Data Loading...

Quid Pro Quo Flipbook PDF

Quid Pro Quo


115 Views
6 Downloads
FLIP PDF 454.55KB

DOWNLOAD FLIP

REPORT DMCA

. M P

M O R P  

Phan Days FicFest Y B

S T R A T S

0 3 : 6

7

T A

N E P O

  . M P

S R O O D

F A N F I C T I O N

F E S T I V A L

1 0 0 0 2 6

J a n u a r i

D A Y S 2 0 1 9

O F -

F O R

C E L E B R A T I N G

M E W G U L F

2 1

O k t o b e r

@ p h a n d a y s f i c f e s t

2 0 2 1

d a n

0 3 : 6

p e n d e r i t a a n

Y B

A r a h

G u f r a I b u

y a n g

p u n y a

m e r e k a d i p i l i h

y a n g

t u j u a n

d i p a k s a

b e r t o l a k

t e t a p

a k h i r ,

m e n j a d i

b e l a k a n g ,

k e m a t i a n

B o s

m e l u n a s i j a l a n g .

n a m u n

B a r a .

S R O O D

  . M P

7

T A

N E P O

u j u n g n y a

s a t u

S T R A T S

. M P

M a n n a

M O R P  

Quid Pro Quo

T a g ( s ) : f l u f f , s e v e r a l

r o m a n c e , o n e

s h o t s ,

v i o l e n c e , t o

b e

m a f i a ,

c o n t i n u e d ,

( p o s s i b l e )

g o r e .

s u b s t a n c e

a b u s e ,

( p o s s i b l e )

a c t i o n ,

Chapter 1 Beruang Besar Yang Terjerat Mannan kecil merasa bosan. Sudah 5 hari Mami pergi dan ia tidak tahu kapan Mami akan pulang lagi. Sebelum pergi, sambil mencium pipinya, dahinya, juga mencium ubun-ubun kepalanya, Mami berbisik agar Mannan selalu bersikap baik, tidak menyusahkan Ummi dan yang paling penting Mannan tidak boleh sakit. “Mannan jangan sampai sakit ya, tahan sakitnya sampai Mami pulang, biar Mami bisa peluk Mannan nanti” Mami berpesan sambil membelai rambutnya, Mannan dan Mami saat ini berbaring di atas kasur sempit di kamar berukuran 3x3 meter. Kamar gelap dan panas ini sudah menjadi rumah mereka selama 4 tahun belakangan setelah mereka diusir paksa dari rumah asli mereka. “Kalau Mannan boleh ikut Mami, Mannan janji nggak akan sakit di sana”

1

Bibir Mannan kecil maju tiga sentimeter. Tanda ia sedang merajuk “Mannan lebih aman tunggu Mami di sini ya. Mami janji, nanti Mami pasti pulang lagi”

“.....nanti Mami pasti pulang lagi”

satu bulan…... dua bulan…... empat bulan…… dua belas bulan …. ternyata Mami tidak pernah pulang lagi

Gufra terkesiap, ia mendadak terbangun dari tidur lelapnya karena merasakan guncangan kecil di sisi kanan spring bed tua yang ia

2

tiduri saat ini di kamar apartemennya. Suara nafas yang semakin cepat dan tersengal-sengal samar-samar mulai menembus kabut kantuk Gufra. Seketika otaknya menjadi sigap, di asrama ia sudah terbiasa dengan

latihan bangun

mendadak dan langsung

melakukan perintah seniornya. Kak Man?? Gufra bangun dan membalikkan badannya ke arah Mannan yang tampaknya masih terlelap namun sedang diganggu mimpi tidak enak. Badan Mannan gemetar dan nafasnya pendek-pendek. Dahinya nampak basah oleh keringat. “Kakk...bangun” “Kak Mann...” Gufra memanggil sambil menepuk pipi Mannan pelan “Mami, kenapa Mami pulangnya kayak gini Mami! Mami bohong sama Mannan”

3

Pemuda berkulit pucat dan berambut hitam berantakan itu sekarang mulai meracau panik “Mannan mau ikut Mami, Mami harusnya ajak Mannan!” Ini bukan pertama kali Gufra mendengar mimpi buruk Kak Man, mimpi sial itu tidak pernah benar-benar pergi dari alam bawah sadar

Kak

Man,

sekuat

apapun

Gufra

berusaha

untuk

mengusirnya. “Kak Man, bangun, Kakak lagi sama Gufra sekarang..Kak!” Gufra

sekarang

mulai

mengguncang

pundak

Mannan

sekencang-kencangnya. Ia ingin Kak Man kembali ke realita yang lebih aman, ia ingin Kak Man kembali ke dunia mereka berdua. Mannan akhirnya membuka matanya, nafasnya masih terdengar berat

dan terengah-engah, pandangannya kosong menatap

langit-langit ruangan yang sudah ditinggali mereka berdua satu tahun terakhir. Berbeda dengan kamar 3x2 meter yang muncul di dalam mimpinya barusan, ruangan apartemen ini lebih luas, lebih

4

hangat, dan lebih nyaman. Ia menoleh dan indra penglihatannya bertemu dengan insan favoritnya. Gufra. Si pembawa kehangatan. Gufra kemudian perlahan berbaring, meringkuk dan meletakkan kepalanya di atas torso kokoh milik Mannan. Karena mereka berdua tidak mengenakan kaos, Gufra langsung bisa merasakan dingin dan lembabnya permukaan kulit Mannan. “Kakak kenapa? Ini jantungnya chaos banget detaknya, aku gak suka dengernya, sakit nggak Kak rasanya?” Yes Gufra it hurts physically. Pikir Mannan. But at least it is less painful for now, I guess? By having you here, by hugging you near. Mannan berusaha mengumpulkan serpihan pemikiran “positif” di kepalanya Gufra dengan sabar menunggu Mannan merespons pertanyaannya. Nampaknya Kak Man belum sepenuhnya keluar dari jerat pemikirannya sendiri. Gufra hanya menggerakan jempolnya

5

perlahan, mengusap kulit di atas rusuk Mannan dengan lembut. Berharap gestur kecil dan konstan ini bisa membantu Kak Man untuk perlahan memanjat keluar dinding labirin kenangan buruk di kepalanya. Gufra pernah membaca bahwa skin to skin contact juga bermanfaat orang dewasa, melepaskan oxytocin dan menenangkan debar jantung. “Don’t forget to breathe Kak… Kak Man jangan stress, Gufra nggak mau Kak Man sakit. Aku nggak punya IBL lagi sampai 3 bulan kedepan, aku gak bisa nemenin Kakak dulu untuk sementara.” “Kak..., tarik napasnya pelan-pelan please biar gak capek sendiri. Mau Gufra bantu hitung ya?” “Satuuu” “Satuuu” “Satuuu”

6

Setelah mendengar tiga kali angka “satu” Mannan mengernyitkan dahinya karena Gufra tidak kunjung berpindah ke angka dua. Ia kemudian mencubit pinggang Gufra. “Oww.. kenapa aku dicubit??” “Kenapa kamu satu melulu sih ngitungnya??” Mannan akhirnya terpancing. Gufra terkikik kecil, triknya berhasil memancing respons dari Kak Man. “Aku maju ke angka dua kalo kakak udah balik ke sini” Telunjuk Gufra menyentuh pelipis Mannan. “Halo.. halo… apakah Kak Mannan sudah kembali landing?” Celoteh Gufra dengan manja sambil memeluk Mannan dengan erat

7

Bibir Mannan tertarik sedikit ke samping membentuk senyum kecil. Gufra si beruang kecil memang adalah amuletnya. Perlahan ia menundukkan kepalanya agar bibir dan hidungnya bisa bertemu dengan pucuk kepala Gufra. “Dua” Mannan menyebut angka itu kemudian menarik nafas dan menghirup aroma rambut Gufra dalam-dalam. Guf’s scent is always better than any dose of Xanax.

8

Chapter 2 I Remember Every Bruises on You

Mannan mengaduk mie instan agar tercampur rata dengan bumbunya, aroma gurih ayam bawang dan micin menguar ke penjuru apartemen studio mungil itu. Gufra masih terlelap pulas, seolah ingin balas dendam kepada disiplin jadwal yang sehari-hari harus dia ikuti di asrama. Mannan sebenarnya tidak ingin membangunkan Gufra, namun indomie mana enak dimakan jika sudah dingin kan? Dengan membawa mangkuk ekstra panas itu, dia berjalan ke arah bed lalu meletakkan menu sarapan itu di atas nakas. Mannan memandang tubuh Gufra yang mengintip di balik selimut yang dipakai serampangan. Gufra masih berada di alam mimpi dan mulut Gufra sedikit terbuka, melongo membentuk huruf “O” kecil. Mata Gufra terbuka sedikit memperlihatkan segaris bagian putihnya. “My adorable small brown bear”

9

Bisiknya

sambil

senyum-senyum

sendiri,

tidak

kepada

siapa-siapa. Mannan murni sedang mengagumi keindahan Gufra saja. Perlahan Mannan mulai mengusap permukaan lengan Gufra yang tidak tertutup selimut, berniat membangunkannya dengan lembut. Ia menyadari ada satu bercak kehijauan di lengan atas. Tsk.. Mannan benci melihat memar di kulit hazelnut Gufra, eidetic memory yang dimilikinya akan langsung menyimpan imaji itu dan kemudian ia tidak dapat melupakannya seumur hidup. ((cup)) I hope I can kiss it better. Mannan tahu pendidikan dan profesi masa depan yang dipilih oleh Gufra hampir pasti akan sering meninggalkan luka di badannya. Tapi tetap saja ia benci, marah, setiap kali Gufra menemuinya dengan lebam baru di sana sini.

10

Dua tahun lalu, Mannan nyaris mengirim anak buahnya untuk melacak dan menghabisi 6 orang senior Gufra setelah ia memergoki bercak biru, kuning, dan hijau memenuhi dada, punggung, dan kaki Gufra. Mannan mendapati hasil perbuatan para bedebah itu saat ia bermalam dengan Gufra sesaat setelah Gufra mendapatkan izin pesiar

pertamanya.

Awalnya

Gufra

berusaha

menyembunyikannya, namun tentu saja Mannan tidak bisa dibohongi. Saat itu Mannan dan Gufta sudah hidup dan besar bersama selama 11 tahun. Mereka harus bergantung satu sama lain untuk sekedar bertahan hidup di kondisi yang sangat buruk. Mannan ingat di hari itu mereka bertengkar hebat. Mannan dan Gufra memang sama-sama keras kepala dan tidak mau mengalah. Bibit pertengkaran sebenarnya sudah dimulai tiga tahun lalu saat Gufra

kukuh dengan pendiriannya. Ia ingin melanjutkan

pendidikan untuk menjadi seorang polisi. Mannan sangat menentang hal tersebut, suatu saat bisa saja dirinya atau rekan bisnisnya akan mencelakai Gufra secara tidak sengaja.

11

00:06 PM Gufra menekan tombol lift hotel dengan mata yang sudah setengah tertutup. Setelah 1 tahun akhirnya ia bisa bermalam di luar asrama. Ia bisa tidur dengan 2 buah bantal di atas kasur yang empuk. Yang terpenting, ia tidak akan tidur sendirian malam ini. Gue Kangen tidur sambil dipeluk Kak Mannan. Ia membatin Saat Gufra memasukkan key card di power slot, ponselnya berdenting menandakan ada pesan masuk. Gufra mencibir kecil. Mannan akan terlambat datang. Rasanya dengan energinya yang sudah minim ia tidak akan sanggup menunggu sambil terjaga. Setelah melepas sepatu, Gufra langsung merebahkan dirinya di atas ranjang empuk hotel. Seluruh badannya yang terasa pegal seolah melebur menjadi satu dengan permukaan empuk di bawahnya. Rencananya ia akan rebahan sebentar, kemudian mandi dan berganti pakaian, namun saat matanya terpejam Gufra langsung terlelap.

12

00:39 AM Pria dengan perawakan ramping dan kulit pucat itu melangkah ke dalam kamar nomor 701 dan bergegas menghampiri sosok yang sedang tidur secara serampangan. Mannan menyadari Gufra bahkan belum melepaskan celana panjang dan jaketnya. Capek banget kamu ya? Mannan mendadak merasa bersalah karena sudah datang terlambat. Ia duduk di ranjang dan perlahan ia mengusak rambut Gufra yang masih terlelap, kemudian mencoba melepaskan jaket yang masih dipakai Gufra. “mmmm... Kak Man udah sampe?” Gufra melindur parau, ia merasakan lengan dan badannya digeser dan diangkat perlahan, jaket yang dipakainya perlahan dilepaskan. Gufra mulai merasakan dinginnya hembusan AC, sekarang hanya tshirt tanpa lengan saja yang melekat di badannya. SEBENTAR…. Gufra mendadak teringat sesuatu

13

AHH GUFRA BODOHH! Ia mengumpat kesal kepada dirinya sendiri Gufra bergegas bangun, ingin menarik selimut dari ujung ranjang untuk menutupi tubuhnya, namun upayanya sudah terlambat. Mannan nampak sedang menatap bagian atas lengannya sambil mengusap pelan bercak-bercak gelap yang ada di kulitnya. “Gufra.. ini apa..? kenapa lengan atas kamu banyak memarnya?” “Gufra…? Kamu denger Kakak nggak hmm?” Mannan kembali bertanya dengan nada gusar Gufra pun menyadari nada suara Manna yang mulai naik meskipun tetap lembut “Itu…. kakiku kan panjang dan suka belibet sendiri kalau lagi disuruh lari cepat-cepat di pelatihan fisik jadi aku banyak jatuh, kebentur dan memar deh! gapapa kok Kak”

14

I know I shouldn’t lie but I am too damn sleepy to talk right now. Gufra membatin kesal. “Peluk aku Kak, aku kangen pake banget nih” Gufra menjulurkan kedua tangannya dan mencoba tersenyum manja untuk meluluhkan mood yang mendadak menjadi tegang. “Kamu jatuhnya berapa kali sih? Ini kok banyak banget bekas memarnya?!” Mannan mengacuhkan gestur manja Gufra dan tetap meminta jawaban. Gufra sedikit lupa kalau Mannan bukan tipe yang gampang dialihkan pemikirannya “Besok boleh nggak kak kita ngobrolnya? Aku capek dan ngantuk banget. Mau tidur dulu sambil dipeluk Kakak… Please?”

“Kalau emang cuma karena jatuh, kan ceritanya nggak akan panjang Guf. Kakak cuma tanya berapa kali jatuh aja. Atau sebenernya ini bukan karena jatuh kan?”

15

Mannan bertanya tajam. Ia memang punya daya analisis yang tinggi meskipun selama ini kemampuannya kebanyakan dipakai untuk hal-hal yang kurang etis. SHIT. “Ka Man kok jadi interogasi aku begini? Yang lagi kuliah jadi polisi itu kan aku Kaakk..Bukan Kakak loh” Gufra masih berusaha menggunakan jurus manjanya untuk menghentikan pembicaraan ini. Sepertinya gue harus ganti strategi? Gufra segera memutar otak untuk mencari trik pengalihan lain Gufra menggeser posisi duduknya agar semakin mendekati Mannan. Lalu ia mulai menyodorkan kepalanya ke arah leher Mannan. “Kak Man gak mau usap kepala aku..” cicit Gufra

16

Mannan bergeming, wajahnya masih menunjukkan mimik tidak puas “Masa Kak Man nggak kangen sama sekali? Kita terakhir ketemu tahun lalu dan itu pun kita berantem kan?” Suara Gufra mengecil, sesungguhnya ia masih menyesal kenapa mereka sampai bisa berpisah dengan kondisi saling marah satu sama lain. “Gufra..” Mannan mendadak memanggil namanya sambil menarik tubuh Gufra mendekat dan merengkuhnya. Gufra merasakan lengan Mannan yang semakin erat memeluk badannya. “Seandainya Mami dan Umi masih ada, mereka pasti marah juga kayak aku sekarang Guf, malah bisa lebih marah dari aku..”

17

Manna berbicara pelan, bibirnya berjarak 2 cm saja dari daun telinga Gufra. Gufra bisa merasakan hembusan nafas Mannan yang terasa hangat. “Dan aku pasti kena marah juga karena udah gagal jagain kamu”. Mannan melanjutkan kalimatnya “Ngapain Kak Man jagain aku? Aku bukan anak TK yang lagi belajar naik sepeda roda dua” Gufra masih berusaha bercanda, ia benar-benar tidak siap saat Kak Mannan mulai menyebut-nyebut Umi dan Mami. Matanya mendadak terasa panas. “Anak TK yang jatuh dari sepeda setidaknya akan belajar sesuatu dari luka-lukanya. Kamu gak dapet pelajaran apapun dari luka-luka ini” Mannan menanggapi bantahan Gufra dengan tenang tapi tegas. Ia merasakan ada cairan hangat yang menyentuh pundaknya. Perlahan ia mulai mengelus punggung Gufra sambil tetap memeluknya.

18

“Ada lah manfaat buat aku! Buat kita! Aku akan selangkah lebih dekat dengan orang-orang yang ambil Umi dan Mami dari kita. Kak Man lupa sama janji kita?!” Mannan melepaskan lengannya dan kemudian membuat jarak kecil antara ia dan Gufra, ia menyentuh lembut dagu Gufra, mendongakkan wajah Gufra sampai kedua mata mereka bertemu. “Guf… kamu juga perlu ingat, kita juga janji akan tetap hidup, nggak boleh nyusul Umi dan Mami cepet-cepet. Kita berdua harus bertahan” Gufra mendorong Mannan menjauh, menepis tangan Mannan dan melanjutkan argumennya “Bullshit. Kak Man ikut jadi member sindikat dari umur 16 tahun aja itu namanya cari mati. jadi Kakak gak usah nasihatin aku untuk hati-hati, to save myself, untuk terus berniat hidup. Don't... be...a hypocrite!”

19

Gufra sadar ucapannya mungkin terlalu pahit dan jahat. Ia harus menghentikan perdebatan ini sebelum bertambah parah. Gufra menjatuhkan tubuhnya kembali di atas kasur. memunggungi Mannan, dan menutup matanya. Menghela napas yang panjang. Mannan hanya terdiam melihat Gufra sedikit meledak. Ia sadar ia tidak bisa ikut emosi atau pertengkaran ini akan semakin besar. Ia ikut merebahkan diri di sebelah Gufra, membalik badannya ke arah punggung Gufra dan kembali memeluknya “Guf…. kamu pernah mikir kalau kita berdua itu aneh nggak?” Mannan bertanya lembut kepada Gufra, ia ingin meredakan amarah Gufra yang tadi sempat memuncak. “Kak Man, kita berdua ketemu dan besar di lokalisasi karena ibu kita dipaksa jadi pelacur. Sekarang aku calon polisi dan Kakak bisa dibilang akan jadi bos sindikat kriminal. Kita berdua laki-laki, dan sekarang kita lagi cuddling bareng di hotel tengah malam. Menurut Kak Man aja lah gimana?? Aneh gak?”

20

Gufra merepet panjang karena ia sudah sangat kesal dengan Mannan dan pertanyaan abstraknya. Memang Kak Man kadang suka bertingkah seperti filsuf saja! Mannan hanya tergelak kecil mendengarnya “Maksudku... kamu ngerasa aneh nggak kelonan sama aku yang selama ini kamu anggap kakak dari kecil? Karena menurutku sih, soal

dua

laki-laki yang cuddling di kamar hotel mah

normal-normal aja.” Gufra merasakan wajahnya memanas mendengar bagian terakhir dari perkataan Mannan. “Umm…. rasanya nyaman-nyaman aja, semua capek aku... terasa hilang kalo dipeluk Kak Man kayak gini” Gufra mencoba menjawab sambil mengendalikan kegugupannya “What if I kiss you? Would that be awkward?” "Hah??”

21

Gufra

melepaskan

dirinya

dari

lengan

Mannan

yang

mengelilinginya lalu kembali duduk untuk memelototi Mannan yang tanpa canggung menatapnya balik. “Kakak sempet-sempetnya ngeprank jam segini?!" “Aku enggak bercanda Gufra… jadi… boleh?” “Boleh apa??” Gufra tidak sedang berpura-pura bodoh memang sel abu-abu di kepalanya mendadak hang seperti ponsel dengan RAM 2gb “Ya itu. I wanna kiss you so bad” Mannan membalas dengan nada yang sangat santai “Kamu mabok ah Kak!” Gufra mendengus dan mengendus udara di sekitar mulut Mannan,

22

Kalau enggak salah Kak Mannan tadi nyampe sini jam setengah satu pagi. Pasti dia habis nongkrong di bar deh. Gerutu Gufra dalam hati “You know very well I am sober now. You KNOW first hand, Kakak kalo mabok gimana” Gufra semakin pusing karena Mannan terus bicara dengan nada yang sangat tenang. Terlalu tenang jadi Gufra tidak tahu apakah ini sebenarnya prank atau serius. “So… can I kiss you?” “Y… yes” “Can I kiss you hard?” “yes..”

23



24

Chapter 3 Little Angels Amongst Demons TW: Violence. Abuse. Sore itu dewa langit seolah sedang menguras tandon air di atas sana. Hujan tak kunjung berhenti sejak pagi. Bagi Mannan dan Gufra hujan adalah hiburan yang menyenangkan. Mereka tidak pernah punya kesempatan untuk pergi ke waterpark untuk bermain air seperti anak-anak lainnya sehingga hujan deras menjadi waterpark gratis mereka. Langkah-langkah kaki Gufra dan Manan berderap di jalanan becek membuat genangan air memercik acak seperti pertunjukkan air mancur mini. “Kak Man... coba tebak deh, tempat yang paling jarang hujan di bumi ini ada di mana?” Mannan tahu persis kenapa Gufra mendadak memberikan kuis kepadanya. Gufra ingin pamer soal pelajaran di sekolahnya.

25

“Di gurun Sahara?” Mannan menjawab asal sesuai logika sederhana saja, jarang hujan berarti sangat kering. Gurun tempat yang sangat kering “Salahhh, justru kebalikannya, tempat yang paling jarang hujan itu tempat yang dinginn banget! Antartika!” Mannan tergelak, tentunya ia senang Gufra tidak pernah ketinggalan dalam memahami materi pelajaran di sekolah, namun sedikit ada rasa kecewa juga karena dirinya tidak bisa ikut bersekolah bersama Gufra. Sejak ia kecil, Mannan tidak diijinkan memasuki sekolah formal oleh Bos Bara, entah mengapa dari semua anak pramunikmat, hanya Mannan yang sama sekali tidak dibolehkan untuk didaftarkan di sekolah manapun, bahkan sekedar mengikuti kelompok bermain yang dikelola oleh relawan sosial di kompleks lokalisasi tempat mereka tinggal.

26

Mami menjadi guru Mannan sejak kecil sampai sekarang. Di waktu senggang di antara jam kerjanya, Mami yang mengajari Mannan membaca, berhitung. Beruntung bagi Mannan, Gufra selalu meminjamkan semua buku cetak dan buku tulis miliknya yang dipenuhi oleh catatan tangan Gufra. Mannan akan mempelajarinya diam-diam di kala malam setelah Gufra selesai mengerjakan PR-nya Manna tersentak dari lamunannya saat Gufra menyiram wajahnya dengan segenggam air yang ia kumpulkan di kedua telapak tangannya. “Air

alami

supaya

muka

Kak

Man

semakin

segerrr

ahahahahah!!” Mannan merengut kesal, ia segera mengambil air berwarna cokelat dari kubangan terdekat dengan menggunakan gelas aqua plastik yang ia temukan lalu mengejar Gufra untuk membalas “Gufra jangan lari!! Air yang ini sudah ada ramuan khusus supaya kamu jadi lebih seger dari aku”

27

“EWWW NGGGAAKKK MAUUU KAK MANNAN JOROKK” Mereka terus berkejaran, berlari ke arah rumah pelesiran yang mereka tinggali, Mannan sudah hampir bisa memangkas jarak dengan Gufra namun kemudian Gufra berhenti mendadak. Mannan berusaha mengerem langkahnya supaya ia tidak menabrak Gufra. “Gufra awas!!” (bruk) Mannan terpeleset jalan yang licin sambil berpegangan ke pinggang Gufra menyebabkan mereka berdua jatuh terduduk di jalanan “Kamu kenapa sih kok malah bengong berdiri… sakit tauk! Gufra?” Mannan baru menyadari kenapa Gufra seolah membatu, di ujung penglihatan mereka nampak Mami dan Umi sedang dipukuli oleh

28

beberapa anak buah Bos Bara. Hidung Mami nampak sudah mengeluarkan darah sementara rambut Umi saat ini dijambak oleh laki-laki tinggi kurus berpakaian hitam-hitam sampai ia terseret paksa. Para lelaki bedebah itu terus berkali-kali menampar, meninju, dan menendang kedua perempuan yang semakin terpojok dan terhuyung di sudut belakang bangunan rumah bordil itu. Anehnya tidak ada teriakan yang terdengar sama sekali selain suara tangan dan kaki yang berkali-kali mendarat di tubuh ramping mereka. Bangsat!! Mannan secara refleks bangun dan ingin berlari menghampiri kedua ibu mereka namun ada yang mencengkeram pinggangnya dengan erat “Nanti Kak… nanti… inget apa yang dibilang Umi sama Mami, kita ga boleh ikutan kalau lagi begini nanti malah tambah parah dipukulnya”

29

Suara Gufra bergetar menahan tangis sambil memeluk Mannan dengan sangat erat dari belakang. Mannan mendengar isak kecil Gufra dan mencoba mengendalikan emosinya dan memutar kembali semua kata-kata dan pesan yang sering diulang-ulang oleh Mami dan Umi. Bertahan hidup adalah tujuan akhir mereka, namun bukan hidup yang sekedar terus bernafas, namun hidup untuk bertahan, agar bisa mencari celah untuk keluar dari neraka dunia ini. Lima menit terasa seperti lima abad, Mannan dan Gufran hanya bisa berusaha mematung, tidak bergerak maupun mengeluarkan suara, mereka tidak boleh terlihat. Gufra sudah menutup matanya sejak beberapa menit lalu, ia tidak sanggup melihat orang terkasihnya disakiti. Namun Mannan justru memilih untuk tidak berkedip, ia merekam semuanya di dalam kepalanya. Mengingat struktur wajah cecunguk Bos Bara yang berani menyentuh Ibunya. Mengingat berapa pukulan yang mereka layangkan. Mannan tidak pernah lupa. Mannan memang tidak bisa lupa.

30

Memeluk. Ya... hanya pelukan yang Mannan dan Gufra bisa berikan

kepada

dua malaikat

mereka di kamar pengap

masing-masing. Kamar yang sumpek, kumuh, namun setidaknya menjadi tempat aman dimana tidak ada monster yang mencoba menyakiti mereka. Umi saat ini mulai menangis lirih dan beristighfar sambil merengkuh Gufra di dadanya. Perlahan Gufra mulai mengikuti Umi melantunkan kata-kata suci. Ini adalah coping mechanism mereka berdua setiap kalinya. Sementara di kamar Mami dan Mannan, selinting hasyis sudah dibakar. Anggur murah sudah tertuang di dalam gelas. Mannan masih bisa mencium jejak aroma cologne murah dari anak buah Bos Bara yang tertinggal di pakaian Mami. Bau itu membuat perutnya mual. Namun Mannan berusaha tidak menghiraukannya. Ia harus terus memeluk erat Maminya yang sedang tidak di sini. “Mami… Mannan janji akan bunuh mereka semua, Mannan sudah hitung jumlah pukulan tadi. Nanti pasti Mannan akan balas sepuluh kali lipat”

31

“Mami please jangan diam aja… Mami jangan terbang lagi, Mami kasih tahu Mannan siapa saja yang berani sentuh Mami tadi, Mannan akan cari mereka, Mannan pasti temukan mereka nanti saat Mannan sudah bisa seperti Papi” Mannan mulai merasa sesak. Ia merasa dadanya seperti bergetar tidak karuan. Nafasnya mulai tersengguk-sengguk. Mendengar desis nafas Mannan, Mami akhirnya tersadar dari keadaan trance-nya, tangannya yang tadinya hanya terkulai mulai membelai kepala Mannan perlahan. “Mannan tidak perlu lakukan apa-apa. Yang penting kita bisa bebas dari sini dan hidup berdua. Gitu aja Mami sudah bahagia. Mannan jangan terlalu marah nanti dadanya sakit lagi. Mami minta maaf, gara-gara Mami, Mannan jadi sakit begini.”

32