Data Loading...

Modul 2.3.a.9 Konkesi Antar Materi Coaching Flipbook PDF

Modul 2.3.a.9 Konkesi Antar Materi Coaching


140 Views
40 Downloads
FLIP PDF 1.09MB

DOWNLOAD FLIP

REPORT DMCA

2.3.a.9.Koneksi Antar Materi

Coaching

Siti Sariah Kartini, S. Pd-CGP Angkatan 4 Kota Bandung

Apa itu Coaching ?

Coaching merupakan proses kolaborasi yang fokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri dan pertumbuhan pribadi dari sang coachee. Coaching merupakan salah satu metode yang efektif untuk diterapkan dalam bidang pendidikan yang prosesnya berpusat pada siswa. Dengan metode ini, pendidik dapat mendorong peserta didik untuk menerapkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kreatif. Dalam coaching ada proses menuntun yang dilakukan guru sebagai coach kepada murid sebagai coachee untuk menenemukan kekuatan kodrat dan potensinya untuk bisa hidup sesuai tuntutan alam dan zaman. Pemaparan diatas sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara, yaitu a proses menuntun yang dilakukan guru untuk mengubah prilaku murid sehingga dapat hidup sesuai kodratnya baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat.

Coaching dalam pembelajaran memiliki peran yang sangat penting karena dapat digunakan untuk menggali potensi murid sekaligus mengembangkannya dengan berbagai strategi yang disepakati bersama. Jika proses coaching berhasil dengan baik, masalah-masalah pembelajaran atau masalah eksternal yang mengganggu proses pembelajaran dan dapat menurunkan potensi murid akan dapat diatasi. Peran Guru sebagai coaching hendaknya tidak mengajarkan atau menginstruksikan sesuatu, tidak juga memberikan saran atau solusi secara langsung. Guru membantu peserta untuk belajar dan bertumbuh. Bagaimana caranya? Yaitu dengan mengajukan pertanyaan. Tentu saja bukan sembarang pertanyaan. Namun pertanyaanpertanyaan yang dapat memicu kesadaran diri dan memprovokasi tindakan kreatif, menciptakan suasana nyaman dan rasa percaya untuk memberikan kebebasan dan kemerdekaan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk menjadi murid kuat secara kodrati, dengan demikian diharapkan guru dapat menuntun peserta didik untuk menemukan solusi di setiap permasalahan dan meraih prestasi terbaik dengan kekuatan yang dimilikinya.

Penerapan Coaching Model TIRTA dalam Pendidikan Coaching model TIRTa adalah proses coaching yang menerapkan langkahlangkah sebagai berikut, (T) tujuan, (I) identifikasi masalah, (R) rencana Aksi, dan (Ta) Tanggung jawab. Tirta sendiri memiliki arti ‘Air”. Proses coaching model TIRTa dilakukan mengalir seperti air sehingga coachee bisa mendapatkan penyelesaian masalahnya dari pemikirannya sendiri, tugas coach hanya menuntun sehingga coachee bisa menemukan potensi dari dalam dirinya. Seorang coach menuntun dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif, yaitu pertanyaan yang sifatnya terbuka dan mampu memancing coachee untuk terbuka dan menyampaikan semua yang ada dalam pemikirannya

Tahapan Coaching model TIRTa : Tujuan Umum (Tahap awal dimana kedua pihak coach dan coachee menyepakati tujuan pembicaraan yang akan berlangsung. Idealnya tujuan ini datang dari coachee) Identifikasi (Coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi) Rencana Aksi (Pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat) TAnggungjawab (Membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya)

K

Konektivitas Coaching dengan Pembelajaran Berdiferensiasi dan Sosial Emosional

Sistem Among yang dianut Ki Hajar Dewantara menjadikan guru dalam perannya bukan satu-satunya sumber pengetahuan melainkan sebagai mitra peserta didik untuk melejitkan kodrat dan irodat yang mereka miliki, apa yang dilakukan?, salah satunya adalah mengintegrasikan pembelajaran berdifrensiasi kedalam pembelajaran, dimana pembelajaran harus disesuaikan dengan minat, profil dan kesiapan belajar, sehingga pembelajaran dapat mengakomodir kebutuhan individu peserta didik, dalam hal ini “KHD mengibaratkan bahwa guru adalah petani, dan peserta didik adalah tanaman dan setiap individu peserta didik adalah tanaman yang berbeda, jika tanaman padi membutuhkan banyak air, tentu akan berbeda perlakuan terhadap tanaman jagung yang justeru membutuhkan tempat yang kering untuk tumbuh dengan baik”. Selain itu pendekatan Sosial dan Emosional dalam praktek coaching juga sangat diperlukan, Melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan guru, peserta didik akan menemukan kedewasaan dalam proses berfikir melalui kesadaran dan pengelolaan diri, sadar akan kekuatan dan kelemahan yang dimilkinya, mengambil prespektif dari berbagai sudut pandang sehingga sesuatu yang menjadi keputusannya telah didasarkan pada pertimbangan etika, norma sosial dan keselamatan.

SEKIAN DAN TERIMAKSIH