Data Loading...
Page |1
muka | daftar isi
Page |2
muka | daftar isi
Page |3
Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Bersalaman Setelah Shalat Penulis : Muhammad Aqil Haidar, Lc
25 hlm
Judul Buku
Bersalaman Setelah Shalat Penulis
Muhammad Aqil Haidar, LC Editor
Fatih Setting & Lay out
Fayad & Fawaz Desain Cover
Faqih
Penerbit Rumah Fiqih Publishing Jalan Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940 Cetakan Pertama 9 Maret 2019
muka | daftar isi
Daftar Isi Daftar Isi ................................................................. 4 Muqaddimah ........................................................... 5 Bab 1 : Bersalaman Dalam Islam .............................. 6 A. Keutamaan....................................................... 6 B. Hukum Asal ...................................................... 8 Bab 2 : Bersalaman Setelah Shalat ........................... 9 A. Tidak Boleh ...................................................... 9 1. Para Pendukung ............................................... 9 a. Ibnu Taimiyah .................................................... 9 b. Syeikh Bin Bazz ................................................ 10
2. Dalil Yang Digunakan ...................................... 10 a. Tidak Ada Contoh & Perintah dari Nabi SAW .. 10 2. Saddu Adz-Dzari'ah .......................................... 11
B. Boleh .............................................................. 11 1. Boleh Dengan Syarat ...................................... 11 2. Boleh Mutlak .................................................. 13 a. Al ‘Izz Ibnu Abdissalam .................................... 13 b. Imam An-Nawawi ............................................ 14 c. Al-Imam Ibnu Hajar Al Haitami ........................ 16 d. Al-Imam Ar-Ramli ............................................ 17 e. Syaikh ‘Athiyah Shaqr ...................................... 18
3. Sunnah ........................................................... 18 4. Dalil Yang Digunakan ...................................... 19 Kesimpulan ............................................................22 muka | daftar isi
Halaman 5 dari 25
Muqaddimah Bersalaman merupakan suatu kegiatan yang sudah akrab sekali dengan kita. Bahkan mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa salaman meupakan salah satu syariat dalam islam. Terdapat beberapa hadist yang menyebutkan anjuran bersalaman. Bersalaman sering dilakukan ketika ada pertemuan, perpisahan ataupun moment-moment tertentu. Misalnya dalam sebuah transaksi, akad nikah, penyerahan hadiah, berterimakasih dan lain sebagainya. Namun bagaimana halnya jika salaman dilakukan setelah seseorang selesai melaksanakan shalat? Apakah hal itu termasuk salaman yang diperbolehkan? Dalam hal ini ternyata sudah menjadi pembahasan ulama sejak dulu. Dan ternyata tidak hanya terjadi di negri kita saja. Akan tetapi hampir di seluruh negara islam, seperti Saudi, Mesir dan yang lainya. Maka alangkah baiknya sebelum kita berdebat mengenai perkara ini, mari kite lihat kembali perkataan dan pendapat ulama mengenai hukum bersalaman setelah shalat.
muka | daftar isi
Halaman 6 dari 25
Bab 1 : Bersalaman Dalam Islam Dalam bahasa arab bersalaman diartikan sebagai mushafahah. Disebutkan dalam Taj al-Arus:
ُ َْ ُ َّ ُوالر ُجل ُ َ َّ . " كالت َص ُافح األخذ بالي ِد: والمصافحة ِّ َ ْ ِّ َ َ ْ َ َ الر َّ ُي َص ِاف ُح ِإذا َوض َع ُصفح كفه يف ُصف ِح كفه: جل َ ْ َ 1 َ ْ َّ وصف َحا كفيهما Al mushafahah: menjabat tangan disebut juga Tashafuh. Seseorang bersalaman dengan orang lain : ketika meletrakan telapak tangnaya di telapak tangan orang lain, maka kedua tangan itu berjabat tangan. A. Keutamaan Terdapat beberapa riwayat yang menunjukan anjuran bersalaman. Di antaranya:
أكانت: قلت ألنس: قال،عن أيب اخلطاب قتادة صلى هللا عليه- املصافحة يف أصحاب رسول هللا رواه البخاري. نعم:؟ قال- وسلم Dari Abu al-Khattab Qatadah, Saya bertanya kepada Anas bin Malik:"Apakah bersalaman itu dilakukan para sahabat Nabi SAW?". Anas 1
Az-Zubaidi, Taj al-Arus. muka | daftar isi
Halaman 7 dari 25
menjawab,“Ya.” (HR. Bukhari)
ما من مسلمني يلتقيان فيتصافحان إال غفر هلما قبل .أن يتفرقا Dari Bara bin ‘Azib radhialllahanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu mereka bersalaman melainkan Allah ampuni mereka berdua sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah)
وقال عنه ر هذا حديث حسن غريب من:التمذي التاء أب إسحق عن ر حديث ر ي Imam Tirmidzi berkata: hadist tersebut hasan gharib dari hadist Abi ishaq dari al-Barra’
دخلت:ما روى كعب بن مالك رضي هللا عنه قال فإذا برسول هللا صلى هللا عليه وسلم فقام إيل،املسجد .طلحة بن عبيد هللا يهرول حىت صافحين وهنأين أخرجه البخاري Diriwayatkan dari Ka’ab bin Malik ra. Ia berkata: Aku masuk masjid dan ternyata ada Rasulullah SAW, kemudian Talhah berdiri dan berlari kecil menghampiriku kemudian menjabat tanganku muka | daftar isi
Halaman 8 dari 25
dan memberikan ucapan selamat kepadaku. (HR. Bukhari) B. Hukum Asal Dari dalil-dalil di atas ulama sepakat bahwasanya bersalaman merupakan salah satu syariat dalam islam. Dan merupakan kegiatan yang dianjurkan untuk dilakukan. Sebagaimana yang disebutkan Imam Nawawi:
ر 2.التالف ي
المصافحة سنة مجمع عليها عند
Bersalaman merupakan sebuah sunnah yang disepakati kesunnahanya ketika bertemu Pernyataan yang senada juga bisa kita temukan dalam pernyataan yang disandarkan kepada Ibn Battal yang dinukil oleh Ibn Hajar:
أصل المصافحة حسنة عند عامة: وقال ابن بطال 3
العلماء
Ibn Batthal berkata: Hukum asal mushafahah adalah sebuah kebaikan menurut umumnya ulama.
2 3
261:األذكار ص ----( ط دار المعرفة55 /11 فتح الباري البن حجر muka | daftar isi
Halaman 9 dari 25
Bab 2 : Bersalaman Setelah Shalat Masalah hukum bersalaman sesudah shalat termasuk perkara khilafiyah yang sejak dulu seringkali menjadi bahan perdebatan di tengah umat Islam. Secara umum, ulama berbeda pendapat terkait hal ini, antara mereka yang melarang secara mutlak, ada yang membolehkan dengan syarat, bahkan ada yang mensunnahkan. A. Tidak Boleh Mereka yang melarang bersalaman setelah shalat ini di antaranya adalah Ibnu Taimiyah dan juga Syeikh Bin Bazz. 1. Para Pendukung Mereka yang melarang bersalaman setelah shalat ini di antaranya adalah Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin dan juga Syeikh Bin Bazz. a. Ibnu Taimiyah Ibnu Taimiyah (w. 728H) berfatwanya di dalam kitab Majmu’ Fatawa :
ه سنة هل ي: عن المصافحة عقيب الصالة:وسئل ه المصافحة عقيب الصالة، الحمد َّلل:أم ال؟ فأجاب وهللا أعلم.ه بدعة بل ي،ليست مسنونة muka | daftar isi
Halaman 10 dari 25
Beliau ditanya tentang bersalaman sesudah shalat, apakah dia sunah atau bukan? Beliau menjawab: “Alhamdulillah, bersalaman sesudah shalat tidak disunahkan, bahkan itu adalah bid’ah.” Wallahu A’lam ’4 b. Syeikh Bin Bazz Syeikh Bin Bazz (w. 1420 H) juga termasuk mereka yang berfatwa melarang bersalaman seusai shalat.
المصافحة بعد سالم اإلمام ليس لها أصل بل إذا سلم …يقول
“Bersalaman setelah salamnya imam tidaklah memiliki dasar, justru jika usai salam hendaknya mengucapkan ..(lalu beliau memaparkan cukup panjang berbagai dzikir setelah shalat yang dianjurkan syara’ ). 5 2. Dalil Yang Digunakan Adapun dalil-dalil yang dipakai oleh pendapat ada banyak. a. Tidak Ada Contoh & Perintah dari Nabi SAW Yang paling utama bahwa bersalaman setelah shalat itu tidak ada tuntunan atau contoh langsung 4 5
Ibnu Taimiyah, Majmu' Fatawa, jilid 2 hal. 3339 Majmu’ Fatawa wal Maqalat, jilid 29 hal. 309-310, Ar Riasah Al ‘Aamah Lil Buhuts Al ‘ilmiyah wal ifta’. muka | daftar isi
Halaman 11 dari 25
dari Rasulullah SAW. Logika yang mereka kembangkan adalah bila tidak ada dalilnya maka hukumnya bid'ah atau terlarang.
َح َد َ ى ى س ىمْنهُ فَ ُه َو َرد ْ َم ْن أ َ ث ِف أ َْمرََن َه َذا َما لَْي
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim) 2. Saddu Adz-Dzari'ah
Selain itu mereka juga menggunakan kaidah saddu ad-dzariah. Maksudnya meski tidak ada larangannya secara resmi, tetapi kalau dibiarkan khawatir nanti orang awam menganggap bahwa bersalaman selepas shalat itu termasuk ritual ibadah yang harus dilakukan sebagai rangkaian kesempurnaan shalat. B. Boleh Selain pendapat yang tidak membolehkan, ada pula beberapa ulama yang membolehkan bersalaman setelah shalat. Ada yang membolehkan dengan syarat, ada yang boleh secara mutlak, bahkan ada yang mensunnahkan. 1. Boleh Dengan Syarat Salah satu ulama yang memperbolehkan bersalama setelah shalat dengan syarat adalah Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin (w. 1421H) dalam fatwanya berkata: muka | daftar isi
Halaman 12 dari 25
ما حكم المصافحة يف المسجد حيث اعتاد:السؤال كثت من الناس ذلك بعد الصالة؟ ر Pertanyaan: Apa hukum bersalaman dalam masjid sebagaimana biasa dilakukan sebagian besar orang seusai melakukan shalat?
ً هذه المصافحة ال أعلم لها أصال من السنة:اإلجابة ولكن اإلنسان،رض هللا عنهم أو من فعل الصحابة ي إذا فعلها بعد الصالة ال عىل سبيل أنها ر ،مشوعة فأرجو أن ال يكون،ولكن عىل سبيل التأليف والمودة ألن الناس اعتادوا ذلك،بهذا بأس Jawaban: Bersalaman setelah salat tidak saya ketahui dasar dari sunnah atau dari para sahabat. Akan tetapi jika orang-orang melakukanya setelah shalat bukan atas dasar bahwasanya hal itu merupakan syariat, akan tetapi atas dasar perekat ukhuwwah dan untuk menimbulkan kasih sayang, maka semoga saja hal tersebut tidak masalah. Karena orang-orang telah terbiasa melakukan itu.
ً ينبغ وال ال فهذا سنة بأنها معتقدا أما من فعلها ي ر،يجوز له. وال أعلم أنها سنة،حت يثبت أنها سنة .
muka | daftar isi
Halaman 13 dari 25
Adapun jika dilakukan dengan dasar keyakinan bahwasanya bersalaman setelah shalat merupakan sebuah kesunnahan secara khusus maka seharusnya jangan dilakukan bahkan tidak boleh dilakukan. Sampai terdapat dalil yang mensunnahkan. Dan setahu saya tidak ada dasar yang sensunnahkan secara khusus. 6 2. Boleh Mutlak para ulama salaf yang membolehkan adanya bersalaman selepas shalat cukup banyak juga. Diantaranya adalah Al-Imam ‘Izzuddin (Al ‘Izz bin Abdussalam), Al-Imam An-Nawawi, Ibnu Hajar Al Haitami dan Ar-Ramli, dan juga ulama modern di masa sekarang Syaikh ‘Athiyah Shaqr. a. Al ‘Izz Ibnu Abdissalam Diantara ulama yang membolehkan adanya bersalaman selepas shalat adalah Imam ‘Izzuddin (Al ‘Izz) bin Abdussalam Asy Syafi’i (w. 660H). Beliau memasukkan bersalaman setelah shalat subuh dan ‘ashar sebagai bid’ah yang boleh (bid’ah mubahah). Berikut perkataannya:
المصافحة عقيب الصبح: منها.وللبدع المباحة أمثلة ومنها التوسع يف اللذيذ من المآكل،والعرص ، ولبس الطيالسة،والمشارب والمالبس والمساكن 6
المجلد الثالث عشر- مجموع فتاوى ورسائل الشيخ محمد صالح العثيمين muka | daftar isi
Halaman 14 dari 25
.األكمام
وتوسيع
“Bid’ah-bid’ah mubahah (bid’ah yang boleh) contoh di antaranya adalah: bersalaman setelah subuh dan ‘ashar, di antaranya juga berlapanglapang dalam hal-hal yang nikmat berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, melebarkan pakaian kebesaran ulama, dan melebarkan lengan baju.” 7 b. Imam An-Nawawi Al-Imam An-Nawawi (w. 676 H) termasuk ulama yang berpendapat boleh bersalaman selepas shalat. Dalam kitabnya beliau mengatakan;
وأما،واعلم أن هذه المصافحة مستحبة عند كل لقاء ر صالب الصبح ما اعتاده الناس من المصافحة بعد ي فال أصل له ف ر،والعرص ولكن،الشع عىل هذا الوجه ي وكونهم، فإن أصل المصافحة سنة،ال بأس به كثت وفرطوا فيها يف ر،حافظوا عليها يف بعض األحوال من األحوال أو ر ال يخرج ذلك البعض عن كونه،أكتها .بأصلها
الت ورد ر ر الشع من المصافحة ي
“Ketahuilah, bersalaman merupakan perbuatan 7
Qawaid Al Ahkam fi Mashalihil Anam, jilid 2 hal. 173 muka | daftar isi
Halaman 15 dari 25
yang disunahkan dalam keadaan apa pun. Ada pun kebiasaan manusia saat ini bersalaman setelah shalat subuh dan ‘ashar, maka yang seperti itu tidak ada dasarnya dalam syariat, tetapi itu tidak mengapa. Karena pada dasarnya bersalaman adalah sunah, dan keadaan mereka menjaga hal itu pada sebagian keadaan dan mereka berlebihan di dalamnya pada banyak keadaan lain atau lebih dari itu, pada dasarnya tidaklah keluar dari bersalaman yang ada dalam syara’.” 8 Bahkan beliau berpendapat bersalaman selepas shalat itu bisa jadi hukumnya sunnah. Yaitu jika orang yang disamping kita memang belum bersama kita di awal shalat. Beliau berkata:
ُّ َو َأ َّما َهذه ْال ُم َص َاف َح ُة ْال ُم ْع َت َاد ُة َب ْع َد َص ََل رَ ْب الص ْب ِح ِِ ي َ ُ َ ْ ُ ْ َّ َ َ َ ْ َ َ ْ َ ْ َ َ ْ ُ ُ َ ُ َّ ْ رص فقد ذكر الشيخ ِاإلمام أبو محم ِد بن عب ِد ِ والع ُوصف َ احة َو ََل ُت َ الس ََلم رحمه هللا َأ َّن َها م ْن ْالب َدع ْال ُم َب َّ ِ ِ ِ ِ ِ َ َ َ ه َ ُ َ ب َك َر َاه ٍة َو ََل ْاس ِت ْح ، َوهذا ال ِذي قاله َح َس ٌن،اب ب ٍ ِ َ َّ َ ْ َ ُ َ َ َ َ ْ َ َ َ َ ْ َ َ ُ ْ َ ُ َ ْ ُ ْ َ الصَل ِة إن صافح من كان معه قبل:والمختار أن يقال َ َ ُ ُ َ َ ََ َ ٌ َ ََُ ْ َ َ احة ك َما ذك ْرنا َو ِإن َصافح َم ْن ل ْم َيك ْن َم َعه ق ْبل َها فمب ْ ٌ َّ ُ َ ِّ َ ْ َ َ َ َ ُ ْ َّ َ ٌ َّ َ َ ْ ُ َ ْ َ اإلجم ِاع ِ فمستحبة؛ ِألن المصافحة ِعند اللق ِاء سنة ِب 8
An-Nawawi, Al Adzkar, hal. 184. Mawqi’ Ruh Al Islam muka | daftar isi
Halaman 16 dari 25
َ َ َ الصح َّ ل ْ َْل َحاديث يح ِة ِ يف ذ ِلك ِ ِ ِ ِ “Ada pun bersalaman ini, yang dibiasakan setelah dua shalat; subuh dan ‘ashar, maka Asy Syaikh Al Imam Abu Muhammad bin Abdussalam Rahimahullah telah menyebutkan bahwa itu termasuk bid’ah yang boleh yang tidak disifatkan sebagai perbuatan yang dibenci dan tidak pula dianjurkan, dan ini merupakan perkataannya yang bagus. Dan, pandangan yang dipilih bahwa dikatakan; seseorang yang bersalaman (setelah shalat) dengan orang yang bersamanya sejak sebelum shalat maka itu boleh sebagaimana yang telah kami sebutkan, dan jika dia bersalaman dengan orang yang sebelumnya belum bersamanya maka itu sunah, karena bersalaman ketika berjumpa adalah sunah menurut ijma’, sesuai hadits-hadits shahih tentang itu.” 9 c. Al-Imam Ibnu Hajar Al Haitami Ulama lain yang membolehkan bersalaman selepas shalat diantaranya Imam Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki Asy Syafi’i (w. 974H). Beliau memfatwakan tentang sunahnya bersalaman setelah shalat walau pun shalat 'Ied.10 Dalam kitabnya yang lain beliau berkata: 9
An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, jilid 3 hal. 325 10 Ibnu Hajar al-Haitami, Al-Fatawa Al-Kubra Al-Fiqhiyah ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i, jilid 4 hal. 224-225 muka | daftar isi
Halaman 17 dari 25
َ ْ َ ْ َ ْ ُّ ْ ََ ْ َ ْ ُ َ َ َ َ ْ َ َ ر رص َول ِك ْن ِ الب الصب ِح والع وال أصل ِللمصافح ِة بعد ص ي ْ َ َ َّ َ َّ َْ َ ال َب ْأ س ِب َها ف ِإن َها ِم ْن ُج ْمل ِة ال ُم َصاف َح ِة َوقد َحث َ ُ َّ الش ِارع َعل ْي َها “Tidak ada dasarnya bersalaman setelah shalat subuh dan ‘ashar, tetapi itu tidak mengapa, karena itu termasuk makna global dari bersalaman, dan Asy Syaari’ (pembuat syariat) telah menganjurkan atas hal itu.” 11 d. Al-Imam Ar-Ramli Ulama lain yang membolehkan bersalaman selepas shalat adalah Imam Syihabuddin Ar Ramli Asy Syafi’i (w. 957 H). Dalam kitab Fatawa-nya tertulis:
َّ ُ ُ َ ْ َ َّ َ َ ُ َّ َ ْ َ َ َ َ ْ ْ ُ الن الة س ِئل عما يفعله ِ اس ِمن ال ُمصافح ِة بعد الص ََ َ ٌ َّ ُ َ ُ ْ َ َّ ُ ُ َ ْ َ َ َّ َ ْ َ َ ُالناس هل هو سنة أو ال ؟ ( فأجاب ) ِبأن ما يفعله َّ م ْن ْال ُم َص َاف َحة َب ْع َد َالة ال َأ ْص َل َل َها َو َل ِك ْن ال َب ْأس الص ِ ِ ِ ِب َها Ditanya) tentang apa yang dilakukan manusia berupa bersalaman setelah shalat, apakah itu sunah atau tidak? (Beliau menjawab): 11
Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj, jilid 39 hal. 448449 muka | daftar isi
Halaman 18 dari 25
“Sesungguhnya apa yang dilakukan manusia berupa bersalaman setelah shalat tidaklah ada dasarnya, tetapi itu tidak mengapa.” 12 e. Syaikh ‘Athiyah Shaqr Syaikh ‘Athiyah Shaqr (mantan Mufti Mesir) beliau menyimpulkan bahwa:
غت محرمة وقد تدخل تحت والوجه المختار أنها ر ندب المصافحة عند اللقاء الذى يكفر هللا به وأرجو أال يحتد التاع ف مثل هذه األمور،السيئات ….
“Pendapat yang dipilih adalah bahwa hal itu tidaklah haram, dan hal itu telah termasuk dalam anjuran bersalaman ketika bertemu yang dengannya Allah Ta’ala akan menghapuskan kesalahannya, dan saya berharap perkara seperti ini jangan terus menerus diributkan. … 13 3. Sunnah Diantara pendapat yang ada, ternyata ada ulama yang bahkan mensunnahkan bersalaman secara mutlak, meskipun dilakukan setelah shalat. Di antaranya adalah Imam Abdurrahman Syaikhi 12 13
Syihabuddin ar-Ramli, Fatawa Ar Ramli, jilid 1 hal. 385 Fatawa Dar Al Ifta’ Al Mishriyah, jilid 8 hal. 477 muka | daftar isi
Halaman 19 dari 25
Zaadah Al-Hanafi (w. 1078 H) berkata ketika membahas tentang shalat Id:
ُ ُّ َ ْ ُ ُ َو ْال ُم ْس َت َح ُّب ْال ُخ ُر الر ُجوع ِم ْن وج َم ِاش ًيا إال ِبعذ ٍر و َ ْ َ َ ض ْال َب ِّ آخ َر َع َىل ْال َو َقار َم َع َغ رص َع َّماال َين َب ِ يغ يق ِ ِ ٍ ط ِر ْ َ َ ُْ ُْ َّ ُ َ َّ ْ َ َ َ َّ َ ه اَّلل ِمنا َو ِمنك ْم ال تنك ُر ك َما ِ يف ال َب ْح ِر والته ِنئ ِة ِبتقبل ِّ ُ َْ ْ َو َك َذا ْال ُم َص َاف َح ُة َب َ ه ُس َّن ٌة َعق َ الصالة كل َها َو ِعند يب ل ِ ِ ِي َ ُْ ُ َْ َ َ ََ َ َُْ ض الفضال ِء المَلق ِاة كما قال بع “Disunahkan keluar menuju lapangan dengan berjalan kecuali bagi yang uzur dan pulang melalui jalan yang lain dengan berwibawa dan menundukkan pandangan dari yang dilarang, dan menampakan kegembiraan dengan ucapan: taqabballallahu minna wa minkum, hal ini tidaklah diingkari sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al Bahr, demikian juga bersalaman bahkan itu adalah sunah dilakukan seusai shalat seluruhnya, dan ketika berjumpa sebagaimana perkataan sebagian orang-orang utama.” 14
4. Dalil Yang Digunakan Alasannya karena meski tidak ada contoh dan 14
Abdurrahman Zaadah, Majma’Al Anhar fi Syarh Multaqa Al Abhar, jilid 1 hal. 173 muka | daftar isi
Halaman 20 dari 25
perintahnya, tetapi juga tidak ada nash yang secara tegas melarangnya. Logika yang digunakan, tidak mentang-mentang suatu perbuatan itu tidak ada contoh atau perintahnya, lantas menjadi haram atau bid'ah. Padahal hukum bersalaman sendiri aslinya justru merupakan perbuatan sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW sendiri.
مامن مسلمني يلتقيان فيتصافحان إال غفر هلما قبل أن يتفرقا Dari Bara bin ‘Azib radhialllahanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu mereka bersalaman melainkan Allah ampuni mereka berdua sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah) Selain itu juga ada dalil yang merupakan atsar shahabi.
؟ أكانت املصافحة يف أصحاب النيب:قلت ألنس . نعم:قال Dari Qatadah radhiallahuanhu berkata,"Aku bertanya kepada Anas bin Malik,"Apakah bersalaman itu dilakukan para sahabat Nabi SAW?". Anas menjawab,“Ya.” (HR. Bukhari) Masiha da satu dalil lagi yang digunakan para pendukung bolehnya bersalaman setelah shalat. muka | daftar isi
Halaman 21 dari 25
«خرج: قال، مسعت أاب جحيفة: قال،عن احلكم ،رسول هللا صلى هللا عليه وسلم ابهلاجرة إىل البطحاء وبني، والعصر ركعتني،فتوضأ مث صلى الظهر ركعتني يديه عنزة» فجعلوا أيخذون يديه فيمسحون هبا قال فأخذت بيده فوضعتها على وجهي،وجوههم .»فإذا هي أبرد من الثلج وأطيب رائحة من املسك Dari al-Hakam berkata: aku mendengar Abu Juhaifah berkata: Di siang hari yang panas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju tempat namanya Bitha. Beliau berwudhu kemudian melaksanakan shalat zuhur dan asar 2 rakaat. Beliau sedang memegang tongkat. Kemudian berbondong-bondong orang memegang kedua tangan Rasul dan mengusapkannya di wajahnya. Aku pun ikut menyalami kedua tangan rasul, dan aku letakkan di wajahku. Ternyata lebih dingin dari salju dan lebih wangi dari minyak misk.” (HR. Bukhari)
muka | daftar isi
Halaman 22 dari 25
Kesimpulan Pertama, Jika menganggap bersalaman selepas shalat itu termasuk ritual ibadah shalat, maka tak diragukan lagi itu termasuk bid’ah dhalalah. Kedua, jika bersalaman selepas shalat kepada saudara yang baru datang, kebetulan baru berkesempatan bisa bersalaman selepas shalat maka hukumnya sunnah dan termasuk aplikasi hadits Nabi. Ketiga, jika kepada sesama jamaah yang mulanya memang sudah bertemu sebelum shalat, maka semua sepakat bersalaman seperti ini tidak ada haditsnya yang secara khusus memerintahkan. Tetapi, ulama berbeda pendapat. Sebagian tidak membolehkan, karena bid’ah dan tidak boleh, sebagian lagi berpendapat meski tidak ada haditsnya, belum tentu tidak boleh. Keempat, jika berpendapat bersalaman setelah shalat itu tidak boleh dilakukan, tetapi dia melakukannya bukan inisiatif sendiri, melainkan dia dalam keadaan berjamaah shalat bersama jamaah yang biasa melakukan. Jika dia menolak untuk bersalaman, bisa saja malah melukai perasaan saudaranya itu jika dia menghindar, maka tidak mengapa dia bersalaman. Hal ini, demi menjaga perasaan sesama muslim, muka | daftar isi
Halaman 23 dari 25
menyatukan hati, dan menghindari kebencian satu sama lain. Wallahu ‘alam bishshsawab □
muka | daftar isi
Sekilas Muhammad Aqil Haidar, Lc Saat ini penulis menjadi salah satu ustadz nara sumber di Rumah Fiqih Indonesia (www.rumahfiqih.com), sebuah institusi nirlaba yang bertujuan melahirkan para kader ulama di masa mendatang, dengan misi mengkaji Ilmu Fiqih perbandingan yang original, mendalam, serta seimbang antara mazhab-mazhab yang ada. Selain aktif menulis, penulis juga menghadiri undangan dari berbagai majelis taklim baik di masjid, perkantoran atau pun di perumahan di Jakarta dan sekitarnya. Lulus S1 Fakultas Syariah LIPIA Jakarta kemudian meneruskan jenjang studi S2 di Institut Ilmu AlQuran (IIQ) Jakarta, Prodi Hukum Ekonomi Syariah (HES).
muka | daftar isi
RUMAH FIQIH adalah sebuah institusi non-profit yang bergerak di bidang dakwah, pendidikan dan pelayanan konsultasi hukum-hukum agama Islam. Didirikan dan bernaung di bawah Yayasan DaarulUluum Al-Islamiyah yang berkedudukan di Jakarta, Indonesia. RUMAH FIQIH adalah ladang amal shalih untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT. Rumah Fiqih Indonesia bisa diakses di rumahfiqih.com
muka | daftar isi