambahan pahala.

Hikmah “Biasakanlah dirimu untuk shalat malam karena hal itu tradisi orang-orang shalih sebelummu, mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, menolak penyakit, dan pencegah dari dosa.” (HR. Ahmad)

Sikapku Berilah tanda centang (√) pada kolom Ya atau Tidak sesuai dengan pendapatmu! No. 1. 2. 3. 4. 5.

126

Uraian Aku dapat menghargai kaum muslimin yang mengerjakan shalat tarawih dengan rakaat yang berbeda Aku berusaha untuk melaksanakan shalat tarawih dan witir secara berjamaah di masjid atau mushola Aku berusaha mengerjakan shalat tarawih dan witir setiap malam di bulan Ramadan Aku berusaha ingin meraih malam Lailatul Qodar Aku meyakini bahwa Allah mencintai orang yang

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Ya

Tidak

mengerjakan shalat witir

1. Shalat sunnah yang dilaksanakan pada malam bulan Ramadan adalah …. 2. Shalat tarawih ditutup dengan melaksanakan shalat …. 3. Bilangan rakaat shalat witir minimal … rakaat 4. Hukum melaksanakan shalat tarawih adalah …. 5. Shalat tarawih sebaiknya dilaksanakan secara ….

Ayo ceritakankan pengalamanmu melaksanakan shalat tarawih dan witir bersama temanmu di mushola atau masjid! Silahkan dapat dituliskan pada lembar di bawah ini!

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

127

Kompetensi A. Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, atau c di depan jawaban yang paling tepat! 1. Shalat sunnah yang hanya dikerjakan pada bulan Ramadan adalah .... a. shalat witir b. shalat tarawih c. shalat istikharah 2. Tarawih secara bahasa artinya .... a. damai b. istirahat c. tergesa-gesa 3. Jumlah rakaat shalat tarawih adalah .... a. 8 dan 20 b. 11 dan 20 c. 20 dan 23 4. Shalat Tarawih dikerjakan setelah .... a. Maghrib b. Witir c. Isya' 5. Perbedaan shalat Tarawih dengan shalat Witir adalah .... a. gerakan shalat b. jumlah rakaat c. rukun shalat 6. Batas waktu mengerjakan shalat tarawih yaitu antara .... a. setelah shalat maghrib sampai sebelum shalat isya’ b. setelah shalat isya’ sampai terbit fajar shadiq c. setelah shalat isya’ sampai sepertiga malam 7. Malam yang lebih utama dari seribu bulan disebut .... a. Lailatul mubarrak b. Lailatu qadar c. Qiyamul lail 8. Shalat Tarawih disebut dengan .... a. Qiyamu Mahmudah b. Qiyamu Ramadan c. Qiyamul Lail

128

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

9. Orang yang melaksanakan shalat tarawih akan diampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin adalah keutamaan shalat tarawih malam ke .... a. 1 b. 2 c. 3 10. Perhatikan niat shalat berikut!

َ َ َ ُ ْ ‫ص ِّلى ُس ًّن َة ْﺍﻟو ْتﺮ َر ْك َع ًة ُم ْس َت ْقب َل ْﺍﻟق ْب َلة َﺍ َد ًﺍء َم ْأ ُم‬ ً ‫ِهلل ت َعالى‬ ‫ا‬ ‫م‬ ‫و‬ ِ ِ ِ ِ ِ ‫ﺍ‬ ِ ِ

Niat di atas adalah untuk shalat .... a. tarawih 2 rakaat b. witir 1 rakaat c. witir 3 rakaat B. Isilah titik-titik dibawah ini dengan jawaban yang benar! 11. Shalat Tarawih dikerjakan setelah .... 12. Mengerjakan shalat Tarawih hukumnya adalah .... 13. Allah Swt. akan menganugerahkan pahala layaknya orang yang shalat di Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha adalah keutamaan shalat tarawih malam ke .... 14. Jumlah rakaat shalat witir paling sedikit ... rakaat dan paling banyak ... rakaat. 15. Salah satu keutamaan shalat witir adalah pahalanya lebih baik dari pada ....

C. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan tepat! 16. Jelaskan pengertian shalat tarawih dan shalat witir? 17. Jelaskan apa keutamaan mengerjakan shalat tarawih pada malam ke-21? 18. Tuliskan dengan lengkap niat shalat tarawih 2 rakaat! 19. Kapan dilaksanakan shalat witir pada bulan Ramadan? 20. Sebutkan 3 keutamaan shalat witir!

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

129

Penilaian Akhir Tahun A. Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, atau c di depan jawaban yang paling tepat! 1. Puasa menurut bahasa berarti ... a. menahan b. mengingat b. mensucikan 2. Bagi orang yang sakit dan tidak lagi mampu berpuasa, maka baginya… a. wajib fidyah b. wajib qadha puasa c. wajib fidyah dan qadha puasa 3. Berikut ini yang dapat membatalkan puasa adalah .… a. sikat gigi siang hari b. muntah dengan sengaja c. berkumur-kumur sewaktu wudlu 4. Salah satu amalan sunnah dalam berpuasa Ramadan adalah .... a. melakukan niat puasa hanya karena Allah Swt. b. menahan makan dan minum di siang hari c. mengakhirkan makan sahur 5. Perhatikan tabel berikut! I Beragama Islam II Mumayiz III Kuat untuk berpuasa IV Suci dari darah haid dan nifas Yang merupakan syarat sah puasa adalah .... a. I, II, dan III b. I, II, dan IV c. II, III, dan IV 6. Berikut ini yang bukan merupakan hikmah dari pelaksanaan puasa Ramadan yaitu .... a. mengendalikan hawa nafsu b. mendidik kedisiplinan dan kejujuran c. melatih kesabaran dan tabah dalam menerima cobaan 7. Keutamaan bulan Ramadan yang menanamkan sikap peduli antar sesama untuk saling membantu adalah .... a. perintah untuk berpuasa b. perintah mengeluarkan zakat fitrah c. adanya malam Lailatul Qadar

130

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

8. Allah akan melipatgandakan pahala bagi orang yang beribadah dan beramal shalih pada malam Lailatul Qadar seperti beribadah selama .... a. 100 bulan b. 1.000 bulan c. 1.000 tahun 9. Perhatikan tabel berikut! I Membaca dan belajar al-Qur’an II I’tikaf di rumah III Memperbanyak sedekah IV Shalat tarawih dan witir Yang merupakan amalan di bulan Ramadlan adalah .... a. I, II, dan III b. II, III, dan IV c. I, III, dan IV 10. Puasa pada tanggal 10 Dzulhijjah hukumnya… a. haram b. mubah c. sunnah 11. Meninggalkan sesuatu yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai terbenam matahari termasuk… a. sunnah puasa b. rukun puasa c. syarat sah puasa 12. Perbuatan berikut yang mengakibatkan batalnya puasa adalah… a. berbohong kepada teman b. membicarakan aib orang lain c. minum air putih dengan sengaja 13. Diantara tanggal-tanggal berikut yang diharamkan berpuasa adalah ... a. 10 Muharram b. 9 Dzulhijjah c. 1 Syawal 14. Melaksanakan puasa di hari Tasyrik hukumnya adalah .... a. wajib b. haram c. sunnah 15. Perintah berpuasa oleh Allah Swt. ditujukan kepada mereka yang .... a. beriman b. bertaqwa c. selalu beramal shalih

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

131

16. Faktor yang menyebabkan seseorang boleh tidak berpuasa adalah .... a. musafir b. mukallaf c. mumayiz 17. Orang tua yang sudah renta dan pikun boleh meninggalkan puasa tetapi wajib baginya untuk.... a. mengqada puasanya b. membayar fidyah c. mengqada puasa dan membayar fidyah 18. Puasa sunnah yang dilaksanakan enam hari setelah hari raya Idul Fitri adalah puasa .... a. Arafah b. Assyura c. Syawal 19. Perhatikan tabel berikut! I Puasa Tasyrik II Puasa Arafah III Puasa Tarwiyah IV Puasa Dawud Yang termasuk puasa sunnah adalah .... a. I, II, dan III b. I, III, dan IV c. II, III, dan IV 20. Hikmah dilaksanakannya puasa Arafah antara lain adalah dapat menghapuskan dosa .... a. selama satu tahun yang lalu b. satu tahun yang akan datang d. satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang 21. Shalat sunnah yang hanya dikerjakan pada bulan Ramadlan adalah .... a. shalat witir b. shalat tarawih c. shalat istikharah 22. Waktu pelaksanaan shalat Tarawih yaitu antara .... a. setelah shalat Isya’ sampai terbit fajar b. setelah shalat Maghrib sampai shalat Isya’ c. setelah shalat Isya’ sampai sepertiga malam 23. Shalat sunnah witir adalah shalat sunnah …. a. yang jumlah rakaatnya ganjil b. yang dilaksanakan pada tengah malam c. yang dilaksanakan pada sepertiga malam yang terakhir

132

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

24. Perhatikan daftar berikut! I Pahalanya lebih baik dari harta dunia II Mencegah perbuatan yang baik III Dicintai Allah Swt. IV Memberikan tambahan pahala Yang termasuk keutamaan shalat witir adalah .... a. I, II, dan III b. I, III, dan IV c. II, III, dan IV 25. Jumlah rakaat shalat witir yang paling sedikit adalah .... a. 3 rakaat b. 2 rakaat c. 1 rakaat

B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan tepat! 1. Mengapa puasa Ramadan diwajibkan untuk orang-orang yang beriman? 2. Sebutkan orang-orang yang diperbolehkan meninggalkan puasa dan bagaimanakah ketentuan cara menggantinya! 3. Sebutkan 4 amalan-amalan yang dilaksanakan pada bulan Ramadan! 4. Sebutkan 4 hikmah yang terkandung dalam melaksanakan puasa sunnah? 5. Jelaskan keutamaan melaksanakan shalat tarawih pada malam pertama sampai malam ketiga!

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

133

1. Al-Qur’an al Karim 2. Abdul Hamid, Tuntunan Shalat Wajib dan Sunnah, Cet. 2, (Jogjakarta: Sairah, 2013). 3. Abdul Muiz, Panduan Shalat Terlengkap, Cet. 2, (Pustaka Makmur, 2013). 4. Achwan Salamun, M.Sholeh, Fiqih, (Surabaya: PT Prima Media, 2012). 5. Ainul Yaqin Makky Abdullah, Fikih, (Sidoarjo: Media Ilmu, 2010). 6. Ali Abu Bashal, Rukhsah Dalam Shalat Cet. 1, (Solo: Aqwam, 2013) 7. Andres Anwaruddin, Teguh Prawiro, Imam Mujtaba, Fiqih Cet.1, (Jakarta: Yudhistira, 2007). 8. Anis Tanwir Hadi, Memahami Fikih, (Solo: PT. Tiga Terangkai Pustaka, 2015). 9. Anis Tanwir Hadi, Pengantar Fikih 3, (Solo: PT Tiga Serangkai, 2009). 10. H. A. Nurzaman, , Fikih, Cet.1, (Semarang: PT. Thoha Putra, 2008). 11. Imam Bukhari, Sahih Bukhari(terj), (Jakarta: Wijaya, 1986). 12. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Cet.1, (Jakarta: 2015). 13. Moh. Rifa’i, Risalah Tuntunan Shalat Lengkap, Cet. 476, (Semarang: PT Karya Toha Putra, 2013). 14. Muhammad Anis Sumaji, 125 Masalah Puasa, Cet. 1, (Solo: Tiga Serangkai, 2008). 15. Muhammad Nurhan, Fikih, (Semarang: CV. Aneka Ilmu, 2009). 16. Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani, Tuntunan Shalat Sunnah (terj) Cet. 10, (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2005) 17. Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam, Cet. 37, (Bandar Lampung: Sinar Baru Algensindo, 2004). 18. Syaikh Khalid Sayyid Rusyah, Nikmahnya Beribadah, Cet.1, (Jakarta: Pustaka AlKautsar, 2006) 19. Tim Bina Karya Guru, Bina Fikih, (Jakarta: Erlangga, 2008). 20. Tim Nahdlatul Ulama’, Ensiklopedia Nahdlatul Ulama, Cet. 1, (Jakarta: Mata Bangsa dan PBNU, 2014). 21. Yusuf Qardhawi, Fiqh Ash-Shiam (terj), Cet. 3, (Solo: Era Intermedia, 2011).

134

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

Ash-shiyam/ash-shaum : menahan diri dari sesuatu

Ayyamul bidh

: hari putih

Baligh

: telah sampainya usia seseorang pada tahap kedewasaan

Duduk iftirasy

: duduk di atas kaki kiri sedangkan kaki kanan ditegakkan

Fardlu ‘ain

: kewajiban perorangan yang wajib dilakukan oleh seorang muslim dan tidak dapat diwakilkan

Fidyah

: memberi makan fakir miskin

I’tikaf

: berdiam diri di dalam masjid

Jama’

: menggabungkan

Jama’ ta’khir

: jamak yang diakhirkan

Jama’ taqdim

: jamak yang didahulukan

Lailatul Qadar

: malam kemuliaan

Mengqasar shalat

: mengurangi shalat yang 4 rakaat menjadi 2 rakaat

Menjama’ shalat

: mengumpulkan dua shalat menjadi satu

Mubah

: apabila dikerjakan maupun ditinggalkanpun tidak berdosa

Mukallaf

: orang yang terkena beban syariat

Mumayiz

: orang yang dapat membedakan antara baik dan buruk

Munfarid

: shalat yang dilaksanakan sendiri

Murtad

: keluar dari agama Islam

Musafir

: orang yang dalam perjalanan jauh

Musafir

: orang yang bepergian jauh dan kiranya tidak mampu melewati waktu-waktu shalat dengan pasti.

Nifas

: darah yang keluar setelah melahirkan

Nuzulul Qur’an

: turunnya al-Qur’an

Puasa Daud

: puasa yang dilakukan secara selang-seling

Qasar

: meringkas

Qiyamu Ramadan

: ibadah sunnah yang dikerjakan setiap malam

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

135

Qiyamul lail

: amalan ibadah shalat pada malam hari

Raha

: istirahat

Rukhshah

: hukum yang merubah dari kesulitan menjadi kemudahan.

Safar

: melakukan perjalanan

Sunnah

: dikerjakan mendapat pahala ditinggalkan tidak berdosa

Sunnah

: dikerjakan mendapat pahala, ditinggalkan tidak berdosa

Sunnah ba’diyyah

: dilakukan sesudah shalat fardu

Sunnah ghairu muakkad : tidak ditekankan untuk mengerjakannya

Sunnah Muakkad

: sunnah yang sangat dianjurkan untuk melakukannya

Sunnah muakkad

: sangat dianjurkan untuk mengerjakannya

Sunnah qabliyyah

: dilakukan sebelum shalat fardlu

Syahrul Qur’an

: bulan al-Qur’an

Syahrun Mubarak

: bulan penuh keberkahan

Syirathal mustaqim

: jalan yang lurus

Tarwiyah

: membawa bekal air

Witir

: ganjil

Yaumu Assyura

: hari pada tanggal kesepuluh bulan Muharram

136

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

A Ash-shiyam/ash-shaum, 92, 147 Ayyamul bidh, 118, 120, 125, 147

P Puasa Daud, 118, 120, 121, 147 Q

B Baligh, 59, 87, 147 D

Qasar, 7, 12, 38, 40, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 147 Qiyamu Ramadlan, 130, 135, 140, 147 Qiyamul lail, 135, 140, 147

Duduk iftirasy, 59, 147 R F Fidyah, 92, 147 Fidyah memberi makan fakir miskin, 147 I indeks, 150 L Lailatul Qadar, 9, 103, 106, 107, 110, 142, 143, 147 M Mengqasar shalat, 69, 74, 82, 147 Mubah, 47, 147 Mukallaf, 59, 63, 147 Mumayiz, 87, 92, 142, 147 Munfarid, 28, 63, 147 Murtad, 92, 96, 147 Murtad keluar dari agama Islam, 147 Musafir, 8, 12, 69, 72, 73, 74, 80, 92, 147 Musafir orang yang dalam perjalanan jauh, 147 N Nifas, 92, 147 Nifas darah yang keluar setelah melahirkan, 147 Nuzulul Qur’an, 101, 106, 147

Raha, 135, 147 Rukhshah, 74, 75, 147 S Safar, 68, 74, 147 Sunnah, 7, 8, 9, 11, 12, 15, 18, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 88, 112, 113, 115, 116, 119, 120, 125, 135, 146, 147, 148 Sunnah ba’diyyah, 28, 147 Sunnah ghairu muakkad, 28, 148 Sunnah ghairu muakkad tidak ditekankan untuk mengerjakannya, 148 Sunnah muakkad, 28, 148 Sunnah Muakkad, 135, 148 Sunnah qabliyyah, 28, 148 Syahrul Qur’an, 106, 111, 148 Syahrun Mubarak, 106, 110, 148 Syirathal mustaqim, 135, 148 T Tarwiyah, 117, 118, 120, 124, 125, 144, 148 W Witir, 9, 10, 12, 15, 19, 104, 107, 126, 127, 130, 131, 132, 134, 135, 140, 148 Y Yaumu Assyura, 148

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3

137

138

FIKIH MADRASAH IBTIDAIYAH KELAS 3