Data Loading...
Akbar Edisi 234 Flipbook PDF
Akbar Edisi 234
145 Views
23 Downloads
FLIP PDF 39.48MB
Warta Tuban Bumi Wali
NO. 234 n TAHUN XXI n OKTOBER 2017
Pemuda… Hindarkan Pragmatisme Laporan Utama Pemuda Tumbuhkan Entrepreneur
Istimewa Konkit Mimpi Tuban
Kisar Eksekutif Berlakukan Parkir Berlangganan
Wira Usaha Budidaya Longyam
Media KOMUNIKASI PEMKAB
No. 234 n Tahun XXI
OKTOBER 2017
Agus Heru Purnomo, S.P
2
No. 234 n Oktober 2017
S
ERAMBI REDAKSI
Jalan Sehat Haornas Ke-34
Senam dulu sebelum jalan. (kdg)
Dalam memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas) Ke-34, Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tuban menggelar Jalan Sehat (15/09), diikuti kurang lebih 1.000 peserta dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Tuban serta Siswa SD hingga SLA seKecamatan Tuban.
S
ebelum diberangkatkan Plh. Sekretarias Daerah (Sekda) Kabupaten Tuban, acara diawali Senam Bersama di Alonalon sekitar pukul 05:30 WIB. Peserta antusias mengikuti gerakan yang dipandu oleh Instruktur, tidak
Serambi Redaksi . . . . . . . . . . . . . . 3 Editorial . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4 Mimbar Agama. . . . . . . . . . . . . . . 5 Kisar Eksekutif . . . . . . . . . . . . . . . 8 Laporan Utama . . . . . . . . . . . . . . 12 Ekonomi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 17 Kesehatan . . . . . . . . . . . . . . . . . . 18 Istimewa . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 19
No. 234 n Oktober 2017
terkecuali perwakilan Forkopimda, dengan rancak mengikuti gerakan senam mulai dari pemanasan, Senam Perwosi, Senam Maumere, Senam Turun Naik dan diakhiri Yoga untuk pendinginan. Plh. Sekda Kabupaten Tuban, Drs. Achmad Amin Sutoyo, mengatakan, acara semacam ini berguna dalam menumbuhkan semangat berolahraga. Meski kita (Indonesia) kalah dalam Sea Games beberapa waktu lalu, tetapi harus tetap enerjik melakukan olahraga serta berprestasi. Tidak hanya itu, Pak Amin, sapaannya, juga mengimbau kepada masyarakat Tuban, serta Instansi terkait, agar bersemangat membina bibit-bibit muda olahraga. Karena, tidak dapat dipungkiri, Tuban memiliki bibit-bibit berbakat di bidang tersebut. Jalan sehat yang diprakarsai Disparbudpora Tuban mendukung jargon Kementerian Pemuda dan Olahraga, yaitu memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat. Berolahraga tidak harus mahal dan ribet, setidaknya jalan kaki di lingkungan sekitar, agar membuat hidup lebih sehat. Jalan sehat kali ini diselingi aneka hadiah menarik, juga hiburan yang membuat suasana kian meriah. Rute jalan sehat, Start di Alon-Alon Tuban, menuju Jalan Kartini, belok kanan Jalan Veteran, belok kanan lagi ke Jalan Basuki Rahmad, belok kanan lagi ke Jalan KH. Ahmad Dahlan, menuju perempatan Tri Dharma, belok kanan ke Jalan Ronggolawe, masuk ke areal Makam Sunan Bonang, terus kembali ke Jalan Kartini dan Finish di Alon-alon lagi.n kdg
Pendidikan . . . . . . . . . . . . . . . . . 23 Olahraga . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 28 Ragam Peristiwa . . . . . . . . . . . . . 30 Cermin . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 32 Wira Usaha . . . . . . . . . . . . . . . . . 34 Sastra dan Budaya . . . . . . . . . . . 36 TapRose . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 39
3
E DITORIAL Membuka Sumber Kebajikan Pada Tubuh Anak Bangsa
W
aktu meletus peristiwa G30S PKI (Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia) tahun 1965, saya belum lahir. Waktu remaja usia SMA pengertian tentang PKI adalah partai terlarang, karena kekejamannya pada peristiwa G 30 S PKI, juga entah sebab apa yang tidak pernah tahu secara pasti, partai ini juga dicap mengajarkan atheisme, yang bertentangan dengan Pancasila. Di lain pihak, massa pendukungnya, waktu partai ini belum dilarang, teramat bergelora dan cukup banyak, signifikan sebagai sebuah partai. Waktu bergulir, beberapa dasa warsa seolah tiada “peristiwa istimewa” yang berarti seperti tiga huruf PKI ini. Tetapi, ketika di belahan dunia lain komunis dinyatakan kolaps, di pusat-pusat induk semang dan anak-anak asuh Uni Soviet, RRC, Cuba dan lainnya, justru di usia setengah abadku negeri tercinta Indonesia berhembus riuh rendah tiga huruf itu menjadi “sesuatu” dan mutlak perlu “diperhatikan”. Sepertinya, tiga huruf lama tersebut kemenarikannya berubah menjadi lebih dari sekedar sulitnya ekonomi nasional, gerahnya Gunung Agung Bali, kontra KPK dengan Pansus Angket beserta rombongannya, nikahsiri.com dan lainnya, apalagi, dibandingkan dengan merosotnya tata nilai budi pekerti generasi muda yang terus-menerus digerogoti nar-
4
koba, paradoks dengan ekspektasi para pendiri bangsa ini, yang menggadang-gadang generasi muda menjadi pengganti tampuk, yang bisa memperbaiki tatatan “sejahtera lahir dan bathin” negeri kepulauan ini. Apalagi yang diharapkan dari semuanya tentang riuh tiga huruf PKI, jika filosofi segenap pemimpin negeri terlupakan. Jelas keinginan para pendiri negeri ini berkeinginan generasinya mandiri, kokohkukuh ditaburi nilai budaya luhur Nusantara, tidak mudah bingung dengan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dibingunggkan. Terlebih, jelas, filosofi pembangunan generasi muda dari awal adalah: cerdas dan diimbangi terbukanya sumber-sumber kebajikan pada tubuh anak bangsa. Bukan terbukanya sumber-sumber kekejaman yang tiada henti, baik itu kekejaman ekonomi yang terbukti dengan kesenjangan kaya miskin, kekejaman kebijakan yang menafikan keberpihakan pada kaum miskin yang terpinggirkan, kekejaman sosial dengan pola-pola disintegrasi, kekejaman pendidikan yang sulit dijangkau kaum dluafa dan lainnya. G 30S PKI adalah pembelajaran agar menjadi lebih baik, menjadi lebih arif pada tataran berbangsa dan bernegara, lebih waspada dalam arti jangan lagi terjadi pelanggaran-pelanggaran yang menegaskan kekejaman, sebagai bagian dari perebutan kekuasaan, yang jika ditarik lebih luas, bukan hanya kekejaman secara fisik, tetapi juga kekejaman secara mental dan psikis. Saat ini, yang dibutuhkan adalah membuka sumbersumber kebajikan, bukan menyuburkan benih-benih kekejaman pada diri setiap anak bangsa.n
No. 234 n Oktober 2017
M IMBAR AGAMA Konsep Asbab Al-Nuzul - Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan (Bagian III - Habis) Oleh: Masdar F. Mas'udi Tetapi barangkali modal potensial terbesar Islam yang paling hebat ialah kesadaran historisnya yang jelas, yang sejak dari semula mempunyai tempat begitu besar dalam dialognya. Sebab, kesediaan mengikuti dengan sungguhsungguh bahwa tradisi agama terbentuk dalam waktu, dan selalu mempunyai dimensi historis, membuat agama itu mampu menampung ilham baru apapun ke dalam realita dari warisan dan dari titik tolak mulanya yang kreatif, yang dapat terjadi lewat penelitian ilmiah atau pengalaman rohani baru.
A
l-Syafi'i membawa ke depan kecenderungan yang sudah ada secara laten dalam karya (Nabi) Muhamad sendiri ketika ia menekankan pemahaman al-Qur'an secara benar-benar konkret dalam interaksi historisnya dengan kehidupan Nabi Muhamad dan masyarakat beliau. Ia (al-Syafi'i) melakukan hal ini memang tanpa ketepatan sejarah tertentu, tetapi itu bukanlah maksudnya yang semula dan meskipun oleh kaum muslim kemudian hari kajian yang jujur tentang kenyataan sejarah masa silam Islam ditukar dengan gambaran stereotipikal dan berang, namun mereka tidak pernah mengingkari prinsip bahwa ketepatan historis adalah fondasi semua pengetahuan keagamaan. [8] Sekarang bandingkan ungkapan Hodgson itu dengan yang dapat kita baca dalam sebuah kitab klasik, yaitu kitab Muhyi al-Din ibn al-Arabi, Fushush al-Hikam, dalam syarah al-Syaikh Abd-al-Razzaq al-Qasyani. Dalam kitab ini dijelaskan tentang adanya konteks sejarah bagi ajaran agama-agama sehingga menghasilkan manifestasi lahiriah yang berbeda-beda. Padahal inti semua agama yang benar, sepanjang ajaran tentang pasrah kepada Allah (Islam) berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (tawhid). [9] Dalam syarah Fushush al-Hikam diuraikan sebagai berikut: Jika cara turunnya ajaran ke dalam jiwa para Nabi itulah yang dimaksud dengan kesatuan cara yang diturunkannya semua ajaran (dari Tuhan), lalu mengapa agama para Nabi itu berbeda-beda? Jawabnya ialah,
No. 234 n Oktober 2017
karena terdapat perbedaan kesiapan antara berbagai umat maka berbeda pula bentuk-bentuk jalan tauhid dan bagaimana jalan itu ditempuh, sementara maksud, tujuan dan hakikat metode itu semuanya satu, seperti jari-jari yang menghubungkan garis luar lingkaran dengan titik pusat lingkaran itu. Jari-jari tersebut merupakan jalan-jalan yang berbeda-beda menurut perbedaan garis yang menghubungkan antara titik pusat lingkaran itu dengan setiap titik yang ditentukan pada garis lingkar luarnya. Sama juga dengan cara pengobatan yang berbeda-beda, namun tujuannya adalah satu, yakni kesehatan, dan semua cara pengobatan itu sebagai cara menyingkirkan penyakit dan mengembalikan kesehatan adalah satu. Maka begitu pula cara turunnya ajaran kepada para Nabi adalah satu, dan tujuannya ialah hidayah ke arah kebenaran. Jadi jalan tauhid pun satu, tetapi perbedaan kesiapan umat manusia mengakibatkan perbedaan agama dan aliran. Sebab perbaikan setiap umat adalah dengan menghilangkan keburukan yang khusus ada padanya, dan hidayah mereka bersumber dari berbagai sentra dan martabat yang berbeda-beda menurut tabiat dan kejiwaan mereka. [10] Pendekatan historis ini tidaklah berarti relativisasi total ajaran agama dan sifat yang memandang sebagai tidak lebih daripada produk pengalaman sejarah belaka. Justru dalam penegasan tentang kesatuan agama para Nabi terkandung makna yang tegas bahwa ada sesuatu yang benar-benar universal dalam setiap agama dan menjadi titik pertemuan antara semua agama. Dan karena yang universal ini tidak terikat oleh ruang dan waktu, maka dapat disebut "tidak historis". Tetapi masalahnya tetap sama, yaitu bagaimana menangkap pesan inti yang uraiversal itu, yang tidak tergantung kepada konteks, juga tidak kepada suatu sebab khusus dari asbab al-Nuzul munculnya suatu ajaran atau hukum. Maka banyak para ahli yang akhirnya sampai kepada persoalan bahasa: bagaimana kita mempersepsi suatu ungkapan linguistik untuk dapat melakukan generallisasi tinggi dari makna immediate-nya ke makna universalnya. Berkaitan dengan ini, penting sekali memahami penegasan dalam Kitab Suci bahwa Allah tidak mengutus seorang Rasulpun kecuali dengan bahasa kaumnnya (QS. Ibrahim/14:4). Maka meskipun bahasa
5
M IMBAR AGAMA para Nabi itu bermacam-macam, namun tujuan dan makna risalah mereka semua sama. Hal yang sudah amat jelas ini perlu dipertegas, agar kita waspada agar jangan sampai kita terkungkung oleh lingkaran kebahasaan semata dan terjerumus ke dalam sikap mental seolah-olah suatu nilai akan hilang kebenarannya jika tidak dinyatakan dalam bahasa tertentu atau ungkapan kebahasaan tertentu yang dianggap suci. Bahasa termasuk kategori historis, dan kesadaran kebahasaan akan dengan sendirinya menyangkut kesadaran historis. Tentang hal ini, keterangan yang cukup baik diberikan oleh Ibn Taimiyah, demikian: Jadi diketahui bahwa Tuhan mengajari jenis manusia agar mengungkapkan apa yang dikehendaki dan digambarkan dalam benaknya dengan bahasanya. Dan yang pertama mengetahui hal itu ialah bapak mereka, yaitu Adam, dan umat manusiapun kemudian mengetahui seperti Adam mengetahui, meskipun bahasa mereka berbeda-beda. Allah telah memberi wahyu kepada Musa dalam bahasa Ibrani (Hebrew) serta kepada Muhamad dalam bahasa Arab, dan semuanya itu adalah sabda (Kalam) Allah, dan dengan sabda itu Allah menjelaskan apa yang dikendaki dari mahluk-Nya dan apa perintahNya, meskipun bahasa itu berlainan. Padahal bahasa Ibrani adalah paling dekat ke bahasa Arab, sedemikian dekatnya sehingga kedua bahasa itu lebih dekat daripada bahasa bukan Arab (Ajam) satu dari yang lain. [11] Namun masalah kebahasaan mungkin akan ternyata tidak terbatas hanya kepada segi linguistiknya semata, tetapi juga kulturalnya. Misalnya, jika dalam alQur'an disebutkan bahwa Allah menciptakan tujuh lapis langit (QS. al-Mulk/67:3), terdapat kemungkinan bahwa "tujuh lapis langit" adalah bahasa kultural (yang historis), karena kosmologi yang umum pada waktu itu, khususnya sekitar Timur Tengah, memang mengenal adanya konsep demikian. Dan jika masalah kebahasaan menyangkut pula segi kultural ini, maka konsep asbab alnuzul dapat diperluas sehingga tidak hanya menyangkut sebuah ayat tertentu saja misalnya, melainkan menyangkut seluruh Kitab Suci itu seutuhnya; dan tidak hanya berkaitan dengan kasus spesifik dalam kehidupan Nabi dan masyarakat beliau pada saat itu, tetapi meliputi seluruh kondisi kultural dunia, khususnya Timur Tengah, lebih khusus lagi Jazirah Arabia sebagai "situs" langsung wahyu Allah kepada Nabi Muhamad. Karena itu, dari sudut pendekatan historis dan ilmiah kepada wahyu Tuhan, sebagai kelanjutan dan pengembangan ide Imam al-Syafi'i, kita tidak hanya akan mendapat manfaat dari pengetahuan tentang asbab al-nuzul saja, tetapi juga pengetahuan yang lebih menyeluruh tentang pola budaya Arabia dalam sejarahnya yang panjang, sebelum Islam, semasa Nabi, dan (bagi kita sekarang) sesudah Islam. Maka dari sudut ini sungguh besar harapan kita kepada kegiatan penelitian ilmiah di bidang kultural yang mulai tumbuh di Jazirah Arabia. Terutama kegiatan
6
arkeologis yang baru-baru ini secara spektakuler, berkat teknologi satelit, berhasil menemukan kota kuna Ubar (Iram) yang didirikan oleh Syaddad ibn Ad hampir empat ribu tahun yang lalu. Jika benar temuan itu maka kita akan lebih mampu memahami penuturan al-Qur'an (alFajr/87:6-8) tentang kaum 'Ad dan pesan suci di balik penuturan itu. [12]
CATATAN
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.
Ahmad Von Denffer. 'Ulum al-Qur'an, an Introduction to the Sciences of the Qur'an (London: The Islamic Foundation,1985), hh.92-93. Al-Wahidi al-Nisaburi, Asbab al-Nuzul, Kairo, 1968, h.4. 'Abd al-Hamid Hakim, Al-Mu'in al-Mubin, 4 jilid (Bukittinggi. Nusantara 1955 M/1374 H), jil. 4, h.48. Dr 'Abd al-Fattah, Tarikh al-Tasyri' al-Islami, Kairo, Dar al-Ittihad al-'Arabi, 1990, hh. 161, 177 dan 185. Ibid., h.175. Ibid., h.177. Pembahasan panjang lebar diberikan Imam al-Syafi'i dalam kitabnya yang terkenal, Al-Risalah, Kairo: Markaz al-Ahram, 1988, hh.96-144 dan 170-176. (Buku ini dapat diperoleh dalam terjemahan Indonesia, Risalah). Termasuk masalah NasikhMansukh atau "hapus menghapus" ini adalah keterangan Umar, Khalifah kedua bahwa ada firman bahwa hukuman orang yang sudah beristri atau bersuami kemudian berzina ialah dirajam sampai mati, bukan sekedar dicambuk seratus kali seperti yang ada dalam al-Qur'an sekarang ini. Menurut Umar, firman itu berbunyi: “Lelaki maupun perempuan kawin jika berzina, maka rajamlah mereka sama sekali. Menurut para ulama, firman ini dalam isi hukum atau makna legalnya telah menghapus firman Allah: Orang yang berzina, perempuan dan lelaki, cambuklah masing-masing seratus kali". Q.s. al-Nur/4:24). Segi amat menarik dari masalah ini ialah adanya teori dalam nasikhmansukh bahwa suatu firman mungkin saja masih tetap bertahan (tidak dihapus) segi bunyi lafalnya,
No. 234 n Oktober 2017
M IMBAR AGAMA
8. 9.
tetapi maknanya sudah tidak berlaku, seperti "ayat cambuk" diatas: sebaliknya, ada kemungkinan suatu firman dihapus (terhapus?) dari segi lafalnya, seperti "ayat rajam" di atas, namun hukumnya masih berlaku. Dalam bahasa fiqhnya, ada "penghapusan lafal tapi makna hukumnya tetap" [kalimat dalam huruf Arab] atau sebaliknya "penghapusan hukum tapi lafalnya tetap" [kalimat dalam huruf Arab]. Bagaimana umat Islam memperoleh teori yang "aneh" ini, dapat dilihat dari kesepakatan hampir seluruh para ulama bahwa orang yang sudah kawin dan berzina memang harus dihukum rajam sampai mati, seperti dapat dilihat dalam praktek di Kerajaan Saudi Arabia. Marshall G.S. Hodgson, The Venture of Islam, 3 jilid, (Chicago, The University of Chicago Press, 1974), jld. 3, h. 437. Lihat penjelasan makna asal kata-kata Arab "islam" dalam kitab Ibn Taimiyah, al-Iman, Kairo: Dar alThiba'ah al-Muhammadiyah, tt., hh. 223-4. Dalam pembahasannya, Ibn Taimiyah antara lain mengatakan: [kalimat dalam huruf Arab] (Hakikat perbedaannya adalah bahwa arti "islam" ialah "din" dan "din" adalah masdar dari kata kerja "dana-
yadinu" (yang menunjuk makna) jika (seseorang) tunduk dan patuh. "Agama Islam" yang diridhai Allah dan dengan itu diutus-Nya pada Rasul ialah "istislam " (sikap tundukpatuh) kepada Allah semata. Pangkalnya pada kalbu ialah sikap tunduk kepada Allah semata, dengan menyembah (beribadat) kepada-Nya semata, tanpa orang lain. Orang yang menyembah-Nya dan bersama Dia menyembah "tuhan" yang lain bukanlah seorang yang tunduk patuh (muslim). Dan orang yang tidak menyembahNya, bahkan besar kepala untuk menyembah-Nya, bukanlah seorang muslim. "Islam" ialah "istislam" kepada Allah, yaitu tunduk dan penghambaan diri kepada-Nya. Para ahli bahasa mengatakan begini: "Seseorang melakukan islam (aslama) jika ia melakukan istislam (istaslama). "Jadi "islam" pada asalnya termasuk bab tindakan (bukan nama), yaitu tindakan kalbu dan anggota badan ") 10. Lihat [kalimat dengan huruf Arab] oleh [kalimat dengan huruf Arab], Kairo: Mushthafa al-Babi alHalabi, (1987), h. 8. 11. Ibn Taimiyah, op. cit., h. 82. 12. Lihat berita arkeologis penting ini dalam Time, 17 Peb. 1992, h. 30.
“Mendarat” Di Kompi Senapan C 521 JAMAAH Haji Kloter 16 “mendarat” Senin (11/09) di Kompi Senapan C 521. Rasa haru menyelimuti kedatangan jamaah. Keluarga yang sudah memadati lokasi sejak pukul 19.00 WIB ada yang terlihat tak kuasa menahan tangis bahagia melepas kerinduan terhadap keluarga. Jamaah yang rencananya tiba pukul 22.15 WIB mengalami keterlambatan, mulai memasuki kawasan Kompi Senapan C 521 Jalan Sunan Kalijaga pukul 00.20 WIB. Menurut Umi Kulsum, Kasi Penyelenggara Haji dan Umroh Kemenag Tuban, prosesi kedatangan jamaah lancar, walau sedikit terlambat karena masalah teknis, tidak ada masalah berarti. Kloter 17, sesuai jadwal tiba di Juanda Surabaya Selasa (12/09) sekitar pukul 14.10 WIB. Tiba di Tuban diperkiraan pukul 19.10 WIB. Kloter 21 tiba di Juanda Surabaya Rabu (13/09) sekitar pukul 17.05 WIB. Perkiraan sampai di Tuban 22.05 WIB. “Penjemputan jamaah tetap di Kompi Senapan C 521. Keluarga diharuskan menggunakan ID Card, satu ID Card untuk Satu Keluarga Jamaah, serta stiker mobil yang telah diberikan Kemenag,” tambahnya. Keluarga yang melakukan penjemputan di Asrama Haji Sukolilo Surabaya dapatnya melakukan koordinasi dengan Kantor Kemenag Tuban. Keme-
No. 234 n Oktober 2017
Alhamdulillah, tiba di Tanah Air. (kdg)
nag selalu berupaya memberikan yang terbaik kepada para jamaah haji. Semoga pelayanan yang diberikan baik di Tanah Air maupun di Tanah Suci dapat memuaskan para jamaah. Sampai di hari pemulangan, Kloter 16 sejumlah 442 tinggal 439 Jamaah, meninggal 1 orang, dirawat di RS 1 orang dan menunggu di RS 1 orang. Kloter 17 dari 444 jamaah meninggal 4 orang, dirawat di RS 2 orang, tinggal 438 jamaah. Kloter 21 sebanyak 23 Jamaah.n kdg
7
K ISAR EKSEKUTIF
Berlakukan Retribusi Parkir Berlangganan Pemkab Tuban mulai memberlakukan parkir berlangganan, 1 September 2017. Ini mengacu pada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2011 tentang Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum serta Peraturan Bupati Nomor 38 Tahun 2017 sebagai Peraturan Pelaksanaannya.
K
epala Dinas (Kadinas) Perhubungan Kabupaten Tuban, Drs. Muji Slamet, MBA, mengatakan, nantinya pembayaran parkir berlangganan akan bersamaan dengan pembayaran pajak kendaraan bermotor. Untuk itu, Dishub melakukan kerjasama dengan Badan Pendapatan Provinsi Jawa Timur (Jatim), sehingga masyarakat yang akan melakukan pembayaran langsung ke Kantor Samsat Tuban. “Saat bayar pajak kendaraan, ditambah dengan biaya parkir berlangganan, sehingga tidak dikenakan biaya parkir berlangganan lagi selama satu tahun,” terangnya. Bagi masyarakat yang sudah membayar akan diberikan penanda khusus bagi kendaraan yang telah membayar parkir berlangganan. Penanda ini berupa stiker atau kartu sebagai tanda bahwa kendaraan tersebut telah membayar biaya parkir berlangganan. “Bagi masyarakat yang belum memiliki stiker atau kartu, berarti belum melakukan pembayaran, dan itu akan tetap dikenakan retribusi parkir setiap kali parkir di pinggir jalan umum,” ujar Kadishub.
8
Kadishub.
Dalam penerapannya nanti, ke depan akan digunakan tenaga kontrak sebagai juru parkir (jukir) dari Dishub. Ini untuk menertibkan parkir berlangganan di tepi jalan umum. Selain itu, mereka akan menggunakan seragam mirip dengan petugas Dishub yang ada, untuk membedakan antara jukir resmi dan jukir liar. Yang perlu dipahami juga, menurut Pak Muji, sapaannya, parkir berlangganan hanya berlaku di tepi jalan umum. Pada kawasan seperti perkantoran, tempat parkir khusus, taman parkir, tempat wisata dan tempat parkir yang dikelola oleh swasta, serta pusat keramaian tertentu tidak berlaku parkir berlangganan. Termasuk Ketinggalan Wakil Bupati Tuban, Ir. H. Noor Nahar Hussein, MSi, menyatakan, terkait parkir berlangganan di Jawa Timur, Kabupaten Tuban termasuk ketinggalan dari kabupaten-kota lainnya. “Sebenarnya 4 tahun lalu pernah mengajukan hal ini, tetapi karena ada satu dan lain hal harus ditunda dan baru bisa di-launching saat ini,” ujar Pak Wabup. Selain untuk menertibkan parkir, pelaksanaan parkir berlangganan juga akan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sektor Parkir
yang selama ini dirasa belum maksimal. Menurut Pak Wabup, jumlah kendaraan bermotor selalu bertambah tiap tahun, tetapi perolehan Sektor Parkir tidak sesuai harapan. Sejauh ini, potensi parkir yang masuk ke PAD ditargetkan 1 Milliar per Tahun, tapi hanya terealisasi Rp 800 Juta per Tahun dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Selain membereskan perkara jukir liar, yang meresahkan masyarakat, diharapkan dengan berlakunya parkir berlangganan dapat mendongkrak PAD Sektor Parkir, yang ditargetkan potensinya mencapai Rp 10 Miliar. Kadishub sebagai pelaksana peraturan ini, diharapkan bisa melaksanakan tujuan yang telah dibuat seoptimal mungkin, terutama dalam pembinaan jukir di Kabupaten Tuban. Saat ini masyarakat menuntut mendapat pelayanan publik yang semakin baik dan meningkat. Hal ini harus diwujudkan dengan penataan parkir yang lebih baik. Pak Wabup juga mengingatkan kepada Camat setelah launching ini agar menyosialisasikan pemberlakuan parkir berlangganan. Sebab, ketentuan ini berlaku bagi seluruh masyarakat Kabupaten Tuban yang memiliki plat nomor Kabupaten Tuban, baik yang berdomisili di Kabupaten Tuban ataupun tidak. Berdasarkan data yang ada, kawasan parkir yang terdata sedikitnya 130 tempat dan melibatkan 153 juru parkir resmi dengan jam operasional mulai pukul 07.00 hingga 21.00 WIB. Retribusi Parkir Berlangganan Retribusi Parkir Berlangganan, sepeda motor sebesar Rp 20.000 per Tahun, mobil dengan jumlah berat beban di bawah 3.500 Kg senilai Rp 40.0000 per Tahun dan mobil dengan jumlah berat di atas 3.500 Kg sebesar Rp 60.000 per tahun.n kdg
No. 234 n Oktober 2017
K ISAR EKSEKUTIF
Diimbau Optimalkan Lahan Pekarangan
P
angan adalah kebutuhan dasar manusia. Disamping itu, pemenuhan pangan merupakan hak asasi. Pangan juga menentukan kualitas sumber daya manusia (SDM), juga menentukan kualitas suatu bangsa. Demikian tutur Asisten Pemerintahan Sekretariat Daerah (Sekda) Kabupaten Tuban, Drs. Achmad Amin Sutoyo, yang juga Plh. Sekda Kabupaten Tuban, membacakan sambutan tertulis Bupati Tuban, H. Fathul Huda, pada Pleno Dewan Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Tuban 2017 di Gedung Korpri (14/09). “Aspek terkait ketahanan pangan menghendaki tanggung jawab banyak pihak. Inilah yang mendasari terbentuknya DKP mulai dari tingkat Pusat sampai dengan Kabupaten, serta berbagai stake holder, swasta maupun masyarakat,” jelas Pak Amin, sapaannya. DKP memiliki arti penting mengingat sekarang ini banyak negara mengalami krisis pangan, diantaranya dihadapkan pada jumlah maupun harga pangan yang tidak stabil. Serta, naiknya harga berbagai komoditi pangan. Kendati demikian, ketahanan pangan di Tuban masih sangat aman, karena produksi beras cukup untuk memenuhi jumlah penduduk Kabupaten Tuban yang lebih kurang 1,3 juta jiwa. “Akan tetapi hal di atas belum serta merta menjamin kualitas konsumsi pangan, yaitu belum tercapainya kondisi ideal kualitas konsumsi pangan, yang skor pola pangannya masih 82,6 dari standar minimal 90,” tutur Pak Plh. Sekda Kabupaten Tuban. Disamping itu, walau konsumsi pangannya sudah beraneka, namun
No. 234 n Oktober 2017
Pak Amin Sutoyo.
masih didominasi beras, sedangkan banyak konsumsi pangan seperti ubi-ubian, kacang-kacangan, hewani, serta sayur dan buah masih belum optimal. Sehingga, kondisi demikian, tidak menguntungkan, baik ditinjau dari sisi kesehatan maupun dari upaya kemandirian pangan. Dari segi kesehatan, pola konsumsi yang baik adalah yang memberikan asupan gizi cukup dan dapat meningkatkan kesehatan serta kecerdasan. Semakin beragam pangan yang dikonsumsi, maka semakin lengkap pula gizi yang dibutuhkan tubuh. Meski demikian, patut disyukuri bahwa Kabupaten Tuban memiliki potensi pangan yang bisa menggantikan beras, seperti Jagung, Ubi-ubian, Ketela, Talas, Kentang Hitam dan potensi buah lokal. Pak Amin mengajak masyarakat agar memanfaatkan setiap tanah pekarangan agar ditanami berbagai jenis tanaman di atas. Pemanfaatan lahan perkarangan juga dapat dibarengi dengan pemeliharaan ikan
atau ternak sebagai sumber protein hewani, sehingga setiap rumah bisa menjadi lumbung pangan dan memiliki cadangan pangan keluarga. “Optimalisasi lahan pekarangan ini sudah dilakukan TP-PKK Kabupaten Tuban dengan terbentuknya Rumah Kawasan Pangan Lestari berupa Kebun PKK di kompleks Pendopo Kridha Manunggal. Ini perlu dikembangkan di tiap-tiap Kecamatan, Desa dan Dasa Wisma,” tutur Pak Amin. Jumlah Penduduk Sedangkan dari sisi kemandirian pangan, dihadapkan pada penambahan jumlah penduduk yang memerlukan penambahan pangan. Untuk saat ini, masih berpeluang meningkatkan produksi pangan. Maka, di masa yang akan datang, kondisi akan berbeda, diprediksikan semakin terbatas serta dengan berbagai permasalahan yang kian kompleks. Oleh karena itu, bersamasama masyarakat, DKP berupaya memecahkan persoalan dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut: (*) Memantapkan persediaan pangan menuju kemandirian pangan dengan terus menerus meningkatkan produksi pangan. (*) Menyelesaikan semua permasalahan, khususnya yang berkaitan dengan peningkatan produksi dan distribusi pemasarannya melalui koordinasi dengan pihak terkait. (*) Mengurangi jumlah penduduk miskin dan pengangguran. (*) Memberikan dorongan kepada masyarakat untuk melakukan diversifikasi makanan terhadap ketergantungan pada bahan makanan tertentu. (*) Mengembangkan sistim kewaspadaan pangan dan gizi sebagai deteksi dini terhadap terjadinya kasus rawan pangan dan kekurangan gizi. (*) Memberikan penghargaan Adi Pangan Karya Nusantara untuk mengapresiasi masyarakat yang berprestasi dan berkontribusi dalam mewujudkan kedaulatan pangan.n kdg
9
K ISAR EKSEKUTIF
Saatnya Insan Perhubungan Mawas Diri yang tepat serta penyediaan sarana dan prasarana yang sesuai dengan standar.
Pak Bupati serahkan penghargaan. (kdg)
S
aat ini momentum yang baik bagi insan perhubungan untuk introspeksi dan mawas diri terhadap berbagai tugas di bidang perhubungan. Demikian tutur Bupati Tuban, H. Fathul Huda, ketika menjadi Inspektur Upacara Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) Ke-34, Hari Ulang Tahun (HUT) Palang Merah Indonesia (PMI) Ke-72, Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) dan Hari Agraria Nasional (HAN) 2017 di Halaman Kantor Bupati Tuban (26/09). Apalagi jika menghayati tema peringatan Harhubnas 2017, yaitu “Melalui Peringatan Harhubnas 2017 Kita Tingkatkan Soliditas, Sinergitas dan Kerjasama Dalam Mewujudkan Transportasi yang Handal, Berdaya Saing dan Memberikan Nilai Tambah”. Dengan tema tersebut, diharapkan member motivasi bahwa pembangunan transportasi termasuk pembangunan sarana dan prasarana bidang perhubungan. Pembangunan daerah sangat dipengaruhi peranan transportasi sebagai urat nadi kehidupan ekonomi, politik dan social-budaya. Ketersediaan sarana dan prasarana transportasi merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan ekonomi, ak-
10
sestabilitas dan konektivitas ke seluruh daerah serta pelayanan kepada masyarakat. Sedang, hal lain yang juga perlu menjadi bahan refleksi dalam peringatan Harhubnas kali ini, pentingnya konsistensi pada faktor keselamatan dan pelayanan. Meski perlu dilakukan efisiensi, akan tetapi dalam mengelola efisiensi tersebut tidak boleh mengurangi kualitas keselamatan dan pelayanan. Keselamatan dalam pelayanan perhubungan merupakan keharusan yang tidak bisa ditawar. Oleh karena itu, Pemkab Tuban terus berupaya seoptimal mungkin meningkatkan kinerja dan melaksanakan pembangunan di bidang perhubungan agar sarana dan prasarana semakin baik. Selain itu, menjaga kebersamaan, komunikasi dan koordinasi agar keamanan, keselamatan dan kenyamanan dapat terus ditingkatkan serta mewujudkan transportasi yang efektif-efisien. Insan perhubungan juga harus bergerak cepat mengikuti kemajuan teknologi dan perubahan lingkungan yang dinamis. Juga, mampu beradaptasi dan berinovasi serta merubah pola kerja dalam menciptakan sistem transportasi yang handal. Lebih dari itu, merumuskan regulasi
Konsep yang Matang Sementara itu, terkait Haornas Ke-34, pembinaan dan pengembangan olahraga memerlukan konsep yang matang, cermat dan berkesinambungan serta dilakukan dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh, terprogram, terarah. Menurut Pak Bupati, sebagai upaya meningkatkan prestasi olahraga, Pemkab Tuban telah dan akan terus melaksanakan berbagai program dengan sasaran dan orientasi pada peningkatan kualitas SDM. Selain itu, Pemkab Tuban akan memenuhi sarana dan prasarana standar, meningkatkan kualitas manajemen olahraga serta mengadakan kompetisi yang teratur dan berjenjang. Tema Haornas Ke-34 “Olahraga Mempersatukan Kita”. Artinya, diperlukan sinergi antara pengambil kebijakan, pelaku olahraga serta peran aktif masyarakat dalam meraih prestasi dan memajukan olahraga. Sinergitas akan melahirkan semangat berolahraga, baik itu olahraga pendidikan, olahraga prestasi maupun olahraga rekreasi, yang akhirnya akan meningkatkan kebugaran sebagai modal bagi pembangunan bangsa. Sebagai sebuah aktifitas fisik yang teratur dan terprogram, olahraga dapat meningkatkan derajat kesehatan dan kebugaran tubuh. Sedang, dalam konteks pembangunan karakter, olahraga membentuk pribadi yang tangguh, sportif dan bertanggung jawab. Usai upacara Pak Bupati menyerahkan penghargaan kepada Siti Aminah, peraih Medali Emas Gulat Gaya Bebas 46 Kg Putri Popnas 2017. Juga, kepada Lathifah Hilmi, peraih Medali Perunggu Sepatu Roda Putri Popnas 2017 dan M. Hadaya AF, peraih Medali Perunggu Karate O2SN 2017.n kdg
No. 234 n Oktober 2017
K ISAR EKSEKUTIF
Sukseskan Program Nasional PTSL
Kementerian Agraria dan Tata Ruang (Badan Pertanahan Nasional) melaksanakan Program Nasional Menuju Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL). Ini wujud pelaksanaan tugas pemerintah di bidang pertanahan serta untuk memberikan jaminan kepastian hukum hak atas tanah dan mendorong tumbuhnya sumber-sumber ekonomi masyarakat.
D
emikian hal di atas disampaikan Bupati Tuban, H. Fathul Huda, saat memperingati Hari Agraria Nasional 2017, dengan tema “Sertifikasi Tanah dan Penataan Tata Ruang untuk Kesejahteraan Rakyat”. PTSL adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali dilakukan secara serentak meliputi semua obyek pendaftaran tanah yang belum didaftar dalam wilayah Desa/Kelurahan atau nama lainnya yang disingkat dengan itu. PTSL yang dilakukan diharapkan dapat melaksanakan Basis Data Pertanahan Lengkap dan Terintegrasi (Peta Tunggal) dengan data lainnya. Sehingga, akan menunjang pembangunan di kawasan Kabupaten/ Kota. Target PTSL secara nasional tahun 2017 sebanyak 5.000.000 Bidang, tahun 2018 7.000.000 Bidang dan tahun 2019 sebanyak 9.000.000 Bidang. Saat ini, Kabupaten Tuban melaksanakan PTSL sebanyak 25.500 Bidang, harus selesai pada tahun 2017. Program PTSL di Kabupaten Tuban perlu disukseskan, melalui sinergi antara masyarakat dengan Pemerintahan Desa, jajaran Kantor Pertanahan dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban. Membangun Masyarakat Tangguh Sementara itu, memasuki usia yang sama dengan HUT RI, masyarakat diharapkan terbebas dari ben-
No. 234 n Oktober 2017
Siap bangun masyarakat tangguh. (kdg)
cana, juga permasalahan kesehatan dan persoalan sosial. Kenyataan, masyarakat belum dapat sepenuhnya menikmati kemerdekaan di atas. Di berbagai wilayah masih banyak saudara kita yang terkena atau terdampak bencana, seperti letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, kebakaran dan sekarang terjadi hampir di seluruh indonesia mengalami bencana kekeringan. Untuk itu, memperingati HUT PMI Ke-72 mendesain tema “Membangun Masyarakat Tangguh”. Dimaksudkan, sebagai pendorong bagi semua kalangan untuk tak henti dan tak kenal lelah membantu sesama. Pak Bupati, berharap, ke depan PMI terus meningkatkan dan mempererat kerjasama dengan para mitra, para pemangku kepentingan, instansi lintas sektoral, untuk bersama-sama membangun masyarakat yang dapat melakukan upaya-upaya pencegahan dan pengurangan resiko bencana.
“Kita diharapkan tidak hanya tangguh dalam menghadapi bencana, tetapi yang lebih utama adalah harus tangguh melakukan kegiatan pengurangan resiko bencana dan mengatasi masalah sosial lainnya,” kata Pak Huda, sapaan Bupati Tuban. Kesiapan menghadapi dan mengurangi resiko bencana harus menjadi bagian dari budaya bersama agar masyarakat selalu siap siaga dan tumbuh menjadi masyarakat yang tangguh terhadap bencana. Menjelang akhir penyelenggaraan upacara, diberikan pula penghargaan kepada pendonor yang telah melakukan donor darah sebanyak 50 kali, juga penghargaan kepada Instansi dan perusahaan yang intensif melaksanakan donor darah. Kemudian, usai upacara, dilaksanakan ramah tamah antara Pendonor Darah, Pengurus PMI dan PMR bersama Forkopimda Kabupaten Tuban.n kdg
11
L APORAN UTAMA
Pemuda Hindarkan Pragmatisme Ketua Pengurus Daerah (PD) Pemuda Muhammadiyah, Edi Utomo, S.Pd, MM, mengatakan, peran pemuda dalam kemajuan bangsa sangat signifikan, karena potret pemuda sejatinya masa depan suatu bangsa akan bisa terbaca dan tergambarkan di masa yang akan datang. Untuk itu, diperlukan penekanan dan strategi kebijakan yang mendukung kemandirian serta penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) bagi kaum muda.
M
as Edi, sapaan karibnya, menyebutkan, untuk membangun bangsa dan negaranya, pemuda harus memiliki karakter yang kuat, kepribadian tinggi, semangat nasionalisme, serta berdaya saing tinggi. Disamping itu, pemuda harus memiliki ciri khas progresif dan berani mengambil resiko terhadap setiap persoalan. Sehingga, di tangan pemuda akan lahir kebijakan-kebijakan yang cepat dan tanpa ada beban di masa lalu. “Disadari atau tidak, pemuda sejatinya memiliki peran dan fungsi yang strategis dalam akselerasi kemajuan suatu negara. Baik buruknya suatu negara dapat dilihat dari kualitas pemudanya, karena generasi muda adalah penerus dan dan pewaris bangsa dan negara,” ucapnya. Menurutnya, para pemuda merupakan unsur paling nyata dan paling dinamis seperti yang terlihat selama zaman pergerakan nasional. Mereka menggunakan segala upaya untuk melepaskan diri dari cengkeraman penjajah, termasuk mendirikan organisasi-organisasi kepemudaan di berbagai pelosok daerah di Indonesia yang kemudian memiliki tekad untuk bersatu dalam satu wadah dan melahirkan Sumpah Pemuda. Dinyatakan, pada prinsipnya tidak ada perbedaan yang mencolok dari setiap pergerakan pemuda mulai dari dahulu sampai dengan sekarang, yaitu tetap bertumpu pada kemajuan dan kemandirian bangsa.
12
Namun, karena tantangan dan problemnya berbeda, maka cara dan strategi yang digunakan juga tidak sama. “Pada dasarnya, menjaga eksistensi gerakan pemuda adalah tetap menjaga moral dan nurani dalam setiap nafas gerakan serta menghindari pragmatisme. Kalau itu dijaga, maka gerakan pemuda tidak akan lekang oleh zaman dan akan tetap bisa mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara,” tandasnya. Jika ada yang berpendapat bahwa saat ini generasi muda mengalami degradasi moral, laki-laki ramah ini, menegaskan, tergantung dari sudut mana dan frame apa yang dipakai. Yang jelas, sebagai anak muda kita harus tetap bersifat optimis menatap masa depan. Baginya, lebih banyak anak muda yang bermental sempurna daripada yang amoral. Sebagai contoh, kini dapat dengan mudah kita temui da'i-da'i muda, pengusahapengusaha muda, politikus muda yang berkarakter, dan banyak lagi contoh positif lainnya. Namun demikian, dia mewanti-wanti agar kita tidak abai terhadap pemuda yang juga berperilaku kurang baik, sebab itu adalah tanggung jawab kita bersama. “Kita tidak boleh cuek dengan pemuda yang berperilaku kurang baik, karena itu juga tanggung jawab kita bersama. Sebisa mungkin kita membantu mereka untuk mencarikan solusi, tidak hanya bisa menyalahkan dari satu sisi saja,” katanya.
Mas Edi. (ydh)
Belajar dari Sumpah Pemuda Belajar dari Sumpah Pemuda yang memiliki makna mendalam dalam perjalanan kaum muda, katanya, bahwa perjuangan itu tidak bisa dilakukan secara parsial tetapi harus dilakukan secara bersama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan demikian, seluruh persoalan yang menghimpit republik ini bisa segera berakhir. Selanjutnya, Mas Edi, berpesan agar pemuda senantiasa memperkuat kemandirian dan jati diri. Jika kaum muda dulu begitu gigih dalam perjuangannya untuk merdeka dan bebas dari belenggu penjajah, sepatutnya pemuda di masa sekarang juga harus gigih untuk mengaktualisasikan kemerdekaan menjadi tonggak kemajuan bangsa. Bagi bangsa Indonesia, imbuhnya, faktor pemuda merupakan wujud kekuatan potensial. Pemuda hadir dalam setiap peristiwa sejarah perjuangan bangsa. Dia menekankan, pemuda yang berkualitas menjadi investasi utama bagi bangsa untuk bisa bersaing dalam era globalisasi seperti saat ini. “Pemuda, perkuat dirimu. Jangan terbuai dengan sesuap nasi, Ridloi Illahi menanti,” tegasnya.n ydh
No. 234 n Oktober 2017
L APORAN UTAMA
Pemuda Ciptakan Lapangan Kerja
K
etua Jaringan Usahawan Kreatif Tuban (JClub) Tuban, Hadi Purwanto, S.E, mengungkapkan, generasi muda harus mengubah pola pikir. Tidak sekadar menjadi pemuda pencari kerja, namun juga dapat menciptakan lapangan kerja. Bung Hadi, sapaan karibnya, menuturkan, peran wirausahawan, khususnya di Negara sedang berkembang seperti Indonesia, sangatlah penting, terutama dalam pembangunan. Suatu bangsa akan berkembang lebih cepat jika memiliki banyak wirausahawan kreatif dan inovatif. Karena itu, penting mewujudkan mental pengusaha, khususnya di kalangan generasi muda. “Sebenarnya kesempatan menjadi entrepreneur masih terbuka lebar,” tegasnya. Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Prunggahan Wetan Kecamatan Semanding ini tidak menafikan bahwa untuk membangun jiwa entrepreneur membutuhkan proses panjang. Salah satunya, meningkatkan mental generasi muda dalam berwirausaha. Sedang, kemampuan dalam berwirausaha, dapat diperoleh dengan jalan berinteraksi dengan para pelaku usaha, pelatihan, seminar, maupun kegiatan sejenis. Tidak cukup mempelajari dan memahami teori, tetapi juga harus praktek langsung menerapkan pengetahuan yang didapatkan. “Menjadi wirausahawan tidak cukup hanya dengan teori, harus berani terjun. Jangan takut persaingan. Persaingan harus dimaknai positif,” katanya. Pemuda yang memiliki hobi travelling dan olahraga ini, menyatakan, komunitasnya membuka kesempatan bagi para belia yang ingin aktif di dunia usaha. Sebagai perwujudan nyata, berencana membentuk J-Club Junior untuk menumbuhkan semangat berwirausaha di
No. 234 n Oktober 2017
mengadakan pertemuan mendatangkan narasumber maupun praktisi dari dalam maupun luar Tuban. Tujuannya, menambah wawasan dan menguatkan jalinan silaturahmi di kalangan anggotanya. “Tiap bulan ada pertemuan dengan narasumber atau praktisi agar ilmunya bisa dipraktekkan dan memunculkan kesuksesan. Temanteman antusias belajar dan sharing mengenai usaha. Bahkan, bulan lalu studi banding ke Usaha Kecil Menengah (UKM) Bojonegoro,” tandasnya. Bung Hadi. (ydh)
kalangan generasi muda. Bendahara Persatuan Kempo Seluruh Indonesia (Perkemi) Kabupaten Tuban ini, meneruskan, disamping mengubah mindset para pemuda agar mau berwirausaha, pembentukan J-Club Junior juga diharapkan dapat mengangkat derajat pemuda Tuban sekaligus sebagai wadah praktek menjadi pengusaha. Baginya, pemuda harus diarahkan ke dunia positif agar berpikiran dan bertindak positif. Sebagai pemegang tongkat estafet dalam mengisi pembangunan bangsa, generasi muda harus menjadi contoh bagi generasi mendatang. Kaum muda harus berani mencoba dan menciptakan sesuatu yang berbeda untuk menunjukkan jati dirinya. Akan lebih baik lagi jika masyarakat sadar pentingnya berwirausaha, tentu akan dapat menekan pengangguran di Indonesia. Oleh karena itu, harus memiliki mental tangan di atas, memberi kepada sesama, bukan sebaliknya, tangan di bawah, mengharapkan pemberian dari orang lain. Mengingat pentingnya berwirausaha, sejak berdiri dua tahun lalu, komunitas entrepreneur yang lahir dari ajang talkshow Jagongan Matoh yang rutin digelar setiap Rabu malam di Rest Area Tuban ini, aktif
Berbagi - Silaturrahmi Masih kata Bung Hadi, J-Club adalah ajang silaturahmi, tidak sekadar mencari keuntungan. Orientasinya maju bersama. Konsepnya berbagi dalam silaturahmi. Pengusaha yang tergabung dalam J-Club ingin mengembangkan potensi Tuban. Meski banyak kendala, bertekad mengembangkan usaha secara bersama-sama. “Teman-teman J-Club rata-rata memiliki usaha, jadi yang lain bisa membantu menjualkan, termasuk JClub Junior bisa membantu menjadi ambassador,” tukasnya. Ke depan, berkeinginan membuat J-Mart sebagai satu pusat oleholeh, yang menawarkan potensi Tuban mulai produk makanan, minuman, kerajinan, batik dan lain-lain. Saat ini, tempat oleh-oleh yang masih menyediakan hasil laut. Padahal, produk-produk lain banyak diminati luar daerah. Sayangnya, edukasi kepada user atau calon pembeli masih sangat kurang. Banyak tempat wisata yang harus dikenalkan. “Kita memiliki PR, bagaimana meningkatkan pengetahuan wisata sehingga berdampak bagi peningkatan UKM. Satu hal lagi, bagaimana membuat wisatawan betah berlamalama di Tuban,” pungkasnya.n ydh
13
L APORAN UTAMA
FART, Cikal Bakal Generasi
Isabella Putri. (ydh)
P
eran generasi muda dalam pembangunan sangat penting. Bukan zamannya lagi hanya menerima kebijakan, harus didorong berpartisipasi di dalamnya. Untuk itu, keberadaan forum anak berperan penting memperkuat kualitas anak menyuarakan usulan yang berkaitan dengan kebijakan terhadap anak-anak. Sekretaris Umum Forum Anak Ronggolawe Tuban (FART), Isabella Putri Almasya, menuturkan, partisipasi merupakan kesempatan untuk berbagi pandangan, mempengaruhi pengambilan keputusan dan menghasilkan perubahan. Partisipasi termasuk hak anak yang tidak bisa digantikan atau direnggut oleh orang lain. Gadis kelahiran Gresik 17 tahun lalu ini, menjelaskan, partisipasi anak bermakna bagi pengetahuan anak di semua hal yang terkait dengannya, baik secara langsung atau tidak langsung, termasuk anak yang paling terpinggirkan, Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), Anak yang Berhadapan Dengan Hukum (ABH) serta anak yang berbeda usia dan kemampuan. “Anak-anak bebas mengutarakan apa yang inginkan. Misalnya,
14
berpartisipasi dalam forum atau terlibat dalam musyawarah tentang pembuatan peraturan sekolah, regulasi terkait kebutuhan anak, rencana pembangunan jangka menengah baik di tingkat Desa hingga Kabupaten, juga menyuarakan hal-hal positif terkait hak anak, dan lain sebagainya,” ujarnya. Karena hal ini pula, siswi SMA Negeri 2 Tuban ini, memutuskan bergabung di FART. Dikatakan, forum anak adalah wadah partisipasi anak sekaligus sebagai organisasi penegakan hak anak di Indonesia, berfungsi menjembatani komunikasi dan interaksi antara pemerintah dengan anak-anak dalam rangka pemenuhan hak partisipasi anak. Seluruh anak boleh bergabung dalam forum ini dengan syarat usianya di bawah 18 tahun dan berperan aktif menyuarakan hak-hak anak Indonesia. “Di FART periode tahun 20162018 terdapat kurang lebih 45 anak. Seabanyak 31 anak tercatat sebagai Pengurus FART berdasarkan Surat Keputusan Bupati, sisanya sebagai Anggota yang baru saja bergabung,” katanya. Putri pasangan Laurensius Luku N. B. dan Ika Aristiani, yang tahun ini mewakili Tuban dalam pertemuan Forum Anak Nasional di Riau, menandaskan, kegiatan FART terkait hak-hak anak yang tercantum dalam undang-undang dan konvensi hak anak. Ini sesuai dengan visi misi FART demi menjadikan Tuban sebagai kota layak anak. Sejak dibentuk tahun 2013 hingga sekarang, FART aktif menggelar berbagai kegiatan, antara lain forum diskusi, pertemuan rutin (satu tahun dua kali) tingkat Jawa Timur dan pertemuan Forum Anak Nasional (satu tahun satu kali), bakti sosial, pelatihan kepemimpinan, fun camping dan outbond. Selain itu, juga getol sosialisasi tentang hak dan cara perlindungan anak.
Pemkab Tuban Mendukung Alumni Sekolah Menengah Pertama (SMP) Katolik Santo Petrus Tuban ini, menyebutkan, Pemkab Tuban mendukung keberadaan FART. Hanya saja, anggarannya masih terbatas. Sedangkan, masyarakat, dalam hal ini pendidik dan orang tua, mendukung FART karena dinilai dapat membawa perubahan positif bagi anak-anak. Sayangnya, FART belum memiliki Sekretariat tetap. Sehingga, terpaksa mencari-cari tempat ketika ingin berkumpul dan membahas permasalahan tentang anak. Selain itu, terkendala waktu mengingat pengurus dan anggota FART dari berbagai sekolah di Kabupaten Tuban. Kesemuanya memiliki jadwal dan kesibukan masing-masing. Karenanya, ketika akan berkumpul, harus pandaipandai memanfaatkan waktu. “Susahnya kalau ada tamu, bingung menempatkannya, belum punya Sekretariat. Biasanya berkumpul di Kantor Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR), sekolah, maupun di Dinas Sosial Tuban. Agar tidak menganggu aktifitas sekolah dan belajar, teman-teman berkumpul pada hari Minggu atau hari libur,” ujarnya. Gadis yang memiliki motto “Hidup harus mau belajar, berdoa dan berusaha” ini, berharap agar masyarakat membantu, mendukung aktifitas FART, terutama dalam meminimalisir kekerasan pada anak. Juga mengajak anak-anak Tuban bergabung di FART. Semakin banyak yang bergabung, mendukung, dan me-ngetahui tentang FART, memudahkan jalan untuk menyuarakan suara anak Indonesia, demi tercapainya pemenuhan hak-hak anak, serta dapat meminimalisir kasus kekerasan pada anak, pernikahan usia dini dan kasus narkoba di kalangan anak-anak.n ydh
No. 234 n Oktober 2017
L APORAN UTAMA
Mom Hilmin
Pemudi Berprestasi S alah seorang Pemudi, juga Guru Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Semanding, Hilmin Tri Astuti, M.Pd, Juara III Nasional Lomba Karya Inovasi Pembelajaran (Inobel) Guru Sekolah Dasar (SD) dan SMP 2017 kategori SMP Ilmu Pengetahuan Sosial, PKn, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris (IPSPB). “Tak disangka, karya yang terbilang sederhana ternyata masuk final dan Juara III,” kata Mom Hilmin, begitu biasa disapa anak didiknya. Guru Mata Pelajaran (Mapel) Bahasa Inggris yang sudah dua kali mengikuti ajang yang sama ini, mengakui, persaingan dalam lomba yang digelar 4-8 September 2017 di Hotel Mercure Bali Harvestland Kuta tersebut tergolong berat. Untuk menjadi yang terbaik, harus melalui beberapa tahapan. Disamping itu, berlangsung dalam tiga tahap. Seleksi tahap satu, seleksi administrasi secara daring (online). Selanjutnya, seleksi tahap dua, seleksi naskah yang terdiri dari penilaian konten dan plagiarisme (sitasi dan similarity). Panitia menggunakan aplikasi untuk mendeteksi plagiarisme. Melalui uji sitasi, akan terlihat mana yang merupakan kutipan dari tulisan orang lain atau murni tulisan sendiri. Sedangkan, pada uji similarity dapat diketahui berapa persentase karya tulis orang yang telah diambil tanpa izin. “Terkadang tanpa disadari tulisan kita mirip dengan orang lain. Hal itu baru diketahui setelah dilakukan uji sitasi dan similarity. Apalagi, untuk kutipan, kita harus menghargai hak intelektual orang lain dengan menyebutkan sumbernya. Alhamdulillah karya yang saya tulis lolos pada
No. 234 n Oktober 2017
kedua uji tersebut,” katanya. Alumni pasca sarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) ini, menguraikan, peserta yang lulus seleksi tahap satu dan dua mengikuti workshop Inobel. Selanjutnya, diminta memperbaiki naskah yang akan dinilai pada tahap tiga atau tahap penentuan finalis lomba. Dari 300 Guru SMP yang mengikuti workshop, terpilih 100 peserta yang terbagi dalam kategori Guru Mapel Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) sebanyak 34 peserta; Guru Mapel IPSPB sebanyak 34 peserta; Guru Mapel Seni Budaya, Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan, dan Bimbingan Konseling (SORAK) sebanyak 32 peserta. Tidak berhenti sampai di situ, para finalis juga harus memamerkan dan mempresentasikan hasil karyanya di depan Juri. Selanjutnya, dipilih tiga besar finalis sebagai pemenang. Dalam ajang tersebut, Kepala Perpustakaan SMPN 1 Semanding ini, membuat sebuah media pembelajaran berupa My Silly Sentence Spinner dari bahan kardus bekas. Pada bahan yang dibuat dalam bentuk diagram lingkaran tersebut dilengkapi keterangan subyek, predikat, obyek, dan keterangan untuk membuat kalimat sederhana dalam bahasa Inggris. Alumni Pendidikan Bahasa Inggris Unersitas Negeri Surabaya (Unesa) tersebut, menjelaskan, ketika diagram lingkaran diputar, memunculkan rangkaian kalimat sederhana. Namun, kalimat tersebut belum tentu sesuai. Media tersebut sebagai salah satu sarana agar siswa dapat menganalisa serta menyusun kalimat sederhana yang baik dan benar.
Mom Hilmin. (ydh)
“Banyak yang menganggap mempelajari bahasa Inggris sulit. Kita harus mengingat perubahan kata kerjanya, juga harus tahu kapan memakainya. Melalui media itu, siswa belajar sekaligus bermain. Sehingga, pembelajaran bahasa Inggris menjadi lebih menyenangkan,” ucapnya. Guru Berprestasi Atas prestasinya ini, perempuan yang juga pernah dinobatkan sebagai Guru Berprestasi Peringkat I Kabupaten Tuban itu, berhak mendapatkan laptop dan uang tunai dari Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ke depan, Mom Hilmin yang hobi menulis dan travelling, bertekad menularkan ilmu yang didapatkan selama mengikuti Inobel kepada rekan-rekan pendidik yang lain. Tujuannya, memotivasi agar terpacu mengikuti kegiatan serupa dan menjadi “pendidikyang seutuhnya. Banyak keuntungan mengikuti lomba Inobel ataupun sejenis. Tentunya, dituntut berinovasi memecahkan masalah dalam proses pembelajaran, sehingga meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar peserta didik.n ydh
15
E KONOMI
LIPMR Letupkan Wira Usaha Muda
Pak Agus serahkan tropi jawara kategori Umum. (rtn)
K
awula muda diharapkan menekuni dunia usaha. Potensi Kabupaten Tuban masih terbuka bagi pengembangan kewirausahaan. Demikian dituturkan Drs. Agus Wijaya, Kepala Dinas Koperasi, Industri dan Perdagangan (Kadiskoperindag) Kabupaten Tuban, di sela-sela penyerahan hadiah pemenang Lomba Inovasi Produk Makanan Ringan (LIPMR). Dikatakan, potensi Pertanian Kabupaten Tuban di pelupuk mata, bahkan mendapat julukan Kabupaten Lumbung Padi. Juga, potensi Jagung, hasil produsksinya terbesar seJawa Timur. Belum lagi Ubi-ubian, pun dunia Agro, seperti Blimbing, Duku Prungahan, Siwalan dan lain-lain, kesemuanya jika diberikan nilai tambah dapat mendatangkan kesejahteraan. Oleh karena itu, membutuhkan tangan-tangan kreatif baik dari para pelaku usaha IKM, Pelajar maupun Mahasiswa. “Utamanya entrepreneur muda. Di pundak merekalah Tuban menanti,” ujar Pak Kadiskoperindag. Demikian pula potensi Perikanan, sambung Edy Sukirno, SH, MSi, Kepala Bidang (Kabid) Perindustrian Diskoperindag Kabupaten Tuban. Masyarakat luar Tuban sangat mengenal produk Perikanan Tangkap maupun Perikanan Budidaya Kabu-
16
paten Tuban. Meski demikian, walau saat ini telah mendatangkan rezeki, akan tetapi, andai dipoles lebih lanjut, terbuka peluang memiliki nilai plus. Lantaran demikian, Diskoperindag menggelar LIPMR, dengan harapan ada lepupan yang menggregetkan usaha IKM. “Jadi LIPMR itu untuk melecut kreativitas pelaku usaha IKM, terkhusus, untuk memikat Pelajar dan Mahasiswa agar berjiwa usaha. Penumbuhan wira usaha usaha merupakan program Diskoperindag,” tutur Pak Edy, sapaan Kabid Perindustrian Diskoperindag Kabupaten Tuban. Perkara pasar, papar Pak Kabid, masih terbentang. Bukan semata pasar lokal, tetapi, juga jutaan orang yang membanjiri area-area wisata religi Kabupaten Tuban. Mereka adalah pasar potensial, tinggal produk yang disajikan. Kalau yang ditawarkan me-
nawan, sudah barang tentu akan dibidik. Sedang, sebaliknya, wisatawan tentu menoleh produk-produk IKM luar Bumi Wali. Oleh karena itu, dalam penilaian LIPMR menekankan penilaian kemasan, kualitas produk, inovasi produk juga proyeksi pasar. Dengan harapan, produk-produk IKM Tuban berdaya saing. Kembali ke Kadiskoperindag, berharap Rest Area dipadati IKM. Maksudnya, memajang produkp-produk IKM 20 wilayah Kecamatan. Tentunya, yang ditawarkan, produk-produk yang terjamin dan terpercaya. Bisa berupa produk makanan, minuman, pun kerajinan dan lain-lain. Pendek kata, yang memberi ruang bagi tumbuhnya IKM Bumi Wali. Pemenang LIPMR Sementara itu, pemenang LIPMR kategori Pelajar dan Mahasiswa, Juara I, Yusril Danang M (SMKN 1 Tuban), Juara II, Siti Khotimah (SMKN1 Tuban), Juara III, Sulistyono (UISI Gresik), Juara Harapan I, Henni Matul K (SMAN 2 Tuban), Juara Harapan II, Ika Favia A (SMKN 1 Tuban), Juara Harapan III, Putri Chyntia (SMA Muhammadiyah 3 Bancar). Pemenang kategori Umum, Juara I, Nur Rochim (Tambakboyo), Juara II, M. Damat (Semanding), Juara III, Eka Tyas (Palang), Juara Harapan I, Budiono (Palang), Juara Harapan II, Isti’adah (Tuban), Juara Harapan III, Ma’indah (Semanding). Juara Favorit, Nanik Kiswati (Merakurak) dan Abdus Samad (Semanding).n rtn
Pak Edy (kanan) bersama jawara Pelajar. (rtn)
No. 234 n Oktober 2017
E KONOMI
Perkenalkan “Gedog”
Di Rakernas Dekranas Kabupaten Tuban memperkenalkan kain tenun Gedog di ajang pameran produk unggulan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas). Momen ini selain memperingati hari jadi Dekranas ke-37 juga mengiringi berlangsungnya Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Dekranas di Convention Center, 27 September - 1 Oktober 2017.
P
residen Joko Widodo berkenan membuka pameran produk unggulan Dekranas. Sedangkan pembukaan Rakernas Dekranas dilaksanakan oleh Ketua Umum Dekranas, Hj. Mufidah Jusuf Kalla, Ibu Wakil Presiden, di Gedung A.H. Nasution Kementerian Pertahanan RI Jakarta. Sementara, Ketua Dekranasda Kabupaten Tuban, Hj. Qodiriyah Fathul Huda, telah berada di Jakarta, didampingi Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Tuban, Drs. Agus Wijaya dan rombongan Dekranasda Kabupaten Tuban. Bu Qodriyah, sapaan Ketua Dekranasda Kabupaten Tuban, yang juga Istri Bupati Tuban, menuturkan, Kabupaten Tuban siap menyukseskan pameran maupun penyelenggaraan Rakernas Dekranas. Khusus mengenai penyelenggaraan pameran, diikuti oleh seluruh Kabupaten/Kota di Indonesia. Untuk itu, ajang pameran produk unggulan Dekranas diwarnai aneka produk unggulan dari Sabang sampai Merauke. “Jadi even yang luar biasa,” kata Bu Qodriyah. Kabupaten Tuban, lanjutnya, memperkenalkan produk kain tenun Gedog. Meski produk khas Bumi Wali itu telah banyak dikenal masyarakat, akan tetapi kian greget lagi jika masyarakat Nusantara lebih mengenal dari dekat. Dengan begitu, makin meyakinkan produk kain tenun Gedog. “Itu salah satu produk terbaik Kabupaten Tuban. Memiliki karakteristik tersendiri yang tidak dipunyai daerah lain,” jelas Istri tercinta Bupati Tuban ini. Kabupaten Tuban juga mendapat kehormatan dalam memprosikan kain tenun Gedog. Menurut, Kadisperindag Kabupaten Tuban, Drs. Agus Wijaya, selain diberikan ruang dalam kegiatan peragaan busana atau
No. 234 n Oktober 2017
Duta tenun gedog di ajang pameran Dekranas, Jakarta.
fashion show, Ketua Dekranasda Kabupaten Tuban sendiri, Hj. Qodriyah Fathul Huda, juga dipersilahkan tampil di atas panggung atau catwalk. Maka dari itu, menjadikan kebanggan tersendiri bagi Kabupaten Tuban, apalgi diberikan kesempatan yang leluasa dalam memperkenalkan kain tenun Gedog. “Produk kain tenun Gedog sebenarnya menjadi pembicaraan akhir-akhir ini. Sosok yang “kepincut”, Ibu Bintang Puspayoga, Istri Menkop-UKM, yang juga Ketua Bidang Manajemen Usaha Dekranas. Malahan, beberapa kali mengunjungi Bumi Wali, terakhir tak lama berselang dengan waktu penyelenggaraan Rakernas,” kata Pak Agus, sapaan Kadisperindag. Organisasi Nirlaba Diinformasikan oleh Pak Agus, bahwa Dekranas adalah organisasi nirlaba yang menghimpun pencinta juga peminat seni untuk memayungi dan mengembangkan produk kerajinan dan usaha tersebut, serta berupaya meningkatkan kehidupan pelaku bisnis yang sebagian merupakan kelompok Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Sejak berdiri, 3 Maret 1980, Dekranas menjadi elemen penggerak di industri kerajinan, serta telah menjalankan perannya sebagai mitra pemerintah dalam membina dan mengembangkan tradisi serta warisan budaya dalam membuat kerajinan yang semakin bermutu dan berdaya saing di seluruh wilayah Nusantara.n kdg
17
K ESEHATAN
Imunisasi MR Puskesmas Jenu Capai 99,31%
Transmisi penularan virus Campak dan Rubella harus diputus dengan imunisasi Measles Rubella (MR). Kampanye imunisasi MR dilaksakan Puskesmas Jenu lintas sektor, mulai dari Kementerian Agama, Dinas Pendidikan, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Kader, Ketua TP- PKK, Organisasi Masyarakat seperti Aisyah, Muslimat NU, Fatayat NU dan Organisasi Kaeagamaan lainnya, demi kesuksesan dan kelancaran imunisasi MR.
K
epala Puskesmas Jenu, dr. Dede Kurniawati, mengatakan, di Kecamatan Jenu imunisasi Campak dan Rubella membidik sasaran 7.249 anak. Hingga akhir Agustus 2017 pelaksanaannya mencapai 99,31%. Kelancaran imunisasi ini berkat dukungan lintas program dan lintas sektor. Imunisasi dilakukan serentak di 17 Desa, pun di setiap sekolah mulai SD/MI, SMP/MTS. Bulan berikutnya juga masih di 17 desa setiap sekolah TK/RA, PAUD/PG dan Posyandu di 17 Desa Kecamatan jenu. Vaksin diberikan pada anak usia minimal 9 Bulan sampai dengan usia kurang15 Tahun. Pemberian imunisasi MR pada usia 9 Bulan hingga usia kurang 15 Tahun merupakan cakupan tertinggi (minimal 95%) dan merata. Diharapkan akan membentuk imunitas kelompok sehingga mengurangi transmini virus ke usia yang lebih dewasa dan melindungi kelompok ketika memasuki usia reproduksi. Patut diacungi jempol, karena saat ini mencapai target 99,31% dari total sasaran 7.299 anak, Jumlah 7.249 anak yang sudah imunisasi terbilang sangat bagus. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan terdapat kendala karena masih adanya orang tua yang enggan anaknya dimunisasi MR. Rasa takut, khawatair hingga masih belum pahamnya
Siring imunisasi MR.
18
bah apabila cakupan imunisasinya rendah dan kekebalan kelompok (herd immunity) tidak terbentuk. Ketika seseorang terkena Campak, 90% orang yang berinteraksi erat dengan penderita dapat tertular jika mereka belum kebal terhadap Campak. Sebab, sesorang dapat kebal jika telah diimunisasi/terinfeksi virus Campak.
Imunisasi di sekolah.
kegunaan vaksin menjadi alasan. “Yang masih belum terimunisasi di sekolah, tidak masuk, sakit, tetap dijadwalkan untuk imunisasi MR. Bagi orang tuanya yang tidak berkenan akan didatangi Petugas untuk memberikan pengarahan serta membuatkan inform concent sebagai bukti penolakan,” tutur dr. Dede, sapaan Kepala Puskesmas Jenu. Informasi yang simpang siur, serta opini anti vaksin yang bertebaran di media sosial membuat sebagian masyarakat ragu bahkan enggan. Padahal, sejarah membuktikan “vaksin” paling efektif mengatasi penyakit terkait infeksi. Ketika seseorang diimuniasi maka akan mempengaruhi kekebalan tubuhnya. Campak merupakan penyakit mudah menular, disebabkan virus dan ditularkan melalui batuk dan bersin. Gejala penyakit Campak, demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit (rash) disertai batuk atau pilek dan atau konjungtivitis. Sangat berbahaya apabila disertai komplikasi pneumonia, diare, meningitis dan bahkan memyebabkan kematian. Penyakit ini berpontesi menjadi wa-
Akut dan Ringan Rubella atau Campak Jerman adalah penyakit akut dan ringan, sering menginfeksi anak dan dewasa muda yang rentan. Yang menjadi perhatian adalah efek tetratogenik apabila Rubella menyerang ibu hamil pada trimester pertama. Infeksi Rubella yang terjadi sebelum konsepsi dan selama awal kehamilan dapat menyebabkan abortus, kematian janin (Sindrom Rubella Konginetal/CRS) pada bayi yang dilahirkan. Data WHO, 2016 Indonesia terdapat lebih 800 kasus Rubella yang sudah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. Penyakit ini umumnya membutuhkan waktu 14 - 21 hari sejak terjadi pajalanan sampai menimbulkan gejala. Gejala-gejala umum Rubella, demam, hidung tersumbat, pembengkakan kelenjar limfa pada telinga dan leher, ruam berbentuk bintik-bintik kemerahan yang awalnya muncul di wajah lalu menyebar ke badan, tangan dan kaki. Ruam umumnya berlangsung selama 1 - 3 hari hingga nyeri pada sendi. Selain kegiatan sosialisai di berbagai kelompok masyarakat, demi sehatnya generasi muda, dilakukan pula siaran keliling (sirling) menyebarluaskan informasi imunisasi MR.n jnu
No. 234 n Oktober 2017
Bantuan Konkit
Mimpi Kabupaten Tuban
Pak Bupati menerima bantuan secara simbolis. (kdg)
P
emerintah membagikan 566 paket perdana konverter kit (konkit) kepada nelayan Tuban. Sbelumnya, paket konkit dibagikan pada tahun 2016 sebanyak 330 paket. Pembagian konkit dikemas dalam acara Temu Usaha dan Kemitraan Usaha Perikanan dalam Pengembangan Produk Perikanan Kabupaten Tuban 2017 di Pendopo Krido Manunggal (20/9). Konkit dibagikan untuk mengalihkan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menjadi bahan bakar kapal nelayan menjadi Gas Tabung LPG (Liquefied Petroleum Gas). Total yang dibagikan pada tahun 2017 sebanyak 16.981 paket konkit, dengan anggaran Rp 120,92 Miliar, untuk 26 Kabupaten/Kota, masing-masing Kabupaten Demak, Pasaman Barat, Banyuwangi, Jembrana, Tuban, Lombok Barat, Lombok Timur dan Makassar. Selain itu, Gorontalo, Karangasem, Pasuruan, Cilacap, Sukabumi, Probolinggo, Mamuju, Labuhan Batu, Agam dan Pemalang. Berikut-
No. 234 n Oktober 2017
nya, Pekalongan, Lamongan, Malang, Maros, Jeneponto, Sopeng dan Kota Padang, Makassar dan Surabaya. Tahun lalu, Pemerintah mendistribusikan 5.473 unit paket perdana konkit di 10 Kota/Kabupaten pada 5 Provinsi. Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dr. Ir. Ego Syahrial, MSc, mengatakan, pembagian konkit bisa lebih banyak jika pemerintah dibantu badan usaha. Kemampuan anggaran negara menyediakan konkit bagi nelayan terbatas. Untuk itu, menetapkan skala prioritas, daerah mana yang menjadi sasaran terlebih dahulu. Sisi lain, bila nelayan menggunakan LPG 3 Kg menghemat biaya 50% dibanding menggunakan BBM. “Penentuan pembagian konkit kerja sama antara Kabupaten, Kementerian ESDM dan DPR RI. Kalau dilihat jumlah nelayan, konkit yang dibagikan berdasarkan skala prioritas," ujarnya. Bupati Tuban, H. Fathul Huda, menyampaikan terima kasih kepada Dirjen Migas dan Komisi VII DPR RI.
Lebih dari itu, selayaknya Kabupaten Tuban mendapat Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), karena APBD Kabupaten Tuban sebesar Rp 2,4 Triliun belum cukup untuk menopang program kesejahteraan masyarakat. Bantuan konkit kepada nelayan merupakan mimpi Kabupaten Tuban yang menjadi kenyataan. “Harga BBM cenderung tidak menentu. Ketika terjadi lonjakan harga, yang menjadi korban petani dan nelayan. Karena itu, ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan,” ujar Pak Bupati. Ketika harga minyak 100 USD, nelayan kelimpungan. Tapi, jika seperti sekarang, di kisaran 50 USD, masih terjangkau. Meski demikian, masih bisa berlega hati, karena ada Jasindo. Dengan asuransi ini, kalau terjadi kecelakaan, nelayan sedikit diringankan bebannya. Pak Bupati berharap pada Dirjen Migas Kementerian ESDM agar konkit bisa dikembangkan dalam pertanian. Karena, hampir semua petani Tuban menggunakan pompa. “Semoga, ada bantuan abagi petani. Hasil pertanian masih andalan masyarakat,” ujar Pak Huda, sapaan Bupati Tuban. Edukasi Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Tuban, Ir. Amenan, MT, menjelaskan, acara Temu Usaha dan Kemitraan Usaha Perikanan dalam Pengembangan Produk Perikanan merupakan edukasi bagi pelaku usaha perikanan dan kelautan. Untuk itu, diharapkan bisa menghasilkan bentuk kerja sama, baik dari permodalan, produksi, dan lain sebagainya bagi usaha produk perikanan dan kelautan. Pada kegiatan di atas hadir 70 nelayan, 70 pembudidaya garam, 70 pengolah produk pertanian dan 70 pembudidaya ikan. Hadir pula dalam acara ini, Anggota Komisi VII DPR RI, Ir. Satya Widya Yudha, ME.MSc serta Tim Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.n kdg
19
Aksi panggung “Ngripto Raras”. (ydh)
DKI Raih Dua Prestasi D
inas Komunikasi dan Informatika (DKI) Kabupaten Tuban sukses mengikuti Pekan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) ke-IX Jawa Timur (Jatim) di Taman Candra Wilwatikta Pandaan, Kabupaten Pasuruan 12-16 September 2017. Mereka pulang dengan meraih dua prestasi cemerlang. Kepala Bidang (Kabid) Komunikasi dan Informasi Publik pada DKI Tuban, Imadudin, mengatakan, Kabupaten Tuban memboyong dua piala dan penghargaan dari kategori grup Pertunjukan Rakyat (Pertura) terbaik I oleh Sanggar Teater “Ngripto Raras”, mengalahkan Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Jombang dan Kota Kediri yang berturut-turut sebagai Juara II, III dan IV. Prestasi lainnya disumbangkan Aditya Nur Rohman yang terpilih menjadi Sutradara Terbaik pada Festival Pertura Pekan KIM 2017. “Atas prestasi ini, tahun depan Sanggar Teater “Ngripto Raras” mewakili Provinsi Jatim pada Pekan KIM tingkat Nasional,” ujarnya, bangga. Pimpinan Sanggar Teater “Ngripto Raras”, Eko Kasmo, mengungkapkan, rasa syukur atas prestasi anak didiknya. Berkat totalitas dalam bermain seni teater, mereka
20
mengharumkan nama Kabupaten Tuban dan melaju ke jenjang yang lebih tinggi pada tahun depan. Selain mengirimkan Pertura, pada kegiatan yang dibuka Wakil Gubernur Jatim, Drs. H. Saifullah Yusuf, Kabupaten Tuban berpartisipasi dengan mendelegasikan KIM Ronggolawe dari Kecamatan Kerek dan KIM Sugiharjo dari Kecamatan Tuban Kota. Pekan KIM merupakan kegiatan rutin dua tahunan yang diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Jatim. Tahun ini, pelaksanaan kegiatan dinilai sukses dengan dihadiri sekitar 1000 pegiat KIM, mulai dari unsur Dinas Kominfo Kabupaten/Kota serta pelaku KIM dari 38 Kabupaten/Kota di Jatim. Tema Pekan KIM “Revitalisasi Peran KIM sebagai Media Jurnalisme Warga Menuju Masyarakat Informatif”. Keberhasilan Pekan KIM juga didukung antusiasme peserta. Ini dibuktikan dengan kemunculan media-media KIM yang menghasilkan informasi-informasi alternatif bagi masyarakat, baik berupa media online maupun media sosial. Kepala Dinas Kominfo Provinsi Jatim, Ir. Eddy Santoso, MM, mengatakan, perkembangan informasi digital saat ini menuntut masyarakat memiliki literasi digital. KIM diharapkan
mengambil peran lebih, yaitu sebagai media yang menyediakan informasi valid, sehingga dapat menjadi rujukan masyarakat dalam menyebarluaskan informasi yang benar. Gus Ipul, sapaan Wakil Gubernur Jatim, saat membuka Pekan KIM, berharap KIM memberikan informasi yang bermanfaat. Disamping itu, kemajuan teknologi seyogyanya juga dimanfaatkan untuk meningkatkan potensi yang dimiliki Jatim. Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Jatim, Fatah Jasin, saat penutupan, menyatakan, KIM adalah kelompok penting dan strategis, merupakan kelompok terdepan membantu program pemerintah menyejahterakan masyarakat. Sebagai mitra pemerintah, membawa dampak yang luar biasa. Selain menerima arus informasi dari media yang ada, KIM juga harus membentuk dan menciptakan usaha-usaha yang bermanfaat, sehingga dapat menggerakkan roda pertumbuhan ekonomi. “Pemerintah dan KIM yang jumlahnya sekitar 300 di Jatim bisa menciptakan strategi yang berdampak mengurangi kemiskinan yang jumlahnya sekitar 11 juta orang. Bisa juga mengurangi pengangguran dengan membuka lapangan kerja baru,” katanya.
No. 234 n Oktober 2017
Nuansa TI Guna mendukung Pekan KIM, panitia memperkuat nuansa Teknologi Informasi (TI), terlihat pada layanan video streaming di website kominfo.jatimjatimprov.go.id dan penyelenggaraan video conference. Selain itu, Pekan KIM kali ini juga ajang adu kemampuan penyebar-
luasan informasi dan pemanfaatan TI. Secara keseluruhan, rangkaian acara Pekan KIM meliputi grand final Lomba Cerdas Cerdik Komunikatif (LCCK), pameran produk informasi dan produk TIK KIM, sarasehan KIM, workshop TIK KIM, lomba blog dan Festival Pertunjukan Rakyat (Per-
Kembangkan Komunikasi Persuasif
B
agian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Tuban berupaya memenuhi keterbukaan informasi, khususnya pelayanan publik. Kepala Bagian (Kabag) Pak Ubaid. (ydh) Humas dan Protokol Setda Kabupaten Tuban, Drs. Rohman Ubaid, mengatakan, Humas pemerintah memiliki peran penting dalam membuka ruang publik. Apalagi, dengan hadirnya Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik (KIP), dituntut membangun sistem informasi yang berkualitas. Mantan Camat Jenu ini, menegaskan, selain sebagai corong penyampai informasi, Humas dan Protokol juga memberikan penerangan dan pendidikan kepada masyarakat. Sehingga, memberikan informasi dan pemahaman tentang kebijakan, aktivitas dan langkah-langkah pemerintah secara terbuka, jujur, obyektif dan transparan sesuai program yang dijalankan. “Agar masyarakat memahami langkah dan upaya Pemkab Tuban maka kita membangun sistem informasi. Harapannya, masyarakat memahami secara utuh mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan anggarannya,” tukasnya. Guna mendukung KIP, putra daerah kelahiran tahun 1967 ini, menyatakan, akan memaksimalkan aplikasi yang sudah ada, seperti Tuban Public Report Services Tempat Masyarakat Mengadu (Taprose Temanku) serta mengupayakan pembentukan Media Center Selanjutnya, memantapkan sinergitas dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sekaligus mendorong agar terbuka dan transparan dengan program-programnya. Dikatakan, Pemkab bahkan sudah mendorong Pe-
No. 234 n Oktober 2017
tura). Penutupan dimeriahkan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dalang Ki Anom Dwijokangko dari Kabupaten Blitar dengan lakon Jumenengan Parikesit Jadi Ratu.n ydh
merintahan Desa (Pemdes) untuk mendokumentasikan dan menginformasikan kegiatannya melalui banner di tempat-tempat strategis, sehingga OPD juga harus didorong melakukan hal yang sama. Pak Ubaid, sapaannya, menilai, Humas harus pula memahami program-program OPD mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan dan anggaran, sehingga dapat membantu transparansinya. Menurutnya, jika Pemdes sudah mulai terbuka, maka tidak etis kalau OPD tidak mau transparan. “Termasuk Media Center digunakan untuk memberikan informasi serta menjadi rujukan utama bagi media massa dan masyarakat dalam memperoleh informasi yang terpercaya,” ucap alumni Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Jakarta ini. Bapak laki yang juga pernah menjabat Camat Singgahan selama kurun waktu 20082011 ini, menyadari, tidak mudah membangun sistem informasi yang berkualitas. Selain keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM), juga mengalami kendala kelengkapan sarana dan prasarana. Di tataran masyarakat, informasi yang disampaikan juga belum dapat diakses secara keseluruhan karena keterbatasan. Bahkan, sebagian masyarakat belum mampu menjangkau informasi dengan kata lain belum melek teknologi. Untuk itu, berupaya memaksimalkan media-media yang dimiliki, mulai dari website, media sosial, radio maupun majalah. Khusus majalah, jumlah eksemplar dan kontennya perlu ditambah, agar dapat memuat kebijakan dan program-program Pemkab Tuban dengan detail. Dituntut Lebih Adaptif Pejabat kalem tapi tegas ini menyadari dinamika perubahan yang menuntut Humas Pemerintah lebih adaptif. Humas diharuskan mengemas sistem informasi sesuai kebutuhan publik secara akurat, cepat, tepat dan menarik. Dengan demikian, kepuasaan publik tercapai. Sebagai penghubung pemerintah dan masyarakat, juga membuka diri terhadap kritik, saran, sehingga menghasilkan timbal-balik yang positif dan saling menguntungkan. Melalui komunikasi persuasif dan hubungan baik diharapkan mendapat kepercayaan publik. Pentingnya kepercayaan publik untuk menjaga dan membangun citra positif Pemkab Tuban.n ydh
21
Tenun Gedog “Disentuh”
Score Training
Pak Wabup. (kdg)
A
sosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)-Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) “menyentuh” Tenun Gedog dengan program Sustaining Competitive & Responsible Enterprises (Score) Training. Score Training adalah program International Labour Organization (ILO) yang sudah dijalankan di 11 negara. Di Indonesia, program tersebut diselenggarakan atas kerjasama Kementrian Tenaga Kerja, Apindo dan Serikat Buruh, sejak tahun 2010. “Tenun Gedog memiliki kelebihan, karena itu “dipoles” program Score Training,” ujar Nina Tursinah, Ketua Apindo Bidang Usaha Kecil Menengah - Industri Kecil Menengah (UKM - IKM), di sela pembukaan Lokakarya Program Score Apindo - ILO di Hotel Grand Mozza Wilis Jenu (29/08). Sementara, 11 negara yang sama mendapat program dari ILO, antara lain China, Vietnam, Columbia, Peru, Myanmar, Afrika Selatan, India, Ghana dan Bolivia. Tujuan program ini, jelas Bu Nina, membantu IKM Jatim, terlebih Kabupaten Tuban, agar berdaya saing, lebih berkesinambungan, lebih bersih, lebih produktif serta mampu menyediakan pekerjaan yang layak dan lingkungan kerja yang produktif. Hal ini sejalan de-
22
ngan Visi Apindo-Dekranas, yaitu terciptanya iklim usaha yang baik dalam rangka mewujudkan pembangunan nasional secara nyata. Wakil Bupati (Wabup) Tuban, Ir. H. Noor Nahar Hussein, M.Si, mengatakan, saat ini dibutuhkan produk yang marketable, cepat, baik dan murah. Untuk itu, IKM Tuban harus berkemampuan, tidak hanya dari segi produk tetapi harus pula diimbangi dengan peningkatan manajemen SDM. Lokakarya yang menyasar IKM Tuban, tutur Pak Wabup, sangat tepat. Selain siap, Kabupaten Tuban juga bertekad memperbaiki diri, disamping terus berubah ke arah yang lebih baik. “Saya ucapkan terima kasih pula kepada Ibu Bintang Puspayoga yang bolak-balik ke Tuban demi kemajuan IKM Bumi Wali,” tambah Pak Noor, sapaan Wabup Tuban. Pak Wabup berharap juga agar ada keseriusan dari berbagai pihak dalam membina IKM yang lebih baik, sehingga menjadikan pola pikir usaha yang senantiasa menjaga mutu, terutama pada saat pasar meningkat. Ketua Bidang Managemen Usaha Dekranas, yang juga Istri Menteri Koperasi dan UKM (MenkopUKM), Bintang Puspayoga, menjelaskan, pelatihan, bantuan Dekranas, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, bertujuan meningkatkan kualitas Tenun Gedog. Selain itu, diharapkan terjadi peningkatan kesejahteraan perajin Tenun Gedog, juga agar produk Tenun Gedog dikenal lebih luas. “Jadi yang didorong bukan hanya produk tetapi juga SDM-nya,” ujar Bu Bintang. Wisata Batik
Bu Bintang. (kdg)
Dukungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban, masyarakat Bumi Wali, dibutuhkan. Terlebih, dalam mewujudkan Wisata Batik di Kecamatan Kerek, memerlukan kerja keras dan kerja bersama. Program Score Training sudah melibatkan lebih dari 200 perusahaan di Indonesia. Harapannya, 5 perusahaan yang ditunjuk di Kabupaten Tuban, menjadi mitra yang baik. Perusahaan yang menerapkan Score Training selama ini tingkat keberhasilannya tinggi. Melalui program ini pula, IKM diharapkan meningkatkan pengelolaan lingkungan kerja, mengurangi kegiatan yang non value added dengan melaksanakan sistem 5S, agar dapat meningkatkan mutu dan produktivitasnya, meningkatkan kemampuan mengelola SDM, menciptakan komunikasi yang lebih baik bagi manajemen maupun pekerja, meningkatkan pengelolaan kesehatan dan keselamatan kerja serta menumbuhkembangkan lingkungan kerja yang lebih baik. Mengenai peserta lokakarya, setelah mengikuti pembelajaran di kelas selama 2 hari, akan dilakukan pendampingan ke lokasi perusahaan selama 3 bulan, Agustus-Oktober 2017. Selebihnya, diharapkan menerapkan aspek-aspek Score Training, meliputi kerjasama di tempat kerja, pengelolaan mutu, kesehatan dan keselamatan kerja, juga peningkatan omzet produksi yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan ekonomi perajin.n kdg
No. 234 n Oktober 2017
P ENDIDIKAN
Berangkatkan Duta Perwimanas II
Kontingen Perwimanas. (kdg)
S
ebanyak 16 Pramuka Penegak dari 8 Pangkalan SMK-MA Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (LPM-NU) mengikuti Perkemahan Wirakarya Pramuka Ma'arif Nasional (Perwimanas) II Tahun 2017. Kontingen diberangkatkan Bupati Tuban, H. Fathul Huda, di hHlaman Rumah Dinas Bupati Tuban komplek Pendopo Kridho Manunggal 16/09). Kegiatan LPM-NU Pusat itu merupakan pertemuan Pramuka Penegak. Tujuannya, menumbuhkembangkan semangat persatuan, kesatuan, bela negara, nasionalisme dan rasa pengabdian serta kepedulian terhadap sesama anggota Pramuka. Tema yang diusung Panitia "Ahlussunnah Wal Jamaah, Kokohnya Karakter Generasi Bangsa". Motto: "Mandiri, Berkarya dan Profesional". Perwimanas II berlangsung 18-23 September 2017 di Bumi Perkemahan Lapangan Tembak Akmil Magelang Jawa Tengah. Kontingen Tuban memberangkatkan 16 peserta terdiri dari 8 Penegak Putra dan 8 Penegak Putri, dari SMK YPM 12 Tuban, SMK Mambail Futuh Jenu, MA Tarbiyatul Banin Banat Jetak Montong, MA NU 01 Mambaul Ulum Sumurgung Montong, MA NU Miftahul Huda Pucangan Montong dan MA Hidayatul Ummah Bringin Montong. Pimpinan Kontingen,
No. 234 n Oktober 2017
Jamalul Fuad. Sebagai duta Pramuka Bumi Wali, 2 Sangga Putra dan Putri ini mengikuti 3 kelompok kegiatan, yaitu Wirakarya, dengan sub kegiatan bakti masyarakat, Pembangunan Jalan, Saluran Irigasi, Bedah Rumah, Pengecoran Sekolah dan Pengecatan Rumah Ibadah. Seminar, dengan sub kegiatan Wawasan Kebangsaan, Narkoba dan Pencegahan Radikalisme. Lomba, dengan sub kegiatan Olimpiade Aswaja, Yel, Kuliner, Pentas Seni dan Karnaval. Anak Terpilih Bupati Tuban, H. Fathul Huda, mengatakan, sebagai anak terpilih, diharapkan Kontingen Tuban menjaga nama baik Bumi Wali, serta dapat berprestasi di ajang Perwimanas II. Kamabicab Gerakan Pramuka Tuban ini juga berpesan agar peserta senantiasa bersyukur, lebih khusus, saat berkemah mencerminkan sikap sikap ke-NU-an seperti tasamuh dan tawasuth. Pembrangkatan Kontingen Perwimanas II ditandai dengan penyerahan bendera kontingen serta pemasangan jaket secara simbolis kepada peserta. Mewakili Ka Kwarcab Pramuka Tauban, Waka Kwarcab Bidang Binamuda, Nur Khamid, berharap peserta serius dan maksimal mengikuti kegiatan. Disamping itu, agar penga-
laman yang didapat bisa ditularkan ke teman-teman Pramuka yang ada di Tuban, terutama bagi yang belum berkesempatan mengikuti even tingkat Nasional. Olimpiade Aswaja dan Pramuka Sedang, Jamalul Fuad, Pimpinan Kontingen, mengatakan target duta Bumi Wali ini setidaknya meraih kejuaraan Olimpiade Aswaja dan Olimpiade Pramuka. Selain itu, dapat menunaikan amanah Bupati Tuban, yaitu membawa nama baik Kabupaten Tuban serta bisa membawa pengalaman yang didapat untuk meningkatkan eksistensi kegiatan kePramuka-an di lingkungan pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama Tuban. Perwimanas 2017 merupakan penyelenggaraan kemah ke-2, dimana 4 tahun lalu diselenggarakan di Mojoagung Jombang, Jawa Timur. Perwimanas yang diikuti peserta dari tingkat SMA/SMK/MA atau yang sederajat, tiap wilayah Ma’arif tingkat Provinsi diminta mengirimkan peserta minimal 2 Sangga Putra-Putri (Satu Regu) beserta Pendamping. Khusus wilayah Jawa diharapkan mengirimkan peserta sesuai jumlah cabang yang dimiliki. Perwimanas II September 2017 dibuka Presiden RI didampingi Ketua Umum PBNU dan sejumlah Menteri Kabinet Kerja.n kdg
23
P ENDIDIKAN
Tidak Mudah
Mendidik ABK Andriana Wahyu Hartanti, S.Pd, seorang Guru Sekolah Dasar (SD) Katolik Santo Petrus, terlihat semangat mendampingi siswa-siswinya. Siswa yang didampinginya bukan siswa biasa, melainkan anak-anak yang terlahir istimewa atau Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
P
erempuan kelahiran Semarang ini menjadi Shadow Teacher, istilah lain Guru Pendamping Khusus (GPK). Bu Ana, sapaannya, mengungkapkan, di tengah semangat pendidikan inklusi, ternyata masih banyak sekolah reguler yang belum memiliki GPK. Padahal, peran GPK mendampingi ABK tidak dapat dipandang sebelah mata, memerlukan keahlian khusus yang tidak semua guru memiliki kemampuan tersebut. Untuk itu, alumni Sekolah Menengah Pekerjaan Sosial Negeri (SMPS) Semarang ini, menekankan pentingnya perhatian tidak hanya kepada ABK saja namun juga untuk GPK. GPK sangat membutuhkan dukungan berbagai pihak, terutama pemerintah, baik itu di tingkat Daerah hingga Pusat. Bentuk dukungan tidak hanya peningkatan mutu Sumber Daya Manusia (SDM), tetapi juga berbagai dukungan yang lain. Sejauh ini memang sudah diadakan berbagai pelatihan tentang pendidikan inklusi tingkat Kabupaten Tuban, akan tetapi, masih dirasa kurang. Perempuan kelahiran Semarang yang telah mengabdikan dirinya mendampingi ABK sejak 1992 ini, menyatakan, penanganan ABK tidak bisa disamakan antara anak yang satu dengan lainnya. Dengan kata lain, penanganannya secara individual. Menurut alumni Diploma II Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB) Negeri Surakarta Jurusan Pendidikan Tuna Rungu Wicara ini,
24
Bu Ana dan siswa-siswinya.
GPK harus mampu menganalisa kebutuhan dan memetakan kecenderungan ABK, termasuk memberikan pendampingan yang baik dan efektif untuk mereka. Berdasarkan penilaiannya, melayani ABK di sekolah inklusi tidak mudah dan tidak murah, semuanya serba ekstra. Meski sudah mengikuti workshop berkali-kali kalau tidak ada niatan dari hati dan tidak memiliki empati juga tidak akan mudah. Karena itu, SDM harus disiapkan sedemikian rupa agar tidak terkesan dipaksakan. Dia berujar, selain harus menyiapkan perangkat pembelajaran khusus, sarana prasarana pembelajaran bagi ABK relatif mahal dan terkadang sulit didapatkan. Pemenuhan alat peraga memang dapat dianggarkan dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Namun, tidak semua sekolah mendapat dana BOS dalam jumlah besar, tergantung jumlah siswa yang ada di sekolah. “Dari segi kesejahteraan juga belum terpenuhi. Apalagi banyak GPK berstatus honorer. Tidak mudah, dari segi apapun harus benarbenar ekstra,” ucapnya. Bu Ana tidak pernah menyesal mengabdikan diri untuk ABK. Baginya, anak-anak adalah individu yang unik dengan banyak kecerdasan dan talenta. Mereka bagaikan mutiara terpendam, terus bertumbuh dan berkembang. Tuhan menciptakan mereka bukan tanpa maksud. Allah SWT menciptakannya dengan banyak hikmah yang tersembunyi.
Menghadapi siswa inklusi, diakuinya bukan hal biasa. Paling tidak GPK harus memiliki niat tulus ikhlas dari hati, rasa cinta dan kasih sayang, serta stok kesabaran dan ketelatenan yang melimpah untuk para ABK. Setelah itu, baru didukung dengan kompetensi pendidikan yang sesuai dengan tuntutan profesinya. Sekretaris Yayasan Disabilitas Mandiri Indonesia (YDMI) Perwakilan Jawa Timur ini, menuturkan, GPK membantu ABK dari sisi akademis dan non akademis selama kegiatan belajar mengajar. Juga, memodifikasi perilaku, meminimalisir yang negatif, menumbuhkan yang positif, sehingga dapat mengikuti dan berpartisipasi dalam pembelajaran. Tantangan menghadapi ABK Slow Leaner dan Specific Learning Difficulty (SPLD) atau Disleksia saat mereka kehilangan mood dan mengalami kejenuhan, dibutuhkan pengalihan perhatian yang menyenangkan agar fokus kembali. Sama halnya siswa ABK Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang mudah impulsif dan tantrum, sehingga jika sudah memuncak di sekolah orang dewasa pun kewalahan menghadapinya. Begitu pun siswa Autis. Jika belum dapat diajak berkomunikasi dan interaksi dua arah, kita ngomong apa dia ngomong apa, tidak pernah nyambung, tukas Instruktur Bimbingan Kecerdasan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Rehabilitasi Sosial Bina Grahita (RSBG) Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur sejak 2013.
No. 234 n Oktober 2017
P ENDIDIKAN ABK Butuh Diakui Penasehat Yayasan Disabilitas Tuban yang bernama ORBIT ini, berharap, ABK dapat diterima selayaknya dan dimanusiakan selayaknya manusia di tengah-tengah kehidu-
pan manusia seutuhnya. ABK butuh diakui dan diperlakukan sebagai subyek, tidak sekadar obyek pelengkap saja. “Sesungguhnya di mata Allah SWT fitrah manusia terlahir dan ter-
cipta sama. Istilah disabilitas atau normal itu kita sendiri yang membuatnya. Jadi, kalau Allah bisa mengasihi kita tanpa membeda-bedakan, mengapa kita tidak?,” tanyanya.n ydh
Perpustakaan Tuban Pilot Project Jatim
D
inas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Tuban menjadi Pilot Project Jawa Timur (Jatim) dalam hal pengelolaan perpustakaan dan kearsipan. Jika ada daerah yang mengembangkan perpustakaan selalu disarankan studi banding ke Kabupaten Tuban.
Tinjau sarpras Perpustakaan Tambakboyo. (kdg)
Hal di atas disampaikan Kepala DPK Kabupaten Tuban, Joko Priyono, SH. MHum, pada peresmian Perpustakaan Umum Kecamatan Tambakboyo (19/09). Sebelumnya, juga telah diresmikan Perpustakaan Umum Kecamatan Widang (23/08), serta Perpustakaan Umum Kecamatan Palang (6/09). Untuk itu, jumlah Perpustakaan Umum Kecamatan di Kabupaten Tuban sebanyak 8 Perpustakaan, antara lain, Kecamatan Rengel, Jatirogo, Kenduruan, Kerek, Jenu, Palang, Widang, dan Tambakboyo serta 1 Perpustakaan Daerah di Kecamatan Tuban. Perintah Wajib Bupati Tuban, H. Fathul Huda, mengapresiasi DPK serta Camat Tambakboyo yang belum genap 1 tahun menjabat sudah melaksanakan 2 kali peresmian. Pak Bupati juga menyampaikan bahwa mengembangkan dan mendirikan Perpustakaan merupakan sesuatu yang harus diperhatikan, karena menurut ajaran agama islam, adalah perintah wajib yang terdapat dalam ayat Alquran, ‘Iqra Bismirabbikaladzi Kholaq’.
No. 234 n Oktober 2017
“Jadi, perintah itu wajib, kecuali ada dalil lain yang menunjukkan ketidakwajibannya,” jelas Pak Huda, sapaan Bupati Tuban, yang juga alumni Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Dalam kontek pemerintahan, sambung Pak Bupati, salah satu kewajiban termuat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Terlebih, saat sekarang, urusan Perpustakaan adalah kewajiban bagi Pemerintah Daerah. Pak Huda mencontohkan pada zaman Nabi. Menurutnya, dulu tawanan perang yang bisa bacatulis diberikan tebusan yakni mengajar baca-tulisHal itu diyakini sebagai bukti pentingnya baca-tulis. Selain itu, membaca adalah sesuatu yang sangat penting, lantaran merupakan jendela ilmu pengetahuan. Tanpa ilmu pengetahuan, manusia tidak akan memiliki power, terlebih di era sekarang, tanpa ilmu pengetahuan manusia akan dilindas oleh roda zaman. Oleh sebab itu, membaca merupakan sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan. Pak Bupati berharap agar dalam pengelolaan Perpustakaan dapat dikelola dengan sebaik-baiknya guna menarik minat baca masyarakat. Untuk itu, sarana dan prasarana Perpustakaan harus representatif, koleksi buku harus up to date. Meski demikian, buku-buku lama, khususnya yang berkenaan dengan sejarah, sangat diperlukan. Untuk itu, setelah serimonial ini, jangan lantas berhenti, tetapi Dinas terkait dan Kecamatan harus melakukan inovasi, seperti lomba karya tulis. Dengan begitu akan memotivasi anakanak untuk belajar. Kitab Salaf Camat Tambakboyo, Didik Purwanto, menyatakan, Perpustakaan Umum Kecamatan Tambakboyo berbeda dengan perpustakaan lain, karena di perpustakaan tersebut terdapat koleksi Kitab-kitab Kuning (Kitab Salaf). Tambakboyo adalah Kecamatan atau Kota Santri. Oleh karenya, menyiapkan apa yang dibutuhkan masyarakat. Dharapkan, yang meramaikan Perpustakaan tidak hanya masyarakat umum, tetapi juga para Santri dan Tokoh Agama.n kdg
25
P ENDIDIKAN
SMPN 3 Tuban Tumbuhkan Budaya Baca-Tulis san. Tugas yang diberikan dikerjakan semampu mungkin. Bahkan, ketika secara acak ditunjuk berlatih menulis di papan tulis, siapapun yang kebagian sampur, antusias menuangkan karyanya. Penulisan Lead atau Kepala Berita ditekankan, karena yang menjadi daya tarik karya jurnalistik. “Bila bahasa Lead atau Kepala Berita belepotan dijauhi pembaca,” canda Bapak, yang sejak tahun 1993 menekuni dunia jurnalistik. Foto bersama usai Diklat. (rtn)
Puluhan siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama (SMPN) 3 Tuban bersemangat mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Jurnalistik (24/09).
D
ahsyatnya, serasa enjoy belajar tulis menulis. Nara sumber ketiika itu, Drs Abdul Barry, Jurnalis Majalah Akbar, majalah terbitan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban. Gairah belajar peserta Ekskul Jurnalistik SMPN Sunan Kalijaga ini luar biasa. Menjelang pelaksanaan Diklat Jurnalistik dimulai, yang saat itu dibuka Sri Utami Septa S, MPd, Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) SMPN 3, tidak tampak ada yang gerah. Mereka menyimak pesan agar belajar bersungguh-sungguh. Begitupun ketika berlangsungnya Diklat Jurnalistik, tak satupun ada yang “cengengesan”. Terlihat, berupaya memahami, mencermati sekaligus mencerna materi yang disajikan nara sumber. Untuk itu, menjadikan hangatnya susana Diklat Jurnalistik yang terselenggara di Aula SMPN 3 Tuban.
26
Peserta didik Kelas VII dan Kelas VIII ini memiliki motivasi kuat belajar tulis menulis jurnalistik. Bekal standar menulis berita 5W 1H (What, Who, When, Why, Where dan How) telah diketahui. Meskipun demikian, tatkala diajak mengaplikasi ke dalam bentuk penulisan berita jurnalistik, tidak lantas enggan atau merasa bisa, justru makin antusias memperdalam penerapan rumus 5W 1H ke dalam bentuk penulisan Lead atau Kepala Berita jurnalistik. “Nah demikian itu mental yang baik,” celetuk Pak Welly, sapaan sehari-hari Drs. Abdul Barry. Belajar, apapun ilmu yang dipelajari, tidak boleh lekas puas atau cepat berhenti. Terlebih, bab penulisan berita jurnalistik, harus terus menerus dipahami, juga berlatih memperdalam penggunaan rumus 5W 1H. Kian kerap diasah rumus itu, menjadikan yang menekuni tambah trampil. Apalagi, plus meningkatkan kecakapan dalam berbahasa, sangat mendukung kepiawaian dalam menulis berita jurnalistik. Catatan penting berlangsungnya Diklat Jurnalistik, peserta tidak ada yang cuek atau bermalas-mala-
Tumbuhkan Budaya Baca-Tulis Dra Titik Susiyaningsih, Pembina Ekskul Jurnalistik SMPN 3 Tuban, menuturkan, penyelenggaraan Diklat Jurnalistik untuk menumbuhkan budaya baca dan budaya tulis. Malah, sejumlah pakar berpendapat, bahwa kemampuan baca maupun tulis merupakan tolak ukur kemajuan bangsa. Untuk itu, SMPN 3 Tuban bertekad melahirkan generasi yang gemar baca-tulis, sehingga ikut berperan serta dalam mengontribusi kemajuan Indonesia, setidaknya menyinarkan Kabupaten Tuban. Saat ini, kemajuan teknologi luar biasa, menjadikan siapapun mudah mengakses informasi. Bagi masyarakat yang budaya baca-tulisnya tinggi, barangkali tidak perlu dikhawatirkan. Tapi, jika sebaliknya, rendah baca-tulisnya, maka akan berbahaya, sebab kesulitan membedakan apakah sebuah berita itu hoax (berita bohong) atau tidak, bahkan dapat terjerumus ke dalam kebiasaan menjiplak. Tentunya, SMPN 3 Tuban tidak menghendaki dampak buruk di atas. “Makanya menggelar Diklat Jurnalistik,” ujar Bu Titik, sapaan Pembina Ekskul Jurnalistik SMPN 3 Tuban.n rtn
No. 234 n Oktober 2017
P ENDIDIKAN
Selenggarakan Seminar Hasil Penelitian
L
embaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) menggelar Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Tema yang digagas “Pengembangan Luaran Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Menuju Hak Kekayaan Intelektuan (HKI) untuk Peningkatan Daya Saing Mendukung Kemandirian Bangsa”. Kegiatan ilmiah bertaraf Nasional ini merupakan konsekwensi hasil klasterisasi yang telah dicapai Unirow. Pada tingkatan klaster Madya, sebuah Perguruan Tinggi (PT), diwajibkan menyelenggarakan Seminar Nasional. Selain itu, harus terus mengembangkan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Seminar Nasional di Kampus Bumi Manunggal ini diikuti 115 Pemakalah dan 150 Peserta. Mereka hadir dari berbagai kalangan PT, antara lain dari Bojonegoro, Lamongan, Gresik, Surabaya, Malang, Semarang, Yogyakarta maupun Jakarta. Keynote Speaker, Dr. Ir. Suprapto, DEA, Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, juga Koordinator Kopertis Wilayah VII. Selanjutnya, Dr. Ir. Sujono,
Peserta seminar. (rtn)
No. 234 n Oktober 2017
M.Kes, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), juga Direktur DPPM-UMM. Dr. Supiana Dian Nurtjahyani, Dra, M.Kes, Rektor Unirow, mengatakan, Seminar Nasional penting artinya bagi PT penyelenggara, Peneliti maupun Paktisi. Bagi PT penyelenggara, Unirow misalnya, adalah pertaruhan kredibilitas. Apalagi, “wajib” hukumnya menyelenggarakan seminar bertaraf nasional, mengingat PT di Bumi Wali ini menapaki peningkatan klaster. Oleh karena itu, LP2M yang dimiliki, harus terus mobil, bergerak, melaju ke arah yang tiada henti berkiprah. Demikian halnya buat Peneliti, Seminar Nasional dapat dijadikan sebagai media maupun sarana publikasi hasil penelitian. Fasilitasi itu, tutur Bu Dian, sapaan Rektor Unirow, jangan sampai dibiarkan berlalu, melainkan harus dipetik dan dimanfaatkan yang sebaik-sebaiknya. Begitu pula bagi para Praktisi maupun Mahasiswa. Buat para Praktisi, kehadiran pada Seminar Nasional akan mendapatkan berbagai informasi hasil penelitian. Tentunya, yang disajikan, hasil karya Peneliti yang terbaik. Untuk itu, banyak hal yang didapat, termasuk Mahasiswa,
Rektor Unirow. (rtn)
yang setidaknya diperkenalkan dengan iklim penelitian. Syukur-syukur, termotivasi larut dalam kegiatan penelitian. Tentunya, sangat diharapkan penelitian dari kalangan Mahasiswa, utamanya yang dilakukan oleh Mahasiswa Unirow. Muatan Lokal LP2M Unirow juga diharapkan kian greget memfasilitasi kegiatankegiatan penelitian. Selain menyelenggarakan seminar, harus pula berkemampauan mendorong peran serta dosen dan mahasiswa dalam kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Meningkatkan kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat, pun dapat mengembangkan produk-produk unggulan hasil penelitian. Jelasnya, LP2M Unirow terus dinanti sumbangsihnya pada kemaslahatan umat, baik pada tataran Kabupaten Tuban maupun dalam skala Nasional. Mengangkat muatan lokal maupun potensi bangsa adalah bagian dari keberadaan LP2M. Penting pula bagi LP2M Unirow, yaitu mempublikasi hasil-hasil penelitian, baik merujuk pada jurnaljurnal Nasional maupun Internasional. Bahkan, ikut pula membantu terkait Paten maupun Hak Kekayaan Intelektual (HKI).n rtn
27
O O LAHRAGA
R
atusan atlit Pencak Silat (PS) Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) berlaga di ajang Semen Indonesia (SI) Cup III. Kejuaraan PS antar Ranting se-Cabang PSHT Tuban ini menjaring pesilat PSHT berprestasi. Kejuaraan PS itu terselenggara atas kerjasama PSHT Cabang Tuban dengan pihak SI. Selain digagas dalam rangka memperingati HUT SI (Persero) Tbk ke-60, juga memeriahkan HUT RI ke-72. Terbilang 150 atlit Putra dan 57 atlit Putri bertarung di even yang sudah sejak tahun 2015 digelar. Asrofi, Ketua Penyelenggara, mengatakan, atlit yang berkompetisi dalam naungan 16 Ranting PSHT seKabupaten Tuban dan 2 Komisariat PSHT, termasuk di dalamnya Komisariat SI. Mereka memperebutkan 32 Kelas yang dipertandingkan. Sedang, batasan Kelompok Usia (KU), antara lain Pra Remaja (12-14 Th), Remaja (14-17 Th) dan Dewasa (1720 Th). SI, tandas Asrofi, mendukung kejuaraan PS, khususnya PSHT, karena cinta budaya Indonesia. PS, katanya, adalah warisan nenek moyang. Lebih dari itu, hingga kini, PS tetap eksis walau berada di era global. Malahan, SI berkehendak menyelenggarakan kejuaraan PS antar PSHT se-Jawa Timur (Jatim). Jika perlu, menggregetkan hingga even se-Jawa-Bali.
Kontingen yang berlaga. (rtn)
28
Gelar Even Antar Ranting
Se-Cabang PSHT Tuban Junjung Sportivitas Lamidi, SP, Ketua Cabang PSHT Tuban, menyerukan agar menjunjung tinggi sportivitas. Bagi atlit yang memenangkan pertandingan, janganlah berlagak “mlete”, atau bersikap mentang-mentang. Juga, bagi yang kalah, jangan hingga nendang-nendang, menghantam tembok ataupun memporakporandakan kursi. Apalagi, emosi mencaci wasit, tidak perlu melakukan tindakan yang tidak terpuji ini. Secara organisasi, maupun keanggotaan, sambung Mas Lamidi, sapaannya, PSHT terbesar untuk ukuran di Kabupaten Tuban. Oleh karena itu, tidak perlu merasa gede, tetapi jiwanya yang harus diperlihatkan besar. Sosok yang berjiwa besar adalah mereka toleran, memahami keberadaan orang lain, senantiasa berperilaku santun, menjunjung tinggi paseduluran, guyub serta senantiasa berpijak pada prestasi. Jika warga PSHT memaknai pemahaman-pemahaman di atas maka akan menjadi teladan di tengah-tengah masyarakat Kabupaten Tuban. Kabupaten Cinta Damai H. Faishol, Ketua Pencak Silat Indonesia (IPSI) Tuban, menandas-
Mas Lamidi. (rtn)
kan, PSHT adalah gudang atlit IPSI. Hampir setiap kejuaraan IPSI atlit PSHT hadir dalam prestasi. Oleh karena itu, jangan hingga dinodai dengan tingkah yang aneh-aneh, justru ingatlah pesan Mas Lamidi yang senantiasa berjalan di atas udi pekerti dan prestasi. “Bahkan saya salut dengan warga PS di Kabupaten Tuban. Saking rukunnya antar perguruan sehingga Kapolda Jatim menganugrahkan “Kabupaten Cinta Damai,” kata Ayah Faishol, sapan kerennya. Keadaban Gatot Kustyadji, Dirut PT SI (Persero) Tbk, mengisahkan, manfaat mempelajari PS. Dari segi olahraga, tuturnya, terstruktur, dapat dipelajari mulai usia anak-anak hingga kakek-kakek. Di segala tingkatan umur ini dapat menjaga fisiknya dengan berlatih PS. Berikutnya, dari segmen seni, merupakan budaya luhur bangsa Indonesia yang dapat dibedakan dengan seni bela diri Karate maupun Taekwondo. “Jadi berbanggalah memiliki warisan budaya silat,” kata Bapak yang sempat mendemonterasikan beberapa jurus PSHT.
No. 234 n Oktober 2017
O O LAHRAGA Terakhir, khusus PSHT, memiliki kelengkapan baik dari sisi olahraga maupun seni. Untuk itu, ikhlas hati men-
jadi warga PSHT. Lebih dari itu, karena filosofi keadabannya, yang menjunjung harkat dan martabat manusia.n rtn
Siti Aminah
Si Jawara Gulat Atlet Gulat Tuban, peraih Medali Emas Kelas 47 Kg Gaya Bebas Putri, Siti Aminah, mengatakan, ketaatan mengikuti arahan pelatih dan keyakinan diri menjadi kunci sukses di ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) 2017 di Semarang Jawa Tengah (Jateng), pertengahan September.
“
Kunci suksesnya rajin berlatih dan mengikuti arahan pelatih. Juga, harus yakin kalau kita berusaha pasti ada harapan untuk menang," katanya. Ketika ditanya apakah sebelumnya sudah memastikan diri bakal juara, Siti Aminah mengatakan, harapan menjadi juara akan selalu ada meski tidak pasti. Terbukti, di final menumbangkan wakil dari Daerah Khusus Istimewa (DKI) Jakarta, kendati lawan yang dirasa paling berat justru disebutkannya berasal dari Kalimantan Timur (Kaltim). Siswi Kelas III Sekolah Menengah Atas Olahraga (Smanor) Sidoarjo ini, menyebutkan, Medali Emas tersebut bukan satu-satunya prestasi yang didapatkan selama menggeluti cabang olahraga Gulat. Sebelum perhelatan Popnas, gadis yang lahir di Tuban 17 tahun silam ini,
sudah menjadi juara di ajang kungan. Sejak mePusat Pendidinggeluti cabang kan dan Latiolahraga Voli ketika han Pelajar masih duduk di (PPLP) tingkat bangku Sekolah Nasional selama Menengah Pertadua kali berturut-turut. ma (SMP), Sukijan Disinggung langdan Samirah, sangat kah ke depan, Gadis terSang Jawara. (ydh) mendukung aktivitas sebut, menuturkan, masih banyak yang harus dihadapi, terma- anak tunggalnya itu. “Alhamdulillah, tidak ada kensuk persiapan mengikuti Kejuaraan dala berarti. Saya bisa mengatur Provinsi (Kejurprov). “Setelah ini, persiapan Kejur- waktu untuk belajar dan berlatih, seprov. Soalnya masih terhitung junior, hingga orang tua sangat mendubelum boleh mengikuti kejuaraan kung,” ucap alumni SMP Negeri 2 level senior,” tuturnya sambil tersipu Soko ini. Selanjutnya, Siswi berprestasi malu. Biarpun orang tuanya tidak me- ini, berharap, capaian prestasinya miliki latar belakang olahraga, hal tak hanya sampai di tingkat pelajar tersebut tidak lantas membuat ke- atau level junior saja, tapi hingga duanya berhenti memberikan du- level senior mendatang.n ydh
Baznas Bantu Sapi Muda BAZNAS Kabupaten Tuban memberikan bantuan budidaya Sapi kepada warga miskin produktif di Pendopo Kridho Manunggal. Bantuan tersebut diberikan secara simbolis oleh Bupati Tuban, H. Fathul Huda, setalah melaksanakan muhasabah. Sebanyak 22 warga miskin produktif dari 3 Kecamatan yang mendapatkan bantuan, yaitu Keca-
No. 234 n Oktober 2017
Dirut PT SI (Persero) Tbk. memperagakan beberapa jurus PSHT. (rtn)
matan Semanding 10 orang, Plumpang 10 orang dan Merakurak 2 orang. Dana bantuan budidaya Sapi tersebut bersumber dari dana infaq sodaqoh Basnas Kab Tuban senilai Rp 200 Juta. Pak Bupati berpesan agar penerima bantuan menjaga sekaligus merawat bantuan budidaya Sapi. Diharapkan bisa berkembang dan berguna serta tidak dijual. Sedang, pihak-pihak yang terkait hendaknya memantau perkembangan bantuan Sapi secara berkala, memberikan pendampingan perawatan Sapi yang masih muda (Pedet) tersebut.n kdg
29
R AGAM PERISTIWA
Pidanakan Pembakar Hutan
Pak Joko. (kdg)
P
emerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban akan memidanakan pembakar hutan. Dampak kebakaran hutan maupun pemukiman tergolong serius.Oknum yang “jahil” harus ditindak tegas. Demikian tutur Bupati Tuban, H. Fathul Huda, pada Sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan Bencana Kebakaran di Gedung Korpri komplek Pendopo Kridho Manunggal Tuban (19/9). Data BPBD Tuban, 1 bulan te-
rakhir terjadi kebakaran hutan 20 kali. Bahkan, rentang 2 minggu ini terjadi 5 kebakaran, baik kebakaran di wilayah sekitar hutan juga di kawasan pemukiman. Dampak kebakaran hutan sudah menjadi isu Internasional. Pencemaran asap luar biasa, ekosistem terganggu. Berlandaskan Undang-Undang (UU) Nomor 24 Tahun 2007, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2008 dan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2014, pembakar hutan harus ditindak. Tema “Living Harmony With Disaster Risk Reduction,” jelas Pak Bupati, mengingatkan beberapa hal yang harus diperhatikan masyarakat sekitar hutan, yaitu jangan membakar sampah organic, sebab dalam jangka waktu tertentu bisa menjadi humus. Jika semak atau daun kering dibakar semua hewan melata termasuk satwa mati. Banyak ular yang
mati, tikus merajalela karena komponen rantai makanannya timpang. Tercatat 39 Peristiwa Kurun 9 bulan terakhir, kata Joko Ludiono, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, tercatat 39 peristiwa kebakaran. Penyebabnya kelalaian manusia. Oleh karena itu, perlu dibangun komunikasi dan penyamaan prosedur penanganan bencana kebakaran. Sementara itu, sosialisasi kali ini melibatkan 100 peserta, terdiri dari Kodim 0811, Polres Tuban, Puskesmas, Camat dan Relawan. Juga, melakukan praktek penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), pemadaman dengan alat tradisional dan pengoprasian mobil Damkar (Pemadam Kebakaran).n kdg
Dua Belas OPD Terima DBHCHT
D
ana Bagi Hasil Cukai Tembakau (DBHCHT) bersumber dari hasil cukai tembakau, dibagikan Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota untuk pelaksanaan pembangunan. Ir. Sunarto, MM, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Tuban, menuturkan, Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 28/PMK.07/2016 tentang Penggunaan, Pemantauan dan Evaluasi DBHCHT, menjelaskan, melalui pola specifik grant DBHCHT digunakan untuk mendanai beberapa program, diantaranya Peningkatan Kualitas Bahan Baku, Pembinaan Industri,
30
Pembinaan Lingkungan Sosial, Sosialisasi Ketentuan di Bidang Cukai dan Pemberantasan Barang Cukai Illegal. “Tahun 2017 Kabupaten Tuban menerima pagu DBHCHT Rp 18.130.094.000, dikelola 12 OPD,” terang Pak Asisten, saat membuka Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Penyampaian Informasi Ketentuan Perundang-undangan di Bidang Cukai Kepada Masyarakat dan Pemangku Kepentingan (07/09), di Gedung Korpri kompleks Pendopo Kridho Manunggal. Dari ke-12 OPD, alokasi DBHCHT terbesar pada Dinas Perikanan dan Peternakan, Rp 3.234.100.000, terkecil Bagian Hu-
Pak Narto. (kdg)
mas dan Protokol, Rp 155.000.000. Kegiatan yang menjadi pilot project di lingkungan hasil tembakau adalah penguatan kelembagaan kelompok petani tembakau melalui integrasi tanaman dan ternak.
No. 234 n Oktober 2017
R AGAM PERISTIWA “Hal ini diwujudkan berupa mesin pellet, biogas dan kolam lele,” ujarnya. Sedangkan di Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Sosial P3A dan Dinas Penanaman Modal PTSP Naker telah menumbuhkan wirausaha baru melalui pelatihan pembuatan makanan ringan, krupuk, meubel, menjahit,
bordir, konveksi, sablon, desain kaos, membatik dan pengelasan. Melalui kegiatan tersebut diharapkan tercipta jiwa-jiwa entrepreneur. Pak Narto, sapaannya, berpesan agar dana DBHCHT dilaksanakan secara transparan sesuai ketentuan. Diharapkan pula agar masyarakat dan pihak-pihak yang berkompeten mengawasi penggunaan dana
tersebut maupun kegiatannya. Kegiatan di atas diikuti Tim DBHCHT Kabupaten, OPD Pengguna DBHCHT juga masyarakat penerima manfaat DBHCHT. Narasumber dari Biro Administrasi Perekonomian Jatim, Dinas Kesehatan, Dinas Tenaga Kerja Jatim dan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Bojonegoro.n kdg
Gelar Pawai Ta’aruf Lebih dari 3.850 Santri dari 33 Kafilah dan 20 DPK-BKPRMI (Dewan Pengurus Kecamatan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia), juga Lembaga Pendidikan Maarif dan Muhammadiyah meramaikan Pawai Ta’aruf memperingati Tahun Baru Islam 1439 Hijriyah.
Iringi Pawai Ta’aruf. (kdg)
P
awai Ta’aruf dimulai dari depan Kantor Bupati Tuban Jalan RA. Kartini, Jalan Veteran, Jalan Basuki Rahmad, Jalan Sunan Kalijaga dan berakhir di Gedung Olahraga
No. 234 n Oktober 2017
(GOR) Rangga Jaya Anoraga. “Seperti tahun sebelumnya, seluruh Kecamatan diundang dan mengirimkan perwakilanya,” kata Eko Julianto, Kabag Kesra Setda Kabupaten Tuban. Pawai 1 Muharram 1439 mengusung tema “Tingkatkan Kerjasama Wujudkan Generasi Muda Berakhlakul Karimah, Kreatif dan Bertakwa. Dengan harapan, dapat meningkatkann kebersamaan, gotong royong menuju Tuban yang Lebih Religius dan Bermartabat, sebagaimana brand Tuban Bumi Wali. Pawai Ta’aruf memasuki tahun ketiga. Dirayakan agar generasi muda tahu bahwa umat Islam memiliki tahun baru. Lagi pula, masyarakat antusias menyaksikan pawai yang juga diramaikan dengan berbagai penampilan seni tongklek, drum band hingga kostum menarik layaknyaknya karnafal memperingati HUT RI. Sebelumnya, pada malam hari digelar Festival Muharram, ditandai Pengajian dengan Pembicara Prof. Dr. KH. Achmad Muzzaki Al Hafidz, serta Dzikir Kebangsaan menyambut datangnya Tahun Baru Islam dipimpin Habib Alwi Assegaf. Bupati Tuban, H. Fathul Huda, berharap momen pergantian tahun digunakan untuk merefleksi diri menjadi pribadi yang lebih baik, terutama dalam pembangunan di Bumi Wali. Disamping itu, kian terjalinnya kebersamaan dan kerjasama alam membangun Kabupaten Tuban, terutama bagi generasi muda. Diharapkan terus terlahir bibit-bibit pemuda yang berkarakter dan berakhlakul karimah serta penuh prestasi. “Tuban yang religius dan bermartabat harus dimulai dari pemuda. Bukan dari segi akademis saja, melainkan pemuda harus berakhlak mulia,” kata Pak Bupati. Sementara, pada Festival Muharram diagendakan Lomba Sosiodrama, Nasyid, Festival Band Islami dan Kasidah Modern.n kdg
31
C
ERMIN
Melejitkan Potensi Wisata Religi Oleh: Drs. Suwarno, MPd. Email : [email protected]
P
ertengahan hingga akhir September 2017 ini, penulis disibukkan kegiatan visitasi ke beberapa sekolah dan madrasah di luar kota. Untungnya ditugaskan di wilayah tidak terlalu jauh dari kota Tuban, tepatnya Lamongan paling Barat dan Bojonegoro paling Utara. Persisnya di Kecamatan Babat dan sekitarnya. Sebagai asesor tugas itu saya laksanakan penuh semangat, dedikasi dan tanggung jawab. Mitra kerja saya Pak Hasanudin, asal Madura ujung Timur, Sumenep. Dari kota atau kabupaten paling “halus” dan “berperadaban” keraton inilah Pak Hasanudin berasal. Saya beruntung bertemu dan bekerja dengan beliau, kebetulan beliau keturunan keenam dari Sawunggaling. Tokoh legendaris Sawunggaling adalah figur yang tidak asing di telinga orang Jawa Timur (Jatim). Sejak kecil saya sudah mendapatkan cerita tentang kesaktian dan kewaskitaan Sawunggaling. Dari cerita mulut ke mulut dan turun terumurun kemudian menjadi dongeng, serta disajikan dalam “Babad Surabaya”, tokoh Sawunggaling diberikan kelebihan, bahkan sempat menjadi Tumenggung di keraton Ia tinggal. Kunjungan Wisata Religi yang Berkesan Di sela menjalankan tugas sebagai asesor, sore dan malam hari Pak Hasanuddin menyempatkan diri “sowan” ke beberapa maqom aulia’ di Tuban. Selepas jam 4 sore berangkat dari Babat, menjelang maghrib memasuki kota Tuban. Setelah sholat Maghrib berjamaah, rombongan satu mobil, dilanjut dengan mencari kuliner khas Tuban. Selanjutnya, ke Maqom Sunan Bonang di tengah-tengah kota Tuban. Pada beberapa kesempatan perbincangan dengan Pak Hasanuddin, beliau menyatakan bahwa Tuban memiliki potensi wisata religi yang luar biasa. Beliau sudah banyak melanglang ke berbagai daerah dari Jawa, Sumatera, Madura dan beberapa daerah lain, namun kunjungan ke Tuban, terutama “sowan” ke Sunan Bonang, Ibrahim As-Samarqandi, dan Sunan Bejagung memiliki nuansa religi yang amat berkesan. Saya menyaksikan sendiri betapa Pak Hasanudin tampak
32
khusyu’ ketika “tawajjuh” di hadapan maqom Sunan Bejagung. Hampir beliau tidak beranjak dari hadapan maqom. Namun, waktu jualah yang harus memisahkan kita dari asyiknya “bertamu” ke pribadi agung semacam Sunan Bejagung atau yang dikenal dengan Mbah Modin Asy’ari. Pak Hasan, begitu panggilan akrabnya, memprediksi, insya Allah di kemudian hari pengunjung Sunan Bejagung juga akan seramai seperti di Sunan Bonang dan di Mbah Ibrahim As-Samarqandi. Potensi Wisata Religi Bumi Wali Seperti dikatakan Pak Hasanuddin, Tuban memiliki potensi wisata religi yang luar biasa, saya sendiri meyakini bahwa sulit sekali mencari wilayah yang bisa menyamai kabupaten Tuban dalam hal banyaknya obyek wisata religi. Dua tahun yang lalu Ketua Yayasan Mabarot Sunan Bonang, menyatakan, bahwa indeks kunjungan wisata religi di Jatim, bahkan seluruh Indonesia, Sunan Bonang menempati rangking tertinggi. Kunjungan ke Sunan Bonang biasanya satu paket dengan ke Ibrahim As-Samarqandi, dengan demikian indeks kunjungan ke maqom Ayah Sunan Ampel tersebut juga terangkat. Berdasarkan data yang saya himpun paling tidak terdapat beberapa obyek wisata religi yang sangat populer hingga menyedot pengunjung dengan jumlah massal di kota Tuban dan sekitarnya. Obyek wisata religi tersebut, antara lain : Makam Sunan Bonang. Sunan Bonang salah satu Wali Songo yang berpengaruh dalam penyebaran Islam di tanah Jawa. Makam Syeh Maulana Ibrahim As-Samarqandi. Syeh Maulana Ibrahim As-Samarqandi (baca: Asmaraqandi) adalah ayahanda dari Sunan Ampel, Syeh Maulana sendiri berasal dari Timur Tengah, tepatnya di Samarkand, Asia Tengah. Karena orang Jawa tidak bisa melafalkan Samarkand jadilah nama Asmaraqandi. Makam Sunan Bejagung Lor. Nama asli Sunan Bejagung Lor adalah Sayyid Abdullah Asy’ari bin Sayyid Jamaluddin Kubro, beliau adik Syeh Maulana Ibrahim Asmaraqandi. Sunan Bejagung berasal dari Hadramaut
No. 234 n Oktober 2017
C atau Saudi Arabia dan masih memiliki garis keturunan dengan Nabi Muhammmad. Makam Sunan Bejagung Kidul. Tak jauh dari makam Sunan Bejagung Lor, terdapat Makam Sunan Bejagung Kidul. Kedua makam ini berjarak hanya 400 meter dan dipisahkan oleh jalan kampung. Jika di makam Sunan Bejagung Lor yang disemayamkan adalah Sayyid Abdullah Asy’ari maka di makam Bejagung Kidul adalah makam Syeh Hasyim Amaluddin, beliau menantu Sunan Bejagung Lor. Makam Syech Achmad Cholil. Makam Syech Achmad Cholil di Desa Rawasan, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban. Makam ini ditemukan tahun 2000 oleh Muhammad Nawawi (Mbah Nawawi), melalui komunikasi spiritual. Di sekitar makam terdapat sebuah sumur dikeramatkan. Sumur ini tidak pernah surut dan tidak bertambah banyak meskipun hujan. Suatu saat air sumur naik ke atas, tak lama kemudian terjadi bencana Tsunami di Aceh tahun 2004. Makam Sunan Geseng. Sunan Geseng bernama Kiai Cokrojoyo, murid setia Sunan Kalijaga. Singkat cerita, Sunan Kalijaga memerintahnya menunnggunya datang kembali dan menancapkan sebilah bambu dihadapannya. Karena cukup lama, akhirnya sebilah bambu yang ditancapkan menjadi rimbun. Untuk membangunkan Cokrojoyo, Sunan Kalijaga membakar pohon bambu dan Cokrojoyo hangus (Geseng) namun tidak meninggal. Sejak saat beliau dinamakan Sunan Geseng. Makam Sunan Geseng di Desa Gesing, Kecamatan Semanding Tuban.
ERMIN
yang luar biasa. Dengan pesisir yang panjang dan potensi laut yang melimpah, Pegunungan Kapur Utara yang kaya dengan bahan semen, tambang minyak dan gas juga kaya cadangannya, Kabupaten Tuban bisa menyaingi Banyuwangi. Sentuhan religi banyak dilakukan Bupati Tuban, H. Fathul Huda dan Wabupnya Pak Noor Nahar Husein. Bahkan, telah meletakkan pondasi yang kokoh dalam menghidupkan “religious culture”. Berbagai kegiatan yang bersifat keagamaan, sosial, seni, olahraga, ekonomi dan kebangsaan sangat marak dan rutin digelar. Hampir setiap bulan selalu ada agenda berlevel Kabupaten, Provinsi bahkan Nasional yang selalu ramai diikuti banyak orang dan peserta. Bahkan, olahraga pun bisa menembus level Nasional. Maka, sangat dimungkinkan Bumi Wali menjadi ikon wisata religi tingkat Nasional. Kini tinggal kesigapan dalam mengelola kesempatan itu, daya dukung kesadaran masyarakat juga kunci keberhasilan. Jika masyarakat “cuek”, tak tahu menahu, tak merasa memiliki, maka potensi yang besar ini akan mengecil dan menjadi kontra produktif. Itulah yang harus kita kindari. Mari jadikan Bumi Wali ikon Wisata Religi berlevel Nasional.n
Tuban Bisa Hebat Di ujung Barat pesisir Jatim, Kabupaten Tuban berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Sedang di ujung Timur terdapat kota yang dulu dikenal memiliki “aura magis”, Banyuwangi. Nuansa magis kota ini dihubungkan dengan ilmu hitam alias santet. Tandingan “santet” Banyuwangi hanya bisa diimbangi oleh “santet” dari ujung kulon Pulau Jawa yaitu Banten. Itu imej dulu, sekarang berubah 180 derajat. Banyuwangi kini dikenal sebagai Kabupaten yang diminati wisatawan domestik maupun manca negara. Indeks kunjungan wisata dan daya tarik penanam modal (investor) menanjak sangat signifikan. Alamnya mendukung, pantainya indah. Daya dukung lainnya dekat Pulau Bali. Dipimpin Azwar Anas, yang sempat mengenyam pendidikan luar negeri dengan beasiswa Fullbright negeri Paman Sam, mengindikasikan Mas Azwar Anas sosok yang cerdas. Karena, yang mendapat beasiswa Fullbright hanya mereka yang memiliki indeks IQ yang tinggi dan TOEFL yang excellent. Di bawah kepemimpinan Bupati Muda ini Banyuwangi berkembang pesat. Sebenarnya, Kabupaten Tuban memiliki potensi
No. 234 n Oktober 2017
33
W IRA USAHA
Budidaya Sistem Longyam
Sistem Pertanian Terpadu (Integrated Farming System/IFS) yang menggabungkan beberapa komponen seperti pertanian, peternakan dan lain-lain sangat cocok diterapkan di Indonesia yang memiliki iklim tropis dengan curah hujan tinggi dan sinar matahari yang melimpah sepanjang tahun. Sayangnya, masyarakat banyak yang kurang memahami sistem ini, sehingga penerapannya masih minim.
S
elain Minapadi (Padi dengan Ikan), salah satu metode diversifikasi pertanian yang mengadopsi model IFS adalah Longyam (Ikan dan Ayam). Longyam sendiri merupakan akronim dari bahasa Sunda, Balong dan Hayam atau Kolam dan Ayam. Longyam merupakan perpaduan kegiatan budidaya yang dapat dikerjakan secara bersama-sama. Sehingga, bisa mendapatkan keuntungan ganda, memanen ikan sekaligus ayam. Keuntungan lain yang dapatkan dari budidaya ikan di kolong kandang ayam ini, antara lain pakan tambahan ayam yang terbuang dapat langsung dimakan ikan, sehingga mengurangi biaya pakan. Kotoran ayam yang jatuh ke kolam akan menghasilkan pakan alami berupa plankton, bahkan kotoran yang sudah kering dapat langsung dimakan oleh ikan. Sedangkan, sisanya bisa menjadi pupuk yang dapat menyuburkan kolam. Jenis ikan yang dapat dibudidayakan melalui sistem ini, di antaranya ikan Nila, Gurame, Mas, Lele, dan jenis ikan air tawar lainnya. Sementara jenis ayam yang dapat dipelihara adalah ayam Ras Petelur dan Pedaging serta ayam Kampung Petelur dan Pedaging. Biasanya, banyak yang memilih ayam Ras Pedaging (Broiler) dengan pertimbangan waktu pemeliharaan yang relatif singkat (30-35 hari), sehingga dalam satu tahun dapat diusahakan 5-6 siklus pemeliharaan ayam. Hal penting yang harus diperhatikan dalam budidaya ikan dengan
34
Budidaya Longyam. (ifk)
sistem Longyam adalah kualitas air meliputi kandungan oksigen, karbondioksisa, amoniak, pH, suhu dan parameter kimia lainnya. Kandungan oksigen kolam yaitu berkisar antara 3-5 mg/l, PH 7, suhu 25-300C. Persiapan lain yakni pengeringan kolam, pemupukan, pemberian kapur, pemberian garam, perbaikan pematang dan dasar kolam dan pembuatan kamalir (parit yang ada di dasar kolam). Kolam bisa terbuat dari semen batu bata atau kolam tanah, dengan kedalaman 11,5 meter. Ketinggian kandang dari air kolam minimal 1 meter agar kelembabannya tidak mengganggu kesehatan ayam. Kaki kandang tidak masalah terendam air jika terbuat dari besi, sebaliknya apabila terbuat dari kayu atau bambu jangan sampai terendam air. Kontruksi Kolam Kuat Teknik pemeliharaan sistem ini memerlukan konstruksi kolam kuat, sedangkan ukurannya fleksibel disesuaikan keadaan. Pastikan aerasi lancar dan kolam tidak tertutup.
Sinar matahari dapat menembus kolam sedalam 75—100 cm. Setelah persiapan selesai, dilanjutkan pemeliharaan. Rata-rata konversi pemberian pakan pada ikan sebesar 5% per berat total keseluruhan per hari. Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari. Rata-rata pemeliharaan ikan di kolam 3 bulan, setelah itu bisa dipanen. Pemanenan lebih baik dilakukan pada pagi hari, untuk meminimalisasi tingkat stres pada ikan yang dipanen. Cara pengambilan dan pengangkutan ikan harus dilakukan dengan baik dan benar. Perlakukan yang kasar akan menimbulkan ikan stres, sehingga mengakibatkan ikan mudah terserang penyakit dan mati. Untuk tempat pemeliharaan ayam, terdapat beberapa jenis kandang yang bisa digunakan. Pada sistem Longyam, lantai kandang bersifat slat agar kotoran ayam dapat langsung jatuh ke kolam. Bahan slat bisa terbuat dari reng bambu atau kayu dengan ukuran antar slat 1 centimeter. Kandang sebaiknya dibuat membujur dari timur ke barat
No. 234 n Oktober 2017
W IRA USAHA atau sebaliknya untuk mengurangi intensitas sinar matahari masuk ke dalam kandang. Kurangi Lalat Selain mendatangkan keuntungan ganda, sistem Longyam juga mengurangi problem peternak seperti lingkungan kandang yang bau dan kumuh disebabkan kotoran ayam. Sistem longyam merupakan solusi cerdas mengatasi populasi lalat yang berlebihan di kandang. Seperti kita ketahui, lalat sebagai pengantar vektor hama dapat mempengaruhi daya tumbuh ayam dan bisa
membawa penyakit untuk manusia. Lalat bisa dibasmi dengan racun lalat yang banyak dijual di toko pertanian. Selain lalat, kita juga harus waspada dengan kehadiran tikus yang dapat membawa penyakit bentol warna putih dan cacar pada ayam. Satu lagi hama yang biasanya muncul pada sistem Longyam, yaitu kumbang atau kutu yang biasa disebut Frenki (Alphitobius Diaperinus). Frenki yang menyukai lingkungan kumuh ini berperan menurunkan kualitas pakan. Kebersihan kandang harus dijaga sedemikian rupa dan jangan lupa memberikan desin-
fektan yang cukup ampuh mengusir Frenki, karena ayam yang mematuki Frenki akan mudah terserang penyakit terutama cacing pita, e-coli, salmonella dan penyakit lainnya.n (Diolah dari berbagai sumber)
LONGYAM merupakan perpaduan kegiatan budidaya yang dapat dikerjakan secara bersama-sama. Sehingga, bisa mendapatkan keuntungan ganda, MEMANEN IKAN SEKALIGUS AYAM.
Pak Noor Berangkatkan Kafila FASI
Kontingen FASI. (kdg)
W
akil Bupati (Wabup) Tuban, Ir. H. Noor Nahar Hussein, M.Si, memberangkatkan Kafilah FASI (Festival Anak Sholeh Indonesia) Tuban berlaga tingkat Nasional di Banjarmasin Kalimantan Selatan (Kalsel), 13-16 September 2017. Sebelumnya, Juara Umum pada FASI Ke X Jawa Timur (Jatim). “Saya sangat bangga menyaksikan generasi Bumi Wali berprestasi. Juga sangat bersyukur jika berprestasi tingkat Nasional,” ujar Pak Wabup. Ditambahkan oleh Pak Wabup, di tahun 2045 kelak, mereka yang berprestasi akan menjadi pemimpin, pemimpin yang dapat menjaga amanah karena selalu dekat dengan Al Quran. Kabupaten Tuban, dengan brand Bumi Wali harus dapat menumbuhkan bibit-bibit generasi Qurani serta dapat membumikan AL Quran pada setiap tingkah laku di tengah-tengah masyarakat.
No. 234 n Oktober 2017
“Bagi anak-anak yang membanggakan ini, semoga menularkan kebaikan kepada temantemannya serta lingkungan,” tutur Pak Noor, sapaan Wabup Tuban. Kafilah, Pengurus dan Pendamping diharapkan optimal mengikuti kegiatan ini. Untuk itu, juara bukanlah yang utama tetapi patut untuk diperjuangkan. Terpenting, memberikan yang terbaik bagi Bumi Wali. Ketua DPD Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Tuban, Subhan, menjelaskan, pada FASI Ke-X tingkat Nasional, Jatim mengikuti 11 cabang lomba, 6 lomba diikuti Kafilah Tuban, terdiri dari 11 Santri, dan 5 lomba lainnya gabungan dari Kabupaten/kota lainnya di Jatim. Kafila Tuban sebanyak 29 orang, terdiri dari 11 Santri, 5 Pengurus dan 13 Pembina. Mereka akan berlaga pada ajang Lomba Adzan, Menggambar, Mewarnai, CCQ Al Quran, Tarjim Al Quran dan Pidato Bahasa Indonesia. Sebelum berangkat ke Banjarmasin, mengikuti tahap akhir persiapan di Surabaya. Dukungan dan doa masyarakat Tuban sangat diharapkan. Sementara, Kafilah FASI Ke-X diberangkatkan dengan iringan bacaan Adzan oleh M. Nazril Muharom, Santri yang baru berusia 5 tahun. Acara ini bakal dibuka Presiden Jokowi, dihadiri 34 DPW BKPRMI se-Indonesia, 20.000 peserta. Selain itu, yang melaksanakan sarasehan sebanyak 10.000 Ustadz-Ustadzah LPPTKA BKPRMI se-Indonesia. Juga, diagendakan Jambore Pemuda Remaja Masjid BRIGADE BKPRMI.n kdg
35
S ASTRA dan BUDAYA Oleh: Herumawan PA (KR) Aku bingung hendak memakai kostum pahlawan siapa di upacara 17 Agustus di balai kota esok hari. Lalu kuputuskan memakai kostum seperti Pangeran Diponegoro. Semua atribut kostum Pangeran Diponegoro segera aku beli.
T
api keesokan harinya, aku malah bangun kesiangan. Kulihat jarum panjang di jam dinding kamar sudah menunjuk angka sepuluh. “Waduh, tidak sempat dandan ala Pangeran Diponegoro.” Aku panik. Lalu kuputuskan memakai kostum pejuang rakyat biasa. Aku mengambil sarung, menyampirkannya ke kaos putih yang kupakai. Tidak lupa, aku mencoret-coret wajahnya dengan spidol warna hitam, dan memakai ikat kepala warna merah putih. Dengan segala atribut dadakan itu, berangkatlah aku ke balai kota. Tapi setibanya di sana, upacara 17 Agustus sudah usai. Kuputar tubuhku, meninggalkan balai kota. Tapi seorang teman memanggilku. Aku pun menengok. Tampak ia tersenyum padaku. Lalu bertanya, “Kamu pakai kostum pahlawan siapa?” Rupanya ia heran melihat kostum pahlawan yang kupakai. “Pejuang rakyat biasa.” jawabku. Ia terkekeh mendengarnya. “Lho memangnya kenapa?” tanyaku heran. “Ah tidak, tadinya aku kira kamu itu pahlawan kesiangan dalam arti sebenarnya.” Ia menjawab seraya juga mengejekku. Aku tidak mau menyahutinya. Kutinggalkan dia yang sedang menertawai kostum yang kupakai ini. Berjalan menuju perempatan jalan, menunggu bus yang akan membawaku pulang ke rumah.
36
Pahlawan Begitu bus datang, kulambaikan tangan kiri. Bus berhenti sebentar dan aku segera naik. Di dalam bus, kulihat kursi di sebelah seorang kakek berseragam veteran tampak kosong. Aku segera duduk di situ. “Mas, ongkosnya.” Kernet bus mengingatkanku. Aku merogoh saku kostum pejuangku. Kuambil uang lima ribuan yang kucel dan banyak lipatannya. Lalu kuberikan pada kernetnya. Uang kembalian dua ribuan kertas diberikannya padaku. Kupandangi uang kertas dua ribuan kembalian kernet bus. Tertera sebuah tulisan “AWAS INI UANG PALSU!!!!” pada lembaran uangnya. Lalu di depan angka 2000 ditambahkan angka satu menggunakan pulpen hitam jadi tertulis Rp 12000. Dan gambar kumis Pangeran Antasari ditebalkan memakai pulpen hitam. Pada awalnya, aku tidak begitu menghiraukannya. Tapi karena kakek yang duduk di sebelahku juga terus memandangi uang yang sedang kupegang, lidah ini kelu untuk tak bertanya.
“Kenapa Kakek ikut memandangi uang ini?” Aku lalu bertanya. “Benar-benar tidak menghargai.” jawab si kakek. Rona wajahnya tiba-tiba berubah sedih. “Memangnya kenapa, Kek?” tanyaku lagi. Si kakek terdiam. Tampak setetes air mata turun membasahi pipinya yang mulai keriput. “Itu gambar salah satu Pahlawan yang turut berjuang mengusir penjajah tapi wajahnya dicoret-coret begitu, seperti tidak menghargai jasa dan perjuangannya saja.” Si kakek menjawab panjang lebar. “Lalu bagaimana baiknya, Kek?” aku kembali bertanya. Lagilagi, tampak rona kesedihan terpancar di wajah si kakek. “Tidak tahu.” “Kakek tidak tahu caranya atau …” Kata-kata terputus. Aku tidak tahu harus ngomong apa lagi. “Para pejuang seperti Kakek dan juga beliau tidak pernah minta dihormati apalagi dihargai, kami berjuang tanpa pamrih. Tapi jangan lantas melupakan begitu saja jasajasa kami.” Si kakek menjawab
No. 234 n Oktober 2017
S ASTRA dan BUDAYA terbata-bata. Aku mengangguk pelan. “Siapa nama Kakek?” Aku mencoba ingin mengenal si kakek lebih dekat. “Bardi Wirakusuma.” Jawab si kakek. “Heru.” Aku menjabat tangannya yang tampak mulai keriput. Si kakek hanya manggut-manggut. Lalu melepaskan jabat tanganku. “Kakek tadi darimana?” tanyaku. “Ikut peringatan 17 Agustus di Istana Negara, Nak.” jawab si kakek. Aku manggut-manggut. Lalu tanpa diminta, si kakek menceritakan tentang dirinya. Hingga perjuangannya melawan penjajah. Tapi belum tuntas ceritanya kudengarkan, kernet angkot sudah meneriakkan tujuan dimana aku turun. “Saya turun disini dulu ya, Kek.” pamitku. “Hati-hati ya, Nak.” Pesan si kakek. Aku tersenyum mendengarnya memanggilku Nak padahal kami berdua belum lama saling mengenal satu sama lainnya. “Kiri, Pak.” teriakku. Bus berhenti lalu aku turun dengan kaki kiri terlebih dulu. Dari luar, aku melihat si
kakek berdiri melambaikan tangan. Aku balas lambaian tangannya. Sejenak kupandangi tubuh si kakek dari kejauhan. Sosok yang masih tampak tegap meski usianya kuperkirakan sudah menginjak tujuh puluh tahun. *** Kutelusuri jalan kampung. Berpapasan dengan dua orang remaja putri tanggung. “Mas, wajahnya kok dicoretcoret, mirip orang stres.” celethuk salah satunya ketika melihat wajahku. Aku langsung menunjuk ikat kepala warna merah putih yang kukenakan. “Oooo.. jadi Pahlawan tho.” koor keduanya serempak. Kulanjutkan langkahku. Tapi baru beberapa langkah, aku berhenti. Sayup-sayup kudengar kedua remaja putri tanggung itu sedang berbincang tentang tugas sekolahnya. “Kamu sudah dapat bahan buat tugas sekolah siapa sosok superheromu?” “Belum, aku masih bingung. Kamu bagaimana?” “Belum juga, kira-kira siapa ya?”
“Batman, Superman, Iron Man, Wonder Woman, Captain America bagus juga ya.” Entah kenapa, aku jadi ingin nimbrung dalam perbincangan keduanya. “Bagaimana kalau superheronya para Pahlawan nasional yang gagah berani mengusir penjajah dalam perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia. Mereka tak punya kemampuan khusus apalagi peralatan canggih. Hanya bambu runcing.” Keduanya kaget mendengar aku yang tiba-tiba ikut campur. Lalu melenggos dan pergi berlalu tanpa berucap sepatah kata pun. Aku mengurut dadaku sendiri. Membayangkan banyak generasi mendatang yang tak lagi menghargai apalagi mau mencintai para pahlawan negeri sendiri yang sudah berjuang melawan penjajah. Dan malah memuja-muja pahlawan ciptaan luar negeri. “Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa Pahlawannya,” batinku sambil melepas ikat kepala warna merah putih lalu memandanginya lekat-lekat. Kuhela napas panjang. Kukembali melangkah tapi kali ini berbalut kesedihan di hati.n
Akhirnya Terima Tali Asih SETELAH menunggu, akhirnya warga Desa Rahayu Kecamatan Soko menerima tali asih pengganti kompensasi dampak flare Control Processing Area (CPA) Lapangan Mudi, Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ) di Balai Desa setempat (11/09). Disaksikan Wakil Bupati (Wabup) Tuban, perwakilan dari JOB P-PEJ dan SKK Migas menyerahkan secara simbolis tali asih berupa beras kepada perwakilan warga. Nusdhi Septikaputra, Field Manager JOB P-PEJ, mengatakan tali asih ini disesuaikan dengan kesepakatan penyelesaian dampak flare, 12 April 2017. Hasil kesepakatan bersama, diberikan tali asih untuk empat bulan. Pemberian tali asih ini memerlukan anggaran Rp 1.122.400.000, dibagikan kepada KK Ring 1,2,3 dan 4 sesuai ketentuan yang disepakati. Harapannya, sete-
No. 234 n Oktober 2017
lah diserahkan dapat memberikan manfaat serta digunakan semestinya. Ke depan perusahaan berupaya memperbaiki kinerja. Saat ini dimulai pemasangan kompresor yang akan mengurangi api flare sehingga tidak berdampak atau meminimalisir dampak terhadap masyarakat sekitar. Wakil Bupati (Wabup) Tuban, Ir. H. Noor Nahar Hussein, M.Si, mengatakan, tali asih yang diberikan adalah hak masyarakat yang terdampak flare. Perolehan selama 4 bulan harus disyukuri, setelah proses panjang yang telah dilalui bersama. Semua harus menghormati kesepakatan yang telah dibuat. Pada Februari 2018 nanti, kontrak JOB P-PEJ akan berakhir dan ditunjuk operator migas baru, sesuai kabar yang beredar akan dipegang Pertamina Hulu Energi (PHE).n kdg
37
S ASTRA dan BUDAYA
Ritual Pengetan
Wulan Suro Ature : Kresno Aji
T
anggal 1 Muharam, minangka pengetan taun anyar Islam dipengeti dening warga Jawa kanthi maneka warna. Kenang apa kok 1 Muharam iki dadi sawijine bab kang sakral tumraping warga Jawa? Bab iki amarga proses akulturasi budaya Islam lan Jawa kang dumadi nalikane jaman pamarentahan Sultan Agung. Sadurung dumadine proses akulturasi, wong Jawa isih nganggo penanggalan Saka tinggalan Aji Saka kang migunakake metode srengenge. Nalika iku ing dalem taun 1555 Saka Hindu kang padha karo taun 1633, kangjeng Sultan Agung netepake konsep penanggalan Jawa, saka adhedhasar puteran srengenge (Syamsiyah) diganti mawa rotasi Mbulan (Komariah). Pengantian sistem penanggalan iki lumaku ana wewengkon pulo Jawa lan Madura, nanging ora kalebu Banten. Amarga wektu kuwi Banten dudu wewengkone Mataram Islam. Bab iki bisa diwaos ana ing Primbon Adji Çaka Manak Pawukon 1000 Taun kang ditulis nganggo basa Jawa. Nalika iku, penggantian penanggalan Saka Hindu marang Saka Islam dumadi ing taun 1555 Saka kang bebarengan karo tanggal 1 Muharam 1043 Hijriah. Bebarengan uga karo tanggal 8 Juli taun 1633 Masehi. Penanggalan anyar kasebut ora banjur ngilangi taun 1555 Saka, nanging nerusake taun sing ana. Saliyane iku, uga ngganti jeneng sasi / wulan, saka basa Hindu / Sansekerta dadi basa Arab utama memper Arab. Nanging jeneng pasaran, pawukon apa dene taun tetep nganggo jeneng Jawa asli ora malih. Ing kene katon kawicaksanane Kangjeng Sultan Agung ing babagan agama, budaya lan politik. Maneka Warna Pengetan ing Sasi Suro Ing sadengah papan ing tanah Jawa, sasi Suro dipengeti kanthi maneka cara. Ing kraton Surokarta Hadiningrat, saben malem siji Suro bakal nganakake arak-arakan kebo bule kang diwenehi jeneng Kyai Slamet. Kebo bule minangka kewan kang dikramatake dening kraton lan sawetara warga sakupenge kono. Sedheng ing tlatah kraton Ngayogyakarta dhewe pengetan sasi Suro dianakake kanthi tapa bisu ngupengi beteng kraton, kanthi nggawa piranti pusaka. Lelaku tapa bisu iki kaanakake ing malem Suro, wanci tengah wengi nganti tabuh telu sadurunge subuh. Kabeh sing melu nglakoni ora oleh alok apa maneh nganti ngobrol nganti
38
rampung anggone ngayahi lelaku. Sedheng esuke dianakake Grebeg Suron, yaiku arak-arakan tumpeng gedhe sing digawe dening kraton lan diarak tumuju ing alonalon. Sawise tekan alon-alon, para warga biyasane padha dene rebutan isi tumpeng. Ana sing oleh segane, lawuhe apa dene campurane. Rata-rata para warga kang padha melu rebutan sega tumpeng raseksa iki ora kanggo didhahar dhewe, nanging saperlu kanggo ngalap berkah. Muga-muga apa sing disuwun sadurunge rebutan sega tumpeng iki diijabahi dening Gusti Allah. Ing kutha Ponorogo Jawa Wetan, pengetan sasi Suro uga dikantheni acara Grebeg Suron. Adicara iki dipandhegani dening pamarentah Ponorogo mligi kanggo grmbakakake budaya lan wisata. Mung sing aeng nang kene, yakuwi dianakake Festival Reog Nasional kang dieloni para seniman reog ing sadengah Nuswantara. Saliyane iku uga dianakake larung sesaji ing tlaga Ngebel. Iki sing mbedakake karo acara grebeg Suron ing Jawa Tengah. Ing papan-papan liyane, pengetan sasi Suro kalek-sanakake kanthi adus ing sendhang-sendhang utawa padusan liyane. Uga ana sing nganakake ritual kungkum nang kali tempuran, kaya kang biyasa dianakake nang Semarang. Ritual iki diwiwiti sepisanan dening Pak Harto suwargi (mantan Presiden RI kapindho), kang lumaku terus nganti saiki. Lelaku Pengetan Suro tumraping pribadi Menawa panjenengan kepengin nglakoni tarak brata ing sasi Suro kanggo pribadi, bisa katindakake ing ngisor iki. 1. Siram jamas (jinabad), siram iki bisa katindakake ana ing sendhang, belik apa dene tempuran. Sing penting niate kanggo reresik awak, jiwa raga kita pribadi. 2. Melek-melekan tengah wengi, sokur dene bisa nglakoni tapa bisu, kanthi mlaku-mlaku ngubengi kampung utawa dhusun ing tengah wengi nganti ngarepake subuh. 3. Nglakoni pasa Suro, pasa iki paedahe kanggo reresik diri pribadi lan bisa kanggo kajat liyane. Anggone nglakoni bisa sarana ngebleng menawa wis kuwat apa dene kaya pasa ing sasi romadon kae. Jumlah dinane ganjil, kaya ta: sedina, telung dina utawa pitung dina. 4. Dedonga ing tengah wengi, ing latar utawa papan sing ora katutupan pyan. 5. Nyadran ing sareyane para leluhur utawa wong tuwa sing wis sumare. 6. Ing malem kawolu, gawe dhaharan arupa bubur Suran. Bubur iki arupa beras kang digawe bubur, diwenehi santen lan pandhan. Sabanjure diparingi jangan arupa opor lan sambel goreng, kanthi lawuh krupuk urang, bergedel, endhog dadar, timun, kacang goreng lan liya-liyane gumantung karepe ati. Nuwun.n (Saka maneka sumber lan pengalaman penulis)
No. 234 n Oktober 2017
T@pRose
Integrasikan
Data Kemiskinan D
alam waktu dekat, Tuban akan memiliki data kemiskinan tunggal, yang di antaranya dikontribusikan oleh adanya integrasi pengembangan sistem informasi untuk pengelolaan data kemiskinan. Demikian disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Integrasi Data dan Keamanan Informasi Dinas Komunikasi dan Informatika (DKI) Kabupaten Tuban, Agus Setiawan, S.E. Pak Agus, sapaannya, menerangkan, selama ini kita memiliki data kemiskinan dari beberapa sumber yang berbeda, antara lain berasal dari Pusat Data Terpadu (PDT) tahun 2015, data kemiskinan Program Keluarga Harapan (PKH), program Beras Terpadu (Rastra), dan Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Tentu saja, sumber yang tidak sama memberikan data yang berbeda. Mantan Kepala Sub Bagian Keuangan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Tuban ini, mengungkapkan, pihaknya akan melakukan sinkronisasi data dari empat sumber tersebut. Nantinya, apabila terdapat duplikasi data, data tersebut akan kita eliminasi sehingga hanya akan muncul satu saja. Selanjutnya, bapak empat anak ini, menyatakan, perpaduan data ini yang akan menjadi data kemiskinan hasil sinkronisasi. Setelah sinkronisasi selesai dilakukan, tambahnya, akan ditindaklanjuti dengan validasi lapangan secara bertahap. “Setelah data itu disinkronisasi, selanjutnya dilakukan validasi lapangan dengan pelaksana dari Bappeda Tuban. Kebetulan Kepala Bappeda juga sekaligus sebagai Sekretaris Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan di Kabupaten Tuban,” katanya. Harapannya, sinkronisasi data kemiskinan akan melahirkan data kemiskinan tunggal yang akan dituangkan dalam Surat Keputusan (SK) Bupati. Hal ini dimaksudkan agar data tersebut dapat dijadikan rujukan untuk program-program perlindungan sosial serta penanggulangan dan pencegahan kemiskinan, baik itu yang didanai oleh Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) maupun Anggaran Pendapatan Belanja Nasional (APBN), sehingga bisa tepat sasaran. Selain pengelolaan data kemiskinan, Pak Agus, menyebutkan, pihaknya sudah melakukan integrasi data kepegawaian antara aplikasi gaji yang ada di
No. 234 n Oktober 2017
Pak Agus. (ydh)
Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) dan Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian (SIMPEG) pada Badan Kepegawaian Daerah. Namun, karena terdapat perubahan aplikasi SIMPEG, maka akan segera disesuaikan dan diintegrasikan lagi. Berdasarkan keterangan mantan Kepala Seksi Akuntansi Dinas Pedapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) ini, pihaknya kini juga dalam proses pemetaan data untuk integrasi e-planning dan e-budgeting. Targetnya keseluruhan proses integrasi bisa selesai pada akhir tahun ini. Hal-hal yang sudah disebutkan di atas, tutur alumni Universitas Brawijaya ini, merupakan kewenangan Seksi Integrasi Data dan Statistik. Untuk statistik, pihaknya akan melakukan publikasi Kecamatan Dalam Angka, Tuban Dalam Angka, dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang dulu dikerjakan oleh Bappeda. Untuk pelaksanaannya, DKI Tuban menggandeng Badan Pusat Statistik yang ada di Tuban. Komitmen Laki-laki berkumis yang berasal dari Bojonegoro ini, menegaskan, komitmen merupakan faktor penting pada proses integrasi data. Untuk itu, perlu ada kesepakatan di antara Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang ada agar prosesnya bisa dilaksanakan dengan mudah dan lancar. “Karena kalau ada keinginan dan tujuan saja tanpa ada komitmen juga akan akan susah dilaksanakan. Misalnya, jika OPD masih mengedepankan ego sektoralnya, maka proses integrasi tersebut juga akan terhambat. Ke depan, Pak Agus berharap, Tuban memiliki data center. Jika belum bisa terwujud secara fisik, imbuhnya, setidaknya bisa diupayakan adanya pusat data secara substansi data. Artinya, pihaknya mempunyai data yang lengkap untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Sehingga, siapapun yang membutuhkan data bisa langsung datang ke DKI Tuban.n ydh
39