Data Loading...

Soul Of Malang Flipbook PDF

Soul Of Malang Sebuah Perjalanan Sejarah & Budaya Malang


113 Views
43 Downloads
FLIP PDF 54.64MB

DOWNLOAD FLIP

REPORT DMCA

Soul of Malang

Sebuah perjalanan sejarah & budaya Malang

Tim Penulis

Kampoeng Malang

Dedicated to: My Husband Saiful Burhan My children Fani, Ferdi, Fitri, who always support me and all the young generation of Malang, cherish our heritage, culture, & history - Niniek Burhan-

Soul of Malang

Sebuah perjalanan sejarah & budaya Malang

Penyusun Tim Kampoeng Malang Penulis Niniek Burhan Surya Meygawati Desain & Fotografer Arudatu Rains Okky K. Bhaskara Editor Niniek Burhan Produser Kampoeng Malang

Prakata

Alhamdulillahirabbil’aalamin, segala puja dan puji syukur saya panjatkan

kepada Allah Yang Maha Penyayang atas terselesaikannya buku Soul of Malang. Saya merasa termotivasi untuk membuat sebuah buku yang memperkenalkan Malang mulai dari sejarahnya, budayanya, hingga potensi wisatanya.

Malang

merupakan

tempat

lahirnya

kerajaan

tertua

di

Jawa,

yakni

Kerajaan Kanjuruhan, kerajaan besar lainnya yang punya kerterkaitan dengan Malang

adalah

Majapahit

yang

memberikan

Malang

nilai

strategis,

juga

Kerajaan Singosari, yang lahir dan berpusat di Malang. Belum lagi pemerintahan kolonial Belanda yang juga menjadikan Malang sebagai salah satu kota strategis di Jawa. Kesemua itu menjadikan Malang menjadi sebuah kota dengan berjuta potensi sejarah pihak

dan

budaya.

untuk

Atas

membuat

dasar buku

itulah

saya

berkolaborasi

dengan

beberapa

yang

bisa

mengangkat

potensi

Malang.

Mulai dari budaya, wisata sejarah, heritage, kuliner dan wisata edukasinya supaya bisa lebih dikenal lagi dan berkembang.

Saya

pembaca budaya Kota

berharap dan

dan

Malang

agar

buku

menginspirasi

sejarah yang

Niniek Burhan

daerahnya bermartabat

ini

generasi sehingga dengan

dapat muda bisa

membawa untuk

bisa

bersama-sama

melestarikan

budaya

manfaat lebih

kepada mencintai

ikut

membangun

dan

sejarahnya.

Daftar Isi Prakata

4

Bab 1 - Topeng Malangan

8

Asal-Usul Topeng Malangan

9

Kisah Panji Asmorobangun - Dewi Sekartaji

15

Tokoh Utama Kisah Panji Asmorobangun & Dewi Sekartaji

23

Bab 2 - Kampung Bersejarah di Malang

29

Kampung di Malang 1. Kampung Polowijen (Panawijyan)

31

2. Kampung Karuman (Tlogomas)

32

3. Kampung Kajoetangan

35

4. Kawasan Idjen

40

5. Kampung Jodipan (Kampung Warna-Warni dan Tridi)

43

Bab 3 - Ken Angrok dan Ken Dedes

45

Ken Angrok Dibuang Ibunya

49

Ken Dedes dan Tunggul Ametung

51

Perjumpaan Ken Angrok dan Ken Dedes

53

Kematian Ken Angrok

54

Souvenir Topeng Malangan dari keramik produksi Kampung Keramik Dinoyo, Malang

Bab 1

Topeng Malangan Penulis Niniek Burhan Surya Meygawati Kontributor Peni Soeprapto Wawancara Handoyo Ki Soleh Nando Pasuta Devan Firmansyah Agung H. Buana Desain & Fotografer Arudatu Rains Okky K. Bhaskara Editor Niniek Burhan Produser Kampoeng Malang

Asal Mula Topeng Malangan

Membahas seputar Malang pastinya tidak bisa lepas

dari seni, tradisi, dan

budaya khas Malang yang terkenal dengan kuliner Bakso dan Cwi Mienya. Salah satu kebudayaan

Khas

Malang

yang

terkenal

yakni

tradisi

Topeng

Malangan

yang sudah legendaris.

Tradisi topeng di Malang

tidak langsung tiba-tiba muncul. Namun ada cerita

dan perjuangan untuk membuat topeng Malangan dijadikan hiburan, wayang, dan tari topeng berkarakter yang indah. Ingin tahu ceritanya? Berikut kita ulas sedikit tentang topeng

Malangan. Sejarah Topeng Malangan sendiri berkaitan dengan salah satu

kerajaan Raya,

tertua

dengan

di

Pulau

rajanya

yang

Jawa,

yakni

bernama

Kerajaan Gajayana,

Kanjuruhan yang

pada

di saat

Malang masa

pemerintahannya, kerajaan ini berada dimasa keemasan.

Ada pendapat yang menyebutkan topeng Malangan awal mulanya terinspirasi

dari kebudayaan India, yang kala itu pedagang-pedagangnya banyak berdagang keluar Negeri. India merupakan salah satu yang sering melakukan kontak dagang dengan

kerajaan

Kanjuruhan,

sehingga

tidak

heran

jika

akhirnya

bangsa

kerajaan Kanjuruhan memahami kebudayaan dan sastra India yang lalu menyadurnya menjadi pertunjukan topeng atau yang lebih dikenal wayang topeng. Ada juga pendapat lain menyatakan sebaliknya. Justru topeng Malangan memang sejak awal adalah memang merupakan hasil kreasi asli dari Malang, tanpa ada pengaruh dari luar. Pendapat yang lain ada lagi yang menyatakan kalau Topeng Malang merupakan hasil akulturasi budaya Cina yang dibawa oleh saudagar Cina dengan budaya lokal.

topeng Bapang koleksi Sanggar Asmorobangun



Berdasarkan

prasasti-prasasti

yang

telah

ditemukan,

dinyatakan

bahwa

pada

masa pemerintahan Raja Gajayana yang dimulai pada abad ke 8 Masehi, topeng sudah dikenal luas di Malang. Kala itu tari topeng menjadi media ritual para raja untuk memanggil roh leluhur. Kemudian pada masa Majapahit tari topeng (khususnya di Malang) menjadi tontonan yang menghibur bagi rakyat dan rajanya.

Yang semula hanya sebagai media spiritual, Topeng Malang berkembang menjadi

media

komunikasi

dan

hiburan.

Sebagai

media

hiburan,

cerita-cerita

yang

sering

dipentaskan adalah cerita pewayangan Hindu-Budha seperti kisah Ramayana dan Mahabarata. Pada

masa

pemerintahan

Raja

Erlangga,

kesenian

topeng

agar lebih mendekati kebudayaan lokal dan seni tari sehingga Alasan memasukan topeng dalam seni tari adalah untuk

diubah

dengan

tujuan

muncullah tari topeng.

mendukung kenyamanan penari

dan juga menutupi wajahnya yang tidak menggunakan riasan, karena saat itu memang susah untuk dilakukan. Jadi pada tari topeng yang sebenarnya, penarinya memakai makeup.

Topeng Malang, sebagaimana topeng dari daerah lain di Indonesia, bahkan di Jawa,

memiliki ciri khas tersendiri yang mencirikan Malang. Coraknya khas Malang, dibuat dari

pahatan

karakter

khas

kayu,

serta

penggambarkan

orang

Malang.

Ini

karakter

merupakan

tokohnya

salah

satu

juga

mencerminkan

keunikan

dari

topeng

Malang yang wajib untuk dilestarikan khususnya warga Malang sendiri. baik,

Terdapat banyak ragam karakter dalam Topeng Malangan, mulai dari karakter jahat, lucu,

melankolis,

feminim,

maskulin,

bahkan

karakter

yang

misterius

atau susah ditebak. Beberapa contoh dari tokoh dalam Topeng Malangan antara lain Dewi Sekartaji, yang menunjukan kelembutan dan kebaikan hati. Panji Asmoro Bangun yang melambangkan kebijaksanaan, Bapang yang menunjukkan karakter antagonis yang pemarah dan penuh tipu muslihat, Kelana yang merupakan tokoh antagonis yang ambisius, serta topeng Gunung Sari yang melambangkan kebaikan hati, cerdik, memiliki sifat kesatria, dan memiliki jiwa petualang.



Kisah yang sering diangkat pada pementasan tari Topeng Ma-

langan adalah kisah cinta Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji, yang tidak hanya romantis melebihi kisah Romeo and Juliet, namun juga heroik dan penuh petualangan.

Satu lagi yang sangat khas dari topeng Malang, selain semua

proses pembuatan berdasarkan pakem ada, masing-masing daerah di Malang serta masing-masing seniman topeng secara individual juga ciri khas sendiri. Jadi meski masih dalam satu garis merah “topeng Malang”, namun ada detail-detail khusus yang membedakan antara seniman satu dengan seniman lainnya di Malang.

Di samping itu, segala proses pembuatan topeng Malang

sampai saat ini masih dilakukan dengan cara tradisional dan dikerjakan secara manual dengan tangan.

Karena nilai historisnya dan proses pembuatannya yang unik,

kesenian

topeng

Malang

banyak

diminati

hingga

saat

ini.

Tidak hanya warga Malang sendiri yang menekuni, tapi juga banyak wisatawan luar daerah, bahkan wisatawan mancanegara yang tertarik untuk mempelajarinya. Pertunjukan tari Topeng Malangan sendiri

sering

ditampilkan

pada

kegiatan-kegiatan

besar

Pemerintahan. Dan tidak hanya di Indonesia, pertunjukan wayang dan tari topeng Malangan juga sudah mendunia.

Sanggar Asmorobangun

Topeng Malangan koleksi Sanggar Asmorobangun, Malang

Panji Asmorobangun & Dewi Sekartaji Kisah Cinta Legendaris dari Kerajaan Kediri & Jenggala

Kisah Cinta Panji Asmorobangun & Dewi Sekartaji

Membahas

dan

wayang

taji

Topeng

topeng.

merupakan

Malang,

Kisah

kisah

pastinya

asmara cinta

Panji

tidak

lepas

dari

Asmorobangun

legendaris

sering

dan

lakon Dewi

tari Sekar-

ditampilkan

dalam

kesenian topeng, khususnya topeng Malang.

Panji - Sekartaji sendiri, memiliki perjalanan cinta yang tidak kalah

romantis dari kisah cinta Romeo and Juliet yang ditulis oleh William Shakespear, yang

juga

penuh

dengan

intrik

dan

petualangan

epik

seperti

Ramayana.

Hebatnya lagi, kisah Panji – Sekartaji adalah sebuah legenda percintaan dari tanah Jawa.

Kisah Panji dan Sekartaji merupakan cerita dari Jawa periode klasik, tepatnya

dari era Kerajaan Kediri. Isinya adalah mengenai kepahlawanan dan cinta yang berpusat

pada

Raden

Inu

Kertapati

(atau

Panji

Asmorobangun)

dan

Dewi Sekartaji (atau Galuh Candrakirana). Cerita

ini

telah

mengalami

banyak

sekali

akulturasi,

bahkan

mempunyai banyak versi, serta telah menyebar di beberapa tempat di Nusantara, bahkan

sampai

ke

Negeri

Jiran

(tersebar

di

Jawa,

Bali,

Kalimantan,



Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Filipina). Beberapa cerita rakyat

seperti Keong Mas,

Ande-ande Lumut, dan Golek Kencana masih mempunyai

keterkaitan dengan cerita ini.

Cerita di dalam lakon Panji Asmorobangun berhubungan dengan tokoh

tokoh nyata dalam sejarah Jawa (terutama Jawa Timur). Tokoh Panji Asmorobangun dihubungkan dengan Sri Kamesywara, raja yang memerintah Jenggala sekitar tahun Sri

1180

Kirana,

hingga yang

1190-an.

merupakan

tokoh Candra Kirana.

Permaisuri

puteri

dari

raja

Kediri,

dan

ini

memiliki

nama

dihubungkan

dengan

poster film dokumenter “Walik ing Topeng - Dibalik Topeng”



Dalam

cerita

Panji

Asmorobangun,

tokoh

Inu

Kartapati

digambarkan

bak

Arjuna

yang tampan, seperti Bhatara Kamajaya, memiliki kesaktian dan selalu unggul dalam setiap pertarungan dan peperangan. Tidak berbeda dengan Arjuna, Inu Kartapati juga tampil sebagai tokoh kesatria yang menjadi pujaan wanita, dan mampu memikat hati para kekasihnya. Namun kesetiaannya kepada Candra Kirana sebagai kekasih sejati tidak pernah luntur. Candra Sumbadra sering

untuk

dalam

dilukiskan

Berbeda dua

Kirana

wayang bak

dengan

keluarga

atau

Dewi

purwa.

Supraba

Sekartaji

Ia

memiliki

yang

cinta

Romeo

penguasa

yang

akhirnya

kisah

cinta

and

Panji

jauh

kecantikan

mengungguli

kisah

dipisahkan,

tidak

mereka

seperti

kecantikan

Juliet

yang

Bhatari

semua

dan

dengan

tokoh

Ratih,

bahkan

bidadari

dipisahkan

mengakhiri

Asmorobangun

berbeda

oleh

kayangan. perseteruan

hidupnya

karena

Sekartaji

lebih

menolak mengharu

biru dari sekedar perselisihan dua keluarga. Ada banyak intrik politik, yang melibatkan peperangan, saling

kisah

berseteru.

kepahlawanan, Dan

sebagaimana

dan ciri

perebutan khas

kekuasaan

kisah

dua

wewayangan,

kerajaan

yang

semua

tokoh

tidak

dalam cerita yang sepenuhnya antagonis, juga tidak ada tokoh yang sepenuhnya protagonis. Semua tokoh punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dikisahkan,

setelah

Dewi

Sekartaji

menikah

dengan

Panji

Asmorobangun,

awalnya hubungan suami istri tersebut nampak tenang dan damai, hingga akhirnya datang Raja Klana

Sewandono

yang

seorang

petualang

yang

terkenal

dengan

keserakahan

dan

kesewenang-wenangnya. Raja

Klana

Sewandono

memiliki

kebiasaan

suka

bertualang

untuk

mendatangi

daerah-daerah yang makmur dan terkenal memiliki putri atau permaisuri yang cantik jelita. Lalu saat mengunjungi kerajaan Kediri, dia melihat kecantikan dari Dewi Sekartaji yang sebelumnya

sudah

mahsyur

ke

seantero

tanah

Jawa.

Setelah

mengetahui

nama

Panji Asmorobangun terkenal dengan Raja yang tak terkalahkan dan memiliki kesaktian luar biasa, membangkitkan ego dan ambisi Klana Sewandono untuk menculik dan memiliki Dewi Sekartaji.

v



Dengan bantuan strategi dari Bapang yang merupakan

adiknya,

akhirnya

Dewi

Sekartaji

berhasil

diculik.

Namun

karena kecerdasan dari Dewi Sekartaji, dengan selalu meminta syarat yang mustahil, seberapa lamapun Ia diculik, Klana Sewandono tidak pernah berhasil mempersuntingnya.

Mengetahui istrinya diculik, Panji Asmorobangun sontak

langsung murka dan bertekad untuk mencari Klana Sewandono dan menyelamatkan istrinya. Lalu bersama dengan Gunung Sari, adik dari Dewi Sekartaji, Panji Asmorobangun menyusuri dataran pulau Jawa untuk mencari istrinya.

Dalam perjalanannya menyusuri pulau Jawa untuk mencari

Sekartaji inilah, Panji Asmorobangun dan Gunung Sari menjalani berbagai macam kisah petualangan. Mulai dari pertarungan dengan berbagai mahkluk sakti yang mencegahnya bertemu istrinya, hingga perjuangan Sekartaji dalam mempertahankan harga dirinya selama menunggu

suaminya

tercinta

untuk

menyelamatkannya

dari

cengkeraman Klana Sewandono.

Serangkaian kisah inilah yang menjadikan kisah cinta raja dan

ratu Kerajaan Kediri ini menjadi kisah romantis sepanjang masa yang dimiliki orang Jawa. Karena epik dan romantisnya kisah Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartji ini, tidak salah jika kisah putra putri dari Kediri dan Jenggolo ini menjadi lakon populer dalam pertunjukan wayang dan tari topeng. Selain nilai sejarah dan nilai edukasinya yang tinggi, kisah ini banyak mengajarkan kita tentang kesetiaan dan kesabaran, serta menunjukkan jika sesuatu yang tidak baik juga akan berakhir celaka.

Topeng Malangan koleksi Museum Mpu Purwa, Malang

Tokoh Utama Dalam Cerita Panji Asmorobangun & Dewi Sekartaji Sebuah Perwakilan Berbagai Karakter Manusia

Klana Swandono

Klana berasal dari kata Lelana atau Lelono, yang berarti seorang petualang.

Klana Sewandono, diceritakan bahwa dia sebenarnya adalah seorang Raja yang haus akan petualangan. Dalam Kisah Panji – Sekartaji, Klana Sewandono ini merupakan karakter antagonis. Kenapa antagonis, karena Klana diceritakan sebagai pribadi yang egois, jahat, dan serakah. Dia berani menculik Dewi Sekartaji untuk dijadikan istri meski Dewi Sekartaji sebenarnya sudah memiliki suami Panji Asmorobangun. Tapi walaupun dia sakti dan egois, Klana Sewandono akhirnya bisa ditaklukkan oleh Panji Asmorobangun. Berkat kesabaran, kebaikan, keikhlasan, dan kesaktiannya, Panji Asmorobangun bisa mengalahkan Klana Sewandono dan membawa pulang Dewi Sekartaji.

Bapang

Secara wujud, karakter Bapang memiliki banyak kemiripan dengan

Klana Sewandono. Hal ini karena Bapang adalah adik dari Klana Sewandono. Dia

juga

merupakan

karakter

antagonis

yang

memiliki

sifat

pemarah,

cerdik, usil, dan suka melucu. Ini digambarkan dari bentuk hidung yang panjang seperti Pinocchio. Dan warna merah pada topeng Bapang.

Karakter khas seorang Bapang adalah kelihaiannya dalam menghasut orang

untuk bisa dikendalikan seenak hatinya. Dia adalah seorang penyusun strategi yang lihai, namun ketika harus dihadapkan pada peperangan, dia selalu berdiri di barisan yang paling belakang. Kelihaian Bapang dapat dilihat dari keberhasilannya menyusun strategi untuk membantu Sang Kakak untuk menculik Dewi Sekartaji.

Panji Asmorobangun

Panji dalam kesastraan klasik berarti Sifat Kepahlawanan. Tokoh yang bergelar Pan-

ji dalam sastra jawa klasik, berarti tokoh yang memiliki sifat ksatria atau kepahlawanan yang merupakan super hero utama dalam cerita. Panji Asmorobangun atau Inu Kertapati ini adalah sosok ksatria yang juga merupakan seorang raja multi talenta yang gagah berani yang dimiliki oleh kerajaan Jenggala. Selain tampan dan berwibawa, suami dari Dewi Sekartaji ini juga terkenal dengan kesaktiannya yang mandraguna. Dia

digambarkan

senantiasa

sebagai

menjaga

sosok

pemimpin

perdamaian.Panji

yang

dekat

Asmorobangun

dengan

juga

rakyatnya

digambarkan

dan

sebagai

sosok yang sabar, gigih, dan tidak mudah menyerah. Karena kegigihannya dan kesabarannya dia berhasil menemukan Dewi sekartaji setelah berkelana ke seantero pulau Jawa, dan menaklukkan Klana Sewandono beserta Bapang. Dia berhasil membuktikan jika kebenaran bisa mengalahkan kebatilan, juga keuletan serta kesabaran selalu akan berbuah manis pada akhirnya.

Dewi Sekartaji

Dewi Sekartaji merupakan perempuan cantik jelita dan baik hati dari kerajaan

Kediri. Wanita yang baik hati dan bijaksana ini adalah istri dari Raja Jenggala, Panji Asmorobangun. Dewi Sekartaji adalah sosok yang setia, penuh pengabdian, memiliki budi yang luhur, ihklas, dan cerdik. Selain rupawan dan santun, Dewi Sekartaji juga lihai menyusun muslihat seperti adiknya, Gunungsari. Terbukti selama diculik oleh Klana Sewandono, dia selalu meminta syarat-syarat yang sulit untuk dipenuhi oleh Klana Sewandono. Sehingga selama diculik, Klana Sewandono belum sempat mempersunting Dewi Sekartaji. Sosok Dewi Sekartaji adalah contoh seseorang yang sabar, tulus, dan gigih dalam mempertahankan prinsipnya, juga merupakan sorang istri yang setia.

Raden Gunungsari Tokoh

Gunungsari

adalah

adik

dari

Dewi Sekartaji dan sahabat Panji Asmorobangun. Itu sebabnya bentuk topeng Gunungsari sangat mirip dengan Dewi Sekartaji.

Gunungsari diceritakan sebagai sosok ksatria

yang lemah lembut, bijaksana, dan sangat menjaga penampilan. Nama “Gunungsari” sendiri merupakan julukan karena dia adalah orang yang gemar bertualang masuk hutan & seorang pecinta alam. Gunungsari adalah sosok yang memiliki budi yang luhur, ihklas, dan gagah berani. Jika

Klana

Sewandono

memiliki

duo

maut

seorang Bapang, maka Gunung sari adalah duo maut seorang Panji Asmorobangun. Dia adalah salah satu tokoh utama yang membantu Panji Asmorobangun dalam menyelamatkan Kakaknya, Dewi Sekartaji yang juga merupakan istri dari Panji Asmorobangun.

suasana kawasan Kajoetangan tahun 1944, dengan background gereja kayutangan tropenmuseum.nl

Bab 2

Kampung Bersejarah di Malang Penulis Niniek Burhan Surya Meygawati Kontributor Ir. Budi Fathony, MTA Wawancara H. Koesno H. Mochammad Nachrowi A. S Eddy Drs. M. Dwi Cahyono, M. Hum Agung H. Buana Dwi Cahyono, SE. Ki Demang Desain & Fotografer Arudatu Rains Okky K. Bhaskara Editor Niniek Burhan Produser Kampoeng Malang

masjid Jamik Malang ca. 1910 tropenmuseum.nl

Kampung di Malang

Seni, tradisi, budaya, dan sejarah merupakan jati diri suatu bangsa.

Oleh

sebab

itu

mengenal

dan

memahami

sejarah

peradaban

sangat

diperlukan dalam membangun suatu bangsa.

Di Kota Malang sendiri sangat kaya akan sejarah dari masa kerajaan

hingga

masa

kolonial.

Banyak

prasasti

serta

bangunan

peninggalan

masa kolonial yang tersimpan dan berdiri kokoh dan mampu menambah wawasan terhadap sejarah dan mengenal lebih dekat Kota Malang.

Berikut

beberapa

kampung

dan edukasi yang ada di Kota Malang.

dan

kawasan

yang

memiliki

nilai

sejarah

1. Kampung Polowijen (Panawijyan)

Dalam prasasti Wurangdungan atau Kanuruhan B dituliskan jika kampung Polowijen

sudah ada sejak abad ke X dengan nama awal desa Panawijyan, dimana saat itu raja yang berkuasa adalah Raja Sindok atau Mpu Sindok.

Dulunya Panawijyan merupakan tanah kering dan susah dijadikan lahan pertanian,

sehingga Raja Sindok membuat saluran irigasi yang diberi nama suak dan menjadikan

desa

upeti/pajak).

Panawijyan Dalam

sebagai

prasasti

desa

dijelaskan

pardikan jika

atau

sima

penerapan

(desa

tersebut

bebas

diresmikan

pada hari Rabu wage tanggal 7 November 944, sehingga bisa diketahui jika saat ini desa Panawijyan sudah berusia 1073 tahun.

Pada abad ke XII, Panawijyan dikenal sebagai tempat padepokan Mahayana

Budhisme Putri

(Budha

Kendedes.

Mahayana) Ajaran

yang

dipimpin

tersebut

oleh

menganut

Mpu

sekte

Purwa, atau

ayah

aliran

dari Tantra

Bhairawa dimana penganutnya diharuskan melakukan meditasi disekeliling mayat, sehingga dalam padepokan tersebut terdapat kawasan pemakaman yang dikenal dengan Pasetran Panawijyan, kuburan dengan mayatnya digeletakan dibawah pohon. Selain

itu,

(Padmapuspita, upacara,

Mpu 1966:17)

atau

bisa

Purwa yang

juga

disebut

berarti

pendiri

menunjuk

kepada

sebagai patung, pemimpin

Boddhasthaapaka pendeta penjaga

pemimpin candi

sehingga ada kemungkinan di Polowijen terdapat candi Buddhis yang saat ini masih belum ditemukan.

Kiri atas: Sumur Windu yang ditutup plesteran & Kenong yang berubah jadi batu; Kiri Bawah: Situs Ken Dedes; Kanan: Punden Joko Lulo di tengah pemakaman umum Polowijen



Dan pada masa Kerajaan Mataram Islam, daerah Panawijyan di Islamkan oleh lurah

pertamanya, yakni Eyang Jibris dari Demak. Nama Panawijyanpun dirubah menjadi Palawijen dan diakhir tahun 1800 Palawijen atau Polowijen dikenal sebagai sentra penghasil topeng Malangan yang saat itu desa Polowijen ikut dalam distrik Karanglo (Kawardanan), hal tersebut dijelaskan dalam buku History of Java yang ditulis oleh kolektor dari Inggris, Thomas Stamford Rafless. Di Polowijen juga ada kisah rakyat yang terkenal hingga kesakralannya masih melekat sampai saat ini. Cerita rakyat Polowijen tersebut berjudul Putri Dedes dan Joko Lulo. Dalam cerita tersebut digambarkan sosok putri Dedes dari Polowijen yang memiliki paras cantik jelita, cerdas dan berwibawa sehingga banyak pria ingin melamarnya, dan banyak juga yang ditolak. Suatu ketika datanglah Joko Lulo yang digambarkan sosok pria buruk rupa tapi memiliki kesaktian mandraguna dan berasal dari desa Dinoyo.

Ketika Joko Lulo melamar, Putri Dedes menolaknya secara halus dengan memberikan persyaratan yang tidak masuk akal, yakni membuat sumur dengan kedalaman yang mencapai perjalanan satu windu (8 tahun). Diluar dugaan ternyata Joko Lulo berhasil membuat sumur tersebut dalam waktu singkat sehingga mau tidak mau Putri Dedes harus menikah dengannya. Tapi Putri Dedes mengajukan syarat lagi yakni menikahnya sebelum subuh. Dan ternyata ketika hari pernikahan, tidak diketahui darimana asalnya, tiba-tiba terdengar suara tompo (tempat nasi terbuat dari bambu) dan lesung dibunyikan oleh para gadis Panawijen. Sebagian di antaranya ada yang membakar jerami di sebelah timur, sehingga dalam waktu singkat ayam berkokok bersahut-sahutan dan cahaya mulai menerangi sekitarnya. Tampaklah wajah Joko Lulo yang buruk rupa dan membuat Putri Dedes terkejut dan melarikan diri dengan terjun ke sumur windu buatan Joko Lulo. Tidak diketahui bagaimana perjalanan Putri Dedes saat berada di sumur windu, selang beberapa lama kemudian, Putri Dedes diketahui sudah menikah dengan Tunggul Ametung yang saat itu merupakan petinggi dari Tumapel. Gemparlah suasana pernikahan itu, para pengiring berhamburan dan gamelan porak-poranda. Alat-alat gamelan itu menjadi batu, dan sisanya masih ada berupa watu kenong (salah satu instrumen gamelan). Karena murka, Joko Lulo akhirnya mengeluarkan kutukan semua gadis didesa Polowijen akan menjadi perawan tua. Kedua orangtua dari Putri Dedes dan Joko Lulo juga bersumpah tidak akan ada lagi pernikahan antara Dinoyo dan Polowijen. Dari sejarah Polowijen tersebut, meninggalkan beberapa situs diantaranya, yakni Situs Sumur Windu/ Sendang Kendedes dan Watu Kenong yang dalam cerita rakyat merupakan sumur yang dibuat oleh Joko Lulo untuk Putri Dedes. Dalam sejarah juga dikatakan, jika sumur windu merupakan tempat mokhsahnya (tempat kembali kepada Tuhan) Putri Kendedes, situs kedua yakni Punden Joko Lulo yang terdapat pohon beringin besar dan tua, diceritakan punden tersebut merupakan tempat terakhir dari Joko Lulo. Kemudian situs ketiga, susunan batu bata merah yang digunakan sebagai tempat peribadatan suci kaum Brahmana dan terakhir situs makam Ki Condro Suwono atau lebih dikenal Mbah Reni, seniman topeng Malangan asli Polowijen.

alam Karuman

2. Kampung/ Kelurahan Tlogomas alam Karuman (Kaharuman) Dalam bahasa jawa Tlogomas memiliki arti telaga emas dimana menurut penuturan warga sekitar, didalam telaga yang memiliki genangan air cukup besar tersebut, terdapat emas yang terpendam dibawah tanah. Namun kata emas, bukan berarti mengandung mineral emas. Bisa jadi butiran lembut emasnya berasal dari perhiasan, atau artefak kuno berbahan emas yang terkubur didalam tanah, dan mengalami keausan sehingga terurai menjadi butiran-butiran emas.



Nama Tlogomas sendiri didapat pada masa kolonial. Sebelum bernama Tlogomas, nama asal dari desa yang diapit oleh dua buah sungai yakni sungai Brantas disisi utara dan sungai Metro disisi selatan dan barat ini bernama Karuman. Pada masa Kerajaan kanjuruhan, Tlogomas, Merjosari dan Dinoyo dijadikan kawasan pusat kerajaan, dan pada masa Mataram Islam yakni abad ke XVII, berganti nama menjadi Kaharuman yang memiliki arti tempat tinggal Aruman, yang pada masa itu, merupakan toloh masyarakat paling disegani karena membawa perubahan baik di dusun Karuman. Saat ini, tidak banyak orang tahu keistimewaan dari dusun Karuman. Dusun yang pada masa Hindu - Buddha merupakan kawasan strategis, karena terletak dekat dengan pusat pemerintahan Watak Kanyuruhan, atau dimasa sekarang disebut kawasan pinggir kota ini, pernah menjadi tempat singgah dari Raja Singhasari yang terkenal yakni Ken Angrok. Diceritakan dalam kitab Pararaton, Ken Angrok tinggal didusun ini ayah angkatnya, Bangao Samparan yang merupakan penjudi terkenal kala itu.

bersama

Sebelum diasuh oleh Bango Samparan, Ken Angrok sempat di asuh oleh pencuri yang bernama Lembong. Dia adalah orang pertama yang menemukan Ken Angrok, setelah dibuang ibunya Ni Ndok saat baru dilahirkan, di pemakaman bayi. Lembong sendiri mengasuh Ken Angrok dari bayi hingga remaja kecil. Dan kemudian beralih kepengasuhan Bangao Samparan. Bangao Samparan sangat menyukai Ken Angrok karena menurutnya, Angrok kecil membawa keberuntungan dimeja judi. Setiap mengajak Angrok, Bango Samparan selalu memenangkan perjudian. Hal tersebut nampaknya tidak disukai oleh anak-anak kandung dari Bangao Samparan. Karena tidak ada kecocokan dengan saudara angkatnya, kemudian Angrok memutuskan untuk pergi dari rumah dan menuju ke arah Sagenggeng (saat ini Pakisaji). Walaupun hanya menjadi kawasan singgah Ken Angrok, eksistensi dusun Karuman tidak hanya dimasa Hindu - Buddha, namun berlanjut hingga perkembangan Islam. Dalam tradisi setempat menyebut adanya seseorang bernama Joko Aruman, yang dipercayai sebagai “sing mbabad desa Aruman” yang artinya tokoh masyarakat yang merubah Karuman menjadi lebih baik.

Di desa Kaharuman (Tlogomas) terdapat beberapa situs yang sampai saat ini masih dirawat dan disakralkan. Yakni :

1. Situs Watu Gong Tlogomas 2. Makam Mbah Aruman Pada masa Mataram Islam yakni abad ke XVII, kampung ini berganti nama menjadi Kaharuman yang memiliki arti tempat tinggal Aruman, yang pada masa itu, merupakan tokoh masyarakat paling disegani karena membawa perubahan baik di dusun Karuman. Makam Mbah Aruman sampai sekarang masih dijaga secara swadaya oleh warga Kaharuman. Menurut legenda, Mbah Aruman merupakan seorang pertapa sakti.

3. Arca atau artefak peninggalan Hindu - Budha Yaitu Arca Durga Mahisasuramardhini yang saat ini kondisinya pecah sehingga bagian pusar hingga kepala tidak ada. Arca Durha merupakan penggambaran dari Dewi Durga yang berhasil membunuh Asura. Kemudian juga ada Arca Siwa Mahadewa dalam posisi duduk pamasana yang juga pecah bagian kepalanya. Detail pahatannya memperlihatkan pengaruh kesenian Phala, aliran seni asal India yang berkembang pada masa Sailendravamsa di Kerajaan Mataram dan Singhasari. Menilik gaya seninya, bisa jadi dibuat pada masa Singhasari, dan yang terakhir ada Batu Sima. dari kiri ke kanan: Arca Siwa Mahadewa, Arca Dewi Durga, Patung Sapi di situs Karuman (patung tersebut jika digeser,maka di tengahnya ada sebuah sumber air kecil yang konon katanya biasa dipakai sebagai media sembahyang), watugong.

4. Punden Karuman atau reruntuhan candi yang ditemukan peninggalan arkeologis, antara lain ditemukannya Yoni tanpa Lingga, arca Nandi dengan kepala patah, empat buah lingga dengan ukuran yang berbeda, ambang pintu candi dan balok balok batu dan bata.

5. Situs pancuran air (Jaladwara) Situs pancuran air ini terbuat dari batu andesit yang semuanya telah hilang.

Goa sumber air di Desa Karuman, yang sampai saat ini airnya masih terus dimanfaatkan oleh warga Tlogomas

5. Situs pancuran air (Jaladwara) sampai saat ini masih belum diketahui sejarahnya. Dari ditemukannya beberapa situs tersebut dan juga seperti yang ditulis dalam kitab Pararaton menunjukan jika Tlogomas telah ada sejak masa Hindu - Buddha dan pada masa itu, dusun Karuman menyandang status istemewa sebagai desa perdikan (sima).

suasana Kajoetangan kolonial troppenmuseum.nl

3. Kampoeng Kajoetangan Pada saat Belanda masuk dan berhasil menguasai Malang, yakni pada tahun 1767, Talun menjadi salah satu kawasan penting dalam pemerintahan Belanda. Hingga pada tanggal 1 April 1914, Afdeeling (setingkat Kabupaten) Malang ditetapkan sebagai Gemeente (setingkat Kotamadya) Malang, yang mana pergantian status adminitratif tersebut merupakan awal pengembangan kota dan tahap awal proses urbanisasi. Karena perubahan tersebut, populasi penduduk yang datang ke Malang semakin bertambah sehingga Gemeenteraad Malang memperbaiki tata kota dengan membagi fungsi lahan. Salah satunya yakni pembentukan ruang komersial dan hiburan. Dan kawasan Kayoetangan dijadikan sebagai pusat pembelanjaan dan hiburan. Pada awalnya, Kayoetangan hanyalah kawasan biasa hingga adanya perubahan administratif tersebut, Kayoetangan berubah menjadi kawasan strategis, yaitu pusat pembelanjaan dan hiburan modern. Dengan dijadikannya Kayoetangan sebagai pusat pembelanjaan dan hiburan mengubah perilaku masyarakat setempat menjadi lebih modern dan memunculkan kebudayaan barat yang dikenalkan orang-orang Eropa melalui gaya hidup modern disepanjang jalan Kayoetangan. Namun, keadaan tersebut berubah ketika Jepang masuk dan Kayoetangan dijadikan sebagai alat propaganda antikolonialisme melawan kolonial Belanda. Dan pada masa kemerdekaan, Kayoetangan diambil alih oleh para pejuang sebagai bentuk pembuktian mvelawan penjajahan. Kawasan Kayoetangan yang strategis dijadikan sebagai arena perebutan simbolis ruang kota. Selain menyimpan sejarah penataan kota oleh kolonial, di Kayoetangan juga terdapat sejarah pejuang yang sampai saat ini makamnya masih disakralkan, yakni makam Mbah Honggo.

Menurut warga sekitar, Mbah Honggo merupakan guru spiritual dari keluarga Bupati Malang yang pertama yakni R.A.A Notodiningrat yang saat ini makam Bupati berada di pemakaman Ki Ageng Gribig. Dalam batu nisan, nama Mbah Honggo bertuliskan Pangeran Honggo Koesoemo, dan disampingnya juga terdapat makam Pangeran Soero Adimerto atau Ki Ageng Peroet yang menurut ahli sejarawan merupakan keturunan langsung dari Majapahit. Dikisahkan pada tahun 1518 dan 1521, Pemerintahan Adipati Unus dari Kerajaan Demak menyerang Majapahit yang saat itu dipimpin oleh Prabu Brawijaya. Karena mengalami kekalahan, memaksa seluruh keluarga kerajaan mundur ke Sengguruh yang selanjutnya mengungsi ke pulau Bali dan dibeberapa daerah di Jawa. Prabu Brawijaya sendiri memiliki putra yang bernama Batoro Katong yang memilih melarikan diri ke Ponorogo hingga menjadi Adipati Ponorogo. Jabatan Adipati Ponorogo juga diwarisi oleh keturunan dari Batoro Katong, yakni Kandjeng Pangeran Soero Adiningrat dan memiliki putra bernama Kandjeng Soero Adimerto yang hidup pada masa perjuangan pangeran Haryo (BPH) Diponegoro. Usai penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Jendral De Kock di Magelang tanggal 28 Maret 1830. Semua Senopati mengungsi ke Jawa Timur dan berganti nama untuk menyamarkan diri dari pengejaran Belanda. Kandjeng Soero Adimerto menjadi Kyai Ageng Peroet, pangeran Honggo Koesoemo menjadi Mbah Honggo, ulama besar Kandjeng Kyai Zakaria II yang merupakan keturunan langsung dari Pangeran Diponegoro menjadi Mbah Djoego. Sedangkan keturunan di bawahnya, Raden Mas Singowiryo dimakamkan terpisah sekitar 50 meter, disamarkan dan sekarang dikenal masyarakat dengan ‘Kuburan Tandak’. Lokasi makam saat ini, dulunya merupakan komplek besar para sesepuh keturunan Adipati Malang sekaligus komplek makam belakang Masjid Jami. Hingga saat ini kawasan Kayoetangan merupakan kawasan yang masih melestarikan heritagenya. Masih banyak bangunan-bangunan pada masa kolonial yang berdiri kokoh. Disepanjang jalan, masih bisa kita lihat komplek pertokoan yang belun banyak dirubah bahkan rumah - rumah di perkampungan tersebut juga masih berciri khas rumah masa kolonial. Sehingga menyusuri kawasan Kayoetangan seperti kembali pada masa kolonial.

kiri: suasana proses shooting sebuah film independen oleh PARFI Kota Malang di rumah ketua RW 10 kanan: rumah salah satu warga RW 10 yang masih sangat terjaga keaslian bentuk bangunannya (khas bangunan kolonial)

>> beberapa sudut Kampung Talun yang masih terjaga keasliannya

4. Kawasan Idjen

suasana Idjen Boulevard kolonial troppenmuseum.nl

Idjen Boulevard, pada jaman pemerintahan kolonial disebut sebagai jalan terindah di seluruh Hindia Belanda

Setelah Malang beralih menjadi Kotamadya, yakni pada tanggal 1 April 1914. Walikota Malang pertama, H.I Bussemaker (1919-1929) memerintahkan Herman Thomas Karsten, arsitek terbaik yang dimiliki Belanda, untuk membantu mengembangkan tata ruang kota. Dan pengembangan kawasan Ijen menjadi salah satu perencanaan tata kota terbaik di Hindia - Belanda pada masa itu. Ijen sengaja dirancang menjadi kawasan yang asri, nyaman dan romantis karena diperuntukkan sebagai pengembangan terpadu antara taman, tempat olahraga dan perumahan yang berkonsep arsitektur kolonial. Sebagai pemukiman elit, berbagai fasilitas direncanakan sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan keluarga Belanda dan kaum ningrat Jawa masa itu.

Jalan Ijen dikelola dengan konsep jalur hijau yang dihiasi bunga bougenvil dan pohon palem raja dengan latar belakang perumahan bergaya kolonial Belanda. Menjadikan kawasan ini terkesan romantis. Beberapa sejarawan menceritakan, jika dulu kawasan ini sering digunakan oleh pasangan-pasangan Belanda untuk berpacaran. Sebagai kawasan yang masih mempertahan heritagenya, Ijen Boulevard merupakan satu-satunya kawasan di propinsi Jawa Timur yang berkonsep Boulevard. Walaupun dulunya hanya dihuni oleh warga Belenda dan kaum ningrat saja, seiring perkembangan jaman, kawasan Ijen dapat dinikmati semua golongan masyarakat. Tidak hanya rumah-rumah bergaya kolonial, terdapat juga beberapa bangunan yang bersejarah. Seperti arena pacuan kuda yang waktu itu dimanfaatkan sebagai tempat olahraga berkuda bagi warga Belanda, dan saat ini berubah menjadi Politeknik Kesehatan Malang dan Simpang Balapan. Kemudian, terdapat monumen Melati Kadet Suropati, yang didirikan untuk menghormati seluruh komponen yang terlibat dalam pendirian akademi militer Malang divisi VII- Suropati. Di Jalan Pahlawan Trip juga terdapat monumen dan makan pahlawan, untuk menghormati 35 anggota Tentara TBIP H-11 yang gugur sebagai pahlawan dalam agresi militer Belanda 1. Terdapat juga Museum Brawijaya yang menyimpan benda-benda bersejarah saat perang kemerdekaan. Foto-foto Malang jaman dulu juga berjejer rapi, sebagi bukti sejarah Malang yang menyimpan berjuta cerita. Didepan museum terdapat Perpustakaan Umum yang difungsikan sebagai media pembelajaran, dengan koleksi buku yang lengkap dan mencakup semua umur. Sebagai pemukiman elit, dikawasan Ijen juga terdapat Gereja Santa Maria Bunda Carmel atau gereja Ijen yang dibangun pada tanggal 28 Oktober 1934. Terdapat juga monumen Hamid Rusdi yang terletak di Jalan Simpang Balapan. Monumen ini didirikan untuk mengenang jasa-jasa Mayor Hamid Rusdi dalam merebut kemerdekaan Indonesia.

5. Kampung Jodipan (Warna-warni dan Tridi)

Jembatan Buk Gludug, sebagai salah satu ikon Jodipan & merupakan penanda kebangkitan ekonomi di wilayah ini & Kota Lama Malang tropenmuseum.nl

Kampung Jodipan merupakan salah satu kampung tertua di Kota Malang. Dikampung Jodipan terdapat jembatan besi yang sering disebut dengan nama Buk Gluduk. Buk Gludhuk merupakan jembatan yang dibuat melintasi sungai Berantas. Oleh Pemerintahan Belanda, jembatan ini diganti dengan beton agar kuat dan bisa dilewati oleh kereta api. Disebut Gludhuk lantaran sering menimbulkan bunyi gludhuk-gludhuk saat kendaraan besar melintasi jembatan ini. Saat masa penjajahan, kawasan Jodipan lebih dikenal sebagai wilayah Tumenggungan. Karena wilayahnya ditengah kota, pada tahun 1767, daerah ini pernah menjadi pusat pemerintahan wilayah kadipaten Malang. Dengan adanya jembatan Buk Gludhuk, ternyata

berdampak pada meningkatnya perekonomian pemerintah setempat. Jalur pos Jodipan - Gadang semakin ramai. Dan penduduk Malang Selatan banyak yang melintasi daerah tersebut. Bahkan warga Tionghoa, juga membangun pemukiman disekitar itu yang sekarang lebih dikenal dengan kawasan Pecinan, Pasar Besar. Pada tahun 1876, jalur Kereta Api dibangun oleh Pemerintah Belanda dengan stasiun pertamanya yakni stasiun Kota lama, menjadikan kawasan ini sebagai pusat ekonomi pertama di Kota Malang. Meskipun pemindahan pemerintahan ke kawaaan ini baru terjadi pada tahun 1767. Namun, kampung ini sebenarnya sudah ada sejak masa Kerajaan Hindu - Buddha. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya arca siwa, dua buah arca raksasa, arca garuda, arca naga, lima houterlief dan sebuah lumpang kenteng yang ditemukan disekitar kampung warna-warni. Dari ditemukannya benda-benda bersejarah tersebut, para sejarawan memperkirakan jika lokasi disekitar kampung jodipan adalah tempat suci, dan sejarawan menduga bahwa di daerah tersebut pernah didirikan sebuah candi yang berlatar agama Hindu Siwa. Namun, ditahun 90-an, kawasan ini menjadi tidak teratur. Rumah-rumah yang tidak beraturan dan berdempetan, serta kebiasaan warga yang suka membuang sampah di bantaran sungai, menjadikan kawasan ini salah satu kawasan kumuh yang ada di Kota Malang. Sehingga banyak dilupakan sejarah kejayaan dari kampung jodipan. Pada awal tahun 2016, Kampung Jodipan mulai membenah diri. Dengan dibantu oleh sekelompok mahasiswa yang memiliki inisiasi untuk mengubah kampung kumuh menjadi destinasi wisata. Warga bersama-sama menciptakan destinasi wisata urban dengan menjadikan kampung penuh warna. Saat ini, kampung Jodioan lebih dikenal dengan Kampung Warna-warni. Setiap rumah dicat dengan warna yang menyala dan dilukis mural. Sehingga sangat bagus untuk dijadikan sebagai objek foto. Walaupun mirip dengan perkampungan yang ada di negara Brazil. Kampung warna warni memiliki keunggulan yakni berada diantara dua kampung yang dibatasi dengan aliran sungai Brantas. Yang menjadikannya terlihat lebih eksotis.

replika arca Ken Dedes di Bale Arjosari, pintu masuk Kota Malang

Bab 3

Ken Arok dan Ken Dedes Penulis Niniek Burhan Surya Meygawati Kontributor Devan Mahendra Wawancara Drs. M. Dwi Cahyono, M.Hum Agung H. Buana Desain & Fotografer Arudatu Rains Okky K. Bhaskara Editor Niniek Burhan Produser Kampoeng Malang

Candi Singosari, di Singosari, Kabupaten Malang

Kisah Ken Arok dibuang Ibunya Ken Arok atau yang lebih dikenal dengan Ken Angrok merupakan pendiri dari kerajaan Tumapel yang kemudian lebih dikenal sebagai Kerajaan Singhasari. Ia memerintah sebagai raja pertama bergelar Rajasa pada tahun 1222 - 1227 (atau 1247). Menurut cerita, Ken Angrok dilahirkan pada abad ke 13 dan merupakan putra dari Gajah Para dari desa Cempara (sekarang bacem, Blitar) dengan Ken Ndok wanita dari desa Pangkur (sekarang Dau). Sebelum Ken Angrok lahir, ayahnya meninggal dunia. Karena Ken Ndok direbut oleh raja Kediri. Akhirnya dengan terpaksa,

Ken Ndok membuang bayinya sesaat setelah melahirkan, diasuh oleh Lembong yang tak lain adalah seorang pencuri.

hingga

ditemukan

dan

Menginjak remaja, Ken Angrok menjadi pemuda yang pandai mencuri dan berjudi. Karena merasa membebani, akhirnya Lembong mengusir Ken Angrok hingga akhirnya bertemu dengan Bangao Samparan, seorang penjudi dari Karuman (sekarang Tlogomas), yang menganggapnya sebagai pembawa keberuntungan. Karena tidak tahan dengan saudara dan ibu angkatnya. Akhirnya Ken Angrok memutuskan pergi dari rumah menuju ke Sanggenggeng (saat ini Pakisaji) hingga bertemu dengan seorang Brahmana dari India bernama Lohgawe yang datang ke tanah Jawa mencari titisan Wisnu. Dari ciri-ciri yang ditemukan, Lohgawe yakin kalau Ken Angrok adalah orang yang dicarinya. Di tahun 1222, terjadi perselisihan antara Kertajaya, Raja Kadiri dengan para Brahmana yang saat itu memilih pindah ke Tumapel daerah jajahan Kadiri dengan Tunggul Ametung sebagai Akuwu (setara camat). Para Brahmana mendatangi Ken Angrok yang kala itu menjabat sebagai pengawal Tunggul Ametung. Kebetulan saat itu Ken Angrok memang sedang melakukan pemberontakan terhadap kerajaan Kadiri. Karena dukungan dari para Brahmana, menguatkan tekat Ken Angrok menyatakan Tumapel sebagai kerajaan merdeka lepas dari Kadiri. Sebagai raja pertama, ia bergelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi. Dalam buku Pararathon dituliskan jika Ken Angrok berhasil mengalahkan Kertajaya, dan menguasai Tumapel. Perang antara Kadiri dan Tumapel terjadi di dekat desa Ganter. Pihak Kadiri kalah, Kertajaya diberitakan naik ke alam dewa, yang mungkin merupakan bahasa kiasan untuk mati.

Ken Dedes dan Tunggul Ametung

replika arca Ken Dedes di Bale Arjosari, pintu masuk Kota Malang - Arca asli Ken Dedes yang terbuat dari emas saat ini disimpan di Museum Nasional, dan satu lagi tersimpan di Amsterdam, Belanda

Dalam sejarah, diceritakan jika Tunggul Ametung yang saat itu menjabat sebagai Akuwu (setara Camat) bertemu dengan Ken Dedes, putri dari pendeta Buddha, Mpu Purwa di desa Panawijyan (saat ini Polowijen). Dalam pandangan pertama, Tunggul Ametung terpesona dengan sosok Ken Dedes yang merupakan gadis dengan paras cantik dan tubuh yang molek. Tanpa pikir panjang, Tunggul Ametung langsung menyatakan keinginannya untuk mempersunting Ken Dedes, namun saat itu, ia menolak lantaran ayahnya belum pulang dari bertapa. Karena tidak sabar menunggu ayah Ken Dedes, akhirnya ia dibawa ke Tumapel untuk dinikahi. Ketika Mpu Purwa pulang dan mendapati putri satusatunya diculik, ia marah besar. Sang pendeta lalu mengutuk bahwa siapa pun yang telah menculik Ken Dedes akan mati terbunuh dengan keris dan tidak akan merasakan kenikmatan hidup.

Perjumpaan Ken Angrok dan Ken Dedes Usai dipersunting Tunggul Ametung, Ken dedes diperkenalkan kepada seluruh penghuni pendopo, termasuk Ken Angrok. Kecantikan wanita asal Panawijyan tersebut juga menarik perhatian Ken Angrok. Dikisahkan, pada suatu hari ketika Ken Arok membantu Ken Dedes turun dari kereta, kain wanita itu tersingkap. Ken Arok terkesiap melihat pangkal paha Ken Dedes yang bercahaya. Ia lalu bertanya kepada Lohgawe apa arti dari kejadian tersebut. Menurut sang pendeta, memperistri wanita dengan ciri-ciri tersebut akan menjadi penguasa dan memberikan keturunan raja-raja Jawa. Atas dasar itulah kemudian timbul niat jahat Ken Arok untuk membunuh Tunggul Ametung dan merebut Ken dedes. Lohgawe mengatakan jika Tunggul Ametung hanya bisa dibunuh dengan sebilah keris. Ia pun meminta bantuan Bangao Samparan, ayah angkatnya untuk memperkenalkan kepada ahli keris, dan akhirnya bertemulah ia dengan Mpu gandring dari desa Lulumbang (saat ini Lumbang, Pasuruan). Mpu Gandring sanggup membuatkan sebilah keris ampuh dalam waktu setahun. Ken Angrok tidak sabar. Lima bulan kemudian ia datang mengambil pesanan. Keris yang belum sempurna itu direbut dan ditusukkan ke dada Mpu Gandring sampai tewas.Dalam sekaratnya, Mpu Gandring mengucapkan kutukan bahwa keris itu nantinya akan membunuh 7 orang, termasuk Angrok sendiri. Ken Angrok akhrinya berhasil membunuh Tunggul Ametung dengan keris saktinya dan mempersunting Ken Dedes. Kisah Ken Arok dan Ken Dedes memang memiliki daya tarik tersendiri. Dan seperti yang diramalkan, Ken Dedes memang melahirkan keturunan yang menjadi raja-raja di Jawa, mulai dari Anusapati, Ranggawuni, dan Kertanegara yang merupakan pembesar di Kerajaan Singosari. Selain itu, keturunan Ken Dedes juga sampai hingga pada Raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit dan Hayam Wuruk.

Kematian Ken Angrok Dalam memerintah Kerajaan Tumapel, Ken Angrok terkenal sebagai raja yang tegas dan berani. Dalam pararthon diceritakan jika Ken Angrok dibunuh oleh keris Mpu Gandring atas perintah dari anaknya, Anusapati. Anusapati merasa heran pada sikap Ken Angrok yang seolah menganaktirikan dirinya, padahal ia merasa sebagai putra tertua. Setelah mendesak ibunya (Ken Dedes ), akhirnya Anusapati mengetahui kalau dirinya memang benar-benar anak tiri. Bahkan, ia juga mengetahui kalau ayah kandungnya bernama Tunggul Ametung telah mati dibunuh Ken Arok. Anusapati berhasil mendapatkan Keris Mpu Gandring yang yang selama ini disimpan Ken Dedes. Anusapati kemudian menyuruh pembantunya yang berasal dari desa Batil untuk membunuh Ken Arok. Ken Arok tewas ditusuk dari belakang saat sedang makan sore hari. Anusapati ganti membunuh pembantunya itu untuk menghilangkan jejak. Sang Anusapati kemudian menjadi suksesor Kerajaan Singhasari. Ken Angrok dicandikan di Kagenengan, candi ini merupakan candi tertua diantara dua puluh tujuh candi keluarga wangsa Rajasa, wangsa yang didirikan oleh Ken Arok yang menjadi cikal-bakal raja raja di tanah Jawa.