Data Loading...
Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I - Tanah di Bawah Angin - Anthony Reid Flipbook PDF
Buku ini tentang perjalanan sejarah Asia Tenggara dalam perdagangan maritim Internasional.
146 Views
97 Downloads
FLIP PDF 18.47MB
ASIA TENGGARA DAlAM KURUN NIAGA 1450-1680
ANTHONY REID
ASIA TENGGARA DAlAM KURUN NIAGA 1450-1680 Jilid I Tanah di Bawah Annin
Alih Bahasa: Mochtar Pabotinggi Kata Pengantar: Onghokham
Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Jakarta, 2014
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KD1) Reid, Anthony Asia Tenggara dalam kurun niaga 1450-1680/Anthony Reid; penerjemah: MochtaJ' Pabotingi; kata pengantar: Onghokham-Ed. I. Cet.3-Jakarta: yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2014. xxxiv + 322 him.; 24 cm Judul asli: Southeast Asia
in the Age ofCommerce 1450-1680
ISBN 978-979-461-107-7 (no. Jil. ungkap) ISBN 978-979-461-108-1 (jil. 1)
I. Asia Tenggara-Perdagangan. I. Judul II. Pabotingi, Mochtar 380.109.59 Judul asli: SoutheastAsi an i the Age ofCommerce 1450-1680
Volume One: The Lands Below the Winds Copyright© 1988 by Yale Univap pe11duduk Aceh 1618-16[9 {Reid 1980: 244} d:in terbadap penduduk kot:i y:ing jurnl:ihny:i be-J;:i.r di P:i.t:ini �kit:i.r t:lhun 1600. (g) Llju pcrtumbuh:1n yang rtl:u..ifrend:ih pad.a abad ke-19 d:t!)lll di1ctangk:in dalam jangka '11.•:iktu peperangan in1crnal di Sunutera Barnt, Tapanuli, dan Acc:h. (h) Tabir.ln Ncctcrburgh cahun 1975$C'b8n)'elas kali di-rombak-nya juga, belum (baik di) baiki; sudah itu berbaju lalu berdestar, itu pun demikian juga, belum baik dibaiki-nya; berscbai pun demikian juga, empat lima-belas kali belum bail< dibaiki-nya. Sudah itu, maka turun hingga pintu, (berbalek pula pada isterinya),kata-nya, "Tuan hamba! tegur oleh tuan hamba jika chedera-nya pakaian hamba ini. Jika belum baik, di-tegur oleh isteri-nya, di-rombak-nya pula, dibailci-nya.
-Sejarah Melayu 1612: 153 Besarnya perhatian yang diberikan untuk penampilan pribadi juga berlaku pada pakaian, terutama perhiasan. Kekayaan paling banyak ditunjukkan pada kedua hal ini, dan orang miskin sekalipun berusaha sedapat mungkin untuk tampil
dengan pakaian yang apik pada acara-acara penting (Sangermano 1818: 159; Finlayson 1826: 373). Orang Eropa seringkali tercengang melihat cara orang Asia Tenggara menampilkan diri mereka dengan emas seharga ratusan dolar di tubuhnya (Alcina 1668A: 21-22); MacMicking 1851: 134). Terlebih lagi raja raja, seperti Sultan Ternate yang berjumpa dengan Drake dalam pakaian benang emas yang mewah, perhiasan-perhiasan dari emas, dan kalung raksasa "dari emas mumi" (Drake 1580: 70), atau seperti Sultan Johor pada tahun 1606: "Di lehemya berjuntai tiga buah rantai emas yang bertatahkan permata-permata,
di lengan kirinya melingkar dua buah gelang emas yang tebal dan sebuah lagi di lengan kanannya. Selain itu ia juga memakai enam cincin istimewa pada
jari-jarinya, dan juga menyelipkan sebilah pedang di pinggangnya, yang dibuat dengan bentuk khas dan disebut kris (keris). Gagang dan sarungnya dibuat dari emas murni tempaan yang dihiasi lagi dengan tatahan intan berlian, permata, nila kandi, yang membuat orang Belanda menaksir keris tersebut seharga 50.000 gulden" (Verken 1606, dikutip Kratz 1981: 70). Terlepas dari keborosan demikian, perbedaan antara orang kaya dengan orang miskin, raja dan orang biasa, dalam hal pakaian tidaklah semencolok di zaman Eropa praindustri, di mana tempat dan pekerjaan tiap orang bisa terbaca pada model pakaian yang diperuntukkan baginya (Sennet 1977). "Di Pegu," tulis Fredirici (1581: 268) "gaya pakaian mereka semuanya sama bagi
kaum bangsawan dan orang biasa: perbedaan satu-satunya ialah pada kehalusan kainnya." Ketentuan pakaian sering mengkhususkan pada warna-wama atau
pola-pola tertentu bagi berbagai tingkatan kebangsawanan, begitu juga dalam hal sejauh mana perhiasan emas boleh dipakai. Larangan memakai wama kuning bagi orang Melayu kebanyakan dikaitkan dengan raja Islam pertama di Melaka
96
KEBUOAYAAN MATERIAL j Melayu 1612: 84; Pires 1515: 265), meskipun hal pada awal abad ke-15 (Searah itu jelas juga meneruskan pandangan yang mengaitkan emas dengan raja-raja dari zaman yang lebih tua (Symes 1827 I: 300; Brugiere 1829: 192). Tetapi yang mengejutkan para pengamat dari Eropa, barang-barang pakaian itu sendiri sama saja bagi semua orang ("Relation" 1572: 1666; Mandelslo 1662: 115; Ibrahim 1688: 56). Bagi semua pengunjung Asia Tenggara, apakah dari Eropa, Cina, atau Asia Barat, "ketelanjangan" penduduk merupakan suatu kejutan. Yang mereka maksudkan ialah bahwa orang Asia Tenggara, hampir tanpa kecuali, bertelanjang kaki, bertelanjang kepala (kecuali kaum Muslimin clan sejumlah bangsawan), clan seringkali juga telanjang dari pinggang ke atas (Gambar !Sa clan !Sb). Bagi orang Spanyol tampaknya sangat menghinakan bahwa "orang Moro buruk yang kerdil, telanjang, clan tak beralas kaki"-yaitu Sultan Aceh-harus dihadapi orang Portugis dengan susah-payah di medan perang (Sande 1576: 65). Apakah mereka mengerling "buah dada seputih susu" milik gadis-gadis Kamboja, seperti Chou Ta-kuan (1297: 15), atau mencoba menutupinya, seperti para pendeta Spanyol di Filipina, orang luar cenderung menilai pameran daging seperti itu sebagai primitif atau sembrono. Para pengamat yang lebih hati-hati menyaksikan bahwa sesungguhnya orang Asia Tenggara sangat pemalu-"yang paling hati-hati di dunia"-menyangkut alat kelaminnya. Pelaut-pelaut Prancis harus memakai sarung baru boleh berenang di sungai (La Loubere 1691: 26). Pakaian yang dijahit lengan atau kakinya, tampaknya baru belakangan saja masuk ke Asia Tenggara, kecuali Vietnam. Ketika orang Portugis tiba, jubah hanya dipakai oleh kaum Muslimin atau kalangan yang berhubungan erat de ngan mereka (khususnya orang Tagalog), oleh kalangan atas Birma, atau sebagai sesuatu yang dipakai langka di sana-sini oleh mereka yang sanggup membelinya. Dua penyebabnya boleh jadi adalah lunaknya cuaca clan kurang tersebamya keahlian jahit-menjahit Akan tetapi, penerimaan atas jubah juga diperlambat oleh bertahannya pandangan bahwa tubuh itu sendiri adalah sesuatu yang indah. Jauh sebelum munculnya pakaian jahitan atau bahkan pakaian buatan mesin, orang Jawa, Bali, clan Thai membiarkan sebanyak mungkin bagian atas tubuhnya telanjang dalam acara-acara resmi, sambil melapisi kulitnya dengan harum-haruman clan kosmetik pewama. Crawfurd (1820
I: 29) masih bisa bicara
tentang orang Jawa bahwa "jika pun berpakaian lengkap, mereka tetap nyaris telanjang." Sama halnya, pada pesta perkawinan orang Sulawesi Selatan di abad ke-19, pengantin pria tetap bertelanjang dada, sedangkan pengantin wanita clan
97
ASIA TENGGARA DALAM KURUN NIAGA 1450-1680 gadis-gadisnya memakai baju (jubah) yang begitu tembus pandang sehingga sama sekali tidak menghalangi pandangan mata (Valentijn 1723 III: 118; Brooke 1848: 81). Pada saat-saat penuh keramaian, kebaya, yakni pakaian longgar bagian alas tubuh yang dipakai wanita dan tampaknya mencontoh pakaian orang Portugis (Winstedt 1935: 98), biasanya menggunakan bahan tembus pandang. Anak-anak clibiarkan telanjang hingga umur enam sampai sembilan tahun, kecuali untuk medalion atau cache-sexeyang digantungkan di depan kelaminnya. Selepas usia tersebut, pakaian dasar bagi lelaki maupun perempuan ialah selembar pakaian yang tidak dijahit yang dililitkan sekali atau lebih pada tubuh. Adakalanya wanita (terutama setelah masuknya Islam) mengangkatnya lebih tinggi guna menutupi dada; di tempat-tempat lainnya, mereka melilitkannya pada pinggang seperti kaum pria. Pria Thai dan Birma (belakangan juga wanita Thai) melilitkan ujung pakaiannya hingga antara kedua kaki dan menyelempitkannya pada pinggang seperti orang memakai dhoti di India. Wanita Birrna melilitkan pakaian di tubuh mereka hanya sekali, sehingga pakaian itu terbuka jika berjalan
dan memperlihatkan kakinya hingga ke paha (Gambar 13). Berbagai pengamat awal dari Eropa banyak meributkan ketidaksopanan cara berpakaian ini, dan mengacu penyebabnya pada seorang ratu yang ingin menghindarkan pria Birma dari kecenderungan homoseks (Fredirici 1581: 269; Sangermano 1818: 157158). Seperti halnya banyak cerita demikian, lebih banyak sikap orang Eropa daripada orang Birma yang tersirat di situ. Di Jawa, hingga tersebarnya Islam, di Siam hingga abad ke-18, dan di Kamboja, Bali, serta Lombok hingga belum lama berselang, pelengkap pokok bagi sarung yang dililitkan ialah selendang, yang biasanya diletakkan di atas dada dengan kedua ujungnya dilepaskan di atas bahu (Pigeaud 1962: 158;
La
Loubere 1691: 26; Zollinger 1847: 334). Dengan kedatangan Islam, kaum wanita Jawa tampaknya menambahkan satu pakaian lagi yang dililitkan secara ketat sekitar dada, dan menekan buah dada mereka
(Verhael 1597: 29; Crawfurd 1820
I: 210; dan lihat Gambar !Sa). Pola dasar pakaian Asia Tenggara ini mengalami perubahan antara abad ke-15 dan ke-17. Selera pembaruan, dalam pakaian maupun bidang-bidang lainnya, merupakan ciri kurun niaga serta pertumbuhan kota. Sebuah kronik Pegu menceritakan pemerintahan Ratu Shinsawbu ( 1453-1472) bahwa saudagar asing berdatangan dalam jumlah besa.r sehingga "melimpahlah pakaian pakaian yang tidak lazim dan orang-orang be.rpakaian yang bagus-bagus" (kutip
98
KEBUDAYAAN MATERIAL
Gambar 15a. Gaun wanita dan pria Jawa biasa (kiri). sedang pergi ke pasar Banten, dan pakaian
pedagang kaya dengan pembantunya (kanan), sebagalmana dlsajlkan kemball oleh penguklr Belanda, berdasarkan deskripsi dalam Lodewycl U> )> -I m z Q Q )> ;o )>
� s;: :s::
0 ""
"' c ;o c z z
�
I
-
�
/"'I
-'� .i���
Gambar 16. Luklsan Boh tohun 1940-an. mclukiskan pancn kapas tradisional (VIDOC. Royol Tropical Institute, Amsterdam)
"" "' 0 ' -
� 0
KEBUDAYAAN MATERIAL pantai antara Padang dan Indrapura di pantai barat, yang memenuhi seluruh kebutuhan Minangkabau, hingga Belanda menekan tanaman itu dan diganti dengan lada pada penghujung abad ke-17 (Oki 1979: 147-148). Sutera tidak terlalu disenangi, meskipun pohon murbei dan ulat sutera mungkin berasal dari Asia Tenggara. Keduanya secara alamiah terdapat di bagian-bagian Indonesia, di mana ulat itu diperkirakan sebagai jenis polifoltin awal yang bisa berproduksi kapan saja sepanjang tahun. Bagi orang Cina yang sudah ahli dalam mencangkok pohon dan memelihara ulat sutera secara padat-karya, cara orang Indonesia seperti yang berlaku di Sumatera bagian utara itu tampaknya kasar dan tidak teratur, serta menghasilkan sutera kuning yang kurang halus (Ma Huan 1433: 119; Groeneveldt 1880: 93). Ludovicodi Varthema (1510: 234) melaporkan bahwa di sana ulat sutera tumbuh di hutan secara alamiah, begitu pula di kebun-kebun. Dua kronik Melayu mencatat sebuah legenda bahwa pendiri negara pantai pertama Islam yang penting di negeri-negeri di bawah angin, yakni di Pasai, Sumatera bagian selatan, merniliki kemampuan ajaib untuk mengubah ulat menjadi emas dan perak (Hikayat Raja-Raja Pasai: 51; Sejarah Melayu 1612: 70). Ini mungkin mencerminkan pentingnya memelihara ulat sutera selama pertumbuhan awal Pasai. Sutera di daerah tersebut merupakan sebuah sumber pemasok yang penting bagi Sumatera dan bahkan India hingga perempat pertama dari abad ke-17 (Barros 1563 III: i, 508; Beaulieu 1666: 99; Nicholls 1617: 73). Albuquerque mengenal sutera Pasai ketika ia dalam perjalanan untuk menaklukkan Melaka pada tahun 1511. la menyuruh ahli strateginya dari Genoa, Giovanni da Empoli, kembali dari India untuk merundingkan pemasokan seluruh kain sutera yang bisa dihasilkan Pasai. Empoli diberitahu raja bahwa pemasokan kain sutera memerlukan bayaran seratus ribu dukat dari Portugis, "sama harganya sewaktu dijual kepada para pedagang Gujarat" (Empoli 1514: 148). Kendati itu sangat dilebih-lebihkan, hasil sutera di Sumatera bagian utara (yang ditaklukkan oleh Aceh di tahun 1520-an) merosot pesat pada abad itu, sebab sutera Cina semakin banyak tersedia dan tidak banyak yang dilakukan untuk mengganti pohon murbei yang tumbuhnya dicampur dengan padi dan lada. $umber penting lainnya dari sutera kuning produksi bumiputera ini ialah Sulawesi Selatan, yang penanamannya terus dilakukan oleh negara Bugis Wajo dan berlanjut hingga zaman modern. Pengolahan sutera ini, yang melahir-
105
ASIA TENGGARA OALAM KURUN NIAGA 1450-1680 lean sarung Bugis yang berwarna-wami, dicatat oleh Couto (1645
V: ii, 86) atas
dasar laporan dari tahun 154(}.an. Di negeri-negeri Benua, teknik produksi sutera tampaknya dipengaruhi oleh cara Cina yang jauh lebih sulit. Sebuah sumber Birma menerangkan di perkenalkannya ulat sutera dari Cina kepada Raja Besar Anawhrata pada abad
ke-11 (Shway Yoe 1882: 268). Orang Thai yang mungkin telah mempelajari cara pembuatan sutera dari Cina sebelum abad ke-11, memperkenalkannya kepada Kamboja selarna kunjungan Chou Ta-kuan (1297: 30)-meskipun di pusat dataran rendah Thai pohon murbei terbukti tidak mungkin ditanarn (La Loubere 1691: 13). Hanya di Vietnam produksi sutera bisa mengatasi produksi kapas. "Seluruh penduduknya memakai sutera" (San Antonio 1604: 24). Teknik orang Vietnam dalam mengolah dan mewarnai sutera tampaknya sama maju serta telitinya dengan teknik orang Cina dan Jepang pada abad ke-17, serta produknya banyak diminta oleh pedagang-pedagang asing. Akan tetapi, sebagian besar ekspor ialah dalam bentuk sutera mentah, yang diambil oleh para pedagang Jepang dalam jumlah besar hingga dihentikannya perdagangan ini oleh Tokugawa pada tahun 1617 (Nguyen 1970: 53, 93-94, 190). Memintal benang, apakah dengan roda yang sederhana atau dengan ge lendong dan tongkat kapas, mewamainya dengan wama nila, kunyit jingga, sekam (merah) kapas, dan berbagai sari akar-akaran, serta menenun kain pada alat tenun ikat belakang yang sempit, semuanya itu adalah pekerjaan kaum wanita. Pola dasamya berlaku umum bagi banyak masyarakat praindustri di mana setiap rumah tangga berusaha untuk berswakarya dalam hal pakaian. "Di setiap gubuk (orangJawa) terdapat alat pinta1 dan tenun" (Raffles 1817
I: 86; c£ Symes 1 827
I: 229) Gervaise 1701: 74). Tapi bahkan di mana pun terdapat keahlian regional yang intensif menyangkut produksi pakaian untuk ekspor, bidang usahanya tetap berada di tangan kaum wanita, berbeda dengan pola di India dan Cina. Crawfurd (1820
I: 178) memandang kenyataan ini sebagai pertanda rendahnya
perkembangan Asia Tenggara di bidang teksti l . Hal itu mungkin justru harus lebih dilihat sebagai bagian dari pandangan dualistis terhadap dunia, yang memandang sebagian besar tugas-tugas sebagai eksplisit milik wanita dan pria. Teknologi produksi pakaian, anehnya seragam. Roda pintal tarnpaknya belum sampai ke Filipina pada tahun 1600 (Scott 1982: 528), tapi roda pintal ditemukan sampai jauh ke timur sejauh Sulawesi Selatan dan Maluku. Alat tenun ikat belakang yang ditemukan Chou Ta-kuan di Kamboja begitu kecilnya,
106
KEBUDAYAAN MATERIAL sehingga boleh dikatakan sama sekali bukan alat tenun, dan digunakan oleh kaum wanita di seluruh wilayah tersebut. Produksi berjalan lambat. Diperhitungkan bagi Jawa abad ke-18, bahwa seorang wanita memerlukan waktu satu bulan untuk memintal satu pon benang kapas dan sebulan lagi untuk menenun sehelai pakaian yang panjangnya sepuluh yard (Hooijman 1780: 423-425; cf. Crawford 1820 I: 178-179). Masalah utamanya a i lah sempitnya pakaian yang dipaksakan karena alat tenun ikat belakang, sehingga hanya "tenunan yang pendek, sempit, dan kecil" yang dihasilkan (Galvao 1544: 123). Dua helai harus dijahit bersama untuk membuat sarung dengan panjang yang dibutuhkan gaya Melayu Muslim yang baru. Sebaliknya, dalam pemakaian warna-warna clan desainnya, terdapat suatu tingkat keahlian yang tinggi. Pada abad ke-16, tampak bahwaJawa limur, Bali, clan Sumbawa merupakan pengekspor utama pakaian, yang bertolak dari penanaman kapas secara luas di daerah-daerah yang lebih kering dari ketiga pulau ini. Pakaian orang Jawa sudah mencapai Sumatera bagian utara pada awal abad ke-15 (Groeneveldt 1880: 88), clan di penghujung abad ke-16 kain lurik dari Panarukan clan Pasuruan masih populer di Melaka (Lodewycksz 1598: 100-101). Tapi bagi pasar Maluku, yang penting, bahkan orangJawa berhenti di Gresik guna membeli pakaian orang Madura, atau lebih baik lagi, di Bali atau Sumbawa untuk membeli kain-kain ikat yang berwarna-warni yang membuat pulau-pulau ini terkenal (Heemskerk 1600: 448, 452; Lodewycksz 1598: 119120). Penenun Jawa terhambat oleh ketidakmampuannya menenun suatu pola ke dalam pakaian dengan benang yang berbeda-beda wamanya, sedangkan metode batik untuk menciptakan suatu rancangan berwama ke dalam pakaian dengan melilin bagian-bagian yang tidak hendak diwarnai, belum lagi bisa bersaing secara ekonomis, disebabkan besamya tenaga yang diperlukan. Pada abad ke-17 Sulawesi Selatan bangkit sebagai pengekspor pakaian terkemuka di kepulauan. Proses itu jelas diperkuat oleh berhasilnya Makasar menjadikan dirinya sebagai titik pusat bagi para pedagang rempah-rempah bukan Belanda, yang ingin berlayar ke Maluku dan oleh penaklukannya atas pusat-pusat ekspor seperti Sumbawa (1617) serta Selayar. Maluku menjadi pasar yang penting pada tahap awal ekspansi ekspor ini. Pujian juga harus diberikan kepada semangat pembaruan yang membuat Makasar terkenal pada abad ke-17 clan Bugis pada abad ke-18, karena pakaian mereka mencapai suatu reputasi istimewa akan tenunannya yang halus dan kuat serta warna-warnanya yang cerah-terutama pola kotak-kotak yang disenangi oleh kaum Muslimin 107
ASIA TENGGARA DALAM KURUN NIAGA 1450-1680 (Rouffaer 1904: 4; Forrest 1792: 79). Penanaman clan penenunan kapas berpusat di Pulau Selayar clan distrik Bulukumba serta Bira di Sulawesi Selatan. Keduanya
terletak, secara strategis, dalam perjalanan ke Maluku, namun terlalu kering clan gersang untuk penanaman padi. Oleh karena itu, kaum pria di kedua daerah ini mengkhususkan diri pada pembuatan kapal, sedangkan kaum wanitanya
menenun. Menjelang tahun 1660-an, pakaian Selayar diperdagangkan melalui Makasar kc pelabuhan-pelabuhan di Borneo, Sunda Kecil, clan Manila (Speelman 1670A: 103-107; 112-113): Dengan jatuhnya Makasar ke tangan Belanda pada tahun 1669, para pedagang Bugis mulai mendominasi perdagangan kapas dari Makasar, clan membawanya ke seluruh pulau dari dunia Melayu (Lennon I796:
271-272, 326; Marsden 1783: 52; Donselaar 1857: 302). Akan tetapi pakaian setempat tidak pemah dinilai setara dengan pakaian Gujarat yang kecemerlangan wamanya tidak akan bisa diimbangi oleh pakai an dari negeri-negeri di bawah angin. Ketika berusaha menekankan kebesaran suatu pemberian raja, sehuah kronik Thai menerangkan bahwa pakaian itu ditenun sepenuhnya dengan sutera impor "yang tidak dicampur dengan benang Thai"
(Traibhumikatha 1345: I76). Seorang raja Maluku yang kaya dengan
cengkeh memberikan hadiah perkawinan lima ratus helai pakaian yang sangat berharga, sutera patola yang dihiasi dengan warna-warni dari Gujarat, meskipun sehelainya di sana terkenal seharga setengah ton cengkeh (Pigafetta 1524: 76;
c£
Barbosa 1518: 198-199).
Karena pakaian-pakaian eksotis merupakan barang pengeluaran mewah yang terbesar, tingkat impornya merupakan indikator yang baik mengenai tingkat kemakmurannya. Di masa-masa ketika ekspor rempah-rempah serta hasil hasil lokal lainnya tidak terhambat, impor pakaian India secara besar-besaran mungkin mengisi kebutuhan penduduk perkotaan pada umumnya clan juga mencapai kalangan elite di pedesaan. Impor pakaian ke Melaka sekitar tahun
1510 menyita sebagian besar muatan lima belas kapal besar setiap tahunnya dari Gujarat, Coromandel, clan Bengal, yang diperkirakan oleh Pires (1515: 92; 269-272; cf. Meilink Roelofsz I 962: 87-88) senilai dengan setengah juta cruzado. -
Kira-kira separuh dari jumlah kapal ini mengangkut pakaian lndia ke Aceb pada paruh pertama abad ke-17 (Verhoeff16I 1: 242; Mundy 1667: 329-330, 338; Clark 1643: 282), ketika seorang pedagang Inggris di sana yakin bahwa dia dapat menjual sebanyak 4.500 corge (90.000 belai) kain India setiap tahun di sarnping
100 bahar (17 ton) kapas mentah (Nicholls 1617: 71). Ayuuhaya diperkirakan mengirnpor kira-kira 7.500 gulden (30.000 rial) kain India setiap tahun pada
108
KEBUDAYAAN MATERIAL abad ke-17 (Smith 1974: 259). Makasar jauh melampaui jumlah ini pada tahun 1630-an dengan konsumsi taksiran (antara lain untuk diekspor lagi) 120.000 rial menurut harganya di India, atau dua kali lipat dari itu menurut harga di Makasar (Coulson dan Ivy 1636: 294). Sebaliknya, ketika perdagangan mulai dipotong, seperti di Banten selama operasi militer Belanda, alat·alat pintal setem· pat menjadi sibuk dan segera terjadi pembalikan menuju swasembada dalam ha! pakaian (Coen 1617: 293; Meilink-Roelofsz 1962: 244, 258).
Kerajinan Emas dan Perak Sri Sultan Perkasa Alam Johan berdaulat ... raja yang mengampukan perbendahara'an deri-pada scni 'mas dan "'ni perak, dan dcri-pada galian 'mas yang dalam ncgri Priaman pada gunong negri Salida: yang berpayong 'mas bertimbalan yang brat-nya bcrratus kati; yang berpctcrana ·mas, yang bcrcbiu 'mas: raja yang mengampukan kuda yang berpelana 'mas. yang berrumbai-rumbaikan 'mas yang brat•nya berratus kati, yang bersckang 'mas bcpermaia. (Surat daripada Sultan lskandar M uda 1024 H (1612 M). dari SheUabear 1898: ,
127)
Perhiasan pribadi merupakan barang pengeluaran mewah yang utama setelah pakaian. Perhiasan emas khususnya senantiasa dicari sekaligus sebagai suatu cara menabung, suatu simbol kekayaan dan status, serta sebagai perhiasan. Emas
yang sangat murni dan luoak digunakan untuk tujuan itu, yang mudah diubah bentuknya, dipotong, atau dijual utuh atau sebagian menurut kebutuhan niaga. Meskipun hanya orang kaya saja yang memamerkan kekayaan secara berlebihan seperti raja Johor yang digambarkan tersebut di atas, bahkan anak-anak orang yang mempunyai sedikit kedudukan akan dihiasi dengan gelang dan anting· anting dari emas serta perak, meskipun hanya itu saja yang menyelamatkannya dari ketelanjangan (La Loubere 1691: 27; Goudswaard 1860: 347). Dengan beberapa pengecualian, negara-negara Asia Tenggara tidak mencetak koin emas atau perak sebagai alat pembayaran. Biaya pembelian sebagai gantinya dibagi menurut ukuran beratnya dalam emas atau perak dengan teliti. Para pedagang, oleh karena itu, harus menget.ahui bagaimana menimbang emas (di pulau-pulau) atau perak (di daratan) untuk menjalankan bisnis mereka. Chirino (1604: 363) menegaskan bahwa setiap orang Filipino membawa timbangan kecil untuk tujuan ini, dan orang-rang Tagalog pada awalnya mengejutkan orang Spanyol dengan menolak batu uji mereka yang digunakan untuk menguji emas dan perak, dan memeriksa mutu emas yang
109
ASIA TENGGARA DALAM KURUN NIAGA 1450-1680 ditawarkan untuk terlebih lagi pembelian dengan pangan dalam jumlah kecil (Sande 1577: 1(0) Pentingnya arti emas di ''tanah di bawah angin" ini jelas merupakan kon sekuensi dari banyaknya emas yang terdapat di sana-khususnya di Sumatera, Semenanjung Malaya, Luzon, Champa, dan Sulawesi bagian utara (lihat Peta 3). Hingga awal abad ke-17 tambang-tambang di daerah Minangkabau, Surnatera bagian tengah, merupakan daerah yang paling kaya akan emas di seluruh kawasan itu pada zaman Kerajaan Sriwijaya. Emas ditapis dari pasir sungai-sungai di sebelah timur dan ditambang di bukit-bukit Minangkabau. Dikabarkan bahwa pernah terdapat 1200 tambang emas di sana (Marsden 1783: 168; c£Eredia 1600: 238-239). Seorang tawanan berkebangsaan Portugis di Melaka menyaksikan bahwa sembilan hingga sepuluh bahar emas diimpor ke kota itu setiap tahunnya, yang dibawa sebagian dari Minangkabau dan sebagian dari Pahang di Malaya bagian timur (Araujo 1510: 28). Setelah jatuhnya Melaka ke tangan Portugis dan perluasan Aceh hingga ke pantai barat Sumatera, sebagian besar emas Minangkabau ini dibawa ke Aceh melalui Pelabuhan 1iku dan Pariaman. Hal ini memberikan kekayaan luar biasa kepada raja Aceh yang terkuat, Sultan Iskandar Muda (16071636), yang terkenal pernah memiliki seratus bahar emas (Beaulieu 1666: 55, 44; c£ Dobbin 1983: 23-26). Meskipun kekuasaan Aceh atas tambang-tambang emas Minangkabau itu lepas di tahun 1660-an, tambang-tambang baru muncul lagi di ujung yang lebih ke utara dari gugus Bukit Barisan yang mengandung emas dalam kawasan Aceh. Sebagaimana halnya di Minangkabau, kerja menambang emas sangat melelahkan, sangat berbahaya, dan banyak dilanda penyakit, tapi keuntungan bagi para pemodalnya di ibu kota luar biasa besarnya, serta memberi Aceh di penghujung abad ke-17 reputasi sebagai kota yang paling kaya di kawasan tersebut (Dampier 1699: 93-94; Ibrahim 1688: 174-175; Hikayat Pocut Muhamat: 114-115; Veltman 1919: 72-76).
Perdagangan emas di Filipina banyak dikuasai oleh orang Igorot dari perbukitan Luzon: "Mereka tidak sepenuhnya mengolah emas tersebut, juga tidak menyempurnakannya, mereka membawanya ke tempat-tempat tertentu di Ilocos, tempat mereka memperdagangkannya untuk membeli beras, babi, kerbau, selimut, dan barang-barang lain yang mereka butuhkan. Orang-orang 2
Kebanyakan ahli, tcrmasuk pula pcngamat E.ropa kontemporer scperti Barbosa (1518 ll: 175). meng· asumsikan bahar emas sama dengan lada em.as yakni 180 kilogram. Bagaimanapunjuga. Klinker's Nieuw M:aJcisch-Nt:dcrlandscb Woordcnbock, mcnyd:>uckan bahw;i lcetik.3 bcrat sebuah bahar cm;as hanya 7,.25 kilogram. Jika benar, impor Mdaka hanya sebesar 70 kilogram set:ahun, tidak mtngherankan.
110
KEBUDAYAAN MATERIAL
0
• •
•
. �.·,. - ·
·.
111
ASIA TENGGARA OALAM KURUN NIAGA 1450-1680 Ilocos menyempurnakan pengolahan dan penyiapannya, serta lewat mereka emas menyebar ke seluruh negeri itu" (Morga 1609: 261). Emas juga ditambang dan disaring di pegunungan utara Asia Tenggara daratan, yang berbatasan dengan daerah Yunnan yang kaya emas. Akan tetapi di negeri-negeri daratan, hanya Champa dan Vietnam bagian selatan di bawah pemerintahan Nguyen yang benar-benar mengekspor emas. Setelah ekspansi Vietnam ke Qiang-narn yang sebelurnnya masuk daerah Cham di abad ke15, raja-raja Nguyen sanggup menambang dan mengekspor cmasnya yang bermutu tinggi ke Melaka (Pires 1515: 115; Nguyen 1970: 90-91; Whitmore 1983: 376). Siam dan Birma memperoleh emas dari sumber-sumber Laos serta Shan di utara dan menggunakan semua yang mereka peroleh untuk perhiasan pribadi atau untuk menyepuh bangunan-bangunan agama yang terdapat di mana-mana di wi l ayah itu. Birma mungkin merupakan importir utama emas, terutarna dari Yunnan. Jawa jelas juga merupakan pengirnpor emas, sebab Jawa merupakan satu-satunya pusat penduduk yang tidak memiliki surnber sumber cmas scndiri pada masa ini. Van Goens (1656: 182-183) tcrhcran-hcran menyaksikan bagaimana cmas di Jawa masih lebih murah daripada perak. la hanya bisa memperkirakan penyebabnya pada penjarahan kuburan pra Islam yang begitu banyak emas telah ditanam, sehingga emas itu sebelumnya pasti pernah ditambang atau diimpor dalam jumlah besar-besaran. Perak tidak begitu dihargai dan tidak begitu banyak terdapat di Asia Tenggara, meskipun memang terdapat di banyak tempat di mana orang menambang emas-Sumatera serta perbukitan yang kini menjadi Birma bagian utara, Laos, dan Vietnam. $umber terbesar ialah tambang Bawdwin di daerah Shan pada salah satu anak Sungai lrawadi, yang diperkirakan telah menghasilkan rata-rata sekitar tiga ribu kilogram perak setahun dari abad ke-15 hingga ke-18, ketika perak diolah terutama oleh orang Cina (Deyell 1983: 222c223). Secara keseluruhan, Asia Tenggara relatif kaya dalam emas dan miskin dalam perak. Ada jaringan ekspor emas keluar: dari Sumatera dan Malaya untuk membeli pakaian India (Beaulieu 1666: 57-58); dari Filipina ke Meksiko sebagai "upeti" yang ditarik olch para penakluk dari Spanyol (Schurz 1939: 32); dan dari Vietnam bagian selatan untuk membayar sulfur dan barang-barang impor lainnya. Perak, yang tidak begitu penting artinya sebelum abad ke-16 kecuali di Binna dan Laos, selanjutnya mulai membanjiri wilayah itu. Bagi orang Jepang selama penjarahan singkatnya ke dunia perdagangan Asia pada abad ke-16
112
KEBUDAYAAN MATERIAL
dan awal abad ke-17, serta bagi orang Portugis, Spanyol, dan Belanda dengan persediaan perak yang melimpah dari Benua Baru, logam beiwarna kelabu ini menjadi kunci utama untuk membuka kekayaan Asia Tenggara. Selama abad ke-17, mata uang dari perak berangsur-angsur mulai menguasai seluruh pasar lokal. Dengan sendirinya perak juga semakin banyak tersedia untuk diolah kembali menjadi alat-alat rumah tangga. Kedudukan emas dan perak sebagai perhiasan penentu status serta investasi, memastikan bahwa di mana saja ada kekayaan, di situ pasti ada tukang emas. Tukang yang sama mengerjakan emas dan perak, serta perak sering dicampur dengan emas dalam perbandingan satu lawan dua (Veltman 1904: 346). Semua ibu kota kerajaan penuh deogan pandai-emas guna memenuhi keinginan para penguasa serta kalangan saudagar-bangsawan. Sultan Iskandar Muda saja kabarnya memiliki tiga ratus orang pandai-emas yang melayaninya di Aceh, dan dia berhasil menarik seorang tukang emas Prancis dari Laksamana Beaulieu (Beaulieu 1666: 90, 1(0). Banyak di antara pusat kerajaan yang kaya, seperti Surakarta, Jogyakarta, Tuban, dan Sidayu di Jawa, memantapkan suatu tradisi pandai-emas yang hidup terus setelah runtuhnya kerajaan, dan selanjutnya menjadi asal kaum pandai-emas yang berkeliling di luar daerahnya untuk menjual atau mengerjakan pesanan yang sifatnya sementara pada pusat-pusat yang baru. Sidayu pada tahuo 1868 memiliki 125 orang pandai-emas dengan 197 pemagaog (de Haan 1912 III: 217; Rouffaer 1904: 91-95). Kota Gedang, salah satu di antara desa Minangkabau yang terkenal dengan kerajinan emasnya, masih memiliki 347 orang pandai-emas di sekitar tahun 1890 ("Inlandsche" 1894: 315).
Penenunan benang emas dan perak ke dalam kain sutera berhias menjadi suatu kesenian yang berkembang pesat. !bu kota-ibu kota Islam yang letaknya di dekat sumber-sumber emas, terutama Aceh, Siak, dan Kota Gedang di Sumatera, terkenal dengan sarung, selendang, serta kerudungnya yang indah· indah. Utusan-utusan yang dikirim ke istana Aceh dihadiahi dengan pakaian· pakaian yang "banyak berjalin dengan emas, hasil kerajinan yang sangat piawai" (Lancaster 1603: 1 12). Terlepas dari kekayaan emasnya sendiri, Aceh sekali-sekal.i mengimpor emas dari Gresik di Jawa bagian timur (Vlamingh 1644: 609). Diperkirakan para empu di Jawa sanggup menarik keuntungan semata-mata dengan mengubah emas impor menjadi benang dan mengekspornya kembali.
113
ASIA TENGGARA DALAM KURUN NIAGA 1450-1680 Keahlian clan keindahan dari emas clan perak Asia Tenggara diakui di mana-mana. Bahkan Crawford (1820 I: 183) yang biasanya sinis mengakui bah wa di sini "emas clan perak jauh melampaui usaha-usaha pada bidang-bidang keahlian lainnya." Kepandaian emas menandai hampir separuh dari seluruh perbendaharaan kata menyangkut kerajinan logam dalam Kamus Tagalog dari tahun 1613 (Scott 1982: 533). Meskipun kedua puluh dua barang peralatan pandai-emas di Aceh tampaknya sangat sederhana bagi orang Eropa abad ke19, itu memungkinkan orang mengolah emas dalam banyak cara, di samping kehalusan ukirannya yang tidak tertandingi dalam kesenian-kesenian lainnya (Veltman 1904: 343-345; cf Marsden 1783: 178-180). Setelah menghadiahkan sebuah jam bersenandung yang berlapiskan emas kepada salah seorang putri Nguyen dari Cochin-China pada abad ke-17, orang Prancis pengabar lnjil, Vachet, terheran-heran dengan kemampuan salah seorang pandai-emas kerajaan untuk memperbaiki salah satu rodanya yang rusak. Lebih terkejut lagi ia ketika "pada akhir dua puluh tiga atau dua puluh empat hari (si pandai-emas kerajaan) meletakkan dua buah jam di tangan saya yang begitu samanya sehingga mata tidak kuasa membedakan yang baru dari yang lama, yang bagi saya tampaknya tidak mungkin dipercaya jika saya tidak mengalaminya sendiri: kedua jam itu sama persisnya" (dikutip dari Nguyen 1970: 98).
Spesialisasi Kerajinan Ramainya perniagaan laut clan sungai mendorong berlakunya keahlian produksi bagi hampir semua jenis barang keramik serta logarn. Desa-
124
t
e
1 1e "
fj
i
«J o o • •
i
ilf il
..
KEBUDAYAAN MATERIAL legendaris antara kerajaan Pajajaran di Jawa Barat sebelum tahun 1500 de ngan para pandai-besi bisa menunjukkan bahwa bijih besi yang mengandung titanium dari pegunungan Jawa barat daya sudah pernah ditambang, namun
tidak ada bukti bahwa industri keris di Majapahit atau kerajinan besi Jawa sesudahnya memperoleh bahan besinya secara setempat. Borneo clan Sulawesi hampir pasti menjadi pemasok sebagian besar besi yang diolah di Jawa. Sumber paling mungkin dari besi kaya nikel yang digunakan untuk membuat keris Majapahit yang dilapisi ialah Sulawesi bagian tengah. Bijih besi laterit yang kandungan besinya sampai 500/o serta sisa-sisa nikel, yang banyak ditemukan sangat dekat pada permukaan, khususnya di sekitar Danau Matano clan di bagian hulu Sungai Kalaena (Kruijt 1901: 149-150}. Besi dari Sulawesi bisa diekspor melalui Teluk Bone, yang dikuasai Kerajaan Luwu, atau melalui pantai timur Sulawesi, yang pada abad ke-16 clan sebelumnya dikuasai oleh Kerajaan Banggai (Mascarenhas 1564: 433-434). Banggai clan Luwu disebutkan dalam
Nagara-kertagama (1365: 17) sebagai pembayar upeti kepada Majapahit,
yang menunjukkan babwa ekspor besinya boleh jadi sudah penting di masa itu. Pada abad ke-16, kerajaan-kerajaan pengekspor rempah-rempah di Maluku mendapatkan besi clan persenjataannya dari sumber yang sama. "Besi dalam jumlah besar berasal dari luar, dari Kepulauan Banggai, kapak besi, parang, pedang, pisau" (Pires 1515: 215-216;
c£ Barbosa
1518
II: 205}. Di penghujung
abad itu, pelabuhan-pelabuhan penting di Sulawesi bagian timur dikuasai oleh Ternate. Banggai hanyalah salah satu di antaranya, clan negara pembayar upetinya semula, Tobungku, pintu laut langsung bari besi Danau Matano, sekarang menjadi lebih penting. Tobungku mengekspor pedang clan lembingnya yang terkenal bukan hanya sebagai upeti untuk Temate melainkan juga ke Makasar
clan seluruh bagian timur Indonesia (Speelman J670A: 103-104; Stapel 1922: 56; Tobias 1857: 24).
Luwu mungkin menjadi tempat peleburan logam bagi kerajaan-kera jaan Bugis (sekitar abad ke-14) berkat besi yang dapat disalurkannya dari penduduk perbukitan yang menambangnya untuk kaum pedagang dari Jawa clan tempat-tempat lainnya. Pada pertengahan abad ke-17, "besi Luwu" masih tetap merupakan salah satu ekspor utama dari Makasar ke Jawa bagian timur (Speelman 1607 A: 1 1 1). Besi yang lebih murah pada waktu itu mulai datang dari Cina clan Eropa, tapi para pembuat keris di Jawa tampaknya tetap lebih
menyu kai besi Sulawesi yang banyak kandungan nikelnya untuk membuat keris yang berpamor. Di sekitar tahun 1800 sekalipun, besi dari Sulawesi tengah
125
ASIA TENGGARA DALAM KURUN NIAGA 1450-1680 ini masih tetap dicari oleh para pembuat keris di Borneo Selatan, yang perlu mencampumya dengan "besi mumi" impor yang lebih murah sehingga sisa nikelnya akan menampilkan pamornya (Marsehal 1968: 138). Lebih sedikit lagi yang diketahui mengenai ekspor besi dari Borneo, sumber bijih besi permukaan berkadar rendah yang paling kaya di kepulauan. Jumlah sisa besi peninggalan kerajinan besi dari abad ke-10 hingga abad ke14 di delta Sungai Sarawak di Borneo barat laut yang ditaksir oleh Harrisson dan O'Connor (1969: 385) sebanyak empat puluh ribu ton!-membuatnya hampir pasti bahwa suatu sebuah pusat ekspor besi yang penting terletak di sana pada masa itu. Pusat ini boleh jadi telah menyediakan besi kepada para pandai-besi di bagian timur Semenanjung Malaya, Sumatera bagian selatan, dan Jawa bagian barat. Tapi, sekitar tahun 1600, pusat ekspor Borneo yang utama ialah Pulau Karimata, di bawah kekuasaan kerajaan kecil Sukadana di Borneo bagian barat laut. Orang Melayu dari wilayah Melaka memakai keris "yang bajanya berasal dari Karimata" (Eredia 1600: 232). Banten, yang ketika itu merupakan pelabuhan terbesar di Jawa, mengimpor "besi dalam jumlah besar dari Karimata" (Lodewyeksz 1598: 119). Segera orang Belanda mencari kampak dan parang yang "dirancang dengan baik agar sesuai dengan orang biasa" (Verhoeven 1609: 105). Armada Jawa yang merebut Sukadana pada tahun 1622, petualangan Mataram satu-satunya di luar Jawa, pastilah dimaksudkan untuk mengamankan sumber besi dan permata ini. Kekuasaan Mataram segera mengendor, dan Karimata kembali mengekspor peralatan besinya ke seluruh kepulauan. Orang Belanda membeli hampir sepuluh ribu kampak dan parang Karimata di tahun 1631
{Dagh-Register 1631-1634: 28,47) dan delapan ribu di
tahun 1637, serta menyadarinya sebagai suatu kebutuhan dalam perdagangan lokaUndonesia, bahkan hingga sejauh Timor (van Diemen 1637: 629). Terlepas dari sumber-sumber pemasok lokal di Sulawesi, kapal-kapal Makasar berlayar secara teratur ke Sukadana dua abad kemudian untuk memborong "kampak dan parang Karimata." Dua atau tiga buah kapal yang sama juga kadang-kadang membawa peralatan besi dari Pulau Beliton, lebih di barat, yang menghasilkan "lebih banyak parang tapi lebih sedikit kampak" dibandingkan Karimata (Speelman 1670A: 113). Besi Beliton mungkin digali dari Gunung Selumar, bijih besi bermagnet yang mengandung timah, tembaga, dan timah putih (van Bemmelin 1949
II:
212). Sama halnya, produksi Karimata tampaknya bertumpu pada bijih besi coklat yang tersedia di Pulau Karimata itu sendiri (Marschall 1968: 249;
126
ENI
KEBUDAYAAN MATERIAL Ill: 196). Tapi tidak terhitung jumlahnya situs-situs lainnya di Borneo tempat bijih besi muncul ke permukaan, dan banyak di antaranya yang pasti pernah ditambang untuk kebutuhan yang relatif lokal. Pada abad ke-19, penduduk dataran tinggi Borneo yang lebih terisolasilah yang mewarisi pengetahuan tentang peleburan logam-orang Kayan, Kenyah, serta rumpun suku Dayak di hulu Sungai Barito, Katingan, Kutai, Kayan, Rejang, dan Baram (Harrisson dan O'Connor 1969: 342-349). Gambaran paling lengkap kita dapatkan dari Schwaner (1853 I: 109-115), yang di tahun 1847 menyaksikan sekitar sepuluh tungku peleburan di Sungai Mantalat, sebuah negara kecil pembayar upeti kepada Barito, dari mana besi didistribusikan ke seluruh Borneo bagian tenggara. Bijih besi yang digunakan ialah sferosiderit yang mengandung tanah liat dari tepi-tepi sungai. Karena relatif murah dan beragamnya logam dari Cina serta barang
barang dari logam, maka penambangan dan peleburan bijih besi Asia Tenggara semakin lama semakin bergerak ke pedalaman begitu komunikasi membaik. Sudah sejak Dinasti Sung, besi dan barang-barang dari besi "termasuk di dalam barang-barang paling umum yang dikirimkan dari Cina ke Laut Selatan" (Wheatley 1959: 117), dan sudah memasuki pusat-pusat perdagangan besar seperti Sriwijaya. Di Melaka sekitar tahun 1510, impor dari Cina mencakup "tembaga, besi ... jambangan bunga dari tembaga dan fuseleira, ketel besi tuang, mangkuk, baskom semuanya dalam jumlah besar, kotak, kipas, jarum juga dalam jumlah besar dari ratusan jenis, di antaranya ada yang buatannya sangat halus dan bagus ... serta barang-barang yang kualilasnya sangat rendah seperti yang dibawa ke Portugal dari Flanders, tidak terhitung gelang dari tembaga" (Pires 1515: 125). Sama halnya, orang Cina membawa kc Patani, yang seabad sebelumnya menjadi pusat penyaluran barang seperti Melaka, ''banyak porselen, besi, tembaga dan aneka barang dibutuhkan orang di sini." Para pedagang dari Borneo membeli banyak logam Cina dari Patani (van Neck 1604: 229-230). Di Sumatera, besi India lebih terkenal, dan mencapai lebih 250 bahar (45 ton) impor setiap tahun ke Aceh dan 1iku hingga digantikan oleh besi dari Eropa di abad ke-17 (Ito 1984: 439). Kendati Borneo dan Sulawesi memenuhi sebagian besar kebutuhan Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil pada permulaan abad ke-17, kcgiatan ini terhenti pada akhir abad tcrsebut. Para penambang dan pelebur besi di Karimata, yang harus bersaing langsung dengan besi Cina serta Eropa di pasar kepulauan, akhirnya bangkrut di tahun 1808 (ENI N: 790). Ahli-ahli etnografi abad ke-19 menemukan bahwa tradisi melebur bijih besi lokal hanya
127
ASIA TENGGARA DALAM KURUN NIAGA 1450-1680 bisa bertahan di daerah dataran tinggi Sumatera bagian tengah, Borneo bagian tengah, clan Sulawesi bagian tengah yang relatif sulit dicapai (lihat Gambar 17a clan 17b). Teknik melebur clan mengolah besi (serta logam-logam lainnya) umum nya sama di seluruh pusat-pusat permukiman Asia Tenggara pada abad ke19, clan tampaknya tidak banyak berubah selama tiga abad sebelumnya. Para penambang menggali bijih besi dekat permukaan tanah, adakalanya dengan menggunakan api untuk melebarkan celah pada lapisan clan mengangkat tumpukan-tumpukan besar. Lalu mereka memanaskan bijih besi tersebut di tempat terbuka, yang menyita kayu banyak sekali. Akhirnya mereka melebur bijih besi tersebut dalam lubang galian dalam tanah, clan dipisah-pisahkan dengan tanah liat kering, serta sangat banyak menggunakan arang di bawah bijih besi tadi untuk menciptakan deoksidasi. Sifat khas Asia Tenggara dari cara ini ialah sistem piston vertikal yang kadang-kadang disebut "puputan Melayu.n
Dua batang bambu, yang diametemya sekitar 4 inci dengan panjang lima kaki, berdiri tegak lurus dekat api; terbuka pada ujung alas, clan berjenjang di bawah. Kira-kira satu atau dua inci dari dasar galian bambu kecil sambungan, berfungsi sebagai pipa semprot yang mengarah serta bertemu di pusat api.
Untuk menghembuskan udara, tumpukan bulu burung atau bahan lunak lainnya yang diikatkan pada pegangan yang panjang, digerakkan turun naik pada lubang bambu atas, seperti piston pada pompa. Jika didorong ke bawah, mendorong udara melalui lubang bambu horisontal; clan dengan meng ipas turun-naik, arus angin terus dihembuskan, untuk mana seorang anak lelaki biasanya ditempatkan pada sebuah kursi atau tempat yang tinggi (Marsden 1783: 181). Gambaran mengenai puputan pandai-besi di Sumatera ini bisa saja ditiru secara hampir persis di seluruh kepulauan di Indonesia dan Filipina, di Birma, Siam, serta bahkan di Saigon (Meyer 1890: 62-63; Raffles 1817 I: 173; Dampier 1697: 227; Kruijt 1901: 152; Sangermano 1818: 187; Suchitta 1983: 38,40; White 1824: 278). Silindernya lebih sering dibuat dari batang pohon daripada dari bambu, clan acap kali puputan bambu kecil disambung dengan pipa tanah liat sebelum apinya dimasukkan. Meskipun dua silinder biasanya sudah cukup untuk penempaan, namun dua belas silinder bisa saja digunakan untuk membakar tungku yang digunakan dalam peleburan (Schwaner 1853 I: 111; Harrisson clan O'Connor 1969: 345). Kekunoan cara ini di Asia Tenggara
128
;>;; m ID c 0
� �
-
z
"'
"'
s::
:!:; m ;o
"f!:.
Gambar 17a. Peleburan besi oleh suku Dayak dari Dusun Ulu, Sungai Barito, yang lebih tinggi di Borneo bagian tengah, di abad ke-19 (dari Schwaner, 1853)
ASIA TENGGARA DALAM KURUN NIAGA 1450-1680
Gambar 17b. Peralatan yang terbuat dari besi, dari Sulawesi Tengah. tahun 1900: a) puputan dan tunguku; b) piston untuk puputan; c) alat untuk menempa togam berukuran besar, d) alat
untuk menempa togam berukuran keel!: e) alat penjapit; f) palu keel!: g) palung air: h) objek ritus (tamoa) digantung di tungku atau perapian untuk pandai-besi (dari Kruyt 1901)
130
KEBUDAYAAN MATERIAL ditunjukkan oleb berlakunya cara yang sama di Madagaskar, tempat orang Indonesia berpindab, setidak-tidaknya seribu tabun yang silam. Efisiensinya dalam mengarahkan arus angin tetap yang kuat dibuktikan oleh bertabannya cara itu pada para pandai-besi di Sulawesi clan Borneo hingga dewasa ini, ketika puputan modern sudah tersedia.
Tembaga, Timah,
dan Timab Putih
Sejak tahun 1960 para ahli ilmu purbakala yang bekerja di Muangtbai Timur Laut clan Vietnam, telah memundurkan lebih jauh lagi asal-usul pengerjaan logam di Asia Tenggara hingga 2000 tahun SM at.au lebih awal lagi, titik masa yang mendahului metalurgi yang selama ini diterima di Asia Selatan. Pernyataan pernyataan telah dilontarkan, meskipun bukannya tanpa tantangan, bahwa orang Asia Tenggara boleh jadi sudah menemukan sendiri cara pengolahan logam, mendahului sebagian besar wilayah tetangganya, antara lain disebabkan oleh dekatnya sumber timah clan tembaga (Solheim 1968; Bayard 1980; Loofs Wissowa 1983). Sesungguhnya, perunggu Asia Tenggara lebib banyak mengan dung timah putih daripada timah, meskipun kandungan tembaganya jarang kurang dari 700/o (van Heekeren 1958: 5, 33, 35). Metode yang digunakan untuk menambang dan melebur logam-logam ini sama dengan yang telah diutarakan untuk besi, meskipun pembakaran yang diperlukan untuk mengambil logam cair dari bijih besinya tidak begitu berat. Setidak-tidaknya dari masa aktifnya perdagangan Dinasti Ming pada awal abad ke-15, mata uang tembaga Cina banyak diimpor ke Asia Tenggara untuk dipakai sebagai mata uang (Whitmore 1983: 363-369). Pada abad ke-18, mata uang tembaga Belanda banyak dicari (Dobbin 1983: 70-71). Karena mata uang tembaga, yang sudah dicampur dengan timah clan timah putih, tersedia begitu murah serta meluas, boleh jadi sudab menjadi sumber utama untuk pembuatan barang-barang perunggu pada kurun niaga. Meskipun demikian, semua mineral ini terus ditambang pada tempat-tempat tertentu di Asia Tenggara clan diperdagangkan dalam jarak-jarak jauh serta dekat. Kekayaan timah yang sangat besar di dunia terletak pada jalur utaraselatan, mulai dari perbukitan Birma bagian timur ke Semenanjung Malaya hingga ke Pulau Bangka clan Beliton. Banyaknya persediaan timah pada kedua pulau terakhir ini baru diketahui setelah tahun 1709, tapi bagian tengah semenanjung itu, yakni antara Tavoy clan Selangor, memasok sejumlah besar kebutuhan Asia 131
ASIA TENGGARA DALAM KURUN NIAGA 1450-1680
akan timah, paling tidak dari abad ke-10. 1imahlah satu-satunya dari banyak ekspor Melaka abad ke-15 yang berasal dari tanahnya sendiri, dan mata uangnya terbuat dari batang-batang timah kecil (Ma Huan 1433: 111; Pires 1515: 27().. 271, 275). Sebagian besar timah yang ditambang sekitar Tavoy tampaknya telah memasok Birma, sedangkan yang berada di pantai timur Semenanjung memasok Muangthai. Tambang-tambang yang Iebih jauh ke selatan di pantai barat Semenanjunglah yang terutama memproduksi untuk ekspor, dan oleh karena itu kita lebih tahu tentangnya. Perak, dan dalam ukuran yang lebih kecil Selangor, merupakan pemasok timah utama sebagai upeti kepada Melaka, banyak di antaranya dieskpor ke India.Junkceylon (di zaman modern dikenal sebagai Pulau Phuket), sebuah negeri pembayar upeti kepada Siam, mula-mula disebut sebagai sumber utama dari timah ekspor pada abad ke-16, kendati produksi daerah tersebut pastilah ikut membawakan kekayaan bagi Tambralinga jauh sebelumnya (Gerini 1905: 136-141; Wheatley 1964: 115). Di tahun 1596, timah yang tersedia di pelabuhan Banten berasal dari Perak (yang kala itu sangat merdeka) dan Junkceylon (Lodewycksz 1598: 119). Tapi, Perak terlalu lemah untuk membela sumber dayaoya sendir� dan pada tahun 1620 jatuh ke tangao Aceh. Selama ernpat puluh tahun berikutnya, para pedagang India dan Eropa yang mencari timah untuk dijual di India serta di tempat-tempat lainnya, harus berurusan dengan Aceh atau dengan jajahan Siam di bagian selatan. Karena Belanda memberitakan keuntungan 840/o dalam menjual tirnah seperti itu di India (Maetsuyker 1671: 743), maka mereka menempuh jarak jauh untuk memperolehnya. Cara orang Malaya dan Thai dalam menambang serta melebur logam diterangkan oleh Eredia (1600: 235) berdasarkan kasus Perak: "Tanah digali dari dalam gunung dan diletakkan pada meja-meja tertentu yang tanahnya dilarutkan dengan air sedemikian rupa, sehingga hanya timah dalam bentuk butir-butir yang tersisa di meja. Kemudian dilebur dalam campuran tanah fiat tertentu dan melalui proses tuangan diubah menjadi ...lempeogan." Lebih jauh ke utara, terdapat tempat-tempat yang kaum wanitanya semata-mata mengumpulkao kepingan-kepingan bijih besi mengandung timah yang muncul di permukaan sehabis hujan lebat (Gerini 1905: 159160). Meskipun demikian, timah dalam jumlah besar digali dengan kedua cara ini. Eredia (1600: 234) memperkirakan bahwa Perak menghasilkan 300 bahar (50 ton) setiap tahun, dan pelabuhan pelabuhan yang lebih ke selatan juga memberikan hasil yang hampir sama banyaknya. Pada tahun 1640-an pengiriman timah tahunan dari Perak ke Aceh ditaksir secara berbeda-beda antara 800 atau 2.000 bahar (130-330 ton) (van der
132
KEBUDAYAAN MATERIAL Lijn
1648: 430; Ito 1984: 140). Pada tahun 1657 sebuah kapal Belanda membawa
muatan sebanyak
100 bahar dariJunkceylon; sebuah kapal lainnya membawa 451
bahar dari Nakhon Sithammarat (Maetsuyker bahwa Junkceylon menghasilkan menghasilkan lebih
1657: 126).
Forrest menyatakan
500 ton setahun di tahun 178()..an clan
pemah
banyak lagi pada masa-masa sebelumnya, sebelum timahnya
dikuasai oleh para pelebur dari Cina (kutip Gerini
1905: 175).
Sumber-sumber timah putih Asia Tenggara yang berarti tampaknya hanya di Vietnam bagian utara clan Siam.
Tunah putih Siam
diekspor
ke Melaka,
Birma, Cochin-China, clan melalui Tenasserim ke Aceh serta mungkin juga Banten (Pires 1515: 108; Sangermano 1818: 205; White 1678: 425; Compostel 1636: 1216; Lodewycksz 1598: J 19). Tidak diberikan keterangan mengenai bagaimana clan di mana t imah putih ini ditambang hingga Crawfurd (1828: 419)
menyatakan bahwa di masanya tambang-tambang, dikerjakan oleh "suku
biadab di Lawa," dekat Pak-Prek, clan bahwa mereka menghasilkan sebanyak kira·kira 2.000 pikul (110 ton) setahun. Sumber-sumber tembaga paling kaya di Asia Tenggara mungkin terdapat di perbukitan utara Vietnam Utara, dari mana banyak kerajinan perunggu "Dong-son" di masa praKristen berasal. Angka·angka produksinya 280 dan 220 ton tembaga setiap tahun dari
untuk abad ke-18, clan
dua tambang saja di daerah Tulong, dilaporkan
hasilnya pasti sudah
sangat banyak di abad-abad
sebelumnya (Nguyen 1970: 89). Sementara ada di antara tembaga utara ini yang tampaknya ditambang oleh para pekerja Cina, tambang·tambang lainnya di ujung paling utara dan paling selatan dari yang sekarang Laos, di perbukitan utara Kamboja, serta di perbukitan antara Siam dan Birma dikerjakan oleh suku-suku yang berdiam di perbukitan. Mereka melebur logam tersebut dan menukarkannya dengan para pengrajin dari dataran rendah yang mengolahnya menjadi patung-patung kecil, perkakas rumah tangga, clan alat-alat musik (Frederic
1981: 160; Pallegoix 1854 I: 119).
Keahlian yang diperlihatkan oleh penduduk perbukitan dalam menen· tukan tempat, menambang, clan melebur tembaga, bisa dilihat pada bangsa lgorot
di perbukitan Luzon, yang tekniknya
diterangkan pada
abad ke-19.
Seorang insinyur bangsa Spanyol yang mengamati salah satu tambang mereka di tahun 1850 menyimpulkan dari banyaknya sisa-sisa tembaga, pastilah tembaga sudah dieksploitasi setidak·tidaknya selama dua abad (Scott 1974: 246). Orang Igorot pertama-tama mengambil deposit bijih besi dengan menyiramnya
133
ASIA TENGGARA OALAM KURUN NIAGA 1450-1680
dengan air, kemudian menghancurkan butir-butir bijih besi tersebut dengan memanaskannya. Bijih besi ini "dipanggang dengan bahan bakar yang ditumpukkan di sekelilingnya, kemudian dilebur dalarn tungku-tungku kasar di bawah puputan, kernudian dipanggang lagi untuk kedua kalinya sebelum pengolahan yang sesungguhnya dalam wadah tanah liat juga dilakukan di bawah puputan" (ibid). Setelah tahun 1856, usaha-usaha para insinyur tarnbang dari Spanyol beserta para pekerja Cina untuk mengolah simpanan tembaga ini sangat tidak menguntungkan, clan membuat suatu komisi pemerintah menyimpulkan di tahun 1864: Dalam membayangkan banyaknya tenaga yang dikerahkan oleh bangsa Igorot sebdum pcrusahaan ini didirikan, kita tidak tahu mana yang harus dikagumi, kemantapan kerja keras seperti itu ... atau kecerdasan memilih bijih besi yang paling kaya; yang juga mcncengangkan ialah cara mcrrka mcmbersihkan pcnggalian penggalian yang telah mereka lakukan, dengan meninggalkan buangannya di dalam, yang juga bcrfungsi untuk mcnyembunyikan pckcrjaan yang sudah dilakukan; jika kira membuat perbandingan ... kita menyaksikan dengan sedih kesalahan-kesalahan besar yang scgcra terlihat, yang dilakukan olch insinyur-insinyur curang yang, dcngan kecerdasan dan pengerahuan pertambangannya, tertinggal jauh di belakang mereka yang sccara gcgabah kira scbut orang biadab (kutip Scott I974:
247).
lni hanyalah salah satu ihwal di mana pertambangan mekanis modem dalam skala besar ternyata tidak sanggup untuk secara menguntungkan mengolah bijih besi yang telah dikerjakan selama berabad-abad oleh penduduk dataran tinggi Asia Tenggara. Hal ini mengingatkan kita akan pengakuan menggerutu dari Sir Frank Swettenham bahwa pawang Melayu yang ahli mencari bijih timah mempunyai "hidung yang sarna tajamnya untuk timah dengan hidung anjing untuk jamur" (dikutip dari B. Andaya 1979: 399). Tidak adanya penambangan tembaga yang tahan di daerah daerah tertentu di masa-masa yang lebih mutakhir, ketika tembaga imper tersedia dengan murah, tidak seharusnya membuat kita menyimpulkan bahwa bijih besi belum pernah ditarnbang di masa-masa silam. Surnatera clan Jawa bisa rnenjadi contoh. Meskipun Davis (1600: 147) menyebutkan tarnbang-tarnbang tembaga di Aceh, keterangan spesifik paling awal mengenai tembaga di salah satu pulau itu ialah rujukan Marsden (1783: 172) kepada sebuah tambang kaya yang dikerjakan oleh orang Aceh di pantai barat Surnatera di Meuke. Tembaga dalarn bentuk malachit masih dikurnpulkan oleh penduduk di sana pada tahun 1916 (van Bemrnelen 1949 II: 148). Sarna halnya, orang Minang mencari situs emas seringkali menemukan bijih tembaga yang mahal di Danau Singkarak hingga abad ke-19 (ibid.:151). Tampaknya hampir pasti 134
KEBUDAYAAN MATERIAL bahwa ada pandai-tembaga di kota Aceh clan Sungei Puar di Minangkabau yang pernah mendapatkan banyak tembaga dari sumber-sumber lokal. Karena tembaga Sumatera sering terdapat bersama emas, ha! ini juga menerangkan mengapa orang Aceh sangat menyukai suasa (atau tembaga suasa), campuran emas clan tembaga (Beaulieu 1666: 100; Lancaster 1603: 93; Copland 1616: 210, 213; Jasper clan Pirngadie 1930: 7-8; Wilkinson 1903: 1125). Sumatera maupunJawa tidak dicatat oleh Pires sebagai pengimpor tembagaJepang clan Cina, sedangkan Aceh maupun Jawa mengekspor bejana-bejana dari tembaga (Pires 1515: 180; Compostel 1636: 1200). Bahwa orang Thai menggunakan kata Melayu ntembagan untuk campuran emas clan tembaga yang juga mereka kagumi (La Loubere 1691: 14) menunjukkan bahwa ini semula mungkin diimpor dari Sumatera atau Borneo. Terlepas dari keraguan Van Bemmelen (1949 II: 155) "apakah suatu tambang tembaga yang dibiayai sendiri itu memungkinkann diJawa, juga boleh jadi bahwa tembaga telah ditambang di sana sebelum abad ke-17. Di tahun 1603 gong perunggu yang diekspor dari Jawa dikabarkan harganya separuh dari gong buatan Cina di Patani, diperkirakan menggunakan bahan mentah dari Cina (Rouffaer 1904: 99). Tambahan pula, beberapa pusat pengolahan tembaga di Jawa terdapat jauh di pedalaman pada tempat tempat yang hanya -
bisa diterangkan karena dekatnya dengan sumber tembaga. Begitulah, maka daerah Priangan di Jawa Barat, yang mempunyai simpanan tembaga terbesar di Pulau Jawa, sangat terkenal dengan pandai tembaganya (Sayang) Sebuah .
penelitian desa di wilayah itu pada tahun 1686 menyebutkan pengolahan tembaga sebagai satu-satunya pekerjaan bagi 33 desa di daerah Sumedang di timur Bandung yang sekarang, sementara terdapat dua Kampung Sayang yang terletak di dekat Cianjur, ibu kota Priangan lama (de Haan 1912 Ill: 216-218). Tempat tempat ini tidak jauh dari daerah tembaga berkadar rendah yang dikenal -
di Gunung Parang clan Gunung Sawal (van Bemmelen 1949 II: 157-158). Para pandai-tembaga yang paling terkemuka di Kerajaan Mataram juga berdiam di ujung barat pusat kerajaan tersebut, dekat Cirebon clan Krawang, yang juga hanya dapat diterangkan berkat akses mereka pada tembaga Priangan (de Haan 1912 Ill: 218, 347-348). Sumber-sumber tembaga di bagian timur atau tengah Jawa hanyalah di dekat Tegalombo, hanya 75 kilometer di sebelah tenggara Surakarta (van Bemmelen 1949 II: 159), yang mungkin pernah berperan dalam perkembangan Surakarta sebagai pusat kerajinan perunggu yang besar. Namun tidak bisa dibantah, bahwa masuknya tembaga dariJepang, Cina, clan Eropa secara besar-besaran, terutama pada abad ke-17, membuat sebagian
135
ASIA TENGGARA DALAM KURUN NIAGA 1450-1680
besar tambang lokal yang berukuran kecil ini tidak begitu diperlukan lagi. Jepang, pemasok terkemuka di penghujung abad ke-17, mengekspor rata-rata lebih darl 3.000 ton setahun dalam periode 1670-1715 (Innes 1980: 528-529). Pandai-perunggu yang berkiprah di setiap ibu kota kerajaan clan sejumlah pusat lainnya semkain banyak memperoleh bahan mentahnya dari impor yang lebih murah. Perunggu dalam berbagai campuran tetap merupakan logam terpenting untuk membuat meriam kecil serta perabot rumah tangga-ketel, Jampu, baki,
tempat sirih, clan yang semacamnya. Di negeri-negeri Budha di utara, kerajinan perunggu yang paling maju dibaktikan untuk tujuan-tujuan agama, termasuk penempaan patung-patung Budha raksasa (Pallegoix 1854 I: 35). Keahlian yang tinggi juga berlaku dalam pembuatan alat-alat musik yang getaran clan nadanya tepat. Gong-gong di Jawa, yang sebagian besar dibuat di Gresik dekat Surabaya, merupakan barang ekspor yang sangat penting oleh para pedagang Jawa ke Maluku, Borneo, Bali, clan Sunda Kecil, yang menjadi pertanda status
kerajaan (Galvao 1544: 105,141; Barbosa 1518 Il: 198, 202-203; Hageman 1860: 43). Sama halnya, gong-gong dari Kamboja dan Tonkin dibeli orang hingga ke perbukitan-perbukitan Indocina yang paling jauh clan di.mainkan pada setiap ritus yang penting (Hickey 1982: 186-187, 449).
136
4 PENGATURAN MASYARAKAT
pada hukum apa pun, raja maupun gusti Mcrcka yang memiliki paling banyak budak, dapat mcmpcroleh apa saia yang mcreka Penduduk kepulauan ini tidak tunduk
...
inginkan ... Mcrcka tidak mcngakui raja atau pcraturan mana pun; dan budak-budak mereka juga tidak tunduk benar pada tuan atau raja mereka, dan berbakti kepada mereka hanya dengan syarat-syarat tertentu Legazpi
1569: 54
D
i Filipina bagian tengah, Legazpi berjumpa dengan suatu masyarakat yang
lebih tidak memiliki raja dibandingkan dengan sebagian besar masyarakat
lainnya, dan keterkejutan ini mungkin luar biasa. Akan tetapi di seluruh Asia
Tenggara terdapat paduan hierarki yang sangat berjenjang dengan kelonggaran struktur politik yang akan mengejutkan para pengunjung dari Eropa, para pembangun imperium, dan para ahli etnografi selama berabad-abad. Raja-raja
yang memiliki kekuasaan besar tumbuh juga dalam kerangka ini, tapi mereka melaksanakan kehendaknya pada daerah yang luas hanya berkat kekuatan pribadinya yang luar biasa serta kekayaan pelabuhan-pelabuhan yang sedang berjaya. Pola yang mendasarinya tampaknya berupa munculnya salah satu dari kelompok keturunan yang tidak hentinya memperebutkan kekuasaan. Di bagian dunia ini yang tanahnya melimpah, perumahan tidak permanen, dan harta miliknya tidak aman, pada jumlah pengikut.lah kekuasaan serta kekayaan ditunjukkan
.
Di dalaro keloropok-kelompok ini, keturunan (biasanya) dihitung se
cara bilateral menu.rut status bapak atau ibu, yang mengakibatkan tidak adanya kepasta n suksesi. Cara menghitung lainnya ialah bahwa siapa yang mempu i
nyai banyak pengikut dengan sendirinya sudah ditakdirkan untuk memerintah.
137
ASIA TENGGARA DALAM KURUN NIAGA 1450-1680
Meskipun ideologi mengenai jalur suci suksesi dari leluhur sangat kuat, keluwesan perkawinan, seringnya orang mengangkat anak, clan kenyataan adanya persaingan di kalangan calon pengganti yang potensial, membuat keturunan dalam jalur genealogis bukan merupakan ha! yang menentukan dalam sistem ini. Yang menentukan alah i ikatan vertikal antara dua orang. Sang tuan menyediakan perlindungan clan adakalanya mata pencaharian. Kewajiban para sahaya berbeda-beda menurut kedudukannya, tapi biasanya mencakup bantuan dalam pesta atau dalam pameran kekuatan, melakukan perjalanan jauh atau gerakan militer, dan bekerja membuat kapal laut, rumah, serta bangunan-bangun an lainnya. Ada sahaya lelaki dan perempuan yang didapatkan sebagai warisan, ada yang sebagai pelengkap jabatan, ada yang sebagai hadiah perkawinan, clan yang lainnya dari tawanan perang atau orang yang mencari perlindungan dari musuh. Namun perbudakan umumnya bermula karena utang. Pada suatu titik yang ekstrem, ketidakmampuan membayar utang yang besar atau denda peng adilan, bisa membuat orang menjadi sahaya. Tapi hubungan usaha yang biasa sekalipun, yang modalnya diserahkan oleh suatu pihak, menimpakan kewajiban kepada pihak penerima modal yang jauh melampaui usaha yang dilakukan. Sama halnya, suatu keluarga yang tidak kuasa menanggung biaya upacara ritus besar yang dipandang esensial oleh masyarakat-khususnya perkawinan clan kematian-harus mencari seorang pelindung atau tuan untuk menyediakannya. Di banyak masyarakat, sulitnya mendapatkan mas kawin yang dibutuhkan seorang lelaki untuk kawin menjadi penyebab perbudakan, apakah kepada bapak mertua (kebaktian pengantin) atau kepada si penyedia mas kawin. Dengan cara ini rumah atau kompleks bangunan besar didirikan, tempat setiap orang mempunyai kewajiban tertentu kepada tuannya. Bukan rumah rumah terpencil, juga bukan kota secara keseluruhan yang biasanya dikelilingi dengan tembok pengaman terhadap bahaya, melainkan kompleks bangunan orang-orang penting. Pola yang demikian, untuk menggunakan istilah ini secara longgar, juga mempunyai orang-orang tanggungan yang tersebar di kota maupun dalam negeri. Namun, pusat tempat tinggal mereka sendiri mencakup keluarga dekat, sanak orang tanggungan yang bersangkutan, sahaya yang bisa juga berfungsi sebagai selir clan melahirkan anak-anak si patron, serta berbagai pengikut pria maupun wanita. Dalam adat-kebiasaan itu kita dapat menemukan orang-orang yang statusnya begitu berbeda-beda, sehingga kita bisa menyebut yang satu budak, yang lainnya orang terikat karena utang, yang lainnya sebagai sanak miskin atau keluarga angkat. Tapi di mata masyarakat itu
138
PENGATURAN MASYARAKAT sendiri pembedaan-pembedaan demikian tidaklah begitu penting dibandingkan dengan kenyataan bahwa mereka semua adalah milik seorang patron atau kompleks bangunan tertentu. Kata terbaik untuk menjelaskan sistem demikian mungkin ialah "patri arkal,n andaikata kita abaikan bahwa wanita juga bisa menjadi kepala dari kelompok sahaya tersebut dan menduduki tempat yang penting di dalamnya. Sang patron dalam pengertian tertentu ialah "bapakn dari semuanya, sedangkan para sahaya atau orang langgungan seringkali digambarkan sebagai anak-anak. Jika sahaya dapat dijual, dipakai sebagai jaminan bagi pinjaman, atau disita oleh seorang penguasa akibat kematian atau pelarian seorang patron, begitu juga halnya dengan anak-anak.
Peperangan Usaha untuk menggambarkan model perilaku "tradisional" harus selalu dilakukan dengan hati-hati, dan tidak ada yang lebih memerlukan kehati-hatian dibandingkan mengenai urusan peperangan. Teknologi militer merupakan yang pertama dipinjam, karena ganjaran akibat kegagalan melakukannya berlaku seketika dan fatal. Kurun niaga terutama ditandai oleh perubahan-perubah an yang pesat, begitu senjata api yang mentransforrnasikan peperangan dan hubungan kekuasaan di Eropa mulai memberikan dampak yang
sama
di Asia.
Tetapi sejumJah faktor sosial dan lingkungan tetap memengaruhi peperangan di Asia Tenggara dalam jangka waktu yang sangat lama, juga ketika teknologi telah berubah. Persepsi mengenai tanah hutan sebagai tidak habis-habisnya dan tenaga manusia sebagai langka, memastikan bahwa persaingan berlaku dalam penguasaan manusia. Seringkali persoalan statuslah yang menimbulkan pertempuran, tapi sasaran nyata dari kedua pihak yang bertempur ialah untuk saling berebut pengikut atau abdi, bukan wilayah. Serbuan kecil-kecilan yang tidak hentinya melanda Filipina, Indonesia bagian timur, dan wilayah dataran tinggi di mana-mana, maupun pertempuran kaku dari dua pasukan besar antarnegara benua dan diJawa pada dasarnya dimaksudkan untuk memperbesar ,
jumlah pengikut bagi seorang kepala atau raja. La Loubere (1691: 90) percaya bahwa inilah penyebabnya mengapa pasukan Siam tidak begitu efektif: "Mereka hanya sibuk mencari budak. Jika orang Pegu, misalnya, menyerbu tanah Siam
139
ASIA TENGGARA OALAM KURUN NIAGA 1450-1680 dari suatu sisi, orang Siam akan memasuki tanah Pegu dari sisi lain, dan tiap penyerbu akan membawa segenap penghuni desa sebagai tawanan." Sebab itu tanggapan khas dari pihak yang lebih lemah ialah menghindari tertawan dengan lari masuk hutan menanti pasukan penyerang lelah menjarah dan pergi. Lemah dan tidak permanennya sebagian besar bangunan perkotaan serta praktisnya orang menyimpan kekayaan dalam bentuk pakaian dan logam mulia, tidak menimbulkan dorongan untuk mempertahankan kota dengan mendirikan dinding tembok, parit, dan benteng pertahanan terakhir. Utusan orang Aceh ke Turki pada abad ke-16 kabarnya menjelaskan tiadanya perbenteng an di sekeliling ibu kotanya dengan menekankan keberanian prajurit-prajurit Aceh serta besamya jumlah gajah yang dimilikinya (Hikayat Aceh 1630: 165166); orang Siam menjelaskan gejala yang sama kepada orang Eropa dengan kekhawatiran bahwa jika mereka membangun perbentengan, mungkin benteng mereka akan direbut musuh dan mereka tidak kuasa merebutnya kembali (La Loubere 1691: 91). Pada kenyataannya, peperangan temperer sangat masuk akal dalam kondisi Asia Tenggara, meskipun perang mulai berkurang begitu penduduk perkotaan meningkat dan pola peperangan orang Eropa mulai mengubah aturan-aturan yang ada. Juga ketika kota-kota besar diserang dan direbut, pertahanan tidaklah dilakukan dengan gigih serta mati-matian, kecuali dalam kasus-kasus tidak biasa di mana pasukan pengepung memotong semua jalan untuk mundur. Jendcral Belanda, Coen (1615: 119) diberitahu bahwa "Pangeran Banten tidak takut pada orang Portugis, Spanyol, Belanda, atau Inggris mana pun, tapi hanya kepada (Raja) Mataram. Jika Mataram menyerang, katanya, tidak seorang pun yang sanggup melarikan diri. Tapi terhadap para penyerang lainnya, gunung-gunung sudah cukup bagi kami, mereka tidak bisa mengejar kami ke sana dengan kapal-kapal mereka." Pelabuhan-pelabuhan sungai dari Sumatera bagian timur, Malaya, atau Borneo, seringkali dipindah jauh ke dalam sebagai tanggapan terhadap serangan dari laut. Ketika sejumlah orang Jnggris pergi membeli Jada di kota lndragiri yang pernah makmur di Sumatera, mereka sia-sia menghabiskan waktu dua hari mencari bekas kota tersebut hanya untuk mengetahui bahwa seluruh penduduknya telah pindah sejauh tiga hari perjalanan ke hulu sungai akibat serangan orang Aceh enam tahun sebelumnya (Ivye 1634). Suatu kemunduran yang paling menentukan di Asia Tenggara, yakni ketika orang Portugis merebut pelabuhan Malaka yang besar pada tahun 1511, pada mulanya dilihat dalam perspektifyang sama oleh 140
PENGATURAN MASYARAKAT orang Melayu yang bertahan: "Raja Melaka ...meninggalkan kota, sejauh sehari perjalanan, clan membawa serta sejumlah pedagang Melayu berikut para kepala clan gubemur negeri... karena menganggap bahwa Alfonso Albuquerque hanya ingin menjarah kota serta kemudian meninggalkannya clan berlayar pergi dengan hasil jarahannya" (Albuquerque 1557: 129). Tujuan perang alah i untuk meningkatkan jumlah tenaga manusia, bukan untuk membuang-buangnya dalam suatu pertumpahan darah mati·matian. Olch karena itu, perhatian terutama ditujukan untuk memobilisasi kekuatan yang besar clan menakutkan, membuat musuh kehilangan keseimbangannya, serta membuktikan melalui suatu keberhasilan awal bahwa kekuatan adikodrati yang mahakuasa berada di pihaknya. "Di semua negeri di Bawah Angin, kaum tani clan prajuritnya menderita jika negeri itu ikut hancur. Akibatnya, jika penduduk negeri ini melancarkan perang, mereka sangat berhati-hati clan peperangan yang dilakukan terbatas pada siasat serta tipu muslihat. Mereka tidak bemaksud untuk saling membunuh atau melakukan pembantaian besar· besaran, sebab jika seorang jenderal sungguh-sungguh menaklukkan, dia katakanlah, menumpahkan darahnya sendiri" (Ibrahim 1688: 90). Pasukan dibangun dengan memerintahkan kaum bangsawan clan orang· orang terkemuka suatu negeri untuk membawa pasukannya atas biaya sendiri, clan para komandan ini sangat enggan kehilangan orang-orangnya dalam pepe rangan, sebab merekalah kunci bagi kedudukannya. Ketika seorang laksamana Belanda mempersalahkan sekutunya orang Melayu, yakni penguasa Johor, yang ragu-ragu memasuki medan pertempuran, sultan tersebut menyahut bahwa "baginya tidaklah seperti Laksamana yang memberikan segala keperluan bagi pasukannya untuk melakukan apa pun yang dikehendakinya. Di sini setiap orang kaya atau bangsawan justru harus membawa sejumlah orang, clan masing· masing takut kehilangan sahayanya, yang merupakan kekayaan mereka satu· satunya" (Matelief 1608: 17). Persis itu pulalah yang dikemukakan oleh Scott
(1606: 142} mengenai Banten. Orang Eropa, Persia, clan Turki yang terbiasa dengan korban jiwa yang jauh Jebih besar dalam peperangan di Barat, selama· nya terheran-heran dengan keengganan untuk meneruskan pertumpahan darah setelah beberapa orang pertama gugur (Artieda
1573: 197; La Loubere 1691: 90).
Abbe de Choisy (1687: 241) menganggap bahwa orang Siam, Birma, clan Laos melakukan peperangan "seperti malaikat." menembak ke udara atau ke tanah untuk menggentarkan musuhnya, bukan untuk membunuhnya, clan berusaha menangkapi seluruh penduduk serta menggiring mereka ke negeri mereka sendi· 141
ASIA TENGGARA OALAM KURUN NIAGA 1450-1680
ri, bukan untuk menyakiti mereka. Penclucluk clalam jumlah besar memang meninggal karena kelaparan, penyakit, clan kekacauan akibat, peperangan, tapi ticlak banyak yang gugur di meclan perang. Kebiasaan akan peperangan yang jauh lebih kejam di Eropa jelas merupakan penyebab mengapa sejumlah kecil orang Eropa sanggup memperoleh sejumlah kemenangan yang menentukan
atas pasukan-pasukan Asia Tenggara yang lebih besar. Orang Asia Tenggara, dan khususnya orang Indonesia dari Aceh hingga
Maluku, banyak memiliki reputasi dalam hat keberanian individual, jika bukan untuk ketegaran militer. Ketidakpedulian pada kematian bagi para tokoh wa yang tampaknya merupakan teladan bagi orangJawa, bukan hanya dalam pepe rangan melainkan juga clalam perlombaan berclarah yang diterangkan oleh Ma Huan clan lain-lain. Turnamen seperti ini merupakan bagian clari ritus seksama dan persiapan fisik yang maksuclnya untuk menghasilkan seorang juara yang pu memenangkan peperangan lewat pameran ketangkasan perang dan spi
mam
ritualnya. Karena kepercayaan bahwa peperangan merupakan sejenis percobaan dengan menjalani kesusahan, di mana kekuatan adi kodratilah yang menentukan pihak mana yang akan menang, maka jatuhnya seorang pemimpin atau juara
biasanya serta-merta mengakhiri peperangan (Sejarah Melayu 1612: 124, 148; Wales 1952:
103). Menurut Hikayat Banar j (432-437), Islamisasi Banjarmasin
berlangsung mulus ketika pihak-pihak yang menghendaki tahta memutuskan untuk bertarung secara perorangan guna menghindari perang sauclara. Dua orang raja Siam yang terkenal, Ram Kamheng dan Naresuen, khususnya, dikenang berkat kemenangan gemilangnya dalam pertarungan di atas gajah melawan kepala musuhnya. Jika kedua tokoh yang bertarung tersebut boleh dikatakan seimbang, peperangan menjadi serangkaian pertempuran kecil dan manuver yang di sana sini ditandai oleh serangan perorangan. Kedua pihak bisa saja mendirikan benteng sementara dalam jarak berdekatan dan terlibat dalam saling tantang
serta pertempuran kecil-kecilan untuk jangka waktu lama. "Banyak pameran keberanian, tapi hanya sedikit pertempuran" (Anderson 1826: 275). Dampier (1697: 231; 1699: 1(0) menyaksikan dua peperangan seperti ini-suatu perang saudara di Aceh di mana ribuan orang dikerahkan oleh kedua belah pihak, tapi tampaknya ticlak seorang pun yang tewas, clan serangkaian pertempuran kecil kecilan di Mindanao antara Sultan clengan orang "Alfurs" dari pegunungan. Di Maluku, pertempuran kecil-kecilan ini tampak seolah-olah "mereka selalu
142
PENGATURAN MASYARAKAT melancarkan peperangan, mereka memang menyukainya; mereka hidup dan menunjang diri dengan peperangan" (Galvao 1544: 169). Di Benua, peperangan biasanya jauh lebih luas dengan mengerahkan ribuan orang. Meskipun demikian,
seorang sejarawan Thai telah menghitung bahwa Ayutthaya melakukan setidak· tidaknya tujuh puluh peperangan yang tercatat selama 417 tahun usia dinasti
tersebut (kutip Battye 1974: 1). Bagi dunia Melayu unsur kunci dari serangan ialah amok. Paling sering
digunakan dalam kronik Melayu sebagai kata kerja (mengamok), kata itu dapat berarti semata-mata menyerang, tapi terutama dengan keris atau pedang secara
mati-matian, dengan maksud untuk membunuh atau menewaskan sejumlah musuh, meskipun jiwa sendiri harus melayang dalam proses itu. Jika serang an demikian berhasil melukai pimpinan pihak lawan, itu sudah cukup untuk memutuskan siapa pemenang perang. Amok di Jawa sangat terkenal, menurut Tome Pires (1515: 266; cfl76): "Orang mengamuk adalah satria bagi mereka, orang yang bersedia
mati,
dan melaksanakan keputusan untuk mati tersebut."
Dalam keteraturan susunan pasukan Bali sekalipun (lihat Gambar 18), serangan biasanya dimulai oleh para pengamuk dengan memakai pakaian putih sebagai
lambang kerelaannya untuk berkorban (ENJ II: 317). Opium atau mariyuana sering digunakan untuk merangsang prajurit, untuk menantang kematian (Pires 1515: 176; Fryke 1692: 48; Raffles 1817 1: 298), tapi mungkin ini hanyalah bagian dari suatu ritus yang panjang serta persiapan spiritual yang maksudnya untuk menciptakan suatu keadaan kerasukan demi memperoleh kekebalan. Kronik dan prasasti Asia Tenggara suka melebih-lebihkan kebesaran dan karisma rajanya. Sebab itu, mereka cenderung mengaitkan kemenangan pada kekuatan adikodrati, bukan pada faktor-faktor teknis. Kemenangan Patani atas Palembang, misalnya, dihubungkan dengan daulat (tuah raja) Sultan Manzur Shah (Hikayat Patani: 89). Karena kekuasaan dipandang berasal dari sumber sumber spiritual, maka orang umumnya percaya bahwa para raja dan satria
mencapai keberhasilan lewat persiapan asetis serta ritus, meditasi, mantra mantra, dan tuah berkah Tuhan yang mereka miliki sendiri, sama pentingnya dengan kekuatan pasukannya
.
Sej arah Melayu ( 1612:
99) menerangkan salah satu kemenangan orang
Melayu atas orang Siam pada abad ke-15 dengan pertunjukan kekebalan orang Melayu di depan istana Thai, yang segera kehilangan segenap keberaniannya untuk berperang. Cerita ini mungkin tidak benar, tapi kita tahu bahwa orang
143
ASIA TENGGARA DALAM KURUN NIAGA 1450-1680
Melayu, terutama orang Makasar, mempunyai reputasi yang sama di Siam pada abad ke-17. Seorang utusan Persia melaporkan, "Pada umumnya ilmu mantra, sihir dan jampi dipraktikkan secara luas di Siam, tapi tak seorang pun yang bisa mengalahkan orang-orang Makasar ini, yang membacakan mantera khusus pada keris mcrcka" (Ibrahim 1688: 136). Kekebalan terhadap senjata tajam dan peluru dipandang sebagai pertanda satria besar. Dalam kancah seperti perang saudara Aceh yang besar di awal abad ke-18, kedua belah pihak dipandang memiliki ahli mantra yang telah menjadi kebal dengan membaca baris-baris bertuah atau dengan melekatkan kc tubuh para pengikutnya jimat ampuh, biasanya dari logam, "nyang keubay that Pang Peureuba, kul tneu gla na ban minyeu; ta'eu teusireu 'boh ramtaka" (bahasa Aceh) (Hikayat Pocut Muhamat: 229, c[ 249; Siegel 1979: 113, 137-138, 149; Wales 1952: 95, 133-134). Orang Portugis yang berjumpa dengan satria demikian dalam perjalanan mereka ke Melaka pada tahun 1511, tidak terlalu jauh dari dunia orang Melayu untuk menceritakan, bagaimana kepala pasukan Melayu tidak Iuka sedikit pun, meskipun mereka sudah berkali-kali mengenainya, hingga mereka melepaskan jimat tulang dari Jengannya, "dan kctika meteka menanggalkan (jimat tersebut), seluruh darahnya tertumpah dan ia pun tewas" (Albuquerque 1557: 61). Kepercayaan pada kekebalan perorangan ini, yang masih bertahan hingga sekarang, tidak
boleh diartikan bahwa keahlian teknis berperang dikesam pingkan demi ilmu magis. Tidak seorang pun yang lalai mempersiapkan diri dengan senjata terbaik yang ada, termasuk dari buatan Cina, Turki, dan Eropa, kapan saja senjata itu terbukti ampuh. Senjata terpenting dalam peperangan orang Asia Tenggara, yakni pe dang, keris, dan tombak, dimiliki oleh setiap orang. Pakaian orang Jawa, orang Melayu, atau orang Makasar belum lengkap tanpa keris (Gambar 19). Daripada memiliki sebuah pasukan profesional bayaran, raja-raja umumnya bersandar pada kesanggupan kalangan istana mengerahkan para pengikutnya untuk berperang manakala diperlukan. Landasan fisik kekuasaan seorang raja karenanya rapuh. Hanya dengan kewaspadaan, karisma, nasib baik, dan biasanya kekejaman, seorang raja sanggup menguasai kalangan bangsawan dan juga sekaligus para pengikut kaum bangsawan itu. Keberhasilan dalam peperangan menciptakan momentum sendiri bagi seorang raja, sebab tawanan dan harta rampasan yang diperoleh dengan cara demikian mengukuhkan kekuasaannya, sama seperti kemenangan untuk meningkatkan karisma. Dengan pertimbangan 144
PENGATURAN MASYARAKAT
I
J
'
s
5
.It . 1 L 7 :i . IJ; � , 1. .::. , � .. � � ' _ , ., ;: � . \ " iti6 Gt -l. �. f ·-· 11 · ,. mi. • , ". r --,· � · . � �,·.itW llff• t ' ' ,.
'
'
' '
._ ,,. '
.
..
-�.:;
'
, .,..,. . · �>«;J. "'' . � -i,..' .,_ -· �· . . .... . ....
'
(;))> � � i; s:: 2
;o c z z
l) )> -
...
g: ' -
� 0 Gambar 35. Lomba layar orang Blrma pada saat perayaam festival air, dengan a j rak antara satu bulan baru dengan bulan berikulnya, lebih kurang 29,5 hari yang ke-6 (September). 01 baglan pemandangan yang terdekat di sebelah kanan, sedang bertangsung pementasan sebuah drama di bawah tenda besar, dengan orkestra yang blasa menglringinya. Dari ilustrasi mansuk.rip orang Birma. pertengahan abad ke-19 (Musee Guimet, Paris, MA1661
PESTA KERAMAIAN DAN HIBURAN
acara-acara perlombaan, yang di atas semuanya ditunjukkan oleh kecenderungan bertaruh hampir pada semua perlombaan, telah disampak i an oleh para pengunjung sejak abad ke-16 (Willemsz 1642: folio 524; La Loubere 1691: 50; Marsden 1783: I: 131: 14; Lennon 1196: 262; Goudswaard 1860: 351-352; Aymonier 1900: 45). "Penduduk Kepulauan Hindia sangat gemar akan perlombaan ... Pada hari pasar, di setiap bagian negeri di mana perjudian terbuka tidak dilarang secara mutlak, lelaki clan perempuan, tua clan muda, membagi diri mereka dalam kelompok kelompok di jalan jalan pasar, untnk melakukan perlombaan. Saat itu watak penduduk tampaknya berubah sama sekali, sebab pembawaan mereka yang penuh kesungguhan, ketertiban clan ketenangan berubah menjadi ketidaktenangan kegairahan, dan hiruk-pikuk" (Grawfurd 1820 I: 109-111). orang Asia Tenggara dalam
-
-
Catatan G> )> -
...
� '
-
"' CD 0
Gambar 38. Para penari Blrma sedang membentuk bidang arak·arakan sebagai rasa hormat kepada gajah pullh; dart llustrasl manuskrip orang Birma pertengahan abad ke-19 (Musee Gulmet, Paris MA1661)
PESTA KERAMAIAN DAN HIBURAN
i f
�
s :>
! � 8 0
'
,
-
.
.."
� .
. .
.,. . .
,..._,.,. � � c • ;. o :":f..; :• :l(:'it " , ; '. . llfl ;t'° . p. � · . _� - w�· ..,$°'" '"";";�" , �f". ',i:-"\':...... i�·, . ..�:; ,·. r ,_ .. .
·
,
�' ¥
.
"1 1'
-�
. .,. • c
_
�
.' ''.i• c: � ;il "'; .. .;' ""\;;) :.. �:�
'
. -... -
-
'j
. .
)> 0 )>
>
s::
;>;
c ;o c z z )> (;) )> -
...
(JI 0
' -
a> O> 0
Gambar 40. 'Perayaan Pagoda Paslr" orang Birma, darl jarak 1 bulan berikutnya Jebih kurang 29,5 hari ke-12 (Maret-April), dlluk.lskan dalam manuskrip pertengahan abad ke-19, yang dlgambarkan dengan cat. Di sebelah kiri adalah teaterwayang golek, di depannya orkestra orang Blrma sebagal pengiring, dan di sebelah kanan penjualan beraneka ragam makanan (Musee Guimet, Paris, MA1661)
PESTA KERAMAIAN DAN HIBURAN
Hindu. Ini merupakan tradisi rabam orang Tha� clan dari perkembangan di Birma dari tari-tarian shaman hingga pertunjukan hiburan yang disebut Htin Aung (1937: 21-24) "selingan." Asal yang sama mungkin telah mengilhami raket clan gambuh diJawa clan Bali, keduanya sudah ada pada abad ke-14-meskipun ini tampaknya telah cukup lama menggunakan penari-penari pria (Wangbang WUideya: 87, 91; Pigeaud 1938: 345-347; McPhee 1966: 1 13). Tradisi lainnya ialah penggambaran dewa.Oewa clan rob-rob yang digayakan dengan boneka-boneka, bayang-bayang, clan akhirnya pemain bertopeng. Pada abad ke-17, kedua bentuk ini telah membangkitkan suatu teater yang sangat populer yang menggunakan Ramayana, Mahabharata, kisah-kisah Jataka, clan beberapa peristiwa dari sejarah setempat guna menghibur, mendidik, memberikan petunjuk moral, clan sekaligus mempertahankan hubungan antara dunia manusia dengan dunia dewa yang penting, khususnya pada upacara penguburan, perkawinan, serta ritus-ritus pokok lainnya. Suasana kota clan kosmopolitan dari kurun ini memungkinkan teater berpindah hingga tingkat tertentu dari yang semata-mata suci clan konvensional, serta melahirkan di Siam (juga mungkin di Jawa serta Kamboja) suatu teater rakyat dengan pemain-pemain tidak bertopeng, seringkali dengan menciptakan tokoh-tokoh baru untuk pertunjukan. Bahwa tradisi ini juga berkembang ke dunia Melayu kita ketahui dari Hikayat Patani {115-116), yang bercerita tentang suatu kelompok pemain panggung yang terdiri dari empat orang pria clan delapan orang wanita yang datang ke Patani pada tahun 1620-an. Mereka mementaskan drama puisi yang diiringi musik (ikatan), yang didasarkan pada episode dari Ramayana, tapi juga paling tidak dua cerita dari masa lampau Melayu yang belum begitu lama-satu tentang Bendahara dari Malaka yang membendung serbuan pertama orang Portugis clan yang lainnya tentang Bendahara dari Johor sewaktu melakukan serangan ke Jambi. Terlepas dari perannya sebagai pengiring pertunjukan-pertunjukan ini, musik memainkan peran sangat penting pada teater kerajaan maupun pada hiburan sehari-hari orang Asia Tenggara. Musik tampaknya ada di mana-mana. Orang Filipina, Thai, clan Birma menyanyi sewaktu mendayung perahu, menuai panen, clan memukul padi (Alcina 1668 III: 64; Loarca 1582: 121; Symes 1827 II: 23; Schweisguth 1951: 119-121). Orang Belanda pertama di Jawa menerangkan bagaimana, di istana besar kerajaan Banten, "tarian berlangsung sepanjang malam, sehingga pada malam hari terdapat suara gong clan alat-alat musik" (Verhael 1597: 30). Komentar yang sama diberikan oleh Bowring (1857 I: 150245
ASIA TENGGARA OALAM KURUN NIAGA 1450-1680 151) tentang Siam pada masanya clan zaman kejayaan Ayutthaya dikenang seba gai suatu periode yang lebih banyak lagi menghasilkan karya musik (Morton
1976: 13). Pada teaterlah kita harus berusaha membedakan antara musik rakyat dengan musik istana masa ini (Kunst 1933
I: 120-121). Pangeran clan petani
sama-sama terpukau pada tema-tema serta alat-alat musik yang sama. Akan tetapi, ada perbedaan antara kemerduan agung dari gong-gong perunggu dengan musik yang lebih akrab yang biasanya dimainkan oleh kaum wanita. Sepenuhnya pantas saja bahwa "gong" merupakan salah satu kata yang diberikan orang Asia Tenggara kepada bahasa-bahasa Eropa.
Kata
"gong" mungkin berasal dari bahasa Jawa, tapi dipinjam oleh sebagian besar bahasa-bahasa Austronesia clan bahasa Thai
{khong). ldiofon perunggu telah
memainkan peran kunci dalam ha! status clan upacara seperti juga dalam musik, mungkin sejak genderang perunggu, besar dari Dong-son mendapatkan pasar di seluruh Asia Tenggara selama empat abad sebelum Masehi. Pada kurun niaga, gong perunggu tetap merupakan barang niaga penting dalam perdagangan, khususnya di Indonesia bagian timur, Borneo, clan Filipina, di mana gong perunggu harus diimpor dari Jawa atau Cina. Gong perunggu ditabuh seiring dengan genderang bambu, untuk menunjukkan jam atau bagian hari (Dampier
1697: 231; Yupho 1957: 22); untuk memanggil orang berkumpul atau membuat pengumuman penting {Lodewycksz 1598: 107; Wilkinson 1903: 374); untuk lebih mengkhidmatkan suatu peristiwa penting. Sebagaimana dicatat oleh Alcina
(1668 III: 722-773), hanya orang kaya
yang sanggup memiliki alat-alat musik impresif ini. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika hubungannya sangat erat dengan status. Jika raja atau orang terkemuka berjalan dalam iring-iringan yang khidmat, orang menyertainya de ngan tabuhan gong (Gambar 41 ). "Tergantung pada lengkung kayu, gong dipikul oleh dua orang lelaki, sedangkan lelaki lainnya menabuhnya dengan pemukul dari kayu; (hasilnya ialah segala) suara dari kontrabas hingga soprano, karena ada yang lebih besar clan ada yang lebih kecil" (Galviio
1544: 111; c£ Scott 1606:
155). Iring-iringan raja di laut, atau ekspedisi angkatan laut, juga mengangkut seperangkat peralatan dari perunggu untuk menunjukkan kebesaran raja (Morga
1609: 276; Galvao 1544: 149). Pada acara acara kenegaraan, seperti perlombaan -
yang diadakan oleh raja-raja Jawa, seperangkat gong selamanya diperlukan. Di Mataram, setiap orang te.rpandang mendirikan panggungnya sendiri dalam
246
PESTA KERAMAIAN DAN HIBURAN
Gambar41. GongJawa berukuran besardibawa dalam irlog-iringan mlllter, dari sebuah rellel pada candl Jawa, abad ke-14, Gandi Panataran, mernpertihatkan pasukan monyet Sugriwa (dari Kunst 1927, gambar 58)
mengikuti perlombaan, dengan "peralatan-peralatan dari logam, paling tidak 20 hingga 30, dengan gong-gong besar dan kecil, begitu juga dengan raja, yang nlemiliki sebanyak 200 yang disebarkan dalam lima atau enam tempat. Gong gong ini dipukul dengan amat lembut dan manis sebelum raja tiba... Tatkala raja tiba di alun·alunluar, mereka mulai memukul semua gong besar maupun kecil dengan kekuatan sedemikian rupa sehingga suara pukulan sepuluh gende rang kami tidak mungkin lagi terdengar" (van Goens 1656: 229-230}. Di istana dan rumah-rumah terkemuka, perangkat gong yang terdiri dari rujuh atau delapan buah yang ukuran dan bunyinya berbeda-beda, atau lebih sering oktaf berlipat dua ukuran empat belas atau enam belas, dikumpulkan untuk mcmbentuk suatu instrumen yang memainkan oktaf-oktaf dari tujuh nada. (Pengecualiannya ialah skala slendro dari Ii.ma nada yang khas Jawa, mungkin jumlah yang hendak diperlihatkan dalam ukiran Belanda yang kasar pada ansambel di pantai utara di mana hanya empat gong menciptakan bo11a11g sederhana-lihat Gambar 42.) Orang Portugis penakluk Melaka diberi oleh seorang raja Jawa seperangkat gong kecil yang jumlahnya dua puluh (mungkin 4 x 5, dalam skala slendro), dan dua "gong besar "yang mereka pukul di medan pe rang" (Albuquerque 1557: 161). Di Mindanao, Dampier (1697: 234) tidak mene mukan alat musik apa-apa, kecuali paduan enam belas gong yang ukurannya berbeda-beda. Di Ayutthaya, lingkaran enam belas gong (kbong wong), yang diadaptasi dari peradaban Khmer di Angkor dan akhirnya inerupakan ciri khas 247
)> CJ) )> -4 m z G>
G>)> �
0
� CD
�·• ·
'I' _ •
• � -
� •
:s::: ;>:; c ;u c z z )> G> )>
-
�
� '
-
C> CD 0
Gambar .f2. Celakan penguklr Belanda mengenai gong orang Jawa dari Banten, tahun 1596. Teks kon1emporer, dalam Lodewycks 1598, menunjukkan penggunaan gong ·untuk bunyi Jam den memalnkan semua muslknya dan Juga pada seat lngln mengundang orang-orang Thal etas name raja, sebagaimana mereka lakukan ketika pertama kali kami tiba di sana, untuk mempertihatkan bahwa siapa pun dapat membell dan menjual dengan kami" (direproduksl alas lzln De Walburg Pers, Zulpben)
PESTA KERAMAIAN DAN HIBURAN
Birma, Kamboja, dan Siam (lihat Gambar 33 dan 40), sudah muncul dalam pemerintahan Narai (La Loubere 1691: 68; Morton 1976: 4548). Karena gong dikaitkan dengan minat kaum pria pada status dan pepe rangan, biasanya gong dimainkan di luar rumah oleh kaum pria. Akan tetapi, di Filipina (Pigafetta 1524: 36-37), juga kemudian di bagian-bagian Sumatera, para musisi wanita menangani orkestra dari gong dan genderang yang umum ditemukan di seluruh wilayah tersebut. Kaum wanita memainkan semuanya kecuali gong dan rebana terbesar, khususnya dalam pertunjukan di gedung
(Verhael 1597: 30). Di Siam, dua paduan instrumen mulai terbentuk, yakni mahoni, atau paduan senar yang terdiri dari empat guna menyertai tarian
atau lima orang wanita termasuk seorang penyanyi dan penabuh rebana (Gambar 43a dan 43b); dan pi phat, biasanya merupakan kelompok pria yang menggunakan alat dari buluh
(pi}, gong, dan rebana (Morton 1976: 101-105).
Yang disebut pertama telah diabadikan dalam lukisan dan ukiran sebagai bagian dari kehidupan dalam istana serta rumah-rumah bangsawan lainnya, sedangkan yang disebut kedua digunakan untuk menyertai pertunjukan panggung dan festival. Kunst (1933: 113-114) berpendapat bahwa gamelan Jawa tumbuh dari paduan yang berangsur-angsur, katakanlah antara abad ke-15 hingga abad ke-18, dari pola pria yang memadukan gong dan rebana serta alat-alat yang menggunakan senar dan tiupan yang biasanya dimainkan oleh kaum wanita (Gambar 44). Di Mataram sudah terdapat sesuatu yang mirip gamelan, dengan beberapa alat musik bersenar dan seruling di samping "banyak gong kecil" (van Goens 1656: 235). Di Patani abad ke-16, paduan khas yang bertumpu pada rebana dari kalangan kaum bangsawan Melayu-Muslim (nobat) telah diiringi dengan "nafiri emas empat dan perak empat butir dan serunai emas dua dua dan perak dua butir dan gendang nobat dua betas butir dan nagara delapan butir
(Hikayat Patani: 141). Apa yang tampaknya pasti ialah bahwa hingga
setidak-tidaknya di penghujung abad ke-17 banyak sekali variasi dan percobaan dalam cara memadukan gamelan. Jika alat-alat dari perunggu serta gamelan yang lengkap merupakan hak istimewa orang berada, sebagian besar dari rebana, seruling, oho, dan alat-alat musik bersenar pada kalangan rakyat Asia Tenggara bisa terjangkau oleh semua kalangan. Bagi orang desa sederhana, alat-alat musik dibuat murah dari bambu, daun dan batok kelapa, bahkan irama orang menumbuk padi sekalipun dapat menjadi pengiring menyanyi. Di antara segelintir penulis yang memberi kita gambaran tentang kehidupan desa, Alcina (1668 III: 64-73; c[ Chirino 1606:
249
ASIATENGGARA DALAM KURUN NIAGA 1450-1680
250
PESTA KERAMAIAN DAN HIBURAN
c: :: .c:
2
·� .c: ,_
.Q "' .. �
,. _ .Q "
E Yl
.. 0 Cl I
251
ASIA TENGGARA DALAM KURUN NIAGA 1450-1680 "' CD
;i!;
0 ...J ., ..
:;
g c:
., Q
;::: ., "'
i
..,
°' c: ., -
0 c: ., ..
:;< ::> .c: .,
::>
,, "' ..
E !!I ., "
c: .,
� ., .c
E .,
.2' "'
., c: .,
·�
Ql ., ,, "' ..
o) ' Q) ,. �
" ., ,, ., " .,
�
.. .., c:
!!I
Q)
E
.. "'
c: � !!I � �� � .3 .. 0..
!! _ · -
� 'i?! ;;; -� § .a
E _:! fl ::Cl oc 252
PESTA KERAMAIAN DAN HIBURAN
279) mengungkapkan antusiasme besar penduduk desa Filipina mendengarkan kepiawaian kaum lelaki memainkan sitar {kudyape) sederhana, atau perempuan memainkan kecapi kecil (korlong). Untuk perlombaan bersahut-sahutan musik antara dua alat musik "orang ramai berkerumun ... sehingga mereka memenuhi rumah atas dan bawah" (ibid.: 67). Musik di Vietnam sebaiknya lebih dipandang sebagai varian tradisi musik Asia Timur daripada Asia Tenggara, terlepas dari banyaknya pengaruh Cham dan Kamboja. Di samping kesamaan antara alat-alat musik Cina dan Vietnam, Vietnam menggunakan skala pentatonik dan gaya nada Asia Timur yang berbeda dari polifoni skala tujuh nada di Asia Tenggara (Tran 1967: 1923; Kunst 1933: 121). Lagipula, orang Vietnam menuliskan notasi musiknya menurut sistem yang diambil dari Cina (Tran 1967: 64-65). Ini merupakan perbedaan besar dari sistem transmisi musik yang sepenuhnya aural di bagian bagian Asia Tenggara lainnya, di mana setiap musisi mengusahakan variasi di antara repenoir musik, yang pada dasamya dilihat sebagai suatu "keadaan yang tetap" (Sutton 1982: 291-192). Sebaliknya, dalam musik dan puisi rakyat di Vietnam, pola·pola dominan Asia Tenggara tampaknya berlaku. Kemampuan Baca-Tulis yang Tersebar Luas?
Para pengunjung awal dari Eropa ke Asia Tenggara terpukau oleh tingginya tingkat kemampuan baca-tulis yang mereka jumpai di sana. Bukti-bukti mereka sangat banyak clan kuat justru di bagian-bagian Asia Tenggara yang dikira pa ling terbelakang-Filipina. Meskipun, seperti diakui oleh para pengamat awal dari Spanyol, tidak ada kesusastraan tertulis yang berarti dalam bahasa-bahasa Filipina, dan sistem menulis mungkin belum diperkenalkan lebih dari satu atau dua abad sebelum kedatangan orang Spanyol, sebagian besar pria dan wanita mampu menuliskan pada bambu atau lembaran daun lontar ke-17 simbol hurufyang digunakan di Filipina: Kaum wanita umumnya tahu bagaimana menulis dengan huruf-huruf itu dan itu dilakukannya di atas potongan·potongan bambu tertentu (Dasmarii\as 1590A: 424).
Begitu terbiasanya penduduk pulau ini dalam hal membaca dan menulis sehingga hampir tidak seorang lelaki pun, apalagi wanita, yang tidak bisa membaca dan menulis dengan huruf-hurufyang berlaku di pulau Manila (Chirino 1604: 280). Semua penduduk, wanita maupun pria, menulis dengan bahasa ini, dan sedikit sekali
yang tulisannya tidak baik atau salah (Morga 1609: 269).
253
ASIA TENGGARA OALAM KURUN NIAGA 1450-1680 Mcrcka S