Data Loading...
FINALLE REMAS Flipbook PDF
Genangan cinta yang terengkuh dengan ikhlas.
114 Views
57 Downloads
FLIP PDF 50.62KB
genangan cinta yang terengkuh dengan ikhlas
10 Mei 2021, Minggu
“Bun biar adek sendiri yang packing,” rayu si bungsu kepada bundanya yang bersikukuh membereskan barang bawaan Gulf selama di pondok pesantren. Keinginan dan juga hal yang sudah ia pertimbangkan juga dibahas oleh seluruh keluarganya. Bukan mencari jawab karena ia sudah tahu jawabannya tapi memastikan langkah yang harus ia ambil karena hatinya telah menyimpulkan rasa. Pun mencari tenang dalam gundahnya. Ia tidak akan lama, akan kembali setelah Sholat Ied di pagi raya. “Kenapa sih emang? Bunda jelek ya ngelipet bajunya.” Tangan cantik bundanya berhenti melipat kaus dipangkuannya mendengar rengut anak bungsunya. “Dih ga gitu bunda cantiknya adek. Adek bisa kok beresin sendiri. Bunda istirahat aja gih kan capek seharian bikin kue.” “Tapi..” Interupsi datang dari dua ketukan di pintu kamar Gulf yang terbuka. “Malem bunda.” Sapa tetangga sebelah dengan senyum manisnya yang kini mulai mendekati bunda yang terduduk di lantai kamar Gulf. “Sini biar Mew aja yang bantu adek.” Tanpa jawab, bunda Gulf membiarkan Mew mengambil alih kaus yang sedang dipegangnya. “Oh. Iya deh ga apa-apa. Dibantu ya Mew. Kali aja sama
kamu si adek ga rewel lagi. Bunda tinggal ya.” Sebelum benar-benar beranjak, bunda menyentuh lengan Mew. Mengusapnya pelan pun mengulas senyum simpul. “Makasih ya nak Mew.” Si muda hanya diam ketika Mew mulai membereskan barang-barangnya. Memasukkannya ke dalam ransel sedang karena memang hanya beberapa hari Gulf akan meninggalkan rumah pun dirinya. “Mas beneran mau nikah?” Tangannya berhenti, mendengar tanya tanpa permisi. “Baru tunangan doang.” Memasukkan toiletries ke dalam ransel tanpa berani mengadu tatap dengan yang muda. Seperti akan ada hujaman rasa bersalah jika ia berani melayangkan pandang ke sosok yang masih mematrinya dengan tatap. “Abis tunangan pasti nikah kan.” Bukan tanya tapi lebih seperti mengutarakan ragu. “Hmm.” . Ransel yang kini terlihat menggembung teronggok di kaki ranjang. Dua manusia yang terikat semesta duduk bersisihan bersandar pada ranjang. Mew dengan kakinya yang berselonjor dan lengan yang terkulai. Sementara Gulf melipat kedua kakinya, jemarinya memilin ujung kaus mencoba meredam resah. Lingkupnya tidak benar-benar sunyi karena suara lagu dari speaker bluetooth menggema hingga ke sudut hati.
“Kita, tidak mungkin ya?” sebuah tanya yang membayang keduanya diungkap pelan oleh yang muda. “Mas ingin mengusahakan mungkin sampai rasanya berharap ga ada kata ‘tidak’ sebelumnya.” “Tapi emang ga mungkin sih. Mas dan aku paham banget kenapanya.” “Garis takdir kita sepertinya tidak semazhab.” “Tuhan ketawa mas kita bahas garis takdir kita yang pengennya ketemu.” Kekehan kecil terlontar dari yang muda. Hening. “Mas harus bahagia sama pilihan mas. Bukan aku ga apaapa kan?” “Lebih bahagia kalau itu kamu.” “Aku juga sih.” Labium itu mengerucut kesal. “Tapi kita tahu kalau sama-sama pun belum tentu bahagia. Persentase bahagianya sama besar dengan ga sama-sama. Tapi resikonya lebih sedikit kalau kayak gini.” “Kamu ga apa-apa emang?” “Ga tahulah mas kedepannya bakal gimana? Tapi kita ga bisa berenti di sini. Aku ga bisa nahan mas. Ga bisa egois.” “Padahal mas pengen egois loh dek.” “Haha mana bisa sih mas.”
“Mas bisa aja. Tapi bahagiamu lebih penting dari egoisnya mas. Kita sama-sama paham kadar rasa yang kita miliki tu kayak apa sampai bisa sama-sama milih jalan kayak gini.” Tenang kembali menjeda ketika yang tua selesai melugaskan kata sebelum melanjut kembali dengan gulana. “Adek harus bahagia ya meski tanpa mas. Mas ga akan kemana-kemana. Mas akan selalu ada setiap kali adek butuh pelukan. Mas akan selalu menyediakan bahu mas buat adek bersandar. Tangan mas juga siap ngehapus air mata adek kalau adek nangis. Mas..” “Mas jangan kayak gini. Adek pasti bisa tanpa mas. Sama kayak mas yang bisa tanpa adek.” “Meski kita tahu kalau bakalan sulit?” “Mas kenapa malah bikin tambah rumit?” “Dek..mas..” Dekapan itu menghangatkan raganya yang kedinginan oleh pilu. Air yang menggenang di pelupuk mata berakhir terhempas menuruni pipinya. Kaus tipis yang di kenakan Gulf menyerap air matanya yang terus terjatuh. “Awalnya akan berat, kita ga bisa ngindarin itu. Kita hanya perlu terbiasa dengan rasa sakitnya lalu membiarkan waktu yang menyembuhkannya.” Yang muda memberi jarak meski Mew masih mendekap pinggangnya tanpa berkenan melepas raga yang ia sayang. Ibu jarinya mengusap lembut pipi Mew yang telah basah. Menekankan telapak tangannya disana. Merasakan
bagaimana laki-laki itu terbenam dalam lara. “Mas sayang banget sama kamu.” “Aku bisa ngerasain mas. Mas juga bisa ngerasain punyaku kan?” “Kita yang saling merelakan adalah bukti nyata seberapa besar kasih kita.” “Mas,” menjeda dengan hirupan napas yang semakin terasa memberati relung paru “aku sayang banget sama mas.” Jemarinya meraih jemari yang muda. Membawanya ke udara hingga netra keduanya menangkap bagaimana jari-jemari itu bermain saling mengelak tetapi tak ingin terpisah. Saling mengusap merasakan hangat yang mungkin tak’kan lagi terasa esok hari. Telapak tangannya dengan pelan menangkup, memerangkap jemari yang muda dengan hangat. Dua pasang netra masih memerhatikan bagaimana kedua telapak tangan itu saling mendekap. Jemari yang menari dan mengusap dengan menganggumkan, terasa pas. Keduanya kini saling terperangkap dalam pandang. Netra Gulf menangkap seutas surai Mew yang mencuat, ia meraih tanpa benar-benar ingin membetulkan karena jemarinya masih menetap di surai yang tua. Mew menyeret tatapnya dari lengan Gulf yang berada di kepalanya hingga bertemu kembali dengan sepasang pupil madu. Pupil madu yang juga kembali menemukan jelaganya. Lalu tatapnya turun ke puncak hidung yang muda hingga bertemu dengan tujuan akhir penjelajah pandangnya. Labium tebal yang merapat. Jemari keduanya yang saling menelusur tiap jengkal tubuh yang bertumbuk dan mencoba mengusir jarak. Bergerak
pelan dari lengan hingga ke leher dan berakhir meremat pundak. Seakan mematri dalam ingatan seonggok raga yang kelak-mungkin-tak’kan bisa lagi tersentuh. Ia mendekat dengan wajah yang mengikis jarak. Hembus napas menabrak pori wajah keduanya. Deru napas semakin terasa. Pun dengan degup yang bekerja lebih kencang. Kedua labium itu telah hampir tak berjarak jika saja kenyataan tidak menghantam waras. Yang akhirnya bertemu untuk frustasi yang terasa hanyalah dahi keduanya. Jemari yang meremat gusar dan kelopak mata yang menutup rapat . Puncak hidung keduanya yang saling mengusap melepaskan rasa masygul. Hembusan napas berat sebagai peredup nafsu. Kecupan pun beralih ke pipi kanan yang muda. Kecupan dengan kepayahan lalu kembali mempertemukan dahi dan puncak hidungnya ke yang muda. Jemarinya meremat surai Gulf terlampau erat namun tidak menyakiti. Kecupan kedua jatuh di dahi Gulf. Terlalu lama hingga yang muda bisa merasakan jiwanya luruh oleh renjana yang lebih tua. Kecupan ketiga bersandar pada pipi kiri Gulf. Ada napas yang tertahan sebelum akhirnya terlepas ketika Mew kembali menyatukan dahi keduanya. Raga yang enggan terabai. Seperti akan binasa jika satu saja melebarkan jarak. “Tidur dek. Besok pagi kan berangkatnya?”
Tidak menyuarakan jawab tetapi erat remat di bahunya memberi tahu Mew apa yang ada dalam benak Gulf. Gagasan untuk meninggalkan Gulf malam ini hanya akan menambah lara, maka ia memilih untuk tinggal. “Mas temenin.” Tubuh yang menyatu dalam peluk, pun dengan kuasa yang saling menggenggam memenuhi ranjang sempit Gulf. Di antara detak sebelum terlelap, untaian do’a terjuntai dengan khidmat. Tuhan, tolong...
11 Mei 2021, Senin
Kelopak mata tergerak pelan hingga terbuka di sepertiga malam. Ketika menoleh ke samping untuk menemukan sosok di sebelahnya melayangkan tatap padanya. “Mas ga tidur?” Senyum simpul dan sapuan jemari pada surainya membuatnya merasakan damai yang ia tak inginkan untuk usai. “Mas tidur, baru aja kebangun mau 2 raka’at dulu.” Ketika sosok itu beranjak, yang muda menahan lengannya untuk menarik atensi yang tua kembali kepadanya. “Jama’ah ya mas?” . Sinar bulan yang mengintip di antara celah kelambu menubrukkan terang cahayanya di atas dua sajadah yang berjejer. Keduanya sujud bersama untuk memasrahkan segala sesuatu kepada Sang Pencipta. Dua raka’at yang di akhiri dengan sepasang telapak tangan menengadah melantunkan do’a lalu di aminkan dengan penuh harap. Sepasang kuasa itu turun dengan lunglai. Tapi jiwa-jiwa yang saling mencinta tidak ingin kalah oleh belenggu malam. Gulf mengulurkan kuasanya mengharap balas dari yang tua.
Ketika tangan itu bersambut yang ia lakukan adalah meletak punggung tangan yang tua ke dahinya. Mengutarakan penghormatannya atas raga yang ia pasrahi cinta kasihnya. Yang tua hanya mampu menahan napas ketika merasakan punggung tangannya menempel pada dahi yang muda. Menerima kasih dengan kesima. Memikirkan timbal balik maka ia menarik jemari Gulf hingga tercium olehnya sela jari yang ia harap bisa memperindah jari manis yang muda dengan sebuah cincin. Lentera malam itu hanyalah redup cahaya lampu tetapi masih mampu untuk memberi terang pada sepasang netra yang menari di atas mashaf Al-Qur’an. Keduanya memutuskan untuk melafazkan ayat suci Al-Qur’an. Duduk di atas sajadah masing-masing. Mematri tatap pada Al-Qur’an di hadapan. Suara indah selaras yang menggema di ruang kamar Gulf. Pun genggam tangan yang tak terlepas. . Hanya ada senyap di dalam sebuah mobil yang melaju membelah jalanan subuh itu. Setelah berucap pamit pada ayah, bunda, dan bang Apo, selepas subuh keduanya meninggalkan Kampung Surat Thani. Tentu dengan Mew yang meminta ijin untuk menghantarkan Gulf ke Pondok Pesantren tempat yang akan memeluk Gulf untuk beberapa malam. “Kenapa di pondok? Apa di rumah aja ga cukup?” “Di rumah bisa liat kamu mas. Bisa makin gila aku nanti. Hahaha.”
“Pulangnya mau mas jemput?” “Ga usah mas. Mau di jemput Bang Apo sekalian mau ketemu temennya katanya.” Usai lampu merah yang menahan mobilnya, kini hijau terang membuatnya melajukan mobilnya kembali. Seratus tiga puluh kilometer tertempuh namun tak jua melelahkan raga yang menghantarkan kasihnya ke tujuan. Meskipun ketika mobilnya telah sampai dan berhenti tak jauh dari gerbang besar Pondok Pesantren tujuan, hanya jelaganya yang memindai keindahan yang Tuhan pahatkan di wajah Gulf. Lelap memeluk anak itu sejak laju mobil memasuki batas kabupaten. Bulu mata bergerak pelan sebelum kelopak mata yang menyembunyikan pupil madu itu terbuka. “Kok ga bangunin sih mas?” “Waktu mas udah mau habis.” Yang muda menggigit bibirnya, kacau. Rasanya juga teramat kacau di hati dan otaknya. Lalu hanya dekap erat yang bisa mereka lakukan. Pun kebasahan di pipi yang tak bisa keduanya hindari. “Jangan rindu. Jangan tersiksa sama rindu. Mas harus menang.” “Adek juga. Cinta kita jadikan untaian do’a.” Terik siang matahari seperti hujaman panas di pelupuk mata.
Tak mungkin lagi bisa membendung air mata yang terkoyak. Pedih ketika dua raga harus terlepas oleh takdir. . 13 Mei 2021, Kamis
Seperti bisikan do’a yang selalu Gulf untai di sepertiga malam. Pun ia bisa mendengar ayat-ayat cinta yang mengalun merdu di setiap malam. Hatinya berdegup menunggu jawab dari sang puan atas permintaannya untuk ia sanding. “Mas menikahlah. Jadikan pernikahan itu ibadah. Do’a ku tidak akan terhenti untuk kebahagiaanmu.” “Saya terima lamaran Mas Mew.” “Alhamdulillah. Kau dengar sayang? Aku berjanji akan ikhlas menjalani ibadah pernikahan ini. Ayat-ayat cintaku juga tak’kan lelah terangkai untuk kebahagiaanmu.” .
16 Mei 2021, Minggu
Keikhlasan rasa yang meski berat tetap di arungi. Karena keduanya menginginkan hal yang sama. Inginkan surga memeluk jiwa orang yang mereka kasihi. Maka apabila mendekapnya hanya akan menjerumuskan ke kubangan dosa, lepaskan. Biarkan jiwa itu tenang dalam rengkuhan wangi surga. Cincin perak tersemat di jari manis sang puan. Kecup hangat Mew hantarkan ke dahi wanita yang ia pilih untuk menghabiskan sisa hidup dengannya. Ketika pesta pertunangan telah usai, Gulf meninggalkan rumah Mew. Ada tiga malam yang ia lalui dengan bersujud memohon petunjuk di Pondok Pesantren. Dua malam setelahnya ia mengutarakan keinginan untuk pergi dari kampung halaman kepada keluarganya yang mana disetujui. Setelah memintal rasa, ia memutuskan meninggalkan Surat Thani dan menerima pekerjaan di Bankarta. Kini ia bersiap dengan koper dan tas ranselnya. Membuka tirai jendela hingga ia menemukan sosok yang dicintainya berdiri di seberang. Ada getir senyum yang ia berikan ke sosok yang masih menetapkan netra padanya. Maka demi menjaga hati agar tidak semakin hancur, ia menutup tirai. Meranalah ia ketika Gulf menutup tirai kamarnya. Menghempas gulana yang melemahkan kakinya hingga tubuhnya merosot. Memukul dadanya yang sesak. Percuma
meminta anak itu untuk tetap tinggal karena ia memahami kepergiannya adalah untuk ketenangan jiwa keduanya. “Tuhan, aku ikhlaskan kekasihku kembali ke dalam pelukMu. Lingkupilah ia dengan kebahagiaan dan kedamaian.” – Gulf Kanawut. “Tuhan, terima kasih telah memberikan sesosok malaikatMu yang mencintaiku dengan begitu hebatnya. Kini aku kembalikan ia padaMu. Rengkuhlah ia dalam kidung kasihMu.” – Mew Suppasit. Mereka mendapatkan pahala atas keikhlasan cinta.
— Kisah 30 hari mengejar cinta garis miring pahala ala Gulf Kanawut usai disini. —