Data Loading...

look-inside-without-a-doubt Flipbook PDF

look-inside-without-a-doubt


132 Views
16 Downloads
FLIP PDF 2.5MB

DOWNLOAD FLIP

REPORT DMCA

Samples, Kenneth R. Without a Doubt: Menjawab 20 Pertanyaan Tersulit tentang Iman / Kenneth R. Samples––Alih bahasa, Ellen Hanafi––Cet. 1––Malang : Literatur SAAT, 2014. 373 hlm. ; 21 cm ISBN 978-602-7788-12-1

WITHOUT A DOUBT MENJAWAB 20 PERTANYAAN TERSULIT TENTANG IMAN

Oleh: Kenneth R. Samples Copyright ©2004 by Kenneth R. Samples Originally published in English under title Without a Doubt: Answering the 20 Toughest Faith Questions by Bethany House, a division of Baker Publishing Group, Grand Rapids, Michigan, 49516, U.S.A. All rights reserved Diterbitkan oleh

LITERATUR SAAT Jalan Anggrek Merpati 12, Malang 65141 Telp. (0341) 490750, Fax. (0341) 494129 website: www.literatursaat.org Penulis Alih Bahasa Penyunting Penata Letak Gambar Sampul

: : : : :

Kenneth R. Samples Ellen Hanafi Chilianha Jusuf Yusak P. Palulungan Lie Ivan Abimanyu

Edisi terjemahan telah mendapat izin dari penerbit buku asli. Cetakan Pertama : 2014 Dilarang memproduksi sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.

DAFTAR ISI

Kata Pengantar 7 Ucapan Terima Kasih 9 Pendahuluan: Mengutak-atik Dua Puluh Pertanyaan tentang Kehidupan 13 Bagian I: Memikirkan Pertanyaan-pertanyaan tentang Iman kepada Allah 1. Bagaimana Orang Dapat Mengetahui Bahwa Allah Itu Ada? 21 2. Bagaimana Saya Dapat Memercayai Allah yang Tidak Dapat Saya Lihat? 39 3. Bagaimana Allah Menyatakan Diri-Nya? 49 4. Bukankah Kredo Itu Bagian Masa Lalu? 63 5. Bagaimana Allah Bisa Menjadi Tiga dan Satu? 77 6. Mengapa Saya Harus Bertaruh tentang Iman? 95 Bagian II: Memikirkan Pertanyaan-pertanyaan tentang Iman kepada Yesus Kristus 7. Apakah Kisah-kisah di dalam Injil tentang Kehidupan Yesus Dapat Dipercaya? 111 8. Apakah Yesus itu Manusia, Mitos, Orang Gila, Ancaman, Mistik, Penghuni Mars, atau Mesias? 127 9. Bagaimana Yesus Kristus Bisa Menjadi Allah Sekaligus Manusia? 149 10. Apakah Yesus Kristus Benar-benar Bangkit dari Kematian? 169 11. Mengapa Yesus Kristus Harus Mati? 187

Bagian III: Memikirkan Penolakan-penolakan terhadap Iman Kristen 12. Bukankah Semua Agama Menuntun pada Allah? 201 13. Bagaimana Seharusnya Orang Kristen Menanggapi Agamaagama di Dunia? 215 14. Bukankah Agama Kristen dan Ilmu Pengetahuan Bertentangan? 239 15. Bukankah Kemunafikan Membuat Kekristenan Tidak Berlaku? 257 16. Bukankah Saya Berhak Melakukan Apa Pun yang Saya Inginkan dengan Tubuh Saya Sendiri? 271 17. Bukankah Kekristenan Mendorong Sikap Tidak Toleran? 287 18. Bukankah Moralitas Tergantung dari Mata yang Memandangnya? 297 19. Bagaimana Mungkin Allah yang Baik dan Mahakuasa Membiarkan Kejahatan Terjadi? 311 20. Bagaimana Seorang Kristen Harus Mempersiapkan Diri untuk Memberikan Penjelasan tentang Iman? 333 Catatan 341

DAFTAR TABEL

1.1 Model naturalistis dan alkitabiah untuk menjelaskan kehidupan dan alam semesta 26 8.1 Jati Diri Yesus: Siapakah Yesus? 146 13.1 Membandingkan pemimpin-pemimpin agama di dunia 222

BAGAIMANA ORANG DAPAT MENGETAHUI BAHWA ALLAH ITU ADA?

Saya memercayai kekristenan seperti halnya saya memercayai bahwa matahari telah terbit, bukan hanya karena saya melihatnya, melainkan karena dengan adanya matahari itu saya dapat melihat segala sesuatu yang lain. ––C. S. Lewis, The Weight of Glory and Other Addresses Manusia tidak pernah bersikap netral berkaitan dengan Allah. Kita dapat menyembah Allah sebagai Pencipta dan Tuhan, atau sebaliknya, kita dapat berpaling dari Allah. Karena hati ditujukan kepada Allah atau sebaliknya, menentang-Nya, maka pemikiran teoretis tidak pernah menjadi semurni atau bisa berdiri sendiri seperti yang ingin dipikirkan oleh banyak orang. ––Ronald H. Nash, Worldviews in Conflict

A

pakah Allah itu ada? Apakah Dia menciptakan manusia atau apakah manusia menciptakan Dia? Pertanyaan tentang keberadaan Allah ini mungkin merupakan pokok dari apa yang disebut para filsuf sebagai “pertanyaan besar tentang kehidupan.” Apa yang orang anggap sebagai riil, benar, tepat, berharga, dan bermakna ternyata secara dramatis dipengaruhi oleh pandangan mereka tentang apakah Allah itu nyata atau tidak. Karena perspektif ini membentuk konteks keseluruhan pandangan, maka kaum ateis dan umat Kristen memandang semua realitas dengan cara pandang yang berbeda. Bagi umat Kristen, Allah di dalam Alkitab menetapkan konteks utama bagi semua kehidupan dan pemikiran (lih. bab 16). Adakah alasan yang benar untuk memercayai bahwa Dia ada? 21

22

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

Realitas yang Berarti Hipotesis yang baik, entah itu ilmiah atau filosofis, diterima karena memiliki kekuatan penjelasan yang riil. Allah di dalam Alkitab (selanjutnya disebut sebagai Allah) memberikan landasan metafisika yang kokoh dan konsisten untuk menjelaskan realitas dan fenomena penting yang dihadapi di dalam kehidupan, setidaknya dalam sembilan cara yang spesifik.1 Allah secara unik menjelaskan awal kejadian alam semesta

Dua konsep kuat bukti ilmiah mengarah pada kesimpulan bahwa alam semesta memiliki awal.2 Pertama, menurut teori ilmiah yang berlaku, alam semesta memiliki permulaan kejadian sekitar 14 miliar tahun yang lalu. Semua materi, energi, waktu, dan ruang muncul dan dengan cepat berkembang mulai dari volume yang sangat kecil. Ledakan dahsyat yang panas ini (yang terus berkembang dan disempurnakan) secara bertahap menjadi dingin dan menyebar dengan baik untuk memungkinkan pembentukan galaksi, bintang, planet, dan sebagainya. Model kosmologi ledakan dahsyat yang mendasar ini dianut oleh sebagian besar ilmuwan riset karena akumulasi bukti-bukti astronomis yang luas dan pengujian yang sukses.3 Model kosmologis tersebut menunjukkan bahwa alam semesta ini tidak kekal, tetapi memiliki awal yang spesifik, pada suatu periode tertentu di masa yang lalu. Kedua, Hukum Entropi (juga disebut sebagai Hukum Kedua Termodinamika) memberikan penegasan lebih lanjut bahwa alam semesta memiliki awal. Prinsip yang mantap ini menunjukkan bahwa energi di alam semesta hilang secara bertahap dan merata di semua tempat. Jadi, akan tiba saatnya secara alami perkembangan alam akan terhenti, akan terjadi, “keseimbangan termal” (semua lokasi di alam semesta memiliki suhu yang sama)4, dan semua aktivitas fisik akan berhenti. Jika alam semesta itu abadi, penghentian ini tentu sudah terjadi karena dipaksa. Oleh karena itu, prinsip entropi mendukung pandangan bahwa alam semesta telah ada pada suatu periode tertentu. Dengan melihat bukti-bukti ilmiah yang meyakinkan bahwa alam semesta memiliki permulaan yang pasti, pertanyaan yang diajukan oleh matematikawan sekaligus dan filsuf Jerman, Gottfried Leibniz (16461716) makin menggelitik: “Mengapa ada sesuatu dan bukan tidak ada

BAGAIMANA ORANG DAPAT MENGETAHUI BAHWA ALLAH ITU ADA?

23

apa-apa?”5 Mengapa? Mengetahui bahwa alam semesta memiliki awal tunggal pada periode waktu yang terbatas di masa lalu, membuat kita sangat sulit menghindari logika sederhana namun menarik dalam Argumen Kosmologis Kalam: 1. Apa pun yang mulai ada, memiliki penyebab atas keberadaannya. 2. Alam semesta mulai ada. 3. Oleh karena itu, alam semesta memiliki penyebab atas keberadaannya.6 Mengingat sifat dari akibat (alam semesta yang tidak pasti), adalah logis bahwa si penyebab atau Pencipta harus transenden, tidak bersebab, kekal, dan abadi (Setiap penyebab yang tidak memiliki karakteristik ini dengan sendirinya akan membutuhkan penyebab, untuk alasan yang sama bahwa alam semesta ini memerlukan penyebab). Menurut definisi, allah seperti itu cocok dengan deskripsi umum tentang Allah di dalam Alkitab, tetapi tidak cocok pada sebagian besar konsep agama lainnya tentang allah mereka.7 Dan kisah penciptaan di dalam Alkitab sangat cocok dengan temuan ilmu pengetahuan modern tentang kosmologi (lih. detail spesifik di bab 14). Mungkinkah penjelasan tentang awal kejadian alam semesta tidak melibatkan Pencipta yang Ilahi? Ya, dan penjelasan-penjelasan itu layak direnungkan. Opsi pertama adalah bahwa alam semesta disebabkan atau diciptakan oleh dirinya sendiri. Namun, kesimpulan ini tidak rasional karena agar tercipta, alam semesta itu sendiri harus ada sebelum ia ada—ini jelas mustahil. Sesuatu itu tidak dapat ada dan tidak ada pada waktu yang bersamaan dan dengan cara yang sama. Opsi kedua adalah bahwa alam semesta muncul dan menjadi ada dari ketiadaan dan oleh ketiadaan (atau tidak dari siapa pun). Namun, konsep ini juga tidak rasional karena sesuatu itu tidak dapat berasal dari ketiadaan mutlak (tidak ada energi, tidak ada materi, tidak ada tenaga, tidak ada akal, tidak ada alasan, dan sebagainya). Suatu akibat tidak dapat lebih besar daripada penyebabnya, dan dalam hal ini penyebabnya adalah ketiadaan. Pepatah filosofis dan ilmiah kuno yang berbunyi ex nihilo nihil fit terasa masuk akal—”dari ketiadaan, tidak ada sesuatu pun yang muncul.” 8 Bila orang menyimpulkan yang

24

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

sebaliknya, berarti ia melanggar salah satu prinsip dasar aktivitas ilmiah, yakni kausalitas. Opsi ketiga yang eksotis dan kuasi-ilmiah menyimpulkan bahwa ada beberapa alam semesta (kadang-kadang disebut multiverse/banyak alam semesta9). Kesimpulan ini menyatakan bahwa sebuah mekanisme fisika yang abadi mungkin dapat memunculkan alam semesta satu demi satu secara bergiliran. Namun, pandangan provokatif ini tidak berdasarkan data yang dapat diobservasi secara langsung, tetapi pada spekulasi teoretis. Sebagai hipotesis yang salah dan sangat spekulatif, pandangan ini tidak memberikan penolakan yang berapi-api bahwa alam semesta memiliki awal. Opsi keempat mempertimbangkan kosmologi tradisi agama lainnya, khususnya agama-agama dari Timur. Namun, kosmologi agama dari Timur dapat disingkirkan dengan cepat karena tidak koheren dan tidak cocok dengan bukti ilmiah yang terbaik mengenai asal-usul alam semesta.10 Sebagai contoh, beberapa bagian aspek agama Hindu menyangkal keberadaan alam semesta secara fisik. Kembali pada opsi bahwa Allah adalah sosok yang ada di balik alam semesta, bukti ilmiah tentang awal kejadian alam semesta sangat cocok dengan ajaran Alkitab. “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej. 1:1). Doktrin Kristen creatio ex nihilo mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun selain Allah (roh yang bersifat pribadi, kekal dan tidak terbatas), dan bahwa Allah dengan hikmat-Nya yang tak terukur dan kuasa-Nya yang tidak terbatas, menjadikan alam semesta (semua materi, energi, waktu, dan ruang) dari ketiadaan (bukan dari keberadaan realitas fisik apa pun yang sudah ada sebelumnya seperti materi) dan menopang keberadaannya setiap saat (Rm. 4:17; Kol. 1:16-17; Ibr. 11:3). Oleh sebab itu, Allah di dalam Alkitab adalah Pencipta yang transenden dan Penopang alam semesta yang penuh kasih pemeliharaan. Allah adalah penjelasan metafisika yang diperlukan untuk keberadaan alam semesta yang tidak dapat berdiri sendiri (yang disebabkan, yang bergantung pada, dan yang tidak dapat dijelaskan).

BAGAIMANA ORANG DAPAT MENGETAHUI BAHWA ALLAH ITU ADA?

25

Allah secara unik menjelaskan tatanan, kompleksitas, dan desain yang nyata ada di alam semesta.

Bahkan kaum ateis yang paling kukuh sekalipun akan mengakui bahwa alam semesta menunjukkan tatanan, keteraturan, kompleksitas, dan kejelasan yang luar biasa. Namun, penerimaan prinsip antropik (pandangan bahwa alam semesta ada sebagaimana mestinya agar dapat memungkinkan terjadinya penciptaan manusia sebagai pengamat) oleh komunitas ilmiah telah meningkatkan intuisi bahwa alam semesta adalah produk dari Sesosok Perancang kosmis.11 Kerumitan, harmoni, dan pengaturan kosmos yang menakjubkan untuk memungkinkan munculnya kehidupan manusia dibuktikan mulai dari penyempurnaan konstanta fundamental fisika sampai pada sifat galaksi dan tata surya yang “cocok persis,” hingga komponen sarat informasi yang dikenal sebagai kode DNA, mungkin hingga pencapaian teleologis (yang terkait dengan desain) yang terpenting: kompleksitas yang luar biasa dan halus tentang hubungan antara pikiran dan otak manusia. Jika seseorang menolak intuisi logis bahwa ada Perancang kosmis di balik alam semesta, maka ia harus menyimpulkan bahwa semua tatanan, kompleksitas, dan kejelasan yang terkandung di dalam alam semesta ini hanyalah kebetulan belaka. Namun, opsi naturalistis, evolusioner, dan ateistis ini begitu mustahil untuk dibayangkan. Probabilitas statistik bahwa alam semesta terwujud secara kebetulan dengan sifat-sifatnya yang dapat mendukung kehidupan, akan benar-benar mengejutkan.12 Namun, kemustahilan pandangan naturalistis dan ateistis ini bukanlah satu-satunya hal yang membuatnya tidak dapat dipertahankan secara rasional. Menganut pandangan evolusioner bahwa organ-organ sensorik dan kemampuan kognitif manusia adalah hasil dari proses alami yang acak dan tanpa tujuan, menimbulkan masalah kepercayaan tentang apa yang diamati. Apakah hasil pengamatan dan pikiran seseorang benarbenar sesuai dengan realitas?13 Sebagai kebiasaan yang wajar, seseorang biasanya tidak menerima gagasan bahwa informasi, pengetahuan, dan kebenaran bisa datang dari sumber yang acak dan tidak disengaja. Bagaimanakah usaha-usaha rasional seperti logika, matematika, dan ilmu pengetahuan bisa dibuktikan jika otak dan pikiran manusia adalah hasil dari kebetulan yang tidak rasional dan ceroboh? Pada dasarnya, naturalisme ingin menyatakan bahwa kehidupan, pikiran, kepribadian, dan

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

26

akal budi berasal dari sumber yang tidak memiliki kemampuan dan kualitas yang mendalam ini. Ini tentu akan menjadi akibat yang jauh lebih besar daripada penyebabnya! Dalam tabel 1.1, dua model penjelasan menunjukkan kredibilitas posisi pandangan secara alkitabiah dan secara ateistis: Tabel 1.1 Pandangan naturalistis dan alkitabiah untuk menjelaskan tentang kehidupan dan alam semesta Pandangan ateistis naturalistis

Pandangan teistis alkitabiah

a . Dunia diciptakan dari ketiadaan b. Kehidupan berasal dari ketiadaan kehidupan c. Manusia tidak ada hubungannya dengan individu tertentu d. Pikiran berasal dari ketiadaan pikiran e. Tatanan berasal dari ketiadaan tatanan f. Akal budi berasal dari yang tidak rasional g. Moralitas berasal dari ketidakbermoralan h. Informasi itu tanpa pengirim i. Kode berasal dari sesuatu yang tidak terprogram j. Kebenaran berasal dari suatu kebetulan

a . Dunia diciptakan oleh Sang Pencipta b. Kehidupan berasal dari Sang Kehidupan yang tertinggi c. Manusia itu ada hubungannya dengan Individu Tertentu d. Pikiran berasal dari Sang Pemikir yang tertinggi e. Tatanan berasal dari Sang Penyelenggara tatanan f. Akal budi berasal dari suatu Keberadaan yang rasional g. Moralitas berasal dari Pribadi yang bermoral h. Informasi itu dari seorang Pengirim i. Kode berasal dari Sang Pemrogram pribadi j. Kebenaran dari Kebenaran yang tertinggi

Allah secara unik menjelaskan kenyataan realitas-realitas yang abstrak dan nonfisik

Beberapa realitas kehidupan yang paling menakjubkan dan paling penting tidak dapat dideteksi oleh akal manusia. Realitas-realitas yang abstrak dan tak berwujud ini bersifat konseptual di alam dan terdiri dari hal-hal seperti angka, proposisi, bidang, sifat, hukum logika, nilai-nilai moral, dan hal-hal yang universal. Realitas-realitas ini dianggap oleh banyak orang sebagai realitas-realitas yang tak terlihat, universal, dan objektif.14 Realitas ini tidak tampak secara fisik, dan juga tidak mudah diminimalkan, atau dijelaskan sehubungan dengan hal-hal fisik dan

BAGAIMANA ORANG DAPAT MENGETAHUI BAHWA ALLAH ITU ADA?

27

prosesnya. Materialisme sebagai teori metafisika, menghadapi beberapa masalah logika yang tidak dapat diatasi.15 Entitas-entitas konseptual ini juga tidak tampak sebagai produk kesepakatan (hasil penemuan) manusia. Renungkan dua contoh singkat ini. Pertama, sifat objektif angka. Gagasan atau ide “serba sembilan” (nineness) (dilambangkan dengan angka 9) ditemukan dan tentu saja dimanfaatkan oleh pikiran manusia, tetapi jelas tidak diciptakan oleh pikiran manusia. Realitas serba sembilan ini ditunjukkan dalam pernyataan seperti “Kesembilan planet di tata surya sudah ada sebelum munculnya pikiran manusia yang pertama.” Setidaknya, sembilan planet di tata surya ini sudah ada sebelum manusia mengakui fakta ini (dan bahkan sebelum keberadaan manusia). Namun, jika simbol angka sembilan itu sudah ada sebelum adanya pikiran manusia yang pertama, maka angka itu membutuhkan sebuah landasan konseptual. Seorang pemikir Kristen, Augustine dari Hippo (354-430 M) membantah dengan mengatakan bahwa pikiran manusia sanggup memahami kebenaran-kebenaran yang universal, objektif, tidak berubah, dan yang diperlukan, lebih tinggi daripada pikiran manusia itu sendiri.16 Karena kebenaran harus berada di dalam pikiran, Augustine menjelaskan bahwa kebenaran-kebenaran kekal ini didasarkan pada pikiran Allah yang kekal. Jadi, Allah yang kekal itu ada untuk menjelaskan kebenaran-kebenaran yang kekal ini. Kedua, hukum dasar logika (sebagai contoh, hukum nonkontradiksi, tidak termasuk hukum penyisihan jalan tengah dan hukum jati diri) bukan merupakan hasil ketentuan manusia. Prinsip nonkontradiksi (sesuatu tidak dapat sekaligus ada dan tidak ada pada waktu yang bersamaan dan dengan cara yang sama) tidak saja secara kognitif diperlukan dan tak terbantahkan, tetapi secara ontologis benar. Prinsip ini mendefinisikan hakikat dari realitas itu sendiri.17 Logika tampaknya juga membutuhkan fondasi di luar pikiran manusia. Karena matematika dan logika (dasar ilmu pengetahuan) memiliki keabsahan dan memberikan pengetahuan nyata tentang dunia kepada manusia, maka kedua disiplin ilmu konseptual ini tidak bisa sekadar menjadi gagasan yang subjektif dan dibuat oleh manusia, tetapi harus berhadapan dengan realitas yang objektif. Namun, jika entitas-entitas abstrak ini merupakan realitas-realitas yang tak terlihat, nonfisik, dan

28

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

objektif, lalu bagaimana realitas-realitas ini bisa dipertanggungjawabkan dengan benar? Tentunya pandangan naturalistis—keyakinan bahwa alam semesta melukiskan semua yang ada di dalamnya—tidak mampu untuk mempertanggungjawabkannya. Namun, pandangan teistis Kristen, mendasarkan realitas konseptual ini di dalam pikiran sosok spiritual yang tak terbatas, kekal, dan pribadi. Allah adalah Pencipta dari yang terlihat dan yang tidak terlihat, sumber dari hal yang masuk akal dan dapat dimengerti (Mzm. 148:2-5; Kol. 1:16-17). Dalam sebuah kerangka konseptual kristiani, Allah berfungsi sebagai dasar metafisika yang mampu menjelaskan entitas-entitas konseptual dan epistemologis kritis (realitas independen yang ada).18 Allah secara unik menjelaskan realitas nilai-nilai etis yang objektif

Nilai-nilai moral adalah bagian mendasar dari kehidupan manusia, yang sama nyatanya seperti hukum gravitasi. Dan pada umumnya, orang-orang secara intuitif menyadari kewajiban moral mereka. Dalam hatinya, sesungguhnya manusia merasakan tarikan tugas dan kewajiban moral yang nyata. Perasaan untuk menunaikan kewajiban moral ini memang bersifat menentukan di alam ini, dan melampau perasaan subjektif dan pertimbangan pribadi semata (lih. bab 18 tentang bantahan terhadap kritik untuk relativisme moral). Orang dapat dengan sangat mudah mengelak atau mencoba untuk mencari-cari alasan atau bahkan melanggar kewajiban moral mereka (lih. bab 11 tentang doktrin dosa), tetapi bagaimanapun kewajiban-kewajiban moral ini tetap merupakan bagian penting dari kehidupan manusia. Intuisi moral mendasar seperti “Membunuh itu salah” atau “Bersikap mengasihi, jujur, berani, dan penuh belas kasihan itu benar” membuktikan kebenaran nilai-nilai moral yang objektif. Nilai-nilai ini tampaknya berdiri sebagai hal yang berbeda dan tidak tergantung pada pikiran dan kehendak manusia. Dengan kata lain, nilai-nilai ini ditemukan, bukan diciptakan. Namun, apa yang menjelaskan keberadaan prinsip-prinsip moral yang objektif, universal, dan tidak berubah? Apa yang menjamin keabsahan prinsip-prinsip itu? Dan apa yang menjadi sumber dan dasarnya? Nilai-nilai moral yang objektif secara logis tidak sesuai dengan segala bentuk relativisme etis, yang mencakup teori naturalistis, ateistis, evolusioner. Relativisme etis itu membingungkan dan tidak bisa berfungsi

BAGAIMANA ORANG DAPAT MENGETAHUI BAHWA ALLAH ITU ADA?

29

sebagai teori moral yang dapat diterima. Di situ, ketidakhadiran Allah yang secara moral sempurna, moralitas hanya bersifat tradisional, tidak berdasarkan akal sehat, dan subjektif. Prinsip-prinsip etis yang objektif memang ada, tetapi tidak mungkin ada di tengah kekosongan metafisika. Apa yang baik secara moral (etis) tidak dapat dipisahkan dari apa yang nyata (metafisika) dan apa yang benar (epistemologis). Ateisme tidak memiliki dasar untuk melatih kesadaran manusia tentang kewajiban moral. Tanpa Allah, nilai-nilai moral yang objektif tidak memiliki jangkar metafisika dan karena itu tidak dapat dipertanggungjawabkan. Tidak seperti upaya-upaya sekuler untuk menjelaskan tentang moralitas, etika teisme Kristen didasarkan pada natur Allah yang sempurna secara moral, yang secara khusus telah menyatakan kehendak-Nya kepada umat manusia. Oleh karena itu, Allah adalah sumber dan dasar bagi nilai-nilai moral yang objektif (lih. bab 18 untuk mendapatkan penjelasan tentang hubungan Allah terhadap etika). Hukum moral yang mutlak diberikan oleh Sang Pemberi Hukum moral kosmis. Allah yang dinyatakan di dalam Kitab Suci Yahudi-Kristen adalah Pribadi yang sempurna secara moral, yang ada di belakang tatanan moral yang objektif, yang ditemukan di dalam alam semesta.19 Allah secara unik menjelaskan makna, tujuan, dan signifikansi yang dirasakan dan dirindukan oleh manusia

Jika Allah tidak ada dan alam semesta merupakan produk prosesproses alam yang tidak beralasan dan tidak bertujuan, maka tidak ada makna yang objektif bagi kehidupan. Berdasarkan perspektif ini, fakta bahwa umat manusia itu ada hanyalah sebuah kebetulan evolusi yang menakjubkan. Umat manusia hidup di planet ini untuk waktu yang sangat singkat dan kemudian tidak ada lagi (kepunahan permanen). Dengan pandangan naturalistis yang menyedihkan ini, satu-satunya makna dan tujuan yang mungkin bisa dinikmati manusia adalah apa yang secara subjektif mereka buat untuk diri mereka sendiri. Namun, dengan mengingat kematian diri yang mungkin segera terjadi, bersama dengan kepunahan spesies yang tak terelakkan dan kematian seluruh alam semesta karena entropi (hilangnya energi yang tersedia dalam menjalankan fungsinya), mungkinkah ada makna, tujuan,

30

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

signifikansi, dan nilai sejati dalam kehidupan, dengan cara yang sementara sekalipun? Mempertimbangkan pertanyaan ini, kaum ateis cenderung terbagi menjadi dua kubu, ada yang optimistis dan ada yang pesimistis. Kaum ateis yang optimistis cenderung sangat menekankan manfaat-manfaat yang dirasakan oleh keyakinan ateistis (mis., otonomi pribadi). Namun, filsuf-filsuf eksistensial ateistis seperti Jean-Paul Sartre (1905-1980) dan Albert Camus (1913-1960) mengatakan bahwa pemikiran atas skenario ini (makna tujuan) menyebabkan kecemasan filosofis, keputusasaan, dan ketakutan.20 Menurut eksistensialis ateistis, manusia itu sendirian di alam semesta, dan sendirian menghadapi kesulitan eksistensial kosmis. Namun, tiga hal di dalam diri manusia bertentangan dengan perspektif orang yang tidak bertuhan dan nihilistik ini. Pertama, kebanyakan manusia secara intuitif merasakan bahwa hidup mereka memiliki makna dan tujuan yang nyata dan objektif. Mungkin orang hanya tidak secara serius dan filosofis merenungkan kondisi mereka di dalam kehidupan. Namun, bahkan andaikata mereka tidak senang dengan apa yang mengisi kehidupan mereka masing-masing, umat manusia secara umum hidup dengan pengertian bahwa sesuatu yang berarti terjadi di belakang layar. Kedua, orang merindukan makna dan tujuan hidup yang berlangsung sampai pada kehidupan setelah kematian. Bagi kebanyakan orang, keinginan dan pencarian atas suatu makna yang utama akan sampai pada keyakinan akan adanya kehidupan setelah kematian, dan biasanya melibatkan kepercayaan kepada Allah. Manusia mungkin saja menggunakan bentuk kosmis keyakinan yang keliru, tetapi ilmu antropologi dan sosiologi memperlihatkan bahwa manusia selalu memiliki intuisi spiritual yang mendalam tentang signifikansi yang kekal—sebenarnya sejak hari pertama manusia diciptakan. Intuisi ini unik bagi manusia dan sangat sulit dijelaskan bila dikaitkan dengan evolusi Darwin. Sesungguhnya wajar bahwa pencarian makna dan tujuan merupakan salah satu karakteristik yang menentukan dari spesies yang dikenal sebagai Homo sapiens. Teolog filosofis Amerika Paul Tillich (1886-1965) telah menyatakan bahwa setiap orang, termasuk kaum ateis, mencari tujuan akhir dalam hidup. Ketiga, jika dunia benar-benar tidak bermakna, maka kehidupan manusia pun tidak bermakna. Namun, konsep ini tidak cocok dengan alam pikiran. Bagaimana mungkin orang yang tinggal di dunia yang tidak

BAGAIMANA ORANG DAPAT MENGETAHUI BAHWA ALLAH ITU ADA?

31

bermakna bisa melontarkan pengakuan luar biasa bermakna bahwa dunia ini tidak ada maknanya? Sebagaimana ditunjukkan oleh pemikir Kristen C. S. Lewis, ciptaan-ciptaan Allah yang tidak bermakna takkan pernah mendapati diri mereka tidak bermakna.21 Apakah kemampuan unik manusia untuk merenungkan tentang makna kehidupan menjadi suatu petunjuk kuat bahwa memang ada sesuatu yang lebih dalam dari kehidupan? Kesadaran dan kebutuhan manusia yang mendalam akan makna sangat cocok dengan pernyataan kebenaran Kristen bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dan bahwa kebutuhan terbesar manusia adalah untuk didamaikan dengan Allah dan menikmati persekutuan dengan-Nya untuk selamanya (lih. bab 11). Ajaran unik tentang penebusan Kristus yang penuh kasih karunia menawarkan makna, tujuan, dan signifikansi sejati bagi orang-orang berdosa yang terasing dari Allah, dari sesamanya satu sama lain, dan dari diri mereka sendiri. Allah secara unik menjelaskan kesadaran manusia tentang hal yang Ilahi

Kitab Suci menyatakan bahwa di dalam lubuk hatinya manusia tahu bahwa Allah itu ada. Allah menciptakan manusia menurut gambar diriNya, dengan memberikan kesadaran di dalam batin manusia tentang Sang Pencipta (lih. bab 3). Dia juga menciptakan lingkungan bagi manusia yang memicu dan mendorong munculnya kesadaran manusia berdosa ini akan keberadaan Allah. Oleh sebab itu, kesadaran Ilahi ini nyata bagi manusia, dengan berlandaskan faktor-faktor eksternal dan internal yang kuat. Secara eksternal, keberadaan, kekuasaan, kemuliaan, dan hikmat Allah terbukti bagi umat manusia, dan terwujud dalam lingkup kosmis yang mengelilinginya, yakni alam semesta (Mzm. 19:2-5). Secara internal, melalui hati nurani, manusia sangat menyadari akan tanggung jawab moral mereka kepada Sang Pencipta (Rm. 2:14-15). Orang melihat, memahami, dan mengetahui bahwa ada Allah yang kepada-Nya mereka akan betanggung jawab langsung secara moral (berdasarkan faktor-faktor eksternal dan internal). Namun, dalam keberdosaannya, manusia menekan kesadaran akan kebenaran ini (Rm. 1:18). Dengan demikian, manusia berdosa ini mengalami tarik-menarik antara kesadaran intelektual dan kesadaran spiritual, ia menginginkan sekaligus

32

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

menolak Allah. Meskipun ia diciptakan untuk tujuan khusus, yakni bersekutu dengan Penciptanya, manusia berdosa tetap menolak untuk mengakui Allah yang sejati atau menyetujui pertanggungjawaban moral kepada Penciptanya. Berlandaskan penyataan eksternal dan internal yang kuat ini Allah bermaksud menghakimi orang-orang yang tidak percaya kepada-Nya (Rm. 1:20). Oleh karena itu, kebutuhan terbesar manusia adalah penebusan (untuk diperdamaikan dengan Allah). Kesadaran yang melekat dan intuitif akan adanya Allah ini, jika memang berakar dalam kebenaran, akan sangat menjelaskan tentang umat manusia. Kesadaran ini menjelaskan adanya dorongan religius dan moral yang mendalam di dalam diri manusia, serta fenomena universal akan pengalaman religius. Beberapa orang telah menyebut manusia sebagai Homo religiosus karena kecenderungan dan natur religius dasar kita. Pada dasarnya, ateisme tampaknya sangat bertentangan dengan natur dasar manusia. Pandangan alkitabiah tentang kesadaran manusia akan Allah sangat cocok dengan pengalaman dan perilaku manusia. Allah secara unik menjelaskan teka-teki tentang manusia

Kriteria penting untuk menerima agama sebagai hal yang benar adalah kemampuan agama itu untuk bertanggung jawab dan menjelaskan realitas-realitas penting yang dihadapi di dalam kehidupan. Salah satu realitas utama adalah teka-teki tentang manusia itu sendiri. Pemikir Kristen Blaise Pascal (1623-1662) dalam karya klasiknya, Pensées, menggambarkan manusia sebagai campuran yang tidak lazim antara “keagungan dan kemalangan,” karena pada saat yang sama manusia itu menjadi “kemuliaan dan sampah alam semesta” (lih. bab 6). Natur manusia menimbulkan paradoks yang membingungkan. Meskipun manusia mampu melakukan hal-hal besar di bidang matematika, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat, seni, perbuatan-perbuatan kemanusiaan dan amal, dan sebagainya, ia juga mampu melakukan tindakan-tindakan yang memalukan dan jahat—pemerkosaan, perampokan, rasisme, perbudakan, dan pembunuhan massal. Menjelaskan natur manusia menimbulkan suatu tantangan filosofis, psikologis, dan spiritual yang luar biasa.

BAGAIMANA ORANG DAPAT MENGETAHUI BAHWA ALLAH ITU ADA?

33

Namun, Alkitab memegang rahasia untuk mengungkap teka-teki tentang manusia. Pandangan teistis Kristen menegaskan bahwa keagungan manusia merupakan cerminan langsung dari imago Dei. Sebagai makhluk hidup yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, manusia mencerminkan kemuliaan Penciptanya. Jadi, manusia itu menyerupai Allah dalam banyak hal, terutama bila dibandingkan dengan binatang. Di sisi lain, kemalangan dapat ditelusuri sejak kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa (Kej. 3). Adam menyalahgunakan kebebasannya untuk memberontak terhadap Allah dan sebagai akibatnya ia terpisah dari Allah dan sepenuhnya menjadi manusia berdosa. Namun, dosa Adam tidak hanya memengaruhi dirinya sendiri. Doktrin Alkitab menjelaskan bahwa seluruh umat manusia mewarisi perasaan bersalah dan kerusakan moral dari manusia pertama, Adam (Mzm. 51:7; 58:4; Rm. 5:12,18-19; 1Kor. 15:22). Dalam keadaan berdosa sekarang ini, manusia mampu menggunakan kualitas-kualitas yang dikaruniakan kepadanya oleh Allah untuk tujuan kejahatan. Baik pandangan naturalistis maupun agama-agama alternatif di dunia tidak dapat sebaik Alkitab dalam menjelaskan teka-teki terbesar di dunia, yakni umat manusia. Allah secara unik menjelaskan pengakuan, karakter, dan mandat Yesus Kristus

Menurut banyak dokumen PB yang secara historis dapat diandalkan (lih. bab 7), Yesus dari Nazaret membuat pengakuan-pengakuan yang tiada bandingnya bahwa Dia memiliki otoritas Allah selama pelayananNya di tengah masyarakat (lih. bab 8). Dia menyamakan diri-Nya dengan Yahweh (Allah). Bahkan, secara langsung dan tidak langsung Dia membuat pengakuan bahwa Dia adalah Allah. Sebagai contoh, di dalam Injil Yohanes, Yesus beberapa kali menyebut diri-Nya sebagai “Aku,” yang (dalam cara Dia menggunakannya) jelas merupakan salah satu ungkapan Ilahi yang paling suci dari PL dan praktis itu sama saja dengan mengaku bahwa “Akulah Allah” (bdk. penggunaan ungkapan ini oleh Yesus dalam Yoh. 8:24, 28, dan 58 dengan pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh Yahweh dalam Yes. 41:4; 43:10, 13, 25; 46:4; 48:12).

34

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

Orang-orang Yahudi pada waktu itu tentunya memahami hal ini sebagai pengakuan bahwa Dia adalah Allah. Itulah sebabnya mereka berusaha melempari Yesus dengan batu karena dianggap melakukan dosa menghujat Allah (Yoh. 8:59). Demikian pula dalam Injil Markus, Yesus secara terbuka mengaku sebagai Mesias dengan menyatakan bahwa Dia memiliki hak-hak istimewa dari Allah (Mrk. 14:61-64). Pengakuan Yesus secara tidak langsung bahwa Dia adalah Allah dibuktikan ketika secara unik Dia menggunakan hak-hak istimewa Allah itu (tindakan-tindakan yang hanya dilakukan oleh Allah saja). Sebagai contoh, Dia menerima penyembahan (Mat. 4:10; 28:16-17), mengampuni dosa (Mrk. 2:1-12), menyatakan diri-Nya sebagai Hakim akhir umat manusia (Yoh. 5:22, 27), dan bahkan menegaskan kemampuan-Nya untuk membangkitkan orang mati (Yoh. 5:21). Pengakuan yang belum pernah terjadi sebelumnya bahwa Dia adalah Allah menyebabkan Yesus ditangkap, dihukum, dan disalibkan dengan dakwaan khusus, yakni penghujatan. Dia mengaku bahwa Dia adalah Allah dalam tubuh manusia. Tidak ada pemimpin agama besar lainnya di dunia ini yang pernah menyatakan dirinya sebagai Allah. Namun, apakah ada alasan kuat untuk menerima pengakuan Yesus sebagai Allah? Yesus memiliki mandat yang istimewa untuk mendukung pengakuanNya bahwa Dia adalah Allah. Renungkan empat hal singkat berikut ini. Pertama, Yesus menggenapi puluhan nubuat di PL yang sangat spesifik tentang jati diri, misi, dan pesan dari Mesias yang akan datang.22 Nubuatnubuat ini (yang ditulis ratusan tahun sebelum kelahiran Yesus sendiri) memberikan detail-detail yang tepat tentang kelahiran, warisan, kehidupan, dan kematian Mesias yang telah lama ditunggu-tunggu. Banyak dari nubuat ini berada di luar kemampuan alami Yesus sebagai manusia untuk menggenapinya. Kesempatan yang membuat semua nubuat ini menjadi kenyataan dalam hidup Yesus benar-benar mengejutkan. Kedua, menurut banyak catatan Injil yang telah terbukti, Yesus kerap melakukan mukjizat.23 Dia menyembuhkan penyakit-penyakit yang tak tersembuhkan, mencelikkan mata orang yang buta, melipatgandakan sedikit makanan yang dimiliki untuk memberi makan ribuan orang, menenangkan badai, berjalan di atas air, dan bahkan membangkitkan orang mati. Dan musuh-musuh Yesus tidak meragukan kebenaran perbuatanperbuatan-Nya yang ajaib itu. Prasangka yang menolak hal-hal yang

BAGAIMANA ORANG DAPAT MENGETAHUI BAHWA ALLAH ITU ADA?

35

adikodrati kerap kali menahan kaum skeptis modern untuk mempertimbangkan dengan cermat kehidupan dan perbuatan-perbuatan Yesus. Namun, prasangka tersebut semestinya tidak menghalangi mereka untuk menerima peristiwa-peristiwa yang ajaib itu jika peristiwa-peristiwa tersebut secara historis terkenal. Rasanya masuk akal untuk menyimpulkan bahwa jika Allah itu ada (tentu dari sudut pandang rasional), maka Dia akan melakukan mukjizat-mukjizat bila Dia datang ke bumi. Ketiga, Yesus menunjukkan karakter moral yang tak tertandingi selama tiga tahun pelayanan-Nya kepada masyarakat, yang berhasil mengubah dunia untuk selamanya. Para anggota keluarga, teman dekat, dan musuh bebuyutan tidak bisa sungguh-sungguh menemukan kesalahan moral pada diri-Nya. Ajaran Yesus berisi wawasan etika yang luar biasa, dan Dia memberikan teladan moral yang sempurna. Teladan moral pribadi Yesus yang murni dan ajaran-ajaran-Nya yang mendalam berhasil meletakkan dasar bagi banyak teori etika yang dianut dan dipraktikkan di seluruh peradaban Barat, bahkan di kalangan yang bukan Kristen. Sebuah alasan kuat untuk menyimpulkan bahwa Yesus memang Allah yang berinkarnasi adalah bahwa pada dasarnya Dia itu sangat berbeda dibandingkan semua orang lainnya yang pernah ada di bumi. Bahkan para filsuf dan pemimpin agama-agama besar di dunia seperti Socrates, Siddhartha Gautama (Buddha), Konfusius, Musa, dan Salomo akan pudar bila dibandingkan dengan-Nya. Tidak ada yang memberikan dampak sebaik itu kepada dunia seperti yang dilakukan oleh Yesus dari Nazaret. Keempat, berbagai dokumen PB mencatat dengan sangat detail kesaksian dari tangan pertama tentang kebangkitan Yesus dari antara orang mati (lih. bab 10). Sampai akhir hayat (kadang-kadang sebagai martir) para rasul mengaku menjadi saksi mata dari kebangkitan tubuh Yesus. Mereka secara khusus mengaku telah melihat, mendengar, dan menyentuh Yesus yang bangkit pada berbagai kesempatan. PB mencatat banyak penampakan tersebut. Para penguasa Romawi dan Yahudi tidak bisa membantah kebangkitan itu. Bukti-bukti pendukung juga ditemukan di dalam kubur yang kosong, di banyak penampakan Kristus setelah penyaliban-Nya, perubahan pada diri para rasul yang tadinya penakut menjadi pengikut yang sangat setia (bahkan sampai martir), pertobatan dramatis Saulus asal Tarsus yang akhirnya menjadi rasul Paulus, pemunculan gereja Kristen

36

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

mula-mula dulu, perubahan hari resmi ibadah ke hari Minggu untuk memperingati hari kebangkitan, dan pada fakta bahwa semua penjelasan naturalistis alternatif tentang peristiwa ini gagal total (lih. bab 10). Mandat Yesus sebagai Mesias yang Ilahi (Yeshua haMachiach) memang luar biasa: penggenapan nubuat PL, pelaksanaan berbagai mukjizat, karakter pribadi yang tak tertandingi, pengaruh yang tak terhitung banyaknya dalam sejarah, dan kebangkitan tubuh dari kematian. Buktibukti ini mengarah pada satu kesimpulan yang mengejutkan: Yesus Kristus adalah Allah. Kita tidak perlu meragukan keberadaan Allah—Dia membuat diri-Nya dikenal di dalam diri Yesus dari Nazaret. Bahkan, Allah datang ke dunia untuk tinggal bersama kita. Dengan demikian, satusatunya penjelasan yang benar-benar masuk akal untuk sejarah kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus adalah bahwa Dia adalah Allah di dalam tubuh manusia. Di dalam pribadi Yesus Kristus, Allah secara klimaks dan tegas membuat diri-Nya dikenal oleh umat manusia. Allah secara unik menjelaskan realitas-realitas kehidupan yang bermakna

Sekumpulan hal yang telah dijelaskan sebelumnya dalam buku ini dipandang sebagai bukti yang lebih kuat untuk menyatakan keberadaan Allah. Realitas-realitas yang bermakna dan diperlukan, membutuhkan penjelasan yang memadai. Sebuah pandangan yang dapat diterima memiliki kekuatan penjelas dan ruang lingkup yang benar. Salah satu alasan terkuat bahwa kebenaran teisme Kristen itu memang benar adalah kemampuannya untuk menjelaskan dan membuktikan banyaknya, beragamnya, dan tak terbantahkannya realitas-realitas kehidupan seperti yang dibahas di atas. Namun, argumen kolektif akhir patut dipertimbangkan.

Argumen Kumulatif Argumen-argumen di dalam bab ini membutuhkan keberadaan Allah di dalam Alkitab sebagai sarana untuk menjelaskan realitas (pemikiran untuk penjelasan hipotesis yang terbaik). Argumen-argumen ini juga dapat dilihat sebagai argumen kumulatif dari bukti-bukti kuat tentang Allah di dalam Alkitab. Artinya, meskipun setiap argumen memiliki kekuatan logis atau bukti tertentu sendiri, argumen-argumen ini tetap

BAGAIMANA ORANG DAPAT MENGETAHUI BAHWA ALLAH ITU ADA?

37

secara kolektif memiliki kekuatan pembuktian yang semakin meningkat dalam mendukung keberadaan Allah. Melihat realitas-realitas luar biasa yang hadir di dunia dan di dalam kehidupan manusia akan membuat manusia percaya bahwa Allah di dalam Alkitab adalah dasar untuk semua realitas dan kebenaran. Di dalam Kitab Suci dikatakan: Barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. (Ibr. 11:6)

Namun, bagaimana orang dapat percaya kepada Allah yang tidak bisa mereka lihat? Pertanyaan ini merupakan topik yang akan dibahas pada bab berikutnya.

Pertanyaan Diskusi 1. Bagaimana agar percaya kepada Allah memberikan landasan filosofis untuk realitas-realitas kehidupan yang bermakna? 2. Mengapa alam semesta membutuhkan penyebab untuk menjelaskan keberadaannya? 3. Mengapa realitas yang bermakna tentang kehidupan tidak dapat berasal dari peristiwa yang acak dan alami? 4. Bagaimana kekristenan menjelaskan tentang kondisi manusia dengan cara yang lebih baik daripada pandangan-pandangan lainnya di dunia? 5. Dengan dasar apakah orang bisa diyakinkan bahwa Yesus Kristus adalah Allah? Untuk Studi Lebih Lanjut Boa, Kenneth D., dan Robert M. Bowman Jr. Faith Has Its Reasons: An Integrative Approach to Defending Christianity (Colorado Springs: NavPress, 2001). ________. 20 Compelling Evidences that God Exists: Discover Why Believing in God Makes So Much Sense (Tulsa, OK: River-Oak, 2002). Evans, C. Stephen. Why Believe? Reason and Mystery as Pointers to God (Grand Rapids: Eerdmans, 1996). Kreeft, Peter, dan Ronald K. Tacelli. Handbook of Christian Apologetics: Hundreds of Answers to Crucial Questions (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1994).

38

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

Miethe, Terry L., dan Gary R. Habermas. Why Believe? God Exists! Rethinking the Case for God and Christianity (Joplin, MO: College Press, 1999). Miller, Ed L. God and Reason: An Invitation to Philosophical Theology, edisi ke-2 (Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall, 1994). Moreland, J. P. Scaling the Secular City: A Defense of Christianity (Grand Rapids: Baker, 1987). Moreland, J. P., dan William Lane Craig. Philosophical Foundations for a Christian Worldview (Downers Grove, IL: InterVarsity, 2003). Swinburne, Richard. Is There a God? (Oxford: Oxford University Press, 1996).

BAGAIMANA SAYA MEMERCAYAI ALLAH YANG TIDAK DAPAT SAYA LIHAT?

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat. ––Ibrani 11:1, 3 Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup-itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. ––1 Yohanes 1:1-2

J

ika Allah itu ada, mengapa saya tidak dapat melihat-Nya? Jika Dia menampakkan diri dan orang-orang benar-benar dapat melihat-Nya— atau jika saya bisa melihat-Nya melakukan mukjizat—maka saya akan percaya. Namun, jika tidak begitu, saya tidak dapat percaya kepada Allah. Saya hanya percaya pada apa yang saya lihat.” Kegalauan umum ini menimbulkan pertanyaan mengenai apa yang riil (metafisika) dan bagaimana orang dapat mengetahui realitas (epistemologi). Dua pertanyaan muncul dalam pikiran: Apakah masuk akal untuk percaya pada sesuatu yang tidak dapat dilihat, terutama memercayai Allah yang tak terlihat? Dan jika Allah memang ada, mengapa Dia tidak membuat diri39

40

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

Nya dapat dilihat sehingga semua orang dapat percaya kepada-Nya? Menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini tentang keberadaan Allah yang tidak dapat dilihat, sebenarnya menekankan kebenaran doktrin kekristenan yang khas, yakni bahwa Allah telah muncul ke dunia secara unik.

Keyakinan yang Logis Sudut pandang yang digambarkan dalam pernyataan “Saya hanya percaya pada apa yang saya lihat” memperlihatkan pendekatan terbatas tertentu pada natur realitas. Teori metafisika (pandangan tentang realitas) mengasumsikan bahwa semua realitas dapat direduksi, atau dijelaskan oleh hal-hal yang tampak secara fisik—bentuk kasar materialisme. Dengan kata lain, sesuatu yang ada (nyata) harus dapat dilihat. Jika dapat dilihat oleh mata, maka sesuatu itu harus hadir nyata secara fisik di alam. Perspektif ini juga mengungkapkan betapa realitas dapat diketahui. Filsuf Kristen J. P Moreland menyebut pendekatan ini sebagai “empirisme sederhana.”1 Empirisme adalah teori epistemologis (pandangan tentang pengetahuan) bahwa pengetahuan datang secara eksklusif melalui pancaindra (melihat, mendengar, mencium, merasakan, menyentuh).2 Ungkapan Jangan percaya sebelum melihat merupakan bentuk empirisme sederhana karena terbatas dan sederhana sifatnya. Renungkanlah lima kritik berikut tentang pandangan epistemologis ini: 1. “Saya hanya percaya pada apa yang saya lihat” adalah pernyataan yang melawan dirinya sendiri

Pernyataan di atas merupakan pernyataan kontradiktif yang menegaskan namun sekaligus menyangkal makna dasarnya sendiri. Moreland menunjukkan bahwa “pernyataan ‘Saya hanya percaya pada apa yang dapat saya lihat’ tidak dapat dilihat.”3 Prinsip metafisika dan epistemologis yang mendasari pernyataan “apa yang nyata dapat dilihat” tidak dapat dilihat! Pernyataan “Saya hanya percaya pada apa yang saya lihat” mengungkapkan prinsip konseptual yang berbeda dengan kalimat yang ditulis secara harfiah dan karena itu tidak dapat dilihat oleh mata atau terdeteksi oleh pancaindra lainnya. Jadi, menerima pernyataan “Saya hanya percaya pada apa yang saya lihat” berarti menerima prinsip yang

BAGAIMANA SAYA DAPAT MEMERCAYAI ALLAH YANG TIDAK DAPAT SAYA LIHAT?

41

tidak dapat dilihat. Dengan kata lain, jika orang percaya pada pernyataan “Saya hanya percaya pada apa yang saya lihat,” maka ia tidak akan percaya pada pernyataan itu sendiri karena kepercayaan tersebut tidak dapat dilihat. Pernyataan “Saya hanya percaya pada apa yang saya lihat” menjadi kemustahilan. 2. Banyak realitas terpenting dalam kehidupan ini tidak dapat dilihat

Masalah besar kedua dengan pernyataan yang hanya mau memercayai apa yang dapat dilihat oleh manusia adalah bahwa banyak hal yang nyata ada kerap tidak dapat diamati. Sejumlah entitas yang terkait dengan ilmu pengetahuan tidak dapat dilihat tetapi masih dianggap sebagai bagian yang penting dari realitas. Magnet, gravitasi, listrik, elektron, dan neutrino adalah beberapa di antaranya. Nilai-nilai moral seperti keadilan dan kebaikan itu ada, tetapi itu semua tidak dapat dilihat. Orang menilai perbuatan manusia sebagai jahat atau baik, tanpa benar-benar bisa melihat nilai-nilai ini. Konsep kebenaran merupakan realitas yang tidak terlihat dan tidak terbantahkan. Kasih, suatu realitas kehidupan yang sangat dibutuhkan, juga tetap tidak dapat dilihat oleh mata. Perasaan dan emosi itu ada, tetapi tidak dapat dilihat langsung secara empiris. Pemikiran filosofis yang cermat menunjukkan bahwa entitas-entitas abstrak yang penting seperti bilangan, bidang, proposisi, dan sifat tidak dapat dilihat namun riil. Realitas-realitas yang tidak dapat dilihat ini membutuhkan landasan metafisika. Filsuf Kristen Alvin Plantinga memberikan komentar provokatif perihal sifat abstrak bilangan: Tampaknya masuk akal bila kita menganggap bilangan itu bergantung pada atau bahkan dibentuk oleh aktivitas intelektual. Terlalu banyak bilangan yang muncul sebagai akibat dari aktivitas intelektual manusia. Oleh karena itu, kita harus menganggap bilangan-bilangan itu sebagai . . . konsep pikiran yang tidak terbatas: pikiran Ilahi.4

Berlawanan dengan pandangan bahwa Allah itu tidak ada karena Dia tidak dapat dilihat, banyak filsuf teistik secara bijaksana menganggap keberadaan-Nya yang tak terlihat sebagai landasan filosofis yang diperlukan untuk entitas-entitas abstrak nyata lainnya yang tak dapat disangkal. Pandangan Kristen menegaskan bahwa apa yang dapat dilihat sebenarnya bergantung pada apa yang tidak dapat dilihat.

42

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

Kelemahan utama segala bentuk materialisme, termasuk bentuk yang paling sederhana, adalah ketidakmampuannya untuk menjelaskan komponen-komponen kehidupan yang transenden. Cacat ini benarbenar unik dalam hubungannya dengan unsur-unsur kognitif atau konseptual. Kita tidak dapat melihat pikiran kita. Otak dapat dilihat, tetapi pikiran tidak dapat dilihat.5 Akan tetapi, kita tidak meragukan realitas masing-masing. Orang yang menyangkal keberadaan batin dan pikiran karena keduanya tidak dapat dilihat akan dianggap tidak rasional. Apakah hukum logika (hukum nonkontradiksi, penyisihan jalan tengah, dan jati diri) itu bersifat lahiriah, bendawi, atau kasatmata? Tidak. Namun, hukum nonfisik, abstrak, dan tak terlihat ini adalah realitas6—inilah yang memungkinkan terbentuknya rasionalitas manusia dan kejelasan di dunia. Pada awalnya memang tampak logis bila kita memercayai hal-hal yang hanya dapat dideteksi oleh pancaindra. Namun, setelah direnungkan dengan serius, posisi ini tidak memiliki kekuatan penjelas, bahkan untuk menjelaskan realitas kehidupan yang paling mendasar. Sudut pandang secara fisik ini malah menjadi puncak ketidakrasionalan. 3. Aktivitas ilmiah bergantung pada hal-hal yang tidak dapat diamati secara langsung

Para ilmuwan yang menganut naturalisme (alam adalah realitas tertinggi) kerap mengungkapkan, atau secara tidak langsung mengatakan, “Saya hanya percaya pada apa yang dapat diamati secara empiris, atau apa yang dapat disimpulkan dari apa yang diamati secara empiris.” Pernyataan ini juga merupakan pernyataan yang melawan dirinya sendiri. Filsuf Kristen Greg L. Bahnsen mengulang komentar Moreland tadi: “Pernyataan ‘Saya hanya percaya pada apa yang dapat diamati secara empiris, atau apa yang dapat disimpulkan dari apa yang diamati secara empiris’ mustahil berasal dari pengamatan empiris!”7 Pandangan bahwa hanya alam saja yang ada tidak mungkin berasal dari penyelidikan ilmiah. Sebaliknya, anggapan yang bukan empiris atau dogma sekulerisme seringkali mengganggu penyelidikan ilmiah.8 Carl Sagan menyatakan dalam pembukaan serial televisi PBS-nya yang sangat populer, Cosmos, “Kosmos adalah semua yang ada, atau yang pernah ada, atau yang akan ada.” Namun, pernyataan naturalistis

BAGAIMANA SAYA DAPAT MEMERCAYAI ALLAH YANG TIDAK DAPAT SAYA LIHAT?

43

dan ateistis Sagan yang berani itu mustahil hanya berasal dari metode ilmiah induktif yang begitu diidolakannya.9 Sebenarnya, sebuah konsensus ilmiah yang sedang berkembang menegaskan bahwa studi yang cermat tentang alam semesta memperlihatkan sebuah kosmos yang terus disempurnakan (kosmologi ledakan dahsyat, prinsip antropik)—yang membutuhkan penyebab utama yang cerdas di balik hal itu.10 Aktivitas ilmu pengetahuan menganggap sejumlah kebenaran dasar tidak sepenuhnya berasal dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Agar aktivitas ilmiah dapat berlangsung dan berkembang, beberapa asumsi nonempiris tentang dunia harus benar (lih. bab 14). 4. “Saya tidak dapat percaya kepada Allah yang tidak dapat saya lihat” masuk dalam kesalahan kategori.

J. P. Moreland mendefinisikan kesalahan kategori dan menjelaskan mengapa sikap yang menuntut untuk melihat Allah yang ada di dalam Alkitab itu tergolong dalam kesalahan tersebut: Sebuah kesalahan kategori adalah kesalahan menempatkan suatu karakteristik pada sesuatu yang hanya berlaku bagi objek dari kategori yang lain. Sebagai contoh, disebut salah kategori ketika kita menetapkan warna untuk nada C. Suara tidak berwarna. Juga disebut salah kategori ketika kita menyalahkan warna karena tidak berbau, hal-hal yang universal karena tidak terletak pada satu tempat saja, dan Allah karena tidak memiliki sebuah entitas empiris. Jika Allah itu ada, menurut definisinya (dalam kekristenan ortodoks), Allah itu merupakan Roh yang tidak terbatas. Kodrat roh bukan untuk terlihat secara empiris seperti halnya objek yang bersifat materi. Disebut kesalahan kategori ketika kita memberlakukan hal-hal yang berhubungan dengan pancaindra untuk Tuhan, atau menyalahkan-Nya karena bukan menjadi objek yang terlihat.11

Moreland mengamati pandangan Kristen historis, yakni bahwa Allah adalah Roh yang kekal dan tidak terbatas. Jika ada alasan yang kuat untuk memercayai kebenaran penyataan kekristenan (betapa Allah telah menyatakan diri-Nya), maka seseorang harus dipersiapkan untuk menerima Allah apa adanya. Bersikeras bahwa Sang Pencipta harus memenuhi persyaratan epistemologis makhluk yang diciptakan-Nya mungkin merupakan sikap yang gegabah dan sesat secara spiritual. Walaupun pengujian intelektual, kearifan, dan pemikiran logis sangat tepat dalam upaya

44

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

untuk menjawab kritik-kritik keagamaan, makhluk ciptaan harus belajar bersikap rendah hati dalam mengakui bahwa Sang Pencipta, jika Dia ada, natur-Nya pasti sangat berbeda dari ciptaan-Nya dan Dia pasti memiliki rencana-Nya sendiri yang berdaulat untuk menyatakan diriNya. 5. Memercayai Allah yang dipakai untuk menjelaskan hal yang tidak dapat dilihat dalam fenomena alam semesta, dapat dibenarkan

Realitas-realitas teoretis (yang tidak terlihat) kerap dikemukakan untuk menjelaskan apa yang dapat dilihat. Dalam ilmu pengetahuan, teori dikembangkan untuk menjelaskan keragaman fenomena alam. Hal serupa terjadi di bidang ilmu filsafat. Teori-teori penjelas yang terbaik (dalam ilmu pengetahuan atau filsafat) tampak seimbang antara kompleksitas dan kesederhanaannya, bertalian secara logis, sesuai dengan fakta-fakta, menghindari praduga yang tidak beralasan, dapat diuji, menghasilkan prediksi, dan dengan demikian memiliki kekuatan penjelasan yang benar. Keberadaan Allah di dalam Alkitab (Sang Pencipta dan Penebus yang tidak terbatas, kekal, dan bersifat pribadi) menjelaskan banyak hal yang, tanpa kepercayaan terhadap diri-Nya, sangat sulit untuk dijelaskan. Filsuf Oxford, Richard Swinburne, tidak setuju jika keberadaan Allah dijadikan sebagai penjelasan untuk fenomena kompleks yang ditemukan di dunia. Para ilmuwan, sejarawan, dan penyelidik mengamati data, lalu mereka masuk ke beberapa teori terbaik yang dianggap dapat menjelaskan terjadinya data ini . . . Kita mendapati bahwa pandangan tentang adanya Allah dapat menjelaskan segala sesuatu yang kita amati, bukan sekadar beberapa kisaran data yang sempit. Hal ini menjelaskan fakta bahwa alam semesta itu ada, bahwa hukum-hukum ilmiah beroperasi di dalamnya, bahwa alam semesta berisi hewan dan manusia yang sadar dengan tubuh yang terorganisasi dengan rumit dan sangat kompleks, bahwa kita memiliki banyak peluang untuk mengembangkan diri kita sendiri dan dunia, serta data yang lebih khusus bahwa manusia menceritakan tentang mukjizat-mukjizat yang terjadi dan memiliki pengalaman religius . . . Kriteria yang sama, yang digunakan para ilmuwan untuk menjangkau teori mereka sendiri, membawa kita bergerak melampaui teori-teori itu menuju Allah Sang Pencipta yang menopang segala sesuatu yang ada.12

BAGAIMANA SAYA DAPAT MEMERCAYAI ALLAH YANG TIDAK DAPAT SAYA LIHAT?

45

Teisme Kristen yang percaya kepada Allah mampu menjelaskan sejumlah besar realitas dalam pengalaman manusia (lih. bab 1 tentang keberadaan Allah). Realitas-realitas ini meluas ke alam semesta (keberadaannya, tatanan, dan keseragamannya), entitas abstrak (bilangan, proposisi, dan hukum-hukum logika), prinsip-prinsip etis (nilai-nilai moral yang universal dan objektif), manusia (keberadaan, kesadaran, dan rasionalitas mereka), dan fenomena religius (peristiwa-peristiwa mukjizat dalam kekristenan). Jadi, meskipun esensi Allah tidak benarbenar dapat dilihat, keberadaan-Nya dapat disimpulkan sebagai penjelasan atas realitas yang diperlukan kehidupan. Namun, keberadaan Allah tidak naif diasumsikan sebagai penjelasan untuk ketidaktahuan manusia (praduga tentang “Allah kesenjangan”), melainkan sebagai teori penjelas yang benar dan berlaku untuk natur realitas. Filsafat skeptis tentang kehidupan benar-benar mengalami kesulitan untuk menjelaskan dan membenarkan realitas ini. Lima hal yang dibahas di atas menunjukkan bahwa tidak logis bila manusia menolak keberadaan Allah hanya karena Allah tidak dapat dilihat secara empiris. Namun, sebagian orang masih berpikir bahwa jika Allah memang ada, Dia telah gagal untuk menyatakan diri-Nya seutuhnya.

Keberadaan yang Jelas Memahami sifat dari penyataan/pewahyuan Allah—penyingkapan akan sesuatu, baik yang tidak diketahui sebelumnya atau yang belum sepenuhnya diketahui—akan menjawab keluhan tentang mengapa Allah tidak membuat keberadaan-Nya jelas agar setiap orang akan percaya kepada-Nya. Kekristenan yang historis terdiri dari kepercayaan tradisional dan ajaran kekristenan sebagaimana yang ditemukan di dalam Kitab Suci Yahudi-Kristen dan dengan tepat diringkas menjadi sebuah pengakuan iman rasuli umat Kristen (lih. bab 4). Dengan demikian, kekristenan yang historis dapat disebut sebagai agama pewahyuan. Dalam hal ini, penyataan-Nya mengacu pada penyingkapan tentang diri Allah sendiri. Kekristenan menjelaskan bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya dengan jelas dan penuh makna kepada umat manusia dengan dua cara yang berbeda: dalam penyataan/wahyu umum melalui alam dan hati nurani, dan dalam penyataan/wahyu khusus melalui Alkitab dan

46

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

terutama melalui Yesus Kristus (lih. bab 3). Penyataan umum Allah saja menyatakan secara meyakinkan bahwa “karakteristik tak terlihat pada diri Allah—kuasa-Nya yang kekal dan keilahian-Nya—telah terlihat dengan jelas dan dapat dipahami melalui ciptaan-Nya sehingga semua orang tidak dapat mengelak” (Rm. 1:20). Jadi, bagaimana dengan mereka yang menyatakan bahwa tidak ada bukti yang cukup untuk membuktikan keberadaan Allah? Sebagian orang berpendapat bahwa bagi mereka yang sadar secara spiritual dan berpandangan terbuka, ada banyak bukti terpapar agar manusia dapat percaya pada keberadaan Allah. Namun, bagi orang skeptis yang secara spiritual tidak sensitif dan berpikiran sempit, masih ada cukup ketidakjelasan, setidaknya dalam pikirannya, yang membuat mereka tetap mengungkapkan alasan ketidakpercayaan mereka. Menurut Alkitab, kejatuhan manusia dalam dosa (pemberontakan Adam) berpengaruh pada kerohanian (kemampuan kognitif dan/atau pembentukan kepercayaan), yakni dosa itu telah membutakan pikiran manusia tentang keberadaan Allah (Ef. 2:1-3; 4:17-19). Tanpa dosa, keberadaan Allah akan sangat jelas bagi semua orang. Dari sudut pandang alkitabiah, orang-orang yang tidak percaya tidak melihat betapa kekerasan hati mereka (kedegilan rohani dan moral) menahan mereka untuk percaya kepada Allah. Ketidakpercayaan mereka berakar dari pemberontakan dan kecongkakan, yang pada dasarnya merupakan ibadah palsu (1Sam. 15:22-23). Kejahatan seperti itu menimbulkan penyembahan berhala dan amoralitas. Meskipun Allah telah memberikan tanda-tanda yang kuat tentang keberadaan-Nya, orang yang skeptis sengaja mengabaikan dan/atau menahan tanda-tanda tersebut (Mzm. 14, 19; Rm. 1). Faktor-faktor manusiawi yang tidak rasional seperti kesombongan dan hasrat untuk tidak bergantung pada siapa pun menghalangi mereka untuk percaya kepada Allah. Penolakan terhadap Allah tidak membuktikan bahwa keberadaan-Nya kurang dinyatakan.

Kontak Langsung dengan Manusia Orang-orang yang mengatakan bahwa mereka akan percaya kepada Allah jika Dia muncul, dapat merenungkan keunikan Yesus Kristus. Dari semua agama di dunia, hanya agama Kristen-lah yang membuat pernyataan yang dapat dibuktikan secara historis bahwa Allah telah mema-

BAGAIMANA SAYA DAPAT MEMERCAYAI ALLAH YANG TIDAK DAPAT SAYA LIHAT?

47

suki dunia waktu dan ruang. Doktrin inkarnasi (lih. bab 9) mengajarkan bahwa Yesus Kristus datang ke dunia dengan berbalutkan daging manusia—satu-satunya theanthropos (Allah-manusia) (lih. Yoh. 1:1,14; Flp. 2: 6-8; Kol. 2:9). Seorang ahli PB, Craig Blomberg, mengomentari natur historis dari inkarnasi ini, “Iman yang alkitabiah pada dasarnya merupakan komitmen kepada Allah yang berintervensi di dalam sejarah umat manusia dengan memperlihatkan aktivitas-Nya untuk penelitian sejarah.”13 Injil mengungkapkan kehidupan Yesus Kristus dan dimaksudkan untuk menyatakan peristiwa-peristiwa bersejarah (lih. bab 7). Meskipun para rasul tidak dapat benar-benar melihat natur Ilahi Yesus (karena Allah dalam hakikatNya adalah Roh Tritunggal yang tidak terbatas), mereka tetap menyimpulkan keilahian-Nya dari karakter pribadi-Nya yang tak tertandingi, penggenapan nubuat tentang Mesias, dan karya-karya-Nya yang ajaib (terutama kebangkitan-Nya sendiri, lih. bab 10). Mereka juga menyatakan diri mengalami perjumpaan dengan Kristus yang telah dibangkitkan. Rasul Yohanes menulis bahwa ia melihat, mendengar, dan menyentuh Tuhan yang telah bangkit (1Yoh. 1:1-3). Para rasul lain memiliki pengalaman serupa (Luk. 24:36-43; Yoh. 20:24-31; Kis. 9: 1-9). Pemikir Kristen ternama, C. S. Lewis, mendorong orang untuk memikirkan realitas munculnya Allah di dunia: Pribadi kedua Allah, Sang Putra, menjadi manusia, lahir ke dunia sebagai manusia sejati—seorang manusia sejati dengan tinggi badan tertentu, dengan rambut berwarna tertentu, berbicara dalam bahasa tertentu, dengan berat tubuh tertentu. Pribadi yang kekal itu, yang mahatahu dan yang menciptakan alam semesta, bukan sekadar menjadi manusia, melainkan (sebelum itu) menjadi bayi, dan sebelumnya lagi menjadi janin di dalam tubuh seorang Perempuan.14

(Tujuan dari penampakan-Nya dibahas lebih lanjut di bab 9.) Mata manusia tidak dapat melihat banyak hal penting yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Secara metafisika, hal yang tidak dapat dilihat menjadi dasar bagi hal yang dapat dilihat. Sebagai Sosok spritual yang tidak terbatas dan kekal, esensi Allah tidak dapat dilihat oleh mata. Namun, itu berarti bahwa Allah kurang menyatakan diri-Nya kepada manusia. Pernyataan Yesus kepada Filipus menjelaskan, “Barang-

48

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9). Penjelasan lebih lanjut tentang bagaimana Allah telah menyatakan diri-Nya akan dibahas di dalam bab berikutnya.

Pertanyaan Diskusi 1. Mengapa pernyataan “Saya hanya percaya pada apa yang saya lihat” melawan dirinya sendiri? 2. Mengapa realitas-realitas abstrak dan nonempiris lebih sesuai dengan teisme Kristen daripada dengan naturalisme? 3. Bagaimana keberadaan Allah bisa lebih disukai daripada ateisme untuk menjelaskan tentang dunia dan kehidupan? 4. Bagaimana pandangan Kristen tentang wahyu Allah dalam menanggapi penolakan akan keberadaan Allah? 5. Bagaimana doktrin inkarnasi membuat penyataan Allah itu menjadi unik? Untuk Studi Lebih Lanjut Erickson, Millard J. The Word Became Flesh: A Contemporary Incarnational Christology (Grand Rapids: Baker, 1991). Montgomery, John Warwick. History and Christianity (Minneapolis: Bethany, 1965) Moreland, J. P. Scaling the Secular City: A Defense of Christianity (Grand Rapids: Baker Book House, 1987). Reymond, Robert L. Jesus, Divine Messiah: The New Testament Witness (Phillipsburg, NJ: Presbyterian and Reformed, 1990). Swinburne, Richard. Is There A God? (Oxford: Oxford University Press, 1996).

BAGAIMANA ALLAH MENYATAKAN DIRI-NYA?

“Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masingmasing, namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan.” ––Kisah Para Rasul 14:15-17 Manusia tidak pernah bersikap netral berkaitan dengan Allah. Kita dapat menyembah Allah sebagai Pencipta dan Tuhan, atau sebaliknya, kita dapat berpaling dari Allah. Karena hati ditujukan kepada Allah atau sebaliknya, menentang-Nya, maka pemikiran teoretis tidak pernah menjadi semurni atau bisa berdiri sendiri seperti yang ingin dipikirkan oleh banyak orang. ––Benjamin Breckinridge Warfield, The Inspiration and Authority of the Bible

B

agaimana orang tahu bahwa Allah itu ada? Jika Dia benar-benar ada, apa yang bisa diketahui tentang diri-Nya, natur-Nya, dan kuasa-Nya? Dan bagaimana Allah berelasi dengan dunia? Jawaban kristiani yang historis untuk pertanyaan-pertanyaan ini ditemukan di dalam doktrin pewahyuan. Pengajaran ini menggambarkan penyingkapan atas sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui atau yang tidak sepenuhnya diketahui. Iman Kristen menyatakan bahwa Allah mengambil inisiatif untuk menyatakan diri-Nya secara dinamis dan tegas. Dengan demikian, kekristenan merupakan sistem kepercayaan yang 49

50

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

didasarkan pada penyataan diri Allah dan mengajarkan bahwa pewahyuan/penyataan diri Allah itu dibutuhkan sepenuhnya oleh individu untuk mengenal Allah. Teolog injili Millard J. Erickson menjelaskan mengapa pewahyuan dan hubungan yang terjalin selanjutnya ini harus diprakarsai oleh Allah, “Karena manusia itu terbatas dan Allah itu tidak terbatas. Jadi, jika mereka mau mengenal Allah, hal itu harus terjadi melalui perwujudan Allah sendiri.”1 Menurut sejarah kekristenan, Allah telah menyatakan diri-Nya dalam dua cara yang berbeda: melalui dunia ciptaan-Nya (wahyu umum— pengenalan akan Allah melalui tatanan yang diciptakan-Nya) dan FirmanNya (wahyu khusus—pengenalan akan Allah melalui sejarah penebusan oleh Yesus). Kita dapat sekilas menyelidiki konsep kristiani tentang pewahyuan ganda tersebut dengan memeriksa dua bagian penting dari Kitab Suci dan dengan merenungkan bagaimana dua bentuk pewahyuan itu, dunia ciptaan-Nya dan Firman-Nya, berhubungan satu sama lain.

Konsep Teologi Kristen tentang Wahyu Ganda Selama berabad-abad, para teolog telah melontarkan berbagai pandangan yang saling bertentangan mengenai konsep sebuah wahyu ganda. Keragaman pendapat ini terutama sangat jelas ketika berbicara tentang natur, jangkauan, dan keberhasilan wahyu umum.2 Di salah satu ujung dunia terdapat seorang teolog Swiss Karl Barth (1886-1968), yang tidak akan menerima wahyu apa pun selain “pengalaman” keselamatan di dalam Kristus (penolakan terhadap semua wahyu umum atau alami). Di ujung yang lain, teolog Anglikan William Paley (1743-1805) menciptakan teologi natural yang meluas (interpretasi manusia tentang wahyu umum di luar Alkitab). Terlepas dari lingkup keragaman yang luas ini, telah dan tetap ada suatu kesepakatan bersama di antara sebagian besar teolog Kristen bahwa Allah telah membuat diri-Nya dikenal melalui wahyu umum dan khusus.3 Wahyu Dua Kitab Kelompok Protestan Ortodoks mendefinisikan atau mengklasifikasikan kedua bentuk penyataan diri Allah dengan cara berikut ini:

BAGAIMANA ALLAH MENYATAKAN DIRI-NYA?

51

Wahyu Umum

Keberadaan, kuasa, hikmat, keagungan, kebenaran, dan kemuliaan Allah diperlihatkan kepada semua orang di segala zaman dan tempat melalui tatanan yang tercipta, yang meliputi alam, sejarah, dan hati nurani manusia.4 Pernyataan inklusif ini mengambil dua bentuk yang berbeda. Pertama, wahyu umum eksternal yang terdiri dari tatanan yang tercipta, atau alam (yang memperlihatkan karya Allah selaku Pencipta dunia yang transenden dan penuh kepedulian), dan urutan sejarah yang sudah ditentukan-Nya (yang memperlihatkan karya Allah sebagai Pemelihara dunia yang berdaulat). Kedua, wahyu umum internal yang meliputi perasaan yang dibawa sejak lahir atau kesadaran akan adanya Allah, dan hukum moral di dalam hati manusia. Wahyu umum internal secara langsung berhubungan dengan ajaran Alkitab tentang imago Dei (gambar Allah: Kej. 1:26-27). Sebagai puncak ciptaan Allah, manusia secara unik menampilkan citra Allah dengan kemampuan rasionalnya, kehendak moralnya, keistimewaan relasionalnya, kualitas spiritualnya yang unik, dan kekuasaannya atas alam. Sebagai satu-satunya makhluk yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, umat manusia mencerminkan keagungan Pencipta mereka, namun dengan cara yang terbatas. Dan setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, citra ini menjadi ternoda. Wahyu Khusus

Penyataan diri Allah yang lebih spesifik dan khusus diwujudkan di dalam dan melalui tindakan-tindakan penebusan-Nya yang agung, berbagai peristiwa, dan firman-Nya.5 Bentuk penyataan khusus ini muncul di waktu-waktu dan di tempat-tempat yang khusus. Penyingkapan keberadaan-Nya yang detail ini muncul dalam dua tahap: Pertama, Allah menyatakan diri melalui umat perjanjian-Nya seperti para bapa leluhur, nabi, dan raja Ibrani (sebagaimana dicatat dan ditafsirkan oleh para nabi dalam PL). Kedua, wahyu Allah secara tegas mencapai puncaknya dalam inkarnasi Yesus Kristus, Allah yang menjadi manusia. Kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus (sebagaimana dicatat dan ditafsirkan oleh para rasul dalam PB) mencatat puncak masuknya Allah ke dalam sejarah manusia.6

52

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

Menurut Alkitab, perantara dari seluruh wahyu adalah Yesus Kristus—Logos yang Ilahi—Firman yang kekal dan Sang Anak yang “menerangi setiap orang” (Yoh. 1:9). Teolog injili Carl F. H. Henry menjelaskan fokus kristologis dari wahyu khusus: Wahyu khusus dalam sejarah yang dipenuhi kekudusan mencapai puncaknya melalui inkarnasi Sang Firman yang hidup dan penulisan firman yang diucapkan. Oleh karena itu, Injil penebusan bukan sekadar serangkaian tulisan abstrak yang tidak berhubungan dengan peristiwa sejarah tertentu. Injil penebusan merupakan berita dramatis bahwa Allah telah bertindak untuk menyelamatkan sejarah, yang mencapai puncaknya melalui Pribadi Kristus yang berinkarnasi dan karya-Nya (Ibr. 1:2) bagi keselamatan umat manusia yang terhilang.7

Perbedaan wahyu umum/khusus ini, meskipun bermanfaat secara teologis dan berasal dari Alkitab, tetap tidak sempurna dan dapat dianggap artifisial. Pada akhirnya, wahyu Allah menjadi suatu kesatuan sehingga tak lagi dapat dibedakan terlalu tajam. Allah yang sama telah menyatakan diri-Nya dengan cara yang umum dan khusus. Teolog injili Robert Saucy menyatakan bahwa mengenal Allah melalui kedua wahyu-Nya secara kasar dapat disamakan dengan mengenal seorang seniman.8 Meskipun sesuatu yang signifikan dari si seniman dapat diketahui dengan melihat pekerjaannya (wahyu umum), pengenalan yang luas dan lebih spesifik dapat terjadi melalui komunikasi antarpribadi (wahyu khusus) dengan si seniman. Para teolog Protestan kadang-kadang menyebut pandangan wahyu ganda ini sebagai “teori dua kitab.” Allah adalah penulis kitab/buku abstrak tentang alam (dunia ciptaan-Nya) dan penulis Kitab Suci yang harfiah (Firman Allah yang tertulis). Pengakuan Iman Rasuli Belgia (Pengakuan Iman Rasuli Reformed yang dipersiapkan pada tahun 1561) menggunakan metafora dua kitab ini dengan djudul “The Means by Which We Know God” (Cara-cara yang Melaluinya Kita Mengenal Allah): Kita mengenalnya dengan dua cara: Pertama, melalui penciptaan, pelestarian, dan pemerintahan alam semesta, karena alam semesta yang berada di depan mata kita seperti buku yang indah di mana semua ciptaan Allah, besar maupun kecil, bagaikan surat-surat yang membuat kita merenungkan hal-hal tentang Allah yang tidak dapat dilihat . . . Kedua, Dia membuat diri-Nya dikenal oleh kita dengan lebih terbuka melalui

BAGAIMANA ALLAH MENYATAKAN DIRI-NYA?

53

Firman-Nya yang kudus dan ilahi, sebanyak yang kita butuhkan dalam hidup ini, bagi kemuliaan-Nya dan demi keselamatan milik-Nya.9

Dasar Alkitabiah untuk Wahyu Ganda Perjanjian Lama

Teks utama yang mendukung konsep wahyu ganda ini adalah Mazmur 19:2-5, 8-12. Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah. Lagipula hamba-Mu diperingatkan oleh semuanya itu, dan orang yang berpegang padanya mendapat upah yang besar.

Di ayat 2-5, penulis yang diilhami, yakni Raja Daud, membayangkan kemuliaan Allah yang dinyatakan dalam tatanan yang diciptakan-Nya. Dari ayat-ayat ini, teolog Kristen, Bruce Demarest menyatakan empat hal berikut ini:10

54

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

Ayat 1—Penciptaan menunjukkan “kemuliaan Ilahi Allah” ([Ibrani]: kabod).11 Alam dengan jelas dan kuat memperlihatkan keberadaan, kekuasaan, kemuliaan, dan keahlian (pekerjaan tangan) Sang Pencipta. Ayat 2—Penyataan diri Allah tentunya “abadi dan tidak terputus.”12 Pesan (“perkataan” dan “pengetahuan”) tentang keberadaan dan karakteristik Allah dalam ciptaan-Nya, terus-menerus dan tak henti-hentinya membombardir kesadaran manusia. Ayat 3—Penyataan diri Allah melalui ciptaan-Nya itu “tanpa katakata dan tanpa suara.”13 Namun, pesan yang abadi dan mencolok dari alam tentang Allah ini terus-menerus dinyatakan. Meskipun demikian, sifat nonverbal ini tidak mengurangi kejelasan yang ditampakkan oleh alam kendati menggambarkan pentingnya sebuah pesan yang aktual dan lisan (wahyu khusus). Ayat 4—Penyataan diri Allah melalui ciptaan-Nya “telah meluas ke seluruh dunia.”14 Berita (“suara”) tentang Sang Pencipta dunia ini bersifat universal (“sampai ke ujung dunia”). Oleh karena itu, penyataan diri Allah dalam tatanan yang telah diciptakan seharusnya bisa dimengerti telah menjangkau ke semua orang di segala zaman dan tempat. Ketika beralih ke ayat 7-11, Daud merenungkan kesempurnaan dan kekuatan Hukum Allah yang tertulis. Ia memuji ketetapan, ajaran, perintah, dan peraturan Allah serta kebaikan yang terjadi akibat menganut dan mengikuti semuanya itu. Wahyu Allah yang tertulis memelihara kehidupan umat-Nya. Jadi, melalui Firman yang tertulis, Allah secara unik menghidupkan dan mengembalikan jiwa. Seperti nasihat Rasul Paulus kepada rekannya, Timotius: Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. (2Tim. 3:15-17)

BAGAIMANA ALLAH MENYATAKAN DIRI-NYA?

55

Dalam kitab kedua (Alkitab), Allah yang tidak terbatas berkenan membuat diri-Nya dikenal secara pribadi dan menyampaikan tawaran keselamatan yang menjadi tujuan-Nya datang ke dunia. Namun, penyataan Allah yang ditawarkan ini bersifat khusus—dan dipercayakan kepada orang-orang yang khusus (Israel, lalu Gereja) pada waktu dan tempat yang khusus. Perjanjian Baru

Ayat Alkitab pendukung terpenting yang berhubungan dengan pertanyaan tentang wahyu umum dan khusus, adalah Roma 1:18-21.15 Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.

Pernyataan rasul Paulus di bagian ini sangat jelas. Ia menegaskan bahwa semua orang “melihat” kemuliaan Allah tercermin dalam tatanan yang tercipta. Mereka “memahami” maksud ilahi, dan dengan demikian “tahu” bahwa Sang Pencipta itu ada (ay. 19-20).16 Dua kali Paulus menekankan suatu bentuk kata Yunani ginosko (“mengetahui” lewat pengalaman pribadi): di ayat 19—“Apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah” (gnoston tou theou), dan sekali lagi di ayat 21—“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah” (gnontes ton theon). Setidaknya empat kali, dalam konteks yang lebih luas di ayat 18-32, ia menyebutkan bahwa manusia mengenal Allah. Ungkapan-ungkapan dalam bahasa Yunani ini menyatakan bahwa semua orang memiliki pengetahuan yang autentik, objektif, dan akurat tentang Allah meskipun mungkin masih berupa pemahaman yang sederhana. Sebuah penafsiran yang cermat terhadap pernyataan-pernyataan Paulus mengungkapkan bahwa setidaknya kesadaran dasar tentang keberadaan Allah itu nyata bagi semua orang, dan pengetahuan ini tidak kabur

56

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

atau ambigu. “Kekuasaan-Nya yang kekal dan natur keilahian-Nya” dengan jelas tercermin di alam. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang dapat beralasan, “Saya tidak tahu bahwa Allah itu ada.” Allah tidak akan membiarkan diri-Nya tanpa saksi (lih. juga Kis. 14:17; 17:24-31). Meskipun Paulus menunjukkan bahwa setiap orang memiliki pengetahuan yang benar tentang Allah melalui tatanan yang diciptakanNya, ia juga menegaskan bahwa kecenderungan alami manusia berdosa adalah menekan pemahaman ini. Kata Yunani untuk “menekan” (katecho) berarti menahan atau menghalangi secara ilegal.17 Keadaan manusia yang memberontak dan berdosa memaksanya untuk “menindas kebenaran.” Meskipun manusia tahu Allah itu ada, mereka berusaha untuk menghindari pertanggungjawaban moral mereka kepada-Nya. Kondisi manusia berdosa yang jatuh dalam kebodohan moral dan spiritual, menumpulkan kemampuan rohaninya (kognitif dan/atau pembentuk kepercayaan). Para ahli Alkitab dan apologet tidak setuju mengenai natur dan luasnya jangkauan efek dosa pada manusia. Mereka mengajukan pertanyaan seperti ini, misalnya: Apakah efek dosa itu masuk dalam kategori moral atau kognitif, atau keduanya? Apakah cakupan efeknya sebagian atau total? Millard Erickson memberikan perspektif berikut ini: Distorsi dosa pada pemahaman manusia tentang wahyu umum menjadi makin besar ketika dosa juga makin dekat menghinggapi hubungan antara Allah dan manusia. Dengan demikian, dosa menghasilkan efek yang relatif kecil terhadap pemahaman pada hal-hal yang bersifat fisik, tetapi besar pada masalah-masalah psikologi dan sosiologi. Namun, di tempat-tempat munculnya distorsi terbesar itulah pemahaman yang paling lengkap mungkin terjadi.18

Dengan kata lain, meskipun orang tahu bahwa ada Allah melalui wahyu umum, terlepas dari kasih karunia khusus Allah yang bekerja di dalam hidupnya, ia akan memilih untuk tidak percaya (Rm. 3:10-12). Jadi, respons iman orang berasal dari karya Roh Kudus melalui isi wahyu khusus (pemberitaan Injil penebusan di dalam Kristus—lih. Rm. 10:17; Ef. 2:8-9; Tit. 3:5). Kasih karunia Allah memulihkan kehendak manusia berdosa dan menerangi pikiran, sementara wahyu khusus mengoreksi kesalahan persepsi orang dan distorsi wahyu umum (Ef. 2:4-6; 4:17-24; Flp. 2:12-13).

BAGAIMANA ALLAH MENYATAKAN DIRI-NYA?

57

Konsensus di antara para teolog injili Protestan adalah bahwa wahyu umum sendiri tidak dapat menyelamatkan meskipun dapat dan akan berfungsi untuk menyalahkan ketidakpercayaan seseorang (Rm. 1:20). Karena wahyu umum, orang-orang yang mengaku diri sebagai ateis di dunia ini tidak dapat membuktikan ketidakpercayaan mereka dengan alasan bahwa Allah tidak cukup memberikan bukti tentang keberadaanNya. Dengan demikian, wahyu khusus memperkuat kebenaran wahyu umum, dan wahyu umum mendukung kebenaran wahyu khusus. Oleh sebab itu, dua jenis wahyu Allah ini saling melengkapi.

Sensus Divinitatis Calvin Reformator Protestan dan ahli Alkitab John Calvin (1509-1564) menulis tentang orang yang memiliki sensus divinitatis (kesadaran akan keberadaan Allah). Ia berkata, “Di dalam pikiran manusia, dan sesungguhnya melalui naluri alami, manusia sadar akan keberadaan Allah. Hal inilah yang sebenarnya membuat kita tidak perlu berdebat. Demi mencegah orang berlindung di bawah dalih ketidaktahuan, Allah sendiri telah menanamkan di dalam diri setiap orang pemahaman tertentu tentang keagungan Ilahi-Nya.”19 Teolog sejarah Richard Muller menjelaskan bahwa Calvin menggunakan istilah sensus divinitatis ini untuk merujuk pada “persepsi dasar dan intuitif tentang keberadaan ilahi, yang timbul pada semua orang melalui pertemuan mereka dengan tatanan dunia yang sudah disediakan oleh Allah.”20 Mempertimbangkan pernyataan-pernyataan Rasul Paulus yang sudah dikutip sebelumnya dan penafsiran provokatif Calvin tentang hal ini, muncullah teori apologetis berikut ini mengenai pemahaman tentang Allah.21 Karena Allah menciptakan umat manusia menurut gambar-Nya, mereka dilahirkan dengan pengetahuan bawaan atau kesadaran tentang keberadaan Allah. Pengetahuan ini bersifat intuitif, tidak diskursif (hal itu merupakan kesadaran langsung atau naluriah ketimbang kesimpulan logis) meskipun sudah ada sangat banyak bukti rasional yang mendukung keberadaan Allah. Intuisi bawaan tentang Allah ini dipicu atau menjadi sangat menonjol ketika manusia mengamati tatanan alam, mengakui susunan sejarah yang sudah dibentangkan di depan mata, dan merenungkan kewajiban moral melalui hati nurani mereka.

58

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

Namun, kejatuhan manusia dalam dosa telah menyebabkan peralatan rohaninya rusak (menghasilkan distorsi) sehingga manusia menolak dorongan ilahi yang kuat ini. Maka dari itu, kasih karunia Allah melalui Roh Kudus harus turun kepada manusia agar mereka menganut pengetahuan yang benar, lengkap, dan menyelamatkan tentang Allah. Pemberitaan Injil adalah cara normatif yang akan membuat intuisi ini biasanya diaktualisasikan sebagai iman yang menyelamatkan. Calvin menggambarkan Alkitab sebagai “kacamata” yang memungkinkan orang untuk membaca buku alam dengan benar, yakni agar mereka dapat menarik kesimpulan spiritual yang benar dari buku tersebut.

Implikasi Teologis dari Wahyu Ganda Dengan wahyu ganda teologi Kristen, banyak pertanyaan layak direnungkan dengan saksama. Karena keterbatasan tempat, hanya ada tiga pertanyaan paling penting yang akan dibahas di bab ini. Yang pertama telah dibahas cukup mendetail tadi dan akan dirangkum di bawah ini. Pertanyaan kedua dan ketiga timbul dari pembahasan yang pertama tadi. Apa hubungan antara kedua sumber wahyu?

Kedua bentuk wahyu yang berasal dari Allah yang tidak terbatas dan sempurna ini sama-sama diilhami oleh-Nya dan saling memperkuat dan melengkapi. Semua kebenaran adalah kebenaran Allah. Kitab Suci meminta pembaca untuk menerima pesan wahyu umum dengan serius (Mzm. 19; Rm. 1). Tatanan yang telah diciptakan menggambarkan kebutuhan akan kekhususan dan kelengkapan pada pesan wahyu khusus itu. Dengan kata lain, wahyu umum menunjuk pada wahyu khusus, dan wahyu umum menyediakan dasar yang rasional untuk menerima wahyu khusus. Pada akhirnya, wahyu Allah menjadi satu kesatuan. Kita dapat membedakan kedua bentuk itu namun takkan pernah dapat memisahkan keduanya. Melebih-lebihkan atau mengurangi sifat, lingkup, dan keefektifan yang satu atau yang lain akan berdampak negatif terhadap keseimbangan di antara keduanya.

BAGAIMANA ALLAH MENYATAKAN DIRI-NYA?

59

Apa yang terjadi ketika sumber-sumber wahyu tampaknya bertentangan?

Jika benar-benar dipahami dengan baik, sebagai dua wahyu (yang satu bersifat fisik, yang lain bersifat lisan) dari Allah yang sama, maka dunia milik Allah (alam) dan firman Allah (Alkitab) tidak pernah bertentangan satu sama lain. Fakta-fakta alam tidak bertentangan dengan pernyataan faktual Kitab Suci. Namun, interpretasi manusia dari sumbersumber ini memang mungkin berbenturan. Jika hal ini yang terjadi, maka dibutuhkan koreksi. Wahyu khusus dapat dan harus menawarkan koreksi atas kesalahan tafsir manusia tentang wahyu umum. Dan wahyu umum dapat membantu mengoreksi kesalahan tafsir manusia terhadap wahyu khusus (mis.: arkeologi, astronomi), meskipun dalam tingkat kesalahtafsiran yang lebih rendah karena kekhususan Kitab Suci dan tampilan alam yang unik (yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan kebenaran yang logis; sebuah wahyu faktual dan verbal).22 Wahyu Allah dalam alam dan Alkitab harus dipahami dengan serius. Penafsiran terhadap keduanya perlu diuji dengan jujur. Mengakui dengan rendah hati dan bijaksana tentang perbedaan pendapat antara apa dikatakan dalam teks Alkitab dan apa yang benar-benar dikatakan oleh teks Alkitab, akan menghantar kita pada wawasan rohani.23 Begitu pula dengan perbedaan antara keberanian untuk mengikuti kebenaran yang mengarahkan kita ke mana pun dan selalu sadar bahwa Allah adalah pencipta segala kebenaran (Mzm. 33:4; 111:7-8; Yoh. 17:17). Bagaimanakah konsep wahyu ganda memengaruhi prinsip Sola Scriptura?

Sola Scriptura24 ( “Hanya Alkitab”) adalah pedoman Protestan yang mengakui Alkitab sebagai yang memegang otoritas tertulis yang terakhir dan tertinggi tentang kebenaran. Tentu saja kebenaran-kebenaran penting dalam wahyu umum tidak secara eksplisit dijabarkan dalam wahyu khusus (termasuk banyak prinsip matematika, logika, dan ilmiah).25 Dan perlu ditegaskan bahwa wahyu umum pun seluruhnya diilhamkan oleh Allah. Namun, dalam semua hal yang disampaikan oleh Kitab Suci, wahyu khusus harus dianggap sebagai pemegang otoritas terakhir dan tertinggi bagi gereja dan orang Kristen. Berdasarkan apa? Berdasarkan kekhususan Kitab Suci itu sendiri dan naturnya yang disampaikan dengan

60

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

unik,26 dan keautentikannya sendiri. Wahyu Allah yang verbal berbicara bagi diri-Nya sendiri, dan hal ini tidak dilakukan oleh wahyu umum. Kitab Suci, melalui karya Roh Kudus, mengoreksi respons manusia yang menyimpang terhadap wahyu umum. Dengan demikian, wahyu khusus berkorelasi dan menyatukan seluruh wahyu Allah.27 Jadi, pentingnya wahyu umum dapat diteguhkan sambil menganut prinsip Sola Scriptura.

Sumber Mulia Wahyu Kristen Penulis kitab Ibrani memberikan gambaran singkat yang tepat mengenai penyingkapan tentang keberadaan Allah: Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi. (Ibr. 1:1-3)

Wahyu ganda tentang Allah, firman-Nya yang hidup, dan ciptaanNya telah digenapi melalui Yesus Kristus. Pernyataan kebenaran tentang kekristenan berasal dari pribadi dan karya Yesus. Ketika kita menyelidiki bagaimana hal ini dapat tercantum di dalam pengakuan iman Kristen yang bersejarah, hal itu akan menghantar kita pada wawasan tambahan mengenai keberadaan Allah dan bagaimana Dia berhubungan dengan dunia ini. Pengakuan iman ini menjadi topik di bab berikutnya.

Pertanyaan Diskusi 1. Mengapa wahyu menjadi konsep yang begitu penting dalam kekristenan yang bersejarah ini? 2. Apa perbedaan antara wahyu umum dan wahyu khusus? 3. Mengapa akan menjadi masalah bila kita melebih-lebihkan atau sebaliknya meremehkan wahyu umum? 4. Bagaimana hubungan antara wahyu umum dan wahyu khusus? 5. Bagaimana Yesus Kristus bisa menjadi wahyu tertinggi dari Allah?

BAGAIMANA ALLAH MENYATAKAN DIRI-NYA?

61

Untuk Studi Lebih Lanjut Erickson, Millard J. Christian Theology, edisi ke-2, (Grand Rapids: Baker, 1998), 177-223. Henry, Carl F. H. God, Revelation and Authority, vol. 1-2 (Waco, TX: Word, 1976). Milne, Bruce. Know The Truth (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1982), 9-27. Morris, Leon. I Believe in Revelation (London: Hodder & Stoughton, 1976). Ramm, Bernard. The Pattern of Authority (Grand Rapids: Eerdmans, 1957). Warfield, Benjamin B. The Inspiration and Authority of the Bible, ed. Samuel G. Craig (London: Marshall, Morgan & Scott, 1951).

BUKANKAH KREDO MERUPAKAN BAGIAN MASA LALU?

Orang-orang yang tidak bisa mengingat masa lalu harus mengulangi masa lalu itu. ––George Santayana, Reason in Common Sense Dalam hal rohani kita berutang budi kepada masa lalu yang tidak dapat kita abaikan. ––Gerald Bray, Creeds, Councils and Christ

P

ernyataan kebenaran dalam kekristenan, yang berpusat pada Pribadi dan karya Yesus Kristus, secara unik berakar pada fakta sejarah. Orang-orang Yahudi menyebut Allah dalam Alkitab sebagai Allah sejarah yang mengungkapkan kisah penebusan kristiani yang terus meluas. Kredo/Pengakuan iman Kristen adalah bagian integral dari kisah penebusan itu. Pengakuan iman dan peristiwa-peristiwa di seputar pembentukannya, bukan hanya sesuatu yang bermanfaat di masa lalu, melainkan juga dapat memperkaya kehidupan di masa kini. Penggunaan kredo yang tepat akan meningkatkan pendidikan, ibadah, dan penginjilan Kristen. Penyelidikan tentang pengakuan-pengakuan iman kuno ini–– asal usul, natur, perkembangan, dan tujuan––memberikan dasar Alkitab yang kuat yang dibutuhkan oleh iman, bahkan di abad XXI.

63

64

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

Kredo-kredo Kekristenan Baris pembukaan dalam Pengakuan Iman Rasuli dalam bahasa Latin berbunyi Credo in Deum—“Aku percaya kepada Allah.” Istilah pengakuan iman berasal dari kata kredo dalam bahasa Latin, yang berarti “aku percaya.” Banyak istilah teologis Inggris penting yang berasal dari bahasa Latin karena bahasa gerejawi umat Kristen di negara Barat secara eksklusif menggunakan bahasa Latin selama lebih dari seribu tahun.1 Pengakuan iman dianggap sebagai pernyataan resmi yang, dalam bentuk ringkasan, menetapkan keyakinan-keyakinan penting atau ajaranajaran iman Kristen yang bersejarah. Jadi, pengakuan iman biasanya dimulai dengan pernyataan singkat yang berusaha menangkap esensi sistem kepercayaan Kristen. Empat pengakuan iman resmi telah dikenal sebagai pengakuan iman ekumenis umat Kristen. Pengakuan iman ini, yang dirumuskan dalam berbagai peristiwa sejarah gereja, meliputi Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea, Kredo Athanasius, dan Kredo Kalsedon.2 Pernyataan-pernyataan yang bersifat doktrinal ini dapat ditemukan secara keseluruhan di akhir bab ini. Asal Mula Pengakuan Iman

Pernyataan-pernyataan khusus (yang tercatat di dalam Kitab Suci) digunakan sebagai pernyataan pengakuan iman, bahkan pada zaman Alkitab. Sebagai contoh, di dalam PL, bangsa Israel kuno menggunakan Shema3 sebagai kredo. Shema menekankan komitmen mereka yang tidak berkompromi dengan monoteisme meskipun mereka hidup di tengah dunia kafir dan politeistis. Bangsa Israel adalah umat Allah yang unik, dan Allah mereka (Yahweh) itu “esa.” Shema, yang terus dilafalkan orang Yahudi dalam doa mereka, bahkan sampai saat ini, muncul dalam Ulangan 6:4-9. Shema adalah kata Ibrani untuk “dengarlah,” dan ayat 4 dengan tepat diawali dengan bunyi sebagai berikut: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” Ayat ini dengan singkat merangkum esensi Yudaisme kuno. Umat perjanjian Allah (Israel) menyembah dan melayani Allah yang esa, benar, dan hidup (Yahweh). Besar kemungkinan pernyataan pengakuan iman Kristen yang paling awal adalah pernyataan yang sederhana namun mendalam dari PB, yakni “Yesus adalah Tuhan!” (Rm. 10:9; 1Kor. 12:3; 2Kor. 4:5; Flp.

BUKANKAH KREDO MERUPAKAN BAGIAN MASA LALU?

65

2:11). Mengatakan “Yesus adalah Tuhan” (Yunani: kyrios Iesous) dalam bahasa Yunani PB, sama dengan mengatakan “Yesus adalah Yahweh” (Tuhan Allah).4 Pernyataan tentang keilahian Yesus sebagai Mesias dan Juruselamat ini memisahkan umat Kristen abad I dari Yudaisme dan dari penyembahan bangsa Romawi kepada kaisar. Mengakui Yesus sebagai Tuhan adalah inti iman Kristen. Bagian penting lainnya dalam PB, yang mempertahankan pengakuan iman kuno dari zaman para rasul adalah 1 Korintus 15:3-4. Rasul Paulus menulis, “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.” Pernyataan ini, yang diterima oleh rasul Paulus dari para pengikut Yesus mula-mula, kemungkinan disusun sebagai kredo mulamula, tak lama setelah kematian dan kebangkitan Yesus (sekitar tahun 30-33 M). Pernyataan di dalam Alkitab ini, yang sebagian dikutip di dalam Pengakuan Iman Nicea, benar-benar merangkum pesan keselamatan kekristenan yang berpusat pada Kristus. Menangkap esensi ajaran ini menjadi fungsi penting dari sebuah kredo. Oleh karena itu, penggunaan ungkapan pengakuan iman atau pengakuan iman yang mula-mula, dengan jelas memiliki dasar Alkitab. Para rasul dan umat Kristen mula-mula melihat nilai besar di dalam berbagai pengakuan iman yang ada dan menggunakannya dalam keadaan-keadaan yang sangat penting. Kredo-kredo ini meringkas kerygma (pernyataan) awal gereja Kristen apostolik. Ketika agama Kristen semakin mendominasi kekaisaran Romawi, maka dipandang perlu untuk membuat ringkasan yang lebih rinci tentang keyakinan Kristen bukan hanya sekadar bagian-bagian singkat yang telah dikutip sebelumnya. Sebuah pengakuan iman yang lebih rinci dapat digunakan sebagai pengakuan iman umum, terutama sebelum pembaptisan. Pada abad II, umat Kristen mengembangkan versi awal Pengakuan Iman Rasuli dalam bahasa Latin (dikenal sebagai Kredo Romawi Kuno) yang dimaksudkan untuk dijadikan sebagai ringkasan hal-hal utama tentang Injil Yesus Kristus.5 Mereka memandang pengakuan iman ini sebagai penyaringan singkat kebenaran Kristen, yang diambil dari isi ajaran Kitab Suci itu sendiri.

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

66

Otoritas Pengakuan Iman

Karena setia merangkum kebenaran Alkitab, pengakuan iman dianggap memiliki otoritas. Banyak gereja Kristen historis membaca kredo (terutama Pengakuan Iman Rasuli) sebagai sarana untuk menyatakan iman mereka selama ibadah. Pengakuan Iman juga merupakan alat yang berguna dalam studi formal, tertulis, dan sistematis tentang kebenaran Kristen (katekisasi). Namun, bagi kaum Protestan, otoritas kredo tidak intrinsik, tetapi berasal dari Kitab Suci. Menurut prinsip Protestan, Sola Scriptura (lih. bab 3), bahkan kredo tunduk pada otoritas tertinggi— Firman Allah yang tertulis.6 Meskipun kredo memberikan ringkasan berharga tentang keyakinan Kristen yang universal, ia tidak diilhami oleh Allah seperti Alkitab. Kredo setidaknya terbuka untuk diperbaiki, diperbarui, atau diubah, tetapi selalu berdasarkan Kitab Suci. Tujuan Utama Pengakuan Iman

Pengakuan iman, yang dikembangkan dengan sejumlah tujuan, telah menjalankan beberapa fungsi penting selama berabad-abad, termasuk empat hal berikut ini: 1. Pengakuan iman membantu merumuskan (memberikan definisi dan struktur) dan secara positif tetap menegaskan doktrin Kristen yang penting. Sebagai contoh, pengakuan iman berfokus pada teologi Trinitas yang telah terbentuk sepenuhnya. Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea, dan Kredo Athanasius mengidentifikasi tiga Pribadi Tritunggal Allah (Bapa, Anak, dan Roh Kudus), dengan berfokus pada peran unik ketiganya dalam penebusan. Kemudian, pengakuan iman secara khusus berfokus pada kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus, yang merupakan inti Injil. Sebagaimana ditunjukkan oleh teolog Oxford, Alister E. McGrath, pengakuan iman “Memungkinkan kita mengenali dan menghindari versi kekristenan yang tidak memadai atau tidak lengkap.”7 Karena terlalu banyak gereja Kristen sekarang yang tidak cukup berfokus pada natur Allah yang sepenuhnya Tritunggal, maka banyak orang Kristen hidup sebagai unitaris fungsional yang dengan kuat atau secara eksklusif memfokuskan perhatian hanya pada satu pribadi Allah (mis., Yesus atau Roh Kudus, lih. bab 5).

BUKANKAH KREDO MERUPAKAN BAGIAN MASA LALU?

67

Pengakuan iman, yang mencerminkan ketritunggalan yang seimbang, dapat membantu mengoreksi ketidakseimbangan teologis masa kini dan kurangnya pelatihan teologis. 2. Pengakuan iman menarik perhatian orang pada warisan Kristen yang bersejarah dan umum. Membaca dan mengucapkan pengakuan iman mengingatkan orang bahwa percaya kepada Kristus berarti menjadi anggota sebuah komunitas, yakni komunitas Kristen yang bersejarah. Pengakuan iman menggabungkan umat percaya di masa kini dengan umat percaya di masa lalu. Pengakuan Iman Rasuli menyebut ikatan ini sebagai “persekutuan para orang kudus.” Gabungan pengakuan iman ini (suatu fungsi liturgis yang tepat) juga dapat membantu memperbaiki individualisme yang berlebihan yang tampak di beberapa tempat di dalam penginjilan. Pelajaran dari sejarah Kristen dapat membantu memecahkan masalah-masalah zaman sekarang di antara para pengikut Yesus. 3. Pengakuan iman dapat memainkan peran yang berguna dalam pengajaran katekisasi doktrin Kristen. Pengakuan iman dapat membantu orang percaya untuk mengembangkan pemahaman iman yang terorganisasi, tepat, dan benar. Itulah sebabnya pengakuan iman sangat membantu ketika seseorang mempelajari bagian khusus dari iman Kristen. Meski pada suatu waktu kredo tampaknya menyepelekan isi doktrin, kredo ternyata memberikan ringkasan penting tentang kebenaran Alkitab. Kemampuan untuk merangkum esensi pesan kristiani meningkatkan kesiapan umat percaya untuk menyampaikan pesan tersebut kepada orang lain (penginjilan). 4. Pengakuan iman juga memiliki kepentingan apologetis langsung. Keempat pengakuan iman ditulis secara khusus untuk memerangi bidat-bidat yang sudah muncul pada abad-abad awal gereja. Bahkan para pelopor Pengakuan Iman Rasuli secara tidak langsung menentang bidat-bidat kristologis mula-mula (Ebionisme, Gnostisisme, lih. bab 9.). Bapa-bapa gereja, sebagian besar merumuskan Pengakuan Iman Nicea untuk mengatasi bidat Arianisme yang menyangkal keilahian mutlak Yesus Kristus dengan membuat-Nya hanya sebagai ciptaan Allah. Arianisme masih tampak dewasa

68

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

ini di dalam teologi Saksi-Saksi Yehova, Kristadelfian, dan Iglesia ni Cristo. Kredo Athanasius menetapkan doktrin Kristen tentang Trinitas (tritunggal), dan menolak politeisme (kepercayaan kepada lebih dari satu allah) dan modalisme (kepercayaan bahwa Allah itu esa/ satu, hanya cara berekspresi-Nya yang bisa berubah-ubah). Politeisme dapat disaksikan sekarang di dalam Mormonisme, dan modalisme hidup di United Pentecostal Church (hanya ada Yesus). Kredo Kalsedon menetapkan standar teologis normatif tentang dua natur Yesus Kristus (sebagai Allah dan manusia) sehingga menolak berbagai bidat kristologis (seperti Monofisitisme, doktrin yang menyatakan bahwa hanya ada satu natur di dalam diri Kristus, sebuah kepercayaan yang masih dianut oleh Gereja Koptik). Secara teologis, tidak ada yang baru di bawah matahari; dan dalam mengatasi bidat-bidat kuno, kredo-kredo ini berbicara dengan jelas kepada sekte-sekte bidat masa kini (lih. bab 5 dan 9 tentang Trinitas dan inkarnasi). Oleh sebab itu, kaum apologet masa kini dapat belajar banyak dari kredo-kredo dan peristiwa-peristiwa di seputar perumusannya (sebagai contoh, bagaimana mempertahankan doktrin-doktrin esensial semacam Trinitas, inkarnasi, dan kebangkitan Kristus). Perlawanan terhadap Pengakuan Iman

Sebagian umat Kristen sama sekali menentang penggunaan pengakuan iman. Ungkapan “Tidak ada kredo selain Kristus” dan “Tidak ada kitab selain Alkitab” muncul di tengah banyak kelompok Kristen tertentu di Amerika pada abad XIX dan awal abad XX. Kekhawatiran mereka adalah bahwa kredo-kredo itu, entah bagaimana, dapat memudarkan penyataan Alkitab tentang Kristus. Namun, ada empat hal singkat yang harus dipertimbangkan. Pertama, ada pernyataan tegas bahwa seseorang tidak memiliki kredo selain Kristus. Namun, pernyataan itu sendiri adalah sebuah “kredo,” sebuah pengakuan iman pribadi. Pernyataan kredo memang sulit dihindari. Kedua, pengakuan iman muncul di Alkitab dan digunakan oleh para rasul. Ketiga, pengakuan iman memiliki fungsi yang sangat penting dalam mengidentifikasi dan menjelaskan keyakinan. Keempat, tidak mempunyai pernyataan yang resmi dan

BUKANKAH KREDO MERUPAKAN BAGIAN MASA LALU?

69

tertulis tentang keyakinan seseorang dapat menjadi masalah. Ada banyak kelompok dapat dengan mudah menyembunyikan pandangan doktrin mereka yang menyimpang, dan keyakinan yang tidak tertulis itu dapat membuka kesempatan bagi munculnya penafsiran-penafsiran Alkitab yang subjektif dan tidak sehat. Umat Kristen dari gereja-gereja yang tanpa kredo atau tanpa pengakuan iman kadang-kadang mengungkapkan keprihatinan yang logis bahwa pengucapan kredo dapat menggantikan iman yang dinamis dan bersifat pribadi kepada Yesus Kristus. Meskipun pengakuan iman dapat disalahgunakan dalam hal ini, pengucapan kata-kata yang dihafalkan, betapapun pentingnya itu, tidak memiliki efek menyelamatkan selain hanya membuat hati kita berakar di dalam iman dan keyakinan yang benar. Alister E. McGrath menjawab keprihatinan ini dengan meyakinkan: Pengakuan iman bukanlah, dan tidak pernah dimaksudkan, untuk menggantikan iman pribadi. Pengakuan iman berusaha untuk memberi prinsp pada iman pribadi yang sudah ada. Anda tidak bisa menjadi orang Kristen hanya dengan mengucapkan pengakuan iman. Sebaliknya, pengakuan iman memberikan ringkasan yang bermanfaat tentang poinpoin utama iman Anda.8

Deskripsi Dasar Pengakuan Iman

Pengakuan Iman Rasuli: Sebagai pengakuan iman yang tersingkat dan paling sederhana dari keempat pengakuan iman yang ada, Pengakuan Iman Rasuli merupakan kredo yang paling diterima secara meluas dan paling banyak digunakan—baik di masa kini maupun di masa lampau. Meskipun tidak benar-benar ditulis oleh para rasul, dalam bentuknya yang lebih awal dan lebih singkat (pada akhir abad II), pengakuan iman ini disebut “Kredo Romawi Kuno.” Pengakuan iman ini mencapai bentuknya yang sekarang pada abad VIII M. Dengan berfokus pada Trinitas, pengakuan iman ini memiliki tiga bagian yang mengakui keterlibatan tiga Pribadi Allah dalam penebusan manusia. Pengakuan Iman Rasuli yang digunakan oleh umat Katolik dan Protestan ini sering berfungsi sebagai peneguhan pengakuan iman selama ibadah Kristen.

70

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

Pengakuan Iman Nicea: Meskipun lebih panjang dan memiliki lebih banyak bahasa teknis teologis daripada Pengakuan Iman Rasuli, kredo ini memiliki fokus dasar yang sama dan berisi muatan doktrin yang sama. Meskipun tidak berasal langsung dari Konsili Nicea (325 M), Pengakuan Iman Nicea menekankan kesetaraan penuh Sang Anak dengan Allah Bapa sehingga menyangkal bidat Arianisme yang berpengaruh (yang melihat Kristus sebagai ciptaan Allah). Gereja-gereja Katolik, Ortodoks, dan Anglikan secara signifikan menggunakan pengakuan iman yang klasik ini. Kredo Athanasius: Meskipun tidak ditulis oleh bapa gereja Yunani (Athanasius [yang namanya dipakai untuk nama kredo]) yang hidup pada abad IV, pengakuan iman ini muncul sekitar abad V. Kredo ini adalah pengakuan iman yang isinya paling panjang dan paling filosofis dari semua kredo yang ada, dengan empat puluh pasal individual. Kredo Athanasius secara eksplisit dan resmi menetapkan doktrin ortodoks mengenai Trinitas dan inkarnasi. Kredo ini tidak diterima oleh gereja-gereja Ortodoks Timur. Kredo Kalsedon: Pernyataan teologis teknis ini, yang meletakkan parameter teologis tentang Kristologi ortodoks, dikeluarkan oleh Konsili Kalsedon pada tahun 451 M. Kredo Kalsedon tetap merupakan pernyataan definitif tentang dua natur Yesus Kristus (sebagai Allah dan manusia).

Sebuah Sumber yang Berharga Kebijaksanaan kolektif sejarah Kristen, yang dirumuskan di dalam kredo-kredo ekumenis kuno, menyediakan sumber yang kaya dan abadi untuk masa kini, terutama dalam ilmu teologi dan apologetika. “Keangkuhan kronologis” (istilah yang diciptakan oleh C. S. Lewis untuk asumsi bahwa orang-orang yang hidup pada masa sekarang memiliki wawasan lebih luas daripada orang-orang yang hidup pada masa lampau) kerap membutakan orang-orang Kristen zaman sekarang untuk mengakui bahwa banyak atau sebagian besar teolog, filsuf, dan apologet agama Kristen yang terbesar justru hidup pada masa lampau.9 Bertentangan dengan pesan yang terlalu sering terdengar di gereja-gereja masa kini, doktrin dan teologi sangat penting untuk pertumbuhan rohani seseorang dan dapat memberikan landasan Alkitab yang sangat dibutuhkan untuk tetap bertahan.

BUKANKAH KREDO MERUPAKAN BAGIAN MASA LALU?

71

Pertanyaan Diskusi 1. Mengapa sebuah kajian tentang sejarah Kristen sangat penting? 2. Masalah-masalah apakah di zaman sekarang yang ada dalam gereja yang mungkin dapat dibantu dengan penelitian serius terhadap kredo-kredo Kristen kuno? 3. Apa hubungan antara kredo-kredo kuno dan Alkitab? 4. Bagaimana studi tentang tentang doktrin dan teologi itu dapat menjadi sangat penting untuk pertumbuhan rohani? 5. Bagaimana studi tentang kredo dapat membantu penginjilan dan apologetika? Untuk Studi Lebih Lanjut Bowman, Robert M., Jr. Orthodoxy and Heresy (Grand Rapids: Baker, 1992). Bray, Gerald. Creeds, Councils and Christ (Ross-shire, UK: Mentor, 1984). Brown, Harold O. J. Heresies (Garden City, NY: Doubleday, 1984). Kelly, J. N. D. Early Christian Creeds (London: Harlow, 1972). McGrath, Alister E. I Believe: Understanding and Applying the Apostles’ Creed (Grand Rapids: Zondervan, 1991).

Pengakuan Iman Ekumenis Umat Kristen Pengakuan Iman Rasuli

Aku percaya akan Allah, Bapa yang mahakuasa, pencipta langit dan bumi. Aku percaya akan Yesus Kristus, Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita, yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria; yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus disalibkan, wafat, dan dimakamkan; yang turun ke tempat penantian pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati. Yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa; dari situ Ia akan datang mengadili orang yang hidup dan yang mati. Aku percaya akan Roh Kudus, Gereja katolik yang kudus, persekutuan para kudus, pengampunan dosa, kebangkitan badan, kehidupan kekal. Amin.10

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

72

Pengakuan Iman Nicea

Aku percaya akan satu Allah, Bapa yang mahakuasa, pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan. Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang tunggal. Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa; segala sesuatu dijadikan oleh-Nya. Ia turun dari surga untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita. Ia dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria, dan menjadi manusia. Ia pun disalibkan untuk kita, waktu Pontius Pilatus; Ia menderita sampai wafat dan dimakamkan. Pada hari ketiga Ia bangkit menurut Kitab Suci. Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa. Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati, kerajaan-Nya takkan berakhir. Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan; Ia berasal dari Bapa dan Putra; Yang serta Bapa dan Putra, disembah dan dimuliakan; Ia bersabda dengan perantaraan para nabi. Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Aku mengakui satu pembaptisan akan pengampunan dosa. Aku menantikan kebangkitan orang mati dan hidup di akhirat. Amin.11 Kredo Athanasius Barangsiapa ingin diselamatkan, harus memegang iman katolik di atas segalanya. Jika seseorang tidak menjaganya dengan jujur dan murni, dia akan binasa. Iman katolik yaitu: Kita menyembah satu Allah dalam Tritunggal dan tritunggal dalam satu, tanpa mencampur pribadi-pribadi tanpa memisahkan hakikat. Sebab pribadi Bapa adalah lain, pribadi Putra adalah lain, pribadi Roh Kudus adalah lain. Tetapi ke-Allahan Bapa, Putra dan Roh Kudus satu, dan sama dalam kemuliaan, dan kehormatan yang sama dan kekal.

BUKANKAH KREDO MERUPAKAN BAGIAN MASA LALU?

Sedemikian Bapa, demikian juga Putra dan demikian juga Roh Kudus. Bapa tidak diciptakan, Putra tidak diciptakan, dan Roh Kudus tidak diciptakan; Bapa tidak terhingga, Putra tidak terhingga, dan Roh Kudus tidak terhingga; Bapa adalah kekal, Putra adalah kekal, dan Roh Kudus adalah kekal; Meskipun demikian tidak ada tiga yang kekal; tetapi satu yang kekal. Tidak ada tiga yang tidak diciptakan dan yang tidak terhingga; tetapi satu yang tidak diciptakan dan satu yang tidak terhingga. Demikian juga Bapa mahakuasa, Putra mahakuasa, dan Roh Kudus mahakuasa. Meskipun demikian tidak ada tiga yang mahakuasa; tetapi satu yang mahakuasa. Demikian juga Bapa adalah Allah, Putra adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah; Meskipun demikian tidak ada tiga Allah; tetapi satu Allah. Demikian juga Bapa adalah Tuhan, Putra adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan. Meskipun demikian tidak ada tiga Tuhan; tetapi satu Tuhan. Seperti kita diperintahkan oleh kebenaran Kristen untuk menyebut setiap pribadi adalah Allah dan Tuhan, demikian juga kita dilarang oleh iman katolik untuk mengatakan ada tiga Allah dan Tuhan. Bapa tidak dijadikan siapapun dan tidak diciptakan dan tidak dilahirkan.

73

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

74

Putra tidak dijadikan dan tidak diciptakan; Ia dilahirkan dari Bapa sendiri. Roh Kudus tidak dijadikan dan tidak diciptakan; Ia proses dari Bapa dan Putra. Maka ada satu Bapa, bukan tiga Bapa; satu Putra, bukan tiga Putra; dan satu Roh Kudus bukan tiga Roh Kudus. Dan dalam Tritunggal tidak ada yang lebih dahulu atau kemudian, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah; tetapi mereka keseluruhan adalah tiga pribadi sama kekal dan sama derajatnya dengan yang lain. Sehingga di dalam segalanya, seperti dinyatakan di atas, kita harus menyembah Tritunggal mereka dalam kesatuan mereka dan kesatuan dalam Tritunggal mereka. Barangsiapa ingin diselamatkan harus demikian kepercayaannya mengenai Tritunggal. Tetapi ini penting bagi keselamatan kekal, bahwa memercayai pada satu inkarnasi dari Tuhan kita Yesus Kristus dengan setia. Iman yang benar: Karena itu yang kita percaya dan mengakui bahwa Tuhan kita, Yesus Kristus, Putra Allah, adalah Allah dan manusia, yang sama. Dia adalah Allah dari hakikat Bapa-Nya, dilahirkan sebelum segala zaman; dan Dia adalah manusia dari hakikat ibu-Nya, dilahirkan di dalam zaman; Allah sempurna dan manusia sempurna, dengan jiwa berakal dan tubuh manusiawi; setara dengan Bapa dalam ke-Allahan-Nya, lebih rendah dari Bapa dalam kemanusiaan-Nya. Meskipun Dia adalah Allah dan manusia, Dia Kristus bukan dua tetapi satu, bagaimanapun Dia satu, bukan dengan mengubah ke-Allahan-Nya menjadi daging, tetapi dengan mengenakan kemanusiaan-Nya dalam ke-Allahan.

BUKANKAH KREDO MERUPAKAN BAGIAN MASA LALU?

75

Dia satu, bukan dengan mencampur hakikat, tetapi dengan kesatuan pribadi. Seperti jiwa berakal dan tubuh adalah satu manusia, demikian juga Allah dan manusia adalah satu Kristus. Dia menderita sengsara untuk keselamatan kita; turun ke tempat penantian; Dia bangkit dari kematian; Dia naik ke surga; dan Dia duduk di sebelah kanan Allah Bapa; dari sana Dia akan datang untuk mengadili orang hidup dan mati. Pada hari kedatangan-Nya semua orang akan bangkit dengan badannya dan mereka akan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka masing-masing. Bagi yang telah berbuat baik akan masuk ke dalam kehidupan kekal, dan yang telah berbuat jahat akan masuk ke dalam api yang kekal. Inilah iman katolik: barangsiapa tidak menjaganya dengan setia dan teguh, dia tidak dapat diselamatkan.12

Kredo Kalsedon

Kita semua dengan satu suara mengakui bahwa Tuhan kita Yesus Kristus adalah satu dan Sang Anak, yang sempurna dalam keilahian dan kemanusiaan, Allah sejati dan manusia sejati, yang terdiri atas jiwa yang rasional dan tubuh, yang menjadi satu substansi dengan Bapa dalam kaitan dengan keilahian-Nya, dan menjadi satu substansi dengan kita dalam kaitan dengan kemanusiaan-Nya, dan seperti kita dalam segala hal kecuali dalam hal keberdosaan (Ibr. 4:15). Yesus berasal dari Bapa sebelum ada zaman dalam kaitannya dengan keilahian-Nya, dan kemudian lahir dari Perawan Maria, ibu dari Allah. Hidup-Nya adalah bagi kita dan untuk keselamatan kita. Dalam kaitannya dengan manusia, Dia adalah satu, Kristus, Sang Anak, Tuhan, Putra tunggal, yang harus diakui dalam dua natur, tanpa kekeliruan, tanpa perubahan, tanpa pembagian, dan tanpa pemisahan. Perbedaan natur sama sekali tidak dihapuskan karena persatuan ini, tetapi justru ciri-ciri masing-masing natur dipelihara, dan bertindak bersamaan menjadi satu Pribadi dan satu kesatuan

76

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

Ilahi. Jadi, Kristus tidak seolah-olah dipisahkan atau dibagi menjadi dua sosok manusia, Dia tetap satu dan Allah Anak satu-satunya, Sang Firman, Tuhan, Yesus Kristus. Dia sama seperti yang sejak awal dikatakan oleh para nabi tentang Dia, dan yang diajarkan oleh Tuhan kita Yesus Kristus kepada kita, dan yang diturunkan kepada kita melalui kredo para Bapa gereja.13

BAGAIMANA ALLAH BISA MENJADI TIGA DAN SATU?

Doktrin Trinitas . . . adalah kebenaran bagi hati. Fakta bahwa doktrin ini tidak bisa dijelaskan secara memuaskan, tidak bertentangan dengan doktrin itu sendiri, melainkan justru mendukungnya. Kebenaran semacam itu harus diberitakan, tak seorang pun dapat membayangkannya. ––A. W. Tozer, The Knowledge of the Holy Bapalah yang mengutus Anak untuk berkorban menggantikan kita. Anaklah yang memenuhi tuntutan yang adil dan menenangkan murka Bapa. Roh Kuduslah yang datang ke dalam hati kita dan memberi kita iman untuk berseru: “Ya Abba, ya Bapa” sebagai anak-anak angkat Allah. ––Gerald Bray, The Doctrine of God

P

andangan tentang Trinitas mengganggu banyak orang. Kelompok Saksi-saksi Yehova menolaknya: Menyembah Allah menurut ketentuan-Nya berarti menolak doktrin Trinitas. Doktrin ini bertentangan dengan apa yang dipercayai dan diajarkan oleh para nabi, Yesus, para rasul, dan umat Kristen mulamula. Doktrin ini bertentangan dengan apa yang Allah katakan tentang diri-Nya dalam firman yang diinspirasikan-Nya sendiri.1

Al Qur’an menolaknya: Orang-orang kafirlah yang berkata, “Allah adalah satu dari tiga.” Allah itu hanya ada satu. Jika mereka tidak berhenti mengatakan hal itu, orang-orang kafir itu akan dihukum dengan berat.2

77

78

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

Konsep Trinitas bahkan membingungkan Thomas Jefferson: Kalau kita mengakhiri jargon aritmatika Trinitas yang tidak dapat dimengerti, bahwa tiga adalah satu, dan satu adalah tiga; . . . dan [sic] kembali pada ajaran murni dan sederhana yang [Yesus] tanamkan, maka kita akan sungguh-sungguh layak menjadi murid-murid-Nya.3

Apakah Allah benar-benar bisa menjadi tiga dan satu pada saat yang bersamaan? Apa artinya itu dan mengapa orang harus bersusah payah untuk memahami konsep aneh seperti itu? Doktrin Kristen yang esensial tentang Trinitas memungkinkan makhluk ciptaan mengintip sedikit ke jendela natur dan kepribadian Allah yang tidak terbatas. Trinitas merupakan salah satu ajaran yang paling khas dari semua ajaran Kristen, yang membedakan agama Kristen dari semua agama lainnya, termasuk agama monoteistis lainnya (seperti Yudaisme dan Islam). Karena pandangan Kristen tentang Allah itu unik, misterius, dan ajaib bagi pikiran yang terbatas, maka pandangan ini kerap disalahmengerti dan disalahtafsirkan. Meneliti apa yang diajarkan oleh kekristenan historis tentang Trinitas dan menjawab beberapa pertanyaan kritis tentang asal usul, perkembangan, kejelasan, hubungan, dan pentingnya pandangan itu, dapat membantu memperbaiki kesalahpahaman ini dan melenyapkan kebingungan.

Sejarah Doktrin Kristen tentang Trinitas Kredo Athanasius, yang terpanjang dan paling filosofis dari kredokredo ekumenis kuno, menetapkan doktrin ortodoks mengenai Trinitas dalam kata-kata berikut: Kita menyembah satu Allah dalam Tritunggal dan tritunggal dalam satu; tanpa mencampur pribadi-pribadi, tanpa memisahkan hakikat. Sebab pribadi Bapa adalah lain; pribadi Putra adalah lain; pribadi Roh Kudus adalah lain; tetapi Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus satu, dan sama dalam kemuliaan, dan kehormatan yang sama dan kekal . . . Demikian juga Bapa adalah Allah, Putra adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah; meskipun demikian tidak ada tiga Allah tetapi satu Allah. Demikian juga Bapa adalah Tuhan, Putra adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan; meskipun demikian tidak ada tiga Tuhan tetapi satu Tuhan.

BAGAIMANA ALLAH BISA MENJADI TIGA DAN SATU?

79

Seperti kita diperintahkan oleh kebenaran kristen untuk menyebut setiap pribadi adalah Allah dan Tuhan, demikian juga kita dilarang oleh iman katolik untuk mengatakan ada tiga Allah dan Tuhan.4

Kata “Trinitas” mengacu pada “tiga kesatuan” (tiga dalam satu), yang hendak menyampaikan kebenaran alkitabiah bahwa ada pluralitas dalam kesatuan natur Allah (satu Allah dalam tiga “pribadi”). Doktrin Tritunggal (atau trinitas Allah) harus dipahami dengan benar dalam konteks yang lebih luas dari pandangan teistis Kristen tentang Allah.5 Allah yang diungkapkan di dalam Alkitab (dan yang kemudian dijelaskan di dalam kredokredo kuno dan pengakuan-pengakuan iman umat Kristen) adalah satusatunya Tuhan yang berdaulat dan agung. Kekristenan yang bersejarah meneguhkan kepercayaan kepada satu Allah yang sangat sempurna, kekal, dan bersifat pribadi (atau superpersonal)—Pencipta transenden dan Pemelihara yang berdaulat atas alam semesta. Allah yang satu ini Tritunggal. Dia ada sepanjang masa dan sekaligus merupakan tiga pribadi yang berbeda dan dapat dibedakan (meskipun tidak dapat dipisahkan): Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ketiga pribadi dalam ketuhanan-Nya, atau keilahian-Nya memiliki satu natur Ilahi yang sama dan utuh. Oleh sebab itu, ketiganya adalah Allah yang sama—sama kedudukannya dalam karakteristik, natur, dan kemuliaan. Allah telah mengungkapkan diri-Nya sebagai satu dalam esensi dan substansi (keberadaan) namun tiga dalam subsistensi (kepribadian). Sehubungan dengan apa Allah itu (esensi), Allah hanya ada satu; sehubungan dengan siapa Allah itu (subsistensi), Allah ada tiga. Jadi, secara filosofis, Allah adalah “satu Apa” dan “tiga Siapa.” Bila disusun dalam struktur kalimat negatif, maka ketiga pribadi itu bukan tiga Allah yang berbeda (triteisme) sebab hal itu akan memisahkan esensi, melainkan hanya satu Allah (monoteisme). Dan juga bukan satu pribadi tunggal (monarkianisme, modalisme) karena hal itu akan mencampuradukkan atau membaurkan pribadi-pribadi itu, melainkan tiga pribadi yang berbeda dan dapat dibedakan (Tritunggal).

Hal-hal Penting mengenai Trinitas Sepuluh hal berikut ini menyampaikan informasi esensial tentang Trinitas.6 Poin-poin ini akan menjelaskan tentang apa yang disebut Trinitas Allah dan apa yang bukan Trinitas Allah.

80

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

1. Hanya ada satu Allah (satu esensi atau keberadaan Allah). Trinitarianisme adalah sejenis monoteisme yang unik, dan kebenaran yang mendasari monoteisme berakar di dalam Kitab Suci PL dan PB. Oleh karena itu, umumnya trinitarianisme ortodoks menolak politeisme dan khususnya triteisme karena keduanya memisahkan satu esensi Allah. 2. Ketiga pribadi Allah masing-masing Ilahi yang utuh, semua memiliki satu esensi Ilahi yang sama dan utuh (Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus). Keilahian ketiga pribadi ini juga didasarkan pada Kitab Suci PL dan PB. 3. Ketiga pribadi Trinitas tidak boleh dipahami sebagai tiga “bagian” dari Allah. Setiap pribadi sepenuhnya Ilahi dan sama-sama memiliki seluruh keberadaan Allah. 4. Istilah “pribadi” yang mengacu pada Trinitas digunakan dalam arti yang unik. Istilah ini tidak boleh dipahami sebagai entitas atau keberadaan yang terpisah dan otonom karena hal itu akan memisahkan esensi Ilahi. 5. Tidak seperti semua ciptaan Allah yang terbatas, Allah memiliki pluralitas kepribadian di dalam satu keberadaan-Nya yang tidak terbatas. Trinitas adalah salah satu contoh prinsip teologis yang dikenal sebagai perbedaan Pencipta/makhluk ciptaan. 6. Para anggota Trinitas secara kualitatif sama dalam karakteristik, natur, dan kemuliaan. Alkitab mengungkapkan kerelaan subordinasi di antara pribadi-pribadi Ilahi dalam hal posisi atau peran (misalnya: Sang Anak tunduk kepada Sang Bapa, Roh Kudus keluar dari Sang Bapa dan Sang Anak), tetapi di sana sama sekali tidak ada ketidaksetaraan (inferioritas) esensi atau natur. Oleh karena itu, pribadi-pribadi tersebut setara dalam keberadaan, tetapi berbeda (atau menghormati) hanya dalam peran atau posisi. 7. Para anggota Trinitas itu abadi dan sekaligus berbeda sebagai tiga pribadi. Dengan kata lain, keilahian selamanya telah ada, kini ada, dan selamanya akan hidup sebagai tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Tak satu pun dari pribadi-pribadi ini yang muncul atau menjadi Allah pada suatu waktu tertentu. Karena itu trinitarianisme ortodoks menolak segala bentuk Arianisme (sebuah

BAGAIMANA ALLAH BISA MENJADI TIGA DAN SATU?

81

ajaran yang membuat Sang Anak sebagai ciptaan Allah dan menyangkal kepribadian dan keilahian Roh Kudus). 8. Ketiga anggota dalam keilahian ini adalah pribadi-pribadi yang berbeda dan dapat dibedakan satu sama lain (mis.: Sang Bapa bukan Sang Anak, Sang Bapa bukan Roh Kudus, dan Sang Anak bukan Roh Kudus). Oleh karena itu, trinitarianisme ortodoks menolak segala bentuk modalisme (yang mencampuradukkan atau membaurkan pribadi-pribadi itu dengan mendefinisikan mereka hanya sebagai bentuk eksistensi atau ekspresi). 9. Allah yang “esa” dan “tritunggal”ada dalam hal-hal yang berbeda. Dengan kata lain, jalur di mana Allah adalah satu (esensi) berbeda dari jalur di mana Allah adalah tiga (subsistensi). Selama berabadabad para teolog dan filsuf Kristen telah menyatakan bahwa sangat penting untuk membedakan antara esensi Tuhan di satu sisi dan subsistensi Allah di sisi lain. 10. Jalur di mana Allah adalah satu tidak melanggar jalur di mana Allah adalah tiga, dan sebaliknya. Perbedaan antara esensi Allah yang tunggal (keberadaan) dan subsistensi Allah yang jamak (kepribadian) itu penting untuk menghilangkan kebingungan tentang doktrin Trinitas.

Menjawab Penolakan-Penolakan Kritis Karena kata Trinitas tidak muncul di bagian mana pun di dalam Alkitab, apakah gereja mula-mula hanya menciptakan doktrin itu?

Secara linguistik, istilah trinitas berasal dari kata berbahasa Latin trinitas. Istilah ini digunakan oleh bapa gereja Tertulianus (sekitar 160230 M) yang menulis tentang “Trinitas dari satu Tuhan, Bapa, Anak, dan Roh Kudus.”7 Meskipun benar bahwa doktrin Trinitas makin berkembang dalam sejarah gereja, hal itu tetap tidak berarti bahwa gereja telah menciptakan doktrin tersebut. Saksi-Saksi Yehova mempermasalahkan bahwa kata Trinitas tidak muncul di bagian mana pun di dalam Alkitab. Namun, ketiadaan kata ini sama sekali tidak membatalkan doktrin ini. Banyak konsep Alkitab yang penting disampaikan dengan istilahistilah yang tidak terdapat di dalam Alkitab, misalnya kata Alkitab, kanon, dan ineransi (tidak adanya kesalahan). Tentunya di dalam teks itu sendiri tidak ada larangan menggunakan istilah tambahan di luar Alkitab

82

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

untuk mengekspresikan makna yang tepat. Meskipun kata Trinitas tidak muncul, Alkitab dengan jelas mengungkapkan doktrin ini. Meskipun ratusan ayat dapat disusun untuk mendukung doktrin Trinitas,8 dasar Alkitab untuk doktrin ini secara singkat diringkas di bawah ini, “Dasar Alkitab untuk Trinitas: Lima Proposisi.” Dasar Alkitab untuk Trinitas: Lima Proposisi 1. Hanya ada satu Allah. Ulangan 4:35,39, 6:4, 32:39; 2 Samuel 7:22; Mazmur 86:10; Yesaya 43:10, 44:6-8, 46:9; Yohanes 5:44, 17:3; Roma 3:29-30, 16:27; 1 Korintus 8:4; Galatia 3:20; Efesus 4:6; 1 Tesalonika 1:9; 1 Timotius 1:17, 2:5; Yakobus 2:19; 1 Yohanes 5:20-21; Yudas 25. 2. Pribadi Sang Bapa adalah Allah. Yohanes 6:27; Efesus 4:6; Kolose 1:2-3; 2 Petrus 1:17. 3. Pribadi Sang Anak adalah Allah. Yohanes 1:1, 5:17, 8:58, 10:30, 20:28; Filipi 2:6; Kolose 2:9; Titus 2:13; Ibrani 1:8; 2 Petrus 1:1. 4. Pribadi Roh Kudus adalah Allah. Kejadian 1:2; Yohanes 14:26; Kisah Para Rasul 5:3-4, 13:2,4, 28:25; Roma 8:11; Efesus 4:30. 5. Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah pribadi-pribadi yang berbeda dan memang dapat dibedakan. Matius 28:19; Lukas 3:22; Yohanes 15:26, 16:13-15; 2 Korintus 13:13.

Proposisi-proposisi Alkitab (yang direferensikan di atas) secara logis menyiratkan bahwa karena hanya ada satu Allah, dan ketiga pribadi yang berbeda itu semuanya disebut sebagai Allah, maka ketiga pribadi itu pasti satu Allah. Doktrin Trinitas tidak diciptakan oleh gereja pada Konsili Nicea (325 M) atau pada waktu lainnya. Bapa-bapa gereja melihat doktrin Trinitas ini sebagai kesimpulan yang diperlukan dari Kitab Suci. Doktrin ini berkembang di tengah jemaat/gereja mula-mula karena begitu banyaknya bukti alkitabiah yang mendukung keilahian Yesus Kristus dan keilahian Roh Kudus. Teolog injili Alister E. McGrath menjelaskan: Doktrin Trinitas dapat dianggap sebagai hasil suatu proses refleksi yang berkelanjutan dan kritis mengenai pola aktivitas Ilahi yang dinyatakan di dalam Kitab Suci, dan dilanjutkan di dalam pengalaman kristiani.

BAGAIMANA ALLAH BISA MENJADI TIGA DAN SATU?

83

Hal ini bukan untuk menyatakan bahwa Kitab Suci berisi doktrin Trinitas, melainkan Kitab Suci menjadi saksi bagi Allah yang menuntut untuk dipahami secara Tritunggal . . . Dalam sejarah mungkin ada bantahan yang mengatakan bahwa doktrin Trinitas terkait erat dengan perkembangan doktrin keilahian Kristus . . . Sebagaimana yang telah kita lihat, titik pangkal refleksi kristiani tentang Trinitas adalah kesaksian PB tentang keberadaan dan aktivitas Allah di dalam Kristus dan melalui Roh.9

Meskipun tidak ada pernyataan resmi atau dogmatis yang muncul di dalam Alkitab mengenai Trinitas, kebenaran-kebenaran yang menghasilkan doktrin ini secara unik berasal dari Kitab Suci. Para rasul dan bapa gereja yang mengikuti kebenaran-kebenaran ini mau tidak mau menyadari akan adanya satu Allah yang dinyatakan di dalam tiga pribadi. Dukungan Alkitab untuk doktrin Trinitas dapat ditelusuri melalui empat unsur ini: 1. Tritunggal di dalam PL. Kebenaran tentang natur Allah makin tampak di dalam Kitab Suci. Oleh karena itu, meskipun PL terbatas dalam hal mendukung secara langsung doktrin Trinitas, Kitab Suci Ibrani mengakui pandangan tentang pluralitas pribadi di dalam natur tunggal Allah. Pluralitas ini dibuktikan di dalam fakta bahwa kata benda Ibrani untuk Allah (’elohim) umumnya ditemukan dalam bentuk jamak, dan di beberapa bagian PL, kata ganti dan kata kerja jamak digunakan ketika berbicara tentang Allah. Kejadian 1 mencatat bahwa tepat sebelum Allah hendak menciptakan manusia, Dia berkata, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Kej. 1:26, penekanan kata bercetak miring ditambahkan oleh penulis). Ayat berikutnya mendefinisikan “gambar dan rupa Kita” sebagai “gambar Allah” (Kej. 1:27). Demikian pula, setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa (Kej. 3), Allah berfirman, “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kej. 3:22, penekanan kata bercetak miring ditambahkan penulis). Dalam konteksnya, referensi tentang Kita merujuk kembali ke ayat 5 yang diidentifikasi sebagai “seperti Allah.” PL memberikan dua bagian lain yang sifatnya serupa (lih. Kej. 11:7 dan Yes. 6:8). Meskipun ayat-ayat ini dan ayat-ayat lainnya yang menyatakan pluralitas Allah tidak membuktikan Trinitas, ayat-ayat ini tetap konsisten

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

84

dengan perubahan para rasul di PB dalam hal pemahaman tradisional monoteisme Yahudi.10 2. Tritunggal dalam PB. Hal yang hanya dikatakan secara tidak langsung di dalam PL muncul dengan jelas di dalam PB melalui referensi eklesiastikal yang dirumuskan tentang Trinitas.11 Dua bacaan Alkitab di bawah ini membedakan di antara ketiga Pribadi namun sekaligus menghubungkan mereka bersama-sama dalam kesatuan dan kesetaraan yang jelas: 



“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28:19). “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (2Kor. 13:13).

Bahasa, konteks, penggunaan, dan zaman awal penulisan ayat-ayat ini memberikan indikasi yang jelas bahwa para rasul benar-benar menyadari bahwa pemahaman tradisional mereka tentang monoteisme Yahudi harus dimodifikasi untuk menyertakan realitas tiga Pribadi Allah itu. Ayat-ayat ini menempatkan Anak dan Roh Kudus pada tingkat yang sama dengan Bapa dan langsung terhubung pada keyakinan mula-mula doktrin dan praktik Kristen (pembaptisan, doa berkat eklesiastikal).12 3. Pencatatan Tiga Pribadi secara Bersamaan. Pencatatan tiga pribadi secara bersamaan (Bapa atau Allah; dan Anak atau Kristus atau Tuhan; dan Roh Kudus atau Roh)13 sering terjadi di dalam PB. Mereka terutama dihubungkan bersama dalam kesatuan berkaitan dengan karya penebusan umat manusia (Rm. 15:16,30; 1Kor. 12:4-6; 2Kor. 1:21-22, 3:3; Gal. 4:6; Ef. 2:18; 4:4-6; 2Tes. 2:13-14; Why. 1:4-6). Meskipun pola tiga serangkai ini khususnya muncul dalam tulisan-tulisan Paulus, pola ini juga muncul di bagian-bagian lain di PB (Kis. 2:33,38; Yud. 20-21). Hal itu tampak di dua bacaan Alkitab berikut ini: 



“Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, . . . yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya” (1Pet. 1:1-2). “Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga

BAGAIMANA ALLAH BISA MENJADI TIGA DAN SATU?

85

yang mengatakan: ‘Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan’” (Mat. 3:16-17). Barangkali pernyataan paling jelas dan mendalam tentang kesatuan dan natur kesetaraan ketiga Pribadi ini terdapat di dalam tulisan Yohanes (lih. khususnya Injil Yoh. 14-16). Pencatatan nama ketiganya itu sering muncul (lih. Yoh. 1:33-34; 1Yoh. 4:2, 13-14). (lih. “Trinitas dalam Injil Yohanes” sebagai ringkasan banyak pernyataan yang berhubungan dengan tiga Pribadi Allah dalam Trinitas). Trinitas dalam Injil Yohanes Bapa dan Firman (Anak) bersama-sama dalam persekutuan sejak kekekalan (1:1) Bapa dan Firman (Anak) adalah dua pribadi yang berbeda namun sama-sama Ilahi (1:1) Bapa menciptakan dunia melalui Anak (1:3) Bapa mengutus Anak ke dalam dunia (14:24) Anak berinkarnasi menjadi manusia (1:14) Kedudukan Anak dan Bapa setara (5:18) Anak adalah AKU yang agung (8:58) Bapa dan Anak adalah satu (10:30) Anak berbagi kemuliaan dengan Bapa (17:5) Anak adalah jalan dan kebenaran dan hidup (14:6) Mengenal Anak sama dengan mengenal Bapa (14:7) Melihat Anak sama dengan melihat Bapa (14:9) Anak di dalam Bapa dan Bapa di dalam Anak (14:10) Perkataan Anak berasal dari perkataan Bapa (14:10) Membenci Anak sama dengan membenci Bapa (15:23) Barangsiapa mengasihi Anak sama dengan mengasihi Bapa (14:21) Anak membawa kemuliaan kepada Bapa (14:13) Anak berdoa bagi kedatangan Roh Kudus (14:16) Roh adalah Penolong yang lain seperti Anak (14:16; lih. 1Yoh. 2:1) Anak pergi untuk mengutus Roh (16:7) Anak kembali kepada Bapa (16:28) Anak akan mengutus Roh dari Bapa (15:26) Bapa mengutus Roh (14:16) Bapa mengutus Roh dalam nama Anak (14:26) Roh kebenaran membimbing kita ke dalam seluruh kebenaran (16:13)

86

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

Pelayanan Roh merupakan kelanjutan dari pelayanan Anak (16: 13-14) Roh membawa kemuliaan bagi Anak (16:14) Roh bersaksi tentang Anak (15:26) Semua yang menjadi milik Bapa adalah milik Anak juga (16:15)

Injil Yohanes sendiri memberikan dukungan yang luar biasa untuk doktrin Trinitas. Yesus sendiri, sebagaimana dicatat oleh Yohanes, menjelaskan hubungan yang sangat dekat di antara ketiga anggota Trinitas yang setara ini dalam membawa keselamatan bagi orang berdosa: “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.” (Yoh. 15:26)

4. Ketiga Pribadi Itu Memiliki Nama, Sifat, dan Melakukan Pekerjaan-pekerjaan Ilahi. Alkitab membuktikan dengan berbagai cara tentang keilahian sepenuhnya dan tak bercacat dari Bapa, Anak, dan Roh Kudus (lih. juga bab 9) (lih. “Dukungan alkitabiah untuk keilahian ketiga Pribadi”): Dukungan Alkitabiah untuk Keilahian Ketiga Pribadi Ketiga pribadi disebut sebagai Allah: Bapa (1Pet. 1:2), Anak (Ibr. 1:8 ), Roh Kudus (Kis. 5:3-4) Ketiga pribadi memiliki sifat atau kualitas Ilahi: Keberadaan diri: Bapa (Kis. 17:25), Anak (Yoh. 5:26), Roh Kudus (Rm. 8:2) Keberadaan kekal: Bapa (Mzm. 90:2), Anak (Yoh. 8:58), Roh Kudus (Ibr. 9:14) Kekekalan: Bapa (Yak. 1:17), Anak (Ibr. 13:8), Roh Kudus (2Kor. 3:18) Mahahadir: Bapa (Yer. 23:23-24), Anak (Mat. 28:20), Roh Kudus (Mzm. 139:7) Mahatahu: Bapa (Yes. 40:28), Anak (Kol. 2:3), Roh Kudus (1Kor. 2:10) Mahakuasa: Bapa (Yer. 32:17), Anak (Kol. 1:16-17), Roh Kudus (1Kor. 2:10-11) Kebenaran: Bapa (Yoh. 7:28), Anak (Yoh. 14:6), Roh Kudus (1Yoh. 5:6) Kekudusan: Bapa (Im. 11:44), Anak (Kis. 3:14), Roh Kudus (Yoh. 16:7-8) Hikmat: Bapa (Mzm. 104:24), Anak (Kol. 2:3), Roh Kudus (1Kor. 2:10-11) Ketiga pribadi terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan Allah: Penciptaan dunia: Bapa (Kej. 2:7), Anak (Yoh. 1:3), Roh Kudus (Kej. 1:2) Inkarnasi Yesus Kristus: Bapa (Ibr. 10:5), Anak (Ibr. 2:14), Roh Kudus (Luk. 1:35) Kebangkitan Yesus: Bapa (Kis. 2:32 ), Anak (Yoh. 2:19), Roh Kudus (Rm. 1:4)

BAGAIMANA ALLAH BISA MENJADI TIGA DAN SATU?

87

Teolog sistematis Millard J. Erickson memberikan pendapat berikut ini mengenai bukti alkitabiah tentang Trinitas: Meskipun doktrin Trinitas tidak dinyatakan secara jelas, Kitab Suci, khususnya PB, begitu banyak berisi petunjuk mengenai keilahian dan kesatuan dari ketiga Pribadi itu sehingga kita dapat memahami mengapa gereja merumuskan doktrin tersebut, dan menyimpulkan bahwa mereka benar dalam melakukannya.14

Meskipun doktrin Trinitas memiliki dukungan alkitabiah yang jelas dan persuasif serta berdiri sebagai dasar ortodoksi Kristen, empat penolakan kerap ditanyakan. Dengan demikian, menanggapi penolakanpenolakan itu sangatlah penting. Menurut sejarah, apakah tidak ada penentang, baik secara kelompok maupun individu, terhadap posisi ortodoks Trinitas?

Doktrin Trinitas memiliki sumber alkitabiah, tetapi bentuk, struktur, dan definisinya berkembang selama beberapa abad pertama dalam sejarah kekristenan. Perumusan ini berlangsung di tengah penolakan-penolakan sesat terhadap konsep kristiani tentang Allah. Kredo-kredo ekumenis Kristen dihasilkan dari refleksi berkelanjutan gereja dalam hal-hal doktrin yang kritis. Kredo-kredo ini dibentuk melalui debat dan kontroversi yang muncul serta sebagai respons terhadap kaum bidat. Penjelasan singkat mengenai bidat-bidat utama Trinitas berikut ini mencakup apa yang mereka ajarkan tentang Allah, bagaimana ajaran ini berbeda dari ortodoksi, dan bagaimana ortodoksi Kristen menjawabnya. Para mitra zaman modern dari bidat-bidat ini juga disebutkan secara singkat (bab 9 berisi daftar bidat-bidat kristologis). Arianisme: diperjuangkan oleh pemikir Arius dari Alexandria yang berpengaruh, Arianisme berpendapat bahwa natur atau esensi Kristus lebih rendah daripada Sang Bapa dan bahwa Kristus adalah ciptaan Allah. Opini ini menunjukkan penolakan terhadap keilahian Kristus dan Roh Kudus yang utuh dan tak bersyarat. Bidat ini pertama kali dikutuk dalam Konsili Nicea (325 M). Pandangan kristologis kelompokkelompok zaman modern seperti Saksi-saksi Yehova, Kristadelfian, dan Iglesia ni Cristo tampak jelas seperti Arianisme.15

88

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

Modalisme: Ini sejenis Monarkianisme. Posisi bidat ini menjadi populer pada abad ketiga. Bidat ini menyatakan bahwa hanya ada satu Pribadi ilahi, yang muncul dalam tiga bentuk yang berbeda (mis.: Pencipta, Penebus, Roh Kudus). Jadi, pandangan ini menolak bahwa ketiga anggota Trinitas itu adalah pribadi-pribadi yang berbeda dan sekaligus dapat dibedakan (mencampuradukkan pribadi-pribadi itu). Sabelianisme atau Patripasianisme adalah jenis-jenis moralisme historis. Doktrin Oneness Pentacostals zaman modern mencerminkan sejenis modalisme dengan pandangan mereka yang mengakui “hanya Yesus” yang ada.16 Sayangnya, bahkan beberapa penginjil memikirkan Trinitas dengan istilah-istilah modalistis. Monarkianisme: Muncul pada abad II dan III Masehi, pandangan ini menekankan kesatuan mutlak Allah sehingga meniadakan kemungkinan pluralitas Pribadi sejati Allah (sebagai tiga pribadi yang berbeda). Dalam berbagai bentuk ajaran bidatnya, Monarkianisme menyatakan bahwa Allah adalah makhluk dan pribadi yang tunggal. Politeisme: Pandangan kuno yang populer mengatakan bahwa ada lebih dari satu, atau banyak allah merupakan pengingkaran langsung terhadap monoteisme Alkitab (membagi esensi). Sekte Mormonisme zaman modern (Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir atau LDS) menegaskan sejenis politeisme dengan ajarannya tentang perkembangan manusia menuju keilahian.17 Triteisme: Suatu jenis politeisme, pandangan ini menegaskan bahwa Allah ada sebagai tiga makhluk yang sama dan independen, jadi sebagai allah-allah yang berdiri sendiri-sendiri. Beberapa kritikus agama Kristen historis menuduh doktrin Trinitas sebagai triteistis. Unitarianisme: Dalam tradisi Monarkianisme, pandangan ini menekankan kesatuan mutlak natur dan pribadi Allah sehingga menolak doktrin Trinitas. Selain itu, Unitarianisme menyangkal keilahian Kristus. Pandangan seperti ini diperlihatkan sekarang di dalam UnitarianUniversalist Church.18

BAGAIMANA ALLAH BISA MENJADI TIGA DAN SATU?

89

Bukankah Trinitas merupakan doktrin yang misterius dan tidak dapat dipahami, dan karena itu tidak masuk akal?

Sebagai makhluk hidup, manusia tidak akan pernah tahu dan memahami Allah sebagaimana Allah memahami diri-Nya. Dan meskipun doktrin Trinitas dalam batas-batas tertentu tampak misterius dan tidak dapat sepenuhnya dipahami oleh pikiran yang terbatas, doktrin ini dapat dibahas secara bermakna dan bukan sesuatu yang tidak logis. Trinitas adalah pengajaran yang dapat dimengerti meskipun manusia tidak pernah dapat sepenuhnya memahami betapa Allah itu tritunggal. Namun, analogi-analogi yang tidak sempurna dapat memberikan wawasan yang berarti bagi natur-Nya yang tritunggal. Sebagai contoh, sebuah segitiga dengan tiga sisi atau satu keluarga dengan tiga anggota, dapat dimengerti. Kesimpulan yang beralasan dan cermat yang diambil dari Kitab Suci tentang Allah itu rasional meskipun tidak sepenuhnya dapat dimengerti. Teolog Kristen dan apologet Robert M. Bowman, Jr memberikan penjelasan yang sangat bermanfaat: Mengatakan bahwa Trinitas tidak dapat dipahami juga tidak tepat, atau setidaknya bisa menimbulkan salah tafsir. Para teolog Trinitas tidak bermaksud mengatakan bahwa Trinitas itu omong kosong yang tidak dapat dimengerti. Sebaliknya, poin yang mereka buat adalah bahwa Trinitas tidak dapat sepenuhnya dijajaki atau dipahami dengan pikiran manusia yang terbatas. Ada perbedaan antara mendapatkan pemahaman yang pada dasarnya benar tentang sesuatu dan memiliki pemahaman yang lengkap, menyeluruh, mencakup segalanya, dan sempurna tentang hal itu. Para teolog lainnya menyatakan perbedaan ini dengan mengatakan bahwa Trinitas dapat dipahami, atau “ditangkap” tetapi tidak “terselami.”19

Kesulitan yang dialami manusia dalam menangkap doktrin Trinitas karena Allah dalam hal-hal tertentu berbeda dari apa pun di dalam tatanan yang diciptakan. Sebagai contoh, ajaran bahwa satu pribadi hidup sebagai tiga pribadi yang berbeda, sama sekali bertentangan dengan semua pengalaman manusia. Hal ini tentunya menjadi lebih sulit dengan adanya analogi manusia tentang Trinitas—Allah dalam beberapa hal, sama sekali lain.

90

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

Namun, ada lebih banyak lagi kebenaran selain Trinitas yang tidak akan mampu dipahami oleh manusia. Banyak hal yang Allah ungkapkan tentang diri-Nya yang tidak dapat diduga, termasuk karakteristikNya yang tidak terbatas. Misteri selalu menyertai perjumpaan manusia dengan Allah yang transenden di dalam Alkitab. Namun, pertanyaannya adalah apakah seorang individu akan menerima Allah sebagaimana Dia mengungkapkan diri-Nya, termasuk misteri itu, atau sudah puas dengan makhluk yang mereka pikir dapat sepenuhnya mereka pahami. Sayangnya, Thomas Jefferson hanya mau menerima Allah yang bisa dipahami oleh pikirannya. Namun, jika pikiran manusia bisa memahami Allah, maka Dia tidak benar-benar Allah. C. S. Lewis menunjukkan bahwa beberapa konsep tentang Allah itu lebih mudah daripada yang lain: Jika kekristenan adalah sesuatu yang kita susun, tentu saja kita bisa membuatnya dengan lebih mudah. Namun, tampaknya tidak demikian. Kita tidak bisa bersaing, dengan mudah, dengan orang-orang yang menciptakan agama. Bagaimana mungkin kita bisa bersaing? Kita berhadapan dengan fakta-fakta. Tentu saja siapa pun bisa mengalami kemudahan itu jika ia tidak memiliki fakta-fakta yang perlu dipikirkannya!20

Bukankah Trinitas merupakan kontradiksi yang logis?

Hukum nonkontradiksi, prinsip dasar untuk semua pemikiran logis, menegaskan bahwa dua pernyataan yang bertentangan tidak bisa keduanya benar pada saat yang sama dan dalam hal yang sama (A tidak bisa sama dengan A dan sama dengan non-A). Hukum ini dapat mengambil bentuk metafisika untuk menunjukkan apa yang ada atau yang tidak ada: “Ketiadaan tidak bisa ada sekaligus tidak ada pada saat yang sama dan dalam hal yang sama.” Hukum yang sama ini juga dapat mengambil bentuk epistemologis untuk menunjukkan apa yang benar atau yang salah: “Sebuah pernyataan tidak bisa keduanya benar dan salah pada saat yang sama dan dalam hal yang sama.”21 Sebuah kontradiksi dalam logika mencerminkan hubungan yang sangat spesifik. Dua pernyataan bersifat kontradiktif jika saling meniadakan atau menolak satu sama lain. Pernyataan-pernyataan kontradiktif memiliki nilai kebenaran yang berlawanan: satu pernyataan benar, sedangkan pernyataan lainnya salah.

BAGAIMANA ALLAH BISA MENJADI TIGA DAN SATU?

91

Kaum skeptis sering mengkritik bahwa Trinitas merupakan sebuah kontradiksi dalam dua hal. Beberapa orang menyatakan bahwa Trinitas melanggar hukum nonkontradiksi atas dasar bahwa doktrin tersebut mengklaim bahwa Allah adalah satu dan bukan satu, dan bahwa Allah adalah tiga dan bukan tiga. Namun, kritik ini merupakan argumen yang lemah karena trinitarianisme ortodoks tidak menyatakan bahwa Allah adalah satu dan bukan satu, tiga dan bukan tiga. Sebaliknya, doktrin Trinitas menegaskan bahwa Allah adalah satu (esensi atau keberadaan), Dia bukan tiga, dan bahwa Allah adalah tiga (subsistensi atau selaku pribadi), Dia bukan satu. Trinitas menyatakan bahwa orang harus membedakan antara esensi Allah di satu sisi dan subsistensi Allah di sisi lain. Allah adalah satu dalam hal yang berbeda dari hal di mana Dia adalah tiga, dan tiga dalam hal yang berbeda dari hal di mana Dia adalah satu. Jadi, Trinitas, sebagai satu Apa (esensi) dan tiga Siapa (subsistensi), bukan merupakan kontradiksi yang kaku. Para kritikus lainnya menyatakan bahwa perumusan Trinitas memang melibatkan kontradiksi. Mereka berpendapat sebagai berikut: Karena Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah. Dan karena Bapa bukan Anak, maka Bapa bukan Roh Kudus, dan Anak bukanlah Roh Kudus. Jadi hasilnya adalah bahwa setiap Pribadi secara bersamaan adalah Allah dan bukan Allah. Menurut mereka, hal ini adalah pelanggaran terhadap hukum nonkontradiksi. Evaluasi terhadap perumusan Trinitas ini juga merupakan argumen yang lemah karena gagal mengenali perbedaan esensi/subsistensi. Semua anggota Trinitas sama-sama berbagi satu natur Ilahi dan karena itu adalah satu Allah. Namun, perbedaan hubungan dalam ketuhanan (Bapa, Anak, Roh Kudus) sama sekali tidak mengurangi natur Ilahi dari masing-masing Pribadi tersebut. Jadi, ketiga pribadi itu berbeda satu sama lain, tetapi mereka tetap sepenuhnya dan sama-sama Allah. Bagaimana satu makhluk bisa secara bersamaan menjadi tiga pribadi adalah suatu misteri yang tak terselami, tetapi bukan merupakan kontradiksi yang kaku. Ketegangan yang logis ini dapat diatasi jika orang mengenali apa yang dikenal sebagai “predikasi/identitas perbedaan.”22 Mengatakan “Yesus Kristus adalah Allah” berarti mengenakan natur Ilahi pada diri Yesus Kristus, yang merupakan karakteristik keberadaan, yang dibagi sama rata dan sepenuhnya dengan Bapa dan Anak. Di sisi lain, untuk

92

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

mengatakan “Yesus Kristus adalah Anak Allah” berarti menyatakan jati diri, yaitu bahwa pribadi Yesus dari Nazaret adalah pribadi yang sama (identik) dengan Allah Sang Putra, pribadi kedua Trinitas. Melekatkan natur keilahian pada kepada ketiga anggota Trinitas (predikasi) itu sekaligus menegaskan bahwa mereka memiliki jati diri pribadi yang berbeda: Bapa, Anak, Roh Kudus (jati diri) bukanlah hal yang kontradiktif. Kesalahpahaman sering kali dapat dibereskan jika umat Kristen berhatihati dalam merumuskan dan mengartikulasikan doktrin Trinitas. Para kritikus bisa saja mempertanyakan perbedaan esensi/subsistensi, tetapi jika mereka mengkritik doktrin Trinitas yang historis, mereka harus memperhitungkan perbedaan penting ini. Selama berabad-abad orangorang Kristen telah menegaskan bahwa Trinitas dapat melampaui kelogisan, tetapi tidak pernah melawan kelogisan. Dengan demikian, Trinitas dapat disebut paradoks namun bukan kontradiksi. Teolog Kristen Geoffrey Bromiley menyatakan, “Penolakan kaum rasionalis tentang Trinitas runtuh karena ternyata mereka bersikeras menafsirkan Sang Pencipta berdasarkan ukuran sang ciptaan.”23 Mengapa doktrin Trinitas itu penting?

Ada sangat banyak orang Kristen, yang hidup sebagai Unitarian fungsional, tidak mengerti relevansi Trinitas bagi iman dan kehidupan kristiani mereka. Doktrin Trinitas itu penting karena mengungkapkan Apa dan Siapa Allah (satu Allah dalam tiga pribadi), dan wawasan ini memungkinkan umat Kristen, meskipun dengan cara yang jelas terbatas, untuk melihat cara kerja intern dari natur dan kepribadian Allah. Doktrin ini memungkinkan umat Allah, sebagaimana dikatakan oleh Kredo Athanasius, untuk “menyembah satu Allah dalam ketritunggalan-Nya, dan tritunggal dalam kesatuan-Nya.” Oleh karena itu, umat Kristen dari zaman kuno telah menegaskan bahwa jika kita gagal menyembah Allah Tritunggal berarti kita sama sekali gagal menyembah Allah yang sejati. Selain itu, doktrin Trinitas, dengan cara yang koheren, menyatukan kebenaran-kebenaran penting mengenai tindakan-tindakan penebusan Allah yang bersejarah (yang diselesaikan di dalam dan melalui Bapa, Anak, dan Roh Kudus). Sebagai contoh, Sang Bapa mengutus Anak-Nya ke dunia sebagai kurban pendamaian di kayu salib—yakni pengurbanan yang meredakan murka Sang Bapa terhadap dosa dan mengulurkan kasih dan

BAGAIMANA ALLAH BISA MENJADI TIGA DAN SATU?

93

belas kasihan Sang Bapa yang memungkinkan para pendosa yang bertobat terhindar dari penghakiman Allah. Sang Anak yang berinkarnasi (pribadi kedua Trinitas) mampu melakukan penebusan ini karena Dia adalah Allah dan manusia (dalam hal ini “dua Apa” dan “satu Siapa”). Allah yang menjadi manusia ini mengalahkan kematian, dosa, dan neraka melalui kebangkitan-Nya yang mulia dari antara orang mati. Roh Kudus bertanggung jawab secara langsung terhadap pendosa yang lahir baru di dalam Kristus melalui pembaruan jiwa, dan perjalanan hidup orang percaya dalam pengudusan. Ketiga anggota Ilahi Trinitas memungkinkan keseluruhan rencana penebusan itu terjadi. Jadi, keselamatan dari awal sampai akhir secara langsung terkait dengan doktrin Trinitas. Teolog Bruce Milne mencatat, “Segala sesuatu yang penting dalam agama Kristen berpegang pada kebenaran kesatuan tritunggal Allah.”24

Doktrin yang Dihargai Akhirnya, sebagaimana dijelaskan bapa gereja terbesar, Augustine dari Hippo (354-430 M) dalam karya monumentalnya De Trinitate (On the Trinity), hanya Allah yang memiliki pluralitas dalam kesatuan itulah yang dapat menjelaskan dengan baik tentang Allah yang penuh kasih dan Allah yang mahatahu. Karena jika Allah adalah makhluk yang tunggal saja, maka sebelum penciptaan, tak ada yang dapat dikasihi-Nya. Dia juga tidak dapat membedakan antara sosok yang mengetahui dan sosok yang diketahui (syarat dari pengetahuan diri).25 Dengan demikian, Trinitas menjadi sangat praktis. Karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah Tritunggal yang sepenuhnya berhubungan, maka konsep-konsep seperti kasih, keluarga, dan masyarakat mengambil dimensi makna dan nilai yang baru. Penebusan di dalam Kristus benarbenar dipahami sebagai pengangkatan ke dalam keluarga Allah. Doktrin Trinitas mengungkapkan natur dan kepribadian Allah dan membedakan agama Kristen dari semua agama lainnya. Orang-orang percaya masa kini bergabung dengan orang-orang percaya berabad-abad yang lalu untuk menyembah “satu Allah dalam Trinitas, dan Trinitas dalam kesatuan.”26 Apakah keyakinan kepada Allah seperti ini layak dipertaruhkan dalam kehidupan seseorang? Taruhan Blaise Pascal, yang merupakan topik bab berikutnya, menggumulkan pertanyaan ini dan memberikan

94

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

pemikiran-pemikiran yang signifikan bagi siapa pun yang mengejar jawabannya.

Pertanyaan Diskusi 1. Apa yang dimaksud dengan definisi yang jelas, singkat, dan benar tentang Trinitas? 2. Apakah bermasalah bila kata Trinitas tidak ditulis di dalam Alkitab? 3. Bagaimana doktrin Alkitab tentang Trinitas dapat dinyatakan dalam lima proposisi? 4. Bagaimana Trinitas bisa berbeda dari modalisme dan triteisme? 5. Bagaimana seharusnya kesadaran akan natur tritunggal Allah memengaruhi ibadah dan doa umat Kristen? Untuk Studi Lebih Lanjut Beisner, E. Calvin. God in Three Persons (Wheaton, IL: Tyndale, 1984). Bowman, Robert M., Jr. Orthodoxy And Heresy: A Biblical Guide to Doctrinal Discernment (Grand Rapids: Baker, 1992). Bray, Gerald. Creeds, Councils and Christ (Ross-shire, Great Britain: Mentor, 1997). McGrath, Alister E. Understanding the Trinity (Grand Rapids: Zondervan, 1988). White, James R. The Forgotten Trinity (Minneapolis: Bethany, 1998).

MENGAPA SAYA HARUS BERTARUH TENTANG IMAN?

Karena tidak sanggup memulihkan kematian, kemalangan, dan kebodohan, manusia memutuskan untuk tidak memikirkan hal-hal semacam itu agar tetap bahagia. ––Blaise Pascal, Pensées Mari kita mempertimbangkan untung-ruginya untuk bertaruh bahwa Allah itu ada. Mari kita menilai kedua kasus itu: jika Anda menang, Anda memenangkan segalanya; jika Anda kalah, Anda tidak kehilangan apa-apa. Jadi, jangan ragu: bertaruhlah bahwa Dia ada. ––Blaise Pascal, Pensées

M

anusia berbeda dengan hewan dalam kemampuan berpikir filosofis, terutama memikirkan isu-isu yang sangat penting. Namun demikian, banyak orang enggan berpikir tentang apa yang disebut sebagai pertanyaan besar kehidupan: Apakah Tuhan itu ada? Adakah makna yang objektif dalam kehidupan ini? Apa pengaruh moralitas? Adakah kehidupan setelah kematian? Berbagai faktor dapat menjelaskan ketidakpedulian terhadap pertanyaan-pertanyaan besar kehidupan ini. Masalah-masalah yang dalam dan rumit ini membuat banyak orang merasa tidak mampu membentuk opini tentang hal ini. Jawaban-jawaban telah begitu hangat diperdebatkan selama berabad-abad sehingga orang tergoda untuk percaya bahwa tidak ada jawaban yang benar-benar memuaskan. Sebagian orang tidak mengenali signifikansi praktis apa pun dari pertanyaan-pertanyaan ini 95

96

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

bagi kehidupan sehari-hari mereka. Apa pun alasan ketidakpedulian manusia, pertanyaan-pertanyaan filosofis yang mendasar ini tidak akan hilang. Alkitab menghubungkan penghindaran manusia dari masalahmasalah utama (terutama keengganan manusia untuk mengakui pertanggungjawaban moralnya kepada Sang Pencipta) dengan keadaan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa (Rm. 3:23). Setelah terputus dari kehidupan Allah, para pendosa secara alami dan terus-menerus terlibat dalam penyimpangan-penyimpangan spiritual dan moral. Rasul Paulus mengatakan bahwa orang-orang secara sadar “menindas kebenaran dengan kelaliman” (Rm. 1:18). Orang-orang mengisi hidup mereka dengan kegiatan-kegiatan yang memungkinkan mereka mengabaikan atau menekan tanggung jawab moral dan spiritual mereka yang sudah dibawa sejak lahir. Pemikir Kristen abad XVII, Blaise Pascal (1623-1662 M) muncul dengan pendekatan provokatif dan kontroversial untuk mengguncangkan orang-orang dari penyimpangan mereka. Dalam argumen “Taruhan”nya, Pascal memunculkan sebaris penalaran praktis dengan tujuan untuk menantang setiap orang yang tampaknya tidak peduli dengan isu-isu kehidupan yang membingungkan. Sebagai cendekiawan yang berprestasi di berbagai bidang, Pascal mungkin paling dikenal karena presentasinya tentang Taruhan. Argumen voluntaristik ini lebih berbicara tentang pertimbangan-pertimbangan bijaksana dan eksistensial kehendak manusia ketimbang penalaran itu sendiri. Namun, kaum skeptis zaman modern kerap salah memahami Taruhan Pascal, dengan memandang argumen itu sebagai argumen yang berdiri sendiri, dan dengan demikian dianggap tidak menghargai konteks epistemologis, sejarah, dan eksistensialnya yang benar. Konteks ini ditemukan di dalam kehidupan dan pemikiran Pascal sendiri. Sebuah penyelidikan singkat tentang beberapa peristiwa besar dalam hidupnya dan survei tentang kesimpulan-kesimpulannya mengenai kritik-kritik terhadap kebenaran kekristenan memberikan pertalian hubungan yang penting ini.

MENGAPA SAYA HARUS BERTARUH TENTANG IMAN?

97

Tokoh Renaisans Klasik Dalam kurun waktu kehidupan Pascal yang singkat (hanya 39 tahun), pria asli asal Prancis ini bekerja sebagai matematikawan, fisikawan, penemu, penulis prosa, filsuf agama, dan terutama sebagai pembela iman Kristen yang imajinatif dan kontroversial.1 Sebagai salah satu bapa penemu “ilmu baru,” Pascal mendapatkan pengakuan sebagai salah satu pemikir paling maju di zamannya.2 Sebagai apologet Kristen yang terkemuka, Pascal memberikan analisis yang tajam dan provokatif tentang pandangan dunia dan kehidupan Kristen yang lebih luas.3 Pikiran produktif Pascal meletakkan dasar untuk ilmu kalkulus diferensial, kalkulus integral, dan kalkulus probabilitas.4 Matematikawan sekaligus filsuf Jerman Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716 M) menganggap analisis diferensial dan integral Pascal telah menginspirasi pengembangan kalkulusnya sendiri.5 Pascal juga memberikan kontribusi untuk pengajaran geometri dan teori bilangan. Filsuf Richard H. Popkin menulis, “Analisis Pascal tentang sifat sistem matematika tampaknya lebih dekat dengan logika matematika abad XX daripada logika matematika pada zamannya.”6 Dianggap sebagai ilmuwan eksperimental yang ulung, Pascal rajin mempraktikkan metode ilmiah (yang kemudian muncul). Ia memeriksa atau memutarbalikkan dengan ketat pengamatan dan kesimpulannya melalui pengujian eksperimental. Seperti semua penemu besar, intuisi teknologi dan imajinasi produktif Pascal mendorongnya lebih maju dari zamannya. Eksperimen teknologinya yang kreatif menghasilkan penemuan seperti jarum suntik, penyedot debu, dan tekanan hidrolik, serta pengembangan sistem transportasi umum pertama di Eropa. Namun, penemuannya yang paling terkenal muncul ketika ia berusaha menemukan cara untuk mempermudah tugas ayahnya untuk menghitung pajak. Pascal meyakini bahwa jika jam dinding bisa menghitung jam, maka mungkin perangkat lain bisa melakukan perhitungan matematis dengan baik. Penemuan kalkulator digitalnya yang pertama, atau mesin penghitung, dianggap sebagai salah satu prestasi “terapan” pertama dari awal revolusi ilmiah dan cikal bakal komputer modern.7

98

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

Filsuf Ilmu Pengetahuan Pascal menunjukkan pemahaman dan penghargaan yang cerdas terhadap ilmu pengetahuan baru yang lahir dan perlahan-lahan berkembang di Eropa pada abad XVII.8 Sebagai pendukung setia pandangan Kopernikus dan Galileo, ia berpendapat bahwa penghormatan terhadap otoritas tidak harus mendahului penalaran analitis dan eksperimen ilmiah. Pascal menyelidiki sifat metode ilmiah dan kemajuan ilmu pengetahuan, dan secara khusus berbicara tentang pentingnya data eksperimen serta perlunya mengembangkan hipotesis penjelas yang logis. Ia menegaskan bahwa ketika para ilmuwan terus menyelidiki misteri alam, maka hipotesis-hipotesis yang lebih baru dan mutakhir akan menggantikan hipotesis-hipotesis yang lebih lama. Namun, Pascal juga mengakui batas-batas ilmu pengetahuan. Ia percaya bahwa meskipun teori-teori ilmiah dapat dikonfirmasi atau dipalsukan, teori-teori itu tidak pernah dapat benar-benar ditetapkan. Popkin menunjukkan bahwa posisi ini menyerupai posisi yang didukung oleh filsuf ilmu pengetahuan abad XX yang terkenal, Karl Popper.9 Pascal juga menyadari bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak mengubah sifat manusia, khususnya karena proses yang membentuk keyakinan dasar manusia jarang bersifat rasional atau empiris saja. Filsuf Kristen kontemporer Peter Kreeft berkata tentang Pascal, “Ia mengetahui kekuatan ilmu pengetahuan tetapi juga ketidakmampuan ilmu pengetahuan untuk membuat kita bijaksana atau bahagia atau baik.”10 Pikiran Pascal yang maju telah menyebabkan beberapa orang mengacu kepadanya sebagai manusia modern pertama. Pengalaman Religius yang Adikodrati Pascal dibesarkan dalam keluarga Katolik-Roma yang nominal [nominal maksudnya tidak sungguh-sungguh alias Katolik secara status saja]. Namun, pada usia 31 tahun, saat melintasi Sungai Seine selama badai berlangsung, ia mendapatkan pengalaman religius yang mendalam. Pertemuan adikodrati ini menuntunnya untuk mengabdikan sisa hidupnya kepada Yesus Kristus dan kebenaran iman Kristen. Meskipun Pascal tidak pernah berbicara secara terbuka mengenai pertemuan itu, ia menulis memoar tentang hal tersebut dan membawanya bersamanya selama hidupnya—karena kata-kata itu dijahitkan di pakaiannya.

MENGAPA SAYA HARUS BERTARUH TENTANG IMAN?

99

Memoar itu ditemukan setelah kematian Pascal dan disebut sebagai “Malam Api.” Sepenggal tulisan memoarnya tersebut adalah sebagai berikut: Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub, bukan dari para filsuf dan cendekiawan. Kepastian, kepastian, tulus ikhlas, sukacita, damai sejahtera. Allah Yesus Kristus. Allah Yesus Kristus. Allahku dan Allahmu. Allahmu akan menjadi Allahku. Dunia dan segala sesuatu dilupakan, kecuali Allah. Dia hanya dapat ditemukan dengan cara-cara yang diajarkan di dalam Injil . . . Yesus Kristus. Yesus Kristus . . . Jangan pernah aku dipisahkan dari-Nya untuk selama-lamanya!11

Setelah pengalaman menakjubkan yang mengubah hidup itu, Pascal mengabdikan sebagian besar waktunya untuk menulis filsafat dan agama. Beberapa kritikus agama mengklaim bahwa Pascal berpaling dari ilmu pengetahuan dan bahkan menanggalkan prestasi ilmiahnya. Namun, sejarawan filsafat Frederick Copleston menunjukkan bahwa kedua pernyataan itu tidak benar, “Dengan menyerahkan diri kepada Allah, ia tidak menolak semua kepentingan ilmiah dan matematika sebagai ‘keduniawian;’ melainkan ia melihat kepentingan ilmiah itu dalam terang yang baru, yaitu sebagai bagian dari pelayanannya kepada Allah.”12

Membela Iman Blaise Pascal tengah menyiapkan buku tentang apologetika Kristen (Apologie de la religion chrétienne) bagi teman-teman skeptisnya ketika ia sedang sakit parah. Penderitaannya yang panjang (mungkin meningitis karsinoma) menyebabkan Pascal mengalami kesakitan yang hebat.13 Karena tidak dapat bekerja, ia membaktikan diri dalam kehidupan ibadahnya dan untuk membantu orang miskin. Ia meninggal pada tanggal 19 Agustus 1662, dan meninggalkan warisan sebagai salah satu pelopor besar ilmu pengetahuan modern dan salah satu pemikir Kristen yang paling orisinal dalam sejarah. Karya apologetis Pascal yang belum selesai (sebagian besar berupa catatan, garis besar, dan fragmen) kemudian diterbitkan dengan judul Pensées dalam bahasa Perancis (kira-kira diterjemahkan “Gagasan”).14 Meskipun Pensées sebenarnya lebih merupakan garis besar dari sebuah buku yang lengkap, isinya sangat mendalam sehingga tetap menjadi buku yang terlaris sepanjang masa. Tiga tema yang unik dari Pascal

100

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

diperkenalkan di dalam Pensées: teka-teki manusia, hubungan iman dan akal budi, dan Wager-nya (Taruhan) yang terkenal.

Teka-teki Manusia Sebagai ilmuwan eksperimental, Pascal sangat menghargai nilai teori penjelas yang dapat diterima akal sehat. Ia meyakini bahwa agar agama atau filsafat layak dipercaya, agama atau filsafat harus memperhitungkan realitas kehidupan yang bermakna. Salah satu realitas utama adalah teka-teki manusia itu sendiri, yang digambarkan oleh Pascal dalam tanda seru: “Betapa manusia itu seperti monster! Betapa aneh, betapa mengerikan, betapa kacau, betapa paradoks, betapa luar biasanya manusia itu! Hakim dari segala sesuatu namun sekaligus cacing tanah yang lemah; gudang kebenaran namun sekaligus bak cuci keraguan, dan kesalahan; kemuliaan namun sekaligus sampah alam semesta!”15 Menurut Pascal, manusia adalah perpaduan yang aneh dari “kebesaran dan kemalangan.” Kebesaran manusia ditunjukkan dalam kemampuannya yang unik untuk mengenali kemalangannya, sebagai pemikir reflektif. Pandangan teistis Kristen menjelaskan sifat paradoks manusia dengan menegaskan bahwa kebesaran manusia adalah akibat langsung dari imago Dei (gambar dan rupa Allah). Sebagai makhluk yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, manusia mencerminkan kemuliaan Penciptanya. Meskipun tentu dengan cara yang terbatas, manusia tetap menunjukkan karakteristik tertentu seperti yang dimiliki Allah. Di sisi lain, kemalangan tersebut dapat ditelusuri sampai pada kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa (Kej. 3). Dosa asal adalah ajaran Alkitab yang mengatakan bahwa seluruh umat manusia telah mewarisi dosa, rasa bersalah, dan kebusukan moral dari Adam (Mzm. 51:7; 58:4; Rm. 5:12, 18-19; 1Kor. 15:22). Pascal percaya bahwa solusi akhir untuk keadaan kontradiktif manusia adalah menemukan penebusan melalui pribadi Yesus Kristus. Dalam kata-kata Pascal: Mengenal Allah tanpa mengetahui kemalangan kita sendiri membuat kita sombong. Mengetahui kemalangan kita sendiri tanpa mengenal Allah membuat kita putus asa. Mengenal Yesus Kristus menyeimbangkan keduanya karena Dia menunjukkan Allah dan kemalangan kita sendiri kepada kita.16

MENGAPA SAYA HARUS BERTARUH TENTANG IMAN?

101

Bagi Pascal, di dalam perjumpaannya dengan Penebus Yesus Kristus itulah manusia dapat menemukan dirinya dan Allah. Oleh karena itu, kekristenan tidak hanya menjelaskan teka-teki natur manusia tetapi juga memberikan solusi untuk keberadaan manusia yang terasing dari Allah dan dari dirinya sendiri. Sekali lagi dari Pensées: Kita bukan hanya mengenal Allah melalui Yesus Kristus saja, tetapi kita mengenal diri sendiri melalui Yesus Kristus; kita mengenal kehidupan dan kematian melalui Yesus Kristus. Terlepas dari Yesus Kristus, kita tidak dapat mengetahui makna kehidupan atau kematian kita, Allah atau diri kita sendiri.17

Pertimbangan Hati Para ahli tidak sepakat tentang cara mengklasifikasikan pandangan Pascal menyangkut hubungan iman dan akal sehat. Sebagian orang menyebut Pascal sebagai seorang fideis (didefinisikan secara negatif bahwa iman tidak memiliki dasar rasional).18 Akan tetapi, posisi Pascal lebih rumit daripada fideisme sederhana. Ia dengan kukuh menegaskan bahwa “agama tidak bertentangan dengan akal,”19 dan bahkan berpendapat bahwa ada berbagai bukti yang mendukung kebenaran iman Kristen. Dia mencatat bukti-bukti semacam itu sebagai nubuat Alkitab, mukjizat (terutama kebangkitan Kristus), keberadaan bangsa Yahudi, saksi sejarah gereja Kristen di dunia, dan kekuatan penjelasan yang unik dari kekristenan. Pascal memang menyatakan bahwa akal dan penyelidikan ilmiah memiliki batasan dan bahwa akal memerlukan iluminasi iman dan wahyu Ilahi. Baginya, bukti-bukti tradisional tentang Allah tidak memadai secara religius (tidak seperti geometri, bukti-bukti ini secara deduktif tidak pasti). Ia memandang bukti-bukti ini terlalu rumit dan sulit bagi kebanyakan orang, dan meskipun bukti-bukti ini dapat memberikan pengetahuan tentang Allah, namun tetap tidak memberikan pengetahuan tentang Kristus. Ia menyatakan, “Alangkah jauhnya jalan yang memisahkan antara mengenal Allah dan mengasihi-Nya.”20 Jadi, “bukti-bukti” memiliki nilai yang terbatas. Bukti-bukti ini mungkin meyakinkan “pikiran” namun tidak meyakinkan “hati.”

102

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

Pascal menggambarkan perbedaan ini, “Hati memiliki alasan-alasan yang sama sekali tidak diketahui oleh akal.”22 Ia juga menulis, “Hatilah yang memandang Allah dan bukan akal.”23 Copleston menjelaskan bahwa bagi Pascal, hati mengacu pada “pengertian tentang kebenaran yang naluriah, spontan, dan tanpa alasan.”24 Pascal percaya bahwa hati memiliki pengetahuan intuitif dan langsung mengenai prinsip-prinsip pertama, termasuk Allah. Bukan hanya menjadi pusat emosi, sebaliknya hati menyampaikan rasa intuisi (yang menunjukkan langsung, spontanitas, dan tepat sasaran). Copleston mendefinisikan pemahaman Pascal tentang hati sebagai “semacam naluri intelektual, berakar di dalam natur jiwa yang terdalam.”25 Bagi Pascal, tampaknya baik pikiran maupun hati memainkan peranan penting agar seseorang menjadi beriman. Hati menyediakan intuisi dasar dalam proses pembentukan keyakinan dasar, sedangkan pikiran menyediakan penalaran diskursif yang melengkapinya. Sebuah buku baru tentang cara kerja pikiran manusia menunjukkan bahwa pandangan Pascal tentang pentingnya intuisi dalam pemikiran manusia sejalan dengan penelitian ilmiah terbaru.26

Taruhan Pascal (Pascal’s Wager) Pascal merancang Wager bagi teman-teman skeptisnya yang semuanya masih tidak yakin pada pernyataan-pernyataan ateisme dan kekristenan.27 Ia percaya bahwa realitas tentang kehidupan memaksa manusia membuat keputusan mengenai isu-isu seperti apakah yang menanti seseorang setelah kematian. Ketidakpastian dan risiko yang melekat pada keadaan manusia memaksa orang untuk berpikir tentang keberadaan Allah. Bagaimana orang memutuskan masalah penting ini memiliki konsekuensi potensial dalam kehidupan ini dan mungkin di akhirat. Bagi Pascal, pertanyaan tentang keberadaan Allah dan kebenaran kekristenan tidak dapat ditentukan dengan mengacu pada akal semata. Baginya, ada “terlalu banyak hal yang harus ditolak dan tidak cukup banyak hal yang dapat disetujui.”28 Oleh karena itu, orang harus membuat taruhan bijaksana tentang apakah Allah ada atau tidak ada. Pascal menulis dalam Pensées:

MENGAPA SAYA HARUS BERTARUH TENTANG IMAN?

103

Allah itu ada atau tidak ada. Pandangan mana yang akan kita anut? Akal tidak bisa memutuskan pertanyaan ini. Ketidakpastian menghantui kita. Jauh di ujung sana, sebuah koin sedang berputar dan akan jatuh dengan kepala di atas atau di bawah. Bagaimana Anda akan bertaruh? Akal tidak dapat membuat Anda memilih salah satu, akal tidak dapat membuktikan mana yang salah . . . Anda harus bertaruh. Tidak ada pilihan, Anda sudah terjun ke dalamnya. Lalu, yang mana yang akan Anda pilih? Perhatikan: karena pilihan harus dibuat, lihatlah tawaran mana yang paling menarik bagi Anda.29

Pascal hanya menunjukkan dua kemungkinan pilihan: pertama, percaya kepada Allah dan membuat komitmen religius (tentu saja, ia berbicara tentang komitmen kepada Allahnya umat Kristen). Dua kemungkinan akan diperoleh dari pilihan ini: keyakinan seseorang bisa benar atau salah. Jika seseorang percaya kepada Allah dan Dia benarbenar ada, maka menurut Pascal, orang yang percaya itu siap untuk mendapatkan segalanya. Boleh dikatakan, bagi taruhan yang tepat, akan mendapatkan imbalan keuntungan yang tak terbatas (hidup kekal bersama Allah di surga). Di sisi lain, jika seseorang memilih untuk beriman dan ternyata Allah tidak benar-benar ada, maka orang itu tidak akan kehilangan apa-apa. Dalam istilah analisis biaya-manfaat, orang yang bertaruh memegang Allah akan beruntung dalam segala hal dan tidak bakal rugi. Pilihan kedua adalah bertaruh melawan Allah dengan tidak percaya kepada-Nya dan menolak membuat komitmen religius. Dua kemungkinan juga dapat terjadi dari pilihan ini. Ketidakpercayaan seseorang bisa juga benar atau salah. Jika seseorang tidak percaya pada Allah dan Allah memang tidak ada, maka orang yang tidak percaya itu tidak mendapatkan apa-apa. Di sisi lain, jika orang tidak percaya kepada Allah, tetapi ternyata Tuhan itu benar-benar ada, maka orang yang tidak percaya itu akan kehilangan segala-galanya. Kekalahan karena salah bertaruh akan membuat ia menderita kerugian yang tak terhingga (di neraka karena terpisah selama-lamanya dari kehidupan Allah). Dalam istilah analisis biaya-manfaat, orang yang bertaruh melawan Allah tidak akan beruntung dan kalah dalam segala hal.

104

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

Melihat kedua skenario ini, Pascal menegaskan bahwa taruhan yang bijaksana adalah memegang Allah. Menganut kekristenan daripada ateisme adalah keputusan rasional yang bijaksana.30 Konteks di tempat munculnya taruhan ini dan bagaimana Pascal bermaksud menggunakannya sebagai alat apologetis, sangat penting. Empat poin membantu mendefinisikan maksudnya.31 Pertama, Taruhan tidak pernah dimaksudkan untuk berfungsi sebagai bukti rasional bagi keberadaan Allah, atau sebagai pengganti bukti-bukti kristiani. Kedua, Wager menyasar para pendengar yang spesifik, yakni orang-orang yang telah menangguhkan penilaian atas isu-isu utama. Ketiga, Wager muncul dalam konteks sejarah dan epistemologis tertentu. Copleston menggambarkan Perancis abad XVII sebagai “masyarakat yang dipenuhi dengan humanisme Ilahi dan skeptisisme rasionalis serta pola pikir bebas.”32 Keempat, Taruhan tampaknya terutama dimaksudkan sebagai perangkat untuk membantu menyadarkan orang-orang yang tidak peduli pada isu-isu utama (Allah, kematian, kekekalan). Sejumlah kritik telah diajukan terhadap Wager’s Pascal ini selama bertahun-tahun oleh orang-orang skeptis maupun Kristen.33 Reaksi ini, bersama dengan beberapa tanggapan (mudah-mudahan sesuai dengan semangat Pascal) perlu dipertimbangkan. 1. Wager’s Pascal mengurangi kasih kita kepada Allah, dan membuat iman menjadi taruhan yang dingin dan pragmatis.

Jawaban: Wager mungkin tampak sebagai seruan yang tidak berperasaan dan pragmatis, tetapi ia mencapai orang yang tidak percaya pada titik awal yang realistis. “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu!” (Mzm. 34:9) itulah yang mengubah seseorang, oleh karena kasih karunia Allah. Mungkin Wager harus dipandang sebagai sarana bagi akal sehat yang membantu seseorang mempersiapkan mental bagi iman (yang merupakan hadiah Ilahi). Pertimbangan apologetis dimaksudkan untuk membangkitkan respons dan membersihkan hambatan sehingga hati dapat merasa tenteram dan aman di dalam Allah. Berpikir secara sangat praktis tentang hubungan seseorang dengan Allah belum tentu tidak rohani. Keinginan praktis untuk menghindari murka Allah mungkin saja menandakan bahwa orang tersebut sudah mengalami kasih karunia Allah.

MENGAPA SAYA HARUS BERTARUH TENTANG IMAN?

105

2. Apakah Wager’s Pascal itu sendiri tidak bertentangan dengan pernyataan Pascal bahwa Allah-lah yang menanamkan iman?

Jawaban: Pascal percaya bahwa meskipun orang tidak dapat memberikan iman yang benar kepada dirinya sendiri, orang dapat mulai mempersiapkan diri secara intelektual. Kekuatan terbesar dari Wager’s Pascal ini terletak pada kemampuannya untuk mengguncang orang keluar dari “ketidakpedulian” spiritualnya. Wager hanya merupakan alat apologetis, bukan tujuan itu sendiri. Namun, jika Wager dapat digunakan untuk membangkitkan kesadaran seseorang, maka sarana ini bisa menjadi alat yang sangat berharga. 3. Melakukan tugas keagamaan tidak membuat orang menjadi seorang Kristen.

Jawaban: Pascal mendorong orang yang tidak memiliki iman untuk meniru orang-orang yang memiliki iman. Meskipun melakukan fungsi keagamaan tertentu tidak membuat orang menjadi percaya kepada Kristus, banyak orang Kristen percaya bahwa tindakan-tindakan tertentu adalah sarana kasih karunia (membaca Alkitab, hadir di gereja, menerima sakramen, dan sebagainya). Kasih karunia Allah bekerja melalui tindakan atau kegiatan tertentu untuk mengubah hati manusia, dan perubahan ini penting agar perubahan spiritual bisa terjadi. 4. Wager’s Pascal tidak mengakui bahwa orang percaya kehilangan banyak hal dengan bertaruh memegang Allah jika Dia tidak benarbenar ada. Bahkan, orang percaya akan kehilangan otonomi dan menyia-nyiakan hidupnya dalam omong kosong religius itu.

Jawaban: Mungkin lebih akurat untuk mengatakan bahwa orang yang bertaruh memegang Allah dapat memperoleh segalanya, dan sebaliknya, kecil kemungkinan untuk rugi. Garis penalaran Wager’s Pascal tidak melibatkan analisis antara risiko dan imbalan. Namun, jika orang yang bertaruh memegang Allah itu salah tentang keberadaan Allah sekalipun, ia tetap mendapatkan kehidupan yang baik serta semua kenyamanan dan manfaat lainnya yang menyertai kehidupan iman.

106

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

5. Wager’s Pascal tidak memberikan jaminan, jadi mengapa harus bertaruh?

Jawaban: Ketidakpastian keberadaan hidup memaksa orang untuk memilih. Pengalaman hidup tidak memberikan jaminan mutlak tentang apa pun. Orang yang bertaruh memegang Allah memiliki jaminan kepuasan yang nyata. Jika ia salah tentang keberadaan Allah, ia tidak akan pernah tahu karena mengalami kematian (didefinisikan dalam hal ini sebagai kepunahan). Di sisi lain, orang yang bertaruh melawan Allah dan ternyata benar bahwa Allah itu tidak ada, ia akan menghadapi jaminan ketidakpuasan yang nyata. Jika benar bahwa Tuhan tidak ada, ia tidak akan pernah tahu karena mengalami kematian (yaitu, kepunahan).34 6. Wager’s Pascal hanya berfungsi baik jika tidak meragukan akan agama yang benar. Bagaimana jika Anda bertaruh perihal Allah yang salah?

Jawaban: Pascal mengakui alternatif agama-agama lainnya, tetapi ia percaya bahwa agama Kristen adalah agama yang paling benar, dengan melihat pada nubuat, mukjizat, dan kemampuan penjelasnya yang unik. Wager’s Pascal itu muncul dalam konteks sejarah tertentu. Premisnya adalah pemikiran yang penting adalah pemikiran bahwa tidak ada Allah selain Allah-nya orang Kristen adalah riil. Itulah parameter asli yang memungkinkan Wager dapat berfungsi dengan baik. Wager ini mungkin tidak memiliki kekuatan yang sama (atau seluas daya tarik) dalam zaman modern yang pluralistis ini.35 Sekarang, Wager’s Pascal mungkin lebih tepat digunakan setelah orang mengakui superioritas klaim pernyataan kebenaran kekristenan dibandingkan agama-agama lainnya, dalam wadah pengujian yang objektif. 7. Wager’s Pascal juga berlaku bagi semua agama atau sistem kepercayaan subjektif yang melontarkan pernyataan-pernyataan besar.

Jawaban: Beberapa agama melontarkan pernyataan yang mulukmuluk (menjanjikan pahala besar atau kehidupan yang tidak terbatas), khususnya agama-agama pluralistis. Wager Pascal makin kuat secara signifikan bila dipadukan dengan argumen tentang keunikan kekristenan di antara agama-agama dunia. Sekali lagi, Wager Pascal tidak pernah dimaksudkan untuk dipakai sebagai argumen yang berdiri sendiri untuk kekristenan.

MENGAPA SAYA HARUS BERTARUH TENTANG IMAN?

107

8. Wager’s Pascal tidak akan meyakinkan kaum ateis yang keras atau fanatik.

Jawaban: Tidak ada argumen yang dapat meyakinkan semua orang (terlepas dari kasih karunia Allah). Ada perbedaan antara bukti dan pengaruh pribadi. Wager itu pertama-tama tidak ditujukan bagi kaum ateis. Argumen-argumen apologetis Kristen lainnya tersedia bagi mereka yang menyangkal keberadaan Allah (lih. bab 1). 9. Wager’s Pascal mendorong ketidakjujuran intelektual. Orang tidak dapat berpura-pura percaya kalau ia benar-benar tidak percaya.

Jawaban: Wager’s Pascal dapat mendorong pemikiran reflektif tentang apa yang ada di depan (kematian), bukan tentang ketidakjujuran. Ingat, Pascal menekankan batas-batas akal manusia dan menekankan pentingnya dan perlunya wahyu dan anugerah iman dari Allah. Kaum skeptis kadang-kadang melebih-lebihkan kuantitas dan kualitas pengetahuan manusia. Selain itu, jika keyakinan tidak bertentangan dengan akal dan dijamin bijaksana, maka mengapa orang menolak untuk menerimanya? Membuka pikiran orang agar ia dapat diyakinkan, bukan berarti tidak jujur. 10. Tidakkah Allah yang adil lebih memilih orang skeptis yang jujur daripada orang Kristen yang murni pragmatis?

Jawaban: Dari cara pandang alkitabiah, orang skeptis tidak melihat bahwa “kekerasan hati” mencegah orang untuk percaya kepada Allah. Ketidakpercayaan berakar dari pemberontakan dan kesombongan, yang pada dasarnya adalah ibadah palsu (1Sam. 15:22-23). Kejahatan seperti itu menghasilkan penyembahan berhala dan amoralitas. Allah telah memberikan kepada setiap orang tanda-tanda keberadaan-Nya, tetapi sebagian orang skeptis mengabaikan dan/atau menindasnya (Mzm. 14, 19; Rm. 1). Orang-orang tidak percaya yang reflektif sebaiknya mempertimbangkan apakah ketidakpercayaan mereka berasal dari faktorfaktor rasional atau tidak rasional.

108

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA ALLAH

11. Mengapa kita harus mempertaruhkan manfaat yang terbatas namun pasti (otonomi manusia) dengan manfaat yang tidak terbatas namun tidak pasti?

Jawaban: Semua penjudi mengambil risiko yang pasti untuk apa yang tidak pasti, terutama ketika manfaatnya jauh lebih besar daripada mudaratnya. Ada begitu banyak manfaat baik yang diperoleh dari percaya kepada Allah—bahkan dalam kehidupan ini (kebajikan)—sehingga otonomi yang dikorbankan tampaknya relatif tidak signifikan. 12. Apakah Wager’s Pascal melakukan kekeliruan “ad baculum”— menarik orang untuk percaya dengan cara berbicara tentang sebuah ancaman atau bahaya (sebagai contoh, percayalah agar terhindar dari neraka)?

Jawaban: Beberapa ancaman itu nyata—konsekuensi yang perlu dan logis dari tindakan seseorang. Jika sesungguhnya Allah adalah Pencipta dan Pemelihara alam semesta, maka Dia berhak menetapkan aturan.

Kesimpulan Tulisan Pascal menawarkan analisis yang tajam tentang kondisi manusia. Tulisan ini menyusun bukti-bukti absah untuk kebenaran kekristenan. Wager’s Pascal, meskipun terbuka terhadap kritik, tetap layak dipertimbangkan dengan bijaksana oleh orang-orang percaya dan tidak percaya. Bagian 2, yang meliputi lima bab, meneliti kekhasan iman di dalam Yesus Kristus, yang dimulai dengan Injil. Pertanyaan Diskusi 1. Menurut Pascal, dengan cara apakah kekristenan menunjukkan kekuatan penjelasannya yang unggul dibandingkan agama-agama lainnya? 2. Apakah yang dimaksudkan Pascal dengan “pertimbangan hati”? 3. Apakah konteks Wager’s Pascal? 4. Bagaimana orang seharusnya memakai dengan benar Wager’s Pascal sebagai alat apologetis? 5. Terhadap kritik-kritik apa Wager’s Pascal rentan?

MENGAPA SAYA HARUS BERTARUH TENTANG IMAN?

109

Untuk Studi Lebih Lanjut Copleston, Frederick. A History of Philosophy, jilid 4 (New York: Image Books– Doubleday, 1994). Kreeft, Peter. Christianity For Modern Pagans: Pascal’s Pensées; Edited, Outlined and Explained (San Francisco: Ignatius, 1993). Morris, Thomas V. Making Sense of It All: Pascal and the Meaning of Life (Grand Rapids: Eerdmans, 1992). Pascal, Blaise. Pensées, terjemahan A. J. Krailsheimer, edisi revisi (New York: Penguin, 1995).

BAGIAN DUA MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

APAKAH KISAH-KISAH DI DALAM INJIL TENTANG KEHIDUPAN YESUS DAPAT DIPERCAYA?

Bersikap skeptis terhadap teks yang terdapat di kitab PB sama dengan membuat semua hal yang klasik dari zaman purbakala menyelinap ke dalam ketidakjelasan, karena tidak ada dokumen kuno yang teruji secara bibliografi sebaik PB. ––John Warwick Montgomery, History and Christianity Skeptisisme berlebihan dari banyak teolog liberal tidak berasal dari penilaian yang cermat terhadap data yang tersedia, tetapi dari kecenderungan dahsyat untuk menentang hal-hal yang supranatural. ––Millar Burrows, What Mean These Stones?

A

pakah kekristenan yang bersejarah berakar kuat di dalam kebenaran? Apakah Yesus adalah Mesias yang Ilahi, Tuhan, dan Juruselamat dunia? Apakah Dia benar-benar menggenapi nubuat yang tercatat dalam Alkitab, melakukan berbagai mukjizat, menderita dan mati di kayu salib, dan bangkit secara fisik dari kematian? Apakah fakta-fakta sejarah memvalidasi klaim-klaim-Nya? Kebenaran iman Kristen bergantung pada natur sejarah dan keakuratan klaim-klaim unik, karakter, dan mandat Yesus Kristus. Karena tulisan-tulisan di dalam Injil merupakan sumber utama informasi tentang Dia, maka kekristenan yang historis hanya dapat benar jika tulisan-tulisan ini menyampaikan informasi faktual yang dapat diandalkan. Sebaliknya, jika Injil berisi sebagian besar cerita-cerita mitos atau legenda tentang Yesus, maka klaim-klaim kebenaran ini tidak dapat dipercaya. 111

112

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

Sejarah memberikan argumen yang sahih tentang mengapa kisahkisah kehidupan Yesus Kristus layak dipercaya. Selain itu, argumen juga dapat menunjukkan kekeliruan yang mendalam berkaitan dengan pandangan bahwa Injil mengandung cerita mistis. Menguji keduanya memberikan alasan yang signifikan bagi kita untuk memercayai Yesus Kristus dan karya penebusan-Nya yang menakjubkan (kehidupan moral yang sempurna, kematian yang diurapi di atas kayu salib, dan kebangkitan tubuh dari kubur).

Reliabilitas Historis Injil Argumen-argumen berikut ini1 menganalisis bukti-bukti historis dan objektif mengenai kisah-kisah Injil. Beberapa argumen berhubungan dengan PB secara keseluruhan, sementara yang lain secara khusus berfokus pada keempat Injil di dalam PB. 1. Dokumen-dokumen PB adalah dokumen-dokumen kuno terbaik yang seluruh manuskripnya telah teruji.

Secara umum, sangat sedikit manuskrip penulis klasik kuno (Aristoteles, Plato, Caesar, Tacitus, Thucydides, Herodotus, dll.) yang masih bertahan hingga kini.2 Rata-rata hanya sekitar dua puluh manuskrip yang masih bertahan. Dan jumlah ini umumnya dianggap sebagai kuantitas yang luar biasa terkait dengan manuskrip yang telah teruji.3 Namun, dalam banyak hal, jauh lebih sedikit manuskrip yang masih bertahan. Sebenarnya, hampir bisa dipastikan, sedikit sekali manuskrip yang masih tersisa. Namun, dengan standar historiografi, manuskrip-manuskrip itu bahkan tidak ditolak sebagai karya yang tidak autentik atau tidak dapat diandalkan karena jumlahnya yang terbatas itu. Kenyataannya beberapa dokumen kuno diterima sebagai teks yang autentik dengan pengujian yang sangat minim. Berbeda sekali dengan karya-karya klasik yang terkenal di atas, dokumen-dokumen di dalam PB didukung bukti-bukti teks dalam jumlah yang menakjubkan. Sebagai contoh, lebih dari 5.000 manuskrip Yunani individual, yang memuat seluruh bagian atau sebagian dari isi PB, masih bertahan hingga kini.4 Manuskrip-manuskrip tersebut ditambah dengan lebih dari 8.000 eksemplar Vulgata, sebuah versi Alkitab yang penting dalam bahasa Latin, yang telah diterjemahkan oleh bapa

APAKAH KISAH-KISAH DI DALAM INJIL TENTANG KEHIDUPAN YESUS DAPAT DIPERCAYA?

113

gereja Barat, Jerome, pada awal abad V. Bukti-bukti lainnya berupa beberapa ribu manuskrip mula-mula dari PB yang diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Timur seperti Suriah, Koptik, Armenia, Slavia, dan Ethiopia.5 Bahkan tanpa ribuan manuskrip ini, hampir seluruh teks PB dapat direproduksi dari kutipan-kutipan tertentu Kitab Suci yang terdapat di dalam khotbah-khotbah, penafsiran-penafsiran tertulis (dan disimpan dengan baik), dan beragam karya lain dari para bapa gereja mula-mula.6 Para pemimpin Kristen, para apologet, dan para penulis ini melayani antara abad II dan V. Para penulis Patristik ini, demikian mereka disebut, mencakup (antara lain) tokoh Kristen terkemuka seperti Tertulianus, Athanasius, Ambrosius, Chrysostom, Jerome, dan Augustine. PB merupakan dokumen yang telah teruji dengan sangat baik mengenai dunia kuno. Bukti manuskrip yang luar biasa banyaknya itu telah meningkatkan perkembangan suatu aktivitas krusial yang dikenal sebagai kritik teks. Dengan pembandingan manuskrip secara cermat dan analisis di sepanjang sejarah, kritik teks mencoba untuk mengidentifikasi natur teks asli (seperti yang ditulis oleh para penulis PB).7 Bukti manuskrip yang kuat ini tidak bermaksud untuk membuktikan bahwa kisah-kisah tentang kehidupan Yesus yang tercatat di dalam PB secara faktual akurat dan dapat dipercaya, tetapi hendak menandai PB sebagai dokumen sejarah yang unik dan layak dipertimbangkan dengan cermat. 2. Interval antara masa teks asli ditulis dan tanggal salinan manuskrip PB yang paling awal, sangat singkat.

Semakin pendek periode waktu antara tanggal ditulisnya teks asli dan tanggal salinan pertama (atau manuskrip) didapat, semakin terpercaya teks yang diuji. Periode waktu yang singkat menandakan bahwa hanya ada sedikit waktu bagi dokumen itu untuk dirusak melalui transmisi atau interpolasi. Kebanyakan karya klasik yang paling kuno, jarak rata-ratanya lebih dari 1.000 tahun antara masa karya asli itu dibuat dan masa salinan paling awal dibuat.8 Dalam beberapa kasus, jaraknya dapat terbentang sampai 1.400 tahun. Meskipun rentang waktu 700 tahun dianggap baik di antara karya-karya besar zaman dahulu, situasi teks PB jauh lebih unggul.9

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

114

Berbeda dengan karya-karya klasik, masa penulisan hingga penyalinan teks awal PB interval sangat singkat. Pemeriksaan beberapa manuskrip PB yang awal dapat membantu menggambarkan hal ini. Salinan tertua dari bagian kitab PB yang ada sekarang adalah manuskrip John Rylands 10 (disebut demikian karena berada di John Rylands University Library di Manchester, Inggris). Lembaran papirus yang kecil ini (kertas primitif) hanya berisi beberapa ayat dari Injil Yohanes (Yoh. 18:31-33, 37-38). Manuskrip yang ditemukan di Mesir ini, yang juga dikenal sebagai P52, tertanggal antara tahun 117-138 M,11 dan filolog (ahli bahasa) terkemuka Adolf Deissmann membantah dengan menyatakan bahwa tanggal manuskrip tersebut seharusnya lebih awal.12 Tergantung kapan Injil Yohanes ditulis (ca. antara 60 dan 90 M), faktor waktu, kira-kira hanya terpaut beberapa dekade. Rentang waktu yang sangat singkat ini menjadi bukti yang kuat atas kemurnian teks itu. Penemuan manuskrip ini juga meruntuhkan teori beberapa kritikus yang menganggap Injil Yohanes ditulis setelah pertengahan abad II.13 Dua koleksi awal dan penting dari manuskrip papirus PB adalah Papirus Bodmer (P66, P72, dan P75) dan Papirus Chester Beatty (P45, P46, dan P47). Papirus Bodmer berisi bagian-bagian PB (yang mencakup sebagian besar Injil Lukas dan Yohanes) dan diterbitkan sekitar tahun 200 M.14 Papirus Beatty mencakup hampir semua PB (termasuk sebagian besar dari keempat Injil) dan diterbitkan sekitar tahun 250 M.15 Oleh karena itu, manuskrip-manuskrip ini terpaut sekitar 100 sampai 200 tahun dari masa tulisan yang asli dibuat. Menurut standar tekstual, rentang waktu ini yang sangat singkat bagi suatu tulisan kuno menjadi alasan yang kuat bagi kita untuk menerima keautentikan mendasar teks PB. Lima manuskrip penting berhuruf Yunani16 (ditulis dalam sejenis huruf besar) juga memberikan dukungan tekstual yang penting untuk PB. Manuskrip-manuskrip yang ditulis pada perkamen (kulit binatang yang ditoreh) dan bukan pada papirus ini berbentuk kodeks (disusun lebih menyerupai sebuah buku modern), bukan gulungan kitab kuno. Informasi tekstual penting untuk setiap kodeks tercantum di bawah ini.17 

Kodeks Sinaitikus (a a): berisi seluruh buku PB dan sebagian PL. Kodeks ini berada di British Museum dan bertanggal sekitar tahun 340 M.

APAKAH KISAH-KISAH DI DALAM INJIL TENTANG KEHIDUPAN YESUS DAPAT DIPERCAYA?









115

Kodeks Vatikanus (B): mencakup hampir seluruh Alkitab. Kodeks ini dapat ditemukan di Vatican Library dan bertanggal tahun 325350 M. Kodeks Alexandrinus (A): berisi sebagian besar Alkitab dan berada di British Museum. Kodeks ini bertanggal sekitar tahun 450 M. Kodeks Bezae (D): ditulis dalam bahasa Yunani dan Latin, mencakup banyak bagian dari PB (dan sebagian besar dari keempat Injil). Kodeks yang disimpan di Cambridge University Library ini bertanggal antara tahun 450-550 M. Kodeks Efraemi (C): berisi bagian dari PL dan sebagian besar PB. Kodeks ini berada di French National Library di Paris dan bertanggal sekitar tahun 400 M.

Masih banyak lagi teks PB yang dapat disebutkan—teks-teks yang ditulis sekitar awal Abad Pertengahan sampai era Reformasi.18 Namun, naskah-naskah kuno yang sedang kita bahas ini menggambarkan dokumen-dokumen PB yang sangat unggul dibandingkan semua karya klasik kuno lainnya dalam rentang waktu antara masa tulisan asli dan masa salinan paling awal dibuat. Analisis data ini menyebabkan Sir Frederic Kenyon, seorang ahli naskah kuno, menyimpulkan demikian: Jadi, interval antara tanggal penulisan teks asli dan tanggal bukti salinan paling awal ditemukan menjadi begitu kecilnya, bahkan bisa dianggap tidak ada, dan fondasi akhir, dan menjadi fondasi yang bertahan atas keraguan apa pun bahwa Alkitab telah sampai kepada kita secara substansial karena Alkitab itu ditulis, kini telah dihapus. Keaslian dan integritas kitab-kitab PB akhirnya dapat diterima.19

3. Klaim-klaim historis tentang Yesus yang dibuat oleh penulispenulis kuno non-Kristen sangat cocok dengan catatan Injil.

Penelitian terhadap sepuluh sumber sejarah berikut ini (di luar Alkitab) mengungkapkan informasi tentang kehidupan Yesus yang sesuai dengan dan bahkan menguatkan kisah-kisah dalam keempat Injil PB dan juga kitab Kisah Para Rasul.20 

Tacitus (ca. 55-120 M): sejarawan Romawi, Annals



Suetonius (ca. 120 M): sejarawan Romawi, Life of Claudius



Josephus (37-97 M): sejarawan Yahudi, Antiquities

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

116

 



Plinius Secundus (112 M): Gubernur Romawi, Epistles X Talmud Yahudi (tafsiran tentang hukum Yahudi, diselesaikan pada tahun 500 M) Toledoth Jesu (mencerminkan pemikiran Yahudi awal, diselesaikan pada abad V M)



Lucian (abad II M): satiris Yunani



Thallus (ca. 52 M): sejarawan kelahiran Samaria, Histories



Mara Bar-Serapion (ca. 73 M): Surat



Phlegon (ca. 80 M): sejarawan, kitab Tawarikh (namanya disebutsebut oleh Origenes)

Sumber-sumber kuno memberi gambaran tentang Yesus dan umat Kristen mula-mula:21 (1) Dia seorang guru yang provokatif, orang bijak dan berbudi luhur dari daerah Yudea. (2) Ada laporan yang menyatakan bahwa Dia melakukan mukjizat-mukjizat dan membuat klaim-klaim profetik. (3) Para pemimpin Yahudi mengutuk-Nya karena dianggap melakukan perbuatan-perbuatan sihir dan kemurtadan. (4) Dia disalibkan oleh wali negeri Romawi Pontius Pilatus pada saat Paska Yahudi, dan masa pemerintahan Kaisar Tiberius. (5) Para pengikut Yesus, yang disebut orang Kristen, melaporkan bahwa Dia telah bangkit dari kematian. (6) Iman Kristen telah menyebar ke Roma di mana orang-orang Kristen didakwa melakukan kejahatan dan mendapat penganiayaan yang mengerikan. (7) Orang-orang Kristen abad I menyembah Yesus Kristus sebagai Tuhan dan merayakan Perjamuan Kudus dalam ibadah-ibadah mereka. (8) Meskipun kadang-kadang orang-orang Romawi menertawakan para pengikut Kristus sebagai orang-orang yang secara moral lemah, muridmurid ini sering dikenal karena keberanian dan kebaikan hati mereka. Pernyataan-pernyataan singkat dan kadang-kadang mengandung maksud terselubung tentang Yesus, yang dibuat oleh para penulis kuno yang non-Kristen, tidak membuktikan pernyataan Injil. Namun, di dalam pernyataan-pernyataan tersebut tidak ada hal yang bertentangan dengan apa yang dicatat tentang Yesus di dalam Injil. Sumber-sumber sejarah di luar Alkitab ini pun secara konsisten mengonfirmasi historisitas pesan Injil.22

APAKAH KISAH-KISAH DI DALAM INJIL TENTANG KEHIDUPAN YESUS DAPAT DIPERCAYA?

117

4. Para penulis keempat Injil bisa jadi merupakan saksi mata kehidupan Yesus secara langsung atau terkait erat dengan para saksi mata.

Dalam khotbah-khotbah mereka yang paling awal, para rasul mengaku menjadi saksi mata langsung dari peristiwa besar seputar kehidupan Yesus (Kis. 2:32; 3:15; 5:32; 10:39), dan informasi dari tangan pertama yang menarik muncul di sepanjang isi PB (Kis. 17:30-31; 1Kor. 15: 1-20; Ibr. 2:3-4; 2Pet. 1:16-18; 1Yoh. 1:1-3). Para penulis Injil juga mengklaim bahwa mereka sendiri selalu bersama dengan Yesus (Yoh. 1:14; 19:35; 21:24-25) atau mengandalkan perkataan orang-orang yang telah berjalan dan berbicara dengan Yesus (Luk. 1:2). Kesaksian tentang sejarah jemaat mula-mula dengan suara bulat mengatakan bahwa dua Injil ditulis oleh murid-murid Yesus yang pertama (yang kemudian disebut rasul), yakni Matius dan Yohanes. Dua Injil lainnya, yaitu Markus dan Lukas, mengandalkan dan mencerminkan kesaksian rasul Petrus, Paulus, dan lainnya.23 Meskipun banyak kritikus zaman sekarang menolak keberadaan para rasul sebagai penulis (atau pengaruh langsung) dari keempat Injil di dalam Alkitab, masih ada penjelasan historis dan tekstual yang kuat yang dipakai untuk menyimpulkan bahwa para rasul menulis sendiri Injil itu atau menjadi sumber di balik penulisan kitab-kitab itu. Selintas kesaksian para rasul yang ada di balik setiap Injil tampaknya bisa dipercaya. Injil Matius: Meskipun Injil ini sama sekali tidak mengidentifikasi penulis teks, sejak zaman awal sejarah gereja, nama “Matius” (rasul yang mula-mula) secara universal dikaitkan sebagai naratornya. Setidaknya, ada dua hal yang mendukung bahwa ia adalah penulisnya:24 Pertama, salinan-salinan manuskrip Injil beredar sejak zaman paling awal (ca. 125 M) dengan nama Matius terkait di dalamnya, dan nama itu (yang menandakan kepengarangan) tidak pernah diperdebatkan sampai sekarang. Kedua, tradisi kuno yang berasal dari Papias, pemimpin umat Kristen mula-mula (ca. 60-130 M), menyatakan bahwa Matius, salah satu dari kedua belas rasul Kristus, menulis Injil ini. Meskipun tradisi ini menghadapi banyak pertentangan, keberadaan Matius sebagai penulis juga diterima oleh para bapa gereja mula-mula seperti Irenaeus, Origenes, dan Eusebius.

118

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

Injil Markus: Jemaat/Gereja mula-mula sepakat bahwa Yohanes yang disebut juga Markus (Kis. 12:12; 13:13; 15:36-41), kemenakan Barnabas dan rekan Rasul Paulus adalah penulis kedua (dalam urutan manuskrip) Injil.25 Bapa-bapa gereja Papias, Irenaeus, Clement dari Alexandria, Origenes, dan Jerome (antara lain) juga menerima dengan baik bahwa Injil Markus mencerminkan kesaksian dari rasul Petrus.26 Tradisi awal ini menyiratkan bahwa Injil Markus mengambil pesan fundamental dari khotbah Petrus (pengkhotbah utama gereja mula-mula sekaligus saksi mata) lalu menyusun pesan itu menjadi Injil Markus dalam bentuk tertulis. Bukti tekstual mengenai ketergantungan Markus kepada Petrus sangat jelas di dalam Injil itu sendiri. Ahli PB, F. F. Bruce menjelaskan, “Kata ganti orang pertama yang digunakan oleh Markus dalam narasi yang melibatkan Petrus tampaknya berulang kali mencerminkan kenangan rasul itu.”27 Rupanya Petrus adalah narasumber bagi Markus, dan kesaksian Petus selaku saksi mata melandasi Injil Markus. Injil Lukas: Keyakinan bahwa Lukas adalah penulis Injil ketiga dan teman dekat rasul Paulus, ternyata sangat didukung di dalam sejarah gereja (oleh Irenaeus, Clement dari Alexasandria, Origenes, dan Tertulianus) dan sangat sesuai dengan pertimbangan tekstual intern.28 Penulis Injil Lukas juga menulis kitab Kisah Para Rasul dan merupakan rekan Paulus. Unsur-unsur ini meneguhkan Lukas, sang tabib itu, sebagai penulis Injil ketiga. Meskipun bukan rasul Yesus, Lukas memiliki akses ke semua tokoh rasul yang utama, yang mencakup Paulus, Petrus, dan Yakobus (saudara Yesus).29 Oleh sebab itu, Injil Lukas sangat mengandalkan cerita-cerita dari para saksi mata tersebut. Prakata Injil Lukas berbunyi: Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwaperistiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar. (Luk. 1:1-4)

Injil Yohanes: Penulis Injil Yohanes menampilkan pengetahuan yang mendetail mengenai budaya, adat, dan teologi Yahudi abad I, serta pengetahuan yang hebat mengenai geografi Israel kuno. Detail-detail

APAKAH KISAH-KISAH DI DALAM INJIL TENTANG KEHIDUPAN YESUS DAPAT DIPERCAYA?

119

ini memperlihatkan ingatan seorang saksi mata pada peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus (Yoh. 21:24-25). Penulis yang paling didukung oleh tradisi gereja (Polikarpus, Irenaeus, Tertulianus) dan oleh bukti tekstual intern adalah Rasul Yohanes,30 anak Zebedeus (Mat. 4:21; Mrk. 1:19), yang dengan penuh kasih disebut sebagai “murid yang dikasihi [Yesus]” (Yoh. 13:23, 19:26). Yohanes bukan hanya terhitung sebagai salah satu dari kedua belas rasul Kristus, ia juga bagian dari lingkaran dalam, yang hadir di tengah transfigurasi, perjamuan terakhir, dan penyaliban Yesus. Yohanes juga melihat dengan mata kepalanya sendiri Kristus yang dibangkitkan (Yoh. 21:20). Kritikus-kritikus zaman sekarang meluncurkan banyak penolakan terhadap pandangan tradisional bahwa kesaksian saksi mata berada di balik penulisan Injil. Namun, penolakan ini secara keseluruhan terbukti tidak substansial, dan sudut pandang tradisional tetap merupakan posisi yang paling dipertahankan dalam penulisan asli Injil.31 5. Para penulis Injil bermaksud menyampaikan dan mampu menyampaikan informasi sejarah dan fakta tentang Yesus, dan isi tulisan mereka yang bersejarah telah diteguhkan sampai pada tingkat yang signifikan.

Setiap penulis Injil itu adalah saksi mata langsung atau menyampaikan kesaksian saksi mata langsung tentang Yesus. Dalam kedua hal ini, masing-masing sepenuhnya mengetahui tentang fakta seputar kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus dan dengan demikian mampu menyampaikan sejarah yang dapat dipercaya. Selanjutnya, karena Injil melaporkan dan menggambarkan peristiwa-peristiwa aktual yang terjadi daam satu generasi dan karena Injil mengandalkan sumber-sumber awal, baik lisan maupun tertulis, maka kredibilitas pesan Injil dianggap sangat kuat. Meskipun berbeda dengan biografi-biografi modern, tapi kitab Injil sesuai dengan genre sastra biografi, terutama yang dipahami di abad I.32 Keempat Injil memberikan informasi yang rinci tentang kehidupan dan pelayanan Yesus, dengan berfokus utama pada peristiwa-peristiwa penebusan agung yang dilakukan Yesus di dalam hidup-Nya (kematian dan kebangkitan-Nya). Injil sangat mementingkan detail sejarah (terutama Injil Lukas dan kitab Kisah Para Rasul). Injil Yohanes paling banyak

120

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

menyajikan rincian mengenai hal-hal seperti kronologi, geografi, dan topografi. Pesan sejarah yang fundamental tentang Yesus (hidup-Nya yang luar biasa, kematian-Nya yang penuh pengurbanan, kebangkitan tubuh-Nya) mendapatkan pembenaran di dalam sumber-sumber eksternal yang terbatas namun dapat dipakai sebagai bukti dari para penulis non-Kristen kuno dan para penulis Kristen yang muncul kemudian. Penemuan arkeologi juga mendukung reliabilitas mendasar kisah-kisah Injil. Meskipun sumber-sumber eksternal tidak dapat membuktikan klaim kebenaran spesifik kekristenan, sumber-sumber tersebut tetap meneguhkan banyak fakta sejarah yang terjalin dalam pesan Injil. 6. Kredibilitas para rasul sebagai pencerita kebenaran dikukuhkan ketika orang mengakui bahwa mereka kurang mendapatkan manfaat dan bahkan hampir kehilangan segala-galanya dalam mewartakan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Tindakan kerap dimotivasi oleh antisipasi orang terhadap potensi untung atau rugi. Para rasul nyaris tidak mendapatkan keuntungan apaapa dan sebenarnya kehilangan segala-galanya dengan memberitakan Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan yang telah bangkit. Para pengikut dekat Yesus ini adalah penganut monoteisme yang setia, bagian dari tradisi berabad-abad yang mempraktikkan komitmen yang ketat terhadap Allah Israel (Yahweh) yang tunggal, benar, dan hidup. Memegang pandangan teologis yang menyimpang membawa konsekuensi pribadi yang harus dibayar mahal. Mengarang cerita bohong tentang Yesus hanya akan membuat para rasul mengalami kesulitan, penganiayaan, dan bahkan kematian sia-sia sebagai martir, belum lagi jiwa mereka mungkin dikutuk karena dianggap menghujat dan sesat. Jika para rasul telah mengarang cerita bohong tentang kebangkitan, apakah mungkin mereka bersedia mati sebagai martir untuk hal yang mereka tahu tidak benar? Dan, bahkan jika para rasul telah bersekongkol membuat cerita bohong tentang kebangkitan, konspirasi itu pasti sudah hancur berantakan di bawah tekanan yang sangat hebat. Banyak lawan yang dengan sukarela mengungkapkan setiap kemungkinan kebohongan. Para rasul dibenci, dicemooh, dikucilkan, dipenjara, dan disiksa.

APAKAH KISAH-KISAH DI DALAM INJIL TENTANG KEHIDUPAN YESUS DAPAT DIPERCAYA?

121

Selanjutnya, jika para rasul adalah penipu, mereka melanggar semua kebenaran dan kejujuran yang Yesus ajarkan. Namun, tidak ada di bagian mana pun di dalam Injil yang menunjukkan bahwa para rasul adalah penipu atau pembuat cerita bohong. Mereka justru digambarkan sebagai orang-orang yang sederhana, jujur, dan menceritakan kebenaran. Pernyataan para rasul tentang Yesus diperkuat oleh fakta bahwa mereka tidak memiliki motif untuk berbohong atau menipu. Alasan-alasan yang kuat di atas mendukung kesimpulan bahwa Injil dapat diandalkan secara historis. Namun, upaya-upaya untuk mengklasifikasikan Injil sebagai kisah legenda juga perlu ditangani.

Injil: Mitos atau Fakta? Budaya populer, yang bersekongkol dengan beberapa kritikus dan komentator yang vokal, menunjukkan atau menegaskan bahwa Injil, sampai pada batas-batas tertentu, adalah mitos atau setidaknya kisah legenda tentang kehidupan dan pelayanan Yesus. Pertimbangan-pertimbangan berikut ini, termasuk waktu dan faktor-faktor praktis lainnya, membuktikan sebaliknya. 1. Karena awal munculnya Injil dan sumber-sumber di belakangnya, mitos dan legenda tidak punya cukup waktu untuk berkembang dan dicatat.

Karena banyak kitab PB (Injil dan berbagai surat) ditulis cukup cepat setelah peristiwa-peristiwa itu dilaporkan, tidak ada waktu yang memungkinkan legenda dan mitos menyusup ke dalamnya. Alasan-alasan sejarah dan tekstual yang kuat menyimpulkan bahwa sesungguhnya Injil ditulis pada tanggal yang sangat awal. Pertama, kematian Yesus di tangan Pontius Pilatus kemungkinan terjadi antara tahun 30 dan 33 M. Bukti menunjukkan bahwa Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) telah ada pada awal tahun 60-an (untuk Injil Markus mungkin akhir tahun 50-an)—dalam serangkaian peristiwa-peristiwa di seputar kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Tak satu pun dari Injil ini yang menyebutkan peristiwaperistiwa penting yang terjadi antara tahun 60 dan 70 M.33 Ketiga peristiwa penting tersebut adalah: (1) penganiayaan orang-orang Kristen akibat hasutan Nero, kaisar Romawi yang kejam (ca. pertengahan tahun

122

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

60-an), (2) kematian tiga pemimpin utama jemaat/gereja mula-mula sebagai martir: Yakobus (saudara Yesus), Petrus, dan Paulus (ca. 62-66 M), dan (3) kejatuhan Yerusalem (termasuk penghancuran Bait Suci Yahudi) di bawah pemimpin militer Romawi, Titus (tahun 70 M). Karena tidak ada satu pun dari peristiwa-peristiwa penting yang menyita perhatian umat Kristen ini disebutkan di dalam Injil, makin banyak ahli kitab PB menyimpulkan bahwa Injil Sinoptik tentunya telah ada pada awal tahun 60-an. Kedua, karena kitab Kisah Para Rasul dan Injil Lukas sebagai karya pendamping (ditulis kepada orang yang sama dan dalam gaya penulisan yang sama), dan karena Kisah Para Rasul tidak menyebutkan peristiwaperistiwa yang disebut sebelumnya, tanggal Injil Sinoptik itu mungkin lebih awal daripada peristiwa-peristiwa itu, terutama jika memperkirakan prioritas Injil Markus (teori yang diterima secara luas bahwa Injil Markus yang ditulis paling awal). Jika Lukas menggunakan Injil Markus untuk mempersiapkan tulisannya (asumsi yang masuk akal mengingat pengaruh saksi mata Petrus terhadap Markus), maka Injil Markus mungkin telah ada pada akhir tahun 50-an—waktu yang sangat dekat dengan peristiwa kehidupan Yesus. Tentunya ada banyak orang yang masih hidup pada tahap awal ini dan mengalami peristiwa seputar kehidupan dan kematian Yesus. Pengetahuan langsung tersebut cenderung mencegah perkembangan mitos dan legenda. Pertimbangan bahwa sumber-sumber apostolik yang lisan dan tertulis menjembatani jarak antara saat kematian Yesus dan waktu Injil ditulis, memperkuat kedua argumen ini. Sebuah tradisi pemberitaan lisan resmi tentu dihubungkan dengan rasul Petrus. Dan beberapa surat rasul Paulus (Galatia, 1 dan 2 Tesalonika) ditulis paling awal pada akhir tahun 40-an dan awal tahun 50-an. Kritik sumber (studi sumber-sumber yang ada di balik teks tertulis) memastikan ada sumber-sumber lisan dan mungkin juga sumber-sumber tertulis di balik Injil Yunani yang asli. Ahli kitab PB, Craig Blomberg menyatakan bahwa ada banyak alasan untuk memercayai bahwa Matius, Markus, dan Lukas menggunakan sumber-sumber tersebut, dan menyimpulkan bahwa sumber-sumber tersebut memberikan kredibilitas lebih lanjut bagi penulisan Injil. “Kritik sumber tidak dapat menunjukkan bahwa kisah-kisah pertama dari berbagai bagian kehidupan Yesus sepenuhnya dapat dipercaya, tetapi dapat

APAKAH KISAH-KISAH DI DALAM INJIL TENTANG KEHIDUPAN YESUS DAPAT DIPERCAYA?

123

menunjukkan bahwa kisah-kisah tersebut muncul pada waktu dan tempat di mana banyak orang yang secara pribadi mengenal Yesus, masih hidup.”34 2. Teori bahwa Injil merupakan mitos hanya masuk akal jika sudah melewati beberapa generasi, sehingga memungkinkan berkembangnya mitologi tentang Yesus.

Gagasan bahwa mitos dan legenda membungkus fakta-fakta seputar kehidupan Yesus bertumpu pada dalil bahwa setelah beberapa generasi berlalu (di antara peristiwa dan catatan) maka mitos bisa tumbuh.35 A. N. Sherwin-White, ahli sejarah Yunani dan Romawi kuno dari Oxford, berpendapat bahwa bahkan rentang waktu dua generasi penuh pun tidak cukup untuk mengembangkan mitos dan legenda dan memutarbalikkan fakta-fakta sejarah.36 Ahli legenda Julius Muller menyatakan legenda tidak dapat menggantikan fakta sepanjang saksi mata masih hidup,37 dan melihat tanggal awal Injil, saksi-saksi mata (baik orang-orang percaya maupun orang-orang yang non-Kristen) masih hidup pada kurun waktu Injil ditulis. 3. Para rasul Yesus mengetahui perbedaan antara mitos dan kesaksian para saksi mata faktual, dan mereka dengan sungguhsungguh menegaskan bahwa mereka adalah saksi mata dari berbagai peristiwa sejarah.

Alasan lain untuk menolak teori bahwa mitos dan legenda menyusup ke dalam kisah Injil karena para rasul Yesus mampu mengenali perbedaan antara mitos dan kesaksian faktual, dan mereka menyatakan diri sebagai saksi mata peristiwa-peristiwa sejarah yang sebenarnya (Luk. 1:1-4; Yoh. 19:35; 1Kor. 15:3-8; Gal. 1:11-12; 2Pet. 1:16; 1Yoh. 1:1-2). Bukannya berusaha mempropagandakan penyimpangan atau pernyataan yang berlebihan, para rasul justru berusaha memadamkan rumor dan kebohongan sebelum menyebar (Yoh. 21:22-25), dan terus bersaksi tentang niat mereka untuk melaporkan kisah yang dapat dipercaya. Para penulis Injil juga memperhatikan aspek-aspek sejarah. Mereka memberikan detail-detail yang sangat cermat yang ada pada zaman Yesus (termasuk nama, tanggal, lokasi, peristiwa, adat-istiadat, dll.). Secara historis, agar Injil bisa masuk ke dalam kanon PB jika Injil dapat meme-

124

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

nuhi kriteria yang mengharuskannya muncul dari kalangan para rasul yang mencakup saksi mata atau rekan saksi mata. 4. Jika para penulis Injil menyimpang dari fakta-fakta sejarah (baik dengan pernyataan yang berlebih-lebihan atau isapan jempol semata), saksi-saksi antagonis yang akrab dengan peristiwa kehidupan Yesus dapat dan akan dapat menyingkapkannya.

Ada bukti kuat yang mendukung kesimpulan bahwa Injil mencerminkan sumber-sumber awal tentang kehidupan dan kematian Yesus. Dengan demikian, jika para penulis Injil menyimpang dari fakta-fakta sejarah, maka saksi-saksi antagonis yang juga mengetahui peristiwaperistiwa yang terjadi dalam kehidupan Yesus tentu akan segera menyingkapkan kebohongan para rasul. F. F. Bruce menulis bahwa tidak mudah “Untuk mengada-ada tentang perkataan dan perbuatan Yesus pada tahuntahun awal itu ketika ada begitu banyak murid-Nya yang masih hidup, yang dapat mengingat apa yang telah dan belum terjadi.”38 Musuhmusuh-Nya bahkan jauh lebih banyak dan secara sosial sangat berkuasa. Para rasul, yang yakin akan kesaksian mereka, mengingatkan orangorang yang tidak percaya bahwa mereka secara langsung mengetahui fakta-fakta kehidupan Yesus (Kis. 2:22, 26:25-27). Orang juga harus ingat bahwa khotbah Kristen mula-mula berlangsung di daerah yang sama di mana Kristus telah hidup dan mati. 5. Kisah-kisah Injil tidak sesuai dengan gaya atau isi tulisan mitos lain yang terkenal.

Analisis tentang kisah-kisah Injil mengungkapkan bahwa kisah-kisah ini tidak memiliki kemiripan, baik dalam gaya maupun isi, dengan model dan gaya tulisan mitos lainnya yang terkenal.39 Sebagai contoh, mukjizatmukjizat di dalam Alkitab tidak aneh atau dangkal seperti yang digambarkan di dalam literatur mitologi (mitologi Yunani). Mukjizat-mukjizat Yesus kerap dilakukan di dalam konteks pelayanan-Nya, khususnya untuk memuliakan Allah dan untuk memenuhi kebutuhan nyata manusia. Sejarah dan mukjizat berdampingan di dalam Injil dengan cara sangat berbeda dengan literatur mitologi.

APAKAH KISAH-KISAH DI DALAM INJIL TENTANG KEHIDUPAN YESUS DAPAT DIPERCAYA?

125

6. Argumen untuk menolak Injil sebagai sejarah, berbelit-belit.

Penalaran khas yang memandang Injil sebagai mitos adalah keliru. Penalaran itu biasanya berdasarkan argumen yang berbelit-belit: Keilahian Kristus ditolak karena teks Injil ditolak. Teks Injil ditolak karena dianggap berdasarkan mitos. Injil dianggap mitos karena adanya berbagai peristiwa ajaib yang berbicara tentang Allah yang menjadi manusia (yakni, keilahian Kristus).40 Penalaran ini jelas menimbulkan pertanyaan (dasar pemikiran itu secara salah bergantung pada kesimpulan yang diasumsikan) dan memperlihatkan prasangka yang konon anti-adikodrati. Masalah ini adalah masalah prasangka, bukan fakta sejarah. Menolak historisitas Injil adalah sikap apriori karena Injil berisi mukjizat, melanggar standar penalaran yang logis dan historis. Karena Injil secara historis sudah mapan, kisah-kisah mukjizat yang disampaikan patut mendapat pertimbangan sejarah yang serius. Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah pernyataan mukjizat dapat dipercaya adalah dengan menyelidiki hal itu. Penyelidikan ilmu pengetahuan terkemuka telah menyingkapkan bahwa mukjizat-mukjizat mungkin terjadi. Menolak mukjizat berdasarkan komitmen yang sudah dibuat sebelumnya terhadap pandangan naturalistis berarti melibatkan diri dalam penalaran yang berputar-putar.

Kesimpulan Secara ringkas, banyak sekali alasan historis, logis, dan tertulis untuk menerima Injil sebagaimana adanya. Injil menyampaikan informasi sejarah dan fakta yang sah tentang peristiwa-peristiwa di seputar kehidupan Yesus. Tidak ada alasan kuat untuk memandang pernyataan, karakter, dan kualitas Yesus Kristus sebagai mitos semata. Pernyataanpernyataan yang mereka munculkan tidak berasal dari analisis sejarah yang murni (tanpa prasangka), tetapi dari pengandaian dan prasangka anti hal-hal yang bersifat adikodrati. Tujuan dan maksud khusus dari Injil dicatat di dalam Yohanes 20:31, “Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya.” Jadi, siapakah Yesus ini? Jati diri-Nya akan disingkapkan pada bab berikutnya.

126

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

Pertanyaan Diskusi 1. Bagaimana PB dibandingkan dengan karya-karya klasik zaman kuno lainnya dalam hal bukti manuskrip? 2. Bagaimana laporan-laporan kuno di luar Alkitab tentang Yesus dibandingkan dengan kisah-kisah di dalam Injil? 3. Apakah hubungan Injil dengan kesaksian para saksi mata mengenai Yesus? 4. Mengapa mitos tidak dapat menyusup ke dalam kisah-kisah Injil? Dalam hal-hal apakah Injil sangat berbeda dengan literatur mitos? 5. Bagaimana masalah prasangka yang antisupranatural dapat memengaruhi pendekatan seseorang terhadap reliabilitas Injil? Untuk Studi Lebih Lanjut Blomberg, Craig. The Historical Reliability of the Gospels (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1987). Bruce, F. F. The New Testament Documents: Are They Reliable? (Grand Rapids, Eerdmans, 1960). Cetak ulang, edisi revisi ke-5 (Leicester, England: InterVarsity, 1985). France, R. T. The Evidence for Jesus (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1986). Guthrie, Donald. New Testament Introduction (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1986). Habermas, Gary R. The Historical Jesus: Ancient Evidence for the Life of Christ (Joplin, MO: College Press, 1996). Metzger, Bruce Manning. The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration, cetakan ke-2 (New York: Oxford, 1968). Montgomery, John Warwick. History and Christianity (Minneapolis: Bethany, 1965). Wilkins, Michael J., dan J. P. Moreland, gen. ed. Jesus Under Fire (Grand Rapids: Zondervan, 1995).

APAKAH YESUS ITU MANUSIA, MITOS, ORANG GILA, ANCAMAN, MISTIK, PENGHUNI MARS ATAU MESIAS?

Tapi siapa di antara murid-murid-Nya atau di antara pengikut-pengikut mereka yang mampu menciptakan firman yang berasal dari Yesus, atau mengkhayalkan kehidupan dan karakter yang diungkapkan di dalam Injil? ––John Stuart Mill, Three Essays on Religion Jika hidup matinya Socrates demi memenuhi panggilannya sebagai filsuf, hidup matinya Yesus Kristus adalah sebagai Allah. ––Jean Jacques Rousseau, Emile

S

iapakah Yesus Kristus? Bagaimana jati diri-Nya yang sebenarnya? Yesus sendiri menantang orang-orang untuk berpikir tentang pertanyaan ini di dalam kisah-kisah Injil (Mat. 22:41-46; Yoh. 8:24-28, 53-58). Dia bertanya langsung kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat. 16:13-17)

Kekristenan yang bersejarah membicarakan semua hal tentang Yesus —jati diri-Nya, pesan-Nya, dan misi-Nya. Selama kurun waktu dua milenium, gereja Kristen memandang Yesus sebagai Mesias yang kehidupan127

128

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

Nya, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya menjadi sarana bagi Allah untuk mengampuni orang-orang berdosa yang mau bertobat. Inti dari iman Kristen menyatakan bahwa Yesus, justru karena Dia adalah penjelmaan dari Allah, benar-benar dapat menebus umat manusia di atas kayu salib. Namun, apakah secara intelektual masuk akal jika kita percaya bahwa Yesus Kristus benar-benar Allah yang berinkarnasi? Apakah ada alternatif-alternatif lain yang dapat diterima mengenai jati diri Ilahi-Nya? Jika inti dari klaim-kebenaran kekristenan—bahwa Yesus adalah Allah —bertahan dalam uji penalaran dan sejarah, maka iman akan terjamin dengan kuat. Bila orang memahami bagaimana Yesus memandang diriNya sendiri, apa yang diklaim Alkitab tentang-Nya, dan pengujian terhadap klaim-klaim itu dengan memeriksa enam hipotesis alternatif, maka semua itu akan memperkuat keyakinan seseorang dan membuat kesaksian itu jauh lebih persuasif.

Benarkah Yesus Menganggap Diri-Nya sebagai Allah? Selalu ada individu maupun kelompok (baik pada zaman dulu maupun sekarang) yang membantah gambaran PB tentang Yesus sebagai Allah yang berinkarnasi (satu Pribadi yang sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia). Namun, evaluasi yang memadai terhadap data Kitab Suci tidak meragukan PB yang menegaskan keilahian Yesus (lih. bab 9 untuk mendapatkan ringkasannya). Memandang Yesus Kristus sebagai Allah-manusia adalah konsensus historis dan ortodoks umat Kristen (Katolik, Ortodoks, dan Protestan). Namun, bagaimana Yesus memandang diri-Nya? Beberapa kritikus menyatakan bahwa Dia tidak pernah benar-benar mengaku sebagai Allah dan bahwa gereja Kristen telah keliru menarik kesimpulan ini.1 Yesus tidak pernah mengucapkan kata-kata “Akulah Allah,” tetapi Dia sangat menyadari keilahian-Nya dan dengan sengaja menyingkapkan keilahian-Nya agar dapat diketahui oleh orang lain. Keempat poin berikut menggambarkannya: 1. Yesus menyamakan diri-Nya dengan Bapa (Allah Yahweh).

Dalam pelayanan-Nya kepada masyarakat, Yesus mengidentifikasi diri-Nya begitu dekat dengan Bapa dengan menyatakan secara tidak

APAKAH YESUS ITU MANUSIA, MITOS, ORANG GILA, ANCAMAN, MISTIK, PENGHUNI MARS ATAU MESIAS?

129

langsung bahwa Dia (Yesus) adalah Allah. Dia menyatakan kedekatanNya ini dengan cara berikut:2 



















Mengenal Yesus sama dengan mengenal Allah: “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku” (Yoh. 14:7). Melihat Yesus sama dengan melihat Allah: “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9). Mengalami perjumpaan dengan Yesus sama dengan mengalami perjumpaan dengan Allah: “Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yoh. 14:11). Percaya kepada Yesus sama dengan percaya kepada Allah: “Percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku” (Yoh. 14:1). Menyambut Yesus sama dengan menyambut Allah: “Barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku” (Mrk. 9:37). Menghormati Yesus sama dengan menghormati Allah: “Supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa” (Yoh. 5:23). Membenci Yesus sama dengan membenci Allah: “Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga Bapa-Ku” (Yoh. 15:23). Datang kepada Yesus sama dengan datang kepada Allah: “Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6). Mengasihi Yesus sama dengan mengasihi Allah: “Barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku” (Yoh. 14:21). Menaati Yesus sama dengan menaati Allah: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yoh. 14:23).

2. Yesus membuat klaim-klaim langsung yang dianggap menghujat oleh banyak pemimpin agama Yahudi.

Sebagai kaum monoteis yang fanatik, banyak orang Yahudi pada zaman Yesus menjadi marah terhadap klaim-klaim-Nya bahwa Dia memiliki otoritas Ilahi. Reaksi mereka menunjukkan mereka mengerti bahwa

130

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

Yesus menyatakan diri-Nya sendiri sebagai Allah. Pengakuan inilah yang dipermasalahkan: Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.” Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah. (Yoh.5:17-18)

Yesus yang berulang kali bersikeras menyatakan bahwa Dia memiliki hubungan akrab dan khusus dengan Allah Bapa membuat orang banyak marah. Yesus tidak berbicara tentang Allah sebagai “Bapa kita,” tetapi sebagai “Bapa-Ku.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia. (Yoh. 8:58-59)

Yesus menggunakan kata “Aku” (Yunani, ego eimi) yang sama saja dengan mengatakan “Akulah Allah”, karena Dia memakai “salah satu ungkapan ilahi yang paling suci” dari PL untuk diri-Nya.3 Yahweh telah secara khusus memberi petunjuk tentang diri-Nya sebagai “Aku” atau “Akulah Dia” (Yes. 41:4; 43:10, 13, 25; 46:4; 48:12). Yesus juga telah dinyatakan di dalam Keluaran 3:14 di mana Yahweh menyebut Yesus sebagai “AKU ADALAH AKU” yang luar biasa. Sekali lagi, reaksi dari pihak orang Yahudi yang melempari Yesus dengan batu (hukuman yang ditetapkan untuk penghujatan, Im. 24:16) secara kontekstual membenarkan adanya pernyataan bahwa Dia menyatakan diri-Nya sebagai Allah. “Aku dan Bapa adalah satu.” Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.” (Yoh. 10:30-33)

APAKAH YESUS ITU MANUSIA, MITOS, ORANG GILA, ANCAMAN, MISTIK, PENGHUNI MARS ATAU MESIAS?

131

Kata Yunani untuk “satu” (hen) dalam ayat ini adalah dalam bentuk netral sehingga tidak menyiratkan bahwa Yesus dan Bapa adalah orang yang sama. Kalimat ini bisa diterjemahkan: “Aku dan Bapa, kami adalah satu.” Selain itu, kesatuan antara Yesus dan Bapa lebih dari sekadar kesatuan tujuan atau tindakan. Kesatuan yang dijelaskan di sini memiliki nuansa metafisika yang jelas (Allah).4 Orang-orang Yahudi tentu memahami pernyataan Yesus itu mengacu pada Allah, karena lagi-lagi mereka berusaha untuk melempari-Nya dengan batu. Imam Besar itu bertanya kepada-Nya sekali lagi, katanya: “Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?” Jawab Yesus: “Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.” Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Untuk apa kita perlu saksi lagi? Kamu sudah mendengar hujat-Nya terhadap Allah. Bagaimana pendapat kamu?” Lalu dengan suara bulat mereka memutuskan, bahwa Dia harus dihukum mati. (Mrk. 14:61-64)

Para pemimpin agama Yahudi menangkap, mengadili, dan menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus untuk kejahatan penghujatan. Pernyataan-pernyataan-Nya di hadapan imam besar menjadi kesaksian yang meyakinkan. Perhatikanlah empat hal dalam percakapan singkat antara Yesus dengan imam besar Israel: (a) Dia dengan tegas mengidentifikasi diri-Nya sebagai Mesias Israel, (b) Dia menggunakan gelar “Anak Manusia”, yang dalam konteks-konteks tertentu dipandang sebagai gelar ilahi (Dan. 7:13-14), (c) Dia menggambarkan diri-Nya duduk di “sebelah kanan” Allah, yang menyiratkan bahwa Dia memiliki otoritas Allah, dan (d) Dia mengisyaratkan “kedatangan-Nya di atas awan-awan,” yang mengidentifikasi diri-Nya sebagai Hakim umat manusia pada masa yang akan datang. 3. Secara tidak langsung Yesus menyatakan diri sebagai Allah dengan menerapkan hak-hak prerogatif Allah.

Selama pelayanan-Nya, Yesus terlibat di dalam fungsi-fungsi yang disediakan khusus bagi Allah saja.5 Dalam konteks monoteisme Yahudi yang ketat, tindakan tersebut dianggap menghujat bagi siapa pun kecuali Allah.

132

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

Yesus menyatakan diri berotoritas mengampuni dosa, bahkan dosa yang tidak dilakukan terhadap diri-Nya secara pribadi: Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah sendiri?” (Mrk. 2:5-7)

Yesus menerima penyembahan dari manusia lain: Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembahNya. (Mat. 26:16-17)

Yesus menyatakan kuasa dan otoritas atas kematian—dan kehidupan: Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya. (Yoh. 5:21)

Yesus menyatakan otoritas untuk menghakimi umat manusia: Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak . . . Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. (Yoh. 5:22, 27)

4. Yesus secara tidak langsung mengklaim diri sebagai Allah dengan mengenakan berbagai sebutan Ilahi pada diri-Nya.

Dalam konteks-konteks tertentu, Yesus menggunakan berbagai sebutan yang menyiratkan keilahian di PL. Sebutan itu mengacu ke diriNya. Perilaku ini membuat orang-orang Yahudi marah, terutama ketika Dia menggambarkan diri-Nya sebagai “Anak Allah” dan “Anak Manusia.” Dalam sidang di hadapan Sanhedrin, penggunaan sebutan-sebutan inilah yang (antara lain) membuat imam besar Israel mengutuk-Nya sebagai penghujat yang patut dihukum mati (Mat. 26:62-66) (Untuk mendapatkan lebih banyak referensi Alkitab mengenai contoh-contoh berbagai sebutan Ilahi yang dipakai Yesus, lih. Inkarnasi, bab 9.) Masih banyak lagi yang bisa dikatakan mengenai sebutan-sebutan provokatif Yesus tentang keilahian-Nya.6 Namun, poin-poin yang telah dibahas sebelumnya tampaknya sudah cukup untuk mendukung tesis

APAKAH YESUS ITU MANUSIA, MITOS, ORANG GILA, ANCAMAN, MISTIK, PENGHUNI MARS ATAU MESIAS?

133

bahwa Yesus dari Nazaret mengaku sebagai Allah. Dukungan tambahan untuk klaim kebenaran Yesus sebagai Allah ditemukan di dalam karakter moral-Nya yang tak tertandingi, penggenapan-Nya yang spesifik pada nubuat yang telah disebutkan di Alkitab, dan banyak perbuatan-Nya yang ajaib, yang berkulminasi dalam kebangkitan tubuh-Nya dari antara orang mati. Adakah cara lain yang dapat menjelaskan kehidupan dan pribadi Yesus? Cara untuk menghindari kesimpulan bahwa Dia adalah Allah yang berinkarnasi? Pandangan alternatif telah diajukan, tetapi evaluasi yang cermat terhadap data PB membuat interpretasi yang terbaik menjadi jelas.

Apa Penjelasan yang Terbaik Terkait Hal Itu? Sebelum mempertimbangkan pandangan alternatif tertentu, sebuah tinjauan tentang bagaimana memikirkan hipotesis penjelas yang terbaik dapat membantu orang untuk terhindar dari kesalahan-kesalahan yang mengacaukan perspektif logis. Penalaran Abduktif

Meskipun ada dua cara dasar penalaran atau perdebatan di dalam logika (deduktif dan induktif), ahli logika kadang-kadang menggunakan metode yang kurang dikenal, yang disebut penalaran abduktif.7 Tipe penalaran ketiga ini berupaya untuk mendapatkan penjelasan terbaik bagi sebuah peristiwa atau serangkaian fakta tertentu. Tidak seperti deduksi, penalaran abduktif tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti, tetapi sebaliknya, seperti induksi, hanya menghasilkan kemungkinan kebenaran. Namun, berbeda dengan induksi, penalaran abduktif tidak berusaha memprediksi kemungkinan-kemungkinan spesifik yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sebaliknya, metode ini mencoba untuk memberikan hipotesis penjelas yang luas dan yang terbaik. Penalaran abduktif dapat membantu untuk menentukan penjelasan mana dari sebuah peristiwa tertentu yang mimiliki kans yang paling benar. Sebagai contoh, pendekatan abduktif dapat digunakan dalam upaya untuk menentukan skenario yang paling mungkin menjelaskan isu kontroversial pembunuhan Presiden John F. Kennedy (teori penembak tunggal versus teori konspirasi).8

134

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

Tidak ada tes yang solid dan cepat untuk mengevaluasi antara hipotesis yang satu dengan hipotesis yang lain. Namun, tujuh kriteria berikut ini secara umum diterima di kalangan ahli logika.9 Hipotesis penjelas yang terbaik (1) seimbang antara kompleksitas dan kesederhanaan, (2) koheren, (3) sesuai dengan fakta, (4) menghindari praduga yang tidak beralasan dan penjelasan ad hoc, (5) dapat diuji, (6) menghasilkan prediksi yang bermanfaat, dan (7) dapat menyesuaikan diri untuk mengakomodasi kemungkinan bukti yang menentang. Hipotesis yang mendapat skor tertinggi pada kriteria tersebut dapat dikatakan memiliki daya dan cakupan penjelasan yang benar. Menerapkan skema ini dapat membantu mengevaluasi berbagai penjelasan tentang kehidupan Yesus. Menghindari Kekeliruan Alternatif yang Salah

Meskipun proses eliminasi yang logis dapat membantu menyaring teori-teori yang berbeda, orang harus berhati-hati agar tidak keliru memilih alternatif yang salah. Ahli logika T. Edward Damer mendefinisikan kekeliruan ini sebagai “terlalu menyederhanakan suatu masalah karena gagal memperhatikan atau setidaknya mengenali semua solusi alternatif yang masuk akal.”10 Orang keliru memilih alternatif yang salah ketika ia mengambil terlalu sedikit alternatif dan kemudian mengandaikan bahwa salah satu pilihan terbatas ini tentunya benar. Beberapa apologet injili telah dituduh melakukan kekeliruan ini ketika mereka berdebat tentang masalah keilahian Yesus. Sebagai contoh, argumen penjelas untuk jati diri Yesus kadang-kadang dirumuskan dalam kaitannya dengan sebuah “Trilema.”11 Karena Yesus mengaku sebagai Allah, Dia tentunya adalah: (1) orang gila, (2) pembohong, atau (3) Tuhan (Allah). Para kritikus menuding argumen ini mengabaikan alternatif lainnya yang masuk akal (mis., kemungkinan bahwa Yesus adalah tokoh mitos). Kekeliruan alternatif yang salah ini dapat dihindari dengan memberikan pertimbangan yang cermat dalam berbagai pilihan yang lebih luas—asalkan pilihan-pilihan itu merupakan penjelasan yang masuk akal. Semua penjelasan yang masuk akal harus dimasukkan. Namun, hanya sejumlah kecil penjelasan masuk akal mengenai siapa Yesus yang tetap bertahan.

APAKAH YESUS ITU MANUSIA, MITOS, ORANG GILA, ANCAMAN, MISTIK, PENGHUNI MARS ATAU MESIAS?

135

Juga salah jika orang bersikeras memberikan penilaian terhadap hipotesis penjelas yang masuk akal hanya karena ia belum menyelesaikan semua alternatif yang mungkin terjadi atau yang dapat dipikirkan. Kadang-kadang kaum skeptis melakukan kekeliruan ad futurus (mengacu ke masa depan) dengan mengasumsikan bahwa masa depan akan mengungkapkan penjelasan yang sangat alami (atau sekuler) tentang kehidupan Yesus. Kesalahan ini tidak saja menunjukkan iman yang optimistis namun gegabah terhadap masa depan, tetapi juga mengabaikan bahwa orang harus hidup dan berpikir pada masa sekarang. Berusaha memikirkan hipotesis penjelas yang terbaik di antara alternatif-alternatif yang ada, dapat masuk akal, dan jika ditemukan suatu alternatif baru yang masuk akal, maka analisis kritis dapat dilakukan pada saat itu.

Enam Hipotesis Alternatif tentang Jati Diri Yesus Para pengikut Yesus menafsirkan pernyataan Yesus sebagai Mesias lama setelah kejadian itu. Jadi, pernyataan tentang keilahian Yesus adalah mitos.

Hipotesis ini, meskipun populer di kalangan kaum cendekiawan yang liberal dan kritis, sangat tidak masuk akal karena alasan berikut: 1. Karena Injil (yang memperkenalkan Yesus sebagai Allah) ditulis segera setelah peristiwa-peristiwa yang dicatat di dalamnya terjadi (dalam waktu sekitar satu generasi), maka tidak ada cukup waktu bagi legenda dan mitos terbentuk dan menyusup ke dalam kisah-kisah Alkitab (lih. Injil, bab 7). Selanjutnya, sumber-sumber apostolik secara tertulis dan lisan menjadi jembatan pada masa kematian Yesus (ca. 30 M) dan masa Injil ditulis (ca. 70 M). Sebagai contoh, beberapa surat rasul Paulus (Galatia; 1 dan 2 Tesalonika) mungkin ditulis sejak akhir tahun 40-an atau awal tahun 50-an M. Hipotesis mitos hanya masuk akal jika sudah melewati beberapa generasi di antara berbagai peristiwa yang terjadi dan proses penulisannya—itulah masa bagi mitos untuk menggantikan fakta. Namun, kerangka waktu yang sempit antara saat Yesus hidup dan saat sumber tertulis muncul, tidak memadai untuk memungkinkan terbentuknya hipotesis ini. A. N. Sherwin-White, ahli sejarah Yunani dan Romawi kuno asal Oxford, berpendapat bahwa rentang waktu dua generasi penuh sekalipun tidak cukup untuk berkembangnya mitos dan legenda serta mengubah fakta sejarah.12

136

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

2. Para penulis Alkitab mengenali perbedaan antara mitos dan bukti dari kesaksian saksi mata faktual. Dan mereka sungguh-sungguh menegaskan bahwa mereka telah menjadi saksi mata atas klaim dan tindakan Yesus (lih. Luk. 1:1-4; Yoh. 19:35; Kis. 2:22-38; 17:30-31; 1Kor. 15: 3-8; Gal. 1:11-12; 2Pet. 1:16; 1Yoh. 1:1-2). Selain itu, argumen-argumen kuat dapat disusun untuk menunjukkan bahwa para penulis Injil adalah rasul-rasul asli Yesus (yang berarti mereka adalah saksi mata) atau memiliki hubungan yang dekat dengan para rasul.13 3. Para pengikut Yesus tidak memiliki alasan untuk mendewakan manusia biasa. Orang-orang Yahudi monoteistis di abad I semestinya mengetahui bahwa mendewakan manusia akan mengakibatkan penganiayaan, mati sebagai martir, dan bahkan kutukan bagi jiwa mereka. 4. Mengingat jangka waktu yang singkat antara masa terjadinya peristiwa dan masa penulisannya, jika para penulis Injil menyimpang dari fakta sejarah (baik dengan melebih-lebihkan atau dengan membual), maka saksi-saksi mata yang memusuhi mereka—yang masih hidup dan mengetahui peristiwa kehidupan Yesus—bisa dan akan menelanjangi mereka. 5. Jika para pengikut Yesus menciptakan Mesias, mereka tentu akan cenderung membuat Mesias yang lebih sesuai dengan harapan orangorang Yahudi tentang Mesias pada masa itu. Yesus yang digambarkan di dalam Injil sangat berbeda dengan apa yang diharapkan orang-orang Yahudi abad pertama tentang Mesias mereka.14 6. Sumber-sumber Yahudi dan sekuler pada abad I dan awal abad II (sejarawan, pejabat pemerintah, dan penulis keagamaan) menceritakan informasi umum tentang kehidupan dan pelayanan Yesus yang sesuai dan yang menguatkan pesan Injil. Eksistensi dan isi sumber-sumber di luar Alkitab dan non-Kristen pada periode awal menentang teori mitos mengenai kehidupan Yesus.15 Memitoskan klaim keilahian Yesus berarti mengabaikan sumbersumber sejarah yang solid (lisan maupun tertulis) yang berada di balik klaim tersebut. Hal ini juga berarti mengabaikan jarak waktu yang singkat antara munculnya tulisan-tulisan Injil dan peristiwa-peristiwa aktual yang ingin digambarkannya. Selain itu, pandangan ini tampaknya berakar pada prasangka antisupernatural yang tidak didukung. Karena alasan-

APAKAH YESUS ITU MANUSIA, MITOS, ORANG GILA, ANCAMAN, MISTIK, PENGHUNI MARS ATAU MESIAS?

137

alasan ini, pandangan ini harus dianggap sebagai hipotesis penjelas yang tidak masuk akal dan tidak memadai. Yesus hanya “orang besar,” juga “guru yang hebat,” namun bukan Allah.

Banyak orang cenderung mengambil posisi ini karena sesuai dengan kebiasaan dunia alam dan menghindari hal-hal yang supernatural/ adikodrati. Namun, karena gambaran Yesus di dalam PB didasarkan pada sumber-sumber sejarah yang kuat, maka memandang Yesus hanya sebagai orang besar secara intelektual tidak dapat dipertahankan karena dua hal berikut: 1. Seseorang tidak bisa menjadi “besar” dan membuat jenis pernyataan yang Yesus katakan tentang diri-Nya. Pernyataan-pernyataan semacam itu akan menggambarkan-Nya sebagai seorang megalomaniak. Mengapa? Karena Yesus berbicara tentang diri-Nya dengan cara yang muluk-muluk.16 Beberapa pernyataan-Nya “Akulah” di dalam Injil Yohanes menggambarkan: 







“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selamalamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” (Yoh. 11:25-26). “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6). “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Yoh. 8:12). “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yoh. 6:35).

Orang besar (yang hanya seorang manusia) tidak akan mengatakan hal-hal yang Yesus katakan. Bualan-bualan semacam itu akan mendiskualifikasi-Nya dan tidak mungkin dipertimbangkan sebagai orang besar.

138

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

2. Orang tidak bisa menjadi “besar” dan melakukan hal-hal yang Yesus lakukan. Dia menawarkan untuk mengampuni dosa orang-orang lain (termasuk pelanggaran-pelanggaran yang tidak dilakukan terhadap diri-Nya). Yesus membiarkan orang-orang lain menyembah-Nya. Dia mengajarkan bahwa hidup kekal seseorang tergantung pada apa yang dipikirkan orang itu secara pribadi tentang Dia. Orang besar (yang hanya seorang manusia) tidak akan melakukan hal-hal itu. Yesus tidak bisa serta merta menjadi orang besar jika Dia mengaku sebagai Allah padahal tidak demikian. Pemikir Kristen C. S. Lewis membuat komentar yang berwawasan luas ini: Anda bisa menyuruh-Nya diam bagaikan orang bebal, Anda bisa meludahi-Nya dan membunuh-Nya sebagai orang yang mengkhayalkan dirinya sebagai Allah, atau Anda bisa tersungkur di kaki-Nya dan memanggil-Nya Tuhan dan Allah. Namun, marilah kita tidak sembarangan menyebut-Nya sebagai guru besar umat manusia. Dia tidak membiarkan kita menyebut-Nya demikian dan Dia tidak ingin disebut demikian.17

Jadi, jika Yesus mengklaim diri-Nya sebagai Allah (sebagaimana disampaikan oleh dokumen-dokumen sejarah yang sudah terbukti), padahal hanyalah seorang manusia, maka Dia mungkin orang yang bermoral buruk atau orang yang sakit jiwa. Namun, Dia pasti bukan orang besar. Yesus mengaku sebagai Mesias yang Ilahi, padahal Dia tahu diri-Nya bukan Mesias. Karena itu, Dia sengaja menipu dan menyebarkan ancaman yang jahat.

Kalau Yesus mengatakan dan melakukan hal-hal yang dilakukan-Nya tadi, padahal Dia tahu Dia hanya manusia biasa, maka Dia seorang manusia yang sangat jahat. Penipuan spiritual yang disengaja mungkin merupakan jenis penipuan yang terburuk. Namun, dengan mengingat segala sesuatu yang diketahui tentang Yesus dari Nazaret, maka anggapan bahwa Dia merupakan ancaman yang jahat menciptakan kejanggalan yang sangat serius. Yesus yang digambarkan di dalam Injil mencerminkan karakter pribadi dan moral yang patut dicontoh, yang melampaui kondisi moral manusia yang lemah dan tidak sempurna.

APAKAH YESUS ITU MANUSIA, MITOS, ORANG GILA, ANCAMAN, MISTIK, PENGHUNI MARS ATAU MESIAS?

139

Selama tiga tahun pelayanan-Nya, Yesus secara konsisten menangani dilema-dilema moral yang menantang, tekanan-tekanan pribadi yang luar biasa, dan mengalami keadaan-keadaan yang sangat sulit termasuk penyiksaan fisik dan bahkan kematian. Namun, Dia tidak pernah menunjukkan kelemahan moral apa pun atau salah satu dari berbagai keburukan yang begitu umum dilakukan oleh umat manusia. Para pendusta, terutama yang kejam, hampir selalu meninggalkan petunjuk tentang motivasi mereka yang sebenarnya—biasanya di antara kalangan sendiri dan terutama ketika berada di bawah tekanan yang berat. Namun, teman-teman terdekat dari Yesus dan bahkan beberapa musuh-Nya bersikeras bahwa Dia menghadapi setiap keadaan dengan keberanian, kejujuran, dan kebajikan moral yang gemilang (Kis. 3:14; 1Pet. 2:22-23; 1Yoh. 3:4-5). Berbeda sekali dengan pendusta-pendusta lain, Yesus sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda termotivasi oleh kekayaan, ketenaran, kekuasaan, atau kesenangan. Sebaliknya, cinta, kebenaran, dan keadilan diperlihatkannya di dalam hidup-Nya yang menakjubkan. Memandang Yesus sebagai seorang penipu sungguh bertentangan dengan karakter-Nya yang tak bercacat serta pemikiran dan pengajaran moral-Nya yang sangat mendalam. Teladan dan pengajaran moral Yesus menjadi dasar bagi banyak teori etika yang dianut dan dipraktikkan di seluruh peradaban Barat. Dia, secara luas dianggap, bahkan oleh orang-orang non-Kristen, sebagai pola ideal kebajikan moral. Apakah masuk akal jika kita menyimpulkan bahwa orang yang memberikan dampak sedemikian besar dalam sejarah manusia mengenai kebajikan moral, ternyata adalah seorang pembohong besar? Sejarah, penalaran, dan akal sehat dengan jelas menyatakan tidak!18 Bagi mereka yang telah meneliti kehidupan Yesus, jauh lebih mudah menerima Dia sebagai Mesias daripada menyimpulkan bahwa Dia sebagai penipu moral dan spiritual. Hipotesis penjelas ini sangat lemah dan karena itu sangat mustahil. Yesus mengira diri-Nya Mesias, padahal bukan. Dia penderita psikosis yang delusif, orang gila.

Orang-orang yang mengaku sebagai Allah pada umumnya berada di lembaga pemulihan kesehatan mental. Delusi keagungan adalah gejala gangguan mental berat yang membuat orang kehilangan kontak dengan

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

140

realitas. Apakah Yesus menunjukkan tanda-tanda kekacauan seperti itu? Apakah ada indikator ketidakstabilan emosional dalam hidup-Nya seperti dalam kasus orang-orang yang menderita penyakit jiwa? Dari semua orang, Yesus tampaknya sangat menguasai realitas. Secara konsisten Dia menunjukkan stabilitas mental dan emosional yang mendalam. Dalam setiap krisis yang dihadapi-Nya—entah diejek dan diinterogasi oleh musuh-musuh-Nya atau menjalani penyiksaan penyaliban yang mengerikan—pikiran Yesus mencerminkan kejelasan, ketenangan, dan didasarkan pada stabilitas emosional yang luar biasa. Boleh dikatakan sebagai guru terhebat di dunia, Dia selalu berpikir logis dan koheren, pikiran-Nya jelas dan bicara-Nya fasih. Yesus mengatasi setiap kesempatan dengan luwes, tenang, kuat, dan seimbang. Perhatikan apa yang dikatakan tentang Yesus oleh orang-orang yang mengamati-Nya dengan saksama ketika Dia bekerja sebagai guru, pengkhotbah, dan pembuat mukjizat. 





“Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka” (Mat. 7:28-29). “Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: ‘Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?’” (Mat. 13:54). “Jawab penjaga-penjaga itu: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” (Yoh. 7:46).

Bahkan musuh-musuh-Nya kagum pada pengajaran dan otoritas Yesus yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Orang-orang yang mengenal dan mengamati-Nya tidak memberikan kesan sedikit pun bahwa mereka berpikir Yesus tidak seimbang secara psikologis. Namun, mungkin Yesus tidak perlu menjadi orang gila yang meracau agar sudut pandang yang benar memiliki beberapa kekuatan penjelas. Mungkin Yesus hanya salah mengungkapkan jati diri-Nya sebagai Allah, namun Ia pada dasarnya masih waras. Penyakit jiwa bukan berbicara tentang pernyataan yang diterima atau ditolak. Sebaliknya, ketidakstabilan mental diukur berdasarkan tingkat keparahannya. Tokoh-tokoh

APAKAH YESUS ITU MANUSIA, MITOS, ORANG GILA, ANCAMAN, MISTIK, PENGHUNI MARS ATAU MESIAS?

141

agama lainnya telah membuat pernyataan-pernyataan Ilahi (Father Divine, Jim Jones, David Koresh), tetapi mereka juga tidak tampak benarbenar gila. Jadi, tidak mungkinkah Yesus hanya keliru tentang jati diriNya namun tidak gila? Seperti halnya banyak orang jenius, mungkin Dia hanya eksentrik, aneh, atau sedikit gila saja. Filsuf Kristen Ronald Nash menjelaskan hipotesis ini, “Ada kesalahan-kesalahan kecil dan juga kesalahan-kesalahan besar, yang benarbenar besar.”19 Jika seorang rabi Yahudi abad I yang mulai belajar ajaran monoteisme Taurat yang keras menyebut diri-Nya Allah, tentu hal ini merupakan kesalahan besar. Bahkan, kesalahan sebesar ini pasti akan dirasakan di dalam Yudaisme sebagai pernyataan yang menghujat, dan karena itu ia akan dijatuhi hukuman mati (Im. 24: 13-16). Jika Yesus keliru tentang diri-Nya sebagai Mesias Israel, maka hal itu merupakan penyimpangan realitas yang serius. Seorang apologet Kristen, John Warwick Montgomery bertanya, “Kemunduran realitas apa yang lebih besar daripada percaya pada keilahian seseorang yang ternyata bukan Allah?”20 Meskipun pemimpin-pemimpin sekte tertentu telah menyebut diri sebagai Allah, ada banyak bukti kuat bahwa mereka sengaja menipu. Father Divine, Jim Jones, David Koresh, semuanya memberikan tandatanda yang sangat jelas bahwa mereka telah didorong oleh kombinasi keserakahan, kekuasaan, dan nafsu seksual. 21 Dan tidak satu pun dari para pemimpin sekte ini dapat dibandingkan dengan Yesus dalam hal kebajikan intelektual dan moral, apalagi dalam hal mandat Ilahi (mukjizat, nubuat yang digenapi, kebangkitan). Namun, bagaimana dengan para pemimpin agama yang berbudi luhur, yang membuat klaim religius yang luar biasa? Sebagai contoh, Dalai Lama, pemimpin biksu Tibet, mengaku sebagai Bodhisattva (inkarnasi yang keempat belas dari tokoh yang menyerupai Buddha).22 Namun, karena pernyataan yang agung ini, ia menerima Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1989. Tidakkah ia membuktikan bahwa pernyataanpernyataan keagamaan yang luar biasa tidak perlu disamakan dengan kegilaan? Sebenarnya situasi Yesus berbeda dengan Dalai Lama dalam tiga hal penting. Pertama, meskipun pernyataan Dalai Lama itu agung, ia tidak mengaku sebagai Allah yang menjadi manusia, Pencipta yang transenden,

142

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

dan Penebus dunia.23 Dalai Lama menyatakan bahwa dirinya hanya memiliki kesadaran yang dicerahkan atau dibangunkan, tetapi naturnya tetap manusia. Oleh sebab itu, klaim Yesus sebagai Mesias membawa dimensi yang lebih besar. Kedua, pernyataan-pernyataan Yesus bahwa diri-Nya adalah Allah adalah klaim yang terlarang bagi siapa pun dalam pandangan agama ortodoks saat itu. Yesus tahu bahwa Dia akan menghadapi perlawanan sengit, bahkan kematian. Meskipun Buddha Tibet telah menderita penganiayaan nyata di wilayah mereka di dunia, hal itu tidak disebabkan oleh klaim-klaim keagamaan pribadi Dalai Lama. Pernyataan-pernyataannya tidak menyimpang dari arus utama tradisi Buddhis. Itulah sebabnya klaim Yesus membawa risiko pribadi yang jauh lebih besar. Ketiga, meskipun Dalai Lama mungkin orang yang secara moral baik (berbeda dengan berbagai pemimpin sekte), ia tidak dapat menandingi keteladanan Yesus yang luhur, dan yang jelas ia tidak memiliki kualitas Ilahi seperti Yesus—terutama kuasa Yesus atas angin, gelombang, penyakit, dan kematian—yang mencakup kebangkitan tubuhNya yang bersejarah dari kematian (lih. Kebangkitan, bab 10). Dan akhirnya, bahkan jika penyakit jiwa diukur menurut taraf keparahannya, Yesus sedikit pun tidak menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan mental atau berperilaku aneh. Bahkan sebaliknya. Psikiater J. T. Fisher menarik kesimpulan ini: Jika Anda menjumlahkan semua artikel yang berotoritas, yang pernah ditulis oleh para psikolog dan psikiater paling andal tentang masalah kesehatan mental—jika Anda menggabungkan semuanya dan menyaring semuanya dan membuang hal-hal yang bertele-tele—jika Anda mengambil seluruh dagingnya dan tidak mengambil peterselinya, dan jika Anda memberikan potongan-potongan ilmu pengetahuan murni yang tidak tercampur ini agar diungkapkan secara ringkas oleh penyairpenyair paling andal yang masih hidup, Anda akan memiliki ringkasan Khotbah di Bukit yang kurang baik dan tidak lengkap. Dan ringkasan itu sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan Khotbah itu sendiri. Selama hampir dua ribu tahun dunia Kristen telah menggenggam jawaban yang lengkap untuk kerinduannya yang resah dan sia-sia.24

Bisakah cetak biru yang telah ditetapkan oleh orang yang sakit jiwa atau bahkan oleh orang yang sedikit kurang stabil ini mengoptimalkan kesehatan jiwa? Akal dan analisis informasi psikologis berkata tidak!

APAKAH YESUS ITU MANUSIA, MITOS, ORANG GILA, ANCAMAN, MISTIK, PENGHUNI MARS ATAU MESIAS?

143

Yesus melampaui semua kategori mengenai kesehatan mental manusia, kestabilan emosi, dan kebajikan moral. Sebuah alasan yang kuat yang menyimpulkan bahwa Yesus memang Allah yang berinkarnasi karena Dia secara fundamental berbeda dari setiap manusia lainnya yang pernah hidup. Bahkan Socrates, Buddha, dan Konghucu tidak dapat dibandingkan dengan diri-Nya. Bahkan, standar kebaikan manusia diukur menurut kehidupan dan karakter-Nya. Yesus menyebut diri-Nya sebagai Tuhan, tetapi Dia bermaksud mengatakannya dalam arti mistis Timur bahwa “Semua manusia bersifat Ilahi.” Oleh karena itu, Dia adalah seorang guru mistik.

Dengan pertumbuhan agama-agama Timur di Barat selama beberapa dekade terakhir, seiring dengan munculnya New Age Movement, 25 beberapa orang (dan beberapa kelompok) sekarang menunjukkan bahwa Yesus sesungguhnya adalah orang bijak yang mistis. Pendukung New Age bahkan menunjukkan bahwa selama tahun-tahun yang konon hilang dalam kehidupan Yesus (usia 12-30, sebelum pelayanan-Nya kepada masyarakat), Dia sebenarnya melakukan perjalanan ke Persia, Timur Dekat, India, dan Tibet untuk belajar dari berbagai ahli yang terkenal.26 Karena itu Yesus mengembangkan “kesadaran-Nya sebagai Kristus” dan kemampuan-Nya untuk membuat mukjizat selama perjalanan-Nya melalui mistisisme Timur. Bagaimana pandangan yang menyatakan Yesus sebagai sosok mistis ini dapat bertahan? Pandangan ini sangat tidak masuk akal karena tiga alasan: 1. Sebagaimana dicatat oleh teolog Kristen sekaligus ahli New Age, Ron Rhodes, “Tidak ada bukti historis yang menunjukkan bahwa Yesus pernah pergi ke Timur.”27 Berbagai cerita tentang dugaan perjalanan Yesus ke Timur bertentangan dan bukan fakta sejarah yang akurat.28 Cerita-cerita itu juga bertentangan dengan sejarah Injil yang mantap, yang menyiratkan bahwa Yesus menghabiskan masa mudanya di Nazaret, taat kepada orang tua-Nya dan hukum Yahudi, dan dengan teliti mempelajari Kitab Suci Ibrani (Luk. 2:51-52). Teks-teks Alkitab menunjukkan bahwa selama pelayanan Yesus kepada masyarakat, orang mengenali Dia dan keluarga-Nya sebagai warga setempat dan bahkan mengakui Yesus sebagai anak Yusuf, tukang kayu setempat (Mat. 13:55-56).

144

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

2. Inti keyakinan Yesus sebagai seorang Yahudi ortodoks, yang berulang kali ditegaskan-Nya, secara langsung bertentangan dengan banyak keyakinan esensial agama-agama Timur.29 Sebagai contoh, Taurat secara eksplisit mengutuk keyakinan agama-agama palsu seperti itu sebagai politeisme dan panteisme (Kel. 20:3, 23; 34:14-15; Ul. 32:17), dan sebaliknya mengajarkan monoteisme yang ketat (Ul. 4:35, 39; 6:4; 32:39). Kitab-Kitab Ibrani juga mengakui perbedaan yang tajam antara Pencipta dan makhluk ciptaan (Kej. 1:26-27). Jadi, bertentangan langsung dengan pemikiran Timur, manusia bukanlah allah. Selain itu, wahyu PL berpusat pada masalah penebusan Ilahi (Mzm. 19:15; Yes. 44:6), bukan penjelasan atas hal-hal yang bersifat mistis. 3. Para pendukung New Age secara konsisten salah menafsirkan Alkitab dengan membaca teks berdasarkan konsep-konsep Timur. Makna-makna semacam itu tidak memiliki dasar objektif dalam wahyu Yahudi-Kristen. Terutama terlihat ketika para penganut New Age memakai sistem esoteris mereka untuk menafsirkan Alkitab (menemukan makna-makna yang mistis),30 mistisisme mengesampingkan rasionalitas dan mengabaikan upaya-upaya untuk menemukan makna sejarah, tata bahasa, dan konteks. Memandang Yesus sebagai seorang guru mistis atau guru spiritual tidak memiliki dasar alkitabiah yang objektif. Hipotesis penjelas ini tidak koheren, tidak sesuai fakta, dan hampir secara eksklusif didasarkan pada anggapan yang tidak beralasan. Oleh karena itu, hipotesis ini tidak bisa dianggap serius sebagai penjelasan bagi kehidupan dan jati diri Yesus yang berasal dari Nazaret. Yesus menyebut diri-Nya sebagai Allah, namun sebenarnya Ia adalah “penghuni Mars,” yakni makhluk luar angkasa.

Beberapa orang mungkin akan terkejut bahwa ada orang yang benarbenar memandang Yesus sebagai makhluk luar angkasa. Namun, berbagai agama berbasis UFO telah mendukung cara pandang ini selama beberapa dekade.31 Mengingat semakin populernya pandangan yang berkaitan dengan UFO, hipotesis luar angkasa itu patut mendapat tanggapan. Keempat poin berikut ini menunjukkan kelemahan pandangan ini:

APAKAH YESUS ITU MANUSIA, MITOS, ORANG GILA, ANCAMAN, MISTIK, PENGHUNI MARS ATAU MESIAS?

145

1. Pernyataan tentang kultus UFO yang dikaitkan dengan Yesus secara langsung bertentangan dengan fakta dasar Kitab Suci yang bersejarah. Menurut wahyu berbasis UFO yang dikatakan orang, Yesus bukanlah manusia, melainkan pengunjung dari luar angkasa. Namun, kisah Alkitab menggambarkan Yesus sebagai manusia nyata dengan daging dan darah meskipun menurut pernyataan-Nya sendiri Dia bukan hanya manusia, melainkan juga Allah-manusia. Kemanusiaan-Nya jelas ditegaskan di dalam Injil (lih. Inkarnasi, bab 9). Sebagai contoh, Yesus dikandung secara adikodrati, tetapi lahir secara alami. Dia memiliki nenek moyang manusia dan mengalami pertumbuhan dan perkembangan normal sebagai manusia. Yesus hidup dan mati sebagai manusia sejati. Dia sama sekali tidak mengatakan apa-apa tentang UFO atau dunia lain di luar angkasa. 2. Agama-agama UFO berpusat pada keyakinan dan praktik okultisme yang bertentangan dengan pandangan spesifik Yesus dan secara tegas dikutuk di dalam Taurat Yahudi. Keyakinan dan praktik yang terkait dengan UFO ini mencakup media “penghubung” yang dikenal dengan nama makhluk luar angkasa, psikografi, telepati, teleportasi, dematerialisasi (proses yang digunakan untuk mengirim seseorang melalui perjalanan antarplanet), levitasi (membuat benda melayang melawan gravitasi), dan psikokinesis.32 Semua praktik ini secara eksplisit dikutuk di dalam Alkitab yang menjadi dasar kehidupan dan pelayanan Yesus (Kel. 22:18; Im.19:31; Ul. 18:10-12). Selanjutnya, pesan-pesan teologis yang disebarluaskan oleh berbagai kultus UFO lebih cocok dengan mistisisme New Age daripada pengajaran Alkitab.33 3. Di Alkitab, kultus UFO ditulis sebagai kultus interpretasi yang bersifat subjektif dan esoteris, yang tidak mempunyai dasar tujuan yang jelas dan tidak objektif. Akibatnya, Alkitab ditafsirkan berdasarkan fenomena UFO, bukan menurut prinsip sejarah dan penafsiran yang masuk akal. 4. Banyak kelompok berbasis UFO yang menganut hipotesis luar angkasa mengenai piring terbang. Pandangan ini mengatakan bahwa UFO merupakan realitas fisik yang objektif, dan bahwa kapal-kapal dari logam dikemudikan oleh pengunjung-pengunjung luar angkasa antarplanet. Namun, sudut pandang ini mengandung banyak kelemahan yang tidak dapat diselesaikan secara ilmiah, filosofis, dan dalam hal pembuktian.34

146

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

Memandang Yesus sebagai makhluk luar angkasa bukanlah teori intelektual yang dapat dipercaya. Hal ini tidak sesuai dengan fakta, melibatkan praduga yang luar biasa, dan tidak memiliki hubungan yang logis.

Apakah Yesus Sebenarnya Mesias yang Ilahi dan Unik (Allah di dalam Tubuh Manusia)? Jika enam hipotesis yang telah dibahas adalah satu-satunya alternatif tentang identitas sejati Yesus dari Nazaret itu, maka dengan proses eliminasi yang logis, pernyataan Kristen yang historis bahwa Yesus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia, dapat diterima (lih. tabel 8.1). Tabel 8.1 Jati Diri Yesus: Siapakah Yesus? Argumen Yesus (penalaran terhadap hipotesis penjelas yang terbaik) 1. Mitos: Kehidupan Yesus dan pernyataan tentang keilahian-Nya itu adalah mitos. Bantahan: Pandangan ini tidak sesuai dengan fakta sejarah yang solid seputar peristiwa-peristiwa kehidupan dan pernyataan Yesus. 2. Manusia: Yesus hanyalah orang baik atau orang besar. Bantahan: Pandangan ini tidak konsisten dengan pernyataan-pernyataan dan tindakan-tindakan ilahi Yesus. 3. Ancaman: Yesus berbohong tentang diri-Nya sebagai Allah yang berinkarnasi. Bantahan: Pandangan ini tidak konsisten dengan karakter dan pencapaian Yesus (mukjizat, nubuat). 4. Orang gila: Yesus itu penderita psikotis dan oleh karena itu Dia tidak layak menyatakan diri-Nya sebagai Allah. Bantahan: Pandangan ini tidak konsisten dengan karakter dan kehidupan Yesus. 5. Mistik: Yesus menyatakan diri sebagai Allah, namun dalam pengertian mistis Timur. Jadi, Dia adalah seorang guru. Bantahan: Pandangan ini tidak konsisten dengan keyakinan dan ajaran Yesus. 6. Penghuni Mars: Yesus menyatakan diri sebagai Allah, tetapi sebenarnya Dia bermaksud mengatakan bahwa Dia adalah penghuni Mars (makhluk luar angkasa). Bantahan: Pandangan ini didasarkan pada asumsi yang tidak beralasan dan tidak sesuai dengan fakta kehidupan dan pengajaran Yesus. 7. Mesias: Sesungguhnya Yesus adalah Mesias. Pandangan ini konsisten dengan fakta, koheren, dapat diuji, dan dengan demikian menjadi hipotesis penjelas. Pandangan ini memiliki kekuatan dan kemampuan penjelas yang riil.

APAKAH YESUS ITU MANUSIA, MITOS, ORANG GILA, ANCAMAN, MISTIK, PENGHUNI MARS ATAU MESIAS?

147

Meskipun penolakan-penolakan terhadap pandangan Kristen tradisional tetap ada (lih. Inkarnasi, bab 9), penolakan-penolakan tersebut telah dijawab dengan cukup baik. Jika orang tidak sewenang-wenang mengandaikan suatu pandangan dunia yang naturalistis (yang mengundang pertanyaan), maka Yesus sebagai Allah yang berinkarnasi muncul sebagai hipotesis penjelas yang unggul. Jika ada alternatif-alternatif lain yang masuk akal, maka alternatif-alternatif tersebut harus dianalisis dengan cara yang sama. Namun demikian, memandang Yesus dari Nazaret sebagai Allah-manusia adalah satu-satunya hipotesis penjelas yang sekarang dan untuk selamanya sesuai dengan sejarah, psikologi, logika, intuisi manusia, dan akal sehat. Kualitas Yesus sebagai Mesias memang hebat––karakter pribadi yang tak tertandingi, pengaruh yang tak terhitung jumlahnya dalam sejarah, penggenapan nubuat, kekuatan untuk melakukan mukjizat, hikmat yang luar biasa, kebangkitan tubuh, dan sebagainya. Alternatif-alternatif yang menyangkal keilahian-Nya yang sejati tidak memberi penjelasan yang memadai atas kualitas-Nya ini. Mengingat warisan-Nya, tampaknya masuk akal untuk mengajukan pertanyaan yang sama tajamnya seperti yang pernah Dia ajukan kepada murid-murid-Nya, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mat. 16:15) Topik menarik tentang Allah yang masuk ke dalam sejarah manusia dengan menjadi manusia akan dibahas di dalam bab berikutnya.

Pertanyaan Diskusi 1. Dengan cara apakah baik langsung maupun tidak langsung Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Allah? 2. Bagaimana penalaran abduktif bisa membantu dalam menguji berbagai pandangan yang ada tentang identitas Yesus? 3. Mengapa Yesus bukan orang baik jika Dia mengaku sebagai Allah, padahal tidak demikian? 4. Dapatkah Anda memikirkan alternatif-alternatif masuk akal lainnya tentang kemungkinan identitas Yesus? 5. Bagaimana orang bisa menggunakan pertanyaan Yesus “Siapakah Aku ini?” sebagai sarana penginjilan dan apologetis yang efektif kepada orang-orang yang tidak percaya?

148

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

Untuk Studi Lebih Lanjut Corduan, Winfried. No Doubt about It: The Case for Christianity (Nashville: Broadman & Holman, 1997). Evans, C. Stephen. Why Believe? Reason and Mystery as Pointers to God (Grand Rapids: Eerdmans, 1996). Kreeft, Peter. Between Heaven and Hell (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1982). Montgomery, John Warwick. History and Christianity (Minneapolis: Bethany, 1965). Nash, Ronald. Worldviews in Conflict (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1992). Stott, John R. W. Basic Christianity (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1980).

BAGAIMANA YESUS KRISTUS BISA MENJADI ALLAH SEKALIGUS MANUSIA?

Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan. ––Kolose 2:9 Anak Allah menjadi manusia agar manusia menjadi anak-anak Allah. ––C. S. Lewis

D

i seluruh dunia orang-orang merayakan klaim kebenaran kristiani yang menakjubkan pada hari Natal––Allah menjadi manusia di dalam diri Yesus dari Nazaret. Mungkin banyak para partisipan di masa liburan Natal itu tidak memahami signifikansi perayaan itu, tetapi inkarnasi tetap merupakan doktrin utama iman Kristen. Allah mengambil inisiatif dan menjadi manusia untuk menebus umat manusia yang penuh dosa. Ajaran yang menyatakan bahwa Sang Juruselamat dunia itu adalah Allah sekaligus manusia merupakan klaim yang luar biasa. Meskipun dalam hal-hal tertentu kebenaran tentang inkarnasi terbuka untuk dianalisis secara historis dan logis, fakta itu tetap diselimuti misteri. Untuk alasan inilah para kritikus sejarah kekristenan kerap salah paham dan salah menafsirkan inkarnasi tersebut. Watchtower Bible dan Tract Society terang-terangan mengatakan bahwa doktrin tersebut bertentangan dengan Alkitab, “Alkitab itu jelas dan konsisten mengenai hubungan antara Allah dan Yesus. Allah Yehovah saja yang disebut Allah Yang Mahakuasa. Dia menciptakan Yesus secara langsung. Jadi, Yesus memiliki awal 149

150

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

sehingga kedudukan-Nya takkan pernah bisa disamakan dengan Allah dalam hal kekuasaan atau kekekalan.”1 Filsuf pluralis John Hick mempertanyakan kelayakan inkarnasi itu, “Sampai sekarang hal itu belum dapat dibuktikan, setelah sekitar lima belas abad upaya pembuktian yang tak putus-putusnya, untuk memperjelas pandangan bahwa Yesus memiliki dua natur yang lengkap, yakni sebagai manusia sekaligus sebagai Allah.”2 Kesalahpahaman dan distorsi seperti ini memunculkan berbagai pertanyaan kritis tentang dasar Alkitab, makna, perkembangan sejarah, dan koherensi doktrin inkarnasi. Menanggapi masalah-masalah ini dapat membantu orang untuk bertumbuh dalam pemahaman dan penghormatannya kepada Allah yang sekaligus manusia itu.

Sejarah Doktrin Agama Kristen tentang Inkarnasi Pernyataan pengakuan iman yang paling penting tentang inkarnasi adalah Kredo Kalsedon. Konsili Kalsedon (konsili ekumenis IV, tahun 451 M) meletakkan batas-batas dasar bagi pandangan ortodoks tentang pribadi dan natur Kristus. Menurut konsili ini, Yesus Kristus adalah pribadi Ilahi dalam dua natur (Allah dan manusia). Kredo Kalsedon menjadi dan masih menjadi standar normatif bagi doktrin ortodoks tentang Kristus. Seluruh umat Kristen (Katolik-Roma, Ortodoks Timur, dan Protestan) meneguhkan rumusan Kalsedon bahwa Yesus Kristus adalah Allah dan manusia. Kredo ini mengungkapkan doktrin tentang kedua natur Kristus dengan cara sebagai berikut: Kami sepenuhnya mengakui Kristus Yesus Tuhan kami yang satu dan Anak Allah yang sama, yang sempurna dalam keilahian dan kemanusiaan, Allah dan sekaligus manusia sejati yang terdiri atas tubuh dan jiwa yang berakal budi, yang sehakikat (konsubstansial) dengan Sang Bapa dalam keilahian-Nya dan sehakikat dengan kita dalam kemanusiaanNya, sama seperti kita dalam segala hal kecuali dalam hal dosa. Ia adalah Putra tunggal Bapa yang sudah ada sebelum segala zaman, dan telah lahir dari perawan Maria, theotokos [bunda Allah], demi kita dan demi keselamatan kita. Dalam relasinya dengan kemanusiaan, Ia adalah Kristus yang satu dan yang sama, Putra Allah, Tuhan, Anak Tunggal Allah yang satu-satunya yang diakui dalam dua natur, yang tidak tercampuradukkan, tidak berubah, tidak terbagi, tidak terpisahkan. Perbedaan antarnatur tidak hilang oleh kebersatuannya, akan tetapi

BAGAIMANA YESUS KRISTUS BISA MENJADI ALLAH SEKALIGUS MANUSIA?

151

karakter masing-masing dari kedua natur itu terlestarikan karena keduanya berada dalam satu pribadi (prosopon) dan satu subsistensi (hypostatic union), bukan seolah-olah Kristus telah dipisahkan atau dibagi menjadi dua pribadi. Dia tetap Sang Putra yang satu dan sama, dan satu-satunya Anak tunggal Allah, Sang Firman, Tuhan, Yesus Kristus. Dialah yang sejak mula dibicarakan oleh para nabi, dan yang Tuhan kita Yesus Kristus ajarkan kepada kami, dan yang Kredo para Bapa turunkan kepada kami.3

Rumusan Kalsedon tidak menjelaskan bagaimana kedua natur itu bersatu dalam satu pribadi, tetapi menetapkan parameter-parameter teologis yang penting bagi Kristologi Alkitab ortodoks (doktrin tentang pribadi dan natur Kristus). Dengan kata lain, pernyataan ini umumnya memberitahu apa yang doktrin inkarnasi maksudkan atau tidak maksudkan, tetapi tetap membisu tentang betapa Kristus sebenarnya adalah Allah dan manusia. Pandangan Teistis Kristen tentang Allah

Doktrin inkarnasi dapat dipahami dengan benar hanya dalam lingkup teologis yang lebih luas dari pandangan teistis Kristen. Allah yang disingkapkan di dalam Kitab Suci dan kemudian diucapkan di dalam kredo-kredo historis dan pengakuan iman Kristen adalah Tuhan satusatunya yang berdaulat dan penuh kemulian. Jadi, sejarah kekristenan ini meneguhkan kepercayaan terhadap satu Allah yang kesempurnaan dan kekekalan-Nya tidak terbatas, juga kepercayaan kepada Allah dengan tiga pribadi, Sang Pencipta yang transenden, dan Pemelihara yang berdaulat atas alam semesta. Allah tritunggal yang kekal sekaligus eksis sebagai tiga pribadi yang berbeda dan dapat dibedakan, tetapi bukan merupakan individu-individu terpisah dan otonom: Bapa, Anak, dan Roh Kudus (lih. bab 5). Ketiga pribadi itu berada dalam keilahian-Nya, atau keberadaan-Nya sebagai Allah, yang memiliki satu natur Ilahi yang sama, dan itu berarti Allah yang sama, yang sama kedudukannya dalam karakteristik, natur, dan kemuliaan. Selanjutnya, doktrin inkarnasi muncul sesuai dengan pengajaran trinitas yang eksplisit ini. Istilah inkarnasi, yang berasal dari bahasa Latin, secara harfiah berarti “menjadi daging” (in carne dalam bahasa Latin, en sarki dalam bahasa Yunani). Meskipun istilah ini tidak terdapat di dalam Kitab Suci sendiri,

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

152

padanan katanya dalam bahasa Yunani adalah (1Yoh. 4:2, “Yesus Kristus telah datang sebagai manusia” [en sarki]). Doktrin inkarnasi merupakan inti pemberitaan Injil di Alkitab, karena mengungkapkan pribadi dan natur sejati Tuhan dan Juruselamat Yesus Kristus. Doktrin ini mengajarkan bahwa Logos yang kekal (Sang Firman), pribadi kedua Trinitas, tanpa mengurangi keilahian-Nya, telah sepenuhnya mengambil natur manusia bagi diri-Nya. Secara lebih spesifik, doktrin ini menjelaskan bahwa natur ilahi yang sepenuhnya dan tak berkurang sedikit pun dan natur manusia yang sepenuhnya dan sempurna telah bersatu tak terpisahkan di dalam satu pribadi yang historis dan Ilahi, yakni Yesus dari Nazaret. Menurut Kitab Suci, Yesus Kristus adalah Anak Allah di dalam daging manusia (theanthropos, Allah-manusia). Persatuan Hipostasis

Sebagai Anak Allah yang berinkarnasi, Yesus Kristus adalah satu pribadi dengan dua natur. Sesuai dengan Pengakuan Kalsedon, kedua natur (Allah dan manusia) “tetap berbeda, utuh, dan tidak berubah, tanpa campuran atau kekeliruan, sehingga satu pribadi, Yesus Kristus, adalah Allah sejati dan manusia sejati.”4 Kristus sehakikat (homoousios) dengan Bapa dalam keilahian-Nya dan sehakikat dengan manusia dalam kemanusiaan-Nya. Dua natur yang sempurna bersatu selamanya di dalam satu pribadi (hipostasis) Yesus Kristus. Oleh karena itu, persatuan hipostasis yang terjadi mengacu pada persatuan dua kodrat yang berbeda dalam satu pribadi Yesus Kristus (tanpa membagi pribadi itu atau mengacaukan kodratnya). Secara filosofis, sebagai Allah-manusia, Yesus Kristus adalah “dua Apa” (yakni, “apa” yang Ilahi [atau natur] dan “apa” yang manusia [atau natur]) dan “satu Siapa” (yakni, satu “pribadi” atau “diri”). Kenosis

Konsep kenosis5 (dari kata Yunani ekenosen: Fil. 2:7 “melepaskan diri,” atau “mengosongkan diri”) merupakan upaya untuk menjelaskan bagaimana kedua natur Kristus berhubungan satu sama lain dalam kaitannya dengan Allah yang menjadi manusia. Meskipun ada banyak teori yang disebut sebagai teori kenosis di era modern, dua model teori dipertimbangkan secara singkat di sini.

BAGAIMANA YESUS KRISTUS BISA MENJADI ALLAH SEKALIGUS MANUSIA?

153

Model kontemporer yang pertama menyatakan bahwa agar Yesus benar-benar menjadi manusia, Dia harus melepaskan diri dari atributatribut ilahi seperti mahakuasa, mahatahu, dan mahahadir. Teori kenosis ini menafsirkan “mengosongkan diri” dalam Filipi 2:7 bahwa Kristus melepaskan atribut-atribut Ilahi. Dengan demikian, Kristus yang berinkarnasi itu lebih rendah daripada Allah, dan oleh sebab itu tidak benarbenar setara dengan Allah. Namun, posisi ini harus dianggap sebagai bidat karena jika setiap atribut ilahi dihilangkan dari Allah Anak, maka Dia jelas bukan Allah. Teolog Kristen, Bruce Milne mengidentifikasi persamaan bagi teori kenosis yang sesat ini sebagai “Inkarnasi=Allah minus.”6 Posisi ini bertentangan dengan Kitab Suci, juga bertentangan dengan banyak kredo yang ada, dan karena itu ditolak oleh umat Kristen yang ortodoks secara teologis. Model teori kedua menunjukkan bahwa Kristus tidak melepaskan atribut-atribut Ilahi-Nya, tetapi mempertahankan semua atribut Ilahi melalui natur Ilahi-Nya. Namun, dalam persatuan dengan natur manusia, Dia bisa bebas memilih untuk tidak mengambil atribut tertentu (atau menggunakannya sesekali saja) selama tinggal di dunia sebagai manusia. Menurut posisi ini, keilahian Yesus tetap tak berkurang. Pandangan ini memahami Filipi 2:7 bukan sebagai pengosongan atribut secara harfiah, melainkan sebagai tanda kerendahan hati Kristus yang telah dengan sukarela menyerahkan status dan kemuliaan yang menjadi milik-Nya di surga. Tindakan ini lebih merupakan penyerahan kedudukan Ilahi daripada kekuasaan Ilahi. Milne menamakan persamaan untuk pendekatan ini sebagai “Inkarnasi=Allah Plus”7 karena Kristus mempertahankan keilahian-Nya namun mengenakan natur manusia sejati pada diri-Nya. Model teori kedua ini memiliki dukungan alkitabiah dan tetap konsisten dengan ortodoksi pengakuan iman.

Sepuluh Hal Penting tentang Inkarnasi Sepuluh poin berikut ini meringkas informasi penting tentang inkarnasi dan dapat membantu orang berpikir melalui unsur-unsur doktrin yang paling penting:8

154

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

1. Yesus Kristus adalah satu pribadi yang memiliki dua natur yang berbeda: natur yang sepenuhnya Allah dan natur yang sepenuhnya manusia (kesatuan dalam pribadi dan dualitas dalam natur). Dengan demikian, pribadi historis Yesus dari Nazaret adalah Allah-manusia. 2. Meskipun Kristus memiliki dua natur, Dia tetap merupakan kesatuan pribadi yang tunggal (bukan dua pribadi yang berbeda). Natur manusia-Nya hanya ada untuk tujuan persatuan ini, dan tidak memiliki subsistensi personal yang independen. Kristus adalah pribadi yang sama, baik sebelum dan sesudah inkarnasi. Perbedaannya sebelum inkarnasi Dia hanya memiliki satu natur, yakni natur Ilahi. Setelah inkarnasi, Anak Allah ini menambahkan satu natur lagi pada diri-Nya—natur manusia—yang ada bersamasama dengan natur ilahi yang sudah dimiliki-Nya dan senantiasa dimiliki-Nya. Meskipun Yesus Kristus memiliki kesadaran Ilahi dan kesadaran manusia (dan dua kehendak, Ilahi dan manusia, karena adanya dua natur itu), tetapi Dia tetap satu pribadi. Ortodoksi Kristen menolak bidat Nestorian yang mengajarkan bahwa ada dua pribadi yang terpisah di dalam Kristus. 3. Melalui natur Ilahi-Nya, Yesus Kristus adalah Anak Allah, pribadi kedua dari Trinitas yang berinkarnasi, yang dengan sepenuhnya dan bersama-sama berbagi satu esensi Ilahi dengan Bapa dan Roh Kudus. Ortodoksi Kristen menolak bidat Arianisme yang memandang Yesus hanya sebagai makhluk yang menyerupai Allah. 4. Melalui natur manusia, Yesus Kristus adalah manusia sepenuhnya, dan memiliki semua karakteristik penting manusia sejati. Ortodoksi Kristen menolak Doketisme, yang menyangkal kemanusiaan sejati Kristus. 5. Sifat atau karakteristik kedua natur ini mungkin lebih tepat disebut sebagai satu pribadi. Dengan kata lain, pribadi Yesus Kristus yang satu itu mempertahankan semua karakteristik kedua natur (mis., melalui natur Ilahi-Nya Dia mahatahu, sementara secara bersamaan melalui natur manusia-Nya Dia mungkin tidak memiliki pengetahuan). Melalui konsepsi Kristus yang ajaib [oleh Roh Kudus], Dia tidak mewarisi natur keberdosaan manusia.

BAGAIMANA YESUS KRISTUS BISA MENJADI ALLAH SEKALIGUS MANUSIA?

155

6. Persatuan kedua natur itu berbicara tentang persatuan pribadi, tidak sampai masuk ke dalam batin, atau kontak sekadarnya atau keberadaan dalam ruang. Hal ini mirip dengan penyatuan tubuh dan jiwa di dalam diri manusia. 7. Kedua natur itu sebagai satu substansi (coinhere) atau saling memahami (interpenetrate) dalam persatuan yang sempurna sehingga manusia tidak pernah tanpa Allah atau Allah tanpa manusia. Namun, natur-natur itu tidak bercampur atau berbaur. 8. Kedua natur, sebagai Allah dan manusia, berbeda tetapi bersatu dan tak terpisahkan dalam satu pribadi. Kedua natur mempertahankan atribut atau sifatnya masing-masing dan dengan demikian tidak bercampur baur. Ortodoksi Kristen menolak bidat Eutychian yang mencampur dua natur Kristus bersama-sama untuk membentuk satu natur hibrida (Monofisitisme: satu natur). 9. Natur manusia tidak di-Allah-kan, dan natur dari Allah tidak di-manusia-kan atau tunduk pada keterbatasan manusia. 10. Kata natur mengacu pada esensi atau hakikat, dan kedua natur ini tidak dapat dipisahkan, tidak dapat bercampur, dan tidak dapat berubah.

Pertanyaan-Pertanyaan Penting Kesepuluh poin esensial dasar ini memicu timbulnya beberapa pertanyaan penting tentang doktrin inkarnasi. Karena tidak ada bagian di dalam PB yang menunjukkan Yesus Kristus benar-benar berkata “Akulah Allah,” bagaimana kekristenan merumuskan doktrin inkarnasi?

Doktrin ini muncul dari refleksi yang kritis dan berkelanjutan dari gereja Kristen terhadap bukti alkitabiah yang berlimpah yang menyatakan bahwa Yesus memang Allah dan manusia. Para rasul [Yesus] adalah penganut-penganut monoteisme Yahudi, tetapi mereka tetap yakin bahwa meskipun Yesus seorang manusia, Dia bukan hanya sekadar seorang manusia. Bahkan, rasul-rasul yang sama ini menempatkan Yesus sebagai Yahweh dalam tulisan-tulisan mereka di Kitab Suci. Mereka sampai pada keyakinan menakjubkan bahwa bertemu dengan Yesus dari Nazaret sama dengan bertemu dengan Allah dalam rupa manusia. Meskipun

156

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

tidak ada bagian khusus yang mencatat bahwa Yesus berkata “Akulah Allah,” setidaknya tujuh (dan mungkin sebanyak sepuluh) referensi spesifik PB menyebut Yesus sebagai Allah (Yun.: theos).9 Alkitab benarbenar mendukung keilahian dan kemanusiaan Yesus Kristus. Ratusan ayat mendukung doktrin inkarnasi.10 Sebuah survei singkat yang mendasari materi doktrin Kristen yang khas dan penting, diberikan di bawah ini pada “Dukungan alkitabiah terhadap keilahian Kristus” dan “Dukungan alkitabiah terhadap kemanusiaan Kristus.” Selain teks, empat bagian khusus secara eksplisit mengajarkan doktrin inkarnasi (tetapi lih. juga Rm. 1:2-5, 9:5; 1Tim. 3:16; Ibr. 2:14, 5:7; 1Yoh. 1:1-3): Dukungan alkitabiah terhadap keilahian Kristus Alkitab membuktikan dengan berbagai cara tentang keilahian sepenuhnya dan tidak berkurang sedikit pun pada diri Yesus Kristus. Materi berikut ini hanya mewakili sebagian:11 Sebutan Ilahi yang dinyatakan oleh Yesus Kristus atau dikaitkan dengan-Nya12 Allah (Yoh. 1:1, 18; 20:28; Rm. 9:5; Tit. 2:13; Ibr. 1:8; 2Ptr. 1:1) Tuhan (Mrk. 12:35-37; Yoh. 20:28; Rm. 10:9-13; 1Kor. 8:5-6; 12:3; Flp. 2:11) Mesias (Mat. 16:16; Mrk. 14:61; Yoh. 20:31) Anak Allah (Mat. 11:27; Mrk. 15:39; Yoh. 1:18; Rm. 1:4; Gal. 4:4; Ibr. 1:2) Anak Manusia (Mat. 16:28; 24:30; Mrk. 8:38; 14:62-64; Kis. 7:56; bdk. Dan. 7: 13-14) Hak prerogatif atau tindakan Allah di dalam PL yang dinyatakan oleh Yesus Kristus atau dikaitkan dengan-Nya Ibadah Allah (Yes. 45:23 / Flp. 2:10-11) Keselamatan Allah (Yl. 2:32 / Rm. 10:13) Penghakiman Allah (Yes. 6:10 / Yoh. 12:41) Kodrat Allah (Kel. 3:14 / Yoh. 8:58) Kemenangan Allah (Mzm. 68:19 / Ef. 4:8) Nama, perbuatan, atau peran Ilahi yang dinyatakan oleh Yesus Kristus atau dikaitkan dengan-Nya Pencipta (Yoh. 1:3; Kol. 1:16; Ibr. 1:2,10-12) Pemelihara (1Kor. 8:6; Kol. 1:17; Ibr. 1:3) Penguasa yang universal (Mat. 28:18; Rm. 14:9; Why. 1:5) Pemberi pengampunan dosa (Mrk. 2:5-7; Luk. 24:47; Kis. 5:31; Kol. 3:13) Yang membangkitkan orang mati (Luk. 7:11-17; Yoh. 5:21; 6:40) Objek doa (Yoh. 14:14; Kis.1 :24; 7:59-60; 1Kor. 1:2; 2Kor. 12:8-9)

BAGAIMANA YESUS KRISTUS BISA MENJADI ALLAH SEKALIGUS MANUSIA?

157

Objek penyembahan (Mat. 28:16-17; Yoh. 5:23; 20:28; Flp. 2:10-11; Ibr. 1:6) Objek iman yang menyelamatkan (Yoh. 14:1; Kis. 10:43; 16:31; Rm. 10:8-13) Gambar dan representasi Allah (Kol. 1:15; Ibr. 1:3) Karakteristik atau sifat Ilahi yang dinyatakan oleh Yesus Kristus atau dikaitkan dengan-Nya Keberadaan kekal (Yoh. 1:1, 8:58; 17:5; 1Kor. 10:4; Kol. 1:17; Ibr. 13:8) Keberadaan diri (Yoh. 1:3; 5:26; Kol. 1:16; Ibr. 1:2) Kekekalan (Ibr. 1:10-12; 13:8) Mahahadir (Mat. 18:20; 28:20; Ef. 1:23; 4:10; Kol. 3:11) Mahatahu (Mrk.2:8; Luk. 9:47; Yoh. 2:25; 4:18; 16:30; Kol. 2:3) Mahakuasa (Yoh. 1:3; 2:19; Kol. 1:16-17; Ibr. 1:2) Kedaulatan (Flp. 2:9-11; 1Ptr. 3:22; Why. 19:16) Otoritas (Mat. 28:18; Ef. 1:22) Kehidupan di dalam diri-Nya (Yoh. 1:4; 5:26; Kis.3:15) Dukungan alkitabiah terhadap kemanusiaan Kristus Alkitab membuktikan dengan berbagai cara tentang kemanusiaan sepenuhnya dan esensial pada diri Yesus Kristus. Materi berikut ini merupakan dukungan alkitabiah terhadap kemanusiaan Kristus:13 Yesus Kristus menyebut diri-Nya (atau orang lain menyebut Dia sebagai) seorang manusia Selama pelayanan-Nya di dunia (Yoh. 8:40; Kis. 2:22; 1Kor. 15:21; Flp. 2:7-8) Setelah kebangkitan-Nya (Kis. 17:31; 1Kor. 15:47; 1Tim. 2:5; Ibr. 2:14) Yesus Kristus dikandung secara adikodrati namun lahir secara alami (Mat. 1:25; Luk. 2:7; Gal. 4:4) Yesus Kristus memiliki garis keturunan (Mat. 1; Luk. 3) Yesus Kristus mengalami pertumbuhan dan perkembangan normal (Luk. 2: 40-52; Ibr. 5:8) Yesus Kristus tunduk pada keterbatasan fisik yang nyata Kelelahan (Yoh. 4:6) Kelaparan (Mat. 21:18) Perlu untuk tidur (Mat. 8:24) Haus (Yoh. 19:28) Berkeringat (Luk. 22:44) Mengalami pencobaan (Mat. 4:1-11) Kurang pengetahuan (Mrk. 5:30-32; 13:32)

158

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

Yesus Kristus mengalami sakit fisik dan kematian (Mrk. 14:33-36; Luk. 17:25; 22:63; 23:33; Yoh. 19:30) Yesus Kristus menunjukkan betapa Dia memiliki berbagai macam emosi manusia Sukacita (Luk. 10:21; Yoh. 17:13) Kesedihan (Mat. 26:37) Persahabatan (Yoh. 11:5) Belas kasihan (Mrk. 1:40-41) Menangis (Yoh. 11:35) Keheranan (Luk. 7:9) Kemarahan (Mrk. 3:5; 10:14) Kesepian (Mrk. 14:32-42; 15:34) Yesus Kristus memiliki semua kualitas esensial manusia Tubuh (Mat. 26:12) Tulang (Luk. 24:39) Daging (Luk. 24:39) Darah (Mat. 26:28) Jiwa (Mat. 26:38) Kehendak (Yoh. 5:30) Roh (Yoh. 11:33)

Selain dukungan ayat Alkitab di atas, ada empat ayat Alkitab yang secara khusus mengajarkan doktrin inkarnasi. 1. “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh. 1:14). Injil Yohanes secara eksplisit mengungkapkan bahwa Sang Firman (Kristus yang sudah ada sebelum berinkarnasi), yang bersama dengan Allah dan adalah Allah (Yoh. 1:1), kini telah menjadi manusia (sarx egeneto). Ayat dalam bahasa Yunani itu dapat diterjemahkan secara harfiah, “Firman itu telah menjadi daging sebagai seorang manusia dan untuk sementara tinggal di antara kita.”14 2. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan” (Flp. 2:5-6). Di dalam ayat ini, rasul Paulus berbicara tentang Yesus Kristus yang memiliki natur atau bentuk Allah (en morphe theou) sebelum menjadi manusia. Dia yang memiliki (dan tidak perlu “merebut”) hak prerogatif dan status Ilahi, telah merendahkan

BAGAIMANA YESUS KRISTUS BISA MENJADI ALLAH SEKALIGUS MANUSIA?

159

diri-Nya dan, sebagai tindakan pelayanan, sepenuhnya mengambil natur manusia bagi diri-Nya. 3. “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kol. 2:9). Rasul Paulus menyatakan dengan tegas di sini bahwa esensi-Nya yang sepenuhnya Allah itu berada dalam persatuan dengan natur manusia Yesus Kristus. Dalam konteksnya, Paulus menanggapi langsung bidat Gnostik, yang mentah-mentah membantah bahwa Kristus telah datang sebagai manusia. Doktrin inkarnasi jelas merupakan ciri utama pengajaran Rasul Paulus. 4. “Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah,” (1Yoh. 4:2). Di sini Rasul Yohanes juga menanggapi ajaran Gnostik dengan menegaskan bahwa ajaran Kristen yang benar harus mencakup doktrin inkarnasi. Bahkan, ia menegaskan bahwa inkarnasi adalah tes ortodoksi Kristen (keyakinan yang benar). Jika Yesus Kristus adalah Allah dan karena itu natur-Nya setara dengan Bapa, lalu bagaimana menjelaskan beberapa ayat di dalam PB yang tampaknya menempatkan Kristus lebih rendah daripada Bapa?

Kelompok-kelompok tertentu, baik pada zaman dulu maupun sekarang, menolak keilahian Kristus (dan tentunya juga doktrin Trinitas) karena mereka percaya bahwa Kristus lebih rendah (inferior) daripada Bapa di dalam natur atau esensi. Mereka yang menganut pandangan ini (subordinasionisme) biasanya menunjukkan beberapa ayat yang, pada pengujian awal, tampaknya memberi kesan bahwa Kristus lebih rendah dari Allah Bapa. Namun, ketika dipahami dalam konteks teologis yang tepat, ayat-ayat ini tidak mendukung pandangan tersebut. Sebelum menguji beberapa ayat ini, dua syarat teologis harus ditekankan. Pertama, selama kehidupan-Nya di dunia, Yesus Kristus merendahkan diri, mengambil peran seorang hamba. Sebagai manusia, Yesus memilih untuk tidak mempertahankan status dan kemuliaan Allah. Oleh karena itu, dalam peran-Nya sebagai hamba, Dia menyerahkan kepada Bapa dan mengatakan bahwa Bapa lebih besar daripada-Nya. Namun, Bapa lebih besar hanya dalam kedudukan, peran, atau “pangkat” (fungsi), tetapi tidak lebih besar dalam hal natur (esensi).

160

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

Kedua, sebagai seorang manusia (melalui natur manusianya), Yesus Kristus selalu menghormati Bapa sebagai Allah-Nya. Kredo Athanasius menyatakan bahwa Kristus “setara dengan Bapa dalam keilahian-Nya, lebih rendah dari Bapa dalam kemanusiaan-Nya.” Empat ayat yang disebut subordinasionis dan berbagai tanggapan atas keempatnya itu adalah sebagai berikut:15 1. “Bapa lebih besar daripada Aku” (Yoh. 14:28). Ketika Yesus mengucapkan kata-kata ini kepada para murid pada saat berbicara di ruang atas (Yoh. 14), Dia secara langsung mengungkapkan suatu natur atau esensi yang lebih rendah. Di banyak kejadian yang dicatat di dalam Injil Yohanes, Yesus dengan jelas menempatkan diri-Nya setingkat dengan Yahweh (Yoh. 5:17; 8:58, 10:30). Sebaliknya, Dia juga berbicara tentang Bapa yang lebih besar daripada diri-Nya. Karena dengan berinkarnasi, Yesus telah merendahkan diri-Nya untuk melayani Bapa-Nya demi memenuhi rencana penebusan Ilahi. Dengan melepaskan hak-hak istimewa sebagai Allah dan menyelubungi kemuliaan Ilahi-Nya, Yesus menerima peran atau posisi sebagai manusia, lebih rendah daripada Bapa dalam hal pangkat, tetapi tidak pernah lebih rendah dalam hal esensi. 2. “Allah-Ku dan Allahmu” (Yoh. 20:17). Setelah Yesus bangkit dari kematian dan menampakkan diri kepada Maria, Dia kemudian berkata, “Sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada AllahKu dan Allahmu” (Yoh. 20:17). Bagaimana mungkin Yesus bisa menyebut Bapa “Allah-ku” jika Dia adalah Allah? Jawabannya cukup sederhana. Yesus Kristus juga memiliki natur manusia, dan sebagai manusia Dia dapat menyebut Bapa sebagai Allah-Nya. Kredo Kalsedon dan Athanasius menyatakan bahwa berkenaan dengan kemanusiaan Kristus, Dia lebih rendah daripada Bapa di dalam natur. Bagian ini tidak mengungkapkan penolakan terhadap penyebutan Yesus Kristus sebagai Allah Anak di dalam agama Kristen yang historis itu. 3. “Yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan” (Kol. 1:15). Mengenai Yesus Kristus, Rasul Paulus berkata, “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.” Sebagian orang menafsirkan ayat ini sebagai penegasan bahwa Yesus Kristus memiliki awal dalam waktu dan karena itu Dia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah. Namun, penelitian yang cermat terhadap ayat ini menunjukkan bahwa penafsiran seperti itu keliru. Kata

BAGAIMANA YESUS KRISTUS BISA MENJADI ALLAH SEKALIGUS MANUSIA?

161

“anak sulung” (dalam bahasa Yunani, prototokos) dalam konteks ini tidak berarti “anak pertama.” Sebaliknya, anak sulung di sini mau menerangkan tentang yang pertama dalam hal kedudukan, pewaris, atau keunggulan. Seperti pewaris sulung dalam keluarga Yahudi, Sang Anak (Kristus) adalah pewaris dari semua ciptaan. 4. “Kepala dari Kristus ialah Allah” (1Kor. 11:3). Rasul Paulus menulis di dalam 1 Korintus 11:3, “Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.” Ayat ini tidak mengajarkan bahwa Kristus lebih rendah dalam esensi daripada Bapa. Ayat ini mengajarkan tentang otoritas fungsional yang sesuai, bukan tentang inferioritas keberadaan. Paulus menyatakan bahwa kepala (yang berotoritas) dari perempuan adalah laki-laki meskipun laki-laki dan perempuan setara sebagai ciptaan karena keduanya diciptakan menurut gambar Allah (Kej. 1:26-28), dan dengan demikian sama-sama memiliki martabat dan nilai-nilai moral yang melekat. Namun, ayat ini menunjukkan bahwa kepatuhan fungsional dan/atau sukarela, selaras dengan kesetaraan keberadaan. Kristus lebih rendah daripada Bapa, tetapi kepatuhan ini bersifat sukarela dan merupakan ciri peran Kristus sebagai hamba ketika berada di Bumi. Mengapa doktrin inkarnasi itu penting?

Telah dikatakan sebelumnya bahwa “kekristenan itu adalah Kristus.” Pernyataan ini berarti bahwa Kristus adalah pusat sejarah dari iman Kristen. Berita Injil adalah segala sesuatu tentang pribadi, natur, dan karya Yesus Kristus. Sebaliknya, jika Buddha atau Confusius, misalnya, dicabut dari masing-masing agama mereka, agama-agama itu akan mempertahankan esensi pengajaran moral Buddha maupun Confusius. Namun, jika pribadi Kristus dicabut dari agama Kristen, maka takkan ada kekhasan yang tersisa. Menurut kristosentris ini, doktrin inkarnasi sangat bermakna bagi orang Kristen. Secara langsung karena identitas-Nya (sebagai Allahmanusia) Yesus mampu melakukan karya penebusan-Nya (lih. pada bab 11). Allah Putra, pribadi kedua Trinitas, mengambil natur manusia dan memasuki dunia ruang dan waktu. Dengan hidup dan bersikap terbuka terhadap investigasi historis, Dia berkurban bagi umat manusia yang

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

162

berdosa. Sebagai Allah-manusia, Yesus sendiri mampu mewakili Allah dan manusia dan memberikan penebusan melalui kehidupan-Nya yang sempurna, kematian-Nya yang penuh pengurbanan, dan kebangkitan tubuh-Nya yang mulia dari kematian. Karena Kristus adalah inti doktrin dan kebenaran Kristen, identitasNya sangat penting. Oleh sebab itu, doktrin inkarnasi, yang mengungkapkan identitas-Nya, menjadi dasar dari semua ajaran Kristen. Analisis menyeluruh dari beberapa prinsip utama kekristenan menunjukkan hubungan inti ini:16 









Keberadaan dan karakteristik Allah: Orang mungkin mengetahui banyak hal penting tentang Allah melalui wahyu umum (melalui tatanan yang diciptakan, urutan sejarah yang sudah diberikan oleh Allah, dan hati nurani manusia). Namun, tanpa inkarnasi, berbicara tentang Allah dengan berlandaskan itu saja akan sangat spekulatif dan mengenal Allah secara pribadi menjadi nyaris mustahil. Allah diungkapkan secara pribadi, intim, unik, dan tegas di dalam inkarnasi Yesus Kristus. Sifat-sifat Allah ditunjukkan secara pribadi di dalam hidup-Nya. Trinitas: Dua pribadi lain dari keallahan-Nya—Bapa dan Roh Kudus—secara unik dipahami dan dihargai dalam hubungannya dengan pribadi dan natur Kristus yang telah dinyatakan. Inkarnasi menjelaskan kebenaran besar tentang natur Tritunggal Allah. Penebusan: Hanya Yesus Kristus, Allah dan manusia, yang mampu memberikan diri-Nya sebagai kurban yang efektif, yang mendamaikan Allah yang kudus dengan manusia yang berdosa. Kristus dapat melakukan apa yang dilakukan-Nya sebagai Penebus (sebagai Juruselamat) karena natur-Nya (Allah-manusia). Kebangkitan: Makhluk ciptaan biasa tidak memiliki kuasa atas kematian. Kebangkitan tubuh yang mengalahkan kematian hanya mungkin dilakukan oleh Allah-manusia (Yoh. 2:19; Kis.2:24; Rm. 1:3-4). Pembenaran: Manusia dibenarkan di hadapan Allah melalui iman (kepercayaan pribadi) kepada pribadi Yesus Kristus. Dasar penebusan umat manusia di hadapan Bapa secara langsung terkait dengan tindakan Juruselamat Allah-manusia di kayu salib.

BAGAIMANA YESUS KRISTUS BISA MENJADI ALLAH SEKALIGUS MANUSIA?

163

Doktrin inkarnasi menyentuh dan memengaruhi setiap bidang teologi Kristen. Mengubah atau merusak identitas Yesus Kristus sama dengan mengubah dan menghancurkan esensi iman Kristen (2Kor. 11: 3-4; Gal. 1:6-9). Yesus secara khusus memerintahkan murid-muridNya dan orang-orang lainnya untuk mempertimbangkan dan merenungkan identitas-Nya (Mat. 16:13-16; 22:41-46; bdk. Mzm.110). Yesus memperingatkan beberapa pemimpin Yahudi pada zaman-Nya bahwa tujuan kekekalan mereka tergantung pada apakah mereka akan mengakui dan menerima-Nya sebagaimana Dia yang sebenarnya (Yoh. 8: 23-24, 28, 52-53, 57-58). Yesus dan para rasul juga memperingatkan jemaat tentang bahaya Kristus-Kristus palsu yang akan selalu muncul (Mat. 24:4-5, 11, 23-24; 2Kor. 11:3-4, 13-14; Gal. 1:6-9; 1Tim. 4:1-2; 2Tim. 4:3; 2Ptr. 2:1-2; 1Yoh. 2:22-23; 4:1-3; Yud. 3). Bukankah ada individu-individu dan kelompok-kelompok yang pada awalnya menantang dan/atau menolak pandangan ortodoks mengenai pribadi dan natur Kristus?

Kontroversi-kontroversi doktrinal yang utama pada beberapa abad I dalam sejarah gereja Kristen berfokus pada isu-isu kristologis (pertanyaan mengenai pribadi dan natur Kristus). Penjelasan singkat tentang bidat-bidat ini, yang mencakup apa yang mereka ajarkan tentang Kristus, bagaimana mereka berbeda dari ortodoksi, dan bagaimana ortodoksi Kristen menanggapinya (lih. bab 5 untuk bidat-bidat Trinitas) adalah sebagai berikut: Bidat-bidat Kristologis Kuno 



Doketisme: Sebagai bentuk awal Gnostisisme, pandangan ini menegaskan semacam dualisme (keyakinan bahwa materi itu jahat dan roh itu baik).17 Para penganut doketisme bersikeras bahwa Yesus hanya tampaknya manusia (dari bahasa Yunani dokeo— ”tampaknya”), dan menyatakan bahwa Yesus memiliki “tubuh seperti hantu” dan menyangkal bahwa Dia benar-benar manusia. Para rasul menemukan bidat ini pada abad I dan tanggapan mereka muncul dalam 1 Yohanes 4:1-3. Ebionisme: Menurut pandangan ini, Yesus adalah manusia biasa, nabi, tetapi anak Yusuf dan Maria (bukan kelahiran dari seorang perawan). Jadi Ebionisme (pandangan yang ditelusuri sampai

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

164









abad II) dengan tegas menyangkal keilahian sejati Kristus. Posisi ini ditolak oleh pengakuan-pengakuan iman Kristen yang muncul kemudian. Arianisme: Arius dari Alexandria (256-336 M ) membantah dengan mengatakan bahwa Yesus itu seperti sehakikat (homoiousios) dengan Bapa, tetapi bukan dari hakikat yang sama (homoousios). Yesus dipandang sebagai ciptaan yang pertama dan terbesar dari Allah, jadi bukan sebagai Allah yang sejati. Bidat yang berpengaruh ini, yang berhasil ditundukkan oleh bapa gereja kuno Athanasius (ca. 296-373 M), untuk pertama kali dikutuk secara resmi di dalam Konsili Nicea (325 M). Apolinarianisme: Mengikuti Apolinarius (lahir ca. 310 M), uskup Laodikia, beberapa teolog mengajarkan bahwa dalam inkarnasi, Logos Ilahi mengambil tempat di dalam jiwa manusia atau jiwa Kristus. Yesus adalah manusia hanya dalam tubuh jasmani-Nya, tetapi tidak dalam hal lainnya. Jadi, Apolinarianisme menegaskan keilahian Kristus tetapi membantah kemanusiaan-Nya yang sejati dan utuh. Bidat ini dikutuk pada Konsili Konstantinopel (381 M). Nestorianisme: Pandangan ini, yang terkait dengan Nestorius (meninggal 451 M), menegaskan keilahian dan kemanusiaan Kristus, tetapi melihat persatuan di antara natur-Nya hanya sebagai persatuan moral dan/atau simpatik, dan bukan sebagai persatuan pribadi yang sesungguhnya. Posisi ini merupakan penekanan yang berlebihan pada kekhasan dari kedua natur. Akibatnya, Yesus menjadi dua pribadi dengan dua natur, sedangkan pandangan ortodoks memandang-Nya sebagai satu pribadi dengan dua natur. Bidat ini dikutuk pada Konsili Efesus (431 M). Eutikhianisme: Dikembangkan oleh Eutychianisme (ca. 378454 M), pandangan ini menyatakan bahwa Kristus memiliki satu natur campuran atau senyawa. Dua natur bergabung untuk membentuk natur tunggal yang bukan Ilahi dan bukan manusia (zat ketiga). Pandangan ini merupakan penekanan yang berlebihan pada persatuan natur. Bidat ini dikutuk dalam Konsili Kalsedon (451 M) dan sekali lagi di Konsili III di Konstantinopel (680 M).

BAGAIMANA YESUS KRISTUS BISA MENJADI ALLAH SEKALIGUS MANUSIA?





165

Monofisitisme: Pandangan ini menyatakan bahwa Kristus hanya memiliki satu natur, dengan alasan bahwa natur manusia-Nya diserap ke dalam natur Ilahi-Nya. Bidat ini dikutuk pada Konsili III di Konstantinopel (680 M). Monotelitisme: Pandangan ini menyatakan bahwa Kristus hanya memiliki satu kehendak. Pandangan ortodoks menyatakan bahwa jika Kristus memiliki dua natur, Dia pasti memiliki dua kehendak meskipun kehendak manusia-Nya akan menyesuaikan diri dalam segala hal dengan kehendak Ilahi-Nya. Monotelitisme juga dikutuk dalam Konsili III di Konstantinopel.

Bukankah konsep inkarnasi (satu pribadi dalam natur sebagai Allah dan manusia) secara logis tidak koheren?

Doktrin inkarnasi, di mana natur Allah bersatu dengan natur manusia di dalam satu pribadi, Yesus Kristus, tetap merupakan misteri yang tidak terbayangkan. Hal ini mungkin memang misteri Kristen yang paling mendalam dari semuanya. Namun, meskipun inkarnasi tidak bisa dimengerti oleh pikiran yang terbatas, hal itu tidak dapat ditolak dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang membingungkan atau tidak masuk akal. Kebenaran yang diwahyukan memang di luar akal sehat, tetapi tidak pernah melawan akal sehat karena Allah adalah sumber dan dasar rasionalitas itu sendiri. Beberapa orang berpendapat bahwa inkarnasi tidak masuk akal karena menegaskan bahwa hal yang tidak terbatas (natur Ilahi) terkandung di dalam hal yang terbatas (natur manusia). Namun, inkarnasi tidak sependapat dengan pernyataan ini.18 Kritik ini jelas lemah (distorsi atau keliru). Natur Ilahi Kristus tidak terbatas pada natur manusia (atau tubuh fisik Kristus). Meskipun natur ilahi berada di dalam persatuan dengan natur manusia dalam satu pribadi, natur Ilahi pasti melampaui batas natur manusia.19 Bapa Pembaru Protestan John Calvin menjelaskan: Bahkan jika Sang Firman, dalam esensinya yang tak dapat diukur, bersatu dengan natur manusia menjadi satu pribadi, kita tidak membayangkan bahwa Dia terbatas di dalamnya. Dan inilah yang menakjubkan: Anak Allah turun dari surga dengan cara sedemikian rupa sehingga tanpa meninggalkan surga, Dia menghendaki diri-Nya dilahirkan di

166

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

dalam rahim seorang perawan, tinggal di bumi, dan tergantung di atas kayu salib. Namun, Dia terus mengisi dunia dengan apa yang telah dilakukan-Nya dari semula.20

Inkarnasi harus dipahami sebagai “Allah plus” (Allah Putra ditambah natur manusia), bukan sebagai “Allah minus” (kehilangan keilahian atau karakteristik Ilahi) atau “Allah yang terbatas” (yang tidak terbatas berada di dalam yang terbatas). Inkarnasi harus dianggap sebagai Logos Ilahi, pribadi yang sudah ada sebelumnya (dalam kekekalan), dan mengambil natur manusia bagi diri-Nya, tanpa mengesampingkan keilahian-Nya. Inkarnasi masih merupakan misteri. Yang tidak dapat dimengerti sepenuhnya oleh manusia adalah bagaimana pribadi Kristus memiliki kesadaran Ilahi dan kesadaran manusia, namun tetap merupakan satu pribadi. Namun, doktrin ini telah dirumuskan di dalam sejarah gereja sedemikian rupa sehingga tidak bertentangan dengan logika. Gagasan tentang dua natur yang bersatu di dalam satu pribadi mungkin sulit dipahami dan benar-benar paradoks, tetapi tidak kontradiksi.

Makna Sejati Natal Di sepanjang musim Natal, umat Kristen merayakan peristiwa besar —dan kebenaran—inkarnasi. Di masa kanak-kanak Kristus di Betlehem, Tuhan memasuki sejarah manusia dan mengungkapkan diri-Nya secara dekat dan pribadi. Kebenaran ini menakjubkan karena di dalam diri Yesus Kristus, manusia berjumpa dengan Allah dengan cara yang nyata, pribadi, historis, dan konkret. Makna utama Natal adalah bahwa Allah Anak yang tidak terbatas dan kekal meninggalkan takhta kemuliaanNya di surga. Dia menerima kehidupan—dan kematian—sebagai manusia yang secara pribadi memberikan kasih dan pengampunan bagi orangorang berdosa. Bab berikutnya membuktikan keilahian Kristus sebagaimana yang ditemukan di dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Pertanyaan Diskusi 1. Bagaimana doktrin inkarnasi dinyatakan? 2. Apa arti istilah persatuan hipostasis? 3. Bagaimana orang bisa menjawab tuduhan bahwa Kristus bukan Allah karena Dia lebih rendah daripada Sang Bapa?

BAGAIMANA YESUS KRISTUS BISA MENJADI ALLAH SEKALIGUS MANUSIA?

167

4. Mengapa doktrin inkarnasi penting bagi semua teologi Kristen lainnya? 5. Mengapa inkarnasi merupakan suatu paradoks, bukan kontradiksi logis?

Untuk Studi Lebih Lanjut Erickson, Millard J. The Word Became Flesh (Grand Rapids: Baker, 1991). Grudem, Wayne. Systematic Theology, (Grand Rapids: Zondervan, 1994), lihat hal. 529-567. Morris, Thomas V. The Logic of God Incarnate (Ithaca, NY: Cornell, 1986). Reymond, Robert L. Jesus, Divine Messiah: The New Testament Witness (Phillipsburg, NJ: Presbyterian and Reformed, 1990). Rhodes, Ron. Christ before the Manger: The Life and Times of the Preincarnate Christ (Grand Rapids: Baker, 1992). Warfield, Benjamin B. The Person and Work of Christ (Philadelphia: Presbyterian and Reformed, 1950).

APAKAH YESUS KRISTUS BENAR-BENAR BANGKIT DARI KEMATIAN?

Kekristenan tidak menjadikan kebangkitan sebagai salah satu dari sekian banyak ajaran keyakinan. Tanpa iman dalam kebangkitan, kekristenan tidak akan pernah ada. ––Michael Green, Man Alive Makna kebangkitan adalah perkara teologis, tetapi fakta dari kebangkitan adalah persoalan historis. ––Wilbur Smith, Therefore Stand: Christian Apologetics

D

ari cara pandang Kristen yang historis, keunikan dan kebenaran kekristenan bersandar pada kebangkitan tubuh Yesus Kristus dari antara orang mati. Yesus Kristus bangkit dari kematian setelah tiga hari dihukum mati merupakan ajaran Kristen (doktrin) dan fakta ultimat yang mendukung kekristenan (apologetika). Hampir dua ribu tahun yang lalu rasul Paulus mengakui bahwa jatuh bangunnya kekristenan bergantung pada kebangkitan Kristus. Ia berkata, “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu . . . jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu” (1Kor. 15:14-17). Karena klaim kebenaran kekristenan sangat bergantung pada peristiwa kebangkitan, maka kisah-kisah PB tentang hal itu memerlukan analisis dan refleksi yang cermat. Para penulis PB tidak hanya melaporkan 169

170

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

kebangkitan-Nya sebagai peristiwa faktual, tetapi juga menempatkan fenomena tersebut dalam konteks teologis dan menjelaskan signifikansinya secara menyeluruh dalam rencana penebusan Allah yang bersejarah itu. Meringkas pentingnya kebangkitan secara teologis, menyelidiki maknanya, dan memeriksa beberapa penjelasan naturalistis alternatif secara kritis, diperlukan untuk benar-benar mengevaluasi validitas iman Kristen.

Signifikansi Teologis Kebangkitan Jika Kristus memang bangkit dari antara orang mati, maka semua dasar klaim kebenaran kekristenan terbukti benar. Identitas, misi, dan pesan Yesus tergantung pada realitas kebangkitan-Nya. Seluruh PB ditulis sehubungan dengan hal itu dan setiap kitab menjadi saksi atas faktualitasnya. Memang, fungsi penting para rasul adalah menjadi saksi dari peristiwa ini (Kis.1:22; 1Kor. 9:1). Menurut Alkitab, kebangkitan itu bukanlah hidup kembali dari kematian—mati suri atau pengalaman nyaris mati. Kebangkitan juga bukan merupakan sesuatu yang mirip dengan reinkarnasi. Sebaliknya, Yesus dibangkitkan menuju suatu bentuk baru kehidupan manusia— kehidupan kekal dengan tubuh fisik yang diubahkan dan mulia, yang tidak lagi tunduk pada kelemahan, kesakitan, penyakit, atau kematian. Dalam kebangkitan-Nya, Yesus Kristus sepenuhnya dan benar-benar telah menaklukkan maut untuk selama-lamanya. Sepuluh Kebenaran Penting tentang Kebangkitan Sepuluh hal berikut ini menyampaikan informasi teologis yang esensial tentang kebangkitan Kristus1 dan mengungkapkan implikasi kristologisnya. 1. Kebangkitan adalah konfirmasi akhir dari identitas Yesus sebagai Mesias, Juruselamat, dan Tuhan (Rm. 1:3-4; 14:9). Hal ini membuktikan bahwa perkataan Yesus tentang diri-Nya benar adanya. Dengan membangkitkan Yesus dari antara orang mati, Allah Bapa membuktikan kebenaran misi dan berita penebusan Yesus Kristus (Mat. 16:21; 28:6). Kebangkitan meneguhkan kebenaran dari semua perkataan Yesus.

APAKAH YESUS KRISTUS BENAR-BENAR BANGKIT DARI KEMATIAN?

171

2. Karena Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati sebagai manusia—dengan tubuh fisik sebagai bagian dari natur manusia— Dia menghubungkan diri-Nya secara permanen dengan umat manusia dan merupakan Allah-manusia untuk selama-lamanya. Kebangkitan bukanlah upaya melarikan diri dari kondisi sebagai manusia, melainkan merupakan pemulihan dan penggenapannya yang mulia. 3. Ketika Allah membangkitkan Yesus Kristus dari antara orang mati (Kis. 2:24; 3:15), ketiga anggota Trinitas terlibat: Bapa (Rm. 6:4; 1Kor. 6:14; Gal. 1:1; Ef. 1:20), Anak (Yoh. 10:17-18; 11:25; Ibr. 7:16), dan Roh Kudus (Rm. 8:11). Kebangkitan menegaskan keterlibatan penuh Allah—sebagai Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus—di dalam upaya penyelamatan manusia. 4. Kebangkitan menunjuk Yesus Kristus sebagai kepala gereja Kristen yang hidup untuk selama-lamanya (Ef. 1:19-22). Maka dari itu, gereja Kristen yang historis beribadah dan diperintah oleh Sang Juruselamat yang hidup. 5. Kuasa kebangkitan Kristus aktif menjamin keselamatan kekal orang percaya (Rm. 4:25, 10:9-10; Ef. 2:5-6; Flp. 3:10). Berita Injil keselamatan di dalam Kristus bersandar pada kebenaran kebangkitan. 6. Kuasa kebangkitan Kristus tersedia untuk memberdayakan semua orang percaya yang berusaha hidup dalam ketaatan dan rasa syukur kepada Allah (Rm. 6:12-13). Kuasa dosa yang melemahkan umat manusia telah dipatahkan oleh kebangkitan-Nya. 7. Kebangkitan Kristus adalah janji sekaligus paradigma bagi kebangkitan tubuh semua orang percaya di masa yang akan datang (1Kor. 6:14; 15:20; 2Kor. 9:14; Flp. 3:21; Kol. 1:18; 1Tes. 4:14). Sama seperti Dia bangkit, orang-orang percaya juga akan bangkit. 8. Kebangkitan Kristus adalah jawaban untuk dilema eksistensial terbesar umat manusia, yang dihantui oleh kematian. Di sini, di dalam bayang-bayang kematian, kebangkitan memberikan pengharapan, tujuan, makna, dan kepercayaan diri untuk menghadapi kematian (Yoh. 11:25-26; Rm. 14:7-8).

172

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

9. Kebangkitan Yesus Kristus adalah tema utama pemberitaan dan pengajaran mula-mula para rasul (Kis.1:22; 2:31; 4:2,33; 17:18), dan secara keseluruhan merupakan prinsip utama doktrin PB. “Dia telah bangkit” adalah seruan pengakuan gereja mula-mula. 10. Kebenaran atau kesalahan Injil Kristen tergantung pada kebangkitan tubuh Yesus Kristus (1Kor. 15:14-18). Klaim-klaim kebenaran kekristenan dapat diuji melalui pengujian terhadap fakta sejarah kebangkitan Yesus dari antara orang mati.

Gambaran tentang Kebangkitan di dalam PB Keempat Injil dan berbagai surat PB mengungkapkan narasi berikut ini mengenai kematian dan kebangkitan Yesus Kristus2 (lih. Mat. 26:4728:20; Mrk. 14:43-16:8; Luk. 22:47-24:53; Yoh. 18:1-21:25; Kis.9: 1-19; 1Kor. 15:1-58). Para pemimpin agama Yahudi (para imam kepala dan tua-tua) menangkap dan mengadili Yesus dari Nazaret dengan tuduhan penghujatan. Selanjutnya, Yesus dinyatakan bersalah di hadapan Sanhedrin, lalu dibawa oleh orang-orang Yahudi kepada gubernur Romawi di Yudea, Pontius Pilatus, dan mendesak agar Yesus dihukum mati. Pilatus dengan segan menghukum mati Yesus sebagai seorang pemberontak. Yesus dipukuli dan disalibkan oleh tentara Romawi dan akhirnya meninggal. Tubuh Yesus yang tidak bernyawa diturunkan dari salib, dibungkus dengan kain kafan, dan diletakkan di liang kubur yang masih baru, milik Yusuf Arimatea (seorang anggota Sanhedrin yang kaya dan terkemuka). Sebuah batu besar diletakkan di pintu masuk kubur, dan penjaga Romawi ditempatkan di sana untuk memastikan tubuh Yesus tidak diganggu. Tiga hari kemudian pada hari Minggu pagi (“hari pertama pada pekan itu”) dini hari, gempa bumi yang hebat mengguncang kubur. Malaikat Tuhan muncul dan menggulingkan batu itu. Karena ketakutan melihat malaikat itu, para penjaga menjadi lumpuh. Kemudian (setelah para penjaga melarikan diri), beberapa wanita pengikut Yesus tiba di kuburan dan mendapati kubur itu telah kosong. Para wanita itu bertemu dengan malaikat yang menyampaikan berita bahwa Yesus sudah tidak ada di sana lagi, dan bahwa Dia telah bangkit dari kematian. Setelah mendengar tentang pertemuan para perempuan

APAKAH YESUS KRISTUS BENAR-BENAR BANGKIT DARI KEMATIAN?

173

itu, beberapa rasul Yesus berlari ke kubur itu dan juga mendapati kubur itu telah kosong dan tubuh Yesus sudah tidak ada lagi. Selama periode empat puluh hari setelah peristiwa itu, mulai dari Minggu Paskah, Yesus menampakkan diri, dalam keadaan hidup secara fisik, di hadapan banyak orang di berbagai tempat. Menurut Injil dan surat-surat para rasul di PB, Yesus yang telah bangkit itu menampakkan diri kepada individu-individu, kelompok-kelompok kecil, kumpulankumpulan besar, teman dan musuh, orang-orang percaya dan tidak percaya, perempuan dan laki-laki, di depan umum maupun secara pribadi. PB secara khusus menyebutkan adanya dua belas penampakan kebangkitan yang berbeda: kepada Maria Magdalena (Yoh. 20:10-18), Maria dan para perempuan lainnya (Mat. 28:1-10), Petrus (Luk. 24:34; 1Kor. 15:5), dua murid yang sedang dalam perjalanan ke Emaus (Luk. 24:1335), sepuluh rasul (Luk. 24:36-49), sebelas rasul (Yoh. 20:24-31), tujuh rasul (Yoh. 21), semua rasul (Mat. 28:16-20), lima ratus murid (1Kor. 15:6), Yakobus (1Kor. 15:7), sekali lagi kepada semua rasul (Kis. 1:4-8), dan akhirnya, di kemudian hari, kepada Paulus (Kis.9:1-9; 1Kor. 15:8). Karakteristik tubuh kebangkitan Yesus juga dapat dicatat. Tangan, kaki, dan lambung masih meninggalkan tanda-tanda penyaliban-Nya (Yoh. 20:20). Tubuh-Nya yang terdiri dari daging dan tulang bisa dilihat dan disentuh (Mat. 28:9; Luk. 24:37-40; Yoh. 20:20). Dia bahkan mengundang Tomas untuk menyentuh dan memeriksa tangan dan lambung-Nya yang terluka (Yoh. 20:27). Yesus juga makan dan minum bersama para murid-Nya setelah kebangkitan-Nya (Luk. 24:41-43; Kis.10:41). Tubuh kebangkitan-Nya tentu bersifat jasmaniah, tetapi telah berubah menjadi tubuh yang mulia, abadi, dan tidak dapat dihancurkan, yang mampu melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh tubuh biasa: Yesus bisa muncul dan menghilang dari ruang tertutup dan Dia bisa melawan gravitasi (naik ke atas melalui awan-awan). Karena itu, ada kontinuitas dan diskontinuitas antara tubuh Yesus sebelum dan sesudah kebangkitanNya.

Enam Bukti Mendukung natur historis dan faktual tentang kebangkitan Yesus, para ahli apologetika Kristen selama berabad-abad telah berbicara tentang beberapa bukti yang kuat.3

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

174

Kubur yang Kosong

Salah satu fakta pendukung terbaik di seputar kebangkitan Yesus adalah kubur yang kosong. Kebanyakan ahli PB, bahkan beberapa cendekiawan liberal, setuju bahwa fakta sejarah yang solid berada di balik pernyataan Injil bahwa kubur Yesus itu kosong pada pagi Paskah yang mula-mula. Detail-detail alami kisah ini sangat sesuai dengan apa yang dikenal sejarah. Berbeda dengan mitos atau legenda, laporan tentang kubur yang kosong bertanggalkan sangat dini, sesuai dengan data arkeologi (adat penguburan, pembangunan kuburan, waktu acara seremonial), dan tidak pernah diragukan, apalagi dibantah, oleh musuh-musuh dan pengkritik-pengkritik agama Kristen sezaman. Selain itu, orang-orang Yahudi atau Roma semestinya bisa segera menundukkan kekristenan dengan cara memperlihatkan tubuh Kristus. Para murid tidak bisa menyatakan kebangkitan tubuh jika tubuh itu bisa ditunjukkan. Dalam Yudaisme kuno, konsep kebangkitan hanya dianggap secara fisik, bukan spiritual. Karena Yudaisme hanya tahu tentang kebangkitan “tubuh,” harus ada “kubur yang nyata,” yang benar-benar kosong. Kubur kosong ini membutuhkan penjelasan yang memadai. Orang-orang Kristen selama dua ribu tahun telah membuktikan bahwa satu-satunya penjelasan yang konsisten bagi kubur yang kosong adalah bahwa Yesus bangkit secara fisik dari kematian (lih. pengujian terhadap teori-teori naturalistis di bawah ini). Penampakan Setelah Penyaliban

Menurut PB, banyak orang (sebanyak 500 orang) telah berjumpa secara akrab dan empiris dengan Yesus Kristus setelah kematian-Nya di kayu salib. Penampakan-penampakan ini dilaporkan oleh berbagai orang, di berbagai waktu, tempat, dan keadaan. Para saksi kebangkitan mengaku telah melihat, mendengar, dan menyentuh Kristus yang dimuliakan. Orang yang sama, yang telah mereka lihat dihukum mati tiga hari sebelumnya, kini hidup dan berada di tengah mereka. Dia bahkan menunjukkan tanda-tanda fisik penyaliban. Penampakan-penampakan fisik dalam waktu dan ruang ini, yang dilaporkan segera setelah kejadian yang sebenarnya, tidak masuk akal jika dianggap sebagai peristiwa yang berbau mistis atau psikologis (lih. pemeriksaan teori naturalistik). Beberapa penampakan Yesus setelah penyaliban-Nya digabungkan dengan

APAKAH YESUS KRISTUS BENAR-BENAR BANGKIT DARI KEMATIAN?

175

bukti kubur yang kosong, memperkuat kebenaran objektif tentang kebangkitan. Dengan demikian juga menunjukkan kebenaran objektif berita Injil Kristen secara keseluruhan. Transformasi Para Rasul

Kitab Kisah Para Rasul menggambarkan suatu transformasi dramatis dan abadi dari sebelas orang. Mengerikan, para rasul yang kecut hatinya dan ketakutan, setelah penyaliban Yesus (sebagaimana diungkapkan di dalam Injil), berubah menjadi pengkhotbah yang berani dan, dalam beberapa kasus, rela mati sebagai martir. Mereka ini menjadi sangat berani melawan orang-orang Yahudi dan Romawi yang memusuhi mereka, bahkan menghadapi penyiksaan dan kematian. Perubahan yang radikal dan meluas seperti ini layak mendapat penjelasan yang memadai, karena sebenarnya karakter dan perilaku manusia tidak dapat sering ataupun dengan mudah berubah. Fakta bahwa para rasul melarikan diri dan bahkan menyangkal pernah mengenal Yesus setelah Dia ditangkap, membuat keberanian mereka dalam menghadapi penganiayaan bahkan lebih mencengangkan. Para rasul menghubungkan kekuatan karakter baru mereka dengan perjumpaan pribadi mereka secara langsung dengan Kristus yang telah bangkit. Dalam kebangkitan Kristus, para rasul menemukan alasan yang tak tergoyahkan untuk hidup dan mati demi memberitakan kebenaran tentang Yesus yang telah bangkit. Pertobatan Saulus dari Tarsus

Saulus dari Tarsus adalah ahli hukum Taurat Ibrani terkemuka pada abad pertama, anggota kelompok orang-orang Farisi Yahudi, dan warga negara Romawi (Kis. 21:37-22:3). Karena giat dalam pengabdiannya kepada Allah dan keinginannya untuk melindungi Yudaisme kuno dari apa yang dianggapnya sebagai ajaran sesat dan berbahaya, ia menjadi tokoh antagonis utama terhadap gereja Kristen mula-mula. Saulus mengungkapkan kebenciannya yang berkobar-kobar terhadap orang Kristen dengan meminta mereka ditangkap. Dia bahkan menghasut dan menyetujui penganiayaan fisik dan eksekusi terhadap orang-orang percaya, termasuk terhadap Stefanus (Kis. 7:54-8:3; Gal. 1:13-14). Dalam perjalanan ke Damsyik (ca. 33 M) untuk melaksanakan rencana penganiayaan terhadap jemaat, Saulus mengalami perjumpaan yang mengubah-

176

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

kan hidupnya. Ia mengaku telah melihat dan berbicara dengan Yesus dari Nazaret yang telah bangkit (Kis. 9:1-30; 22:5-13). Setelah pertobatan dramatis dan kemudian ia memeluk iman yang dulu dibencinya, Saulus menggunakan nama bukan Yahudi, yakni “Paulus” dan menjadi sosok protagonis terbesar pada gereja Kristen yang berkembang pesat. Rasul Paulus mungkin adalah tokoh paling penting kedua dalam sejarah agama Kristen (setelah Yesus Kristus). Paulus menjadi misionaris, teolog, dan ahli apologetika Kristen yang terbesar, serta penulis dari tiga belas kitab PB yang diilhami oleh Allah. Apa yang menyebabkan pertobatan Paulus—mungkin pertobatan religius terbesar dalam sejarah? Menurut Paulus sendiri, transformasi yang luar biasa itu disebabkan oleh pertemuan tatap muka yang menyilaukan dengan Yesus Kristus yang telah bangkit. Pertobatan yang mengejutkan ini, juga kehidupan dan prestasi rasul Paulus selanjutnya yang menakjubkan, tampaknya benar-benar tidak dapat dijelaskan jika dipisahkan dari fakta kebangkitan. Munculnya Gereja Kristen

Peristiwa khusus apakah di dalam sejarah yang bisa memulai sebuah gerakan yang dalam 400 tahun mendominasi seluruh kekaisaran Romawi dan selama dua ribu tahun mendominasi semua peradaban Barat? Dalam waktu yang sangat singkat kekristenan mengembangkan identitas budaya dan teologis yang berbeda dengan Yudaisme tradisional. Menurut PB, iman yang unik ini (Kristen) segera muncul karena kebangkitan Yesus Kristus. Munculnya gereja Kristen secara luar biasa dan bersejarah ini menuntut penjelasan. Menurut PB, para rasul mengubah keadaan dunia dengan memberitakan kebenaran kebangkitan sehingga gereja yang berjarah muncul. Peralihan ke Hari Minggu sebagai Hari Ibadah

Orang-orang Yahudi beribadah pada hari Sabat—hari ketujuh dalam sepekan (mulai dari matahari terbenam pada hari Jumat sampai matahari terbenam pada hari Sabtu). Namun, gereja Kristen mula-mula secara bertahap mengubah hari ibadah mereka dari hari ketujuh menjadi hari pertama dalam sepekan (Minggu: “Hari Tuhan,” Kis. 20:7; 1Kor. 16:2; Why. 1:10).4 Perubahan ini diadakan untuk memperingati kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Kebangkitan-Nya menuju kehidupan kekal

APAKAH YESUS KRISTUS BENAR-BENAR BANGKIT DARI KEMATIAN?

177

mengubah (melalui refleksi) ibadah Kristen, dan secara unik memengaruhi perumusan sakramen-sakramen gereja mula-mula (baptisan dan komuni). Itulah yang membedakan iman Kristen (dalam teologi dan praktiknya) dari Yudaisme tradisional. Terlepas dari kebangkitan-Nya, tidak ada alasan bagi orang-orang Kristen mula-mula (sebagai sekte Yudaisme) untuk memandang hari Minggu (hari pertama dalam pekan) memiliki signifikansi teologis atau seremonial yang abadi. Terlepas dari kebangkitan-Nya, tidak ada dorongan untuk meninggalkan praktik ibadah Yudaisme.

Penjelasan Naturalistis Alternatif Kaum skeptis, terutama mereka yang memiliki prasangka antisupranatural yang kuat, sering mencoba untuk menjelaskan peristiwa seputar kebangkitan Kristus sebagai murni fenomena alami. Enam hipotesis naturalistis telah populer selama bertahun-tahun, tetapi masingmasing dapat dikritik dengan standar yang objektif. Konsistensi logis, kekuatan penjelas dan ruang lingkup, kemurnian fakta yang diketahui, menghindari asumsi yang tidak beralasan, dan testabilitas (membuat klaim yang dapat diuji dan dibuktikan benar atau salah) merupakan ciri hipotesis penjelas yang baik. Hipotesis 1: Kebangkitan Yesus bisa saja merupakan legenda atau mitos.

Karena pertanyaan tentang cerita-cerita mitos telah dibahas tuntas dalam bab 7, maka hanya ada beberapa materi yang dirangkum di sini. Banyak kitab PB (Injil dan berbagai surat-surat) ditulis cukup dekat dengan waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang dilaporkan atau digambarkan di dalamnya. Legenda dan mitos tidak cukup waktu untuk menyusup ke dalam kisah-kisah Alkitab. Meskipun kematian Yesus terjadi pada tahun 30 atau 33 M, ada alasan kuat untuk percaya bahwa Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) sudah ada pada awal tahun 60-an (mungkin Injil Markus ada pada akhir tahun 50-an), satu generasi dengan peristiwa-peristiwa seputar kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Baik Injil maupun kitab Kisah Para Rasul menyebutkan tiga peristiwa bersejarah yang terjadi antara tahun 60 dan 70 M: penganiayaan terhadap orang Kristen

178

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

oleh Kaisar Romawi, Nero (ca. pertengahan tahun 60-an), kematian rasul Petrus dan Paulus sebagai martir (ca. 64-66 M), dan jatuhnya Yerusalem di bawah pemimpin militer Romawi Titus (70 M).5 Karena tidak satu pun peristiwa-peristiwa ini, yang pasti sangat menarik perhatian orangorang Kristen, disebutkan di dalam Injil, beberapa ahli PB dengan yakin berpendapat bahwa Injil Sinoptik sudah ada sejak awal tahun 60-an. Selain itu, kitab Kisah Para Rasul mengikuti Injil Lukas sebagai karya pendamping. Karena Kisah Para Rasul tidak menyebutkan tentang peristiwa-peristiwa yang sangat signifikan ini, Injil sinoptik mungkin bahkan ditulis jauh sebelum awal tahun 60-an, terutama jika berasumsi bahwa prioritas Markus itu benar (teori yang dominan dalam ilmu pengetahuan modern menyatakan bahwa Markus adalah Injil yang paling awal ditulis). Injil-Injil ini tidak saja terlalu dini untuk menjadi mitos, tetapi InjilInjil ini juga terhubung ke peristiwa-peristiwa yang dilaporkan, melalui sebuah jembatan penghubung yang kokoh dari sumber-sumber lisan dan tertulis. Beberapa surat Rasul Paulus (Galatia 1 dan 2 Tesalonika) mungkin ditulis sejak akhir tahun 40-an atau awal tahun 50-an. Kritik terhadap sumber (studi tentang sumber-sumber di balik teks tertulis) menunjukkan bahwa informasi lisan dan mungkin yang tertulis juga usianya lebih tua daripada Injil berbahasa Yunani, yang bahkan makin memperkecil jarak antara peristiwa kehidupan Yesus dan catatan-catatan yang tertulis. Pengetahuan tentang PB mengungkapkan banyak alasan untuk percaya bahwa Matius, Markus, dan Lukas menggunakan sumber-sumber tersebut.6 Teori demitologisasi (ide bahwa mitos telah menyusup ke dalam fakta-fakta kehidupan Yesus) tampaknya hanya mungkin bila ada yang sanggup menampilkan beberapa generasi yang di dalamnya mitos itu pernah tumbuh.7 A. N. Sherwin-White, ahli sejarah Yunani dan Romawi kuno dari Oxford, telah menyatakan bahwa jarak dua generasi penuh pun tidak cukup bagi mitos dan legenda untuk berkembang dan membelokkan fakta sejarah.8 Seperti dikatakan sebelumnya, mengingat interval waktu yang singkat antara kehidupan Yesus dan munculnya catatancatatan Injil, tidak ada cukup waktu untuk mendistorsi catatan-catatan itu. Ahli legenda Julius Muller menyatakan bahwa legenda tidak dapat menggantikan fakta, sepanjang saksi-saksi mata masih hidup.9

APAKAH YESUS KRISTUS BENAR-BENAR BANGKIT DARI KEMATIAN?

179

Alasan selanjutnya untuk menolak teori mitos dan legenda adalah bahwa para rasul mengerti perbedaan antara mitos dan kesaksian saksi mata faktual, dan mereka dengan sabar menegaskan (dengan risiko pribadi yang besar) bahwa mereka adalah saksi mata dari peristiwaperistiwa sejarah yang sebenarnya (Luk. 1:1-4; Yoh. 19:35; 1Kor. 15: 3-8; Gal. 1:11-12; 2Ptr. 1:16; 1Yoh. 1:1-2). Alih-alih mereka-rekakan cerita mereka, para rasul justru secara aktif berusaha memadamkan rumor dan kebohongan yang berkembang di masyarakat (Yoh. 21: 22-25). Mereka dengan jujur menyatakan ketidakpercayaan mereka sendiri ketika dihadapkan pada bukti kebangkitan Kristus. Para penulis Injil sangat memperhatikan detail-detail sejarah. Mereka mencatat detail-detail sejarah yang mereka ketahui terjadi pada periode Yesus (termasuk nama, tanggal, peristiwa, adat istiadat, dll.). Secara historis, kriteria utama untuk memasukkan Injil dalam kanon PB adalah Injil ini harus muncul dari kalangan para rasul (saksi mata atau yang ada hubungannya dengan saksi mata). Gaya bahasa dan isi dari kisah-kisah Injil juga berbeda jika dibandingkan dengan tulisan mitos yang dikenal.10 Mukjizat-mukjizat di dalam Alkitab tidak aneh atau sembrono seperti yang ditemukan dalam literatur mitologis (mis., dalam mitologi Yunani). Mukjizat-mukjizat Yesus selalu dilakukan dalam konteks pelayanan-Nya, khususnya untuk kemuliaan Allah, dan biasanya untuk menanggapi kebutuhan nyata manusia. Sejarah dan mukjizat-Nya bersama-sama bersinergi di dalam Injil dengan cara yang berbeda dengan literatur mitologi lainnya. Beberapa orang berusaha menghubungkan kebangkitan Yesus dengan penyembahan dewa-dewa kesuburan yang konon dibangkitkan dalam agama-agama pagan kuno (Osiris, Adonis, Attis, Mithra, dsb.).11 Namun, perbandingan-perbandingan ini terbukti dangkal, tidak tepat, dan sering berpijak pada sumber-sumber yang muncul belakangan. Dengan demikian, perbandingan-perbandingan ini tidak memiliki hubungan sejarah atau pengaruh pada kekristenan. Tak satu pun dari cerita-cerita agama pagan ini memiliki landasan historis yang mendukung kebangkitan Yesus Kristus. Ada bukti kuat yang mendukung kesimpulan bahwa Injil mencerminkan sumber-sumber awal mengenai kehidupan dan kematian Yesus. Jika para penulis Injil menyimpang dari fakta-fakta sejarah kebangkitan,

180

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

maka saksi-saksi musuh yang mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi pada waktu itu bisa dan akan menelanjangi mereka. Memandang kebangkitan Yesus Kristus sebagai legenda atau mitos berarti mengabaikan dukungan sejarah yang solid di balik peristiwa tersebut, dan tampaknya berakar dalam prasangka-prasangka antisupranatural yang tidak kuat, serta gagal mengenali interval waktu yang singkat antara munculnya tulisan-tulisan Injil itu sendiri dan peristiwaperistiwa sebenarnya yang ingin dilaporkan dan dijelaskan. Dengan demikian, hal ini harus dianggap sebagai hipotesis penjelas yang lemah. Hipotesis 2: Para murid bisa saja mencuri tubuh itu dan membuat cerita bohong.

Menurut catatan Injil, setelah kebangkitan, beberapa pemimpin agama Yahudi menyuap para penjaga agar mengatakan bahwa mereka telah jatuh tertidur di kubur dan bahwa rasul-rasul Yesus telah datang pada malam hari dan mencuri tubuh-Nya (Mat. 28:11-15). Terlepas dari bagaimana cerita ini dimulai, cerita ini sebenarnya menjadi teori alternatif naturalistis yang paling awal untuk menjelaskan kebangkitan Yesus. Berdasarkan hal itu, teori ini layak dianalisis. Apakah para rasul mampu mencuri tubuh Yesus? Perlu menghindari para penjaga dan memindahkan batu kubur yang besar yang termeterai; membuat pencurian ini sangat tidak mungkin, terutama karena para rasul yang ketakutan setelah Yesus ditangkap. Selain itu, jika para penjaga sedang tidur, bagaimana mereka tahu siapa yang mencuri tubuh itu? Dan apa motivasi yang mungkin memicu para rasul untuk mencuri tubuh Yesus? Tidak ada manfaatnya bagi mereka dan mereka bisa kehilangan segala-galanya dengan melakukan hal itu. Mengarang cerita bohong tentang kebangkitan Yesus hanya akan menyebabkan mereka mengalami kesulitan, penganiayaan, kematian sebagai martir, dan bahkan hukuman karena dianggap melakukan penghujatan. Jika ternyata para rasul telah mencuri tubuh Yesus dan kemudian mereka-reka cerita bohong mengenai penampakan kebangkitan, apakah mereka bersedia mati sebagai martir untuk apa yang mereka ketahui sebagai kebohongan itu? Konspirasi semacam itu mungkin akan runtuh di bawah tekanan. Banyak lawan yang sangat ingin membeberkan kemungkinan adanya penipuan. Para rasul dibenci, dicemooh, dikucilkan, dipenjara, dan disiksa. Selain

APAKAH YESUS KRISTUS BENAR-BENAR BANGKIT DARI KEMATIAN?

181

itu, jika para pengikut terdekat Kristus adalah penipu, maka mereka melawan segala sesuatu yang Yesus ajarkan tentang kebenaran dan kejujuran. Mereka digambarkan di dalam Injil sebagai orang-orang yang jujur dan yang menyatakan kebenaran. Jika para rasul atau para anggota jemaat yang muncul kemudian mereka-reka kisah kebangkitan Kristus, cerita ini tidak akan pernah memasukkan penampakan-Nya kepada kaum perempuan. Israel pada abad pertama tidak menganggap perempuan sebagai saksi yang dapat dipercaya. Dan para rasul tidak akan menampilkan diri dalam sorotan yang kurang baik seperti ini. Detail-detail yang aneh ini tampaknya tidak konsisten dengan rekaan, tetapi konsisten dengan fakta-fakta. Ahli apolagetika Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli mencatat, “Jika mereka [para rasul] mengarang cerita, mereka adalah pengkhayal yang paling kreatif, pintar, dan cerdas dalam sejarah, jauh melebihi Shakespeare, Dante, atau Tolkien. Kisah-kisah fiktif tidak akan sedemikian rinci, sedemikian meyakinkan, sedemikian mengubahkan hidup, dan sedemikian abadi seperti kisah yang diceritakan oleh para rasul.”12 Hipotesis ini secara keseluruhan tampaknya sangat tidak masuk akal, tidak cocok dengan fakta-fakta, dan tidak memiliki kekuatan penjelas dan ruang lingkup yang benar. Hipotesis ini tidak dapat menjelaskan perubahan dramatis dalam diri para rasul. Juga tidak menjelaskan penampakan kebangkitan kepada orang lain selain para rasul. Hipotesis 3: Perempuan-perempuan itu pergi ke kubur yang salah.

Bisa jadi setelah penyaliban Yesus, dalam kesedihan dan kekalutan, perempuan-perempuan yang mengasihi-Nya mungkin telah pergi ke kubur yang salah. Namun, di sisi lain, menurut catatan Injil, perempuanperempuan itu tahu lokasi kubur itu. Bahkan jika mereka pergi ke tempat yang salah, Yusuf dari Arimatea pasti tahu letak kubur miliknya. Dan, tampaknya masuk akal bahwa para rasul akan bersikeras mengoreksi keraguan atau kebingungan tentang lokasi tersebut. Para pejabat Yahudi dan Romawi termotivasi untuk mendiskreditkan kekristenan. Jika tubuh Yesus benar-benar terbaring di kubur yang lain, mereka memiliki cara dan sarana untuk mencari dan menggali kubur itu. Tanpa kebangkitan, kekristenan akan lenyap sebelum benar-benar dimulai. Namun, tubuh itu memang tidak pernah diperlihatkan.

182

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

Hipotesis tentang kubur yang salah ini tidak memberikan penjelasan bagi penampakan kebangkitan, transformasi para rasul, atau pembentukan gereja Kristen di lingkungan agama dan politik yang memusuhinya. Hipotesis ini terlalu ceroboh dan tidak cocok dengan fakta-fakta, terlalu sederhana, dan tidak memiliki kekuatan penjelas dan ruang lingkup. Hipotesis 4: Mungkin Yesus tidak benar-benar mati. Mungkin Dia hanya tampak mati, tetapi kemudian dihidupkan kembali di dalam kubur dan menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sebagai “Tuhan yang bangkit.”

Para algojo Romawi sangat terlatih dalam tugas mereka. Mereka melakukannya di bawah ancaman hukuman mati jika membiarkan seorang tahanan melarikan diri. Menurut kisah-kisah Injil, para prajurit Romawi menegaskan bahwa Yesus benar-benar telah mati di kayu salib karena mereka menikamkan tombak ke lambung-Nya. Darah dan air mengalir dari hati yang tertembus (Yoh. 19:34-35). Karena konfirmasi tentang kematian ini, mereka tidak merasa perlu mematahkan kaki-Nya untuk mempercepat kematian-Nya melalui mati lemas (Yoh. 19:36-37). Mungkinkah Yesus selamat setelah menderita penyiksaan berat, penyaliban, dan telanjang di sebuah kubur yang dingin tanpa perawatan medis? Mungkinkah para penjaga—atau batu yang besar—dikalahkan oleh orang yang sedang sekarat? Mungkinkah Yesus kemudian meyakinkan murid-murid-Nya bahwa Dia telah bangkit dari kematian dengan mulia dan penuh kemenangan ketika kondisi medis-Nya tergolong “kritis?” Dan jika cerita yang tidak masuk akal ini benar, ke mana Yesus? Teori yang disebut jatuh pingsan ini menimbulkan banyak pertanyaan tanpa jawaban. Teori ini menuding Yesus dari Nazaret sebagai penipu, yang sengaja berdusta. Namun, tak ada sesuatu pun dari diri Yesus yang historis ini yang mengarah pada keyakinan bahwa Dia adalah penipu. Hipotesis ini tidak sesuai fakta, sangat tidak masuk akal, dan tidak memiliki kekuatan penjelas yang nyata. Hipotesis 5: Para pengikut Yesus bisa saja berhalusinasi, bukan benar-benar melihat Dia setelah kematian-Nya.

Halusinasi dipahami sebagai pengalaman jiwa yang bersifat pribadi, subjektif, dan individual (atau proyeksi) yang tidak sesuai dengan realitas yang objektif. Halusinasi biasanya juga merupakan pengalaman yang

APAKAH YESUS KRISTUS BENAR-BENAR BANGKIT DARI KEMATIAN?

183

singkat (selama beberapa detik atau menit), yang sering disebabkan oleh obat-obatan atau secara ekstrem karena tidak makan, minum, atau tidur.13 Halusinasi biasanya terjadi pada orang-orang yang sangat gugup dan/ atau berperasaan sangat halus. Penampakan kebangkitan dialami oleh berbagai orang, dalam berbagai waktu, di berbagai tempat, dalam berbagai keadaan, selama empat puluh hari. Hipotesis halusinasi tidak bisa menjelaskan konsistensi data dari keragaman sumber seperti itu. Maria yang berduka di taman mungkin sejenak rentan terhadap halusinasi, tetapi bagaimana dengan orang-orang yang ragu-ragu terhadap motif Yesus, seperti saudara-Nya Yakobus, atau Saulus dari Tarsus yang terangterangan memusuhi-Nya? Rasanya mustahil lebih dari 500 orang yang dilaporkan menyaksikan kebangkitan Kristus (1Kor. 15:6) semuanya memiliki halusinasi yang sama. Para murid menggambarkan pertemuan-pertemuan akrab dengan Yesus yang bangkit, di mana mereka berulang kali melihat, mendengar, menyentuh, berbincang-bincang, dan bahkan makan dengan-Nya. Berbagai pertemuan pribadi ini cocok dan sesuai dengan hubungan mereka dengan Kristus sebelum kebangkitan-Nya. Pengalaman semacam ini berbeda dengan keadaan halusinasi. Para rasul, karena mereka orang Yahudi ortodoks, tidak siap untuk percaya kepada Mesias yang telah bangkit. Konsep mereka tentang kebangkitan terbatas pada kebangkitan umum umat manusia dalam penghakiman ilahi pada masa yang akan datang. Karena halusinasi hanya merupakan proyeksi dari apa yang sudah ada di dalam pikiran, dan karena para rasul tidak memiliki harapan akan kebangkitan, mereka tidak akan berhalusinasi tentang kebangkitan. Hipotesis ini gagal menjelaskan kubur yang kosong, dan seperti kebanyakan hipotesis lainnya, gagal memperhitungkan fakta-fakta lain juga. Karena itu hipotesis ini tidak memiliki kekuatan penjelas yang nyata. Hipotesis 6: Yesus bisa saja memiliki saudara kembar identik yang terpisah sejak lahir tapi kemudian kembali untuk berperan sebagai Kristus yang bangkit.

Bayangkan keadaan luar biasa yang dibutuhkan oleh hipotesis ini.14 Seseorang yang seperti Yesus, entah bagaimana menemukan orang yang benar-benar mirip dengan Yesus dari Nazaret. Tentunya ia harus

184

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

mempelajari pelayanan Yesus dalam masyarakat, kemudian bersembunyi sambil menunggu kematian Yesus, dan kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Kristus yang telah bangkit. Namun, pertamatama ia harus melewati para penjaga dan memindahkan batu besar yang memeterai kubur itu untuk mencuri tubuh Yesus. Apakah ada orang-orang yang bersekongkol membantunya? Apakah tanda-tanda penyaliban di tangan, kaki, dan lambung dibuat-Nya sendiri dengan sengaja? Dan bagaimana ia sanggup muncul dan menghilang dalam ruang tertutup? Setelah penampakan selama empat puluh hari, orang ini kemudian harus benar-benar menghilang untuk selama-lamanya. Bagaimana? Mengapa? Dan apa yang memotivasi orang untuk melakukan hal-hal seperti itu? Hipotesis naturalistis “inventif ” yang muncul belakangan ini tidak memiliki dasar dalam kisah-kisah Injil. Bahkan, bertentangan dengan data pribadi yang diungkapkan tentang kelahiran Yesus (seorang anak tunggal yang lahir dari Maria dan Yusuf di Betlehem, Luk. 2:1-20). Seperti beberapa hipotesis lain yang diuji, hipotesis ini tidak lebih dari sebuah hipotesis ad hoc yang muncul dari prasangka antisupranatural. Ketika orang menganggap mukjizat tidak bisa dan tidak terjadi, satusatunya jalan adalah memberikan penjelasan alami, tidak peduli seberapa aneh dan tidak masuk akalnya penjelasan itu. Setelah hampir dua ribu tahun, satu-satunya penjelasan yang benarbenar masuk akal untuk peristiwa seputar kematian Yesus adalah bahwa para rasul mengatakan yang sebenarnya, dan Yesus bangkit secara fisik dari kematian. Kebangkitan ini sesuai dengan pernyataan-pernyataan spesifik Kristus. Yesus tidak saja berkali-kali memprediksi hal kebangkitan-Nya sendiri (Mat. 16:21; Mrk.9:10; Luk. 9:22-27; Yoh. 2:19-22), tetapi kebangkitan itu juga masuk akal mengingat karakter pribadi Yesus yang tak tertandingi, penggenapan nubuat PL tentang Mesias, dan kuasa adikodrati-Nya. Pengikut Yesus mengaku menjadi saksi mata sejarah kebangkitan-Nya (Kis. 2:32; 3:15; 5:32; 10:39), dan perubahan hidup mereka selanjutnya menjadi saksi atas kebenaran klaim tersebut. Cara yang tepat untuk menguji klaim ajaib semacam ini adalah dengan menelisik buktinya dan menelusuri penyebabnya. Menolak kebangkitan secara apriori akan tidak sah secara logika berdasarkan komitmen naturalisme yang sudah terbentuk sebelumnya (yang meng-

APAKAH YESUS KRISTUS BENAR-BENAR BANGKIT DARI KEMATIAN?

185

undang pertanyaan). Meskipun terdengar menakjubkan, kebangkitan tampaknya benar dalam berbagai tingkatan. Kekuatan penjelas sejati membuat kebangkitan Kristus, seperti yang dinyatakan oleh para rasul, lebih unggul dari semua alternatif naturalistis. Ahli apologetika Kristen William Lane Craig menjelaskan, “Salah satu kelemahan terbesar dari penjelasan-penjelasan alternatif tentang kebangkitan adalah ketidaklengkapannya: penjelasan-penjelasan itu gagal menjelaskan semua data secara lengkap. Sebaliknya, kebangkitan memberikan sebuah penjelasan yang sederhana namun menyeluruh dari semua fakta yang ada tanpa memutarbalikkannya. Oleh karena itu, kebangkitan-Nya adalah penjelasan yang lebih baik”15 Pertanyaan tentang kebangkitan memiliki signifikansi praktis yang sangat besar. Perenungan seseorang tentang kematian yang tak terelakkan dan mungkin segera terjadi, akan langsung menyebabkan kecemasan eksistensial, rasa takut, dan putus asa. Hanya janji Tuhan yang telah bangkit, yang kebangkitan-Nya adalah fakta sejarah, yang dapat menyelamatkan orang dari keadaan yang mengerikan ini. “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” (Yoh. 11:25-26)

Penyelamatan dari kematian ini terjadi tidak hanya melalui kebenaran dan kuasa kebangkitan, tetapi juga karena keefektifan penebusan Kristus —topik dari bab berikutnya.

Pertanyaan Diskusi 1. Mengapa kebangkitan penting untuk membenarkan pernyataanpernyataan Kristus? 2. Mengapa kebangkitan sangat penting bagi setiap orang percaya? 3. Dapatkah Anda membuat daftar dan menjelaskan rangkaian bukti yang mendukung kebangkitan Kristus? 4. Apakah masalah mendasar dari penjelasan-penjelasan alternatif tentang kebangkitan Yesus? 5. Bagaimana kebangkitan memenuhi kebutuhan eksistensial manusia yang terbesar?

186

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

Untuk Studi Lebih Lanjut Craig, William Lane. Knowing the Truth about the Resurrection (Ann Arbor, MI: Servant, 1988). Habermas, Gary R. The Resurrection of Jesus (Grand Rapids: Baker, 1980). Habermas, Gary R., dan Antony G. N. Flew. Did Jesus Rise from The Dead? The Resurrection Debate, editor Terry L. Miethe (San Francisco: Harper & Row, 1987). Ladd, George E. I Believe in the Resurrection of Jesus (Grand Rapids: Eerdmans, 1975). Tenney, Merrill C. The Reality of the Resurrection (New York: Harper & Row, 1963).

MENGAPA YESUS KRISTUS HARUS MATI?

Penebusan dosa (Rekonsiliasi antara Tuhan dan umat manusia) berakar di dalam kasih dan keadilan Allah: kasih menawarkan jalan keluar bagi orangorang berdosa, dan keadilan menuntut dipenuhinya persyaratan hukum. ––Louis Berkhof, Summary of Christian Doctrine Penebusan dosa berada di pusat iman Kristen. Kristus telah mati menggantikan kita, menjadi objek murka Allah dan kutukan hukum, dan menebus keselamatan bagi semua orang percaya. ––John Jefferson Davis, Handbook of Basic Bible Texts

K

ekristenan adalah agama, bukan buku panduan tetapi bentuk penyelamatan Ilahi. Pesan utama dari PB adalah Allah Putra datang ke Bumi di dalam pribadi Yesus Kristus untuk menyelamatkan manusia yang berdosa dari murka Allah Bapa yang adil. Dengan demikian, Injil mengungkapkan bahwa manusia diselamatkan oleh Allah dan dari Allah. Injil juga mengungkapkan bahwa keselamatan khusus disediakan melalui kematian Yesus Kristus di atas kayu salib. Jadi, salib Kristus adalah crux dari agama Kristen (crux dalam bahasa Inggris berarti “titik penting,” tetapi dalam bahasa Latin berarti “salib”). Untuk memahami “penebusan dosa,” orang harus terlebih dahulu memahami kondisi manusia yang berdosa dan murka Allah yang setimpal terhadap dosa karena tanpa dosa tidak ada murka Allah, dan tanpa murka Allah tidak ada yang perlu diselamatkan. Konteks yang penting 187

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

188

ini membuat makna kematian Yesus di kayu salib jauh lebih mudah dipahami.

Dosa Ditelanjangi Menurut Alkitab, kebutuhan seseorang untuk mendapatkan keselamatan berasal dari kenyataan bahwa ia adalah orang berdosa. Namun, hal ini segera memunculkan beberapa pertanyaan penting tentang dosa, seperti apa dosa itu dan dari mana asalnya. Alkitab menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis tentang sifat, asal, jenis, efek, dan luasnya dosa.1 Apakah dosa itu?

Intinya, dosa adalah pernyataan tentang otonomi spiritual (kemerdekaan yang dinyatakan, bahkan dari Allah)—pelanggaran yang dilakukan terutama terhadap Allah (Mzm. 51:4-6), meskipun juga dilakukan terhadap manusia. Alkitab menggunakan sejumlah istilah Ibrani dan Yunani untuk menggambarkan berbagai aspek dan nuansa dosa.2 Namun, istilah yang paling terkenal—bahasa Ibrani hata,’ dan bahasa Yunani hamartia. Umumnya semua itu menggambarkan dosa sebagai kehilangan tanda yang ditetapkan oleh Allah, tersesat dari Allah, dan secara aktif memberontak melawan Allah. Penyimpangan dari Allah yang disengaja dilakukan oleh manusia ini sering mengambil bentuk tertentu, melanggar perintah Allah (Rm. 2:12-14; 4:15; 5:13; Yak. 2:9-10; 1Yoh. 3:4). Karena hukum moral yang diungkapkan di dalam Kitab Suci merupakan perpanjangan dari karakter Allah yang kudus dan benar, maka pelanggaran hukum-Nya merupakan sebuah penghinaan terhadap Allah sendiri. Sehubungan dengan hal ini, dosa mungkin sepatutnya didefinisikan sebagai sesuatu (termasuk tindakan, sikap, dan sifat) yang bertentangan dengan karakter moral dan perintah Allah.3 Cara-cara lain yang mengacu pada dosa mencakup ketidakbenaran, kefasikan, dan pelanggaran hukum. 

“Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusanMu, bersih dalam penghukuman-Mu” (Mzm. 51:4-6).

MENGAPA YESUS KRISTUS HARUS MATI?





189

“Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya” (Rm. 8:7). “Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah” (1Yoh. 3:4).

Dari mana datangnya dosa?

Dosa berasal dari kehendak makhluk ciptaan Allah (lih. bab 19 tentang masalah kejahatan). Iblis—setelah sebelumnya memimpin pemberontakan para malaikat melawan Allah (Yes. 14:12-20)—muncul sebagai ular di Taman Eden dan menggoda Adam dan Hawa untuk makan dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat (Kej. 3:1-5). Mereka memberontak melawan Allah dengan meragukan firman-Nya dan melanggar perintah-Nya yang melarang mereka makan dari pohon tertentu (Kej. 2:17). Oleh karena itu, manusia pertama menyalahgunakan kebebasan mereka dengan tidak menaati Pencipta mereka. Adam dan Hawa berdosa dengan melakukan apa yang mereka inginkan (otonomi), bukan apa yang Allah inginkan. 



“Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: ‘Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati’” (Kej. 2:16-17). “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya” (Kej. 3:6).

Dua jenis dosa apa yang disebutkan di dalam Alkitab?

Dosa asal: Sementara beberapa perbedaan penting tentang doktrin dosa asal terdapat di antara berbagai tradisi teologi di kalangan umat Kristen,4 pembahasan berikut memberikan perspektif alkitabiah yang telah diterima secara luas.

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

190

Adam, dalam hubungannya dengan Allah, bukan hanya sebagai individu tersendiri. Ia tidak saja manusia pertama, tetapi juga mewakili manusia.5 Ia mencakup seluruh umat manusia dalam kovenan antara dirinya dan Allah, yang sering disebut sebagai perjanjian kerja.6 Allah memilih, sebagai bagian dari perjanjian ini, untuk menganggap perbuatan Adam (baik dalam ketaatan atau ketidaktaatan) sebagai wakil dari semua perbuatan manusia. Dengan kata lain, ketika Adam ditempatkan di taman, ia bertindak atas nama seluruh umat manusia. Maka dari itu, ketika Adam tidak menaati Allah, maka bukan hanya Adam yang tak lagi mendapatkan perkenan Allah, melainkan juga semua keturunannya. Dosa dan rasa bersalah menjalar dari kejatuhan Adam ke semua keturunan Adam (Rm. 5:12; 18-19). Jadi, melalui Adam, semua orang menjadi berdosa dan bertanggung jawab secara moral kepada Allah. Dengan demikian, dosa asal, sebagaimana didefinisikan oleh teolog John Jefferson Davis, mengacu pada “dosa, rasa bersalah, dan kerentanan terhadap kematian yang diwarisi oleh semua manusia (kecuali Kristus) dari Adam”7 (Mzm. 51:7; 58:4; 1Kor. 15:22; Ef. 2:3). Doktrin dosa asal juga menyiratkan bahwa semua keturunan Adam dikandung dalam dosa dan mewarisi sifat dosa—suatu kekuatan yang sangat melemahkan meresap ke dalam inti keberadaan orang (Mzm. 51:7, 58:4; Ams. 20:9). Akibatnya, manusia tidak menjadi pendosa hanya karena kebetulan berdosa, tetapi ia berdosa karena naturnya adalah pendosa. Sifat yang mendasari dosa menghasilkan dosa-dosa tertentu. Oleh sebab itu, masalah dosa harus dianggap sebagai kondisi ketimbang hanya sebagai serangkaian perbuatan yang spesifik. 





“Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku” (Mzm. 51:7). “Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat” (Mzm. 58:4). “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang , dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Rm. 5:12).

MENGAPA YESUS KRISTUS HARUS MATI?

191

Dosa pribadi: Berbagai macam perbuatan dosa dan kegagalan untuk berbuat benar—hal-hal inilah yang merupakan dosa pribadi. Dosa-dosa tersebut berbeda tetapi tetap menurun dari natur dosa warisan, yang berasal dari dosa asal Adam (1Raj. 8:46; Ams. 20:9; Rm. 3:23; 1Yoh. 1:8). Semua orang melakukan dosa-dosa seperti itu dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan (secara sengaja ataupun tidak sengaja). 



“Siapakah dapat berkata: ‘Aku telah membersihkan hatiku, aku tahir dari pada dosaku?’” (Ams. 20:9). “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita” (1Yoh. 1:8).

Apa dampak dosa pada manusia?

Pertama-tama dan yang terpenting, menurut Alkitab, dosa secara negatif memengaruhi hubungan seseorang dengan Allah. Dosa menghasilkan ketidakselarasan dan pemisahan. Namun, dosa juga memengaruhi hubungan dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan sampai pada batas tertentu bahkan dengan alam. Seperti disebutkan sebelumnya, dosa bukan hanya kebiasaan buruk. Sebaliknya, sebagaimana dijelaskan oleh teolog John Stott, dosa adalah sebuah “kebusukan yang mendalam di dalam hati.”8 Natur keberdosaan menghasilkan kebutaan rohani, perbudakan kerusakan moral, kekerasan hati, pelanggaran hukum, dan selanjutnya kematian fisik dan rohani (Rm. 1:18-22; 5:10; 6:17; 8:7; 2Kor. 4:4; Ef. 2:1-3; 4:11-19). Dosa memang mengasingkan manusia dari Allah dan mengakibatkan hubungan yang bermusuhan dengan Sang Pencipta. Karena dosa, manusia menjadi objek yang layak dihakimi oleh Allah, yaitu oleh murka-Nya yang kudus. 



“Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa. Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat” (Rm. 7:14-15). “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

192

yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka” (Ef. 4:17-18). Seberapa besarkah jangkauan dosa?

Dosa itu universal dan memengaruhi setiap manusia (Mzm. 143:2; Pkh. 7:20; Yer. 17:9; Gal. 3:22; Yak. 3:2, 4:4). Natur dosa yang diwariskan Adam ini, berada pada inti (batin) manusia (Yer. 17:9; Mat. 15:19), dan memengaruhi seluruh pribadinya—termasuk pikiran, kehendak, kasih sayang, dan tubuh manusia (Ef. 2:3; 4:17-19). Jadi, manusia benarbenar rusak akhlaknya.9 Doktrin kerusakan moral total ini tidak berarti bahwa manusia benar-benar atau sama sekali jahat, tetapi berarti bahwa manusia sepenuhnya berdosa (dosa telah memengaruhi seluruh keberadaan mereka). Keadaan kerusakan moral total ini tidak memungkinkan manusia untuk mendapatkan perkenan Allah (Yer. 17:9; Yoh. 5:42; 6:44; Rm. 7:18; 1Kor. 2:14; Tit. 1:15). Meskipun manusia yang berdosa mampu melakukan beberapa perbuatan baik secara moral (di bawah pengaruh kebaikan Allah), natur dosa membuat mereka tidak mampu hidup dengan cara yang benar-benar berkenan kepada Allah. 





“Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa!” (Pkh. 7:20). “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rm. 3:23). “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat” (Mat. 15:19).

Mengingat kondisi manusia yang berdosa dan karakter Allah yang kudus dan benar (Ul. 32:4; Mzm. 98:9; Yes.6:3), manusia takkan bisa mengelak dari murka Allah yang benar-benar adil (Rm. 1:18; Ef. 2:3). Allah yang adil harus menghukum orang berdosa yang harus bertanggung jawab atas dosanya. Namun, di tengah-tengah keadaan putus asa manusia (penghakiman Ilahi), Allah campur tangan dan menyediakan jalan keluar.

MENGAPA YESUS KRISTUS HARUS MATI?

193

Penyelamatan Ilahi Allah dengan kasih dan belas kasihan-Nya yang tak terbatas memberikan jalan bagi manusia yang berdosa untuk menghindari hukuman kekal—dan hal itu hanya terjadi di dalam diri Yesus Kristus (Yoh. 14:6; Kis. 4:12). Keselamatan dapat dicapai dengan bertobat (berpaling) dari dosa dan percaya (memiliki keyakinan teguh) bahwa Yesus Kristus adalah Mesias yang Ilahi, bahwa Dia mati di kayu salib sebagai kurban penebusan dosa, dan bahwa Dia bangkit secara fisik dari kematian (1Kor. 15:3-4). Keselamatan adalah hadiah langsung dan eksklusif dari kasih karunia Allah (kebaikan yang tidak layak diterima), yang hanya bisa dipahami melalui iman, dan yang sepenuhnya ditanggung oleh Yesus Kristus (Ef. 2:8-9). Sebuah pembahasan singkat tentang doktrin penebusan10 (karya penebusan Kristus di atas kayu salib) adalah sebagai berikut: Mengapa Penebusan Diperlukan

Karakter Allah yang sangat kudus, benar, dan adil menuntut Dia menghukum dosa, orang-orang berdosa, dengan tepat. Dia tidak dapat begitu saja mengampuni dosa melalui sepatah kata karena keadilan-Nya yang tidak terbatas harus benar-benar dipenuhi. Sebaliknya, Allah menyatakan kasih setia-Nya dan memilih untuk menghukum seorang pengganti yang sepenuhnya memenuhi syarat sehingga memungkinkan orang-orang berdosa menerima belas kasihan-Nya. Pengganti yang menanggung murka Ilahi untuk menggantikan orang-orang berdosa adalah Putra Allah sendiri yang berinkarnasi, Yesus Kristus. Penebusan manusia jelas ditanggung oleh Allah. Keputusan-Nya untuk menghukum Anak-Nya sendiri, manusia “Adam” yang taat, dan bukan makhlukmakhluk ciptaan-Nya yang tidak taat, menyatakan kasih Allah yang menakjubkan. Di kayu salib, Yesus Kristus, yang rela menjadi pengganti, menjadi objek murka Allah yang setimpal terhadap dosa. Korban penebusan yang luar biasa ini sepenuhnya memuaskan keadilan Allah. Dengan memberikan kesempatan kepada manusia berdosa untuk menerima pengampunan yang tepat, kasih-Nya terwujud sepenuhnya.

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

194

Gambaran yang Jelas di dalam Alkitab

Seperti banyak doktrin Kristen lainnya, penebusan mengandung misteri Ilahi yang besar. Kebenaran tentang pengurbanan Kristus di kayu salib tak habis-habisnya dipikirkan oleh manusia. Keenam metafora Alkitab berikut ini menggambarkan arti penebusan Kristus:11 1. Hukuman yang digantikan oleh orang lain (penebusan). Yesus Kristus mati sebagai ganti orang-orang berdosa (menderita keterasingan dari Allah untuk menggantikan mereka). Namun, dalam proses ini, Dia menukarkan kebenaran-Nya (yang berasal dari menjalankan hukum dengan sempurna) dengan kejahatan mereka. Sebagai pewaris-pewaris keselamatan, orang-orang Kristen menikmati pengampunan dosa mereka dan anugerah kebenaran Kristus, yang diberikan kepada mereka melalui iman. Pelopor reformasi Jerman Martin Luther menyebut kematian penebusan Kristus sebagai “pertukaran yang agung.” 



“Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2Kor. 5:21). “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah” (1Ptr. 3:18).

2. Pendamaian. Tema dasar penebusan dalam PL berpusat pada gagasan pendamaian—mengalihkan murka Allah yang kudus kepada umat Allah pada saat mereka berbuat dosa. Gagasan ini terutama diungkapkan dengan dua cara: Pertama, dalam penderitaan bangsa Israel yang terang-terangan melanggar hukum Allah, membuat-Nya marah, dan patut untuk mati. Dalam beberapa kasus, khususnya di padang gurun, Allah memang membawa kematian kepada sebagian orang (Bil. 11:1, 10; 25: 3-4), meskipun Dia mengecualikan bangsa Israel secara keseluruhan sebagai tanggapan atas mediasi Musa (Kel. 32:10-14; 30-35). Kejadian-kejadian ini menegaskan poin bahwa pada akhirnya dosa manusia harus dihukum.

MENGAPA YESUS KRISTUS HARUS MATI?

195

Kedua, Allah menyediakan “penebusan” (selubung) bagi dosa-dosa umat-Nya melalui pengorbanan darah hewan yang tahir (Im. 4-6; 16: 1-34; 23:26-32). Pengorbanan-pergorbanan di dalam PL ini tidak benarbenar mengalihkan murka Allah, tetapi merupakan gambaran tentang pengurbanan final dan akhir yang kelak diberikan oleh Sang Mesias, yakni Yesus (Ibr. 9:11-14,28, 10:1-14). Dengan mencurahkan darah-Nya sendiri di kayu salib di Kalvari, Yesus Kristus menanggung murka Allah yang ditujukan kepada orang berdosa. 



“Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (1Yoh. 2:1-2). “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya” (Rm. 3:25).

3. Rekonsiliasi. Dosa menciptakan penghalang antara Allah dan manusia, dan sepenuhnya mengasingkan manusia dari Allah. Perseteruan dan permusuhan, yang memang sudah sepatutnya diperlihatkan Allah, menggambarkan hubungan itu. Alkitab mengacu pada orang-orang berdosa sebagai musuh Allah dan sasaran murka-Nya yang kudus. Namun, kematian Kristus meredakan murka Allah dan merobohkan tembok antara manusia dan Allah. Kasih Allah bagi umat manusia diwujudkan, bahkan ketika mereka masih sangat berdosa. 



“Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darahNya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” (Rm. 5: 9-10). “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah memercayakan berita pendamaian itu kepada kami” (2Kor. 5:19).

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

196

4. Penebusan. Menurut Alkitab, kekuatan dosa menguasai manusia di dalam cengkeramannya. Boleh dikatakan, manusia tersandera oleh dosa dan tidak dapat membebaskan dirinya sendiri. Mirip dengan kasus penculikan, kematian Yesus Kristus di kayu salib membayar harga tebusan untuk membebaskan manusia dari dosa, maut, dan Iblis. Kurban penebusan Kristus membebaskan orang-orang yang ditawan oleh dosa. 



“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk. 10:45). “Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan” (Ibr. 9:15).

5. Pembenaran. Sebagai pelanggar-pelanggar tetap hukum Allah yang sempurna, manusia bersalah di hadapan Sang Pencipta mereka yang kudus dan dihukum untuk terpisah selama-lamanya dari-Nya. Namun, Sang Hakim Ilahi membuat putusan dengan mempertimbangkan pengurbanan Yesus Kristus sebagai tebusan. Pembenaran itu mengacu pada tindakan yudisial (hukum) Allah yang membebaskan orang percaya dari kesalahan, dan membenarkan orang percaya itu di mata-Nya berdasarkan kebenaran sempurna yang diperhitungkan (dan berbeda) yang dimiliki oleh Yesus Kristus (Luk. 18:14; Kis.13:39; Rm. 3:20, 23-24, 28; 5:1-2; Gal. 2:16; 3:24; Tit. 3:5, 7). Pernyataan Ilahi tentang pembenaran ini secara eksklusif berasal dari kasih karunia Allah, melalui sarana iman manusia saja, dan semata-mata karena jasa Kristus. Pembenaran berarti bahwa orang-orang yang percaya kepada Yesus “telah dibayar lunas dari hukuman dosa,” Allah tidak akan menanggungkan dosa-dosa mereka kepada mereka. Orang-orang berdosa, melalui iman kepada Kristus, menerima status kebenaran di hadapan Allah sebagai anugerah. Dia kini memandang anak-anakNya “sama seperti seolah-olah mereka tidak pernah berbuat dosa.” Pembenaran oleh kasih karunia, melalui iman, karena karya penebusan Yesus Kristus di kayu salib, merupakan poin pusat ajaran Kristen yang bersejarah. 12

MENGAPA YESUS KRISTUS HARUS MATI?

197

Meskipun pembenaran melibatkan perubahan status hukum seseorang di hadapan Allah (keberadaannya dibenarkan), pengudusan, secara khusus, adalah proses pembaruan moral batiniah (yang dibuat benar) seumur hidup, yang diprakarsai oleh Roh Kudus. (Proses pengudusan kristiani akan dibahas lebih lanjut di bab 15) 





“Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman” (Gal. 3:24). “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini” (Rm. 5:1-2). “Dan di dalam Dialah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa, yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa” (Kis. 13:39).

6. Adopsi. Karena dosa mencabut hak waris seseorang sebagai anak Allah, maka orang itu, dalam pengertian ini menjadi yatim piatu. Namun, Alkitab menunjukkan bahwa kepercayaan seseorang di dalam Yesus Kristus membuatnya diangkat sebagai anak di dalam keluarga Allah (Yoh. 1:12; Rm. 8:15-16; Gal. 4:6; 1Yoh. 3:1). Orang-orang yang ditebus diberi status penuh sebagai anak-anak Allah dan karena itu menikmati semua hak istimewa yang diberikan kepada anak-anak Raja yang mahatinggi. Adopsi memberikan perspektif kekeluargaan mengenai karunia keselamatan Allah yang agung. 

“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang lakilaki, melainkan dari Allah” (Yoh. 1:12-13).

Yesus Kristus, Solusi untuk Masalah Terbesar Manusia Kematian Yesus Kristus melalui penyaliban di tangan Pontius Pilatus adalah fakta sejarah yang benar-benar terbukti (lih. bab 7). Bagaimanapun, Orang yang mati di kayu salib Kalvari bukan orang biasa, dan kematian-Nya pun bukan karena hukuman mati biasa. Mesias yang Ilahi mati di atas salib Romawi dan kematian-Nya merupakan pengurbanan

198

MEMIKIRKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN TENTANG IMAN KEPADA YESUS KRISTUS

bagi dosa manusia, sekali untuk selama-lamanya. Solusi untuk masalah terbesar manusia—dosa yang memisahkan manusia dari Allah—ditemukan di dalam kehidupan yang sempurna, kematian sebagai kurban, dan kebangkitan yang mulia dari Allah-manusia, Yesus Kristus. Umat Kristen dapat merasa terhibur, karena betapa pun besarnya dosa mereka, karunia keselamatan Allah dalam kematian Kristus yang menebus dosa benar-benar memadai dan kekal. Kasih Allah yang sempurna dan keadilan-Nya bersatu padu untuk menjumpai semua orang di dalam penebusan. Sebagaimana yang dikatakan oleh rasul Yohanes: Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. (1Yoh. 4:10)

Bagaimanapun, klaim-kebenaran Kristen bukan tanpa saingan. Tidak bisakah semua agama mengarah pada Allah yang sama? Sebuah diskusi tentang pluralisme agama, yang merupakan topik bab berikutnya, dimulai pada bagian 3—Penolakan-penolakan terhadap iman Kristen.

Pertanyaan Diskusi 1. Apakah sebenarnya dosa itu? Bagaimana dosa berbeda dengan dosa-dosa? 2. Apakah dosa asal itu dan bagaimana hal tersebut memengaruhi manusia? 3. Kematian Kristus sebenarnya menyelamatkan orang-orang percaya dari apa? 4. Bagaimana kematian Kristus menyelesaikan murka Allah terhadap dosa? 5. Bagaimana identitas Yesus memengaruhi keefektifan karya penebusan-Nya? Untuk Studi Lebih Lanjut Hoekema, Anthony. Saved By Grace (Grand Rapids: Eerdmans, 1989). Milne, Bruce. Know The Truth (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1982). Morris, Leon. The Atonement: Its Meaning and Significance (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1983). –––––––. The Apostolic Preaching of the Cross (Grand Rapids: Eerdmans, 1955. Dicetak kembali, 1992).

MENGAPA YESUS KRISTUS HARUS MATI?

199

Murray, John. Redemption: Accomplished and Applied (Grand Rapids: Eerdmans, 1955. Dicetak kembali, 1955). Piper, John. Counted Righteous in Christ (Wheaton, IL: Crossway, 2002).

BAGIAN TIGA MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

BUKANKAH SEMUA AGAMA MENUNTUN KEPADA ALLAH?

Dalam lingkup masalah-masalah yang bergantung pada pikiran dan keputusan individu, pluralisme hanya diinginkan dan ditoleransi di area-area yang berhubungan dengan masalah selera bukan masalah kebenaran. ––Mortimer J. Adler, Truth in Religion Pluralisme adalah salah satu dari tiga atau empat ancaman paling serius terhadap integritas iman Kristen pada akhir abad XX. ––Ronald H. Nash, Is Jesus the Only Savior?

S

etelah peristiwa bencana 11 September 2001, Presiden George W. Bush menyerukan penyelenggaraan hari doa nasional. Ia mendesak orang-orang dari semua agama untuk berdoa bagi Amerika. Ibadahibadah antaragama melibatkan para pemimpin umat dari agama Yahudi, Kristen, Islam, Buddha, dan Hindu. Doa-doa secara kolektif menyebut Allah sebagai “Allah Abraham, Allah Muhammad, dan Bapa Yesus Kristus.” Sebuah ibadah yang diselenggarakan di New York City dipimpin oleh tokoh televisi populer Oprah Winfrey, yang dengan berani menyatakan bahwa semua orang berdoa kepada Allah yang sama. Apakah Oprah benar? Apakah kita semua berdoa kepada Allah yang sama? Apakah ini berarti bahwa semua agama sama-sama merupakan jalan spiritual yang benar?

201

202

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Pluralisme agama adalah pandangan bahwa semua jalan agama— tentu agama-agama besar atau beradab—bermuara kepada Allah atau realitas dan keselamatan tertinggi. Mengingat lingkungan budaya saat ini, yang ditandai dengan globalisasi, multikulturalisme, relativisme, dan perspektif pascamodern tentang kebenaran, pluralisme agama merupakan tantangan yang serius dan makin berkembang terhadap iman Kristen. Dengan mengidentifikasi dua tipe tertentu dari pluralisme agama dan meninjau masing-masing dari sudut pandang logis dan teologis, berkembanglah respons yang masuk akal bagi masalah dahsyat ini.

Pluralisme Sosial versus Pluralisme Metafisika Keberagaman etnis, ras, budaya, dan agama yang signifikan dapat ditemukan di kebanyakan kota besar di Amerika dan banyak kota besar lainnya di seluruh dunia. Tetangga-tetangga dekat rumah mungkin berasal dari Asia Tenggara, Australia, India, Afrika, Eropa, atau Timur Tengah. Negara-negara demokratis khususnya, menilai prinsip toleransi itu penting, terutama toleransi dalam ekspresi keagamaan. Sebagai contoh, di Amerika Serikat. Perjanjian Hak Asasi Manusia menjamin hak warga negara untuk bebas menjalankan agama. Sayangnya, sebagian orang yang menganggap gagasan toleransi yang sama dalam ekspresi keagamaan mengartikan bahwa semua agama samasama benar sehingga jalan yang harus ditempuh untuk sampai kepada Allah juga sama. Sebenarnya, demokrasi telah diterapkan bagi kebenaran hakiki.1 Pendekatan agama yang tampaknya “secara politis benar” ini, meskipun populer, merupakan pemikiran yang sangat berbelit-belit. Penerimaan pluralisme sosial (toleransi terhadap berbagai ekspresi keagamaan) secara tidak logis menyiratkan kebenaran pluralisme metafisika (bahwa semua pernyataan kebenaran itu sama-sama berlaku dan sekaligus benar). Respons terhadap Pluralisme Metafisika

Pendapat yang sedang populer bahwa semua agama itu benar mengabaikan tiga hal penting. Dalam rangka memikirkan dan menanggapi pandangan tentang pluralisme agama, ketiganya harus dikenali dan dipahami.

BUKANKAH SEMUA AGAMA MENUNTUN KEPADA ALLAH?

203

1. Agama-agama di dunia pada dasarnya berbeda. Banyak agama mungkin saja sama-sama memiliki beberapa keyakinan yang umum, dan khususnya nilai-nilai moral, tetapi perbedaan-perbedaan yang mendasar dan tidak terjembatani ini memisahkan dengan jelas agama-agama itu dalam banyak isu-isu pokok. Perbedaan-perbedaan ini mencakup natur Allah, sumber dan fokus wahyu, keadaan manusia, natur keselamatan, dan garis kehidupan umat manusia.2 Ada sangat banyak pandangan mengenai natur Allah (atau realitas yang tertinggi) saja. Beberapa agama menegaskan monoteisme (satu Allah), sebagian lainnya menganut politeisme (banyak allah), dan lainnya lagi menganut panteisme (semua adalah Allah), dan bahkan setidaknya satu agama menegaskan ateisme (tidak ada Allah).3 Dalam Yudaisme4 dan Islam, Allah adalah pribadi (dan tunggal); dalam agama Kristen, Allah lebih dari sekadar pribadi dan tunggal (superpersonal dan Tritunggal; lih. bab 5); dalam agama Hindu dan Buddha, Allah bukan pribadi dan bukan tunggal (apersonal dan menyebar).5 Beberapa tradisi keagamaan dunia memandang Allah sepenuhnya transenden (di luar dunia), sebagian lainnya memandang Allah sepenuhnya imanen (di dalam dunia), dan yang lainnya lagi memandang Allah transenden sekaligus imanen. Beberapa agama memandang Allah itu tidak terbatas dalam natur dan berbeda dengan dunia, sedangkan dalam agama-agama lainnya menganggap Allah itu terbatas dan identik dengan dunia. Jelas, tidak ada kesepakatan universal di antara agama-agama dunia tentang siapa atau bagaimana Allah itu sebenarnya. Seorang cendekiawan misionaris Harold A. Netland berkata, “Penelitian saksama tentang prinsip-prinsip dasar dari berbagai tradisi keagamaan menunjukkan, alih-alih mengajarkan hal yang sama, agama-agama besar secara radikal memiliki perspektif yang berbeda dalam prinsip dasar agama.” 6 Keyakinan tentang masalah pokok manusia (dosa, ketidaktahuan, kurangnya pencerahan) dan perlunya respons manusia (iman, ketaatan, perenungan), belum lagi bagaimana dilema itu harus diselesaikan sehubungan dengan perjumpaan dengan sesuatu yang bersifat Ilahi (keselamatan, pembebasan, pencerahan) menunjukkan perbedaan yang mencolok di antara agama-agama. Perbedaan yang paling dramatis ada di antara agama yang dominan di Barat (kekristenan) dan agama yang dominan di Timur (Hinduisme).7

204

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Kekristenan menegaskan bahwa masalah utama manusia adalah keterpisahan dari Allah karena ketidaktaatan Adam dan Hawa (nenek moyang manusia), dengan kesalahan dan kerusakan moral yang mereka wariskan ke seluruh umat manusia (dosa asal). Pengampunan dosa dan pendamaian dengan Allah hanya datang melalui pengurbanan penebusan yang penuh kasih dari Allah, yang secara pribadi dilakukan oleh Allahmanusia Yesus Kristus. Namun, anugerah pengampunan itu harus diterima melalui pertobatan dan iman. Dengan demikian, keselamatan bagi orang percaya mencapai puncaknya dalam hubungan yang abadi dan pribadi dengan Allah, yang berlanjut sampai ke alam baka. Di sisi lain, Hinduisme menyatakan bahwa masalah utama manusia tidak terlalu banyak terkait dengan dosa, tetapi dengan ketidaktahuan dan kurangnya pencerahan. Manusia harus menjalani siklus-siklus kelahiran kembali untuk menghilangkan karma (efek perilaku yang tidak baik dalam kehidupan sebelumnya). Rangkaian kehidupan ini akhirnya mengarah pada moksa, penyerapan kesadaran seseorang sebagai individu ke dalam “Allah,” atau realitas tertinggi (Brahmana yang adil). Dari sudut pandang ini, semua adalah Allah dan Allah adalah semua. Perbandingan dari kedua agama ini menggambarkan perbedaan pandangan yang mencolok antara teisme dan panteisme. Dan satu hal yang sangat jelas: visi-visi yang berbeda dari realitas kebenaran yang tertinggi ini tidak bisa sama-sama benar karena secara logis tidak terekonsiliasikan. 2. Upaya untuk menyamakan semua agama itu sia-sia belaka. Agama-agama di dunia sangat beragam dalam hal keyakinan dan orientasi pandangan sehingga agama-agama itu menentang upaya penyamaan agar memiliki pandangan dan esensi tunggal. Memang, mengingat keragaman yang luas dan kompleks tentang cara pandang keagamaan, reduksionisme agama akan tampak sebagai spekulasi yang meragukan, atau malah mustahil dilakukan. Teolog Oxford, Alister E. McGrath mencatat, “Ada konsensus yang berkembang dan secara serius menyesatkan, yang menganggap berbagai tradisi agama dunia sebagai variasi dari satu tema tunggal.”8 Netland menarik kesimpulan yang sama tentang adanya upayaupaya untuk menunjukkan bahwa semua agama menyodorkan tujuan yang sama untuk menyelamatkan umat manusia, “Sungguh sangat menyesatkan, seolah-olah semua agama menyodorkan tujuan soteriologis

BUKANKAH SEMUA AGAMA MENUNTUN KEPADA ALLAH?

205

(keselamatan) umum dan hanya berbeda pada cara untuk mencapai hal itu.”9 Upaya untuk menyamakan semua agama ke dalam denominator mereka yang paling rendah, biasanya hanya berhasil menyesatkan agamaagama itu sendiri. Homogenisasi agama adalah harga mahal yang harus dibayar untuk menghilangkan keragaman agama, karena akhirnya agamaagama itu harus mengorbankan ciri yang justru membuat mereka unik dan menarik. Selain itu, berbagai agama itu tidak mudah menyesuaikan diri dengan setiap kategori reduksionistik tertentu. Beberapa agama memang mengidentifikasi nilai-nilai etika yang sama sebagai sebuah motif umum. Namun, pemeriksaan yang lebih teliti mengungkapkan bahwa bahkan prinsip-prinsip moral yang sama termotivasi dan didasarkan pada pandangan-pandangan yang secara fundamental berbeda dalam hal natur realitas. Agama tidak dapat begitu saja direduksi menjadi etika karena agama berakar di dalam pernyataan tentang natur realitas tertinggi (metafisika), yang kepadanya sistem-sistem etika membutuhkan pembenaran. Seorang ahli yang terkenal dalam hal agama-agama dunia, Profesor Huston Smith dari University of California-Berkeley, menyimpulkan bahwa semua agama pada dasarnya tidak sama, “Karena ia [gagasan kesamaan] bergerak melampaui generalisasi-generalisasi yang kabur— ‘setiap agama memiliki versinya sendiri-sendiri tentang hukum Kasih’— gagasan itu gagal menghadapi fakta bahwa agama-agama berbeda dalam esensinya dan tidak bisa ditawar-tawar.”10 Nilai-nilai etika serupa yang diberikan oleh agama-agama seperti Kristen, Buddha, Hindu, dan Konghucu tidak dapat dipisahkan dari kekhasan doktrin yang mendefinisikan agama-agama ini. Kekhasan ini terutama berlaku untuk agama Kristen historis, yang bukan merupakan sebuah sistem etika. Etika Kristen mengalir dari hubungan penebusan dengan Allah melalui pribadi Yesus Kristus. Oleh karena itu, ajaranajaran etika dari Yesus di PB tidak dapat dipisahkan dari doktrin Kristen yang unik, yang langsung muncul dari peristiwa-peristwa penebusan agung dalam kehidupan Yesus (inkarnasi, penebusan, dan kebangkitan). Dengan kata lain, kebenaran etika Kristen terkait erat dengan kebenaran teologi Kristen.

206

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

3. Keyakinan keagamaan yang berbeda-beda tetap tidak dapat disamakan secara logis. Hukum logika yang formal menunjukkan bahwa tidak mungkin semua pernyataan kebenaran agama itu benar pada waktu yang sama dan dengan cara yang sama. Sebagai contoh, Yesus Kristus tidak mungkin menjadi Allah yang berinkarnasi (Kristen) sekaligus bukan Allah yang berinkarnasi (Yudaisme, Islam) pada waktu yang sama dan dalam hal yang sama (hukum nonkontradiksi: A tidak mungkin sama dengan A dan non-A). Pernyataan-pernyataan keagamaan yang bertentangan memiliki nilai kebenaran yang berlawanan, yang berarti bahwa mereka saling meniadakan atau menolak satu sama lain. Dengan demikian, itu berarti yang satu pasti benar dan yang satunya pasti salah. Oleh sebab itu, Yesus Kristus haruslah Allah yang berinkarnasi atau sebaliknya bukan Allah yang berinkarnasi, tidak mungkin ada posisi tengah (hukum penyisihan jalan tengah: A atau non-A). Karena orang-orang Yahudi, Kristen, dan Muslim semua memahami identitas Yesus dari Nazaret secara berbeda (guru yang adalah manusia, penghujat; Allah yang berinkarnasi, nabi manusia), maka secara logis pikiran mereka tidak mungkin semuanya benar. Meskipun dalam hubungan yang berlawanan secara logika mungkin bahwa ketiga pandangan itu semuanya salah (mis., jika ternyata Dia sama sekali tidak pernah ada), mereka tetap tidak mungkin semuanya benar. Jadi, pernyataan-pernyataan tentang pluralisme keagamaan yang populer tidak mungkin selaras dengan hukum logika yang dapat membuktikan dirinya sendiri. Pengamatan ini menyebabkan filsuf Kristen Ronald H. Nash menyimpulkan bahwa “setiap orang yang ingin menjadi pluralis harus terlebih dahulu meninggalkan prinsip-prinsip logika yang membuat semua pikiran, tindakan, dan komunikasi yang signifikan menjadi mungkin.”11 Berlawanan langsung dengan pandangan “toleran” yang sering disuarakan oleh para pluralis populer, hukum logika dengan tegas mengatakan bahwa orang harus “tidak toleran” dan kaku bila sudah berkaitan dengan kekacauan pernyataan-pernyataan kebenaran keagamaan yang bertentangan (lih. bab 17 untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut tentang toleransi). Apabila pernyataan dari satu agama secara langsung bertentangan (meniadakan atau menolak) pernyataan agama yang lain, maka kedua pernyataan itu tidak mungkin benar.

BUKANKAH SEMUA AGAMA MENUNTUN KEPADA ALLAH?

207

Sebagian orang berpendapat bahwa logika tidak berlaku untuk agama. Mereka bersikeras bahwa kebenaran yang utama hanya muncul melalui suatu bentuk intuisi yang tidak rasional. Namun, argumen mereka mengkhianati diri mereka sendiri, karena ketika berdebat melawan logika, mereka terlebih dahulu harus memunculkan hukum logika dalam upaya menyanggah. Dan melakukan hal itu bertentangan dengan pandangannya sendiri bahwa logika tidak berlaku untuk agama. Bahkan mereka yang menyatakan “Logika tidak berlaku untuk Allah,” harus menggunakan logika dalam perumusan pernyataan tersebut. Tidak masuk akal bila kita memakai logika untuk merendahkan atau menolak logika. Mungkinkah hukum logika berlaku untuk semua bidang kehidupan lainnya, kecuali agama? Jawabannya tidak. Untuk memisahkan diri dari hukum yang dapat membuktikan dirinya sendiri, bila hal itu berbicara tentang realitas yang tertinggi, maka itu berarti tunduk pada ketidakrasionalan. Netland menjawab bahwa hal ini terlalu mahal sebab pemikiran ini akan “kehilangan kemungkinan penegasan yang bermakna atau pernyataan tentang apa saja—termasuk pernyataan tentang inti keagamaan. Orang yang menolak prinsip nonkontradiksi akan terdiam karena ia telah meninggalkan kondisi yang diperlukan untuk mendapatkan pandangan apa pun yang koheren atau bermakna.”12

Usaha untuk Merasionalisasi Pluralisme Beberapa filsuf dan ahli agama percaya bahwa memang ada cara untuk membuat pluralisme agama dipertahankan secara intelektual. Mereka mengusulkan bahwa mungkin kontradiksi antara agama-agama di dunia hanya kelihatannya saja ada namun tidak benar-benar ada. Semua agama mengalami realitas Ilahi yang sama, tetapi dengan cara yang berbeda. Bagaimanapun, perjumpaan dengan Allah yang misterius dan tak terduga merupakan inti dari sebagian besar agama. Tentunya Allah melampaui pikiran manusia yang terbatas. Pemikir pluralis terkemuka John Hick13 memakai cara Timur yang umum untuk menggambarkan kemungkinan ini, yang disebut analogi gajah. Dalam gambaran ini, beberapa orang buta untuk pertama kalinya bertemu dengan seekor gajah. Masing-masing merasakan bagian yang berbeda dari binatang itu dan kemudian mencoba untuk menentukan kebenaran tentang esensi keberadaan si gajah itu. Seorang laki-laki

208

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

menepuk kaki gajah itu dan membayangkan si gajah sebagai “pilar hidup.” Seorang lainnya menangkap belalai gajah dan ia berpikir bahwa ia telah menemukan seekor ular. Seorang yang menggosokkan tangannya ke gading gajah menggambarkan gajah itu sebagai “mata bajak yang tajam.” Meskipun setiap individu mengungkapkan salah satu aspek penting dari seluruh realitas, tidak ada yang memahami entitas gajah secara lengkap.14 Menurut analogi ini, perbedaan di antara agama-agama di dunia dikaitkan dengan ketidakmampuan manusia untuk memahami realitas Allah yang tidak terbatas. Hick menerapkan perbedaan subjektif/objektif Kant yang terkenal tentang dunia sebagaimana adanya (dunia yang objektif, numenal), dari dunia sebagaimana tampaknya pada kesadaran manusia (dunia yang subjektif, fenomenal) hingga masalah keragaman agama. Ia berpendapat bahwa orang harus membedakan antara realitas tertinggi sebagaimana adanya (numena Ilahi), dari realitas tertinggi sebagaimana dialami oleh manusia yang terbatas (fenomena Ilahi).15 Teori pluralistis Hick menempatkan realitas ilahi tertinggi melampaui allah-allah dari berbagai agama. Realitas Ilahi ini tidak dialami secara langsung, tetapi disaring melalui berbagai lensa sejarah dan budaya umat manusia. Dengan demikian, orang menghadapi realitas Ilahi yang sama (melalui Krishna, Yesus atau tokoh lainnya) dengan cara yang berbeda karena perbedaan persepsi dan bias sejarah, budaya atau filsafat mereka. Dia lebih jauh berpendapat: Jadi personae yang berbeda ini sebagian merupakan proyeksi-proyeksi Realitas Ilahi ke dalam kesadaran manusia, dan sebagian merupakan proyeksi-proyeksi kesadaran manusia itu sendiri, seperti yang telah dibentuk oleh budaya-budaya historis tertentu.16

Menurut Hick, setiap agama itu valid karena setiap iman percaya menyajikan perjumpaan yang sejati dengan realitas yang tertinggi meskipun jelas secara terbatas. Agama-agama dunia menunjukkan “berbagai ‘wajah’ atau ‘topeng’ atau personae Allah, Sang Realitas Tertinggi.”17 Dan, karena Hick berpikir bahwa agama itu terutama berbicara tentang transformasi eksistensial (etika) dan bukan tentang keyakinan doktrin tertentu, maka semua jalan agama dapat diterima karena semua agama besar mampu mengubah seseorang dari “berpusat pada diri sendiri” menjadi “berpusat pada Allah.” Hick memandang pluralisme agama

BUKANKAH SEMUA AGAMA MENUNTUN KEPADA ALLAH?

209

sebagai hipotesis yang jauh lebih menarik daripada “skeptisisme” total terhadap agama atau “dogmatisme” keagamaan tradisional (seperti kekristenan ortodoks yang historis).

Kritik tentang Pendekatan Hick Visi pluralistis Hick menarik bagi banyak orang karena toleransinya yang tampak jelas dan usahanya untuk menyatukan agama. Namun, gagasannya tetap sarat dengan masalah serius. Masalah-masalah ini mulai muncul setelah dilakukan penelitian yang cermat tentang analogi gajah. Meskipun tidak ada yang meragukan tentang realitas yang bias dan pengetahuan yang terbatas di pihak manusia ketika mengalami perjumpaan dengan Allah, pengakuan-pengakuan ini tidak dapat menopang kelemahan sentral analogi gajah dalam kaitannya dengan pluralisme. Analogi gajah menyiratkan skeptisisme radikal sehubungan dengan pengenalan akan Allah, yakni bahwa tidak ada seorang pun, atau dalam hal ini tidak ada agama, yang bisa benar-benar mengenal Allah dengan sempurna.18 Namun, jika Allah benar-benar tidak dapat diketahui, lalu bagaimana orang dapat mengetahui bahwa Allah tidak dapat diketahui?19 Bahkan, dalam hal ini, apakah ada orang yang tahu bahwa Allah itu ada? Bagaimana seorang filsuf, manusia biasa tahu begitu banyak tentang seluk-beluk realitas yang tertinggi yang tidak dapat dipahami? Terutama karena realitas tertinggi ini—dalam pandangan Hick—tidak menampakkan diri-Nya di dalam natur atau proposisi. Ironisnya, meskipun analogi gajah mencoba untuk memvalidasi kebenaran semua agama, tetapi jika analogi itu diterapkan pada kesimpulan logis, cerita itu benar-benar menunjukkan bahwa semua agama gagal untuk mengidentifikasi Allah secara memadai. Jadi bukannya menegaskan kebenaran agama, analogi itu justru menyiratkan bahwa semua agama, setidaknya sebagian besar, didasarkan pada pernyataan yang salah atau menyesatkan.20 Agama memang dapat memberikan nilai-nilai etika yang penting, tetapi seperti disebutkan sebelumnya, nilai-nilai moral ini dimotivasi dan didasarkan pada pandangan-pandangan yang pada dasarnya berbeda tentang natur realitas. Dalam agama, etika tidak dapat dipisahkan dari pernyataan tentang kebenaran metafisika. Apa yang baik harus dipahami

210

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

dengan mempertimbangkan apa yang nyata dan benar. Tindakan/perbuatan tidak dapat dipisahkan dari kebenaran. Analogi gajah sangat lemah bila dilihat dari sudut pandang kekristenan ortodoks yang historis. Menurut kekristenan, Allah secara pribadi telah menyatakan diri-Nya dengan memasuki dunia ruang dan waktu di dalam pribadi historis Yesus Kristus (Yoh. 1:1, 14, 18; Kol. 2:9; Flp. 2:6-8). Yesus yang sama ini membuat pernyataan-pernyataan eksklusif tentang otoritas Ilahi dan memiliki hak-hak istimewa dari Allah (contoh, Yoh. 8:58; 10:30), yang tidak sesuai dengan pandangan para pluralis agama yang menyeragamkan dan mengakomodasi semua agama (lih. bab 9 tentang inkarnasi). Untuk mengakomodasi Allah yang tidak dipahami oleh pluralisme, kekristenan terpaksa meninggalkan dasar pewahyuannya, Alkitab, dan semua doktrinnya yang berbeda, yang meliputi inkarnasi, Trinitas, dan penebusan. Sebagaimana dicatat oleh Alister McGrath, “Identitas Kristen terkait erat dengan keunikan Kristus, yang pada gilirannya didasarkan pada kebangkitan dan Inkarnasi.”21 Jika analogi itu harus mencerminkan kekristenan yang historis, si gajah akan menyembuhkan kebutaan orang-orang yang menyentuhnya itu dan secara pribadi memperkenalkan dirinya, karena kekristenan mengungkapkan bahwa Allah dinyatakan secara pribadi, akrab, unik, dan menentukan di dalam diri Yesus Kristus. Satu-satunya cara agar analogi gajah itu dapat berhasil mengesahkan pluralisme agama adalah jika pernyataan-pernyataan kekristenan yang historis itu salah. Menurut perkataan Yesus dalam PB, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9). “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku” (Yoh. 14:7). Sekali lagi, inti pesan kekristenan yang historis adalah pernyataan yang menakjubkan bahwa Allah datang ke bumi di dalam daging manusia dan secara pribadi telah dikenal di kalangan umat manusia. Kata-kata rasul Paulus secara langsung meringkas inti kebenaran Kristen ini, “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kol. 2:9). Selain itu, sebuah ayat bacaan di PB mengungkapkan bahwa iman di dalam Yesus Kristus dianggap sebagai cara yang unik dan jalan satu-satunya untuk bertemu dengan Allah. “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku’” (Yoh. 14:6). Rasul Petrus berkata tentang Yesus, “Dan keselamatan tidak ada

BUKANKAH SEMUA AGAMA MENUNTUN KEPADA ALLAH?

211

di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis. 4:12). Alasan yang diungkapkan Hick untuk merangkul pluralisme agama dan bukannya kekristenan ortodoks yang bersejarah (iman yang dianutnya ketika ia masih muda) berasal dari penolakannya terhadap Alkitab sebagai wahyu proposisional Allah dan dalam kesimpulannya bahwa doktrin agama Kristen tentang inkarnasi tidak historis dan membingungkan secara logika.22 Ia bersikeras bahwa inkarnasi itu adalah sebuah mitos.23 Hick juga memandang eksklusivisme pandangan kekristenan yang historis itu sempit secara intelektual dan tidak dapat diterima secara moral. Namun, penolakan Hick yang berani terhadap klaim kebenaran kekristenan yang historis menciptakan masalah logika bagi pandangan pluralistiknya yang luas. Filsuf Kristen C. Stephen Evans menunjukkan bahwa “Bagian penting dari iman Kristen adalah bahwa Yesus itu Allah secara unik dan eksklusif. Akibatnya, semua agama tidak bisa sama-sama benar. Jika semua agama sama-sama benar, maka agama Kristen itu salah, jadi tidak semua agama benar.”24 Akhirnya, pandangan yang benar harus menjadi salah satu dari dua hal ini: (1) Kekristenan dan semua agama eksklusif lainnya salah, dan semua agama lainnya yang inklusif itu benar; atau (2) semua agama secara metafisika salah. Dengan kata lain, pluralisme mendefinisikan ulang konsep umum agama tentang transformasi etika dan menolak setiap pernyataan kebenaran yang konkret yang akhirnya mungkin akan menimbulkan kontradiksi di antara agama-agama. Seorang pluralis tidak benar-benar dapat menyerap pernyataan kebenaran dari agama apa pun. Meskipun Hick tampaknya menganggap pernyataan eksklusif kekristenan yang historis itu picik dan arogan, sebenarnya pernyataan pluralistisnya sendiri meremehkan hampir semua ciri khas agama-agama. Hal ini membuat toleransi pandangan pluralistis ini dipertanyakan/diragukan. Bukannya mewujudkan analisis yang netral dan objektif tentang agama, pandangan tentang sebuah realitas tertinggi yang tak terpahami ini berhubungan erat dengan pemahaman monistik Timur tentang yang Allah. Namun, mengapa memilih monisme daripada teisme? Para pluralis seperti Hick tampaknya menganggap bahwa mereka benar-benar

212

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

tahu tentang gajah itu, tidak seperti agama-agama di dunia. Pernyataan kekristenan yang historis tampaknya jauh lebih dapat dipercaya daripada menciptakan kembali agama yang secara politis benar.

Pernyataan Mitos atau Kebenaran Faktual? Pendekatan lain untuk pluralisme, yang dianjurkan oleh Joseph Campbell (salah satunya), berargumen bahwa semua agama dapat secara bersamaan benar karena semua agama hanya membuat klaim mitos dan/ atau puitis, bukan klaim kebenaran faktual dan historis. Pernyataan ini menandakan bahwa agama-agama di dunia, seperti mitologi seluruhnya benar secara metaforis namun salah secara harfiah.25 Dalam buku terlarisnya The Power of Myth, Campbell melakukan banyak kesalahan logika sama seperti Hick. Campbell berani menciptakan kembali dan/atau mendefinisikan ulang semua agama (bahkan agamaagama yang bersejarah) sebagai mitos. Dalam satu gebrakan ia sama sekali menolak pernyataan kebenaran keagamaan (termasuk proposisional). Ia juga berakhir dengan menemukan hal yang bertentangan dengan apa yang dimaksudkannya. Bukannya memberi cara agar semua agama menjadi benar, ia malah menunjukkan bahwa dalam cara yang paling penting—mengenai kebenaran universal, objektif, mutlak—semua agama benar-benar salah. Meskipun ia secara pribadi berpendapat bahwa Allah atau realitas tertinggi sepenuhnya transenden dan tidak dapat diketahui “di luar nama dan bentuk,”26 Campbell tetap menegaskan allah impersonal dan amoral yang tidak berbeda dengan konsep monistik dan panteistik agama Timur. Orang tidak bisa menahan diri untuk bertanyatanya bagaimana Campbell mengira dirinya tahu begitu banyak tentang alam yang seharusnya tidak dapat diketahui. Pada akhirnya, kesimpulan Campbell yang terlalu dini tentang semua agama dan tentang realitas tertinggi itu sendiri tampaknya lebih lancang dan arogan daripada kaum fundamentalis dan literalis agama eksklusif yang dihakiminya dengan keji. Entah orang cenderung untuk menerimanya atau tidak, pernyataanpernyataan kebenaran kristiani itu bersifat historis dan faktual. Keempat Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) menegaskan bahwa seorang bernama Yesus dari Nazaret dilahirkan di bawah pemerintahan kaisar Romawi, Kaisar Agustus dan bahwa Yesus menderita dan mati di tangan gubernur Romawi yang sama-sama nyata, Pontius Pilatus (temuan arkeo-

BUKANKAH SEMUA AGAMA MENUNTUN KEPADA ALLAH?

213

logis dengan tegas mengukuhkan keberadaan bersejarah Pilatus). Keempat Injil dan kitab Kisah Para Rasul memperkenalkan diri sebagai kisah bersejarah, bukan sebagai literatur puitis atau mitos (Luk. 1:1-4). Iman Kristen yang historis secara konsisten menolak dan menentang semua upaya untuk menyeragamkan dan memitologikan tokoh-tokoh utama dan klaim kebenarannya. Para rasul telah mengalami sendiri perjumpaan secara empiris dengan Yesus yang telah dibangkitkan dan telah melaporkan hal itu sebagai peristiwa yang bersejarah dan faktual (1Kor. 15:3-8). Para murid secara konsisten menyebut diri mereka sebagai “saksi” atau “saksi mata” peristiwa-peristiwa besar berkenaan dengan kehidupan Yesus (Kis. 2:32; 3:15; 5:32; 10:39). Sebagaimana dikatakan oleh Rasul Petrus, “Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya” (2Ptr. 1:16). Perkataan rasul Paulus yang serius kepada jemaat yang di Korintus menyatakan bahwa kebenaran faktual benar-benar berarti, “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu . . . Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu” (1Kor. 15:14, 17). Menurut hukum logika dan realitas historis Kitab Suci, pluralisme agama (tidak peduli seberapa populer dan menariknya) tidak mungkin benar. Bab berikutnya menyatakan cara yang tepat untuk memandang agama-agama di dunia melalui lensa kekristenan.

Pertanyaan Diskusi 1. Apa perbedaan antara pluralisme sosial dan pluralisme metafisika? 2. Masalah-masalah utama apa yang muncul dengan adanya pluralisme agama? 3. Bagaimana pluralisme filosofis Hick berusaha menyelamatkan pluralisme agama? 4. Dari perspektif kristiani, apa yang salah dengan analogi gajah? 5. Apa yang salah dengan pernyataan Campbell bahwa semua agama itu benar secara metaforis namun salah secara harfiah?

214

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Untuk Studi Lebih Lanjut Adler, Mortimer J. Truth in Religion (New York: Macmillan, 1990). Green, Michael. “But Don’t All Religions Lead To God?” (Grand Rapids: Baker, 2002). Nash, Ronald H. Is Jesus the Only Savior? (Grand Rapids: Zondervan, 1994). Okholm, Dennis L., dan Timothy R. Phillips, editor. More Than One Way? Four Views on Salvation in a Pluralistic World (Grand Rapids: Zondervan, 1995).

BAGAIMANA SEHARUSNYA ORANG KRISTEN MENANGGAPI AGAMA-AGAMA DI DUNIA?

Apakah kasih karunia Allah terbatas secara relatif pada segelintir orang yang, sering kali secara kebetulan dalam hal waktu dan letak geografi, menanggapi Injil? ––Clark H. Pinnock, More than One Way? Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan. ––Kisah Para Rasul 4:12

M

iliaran orang di seluruh dunia mengikuti sistem-sistem kepercayaan yang jelas berbeda. Sepuluh agama besar dunia yang bukan Kristen dapat diidentifikasi dewasa ini: Buddha, Konghucu, Hindu, Islam, Jaina, Yahudi, Shinto, Sikh, Tao, dan Zoroaster.1 Yang disebut sebagai agamaagama minoritas terlalu banyak untuk dihitung (yang meliputi agama Pribumi Amerika, Amerika Selatan, Afrika, Asia, dan berbagai agama utama atau agama rakyat lainnya).2 Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6). Dengan merenungkan kata-kata-Nya, bagaimana orang Kristen harus menanggapi semua agama lain ini dan orang-orang yang memeluk agama-agama itu?3 Dan di mana kekacauan yang membingungkan dan bertentangan tentang klaim keagamaan ini dapat bersinergi dengan pernyataan-pernyataan kebenaran kekristenan? 215

216

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Mengingat iklim budaya pluralisme, multikulturalisme, relativisme, dan pascamodernisme dewasa ini, jawaban yang cermat untuk pertanyaan-pertanyaan yang senantiasa membingungkan ini dapat memperlengkapi seorang Kristen dengan respons yang tepat terhadap perbedaan-perbedaan agama yang mengganggu. Tanpa terlalu menyederhanakan masalah-masalah pokok apologetis, prinsip-prinsip alkitabiah yang kuat dapat membangun dasar untuk perspektif Kristen dan hubungan yang tepat dengan agama-agama di dunia. Sebuah kritik singkat tentang pluralisme dan inklusivisme dari perspektif eksklusivisme Kristen yang bersejarah, bersama dengan jawaban-jawaban atas penolakan-penolakan umum terhadap eksklusivisme, membantu membangun fondasi itu.

Sebuah Perspektif Alkitabiah tentang Agama-agama di Dunia Menilai dan mengklasifikasi agama-agama di dunia dari perspektif Kristen yang jelas merupakan tugas yang kompleks. Tidak semua orang Kristen sepakat dengan sistem atau pendekatan yang benar. Namun, wahyu khusus Allah di dalam Alkitab menyajikan pedoman untuk menghadapi isu-isu rumit seperti ini. Sepuluh prinsip teologis yang diidentifikasi di dalam Alkitab dapat membantu membentuk analisis kristiani yang meyakinkan terhadap beragam agama umat manusia. Kebenarankebenaran alkitabiah ini dicatat dan direferensikan dari Kitab Suci, dan kepentingan apologetika serta evangelistiknya dijelaskan dengan singkat. Perumusan dan artikulasi dari prinsip-prinsip teologis ini mencerminkan tradisi atau konsensus teologis Augustinian-Reformed. 1. Allah telah menyatakan diri-Nya.

Sang Pencipta Dunia sekaligus Sang Penebus dunia telah mengambil inisiatif yang dinamis dan tegas untuk menyatakan diri kepada manusia (Mzm. 19:2-5; 8-12; Kis. 14:17; Rm. 1:18-20; 2Tim. 3:16-17; Ibr. 1: 1-3). Jadi, wahyu diprakarsai Allah, bukan usaha manusia. Doktrin wahyu adalah fitur sentral kekristenan yang bersejarah. Penyingkapan atas sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui atau belum sepenuhnya diketahui ini (penyingkapan oleh Allah sendiri) adalah keunikan doktrin Kristen. Iman Kristen menyatakan bahwa Allah telah menyatakan diri dengan jelas dan bermakna kepada umat manusia. Jadi

BAGAIMANA SEHARUSNYA ORANG KRISTEN MENANGGAPI AGAMA-AGAMA DI DUNIA?

217

kekristenan adalah agama wahyu dan wahyu itu sangat penting untuk mengenal Allah. Menurut kekristenan historis, Allah telah menyatakan diri-Nya dalam dua cara yang berbeda (dijelaskan lebih lengkap di dalam bab 3): (1) melalui dunia ciptaan-Nya, yang disebut sebagai wahyu umum (yang menyampaikan pengetahuan tentang Allah melalui tatanan yang diciptakan) dan (2) melalui Firman-Nya yang disebut sebagai wahyu khusus (yang menyampaikan pengetahuan tentang Allah melalui sejarah penebusan). Kebenaran dan realitas Allah yang mengungkapkan diri-Nya kepada manusia sangat penting untuk membentuk sudut pandang kristiani tentang agama-agama di dunia. Dari perspektif alkitabiah, Allah tidak menyembunyikan diri di langit dan meninggalkan manusia mengembara tanpa tujuan dan mencari-cari dalam kegelapan mengenai keberadaan, natur, karakteristik, dan kehendak-Nya. Dalam hal ini, perbedaan yang tajam dapat dilihat antara agama dan wahyu.4 Agama, seperti yang dipahami secara tradisional, biasanya mencerminkan pencarian spekulatif dan tidak pasti dari manusia terhadap Allah yang tidak dungkapkan atau tidak sepenuhnya diungkapkan (misteri Ilahi). Inisiatif untuk menemukan kebenaran tentang Allah di dalam agama-agama seperti itu dilakukan oleh makhluk yang terbatas dan tidak sempurna, yakni manusia. Sebaliknya, wahyu Alkitab mencerminkan Allah yang menjangkau manusia secara jelas dan spesifik menyatakan diri-Nya dalam tindakan penciptaan dan penebusan. Menurut Kitab Suci, inisiatif untuk menemukan kebenaran tentang Allah tidak berasal dari manusia, tetapi dari Allah sendiri. Meskipun Allah tidak terbatas dan sempurna, Dia tetap menyatakan diri-Nya dengan cara yang dapat ditangkap secara signifikan oleh makhluk ciptaan-Nya. Perbedaan penting lainnya antara agama pada umumnya dan wahyu alkitabiah terletak pada definisi kebenaran. Dalam banyak tradisi keagamaan dunia, terutama agama-agama Timur, kebenaran-kebenaran tentang Allah bersifat mistis dan esoteris dan karena itu tidak memenuhi syarat sebagai klaim kebenaran yang proposisional (faktual, logis). Karena alasan ini, kontradiksi logis dan inkonsistensi faktual di antara agama-agama di dunia ini dipandang sebagai konsekuensi utama (atau bahkan sebagai indikasi kedalaman spiritual).

218

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Sebaliknya, meskipun Allah di dalam Alkitab itu tampak misterius dan akhirnya sama sekali tidak dapat diduga oleh pikiran manusia yang terbatas, Dia telah berkomunikasi dan dapat dimengerti dalam bentuk yang proposisional (pernyataan yang berisi tuntutan benar atau salah). Bahkan sebelum datang secara pribadi, Dia juga secara khusus telah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya sendiri dengan akal budi yang mampu menangkap kebenaran proposisional. Oleh karena itu, di dalam kekristenan, kebenaran tentang Allah harus sesuai dengan kategori yang rasional dan logis, dan karena sifat-Nya yang rasional, Allah tidak mungkin bertentangan dengan diri-Nya sendiri. Pernyataanpernyataan kebenaran keagamaan yang kontradiktif (yang berlimpahlimpah di dalam agama-agama dunia) dengan demikian tidak konsisten dengan konsep alkitabiah tentang wahyu ilahi yang “jujur.” 2. Wahyu umum tersedia bagi semua orang.

Pengetahuan dasar tentang keberadaan dan natur Allah yang sejati dinyatakan kepada semua orang dengan jelas (lih. Mzm.19:2-5; Rm. 1:18-20; Kis. 17:25-27; Rm. 2:14-15). Menurut teologi Kristen, wahyu umum Allah mengambil dua bentuk (lih. bab 3 tentang wahyu):5 pertama, wahyu umum eksternal, yang terdiri dari tatanan yang diciptakan, atau alam, dan urutan sejarah yang sudah digariskan oleh Allah; kedua, wahyu umum internal yang meliputi perasaan yang dibawa sejak lahir atau kesadaran akan keberadaan Allah dan hukum moral-Nya, yakni hati nurani. Jadi, setiap orang dan budaya dapat mengaksesnya. Wahyu umum internal berhubungan langsung dengan pemahaman kristiani tentang imago Dei (gambar dan rupa Allah: Kej. 1:26-27). Sebagai puncak penciptaan Allah, manusia dengan kapasitas rasional, kemauan moral, aspek relasional, dan kualitas spiritualnya yang berbeda, secara unik mencerminkan gambar dan rupa Allah. Sebagai makhluk yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, manusia dengan cara yang terbatas mencerminkan kemuliaan Penciptanya meskipun sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, refleksi ini tentu telah menjadi buram. Karena wahyu umum, baik yang internal maupun yang eksternal, ciri-ciri tertentu dari agama-agama yang bukan Kristen bisa benar. Hal itu karena Allah menciptakan alam semesta dan kemudian menciptakan setiap manusia tertentu menurut gambar dan rupa-Nya—jejak autentik

BAGAIMANA SEHARUSNYA ORANG KRISTEN MENANGGAPI AGAMA-AGAMA DI DUNIA?

219

tentang diri-Nya dapat ditemukan di dalam semua budaya, di antara semua bangsa, dan, dengan beberapa kualifikasi penting, bahkan di antara semua agama.6 Ciptaan secara kuat, terus-menerus, senyap, dan universal mencerminkan Sang Pencipta. Alkitab juga mengungkapkan bahwa sebagai makhluk ciptaan Allah yang istimewa, manusia pasti tahu di dalam lubuk hati mereka yang terdalam bahwa ada Allah yang kepada-Nya mereka bertanggung jawab secara moral. Pemahaman yang melekat dan intuitif tentang Allah ini menjelaskan adanya dorongan keagamaan dan moral yang mendalam pada manusia. Manusia bahkan disebut homo religiosus karena kecenderungan religius intrinsik mereka. Temuan antropologis dan sosiologis mengonfirmasi bahwa agama telah menjadi fenomena universal di sepanjang sejarah manusia.7 Bahkan orang yang terang-terangan menyatakan diri ateis, akhirnya cenderung mengejar dan mendukung jawabanjawaban eksistensial atas pertanyaan-pertanyaan utama kehidupan, sering dengan cara “religius” (filsafat-filsafat eksistensialisme ateistis dan Marxisme, sebagai contoh). Wahyu umum menjelaskan fenomena religiusitas manusia yang kuat ini (atau apa yang dewasa ini disebut sebagai “spiritualitas”) dan membeberkan mengapa banyak agama di dunia menemukan landasan bersama di dalam isu-isu tertentu, khususnya di dalam masalah etika. 3. Dosa menghasilkan distorsi.

Kondisi manusia yang telah jatuh ke dalam dosa (berdosa) telah merusak kemampuan rohaninya (kognitif dan/atau pembentuk keyakinannya) sehingga mengakibatkan kebebalan moral dan spiritual. Jadi, kecenderungan alamiah manusia adalah menekan dan mendistorsi pengetahuan tentang Allah yang tersedia di dalam wahyu umum (lih. Rm. 1:18-25; Ef. 4:17-19). Sementara para penganut agama-agama di dunia memiliki pengetahuan yang riil (kendati belum sempurna) tentang Allah yang ada di dalam Alkitab melalui wahyu umum, kondisi mereka yang kini berdosa (karena kejatuhan ke dalam dosa, Kej. 3) menyebabkan mereka menekan kebenaran ini. Jadi, manusia berdosa menderita sejenis penyakit yang mungkin dapat disebut “Skizofrenia spiritual”8 yang menginginkan dan sekaligus menolak Allah. Sementara manusia diciptakan untuk berse-

220

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

kutu dengan Penciptanya, natur dosanya terus menahannya untuk mengakui atau menyembah Allah yang benar dan menerima pertanggungjawaban moral di hadapan-Nya. Di dalam doanya yang sangat mendalam, Augustine mengutarakan kebutuhan manusia untuk berelasi dengan Allah: “Memikirkan-Mu menggugah hatinya begitu dalam sehingga ia tidak puas jika tidak memuji-Mu, karena Engkau menciptakan kami untuk diri-Mu dan hati kami tidak menemukan kedamaian sebelum berlabuh dalam-Mu.”9 Karena kesadaran ilahi yang kuat di dalam diri manusia ini tidak bisa sepenuhnya dimatikan, kesadaran itu pasti akan muncul. Namun, terlepas dari anugerah Allah, dorongan ini sering salah arah, sering menyimpang ke dalam pemujaan berhala. Hasil penyimpangan spiritual ini terlihat di dalam berbagai sistem kepercayaan dunia: animisme, sinkretisme, politeisme, panteisme, godisme terbatas, okultisme, dan humanisme. Dalam pertemuan yang terkenal di Bukit Areopagus (Atena), rasul Paulus menghadapi situasi keagamaan pluralistis serupa pada abad I (Kis.17:16-34). Jadi, meskipun manusia tahu melalui wahyu umum bahwa ada Allah, terlepas dari kasih karunia istimewa dari Allah yang bekerja di dalam hidupnya, ia pasti akan memilih untuk tidak percaya kepada Allah yang benar (Rm. 3:10-12).10 Ironisnya, ketika menolak Allah, dorongan keagamaan manusia dapat mendorongnya untuk meninggikan hampir setiap berhala atau “dewa” di tempat Allah. Untuk alasan ini, kebanyakan penginjil Protestan berpendapat bahwa wahyu umum sendiri tidak dapat menyelamatkan—meskipun dapat menyingkirkan semua alasan untuk menolak Allah. Hal itu karena orang-orang di dalam agamaagama yang bukan Kristen juga memiliki akses ke wahyu yang benar, dan wahyu itu akhirnya membuat mereka bertanggung jawab di hadapan Pencipta mereka. 4. Iblis menyebabkan semakin banyak penyimpangan.

Meskipun beberapa pandangan keagamaan mungkin merupakan hasil spekulasi manusia belaka, setidaknya beberapa bentuk agama dimotivasi oleh Iblis dan antek-anteknya (Mat. 24:24; 1Kor. 10:14-22; 2Kor. 4:4; 2Tes. 2:9-10; 1Tim. 4:1; Why. 2:9, 12:9).

BAGAIMANA SEHARUSNYA ORANG KRISTEN MENANGGAPI AGAMA-AGAMA DI DUNIA?

221

Kitab Suci menunjukkan bahwa Iblis dan/atau para pengikutnya (para malaikat yang berpihak pada Iblis untuk memberontak bersama-sama) berada di balik penyembahan berhala dan aktif membutakan pikiran orang yang tidak percaya. Niat mereka selalu menyesatkan umat manusia dengan kepalsuan spiritual yang kuat. Ajaran sesat dan doktrin palsu kadang-kadang dikaitkan dengan pengaruh setan (1Tim. 4:1-2). Beberapa praktik tersembunyi secara eksplisit dikutuk di dalam Alkitab sebagai kekejian bagi Allah (Ul. 18) karena praktik-praktik ini berhubungan dengan aktivitas setan. Dengan kata lain, tidak semua agama bukan Kristen adalah produk perjuangan manusia yang sesat, tetapi beberapa di antaranya memiliki sumber spiritual yang benar-benar jahat. Sebagai akibat dosa manusia dan aktivitas setan, tidak ada manusia yang berada di ranah spiritual yang sungguh-sungguh netral. Meskipun dimensi setan dari berbagai agama berhala dapat dilebih-lebihkan, peperangan rohani harus diakui sebagai realitas yang ada di balik layar agamaagama dunia, terutama yang berakar di dalam praktik okultisme.11 5. Kristus dan klaim eksklusif-Nya di dalam wahyu khusus itu unik.

PB mengungkapkan Yesus Kristus sebagai Allah yang menjadi manusia (Yoh. 1:1; 8:58-59; 10:29-31; 14:8-9; 20:28; Flp. 2:5-7; Kol. 2:9; Tit. 2:13; Ibr. 1:8; 2Ptr. 1:1), dan dengan demikian sebagai satu-satunya Juruselamat umat manusia (Mat. 11:27; Yoh. 1:18; 3:36; 14:6; Kis. 4:12; 1Yoh. 5:11-12). Penyataan diri Allah yang lebih spesifik dan khusus—wahyu khusus— hadir di dalam dan melalui tindakan penebusan, peristiwa-peristiwa, dan firman-Nya yang unik (lih. bab 3). Bentuk wahyu ini datang pada waktu yang khusus, di tempat-tempat khusus, dan dalam dua tahap. Pertama, Allah memanifestasikan diri-Nya melalui umat perjanjian-Nya seperti para leluhur, nabi-nabi, dan raja-raja Yahudi (PL). Kedua, wahyu Allah mencapai puncaknya dengan jelas dalam inkarnasi Yesus Kristus, Allahmanusia. Klimaks masuknya Allah dalam sejarah manusia dicatat dalam kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus (PB). Menurut PB (termasuk firman-Nya sendiri yang tercatat), Yesus Kristus bukanlah salah satu jalan di antara banyak jalan menuju Allah (lih. tabel 13.1). Dia juga bukan hanya seorang nabi atau rasul yang menunjukkan jalan kepada orang lain menuju Allah. Sebaliknya, Yesus

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

222

adalah Allah Putra, Pribadi Kedua Trinitas, yang menjadi manusia, yang telah datang secara pribadi ke bumi untuk mendamaikan dunia dengan diri-Nya melalui pengurbanan-Nya di kayu salib (2Kor. 5:19). Yesus Kristus bukan hanya dinyatakan secara unik sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia (Rm. 10:9-13; Flp. 2:5-11), tetapi juga seperti Yahweh di dalam PL yang dinyatakan sebagai Tuhan dan Juruselamat dengan mengesampingkan semua yang disebut tuhan dan juruselamat (1Kor. 8:5-6; 1Tim. 4:10). Tabel 13.1 Membandingkan para pemimin agama-agama di dunia Agama

Pemimpin

Status

Misi

1. Buddha

Buddha (Gautama)

Sosok yang diberi pencerahan

Memimpin orang lain ke Nirwana

2. Konghucu

Konfusius

Guru etika

Membangun masyarakat yang bermoral

3. Hindu

Krishna

Awatara yang Ilahi

Menginspirasi selaku pahlawan

4. Tao

Lao-Tse

Sosok yang bijaksana

Mengajarkan (jalan) Tao

5. Jaiza

Mahavira

Tokoh heroik

Mengajar asketisme (bertapa)

6. Yahudi

Musa

Nabi

Menyampaikan kehendak dan hukum Yahweh

7. I s l a m

Muhammad

Nabi Terakhir

Menyampaikan kehendak Allah

8. Zoroaster

Zoroaster

Nabi

Menyampaikan kehendak Ahura-Mazda

9. Kristen

Yesus

Allah yang berinkarnasi (Tuhan, Mesias, Juruselamat)

Menebus umat manusia

Pernyataan Yesus yang eksklusif tentang jalan menuju keselamatan itu tegas, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6, penekanan kata bercetak miring ditambahkan oleh penulis). Rasul Petrus menegaskan eksklusivitas kristologis yang sama, “Dan keselamatan tidak

BAGAIMANA SEHARUSNYA ORANG KRISTEN MENANGGAPI AGAMA-AGAMA DI DUNIA?

223

ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis. 4:12, penekanan pada kata bercetak miring ditambahkan oleh penulis).12 Identitas unik dan klaim eksklusif Yesus Kristus berbeda dengan identitas dan klaim dari semua pemimpin agama besar lainnya. Hanya Yesus yang membuat klaim tentang otoritas Ilahi dan menopangnya dengan hak-hak istimewa dan bukti-bukti keilahian. Doktrin kristosentris tentang inkarnasi, penebusan, dan kebangkitan membentuk inti kekristenan, dan kebenaran-kebenaran itulah yang membedakan agama Kristen dari semua agama lainnya.13 Tidak akan ada juruselamat lainnya karena Allah secara pribadi, akrab, unik, tegas, dan sampai pada kekekalan dinyatakan di dalam pribadi Yesus Kristus. Semua orang di mana pun berada, tanpa memandang budaya, ras, atau warisan agama, harus memandang kepada-Nya untuk mendapatkan keselamatan. Rasul-rasulNya pernah berkata, “Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup ; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup” (1Yoh. 5:12). 6. Mengimani Kristus adalah respons yang dibutuhkan untuk Injil.

Orang mengalami keselamatan melalui iman yang diyakini secara sadar ketika merespons pemberitaan Injil yang eksplisit (lih. Luk. 24: 46-47; Yoh. 3:15-16, 20:31; Kis. 4:12; 11:14; 16:31; Rm. 10:9-10; 13-18; 1Kor. 15:1-4; Gal. 3:2, 5, 16; Ef. 1:13; 1Tim. 2:5-6; 2Tim. 3:15; Ibr. 4:2; 1Ptr. 1:23-25; 1Yoh. 2:23; 5:12). Allah membawa keselamatan melalui Injil, Kabar Baik tentang kurban penebusan Kristus bagi dosa manusia. Orang-orang menanggapi dengan iman yang sadar terhadap pesan yang diserukan berkenaan dengan kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Kitab Suci secara langsung menghubungkan apa yang didengar dalam pemberitaan Injil dengan iman yang sadar dari orang-orang percaya, yang kemudian menghasilkan keselamatan. Tak ada satu bagian pun di dalam PB yang mengatakan atau bahkan menunjukkan bahwa seseorang dapat diselamatkan tanpa iman di dalam Kristus. Bahkan, rasul Paulus tampaknya membantah tentang perlunya orang mendengar Kabar Baik agar dapat diselamatkan:

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

224



“Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: ‘Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!’ . . . Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rm. 10:14-15, 17).

7. Kasih karunia Allah yang berdaulat membawa orang-orang beriman kepada Yesus Kristus.

Allah Bapa memanggil dan secara adikodrati membawa orangorang kepada Yesus Kristus (Yoh. 6:37, 44, 65; 12:32; 15:16; Kis. 13:48; Rm. 8:29; Ef. 1:4) dan Roh Kudus menyampaikan karunia iman kepada mereka melalui pemberitaan Injil (Rm. 10:17; 12:3; 1Kor. 12:3; 2Kor. 4:13; Ef. 6:23; Flp. 1:29; 1Tes. 2:13; Ibr. 12:2). Karena jatuh dalam dosa, manusia menderita kerusakan total, artinya dosa telah memperbudak manusia secara total—jiwa, pikiran, kehendak, dan tubuh (Mzm. 51:7; Mat. 15:19; Rm. 7:14-15; Ef. 4: 17-19). Akibat dari kerusakan yang tak terelakkan ini adalah ketidakmampuan total (orang berdosa untuk merespons Allah dengan iman, baik dari dalam dan dari diri mereka sendiri, Rm. 8:7-8; 1Kor. 2:14). Oleh karena itu, anugerah Allah, khususnya pekerjaan Roh Kudus melalui isi wahyu khusus (pemberitaan Injil penebusan di dalam Kristus, Yoh. 20:31; Rm. 10:17), menghasilkan respons iman manusia (Ef. 2: 8-9; Tit. 3:5). Kasih karunia Allah memulihkan kehendak manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, menerangi pikiran, melembutkan hati, dan melalui wahyu khusus mengoreksi penyimpangan yang tak terelakkan yang dilakukan orang terhadap wahyu umum (Ef. 2:4-6; 4:17-24; Flp. 2:12-13). Oleh sebab itu, respons iman manusia berakar pada inisiatif dan regeneratif kekuasaan Allah. Allah digambarkan sebagai pencipta dan penentu keselamatan, dan Kitab Suci menjanjikan bahwa semua orang yang dipanggil oleh Allah akan diselamatkan (Kis.13:48). Kasih karunia dan kehendak-Nya yang

BAGAIMANA SEHARUSNYA ORANG KRISTEN MENANGGAPI AGAMA-AGAMA DI DUNIA?

225

berdaulat itu berlaku, terlepas dari bagaimana hal itu tampaknya, bahkan untuk orang-orang yang belum mengenal Injil. 8. (Kebenaran) keyakinan yang benar itu penting. Keselamatan tergantung pada kebenaran objektif, kebenaran yang seseorang percayai (Yoh. 3:36; 8:24; 2Kor. 11:4; Gal. 1:8-9; 1Tim. 1: 3-4,18-19; 6:3; Tit. 1:9; 2Ptr. 2:1; 1Yoh. 2:22-23; 4:1-3; 2Yoh. 7-11; Yud. 3-4). Menurut Kitab Suci, keselamatan menuntut lebih dari sekadar kesungguhan pribadi. Keselamatan juga membutuhkan kebenaran objektif dari keyakinan yang diimani oleh seseorang. Kebenaran doktrinal itu penting karena doktrin yang salah menenggelamkan iman dan membahayakan jiwa. Mengimani Allah yang palsu atau Kristus yang palsu atau Injil yang palsu tidak akan menyelamatkan manusia. Untuk mendapatkan keselamatan, sangat penting bagi kita untuk mengimani Allah dan Juruselamat yang sejati dan untuk memercayai pribadi, natur, dan karya Kristus yang sejati. Orang-orang percaya mungkin tidak sepenuhnya memahami atau mungkin mereka sungguh salah paham atau bahkan terbatas pengenalan mereka akan kebenaran Kristen. Akan tetapi, ada parameter-parameter doktrinal yang tidak dapat dilanggar oleh manusia tanpa menyebabkan kemurtadan dan penghakiman Ilahi. Menganut Kristus palsu dan/atau Injil palsu mendatangkan konsekuensi yang mengerikan. Peringatan rasul Paulus kepada jemaat Galatia tentang adanya injil yang berbeda, secara dramatis menekankan pentingnya doktrin (Alkitab) yang kuat: 

“Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari surga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia” (Gal. 1:8-9).

Agama-agama di dunia menyeret manusia kepada allah-allah yang salah, Kristus-kristus yang salah, dan injil yang salah. Tonggak spiritual yang utama adalah respons seseorang kepada Yesus Kristus. Sebagaimana

226

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

dinyatakan oleh Rasul Yohanes, “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya” (Yoh. 3:36). 9. Kekristenan memerlukan respons apologetis.

Dalam rangka membimbing orang melewati penghalang-penghalang iman dan menyingkapkan agama-agama yang salah karena bahaya yang mereka hadirkan, orang-orang Kristen bertanggung jawab untuk mempelajari ajaran-ajaran dan perspektif agama-agama di dunia serta memberikan kritik yang sopan dan sehat (Kis. 17:22-31; 2Kor. 10:4-5; Tit. 1:9; 1Ptr. 3:15; Yud. 3). Para ahli apologetika Kristen harus menyikapi agama-agama di dunia dengan serius. Untuk melakukan hal itu diperlukan penelitian yang saksama terhadap sejarah agama dan asal-usul, sumber otoritas, kategori, ajaran, argumen, dan orientasi pandangan. Ahli apologetika yang efektif akan mengenal dan benar-benar menguasai secara mendalam agamaagama yang lain dan pengikut mereka sehingga ia dapat mengungkapkan kelemahan-kelemahan agama tertentu berdasarkan kebenaran kristiani yang esensial.14 Bukan tugas yang mudah bagi para apologet tersebut karena penyingkapan yang baik efeknya sangat dahsyat. Upaya apologetika inilah yang tampaknya dituntut oleh Kitab Suci. “Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (2Kor. 10:5). Tantangan serius yang ditimbulkan oleh agama-agama bukan Kristen di dunia perlu ditanggapi dengan upaya apologetika kekristenan yang optimal. 10. Manusia layak mendapatkan respek yang benar.

Karena semua orang menyandang gambar dan rupa Allah sendiri, orang Kristen harus menunjukkan kepada orang-orang dari agama lain respek pribadi yang tepat (Kej. 1:26-27; 9:6; Yak. 3:9). Sebagai makhluk ciptaan Allah, semua orang menyandang imago Dei dan karena itu memiliki martabat dan nilai moral yang diwarisi dariNya. Oleh karena itu, setiap orang layak mendapatkan hormat dan

BAGAIMANA SEHARUSNYA ORANG KRISTEN MENANGGAPI AGAMA-AGAMA DI DUNIA?

227

perlakuan yang baik tanpa membedakan ras, jenis kelamin, kelas sosial, atau keyakinan agama. Umat Kristen dipanggil oleh Allah untuk menjaga hak individu sesamanya agar orang itu meyakini agama yang telah mereka pilih, entah apakah keyakinan khusus mereka itu salah, tidak masuk akal, atau bertentangan dengan kebenaran kristiani. Hal ini pada dasarnya sama dengan menghormati kepribadian manusia, kemauan, dan tanggung jawab moral individual. Umat Kristen bahkan harus menoleransi praktik (keagamaan dan yang nonkeagamaan) orang lain, asalkan praktik-praktik tersebut legal, bermoral, dan bijaksana. Namun, menghormati keyakinan-keyakinan orang lain tidak boleh disalahartikan sebagai menyetujui keyakinan-keyakinan mereka. Umat Kristen bertanggung jawab untuk menggunakan kekuatan persuasif mereka guna meyakinkan orang lain tentang kebenaran, terutama kebenaran hakiki tentang Yesus Kristus. Meskipun bersikap toleran secara sosial, umat Kristen pada saat yang sama harus tidak toleran secara intelektual terhadap klaim kebenaran yang bertentangan (lih. bab 17 tentang masalah toleransi). Cara kita memperlakukan orang akan meninggalkan kesan yang kuat dan abadi—entah mereka setuju atau menentang kesaksian Injil. Alkitab meminta orang-orang percaya untuk memberitakan kebenaran dalam kasih (Ef. 4:15)—dimotivasi oleh kasih dan mengekspresikan kasih dalam bentuk kata-kata, tindakan, dan sikap.

Para Penentang Eksklusivisme Kristen Zaman Sekarang Data Alkitab yang telah dibahas sebelumnya mendukung apa yang secara historis disebut sebagai eksklusivisme Kristen. Beberapa penginjil dewasa ini lebih suka menyebutnya sebagai “partikularisme.”15 Apa pun sebutan orang untuk hal itu, tiga poin teologis menegaskan pandangan ini: (1) Iman Kristen adalah iman eksklusif yang benar, (2) Yesus Kristus adalah satu-satunya Juruselamat manusia, dan (3) agar diselamatkan, orang perlu beriman kepada Yesus Kristus secara sadar. Pandangan historis gereja Kristen ini dapat dibedakan dari dua pandangan yang saling bertentangan dewasa ini mengenai hubungan agama Kristen dengan agama-agama lainnya—pluralisme dan inklusivisme.

228

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Masalah dengan Pluralitas Agama

Karena kritik yang menyeluruh tentang pluralisme telah dibahas di bab 12, bagian ini hanya berisi ringkasan kritik yang singkat. Pertama, sekadar untuk mengingatkan beberapa definisi: Pluralisme populer (disebut demikian karena popularitasnya di tengah budaya masa kini) menegaskan bahwa semua agama sama-sama sah sekaligus benar. Pluralisme filosofis (disampaikan dan ditegaskan oleh filsuf-filsuf agama) menegaskan bahwa semua agama besar atau etika adalah jalan yang samasama sah menuju kepada Allah atau Realitas Tertinggi. Filsuf agama John Hick adalah perwakilan yang paling terkenal dari pluralisme filosofis.16 Dengan menegaskan bahwa semua agama besar adalah benar, pluralisme filosofis menyangkal ketiga poin yang mendefinisikan eksklusivisme Kristen. Namun, perbedaan-perbedaan yang mendasar dan tak terdamaikan memisahkan agama-agama di dunia dalam banyak isu penting. Karena perbedaan-perbedaan ini, agama-agama menentang upaya untuk disamakan ke dalam tema umum atau esensi yang tunggal. Dengan melihat keragaman agama ini, pluralisme populer tentu salah dalam pernyataannya bahwa semua agama sama-sama benar karena dalam kekacauan klaim kebenaran keagamaan, ada sangat banyak kontradiksi menyolok yang muncul ke permukaan. Sebagai contoh, secara logis tidak mungkin bagi Yesus Kristus untuk menjadi Allah yang berinkarnasi (Kristen) sekaligus dan tidak menjadi Allah yang berinkarnasi (Yahudi, Islam). Dia adalah Allah yang berinkarnasi atau tidak berinkarnasi, dan tidak ada pilihan logis lainnya. Meneliti pernyataan-pernyataan pluralisme agama populer secara logis menunjukkan bahwa pernyataan-pernyataan itu tidak masuk akal. Pluralisme filosofis berupaya untuk menghindari kesulitan-kesulitan logis ini, tetapi malah menimbulkan semakin banyak masalah: Pluralisme secara tidak langsung menyatakan skeptisisme radikal tentang Allah, menunjukkan semua pernyataan kebenaran keagamaan yang utama itu salah, sewenang-wenang mengubah natur agama, menolak untuk menerima pernyataan kebenaran Kristen yang historis ini dengan serius, dan bertentangan dengan pernyataan pluralistisnya karena pada akhirnya menganut satu perspektif keagamaan tertentu (biasanya jenis monisme Timur).

BAGAIMANA SEHARUSNYA ORANG KRISTEN MENANGGAPI AGAMA-AGAMA DI DUNIA?

229

Pluralisme jelas bertentangan dengan doktrin khas agama Kristen yang historis tentang wahyu, Trinitas, inkarnasi, penebusan, dan kebangkitan. Doktrin-doktrin ini tidak cocok dengan agenda pluralisme yang homogen dan akomodatif. Inklusivisme agama

Inklusivisme agama ditegaskan di dalam banyak tradisi agama (nonKristen) lainnya. Namun, fokus bahasan ini adalah pada inklusivisme Kristen. Meskipun jelas ada perbedaan-perbedaan di antara para pendukungnya, inklusivisme menegaskan dua hal yang esensial: (1) Keselamatan di dalam kekristenan telah digenapi secara sempurna melalui Sang Juruselamat Yesus Kristus, tetapi (2) orang dapat menemukan anugerah Allah di semua budaya dan agama dan diselamatkan oleh Kristus secara anonim, yakni tanpa mengetahui secara spesifik tentang Kristus (dan karena itu tanpa mempraktikkan iman Kristen secara sadar).17 Dengan menegaskan bahwa iman eksplisit di dalam Yesus Kristus tidak diperlukan untuk mendapatkan keselamatan, itu berarti inklusivisme menolak ide (didefinisikan dalam eksklusivisme) bahwa orang harus memiliki iman yang sadar di dalam Yesus Kristus agar diselamatkan (dan beberapa bentuk inklusivisme penyangkalannya lebih banyak lagi).18 Pendukung paling menonjol terhadap inklusivisme Kristen adalah teolog Katolik Jerman Karl Rahner. Pandangannya memengaruhi Konsili Vatikan II untuk mengadopsi sebuah pandangan inklusif:19 “Mereka yang bukan karena kesalahan sendiri masih tidak tahu tentang Injil Kristus dan Gereja-Nya, namun sungguh-sungguh mencari Allah, dan dengan bantuan kasih karunia Ilahi berusaha untuk melakukan kehendak-Nya sebagaimana yang mereka ketahui melalui suara hati nurani mereka, orang-orang itu dapat mencapai keselamatan kekal.”20 Teolog Clark H. Pinnock telah mengungkapkan bentuk inklusivisme yang sangat serupa dengan yang diungkapkan Rahner namun lebih “berorientasi penginjilan.”21 Masalah yang ada dalam Inklusisme Kristen

Dengan menegaskan bahwa kasih karunia Allah yang menyelamatkan di dalam Kristus itu bekerja di dalam agama-agama yang bukan Kristen, bertentangan dengan apa yang Alkitab ungkapkan tentang natur berhala

230

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

dan natur jahat agama yang dibuat manusia, secara jahat memengaruhi sifat agama yang berasal dari manusia (lih. poin 3 dan 4, hal. 219-221 di bawah judul pembahasan “Sebuah Perspektif Alkitabiah tentang Agamaagama di Dunia”). Meskipun agama yang bukan Kristen secara kolektif dipandang sebagai suatu wadah yang berisi keanekaragaman (baik dan buruk, mulia dan tercela), kritera tetap dibutuhkan untuk memilah antara hal yang secara teologis baik dan yang secara teologis buruk (peran yang hanya dapat dimainkan oleh Kitab Suci, 2Tim. 3:15-16).22 Mencampuradukkan anugerah Allah yang sejati dengan keyakinan dan ritus-ritus berhala menimbulkan pertanyaan serius apakah inklusivisme bukan merupakan pintu jebakan menuju pluralisme agama. Kemungkinan ini menyodorkan masalah yang sangat serius, terutama di dalam pendekatan Rahner yang cukup liberal terhadap inklusivisme. Orang dapat beranggapan bahwa menyatakan kebenaran tentang inklusivisme membuat misi dan penginjilan Kristen tidak perlu, dan tentu saja tidak wajib. Bahkan, jika inklusivisme benar, tidak ada alasan untuk tetap mempertahankan kekristenan. Rahner berbicara tentang “orangorang Kristen yang anonim,” tetapi istilah ini bertentangan dengan doktrin Kristen yang historis. Orang juga pasti bertanya-tanya, mungkinkah ada “orang-orang Buddha anonim” atau “orang-orang Hindu anonim?” Menurut Kitab Suci, keselamatan tergantung pada keyakinan yang benar. Tujuan kepercayaan itulah yang menyelamatkan, bukan kesungguhan pribadi semata. Keyakinan yang salah dapat menyebabkan kutukan (lih. poin 8, hal. 225-226 di bawah judul pembahasan “Sebuah Perspektif Alkitabiah tentang Agama-agama di Dunia”). Sebuah argumen Alkitab yang kuat dapat dibuat bahwa iman yang diyakini secara sadar dan eksplisit di dalam Kristus diperlukan untuk mendapatkan keselamatan (lih. poin 6, hal. 223-224 di bawah judul pembahasan “Sebuah Perspektif Alkitabiah tentang Agama-agama di Dunia”). Jika argumen ini benar, maka inklusivisme salah. Antropologi para penganut inklusivisme tampaknya memiliki pandangan yang terlalu optimis terhadap manusia dan pandangan yang lemah terhadap dosa (tidak konsisten dengan doktrin Alkitab tentang kerusakan total dan ketidakmampuan total manusia—lih. poin 3, hal. 219-220 di

BAGAIMANA SEHARUSNYA ORANG KRISTEN MENANGGAPI AGAMA-AGAMA DI DUNIA?

231

bawah judul pembahasan “Sebuah Perspektif Alkitabiah tentang Agamaagama di Dunia”). Akhirnya, inklusivisme tidak mendapatkan dukungan alkitabiah yang kuat, dan kesimpulan-kesimpulan utamanya tampak dipaksakan di dalam teks. Masalah yang sangat penting ini layak mendapatkan dukungan alkitabiah yang kuat.

Tantangan terhadap Eksklusivisme Beberapa orang tampaknya menyukai inklusivisme terutama karena adanya kelemahan-kelemahan yang dirasakan di dalam pandangan eksklusivisme semata. Daftar penolakan khas terhadap eksklusivisme beserta respons eksklusifnya akan disampaikan berikut ini. Namun, perlu diingat, juga ada perbedaan-perbedaan pandangan di antara orangorang yang menganut eksklusivisme. Bentuk eksklusivisme yang diperjuangkan di dalam bab ini mencerminkan komitmen terhadap tradisi atau konsensus teologis Reformed, Augustine. Para penganut eksklusivisme yang berorientasi pada Armenius ini dapat menjawab beberapa penolakan di bawah ini dengan cara yang sangat berbeda. Eksklusivisme secara tak langsung menyatakan bahwa Allah itu pilih kasih. Dia membatasi anugerah-Nya hanya kepada sebagian orang yang membuka diri kepada Injil, dan tidak kepada yang lainnya. Bukankah hal ini tidak adil?

Jawaban: Menurut Alkitab, sesungguhnya semua orang telah menolak otoritas Allah melalui hubungan mereka dengan Adam (melalui dosa asal, Rm. 5:12,18-19). Jadi, yang benar-benar dibutuhkan manusia adalah kesempatan kedua yang berupa kasih karunia Allah, dan Dia memberikannya, menurut kebijaksanaan-Nya. Akhirnya, setiap orang yang berada di bawah penghakiman Allah akan mendapatkan apa yang layak baginya (keadilan). Sebenarnya, Allah bisa saja mengutuk semua orang dan tetap bisa disebut adil. Dia tidak berutang kepada siapa pun untuk memberikan kesempatan kedua, apalagi kesempatan pertama. Penyaluran anugerah Allah mungkin tampaknya tidak masuk akal, tetapi hal itu tidak bisa diartikan tidak adil. Memberikan pengampunan dan kasih karuniaNya kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya adalah semata-mata kebijaksanaan Allah dan hak prerogatif-Nya sebagai Raja yang berdaulat.

232

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Perspektif ini mungkin tidak populer sekarang, tetapi Kitab Suci mendukung gagasan bahwa keselamatan yang Allah berikan menurut kemurahan hati-Nya, menjadi fokus yang diperhatikan bukan dunia (lih. poin 7, hal. 224-225 di bawah judul pembahasan “Sebuah Perspektif Alkitabiah tentang Agama-agama di Dunia”). Eksklusivisme menegaskan bahwa untuk mendapatkan keselamatan dibutuhkan iman di dalam Kristus. Namun, orang-orang Yahudi di dalam PL diselamatkan tanpa mengimani Yesus Kristus. Jadi, mengapa hal itu tidak dapat berlaku bagi orang-orang pada zaman ini?

Jawaban: Orang-orang percaya pada zaman PL diselamatkan di bawah perjanjian kasih karunia. Mereka percaya pada belas kasihan Yahweh dan setidaknya memiliki dasar pemahaman bahwa Mesias Allah akan memberikan penebusan yang mendamaikan atau kurban pengganti (Mzm. 22; Yes. 53).23 Umat Yahudi diselamatkan melalui iman prospektif (menantikan kedatangan Kristus), sedangkan umat Kristen saat ini diselamatkan melalui iman retrospektif (mengingat kembali kedatangan Kristus yang telah terjadi). Masalah-masalah yang berkaitan dengan natur progresif wahyu dan sejarah keselamatan (dari PL ke PB, dari agama Yahudi ke agama Kristen) tidak dapat diberlakukan pada agama-agama dunia secara keseluruhan karena tidak berlandaskan wahyu tersebut. Karena ada beberapa penyembah berhala yang disebut kudus di dalam Alkitab (Melkisedek, Ayub, Yitro, Naaman) yang hidup sebelum adanya penyembahan orang Yahudi kepada Yahweh dan tentu saja sebelum Kristus, apakah tidak ada orang seperti itu di zaman sekarang?

Jawaban: Orang-orang ini diberi wahyu khusus (bukan hanya wahyu umum) oleh Allah dan tahu banyak hal tentang Yahweh dan janji penebusan-Nya.24 Mereka adalah bagian unik dari sejarah keselamatan (memiliki iman prospektif) dan Kitab Suci tidak memberikan dasar untuk berpikir bahwa apa yang berlaku bagi mereka harus berlaku juga bagi orang yang sekarang belum diinjili. Wahyu khusus diberikan kepada beberapa orang yang khusus pula.

BAGAIMANA SEHARUSNYA ORANG KRISTEN MENANGGAPI AGAMA-AGAMA DI DUNIA?

233

Jika keselamatan eksklusif untuk agama Kristen saja, berarti tidak ada cara lain untuk membenarkan orang-orang kudus di dalam agamaagama lainnya (Buddha, Gandhi, Dalai Lama, dsb.). Jawaban: Ada tiga poin yang berlaku: Pertama, daya tarik yang berhubungan dengan moralitas tidak menjawab pertanyaan tentang kebenaran.25 Orang yang tampaknya mengagumkan secara moral tidak berarti memiliki keyakinan iman yang benar. Kedua, kekristenan itu pada dasarnya bukan sistem etika, melainkan sebuah agama yang berbicara tentang penebusan Ilahi. Masalahnya bukan terletak pada seberapa bermoralnya seseorang dibandingkan dengan orang-orang lainnya, melainkan pada apakah moral seseorang dapat disetarakan dengan kesempurnaan moral Allah. Tidak ada manusia biasa yang tanpa dosa. Alkitab mengajarkan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan membutuhkan anugerah pengampunan Allah yang pemurah di dalam Kristus. Menurut Alkitab, orang Kristen dapat datang ke hadirat Bapa karena mereka diselubungi oleh anugerah kebenaran Kristus (2Kor. 5:21). Ketiga, tidak ada orang yang disebut suci di agama-agama di dunia yang secara moral dapat dibandingkan dengan Yesus Kristus dalam hal kesempurnaan atau kuasa. Allah yang penuh kasih tidak akan membiarkan semua orang dalam sejarah dunia, terlepas dari agama Yahudi dan Kristen yang dangkal, menjadi kaum yang terhilang. Dia juga tidak akan mengutuk orangorang zaman ini yang belum pernah mendengar tentang Kristus (yang belum diinjili). Karena semua itu bukanlah kasih.

Jawaban: Tujuh poin teologis berikut ini mengandung kesimpulan kristiani tentang jalan kehidupan orang-orang yang belum diinjili. 1. Dalam hal jumlah, sebagian besar orang yang hidup di bumi ini masih hidup sampai hari ini. Menjangkau lebih banyak orang dengan Injil pada masa kini lebih mungkin daripada di masa sebelumnya. 2. Sungguh bukanlah pemikiran yang alkitabiah bila kita berpikir bahwa orang-orang yang belum diinjili itu bersikap terbuka/netral secara rohani terhadap hal-hal yang berhubungan dengan Allah. Manusia yang berdosa memiliki kecenderungan alami yang tertutup dan bahkan memusuhi kebenaran Allah (lih. poin 3, hal. 219-220 di bawah judul pembahasan “Sebuah Perspektif Alkitabiah tentang Agama-agama di

234

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Dunia”). Karena kebanyakan orang yang mendengar Injil menolaknya, tidak ada alasan bahwa orang yang belum mendengar Injil itu bisa mendapatkan dispensasi. 3. Orang-orang yang belum diinjili telah berdosa di dalam Adam sehingga menolak kasih karunia Allah dan menderita alienasi spiritual. Secara alkitabiah, salah bila kita mengatakan bahwa orang-orang yang belum diinjili binasa bukan karena kesalahan mereka sendiri. 4. Wahyu umum Allah, yang tidak menjadi sarana penyelamatan, sebenarnya menghukum orang-orang yang belum diinjili yang secara alami cenderung menindas kebenaran secara tidak adil (lih. poin 3, hal. 219-220 di bawah judul pembahasan “Sebuah Perspektif Alkitabiah tentang Agama-agama di Dunia”). 5. Laporan-laporan bahwa orang-orang yang belum diinjili telah mengenal Kristus (analogi penebusan, dsb.) sebelum bertemu dengan misionaris-misionaris Kristen patut diragukan kebenarannya. Laporanlaporan tersebut bukan dasar yang memadai untuk menetapkan doktrin, khususnya dengan tidak adanya dukungan alkitabiah yang kuat. 6. Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa iman yang diyakini secara sadar di dalam Kristus diperlukan untuk mendapatkan keselamatan (lih. poin 6, hal. 223-224 di bawah judul pembahasan “Sebuah Perspektif Alkitabiah tentang Agama-agama di Dunia”). 7. Para penganut eksklusivisme tidak mencapai kata sepakat seutuhnya mengenai nasib orang-orang yang belum diinjili. Tiga pandangan tetap terbuka untuk direnungkan. Eksklusivisme restriktif: Menegaskan bahwa iman yang secara sadar diyakini di dalam Kristus tidak saja bersifat normatif, tetapi memang dibutuhkan untuk mendapatkan keselamatan. Pandangan ini memandang orang-orang yang belum diinjili sebagai orang-orang yang pasti terhilang. Eksklusivisme pesimistis: Meskipun belum ada kepastian tentang nasib orang-orang yang belum diinjili, sikap ini memandang orangorang yang tanpa Kristus sebagai kaum yang terhilang. Allah dapat melakukan pekerjaan kasih karunia yang luar biasa, di luar pemberitaan Injil secara eksplisit. Namun, tidak ada dukungan alkitabiah yang langsung bahwa Dia akan melakukan hal itu. Banyak orang yang menganut pandangan ini berpikir bahwa jika Allah melakukan karya kasih karunia

BAGAIMANA SEHARUSNYA ORANG KRISTEN MENANGGAPI AGAMA-AGAMA DI DUNIA?

235

yang luar biasa semacam itu, maka hal ini pasti akan mengarah pada pertemuan dengan pemberitaan Injil (melalui misionaris, penginjil). Eksklusivisme nonrestriktif: Karena tidak ada kepastian yang mutlak tentang nasib orang-orang yang belum diinjili tersebut, para penganut eksklusivisme yang nonrestriktif menyatakan bahwa Alkitab memberikan indikasi bahwa Allah dapat dan mungkin menjangkau orang-orang yang terhilang dengan beberapa cara yang ajaib. Namun, sebagian orang Kristen tidak melihat perbedaan antara pandangan ini dan inklusivisme. Hubungan yang tepat antara pemberitaan Injil dan orang-orang yang belum diinjili merupakan pokok bahasan lanjutan di dalam kelompok eksklusivis/partikularis.26 Sebagian eksklusivis penginjilan dewasa ini (para nonrestriktivis) berpendapat bahwa meskipun pemberitaan Injil diperlukan, sebenarnya Allah yang berdaulat tidak tergantung pada upayaupaya manusia yang tidak sempurna untuk memberitakan kabar keselamatan kepada orang-orang yang belum diinjili. Mereka berpendapat bahwa pada kesempatan-kesmepatan yang langka dan istimewa, Allah dapat menyampaikan kasih karunia-Nya melalui sarana-sarana luar biasa lainnya (mimpi, visi, wahyu umum yang dihidupkan kembali). Jadi, mereka beranggapan bahwa orang-orang yang belum pernah secara eksplisit mendengar berita Injil, tidak seharusnya dihukum karena kegagalan gereja untuk melaksanakan Amanat Agung. Para eksklusivis penginjilan lainnya (para restriktivis) bersikeras bahwa mendengar dan menanggapi berita Injil secara eksplisit itu penting dan menjadi satu-satunya cara untuk mengambil bagian dalam keselamatan. Mereka berpendapat bahwa Kitab Suci dengan jelas menghubungkan respons iman yang diyakini secara sadar dengan pemberitaan Injil yang eksplisit. Allah memerintahkan gereja untuk memenuhi kewajibannya yang universal, yakni memberitakan Injil kepada semua orang di mana pun berada. Mereka juga menyatakan bahwa ide tentang Allah yang bertindak melalui cara luar biasa lainnya adalah ide yang murni bersifat anekdot dan tanpa dukungan alkitabiah yang jelas atau eksplisit. Namun, para eksklusivis sepakat bahwa gereja memiliki kewajiban Ilahi untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia, dan orang-orang harus memiliki iman yang eksplisit di dalam Kristus. Mandat ini tentunya mencakup membawa Firman Kristus kepada orang-orang yang terpe-

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

236

rangkap di dalam sistem kepercayaan agama-agama dunia yang keliru. Umat Kristen mendapatkan mandat untuk merenungkan dengan serius, cara-cara yang bisa diterapkan untuk melaksanakan Amanat Agung. Upaya-upaya misi, penginjilan, dan apologetis yang kuat layak mendapatkan dukungan penuh untuk membawa Injil kepada orang-orang yang belum percaya. Ironisnya, masyarakat yang pluralistis dan global mendapatkan salah satu keuntungan karena orang-orang yang belum diinjili makin banyak yang datang ke tempat-tempat di mana Injil diberitakan secara terbuka. Eksklusivisme menuntut komitmen terhadap Amanat Agung: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat. 28:18-20)

Pertanyaan Diskusi 1. Bagaimana konsep wahyu Kristen yang historis memengaruhi pertanyaan tentang bagaimana cara memandang agama-agama di dunia? 2. Apakah komitmen terhadap kebenaran unik kekristenan secara tak langsung menyatakan bahwa setiap agama yang bukan Kristen itu salah? 3. Mungkinkah anugerah Allah bekerja melalui tradisi-tradisi agama (bukan Kristen) lainnya? Mengapa mungkin atau mengapa tidak mungkin? 4. Apakah eksklusivisme Kristen itu arogan atau secara moral menjijikkan? 5. Apa saja yang dapat dilakukan oleh seseorang untuk mendukung misi Amanat Agung? Untuk Studi Lebih Lanjut Anderson, Norman. Christianity and World Religions (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1984). Corduan, Winfried. Neighboring Faiths: A Christian Introduction to World Religions (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1988).

BAGAIMANA SEHARUSNYA ORANG KRISTEN MENANGGAPI AGAMA-AGAMA DI DUNIA?

237

Halverson, Dean C., editor umum. The Compact Guide to World Religions (Minneapolis: Bethany, 1996). Nash, Ronald H. Is Jesus the Only Savior? (Grand Rapids: Zondervan, 1994). Okholm, Dennis L., dan Timothy R. Phillips, editor. More Than One Way? Four Views on Salvation in a Pluralistic World (Grand Rapids: Zondervan, 1995). Sanders, John. No Other Name: An Investigation into the Destiny of the Unevangelized (Grand Rapids: Eerdmans, 1992).

BUKANKAH KEKRISTENAN DAN ILMU PENGETAHUAN BERTENTANGAN?

Hanya ada satu pikiran yang lebih besar daripada alam semesta, dan itu adalah pikiran Penciptanya. ––John Henry Newman, The Idea of a University Ilmu pengetahuan modern dikandung, dilahirkan, dan berkembang di dalam matriks teisme Kristen. ––Alvin Plantinga, “Darwin, Mind and Meaning”

M

atematikawan sekaligus filsuf Inggris Bertrand Russell pernah berkata, “Saya sangat yakin bahwa agama-agama melakukan kesalahan seperti saya, bahwa agama-agama itu tidak benar.”1 Dalam karyanya yang populer dan kontroversial Why I Am Not a Christian, Russell menuduh kekristenan telah menjadi musuh bagi kemajuan intelektual, terutama di bidang ilmu pengetahuan.2 Pendukung-pendukung vokal lainnya yang pandangannya murni naturalistis telah menggaungkan klaim Russell, dengan menegaskan bahwa agama Kristen tidak sesuai dengan—dan bahkan memusuhi—pencapaian dan temuan ilmu pengetahuan modern. Banyak orang memandang kekristenan itu tidak ilmiah dan bahkan antiilmiah. Konflik antara beberapa teori ilmiah dan iman Kristen memang ada, tetapi tingkat pertentangan itu telah dibesar-besarkan. Dan, pengaruh positif kekristenan terhadap sains jarang diakui.3

239

240

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Secara historis, sains dan kekristenan selama ini lebih sering menjadi sekutu daripada musuh. Waktunya telah tiba untuk menunjukkan bagaimana pandangan Kristen secara unik sesuai dengan sains, sedangkan pandangan naturalistis justru memiliki ikatan-sains yang lemah secara serius. Untuk menemukan dukungan timbal balik antara ilmu pengetahuan dan iman Kristen, orang mungkin dapat mulai dengan meninjau sejarah kegiatan ilmiah.

Ilmu Pengetahuan yang Baru Muncul Pendatang baru dalam kancah sejarah manusia, Sains modern, muncul di Eropa sekitar pertengahan abad XVII. Namun, mengapa tidak muncul lebih cepat, menerobos ke seluruh dunia? Upaya ilmiah hanya dapat berakar di lahan subur pandangan tertentu (kerangka kerja konseptual untuk menafsirkan realitas). Dan tidak setiap kebudayaan menganut pandangan yang kondusif terhadap ilmu pengetahuan. Bahkan, pemikiran filsafat dasar di dalam banyak budaya historis jelas menghambat kemajuan pandangan ilmiah. Meskipun beberapa peradaban besar dunia kuno (Mesopotamia, India, China, Mesir, Yunani, Roma) mengembangkan beberapa pencapaian teknologi yang signifikan dan dengan cara-cara kecil memberikan kontribusi bagi pemikiran prailmiah, masyarakat kuno pada masa itu tidak memiliki kerangka filosofis yang diperlukan untuk melahirkan kegiatan eksperimental yang sekarang dikenal sebagai sains modern. Bahkan orang-orang Yunani kuno, dengan prestasi mereka yang signifikan di bidang matematika dan logika dan mencapai puncaknya pada zaman Aristoteles (384-322 SM), tidak memiliki penekanan eksperimental dan pengujian yang begitu penting bagi sains Barat modern. Hambatan dari Penyembahan Berhala Menyebabkan Kematian Sains Sebelum Berkembang Sejarawan terkemuka sekaligus filsuf sains Stanley Jaki berpendapat bahwa ilmu pengetahuan “mati sebelum berkembang” dalam peradabanperadaban besar lainnya di luar Eropa yang menganut kekristenan karena ide-ide yang tersebar luas tidak hanya gagal memelihara, tetapi juga mematikan perkembangan sains itu.4 Ide-ide mendasar (apa yang nyata, benar, dan baik) memengaruhi lahirnya sains karena presuposisi filosofis

BUKANKAH KEKRISTENAN DAN ILMU PENGETAHUAN BERTENTANGAN?

241

dan religius sangat berdampak pada cara pandang orang terhadap realitas fisik. Kepercayaan kaum pagan mengenai realitas mencegah peradabanperadaban sebelumnya mengembangkan bentuk mandiri penyelidikan ilmiah.5 Prasangka-prasangka berikut ini menghalangi munculnya sains dalam peradaban kuno. Sebuah Pandangan Bersiklus tentang Waktu

Hampir semua peradaban kuno menganut pandangan bersiklus (berulang secara konstan) tentang waktu. Tidak seperti pandangan waktu linier (dari awal sampai akhir), yang diperkenalkan di Barat oleh Augustine (354-430 M), pendekatan bersiklus tentang waktu itu sungguh menentukan. Dengan demikian, hal itu dapat menghambat kemajuan, meningkatkan kepuasan diri, dan tidak memberikan dasar yang cukup untuk menyelidiki atau mempertanyakan hubungan sebab-akibat. Konsep agama Timur seperti karma (siklus keadilan) dan reinkarnasi (siklus kelahiran kembali) mencerminkan pandangan siklus atau kejadian yang berulang ini. Astrologi

Penjelasan-penjelasan ilmiah-semu untuk fenomena alam telah menyebar ke seluruh bagian dunia kuno. Astrologi—kepercayaan kuno bahwa nasib atau takdir individu dan negara ditentukan oleh bintang— diarahkan jalannya. Meskipun astronomi dikembangkan dari astrologi, faham fatalisme yang terdapat pada astrologi pada umumnya menekan inisiatif manusia dan menghalangi penyelidikan ilmiah yang sejati. Mendewakan Alam

Pandangan metafisika yang mendewakan alam, lazim dilakukan pada zaman kuno. Keyakinan agama primitif yang disebut animisme mengajarkan bahwa bagian-bagian alam (gunung, laut, angin, dan sebagainya) dipenuhi dengan roh, sedangkan panteisme (secara harfiah “semua adalah allah”) dan bentuk paganisme mendewakan dunia secara utuh atau secara keseluruhan. Bila kita memandang dunia sebagai objek ibadah yang misterius dan suci, berarti dunia tidak dapat dianalisis secara objektif dan independen. Oleh karena itu, tidak ada eksperimen yang empiris.

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

242

Menyangkal Alam

Agama Hindu, yang muncul dari peradaban Lembah Sungai Indus dari India kuno, sangat bergantung pada Upanishad (bagian dari kitab suci Veda), yang mengajarkan bahwa dunia fisik hanyalah sebuah ilusi. (Pandangan ini terutama penting bagi cabang agama Hindu yang lebih filosofis). Salah satu ciri khas agama Hindu adalah pada konsep maya, keyakinan bahwa indra orang dibombardir dengan pengetahuan palsu. Menurut kepercayaan Hindu, dunia materi adalah bagian dari realitas semu. Ilmu pengetahuan tidak bisa dianggap serius ketika pandangan filosofis yang dominan itu menyangkal realitas alam itu sendiri (idealisme). Bahkan tradisi Yunani, Platonis memandang dunia fisik (dunia yang terlihat) kurang nyata dibandingkan dunia yang berbentuk transenden (dunia konseptual Plato tentang esensi ideal, dunia realitas). Natur Ilah-ilah yang Aneh dan Tidak Lazim

Para dewa peradaban kuno biasanya berubah-ubah dan tidak logis sebagaimana yang dijelaskan dalam interaksi mereka yang konon dilakukan dengan manusia dan dunia. Menurut kepercayaan kuno, keadaan fisik dunia diserahkan pada kehendak para dewa yang tak terduga dan tidak bisa diandalkan (semacam bentuk kuno dari relativisme). Ilmu pengetahuan tidak bisa berakar di dunia yang tidak tertata dan tidak beraturan. Bahkan kebudayaan Arab yang sudah maju pada abad pertengahan mengalami kesulitan karena adanya kepercayaan kepada natur yang tidak logis yang dikaitkan dengan Allah mereka.

Sains di Zaman Kegelapan Banyak orang sekuler setuju bahwa takhayul dunia kuno mencegah lahirnya penyelidikan ilmiah yang mandiri. Namun, banyak dari mereka ini menganggap Abad Pertengahan (yang disebut sebagai “zaman gereja”) sebagai “zaman kegelapan,” periode yang menghambat kemajuan sains. Sebagian orang telah menyatakan bahwa kesadaran kolektif dunia Abad Pertengahan memburuk karena orang terlalu memikirkan surga dan sedikit yang duniawi.6 Namun, hal ini tampaknya merupakan penilaian yang terlalu berlebihan.

BUKANKAH KEKRISTENAN DAN ILMU PENGETAHUAN BERTENTANGAN?

243

Bagian awal Abad Pertengahan (ca. 500-800 M) memang membuat pengajaran Yunani-Romawi (klasik) menjadi suram (sehingga dinamakan zaman “gelap”) dan kemunduran tajam terjadi dalam kebudayaan di Eropa Barat, tetapi sisa era Abad Pertengahan tidak sedikit lebih cerah. Bahkan, ahli-ahli terkemuka dalam sejarah intelektual Abad Pertengahan telah menunjukkan bahwa revolusi ilmiah, yang datang pada abad XVI dan XVII, berakar pada puncak Abad Pertengahan.7 Teolog sekaligus ilmuwan Oxford, Alister McGrath mengidentifikasi tiga perkembangan Abad Pertengahan yang memelopori munculnya sains di kemudian hari. Kemajuan ini meliputi: (1) penerjemahan teks-teks penting dalam bahasa Yunani dan Arab yang berhubungan dengan sains, ke dalam bahasa Latin, (2) pendirian universitas-universitas besar di Eropa Barat (dengan program-program studi di bidang sains yang berkembang), dan (3) penegasan para teolog dan filsuf Kristen yang belajar di universitas tentang nilai dan pentingnya mempelajari dunia alam, yang diciptakan oleh Allah.8 Oleh sebab itu, sintesis intelektual dalam dunia Abad Pertengahan membuka jalan bagi ilmu pengetahuan eksperimental yang datang kemudian.9

Dalam Buaian Peradaban Kristen Kekristenan secara unik dan tegas membentuk iklim intelektual yang memunculkan ilmu pengetahuan modern (kira-kira tiga setengah abad yang lalu).10 Bahkan benar jika dikatakan bahwa ilmu pengetahuan modern lahir di dalam buaian peradaban Kristen. Tidak saja hampir semua pendiri ilmu pengetahuan adalah orang-orang Kristen yang taat (termasuk Kopernikus, Kepler, Galileo, Newton, Boyle, dan Pascal),11 tetapi dunia Kristen juga menyediakan landasan bagi sains modern untuk muncul dan berkembang. Teisme Kristen menegaskan bahwa Allah yang tak terbatas, kekal, dan bersifat pribadi itu menciptakan dunia ex nihilo (secara harfiah berarti “dari ketiadaan”). Maka dari itu, penciptaan, yang mencerminkan natur rasional Sang Pencipta, ditata dengan rapi dan seragam (sebagaimana yang difirmankan Allah sebagai “baik” adanya). Selanjutnya, manusia dipandang sebagai “diciptakan menurut gambar Allah” (Kej. 1: 26-27) sehingga mampu mengamati, memikirkan, dan akhirnya menemukan kejelasan dari tatanan yang diciptakan-Nya. Pada dasarnya, dunia

244

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Kristen mendukung prinsip-prinsip penting yang membuat penyelidikan ilmiah mungkin dilakukan dan diminati. Alkitab sendiri berperan dalam perkembangan metode ilmiah. Prinsip-prinsip yang mendasari metode ilmiah (dapat diuji, diverifikasi dan dipalsukan) secara unik sesuai dengan kualitas intelektual yang ditegaskan di dalam Kitab Suci Yahudi Kristen. Doktrin Kristen membantu menyuburkan metode eksperimental.12 Karena orang-orang Kristen pendiri ilmu pengetahuan modern percaya bahwa langit benar-benar menyatakan kemuliaan Allah (Mzm. 19:2), maka mereka memiliki kerangka konseptual dan insentif spiritual yang diperlukan untuk menyelidiki misteri alam dengan berani. Menurut teisme Kristen, Allah mengungkapkan diri-Nya tidak saja di dalam Alkitab (“firman Allah”), tetapi juga melalui “wahyu umum” Allah (melalui perbuatan-perbuatan kreatif) yang dapat ditemukan di alam (“Dunia Allah”) (untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang hal ini, lih. bab 3). Para ilmuwan Puritan di Inggris dan Amerika memandang studi ilmu pengetahuan sebagai upaya suci untuk “memikirkan pikiran-pikiran Allah.” Kitab-kitab yang berbicara tentang hikmat di dalam PL secara konsisten mendesak umat Allah untuk mengejar “hikmat, pengetahuan, dan pengertian,” yang semuanya berakar pada “takut akan TUHAN” (Ayb. 28:28; 34:4; Mzm. 111:10; Ams. 1:7; 9:10). Dan kebajikan intelektual berupa kecermatan, refleksi, dan pengujian merupakan mandat alkitabiah (Kis. 17:11; Rm. 12:2; 1Kor. 14:29; Kol. 2:8; 1Tes. 5:21; 1Yoh. 4:1; Why. 2:2). Prinsip-prinsip penting yang dianut oleh kaum naturalis teologis mula-mula ini (para ilmuwan mula-mula) melatarbelakangi munculnya metode eksperimental.13

Kondisi yang Diperlukan untuk Sains Para ilmuwan gemar mengatakan bahwa salah satu ciri dasar sains adalah ilmu itu bekerja. Namun, pengoperasian ilmu pengetahuan menerima kebenaran-kebenaran mendasar tertentu yang tidak sepenuhnya berasal dari sains itu sendiri. Agar usaha eksperimental ini bekerja dan berkembang, asumsi-asumsi nonempiris tertentu tentang dunia harus benar. Dengan kata lain, dibutuhkan jenis dunia tertentu agar sains dapat beroperasi dengan baik.14 Proses ilmiah tidak dapat bekerja di setiap bidang. Bahkan salah satu alasan sains modern, mulainya begitu

BUKANKAH KEKRISTENAN DAN ILMU PENGETAHUAN BERTENTANGAN?

245

terlambat karena pandangan filosofis (kerangka konseptual) budaya sebelumnya yang tidak memadai untuk membenarkan dan mempertahankan prasyarat yang diperlukan untuk kemajuan ilmiah. Sains lahir, dipupuk dan akhirnya berkembang di tengah peradaban Kristen Eropa karena visi Kristen tentang realitas memiliki semua asumsi yang dibutuhkan untuk mendasari kegiatan ilmiah. Poin-poin berikut ini15 mencerminkan bagaimana pandangan kristiani mengantisipasi, membentuk, mendorong, membenarkan, dan menopang karakter umum dan asumsi sains modern. Pandangan kristiani menjadi dasar sains karena pengakuannya atas sepuluh kebenaran berikut ini: 1. Alam semesta merupakan realitas yang khas dan objektif. Melalui hikmat-Nya yang tak terukur dan kuasa-Nya yang menakjubkan, Allah menciptakan alam semesta (materi, energi, waktu, dan ruang) ex nihilo. Oleh karena itu, alam semesta sendiri memiliki keberadaan yang khas (terpisah dari pikiran dan kehendak si pengamat atau manusia), yang bergantung pada kekuasaan Allah yang kreatif dan menopang. Jika alam semesta bukan merupakan suatu realitas objektif, seperti yang diungkapkan oleh kebudayaan dan tradisi filsafat yang lain, maka hal itu berarti sains tidak berguna. Allah transenden yang diungkapkan di dalam Kitab Suci adalah penyebab penting bagi kesatuan alam semesta. 2. Hukum alam menunjukkan tatanan, pola, dan keteraturan.

Karena Tuhan sendiri yang merancang alam semesta untuk mencerminkan rasionalitas yang menjadi sifat-Nya, maka dunia menunjukkan tatanan yang serasi, pola yang terdeteksi, dan keteraturan yang dapat diandalkan. Sifat-sifat teleologis (yang sangat berarti) ini esensial untuk natur sains karena memungkinkan terciptanya teori-teori ilmiah yang konsisten. Karena mencerminkan pikiran Sang Pencipta, kosmos merefleksikan keindahan dan koherensi. Filsuf sains Del Ratzsch berkomentar, “Mengingat kosmos menghentikan kekacauan yang fundamental, kita menuntut teori-teori yang konsisten, dan karena kita berharap bahwa pola-pola itu luas dan terpadu, kita berharap bahwa teoriteori yang bahkan kira-kira benar akan cocok satu sama lain.”16

246

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

3. Hukum alam itu konsisten di seluruh alam semesta.

Karena pengaturan dan pemerintahan Allah, maka tatanan dan keteraturan alam tampak di seluruh alam semesta ini. Universalitas hukum-hukum yang penting untuk kegiatan ilmiah, menjamin hasil duplikasi sains dapat diprediksi dan mungkin dilakukan. Konsistensi alam meyakinkan para ilmuwan bahwa hubungan kausal besok akan sesuai dengan hubungan kausal hari ini. Metode induktif dan penalaran inferensial tergantung pada konsistensi hukum alam, dan universalitas itu sesuai dengan harapan bila kita melihat melalui lensa pandangan teistis Kristen. 4. Alam semesta ini dapat dimengerti.

Karena dunia ini mencerminkan hikmat Penciptanya, tatanan dan pola alam semesta dapat dimengerti dan dipahami. Itulah sebabnya dunia fisik dapat dipelajari secara objektif sehingga memungkinkan munculnya sains. Dunia yang mudah dipahami yang menakjubkan ini membuat fisikawan Inggris, John Polkinghorne mencatat, “Kita sangat akrab dengan fakta yang menunjukkan bahwa kita dapat memahami dunia yang kerap kita terima begitu saja. Hal itulah yang memungkinkan munculnya sains. Namun, bisa juga terjadi yang sebaliknya. Alam semesta bisa saja menjadi tatanan yang kacau, bukan kosmos yang teratur.”17 5. Dunia ini baik, berharga, dan layak dipelajari dengan cermat.

Allah menyebut ciptaan-Nya “sungguh amat baik” (Kej. 1:31). Tatanan yang diciptakan-Nya bersaksi tentang keberadaan, kuasa, hikmat, keagungan, kebenaran, dan kemuliaan Allah. Oleh karena itu, mempelajari alam dapat mengungkapkan kebenaran tentang Allah. Dunia ini juga tempat di mana umat manusia menjalani garis kehidupan mereka. Penelitian tentang alam sangat bermanfaat bagi umat manusia (medis, teknologi, ekonomi dan spiritual), dan umat manusia sebagai puncak ciptaan diwajibkan Allah untuk mengelola kehidupan dan sumber daya yang hidup dan yang tak hidup di planet ini (Kej. 1:28).

BUKANKAH KEKRISTENAN DAN ILMU PENGETAHUAN BERTENTANGAN?

247

6. Sebab dunia tidak bersifat ilahi dan oleh karena itu bukan objek penyembahan yang tepat, maka dunia dapat menjadi objek studi yang rasional.

Kitab Suci Yahudi-Kristen mengutuk semua sistem kepercayaan yang mendewakan tatanan alam (mis., animisme, panteisme, paganisme) sebagai berhala. Sebagai realitas fisik yang independen, alam semesta adalah objek potensial untuk penelitian yang rasional (eksperimen). Sikap kekristenan yang mengontrol takhayul tentang alam, membuat sains dipandang sebagai pengetahuan yang layak dikejar. 7. Manusia mampu menemukan kejelasan di alam semesta.

Karena imago Dei, manusia memiliki kapasitas rasional yang mendalam dan penting. Allah menciptakan manusia yang secara khusus mampu mengenali dan membedakan kebenaran. Dia menciptakan manusia dengan kemampuan kognitif dan sensorik yang diperlukan untuk memperhatikan, memikirkan, dan akhirnya mengenali tatanan yang jelas dari dunia ciptaan-Nya. Dia juga memberi manusia kemampuan untuk berinteraksi di level intelektual sehingga dapat memeriksa kesimpulan dari pihak lain (memungkinkan praktik ilmiah atau evaluasi ilmiah dari orang yang bekerja di bidang yang sama). Sebagai perancang dunia dan pikiran manusia, Allah membuat keselarasan tercipta di antara keduanya. Dengan demikian, Dia menjamin validitas kebenaran sama seperti halnya validitas ilmu matematika, logika, dan bahasa. Keselarasan antara alam dan pikiran manusia tersebut adalah saksi kuat bagi kebenaran rancangan Ilahi sebagaimana dinyatakan di dalam sejarah kekristenan. McGrath menjelaskan pentingnya hubungan ini, “Ada keselarasan yang mendalam antara rasionalitas di dalam pikiran kita, dan rasionalitas—keteraturan—yang ada di dalam dunia. Jadi, struktur matematika murni yang abstrak—hasil swakreasi manusia— menjadi petunjuk penting untuk memahami dunia.”18 8. Tindakan bebas Sang Pencipta membuat metode empiris diperlukan.

Pola kreatif Allah bisa saja muncul dari berbagai jalur. Karena manusia tidak memiliki pengetahuan sebelumnya tentang pola-pola yang sudah ditetapkan itu, metode empiris dengan proses eksperimennya diperlukan.

248

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Penciptaan menggambarkan bahwa Allah adalah seniman yang suka berkelakar. Sebagai contoh, Allah menciptakan varietas yang berbeda dalam satu tanaman tertentu atau spesies hewan yang satu sama lain memiliki kemiripan namun tetap dapat dibedakan satu sama lain untuk diteliti dengan cermat dan untuk membangkitkan rasa ingin tahu. Bunga mawar dan bunga dari pohon ganja sangat berbeda, tetapi keduanya adalah bunga. Kelelawar dan beruang sama sekali tidak dapat dibandingkan, tetapi keduanya adalah mamalia. 9. Allah mendukung ilmu pengetahuan melalui perintah-Nya kepada manusia agar mereka berkuasa atas alam.

Allah tidak saja menciptakan manusia dengan kemampuan untuk mempelajari alam, tetapi Dia juga memerintahkan manusia pertama, Adam, untuk ikut mengelola alam. Interaksi Adam dengan alam (merawat taman dan memberi nama kepada binatang-binatang) melibatkan penguasaan dan klasifikasi alam tertentu. Kewajiban yang Allah berikan kepada manusia untuk “menundukkan” alam tentu membutuhkan kegiatan ilmiah. 10. Sifat-sifat intelektual yang esensial untuk melaksanakan kegiatan ilmiah merupakan bagian dari Hukum moral Allah.

Ilmu pengetahuan harus dipraktikkan dengan cara tertentu untuk mengembangkan dan memperlengkapi keturunan Adam berkenaan dengan tugas yang diberikan Allah. Ilmu pengetahuan yang baik harus melibatkan sifat-sifat intelektual seperti kejujuran, integritas, kearifan, kerendahan hati, dan keberanian.19 Sifat-sifat moral ini merupakan bagian dari hukum moral Allah yang ditujukan kepada umat manusia. Prinsip-prinsip moral harus didasarkan pada sesuatu yang objektif (lih. bab 18 tentang relativisme).

Dapatkah Naturalisme Membenarkan Prasyarat Sains? Prasyarat sains yang krusial cocok dengan klaim kebenaran teisme Kristen tentang Pencipta yang tidak terbatas, kekal, dan bersifat pribadi yang dengan cermat memerintah alam semesta dan memberikan kepada manusia akal budi dan sistem sensorik yang sesuai dengan kejelasan alam semesta ini. Skema kristiani ini memberikan inspirasi dan dasar per-

BUKANKAH KEKRISTENAN DAN ILMU PENGETAHUAN BERTENTANGAN?

249

kembangan intelektual bagi sains modern. Namun, bagaimana dengan naturalisme? Dapatkah naturalisme menjelaskan prasyarat-prasyarat yang sains perlukan? Naturalisme adalah sistem kepercayaan yang menganggap alam semesta bersifat alami, material dan fisik sebagai satu-satunya realitas. Alam adalah peraga yang utuh. Sudut pandang ini sering ditandai dengan keyakinan-keyakinan berkonsekuensi seperti monisme (semua realitas adalah satuan tunggal), materialisme (realitas pada akhirnya kebendaan semata-mata), anti-supranaturalisme (semua penjelasan yang bersifat supranatural harus ditolak a priori), saintisme (hanya metode ilmiah yang menghasilkan “kebenaran”), dan humanisme (kemanusiaan adalah hasil akhir yang paling penting, karena itu “nilai”). Menurut naturalisme, segala sesuatu (benda, orang, dan peristiwa) dapat direduksi menjadi “zat yang bergerak.” Semua yang berhubungan dengan fenomena alam mendasar tertentu (fisika, kimia, dan biologi) dapat direduksi, atau dijelaskan. Carl Sagan mengemukakan pandangan naturalisme yang kuat dalam sebuah pernyataannya yang terkenal di serial televisi Cosmos: “Kosmos adalah semua yang ada, yang pernah ada, atau yang akan ada.” Jika naturalisme harus diterima sebagai pandangan yang cukup lengkap, maka ia harus memiliki kekuatan penjelas yang sejati. Namun, beberapa pertanyaan yang sulit muncul dan menantang kebenaran yang diakui sebagai pandangan yang murni naturalistis.20 





Bagaimana mungkin sebuah dunia yang merupakan produk dari proses-proses alami yang tidak beralasan, tidak bertujuan, dan acak itu menjelaskan dan membenarkan kondisi-kondisi krusial yang memungkinkan terjadinya kegiatan ilmiah? Bukankah tatanan, keteraturan, dan konsistensi alam, tidak tepat berada (pada kondisi kebetulan yang tidak dapat dijelaskan dan sia-sia) di dalam dunia yang murni naturalistis, yang bisa dengan mudah menjadi alam semesta yang acak dan kacau? Apa yang menjelaskan keberadaan entitas yang abstrak dan nonempiris seperti angka, proposisi, hukum logika, dan kesimpulan induktif di dunia yang merupakan produk dari proses kebetulan yang tidak disengaja?

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

250







Jika organ-organ sensorik dan kemampuan kognitif manusia adalah hasil dari kebetulan dan kemungkinan, bagaimana organorgan dan kemampuan ini bisa dipercaya untuk menghasilkan data yang koheren, apalagi “kebenaran” yang objektif?21 Karena naturalisme menyiratkan sejenis determinisme fisik (segala sesuatu adalah produk dari faktor-faktor genetik, kimia, dan lingkungan), maka bukankah itu berarti menolak hal-hal semacam itu sebagai gagasan yang disengaja dan bukan kebetulan? Karena determinisme ini tidak sesuai dengan pemikiran rasional, kehendak bebas, dan keputusan moral, mungkinkah naturalisme menghancurkan dirinya sendiri?

Filsuf Kristen Greg L. Bahnsen menyatakan bahwa bukannya membenarkan presuposisi mendasar mereka, para naturalis secara tidak sah menyandarkan pekerjaan ilmiah mereka pada prinsip-prinsip teistis Kristen.22 Naturalis meminjam modal filosofis/epistemologis Kristen. Naturalisme tampaknya tidak dapat menjelaskan asumsi-asumsi yang memungkinkan terciptanya sains modern. Naturalisme tampaknya juga bertentangan dengan praktik sains. Disiplin sains menerima pandangan yang serupa dengan pandangan Alkitab. Fisikawan dan penulis sains populer Paul Davies memberikan pengamatan ini: Dalam tiga ratus tahun berikut dimensi teologis sains telah memudar. Orang-orang menerima begitu saja bahwa dunia itu diatur dan logis. Tatanan utama di alam—hukum fisika—diterima sebagai hal yang biasa, sebagai fakta yang gamblang. Tidak ada yang bertanya dari mana datangnya, setidaknya pertanyaan ini tidak diajukan di dalam pertemuan yang berbudaya. Namun, ilmuwan paling ateis sekalipun menerimanya sebagai tindakan iman bahwa alam semesta ini tidak mustahil, bahwa ada dasar yang rasional bagi keberadaan fisik alam yang diwujudkan sebagai tatanan alamiah, yang setidaknya sebagian dapat kita pahami. Jadi, ilmu pengetahuan dapat dilanjutkan hanya jika si ilmuwan mengadopsi pandangan yang secara esensi bersifat teologis.23

Dapatkah ilmu pengetahuan muncul jika pandangan metafisika yang dominan yang saat itu bersifat naturalistis dan materialistis? Dan apakah naturalisme akan dapat mempertahankan kegiatan ilmiah yang dilahirkan oleh teisme Kristen? Orang yang rasional tentu mempertanyakannya.

BUKANKAH KEKRISTENAN DAN ILMU PENGETAHUAN BERTENTANGAN?

251

Apakah Kekristenan Sesuai dengan Pandangan-pandangan Sains yang Kuat? Jelas bahwa kekristenan berkontribusi dalam peluncuran ilmu pengetahuan modern. Namun, pertanyaan ini kerap muncul dewasa ini: Bagaimana pandangan ilmiah yang berhubungan dengan alam semesta bisa selaras dengan Kitab Suci? Sebuah perenungan singkat tentang ledakan dahsyat kosmologi dan munculnya “prinsip antropik” (penyempurnaan untuk kepentingan kehidupan manusia) akan membantu menjawab pertanyaan ini. Permulaan Terjadinya Alam Semesta

Kosmologi dari semua kitab suci kuno bertentangan dengan temuan sains modern, kecuali satu. Sesuai dengan kesimpulan yang mapan, Kitab Suci mengungkapkan hal-hal ini (di antara lainnya) tentang alam semesta:24 1. Alam semesta memiliki awal yang tunggal ex nihilo (Kej. 1:1; Yoh. 1:3; Rm. 4:17; Kol. 1:16-17; Ibr. 11:3; Why. 4:11).  



“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej. 1:1). “Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada” (Rm. 4:17). “Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat” (Ibr. 11:3).

2. Alam semesta terus berkembang (Ayb. 9:8; Mzm.104:2). 





“Yang seorang diri membentangkan langit, dan melangkah di atas gelombang-gelombang laut” (Ayb. 9:8). “Yang berselimutkan terang seperti kain, yang membentangkan langit seperti tenda” (Mzm. 104:2). “Beginilah firman Allah, TUHAN, yang menciptakan langit dan membentangkannya” (Yes. 42:5).

3. Materi, energi, ruang, dan waktu memiliki awal yang spesifik (Yoh. 1:3; Kol. 1:16-17; 2Tim. 1:9; Tit. 1:2).

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

252









“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh. 1:3). “Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia” (Kol. 1:16-17). “Kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman” (2Tim. 1:9). “Pengharapan akan hidup yang kekal yang sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta” (Tit. 1:2).

4. Alam semesta mengalami kebinasaan (hukum kedua termodinamika, Rm. 8:21). 

“Makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan” (Rm. 8:21).

5. Alam semesta akan berakhir (2Ptr. 3:7; 10,13; Why. 21:1). 



“Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap” (2 Ptr. 3:10). “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi” (Why. 21:1).

Karena alam semesta memiliki awal (tunggal), maka masuk akal bila kita menanyakan penyebab terjadinya alam semesta itu. Secara logis, segala sesuatu yang dimulai harus memiliki penyebab. Pertanyaan klasik Gottfried Leibniz, “Mengapa ada sesuatu dan bukan tidak ada apa-apa?” tampaknya merupakan pertanyaan yang lebih provokatif mengingat apa yang sekarang dikenal dengan big bang alam semesta. Memercayai bahwa alam semesta muncul dari ketiadaan oleh ketiadaan tampaknya jauh lebih tidak masuk akal daripada memercayai bahwa alam semesta muncul dari tangan Pribadi yang transenden.

BUKANKAH KEKRISTENAN DAN ILMU PENGETAHUAN BERTENTANGAN?

253

Alam Semesta yang Tepat untuk Kehidupan Manusia Kata Yunani untuk alam semesta adalah kosmos. Kata ini di dalam PB menyatakan sebuah dunia yang diciptakan oleh Allah dan karena itu ditandai dengan tatanan, tujuan, dan kompleksitas. Tuhan menciptakan kosmos dengan menggunakan pengetahuan dan hikmat yang tidak terbatas. Berbagai ayat di dalam Kitab Suci menegaskan keterlibatan aktif Allah di dalam rancangan-Nya: 







“Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh napas dari mulutNya segala tentaranya” (Mzm. 33:6). “Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu” (Mzm. 104:24). “Dengan hikmat TUHAN telah meletakkan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkan-Nya langit” (Ams. 3:19). “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan” (Why. 4:11).

Prinsip antropik (yang dikenal dan diterima dalam komunitas ilmiah) mengacu pada pengamatan ilmiah bahwa alam semesta menunjukkan semua kualitas dan karakteristik yang diperlukan untuk memungkinkan manusia hidup di dalamnya.25 Konstanta kosmologis mendasar dari alam yang sangat sempurna memungkinkan alam semesta di mana saja dan kapan saja cocok untuk kehidupan manusia. Keempat konstanta utama meliputi gaya nuklir yang kuat, gaya nuklir lemah, gaya gravitasi, dan gaya elektromagnetik. Jika nilai konstanta-konstanta yang terukur tidak tepat, sedikit lebih besar atau lebih kecil, maka tidak mungkin ada atau pernah ada kehidupan di mana pun di alam semesta ini.26 Fisikawan Paul Davies berkomentar, “Ketepatan nilai-nilai numerik yang tampaknya ajaib, yang telah ditugaskan alam kepada konstanta-konstanta fundamentalnya, harus tetap menjadi bukti yang paling menarik tentang sebuah elemen pada rancangan kosmis.”27 Seorang ahli astronomi sekaligus ahli apologetika Kristen, Hugh Ross, telah membuat daftar lebih dari tiga lusin karakteristik kosmis independen yang harus terus disempurnakan agar kehidupan dapat

254

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

terjadi, dan sistem galaksi, tata surya, dan bagian-bagian planet yang dua kali lipat dari jumlah karakteristik kosmis independen (atau lebih) memerlukan ketepatan sangat tinggi untuk memungkinkan terjadinya kehidupan di bumi.28 Penyempurnaan karakteristik-karakteristik fisik yang indah dan penting ini membuat fisikawan pemenang Hadiah Nobel Arno Penzias berkomentar, “Astronomi membawa kita ke suatu peristiwa yang unik, alam semesta yang diciptakan dari ketiadaan, alam semesta dengan keseimbangan sangat halus yang diperlukan dengan tepat menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan adanya kehidupan, dan alam semesta yang memiliki rencana utama” (bisa juga dikatakan ‘supernatural’).29

Kesimpulan Konflik antara kekristenan dan beberapa teori ilmiah telah muncul dari waktu ke waktu selama bertahun-tahun, dan beberapa masalah tetap memicu ketegangan sampai hari ini. Namun, jelas bahwa kedua alam pemikiran itu merupakan sekutu historis yang kuat. Sains berutang secara khusus kepada kekristenan karena kegiatan ilmiah lahir dan dipupuk di bawah pengaruh budaya Kristen. Bahkan, cara pandang kristiani mendasari sains dengan mengantisipasi, membentuk, mendorong, membenarkan, dan akhirnya mempertahankan karakter umum dan landasan berpikir sains modern. Selanjutnya, batas-batas sains mendukung pernyataan Alkitab tentang alam semesta dan kedudukan manusia di dalamnya. Sains tidak membatalkan kekristenan, dan kekristenan juga tidak membatalkan sains. Namun, sebagian orang mempertanyakan kekristenan bukan karena sesuatu yang datang dari luar gereja (seperti sains) tetapi karena sesuatu yang dari dalam—kemunafikan. Topik ini akan dibahas di bab berikutnya. Pertanyaan Diskusi 1. Mengapa kemajuan ilmiah tertahan di dunia kuno? 2. Bagaimana kekristenan membentuk dan memengaruhi munculnya sains modern? 3. Bagaimana bentuk atau ekspresi kekristenan yang menyimpang telah melumpuhkan sains?

BUKANKAH KEKRISTENAN DAN ILMU PENGETAHUAN BERTENTANGAN?

255

4. Dalam dunia seperti apa sains dapat bekerja? 5. Bagaimana Anda menggambarkan hubungan antara kekristenan sekarang dan sains?

Untuk Studi Lebih Lanjut Hummel, Charles E. The Galileo Connection (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1986). Jaki, Stanley L. The Savior of Science (Grand Rapids: Eerdmans, 2000). McGrath, Alister E. Science and Religion (Oxford: Blackwell, 1999). Moreland, J. P . Christianity and the Nature of Science (Grand Rapids: Baker, 1989). Moreland, J. P., editor. The Creation Hypothesis (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1994). Pearcey, Nancy R., dan Charles B. Thaxton. The Soul of Science (Wheaton, IL: Crossway, 1994). Ratzsch, Del. Science and Its Limits: The Natural Sciences in Christian Perspective, edisi ke-2 (Downers Grove, IL: InterVarsity, 2000). Ross, Hugh. The Creator and the Cosmos (Colorado Springs, CO: NavPress, 1993). Torrance, Thomas F. Reality and Scientific Theology (Edinburgh, U.K.: Scottish Academic Press, 1985).

BUKANKAH KEMUNAFIKAN MEMBUAT KEKRISTENAN TIDAK VALID?

Di zaman yang disebut zaman iman, ketika orang benar-benar percaya pada agama Kristen dalam segala kesempurnaannya, ada masa Penganiayaan dengan segala bentuk siksaannya. Jutaan perempuan malang dibakar selaku penyihir. Segala jenis kekejaman ditimpakan kepada beragam orang dengan mengatasnamakan agama. ––Bertrand Russell, Why I Am Not a Christian Kekristenan . . . tidak selalu dipahami oleh orang-orang yang berada di luar kekristenan. Sebenarnya, ini mungkin salah satu tugas terberat yang dihadapi para ahli apologetika––mengurangi kesalahpahaman terhadap kekristenan. ––Alister E. McGrath, Intellectuals Don’t Need God and Other Modern Myths

D

apat dimengerti bahwa kegagalan moral yang mencolok dari umat Kristen zaman sekarang dan ketidakadilan yang terjadi di sepanjang sejarah dengan mengatasnamakan Kristus menghalangi sebagian orang untuk merenungkan klaim-kebenaran Yesus dari Nazaret itu. Alasan yang paling umum dikutip orang untuk menolak kekristenan adalah adanya kemunafikan di dalam kekristenan. Terkadang inti dari berbagai bentuk penolakan mengerucut pada kemunafikan dan kegagalan moral yang mengatasnamakan Kristus membuat kekristenan gagal atau dianggap tidak valid. Respons yang tepat terhadap penolakan ini melibatkan empat unsur: (1) menunjukkan bahwa alasan itu tidak logis, 257

258

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

(2) memperbaiki beberapa kesalahpahaman umum tentang Injil Yesus Kristus, (3) menunjukkan kasih dalam menanggapi isu-isu yang tidak rasional (kerap kali emosional) yang sering berada di balik alasan, dan (4) menegaskan perlunya gereja-gereja Kristen secara serius dan terusmenerus menentang kemunafikan yang mencolok di tengah kelompok mereka sendiri.

Tes Logika Menolak klaim kebenaran Kristen karena “ada terlalu banyak orang munafik di gereja” atau karena “pengalaman buruk dengan orang-orang Kristen” berarti melakukan sebuah kekeliruan logis yang dikenal sebagai penolakan yang tidak signifikan. Dalam studi logika, penolakan yang tidak signifikan “memfokuskan perhatian secara kritis terhadap hal yang kurang signifikan dibandingkan hal yang utama atau tujuan dasar argumen.”1 Kesalahan ini dilakukan ketika si pembicara menyampaikan kritik minor (dan/atau tidak penting) tentang suatu pandangan tertentu, lalu secara keliru menegaskan bahwa kritik tersebut berhasil meruntuhkan pandangan tersebut. Jenis kesalahan ini tentu tidak berarti menganggap sepele rasa sakit hati yang ditimbulkan oleh orang-orang Kristen (atau yang disangka orang Kristen). Sakit hati itu bisa sangat hebat dan signifikan dan tidak boleh dianggap remeh. Namun, menolak sistem kepercayaan dengan alasan bahwa orang-orang Kristen bertindak munafik atau tidak konsisten dengan nilai-nilai yang mereka anut secara logika merupakan sebuah kasus minor yang dibesar-besarkan. Keberhasilan (atau kegagalannya) seorang Kristen dalam menjalankan prinsip-prinsip alkitabiah (etika) bukan hal yang krusial untuk mengevaluasi kebenaran kekristenan. Masalah utamanya adalah apakah klaim-klaim historis, faktual, dan teologis kekristenan itu benar: Apakah Yesus dari Nazaret itu adalah sosok yang nyata di dalam sejarah? Apakah Dia benar-benar Allah yang berinkarnasi, Sang Mesias yang Ilahi? Apakah kematian-Nya menebus dosa manusia? Apakah Dia benar-benar bangkit dari kematian? Secara logis, ketidakkonsistenan moral seorang Kristen (meskipun tidak untuk ditoleransi dan bisa dimengerti memang mengecewakan) hanya sedikit atau sama sekali tidak berhubungan dengan klaim kebe-

BUKANKAH KEMUNAFIKAN MEMBUAT KEKRISTENAN TIDAK VALID?

259

naran kekristenan yang objektif. Atau lebih tepatnya, perbuatan-perbuatan negatif, berdosa, atau perbuatan yang jahat dari orang-orang Kristen (yang riil atau yang masih berupa dugaan) tidak membuat klaim historis tentang Kristus menjadi palsu—kehidupan-Nya yang sempurna, kematian-Nya yang penuh pengurbanan, dan kebangkitan tubuh-Nya yang menakjubkan. Karena ada beberapa orang Kristen bertindak munafik, tidak berarti bahwa Yesus tak lagi menjadi Anak Allah dan Juruselamat dunia. Kemunafikan yang mencolok di antara orang-orang Kristen tentu menyakitkan hati Allah (lih. Mat. 23) dan sesama manusia. Sayangnya, perbuatan-perbuatan yang tidak konsisten ini meruntuhkan kepercayaan dan membuat orang yang tidak percaya kian sulit menerima kesaksian Kristen berkenaan dengan kebenaran iman. Akibatnya, kemunafikan menguras potensi argumen-argumen apologetis yang sah. Akan tetapi, masalah ini secara logis tidak membatalkan pernyataan kebenaran kristiani yang objektif. Sebagaimana pernah disindir oleh ahli apologetika Kristen John Warwick Montgomery, “Jika Albert Einstein ditangkap karena mencuri, apakah hal itu akan membuat E=mc2 salah?” Sebuah pesan atau pengajaran masih bisa benar bahkan jika si pembawa pesan itu secara moral cacat.

Mendapatkan Injil yang Benar Kebingungan yang meluas tentang natur sejati iman Kristen memperuncing penolakan terhadap kemunafikan. Banyak orang melihat kekristenan sebagai sistem etika. Dalam pemikiran mereka, menjadi “Kristen” berarti harus mengikuti prinsip-prinsip etika tertentu yang pasti mengakibatkan individu menjadi “orang yang lebih baik.” Konsep ini merupakan distorsi yang serius. Kekristenan pada intinya berbicara tentang Yesus Kristus: siapa Dia (Allah yang berinkarnasi, lih. bab 9) dan apa yang Dia lakukan (penebusan, lih. bab 11). Teolog Inggris Alister E. McGrath dengan singkat menggambarkan inti kristologis kekristenan, “Jika ada yang menjadi pusat pada kekristenan, maka pusatnya adalah Yesus Kristus. Orang Kristen tidak mungkin berbicara tentang Allah, keselamatan, atau ibadah tanpa membawa Yesus ke dalam diskusi itu, baik secara eksplisit maupun implisit. Bagi para penulis PB, Yesus adalah jendela yang memungkinkan kita melihat natur,

260

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

karakter, dan tujuan Allah.”2 Kekristenan yang historis, pertama-tama dan terutama berbicara tentang apa yang telah Yesus Kristus lakukan, bukan tentang apa yang telah dilakukan atau yang belum dilakukan oleh para pengikut-Nya secara moral—meskipun tentunya nilai-nilai moral yang tepat dan perlu memang berasal dari hubungan dengan Kristus yang memberikan penebusan. Memahami hal ini sangat penting bagi orang-orang yang bukan Kristen. Dua kesalahpahaman cenderung tidak berfokus pada Yesus Kristus dan menggoda orang berpikir bahwa kekristenan hanya sebatas daftar aturan moral. Kesalahpahaman ini telah meluas dan menyesatkan. Kesalahpahaman # 1: Dosa hanyalah perilaku atau kebiasaan buruk.

Sebuah kesalahpahaman serius tentang natur dan dampak dosa tentu menimbulkan cemooh yang tajam dari orang-orang yang tidak percaya, yang terungkap ketika mereka berhadapan dengan ketidakkonsistenan moral orang percaya. Dosa, yang secara meluas didefinisikan melalui cara pandang Alkitab, adalah sesuatu yang bertentangan dengan (atau di bawah) karakter kudus dan Hukum Allah yang sempurna (lih. bab 11). Meskipun banyak orang memandang “dosa” hanya sebatas perbuatan atau kebiasaan buruk, Alkitab menggambarkan dosa sebagai kekuatan yang melemahkan, yang menembus hati setiap manusia (Mzm. 51:7; 58:4; Ams. 20:9). Bahkan, manusia bukan orang berdosa yang hanya karena kebetulan melakukan dosa. Sebaliknya, masalah ini jauh lebih mendalam. Manusia berdosa karena mereka orang berdosa menurut natur bawaan dari manusia pertama. Menurut Alkitab, semua manusia menanggung dosa asal, mewarisi sifat dosa dari nenek moyang mereka, Adam (Rm. 5:12, 18-19). Natur dosa ini berada di hati (batin) manusia (Yer. 17:9; Mat. 15:19), dan dengan demikian memengaruhi seluruh kepribadian—termasuk pikiran, kasih sayang, dan tubuh (Ef. 2:3; 4:17-19). Akibatnya, semua orang secara pribadi berdosa dan karena itu secara moral bertanggung jawab kepada Allah (Rm. 3:23). Namun, Yesus Kristus menawarkan solusi bagi masalah dosa manusia. Injil menyampaikan berita pengampunan Ilahi—yang dapat diterima melalui pertobatan pribadi atas dosa dan melalui iman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat (Rm. 5:1, 6:23, lih. bab 11).

BUKANKAH KEMUNAFIKAN MEMBUAT KEKRISTENAN TIDAK VALID?

261

Melalui iman, dosa-dosa orang percaya diampuni dan kebenaran Yesus Kristus yang sempurna dianugerahkan kepadanya (2Kor. 5:21). Dengan demikian, orang-orang Kristen dibenarkan di hadapan Allah. Setelah regenerasi (kelahiran kembali secara spiritual, Yoh. 3:3), Roh Kudus memasukkan natur kebenaran yang baru di dalam diri orang berdosa yang dibenarkan karena iman. Namun, natur dosa asal seseorang tetap ada, bahkan setelah pertobatan sehingga orang Kristen masih berdosa (1Yoh. 1:8-10). Pertobatan adalah awal—bukan akhir—dari proses panjang transformasi yang disebut pengudusan (dikhususkan untuk melakukan kehendak Allah). Menurut Alkitab, kesempurnaan moral dan etika tidak terjadi secara instan, atau bahkan tidak dapat dicapai di dalam hidup ini (1Raj. 8:46; 1Yoh. 1:8). Jadi, ketidakmatangan dan ketidaksempurnaan dalam tingkat tertentu, termasuk kemunafikan (meskipun selalu disesalkan) dapat dilakukan oleh orang-orang percaya (Yak. 3:2). Orang-orang Kristen menghabiskan seumur hidup mereka untuk berjuang, bukan untuk mendapatkan kebebasan dari hukuman dosa (seperti yang dilakukan oleh Kristus di kayu salib), melainkan kebebasan dari kuasa dosa atas sikap, niat, dan tindakan mereka. Transformasi terakhir, yakni pemuliaan sesuai gambar dan rupa Kristus, menanti umat Kristen di masa kekekalan di waktu mendatang. Teolog injili, John Jefferson Davis memberikan pandangan alkitabiah yang seimbang tentang proses pengudusan, “Kekudusan dimulai sejak regenerasi dan pertobatan, dan bertumbuh di sepanjang kehidupan orang percaya melalui pelayanan Firman dan Roh Kudus dan melalui iman pribadi dan ketaatan.”3 Stiker bernada kristiani yang umumnya ditempelkan di bemper mobil, “Orang-orang Kristen mendapatkan pengampunan, tetapi tetap tidak sempurna” memiliki arti teologis yang nyata. Orang-orang Kristen secara hukum telah dibenarkan melalui iman di dalam Kristus dengan pembenaran Ilahi (Rm. 3:28, 5:1) yang menghapuskan kesalahan dosa. Dan mereka makin dibenarkan melalui proses pengudusan yang dipimpin oleh Roh (2Kor. 7:1; 1Tes. 5:23.), yang mulai menyingkirkan polutan moral dosa.

262

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Kesalahpahaman # 2: Kekristenan secara esensial berbicara tentang peraturan moral.

Sayangnya, ada sangat banyak orang Kristen sendiri yang mendorong dan memperkuat pandangan yang keliru bahwa kekristenan itu pada dasarnya adalah sistem etika. Mereka kerap melakukan hal ini dengan menempatkan penekanan yang tidak sehat tentang aturan perilaku. Pesan yang disampaikan acapkali seperti berikut ini, “Menjadi seorang Kristen berarti tidak menenggak minuman keras, merokok, berdansa, pergi ke bioskop, atau mendengarkan musik rock.” Kekristenan yang berorientasi aturan itu dipandang oleh orang non-Kristen sebagai sikap yang memuakkan karena umat Kristen itu merasa “lebih suci daripada orang lain.” Ada tiga masalah yang timbul dengan adanya penekanan peraturan ini: Pertama, larangan yang diperdebatkan tersebut terkait dengan masalah hati nurani dan/atau pilihan, yang tentu bukan kebajikan Kristen yang utama. Kedua, bahkan ketika aturan itu diterapkan ke hal-hal yang lebih substantif, Yesus bukanlah contoh moral Kristen yang pertama dan terutama. Sebaliknya, Dia adalah Tuhan dan Juruselamat umat percaya. Perilaku yang benar adalah manifestasi dari karya kasih karunia-Nya. Ketiga, sebagai makhluk yang berdosa, meskipun telah ditebus di dalam Kristus, manusia tidak dapat secara sempurna dan konsisten meniru contoh moral Yesus Kristus (meskipun Allah memotivasi dan mendorong upaya seseorang). Dalam beberapa tahun terakhir ini, banyak orang Kristen terdorong untuk bertanya, di tengah berbagai situasi yang sulit, “Apa yang Akan Yesus Lakukan?” Namun, keinginan dan tujuan yang luhur ini merupakan standar yang sungguh-sungguh berada di luar kemampuan moral manusia. Lebih baik bertanya, “Apa yang Yesus ingin saya lakukan mengingat apa yang telah dilakukan-Nya bagi saya di atas kayu salib dan di kubur?” “Apa yang Dia ingin saya lakukan mengingat kuasa kebangkitan-Nya dan kehidupan baru yang dihasilkan di dalam diri saya oleh Roh Kudus-Nya?” Orang-orang percaya dipanggil dan diperintahkan untuk bertumbuh dalam kesalehan dan kedewasaan, tetapi perintah tentang perilaku harus memperhitungkan bahwa umat Kristen masih bergumul dengan natur dosa bahkan setelah menerima keselamatan.

BUKANKAH KEMUNAFIKAN MEMBUAT KEKRISTENAN TIDAK VALID?

263

Memang komitmen terhadap ketuhanan Yesus Kristus menuntut ketaatan umat Kristen kepada perintah Allah, tetapi kadang-kadang orang Kristen merancukan dan melebih-lebihkan kemampuan mereka yang “benar.” Mereka kemudian salah menggambarkan kekristenan sebagai agama yang “swadaya” (membersihkan perbuatan Anda melalui kedisiplinan yang kaku), bukan sebagai agama “penyelamatan Ilahi” yang sejati (Yesus Kristus telah menyelamatkan umat percaya dari hukuman dosa melalui kehidupan, kematian, dan kebangkitan-Nya). McGrath memberikan beberapa klarifikasi yang bermanfaat, “Kekristenan adalah iman etis yang kuat. Namun, tidak berarti bahwa kekristenan berbicara tentang seperangkat aturan yang di dalamnya umat Kristen secara mekanis menyesuaikan diri dengan serangkaian instruksi. Sebaliknya, kekristenan merupakan serangkaian nilai yang timbul dari karya penebusan.”4 Orang-orang Kristen tidak akan mendapatkan penebusan atau status yang baik bersama Allah hanya dengan “menjadi bermoral.” Sebaliknya, karena mereka telah ditebus (diampuni dan diperdamaikan dengan Allah) oleh kasih karunia Allah melalui iman di dalam Kristus, mereka ingin dan berusaha menyesuaikan hidup mereka untuk memperlihatkan nilai-nilai moral ilahi (Ef. 2:8-10; Tit. 3:5,7). Kasih karunia, yang merupakan berkat Allah yang tidak layak kita terima, adalah sumber dan alasan bagi keselamatan orang-orang percaya dan kemajuan mereka dalam pengudusan (Tit. 2:11-14). Kenaifan teologis di antara umat Kristen dapat memperburuk dampak yang mereka inginkan bagi orang-orang yang belum percaya. Dua hal akan memperkuat kesaksian umat percaya dan mengurangi masalah kemunafikan. Pertama, orang Kristen dapat berhati-hati menyampaikan kebenaran tentang Kristus sebagai inti dari iman Kristen. Kedua, mereka dapat berusaha menambah pengetahuan alkitabiah tentang bagaimana pilihan-pilihan pribadi dan perilaku dihubungkan dengan kebenaran Injil (mis., memahami bagaimana pembenaran dari Tuhan berhubungan dengan pengudusan).

264

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Bagaimana dengan Semua Kejahatan yang Dilakukan dalam Nama Kristus? Yang terkait erat dengan tuduhan kemunafikan adalah penolakan yang lebih kompleks dan menyedihkan tentang semua kejahatan yang dilakukan di sepanjang sejarah yang mengatasnamakan kekristenan (Perang Salib, Inkuisisi/penganiayaan [pengadilan agama terhadap orangorang tertentu yang dituduh sebagai bidat], dan perang antara Katolik dan Protestan). Bukankah dibenarkan untuk mengevaluasi agama berdasarkan buah moral yang dihasilkannya? Apakah buah kolektif kekristenan lebih banyak mengandung racun daripada nutrisi? Umat Kristen harus menerima kenyataan bahwa sejarah mereka memiliki sisi gelap. Namun, mengatakan bahwa semua orang yang melakukan kejahatan dalam nama Kristus adalah benar-benar orang Kristen atau bahwa mereka yang jahat itu mengikuti ajaran Kristus, pernyataan demikian tentu keliru. Tindakan para pelaku kejahatan merupakan antitesis dari kehendak yang diungkapkan Allah. Filsuf Kristen Thomas V. Morris berkata, “Tentu saja organisasi-organisasi yang menyebut diri mereka ‘Kristen’ kerap memiliki efek yang merusak dan bahkan menghancurkan. Namun, gerakan-gerakan semacam itu jelas telah menyimpang jauh dari Injil Kristus karena mereka juga tidak bisa mengontrol moralitas umum. Domba tidak seharusnya dihakimi karena perbuatan serigala yang berbulu domba.”5 Umumnya agama, dan kekristenan khususnya, dapat memikat orang-orang yang tidak bermoral untuk memangsa dan mengeksploitasi jiwa-jiwa yang tulus dan mudah percaya di dalam komunitas iman. Domba-domba palsu (serigala) kerap menimbulkan kerusakan hebat di dalam gereja, dan menodai reputasi gereja di tengah orang-orang nonKristen. Menyalahkan apa yang disebut sebagai perang agama terhadap agama secara eksklusif dan khususnya terhadap kekristenan, sama artinya dengan melakukan kekeliruan karena terlalu menyederhanakan penyebabnya. Hal ini boleh dikatakan, naif. Di sepanjang sejarah peradaban Barat, hubungan antara kekuatan politik dan gereja telah menjadi urusan yang rumit. Perang agama di masa lampau dan masa sekarang lebih banyak disebabkan oleh konflik ekonomi, politik, dan sosial daripada oleh agama itu sendiri. Hal ini sesungguhnya terjadi pada saat Perang Salib di abad

BUKANKAH KEMUNAFIKAN MEMBUAT KEKRISTENAN TIDAK VALID?

265

pertengahan dan perang Eropa setelah Reformasi, dan berlanjut dalam konflik-konflik zaman sekarang seperti konflik di Irlandia Utara dan di Timur Tengah. Hanya karena kekristenan memegang kekuasaan selama periode-periode sejarah dengan peristiwa-peristiwa yang mengerikan tersebut, tidak berarti bahwa kekuasaan politik atau gerejawi pada waktu itu berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip moral atau etika Kristen. Ironisnya, ketika orang Kristen melanggar prinsip-prinsip moral alkitabiah, pandangan mereka sendiri menjadi dasar bagi penilaian moral dan koreksi. Kemunafikan di kalangan umat Kristen kerap mudah dideteksi dan dikutuk karena natur superlatif, kejelasan, dan koherensi etika Kristen secara keseluruhan. Prinsip-prinsip etika Kristen bersifat objektif, universal, tidak berubah, dan absolut. Itulah sebabnya prinsipprinsip itu dapat dengan mudah mengidentifikasi dan mengoreksi pelanggaran-pelanggaran moralitas. Orang-orang non-Kristen yang berpengetahuan luas tahu bahwa sisi gelap kekristenan bertentangan dengan ajaran-ajaran spesifik Pendirinya. Sebaliknya, filsafat-filsafat non-Kristen tidak memiliki pijakan yang kuat untuk mengoreksi ketidakadilan. Sebagai contoh, dasar apakah yang dimiliki oleh revolusi Perancis yang dipimpin oleh kaum sekuler atau filsafat ateistis yang dianut komunisme Soviet dan China untuk menilai perilaku moral? Lalu, bagaimana nilai-nilai moral dapat dibenarkan tanpa berelasi dengan sumber yang transenden yang memiliki moral yang mutlak? (Pertanyaan penting ini dibahas di bab 18.) Jika kekristenan dihakimi sesuai dengan buah moral dan etika yang dihasilkannya, maka semua kebajikan yang telah dilakukan umat Kristen selama dua milenium terakhir juga harus dipertimbangkan. Faktanya adalah bahwa pandangan-pandangan keadilan sosial kontemporer berakar pada tradisi Yahudi Kristen.6 Sebagai contoh, pandangan bahwa semua orang diberkati dengan martabat dan moral yang sama dan mendasar, berakar pada kebenaran alkitabiah yang abadi bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah Yang Mahakuasa (Kej. 1:26-27). Perintah moral seperti “yang kuat harus membantu yang lemah” dan “yang kaya harus membantu yang miskin” dan “perlakukan orang lain seperti kamu ingin diperlakukan” juga didasarkan pada visi Kristen tentang realitas.7 Pengakuan terhadap nilai intrinsik semua manusia itu

266

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

penting di dalam Alkitab, dan jarang ditegaskan atau dipraktikkan oleh budaya dan agama lain dalam sejarah.8 Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa kelompok-kelompok agama (terutama Kristen) mengawali sebagian besar organisasi amal di dunia. Sebaliknya, relatif sedikit organisasi amal yang diprakarsai oleh masyakarat ateis. Menilai suatu agama atau sistem kepercayaan berdasarkan buah etika/moral yang dihasilkan memang memiliki beberapa validitas sekunder. Namun, kalau mau adil, evaluasi itu harus mempertimbangkan pengaruh luas agama tersebut, yang baik dan yang buruk, dan apakah agama itu dijalankan dengan benar. Pemimpin-pemimpin sekte seperti Jim Jones dan David Koresh membuahkan tindakan-tindakan mengerikan yang berdampak mematikan dengan mengatasnamakan Kristus, tetapi ternyata mereka adalah serigala. Kepercayaan, motif, dan niat mereka berlawanan dengan Kitab Suci dan kekristenan yang bersejarah. Mereka bukan orang Kristen sejati. Pertimbangan utama tetap sama: buah moral yang baik dari suatu agama hanya menguatkan apa yang sudah didukung sebagai kebenaran. Pertanyaan apakah suatu keyakinan atau suatu sistem kepercayaan itu benar secara faktual dan secara objektif harus menggantikan pertanyaan penting apakah keyakinan itu menghasilkan efek yang baik dan bermanfaat. Apakah kekristenan dapat dilaksanakan (secara moral) merupakan pertanyaan yang penting, tetapi pertanyaan itu tidak sepenting apakah klaim kebenaran kekristenan itu riil dan benar. Apa yang baik secara etika/moral tidak dapat dipisahkan dengan apa yang riil secara metafisika dan benar secara epistemologis. Kemungkinan pelaksanaannya harus dievaluasi berkaitan dengan apa yang pertama-tama terbukti riil dan benar.

Merespons Faktor-faktor Emosional Sebuah diskusi tentang logika (dan hal yang tidak logis) bersamaan dengan penjelasan tentang bagaimana menjadi seorang Kristen yang seharusnya dan yang tidak seharusnya mungkin merupakan langkahlangkah penting untuk menemukan—dan mendiskusikan—alasan-alasan yang lebih dalam dan sering kali lebih emosional dari seseorang yang menolak kekristenan. Di sini orang harus melakukan dengan hati-hati dan penuh kasih sayang ibarat mengobati luka-luka yang mengancam

BUKANKAH KEMUNAFIKAN MEMBUAT KEKRISTENAN TIDAK VALID?

267

jiwa. Panah atau pedang emosional mungkin perlu dicabut keluar, tetapi harus disertai dengan anestesi, antiseptik, pembalut, dan tindak lanjut. Orang-orang Kristen yang mewujudkan kasih dan integritas dapat dan kerap kali membantu membalut luka emosional dan memimpin orangorang untuk beriman kepada Kristus. Si pembawa pesan keselamatan di dalam Kristus harus orang yang bisa dipercaya—komponen penting dalam penginjilan mengingat cara sebagian orang mempertimbangkan pernyataan-pernyataan kekristenan. Orang-orang percaya yang memperlihatkan kebajikan moral dan intelektual yang kuat membuat orang-orang skeptis lebih bersedia merenungkan klaim Kristus. Nyatanya, sebagian besar umat Kristen bukan orang-orang munafik yang mencolok, yang berpura-pura baik dan beragama. Semua orang Kristen berjuang untuk menghadapi dan mengatasi ketidakkonsistenan moral mereka, tetapi sebagian besar dari mereka tulus, tidak bermuka dua, atau bukan aktor yang berpenampilan menipu. Orang mungkin menerima atau menolak kekristenan berdasarkan faktor-faktor rasional dan tidak rasional. Perilaku tidak etis dari sebagian orang Kristen bukan merupakan alasan yang rasional untuk menolak kekristenan. Namun, ada banyak orang yang merumuskan keyakinan mereka berdasarkan pengalaman pribadi. Mengetahui hal ini, Allah memanggil umat Kristen untuk menjalani kehidupan yang transparan dan memberi teladan, bertobat dari dosa dan dimotivasi dengan hati yang penuh rasa syukur kepada Tuhan atas kasih sayang-Nya terhadap mereka (Rm. 12:2; Tit. 2:1-15). Karena kasih karunia Allah, umat Kristen dapat mengakui kemunafikan mereka kepada Allah dan kepada sesama manusia. Ketika dihadapkan pada penolakan bahwa ada terlalu banyak orang munafik di gereja, pertanyaan berikut tampaknya merupakan respons yang tepat: Tempat mana lagi yang lebih baik bagi orang-orang munafik selain di gereja di mana kuasa yang mengubahkan dari Allah melalui Injil dapat terus-menerus mengoreksi, mengampuni, dan memperbarui mereka dari hari ke hari? Obat terbaik untuk kemunafikan adalah diperhadapkan pada Injil Yesus Kristus yang sejati.

268

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Menjaga Martabat melalui Disiplinan Gereja yang Tepat Para pemimpin atau para gembala di gereja Kristen memiliki tanggung jawab spiritual dan moral untuk mengawasi kawanan domba mereka. Kewajiban mereka adalah melindungi, mengajar, membimbing, membina, dan jika perlu, dengan penuh kasih mendisiplinkan jemaat mereka. Para pemimpin ini harus berhati-hati menjalani kehidupan dengan menghindari celaan moral (1Tim. 3:1-10; Tit. 1:5-9). Para jemaat di gereja juga memiliki tanggung jawab, termasuk memilih atau mengangkat pemimpinpemimpin yang saleh dan matang secara rohani, dan tunduk pada tuntunan Kitab Suci, termasuk disiplin gereja yang tepat. Kemudian, gereja, baik pemimpin maupun anggota jemaatnya, harus bekerja sama untuk menjaga martabat dan reputasi moral gereja di hadapan dunia yang bukan Kristen. Apabila gereja-gereja Kristen dihadapkan dengan pelanggaran moral yang mencolok dan/atau bersifat pidana seperti pelecehan seksual atau ketidakberesan keuangan (baik di antara pendeta atau jemaat awam), para pemimpin gereja harus berhati-hati bertindak dengan benar, adil, dan tegas untuk melindungi orang yang tidak bersalah dan berusaha agar orang yang bersalah dibawa ke pengadilan. Hanya pejabat-pejabat gereja yang bersedia bekerja keras yang dapat dengan efektif mengatasi masalahmasalah semacam itu sehingga melindungi jemaat mereka dan menanamkan kepercayaan kepada masyarakat tentang penilaian dan tanggung jawab moral gereja. Sayangnya, di tengah jumlah jemaat yang terlalu banyak, keanggotaan gereja, kalaupun terdaftar, menjadi kurang efektif dan disiplin gereja pun longgar. Banyak pemimpin dan anggota gereja menghindari disiplin gereja dan menjalani kehidupan mereka begitu saja. Jadi, orang-orang menghindari tanggung jawab pribadi yang hakiki dan kesempatan-kesempatan penting untuk bertumbuh. Ketika gereja gagal melaksanakan tanggung jawab spiritual dan moral menurut Alkitab, maka gereja menyiramkan bensin ke dalam api kemunafikan. Fokus pada Masalah yang Riil Tak seorang pun berhak menilai Allah berdasarkan tindakan orangorang yang menyebut diri sebagai pengikut-Nya. Menolak kekristenan karena adanya kemunafikan di antara umat Kristen berarti menggunakan bentuk pemikiran yang tidak logis. Ujian sesungguhnya untuk keabsahan

BUKANKAH KEMUNAFIKAN MEMBUAT KEKRISTENAN TIDAK VALID?

269

iman Kristen berpusat pada klaim kebenaran oleh dan tentang Yesus Kristus. Klaim kebenaran itu berfokus pada pribadi dan karya Kristus. Pertanyaan-pertanyaan logis yang relevan adalah: Apakah Yesus dari Nazaret itu adalah seorang yang benar-benar nyata? Apakah Dia benarbenar Mesias yang Ilahi? Apakah kematian-Nya menebus dosa manusia? Apakah Dia benar-benar bangkit dari kematian? Yesus sendiri pernah berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Karena kebenaran yang indah ini—bahwa Yesus-lah, dan bukan usaha manusia yang membuat manusia bisa menjadi baik—menawarkan karunia pengampunan dan kebenaran kepada manusia yang berdosa, maka sebagian umat percaya memiliki pandangan perilaku moral yang sangat lemah, kurang menekankan pentingnya sikap tunduk pada hukum moral Allah. Bab berikutnya membahas masalah kebebasan untuk berbuat semau “saya” sendiri.

Ayat-ayat Penting di dalam Alkitab  Mengenai dosa: Mazmur 51:7, 58:4, Amsal 20:9; Yeremia 17:9; Roma 3:23; Efesus 2:3; 1 Yohanes 1:8.  Mengenai pembenaran Allah melalui anugerah semata, melalui iman semata, melalui Kristus sendiri: Lukas 18:14; Kis.13:39; Roma 3:23-24,28, 5:1; Efesus 2:8-10; Galatia 2:16, 3:24; Titus 3:5,7. Pertanyaan Diskusi 1. Dari sudut pandang Kristen, bagaimana orang berdosa berbeda dengan orang munafik? 2. Bagaimana orang percaya bisa membantu orang yang tidak percaya untuk lebih memahami masalah-masalah pokok kekristenan? 3. Bagaimana orang Kristen seharusnya menangani kemunafikan di dalam hidupnya sendiri? 4. Mengapa pertanyaan-pertanyaan kebenaran menggantikan pertanyaan-pertanyaan tentang akibat-akibat yang praktis? 5. Bagaimana gereja dan individu Kristen dapat membangun pertanggungjawaban spiritual dan moral yang lebih besar?

270

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Untuk Studi Lebih Lanjut Corduan, Winfried. No Doubt about It: The Case For Christianity (Nashville: Broadman & Holman,1997). Evans, C. Stephen. Why Believe? Reason and Mystery as Pointers to God (Grand Rapids: Eerdmans, 1996). Hoekema, Anthony A. Saved By Grace (Grand Rapids: Eerdmans, 1989). McGrath, Alister E. Introduction to Christianity (Cambridge, MA: Blackwell Publishers, 1997). Shelley, Bruce L. Church History In Plain Language, edisi ke-2 (Dallas: Word, 1995).

BUKANKAH SAYA BERHAK MELAKUKAN APA PUN YANG SAYA INGINKAN DENGAN TUBUH SAYA SENDIRI?

Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! ––1 Korintus 6:19-20 Saya tidak akan memberikan obat yang mematikan kepada siapa pun yang memintanya dan juga tidak akan saya sarankan hal seperti itu. Demikian pula, saya tidak akan memberikan obat kepada seorang wanita untuk menggugurkan kandungan. ––Sumpah Hippocrates

K

emerdekaan, kebebasan, dan kemandirian individu tampaknya fundamental bagi manusia, terutama bagi mereka yang lahir dan dibesarkan di alam demokrasi negara-negara Barat. Selama tidak menyakiti orang lain, mengapa “saya” tidak boleh melakukan berbagai hal dengan cara saya? Bahkan di antara orang-orang Kristen kadang-kadang ada yang bersikap antinomian (menentang semua hukum/peraturan) dengan beranggapan bahwa “karena Yesus telah membayar hukuman atas dosa saya, saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan.” Namun, apakah klaim untuk menentukan nasib sendiri (self-determination) itu bisa mendorong orang bertindak kelewat batas? Tidak adakah batas-batas yang tepat terhadap otonomi manusia? Zeitgeist atau “semangat zaman” (iklim intelektual, moral, dan budaya umum) 271

272

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Amerika mencerminkan sekularisasi yang makin meningkat. Banyak orang menganggap diri benar-benar independen, pasti sanggup mengatur diri sendiri, dan sebagai pribadi yang benar-benar bebas. Semangat baru otonomi manusia yang radikal ini melebihi standarstandar tradisional kebebasan dan kemerdekaan manusia yang telah diterima sebelumnya. Dewasa ini, otonomi kerap kali berisi kemerdekaan yang didapat dari manusia lain dan bahkan dari Allah. Kebebasan yang semau gue ini jelas terlihat dalam respons budaya populer pengikut paham kebebasan1 terhadap masalah-masalah etika dan sosial seperti aborsi, infantisida, homoseksualitas, bunuh diri yang dibantu oleh dokter, eutanasia, penyalahgunaan obat dan alkohol, prostitusi, dan hampir segala macam perilaku seksual. Klaim otonomi ini kerap diungkapkan demikian, “Selama perbuatan saya tidak merugikan siapa pun, saya bebas melakukan apa pun sesuka hati saya dengan tubuh saya sendiri.” Walaupun pemikiran ini menyebar ke dalam budaya Barat, banyak umat Kristen mengaku tidak tahu harus berbuat apa untuk menanggapi klaim yang berani ini. Sementara kekristenan mengajarkan bahwa orang patut membuat pilihan yang autentik, memikul tanggung jawab yang nyata, dan menikmati kebebasan pribadi sampai pada tingkat tertentu, klaim otonomi yang radikal ini tidak sesuai dengan kebenaran dan nilai-nilai kristiani. Bahkan, pemikiran ini tidak konsisten dengan realitas, terutama faktor yang merusak. Sebuah kritik yang efektif terhadap klaim otonomi ini dari sudut pandang Kristen klasik harus diluncurkan terhadap klaim bahwa orang bebas melakukan apa pun dengan tubuh mereka sendiri. Mengapa? Karena klaim otonomi ini makin berdampak pada masyarakat di seluruh dunia melalui praktik-praktik kontroversial seperti aborsi dan eutanasia dan yang lebih baru lagi, homoseksualitas dan hidup bersama tanpa ikatan. Sebuah diskusi singkat tentang pandangan alkitabiah, terutama yang menyangkut hubungan manusia dengan Allah, adalah poin untuk memulai kritik penting ini.

Hubungan Manusia dengan Allah Menurut Alkitab, manusia diciptakan menurut gambar Allah yang tidak terbatas, kekal, adil, berhikmat, suci, penuh kasih, dan pemurah (Kej. 1:26-27). Sebagai puncak penciptaan, gambar Allah (imago Dei)

BUKANKAH SAYA BERHAK MELAKUKAN APA PUN YANG SAYA INGINKAN DENGAN TUBUH SAYA SENDIRI?

273

tercermin di dalam kapasitas manusia yang rasional, berkehendak, saling berelasi, dan spiritual, juga di dalam kemampuannya yang unik untuk berkuasa atas dunia tumbuhan dan hewan. Kisah penciptaan di dalam kitab Kejadian mengungkapkan bahwa manusia itu jenis yang berbeda dari dunia hewan, jadi bukan hanya berbeda dalam hal derajat. Dan sementara manusia serupa dengan Allah sebagai makhluk yang terbatas (baik hewan maupun malaikat tidak pernah disebutkan sebagai makhluk yang menyandang gambar Allah), mereka hanya makhluk ciptaan yang jelas berbeda dari Pencipta mereka yang tak terbatas. Dalam teologi Kristen, perbedaan ini dikenal sebagai “perbedaan antara Pencipta dan ciptaan-Nya.” Alkitab secara unik memperkenalkan umat manusia sebagai “orang yang diciptakan.”2 Sudut pandang antropologi ini menjadi sebuah paradoks. Karena menurut naturnya, makhluk ciptaan (manusia) itu mutlak bergantung pada Allah. Namun di sisi lain, manusia memiliki kemandirian (otonomi) relatif dari Allah. Manusia itu bukan boneka. Namun, tanpa penjelasan, Alkitab menetapkan keberadaan manusia sebagai makhluk-ciptaan (tidak seperti Allah) dan pribadi (seperti Allah) disandingkan sebagai kebenaran yang sepadan. Dalam hal ini, antropologi Alkitab berbeda dari semua pandangan filosofis dan religius lainnya tentang umat manusia. Kitab Suci juga mengungkapkan bahwa manusia pertama menyalahgunakan kebebasan yang diberikan Allah dan sengaja memilih untuk memberontak melawan Allah dan menjalankan otonomi mereka sendiri. Adam dan Hawa memilih untuk mengejar pengetahuan, keindahan, dan kesenangan di luar Allah dan perintah-perintah-Nya yang spesifik. Mereka memercayai kata-kata si ular dan mengikuti keinginan mereka sendiri. Penolakan manusia terhadap otoritas dan perintah Allah disebut di dalam Alkitab sebagai “dosa.” Menurut Alkitab, dosa adalah segala sesuatu yang berbeda atau bertentangan dengan natur dan kehendak Allah. Alkitab berulang kali berbicara tentang dosa sebagai perbuatan yang melanggar hukum Allah (Rm. 8:7-8; Yak. 2:9-11; 1Yoh. 3:4). Pemberontakan ini mengakibatkan (melalui dosa asal3) semua umat manusia secara adil dihukum di hadapan Allah dan hukum-Nya yang suci. Namun Allah, dengan kemurahan-Nya yang tak terbatas, telah menyediakan penebusan4 bagi orang-orang berdosa yang bertobat

274

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

melalui kehidupan, kematian, dan kebangkitan Allah-manusia, Yesus Kristus (lih. Penebusan, bab 11). Oleh karena itu, dari perspektif Kristen, manusia sangat bergantung kepada Allah dari setidaknya tiga sudut pandang yang kritis: Pertama, keberadaan manusia sebagai makhluk fisik, intelektual, dan spiritual berasal dari karya Allah selaku Pencipta yang transenden atas alam semesta. Kejadian 2:7 dengan luar biasa menggambarkan Allah menciptakan manusia secara istimewa, “Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Dibuat dalam citra Allah berarti bahwa manusia memiliki tubuh, pikiran, dan jiwa. Kedua, eksistensi umat manusia dimungkinkan tetap berlangsung (termasuk membutuhkan gravitasi, oksigen, makanan, tempat tinggal, pakaian, dsb.) karena karya Allah sebagai Sang Pemelihara alam semesta. Manusia bergantung pada pemeliharaan dan perlindungan Allah setiap saat. Rasul Paulus secara khusus memohon pemeliharaan unik Allah bagi umat manusia ketika ia berkhotbah di bukit Ares kepada para filsuf Yunani abad pertama, “Dan [Allah] juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang” (Kis. 17:25). Ketiga, dari awal hingga akhir, keselamatan umat percaya berasal dari karya kasih karunia Allah di dalam dan melalui karya Sang Juruselamat yang Ilahi, Yesus Kristus. Keselamatan secara eksklusif adalah anugerah Allah melalui iman dan karena Kristus semata. Rasul Paulus bersaksi tentang tindakan penebusan Allah yang berdaulat dan penuh kasih dalam perkataan ini, “Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita—oleh kasih karunia kamu diselamatkan (Ef. 2:4-5). Pengakuan orang percaya atas ketergantungan sepenuhnya kepada Allah selaku Pencipta, Pemelihara, dan Juruselamat, akan membawanya menuju kehidupan yang penuh rasa syukur, ketaatan, dan penyembahan. Bagi orang Kristen, konteks utama kehidupan itu sendiri adalah

BUKANKAH SAYA BERHAK MELAKUKAN APA PUN YANG SAYA INGINKAN DENGAN TUBUH SAYA SENDIRI?

275

realitas tentang dan hubungan dengan Tuhan Allah dan Juruselamat alam semesta ini.

Respons Orang Kristen Dari sudut pandang Alkitab, klaim bahwa manusia itu secara radikal bebas melakukan apa saja yang mereka kehendaki dengan tubuh mereka sendiri, sungguh aneh dan sombong. Ada banyak pemikiran yang mengungkapkan perbedaan antara antropologi sekuler dan alkitabiah. Tiga respons berikut membahas berbagai unsur pandangan otonomi yang berbeda. 1. Ketika orang mengatakan bahwa mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan selama mereka tidak merugikan orang lain, umat Kristen dapat mengajukan dua pertanyaan seperti Socrates, “Apakah ‘orang lain’ yang Anda bicarakan itu termasuk Allah? Apakah Anda sedemikian yakin dengan realitas tertinggi sehingga Anda dapat mengecualikan Allah dengan aman?” Daya tarik otonomi mengabaikan konteks kehidupan utama orang Kristen. Jika Allah di dalam Alkitab benar-benar ada sebagai realitas yang objektif (lih. keberadaan Allah, bab 1), maka pernyataan otonomi manusia yang radikal ini menjadi distorsi yang merusak dan berakibat fatal, baik di dalam kehidupan di dunia sekarang ini maupun yang akan datang. Filsuf Kristen Thomas V. Morris menjelaskan: Pertanyaan tentang eksistensi Allah bukan sekadar pertanyaan tentang apakah masih ada hal lain lagi di dalam daftar realitas. Ini adalah pertanyaan yang berbicara tentang konteks utama untuk segala hal. Kaum teis dan ateis harus memandang segala sesuatu secara berbeda. Dengan cara yang sama, pertanyaan tentang apakah ada kehidupan setelah kematian seharusnya tidak sekadar pertanyaan yang berbicara tentang apakah kita mengharapkan satu segmen kehidupan lagi, meski lama, setelah kematian tubuh. Pertanyaan ini harus dilihat sebagai pertanyaan yang berbicara tentang konteks menyeluruh untuk semua tindakan kita dalam hidup ini. Akankah kita hidup selamanya atau tidak? Itulah yang seharusnya memengaruhi kita, tidak hanya untuk masa mendatang, tetapi juga untuk masa kini. Dan orang-orang yang percaya adanya kehidupan setelah kematian, berdasarkan keyakinan mereka, tidak akan menurunkan nilai kehidupan ini. Sebaliknya, mereka menganut konteks yang lebih besar, yang menanamkan nilai yang jauh lebih besar ke dalam hal-hal kecil kehidupan ini.5

276

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Refleksi filosofis merupakan bagian yang tak terhindarkan dari kehidupan manusia. Mengajukan pertanyaan yang bernada menyelidik tentang apa yang pada hakikatnya riil (metafisika), benar (epistemologi), dan baik (etika) adalah bagian penting dari kehidupan yang rasional dan kontemplatif. Hanya untuk mendapatkan kenyamanan pribadi saja, orang perlu merenungkan pertanyaan-pertanyaan penting seperti kemungkinan adanya Allah dan kekekalan manusia. Dan jika jawaban tertentu atas pertanyaan-pertanyaan penting ini tidak bertentangan dengan nalar, bukankah orang juga akan bertanya dengan hati-hati apakah pilihan dan perbuatannya dalam kehidupan ini berhubungan dengan apa yang pada hakikatnya nyata? Melakukan apa pun sesuka hati dengan tubuhnya sendiri dapat membahayakan, bahkan bisa menimbulkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki lagi bagi tubuh di dalam kehidupan sekarang ini dan bagi jiwanya di masa depan. Pilihan seseorang mungkin bisa menimbulkan risiko yang lebih besar daripada apa yang ia pikirkan sebelumnya. Sebagai makhluk yang memiliki pengetahuan dan cara pandang yang terbatas, menjalani kehidupan dengan hati-hati terkait keterbatasan dirinya dalam menentukan pilihan-pilihannya, tampaknya masuk akal. 2. Ketika orang menyatakan bahwa mereka bebas melakukan apa yang mereka inginkan selama mereka tidak merugikan orang lain, orang Kristen dapat kembali mengajukan dua pertanyaan: “Bagaimana Anda bisa yakin bahwa perbuatan Anda tidak akan merugikan orang lain— kini maupun di masa yang akan datang? Jika menyakiti orang lain adalah tindakan yang salah, mengapa tindakan menyakiti diri sendiri tidak dianggap tindakan yang salah (seperti dalam kasus eutanasia aktif atau penyalahgunaan narkoba dan alkohol?” Menurut kekristenan, Allah telah menciptakan komunitas manusia yang saling berhubungan. “Tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri seperti sebuah pulau,” penulis John Donne mengingatkan. Ilmu pengetahuan, sosiologi, psikologi, dan ilmu politik memberikan kesaksian riil bahwa manusia itu saling bergantung secara kompleks. Mencoba memprediksi bagaimana konsekuensi perbuatan seseorang memengaruhi orang lain merupakan perkara yang sangat rumit. Jadi, apa yang disebut sebagai kejahatan tanpa korban (mis. prostitusi, penyalahgunaan narkoba) jarang ada, kalaupun ada, benar-benar tanpa korban. Ketika

BUKANKAH SAYA BERHAK MELAKUKAN APA PUN YANG SAYA INGINKAN DENGAN TUBUH SAYA SENDIRI?

277

orang secara pribadi berperilaku sembrono dan berasumsi bahwa perilaku mereka hanya memengaruhi dirinya sendiri, maka biasanya ada orang lain (keluarga, masyarakat) yang menderita dan akhirnya harus memperbaiki kerusakan akibat pilihan-pilihan yang narsis ini. Kekristenan menegaskan bahwa karena manusia diciptakan menurut gambar Allah, maka seluruh kehidupan manusia itu kudus (dikaruniai oleh Allah, layak dihormati dan dihargai, berharga, tidak dapat diulang). Oleh sebab itu, seperti halnya salah secara moral bila orang membunuh atau menghancurkan kehidupan orang lain karena mereka menyandang citra Allah (Kej. 9:6; Yak. 3:9 ), demikian pula secara moral salah bila orang membunuh atau merusak kehidupannya sendiri. Sebagai contoh, bunuh diri adalah pembunuhan terhadap diri sendiri. Umat Kristen harus meminta penjelasan kepada orang-orang yang menganut pandangan otonomi ini: atas dasar apakah mereka dapat menyatakan bahwa mereka salah bila menyakiti orang lain namun tidak merasa salah bila menyakiti diri sendiri. Bukankah merugikan orang lain yang dilarang secara hukum dan moral juga logis diterapkan bagi diri sendiri? 3. Ketika orang berkata, “Ini tubuhku sendiri kok,” orang Kristen bisa sekali lagi mengajukan dua pertanyaan yang menyelidik: “Bentuk kepemilikan seperti apakah yang benar-benar Anda miliki atas tubuh Anda? Tentang penciptaan tubuh Anda saja Anda tidak berhak berkata apa-apa, apa yang membuat Anda berpikir bahwa Anda mutlak berhak atas apa yang terjadi sekarang pada tubuh Anda?” Orang-orang Kristen dapat bertanya, atas dasar apakah orang-orang berpikir bahwa mereka berkuasa atas jalan hidup mereka sendiri. Teolog injili, John Jefferson Davis mencatat bahwa sementara banyak orang memandang diri mereka sebagai tuan atas kehidupan mereka sendiri, “Orang Kristen memandang kehidupan manusia sebagai anugerah dari Allah, dan amanat ini harus dipelihara di sepanjang hidup manusia di bumi.”6 Menurut Alkitab, semua orang menerima hidup mereka dari Allah. PB menegaskan bahwa tubuh dan jiwa umat Kristen adalah milik Allah. Rasul Paulus menyampaikan pesan ini dengan sangat jelas: 

“Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

278



kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan” (Rm. 14:7-8). “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, —dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1Kor. 6:19-20).

Semua yang dimiliki manusia, secara ultimat adalah milik Tuhan, termasuk tubuh, yang diciptakan menjadi bait Allah (entah orang tersebut mengundang Allah masuk ke dalamnya atau tidak). Akhirnya, klaim tentang otonomi manusia merupakan penghinaan langsung kepada Allah, karena Allah-lah yang menghitung hari-hari seluruh kehidupan manusia. Kata-kata yang serius mencerminkan kedaulatan Allah sepanjang hidup manusia:  “Jikalau hari-harinya sudah pasti, dan jumlah bulannya sudah tentu pada-Mu, dan batas-batasnya sudah Kautetapkan, sehingga tidak dapat dilangkahinya” (Ayb. 14:5).  “Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya” (Mzm. 139:16). Ayat-ayat ini tidak meniadakan realitas tentang pilihan manusia yang autentik dan tanggung jawabnya yang sejati (terutama yang berhubungan dengan tubuhnya). Namun, dari cara pandang alkitabiah, pilihan manusia akhirnya benar-benar sesuai dengan tujuan Allah yang berdaulat. Masalah kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia mungkin merupakan masalah yang tidak dapat dimengerti oleh pikiran manusia yang terbatas, tetapi Alkitab tetap mengajarkan kedua kebenaran itu sebagai hal yang penting untuk kehidupan.7

Dampak yang Kuat Sebuah cara pandang alkitabiah tentang nilai yang melekat pada kehidupan manusia dan tentang martabat yang melekat pada tubuh, dapat berdampak besar pada masyarakat mana pun. Seseorang pernah berkata bahwa suatu budaya harus dinilai dari cara budaya itu memperlakukan anggota masyarakatnya yang paling rentan. Dunia pada abad

BUKANKAH SAYA BERHAK MELAKUKAN APA PUN YANG SAYA INGINKAN DENGAN TUBUH SAYA SENDIRI?

279

XXI tidak boleh melupakan apa yang terjadi di masa kekuasaan Hitler dan Stalin di Barat atau di masa Mao Tse-tung dan Saddam Hussein di Timur dan Timur Tengah. Sebuah pandangan yang arogan tentang kehidupan manusia yang rentan pada saat-saat yang paling awal dan paling akhir terus berlangsung sampai hari ini—cara pendekatan “Dixie Cup” (mangkuk kertas sekali pakai—dipakai dan dibuang). Tanggapan orang Kristen terhadap pernyataan otonomi yang radikal menyajikan konteks yang penting bagi isu-isu etis yang penting pula: aborsi, hubungan seksual, dan eutanasia. Aborsi

Pandangan yang pro-aborsi didasarkan pada seruan otonomi atas tubuh, dan para pembela aborsi secara rutin memakai argumen tentang “ketergantungan fisik” si bayi pada ibunya.8 Argumen ini menegaskan bahwa bayi yang belum lahir itu hanyalah perpanjangan dari tubuh sang ibu, dan karena si ibu berhak melakukan apa saja yang diinginkannya dengan tubuhnya sendiri, maka ia memiliki hak alami untuk melakukan aborsi. Tiga kritik yang signifikan berikut ini menunjukkan bahwa penalaran ini cacat. Pertama, bayi yang belum lahir bukan hanya perpanjangan dari tubuh sang ibu. Di tahap yang sangat awal di dalam pertumbuhannya, janin memiliki identitasnya sendiri. Identitas ini dibuktikan dengan adanya fakta bahwa bayi memiliki sidik jarinya sendiri yang berbeda, juga jenis darah dan jenis kelaminnya sendiri (dan sekitar setengah dari semua bayi yang ada memiliki golongan darah dan jenis kelamin yang berbeda dari ibu mereka).9 Susunan genetik janin juga unik sejak awal, dan tidak identik dengan orangtuanya. Kedua, seorang ibu tidak berhak melakukan apa pun yang diinginkannya dengan tubuhnya. Hukum moral dan hukum sipil membatasi tindakannya. Dan karena bayi yang belum lahir itu adalah manusia yang berbeda, pilihan si ibu tentang bagaimana ia menggunakan tubuhnya harus menghormati hak-hak hidup manusia lain yang berbeda, yang tumbuh di dalam rahimnya. Fakta bahwa seorang anak tumbuh di dalam tubuh seorang perempuan tidak membuat keberadaannya sebagai manusia berkurang, hanya saja ia menjadi lebih rentan. Penalaran moral yang kuat mengungkapkan bahwa hak hidup bagi bayi yang belum lahir harus

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

280

lebih besar daripada hak sewenang-wenang sang ibu untuk mencabut nyawa si bayi. Sudah jelas bahwa masalah hidup dan mati lebih prioritas daripada hal-hal privasi dan kenyamanan pribadi (atau sosial). Ketiga, tindakan moral yang baik bagi perempuan hamil yang merasa tidak sanggup membesarkan anaknya adalah dengan tetap mengandung bayinya sampai genap bulannya dan membiarkan anak itu diadopsi. Dengan demikian, di satu sisi, ia memang akan mencapai tujuannya untuk menghindari tanggung jawab sebagai orang tua. Di sisi lain, dia juga akan melestarikan kehidupan manusia lain dan memberikan kesempatan kepada keluarga lain untuk membesarkan anak yang berharga itu. Dalam hal ini, si ibu bermurah hati secara moral, dan lebih mementingkan kesejahteraan anak daripada dirinya sendiri. Sebagian besar aborsi dilakukan oleh perempuan-perempuan muda karena alasan kenyamanan (pengendalian kelahiran), bukan karena hal-hal yang jarang terjadi yang berhubungan dengan kesehatan ibu, atau kasus yang lebih jarang lagi, yakni kehamilan karena pemerkosaan atau inses (Ironisnya, jumlah permintaan untuk mengadopsi anak setiap tahun di Amerika Serikat kira-kira sama dengan jumlah aborsi. Dan pada umumnya, dalam kehidupan, kesejahteraan anak-anak yang diadopsi sama baiknya dengan anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua biologis mereka). Adopsi adalah alternatif moral yang nyata untuk menghadapi wabah aborsi. Seksualitas

Dari sudut pandang Kristen tradisional dan dari berbagai penelitian sosiologis, psikologis, antropologis, sejarah, dan medis, melakukan hal baik yang sejalan dengan Alkitab mengenai seksualitas dan hubungan keluarga merupakan cara yang paling sehat. Menurut Kitab Suci, Allah menciptakan seksualitas manusia (“laki-laki dan perempuan,” Kej. 1:27; 5:2). Allah menciptakan tubuh manusia dan memerintahkan agar hubungan seks dilakukan di dalam konteks yang benar setelah laki-laki dan perempuan mengucapkan janji pernikahan. Alkitab mengungkapkan bahwa keintiman seksual antara suami dan istri sesungguhnya adalah alegori (kiasan) mengenai hubungan cinta antara Allah dan umat-Nya (Allah/Israel, Kristus/gereja; sebagai contoh, lihat kitab Kidung Agung). Natur fisik dan kenikmatan seksual tidak boleh dipisahkan dari isu-isu penting yang menyertainya seperti cinta,

BUKANKAH SAYA BERHAK MELAKUKAN APA PUN YANG SAYA INGINKAN DENGAN TUBUH SAYA SENDIRI?

281

komitmen (pernikahan), keintiman pribadi, dan prokreasi. Karena seks adalah simbol keintiman spiritual yang lebih besar antara Allah dan manusia, dan karena seks merupakan sarana prokreasi, maka seks tidak boleh dipraktikkan secara iseng-iseng atau di luar konteks janji pernikahan yang benar. Larangan Alkitab terhadap percabulan, perzinaan, homoseksualitas, dan hubungan seks dengan binatang/bestialitas (Kel. 20:14; Ef. 5:3; 1Tes. 4:3-4) tidak hanya mengajar orang tentang perilaku seksual apa yang diterima dan yang menjijikkan di mata Allah, tetapi juga berfungsi untuk melindungi orang dari konsekuensi-konsekuensi yang menghancurkan secara fisik, psikologis, sosial, dan spiritual yang cenderung menyertai gaya hidup seks “bebas.” “Kebebasan” semacam itu gagal memberikan hasil yang telah dipropagandakan. Sama seperti aborsi telah gagal mengurangi tindak kekerasan pada anak, kumpul kebo/hidup bersama dan keintiman seksual sebelum menikah juga telah gagal mengurangi angka perceraian dan KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga). Homoseksualitas mungkin tampak menghasilkan kebahagiaan yang lebih besar untuk sebagian orang; tetapi tingkat bunuh diri, penyalahgunaan narkoba, alkohol, dan penyakit di antara kaum homoseksual aktif, melonjak tinggi di atas angka rata-rata seluruh populasi. Mengikuti perintah Alkitab berkenaan dengan seks dan pernikahan akan mengurangi masalah-masalah pribadi dan sosial—dan biaya. Selanjutnya, prinsip-prinsip moral Allah akan bermanfaat bagi orang-orang yang taat, baik di dalam kehidupan sekarang ini maupun di kehidupan mendatang. Pendekatan seksualitas yang bijaksana dan kudus disertai dengan sikap menghargai pengorbanan-diri (berbeda dengan asketisme) akan sangat bermanfaat bagi masyarakat mana pun. Eutanasia

Istilah eutanasia secara harfiah berarti “kematian yang baik” atau “kematian yang bahagia.” Selanjutnya didefinisikan sebagai “Mengambil nyawa manusia untuk tujuan yang baik, seperti untuk meringankan penderitaan atau rasa sakit.”10 Oleh karena itu, kadang-kadang disebut sebagai “pembunuhan karena belas kasihan.”

282

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Bentuk eutanasia dapat dipertimbangkan ketika orang sudah sekarat atau menderita penyakit terminal. Ahli-ahli etika telah mengidentifikasi dua tipe dasar eutanasia: aktif dan pasif.11 1. Eutanasia aktif (termasuk bunuh diri dan bunuh diri yang dibantu): Dengan sengaja dan/atau secara aktif mengambil nyawa seorang pasien yang sakit parah, baik oleh si pasien sendiri (bunuh diri) atau dengan bantuan orang lain (mungkin seorang dokter, anggota keluarga, atau teman). Eutanasia aktif benar-benar menghasilkan atau menyebabkan kematian. Ini berarti bahwa kematian pasien bukan berasal dari penyakit yang mematikan itu sendiri, tetapi dari tindakan spesifik eutanasia (dosis obat yang mematikan, tembakan, dll.). 2. Eutanasia pasif: Membiarkan pasien yang sakit parah meninggal secara alami tanpa campur tangan, biasanya dengan cara tidak memberikan atau mencabut perawatan (artifisial) untuk memperpanjang hidup. Eutanasia pasif memungkinkan kematian berjalan secara alami tetapi bukan menjadi penyebab kematian yang sesungguhnya. Pandangan tradisional Kristen: Sebagian besar teolog dan ahli etika yang memegang cara pandang Kristen tradisional atau historis menerima perbedaan antara eutanasia aktif dan pasif secara logis dan moral. Namun, mereka memandang eutanasia aktif sebagai tindakan yang sadis dan tidak dapat diterima secara moral. Tindakan tersebut melanggar prinsip alkitabiah yang melarang tindakan bunuh diri dan pembunuhan— dengan sengaja mengambil nyawa manusia yang “tidak bersalah” (lih. Kel. 20:13 dan Ul. 5:17). Banyak ahli etika Kristen percaya bahwa mengingat keadaan dosa manusia (dosa asal, kerusakan total: Mzm. 51:7; 58:4; Ams. 20:9), eutanasia aktif tidak menghargai nyawa manusia dan akan menjadi preseden yang berbahaya.12 Di sisi lain, eutanasia pasif telah diterima secara umum oleh para teolog Kristen tradisional dan ahli etika, tetapi dengan beberapa kualifikasi yang cermat. Eutanasia pasif dapat diterima jika langkah-langkah mempertahankan hidup secara alami (udara, air, makanan) sudah tidak memungkinkan (meskipun langkah-langkah artifisial mungkin tidak wajib dilakukan). Kondisi-kondisi lebih lanjut yang disebutkan untuk membenarkan eutanasia pasif adalah ketika kondisi fisik pasien tidak dapat diubah, kematian sudah dekat, dan perawatan lebih lanjut hanya akan memperpanjang penderitaan.

BUKANKAH SAYA BERHAK MELAKUKAN APA PUN YANG SAYA INGINKAN DENGAN TUBUH SAYA SENDIRI?

283

Alternatif alkitabiah: Sebagian orang atau mungkin banyak orang mendukung eutanasia aktif karena mereka percaya bahwa orang harus diizinkan untuk mengakhiri hidup daripada tetap hidup namun menderita kesakitan fisik yang dahsyat. Namun, alasan ini menyimpang dari faktafakta medis tentang penyakit terminal. Menurut American Medical Association, kesakitan fisik dari kebanyakan pasien yang menderita penyakit yang mengancam jiwa dapat diatasi dengan obat-obatan. Kemajuan dunia obat-obatan dan teknologi kedokteran telah memungkinkan dokter membantu mengontrol penderitaan fisik kebanyakan pasien. Namun, mungkin orang akan bertanya, “Bagaimana dengan beberapa orang yang rasa sakitnya tidak begitu berhasil dikendalikan?” Memang ada jalan bermoral dan praktis bagi mereka dan keluarga mereka (yang lebih baik daripada bunuh diri), yakni dengan mengirim si sakit ke tempat perawatan paliatif. Rumah perawatan paliatif, yang berakar Kristen (lih. Kis. 6:1-7), memberikan perawatan khusus bagi orang-orang yang hampir meninggal. Pasien-pasien yang menderita penyakit yang mematikan memang tidak dapat disembuhkan dari penyakitnya tetapi dapat dirawat dan diberi penghiburan (perawatan paliatif: “dari pengobatan menjadi perawatan”).13 Berbeda dengan perawatan medis konvensional yang menekankan “perpanjangan hidup,” rumah perawatan memusatkan perhatian pada “kualitas hidup” bagi orang-orang yang menghadapi kematian. Para pasien dijaga agar sebisa mungkin merasa nyaman dan bebas dari rasa sakit, dan direlakan meninggal dalam keadaan tetap menghargai dirinya. Perawatan di rumah perawatan kerap melibatkan tim pemerhati, termasuk dokter, perawat, pekerja sosial, paramedis, pendeta, relawan gereja, anggota keluarga, dan teman-teman. Ketika orang tahu bahwa mereka dicintai dan dirawat selama proses panjang menuju kematian, meski kerap disertai suatu rasa sakit secara fisik, eutanasia aktif telah kehilangan daya tariknya. Bagi sebagian besar orang, kesedihan karena tidak memiliki seorang pun yang mencintai dan merawat mereka jauh lebih buruk daripada kesakitan fisik yang diderita karena penyakit mereka. Rumah perawatan adalah alternatif moral untuk menangani kebutuhan orangorang yang hampir meninggal.

284

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Prinsip-prinsip etika yang berasal dari Kitab Suci memberikan solusi nyata untuk masalah-masalah masyarakat yang sulit—tetapi prinsipprinsip itu harus dilaksanakan.

Menemukan Kebebasan di dalam Tubuh dan Jiwa Kemampuan berpikir rasional dan kemampuan mengambil keputusan yang dimiliki oleh manusia adalah karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Namun, manusia menyalahgunakan kebebasan yang diberikan oleh Allah dan akibatnya manusia diperbudak oleh dosa. Kebebasan sejati hanya bisa diperoleh melalui penebusan dosa, dan penebusan itu secara unik berasal dari karya penyelamatan Yesus Kristus. Hanya di dalam Kristus, manusia bebas dari konsekuensi dosa yang menghancurkan dan dengan demikian bebas untuk menaati Allah, bukan natur keinginan daging mereka. Menjawab pertanyaan, “Bukankah saya dapat melakukan apa pun sesuka hati saya dengan tubuh saya sendiri?”, hikmat dari berabadabad yang lalu memberikan jawaban yang terbaik. Katekismus Heidelberg (sebuah pernyataan iman Reformed yang diterbitkan pada tahun 1563) bertanya sekaligus menyatakan: Apa yang menjadi penghiburan Anda satu-satunya dalam kehidupan dan kematian? Bahwa saya bukan milik saya sendiri, melainkan tubuh dan jiwa, kehidupan dan kematian—milik Juruselamat saya yang setia Yesus Kristus . . .14

Bagi orang Kristen, konteks utama kehidupan dan kematian ditemukan di dalam realitas tentang dan dalam hubungannya dengan Tuhan dan Sang Juruselamat yang berdaulat bagi manusia. Namun, bukankah pandangan itu tampak tidak toleran terhadap pandangan yang lain? Bab selanjutnya tentang pernyataan kebenaran kekristenan yang “eksklusif ” membicarakan tantangan ini.

Pertanyaan Diskusi 1. Apa implikasi teologis manusia sebagai “makhluk ciptaan”? 2. Bagaimana manusia bergantung pada kehendak Allah? 3. Apa implikasi-implikasi dari prinsip konteks yang utama bagi umat Kristen?

BUKANKAH SAYA BERHAK MELAKUKAN APA PUN YANG SAYA INGINKAN DENGAN TUBUH SAYA SENDIRI?

285

4. Bagaimana adopsi menjadi respons yang berarti dan praktis dalam menghadapi kontroversi tentang aborsi? 5. Mengapa rumah perawatan paliatif menjadi respons yang berarti dan praktis dalam menghadapi kontroversi tentang eutanasia?

Untuk Studi Lebih Lanjut Beckwith, Francis. Politically Correct Death (Grand Rapids: Baker, 1993). Beckwith, Francis J., dan Norman L. Geisler. Matters of Life and Death (Grand Rapids: Baker, 1991). Davis, John Jefferson. Evangelical Ethics (Phillipsburg, NJ: Presbyterian and Reformed, 1985). Moreland, J. P., dan Norman L. Geisler. The Life and Death Debate (New York: Praeger, 1990). Rae, Scott B. Moral Choices: An Introduction to Ethics (Grand Rapids: Zondervan, 1995).

BUKANKAH KEKRISTENAN MENDORONG SIKAP TIDAK TOLERAN?

Aturan klasik toleransi masih menjadi pedoman yang baik: Bertoleransilah kepada orang-orang dalam segala situasi dengan menghormati dan bersikap sopan kepada mereka. Menoleransi (menghargai) perilaku yang bermoral dan konsisten dengan kepentingan umum, dan menoleransi (menyetujui) ide-ide yang sehat. ––Gregory Koukl, Relativism Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. ––Rasul Paulus (Rm. 12:2)

S

eorang rabi dalam program televisi Larry King Live dengan berapiapi menuding umat Kristen memperlihatkan “sikap tidak toleransi yang tinggi” ketika mereka menyatakan bahwa orang Yahudi akan menghadapi penghakiman Allah jika mereka tidak menerima Yesus dari Nazaret sebagai Mesias mereka.1 Tuduhan semacam itu kerap terjadi. Semakin banyak orang dalam budaya populer menilai umat Kristen injili bersalah dalam hal ketidaktoleran mereka karena mereka mengklaim bahwa kekristenan adalah satu-satunya agama yang benar (untuk pembahasan tentang eksklusivisme agama,2 lih. bab 13). Menurut PB, Yesus Kristus membuat klaim eksklusif yang belum pernah ada sebelumnya. Dia berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak 287

288

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

melalui Aku” (Yoh. 14:6). “Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu” (Yoh. 8:24). Apakah pernyataan Yesus merupakan sikap tidak toleran yang sombong atau mungkinkah pemahaman populer tentang “toleransi” memang benar-benar cacat? Karena prasangka dan ketidakadilan yang terjadi di masa lalu terhadap kelompok agama dan etnis tertentu, banyak orang dalam budaya masa kini menerima sikap toleransi sebagai kebajikan moral yang sangat diperlukan. Dan di Amerika Serikat—bangsa dengan beragam ras, budaya, dan kelompok agama—toleransi adalah nilai yang terpenting. Namun, pemahaman yang rumit tentang toleransi menyebabkan banyak orang mengkritik individu atau kelompok yang mengekspresikan segala bentuk ketidaktoleranan—kecuali ketidaktoleranan mereka sendiri. Masalah toleransi yang berhubungan dengan pernyataan kebenaran Kristen menimbulkan pertanyaan-pertanyaan apologetika kultural yang penting. Bagaimana orang Kristen menanggapi tuduhan bahwa eksklusivisme iman mereka mendorong ketidaktoleranan masyarakat? Dan apa hubungannya antara toleransi dan kebenaran?

Bagaimana Umat Kristen Injili Memandang “Toleransi”? Kata toleransi mengalami ambiguitas (makna ganda) dan ketidakjelasan (ketidaktepatan) dalam penggunaannya dewasa ini, tetapi American Heritage Dictionary of the English Language mendefinisikannya sebagai praktik “menghormati natur, keyakinan, atau perilaku orang lain.”3 Meskipun selama berabad-abad telah ada pertentangan yang kuat antara orang Kristen tentang bagaimana gereja harus menoleransi atau berelasi dengan masyarakat sekuler atau dunia, banyak atau sebagian besar umat Kristen Injili menerima tiga hal berikut ini. 1. Menurut Alkitab, semua orang diciptakan dalam rupa Allah (Kej. 1:26-27, 9:5-6; Yak. 3:9-10). Oleh karena itu, setiap orang layak dihormati. Karena imago Dei, semua orang memiliki martabat dan nilai moral yang melekat, tak peduli apa budaya, ras, jenis kelamin, atau kelas sosial mereka (Mzm. 8:4-7). Filsuf Kristen Richard Purtill menunjukkan bahwa dasar bagi sebagian besar pandangan kontemporer tentang keadilan sosial, berakar dari tradisi keagamaan Yahudi-Kristen.4 Menghargai kehidupan dan martabat setiap individu merupakan inti ajaran Kristen.

BUKANKAH KEKRISTENAN MENDORONG SIKAP TIDAK TOLERAN?

289

2. Hak individu lain untuk berpikir sesuka hati mereka dan percaya apa yang mereka mau, bahkan jika keyakinan tertentu tidak rasional, salah secara moral, dan/atau bertentangan dengan ajaran Kristen, juga dihargai. Sistem peradilan membatasi perilaku manusia, bukan pikiran (meskipun beberapa pandangan ideologis gagal menghargai perbedaan penting ini).5 Kekristenan mengajarkan sikap menghargai manusia sebagai pribadi, kehendak individu, dan tanggung jawab moral pribadi. Namun, sikap ini tetap menyisakan ruang untuk memberikan pengaruh yang tepat guna meyakinkan orang lain tentang kebenaran, terutama kebenaran hakiki mengenai Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat manusia. 3. Dalam masyarakat yang majemuk, umat Kristen berhak menoleransi praktik-praktik (keagamaan maupun yang bukan keagamaan) orang lain, asalkan praktik-praktik tersebut legal, bermoral, dan secara umum membawa kebaikan bersama. Norma yang luhur memberikan kepada semua orang hak sosial dan hak istimewa yang sama. Poin terakhir ini memang merupakan hal yang paling kontroversial dari ketiganya karena praktik-praktik orang lain hanya dapat ditoleransi dalam batasbatas yang wajar. Dalam bentuk pemerintahan yang demokratis, pandangan mayoritas biasanya berlaku. Singkatnya, umat Kristen injili dapat dan memang menunjukkan toleransi yang patut dengan menghormati kepribadian dan praktik orang lain dalam masyarakat. Dukungan terhadap hak asasi dan martabat manusia merupakan bagian integral dari sistem etika teistik Kristen (absolutisme moral; lihat bab 18). Poin-poin penjelasan selanjutnya mengenai isu toleransi sudah dapat diterima.6 Pertama, sikap tidak toleran bukan berarti hanya tidak sepakat dengan pandangan orang lain. Toleransi juga bisa menerima ketidaksepakatan. Seseorang mungkin saja tidak menoleransi orang-orang yang sepakat dengannya karena adanya ketidaksepakatan. Oleh sebab itu, toleransi dan ketidaksepakatan berjalan seiring. Kedua, dalam hal toleransi, harus dibedakan secara hati-hati antara ide-ide dan orang yang menganut ide-ide itu. Gagasan semua orang harus dihargai dan disambut, tetapi itu bukan berarti semua ide atau argumen itu memiliki nilai, validitas, atau kebenaran yang sama. Standar logika yang objektif, yang mengevaluasi validitas argumen dan logika,

290

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

pada dasarnya bersifat “tidak toleran” secara intelektual. Mengkritik ide-ide dan argumen itu perlu dan sangat tepat dilakukan. Ahli apologetika Kristen Gregory Koukl menyimpulkan, “Menyatakan bahwa beberapa pandangan itu salah, tidak bermoral, atau konyol tidak melanggar standar toleransi yang berarti.”7 Ketiga, toleransi hanya dapat menjadi nilai yang positif jika ada moral yang absolut (yang mendukung toleransi). Sebuah prinsip universal yang membutuhkan toleransi tidak konsisten dengan relativisme moral. Ironisnya, banyak orang menggadang-gadang apa yang disebut standar toleransi untuk membela ideologi politik mereka yang benar, justru menganut relativisme moral.

Apakah Ini Merupakan Sikap “Tidak Toleran” Jika Mengklaim Yesus Kristus sebagai Satu-satunya Jalan Menuju Allah? Pada dasarnya, klaim-kebenaran yang logis itu tidak toleran. Mengapa? Karena klaim-kebenaran itu pada dasarnya cuma satu: benar atau salah. Hukum formal logika8 tidak memungkinkan klaim-kebenaran dari semua agama benar pada waktu dan dalam hal yang sama. Sebagai contoh, Yesus Kristus tidak dapat menjadi Allah yang berinkarnasi (pandangan Kristen) sekaligus tidak menjadi Allah yang berinkarnasi (pandangan Yahudi9 dan Muslim) pada waktu yang sama dan dalam hal yang sama. Kedua pernyataan tentang Yesus itu tidak mungkin benar pada waktu yang sama dan dalam hal yang sama persis, tanpa melanggar hukum nonkontradiksi (A tidak bisa sama dengan A dan juga sama dengan nonA). Selain itu, Yesus Kristus harus menjadi Allah yang berinkarnasi atau sebaliknya menjadi Allah yang tidak berinkarnasi, sebab hukum-jalantengah (salah satu: A atau non-A) membuktikan bahwa tidak mungkin ada pandangan abu-abu yang secara logika benar. Dengan mempertimbangkan penalaran yang diperlukan ini, kesimpulan tertentu harus ditarik mengenai Yesus dari Nazaret tersebut. Karena orang Yahudi, orang Kristen, dan kaum Muslim mengidentifikasi Yesus dengan cara yang berbeda (orang Yahudi memandang-Nya sebagai guru atau penghujat, umat Kristen memandang-Nya sebagai Allah yang berinkarnasi, umat Islam memandang-Nya sebagai nabi), maka secara logika cara pandang agama-agama ini tidak mungkin semuanya benar.

BUKANKAH KEKRISTENAN MENDORONG SIKAP TIDAK TOLERAN?

291

Dengan kata lain, pasti ada pihak yang salah. Kita tidak mungkin menghindari kesimpulan logis ini. Bila penalaran ini dikembangkan lebih lanjut, misalnya kemungkinan ketiga pandangan tentang identitas Yesus itu salah (sebagai contoh, jika Yesus tidak pernah ada, meskipun dalam kenyataannya hal ini merupakan pandangan historis yang lemah), maka ketiganya itu juga pasti tidak mungkin benar. Namun, budaya populer mengatakan bahwa menyatakan secara langsung atau tidak langsung bahwa keyakinan agama lainnya itu salah, berarti tidak toleran, arogan, dan bahkan fanatik. Namun, bagaimana bisa dikatakan sebagai tidak toleran secara keagamaan bila hal itu menyatakan apa yang secara logis memang diperlukan dan jelas? Bukankah kesimpulan logis yang kokoh tak tergoyahkan harus menjadi bukti yang kuat untuk mengalahkan standar masyarakat kontemporer yang benarbenar subjektif tentang toleransi? Menyebut orang dengan sebutansebutan yang tidak menyenangkan (seperti fanatik) hanya karena mereka menarik atau menyimpulkan kesimpulan logis yang tepat tentang klaimkebenaran agama, sesungguhnya tidak masuk akal, melakukan serangan secara moral, dan benar-benar tidak toleran. Berbeda sekali dengan para pendukung ekstrem toleransi beragama yang menuntut agar semua pandangan agama sama-sama diterima sebagai pandangan yang benar, hukum logika bersikeras untuk tidak menoleransi tatkala menghadapi klaim-kebenaran keagamaan yang kontradiktif. Sebuah kontradiksi dalam logika mencerminkan hubungan yang khusus. Bila dua pernyataan bertentangan, maka pernyataan-pernyataan itu memiliki nilai kebenaran yang berlawanan (jadi yang satu benar dan yang lainnya salah). Oleh karena itu, apabila pernyataan dari agama yang satu secara langsung bertentangan (meniadakan atau menolak) dengan pernyataan dari agama yang lain, maka kedua pernyataan itu tidak mungkin sama-sama benar.10 Ketika umat Kristen injili menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Allah yang berinkarnasi (Yoh. 1:1, 14, 18; 20:28; Rm. 9:5; Tit. 2:13; Ibr. 1:8; 2Ptr. 1:1) sehingga Dia menjadi jalan yang eksklusif menuju keselamatan (Yoh. 14:6; Kis.4:12), sebenarnya mereka tidak lebih intoleran daripada orang Yahudi dan kaum Muslim yang menyatakan bahwa Yesus Kristus bukanlah Allah yang berinkarnasi. Klaim-kebenaran yang

292

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

berlawanan pada dasarnya bertentangan. Eksklusivisme dan bentuk intoleransi intelektual yang tepat, secara logis tak terhindarkan bila berbicara tentang klaim-kebenaran. Banyak orang yang berbicara tentang toleransi dalam hal-hal keagamaan gagal mengenali bahwa seseorang bisa secara pribadi dan sosial bersikap toleran namun sekaligus tidak toleran secara intelektual (dengan tepat). Sikap yang terakhir ini mengharuskan kita membuat pembedaan antara orang dan ide atau argumen. Sebenarnya, eksklusivisme tidak dapat dihindarkan dalam hal kebenaran agama karena bahkan kaum pluralis agama menegaskan suatu keyakinan eksklusif bahwa semua agama adalah benar. Eksklusivisme adalah pandangan historis gereja Kristen ketika membahas pertanyaan tentang kebenaran agama lain. Oleh sebab itu, para eksklusivis injili hanya setia pada tradisi mereka dan pada apa yang mereka yakini diajarkan oleh Kitab Suci. Agama Kristen yang historis adalah sebuah agama yang eksklusif sifatnya. Jika umat Kristen tidak memberitakan klaim eksklusif Kristus kepada dunia dan menyesuaikan diri dengan standar toleransi zaman sekarang, berarti mereka mengompromikan iman. Kekristenan dengan jelas dan tegas mengafirmasi toleransi sosial. Namun, ketika Zeitgeist (semangat zaman) Amerika menekan umat Kristen Injili untuk mengadopsi pandangan kebenaran yang toleran secara intelektual, inklusivistis, dan/atau pluralistis, hal ini tentunya akan membuat umat Kristen mengkhianati hakekat keyakinan iman mereka. Seberapa tolerankah (hormatkah) hal itu? Keyakinan Kristen tentang kebenaran yang hakiki harus melebihi standar toleransi masyarakat yang berubah-ubah. Toleransi adalah nilai positif Kristen yang penting, tetapi hanya selama toleransi itu tidak mengompromi kebenaran. Tanpa kebenaran, toleransi tidak berarti. Tuduhan bahwa klaim-kebenaran kekristenan yang eksklusif menimbulkan sikap intoleransi pada orang-orang yang ragu atau menolak konsep kebenaran yang hakiki. Mereka juga menyangkali realitas kebenaran yang objektif dengan menerima bentuk “multikulturalisme yang keras” (keyakinan bahwa semua budaya masing-masing memiliki kebenaran),11 atau mereka percaya bahwa tidak ada yang benar-benar tahu tentang adanya kebenaran yang hakiki sehingga mereka menganut skeptisisme. Namun, kekristenan yang historis menegaskan bahwa kebenaran

BUKANKAH KEKRISTENAN MENDORONG SIKAP TIDAK TOLERAN?

293

yang hakiki itu ada dan kebenaran itu telah dinyatakan di dalam diri Yesus Kristus. Bagi mereka yang memercayai Alkitab secara serius sebagai wahyu Allah, masalah toleransi beragama yang berlebihan menjadi sangat sulit. Maksudnya, kekristenan tidak seperti agama lain karena agama cenderung membuat manusia mengejar realitas ilahi atau realitas spiritual. Agama yang berasal dari manusia bisa bersikap toleran dan pluralistis karena agama tersebut meraba-raba dalam mengejar kebenaran. Sebaliknya, kekristenan adalah sebuah sistem kepercayaan yang secara langsung dinyatakan oleh Allah sendiri, yang datang ke dunia menjadi manusia (Yoh. 1:14; Flp. 2:6-8; Kol. 2:9). Orang-orang yang mendukung kekristenan yang historis tidak meragukan misi, pesan, dan maksud Allah bagi umat manusia. Jika Allah memang secara historis menyatakan diri-Nya melalui tindakan, peristiwa, dan kata-kata, maka keyakinan yang bertentangan dengan wahyu-Nya harus dianggap salah. Pada dasarnya, umat Kristen mengalami masa yang sulit dengan pluralisme agama dan pandangan yang berlebihan tentang toleransi karena iman mereka mengajarkan bahwa Sang Kebenaran yang tertinggi datang secara pribadi dan menyatakan diri-Nya secara khusus kepada umat manusia. Bukan umat Kristen, melainkan Allah yang berinkarnasilah yang berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6).

Bagaimana Merespons Tantangan Toleransi? Umat Kristen dapat melakukan lima hal penting dalam menanggapi toleransi. Pertama, mereka dapat menunjukkan bahwa kebenaran itu ada dan benar-benar penting.12 Kasih dan toleransi tidak pernah boleh dipisahkan dari kebenaran, terutama dari konsep kebenaran yang hakiki. Semua penolakan tentang kebenaran yang objektif akan merusak diri sendiri.13 Kedua, umat Kristen dapat menunjukkan bahwa logika yang sehat mensyaratkan bahwa klaim-kebenaran keagamaan yang bertentangan tidak dapat benar secara bersamaan. Oleh karena itu, akal sehat bukan merupakan pelanggaran terhadap standar toleransi yang dapat diterima.

294

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Ketiga, umat Kristen dapat dengan baik memperkenalkan kasus apologetis mereka yang khusus untuk kebenaran kekristenan. Mereka dapat memberikan argumen persuasif untuk membela kebenaran Injil Yesus Kristus (1Ptr. 3:15; Yud. 3) dan menunjukkan kesulitan yang ada di tengah sistem kepercayaan alternatif yang bukan Kristen (2Kor. 10:5) tanpa menunjukkan sikap arogan atau sikap menjengkelkan lainnya. Keempat, umat Kristen dapat dengan jujur mengakui bahwa masyarakat Barat kadang-kadang telah mendorong atau membiarkan bentuk intoleransi yang tidak dapat diterima (mis., anti-Semitisme pada abad XX di Eropa). Umat Kristen adalah orang berdosa yang telah dibenarkan, dan secara pribadi dan bersama-sama harus mengakui pergumulan mereka dengan dosa (lih. bab 15). Namun, mereka dapat menunjukkan bahwa kekristenan meneguhkan toleransi sosial yang sejati sebagai suatu kebajikan, yang mengakui hak setiap individu untuk memercayai pilihannya dan melaksanakan keyakinannya dalam batas-batas hukum moral dan sipil. Kelima, umat Kristen dipanggil untuk bersaksi tentang kebenaran Injil Yesus Kristus melalui perkataan (khotbah) dan kehidupan (perilaku, teladan) mereka. Dunia harus melihat kuasa kebenaran yang hidup. Kesaksian ini dapat terlaksana ketika umat Kristen secara pribadi dan sosial bersikap toleran, tetapi tidak toleran secara intelektual terhadap pernyataan kebenaran yang bertentangan. Inti iman Kristen adalah keyakinan bahwa “Yesus Kristus adalah Tuhan” (Mrk. 12:35-37; Yoh. 20:28; Rm. 10:9-13; 1Kor. 8:5-6; 12:03; Flp. 2:11). Pernyataan eksklusif ini tidak lebih populer atau diminati pada zaman sekarang dibandingkan dua ribu tahun yang lalu di zaman kekaisaran Romawi kuno. Pernyataan ini bukan hanya tidak mungkin menerima klaim kebenaran yang bertentangan, melainkan juga berdampak besar terhadap moralitas. Bab berikutnya membahas subjek ini.

Pertanyaan Diskusi 1. Dengan cara bagaimana umat Kristen bertoleransi secara positif? 2. Mengapa kita tetap disebut toleran ketika mengatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan kepada Allah? 3. Bagaimana orang bisa menjadi toleran secara sosial dan tidak toleran secara intelektual?

BUKANKAH KEKRISTENAN MENDORONG SIKAP TIDAK TOLERAN?

295

4. Bagaimana ketidaktoleranan agama yang murni berkontribusi pada timbulnya gerakan toleransi dewasa ini? 5. Bagaimana pernyataan kebenaran kekristenan harus tidak toleran secara logika?

Untuk Studi Lebih Lanjut Adler, Mortimer J. Truth in Religion (New York: Macmillan, 1990). Beckwith, Francis. Politically Correct Death (Grand Rapids: Baker, 1993). Beckwith, Francis J., dan Michael Bauman, editor. Are You Politically Correct? Debating America’s Cultural Standards (Buffalo: Prometheus, 1993). Beckwith, Francis J., dan Gregory Koukl. Relativism: Feet Firmly Planted in Mid-Air (Grand Rapids: Baker, 1998). Corduan, Winfried. No Doubt about It: The Case For Christianity (Nashville: Broadman & Holman, 1997). Green, Michael. “But Don’t All Religions Lead To God?” (Grand Rapids: Baker, 2002). Kreeft, Peter, dan Ronald K. Tacelli. Handbook of Christian Apologetics (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1994). Nash, Ronald H. Is Jesus the Only Savior? (Grand Rapids: Zondervan, 1994).

BUKANKAH MORALITAS TERGANTUNG PADA MATA YANG MEMANDANGNYA?

Etika, meskipun mengandung unsur kreativitas dan keahlian manusia, sebenarnya lebih tepat disebut penemuan, bukan buatan kita sendiri. ––Louis P. Pojman, Ethics Sungguh sangat sulit menjadi manusia normal dan tidak berpikir bahwa sebagian tindakan itu salah dan sebagian lagi benar. ––Alvin Plantinga, Great Thinkers on Great Questions

B

anyak ungkapan yang terkenal menangkap esensi relativisme masa kini—penolakan atas kebenaran mutlak atau objektif dan moralitas. “Setiap orang mempunyai caranya sendiri untuk melakukan segala sesuatu atau melakukan pendekatan terhadap kehidupan ini.” “Hal itu benar bagimu tetapi tidak bagiku.” “Moralitas itu seperti kecantikan, tergantung pada mata yang memandangnya.” Pemikiran relativistis menembus banyak pemikiran di Amerika saat ini dan di banyak bagian lainnya di dunia Barat. Secara kultural, pemikiran ini muncul dalam beragam bentuk. Penilaian relativistis dapat ditemukan di tengah tren kontemporer seperti pluralisme agama, multikulturalisme, kebenaran politik, dan apa yang disebut sebagai toleransi (lih. bab 12 tentang pluralisme agama, dan bab 17 tentang toleransi). Pola pikir yang relativistis dan skeptis ini berkenaan dengan apa yang nyata, benar, dan baik, berfungsi sebagai fondasi untuk fenomenafenomena yang disebut pascamodernisme. 297

298

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Relativisme, sehubungan dengan kebenaran dan etika, secara langsung menantang—bahkan bertentangan dengan—iman Kristen yang historis. Memahami masalah-masalah relativisme etis lewat kritik singkat terhadap bentuknya yang subjektif dan konvensional, dapat membantu umat Kristen berdiri teguh menghadapi kencangnya angin perubahan. Mengembangkan moral yang absolut, yang sesuai dengan wahyu yang alkitabiah, dapat membuka jalan bagi pandangan Kristen yang lebih luas.

Subjektivisme Etis Meskipun relativisme etis muncul dalam berbagai bentuk,1 dua varietas yang paling populer adalah (subjektivisme etis) individu dan (konvensionalisme etis) budaya. Subjektivisme etis mengungkapkan bahwa kriteria untuk menilai benar dan salah secara moral adalah lewat “persepsi, pendapat, pengalaman, kecenderungan, dan keinginan individu itu.”2 Oleh karena itu, kebenaran moral itu bersifat relatif pada setiap individu. Tidak ada standar moral yang mutlak, tidak berubah, dan universal. Sebaliknya, nilai-nilai etis dianggap bersifat pribadi, personal, individual, dan subjektif. Pernyataan-pernyataan moral seperti “apa pun yang dipikirkan seseorang sebagai benar, maka hal itu pasti benar”3 hanya mencerminkan pemikiran atau perasaan subjektif si pembicara. Subjektivisme etis sangat memikat natur manusia,4 tetapi ia tidak bisa menahan analisis logis yang ketat yang diperlukan oleh teori etika resmi mana pun. Sebenarnya, masalah-masalah dengan subjektivisme etis tidak dapat diatasi. Enam kritik berikut menggambarkan kejatuhan teori etika ini. Enam Alasan Menolak Subjektivisme Etis 1. Jika subjektivisme etis itu benar, maka tak seorang pun bisa salah dalam pandangan moralnya. Filsuf Ed Miller menunjukkan, “Jika individu menjadi dasar kebenaran moral, maka tak seorang pun dari kita bisa keliru dalam pendapat-pendapat moral kita, karena apa pun yang kita percayai pasti benar.”5 Namun, bila orang berpikir hal itu benar dan sudah pasti benar, maka tidak ada yang bisa salah. Apakah masuk akal bila kita menyimpulkan bahwa institusi perbudakan itu tepat sekaligus tercela secara bersamaan? Apakah logis bila kita menyimpulkan bahwa Martin Luther King, Jr dan Ku Klux

BUKANKAH MORALITAS TERGANTUNG PADA MATA YANG MEMANDANGNYA?

299

Klan sama-sama benar berkenaan dengan hak-hak sipil? Dapatkah teori etika yang mendukung pandangan semua orang tentang holocaust (pembasmian orang-orang Yahudi) sebagai hal yang benar, termasuk pandangan Adolf Hitler, dapat diterima? Apakah memperlakukan anakanak dengan kejam itu baik hanya karena si pelaku berpikir demikian? Jika orang salah dalam pemikiran etis mereka (yang tampaknya secara intuitif jelas), maka subjektivisme etis pasti salah. 2. Kekurangan yang krusial dalam subjektivisme etis adalah kegagalannya untuk membedakan antara pendapat dan spekulasi seseorang tentang moralitas dan kebenaran moralitas itu sendiri.6 Sebagian orang mungkin keberatan bahwa kritik ini tampaknya meragukan pandangan ini. Namun, perbedaan penting ini adalah bagian yang esensial dari semua pertimbangan moral. Ketika melakukan pemikiran etis yang autentik dan menilai sudut pandang-sudut pandang alternatif, maka orang harus membedakan antara pendapatnya mengenai moralitas dan kebenaran moral itu sendiri. Jika tidak, maka tidak ada pertimbangan moral. 3. Subjektivisme etis mereduksi moralitas dan pertimbangan moral menjadi selera pribadi—sehingga menghilangkan kemungkinan adanya argumen rasional yang mendukung keputusan moral. Filsuf moral Louis P. Pojman menjelaskan, “Bentuk subjektivisme moral ini memiliki konsekuensi yang menyedihkan: Bentuk ini membuat konsep moralitas tidak berguna, karena dalam prinsip-prinsipnya, hanya ada sedikit atau tidak ada sama sekali kritik atau penilaian antarpribadi yang logis.”7 Jika moralitas ini identik dengan perasaan seseorang, rasa suka, atau rasa tidak suka, maka pertimbangan rasional tidak diterapkan dengan tepat. Dengan demikian, karena subjektivisme etis tidak memberi tempat untuk analisis dan argumen yang logis, maka pendukung subjektivisme etis tidak pernah dapat berdebat untuk mendukung sudut pandang moralnya. 4. Subjektivisme etis melemahkan konsep moralitas dengan menghapus natur normatif atau preskriptifnya. Moralitas melibatkan konsepkonsep seperti “harus” dan “seharusnya.” Subjektivisme etis mengurangi moralitas menjadi preferensi pribadi semata. Alih-alih menjadi pernyataan preskriptif, subjektivisme etis malah menjadi pernyataan moralitas yang deskriptif. Sebagaimana yang telah dicatat oleh lebih dari satu filsuf moral, tampaknya ada kontradiksi logis antara subjektivisme etis dan pandangan moralitas itu sendiri.8

300

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

5. Subjektivisme etis gagal membedakan antara kebajikan dan keburukan. Menurut teori ini, pemimpin Nazi Adolf Hitler sama bermoralnya seperti Bunda Teresa. Masing-masing melakukan apa yang dipikirnya benar. Tindakan individual tertentu dari kedua orang ini (dan konsekuensinya yang tak terelakkan) menjadi pertimbangan yang tidak relevan bagi ahli subjektivisme etis. Dapatkah seseorang atau peradaban mana pun mempertahankan sebuah teori yang membuat pandangan semua moral setara? 6. Subjektivisme etis tidak dapat dijalankan. Membenarkan subjektivisme etis berarti tidak dapat menyalahkan keputusan dan tindakan moral orang lain. Namun, orang dapat menyalahkan. Dalam batasbatas tertentu, setiap orang memaksakan moralitasnya kepada orang lain.9 Penilaian dan evaluasi moral terus-menerus dipaksakan. Sebagai contoh, melakukan diskriminasi terhadap orang lain semata-mata berdasarkan ras itu salah. Namun, menurut subjektivisme etis, tidak ada yang berhak menyalahkan tindakan tersebut. Itulah sebabnya mustahil bagi kita untuk dapat hidup dengan konsisten di dalam pengakuan subjektivisme etis. Subjektivisme etis adalah pendekatan yang dangkal dan membingungkan terhadap nilai-nilai moral. Jenis relativisme individualistis ini menenggelamkan logika dan moral bahwa tidak ada manusia yang lebih baik (lebih berbudi luhur) daripada sesamanya yang lain, dan tidak ada prinsip moral yang lebih baik daripada prinsip moral lainnya. Semua pilihan etis sama-sama baik.10 Mengingat pentingnya moralitas, tak seorang pun puas dengan pandangan ini. Bentuk relativisme moral yang individualistis ini secara logis kacau dan secara moral tidak berkualitas.

Konvensionalisme Etis Konvensionalisme etis adalah pandangan bahwa kebenaran etis itu relatif bagi keseluruhan budaya atau masyarakat, bukan bagi perorangan.11 Oleh sebab itu, nilai-nilai moral berakar pada keyakinan, praktik, preferensi, dan cita-cita dari kelompok budaya tertentu. Konvensionalisme etis menegaskan bahwa orang harus mematuhi aturanaturan moral yang ditentukan oleh budaya atau masyarakat mereka, tetapi aturan-aturan moral itu dari budaya yang satu ke budaya yang lain mungkin berbeda. Oleh karena itu, seperti halnya subjektivisme etis,

BUKANKAH MORALITAS TERGANTUNG PADA MATA YANG MEMANDANGNYA?

301

konvensionalisme etis menyangkal keberadaan standar moral yang mutlak, tidak berubah, dan universal. Sebuah pernyataan khas pandangan dari ahli konvensionalisme etis adalah: “Apa pun yang dikatakan benar menurut budaya seseorang, maka hal itu pasti benar.” Konvensionalisme etis memiliki beberapa masalah yang sama seperti subjektivisme etis. Namun, karena pandangan kaum konvensionalis biasanya terlihat sebagai teori relativitas yang lebih substantif daripada subjektivisme etis yang lebih individualistis, empat pernyataan yang mendukungnya mendapat kritik. Empat alasan positif untuk menolak konvensionalisme etis sebagai teori moral yang tidak memadai akan dijelaskan kemudian. Mendukung Konvensionalisme Etis

Sebuah relativisme moral yang didefinisikan secara kultural didukung oleh fakta bahwa semua orang mempelajari prinsip-prinsip dasar moral mereka dari lingkungan budaya mereka (keluarga, sekolah, teman sebaya, gereja, dan sebagainya). Jawaban: Budaya dapat berfungsi sebagai instrumen atau sarana agar orang dapat mengetahui kewajiban moral mereka tanpa perlu menjadi dasar, sumber, atau pembenaran nilai-nilai tersebut.12 Orang belajar banyak hal melalui budayanya, tetapi kebenaran dari hal-hal itu tidak selalu bergantung pada budaya. Kebenaran logis dan matematis yang universal dapat dipelajari melalui lembaga pendidikan, tetapi kebenaran ilmu logika dan matematika itu sendiri jelas tidak bergantung pada institusi tersebut. Orang tua mengajarkan kepada anak-anak mereka bahwa 5+7=12, tetapi kebenaran ilmu aritmatika itu sendiri tidak bergantung pada orang tua. Para bapa pendiri negara Amerika Serikat mengakui bahwa nilainilai moral membutuhkan dasar dan pembenaran di luar budaya semata. Menurut Deklarasi Kemerdekaan, hak-hak individu didasarkan pada Allah Sang Pencipta yang melampaui budaya. Sebuah relativisme moral yang didefinisikan secara kultural didukung oleh adanya pendapat dan praktik moral yang beragam di antara berbagai budaya di dunia.

302

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Jawaban: Fakta bahwa ada orang-orang yang tidak sepakat mengenai suatu masalah tidak berarti tidak ada pandangan yang benar secara objektif tentang masalah itu (sebagai contoh, orang-orang biasanya berkeras memperdebatkan tentang apakah alam semesta memiliki awal atau tidak). Perbedaan etis mungkin berasal dari penerapan nilai-nilai moral yang sulit, bukan dari perbedaan yang riil mengenai nilai-nilai inti.13 Pemikir Kristen C. S. Lewis secara persuasif berpendapat bahwa kesepakatan umum tentang isu-isu moral telah ada sejak dulu di antara beragam peradaban dan budaya yang historis. 14 Sebuah relativisme moral yang didefinisikan secara kultural harus menjadi sudut pandang yang lebih disukai karena berhasil mengembangkan kebajikan penting toleransi. Jawaban: Toleransi adalah kebajikan yang sejati hanya selama tidak menghalangi kebenaran, realitas, dan kebaikan moral (lih. bab 17). Nilainilai objektif dan lintas budaya dapat mengekang ekses etnosentrisme (superioritas budaya) jauh lebih baik daripada relativisme yang didefinisikan secara kultural. Namun, jika konvensionalisme etis benar, mengapa etnosentrisme menjadi masalah? Louis Pojman bertanya dengan tepat, “Jika [sebagaimana dikatakan relativisme] tidak ada prinsip-prinsip moral yang berlaku secara universal, bagaimana toleransi bisa berlaku secara universal?”15 Logika mengatakan bahwa orang yang memuji kebaikan keragaman budaya dan toleransi harus bersedia menoleransi ketidaktoleranan budaya-budaya lainnya. Bukankah demokrasi itu sendiri membutuhkan bentuk pemikiran relativistis budaya? Jawaban: Perbedaan pendapat atau cara pandang, yang mencerminkan kebebasan mendasar individu, dapat ditoleransi tanpa kehilangan realitas kebenaran yang objektif. Bentuk persuasi moral yang superior kerap kali datang melalui pertukaran ide yang bebas. Kebenaran dapat ditemukan melalui proses yang berlangsung demokratis dalam penyelidikan, dialog, dan perdebatan yang terjadi di dunia ide-ide.16 Menentang Konvensionalisme Etis Empat hal berikut dengan jelas menunjukkan bahwa konvensionalisme etis tidak dapat diterima secara logis dan moral.

BUKANKAH MORALITAS TERGANTUNG PADA MATA YANG MEMANDANGNYA?

303

1. Penerimaan konvensionalisme etis (“apa pun yang dikatakan budaya seseorang sebagai benar adalah benar”) berarti bahwa satu budaya tidak bisa mengkritik tindakan moral budaya lain. Namun, jika konsep ini benar (bergantung pada bagaimana budaya dan/atau masyarakat didefinisikan), maka orang-orang Amerika tidak pernah bisa mengutuk perlakuan Taliban terhadap kaum perempuan Afghanistan atau tindakan genosida yang dilakukan oleh Nazi Jerman terhadap orang-orang Yahudi dalam Holokaus selama Perang Dunia II. Namun bagaimana mungkin orang dapat menerima sistem moralitas, yang tidak memungkinkan membawa orang-orang kejam, seperti Nazi, ke pengadilan? Bentuk relativisme budaya memang akan membuat Peradilan Nuremberg mustahil digelar. Konvensionalisme etis juga akan mengampuni tindakan Nazi, Rudolf Höss, komandan kamp konsentrasi Auschwitz, yang mengaku telah membasmi lebih dari dua juta orang. Höss tentunya bisa membela diri bahwa ia hanya mengikuti konsensus moral dari kebudayaannya. Ironisnya, tangan kanan Hitler, Hermann Göring, bersikeras di Peradilan Nuremberg (1945-1946) bahwa Sekutu tidak punya hak moral untuk menilai tindakan dari budaya Jerman yang lebih besar.17 Untuk mengadili tiran-tiran yang mengerikan di dalam sejarah dibutuhkan nilai-nilai moral yang objektif dan mutlak. 2. Konvensionalisme etis tidak memungkinkan terjadinya reformasi moral sebuah budaya. Jika apa yang dipikirkan budaya tertentu sebagai hal yang benar itu pasti benar, maka budaya itu tidak perlu memperbaiki atau merevisi sudut pandang moralnya. Kesimpulan ini juga bertentangan dengan fakta sejarah. Budaya telah sering terbukti membutuhkan reformasi moral (perbudakan, hak-hak perempuan, segregasi/tindakan pemisahan). Pandangan konvensionalisme etis akan benar-benar tidak mengacuhkan kebutuhan para tokoh reformasi moral seperti Moses, Wilberforce, Gandhi, dan King. Mengubah masyarakat dan hukum yang tidak adil melalui musyawarah yang tepat dan pembangkangan sipil, sama sekali tidak perlu.

304

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

3. Konvensionalisme etis mengalami dilema praktis yang serius. Kebudayaan dan masyarakat merupakan konsep-konsep yang sulit didefinisikan, terutama di tengah masyarakat pluralistis masa kini.18 Seorang individu mungkin masuk di dalam lebih dari satu kelompok, budaya, atau subkultur secara bersamaan. Jadi, bagaimana orang dapat mengidentifikasi kewajiban moral mereka jika mereka sekaligus tercakup ke dalam banyak kelompok dengan sudut pandang moral yang bertentangan? Seorang anggota partai Demokrat yang terdaftar di Amerika Serikat saat ini, yang berafiliasi dengan kelompok hak-hak bagi perempuan namun dibesarkan di tengah keluarga tradisional Katolik-Roma, ditarik ke arah prinsip moral yang kontradiktif ketika berhadapan dengan masalah aborsi. Kelompok mana yang nantinya akan mendefinisikan sudut pandang moralnya? 4. Dari perspektif Kristen yang historis, konvensionalisme etis mengabaikan Hukum Allah yang lintas budaya, yang tertulis di hati semua manusia (hukum alam: Rm. 2:14-15). Menurut Alkitab, semua orang tahu bahwa tindakan tertentu itu salah, terlepas dari apa yang dikatakan oleh budaya tertentu. “Jangan membunuh” adalah kewajiban moral lintas budaya. Pandangan moral budaya seseorang dapat bertentangan dengan kesadaran moralnya yang bersifat intuitif atau hati nurani pribadi.

Moralitas—Diciptakan atau Ditemukan? Bentuk relativisme etika (subjektivisme dan konvensionalisme) bergantung pada pandangan yang lemah, bahwa nilai-nilai positif diciptakan, bukan ditemukan. Jika moralitas hanyalah sebuah konvensi manusia, ia tidak memiliki landasan yang objektif dan tidak benar-benar dapat dipahami sebagai moralitas yang preskriptif. Jika moralitas diciptakan, maka tidak ada yang sungguh-sungguh benar atau sungguh-sungguh salah. Bertindak dengan cara yang praktis atau nyaman atau pragmatis, tidak sama dengan moralitas preskriptif. Penting untuk dipahami, terutama oleh kaum sekuler, bahwa meskipun kepentingan dan moralitas preskriptif mungkin tumpang tindih, keduanya tidak persis sama. Etika berdasarkan kebijaksanaan konvensional tidak memberikan alasan kuat bagi orang untuk menjadi bermoral. Di dalam dunia yang benar-benar

BUKANKAH MORALITAS TERGANTUNG PADA MATA YANG MEMANDANGNYA?

305

tanpa nilai yang objektif, seseorang dapat memilih untuk hidup seperti Gandhi alih-alih seperti Saddam Hussein, tetapi keputusan itu akan benar-benar bersifat pribadi dan bebas dari nilai-nilai, sama seperti memilih Coke dan bukan Pepsi.19 Sebenarnya, di dalam dunia etika yang ditemukan, masih dapat diterima jika seseorang membentuk kehidupannya menurut Hussein. Bentuk-bentuk relativisme moral lainnya mendapatkan kritik serupa. Dengan relativisme moral yang secara intelektual dan moral tidak dapat diterima, maka absolutisme moral dengan dasar yang alkitabiah menjadi alternatif yang menguntungkan, masuk akal, dan bisa diterapkan.

Absolutisme Moral Meskipun beberapa filsuf membedakan antara objektivisme moral dan absolutisme moral,20 pembahasan ini hanya berpihak pada pandangan absolutisme moral. Pandangan ini menegaskan bahwa standar moral yang objektif, universal, dan tidak berubah itu ada—nilai-nilai yang menawarkan “Realitas yang tetap dan tidak berubah, yang lazim untuk semua pihak.”21 Absolutisme menegaskan bahwa nilai-nilai ini berbeda dan independen dari pikiran dan kehendak manusia. Maka dari itu, nilai-nilai moral yang objektif ditemukan, bukan diciptakan. Selanjutnya, absolutisme etis tidak selalu berarti bahwa manusia benar-benar memahami atau menerapkan dengan benar nilai-nilai yang mutlak. Pandangan ini bahkan mengakui bahwa kesadaran moral dapat berkembang dari waktu ke waktu, tetapi nilai-nilai inti itu sendiri tetap sama. Alasan untuk Mendukung Absolutisme Moral

1. Hanya ada satu pilihan: Prinsip-prinsip etika bisa relatif sifatnya atau tidak (tidak ada alternatif ketiga: hukum penyisihan jalan tengah).22 Oleh karena itu, jika relativisme (moral) etis itu salah (yang tampaknya memang demikian), maka objektivitas etis atau absolutisme etis pasti benar. 2. Pengingkaran nilai-nilai moral yang absolut/mutlak mengarah pada pandangan yang tidak rasional dan disintegrasi moral. Contoh-contoh tertentu yang dibahas dalam subjektivisme etis menjelaskan hal ini.

306

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

3. Nilai-nilai moral yang mutlak mewakili sebagian pandangan tertentu (misalnya, teisme) yang perlu dan diharapkan. Seseorang bahkan dapat berpendapat bahwa pandangan yang rasional dan didukung dengan baik, dengan sendirinya merupakan bukti moral yang mutlak. 4. Intuisi-intuisi moral (kesadaran moral yang segera dan langsung, serta pemahaman akan kata “harus”) bersaksi tentang kebenaran nilainilai moral yang objektif. Pada umumnya, manusia secara intuitif menyadari kewajiban moral mereka yang objektif. Di dasar hati mereka yang terdalam, orang menyadari bahwa ada hal-hal tertentu yang harus atau seharusnya dilakukan, dan hal-hal lain yang tidak harus atau tidak seharusnya dilakukan. Kewajiban-kewajiban moral ini tidak mencerminkan cara orang berperilaku (deskriptif), tetapi cara orang harus bersikap (preskriptif). Orang bisa menyangkal, mengabaikan, atau mencari-cari dalih untuk menghindari kewajiban moral mereka, tetapi bagaimanapun, kewajiban-kewajiban ini tetap merupakan bagian yang nyata dan diperlukan dari pengalaman hidup dan eksistensi manusia. Orang bisa dan benar-benar memilih untuk melanggar intuisi moral mereka, tetapi dari perspektif Alkitab, pilihan ini mencerminkan kondisi manusia yang berdosa (lih. bab 11). Kewajiban Moral yang Objektif

Berikut ini adalah tiga contoh intuisi moral yang absolut:  “Bagi setiap orang di sepanjang zaman dan di mana saja, tindakan menyiksa anak-anak adalah tindakan yang salah.”  “Bagi setiap orang di sepanjang zaman dan di mana saja, tindakan membunuh orang lain yang tidak bersalah dengan sengaja adalah tindakan yang salah.”  “Mengatakan yang sebenarnya, jujur, adil, dan berani adalah sikap yang benar.” Bagaimana keberadaan nilai-nilai moral yang objektif ini dapat dijelaskan? Dari mana datangnya? Apa yang menjamin validitas nilainilai ini? Apa yang disampaikan oleh nilai-nilai ini tentang natur realitas? Adanya kewajiban moral yang objektif membutuhkan sumber atau dasar. Prinsip-prinsip etika tidak bisa berada di dalam kekosongan metafisika atau epistemologis. Prinsip-prinsip ini membutuhkan dasar atau fondasi

BUKANKAH MORALITAS TERGANTUNG PADA MATA YANG MEMANDANGNYA?

307

yang dapat membenarkan prinsip-prinsip itu. Apa yang baik (etika) tidak dapat dipisahkan dari apa yang nyata (metafisika) dan apa yang benar (epistemologi). Dasar untuk Kemutlakan Etis

Kemutlakan etis tidak sejalan dengan pandangan naturalistis: nilainilai moral yang objektif tampak jelas tidak sesuai dengan naturalisme metafisika, materialisme, dan teori evolusi ateistik, setidaknya dalam lima alasan.23 1. Jika semuanya dapat direduksi, atau dijelaskan sehubungan dengan hal-hal yang bersifat fisik, maka tidak ada dasar untuk realitas-realitas yang abstrak, nonfisik, universal, dan tidak pernah berubah, seperti prinsip-prinsip moral yang objektif. Kemutlakan moral tidak memiliki tempat di dunia fisikalisme [pandangan filsafat yang menyatakan bahwa semua yang ada tak lebih dari properti fisik saja]. 2. Jika manusia dapat direduksi menjadi “materi yang bergerak,” yakni materi dan sifat-sifat fisiknya (proses-proses fisik, kimiawi, dan biologis), maka orang tidak bisa terlepas dari bentuk determinisme fisik. Ia tidak mampu melakukan pilihan moral yang disengaja. Pertimbangan moral tidak sejalan dengan pola perilaku yang sudah tertanam secara genetis (fisikalisme evolusi). 3. Keberadaan kemutlakan moral yang objektif bertentangan dengan gagasan bahwa manusia adalah hasil dari proses evolusi yang buta, tanpa tujuan, dan tanpa arah. Kemutlakan etis tidak ada artinya di dalam dunia yang tanpa tujuan. 4. Evolusi tertentu dari “naluri mempertahankan hidup” (kemajuan manusia yang berkembang melalui seleksi alam) tidak sama dengan moralitas preskriptif. Bertindak sesuai kepentingan pribadi atau dengan cara yang nyaman atau pragmatis tidak sama dengan moralitas preskriptif. Berdasarkan teori evolusi, orang dapat memilih untuk mengikuti Hukum Kasih sembari berharap hukum itu mendukung kelangsungan hidup. Namun, orang bisa juga memilih untuk membunuh sembari mengharapkan hal yang sama. Evolusi tidak memberikan dasar untuk moralitas yang objektif dan tidak memberikan alasan yang meyakinkan untuk

308

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

bertindak dengan cara yang etis. Tindakan-tindakan heroik (altruistis) tidak dijelaskan dalam kerangka evolusi. 5. Dalam dunia evolusi yang ateistis dan materialistis, bagaimana prinsip-prinsip moral bisa menjadi apa pun selain menjadi prinsip yang ditemukan, konvensional, dan subjektif? Namun, etikaetika relativistis yang subjektif, membingungkan dan tidak sesuai dengan realitas kewajiban moral. Kemutlakan etis tidak sesuai dengan pandangan panteisme: Kewajiban-kewajiban moral yang objektif (absolut/mutlak) tidak sesuai dengan realitas transendental yang tidak bersifat pribadi dan tidak bermoral. Prinsip-prinsip moral membutuhkan keberadaan suatu pribadi (seseorang dengan pikiran dan kehendak). Dalam beberapa agama Timur, Allah (atau realitas tertinggi) itu tidak bersifat pribadi sehingga berada di luar konsep-konsep seperti “yang baik dan yang jahat.” Kemutlakan etis sesuai dengan pandangan teisme Kristen: Kewajiban-kewajiban moral yang objektif sesuai dengan keberadaan Allah yang tidak terbatas, kekal, bersifat pribadi, suci, penuh kasih, dan adil sebagaimana yang ditunjukkan hal-hal berikut ini dari cara pandang alkitabiah: 1. Nilai-nilai moral yang mutlak berakar pada keberadaan Sang Pencipta alam semesta yang transenden, yang juga berinkarnasi sebagai Penebus umat manusia yang berdosa. 2. Nilai-nilai moral berasal dari karakter moral Allah. Allah tidak sewenang-wenang menciptakan prinsip-prinsip etika ataupun menciptakan nilai-nilai yang melampaui keberadaan Allah. 3. Allah adalah Pribadi yang sempurna secara moral, yang memiliki sifat-sifat moral seperti kesucian, kasih, hikmat, kemurahan, kebaikan, kebenaran, kejujuran, dan keadilan yang utuh dan sempurna. 4. Allah telah menyatakan prinsip-prinsip moral-Nya melalui hati nurani manusia dan pernyataan-pernyatan historis yang eksplisit (Sepuluh Perintah Allah, Hukum Kasih, dan Khotbah di Bukit). 5. Alkitab mengungkapkan prinsip-prinsip moral yang objektif, universal, dan tidak berubah (mutlak).

BUKANKAH MORALITAS TERGANTUNG PADA MATA YANG MEMANDANGNYA?

309

Kesimpulan Realitas kewajiban moral manusia tidak sesuai dengan segala bentuk relativisme etika (yang mencakup subjektivisme etis dan konvensionalisme etis). Relativisme etika itu membingungkan sebagai suatu sistem dan dengan demikian gagal sebagai dasar untuk nilai-nilai moral apa pun. Etika-etika yang subjektif juga gagal menjelaskan tentang kesadaran manusia akan kewajiban moral. Refleksi yang cermat tentang kewajiban moral menunjukkan bahwa kewajiban-kewajiban tersebut pasti lebih dari sekadar impuls-impuls sementara atau yang dipaksakan secara budaya. Pada akhirnya, pendekatan moralitas yang subjektif runtuh karena tidak memiliki dasar metafisika yang memadai (dasar yang transenden dan sempurna secara moral, seperti Allah yang ada di dalam Alkitab). Tidak seperti penjelasan sekuler tentang etika, di dalam kekristenan, sifat Allah yang suci, adil, benar, dan penuh kasih menjadi dasar etika. Jadi, pandangan kristiani memberikan landasan dan pembenaran bagi nilai-nilai moral yang mutlak. Salah satu bukti terkuat bahwa kekristenan itu benar adalah kemampuannya untuk menjelaskan dan membenarkan realitas kehidupan yang berarti. Dan tidak ada yang lebih penting bagi keberadaan manusia selain nilai-nilai moral yang mutlak. Namun, bagaimana dengan masalah kejahatan? Bagaimana Allah yang suci dan adil bisa membiarkan tindakan-tindakan mengerikan kejahatan manusia yang melampaui pengertian kita? Topik ini dibahas di bab berikutnya. Pertanyaan Diskusi 1. Mengapa banyak filsuf menganggap subjektivisme etis membingungkan? 2. Masalah-masalah apa yang timbul ketika orang menegaskan bahwa prinsip-prinsip moral hanya berasal dan dibenarkan dari budaya? 3. Jika orang belajar kewajiban-kewajiban moralnya dari budaya, bukankah itu berarti bahwa moral itu relatif secara budaya? 4. Mengapa standar etika evolusionisme bertentangan dengan moralitas yang preskriptif? 5. Menurut kekristenan yang historis, apa hubungan antara Allah dan nilai-nilai moral yang mutlak?

310

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Untuk Studi Lebih Lanjut Beckwith, Francis J., dan Gregory Koukl. Relativism: Feet Firmly Planted in Mid-Air (Grand Rapids: Baker, 1998). Corduan, Winfried. No Doubt about It: The Case for Christianity (Nashville: Broadman & Holman, 1997). Lutzer, Erwin. The Necessity of Ethical Absolutes (Grand Rapids: Zondervan, 1981). Pojman, Louis P. Ethics: Discovering Right and Wrong (Belmont, CA: Wadsworth, 1990). Purtill, Richard L. Thinking about Ethics (Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, 1976). Rae, Scott B. Moral Choices: An Introduction to Ethics (Grand Rapids: Zondervan, 1995).

BAGAIMANA MUNGKIN ALLAH YANG BAIK DAN MAHAKUASA MEMBIARKAN KEJAHATAN TERJADI?

Apakah Dia [Allah] ingin mencegah kejahatan tetapi tidak mampu? Berarti Dia tidak berkuasa. Apakah Dia mampu tetapi tidak mau? Artinya Dia jahat. Apakah Dia mampu dan mau? Lalu dari mana kejahatan itu? ––David Hume, Dialogues Concerning Natural Religion Dari mana kejahatan itu? Dari mana asal-usulnya? Bagaimana kejahatan bisa menyusup ke dalam dunia? . . . Dari mana asal kejahatan jika Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu dan menjadikan semua ciptaan-Nya baik adanya karena Dia baik. ––Augustine dari Hippo, Confessions

S

eorang ibu menenggelamkan kelima anaknya. Kuburan massal ditemukan di Irak. Seorang penembak jitu mengintai dan siap menembak, menyandera sekumpulan orang. Jika Allah itu baik dan mahakuasa, bagaimana mungkin Dia membiarkan kekejaman seperti itu berlangsung? Apakah Dia menutup mata-Nya? Apakah Dia tidak dapat ditemukan di mana pun? Apakah beberapa hal berada di luar kendaliNya? Mungkin tantangan terbesar bagi kebenaran kekristenan terletak pada masalah kejahatan yang tak pernah berhenti. Dilema kejahatan menimbulkan pertanyaan tentang apakah konsep kristiani tentang Allah masuk akal. Banyak orang mengutip keberadaan kejahatan dan penderitaan sebagai alasan nomor satu untuk menolak percaya kepada 311

312

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Allah umat Kristen. Itulah sebabnya tantangan ini layak dipikirkan dengan saksama. Banyak yang dapat dan harus dikatakan tentang topik ini. Bukubuku sudah banyak yang membahas tentang hal ini. Namun, bahkan dengan memeriksa sudut pandang non-Kristen secara singkat dan menyelidiki natur dan tujuan kejahatan, kita dapat mengembangkan respons kristiani yang mendasar hingga tantangan apologetis yang penting ini. Sementara masalah kejahatan dan penderitaan menimbulkan pertanyaanpertanyaan yang sulit, kekristenan yang historis menyediakan jawabanjawaban yang unik dan kuat untuk pertanyaan-pertanyaan ini.

Benarkah Ada Kejahatan di Dunia? Sebagian orang pada zaman sekarang menyangkal bahwa kejahatan nyata ada di dunia. Beberapa kaum profesional di bidang kesehatan jiwa berpikir bahwa kejahatan adalah konsep yang telah usang dan sesat. Mereka mengklaim bahwa pada dasarnya manusia itu baik, atau seburukburuknya, netral. Dengan demikian, perilaku yang negatif atau keras berasal dari faktor-faktor fisiologis atau lingkungan. Banyak psikolog dan psikiater menyatakan bahwa kejahatan keji yang dilakukan di tengah masyarakat tidak dilakukan oleh orang-orang yang jahat, tetapi oleh orang-orang yang sakit jiwa. Dalam pandangan mereka, kejahatan memiliki penyebab patologis yang mendasar, bukan penyebab moral. Umumnya, psikologi dan psikiatri sekuler menolak pandangan bahwa dosa dan kejahatan moral secara aktif memengaruhi natur manusia. Namun, sementara mempertanyakan eksistensi kejahatan, orang-orang yang sama dipaksa untuk percaya pada penderitaan manusia karena hal itu jelas tampak di sekitar mereka. Beberapa bentuk agama Timur menganggap kejahatan sebagai ilusi belaka. Unsur agama Hindu yang lebih filosofis1 menganut monisme, idealisme, dan panteisme. Monisme adalah perspektif bahwa semua realitas adalah satu, sedangkan idealisme menegaskan bahwa satu-satunya realitas adalah pikiran, ide, atau roh. Menurut tulisan-tulisan Hindu yang dikenal sebagai Upanishad, dunia fisik adalah ilusi dan semua realitas pada akhirnya adalah roh atau allah. Jadi, mereka mengajarkan panteisme: “semua adalah Allah dan allah adalah semua.”

BAGAIMANA MUNGKIN ALLAH YANG BAIK DAN MAHAKUASA MEMBIARKAN KEJAHATAN TERJADI?

313

Menurut pemikiran Hindu, begitu seseorang mencapai kesadaran mistis yang tepat, maka kejahatan itu tidak ada. Realitas tertinggi tidak hanya berada di luar penampilan fisik, tetapi juga di luar kategori-kategori rasional dan moral yang baik dan jahat. Dalam agama Hindu, kepercayaan ini menjadi bagian dari prinsip yang lebih luas yang disebut maya, yang di dalamnya penampilan dan ilusi menghalangi pemahaman realitas atau kebenaran yang lebih dalam. Kelompok-kelompok ilmu pikiran seperti Christian Science dan Religious Science serta spiritualitas New Age yang populer menganut pandangan yang sama. Pemikiran Hindu telah memengaruhi ketiga kelompok Barat tersebut, yakni bahwa masalah utama manusia adalah ketidaktahuan atau kurangnya pencerahan, bukan dosa atau kejahatan moral. Bagaimanapun, kejahatan tidak dapat dengan mudah dihentikan atau disingkirkan. Salah satu alasan untuk menolak kesimpulan dari banyak psikologi sekuler modern dan mistisisme Timur adalah bahwa pandangan mereka tentang natur manusia tidak sesuai dengan pengalaman kebanyakan orang di dunia. Kejahatan dan penderitaan adalah realitas jelas di dalam kehidupan. Keduanya tidak dapat direduksi ataupun dijelaskan sebagai kejadian-kejadian patologis atau mistis. Teori-teori psikologi modern telah merusak kebenaran yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab moral yang mendasar.2 Dan konsep Hindu maya gagal menjelaskan dari mana asalnya apa yang disebut sebagai ilusi itu atau mengapa kejahatan tetap menjadi bagian dari pengalaman manusia yang dominan dan universal. Maya, di bawah pengamatan yang logis, tereduksi menjadi absurditas.3 Sejarah abad XX sendiri menggambarkan kenyataan pahit tentang kejahatan dan penderitaan. Rezim totalitarian Adolf Hitler, Josef Stalin, dan Mao Tse-tung memberikan segudang bukti objektif bahwa kejahatan itu sungguh ada, seperti yang ditunjukkan di kamp-kamp kematian Nazi, kamp kerja paksa Soviet, dan revolusi kebudayaan China. Perlu dicatat bahwa dari sekitar enam juta orang Yahudi yang dibasmi secara sistematis oleh Nazi selama Perang Dunia II, satu setengah juta di antaranya adalah anak-anak. Jumlah orang yang dibunuh dalam pembersihan Stalin di Uni Soviet diperkirakan sekitar puluhan juta. Jumlah orang-orang China yang sama banyaknya (atau lebih banyak) dibunuh atas perintah

314

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Pemimpin Mao. Perang Dunia II, yang mengakibatkan lima puluh sampai enam puluh juta kematian, disebut sebagai bencana terbesar dalam sejarah.4 Perang dunia abad XX membuat pandangan bahwa kejahatan hanyalah ilusi belaka menjadi masalah yang serius. Mengabaikan kejahatan dengan menganggapnya sebagai ilusi sudah merupakan penyimpangan serius dari realitas. Kejahatan itu nyata. Menyakitkan. Dan konsekuensi yang dihasilkannya menghancurkan. Realitas kejahatan yang terjadi di dunia dan khususnya di tengah umat manusia menimbulkan pertanyaan serius tentang hubungan kejahatan itu dengan visi Kristen tentang Allah yang kasih-Nya tak terhingga dan berkuasa. Sebagian orang berpendapat bahwa kejahatan dan Allah umat Kristen tidak dapat hidup berdampingan secara logis. Mereka berpendapat bahwa keberadaan kejahatan pasti akan menyebabkan penolakan terhadap keberadaan Allah.

Apakah Keberadaan Allah Tidak Sesuai dengan Kejahatan? Menyangkal Allah menjadi tugas epistemologis yang sangat sulit karena ada batasan-batasan tertentu bagi penyangkalan. Namun, konsepkonsep yang tidak logis tentang Allah dapat dianggap salah karena apa pun yang benar-benar kacau (tidak rasional) tidak mungkin benar (sebagai contoh, lingkaran mustahil menjadi persegi). Sebagian orang skeptis dan ateis percaya bahwa masalah kejahatan menciptakan masalah koherensi untuk konsep Kristen tentang Allah. Pertanyaan orang skeptis asal Skotlandia David Hume pada abad XVIII menggambarkan dilema yang dirasakan banyak orang, “Apakah Dia [Allah] ingin mencegah kejahatan tetapi tidak mampu? Itu berarti Dia tidak berkuasa. Apakah Dia mampu tetapi tidak mau? Itu berarti Dia jahat. Apakah Dia mampu dan mau? Tetapi itu berarti dari mana kejahatan itu berasal?”5 Hume mengungkapkan apa yang disebut oleh sebagian orang skeptis sebagai “Trio yang tidak konsisten.” Berlandaskan Kitab Suci, orang Kristen percaya bahwa Allah itu mahapengasih (sangat baik) dan mahakuasa (benar-benar berkuasa). Namun, kedua sifat Ilahi ini, jika dipadankan dengan realitas kejahatan, mengakibatkan ketidakcocokan yang logis. Penalaran Hume kerap kali mengikuti pola ini:

BAGAIMANA MUNGKIN ALLAH YANG BAIK DAN MAHAKUASA MEMBIARKAN KEJAHATAN TERJADI?



Allah yang mahapengasih ingin melenyapkan kejahatan.



Allah yang mahakuasa akan mampu melenyapkan kejahatan.



Namun, kejahatan secara mencolok tetap ada.

315

Ketegangan yang logis ini tampak jelas. Bagaimana mungkin kejahatan masih ada di dunia bila Allah memiliki keinginan dan kuasa untuk menghilangkannya? Tiga penalaran yang tidak konsisten ini membuat kesimpulan berikut tampak masuk akal: 1. Allah ingin melenyapkan kejahatan tetapi tidak mampu. Oleh sebab itu, Allah impoten (tidak berkuasa). 2. Allah mampu melenyapkan kejahatan tetapi tidak mau. Oleh sebab itu, Allah jahat (tidak baik). 3. Allah yang mahakuasa dan mahapengasih itu pasti tidak ada. Penalaran ini menghantar sebagian kaum skeptis dan ateis menerima alur pemikiran argumentatif berikut: Karena kemahapengasihan, kemahakuasaan, dan kejahatan tidak sejalan secara logika, dan karena ketiganya pasti ada ketika orang menerima Allahnya umat Kristen, maka konsep Kristen tentang Allah secara logis membingungkan dan karena itu tidak mungkin benar. Masalah kejahatan ini telah digunakan sebagai senjata ampuh kaum ateis untuk melawan teisme Kristen selama beberapa abad terakhir. Namun, sangat sedikit orang yang bersedia menerima opsi bahwa Allah sebenarnya jahat. Bagaimanapun, dalam respons langsung terhadap argumen ini, beberapa filsuf agama telah menyetujui dan mengambil pandangan terbatas tentang Allah—pandangan bahwa Allah mau melenyapkan kejahatan tetapi tidak benar-benar mampu melakukannya. Dia membutuhkan dukungan dari manusia. Pandangan ini telah diberi berbagai sebutan (godisme terbatas, teisme terbatas), tetapi karakteristik intinya adalah bahwa Allah itu terbatas, terutama dalam hal kekuasaanNya. Ideologi ini dianut sekitar seabad yang lalu oleh filsuf-filsuf terkemuka seperti John Stuart Mill, William James, dan Edgar Brightman. Pandangan serupa tercermin saat ini di dalam buku populer When Bad Things Happen to Good People karya Rabbi Harold Kushner.

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

316

Setidaknya tiga masalah utama muncul dari godisme terbatas dan sudut pandang yang sejenis.6 Pertama, pandangan ini tidak menjamin bahwa kejahatan dapat dikalahkan. Jika allah ini tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi kejahatan dan harus mengandalkan bantuan manusia, maka dunia berada dalam kekacauan tanpa harapan. Kedua, allah terbatas ini menciptakan sebuah dunia yang tidak bisa dikendalikan olehnya. Dia tidak mahakuasa atau mahatahu dan oleh karenanya ia tampaknya bukan kandidat yang patut disembah oleh manusia. Ketiga, tidak ada kebutuhan mendesak untuk mengadopsi sebuah pandangan yang terbatas tentang Allah karena ketiga pandangan yang tidak konsisten itu secara logis dapat dipatahkan.

Tritunggal yang Konsisten Tidak ada masalah logika yang tidak dapat diatasi di dalam tiga poin yang diungkapkan oleh kaum skeptis tentang sifat Allah dan eksistensi kejahatan. 

Allah yang mahapengasih ingin melenyapkan kejahatan.



Allah yang mahakuasa akan mampu melenyapkan kejahatan.



Namun, kejahatan secara mencolok tetap ada.

Ketiga pernyataan ini tidak membentuk kontradiksi yang logis. Tanggapan singkat berikut ini terhadap argumen yang menentang Allah teisme Kristen akan menjelaskannya. Kebenaran dan kewajaran kedua pernyataan pertama masih sangat perlu dipertanyakan. Pertama, jika kejahatan dan penderitaan dapat berpotensi menghasilkan kebaikan yang lebih besar, tampaknya masuk akal jika kita menyimpulkan bahwa Allah yang mahapengasih tidak selalu ingin melenyapkan semua kejahatan dan penderitaan, setidaknya tidak segera. Filsuf Kristen Richard Swinburne berpikir bahwa teori kebaikan yang lebih besar ini adalah kunci untuk menjawab masalah kejahatan. Ia menjelaskan, “Solusi dasar adalah bahwa semua kejahatan yang kita jumpai di sekitar kita adalah kondisi logis yang diperlukan untuk terjadinya kebaikan yang lebih besar. Dengan kata lain, kebaikan yang lebih besar tidak dapat terjadi bila tidak ada kejahatan atau setidaknya kemungkinan kejahatan.”7

BAGAIMANA MUNGKIN ALLAH YANG BAIK DAN MAHAKUASA MEMBIARKAN KEJAHATAN TERJADI?

317

Secara analogi, orangtua yang bertanggung jawab kerap membiarkan anak-anak mereka menjalani kesulitan dan kepedihan. Meskipun orang tua itu bisa melindungi mereka dari beberapa kesulitan, mereka tetap membiarkan masalah-masalah itu terjadi karena pengalaman hidup menghasilkan kebaikan yang lebih besar di dalam diri anak-anak— kemandirian, ketekunan, kekuatan, keberanian, kebijaksanaan, dan kematangan. Allah yang mahabijak, adil, dan penuh kasih dengan cara yang sama membiarkan kejahatan dan penderitaan terjadi karena kejahatan dan penderitaan itu memberikan tujuan lebih besar bagi manusia dan alam semesta, dan akhirnya membawa kemuliaan yang lebih besar bagi Allah sendiri. Keberadaan kejahatan dan segala kebaikan Ilahi tidak selalu tidak sejalan. Allah bisa jadi memiliki alasan yang baik saat membiarkan kejahatan dan penderitaan berlangsung untuk sementara waktu. Kedua, Allah yang mahakuasa, yang telah menciptakan makhlukmakhluk yang bertanggung jawab secara moral, tentunya memutuskan untuk melenyapkan kejahatan melalui proses yang cermat meski pada awalnya Dia mengizinkan kejahatan itu terjadi. Dalam konteks Alkitab, kemahakuasaan tidak berarti bahwa secara harfiah Allah dapat melakukan segala sesuatu (sebagai contoh, Dia tidak dapat berbuat dosa atau melakukan hal yang tidak logis). Sebaliknya, kemahakuasaan berarti bahwa Allah dapat melakukan segala sesuatu yang konsisten dengan natur-Nya yang rasional dan bermoral. Menciptakan orang-orang yang setidaknya mampu mencapai tingkat kemandirian tertentu dapat secara logis membatasi pilihan Allah. Mengutip perkataan filsuf Kristen Alvin Plantinga, “Oleh karena itu, agar tercipta makhluk yang mampu melakukan kebaikan moral, Dia [Allah] harus menciptakan makhluk yang mampu melakukan kejahatan moral.”8 Kesimpulan yang masuk akal adalah bahwa jika Allah menciptakan manusia dengan kehendak bebas, maka melenyapkan kebobrokan mungkin harus dilakukan melalui proses yang melibatkan kejahatan dan penderitaan. Bahkan bagi Allah, melenyapkan kejahatan kemungkinan bukanlah tugas yang harus segera dilaksanakan dan dilalui tanpa rasa sakit. Kejahatan dan penderitaan diperlukan untuk kebaikan yang lebih besar bagi umat manusia dan dapat lebih memuliakan Allah.

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

318

Alvin Plantinga telah menyatakan sesuatu seperti alur pemikiran berikut ini untuk menanggapi masalah kejahatan:9  



Allah itu mahapengasih dan mahakuasa. Allah menciptakan dunia yang berisi kejahatan dan memiliki alasan yang baik untuk melakukannya (untuk tujuan kebaikan yang lebih besar). Oleh karena itu, dunia berisi kejahatan, tetapi kejahatan konsisten dengan pandangan kristiani tentang Allah.

Pendekatan lainnya akan mencerminkan bagaimana Allah akan bertindak dari waktu ke waktu berkenaan dengan masalah kejahatan: 

Allah yang mahapengasih ingin melenyapkan kejahatan.



Allah yang maha kuasa akan mampu melenyapkan kejahatan.



Meskipun kejahatan masih ada sekarang, Allah akan melenyapkannya pada masa yang akan datang.

Sementara jawaban-jawaban ini tentu saja tidak menyelesaikan semua masalah yang terkait dengan hubungan Allah dan kejahatan,10 pemikiran Swinburne, Plantinga, dan filsuf Kristen lainnya telah berhasil menunjukkan bahwa kejahatan belum tentu tidak konsisten dengan pandangan Kristen tentang Allah. Jadi, argumen yang menentang keberadaan atau kemahakuasaan Allah dari sudut pandang kejahatan secara logis menjadi tidak menarik. Filsuf agama terkemuka, William Rowe, yang mengaku ateis, mengungkapkan persetujuannya, “Beberapa filsuf berpendapat bahwa keberadaan kejahatan tidak konsisten secara logis dengan keberadaan Allah yang teistis. Saya kira tidak seorang pun yang bisa membuat pernyataan yang sehebat itu.”11 Karena seperti banyak orang lainnya, sebagian orang ateis merasa sakit hati dalam menghadapi kejahatan, sebuah solusi ateistis untuk masalah kejahatan patut dipertimbangkan. Bisakah kejahatan diatasi di dalam dunia yang ateis? Atau benarkah sama sekali tidak ada kejahatan di alam semesta yang tanpa Allah?

BAGAIMANA MUNGKIN ALLAH YANG BAIK DAN MAHAKUASA MEMBIARKAN KEJAHATAN TERJADI?

319

Apakah Ateisme Memberikan Penjelasan yang Koheren? Kejahatan nyata di dunia yang tak bertuhan sulit dibayangkan. Jika si ateis menegaskan suatu pandangan naturalistis materialistis, maka ia harus menerima manusia hanya sebagai sebuah kebetulan kosmis yang menakjubkan—hanya “materi yang bergerak.” Sebagai produk dari proses evolusi yang buta dan tanpa tujuan, tidak ada alasan yang kuat untuk memercayai bahwa manusia memiliki martabat yang esensial dan nilai moral yang objektif. Namun, jika nilai manusia dipertanyakan, maka pertimbangan apa yang bisa diungkapkan orang atas tindakan genosida, pembasmian etnis, dan infantisida? Dari perspektif ateistis, seseorang tidak dapat berdebat dengan memakai komentar dari Dostoevsky Ivan Karamazov, “Jika Allah tidak ada, maka semuanya diperbolehkan.”12 Meskipun ateis tertentu mungkin secara pribadi menolak pandanganpandangan ini, kaum ateis lainnya mungkin menyetujuinya. Tapi satu sudut pandang tidak lebih baik daripada yang lain, karena keduanya samasama bersifat subjektif dan membingungkan. Banyak hal terjadi di dalam dunia yang tak bertuhan dan yang bersifat fisik saja, tetapi siapa yang bisa mengatakan bahwa semua itu “buruk?” Kejahatan membutuhkan penilaian moral yang objektif. Namun, di dalam dunia yang tak bertuhan, pada dasarnya, moral itu tidak logis, bersifat subjektif, dan relatif sifatnya. Moral itu kekurangan landasan metafisika yang objektif (lih. Relativisme, bab 18). Oleh karena itu, tanpa Allah dan hal-hal yang absolut, mungkin akan muncul hambatan, ketidaknyamanan, dan hal-hal yang tidak menyenangkan terkait keinginan dan kebutuhan subjektif individu, tetapi hal ini tidak dapat disebut jahat. Orang-orang ateis dapat memilih untuk bertindak dengan cara yang bijaksana atau nyaman atau pragmatis. Namun, tindakan tersebut tidak dapat dianggap sebagai moralitas preskriptif (ada hubungannya dengan “seharusnya” atau “harus”). Memang moralitas preskriptif diperlukan untuk konsep kejahatan. Walaupun demikian, kebanyakan orang ateis mengungkapkan keyakinan mereka bahwa beberapa hal atau tindakan di dunia benar-benar jahat. Mereka mungkin menyadari bahwa ada yang salah secara moral di dalam alam semesta ini. “Ketidakberesan” atau keganjilan ini akan memunculkan penolakan mereka terhadap Allah. Banyak orang ateis

320

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

tidak mengakui bahwa ketika mereka menolak kejahatan, mereka pasti menuntut standar kebaikan yang objektif di luar dunia tak bertuhan mereka. Sesuatu hanya bisa jahat jika telah melanggar yang baik. Pada dasarnya, ketidakadilan moral secara tak langsung menyatakan standar tentang yang benar dan salah, yang baik dan jahat. Gerard J. Hughes mencatat, “Masalah kejahatan bahkan tidak dapat diungkapkan, cuma bisa diasumsikan bahwa berbicara tentang kebenaran moral itu adalah tindakan yang benar. Juga tidak dapat dinyatakan dengan segenap kekuatan, cuma bisa diasumsikan bahwa moral tidak hanya bergantung pada standar manusia yang bisa saja sangat berbeda-beda.”13 Semua pertimbangan moral ini menimbulkan kesulitan yang serius bagi kaum ateis. Logika memaksa mereka untuk menjelaskan tentang “masalah kebaikan”secara masuk akal. Ironisnya, masalah kejahatan dapat berfungsi sebagai bukti kuat mengenai keberadaan Allah karena standar kebaikan yang objektif membutuhkan landasan metafisika yang memadai. Keberadaan Allah yang teistis menjelaskan tentang keberadaan kebaikan dan kejahatan. Beberapa filsuf Kristen telah menunjukkan bahwa ketika kaum ateis marah perihal adanya kejahatan dan hubungan Allah dengan kejahatan itu, sebenarnya saat itu mereka sedang meminjam pandangan teistis Kristen.14 Pandangan mereka sendiri tidak menyediakan dasar yang cukup untuk membuat pernyataan moral seperti itu. Penilaian terhadap kebingungan moral orang yang belum percaya ini, sehubungan dengan kewajibannya pada hukum moral Allah yang esensial, dengan jelas dikatakan di dalam Kitab Suci (Rm. 1:18-2:16). Menurut Alkitab, skenario yang bertolak belakang telah dimainkan oleh berbagai pemikir sekuler dalam keluhan moral mereka terhadap Allah mengenai kejahatan. Sebenarnya, si ateis bergantung pada sistem moral kekristenan yang objektif saat mengungkapkan keberatan moral terhadap Allah umat Kristen. Filsuf Kristen Greg L. Bahnsen dengan singkat berkata, “Antiteisme menerima teisme untuk menciptakan dakwaannya.”15 Ateisme tidak memberikan penjelasan yang memadai tentang kejahatan dan penderitaan. Kaum ateis bahkan tidak dapat berbicara tentang kejahatan tanpa mengandalkan kekayaan moral yang dipinjamnya. Mereka juga tidak dapat menjelaskan konsep tentang kebaikan. Karena argumen ateisme tentang masalah kejahatan gagal mendakwa Allah,

BAGAIMANA MUNGKIN ALLAH YANG BAIK DAN MAHAKUASA MEMBIARKAN KEJAHATAN TERJADI?

321

maka perlu direnungkan mengapa Allah, khususnya Allah umat Kristen, mengizinkan kejahatan dan penderitaan terjadi.

Respons Kristiani yang Historis terhadap Kejahatan Penyataan Kristen tidak memberikan penjelasan yang lengkap dan utuh untuk masalah kejahatan dan penderitaan. Allah, dengan alasan yang hanya diketahui oleh diri-Nya sendiri, memutuskan untuk tidak mengungkapkan atau menjelaskan semua detail rencana kosmis-Nya. Sang Pencipta adalah Raja yang berdaulat atas alam semesta, sebagaimana yang dikatakan oleh Kitab Suci, “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita” (Ul. 29:29). Tak diragukan lagi, banyak misteri akan tetap ada sampai zaman kekekalan tiba, dan tujuan di balik kejahatan dan penderitaan mungkin berada di daftar misteri yang paling atas. Namun, kekristenan memberikan banyak respons yang unik dan memuaskan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang timbulnya kejahatan dan penderitaan. Beberapa respons kristiani yang berbeda-beda ini disusun dalam bentuk ringkasan. Apakah Kejahatan Itu Suatu “Barang?” Salah seorang pemikir terbesar agama Kristen historis, bapa gereja Afrika Utara Augustine dari Hippo16 (354-430 M), memberikan pemikiran yang luas tentang masalah kejahatan. Kejahatan adalah salah satu masalah inti yang dulu, di masa awal kehidupan Augustine sempat membuatnya tidak mau menganut agama Kristen.17 Pemikirannya membawanya pada kesimpulan bahwa kejahatan, meskipun benar-benar nyata, bukanlah sesuatu atau zat atau benda yang bernama kejahatan.18 Sebaliknya, kejahatan berarti “ketiadaan” (dalam bahasa Latin: privatio), yakni ketiadaan akan sesuatu. Menurut Augustine, kejahatan secara khusus berarti ketiadaan akan sesuatu yang seharusnya ada di dalam diri seseorang atau sesuatu. Itulah sebabnya kejahatan didefinisikan dalam pengertian negatif (dalam bahasa Latin: negatio). Analoginya, orang mengakui kebutaan bukan sebagai hal yang bersifat fisik, melainkan sebagai ketiadaan penglihatan. Demikian pula, sebuah lubang gigi bukanlah suatu benda yang bernama lubang gigi, melainkan merupakan ketiadaan enamel di dalam gigi. Namun, seperti halnya kejahatan, kebutaan dan lubang gigi bukanlah benda,

322

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

melainkan merupakan realitas kehidupan. Harus ditegaskan bahwa Augustine tidak menyangkal realitas kejahatan. Augustine menyatakan bahwa kejahatan khususnya merupakan ketiadaan akan suatu keberadaan dan kebaikan. Tepatnya, kejahatan adalah ketiadaan kebaikan yang seharusnya ada dalam kehendak makhluk ciptaan. Ia menegaskan, “Apa yang disebut kejahatan di dalam jiwa hanyalah merupakan ketiadaan kebaikan yang bersifat alami.”19 Oleh sebab itu, kejahatan didefinisikan dengan benar (oleh Augustine) sebagai ketiadaan atau kerusakan kebaikan—sejenis parasit ontologis pada kebaikan.20 Augustine mengungkapkan, “Apakah yang kita sebut sebagai kejahatan itu kalau bukan tidak adanya kebaikan?”21 Sebuah pernyataan apologetis penting muncul dari alur penalaran Augustine tentang kejahatan. Jika kejahatan bukan suatu substansi atau benda yang positif, maka Allah tidak menciptakan kejahatan seperti Dia menciptakan segala sesuatu yang lain. Sumber kejahatan ditemukan di dalam kerusakan pada kebaikan yang ejak awal diciptakan Allah. Pendekatan Augustine yang mendefinisikan kejahatan sebagai ketiadaan dari keberadaan atau kebaikan belum diterima secara universal di antara para teolog dan filsuf Kristen, apalagi para pemikir yang bukan Kristen. Pendekatan ini lebih diterima di antara orang-orang yang setidaknya secara umum bersimpati pada teori metafisika Plato (natur realitas). Sejujurnya, definisi Augustine tentang kejahatan gagal menjelaskan sepenuhnya tentang natur yang dinamis dan fleksibel pada kejahatan yang dinyatakan secara tidak langsung saat Alkitab menggambarkan tentang dosa. Jadi, definisi Augustine tentang kejahatan ini telah digolongkan oleh sebagian orang sebagai definisi yang tidak lengkap. Namun demikian, Augustine melahirkan dua wawasan apologetis yang mendalam tentang natur kejahatan. Pertama, kesimpulannya bahwa dalam beberapa hal, kejahatan bergantung seperti parasit pada kebaikan, memberikan argumen yang kuat bahwa masalah kejahatan menerima fakta bahwa kebaikan ada sebelum kejahatan. Ia menunjukkan, “Tidak akan ada kejahatan bila tidak ada kebaikan.”22 Dalam menanggapi orang-orang yang berusaha menyangkali keberadaan Allah karena adanya kejahatan, orang dapat mengatakan bahwa pada dasarnya kejahatan bergantung pada kebaikan.

BAGAIMANA MUNGKIN ALLAH YANG BAIK DAN MAHAKUASA MEMBIARKAN KEJAHATAN TERJADI?

323

Kedua, ia mengakui bahwa kejahatan bukanlah barang atau benda. Sebaliknya, di satu sisi, kejahatan dianggap sebagai penilaian moral yang nonfisik dan konseptual (pelanggaran terhadap kebaikan yang telah diterima). Akan tetapi, realitas-realitas konseptual yang penting seperti penilaian moral (serta konstruksi matematis dan logis) harus dijelaskan di dalam dunia umat manusia. Realitas-realitas abstrak ini cocok dengan pandangan teistis Kristen Augustine, tetapi tampaknya asing dan tidak dijelaskan dalam pandangan naturalistis dan pandangan yang tidak bertuhan.

Dari Mana Datangnya Kejahatan? Kitab Suci dengan jelas mengatakan bahwa pilihan yang diambil oleh makhluk-makhluk ciptaan Allah ini telah mengakibatkan kejahatan. Penyalahgunaan kebebasan yang dilakukan oleh ciptaan Allah menghasilkan dua pemberontakan yang berbeda. Pertama, ada malaikat bernama Lucifer. Ia memiliki posisi yang tinggi di antara para malaikat ciptaan Allah (Yeh.28:12-19). Namun, dalam upayanya untuk merebut otoritas Allah, ia memimpin pemberontakan di jajaran para malaikat (Yes.14: 12-20). Lucifer, yang sekarang dikenal sebagai Iblis atau setan (bersama para pengikutnya yang memberontak, setan), secara langsung menentang kebaikan moral Allah. Iblis adalah pelaku kejahatan. Di banyak bagian di Alkitab disebutkan tentang pengaruh jahat Iblis di dunia manusia (Yoh. 12:31; 2Kor. 4:4; Ef. 2:2; 1Yoh. 5:19). Namun, bagaimana mungkin makhluk yang terbatas yang diciptakan baik adanya dan yang tidak memiliki kejahatan eksternal apa pun yang memengaruhinya, dapat memilih hal yang jahat? Augustine kembali memberikan penjelasan yang provokatif. 23 Ia menyatakan bahwa dosa Lucifer sebenarnya adalah dosa penyembahan berhala. Lucifer tidak langsung memilih hal yang jahat. Sebaliknya, ia memilih hal yang baik—dirinya sendiri—tetapi kemudian ia meninggikan dirinya di atas (menggantikan dirinya sebagai) kebaikan yang tertinggi, yaitu Allah. Lucifer dikuasai oleh kesombongan, yang merupakan ekspresi pertama dosa (1Tim. 3:6). Sebuah pemberontakan serupa terjadi di antara manusia (Kej. 3). Adam dan Hawa, manusia pertama, menyalahgunakan kebebasan mereka untuk memberontak terhadap otoritas kedaulatan Allah. Karena tergoda oleh Iblis, mereka memilih untuk lebih meninggikan pilihan mereka

324

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

sendiri daripada perintah Allah. Ketidaktaatan mereka mengakibatkan mereka langsung diasingkan oleh Allah—yang diwujudkan dalam kematian rohani dan (selanjutnya) kematian fisik. Namun, karena Adam mewakili seluruh umat manusia di hadapan Allah, tindakan dan keadaan yang penuh dosa dari manusia pertama ini telah diturunkan ke seluruh umat manusia selanjutnya (dosa asal, Rm. 5:12-21). Akibatnya, semua orang pun berdosa dan mampu berbuat jahat (Mzm.51:7; 58:4; Yer. 17:9; Mat. 15:19). Boleh dikatakan bahwa sebagian besar kejahatan dan penderitaan yang menghancurkan dunia secara langsung berasal dari kehendak makhluk hidup itu sendiri. Kebenaran ini menjelaskan banyak hal tentang kejahatan.

Bagaimana dengan Kedaulatan Allah? Alkitab menyatakan bahwa Allah tidak hanya Pencipta yang transenden dari segala sesuatu (Kej. 1:1), tetapi juga Pemelihara segala sesuatu (Kis. 17:25-27; Kol. 1:17; Ibr. 1:3). Tidak ada yang terjadi di luar pimpinan dan kendali Allah yang berdaulat karena Dia “bekerja menurut keputusan kehendak-Nya” (Ef. 1:11). Bahkan kejahatan, bencana, dan penderitaan berada di bawah kuasa Allah, yang dengan unik menopang dan mengendalikan (Kel. 4:11; Yes.45:7; Rat. 3:38). Namun, sementara Alkitab mengungkapkan kedaulatan Allah (Ams. 21:1; Rm. 9:21), Alkitab juga mengungkapkan tanggung jawab moral manusia atas kesalahan yang dilakukan (Mat. 16:27; Why. 22:12). Kebenaran-kebenaran yang paradoks ini24 diajarkan di dalam Kitab Suci, kadang-kadang di ayat yang sama (Luk. 22:22; Kis. 2:23). Alkitab tidak pernah menjelaskan bagaimana Allah bisa menjadi penyebab dari semua kejadian dan tindakan, dan juga dengan adil membuat umat manusia bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan mereka. Kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia merupakan kebenaran yang selaras, tetapi bagaimana cara kerja Allah, hanya Dia yang tahu. Orangorang dalam tradisi Reformed, Augustine akan mengatakan bahwa jawaban atas misteri besar ini terletak pada hikmat dan kuasa Allah yang tidak terbatas. Sebagaimana diungkapkan di Kitab Suci, Allah mampu melakukan segala hal di luar pemahaman manusia biasa (Rm. 9:14-23; 11:30-36)

BAGAIMANA MUNGKIN ALLAH YANG BAIK DAN MAHAKUASA MEMBIARKAN KEJAHATAN TERJADI?

325

Jadi, sementara rencana kosmis Allah diwarnai kejahatan, bencana, dan penderitaan, Alkitab tidak pernah menunjukkan bahwa Allah sendirilah yang secara langsung melakukan kejahatan itu maupun memaksa makhluk-makhluk-Nya untuk terlibat dalam kejahatan dan melakukan dosa (Yak. 1:13).25 Dan meskipun kekuasaan pemerintahan Allah yang berdaulat membuat setiap peristiwa menjadi realitas—bahkan kejahatan—Kitab Suci menunjukkan bahwa Allah bukanlah pencipta kejahatan, dan Dia adil dengan membuat makhluk ciptaan-Nya bertanggung jawab atas dosa mereka. Pesan yang jelas dari Kitab Suci adalah bahwa Allah mengarahkan segala sesuatu menuju tujuan akhirnya yang adil dan benar (Dan. 4:35; Rm. 11:36). Teolog Reformed, Louis Berkhof berbicara tentang kedaulatan Allah dan realitas dosa: Keputusan Allah adalah rencana atau tujuan-Nya yang kekal, yang di dalamnya Dia telah terlebih dahulu menentukan segala sesuatu yang terjadi . . . Keputusan ini mencakup semua karya Allah dalam penciptaan dan penebusan, dan juga mencakup tindakan manusia, tanpa mengecualikan perbuatan dosa mereka. Namun, sementara keputusan itu membuka pintu bagi dosa untuk masuk ke dalam dunia, hal itu tidak berarti Allah patut bertanggung jawab atas perbuatan dosa kita. Keputusan-Nya berkenaan dengan dosa adalah keputusan yang permisif . . . Namun bisa dikatakan, bahwa keputusan tersebut hanya menjadikan Allah sebagai pencipta makhluk-makhluk bermoral dengan kehendak bebas, sedangkan dosa yang mereka timbulkan diciptakan sendiri oleh mereka. Dosa dipastikan ada melalui keputusan-Nya, tetapi Allah sendiri tidak berbuat dosa dengan tindakan-Nya. Pada saat yang sama, harus diakui bahwa masalah tentang hubungan Allah dengan dosa tetap menjadi misteri yang tidak sepenuhnya dapat kita pecahkan.26

Kejahatan dan penderitaan di bawah kendali langsung Allah yang berdaulat, menyebabkan orang bertanya-tanya mengapa Allah membiarkan hal-hal mengerikan itu terjadi.

Mengapa Allah Mengizinkan Kejahatan dan Penderitaan Terjadi? Umat Kristen harus menghindari praduga dan kedangkalan pemikiran mengenai penyebab kejahatan dan penderitaan karena pertanyaan ini tetap menjadi misteri yang mendalam. Upaya untuk menjelaskan mengapa ada kejahatan di dunia yang diciptakan oleh Allah yang baik

326

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

disebut teodise (membenarkan jalan Allah). Sementara masih ada banyak lainnya yang bisa dikatakan mengenai masalah teodisi, tiga hal besar membahas pertanyaan yang sulit ini. 1. Allah memiliki alasan yang memadai secara moral tetapi belum sepenuhnya diungkapkan, dalam mengizinkan kejahatan dan penderitaan terjadi.

Allah meyakinkan umat-Nya bahwa keputusan dan tindakan-Nya benar dan suci. Kitab Suci banyak sekali menyatakan kesempurnaan moral Allah dan keadilan-Nya dalam berurusan dengan manusia. Abraham menyatakan di dalam Kejadian 18:25, “Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” Dan pemazmur dalam Mazmur 89:15 berkata, “Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhtaMu.” Akan tetapi, sementara Allah memiliki alasan yang dapat dibenarkan secara moral untuk semua hal yang dilakukan-Nya, sebagai Penguasa yang berdaulat atas alam semesta, Dia jarang menjelaskan diriNya kepada makhluk-makhluk ciptaan-Nya.27 Dalam keputusan-Nya, Allah juga tidak tunduk pada kritik manusia yang terbatas dan tidak sempurna. Bahkan seandainya Allah harus menjelaskan tujuan utama-Nya secara mendetail kepada umat manusia, manusia yang tak lebih dari sekadar makhluk ciptaan, secara realistis pasti tidak sanggup memahami sepenuhnya cara-cara-Nya yang agung. Diskusi klasik antara Allah dan Ayub mengenai masalah kejahatan dan penderitaan kemudian mengungkapkan hikmat Allah yang tidak dapat dibaca dan pemahaman terbatas Ayub tentang tujuan Sang Pencipta dalam penciptaan dan penebusan (Ayb. 38:1-11; lih. juga Yes. 55:8-9). Rasul Paulus berkata: O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin. (Rm. 11: 33-36)

BAGAIMANA MUNGKIN ALLAH YANG BAIK DAN MAHAKUASA MEMBIARKAN KEJAHATAN TERJADI?

327

2. Kedaulatan dan kemuliaan Allah akan diperlihatkan melalui kemenangan-Nya atas kejahatan.

Katekismus Westminster yang lebih singkat28 (pernyataan iman Reformasi dari tahun 1647) dimulai dengan pertanyaan reflektif: “Apa tujuan utama manusia?” Jawabannya: “Tujuan utama manusia adalah untuk memuliakan Allah, dan menikmati kebersamaan dengan-Nya untuk selama-lamanya.” Semua karya besar Allah (penciptaan dan penebusan) dimaksudkan untuk menunjukkan kedaulatan dan kemuliaan Allah. Namun, kemenangan Allah yang terakhir atas kejahatan dan dosa makin menunjukkan kemuliaan dan kekuasaan-Nya. Kemenangan ini sudah dimulai dengan kehidupan, kematian, dan kebangkitan Sang Mesias, Yesus Kristus. Rencana Allah untuk menangani kejahatan sudah dipersiapkan di dalam penciptaan tetapi dilaksanakan di dalam penebusan. Iblis dan pasukannya adalah musuh-musuh yang telah dikalahkan oleh kedatangan Kristus yang pertama sebagai Juruselamat (Ibr. 2:14-15), dan semua kejahatan dan dosa manusia akan dikalahkan untuk selamanya pada kedatangan Kristus yang kedua sebagai Hakim dan Raja (Why. 21).29 Setelah peristiwa-peristiwa eskatologis yang dahsyat ini, Allah akan mendatangkan ciptaan baru, yang selamanya bebas dari kejahatan dan konsekuensi kejahatan. Wahyu 21:1-3 berbicara tentang Allah yang menciptakan langit dan bumi baru bersama dengan Kota Suci—Yerusalem Baru. Pada waktu yang mulia itu, semua dosa, penderitaan, dan kesedihan akan dihapuskan untuk selamanya. Allah akan membasmi masalah kejahatan. Rasul Yohanes memberikan sekilas nubuat tentang zaman kekekalan dan kemuliaan yang akan datang di dalam kitab Wahyu: Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu. (Why. 21:4)

3. Tuhan mengizinkan kejahatan dan penderitaan karena keduanya akan menghasilkan kebaikan yang lebih besar.

Menurut Kitab Suci, kebaikan terbesar bagi umat manusia muncul dari tindakan kejahatan yang terbesar. Yesus Kristus, yang tak lain adalah Allah yang menjadi manusia, datang untuk menyatakan kasih Allah kepada umat manusia. Meskipun Dia sangat kudus dan tak bercacat,

328

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Dia ditolak oleh para pemimpin agama dan politik, difitnah, dihukum, dan kemudian dipukuli serta dieksekusi sebagai penjahat biasa. Yesus menderita kesengsaraan karena hukuman mati Romawi—penyaliban. Namun, Allah telah merencanakan ketidakadilan yang luar biasa ini dari semula (Kis. 2:22-23). Dari peristiwa kejahatan dan penderitaan yang mengerikan ini muncullah penebusan ilahi bagi orang-orang berdosa. Allah membawa kebaikan yang terbesar dari kejahatan terbesar yang telah terjadi. Perkataan Augustine menjelaskan demikian, “Sebagaimana yang diakui bahkan oleh orang kafir, karena Tuhan yang mahaesa memiliki kekuasaan tertinggi atas segala sesuatu, karena diri-Nya sangat baik, Dia tidak akan pernah mengizinkan adanya sesuatu yang jahat di antara karya-karya-Nya. Jika Dia tidak sedemikian mahakuasa dan baik Dia takkan dapat membawa kebaikan bahkan dari hal yang jahat.”30

Tujuan Allah dengan Adanya Kejahatan dan Penderitaan Sementara umat Kristen harus berhati-hati dalam mengidentifikasi tujuan Allah di balik kejadian-kejadian khusus yang berbau ketidakadilan dan penderitaan, Alkitab memang mengungkapkan wawasan tentang bagaimana Allah memakai kejahatan dan penderitaan untuk mendatangkan kebaikan. 1. Allah dapat memakai kejahatan dan penderitaan untuk menarik perhatian orang yang tidak percaya dan pada akhirnya menarik mereka kepada diri-Nya (Zak. 13:7-9; Luk. 13:1-5; Yoh. 9).

Apologet Kristen Walter R. Martin pernah mengatakan bahwa sebagian orang tidak akan menengadah sampai mereka jatuh telentang. Kejahatan dan penderitaan dapat mengejutkan orang-orang yang hidup menyimpang dan tidak peduli dengan hal-hal rohani, serta yang kerap kali berada di luar kontrol diri mereka yang palsu. Dengan cara ini, masalah-masalah dapat dipakai oleh kasih karunia Allah untuk membawa seseorang beriman kepada-Nya. C. S. Lewis dengan luwes berkata, “Allah berbisik kepada kita di dalam kegembiraan kita, berbicara di dalam hati nurani kita, tetapi berteriak di dalam penderitaan kita. Itulah pengeras suara-Nya untuk membangunkan dunia yang tuli.”31

BAGAIMANA MUNGKIN ALLAH YANG BAIK DAN MAHAKUASA MEMBIARKAN KEJAHATAN TERJADI?

329

2. Allah dapat memakai kejahatan dan penderitaan untuk membangun karakter moral dan spiritual umat-Nya atau untuk mengungkapkan kedisiplinan seorang ayah (Rm. 5:3; Ibr. 10:36, 12:4-11).

Keberanian hanya dapat ditempa dengan menghadapi ketakutan. Baja harus dimurnikan dengan api. Agar iman bertumbuh, iman itu harus kerap diuji dengan ujian kehidupan. Allah lebih memperhatikan karakter anak-anak-Nya daripada kenyamanan mereka. Oleh karena itu, Allah memakai kejahatan dan penderitaan untuk memfasilitasi kedewasaan moral dan spiritual umat percaya. Rasul Paulus, yang mengalami banyak kejahatan dan penderitaan, menjelaskan hubungan sebab-akibat antara penderitaan dan karakter, “Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan” (Rm. 5:3-4). Seorang ayah duniawi yang penuh kasih mendisiplin anak-anaknya. Meskipun tidak menyenangkan pada saat itu, kedisiplinan itu krusial untuk pertumbuhan anak sehingga kelak ia akan menjadi anak yang bertanggung jawab. Allah pun membiarkan kejahatan dan penderitaan mendisiplin kehidupan anak-anak-Nya. Penulis Ibrani berkata, “Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak” (Ibr. 12:7). Namun, jaminan yang menenangkan bagi orang Kristen adalah bahwa Allah tidak membiarkan kejahatan dan penderitaan datang ke dalam kehidupan umat percaya tanpa menghasilkan kebaikan bagi orang tersebut. Rasul Paulus menyatakan janji Allah tersebut di dalam Roma 8:28, Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah

Bagaimanapun, menghadapi kejahatan dan penderitaan tidak pernah mudah meskipun seseorang tahu bahwa akhirnya Allah-lah yang memegang kendali. Ada beberapa hal praktis yang dapat diingat oleh umat Kristen selama berada di masa-masa yang sulit.

330

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Jaminan bagi Umat Kristen Tiga penghiburan penting dapat membantu umat Kristen saat menghadapi kejahatan dan penderitaan. Pertama, umat percaya boleh tahu bahwa mereka tidak pernah menderita sendirian. Allah mengenal penderitaan karena Allah telah menderita di dalam Kristus. Yesus datang ke dunia sebagai manusia, menderita bersama umat manusia dan bagi mereka. Allah sendiri mengalami kejahatan yang menyakitkan dan buruk. Dari semua agama di dunia, hanya agama Kristen yang mengungkapkan Allah yang menderita bersama umat manusia dan bagi umat manusia! Penderitaan-Nya di dalam kehidupan dan hubungan-Nya di dunia—dan di atas kayu salib—dapat mengubah penderitaan umatNya.32 Bahkan sekarang Yesus berfungsi sebagai Imam Besar yang agung yang berdoa syafaat bagi umat percaya selama berbagai ujian kehidupan dan kesulitan menerpa mereka. Yesus tidak menjauh atau acuh tak acuh terhadap penderitaan manusia karena Dia telah menderita sebagai manusia sejati. Penulis Ibrani menggambarkan peran Kristus sebagai Imam Besar yang penuh belas kasihan: Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. (Ibr. 4:14-16)

Kedua, Allah memanggil semua anak-Nya untuk menjalani kehidupan penuh iman (keyakinan dan kepercayaan) dalam kebaikan dan kedaulatan Allah meskipun kejahatan dan penderitaan hadir di tengah mereka. Kitab Suci menunjukkan teladan-teladan hebat Abraham, Musa, Ayub, dan Paulus. Di dalam lirik sebuah lagu terkenal, umat percaya tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok, tetapi mereka tahu siapa yang memegang hari esok. Iman adalah percaya pada karakter Allah tatkala situasi terasa menyakitkan dan membingungkan. Orang Kristen dapat memercayai Allah di tengah penderitaan karena mereka mengetahui karakter-

BAGAIMANA MUNGKIN ALLAH YANG BAIK DAN MAHAKUASA MEMBIARKAN KEJAHATAN TERJADI?

331

Nya dan janji-janji-Nya. Rasul Paulus meyakinkan jemaat dengan bertanya dan menjawab pertanyaan yang menyelidik: Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? . . . Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. (Rm. 8:35,37)

Ketiga, kejahatan dan penderitaan melampaui masalah logis atau filosofis. Kejahatan dan penderitaan adalah masalah-masalah yang sangat pribadi dan manusiawi. Ketika orang-orang menghadapi penderitaan, mereka membutuhkan penghiburan dan ketenteraman hati. Umat Kristen dapat menghadapi kejahatan dan penderitaan dengan cara yang sangat praktis, yakni dengan menghibur orang-orang yang menderita karena kejahatan dan dengan meringankan penderitaan orang-orang di sekitar mereka. Jawaban kristiani yang historis untuk masalah kejahatan dan penderitaan ditemukan di dalam teladan dan identitas Yesus Kristus. Allah datang ke dunia menjadi manusia untuk memulihkan penderitaan anakanak-Nya, untuk menghibur serta untuk mengajar, dan pada akhirnya untuk menghancurkan kekuatan kejahatan. Penderitaan Allah di dalam Kristus menjadi solusi untuk masalah kejahatan yang menerpa manusia. Pertanyaan-pertanyaan seperti masalah kejahatan (dan pertanyaan lainnya di dalam buku ini) menyangkut baik orang percaya dan orang yang tidak percaya. Bagaimana orang Kristen dapat lebih siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi topik bab berikutnya.

Pertanyaan Diskusi 1. Mengapa masalah kejahatan menjadi alasan nomor satu untuk tidak percaya kepada Allah? 2. Mengapa memandang kejahatan sebagai sebuah ilusi merupakan respons yang lemah? 3. Jika Allah memiliki alasan-alasan yang baik untuk membiarkan kejahatan, apa alasan-alasan-Nya itu? 4. Bagaimana membedakan antara masalah filosofis kejahatan dan masalah psikologis kejahatan?

332

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

5. Bagaimana Yesus Kristus menjadi jawaban utama untuk masalah kejahatan dan penderitaan?

Untuk Studi Lebih Lanjut A. Masalah filosofis kejahatan dan penderitaan: Frame, John M. Apologetics to the Glory of God (Phillipsburg, NJ: Presbyterian and Reformed, 1994). Lihat bab 6-7. Geisler, Norman L. The Roots of Evil (Grand Rapids: Zondervan, 1978). Lewis, C. S. The Problem of Pain (New York: Macmillan, 1962). Nash, Ronald H. Faith and Reason: Searching for a Rational Faith (Grand Rapids: Zondervan, 1988), lihat bab 13-15.

B. Masalah psikologis kejahatan dan penderitaan: Plantinga, Alvin C. God, Freedom, and Evil (Grand Rapids: Eerdmans, 1974). Eareckson Tada, Joni, dan Steve Estes. A Step Further (Grand Rapids: Zondervan, 1978). Kreeft, Peter. Making Sense Out of Suffering (Ann Arbor, MI: Servant, 1986). Lewis, C. S. A Grief Observed (London: Faber, 1961) (dicetak kembali, San Francisco: Harper San Francisco, 2001). Yancey, Philip. Where Is God When It Hurts?, edisi revisi dan ekspansi (Grand Rapids: Zondervan, 1997).

BAGAIMANA ORANG KRISTEN HARUS MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK MEMBERIKAN PENJELASAN TENTANG IMAN?

Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat. ––1 Petrus 3:15 Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus. ––2 Korintus 10:5

M

emberikan penjelasan tentang iman atau membela kebenaran iman disebut apologetika (dari bahasa Yunani, apologia). Selama berabad-abad para pemikir Kristen telah terlibat dalam pembelaan rangkap empat, yang mencakup: (1) memperkenalkan dan menjelaskan pernyataan kebenaran inti kekristenan, (2) memberikan bukti positif yang jelas dan meyakinkan untuk menerima kebenaran Kristen, (3) menjawab pertanyaan dan keberatan orang-orang mengenai iman, dan (4) memberikan kritik tajam dan sanggahan mengenai sistem pemikiran alternatif yang tidak kristiani.1 Upaya-upaya apologetis telah memainkan peran penting dalam dua milenium pertama kekristenan. Para rasul sendiri menggunakan argumentasi yang bijaksana untuk menjaga berita Injil dari penyimpangan 333

334

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

doktrin dari para pengikut Gnostik (1Yoh. 4) dan pengikut agama Yahudi (Gal. 1) mula-mula, serta filsafat spekulatif dari dunia Yunani-Romawi (Kis.16-17). Mengingat budaya kita yang pascamodern dan “secara politik benar,” usaha-usaha apologetis tetap sama pentingnya sekarang seperti di masa yang lalu.

Mempersiapkan Diri untuk Terlibat dalam Upaya Apologetis Bagi orang-orang yang ingin terlibat dalam kegiatan yang menarik dan penting ini, tiga tantangan pribadi di bawah ini akan menghantar kita pada dialog yang efektif: 1. Menumbuhkan kehidupan pikiran untuk kemuliaan Allah.

“Pikiran adalah hal yang mengerikan untuk dibuang.” Moto United Negro College Fund menangkap apa yang dipertaruhkan orang Kristen. Pikiran manusia, yang menjadi bagian dari gambar dan rupa Allah yang tidak terbatas, kekal, dan bersifat pribadi (Kej. 1:26-27), adalah a fortiori (dari bahasa Latin: “dengan kekuatan yang lebih besar,” “lebihlebih lagi”) hal yang mengerikan untuk dibuang. Karena jiwa manusia tetap hidup setelah kematian, mengembangkan kehidupan pikiran untuk kemuliaan Allah berarti mengambil dimensi yang kekal. Perintah Kitab Suci agar kita mengasihi Tuhan Allah kita dengan segenap keberadaan kita (Mat. 22:37) mencakup memakai dan mengembangkan karunia pikiran yang luar biasa yang Allah berikan. Kemampuan intelektual manusia mencerminkan status manusia sebagai puncak penciptaan Allah. Imago Dei (gambar Allah)-lah yang membedakan manusia dan hewan, dan gambar yang sama inilah yang membuat kehidupan pikiran menjadi penting. Hanya manusia yang mengejar, menemukan, dan merenungkan kebenaran logika, matematika, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat, moralitas, seni, dan pandangan keagamaan. Hanya manusia yang sadar akan waktu, kebenaran, dan realitas. Hanya manusia yang mengingat masa lalu, mengakui masa kini, mengantisipasi masa depan, dan dapat berfilsafat tentang semua itu. Orang Kristen cenderung menekankan nilai-nilai moral yang disebutkan di dalam Alkitab, tetapi kadang-kadang mengabaikan nilai-nilai positif intelektual yang disebutkan di dalamnya. Umat percaya dipanggil untuk mencari “kebijaksanaan, pengetahuan, dan pemahaman,” semua

BAGAIMANA ORANG KRISTEN HARUS MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK MEMBERIKAN PEJELASAN TENTANG IMAN?

335

yang berakar di dalam sikap takut akan Tuhan (Ayb. 28:28; 34:4; Mzm. 111:10; Ams. 1:7; 9:10). Kejelian, refleksi, pengujian, dan pembaruan intelektual, semuanya itu merupakan amanat Alkitab (lih. Kis. 17:11; Rm. 12:2; 1Kor. 14:29; Kol. 2:8; 1Tes. 5:21). Dari semua orang, orang Kristen yang memahami arti imago Dei memiliki alasan—dan motivasi—untuk menilai, mengolah, dan mencari “kehidupan pikiran.” Dengan kata lain, pencarian yang berakal budi yang dilakukan orang Kristen benar-benar pencarian tentang Allah yang tidak terbatas dan kekal yang menciptakan pikiran itu dan segala sesuatu yang lain di dalam penciptaan. Sebutan populer untuk kaum apologet adalah “kepala penginjilan.” Tentu saja hanya pikiran yang disiapkan dengan baik, pikiran yang didasari kebenaran Kristenlah yang dapat memberikan penjelasan objektif tentang iman dan memberikan jawaban yang memuaskan ketika orang yang tidak percaya melontarkan pertanyaan. 2. Memberikan jawaban yang bijaksana dan menawan atas pertanyaan-pertanyaan orang.

Bertanya dan menjawab pertanyaan merupakan bagian esensial dari proses pembelajaran yang sehat. Pertanyaan-pertanyaan yang penting dan tajam mendorong orang untuk mengejar jawaban yang memiliki dasar, penjelasan, dan dukungan yang sangat baik, karena jawaban seperti itu benar dan secara logis menarik. Filsuf besar Yunani Socrates mengembangkan cara pendekatan untuk pertanyaan-pertanyaan mendasar yang disebut sebagai “Metode Socrates.” Socrates mencari keakuratan dalam mengajukan pertanyaan yang tajam. Ia juga mencari jawaban-jawaban yang memiliki makna yang dalam dan abadi. Kekristenan mengklaim memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hakiki tentang kehidupan. Apabila orang mengajukan pertanyaanpertanyaan yang jujur tentang kebenaran iman, pertanyaan-pertanyaan itu harus dianggap serius. Pertanyaan-pertanyaan itu layak dipikirkan dan diperhatikan. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang iman mereka, orang Kristen terlibat dalam dua tugas penting. Mereka berpartisipasi aktif dalam penginjilan apologetis (perintah Allah: 1Ptr. 3:15). Mereka juga mengambil kesempatan untuk bertumbuh dalam pemahaman yang lebih mendalam perihal keyakinan mereka sendiri.

336

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

Pemikir Kristen Augustine (354-430 M) menyebut aktivitas ini sebagai “iman yang mencari pemahaman.” Pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan memaksa orang Kristen untuk meneliti, merenungkan, dan memperluas pemahaman mereka. Mungkin Allah mengaruniai anak-anak-Nya hak istimewa untuk memberitakan dan membela Injil (sebagai sarana untuk tujuan-Nya yang berdaulat) karena penginjilan apologetis sangat bermanfaat bagi mereka. Ketika menjawab penolakan-penolakan terhadap iman Kristen, seorang Kristen menemukan pedoman di dalam perintah rasul Petrus yang cermat. Pemikiran umat Kristen harus didasari dan merupakan cerminan dari komitmen pribadi kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Seorang individu harus dapat berpikir dengan cara yang konsisten dengan prinsip-prinsip yang ditemukan di dalam kebenaran yang diungkapkan oleh Allah. Di dalam diskusi dengan orang-orang non-Kristen, akhirnya argumen apologetis harus menarik perhatian dan mendukung pernyataan kebenaran Yesus Kristus, terutama pernyataan-pernyataan-Nya yang unik tentang ketuhanan-Nya. Alkitab mendesak umat Kristen untuk selalu siap sedia memberikan penjelasan. Upaya ini membutuhkan telaah dan refleksi yang rajin terhadap pernyataan-pernyataan kebenaran Kristen. Apa yang belum diteliti dengan saksama tidak dapat dibela. Bagi orang Kristen, pengembangan dan penggunaan pikiran sangat penting untuk memenuhi amanat apologetis Allah. Hal ini juga membutuhkan kepercayaan diri dan keberanian untuk berbicara tentang keyakinan iman, bahkan ketika dihadapkan pada ketidakpedulian atau sikap permusuhan. Ketabahan, keberanian, dan kerendahan hati adalah nilai-nilai positif yang sangat penting bagi seorang apologet. Orang Kristen harus selalu menunjukkan sikap lemah lembut dan hormat. Para apologet harus menahan diri agar tidak tergoda untuk bertengkar dengan orang lain atau terlibat dalam serangan-serangan ad hominem (dari bahasa Latin: “terhadap orang”) dan emosional. Sebaliknya, argumen mereka harus mencerminkan akal sehat dan kehidupan mereka harus memperlihatkan integritas moral. Orang bukan Kristen dengan cepat menuding negatif apabila kehidupan umat Kristen tidak sesuai dengan perkataan mereka. Sungguh kesalahpahaman yang besar jika orang berpikir bahwa orang Kristen akan menjadi sosok yang

BAGAIMANA ORANG KRISTEN HARUS MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK MEMBERIKAN PEJELASAN TENTANG IMAN?

337

sempurna, tanpa dinodai dengan kemunafikan dan ketidakkonsistenan di dalam diri mereka (lih. bab 15). Namun, para apologet yang tidak memisahkan antara argumen mereka dan perbuatan di dalam kehidupan sehari-hari adalah penginjil-penginjil yang lebih efektif. Argumen dan kehidupan seseorang diamati oleh orang yang tidak percaya. Integritas berlaku untuk argumen maupun gaya hidup. 3. Memfokuskan penelitian pada sumber-sumber yang terbaik untuk mendapatkan jawaban-jawaban alkitabiah yang konsisten, benar, dan solid.

Untuk menjadi apologet yang efektif pada zaman ini dibutuhkan persiapan intelektual yang rajin dan bervariasi. Sebagai bagian penting dari persiapan ini, empat kedisiplinan khusus dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk mempertahankan iman Kristen: Pertama, strategi apologetis umat Kristen harus diperkaya dengan pengetahuan tentang Kitab Suci dan teologi Alkitab yang kuat. Dalam rangka membela iman, pertama-tama orang harus memiliki pemahaman yang jelas tentang segala sesuatu yang menyangkut iman. Sangat penting bagi umat Kristen untuk dilatih (secara profesional atau amatir) dalam disiplin-disiplin ilmu seperti filsafat, sastra, sejarah, ilmu pengetahuan, dan hukum, yang akan memakan cukup banyak waktu dan usaha untuk menguasai doktrin dan teologi. Jika sejak awal kita memutuskan untuk menggunakan strategi apologetis dan kemudian secara diam-diam memasukkan teologi, maka pendekatan ini keliru. Pengetahuan akan kategori-kategori klasik teologi sistematis—Kitab Suci, Allah, Kristus, dosa, keselamatan, dan sebagainya—dapat membantu si apologet berpikir tentang kekristenan dengan cara yang logis dan komprehensif. Pemahaman tentang berbagai cabang teologi (alkitabiah, filosofis, dan historis) menyempurnakan dan mendukung bidang spesialisasi seorang apologet. Meskipun tidak ada yang bisa menguasai setiap bidang, pemahaman umum yang baik tentang teologi Kristen akan menyukseskan persiapan apologetis. Kedua, sarana yang penting dan berguna dalam tugas apologetis, yang layak mendapat waktu dan perhatian, adalah “berpikir dengan cara pandang yang luas.” Suatu pandangan dapat didefinisikan sebagai kerangka konseptual untuk menafsirkan realitas.2 Mengembangkan

338

MEMIKIRKAN PENOLAKAN-PENOLAKAN TERHADAP IMAN KRISTEN

pandangan melibatkan upaya untuk mengatur keyakinan dasar ke dalam sistem atau pola yang konsisten sehingga seseorang dapat mengevaluasi dan menafsirkan realitas dengan benar. Keyakinan-keyakinan itu mencakup pandangan seseorang tentang Allah, realitas tertinggi, pengetahuan, etika, natur manusia, dan jalan hidup manusia. Berpikir dengan cara pandang yang luas memungkinkan seorang apologet berpikir secara komprehensif tentang berbagai sistem kepercayaan dan mengevaluasi kelogisan sistem-sistem tersebut, kecocokannya dengan kebenaran-kebenaran yang sudah teruji, kekuatan penjelas, kesederhanaan, keberadaan hidup manusia, konsekuensi pragmatis, dan perkiraan-perkiraan yang diperlukan. Ketiga, seorang apologet akan mendapat banyak manfaat dari pengetahuan menyeluruh tentang hukum-hukum logika dan aturanaturan resmi tentang argumentasi (mencakup penalaran deduktif, induktif, dan abduktif). Sebuah kajian logika yang cermat dapat membantu seorang apologet menyusun gagasannya sendiri dan mendeteksi bentuk penalaran argumen orang lain yang keliru. Menghadapkan seseorang pada prinsip-prinsip dasar penalaran moral, analogis, hukum, dan ilmiah akan merombak dan memberi energi pada kehidupan intelektualnya. Keempat, keterampilan retoris, penggunaan bahasa persuasif, merupakan aset berharga bagi seorang apologet Kristen. Belajar berbicara dengan jelas, singkat, lembut, dan dengan cara yang tersusun secara logis akan sangat bermanfaat, terutama ketika berkomunikasi melalui berbagai media. Mempelajari seni berbicara dan berdebat di depan umum dapat mengembangkan pemberitaan kebenaran Kristen.

Sebuah Usaha yang Berharga Allah memanggil umat-Nya untuk menjadi duta-duta iman, dan gereja membutuhkan pembela-pembela iman yang efektif di setiap zaman dan generasi. Ketika orang Kristen mengolah pikiran, belajar untuk memberikan respons yang cerdas, dan memfokuskan studi mereka di bidangbidang yang sangat penting, maka secara dramatis mereka akan meningkatkan efektivitas pelayanan apologetisnya. Hal ini berlaku baik bagi para pemula maupun para ahli apologetis. Meskipun membutuhkan ketekunan dan refleksi, bidang-bidang ini memperlengkapi umat percaya untuk membela iman (2Kor. 10:5; 1Ptr. 3:15; Yud. 3) dengan cara mem-

BAGAIMANA ORANG KRISTEN HARUS MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK MEMBERIKAN PEJELASAN TENTANG IMAN?

339

berikan jawaban yang tidak hanya menenteramkan hati, tetapi juga memuaskan pikiran.

Pertanyaan Diskusi 1. Apakah apologetika itu? 2. Apakah tugas-tugas tertentu yang dicakup oleh kegiatan apologetis? 3. Mengapa orang Kristen harus mengembangkan kehidupan pikiran? 4. Sifat-sifat pribadi apa yang harus menyertai setiap pertemuan apologetis? 5. Mengapa proses tanya-jawab itu begitu penting? Untuk Studi Lebih Lanjut Bahnsen, Greg L. Always Ready: Directions For Defending the Faith (Texarkana, AR: Covenant Media Foundation, 1996). Boa, Kenneth D., dan Robert M. Bowman Jr. Faith Has Its Reasons: An Integrative Approach to Defending Christianity (Colorado Springs: NavPress, 2001). Craig, William Lane. Reasonable Faith: Christian Truth and Apologetics (Wheaton, IL: Crossway, 1994). Dulles, Avery. A History of Apologetics (Eugene, OR: Wipf and Stock, 199). Frame, John M. Apologetics to the Glory of God: An Introduction (Phillipsburg, NJ: Presbyterian and Reformed, 1994). Nash, Ronald H. Faith and Reason: Searching for a Rational Faith (Grand Rapids: Zondervan, 1988).

CATATAN

Pendahuluan 1. Untuk pembahasan tentang pandangan apologetis Augustine, lihat karya Avery Dulles, A History of Apologetics (Eugene, OR: Wipf dan Stock, 1999), 59-69; juga lihat karya Kenneth D. Boa dan Robert M. Bowman Jr, Faith Has Its Reasons (Colorado Springs: NavPress, 2001), 30-32. Bab 1: Bagaimana Orang Dapat Mengetahui Bahwa Allah Itu Ada? 1. Pendapat apologet Kristen William Lane Craig tentang keberadaan Allah adalah penjelasan terbaik untuk realitas kehidupan. Beberapa argumen saya di dalam bab ini dipengaruhi oleh argumen Craig dalam debatnya dengan ateis Corey G. Washington. Lihat “The Craig-Washington Debate: Does God Exist?” (debat, University of Washington, Seattle, WA, 9 Februari 1995), http://www.leaderu.com/offices/billcraig/docs/washdeba-craig1.html (diakses 7 Mei 2003). 2. Ed L. Miller, God and Reason: An Invitation to Philosophical Theology (Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall, 1995), 52-54. 3. Untuk mendapatkan penjelasan dan pembelaan tentang kosmologi Big Bang, lihat karya Hugh Ross, The Creator and the Cosmos: How the Greatest Scientific Discoveries of the Century Reveal God, edisi ke-3 (Colorado Springs: NavPress, 2001). 4. Miller, God and Reason, 52. Untuk pembahasan ilmiah yang rinci tentang topik ini, lihat karya John D. Barrow dan Frank J. Tipler, The Anthropic Cosmological Principle (New York: Oxford University Press, 1986), 166173, 401-403. 5. Gottfried Wilhelm Leibniz, The Principles of Nature and of Grace, Based on Reason, di dalam Philosophic Classics: Bacon to Kant, editor Walter Kaufmann (Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, 1961), bagian 7, 256. 341

CATATAN

342

6. Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli, Handbook of Christian Apologetics: Hundreds of Answers to Crucial Questions (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1994), 58. Untuk pembahasan tentang argumen kosmologis Kalam, lihat karya Moreland, Scaling the Secular City, 18-42; dan William Lane Craig, The Existence of God and the Beginning of the Universe (San Bernardino, CA: Here’s Life, 1979). 7. Lihat karya Dean C. Halverson, edisi umum, The Compact Guide to World Religions (Minneapolis: Bethany, 1996). 8. Terry L. Miethe dan Gary R. Habermas, Why Believe? God Exists! Rethinking the Case for God and Christianity (Joplin, MO: College Press, 1993), 74. 9. Ross, The Creator and the Cosmos, 171–74. 10. Untuk mempertimbangkan koherensi pandangan-pandangan Timur tertentu mengenai Allah, lihat karya Richard Purtill, Thinking about Religion: A Philosophical Introduction to Religion (Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, 1978), 95–109; dan Mortimer J. Adler, Truth in Religion: The Plurality of Religions and the Unity of Truth (New York: Macmillan, 1990), 69-92. 11. Untuk pembahasan tentang prinsip antropik, lihat karya Patrick Glynn, God, The Evidence: The Reconciliation of Faith and Reason in a Postsecular World (Rocklin, CA: Prima, 1997), 21-55; dan Ross, The Creator and the Cosmos, 145-167. 12. Untuk angka-angka probabilitas penyempurnaan yang diperlukan bagi kehidupan di alam semesta, lihat lampiran-lampiran A, B, dan C dalam Hugh Ross, Kenneth Samples, dan Mark Clark, Lights in the Sky and Little Green Men: A Rational Christian Look at UFOs and Extraterrestrials (Colorado Springs: NavPress, 2002). 13. Richard Taylor, Metaphysics, edisi ke-4 (Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, 1974), 110-116. 14. Moreland, Scaling the Secular City, 80-82. 15. Ibid., bab 3. 16. Kenneth Richard Samples, “Augustine of Hippo: Rightly Dividing the Truth,” poin 2 Facts For Faith, no. 6 (Triwulan II, 2001): 34-39, http://www. augustinefellowship.org (diakses 1 Juni 2003). 17. Mengenai hukum logika, lihat karya Peter A. Angeles, The HarperCollins Dictionary of Philosophy, edisi ke-2 (New York: HarperCollins, 1992), di bawah entri “laws of thought, the three;” dan Ronald H. Nash, Life’s Ultimate Questions: An Introduction to Philosophy (Grand Rapids: Zondervan, 1999), 193-208.

CATATAN

343

18. Lihat catatan ceramah oleh Alvin Plantinga, “Two Dozen (or So) Theistic Arguments,” tersedia di http://www.homestead.com/philofreligion/files/The isticarguments.html (diakses 23 April 2003). 19. Untuk pembahasan tentang argumen moral, lihat karya Miller, God and Reason, 89-106; dan C. S. Lewis, The Abolition of Man (New York: Macmillan, 1955). 20. Untuk penilaian kristiani tentang eksistensialisme, lihat karya C. Stephen Evans, Existentialism: The Philosophy of Despair and the Quest for Hope (Grand Rapids: Zondervan, 1984). 21. C. S. Lewis, Mere Christianity (New York: Macmillan, 1952), 45-46. 22. Lihat karya Ron Rhodes, Christ before the Manger: The Life and Times of the Preincarnate Christ (Grand Rapids: Baker, 1992), 233-237; dan Josh McDowell, Evidence that Demands a Verdict: Historical Evidences for the Christian Faith (San Bernardino, CA: Here’s Life, 1979), 141-177. 23. Untuk pembelaan tentang mukjizat dari perspektif kristiani, lihat karya Douglas Geivett dan Gary R. Habermas, eds., In Defense of Miracles: A Comprehensive Case for God’s Action in History (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1997). Bab 2: Bagaimana Saya Dapat Memercayai Allah yang Tidak Dapat Saya Lihat? 1. J. P. Moreland, Scaling the Secular City: A Defense of Christianity (Grand Rapids: Baker, 1987), 226-228. Moreland menyajikan enam argumen yang berbeda untuk menolak kritik visibilitas tentang Allah. Empat dari argumenargumennya dipakai di dalam bab ini. 2. Untuk pembahasan pendahuluan tentang empirisme sebagai teori epistemologis, lihat karya Ed L. Miller, Questions That Matter: An Invitation to Philosophy, edisi ke-4 (New York: McGraw-Hill, 1996), 233-258. 3. Moreland, Scaling the Secular City, 226. 4. Dikutip oleh teis Kristen William Lane Craig dalam debat dengan ateis Michael Tooley tentang keberadaan Allah. Lihat “A Classic Debate on the Existence of God” (debat, University of Colorado, Boulder, CO, November 1994), http://www.leaderu.com/offices/billcraig/docs/craig-tooley0.html (diakses 12 Januari 2003). 5. Upaya untuk mereduksi pikiran menjadi keadaan otak saja, menghasilkan suatu bentuk determinisme fisik, sebuah teori absud yang mereferensi diri sendiri (lih. karya Moreland, Scaling the Secular City, 77-103).

CATATAN

344

6. Untuk pembahasan yang jelas dan mendalam tentang hukum formal logika, baca karya Ronald H. Nash, The Word of God and the Mind of Man: The Crisis of Revealed Truth in Contemporary Theology (Grand Rapids: Zondervan, 1982), 103-112; dan Miller, Questions That Matter, 31-54. 7. Teis Kristen Greg Bahnsen membuat poin ini dalam debatnya yang direkam dengan ateis, Edward Tabash (lih. Covenant Media Foundation, 4425 Jefferson Ave., Texarkana, AR 71854). 8. Greg L. Bahnsen, Always Ready: Directions for Defending the Faith, editor Robert R. Booth (Texarkana, AR: Covenant Media Foundation, 1996), 188. 9. Untuk mendapatkan ringkasan dari masalah-masalah yang terkait dengan pandangan naturalistis, lihat karya Ronald H. Nash, Worldviews in Conflict: Choosing Christianity in the World of Ideas (Grand Rapids: Zondervan, 1992), 116-129. Untuk melihat kritik filosofis yang rinci tentang naturalisme dari perspektif teistis, baca karya William Lane Craig and J. P. Moreland, editor, Naturalism: A Critical Analysis (London: Routledge, 2000). 10. Hugh Ross, The Creator and the Cosmos: How the Greatest Scientific Discoveries of the Century Reveal God, edisi ke-3 (Colorado Springs: NavPress, 2001). 11. Moreland, Scaling the Secular City, 227. 12. Richard Swinburne, Is There a God? (Oxford: Oxford University Press, 1996), 2. Untuk pembahasan filosofis tingkat tinggi tentang bagaimana Allah berfungsi sebagai penjelasan yang memadai bagi realitas, lihat karya Richard Swinburne, The Existence of God (Oxford: Clarendon, 1979). 13. Craig Blomberg, The Historical Reliability of the Gospels (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1989), 11. 14. C. S. Lewis, The Joyful Christian (New York: Macmillan, 1977), 51. Bab 3: Bagaimana Allah Menyatakan Diri-Nya? 1. Millard J. Erickson, Christian Theology (Grand Rapids: Baker, 1998), 178. 2. Ibid., 178-199. 3. Bruce A. Demarest, “Revelation, General,” dalam Evangelical Dictionary of Theology, editor Walter A. Elwell (Grand Rapids: Baker, 1984), 944145. 4. Ayat-ayat tentang wahyu umum: “alam” (Ayb. 36:25; 38:1-39:30; Mzm. 19:2-5; 104:1-35; 148:1-14; Kis. 14:15-17; 17:24-31), “sejarah” (Ayb. 12:23; Mzm. 47:8-9, 66:7; Yes. 10:5-13; Dan. 2:21; Kis. 17:26), “hati nurani” (Kej. 1:26-27; Yoh. 1:9; Rm. 2:11-16).

CATATAN

345

5. Ayat-ayat tentang wahyu khusus: di antaranya: Yohanes 20:31; 2 Timotius 3:15-17; Ibrani 1:1-4. 6. Teolog sekaligus apologet Kristen Robert M. Bowman Jr., menyarankan cara yang sedikit berbeda tapi perseptif untuk menganalisis wahyu khusus. Melalui korespondensi pribadi pada tahun 2000 dengan penulis, ia berkata, “Saya menyarankan untuk berbicara tentang wahyu khusus sebagai wahyu yang mengambil dua bentuk. Bentuk pertama, sebagai Firman yang hidup, yang bertindak untuk kepentingan Israel dalam PL dan menjelma dalam diri Yesus Kristus. Bentuk kedua, sebagai Firman yang lisan, yang disampaikan melalui para nabi dan rasul dan ditulis di dalam Kitab Suci.” 7. Carl F. H. Henry, “Revelation, Special,” dalam Evangelical Dictionary of Theology (lih. catatan 3), 946. 8. Robert Saucy menyampaikan informasi ini dalam perbincangan pribadi dengan penulis (La Mirada, CA, 1999). 9. Pengakuan Iman Belgia (psl. 2), dalam Ecumenical Creeds and Reformed Confessions (Grand Rapids: CRC Publications, 1988), 79. 10. Demarest, “Revelation, General,” 945. 11. Ibid. 12. Ibid. 13. Ibid. 14. Ibid. 15. Erickson, Christian Theology, 191-194. 16. Demarest, “Revelation, General,” 945. 17. John Jefferson Davis, Handbook of Basic Bible Texts (Grand Rapids: Zondervan, 1984), 22. 18. Erickson, Christian Theology, 198-199. 19. John Calvin, Institutes of the Christian Religion 1.3.1, editor John T. McNeill, diterjemahkan Ford Lewis Battles, Library of Christian Classics (Philadelphia: Westminster Press, 1960), 1:43. 20. Richard A. Muller, Dictionary of Latin and Greek Theological Terms (Grand Rapids: Baker, 1985), di bawah entri “sensus divinitatis.” 21. Filsuf Kristen kontemporer Alvin Plantinga telah menyajikan sebuah argumen filosofis yang dibuat berdasarkan pandangan Calvin. Ia menyampaikan ceramah tentang topik ini di Biola University, La Miranda, CA, 26 Februari 1999.

CATATAN

346

22. John Frame, Apologetics to the Glory of God (Phillipsburg, NJ: Presbyterian and Reformed, 1994), 22-26. 23. Ilmu penafsiran Alkitab dinamakan hermeneutika. Untuk teks hermeneutika yang populer, lihat karya R. C. Sproul, Knowing Scripture (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1977); untuk karya yang bersifat lebih teknis lihat karya Bernard Ramm, Protestant Biblical Interpretation (Grand Rapids: Baker, 1970). 24. Untuk mendapatkan pembahasan tentang pembelaan terhadap prinsip Protestan, Sola Scriptura, lihat karya Kenneth R. Samples, “Does the Bible Teach Sola Scriptura?,” Christian Research Journal (Musim Gugur 1989): 31; lihat juga karya Kenneth R. Samples, dalam dialog Katolik/Protestan dengan Fr. Mitchell Pacwa berkenaan dengan pertanyaan tentang otoritas keagamaan (kaset audio bisa didapat melalui St. Joseph Communications, Inc., P. O. Box 720, W. Covina, CA 91793, 1-818-331-3549). 25. Sifat dan jangkauan yang tepat dari wahyu umum diperdebatkan di kalangan teolog Kristen. Sebagian orang menyatakan bahwa wahyu umum ini identik dengan seluruh fakta dunia atau alam. Sebagian yang lain membedakan fakta alam dari kebenaran wahyu umum (yaitu, keberadaan dan atributatribut Allah, serta tanggung jawab moral manusia kepada Allah). 26. Robert Saucy menyatakan bahwa wahyu umum memberikan data yang kemudian harus dihimpun dalam proposisi logis (ditafsirkan), sedangkan wahyu khusus datang langsung sebagai proposisi logis (sebagai interpretasi yang diinspirasikan). 27. Henry, “Revelation, Special,” 946. Bab 4: Bukankah Kredo Itu Bagian Masa Lalu? 1. Alister E. McGrath, I Believe: Understanding and Applying the Apostles’ Creed (Grand Rapids: Zondervan, 1991), 10. Bagi orang-orang yang tidak terbiasa dengan kredo-kredo Kristen, buku McGrath adalah pengenalan yang sangat baik tentang topik tersebut, khususnya tentang Pengakuan Iman Rasuli. Beberapa poin McGrath yang perseptif tercermin di dalam bab ini. 2. Sebuah penggarapan yang rinci dan ilmiah dari kredo-kredo ini dapat ditemukan di buku J. N. D. Kelly, Early Christian Creeds (London: Harlow, 1972). Berbagai artikel informatif tentang kredo-kredo ini dapat ditemukan di New Dictionary of Theology, editor Sinclair B. Ferguson, J. I. Packer, dan David F. Wright (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1988); Evangelical Dictionary of Theology, edisi ke-2, editor Walter A. Elwell (Grand Rapids:

CATATAN

347

Baker, 2001); dan The Dictionary of Historical Theology, editor Trevor A. Hart (Grand Rapids: Eerdmans, 2000). 3. Geoffrey W. Bromiley, “Creed, Creeds,” dalam Evangelical Dictionary of Theology, editor Walter A. Elwell (Grand Rapids: Baker, 1984), 283-284. 4. Tidak semua penggunaan kata “Tuhan” yang ditujukan kepada Yesus menyatakan secara tak langsung tentang Allah, tetapi konteks empat referensi Kitab Suci yang dikutip di atas jelas menggunakannya. Lihat karya F. F. Bruce, Jesus: Lord and Savior (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986), 203. 5. O. Guy Oliver, Jr., “Apostles’ Creed,” dalam Evangelical Dictionary of Theology (lih. catatan 3), 72-73. 6. Lihat karya Robert M. Bowman Jr., Orthodoxy and Heresy: A Biblical Guide to Doctrinal Discernment (Grand Rapids: Baker, 1992), 65-66. 7. McGrath, I Believe, 15. 8. Ibid., 14. 9. Colin Duriez, ed., The C. S. Lewis Encyclopedia: A Complete Guide to His Life, Thought, and Writings (Edison, NJ: Inspiration Press, 2000), di bawah entri “chronological snobbery,” 45. 10. Ecumenical Creeds and Reformed Confessions (Grand Rapids: CRC Publications, 1988), 7. 11. Ibid., 8. 12. Ibid., 9-10. 13. Alister E. McGrath, Introduction to Christianity (Cambridge, MA: Blackwell, 1997), 131-132. Bab 5: Bagaimana Allah Bisa Menjadi Tiga dan Satu? 1. Should You Believe in the Trinity? (Brooklyn: Watchtower Bible and Tract Society, 1989), 31. 2. The Koran, diterjemahkan N. J. Dawood (New York: Penguin, 1993), 87, Surah 5:70. 3. Thomas Jefferson kepada Timothy Pickering, 27 Februari 1821, dalam The Writings of Thomas Jefferson, vol. 15, editor Albert Ellery Bergh (Washington, D.C.: Thomas Jefferson Memorial Association, 1907), 323. 4. Kredo Athanasius, dalam Ecumenical Creeds and Reformed Confessions (Grand Rapids: CRC Publications, 1988), 9-10.

CATATAN

348

5. Untuk pembahasan tentang sifat-sifat Allah, lihat karya John Jefferson Davis, Handbook of Basic Bible Texts (Grand Rapids: Zondervan, 1984), 23-39; Louis Berkhof, Systematic Theology, edisi baru (aslinya diterbitkan dalam dua jilid, 1932 dan 1938; Grand Rapids: Eerdmans, 1996), 29-81; dan Wayne Grudem, Systematic Theology (Grand Rapids: Zondervan, 1994), 156-225. 6. Poin-poin ini dipengaruhi oleh Robert M. Bowman Jr., Why You Should Believe in the Trinity (Grand Rapids: Baker, 1989); Millard J. Erickson, Christian Theology (Grand Rapids: Baker, 1998), 321-142; Richard A. Muller, Dictionary of Latin and Greek Theological Terms (Grand Rapids: Baker, 1985), di bawah entri “trinity,” 306-310; dan Wayne Grudem, Systematic Theology, 226-261. 7. Tertullianus, “On Modesty,” bab 21, Tertullian, Part Fourth; Minucius Felix; Commodian; Origen, Parts First and Second, jilid 4 dari Ante-Nicene Fathers, editor Alexander Roberts dan James Donaldson (1885; repr., Peabody, MA: Hendrickson, 1994), 9. 8. Lihat karya Robert M. Bowman Jr., “The Biblical Basis of the Doctrine of the Trinity: An Outline Study” (Pasadena, CA: Apologetics.com, 2002), http://www.apologetics.com/default.jsp?bodycontent=/articles/doctrinal_ apologetics/bowman-trinity.html (diakses 13 Juni, 2003). 9. Alister E. McGrath, Introduction to Christianity (Cambridge, MA: Blackwell, 1997), 193-194. 10. Ron Rhodes, Christ before the Manger: The Life and Times of the Preincarnate Christ (Grand Rapids: Baker, 1999), 19-34. 11. Gerald Bray, The Doctrine of God (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1993), 138-151. 12. D.A. Carson, “Matthew,” dalam The Expositor’s Bible Commentary, edisi umum, Frank E. Gaebelein (Grand Rapids: Zondervan, 1984), 8:597-598; Erickson, Christian Theology, 329. 13. Carson, “Matthew,” 598; Bray, Doctrine of God, 146. 14. Erickson, Christian Theology, 332. 15. Lihat kritik Injil dari sebuah bentuk kontemporer Arianisme dalam karya Robert M. Bowman Jr., Jehovah’s Witnesses (Grand Rapids: Zondervan, 1995), 20-30. 16. Lihat kritik Injil dari sebuah bentuk kontemporer modalisme dalam karya Gregory A. Boyd, Oneness Pentecostals and the Trinity (Grand Rapids: Baker, 1992).

CATATAN

349

17. Lihat kritik Injil dari sebuah bentuk kontemporer politeisme dalam karya Kurt Van Gorden, Mormonism (Grand Rapids: Zondervan, 1995), 31-47. 18. Lihat kritik Injil tentang Unitarianisme dalam karya Alan W. Gomes, Unitarian Universalism (Grand Rapids: Zondervan, 1998). 19. Bowman, Why You Should Believe in the Trinity, 16-17. 20. C. S. Lewis, Mere Christianity (New York: Simon & Schuster, 1952), 145. 21. Untuk pembahasan yang jelas dan luas tentang hukum formal logika, lihat karya Ronald H. Nash, The Word of God and the Mind of Man (Grand Rapids: Zondervan, 1982), 103-112; dan Ed L. Miller, Questions That Matter, edisi ke-4 (New York: McGraw-Hill, 1996), 32-33. 22. Lihat pembahasan Thomas D. Senor yang sangat membantu tentang perbedaan filosofis ini dalam Reason for the Hope Within, editor Michael J. Murray (Grand Rapids: Eerdmans, 1999), 239-240. 23. Geoffrey W. Bromiley, “Trinity,” dalam Evangelical Dictionary of Theology, editor Walter A. Elwell (Grand Rapids: Baker, 1984), 1112. 24. Bruce Milne, Know The Truth (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1982), 62. 25. Norman L. Geisler, “Trinity,” dalam Baker Encyclopedia of Christian Apologetics (Grand Rapids: Baker, 1999), 736. 26. Kredo Athanasius dalam Ecumenical Creeds, 9-10. Bab 6: Mengapa Saya Harus Bertaruh tentang Iman? 1. Artikel-artikel pendahuluan yang baik tentang kehidupan dan pemikiran Pascal ditemukan di The New Encyclopaedia Britannica (Chicago: Encyclopaedia Britannica, 1986), di bawah entri “Pascal,” 25:452-254; dan The Cambridge Dictionary of Philosophy, editor Robert Audi (Cambridge: Cambridge University Press, 1995), di bawah entri “Blaise Pascal,” 562563. 2. Sebuah analisis yang sangat baik tentang prestasi matematika dan ilmiah Pascal dapat ditemukan di dalam dua artikel Richard H. Popkin dalam The Encyclopedia of Philosophy, editor Paul Edwards (New York: Macmillan, 1972), di bawah entri “Blaise Pascal,” 6:51-55; dan Great Thinkers of the Western World, editor Ian P. McGreal (New York: Harper Collins, 1992), di bawah entri “Blaise Pascal,” 209-212. 3. Dua karya yang sangat baik oleh filsuf-filsuf Kristen kontemporer yang telah mengambil tema-tema Pascal dan mengembangkannya ke dalam sebuah buku tentang apologetis adalah Thomas V. Morris, Making Sense of It All: Pascal and the Meaning of Life (Grand Rapids: Eerdmans, 1992);

CATATAN

350

dan Peter Kreeft, Christianity for Modern Pagans: Pascal’s Pensées; Edited, Outlined and Explained (San Francisco: Ignatius, 1993). 4. Frederick Copleston, A History of Philosophy (New York: Image BooksDoubleday, 1994), 4:154-155. 5. Cambridge Dictionary of Philosophy, bagian 4, 562. 6. Great Thinkers of the Western World, 210. 7. Ibid. 8. Ibid. 9. Ibid. 10. Kreeft, Christianity for Modern Pagans, 9. 11. Blaise Pascal, “The Memorial,” Pensées, edisi revisi, diterjemahkan A. J. Krailsheimer (New York: Penguin, 1995), 285-286. 12. Copleston, History of Philosophy, 4:155. 13. Ibid. 14. Morris, Making Sense of It All, 2. 15. Pascal, Pensées, 131/434. Pensées telah diterjemahkan ke dalam dua versi dasar. Edisi dari kedua versi itu telah tersedia. 16. Ibid., 192/527. 17. Ibid., 417/548. 18. Fideisme dapat didefinisikan dalam istilah yang lebih positif sebagai pandangan yang mengakui batasan penalaran manusia dan menekankan pentingnya iman. Jika Pascal seorang fideis, maka fideismenya cukup moderat dan seimbang. Lihat karya William J. Wainwright, Philosophy of Religion (Belmont, CA: Wadsworth, 1988), 132-136; C. Stephen Evans, Faith Beyond Reason: A Kierkegaardian Account, Reason and Religion (Grand Rapids: Eerdmans, 1998), 49-52; dan Kenneth D. Boa dan Robert M. Bowman Jr., Faith Has Its Reasons: An Integrative Approach to Defending Christianity (Colorado Springs: NavPress, 2001), 367-370. 19. Pascal, Pensées, 12/187. 20. Ibid., 377/280. 21. Wainwright, Philosophy of Religion, 132-133. 22. Pascal, Pensées, 423/277. 23. Ibid., 424/278. 24. Copleston, History of Philosophy, 4:165. 25. Ibid., 165-66.

CATATAN

351

26. Keith Devlin, Goodbye Descartes: The End of Logic and the Search for a New Cosmology of the Mind (New York: John Wiley, 1997), 183. 27. Untuk mendapatkan analisis yang sangat baik tentang kekuatan dan kelemahan dari Pascal’s Wager, lihat karya Stephen T. Davis, God, Reason and Theistic Proofs (Grand Rapids: Eerdmans, 1997), 156-166. 28. Pascal, Pensées, 429/229. 29. Ibid., 418/233. 30. Ibid. 31. Copleston, History of Philosophy, 4:169-171. 32. Ibid., 156. 33. Untuk pertukaran filosofis yang menarik antara seorang ateis dan seorang Kristen mengenai taruhan Pascal, lihat karya Alan Carter, “On Pascal’s Wager; Or Why All Bets Are Off,” Philosophia Christi, seri 2, 3 (2001): 511-516; Douglas Groothuis, “Are All Bets Off? A Defense of Pascal’s Wager,” Philosophia Christi (2001): 517-523; Alan Carter, “Is the Wager Back On? A Response to Douglas Groothuis,” Philosophia Christi (2002): 493-500; dan Douglas Groothuis, “An Unwarranted Farewell to Pascal’s Wager: A Reply to Alan Carter,” Philosophia Christi (2002): 501-508. 34. Morris, Making Sense of It All, 119. 35. Davis, God, Reason and Theistic Proofs, 164-166. Bab 7: Apakah Kisah-kisah di dalam Injil tentang Kehidupan Yesus Dapat Dipercaya? 1. Keenam argumen saya dipengaruhi oleh ringkasan apologetis yang sangat bagus dari Gary R. Habermas tentang sifat PB yang dapat dipercaya, dalam karya Gary R. Habermas, The Historical Jesus: Ancient Evidence for the Life of Christ (Joplin, MO: College Press, 1996), 275-279. 2. J. P. Moreland, Scaling the Secular City: A Defense of Christianity (Grand Rapids: Baker, 1987), 135. 3. Habermas, Historical Jesus, 54-56. 4. Bruce Manning Metzger, The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration, edisi ke-2 (New York: Oxford, 1968), 36. Buku Metzger berisi informasi yang sangat kaya tentang teks PB. 5. Ibid., 67-86. 6. Ibid., 86-92. 7. Habermas, Historical Jesus, 54.

CATATAN

352

8. Moreland, Scaling the Secular City, 135. 9. Habermas, Historical Jesus, 55. 10. Metzger, Text of the New Testament, 38–39. 11. Ibid., 39. 12. Ibid. 13. Ibid. 14. Ibid., 39-42. 15. Ibid., 37-38. 16. Ibid., 42-51. 17. Ibid.; Norman Geisler, Christian Apologetics (Grand Rapids: Baker, 1976), 306. 18. Metzger, Text of the New Testament, 42-61. 19. Sir Frederic Kenyon, The Bible and Archaeology (New York: Harper & Brothers, 1940), 288-289. 20. Habermas, Historical Jesus, 187-228; Geisler, Christian Apologetics, 322325; R. T. France, The Evidence for Jesus (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1986), 19-58. 21. Ibid. 22. Lihat karya Edwin M. Yamauchi, “Jesus Outside the New Testament: What Is the Evidence?” dalam Jesus Under Fire, edisi umum., Michael J. Wilkins dan J. P. Moreland (Grand Rapids: Zondervan, 1995), 207-222. 23. Lihat karya Donald Guthrie, New Testament Introduction (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1986), 33-44, 69-72, 98-109, 241-271; Bruce, New Testament Documents, 29-61; Craig L. Blomberg, “Where Do We Start Studying Jesus?” dalam Jesus Under Fire, 28-30. 24. Guthrie, New Testament Introduction, 33-44; Leon Morris, The Gospel According to Matthew (Grand Rapids: Eerdmans, 1992), 12-15. 25. Guthrie, New Testament Introduction, 69-72. 26. Guthrie, New Testament Introduction, 69; Bruce, New Testament Documents, 36–37. 27. Bruce, New Testament Documents, 36. 28. Guthrie, New Testament Introduction, 98-115. 29. Bruce, New Testament Documents, 42-44. 30. Guthrie, New Testament Introduction, 241-271; Bruce, New Testament Documents, 49-55.

CATATAN

353

31. Lihat laporan Guthrie tentang kepengarangan keempat Injil (seperti dikutip di atas). 32. Lihat karya Craig L. Blomberg, “The Historical Reliability of the New Testament” dalam William Lane Craig, Reasonable Faith: Christian Truth and Apologetics (Wheaton, IL: Crossway, 1994), 214-221. 33. Moreland, Scaling the Secular City, 151-154; Norman L. Geisler, “New Testament, Dating of,” Baker Encyclopedia of Christian Apologetics (Grand Rapids: Baker, 1999), 528. 34. Craig Blomberg, The Historical Reliability of the Gospels (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1987), 18. 35. Richard Purtill, Thinking about Religion (Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, 1978), 81-93. 36. A.N. Sherwin-White, Roman Society and Roman Law in the New Testament (Grand Rapids: Baker, 1978), 186-193. 37. Lihat Craig, Reasonable Faith, 284-285. 38. Bruce, New Testament Documents, 45-46. 39. Blomberg, Historical Reliability of the Gospels, 81-84. 40. Peter Kreeft, Between Heaven and Hell (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1982), 74. Bab 8: Apakah Yesus itu Manusia, Mitos, Orang Gila, Ancaman, Mistik, Penghuni Mars, atau Mesias? 1. John Hick, “A Pluralist View” dalam More Than One Way? Four Views on Salvation in a Pluralistic World, editor Dennis L. Okholm dan Timothy R. Phillips (Grand Rapids: Zondervan, 1995), 54-55. 2. John R. W. Stott, Basic Christianity (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1980), 21-34. Beberapa pernyataan deskriptif Scott tentang Yesus (contoh, lih. hal. 27) telah diketengahkan di dalam karya ini dan analisisnya yang alkitabiah telah diperluas. 3. D. A. Carson, The Gospel According to John (Grand Rapids: Eerdmans, 1991), 358. 4. Ibid., 394-395. 5. Lihat Stott, Basic Christianity, 29-32. 6. Lihat Robert L. Reymond, Jesus, Divine Messiah: The New Testament Witness (Phillipsburg, NJ: Presbyterian and Reformed, 1990). 7. Louis P. Pojman, Philosophy: The Quest for Truth, edisi ke-5 (Oxford: Oxford University Press, 2002), 34-37.

CATATAN

354

8. Dua buku yang sangat bagus, yang umumnya mengambil pendekatan abduktif terhadap pembunuhan Presiden Kennedy adalah karya William Manchester, The Death of a President (New York: Harper & Row, 1967); dan Gerald Posner, Case Closed (New York: Random House, 1993). 9. Pojman, Philosophy, 36. Lihat juga tes-tes logis saya untuk pandanganpandangan dalam buku Hugh Ross, Kenneth Samples, dan Mark Clark, Lights in the Sky and Little Green Men (Colorado Springs, CO: NavPress, 2002), 156-158. 10. T. Edward Damer, Attacking Faulty Reasoning, edisi ke-4 (Belmont, CA: Wadsworth, 2001), 115. 11. Lihat karya Josh McDowell, Evidence that Demands a Verdict: Historical Evidences for the Christian Faith (San Bernardino, CA: Here’s Life, 1979), 103-109. Dalam pembelaan McDowell, ia menyampaikan kemungkinan alternatif-alternatif lain di bagian-bagian lain dalam buku tersebut. 12. A. N. Sherwin-White, Roman Society and Roman Law in the New Testament (Grand Rapids: Baker, 1978), 186-193. 13. Lihat bab 7 di dalam buku ini; lihat juga buku Gary R. Habermas, The Historical Jesus: Ancient Evidence for the Life of Christ (Joplin, MO: College Press, 1996), 107-114. 14. John Warwick Montgomery, History and Christianity (Minneapolis: Bethany, 1965), 66-72. 15. R.T. France, The Evidence for Jesus (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1986), 19-58; Habermas, Historical Jesus, 187-228. 16. Stott, Basic Christianity, 23-26. 17. C.S. Lewis, Mere Christianity (New York: Macmillan, 1952), 55-56. 18. Montgomery, History and Christianity, 62-63. 19. Ronald H. Nash, Worldviews in Conflict (Grand Rapids: Zondervan, 1992), 153. 20. Montgomery, History and Christianity, 64. 21. Untuk penilaian tentang Bapa, lihat buku Walter Martin, The Kingdom of the Cults (Minneapolis: Bethany, 1977), 213-21. Untuk penilaian tentang David Koresh, lihat buku Kenneth Samples, et al., Prophets of the Apocalypse: David Koresh and Other American Messiahs (Grand Rapids: Baker, 1994). Untuk penilaian tentang Jim Jones, lihat rekaman Walter Martin “Jonestown, the Death of a Cult,” tersedia di http: //waltermartin.org. 22. Huston Smith, The World’s Religions: Our Great Wisdom Traditions (San Francisco: Harper-Collins, 1991), 143-144.

CATATAN

355

23. Ibid. 24. James T. Fisher dan Lowell S. Hawley, A Few Buttons Missing (Philadelphia: Lippincott, 1951), 273. 25. Untuk penilaian Kristen Injili tentang New Age Movement, lihat karya Douglas R. Groothuis, Unmasking the New Age Movement (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1986); Elliot Miller, A Crash Course on the New Age Movement (Grand Rapids: Baker, 1989); dan John P. Newport, The New Age Movement and the Biblical Worldview (Grand Rapids: Eerdmans, 1998). 26. Untuk penilaian Kristen Injili tentang pernyataan “tahun-tahun Yesus yang hilang,” lihat karya Ron Rhodes, The Counterfeit Christ of the New Age Movement (Grand Rapids: Baker, 1990), 27-56; dan Douglas Groothuis, Revealing the New Age Jesus (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1990), 147-173. 27. Rhodes, Counterfeit Christ, 48. 28. Ibid., 44-46. 29. Ibid., 51. 30. Ibid., 47. 31. Ross, Samples, dan Clark, Lights in the Sky, 147-158. 32. Ibid., 162-163. 33. Ibid., 164. 34. Ibid., 157-158. Bab 9: Bagaimana Yesus Kristus Bisa Menjadi Allah Sekaligus Manusia? 1. Should You Believe in the Trinity? (New York: Watch Tower Bible and Tract Society, 1989), 16. 2. John Hick, “A Pluralist View” dalam More Than One Way? Four Views on Salvation in a Pluralistic World, editor Dennis L. Okholm dan Timothy R. Phillips (Grand Rapids: Zondervan, 1995), 55. 3. Lihat formulasi Kalsedon dalam buku Alister E. McGrath, Introduction to Christianity (Cambridge, MA: Blackwell, 1997), 131-132. 4. Craig A. Blaising, “Hypostatic Union”, Evangelical Dictionary of Theology, ed. Walter A. Elwell (Grand Rapids: Baker, 1984), 540. 5. Untuk pembahasan tentang prinsip kenosis, lihat karya Bruce Milne, Know the Truth (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1982), 146-147; dan Wayne Grudem, Systematic Theology (Grand Rapids: Zondervan, 1994), 549-552.

CATATAN

356

6. Milne, Know the Truth, 147. 7. Ibid. 8. Poin-poin ini dipengaruhi oleh Richard A. Muller, Dictionary of Latin and Greek Theological Terms (Grand Rapids: Baker, 1985), di bawah entri “incarnatio,” “persona Christi,” dan “unio personalis;” Grudem, Systematic Theology, 529-567; Charles Hodge, Systematic Theology (1952; repr., Grand Rapids: Eerdmans, 1986), 2:387-389; Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids: Eerdmans, 1938), 321-330. 9. Lihat Murray J. Harris, Jesus as God: The New Testament Use of Theos in Reference to Jesus (Grand Rapids: Baker, 1992). 10. Untuk penggarapan menyeluruh dan substantif tentang dukungan Alkitab untuk inkarnasi (terutama tentang keilahian Yesus), lihat buku Harris, Jesus as God; dan Robert L. Reymond, Jesus, Divine Messiah: The New Testament Witness (Phillipsburg, NJ: Presbyterian and Reformed, 1990). Untuk penyelidikan teologis yang rinci tentang doktrin inkarnasi, lihat buku Benjamin B. Warfield, The Person and Work of Christ (Philadelphia: Presbyterian and Reformed, 1950); dan Millard J. Erickson, The Word Became Flesh (Grand Rapids: Baker, 1991). 11. Bahan garis besar untuk mendukung keilahian Yesus Kristus sebagian berasal dari karya Harris, Jesus as God, 315-317; dan John Jefferson Davis, Handbook of Basic Bible Texts (Grand Rapids: Zondervan, 1984), 68-74. 12. Semua judul ini di dalam konteks alkitabiah yang tepat akan mendukung pandangan bahwa Yesus Kristus adalah pribadi yang Ilahi. Lihat karya McGrath, Introduction to Christianity, 108-15; dan Reymond, Jesus, Divine Messiah, 44-126. 13. Bahan garis besar untuk mendukung kemanusiaan Yesus Kristus sebagian berasal dari karya Milne, Know the Truth, 125. 14. D. A. Carson, The Gospel According to John (Grand Rapids: Eerdmans, 1991), 126-127. 15. Ron Rhodes, Christ before the Manger: The Life and Times of the Preincarnate Christ (Grand Rapids: Baker, 1992), 249-253; Robert M. Bowman Jr., Why You Should Believe in the Trinity (Grand Rapids: Baker, 1989), 78-88. 16. Milne, Know the Truth, 125-132. 17. Delapan bidat kristologis kuno yang terdaftar di sini diambil dari buku H. Wayne House, Charts of Christian Theology and Doctrine (Grand Rapids: Zondervan, 1992), 55-56; Milne, Know the Truth, 142-145.

CATATAN

357

18. Norman L. Geisler, “Logic,” dalam Baker Encyclopedia of Christian Apologetics (Grand Rapids: Baker, 1999), 427-429. 19. Blaising, “Hypostatic Union,” 540. 20. John Calvin, Institutes of the Christian Religion 2.13.4, editor John T. McNeill, diterjemahkan Ford Lewis Battles, Library of Christian Classics (Philadelphia: Westminster Press, 1960), 1:481. Bab 10: Apakah Yesus Kristus Benar-benar Bangkit dari Kematian? 1. Poin-poin ini dipengaruhi oleh Wayne Grudem, Systematic Theology (Grand Rapids: Zondervan, 1994), 608-623; Charles Hodge, Systematic Theology (1952; repr., Grand Rapids: Eerdmans, 1986), 626-630; dan Louis Berkhof, Systematic Theology, edisi baru (aslinya diterbitkan dalam dua jilid, 1932 dan 1938; Grand Rapids: Eerdmans, 1996), 346-349. 2. Untuk harmonisasi yang rinci tentang bahan Injil yang terkait dengan kebangkitan, lihat buku George E. Ladd, I Believe in the Resurrection of Jesus (Grand Rapids: Eerdmans, 1975), 79-103; dan John Wenham, Easter Enigma: Do the Resurrection Accounts Contradict One Another?, edisi ke-2 (Grand Rapids: Baker, 1993). 3. Untuk bukti apologetis tentang kebangkitan Yesus dan kritik tentang teori naturalistis alternatif, lihat karya William Lane Craig, Knowing the Truth about the Resurrection (Ann Arbor, MI: Servant, 1988); William Lane Craig, Reasonable Faith (Wheaton IL: Crossway Books, 1994), 255-298; William Lane Craig, Assessing the New Testament Evidence for the Historicity of the Resurrection of Jesus (Lewiston, NY: Edwin Mellen, 1989); Norman L. Geisler, The Battle For The Resurrection (Nashville: Thomas Nelson, 1992); J. P. Moreland, Scaling the Secular City (Grand Rapids: Baker, 1987), 159-183; dan Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli, Handbook of Christian Apologetics (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1994), 175-198. 4. Tentu para pendukung hari Sabat menentang pernyataan ini, tetapi itu adalah pernyataan yang masuk akal dari Kitab Suci, lihat buku D. A. Carson, editor From Sabbath to Lord’s Day (Grand Rapids: Zondervan, 1982). 5. Moreland, Scaling the Secular City, 151-154. Nubuat Yesus tentang kejatuhan Yerusalem dilaporkan di dalam Injil-injil Sinoptik (Mrk. 13 dan yang paralel), tetapi si penulis tidak membuat komentar apa pun yang menunjukkan bahwa peristiwa itu telah terjadi pada zamannya. 6. Craig Blomberg, The Historical Reliability of the Gospels (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1987), 18.

CATATAN

358

7. Richard Purtill, Thinking about Religion (Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, 1978), 81-93. 8. A.N. Sherwin-White, Roman Society and Roman Law in the New Testament (Grand Rapids: Baker, 1978), 186-193. 9. Lihat buku Craig, Reasonable Faith, 284-285. 10. Blomberg, Historical Reliability of the Gospels, 81-84. 11. Edwin M. Yamauchi, “Easter: Myth, Hallucination, or History?,” http:// www.leaderu.com/everystudent/easter/articles/yama.html (diakses 23 Agustus 2001). Versi online pertama kali diterbitkan dalam karya Edwin M. Yamauchi, “Easter: Myth, Hallucination, or History?”, poin 1, Christianity Today 18, no. 12 (15 Maret 1974), 4-7; dan Edwin M. Yamauchi, “Easter: Myth, Hallucination, or History?,” poin 2, Christianity Today 18, no. 13 (29 Maret 1974), 12-16. 12. Kreeft dan Tacelli, Handbook of Christian Apologetics, 185. 13. Lihat Yamauchi, “Easter.” 14. Hipotesis penjelas ini diperdebatkan di depan umum oleh filsuf-filsuf Greg Cavin (pendukung) dan William Lane Craig (pengkritik). Tersedia di http://www.leaderu.com/offices/billcraig (diakses January 8 2002). 15. Craig, Knowing the Truth, 110. Bab 11: Mengapa Yesus Kristus Harus Mati? 1. Diskusi tentang dosa di bab ini dipengaruhi oleh sumber-sumber berikut: Alister E. McGrath, Intellectuals Don’t Need God and Other Modern Myths (Grand Rapids: Zondervan, 1993), 133-143; John R. W. Stott, Basic Christianity (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1980), 61-80; Louis Berkhof, Systematic Theology, edisi baru (aslinya diterbitkan dalam dua jilid, 1932 dan 1938; Grand Rapids: Eerdmans, 1996), 74-79; Bruce Milne, Know The Truth (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1982), 102-114; Wayne Grudem, Systematic Theology (Grand Rapids: Zondervan, 1994), 490-514; Robert L. Reymond, A New Systematic Theology of the Christian Faith (Nashville: Thomas Nelson, 1998), 440-458; dan Millard J. Erickson, Christian Theology, edisi ke-2 (Grand Rapids: Baker, 1998), 561-658. 2. Erickson, Christian Theology, 564-580. 3. Charles Caldwell Ryrie, Ryrie Study Bible, edisi diperluas (Chicago: Moody, 1994), 2004-2005; Grudem, Systematic Theology, 490. 4. Erickson, Christian Theology, 781-823.

CATATAN

359

5. Untuk pembahasan singkat tentang pandangan yang dikenal sebagai federalism, lihat Louis Berkhof, Summary of Christian Doctrine (Grand Rapids: Eerdmans, 1938), 75-76. 6. Reymond, New Systematic Theology, 430-436. 7. John Jefferson Davis, Handbook of Basic Bible Texts (Grand Rapids: Zondervan, 1984), 56. 8. Stott, Basic Christianity, 75. 9. Reymond, New Systematic Theology, 450-453. 10. Pembahasan tentang penebusan dosa di dalam bab ini dipengaruhi oleh sumber-sumber berikut: John Murray, Redemption: Accomplished and Applied (1955; repr., Grand Rapids: Eerdmans, 1975); Leon Morris, The Atonement: Its Meaning and Significance (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1983); Berkhof, Systematic Theology, 113-117; Milne, Know The Truth, 150-163; Erickson, Christian Theology, 761-841. 11. Lihat pembahasan-pembahasan melalui Murray, Redemption dan Morris, Atonement. 12. Lihat karya Thomas C. Oden, The Justification Reader (Grand Rapids: Eerdmans, 2002). Bab 12: Bukankah Semua Agama Menuntun pada Allah? 1. Peter Kreeft, Fundamentals of the Faith (San Francisco: Ignatius, 1988), 7475; R. C. Sproul, Reason to Believe (Grand Rapids: Zondervan, 1982), 35. 2. William L. Rowe, Philosophy of Religion, edisi ke-2 (Belmont, CA: Wadsworth, 1993), 174-715. 3. Bentuk paling primitif dari Buddhisme, “Theravada,” adalah kepercayaan yang tak bertuhan. 4. Saya mengacu di sini pada para penganut tradisional agama Yahudi. Ada beberapa kelompok Yahudi (Yahudi Mesianik) yang mempertahankan warisan dan tradisi Yahudi mereka namun memeluk Yesus Kristus (Yeshua haMachiach) sebagai Mesias dan Juruselamat mereka. 5. Richard L. Purtill, Thinking about Religion (Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, 1978), 105-106. 6. Harold A. Netland, Dissonant Voices (Grand Rapids: Eerdmans, 1991), 37. 7. Pembedaan yang saya lakukan antara agama Kristen dan agama Hindu sebagian dipengaruhi oleh perbandingan William Rowe tentang kedua agama tersebut dalam buku Rowe, Philosophy of Religion, 175.

CATATAN

360

8. Alister E. McGrath, Introduction to Christianity (Cambridge, MA: Blackwell Publishers, 1997), 155. 9. Netland, Dissonant Voices, 160. 10. Huston Smith, The Illustrated World’s Religions (New York: HarperCollins, 1994), 245. 11. Ronald H. Nash, Is Jesus the Only Savior? (Grand Rapids: Zondervan, 1994), 55. Untuk pembahasan yang jelas dan perseptif tentang hukum logika yang formal, lihat karya Ronald H. Nash, The Word of God and the Mind of Man (Grand Rapids: Zondervan, 1982), 103-112; dan Ed L. Miller, Questions That Matter: An Invitation to Philosophy, edisi ke-4 (New York: McGraw-Hill, 1996), 31-54. 12. Harold Netland, “Exclusivism, Tolerance, and Truth,” Missiology 15, no. 2 (April 1987), 84-85. 13. Karya-karya Hick tentang pluralism termasuk buku John Hick, God and the Universe of Faiths (London: Macmillan, 1977); dan editor John Hick, Problems of Religious Pluralism (New York: St. Martin’s Press, 1985). 14. Hick, God and the Universe of Faiths, 140. 15. John Hick, Philosophy of Religion, edisi ke-4 (Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, 1990), 117-119. 16. Ibid., 119. 17. John Hick, “A Pluralist View” dalam More Than One Way? Four Views on Salvation in a Pluralistic World, editor Dennis L. Okholm dan Timothy R. Phillips (Grand Rapids: Zondervan, 1995), 39. 18. Lihat buku C. Stephen Evans, Philosophy of Religion: Thinking about Faith (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1985). 19. Nash, Is Jesus the Only Savior?, 36. 20. Michael Peterson, dan lainnya, Reason and Religious Belief (New York: Oxford University Press,1991), 226. 21. Alister E. McGrath, Intellectuals Don’t Need God and Other Modern Myths (Grand Rapids: Zondervan, 1993), 119. 22. John Hick, “A Pluralist View” dalam More Than One Way?, 29-59. 23. John Hick, editor, The Myth of God Incarnate (London: SCM, 1977). Untuk pembelaan filosofis terhadap doktrin Kristen tentang inkarnasi, lihat buku Thomas V. Morris, The Logic of God Incarnate (Ithaca, NY: Cornell University Press, 1986).

CATATAN

361

24. C. Stephen Evans, Why Believe? Reason and Mystery as Pointers to God (Grand Rapids: Eerdmans, 1996), 141. 25. Lihat kritik Douglas Groothuis tentang buku Joseph Campbell, The Power of Myth, in Christian Research Journal (Musim Gugur 1989): 28; lihat juga buku Tom Snyder, Myth Conceptions: Joseph Campbell and the New Age (Grand Rapids: Baker, 1995). 26. Ibid. Bab 13: Bagaimana Seharusnya Orang Kristen Menanggapi Agama-agama di Dunia? 1. Untuk informasi umum yang baik tentang sepuluh agama di dunia, baca buku Huston Smith, The World’s Religions (New York: HarperCollins, 1991); John A. Hutchison, Paths of Faith, edisi ke-4 (New York: McGrawHill, 1991); David S. Noss, A History of the World’s Religions, edisi ke11 (New York: Macmillan, 2002); Lewis M. Hopfe, Religions of the World, edisi ke-8, editor Mark R. Woodward (Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, 2000); dan Robert S. Ellwood, Many Peoples, Many Faiths: Women and Men in the World Religions, edisi ke-7 (Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, 2001). 2. Buku Hopfe, Religions of the World, juga mempunyai beberapa informasi umum yang baik tentang beberapa agama minoritas. Untuk pengenalan tentang agama-agama dasar dan banyak agama yang sudah silam, lihat karya Mircea Eliade, dan Ioan P. Couliano, dengan Hillary S. Wiesner, The HarperCollins Concise Guide to World Religions (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1991). 3. Untuk penilaian kristiani tentang agama-agama di dunia, lihat karya Winfried Corduan, Neighboring Faiths: A Christian Introduction to World Religions (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1998); Dean C. Halverson, edisi umum, The Compact Guide to World Religions (Minneapolis: Bethany, 1996); Norman Anderson, editor, The World’s Religions (Grand Rapids: Eerdmans, 1983); dan Norman Anderson, Christianity and World Religions (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1984). Buku Corduan juga mengevaluasi beberapa agama dasar atau tradisional di dunia. Untuk evaluasi tentang beberapa agama yang sudah silam (termasuk agama-agama misteri) yang bersaing dengan agama Kristen primitif, lihat buku Jack Finegan, Myth and Mystery (Grand Rapids: Baker, 1989). 4. Karl Barth, The Doctrine of the Word of God, jilid. 1, buku 2 dari Church Dogmatics, editor, G. W. Bromiley dan T.F. Torrance (New York: Scribner’s, 1956), 303.

CATATAN

362

5. Lihat karya Millard J. Erickson, Christian Theology (Grand Rapids: Baker, 1998), 177-223. 6. Alister E. McGrath, Intellectuals Don’t Need God and Other Modern Myths (Grand Rapids: Zondervan, 1993), 116. 7. Lihat karya Hopfe, Religions of the World, edisi ke-7 (Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall, 1998), 6. 8. Halverson, Compact Guide to World Religions, 16. 9. Augustine, Confessions, diterjemahkan R. S. Pine-Coffin (New York: Barnes & Noble, 1992), buku 3, bagian 1, 21. 10. Untuk pembahasan tentang hubungan yang tepat antara wahyu umum dan wahyu khusus, lihat bab 3 tentang wahyu di dalam buku ini. 11. Clinton E. Arnold, Powers of Darkness (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1992). 12. Lihat analisis tentang bagian-bagian ini oleh Douglas Geivett dan W. Gary Phillips, “A Particularist View: An Evidentialist Approach” dalam More Than One Way? Four Views on Salvation in a Pluralistic World, editor Dennis L. Okholm dan Timothy R. Phillips (Grand Rapids: Zondervan, 1995), 230-37; dan “Response to R. Douglas Geivett and W. Gary Phillips” oleh Clark H. Pinnock, 251–55. 13. McGrath, Intellectuals Don’t Need God, 119. 14. Strategi apologetis ini diketengahkan dalam Curtis Chang, Engaging Unbelief: A Captivating Strategy from Augustine and Aquinas (Downers Grove, IL: Inter-Varsity Press, 2000). 15. Lihat masing-masing pandangan Alister McGrath, “A Particularist View: A Post-Enlightenment Approach” dan R. Douglas Geivett dan W. Gary Phillips, “A Particularist View: An Evidential Approach” dalam More Than One Way?, 151-180, 213-245. 16. Karya-karya Hick tentang pluralism mencakup buku John Hick, God and the Universe of Faiths (London: Macmillan, 1977); John Hick, Problems of Religious Pluralism (New York: St. Martin’s, 1985); Paul F. Knitter dan John Hick, editor, The Myth of Christian Uniqueness: Toward a Pluralistic Theology of Religions (Maryknoll, NY: Orbis, 1987). 17. Lihat penggarapan yang diberikan dalam pandangan oleh Clark H. Pinnock, “An Inclusivist View” dalam More Than One Way?, 95-123. 18. Ronald H. Nash, Is Jesus the Only Savior? (Grand Rapids: Zondervan, 1994), 11-12. Nash mengkritik pluralisme dan inklusivisme, tetapi membela eksklusivisme.

CATATAN

363

19. Karl Rahner, “Christianity and the Non-Christian Religions,” Theological Investigations, jilid 5 (London: Darton, Longman & Todd, 1966). 20. The Documents of Vatican II, edisi umum. Walter M. Abbott, diterjemahkan Joseph Gallagher (New York: Guild, 1966), 35; Dogmatic Constitution on the Church, Article 16. 21. Clark H. Pinnock, A Wideness in God’s Mercy: The Finality of Jesus Christ in a World of Religions (Grand Rapids: Zondervan, 1992). 22. McGrath, “Response to Clark H. Pinnock” dalam More Than One Way?, 131. 23. Robert L. Reymond, A New Systematic Theology of the Christian Faith (Nashville: Thomas Nelson, 1998), 1090. 24. Ibid. 25. Pinnock, “Response to John Hick” dalam More Than One Way?, 61-62. 26. Lihat interaksi antara tulisan McGrath, “Response to R. Douglas Geivett and W. Gary Phillips” dan tulisan Geivett dan Phillips, “Conclusion” dalam More Than One Way?, 256-258, 258-270; lihat juga buku John Sanders, No Other Name: An Investigation into the Destiny of the Unevangelized (Grand Rapids: Eerdmans, 1992). Bab 14: Bukankah Agama Kristen dan Ilmu Pengetahuan Bertentangan? 1. Bertrand Russell, Why I Am Not a Christian (New York: Simon & Schuster, 1957), vi. 2. Ibid., 22-26. 3. Lihat karya Charles E. Hummel, The Galileo Connection (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986). 4. Lihat Stanley L. Jaki, Science and Creation: From Eternal Cycles to an Oscillating Universe (Scottish Academic Press, 1974); R. Hooykaas, Religion and the Rise of Modern Science (Grand Rapids: Eerdmans, 1972); dan Stanley L. Jaki, The Savior of Science (Grand Rapids: Eerdmans, 2000), 22-48. 5. Eric V. Snow, “Christianity: A Cause of Modern Science?” Impact, no. 298, April 1998, tersedia di http:www.icr.org/pubs/imp/imp-298.htm, (diakses 7 Januari 2003). 6. Lihat karya Charles Van Doren, A History of Knowledge (New York: Ballantine, 1991). 7. Alister E. McGrath, Science and Religion (Oxford: Blackwell, 1999), 1-2. 8. Ibid., 2-3.

CATATAN

364

9. Ibid., 1-6; Michael Bumbulis, “Christianity and the Birth of Science,” http://bex.nsstc.uah.edu/RbS/CLONE/jaki5.html (diakses 7 Januari 2003). 10. Nancy R. Pearcey dan Charles B. Thaxton, The Soul of Science (Wheaton, IL: Crossway, 1994), 17-42; Hooykaas, Religion and the Rise of Modern Science, seluruhnya. 11. Meskipun Newton mahasiswa yang serius dalam Alkitab, pertanyaan serius telah diajukan mengenai apakah pandangan teologisnya benar-benar ortodoks. Lihat karya Hummel, The Galileo Connection, 126-148. 12. Hugh Ross, The Genesis Question, edisi ke-2 (Colorado Springs, CO: NavPress, 2001), 195-197; Hooykaas, Religion and the Rise of Modern Science, seluruhnya. 13. Kenneth L Woodward, “How the Heavens Go,” Newsweek, 20 Juli 1998, 52. 14. Lihat karya Michael Peterson, dan lainnya, Reason and Religious Belief (New York: Oxford University Press, 1991), 210-214. 15. Poin-poin ini dipengaruhi oleh Delvin Lee Ratzsch, Science and Its Limits: The Natural Sciences in Christian Perspective (Downers Grove, IL: InterVarsity, 2000), 36; dan Pearcey dan Thaxton, The Soul of Science. 16. Ratzsch, Science and Its Limits, 138. 17. John Polkinghorne, Science and Creation (Boston: Shambhala, New Science Library, 1988), 20. 18. Alister E. McGrath, An Introduction to Christianity (Cambridge, MA: Blackwell, 1997), 166. 19. Ratzsch, Science and Its Limits, 139. 20. Untuk kritik filosofis yang menyeluruh terhadap naturalisme, lihat Naturalism: A Critical Analysis, editor. William Lane Craig dan J. P. Moreland (2000; repr., London: Routledge, 2002). 21. Lihat karya Richard Taylor, Metaphysics, edisi ke-4 (Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, 1992), 110-112. 22. Greg Bahnsen menyampaikan hal ini kepada saya dalam percakapan pribadi di Irvine, California sekitar tahun 1992. 23. Paul Davies, “Physics and the Mind of God: The Templeton Prize Address,” First Things 55 (Agustus/September 1995): 31-35, http:// www.firstthings.com/ftissues/ft9508/davies.html (diakses 14 Januari 2004). 24. Hugh Ross, The Creator and the Cosmos, edisi ke-3 (Colorado Springs, CO: NavPress, 2001), 23-29.

CATATAN

365

25. Ibid., 92. 26. Ibid., 118-121. 27. Paul Davies, God and the New Physics (New York: Simon & Schuster, Touchstone, 1983), 189. 28. Hugh Ross, Kenneth Samples, dan Mark Clark, Lights in the Sky and Little Green Men (Colorado Springs, CO: NavPress, 2002), 171-192. 29. Arno Penzias, “Creation Is Supported by All the Data So Far” dalam Cosmos, Bios, Theos, editor Henry Margenau dan Roy Abraham Varghese (Chicago: Open Court, 1992), 83. Bab 15: Bukankah Kemunafikan Membuat Kekristenan Tidak Berlaku? 1. T. Edward Damer, Attacking Faulty Reasoning, edisi ke-3 (Belmont, CA: Wadsworth, 1995), 159-161. 2. Alister E. McGrath, Introduction to Christianity (Cambridge, MA: Blackwell, 1997), 75. 3. John Jefferson Davis, Handbook of Basic Bible Texts (Grand Rapids: Zondervan, 1984), 94. 4. McGrath, Introduction to Christianity, xix-xx. 5. Thomas V. Morris, Making Sense of It All: Pascal and the Meaning of Life (Grand Rapids: Eerdmans, 1992), 152. 6. Richard Purtill, Thinking about Ethics (Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, 1976), 136. 7. Ibid.; lihat Matius 7:12; Roma 15:1; Yakobus 2:14-26. 8. Ibid. Bab 16: Bukankah Saya Berhak Melakukan Apa Pun yang Saya Inginkan dengan Tubuh Saya Sendiri? 1. Libertarianisme memiliki berbagai bentuk (politik, ekonomi, filsafat, etika), tetapi didefinisikan secara luas sebagai pandangan yang berusaha memaksimalkan kebebasan dan kemerdekaan individu. 2. Lihat karya Anthony A. Hoekema, Created in God’s Image (Grand Rapids: Eerdmans, 1986), 5-10. 3. Dosa asal terdiri dari kesalahan, kerusakan moral, dan kerentanan terhadap kematian yang diwariskan kepada keturunan Adam setelah kejatuhannya dalam dosa (Kej. 3; Mzm. 51:7, 58:4; Rm. 5:12,18-19; 1Kor. 15:22).

CATATAN

366

4. Penebusan dosa mengacu pada Yesus Kristus yang membebaskan umat manusia dari penghakiman Ilahi dengan memikul sendiri hukuman atas dosa manusia di atas kayu salib. 5. Thomas V. Morris, Making Sense of It All: Pascal and the Meaning of Life (Grand Rapids: Eerdmans, 1992), 25. 6. John Jefferson Davis, Evangelical Ethics (Phillipsburg, NJ: Presbyterian and Reformed, 1985), 191. 7. Kedaulatan Allah (Ams. 21:1; Rm. 9:21; Ef. 1:11) dan tanggung jawab manusia (Mat. 16:27; Yoh. 3:36; Why. 22:12) diajarkan di dalam Kitab Suci, kadang-kadang bahkan di dalam ayat yang sama (Luk. 22:22; Kis. 2:23). Untuk pembahasan yang bermanfaat tentang paradoks alkitabiah dan teologis ini, lihat karya Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids: Eerdmans, 1989), 3-10. 8. J. P. Moreland dan Norman L. Geisler, Life and Death Debate (New York: Praeger, 1990), 27. Bab Moreland dan Geisler tentang aborsi menampilkan argumen-argumen dan kritik-kritik dari segala sisi kontroversi aborsi (lih. 25-42). 9. Ibid., 28. 10. Francis J. Beckwith dan Norman L. Geisler, Matters of Life and Death (Grand Rapids: Baker, 1991), 141. 11. Moreland dan Geisler, Life and Death Debate, 65. Bab Moreland dan Geisler tentang eutanasia menampilkan argumen-argumen dan kritik-kritik untuk “Libertarian View” dan “Traditional View” (lih. 63-82). 12. Ibid., 76-78. 13. Lihat karya Lynne Ann DeSpelder dan Albert Lee Strickland, The Last Dance: Encountering Death and Dying, edisi ke-4 (Mountain View, CA: Mayfield, 1996), 151-160. 14. Pertanyaan 1 dari Katekismus Heidelberg, sebagaimana dikutip di dalam Ecumenical Creeds and Reformed Confessions (Grand Rapids: CRC Publications, 1988), 13. Bab 17: Bukankah Kekristenan Mendorong Sikap Tidak Toleran? 1. Rabbi Yahudi, diwawancarai oleh Larry King, “Should Christians Stop Trying to Convert Jews?,” Larry King Live, CNN, 12 Januari 2000. 2. Eksklusivisme Kristen menegaskan tiga prinsip berikut ini: (a) Agama Kristen adalah satu-satunya agama yang benar, (b) Yesus Kristus adalah satusatunya Juruselamat, dan (c) orang harus memiliki iman yang eksplisit (sadar) di dalam Yesus Kristus agar diselamatkan (lih. bab 13 di dalam

CATATAN

367

buku ini). Untuk pembelaan terhadap eksklusivisme sebuku penuh, lihat buku Ronald H. Nash, Is Jesus the Only Savior? (Grand Rapids: Zondervan, 1994). 3. American Heritage Dictionary of the English Language, New College Edition, di bawah entri “tolerance.” 4. Richard L. Purtill, Thinking about Ethics (Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, 1976), 136. 5. Lihat kritik tentang gerakan kebenaran politik di Amerika dalam buku Francis J. Beckwith dan Gregory Koukl, Relativism: Feet Firmly Planted in Mid-Air (Grand Rapids: Baker, 1998), 79-91. 6. Ketiga poin penjelasan ini dipengaruhi oleh Francis J. Beckwith dan Gregory Koukl, Relativism, 149-150. 7. Ibid., 150. 8. Untuk pembahasan yang jelas dan perseptif tentang hukum logika formal, lihat karya Ronald H. Nash, The Word of God and the Mind of Man (Grand Rapids: Zondervan, 1982), 103-112; dan Ed L. Miller, Questions That Matter: An Invitation to Philosophy (New York: McGraw-Hill, 1996), 31-54. 9. Saya mengacu pada para penganut tradisional agama Yahudi dengan denominasi-denominasi utamanya yaitu ortodoks, konservatif, dan reformasi. Ada beberapa kelompok Yahudi (Yahudi Mesianik) yang mempertahankan warisan dan tradisi Yahudi mereka namun menganut Yesus Kristus (Yeshua haMashiach) sebagai Mesias dan Juruselamat mereka. 10. Pernyataan-pernyataan agama yang “berlawanan” mempunyai nilai kebenaran yang bertentangan, yang berarti bahwa ada satu yang benar dan yang lain adalah salah. Sebagian pernyataan keagamaan dapat memiliki hubungan yang “bertentangan” satu sama lain. Artinya, sementara keduanya tidak bisa sama-sama benar, keduanya bisa sama-sama salah. 11. Lihat kritik tentang multikulturalisme di Amerika dalam buku Beckwith dan Koukl, Relativism, 79-91. 12. Peter Kreeft dan Ronald K. Tacelli Handbook of Christian Apologetics (Downers Grove, IL: InterVarsity, 1994), 361-383. 13. Untuk pembahasan tentang mengapa menolak kebenaran itu merusak diri sendiri, lihat karya Ronald Nash, Faith and Reason (Grand Rapids: Zondervan, 1988), 161-67.

CATATAN

368

Bab 18: Bukankah Moralitas Tergantung dari Mata yang Memandangnya? 1. Relativisme moral setidaknya muncul dalam empat bentuk yang berbeda; lihat karya J. P. Moreland dan Norman L. Geisler, The Life and Death Debate (New York: Praeger, 1990), 3-6. 2. Ed L. Miller, Questions That Matter: An Invitation to Philosophy, edisi ke-4 (New York: McGraw-Hill, 1996), 403. Buku ini (yang dipakai sebagai buku pelajaran untuk kuliah-kuliah filsafat yang saya ajarkan) adalah pendahuluan yang sangat baik tentang subjek tersebut. Buku ini berisi pembahasan yang singkat namun jelas tentang relativisme etis (lih. 402-406). 3. Richard L. Purtill, Thinking about Ethics (Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, 1976), 3. Buku ini berisi pembahasan pendahuluan yang baik tentang subjektivisme etis (lih. 1-15). 4. Filsuf moral Louis Pojman membahas lima alasan mengapa relativisme moral menarik bagi banyak orang pada zaman sekarang, dalam buku Louis P. Pojman, Ethics: Discovering Right and Wrong (Belmont, CA: Wadsworth, 1990), 34-37. 5. Miller, Questions That Matter, 405. 6. Ibid. 7. Louis P. Pojman, Philosophy: The Pursuit of Wisdom, edisi ke-2 (Belmont, CA: Wadsworth, 1998), 271. Buku ini (dipakai sebagai buku pelajaran untuk kuliah-kuliah filsafat yang saya ajarkan) adalah pendahuluan yang sangat baik pada materi pelajaran dan berisi pembahasan yang sangat baik tentang relativisme etis (lih. 270-76). 8. Pojman, Ethics, 22-23; Miller, Questions That Matter, 406. 9. Ronald H. Nash, Life’s Ultimate Questions (Grand Rapids: Zondervan, 1999), 345-46; Miller, Questions That Matter, 406. 10. Nash, Life’s Ultimate Questions, 345-346. 11. Untuk analisis tentang konvensionalisme, baca Moreland dan Geisler, Life and Death Debate, 3-6; Pojman, Ethics, 23-29. 12. Ed L. Miller, God and Reason, edisi ke-2 (Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall, 1995), 95-96. 13. Francis J. Beckwith, “Philosophical Problems with Moral Relativism,” CRI Statement DA241 (Christian Research Institute, Rancho Santa Margarita, CA), http://www.equip.org/free/DA241.htm (diakses 18 Desember 2002). Versi online secara signifikan direvisi dari sebuah bab yang awalnya diterbitkan di dalam buku Francis J. Beckwith, Politically Correct Death:

CATATAN

369

Answering the Arguments for Abortion Rights (Grand Rapids: Baker Book House, 1993), 19-25. 14. C. S. Lewis, Mere Christianity (New York: Macmillan, 1952), 17-21. 15. Pojman, Philosophy, 273. 16. Douglas Groothuis, “Confronting the Challenge of Ethical Relativism” CRI Statement DE195 (Christian Research Institute, Rancho Santa Margarita, CA), http://www.equip.org/free/DE195.htm (diakses 18 Desember 2002), aslinya diterbitkan di dalam Christian Research Journal 14, no. 1; juga diterbitkan dalam buku Douglas R. Groothuis, Christianity That Counts: Being a Christian in a Non-Christian World (Grand Rapids: Baker Book House, 1995), 93-96. 17. G. M. Gilbert, Nuremberg Diary (New York: Da Capo Press, 1995); Whitney R. Harris, Tyranny on Trial (Dallas: Southern Methodist University Press, 1999). 18. J. P. Moreland, Scaling the Secular City (Grand Rapids: Baker, 1987), 242244. 19. Sebagai filsuf, saya memiliki alasan metafisika untuk lebih menyukai Coke daripada Pepsi: metafisika adalah studi tentang kenyataan, dan bagaimanapun, Coke adalah “hal yang riil.” 20. Pojman, Ethics, 30. 21. Miller, Questions That Matter, 406. 22. Keempat alasan untuk mendukung absolutisme moral yang terdaftar di sini diambil dari buku Moreland dan Geisler, Life and Death Debate, 6-9. 23. Lihat tulisan George Mavrodes, “Religion and the Queerness of Morality” dalam Rationality, Religious Belief and Moral Commitment: New Essays in Philosophy of Religion, editor Robert R. Audi dan William Wainwright (Ithaca, NY: Cornell University Press, 1986). Bab 19: Bagaimana Mungkin Allah yang Baik dan Mahakuasa Membiarkan Kejahatan Terjadi? 1. Untuk mendapatkan informasi umum yang baik tentang agama Hindu, lihat karya Huston Smith, The World’s Religions (San Francisco: HarperCollins, 1991); John A. Hutchison, Paths of Faith, edisi ke-4 (New York: McGraw-Hill, 1991); dan David S. Noss dan John B. Noss, A History of the World’s Religions, edisi ke-9 (New York: Macmillan, 1990). Untuk penilaian kristiani tentang agama Hindu, lihat buku Winfried Corduan, Neighboring Faiths: A Christian Introduction to World Religions (Downers

CATATAN

370

Grove, IL: InterVarsity, 1998); dan Dean C. Halverson, edisi umum, The Compact Guide to World Religions (Minneapolis: Bethany, 1996). 2. Lihat karya Karl Menninger, Whatever Became of Sin? (New York: E. P. Dutton, 1973); dan Kenneth L. Woodward, “What Ever Happened to Sin?,” Newsweek, 6 Februari, 1995, 23. 3. Richard L. Purtill, Thinking about Religion (Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall), 95-109. 4. Sejarawan Stephen Ambrose menyebut Perang Dunia II sebagai bencana terbesar dalam sejarah, dalam bagian pendahuluan bukunya American Heritage New History of World War II (New York: Viking, 1997). 5. Untuk melihat seluruh konteks pernyataan Hume melalui dialog filosofis yang diciptakannya (Philo), lihat buku David Hume, Dialogues Concerning Natural Religion, editor Henry D. Aiken (New York: Hafner, 1948), 62-64. 6. Untuk analisis lebih lanjut tentang pandangan yang dikenal sebagai godisme, lihat tulisan Norman L. Geisler, “Finite Godism,” dalam Baker Encyclopedia of Christian Apologetics (Grand Rapids: Baker, 1999), 246249. 9. Richard Swinburne, “The Problem of Evil,” dalam Great Thinkers on Great Questions, editor Roy Abraham Varghese (Oxford: Oneworld, 1998), 191. 10. Alvin C. Plantinga, God, Freedom, and Evil (Grand Rapids: Eerdmans, 1974), 30. 11. Ibid., 12-29. 12. Untuk mendapatkan beragam jawaban kristiani tentang masalah kejahatan, lihat buku Norman L. Geisler, The Roots of Evil (Grand Rapids: Zondervan, 1978); Michael Peterson, Evil and the Christian God (Grand Rapids: Baker, 1982); Ronald H. Nash, Faith and Reason: Searching for a Rational Faith (Grand Rapids: Zondervan, 1988), bab 13-15; dan John M. Frame, Apologetics to the Glory of God (Phillipsburg, NJ: Presbyterian and Reformed, 1994), bab 6-7. 11. William L. Rowe, “IX. The Problem of Evil and Some Varieties of Atheism,” American Philosophical Quarterly 16, no. 4 (Oktober 1979), 335 12. Ini adalah bentuk kutipan yang paling sering dipakai. Meskipun bentuk ini tidak terdapat di dalam buku ini, gagasan tersebut ditemukan di sepanjang buku. Lihat buku Fyodor Mikhailovich Dostoevsky, The Brothers Karamazov, diterjemahkan Constance Garnett, Great Books, vol. 52

CATATAN

371

(Chicago: University of Chicago and Encyclopedia Britannica, 1952), buku 2, bab 6, 33-34; buku 2, bab 7, 40; buku 5, bab. 5, 136-137; buku 11, bab 4, 312; buku 11, bab 9, 345. 13. Gerard J. Hughes, “The Problem of Evil,” dalam Great Thinkers on Great Questions, ed. Roy Abraham Varghese (Oxford: Oneworld, 1998), 194. 14. Lihat karya Greg L. Bahnsen, Always Ready: Directions For Defending the Faith, editor Robert R. Booth (Texarkana, AR: Covenant Media Foundation, 1996), 170. 15. Ibid. 16. Untuk artikel-artikel pendahuluan tentang kehidupan dan pemikiran Augustine, lihat tulisan Kenneth Richard Samples, “Augustine of Hippo: From Pagan, to Cultist, to Skeptic, to Christian Sage,” poin 1, Facts for Faith no. 5 (Triwulan I, 2001): 36-41; Kenneth Richard Samples, “Augustine of Hippo: Rightly Dividing the Truth,” poin 2, Facts for Faith no. 6 (Triwulan II, 2001): 34-39. Artikel-artikel ini juga dapat diakses di internet di http://www.augustinefellowship.org 17. Augustine, Confessions, diterjemahkan R. S. PineCoffin (New York: Barnes & Noble, 1992), buku 7, bagian 5, 138-139. 18. Untuk pembahasan yang bermanfaat tentang pandangan Augustine tentang kejahatan, lihat buku Ed L. Miller, God and Reason: An Invitation to Philosophical Theology, edisi ke-2 (Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall, 1995), 163-170. 19. Augustine, The Enchiridion on Faith, Hope, and Love, bab 11, dalam Basic Writings of Saint Augustine, jilid 1, editor Whitney J. Oates (Grand Rapids: Baker, 1992). 20. Frame, Apologetics to the Glory of God, 155-156. 21. Augustine, Enchiridion, bab 11. 22. Ibid., bab 13. 23. Lihat Augustine through the Ages, edisi umum Allan D. Fitzgerald (Grand Rapids: Eerdmans, 1999), di bawah entri “Evil.” 24. Untuk pembahasan tentang natur paradok kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia, lihat buku Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids: Eerdmans, 1989), 5-10. 25. Untuk pembahasan yang bermanfaat tentang bagaimana kejahatan terkait dengan pemeliharaan Allah, lihat buku Wayne Grudem, Systematic Theology (Grand Rapids: Zondervan, 1994), 322-330.

CATATAN

372

26. Louis Berkhof, Summary of Christian Doctrine (Grand Rapids: Eerdmans, 1938), 46-47. 27. Bahnsen, Always Ready, 172. 28. Pertanyaan 1 dan Jawaban 1 dalam Westminster Shorter Catechism, sebagaimana dikutip dalam Reformed Confessions Harmonized, editor Joel R. Beeke dan Sinclair B. Ferguson (Grand Rapids: Baker, 1999), 3. 29. Kaum premilenialis percaya bahwa kejahatan akhirnya akan dihapuskan setelah seribu tahun Kristus berada di dunia. Untuk interpretasi amilienial (lawan dari premilenial) tentang peristiwa-peristiwa eskatologis, lihat buku Anthony A. Hoekema, The Bible and the Future (Grand Rapids: Eerdmans, 1979). Untuk interpretasi premilenial, lihat buku George Eldon Ladd, The Last Things: An Eschatology for Laymen (Grand Rapids: Eerdmans, 1978). 30. Augustine, Enchiridion, bab 11. 31. C. S. Lewis, The Problem of Pain (New York: Macmillan, 1962), 93. 32. Alister E. McGrath, Intellectuals Don’t Need God and Other Modern Myths (Grand Rapids: Zondervan, 1993), 104-105. Bab 20: Bagaimana Seorang Kristen Harus Mempersiapkan Diri untuk Memberikan Penjelasan tentang Iman? 1. John M. Frame, Apologetics to the Glory of God: An Introduction (Phillipsburg, NJ: Presbyterian and Reformed, 1994), 1-3. 2. Lihatlah karya Ronald H. Nash, Worldviews in Conflict (Grand Rapids: Zondervan, 1992), 16-33.

Kenneth Richard Samples melayani sebagai wakil presiden bidang Apologetika teologis dan filosofis di Reasons To Believe, sebuah organisasi nirlaba dan interdenominasi yang melakukan riset dan pengajaran tentang keselarasan antara penyataan Allah di dalam firman-Nya di Alkitab dan faktafakta di alam. Ia juga seorang pendiri sekaligus presiden dari Augustine Fellowship Study Center (AFSC), sebuah pusat pendidikan nirlaba untuk penelitian filosofis dan keagamaan, yang berlokasi di California bagian Selatan. Sebagai seorang pengajar dan pendidik yang berpengalaman, Kenneth telah mengajarkan banyak pelajaran di bidang filsafat dan agama di beberapa college. Ia juga menjadi dosen untuk tingkat pendidikan magister di program kesenian di bidang Apologetika Kristen di Biola University, La Mirada, California. Ia mengajarkan mata pelajaran di bidang filsafat dan agama dalam program pendidikan untuk orang dewasa bagi para pekerja di Pacific Bell, Chrysler Corporation, General Motors, dan Ford Motor Company. Ia juga telah memberikan banyak ceramah dan mengajarkan banyak pelajaran di berbagai gereja lintas negara. Kenneth bekerja sebagai konsultan riset senior dan editor koresponden di Christian Research Institute (CRI) selama hampir tujuh tahun. Sementara itu, ia juga rutin menjadi penyiar pendamping dalam program radio yang terkenal Bible Answer Man. Ia juga menjadi pengasuh acara radio Perspective. Sebagai pembicara dan pedebat yang vokal, Kenneth telah muncul di banyak acara radio lintas negara, yang mencakup acara Religion On The Line, The White Horse Inn, Talk New York, dan Issues Etc. Ia telah berpartisipasi dalam perdebatan dan dialog mengenai banyak topik beragam yang berhubungan dengan apologetika Kristen, termasuk tentang eksistensi Allah. Kenneth menulis bersama dengan penulis lain untuk beberapa buku dan telah menerbitkan banyak artikel di Christianity Today, Christian Research Journal, dan Facts for Faith. Ia menjadi anggota dari American Philosophical Association, Evangelical Philosophical Society, Evangelical Theological Society, dan Evangelical Press Association. Ia meraih gelar sarjana di bidang filsafat dan ilmu sosial dan gelar magister di bidang penelitian teologis. Kini Kenneth tinggal di Caifornia bagian Selatan bersama istrinya, Joan, dan ketiga anaknya.