Data Loading...

Akbar Edisi 223 Flipbook PDF

Akbar Edisi 223


136 Views
84 Downloads
FLIP PDF 6.08MB

DOWNLOAD FLIP

REPORT DMCA

Laporan Utama

Istimewa

Hari Jadi Momen ”Evaluasi”

Peringati Hari Santri Nasional

Kisar Eksekutif

Wira Usaha

Bersih-bersih Bengawan Solo

Terbul Avara

Media KOMUNIKASI PEMKAB

No. 223 n Tahun XX

NOVEMBER 2016

H. M. Miyadi, SAg, MM (Ketua DPRD Kabupaten Tuban) Sekda Kabupaten Tuban Dr. Ir. Budi Wiyana, MSi Drs. Teguh Setyobudi, MM Setda Kabupaten Tuban)

Arman Mitra, S.IP Hermanto, SH (Kasubag Publikasi) Distribusi/Logistik: Angel Pramitasari, S.Ikom, Chairul Malik, Wasis

Redaksi menerima kiriman naskah, opin i, cerpen, dongeng, features dan bentuk tulisan lain sesuai mis i Majalah Akbar. Naska h maksimal 3 halaman kuarto, dikirim ke alam at email Majalah Akbar . Redaksi berhak menge dit sepanjang tidak mengubah isi.

2

No. 223 n November 2016

S

ALAM REDAKSI

(1293 – 2016) Redaksi majalah Akbar

Ucapan Redaksi . . . . . . . . . . . . . . 3 Editorial . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4 Surat Pembaca . . . . . . . . . . . . . . . 5 Mimbar Agama. . . . . . . . . . . . . . . 6 Kisar Eksekutif . . . . . . . . . . . . . . . 9 Laporan Utama . . . . . . . . . . . . . . 10 Cermin . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 12 Hari Pahlawan. . . . . . . . . . . . . . . 14 Hari Jadi Jatim ke-71. . . . . . . . . . 16 Ekonomi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 18

No. 223 n November 2016

Istimewa . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 19 Pendidikan . . . . . . . . . . . . . . . . . 23 Selingan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 26 Info Desa. . . . . . . . . . . . . . . . . . . 28 Olah Raga . . . . . . . . . . . . . . . . . . 29 Ragam Peristiwa . . . . . . . . . . . . . 30 Wira Usaha . . . . . . . . . . . . . . . . . 33 Budaya . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 34 Cerpen . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 36 Figur . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 39

3

E DITORIAL

Romantisme

Tubanku

Ada yang berpuluh tahun, ada yang sudah menjadi warga kota lain, ada yang di manca Negara … barangkali sebagai warga Tuban yang telah lama meninggalkan kota kelahirannya tentu jika mendengar Hari Jadi Tuban yang ke-723 akan terbersit rasa kangen.

M

ereka yang telah lama, bahkan puluhan tahun, barangkali membayangkan masa ketika meninggalkan kota tercinta, dan membandingkan dengan kondisi sekarang. Tentulah, akan penasaran, dan digelayuti pertanyaan seperti apa kotaku tercinta sekarang? Walau, bisa jadi dengan teknologi informasi yang semakin canggih, dengan browsing akan pula mendapatkan informasi tentang Tuban, namun rasa penasaran tak akan pernah terpuaskan, sehingga tetap akan digelayuti kenangan dan romatisme akan kota kelahirannya tercinta. Mungkin, mereka semua teringat santapan khas tahu-lontong, mangut pe (ikan pari), meneguk legen, Bektiharjo, Boom, Pesarehan Sunan Bonang … bahkan Pendopo dan Masjid Agung kembali terbersit dalam pusaran

4

penasaran, sudah berubahkah itu semua? Andai saja, mereka kembali ke pangkuan keluarga, reriungan di ruang tamu (yang kental di sebut bale`), di kota kelahiran, di kampung halaman yang dulu ditinggal merantau. Terlebih di saat Hari jadi Tuban yang mencapai 723 tahun. Pasti tersimpul rasa bangga pada pembangunannya. Bayangkan, ke Desa Jadi, ke Ngroto … yang dulu harus jalan kaki, ke Dermawu, ke Menyunyur, Watuondo, dulu riuh di atas kol-tepak, terombang-ambing jalanan yang berlubang. Sekarang, jangankan Dermawu … dari Desa Ngrejeng Kecamatan Soko, mau ke Tuban, sak uwesan. “We.. lha … kepenak lelungan ning Tuban. Para pemudik itupun pasti akan meronta angannya, terbawa laju kenangan di mana masa kanak-kanaknya, menari di atas kepulan debu jalanan yang berlubang. Dimana, sepeda pancalnya, membimbingnya ke Mbekti, Tasikharjo, Alon-Alon, Boom, Panyuran … yang banyak berubah. Dimana, ketebalan kacamatanya mengingatkan sekolah - sekolah yang dulu minterke, yang kini sekolahan cacahnya semakin banyak dan maju saja. Dulu, ada canggung, untuk sekedar bercerita tentang kampung halamannya. Tapi kini, andai diminta oleh angin untuk menyebarkan cerita, tentu diberikannya. Dan, sudut bibir para pemudik pun, tersimpan sungging senyum, yang tidak bisa lagi mengurai padatnya lalu lintas indahnya kenangan: “Aku Bangga Menjadi Bagian Kabupaten Tuban”. Selamat Ultah ke-723 Tubanku.n

No. 223 n November 2016

S Tentang KIP Banyak pelajar yang mendapatkan bea siswa namun syarat pengambilannya harus menggunakan KIP (Kartu Indonesia Pintar). Bagaimana cara mendapatkan KIP tersebut? (Warga Tuban) KIP merupakan salah satu program pemerintah yang bertujuan untuk membantu masyarakat guna memperoleh pendidikan yang layak. Dalam pelaksanaannya, KIP memang masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Sistem penyalurannya masih perlu penataan lebih lanjut. Data-data untuk memperoleh KIP sudah difokuskan pada Data Pokok Pe n d i d i k a n m e l a l u i O p e r a t o r d i s e k o l a h . Permasalahannya, sesuai dengan ketentuan KIP disalurkan langsung kepada Rumah Tangga Sasaran (RTS). Menurut informasi yang kami peroleh, KIP banyak disalahgunakan. Tahun ini, kami akan melakukan optimalisasi melalui koordinasi dengan pihak Kecamatan sekaligus menjemput bola ke Desa/Kelurahan untuk mengantisipasi agar penyaluran bantuan tersebut bisa berjalan dengan baik. Apabila masyarakat memiliki keluhan seputar KIP, bisa menyampaikan kepada kami. Selanjutnya, akan kami koordinasikan dengan pihak-pihak terkait. Meski disalurkan langsung kepada RTS, kami akan melakukan koordinasi dalam hal penataan pemerataan perolehan bantuan agar tidak tumpang tindih. Seperti kita ketahui, pemerintah daerah juga menyalurkan bantuan-bantuan semacam itu melalui dana Bantuan Operasional Sekolah Drop Out (BOS DO) dan sejenisnya. Kenyataan di lapangan, satu orang bisa menerima lebih dari satu bantuan, tapi ada juga yang tidak menerima bantuan sama sekali. Dengan penataan lebih lanjut, harapannya terjadi pemerataan bantuan.

URAT PEMBACA

Tahun 2016, jumlah penerima mencapai 519.000. Data ini dianggap kurang valid sebab jika merujuk pada angka kemiskinan di Kabupaten Tuban sebesar 17 persen, seharusnya jumlah penerima KIS hanya 275 ribu orang, artinya di Kabupaten Tuban ada kelebihan penerima KIS. KIS juga didistribusikan langsung ke masyarakat, sehingga kami tidak tahu siapa saja penerimanya. Untuk itu, Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Tuban melakukan validasi. Hasilnya, dari seluruh penerima KIS hanya 10 persen saja yang benar-benar miskin/berhak menerima bantuan. Tahun ini, Pemkab Tuban telah menganggarkan SPM Rp 15 Miliar. Dana sebesar itu ternyata masih belum mencukupi. Pemkab masih memiliki tanggungan kurang lebih Rp 9 Miliar di rumah sakit Provinsi maupun Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Tahun depan, Pemkab Tuban akan menia-dakan SPM. Masyarakat yang tergolong miskin, sesuai Keputusan Menteri Sosial Nomor 146 Tahun 2013, akan dikerjasamakan dengan BPJS Kesehatan. Pemerintah Pusat sendiri telah menetapkan bahwa per 1 Januari 2017 SPM ditiadakan dan diganti dengan KIS. (Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban)

(Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah Raga Kabupaten Tuban)

SPM Ditolak? Kenapa SPM ditolak oleh Kelurahan? (Warga Tuban) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban mempunyai kebijakan menerbitkan SPM atau surat yang ditujukan untuk rujukan ke rumah sakit. Pada awalnya, SPM ini dilahirkan karena keberadaan Kartu Indonesia Sehat (KIS) tahun 2011 lalu. Menurut data dari Kementrian Sosial, tercatat 390.000 penerima KIS. Jumlah ini selalu bertambah setiap tahunnya.

No. 223 n November 2016

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, meyerukan agar pemuda merenungi dan merefleksikan pidato Bung Karno tentang kepemudaan. Kala itu, Bung Karno tidak menunggu bonus demografi untuk memerdekakan Indonesia, akan tetapi membutuhkan pemuda-pemudi unggul yang visioner dalam menatap dunia.

5

M IMBAR AGAMA Islam, Iman dan Ihsan Sebagai Trilogi Ajaran Ilahi (Bagian III) Oleh: Nurcholish Madjid iapakah yang lebih baik dalam hal agama daripada orang yang memasrahkan (aslama) dirinya kepada Allah dan dia adalah orang yang berbuat kebaikan (muhsin), lagi pula ia mengikuti agama Ibrahim secara tulus mencari kebenaran (hanif-an) (QS. al-Nisa: 4:125). Ihsan dalam arti akhlaq mulia atau pendidikan ke arah akhlaq mulia sebagai puncak keagamaan dapat dipahami juga dari beberapa hadits terkenal seperti: "Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi" dan sabda Beliau lagi bahwa yang paling memasukkan orang ke dalam surga ialah taqwa kepada Allah dan keluhuran budi pekerti”. Jika kita renungkan lebih jauh, sesungguhnya makna-makna di atas itu tidak berbeda jauh dari yang secara umum dipahami oleh orangorang muslim, yaitu bahwa dimensi vertical pandangan hidup kita (iman dan taqwa - habl min al-Lah, dilambangkan oleh takbir pertama atau takbirat al-Ihram dalam shalat) selalu, dan seharusnya, melahirkan dimensi horizontal pandangan hidup kita (amal salih, akhlaq mulia, habl min al-nas, dilambangkan oleh ucapan salam atau taslim pada akhir shalat). Jadi makna-makna tersebut sangat sejalan dengan pengertian umum tentang keagamaan. Maka sebenarnya di sini hanya dibuat penjabaran sedikit lebih mendalam dan penegasan sedikit lebih kuat terhadap makna-makna umum itu.

S

Ihsan, Tasawuf dan Psikoterapi Dalam kaitannya dengan pen-

6

didikan akhlaq mulia kita melihat hubungan ihsan dengan ajaran kesufian atau tasawuf. Menurut K.H. Muhammad Hasyim Asy'ari, dengan mengutip Kitab Futuhat al-Ilahiyyah, ada delapan syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang bakal menjalankan thariqat: 1) qashd shahih, artinya, dalam menjalani thariqat itu ia harus mempunyai tujuan yang benar, yaitu niat menjalaninya sebagai ubudiyyah, yakni penghambaan diri kepada Tuhan Yang Maha Benar (al-Haqq), dan berniat memenuhi haqq al-rubbiyyah, yakni hak Ketuhanan Allah Ta'ala, bukan untuk meraih keramat atau pangkat, juga bukan untuk memperoleh hasil yang bersifat nafsu seperti ingin dipuji orang lain dan seterusnya; 2) shidq sharif, artinya kejujuran yang tegas, yaitu bahwa murid harus membenarkan dan memandang gurunya sebagai memiliki rahasia keistimewaan (sir al-khushushiyyah) yang akan membawa muridnya ke hadapan Ilahi atau hadlrat al-ilahiyyah; 3) adab murdliyyah, artinya, tatakrama yang diridhai, yaitu bahwa orang yang mengikuti thariqat harus menjalankan tatakrama yang dibenarkan ajaran agama, seperti sikap kasih sayang kepada orang yang lebih rendah, menghormati orang lain sesamanya dan yang lebih

tinggi, sikap jujur, adil dan lurus terhadap diri sendiri, dan tidak memberi pertolongan kepada orang lain hanya karena kepentingan diri sendiri; 4) akwal zakiyyah artinya, tingkah laku yang bersih, yaitu bahwa orang masuk thariqat tersebut tingkah lakunya dan ucapan-ucapannya harus sejalan dengan syari'at Nabi Muhammad saw.; 5) hifz al-hurmah, artinya, menjaga kehormatan, yaitu bahwa orang yang mengikuti thariqat harus menghormati gurunya, hadir atau gaib, hidup atau pun mati, dan menghormati sesama saudara pemeluk Islam, tabah atas sikapsikap permusuhan saudara, dengan menghormati orang yang lebih tinggi dan cinta kasih kepada orang yang lebih rendah; 6) husn alkhidmah, artinya, orang yang masuk thariqat harus mempertinggi mutu pelayanannya kepada guru, pada sesama saudara pemeluk Islam, dan kepada Allah swt. Dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangannya alshiddiq-un dan itulah al-maqshud al-a'dzham (tujuan agung) mengikuti thariqat; 7) raf' al-himmah, artinya, mempertinggi mutu tekad hati, yaitu bahwa orang masuk thariqat tidak karena tujuan-tujuan dunia dan akhirat tapi karena hendak mencapai ma'rifat khashshah (ma'rifat atau pengetahuan khusus atau istimewa) tentang Allah swt.; 8) nufudz al'azimah, artinya, kelestarian tekad dan tujuan, yaitu bahwa orang yang masuk thariqat harus menjaga kelestarian tekad dan tujuannya, memelihara kelanjutan menjalankan thariqatnya, demi meraih ma'rifat khashshah tentang Allah Ta'ala, dan bila melakukan kebajikan maka ia melakukannya dengan lestari sehingga berhasil (Lihat, Muhammad Hasyim Asy'ari, al-Durrar al-

No. 223 n November 2016

M IMBAR AGAMA Muntatshirah fi al-Masa'il al-Tis' al'Asyarah (tanpa tempat penerbitan, 1359 H/1940 M, hal. 16-17). KH. Hasyim Asy'ari juga menegaskan bahwa tujuan menjalankan thariqat ialah mempertinggi tatakrama, abad atau akhlaq. Ia mengutip sebuah syair dari Kitab Al-Mabahits al-Ashliyyah. Tujuan thariqat ialah pendidikan tatakrama, dalam segala tingkah laku, dan itulah madzhabnya. Dengan mengutip Abu al-Hasan alSyadzili, KH. Hasyim Asy'ari mengetengahkan empat tatakrama yang seseorang tidak dapat disebut pengikut thariqat jika tidak menjalaninya, betapapun luasnya pengetahuan orang tersebut. Empat tatakrama atau akhlaq itu ialah: 1) menjauhi semua orang yang bertindak dzalim, seperti penguasa atau orang kaya yang berlaku tidak adil pada orang lain; 2) menghormati orang yang memusatkan perhatiannya pada akhirat; 3) menolong kaum melarat; 4) selalu melakukan shalat berjama'ah dengan orang banyak (ibid, hal. 17). Kata K.H. Hasyim Asy'ari selanjutnya, "Telah berkata Imam Muhy alDin Ibn al'Arabi, ra. Adapun empat akhlak itu, maka siapa saja yang menjalankan keempat-empatnya, ia sungguh telah menggabungkan semua kebajikan, yaitu: 1) ta'zhim hurumat al-muslimin, artinya, menjunjung kehormatan semua orang Islam; 2) khidmat al-fuqara wa almasakin, artinya, melayani kaum fakir-miskin; 3) wa l-inshaf min nafsihi, artinya, jujur dan adil mengenai diri sendiri; 4) tark al-intishar la-ha, artinya, tidak memberi pertolongan hanya semata karena kepentingan diri sendiri." (ibid, hal. 18). Selanjutnya, KH. Hasyim Asy'ari, dengan mengutip Suhrawardi, menjelaskan bahwa jalan kaum sufi ialah niat untuk membersihkan jiwa dan menjaga hawa nafsu, serta untuk melepaskan diri dari berbagai bentuk'ujub, takabbur, riya' dan hubb al-dunya (kagum

pada diri sendiri, sombong, suka pamrih, dan cinta kehidupan duniawi), dan lain sebagainya, serta menjalani budi pekerti yang bersifat kerohanian, seperti ikhlas, rendah hati (tawadldlu), tawakkal (bersandar dan percaya kepada Tuhan), selalu memberikan perkenan hati pada setiap kejadian dan terhadap orang lain (ridla), dan seterusnya, serta karena hendak memperoleh ma'rifat dari Allah dan tatakrama di hadapan Allah (ibid, hal. 18). Ibn Taimiyah menjelaskan bahwa menurut banyak ulama, tasawuf mengandung berbagai hakikat dan keadaan tertentu yang membahas segi-segi kelakuan dan akhlaq para pengamalnya. Ada kalangan yang mengatakan bahwa seorang sufi ialah orang yang bersih (shafa) dari kekotoran, penuh dengan pemikiran, dan yang baginya sama saja antara nilai emas dan batu-batuan. Kemudian mereka lanjutkan kesufian itu mencapai makna orang yang berkata benar (al-siddiq), dan semulia-mulia manusia setelah para nabi ialah orang-orang yang berkata benar itu, seperti difirmankan Allah, "Mereka itulah orang-orang yang diberikan nikmat kebahagiaan oleh Allah, yang terdiri dari para Nabi, orang-orang yang berkata benar, para syuhada, dan orang-orang salih. Sungguh baik mereka itu dalam perkawanan" (QS. al-Nisa' 4:69). Karena itu, bagi mereka sesudah para nabi tidak ada yang lebih mulia daripada kaum sufi. Namun sesungguhnya kaum sufi termasuk jenis tertentu kelompok orang-orang yang benar, yaitu orang yang benar dalam zuhud atau asketisme dan ibadat menurut cara yang mereka ijtihadkan. Jadi orang sufi adalah alshiddzq dalam arti di kalangan para pengamal zuhud dan ibadat itu, sebagaimana juga adanya alshiddiqu di kalangan para ulama, alshiddiq-u di kalangan para umara (pejabat), dan seterusnya. Mereka belum tentu mencapai derajat alshiddiq-u mutlak, yang sempurna

No. 223 n November 2016

kualitas kebenarannya dalam berkata, yang terdiri dari para sahabat Nabi, kaum Tabi'un dan kaum pengikut Tabi'un itu [Ibn Taimiyah, alShufiyyah wa al-Furuqa, (Cairo: alManar, 1348 H.), hal. 17-18]. Kesufian merupakan cabang keagamaan dalam Islam yang sering kontroversial. Beberapa tokohnya menjadi sasaran kritik, bahkan penyiksaan atau pembunuhan, disebabkan pendirian atau praktek mereka yang dianggap menyimpang dari agama yang benar. Sekalipun KH. Hasyim Asy'ari, seperti terbukti dari keterangan di atas demikian menghargai tasawuf dan kaum sufi, namun ia dikenal sangat keras terhadap setiap gejala penyimpangan dalam amalan thariqat. Sikap ini ia ungkapkan dalam risalahnya yang ia tulis pada tahun 1360 H. AlTibyanfi al-Nahy 'an Muqatha'at al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan (Surabaya: Percetakan Nahdlatul Ulama, tt.). Ibn Taimiyah melacaki sejarah munculnya kaum sufi dan paham tasawuf itu dari orientasi keagamaan yang tumbuh di kota Basrah, Irak, yang menunjukkan ciri-ciri kezuhudan yang tinggi. Berbeda dengan para ulama kota Kuffah yang lebih banyak mencurahkan perhatian pada bidang hukum dan mengembangkan keahlian di bidang fiqh, para ulama kota Basrah menghayati agama dalam spiritualisme yang pekat dan menumbuhkan amalan-amalan guna mempertinggi pengalaman keagamaan yang mendalam. Mereka dikenal sebagai para pengamal ubudiah (al-'ubbad), para pengamal kezuhudan (al-zuhhad), dengan titik orientasi keagamaan yang berbeda dari para ulama Kuffah. Namun, menurut Ibn Taimiyah, kedua kelompok itu sama-sama berhak memperoleh sebutan alshiddiq-u, hanya saja masingmasing menempuh jalan ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya menurut ijtihad yang mereka lakukan. Tapi, lanjut Ibn Taimiyah dalam

7

M IMBAR AGAMA penjelasannya, karena di kalangan mereka terjadi banyak ijtihad dan perbedaan pendapat, maka masyarakat pun berselisih dalam menilai kaum sufi. Sekelompok orang memandang mereka sebagai kaum pembuat bid'ah dan menyimpang dari sunnah, dan banyak dikutip orang pernyataan serupa itu dari kalangan para ulama yang sudah dikenal. Pandangan serupa ini banyak dianut oleh kalangan ahli fiqh dan kalam. Kemudian segolongan masyarakat lain berlebihan dalam penilaian positif mereka pada kaum sufi. Golongan ini melihat kaum sufi sebagai makhluk paling utama dan paling mulia setelah para Nabi. Ibn Taimiyah menegaskan bahwa kedua pandangan yang ekstrem itu tercela. Yang benar ialah bahwa kaum sufi adalah orang-orang yang berijtihad dalam menaati Allah, sebagai golongan lain yang taat kepada Allah juga melakukan ijtihad. Maka di kalangan kaum sufi ada golongan pemuka (al-sabiq yang memperoleh

Jalan kaum sufi ialah niat untuk membersihkan jiwa dan menjaga hawa nafsu, serta untuk melepaskan diri dari berbagai bentuk'ujub, takabbur, riya' dan hubb al-dunya (kagum pada diri sendiri, sombong, suka pamrih, dan cinta kehidupan duniawi). kedekatan (al-muqarrab) kepada Allah setingkat dengan ijtihadnya. Juga ada golongan yang sedang-sedang saja (al-muqtashid), yang termasuk kelompok ahl al-yamin ("kelompok kanan" seperti disebutkan QS. al-Waqi'ah 56:38). Dan pada masing-masing golongan itu ada yang melakukan ijtihad lalu membuat kesalahan, ada yang berdosa dan kemudian bertobat atau tidak bertobat. Dari kalangan mereka yang mengikuti kaum sufi juga ada orangorang yang dzalim dan membangkang pada Tuhannya (ibid, hal. 1920). "Dan", tandas Ibn Taimiyah, "barang siapa menganggap tercela,

terhina dan terkutuk setiap orang yang melakukan ijtihad dalam usaha taat kepada Allah namun pada membuat kesalahan dalam beberapa perkara, maka ia keliru, sesat dan pembuat bid'ah (ibid, hal. 16). Anggapan serupa itu, menurut Ibn Taimiyah, adalah pendirian kaum ekstremis. Lalu ia tegaskan bahwa "Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah menganut pandangan seperti disebutkan dalam Kitab, sunnah dan ijma" yaitu bahwa seorang yang beriman, berdasarkan janji Allah dan kemurahanNya, berhak atas pahala untuk kebaikan-kebaikannya dan berhak atas siksa untuk kejahatan-kejahatannya, dan bahwa dalam diri satu orang tergabung sesuatu (kebaikan) yang bakal mendapat pahala dan sesuatu (kejahatan) yang bakal mendapat siksa, juga ada sesuatu yang terpuji dan ada sesuatu yang tercela, sebagaimana juga ada sesuatu yang menyenangkan dan ada sesuatu yang tidak menyenangkan, dan begitu seterusnya."n (ibid, hal. 17).

UPTD Puskesmas Jenu Gelar Pelatihan UKGMD UPTD Puskesmas Jenu menyelenggarakan Pelatihan Kader Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa (UKGMD). UKGMD adalah pendekatan edukasi yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan peran serta masyarakat dalam memelihara kesehatan gigi. Sedangkan, kegiatan yang dilakukan UPTD Puskesmas Jenu untuk meningkatkan status kesehatan gigi dan mulut masyarakat di wilayah UPTD Puskesmas Jenu, secara optimal melalui upaya promitif dan preventif. Pelatihan UKGMD diberikan kepada kader di setiap desa yang masuk dalam wilayah UPTD Puskesmas Jenu, untuk disebarluaskan kepada masyarakat. Pelatihan diberikan karena kesehatan gigi dan mulut selalu dianaktirikan masyarakat. Masyarakat banyak yang beranggapan bahwa penyakit gigi dan mulut adalah hal yang sepele, mereka hanya memeriksakan giginya saat penyakitnya sudah parah. Dari hal tersebut, UPTD Puskesmas Jenu berinisiatif menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut

8

Saat pelatihan UKGMD.

kepada masyarakat. Materi yang disampaikan adalah materi yang mudah dimengerti tetapi sangat penting bagi masyarakat, mulai dari pengenalan apa saja yang ada di dalam rongga mulut, fungsi gigi, kelainan dan penyakit gigi mulut sampai cara merawat gigi dan mulut yang benar.n

No. 223 n November 2016

K

ISAR EKSEKUTIF

Bersih-bersih Bengawan Solo yang melakukan pembersihan sampah dan rumput di tepi sungai. Kegiatan tersebut diharapkan dapat mengurangi resiko bencana, terutama di kawasan yang menjadi langganan bencana banjir. Dipilihnya Desa Simorejo karena merupakan titik rawan terjadinya banjir, datarannya rendah, juga ditahun-tahun sebelumnya sering terjadi banjir ketika aliran Sungai Bengawan Solo meluap yang mengakibatkan tanggul jebol. Bersih-bersih di Simorejo mengingat Desa Simorejo merupakan titik elevasi terendah disepanjang jalur Bengawan Solo yang melintasi Kabupaten Tuban. Apresiasi bersih-bersih sungai. (kdg)

S

ecara geografis, klimatologis dan hidrologis, wilayah Kabupaten Tuban memiliki potensi ancaman bencana cukup besar. Sesuai hasil kajian BPBD Kabupaten Tuban tahun 2013 lalu, Kabupaten Tuban memiliki risiko bencana tinggi. Sehingga, untuk mengurangi dampak bencana banjir di perlukan gerakan bersihbersih sungai. “Wilayah kita termasuk memiliki indeks risiko bencana yang tinggi. Berdasar hitungan BPBD mencapai skor 175, sehingga sebelum terjadi banjir dilakukan kegiatan-bersih,” tutur BupatiTuban, H. Fathul Huda, ketika memimpin Apel Besar Gerakan Nasional Pengurangan Risiko Bencana di Desa Simorejo Kecamatan Widang. Dikatakanoleh Pak Bupati, bahwa bersih-bersih sungai ini dalam rangka gerakan nasional pengurangan risiko terjadinya bencana di Kabupaten Tuban. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengurangi risiko bencana banjir yang kerap melanda wilayah Kecamatan Widang.Terkait kebencanaan, Pak Huda, sapaan Bupati Tuban, menambahkan,

bahwa wilayah Kabupaten Tuban menempati urutan ke-145 dari 465 kabupaten atau kota se-Indonesia. Meski begitu, hendaknya masyarakat sadar akan adanya bencana serta mengurangi risiko bencana semaksimal mungkin. “Bencana yang sering melanda Tuban di antaranya banjir, angin puting beliung, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem dan kekeringan. Bencana itu harus kita waspadai,” tutur Pak Huda. Pak Bupati juga mengingatkan bahwa sungai adalah urat nadi kehidupan dalam mendukung kemajuan ekonomi masyarakat, sehingga harus dijaga bersama. “Saya menyambut baik dan mengapresiasi bersih-bersih sungai di Simorejo ini. Semoga kegiatan itu menjadi awal dan terus dilaksanakan secara komperhensif di wilayah lainnya,” tuturnya. Sisir sungai Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Tuban, JokoLudino, mengatakan, bersih-bersih ini dilakukan dengan menyisir sungai. Ada pembersihan di tengah sungai menggunakan perahu karet. Selain itu, ada

No. 223 n November 2016

Cinta lingkungan Kegiatan yang menggandeng masyarakat ini diharapkan memberi kesadaran bagi warga terlebih yang tinggal di dataran Sungai Bengawan Solo agar lebih mencintai lingkungannya dengan selalu menjaga kebersihan sungai. Masyarakat hendaknya mengetahui bahwa tidak hanya mendapat manfaat dari Sungai Bengawan Solo akan tetapi juga harus selalu ingat bahwa bahaya sewaktu-waktu dapat mengancam. Diharapkan, masyarakat tidak membuang sampah sembarangan kesungai. Sebab, tindakan itu bisa menjadi pemicu terjadinya banjir. Membuag sampah di sungai bisa meghambat aliran air dan mudah tersumbat. Selanjutnya, jika banjir terjadi maka akan berdampak pada lahan pertanian dan bisa masuk kepemukiman. “Jika terjadi banjir biasanya lahan pertanian dulu yang tergenang. Lalu, merambah pemukiman warga, sehingga bila membuang sampah di sungai maka akan menjadi salah satu pemicu terjadinya banjir,”pungkas Pak Joko, Kalaksa BPBD Tuban.nkdg

9

L APORAN UTAMA

Hari Jadi Momen “Evaluasi”

P

eringatan Hari Jadi Kabupaten Tuban ke-723 tahun 2016, menurut sesepuh masyarakat Kecamatan Semanding, Warsito, S.Pd, M.Hum, merupakan saat yang tepat untuk merefleksikan kembali perjalanan agenda pembangunan daerah dengan berbagai dinamika yang dihadapinya. Menurut keterangan mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tuban selama tiga periode yang kerap disapa Pak Warsito ini, Hari Jadi merupakan momen introspeksi diri. Sebuah momen yang harus dimaknai sebagai evaluasi, penyempurnaan maupun perbaikan. Maksudnya, segala sesuatu yang kita lakukan dari hari ke hari harus mengalami peningkatan. Mengingat sejarah awal Tuban, yang berperan dalam proses peradaban, hingga memasuki era demokrasi ini, katanya, tentu sangat tidak arif jika peringatan Hari Jadi Tuban hanya berkutat pada tataran seremonial, yang bisa jadi kering dari makna. Disamping itu, Kabupaten Tuban yang dulu dijuluki “Kota Tuak” dan kini memiliki branding city Tuban Bumi Wali The Spirit of Harmony, dinilainya memiliki potensi yang luar biasa. Sebut saja, pertambangan batu kapur, perikanan dan kelautan, industri skala nasional sampai internasional, semen, hingga minyak dan gas bumi. Bahkan, tidak hanya di atas, Tuban juga menjadi salah satu pusat wisata religi di wilayah Jawa Timur (Jatim). Tuban memiliki makam Sunan Bonang, Sunan Gesing, Bejagung Lor dan Bejagung Kidul, serta beberapa petilasan keramat yang sering dikunjungi warga lokal maupun luar daerah. “Hal tersebut meru[akan potensi wisata religi. Karena itu, sah-sah saja jika Tuban menyebut dirinya Bumi Wali. Karena memang banyak

10

tempat dan peninggalan religi di sini,” ujarnya. Menurut, mantan Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sambonggede II Kecamatan Merakurak itu, letaknya yang strategis membuat Tuban cukup diperhitungkan dalam segala aspek, terutama ekonomi di Jawa. Tidak heran, karena Tuban yang termasuk dalam daerah Mataraman dilintasi Jalan Nasional Daendels di Pantai Utara. Pada zaman dahulu, Tuban juga dijadikan pelabuhan utama Kerajaan Majapahit dan menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam oleh Walisongo. Laki-laki yang masih nampak gagah di usianya yang sudah lebih dari separuh abad ini, menyatakan dukungannya dalam pelestarian dan pengembangan ikon-ikon daerah. Syaratnya tidak bertentangan dengan ajaran agama dan peraturan yang berlaku. Namun, Ia menyadari hal ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Amar ma'ruf nahi munkar Penegakan amar ma'ruf nahi munkar, urainya, seringkali menemui jalan terjal. Pada kasus pemberantasan arak, misalnya, petugas masih harus kucing-kucingan dengan pembuat arak yang tidak jera meski terkena razia berkali-kali. Tidak sekadar melakukan razia, tukasnya, pemerintah juga harus memikirkan solusi atas permasalahan tersebut karena menyangkut mata pencaharian orang banyak. “Sama halnya dengan kasus tuak, pemerintah bisa saja mendirikan pabrik gula di Tuban. Masyarakat bisa menyetorkan hasil nderes berupa legen sebagai bahan baku pembuatan gula. Maka, masyarakat tidak akan khawatir kehilangan mata pencaharian alias dapur tetap ngebul. Di sisi lain, Tuban juga akan

Pak Warsito. (ydh)

memiliki produk unggulan berupa gula aren berkualitas,” ucapnya. Masih kata sesepuh Kecamatan Semanding ini, intinya adalah menjaga dan melestarikan kekayaan Tuban. Bila tidak dijaga dan dipelihara, lambat laun kekayaan tersebut akan musnah. Pak Warsito kemudian menyebutkan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian lebih, yakni batik, kerajinan anyaman bambu, kesenian tradisional, pelestarian hutan serta sumber mata air dan sebagainya. Keselarasan budaya dan agama Selanjutnya, berharap terjadinya keselarasan antara budaya dan agama di Tuban. Meski sebagian orang menilai budaya dan agama adalah dua hal yang berbeda dan tidak bisa saling dikaitkan, namun pada dasarnya terdapat pengaruh yang kuat di antara keduanya. “Agama seringkali memunculkan budaya baru. Sedangkan, budaya terkadang juga dijadikan media untuk prosesi ritual sebagai wujud kecintaan terhadap Tuhan. Untuk itu, kita tidak bisa sepenuhnya menghilangkan unsur budaya tersebut,” pungkasnya.n ydh

No. 223 n November 2016

L APORAN UTAMA

Butuh Generasi

Berbudi Pekerti Kepala Sekolah Sekolah Menengah Pertama (Kasek SMP) Negeri 3 Tuban, Witono, S.Pd, M.Pd, pada refleksi peringatan Hari Jadi Kabupaten Tuban ke-723 tahun 2016, mengatakan, dunia pendidikan tidak lepas dari berbagai permasalahan yang kompleks. Kasek SMPN 3 Tuban. (ydh)

S

elain memberikan bekal ilmu pengetahuan dan agama, juga dituntut mencetak generasi yang berakhlakul karimah (akhlak mulia) dan berkarakter. Dengan lahirnya generasi yang berakhlakul karimah dan berkarakter, diharapkan dapat membuat perubahan untuk bangsa Indonesia. “Memastikan hasil pendidikan di Tuban adalah anak-anak yang pintar dan benar. Lahirnya generasi yang berakhlakul karimah atau berbudi pekerti luhur ditampakkan dengan ilmu yang bermanfaat,” tuturnya. Menurutnya, akhlakul karimah, yang merupakan visi - misi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban, bukan hanya slogan semata. Akan tetapi, seluruh komponen di Bumi Wali harus dapat membuktikan dan mendorong terwujudnya masyarakat Kabupaten Tuban yang lebih maju, religius, sejahtera dan bermartabat dalam tata pemerintahan yang kreatif dan bersih. “Untuk menunjang hal tersebut, sekolah kami menerapkan program Langit Biru, yakni program pemberdayaan sekolah sebagai laboratorium budi pekerti. Program ini diharapkan mampu mencetak generasi berkarakter serta berakhlak mulia,” tandas Pak Wit, sapaan

Kasek SMPN 3 Tuban. Guna mewujudkan pendidikan yang baik, lanjutnya, Pemkab Tuban juga sudah menunjukkan itikad dan upaya yang luar biasa. Upaya itu antara lain penyediaan dana pendidikan bagi siswa yang kurang mampu serta peningkatan sarana dan prasarana penunjang pendidikan yang memadai. Sedangkan, untuk menyiapkan generasi impian, berdasarkan instruksi Bupati Tuban, tahun depan sudah mulai diujicobakan untuk syarat masuk SMP bagi yang beragama Islam harus mempunyai syahadah atau ijazah dari Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) atau lembaga sejenis. Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Tuban juga sudah menindaklanjuti bekerjasama dengan Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Tuban. Pak Wit, yang tiada henti berinovasi ini, menyambut baik instruksi Bupati tersebut. Baginya, untuk membentuk karakter generasi muda, salah satunya dengan memberikan bekal agama yang kuat. Memberikan bekal ilmu pengetahuan dan agama yang kuat, katanya, merupakan salah satu harapan dan tujuan negara, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Harapan ini dapat terwujud dengan dukungan dari seluruh komponen masyarakat.

No. 223 n November 2016

“Seluruh komponen tersebut diharapkan menunjukkan eksistensinya dan bersama-sama pemerintah membangun bangsa ini sehingga jauh dari ketertinggalan. Kami optimis pendidikan di Tuban pada lima atau sepuluh tahun mendatang sudah bisa melahirkan generasi Bumi Wali yang berbudi pekerti luhur,” ucapnya. Genggam dunia Bagi Pak Witono, generasi muda harus memiliki semangat untuk bisa menggenggam dunia, tidak sekadar menjadi penonton, ujarnya, seraya mengutip kalimat bijak dari Bung Karno: "Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia". Selanjutnya, Pak Kasek yang selalu berpenampilan necis ini, menyatakan, kalau pada jaman dahulu musuh yang dihadapi adalah penjajah, maka sekarang musuh terberat justru berasal dari bangsa sendiri. Musuh tersebut bisa berupa kemalasan, kebodohan, dan kemiskinan. Juga ketertinggalan ilmu pengetahuan dan teknologi dari bangsa lain. Dengan mendapatkan pendidikan yang cukup kita akan bisa mendapat masa depan yang lebih baik, tegasnya.n ydh

11

C

ERMIN

Kota Tuban dan Sejarah Al Quran Oleh: Drs. Suwarno, MPd. Email : [email protected] Ada sebuah episode kehidupan paling menggairahkan yang saya alami hingga saat ini. Masamasa itu saya namai sebagai masa tumbuhnya intelektualitas kami. Dimana hari-hari itu kami banyak hiasi dengan membaca buku, mengkaji kitab, diskusi dan saling menimba ilmu.

B

eberapa sahabat intelektual yang hingga saat ini masih melekat namanya antara lain almarhum Muhammad Irfan, juga almarhum Tohar. Kedua-duanya adalah sahabat intelektual saya di Desa Jarorejo, Kecamatan Kerek. Dua-duanya adalah pembaca buku yang sangat haus ilmu. Koleksi perpustakaan dan bahan bacaannya banyak. Bahkan, kerapkali mereka memiliki buku atau kitab langka yang tidak dimiliki orang lain. Yang aneh dari mereka berdua adalah bukan berpendidikan tinggi. Pak Irfan hanya lulusan SMA, Pak Tohar hanya lulusan SMP. Namun, duaduanya mampu menganalilis masalah sekelas sarjana. Bisa dimaklumi bila saat itu (seputar tahun 1989 sampai 1995) saya sangat rajin menimba ilmu dari mereka. Saya kerasan berjam-jam berada di rumah mereka untuk membaca koleksi buku dan berdiskusi dengan almarhum berdua. Begitu beliau wafat, tentu rasa kehilangan yang amat mendalam sering menyelimuti perasaan saya hingga saat ini. Semoga Allah SWT selalu merahmati beliau berdua di alam sana. Dari beberapa buku bacaan

12

milik almarhum Pak Irfan yang hingga kini masih melekat di benak saya adalah buku karya Aboe Bakar Atjeh judulnya Sejarah Al-Quran. Saya sangat kagum dengan karya almarhum Prof. Dr. Aboe Bakar Atjeh yang waktu itu sudah sangat produktif menulis berbagai macam buku. Beliau adalah sosok cendekiawan terkenal dari Aceh, dan juga penulis buku-buku keagamaan, filsafat dan kebudayaan. Di antaranya telah menghasilkan karya magnum opus berjudul Sedjarah H.H.A. Wachid Hasjim dan Karangan Tersiar, terdiri dari 975 halaman, terbit pada tahun 1957, khusus untuk memperingati empat tahun wafatnya Kiai Wahid Hasyim. Lahir dengan nama Aboe Bakar pada 18 April 1909 di Peureumeu, Kabupaten Aceh Barat, dari pasangan ulama. Ayahnya adalah Teungku Haji Syekh Abdurahman. Ibunya bernama Teungku Hajjah Naim. Wafat pada 18 Desember 1979 di Jakarta, dan dimakamkan di Pemakaman Karet Jakarta. Tambahan “Aceh” di belakang namanya merupakan pemberian Presiden Sukarno yang kagum akan keluasan ilmu putra Aceh ini. “Ensiklopedia Berjalan” adalah sebutan teman-temannya tentang hakikat ilmu pengetahuannya. Terus terang saya kagum dengan buku tersebut. Tidak sedikit karya ilmiah yang merujuk buku karya beliau ini. Kota Tuban di Buku Aboe Bakar Atjeh Di buku setebal 422 halaman itu banyak hal yang berkesan di benak saya. Pada halaman 331s/d 335 terdapat cerita tentang sejarah Tuban yang berkenaan dengan Sunan Bonang yang dinukil oleh Prof. Aboe Bakar dari disertasi Dr. B.J.O. Schreike, yang berjudul Het

Boek Van Bonang. Sebagian cerita itu akan saya paparkan di tulisan singkat ini tentang keadaan Tuban dan Sunan Bonang berikut ini. Sunan Bonang lahir tahun 1465. Ia adalah seorang anak dari Sunan Ampel yang lahir dari perkawinan dengan Nyai Ageng Manila, seorang puteri dari Arya Teja, seorang Tumenggung dari Kerajaan Mojopahit, yang berkuasa di Tuban. Anak yang lain dari Sunan Ampel ialah Sunan Drajat. Selain dengan Nyai Ageng Manila, puteri kandung dari Arya Teja, Sunan Ampel kawin juga dengan Nyai Ageng Bela, seorang keponakan dari Tumenggung Tuban ini. Perkawinan Sunan Ampel dengan Ibu Sunan Bonang, Nyai Ageng Manila itu, terjadi kirakira dalam tahun 1450. Sejarah menceriterakan, bahwa pada suatu ketika Sunan Bonang dan Sunan Giri pergi naik haji ke Mekkah. Sunan Bonang berada kembali di Tuban antara tahun 1475 dan 1500. Tuban dalam abad XIV adalah satu pelabuhan Mojopahit yang terpenting, bahkan antara abad XV XVI bersama dengan Gresik merupakan sebuah kota dagang yang terbesar di Jawa Timur. Tuban tidak saja merupakan sebuah kota yang ramai tetapi juga mempunyai bangunan-bangunan yang indah. Dari cerita-cerita pelajar-pelajar Belanda diketahui, bahwa dalam tahun 1598 Tuban adalah kota dagang yang dilingkungi dinding tembok dengan pintu-pintu gerbang yang indah. Sunan Bonang adalah salah seorang Wali yang giat menyiarkan agama Islam. Sebagai daerah tablighnya yang terpenting disebut orang Tuban dan sekitarnya. Ia kebetulan hidup dalam masa kerajaan Hindu Mojopahit sedang berjalan ke

No. 223 n November 2016

C ERMIN arah kehancurannya. Pertolongannya Tuhan kepada orang Islam ketika itu datang dan tinggal melihat saja manusia-manusia itu berduyun-duyun datang memasuki agama Allah itu. Pesantren dibangun dan mesjid didirikan di mana-mana. Demikian keterangan Dr. B.J.O. Schreike tentang situasi Tuban di sekitar tahun 1450 sampai sekitar tahun 1600. Pada saat itu Sunan Bonang berperan sebagai penyebar ajaran Islam yang nota bene membawa ajaran Al-Quran. Peran Sunan Bonang sebagai pembimbing umat mengajarkan AlQuran tentu semakin memperkuat bahwa kota Tuban ini sejak dulu memang menjadi “pioner” dakwah di tanah Jawa. Dari kota Tuban inilah persemaian gerakan dakwah diawali cikal bakalnya. Pesantren Tertua: Langitan dan Makam Agung Menurut Aboe Bakar Atjeh, Islam datang pertama kali di Pulau Jawa berasal dari Malaka di Sumatera Utara. Dari Malaka kemudian menyebar ke Jawa Timur, di daerah pesisir utamanya adalah Tuban dan Gresik. Dengan mengutip Dr. Priyono, Aboe Bakar Atjeh menulis di halaman 234: “Dari Malaka agama Islam masuk ke kota-kota dagang di tanah Jawa, pada mulanya di Jawa Timur. Dari Jawa Timur pelajaran alQuran terus tersiar ke Jawa Tengah, dari sana ke Jawa Barat. Dari Jawa Barat ke tanah Lampung terus ke Bengkulu dan Minangkabau. Dari Jawa Timur agama Islam disiarkan ke arah timur sampai Maluku. Dari pulau-pulau Maluku masuk di tanah Sulawesi Utara (Kerajaan Gowa). Dari Sulawesi Utara maju ke Sulawesi Selatan”, dan seterusnya. Dari keterangan sejarah di atas, kita bisa membayangkan betapa

Peran Sunan Bonang sebagai pembimbing umat mengajarkan Al-Quran tentu semakin memperkuat bahwa kota Tuban ini sejak dulu memang menjadi “pioner” dakwah di tanah Jawa. Dari kota Tuban inilah persemaian gerakan dakwah diawali cikal bakalnya. kuat dan hebatnya pengaruh ulama yang berbasis di kota pesisir di Jawa Timur, khususnya di kota Tuban. Penyebaran ke arah barat dan ke arah timur bermula dari satu titik yaitu kota kita tercinta. Maka tidak ada salahnya bila kita mengapresiasi bahwa kota Tuban ini sebagai bagian dari sejarah penyebaran ajaran AlQuran yang amat vital dalam sejarah ke-Indonesiaan. Aboe Bakar Atjeh mengutip Dr. I.J. Brugmans, menyatakan, bahwa pelajaran Al-Quran di Indonesia dapat dibagi atas dua macam, ada yang diberikan di rumah atau di langgar dan ada yang diberikan di pesantren atau madrasah.Langgar adalah tempat untuk sholat dan

No. 223 n November 2016

mengaji yang sederhana. Madrasah dan pesantren adalah tempat belajar agama yang lebih lengkap peralatan dan sistem pembelajarannya. Pesantren punya ciri khas santri atau muridnya bisa bermukim atau tinggal dalam jangka waktu tertentu untuk menetap agar konsentrasi belajarnya bisa lebih maksimal. Aboe Bakar Atjeh menyebut dua pondok pesantren tertua di Tuban yaitu Langitan dan Makam Agung. Dua pesantren itulah yang menjadi cikal bakal pusat penyebaran AlQuran di Bumi Wali ini. Begitulah, gambaran betapa sumbangsih Bumi Wali ini terhadap “sejarah Al-Quran” di Nusantara dan tentu saja untuk se antero dunia. n

13

H ARI PAHLAWAN Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kebonsari I Tuban, Drs. Sucandi, M.Pd, mengatakan, kemerdekaan Indonesia dicapai dengan perjuangan yang panjang dan sarat dengan pengorbanan dari putra dan putri terbaik bangsa. Oleh karena itu, sebagai anak bangsa sudah sepantasnya kalau kita menghargai jasa para pahlawan dan meneladani perjuangannya.

Nilai-nilai Kepahlawanan Masih Relevan Pak Candi. (ydh)

S

eperti kata Bung Karno, ujarnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Bagi generasi muda mengenal dan memahami perjuangan para pahlawan sangatlah penting. Semangat kepahlawanan yang telah diwujudkan oleh para pejuang merupakan amal perjuangan yang dipersembahkan kepada bangsa dan tanah air. Mereka berjuang berdasar jiwa dan semangat rela berkorban untuk bangsanya. Hingga saat ini, imbuhnya, nilai-nilai kepahlawanan masih relevan dan patut menjadi suri teladan bagi generasi muda. Nilai-nilai kepahlawanan tersebut perlu dijunjung tinggi dengan penuh kebanggaan dan diamalkan dalam berbagai kegiatan pembangunan serta kehidupan sehari-hari. “Perlu bagi kita untuk menjiwai dan menghayati nilai-nilai juang 45, antara lain rela berkorban dan ikhlas dalam berjuang. Juga semangat untuk memupuk, mempertahankan dan mengisi pembangunan nasional,” ucapnya. Laki-laki yang akrab disapa Pak

14

Candi ini, tidak memungkiri bahwa nilai-nilai kepahlawanan saat ini cenderung mengalami penurunan dalam pengamalannya. Ia mencontohkan, meredupnya jiwa gotong royong dan menjamurnya sikap materialistis di kalangan masyarakat. Menurutnya, ketidakmampuan bangsa ini mewarisi jiwa semangat kepahlawanan bisa berarti bencana telah menanti. Berbahaya jika suatu bangsa telah terkikis nilai-nilai, semangat kepahlawanan, nasionalisme dan pengorbanannya. “Kita ingat pertempuran Surabaya 10 Nopember 1945, Bung Tomo dengan pekik Allahu Akbar berhasil melesatkan semangat pejuang untuk berjibaku mengusir penjajah dengan tetesan darah dan air mata. Namun, kondisi sekarang berbeda, apa-apa dihitung dengan uang,” tandasnya dengan semangat berapi-api. Berbicara mengenai sikap patriotisme yang dijiwai semangat kepahlawanan, laki-laki yang pernah terdaftar sebagai angkatan pertama Diklat Bela Negara di Bogor pada jaman pemerintahan Presiden Suharto ini, menandaskan, hal ini tidak lepas dari peran pendidikan sebagai agent of change, dimana melalui proses pembelajaran tertanam nilainilai nasionalisme, kebangsaan cinta tanah air. Pengenalan nilai-nilai kepahla-

wanan, tukasnya, perlu dilakukan dan disosialisasikan pada generasi muda sejak dini, dilandasi pembangunan mental moral yang cukup. Institusi pendidikan harus mampu berperan dalam memotivasi generasi penerus untuk mengenal dan mencintai hasil perjuangan para pahlawan. Keteladanan Mantan Kepala SDN Sidorejo I Tuban ini, menilai, penanaman semangat kepahlawanan tidak hanya dalam bentuk teks sejarah, ceramah, pidato dalam upacara tapi perlu ketauladanan dan aksi nyata. “Sebagai contoh, dalam mengenalkan teks sejarah, seperti proklamasi, sumpah pemuda, dan lain sebagainya. Tidak sekadar menghapal, mereka juga harus mengerti dan memahami isinya, sehingga bisa mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” pesannya. Dengan melakukan aksi nyata seperti itu, tegasnya, diharapkan tertanam kuat nilai-nilai dan semangat kepahlawanan dalam generasi muda. Semangat kepahlawanan dalam dunia pendidikan dapat melahirkan sosok pahlawan baru di bidangnya masing-masing. Jiwa kepahlawanan ini nantinya dapat menjadi modal sosial untuk membentuk karakter bangsa.n ydh

No. 223 n November 2016

H ARI PAHLAWAN

”Jangan Biarkan Hawa Nafsu Menguasai Diri” Sepenggal cerita itu masih terekam kuat di benak Moch. Ngalimoen, lelaki sepuh yang tinggal di Kelurahan Sukolilo Kecamatan Tuban. Saat ditemui Akbar di kediamannya, ia mengisahkan pengalamannya berjuang di jaman penjajahan. Kini, veteran berusia 87 tahun itu mengaku bersyukur karena keadaan tidak seperti saat penjajahan.

Heran

Laki-laki yang akrab disapa Mbah Ngalimoen ini, juga mengungkapkan keheranannya atas menjamurnya kasus korupsi di Indonesia. Kakek 16 cucu yang bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sejak tahun 1947 ini, menegaskan, korupsi merupakan wujud rasa tidak bersyukur. Betapa tidak, mereka yang tidak perlu susah-susah berjuang melawan penjajah dan tinggal berupaya mempertahankan kemerdekaan malah menggunakan kesempatan itu untuk memperkaya diri sendiri. Dewan Penasehat DPD 45 Cabang Tuban ini, bahkan ingat betul Dahulu, di wilayah yang dipesankan orang tuanya dahuSukolilo ini rumahnya lu, agar jangan sekali-kali iri dengan banyak yang berdinapa yang dimiliki orang lain. Baginya, ding bambu, sekarang rumah hidup itu harus sabar dan senantiasa seperti itu sudah jarang terlihat. mensyukuri apa yang ada. Kebanyakan sudah keramik, “Jaman dulu, orang-orangnya jarang yang berlantaikan taterkenal jujur. Entah orangnya yang nah,” terangnya. lugu atau memang tidak ada yang Kepada generasi muda, bisa dikorupsi. Kalau sekarang, sulung dari enam bersaudara saya prihatin karena hampir setiap ini, berpesan agar mengisi kehari mendengarkan berita tentang merdekaan dengan hal-hal korupsi, kolusi, dan sejenisnya,” Mbah Ngalimoen. (ydh) positif. Jangan membiarkan tegasnya. hawa nafsu menguasai diri, apalagi sampai merugikan Veteran yang pensiun dengan pangkat terakhir orang lain. Letnan Satu ini, berpesan agar kita tidak hanya mengejar Dewan Penasehat Primer Koperasi Purnawirawan segala sesuatu yang sifatnya kesenangan semu. MisalABRI (Primkopabri) Tuban ini, menuturkan, berjuang nya, minuman keras dan narkotika. Hal itu, imbuhnya, dimengusir penjajah merupakan perjuangan tanpa pastikan bisa merusak generasi muda sebagai calon gepamrih dan dilakukan semata-mata karena cinta tanah nerasi penerus yang akan menggantikan generasi saat ini. air. Menjadi bagian dari perjuangan merebut dan mempertahankan Indonesia merdeka baginya adalah Teladani pejuang perbuatan yang membanggakan. Selanjutnya, Mbah Ngalimoen juga menyinggung “Saat itu, kami sama sekali tidak mengharapkan masalah kesenjangan sosial yang masih banyak dijumpamrih selain menginginkan kedaulatan Indonesia. pai hingga kini. Dikatakan, adanya ketidakpedulian Tidak seperti sekarang, kebanyakan generasi mudanya terhadap sesama menyebabkan yang kaya makin kaya takut miskin. Maunya serba instan, serba enak,” tandasdan yang miskin makin miskin. nya. “Saya berharap generasi selanjutnya dapat Menurutnya, hal tersebut tidak bisa lepas dari meneladani sikap tanpa pamrih yang telah dicontohkan faktor moral dan pendidikan budi pekerti. Bapak enam para pejuang. Merebut kemerdekaan tidak mudah, anak ini, kemudian memberikan contoh perlakuan anak namun mempertahankannya jauh lebih sulit. Karena itu, kepada orang tua, murid kepada guru, maupun kaum mari kita sama-sama merenung dan bertindak sesuai muda kepada yang berusia lebih tua, saat ini sudah jauh dengan kapasitas masing-masing dalam mengisi berbeda. Dahulu, sopan santun masih terjaga, tapi kemerdekaan. Intinya, kecintaan terhadap bumi pertiwi sekarang semakin luntur. jangan sampai luntur,” tegasnya.n ydh



No. 223 n November 2016

15

H ARI JADI JATIM KE-71

Gelar Festival Makanan Khas Daerah Dalam memperingati Hari Jadi Provinsi Jawa Timur (Jatim) ke-71, sekaligus menyongsong Hari Jadi Tuban (HJT) ke723, Badan Penyuluh Petanian dan Ketahanan Pangan (BP2KP) bersama Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Tuban mengadakan Festival Makanan Khas Daerah se-Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) II Bojonegoro. Kegiatan ini berlangsung meriah di Pendopo Krido Manunggal Tuban.

Daerah bisa terkenal karena makanannya. (kdg)



Makanan bila dihayati mempunyai makna yang luar biasa, satu daerah kadang bias terkenal karena makananya, makanya perlu terus berinovasi dengan makanan dan pengolahan makanan ini,” tutur Bupati Tuban, H. Fathul Huda. Digelarnya festifal ini diharapkan Pak Bupati selain mampu meningkatkan kecintaan terhadap makanan daerah, juga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat melalui keanekaragaman makanan. Di Tuban sendiri saat ini masih perlu peningkatan kualitas makan ikan karena Kabupaten Tuban menjadi salah satu daerah penghasil ikan di JawaTimur (Jatim). “Salah satu yang harus diinovasi, yakni makanan berbahan ikan, sebab selama ini penyajian dan kemasan makanan berbahan ikan masih kurang menarik, harus ada perbaikan agar terjadi peningkatan ekonomi masyarakat,” ujar Pak Huda, sapaan Bupati Tuban. Menarik dan tetap bergizi Ketua TP-PKK Kabupaten Tuban, Hj. Qodiriyah Fathul Huda, juga menilai perlu adanya peningkatan cara

16

mengolah makanan agar menjadi menarik tetapi tetap bergizi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. “Makanan, selain enak dan mengandung gizi yang baik, juga harus dikemas dengan menarik, sehingga disukai oleh keluarga,” tutur Istri tercinta Bupati Tuban ini. Melalui PKK, Bu Huda, sapaan akrabnya, akan selalu berusaha memberikan himbauan juga pelatihan kepada ibu-ibu agar dapat mengolah makanan dengan baik dan dari bahan yang baik pula, seperti dengan menanam sendiri di kebun. “Festival makanan ini perlu diadakan, sebagai motivasi dalam pengembangan makanan daerah, dengan tetap menjaga gizi makanannya. Diharapkan, bukan hanya seremonial, tetapi kegitan itu juga bias diterapkan di rumah masing-masing,” harap Bu Hj, Qodriyah Fathul Huda. Agenda tahunan Kepala Bakorwil Bojonegoro, Drs. Agung Harianto, M.Si., mengatakan, Festival Makanan Khas Daerah seBakorwil Bojonegoro merupakan agenda tahunan. Makanan yang beredar di sekitar masyarakat saat ini diserbu serba instan dan cepat saji. Padahal, nilai gizinya kurang dibanding makanan tradisional, bahkan masuk kategori tidak sehat. Sehingga banyak dampak negatif, seperti yang sering kita jumpai anak muda sekarang terkena hipertensi, stroke, jantung dan kanker. Itu semua salah satu faktornya karena makanan. “Perlu kita tingkatkan kepedulian kita terhadap olahan makanan lokal, sehat dan kreatif. Bila dikelola baik, makanan khas suatu daerah bias meningkatkan kesejahteraan masyarakat, juga menunjang pengembangan sector wisata,” tutur Pak Agung, sapaan Kepala Bakorwil Bojonegoro. Lagu-lagu Koes Plus Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka menjaga kelestarian makanan daerah ini diikuti oleh 6 Kabupaten dan 2 Kota, antara lain Kota Kediri, Kota Mojokerto,

Sajian khas Kabupaten Tuban. (kdg)

No. 223 n November 2016

H ARI JADI JATIM KE-71 Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Tuban, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Jombang dan Kabupaten Kediri. Sementara, tahun ini Kabupaten Tuban harus puas sebagai Juara III, tetapi juga harus bersyukur dan bangga karena menjadi Juara Favorit yang akan mewakili Bakorwil Bojonegoro ketingkat Jatim. Selain Festival Makanan Khas Daerah, kegiatan di atas juga diisi dengan penampilan lagu-lagu Koes Plus dari ke 6 Kabupaten/Kota, masing-masing menyumbangkan 5 lagu.n kdg

Tim Kabupaten Tuban. (kdg)

H

ari Jadi ke-71 Provinsi Jawa Timur (Jatim) bertema “Dengan Semangat Kerja Nyata Mari Kita Mantabkan Jawa Timur Sebagai Provinsi Industri Berbasis UMKM. Demikian tutur Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tuban, Dr. Ir. Budi Wiyana, M.Si, saat upacara peringatan Hari Jadi Provinsi Jatim ke-71 di Halaman Gedung Pemkab Tuban. Saat membacakan Sambutan Gubernur Jatim, Pak Sekda, mengatakan, Provinsi Jatim merupakan salah satu wilayah yang pertumbuhan ekonominya cepat dan merata dibandingkan Provinsi lainya. Harapannya, ada kerja keras dan kerjasama seluruh masyarakat untuk mewujudkan Provinsi Jatim sebagai ladang industri serta menunjukkan semangat masyarakat Jatim terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dan merata. Saat ini, sekitar 92 % wilayah Jatim didominasi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Sektor ini mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat dan mengurangi tingginya angka pengangguran. UMKM menjadi fundamental ekonomi di Jatim, bahkan tidak saja menjadi produsen dominan PDRB, akan tetapi juga kontributor utama faktor pembentuk ekonomi, investasi non fasilitas, diantaranya yang mendominasi realisasi investasi di Jatim, yang pada tahun 2015, sebesar 58,51 persen dan Semester I tahun 2016 telah mencapai 47,74 persen

Jatim Didominasi UMKM

Jatim “kaya” UMKM. (kdg) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Tidak hanya di bidang investasi, Pak Bud, sapaan Sekda Kabupaten Tuban, juga menambahkan, bahwa UMKM adalah pelaku yang mampu memberikan capital inflow dominan bagi Jatim dalam mewujudkan surplus perdagangan antar pulau yang pada tahun 2015 mencapai Rp 99,83 Triliun. Dan pada Semester I tahun 2016 mencapai Rp 50,80 Triliun. Semua capaian yang telah diraih Jatim atas dukungan serta partisipasi dari masyarakat terhadap proses keberlangsungan pembangunan di Jatim, sehingga Jatim menjadi Provinsi yang dinamis, tumbuh ekonominya, aman dan tenteram dalam hubungan masyarakatnya. Semua ini tidak lain berkat partisipasi masyarakat Jatim yang

No. 223 n November 2016

selalu mendukung, memberi masukan dan kritik terhadap Provinsi yang kita cintai bersama. “Kami menyadari bahwa Provinsi Jatim tidak sempurna dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Namun, selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Karena itu, dibutuhkan masukan, saran, kritik untuk kemajuan Jatim, apalagi ke depan tantangan luar biasa, khususnya dibidang ekonomi, politik, sosial dan budaya.”tambah Pak Sekda. Partisipasi masyarakat Jatim sangat butuhkan. Dijelaskan, bahwa Jatim bisa maju seperti sekarang karena peran serta masyarakat yang sangat besar. Tanpa peran masyarakat Provinsi Jatim tidak ada artinya. Karena itu, mengajak semua elemen masyarakat untuk selalu mendoakan bagi kemajuan Provinsi Jatim.n kdg

17

E KONOMI

Istri Menkop Apresiasi Batik Gedog

B

atik Tulis Tenun Gedog dikenal di penjuru Nusantara. Bahkan, mendapat apresiasi Istri Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM), I Gusti Ayu Bintang Darmawati, S.E, atau biasa disapa Bintang Puspayoga. Istri tercinta Menkop UKM itu malah sempat mengunjungi Sanggar Batik Tulis Tenun Gedog Sekar Ayu di Desa Kedungrejo Kecamatan Kerek. Kehadiran Istri Menkop UKM, Agung Gede Ngurah Puspayoga, di Bumi Wali didampingi Dirut Keuangan Umum Lembaga Pemasaran dan Pemodalan (LPP) dan Koperasi Usaha Kecil Menengah (KUKM), Kadinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Timur (Jatim), Dr. Ir. I Made Sukartha, CES, serta kedatangannya disambut oleh Ketua Dekranasda Kabupaten Tuban, Ibu Hj. Qodiriyah Fathul Huda, jajaran Dinas Perekonomian dan Pariwisata (Disperpar) Kabupaten Tuban, juga pemilik Sanggar Batik Tulis Tenun Gedog Sekar Ayu, Uswatun Hasanah. Sementara, rombongan langsung menyaksikan proses pembuatan Batik Tulis Tenun Gedok, mulai pemintalan benang, penenunan hingga menjadi kain tenun, ampai proses pembatikan dan pewarnaan. Dijelaskan oleh Ibu Bintang, bahwa kunjungannya untuk melihat potensi-potensi daerah serta untuk mengetahui seberapa jauh kendala-kendalanya dalam mengembangkan potensi tersebut. Sehingga, dari situ, bisa dijadikan masukan ke kementerian. Dalam kunjungan ini, banyak menyaksikan potensi dan peluang yang luar biasa, tidak hanya bahan bakunya namun juga talenta dalam membatik yang patut untuk dikembangkan. “Meski kunjungan ini tidak resmi, namun tidak ada salahnya jika Pemkab Tuban terus mendorong industri berbasis UKM, baik secara kualitas, produksi dan ruang pemasaran,” ujar Ibu Bintang Puspayoga, sambil mengomentari bahwa produk Batik Tuban ini sangat spesial karena mulai dari bahan baku serta basis pembatiknya turun temurun. Tumbuhkan produk UKM Ketua Dekranasda Kabupaten Tuban, Hj. Qpdriyah Fathul Huda, menyampaikan terima kasih atas atensi dari Ibu Bintang, untuk itu, tentu menjadi amanah untuk terus mengembangkan dan mendorong industri berbasis UKM. Dekranasda Tuban, tegas Ibu Hj Qodriyah,

18

Bu Bintang berikan arahan. (kdg)

terus mendukung UKM serta berusaha terus menumbuhkan produk-produk UKM yang berkualitas serta memenuhi standar pasar. Dengan begitu, sambung isteri tercinta Bupati Tuban ini, akan tercipta lebih banyak lagi industri yang bersakala nasional bahkan internasional. “Produk yang bagus, pemasaran yang baik, mendorong industri berbasis UKM menjadi besar,” ujarnya. Pemilik Sanggar Batik Tulis Tenun Gedog Sekar Ayu, Uswatun Hasanah, mengaku senang dengan kehadiran Istri Menkop UKM. Malahan, mengisahkan bagaimana perjuangan membesarkan Batik Tulis Gedok. Mulanya, menggaet tetangga yang hanya sekedar bisa menenun. Selebihnya, digerakkan dengan melatih 20 anak putus sekolah. Rintisan itu bukannya berjalan mulus, justru kain-kain yang dibatik banyak yang rusak dan keadan demikian terus berlangsung hingga beberapa tahun berjalan. Meski begitu, terus ditekuni dan setelah melewati masa-masa jatuh bangun, akhirnya dapat berkembang sebagaimana sekarang ini, yang omzetnya dapat mencapai ratusan juta rupiah tiap bulan. Sedang, berkat usahanya yang mendukung kelestarikan budaya dan memberdayakan masyarakat sekitar, berbagai penghargaan didapat Bu Uswatun Hasanah, termasuk penghargaan Upakarti 2010 Kategori Pelestarian. “Kala itu masa Presiden SBY, juga berkesempatan pameran di beberapa negara seperti Swedia, Thailand, Belanda dan Kamboja," kenang wanita lulusan Sekolah Dasar(SD) ini. Ditawar kolektor Rp 100 Juta Mengenai keberadaan Sanggar Sekar Ayu, hingga kini dilengkapi dengan koleksi batik kuno lebih kurang 700 helai. Dari koleksi tersebut, ada yang telah berumur ratusan tahun serta turun temurun. Bahkan salah satunya pernah ditawar kolektor Rp 100 Juta, tetapi tidak dijualnya.n kdg

No. 223 n November 2016

I

STIMEWA

HSN Ingatkan Perjuangan KH Hasyim Asy'ari

Santri tegakkan NKRI.(kdg)

H

ari Santri Nasional (HSN), yang ditetapkan pada tanggal 22 Oktober oleh Presiden tahun lalu, menjadi sesuatu yang istimewa. Sebab, perlu adanya peringatan yang memberikan penghormatan kepada para santri atas jasa-jasa pesantren di masa lalu yang luar biasa demi memperjuangkan kemerdekaan serta mengawal kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Demikian hal di atas diungkapkan oleh Bupati Tuban, H. Fathul Huda, saat menjadi Inspektur Upacara memperingati HSN 2016 di lingkungan Lembaga Pendidikan Ma'arif NU Kabupaten Tuban. Argumentasi utama, yang menjadikan HSN sebagai sesuatu yang strategis bagi negara, yaitu mengingatkan akan sejarah resolusi jihad KH Hasyim Asy'ari. Ini merupakan peristiwa penting yang menggerakkan para santri, pemuda dan masyarakat bersama-sama berjuang melawan pasukan kolonial, yang puncaknya pada tanggal 10 November 1945, yang melahirkan Hari Pahlawan. Menurut Pak Bupati, sepuluh tahun berdirinya NU dan Sembilan tahun sebelum kemerdekaan Indonesia, kiai dan santri sudah sadar akan pentingnya konsep negara yang memberi ruang bagi berbagai macam kelompok agar dapat hidup bersama. Kelompok santri maupun kiai juga terbukti mengawal kokohnya NKRI. “Para kiai dan santri selalu berada di garda depan untuk mengawal NKRI, memperjuangkan Pancasila. Pada Muktamar NU di Situbondo 1984, jelas sekali mengenai rumusan Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia. NKRI juga sebagai bentuk final, harga mati

No. 223 n November 2016

Dituntut berjuang tanpa pamrih. (kdg)

yang tidak bisa dikompromikan,” imbuh Pak Huda, sapaan Bupati Tuban. Pertempuran 10 November Dengan resolusi jihad yang dikumandangkan para kiai dan santri, maka terpupuklah semangat perjuangan saat terjadi pertempuran di Surabaya pada tanggal 10 November. Ini membuktikan bahwa dengan semangat berjuang untuk Negara menjadi peranan penting dalam mewujudkan kemerdekaan Republik Indonesia saat itu. “Berbeda dengan dulu, saat ini santri dihadapkan pada permasalahan terorisme dan radikalisme, mereka juga harus dapat menunjukkan pada dunia bahwa Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin,” jelas Pak Bupati. Oleh karena itu, harapnya, santri sekarang dituntut menjiwai semangat para pendahulunya, berjuang tanpa pamrih dan belajar dengan gigih. Meriah di Kecamatan Upacara HSN 2016 yang diadakan di SMK YPM 12 Tuban juga berbarengan dengan Pembukaan Ma'arif Competition dan peletakan batu pertama pembangunan Perpustakaan STITMA Tuban. Hadir pula dalam kesempatan tersebut, Ketua DPRD Tuban, jajaran Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Pengurus PCNU Tuban, Pengurus Ma'arif NU Kabupaten Tuban, serta jajaran dosen STITMA dan guru SMK YPM 12 Tuban. Kegiatan memperingati HSN 2015 berlangsung meriah di beberapa Kecamatan, seperti Kecamatan Rengel, Grabagan, Soko, Montong dan lainnya.nkdg

19

I

STIMEWA

Haul Mengingat Perjuangan dan Ilmu Sunan Bonang eperti tahun-tahun sebelumnya, di gara. Beliau juga seniman yang mempertahankan bulan Muharram digelar pula Haul kearifan lokal, semua ilmu beliau riyadhohi dan Sunan Bonang. Puncak acara Haul kesampai sekarang menjadi manfaat. Sepanjang 507 tahun ini digelar Pengajian Umum di Alon-alon hidupnya membaktikan usianya hanya untuk umat, Tuban. umat Islam ahlussunah waljama'ah, Islam Bupati Tuban, H. Fathul Huda, menuturyang rahmatan lil alamin. Semasa berjuang kan, “haul” diselenggarakan untuk meneladi jalan agama, Sunan Bonang tidak medani Beliau yang “dihauli” atau mutaba'ah, ninggalkan kekayaan pribadi sedikitpun, dengan mengingat ajaran, perjuangan semua untuk umat, sehingga beliau juga ilmunya. Bahwa sosok keramat dekat dengan umara atau pemimpin. adalah mereka yang membawa kebai“Ulama dengan umara sejatinya kan bukan hanya pada saat hidup tapi harus memiliki hubungan yang baik, juga setelah wafat. karena dalam menjalankan kepemimMengetahui keramat semasa pinannya harus tetap mendapatkan hidup bisa diketahui dengan membaca nasehat dari ulama agar tetap di jalan sejarah mereka, banyak ditemukan mutiarayang benar,” kata Pak Bupati. mutiara hikmah tentang kearifan dan Ketua Yayasan Mabarrot Sunan kesantunannya. Tetapi, jika ingin melihat Bonang, KH. Ahmad Mundzir, mengatakan, kekeramatan setelah wafat, dapat dilihat dan sebelum kegiatan puncak berlangsung Sunan Bonang ilmuwan dirasakan secara langsung. Kekeramatan beberapa kegiatan seperti khitanan massal dan seniman. (kdg) Syeikh Makdum Ibrahim Sunan Bonang, diikuti 73 anak, parade sholawat melibatkan salah satunya bisa kita rasakan bersama malam ini, Ishari se-Jawa Timur, Tahtimul Qur'an bin Nadhom dan kehadiran kurang lebih 3 juta jamaah, memberi makan Tahtimul Qur'an bil Ghoib, pertemuan para alim ulama ratusan pedagang dan masih banyak yang, ujar Pak dan dilanjutkan istighosah, Tahlil Akbar, diikuti Habib seBupati. Jawa Timur, para ulama dan masyarakat umum. PengaBeliau adalah ahli fiqih dan ilmu falaq, juga jian umum menghadirkan KH Husein Ilyas dari Mojokerto pembelajar yang tekun bahkan sampai ke mancanedan Habib Umar Mutohar.n kdg

S

Santuni Anak Yatim

Pokja I memberikan santunan kepada 50 anak yatim dari 20 Kecamatan se-Kabupaten Tuban. Santunan diberikan dengan harapan mereka menjadi pribadi yang baik, tangguh dan senang berbagi. Selain itu, memberikan DALAM satu tahun kalender Hijriyah, di antara dua motivasi kepada mereka agar berjuang meraih cita-cita belas bulan terdapat empat bulan yang mulia, tiga di dan berhasil dalam hidupnya. antaranya berturut-turut: Dzulqa'dah, Dzulhijjah dan MuDisamping itu, juga untuk mengingatkan kepada harram, sementara Rajab berada di antara bulan Jumakita semua agar selalu berbagi dengan sesame, da dan Sya'ban. Hal ini sesuai dengan riwayat al-Bukhari. terutama kepada anak yatim, karena pada dasarnya ada “Adapun bulan Muharram menjadi waktu yang tehak orang lain di harta yang kita miliki. Jika belum pat untuk berbagi dengan anak yatim, terutama tanggal mampu memberi minimal, jangan beratkan beban 10 Muharram, dimana selain berpuasa juga dianjurkan mereka, apalagi memakan hak-hak menyantuni anak yatim atau mereka. biasa kita dengar dengan Hari Kegiatan Pembinaan Anak Raya Anak Yatim,” tutur Hj. QoYatim diisi pula dengan tausiyah driyah Fathul Huda, Ketua Tim dari Dai Cilik pemenang Lomba Penggerak (TP) PKK Kabupaten Da'I Cilik yang diadakah TP-PKK Tuban, ketika membuka kegiabeberapa waktu lalu. Hadir ula tan Pembinaan Anak Yatim dalam kegiatan ini juga Ibu Wakil Kurang Mampu. Ketua TP-PKK juga Pengurus dan Menurut, Bu Huda, sapaAnggota TP-PKK Kabupaten annya, TP-PKK tidak menyiaTuban.n kdg nyiakan kesempatan itu, melalui Sayangi anak yatim. (kdg)

22

No. 223 n November 2016

P ENDIDIKAN

Hari Guru Dukungan Pada Guru

Bu Lulun. (ydh)

D

osen Universitas Terbuka Tuban, Lulun Ari Asrini, M.Pd, menyatakan, peringatan Hari Guru setiap tanggal 25 November merupakan bentuk penghargaan dan dukungan terhadap guru, mempercayai bahwa nasib generasi masa depan di suatu bangsa ditentukan oleh guru. Momen tersebut sekaligus sebagai refleksi terhadap apa yang telah dicapai oleh organisasi guru dan individu guru dalam menjalankan tugasnya, serta pengakuan terhadap profesionalisme guru. Menurutnya, guru tidak bisa lepas dari yang namanya dedikasi dan profesionalisme. Dedikasi tidak hanya diukur dengan waktu yang dicurahkan untuk mendidik, tapi pada kesetiaan mereka untuk melakukan peran mendidik. Sedangkan, profesionalisme berarti kompetensi untuk melakukan tugas mendidik secara efektif. Guru adalah orang yang mengemban tanggung jawab sangat besar, dipercaya masyarakat, dan dianggap serba bisa. Oleh karena itu, imbuhnya, profesionalisme seorang guru tidak hanya dapat dilihat dari satu sisi, tetapi lebih dari beberapa sisi, antara lain memiliki kemampuan sosial, pendidikan dan intelektual yang baik.

Perempuan energik yang akrab disapa Bu Lulun ini, melanjutkan, seiring dengan kemajuan jaman, guru harus mau beradaptasi dan mengikuti perkembangan, tidak hanya puas dengan apa yang ada. Karena, efek dari globalisasi, siapa pun bisa belajar apa pun, kapan pun, dan di mana pun dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. “Dalam melakukan tugasnya guru tidak boleh membedakan siswa berdasarkan agama, suku, bangsa dan latar belakang ekonomi orang tua, tapi berdasarkan minat dan bakat siswa. Guru juga harus senantiasa update ilmu pengetahuan dan teknologi. Jaman sekarang, pembelajaran tidak hanya bisa dilakukan secara konvensional tapi juga online,” kata guru berprestasi dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kebonsari I Tuban ini. Selanjutnya, Ia menandaskan, profesionalisme jabatan guru bersifat dinamis. Untuk menjaga profesionalisme tersebut, setiap guru harus selalu mengembangkan kompetensinya. Peningkatan kompetensi tersebut tidak ada batasnya. Sepanjang masih menyandang predikat guru, kompetensi harus terus ditingkatkan. Bu Lulun, juga menyinggung fenomena sertifikasi yang merupakan pengakuan dan penghargaan terhadap profesi guru. Guru yang tersertifikasi adalah guru yang profesional, atau guru yang profesional sudah tentu akan tersertifikasi. Bukan malah stagnan tanpa ada perubahan apa pun pada guru tersebut, baik dalam proses pembelajaran maupun dalam pengembangan diri secara profesional. “Sebenarnya, dengan pemberian sertifikasi, guru dituntut untuk terus berpikir kreatif dan inovatif dalam mengembangkan pembelajaran sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru yang kreatif adalah guru yang selalu

No. 223 n November 2016

mencari dan menemukan hal-hal yang baru dan mutakhir untuk kepentingan peningkatan kualitas pembelajaran. Kenyataannya, tidak banyak yang digunakan untuk meningkatkan kompetensi dan pengetahuan. Beberapa di antaranya malah menggunakan sertifikasi tersebut untuk kepentingan pribadi semata. Hal ini cukup disayangkan,” tegasnya. Dosen yang menamatkan pasca sarjananya di Universitas Kanjuruhan Malang ini, mengatakan, pendidikan di Indonesia masih tertinggal dari negara-negara lain. Sebagai contoh, jika di negara-negara lain pendidikan sudah menggunakan paper list, Indonesia masih berbasis kertas. Rendahnya kualitas guru Salah satu faktor penyebab ketertinggalan pendidikan Indonesia, urai mahasiswa program Doktor (S3) Teknologi Pendidikan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini, dipengaruhi rendahnya kualitas guru. Karena itu untuk mempercepat kemajuan pendidikan Indonesia, kualitas guru perlu terus ditingkatkan. Jika guru berkualitas, ucapnya, maka pendidikan juga pasti berkualitas. Jika guru terus maju dan berubah, maka pendidikan juga akan terus maju dan berubah. Jika Indonesia ingin anak-anak sekolah menjadi orang hebat di masa mendatang, maka guru juga harus menjadi guru yang hebat. Ibu dari Median Puspo Negoro dan Arraya Satrio Negoro ini, menekankan, peran guru sangat strategis untuk mengantarkan generasi sekarang ke masa depan bangsa yang lebih cermerlang. Karena itu, guru harus inovatif, inspiratif, penuh motivasi, senantiasa mengikuti perkembangan, dan mau meningkatkan kompetensi. “Seperti kata mantan Menteri Pendidikan Anies Baswedan, guru mulia karena karya,” asanya.n ydh

23

P ENDIDIKAN

Gugus 01 Budi Pekerti Gelar Perjusami Gugus 01 Budi Pekerti Kecamatan Kota Tuban menggelar Perjusami (Perkemahan Jumat-SabtuMinggu) di Lapangan Kompi C 521 Tuban.

K

egiatan yang diikuti 30 Regu atau sebanyak 300 Peserta Penggalang Pramuka itu mengambil tema “Kokohkan Persatuan, Tingkatkan Prestasi Menuju Kemandirian, Sekali Melangkah Pantang Menyerah, Sekali Tampil Harus Berhasil”. Sebagaimana diketahui, Gugus 01 Budi Pekerti Kecamatan Kota Tuban beranggotakan SDN Kutorejo 01, SDN Sukolilo 01, SDN Sukolilo 02, SDN Baturetno 01, SDN Baturetno 02 dan SDN Sendangharjo 04. Masing-masing dari SDN di atas sepakat mengajarkan “kemandirian” melalui kegiatan Pramuka yang dikemas dalam kegiatan Perjusami. Hj. Pujiati, SPd, MPd, Kepala Sekolah (Kasek) SDN Kutorejo 01, menjelaskan, Perjusami selain merupakan kegiatan tengah semester Gugus 01 Budi Pekerti juga dalam rangka penempaan mental, spiritual dan fisik peserta didik kelas IV, V dan VI. Usia peserta didik kelas IV, V dan VI sangat membutuhkan pendidikan yang berkarakter, sedang kegiatan yang memiliki kekhasan generasi usia kelas IV, V dan VI adalah ke-Pramuka-an. Sebab, Gerakan Pramuka membina generasi muda menuju generasi yang cakap mental, trampil, bermoral dan berakhlak mulia. “Terpenting pula, melalui penyelenggaraan Perjusami kian meningkatkan semangat dan kekompakan anggota Gerakan Pramuka Gugus 01 Budi Pekerti,” tutur Bu Puji, sapaan Kasek SDN Kutorejo 01.

24

Dibekali kemandirian dan dipacu berprestasi. (rtn)

Drs. Supriono, Kasek SDN Sukolilo 01, menambahkan, saat ini peserta didik juga dihadapkan pada era global, yaitu suatu era dimana akan berdampak terhadap kebudayaan yang kita miliki. Oleh karena itu, agar peserta didik tidak kehilangan nilai-nilai ke-Indonesiaa-an, maka diperlukan wadah kegiatan yang dapat “membentenginya”, diantaranya melalui ajang Perjusami. Perjusami di sini bukanlah sekadar “pindah tidur”, melainkan diisi dengan berbagai kegiatan motivasi, seperti kegiatan pentas seni, game kreatif, olahraga, jelajah medan dan lain-lain termasuk lomba kebersihan dan keindahan tenda. Terpenting dari kegiatan Perjusami penanaman kedisiplinan kepada peserta didik kelas IV, V, dan VI. “Kegiatan-kegiatan di Persami ini penting, apalagi mereka bakal memasuki pendidikan menengah. Setidaknya, harus ditempa kedisiplinannya,” ujar Pak Pri, sapaan Kasek SDN Sukolilo 01.

Pembelajaran LH Di ajang Perjusami ratusan pesertanya juga ditanamkan kepekaannya terhadap lingkungan hidup (LH), tambah Hj. Puji Sayekti, SPd, Kasek SDN Sukolilo 02. Pembelajaran dengan muatan LH sangat penting artinya, terlebih keenam SDN anggota Gugus 01 Budi Pekerti merupakan adalah Sekolah Adiwiyata. Bukan hanya menunjang prestasi Adiwiyata, melainkan lebih dari upaya menanamkan perilaku yang berwawasan LH. Negeri kita sangat membutuhkan generasi yang peka terhadap LH. “Jadi, karena bersemangat LH sehingga diadakan lomba kebersihan dan keindahan tenda,” tutur Bu Sayekti, sapaan Kasek SDN Sukolilo 02. Spirit selanjutnya bertekad menjadikan peserta Perjusami trampil, sambung Hj. Sri Hari Utami, SPD, Kasek SDN Bauretno 01. Bahkan, bertambah wawasan dan pengalamannya. Tidak mungkin kegiatan

No. 223 n November 2016

P ENDIDIKAN Perjusami tanpa meninggalkan kesan atau pesan. Jelasnya, banyak kesan amaupun pesan positif yang didapat. Utamanya, dalam hal kesetiakawanan. Untuk itu, ajang Perjusami boleh dikata merupakan arena pembentukan solidaritas. Sesama peserta Perjusami mesti saling membutuhakn dan bekerjasama. “Tentunya juga ajang pemupukan solidaritas sosial,” tutur Bu Utami, sapaan Kasek SDN Baturetno 01. Beriman dan berprestasi Gugus 01 Budi Pekerti juga berkeinginan peserta didiknya berprestasi, tegas Dra. Hj. Susilowati, MPd, Kasek SDN Baturetno 02. Oleh karena itu, mengagendakan Perjusami dengan harapan dijadikan ajang untuk “berkompetisi”. Selain itu, melalui Perjusami, juga diharapkan memunculkan kreativitas-krestivitas da-

Dari kiri: Dra. Susilowati, MPd, Hj. Sri hari Utami, SPd, Hj. Puji Sayekti, SPd, Drs. Supriono, Hj. Pujiati, SPd, MPd dan Dra Sumila, SPd SD, Ketua KKG Gugus 01 Budi Pekerti. (rtn)

ri pesertanya. Dengan demikian, dapat menjadi bekal agar mereka pantang menyerah dalam menggapai prestasi. “Semua yang dituturkan penting dalam menyongsong peruba-

han jaman. Meski demikian, terpenting sangat, terjadinya peningkatan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Bu Sus, sapaan Kasek SDN Baturetno 02.n rtn

Kepengurusan DKT Dilantik

P

yang diagungkan tersebut. Selain dua tokoh Islam engurus Dewan Kesenian (DKT) Tuban juga ada tokoh modern asli Tuban yaitu Koes Plus, dilantik Bupati Tuban, H. fathul Huda, di yang putra asli Tuban sukses di blantika musik Pendopo Kridho Manunggal. Pelantikan nasional. Ke depan DKT diharapkan melaksanakan ini menandai langkah awal bagi pegiat amanah dan berperan seni yang ada di Kabupasebagai pelopor peten Tuban. ngembangan seni, bu“Bidang seni menjadi daya yang berkarakter PR bagi DKT. Semoga bisa dengan penuh dedikasi, mewadahi semua seniintegritas dan loyalitas man, baik seni rupa, lukis, serta senantiasa kritis penyanyi, tayub dan seni dan bertanggung jawab lainnya,” tutur Pak Bupati. terhadap masyarakat DKT juga diharapkan Tuban. bisa mencari bibit-bibit Kepengurusan unggul yang kemudian DKT terbentuk setelah dikembangkan menjadi Mereka yang dilantik. (kdg) musyawarah seniman seni yang dapat dinikmati dan budayawan, April lalu di Gedung Korpri kompleks warga Tuban. Selain itu, juga diharapkan dapat Pendopo Kridho Manunggal. DKT Kabupaten Tuban di mengangkat potensi kesenian yang ada di Kabupaten proyeksikan dapat mewadahi seluruh kepentingan Tuban, karena potensi-potensi kesenian di Kabupaten pegiat seni dan budaya. Tuban masih perlu untuk digali lebih mendalam. Pada musyawarah perdana itu melibatkan Kabupaten Tuban, menurut Pak Huda,sapaan perwakilan semua elemen seni, baik seni musik, pahat, Bupati Tuban, secara historis merupakan tempat lukis, pegiat sastra, maupun teater se-Kabupaten seniman dan budayawan, seperti Sunan Bonang, Tuban. Adapun, terpilih sebagai Ketua DKT Kabupaten Sunan Kalijaga yang piawai dalam bersastra. Oleh Tuban, Joko Wahono.n kdg karena itu, DKT harus mewarisi keahlian dari tokoh

No. 223 n November 2016

25

S ELINGAN

Melalui TIK Bangun Desa Lebih Maju

Peserta sarasehan. (ydh)

P

enggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) diharapkan tidak hanya terpusat di area perkotaan saja, namun juga merambah ke pedesaan, khususnya untuk mengembangkan potensi desa yang ada, baik potensi alam maupun ekonomi. Demikian disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tuban, Dr. Ir. Budi Wiyana, M.Si, pada sambutan pembukaan Sarasehan Pemanfaatan TIK untuk Pembangunan Desa Tahun 2016, yang pada kesempatan tersebut diwakili oleh Kepala Bagian (Kabag) Humas dan Media Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Tuban, Drs.Teguh Setyobudi, MM. Pada kegiatan sarasehan yang mengusung tema “Dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kita Bangun Desa yang Lebih Maju, Cerdas dan Berkualitas” ini, Pak Teguh, sapaannya, mengatakan, TIK merupakan sarana untuk melakukan kegiatan yang berkaitan dengan komunikasi dan penyebarluasan informasi melalui media komunikasi digital. Melalui TIK memudahkan pelaksanaan kegiatan administrasi dan ekonomi, termasuk administrasi pemerintahan ataupun pengembangan ekonomi, khususnya ekonomi kreatif berbasis potensi lokal, tuturnya di Graha Pradya Suara, tempat

26

Dari kiri, Pak Ima, Pak Teguh, Pak Joko dan Pemuda Naim. (ydh)

berlangsungnya sarasehan pada 27 Oktober 2016 lalu. Manfaat lainnya, mengenalkan produk-produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), hasil-hasil pertanian, peternakan unggulan, maupun pengelolaan dan pengenalan potensi wisata desa. Untuk itu, dibutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni di bidang teknologi informasi, tidak sekadar aparaturnya tetapi juga masyarakatnya. Generasi muda juga dituntut melek IT guna memaksimalkan pemanfaatan TIK. Mantan Camat Tuban ini mengajak sekitar 50 peserta sarasehan, yang terdiri dari Kepala Desa (Kades), Karang Taruna (Kartar), Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) dan Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kabupaten Tuban, agar mendorong dan meningkatkan minat masyarakat memanfaatkan TIK serta memaksimalkan peran pemerintahan desa dalam menggali potensi desa serta menjadikan produk unggulan yang mampu bersaing di pasar global. Sedang, di akhir sambutan, Pak Teguh, menekankan agar peserta dari Kartar bisa menjadi Relawan TIK di desa masing-masing. Selain itu, pasca sarasehan diharapkan mampu menciptakan kerjasama dan peluang dalam mengelola potensi lokal untuk meningkatkan ke-

sejahteraan masyarakat desa di masa depan. Seribu domain Nara sumber dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Timur, Ir. Joko Purwono, MT, menerangkan, pemerintah melalui Diskominfo Provinsi Jawa Timur telah menyediakan seribu domain yang bisa dimanfaatkan sekaligus pendampingan untuk pemanfaatannya dengan membentuk Relawan TIK. Fasilitas domain gratis itu merupakan bagian dari program pemerintah pusat, yakni pembagian secara gratis total satu juta domain se-Indonesia. Progam satu juta domain gratis ini adalah e-commerce, koperasi, UKM, sekolah termasuk pesantren dan personal. “Kementrian Komunikasi dan Informatika menggratiskan domain atau laman untuk UMKM agar dapat meningkatkan produktivitas masyarakat,” tukasnya. Pak Joko, sapaannya, mengatakan, target program itu meningkatkan transaksi online di Indonesia. Oleh karena itu, membidik kalangan UMKM, sebab berdasarkan analisa transaksi UMKM memiliki potensi yang sangat besar. Program Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ini, tandasnya, diharapkan pula bisa menjaring dan memun-

No. 223 n November 2016

S ELINGAN culkan pengusaha muda Indonesia yang mampu berinovasi serta menjaring pasar dengan berbagai produk yang dihasilkan. Sekaligus, membuat UMKM yang “melek” informasi. Selanjutnya, program tersebut juga dikaitkan dengan konsep pembangunan Smart City (Kota Pintar). Saat ini, Smart City menjadi tren konsep pengembangan pembangunan di berbagai negara dunia. Konsep itu bisa diartikan sebagai upaya pemerataan pembangunan perkotaan dan perkampungan berbasis pengetahuan yang terintegrasi. Oleh karena itu, Tuban harus membangun spirit melek teknologi. “Konektivitas penting bagi Smart City. Pasalnya, teknologi

internet memiliki banyak manfaat untuk mobilisasi produktivitas,” kata Pak Joko. Dimulai perkampungan Senada dengan Pak Joko, Rifaun Naim, S.Kom, relawan TIK dari Kabupaten Bojonegoro yang juga pendamping satu juta domain untuk wilayah Bojonegoro dan Tuban, mengatakan, terwujudnya Smart City bisa dimulai dari desa dan perkampungan dengan mengembangkan Smart Village atau Desa Pintar. Smart Village merupakan desa yang berkemampuan menggunakan TIK dalam pengembangan potensi sumber daya baik alam maupun manusianya. Smart Village secara tidak langsung dapat me-

ningkatkan perekonomian desa karena didukung kemampuannya mengomunikasikan potensi-potensi yang dimiliki ke luar desa serta memberikan pemahaman dalam hal mengelola potensi desa oleh warga desa tersebut. Oleh karena itu, perlu membangun jaringan internet pedesaan. Berbagai fasilitas internet seperti website, email dan sosial media dapat dipergunakan untuk memberikan informasi mengenai potensi desa. “Peserta sarasehan hendaknya mendukung program Smart Village. Relawan TIK siap memberikan edukasi, sosialisasi dan pengembangan SDM di bidang TIK,” pungkasnya.n ydh

Gelar Lomba Penyuluhan

Mandiri”. Sementara, materi peserta meliputi pola asuh anak remaja di era globalisasi, pemanfaatan pekarangan sebagai KETUA Tim Penggerak Pemsumber ekonomi keluarga dan penubinaan Kesejahteraan Keluarga runan Angka Kematian Ibu (AKI). (TP-PKK) Kecamatan Grabagan, Pegiat hidroponik ini berharap Ani Sri Wahyudi, mengatakan, pelomba yang baru pertama kali ini darempuan dapat meningkatkan pepat memunculkan kader-kader peranannya di masyarakat dengan nyuluh. Kader inilah yang nantinya tetap menjaga keseimbangan menjadi kepanjangan tangan dalam antara pekerjaan dan keluarga. menyampaikan program-program Perekonomian keluarga saat pemerintah. Sebagai ujung tombak ini tidak hanya bertumpu pada penghasilan laki-laki, namun pe- Camat Grabagan serahkan hadiah. (ydh) yang bersinggungan langsung dengan masyarakat, kader diharapkan rempuan juga memiliki peran dalam mampu memberi pencerahan atau setidaknya memembantu perekonomian keluarga. Karena itu, tutur ngubah pandangan hidup masyarakat ke arah yang Ibu tiga anak ini, perempuan harus diberi kesempatan lebih baik. meningkatkan kecakapan serta kompetensinya. DeCamat Grabagan, Suwito S.H, menyambut baik ngan demikian, kaum hawa akan memiliki sikap, kelomba penyuluhan. Menurutnya, PKK selain membanpribadian dan kemampuan hidup, yang pada gilirantu program pemerintah juga sebagai upaya peningkanya menjadi mitra sejajar dengan kaum laki-laki. tan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Bahkan, Menjadi mitra sejajar dengan laki-laki tanpa mengasejak terbukanya kesempatan kerja bagi perempuan, baikan kodrat dan tugas utamanya sebagai seorang ternyata dapat menyesuaikan perannya sebagai ibu ibu, istri, dan lainnya. rumah tangga dan pencari nafkah. Maksudnya, juga Sebagai kecamatan termuda, Grabagan tidak berperan penting dalam perekonomian keluarga. boleh kalah, termasuk berkaitan dengan pember“Semoga momen ini menjadi awal kebangkitan dayaan perempuan. Untuk itu, tutur Bu Ani, yang juga dan keberhasilan kaum perempuan, khususnya berprofesi sebagai bidan ini, menyatakan, dalam meperempuan Grabagan,” tuturnya. nggali potensi dan kreativitas perempuan di wilaJuara Lomba Penyuluhan, Juara I, Ninies Hariyati yahnya, TP-PKK Kecamatan Grabagan aktif menggedari Desa Grabagan, Juara II, Dartatik asal Desa lar berbagai kegiatan, salah satunya lomba penyuluNgarum dan Juara III, Sri Fatikhah dari Desa han yang dihelat pada 13 Oktober 2016 lalu. Lomba Waleran.n ydh yang diikuti 12 peserta itu bertemakan “Perempuan

No. 223 n November 2016

27

I NFO DESA

M

enjelang musim tanam, Himpunan Petani Pengguna Air (HIPPA) Tirto Tinoto Desa Karangtinoto Kecamatan Rengel menyelenggarakan “Lomba Nraktor”. Adu membajak tanah dengan taktor tangan (hand tractor) itu untuk membudayakan petani bersentuhan dengan alsintan (alat-alat mesin pertanian). Peserta “lomba nraktor” sebanyak 57 orang. Mereka perwakilan operator hand tractor dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) se-Kecamatan Rengel. Cakupan lomba, untuk sementara waktu, dibatasi Gapoktan se-Kecamatan Rengel. Adapun, pemenang lomba membajak sawah itu juga sebuah traktor tangan. Even yang baru pertama kali diselenggarakan di Kabupaten Tuban ini berlangsung menarik. Selain pesertanya mengenakan pakaian operator mesin juga diwajibkan menggunakan helm. Lucunya, meski mereka terbiasa membajak sawah dengan traktor tangan akan tetapi pada saat berlaga terkesan seperti belajar mengemudikan mesin pembajak sawah. Sebagian peserta terlihat tertatih-tatih, jatuh bangun, tampak gentayangan dikendalikan alsintan itu, bahkan ada yang seru dengan memacu traktor tangannya seakan-akan mengikuti lomba balap hand tractor. Padahal, sebagai peserta adu ketangkasan mengoperasionalkan traktor tangan sampai mendapatkan hasil pengolahan tanah yang baik untuk ditanami. Peserta lomba diberikan waktu selama 1 jam untuk mengolah lahan dengan traktor tangan. Mereka diberikan keleluasaan mengolah lahan seluas 10 x 40 meter hingga dikategorikan siap tanam. Sedang, penilaian, antara lain kelengkapan alat traktor sebagaimana standar pabrik, ketrampilan dalam mengoprasionalkan traktor tangan, serta ketepatan waktu dalam menyelesaikan lahan bajakan. Ketua Panitia “Lomba Nraktor”, H. Kasiadi, mengatakan, “Lomba

28

Gelar “Lomba Nraktor”

Saat lomba berlangsung. (rtn)

Nraktor” dilandasi semangat mendorong petani agar mengenali dan menggunakan teknologi pertanian. Perkembangan teknologi alsintan ini sangat pesat. Bahkan, dari generasi ke generasi mengalami kemajuan yang sangat pesat, sehingga jangan sampai petani Kecamatan Rengel ketinggalan informasi. Terlebih, kemajuan teknologi alsintan terbukti membantu peningkatan hasil pertanian, baik secara kualitas maupun kuantitas panenan. “Kalau demikian manfaatnya kan berdampak pula pada kesejahteraan petani. Nah dengan begitu … lomba ini adalah bagian dari upaya menyejahterakan petani,” tutur Pak Kasiadi, sapaannya. Selain pengenalan dan penggunaan teknologi pertanian, “Lomba Nraktor” juga dihajatkan untuk menarik minat generasi muda bergelut di dunia pertanian. Saat ini, bukan rahasia kalau dunia pertanian telah “ditinggalkan” oleh para “kawula muda”. Untuk itu, melalui even tersebut, diharapkan generasi muda melirik kembali dunia pertanian sebagai mata pencaharian. Sebenarnya, penggunaan berbagai alsintan, merupakan pemecahan masalah ketika kalangan muda “enggan” mengolah lahan pertanian. Lamidi, SP, Kasi Sarana Prasarana Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Tuban, mengapresia-

si “Lomba Nraktor”, yang diselenggarakan oleh HIPPA Tirto Tinoto Desa Karang Tinoto Kecamatan Rengel. “Turnamen” tersebut, sambung Pak Lamidi, sapaannya, adalah inovasi. Oleh karena itu, patut mendapatkan dukungan, termasuk di dalamnya Disperta Kabupaten Tuban. Malahan, direspon pula oleh Kementerian Pertanian, dengan menghadirkan perwakilannya, yakni Abdul Majid, menyaksikan jalannya “Lomba Nraktor”. “Lomba tersebut juga sangat membantu pemerintah, utamanya dalam mewujudkan swasembada pangan,” ujar Pak Lamidi, sapaannya. Sedang efek positif lainnya, selain memacu ketrampilan petani dalam penggunaan traktor tangan, juga membuka ruang dipergunakannya traktor-traktor bantuan oleh kelompok-kelompok tani. Bantuan-bantuan traktor tangan, tegas Pak Lamidi, jangan hanya diparkir, namun “wajib” dioperasionalkan untuk pengolahan lahan. Dengan begitu, tidak mubadzir upaya-upaya selama ini. Abdul Majid, utusan dari Kementerian Pertanian, menilai “Lomba Nraktor” tersebut inspiratif. Even itu dapat ditiru oleh HIPPA-HIPPA lainnya. Bahkan, dijadikan teladan oleh petanipetani Indonesia. HIPPA Tirto Tinoto dapat dikategorikan professional, ujar Pak Majid, sapaannya.n rtn

No. 223 n November 2016

O

LAH RAGA

Mas Lamidi (tiga dari kiri dan Warga baru PSHT Cabang Tuban. (rtn)

“Jangan Jadi Petarung Jalanan”

C

abang PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate) Tuban kembali mengesahkan warga barunya. Di perjalanan tahun 2016 sebanyak 820 warga baru yang “dinobatkan”. Pengesahan berlangsung di dua tempat, di Graha Sandya 527 orang yang “diwisuda” dan di Gedung KSPKP 293 warga baru. Ketua Cabang PSHT Tuban, Lamidi, SP, mengatakan, ratusan calon pendekar PSHT itu berasal dari 19 Ranting PSHT yang ada di wilayah-wilayah Kecamatan. Sedangkan, Kabupaten Tuban memiliki 20 wilayah Kecamatan. Untuk itu, praktis warga PSHT Kabupaten Tuban tersebar di 20 wilayah Kecamatan Kabupaten Tuban. Hingga tahun 2016 warga PSHT Cabang Tuban diperkirakan sebanyak 21.000 orang. Sedang, jumlah penduduk Kabupaten Tuban mencapai 1,3 Juta jiwa. Mas Lamidi, sapaan akrab Ketua Cabang PSHT Tuban, menyerukan, agar ratusan warga baru PSHT Tuban ikut menjaga ketertiban Bumi Wali. Demikian halnya dengan puluhan ribu warga PSHT Tuban lainnya, yang tersebar di 20 wilayah Kecamatan, sudah sepantasnya bila ikut berpratisipasi dalam mewujudkan ketentraman Bumi Wali. Citra kota Tuban dengan branding Bumi Wali jangan sampai ternoda. Justru,

akan sangat patut jika warga PSHT Tuban ikut menghiasinya dengan kegiatan-kegiatan yang positif. “Jaga ketertiban, ketenangan Bumi Wali wajib dipelihara warga PSHT,” tegasnya. Lembaga PSHT, tandas Mas Lamidi, bukanlah “menyeramkan”. Justru, menyerukan “kedamaian”. Setiap warga PSHT dibekalkan nilainilai moral yang luhur. Oleh karena itu, tidak bisa ditawar bahwa siapapun yang mengaku warga PSHT harus menjaga “kehormatan” wilayahnya, baik wilayah yang berada di tengah-tengah masyarakat, maupun wilayah yang melingkupi ranah pemerintahan. Kedua lingkungan ini wajib dijaga keharmonisannya, juga janganlah sampai melawan arus. “Hal-hal di atas sangat penting artinya, terlebih warga PSHT bagian dari warga Bumi Wali,” kata Pendekar PSHT itu. Ikut memelihara siatuasi yang kondusif, tambah Mas Lamidi, sama halnya dengan memberikan iklim yang sejuk kepada masyarakat Bumi Wali. “Kesejukan” ini juga bagian dari nilai-nilai kependekaran PSHT. Untuk itu, jaga dan pelihara kenyamanan Kabupaten Tuban tercinta, sebab, dengan begitu “amalan” ini tidak akan terputus. Selebihnya, akan memberikan rasa aman kepada masyarakat, sehingga dapat

No. 223 n November 2016

beraktivitas seproduktif mungkin. Sikap mental-spritual warga PSHT harus senantiasa dijaga pula. Hal ini dapat diperlihatkan dalam perilaku sehari-hari seperti menjauhkan sikap dan perilaku yang berlebihan, memperagakan nilai-nilai kesantunan, syukur-syukur dalam sikap sehari-hari dapat dijadikan panutan oleh masyarakat di sekitarnya. Sehingga, keberadaan warga PSHT Tuban senantiasa membawa “angin segar” bagi sesamanya. “Berguna bagi sesama, bijak dengan lingkungan, adalah nilai-nilai luhur PSHT,” tegas Ketua Cabang PSHT Tuban. “Gelut” Sedang, bila ada warga PSHT Tu b a n y a n g i n g i n “ g e l u t ” , dipersilahkan bertandang ke sebuah even atau turnamen maupun ajang Pekan Olahraga Kabupaten, Provinsi maupun Nasional (Porkab, Porprov, PON). PSHT sendiri berusaha memfasilitasi dalam sebuah even internal. Disamping itu, senantiasa membukakan peluang bagi prestasi atlit-atlitnya yang berlaga di arena pencak silat. “Janganlah jadi petarung jalanan. Hendaknya bersikap arif dan menjauhi isu-isu yang tidak bertanggung jawab,” pesan Ketua Canang PSHT Tuban.n rtn

29

R AGAM PERISTIWA

D

ata demografi Indonesia menyebutkan, jumlah pemuda di Indonesia 61,8 juta jiwa, atau 24,5% dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 252 juta jiwa (data BPS 2014). Prosentase sebesar 24,5% ini cukuplah besar, untuk itu dalam rentang tahun 2020 - 2035 Indonesia akan menikmati bonus demografi, dimana jumlah usia produktif diproyeksikan berada pada grafik tertinggi dalam sejarah bangsa Indonesia, yaitu mencapai 64% dari total jumlah penduduk Indonesia yang diperkirakan sebesar 297 juta jiwa. “UU No 40 Tahun 2009 menyebutkan, rentang usia pemuda 1630 tahun. Sedang, bonus demografi akan menjadi windows opportunity (peluang) bagi sebuah negara untuk melakukan percepatan pembangunan ekonomi dengan dukungan ketersediaan sumber daya manusia usia produktif dalam jumlah yang cukup signifikan,” ujar Wakil Bupati Tuban, Ir. H. Noor Nahar Hussein, M.Si, ketika menjadi Inspektur Upacara Hari Sumpah Pemuda ke-88 di Alonalon Tuban. Pak Wabup membacakan Sambutan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi. Digambarkan, rasio sederhana di setiap 100 penduduk Indonesia terdapat 64 orang penduduk berusia produktif, sisanya 46 orang usia anak-anak dan lansia. Rasio 64% ini sudah lebih dari cukup bagi Indonesia untuk melesat menjadi negara maju. Itu adalah rasio terbaik Indonesia yang dapat kita nikmati nanti pada tahun 2020 dan berakhir 2035. Sedang, mengingat pesan Bung Karno yang pernah meneriakkan kalimat: “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, dan beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”, Pak Wabup mengajak kepada pemuda agar merenungi dan merefleksikan pidato Bung Karno tersebut “Ini mengandung makna

30

Buktikan Pemuda Penentu Perubahan Indonesia

Salami pemuda Papua.

bahwa jumlah besar belumlah cukup membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju, sedang Bung Karno tidak perlu menunggu bonus demografi tetapi membutuhkan pemudapemudi unggul yang visioner dalam menatap dunia,” ujar Pak Noor, sapaan Wabup Tuban. Pak Wabup menyinggung prestasi-prestasi membanggakan pemuda Indonesia di kancah dunia, ada nama Rio Haryanto yang berhasil ke level tertinggi balap mobil F1, Owi dan Butet, peraih medali emas bulu tangkis Olimpiade Rio de Jeneiro, Joe Taslim, aktor muda yang mengguncang panggung Hollywood melalui film Fast and Furious, Livi Zheng, sutradara yang juga mengguncang panggung perfilman Hollywood, Sandhy Sundoro, menyabet penghargaan Internasional Contest of Young Pop Singer di Latvia pada tahun 2009 dengan mendapatkan nilai nyaris sempurna dari seluruh juri. Di bidang start up, yang omzetnya mengundang kagum pebisnis online dunia, Nadiem Makarim, pendiri Go-Jek, Achmad Zaky, CEO Bukalapak dan ratusan CEO-CEO muda Indonesia di bidang Teknologi

Informasi (TI) yang dipercaya oleh perusahaan multinasional 2015. Dilaporkan setidaknya 62 start up Indonesia kebanjiran dana investasi hingga puluhan triliun. Omzet belanja online (e-commerce) Indonesia sendiri pada tahun 2015 mencapai Rp 200 triliun (Kemendag, 2015). Jika tren ini bisa dikelola dengan baik, maka perekonomian Indonesia akan maju pesat. Dengan catatan, dari lalu lintas dan mata rantai bisnis online tersebut, para pemuda Indonesia harus berada pada posisi sebagai produsen bukan sekedar sebagai konsumen. Nara Masista Selain pencapaian di bidang TI, pemuda hebat lainnya, Gamal Ali Bin Said asal Malang, berhasil mencuri perhatian Pangeran Charles atas inovasi Asuransi Bank Sampah. Demikian dengan diplomat muda Indonesia, Nara Masista Rakhmatia, yang mengguncang persidangan PBB karena diplomasinya yang keras, cerdas dan tangkas melindungi Papua dari rongrongan negara-negara asing. Rasanya tidak cukup jika terus menuliskan nama pemuda yang mengharumkan nama Indonesia. Pemuda-pemuda di atas hanyalah contoh untuk mengingat kembali pesan Bung Karno bahwa dengan pemuda yang hebat, Indonesia dapat “menaklukkan” dunia. “Mari kita buktikan bahwa untuk kesekian kalinya pemuda Indonesia menjadi motor penentu perubahan Indonesia. Di depan kita sekarang ada MEA, perdagangan bebas Asia dan dunia, saatnya pemuda Indonesia membangun visi yang besar menatap dunia,” seru Pak Wabup.n kdg

No. 223 n November 2016

R

AGAM PERISTIWA

K

onsistensi Jagongan Matoh dalam memberdayaan masyarakat di bidang wirausaha dan bisnis, membuat Indonesia Development Achievement Foundation (IDAF), mengganjarnya penghargaan The Best Talk Show and Service Excellent Award 2016 kategori Business Innovation Excellence Award 2016. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Asisten Administrasi Informasi dan Kerjasama Pemerintah Kota (Pemkot Semarang), Tommy Yarmawan Said kepada Kepala Dinas Perekonomian dan Pariwisata (Disperpar) Kabupaten Tuban, Ir. Farid Achmadi, M.MT di Merbabu Room – Novotel Hotel Semarang, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2016. Dalam sambutannya, Tommy, mengatakan, penghargaan yang berasal dari program IDAF yang berkantor pusat di Jalan Lenteng Agung Jakarta bekerjasama

“Setelah mendapat Rekor MURI, mereka justru semakin inovatif. Aktif melakukan kegiatan lomba atau kontes, misalnya kontes film pendek dan lomba stand up comedy. Termasuk juga mengadakan even pelatihan publik, seperti pelatihan public speaking dan smart selling training. Karena itu, kami mempersembahkan sebuah penghargaan atas karya luar biasa dari para pemuda di Tuban Bumi Wali ini,” tandasnya. Terobosan Pada kesempatan yang sama, Kepala Disperpar Tuban, mengungkapkan, tahun ini Jagongan Matoh yang dilaksanakan oleh Panama Group dan Tuban Public Speaker melakukan berbagai terobosan baru. Salah satu terobosan yang dimaksud adalah membentuk komunitas Jaringan Usahawan Kreatif (J-Club), menerbitkan kartu hemat belanja JM Card dan merangkul berbagai pengusaha di Tuban untuk bergabung menjadi merchant-nya. Pak Farid, sapaannya, menambahkan, di tengah keterbatasan sumber daya manusia maupun finansial, karya jalan terus. Yang terbaru, membentuk komunitas industri kreatif perfilman yang diorientasikan untuk menyambut era digital marketing, di mana pemasaran produk sudah banyak dilakukan dengan media audio visual. Serta masih banyak kegiatan pendukung lainnya. “Saya berharap agar konsisten, tidak terlena dan menjauhi kesombongan yang mengakibatkan turunnya kualitas. Meski Jagongan Matoh murni kegiatan sosial di bawah binaan Disperpar, kualitas ilmu dan kegiatannya harus terjaga agar masyarakat bisa menerima manfaatnya dan selalu update dengan perkembangan yang ada,” tukasnya. Penghargaan Business Innovation Excellence Award 2016 ini tidak hanya diberikan karena keberhasilan program inovasi, namun juga karena kualitas produk yang mumpuni serta pelayanan yang disukai oleh para pelanggan. Di antaranya, diberikan kepada Bank Jateng Syariah, PT Tazkiyah Global Mandiri Makassar, Aesculap Medical Center Balikpapan, PT Sains Solusi Global Enter Indonesia Jakarta, serta lebih dari 30 perusahaan lainnya. Hadir pada malam penghargaan ini, Sekretaris Disperpar Dra. Endang Trimeidiya In, M.Si, Direktur Panama Group, Amin Jaya, SE, PM, CHt, dan perwakilan dari Tuban Public Speaker (TAPS) Team.n ydh

Raih Penghargaan Kedua

Mereka yang berprestasi. (ydh)

dengan Venna Event Management ini, merupakan apresiasi dari karya nyata yang telah dihasilkan. Karenanya, penghargaan ini seyogyanya menjadi pemicu untuk berkarya lebih baik lagi, bukan malah sebaliknya, menjadikan cepat puas diri dan mengurangi karya. Sementara itu, Public Relation Venna Event Management, Aditya, menyatakan, dua kategori penghargaan diberikan kepada karya anak bangsa yang selama tahun 2016 dianggap terbukti nyata memberi manfaat kepada masyarakat, yakni Business Innovation Excellence Award dan Innovative Education Excellence Award. Menurut Aditya, pihaknya memantau dari media sosial Facebook. Dari situlah mereka mengetahui adanya talk show Jagongan Matoh yang bertujuan untuk menggairahkan dunia usaha dan bisnis, namun dilakukan secara gratis dan sudah menembus di atas 60 episode. Meski pernah mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Talk Show Berjadwal Berkelanjutan Terlama di Indonesia, Jagongan Matoh tidak semakin kendor, tapi malah semakin konsisten dan berinovasi.

No. 223 n November 2016

31

R AGAM PERISTIWA

Dikukuhkan, IKA UINSA Korwil Pantura

P

engurus Ikatan Alumni Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (IKA UINSA) Korwil Pantura dilantik di Pendopo Krido Manunggal. Korwil Pantura meliputi wilayah Kabupaten Tuban, Lamongan, Gresik, dan Bojonegoro. “Tidak mudah mengumpulkan alumni, IKA UINSA Korwil Pantura ini lebih solid dan menjadi contoh daerah lain dalam konsolidasi alumni,” kata RPA H. Mujahid Anshori, Wakil Ketua Umum IKA UINSA saat memberi sambutan dalam pelantikan ini. Menurutnya, tantangan kedepan alumni IAIN Sunan Ampel, yang sudah berubah nama menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), harus siap di berbagai bidang, baik di bidang politik, birokrasi pemerintahan maupun di dunia usaha dan lainnya. “Tentu ini semua akan menjadi spirit dalam memajukan organisasi agar sesuai tuntutan dan perubahan zaman", tambahnya. Hal senada diungkapkan Prof. DR. H. Nur Syam, M.Si, Dewan Penasehat IKA UINSA Korwil Pantura, organisasi ini diharapkan bias ikut menjaga keutuhan NKRI, mengingat Indonesia menjadi bidikan ideology apapun. Untuk itu, Indonesia harus tetap bertahan dengan Pancasila dan UUD '45. “Kedepan tantangan sangat berat, perlu kesiapan IKA UINSA agar berdaya saing, utamanya berbuat kemanfaatan dalam kemasyarakatan", ujar pria yang juga Sekjen Kementrian Agama.

32

Kepengurusan IKA UINSA Pantura. (kdg)

IKA UINSA juga diharapkan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak. Tujuan organisasi ini selain dapat bermanfaat untuk anggotanya, juga untuk masyarakat luas, sehingga selain semakin dikenal juga semakin menambah amal kebaikan. Diharapkan kontribusinya Wakil Bupati (Wabup) Tuban, Ir. H. Noor Nahar Hussein, M.Si, sependapat dengan Prof. Nus Syam, bahwa sebagai alumni yang telah berada di tengah-tengah masyarakat, sesuai bidangnya masing-masing, diharapkan kontribusi nyatanya. IKA UINSA diharapkan dapat menyalurkan ilmu dan pengalamannya, terutama di tanah kelahirannya. UINSA atau dulu IAIN Sunan Ampel telah terbukti memiliki alumnus yang tidak main-main, ada Menpora, Imam Nahrawi, Sekjen Kementrian Agama, Prof. Nur Syam, termasuk salah satunya Bupati Tuban, H. Fathul Huda. Dengan jaringan yang luas dan alumnus luar biasa, tentu dapat menjalin silaturahim yang baik dan bersama-sama membangun Indonesia serta Korwil Pantura pada khususnya. Funbike bersholawat Menandai pengukuhan tersebut, keesokan harinya menggelar kegiatan gowes bertajuk “Funbike Bersholawat” bersama Menpora Imam Nahrawi, sekaligus Ketua Umum IKAUINSA, di depan Kompi Mekanis C Yonmek 521/DY. Menpora mengajak semua pihak, khususnya anakanak dan pemuda agar terus

bergerak berolahraga. Menurutnya, orang tua juga berperan dalam mengajak dan mengingatkan anakanaknya akan budaya olahraga, sekaligus wahana bersosialisasi. Jangan sampai budaya dan gaya hidup berolahraga tergerus oleh keasyikan penggunaan teknologi seperti hp dan gadget lainnya. “Anak-anak kita saat ini lebih senang bermain gadget daripada berolahraga. Initan tangan kita, saya ajak anak Indonesia ayo berolahraga, dengan berolahraga menguatkan sosialisasi dengan sesama," ujar Menpora, usai gowes bersama. Porkab ke-4 Funbike selain ajang memperkenalkan IKA UINSA Korwil Pantura juga sebagai bagian menyukseskan Pekan Olahraga Kabupaten (Porkab) Tuban ke-4. Total hadiah yang diperebutkan dari gowes ini Rp 200 juta. Bersepeda bersama menyehatkan, dipadukan bersholawat akan ada berkah, safa'at dan pertolongan. Mari bersepeda ini kita ajarkan dan bangkitkan kembali kepada anak cucu kita, ajak Cak Imam, sapaan akrab Menpora. Selain itu, berolahraga akan menguatkan sosialisasi dengan sesama. Sehingga, bisa mengantisipasi anak-anak muda dari permainan gadget ketimbang berolahraga. Bersepeda, berlari, dan segala jenis olahraga tradisional lainnya kita bangkitkan kembali. Dengan olahraga kita tidak hanya sehat tapi juga menghidupkan rasa kemanusiaan melalui sosialisasi dengan sesama.n kdg

No. 223 n November 2016

W IRA USAHA

Terbul “Avara”

Mbak Hera dan Suami. (ydh)

K

udapan bernama terang bulan (terbul), atau lazim disebut martabak manis ini tidak asing di telinga dan lidah kita. Banyak pelaku usaha tertarik menjajakan panganan legit ini, salah satunya Any Herawati (30), yang mendirikan terbul Avara di Bumi Wali. Menurutnya, usahanya dirintis sejak akhir tahun lalu. Sedang, keinginan menekuni usaha ini setelah melihat dan merasakan terbul unik di Kota Pahlawan. Setelah melakukan tes pasar, sekaligus mempelajari selera dan tingkat konsumsi masyarakat Tuban, ibu muda yang sedang mengandung anak ketiga ini, memberanikan diri membuka usaha terbul Avara. Usaha ini didukung penuh sang suami yang juga hobi jalan-jalan dan wisata kuliner. Perempuan asal Kediri itu membuat 5 jenis adonan terbul, yaitu original, pandan, red velvet, black forest dan green tea. Topping yang digunakan pun bervariasi, seperti selai aneka rasa, cokelat, dan biskuit. “Kita menyediakan 30 macam topping. Pembeli bebas memilih

No. 223 n November 2016

yang disukai,” ujar Mbak Hera, begitu ia biasa disapa. Hampir setiap 2 bulan sekali istri Sofyan Hadi ini mengeluarkan jenis terbul baru. Prinsipnya, inovasi tiada henti. Alhasil, gerai terbulnya yang terletak di Jalan Pramuka 19 sering kebanjiran pesanan. Untuk mempromosikan usahanya, Mbak Hera tancap gas memanfaatkan kekuatan media sosial, seperti Facebook dan Instagram. Dari hasil melihat foto-foto yang diunggah terbul Avara, pembeli bisa memesan langsung di gerai maupun via online. Jika pada awalnya pembeli hanya memesan terbul satu rasa, kini bisa memilih terbul gulung, crispy, fantastic duo, Pokemon Go, atau ala pizza (dengan 8 atau 16 topping sekaligus). “Saat ini, terbul ala pizza menjadi favorit pembeli. Selain bentuknya unik, warnanya cantik, terbul ini bisa dihias dengan berbagai tulisan. Sehingga, sering dijadikan alternatif pengganti kue tart bagi yang sedang berulang tahun,” tuturnya. Harga 1 porsi martabak manis bervariasi tergantung pilihan topping. Di terbul Avara antara Rp 20.000 - Rp 95.000, khusus terbul crispy dibanderol Rp 15.000. Mengu-sung tagline “Terang Bulan Premium Pertama di Tuban”, alumni Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini, memastikan hanya bahan-bahan berkualitas yang digunakan untuk terbulnya. Sebagai salah satu pemilik toko sembako di kawasan Pasar Pramuka Tuban, ia tidak sulit memenuhi kebutuhan bahan dasar terbul. Namun, untuk beberapa jenis topping yang diinginkan, Mbak Hera mengaku rutin membelinya dari Kediri, Surabaya, Jakarta, bahkan Bandung via online. Tidak hanya puas dengan terbul, Avara juga meluncurkan martabak telur. Menyediakan lebih dari 5 jenis isi, mulai dari daging sapi,

Salah satu produk terbul Avara. (ydh)

ayam, jamur, sosis, kornet dan daging asap (smoke beef). Istimewanya, martabak tersebut ditambahkan keju mozzarella. Martabak jenis ini dibandrol Rp 30.000 – Rp 50.000. Jika ditambah mozzarella, harganya ditambah Rp 20.000. Sebagai istri, ibu dan pengusaha ternyata tidak menjadi kendala. Membagi waktu merupakan alasan utama untuk memilih mana yang menjadi prioritas. Pilihannya, ternyata berbuah manis. Saat ini ia omzet Avara puluhan juta per bulan. Belum satu tahun berdiri, sudah memiliki cabang di Kediri. Kini, Avara bersiap membuka cabang di Gresik dan Sidoarjo. Karyawan yang dimilikinya baik di toko maupun di gerai adalah terbaik. Kejujuran dan loyalitasnya tidak diragukan. Totalnya 11 orang. Tahun 2016 sudah mematangkan beberapa strategi, di antaranya membuka kemitraan dengan sistem waralaba. Modalnya cukup Rp 20 juta, siap jualan. jika ingin membuka usaha sebaiknya tidak terlalu banyak dipikir, jika kebanyakan dipikir, akan takut memulainya. Ia memberikan kiat ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) untuk yang masih bingung memilih bidang usaha. Sedang, kunci suksesnya menjaga kualitas dan berani berinovasi.n ydh

33

B UDAYA

Ajang Cung - Nduk Dukung Pariwisata Tuban Ajang Pemilihan Duta Wisata “Cung Ndhuk” merupakan bagian integral dari pembangunan pariwisata serta pelestarian nilai-nilai seni dan budaya Kabupaten Tuban. Demikian disampaikan Sunaryo, SPd, Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata Dinas Perekonomian dan Pariwisata (Disperpar) Kabupaten Tuban, pada Malam Grand Final Cung - Nduk Kabupaten Tuban di Gedung Graha Sandiya.

nya.



Kompetisi Cung - Ndhuk ini sarana promosi pariwisata Kabupaten Tuban,” ujar-

Kegiatan itu juga untuk meningkatkan kualitas SDM dan peran serta masyarakat, khususnya putra putri Tuban dalam menunjang visi dan misi kepariwisataan Kabupaten Tuban, sehingga diharapkan melahirkan Duta Wisata Cung dan Nduk yang siap bersaing di tingkat Provinsi, yaitu Pemilihan Raka dan Raki. Asisten Pemerintahan Sekretaris Daerah Kabupaten Tuban, Drs. Achmad Amin Sutoyo, mewakili Bupati Tuban, mengatakan, telah diketahui bahwa Kabupaten Tuban memiliki potensi pariwisata, mempunyai banyak obyek yang menarik, sehingga pengembangan pariwisata menjadi alternatif dalam menyumban Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Sektor pariwisata merupakan potensi pembangunan Kabupaten, meliputi wisata alam, budaya, buatan dan minat khusus,” ujar Pak Amin, sapaannya. Saat ini, Kabupaten Tuban telah menjadi daerah tujuan utama wisata religi atau wisata ziarah di Jawa Timur. Keberadaan makam Sunan Bonang, Asmoro Qondi, Sunan Bejagung dan makam-makam Aulia lainnya telah menggeliatkan aktivitas pariwisata serta usaha yang

34

terkait dengan sektor pariwisata. “Pada kesempatan ini, perkenankan saya menyampaikan pesan kepada anak-anakku Duta Wisata Cung - Nduk agar terus meningkatkan kualitas diri, karena seorang duta wisata bukan hanya figur, tapi juga penyampai informasi mengenai pembangunan daerah kepada masyarakat luas agar lebih mengenal Kabupaten Tuban,” kata Pak Asisten. Sebelumnya, ajang Cung Nduk dimulai pendaftaran peserta tanggal 5 - 23 September 2016 di Kantor Disperpar. Seleksi peserta dilaksanakan pada tanggal 28 - 29 September 2016, meliputi seleksi fisik, skill atau bakat dilanjutkan dengan tes tulis dan wawancara. Beberapa materi, di antaranya pengetahuan kepariwisataan, kemampuan berbahasa Inggris dan pengetahuan umum. Pada tahap seleksi diikuti 81 orang peserta, hasil seleksi diumumkan tanggal 3 Oktober telah ditetapkan 20 finalis terdiri dari 10 calon Cung dan 10 calon Ndhuk. Sebelum malam Final mereka mendapat pembekalan mulai dari materi kepariwisataan, sejarah dan budaya Tuban, guiding, sadar wisata, etika berlalu lintas, pemahaman terkait narkoba, kepribadian hingga tata rias dan fashion. Tidak hanya itu, juga menjalani

Cung-Nduk Tuban. (kdg)

“Sektor pariwisata merupakan potensi pembangunan Kabupaten, meliputi wisata alam, budaya, buatan dan minat khusus,” ujar Pak Amin. “fam tour” untuk memperkenalkan potensi pembangunan dan daya tarik wisata Kabupaten Tuban. Kemudian, profil di radio, memperkenalkan finalis ke masyarakat. Hasil final Akhirnya, setelah melalui babak cukup panjang, Dewan Juri yang diketuai Imaduddin, SE, Drs. Teguh Setyo Budi dan dr. Chamidatus Syaidah sebagai anggota, mengumumkan hasil final “Cung - Nduk” Duta Wisata Kabupaten Tuban 2016 hasil sebagai berikut: Cung Tuban 2016 diraih Abrian Lingga Pratama, Wakil I Cung Tuban 2016, Puguh Pambudi, Wakil II Cung Tuban 2016, Hikmatiar David Syahputra. Sedang, Nduk Tuban 2016, diraih Inas Pramitha Abdini Haq, Wakil I Nduk 2016, Lailatul Fajriyah, Wakil II Nduk 2016, Riska Choirunnisa. Juara kategori umum, Cung Favorit 2016, Dimas Prihandoko, Nduk Favorit 2016, Riska Choirunnisa, Intelegensia 2016, Alya Jilan Madani, Persahabatan 2016, Owan Arif Bawa Putra.n kdg

No. 223 n November 2016

B UDAYA

Gelar Stakeholder Meeting

P

ada era sekarang, perkembangan teknologi informasi berlangsung setiap saat dan tanpa batas. Agar perpustakaan tidak tergerus oleh dinamika tersebut, diperlukan perubahan pola pikir dari seluruh stakeholder yang terlibat untuk menjadikan perpustakaan sebagai suatu kebutuhan atau institusi primadona bagi masyarakat dalam memperoleh informasi. Hal inilah yang mendorong Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Tuban menyelenggarakan Stakeholder Meeting di Ruang Perpusda Kabupaten Tuban, beberapa waktu lalu, dengan tajuk menyinergikan unsur dan potensi daerah dengan perpustakaan sebagai wahana pembelajaran sepanjang hayat dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Seperti diungkapkan Kepala Kantor Perpustakaan, Kearsipan dan Dokumentasi Kabupaten Tuban, Joko Prijono, S.H, M.Hum, dengan adanya perubahan pemikiran tersebut, tentunya pengelola perpustakaan terdorong lebih kreatif dan inovatif serta terpacu memberikan yang terbaik bagi institusinya. Pertemuan tersebut, urainya, dimaksudkan membangun kesadaran tentang pentingnya pengembangan perpustakaan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dukungan dan komitmen dari stakeholder untuk pengembangan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi, sekaligus menyusun rencana sinergi yang berkelanjutan antar stakeholder untuk mendukung pengembangan perpustakaan. Menurut Bapak berkacamata ini, perpustakaan di era globalisasi haruslah memenuhi beberapa kriteria, antara lain, lokasi, tata ruang, administrasi, pelayanan terhadap anggotanya dan koleksi buku-buku perpustakaan serta peran pustakawan yang mumpuni. Selain itu, melakukan promosi dan menyelenggarakan jaringan kerja sama baik dalam daerah maupun luar daerah, melakukan upaya-upaya pengembangan dan pembinaan perpustakaan terus menerus dari segi sistem menajemen serta teknis operasional. Dalam mendukung pengembangan perpustakaan, perlu reorientasi dan revitalisasi fungsi perpustakaan sehingga seluruh stakeholder perpustakaan memiliki persepsi positif, apresiatif dan paradigma baru terhadap perpustakaan. Untuk itu, diperlukan komitmen semua pihak dalam mengembangkan dan memberdayakan perpustakaan. Perpustakaan sebagai investasi intelektual, akan memanfaatkan jaringan kerjasama atau kemitraan dengan berbagai pihak. Kerjasama ini bisa dilakukan antar perpustakaan ataupun dengan lembaga-lembaga lain yang dapat memberikan dampak positif bagi perpustakaan. Kerjasama merupakan suatu cara untuk memperoleh

No. 223 n November 2016

Pak Joko (tengah). (ydh)

ketrampilan, sumber daya dan dana serta pengetahuan yang diperlukan untuk mengatasi semua tantangan. Pada saat yang sama, bekerjasama dengan CocaCola Foundation Indonesia, juga dilakukan sosialisasi Program PerpuSeru. Program pengembangan perpustakaan berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ini bertujuan menjadikan perpustakaan sebagai pusat belajar masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup. Menurut Fasilitator Program PerpuSeru untuk wilayah Sumenep, Gresik, Lamongan, dan Tuban, Madinatul Munawarah, program prioritas PerpuSeru meningkatkan budaya baca masyarakat melalui fasilitasi layanan perpustakaan daerah dan desa. Program ini menyasar kalangan muda, perempuan dan pengusaha mikro dan sementara terfokus pada bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Tidak menutup kemungkinan akan merambah kepada kalangan dan bidang lainnya. “Agar program PerpuSeru terlaksana dengan baik, maka perlu menerapkan strategi khusus, antara lain, peningkatan layanan komputer dan internet, mendorong pelibatan masyarakat, dan melakukan advokasi,” katanya. Perpusda Kabupaten Tuban telah berupaya maksimal mendorong pelibatan masyarakat dengan mengadakan pelatihan-pelatihan, seperti Master of Ceremony (MC), desain grafis, editing video, serta rutin menggelar lomba minat dan budaya baca. Tahun ini, jumlah pengunjung perpustakaan ratarata 130 orang per hari. Dari jumlah tersebut, kurang lebih 40 orang menikmati layanan komputer dan internet gratis. Pemuda yang mendapatkan pelatihan desain grafis dasar sebanyak 45 orang dan pelatihan editing video 13 orang. Terkait sarana dan prasarana, jumlah komputer pelayanan di Perpusda 11 unit, 4 di antaranya bantuan Yayasan Coca-Cola Indonesia. Selain itu, bekerjasama dengan PT. Telkom untuk peningkatan kapasitas bandwith internet dari 3 Mbps menjadi 10 Mbps. Sementara, advokasi masih dilakukan kepada Unirow, Dewan Kesenian Tuban dan masih melakukan identifikasi mitra potensial lainnya.n ydh

35

C

ERPEN

Warjo bali saka kantor ora njur salin klambi apa mangan, ning malah bali neng teras, lungguh dhelog-dhelog ing kursi dawa sing biasane kanggo ngisis. Dheweke mau krungu kabar, yen bojone mitrane ya si Sarju pancal donya merga babaran. Yen pada ngarani seda konduran ngono kae.

Bathine Wong Rukun J

ane, sawise krungu ngono mau rekane ya njur arep layat, ning yen kelingan bojone dhewe ya lagi nandhang stres, kekarepane diwuru-

ngake. Dheweke trima mulih. Weruh bojone ngomyang karo nglela-nglela bonekah atine dadi angles. MBokne Warjo ora leren-leren anggone nglelipur mantune, ning bojone Warjo ora ngrewes, tetep ngomyang, pijer nyayang-nyayang boneka kuwi ing kekebane. Oh … atine Warjo angles. Ya saploke nglairake anake mbarep wis ana sepasar iki, ning lair bayine wis ora ana, pikirane bojone sak nalika dadi owah. Warja ya ngerti, kabeh mau merga bojone banget kagelan. Wis patang taun mbangun brayat, lagi arep diparingi momongan. Mesthi wae kaya ngapa bungah lan anggone nggegadhang, mbesuk anake yen lahir sehat ndemenakake. E … kok merga neng sumur adus tiba kepleset, let sedina krasa arep nglairake. Ya njur gage digawa neng Puskesmas, ning bareng lahir bayine meneng wae … jebul wis ora ana. Ngono wae dhoktere isih ngendika: “Niki begja mas, saged lahir kanthi gampil”. Ngerti lahire anake wis ora gelem dimong, bojone Warjo njerit-njerit histeris, sabanjure wis nganti digawa mulih isi tetep ngomyang. Mula karo Warjo njur digolekake bonekah neng pasar … e kok jebul kena kanggo ngeneng-enengi. Saiki ora pijer nggriyeng nangisi bayine, ning tansah nglela-nglela bonekahe kuwi. Ngeligi Sarju kuwi kancane kenthel wiwit sekolah SD, kancane neng greja, bareng PA, rombongan koor, mula bareng ngerti mbokne nunggoni bojone, Warjo gage pamit. “Mbok, aku tak layat neng nggone Sarju ndisik ya, yen ora njur teka, rasane kok ora kepenak”. “Iya le, wong piye-piyea kae kuwi kancamu becik, gek lagi kasusahan kepaten bojone, mangka ninggal bayi abang, wah mendah susahe”. “Iya mbok, menungsa mono yen lagi diparingi coba, kok werna-werna penandhang sing kudu disandhang”. “Senajan kowe dhewe lagi diparingi prihatin lan susah le, ning sabisa-bisa ya lipuren Sarju kuwi Jo, sapa ngerti mengko kowe ya entuk panglipur”.

36

“Iya mbok, wis aku tak mangkat,” Warjo nyedhaki bojone sedhela, ngelus bathuke kebak asih. Sing dielus katrem anggone nyayang boneka ditempelake ing dhadhane kaya wong lagi nusone. Weruh dhadhane bojone sing payudarane mengkah-mengkah kebak banyu susu … sing kudune di susu bayi … atine angles. Mula gage-gage ninggalake bojone, kanggo nyapih atine sing rontang-ranting. Ngetokke motore nggeblas tumuju omahe Sarju layat. Weruh tekane mitrane, Sarju gurawalan methukke banjur gapyuk ngrangkul karo tangise wutah kaya bocah cilik. Warjo sing saka ngomah wis sangu ati susah, kesetrum Sarju sing nagis, sanalika ya melu nangis. Wong loro dadi ruket-ruketan nangis ngguguk gawe trenyuhe sing padha nyawang. Gandheng tangga desa, mula wong-wong ya ngerti yen Warjo ya mentas wae kesripahan anake sing lagi lahir. Dadi wong-wong ya maklum. Mula dening sawenehe pelayat sing sepuh, kekarone dirangkul banjur diajak mlebu ing omah. Sawise padha lungguh banjur dingedikani akeh-akeh, yen wong mono mung saderma nderek kersane sing paring urip. Paribasane nyawa mono mung gadhuhan, bandha sampiran. Manungsa ora kena nggegegi banget. Sawise padha lerem tangise, priyayi sepuh mau metu, Warjo lan Sarju banjur padha omong-omongan nyritakake penandhange dhewe-dhewe. Sarju ya ngerti, merga dhek Warjo kesripahan anake, dheweke ya layat karo bojone. Bojone Warjo lan bojone Sarju ya padha-padha mbobot tuwa, mula olehe babaran ya mung ngarep mburi, kacek sepasar dhisik bojone Warjo. Mung sing kanggo lantaran bojone Warjo ndadak nganggo tiba neng sumur, dene bojone Sarju nglairake neng ngomah. Merga kakehan getih sing metu mangka mbah dhukun ora ngerti kudu piye, mula sawetara mung padha bingung. Lagi bareng sing bayen semaput, Sarju bingung golek kendharaan arep dianggo nggawa bojone neng Rumah Sakit, ning tekan ndguwur mobil wis les … ora ana (pancal donya). Yen bayine seger waras tur tangise bantas. Bareng

No. 223 n November 2016

C ERPEN Sarju kandha marang Warjo: wis sawetara anggone padha rerembugan, Warjo “Mas mbok mengko bali ya ngancani aku, ben ora kepingin weruh bayine diterke Sarju. Bubar iku Sarju banjur nemoni tamu-tamu sing padha layat. Wektu kuwi temlawung banget”. “Iya dhik, muga-muga mbakyumu ana sing bayi sing nembe lahir kuwi dipangku mbahne wedok. Nyata bayine gedhe. Jare dhek mbobote sing tuwa nunggu, ben aku bisa bali mrene”. “Iya mas, tenan lho, rawuhmu sembahyangan lan ya sehat, gaweyan apa ditandangi. Bayi kuwi neng pangkon krugat-kruget, tutuke sing wungon mengko tak tunggu”. Warjo banjur mulih. Tekan ngomah njujug mburi ndamis kuwi cloropan. Karo mbahne Sarju njur ditetesi wisuh lan ganti klambi njur mlebu neng kamare bojone. madu sing wis didulit nganggo kapas. Tinemu Dinah bojone turu Bayi kuwi ya gelem angler ngelone bonekahe, nglameti. Warjo njinggleng “Lha iya, wong tuwa bisane ya mung ditunggoni mboke. Warjo takon: anggone ngawasake. Rasa nyenyuwun ta le, ben Pangeran “Dinah olehe turu wis suwe welas sing mbangeti tuwuh ing paring pangentheng-entheng mbok?”. atine. Batine ngudarasa: “Ya wis sauntara le, malah Mendah olehe njur gedhe sesangganmu iki.” mau mentas tak dulang, ya entek lan sehat, yen bayi kuwi njur yen mung limang sendhok wae, lan jur turu”. “Ya syukur mbok ben pikire bisa ngaso”. “Ning ya kuwi le, janji susune krasa lara bonekahe kuwi disuleuselke dikon mimik, njur banyu susune dadi kumocor metu merga kepenet boneka. Ya iki, dadi ambune amiis ngganduk, ajoa anak, rasane aku kaya ora betah nunggoni”. “Ya sing sabar mbok, mugamuga wae Dinah ndang eling lan gelem nampa kasunyatan, yen anake kuwi ora gelem diemong”. “Lha iya, wong tuwa bisane ya mung nyenyuwun ta le, ben Pangeran paring pangenthengbisa mimik banyu asi sing asli. Kaya duweke bojoku sing entheng sesangganmu iki,” Warjo njur lungguh neng kudune dianggo mimiki bayi. Saiki mung nganggur metu sandhinge mbokne karo kandha: kekotos, sing mung kebuang muspra. Mangka bojoku ya “Kana mbok ngisi weteng dhisik njur adus, aku ngomyang terus, nglela-nglela bonekah merga stres genti sing tunggu. Simbok ngaso ndisik gentenan”. kelangan bayine. Ah … apa Sarju gelem ya tak jak Dikon anake, mbokne ya njur ngadeg, metu saka rukunan? kamar tumuju pawon. Ngono batine Warjo. Warjo gage metu ninggalake Sajake Dinah krasa kepenak, nyatane nganti sore bayi kanthi sangu sewu rancangan sig bakal dilairke ora nglirir. Malah Warjo nggloso neng sandhinge bisa neng Sarju, sawise kabeh rampung berkahan lan keturon, sing ateges bisa ngaso. pangruktining kunarpa, Warjo tansah nyaketi Sarju. Mung wae Warjo nglirir, nalika ing ngarepan krungu Sawise budhale layon ing palerenan sing wong … kulanuwun … pungkasan, para pelayat sebagian ana sing ngeterake Gregah Warjo tangi, gage tumuju ngarepan tekan pasareyan, ning ya akeh sing padha kondur. mbukak lawang. Jebul Lik Pawiro adhine mbokne sing Disawang Warjo, praupane Sarju katon sedhih lan omahe tangga desa. Gupuh Warjo anggone ngacarani: ing mripate bali kemembeng luh sing sajake ora kena “Mangga ngriki, lik”. dibendung. “Iya jo … wong loro banjur lungguh ing kursi tamu. Mula niyate arep omong-omong diwurungake, ati Lik Iro ndhisiki takon: rasane isi durung mentala. Mulane ya njur kaya wong“Piye Jo bojomu?”. wong liyane, sawise ngepuk-puk pundhake mitrane, “Nggih empun sae lik, sak niki empun mboten Warjo ya njur pamit mulih. Karo nguntapake lan nyalami,

No. 223 n November 2016

37

C

ERPEN

nangis nggriyeng mawon, sareng kula tumbaske bonekah. Dinten-dinten bonekahe niku sing dilela-lela”. “Wah mesakke banget bojomu, Jo. Ya muga-muga ndang diparingi eling lan waras”. “Enggih pangestune mawon, Lik”. “Lha iki mbakyu ana ngendi?” Kandha ngono mbok Iro karo ngadeg memburi nggoleki mbakyune, tinemu lagi nglaras. Lungguh tlundhakan pawon karo nyomaknyamuk nginang, ketara lambene sing mblenger abang. Sajake bubar adus, ketara wis jungkatan lilis. Mbarengi nglepeh kinange, adhine njedhul karo kandha: “Empun rampungan napa mbakyu”. “Uwis dhi, wong lehku mangsak kuwi mau esuk sisan, sore nek arep madhang keri ngangeti. Wis suwe pa kowe mau?”. “Enggih dereng yu, wong kula bar ditemoni Warjo nggih njur mriki niki”. “Pripun yu dhenok larane, rak empun mboten ngomyang to?”. “Lha ya kae, wiwit ditukokke boneka Warjo njur leren ngomyang, ning dina-dina saiki nglela-nglela bonekahe wae. Wah atiku sok njur susah banget je dhi, mengko nek pikirane dadi owah, piye”. “Ah nggih di suwun ampun ngantos ta yu. Awi ta yu, kula diterke teng nggene le tilem si dhenok, kula tak sumerep”. Wong loro banjur runtung-runtung neng peturone Warjo, tinemu bojone Warjo isih nglinteg ngeloni boneka. Mbakyu adhi mau lungguh neng sandhinge karo omong klesak-klesik, wedi yen mbribeni sing turu. Wayahe wis bubas surup, Warjo wis rampung anggone nyumeti diyan teplok. Bubar nyanthelake diyan neng kamare, Warjo banjur nyedak embok lan like karo kandha: “Mbok lan sampeyen lik, kula tak sanja nggene dhik Sarju sing kesripahan. Tulung ditenggakke Dinah sekedhap, mangkih nek nglilir ndhak bingung,” Lik Iro mangsuli: “Iya le, bojomu tak tunggokke karo mbokmu”. Warjo banjur budhal. Ora nganti limang menit wis tekan omahe Sarju. Bareng wis mateni mesin motor Warjo krungu bayi nangis banter tur sero, mratandhani yen bayi sehat. Sawise njagrak motor, nuli nylingker memburi marane dununge tangis bayi. Neng kamare tinemu wong tuwa-tuwa padha njibeng nunggoni bayi sing nangis kekejer diemban mbane. Warjo nyerak takon: “Kok nangis terus niku enten napa mbok?” Mbahne bayi mangsuli: “Sajake empun kraos salit mas, wong angger kula tetesi maben niku njur kendel. Ning namung sekedhap njur nangis malih. Kalih tutuke niku empun cloropan mawon”. Warjo krasa welas banget atine, njur nyedhaki Sarju bapakne si bayi karo kandha: “Dhik, bojoku asine mung diguwaki, wong metu terus, mangka susune ya isih mentheng-mentheng

38

merga kebak”. Sarju mung manthuk-manthuk, merga durung ngerti karepe Warjo. Warjo njur kandha ngarahngarah: “Piye ya dhik Sarju, nek anakmu kuwi disusokke bojoku … e … ya sapa ngerti nek njur gelem meneng,” Sarju gage mangsuli: “Wah nek kersamu ngono aku setuju banget mas. Aku jan bingung tenan je, yen krungu tangise”. “Ha piye, saiki dicoba apa piye?” Warjo nari Sarju. Anakmu gendhongen digawa neng omahku tak boncengke,” pakone Warjo. “Iya mas”. Kanthi disetujoni mboke lan wong-wong tuwa sing padha welas krungu tangise, bayi abang kuwi dibopong, diuwel-uwel jarik amba brukut, banjur diajak mbonceng Warjo tumuju ing omahe. Tekan ngomahe, Dinah bojone Warjo wis lungguh karo pijer ngliling bonekahe. Warjo mlebu dhisik, banjur nyedhaki bojone karo kandha: “Nah gilo saka Puskesmas, dening dokter anakmu wis entuk digawa mulih”. Gage panyaute Dinah: “Endi mas”. Warjo metu, njaluk bayi sing dibopong Sarju digawa mlebu karo kandha: “Nya Nah anakmu, wis gek njur disusoni!”. Dinah nampani bayi, tumuli diambungi lan dikekeb-kekeb gawe trenyuhe sing padha weruh. Klambi dibledhehake, kotang dibukak benike, wusana tutuk bayi kuwi dithukke ing punting payudarane. Sawise punting mlebu ing tutuke, wusana capluk…. mot … mot, bayi kuwi nglenyut kanthi dhokoh ora mandheg-mandheg. Meruhi iku kabeh Warjo lan Sarju trenyuh kaworan bungah sing tanpa upama, nganti padha netesake luh. Warjo nyeret tangane Sarju metu karo kandha: “Piye dhik … atiku bungah banget bayimu gelem nusu bojoku”. “Aku semono uga mas, rasane atiku mak plong lega. Tur yu Dinah kokya kaya karo anake dhewe”. “Ya kuwi dhik, muga wae dheweke njur eling. Mula becike, anakmu tinggalen kene ben disusoni bojoku, lan bojoku ya ben mari olehe stres. Perkara mbesuk, ya padha dirembug mburi, wong awake dhewe tujuane mung becik. Dhasare bab iki ya dingerteni wong akeh”. “Ngono ya becik mas, wis mangsa borong, aku manut kersamu, sing cetha atiku saiki wis ayem … lan tenang”. “Ya syukur dhik, ya ngene iki bathine wong rukun, penandhang sing abot di kaya ngapa, bisa dadi entheng merga disangga bebarengan”. Sarju ninggalke omahe Warjo, ning wong loro kuwi atine padha rasane, anane mung lega, bungah lan syukur karo sing Maha Kuwasa. Jebulane ya nyata, wong yen tansah ora lali ndedonga lan sembahyang mono, Pangeran mesthi tansah paring pitulungan lan pangayoman. Ya kuwi bathine wong rukun.n (Nini Klenyem)

No. 223 n November 2016

F i gU R

Dilantik, Ketua PC-GP Anshor Kabupaten Tuban

K

etua dan Pengurus Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Anshor Kabupaten Tuban periode 2016-2020 dilantik oleh Pengurus Pusat (PP) GP Anshor di Alon-alon Tuban, bersamaan dengan Resepsi Hari Santri Nasional 2016. Pelantikan ditandai dengan pengambilan sumpah janji pengurus oleh Alfa Isnaini, perwakilan PP-GP Anshor. Pada kesempatan yang sama juga dilakukan pengukuhan Satkorcab Barisan Anshor Serbaguna (Banser) oleh Pengurus Cabang (PC) GP Anshor Tuban, yang baru saja dikukuhkan. Bung Alfa Isnaini, perwakilan PP-GP. Anshor, menegaskan, bahwa tidak ada artinya sebuah pelantikan jika tidak diimplementasikan dalam sebuah gerakan. Sebagai kader NU, Anshor ketika di lapangan harus benarbenar konkret. Kepengurusan PC-GP Anshor Kabupaten Tuban yang baru harus mampu melakukan kerjasama internal yang solid. Selain itu, PC-GP Anshor Tuban juga harus bisa berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam membangun Kabupaten Tuban. “Di internal Anshor sebaiknya ada kerjasama yang baik. Bila perlu bekerjasama dengan pemerintah dalam membangun Kabupaten Tuban yang lebih baik. Anshor Tuban harus singkron dengan pemerintah demi membangun Kabupaten Tuban menjadi lebih sejahtera,” ungkapnya. Ketua PC-GP Anshor Kabupaten Tuban, Syafiq Sauqi, meminta doa kepada para ulama dan kiai agar pengurus yang dilantik mendapatkan hidayah dari yang mahakuasa. Sehingga, ke depan selalu bias menjalankan roda organisasi dan bisa mengawal serta mempertahankan kemerdekaan NKRI. “Semoga usai pelantikan ini pengurus mendapatkan hidayah dari Allah SWT, sehingga dapat menjalankan roda organisasi dengan baik," ujarnya. Menantu Bupati Tuban, H. Fathul Huda, ini, mengingatkan agar Anhsor tetap istiqomah menyebarkan dan menyiarkan Islam ahlusunnah waljamaah hingga kepelosok-pelosok desa. Terlebih, saat ini banyak aliran keras, untuk itu Anshor harus menjadi garda depan. GP Anshor Kabupaten Tuban terus memantapkan kolaborasi dengan Pemkab Tuban dan Anshor juga siap membantu serta menyukseskan program-program PemkabTuban. Harus serba bisa Bupati Tuban, H. Fathul Huda, yang hadir dalam pelantikan, mengucapkan sela-mat dan sukses kepada pengurus baru yang telah dilantik. Anshor, pesannya, harus terus berkembang, jangan hanya jadi komentator, apalagi hanya jadi penonton. Anshor bersama Pemkab Tuban harus bisa mengawal masyarakat Kabupaten Tuban, agar perilakunya sejajar dengan brand Bumi Wali. Anshor juga seyogyanya menjadi individu yang multi, bukan hanya serbaguna, namun juga harus serba bisa. Selain itu, juga harus melakukan sesuatu yang bermanfaat dan tidak hanya pandai dalam berkomentar. “Santri berkewajiban taat pada Kianya, dan jangan sampai membuat malu Kiai. Semoga para pengurus bisa bekerja dengan amanah demi kepentingan masyarakat,” pesan Pak Bupati. Festival Muharrom Selain Resepsi Hari Santri dan Pelantikan PC-GP Anshor Kabupaten Tuban, sebelumnya digelar pula rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2016, Festival Muharrom dan Haul Sunan Bonang, seperti Musabaqoh Qiroatul Kutub, Parade Qosidah, Band Islami, Ishari Jatim, Banjari se-Kabupaten Tuban dan Pawai Ta'aruf. n kdg Syafiq Sauqi. (kdg)

No. 223 n November 2016

39

A HARI JADI KAB AGEND UPATEN

TUBAN KE-7 23 TAHUN 2016

NO HARI, TANGGAL

JAM

KEGIATAN

TEMPAT/START/FINISH

1 2

Selasa, 4-5 Oktober 2016 Sabtu, 22 Oktober 2016

09.00 19.00

Kecamatan Tuban, Palang dan Semanding Graha Sandya

3 4 5 6

Oktober s/d Desember 2016 Oktober s/d November 2016 Minggu, 30 Oktober 2016 Kamis, 3 November 2016

08.00 08.00 19.00

7 8

November 2016 November 2016

08.00 -

9

November 2016

-

10

November 2016

-

11 12

November s/d Desember 2016 Jum’at, 4 November 2016

Lomba Kampung Idaman Berseri Grand Final Pemilihan Duta Wisata “Cung & Nduk” Tahun 2016 Pelayanan KB Bantuan Keuangan Warga Miskin Bersih-bersih Sungai Tuban Bersholawat, bersama Habib Syech Donor Darah Pengumpulan Pakaian Pantas Pakai atau Barang Bekas Berkualitas Pengobatan Massal dan Pemeriksaan Kesehatan Pemberdayaan Wanita Rawan Sosial Ekonomi Bantuan Sembako Pemeriksaan Gula dan Tensi untuk 300 Lansia Tuban Bumi Wali Trail Adventure Kejuaraan Nasional Tenis Lapangan Junior Bupati Tuban Cup 2016 Ziarah Makam Leluhur

13 Minggu, 6 November 2016 14. Selasa - Minggu 8-13 November 2016 15 Rabu, 9 November 2016

16. Kamis, 10 November 2016 17. Jum’at, 11 November 2016 18. Jum’at - Senin, 11 - 14 November 2016 19. Sabtu, 12 November 2016 20. Sabtu, 12 November 2016 21. Sabtu, 12 November 2016 22. Sabtu, 12 November 2016

08.00 07.00 08.00

10.00 19.00 09.00 07.00 09.00 09.30 19.00

23. Selasa - Sabtu 15 - 19 November 2016

24. Sabtu, 19 November 2016

19.00

25. Minggu, 20 November 2016 26. Selasa - Jum’at 22 - 25 November 2016 27. Jum’at, 25 November 2016

14.00 08.00-22.00

28. Minggu, 27 November 2016

07.00

29. Jum’at - Minggu 25 - 27 November 2016 30. Selasa, 29 November 2016

09.00 08.30

31. Desember 2016 32. 4 Desember 2016

08.00

19.00

Ziarah Makam Pahlawan/Tabur Bunga Malam Tirakatan Hari Jadi Seleksi / Evaluasi Sekolah Adiwiyata Kabupaten Terbaik 2016 Upacara Hari Jadi Tuban ke-723 Nikah Massal Gelar Kebersamaan IPSI Kabupaten Tuban Resepsi Hari Jadi Tuban ke-723 ( Hiburan Nicky Astria ) Pameran Dagang dan Pembangunan - Pameran Hasil Produk Unggulan - Pameran Pendidikan - Pameran Foto Tuban Tempo Dulu dan Sekarang - Pelayanan KTP, KK dan Akte Kelahiran Pagelaran Wayang Kulit dengan Dalang Ki Kentus Hiburan Rakyat Bersama Evi Tamala Pameran Wedding dan Photografy Pengajian Kebangsaan Bersama Ainun Nadjib dan Kyai Kanjeng Majlis Dzikir dan Maulidurrasul SAW Al Khidmah Pekan Olah Raga KORPRI Bhakti Kemanusiaan Bersama Ormas, Orsos, Keagamaan Bantuan Keuangan Lansia dan Cacat Lomba Kicau Burung Nasional

Mohon maaf bila ada perubahan agenda kegiatan.

20 Kecamatan Desa Model se-Kabupaten Tuban Desa Simorejo - Widang Alon-alon Tuban 20 Kecamatan Kecamatan Tuban Kecamatan Tuban Kecamatan Widang, Tuban, Palang dan Soko Desa Model se-Kabupaten Tuban RSUD Dr. Koesma Aloon-Aloon

Makam Sunan Bonang Kel. Kutorejo, Makam Ronggolawe Kel. Sidomulyo, Makam P. Sujono Desa Boto, Makam Dandang Wacono Ds. Prunggahan Wetan, Makam Sunan Bejagung Lor Ds. Bejagung, Makam Brawijaya Kel. Gedungombo, Makam Asmoroqondi Ds. Gesikharjo. Taman Makam Pahlawan Balai Desa Prunggahan Kulon, Kec. Semanding 30 Sekolah Alon-alon Tuban Pendopo Kridho Manunggal Alon-alon Tuban Pendopo Kridho Manunggal GOR Rangga Jaya Anoraga

Alon-alon Tuban Alon-alon Tuban Gedung Budaya Loka Alon-alon Tuban Alon-alon Tuban GOR Rangga Jaya Anoraga Pendopo Kridho Manunggal 20 Kecamatan Alon-alon