Data Loading...
Madania Rock Opera - Booklet Flipbook PDF
Madania Rock Opera - Booklet
123 Views
19 Downloads
FLIP PDF 20.84MB
07.00 PM
Kebenaran Sejati: Opera Membelah Lautan Di tengah hiruk pikuknya sosial media, aktifnya algoritma yang mulai mempengaruhi sikap manusia, dan mendangkalnya pemahaman masyarakat terhadap informasi yang diterima, sehingga pengungkapan kebenaran akan suatu fakta membutuhkan waktu yang cukup lama, Sekolah Madania menghadirkan sebuah kisah nyata yang diangkat dari perjuangan seorang Utusan Tuhan dalam mengajarkan kebenaran sejati kepada seorang penguasa diktator di zamannya dengan tajuk Madania Rock Opera Membelah Lautan. Madania Rock Opera Membelah Lautan merupakan sebuah karya seni opera yang otentik, yang lahir dari olah rasa, olah pikiran, dan olah karsa dari guru-guru Sekolah Madania serta terinspirasi dari penggalian pemahaman terhadap fakta sejarah dalam kitab suci. Opera ini murni hasil kreasi otentik dan unik karya guru, mulai dari penulisan naskah, penggubahan lagu, penyusunan dialog, dramatisasi, hingga koreografinya. Opera ini ditampilkan dan dihadirkan oleh murid-murid Secondary School Madania dengan proses latihan yang cukup panjang dan memerlukan komitmen yang tinggi, baik dari pemain maupun pelatihnya, ditengah pandemi yang masih tersisa. Proses dari latihan hingga pertunjukkan inilah yang merupakan proses unik dari sistem pendidikan karakter dan pengembangan intelektual serta pengasahan keterampilan yang dihadirkan Sekolah Madania untuk para muridnya. Opera yang mengangkat kisah tentang pergulatan dalam memperjuangkan kebenaran sejati yang ditampilkan melalui keteladanan Nabi Musa berhadapan dengan tokoh antagonis Firaun ini masih sangat relevan dengan kehidupan sosial kemasyarakatan saat ini. Kebenaran sejati adalah sebuah kenyataan yang pasti, yang dapat dengan mudah dikenali, dipahami, dan dicerap oleh setiap manusia melalui hati nuraninya. Rangkaian adegan opera menggambarkan bahwa awal mula dosa dan kejahatan seringkali bersumber dari pengingkaran individu manusia terhadap kebenaran sejati yang sebenarnya sudah ditangkap hati nuraninya. Sosok seorang Firaun merupakan personifikasi yang tegas terhadap individu yang sesat dan menyesatkan yang bersumber dari ego dan kepentingan pribadinya sendiri. Saat ego dan kepentingannya terusik karena dihadirkannya kebenaran sejati, ia mulai menyusun argumentasi untuk menyangkal kebenaran yang dibawa Nabi Musa dari Tuhan. Firaun gagal melihat dari sudut pandang betapa sayangnya Tuhan kepada semua manusia walau Firaun sendiri mengingkari kekuasaan Tuhan.
Saat argumentasi logis terbantahkan, Firaun pun kemudian merekayasa fakta, memanfaatkan komunikasi massa berupa pertandingan sihir yang menjadi sarana “sosial media” yang sangat efektif saat itu untuk mempengaruhi dan memanipulasi pemahaman publik. Usaha itupun berakhir dengan kegagalan, karena akal manusia tidak bisa didikte dengan sesuatu yang tidak logis. Walhasil, para penyihir yang ia bayar sangat mahal pun memilih berpihak kepada kebenaran, seberapapun risikonya. Dalam keputusasaannya, Firaun mengerahkan segala kekuatan yang ia miliki sebagai penguasa untuk memutarbalikkan fakta, menyebarkan berita bohong, menuduh Musa ingin mengacau dan merebut kuasa, melakukan intimidasi intelektual, kejiwaan hingga teror fisik. Namun perjuangan dalam menegakkan kebenaran sejatilah yang pada akhirnya menang. Dengan izin Tuhan, Nabi Musa dan orang beriman terbebasnya dari kezhaliman dan kejahatan yang sudah lama membelenggu kemerdekaan batin mereka dengan dukungan alam semesta. Hingga hari akhir dunia terkembang, kisah nyata Nabi Musa dan Firaun ini akan terus berulang, sebagaimana sejarah dunia pada umumnya. Bagi orang-orang yang pendek akal, terikat kepentingan keduniaan yang bersifat sesaat dan materialistis, mereka akan terus menutupi dan memanipulasi hati nuraninya mengikuti pola-pola perbuatan Firaun hingga ia akhirnya merugi. Adapun orang-orang yang bijak, mengikuti ilmu dengan nuraninya yang dibersihkan serta beramal mengikuti teladan Nabi Musa akan senantiasa beruntung, sepanjang zaman hingga kembali pada Tuhannya. Perlu digarisbawahi bahwa pada dasarnya manusia itu baik sebagaimana terwakili oleh diksi Human Kind. Harisko, Madania School Director
Kepekaan Historis: Membelah Lautan Aristoteles dalam bukunya yang berjudul Poetics, menyatakan bahwa plot (jalan cerita) adalah peniruan terhadap action (lakon). Saat naskah drama menjadi tontonan yang dipentaskan, maka terjadilah 'peniruan', baik secara khayali maupun secara jasmani terhadap jalan cerita drama tersebut. Lewat kepekaan historis, kita memiliki kepekaan tangkapan maksud dan makna dari lakon itu untuk kebaikan hidup kita. Drama ini mengangkat kisah perjuangan hebat Nabi Musa AS untuk sebuah kemerdekaan dan pembebasan jiwa dan raga. Musikal Rock Opera ini dimainkan oleh murid-murid yang telah melewati proses audisi kelas teater di Sekolah Madania. Sementara sebagai pengiring, musik dan lirik dibuat secara otentik oleh tim guru ACE (Arts and Culture Education) dengan mengambil inspirasi dari tafsiran dan pemahaman terhadap ayat ayat Al Qur'an, kemudian merangkumnya dan menyaripatikannya menjadi lirik lagu dan musik. Adapun pilihan tema musik Rock adalah hendak menegaskan Rock sebagai musik, Rock sebagai batu (keras), dan cerita semangat perjuangan Nabi Musa yang kuat dan tegar bagai batu. InsyaAllah Sekolah Madania adalah sekolah pertama di dunia yang mementaskan musikal Rock Opera 'Membelah Lautan' ini. Sebab bahan baku garapan, baik itu naskah, penyutradaraan, pemeran, musik, lirik, lagu, dan dramaturgi pertunjukan ini diproduksi langsung oleh civitas Madania. Semoga ini dapat menjadi salah satu kontribusi Madania untuk Indonesia dan dunia. Terima kasih.
Abdul Aziz Wahyudi Head of ESV Sekolah Madania Penulis Naskah “Membelah Lautan”
Madania, Sebuah Rumah untuk Bertumbuh Tiga pilar pendidikan bagi anak adalah rumah, sekolah dan lingkungan. Kita harus terlibat secara emosional dalam pertumbuhan jiwa anak. Sebagai orang tua, kami diberi amanah 3 anak perempuan yang memiliki kegembiraan dan semangat belajar begitu unik. Sekolah Madania adalah wahana bermain dan tempat anak menikmati sekaligus menerjemahkan pendidikan hingga siap menuju kehidupan nyata. Sekolah Madania menjadi Kawah Candradimuka bagi gejolak emosi yang tidak konstan bagi buah hati kami. Melalui olah raga, olah rasa dan olah jiwa, sekolah ini bisa mengakomodir kebutuhan tumbuh kembang mereka dengan seimbang. Pendidikan seni menghidupkan konsentrasi dan kemampuan berimajinasi. Mereka mengenal Tuhan, diri sendiri dan lingkungan, mengasah kepekaan sebagai manusia, sekaligus berbaur dengan berbagai latar belakang status sosial dan keyakinan. Kami merasakan hubungan yang sangat mesra dengan para pendidik di Sekolah Madania. Kebutuhan prestasi dalam olahraga, eksistensi murid, sangat diakomodir dengan seimbang dan apik. 15 tahun lamanya, kami selalu diberi kesempatan untuk terlibat langsung dalam kegiatan sekolah. Tapi, Madania Rock Opera, Membelah Lautan, memiliki keistimewaan tersendiri di hati. Anak-anak bermain seperti layaknya artis profesional. Menjadi pengalaman yang berdampak baik dalam kehidupan mereka. Para guru Madania selalu totalitas bergerak bersama di setiap pertunjukkan, ini bukti pelayanan prima. Salut! Hindari salah sangka kepada guru yang telah mengajar dan mendidik, dan janganlah tidak memuliakan perannya. Menjalin kemesraan antar pilar pendidikan, akan membuka jalan lapang bagi anak menuju kesuksesan. Sendirian memang bisa ‘berkata', tapi bersama-sama kita bisa 'bicara'. Sendirian bisa 'menikmati', tapi bersama-sama kita bisa 'merayakan'. Sendirian bisa 'tersenyum', tapi bersama kita bisa 'tertawa'. Itulah keindahan hubungan sebuah keluarga Madania. Kita tak berarti tanpa satu sama lain. Jadi, tetaplah kontak batin dan terhubung! Rock Opera, Shahnaz Haque dan Gilang Ramadhan.
Sinopsis Pada masa Mesir dipimpin oleh Firaun yang zalim, sombong, dan sewenang-wenang, lahirlah seorang bayi laki-laki dari Bani Israil, Musa. Kelahirannya tidaklah diharapkan karena pada masa itu Firaun memerintahkan untuk membinasakan dan membunuh bayi laki-laki keturunan Bani Israil yang lahir. Demi keselamatan Musa, sang ibu mencari tempat yang aman dari titah Firaun. Kemudian sang ibu menemukan cara untuk menyembunyikannya di dalam sebuah peti lalu disimpannya di sungai. Namun rencananya tersebut justru mengakibatkan peti yang berisi bayi Musa terbawa arus sungai hingga ke istana. Selanjutnya peti tersebut ditemukan oleh Asiyah, istri Firaun. Asiyah yang menginginkan memiliki seorang anak, mengambilnya untuk dirawat. Bayi Musa dibawanya ke hadapan Firaun untuk dijadikan anak mereka. Perjalanan Musa pun dimulai. Selama bertahun-tahun, Musa bersabar dalam menghadapi kekejaman Firaun, ayah angkatnya sendiri yang mengakui dirinya sebagai tuhan. Untuk menghindari kekejaman Firaun, Musa dan para pengikutnya meninggalkan Mesir menuju Syam. Akan tetapi Firaun semakin murka, dan bersama balatentaranya ia mengejar Musa. Ketika dikejar rombongan pasukan Firaun, Musa dan pengikutnya terhalang lautan yang luas. Sesaat rombongan Musa tidak dapat menyeberangi lautan tersebut. Saat itulah Musa mendapatkan wahyu sebagaimana tertuang dalam surat Asy-Syu’ara ayat 63, “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” Seketika lautan pun terbelah karena Musa memukulkan tongkatnya. Musa dan rombongannya dapat melanjutkan perjalanan melintasi lautan. Melihat rombongan Musa berhasil menyeberangi lautan yang terbelah, Firaun dan tentaranya menyusul. Namun nahas Firaun dan bala tentaranya justru tenggelam karena air laut kembali tertutup.
Bintang Tamu
Shahnaz Haque
Gilang Ramadhan
Aktor
Dafiq Ananda Fidzli sebagai Fir'aun
Laskar Minoru Matamahasin Lubis sebagai Penduduk
Zaina Allene Melindra sebagai Penduduk
Mieke Namira Haque Ramadhan sebagai Asiyah
Dewa Ayu Ratnadia Divyani sebagai Penduduk
Rana Nafisa sebagai Dayang
I Putu Agastya Perwira Arya sebagai Pengembara
Stephanie Regita Mayang Sari sebagai Dayang
Ranya Nashita Wibisono sebagai Dayang
Aktor
Putri Annora Saskirana sebagai Penduduk
Alana Cliantha Dissya sebagai Penduduk
Lanaya Puti Anma Adriansyah sebagai Dayang
Fitri Septiyanda sebagai Penduduk
Muhammad Yudhistira Zulkarnaien sebagai Penduduk
Revant Althan Pangredana sebagai Prajurit
Vauline Thalia Lampe sebagai Penduduk
Keisha Nur Aulia sebagai Dayang
Ima Rahmadhina sebagai Penduduk
Aktor
Devanka Dimas Kreshna Widyananto sebagai Ahli Nujum dan Penyihir
Reva Bilqis Callista sebagai Penduduk
Checi Angelique Victoria Elim sebagai Dayang
Ariban Hadi Zuhri Harahap sebagai Prajurit
Nabila Sagesta Putri sebagai Kakak Musa
Gadis Allysa Saputra sebagai Dayang
Kenji Levin Aryaguna Sutanto sebagai Prajurit
Rasyad Abrar Maulana sebagai Kakek dan Penduduk
Syafhira Riza A'Maimun sebagai Penduduk
Aktor
Quenby Putri Dentya Anugraha sebagai Dayang
Digita Ananseha Satrio sebagai Penduduk
Keyla Fayza Setiawan sebagai Dayang
Gracia Valerie Njoto Widjojo sebagai Penduduk
Arilla Bissell sebagai Penduduk
Joan Pradipta Andalusya sebagai Prajurit
Inayah Nur Rahmah sebagai Yukabad
Mutia Salwa Salsabila sebagai Penduduk
Raden Bagus Darrel Arkan Sucipto sebagai Prajurit
Aktor
Farsya Humaira Sulaeman sebagai Penduduk
Ataya Dzaki Rizqullah sebagai Hamman
Shakira Aisya Mirsyarianda sebagai Penduduk
Namira Ramadhanti Putri Anggoro sebagai Penduduk
Rayyan Abhinanda Prastha sebagai Prajurit
Muhammad Rakha Althaf sebagai Penasihat
Aliva Nibras Ramadhani sebagai Penduduk
Prakasa Giri sebagai Pemuda Israil dan Penyihir
Lambang Cinta Wijaya sebagai Ayah Musa dan Penyihir
Aktor
Dzikra Giga Uliya sebagai Penduduk
Zaydan Satriya Mahatma Samudera sebagai Prajurit
Danendra Aria Rizqi Wicaksono sebagai Pemuda Mesir
Elsyadiva Nur Husnadhani sebagai Penduduk
Rakha Keandre Mahardika sebagai Prajurit
Alisyach Ananda Anaya sebagai Prajurit
Aqila Razan Alvito sebagai Prajurit
Muhammad Bimo Balangga Al Ghifari sebagai Penduduk
Radita Valdine Novarie sebagai Pengembara
Paduan Suara
Tiara Kalea Hersada sebagai Choir
Keisha Ameera Hidayat sebagai Choir
Qiandeeva Mylesha Rivanda sebagai Choir
Nahdliya Khadija sebagai Choir
Philosophy Raja Bumi sebagai Choir
Muhammad Hafiz Fazli sebagai Choir
Nur Hygiea Maharani Adzani sebagai Choir
RIfqa Alula Sofyan sebagai Choir
Hana Raudhah Sahirah sebagai Choir
Paduan Suara
Alisya Nadhira Anaya sebagai Choir
Raisha Nashira Taqiya Zakaria sebagai Choir
Muhammad Ghazian Hindami sebagai Choir
Sabine Wahab sebagai Choir
Hanadya Kaila Khairunnisa Rasyadia sebagai Choir
Arinda Khansa Az-zahra sebagai Choir
Rasia Kayla Kaylani sebagai Choir
R. Agathyaluh Khumaira Rahadiyan sebagai Choir
Naira Shabrina sebagai Choir
Paduan Suara
Jaimie Wahab sebagai Choir
Athaya Luna Putri sebagai Choir
Aldira Ramadhani Soetjipto sebagai Choir
Art Exhibition Jossita Liyarita Efrizal Sania Kamila Az Zahra Arini Mayanfauni Kimi Anugrah Kahfi Valerie Erika Damarani Safura Dhia Syarafana Aulia Raushani Rabihah Faheem Andesya Rahmi Putri Utami Zeera Vaisya Gusman Kimiko Kirana Rely Agusta Diandra Ratulangie Ichwan Javeed Homayoon Esphand Kayla Nadindra Ariyanto Michael Arianno Chandrarieta Rifdah Azalia Hanania Kanaya Alifa Saraswati Sabrina Ayuridzka Aryanti Terra Mahira Sora Ariel Cahyadana
8M 8N 8M 9S 9S 9S 9M 9M 9L 10Y 10K 11K 11B 11B 8I 8I 10Y 8N 12I
Artistik Penulis Naskah & Sutradara Tim Kurasi Naskah
: :
Ketua Pelaksana Pelatih lakon dan Asisten Sutradara Penata Musik Recitative Aransemen dan Pemain Musik
: : : : :
Penata Artistik
:
Penata Gerak Tim Artistik Manajer Panggung Kru Panggung
: : : :
Koordinator Latihan
:
Abdul Aziz Wahyudi Harisko Abdullah Ahmad Nurhidayat Kornelius Anggivirgo Una Dairy Bajanullah Dessy Sophianty Una Dairy Bajanullah Aas Nurasa Tevia Peruviana Jadid Fitrado Dwi Rustanto Decky Setiawan Ramadhan Nurul Fadhillah Ari Priyatna Rizky Firmansyah Yanto Ahmad Haryadi Nida Nidiana T. Umi Kurniahati Budi Purwanto Astri Fitri Sulistiowati Sri Purwati Rahmawati Dewi
Tim Produksi Produser Ketua Pelaksana Asisten Produser/Sekretaris
: : :
Camera Person Humas & Publikasi
: :
Sponsorship
:
Dokumentasi
:
Kostum dan Make Up
:
Ninik Ni’matur Rahmaniah Kornelius Anggivirgo Anri Rachman Afaf Nur Aziizah Joko Santoso Tiyan Yusintani Ade Suryani Maya Puspita Sari Darul Agustiana Titin Indri Yastuti Nurmawati Selpia Despriyanti Marizka Luthfiah Nunik Prasetyaningtyas Yuyun Wachyuniah M. Miftahuddin Annisa Azzahra SAE. Lestari Lambertus Ratna Linggar Asfaningdyah Poppy Novianty Siti Rahmah Nur Silva Kurniawati Gusti Ayu Kade Sutini Cahayuni Fajaria
Tim Produksi Kostum dan Make Up
:
Siska Kartika Putri Irma Yaumi A. Nandya Rachma Nina Kartini Evi Sofiawati Dian Nurdiani Diana Vita Arumsari Tri Buana Novita Nenda Suwenda Rahayu Riska Megasari Riyanti Umadji Devi Surya Rishalia Kania Pratiwi Emilia Rossa Darul Agustiana Ma’rifah Ade Suryani Siti Intan Karina Irni Garnita Ismail Inke Wulandari Luthfiah
Tim Produksi Kesehatan
:
ICT : Keamanan :
Kebersihan :
Peralatan dan Perlengkapan :
Ticketing :
Konsumsi :
Transportasi :
Doorman :
Lusy Suciaty Asep Mahdi dan Tim Satgas Taufan Warmana Putera Yusuf Taufik Sulaeman Imam Tantowi Sri Gustini Syarifuddin Saman Sulaeman Marsan Muhammad Ja’far Shodiq Muharizal Doni Irawan M. Najib Tim Maintenance Dita Juwita Zuraida Indri Annisa Lisa Budi Rahayu Kartika Asril D. Luthfia Diana Vita Nur Baity Masri Anjar Supodo Kornelius Anggivirgo Zaenal Abidin
Repertoir
Lagu 1
berdasarkan An Naziyat: 21-24 (Lirik puisi oleh Adam H, komposisi musik oleh Dessy S)
Titah telah menjadi arah Perahu melaju deras pada arus langkah laju air tinggalkan pelukan, bernama ibu
Desir pasir pun kabur ke tepian Bulir sungai Nil yang pupus Wajah-wajah besi terarah Yang t’lah lupa jalan pulang
“Akulah Tuhanmu yang paling tinggi” Tapi Musa dialirkan tetap air tetap alir
Lagu 2
Kekejaman Manusia (Lirik puisi oleh Adam H, komposisi musik oleh Dessy S)
Gumam dan bisik-bisik Udara mengabarkan ‘Tuk manusia dahaga peluk jubah mahkota Hinggap di pundak Sinai Mengayunkan kelewang Di selatan piramid Di ujung tepi langit Udara pun meraba Pada daun tergantung Kurangkul pinggir nisan Jelajah di Al Uqsur
Lagu 3
berdasarkan Al Qashash: 7 (Lirik puisi oleh Sadrah Prihatin, komposisi musik oleh Dessy S)
Pilu bisikan lembut di telingaku Lepaskan ia, alirkan ia Tanganku terlampau erat Hatiku terlalu lekat
Sesak bisikan kembali sayup Jangan bersedih, jangan berduka Takkan sia-sia luka Dia kan kembali Dia kan tiba Menjelma cahaya
Lagu 4
berdasarkan Al Qashash: 15 (Lirik puisi oleh Adam H, komposisi musik oleh Dessy S)
Kulepas fajar yang baru saja berlabuh pada guguran subuh Titik titik lampu memudar dan menjauh Ikuti kabut yang pupus
Cinta t’lah menitipkan maknanya Menjelma ampun bersama embun
Beribu langkah yang dituju pada pelarian tak terbilang
Ada yang payah, enyah, punah, dan yang pulang dalam satu genggaman
Wajah dengan mata matang tangan mengepal Duka dan juga murka Dua kaki menghujam tanah ladang kurma Ampunku Tuhan Ampunku Tuhan
Lagu 5
berdasarkan Al Qashash: 18 (Lirik puisi oleh Anri Rachman, komposisi musik oleh Dessy S)
Wahai umatku nan sesat Segeralah kau bertobat Agar kelak selamat Dunia dan akhirat
Lagu 6
berdasarkan Al A’Raf: 104-105 Lirik puisi oleh Sadrah Prihatin, komposisi musik oleh Abdul Aziz W
Bukan untuk bertarung aku datang Tenangkanlah kembali pasukanmu Gema kemenangan perang tak berimbang Gaungnya hanya sampai ke dinding-dinding
Tak guna mengekang orang yang tak berkaki
Pedang tajam bukanlah untuk melawan musuh
Tak berpedang dan tak berpasukan
Ku datang buatmu untuk tunduk kepada kekuatan yang menaungiku Ku datang untuk membawa kuasamu Kembali ke tanah yang dijanjikan
Lagu 7
berdasarkan Al A’Raf: 115 (Lirik puisi oleh Anri Rachman, komposisi musik oleh Dessy S)
Tiada sihir melainkan kehendakNya Tiada lahir melainkan perintahNya Tiada alir melainkan petunjukNya Tiada akhir melainkan milikNya
Aku hanya berserah diri padaMu
Tiada yang lebih besar dari mulut Penyihir yang t’lah sesat juga hasut Tiada yang lebih kencang mengikat Janji Allah pada seluruh umat
Lagu 8
"Nurani Tak bisa Dibohongi" (Lirik dan komposisi musik oleh Una Dairy B)
Bagaimanapun manusia Mempunyai hati nurani Walaupun tersesat hidupnya Ia pasti akan kembali
Sekuat apapun Raja Firaun Ia tak kan mampu menguasai Nurani adalah fitrah manusia Bersih jujur tak bisa dibohongi
Lagu 9
berdasarkan As-Syuara:61-63 (Lirik puisi oleh Anri Rachman, komposisi musik oleh Una Dairy B)
Tak mungkin hamba Meninggalkan mereka Berada di tengah Kegundahan zaman Tak mungkin hamba Membiarkan mereka Tenggelam di dasar Kebimbangan iman Atas izinMu Lautan terbelah Atas petunjukMu Kami dapat melangkah Alhamdulillah Alhamdulillah Ombak pun bersujud bersyukur dan turut menyambut Kembali kami Menuju rumahMu yang selalu dinanti
kisah Membelah Lautan (Ragam Perspektif)
Resensi Highlight: kisah Membelah Lautan dari guru-guru agama
Firaun lambang kebatilan, ketidakadilan dan kezaliman, sementara Nabi Musa lambang keadilan, kebenaran dan kejujuran. Dalam kehidupan, akan terus ada “Firaun-Firaun” berikutnya, demikian juga akan selalu ada “Musa-Musa” selanjutnya. Melalui Rock Opera Madania Membelah Lautan, semoga kita menyadari hakikat hidup ini adalah pergumulan antara nilai-nilai baik dengan nilai-nilai buruk. Selamanya kebenaran akan selalu menang melawan kezaliman dan ketidakadilan. Semoga kita dapat mengambil peran sebagai “Musa-Musa” berikutnya. (Ahmad Nurhidayat, Guru PAI Sekolah Madania)
—--------------------------------------------------------------------------------------------Opera yang dimainkan oleh para siswa Madania ini menggambarkan bahwa keberanian yang digambarkan melalui Musa merupakan sifat yang harus dimiliki setiap manusia. Hanya dengan keberanian atas nama Allah SWT-lah manusia bisa mengalahkan kezaliman, kemunkaran dan kebathilan (Firaun). Hanya dengan sifat Syaja’ahlah manusia dapat memanusiakan manusia. (Abdullah, Guru PAI Sekolah Madania)
----------------------------------------------------------------------------------------------Terbelahnya Lautan Teberau menjadi bukti dari kuat kuasa Tuhan dan menjadi permulaan suatu kehidupan yang baru bagi bangsa Israel. Bangsa Israel yang terlepas dari bangsa Mesir mendapatkan kemerdekaannya dan terlepas dari perbudakan bangsa Mesir. Peristiwa ini menjadi sebuah lambang persekutuan antara Allah dan bangsa Israel. Tuhan percayakan kepada Musa untuk membawa bangsa Israel menuju tanah perjanjian. (Hans Pranedya Pratama, Guru Kristen Sekolah Madania)
Resensi Highlight: kisah Membelah Lautan dari guru-guru agama
Musa adalah utusan Tuhan untuk membebaskan Bangsa Israel dari penindasan Bangsa Mesir. Dengan kepercayaan akan penyertaan Tuhan dalam hidupnya ia mampu membelah laut agar Bangsa Israel terbebas dari pengejaran Bangsa Mesir. Intensitas komunikasi Musa dengan Tuhan menjadi pembelajaran bagi kita untuk selalu diberi kepercayaan dan kekuatan dalam mengemban tugas di dunia ini demi kelangsungan hidup secara pribadi dan bersama orang lain. Semangat selalu untuk meneladani tokoh Musa yang luar biasa hebat. (Valentina Warni, Guru Katolik Sekolah Madania)
----------------------------------------------------------------------------------------------Setelah putra sulungnya mati, di tulah yang ke-10, Firaun memerintahkan Musa dan semua orang Israel agar angkat kaki dari Mesir. Mereka langsung mengorganisasi Eksodus untuk meninggalkan Mesir. Tetapi, Firaun berubah pikiran. Ia mengejar mereka dengan bala tentara dan kereta perang. Orang Israel tampak terperangkap di tepi Laut Merah. Yehuwa membelah Laut Merah sehingga bangsa Israel dapat menyeberang di dasar laut yang sudah kering, di antara dinding-dinding air! Sewaktu orang Mesir bergegas menyusul mereka, Allah membiarkan air itu menghempas dan menenggelamkan Firaun serta bala tentaranya. (Iwan Soetarman, Guru Agama Saksi Saksi Yehuwa Sekolah Madania)
Resensi Highlight: kisah Membelah Lautan dari guru-guru agama
Drama ini membuktikan bahwa kebatilan akan selalu kalah dari kebajikan, laksana Sri Kirsna mampu mengatasi kekejaman dari Raja Kamsa dan membebaskan umat manusia dari kekejaman Raja Kamsa. Pada akhirnya Dharma akan selalu mengalahkan Adharma. Jangan pernah berbuat jahat karena akan selalu muncul kepermukaan. Selalulah berpikir, berkata dan berbuatlah yang benar. (Gusti Ayu Kade Sutini, Guru Agama Hindu Sekolah Madania)
—-------------------------------------------------------------------------------------------------Kejahatan yang dilakukan oleh Raja Firaun dalam kisah Membelah Lautan dilihat dari perspektif agama Buddha dapat diumpakan seperti Syair Kitab Suci Tripitaka bagian Dhammapada ayat 125. Jika dikorelasikan dengan kisah Musa syair tersebut memiliki pesan bahwa kejahatan dilakukan terhadap orang lain, apalagi terhadap orang besar seperti Nabi Musa yang diceritakan dalam kisah ini, maka niscaya kejahatan yang dilakukan oleh si pelaku akan berbalik mengenai dirinya sendiri. (Dicky Gunawan, Guru Agama Buddha Sekolah Madania)
Ucapan Terimakasih kepada
Tuhan YME Yayasan Pendidikan Madania Indonesia Direktur Sekolah, Harisko, S.Ag., M.M. Kepala SMP Madania, Ahmad Gunawan Kepala SD Madania, Dessy Sophianty Guru dan karyawan Sekolah Madania Seluruh Orang tua siswa Sekolah Madania Seluruh siswa Sekolah Madania Para sponsor
Sponsored by: