Data Loading...
138. Nilai-Nilai PAI dalam Cerita Rakyat - 2017 Flipbook PDF
138. Nilai-Nilai PAI dalam Cerita Rakyat
333 Views
134 Downloads
FLIP PDF 1.49MB
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
Muhammad Tarobin, dkk.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA DALAM CERITA RAKYAT DAERAH
KEMENTERIAN AGAMA BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN AGAMA JAKARTA 2017 i
NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA DALAM CERITA RAKYAT DAERAH Hak Cipta pada Balai Litbang Agama Jakarta, 2017 Tim Penulis: Muhammad Tarobin Mahmudah Nur Zulkarnain Yani Agus Iswanto Mohamad Rosadi H. Saeful Bahri Asep Saefullah Cetakan I, November 2017 viii + 222, 15 x 23 cm ISBN: 978-602-6831-15-6 Penerbit: BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN AGAMA JAKARTA Jln. Rawa Kuning No. 6, Pulo Gebang, Cakung Jakarta Timur, 13950 Telp. : +62-21-4800725 Faks. : +62-21-4800712 Email : [email protected] Website : www.blajakarta.kemenag.go.id Buku ini dilarang dikutip sebagian atau seluruhnya Tanpa Izin Penerbit HAK CIPTA DILINDUNGI OLEH UNDANG-UNDANG
ii
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
KATA PENGANTAR
KEPALA BALAI LITBANG AGAMA JAKARTA
Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT., hasil penelitian Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta tentang “Nilai-Nilai Pendidikan Agama Dalam Cerita Rakyat Daerah” ini telah selesai dilakukan dalam tahun anggaran 2017. Buku ini berhasil memetakan nilai-nilai pendidikan agama yang ada di nusantara, baik secara implisit maupun eksplisit, sebagai bagian dari proses regenerasi kearifan lokal (local genius/local wisdom), di antaranya melalui cerita rakyat, seperti: mite, legenda, dan dongeng. Kearifan lokal di atas yang bersumber dari tradisi cerita rakyat dan karya sastra lainnya merupakan pengetahuan lokal yang tercipta sebagai hasil adaptasi suatu komunitas; berasal dari pengalaman hidup yang dikomunikasikan dari generasi ke generasi. Dengan demikian, maka kearifan lokal merupakan pengetahuan lokal yang digunakan oleh masyarakat lokal untuk bertahan hidup dalam suatu lingkungan yang menyatu dengan sistem kepercayaan, norma, dan budaya, serta diekspresikan dalam tradisi dalam waktu yang lama. Meskipun berlaku lokal tapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal. Nilai kearifan lokal tersebut di atas akan memiliki makna apabila tetap menjadi rujukan dalam mengatasi setiap dinamika kehidupan sosial, terlebih lagi dalam menyikapi berbagai perbedaan yang rentan menimbulkan konflik. Keberadaan nilai kearifan lokal akan diuji di tengah kehidupan sosial yang dinamis, di situlah sebuah nilai akan dapat dirasakan peranannya. Kearifan lokal dimanfaatkan untuk memberdayakan masyarakat dalam
iii
Kata Pengantar menghadapi persoalan hidup, baik persoalan ketahanan diri, hubungan antar individu dalam masyarakat, hubungan antara masyarakat dengan lingkungan, dan hubungan individu dan masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebagai bagian dari tradisi lisan yang mengandung kearifan lokal nusantara, maka cerita rakyat memiliki berbagai fungsi: Pertama, menjadi salah satu alat perekat dalam membangun dan menjaga harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara. Kedua, sebagai jalur transformasi pengetahuan dari generasi ke generasi. Sekalipun pada awalnya, cerita rakyat muncul hanya sekadar sebagai pengisi waktu senggang, sebagai sarana hiburan, yang berwujud seperti dongeng anak, hiburan rakyat, kesenian tradisional, permainan anak, dan sebagainya. Namun dalam perkembangannya, cerita rakyat tersebut dimanfaatkan sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai luhur, membina sikap mental, sekaligus memberikan keterampilan tertentu pada masyarakat. Oleh karena itu, cerita rakyat seringkali menjadi kisah yang sangat menarik bagi sang anak, sehingga menjadi senjata paling ampuh bagi sang ibu untuk menidurkan anaknya. Tanpa disadarinya, sebenarnya cerita rakyat yang didengar secara tidak langsung akan membentuk sikap dan moral sang anak. Ajaran atau kandungan moral dalam cerita rakyat akan membentuk kepribadian sang anak patuh terhadap kedua orangtuanya. Anak-anak akan merasa takut menjadi durhaka karena teringat hukuman atau balasan yang diterima sang anak dalam ceritacerita jika durhaka terhadap orangtuanya. Dengan demikian, cerita rakyat tidak hanya sebagai cerita pengantar tidur, tetapi dapat membentuk moral anak-anak. Berangkat dari dasar pemikiran di atas, maka Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta memandang penting melakukan penelitian mengenai nilai-nilai pendidikan agama dalam cerita rakyat daerah, dengan mengambil 7 (tujuh) wilayah yang dijadikan sasaran penelitian, yaitu; cerita rakyat Kampung
iv
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Kelumu di Pulau Lingga – Kepulauan Riau oleh Sdr. Muhammad Tarobin, S.Sos., MA.Hum; cerita Batin Labu Handak dan Radin Jambat dari daerah Lampung oleh Sdr. Agus Iswanto, S.S., MA.Hum; cerita rakyat di Banten: Kajian Struktur dan Amanat Legenda Gunung Pinang oleh Sdr. Asep Saefullah, M.Ag; cerita rakyat Sitakkigagailau dan Pagetasabbau dari daerah Mentawai – Sumatera Barat oleh Sdr. Mahmudah Nur, S.Pd.I; cerita Pantun Sri Sadana/Sulanjana Bandung – Jawa Barat oleh Sdr. Muhamad Rosadi, S.Ag., MA; cerita Segawon Sing Setia (Anjing yang Setia) dari daerah Cirebon – Jawa Barat oleh Sdr. H. Saeful Bahri, S.Ag; dan cerita rakyat Bujang Kurap: Tujuh Lidi Sakti, Tujuh Mata Air di Kota Lubuklinggau – Sumatera Selatan oleh Sdr. Zulkarnain Yani, S.Ag., MA.Hum. Nilai-nilai pendidikan agama yang terefleksikan di 7 (tujuh) wilayah penelitian tersebut selain dapat menjadi modal bagi penyampaian dan penguatan pesan-pesan agama kepada masyarakatnya, juga dapat menjadi sarana pendekatan kultural dalam rangka pemantapan pendidikan agama di tengah keragaman bangsa Indonesia. Hal tersebut sejalan dengan Rencana Strategis Kementerian Agama RI 2015-2019, di antaranya: (1) meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama; dan juga (2) memantapkan kerukunan intra dan antar-umat beragama melalui cerita rakyat daerah. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi data yang menunjukkan, bahwa suku-suku bangsa di Indonesia adalah masyarakat yang agamis dari generasi ke generasi. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi data yang menunjukkan kekhasan masyarakat Indonesia dalam beragama yang selalu terkait dengan kebudayaannya. Dengan data-data ini pula, diharapkan upaya revitalisasi cerita-cerita rakyat daerah tersebut melalui dinas-dinas terkait di daerah dan Kementerian Agama, melalui bidang seni-budaya agama, baik di pusat maupun daerah. Melalui upaya revitalisasi tradisi-tradisi tersebut diharapkan pesan-pesan
v
keagamaan dan pendidikan dapat lebih mudah disampaikan dan diterima masyarakat pendukungnya. Kami ucapkan terima kasih kepada para pihak, terutama Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) dan Dr. Pudentia MPSS, M.Hum yang mengawal jalannya penelitian ini, sehingga berhasil dilaksanakan dengan baik. Jakarta, November 2017 Kepala Balai Litbang Agama Jakarta,
Dr. H.M. Adlin Sila, MA., Ph.D. NIP: 197009161992031002
vi
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ----------------------------------------------------- Kepala Balai Litbang Agama Jakarta DAFTAR ISI ---------------------------------------------------------------
iii vii
BAB I : PENDAHULUAN )) Latar Belakang ----------------------------------------- 1 )) Pembatasan dan Perumusan Masalah ---------- 7 )) Tujuan dan Signifikansi Penelitian --------------- 7 )) Penelitian Terdahulu --------------------------------- 8 )) Metode Penelitian ------------------------------------ 10 BAB II : KERANGKA TEORI DAN KONSEPTUAL )) Struktur dalam Cerita Rakyat ---------------------- 17 )) Cerita Rakyat ------------------------------------------- 24 )) Nilai-Nilai Pendidikan Agama ---------------------- 28 BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN )) Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat di Kepulauan Riau --------------------------- 41
Oleh: Muhammad Tarobin )) Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat di Mentawai Provinsi Sumatera Barat ----------------------------- 55
Oleh: Mahmudah Nur )) Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Bujang Kurap: Tujuh Lidi Sakti, Tujuh Mata Air di Kota Lubuklinggau -------------------- 83
Oleh: Zulkarnain Yani vii
Daftar Isi )) Nilai-Nilai Pendidikan Agama Dalam Cerita Rakyat Daerah Lampung: Contoh dari Cerita Batin Labu Handak dan Radin Jambat ----------- 111
Oleh: Agus Iswanto )) Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Pantun Sri Sadana/Sulanjana ---------------------- 139
Oleh: Muhamad Rosadi )) Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat di Cirebon ------------------------------------- 161
Oleh: H. Saeful Bahri )) Nilai-Nilai Pendidikan Agama pada Cerita Rakyat Daerah di Provinsi Banten: Kajian Struktur dan Amanat Legenda Gunung Pinang ----------- 175
Oleh: Asep Saefullah BAB IV : PENUTUP )) Kesimpulan --------------------------------------------- 203 )) Rekomendasi ------------------------------------------- 204 DAFTAR PUSTAKA ------------------------------------------------------ 205 DAFTAR INDEKS -------------------------------------------------------- 219
viii
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Negara yang baik adalah negara yang menjunjung tinggi dan menghargai nilai-nilai budaya bangsanya sendiri. Warga negara yang baik adalah warga yang bangga memiliki dan ingin menjaga serta melestarikan budaya bangsanya sendiri. Indonesia kaya dengan kebudayaannya, di mana negara Indonesia terdiri dari berbagai macam pulau dan daerah yang di setiap pulau dan daerah memilki budaya yang berbeda.1 Salah satu budaya yang dimiliki setiap daerah adalah memiliki cerita rakyat. Cerita rakyat hidup pada setiap wilayah Indonesia yang dimiliki oleh setiap suku bangsa yang tersebar di seluruh nusantara. Cerita rakyat sebagai pengungkap alam pikiran, sikap, dan nilai budaya masyarakat pendukungnya,2 termasuk di dalamnya nilai-nilai agama dan keagamaan yang ada dalam cerita rakyat yang bisa dijadikan panutan atau pedoman hidup. Berbagai cerita rakyat yang dikenal selama ini, sebenarnya jumlahnya masih belum seberapa, karena masih sangat banyak cerita rakyat yang belum diangkat dan dipublikasikan. Sebab kehadirannya dari dulu hingga sekarang ini masih banyak yang belum tercatat dan beredar di tengah masyarakat sebagai cerita yang dituturkan dari mulut ke mulut, dari satu generasi Margareta Andriani, “Cerita Rakyat Bujang Buntu: Pembelajaran Pengabaian Pesan Moral”. Dalam, Jurnal Ilmiah BINA BAHASA Vol. 7 No. 1, Juni 2014. Palembang; Universitas Bina Darma, hlm. 39. 2 Sri Kusnita, “Pemanfaatan Cerita Rakyat Sebagai Penanaman Nilai Budaya Untuk Memperkuat Budaya Indonesia”, Prosiding Konferensi Nasional Bahasa dan Sastra III, Surakarta, 30 – 31 Oktober 2015, hlm. 603. 1
1
Bab I: Pendahuluan ke generasi. Keberadaan cerita rakyat bukanlah semata sebagai media hiburan, tetapi menyimpan berbagai muatan nilai yang tersimpan dalam suatu cerita rakyat.3 Khazanah peradaban bangsa Indonesia dalam bentuk cerita rakyat di atas tak terhingga nilainya. Banyak peninggalan masa lalu yang hingga kini masih dapat disaksikan, didengar, dan dirasakan. Peninggalan-peninggalan tersebut, secara sederhana -walaupun bukan bermaksud menyederhanakan- dapat berupa peninggalan yang tangible atau yang bersifat material dan intangible, yakni yang non-material. Peninggalan tangible, misalnya bangunanbangunan kuno, perabotan, senjata, pakaian adat – para raja, dan sejenisnya. Adapun peninggalan intangible, misalnya folklor, tradisi lisan, adat istiadat, permainan rakyat, ritual keagamaan, dan sejenisnya (Sedyawati, 2006:161). Dalam hal ini, cerita rakyat termasuk peninggalan yang bersifat intangible. Danandjaya memasukkan cerita rakyat atau disebutnya cerita prosa rakyat sebagai bagian dari folklor dan secara lebih spesifik lagi sebagai folklor lisan (Danandjaja, 2007:31 & 50). Cerita rakyat merupakan bagian dari sejarah dan budaya suatu bangsa, yang masing-masing memiliki ciri khas tersendiri dan menjadi identitas dari suatu suku bangsa dengan budaya yang berbeda-beda (Andriani, 2014:39). Pada umumnya, cerita rakyat diangkat dari suatu kisah yang berlatarkan suatu kondisi alam atau masyarakat pada masa lalu, seperti terjadinya alam semesta, tempat atau suatu peristiwa penting. Dalam sastra Indonesia, cerita rakyat adalah salah satu bentuk folklor lisan. Kata folklor sendiri merupakan peng-Indonesia-an dari kata bahasa Inggris “folklore”. Kata “folklore” ini adalah kata majemuk, yang berasal dari dua kata dasar: “folk”, yang artinya kolektif, yaitu sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, 3 Zulkifli Harto, “Nilai yang Terkandung pada Cerita Rakyat Sungai Jodoh Batam”. Dalam, Jurnal Renjis; Jurnal Ilmiah Budaya dan Sejarah Melayu, Volume 1, No. 1, Desember 2014. Tanjung Pinang: Balai Pelestarian Nilai Budaya, hlm. 88.
2
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah budaya, sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya serta kata “lore”, yang artinya tradisi (Aminah, 2016:30). Berbagai cerita rakyat yang telah kita ketahui dan kenal selama ini sebenarnya jumlahnya masih belum seberapa, karena masih sangat banyak cerita rakyat yang belum diangkat dan dipublikasikan. Jumlah cerita rakyat di Indonesia belum dapat diketahui secara pasti. Sebab kehadirannya dari dulu hingga sekarang ini masih banyak yang belum tercatat dan beredar di tengah masyarakat sebagai cerita yang dituturkan dari mulut ke mulut, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Keberadaan cerita rakyat bukanlah semata sebagai media hiburan, tetapi menyimpan berbagai muatan nilai yang tersimpan dalam suatu cerita rakyat (Harto, 2014:88). Keberadaan cerita rakyat bukan semata sebagai media hiburan, tetapi menyimpan berbagai muatan nilai, seperti nilai-nilai kehidupan, moral, emosional, bahasa, religi, sosialbudaya, dan sebagainya. Cerita rakyat merupakan gambaran suatu masyarakat tradisional masa lalu, yang diceritakan untuk menjelaskan atau memahami dunia dan warisan lokal masa lalu suatu kolektif tertentu (Febriyandi. YS, 2015:57). Sebagian cerita rakyat mengangkat tema tentang perbuatan baik atau buruk yang selalu mendapatkan ganjaran terhadap tingkah laku dan perbuatannya. Cerita rakyat diwariskan secara turun-temurun, dari generasi ke generasi yang mengandung pesan moral dan nilai-nilai yang patut untuk diteladani. Oleh karena itu, cerita rakyat sebagai sebuah aktivitas kebudayaan dalam masyarakat tidak terlepas dari tatanan nilai yang terbentuk dan disepakati secara bersama mengenai perilaku, kepribadian, dan norma yang dipegang oleh pemilik kebudayaan (Malik, 2013:331). Sehingga tidak berlebihan jika dikatakan, bahwa cerita rakyat merupakan salah satu sumber pendidikan secara tidak formal dalam masyarakat tertentu untuk pembentukan karakter mereka. Musfiroh (2008:19) sebagaimana dikutip Rohmadi (2013:888) mengungkapkan bahwa duduk manis menyimak penjelasan
3
Bab I: Pendahuluan dan nasihat merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Sebaliknya, duduk berlama-lama menyimak cerita atau dongeng adalah akivitas yang menyenangkan. Oleh karena itu, memberikan pelajaran dan nasihat melalui cerita atau dongeng adalah cara mendidik yang bijak dan cerdas. Mendidik dan menasihati anak melalui cerita memberikan efek pemuasan terhadap kebutuhan akan imajinasi dan fantasi. Lebih lanjut dijelaskan juga oleh Suyanto dan Abbas (2011), bahwa cerita dapat digunakan orangtua dan guru/dosen sebagai sarana mendidik dan membentuk kepribadian anak melalui pendekatan transmisi budaya atau cultural transmission approach. Dalam cerita, nilainilai luhur ditanamkan pada diri anak melalui penghayatan terhadap makna dan maksud cerita (meaning and intention of story). Rohmadi (2013:888) juga menambahkan dengan merujuk dari pernyataan tersebut, bahwa setiap cerita mempunyai kekuatan tersendiri untuk memberikan nasihat secara cerdas terhadap anak-anak yang mendengarnya, sehingga ungkapan cerita/dongeng menjadi media penyampaian informasi kepada anak-anak dalam membentuk karakter dan performance generasi penerus di masa yang akan datang. Oleh karena itu, cerita rakyat seringkali menjadi kisah yang sangat menarik bagi sang anak, sehingga menjadi senjata paling ampuh bagi sang ibu untuk menidurkan anaknya. Tanpa disadarinya, sebenarnya cerita rakyat yang didengar secara tidak langsung akan membentuk sikap dan moral sang anak. Ajaran atau kandungan moral dalam cerita rakyat akan membentuk kepribadian sang anak patuh terhadap kedua orangtuanya. Anak-anak akan merasa takut menjadi durhaka karena teringat hukuman atau balasan yang diterima sang anak dalam cerita-cerita jika durhaka terhadap orangtuanya. Dengan demikian, cerita rakyat tidak hanya sebagai cerita pengantar tidur, tetapi dapat membentuk moral anak-anak (La Hamadi, 2017). Robson (dalam Syahrul, 2013:101) memandang, bahwa kajian tentang sastra yang terdahulu itu sangat penting karena merupakan perbendaharaan pemikiran dan warisan nenek
4
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah moyang yang mungkin sangat berguna bagi kehidupan umat manusia pada saat sekarang ini. Di samping itu, nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat, sebagian masih belum tergali, misalnya cerita rakyat yang mengajarkan perdamaian dan lingkungan hidup sama sekali belum pernah dikumpulkan. Demikian juga cerita rakyat yang mengandung nilai-nilai toleransi dan menghindari konflik serta mengajarkan nilai hidup berbagi juga belum terdata (Bunanta, 2015:368). Nilai-nilai tersebut harus terlebih dahulu dikaji untuk bisa dimanfaatkan sebagai bahan kebijakan, khususnya bagi Kementerian Agama, dalam rangka: (1) meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama; dan juga (2) memantapkan kerukunan intra dan antar-umat beragama. Oleh karena itu, saatnya bagi Kementerian Agama untuk memperhatikan upaya pemahaman dan pengamalan agama, serta penciptaan dan pemeliharaan kerukunan dengan pendekatan kultural-informal, dengan lebih mengapresiasi peranan dan partisipasi masyarakat serta mempertimbangkan nilai-nilai kearifan lokal, yakni nilai-nilai yang terkandung dalam budaya masyarakat Indonesia (Jati, 2013:393; Tule, 2000). Pentingnya pendidikan agama yang mempertimbangkan pendekatan kultural, selain pendekatan normatif-ajaran agama, adalah sesuai dengan pandangan Ki Hadjar Dewantara, yang berpandangan, bahwa di dalam kebijaksanaan lokal (local wisdom) telah berkembang dan terakumulasi kebijakan-kebijakan pendidikan yang luhur, dan oleh sebab itu dapat dijadikan sebagai sarana di dalam habitus pendidikan. Menurutnya, semua suku bangsa di Nusantara ini memiliki kebudayaan masing-masing dan mempunyai nilai-nilai luhur tersendiri, yang dapat dikembangkan dan disumbangkan untuk membangun kebudayaan nasional (Tilaar dan Nugroho, 2008:56). Namun, pendidikan yang menjadikan kebijaksanaan lokal sebagai sarana tersebut berproses secara sentripetal, yakni berpusat dari budaya lokal dan secara bertahap meningkat kepada lingkungan yang semakin luas, hingga pada budaya nasional bahkan global (Tilaar dan
5
Bab I: Pendahuluan Nugroho, 2008:56). Jadi dapat dikatakan, bahwa kebijaksanaan lokal tersebut dapat menyumbang bagi pembentukan karakter manusia Indonesia, baik sebagai warga bangsa maupun warga dunia. Salah satu kebijaksanaan lokal tersebut dapat digali dari cerita rakyat daerah. Ada banyak aspek yang bisa digali dari cerita rakyat. Misalnya, cerita rakyat dapat menjadi alat integrasi bangsa (Febriyandi. YS, 2015:53-73) atau menggali nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalam cerita rakyat (Danandjaja, 1997:99). Namun dalam penelitian kali ini, yang menjadi fokus adalah aspek nilai-nilai pendidikan agama dalam cerita rakyat. Nilai pendidikan agama menjadi pembahasan utama penelitian ini, dengan pertimbangan signifikansi penelitian yang dapat dijadikan bahan informasi bagi peningkatan kualitas pemahaman dan pengamalan ajaran agama berbasiskan nilai-nilai kultural. Oleh karena itu, fokus penelitian ini ada pada nilai-nilai pendidikan agama yang terefleksikan dalam cerita rakyat di masyarakat. Nilai-nilai tersebut selain dapat menjadi modal bagi penyampaian dan penguatan pesanpesan agama kepada masyarakatnya, juga dapat menjadi sarana pendekatan kultural dalam rangka pemantapan pendidikan agama di tengah keragaman bangsa Indonesia. Hal ini disebabkan upaya penciptaan dan pemeliharaan kerukunan selama ini lebih menekankan pada pendekatan struktural-formal yang bersifat elitis. Padahal konsep multikultur yang sekarang banyak orang bicarakan sudah sangat lama berakar di dalam kebudayaan Indonesia, meskipun dengan nama atau sebutan yang berbeda, misalnya konsep bhinneka tunggal ika (Pudentia MPSS, 2016). Untuk itu, dalam konteks ini, Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta dapat melihat nilai-nilai pendidikan agama yang terkandung di dalam cerita rakyat. Nilainilai tersebut selain dapat menjadi modal bagi penyampaian dan penguatan pesan-pesan agama kepada masyarakatnya, juga dapat menjadi sarana pendekatan kultural dalam rangka
6
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah pemantapan pendidikan agama di tengah keragaman bangsa Indonesia.
Pembatasan dan Perumusan Masalah Ada banyak aspek yang bisa digali dari cerita rakyat. Misalnya, cerita rakyat dapat menjadi alat integrasi bangsa (Febriyandi. YS, 2015:53-73) atau menggali nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalam cerita rakyat (Danandjaja, 1997:99). Namun dalam penelitian kali ini, yang menjadi fokus adalah aspek nilai-nilai pendidikan agama dalam cerita rakyat. Nilai pendidikan agama menjadi pembahasan utama penelitian ini, dengan pertimbangan signifikansi penelitian yang dapat dijadikan bahan informasi bagi peningkatan kualitas pemahaman dan pengamalan ajaran agama berbasiskan nilai-nilai kultural. Oleh karena itu, fokus penelitian adalah ada pada nilai-nilai pendidikan agama terefleksikan dalam cerita rakyat di masyarakat. Adapun cerita rakyat yang diteliti akan disesuaikan dengan kekhasan wilayah penelitian yang menjadi lokasi penelitian untuk masing-masing peneliti. Para peneliti tentu akan mendata terlebih dahulu cerita-cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, terutama melalui kajian pustaka ataupun bisa juga -bila memungkinkan- melalui penelitian lapangan dalam studi awal (penjajagan). Oleh karena itu, wilayah yang menjadi lokus penelitian tentang nilai-nilai pendidikan agama dalam cerita rakyat ini adalah: Lampung, Banten, Bandung, Mentawai di Sumatera Barat, Cirebon, Kepulauan Riau, dan Sumatera Selatan.
Tujuan dan Signifikansi Penelitian Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah memahami makna-makna yang terkandung dalam cerita rakyat yang ada di masyarakat setempat. Berdasarkan pemikiran dan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap dan memahami nilainilai pendidikan agama yang terkandung di dalam cerita rakyat
7
Bab I: Pendahuluan di berbagai daerah sasaran penelitian. Selain itu, penelitian ini juga berupaya menunjukkan sisi-sisi relevansi nilai-nilai tersebut dalam konteks masyarakat di mana cerita rakyat itu berada secara khusus, dan dalam masyarakat Indonesia secara umum.
Signifikansi Penelitian Sebagaimana tercermin di dalam Rencana Strategis Kementerian Agama Tahun 2015-2019, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi penguatan pemahaman dan pengamalan keagamaan yang inklusif berbasiskan budaya masyarakat setempat melalui jalur kultural, yang dapat digunakan sebagai sarana pendidikan agama. Pada akhirnya, hasil penelitian ini akan dikembangkan dalam sebuah pengembangan materi pendidikan agama dengan menyajikan cerita rakyat sebagai salah satu mediumnya, sehingga cita-cita luhur Ketuhanan Yang Maha Esa dengan atau secara berkebudayaan dapat terwujud.
Penelitian Terdahulu Penelitian mengenai cerita rakyat telah banyak dilakukan sebagaimana telah dipaparkan oleh Danandjaja (1997:50-141). Kajian mengenai mite misalnya, yang dilakukan H. Kern dengan judul “Een Oud-Javaansche Cosmogonie” (Kosmogoni Jawa Kuno, 1887). Dalam karangan ini, Kern menganggap, bahwa kosmogoni Jawa sangat dipengaruhi kosmogoni Hindu. Karangan J. Kats berjudul “Dewi Sri” (1916) dan Mulder dengan judul “Hoe de Rijst Onstond – De Spijze die nooit verveelt (Bagaimana Terjadinya Padi – Makanan yang Tidak Pernah Menjemukan, 1948) mengungkap, mite terjadinya padi. Judul terakhir menyebut, padi berasal dari jenazah Dewi Sri. Sedangkan Roosman dalam “Coconut, Breadfruit, and Taro in Pasific Oral Literature (Kelapa, Sukun dan Talas di dalam Kesusastraan Lisan Lautan Teduh, 1970) menyebut, bahwa mite tentang asal-usul padi yang berasal dari tubuh Dewi Sri adalah hasil sinkretisme Dewi Hindu dengan bidadari dalam mitologi bulan dari Jawa (Danandjaja, 1997:52-53).
8
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Berbeda dengan mite, legenda bersifat sekuler (keduniawian), terjadinya pada masa yang belum begitu lampau dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang. Brunvand sebagaimana disebut oleh Danandjaja (1997:67) menggolongkan legenda menjadi empat kelompok, yakni: (1) legenda keagamaan (religious legends), (2) legenda alam gaib (supernatural legends), (3) legenda perseorangan (personal legends), dan (4) legenda setempat (local legends). Termasuk dalam legenda keagamaan adalah legenda orangorang suci (saints), yang kemudian menjadi bagian kesusastraan agama menjadi hagiography (legends of saints). Beberapa contoh untuk model ini, misalnya karya Salam Solihin, Sekitar Wali Sanga (1963); D. A. Rinkes, De Heiligen van Java (Orang-orang Saleh dari Jawa, 1910-1913). Termasuk juga dalam legenda keagamaan adalah legenda tentang kemukjizatan, wahyu, permintaan melalui sembahyang, kaul yang terkabul, dan sebagainya (Danandjaja, 1997:70). Sedangkan legenda alam gaib biasanya berbentuk kisah yang dianggap benar-benar terjadi dan dialami seseorang. Legenda semacam ini meneguhkan kebenaran “takhayul” atau kepercayaan rakyat, misalnya cerita-cerita tentang gendruwo dan sundel bolong. Jadi, yang termasuk dalam kategori legenda alam gaib adalah cerita-cerita pengalaman seseorang dengan makhluk-makhluk gaib, hantu-hantu, siluman, gejala-gejala alam yang gaib, dan sebagainya. Berbeda dengan legenda alam gaib yang belum banyak ditulis, legenda perseorangan lebih banyak dikaji. Salah satunya adalah legenda tokoh Panji sebagaimana ditulis oleh Poerbatjaraka dengan judul Tjerita Pandji dalam Perbandingan (1968). Sementara di Bali terdapat legenda Jayaprana sebagaimana telah dikaji oleh Franken (1960) dan Hooykass (1958). Legenda setempat memuat cerita yang yang berhubungan dengan suatu tempat, nama tempat dan bentuk topografi, yakni bentuk permukaan suatu daerah, apakah berbukitbukit, berjurang, dan sebagainya. Misalnya, legenda kuningan
9
Bab I: Pendahuluan (Wirakusumah, 1973), legenda Anak-Anak Dalem Solo yang Mengembara Mencari Sumber Bau Harum (Danandjaja, 1980), Asal Mula Nama Banyuwangi (Sagimun, 1963), legenda Tangkuban Perahu (Rosidi, 1961), dan sebagainya. Tentu masih terdapat beberapa kajian tentang cerita rakyat, yang dapat dilihat, baik dari sisi nilai kesastraannya maupun dari makna atau nilai-nilai budaya yang dikandungnya. Beberapa edisi cerita rakyat dari berbagai daerah juga sudah banyak dipublikasikan, seperti yang sudah didaftar oleh Kemp (2004). Penelitian ini sesungguhnya ingin melengkapi penelitianpenelitian yang telah ada tentang cerita rakyat, terkhusus pada aspek pengungkapan nilai-nilai pendidikan agama, yang sangat penting bagi kebijakan Kementerian Agama sekarang ini, terutama demi mengembangkan pendidikan agama yang mempertimbangkan kebijaksanaan lokal di berbagai daerah di Indonesia. Selanjutnya, penelitian ini akan mempertimbangkan penelitian-penelitian yang sudah dilakukan yang terkait dengan cerita rakyat yang diteliti oleh masing-masing peneliti nanti di berbagai daerah.
Metode Penelitian Pendekatan ‘Folklor’
Penelitian ini menggunakan pendekatan sebagaimana yang disarankan oleh Danandjaja (2015), bahwa dalam penelitian bahan-bahan tradisi lisan, bisa digunakan ‘pendekatan folklor.’ Sebagaimana telah disinggung sekilas, kata ‘folklor’ itu berasal dari kata bahasa Inggris, ‘folklore,’ yang terdiri dari dua kata, yakni ‘folk’ (kolektivitas masyarakat) dan ‘lore’ (tradisi; sebagian kebudayaan yang diwariskan turun-temurun). Jadi, folklor terdiri dari dua unsur: masyarakat dan tradisi di dalam masyarakat tersebut. Dengan begitu, dalam penelitian bahan-bahan tradisi lisan, ada dua unsur yang harus ditelaah, yakni masyarakat dan kebudayaannya di satu sisi serta tradisinya yang diwariskan secara lisan.
10
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Dengan mempertimbangkan pengertian dan dua unsur pembentuk di atas, Danandjaja (2015:67) membedakan pendekatan ahli folklor modern dari literary folklorist (ahli folklor yang dikembangkan ahli kesusastraan, ahli filologi, dan ahli folklor humanis), yang mana ahli folklor modern mengembangkan pendekatan interdisipliner, yang bukan hanya mengumpulkan “lore-nya” (tradisi lisannya) saja, melainkan juga segala keterangan mengenai latar belakang tradisi itu, yang bersifat sosial, kebudayaan maupun psikologi dari “folknya” (kolektifnya). Pendekatan folklor modern juga tidak seperti pendekatan folklor antropologis, yang hanya memperhatikan aspek folk-nya saja. Pendekatan folklor modern mengembangkan pendekatan holistik, dalam arti saat menganalisis tradisi lisan akan dikaitkan dengan latar belakang atau konteks kebudayaan tradisi bersangkutan (Danandjaja, 2015:68). Untuk dapat menemukan kedua nilai di atas, maka peneliti harus membaca keseluruhan cerita untuk menemukan makna dan nilai yang terkandung di dalam cerita tersebut. Pembacaan keseluruhan cerita untuk dapat menemukan nilai pendidikan agama yang terkandung di dalam cerita mengacu pada konsep pendidikan agama sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Pendeskripsian dan analisis nilai pendidikan agama dalam cerita rakyat juga mempertimbangkan konteks masyarakat dan kebudayaan dari cerita rakyat yang diteliti, sebagai penerapan pendekatan folklor.
Lokasi Penelitian dan Pengumpulan Data Sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa penelitian ini dilakukan dalam wilayah kerja Balai Litbang Agama Jakarta, yaitu seluruh wilayah di pulau Sumatera, Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Pada kesempatan kali ini, dengan argumen melanjutkan penelitian sebelumnya (tahun 2016) tentang tradisi lisan, serta keterbatasan dana dan sumber daya peneliti, maka yang ditelusuri adalah wilayah-wilayah tersebut di atas. Tentu, di
11
Bab I: Pendahuluan masing-masing wilayah tersebut banyak memiliki cerita rakyat daerah, baik yang sudah didokumentasikan dan dikaji maupun belum, namun penentuan fokus cerita rakyat di masing-masing wilayah disesuaikan dengan kebutuhan penelitian yang tentu saja didasarkan pada studi pustaka. Karena penelitian ini berupaya menggunakan pendekatan folklor sebagaimana disebut di atas, maka kunjungan dan observasi lapangan di lokasi menjadi penting. Karena, selain dengan kajian pustaka, akan lebih baik informasi mengenai latar belakang kebudayaan dari cerita rakyat yang diteliti didapat langsung di lokasi penelitian, yang juga sebagaimana disarankan oleh Danandjaja (1997:194; lihat juga Simatupang, 2013:43). Adapun tahap-tahap penelitiannya menurut Danandjaja (1997:193-200) adalah: (1) Tahap pra-penelitian di tempat. Pada tahap ini peneliti perlu membuat rancangan penelitian. Untuk penelitian cerita rakyat maka perlu ditentukan bentuk cerita rakyat yang akan diteliti apakah hanya mite saja, atau legenda atau dongeng saja ataukah ketiganya. Namun karena penelitian ini adalah penelitian kebijakan (policy research), maka cerita rakyat yang dipilih adalah yang mengandung nilai pendidikan agama. Berikutnya, perlu ditentukan kriterianya, yakni: cerita rakyat yang dipilih hendaknya mewakili kekhasan lokasi penelitian (daerah penelitian); cerita rakyat yang belum dan/atau minim publikasi. Sebelum melakukan penelitian di lapangan, peneliti juga perlu mengetahui latar belakang suku bangsa atau kolektif yang akan diteliti melalui kajian pustaka atau wawancara dengan orang yang berasal dari daerah setempat. Peneliti juga perlu mempersiapkan alat perekam. Tahap kedua: (2) Penelitian di tempat. Setiba di lapangan, peneliti secepat mungkin perlu membangun hubungan yang saling mempercayai dengan kolektif dan para informan. Hal ini bisa dimulai dalam tahap penjajagan. Komunikasi ini sangat berguna untuk mendapatkan pewaris aktif folklor yang diteliti yakni juru cerita atau kepala adat.
12
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Cara yang dipergunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini, selain tentu saja diawali dengan pengumpulan data-data kepustakaan, adalah dengan wawancara dan observasi. Wawancara yang dilakukan bisa terarah dan tidak terarah. Pada tahap pertama, wawancara dilakukan tidak terarah, dilakukan secara santai dengan memberikan kesempatan kepada informan sebesar-sebarnya untuk memberikan keterangan yang ditanyakan. Wawancara ini penting pada tahap pertama penelitian, karena dengan memberikan keterangan umum, sering kali para informan memberi keterangan-keterangan yang tidak terduga, yang tidak akan dapat diketahui jika dilakukan dengan cara wawancara terarah. Setelah mendapatkan gambaran umum tentang bentuk cerita rakyat yang akan diteliti, barulah kemudian dipergunakan wawancara bentuk kedua, yakni wawancara terarah. Dalam penyusunan daftar wawancara terarah ini, diserahkan kepada masing-masing peneliti di lapangan dengan mempertimbangkan bentuk cerita rakyat yang akan diteliti. Untuk menguji atau memeriksa kebenaran hasil wawancara dapat dilakukan dengan cara memeriksanya kepada informan lain dengan daftar pertanyaan yang sama. Bisa juga dilakukan dengan melihat kenyataan berdasarkan pengamatan. Jika informan adalah seorang profesional, misalnya saja seorang tukang cerita atau dalang, maka perlu dikumpulkan beberapa keterangan mengenai: cara tradisi tersebut diajarkan; apa syarat-syarat yang dituntut untuk menjadi pencerita atau dalang; apa semua orang dapat diterima sebagai dalang atau hanya orang-orang tertentu; umur berapa seseorang dapat diterima menjadi murid dalang; kedudukan seorang dalang di dalam masyarakatnya; dan riwayat hidup dalang atau pencerita atau pemain itu. Hasil semua wawancara tersebut kemudian dicatat atau direkam. Cara kedua adalah dengan observasi atau pengamatan. Pengamatan ini digunakan untuk melihat suatu kejadian (teater rakyat, pembacaan hikayat, permainan rakyat atau ritual rakyat), dari luar sampai ke dalam dan melukiskan secara tepat seperti
13
Bab I: Pendahuluan apa yang dilihat. Hal-hal yang diamati adalah: (1) lingkungan fisik suatu bentuk cerita rakyat yang dipertunjukkan; (2) lingkungan sosial suatu bentuk cerita rakyat yang dipertunjukkan; (3) interaksi para peserta suatu pertunjukkan bentuk cerita rakyat; (4) pertunjukkan bentuk cerita rakyat itu sendiri; (5) masa atau waktu pertunjukan bentuk cerita fakyat tersebut. Setelah data semua terkumpul dan dianalisis, selanjutnya disampaikan dalam sebuah laporan penelitian. Laporan ini dapat terdiri dari pendahuluan, deskripsi latar belakang sosialbudaya wilayah penelitian di mana cerita rakyat menjadi fokus penelitian, deskripsi singkat tentang cerita rakyat yang dikaji, dan selanjutnya analisis tentang nilai-nilai pendidikan agama dalam cerita tersebut. Hal yang penting dalam pengumpulan data ini adalah membuat edisi teks dari cerita rakyat yang diteliti, baik yang bersumber dari sastra lisan maupun dari naskah. Ini dilakukan dengan cara transkripsi terlebih dahulu cerita rakyat yang dijadikan objek penelitian. Jika cerita rakyat bersumber dari tradisi lisan, maka yang harus dilakukan adalah merekamnya atau berusaha mendapatkan rekamannya untuk kemudian di transkripsi. Pengalihan wacana lisan ke tulis dalam cerita rakyat dipandang lebih mudah ketimbang pengalihan wacana pada bentuk teater (Kleden-Probonegoro, 2015:153). Meskipun demikian, untuk cerita-cerita rakyat yang bersumber pada tradisi lisan, maka peneliti tetap berhati-hati di dalam melakukan transkripsi. Sebagai acuan dalam melakukan perekaman dan transkripsi cerita rakyat yang berdasarkan pada cerita rakyat adalah seperti yang dilakukan oleh Tenas Effendy (2008:30), yakni setiap rekaman cerita lisan diputar ulang, dibahas bersama oleh narasumber, atau beberapa narasumber, apabila ada bagianbagian cerita yang dianggap kurang tepat, segera diperbaiki dengan cara bermusyawarah dan saling melengkapi. Selanjutnya, setelah cerita dianggap sudah lengkap, barulah dilakukan
14
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah penulisan atau transkripsi dalam bahasa aslinya dan selanjutnya diterjemahkan. Adapun untuk cerita-cerita yang berdasarkan pada naskah, untuk membuat edisinya, tentu dibutuhkan ilmu filologi dalam memperlakukannya. Filologi digunakan mulai dari inventarisasi naskah, yang digunakan sebagai objek penelitian, perbandingan naskah, hingga penentuan dan pembuatan edisi teks. Edisi teks dapat terdiri dari bahasa asli daerahnya dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Pembuatan edisi teks juga dapat mencontoh Christomy (2003). Baru setelah terwujud edisi teks cerita rakyat, maka dilakukan analisis atas makna yang terkandung di dalam cerita rakyat tersebut, dengan berpegang pada tujuan penelitian ini, yakni mengungkapkan nilai-nilai pendidikan agama dalam cerita rakyat.[]
15
16
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
BAB II KERANGKA TEORI DAN KONSEPTUAL Struktur dalam Cerita Rakyat Struktur merupakan kesatuan organis antar-unsur, yang merupakan satu kesatuan yang menyeluruh. Dengan mengutip Hawkes, Teuuw menjelaskan ada 3 (tiga) aspek atau ide, gagasan dari konsep struktur, yaitu gagasan keseluruhan (the idea of wholeness), gagasan transformasi (the idea of transformation), dan gagasan regulasi sendiri (the idea of self regulation) [Teuuw, 2003:113 dan Sarmadi, 2009:2]. Dalam perspektif strukturalisme, karya sastra memiliki otonomi sendiri. Unsur-unsur dalam karya sastra membentuk suatu struktur yang saling berhubungan dan saling bergantung dalam menciptakan kemenyeluruhan tersebut (Pudentia, 1992:31). Kaitannya dengan cerita rakyat, hal ini juga dapat dikaji dengan menggunakan perspektif strukturalisme, sebab ia juga memiliki struktur. Sturktur cerita rakyat adalah suatu unit kesatuan cerita yang terdiri atas berbagai unsur dan unsurunsurnya tersebut saling berhubungan (Endraswara, 2009:112). Analisis struktur dapat berhasil untuk membongkar karya sastra atas dasar strukturnya. Akan tetapi, langkah ini baru tahap pendahuluan dalam mencari makna dari keseluruhan karya sastra. Oleh karena itu, analisis struktur bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, semendetail dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh (Teuuw, 2003:112).
17
Bab II: Kerangka Teori dan Konseptual Dalam penjelasan lain disebutkan, bahwa strukturalisme dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan penelitian kesusasteraan yang menekankan pada kajian hubungan antarunsur pembangun karya yang bersangkutan. Jadi, strukturalisme dapat disamakan dengan pendekatan objektif, yang memberikan perhatian penuh pada karya sastra sebagai sebuah struktur (Sarmadi, 2009:24). Hal ini mengindikasikan, bahwa karya sastra memiliki otonomi dan sudah utuh yang seakan-akan terlepas dari konteks sejarah dan budayanya. Ini merupakan salah satu kelemahan strukturalisme. Oleh karena itu, dalam mengatasinya, diperlukan peran pembaca dalam memberikan makna pada karya tersebut. Pudentia, dengan mengutip Culler mengatakan, bahwa suatu teks sastra mempunyai makna bukan hanya karena struktur yang dimilikinya, tetapi juga karena hubungannya dengan teksteks lain (Pudentia, 1992:32 dan Teuuw, 2003:142-143). Dalam kerangka melihat hubungan suatu karya sastra dengan teks lainnya, analisis intertekstual merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk melihat makna karya tersebut secara lebih utuh. Menurut Julia Kristeva, sebagaimana dikutip Pradopo, bahwa setiap teks sastra itu merupakan mosaik kutipankutipan, penyerapan dan transformasi teks-teks lain (Pradopo, 2008:167). Teori ini disebut dengan teori intertekstualitas. Berdasarkan teori ini, suatu teks tidak dapat lahir sebagai suatu kesatuan yang mandiri atau memuaskan diri sendiri. Oleh karena itu, sebuah karya sastra atau teks tidak mungkin tertutup dan tidak mendapat pengaruh dari luar, setidaknya karena dua alasan: Pertama, penulis karya sastra adalah pembaca teks-teks (dalam arti luas), sebelum ia menjadi pencipta teks dan oleh sebab itu karya tersebut tidak terelakkan penuh dengan acuan, kutipan, dan segala macam pengaruh... Kedua, teks hanya didapat dan dipahami melalui proses membaca; apa yang dihasilkan pada saat dan proses membaca disebabkan oleh pertumbuhan dan perkembangan silang materi teks (misalnya buku) dengan semua teks yang dikenal oleh pembaca... (Prodotokusumo, 2012:82-83).
18
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Dengan demikian, analisis struktural dapat menjadi langkah awal dalam menguraikan unsur-unsur dalam karya sastra, termasuk cerita rakyat. Setiap unsur dapat memberikan kontribusi dalam pemaknaan karya tersebut secara menyeluruh. Selanjutnya, perlu dilakukan analisis lebih lanjut, yang dalam konteks di sini, akan digunakan analisis intertekstual, untuk melihat keterkaitannya dengan teks-teks lain, sehingga dapat ditemukan maknanya, bukan hanya dari karya itu secara mandiri tetapi juga dalam konteks yang lebih luas. Cerita rakyat termasuk salah satu karya sastra yang juga memiliki unsur-unsur yang saling berkaitan antara unsur yang satu dengan unsur lainnya sehingga mendukung keutuhan cerita bersangkutan secara keseluruhan. Adapun unsur-unsur yang terdapat dalam cerita rakyat yang perlu dijelaskan dalam konteks di sini meliputi:1 1. Tema Untuk menentukan makna pokok sebuah cerita, diperlukan kejelasan pengertian tentang makna pokok atau tema itu sendiri. Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan. Pendapat lain mengatakan, bahwa tema adalah makna cerita, gagasan sentral, atau dasar cerita. Tema juga diartikan sebagai gagasan utama atau pikiran Penjelasan tentang unsur-unsur cerita rakyat diambil dari L.G. Sarmadi, “Kajian Strukturalisme dan Nilai Edukatif …”, hlm. 25-30, karena ada kesamaan fokus analisisnya, yakni sama-sama mengkaji dan menganalisis cerita rakyat. Kecuali jika disebutkan dari sumber lain. Dalam menjelaskan struktur cerita pantun “Lutung Kasarung” versi Pleyte (LKP), Pudentia menggunakan pendekatan strukturalisme dalam menganalisis alur dan tema, serta tokoh. Lihat Pudentia, Transformasi Sastra…, hlm. 33-46. Secara ringkas tentang “Teori, Metode, dan Teknik Struktural”, lihat Sangidu, Penelitian Sastra: Pendekatan, Teori, Metode, Teknik, dan Kiat, (Yogyakarta: Seksi Penerbitan Sastra Asia Barat, FIB UGM, 2005), hlm. 15-17. Adapun tentang “Konsep Struktural Folklor”, lihat Suwardi Endraswara, Metode Penelitian Folklor…, hlm. 111-113. 1
19
Bab II: Kerangka Teori dan Konseptual pokok, dalam karya sastra imajinatif merupakan pikiran yang akan ditemui oleh pembaca yang cermat sebagai akibat dari membaca karya sastra. Tema sering disebut juga dasar cerita, yakni pokok permasalahan yang mendominasi karya sastra. Tema juga dapat dikatakan sebagai permasalahan yang merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun cerita atau karya sastra, sekaligus merupakan permasalahan yang ingin dipecahkan dengan karya tersebut. Pengertian lain menyebutkan, bahwa tema adalah dasar cerita atau gagasan dasar umum sebuah karya sastra yang ditentukan pengarang sebelum mengembangkan cerita. Secara lebih ringkas, tema adalah gagasan, ide, atau pikiran utama di dalam karya sastra yang terungkap atau tidak. Tema biasanya terkait dengan masalah hakiki manusia, seperti misalnya cinta kasih, ketakutan, kebahagiaan, kesengsaraan, keterbatasan, dan sebagainya. Tema yang sama kadang-kadang ditulis oleh beberapa pengarang. Ada pengarang yang menjadikan tema tersebut sebagai tema sentral, tetapi ada juga pengarang yang menjadikannya sebagai subtema atau tema sampingan saja. Tema yang sering ditemukan dalam karya sastra, baik lisan maupun tertulis, bersifat didaktis. Artinya, tema biasanya berisi pertentangan antara kebaikan dan kejahatan. Tema-tema seperti itu dituangkan dalam karya sastra dalam bentuk keadilan melawan ketidakadilan, kesabaran melawan ketamakan dan sebagainya (Sarmadi, 2009:25-26 dan Pudentia, 1992:36-37). 2. Tokoh Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau perlakuan dalam berbagai peristiwa dalam. Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita,
20
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah sedangkan penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Suatu pendapat menyebutkan, bahwa walaupun tokoh cerita hanya merupakan tokoh ciptaan pengarang, ia haruslah merupakan seorang tokoh yang hidup secara wajar, sewajar sebagaimana kehidupan manusia yang terdiri dari darah dan daging, yang mempunyai pikiran dan perasaan. Kehidupan tokoh cerita adalah kehidupan dalam dunia fiksi, maka ia haruslah bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntutan cerita dengan perwatakan yang disandangnya. Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, moral, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Keadaan ini justru sering (dapat) berakibat kurang menguntungkan para tokoh cerita itu sendiri dilihat dari segi kewajaran dalam bersikap dan bertindak (Sarmadi, 2009:26-27 dan Pudentia, 1992:37-38). 3. Alur atau Plot Plot atau alur adalah konstruksi yang dibuat pembaca mengenai sebuah deretan peristiwa yang secara logis dan kronologis saling berkaitan dan diakibatkan atau dialami oleh para pelaku. Dalam pengertian yang paling umum, plot atau alur sering diartikan sebagai keseluruhan rangkaian cerita yang terdapat dalam cerita. Plot merupakan unsur fiksi yang penting, bahkan tak sedikit orang yang menganggapnya sebagai yang terpenting di antara berbagai unsur fiksi yang lain. Kejelasan plot, kejelasan antarperistiwa yang disahkan secara linear, akan mempermudah pemahaman pembaca terhadap cerita yang dibacanya. Kejelasan plot dapat diartikan sebagai kejelasan cerita. Kesederhanaan plot membuat cerita mudah dipahami. Sebaliknya, plot yang tidak jelas akan menjadikan cerita
21
Bab II: Kerangka Teori dan Konseptual sulit dipahami. Plot merupakan jalinan cerita dari awal sampai akhir, berkesinambungan, dinamis, serta memiliki hubungan kausalitas (sebab akibat). Plot berfungsi untuk membaca ke arah pemahaman secara rinci. Plot juga berfungsi untuk menyediakan tahap-tahap tertentu bagi penulis untuk melanjutkan cerita berikutnya. Plot memegang cerita sangat penting dalam cerita. Ada beberapa macam pembagian plot atau alur, di antaranya ada yang membaginya menjadi enam tahapan yaitu: (1) paparan awal cerita (exposition), (2) mulai ada problem (inciting moment), (3) penanjakan konflik (rising action), (4) konflik yang semakin ruwet (complication), (5) konflik menurun (falling action), (6) penyelesaian (denouement). Selain itu, ada juga beberapa macam alur yang dapat dilihat dari alur cerita rakyat. Beberapa jenis alur yang dapat disebutkan antara lain: (1) alur menanjak (Rising plot), (2) alur menuruun (Falling plot), (3) alur maju (progressive plot), (4) alur mundur (regressive plot), (5) alur lurus (Straigt plot), (6) alur patah (Break plot), (7) alur sirkule (circular plot), (8) alur linear (Linear plot), (9) alur episodic (Episodik plot) [Sarmadi, 2009:27-28 dan Nurhayati, 2008:42]. 4. Latar (Setting) Latar atau setting atau landasan tumpu adalah segala keterangan mengenai waktu, ruang, dan suasana terjadinya lakuan dalam karya sastra. Deskripsi latar dapat bersifat fisik, realistis, documenter, dan dapat pula berupa deskripsi perasaan. Latar juga disebut sebagai lingkungan tempat terjadinya peristiwa. Lingkungan yang dimaksud di sini adalah aspek tempat, waktu, dan suasana. Latar atau setting cerita selalu berkaitan dengan waktu dan tempat penceritaan. Misalnya siang dan malam, bulan, tahun, dan sebagainya. Tempat penceritaan
22
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah dapat mengacu pada tempat terjadinya cerita. Misalnya di sawah, di pantai, di gunung dan sebagainya. Latar memberi pijakan cerita secara konkrit dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolaholah sungguh-sungguh ada dan terjadi. Dengan demikian, pembaca merasa dipermudah untuk mengembangkan daya imajinasinya. Selain itu, pembaca dimungkinkan dapat berperan serta secara kritis sehubungan dengan pengetahuannya tentang latar. Pembaca dapat merasakan dan menilai kebenaran, ketepatan, dan aktualisasi latar yang diceritakan sehingga merasa lebih akrab (Sarmadi, 2009:28-29 dan Pudentia, 1992:36). 5. Amanat Amanat merupakan pemecahan suatu tema. Di dalam amanat terlihat pandangan hidup dan cita-cita pengarang. Amanat dapat diungkapkan secara eksplisit dan dapat juga secara implisit. Amanat berurusan dengan makna, yaitu sesuatu yang khas, umum, subjektif, sehingga harus dilakukan dengan penafsiran. Pendapat di atas menunjukkan, bahwa amanat merupakan suatu hikmah dari permasalahan hidup yang terkandung dalam cerita. Melalui amanat, pengarang ingin memberikan sesuatu yang positif, dan dari amanat tersebut diharapkan pembaca akan bisa mengambil suatu manfaat dari cerita. Suatu amanat dikatakan baik bila amanat tersebut berhasil membukakan kemungkinan-kemungkinan yang luas dan baru bagi manusia dan kemanusiaan. Begitu juga dalam cerita prosa rakyat terkandung amanat yang dapat dijadikan teladan oleh warga masyarakat yang melingkupinya (Sarmadi, 2009:29-30 dan Nurhayati, 2008:43-44).
23
Bab II: Kerangka Teori dan Konseptual
Cerita Rakyat Cerita rakyat merupakan tradisi lisan yang secara turun temurun diwariskan dalam kehidupan masyarakat, seperti dongeng Sangkuriang, Si Kancil, Si Kabayan, dan sebagainya. Cerita rakyat biasanya berbentuk tuturan yang berfungsi sebagai media pengungkapan perilaku tentang nilai-nilai kehidupan yang melekat di dalam kehidupan masyarakat. Dalam sastra Indonesia, cerita rakyat adalah salah satu bentuk folklor lisan (Bunanta, 1998: 21). Kata folklor adalah pengindonesiaan dari kata bahasa Inggris folklore. Kata itu sendiri merupakan kata majemuk yang berasal dari dua kata dasar folk dan lore. Kata folk sama artinya dengan kolektif (collectivity). Menurut Dundes, folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal tersebut dapat berbentuk: warna kulit yang sama, bentuk rambut yang sama, mata pencaharian yang sama, bahasa yang sama, taraf pendidikan yang sama, dan agama yang sama. Namun yang lebih penting adalah mereka telah memiliki suatu tradisi, yakni kebudayaan yang telah mereka warisi turuntemurun, sedikitnya dua generasi, yang dapat mereka akui sebagai milik bersama. Di samping itu, yang terpenting adalah mereka sadar akan identitas kelompok mereka sendiri (dalam Danandjaja, 1997:1). Sedangkan lore adalah tradisi folk, yaitu sebagian kebudayaan yang diwariskan secara turun-menurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device). Definisi folklor secara keseluruhan menurut Danandjaja (1997: 2) adalah sebagian kebudayan suatu ‘kolektif’, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device).
24
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Dorson membagi folklor dalam empat bagian, yakni: sastra lisan (oral literature, atau kadang disebut sebagai seni verbal atau sastra ekspresif ); budaya material (folklife), terkait dengan karya seperti pakaian, desain, candi, dsb; kebiasaan sosial rakyat (social folk custom); dan seni pertunjukan rakyat (performing folk arts) (Endraswara, 2009:108). Sedangkan Brunvand membagi folklor dalam tiga kelompok besar, yakni: folklor lisan (verbal folklore), folklor sebagian lisan (partly verbal folklore), dan folklor bukan lisan (non verbal folklore) (Danandjaja, 1997:21). Dalam klasifikasi pertama, cerita rakyat termasuk ke dalam bagian sastra lisan (oral literature), sedang dalam klasifikasi kedua cerita rakyat termasuk dalam folklor lisan. Sastra lisan sinonim dengan folklor lisan dan tradisi lisan (Danandjaja, 2015:64). Folklor lisan adalah folklor yang bentuknya murni lisan. Bentuk-bentuk folklor yang termasuk dalam kelompok ini adalah: bahasa rakyat (folk speech), seperti julukan, pangkat tradisional, dan gelar kebangSAWanan; (b) ungkapan tradisional, seperti peribahasa, pepatah, dan pameo; (c) pertanyaan tradisional, seperti teka-teki; (d) puisi rakyat, seperti pantun, gurindam, dan syair; (e) cerita prosa rakyat, seperti mite, legenda, dan dongeng; dan (f ) nyanyian rakyat. Sebagai bagian dari folklor, cerita rakyat memiliki ciri-ciri sebagaimana folklor seperti dijelaskan oleh Danandjaja (1997:34), yaitu: 1. Penyebaran dan pewarisannya dilakukan secara lisan (atau disertai dengan gerak isyarat dan alat pembantu pengingat) dari satu generasi ke generasi berikutnya. 2. Bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap. Disebarkan di antara kolektif tertentu dalam waktu yang cukup lama (paling sedikit dua generasi). 3. Ada (exist) dalam versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda tetapi bentuk dasarnya tetap bertahan. 4. Bersifat anonim, nama penciptanya tidak diketahui.
25
Bab II: Kerangka Teori dan Konseptual 5. Mempunyai bentuk berumus atau berpola. Misalnya dalam cerita rakyat menggunakan kata-kata klise “bulan empat belas hari” untuk menggambarkan kecantikan seorang gadis; atau kata-kata khas seperti “kata sahibul hikayat”, atau “menurut empunya cerita”, dan sebagainya. 6. Memiliki kegunaan (function) dalam kehidupan bersama suatu kolektif. Cerita rakyat misalnya mempunyai kegunaan sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam. 7. Bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum. 8. Menjadi milik bersama (collective) dari kolektif tertentu. 9. Bersifat polos dan lugu, karena folklor merupakan proyeksi manusia yang paling jujur manifestasinya. Seperti telah disebut di atas, salah satu ciri folklor adalah memiliki fungsi bagi masyarakat. Fungsi tersebut sebagaimana disebut oleh Bascom (dalam Danandjaja, 1997: 19; Danandjaja, 2015b:82; ) yakni: (a) sebagai sistem proyeksi (projective system), yakni sebagai alat percermin angan-angan suatu kolektif; (2) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan; (c) sebagai alat pendidikan anak (pedagogical device); dan (d) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar normanorma masyarakat dipatuhi anggota kolektifnya. Cerita rakyat juga dapat berfungsi sebagaimana fungsi sastra secara umum seperti disebut Kosasih (dalam Aji, 2011:20) yakni: (1) fungsi rekreatif, yaitu memberikan rasa senang, gembira serta menghibur; (2) fungsi didaktif, yaitu mendidik para pembaca karena nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang ada di dalamnya; (3) fungsi estetis, yakni memberikan nilai-nilai keindahan; (4) fungsi moralitas, yaitu mengandung nilai moral sehingga pembaca dapat mengetahui moral yang baik dan buruk; (5) fungsi religiusitas, yakni mengandung ajaran yang dapat dijadikan teladan bagi para pembacanya.
26
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Danandjaja (1997: 50) menyebut cerita rakyat dengan cerita ‘prosa’ rakyat. Mengutip pendapat William R. Bascom, ia membagi cerita rakyat menjadi tiga kelompok besar yakni: (1) mite (myth), (2) legenda (legend), dan (3) dongeng (folktale). Mite adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang empunya cerita. Sedangkan legenda adalah prosa rakyat yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan mite, yaitu dianggap pernah benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Sedangkan dongeng adalah prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terikat oleh waktu maupun tempat. Penjelasan masing-masing dari ketiga bentuk cerita rakyat di atas diadaptasi dari Nur Aminah2 sebagai berikut: 1. Mite (Myth) Myth (mitos) atau mite berasal dari bahasa Yunani yang berarti cerita tentang dewa-dewa dan pahlawan yang dipuja. Mitos adalah cerita suci yang mengandung sistem kepercayaan atau religi. Mite isinya merupakan penjelasan suci atau sakral. Mite adalah cerita rakyat yang dianggap benar terjadi dan dianggap suci oleh yang mempunyai cerita. Mite ditokohi para dewa seperti kita kenal sekarang ini dan terjadi pada masa lampau. Mite pada umumnya mengisahkan terjadinya alam semesta pada masa lampau. Mite pada umumnya mengisahkan terjadinya alam semesta, dunia, manusia pertama, bentuk fotografi, gejala alam, bentuk khas binatang, terjadinya maut, dan sebagainya. Mite mengisahkan petualangan percintaan, hubungan kekerabatan, dan kisah perang para dewa. Penjelasan masing-masing dari ketiga bentuk cerita rakyat ini diadaptasi dari Nur Aminah, “Nilai-Nilai Pendidikan Cerita Rakyat...”, h. 34-36, dengan merujuk kembali kepada Danandjaya, Folklor Indonesia..., untuk uraian “mite (myth)” atau “mitos”, lihat hlm. 50, “legenda”, hlm. 66, dan “dongeng”, hlm. 83. 2
27
Bab II: Kerangka Teori dan Konseptual 2. Legenda Seperti halnya mite, legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Namun, legenda berlainan dengan mite. Legenda ditokohkan manusia walaupun ada kalanya mempunyai sifat-siat luar biasa dan sering kali dibantu oleh makhluk-makhluk gaib. Tempat terjadinya adalah di dunia seperti yang kita kenal ini karena terjadinya belum terlalu lampau. Legenda dianggap oleh yang punya sebagai suatu kejadian yang sungguh terjadi. Berbeda dengan mite, legenda bersifat sekuler dan keduniawian. Menurut Danandjaya, “Legenda bersifat migratoris sehingga dikenal luas di daerah-daerah yang berbeda”. 3. Dongeng Dongeng adalah cerita rakyat yang tidak dianggap benarbenar terjadi oleh empunya cerita dan tidak terkait oleh waktu maupun tempat. Bila legenda dianggap sebagai sejarah kolektif (folk history), dongeng adalah cerita pendek kolektif kesusastraan lisan serta cerita prosa yang tidak dianggap benar-benar terjadi. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan walaupun banyak juga yang melukiskan kebenaran, berisikan moral, dan sindiran. Bagi orang awam, dongeng sering kali dianggap meliputi seluruh cerita rakyat yang disebutkan di atas (legenda dan mitos). Tetapi menurut beberapa ahli, dongeng adalah cerita yang khusus yaitu mengenai manusia atau binatang, ceritanya tidak dianggap benarbenar terjadi walaupun ada banyak yang melukiskan kebenaran atau berisikan moral.
Nilai-Nilai Pendidikan Agama Kata ‘nilai’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Tim, 2008) dapat berarti “sifat-sifat” (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. Nilai juga mempunyai arti sesuatu yang bersifat
28
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah abstrak, ideal, nilai bukan benda konkret, bukan fakta, tidak hanya persoalan benar dan salah yang menuntut pembuktian empirik melainkan penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki. Jadi, nilai adalah makna yang diperoleh dari sesuatu benda atau aktifitas tertentu (Khusni, 2010:7). Menurut Horton dan Hunt sebagaimana dikutip oleh Wignjosoebroto (2006:55) nilai adalah gagasan mengenai apakah suatu pengalaman atau hal itu berarti atau tidak berarti, berharga atau tidak. Nilai pada hakikatnya mengarahkan perilaku dan pertimbangan seseorang. Nilai adalah suatu bagian penting dalam kebudayaan. Suatu tindakan dianggap sah, artinya secara moral dapat diterima, kalau harmonis dengan nilai-nilai yang disepakati dan dijunjung oleh masyarakat di mana tindakan itu dilakukan. Misalnya, ketika nilai yang berlaku menyatakan bahwa kesalehan beribadah adalah sesuatu yang harus dijunjung tinggi, maka bila ada orang yang malas beribadah tentu akan menjadi bahan pergunjingan. Dalam kaitannya dengan agama, maka nilai dapat berguna dalam 3 (tiga) hal, yakni: sebagai dasar kewajiban atau perintahperintah, sebagai kerangka orientasi budaya dan pemikiran, dan sebagai tradisi-tradisi moral yang spesifik. Jadi, adakalanya nilai-nilai keagamaan itu ada yang bersifat sebagai perintah dan larangan, adakalanya berupa pedoman-pedoman moral yang mengatur hubungan manusia dengan Yang Maha Kuasa, manusia dengan sesama serta manusia dengan alam. Kesemuanya ini dilandasi atas dasar keyakinan atas suatu zat yang Maha Kuasa (Howell, dkk., 2003:915). Kata pendidikan berasal dari kata dasar (merupakan kata kerja) ‘didik’ yang bermakna memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan (kata benda) merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Jika membentuk frasa pendidikan keagamaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia
29
Bab II: Kerangka Teori dan Konseptual mengartikan sebagai kegiatan di bidang pendidikan dan pengajaran dengan sasaran utama memberikan pengetahuan keagamaan dan menanamkan sikap hidup beragama (Tim, 2008:263). Adapun istilah “agama” terkadang disebut juga religi, yang keduanya kadang disamakan artinya dan mengandung pengertian “kepercayaan”. Adapun nilai pendidikan religi berhubungan dengan kesadaran akan Tuhan, menciptakan manusia menjadi individu yang bertakwa kepada Tuhannya. Kesadaran tersebut direalisasikan dengan taat dan patuh menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan-Nya, seperti yang diajarkan dalam agama yang dipeluknya. Setiap agama pada hakikatnya sama, yaitu mengajarkan umatnya untuk bertauhid kepada Tuhan, Pencipta alam semesta beserta isinya. Nilai-nilai religi tidak hanya menunjukkan hubungan manusia dengan Rabbnya, melainkan menunjukkan juga hubungan dengan sesama manusia (Yusra Dewi, 2012:71-83). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Tim, 2008:14), agama diartikan sebagai ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, tata peribadatan, dan tata kaidah yang bertalian dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya yang berdasarkan keyakinannya itu. Sementara kata ‘keagamaan’ diartikan segala sesuatu mengenai agama. Dalam bahasa Inggris, kata agama ini sepadan dengan kata ‘religion,’ yang berasal dari bahasa Latin religio. Para sarjana modern, sebagaimana diajukan oleh Smith (2004:33), menggunakan istilah ini untuk merujuk pada suatu kuasa di luar manusia yang mewajibkan manusia melaksanakan perilaku di bawah ancaman sanksi, atau mengacu pada perasaan manusia dalam berhadapan dengan kuasa-kuasa di luar manusia itu sendiri. Geertz (1973:90) mendefinisikan agama sebagai sistem simbol yang menetapkan perasaan dan motivasi yang kuat dalam diri manusia. Simbol agama dapat memberikan daya pesona bagi manusia, dan dalam tingkat tertentu simbol-simbol agama
30
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah tersebut mengandung sifat estetis. Jadi tegasnya, agama meliputi perasaan-perasaan dan keyakinan-keyakinan akan kekuatan di luar diri manusia, serta ajaran-ajaran yang diyakini dari kuasakuasa itu. Adapun frasa pendidikan agama menurut Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan pada Pasal 1 angka (1) menyatakan bahwa, pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Dalam Pasal 2 ayat (1) mengatur pula, bahwa pendidikan agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama. Sedangkan tujuan pendidikan agama sebagaimana diatur pada Pasal 2 ayat (2) adalah untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Ketentuan di atas merupakan penjabaran dari UndangUndang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 12 ayat (1) huruf a menyatakan, bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai agama yang dianutnya dan diajar oleh pendidik yang seagama. Berdasarkan ketentuan ini, dapat disebutkan ada 3 (tiga) tujuan pendidikan agama, yaitu: (1) untuk menjaga keutuhan dan kemurnian ajaran agama; (2) dengan adanya guru agama yang seagama dan memenuhi syarat kelayakan mengajar akan dapat menjaga kerukunan hidup beragama bagi peserta didik yang berbeda agama tapi belajar pada satuan pendidikan yang sama; serta (3) pendidikan agama yang diajarkan oleh
31
Bab II: Kerangka Teori dan Konseptual pendidik yang seagama menunjukkan profesionalitas dalam penyelenggaraan proses pembelajaran pendidikan agama. Pendidikan agama yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pendidikan agama atau pendidikan religius sebagaimana dalam ‘pengembangan budaya dan karakter bangsa’ untuk nilai religius, yakni: (1) sikap dan perilaku yang patuh dalam menjalankan ajaran agama yang dianutnya, (2) toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan (3) hidup rukun dengan pemeluk agama lain (Pusat Kurikulum Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional, 2010:9). Konsep religiusitas ini juga dapat mengacu pada dimensi religiusitas Stark dan Glock (1974) sebagaimana digunakan juga oleh El-Menouar (2014), yang mengajukan 5 (lima) dimensi keberagamaan, yakni: keimanan, pengetahuan, pengalaman, praktik, dan konsekuensi. Namun, konsep nilai religius sebagaimana disebut oleh Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional lebih sederhana dan sesuai dengan konteks Indonesia. Secara lebih khusus, pengkajian nilai pendidikan agama di sini dibatasi pada nilai pendidikan Islam. Dalam pendidikan Islam terdapat bermacam-macam nilai Islam yang mendukung pelaksanaan pendidikan, bahkan menjadi suatu sistem. Nilai tersebut menjadi dasar pengembangan jiwa anak, sehingga bisa memberi output bagi pendidikan yang sesuai dengan harapan masyarakat luas (Khusni, 2010:25). Sebagai dasar pendidikan, nilainilai Islam tersebut sangat penting ditegaskan bukan saja sebagai pengetahuan, tetapi juga diharapkan menjadi dasar dalam setiap tindakan dan perilaku kehidupan sehari-hari, yaitu: 1. Nilai keimanan Iman adalah kepercayaan yang terhujam ke dalam hati dengan penuh keyakinan, tak ada perasaan syak (raguragu) serta mempengaruhi orientasi kehidupan, sikap dan aktivitas keseharian. Al-Ghazali mengatakan, iman adalah mengucapkan dengan lidah, mengakui benarnya dengan hati, dan mengamalkan dengan anggota badan.
32
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Pendidikan keimanan termasuk aspek pendidikan yang patut mendapat perhatian yang pertama dan utama dari orangtua. Memberikan pendidikan keimanan ini pada anak merupakan sebuah keharusan yang tidak boleh ditinggalkan. Pasalnya, iman merupakan pilar yang mendasari keislaman seseorang. Pada prinsipnya, nilai keimanan ini adalah memperkenalkan kepada anak tentang keberadaan Allah SWT. sebagai Zat Yang Maha Kuasa, Sang Pencipta, dan Yang Maha Mengatur segala urusan di dunia dan akhirat (Khusni, 2010:25). Adapun aspek-sepek keimanan Islam yang dimaksud adalah sebagaimana yang disebut Rukun Iman yang berjumlah enam, yaitu: (1) Iman kepada Allah, (2) Iman kepada Malaikat, (3) Iman kepada Rasul/Nabi Allah, (4) Iman kepada Kitab-Kitab Allah, (5) Iman kepada Hari Akhir, dan (6) Iman kepada Takdir atau Qada dan Qadar (Muhammad Ali al-Khuli, 1985:11-20). Prinsip keimanan adalah tauhid, yakni meng-Esa-kan Allah sebagai Tuhan satu-satunya Yang Maha Pencipta dan wajib disembah oleh semua makhluk, terlebih manusia sebagai khalifah di muka bumi (Rahardjo, 1996:105). Ajaran tauhid ini, menurut Dawam Rahardjo sebagai titik temu tiga agama, Yahudi, Kristen, dan Islam. Dia mengutip QS. Ali Imran [3]:64, yang artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim”.
33
Bab II: Kerangka Teori dan Konseptual 2. Nilai akhlak Kata “akhlak” berasal dari bahasa Arab ( ) merupakan jama’ atau bentuk plural dari kata “khuluqun” ( ). Secara bahasa, kata “akhlak” berarti: “budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Istilah “akhlaq” masih satu kata dengan “khalqun” ( ), yang berarti kejadian, sehingga memiliki keterkaitan dan kesesuaian. Derivasi lainnya adalah “Khaliq” ( ), yang berarti Pencipta dan “Makhluk” ( ) dengan arti yang diciptakan. Dengan demikian, terdapat hubungan antara kata “akhlaq”, ”Khaliq”, dan “makhluq” (Khusni, 2010: 32-33; Zahrudin AR, 2004:1; dan Ahmadi, 2004:13-14). Kedua kata “akhlaq” dan “khuluq” pun terdapat di dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam QS. al-Qalam [68]:4, yang artinya: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”. Demikian pula Sabda Nabi SAW. juga menegaskan, bahwa “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (al-Ghazali, 1986:10). Berikut ini dikemukakan beberapa pengertian “akhlak” menurut para ahli (Khusni, 2010:33-36), antara lain: a. Ibn Miskawaih menyatakan, akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran lebih dahulu. b. Imam al-Ghazali menyatakan akhlak adalah suatu sikap yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang, tanpa perlu kepada pikiran dan pertimbangan. Jika sikap itu melahirkan perbuatan yang baik dan terpuji, baik dari segi akal dan syara’, maka ia disebut akhlak yang baik. Dan jika lahir darinya perbuatan tercela, maka sikap tersebut disebut akhlak yang buruk.
34
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah c. Ahmad Amin menyatakan, sebagian orang beranggapan, bahwa yang disebut akhlak ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya, kehendak itu bila dibiasakan maka kebiasaan itu dinamakan akhlak. Menurutnya kehendak ialah ketentuan dari beberapa keinginan manusia setelah imbang, sedang kebiasaan merupakan perbuatan yang diulang-ulang, sehingga mudah melakukannya, Masing-masing dari kehendak dan kebiasaan ini mempunyai kekuatan, dan gabungan dari kekuatan itu menimbulkan kekuatan yang lebih besar. Kekuatan besar inilah yang bernama akhlak. d. Abdullah Diroj mendefinisikan akhlak sebagai suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan dan kehendak berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihan pihak yang benar (dalam hal akhlak baik) atau pihak yang jahat (dalam hal akhlak jahat). e. Muhammad Ali al-Khuli, bahwa akhlak yang baik adalah moralitas yang ada dalam agama wahyu. Agama wahyu adalah suatu kekuatan dalam pembinaan moral manusia. Menurutnya, semua krisis yang terjadi di dunia ini adalah karena meninggalkan agama, dalam hal ini moralitas atau akhlak yang mulia, seperti kejujuran, berkata benar, kesetiaan, simpati atau pembelaan kepada pihak yang lemah atau teraniaya, dan budi pekerti luhur lainnya. Cita-cita moral inilah yang ditegakkan oleh agama Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad SAW. “Semua agama wahyu, dalam bentuknya yang benar, berdasarkan pada persaudaraan dan kasih sayang” (al-Khuli, 1985:2). Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, dapat dikatakan, bahwa akhlak adalah “sifat yang tertanam
35
Bab II: Kerangka Teori dan Konseptual kuat dalam jiwa yang tampak dalam perbuatan lahiriah dilakukan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran lagi dan sudah menjadi kebiasaan. Jika dikaitkan dengan kata islami, maka diartikan sebagai akhlak yang berdasarkan ajaran Islam atau akhlak yang bersifat islami. Dengan bahasa lain, dapat pula disebut sebagai “karakter Islam” atau umum juga disebut “akhlak Islam” atau bahkan “akhlak Al-Qur’an” (Khusni, 2010:36)( atau birrul-walidain) sebagaimana digunakan dalam judul tulisan ini, antara lain disebutkan dalam QS. Luqman [31]: 14, yang artinya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu. Hanya kepada Aku kembalimu”. Syekh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri (1419H:148) merinci adab anak kepada kedua orangtuanya sebagai berikut: a. Mematuhi setiap perintah atau larang keduanya dalam hal-hal yang bukan kemaksiatan kepada Allah SWT. dan tidak bertentangan dengan syariat-Nya, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah SWT. b. Memuliakan dan mengagungkan keduanya, bersikap santun, hormat, dan bersuara lembut kepada keduanya, tidak berjalan di depan keduanya, tidak mengutamakan istri daripada keduanya, dan tidak memanggil nama keduanya selain dengan panggilan “ayah” dan “ibu” atau sejenisnya, kecuali dengan izin dan keridaan keduanya. c. Berbuat baik kepada keduanya dengan segala kemampuan yang dimiliki, seperti memberi makan, pakaian, mengobati, mencegah bahaya,
36
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah hingga mempertaruhkan nyawa untuk melindungi keduanya dalam hal kebaikan di hadapan Allah SWT. d. Menyambung tali silaturahim dengan sanak falimi keduanya, mendoakan dan memohon ampunan untuk keduanya, melaksanakan janji keduanya, dan menghormati teman-teman keduanya. 3. Nilai ibadah Dalam Islam, seluruh kehidupan manusia adalah untuk ibadah, bahkan juga termasuk untuk jin. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT. dalam QS. adz-Dzariyat [51]:56, yang berarti: “tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku” (alGhazali, 1986:66). Ibadah terkait dengan tahuid yang tidak mengenal perantara. Setiap hamba menyembah langsung kepada Allah. Memang konsep ketuhanan menurut Islam itu abstrak. Setiap perumusan tentang Allah betapa pun baiknya rumusan itu, tetap tidak bisa menggambarkan Allah. Barangkali karena alasan ini, maka mendekatkan Allah ke dalam kehidupan manusia, manusia menciptakan perantara. Dalam ajaran Islam, Tuhan itu memang abstrak, tetapi dekat, sebagaimana dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]:186, yang artinya: “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa, apabila dia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. Berdoa itu, menurut ayat di atas, tidak hanya sekadar memohon atau meminta sesuatu, melainkan dilakukan dengan memenuhi syarat, yakni harus memenuhi perintah Allah...” (Rahardjo, 1996:185). Dalam konteks ini
37
Bab II: Kerangka Teori dan Konseptual perlu disebutkan, bahwa doa itu adalah ruhnya Ibadah. Doa juga dikatakan sebagai iman menurut bahasa (alAlbani, 2002:9). Pengharapan kepada Allah hakikatnya adalah ibadah, yakni penghambaan manusia kepada Allah. Segala perbuatan manusia dilakukan semata untuk mendapatkan keridaan kepada Allah. Misalnya, mendirikan salat, membayar zakat, melaksanakan puasa, dan haji ke Baitullah adalah dalam rangka ibadah menjalankan perintah-perintah Allah semata demi mendapatkan rida-Nya. Demikian pula dalam pergaulan atau muamalah sehari-hari, khususnya di antara sesama manusia, juga termasuk di antara anak dengan orangtuanya, saudara-sauranya, kawan-kawannya, dan di lingkungan masyarakatnya, bahkan hingga dengan lingkungan alamnya. Jika semua tindakan didasarkan hanya karena Allah, maka semua perbuatan tersebut bernilai ibadah (al-Maududi, 1988:105-106). Menurut alGhazali, bahwa kunci iman adalah ibadah. Benar tidaknya ibadah seseorang sangat berpengaruh terhadap benar dan tidaknya iman. Dengan kata lain, iman yang tidak terpelihara, maka ibadahnya pun tidak teratur” (alGhazali, 1986:65).[]
38
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
39
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan
40
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA DALAM CERITA RAKYAT DI KEPULAUAN RIAU Oleh:
Muhammad Tarobin Pengantar Tulisan ini merupakan beberapa catatan dari hasil penelitian tentang “Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah” yang dilakukan oleh penulis di wilayah Kepulauan Riau. Tema ini memiliki kesinambungan dengan penelitian pada tahun sebelumnya yang fokus pada tradisi lisan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan memahami nilai-nilai pendidikan agama dalam cerita rakyat. Nilai pendidikan agama menjadi pembahasan utama penelitian ini dengan pertimbangan signifikansi penelitian yang dapat dijadikan bahan informasi bagi peningkatan kualitas pemahaman dan pengamalan ajaran agama berbasis nilai-nilai kultural. Kepulauan Riau merupakan provinsi baru hasil pemekaran dari Provinsi Riau. Provinsi Kepulauan Riau terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2002, merupakan provinsi ke32 di Indonesia yang mencakup Kota Tanjung Pinang, Kota Batam, Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Lingga, dan Kabupaten Kepulauan Anambas. Ada beberapa sumber pustaka yang memuat cerita-cerita rakyat di wilayah Kepulauan Riau. Pertama, sebuah kumpulan cerita rakyat yang dilakukan oleh Abdul Razak (2003) dengan judul Patahnya Gunung Daik: Kumpulan Cerita Rakyat Kepulauan Riau.
41
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Muhammad Tarobin Buku ini terdiri atas transkripsi delapan belas cerita rakyat yang setting lokasinya di wilayah Kabupaten Lingga, hanya beberapa cerita yang berasal dari Kota Batam. Cerita-cerita tersebut seperti dalam tabel di bawah ini: No
Judul Cerita
Lokasi
1
Patahnya Gunung Daik
Pulau Lingga, Kab. Lingga.
2
Datuk Kaya Montel
Pulau Mepar, Kab. Lingga.
3
Asal Mula Kata Daik
Pulau Lingga, Kab. Lingga
4
Badang Perkasa
Pulau Buru, Kab. Karimun
5
Ikan Duyung
Pulau Lipan, Kab. Lingga (Suku Laut).
6
Bawang Putih
Suku Mantang (Orang Laut)
7
Batu Gajah
Pulau Lingga, Kab. Lingga
8
Taring Naga
Pulau Lingga, Kab. Lingga
9
Apek Weng Thai
Pulau Lingga, Kab. Lingga
10
Terjadinya Gunung Daik
Pulau Lingga, Kab. Lingga
11
Bakau dan Perepat
Pulau Lingga, Kab. Lingga
12
Ikan Talang
Pulau Lingga, Kab. Lingga
13
Kuda Ragam
Pulau Lingga, Kab. Lingga
14
Batu Sujud
Sungai Pinang, Kab. Lingga
15
Manggis
Sungai Pinang, Kab. Lingga
16
Dewi Perindu
Pulau Buluh (Pulau Bulan), Kota Batam.
17
Batu Ampar
Kota Batam (lihat. Badang Perkasa)
18
Pak Dayu
Pulau Lingga, Kab. Lingga (lihat: Dewi Perindu)
Sementara beberapa kajian mengenai cerita rakyat di Wilayah Kepulauan Riau seperti yang di lakukan oleh Febriyandi. YS mengenai cerita Ujang Pengkau (2014: 1-26), cerita rakyat Tambelan (2015: 53-73), dan Harto tentang cerita rakyat di Sungai Jodoh, Batam (2014: 88-96). Posisi penelitian ini, sebagai salah satu penelitian yang dilakukan lembaga penelitian di bawah Kementerian Agama demi memberikan informasi kepada pihak pembuat kebijakan di lingkungan Kementerian Agama mengenai potensi-potensi nilai-nilai kultural bagi sumber peningkatan kualitas pemahaman dan pengamalan ajaran agama.
42
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
Hasil Penelitian dan Pembahasan Asal Mula Kampung Kelumu
Radiono (Igiasi, 2010: 63) –mantan penghulu dan Kepala Desa Kelumu –mengungkapkan, kisahnya berawal dari sepasang suami istri yang ditugaskan oleh Sultan Lingga untuk mengelilingi Pulau Lingga guna mencari tempat yang tepat untuk dibangun istana. Maka berangkatlah sepasang suami-istri yakni Cik Thalib dan Cik Nai untuk mengelilingi Pulau Lingga, mereka berjalan secara terpisah, yakni Cik Thalib lewat darat memasuki hutan-hutan di Pulau Lingga, sedangkan Cik Nai menyusuri lautan Lingga dengan menggunakan sampan. Semua tempat di Pulau Lingga mereka singgahi guna mengumpulkan data untuk dilaporkan kepada Sultan Lingga. Setelah cukup lama terpisah akhirnya pada bulan Muharam mereka dapat bertemu kembali di suatu tempat, di tempat itulah kemudian mereka membuka sebuah perkampungan yang sekarang dikenal dengan nama Kelumu. Menurut Radiono, “Name kelumu diambek dari kate ketemu yang bermakne bertemu karena merupekan tempat bertemu de Cik Thalib dengan Cik Nai setelah sekian lame tak bertemu pasal menjalankan perintah Sultan untuk mencari lokasi tempat akan dibangunnya Kerajaan Lingga.” Di awal-awal bukanya kampung tersebut, Cik Thalib dan Cik Nai mengadakan Zikir Saman untuk meminta keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Zikir Saman kemudian dirangkai dengan ritual bela laut dan bela kampung. Ritual ini, hingga saat ini masih dilaksanakan di Desa Kelumu. Namun dalam kesempatan wawancara dengan penulis (01/03/2017), kisah yang dituturkan berbeda lagi. Kelumu menurut Radiono, dahulu bernama“Secarik Kafan”. Mengingatkan pada kain yang digunakan untuk membungkus mayat. Hal ini terjadi karena setiap orang yang datang ke Kelumu, akan diuji kesaktiannya oleh penduduk setempat. Sehingga dari, misalnya tiga orang yang datang, maka yang kembali dengan selamat hanya satu orang, dua orang lainnya meninggal di tempat terkena penyakit aneh.
43
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Muhammad Tarobin Mengetahui akan keangkeran Desa Kelumu, maka Sultan Lingga mengutus Cik Thalib dan Cik Nai untuk mengamankan Desa Kelumu dengan mantra-mantranya. Tempat pertemuan kedua orang tersebut berada di bagian hulu Sungai Kelumu, tempat bertemunya dua suak (anak sungai) di Sungai Kelumu. Sedangkan versi cerita yang lain, menurut Azimah, seorang bomo (pawang), dua orang tersebut adalah kakak-beradik. Namun Azimah, tidak dapat menyebutkan nama dua orang tersebut. Saat memasuki sebuah sungai di dekat Kelumu mereka merasa lelah, maka sungai tersebut kemudian dinamai Sungai Penat. Saat memasuki sungai lain, mereka menajamkan kayu, maka kemudian dinamai Sungai Setajam. Desa Kelumu dahulu terkenal sebagai desa yang angker. Sampai tahun 60-an pun keangkerannya masih terasa, setelah itu mulai berkurang. Maka tak mengherankan bahwa untuk mengamankan desa tersebut setiap tahun diadakan upacara Zikir Saman, Bela Laut dan Bela Kampung yang dilaksanakan pada bulan Muharam. Penduduk desa, pada umumnya mempercayai bahwa upacara Zikir Samman, bela laut dan bela kampung ini sudah dimulai oleh pendiri desa tersebut yakni Cik Thalib dan Cik Nai.
Asal Mula Kampung Resun Kisah yang melatari Desa Kelumu, juga tak beda jauh dengan desa lainnya di Pulau Lingga yakni Desa Resun. Menurut Galba, dkk (2001: 47) nama Resun berasal dari kata “resah”, artinya tidak nyaman, dan tidak tentram, serta meresahkan hati manusia. Hal ini berawal dari kisah Haji Muhammad Yusuf bin Haji Hasan untuk bermukim di daerah ini. Haji Muhammad Yusuf berasal dari Bangka, ia merantau dari Bangka karena mengetahui bahwa daerah Pulau Lingga, khususnya Resun, tanahnya sangat subur untuk tempat pertanian dan perkebunan. Selain letaknya tersembunyi di kaki pegunungan Daik, juga cuacanya lebih segar dan dingin. Kepindahan rombongan Haji Muhammad Yusuf
44
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah ke Bangka belum diketahui secara pasti, namun berdasarkan generasi ketiga tertua yang masih hidup (69 tahun pada tahun 2001), maka diduga kepindahan tersebut sebelum tahun 1900 M. Berdasarkan cerita, mereka mulai menempati daerah Resun sebelum ada penduduk lain, namun mereka menemukan beberapa kuburan yang tidak diketahui asal-usulnya, diduga makam orang-orang Aceh. Sejak menempati daerah tersebut, mereka selalu mendapat wabah penyakit dan ancaman dari perampok-perampok sadis. Maka untuk sementara, mereka berpindah ke pulau kecil lainnya di sekitar Resun. Kemudian mereka kembali setelah beberapa waktu. Namun wabah penyakit kembali melanda, demikian juga ancaman perompak sadis. Hal tersebut berlangsung beberapa kali sehingga korbannya bukan hanya penduduk Resun melainkan pedagang dari Serawak dan Brunai. Selama itu Haji Muhammad Yusuf juga berusaha mencari jalan keluar agar kampungnya selamat dari ancaman wabah penyakit dan gangguan perompak. Muhammad Yusuf kemudian melakukan ibadah haji, di samping menunaikan rukun Islam yang ke lima juga mencari petunjuk untuk mendapatkan jalan keluar atas keresahan yang dihadapi warganya. Pada perjalanan haji yang pertama sampai ketiga, ia tetap belum mendapatkan petunjuk yang diharapkan. Pada perjalanan yang ke-empat, ia mendapatkan petunjuk seperti yang diharapkan, ia bertemu dengan Syekh Ahmad Khatib Sambas (w. 1878 M). Oleh Syekh Ahmad Khatib Sambas, ia diberi ijazah amalan zikir “Ratif Saman” (Ratib Samman). Ratib Samman ini dapat diduga diajarkan oleh Syekh Muhammad Ibn ‘Abd alKarīm al-Sammāni (w. 1776 M). Al-Sammāni adalah seorang ulama sufi yang mendirikan tarekat Sammāniyah. Ratib Samman, atau tarekat Sammaniyah menggabungkan tehnik zikir dari lima macam tarekat, yakni: Khalwatiyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syathariyah, dan Syadziliyah (Syarifuddin, 2010: 54, Azra, 2007: 160-161). Agak mengherankan bahwa Syekh Ahmad Khatib justru memberikan ijazah “Ratib Samman”, sementara dia
45
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Muhammad Tarobin sendiri tercatat tidak mengajarkan tarekat Sammāniyah. Ahmad Khatib diketahui merupakan pendiri tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang berkembang pesat di Asia Tenggara. Tarekat ini merupakan gabungan dari beberapa tarekat yakni: Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Anfasiyah, Junaidiyah, dan Muwafaqah (Aqib, 1998: 53-54). Meski demikian dapat diduga bahwa Ahmad Khatib mengenal dengan baik reputasi dan karamah-karamah yang dimiliki oleh Syekh Muhammad Samman karena Ahmad Khatib merupakan imam besar di Masjidil Haram, Makkah, sedangkan Syekh Muhammad Samman lahir dan dimakamkan di Madinah. Demikian juga rentang waktu meninggalnya Syekh Samman dengan Akhmad Khatib hanya seabad lebih dua tahun. Ratib Samman selain berisi zikir nafi’ ithbat dalam jumlah tertentu, juga berisi doa-doa dan tawassul yang pada pokoknya memohon keselamatan di dunia dan akhirat. Termasuk di dalamnya adalah apa yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Resun yakni terhindar dari gangguan jin atau roh jahat yang menimbulkan wabah penyakit “ta’un”, serta terhindar dari aksi perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan. Selain mendapatkan amalan Ratib Samman, H. Muhammad Yusuf juga mendapatkan kitab Fath al-Ārifīn, sebuah kitab yang menjelaskan tentang tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah. Sepulang dari Makkah, Haji Muhammad Yusuf dan penduduk Resun mulai mengamalkan Ratib Samman baik secara individual maupun berjama’ah. Ratib Samman dibaca secara berjamaah pada hari Kamis malam Jum’at pada jum’at pertama sampai ketiga setiap bulan. Setelah mengamalkan Ratib Samman, apa yang diharapkan oleh penduduk Resun mulai terwujud. Wabah penyakit “ta’un”, gangguan makhluk halus atau jin jahat tidak ada lagi, serta perompak-perompak sadis tidak berani lagi masuk mengganggu masyarakat. Sejak saat itu, mereka mulai menetap di Resun dan hidup aman dan tentram. Mereka kemudian mengembangkan pertanian dan perkebunan. Mereka juga tetap mengamalkan Ratib Samman. Sepeninggal H.M. Yusuf, pelaksanaan Ratib Samman
46
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah dipimpin oleh H. Zakaria. Sepeninggal H. Zakaria, diteruskan oleh keponakannya yakni H. Mansyur. Sepeninggal H. Mansyur nanti, ia sudah mempersiapkan anaknya.
Kisah Ni’un di Kampung Kelumu Salah satu contoh kesaktian atau kehebatan orang Kelumu adalah Ni’un. Menurut masyarakat setempat, ia memelihara hantu (makhluk halus) atau memiliki ilmu hitam dan suka mengganggu dan mencelakai orang lain dan anak-anak yang tak berdosa. Jika ia berselisih paham dengan seseorang maka beberapa hari kemudian orang tersebut terkena penyakit aneh lalu meninggal. Ia juga suka mencelakai anak-anak, jika anak-anak dipegang kepalanya, maka setelah pulang kerumah anak tersebut mati (Radiono, 01/03/2017; Auzar, 02/03/2017). Karena merasa resah dengan ulah Ni’un, maka warga kelumu lainnya sepakat untuk menghukum Ni’un. Maka Ni’un dibunuh secara bersama-sama oleh warga Kelumu dengan menggunakan senjata kepunyaan Ni’un sendiri -menurut sumber lain (Auzar, 02/03/2017) Ni’un dibunuh oleh orang yang sama-sama sakti, yakni Adam. Karena Ni’un tidak mempan oleh senjata lainnya. Akibat pembunuhan itu, semestinya warga Kelumu mendapatkan hukuman mati oleh Sultan Lingga. Karena dalam hukum Sultan Lingga, “Siapa yang membunuh, dibunuh.” Namun jika hukuman qishas ini dilaksanakan maka seluruh warga Kelumu akan musnah. Maka Sultan mengambil kebijakan lain, yakni hukumannya dengan menjatuhkan mas kawinnya menjadi 12.000 (Radiono, 01/03/2017). Sebagian Suku Melayu di Kelumu disebut Suku Melayu Ladi, mereka menurut Radiono (01/03/2017) berasal dari Filiphina. Puak mereka awalnya hanyut dari Filiphina sampai ke Pulau Bintan dengan menggunakan perahu Ladi, perahu kecil yang bentuknya agak melengkung. Ia kemudian menjadi anak angkat Sultan Lingga, sehingga mas kawinnya “semula” sama dengan kebanyakan suku Melayu di Lingga yakni 66000. Sebagai
47
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Muhammad Tarobin hukuman atas tindakan mereka terhadap Ni’un maka mas kawin suku Melayu Ladi kini menjadi 12.000.
Nilai-Nilai Pendidikan Agama yang Tercakup dalam Cerita Rakyat di Kampung Kelumu Tiga cerita yang penulis kemukakan di atas, merupakan tiga kisah pendek yang ada dan hidup di Pulau Lingga. Cerita terbentuknya Kampung Kelumu dan Kisah Ni’un merupakan dua cerita yang terjadi di Kampung Kelumu, dua kisah tersebut saling mendukung. Sedangkan cerita lainnya terjadi di Kampung Resun. Ketiga cerita memuat tema yang sama yakni “kepercayaan terhadap adanya makhluk gaib.” Warga kampung Kelumu dan Resun percaya bahwa gangguan-gangguan yang menimpa mereka dan menimbulkan korban kematian penduduk diakibatkan oleh gangguan makhluk halus. Makhluk halus tersebut berupa jin jahat atau arwah para leluhur yang jahat. Mereka juga mempercayai bahwa tempattempat tertentu memiliki penunggu, misalnya pohon yang besar. Hal ini misalnya disebut oleh Razak (2010: 87-94) dalam cerita tentang “Batu sujud” di Sungaipinang, Lingga. Patut diduga bahwa, masyarakat Lingga pra-Islam sudah mengenal adanya makhluk-makhluk gaib seperti muncul dalam banyak hikayat Melayu yakni: indra, cendra, dewa, mambang, jin, peri, dan raksasa (Chambert-Loir, 2014: 115). Namun yang lebih dikenal oleh masyarakat Lingga adalah hantu, jin dan “orang bunian” (makhluk halus penunggu Gunung Daik). Untuk menghindari gangguan dari jin-jin jahat, makhluk halus, dan arwah para leluhur, dua kelompok masyarakat di kampung yang berbeda itu sama-sama menggunakan zikir yang dikenal sebagai Ratib Samman. Dengan penggunaan Ratib Samman ini, kita dapat menduga bahwa kedua kampung ini dibangun pada paroh kedua abad XVIII karena Syekh Samman wafat pada tahun 1776 M. Bahkan Kampung Resun, kemungkinan lebih muda lagi yakni di paroh kedua abad XIX karena tokoh
48
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah masyarakat yang membangun Resun yakni H. Muhammad Yusuf disebutkan bertemu langsung dengan Syekh Akhmad Khatib Sambas (w. 1878 M). Ratib Samman, seperti diakui tokoh masyarakat, Mahadan (02/03/2017), Auzar (02/03/2017), dan Radiono (01/03/2017) memang dikenal untuk digunakan dalam mengusir makhluk halus atau makhluk gaib yang jahat. Terlepas dari karamah-karamah yang dimiliki oleh Syekh Samman, Ratib Samman setidaknya berisi nama-nama Allah dan/atau ayat-ayat suci Al-Qur’an yang jika dibaca dengan tulus akan mendatangkan pertolongan Allah untuk mengusir makhluk halus atau jin jahat tersebut. Pembacaan Ratib Samman tersebut tidak hanya dilakukan di dalam rumah atau masjid, melainkan keluar masjid berkeliling kampung. Cara keliling di Kampung Resun diawali dari pangkal kampung, yakni letak kampung paling selatan kemudian berjalan menuju ujung kampung di bagian utara. Kemudian dilanjutkan pula ke dua penjuru mata angin yang lain. Selain itu, ratib keliling ini juga melewati tempat-tempat atau sudut-sudut yang dianggap angker, tempat jin dan roh-roh jahat. Pada tempattempat tertentu yang dianggap angker, salah seorang jama’ah ratib akan mengumandangkan azan untuk mengusir jin atau roh jahat tersebut. Sementara itu, upacara untuk mengusir jin jahat atau rohroh jahat di Kampung Kelumu tidak hanya menggunakan Ratib Samman melainkan juga dengan ritual bela (pelihara) laut dan bela kampung. Ritual Ratib Samman, bela laut dan bela kampung merupakan simbol harmoni antara kampung Kelumu Hulu dan Kelumu Hilir. Hal ini seperti disimbolkan dalam cerita adalah pertemuan antara Cik Thalib, dukun terkenal dari kelumu hulu dan Cik Nai dari kelumu Hilir. Jika ritual Ratib Samman dilaksanakan oleh warga Kelumu Hilir, maka ritual bela kampung dilaksanakan oleh warga kelumu hulu. Namun pelaksanaannya dilaksanakan secara berkesinambungan dan bergotong royong. Jika Ratib Samman dilaksanakan pada malam rabu, malam kamis,
49
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Muhammad Tarobin dan malam jum’at maka pelaksanaan bela laut dan bela kampung dilaksanakan pada hari jum’at pagi, dan selepas shalat jum’at. Puncak pelaksanaan ritual Ratib Samman, bela laut dan bela kampung ialah pada hari jum’at. Pada hari ini pertemuan antara tradisi agama dan adat terjadi. Tradisi agama (dalam hal ini Islam) dengan Ratib Samman dipimpin oleh khalifah. Sedangkan tradisi adat dengan ritual bela laut dan bela kampung dipimpin oleh seorang bomo (pawang). Kedua tradisi tersebut akan berkumpul di sebuah bekas bangunan masjid lama yang hanya tinggal pondasinya. Jika khalifah akan memimpin doa selamat dan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an dalam bekas bangunan masjid lama, maka bomo melakukan ritual di luar bekas bangunan masjid. Bomo memulai ritualnya dengan membakar sabut kelapa dan kemenyan lalu membaca mantranya. Sambil terus membaca mantra, bomo melemparkan beras yang telah direndam air, beras kunyit, dan beretih ke botol-botol yang berisi air putih dan diikat kain putih yang terkumpul di depannya dalam keadaan terbuka (Igiasi, 2010: 60). Sementara itu, kisah Ni’un memberi pelajaran tentang siapa yang melakukan kejahatan, maka akan dihukum dengan hukuman yang setimpal. Ni’un merupakan contoh “aib” bagi masyarakat Melayu Ladi. Meskipun ia telah dihukum oleh masyarakat dengan hukuman yang setimpal, namun hukuman tersebut juga berakibat masyarakat mendapatkan hukuman dari Sultan Lingga yakni dikurangi mas kawinnya menjadi 12.000. Kisah Ni’un mungkin akan tetap dikenang oleh masyarakat Melayu Ladi karena akibat hukumnya dirasakan hingga sekarang. Mungkin karena itu pula, Ni’un tidak dimakamkan di pemakaman umum seperti halnya Cik Nai yang mendirikan kampung Kelumu. Melainkan dimakamkan secara terpisah di tepi jalan setapak menuju pemakaman umum. Pun arah makamnya tidak sama dengan makam-makam pada umumnya.
50
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
Penutup
Kesimpulan dan Rekomendasi Melalui paparan singkat di atas dapat disimpulkan bahwa cerita-cerita rakyat yang ada di daerah Kepulauan Riau khususnya di Pulau Lingga mengandung pesan universal tradisi Melayu yakni bahwa kehidupan mereka selalu berusaha mencari harmoni antara tradisi agama dengan tradisi adat seperti kata pepatah “Adat bersendikan hukum syara’, hukum syara’ bersendikan kitabullah.” Sementara kisah Ni’un di samping mengandung pelajaran tentang siapa yang melakukan kejahatan akan dihukum dengan hukuman yang serupa, juga mengandung pelajaran bahwa perbuatan jahat seseorang terkadang mengakibatkan orang lain yang tidak berdosa menerima akibat hukumnya, dalam cerita tersebut seperti disebut dalam pepatah “nila setitik, rusak susu sebelanga.” Untuk dapat dimanfaatkan sebagai bahan pendidikan di sekolah, cerita-cerita tersebut perlu diolah agar lebih menarik dan pesan yang ingin disampaikan mengena di hati siswa.
Ucapan Terima Kasih Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan selama penelitian ini dilakukan, terutama kepada Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta, informan di Pulau Lingga (M. Fadlillah, Mahadan (02/03/2017), Auzar (0203/03/2024), Radiono (01/03/2017), Azimah (03/03/2017)) dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebut secara rinci satu persatu.
Daftar Pustaka
Aji, Agung Wisnu. 2011. “Analisis Struktur dan Nilai Moral Cerita Rakyat Putri Ayu Limbasari dan Model Pelestariannya di Madrasah Tsanawiyah.” Bandung: Tesis. Magister Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia.
51
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Muhammad Tarobin Aqib, Kharisudin. 1998. Al-Hikmah Memahami Teosofi Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Surabaya: Dunia Ilmu. Azra, Azyumardi. 2007. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Jakarta: Kencana. Bunanta, Murti. 2015. “Memilah, Memilih, dan Memanfaatkan Penelitian Cerita Rakyat Anak dan Remaja.” Dalam Metodologi Kajian Tradisi Lisan, edisi revisi, diedit oleh Pudentia MPSS. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor dan Asosiasi Tradisi Lisan. Chambert-Loir, Henri. 2014. Iskandar Zulkarnain, Dewa Mendu, Muhammad Bakir dan Kawan-Kawan Lima Belas Karangan Tentang Sastra Indonesia Lama. Jakarta: KPG-EFEO-Forum Jakarta-Paris. Christomy, T. 2003. Wawacan Sama’un: Edisi Teks dan Analisis Struktur. Jakarta: Djambatan dan Yayasan Naskah Nusantara. Danandjaja, James. 1997. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. -----. 2015. “Pendekatan Folklor dalam Penelitian Bahan-bahan Tradisi Lisan.” Dalam Metodologi Kajian Tradisi Lisan, edisi revisi, diedit oleh Pudentia MPSS. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor dan Asosiasi Tradisi Lisan. -----.2015b. “Folklor dan Pembangunan Kalimantan Tengah: Merekonstruksin Nilai Budaya Orang dayak Ngaju dan Ot Danum Melalui Cerita Rakyat Mereka.” Dalam Metodologi Kajian Tradisi Lisan, edisi revisi, diedit oleh Pudentia MPSS. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor dan Asosiasi Tradisi Lisan. Effendy, Tenas. 2008. Bujang Tan Domang: Sastra Lisan Orang Petalangan. Jakarta: École française d’Extrême-Orient. El-Menouar, Yasemin. 2014. “The Five Dimensions of Muslim Religiosity. Result of an Empirical Study”. Methods, data, analyses, Vol. 8, No. 1. Febriyandi. YS, Febby. “Analisis Struktural Cerita Ujang Pengkau.” Jurnal Renjis, Volume 1, No. 1, Desember 2014: 1-26. Febriyandi. YS, Febby. “Cerita Rakyat Sebagai Media Integrasi Bangsa, Study Kasus: Masyarakat Tambelan, Kepulauan Riau.” Jurnal Renjis, Volume 2, No. 1, Juli 2015: 53-73.
52
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Galba, Sindu., dkk.. 2001. Upacara Tradisional di Daik Lingga. Tanjungpinang: Bappeda Kabupaten Kepulauan Riau dan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang. Geertz, Clifford. 1973. The Interpretation of Culture. New York: Basic Book, Inc Publishers. Harto, Zulkifli. 2014. “Nilai Yang Terkandung Pada Cerita Rakyat Sungai Jodoh Batam.” Dalam Jurnal Renjis, Volume 1, No. 1, Desember 2014. Howell, Nancy R, dkk. 2003. Encyclopedia of Science and Religion. New York: MacMillan Reference USA. Jati, Wasisto Raharjo. 2013. “Kearifan Lokal Sebagai Resolusi Konflik Keagamaan.” Walisongo, Vol. 21, No. 2. Kemp, Herman C. 2004. Oral Traditions of Southeast Asia and Ocenia: A Bibliography. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, KITLV-Jakarta, Asosiasi Tradisi Lisan. Kleden-Probonegoro, Ninuk. 2015. “Pengalihan Wacana: Lisan dan Teks.” Dalam Metodologi Kajian Tradisi Lisan, edisi revisi, diedit oleh Pudentia MPSS. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor dan Asosiasi Tradisi Lisan. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Pudentia MPSS. 2016. “Multikultur dan Pendidikan di Indonesia.” Makalah disampaikan dalam Seminar Multikultur: Konsep dan Aplikasinya dalam Dunia Pendidikan, Yayasan Prayoga Riau, 1 November 2016. Pusat Kurikulum, Badan Litbang, Kementerian Pendidikan Nasional. 2010. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Pusat Kurikulum, Badan Litbang, Kementerian Pendidikan Nasional. Razak, Abdul. 2010. Patahnya Gunung Daik: Kumpulan Cerita Rakyat Kepulauan Riau. Pekanbaru: Autografika. Simatupang, Lono. 2013. Pergelaran: Sebuah Mozaik Penelitian Seni-Budaya. Yogyakarta: Jalasutra. Smith, Wilfred C. 2004. Memburu Makna Agama. Bandung: PT. Mizan Pustaka.
53
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Muhammad Tarobin Stark, Rodney, Charles Y. Glock. 1968. American Piety: The Nature of Religious Commitment. Berkeley, Los Angeles, London: University of Callifornia Press. Syarifuddin, Andi. 2010. Ratib Samman: Riwayat, Fadhilat dan Silsilahnya. Palembang: Anggrek Palembang. Tilaar, H.A.R, Riant Nugroho. 2008. Kebijakan Pendidikan: Pengantar untuk Memahami Kebijakan Pendidikan dan Kebijakan Pendidikan sebagai Kebijakan Publik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Tim Penyusun. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. Tule, Phipipus. 2000. “Religious Conflicts and a Cultural Tolerance: Paving the Way for Reconciliation in Indonesia.” Antropologi Indonesia, Vol. 63. Wignjosoebroto, Soetandyo. 2006. “Norma dan Nilai Sosial.” Dalam Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan, diedit oleh J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto. Jakarta: Kencana.
Internet
http://melayuonline.com/ind/researcher/dig/18/prof-pudentiamaria-purenti-sri-sunarti-ma). Di akses pada tanggal 15 Januari 2016.
54
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA DALAM CERITA RAKYAT DI MENTAWAI PROVINSI SUMATERA BARAT Oleh:
Mahmudah Nur Pengantar Lokus penelitian ini adalah Sumatera Barat yang merupakan sebuah wilayah yang kaya akan budaya dan adat istiadatnya. Di daerah tersebut terdapat dua suku yang berkembang, yakni suku Minang dan suku Mentawai. Kajian mengenai suku Minang telah banyak dilakukan, baik dilihat dari seni tradisi, adat istiadat maupun cerita rakyat yang berkembang di Minangkabau. Sedangkan kajian mengenai suku Mentawai di pulau Siberut sangat terbatas sekali, sehingga inilah salah satu alasan penulis mencoba mengkaji suku Mentawai dilihat dari mitos dan dongeng yang berkembang di masyarakatnya yang kemudian dijadikan sebagai ikon suku tersebut. Di samping itu, suku Mentawai merupakan sebuah suku yang sangat unik, dilihat dari adat budaya yang berkembang, baik dahulu maupun sekarang, serta letak geografis wilayah tersebut. Suku ini berbanding terbalik dengan suku saudara satu wilayahnya, yakni suku Minang, dimana suku Minang menganut sistem Matrilineal dengan Rumah Gadangnya, sedangkan suku Mentawai menganut sistem Patrilineal dengan Umanya. Beberapa kajian mengenai Mentawai lebih banyak dilakukan oleh beberapa sarjana luar atau asing, seperti yang dilakukan oleh E. Leob (1929), Spina (1981), Kryut (1923-1924), Mess (1881), Schefold (1991, 2014), Persoon & Schefold (1981), Coronese
55
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Mahmudah Nur (1986) dan Hansen (1914). Kajian yang mereka lakukan lebih bersifat umum dan misionaris, data-data yang disajikan lebih kepada pengenalan suku Mentawai baik dari adat istiadatnya dan kebudayaan seperti cerita-cerita yang berkembang di masyarakat dan tradisi-tradisinya. Dari pihak sarjana Indonesia, yakni akademisi dan penulis juga hanya beberapa saja yang melakukan kajian tentang Mentawai, seperti yang dilakukan oleh Tulius (2012), Rudito dan Sunarseh (2013), Hernawati (2004, 2006, 2007, 2012), LIPI (1997), Sihombing (1979), dan Rosyani (2013). Kajian-kajian mereka ini lebih bersifat rinci dengan membahas satu aspek yang diangkat jadi topik penelitian, hal ini berbeda dengan apa yang telah dilakukan oleh beberapa sarjana luar. Seperti yang dilakukan oleh Tulius (2012) melalui disertasinya, mengkaji tradisi lisan yang berkembang di masyarakat suku Mentawai untuk melihat genealogi klan-klan yang tersebar di kepulauan Mentawai dan belum ada kajian yang menyoroti nilainilai pendidikan dalam cerita rakyat di Mentawai. Fokus cerita rakyat dalam makalah ini mengenai “sikerei”, yakni Sitakkigagailau dan Pagetasabbau sebuah mitos dan dogeng yang dianggap menjadi salah satu ikon dari suku Mentawai. “Sikerei” sering disamakan dengan dukun yang mempunyai ilmu supranatural, namun Rudito dan Sunarseh (2013) menyebut “sikerei” itu sebagai perantara orang Mentawai antara dunia nyata dan dunia supranatural (roh dan jiwa). Dengan menggunakan pendekatan folklore (folk: kebudayaan dan masyarakat; lore: cerita) sebagaimana disarankan oleh Danandjaja (2015: 64), maka kajian ini menyajikan terlebih dahulu deskripsi tentang kebudayaan Mentawai dan cerita rakyatnya sebagai latar belakang, lalu menganalisis cerita yang menjadi fokus pembahasan dengan tetap menghubungkannya dengan latar belakang kebudayaannya. Pendidikan agama yang dimaksud dalam kajian ini adalah pendidikan agama atau pendidikan religius sebagaimana ada dalam pedoman sekolah “pengembangan budaya dan karakter bangsa” untuk nilai religius, yakni sikap
56
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah dan perilaku yang patuh dalam menjalankan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain (Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional, 2010: 9). Konsep religiusitas ini juga dapat mengacu pada dimensi religiusitas Stark dan Glock (1974) sebagaimana digunakan juga oleh El-Menouar (2014), yang mengajukan lima dimensi keberagamaan, yakni keimanan, pengetahuan, pengalaman, praktik dan konsekuensi. Namun, konsep nilai religius sebagaimana disebut pertama oleh Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional lebih sederhana dan sesuai dengan konteks Indonesia. Untuk menggali nilai-nilai pendidikan agama, penulis mengkaji teks cerita rakyat yang telah dikumpulkan dan menjadi sebuah buku oleh E. Leob (1929b), yang kemudian disempurnakan oleh Spina (1981). Dengan demikian, hasil yang diperoleh diharapkan dapat menjawab permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini yakni: bagaimana nilai-nilai pendidikan agama terefleksikan dalam cerita rakyat suku Mentawai.
Kebudayaan Mentawai Berbicara mengenai “sikerei” sebagai sebuah mitos cerita rakyat suku Mentawai, berarti juga berbicara mengenai kosmologis dan latar belakang budaya suku Mentawai yang membentuk mitos tersebut. Menurut J.R. Logan (Coronese, 1986: 2-3), orang Mentawai adalah orang yang berperawakan menarik, warna kulit cokelat kekuning-kuningan, jarang ditemukan cacat fisik, sebab mereka hidup menurut keadaan sesungguhnya dari alam (hasil seleksi natural). Umumnya sifat orang Mentawai adalah baik hati, ramah, suka menghormati orang lain, tidak ingin berperang, suka kepada hias-hiasan, sehingga tidak jarang tubuh mereka bertato. Tuntutan adatnya sederhana, kejahatan dan tindakan kriminal jarang terjadi. Hidup mereka tergantung dengan alam, sehingga mereka tidak punya tempat tinggal dan pekerjaan tetap, suka dan mampu menciptakan sesuatu yang
57
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Mahmudah Nur bagus, cantik dan berdayaguna seperti membuat perahu dan panah untuk berburu dan subbah (alat tangguk tradisional) untuk menangkap ikan. Bahasanya sangat lembut, halus dan harmonis, sehingga dapat mengungkapkan perasaan hati dengan tepat. Rumah-rumah mereka sangat sederhana, dibuat secara spontan tetapi lebar dan kuat. Dari semua sifat yang disebutkan itu hanya satu yang sangat disayangkan, yakni lemahnya legitimasi adat orang Mentawai. Padahal menurut Hernawati (2004: 26) adat yang kokoh dapat menjadi filter atau self protection bagi komunitasnya menghadapi berbagai pengaruh asing. Mengenai asal-usul orang Mentawai saat ini juga masih dalam perdebatan, di mana para pengamat belum bisa membuka tabir rahasia asal-usul orang Mentawai dan setuju pada salah satu teori. Coronese (1986: 9-13) menjabarkan dua aliran dan pendapat mengenai asal-usul orang Mentawai yang berkembang saat ini, yaitu: 1) aliran yang diketuai oleh Duyvendak yang menyatakan bahwa Orang Mentawai termasuk ras proto-melayu dengan pengaruh veddoyd. Hal ini dilihat dari segi fisic-anthropoligic, bahwa orang Mentawai terdiri dari ras campuran, namun yang mengherankan, kulit mereka agak putih-terang, banyak terdapat ciri-ciri mongolia, rambut keriting atau lurus, sedangkan gigi orang Mentawai sangat buruk, hal ini jarang ditemukan pada suku lain di Indonesia. 2) aliran ini diketuai oleh Stibbe dan Graaff yang menekankan bahwa orang Mentawai berasal dari Polinesia. Hal ini dibuktikan dengan terdapat beberapa ciri yang ada di orang Mentawai, yakni; ada persamaannya dengan suku Hawai, Marchesi, dan Fiji, ia punya pendapat bahwa suku ini berasal dari lautan teduh (Orao Neptunias) Kepulauan Mentawai terdiri dari 40 buah pulau besar dan kecil, yang terletak di Samudera Hindia sekitar 100 km di sebelah barat pantai pulau Sumatera (Rudito dan Sunarseh, 2013: 16). Dari beberapa pulau tersebut hanya 4 pulau yang terdapat permukiman, yakni Siberut, pulau terbesar terletak di utara, Sipora terletak di tengah, Pagai Utara dan Pagai Selatan terletak
58
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah di selatan. Alat transportasi menuju pulau ini adalah melalui laut dengan kapal-kapal perintis dan kapal cepat, yang menempuh waktu sekitar 10-15 jam untuk kapal perintis, 4-5 jam untuk kapal cepat. Jalur udara juga sudah ada, namun agak terbatas jadwal penerbangannya dan hanya menuju pusat ibukota kepulauan Mentawai yakni di Sipora. Keadaan lingkungan hidup orang Mentawai di 4 pulau tersebut secara umum sangat berbeda, pulau Siberut sebagai salah satu pulau besar di Mentawai, yang menurut sejarah merupakan asal mula suku Mentawai lebih dipengaruhi oleh lingkungan hutan (Rudito dan Sunarseh, 2013: 17). Sedangkan di pulau Sipora selain lingkungan kebun dan persawahan dikelola oleh penduduk tersebut, juga ada orang-orang yang berasal dari suku bangsa lain yang berstatus transmigran sebagai lingkungan sosial/budaya. Untuk pulau Pagai lebih banyak lingkungan industri perkayuan dan peradaban jasa sebagai lingkungan yang mempengaruhi orang Mentawai dan suku-suku yang lain yang bekerja di industri kayu. Mentawai dahulu dan Mentawai sekarang sudah jauh berbeda, begitu pun suku-suku asli yang mendiami pulau-pulau tersebut, walaupun masih ada yang mempertahankan tradisi lama di tempat-tempat yang masih tak terjangkau dan terpencil. Umumnya beberapa buku dan hasil penelitian antropologi, publikasi media massa, serta film dokumenter menampilkan potret Mentawai yang “asli” dan eksotik. Sehingga beberapa kunjungan selain untuk surfing tapi juga melihat keeksotikan kehidupan budaya tradisional masyarakat Mentawai. Namun gambaran mengenai Mentawai terdahulu tidak bisa digeneralisir untuk kepulauan Mentawai sekarang. Menurut Hernawati (2004: vii), gambaran suku Mentawai yang dipublikasikan oleh media massa dan film dokumenter itu hanya berlaku untuk sebagian kehidupan di pedalaman Siberut. Bahkan pada awal 1970-an pun di Pulau Sipora dan Pulau Pagai kehidupan kebudayaan tradisional Mentawai dapat dikatakan sudah berakhir.
59
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Mahmudah Nur Beberapa tahun belakangan, beberapa orang Mentawai -penggiat budaya Mentawai- sudah semakin sadar akan identitas budaya lokal mereka. Sehingga, walaupun mereka hidup di pulau berbeda dengan kebudayan dan lingkungan yang berbeda pula. Namun masing-masing individu atau kelompok dari daerah yang berbeda mengaktifkan kembali kebiasaan-kebiasaan yang merupakan wujud dari inti dalam kebudayaan Mentawai dalam mengkategorisasi dan menggolongkan lingkungan hidupnya. Hal ini tergambar dari wawancara yang penulis lakukan oleh Salim Tasirilotik -penggiat budaya Mentawai-, yang memperkenalkan kembali tradisi-tradisi yang dahulu pernah berkembang di Mentawai. Beliau juga menjadi penggagas dan penulis buku tentang Budaya Alam Mentawai (BAM) yang diajarkan di sekolahsekolah sejak tahun 2015 ini. Mengkaji kebudayaan Mentawai tidak akan terlepas dari keyakinan agama asli orang Mentawai yang didasari kosmologinya yang disebut dengan arat sabulungan (Rudito dan Sunarseh, 2013: 34). Menurut Tulius (2012: 69) pada dasarnya orang Mentawai sebelumnya tidak mempunyai istilah tertentu untuk sistem kepercayaan mereka, sampai pihak gereja dan pemerintah menciptakan istilah tersebut untuk membedakan antara arat puaranan (salah satu agama yang ada di dunia) dan arat sabulungan (kepercayaan tradisional). Dimana kepercayaan ini digunakan oleh orang Mentawai untuk memahami lingkungan, guna mencapai kesejahteraan dari masyarakatnya. Orang Mentawai termasuk penganut animisme yang percaya kepada roh-roh alam, segala sesuatu yang ada disekelilingnya – alam semesta- mempunyai jiwa. Arat sabulungan mengenal 3 roh (dewa), yakni: roh laut (Tai Kabagat-Koat), roh hutan dan gunung (Tai Ka-leleu) dan roh awang-awang (Tai Ka-Manua) (Sihombing, 1979: 9). Arat adalah adat, sedangkan Sabulungan berasal dari kata “sa” – “bulung” yang mempunyai arti “sa” = kumpulan”; “bulung” = Daun, yakni adat daun-daunan (Sihombing, 1979: 9). Daun
60
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah menurut orang Mentawai merupakan sebuah perwujudan dari pemahaman orang Mentawai terhadap hutan beserta isinya yang didalamnya terdapat ajaran keagamaan orang Mentawai, bahwa setiap daun mempunyai sifat yang menghantarkan manusia kepada keseimbangan dalam kehidupan dalam mencapai kesejahteraan hidup. Kepercayaan ini kemungkinan didasari dari keadaan geografis Mentawai dahulunya yang merupakan daerah kepulauan yang masih terpencil dan terisolir, dimana keadaan iklimnya tidak menguntungkan, sehingga membuat suku Mentawai tidak begitu cerah dengan masa depannya. Mereka terpaksa harus hidup dengan hukum alam. Selain Arat sabulungan dan sikerei, Mentawai juga mempunyai ikon-ikon lain semisal punen, uma dan tato yang sering dimunculkan ketika mengkaji dan membahas orang Mentawai. Punen adalah sebuah pesta yang seringkali dilakukan orang Mentawai ketika ada peristiwa-peristiwa penting. “Punen” merupakan sebuah gambaran suatu periode hidup bersama dan beberapa pengalaman bersama, seluruh kehidupan Orang Mentawai tergantung pada pesta atau punen. Uma adalah rumah tradisional masyarakat Mentawai, berbentuk rumah panggung dengan ukuran yang relatif besar dan memanjang ke belakang. Uma berfungsi sebagai rumah tempat tinggal, tempat berkumpul dan bermusyawarah bagi seluruh anggota dalam suatu keluarga luas (clan) berdasarkan keturunan ayah (patrilineal) yang biasa disebut suku serta pesta adat (punen) sehingga ukuran Uma harus dibuat dengan ukuran yang besar dan luas (Hernawati, 2007: 31). Sedangkan tato bagi Suku Mentawai adalah sebuah identitas, bukan hanya sebagai aksesoris ataupun hiasan di tubuh saja. Tato pada Suku Mentawai menggambarkan keseimbangan antara penghuni hutan dengan alam (Kusuma, 2016). Mengenai bahasa, secara umum Kruyt (1923 dalam Coronese, 1986: 16 mengatakan bahwa dialek bahasa yang terdapat di Mentawai itu ada dua (2) dialek, yaitu: Dialek Utara dan Tengah Siberut, yang disebut Simalegi, dan di Pulau Siberut Selatan, Sipora
61
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Mahmudah Nur dan Pagai disebut Sakalagan. Sedangkan Bertazza (1975 dalam Coronese, 1986: 18) mengatakan bahwa dialek yang berkembang di Mentawai itu sangat banyak dan berbeda-beda, hal ini senada yang dikatakan oleh Mayanto Sabiliaken (wawancara, 28 Pebruari 2017) bahwa di Muara Sikabaluan saja ada 13 dialek bahasa Mentawai. Kendala bahasa inilah juga menjadi kesulitan penulis ketika berada di Mentawai, sehingga dengan keterbatasan inilah juga menjadi acuan penulis untuk memilih cerita rakyat yang sudah diterjemahkan dan dipublikasi oleh pihak Balai Pustaka. Di samping itu, penulis juga mengkonfirmasi ulang dengan beberapa informan yang kami datangi di Mentawai. Pada tahun 1954 pemerintah memberlakukan peraturan, yang mengacu pada “Rapat Tiga Agama”, yang berisi larangan terhadap Arat Sabulungan sebagai sebuah kepercayaan. Pelarangan ini berwujud ancaman, intimidasi, bahkan hingga menggunakan kekerasan. Peraturan ini juga memberikan waktu 3 bulan untuk orang-orang Mentawai memilih salah satu agama, yakni Islam atau Kristen Protestan (Coronese, 1986: 38). Peristiwa ini menimbulkan efek traumatis bagi orang Mentawai dan menjadi salah satu alasan kenapa kebudayaan Mentawai ditinggalkan. Selain itu, peristiwa ini juga menjadikan suku Mentawai agak tertutup dari pihak luar yang juga menjadi salah satu kendala penulis di lapangan.
Cerita Rakyat Suku Mentawai Cerita rakyat di Mentawai juga dapat menjadi sumber informasi untuk menjelaskan beberapa persoalan yang muncul di dalam kehidupan sehari-hari seperti yang dilakukan oleh Tulius (2012). Tulius mengkaji asal usul, gagasan tentang jati diri dan perdebatan yang terjadi antara kelompok kekerabatan masyarakat Mentawai melalui cerita-cerita keluarga yang dimiliki oleh kelompokkelompok kekerabatan pada masa ini di Mentawai. Selain itu, menurut Schefold (1991:15) orang Mentawai menganggap beraneka ragam kisah mitologis mengenai terciptanya jagat raya
62
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah atau asal mula berbagai gejala atau juga mengenai riwayat hidup manusia bukan sebagai cerita dongeng belaka, melainkan riwayat yang benar-benar terjadi. Walaupun kadang-kadang mitos itu menjadi tema utama atau kadang-kadang juga hanya sepintas lalu, namun mitos-mitos ini dipandang sebagai pegangan dalam menghadapi keanekaragaman gejala yang ada. Orang Mentawai menganggap bahwa segala hal yang ada di alam semesta, di lingkungan hidup manusia sendiri selalu menempati posisi sentral, dan menjadi titik tolak dari keseluruhan kosmos (Schefold, 1991:15). Salah satu contoh mereka menganggap bahwa pulau kehidupan mereka merupakan titik pusat kehidupan samudera dunia, dikelilingi pulau-pulau lainnya. Dari samudera tumbuhlah langit yang muncul dari Timur yang tumbuh bagaikan rebung lalu menyebar dan membentuk kubah langit. Tanah langit merupakan tempat tinggalnya orang-orang kulit putih, mereka selalu memakan rebung yang selalu diolesi minyak agar tumbuh terus. Dalam konteks ini penulis beranggapan bahwa orang-orang Mentawai akan selalu menjelaskan kejadiankejadian baru dan asing yang mereka temui dengan apa yang mereka alami sehari-hari. Ciri antroposentrisnya juga terlihat dari beberapa mitos mengenai asal mula adanya berbagai hal yang berhubungan langsung dengan manusia dengan tradisi-tradisinya (Schefold, 1991: 20-21). Dahulu manusia itu bersifat kekal (fana), namun pada suatu hari Pagetasabbau menguji mereka dengan menyodorkan dua macam hidangan pangan, yaitu pisang dengan ikan dan ubi jalar dan udang. Manusia memilih hidangan pertama, sejak saat itu mereka juga mati seperti ikan dan pohon pisang, yang hanya satu kali berbuah. Jika saja mereka memilih hidangan kedua yakni udang yang diidentikkan selalu berganti kulit dan kembali menjadi muda. Begitu juga ubi jalar yang jika sulur-sulurnya dipotong dan ditanam kembali untuk menghasilkan umbi yang baru maka manusia tidak akan mati. Ada pula mitos-mitos tentang asal mula adanya binatang dan tanam-tanaman terpenting yang pada awal
63
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Mahmudah Nur mulanya dari manusia. Dari penjabaran ini terlihat jelas bahwa segenap kosmos berakar pada orang Siberut, yakni manusialah penyebab fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungannya. Manusia juga menjadi penyebab asal usul nama Mentawai yang diambil dari kata Simateu, sebutan pemuda dalam bahasa Mentawai. Simateu berawal dari sebutan untuk nama seorang pemuda yang sebenernya bernama Mateu, tapi berdasarkan kebiasan orang Mentawai bahwa nama ini ditambah dengan awalan si yang menunjukkan orang ketiga, sehingga akhirnya menjadi Simateu (Rudito dan Sunarseh, 2013: 34-35). Selain itu pendapat lain mengatakan bahwa istilah Mentawai datang dari kata Simatalu (Yang mencipta atau Tuhan). Di salah satu daerah di pulau Siberut terdapat daerah yang bernama Simatalu. Dusun ini terletak di sebelah Barat pulau Siberut, dan daerah inilah dianggap oleh sebagian besar orang Mentawai sebagai daerah asal muasal orang-orang Mentawai. Secara umum cerita-cerita di Mentawai di sebut titiboat, namun tidak semua cerita disebut titiboat. Beberapa kisah yang menceritakan tentang asal muasal sesuatu dan bercocok tanam, binatang, manusia, dan fenomena alam disebut pumumuan. Pumumuan berasal dari kata mumu yang secara harfiah bermakna matang atau dewasa dan secara kiasan berarti tua. Bisa dikatakan bahwa pumumuan adalah cerita yang menjelaskan tentang asal mula sesuatu yang terjadi pada zaman dahulu, seperti asal usul manusia pertama di Mentawai, sehingga bisa dikatakan bahwa mitos termasuk kategori pumumuan (Tulius, 2012: 197). Jenis lain dari cerita yang ada di Mentawai adalah pungunguan, berasal dari kata “ngungu” yang secara harfiah berarti mulut, dan secara kiasan berarti narasi lisan (cerita lisan). Jenis cerita yang masuk dalam kategori ini adalah legenda, dongeng dan fabel, yang bersifat komedi, kepahlawanan dan pendidikan. Salah satu contoh cerita yang ditemukan oleh Tulius dalam naskah Karl Simanjuntak yang berjudul pungunguanda sakalagan (cerita sakalagan) yang bercerita mengenai keberanian termasuk cerita
64
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah legendaris pagetasabbau yang bercerita mengenai hubungan antara paman dan kedua keponakannya yang ingin menjadi tampan dan berbakat. Isi cerita pungunguan ini biasanya berisi tentang karakteristik budaya dan tradisi dalam hidup bersosialisasi. Merujuk kepada definisi cerita-cerita di Mentawai, maka cerita yang penulis sajikan adalah kategori “pumumuan” yang diwakilkan dengan judul “Sitakkigagailau” (asal usul sikerei) dan “pungunguan” yang diwakilkan dengan cerita yang berjudul Pagetasabbau. Teks pumumuan dan pungunguan mengenai cerita asal-usul “sikerei” ini diambil dari beberapa buku yang telah dituliskan oleh beberapa peneliti, yakni, E.Loeb (1929), Spina (1981), Coronese (1986) dan Hernawati (2012). Penulis menyajikan cerita mengenai mitos dan legenda tentang “sikerei”yang disadur dari buku kumpulan cerita rakyat karangan Spina (1981) dan Coronese (1986), yakni Sitakkigagailau dan Pagetasabbau. Dua cerita ini memuat mitologi mengenai asal usul “sikerei” sehingga menjadi perantara antara dunia nyata dan dunia gaib. Menurut Hanefi (wawancara, 23 Pebruari 2017) bahwa orang Metawai dalam melaksanakan kehidupannya selalu menempatkan upacara dalam kedudukan yang penting. Hal ini tampak terlihat dari aktivitas kehidupan yang dianggap utama dimulai dan diakhiri dengan upacara. Dalam upacara tersebut, pemimpin upacara ini bertindak sebagai individu yang mengantarkan keinginan kelompok kepada penghuni-penghuni alam supranatural maupun sebaliknya. Pemimpin upacara atau perantara dalam berinteraksi antara dunia (nyata dan supranatural) disebut dengan “sikerei” (Coronese, 1986: 5). Sikerei ini diyakini mempunyai kekuatan magi dan bersifat suci (sakral), oleh karena itu perkataan dari perantara merupakan juga hal yang patut diperhitungkan dalam kehidupan sosial masyarakat. Keadaan sikerei sehari-hari mencerminkan kesakralan yang melingkupinya, dan hal ini digambarkan dengan pakain yang dikenakan seharihari yang berbeda dengan yang lain walaupun kegiatannya tidak berbeda dengan anggota masyarakat lainnya.
65
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Mahmudah Nur Menurut sikerei suku Saolu dari Simatalu, tradisi bercerita suku Mentawai ini dilakukan pada malam hari di setiap Uma sebagai media pengajaran non formal dan dongeng penghantar tidur. Penutur ini biasanya dilakukan oleh “sikerei” atau para orangtua (teuteu). Namun tradisi ini sekarang sudah mulai memudar di masyarakat mereka. Satu hal yang menjadi alasan adalah “sekolah”, dimana anak-anak kecil akan meninggalkan kampungnya untuk menempuh pendidikan formal di ibukota kecamatan. Mereka akan membangun asrama atau penampungan untuk menampung dan mengumpulkan anak-anak tersebut di dalamnya. Di samping itu, banyak anak-anak yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang paling tinggi di luar Mentawai, yakni di kota Padang setelah itu mereka menetap di sana. Mereka tinggal di panti asuhan baik Kristen maupun Islam, dan melepas segala tradisi dan adat istiadat yang menjadi simbol bagi mereka. Selain itu mereka menganggap bahwa tradisi Mentawai dahulunya adalah simbol keterbelakangan mereka, sehingga mereka tidak mau kembali melestarikan budaya mereka. Inilah yang menjadi salah satu penyebab pudarnya tradisi mereka saat ini.
Cerita Sitakkigagailau Dahulu kala ada seorang pemuda yang bernama Sitakkigagailau. Pemuda itu tidak puas dengan keindahan tubuhnya. Ia berambisi untuk menjadi lebih tampan dari semua manusia lain. Suatu ketika ia menghias dirinya dengan pakaian dan bunga berwarna warni. Di pandang dan dipatut-patut dirinya, namun ia tetap kecewa karena hiasan aneka bunga itu tidak menambah ketampanan wajahnya. Ibunya kesal melihat perangai anaknya ini lalu menegur “Apa yang kau cari dengan menghias diri setiap hari. Engkau enggan bekerja, Menjadi anak pemalas. Beda sekali sifatmu dengan semua orang di sini!” Teguran ibunya tak diperdulikan, bahkan timbul marahnya dan ia berminat minggat dari rumah orangtuanya. Dicarinya akal bagaimana ia bisa keluar rumah. Pada suatu hari ia pergi ke ladang bersama dengan
66
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah ibunya. Sengaja ditancapkan pisau belatinya di dekat ibunya yang sedang bekerja. Tanpa disengaja pisau tergaet oleh ibunya dan patah. Lalu ia menangis dan berontak kepada ibunya. Ibunya jadi marah, hanya dengan hal yang sepele saja ia sakit hati. Sang pemuda berpikir, inilah satu peluang yang baik baginya untuk melarikan diri dari rumah. Ayahnya membujuk, tapi ia bersikeras hendak pergi. Pada suatu ketika ia pergi berburu bersama dengan orang banyak. Waktu ia diajak pulang setelah selesai berburu, ia tak mau. Semua orang heran dan mencoba mengajak pulang ke rumah. Hatinya teta, tidak mau pulang. Kemudian ia memanjat pohon, melompat dari dahan ke dahan persis seperti seekor Bilaou (salah satu jenis kera endemik Mentawai). Lalu ia berkata kepada pemburu lainnya, “Hai, paman pulang sajalah! Nanti manakala paman sudah sampai di rumah, tabuhlah Tuddukat1 (semacam gendang panjang). Bila paman mendengar teriakan saya dari kejauhan, paman akan mengerti, bahwa saya tidak dapat lagi kembali menjadi manusia”. Semua teman yang berburu, kembali pulang penuh tanda tanya dalam hati masing-masing. Menetaplah ia tinggal di atas pohon bersama beberapa ekor siamang lainnya, karena ia memang telah menjelma jadi siamang. Kemudian datanglah penduduk langit (Taikamanua) ke dekat siamang baru itu. Orang langit ingin tahu apa sebenernya yang dikehendakinya. Siamang jadian itu berkata bahwa ia ingin lebih gagah dan tampan dari semua manusia, tetapi ternyata ia menjadi siamang. Ia diajak bersamasama naik ke langit. Setelah sampai di langit, lalu Sitakkiggailau disihir menjadi gagah dan tampan, serupa dengan penduduk langit. Lalu penduduk langit berpesan kepadanya, nanti kalau sudah sampai di negerinya, jangan lupa mengadakan punen, memberikan persembahan. Selama ini di bumi, waktu orang
Alat untuk memanggil orang. Terdiri dari 3 potong kayu panjang + 2 meter, di tengahnya dibuat lubang besar dan dipukul de ngan kayu supaya suaranya terdengar jauh. 1
67
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Mahmudah Nur mengadakan punen,2 tidak mempersembahkan kepada penduduk langit. Persembahan mereka ditujukan hanya kepada roh-roh hutan (Taikaleuleu). Pesan itu diterima baik oleh sang pemuda. Kemudian ia minta, supaya diberi kekuatan gaib, untuk dapat membuat hal-hal ajaib dihadapan penduduk dunia, sehingga menakjubkan mereka. Nanti manakala mereka melihat keajaiban itu, tentu mereka akan memuji kekuasaan dari langit. Akhirnya sang pemuda beroleh kekuatan dari penduduk langit, seperti kekuatan untuk mengobati orang sakit, serta kekuatan lainnya. Alhasil ia diturunkan kembali ke bumi menjadi sikerei.
Cerita Pagetasabbau Beberapa cerita rakyat Mentawai banyak mengambil Pagetasabbau menjadi tokoh utama dalam cerita. Cerita yang akan penulis sarikan adalah cerita mengenai Pagetasabbau sebagai paman yang mempunyai kedekatan hubungan baik dengan kedua keponakannya yang salah satunya mempunyai cacat bawaan lahir. Pagetasabbau merupakan salah seorang yang mempunyai ilmu sihir yang sangat luar biasa dari dusun Talileuleu, yang biasa disebut “sikerei”. Pada waktu itu terjadi permusuhan antara suku Talileuleu dan suku Tatubeket. Sebelum mereka berperang untuk membalaskan dendamnya, suku Talileuleu berkata kepada Pagetasabbau akan niatnya tersebut. Namun sebelum pergi, Pagetasabbau berkata; sebelum kita melawannya, alangkah baiknya kita melihat nasib kita terlebih dahulu. Kemudian Pagetasabbau melihat nasib mereka melalui usus ayam, yang menandakan bahwa mereka akan bernasib jelek jika pergi berperang dengan suku Tatubeket. Suku tersebut tidak mengindahkan peringatan Pagetasabbau, akhirnya mereka berangkat menggunakan kalabba (perahu besar). Sesampainya mereka di muara, Pagetasabbau melihat usus ayam kembali untuk meramal nasib mereka, tapi tetap saja ramalan itu berujung jelek. Punen merupakan masa tabu yang mengikat semua anggota “uma”. kemudian istilah ini dipakai sekarang dalam arti pesta. 2
68
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Pagetasabbau mencoba mengingatkan kembali suku Talileuleu untuk kembali ke dusun mereka, menunggu waktu yang cocok untuk berperang. Tetap saja mereka tidak mendengarkan Pagetasabbau dan akhirnya perang tersebut berakhir dengan kekalahan di pihak Talileuleu. Ketika Pagetasabbau melarikan diri, dia terkena pukulan pedang dari suku Tatubeket, maka meninggallah dia. Mayat Pagetasabbau dijilati oleh buaya dan dia hidup kembali, akhirnya dia menaiki punggung buaya dan diantarkan ke muara Talileluleu. Pagetasabbau menunggu rombongan teman-temannya yang ikut berperang, ketika suku Talileuleu melihat Pagetasabbau sangat kaget karena dia bisa hidup kembali. Setelah itu mereka mengadakan punen untuk merayakan kembalinya Pagetasabbau dari kematian. Pada suatu hari kemenakannya yang cacat bernama Sibogbong merasa heran melihat luka di leher pamannya yang sangat besar, tapi bisa hidup kembali dan dapat kembali dari perang tanpa naik sampan. Untuk menguji kemampuan pamannya, sang kemenakan meminta agar pamannya memperlihatkan ilmu sihirnya. Permintaan pertama mengubah ikan yang sudah dikeringkan menjadi hidup kembali, dan ternyata berhasil. Permintaan kedua, kemenakannya menginginkan pamannya untuk menebang pohon kelapa dan menumbuhkannya kembali dengan buah yang lebat. Suatu hari kemenakannya disuruh untuk mengantarkan makanan untuk buaya, ketika buaya itu datang dan bertanya maksud tujuan Sibogbong memanggilnya dan berkata bahwa dia ingin tampan, karena seluruh tubuhnya dipenuhi lukaluka yang bernanah. Akhirnya sang buaya pun menjawab “Baiklah cucuku, pergilah, kerjakan semua pekerjaanmu dan Nenek akan menyertaimu”. Setelah itu Pagetasabbau menggelitik kemenakannya yang cacat tersebut sampai mati, memotong dan mengambil bagian kulit-kulitnya yang tidak cacat. dimasukkannya ke dalam bambu, lalu dimasaknya. Sedang memasak, dibentangkannya kain merah di lantai dan tikar usang di belakang tungku. Waktu air sedang
69
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Mahmudah Nur mendidih, Pagetasabbau berkata: “Kalau kau mau menjadi anjing, pergilah ke atas tikar”. Maka diam tidak mendidih. Berkatalah ia lagi: “Kalau kau mau menjadi manusia yang baik, pergilah ke atas kain yang merah”. “Guduk, guduk, guduk”, air itu mendidih terus, akhirnya tertumpah di atas kain itu dan menjadi manusia. Tetapi belum bisa berbicara. Karena kepala, kaki, tangan dan lain-lain belum ada, ia masih seperti batu. Pagetasabbau memainkan ilmunya untuk membentuk bagian-bagian tubuh yang belum lengkap. Dan terbentuklah tubuh manusia itu sejauh kemampuannya dan manusia itu menjadi tampan sekali. Diberi perhiasan secukupnya dan semakin tampanlah wajah orang itu. Sepulangnya ke Uma mereka, kemenakan satunya yang tidak cacat merasa iri terhadap Sibogbong dan meminta pamannya untuk mengubahnya menjadi tampan. Namun dari beberapa ujian yang diberikan oleh pamannya, kemenakannya tidak berhasil melaluinya. Sehingga suatu hari pamannya berkata “Lebih baik kita tidak teruskan mengubah wajahmu; saya sangat khawatir, karena dalam setiap percobaan selalu kau gagal. Kalau ananda turut nasehatku, lebih baik kita batalkan segala rencana. Apalagi badanmu cukup kuat”. Tapi kemenakannya itu tidak mengindahkan nasehat dari pamannya. Akhirnya setelah melalui seperti yang dilakukan saudara yang lalu, kemenakannya malah menjadi seekor anjing. Kemenakannya yang berubah menjadi anjing itu menjadi teman pamannya berburu. Dan jika Pagetasabbau berburu membawa anjing itu selalu berhasil membawa hewan buruan. Suatu hari Pagetasabbau merasa iba dan memikirkan nasib kemenakannya ketika mendengar erangannya yang tidak kuat menarik rusa yang sangat besar. Akhirnya dia ngubahlah kemenakannya itu menjadi manusia kembali. Pada suatu waktu kemenakannya yang berubah menjadi anjing tersebut terlibat pertengkaran dengan temannya. Kata mereka “memang kau ini anjing, suka mengganggu. Mendengar
70
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah itu, kemenakannya sakit hati dan membuat “tae”3 (tenung/gunaguna) kepada pamannya dan matilah Pagetasabbau untuk kedua kalinya. Setelah kematian Pagetasabbau, adiknya pun menghina kakaknya, yang membuat kakaknya membuat tae kembali, dan matilah si Sibogbong.
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Sitakkigagailau dan Pagetasabbau Kedua cerita yang telah dipaparkan sebelumnya mengandung nilai-nilai pendidikan mengenai sikap yang patuh menjalankan ajaran agama yang dianutnya merujuk kepada agama yang dipercayai oleh orang Mentawai, yakni arat sabulungan. Schefold (1991: 125-134) memandang bahwa religi menurut pandangan orang Mentawai, yakni; segala sesuatu yang ada sebutannya semisal manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda bahkan fenomena yang tampak untuk beberapa waktu saja, seperti pelangi, dan langit tak berawan, memiliki jiwa atau roh (simagere, kina, pitok dan kecat). Roh menurut mereka adalah semacam padanan spiritual dari segala sesuatu yang ada, dan merupakan makhluk individual yang melepaskan diri dari tubuh “kasar” serta berkeliaran secara sendiri. Antara roh dan jasad selalu ada hubungan, apa yang dilakukan salah satu diantaranya akan mempengaruhi lainnya. Dalam cerita pumumuan Sitakkigagailau disebutkan hubungan manusia dengan dunia langit dan dunia hutan yang disebut Tai ka Manua (Roh Langit) dan Tai Ka Leleu (roh hutan) untuk melakukan persembahan yang biasa di sebut punen. Pada paparan sebelumnya dijelaskan bahwa orang Mentawai selalu mengadakan punen (upacara) untuk setiap kegiatannya. Banyak alasan yang membuat mereka selalu berpesta sepanjang tahun, yakni: pembukaan kebun baru, panen, perkawinan, membangun dan meresmikan rumah, inisiasi bagi anak-anak, perdamaian, Guna-guna (black magic) untuk membunuh orang. Tiap orang bisa melakukan guna-guna ini secara sembunyi. 3
71
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Mahmudah Nur peresmian penurunan perahu (Coronese, 1986: 92). Ada dua macam pesta di Mentawai, yaitu punen dan lia. Lia adalah pesta kecil yang dipimpin oleh Ukui, dan merupakan pesta pribadi. Sedangkan punen adalah pesta rakyat orang Mentawai yang dipimpin oleh Rimata4 dan dibantu oleh Sikerei. Gambaran tersebut bisa kita lihat dari teks cerita di bawah ini, yakni:
Kemudian datanglah penduduk langit (Taikamanua) ke dekat siamang baru itu. Orang langit ingin tahu apa sebenarnya yang dikehendakinya. Siamang jadi-jadian itu berkata bahwa ia ingin lebih gagah dan tampan dari semua manusia, tetapi ternyata ia menjadi siamang. Ia diajak bersama-sama naik ke langit. Setelah sampai di langit, lalu Sitakkiggailau disihir menjadi gagah dan tampan, serupa dengan penduduk langit. Lalu penduduk langit berpesan kepadanya, nanti kalau sudah sampai di negerinya, jangan lupa mengadakan punen, memberikan persembahan. Selama ini di bumi, waktu orang mengadakan punen, tidak mempersembahkan kepada penduduk langit. Persembahan mereka ditujukan hanya kepada roh-roh hutan (Taikaleku).
Mitos-mitos yang berkembang di Mentawai juga mempunyai peranan yang sangat penting sebagai penghubung antara dunia nyata dan dunia supranatural. Di mana Penciptaan mitos ini dipakai untuk sosialisasi terhadap generasi berikutnya sebagai kekuatan untuk memberikan jatidiri kepada anggota kelompok sosial tertentu dan yang membedakannya dengan kelompok sosial lainnya (Rudito dan Sunarseh, 2013: 5). Selain itu Malinowsky (dalam Coronese, 1986: 53-54) menyatakan bahwa mitos mempunyai peranan praktis dalam agama primitif. Mitos tersebut mengungkapkan, menguatkan dan mengatur kepercayaan, menyelamatkan dan mempergampang pengertian moral, menjamin pelaksanaa ritus dan mencatat norma-norma praktis bagi penggemblengan tingkah laku manusia. Mitos merupakan unsur penting peradaban manusia. Mitos tidak menjelaskan kenyataan secara rasional atau secara fantastis, melainkan menonjolkan iman dan kebijakan masyarakat primitif. Menurut Pettazoni (dalam Coronese, 1986: 54), bahwa mitos Rimata adalah kepala Uma yang bertanggungjawab penuh atas semua kegiatan bersama yang dilaksanakan dalam punen. 4
72
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah bukanlah fiksi, bukan pula dongeng, tetapi sejarah mengenali kenyataan yang disebabkan oleh isi dan kesuciannya. Isinya mengisahkan suatu peristiwa yang benar-benar terjadi dalam situasi masa silam, melahirkan suatu akibat kenyataan sekarang. Kesuciannya dapat mempertahankan iman dan kepercayaan serta menyatukan rakyat melalui ritus. Hal inilah yang menjadikan mitos mengenai “sikerei” tetap hidup dan masih berkembang di masyarakat Mentawai. “Sikerei” merupakan seorang perantara dan diyakini memiliki kemampuan melihat dan berkomunikasi dengan roh-roh dan alam gaib. Kedudukan “sikerei” ini dikuatkan oleh adanya mitologi tentang tokoh yang pada dasarnya mempunyai sifat yang bertolak belakang, yaitu antara tampan dan buruk, antara rajin dan malas. Hal tersebut digambarkan dalam cerita Sitakkigagailau, yaitu: Dahulu kala ada seorang pemuda yang bernama Sitakkigagailau. Pemuda itu tidak puas dengan keindahan tubuhnya. Ia berambisi untuk menjadi lebih tampan dari semua manusia lain. Suatu ketika ia menghias dirinya dengan pakaian dan bunga berwarna warni. Di pandang dan dipatut-patut dirinya, namun ia tetap kecewa karena hiasan aneka bunga itu tidak menambah ketampanan wajahnya. Setelah sampai di langit, lalu Sitakkiggailau disihir menjadi gagah dan tampan, serupa dengan penduduk langit. Lalu penduduk langit berpesan kepadanya, nanti kalau sudah sampai di negerinya, jangan lupa mengadakan punen, memberikan persembahan. Ibunya kesal melihat perangai anaknya ini lalu menegur “Apa yang kau cari dengan menghias diri setiap hari. Engkau enggan bekerja, Menjadi anak pemalas. Beda sekali sifatmu dengan semua orang di sini!” Teguran ibunya tak diperdulikan, bahkan timbul marahnya dan ia berminat minggat dari rumah orangtuanya. Kemudian ia minta, supaya diberi kekuatan gaib, untuk dapat membuat hal-hal ajaib dihadapan penduduk dunia, sehingga menakjubkan mereka. Nanti manakala mereka melihat keajaiban itu, tentu mereka akan memuji kekuasaan dari langit. Akhirnya sang pemuda beroleh kekuatan dari penduduk langit, seperti kekuatan untuk mengobati orang sakit, serta kekuatan lainnya. Alhasil ia diturunkan kembali ke bumi menjadi kerei.
Nilai-nilai pendidikan agama dalam dongeng Pagetasabbau menunjukkan bahwa dia dianggap sebagai roh yang melindungi sikerei dan dianggap bapak oleh para sikerei di Mentawai. Tokoh
73
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Mahmudah Nur dalam cerita ini digambarkan sebagai orang yang mempunyai ilmu-ilmu magis seperti ilmu nujum untuk meramal sesuatu dan ilmu sihir untuk merubah sesuatu. Ilmu nujum dan ilmu sihir merupakan salah satu aspek yang berkaitan erat dengan ritual-ritual yang akan dilakukan orang Mentawai. Baik tidaknya sesuatu dan boleh tidaknya sesuatu ditentukan oleh hasil yang didapatkan dari praktek ilmu tersebut. Sehingga ilmu tersebut merupakan salah satu aspek kepandaian yang harus dimiliki oleh sikerei. sebagaimana yang tersirat dalam penggalan-penggalan cerita di bawah ini: Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Pagetasabbau, dari suku Talileleu, yang mempunyai ilmu sihir yang luar biasa. Waktu terjadi permusuhan antara suku Talileleu dan Tatubeket (di Pulau Siberut), berkatalah suku Talileleu kepada Pagetasabbau, “sekarang kita harus membalas dendam kepada Tatubeket”. Baiklah, kata Pagetasabbau, “tetapi sebelum kita berangkat melawan mereka, kita melihat dulu nasib kita”. Pagetasabbau melihat nasib yang akan menimpa mereka pada usus ayam. “lebih baik kita tidak berangkat, nasib kita sangat jelek”, seru Pagetasabbau. Pagetasabbau memotong dan mengambil bagian-bagian kulitnya yang tidak cacat, dimasukkannya ke dalam bambu, lalu dimasaknya. Sedang memasak, dibentangkannya kain merah di lantai dan tikar usang di belakang tungku. Waktu air sedang mendidih, Pagetasabbau berkata: “Kalau kau mau menjadi anjing, pergilah ke atas tikar”. Maka diam tidak mendidih. Berkatalah ia lagi: “Kalau kau mau menjadi manusia yang baik, pergilah ke atas kain yang merah”. “Guduk, guduk, guduk”, air itu mendidih terus, akhirnya tertumpah di atas kain itu dan menjadi manusia. Tetapi belum bisa berbicara. Karena kepala, kaki, tangan dan lainlain belum ada, ia masih seperti batu. Pagetasabbau memainkan ilmunya untuk membentuk bagian-bagian tubuh yang belum lengkap. Terbentuklah tubuh manusia itu sejauh kemampuannya
74
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah dan manusia itu menjadi tampan sekali. Di beri perhiasan secukupnya dan semakin tampanlah wajah orang itu. Ketika kemenakannya sedang beristirahat, Pagetasabbau mengegelitik anak itu sampai mati. Kemudian pamannya mengambil dagingnya dan dimasukkan ke dalam bambu untuk dimasak. Ketika sedang memasak dan airnya mendidih, dibentangkannya kain merah di lantai dan tikar usang di belakang tungku. Lalu Pagetasabbau berkata, “kalau kau mau menjadi manusia, ini tempatmu kain merah”. Air diam, tidak mendidih. Lalu diulangnya, “Kalau kau menjadi anjing, ini tempatmu tikar usang”. Air itu semakin mendidih dan meloncatlah seekor anjing di atas tikar itu. Malam mereka pulang ke “uma” dan Pagetasabbau berkata kepada iparnya, “Inilah kemenakan saya. Atas kemauan sendiri saya buat, karena nasibnya malang ia menjadi anjing”. Berangkatlah kawan-kawan menuju kampung mereka. Dalam perjalanan ada yang berkata, “Dukun kita telah mati, sekiranya kita turuti perintahnya, kita tidak akan mengalami nasib seperti ini. “Mayat Pagetasabbau diterima baik oleh buaya yang besar; tubuh serta lukanya dijilati sehingga Pagetasabbau hidup kembali. Pagetasabbau hidup kembali. Pagetasabbau naik ke atas punggung buaya itu dan diantarkannya sampai di muara kampung Talileleu. Setelah itu Pagetasabbau memainkan ilmunya dan ikanikan yang telah dikeringkan itu hidup kembali. maka berkatalah Pagetasabbau, “Lihatlah ikan itu hidup kembali. tentu ayahmu akan marah dan kita akan menderita kelaparan, karena ikan kita tidak ada lagi. Ambillah ikan yang satu ekor itu dan letakkanlah di atas selaian: saya akan perbanyak, jangan-jangan kita kekurangan lauk nanti”. Akhirnya ikan itu kembali seperti semula. Sibogbong berkata; “Betul-betul paman memiliki ilmu yang sangat besar, pantas saja Paman hidup kembali dari alam maut itu. Keesokan harinya mereka membuat “jurut” (makan siang). Sehabis makan siang, kemenakannya yang cacat itu (Sibogbong) berkata kepada Pagetasabbau, “Paman, ananda mengkehendaki
75
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Mahmudah Nur sesuatu dari paman. Pohon kelapa ini milik kita, buahnya begitu lebat. Apakah paman dengan sepatah kata saja dapat menebang pohon kelapa itu?” “Gampang saja, tapi sayang, bisa jadi orangtuamu akan marah”. “Jangan peduli, Paman, cobalah kalau bisa”. “Baiklah”. Maka ia mulai memainkan ilmunya dan pohon kelapa itu tumbanglah. Buahnya mereka punguti. Kata Pagetasabbau kepada anak itu, “Ambillah sebuah kelapa yang sudah punya tombong. Letakkan di pangkal kelapa itu”. Ia mengambilnya dan meletakkanya di atas pangkal kelapa. Maka Pagetasabbau menggunakan kemampuannya, sehingga tombong kelapa itu menjadi pohon kelapa seperti semula, dengan buah yang sangat lebat. Di samping aspek nilai ketaatan terhadap kepercayaan orang Mentawai, mitos dan dongeng juga menggambarkan konsepsi hidup dan pandangan Orang Mentawai mengenai keharmonisan dan keselarasan. Orang Mentawai menekankan kepada keharmonisan dan keselarasan kehidupan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan kebudayaan. Kesemua unsur tersebut selalu berkaitan dengan kehidupan supranatural yang ada dalam lingkungan mereka. Menurut Rudito dan Sunarseh (2013: 139) bahwa keberadaan dan kondisi dunia supranatural ini dibalik lingkungan alam dan sosial budaya adalah cerminan dari kehidupan nyata. Sehingga bisa dikatakan bahwa orang Mentawai menganggap bahwa kesejahteraan dan keselamatan hidup adalah tercapainya keselarasan hidup nyata dengan kehidupan supranatural yang berarti menjaga kelestarian dari alam serta sosial budaya.
Penutup
Kesimpulan Cerita rakyat yang berkembang di Mentawai merupakan sebuah gambaran nyata mengenai kosmologis mereka terhadap keselarasan hidup dengan lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan kebudayaan. Hal tersebut bisa kita lihat dari
76
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah dua cerita yang telah dipaparkan dalam kajian ini mengenai Sitakkigagailau dan Pagetasabbau yang berisi tentang asal mula sikerei dan kekuatan supranatural yang dimilikinya. Nilai-Nilai yang terkandung di dalamnya merupakan sebuah gambaran ketaatan orang Mentawai terhadap kepercayaannya. Punen menjadi salah satu media untuk memberikan persembahan kepada roh dan jiwa agar setiap segala sesuatu yang mereka perbuat mendapatkan kebaikan nantinya. Sedangkan “sikerei” (dukun/perantara) yang menjadi pemimpin upacara dan perantara yang menghubungkan antara dunia nyata dan dunia gaib. Konsep harmonis dan rukun menurut mereka juga tergambarkan dalam kedua cerita tersebut. Ketika mereka sudah berdamai dengan dunia lain yang diisi oleh roh dan jiwa, maka mereka juga akan berdamai dengan orang-orang di sekelilingnya. Uma menjadi tempat benteng yang kuat bagi mereka untuk menjaga batasan-batasan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Secara garis besar “arat Sabulungan” menjadi sebuah kitab tak tertulis bagi orang Mentawai untuk menjaga keberlangsungan kehidupan mereka dengan lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan kebudayaan.
Rekomendasi Melihat Mentawai sekarang, tidak seindah gambaran yang diceritakan dalam sebuah cerita rakyat. Mentawai telah berubah menjadi Sasareu (sebutan untuk orang-orang yang datang dari luar Mentawai). Orang Mentawai sekarang tidak mengenal jati diri mereka, mereka telah meninggalkan kebudayaan yang mereka anggap sebuah ketertinggalan. Untuk menggali budaya Mentawai khususnya tradisi bercerita ini, dibutuhkan peran dari berbagai pihak, khususnya Kementerian Pedidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama dan Kementerian Pariwisata untuk menghidupkan tradisi tersebut. Menghidupkan tradisi ini bukan menggiring mereka untuk kembali kepada kepercayaan
77
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Mahmudah Nur yang lama, tetapi kegiatan ini dijadikan sebuah media untuk mengenal mereka lebih dalam.
Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Hanefi, Tarida Hernawati, Rifai Lubis, Salim Tasirilotik, Mayanto Sabiliaken, sikerei suku Saopu di Mongan Poula, sikerei suku Saolu dari Simatalu, Kepala KUA Siberut Utara, Bapak Adek Indra Wiguna dan Kepala KUA Sikakap, Bapak Aldi Arman yang telah membantu dan memberikan masukan-masukan mengenai kajian ini. Kepada para sarjana dan penulis yang dijadikan acuan, saya haturkan terima kasih kendatipun hasil tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya sebagai penulis.
Daftar Pustaka
Bunanta, Murti. 2015. Memilah, Memilih dan Memanfaatkan Penulisan Cerita Rakyat Anak dan Remaja dalam Metodologi Kajian Tradisi Lisan: Edisi Revisi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Coronese, Stefano. 1986. Kebudayaan Suku Mentawai. Jakarta: Penerbit Grafidian Jaya Jakarta. Danandjaja, James. 2015. Pendekatan Folklor dalam Penulisan Bahan-bahan Tradisi Lisan. Dalam Metodologi Kajian Tradisi Lisan, edisi revisi, diedit oleh Pudentia MPSS. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor dan Asosiasi Tradisi Lisan. El-Menouar, Yasemin. 2014. The Five Dimensions of Muslim Religiosity: Result of an Empirical Study. Journal Citation and DOI, Methodes, Data, Analyses, Vol. 8 (1), 2014. Glock, C.Y. 1962. On The Study of Religious Commitment. Religious Education. Special Issue. Hansen, J.F.K. 1914. De Groep Noord-en Zuid-Pageh van de Mentawei-einlanden. BKI 70 Hernawati, Tarida. 2004. Mongan Poula: Nuansa Kebudayaan Samar-Samar. Padang: Yayasan Citra Mandiri Mentawai.
78
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Hernawati, Tarida. 2004. Saumanganya’ Hendak Kemana?. Padang: Yayasan Citra Mandiri Mentawai. Hernawati, Tarida. 2006. Pulau Siberut: Keong dan Burung Camar. Padang: Yayasan Citra Mandiri Mentawai. Hernawati, Tarida. 2007. UMA: Fenomena Keterkaitan Manusia dengan Alam. Padang: Yayasan Citra Mandiri Mentawai. Hernawati, Tarida. 2012. Kumpulan Cerita Rakyat Mentawai. Padang: Yayasan Citra Mandiri Mentawai. Kruyt, A. C. 1923. De Mentaweiers. Tijdshcrift voor Indische Taal, Land en Volkenkunde. Kruyt, A.C. 1924. Een bezoek aan de Mentawei-Einlanden. Tijdshcrift van het Nederlandsch Ardrijkskundig Genootschap. Kusuma, Barry. 2016. Mentawai, Salah Satu Suku Tertua di Dunia. http://travel.kompas.com/read/2016/10/27/071000427/ mentawai.salah.satu.suku.tertua.di.dunia, diakses pada 5 April 2017. Loeb, Edwin M. 1929b. Mentawai Myths. Bijdragen tot de Tall, Land en Volkenkunde. Malik, Harto. 2013. Membangun Karakter Bangsa Melalui Sastra Lokal: Suatu Kajian pada Pertunjukan Pantun Gorontalo dalam Foklor dan Foklif dalam Kehidupan Dunia Modern: Kesatuan dan Keberagaman. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Malinowski, Bronislaw. 1933. Mœurs et coutumes des Mélanésiens. Paris: Édition revue pour la Petite Bibliothèque Payot. Mess, H.A. 1881. De Mentawei-einlanden. Tijdshcrift voor Indische Taal, Land en Volkenkunde, uitgegeven door het Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Musfiroh, Tadkiroatu. 2008. Memilih, Menyusun, dan Menyajikan Cerita untuk Anak Usia Dini. Yogyakarta: Tiara Wacana. Persoon, Gerard dan Reimar Schefold. 1985. Pulau Siberut. Jakarta: PT. Bhratara Karya Aksara. Pettazoni, Reffaele. 1948. Miti e Leggende. Torino: Unione Tipografico-Editrice Torinese.
79
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Mahmudah Nur Pudentia MPSS. 2016. Multikultur dan Pendidikan di Indonesia. Makalah disampaikan dalam Seminar Multikultur: Konsep dan Aplikasinya dalam Dunia Pendidikan, Yayasan Prayoga Riau, 1 November 2016. Pusat Penulisan dan Pengembangan Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 1997. Pulau Siberut: Potensi, Kendala, dan Tantangan Pembangunan. Jakarta: LIPI Robson, S.O. 1978. Pengkajian Sastra-Sastra Tradisional Indonesia. Bahasa dan Sastra, Nomor 6, Tahun IV, 1978. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Rohmadi, Muhammad. 2013. Foklor dan Folklife sebagai Media Pemertahanan Bahasa dan Sastra Lisan dalam Konteks Kesatuan dan Keberagaman Budaya Bangsa dalam Foklor dan Foklif dalam Kehidupan Dunia Modern: Kesatuan dan Keberagaman. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Rosyani, Ika. 2013. Kehidupan Arat Sabulungan dalam Masyarakat Tradisional Mentawai. Skripsi pada Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Rudito, Bambang dan Sunarseh. 2013. Masyarakat dan Kebudayaan Orang Mentawai. Padang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Barat, UPTD Museum Nagari. Schefold, Reimar. 1991. Mainan Bagi Roh. Jakarta: Balai Pustaka. Schefold, Reimar. 2015. Aku dan Orang Sakuddei: Menjaga Jiwa di Rimba Mentawai. Jakarta: Penerbit Kompas dan KITLV-Jakarta. Sihombing, Herman. 1979. Mentawai. Jakarta: Pradnya Paramita Spina, Bruno. 1981. Mitos dan Legenda Suku Mentawai. Jakarta: Balai Pustaka Suyanto dan Abbas. 2001. Wajah dan Dinamika Pendidikan Bangsa. Yogyakarta: Adicita. Syahrul, Nilawati. 2013. Warahan dan Seni Mendongeng Etnik Lampung: Sebuah Kajian Terhadap Kearifan Lokal yang Tergerus Zaman dalam Foklor dan Foklif dalam Kehidupan Dunia Modern: Kesatuan dan Keberagaman. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
80
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Tilaar, H.A.R dan Rian Nugroho. 2008. Kebijakan Pendidikan: Pengantar untuk Memahami Kebijakan Pendidikan dan Kebijakan Pendidikan sebagai Kebijakan Publik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Tulius, Janiator. 2012. Family Stories: Oral Tradition, Memories of The Past, and Contemporary Conflict over Land in MentawaiIndonesia. Belanda: Dissertation of Universiteit Leiden.
81
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Mahmudah Nur
82
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA DALAM CERITA RAKYAT BUJANG KURAP: TUJUH LIDI SAKTI, TUJUH MATA AIR DI KOTA LUBUKLINGGAU Oleh:
Zulkarnain Yani Pengantar Cerita rakyat yang ada di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) yang terdiri dari berbagai daerah. Setiap daerah di Sumsel memiliki cerita rakyat yang berbeda pula. Cerita rakyat Sumsel ini, dapat berupa sastra lisan yang dapat disampaikan dari mulut ke mulut ataupun yang sudah ditulis. Cerita rakyat ini bukan hanya merupakan kumpulan cerita-cerita, melainkan mengandung ideide atau gagasan utama berbagai pengetahuan tentang alam semesta, ajaran-ajaran moral, filsafat, keagamaan, asal usul, dan unsur-unsur lainnya yang mendukung nilai-nilai luhur. yang memiliki berbagai cerita rakyat yang memiliki kandungan nilainilai kearifan lokal (local wisdom), budaya dan agama. Dalam kehidupan keluarga, khususnya bagi anak-anak, cerita rakyat seringkali menjadi kisah yang sangat menarik bagi sang anak, sehingga menjadi senjata paling ampuh bagi sang ibu untuk menidurkan anaknya. Tanpa disadarinya, sebenarnya cerita rakyat yang didengar secara tidak langsung akan membentuk sikap dan moral sang anak. Ajaran atau kandungan moral dalam cerita rakyat, akan membentuk sang anak patuh terhadap kedua orang tuanya. Anak-anak akan merasa takut menjadi durhaka karena teringat hukuman atau balasan yang diterima sang anak
83
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Zulkarnain Yani dalam cerita-cerita jika durhaka terhadap orang tuanya. Dengan demikian, cerita rakyat tidak hanya sebagai cerita pengantar tidur, akan tetapi dapat membentuk moral anak-anak.1 Cerita rakyat bukan hanya merupakan kumpulan cerita-cerita, melainkan mengandung ide-ide atau gagasan utama berbagai pengetahuan tentang alam semesta, ajaran-ajaran moral, filsafat, keagamaan, asal usul, dan unsur-unsur lainnya yang mendukung nilai-nilai luhur. Meskipun cerita rakyat ini memiliki nilai luhur, namun perhatian masyarakat Sumatera Selatan terhadap sastra daerahnya mulai berkurang.2 Begitu banyaknya cerita rakyat Sumsel yang kaya akan nilai ajaran luhur, namun belum begitu menarik perhatian dari para peneliti, pengkaji atau pemerhati cerita rakyat dan dosen untuk mengangkat dan mengkaji cerita rakyat Sumsel dengan mengungkap nilai-nilai luhur, ajaran-ajaran moral, agama dan lain sebagainya. Sehingga, keberadaan cerita-cerita rakyat yang begitu melegenda lambat laun akan tidak dikenal lagi oleh generasi selanjutnya. Demikian pula halnya dengan cerita rakyat yang ada di kota Lubuklinggau. Kota Lubuklinggau sangat terkenal dengan 2 cerita rakyat yang melegenda di masyarakat, yaitu cerita Dayang Torek atau Silampari dan cerita Bujang Kurap. Keberadaan kedua cerita tersebut juga ditandai dengan adanya situs keramat yang terletak di bukit Sulap Lubuklinggau. Pada kesempatan kali ini, peneliti hanya mengangkat cerita rakyat mengenai Bujang Kurap. Cerita mengenai Bujang Kurap ini sangat menarik untuk dikaji, mengingat banyak ajaran-ajaran moral dan agama yang terkandung dalam isi cerita. Cerita Bujang Kurap sendiri terdiri dari beberapa bagian, salah satunya berjudul Tujuh Lidi Sakti, Tujuh Mata Air, cerita ini yang akan peneliti bahas. 1 La Hamadi, “Analisis Cerita Rakyat”, http://lahamadi.blogspot. co.id/2012/11/analisis-cerita-rakyat.html diupload hari Senin 13 Maret 2017. 2 Margareta Andriani, “Cerita Rakyat Bujang Buntu: Pembelajaran Pengabaian Pesan Moral”. Dalam, Jurnal Ilmiah BINA BAHASA Vol. 7 No. 1, Juni 2014. Palembang: Universitas Bina Darma, hlm. 40.
84
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Ada banyak aspek yang bisa digali dari cerita rakyat. Misalnya cerita rakyat dapat menjadi alat integrasi bangsa3 atau menggali nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalam cerita rakyat.4 Namun, dalam penelitian kali ini, yang menjadi fokus adalah aspek nilai-nilai pendidikan agama dalam cerita rakyat. Nilai pendidikan agama menjadi pembahasan utama penelitian ini dengan pertimbangan signifikansi penelitian yang dapat dijadikan bahan informasi bagi peningkatan kualitas pemahaman dan pengamalan ajaran agama berbasiskan nilai-nilai kultural. Oleh karena itu, fokus penelitian adalah ada pada nilai-nilai ajaran agama yang terefleksikan dalam cerita rakyat di masyarakat. Adapun cerita rakyat yang akan diteliti adalah cerita rakyat yang ada di kota Lubuklinggau yaitu cerita Bujang Kurap: Tuju Lidi Sakti, Tujuh Mata Air.
Orisinalitas Penelitian Berdasarkan hasil penelusuran, peneliti belum menemukan studi atau kajian yang khusus membahas atau mengkaji cerita rakyat Bujang Kurap. Akan tetapi, peneliti menemukan beberapa kajian atau studi mengenai cerita rakyat secara umum yang ada di kota Lubuklinggau. Rusmana Dewi5 (2014) mengangkat persoalan cerita rakyat yang ada di kota Lubuklinggau dengan tema Produk Budaya Kemelayuan Mendekati Kepunahan. Dewi memfokuskan tulisannya tersebut terhadap 3 persoalan, yaitu bentuk cerita rakyat, upaya pelestarian cerita rakyat dan pandangan masyarakat Lubuklinggau sebagai pemilik cerita. Dewi melihat bahwa 3 Febby YS Febriyandi, “Cerita Rakyat Sebagai Media Integrasi Bangsa, Study Kasus: Masyarakat Tambelan, Kepulauan Riau.” Jurnal Renjis, Volume 2, No. 1, Juli 2015: hlm. 53-73. 4 James Danandjaja, Folklore Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng dan lain-lain, Cetakan VII, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2007), hlm. 99. 5 Lihat Rusmana Dewi, “Produk Budaya Kemelayuan Mendekati Kepunahan”, Makalah Pendamping Seminar Kemelayuan di Sumatera Selatan, (Palembang: Balai Bahasa Prov. Sumater Selatan dan STKIP-PGRI, 2014) dimuat di http:// stkip-lubuklinggau.ac.id/index.php/web/dettutorial/tutorial/67 , di upload hari Minggu tanggal 5 februari 2017
85
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Zulkarnain Yani belum ada upaya yang maksimal dari pemerintah terkait dalam memfasilitas dan mendokumentasikan sastra daerah, kecuali berada pada tangan-tangan kolektor secara pribadi. Yohana Satinem6 (2015) melakukan penelitian berjudul Memupuk Karakter Siswa SD di kota Lubuklinggau Melalui Cerita Rakyat dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Menggunakan Pendekatan Tematik Menghadapi Tantangan Era Globalisasi. Dalam simpulan, Satinem mengatakan bahwa pendidikan karakter dapat memupuk perkembangan kejiwaan pada tingkah laku yang bersifat positif. Peran tokoh pada cerita rakyat dapat menjadi ilustrasi bagi siswa untuk mengambil suatu keputusan dalam bertingkah laku. Cerita rakyat yang berasal dari Lubuklinggau dan Musi Rawas sangat tepat diberikan kepada siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia untuk menghadpi era globalisasi. Adapun jenis cerita rakyat yang mengandung nilai karakter untuk menghadapi eraglobalisasi yaitu dongeng, fabel, dan legenda yang berasal dari kota Lubuklinggau dan kabupaten Musi Rawas. Nur Nisai Muslihah (2012), tesisnya yang berjudul “Kajian Struktur, Fungsi dan Nilai-Nilai Budaya dalam Cerita Rakyat Daerah Musi Rawas Sebagai Alternatif Bahan Ajar Sastra Yang Sesuai dengan Perkembangan Kognitif Anak Usia 6-12 Tahun pada Sekolah Dasar di kota Administratif Lubuk Linggau-Sumatera Selatan”. Serta beberapa kajian dan penelitian lainnya yang mengkaji mengenai cerita rakyat Lubuklinggau dengan melihat pada aspek kebahasaan dan kesastraan yang dilakukan oleh mahasiswa STKIP PGRI Lubuklinggau. Akan tetapi, dari beberapa kajian tersebut, peneliti belum menemukan kajian atau penelitian yang mengangkat cerita mengenai Bujang Kurap. Sehingga, peneliti berketetapan untuk mengangkat dan mengkaji cerita 6 Yohana Satinem, “Memupuk Karakter Siswa SD di kota Lubuk Linggau Melalui Cerita Rakyat dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Menggunakan Pendekatan Tematik Menghadapi Tantangan Era Globalisasi”, http:// yohanasatinem.blogspot.co.id/2016/08/memupuk-karakter-siswa-sekolahdasar-sd.html, diupload Senin 13 Maret 2017.
86
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Bujang Kurap pada salah satu bagian isi cerita mengenai Tujuh Lidi Sakti, Tujuh Mata Air.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Tradisi Cerita Rakyat di Kota Lubuklinggau Cerita rakyat di Lubuklinggau disebut nandai, penuturnya disebut “tukang cerite”, cerita daerah yang dituturkan dengan menggunakan bahasa daerah (dikenal dengan istilah bahasa Sindang atau Col), disampaikan oleh orang-orangtua sebagai penutur. Sistem pewarisan nandai di Lubuklinggau juga dilakukan secara turun-temurun kepada anak-anak atau generasi penerusnya. Nandai dilakukan secara intensif pada saat menjelang tidur, atau pada saat berkumpul ketika ada hajatan, atau pada waktu istirahat berkebun, berladang, di sawah sembari menjaga padi dari serbuan burung pipit. Dituturkan oleh seorang ibu kepada anaknya, seorang tukang cerita pada para pendengarnya, nenek atau kakek pada cucu-cucunya, ataupun antar sesama anggota masyarakat. Selain itu, nandai-nandai ini merupakan media untuk mendidik. Karena umumnya nandai yang disampaikan mengandung ajaran moral yang layak diteladani. Namun saat ini, nandai semakin langka, utamanya di kalangan keluarga dan masyarakat yang bermukim di Lubuklinggau. Cerita rakyat tidak lagi menjadi media mendidik bagi anak-anak sekaligus pembentukan karakter sejak dini. Tuntutan kehidupan saat ini menggiring setiap orang untuk materialis, hedonistis, individualistis, praktis, dan berusaha memenuhi kebutuhan secara instant. Jika dulu nandai sebagai sarana hiburan, saat ini masyarakat lebih memilih media elektro yang praktis. Akibatnya, sastra lisan berupa nandai di Lubuklinggau semakin kritis, masyarakat penutur semakin sedikit, bahkan sebagian besar sudah meninggal. Sementara kalangan muda yang idealnya penjadi pewaris penuturnya tidak berminat sama
87
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Zulkarnain Yani sekali untuk mempelajari apalagi mengembangkan nandai sebagai warisan nenek moyangnya. Hal di atas hanya sebagian kecil penyebab nandai di kota Lubuk Linggau makin terkubur. Di samping itu minimnya pemerhati dan kolektor cerita rakyat dan tukang cerita menjadi penyebab nandai terancam punah. Bisa dipastikan, jika tidak dikembangkan dan dijaga kelestariannya, masa mendatang masyarakat sudah tidak kenal nandai sebagai ciri khas daerahnya7. Berdasarkan informasi yang peneliti peroleh dari Bapak Suwandi Syam8, penutur di kota Lubuklinggau banyak sekali, diantaranya; Ali Pita, Ali Bakar, Ali Separ, Ali Kuhi, Gindo Kuwat, Pasirah Sani, Ali Kidam, H. Kerat, Toseh dan Ishak Sani. Akan tetapi, para penutur tersebut sudah meninggal dunia, sehingga pewarisan tradisi bercerita tidak dapat dilakukan lagi. Hal ini menjadi kendala bagi peneliti di dalam mendapatkan penutur atau tukang cirete yang dapat menceritakan langsung dengan menggunakan bahasa daerah Col. Ini juga menjadi persoalan bagi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Lubuklinggau di dalam melestarikan cerita rakyat dengan tidak adanya lagi penutur asli tersebut. Pada saat para penutur masih hidup, pak Suwandi Syam dengan sendirinya mendatangi mereka untuk mencatat berbagai cerita rakyat yang dimiliki para penutur tersebut, metode yang digunakan beliau adalah wawancara, bukan penutur yang bercerita langsung tapi dengan melakukan tanya jawab. Saat ini, beliau sudah berusia 73 tahun, baru 2 cerita yang sudah diterbitkan 7 Rusmana Dewi, “Transformasi Nandai ke Dalam Naskah Pertunjukkan; Sebuah Solusi Pengembangan Kreativitas Pelestarian Budaya Lokal (Keragaman Sastra Daerah di Sumatera Selatan Peluang Meningkatkan Potensi Berkreasi dan Berpikir Kritis Generasi Penerus)”, Makalah Seminar Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan, Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan. Palembang, 20 April 2016, hlm. 2-3. Dimuat di http://stkippgri-lubuklinggau.ac.id/media/pdf/naskah_ nandai.pdf, diupload Minggu 5 Februari 2017, Rusmana Dewi, “Produk Budaya Kemelayuan Mendekati Kepunahan”,...., hlm. 1-3. 8 Wawancara dengan Bapak Suwandi Syam (Sesepuh/Sejarawan/Dosen STKIP PGRI Lubuk Linggau) hari Rabu tanggal 1 Maret 2017 bertempat di Laboratorium Sejarah STKIP PGRI Lubuk Linggau.
88
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah yaitu cerita Silampari; Hikayat Putri Yang Hilang dan Bujang Kurap: Sebab Rupa Bukan Segala. Namun amat disayangkan, cerita rakyat yang dicetak tersebut menggunakan bahasa Indonesia bukan bahasa Col. Sehingga masyarakat Lubuklinggau sekarang kemungkinan akan tidak mengenal lagi bahasa Col. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kepunahan cerita rakyat yang terjadi di kota Lubuklinggau, yaitu; 1) disebabkan oleh keberhasilan pembangunan (misalnya listrik masuk desa) diiringi merambahnya media pandang dengar sehingga membuat anakanak melupakan cerita rakyat, (2) tidak ada alih cerita dan penutur generasi tua sudah banyak yang meninggal dunia dan generasi muda enggan mewarisi tradisi karena dianggap kuno, dan (3) kurangnya kesadaran dari pemerintah maupun masyarakat akan pentingnya cerita rakyat sebagai sarana pendidikan, yakni sebagai sarana penyampaian nilai luhur bangsa9. Cerita rakyat Lubuklinggau terbagi dalam tiga kelompok besar, sebagaimana yang disebutkan Bascom dan dikutip oleh Danandjaja10, yaitu 1) Mite (myth), 2) Legenda (legend) dan 3) Dongeng (folktale). Adapun cerita rakyat yang ada di kota Lubuklinggau dalam bentuk; (1) Mite; Mite yang ditemui pada cerita rakyat di Lubuk Linggau yaitu, Bujang Kurap atau Embun Semibar, Sumpah Batu Telunjuk (berkaitan dengan menhir di Tapak Lebar), Tuan Raja Wali yang berkaitannya dengan situs Bujang Kurap di Tapak Lebar. (2) Legenda; Asal Usul Batu Urip, Asal Mula Nama Lubuklinggau, Asal Mula Nama Bumi Silampari, Asal Mula Tari Silampari,Sangsat dan Sangsit, Raja Biku, Misteri Danau Rayo, Moneng Simpati, Raja Biku, Muncar Salaiangit, Batu Tangkup,Purti Sari Wangi Tanjung dan Sungai Beras, Tanjung Keramat, Menda, Betine Tue Ngan Labu, Si Amang dan Si Wewe, Keramat Bukit Rusmana Dewi, “Produk Budaya Kemelayuan Mendekati Kepunahan”...., hlm. 10. 10 William R. Bascom, “The Form of Folklore: Prose Narratives”, The Journal of American Folklore, Vol. 78, No. 307, Jan – March 1965, hlm. 4-5 dan James Danandjaja, Folklore Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng dan lain-lain, Cetakan VII, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2007), hlm. 50-60. 9
89
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Zulkarnain Yani Ngonang, dan Lesong Batu. Dan (3) dongeng; cerita Putri Berias, Gentayu Ulak Dalam, Peri Ayo Tulung Bukit Senalang, Peri bebaju Ijang, dan Pangeran Juare dari Bengawan Solo dan Lubuktanjung.11
Cerita Rakyat “Bujang Kurap; Tujuh Lidi Sakti, Tujuh Mata Air” Sekilas riwayat Bujang Kurap atau Embun Semibar
Bujang Kurap, apabila seseorang yang belum mengenal siapa sebenarnya sosok pria tersebut, tentu beranggapan bahwa pria yang bernama bujang kurap tersebut adalah seorang pria yang di sekujur tubuhnya penuh dengan kurap yang menyebarkan bau yang tidak enak, dan tentu saja memiliki rupa yang sangat jelek. Akan tetapi, hal tersebut bertolak belakang dengan kondisi yang sebenarnya. Nama sebenarnya adalah Embun Semibar, dilahirkan di daerah Melayu Bangko, Sarolangun – Jambi. Ia berasal dari keluarga elit tradisional dari garis keturunan Datuk Saribijaya yang menikah dengan Putri Sani Banilai di Titiang Dalam, salah satu kawasan permukiman masyarakat Melayu Bangko. Datuk Saribijaya sendiri berasal dari Kerajaan Pagarruyung – Minangkabau. Datuk Saribijaya sampai di wilayah tersebut karena mengembara setelah meninggalkan istana karena mengikuti jejak Datuk Ketemanggungan dengan Raja Pagarruyung.12 11 Rusmana Dewi, “Produk Budaya Kemelayuan Mendekati Kepunahan” ...., hlm. 7-9. 12 Sampai tulisan ini jadi makalah, peneliti belum menemukan data yang otentik terkait riwayat hidup Bujang Kurap. Tapi, dalam sejarah Minangkabau disebutkan bahwa Datuk Ketemenggungan pergi meninggalkan istana Pagarruyung. Ia pergi bersama istrinya, Ratu Masturi, dua orang putrinya yang masih sangat muda bernama Putri Cindai Kusuma dan Putri Megasari, serta dua orang depati sebagai pengikutnya yang setia. Setelah tiba di wilayah perbatasan Pagarruyung dan Melayu, Datuk Ketemenggungan memberi tanda pada sebatang pohon durian besar serupa tekukan pada cabang yang paling tinggi menggunakan pedangnya (maksudnya agar mudah dilihat dari jauh). Tempat itu kemudian dikenal dengan nama Durian Batakuk Rajo. Dari sini mereka meneruskan perjalanan ke Selatan; melalui negeri Melayu, daerah Rawas, Rupit, dan sampailah di Muara Rawas. Setelah dibuatkan pesanggrahan, istri dan kedua anaknya ditinggalkan di Muara Rawas. Datuk Ketemenggungan meneruskan perjalanannya ke Bukit Siguntang. Di kemudian hari, kedua pengikutnya kembali ke Durian Batakuk Rajo, lalu mengembara masuk hutan, menjadi cikal bakal
90
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Bujang Kurap bukanlah orang sembarangan. Ia bukan tergolong orang yang mudah frustasi atau putus asa, karena memiliki kekurangan dalam dirinya. Di balik kekurangannya tersebut, Bujang Kurap memiliki sikap sabar dan penyayang. Sejak masa kanak-kanak, ia telah dihinggapi penyakit kurap. Penyakit ini menimbulkan rasa gatal yang teramat sangat sehingga harus menggaruk-garuk bagian tubuhnya yang terkenal kurap tersebut.13
Alur Cerita Bujang Kurap:14 Tujuh Lidi Sakti, Tujuh Mata Air Alkisah, ketika melewati daerah Muara Rupit, Embun Semibar tidak langsung masuk desa atau dusun. Ia bermaksud beristirahat di Sungai Jernih, tidak jauh dari dusun Pagar Remayu, dan pada akhirnya berubah menjadi Karang Panggung. Di sini, ia menetap hanya beberapa hari untuk mengetahui apa yang tengah terjadi di dusun-dusun para penduduk yang melewati daerah tersebut. Embun Semibar memang lebih memilih cara seperti itu daripada mengumumkan kepada khalayak ramai perihal kemampuannya. Ia khawatir, alih-alih akan membuat orang-orang takjub, namun sebaliknya, menimbulkan ketakutan dan rasa jijik, bahkan mungkin saja ia akan diusir jauh-jauh. Maka, untuk membuat orang-orang tidak memandang aneh kepadanya, sembari menunggu para penduduk lewat, Embun Semibar mengubah wujudnya menjadi seperti orang kebanyakan dengan ilmu Besalik suku anak dalam. https://cerpenkompas.wordpress.com/2009/07/26/bujangkurap/, dan hasil wawancara dengan Bapak Suwandi Syam, hari Kamis Tanggal 2 Maret 2017. 13 Diceritakan kembali oleh Bapak Suwandi Syam pada hari Sabtu Tanggal 3 Maret 2017. 14 Bujang Kurap, nama sebenarnya adalah Embun Seminar, Ia dijuluki dengan sebutan Bujang Kurap karena penyakit yang diderita olehnya sejak masih kanak-kanak dan terus ada pada dirinya hingga dewasa. Penyakit yang dideritanya tersebut menimbulkan rasa gatal, sehingga ia harus menggarukgaruk bagian tubuhnya yang terkenal kurap tersebut. Kebiasaan tersebut terus dilakukan olehnya setiap hari dimanapun ia berada, sehingga membuat orang terganggu dan mengetahui penyakit yang dideritanya. Oleh karena itulah, masyarakat yang melihatnya menyebut ia dengan sebutan “Bujang Kurap”.
91
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Zulkarnain Yani Rupa-nya. Pada suatu hari, lewatlah seorang penduduk dari desa Karang Panggung. Embun Semibar menyapanya, merekapun berbincang. Tentu saja, hal ini tidak semata-mata karena Embun Semibar mampu menggunakan Besalik Rupa dengan baik, tapi juga karena sejatinya Embun Semibar adalah pemuda yang ramah dan santun, sehingga siapapun yang menjadi lawan bicaranya, baik yang baru maupun sudah lama dikenal, akan merasa nyaman. Ternyata orang yang lewat ini bukan orang asli Karang Panggung. Ia adalah orang Rawas yang menikah dengan perempuan Karang Panggung lalu menetap di daerah kelahiran sang istri. Orang Rawas itu mengabarkan bahwa di Karang Panggung ada empat orang laki-laki bersaudara, mereka memiliki ilmu kesaktian yang sejauh ini tak tertandingi. Mereka adalah Seteguk Mata Abang, Rio Cendi, Raden Cili dan Bujang Teriti. Orang Rawas itu mengabarkan bahwa kepala suku desa Karang Panggung terkenal sakti dan besar kuasanya. Sifatnya pun sangat keras. Apa yang jadi titahnya harus dilaksanakan. Amarahnya akan menjadijadi jika ada yang membantah atau menganggapnya bersalah. Tidak jarang ia akan menghukum orang-orang yang dianggapnya berseberangan. Tak jarang, hukuman tersebut akan berakhir dengan kematian. Ketika Embun Semibar bertanya lebih rinci lagi tentang si kepala suku, orang Rawas itu menyarankannya menemui nenek Bengkuang. Dia lebih banyak mengetahui perihal kepala suku beserta keluarganya. Embun Semibar pun sangat tertarik dengan apa-apa yang diceritakannya. Ia tak sabar ingin segera mengunjungi desa Karang Panggung dan berkenalan dengan kepala sukunya. Ia pun melakukan perjalanan ke sana. Karena jarak antara Sungai Jernih dan Karang Panggung tidak terlalu jauh, maka belum lama Embun Semibar berjalan, bunyi tetabuan yang dimainkan oleh penduduk desa Karang Panggung terdengar jelas. Embun Semibar merasa ada yang tidak beres. Firasatnya mengatakan ada kemungkinan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap desa Karang Panggung. Ia pun mengubah
92
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah wujudnya menjadi lebih buruk dari keadaan yang sebenarnya. Embun Semibar mengenakan pakaian compang-camping, memegang tongkat, menyandang tabung (bambu kecil berisi tujuh helai lidi kelapa hijau) dibahunya. Ia juga berjalan seperti orangtua penyakitan; bungkuk, reot dan disekujur kulitnya semibar oleh kurap yang memutih bercampur nanah. Embun Semibar benar-benar menjelma orang yang menjijikkan. Setibanya di Karang Panggung, Embun Semibar terlebih dahulu singgah di rumah nenek Bengkuang. Perempuan tua itu tinggal di sebuah sudut Karang Panggung, tidak jauh dari kediaman Rio Cendi si kepala suku. Ia tinggal di pondok kecil yang berdinding pelepah dan beratap rumbia. Ketika menyambut kedatangan Embun Semibar, wajahnya tidak keriput seperti perempuan yang sudah sangat berumur. Ia juga tidak menampakkan air muka terkejut atau memalingkan muka karena didatangi seorang yang buruk rupa seperti Embun Semibar. Nenek Bengkuang malah tersenyum ramah menyambutnya. Embun Semibar menyampaikan maksud kedatangannya. Ia juga menceritakan apa-apa yang ia dengar dari orang Rawas yang ia temui di Sungai Jernih. Nenek Bengkuang hanya tersenyum. Ia tidak menunjukkan kecurigaan sedikitpun terhadap Embun Semibar. Dia juga tidak mempertanyakan siapa sebenarnya Embun Semibar. Nenek Bengkuang tanpa ragu-ragu menceritakan semua yang ia ketahui. Ia memulai ceritanya dengan memberitahukan bahwa tetabuan yang sejak tadi terdengar adalah bunyi musik yang sering dimainkan orang-orang desa Karang Panggung dalam acaran hiburan. Mereka sedang bersuka ria meramaikan pesta perkawinan Rio Cendi. Nenek Bengkuang sendiri tidak menghadiri acara tersebut sebab ia menganggap acara yang tengah digelar tersebut sebagai pesta terkutuk. Embun Semibar pun penasaran dengan apa yang nenek Bengkuang utarakan. Setelah berjanji tidak akan menceritakan kepada siapa, akhirnya Embun Semibar mendengar alasan yang
93
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Zulkarnain Yani sangat mengejutkan darinya. “Karena perempuan yang dinikahi oleh Rio Cendi itu adalah anak kandungnya sendiri yaitu Putri Seruni!” ujar nenek Bengkuang dengan nada suara menahan geram. Embun Semibar pun meminta nenek Bengkuang menceritakan semua yang ia ketahui. Nenek Bengkuang pun tidak keberatan. Semua berawal karena Rio Cendi memiliki seorang istri yang cantik. Sayang, tiga tahun lalu, istrinya meninggal dunia ketika anak perempuan mereka beranjak dewasa. Dari sinilah petaka itu dimulai. Anak perempuan Rio Cendi mempunyai wajah yang menyerupai ibunya. Makin besar, ternyata kecantikannya justru melebihi ibunya. Selain berparas cantik, anak ini juga berperilaku sopan dan rajin bekerja. Terlebih lagi setelah ibunya meninggal, sifat rajinnya malah bertambah, seolah ia sadar benar bahwa setelah kematian ibunya, dialah satu-satunya orang yang seharusnya melayani dan menyediakan semua keperluan ayahnya. Selama tiga tahun itu Rio Cendi tetap membujang. Bila putrinya menyarankan agar ia beristri lagi, ada-ada saja dalihnya untuk menolak. “Ayah belum bisa melupakan ibumu, Nak”. Itulah alasan yang paling kerap dikemukakanya. Dan sedikitpun putrinya tidak menaruh kecurigaan walaupun kadang Rio Cendi kerap memeluk, mencium dan mencumbuinya. Walau kadang ia merasa risih, tapi ia selalu menganggap semuanya sebagai wujud kasih sayang sang ayah kepadanya. Ya, anak gadis yang sudah pantas berumah tangga ini, dengan sabar memaklumi tingkah laku ayahnya itu. Selain karena Rio Cendi adalah ayah kandungnya, ia juga tahu betapa keras watak ayahnya. Ia takut menyinggung perasaan ayahnya. Ia benar-benar serba salah. Rio Cendi juga mulai merasa tidak nyaman dengan tabiat putrinya. Memang, putrinya masih mengurusnya dengan baik. Tapi ia juga mampu mencium gelagat ketidaknyamanan putrinya tersebut. Rio Cendi pun berpikir keras mencari jalan agar hasratnya
94
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah untuk menikahi putri kandungnya terpenuhi. Ia pun mencari orang yang dapat membenarkan keinginannya itu. Ia memanggil tetua adat yang tak lain adalah dukun adat perkawinan yang selama ini bertugas melaksanakan upacara pengesahan perkawinan secara adat. Disaksikan oleh para pemuka masyarakat, pemuka adat dan perangkat pemerintahan desa, kepala suku hendak mengajukan pertanyaannya kepada tetua adat tersebut. Namun sebelumnya, Rio Cendi menyampaikan kepada segenap yang hadir bahwa bila semua yang hadir setuju dengan jawaban tetua adat yang ditanyainya, maka tak seorang pun yang bisa mengubahnya. Siapa yang berusaha meralatnya akan diberi hukuman yang berat. “Siapa yang berhak memetik dan memakan buahnya, jika seseorang menanam pisang di tanah miliknya sendiri. Jika dia setiap hari memberi pupuk, pemeliharaannya sampai besar dan berbuah?”. Begitulah kepala suku melemparkan jebakannya. Karena merasa pertanyaan yang diajukan itu sangat mudah, maka dukun adat perkawinan itu serta merta menjawab bahwa yang berhak adalah orang itu sendiri. “Jawabanmu tidak tegas. Siapa yang kamu maksudkan orang itu sendiri!” Rio Cendi pura-pura marah. “Orang itu sendiri yang saya maksudkan adalah orang yang menanam pisang di tanah miliknya sendiri, dan terlebih lagi karena dia sendiri pula yang memberi pupuk dan memeliharanya setiap hari sampai berbuah”. Alangkah terkejutnya dukun adat perkawinan itu, begitu juga para pemuka masyarakat yang hadir setelah mengetahui bahwa yang diajukan oleh kepala suku itu hanyalah perumpamaan. Mereka pun hanya terdiam. Tak ada yang berani membantah. Terlebih lagi yang memberikan jawaban adalah dukun adat perkawinan yang sangat disegani. “Begitulah asal mula diadakan pesta yang sekarang sedang berlangsung di rumah kepala suku itu”, ujar nenek Bengkuang mengakhiri ceritanya sambil mengeluh kesal. Embun Semibar merasakan darahnya disiram oleh minyak yang sedang mendidih. “Saya akan segera membatalkan
95
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Zulkarnain Yani perkawinan terkutuk itu, Nek,” janji Embun Semibar sembari menahan amarahnya. Nenek Bengkuang mengingatkan, kalau Rio Cendi bukan orang sembarangan. Namun, bagi Embun Semibar tidak ada pengecualian bagi siapapun yang bejat. Sebelum pergi, Embun Semibar menitipkan tabung yang disandangnya kepada nenek Bengkuang. Dengan penampilan yang sangat buruk, Embun Semibar berjalan ke tempat pesta. Embun Semibar tiba ketika upacara adat pengesahan perkawinan baru akan dimulai. Dukun adat perkawinan sudah berada di atas panggung siap memimpin upacara. Suara tetabuhan pun berhenti, semua yang hadir diam. Semua pandangan tertuju ke satu panggung, ke arah dukun adat. Tiba-tiba semua tamu yang hadir riuh. Keadaan berubah menjadi gaduh. Di antara mereka ada yang berteriak-teriak. Rupanya, mereka terganggu dengan kehadiran Embun Semibar. Dari atas panggung, Rio Cendi memerintahkan hulubalang untuk mengusir orang baru yang menjadi sumber keributan itu. Upacara pengesahan perkawinan pun terpaksa ditunda sementara. Seraya menghardik, para hulubalang mengusir Embun Semibar supaya meninggalkan tempat upacara itu. Dengan tenang, Embun Semibar pun pergi. Ia kembali ke pondok nenek Bengkuang. Di sana, ia mengambil tabung bambunya. Sementara itu, tamu-tamu kembali masuk menempati tempat duduk masing-masing. Setelah keadaan kembali tenang, diberitahukanlah kepada yang hadir bahwa upacara segera dimulai. Tata cara seperti yang telah dilakukan oleh dukun adat perkawinan sebelum terjadi keributan – membacakan jampijampi ke air yang dicampur ramuan kembang tujuh warna, jeruk nipis, daun pandan, daun jeruk purut, daun setawar dan sedingin – terpaksa diulang kembali. Air ramuan ini biasa disebut “air langer”, Rio Cendi dan putrinya pun telah didudukkan bersanding dihadapan dukun adat. Tangan tetua adat itu menggenggam seikat daun setawar sedingin yang ujungnya dicelupkan ke dalam
96
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah air langer. Mulutnya komat-kamit membaca mantra. Bila mana percikan air lenger telah mengenai ubun-ubun kedua calon pengantin, maka mereka pun sah sebagai sepasang suami istri. Betapa murkanya Rio Cendi ketika menjelang saat-saat yang sangat menentukan itu, Embun Semibar kembali muncul. Semua yang hadir, termasuk dukun adat perkawinan, seolah-olah terpukau dengan kembalinya ia ke tempat hajatan itu. Namun ketakjuban itu hanya berlangsung sejenak. Orang-orang kembali menghardiknya sebagai seorang yang buruk rupa, lusuh dan menjijikkan. Embun Semibar tidak memperdulikan kata-kata mereka. ia justru melemparkan tantangan kepada segenap yang hadir. “Kalian semua tidak perlu ribut-ribut, perkawinan kepala suku belum bisa dilakukan, sebab masih ada satu lagi persyaratan yang belum terpenuhi”. Embun Semibar mengarahkan katakata itu kepada kepala suku. Tidak hanya sampai di situ, Embun Semibar bahkan mengatakan bahwa kepala suku akan mendapat kutukan dari nenek moyangnya sendiri jika tidak melaksanakan persyaratan yang akan ditunjukkannya sesaat lagi. Rio Cendi yang sudah geram sedari tadi pun menyambut tantangan itu. “Apa persyaratan penting yang kisanak maksudkan, cepatlah katakan?” balas Rio Cendi dengan angkuhnya. Embun Semibar lalu mengambil tujuh batang lidi dari dalam tabung bambunya. Lidi-lidi itu ditancapkan ke tanah. Lalu ia mengelilingi lidi-lidi yang tertancap itu seraya berkata “Bila kisanak dapat mencabut lidi ini, baik sendiri maupun dengan bantuan orang lain, berarti perkawinan kisanak dapat disahkan!”. Para hulubalang awalnya sangat marah karena merasa Embun Semibar tengah mempermainkan kepala suku mereka. namun, setelah seorang dari mereka tertawa terbahak-bahak karena menilai tantangan itu sebagai persyaratan yang tidak masuk akal, yang lain pun ikut menertawakan Embun Semibar. Pikir mereka, jangankan orang sakti seperti kepala suku, sebaga permainan anak-anak saja, apa yang ditunjukkan Embun Semibar
97
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Zulkarnain Yani masih dianggap terlalu mudah. Para hulubalang bahkan meminta Embun Semibar menukar saja persyaratan itu dengan tantangan yang lebih pantas. “Coba saja dulu!” jawab Embun Semibar dengan tenang, seolah tak memperdulikan kata-kata yang meremehkan dari mereka itu. Kepala suku pun mengangkat tangannya. Para hulubalang pun berhenti berceloteh. “Baiklah orang asing, akan saya penuhi persyaratan satu ini. Tetapi ingat, jika tantanganmu ini benar-benar tidak lebih dari permainan anak kecil, maka bersiap-siaplah menerima hukuman yang berat. Lehermu akan saya pancung!”. Embun Semibar terkekeh-kekeh menyerupai suara tawa kakek yang renta. “Silahkan, kisanak. Hukuman apa pun akan saya terima dengan senang hati”. Para hulubalang tidak terima pemimpinya dipermainkan. Mereka pun mohon izin untuk mencabut lidilidi itu terlebih dahulu. Rio Cendi mengangguk tanda setuju. Ia pun menunjuk seorang di antara para hulubalang untuk melakukannya. Hulubalang yang ditunjuk itu meraih ketujuh lidi yang ditancapkan secara berkelompok itu dengan tangan kirinya. Ia bergeming lama sekali. Orang-orang menyangka bahwa ia memang belum mencabutnya, padahal di dalam hati hulubalang, ada rasa cemas dan malu. Otot lengannya pun mulai tampak menegang, keringatnya bercucuran. Kini tangan kanannya ikut memegang lidi-lidi itu. Namun apa yang terjadi? Tidak sedikitpun lidi-lidi itu bergerak. Semakin lama, si hulubalang merasakah lidi-lidi itu mengeras seperti baja. Sambil menahan rasa malu, hulubalang akhirnya mengangkat kedua tangan, ia menyerah. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu tertegun takjub, yak terkecuali Rio Cendi. Apalagi setelah hulubalang yang kedua bernasib sama dengan hulubalang yang pertama. Rio Cendi pun sadar bahwa apa yang disodorkan Embun Semibar bukanlah tantangan sembarangan. Diam-diam Rio Cendi pun berkonsentrasi menyatukan semua ilmu kesaktian yang ia miliki.
98
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Ternyata giliran ketiga kalinya, tampil tujuh orang hulubalangnya, mereka menggunakan jurus tujuh tenaga menjadi satu. Genggaman tangan kanan tampak bersusun tujuh tingkat. Ternyata ketujuh lidi sedikitpun tidak bergerak dari tempatnya. Tibalah giliran kepala suku, wajahnya tampak seram seperti memendam kemarahan. Ia melirik Embun Semibar dengan sinis dan penuh kebencian. Rio Cendi merapatkan kedua telapak tangannya sambil membaca mantra. Suasana menjadi hening, orang-orang yang menyaksikan aksi si kepala suku tak mampu menyembunyikan ketegangannya. Ketegangan mereka pun makin menjadi ketika Rio Cendi mulai menjamah ketujuh lidi itu dengan kedua tangannya. Ternyata nasib Rio Cendi lebih parah dari para hulubalangnya. Dia ambruk, dari mulut dan hidungnya tersembur darah kental. Ia berusaha bangkit sambil terhuyung-huyung ia berjalan menuju panggung. Sesampainya di panggung, dengan suara tersengalsengal ia berkata “cabutlah sendiri olehmu lidi celaka itu!” ujarnya kesal. Ia mengarahkan telunjuknya ke Embun Semibar. Embun Semibar tersenyum dalam hati, sambil menahan tawa, ia masih menawarkan kepada sesiapa yang ingin mencobanya lagi. Satu per satu orang-orang yang hadir mendapat tudingan telunjuknya. Semuanya menunduk diam, tak seorang pun berani menatap wajah Embun Semibar. Mereka cemas, kalau-kalau Embun Semibar akan membalas kelancangan mereka yang mencaci-makinya beberapa saat yang lalu. “Sekarang, lihatlah. Lidi ini akan segera saya cabut!” seru Embun Semibar. Lalu Bujang Kurap membanca mantranya; “Ping kecaping piring beling beruang hitam beruang putih embun semibar cabut lidi nyiur hijau”
Dan “Hap!!” Apa yang terjadi? Tiba-tiba dari tempat lidi tertancap itu menyembur air yang sangat kencang. Alangkah terkejutnya mereka, ketika ketujuh lidi itu dicabut oleh Embun Semibar, setiap lubang bekas tancapannya memancarkan air
99
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Zulkarnain Yani dengan derasnya. Orang-orang pun bersorak-sorai karena terpukau oleh apa yang mereka saksikan. Saking terpukaunya, mereka tidak menyadari kalau Embun Semibar diam-diam telah pergi dari situ. Dan mereka tidak sadar bahwa bencana besar baru saja dimulai. Embun Semibar singgah terlebih dahulu di pondok nenek Bengkuang. Ia menceritakan apa yang telah terjadi. Ia pun menyarankan agar nenek Bengkuang segera pindah ke tempat yang lebih aman, sebab sebentar lagi akan terjadi banjir besar yang akan merendam desa. Nenek Bengkuang tidak mau pergi. Bukannya tidak mempercayai kata-kata Embun Semibar, tapi pantang baginya meninggalkan kampung halaman dalam keadaan apapun. Maka Embun Semibar pun membuatkan sebuah rakit kecil untuknya. “Bila pancaran air dari tujuh mata air dari cabutan lidi-lidiku itu akan menenggelamkan pondok, nenek gunakanlah rakit ini untuk menyelamatkan diri”, pesannya sebelum pamit. Embun Semibar mula-mula pergi ke suatu tempat yang agak tinggi yang berada tidak jauh dari desa Karang Panggung. Disana, ia menyaksikan luapan air yang dahsyat. Sedikit demi sedikit desa Karang Panggung digenangi air. Penduduk pun mulai kalang kabut. Ketakjuban mereka terhadap pencaran air menjelma ketakutan yang akut. Benar-benar tidak terpikirkan oleh mereka bahwa pancaran air itu tidak akan membanjiri desa mereka. semakin lama, genangan air bertambah tinggi. Akhirnya, desa Karang Panggung tenggelam, pondok nenek Bengkuang tampak terapung-apung sebelum lenyap ditelan air. Begitu luasnya genangan air itu hingga membentuk sebuah kubangan air yang sangat luas dan dalam. Setelah semua itu berakhir, Embun Semibar meninggalkan tempat itu dan meneruskan perjalanannya ke selatan.
100
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
Nilai-Nilai Ajaran Agama dalam Cerita Rakyat “Bujang Kurap; Tujuh Lidi Sakti, Tujuh Mata Air” Darmadi (sebagaimana dikutip oleh Noortyani15) menyebutkan bahwa nilai adalah sesuatu yang berharga, baik menurut standar logika (benar atau salah), estetika (baik atau buruk), etika (adil atau tidak adil), agama (dosa atau tidak), serta menjadi acuan dan sistem atas keyakinan diri maupun kehidupan. Menurut Horton dan Hunt (sebagaimana dikutip oleh Soetandyo Wignjosoebroto16) Nilai adalah suatu bagian penting dari kebudayaan. Suatu tindakan dianggap sah, artinya secara moral dapat diterima, kalau harmonis dengan nilai-nilai yang disepakati dan dijunjung oleh masyarakat dimana tindakan tersebut dilakukan. Ketika nilai yang berlaku menyatakan bahwa kesalehan beribadah adalah sesuatu yang harus dijunjung tinggi, maka bila ada orang yang malas beribadah tentu akan menjadi bahan pergunjingan. Kamus Bahasa Indonesia17 mengartikan agama sebagai ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Adapun Mashud18 mendefinisikan agama sebagai sebuah sistem keyakinan, berisikan ajaran dan petunjuk bagi para penganutnya supaya selamat (dari api neraka) dalam kehidupan setelah mati. Karena itu juga, keyakinan keagamaan Rusma Noortyani, “Nilai Didaktis dalam Cerita Rakyat Nusantara Sebagai Pembentuk Persatuan dan Kesatuan Bangsa”, dalam The Proceeding of lnternational Seminar Building Education Based on Nationalism Values Developing Education Based on Nationalism Values, (Banjarmasin: FKIP Universitas Lambung Mangkurat, 2016), hlm. 637. 16 Soetandyo Wignjosoebroto, “Norma dan Nilai Sosial.”, dalam Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan, diedit oleh J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, (Jakarta: Kencana Prenada, 2006), hlm. 55. 17 Tim Penyusun¸Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hlm. 17. 18 Mustain Mashud, “Pranata Agama”, dalam Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan, diedit oleh J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, (Jakarta: Kencana Prenada, 2006), hlm. 248-249. 15
101
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Zulkarnain Yani dapat dilihat sebagai beriorientasi pada masa yang akan datang. Dengan cara mengikuti kewajiban-kewajiban keagamaan dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan agama yang dianut dan diyakininya. Dalam konteks ini, yang dimaksud dengan nilai-nilai agama adalah suatu sistem atau acuan keyakinan diri dan kehidupan yang berhubungan dengan keimanan, peribadatan, keyakinan serta ajaran dan petunjuk yang membimbing manusia dalam melakukan pergaulan yang sesuai dan benar berdasarkan ajaran agama.
Nilai Moral Religius Salah satu nilai ajaran agama yang bisa diambil dari cerita Bujang Kurap tersebut adalah nilai moral religius. Dalam Kamus Bahasa Indonesia19, moral adalah ajaran, baik buruk yang diterima umum mengenai penbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; akhlak; budi pekerti. Menurut Kenny (sebagaimana dikutip oleh Nurgiyantoro20) moral dalam sebuah cerita merupakan suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang dapat diambil dan ditafsirkan lewat cerita yang bersangkutan. Ia merupakan petunjuk yang sengaja diberikan oleh pengarang tentang berbagai hal yang berhubungan dengan masalah kehidupan, seperti sikap, tingkah laku dan sopan santun pergaulan. Berkaitan dengan cerita Bujang Kurap ini, nilai moral yang disampaikan berupa moral religius, suatu nilai yang bersifat keagamaan. Dalam Panduan Penerapan Pendidikan Karakter Bangsa21 disebutkan bahwa religius adalah sikap dan perilaku 19 Tim Penyusun¸Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008), hlm. 1041. 20 Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1998), hlm. 321. 21 Tim Penyusun, Panduan Penerapan Pendidikan Karakter Bangsa, (Jakarta: Pusat Kurikululum Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud, 2010), hlm. 9.
102
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Nah, dalam cerita Bujang Kurap; Tujuh Lidi Sakti, Tujuh Mata Air telah terjadi suatu pengabaian terhadap nilai moral religius yang dilakukan oleh Kepala Suku desa Karang Panggung Rio Cinde. Rio Cendi melakukan pernikahan dengan anak kandungnya sendiri yaitu Putri Seruni (pernikahan sumbang/incest). Embun Semibar pun penasaran dengan apa yang nenek Bengkuang utarakan. Setelah berjanji tidak akan menceritakan kepada siapa, akhirnya Embun Semibar mendengar alasan yang sangat mengejutkan darinya. “Karena perempuan yang dinikahi oleh Rio Cendi itu adalah anak kandungnya sendiri!” ujar nenek Bengkuang dengan nada suara menahan geram. Embun Semibar pun meminta nenek Bengkuang menceritakan semua yang ia ketahui. Nenek Bengkuang pun tidak keberatan.
Tindakan Rio Cendi yang akan menikahi anak kandungnya sendiri sudah melanggar dan mengabaikan ajaran agama Islam, yaitu terkait larangan perkawinan karena pertalian nasab. Larangan tersebut sangat jelas dalam QS. an-Nisa [3]23 secara tegas melarang melakukan pernikahan senasab. Di dalam aturan agama Islam (fiqih), bahkan, misalnya, dikenal konsep mahram yang mengatur hubungan sosial di antara individu-individu yang masih sekerabat. Bagi seseorang tidak diperkenankan menjalin hubungan percintaan atau perkawinan dengan ayah, ibu, kakek atau nenek, anak perempuan, saudara perempuan (baik seayah seibu, seayah saja atau seibu saja), saudara kandung, bibi dan kemenakan (keponakan) perempuan22. Selain pengabaian terhadap nilai moral religius, cerita ini menggambarkan adanya nilai adat dan budaya yang dilanggar dan diabaikan. Pernikahan sumbang atau incest yang dilakukan oleh Rio Cendi, sudah melanggar hukum adat yang ada terkait 22 Moh. Idris Ramulya, Hukum Perkawinan Islam: Suatu Analisis dari UndangUndang No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hlm. 77-78, Abdul Rahman Ghozali, Fiqh Munakahat, (Jakarta: Kencana Prenada, 2008), hlm. 104-105, dan Tolib Setiady, Intisari Hukum Adat Indonesia (Dalam Kajian Kepustakaan), (Bandung: Alvabeta, 2009), hlm. 266-267.
103
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Zulkarnain Yani perkawinan, sebagaimana termaktub dalam kitab Simboer Tjahaya23 pada Bab 1 pasal 27 terkait Adat Bujang Gadis dan Kawin disebutkan bahwa : “Jika sumbang di dalam dusun, tiada boleh itu perkara diputuskan oleh pasirah, melainkan perkara itu hendaklah ia bawak kepada rapat besar kena hukuman raja. Sumbang besar musti dihukum lagi buat pembasuh dusun seekor kerbau, dan Sumbang kecil seekor kambing, yaitu dengan beras, kelapa dan lain-lain keperluan sedekah yang cukup”.
Perkara incest atau yang dikenal dalam Simboer Tjahaya dengan sumbang besar dan sumbang kecil merupakan perbuatan yang dilakukan antara orang-orang yang dalam fikih disebut sebagai berbuat zina dengan mahram. Hukuman kepada para pelaku perbuatan zina jenis ini cukup berat, karena apabula perbuatan zina tersebut dilakukan kepada mahramnya seperti kepada ibu kandung, ibu tiri, anak, saudara kandung, keponakan, bibi dan lain-lain yang ada hubungan mahram, maka hukumannya adalah dengan cara dibunuh24. Sebagai akibat dari perbuatan Rio Cendi, maka desa Karang Panggung tenggelam setelah tujuh lidi yang ditanam oleh Bujang Kurap dicabut oleh Bujang Kurap. Desa Karang Panggung membentuk sebuah kubangan air yang sangat luas dan dalam 23 Kitab Simboer Tjahaya merupakan kitab undang-undang hukum adat, yang merupakan perpaduan antara hukum adat yang berkembang secara lisan di pedalaman Sumatera Selatan, yang meliputi wilayah Ogan Komering Ilir, Ogan Komering Ulu, Musi Banyuasin, Lubuklinggau, Lahat dan Muara Enin, dengan ajaran Islam. Kitab ini diyakini sebagai bentuk undang-undang tertulis berlandaskan syariat Islam, yang pertama kali diterapkan bagi masyarakat Nusantara. Kitab Simboer Tjahaya, ditulis oleh Ratu Sinuhun yang merupakan isteri penguasa Palembang, Pangeran Sido Ing Kenayan (1636-1642 M). Kitab ini terdiri atas 5 bab, yang membentuk pranata hukum dan kelembagaan adat di Sumatra Selatan, khususnya terkait persamaan gender perempuan dan lakilaki. Lihat Adil, Simboer Tjahaya: Studi Tentang Pergumulan Hukum Islam dan Hukum Adat dalam Kesultanan Palembang Darussalam, (Jakarta: Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, 2011), hlm. 124-126. Saudi Berlian, Simbur Cahaya dan Masalah Kekerasan, dalam Zulkifili & Abdul Karim Nasution (editor), Islam dalam Sejarah dan Budaya Masyarakay Sumatera Selatan, (Palembang: Universitas Sriwijaya, 2001), hlm. 97-98. 24 Adil, Simboer Tjahaya ...., hlm. 383.
104
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah dan menjadi sebuah danau yang dikenal dengan sebutan Danau Rayo yang terletak di Musi Rawas.
Nilai Sopan Santun Nilai lainnya yang bisa diambil dari cerita Bujang Kurap tersebut, yaitu sopan santun. Dalam cerita ini digambarkan bahwa sosok Bujang Kurap sebagai seorang yang sopan santun, baik dalam bergaul maupun dalam berbicara. Hal tersebut dapat dilihat pada bagian cerita berikut; Pada suatu hari, lewatlah seorang penduduk dari desa Karang Panggung. Embun Semibar menyapanya, merekapun berbincang. Tentu saja, hal ini tidak semata-mata karena Embun Semibar mampu menggunakan Besalik Rupa dengan baik, tapi juga karena sejatinya Embun Semibar adalah pemuda yang ramah dan santun, sehingga siapapun yang menjadi lawan bicaranya, baik yang baru maupun sudah lama dikenal, akan merasa nyaman.
Sifat sopan santun dan keramahtamahan yang diperlihatkan oleh Bujang Kurap merupakan hasil didikan kedua orangtuanya. Orangtua Bujang Kurap memiliki sifat arif, bijaksana dan memegang teguh adat. Dengan didikan dari orangtuanya ini, Bujang Kurap dibentuk menjadi pemuda yang sopan, tidak sombong, tabah dan mampu mengendalikan diri. Dalam dunia pendidikan, sopan santun menjadi salah satu pilar penting dalam pembentukkan karakter anak didik. Apalagi dalam pendidikan Islam, istilah sopan santun dalam salah satu konsep pendidikan Islam disebut dengan istilah ta’dib. Istilah ta’dib berasal dari kata addaba yuaddibu ta’diban yang mempunyai arti antara lain; membuatkan makanan, melatih akhlak yang baik, sopan santun dan tata cara pelaksanaan sesuatu yang baik25. Dalam pandangan Naguib al-Attas26, ta’dib adalah suatu upaya peresapan dan penanaman adab pada diri manusia dalam proses pendidikan. Di samping itu, adab merupakan suatu muatan atau M. Muntahibun Nafis, Ilmu Pendidikan Islam, (Sleman: Teras, 2011), hlm. 3. Zulkarnain Yani, “Perkembangan Pemikiran Pendidikan Islam: Pada Era Global dan Modern (Naguib al-Attas dan Hasan Langgulung”, Jurnal Penamas Vol. XXI, No. 2 – 2008, (Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta, 2008), hlm. 253-254. 25 26
105
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Zulkarnain Yani kandungan yang harus ditanamkan dalam proses pendidikan Islam. Hal tersebut sejalan dengan tujuan pendidikan Islam yang menanamkan nilai-nilai islami. Pendidikan Islam dalam konsep ta’dib mengutamakan pembentukan adab manusia agar ia secara spontan berperilaku sesuai dengan syari’at Islam.
Penutup
Kesimpulan Berdasarkan penjelasan di atas tadi, ada beberapa kesimpulan yang bisa diambil; pertama, cerita Bujang Kurap ini merupakan salah satu cerita rakyat yang sangat melegenda di masyarakat Lubuklinggau. Bukan hanya karena adanya situs keramat Bujang Kurap yang ada di Ulak Lebar yang menyebabkan masyarakat sangat mengenal cerita ini. Tapi juga informasi mengenai sosok Bujang Kurap yang diperoleh masyarakat, yang dikenal seorang pemuda yang sangat ramah dan santun, yang selalu menolong masyarakat yang mengalami kesulitan. Kedua, ada 2 nilai ajaran agama yang bisa kita ambil dari cerita Bujang Kurap ini, yaitu nilai moral religius dan nilai sopan santun. Pemanfaatan cerita rakyat sangat efektif untuk mengajarkan tentang nilai-nilai agama kepada generasi muda. Cerita rakyat, selain sebagai hiburan, juga mengandung suatu ajaran yang bersifat mendidik. Melalui para tokoh dalam cerita rakyat, dapat disampaikan sikap, perilaku dan tutur kata tokoh yang mencerminkan nilai-nilai agama yang selaras dengan budaya setempat.
Rekomendasi Terkait dengan hasil penelitian nilai-nilai pendidikan agama dalam cerita rakyat di kota Lubuk Linggau ini, ada beberapa rekomendasi yang disampaikan, yaitu: 1. Terkait dengan sulitnya menemukan penutur atau tukang cerite rakyat di masyarakat Lubuklinggau. Maka, pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan Dinas
106
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Pendidikan kota Lubuklinggau harus segera melakukan rekonstruksi terhadap cerita-cerita rakyat Lubuklinggau, dengan mempertahankan bahasa daerah Col dalam proses rekonstruksi tersebut. Hal ini untuk menghindari punahnya cerita-cerita rakyat yang banyak menyimpan nilai-nilai ajaran agama, moral, budaya dan adat. 2. Program literasi sekolah yang dicanangkan oleh pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, harus berangkat dari cerita-cerita rakyat. Karena anak-anak sekolah sekarang sudah tidak mengenal dan mengetahui apa saja cerita rakyat yang dimiliki oleh Lubuklinggau. 3. Para pemerhati dan penggiat sastra lisan Lubuklinggau agar dapat berpartisipasi dalam proses pelestarian cerita rakyat dengan mengadakan berbagai perlombaan dan event bercerita bagi masyarakat sekolah yang ada di Lubuklinggau.
Ucapan Terima Kasih Peneliti mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu selama proses pengumpulan data di lapangan. Pada kesempatan ini ucapan terima kasih peneliti sampaikan kepada: 1. Bapak Dr. H. M. Adlin Sila, M.A., Ph.D selaku Kepala Balai Litbang Agama Jakarta, yang telah memberikan kepercayaan kepada peneliti untuk melakukan penelitian ini di kota Lubuklinggau – Sumatera Selatan. 2. Bapak Drs. H. Suwandi Syam, M.Pd, Dosen/Sejarawan/ Budaya Lubuklinggau, yang telah memberikan data dan informasi mengenai beragam cerita rakyat yang ada di Lubuklinggau. 3. Ibu DR. Rusmana Dewi, M.Pd, Dosen STKIP PGRI Lubuklinggau, yang telah membantu peneliti dalam bertukar pikiran, informasi dan data mengenai sastra lisan yang ada di Lubuklinggau.
107
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Zulkarnain Yani
Daftar Pustaka Buku/Artikel
Adil. 2011. Simboer Tjahaya: Studi Tentang Pergumulan Hukum Islam dan Hukum Adat dalam Kesultanan Palembang Darussalam. Jakarta: Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. Andriani, Margareta. 2014. “Cerita Rakyat Bujang Buntu: Pembelajaran Pengabaian Pesan Moral”, dalam Jurnal Ilmiah BINA BAHASA Vol.7 No.1, Juni 2014. Palembang. Universitas Bina Darma. Bascom, William R. 1965. “The Form of Folklore: Prose Narratives”, The Journal of American Folklore, Vol. 78, No. 307, Jan – March 1965 Berlian, Saudi. 2001. Simbur Cahaya dan Masalah Kekerasan, dalam Zulkifili & Abdul Karim Nasution (editor), Islam dalam Sejarah dan Budaya Masyarakay Sumatera Selatan. Palembang: Universitas Sriwijaya. Danandjaja, James. 1997. Folklore Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng dan lain-lain, Cetakan VII. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Febriyandi. YS, Febby. “Cerita Rakyat Sebagai Media Integrasi Bangsa, Study Kasus: Masyarakat Tambelan, Kepulauan Riau.” Jurnal Renjis, Volume 2, No. 1, Juli 2015 Ghozali, Abdul Rahman. 2009. Fiqh Munakahat, (Jakarta: Kencana Prenada, 2008), 104 – 105 dan Tolib Setiady, Intisari Hukum Adat Indonesia (Dalam Kajian Kepustakaan). Bandung: Alvabeta. Harto, Zulkifli. 2014. “Nilai Yang Terkandung Pada Cerita Rakyat Sungai Jodoh Batam.” Dalam Jurnal Renjis; Jurnal Ilmiah Budaya dan Sejarah Melayu, Volume 1, No. 1, Desember 2014. Tanjung Pinang: Balai Pelestarian Nilai Budaya. Kusnita, Sri. 2015. “Pemanfaatan Cerita Rakyat Sebagai Penanaman Nilai Budaya Untuk Memperkuat Budaya Indonesia”, Prosiding Konferensi Nasional Bahasa dan Sastra III. Surakarta, 30 – 31 Oktober 2015. Mashud, Mustain. 2006. “Pranata Agama”. Dalam Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan, diedit oleh J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto. Jakarta: Kencana Prenada
108
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Nafis, M. Muntahibun. 2011. Ilmu Pendidikan Islam. Sleman: Teras. Noortyani, Rusma. 2016. “Nilai Didaktis dalam Cerita Rakyat Nusantara Sebagai Pembentuk Persatuan dan Kesatuan Bangsa”, dalam The Proceeding of lnternational Seminar Building Education Based on Nationalism Values Developing Education Based on Nationalism Values. Banjarmasin: FKIP Universitas Lambung Mangkurat. Nurgiyantoro, Burhan. 1998. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Penyusun¸ Tim. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Ramulya, Moh. Idris. 2004. Hukum Perkawinan Islam: Suatu Analisis dari Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 2004. Wignjosoebroto, Soetandyo. 2006. “Norma dan Nilai Sosial.” Dalam Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan, diedit oleh J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto. Jakarta: Kencana Prenada. Yani, Zulkarnain. 2008. “Perkembangan Pemikiran Pendidikan Islam: Pada Era Global dan Modern (Naguib al-Attas dan Hasan Langgulung”, Jurnal Penamas Vol. XXI, No. 2. Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta.
Internet
Hamadi, La., “Analisis Cerita Rakyat”, http://lahamadi.blogspot. co.id/2012/11/analisis-cerita-rakyat.html diupload hari Senin 13 Maret 2017. Dewi, Rusmana., “Produk Budaya Kemelayuan Mendekati Kepunahan”, Makalah Pendamping Seminar Kemelayuan di Sumatera Selatan, (Palembang: Balai Bahasa Prov. Sumater Selatan dan STKIP-PGRI, 2014) dimuat di http://stkiplubuklinggau.ac.id/index.php/web/dettutorial/tutorial/67, di upload hari Minggu tanggal 5 Februari 2017. Satinem, Yohana., “Memupuk Karakter Siswa SD di kota Lubuk Linggau Melalui Cerita Rakyat dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Menggunakan Pendekatan Tematik Menghadapi Tantangan Era Globalisasi”, http://yohanasatinem.blogspot.
109
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Zulkarnain Yani co.id/2016/08/memupuk-karakter-siswa-sekolah-dasar-sd. html, diupload Senin 13 Maret 2017.
110
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA DALAM CERITA RAKYAT DAERAH LAMPUNG: CONTOH DARI CERITA BATIN LABU HANDAK DAN RADIN JAMBAT Oleh: Agus Iswanto Pengantar Cerita rakyat yang dijadikan fokus pembahasan dalam penelitian ini adalah cerita rakyat daerah Lampung. Lampung menarik diteliti, karena sesungguhnya tidak hanya kaya dengan hasil alamnya—di bagian pesisir dihiasi garis-garis pantai yang indah dengan taburan pulau-pulau kecil, dan di bagian tengah serta pedalamannya melimpah hasil bumi yang kaya, mulai lada, kopi, kakao, tebu hingga pisang dan tentu saja padi, yang karena kekayaan alamnya itu banyak masyarakat pendatang menetap di wilayah Lampung sebagai apa yang disebut dalam program transmigrasi—tetapi juga khazanah kebudayaan dan tradisi yang kaya serta beragam, yang sayangnya belum banyak diungkap. Lagi pula, cerita Lampung kini tertutup dengan berita-berita negatif soal “gerombolan begal” (perampok) kendaraan bermotor yang berasal dari Lampung atau tentang ‘konflik Balinuraga’ di Lampung Selatan pada tahun 2012 (Anshori, 2013:111). Eksotisme Lampung juga pernah terungkap oleh seorang pejabat kolonial Belanda, Philipus Peter Roorda van Eysinga, yang waktu itu melihat Lampung dari pesisir Banten. Dari tempatnya berdiri, jika cuaca sedang baik, Lampung tampak timbul tenggelam di antara ombak laut (Amran, 2016:66-67). Posisi daerah Lampung cukup penting, terbukti “diperebutkan” oleh berbagai kekuasaan
111
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Agus Iswanto di masa dahulu, seperti Banten, Palembang, dan akhirnya Kolonial Belanda. Kendati pun demikian, kajian-kajian kebudayaan Lampung, terlebih-lebih kajian agama dan kebudayaan Lampung masih jarang didapatkan, timbul tenggelam sebagaimana ketika Eysinga melihat Lampung dari kejauhan. Tulisan hasil penelitian ini diharapkan dapat menyumbang bagi kajian kebudayaan dan hubungannya dengan agama dalam masyarakat Lampung. Tulisan ini hendak membahas 2 (dua) cerita rakyat daerah Lampung. Fokus pembahasan pada cerita Batin Labu Handak dan Cerita Radin Jambat. Dua cerita tersebut dipilih sebagai fokus pembahasan, karena bisa dijadikan contoh cerita dari dua komunitas adat di Lampung. Keduanya masih diingat oleh kalangan tua, tapi sudah jarang diketahui oleh kalangan muda. Cerita keduanya memiliki potensi dijadikan media pendidikan agama. Pendidikan agama yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pendidikan agama atau pendidikan religius sebagaimana dalam “pengembangan budaya dan karakter bangsa” untuk nilai religius, yakni: (1) sikap dan perilaku yang patuh dalam menjalankan ajaran agama yang dianutnya, (2) toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan (3) hidup rukun dengan pemeluk agama lain (Pusat Kurikulum Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional, 2010:9). Konsep religiusitas ini juga dapat mengacu pada dimensi religiusitas Stark dan Glock (1974) sebagaimana digunakan juga oleh El-Menouar (2014), yang mengajukan lima dimensi keberagamaan, yakni keimanan, pengetahuan, pengalaman, praktik dan konsekuensi. Namun, konsep nilai religius sebagaimana disebut pertama oleh Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional lebih sederhana dan sesuai dengan konteks Indonesia. Dengan menggunakan “pendekatan folklore” (folk: kebudayaan dan masyarakat; lor: cerita) sebagaimana disarankan oleh Danandjaja (2015:64), maka tulisan ini menyajikan terlebih dahulu deskripsi tentang kebudayaan Lampung sebagai latar
112
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah belakang, lalu menganalisis cerita yang menjadi fokus pembahasan dengan tetap menghubungkannya dengan latar belakang kebudayaannya. Data-data dikumpulkan melalui wawancara dan studi kepustakaan. Wawancara dilakukan terhadap para tokoh yang mengetahui cerita, mampu membawakan cerita dan tokohtokoh kebudayaan dan kesenian serta tokoh adat Lampung. Sedangkan, data kepustakaan digunakan untuk mencari teksteks cerita dan keterangan-keterangan tambahan terhadap fokus pembahasan.
Kebudayaan Lampung Budaya Lampung adalah budaya ulun (orang/etnis) Lampung—meskipun ada sebagian orang sekarang ini memandang orang Lampung adalah orang-orang yang tinggal di wilayah Lampung, apapun sukunya atau etnisnya. Etnis Lampung adalah orang-orang yang berbudaya dan berbahasa Lampung serta dapat pula menetap di wilayah Lampung, baik pesisir maupun pedalaman. Sebagaimana julukannya, ‘Sai Bumi Ruwa Jurai’ (satu bumi dua keturunan/kelompok adat) masyarakat atau etnis yang berasal dari wilayah Pesisir/Peminggir pada umumnya beradat Sai Batin, sedangkan masyarakat Lampung yang berasal dari wilayah pedalaman umumnya beradat Pepadun. Maksud masyarakat Lampung pesisir adalah wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Pesisir Barat, Kabupaten Lampung Barat, Way Lima di Kabupaten Pesawaran, Kabupaten Tanggamus dan Teluk Betung di Bandar Lampung. Sedangkan yang dimaksud dengan masyarakat Lampung beradat Pepadun yang kebanyakan tinggal di bagian tengah dan pedalaman Lampung adalah: masyarakat adat Abung Siwo Mego, Mego Pak Tulangbawang, Pubian Telu Suku, Sungkay-Way Kanan Buay Lima. Masyarakat-masyarakat adat Pepadun ini sekarang banyak mendiami wilayah-wilayah di Kabupaten Lampung Timur, Lampung Tengah, Lampung Utara, Way Kanan dan Mesuji (Hidayah, 2015: 205). Masyarakat Lampung juga mendiami daerah Cikoneng di Banten, suatu daerah yang
113
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Agus Iswanto letaknya di Pantai Barat Banten, kira-kira 25 km dari Cilegon ke arah Barat. Perbedaan yang mendasar dari dua kelompok adat tersebut adalah mengenai status dan gelar seorang Pemimpin/Raja adat. Bagi adat Sai Batin, dalam setiap generasi (masa/periode) kepemimpinan hanya mengenal satu orang raja adat yang bergelar sultan (suttan). Hal itu sesuai dengan istilahnya yaitu Sai Batin (satu orang junjungan). Seorang Sai Batin adalah seorang sultan berdasarkan garis lurus sejak zaman keratuan di Lampung dahulu kala. Adapun dalam kelompok masyarakat adat Pepadun (singgasana) dikenal kepala-kepala adat yang disebut dengan Punyimbang dengan gelar sultan (suttan). Namun, sultan ini juga dapat memberikan gelar sultan kepada siapa saja dalam masyarakat adat asalkan dapat memenuhi syarat-syarat dalam pesta adat cakak pepadun (naik tahta/singgasana), yang dilakukan dengan biaya yang mahal. Karena itu, dalam masyarakat adat Pepadun, sering terdapat banyak orang yang bergelar sultan (suttan) (Daud, dkk., 2012: 41-42; wawancara dengan Humaidi Abbas, 22 Februari 2016). Mengacu pada istilah lain dalam disiplin sosiologi, posisi raja adat dalam kelompok adat Sai Batin adalah sebuah status yang diwariskan (ascribed status), sedangkan raja adat dalam kelompok adat Pepadun adalah status yang dinilai dan diukur pada kemampuan dalam kontrak sosial dalam sidang adat (achieved status). Selain masyarakat adat yang terbagi dua, dialek bahasa Lampung juga dapat dibagi dua. H.N. Van Der Tuuk membagi dialek Lampung menjadi dua, yakni dialek Abung dan dialek Pubiyan, namun itu hanya di kalangan masyarakat adat Pepadun, sedangkan J.W. van Royen membagi bahasa Lampung dalam dua dialek, yakni dialek api (a) dan dialek nyou (o). Dialek api kebanyakan digunakan oleh masyarakat Lampung adat Paminggir(Sai Batin) di bagian Pesisir, sedangkan dialek nyou kebanyakan digunakan oleh masyarakat adat Pepadun. Meskipun ada juga masyarakat adat Pepadun yang menggunakan dialek
114
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah api. Pembagian dialek menurut van Royen ini lebih sesuai dengan kenyataan yang digunakan oleh masyarakat di daerah Lampung (Hadikusuma, 1987:7). Perbedaan dialek ini juga disadari oleh orang-orang Lampung (wawancara dengan Humaidi Abas, 15 Februari 2016). Penggunaan dua dialek bahasa Lampung yang berbeda ini juga tentu saja sedikit atau banyak mempengaruhi dalam sastra lisan yang dihasilkan. Namun demikian, munculnya perbedaan tersebut tidak kemudian menjadikan perbedaan dalam pandangan tentang falsafah hidup yang dianut oleh kedua masyarakat adat tersebut. Masing-masing masyarakat adat konsisten, teguh dan taat dalam memegang nilai-ilai adat dan budaya warisan leluhur mereka. Warisan leluhur tentang falsafah hidup itu bagi orang Lampung dikenal dengan Piil Pesenggiri (Muzakki, 2015:88). Kamus bahasa Lampung yang disusun oleh Kantor Bahasa Propinsi Lampung (2009: 204), mengartikan Piil sebagai ‘perangai.’ Namun, arti Piil menurut Hadikusuma (1989:102) adalah ‘rasa malu’ atau ‘rasa harga diri.’ Sedangkan Pesenggiri diartikan sebagai ‘pantang mundur.’ Jadi bisa dikatakan, Piil Pesenggiri adalah sebuah pandangan hidup yang mengarahkan orang Lampung untuk menjaga harga dirinya/rasa malunya. Piil Pesenggiri mencerminkan watak orang Lampung, sehingga dalam masyarakat Lampung ada istilah “ulah Piil jadi helau, ulah Piil ngeguwai selisih,” (karena piil menjadi baik, karena piil membuat jahat), atau juga “ulah Piil jadei wawai, ulah Piil menguwai jahel” (karena piil menjadi baik, karena piil membuat jahat) (Nurdin, 2009: 45; wawancara dengan Zulkarnain Zubairi, 12 Februari 2016). Falsafah Piil Pesenggiri meliputi hampir semua aspek kehidupan orang Lampung yang disosialisasikan dalam ranah keluarga (Margaretha Sinaga, 2014:114). Nurdin (2009:45) mengatakan, Piil Pesenggiri dalam versi masyarakat Lampung Pesisir mengandung prinsip-prinsip: (1) khepot delom mufakat (prinsip persatuan); (2) tetengah tetenggah (prinsip persamaan); (3) bupudak waya (prinsip penghormatan);
115
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Agus Iswanto (4) khopkhama delom bekekhja (prinsip kerja keras); (5) bupiil bupesenggiri (prinsip bercita-cita dan keberhasilan). Sedangkan Piil Pesenggiri dalam masyarakat Pepadun memiliki rumusanrumusan: (1) pesenggiri (prinsip kehormatan); (2) juluk-adek (prinsip bergelar dan keberhasilan); (3) nemui nyimah (prinsip penghargaan); (4) nengah nyappur (prinsip persamaan dan akomodatif ); (5) sakai sambayan (prinsip kerja sama).1 Memang, prinsip-prinsip yang dikemukakan dalam falsafah Piil Pesenggiri ini terasa sifatnya cukup universal, hal itu membuktikan bahwa orang Lampung juga memiliki falsafah yang tak kalah penting bagi masyarakat sekarang dan dapat dijadikan landasan kebudayaan nasional.
Tradisi Bercerita dalam Masyarakat Lampung Seperti masyarakat dalam kebudayaan lainnya di Indonesia, masyarakat Lampung memiliki tradisi bercerita (misalnya saja pada masyarakat suku Punan Tuvu di Kalimantan Utara dan masyarakat suku Mentawai. Lihat Césard, Guerreiro dan Soriente, 2015; Tulius, 2012). Tradisi bercerita dalam masyarakat Lampung disebut dengan warahan. Orang Lampung biasa menggunakan kata “warah” untuk menunjuk pada arti “menceritakan” atau “menyampaikan,” misalnya dalam kalimat: “tulung warahko ram haga niyuh” (“tolong sampaikan bahwa kami mau hajatan”) (wawancara dengan Zulkarnain Zubairi, 12 Februari 2016). Dalam Kamus Lampung-Indonesia, “warah” diartikan dengan “urai”, seperti dalam kalimat “warah pai ceritamu (ceghitamu)” (uraikan ceritamu), atau “tamong buwarah ceritani (ceghitani) (kakek menguraikan ceritanya) (Tim Penyusun Kamus Dwibahasa Lampung-Indonesia, 2009: 479). Namun “warahan” kemudian diartikan sebagai “cerita” atau “dongeng” (Tim Penyusun Kamus 1 Penjelasan ini dapat melengkapi keterangan Hilman Hadikusuma (1989: 102) tentang falsafah hidup Piil Pesenggiri yang hanya menyinggung lima prinisip yang kedua, serta yang banyak dirujuk oleh beberapa penulis seperti Muzakki (2015) dan Margaretha Sinaga (2014).
116
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Dwi Bahasa Lampung-Indonesia, 2009: 293). Ada lagi yang menambahkan bahwa asal kata warahan adalah “arah” atau “akhah” yang berarti tujuan atau maksud (Sobariah, 1999:50; Tim Penyusun Kamus Dwibahasa Lampung-Indonesia, 2009:13). Jadi, warahan dapat diartikan sebagai cerita yang mempunyai arah atau tujuan. Kosa kata “warahan” ini sebetulnya juga mirip dengan arti kata “warah” dalam bahasa Jawa. “Warah” dalam bahasa Jawa berarti ‘petunjuk, petuah atau nasihat’ (Utomo, 2009: 490). Memang, dapat dimungkinkan istilah warahan ini “meminjam” atau dipengaruhi oleh bahasa Jawa, yang memang dalam sejarahnya Lampung pernah dan masih berinteraksi dengan orang-orang Jawa-Serang (Jaseng) yang berasal dari Banten. Namun, istilah warahan ini kemudian bagi masyarakat Lampung identik dengan cerita yang mengandung pesan. Istilah warahan ini kemudian memiliki beberapa versi, ada yang menyebutnya “wawarahan”, “warahan,” “aruhan” atau “ruahan.” Menurut Sobariah (1999:50), istilah “wawarahan” biasa digunakan oleh masyarakat Lampung Pesisir (beradat Sai Batin), sedangkan masyarakat Lampung beradat Pepadun biasa menggunakan istilah “warahan” atau “ruhan/aruhan.” Untuk istilah yang terakhir ini juga memiliki dua versi: pertama istilah “ruhan” berasal dari kata “Ruwah” (nama bulan dalam tradisi Islam yang biasa dikenal dengan Sya’ban). Istilah ini muncul karena biasanya Ruhan (atau tradisi Ruhan/cerita) ini dilakukan sesudah panen menyambut bulan puasa atau bulan Ruwah. Versi kedua, istilah “ruhan” berasal dari kata “Ruh”, sebab untuk melakukan “ruhan” ini, orang harus memusatkan diri pada kekuatan ruh agar memperoleh kekuatan magis (Sobariah, 1999:50). Namun, orang sekarang cenderung menyebutnya sebagai warahan saja, untuk mengacu pada sebuah jenis tradisi lisan. Warahan dalam konteks masyarakat Lampung juga dapat diartikan secara umum dan khusus. Secara umum berarti ia adalah tradisi bercerita, atau mendongengkan cerita-cerita
117
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Agus Iswanto kuno tentang asal-usul sebuah buwai (marga), sedangkan secara khusus ia berarti sebuah proses berirama/bersenandung yang menceritakan suatu kejadian secara kronologis (Sobariah, 1999:51). Memang, pada awalnya warahan adalah sebuah tradisi bercerita, dan baru kemudian cerita-cerita dilantunkan secara berirama, dan terkadang diiringi alat musik, bahkan sekarang ini diangkat dalam sebuah pentas teater. Meskipun kadang dasar atau isi cerita dalam warahan itu berakar dalam kebudayaan orang Lampung, tetapi isi cerita dalam warahan dapat mengandung nilai-nilai yang universal; seperti baik-buruk. Ia juga tidak selalu melekat dalam acara-acara adat, bisa terlepas sama sekali dari acara adat meskipun juga biasa ditampilkan dalam acara-acara adat. Meskipun dengan pengucapan yang kadang-kadang berbeda, warahan dimiliki oleh semua masyarakat Lampung, baik yang Paminggir maupun Pepadun.2 Isi cerita-cerita dalam warahan sudah pernah didokumentasikan. Cerita-cerita itu, misalnya, telah didokumentasikan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Achyar dkk., 1986). Di dalamnya disampaikan sinopsis dari cerita-cerita yang berkembang dalam masyarakat Lampung, seperti Kisah Danau Ranau dan Sebuah Nama Ranau; Putri Petani yang Cerdik; Betung Sengawan, Buay Selagi; Incang-incang Anak Kemang; Si Radin dan Si Batin; Sukhai Cambai; Si Luluk; Si Bungsu Tujuh Bersaudara; Sekh Dapur; Sidang Belawan; Abdul Muluk Raja Hasbanan; Raksasa Dua Bersaudara; Ahmad yang Sangat Berbakti 2 Penulis pernah mencoba memeriksa mengenai perbedaan-perbedaan tradisi lisan dalam masyarakat Lampung dengan menanyakan apakah di Lampung Barat (Liwa khususnya) mengenal tradisi wawancan seperti dalam masyarakat Lampung di Pesawaran (Kedondong). Jawabannya tidak. Begitu juga ketika penulis tanyakan apakah ada tradisi bubandung dalam masyarakat Lampung Pesawaran-Kedondong, sebagaimana di Liwa Lampung Barat. Jawabannya tidak pula. Hal yang sama pula ketika penulis tanyakan di Liwa apakah dikenal tradisi dadi sebagai dikenal di masyarakat Lampung Tengah (Pepadun), maka jawabannya tidak (wawancara dengan Anton, 17 Februari 2016; Humaidi Abbas, 21 Februari 2016).
118
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah kepada Tuhan; Berdirinya Keratuan Ratu Melinting dan Ratu Darah Putih. Ada juga cerita Melanca; Saudagar Muda; Sang Hakuk Haga Ngaji; dan Ahmad Juaro (Rejono dkk., 1996). Ada juga cerita yang belum disebutkan seperti cerita Sang Aruk, Labu Handak dan Radin Jambat. Cerita Radin Jambat sudah didokumentasikan dan diterjemahkan oleh Hilman Hadikusuma (1995). Cerita ini lebih dikenal dalam masyarakat Lampung yang beradat Pepadun atau masyarakat Lampung di bagian Utara dan Tengah (Djafar, 1995: 4-5). Menurut Hadikusuma sebagaimana dikutip oleh Djafar (1995: 4), cerita Radin Jambat mencerminkan sifat atau watak dan perilaku budaya orang Lampung, meskipun tidak diketahui siapa pengarangnya. Sekarang ini, warahan Radin Jambat lebih populer di daerah Way Kanan (wawancara dengan Syaiful Irba, 12 Februari 2016; Zulkarnain Zubairi, 12 Februari 2016). Beberapa cerita warahan yang ada, di samping berasal dari cerita rakyat Lampung asli, juga terdapat cerita yang yang diduga adalah saduran dari cerita yang berasal dari daerah lain. Misalnya cerita Sidang Belawan yang sangat mirip dengan cerita “Jaka Tarub” di Jawa, atau cerita Putri Para Ratu yang mirip dengan cerita “Dayang Sumbi” di Jawa Barat (Sobariah, 1999:60). Cerita rakyat daerah Lampung memiliki sisi-sisi perbedaan untuk cerita-cerita yang dikenal atau populer oleh masyarakat Lampung Paminggir dan cerita-cerita yang dikenal atau populer oleh masyarakat Lampung Pepadun. Misalnya, menurut Sobariah (1999), di masyarakat Lampung Pepadun, cerita yang lebih dikenal adalah cerita Radin Jambat, sedangkan pada masyarakat Lampung Paminggir, cerita-ceritanya lebih bervariasi. Untuk itu, agar dapat menjadi contoh dari cerita rakyat dari kedua kelompok masyarakat Lampung tersebut, maka tulisan ini mengambil dua cerita sebagai pokok pembahasan, yakni cerita Radin Jambat yang lebih dikenal bagi masyarakat Lampung Pepadun, terutama untuk daerah Way Kanan, dan cerita Batin Labu Handak untuk
119
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Agus Iswanto cerita di masyarakat Lampung Paminggir, terutama di daerah Way Lima dan Kalianda. Untuk cerita Batin Labu Handak, penulis mendasarkan pada cerita yang disampaikan oleh Humaidi Abbas di Kedondong, Kabupaten Pesawaran, yang bentuknya dibawakan melalui wawancan. Sedangkan, untuk cerita Radin Jambat, penulis mendasarkan pada teks cerita Radin Jambat yang disunting dan diterjemahkan oleh Hilman Hadikusuma serta diedit ulang oleh Iwan Nurdaya Djafar (1995). Cerita Batin Labu Handak juga sudah pernah diungkap secara sekilas oleh Syahrul (2013), tapi belum mengemukakan nilai-nilai keagamaan dan kerukunan di dalamnya.
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Batin Labu Handak Biasanya cerita Batin Labu Handak ini di lingkungan masyarakat Pesawaran disampaikan dalam bentuk wawancan. Wawancan lebih dikenal dalam masyarakat Lampung Pesisir di Pesawaran, dan diartikan sebagai sejenis puisi yang berisi nasehat, harapan, petunjuk, pemberian gelar (adok) dan menceritakan sesuatu, yang dibacakan dalam bahasa Lampung dengan diiringi musik (Firmansyah dkk., 1996:5; Sabaruddin SA, 2010:75). Contohnya: Bismillah babakh wakhca Salam pembukaan ni Mahappun ngalimpukha Sai unyin ahli wakhi Anjo huwakhan wakhca Ngebakh cawa bukheti Kham tiong jama-jama Kalau wat paidah ni
Bismillah pembuka cerita Salam pembukaannya Mohon maaf dengan semua Saudara semua Ini warta cerita Memberi pembicaraan yang bermakna Kita dengar bersama-sama Kalau ada faidahnya
Assalamu’alaikum Assalamau’alaikum Tabik pun nabik tabik Mohon ampun dan maaf Sikindua je ganta Kami sekarang Haga bubalah cutik Mau bercerita sedikit Ana jenong cakhita Itu semua inti cerita Mahap jama pengunjung Mohon maaf kepada pengunjung Sai tuha khek sai sanak Baik yang tua maupun yang muda Cakhita khakyat Lampung Cerita rakyat Lampung Kisah ni “Labuh Handak” Kisahnya Labu Handak (Wawancara dengan Humaidi Abbas, 21 Februari 2016)
120
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
Ringkasan Cerita Batin Labu Handak Isi cerita Batin Labu Handak mengisahkan tentang penantian sepasang suami-istri pemangku adat untuk memiliki anak di sebuah kampung yang bernama Gunung Malang. Berbagai usaha telah dilakukan. Setelah sekian lama menanti, keduanya pun dikaruniai seorang anak perempuan yang cacat fisiknya, karena tidak mempunyai bentuk tubuh yang normal, rupanya menyerupai labuh yang lonjong dan putih, tidak memiliki kuping, hidung dan mulut. Hanya berbentuk lonjong putih menyerupai labuh, sehingga disebut dengan “Labuh Handak.” Namun, kenyataan ini tetap diterima oleh sepasang suami-istri tersebut sebagai sebuah cobaan dari Tuhan dan anak perempuannya itupun tidak disembunyikan. Anaknya itu kemudian diberi nama dengan gelar Batin Labu Handak. Lalu, di sebuah kampung, yang bernama Kampung Dantakh, terdapat seorang pemuda (bujang) yatim piatu yang bernama Masmotokh. Pemuda ini diurus oleh seorang pamannya, yang bernama Batin Pemimpin. Lama, si pemuda ini tidak mendapat jodoh, sampai suatu ketika, Masmotokh ini bermimpi yang pesannya untuk segera menikah. Berceritalah Masmotokh kepada pamannya tentang mimpinya yang memerintahkannya untuk segera menikah dengan seorang gadis di Kampung Gunung Malang. Maka berangkatlah, Masmotokh dan pamannya, Batin Pemimpin kepada Kampung Gunung Malang, bertemu dengan kedua orangtua Labuh Handak. Lamaran diterima, meskipun Masmotokh tidak melihat terlebih dahulu Batin Labuh Handak karena dipikirnya ia sudah melihat rupa kecantikannya sang gadis di dalam mimpi. Tiba waktunya pernikahan. Masmotokh dan Batin Pemimpin disambut meriah oleh pihak mempelai wanita dan seluruh masyarakat adat Kampung Malang. Saat akad nikah akan berlangsung, Masmotokh terkaget karena yang muncul dan keluar sebagai calon pengantin wanita adalah sesosok yang menyerupai labuh. Alangkah kecewanya Masmotokh, meskipun
121
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Agus Iswanto ia tetap memegang janjinya untuk menikahinya. Akad nikah pun berlangsung yang diikuti dengan perubahan cuaca, angin kencang, petir menggelegar, lampu mati dan Batin Labuh Handak meletus. Setelah itu, tiba-tiba Batin Labuh Handak berubah menjadi seorang wanita yang cantik sebagaimana yang dilihat Masmotokh dalam mimpi. Alangkah bahagianya kedua orangtua Batin Labuh Handak, pun juga Masmotokh (wawancara dengan Humaidi Abbas, 20 Februari 2016).
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Batin Labu Handak Cerita Batin Labu Handak menunjukkan nilai-nilai pendidikan agama, yang meliputi kepatuhan dalam menjalankan ajaran agama atau keyakinan yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Kepatuhan terhadap ajaran agama atau keyakinan yang dianutnya ditunjukkan dengan sikap dan perilaku yang taat terhadap segala keputusan Yang Maha Kuasa, dan senantiasa memohon dengan cara berdoa terhadap Yang Maha Kuasa tersebut. Nilai ini ditunjukkan dalam narasi cerita penantian Dalom Mangku Mangkhga dan istrinya ketika menunggu karunia anaknya. Selain bersabar, mereka berdua juga berdoa memohon karunia anaknya yang diiringi dengan usaha. Fakta yang menunjukkan nilai di atas juga ditunjukkan dalam cerita Masmotokh yang sabar mencari keberadaan Batin Labu Handak, serta menerima kenyataan calon istrinya itu sambil menyerahkan sepenuhnya pada kasih sayang Tuhan. Ini mengajarkan bahwa bagaimanapun cobaan dan musibah yang menerpa seseorang, tetaplah untuk berdoa dan bersabar kepada Tuhan yang Maha Kuasa, yang berarti juga menunjukkan kepatuhan kepada Tuhan. Keteguhan dalam menjalankan ajaran atau cobaan dari Tuhan juga menunjukkan keteguhan prinsip terhadap janjinya demi menjaga harga diri. Nilai ini ditunjukkan dalam narasi cerita keputusan Masmotokh yang tetap mempersunting Batin Labu Handak sebagai istrinya, meskipun dengan wujudnya yang tidak
122
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah normal. Ini juga menunjukkan harga diri yang menjadi falsafah hidup orang Lampung, yakni Piil pesenggiri. Nilai mempertahankan harga diri juga tercermin dalam sikap Dalom Mangku Mangkhga yang terus meminta keteguhan prinsip Masmotokh untuk menikahi anaknya. Dalam konteks cerita ini, Masmotokh sudah berjanji akan menikahi Batin Labu Handak. Meskipun orangtua Batin Labu Handak sudah mempersilahkan Masmotokh untuk melihat terlebih dahulu calon pengantinnya, Masmotokh tidak mau dan berjanji tetap akan menikahi Batin Labu Handak karena sudah ditemuinya dalam mimpi. Ketika ia mengetahui kondisi calon pengantinnya, meskipun kecewa, tetapi Mamsotokh tetap mempersunting Batin Labuh Handak sebagai istrinya karena janjinya yang sudah dikatakan kepada Delom Mangku Mangkhga. Ini mencerminkan sikap keteguhan Masmotokh dan menjaga harga dirinya, karena dengan menepati janji, berarti menjaga harga dirinya. Adapun nilai toleransi dan hidup rukun dengan pemeluk agama atau kepercayaan atau orang yang berbeda identitas ditunjukkan dalam kebijaksanaan dan keramahan yang tersirat dalam cerita, yakni orang-orang Kampung Gunung Malang yang menjadi tempat tinggal Batin Labu Handak, serta kedua orangtuanya yang menjadi pemimpin adatnya, murah senyum dan ramah. Selain itu, orang-orang Kampung Gunung Malang juga merasa tidak terhina Ratunya memiliki anak yang tidak normal. Narasi ini sebetulnya kontras dengan cerita-cerita yang berkembang tentang orang Lampung saat ini, yang dicirikan dengan tindakan-tindakan kriminal. Narasi ini sesungguhnya juga mencerminkan falsafah hidup orang Lampung dalam Piil Pesenggiri, yakni nemui nyimah (santun terhadap siapapun yang datang) dan nengah nyappur (bergaul, bersahabat dan toleran). Nilai-nilai ini tentu mengajarkan kerukunan di dalamnya yang menjadi nilai sosial masyarakat Lampung. Prinsip nemui nyimah dan nengah nyappur menjadi syarat terciptanya sebuah kerukunan atau kohesivitas sosial di dalam masyarakat.
123
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Agus Iswanto
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Radin Jambat Ringkasan Cerita Radin Jambat
Diceritakan, sebuah kerajaan yang megah dan aman, namun rajanya tidak mempunyai keturunan anak laki-laki yang dapat melanjutkan pemerintahan rajanya. Lalu sang raja bertapa di Bukit Pesagi (Lampung) memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk memperoleh keturunan. Setelah sepuluh malam berlalu, sang ratu bermimpi telah mulai mengandung. Sembilan bulan kemudian, lahirlah seorang bayi laki-laki yang ajaib: di jarinya telah melekat cincin permata bertali emas yang dapat memancarkan cahaya yang sangat terang. Bayi itu kemudian bernama Radin Jambat. Setelah dewasa, Radin Jambat dikenal sebagai seorang pangeran yang sakti. Salah satu kesaktiannya adalah: apabila ia menghentakan kakinya yang kiri, maka akan bergetarlah bumi, dan ia menghentakkan kakinya yang kanan, maka akan muncul kilat disertai suara gemuruh. Suatu hari, Radin Jambat, dengan ditemani para pengawalnya (punakawan), pergi dari satu desa ke desa lainnya dengan maksud mencari gadis untuk jodohnya. Di setiap desa yang disinggahi, mereka disambut oleh para bujang dan gadis yang menghibur mereka dengan tarian dan pantun muda-mudi. Ia terus melanjutkan perjalanan hingga ke Laut Merah dan Laut Jawa, hingga kembali ke Lampung. Berkat doa dan bacaan AlQur’an Radin Jambat terlepas dari bahaya maut. Suatu ketika, Radin Jambat diceritakan bahwa ada seorang putri yang baik hati, tetapi mempunyai tunangan dan tunangannya itu tak terkalahkan oleh siapa pun. Radin Jambat dan pengawalnya terus melaju dengan perahunya memasuki sungai untuk mencari Negara Tanjung Yakin, tempat Putri Betik Hati berada. Di pelabuhan, mereka diterima petugas pelabuhan yang bernama Sindu Pati, yang meminta bayaran terlebih dahulu untuk tambatan perahu. Pertemuan Radin Jambat dengan Putri Betik Hati bukan tanpa halangan karena tunangannya yang pandai silat, maupun yang pandai mengadu ayam dan berkelahi.
124
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Tapi akhirnya dapat dikalahkan oleh Radin Jambat (Disarikan dari Djafar, 1995: 7-9; wawancara dengan Syaiful Irba, 27 Januari 2016).3
Ketaatan Terhadap Ajaran Agama Adapun nilai pendidikan agama dalam cerita Radin Jambat ditunjukkan melalui cerita atau adegan tertentu. Untuk ketaatan atau kepatuhan terhadap ajaran agama Islam misalnya, dalam cerita Radin Jambat sering ditampilkan cerita-cerita yang dibawakan oleh para tokoh yang menunjukkan pada aktivitas berzikir, berdoa dan mengaji Al-Qur’an, sebagaimana dalam kutipan di bawah ini: 19 Niat ram makwat ruwa Lapah do jemo pagi
19 Niat kita tidak dua Pergi besok pagi
Ai ido puningkawan Nyak gila haga pamit Segiri ninik puyang Ralik bidang setana Kubor to bersihi Jemoh sai haga siba Kubiansa sai ngantoni … Hajat ku tibakuli Dibacako Putiha Bupintak ngati ati
Hai punakawan Saya ini akan pamit Semua nenek Poyang Seluruh kaum kerabat Kuburan dibersihkan Besok yang akan seba Hari ini bersiap-siap … Hajatku dikabulkan Dibacakan al-Fatihah Meminta berhati-hati
Kak radu pai do sina Jemoh sai haga siba Dibisa sai ngunjungi Dibaca ko Putiha Yasin ku juju api
Telah selesai hal itu Besok yang akan seba Sore ini berkunjung Dibacakan al-Fatihah Yasin apalagi juga
Menurut Djafar (1995: 10), cerita Radin Jambat sebagaimana yang pernah disunting dan diterjemahkan oleh Hilman Hadikusuma belum selesai, karena baru berakhir pada kemenangan Radin Jambat saat menyabung ayam dengan salah seorang tunangan Putri Betik Hati, yaitu Radin Pinang Kandang Selipat. Memang, dari buku edisi teks cerita Radin Jambat yang penulis baca juga hanya berakhir pada kemenangan Radin Jambat saat menyabung ayam. 3
125
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Agus Iswanto 33 Kuruk di banguk naga Sai sangun nunggu di san Amon sai Radin Jambat Tuli kak didikeran
33 Masuk dalam mulut naga Yang memang menunggu di situ Adapun Radin Jambat Sudah berzikir-zikiran
Rasan ni ngaji kitab Jama ngaji kuro’an Ngaji kitab kak tamat Kur’an munih resan Sai ratong malaikat Ngejuk minyak rusapan
Kerjanya mengaji kitab Serta mengaji al-Quran Mengaji kitab sudah tamat Al-Quran juga selesai Yang datang malaikat Memberi minyak rusapan (Hadikusuma, 1995:86)
Dalam episode 19 di atas diceritakan bahwa sebelum Radin Jambat mengembara bersama dua orang punakawannya (pengawal), ia melakukan beberapa ritual, mulai berziarah ke kuburan nenek moyangnya yang sebelumnya dibersihkan, yang ditunjukukan dengan kalimat “saya ini akan pamit kepada semua nenek moyang.” Lalu ia juga berdoa agar tujuan pengembaraannya terkabul, yakni dengan membaca surat al-Fatihah dan membacakan surat Yasin, serta bersalawat kepada Nabi. Adapun dalam episode 33 diceritakan bahwa suatu ketika dalam pengembaraanya, Radin Jambat tiba di Laut Merah, ia bertemu dengan naga untuk menyimbolkan mereka dalam sebuah rintangan yang hebat. Lalu, Radin Jambat berdoa kepada Tuhan, Allah SWT. dan berzikir, serta membaca Al-Qur’an, yang kemudian dapat membebaskannya dari bahaya sang naga di Laut Merah tersebut. Tampak tiga kosa kata atau konsep yang penting dalam kaitannya dengan nilai keagamaan dari kutipan di atas adalah, “doa,” “zikir” dan “Al-Qur’an.” Berdoa adalah salah satu tuntunan agama Islam. Al-Qur’an secara tegas menyatakan: “Katakanlah (wahai Muhammad), Tuhanku tidak mengindahkanmu, seandainya kamu tidak berdoa (beribadah), dan karena kamu mendustakan-Nya, maka pastilah kelak (siksa Kami) akan menimpamu (QS. al-Furqan [25]:77). Menurut Shihab (2008:251-252; 2009:170-171) ayat
126
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah ini memberikan pelajaran bahwa doa adalah anjuran utama agama. Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad disebutkan bahwa doa adalah inti ibadah (HR. Tirmizi). Al-Qur’an pun secara tegas memerintahkan untuk berdoa: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina” (QS. al-Mu’min [40]:60). Sementara zikir dalam Islam adalah hal yang mendapat perhatian khusus dalam rangka taqarrub (mendekatkan) diri kepada Allah SWT. (Ya’qub, 1987: 311), yang mungkin sama dengan ritual meditasi dalam tradisi agama lain. Zikir berasal dari bahasa Arab yang berarti “mengingat”, maksudnya mengingat Allah. Zikir-zikir tersebut antara lain: tasbih (subhānallāh), tahlil (lā ilāha illallāh), tahmid (alhmadulillāh), takbir (Allāh Akbar), basmallah (bismillāhirrahmānirrahīm), termasuk tilawatul Qur’an (membaca al-Quran). Sebagai inti zikir yang mencakup seluruhnya adalah salat: “Sungguh, Aku adalah Allah, tiada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingatkku” (QS. Tāhā [20]:14). Zikir juga merupakan rangkaian iman yang diperintahkan setiap saat (QS. al-Ahzab [33]:33). Zikir dapat memantapkan iman, memperbaiki akhlak, lebih mendekatkan kepada Allah, menentramkan jiwa, memberi harapan ampunan, dan mengundang rahmat (Ya’qub, 1987:312-321). Zikir juga menjadi salah satu amalan utama dalam tarekat (perkumpulan para sufi) (Ismail, 2002:319). Semua kelompok tarekat mengajarkan zikir (Schimmel, 1975:167). Sedangkan soal “membaca Al-Qur’an”—hal yang juga disebut dalam cerita Radin Jambat—dapat dimasukkan ke dalam pengertian zikir, selain juga dapat menjadi pelajaran atau hikmah dalam kehidupan seorang Muslim. Bisa dikatakan, bahwa seorang Muslim yang senantiasa berzikir berarti ia sedang melakukan serangkaian perintah-perintah Allah sebagaimana ditunjukkan
127
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Agus Iswanto dalam Al-Qur’an, dan orang yang senantiasa melaksanakan perintah-perintah Allah adalah sebagian ciri dari orang-orang yang bertakwa. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa cerita Radin Jambat menandakan pesan-pesan ketakwaan sebagai inti dari nilai keagamaan dalam Islam. Selain itu, cerita Radin Jambat juga memuat ajaran taSAWuf di dalamnya, yakni yang mengajarkan makrifat dan mencintai Tuhan, seperti dalam kutipan berikut: Damon sai Radin Jambat Tiya telu muwari Kak nyakak kok makripat Dibaca di lom hati
Kalau Radin Jambat Mereka bertiga bersaudara Sudah menaikan makrifat Dibaca di dalam hati
Lom alam pitu pangsat Dalam alam tujuh tingkat Susah nyepok banding ni Susah mencari bandingannya Ya helau sangan helau Dia saleh teramat saleh Kupalang kudiwaan Khusyuk mencintai Tuhan (Hadikusuma, 1995:148)
Dua konsep cinta (mahabbah) dan makrifat kepada Allah adalah dua maqam (tempat atau tingkatan) proses penyucian jiwa dalam ajaran pokok taSAWuf (Schimmel, 1975:130). Cinta kepada Tuhan menandakan dekatnya seorang manusia dengan Penciptanya. Al-Qur’an mengandung sejumlah ayat yang menggambarkan cinta Tuhan kepada hamba dan cinta hamba kepada Tuhan: “…adapun orang-orang yang beriman, sangat cinta kepada Allah” (QS. al-Baqarah [2]:165). Allah juga berfirman: “Katakanlah: ‘jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. al-Nisa [3]:31). Sedangkan makrifat adalah mengenal Tuhan (Allah SWT.) dengan hati nuraninya. Seorang sufi yang telah mengenal Allah ia akan menerima cahaya Ilahi yang menyinari kalbunya, kemudian dengan pancaran sinar itu ia dapat melihat keindahan-Nya yang abadi. Makrifat kepada Allah adalah karunia yang dimiliki oleh seorang sufi yang ikhlas dan sungguh-sungguh mencintai-Nya. Makrifat dan mahabbah dalam taSAWuf saling melengkapi,
128
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah terkadang orang dapat mengenal Allah dengan terlebih dahulu mencintai-Nya, atau sebaliknya mencintai-Nya terlebih dahulu baru kemudian mengenal-Nya (Schimmel, 1975:131). Dengan demikian, nilai keagamaan yang dapat digali dari cerita Radin Jambat adalah nilai-nilai yang bersumber dari dimensi taSAWuf dalam Islam. Jadi memang tidak bisa dipungkiri Islam yang coba dikenalkan melalui cerita Radin Jambat adalah Islam yang bernuansa taSAWuf, setidaknya ditandai dengan kata-kata atau adegan-adegan yang muncul dalam cerita. Secara paradigmatif-asosiatif, memang cerita Radin Jambat dapat dihubungkan dengan khazanahkhazanah Islam di Indonesia yang di dalamnya taSAWuf atau sufisme memberikan peran. Sebagimana telah dikemukakan oleh Johns (1961:15), bahwa para guru-guru sufi memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Nusantara-Indonesia. Johns (1961:22) mengatakan bahwa “we have referred to sufism as an active element in the spread of Islam in Indonesia, pointing out that the Sufis represented a type of teacher and taught the pattern of doctrine with which the Indonesians were familiar. Pandangan Johns ini juga diperkuat oleh Azra (2013:15) dan Shihab (2001:39) yang menyatakan bahwa faktor utama keberhasilan konversi adalah kemampuan para sufi menyajikan Islam dalam kemasan yang atraktif, khususnya dengan menekankan kesesuaian dengan Islam atau kontinuitas, bukan dengan perubahan yang terburuburu dalam kepercayaan dan praktik keagamaan lokal.
Nilai Toleransi dan Kerukunan: Multikulturalitas dalam Cerita Radin Jambat Cerita Radin Jambat ini mendapat pengaruh dari tradisi Islam, misalnya terdapat kata-kata yang merujuk pada agama Islam dan tradisi keilmuannya, seperti “makripat” (ma’rifat)4, “Putiha” dan
Misalnya: makripat ni tecakak (ma’rifatnya membumbung) (Hadikusuma, 1995: 49). 4
129
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Agus Iswanto “Yasin,”5 “diker”6“bismillah”7 “Al-Qur’an.”8 Cerita Radin Jambat juga mengandung ajaran taSAWuf yang disebut dengan “martabat tujuh,” misalnya dalam cerita berikut: Radin Jambat Hangkirat Diwa padang mak asa Jak alam pitu tingkat Nginjang turun dunia (Hadikusuma, 1995: 70)
Radin Jambat Hangkirat Dewa padang tak terkira Dari alam tujuh tingkat Tertarik turun ke dunia
Loma lam pitu pangsat Susah nyepok banding ni Ya helau sangun helau Kupalang kudiwaan
Dalam alam tujuh tingkat Susah mencari bandingannya Dia saleh teramat saleh Khusyuk mencintai Tuhan
(Hadikusuma, 1995: 148)
Selain kata-kata yang ada hubungan dengan agama Islam, cerita Radin Jambat ini juga mengandung kata-kata atau narasinarasi yang ada hubungannya dengan kepercayaan-kepercayaan lain, seperti kata dewa yang banyak disebut. Tampaknya memang ini masih dipengaruhi kepercayaan animisme dan Hindu-Budha yang pernah ada di Lampung sebelum Islam masuk (Marsden, 2013:355). Dalam cerita rakyat yang berkembang, disebutkan bahwa sebelum Islam masuk ke Lampung, masyarakat Lampung masih banyak yang menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, yakni dengan menyembah pohon Ara di Gunung Pesagi. Pohon Ara sendiri sekarang menjadi salah satu lambang di Lampung Barat, tepatnya di Kota Liwa (wawancara dengan Maksudi, 17 Februari 2016). Menurut sumber-sumber arkeologis yang ditemukan di wilayah Lampung, baik yang berupa prasasti, arca serta benda-benda atribut dan upacara keagamaan 5 Misalnya: Dibaca ko putiha, Yasin ku juju api (dibacakan surat al-Fatihah, surat Yasin apalagi juga) (Hadikusuma, 1995: 61). 6 Misalnya: Buratib tolak bala, rik diker barazanzi (berusaha tolak bala, dengan berzikir Barzanzi) (Hadikusuma, 1995: 70). 7 Misalnya: Ya ngucapko bismillah, sambil diker dikeran (mengucapkan bismillah, sambil berzikir) (Hadikusuma, 1995: 76). 8 Misalnya: Kur’an munih resan (Al-Qur’an juga selesai) (Hadikusuma, 1995: 86).
130
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Hindu-Budha, yang replikanya berada di Museum Ruwa Jurai Lampung (Hidayah, 2015:205). Disebut juga dalam cerita Radin Jambat ini daerah-daerah atau wilayah-wilayah yang menunjuk pada kekuasaan kerajaan/ kesultanan atau situasi konteks geografis, seperti Jambi,9 Palembang,10 Banten,11 Jawa,12 Pagaruyung13 dan India14 serta Laut Merah.15 Tempat-tempat atau wilayah-wilayah tersebut memang jika dilihat dari perspektif sejarah memang perlu dibuktikan terlebih dahulu, tetapi memang beberapa tempat atau wilayah dianggap memiliki hubungan dengan Lampung, seperti Banten, Palembang dan Pagaruyung, yakni dalam hubungannya dengan masuknya Islam di Lampung (Daud dkk., 2012: 24-25). Wilayahwilayah tersebut memiliki hubungan asosiatif (paradigmatif ) dengan wilayah-wilayah lainnya.16 Misalnya, kalau disebut kata “Palembang” maka tanda (kata) ini akan memiliki hubungan asosiatif dengan tanda-tanda lain, seperti Kesultanan Islam dan Sriwijaya, atau kata “Jambi” memiliki hubungan asosiatif dengan tradisi Budhis yang besar dengan peninggalan-peninggalan Misalnya: Sultan Jambi mak mangka (Sultan Jambi tidak punya) (Hadikusuma, 1995: 139). 10 Misalnya: Akik laok Pulimbang (sedangkan laut Palembang) (Hadikusuma, 1995: 26). 11 Misalnya: Gitoh ralang di Banton (Getah langka di Banten) (Hadikusuma, 1995: 53). 12 Misalnya: Tigoh di Beringin jajar pitu, lingkungan tanah Jawa (Tiga di beringin jajar tujuh, lingkungan tanah Jawa) (Hadikusuma, 1995: 89). 13 Misalnya: Sultan Jambi mak mangka, induhko Pagaruyung (Sultan Jambi tidak punya, entah kalau Pagaruyung) (Hadikusuma, 1995: 139). 14 Misalnya: Akik Negara Hindi (Sedangkan Negara India) (Hadikusuma, 1995: 28). 15 Misalnya: Tiyan dilom layaran, togoh di lawok Mirah (Mereka dalam pelayaran, tiba di laut Merah) (Hadikusuma, 1995: 84). 16 Dalam kajian semiotika (lebih tepatnya semiologi) yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure dan dikembangkan oleh Roland Barthes dikenal tiga macam hubungan tanda, yang dua diantaranya adalah hubungan sintagmatik dan hubungan paradigmatif atau asosiatif. Secara sederhana hubungan sintagmatik adalah hubungan antar tanda dalam satu urutan tertentu (hubungan tanda dengan tanda lain dari satu struktur), sedangkan hubungan paradigmatif atau asosiatif adalah hubungan tanda dengan tanda lain dalam satu sistem atau kelas, biasanya sifatnya dapat saling menggantikan dan dalam ingatan. Lihat lebih jauh, Hoed (2011: 10) dan Sunardi (2004: 46). 9
131
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Agus Iswanto candinya yang luas, begitu juga “Banten” yang berhubungan dengan wilayah-wilayah kekuasaannya, termasuk Lampung, begitu juga Jawa dan Pagaruyung yang memiliki hubungan asosiatif dengan segala aspek kebudayaan yang mengitarinya, yang juga memiliki hubungan kesejarahan dengan masyarakat Lampung. Mengikuti pandangan Arthur Asa Berger (2015:125), yang menyatakan bahwa tanda-tanda dapat digunakan masyarakat untuk memberi petunjuk identitas yang lain, maka keterhubungan-keterhubungan yang ditunjukkan dalam katakata, yang mengacu pada tradisi agama atau kepercayaan tertentu, atau pada tempat-tempat tertentu, dapat menunjukkan bahwa orang Lampung melakukan hubungan dengan beraneka ragam suku dan kepercayaan serta agama (identitas), meskipun pada dasarnya orang Lampung adalah Muslim. Dapat dimungkinkan bahwa penyebutan kata “dewa” yang menunjuk pada kepercayaan dan agama pra-Islam itu menunjukkan sikap penghormatan pada kepercayaan nenek moyang yang pernah ada dan hidup di Lampung. Sikap penghormatan terhadap eksistensi kepercayaan dan agama yang lain tentu adalah bagian dari nilai kerukunan yang dapat diambil dari fakta-fakta cerita Radin Jambat di atas. Dengan begitu, dapat dikatakan juga bahwa cerita Radin Jambat ini mencerminkan falsafah hidup Piil Pesenggiri orang Lampung, yakni pada prinsip nemui nyimah (prinsip penghormatan), nengah nyappur (bergaul, bersahabat dan toleran), dan sakai sambayan (kerjasama).
Penutup
Kesimpulan Masyarakat Lampung memiliki tradisi bercerita, yang disebut dengan warahan. Cerita yang ada dan populer bagi masyarakat Lampung Pepadun (di wilayah tengah dan pedalaman) adalah cerita Radin Jambat, sedangkan cerita-cerita yang ada di kalangan masyarakat Lampung Paminggir (Sai Batin) lebih beragam dan
132
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah variasi, salah satunya adalah cerita Batin Labu Handak. Kedua cerita ini masih dikenal dan masih dituturkan oleh masyarakat, meskipun ada juga yang sudah menuliskannya. Cerita Radin Jambat dan cerita Batin Labu Handak memiliki potensi sebagai media penyampaian nilai-nilai pendidikan agama. Cerita Radin Jambat mengajarkan nilai-nilai ketaatan dan kecintaan terhadap Allah, Tuhan Yang Maha Esa dengan nuansa sufistik yang kuat. Cerita ini juga menunjukkan pandangan yang menerima kepercayaan dan identitas yang berbeda, sehingga mengajarkan untuk toleransi dalam keyakinan yang berbeda dan menjaga kerukunan. Cerita Batin Labu Handak menunjukkan nilai ketaatan terhadap ketentuan Tuhan seraya selalu penuh harap dengan berdoa kepada Tuhan atas cobaan dan musibah yang menimpa. Selain itu, cerita ini mengajarkan untuk teguh memegang janji sebagai konsekuensi taat terhadap Tuhan. Adapun nilai toleransi dan hidup rukun dengan pemeluk agama atau kepercayaan atau orang yang berbeda identitas, ditunjukkan dalam kebijaksanaan dan keramahan orang-orang yang menjadi tokoh dalam cerita. Nilai-nilai pendidikan agama kedua cerita ini juga berhubungan dengan falsafah hidup orang Lampung, yakni Piil Pesenggiri, karena cerita-cerita tersebut menunjukkan sikap dan perilaku tanggung jawab dan menjaga harga diri dengan memegang teguh prinsip, nemui nyimah (saling menghormati), nengah nyappur (bergaul, bersahabat dan toleran), dan sakai sambayan (kerjasama).
Rekomendasi Berdasarkan uraian tersebut, kedua cerita ini dapat digunakan sebagai sarana pendidikan agama, yakni dengan mengadaptasikan kedua cerita tersebut, atau bagian-bagian tertentu dari kedua cerita dalam formula yang lebih populer bagi kalangan pelajar muda, dengan tetap menyajikan bahasa Lampung, terjemahan, dan nilai-nilai pendidikan agama yang
133
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Agus Iswanto terkandung di dalamnya, sehingga kalangan pelajar dapat lebih mengenal budayanya di satu sisi, juga menambah kesalehannya di sisi yang lain. Kebijakan ini bisa dilakukan oleh Kementerian Agama, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pendidikan Islam bersama-sama dengan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Kebudayaan. Untuk Kementerian Agama, bisa dilakukan terlebih dahulu terhadap madrasah, sedangkan untuk Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dapat dilakukan untuk Pendidikan Agama di sekolah umum.
Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Balai Litbang Agama Jakarta, dengan anggaran DIPA lembaga tersebut, penelitian ini dapat terlaksana. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Arman AZ, M. Rusli, Iwan Nurdaya Djafar, Mamak Lawok, dan semua tim yang membantu terlaksananya penelitian ini.
Daftar Pustaka Buku/Referensi
Achyar, Warnidah, dkk. 1986. Struktur Sastra Lisan Lampung. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Amran, Frieda. 2016. Mencari Jejak Masa Lalu Lampung: Lampung Tumbai 2014. Bandar Lampung: LaBRAK. Anshori, M. Afif. 2013. Pemetaan Resolusi Konflik di Lampung. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Institut Agama Islam Negeri Raden Intan Lampung. Azra, Azyumardi. 2013. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & VXII: Akar Pembaruan Islam di Indonesia. Edisi Perenial. Jakarta: Kencana Prenada Group. Berger, Arthur Asa. 2015. Pengantar Semiotika: Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer, cetakan ke-4. Diterjemahkan oleh M. Dwi Marianto. Yogyakarta: Tiara Wacana.
134
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Bunanta, Murti. 2015. “Memilah, Memilih, dan Memanfaatkan Penelitian Cerita Rakyat Anak dan Remaja.” Dalam Metodologi Kajian Tradisi Lisan, edisi revisi, diedit oleh Pudentia MPSS. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor dan Asosiasi Tradisi Lisan. Césard, Nicolas, Antonio Guerreiro dan Antonia Soriente (Penyunting). 2015. Petualangan Unjung dan Mbui Kuvong: Sastra Lisan dan Kamus Punan Tuvu’ dari Kalimantan. Jakarta: École française d’Extrême-Orient dan Kepustakaan Populer Gramedia. Danandjaja, James. 1997. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. -----. 2015. “Pendekatan Folklor dalam Penelitian Bahan-bahan Tradisi Lisan.” Dalam Metodologi Kajian Tradisi Lisan, edisi revisi, diedit oleh Pudentia MPSS. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor dan Asosiasi Tradisi Lisan. Daud, Safari, dkk. 2012. Sejarah Kesultanan Paksi Pak Sekala Brak. Jakartaa: Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama. Djafar, Iwan Nurdaya. 1995. “Warahan Radin Jambat: Sebuah Pembicaraan.” Dalam Warahan Radin Jambat: Puisi Lampung Klasik, diterjemahkan oleh Hilman Hadikusuma dan disunting oleh Iwan Nurdaya Dajafar. Bandar Lampung: Grafikatama Jaya. El-Menouar, Yasemin. 2014. “The Five Dimensions of Muslim Religiosity. Result of an Empirical Study.” Methods, data, analyses, Vol. 8, No. 1. Febriyandi. YS, Febby. “Cerita Rakyat Sebagai Media Integrasi Bangsa, Study Kasus: Masyarakat Tambelan, Kepulauan Riau.” Jurnal Renjis, Volume 2, No. 1, Juli 2015: 53-73. Firmansyah, Junaidi, Hafizi Hasan dan Raja Perbasa. 1996. Kesenian Daerah Lampung (Sastera Lisan dan Lagu-lagu Daerah Lampung). Bandar Lampung: Penerbit Gunung Pesagi. Hadikusuma, Hilman (Penerjemah). 1995. Warahan Radin Jambat; Puisi Lampung Klasik, disunting oleh Iwan Nurdaya Djafar. Bandar Lampung: Grafikatama Jaya.
135
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Agus Iswanto Hadikusuma, Hilman. 1987. Bahasa Lampung. Jakarta: Fajar Agung. Harto, Zulkifli. 2014. “Nilai Yang Terkandung Pada Cerita Rakyat Sungai Jodoh Batam.” Dalam Jurnal Renjis, Volume 1, No. 1, Desember 2014. Hidayah, Zulyani. 2015. Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hoed, Benny H. 2011. Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Depok: Komunitas Bambu. Ismail, Asep Usman. 2002. “TaSAWuf.” Dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Ajaran, diedit oleh Taufik Abdullah dkk. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve. Johns, A.H. 1961. “Sufism as a Category in Indonesian Literature and History.” Journal of Southeast Asian History, Vol. 2, No. 2. Margaretha Sinaga, Risma. 2014. “Disertasi: Revitalisasi Tradisi: Strategi Mengubah Stigma Kajian Piil Pesenggiri dalam Budaya Lampung. Masyarakat Indonesia Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia, Vol. 40, No. 1. Marsden, William. 2013 [1811]. Sejarah Melayu. Diterjemahkan oleh Tim Komunitas Bambu. Depok: Komintas Bambu. Muzakki, Ahmad. 2015. Upaya Membangun Masyarakat Multikultural Berbasis Local Genius: Kajian terhadap Nilainilai Falsafah Hidup Piil Pesenggiri. Metro-Lampung: Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jurai Siwo Metro. Nurdin, A. Fauzie. 2009. Budaya Muakhi dan Pembangunan Daerah Menuju Masyarakat Bermartabat. Yogyakarta: Gama Media. Pusat Kurikulum, Badan Litbang, Kementerian Pendidikan Nasional. 2010. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Pusat Kurikulum, Badan Litbang, Kementerian Pendidikan Nasional. Rejono, Imam, dkk. 1996. Nilai-nilai Religius dalam Sastra Lampung. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Sabaruddin SA. 2010. Mengenal Adat Istiadat Sastra dan Bahasa Lampung Pesisir Way Lima. Jakarta: Kemuakhian Way Lima.
136
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Schimmel, Annemarie. 1975. Mystical Dimensions of Islam. Jakarta: Mizan. Shihab, Alwi. 2001. Islam Sufistik: “Islam Pertama” dan Pengaruhnya Hingga Kini di Indonesia. Bandung: Mizan. Shihab, M. Quraish. 2008. M. Quraish Shihab Menjawab 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui. Tangerang Selatan: Penerbit Lentera Hati. Sobariah, Imas. 1999. “Warahan Lampung.” Skripsi S1 Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung. Stark, Rodney, Charles Y. Glock. 1968. American Piety: The Nature of Religious Commitment. Berkeley, Los Angeles, London: University of Callifornia Press. Sunardi, ST. 2004. Semiotika Negativa. Yogyakarta: Buku Baik. Syahrul, Nilawati. 2013. “Warahan dan Seni Mendongeng Etnik Lampung: Sebuah Kajian terhadap Kearifan Lokal yang Tergerus Zaman.” Dalam Folklor dan Folklife, diedit oleh Suwardi Endraswara, Pujiharto, Yoseph Yapi Taum, Afendy Widayat dan Eko Santosa. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Tilaar, H.A.R, Riant Nugroho. 2008. Kebijakan Pendidikan: Pengantar untuk Memahami Kebijakan Pendidikan dan Kebijakan Pendidikan sebagai Kebijakan Publik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Tim Penyusun. 2009. Kamus Dwibahasa Lampung-Indonesia. Bandar Lampung: Kantor Bahasa Provinsi Lampung. Tulius, Juniator. 2012. “Family Stories: Oral Tradition, Memories of the Past, and Contemporary Conflicts over Land in MentawaiIndonesia.” Ph.D Thesis di Universitas Leiden, Belanda. Utomo, Sutrisno Sastro. 2009. Kamus Lengkap Jawa-Indonesia. Yogyakarta: Kanisius. Ya’qub, Hamzah. 1987. Tashawwuf dan Taqarrub: Tingkat Ketenangan & Kebahagiaan Mukmin. Bandung: Pustaka Madya.
137
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Agus Iswanto
Daftar Narasumber:
Humaidi Abbas, Pesawaran. Ibrahim, Liwa, Lampung Barat. Imas Sobariah, Bandar Lampung. Iwan Nurdaya Djafar, Bandar Lampung Maksudi, Liwa, Lampung Barat. Mamak Lawok, Pesisir Barat. Muhammad Hatta, Liwa, Lampung Barat. Muslim, Liwa, Lampung Barat. M. Rusli, Bandar Lampung. Zulkarnain Zubairi, Bandar Lampung. Zuntawi, Liwa, Lampung Barat.
138
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA DALAM CERITA PANTUN SRI SADANA/SULANJANA Oleh:
Muhamad Rosadi Pengantar Wilayah tatar Sunda dikenal sebagai salah satu daerah Indonesia yang mempunyai keanekaragaman tinggalan budaya baik berupa benda atau tak benda. Di antara bentuk tinggalan budayanya yang masih ada namun sudah hampir punah adalah cerita pantun. Dalam naskah Sunda kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian yang ditulis pada tahun 1440 Saka/1518 Masehi telah menyebut adanya juru pantun pada masyarakat Sunda waktu itu selain bentuk cerita lainnya (Danasasmita, et.al 1987:107). Ajip Rosidi dalam (Pudentia, 1992:8) menjelaskan bahwa cerita pantun adalah sekelompok cerita yang biasa dituturkan dalam pergelaran khas yang disebut dengan mantun. Cerita dituturkan oleh seorang yang disebut juru pantun dengan diiringi oleh sebuah kecapi pantun dan kadang-kadang ada pula seorang lain yang memetik tarawangsa, semacam alat musik gesek dan memukul kecrek. Sumardjo (2006:62) menjelaskan, bahwa seorang juru pantun mampu membawakan sebuah cerita pantun dengan iringan kacapinya semalam suntuk. Kalau ditranskripsi dan dibukukan sebuah cerita bisa mencapai 250 halaman. Oleh sebab itu, Yus Rusyana dalam (Pudentia, 1992:9) menganggap juru pantun memiliki peranan penting dalam menjaga keberlangsungan
139
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Muhamad Rosadi cerita rakyat. Padahal bila melihat kondisi saat ini sudah sulit untuk menemukan juru pantun dan tradisi berpantunnya itu.1 Hingga saat ini belum diketahui secara pasti berapa jumlah cerita yang tergolong ke dalam cerita pantun (Mulyani, et.al. 2013:10). Umumnya cerita pantun mengisahkan cerita pada masa lalu mengenai raja-raja atau putra-putri raja keturunan Pajajaran. Akan tetapi, ada pula cerita pantun yang mengisahkan kebesaran dan keagungan kerajaan yang lebih tua, yaitu Kerajaan Pasir Batang Anu Girang dalam cerita Lutung Kasarung dan Kerajaan Galuh dalam cerita Ciung Wanara (Koswara, 2013:34). Menurut Purnama (2016:188), selain cerita Ciung Wanara dan Lutung Kasarung, juru pantun biasanya juga menyampaikan cerita Mundinglaya di Kusumah, Aria Munding Jamparing, Banyakcatra, Badak Sangorah, Badak Singa, Bima Manggala, Bima Wayang, Budak Manjor, Budugbasu/Sri Sadana/Sulanjana, Bujang Pangalasan, Burung Baok, Buyut Orenyeng, Dalima Wayang, Demung Kalagan, Hatur Wangi, Munding Kawangi, dan Rangga Sawung Galing. Tulisan ini akan membahas cerita Sri Sadana/Sulanjana dan mengungkap nilai-nilai pendidikan agama yang terkandung di dalamnya. Adapun cerita Sri Sadana ini penulis pilih untuk dikaji lebih lanjut karena kandungan isinya yang penting namun sudah tidak dikenal oleh masyarakat saat ini. Pendidikan agama yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mengacu pada Pedoman Pengembangan Budaya dan Karakter Bangsa yang dirumuskan oleh Pusat Kurikulum Badan Litbang Kementerian Pendidikan Nasional (2010). Dalam pedoman ini disebutkan bahwa untuk mengembangkan nilai religius dapat dilihat melalui tiga hal berikut, yaitu: 1) Sikap dan perilaku yang patuh dalam Sebagai contoh Ki Akis, juru pantun yang tinggal di Desa Baros Kecamatan Arjasari Banjaran Kabupaten Bandung, menurut keterangan Kepala Desa Baros Anton Rudiana, Ki Akis telah meninggal sekitar 5 tahun yang lalu dalam usia sekitar 80 tahun dan tidak ada warga desa yang meneruskan keahliannya dalam berpantun. (Wawancara dengan Anton Rudiana, Kepala Desa Baros, Senin 6 Maret 2017). 1
140
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah menjalankan ajaran agama yang dianutnya. 2) Toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain. 3) Hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Berdasarkan hasil kajian pustaka, penulis menemukan beberapa kajian yang membahas tentang cerita pantun dalam berbagai aspek, diantaranya adalah; pertama, Kartini (1979:iii) yang membahas struktur cerita pantun dan menggunakan teori struktur arkaik tentang cerita mitos dari Joseph Campbell. Hal ini dilandasi pertimbangan bahwa pada umumnya cerita pantun bermakna mistis. Kedua, Kardiaman (1992:5) yang membahas gambaran mengenai unsur-unsur musikalitas kesenian pantun, seperti aspek melodi, irama, metrum/birama dan tempo lagu lagu yang dibawakan dengan kacapi. Ketiga, Purnama (2005) yang mengkaji cerita pantun Panggung Karaton. Teks cerita Panggung Karaton yang dikaji menggunakan transkrip yang dilakukan Ajip Rosidi. Keempat, Sudjamza (2006:v) yang membahas berbagai aspek mengenai penyajian Pantun Buhun Giriwangi di Desa Baros Kecamatan Arjasari Banjaran, Kabupaten Bandung. Kajian Sudjamza ini menyimpulkan bahwa cara penyajian Pantun Buhun Giriwangi dapat diketahui dari struktur penyajian yang biasa dilakukan juru pantun Ki Akis. Adapun cara penyajiannya meliputi suguhan sesajen yang ditujukan kepada makhluk gaib dan pembacaan doa kepada yang Maha Kuasa; pengucapan rajah semacam jampi atau doa; pengambatan mengundang makhluk gaib; bangbalikan, ungkapan juru pantun sebagai tanda cerita akan dimulai dan mangkat lakon, mengisahkan cerita pantun. Kelima, Koswara (2013:33) yang membahas nilai nilai pendidikan karakter bangsa dalam carita pantun Mundinglaya Di Kusumah. Keenam, Purnama (2016:187) yang membahas nilai budaya dalam carita pantun Sawung Galing. Penelitian yang menggunakan metode deskriptif ini memberikan kesimpulan
141
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Muhamad Rosadi bahwa generasi muda harus mempunyai etos kerja tinggi sebagaimana diperankan oleh tokoh Sawung Galing yang berhasil menaklukkan dan menguasai enam kerajaan untuk dipersembahkan kepada Raja Bagawat Iman Sonjaya. Dengan keperkasaan Sawung Galing, Kerajaan Kuta Ngagangsa semakin luas wilayah kekuasaannya. Posisi penelitian yang penulis lakukan adalah melengkapi kajian mengenai cerita pantun yang telah banyak dilakukan. Penelitian ini difokuskan untuk mengungkap nilai nilai pendidikan agama yang terdapat pada cerita Sri Sadana/Sulanjana. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan folklor. Dananjaya (1986:50) menjelaskan bahwa cerita rakyat yang biasanya berupa mite, legenda dan dongeng merupakan genre folklor yang banyak dikaji para ahli.
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Pantun Sri Sadana/Sulanjana Sumber Cerita
Teks cerita pantun Sri Sadana yang dikaji dalam tulisan ini diambil dari naskah transkrip Proyek Penelitian Pantun dan Folklore Sunda tahun 1970 yang dilakukan oleh Ajip Rosidi. Cerita Sri Sadana ini dipantunkan oleh juru pantun Ki Aceng Tamadipura dari daerah Situraja Sumedang.
Ringkasan Cerita Pantun Sri Sadana Setelah Allah SWT. menciptakan bumi langit yang masih kosong, maka ingin pulalah Dia membuat manusia dari empat unsur yaitu: api, udara, air dan tanah untuk mengisi kolong langit itu. Maka terciptalah Adam. Adam merasa adjrih-malu kepada Dia yang telah membuatnya, maka ia pun bersembahyanglah. Waktu ia berdiri shalat taat, maka Allah menciptakan segala asal pohonpohonan, karena itu pohon pohonan semuanya berdiri tegak. Waktu ia ruku’ Allah SWT. menciptakan segala binatang berkaki empat, karena itulah maka semua binatang tulang punggungnya
142
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah lurus dengan kepala. Dan ketika ia duduk, Allah SWT. pun menciptakan berbagai batu batuan. Kemudian Allah berkenan pula membuat manusia satu lagi, berasal dari tulang rusuk Rama Adam yang dicampur dengan api, angin, tanah, air menjelama menjadi Ibu Hawa. Rama Adam dan Ibu Hawa bertempat tinggal di Nagri Notaris yang sekarang terkenal sebagai negeri Mekah. Keduanya dikaruniai syahwat sehingga bercampur gaul sebagai suami istri. Maka ibu Hawa pun mengandung kemudian melahirkan. Setiap melahirkan, anaknya kembar, satu laki laki dan satu lagi wanita. Setelah dua puluh kali melahirkan, anaknya empat puluh orang. Rama Adam berniat hendak menikahkan putra-putrinya itu. Menurut keinginan Rama Adam setiap putra yang tampan haruslah menikah dengan putri yang buruk rupa. Sebaliknya setiap putri yang cantik harus kawin dengan putra yang buruk rupa. Keinginan Rama Adam ini ditolak mentah mentah oleh ibu Hawa. Karena keduanya tak mau saling mengalah, maka diputuskan bahwa masing masing akan menyimpan benih dalam cupumanik. Setelah 35 hari akan dilihat lagi, barangsiapa yang lebih dahulu menjadi manusia dialah yang kehendaknya harus diikuti. Setelah tiba waktunya, benih Rama Adam ternyata telah menjadi seorang putra laki laki yang tampan. Maka dikeluarkanlah dari cupumanik lalu dikeringkan atau “diisiskan” maka diberi nama Nabi Isis. Cupumanik benih ibu Hawa baru menjadi darah. Tapi ibu Hawa tak mau menerima kalah. Ia minta waktu 35 hari lagi. Rama Adam menerima permintaan istrinya. Waktu saatnya tiba ternyata benih ibu Hawa telah menjadi manusia beberapa orang. Yang pertama keluar; seorang laki laki dan seorang wanita diberi nama Raden Pati Pamerat Buana dan Sekar Kancana Gading. Kemudian keluar tiga orang; dua orang laki laki dan seorang wanita; Raden Patih Rangga Cina, Munding Cina dan Agan Merenggi Cina. Sesudah itu keluar pula seorang laki laki dengan tujuh orang wanita: Prabu Ratu Galuh Anom dengan ketujuh wanita: Sekar Mandapa, Sekar
143
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Muhamad Rosadi Kenanga, Sekar Dewata, Dewata Sari, Dewi Pangrenjep, Pohaci Naganingrum dan Pohaci Wiru Mananggaj. Raden Pati Pamerat Buana dan Sekar Kancana Gading berangkat ke Nagri Logawa yaitu negeri Belanda dan menurunkan bangsa Belanda (kulit putih). Rangga Cina, Munding Cina dan Merenggi Cina berangkat ke negeri Cina yang disebut Nusa Bandar dan menurunkan bangsa Cina. Sedangkan Ratu Galuh Anom beserta ketujuh orang putri menuju ke Jagat Kuta Ireng Galih Pakuan, yaitu Pulau Jawa. Mereka itulah yang kemudian menurunkan orang Jawa dan Sunda. Sementara itu ciptaan Rama Adam yang bernama Nabi Isis menurunkan Nabi Idris yang kemudian berputra Sayid Anwar yang juga kemudian berputra Sayid Anwas. Sayid Anwas berputra Ajisoka dan Ajisoka menurunkan Sanghyang Tunggal yang menurunkan para batara seperti Batara Guru dan lain lain. Dalam kosmologi pantun, surga terbagi menjadi tujuh, yaitu: Sawarga Notaris (tempat Rama Adam dan ibu Hawa bersemayam), Sawarga Bandang (tempat tinggal bidadari empat puluh), Sawarga Loka Manggung (tempat tinggal pangeran Sunan Ambu), Sawarga Suralaya (tempat tinggal Batara Guru), Sawarga Pirdaos (tempat tinggal dewata yang Sembilan), Sawarga Bental Mukedas (tempat tinggal para malaikat yang empat puluh dua), Alam rahmat alam ni’mat tempat semayam Allah SWT. Karena menghendaki alam ini tambah maju, Allah SWT. mengeluarkan tiga butir air mata yang kemudian dicipta menjadi tiga orang manusia: satu laki laki, dua orang wanita yang lalu diberi nama Jaka Sadana, Sri Sadana dan Rambut Sadana. Lalu ketiganya diberangkatkan ke dunia, setelah masing masing berjanji akan membantu”ngahuripkeun umat nabi, ngajembarkeun makhluk Allah (memajukan manusia). Oleh Allah mereka dititahkan pergi menuju ke Leungsir Condong Babakan Geger Sunten menemui Aki Oma Nini Oma. Ketiganya diterima dengan tangan terbuka oleh Aki Oma Nini Oma. Ketika Sri Sadana sudah sampai akil balig, iapun datang
144
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah bulan (menstruasi). Darahnya jatuh ke bumi dan kemudian tumbuhlah berbagai pohon pohonan seperti gadung, gandum, jagung, jagung cetik, terigu dan lain lain. Setelah berbuah, buahnya dipetik dan disimpan baik baik oleh Nini untuk kemudian ditanam lagi kalau musimnya tiba. Lama lama benihnya kian banyak. Dalam pada itu Allah SWT. di alam rahmat alam ni’mat menitahkan malaikat Jabrail untuk pergi ke Suralaya menyerahkan sebuah gambar pola bangunan kepada Dewa Guru. Gambar itu harus diturunkan ke dunia di negri yang sudah padat penduduknya agar segera dapat didirikan. Setelah menerima gambar itu, Dewa Guru menitahkan Panji Narada turun ke dunia untuk melaksanakan titah Allah itu. Setelah mengadakan penelitian, Panji Narada berpendapat bahwa Negara Pajajaranlah negeri yang memenuhi persyaratan untuk dipercaya melaksanakan titah Allah itu. Maka Panji Narada pun turunlah ke dunia menemui raja Pajajaran Pangeran Surya Kancana Rat Sajagat. Setelah menyampaikan titah mendirikan bangunan tersebut (yang dinamakan”bale mariukpada gedong sasa domas”), Panji Narada pulang. Tapi karena lupa gambar pola terbawa kembali olehnya. Dan ia baru sadar tatkala sudah sampai di tengah jalan waktu istirahat di mega malang. Untuk kembali menemui Raja Pajajaran ia merasa malu kalau kalau disebut sebagai dewa pelupa, tapi untuk membawanya kembali ke kahiyangpun ia takut dimarahi oleh Dewa Guru. Maka dilemparkannyalah gambar tersebut sehingga robek menjadi dua yang kemudian menjadi elang kembar. Raja Pajajaran karena mendapat titah sangat penting dari Kahyangan segera menitahkan para kawula negaranya agar masing masing membawa bahan bangunan: masing-masing sebagian. Tapi Naga Anta yang berupa seekor ular tidaklah dapat memenuhi tugas itu. Ia diancam dengan hukuman mati. Karena sedih hatinya, ia menangis. Tiga butir air matanya menjelma menjadi telur. Naga Anta dititahkan oleh Raja Pajajaran untuk menyerahkan ketiga butir telur itu kepada Dewa Guru di
145
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Muhamad Rosadi Kahyangan. Di tengah jalan Naga Anta ditegur oleh elang kembar, tapi ia tak berani menyahut karena kalau menyahut niscaya telur yang ditaruhnya dalam mulut akan jatuh. Karena tak juga dijawab, elang kembar marah dan mematuki mata Naga Anta. Dalam perkelahian itu jatuhlah dua butir telur; satu menjadi bibit berbagai hama padi di sawah dan yang satu lagi jatuh menjadi Budugbasu Kalabuat. Yang menjadi berbagai hama itu jatuhnya di Sabrang Ujung Tua, sedang yang menjadi Budugbasu Kalabuat jatuh di Tegal Si Awat. Hanya satu butir saja telur yang selamat dibawa oleh Naga Anta ke kahyangan. Ia mempersembahkan halnya kepada Dewa Guru yang menitahkannya agar telur itu dibawa pula ke bumi untuk dierami. Naga Anta mengerami telur itu di daerah Sumedang Utara. Tersebutlah raja Sabrang Ujung Tua yaitu Idajil Janatulah berniat akan meninjau Pulau Jawa. Di suatu tempat yang disebut Tarengtong Batu, Idajil ingin kencing, maka kencinglah ia di situ. Waktu pulang, setelah dekat ke negri Sabrang Ujung Tua ia menemui bibit segala hama padi yang kemudian dipeliharanya dengan senang hati, dibawanya ke ibukota negara Sabrang Ujung Tua. Di Tarengtong Batu adalah seekor Lembu Wulung yang kehausan menemukan air kencing Idajil di atas batu. Karena haus, meskipun tahu bahwa itu kencing Idajil adanya, air itu diminum oleh Lembu Wulung. Tak lama kemudian ia bunting. Telur yang dierami oleh Naga Anta waktu menetas menjadi dua orang bayi: satu laki laki yang satu lagi wanita. Maka keduanya segera dibawa oleh Naga Anta untuk dihaturkan kepada Dewa Guru. Dewa Guru menerimanya dengan suka hati. Yang laki laki diberi nama Bangbang Kusiang dan yang wanita diberi nama Nyi Pohaci Sanghiang Sri Dangdayang Trusna Wati Nyi Sri Bibiting Sri. Keduanya diangkat anak, keduanya diberi menyusu oleh Dewi Uma, Istri Dewa Guru. Naga Anta mengasuh keduanya dan diangkat menjadi dewa, namanya menjadi Dewa Anta.
146
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Tatkala melahirkan, Lembu Wulung anaknya jantan. Waktu sudah agak besar anak itu menanyakan siapa gerangan ayahnya. Akhirnya oleh Lembu Wulung dikatakan bahwa ayahnya adalah Idajil Janatullah di Negri Sabrang Ujung Tua. Tapi Idajil Janatullah menolak anak sapi itu sebagai anaknya kecuali kalau terlebih dahulu dapat menaklukkan Budugbasu Kalabuat di Tarengtong Batu. Setelah Budugbasu ditaklukkannya, ia menghadap pula kepada ayahanda, Idajil Janatullah. Idajil menerimanya sebagai anak, mengangkatnya sebagai raja Sabrang Ujung Tua yang mempunyai asuhan berbagai hama dan diberi nama Sapi Gumarang. Budugbasu Kalabuat diberi wasiat oleh Idajil sebuah senjata jimat “encis sekin badi leutik”. Setelah menyerahkan kerajaan kepada Sapi Gumarang, Idajil Janatullah menghilang dan menjadi Ki Ta’ud Setanirajim. Ki Ta’ud Setanirajim melihat Pamerat Buana dan Sekar Kancana Gading di Negri Logawa sedang dirundung bingung karena merasa tidak mempunyai pegangan agama. Maka oleh Ki Ta’ud diberi sebuah kitab kecil bernama Injil. Kemudian Ki Ta’ud pergi ke Nusa Bandar melihat Rangga Cina, Munding Cina dan Merenggi Cina menangis tak kunjung henti. Merekapun menangis karena tak punya pegangan agama. Maka oleh Ki Ta’ud dikasih tapekong untuk sembahannya. Sebagai akibat dari tangis yang lama, maka sampai sekarang orang orang Cina bermata sipit. Sesudah itu Ki Ta’ud menyelinap ke Kahyangan merasuk ke dalam diri Dewa Guru sehingga Ratu Kahyangan itu timbul nafsu untuk mempersunting Nyi Pohaci yang tatkala itu sudah dewasa. Nyi Pohaci menolak tapi terus dikejar oleh Dewa Guru. Nyi Pohaci minta tolong kepada kakandanya, Bangbang Kusiang. Tapi Dewa Guru tetap memburunya. Kedua saudara itu lari menjauhi ayah angkat yang terus juga mengejarnya. Sampai di hutan, waktu hampir tertangkap, Nyi Pohaci dan Bangbang Kusiang tiba di Alam Rahmat Alam Ni’mat, persemayaman Allah SWT. Dewa Guru yang tak kuasa membendung nafsu syahwatnya akhirnya sadar dan bertobat. Dewa Guru sangat berterimakasih karena ia tak
147
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Muhamad Rosadi dipecat dari kedudukannya sebagai raja kahyangan. Kamanya segera dilemparkan jatuh di bumi, lalu terus amblas ke dasar bumi, disambut oleh Ibu Pertiwi. Setelah sembilan bulan kama itu menjadi tiga orang: satu laki laki, dua wanita. Yang laki laki bernama Raden Sulanjana dan yang wanita bernama Talimenar dan Talimenir. Nyi Pohaci dan Bangbang Kusiang diberi tugas oleh Allah agar menjaga buah kuldi. Tapi pada suatu waktu datanglah Ki Ta’ud Setanirajim menggodanya sehingga keduanya memakan buah kuldi yang harus dijaganya itu. Allah murka dan mengusirnya turun ke dunia setelah keduanya terlebih dahulu menyatakan kesanggupan masing masing. Bangbang Kusiang menyatakan sanggup memenuhi keinginan menjaga malu. Dan Nyi Pohaci sanggup membangkitkan rasa, cahya, kekuasaan dan memajukan manusia. Kedua kakak beradik itu pun turun ke Leungsir Condong Babakan Geger Sunten ke tempat Aki Oma Nini Oma. Waktu datang bulan, darah Nyi Pohaci jatuh ke bumi dan dari sana tumbuh padi merah yang kemudian dipelihara dengan seksama oleh Aki Oma Nini Oma. Padi yang semula hanya beberapa butir kemudian telah berlipat-lipat banyaknya. Aki Oma Nini Oma berladang, Nyi Pohaci dan Bangbang Kusiang setiap hari menjaga ladang. Maka terdengarlah oleh Raja Pajajaran hal Aki Oma Nini Oma yang mendadak saja mempunyai beberapa orang anak yang tampan serta cantik dan menanam sejenis tumbuhan baru. Maka disuruhnya si lengser untuk memanggil Aki Oma Nini Oma beserta putra putrinya. Waktu kanjeng raja mendengar keterangan Aki Oma dan Nini Oma, baginda merasa sangat gembira dan menitahkan Aki dan Nini supaya baik baik bercocok tanam dan tidak lupa membayar zakat “Ing dalem sancaeng opat sangga”. Karena kepanasan kalau menunggu ladang, maka Nyi Pohaci dan Bangbang Kusiang mengusulkan agar dibuatkan
148
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah sebuah dangau. Hal itu segera dikabulkan. Tapi pada suatu hari tatkala Bangbang Kusiang dan Nyi Pohaci menunggu ladang di dangau, menyelinaplah Ki Ta’ud Setanirajim sehingga keduanya berbuat seperti suami isteri. Perbuatan itu kelihatan oleh Dewa Guru dari Kahyangan Suralaya. Maka ditulisnya sepucuk surat kepada Raja Pajajaran yang memberitahukan hal tersebut dan menitahkan Bangbang Kusiang dibuang ke tanah Aceh dan sepucuk lagi ditujukan kepada Ratu Aceh Sangian Huriang Batara yang memberitahukan akan kedatangan Bangbang Kusiang dan menitahkan agar mengirimkan ponggawa untuk menjemputnya ke pelabuhan Palembang. Ratu Aceh menitahkan Jaka Sela dan Jaka pamor untuk menjemput Bangbang Kusiang ke Palembang. Raja Pajajaran melaksanakan segala perintah Dewa Guru. Nini-Aki beserta sekalian para putra dipanggil. Nini dan Aki diperbolehkan pulang lagi dan para putra diperkenankan mengantarkan Bangbang Kusiang sampai ke pesisir. Bangbang Kusiang berlayar sendirian dengan sedih. Sri Sadana, Jaka Sadana, Rambut Sadana dan Nyi Pohaci pulang dengan sedih pula ke ladang Aki dan Nini. Di Pelabuhan Palembang, Bangbang Kusiang disambut oleh Jaka Sela dan Jaka Pamor yang membawanya ke tanah Aceh. Setibanya di Leungsir Condong Babakan Geger Sunten, Nyi Pohaci banyak merenung dan akhirnya jatuh sakit. Aki dan Nini berbuat seberapa dapat agar Nyi Pohaci sembuh kembali. Tapi nasib sudah dipastikan: Nyi Pohaci meninggal. Hal itu segera disampaikan kepada Raja Pajajaran. Baginda sangat terkejut, segera menitahkan permaisurinya Nawangwulan ke Suralaya akan menyampaikan berita itu kepada Dewa Guru sambil menanyakan pula apa yang harus diperbuat dengan jenazah Nyi Pohaci. Menurut perintah Dewa Guru, mayat Nyi Pohaci harus dikuburkan di Tegal Cikahuripan dan makamnya harus dijaga baik-baik oleh Aki Oma Nini Oma yang sejak itu diganti namanya menjadi Aki Bagawat Sangsri dan Nini Bagawat Sangsri. Semua perintah itu dijalankan belaka. Pada suatu waktu, beberapa
149
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Muhamad Rosadi lama kemudian dari pekuburan Nyi Pohaci itu tumbuh berbagai benih: padi berbagai jenis, kumis kucing, kawung, kelapa, ilalang, bawang, bambu, jengkol, kemiri, sirih, tembakau, waluh dan lain lain. Hal itu segera disampaikan kepada kanjeng Raja Pajajaran. Semua benih itu disimpan baik-baik. Aki dan Nini Bagawat Sangsri kembali untuk menjaga makam tersebut. Tersebutlah gerangan di dasar bumi Raden Sulanjana beserta Talimenar dan Talimenir tak henti-hentinya menanyakan siapakah ayahnya. Waktu akhirnya diberitahu oleh Ibu Pertiwi, maka berangkatlah ketiganya menghadap kepada Dewa Guru. Dewa Guru menerimanya, memberinya berbagai ilmu kepandaian. Tapi setelah semua ilmu diberi, ketiganya dititahkan turun ke bumi untuk membantu Raja Pajajaran bersawah. Namun terlebih dahulu harus menemui Lurah Semar atau Lurah Kuda Pawana di Karang Tumaritis. Lurah Semar beserta anak istrinya harus diajak mengabdi ke Pajajaran untuk menjaga sawah. Mereka semua diterima dengan baik oleh Raja Pajajaran. Raden Sulanjana dipercaya menjaga segala benih yang tumbuh dari makam Nyi Pohaci. Bangbang Kusiang mendapat firasat sehingga dimintanya perkenan Ratu Aceh untuk pulang dahulu menengok saudaranya. Perkenan itu dia peroleh tapi harus didampingi oleh Jaka Sela dan Jaka Pamor. Dari Aki dan Nini diperolehnya kabar bahwa Nyi Pohaci telah meninggal dan bahwa dari kuburannya tumbuh berbagai benih yang disimpan di Pajajaran. Bangbang Kusiang minta perkenan Raja Pajajaran untuk melihat benih-benihan yang tumbuh dari kuburan saudaranya itu. Raja Pajajaran memberinya ijin. Tapi Bangbang Kusiang tidak merasa cukup hanya melihatnya saja. Biji-bijian itu dipegang dan diciuminya sehingga Raja Pajajaran murka. Raden Jaka Sulanjana akan menangkap Bangbang Kusiang tapi dihalangi oleh Jaka Sela dan Jaka Pamor. Bangbang Kusiang sempat melarikan diri. Jaka Sela dan Jaka Pamor meninggal oleh Sulanjana. Bangbang Kusiang langsung
150
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah menuju ke negeri Aceh. Setibanya di sana, di depan Ratu Aceh tanpa berkata apapun jua, iapun membunuh diri, lalu dikubur. Tatkala Bangbang Kusiang membunuh diri, Dewa Wisnu kebetulan sedang melihat ke bumi. Ia sangat sedih sehingga titiklah air matanya jatuh ke bumi menjadi manusia yang berbeda dengan yang lain. Tubuhnya sebelah hitam sebelah kuning, kaki dan tangan hanya sebelah. Maka diberi nama Jaka Sabeulah yang lantas pergi mengabdi kepada Raja Pajajaran. Dari makam Bangbang Kusiang, Raja Aceh memperoleh benih emas dan perak dan dari makam Jaka Sela dan Jaka Pamor, orang Pajajaran menemukan benih besi dan baja. Dengan benih besi dan baja itu, orang Pajajaran dapat membuat perabot untuk mengerjakan sawah. Jaka Sabeulah pada suatu waktu mendapat ilapat agar supaya ia mencari rahmat Allah SWT. agar tubuhnya sempurna sama dengan manusia yang banyak. Maka ia minta diri kepada Raja Pajajaran. Kemudian ia bertemu dengan Kiai dan Perampok. Akhirnya Jaka Sabeulah menjadi manusia yang sempurna sama dengan yang lain. Ia diturunkan kembali ke dunia tapi takkan lama. Ia akan segera meninggal dan akan menjadi pohon kimenyan yang menghasilkan menyan. Ia kembali ke Pajajaran dan tak lama kemudian meninggal dan dari makamnya tumbuh kayu kimenyan. Raja Pajajaran beserta para ponggawa sedang bersiapsiap akan memulai menebarkan benih. Maka dipanggillah Nini dan Aki Bagawat Sangsri. Cara caranya menanti petunjuk yang disampaikan oleh Dewa Guru melalui Jaka Sulanjana dan lain lain. Sehabis tandur maka rajapun mengadakan selametan. Maka sawah di Pajajaranpun tumbuh dengan suburnya. Maka tersebutlah Sapi Gumarang dan Budugbasu Kalabuat di Negri Sabrang Ujung Tua. Budugbasu meminta perkenan majikannya agar diperbolehkan pergi ke Kahyangan Suralaya untuk melamar Nyi Pohaci. Setelah mendapat perkenan ia pun berangkat. Dalam pada itu para Dewa mencoba
151
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Muhamad Rosadi menghalang-halanginya. Tapi tak ada seorang Dewa pun yang mampu menahan serangan jimat “encis sekin badi leutik” Budugbasu, warisan dari Idajil akhirnya ia menghadap kepada Dewa Guru menanyakan Nyi Pohaci. Waktu mendengar kabar bahwa Nyi Pohaci sudah turun ke dunia, malahan mati, ia tetap penasaran. Ia menemui Aki dan Nini Bagawat Sangsri, diiring oleh Malaikat Kalamula dan Malaikat Kalamuntir. Di depan kuburan Nyi Pohaci Budugbasu berkeliling tujuh kali, lalu mati. Maka berangkatlah Malaikat Kalamula menuju ke Suralaya akan melaporkan hal itu kepada Dewa Guru, sedangkan Malaikat Kalamuntir menunggui mayat Budugbasu. Menurut titah Dewa Guru, mayat Budugbasu harus dipikul oleh kedua malaikat itu mengelilingi jagat tujuh kali. Mereka tak boleh berhenti ataupun makan minum sebelum selesai. Mayat itu dimasukkan ke dalam peti mati yang dibuat oleh Bujangga Seda dan Bujangga Sakti. Tapi sebelum selesai tujuh kali mengelilingi jagat, malaikat Kalamula berhenti karena haus. Ia tak mau maju lagi. Maka peti mati diturunkan, ia mencari air tapi sia sia. Karena merasa telah kepalang melanggar perintah, maka mereka bukalah peti mati itu. Dalam peti terdapat seribu satu macam hama darat dan seribu satu macam hama air. Sedangkan tali temali pengikat peti mati itu berubah menjadi macam macam. Sementara itu datanglah Sapi Gumarang yang merasa kehilangan Budugbasu yang tak ada kabar beritanya. Karena berbagai hama itu berasal dari mayat Budugbasu maka Sapi Gumarang merasa berhak terhadapnya. Kedua malaikat itupun tidak rewel malah mereka terus bekerja pada Sapi Gumarang sebagai penggembala berbagai hama itu. Mereka menukar nama menjadi Ki Darweng dan Ki Kaliwangkeng. Darweng menggembalakan hama darat, Kaliwangkeng menggembalakan hama air. Hatta tersebutlah Raja Majapahit bernama Ratu Galuh Hariang Banga yang mempunyai permaisuri. Menurut petunjuk suara tanpa wujud, maka berangkatlah ke arah barat akan
152
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah bertapa di atas sebatang pohon loa yang dahannya merindang ke atas sebatang sungai. Pada suatu kali mandilah di batang sungai itu empat puluh orang widadari dari Sawarga Bandang. Karena tak dapat menahan hati melihat kecantikan tubuh para widadari itu, Ratu Galuh Hariang Banga melemparkan tiga buah loa yang kemudian diperebutkan oleh para widadari itu. Ketiga tiganya diperoleh oleh Dewi Sukraba yang segera menelannya. Karena menelan tiga buah loa itu Sukraba menjadi hamil. Dan karena hamil, ia tak mungkin kembali ke Surga Bandang. Ia ditinggalkan oleh kawan-kawannya di lubuk itu. Di sana kemudian ia melihat Hariang Banga yang segera diketahuinya sebagai orang yang melemparkan buah loa tersebut. Hariang Banga mengaku. Tapi ia mau segera pulang ke Majapahit. Kepada Dewi Sukraba ditinggalkannya tiga buah nama dan berbagai jimat buat putra yang akan dilahirkan oleh Sukraba. Sukraba melahirkan tiga orang putra. Namanya menurut peninggalan ayahanda: Anggana, Anggani dan Angganiah. Waktu sudah besar ketiga putra itu menanyakan ayahandanya. Tatkala diberi tahu oleh ibunda, mereka bertetap hati untuk menghadap kepada ayahanda di Majapahit. Menurut ibunda, mereka boleh berangkat ke Majapahit tapi tak boleh berhenti kendati untuk mandi, makan ataupun minum. Kalau melanggar nasehat itu, mereka akan terhukum. Ibunda sendiri segera masuk ke dalam sebentuk cincin jimat, cincin makhlukat namanya yang dipakai oleh Angganiah. Kalau kelak ayahanda menanyakan ibunda, barulah Dewi Sukraba akan keluar. Di tengah jalan, mula mula Anggana mogok. Ia segera mencebur ke dalam sungai akan mandi. Ketika muncul, telah menjadi Kerbau. Kemudian Anggani yang kemudian menjadi ular laki. Hanya Angganiah yang selamat. Tapi di Majapahit Ratu Galuh Hariang Banga menolaknya sebagai anak.”Aku belum berpermaisuri, mana mungkin punya anak” katanya. Angganiah minta tolong kepada Anggana kemudian Anggani untuk merusak negara Majapahit supaya Ratu Galuh Hariang
153
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Muhamad Rosadi Banga minta tolong kepadanya. Tapi kedua muslihatnya gagal. Ratu baru mau mengakuinya anak kalau dapat menghadirkan ibunda. Maka Dewi Sukrabapun keluarlah dari cincin makhlukat. Maka negara Majapahitpun pestalah karena raja memperoleh permaisuri yang sangat sesuai dengan keinginan hatinya. Dalam episode ini terdapat cerita tentang gagak putih yang dimintai tolong oleh Angganiah menipu ular sanca sehingga mengerahkan seluruh bisanya yang kemudian diberikan kepada ular laki yang adalah Anggani adanya. Kemudian Ratu Galuh Hariang Banga menitahkan putra putranya supaya berangkat ke Pajajaran untuk belajar menggarap sawah. Angganiah beserta Anggana dan Anggani berangkat ke Pajajaran. Anggana menyatakan kesanggupannya:”Kalau kurang pegawai sanggup membantu, kalau kurang daging bersedia disembelih”. Tapi Anggani merasa tak dapat membantu apa-apa. Maka ia berpisah di tengah jalan. Hanya Angganiah beserta Anggana sajalah yang terus ke Pajajaran. Raja Pajajaran sangat gembira menerima kedatangan mereka terutama karena Angganiah membawa kerbau yang dapat dipekerjakan di sawah membantu para ponggawa. Waktu padi sudah berbuah dan buahnya sudah menguning Dewa Guru dan Dewi Uma turun menjelma menjadi pipit putih. Ia mengganggu Semar beserta anak-anaknya tapi juga mengajari mereka membuat air nira dan membuat gula dari kawung. Aki dan Nini Bagawat Sangsri memulai memetik padi yang sudah bermasakan itu. Maka negara Pajajaran kian subur kian makmur karena setiap tahun padi yang dihasilkannya di sawah sangat berlimpah-limpah. Tepatlah apa yang dijanjikan oleh Nyi Pohaci yang ingin memajukan kehidupan manusia.
Nilai-Nilai Pendidikan Agama Sebagai sebuah karya sastra, cerita Sri Sadana yang juga dikenal dengan sebutan cerita Sulanjana nampak adanya pengaruh dari berbagai ajaran agama seperti Islam dan Hindu.
154
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Dari ringkasan cerita di atas banyak ditemukan istilah istilah keagamaan yang merujuk pada kedua agama tersebut. Misalnya saja kata shalat dan zakat yang merujuk pada ajaran Islam. Kemudian kata Batara Guru, Dewa Guru, Sanghyang tunggal dan kahyangan yang merupakan istilah yang umumnya digunakan dalam agama Hindu. Dalam cerita ini, juru pantun mengawali penyampaian ceritanya mengenai gambaran asal usul penciptaan alam semesta (bumi dan langit) beserta isinya termasuk manusia di dalamnya, sebagaimana bunyi kutipan berikut: sigeug ayeuna nu bade dicarita nyaeta subhanallahu wa ta’ala maha suci maha agung parantos ngelarkeun midamel bumi sareng langit mung midamelna sanes ku parabot ku pangawasana pangersana gusti Allah nu matak dina qur’an aya lafadz kun fayakun jadi jleg jadi bumi langit dadamelan gusti Allah nu kawasa
Sekarang mau mulai cerita Yaitu subhanallahu wa ta’ala maha suci maha agung Telah menyelesaikan pekerjaan bumi dan langit Tapi pekerjaannya tanpa perabotan Penglihatan Kehendak gusti Allah Makanya dalam Qur’an ada lafadz Kun fayakun Jadi jleg jadi bumi langit Ciptaan gusti Allah yang kuasa
dina usul asalna Dari usul asalna atanapi dina ngawitanana alam dunya Apalagi dari awal alam dunia gumelar digelar alam dunya teh masih kosong Alam dunia masih kosong tacan aya eusian Belum ada isinya atanapi teu acan aya mahlukan Apalagi belum ada makhluk (Rosidi, 1970:8)
Menurut Dananjaya (1986:52) cerita yang mengisahkan terjadinya alam semesta (cosmogony), dunia dewata (pantheon), terjadinya manusia pertama dan tokoh pembawa kebudayaan, terjadinya makanan pokok seperti beras dan sebagainya untuk pertama kali merupakan mite khas Indonesia. Pada bagian selanjutnya dikisahkan mengenai Nabi Adam yang mengucapkan rasa syukurnya dengan melakukan shalat karena telah diciptakan Allah menjadi manusia yang sempurna
155
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Muhamad Rosadi karena diberi indera pendengaran, penciuman, penglihatan, pengucapan, kaki dan tangan. kersana rama adam ngalirik sakuriling dirina emh isin teuing ku nu midamel diri aing aing dipasihan adegan manusa lengkap taya kakurangna Pangrungu Pangambung Paningal Pangucap suku leungeun kabeh aya pangrungu bisa ngadenge sora dunya pangambung bisa ngangseu paningal bisa nenjo Pangucap bisa mangucap suku panglaku leungeun bisa ngopepang
Ketika Nabi Adam Melihat ke sekeliling dirinya Eh malu amat Kepada yang menciptakan diri saya Saya diberi peran manusia Lengkap tidak ada kekurangannya Pendengaran Penciuman Penglihatan Pengucapan Kaki tangan semua ada Pendengaran bisa mendengar suara dunia Penciuman bisa membaui Penglihatan bisa melihat Pengucapan bisa mengucap Kaki untuk berjalan Tangan bisa memegang
(Rosidi, 1970:10)
Secara umum, cerita Sri Sadana ini memberi pesan kepada kita untuk selalu memajukan dan memakmurkan bumi agar terus menjadi lebih baik sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kita kepada Allah SWT. yang telah menciptakan manusia dengan sempurna. Selanjutnya cerita ini juga mengingatkan kita untuk selalu berpegang teguh dalam mengamalkan ajaran agama sebagaimana termaktub dalam kitab suci yang kita anut. Sebagaimana tergambar dalam kutipan teks berikut: “eh urang nagara logawa, naon pedah Asa nu ngandung kabingung Kawas nyarendangkeun kasusah? Na susah ku naon? Na kurang uang kurang dunya brana harta benda “o, aki teu pisan pisan kurang uang kurang dunya “naon pedah atuh?” Nyaeta pang huleng jentul teh Hayang ulah salah sembah Ulah bengkok emok Puguh nya ngaratu Puguh nya manutan
“eh orang nagara logawa, ada apa Seperti terlihat bingung Apa yang membuat susah Susah karena apa Apa kurang uang kurang dunya harta benda “o, aki tidak sekali kali kurang uang kurang dunya Lalu apa atuh?’ Ko bengong begitu Ingin tidak salah sembah Tidak miring Bener memimpin Bener mengikuti
156
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah “Hayang ulah hirup kasasar Ka mana baris nya mengeran? Kitu pang huleng jentul teh” “eh urang nagri Blanda Lamun kitu ulah salempang! Ieuh aki ngawaris kitab leutik ajieun maneh” Nu matak ajianana kitab injil Warisan ti idajil “panutan maneh di ahir: nabi Isa” “nuhun aki lamun kitu mah Moal salah sembah bengkok emok Baris puguh nya ngaratu Puguh nya manutan Hirup moal kasasar Puguh meureun nya mangeran
Ingin tidak hidup ke sasar Ke mana arahnya tuhan? Itu yang membuat bingung “eh urang nagri Blanda Kalau begitu jangan khawatir! Ini aki beri kitab kecil buat pegangan kamu” Yang dinamakan kitab injil Warisan dari idajil Panutan kamu di ahir: nabi Isa” Terima kasih aki kalau begitu mah Tidak salah sembah Jelas benar memimpin Jelas nya mengikuti Hidup tidak ke sasar Benernya menyembah
Terakhir, kita harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. yang telah menciptakan alam beserta isinya agar kehidupan yang kita jalani selalu diberi bimbingan dan kesempurnaan di dunia dan di akhirat.
Penutup
Kesimpulan dan Rekomendasi Tradisi berpantun masyarakat Sunda merupakan salah satu bentuk wahana atau media yang menarik dalam menyampaikan pesan dan nilai kebaikan. Namun sangat disayangkan keberadaan juru pantun dengan keahliannya dalam bercerita saat ini sudah sangat langka. Hal ini bisa jadi dikarenakan berkurangnya masyarakat pendukung pantun Sunda sehingga menghilangkan minat orang untuk menjadi juru pantun atau bahkan untuk sekedar jadi penikmat pantun saja. Oleh karena itu, kiranya perlu perhatian dari berbagai instansi terkait dalam rangka melestarikan dan menjaga tradisi bercerita masyarakat Sunda melalui pantun. Cerita Sri Sadana yang menjadi salah satu cerita dalam pantun bisa diadaptasi menjadi salah satu materi bahan ajar pendidikan agama di sekolah dan madrasah. Karena dalam cerita ini menyampaikan pesan dan nilai religius untuk senantiasa
157
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Muhamad Rosadi mendekatkan diri kepada Allah SWT. sang pencipta alam beserta isinya melalui ajaran yang termaktub dalam kitab suci. Sebagai langkah awal dalam rangka turut menjaga tradisi pantun Sunda ada baiknya pihak sekolah, madrasah dan perguruan tinggi untuk mengenalkan keberadaan cerita pantun dengan mengundang juru pantun melakukan pagelaran dan pentas seni buhun di sekolah, madrasah dan kampus. Selanjutnya, peneliti menyarankan kepada Direktorat Pendidikan Islam untuk mengadaptasi dan menerbitkan buku-buku cerita yang berbasis pada cerita pantun.
Ucapan Terima Kasih Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan selama penelitian ini dilakukan, terutama kepada Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta yang memberikan dana penelitian ini dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebut secara rinci satu persatu.
Daftar Pustaka
Danasasmita, Saleh, et.al.,1987. Sewaka Darma (Kropak 408), Sanghyang Siksakandang Karesian (Kropak 630), Amanat Galunggung (Kropak 632), Transkripsi dan Terjemahan, Bandung: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dananjaya, James. 1986. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng dan lain lain, Jakarta: Pustaka Grafitipers. Kartini, Tini, et.al. 1979. Struktur Cerita Pantun Sunda, Bandung: Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Jawa Barat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Koswara, Dedi. 2013. “Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Bangsa dalam Carita Pantun Mundinglaya Di Kusumah: Kajian Struktural-Semiotik dan Etnopedagogi” dalam Jurnal Meta Sastra, Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat, Vol.6 No.2, Desember.
158
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Kardiaman, Wawan. 1992. “Tinjauan Unsur Unsur Musikalitas Seni Pantun Sunda”, Skripsi S-1 Program Studi Karawitan, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta. Mulyani, Yeni. et.al. 2013. Pemetaan Sastra Lisan Tahap I: Bibliografi Beranotasi Tradisi Lisan Sunda, Bandung: Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat. Pudentia. 1992. Tranformasi Sastra: Analisis Atas Cerita Rakyat Lutung Kasarung, Jakarta: Balai Pustaka. Purnama, Yuzar. 2005. Tradisi Lisan: Carita Pantun Panggung Karaton Pada Masyarakat Situraja Sumedang, Bandung: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional. -----. 2016. “Kajian Nilai Budaya Dalam Carita Pantun Sawung Galing” dalam Jurnal Patanjala, Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung, Vol.8 No.2, Juni. Pusat Kurikulum Badan Litbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2010. Pengembangan Budaya dan Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah. Rosidi, Ajip. 1970. Carita Sri Sadana atau Sulanjana, Bandung: Proyek Penelitian Pantun dan Folklore Sunda. Sumardjo, Jakob. 2006. Khazanah Pantun Sunda: Sebuah Interpretasi, Bandung: Penerbit Kelir. Sudjamza, Aji Permana. 2006. “Pantun Buhun Giriwangi Di Desa Baros Kecamatan Arjasari Banjaran Kabupaten Bandung”, Skripsi S-1 Program Studi Karawitan, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung.
159
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Muhamad Rosadi
160
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA DALAM CERITA RAKYAT DI CIREBON Oleh:
H. Saeful Bahri Pengantar Ada beberapa tulisan yang terkait dengan sastra Cirebon. Misalnya: Rahardjo, “Kesusasteraan Cirebon dalam Priodesasi Kuna, Tengahan, Baru dan Modern” ia melakukan pemetaan Sastra Cirebon berdasarkan priodesasi. Diklasifikasikannya pertumbuhan dan perkembangan sastra Cirebon kepada empat priode yaitu priode kuna, tengahan, baru dan modern. Periode Cirebon Kuna diperkirakan berlangsung pada masa transisi dari Hindu ke perkembangan Islam di Jawa Barat, diperkirakan tahun 1445 Masehi. Priode Cirebon Tengahan, diperkirakan periode ini berlangsung sekitar awal tahun 1700-an Masehi hingga akhir 1800-an Masehi. Gejala sastra yang muncul saat ini adalah pengurangan bahasa Sansekerta dan bahasa Kawi. Pengaruh lingkungan melalui kosa kata dan dialek mulai masuk. Periode Cirebon Baru, periode ini diperkirakan berlangsung pada dekade akhir 1800 hingga pertengahan 1900. Pada era ini bahasa Jawa sudah cukup mewarnai baik dalam bahasa lisan maupun bahasa tulisan dalam bahasa Cirebon pada zamannya. Kondisi ini disebabkan oleh pengajaran bahasa Jawa di lembaga pendidikan formal seperti Sekolah Rakyat dan Sekolah Menengah Pertama sudah mulai digalakan dengan mendatangkan guru dari Jawa. Periode Cirebon Modern, periode ini berlangsung dari tahun 1950
161
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: H. Saeful Bahri hingga kini. Fenomena bahasa yang muncul adalah munculnya kosakata baru yang diduga berasal dari bahasa gaul. Hal ini perlu penelitian lebih lanjut. Misalnya penggunaan kata “gegeduge” diduga berasal dari kata pimpinane, kemandane atau gegedene? (Rahardjo, 2005: 18-136). Sumiati dkk, menulis “Sastra Lokal dan Warna Lokal CerbonDermayu”, tim ini mengupas tentang sastra lokal dan sastra warna lokal. disamping itu tulisan ini juga melakukan analisis syair tembang, Cerita Guyon, Cerita Cindek dan puisi. Badan Komunikasi Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon juga menerbitkan buku yang merupakan upaya Pemkab Cirebon melakukan Inventarisasi Ceritera Rakyat yang diberi judul “Ceritera Rakyat Asal Usul Desa di Kabupaten Cirebon” menurut nara sumber penulis ada empat jilid. namun yang dapat diperoleh penulis hanya dua jilid yaitu jilid pertama dan kedua. Masing masing jilid menerangkan 50 cerita yang melatar belakangi penamaan sebuah desa. Hal ini menandakan cerita rakyat di Cirebon menjadi cikal bakal dari lahirnya sebuah pedukuhan (pedesaan). Dan ini terkait dengan proses penyebaran Islam. Dahuri dkk. menulis sebuah buku yang berjudul “Budaya Bahari Sebuah Apresiasi di Cirebon”. pembahasan mengenai bahasa dan seni dibahas pada bab V. Secara gamblang pertumbuhan dan perkembangan bahasa dan kesenian Cirebon yang merupakan jatidiri masyarakat Cirebon dibahas secara tuntas. Dari pengamatan penulis atau setidaknya yang penulis ketahui belum ada kajian yang secara khusus membahas atau menganalisis nilainilai agama yang terkandung dalam cerita lisan. Karena itu, di sini posisi strategis kajian ini.
Pembahasan dan Hasil Penelitian Sastra Lisan
Sastra Cerbon –Dermayu (Cirebon dan Indramayu) hingga saat ini masih banyak digunakan oleh masyarakat Cirebon dan Indramayu secara pragmatis untuk kepentingan sosial dan
162
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah kemasyarakatan. Jenis satra tersebut dapat berupa: Pribasa, Gugon Tuwon, Wangsalan dan Parikan. Jenis kesusastraan ini tumbuh dan berkembang pada masa yang belum terlalu jauh untuk ukuran pertumbuhan dan perkembangan sebuah sastra, yaitu di kisaran tahun 1800-an. Ternyata keberadaan sastra ini hingga saat ini masih berkembang di masyarakat Cirebon dan Indramayu, demikian diungkapkan Kasim (dalam Sumiati dkk, 2015: 21-22). Keberadaan sastra ini dapat dilihat pada momen-momen tertentu misalnya dalam proses pernikahan yang diawali dengan proses lamaran. Dalam komunikasi pada proses lamaran pernikahan masyarakat Cirebon dan Indramayu biasanya digunakan sastra lisan dalam bentuk wangsalan (balas pantun). Misalnya: “Janur kuning wohé ning arén” artinya “kadingarén” maksudnya (tumben) datang ke sini? (pertanyaan dari pihak perempuan). selanjutnya akan dijawab oleh utusan dari pihak laki-laki sebagai berikut: “Pring apus tinejet miring” artinya “kautus” maksudnya dia datang karena diutus oleh pihak laki-laki untuk melamar. Ada juga sastra lisan dalam bentuk “pribasa” yang diutarakan oleh orangtua kepada anak gadisnya dan sarat dengan nilai-nilai pendidikan agama. Misalnya: “Aja ndodok ning lawang, koné ana wong nari balik maning” artinya “Jangan duduk di depan pintu nanti ada orang mau datang melamar, balik lagi. Dalam memilih jodoh harus memepertimbangkan 3 aspek yaitu “Bibit, bebet, bobot” artinya “keturunan, watak, mutu”. Meskipun demikian Janganlah terlalu ketat dalam menentukan pilihan pasangan calon suami. Dan pribasa untuk itu adalah “palah pilih boléng” artinya “terlallu selektif akhirnya mendapatkan yang jelek”.
Cerita Rakyat Cirebon Ada sejumlah cerita Rakyat di Cirebon yang dapat diinventarisir oleh penulis dalam penelusuran cerita rakyat selama penelitian ini berlangsung. Penulis baru hanya akan menyuguhkan beberapa Cerita Rakyat di Cirebon yang dapat ditemukan melalui telaah
163
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: H. Saeful Bahri literartur maupun yang diperoleh melalui observasi di lapangan. Perlu penulis tegaskan bahwasanya paper ini belum sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Desain Operasional Penelitian ini. Hal tersebut disebabkan oleh keterbatasan yang ada pada penulis. Diantaranya sulitnya melakukan perivikasi terhadap nara sumber yang punya otorotatif dalam hal memastikan sebuah cerita adalah merupakan cerita daerah yang diwariskan secara turun menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan menggunakan tutur lisan. Mengingat semua cerita yang penulis peroleh sudah dalam bentuk cerita yang tertulis. Informasi dari beberapa informan di lapangan belum dapat memuaskan dan meyakinkan penulis, bahwa cerita ini berasal dari tradisi tutur lisan. Kesulitan berikutnya adalah keterbatasan waktu penelitian. Cerita Rakyat di Cirebon yang ditampilkan di sini belum sampai pada taraf pemaknaan. Kalaupun ada itu hanya sebatas telaah di permukaan saja. Karena memaknai sebuah cerita adalah merupakan sebuah pekerjaan yang tidaklah ringan. Berikut beberapa Cerita Rakyat di Cirebon:
Segawon Sing Setia (Anjing yang Setia) Cerita Rakyat Ini diperoleh dari Buku Basa Lan Sastra Cerbon Dermayu Untuk SMP/MTs Kelas VII. Diterbitkan oleh: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Tahun 2014 (Teks sudah dialihbahasakan dari Bahasa Cerbon – Dermayu): “Sejak jaman dahulu ada hubungan kesenangan antara manusia dengan hewan, ada orang yang senang memelihara kuda, kelinci, burung, kucing, juga ada yang senang memelihara anjing serta hewan-hewan lainnya. Anjing termasuk hewan yang pandai jika dipelihara dengan benar, anjing bisa membalas kebaikan kepada sang majikan. Selain itu hewan tersebut jika dilatih dan dipelihara dengan baik bisa banyak manfaatnya. Seperti bisa disuruh menjaga rumah, bisa menuntun orang buta, bisa menjadi anjing pelacak untuk menemukan pencuri, melacak sebuah kasus pembunuhan, dibawa berburu ke hutan dan lain-lain. Jika sang majikan pergi kemana saja, pasti anjing itu selalu ingin mengikutinya. Ketika ada seseorang yang belum dikenal berani usil terhadap suatu benda milik sang majikan maka anjing tersebut akan menyalak, jika orang tersebut ternyata lari kemudian dikejar bahkan kadang-kadang sampai menggigit.
164
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Pak Kuwu Dirja termasuk saudagar kaya di Desa Cantigi, banyak juga empang-empangnya yang terhampar luas di beberapa tempat serta mempunyai perahu yang cukup besar. ABK [anak buah kapal] cukup banyak, setiap satu perahu ada ABK sebanyak 12 – 15 orang. Setiap bulannya pasti menghasilkan uang yang banyak, perahu Juragan Dirja mempunyai empat buah. Maka pastilah penghasilannya cukup lumayan, penghasilannya bagaikan air mengalir saja. Dalam keseharian Juragan Dirja termasuk orang yang santun ramah tamah, ia terkenal sebagai orang yang suka menolong sesama yang hidup dalam kekurangan. Oleh karena itu Pak Kuwu Dirja sangat disenangi dan dihormati oleh masyarakat Desa Cantigi. Buka hanya beliau saja yang baik hati, demikian juga istri dan anak-anak mengikuti jejaknya. Oleh karena itu budi pekertinya tergolong baik, dimana saja mereka bisa menempatkan diri serta tidak menonjolkan kekayaan, sebaliknya yang diperlihatkan adalah rasa persaudaraannya. Oleh itu masyarakat menghormati dan menghargai keluarga Pak Kuwu Dirja. Sementara itu Pak Kuwu Dirja memelihara anjing yang diberi nama Si Soplah, anjing ras kampung itu dipelihara dan dididik semenjak masih kecil. Maka Si Soplah termasuk anjing penurut dan juga tidak galak. Si Soplah sering diajak berkeliling ke empang, ke muara untuk memeriksa kapal tangkap ikannya, terkadang diajak jalan pagi. Maklumlah anjing yang sudah jinak dan penurut kepada majikan, sehingga kemana saja perginya Pak Kuwu Dirja, Si Soplah mesti mengikutinya. Pada suatu hari, Pak Kuwu pulang dari Cirebon habis mengambil uang dan usaha lainnya. Kala itu jalan-jalan desa masih tergolong jelek, pada jaman dahulu Jalan Dermayu [Indramayu] masih berupa tanah, jalanya masih kecil serta sempit-sempit serta harus melewati hutan gede yang masih banyak begal atau perampok. Pada hari itu Pak Kuwu Dirja berangkat ke Cirebon, selain membeli jaring kapal, ia juga mengambil uang. Uang yang begitu banyak dimasukan ke dalam kampil, ialah kantong uang yang diikat dan dimasukan ke lapak tempat duduk penunggang kuda. Setelah semuanya siap kemudian Pak Kuwu segera menaiki kuda dan diikuti oleh Si Soplah. Dari Cirebon berangkat kira-kira jam tiga sore, agar cepat sampai rumah maka kendali terus ditarik-tarik sehingga lari kuda pun menjadi cepat. Tak terasa perjalanan telah sampai di Karang Ampel, sebentar lagi akan memasuki wilayah Dermayu [Indramayu]. Nampaknya anjing itupun mengerti, jika sebentar lagi akan sampai ke rumah. Si Soplah nampak senang, terkadang ia berlarian di depan, di samping atau di belakang kuda yang ditunggangi majikannya. Malahan Si Soplah juga terkadang sambil menggonggong, sepertinya ikut merasa
165
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: H. Saeful Bahri senang karena sebentar lagi akan sampai ke rumah. Tetapi ada tingkah aneh dari Si Soplah ketika larinya kuda akan memasuki Desa Majakerta, anjing itu sering mencegat laju kuda seperti hendak memberi tahu sesuatu kepada Pak Kuwu. Namun Pak Kuwu Dirja tidak mengerti, dan berkata, “Loh ada apa ini, tingkah Si Soplah ko jadi aneh. Selalu saja bolak-balik menghadang jalannya kuda, ada apa sih? Sepertinya tidak ada apa-apa, tetapi kenapa mengganggu laju kudaku ini.” Si Soplah menggonggong tambah keras serta tidak mau diam, malahan tambah sering nyrimpet larinya sang kuda. Begitu tambah dekat ke Dermayu, Si Soplah tambah aneh serta tambah berani malahan sering akan menggigit kaki kuda. Akhirnya Pak Kuwu menjadi marah, kemudian anjing itu dipecut. Tujuannya supaya anjing itu mau diam serta tidak menghalangi lagi jalanya kuda. Namun Si Soplah semakin menjadi, ketika maksudnya tidak diladeni oleh sang majikan. Sementara itu Pak Kuwu masih belum mengerti apa yang diisyaratkan oleh anjingnya, Pak Kuwu hanya melihat kelakuan aneh dan membayakan dari anjingnya itu. Pak Kuwu bertambah murka ketika Si Soplah beraning menggigit sandalnya, “Hei ladalah anjing edan! Kalau kamu sampai menggigit bisa membahayakan saya. Hei Soplah! Hus.... hus.... hei .... ada apa?!” Si Soplah seperti tidak perduli, anjing itu terus mengganggu laju kuda. Sepertinya kalau anjing itu bisa ngomong memberi tahu supaya kuda berputar kembali lagi ke arah Cirebon. Pak Kuwu Dirja makin geram, sontak saja ia mengambil pistol dari pinggangnya dan anjing itupun didor, dooorrrr ... kena. Badan Si Soplah seketika ambruk, namun matanya masih bisa memandang dan mengingatkan majikannya. Sementara itu Pak Kuwu sudah tidak perduli lagi, terus melanjutkab perjalanan pulang menuju ke Dermayu. Tak lama kemudian sampai di rumah, Pak Kuwu Dirja memanggil pekatik [pemelihara kuda]. Namun ketika mau mengambil uang yang berada di lapak [kantong duit] ternyata lapak itu tidak ada. Pak Kuwu membatin, “Bagaimana bisa uang sebanyak itu bisa hilang?” ia sambil mencari-cari lapak barangkali terjatuh, disekitar. Namun tetap tidak ditemukan, selanjutnya dikumpulkanlah para pembantunya serta diceritakan apa yang baru saja terjadi. Kemudian Pak Kuwu Berkata, “Hei kamu sekalian! Aku minta tolong, coba bawalah obor! Mari menelusuri jalan yang telah aku lalui, barangkali saja lapak bisa ditemukan. Obor-obor sudah dinyalakan, Pak Kuwu ramai-ramai bersama dengan para pembantu menelusuri jalan. Akhirnya sampailah pada tempat dimana Anjing Si Soplah ditembak, Pak Kuwu Dirja berkata, “Di sinilah tempat aku menembak Si Soplah, sebab kelakuan anjing itu menjadi gila. Lihatlah bekas bercak darahnya masih ada. Ayo kita lacak jejaknya
166
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah bareng-bareng!” Semua orang menjadi terkejut termasuk Pak Kuwu sendiri, sebab tidak jauh dari tempat itu terlihat ada Si Soplah yang tergeletak mati di pinggir jalan. Ternyata Si Soplah tersungkur tak bernyawa sedang mendekami lapak uang majikannya. Jadi jelaslah maksud tingkah aneh dari Si Soplah itu sebenarnya hendak memberitahukan kepada sang majikan bahwa kantong duitnya telah terjatuh, namun Pak Kuwu Dirja tidak mengerti bahkan menembaknya. Tetapi yang membuat terkagum-kagum Pak Kuwu, sebelum Si Soplah mati masih sempat menyelamatkan uang majikannya. Pak Kuwu Dirja sangat menyesal, apalagi ketika teringat sewaktu menembak anjing kesayangannya itu. Pak Kuwu sampai menangis tersedu-sedu, sangat menyesali akan perbuatannya yang ceroboh itu. Mengapa saat itu tidak berpikir jernih malah sebaliknya grasahgrusuh menganggap hewan bermaksud baik itu dituduh edan bahkan di bunuhnya.
Analisis Cerita “Segawon Sing Setya” Alur cerita ini termasuk kategori cerita maju, yaitu alur ceritanya mengalir dari awal hingga akhirnya secara runut dari tahap ke tahap berikutnya. Misalnya cerita ini diawali dengan perjalanan pulang Pak Kuwu Dirja dari Cirebon ke desa Cantigi yang merupakan tempat tinggal dia. Narasi cerita bergerak maju mengikuti alur plot cerita, diawali dengan perjalanan Si Kuwu dari Cirebon yang mengendarai kuda dan di kawal oleh si Soplah seekor anjing setia hewan peliharaan si Kuwu. Perjalanan pun awalnya menyenangkan, namun ketika sampai di Karang Ampel sebuah tempat yang sudah hampir dekat dengan kediaman si Kuwu. si Soplah melakukan manuver berkali-kali yang membuat sang majikan jengkel (kesal). Manuver si Soplah adalah berkali kali ia menghalangi lajunya jalan kuda dengan meneriakkan gonggongannya. Kejengkalan si Kuwu disebabkan oleh ia “gagal paham” dalam menangkap isyarat yang diberikan oleh si Soplah. Kejengkelan si Kuwu memuncak saat sandalnya digigit oleh si Soplah, dan si Kuwu sang majikanpun kehilangan kendali spontan ia menembak si Soplah dengan bedilnya sendiri, Si Soplah pun ambruk seketika.
167
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: H. Saeful Bahri Sumardjo dan Saini (dalam Sumiati dkk, 2015: 212-215) mengatakan, bahwa plot hakikatnya adalah ruhnya dari sebuah cerita dengan kata lain ia adalah yang menggerakkan alur cerita dan ia berupa konflik. Alur cerita di atas diinspirasi oleh konflik antara Si Kuwu sang Majikan dengan si Soplah hewan peliharaannya, yang disebabkan oleh kesalah pahaman si Kuwu dalam menangkap pesan isyarat yang diberikan oleh si Soplah. Meman menangkap plot sebuah cerita tidak mudah karena ia membaur dengan jalannya cerita. Untuk mengenali plot dari sebuah cerita, maka biasanya ia diuraikan melalui elemen-elemennya di antaranya: Pengenalan, timbulnya konflik, konflik memuncak dan solusi konflik.
Pengenalan Cerita di atas diawali dengan mengenalkan si Kuwu sosok seorang kepala desa yang kaya raya namun dia tidak jumawa (sombong), dilukiskan dalam cerita ini sebagai berikut “ Pak Kuwu Dirja kepanjing saudagar sugih ning desa Cantigi sugih empang uga duwé perau gedé sing ABK ne lumayan akéh. Saben sepran ana sing rolas sampe limalas ABK. ... Pak Kuwu Dirja ning saban dinane kepanjing wong kang sopan lan sreseh. Kwentar wong kang seneng nenulung wong wong kesekeng utawa mlarat... .” (Pak Kuwu Dirja termasuk saudagar kaya di desa Cantigi. Ia banyak memiliki empang dan memiliki banyak perahu besar yang terdiri dari banyak ABK (anak buah kapal). Ada perahu yang terdiri dari 12 sampai dengan 15 ABK. Dalam kesehariannya Pak Kuwu Dirja termasuk orang yang memiliki sikap sopan dan santun. Ia dikenal sebagai orang yang suka menolong orang yang hidup dalam kekurangan ...). Selanjutnya dikenalkan juga seekor anjing bernama Soplah yang karena didikan majikannya sedari kecil ia pun menjadi sosok seekor anjing yang penurut dan setia, dikisahkan sebagai berikut ...”segawon kepankjing kewan sing pinterbaka diopeni bener. Segawon iku kewan sing bisa mbales kebecikan. utawa mbales budi…”.
168
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
Timbul Konflik Konflik diawali dengan kesalah pahaman si Kuwu Dirja dalam menangkap pesan isyarat yang diberikan oleh si Soplah. Isyarat yang diberikan oleh si Soplah adalah menggonggong sambil berlari-lari menghalangi jalannya kuda yang dinaiki oleh si Kuwu Dirja. Dan karena ulah tersebut si Kuwu Dirja mulai kesal dan dongkol disertai perasaan heran dengan kelakuan hewan peliharaannya. dikisahkan sebagai berikut: …“ Tapi ana sing nganehé anéhi baré arep manjing ning Désa Majakerta, si Soplah sering nyegati mlakune jaran, kaya kaya ngupai weruh ning pak Kuwu Dirja namung Pak Kuwu Dirja bli ngerti lan ngomong “ Lho ana apa, kelakuane si Soplah aneh, bolak balik nyegati mlakune jaran, ana apa sih? (… tapi ada yang aneh ketika akan masuk ke desa Majakerta, si Soplah sering menghalangi jalannya kuda kayanya ada sesuatu yang ingin ia sampaikan ke pak Kuwu Dirja, namun sayang ia tidak mengerti sambil berkata: apa sih maunya si Soplah ini?).
Konflik Memuncak Ketika isyarat yang diberikan oleh si Soplah tidak juga bisa dipahami oleh majikannya. Si Soplah pun meningkatkan manuvernya dengan menggigit sandal majikannya seolah si Soplah meminta agar majikannya turun dari kendaraannya dan memutar arah untuk balik lagi ke Cirebon. Namun si Kuwu Dirja tidak dapat memahami isyarat yang disampaikan si Soplah. Kuwu Dirja Taunya kelakuan si Soplah aneh dan semakin kurang ajar terhadap dirinya dengan berani menggigit sandal yang dipakainya. Emosi kuwu Dirja pun tidak bisa dikendalikan, dan ia pun menembak mati si Soplah. dikisahkan sebagai berikut: “… tambah sewot maning nalika si Soplah nyokot sandalé pak Kuwu. Pak Kuwu Dirja dadi nyewot pisan “ Ee lah dalah segawone edan tah ... baka nyakotbisa mbilaeni kita… hey …oplah ana apa? Si Soplah bli peduli mulai nyerimpeti melayune jaran kaya kaya baka bisa ngomong ngupai weruh supaya jaran balik maning neng Cerbon.
169
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: H. Saeful Bahri Pak Kuwu tambah sewot, terus pak Kuwu njukut pestole, sedawone terus dipestol dorrrr kena. Soplah ambruk matané masih nyawang ngingtaken majikané. Pak Kuwu bli peduli si Soplah mati apa bli, trus nutugaken mlakuné balik ning Dermayu”. Ketika Si Kuwu Dirja sudah tiba di rumahnya, ia segera membuka tempat di mana ia menyimpan uangnya ia terkejut saat lapak (dompet/ tempat menyimpan uang) tidak ada di tempatnya. ia pun segera memanggil para pembantunya untuk menelusuri jalan yang ia lalui tadi sambil membawa obor guna mencari lapak uangnya yang hilang. Ketika penelusuran menemukan bercak bercak darah si Soplah dan sampailah si Kuwu Dirja pada tempat tergeletaknya si Soplah bukan main dia terkejut melihat si Soplah sudah terbujur kaku sambil memelik lapak milik si Kuwu Dirja.
Solusi Konflik Solusi konflik dalam cerita ini tidak terlihat selain dari penyesalan si Kuwu Dirja yang sangat mendalam atas tindakannya yang emosional yang mengakibatkan tewasnya sang pengawal setia “Soplah” yang hingga akhir hayatnya masih menunjukkan dedikasi dan loyalitas yang amat tinggi terhadap majikannya. sambil meregang kesakitan dalam sakaratul maut ia masih memeluk laoak uang milik majikannya.
Kearifan dalam Cerita Segawon Sing Setya Cerita ini menampilkan dua sosok makhluk Tuhan yang memiliki perbedaan derajat yang sangat jomplang (ekstrim). Manusia sebagai makhluk Tuhan yang sempurna karena bawaan kodratinya jauh lebih lengkap dan sempurna dibanding hewan. Terlebih si Soplah adalah seekor anjing yang menyandang status binatang najis yang harus dijauhi, najisnya pun bukan najis yang ringan melainkan najis mughladzah (berat). Yang jika air liurnya nempel pada tubuh manusia tidak hanya bisa dibersihkan dengan air tetapi najis tersebut baru akan dipandang bersih jika sudah dilumuri oleh lumpur. Tetapi dalam cerita ini ternyata
170
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah berbalik, manusia yang semestinya tampil dengan performa yang ideal, malah sebaliknya manusia mempertontonkan kedunguan dan kebodohannya karena ia tidak berdaya mengendalikan amarahnya. Kearifan yang terkandung dalam cerita ini antara lain: Pertama, Nafsu amarah cenderung dapat menjatuhkan martabat manusia. Karena itu agama sangat menekankan kepada ummatnya agar berusaha semaksimal mungkin mengendalikan emosi, emosi yang tidak terkendali dapat melahirkan malapetaka yang dapat merugikan manusia itu sendiri. Seperti konflik. Tewasnya si Soplah karena Kuwu Dirja tidak dapat mengendalikan emosinya. Kuwu Dirja saudagar kaya dan terhormat lagi terpuji karena prilaku yang santun dan penyayang terhadap sesamanya yang lemah, ternyata harus terpleset karena kelalaiannya dalam mengendalikan amarahnya. Kedua, terpedayanya manusia oleh nafsu amarahnya sering dipengaruhi karena kebodohannya (ketidak tahuannya) terhadap sebuah persoalan. Ketika manusia tidak dapat memberdayakan kemampuan aqli (rasional) dan ‘irfaninya (budi) yang sudah dianugerahkan oleh Tuhan dan cenderung mengikuti bisikan syaitan, maka amarah pun akan menjadi liar. Kegagalan Kuwu Dirja memahami isyarat yang diberikan oleh Soplah, membuat ia hanyut dalam bisikan amarah. isyarat dan sinyal yang diberikan oleh Soplah untuk menyelamatkan uangnya tidak bisa dicerna oleh akal dan budinya si Kuwu Dirja karena ia sudah diliputi oleh nafsu amarahnya. Ketiga, anjing adalah seekor binatang yang sebenarnya memiliki potensi positif yang jika manuisia dapat mengarahkannya dapat dijadikan mitra yang dapat membantu manusia. Kesetian anjing adalah merupakan sifat yang amat menonjol dibanding hewan lainnya, Kesetiaan anjing dikisahkan Al Quran dalam surat Al Kahfi yang menemani tujuh orang pemudayang dikejar-kejar oleh penguasa yang dzalim di dalam sebuah gua, para pemuda itu
171
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: H. Saeful Bahri tertidur dalam tidur yang panjang dan anjing itu menemaninya dengan penuh kesetiaan.
Penutup
Kesimpulan Ada beberapa kesimpulan di antaranya: 1. Tidak kurang dari seratusan lebih cerita rakyat di Cirebon yang dapat ditemukan oleh penulis. Cerita-cerita tersebut sudah dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia dan disayangkan teks ceritanya yang menggunakan bahasa Cerbon Dermayu tidak ditampilkan. Cerita-cerita tersebut umumnya menerangkan asal usul penamaan sebuah pedukuhan (pedesaan) dan terkait dengan upaya penyebaran Islam. Cerita-cerita tersebut terdapat dalam buku Ceritera Rakyat Asal Usul Desa di Kabupaten Cirebon, Buku tersebut diterbitkan oleh Badan Komunikasi Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon. 2. Di Indramayu dan Cirebon Cerita Rakyat masih diajarkan kepada siswa SMP/MTs melalui mata pelajaran Basa Cerbon dan Sastra Cerbon Dermayu. 3. Ada upaya dari pemerintah untuk merawat cerita rakyat. Misalnya Dinas Pendidikan Propvinsi Jawa Barat menerbitkan buku pelajaran Basa dan Sastra Cerbon Dermayu yang diajarkan kepada siswa SMP/MTs. Dan Juga Badan Komunikasi Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon dengan menelusuri cerita-cerita rakyat yang dijadikan nama-nama desa di lingkungan kabupaten Cirebon. Meskipun masih ada keterbatasan terutama menyangkut masalah pembiayaan.
Rekomendasi Dalam rangka upaya merawat cerita rakyat di daerah Cirebon, semua pihak diharapkan dapat berperan dengan kapasitasnya masing-masing. Pemerintah daerah setempat diharapkan
172
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah memiliki komitmen untuk melestarikan cerita rakyat melalui pengalokasian anggaran yang relatif memadai. Kepada para pegiat pelestari cerita rakyat diharapkan dalam menerjemahkan cerita rakyat bahasa lokalnya tetap disertakan karena merupakan identitas lokalnya.
Daftar Pustaka
Dahuri, Rokhmin dkk. 2004. Budaya Bahari Sebuah Apresiasi di Cirebon. Jakarta: Perum Percetakan RI. Proyek Inventarisasi Ceritera Rakyat/Legenda Asal Usul Desa di Kabupaten Cirebon. 2005. Ceritera Rakyat Asal Usul Desa di Kabupaten Cirebon. Cirebon Badan Komunikasi Kebudayaan. Rahardjo, Untung. 2005. Kesusastraan Cirebon Dalam Periodesasi Kuna, Tengahan, Baru dan Modern. Cirebon: Yayasan Pradipta. Sumiati, Titin dkk. 2015. Sastra Lokal dan Warna Lokal CerbonDermayu. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Yani, Zulkarnain dkk. 2016. Nilai-Nilai Keagamaan dan Kerukunan dalam Tradisi Lisan Nusantara. Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta.
173
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: H. Saeful Bahri
174
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA PADA CERITA RAKYAT DAERAH DI PROVINSI BANTEN: KAJIAN STRUKTUR DAN AMANAT LEGENDA GUNUNG PINANG Oleh:
Asep Saefullah Pengantar Kebudayaan nasional berasal dan didukung oleh kebudayaan daerah. Kebudayaan daerah berpotensi menjadi kebudayaan nasional. Kebudayaan daerah yang merupakan bagian dari kebudayaan nasional erat kaitannya dengan kesusastraan dalam arti luas. Foklor (kebudayaan rakyat) merupakan bagian dari kebudayaan daerah tertentu, salah satu di antaranya adalah kebudayaan di Kabupaten Serang Banten. Cerita rakyat merupakan salah satu bagian dari foklor tersebut, yang juga terdapat di Kabupaten Serang. Cerita rakyat yang ada di Kabupaten Serang tersebut telah tersebar secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya secara turun-temurun. Sebagian bahkan telah diwujudkan secara naratif dalam tulisan, baik dalam bentuk cetak (buku) maupun digital (salah satunya dalam versi android yang dapat dibaca secara offline setelah diunduh). Cerita rakyat di Kabupaten Serang mempunyai bentuk/jenis, isi, struktur, dan kandungan nilai-nilai seperti halnya karya sastra lainnya. Bentuk/jenis cerita rakyat, antara lain; mite, legenda, dan dongeng. Struktur karya sastra meliputi: tema, alur/plot, tokoh dan penokohan, latar, dan amanat. Pada umumnya, cerita rakyat suatu daerah memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat
175
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Asep Saefullah pemiliknya. Cerita rakyat tersebut menampilkan gambaran kehidupan masyarakat sehari-hari beserta permasalahannya. Jadi, cerita rakyat suatu daerah dapat dijadikan cerminan bagi warga masyarakat yang berada di daerah tersebut.1 Gambar: Kerangka Berpikir Kebudayaan Nasional Kebudayaan Daerah Foklor Kabupaten Serang Cerita Rakyat Kabupaten Serang
Bentuk/Jenis: Legenda
1. 2. 3. 4. 5.
Struktur Cerita Tema Alur/Plot Tokoh dan penokohan Latar (setting) Amanat
Nilai Pendidikan Agama (Islam): 1. Nilai Akidah 2. Nilai Akhlak 3. Nilai Ibadah
Bahan pembinaan dan pengembangan pengajaran apresiasi budaya daerah/sastra di masyarakat, termasuk sekolah/madrasah dan lembaga pendidikan lainnya, khususnya yang ada di wilayah Kabupaten Serang
Cerita Rakyat Serang Banten: Legenda Gunung Pinang Ringkasan Legenda Gunung Pinang
Legenda Gunung Pinang2 merupakan cerita tentang anak durhaka, seperti halnya cerita Malin Kundang dari Minangkabau 1 Kerangka berpikir ini diadopsi dari L.G. Sarmadi, “Kajian Strukturalisme dan Nilai Edukatif …”, h. 41, dengan penyesuaian pada “Bentuk/Jenis”, “Nilai Pendidikan Agama”, dan “lokasi”. 2 Zaenal Abidin, dkk., Cerita Rakyat Banten, h. 121-132 (Narasumber : Lebbu I.A. Wahyudi; Umur : 30 tahun; Alamat : Kec. Menes – Pandeglang). Lihat juga Ali Fahrudin dan H.D. Zaenudin, “Folklor Religi Nusantara Provinsi Banten”, Makalah disajikan dalam Seminar Hasil Penelitian Folklor Religi Nusantara, Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Hotel Sofyan, Jakarta, 5-6 Desember 2016. Cerita ini dikonfirmasi juga dengan Wawancara terpisah dengan Sam’ani (73 th) pada 27 Februari 2017, dan Sabihis (51 th) pada 28 Februari 2017 di Desa Giripada, di lereng Gunung Pinang sebelah utara, dekat pesisir Keramat Watu, Serang, Banten. Legenda Gunung Pinang juga sudah ada dalam versi android yang dapat dibaca dan dinikmati melalui ponsel berbasis adroid.
176
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah yang telah populer bagi masyarakat Indonesia. Secara ringkas, Legenda Gunung Pinang memuat cerita sebagai berikut: 1. Hiduplah seorang janda, dengan putranya bernama Dampu Awang. Begitu besar keinginannya merantau untuk mengubah nasif keluarganya sangat kuat. Dengan berat hati Ibu Dampu mengijinkan anaknya merantau dengan catatan Dampu memelihara Si Ketut (burung yang sangan mahir mengirim pesan) 2. Suatu hari ada seorang saudagar kaya yaitu Teuku Abu Matsyah bersandar di Banten. Dampu berniat ikut pada kapal tersebut. 3. Karena sikapnya yang jujur, rajin dan pekerja keras. Putri dadi Teuku Abu Matsyah tertarik dan mereka menikah. Dampu yang lambat laut menjadi saudagar kaya pula. 4. Setelah bertahun-tahun merantau, Dampu pun menyandarkan kapalnya di Banten. Kabar ini membuat Ibunya bahagia. 5. Namun apa yang terjadi, Kebahagiaan itu lenyap. Saat bertemu Ibunya Dampu tidak mengakui sedikit pun. Bahkan menghinanya. 6. Ibu Dampu pun berdoa “Duhai, Gusti Hampura dosa,” “Kalau benar dia bukan anakku, biarkan dia pergi. Tapi kalau dia adalah putraku, hukumlah ia karena telah menyakiti perasaan ibunya sendiri,” 7. Tiba-tiba langit gelap, siang itu mendadak menjadi malam yang gelap gulita, petir, kilat, Guntur. Saling menyambar galangan kapal, hingga terbalik. Kapal itu menjadi gunung Pinang.
Kisah Lengkap Lenggeda Gunung Pinang Narasi dari kisah lengkap Legenda Gunung Pinang ini diambil dari hasil penelitian Zaenal Abidin dkk. dari Pusat Kajian Sejarah dan Budaya (PKSB), Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Ushuluddin, Dakwah dan Adab, IAIN “Sultan Maulana
177
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Asep Saefullah Hasanuddin” Banten, pada tahun 2015.3 Kisah lengkapnya sebagaimana berikut:
Di sebuah perkampungan nelayan di daerah pesisir teluk Banten, tepatnya di Keramat Watu Serang, hiduplah seorang janda tua dengan anak laki-lakinya yang bernama Dampu Awang. Sejak kematian sang ayah beberapa tahun silam, Dampu Awang harus bekerja keras membantu ibunya mencari kerang di pantai. Sudah bertahun-tahun mereka melakoni pekerjaan itu, namun hidup mereka serba kekurangan. Dampu Awang yang telah berusia remaja itu merasa jenuh dan bosan dengan keadaan tersebut. Ia berpikir bahwa jika ia tetap tinggal di kampungnya, nasib keluarganya tidak akan berubah. Dengan begitu, timbullah keinginannya untuk merantau ke Negeri Malaka. Pada suatu malam, Dampu Awang menyampaikan niat itu kepada ibunya. Tanpa diduganya, perempuan yang telah melahirkanya itu tidak merestuinya. Walaupun ia telah memberikan berbagai alasan dan rayuan, sang ibu tetap tidak merestuinya pergi. “Ibu tidak akan mengizinkanmu pergi, anakku !”, cegah ibunya. “tapi bu .. !” sergah Dampu Awang. “Sudahlah Dampu… ibu mengerti perasaanm, bahwa kamu sudah tidak tahan lagi hidup menderita seperti ini. Tapi, jika kamu pergi, siapa lagi yang akan menemani ibu di sini… anakku !”, ujar ibunya. “Bu… Dampu berjanji, kalau sudah berhasil, Dampu akan segera kembali menemani dan membahagiakan ibu. Kita akan membangun rumah mewah, seperti rumah para bangSAWan di kampung ini” bujuk Dampu Awang. “Sudahlah… Dampu! Berhenti berkhayal seperti itu ! Ibu sudah lelah mendengar semua bujuk rayumu. Ibu akan merasa bahagia, jika kamu tetap berada di samping ibu”, ujar ibu Dampu seraya merebahkan tubuhnya di atas balai-balai bambu. Dampu Awang tidak lagi berkata apa-apa. Ia mengerti perasaan ibunya, meskipun di hatinya tersimpan rasa kecewa. Dengan langkah pelan, ia keluar dari gubuknya lalu duduk bersandar pada pohon nyiur, sambil menikmati semilir angin malam pantai teluk Banten. Pandangannya tajam seolah-olah menembus kegelapan malam. Pikirannya terbang nan jauh di sana, meninggalkan kepenatan hidup dan kekecewaan atas sikap ibunya. Di wajahnya terpancar secercah sinar harapan yang akan menerangi hidupnya. “Ya Tuhan… tolong bukakanlah pintu hati ibu hamba, agar ia
3 Zaenal Abidin, dkk., Cerita Rakyat Banten, h. 121-132; Ali Fahrudin dan H.D. Zaenudin, “Folklor Religi Nusantara Provinsi Banten”; Wawancara terpisah dengan Sam’ani (73 th) pada 27 Februari 2017, dan Sabihis (51 th) pada 28 Februari 2017 di Desa Giripada, di lereng Gunung Pinang sebelah utara, dekat pesisir Kramatwatu, Serang, Banten.
178
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah mengerti bahwa di negeri Malaka sana banyak sekali pekerjaan yang akan membuat hamba menjadi kaya raya”, ucap Dampu Awang dengan penuh harapan. Tanpa disadarinya, sang ibu sedang memperhatikannya dari balik jendela. Perempuan setengah baya itu tak kuasa membendung air matanya. Ia merasa bersalah, karena telah mengecewakan anak semata wayangnya. Malam semakin larut, janda tua itu kembali merebahkan tubuhnya hingga tidur terlelap. Tak berapa lama kemudian, Dampu Awang masuk ke dalam gubuk, lalu tidur di samping ibunya. Keesokan paginya, perempuan tua itu menghapiri Dampu Awang yang baru saja terbangun. “Dampu anakku…” sapa ibunya dengan lembut “Ada apa bu… ?” tanya Dampu, sambil menatap wajah ibunya. “Dampu anakku ! ibu tidak bermaksud melarangmu merantau, tapi, ketahuilah ! umur ibu sudah udzur, ibu khawatir kelak takkan bertemu lagi. Ibu tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini, selain dirimu… anakku !” ujar ibunya dengan penuh rasa haru. Ibunya kembali tersenyum lembut. “Baiklah… anakku! Jika itu sudah menjadi tekadmu, ibu mengizinkan kamu pergi. Tapi ingat… ! kamu harus berjanji cepat kembali jika sudah berhasil,” ujar ibunya. Betapa bahagia hati Dampu Awang mendapat restu dari ibunya. Tubuhnya terasa mendapat kekuatan yang luar biasa. Darah di tubuhnya yang semula serasa membeku, kembali mengalir. Ia tidak mampu lagi menyembunyikan perasaan bahagianya. Air matanya menetes membasahi kedua pipinya. “Terima kasih ibu… Dampu berjanji akan segera kembali untuk membahagiakan ibu,” ucap Dampu Awang seraya memeluk ibunya. “Iya anakku… sekarang persiapkanlah barang-barang yang akan kamu bawa pergi. Besok pagi ada kapal yang akan berangkat ke negeri Malaka. Pergilah… temui Teuku Abu Matsyah, pemilik kapal itu. Barangkali saja ia bersedia membawamu pergi berlayar bersamanya,” ujar ibunya. Setelah menyiapkan bekalnya, Dampu Awang segera menemui Teuku Abu Matsyah di pelabuhan. “Tuan… bolehkah saya ikut berlayar bersama tuan ?... tapi, maaf tuan. Saya tidak mempunyai uang untuk membayar ongkos kapal. Kalau tuan berkenan, saya akan membayarnya dengan tenaga,” pinta Dampu. Melihat ketulusan hati Dampu, Teuku Abu Matsyah pun memenuhi permintaannya. Dengan perasaan gembira, Dampu segera kembali ke rumahnya. Alangkah bahagia hati ibunya mendengar berita gembira itu. Keesokan harinya, sebelum Dampu Awang berangkat ke pelabuhan.
179
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Asep Saefullah Ibunya menitipkan kepadanya seekor burung perkutut bernama si Ketut. “Anakku… bawalah si Ketut pergi bersamamu ! burung ini peliharaan ayahmu dulu, ketika masih hidup. Burung ini sangat mahir sebagai pengantar pesan. Kamu harus selalu mengirimi ibu kabar… jaga dan rawatlah dia dengan baik, seperti kamu menjaga ibu, ya nak ?” ujar ibunya. “Baik bu .. Dampu berjanji akan mengirim surat kepada ibu setiap awal bulan purnama,” jawab Dampu. Setelah itu, berangkatlah Dampu bersama ibunya ke pelabuhan. Setibanya di pelabuhan, Teuku Abu Matsyah sudah menunggunya. Usai menyalami ibunya, Dampu Awang segera naik ke atas kapal. Tak beberapa lama kemudian, ia pun terlihat berdiri di anjungan kapal sambil melambaikan tangan. “Ibu… Dampu berangkat ! jaga diri ibu baik-baik!” teriak Dampu dari anjungan kapal. “Iya Dampu… hati-hati di jalan ! jangan lupa… cepat kembali ya nak…!” jawab janda tua itu. Dengan diiringi isak tangis ibunya, Dampu Awang meninggalkan pelabuhan Banten menuju negeri Malaka. Untuk mengganti ongkos kapal, ia ditugaskan oleh Teuku Abu Matsyah membersihkan seluruh galangan kapal. Dampu Awang sangat rajin dan tekun bekerja. Tak heran ia mendapat perhatian dari saudagar kaya itu. “Hai Dampu… ! apa yang akan kamu kerjakan di negeri Malaka ?” tanya Teuku Abu Matsyah. “Belum tahu tuan… saya baru akan mencari pekerjaan setibanya disana nanti”, jawab Dampu Awang. “Kalau begitu… maukah kamu ikut bekerja denganku ?” bujuk saudagar kaya itu. Tanpa berpikir panjang, Dampu Awang menerima tawaran tersebut dengan senang hati. Sejak Dampu ikut dengannya, usaha Teuku Abu Matsyah semakin maju dan berkembang. Sehingga, dalam waktu tidak berapa lama ia mampu membeli kapal lagi. Karena itu, saudagar itu semakin sayang kepada Dampu, sehingga bermaksud menikahkan dia dengan putrinya yang bernama Siti Nurhasanah. Pada mulanya, Dampu Awang menolak tawaran itu, karena merasa dirinya sebagai anak buah tak pantas menikah dengan putri juragannya. “Maaf juragan… saya tidak bermaksud menolak niat baik juragan. Tapi apakah saya pantas menjadi pendamping hidup putri juragan ?” kata Dampu Awang dengan merendah. Teuku Abu Matsyah hanya tersenyum sambil mengelus-elus jenggotnya yang mulai memutih. “Jangan khawatir Dampu…! setelah kalian menikah nanti, aku akan mengangkatmu menjadi nahkoda kapal dan mewariskan semua harta kekayaanku kepada kalian.” Ujar Teuku Abu Matsyah.
180
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Akhirnya, Dampu Awang dan Siti Nurhasanah menikah dan hidup bahagia. Beberapa bulan setelah mereka menikah, ayah Siti Nurhasanah meninggal dunia. Sejak itu, Dampu Awang dan istrinya mewarisi seluruh harta kekayaan Teuku Abu Matsyah. Ia pun terkenal sebagai saudagar kaya di negeri Malaka. Ia hidup dengan penuh kemewahan dan bergelimang harta, sehingga melupakan ibunya yang berada di kampung halaman. Setelah lima tahun di perantauan, tiba-tiba timbul kerinduannya ingin kembali ke tanah kelahiranya di Banten. Pada suatu hari, berangkatlah Dampu Awang bersama istrinya beserta para pengawalnya ke Banten dengan menggunakan kapal besar dan megah. Setelah berhari-hari mengarungi lautan luas, tibalah mereka di pelabuhan Banten. Berita tentang kedatangan kapal besar dan megah itu tersebar ke seluruh pelosok negeri Banten. Setiap penduduk ramai membicarakan kemegahan kapal itu. Mereka bertanya-tanya siapa gerangan pemiliknya. Karena penasaran, para penduduk Banten berbondong-bondong menuju ke Pelabuhan. Di antara kerumunan orang banyak, tampak seorang perempuan tua dengan wajah sumringah dan pakaian lusuh baru saja tiba. Dia adalah ibu kandung Dampu Awang. “Wahh… jangan-jangan pemilik kapal itu adalah putraku !” ucap ibu Dampu Awang. Ibu Dampu Awang berusaha menyusup di antara kerumunan orang banyak untuk melihat kapal itu lebih dekat. Ketika mendekat, ia melihat seorang pemuda gagah berdiri di anjungan kapal bersama seorang putri cantik. Mulanya, perempuan tua itu ragu kalau pemuda itu adalah putranya, Dampu Awang. Tapi, setelah melihat ada seekor burung perkutut bertengger di pundak pemuda itu. Barulah ia merasa yakin, bahwa pemuda itu anaknya yang selama ini dirindukannya. “Oh Dampu Awang anakku… ! akhirnya kamu pulang juga,” ucapannya dengan perasaan bahagia. Perempuan tua itu kemudian berteriak memanggil anaknya. “Dampuuu….! Dampu Awang, anakku! Ini ibu nak !” teriaknya sambil melambai-lambaikan tangannya di antara kerumunan orang. Mendengar teriakan itu, Dampu Awang segera mencari sumber suara teriakan itu. Namun, ketika melihat orang yang berteriak itu adalah seorang nenek yang berwajah lusuh dan berpakaian compang-camping, ia segera mengalihkan pandangannya. Ia malu mengakui nenek tua itu sebagai ibunya di hadapan istrinya. “Hai Kanda ..! kenapa Kanda memalingkan wajah ? bukankah nenek itu mengaku sebagai ibu Kanda ? benarkah di ibu Kanda !” tanya Siti Nurhasanah. “Tidak Dinda ! perempuan tua itu bukan ibu Kanda !” tampik Dampu Awang. “Ibu Kanda kaya raya dan cantik, tidak seperti nenek yang
181
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Asep Saefullah miskin dan keriput itu !” “Tapi Kanda… nenek itu terus memanggil-manggil nama Kanda,” kata istri Dampu. “Sudahlah Dinda… tidak usah hiraukan nenek keriput itu. Dia hanya mengada-ngada”, ujar Dampu Awang. Usai berkata begitu kepada istrinya, Dampu Awang membentak nenek itu dan mengusirnya. “Hai perempuan tua ..! pergilah dari sini ! aku tidak pernah mempunyai ibu seperti dirimu,” bentak Dampu Awang. Perempuan malang itu bagaikan disambar petir di siang bolong mendengar bentakkan itu. Hatinya bagai teriris-iris mendapat perlakuan tidak senonoh dari darah dagingnya sendiri. Ia tertunduk lesu seraya meneteskan air mata. Harapan, kebahagiaan, dan penantiannya selama bertahun-tahun telah lenyap begitu saja. Ia duduk bersimpuh memohon doa kepada Tuhan Yang Mahakuasa dengan penuh khusyuk. “Oh Tuhan… jikalau memang benar pemuda itu bukan putra hamba, biarkanlah ia tetap pergi. Tapi, kalau ia putra hamba, Dampu Awang, berilah ia pelajaran. Karena telah menyakiti perasaan ibunya sendiri”. Pinta ibu Dampu. Ketika Dampu Awang bersama rombongannya akan meninggalkan pelabuhan Banten, tiba-tiba langit menjadi gelap dan angin tertiup kencang. Petir menyambar-nyambar, kemudian diiringi hujan yang sangat deras. Dalam sekejap, dunia serasa kiamat. Langit memuntahkan segala yang dikandungnya. Bumi bergoncang dengan dahsyatnya. Air laut bergelombang setinggi gunung. Seluruh penduduk berlarian meninggalkan pelabuhan untuk menyelamatkan diri. Sementara itu, Dampu Awang beserta anak buahnya terombangambing di lautan. Kapalnya dipermain-mainkan oleh gelombang besar. Seluruh penumpang kapal menjadi panik dan ketakutan. Dalam suasana panik tersebut, tiba-tiba terjadi sebuah keajaiban. Si Ketut tiba-tiba dapat berbicara seperti manusia. “Hai… Dampu Awang! Akuilah… akuilah… akuilah ibumu !” seru si Ketut. Dampu Awang tidak menghiraukan seruan si Ketut. Ia tetap tidak mau mengakui ibunya. “Tidak ! dia bukan ibuku…! dia bukan ibuku !” sergah Dampu Awang. “Akuilah… akuilah… akuilah ibumu, Dampu Awang !” si Ketut kembali berseru. Berulang kali si Ketut berseru kepadanya, Dampu Awang tetap saja menyangkal. Tanpa diduga, tiba-tiba angin puyuh datang dengan meliuk-liuk di atas laut menuju kapalnya. Tak ayal lagi, kapalnya pun terseret masuk ke dalam pusaran angin puyuh, lalu terbang berputar-putar di udara. Dalam keadaan panik, Dampu Awang
182
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah berteriak kencang. “Ibuuu ! ibuu… tolong aku! Ini anakmu… Dampu Awang!” Namun apa hendak dibuat, nasi telah menjadi bubur. Tuhan telah murka kepadanya. Kapalnya terus berputar-putar di udara, dipermainkan angin puyuh. Lama-kelamaan, kapal dan seluruh isinya terlempar jauh ke arah selatan dan jatuh tertelengkup. Konon, perahu itu kemudian menjelma menjadi sebuah gunung yang kini dikenal dengan nama Gunung Pinang.4
Analisis Struktur dan Nilai Pendidikan Agama dalam Legenda Gunung Pinang Analisis Struktur
Analisis struktur meliputi uraian tentang tema, tokoh, alur atau plot, latar (setting), dan amanah, yang merupakan unsurunsur dalam sastra yang membentuk keseluruhan karya tersebut, termasuk cerita rakyat. Dalam Legenda Gunung Pinang, sebagai cerita rakyat kategori legenda, berikut beberapa unsur yang dapat dijelaskan berdasarkan analisis struktural. Dari segi tema, Legenda Gunung Pinang bertemakan tentang “anak yang durhaka kepada orangtuanya, secara khusus, durhaka kepada ibu.” Dalam legenda ini terdapat tokoh. Tokoh utamanya adalah sang anak yang bernama Dampu Awang. Kemudian tokoh-tokoh lainnya adalah ibu kandungnya, yang tidak disebutkan namanya. Lalu seorang saudagar yang bermana Abu Matsyah, dan putrinya yang bernama Siti Nurhasanah, yang kemudian menjadi istri dari sang tokoh utama, Dampu Awang. Tokoh lain adalah bentuk komunitas, yakni nelayan yang merupakan lingkungan hidup sang tokoh utama. 4 Terdapat kisah lain tentang Gunung Pinang pada masa awal berdirinya Kesultanan Banten, sebagai berikut: “… pada masa awal berdirinya Kerajaan Islam Banten (Kesultanan Banten) disebutkan sebagai tempat pertapaan. Dalam Pupuh XIX Babad Banten menceritakan Sunan Gunung Jati dating ke Banten bersama Molana Judah. Ia menyuruh anaknya untuk mendirikan sebuah kota di pantai, dan diberinya petunjuk, dimana istana, dimana pasar, dan dimana alunalun harus dibangun. Terutama sekali watu gigilang tidak boleh dipindahkan dari tempatnya, karena akan menandai jatuhnya negeri itu. Selanjutnya kepada anaknya dianjurkan untuk menyerang mereka yang tidak percaya di pedalaman untuk mendirikan sebuah pertapaan di Gunung Pinang.” Lihat Juliadi dan Neli Wachyudin, Toponimi/Sejarah Nama-Nama Tempat…, h. 54-55.
183
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Asep Saefullah Dari segi perwatakan, ada beberapa watak yang dapat disebutkan, yaitu baik, jahat, dan sombong. Adapun latar atau setting dari Legenda Gunun Pinang berupa pantai dengan pelabuhannya dan kehidupan nelayan di pesisir, khususnya di Keramatwatu, Serang, Banten, dan negeri Malaka tempat sang tokoh utama merantau. Dari segi alur, Legenda Gunung Pinang termasuk alur maju, yakni menceritakan proses awal kehidupan tokoh utama yang secara ekonomi dalam keadaan miskin, kemudian bekerja hingga mencapai kesuksesan secara materi dan bahkan dapat membangun mahligai rumah tangga dengan seorang putri cantik anak sang saudagar. Alur tersebut dapat diuraikan seperti berikut: “Dampu Awang meminta izin kepada ibunya untuk merantau, sebagai upaya mengubah nasib kehidupannya menuju yang lebih baik. Ia mengikuti saudagar kaya, Tuan Tenku Abu Matsyah. Karena ia rajin, sang saudagar meminangnya untuk menjadi menantunya, hingga dinikahkan dengan putrinya. Dampu Awang berhasil menjadi seorang yang kaya dan hidup bahagia berumah tangga dengan putri sang saudagar, serta menjadi pewaris kekayaannya setelah sang saudagar wafat. Dampu Awang kemudian pulang ke kampung asalnya dengan kapalnya. Di pelabuhan tempat asalnya, Dampu Awang bertemu dengan ibunya. Karena kondisi sang ibu yang miskin, Dampu Awang tidak mengakuinya, karena ia merasa malu. Dampu Awang pun kembali ke perantauan meninggalkan ibunya. Sang ibu menjadi sedih. Ia pun berdoa kepada Tuhan memohon keadilan atas perilaku anaknya tersebut. Dalam perjalanan kembali ke perantauannya, terjadi badai petir yang menyambar kapal Dampu Awang hingga membalikkan kapalnya dan menjadi batu yang menyerupai kapal terbalik, yang kemudian dikenal dengan Gunung Pinang.” Dari segi amanat atau pesan yang dapat diambil dari Legenda Gunung Pinang adalah tentang “perbuatan buruk berakibat buruk”. Dalam hal ini, durhaka kepada orangtua, terlebih kepada ibu, akan segera mendapat balasan. Di dalam legenda ini juga didapatkan
184
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah pesan moral yang sangat jelas, yaitu: 1) bahwa kemauan yang kuat dan niat yang tulus dalam berusaha mencari penghidupan, disertai dengan kerja keras akan mencapai hasil yang memuaskan. Salah satu kerja keras tersebut, dalam legenda ini adalah dengan merantau. Ada dua pepatah yang dapat menggambarkan hal tersebut, yakni: “jika telah benar tekad itu niscaya jalannya akan terbuka” () dan “anak panah tidak akan mencapai sasaran apabila belum lepas dari busurnya” (); dan 2) bahwa keberhasilan dalam kehidupan dan penghidupan tidak akan menghilangkan kewajiban seorang anak terhadap orangtuanya, terlebih kepada ibunya.5 Di samping itu, terdapat pula nilai budaya, bahwa status sosial seseorang, misalnya karena keberhasilannya dari segi material atau jabatan yang didudukinya tidak menggugurkan kewajibannya untuk berbuat baik kepada sesamanya di dalam kehidupan bermasyarakat. Kewajiban ini lebih melekat lagi pada diri seorang anak kepada orangtuanya, terlebih kepada ibunya.6 Tabel: Unsur-Unsur dalam Legenda Gunung Pinang No
Unsur
Keterangan
1
Tema
Anak durhaka
2
Tokoh Utama:
Si Dampu Awang
•
Orangtua tokoh utama
• •
Tokoh lain Pekerjaan Tokoh Utama
Ibu Dampu Awang Teuku Abu Matsyah & Siti Nurhasanah Nelayan
3
Latar/Setting
Pantai dan Pelabuhan Kramatwatu, Serang, Banten
4
Alur/Plot:
Maju
•
Miskin, hidup sebagai nelayan
Awal cerita
5 Felinthian, “Perbandingan Cerita Ulang: Asal-usul Pulau Kapal & Asal-usul Gunung Pinang”, http://www.kompasiana.com/felinthian/perbandingan-ceritaulang-asal-usul-pulau-kapal-asal-usul-gunung-pinang_54f930b9a333115f378 b4db3, upload pertama 27 November 2014 05:57:16. Diperbarui: 17 Juni 2015 09:43:40, diakses 13/3/2017 6 “Legenda Gunung Pinang”, dalam http://ebudaya.m-edukasi.kemdikbud. go.id/?m=detail-budaya&ub=2&ab=11&id=2015BUD014, diakses 13/3/2017
185
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Asep Saefullah
5
•
Tengah cerita
Kaya, menjadi saudagar di Malaka
•
Akhir cerita
Celaka, kapal terbalik menjadi Gunung Pinang
Amanat:
Perbuatan buruk berakibat buruk
•
Pesan Moral
Kewajiban berbuat baik kepada orangtua
•
Nilai Budaya
Status sosial, harta dan jabatan tidak menggugurkan kewajiban berbuat baik, terlebih kepada orangtua
•
Nilai Pendidikan Agama
Keimanan, Akhlak, dan Ibadah
Ulasan Cerita Legenda Gunung Pinang dari Banten merupakan karya warisan bangsa yang sangat bernilai. Dikatakan bernilai karena di dalamnya mengandung pesan moral yang dapat dijadikan pelajaran bagi kehidupan masyrakat sekarang. Kajian ini pada dasarnya memiliki nilai-nilai tertentu yang dapat memperluas wawasan bagi si pembaca. Sebuah karya merupakan makna kehidupan manusia dan satu masyarakat. Nilai-nilai, pikiran-pikiran, dan falsafah yang terkandung di dalamnya dengan tidak terasa berbicara, membentuk nilai dan sikap, dan dengan demikian turut berperan dalam suatu perubahan masyarakat. Legenda Gunung Pinang dapat dikatakan berisi tentang kebiasaan masyarakat sekitar atau kebudayaanya yang saling bertukar dan bercampur. Hal tersebut mungkin juga disebabkan oleh kemungkinan di mana masyarakat sekitar yang mengikuti hal-hal yang menjadi topik perbincangan yang populer pada zaman tersebut. Mungkin pada saat zaman tersebut sedang terjadi banyak kasus anak-anak yang durhaka kepada orangtuanya dan melupakan orangtuanya ketika si anak telah sukses merantau jauh. Dari hal demikian dibuatlah cerita rakyat yang mengaitkan dengan keadaan alam sekitar seperti gunung, pulau, bukit yang menyerupai bentuk benda-benda nyata seperti kapal yang bertujuan untuk memberikan kesan moral positif kepada
186
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah anak-anak agar tidak menjadi durhaka kepada orangtuanya.
Nilai Pendidikan Agama dalam Legenda Gunung Pinang Legenda Gunung Pinang memiliki nilai pendidikan agama, dalam hal ini secara khusus dilihat dari pendidikan agama Islam. Di antaranya adalah nilai keimanan, nilai akhlak, dan nilai ibadah.7 Nilai-nilai pendidikan tersebut didasarkan pada pokok-pokok ajaran agama (baca: Islam), yang secara garis besar terdiri dari tiga hal, yaitu: iman, Islam, dan ihsan. Iman terkait dengan akidah atau keyakinan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai turunannya. Islam menyangkut syariah atau ibadah, tata cara menjalankan perintah dan meninggalkan larangan Allah SWT., Tuhan Yang Mahaagung, sebagaimana diajarkan para nabi dan rasul-Nya. Sedangkan ihsan adalah perilaku baik atau akhlak yang mulia, tertutama terhadap Allah SWT., Tuhan Yang Mahatahu segalanya, maka perilakunya pun tidak mungkin bertentangan dengan perintah-Nya atau melanggar larangan-Nya, berbuat baik terhadap sesama makhluk dan seluruh lingkungannya.8
Nilai Keimanan Setiap agama memiliki keyakinan akan adanya Tuhan. Nilai ini merupakan nilai keimanan atau dalam Islam disebut nilai akidah, yang meliputi bentuk kepercayaan atau keyakinan seseorang akan kebesaran Allah SWT. dan kemahakuasaan-Nya. Dari Legenda Gunung Pinang di atas dapat ketahui bahwa ibu Dampu Awang mempunyai kepercayaan akan kekuasaan Tuhan terlihat saat ia marah karena Dampu Awang tidak mengakuinya Identifikasi nilai-nilai pendidikan Islam ini diadopsi dari Reni Susanti, “Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam dalam Legenda Malin Kundang”, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2011, http://memorykuliah.blogspot. co.id/2011/07/nilai-nilai-pendidikan-agama-islam.html, upload Selasa, 19 Juli 2011, diakses 23/3/2017. Penambahan sumber dan penyesuaian dilakukan sesuai dengan kebutuhan tulisan ini, sebagaimana disebutkan dalam sumber rujukan. 8 Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qur’an, h. 141-146, khususnya h. 144-155. 7
187
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Asep Saefullah sebagai ibunya, karena Ibunya tidak kuasa menahannya maka ia menyerahkannya kepada Allah. Allah Yang Mahakuasa disebutkan dalam Al-Qur’an antara lain dalam QS. al-Mukminun [23]:116, yang artinya: “maka maha tinggi Allah, penguasa yang sebenarnya, tidak ada sesembahan selain Dia, Tuhan yang mempunyai ‘arsy Yang Maha Agung”. Selain itu, kekuasaan Tuhan dapat terdapat pula dalam Surah Shad ayat 66, yang artinya: “Tuhan Langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya Yang Maha Perkasa, Maha Pengampun” (QS. Shad [38]:66). Dari ayat-ayat Allah di atas dapat diketahui, bahwa Allah adalah penguasa langit dan bumi seutuhnya tidak ada kekuatan yang melebihi Dia. Allah dapat mendengar dan melihat apapun yang dilakukan oleh hamba-Nya.
Nilai Akhlak Selain nilai akidah, dalam Legenda Gunung Pinang, terdapat nilai akhlak yang sangat penting dan harus menjadi pelajaran, khususnya bagi anak-anak terhadap orangtua mereka. Nilai-nilai akhlak yang dapat diambil dari legenda ini antara lain: 1. Sabar Sabar adalah tahan menghadapi penderitaan dengan keridaan dan kepasrahan kepada Allah. Rasulullah SAW. bersabda: “Sabar adalah penerang” ( ) (HR. 9 Muslim). Allah SWT. akan menguji manusia, apalagi seorang mukmin, dengan berbagai cobaan, baik kesenangan maupun kesedihan, untuk mengetahui siapakah di antara mereka yang bersabar dalam menghadapi ujian tersebut. Allah SWT. berfirman dalam QS. al-Baqarah [2]:155-157: “Dan sungguh Kami akan memberikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, Muhammad al-Ghazali, Akhlaq Seorang Muslim, h. 258.
9
188
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah jiwa, dan buah-buahan. Maka sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilahi raji’un” (sungguh kami adalah milik Allah, dan kami akan kembali kepadaNya). Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. Muhammad al-Ghazali menyebutkan, sabar setidaknya dapat dilihat dalam tiga keagaan, yaitu: a. Sabar dalam menjauhi kejahatan, menahan diri untuk menghindarkan dari perbuatan jahat, tidak memperturutkan hawa nafsu, menjauhkan diri dari perbuatan yang dapat menjerumuskan ke dalam kehinaan dan merugikan orang lain. b. Sabar dalam menahan kesusahan ketika menjalankan kewajiban, yakni sabar dalam beribadah. c. Sabar dalam perjuangan, menahan diri untuk tidak berpaling dari perjuangan menegakkan kebenaran.10 Akhlak, sebagaimana dijelaskan di atas menurut Imam al-Ghazali, adalah sikap yang telah mengakar dalam jiwa seseorang sehingga mudah baginya melakukan sesuatu tanpa memerlukan pikiran dan pertimbanagan, yang dalam bahasa popular disebut reflek. Jika sikap itu melahirkan perbuatan yang baik dan terpuji, maka ia disebut akhlak yang baik. Sebaliknya, jika melahirkan perbuatan buruk dan tercela, maka ia disebut akhlak yang buruk. Di dalam Legenda Gunung Pinang, dapat dikenali sikap dari tokoh utamanya, yakni Dampu Awang, dan juga ibunya. Kedua tokoh ini memperlihatkan keteguhannya dalam menjalani hidup mereka yang serba kekuarangan. Muhammad al-Ghazali, Akhlaq Seorang Muslim, h. 262-263.
10
189
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Asep Saefullah Sikap tersebut melahirkan perbuatan yang baik dan terpuji, yakni sabar, yang merupakan akhlak yang baik. Bahkan ketika untuk pertama kali Dampu Awang tidak diizinkan oleh ibunya untuk merantau, betapapun kecewanya, Dampu Awang tetap sabar dan tidak memaksa. Kesabaran lebih besar kemudian ditunjukkan oleh ibunya yang akhirnya merelakan anaknya merantau demi mengubah nasib hidup mereka. Sementara itu, sang ibu hidup sebatang kara dalam kondisi yang sudah tua dan serba kekurangan. Dalam alur berikutnya pun, Dampu Awang yang bekerja kepada Tuan Teuku Matsyah dari Negeri Malaka, menunjukkan kesabaran dalam melaksanakan segala titah majikannya hingga ia dipercaya, dan bahkan dinikahkan dengan putrinya, yang bernama Siti Hasanah. Inilah buah kesabaran dalam menghadapi segala cobaan hidup. Kesabaran yang luar biasa ditunjukkan lagi oleh sang ibu, yang menjelang akhir cerita, tidak diakui sebagai ibunya oleh Dampu Awang. Keteguhan imannya membuatnya tegar dan tidak membalasnya dengan kejahatan dan tidak juga dengan mendoakan keburukan bagi anaknya. Ia hanya memohon kepada Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, seandainya saudagar muda yang kaya raya itu bukan Dampu Awang anaknya agar dibiarkan pergi, tetapi jika orang itu anaknya, ia bedoa, “… berilah ia pelajaran karena telah menyakiti perasaan ibunya sendiri”. 2. Akibat Uququl-Walidain/Durhaka kepada Orangtua Dalam QS. Luqman [31]:14, yang dikutip di atas, Allah SWT. telah memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orangtua, yaitu: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia
190
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu. Hanya kepada Aku kembali-mu”. Berdasarkan ayat ini, adalah kewajiban seorang anak untuk berbuat baik kepada orangtuanya. Dalam hadis Nabi SAW. disebutkan pula bahwa rida dan murka Allah tergantung pada rida dan murka orangtua. Rasulullah SAW. bersabda:
Artinya: “Rida Tuhan (Allah) ada pada rida orangtua, dan murka Tuhan (Allah) ada pada murka orangtua” (HR. Tirmizi).
Allah dan Rasulullah telah menempatkan orangtua pada posisi yang sangat istimewa. Oleh karena itu pula sikap sebaliknya menjadi sesuatu yang sangat dibencinya. Bukan saja sikap tersebut sebagai akhlak yang buruk dan tercela, yang harus dihindari, tetapi juga merupakan dosa besar, bahkan disandingkan dengan sikap musyrik atau menyekutukan Allah SWT., yang merupakan dosa besar yang tidak diampuni. Sabda Rasulullah SAW. menerangkan demikian:
Artinya: “Dosa-dosa besar itu adalah: menyekutukan Allah (musyrik), durhaka kepada kedua orangtua, membunuh orang, dan sumpah palsu” (HR. Bukhari).
Berdasarkan hadis di atas, ada empat hal yang termasuk dosa besar, dan durhaka kepada orangtua adalah salah satunya. Dosa besar yang berupa durhaka kepada kedua orang juga termasuk perbuatan dosa besar yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Bahkan dalam hal balasan atas perbuatan dosa, Rasulullah SAW. menjelaskan, bahwa
191
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Asep Saefullah seluruh dosa ditangguhkan azabnya atau pemberian balasannya kecuali durhaka kepada orangtua. Rasulullah SAW. bersabda:
Artinya: “Semua dosa ditangguhkan (azabnya) oleh Allah sampai waktu yang dikehendaki-Nya kecuali durhaka kepada orangtua, maka sesungguhnya Allah menyegerakan (azabnya) bagi pelakunya di dalam kehidupan dunia sebelum kematian (pelakunya)”. (HR. al-Tabrani).
Dalil-dalil di atas cukup sharih (jelas dan nyata), bahwa ‘uququl-walidain (durhaka kepada kedua orangtua) sebagai kebalikan dari birrul-walidain (berbuat baik kepada kedua orangtua). Bagaimana sikap yang ditunjukkan oleh tokoh-tokoh, dan khususnya tokoh utama dalam Legenda Gunung Pinang? Tokoh utamanya, sang anak yang bernama Dampu Awang, di episode cerita tersebut memperlihatkan sikap yang bertentangan dengan dalil-dalil tersebut. Ia tidak mengakui ibu tua sebagai ibunya. Padahal ia adalah ibu Dampu Awang yang melahirkan, mengasuh, membesarkan, hingga mengizinkannya merantau sampai menjadi orang sukses sebagai saudagar kaya di Malaka. Sikap tersebut sebagai ‘uququl-walidain, sikap durhaka kepada orangtua, dalam hal ini kepada ibunya, dan ini termasuk akhlak yang buruk dan tercela. Sementara itu, selain dalil-dalil di atas, pada ayat lain, Allah SWT. juga berfirman, yang artinya:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu
192
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia”. (QS. al-Isra’ [17]:23)
Berdasarkan ayat ini, sekadar mengucapkan kata “ah” saja kepada orangtua itu dilarang karena dapat menyakiti hatinya. Apalagi jika sampai tidak mengakuinya, terlebih sikap itu disebabkan karena keadaan duniawi, kekurangan materi, atau miskin secara ekonomi dan juga tidak memiliki kelas sosial yang tinggi. Semuanya serba duniawi. Sikap demikian lebih menyakitkan bagi sang ibu. Itulah sebabnya mengapa kapal Dampu Awang dihempas badai hingga terbalik dan menjadi gunung batu, karena dosanya kepada ibunya (‘uququl-walidah) yang azabnya disegerakan di dunia. Na’udzu billah
Nilai Ibadah Dalam Islam, seluruh perbuatan manusia dapat menjadi ibadah, jika perbuatan tersebut semata ditujukan untuk Allah SWT., Tuhan Yang Maha Menciptakan. Pengharapan kepada Allah hakikatnya adalah ibadah, yakni penghambaan manusia kepada Allah.11 Dalam konteks Legenda Gunung Pinang, doa yang dipanjatkan ibu Dampu Awang dapat bernilai ibadah. Bahkan, doa itu adalah ruhnya ibadah, apalagi doa seorang ibu untuk anaknya. Selain itu, doa juga diperintahkan sendiri oleh Allah SWT. dan Dia menyatakan, bahwa diri-Nya sangat dekat. Dalam QS. al-Baqarah [2]:186, Allah SWT. berfirman yang artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa, apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.
Dalam QS. al-Mu’min [40]:60, Allah SWT. juga berfirman, yang artinya: “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Abul A’la al-Maududi, Prinsip-Prinsip Islam, h. 105-106.
11
193
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Asep Saefullah akan Kuperkenankan bagimu”. Berdasarkan kedua ayat di atas, selain memerintahkan untuk berdoa, Allah SWT. juga akan mengabulkan doa setiap hambaNya. Ada tiga macam “jawaban” Allah SWT. atas doa-doa hambaNya, yaitu: 1) langsung dikabulkan; 2) tidak langsung dikabutkan; dan 3) doanya menjadi tabungan kelak di akhirat dan dikabulkan, lewat dicegahnya ia dari bencana.12 Di dalam Legenda Gunung Pinang, setidaknya ada dua doa yang dipanjatkan oleh tokoh yang terlibat, khususnya ibu Dampu Awang, yaitu: 1) Doa untuk keselamatan dan keberhasilan anaknya; dan 2) Doa untuk anaknya yang durhaka. Pada episode awal Legenda Gunung Pinang di atas, Ibu Dampu Awang mendoakan anaknya agar diberi keselamatan dan dapat memperoleh keberhasilan dalam pekerjaannya di perantauan. Kekuatan doa, apalagi sang ibu, diijabah oleh Allah SWT. Dampu Awang yang ikut berlayar di kapal saudagar kaya, Tuan Teuku Matsyah dari Malaka, akhirnya dapat bekerja pada saudahar tersebut. Dampu Awang yang rajin dan penurut dapat berhasil hingga bukan saja menjadi seorang saudagar, tetapi juga dapat menikah dengan putri tuannya, dan kemudian mewarisi kekayaannya setelah wafatnya sang tuannya. Pada episode terakhir, dikarenakan Dampu Awang durhaka kepada ibunya, ia tidak mau mengakui wanita tua yang berpakaian compang campaing sebagai ibunya, padahal ia adalah ibunya. Pada episode ini, Ibunya juga berdoa memohon kepada Allah agar memberikan pelajaran kepada saudagar muda jika ia adalah anaknya, yakni Dampu Awang. Doa sang ibu dikabulkan karena saudagar muda itu adalah Dampu Awang anaknya. Durhaka kepada ibu, orangtua adalah dosa besar yang disegerakan azabnya di dunia. Kapal Dampu Awang pun terombang-ambing ditiup angin kencang, dan kemudian pun dihempas badai besar hingga terbalik dan akhirnya menjadi gunung batu, yang menurut Reni Susanti, “Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam...”
12
194
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah legenda ini dikenal Gunung Pinang. Doa merupakan ibadah yang paling utama di hadapan Allah SWT., sekaligus merupakan ruhnya ibadah. Bahkan salat pun yang merupakan ibadah terpenting, yang dihisab paling awal kelak di akhirat, adalah ibadah. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, sebagaimana disebutkan di atas, telah nyata dijelaskan bahwa “Pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.” Fungsi dan tujuan pendidikan agama berdasarkan Pasal 2 PP Nomor 55 Tahun 2007, yaitu: (1) Pendidikan agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama. (2) Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
Legenda Gunung Pinang dengan demikian memiliki relevansi bagi pendidikan agamasesuai dengan PP Nomor 55 Tahun 2007. Nilai-nilai pendidikan agama yang diuraikan di atas, bukan saja memberikan pengetahuan, tetapi juga sekaligu dapat dijadikan salah satu metodedalam membentuk sikap dan kepribadian peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya. Di samping itu, awal cerita yang menunjukkan keuletan tokoh utama dapat pula menumbuhkan sikap yang terampil dan kreatif bagi para peserta didik. Dari segi fungsi dan tujuannya juga menyatakan, bahwa nilai-nilai pendidikan agama dalam cerita rakyat, khususnya Legenda Gunung Pinang, dapat “membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan
195
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Asep Saefullah hubungan inter dan antarumat beragama”. Penyampaian legenda ini berserta nilai-nilai pendidikan agama yang terkandung di dalamnya juga dapat ditekankan untuk mencapai tujuan pendidikan agama, yaitu “berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilainilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.” Secara teknis dan koseptual, pemanfaatan cerita rakyat dalam proses belajar mengajar di sekolah dapat mengacu Pasal 5 PP Nomor 55 Tahun 2007, bahwa:
(1) Materi cerita rakyat dimasukkan ke dalam Kurikulum pendidikan agama yang dilaksanakan sesuai Standar Nasional Pendidikan. (2) Pendidikan agama melalui penyampaian cerita rakyat diajarkan sesuai dengan tahap perkembangan kejiwaan peserta didik. (3) Penggunaan cerita rakyat sebagai salah satu materi pendidikan agama diupayakan mendorong peserta didik untuk taat menjalankan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari dan menjadikan agama sebagai landasan etika dan moral dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. (4) Nilai-nilai pendidikan agama dalam cerita rakyat dapat dijadikan bahan acuan bagi mewujudkan keharmonisan, kerukunan, dan rasa hormat di antara sesama pemeluk agama yang dianut dan terhadap pemeluk agama lain. (5) Nilai-nilai pendidikan agama dalam cerita rakyat dapat membangun sikap mental peserta didik untuk bersikap dan berperilaku jujur, amanah, disiplin, bekerja keras, mandiri, percaya diri, kompetitif, kooperatif, tulus, dan bertanggung jawab. (6) Penyampaian cerita rakyat dengan perspektif pendidikan agama diorientasikan pula untuk menumbuhkan sikap kritis, inovatif, dinamis, dan sehingga menjadi pendorong peserta didik untuk memiliki kompetensi dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan/atau olahraga . (7) Dengan memanfaatkan cerita rakyat, pPendidikan agama dapat diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, mendorong kreativitas dan kemandirian, serta menumbuhkan motivasi untuk hidup sukses . (8) Cerita rakyat dengan nilai-nilai pendidikan agama yang terkandung di dalamnya, pada tingkat lokal atau untuk satuan pendidikan, muatan pendidikan agamanya dapat ditambah
196
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah sesuai kebutuhan. (9) Muatan sebagaimana dimaksud pada butir (8) dapat berupa tambahan materi, jam pelajaran, dan kedalaman materi.
Penutup
Kesimpulan Sesungguhnya tidak dibenarkan mendoakan keburukan untuk orang lain, apalagi untuk anaknya sendiri. Maka dalam Legenda Gunung Pinang ini, sang ibu tidak mendoakan keburukan, tetapi adalah wajar ketika Ibu Dampu Awang sebatas berdoa kepada Allah seraya berserah diri dari perilaku atau akhlak anaknya yang tidak terpuji tersebut. Sang ibu hanya memohon kepada Allah, jika ia adalah anaknya agar diberi pelajaran. Karena izin dan kehendak Allah SWT., doa tersebut langsung dikabulkan oleh Allah dan atas Kuasa-Nya, sang anak mendapatkan balasan atas keburukan akhlaknya dengan terbaliknya kapalnya, yang konon kini menjadi Gunung Pinang. Ini juga sekaligus sebagai peringatan dan nilai pendidikan agama yang sangat penting bagi anak-anak generasi sekarang bahwa “durhaka kepada orangtua adalah dosa besar yang azabnya disegerakan di dunia, atau hidup sengsara dan tidak berkah”. Dalam Legenda Gunung Pinang, setidaknya ada tiga nilai pendidikan agama, yakni iman, akhlak, dan ibadah. Pertama, Seseorang yang percaya adanya Tuhan, Allah Yang Maha Pencipta, akan senantiasa sabar dan tawakkal dalam menjalani hidup dan kehidupannya. Selain berusaha dan bekerja, ia akan selalu berdoa dan berzikir kepada-Nya. Doa sendiri adalah permohonan kepada Tuhan, Sang Pencipta, yang dilandasi oleh iman atau kepercayaan kepada Tuhan. Jika tidak percaya kepada Tuhan, seseorang dapat dipastikan tidak akan berdoa, dan bias jadi tidak tahu hakikat tujuan hidup. Kedua, berbuat baik kepada orangtua adalah akhlak yang terpuji, sebaliknya durhaka kepada kedua orangtua adalah akhlak yang tercela. Berbuat baik kepada orangtua akan membawa
197
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Asep Saefullah keberhasilan di dunia maupun di akhirat. Sebaiknya, durhaka kepada orangtua, bukan saja akan mengakibatkan gagal dan celaka, bahkan sengsara di dunia, tetapi juga azabnya disegerakan di dunia. “Rida dan murka Tuhan terletak pada rida dan murka orangtua”. Ketiga, ibadah adalah penghambaan kepada Sang Maha Pencipta, Tuhan, Allah SWT. Seluruh hidup manusia dapat menjadi ibadah jika diniatkan semata karena Allah SWT. dan untuk mendapatkan rida-Nya. Doa yang tulus pun adalah ibadah, doa” yang paling istimewa adalah salat. Disebutkan pula, bahwa ruhnya ibadah adalah doa. Relevansi cerita rakyat daerah, wabilkhusus, Legenda Gunung Pinang, bagi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara di dalam wadah NKRI sangat jelas dan bahkan sejalan dengan fungsi dan tujuan pendidikan agama yang diatur dalam PP Nomor 5 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Relevansi tersebut antara lain dapat disebutkan bahwa nilai-nilai pendidikan agama dalam cerita rakyat, khususnya Legenda Gunung Pinang, sangat penting dan dibutuhkan untuk “membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antarumat beragama. Penyampaian legenda ini berserta nilainilai pendidikan agama yang terkandung di dalamnya dapat pula mendukung “berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
Saran/Rekomendasi Dalam konteks pembelajaran Pendidikan Agama di sekolah/ madrasah maupun lembaga pendidikan lainnya, dari Legenda Gunung Pinang ini, dan beberapa cerita rakyat tentang anak durhaka banyak hikmah yang dapat dipetik, sebagaimana
198
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah dijelaskan di atas. Dalam pembelajaran PAI misalnya, dapat digunakan metode dongeng ini (story telling) untuk menanamkan sikap dan karakter atau akhlak yang baik, kesabaran, kerja keras, berbakti kepada orangtua, pembiasaan doa, peneguhan keimanan atau tauhid dan kepercayaan terhadap Tuhan, Allah Yang Maha Melihat, Maha Mendengar, Mahakuasa, dan Maha Mengetahui segalanya. Demikian juga penyampaian sikap dan karakter atau akhlak yang buruk beserta akibatnya agar dijauhi oleh anak didik. Anak didik, pada dasarnya, akan relatif lebih tertarik pada pembelajaran dengan menggunakan cerita-cerita. Anak didik dapat lebih mudah mengasosiasikan apa yang didengarnya dari cerita-cerita tersebut, kemudian mengilustrasikannya dengan kenyataan sehari-hari, sehingga pesan yang ingin disampaikan guru dapat lebih mudah pula untuk ditangkap dan diingat oleh anak dirik. Di samping itu, model story telling ini juga dapat mengasah imajinasi dan kerativitas anak didik. Wallahul-musta’an, hanya Allah, Tuhan tempat memohon pertolongan.
Daftar Pustaka Buku dan Artikel
Abidin, Zaenal, dkk. 2015. Cerita Rakyat Banten, Pusat Kajian Sejarah dan Budaya (PKSB), Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Ushuluddin, Dakwah dan Adab (FUDA), IAIN “Sultan Maulana Hasanuddin” Banten. al-Albani, Muhammad Nashiruddin. 2002. Ringkasan Shahih Bukhari. Jilid 1. Terj. Asep Saefullah dan Kamaluddin S. Jakarta: Pustaka Azzam. Aminah, Nur. 2016. “Nilai-Nilai Pendidikan Cerita Rakyat dalam Buku Sastra Lisan Lampung Karya A. Effendi Sanusi dan Implikasinya dalam Pembelajaran Bahasa Lampung di Sekolah Menengah Pertama”, Tesis, Program Pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung, Bandar Lampung. Danandjaja, James. 2007. Folklor Indonesia, Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-Lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Cet. ke-7.
199
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Asep Saefullah Dewi, Yusra. 2012. “Nilai-Nilai Pendidikan Religius Dalam Dongeng Dalam Buku Teks Bahasa Indonesia Sekolah Menengah Pertama Kelas Vii Terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional”, Pena, Vol. 2 No. 2 Juli, FKIP Universitas Jambi, h. 71-83. Endraswara, Suwardi. 2009. Metode Penelitian Folklor, Konsep, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Media Pressindo. Fahrudin, Ali dan Zaenudin, H.D. 2016. “Folklor Religi Nusantara Provinsi Banten”, Makalah disajikan dalam Seminar Hasil Penelitian Folklor Religi Nusantara, Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Hotel Sofyan, Jakarta, 5-6 Desember. Al-Ghazali, Muhammad. 1986. Akhlaq Seorang Muslim. Terj. Drs. H. Moh. Rifa’i. Semarang: Wicaksana. Al-Jaza’iri, Syekh Abu Bakar Jabir. t.t. Panduan Hidup Seorang Muslim. Terj. Musthofa ‘Aini, dkk. dari Minhaj al-Muslim, penerbit Maktabah al-‘Ulum wa al-Himah, Madinah, 1419 H. Jakarta: Kantor Atase Agama di Jakarta, Departemen Urusan Islam, Wakaf, Da’wah, dan Penyuluhan, Kerajaan Saudi Arabia. Juliadi dan Wachyudin, Neli. 2014. Toponimi/Sejarah Nama-Nama Tempat Berdasarkan Cerita Rakyat, Serang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten. Al-Khuli, Muhammad Ali. 1985. Cahaya Islam. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya. Khusni, Muhammad. 2010. “Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Roman Tenggelamnya Kapal van Der Wijck Karya Hamka”, Tesis, Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim, Riau. Ma’mun, Titin Nurhayati. 2008. Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Naskah Sunda, Suntungan Teks dan Kajian Struktur. Bandung: Risalah Press. Al-Maududi, Abul A’la. 1988. Prinsip-Prinsip Islam. Terj. Suhaili, Abdullah. Bandung: Al-Ma’arif. Pradopo, Rachmat Djoko. 2008. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Prodotokusumo, Partini Sardjono. 2012. Pengkajian Sastra.
200
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Bandung: Sastra UNPAD Press. Pudentia. 1992. Transformasi Sastra, Analsis atas Cerita Rakyat “Lutung Kasarung”. Jakarta: Balai Pustaka. Rahardjo, Dawam. Ensiklopedi Al-Qur’an, Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci. Jakarta: Paramadina. Sangidu. 2005. Penelitian Sastra: Pendekatan, Teori, Metode, Teknik, dan Kiat. Yogyakarta: Seksi Penerbitan Sastra Asia Barat, FIB UGM, 2005. Sarmadi, L.G. 2009. “Kajian Strukturalisme dan Nilai Edukatif dalam Cerita Rakyat Kabupaten Klaten”, Tesis, Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Sedyawati, Edi. 2006. Budaya Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers. Teeuw, A. 2003. Sastera dan Ilmu Sastera. Jakarta: Pustaka Jaya. Cet. ke-3.
Internet
Legenda Gunung Pinang, versi android yang dapat dibaca dan dinikmati melalui ponsel berbasis adroid. “Legenda Gunung Pinang” http://ebudaya.m-edukasi.kemdikbud. go.id/?m=detail-budaya&ub=2&ab=11&id=2015BUD014 “Legenda Gunung Pinang”, dalam http://ebudaya.m-edukasi. kemdikbud.go.id/?m=detail-budaya&ub=2&ab=11&id=2015B UD014, diakses 13/3/2017 Falahudin, Difa. 2014. “Analisis Cerita Legenda”, upload 30 November 2014, http://www.kompasiana.com/difafalahudin/ analisis-cerita-legenda_54f3b8c3745513a42b6c7e15, diakses 23/3/2017. Felinthian, “Perbandingan Cerita Ulang: Asal-usul Pulau Kapal & Asal-usul Gunung Pinang”, http://www.kompasiana.com/ felinthian/perbandingan-cerita-ulang-asal-usul-pulau-kapalasal-usul-gunung-pinang_54f930b9a333115f378b4db3, upload pertama 27 November 2014 05:57:16. Diperbarui: 17 Juni 2015 09:43:40, diakses 13/3/2017 Susanti, Reni. 2011. “Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam dalam Legenda Malin Kundang”, Jurusan Pendidikan Agama Islam,
201
Bab III: Hasil Penelitian dam Pembahasan Oleh: Asep Saefullah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, http://memorykuliah. blogspot.co.id/2011/07/nilai-nilai-pendidikan-agama-islam. html, upload Selasa, 19 Juli 2011, diakses 23/3/2017.
Informan
Romi, Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Dakwah dan Adab (FUDA), IAIN “Sultan Maulana Hasanuddin” Banten, Wawancara. di Kantor Bantenologi, pada 7 Maret 2017. Sabihis (51 th). Wawancara. Di Giripada, Serang, Banten, 28 Februari 2017. Sam’ani (73 th). Wawancara. Di Giripada, Serang, Banten, 27 Februari 2017.
202
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
BAB IV PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan batasan dan rumusan masalah dalam hasil penelitian ini, dengan titik fokus pada nilai-nilai pendidikan agama dalam cerita rakyat daerah, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Hasil penelitian di atas mengambarkan, bahwa cerita rakyat yang berkembang di daerah merupakan sebuah gambaran nyata mengenai kosmologis terhadap keselarasan hidup dengan lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan kebudayaan, sehingga keberadaannya menjadi wahana harmonisasi antara tradisi sosial-budaya (adat) dengan tradisi agama. 2. Muatan cerita rakyat daerah yang terkandung di dalamnya juga sarat makna nilai-nilai ajaran agama, yang disampaikan dalam tutur bahasa masyarakat setempat, karena cerita-cerita yang dibangun dapat dengan mudah dipahami dan dicerna oleh setiap pendengar dan pembacanya. Boleh jadi, cerita-cerita tersebut sudah ditinggal berabad-abad lamanya, tetapi masih tetap lekang dalam ingatan dan lestari dalam untaian lisan para penutur pada zamannya, karena metode yang diterapkan terpelihara secara baik dari generasi ke generasi berikutnya. 3. Selain itu, cerita rakyat di daerah menjadi salah satu wadah bagi para orangtua dalam memberikan pesanpesan keagamaan, pendidikan, dan nasihat kepada
203
Bab IV: Penutup anak-anaknya melalui penuturan cerita tersebut. Metode ini relatif lebih menarik pada pembelajaran dengan menggunakan cerita-cerita. Anak dapat lebih mudah mengasosiasikan apa yang didengarnya dari ceritacerita tersebut, kemudian mengilustrasikannya dengan kenyataan sehari-hari, sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat lebih mudah pula untuk ditangkap dan diingat oleh anak. Di samping itu, model story telling ini juga dapat mengasah imajinasi dan kreativitas anak.
Rekomendasi 1. Seiring dengan pengaruh global, maka penuturan cerita-cerita rakyat di daerah mengalami “ancaman” kepunahan, karena faktor regenerasi, yang sudah jarang diperdengarkan, baik dalam suasana formal maupun informal. Oleh karena itu, dibutuhkan peran aktif dari berbagai pihak, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, dan Kementerian Pariwisata untuk menghidupkan tradisi cerita-cerita rakyat tersebut agar tetap terpelihara dan lestari sebagai aset budaya – nusantara. 2. Selain itu, cerita-cerita rakyat di atas dapat dimanfaatkan sebagai bahan pendidikan (muatan lokal) di sekolah. Oleh karena itu, cerita-cerita tersebut perlu diolah agar lebih menarik dan pesan yang ingin disampaikan mengena di hati para siswa. Kebijakan ini bisa dilakukan oleh Kementerian Agama, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pendidikan Islam bersama-sama dengan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Kebudayaan.[]
204
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
DAFTAR PUSTAKA Buku/Referensi
Abidin, Zaenal, dkk. 2015. Cerita Rakyat Banten. Banten: Pusat Kajian Sejarah dan Budaya (PKSB), Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Ushuluddin, Dakwah dan Adab (FUDA), IAIN “Sultan Maulana Hasanuddin” Banten. Achyar, Warnidah, dkk. 1986. Struktur Sastra Lisan Lampung. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Adil. 2011. Simboer Tjahaya: Studi Tentang Pergumulan Hukum Islam dan Hukum Adat dalam Kesultanan Palembang Darussalam. Jakarta: Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. Ahmadi, Wahid. 2004. Risalah Akhlak Panduan Perilaku Muslim Modern. Solo: Era Intermedia. Aji, Agung Wisnu. 2011. “Analisis Struktur dan Nilai Moral Cerita Rakyat Putri Ayu Limbasari dan Model Pelestariannya di Madrasah Tsanawiyah”. Tesis. Bandung: Program Magister Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia. al-Albani, Muhammad Nashiruddin. 2002. Ringkasan Shahih Bukhari. Jilid 1. Terj. Asep Saefullah dan Kamaluddin S. Jakarta: Pustaka Azzam. Aminah, Nur. 2016. “Nilai-Nilai Pendidikan Cerita Rakyat dalam Buku Sastra Lisan Lampung Karya A. Effendi Sanusi dan Implikasinya dalam Pembelajaran Bahasa Lampung di Sekolah Menengah Pertama”, Tesis, Program Pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung, Bandar Lampung.
205
Daftar Pustaka Amran, Frieda. 2016. Mencari Jejak Masa Lalu Lampung: Lampung Tumbai 2014. Bandar Lampung: LaBRAK. Andriani, Margareta. 2014. “Cerita Rakyat Bujang Buntu: Pembelajaran Pengabaian Pesan Moral”, dalam Jurnal Ilmiah Bina Bahasa Vol.7 No.1, Juni 2014. Palembang: Universitas Bina Darma. Anshori, M. Afif. 2013. Pemetaan Resolusi Konflik di Lampung. Lampung: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Institut Agama Islam Negeri Raden Intan Lampung. Aqib, Kharisudin. 1998. Al-Hikmah Memahami Teosofi Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Surabaya: Dunia Ilmu. AR., Zahruddin. 2004. Pengantar Ilmu Akhlak. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Azra, Azyumardi. 2007. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Jakarta: Kencana. -----. 2013. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & VXII: Akar Pembaruan Islam di Indonesia. Edisi Perenial. Jakarta: Kencana Prenada Group. Bascom, William R. 1965. “The Form of Folklore: Prose Narratives”. Dalam, The Journal of American Folklore, Vol. 78, No. 307, January-March 1965. Berger, Arthur Asa. 2015. Pengantar Semiotika: Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer, cetakan ke-4. Diterjemahkan oleh M. Dwi Marianto. Yogyakarta: Tiara Wacana. Berlian, Saudi. 2001. Simbur Cahaya dan Masalah Kekerasan, dalam Zulkifili & Abdul Karim Nasution (editor), Islam dalam Sejarah dan Budaya Masyarakay Sumatera Selatan. Palembang: Universitas Sriwijaya. Bunanta, Murti. 2015. Memilah, Memilih dan Memanfaatkan Penulisan Cerita Rakyat Anak dan Remaja dalam Metodologi Kajian Tradisi Lisan: Edisi Revisi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
206
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Césard, Nicolas, Antonio Guerreiro dan Antonia Soriente (Penyunting). 2015. Petualangan Unjung dan Mbui Kuvong: Sastra Lisan dan Kamus Punan Tuvu’ dari Kalimantan. Jakarta: École française d’Extrême-Orient dan Kepustakaan Populer Gramedia. Chambert-Loir, Henri. 2014. Iskandar Zulkarnain, Dewa Mendu, Muhammad Bakir dan Kawan-Kawan Lima Belas Karangan Tentang Sastra Indonesia Lama. Jakarta: KPG-EFEO-Forum Jakarta-Paris. Christomy, T. 2003. Wawacan Sama’un: Edisi Teks dan Analisis Struktur. Jakarta: Djambatan dan Yayasan Naskah Nusantara. Coronese, Stefano. 1986. Kebudayaan Suku Mentawai. Jakarta: Penerbit Grafidian Jaya Jakarta. Dahuri, Rokhmin dkk. 2004. Budaya Bahari Sebuah Apresiasi di Cirebon. Jakarta: Perum Percetakan RI. Dananjaya, James. 1986. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng dan Lain-Lain, Jakarta: Pustaka Grafitipers. -----. 2015. “Pendekatan Folklor dalam Penelitian Bahan-bahan Tradisi Lisan.” Dalam Metodologi Kajian Tradisi Lisan, edisi revisi, diedit oleh Pudentia MPSS. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor dan Asosiasi Tradisi Lisan. -----.2015b. “Folklor dan Pembangunan Kalimantan Tengah: Merekonstruksin Nilai Budaya Orang dayak Ngaju dan Ot Danum Melalui Cerita Rakyat Mereka.” Dalam Metodologi Kajian Tradisi Lisan, edisi revisi, diedit oleh Pudentia MPSS. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor dan Asosiasi Tradisi Lisan. Danasasmita, Saleh, et.al. 1987. “Sewaka Darma (Kropak 408), Sanghyang Siksakandang Karesian (Kropak 630), Amanat Galunggung (Kropak 632)”. Dalam, Transkripsi dan Terjemahan. Bandung: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Daud, Safari, dkk. 2012. Sejarah Kesultanan Paksi Pak Sekala Brak. Jakarta: Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama.
207
Daftar Pustaka Rahardjo, Dawam, dkk. 1996. Ensiklopedi Al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci. Bandung: Mizan. Dewi, Yusra. 2012. “Nilai-Nilai Pendidikan Religius dalam Dongeng dalam Buku Teks Bahasa Indonesia Sekolah Menengah Pertama Kelas VII Terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional”. Dalam, Pena, Vol. 2 No. 2 Juli 2012, FKIP Universitas Jambi. Djafar, Iwan Nurdaya. 1995. “Warahan Radin Jambat: Sebuah Pembicaraan.” Dalam Warahan Radin Jambat: Puisi Lampung Klasik, diterjemahkan oleh Hilman Hadikusuma dan disunting oleh Iwan Nurdaya Dajafar. Bandar Lampung: Grafikatama Jaya. Effendy, Tenas. 2008. Bujang Tan Domang: Sastra Lisan Orang Petalangan. Jakarta: École française d’Extrême-Orient. El-Menouar, Yasemin. 2014. The Five Dimensions of Muslim Religiosity: Result of an Empirical Study. Journal Citation and DOI, Methodes, Data, Analyses, Vol. 8. Endraswara, Suwardi. 2009. Metode Penelitian Folklor, Konsep, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Media Pressindo. Fahrudin, Ali dan Zaenudin, H.D. 2016. “Folklor Religi Nusantara Provinsi Banten”, Makalah disajikan dalam Seminar Hasil Penelitian Folklor Religi Nusantara, Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Hotel Sofyan, Jakarta, 5-6 Desember. Febriyandi. YS, Febby. 2014. “Analisis Struktural Cerita Ujang Pengkau” Dalam, Jurnal Renjis, Volume 1, No. 1, Desember 2014. -----. “Cerita Rakyat Sebagai Media Integrasi Bangsa, Study Kasus: Masyarakat Tambelan, Kepulauan Riau.” Jurnal Renjis, Volume 2, No. 1, Juli 2015. Firmansyah, Junaidi, Hafizi Hasan dan Raja Perbasa. 1996. Kesenian Daerah Lampung (Sastera Lisan dan Lagu-lagu Daerah Lampung). Bandar Lampung: Penerbit Gunung Pesagi. Galba, Sindu, dkk. 2001. Upacara Tradisional di Daik Lingga. Tanjungpinang: Bappeda Kabupaten Kepulauan Riau dan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang.
208
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Geertz, Clifford. 1973. The Interpretation of Culture. New York: Basic Book, Inc Publishers. al-Ghazali, Muhammad. 1986. Akhlaq Seorang Muslim. Terj. Drs. H. Moh. Rifa’i. Semarang: Wicaksana. Ghozali, Abdul Rahman. 2008. Fiqh Munakahat. Jakarta: Kencana Prenada Glock, C.Y. 1962. On The Study of Religious Commitment. Religious Education. Special Issue. Hadikusuma, Hilman (Pener). 1995. Warahan Radin Jambat; Puisi Lampung Klasik, disunting oleh Iwan Nurdaya Djafar. Bandar Lampung: Grafikatama Jaya. Hadikusuma, Hilman. 1987. Bahasa Lampung. Jakarta: Fajar Agung. Hansen, J.F.K. 1914. De Groep Noord-en Zuid-Pageh van de Mentawei-einlanden. BKI 70. Harto, Zulkifli. 2014. “Nilai yang Terkandung pada Cerita Rakyat Sungai Jodoh Batam.” Dalam Jurnal Renjis; Jurnal Ilmiah Budaya dan Sejarah Melayu, Volume 1, No. 1, Desember 2014. Tanjung Pinang: Balai Pelestarian Nilai Budaya. Hernawati, Tarida. 2004. Mongan Poula: Nuansa Kebudayaan Samar-Samar. Padang: Yayasan Citra Mandiri Mentawai. -----. 2004. Saumanganya’ Hendak Kemana?. Padang: Yayasan Citra Mandiri Mentawai. -----. 2006. Pulau Siberut: Keong dan Burung Camar. Padang: Yayasan Citra Mandiri Mentawai. -----. 2007. UMA: Fenomena Keterkaitan Manusia dengan Alam. Padang: Yayasan Citra Mandiri Mentawai. -----. 2012. Kumpulan Cerita Rakyat Mentawai. Padang: Yayasan Citra Mandiri Mentawai. Hidayah, Zulyani. 2015. Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hoed, Benny H. 2011. Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Depok: Komunitas Bambu.
209
Daftar Pustaka Howell, Nancy R, dkk. 2003. Encyclopedia of Science and Religion. New York: MacMillan Reference USA. Ismail, Asep Usman. 2002. “TaSAWuf.” Dalam, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Ajaran, diedit oleh Taufik Abdullah dkk. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve. Jati, Wasisto Raharjo. 2013. “Kearifan Lokal Sebagai Resolusi Konflik Keagamaan.” Walisongo, Vol. 21, No. 2. al-Jaza’iri, Syekh Abu Bakar Jabir. 1419H. Panduan Hidup Seorang Muslim. Terj. Musthofa ‘Aini, dkk. dari Minhaj al-Muslim, penerbit Maktabah al-‘Ulum wa al-Himah, Madinah, 1419 H. Jakarta: Kantor Atase Agama di Jakarta, Departemen Urusan Islam, Wakaf, Da’wah, dan Penyuluhan, Kerajaan Saudi Arabia. Johns, A.H. 1961. “Sufism as a Category in Indonesian Literature and History”. Dalam, Journal of Southeast Asian History, Vol. 2, No. 2. Wachyudin, Neli dan Juliadi. 2014. Toponimi/Sejarah Nama-Nama Tempat Berdasarkan Cerita Rakyat. Serang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten. Kardiaman, Wawan. 1992. “Tinjauan Unsur Unsur Musikalitas Seni Pantun Sunda”, Skripsi S-1 Program Studi Karawitan, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta. Kartini, Tini, et.al. 1979. Struktur Cerita Pantun Sunda, Bandung: Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Jawa Barat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kemp, Herman C. 2004. Oral Traditions of Southeast Asia and Ocenia: A Bibliography. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, KITLV-Jakarta, Asosiasi Tradisi Lisan. al-Khuli, Muhammad Ali. 1985. Cahaya Islam. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya. Khusni, Muhammad. 2010. “Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Roman Tenggelamnya Kapal van Der Wijck Karya Hamka”. Tesis, Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim, Riau. Kleden-Probonegoro, Ninuk. 2015. “Pengalihan Wacana: Lisan dan Teks.” Dalam Metodologi Kajian Tradisi Lisan, edisi revisi, diedit oleh Pudentia MPSS. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor dan Asosiasi Tradisi Lisan.
210
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Koswara, Dedi. 2013. “Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Bangsa dalam Carita Pantun Mundinglaya Di Kusumah: Kajian Struktural-Semiotik dan Etnopedagogi” dalam Jurnal Meta Sastra, Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat, Vol.6 No.2, Desember. Kruyt, A. C. 1923. De Mentaweiers. Tijdshcrift voor Indische Taal, Land en Volkenkunde. -----. 1924. Een bezoek aan de Mentawei-Einlanden. Tijdshcrift van het Nederlandsch Ardrijkskundig Genootschap. Kusnita, Sri. 2015. “Pemanfaatan Cerita Rakyat Sebagai Penanaman Nilai Budaya untuk Memperkuat Budaya Indonesia”. Makalah, Prosiding Konferensi Nasional Bahasa dan Sastra III. Surakarta, 30-31 Oktober 2015. Loeb, Edwin M. 1929b. Mentawai Myths. Bijdragen tot de Tall, Land en Volkenkunde. Ma’mun, Titin Nurhayati. 2008. Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Naskah Sunda, Suntungan Teks dan Kajian Struktur. Bandung: Risalah Press. Malik, Harto. 2013. Membangun Karakter Bangsa Melalui Sastra Lokal: Suatu Kajian pada Pertunjukan Pantun Gorontalo dalam Foklor dan Foklif dalam Kehidupan Dunia Modern: Kesatuan dan Keberagaman. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Malinowski, Bronislaw. 1933. Mœurs et coutumes des Mélanésiens. Paris: Édition revue pour la Petite Bibliothèque Payot. Marsden, William. 2013 [1811]. Sejarah Melayu. Diterjemahkan oleh Tim Komunitas Bambu. Depok: Komintas Bambu. Mashud, Mustain. 2006. “Pranata Agama”. Dalam, Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan, diedit oleh J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto. Jakarta: Kencana Prenada. al-Maududi, Abul A’la. 1988. Prinsip-Prinsip Islam, Terj. Abdullah Suhaili. Bandung: Al-Ma’arif. Mess, H.A. 1881. De Mentawei-einlanden. Tijdshcrift voor Indische Taal, Land en Volkenkunde, uitgegeven door het Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Mulyani, Yeni. et.al. 2013. Pemetaan Sastra Lisan Tahap I: Bibliografi Beranotasi Tradisi Lisan Sunda. Bandung: Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat.
211
Daftar Pustaka Musfiroh, Tadkiroatu. 2008. Memilih, Menyusun, dan Menyajikan Cerita untuk Anak Usia Dini. Yogyakarta: Tiara Wacana. Muzakki, Ahmad. 2015. Upaya Membangun Masyarakat Multikultural Berbasis Local Genius: Kajian terhadap Nilainilai Falsafah Hidup Piil Pesenggiri. Metro-Lampung: Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jurai Siwo Metro. Nafis, M. Muntahibun. 2011. Ilmu Pendidikan Islam. Sleman: Teras. Noortyani, Rusma. 2016. “Nilai Didaktis dalam Cerita Rakyat Nusantara Sebagai Pembentuk Persatuan dan Kesatuan Bangsa”. Dalam, The Proceeding of lnternational Seminar Building Education Based on Nationalism Values Developing Education Based on Nationalism Values. Banjarmasin: FKIP Universitas Lambung Mangkurat. Nurdin, A. Fauzie. 2009. Budaya Muakhi dan Pembangunan Daerah Menuju Masyarakat Bermartabat. Yogyakarta: Gama Media. Nurgiyantoro, Burhan. 1998. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Partini Sardjono Prodotokusumo. 2012. Pengkajian Sastra. Bandung: Sastra UNPAD Press. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Persoon, Gerard dan Reimar Schefold. 1985. Pulau Siberut. Jakarta: PT. Bhratara Karya Aksara. Pettazoni, Reffaele. 1948. Miti e Leggende. Torino: Unione Tipografico-Editrice Torinese. Pradopo, Rachmat Djoko. 2008. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Prodotokusumo, Partini Sardjono. 2012. Pengkajian Sastra. Bandung: Sastra UNPAD Press. Proyek Inventarisasi Ceritera Rakyat/Legenda Asal Usul Desa di Kabupaten Cirebon. 2005. Ceritera Rakyat Asal Usul Desa di Kabupaten Cirebon. Cirebon Badan Komunikasi Kebudayaan.
212
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Pudentia MPSS. 2016. “Multikultur dan Pendidikan di Indonesia”. Dalam, Makalah. Disampaikan dalam Seminar Multikultur: Konsep dan Aplikasinya dalam Dunia Pendidikan, Yayasan Prayoga Riau, 1 November 2016. -----. 1992. Tranformasi Sastra: Analisis Atas Cerita Rakyat Lutung Kasarung, Jakarta: Balai Pustaka. Purnama, Yuzar. 2005. Tradisi Lisan: Carita Pantun Panggung Karaton pada Masyarakat Situraja Sumedang, Bandung: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional. -----. 2016. “Kajian Nilai Budaya Dalam Carita Pantun Sawung Galing”. Dalam Jurnal Patanjala. Bandung: Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung, Vol.8 No. 2, Juni. Pusat Kurikulum, Badan Litbang, Kementerian Pendidikan Nasional. 2010. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Pusat Kurikulum, Badan Litbang, Kementerian Pendidikan Nasional. Pusat Penulisan dan Pengembangan Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 1997. Pulau Siberut: Potensi, Kendala, dan Tantangan Pembangunan. Jakarta: LIPI. Rahardjo, Dawam. 1996. Ensiklopedi Al-Qur’an, Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci. Jakarta: Paramadina. Rahardjo, Untung. 2005. Kesusastraan Cirebon dalam Periodesasi Kuna, Tengahan, Baru dan Modern. Cirebon: Yayasan Pradipta. Ramulya, Moh. Idris. 2004. Hukum Perkawinan Islam: Suatu Analisis dari Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 2004. Razak, Abdul. 2010. Patahnya Gunung Daik: Kumpulan Cerita Rakyat Kepulauan Riau. Pekanbaru: Autografika. Rejono, Imam, dkk. 1996. Nilai-nilai Religius dalam Sastra Lampung. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Robson, S.O. 1978. Pengkajian Sastra-Sastra Tradisional Indonesia. Bahasa dan Sastra, Nomor 6, Tahun IV, 1978. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
213
Daftar Pustaka Rohmadi, Muhammad. 2013. Foklor dan Folklife sebagai Media Pemertahanan Bahasa dan Sastra Lisan dalam Konteks Kesatuan dan Keberagaman Budaya Bangsa dalam Foklor dan Foklif dalam Kehidupan Dunia Modern: Kesatuan dan Keberagaman. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Rosidi, Ajip. 1970. Carita Sri Sadana atau Sulanjana. Bandung: Proyek Penelitian Pantun dan Folklore Sunda. Rosyani, Ika. 2013. “Kehidupan Arat Sabulungan dalam Masyarakat Tradisional Mentawai”. Skripsi. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Rudito, Bambang dan Sunarseh. 2013. Masyarakat dan Kebudayaan Orang Mentawai. Padang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Barat, UPTD Museum Nagari. SA., Sabaruddin. 2010. Mengenal Adat Istiadat Sastra dan Bahasa Lampung Pesisir Way Lima. Jakarta: Kemuakhian Way Lima. Sangidu. 2005. Penelitian Sastra: Pendekatan, Teori, Metode, Teknik, dan Kiat. Yogyakarta: Seksi Penerbitan Sastra Asia Barat, FIB UGM, 2005. Sarmadi, L.G. 2009. “Kajian Strukturalisme dan Nilai Edukatif dalam Cerita Rakyat Kabupaten Klaten”, Tesis, Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Schefold, Reimar. 1991. Mainan Bagi Roh. Jakarta: Balai Pustaka. -----. 2015. Aku dan Orang Sakuddei: Menjaga Jiwa di Rimba Mentawai. Jakarta: Penerbit Kompas dan KITLV-Jakarta. Schimmel, Annemarie. 1975. Mystical Dimensions of Islam. Jakarta: Mizan. Sedyawati, Edi. 2006. Budaya Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers. Setiady, Tolib. 2009. Intisari Hukum Adat Indonesia (Dalam Kajian Kepustakaan). Bandung: Alvabeta. Shihab, Alwi. 2001. Islam Sufistik: “Islam Pertama” dan Pengaruhnya Hingga Kini di Indonesia. Bandung: Mizan. Shihab, M. Quraish. 2008. M. Quraish Shihab Menjawab 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui. Tangerang Selatan: Penerbit Lentera Hati. Sihombing, Herman. 1979. Mentawai. Jakarta: Pradnya Paramita.
214
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Simatupang, Lono. 2013. Pergelaran: Sebuah Mozaik Penelitian Seni-Budaya. Yogyakarta: Jalasutra. Sinaga, Risma Margaretha. 2014. “Disertasi: Revitalisasi Tradisi: Strategi Mengubah Stigma Kajian Piil Pesenggiri dalam Budaya Lampung. Masyarakat Indonesia Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia, Vol. 40, No. 1. Smith, Wilfred C. 2004. Memburu Makna Agama. Bandung: Mizan Pustaka. Sobariah, Imas. 1999. “Warahan Lampung.” Skripsi. Bandung: Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung. Spina, Bruno. 1981. Mitos dan Legenda Suku Mentawai. Jakarta: Balai Pustaka Stark, Rodney, Charles Y. Glock. 1968. American Piety: The Nature of Religious Commitment. Berkeley, Los Angeles, London: University of Callifornia Press. Sudjamza, Aji Permana. 2006. “Pantun Buhun Giriwangi di Desa Baros Kecamatan Arjasari Banjaran Kabupaten Bandung”. Skripsi. Bandung: Program Studi Karawitan, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung. Sumardjo, Jakob. 2006. Khazanah Pantun Sunda: Sebuah Interpretasi, Bandung: Penerbit Kelir. Sumiati, Titin dkk. 2015. Sastra Lokal dan Warna Lokal CerbonDermayu. Bandung: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Sunardi, ST. 2004. Semiotika Negativa. Yogyakarta: Buku Baik. Suyanto dan Abbas. 2001. Wajah dan Dinamika Pendidikan Bangsa. Yogyakarta: Adicita. Syahrul, Nilawati. 2013. “Warahan dan Seni Mendongeng Etnik Lampung: Sebuah Kajian terhadap Kearifan Lokal yang Tergerus Zaman.” Dalam Folklor dan Folklife, diedit oleh Suwardi Endraswara, Pujiharto, Yoseph Yapi Taum, Afendy Widayat dan Eko Santosa. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Syarifuddin, Andi. 2010. Ratib Samman: Riwayat, Fadhilat dan Silsilahnya. Palembang: Anggrek Palembang.
215
Daftar Pustaka Syekh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri. 1419H. Panduan Hidup Seorang Muslim, Terj. Musthofa ‘Aini, dkk. dari Minhaj al-Muslim. Penerbit Maktabah al-‘Ulum wa al-Himah, Madinah. Jakarta: Kantor Atase Agama di Jakarta, Departemen Urusan Islam, Wakaf, Da’wah, dan Penyuluhan, Kerajaan Saudi Arabia. Teeuw, A. 2003. Sastera dan Ilmu Sastera. Jakarta: Pustaka Jaya. Cet. ke-3. Tilaar, H.A.R dan Rian Nugroho. 2008. Kebijakan Pendidikan: Pengantar untuk Memahami Kebijakan Pendidikan dan Kebijakan Pendidikan sebagai Kebijakan Publik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Tim Penyusun. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. Tim Penyusun. 2009. Kamus Dwibahasa Lampung-Indonesia. Bandar Lampung: Kantor Bahasa Provinsi Lampung. Tule, Phipipus. 2000. “Religious Conflicts and a Cultural Tolerance: Paving the Way for Reconciliation in Indonesia”. Dalam, Antropologi Indonesia, Vol. 63. Tulius, Janiator. 2012. Family Stories: Oral Tradition, Memories of The Past, and Contemporary Conflict over Land in MentawaiIndonesia. Dissertation. Belanda: Dissertation of Universiteit Leiden. Utomo, Sutrisno Sastro. 2009. Kamus Lengkap Jawa-Indonesia. Yogyakarta: Kanisius. Wignjosoebroto, Soetandyo. 2006. “Norma dan Nilai Sosial.” Dalam Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan, diedit oleh J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto. Jakarta: Kencana. Ya’qub, Hamzah. 1987. Tashawwuf dan Taqarrub: Tingkat Ketenangan & Kebahagiaan Mukmin. Bandung: Pustaka Madya. Yani, Zulkarnain dkk. 2016. Nilai-Nilai Keagamaan dan Kerukunan dalam Tradisi Lisan Nusantara. Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta.
216
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah Yani, Zulkarnain. 2008. “Perkembangan Pemikiran Pendidikan Islam pada Era Global dan Modern (Naguib al-Attas dan Hasan Langgulung”. Dalam, Jurnal Penamas Vol. XXI, No. 2. Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta.
Internet
Legenda Gunung Pinang, dalam http://ebudaya.m-edukasi. kemdikbud.go.id/?m=detail-budaya&ub=2&ab=11&id=2015B UD014, diakses 13/3/2017 Dewi, Rusmana., “Produk Budaya Kemelayuan Mendekati Kepunahan”, Makalah Pendamping Seminar Kemelayuan di Sumatera Selatan, (Palembang: Balai Bahasa Prov. Sumater Selatan dan STKIP-PGRI, 2014) dimuat di http://stkiplubuklinggau.ac.id/index.php/web/dettutorial/tutorial/67, di upload hari Minggu tanggal 5 Februari 2017. Falahudin, Difa. 2014. “Analisis Cerita Legenda”, upload 30 November 2014, http://www.kompasiana.com/difafalahudin/ analisis-cerita-legenda_54f3b8c3745513a42b6c7e15, diakses 23/3/2017. Felinthian, “Perbandingan Cerita Ulang: Asal-usul Pulau Kapal & Asal-usul Gunung Pinang”, http://www.kompasiana.com/ felinthian/perbandingan-cerita-ulang-asal-usul-pulau-kapalasal-usul-gunung-pinang_54f930b9a333115f378b4db3, upload pertama 27 November 2014 05:57:16. Diperbarui: 17 Juni 2015 09:43:40, diakses 13/3/2017 Hamadi, La., “Analisis Cerita Rakyat”, http://lahamadi.blogspot. co.id/2012/11/analisis-cerita-rakyat.html diupload hari Senin 13 Maret 2017. http://melayuonline.com/ind/researcher/dig/18/prof-pudentiamaria-purenti-sri-sunarti-ma). Di akses pada tanggal 15 Januari 2016. Kusuma, Barry. 2016. Mentawai, Salah Satu Suku Tertua di Dunia. http://travel.kompas.com/read/2016/10/27/071000427/ mentawai.salah.satu.suku.tertua.di.dunia, diakses pada 5 April 2017.
217
Daftar Pustaka Satinem, Yohana., “Memupuk Karakter Siswa SD di kota Lubuk Linggau Melalui Cerita Rakyat dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Menggunakan Pendekatan Tematik Menghadapi Tantangan Era Globalisasi”, http://yohanasatinem.blogspot. co.id/2016/08/memupuk-karakter-siswa-sekolah-dasar-sd. html, diupload Senin 13 Maret 2017. Susanti, Reni. 2011. “Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam dalam Legenda Malin Kundang”, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, http://memorykuliah. blogspot.co.id/2011/07/nilai-nilai-pendidikan-agama-islam. html, upload Selasa, 19 Juli 2011, diakses 23/3/2017.
Sumber Gambar Cover
Gambar 1 : http://1.bp.blogspot.com/-qRfPBlkVRN8/ UVMQCXDeSEI/AAAAAAAAARs/W52y3ZDbJ8Q/ s1600/desa+panggarangan.jpg Gambar 2 : https://i.pinimg.com/originals/27/25/ef/2725efb7a0 1f2738fe6433818b99bc37.jpg Gambar 3 : http://3.bp.blogspot.com/-uw4PxAwXFrI/ UPaXlJROz5I/AAAAAAAABW8/lmJrfzxaRx0/s1600/ Danau%2BRayo.jpg Gambar 4 : Dokumentasi pribadi Mahmudah Nur Gambar 5 : Dokumentasi pribadi Zulkarnain Yani
218
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
DAFTAR INDEKS A
24, 25, 26, 27, 28, 41, 42, 51, 55, 56, 57, 62, 65, 68, 77, 83, 84, 85, 86, 88, 89, 106, 107, 111, 112, 119, 130, 140, 142, 175, 176, 183, 186, 195, 196, 198, 203 Cirebon 7, 161, 162, 163, 164, 165, 166, 167, 169, 172, 173, 207, 212, 213 cultural transmission approach 4
Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri 36, 216 Ahmad Amin 35 akhlak 29, 34, 35, 36, 102, 105, 127, 187, 188, 189, 190, 191, 192, 197, 199 al-Ghazali 34, 37, 38, 188, 189, 209 al-Maududi 38, 193, 211 arat Sabulungan 77
D
B Bandung v, 7, 51, 53, 80, 103, 108, 137, 140, 141, 158, 159, 200, 201, 205, 207, 208, 210, 211, 212, 213, 214, 215, 216 Banten 7, 11, 111, 112, 113, 114, 117, 131, 132, 175, 176, 177, 178, 180, 181, 182, 183, 184, 185, 186, 199, 200, 202, 205, 208, 210 Belanda 81, 111, 112, 137, 144, 216 birrul-walidain 36, 192 budaya material 25 Bujang Kurap v, vii, 84, 85, 86, 87, 89, 90, 91, 99, 101, 102, 103, 104, 105, 106
C
dalang 13 Dampu Awang 177, 178, 179, 180, 181, 182, 183, 184, 185, 187, 189, 190, 192, 193, 194, 197 Danandjaja 2, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 24, 25, 26, 27, 52, 56, 78, 85, 89, 108, 112, 135, 199 Dayang Torek 84 dongeng iii, iv, 4, 12, 24, 25, 27, 28, 55, 63, 64, 66, 73, 76, 86, 90, 116, 142, 175, 199
E El-Menouar 32, 52, 57, 78, 112, 135, 208 Embun Semibar 89, 90, 91, 92, 93, 94, 95, 96, 97, 98, 99, 100, 103, 105
cerita rakyat 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 17, 19, 22,
219
Daftar Indeks
F folklife 25 folklor 2, 10, 11, 12, 24, 25, 26, 142 folklore 2, 10, 24, 25, 56, 112 folklor humanis 11 folklor lisan 2, 24, 25 folklor modern 11
G Gunung Pinang v, viii, 176, 177, 178, 183, 184, 185, 186, 187, 188, 189, 192, 193, 194, 195, 197, 198, 201, 217
H harmonis 29, 58, 77, 101 hidup rukun 32, 57, 103, 112, 122, 123, 133 Hindu 8, 130, 131, 154, 155, 161
I Ibn Miskawaih 34 Indonesia 2, 3, 5, 6, 7, 8, 10, 15, 24, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 41, 51, 52, 53, 54, 56, 57, 58, 78, 80, 81, 85, 86, 89, 101, 102, 103, 108, 109, 112, 116, 117, 129, 134, 135, 136, 137, 139, 155, 158, 159, 172, 177, 195, 198, 199, 200, 201, 205, 206, 207, 208, 209, 210, 211, 212, 213, 214, 215, 216, 218 Indramayu 162, 163, 165, 172 Inggris 2, 10, 24, 30 intangible 2 intertekstual 18, 19
J Jambi 90, 131, 200, 208 Jawa Barat v, 11, 119, 158, 159,
161, 164, 172, 173, 210, 211, 215
K Kampung Kelumu iv, 43, 47, 48, 49 Kamus Besar Bahasa Indonesia 28, 29, 30, 54, 216 karakter 3, 4, 6, 32, 36, 56, 86, 87, 105, 110, 112, 141, 199, 218 kearifan lokal iii, iv, 5, 83 kebudayaan rakyat 175 Kementerian Agama v, 5, 8, 10, 42, 77, 104, 108, 134, 135, 176, 200, 204, 205, 207, 208 Kepulauan Riau v, vii, 7, 41, 42, 51, 52, 53, 85, 108, 135, 208, 213 kerukunan 5, 6, 31, 120, 123, 132, 133, 195, 196, 198 Ki Hadjar Dewantara 5 kosmologis 57, 76, 203 kultural v, 5, 6, 7, 8, 41, 42, 85 kultural-informal 5
L Lampung v, viii, 7, 80, 111, 112, 113, 114, 115, 116, 117, 118, 119, 120, 123, 124, 130, 131, 132, 133, 134, 135, 136, 137, 138, 199, 205, 206, 208, 209, 212, 213, 214, 215, 216 legenda 9, 10, 12, 25, 27, 28, 64, 65, 86, 142, 175, 183, 184, 185, 188, 195, 196, 198, 201, 217 Legenda Gunung Pinang v, viii, 176, 177, 183, 184, 185, 186, 187, 188, 189, 192, 193, 194, 195, 197, 198, 201, 217 local genius iii
220
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
P
local wisdom iii, 5, 83 lokal 3, 5, 6, 10, 60, 83, 129, 162, 196, 204 Lubuklinggau 84, 85, 86, 87, 88, 89, 104, 106, 107
M mahabbah 128 Makkah 46 Malaka 178, 179, 180, 181, 184, 186, 190, 192, 194 Malin Kundang 176, 187, 201, 218 Masjidil Haram 46 Matrilineal 55 Mentawai v, vii, 7, 55, 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63, 64, 65, 66, 67, 68, 71, 72, 73, 74, 76, 77, 78, 79, 80, 81, 116, 137, 207, 209, 211, 214, 215, 216, 217 Minang 55 Minangkabau 55, 90, 176 mite 8, 9, 12, 25, 27, 28, 142, 155, 175 mitos 27, 28, 55, 56, 57, 63, 64, 65, 72, 73, 76, 141 mnemonic device 24 Muhammad Ali al-Khuli 33, 35 multikultur 6
N nilai agama 31, 102, 106, 162, 195, 196, 198 nilai budaya 10, 141, 185 nilai kultural 6, 7, 41, 42, 85 nilai toleransi 5, 123, 133 Nusantara 5, 52, 101, 104, 109, 129, 134, 173, 176, 178, 200, 206, 207, 208, 212, 216
O oral literature 25
Pagetasabbau v, 56, 63, 65, 68, 69, 70, 71, 73, 74, 75, 76, 77 pantun 19, 25, 124, 139, 140, 141, 142, 144, 155, 157, 158, 163 Patrilineal 55 pendidikan agama iii, iv, v, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12, 14, 15, 31, 32, 41, 56, 57, 73, 85, 106, 112, 122, 125, 133, 140, 142, 157, 163, 187, 195, 196, 197, 198, 203 pendidikan keagamaan 29 Pepadun 113, 114, 116, 117, 118, 119, 132 performance 4 Piil Pesenggiri 115, 116, 123, 132, 133, 136, 212, 215 PP Nomor 55 Tahun 2007 195, 196 Pudentia MPSS 6, 52, 53, 78, 80, 135, 207, 210, 213; Pudentia 6, 17, 18, 19, 20, 21, 23, 52, 53, 78, 80, 135, 139, 159, 201, 207, 210, 213 pungunguan 64, 65
R Radin Jambat 112, 119, 120, 124, 125, 126, 127, 128, 129, 130, 131, 132, 133, 135, 208, 209 Ratib Samman 45, 46, 48, 49, 50, 54, 215 religiusitas 26, 32, 57, 112 revitalisasi v Robson 4, 80, 213
S Sai Batin 113, 114, 117, 132 Sai Bumi Ruwa Jurai 113 sastra 2, 4, 14, 17, 18, 19, 20, 22,
221
Daftar Indeks 24, 25, 26, 83, 84, 86, 87, 107, 115, 154, 161, 162, 163, 175, 176, 183 sastra lisan 14, 25, 83, 87, 107, 115, 163 Sawung Galing 140, 141, 142, 159, 213 Segawon Sing Setya 167, 170 sekuler 9, 28 sentripetal 5 Serang 117, 175, 176, 178, 184, 185, 200, 202, 210 sikerei 56, 57, 61, 65, 66, 68, 73, 74, 77, 78 Silampari 84, 89 Simateu 64 Sitakkigagailau v, 56, 65, 66, 71, 73, 77 Sri Sadana/Sulanjana 140, 142; Sri Sadana 140, 142, 144, 149, 154, 156, 157, 159, 214; Sulanjana 140, 142, 148, 150, 151, 154, 159, 214 Sriwijaya 104, 108, 131, 206 Stark dan Glock 32, 57, 112 struktur 17, 18, 19, 131, 141, 175, 183 struktural-formal 6 strukturalisme 17, 18, 19 Sumatera Barat 7, 55, 80, 214 Sumatera Selatan v, 7, 83, 84, 85, 86, 88, 104, 107, 108, 109, 206, 217 Syahrul 4, 80, 120, 137, 215
164, 203, 204 tradisi Budhis 131 tradisi moral 29 tradisional iv, 3, 24, 25, 58, 59, 60, 61, 90 transmigrasi 111 Tuan Teuku Matsyah 190, 194
U ‘uququl-walidain 192
Y Yunani 27
T tangible 2 tasawuf 128, 129, 130 tawassul 46 tradisi 2, 3, 10, 11, 13, 14, 24, 25, 29, 41, 50, 51, 55, 56, 59, 60, 63, 65, 66, 77, 88, 89, 111, 116, 117, 118, 127, 129, 131, 132, 140, 157, 158,
222
Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Cerita Rakyat Daerah
223
224