Data Loading...
The Fifteen Ebook Flipbook PDF
The Fifteen Ebook
135 Views
6 Downloads
FLIP PDF 2.02MB
The Fifteen
The Fifteen
The Fifteen
Disclaimer This book contains boyxboy especially Yunjae. This is just a work of fiction, don’t take it seriously. This story is just a product of the author's imagination and only for entertainment purposes. Be a wise reader.
Peringatan! Dilarang menyalin dan memperjual belikan e-book ini tanpa izin untuk alasan apapun
The Fifteen
Daftar Isi ★
Red String of Fate
★
The One and Only
★
Please, Don’t Remember Me
★
One of These Night
★
Malam Dimana Kita Semua Hilang
The Fifteen
Authors ★
Blavkhaert
★
tohoshinkijeje
★
Vilove-jj
★
nyangiku
★
Connoiseanrs Initiated by
Pawrude
The Fifteen
Red String of Fate Written by Blavkhært
“Mari kita bercerai.” Ucapan darinya membuat suasana di antara mereka hening untuk sesaat. Suhu ruangan di mana mereka berada seketika berubah menjadi sangat dingin. Dirinya merasa bahwa cepat atau lambat laki-laki yang berada di hadapannya ini akan mengucapkan kalimat perceraian. “Baiklah... mari kita bercerai.”
The Fifteen
Oleh karena itu, dirinya tidak akan menolak, tidak ada gunanya untuk membuat keributan untuk sesuatu hal yang sudah pasti hasil akhirnya akan seperti apa. Tetapi… Entah mengapa ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh laki-laki yang berada di hadapannya ini terlihat seperti seseorang yang telah dicampakkan, walau pun dirinya lah yang harusnya terluka bukan laki-laki yang berada di hadapannya ini. “Aku… akan pergi sekarang…” Laki-laki
yang
telah
mengucapkan
kalimat perceraian itu kemudian mulai beranjak dari tempatnya.
The Fifteen
“Tidak perlu, rumah ini adalah milikmu, jika ada yang harus pergi, maka orang itu adalah aku. Untuk
sesaat,
setelah
mendengar
ucapannya, suaminya terlihat seperti orang yang telah dibuang. Ah tidak, mungkin lebih tepatnya suami yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya. Dirinya
kemudian
mulai
merapikan
pakaiannya yang mulai terlihat berantakan. “Kita
akan
membicarakan
masalah
perceraian ini secara lebih detail dengan Pengacara besok.” Tidak seperti laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya, dirinya
The Fifteen
dengan tenang mengucapkannya seolah-olah itu bukanlah hal yang mengejutkan. Tetapi… Berbanding terbalik dengan laki-laki yang memiliki mata serupa musang itu. Wajahnya terlihat seketika memucat. “Bagus… Sungguh bagus sekali.” Mendengar jawaban yang keluar dari bibir berbentuk hati itu membuat dirinya tidak ingin berada di dalam rumah itu lebih lama lagi, terlebih berada dekat dengannya. Dirinya kemudian berpaling dan mulai beranjak pergi. Namun…
The Fifteen
Ucapan dari laki-laki yang sebentar lagi akan
menjadi
mantan
suaminya
itu
menghentikan langkahnya. “Barang-barangmu…” “Jika barang-barang itu mengganggumu dan membuat matamu iritasi…” Dengan
nada
yang
datar
dirinya
kemudian melanjutkan ucapannya. “Bakar saja semuanya.” Dirinya
kemudian
melangkahkan
kakinya dengan mantap. Berlalu tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya. Melihat pasangannya yang pergi begitu saja tanpa ekspresi apa pun di wajahnya, tanpa
memohon
sekali
pun,
membuat
The Fifteen
tubuhnya
seketika
terasa
kehilangan
tenaganya. Tubuhnya seketika terasa akan limbung bila dirinya tidak bersandar pada dinding. Mengapa…? Mengapa…? Mengapa terjadi seperti ini…? Harusnya tidak seperti ini… ***** Ketika Jaejoong berjalan menuju luar rumah melalui garasi yang merupakan jalan satu-satunya menuju luar rumah mereka, ah tidak, rumah Yunho.
The Fifteen
Di
dalam
garasi,
Jaejoong melihat
koleksi mobil-mobil mahal yang berjejer rapi. Ketika
Jaejoong
hendak
mengambil
kunci mobil dari saku celananya, seketika Jaejoong mengurungkan niatnya. Mobil yang
selalu dikendarai oleh
Jaejoong merupakan hadiah yang dibelikan oleh Yunho. Dan Jaejong jelas tidak akan menggunakan mobil tersebut. Dan semua koleksi mobil-mobil mahal yang berjejer rapi itu juga merupakan mobilmobil yang dibeli oleh Yunho untuk dirinya. Jaejoong kemudian menghela napas sebelum
akhirnya
berlalu
pergi
The Fifteen
meninggalkan kunci mobil di atas kap mesin mobil yang selama ini selalu dikendarainya. Udara malam terasa begitu dingin. Terlebih di musim dingin di bulan Desember ini. Salju yang turun mulai menumpuk menutupi jalanan. Dengan mengenakan pakaian seadanya, Jaejoong kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel dan merapatkan
pakaian
yang
membalut
tubuhnya untuk menghalau rasa dingin yang menyerang tubuhnya. Tetapi… Tidak dengan hatinya yang seakan membeku.
The Fifteen
***** Melihat salju yang turun, membuat Jaejoong
teringat
pertemuan
pertama
mereka. Hari ini adalah tanggal 15 Desember, yang mana merupakan hari pertama kali mereka bertemu. Harusnya hari ini menjadi hari perayaan peringatan 15 tahun pertemuan mereka. Bagaimana mungkin Jaejoong bisa lupa, bila setiap tahun Yunho akan memaksanya untuk
melakukan
perayaan
peringatan
pertemuan mereka untuk yang pertama kali.
The Fifteen
Jaejoong
kemudian
menengadahkan
tangannya dan membiarkan butiran salju yang turun memenuhi telapak tangannya. Jaejoong teringat pertemuan pertama mereka. Saat itu, tepat 15 tahun yang lalu, sebuah mobil Audi type A6 berwarna hitam yang Yunho kendarai mengalami mogok, pada malam itu, dengan keadaan dan suasana yang sudah terlalu larut, Jaejoong yang melihatnya kemudian turun dari mobilnya dan menghampiri Yunho dan mencoba untuk membantunya. Melihat bahu dan kepala Yunho yang hampir
dipenuhi
oleh
tumpukan
salju
The Fifteen
membuat Jaejoong kemudian mengambil payung dan memayungi tubuh Yunho. Jaejoong melihat ekspresi Yunho yang terlihat kaget ketika dirinya melihatnya, namun dengan cepat ekspresi kaget itu berubah menjadi senyuman. Senyuman
yang
seakan
mampu
yang
akhirnya
melelehkan butiran salju. Senyuman
itu
pula
mampu meluluhkan hati Jaejoong yang beku. Namun… Sayangnya orang-orang akan berubah. Ada orang yang dengan cepat berubah. Dan… Ada pula orang-orang yang akan berubah secara perlahan.
The Fifteen
Tetapi… Mereka semua pasti akan berubah. Begitu pun dengan Jaejoong yang secara perlahan namun pasti akhirnya jatuh ke dalam senyuman Yunho. Dan… Begitu pun dengan Yunho yang akhirnya kehilangan cintanya untuk Jaejoong. Mengingat perilaku Yunho yang berubah dengan cepat membuat Jaejoong tertawa pada dirinya sendiri. Jaejoong
kemudian
menyenderkan
bahunya ke dinding, Dirinya terlihat begitu lemah dan seolaholah dirinya akan menghilang ke dalam gelapnya malam.
The Fifteen
Sebenarnya, sudah lama Jaejoong telah melihat tanda-tanda itu. Secara tiba-tiba Yunho menjadi berubah. Selama beberapa bulan terakhir, Yunho selalu pulang larut malam dan bersikap semakin dingin. Hari demi hari. Yunho yang dulu selalu mencairkan suasana. Yunho yang dulu selalu membuka pembicaraan dan membuat lelucon untuknya. Yunho yang selalu tahu suasana hati Jaejoong dan akan selalu menghiburnya. Kini... Yunho nyaris tidak berbicara kepadanya, sedangkan Jaejoong yang sedari awal adalah
The Fifteen
seorang pendiam tidak dapat menemukan topik untuk dibicarakan. Membuat mereka hanya bisa diam dalam keheningan. Hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Namun… Tidak ada seorang pun yang mengatakan sepatah kata pun. Lalu, memangnya apa lagi yang bisa dirinya lakukan? Di dunia ini… Perasaan adalah sesuatu hal yang paling tidak bisa diandalkan. Mereka datang secara tidak terduga. Dan sebaliknya… Mereka juga bisa hilang tanpa sebab.
The Fifteen
Dulu... Jaejoong tidak mengerti, bagaimana bisa Yunho menyukai orang yang membosankan seperti dirinya. Dan kini... Jaejoong juga tidak mengerti, mengapa Yunho tidak menyukai dirinya lagi. Mengingat kata perceraian yang keluar dari bibir Yunho membuat Jaejoong tersadar. Perceraian sebenarnya tidaklah seburuk itu. Lagipula... Sejak
dulu
dirinya
sendirian. *****
memang
selalu
The Fifteen
Hari ini adalah tanggal 15 Desember, yang mana merupakan hari pertama kali mereka bertemu. Harusnya hari ini menjadi hari perayaan peringatan 15 tahun pertemuan mereka. Kim Jaejoong dan Jung Yunho telah menikah selama 10 tahun, masing-masing dari mereka merupakan orang-orang yang sukses dalam karir mereka. Dan mereka adalah pasangan yang sempurna di mata semua orang. Dengan cantik
dan
penampilan tatapannya
Jaejoong yang
yang dingin,
dipadukan dengan penampilan Yunho yang
The Fifteen
tampan namun memiliki pandangan mata yang terasa hangat. Mereka adalah pasangan yang bertolak belakang namun saling melengkapi. Tetapi… Tidak ada seorang pun yang tahu, suatu kejadian kecil telah menjadi bencana dan telah merubah kehidupan sempurna mereka. Pada sore itu… Yunho mengatakan kepada Jaejoong bahwa dirinya akan pulang terlambat karena ada pekerjaan yang harus diselesaikannya. Tetapi… Ketika Jaejoong datang ke dalam bar yang
merupakan
tempat
yang
selalu
didatangi oleh Jaejoong dan Yoochun
The Fifteen
bersama, Jaejoong melihat Yunho berada di dalam bar namun dengan seorang laki-laki manis dan imut. Dengan bokongnya yang berisi,
menjadikannya
seorang
laki-laki
populer yang akan menjadi incaran bagi para Seme. Jaejoong
yang
datang
bersama
sahabatnya, Yoochun, hanya bisa termangu untuk sesaat. “Bukankah itu suamimu?” Melihat
Jaejoong
yang
bergeming
membuat Yoochun kembali bersuara. “Mereka terlihat… dekat, apa kau tidak mau menghampiri mereka?” Melihat membuat
Jaejoong Yoochun
yang
bergeming
mencoba
memecah
The Fifteen
keheningan, walau pun mereka berada di dalam bar dengan suara hiruk pikuk musik yang berdentum, namun tempat di mana mereka berada terasa sunyi. Untuk sesaat Jaejoong terdiam, namun Jaejoong mencoba menyakinkan dirinya sendiri. “Mereka sedang bekerja.” ***** Jaejoong berjalan menyusuri jalan, dan terus berjalan. Langkah demi langkah menjauh dari tempat yang telah memberikan kenangan
The Fifteen
indah
selama
hampir
sepuluh
tahun
kebersamaan mereka. Tempat yang dulu disebutnya… Rumah. Tetapi kini… Jaejoong akan mencari tempat untuk dirinya tinggal untuk sementara waktu. Dengan wajah yang dingin, Jaejoong bersikap seolah-olah dirinya tidak pernah mengalami kejadian besar yang baru saja akan mengubah hidupnya kembali. Dulu… Ketika Yunho mengejar Jaejoong, semua orang mengatakan bahwa Yunho sudah gila. Mereka
semua
mengatakan
bahwa
Jaejoong adalah orang yang sangat dingin.
The Fifteen
Bahkan orang tua Jaejoong sendiri pun mengatakan bahwa Jaejoong tidak akan jatuh cinta kepada siapa pun. Dan Yunho sendiri pun mengakuinya. Bahwa dirinya sudah gila. Hanya dalam sepersekian detik di malam pertemuan mereka di tengah hujan salju yang turun mampu membuat dirinya benarbenar jatuh cinta kepada Jaejoong. “Kau tidak akan tahu seberapa besar kau akan menyukai seseorang sampai kau benar-benar bertemu dengannya.” “Hanya butuh sepersekian detik untuk menyakinkan
dirimu bahwa
orang itu
adalah orang yang tepat untukmu.”
The Fifteen
Itulah yang selalu Yunho katakan setiap kali orang-orang menanyakan kewarasan diri Yunho yang menyukai seorang Jaejoong yang membosankan. Ketika Yunho pertama kali bertemu dengan Jaejoong. Ketika
pandangan matanya bertemu
dengan mata bulat yang nampak dingin itu. Di saat itu pula Yunho sadar. Yunho ingin mencium bibir penuh berwarna merah itu. Dan Yunho ingin membuat mata yang dingin itu memancarkan cinta yang hanya ditujukan kepada dirinya seorang. *****
The Fifteen
Hampir lima tahun lamanya Yunho mengejar Jaejoong. Dua tahun Yunho berusaha melakukan apa pun yang dirinya bisa untuk sekedar bisa mendekatkan dirinya dengan Jaejoong. Dua tahun berikutnya, Yunho berusaha menjadi lebih dekat dengan keluarga dan sahabatnya. Dan pada tahun yang kelima... Jaejoong
akhirnya
bertanya
kepada
Yunho. “Apa yang sebenarnya kau inginkan?” Dan Yunho yang selalu mampu berbicara sepanjang hari, tiba-tiba menjadi terdiam. Lidah Yunho seolah-olah menjadi kelu.
The Fifteen
Dirinya tidak bisa berkata sepatah kata pun. Membuat
Jaejoong
mengerutkan
keningnya. “Aku menyukaimu.” Dengan wajah yang memerah, hingga telinganya pun turut berwarna merah, Yunho mengucapkannya dari lubuk hatinya yang terdalam. Ucapan
Yunho
membuat
Jaejoong
membelalakkan matanya. “Aku tidak bercanda. Aku mengejarmu karena aku benar-benar menyukaimu dan aku ingin menikah denganmu.” Ucapan membeku.
Yunho
membuat
Jaejoong
The Fifteen
Mata Jaejoong yang berwarna coklat dan selalu terlihat dingin itu terlihat kebingungan. Dan entah bagaimana, Jaejoong terlihat menggemaskan. “Kau… ingin menikah denganku?” “YA!” Dengan
sungguh-sungguh
Yunho
mengangguk meyakinkan. “Kau… menyukaiku?” Jaejoong
kembali
bertanya
kepada
Yunho dengan ekspresi bingung. “Aku sangat menyukaimu. Semakin hari aku semakin menyukaimu. TIDAK. Aku sangat-sangat mencintaimu.” Kalimat yang keluar dari bibir Yunho adalah murni dari lubuk hatinya. Tidak ada
The Fifteen
kepura-puraan di dalamnya. Dirinya benarbenar mencintai Jaejoong. “Aku seorang laki-laki.” “Aku tahu.” “Kau juga seorang laki-laki.” “Tentu saja. Aku bisa pastikan hal itu. Jika kau tidak percaya, aku bisa melepaskan pakaianku dan membuktikannya.” Yunho kemudian memegang kancing kemejanya dan bersiap mulai melepas pakaiannya
kapan
pun
Jaejoong
memerintahkannya. Membuat Jaejoong
tercengang akan
ucapan dan tindakan yang akan Yunho lakukan. “Baiklah.”
The Fifteen
Jaejoong sambil
kemudian
tersenyum
mengucapkannya simpul
setelah
meyakinkan dan mendapatkan jawaban dari Yunho. Mendapatkan sepatah kata lirih nyaris berbisik dari Jaejoong membuat Yunho berpikir bahwa dirinya telah berhalusinasi karena selama hampir lima tahun dirinya telah mengharapkan sesuatu yang nyaris mustahil karena mengejar Jaejoong. “A-apa?” “Bisakah kau ulangi lagi?” Yunho kemudian bertanya kembali dan meminta Jaejoong mengucapkan kembali kalimat yang telah diucapkannya.
The Fifteen
“Lupakan
saja
bila
kau
tidak
melangkah
pergi
mendengarnya.” Jaejoong
bersiap
meninggalkan Yunho. Dengan
gerakan
cepat
Yunho
menangkap tangan Jaejoong. “Aku dengar… Aku dengar.” Yunho tidak akan melepaskan Jaejoong. Dengan sifat Yunho yang seperti itu, tentu saja dirinya tidak akan melepaskan kesempatan yang sudah diberikan. “Kalau
begitu
ayo
sekarang.” “WHAT?!!” *****
kita
menikah
The Fifteen
Setelah menikah, Yunho merasa bahwa dirinya telah hidup di dalam dunia mimpi setiap hari. Ketika dirinya membuka matanya, orang yang
pertama
kali
dilihatnya
adalah
Jaejoong. Dan orang yang terakhir kali dilihatnya ketika dirinya menutup matanya adalah Jaejoong. Segalanya
terasa
begitu
sempurna,
membuat Yunho merasa ini semuanya hanyalah mimpi. Dan bila apa yang dialaminya hanyalah mimpi, Yunho berharap bahwa dirinya tidak akan pernah terbangun dari mimpi indahnya.
The Fifteen
Membuat Yunho selalu terbangun di tengah malam. Dirinya takut bahwa itu semua hanyalah sekedar bunga tidur. Dirinya
takut
bilamana
tidak
ada
Jaejoong di sampingnya, mereka tidak pernah menikah dan Jaejoong bukanlah miliknya. Untungnya, ketika dirinya terbangun, Yunho
melihat
Jaejoong
berada
di
sampingnya. Yunho bisa menyentuh dan memeluknya. Jaejoong yang turut terbangun akibat Yunho pun dengan tegas menyuruh Yunho untuk tidur, selayaknya perintah di dalam kemiliteran.
The Fifteen
Dan Yunho, yang melihat tatapan mata Jaejoong yang dingin seperti itu akan membuatnya dadanya berdesir. Dan dengan cepat dirinya akan menekan Jaejoong dan menciumnya hingga membuat Jaejoong kelelahan. Dan kehidupan sempurna yang seperti itu, yang telah berlangsung hampir sepuluh tahun lamanya. Yang Yunho pikir kehidupan sempurna mereka akan berlangsung untuk selamanya. Ternyata tidak. Hingga kejadian itu terjadi. Ternyata kehidupan yang selama ini berlangsung hanyalah sebuah ilusi.
The Fifteen
Hal itu dimulai setengah tahun yang lalu, ketika Yunho mendengar percakapan antara Jaejoong dan sahabatnya, Yoochun. “Tidak terasa, ternyata sudah hampir sepuluh tahun kalian menikah.” Tangan Yunho yang awalnya hendak memegang gagang pintu ruangan Jaejoong pun terhenti di udara. Jaejoong yang mendengar ucapan dari Yoochun pun tersadar. ‘Ah, ternyata sudah selama itu ya.” Yunho yang awalnya ingin bertemu dengan kekasihnya, yang biasanya akan menerobos masuk, entah mengapa kali ini dirinya
mengurungkan
niatnya
dan
menunggu di depan pintu ruangan Jaejoong.
The Fifteen
“Waktu berlalu begitu cepat, dan tanpa kau sadari ternyata kau sudah bertahan dengannya hingga sepuluh tahun lamanya. Ah tidak. Lebih tepatnya 15 tahun berlalu sejak kau mengenalnya. Dan kau tahu, suamimu itu masih saja terlihat sama konyolnya seperti 15 tahun yang lalu.” Mendengar
ucapan
dari
Yoochun
membuat Jaejoong tersenyum simpul. Harus Jaejoong akui, Yunho masih terlihat sama konyolnya seperti saat pertama kali Jaejoong melihatnya. “Tapi… apa kau tahu? Di dalam masa 10 tahun pernikahan, biasanya akan sering bermunculan masalah-masalah.” “Masalah?”
The Fifteen
Mendengar ucapan Yoochun membuat Jaejoong mengulangi ucapan Yoochun tidak mengerti. Karena selama ini hidup mereka baik-baik saja. “Ketika dua orang yang telah bersama untuk waktu yang sangat lama, biasanya akan timbul rasa kebosanan. Salah satu penyebabnya adalah karena rutinitas yang dijalankan sehingga hidup mereka menjadi monoton dan cenderung membosankan. Banyak pasangan yang merasa bahwa hubungan mereka menjadi hambar, dan menjelma menjadi awal dari masalah.” Mendengar ucapan Yoochun membuat Jaejoong mengernyitkan keningnya.
The Fifteen
“Laki-laki biasanya menyukai sesuatu yang segar dan menantang, yah biasanya hal itu akan membuat mereka berselingkuh.” “Aku tidak membutuhkan penyegaran dan aku juga tidak menyukai tantangan.” Yoochun yang mendengar jawaban dari Jaejoong kemudian menyeringai. “Baiklah, karena aku sangat mengenalmu, katakanlah seperti itu. Lalu… bagaimana dengan Yunho?” Mendengar pertanyaan dari Yoochun membuat Jaejoong terdiam beberapa saat. “Aku tidak peduli.” Yunho yang masih berada di depan ruangan Jaejoong pun terdiam. Mendengar tiga patah kata yang Jaejoong ucapkan
The Fifteen
membuat Yunho seakan-akan dirinya telah jatuh ke dalam lubang es. Kepalanya seakan telah dihantam menggunakan palu besar yang berkekuatan 100 Kilogram. Yunho yang selama ini hidup di dunia mimpi akhirnya terbangun. Ternyata
kehidupan
sempurna
yang
selama ini berlangsung selama hampir 10 tahun pernikahan mereka hanyalah sebuah ilusi. “Aku tidak peduli.” Tiga patah kata yang Jaejoong ucapkan itu terus terngiang di telinga Yunho. Apa maksud dari kalimat ‘Aku tidak peduli’ yang Jaejoong ucapkan?
The Fifteen
Apakah Jaejoong tidak peduli dengan apa yang Yunho lakukan? Apakah selama hampir sepuluh tahun pernikahan mereka… Jaejoong tidak pernah peduli pada Yunho? Yunho yang terdiam pun menyandarkan punggungnya ke dinding. Otaknya serasa berputar. Adegan demi adegan berputar di dalam kepala Yunho. AH…! Dan Yunho pun kemudian tersadar. Selama hampir sepuluh tahun pernikahan mereka, tidak pernah sekali pun Jaejoong mengucapkan kata cinta kepada Yunho. Tidak pernah!
The Fifteen
Satu kali pun! Selama hampir sepuluh tahun pernikahan mereka, Yunho lah orang yang selalu mengambil inisiatif. Dan Yunho lah yang selalu melakukan tindakan terlebih dahulu. Sedangkan Jaejoong… Tidak
sekali
pun
Yunho
melihat
Jaejoong terlihat resah atau pun gelisah, Jaejoong selalu terlihat tenang dan acuh. Selama hampir lima belas tahun dirinya mengenal Jaejoong, Yunho lah yang selama ini menunjukkan semangat, gairah dan antusiasnya.
The Fifteen
Yunho lah orang yang selama ini terus menerus mengungkapkan cintanya kepada Jaejoong tanpa henti. Yunho pula lah yang selama ini selalu menunjukkan hatinya yang ditujukan kepada Jaejoong seorang bagaikan sebuah buku yang terbuka. Semakin lama Yunho mengenal Jaejoong, semakin Yunho memahami Jaejoong. Jaejoong adalah orang yang pasif dan tidak menyukai perubahan. Begitu Jaejoong melakukan sesuatu, dirinya akan terus melakukannya. Tidak peduli hal itu baik atau buruk, ketika Jaejoong telah memulainya, Jaejoong akan melakukannya hingga selesai.
The Fifteen
Yunho tahu bahwa Jaejoong sebenarnya tidak menyukai pekerjaannya, tetapi selama lebih dari 15 tahun Yunho mengenalnya, Jaejoong telah bekerja dengan sungguhsungguh hingga menjadi orang yang seperti sekarang ini. Sejak pertama kali Yunho mengenal Jaejoong yang saat itu berusia 20 tahun, Yunho akhirnya mengetahui dengan pasti, bahwa Jaejoong adalah orang yang tidak menyukai keramaian. Dan sudah pasti Jaejoong juga tidak menyukai acara-acara yang meriah. Tetapi… Karena
sahabat
Jaejoong,
Yoochun,
membuat Jaejoong akhirnya sedikit terbiasa
The Fifteen
dengan keramaian dan terbiasa untuk pergi ke salah satu bar langganan Yoochun pada hari tertentu. Dan dari bar yang sering didatangi oleh Jaejoong itulah yang akhirnya memberikan Yunho kesempatan untuk bisa mendekati Jaejoong. Jaejoong
adalah
orang
yang
tidak
menyukai perubahan, tetapi karena dirinya telah terbiasa, pada akhirnya Jaejoong tidak pernah mengubah apa pun yang telah berubah. Jadi… Apakah Jaejoong menyukai Yunho? Ataukah…
The Fifteen
Itu
karena
mereka
hidup
bersama
sehingga hal itu telah menjadi kebiasaan? Yunho kemudian meyakinkan dirinya sendiri, bahwa dirinya tidak akan mencari tahu, sehingga mereka bisa terus hidup seperti sebelumnya Selamanya. Tetapi… Hati manusia itu bagaikan sebuah kotak Pandora. Sekali saja benda itu dibuka, maka apa yang berada di dalamnya akan menjadi sesuatu yang rumit dan akan sulit sekali untuk diselesaikan. Sekali berbuat kesalahan, semuanya tidak akan bisa dikembalikan seperti sedia kala. Banyak konsekuensi yang harus diterima sebagai akibatnya. Sungguh
The Fifteen
ironis, hanya karena satu kesalahan saja, maka kehidupan mereka akan menjadi jauh lebih berbeda dari sebelumnya. Itulah kotak Pandora. Tidak
semua
keingintahuan
harus
dilampiaskan dengan mencari tahu Karena di dalam hati manusia, terdapat keceriaan, cinta, kasih sayang dan juga kebahagiaan. Tetapi terkadang manusia lupa, bahwa di dalam hati juga terdapat kesedihan, keresahan, kegalauan, dan juga kegundahan. Ketika diri kita menyadarinya, maka hal itu bisa menjadi sesuatu yang lebih baik, atau akan menjadi sesuatu yang buruk. Begitu pun juga dengan Yunho.
The Fifteen
Dengan tiga patah kata yang Jaejoong ucapkan mampu membuka kotak Pandora yang selama ini tersembunyi jauh di dalam lubuk hati Yunho. Bagaimana
jika
Jaejoong
bertemu
dengan seseorang yang disukainya… Bagaimana
jika
Jaejoong
bertemu
dengan seseorang yang mampu membuat Jaejoong berubah… Apakah Jaejoong akan meninggalkan dirinya? Yunho yakin… Jaejoong pasti akan meninggalkannya. Yunho yang tersadar akan keraguan yang selama ini tersimpan jauh di dalam lubuk hatinya, tersadar akan apa yang ada di dalam
The Fifteen
benaknya kemudian dengan tanpa basa-basi bertanya kepada Jaejoong ketika mereka tiba di rumah. “Apa kau mencintaiku?” Seketika
Yunho
takut
akan
kebenarannya. Dirinya begitu resah akan jawaban apa yang akan keluar dari bibir merah kesukaan Yunho itu. Oleh karena itu, Yunho merasa bahwa dirinya ingin… Walau pun hanya sekali saja, Yunho ingin mendengar kata cinta keluar dari bibir berwarna merah itu.
The Fifteen
Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba dari Yunho itu membuat Jaejoong menjadi bingung. “Apa kau baik-baik saja?” Tetapi… Bukannya menjawab akan pertanyaan yang telah dilontarkan oleh Jaejoong, Yunho kembali mengulang pertanyaannya. “Jika kau begitu bosan dan tidak ada kerjaan, lebih baik kau pergi mencuci piring.” Jaejoong kemudian menghela napas sambil menggelengkan kepalanya. Namun… Yunho mendorong tubuh Jaejoong dan menahan kedua tangannya ke dinding
The Fifteen
sehingga membuat Jaejoong tidak bisa bergerak. “Aku bertanya padamu, apakah kau mencintaiku?” Mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Yunho untuk yang ketiga kalinya akhirnya membuat Jaejoong memicingkan matanya. “Lepaskan.” Namun Yunho tidak melepaskannya, dan cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Jaejoong menjadi semakin kuat. Hingga Jaejoong merasa yakin bahwa pergelangan tangannya memerah.
The Fifteen
Yunho
yang
tidak
menggubrisnya
membuat Jaejoong kemudian memanggil nama lengkap Yunho. “Jung Yunho.” Membuat Yunho seketika kehilangan tenaganya. Yunho kemudian melihat ke dalam mata coklat Jaejoong. Terlihat kemarahan di dalam mata bulat yang dingin itu. Membuat Yunho merasa bahwa dirinya begitu konyol. Apa yang telah Yunho lakukan? Apa yang sebenarnya ingin Yunho pastikan?
The Fifteen
Dari awal, bukankah dirinya yang telah mengejar Jaejoong? Dengan tubuh yang seakan kehilangan tenaganya, Yunho melepaskan Jaejoong dan berjalan dengan langkah terseret. Dan untuk pertama kalinya, Yunho berinisiatif untuk tidur di dalam kamar tamu. Dan untuk pertama kalinya, Yunho benar-benar tidur terpisah dengan Jaejoong. Sedangkan Jaejoong… Jaejoong tetap bersikap tenang seperti biasanya. Dirinya tidak mengatakan sepatah kata pun, tidak ada ucapan yang keluar dari bibir Jaejoong untuk mencegah Yunho. Bahkan tidak ada satu pun ucapan yang
The Fifteen
keluar dari bibir Jaejoong untuk sekedar mengucapkan ‘selamat malam’. Dan Jaejoong… Masih
bersikap
sama
seperti
hari
sebelumnya seakan-akan tidak pernah terjadi suatu kejadian apa pun. Dulu, ketika Yunho masih awal-awal mencari tahu tentang Jaejoong, Yunho mendengar
orang-orang
sekitarnya
memanggil Jaejoong dengan sebutan Ice Prince. Saat itu… Yunho menganggap apa yang Jaejoong lakukan adalah sesuatu yang menggemaskan, dan nama panggilan itu adalah sesuatu yang sangat manis.
The Fifteen
Tetapi kini… Yunho akhirnya mengerti. Jaejoong sama seperti julukan namanya Ice
Prince,
karena
Jaejoong
adalah
seseorang yang berhati dingin, dan seperti layaknya seorang Pangeran Es, Jaejoong tidak akan pernah tergerak hatinya, karena hatinya yang dingin terbuat dari es. Dan Yunho tidak bisa mencairkan hati seorang Pangeran Es. Tidak peduli seberapa banyak upaya yang telah dirinya lakukan, tidak peduli seberapa
lama
dicurahkannya
waktu untuk
seorang Pangeran Es. Dan kini…
yang
mencairkan
telah hati
The Fifteen
Yunho tersadar. Selama ini Yunho bagaikan seorang badut yang konyol. Untuk pertama kalinya di lima belas tahun dirinya mengenal Jaejoong, baru kali ini Yunho yang biasanya adalah seorang yang optimis kini terlihat begitu gusar dan gelisah. Dirinya tidak bisa tidur sepanjang malam. Untuk bisa hidup bahagia sama seperti hari-hari
sebelumnya,
tidak
seharusnya
Yunho mencoba mencari jawaban atau pun menyelidikinya. Harusnya dirinya tidak boleh terlalu serakah,
dirinyalah
orang
yang
telah
The Fifteen
mengejar Jaejoong, memangnya apa lagi yang bisa dirinya harapkan? Dirinya telah berhasil membuat Jaejoong berada di sisinya selama sepuluh tahun. Jika Jaejoong
masih
tidak
mencintainya,
memangnya apa lagi yang bisa dirinya lakukan? Oleh karena itu... Jaejoong harusnya sudah terbiasa dengan dirinya dan kehidupan pernikahan mereka sekarang. Asalkan dirinya bersikap dan bertindak sama seperti sebelumnya, Yunho yakin bahwa Jaejoong akan bersikap dan bertindak sama seperti sebelumnya. Memangnya kenapa?
The Fifteen
Toh selama ini hidup mereka selalu dipenuhi dengan cinta. Walau pun hanya dari sebelah pihak. Itu adalah sesuatu yang mudah untuk diucapkan. Walau bukanlah
pun
pada
sesuatu
kenyataannya
yang
mudah
itu
untuk
dilakukan. Semakin lama Yunho mencoba, semakin terlihat jelas bahwa pada kenyataannya realita begitu kejam kepadanya. Kim Jaejoong… Tidak mencintainya. Oleh untuk yang terakhir kalinya, Yunho mencoba untuk mengelak kenyataan dan
The Fifteen
mencoba
peruntungannya
dengan
mempertaruhkan hatinya. Pada sore hari itu… Untuk
pertama
kalinya
Yunho
berbohong kepada Jaejoong. Yunho mengatakan kepada Jaejoong bahwa dirinya akan pulang terlambat karena ada pekerjaan yang harus diselesaikannya. Walau pun pada kenyataannya… Sebenarnya Yunho sengaja pergi ke dalam bar yang biasa dikunjungi oleh Jaejoong dan Yoochun bersama. Dan Yunho tahu pasti jadwal Jaejoong. Selama
15
tahun,
Yunho
telah
mengetahui semua jadwal Jaejoong dengan pasti di luar kepalanya.
The Fifteen
Dan hari ini adalah hari di mana Jaejoong dan Yoochun akan mendatangi bar itu. Dan
Yunho
peruntungannya
ingin dan
mencoba
mempertaruhkan
semuanya. Yunho
kemudian
melihat
cincin
pernikahan mereka di jari manisnya. Setiap kali melihat cincin itu, Yunho merasa sebagai orang yang paling beruntung bisa
mengenakan
cincin
yang
sama
dikenakan oleh Jaejoong. Setiap kali seseorang mencoba untuk mendekati
dan
menggodanya
dan
menunjukkan ketertarikan mereka kepada Yunho,
dengan
bangga
Yunho
akan
The Fifteen
menunjukkan
cincin
pernikahannya
di
hadapan mereka dan mengatakan kepada mereka betapa sempurnanya pasangannya. Jaejoongnya. Dan setiap kali Yunho mengatakannya, semua orang yang mencoba untuk merebut hatinya akan merasa malu pada diri mereka sendiri dan akan mundur secara teratur meninggalkan Yunho. Tetapi… Kali ini… Untuk pertama kalinya… Yunho
tidak
menunjukkan
pernikahannya. Untuk pertama kalinya…
cincin
The Fifteen
Yunho tidak mengatakan kepada mereka betapa
bangganya
dirinya
memiliki
pasangan seperti Jaejoong. Namun sebaliknya… Yunho hanya duduk diam di sana membiarkan orang-orang mendekatinya dan mendengarkan
orang
lain
berbicara
kepadanya dan menunjukkan ketertarikan mereka kepada Yunho. Walau pun pada kenyataannya… Sebenarnya Yunho tidak mendengarkan apa yang orang di sebelahnya katakan. Yunho hanya duduk diam di sana. Apa yang ada di dalam hati dan benaknya
hanya
memikirkan
sambil terus bertanya-tanya.
Jaejoong
The Fifteen
Memikirkan
apa
reaksi
yang
akan
ditunjukkan Jaejoong padanya. Apakah Jaejoong akan peduli padanya. Walau pun bukan karena cinta. Walau pun itu hanya karena takut dirinya akan pergi meninggalkannya. Walau hanya sekali… Yunho ingin melihat Jaejoong peduli padanya. Yunho
ingin
melihat
reaksi
dan
perubahan pada Jaejoong ketika melihatnya. Walau pun hanya sedikit. Namun… Sayangnya tidak ada apa pun yang terjadi. Jaejoong tidak menghampiri Yunho
The Fifteen
Tidak ada panggilan telepon atau pun pesan masuk yang dikirimkan oleh Jaejoong. Jaejoong jelas melihat Yunho bersama seseorang dan duduk dengan begitu dekat. Jaejoong juga tahu bahwa Yunho telah berbohong dan tidak bekerja lembur. Tetapi… Jaejoong bahkan tidak bertanya padanya. Hanya ada tiga patah kata yang terus terngiang di benak Yunho. Yunho mendengarkan suara Jaejoong mengucapkan tiga patah kata itu dengan nada yang dingin. “Aku tidak peduli.” Jaejoong tidak peduli dengan apa yang Yunho lakukan.
The Fifteen
Yunho mencintai Jaejoong. Namun Jaejoong tidak peduli. Dan bila… Yunho tidak mencintai Jaejoong. Maka Jaejoong juga tetap tidak peduli. Memikirkan
tiga
kata
yang
terus
terngiang di benak Yunho membuat Yunho ingin melupakan semuanya. Membuat Yunho larut dalam kesedihan yang mendalam. Yunho
kemudian
terus
menenggak
alkohol hingga membuat dirinya mabuk. Dan Yunho ingin membuat Jaejoong kesal. Membuat Jaejoong kesal padanya karena telah melakukan sesuatu yang dibencinya.
The Fifteen
Aroma alkohol dan rokok yang melekat di tubuh Yunho sudah pasti akan membuat Jaejoong kesal. Sesuatu yang dibenci oleh Jaejoong. Ketika larut malam telah tiba, Yunho akhirnya pulang. Tercium aroma rokok dan alkohol yang menguar dari seluruh tubuhnya. Melihat Jaejoong yang masih terlihat tenang, membuat Yunho tidak bisa lagi menahannya. Yunho tidak ingin Jaejoong terlihat tenang. Yunho tidak ingin melihat Jaejoong yang bersikap seolah tidak ada sesuatu hal yang telah terjadi.
The Fifteen
Yunho tidak ingin Jaejoong tidak peduli sama sekali. Mengetahui
dengan
pasti
bahwa
Jaejoong tidak menyukai aroma rokok dan alkohol, dengan sengaja Yunho mencium Jaejoong. Namun… Ketika
Yunho
akan
menciumnya,
Jaejoong mendorong tubuh Yunho. Jaejoong menolaknya. Itu adalah aroma yang Jaejoong tidak bisa tahan. Sebenarnya Jaejoong ingin menyuruh Yunho untuk mandi. Tetapi
mendapatkan
penolakan
Jaejoong membuat Yunho marah.
dari
The Fifteen
Yunho kemudian memaksa Jaejoong dan menciumnya. Dan tindakan yang Yunho lakukan begitu kasar. Namun… Jaejoong bukanlah seseorang yang bisa dianggap enteng. Dengan
tubuh
kurusnya
Jaejoong
meninju Yunho dan mengumpat. “Berhenti kau sialan!” Akibat Jaejoong
tinju membuat
yang
diberikan
sudut
bibir
oleh Yunho
berdarah, dan seketika Yunho pun tersadar dari mabuknya. Yunho kemudian menatap Jaejoong.
The Fifteen
Setelah lama terdiam menatap Jaejoong untuk waktu yang lama, tiba-tiba semua tenaga
yang
Yunho
miliki
seakan
serak
Yunho
menghilang dari tubuhnya. “Mari kita bercerai.” Dengan
suara
yang
mengucapkan kata perceraian. Ucapan dari Yunho membuat suasana di antara mereka hening untuk sesaat. Jaejoong
kemudian
teringat
akan
kejadian di bar tadi. Kejadian di mana Jaejoong melihat Yunho berada di dalam bar namun dengan seorang laki-laki manis dan imut. Dengan bokongnya
yang
berisi,
menjadikannya
The Fifteen
seorang laki-laki populer yang akan menjadi incaran bagi para Seme. Jaejoong bahkan masih mengingat lakilaki yang imut itu tersenyum manis kepada Yunho sambil menggodanya. Mendengar ucapan dari Yunho membuat Jaejoong
kemudian
menutup
matanya
sejenak. Napas Jaejoong terasa tercekat. “Baiklah, mari kita bercerai.” Jaejoong kemudian mengiyakan ucapan Yunho setelah membuka matanya kembali. Menatap Yunho dengan pandangan yang dingin dan tenang.
The Fifteen
Dirinya merasa bahwa cepat atau lambat laki-laki yang berada di hadapannya ini akan mengucapkan kalimat perceraian. “Baiklah... mari kita bercerai.” Oleh karena itu, dirinya tidak akan menolak, tidak ada gunanya untuk membuat keributan untuk sesuatu hal yang sudah pasti hasil akhirnya akan seperti apa. ***** Jaejoong telah pergi. Tidak ada kata penolakan yang keluar dari bibir Jaejoong.
The Fifteen
Bahkan
tidak
berselang
lama
dari
persetujuan perceraian itu Jaejoong tidak segan untuk pergi. Jaejoong pergi. Begitu saja. Sedangkan Yunho masih berdiri di posisi yang sama. Merasa bahwa tempat yang sebelumnya merupakan tempat yang telah menberikan semua kenangan indah selama hampir sepuluh
tahun
kebersamaan
mereka…
membuat napasnya tercekat. Jaejoongnya pergi. Dan Yunho… Yunho tidak akan pernah bisa melihat Jaejoong kembali.
The Fifteen
Sejak detik itu… Yunho benar-benar telah kehilangan Jaejoong. Dirinya telah memberikan hatinya. Mencurahkan segalanya untuk orang yang yang dirinya cintai. Dan
Jaejoong
telah
menggenggam
hatinya. Dan ketika Jaejoong pergi… Di saat itu pula Yunho merasa bahwa Jaejoong telah membawa pergi hatinya. Membuat Yunho merasakan kehampaan. Dan pada detik itu pula… Yunho merasakan penyesalan yang amat sangat.
The Fifteen
Mengapa dirinya memutuskan untuk mencari tahu? Mengapa dirinya memutuskan untuk menguji Jaejoong? Mengapa dirinya memutuskan untuk mencari
jawaban
yang
sudah
pasti
jawabannya. Mengetahui dengan pasti hasil akhirnya yang akan membuat segalanya berakhir? Perceraian… TIDAK! Dirinya tidak akan bercerai! Entah dari mana, tiba-tiba Yunho seakan mendapatkan kekuatannya kembali.
The Fifteen
Yunho kemudian mendorong tubuhnya menjauh dari dinding dan bergegas keluar dari pintu. Yunho kemudian menuju garasi dan menemukan
kunci
mobil
yang
biasa
Jaejoong kendarai berada di atas kap mesin mobil. “SIAL!” Yunho yang khawatir kepada Jaejoong dengan segera keluar dari rumahnya dan berusaha mengejar Jaejoong. Dengan
hanya mengenakan pakaian
seadanya yang melekat di tubuhnya. Bahkan tanpa mengenakan mantel. Yunho
menerobos
dinginnya
malam bersalju mencari Jaejoong.
udara
The Fifteen
Dengan pikiran yang dipenuhi oleh Jaejoong, Yunho berjalan cepat dan tidak merasakan kedinginan sama sekali. Yunho harus mengejar Jaejoong. Yunho harus membawa Jaejoongnya kembali. Yunho tidak akan menceraikan Jaejoong. Yunho tidak akan pernah menceraikan Jaejoong! TIDAK AKAN! Yunho yang telah berjalan sejauh 200 meter dari rumahnya tiba-tiba berhenti. Yunho melihat Jaejoong yang meringkuk di sudut jalan, dengan tubuhnya yang gemetar.
The Fifteen
Dan Yunho merasakan hatinya terasa perih. Setelah
mengatur
napasnya,
Yunho
kemudian berjalan menghampiri Jaejoong. Hatinya terasa bergetar. Yunho memegang
kemudian kedua
pipi
berjongkok
dan
Jaejoong
yang
menunduk. Namun… Melihat keadaan Jaejoong membuat hati Yunho terasa sangat sakit. Wajah Jaejoong basah dipenuhi oleh air mata. Tidak ada suara tangisan. Hanya air mata yang terus mengalir dari mata bulat berwarna coklat yang dingin itu.
The Fifteen
Ini
adalah
pertama
kalinya
Yunho
melihat Jaejoong menangis. Melihat keadaan Jaejoong membuat hati Yunho seakan tercabik-cabik. “Jangan… jangan…” Belum
selesai
Yunho
mengucapkan
kalimat untuk meminta Jaejoong menangis, Jaejoong kemudian memotong kalimatnya. “Apa salahku?” Mendengar
pertanyaan
Jaejoong
membuat Yunho membeku. Bibir Jaejoong bergetar hebat, dirinya terlihat sangat kacau. Wajah Jaejoong dipenuhi oleh air mata yang
terus
mengalir
dari
mata
berwarna coklat yang menggenang itu.
bulat
The Fifteen
Pupil matanya tampak terus bergerak ke sana kemari tanpa arah pandangan yang pasti. Tetapi… Kontras dengan keadaannya. Suara yang keluar dari bibir yang sebelumnya
berwarna
merah
dan
kini
berubah menjadi pucat itu terdengar sangat tenang. “Mengapa kau tidak menepati janjimu?” Yunho masih terus memegang kedua pipi Jaejoong dan memanggil namanya berulang kali dengan cemas. Namun… Jaejoong seakan tidak mendengar suara Yunho yang terus memanggil namanya.
The Fifteen
“Mengapa kau menyukai orang lain?” “Mengapa kau ingin bercerai?” Yunho hanya ingin Jaejoong peduli padanya. Tetapi… Ketika Yunho melihat keadaan Jaejoong yang seperti itu, seketika Yunho merasa dirinya ingin membunuh dirinya sendiri karena telah membuat keadaan Jaejoong menjadi seperti itu. Jaejoong akhirnya menatap lurus ke arah Yunho. “Mengapa kau tidak menginginkanku?” *****
The Fifteen
Ketika Jaejoong berusia dua tahun, ayah kandungnya meninggalkan dirinya dan ibu kandungnya. Lalu… Dua tahun kemudian… Ketika Jaejoong berusia empat tahun, ibu kandungnya
juga
tidak
menginginkan
Jaejoong dan meninggalkan Jaejoong di panti asuhan. Membuat Jaejoong kecil sadar bahwa dirinya adalah anak yang tidak diinginkan siapa pun. Hingga… Ketika Jaejoong berusia enam tahun, sebuah keluarga bermarga Kim mengadopsi dirinya.
The Fifteen
Jaejoong kecil yang telah dewasa jauh sebelum waktunya itu selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik. Berusaha untuk menjadi orang yang sempurna dan membuat Keluarga Kim bangga dan tidak akan pernah menyesal karena telah mengadopsinya. Namun… Satu-satunya
‘kesalahan’
dalam
hidupnya adalah Jung Yunho. Yunho masuk ke dalam kehidupannya begitu cepat, tanpa bisa dijelaskan olehnya. Bagaikan sebuah cahaya dengan sinarnya yang
menyilaukan
yang
menyinari
kehidupannya yang gelap dan dingin.
The Fifteen
Jaejoong belum pernah melihat orang yang begitu mempesona seperti Yunho. Dan Jaejoong juga belum pernah melihat orang yang seakan tidak pernah kehabisan energi seperti Yunho. Jaejoong
dan
Yunho
benar-benar
berbeda. Jaejooong dan Yunho memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. BIla Jaejoong adalah hitam, maka Yunho adalah putih. Bila Jaejoong adalah orang yang berada di kegelapan, maka Yunho adalah orang yang berada di sisi terang. Jaejoong menyukai Yunho.
The Fifteen
Dirinya menyukai segala sesuatu tentang Yunho. Karena itu… Jaejoong mendambakan sesuatu yang tidak bisa dirinya miliki. Namun… Ketika Yunho mengaku padanya. Mengucapkan
kata
cinta
pada
Jaejoong… Untuk pertama kali dalam hidupnya Jaejoong merasakan perasaan yang disebut dengan kata kebahagiaan. Setelah menikah, Jaejoong merasa bahwa dirinya telah hidup di dalam dunia mimpi setiap hari.
The Fifteen
Ketika dirinya membuka matanya, orang yang pertama kali dilihatnya adalah Yunho. Dan orang yang terakhir kali dilihatnya ketika dirinya menutup matanya adalah Yunho. Segalanya
terasa
begitu
sempurna,
membuatnya merasa ini semuanya hanyalah mimpi. Dan bila apa yang dialaminya hanyalah mimpi, Jaejoong berharap bahwa dirinya tidak akan pernah terbangun dari mimpi indahnya. Cinta yang Yunho berikan bagaikan sinar mentari yang menyilaukan namun memberikan kehangatan yang tak bisa dibayangkannya.
The Fifteen
Jaejoong
yang
dulu
terbiasa
akan
kesendirian, kini harus menyesuaikan diri dengan adanya Yunho. Kebersamaan mereka yang begitu tibatiba membuat Jaejoong harus melakukan berbagai perubahan dan penyesuaian di dalam hidupnya. Bila Jaejong yang dulu tidak terbiasa berbicara basa basi, namun sejak dirinya hidup bersama Yunho, maka Jaejoong akan mencoba untuk merespon dan membalas topik pembicaraan yang sedang Yunho bicarakan kepadanya. Walau
pun
membicarakan
Jejoong tentang
hanya
obrolan
pekerjaan yang membosankan.
bisa seputar
The Fifteen
Jaejoong tidak terbiasa bersikap mesra di depan orang lain, tetapi ketika mereka hanya berdua saja, Jaejoong akan membiarkan Yunho
melakukan
apa
pun
yang
diinginkannya. Jaejoong tidak pernah menyangka bahwa ada orang yang bisa hidup seperti yang Yunho lakukan. Melakukan hal-hal yang diinginkan oleh hatinya. Melakukan
hal-hal
yang
hatinya
inginkan tanpa mempedulikan orang sekitar atau pun khawatir akan konsekuensi dari tindakannya itu. Melakukannya apa pun sesuka hati. Terkadang…
The Fifteen
Jaejoong merasa bahwa Yunho bersikap selayaknya anak kecil yang nakal dan manja. Tetapi… Melihat tingkah Yunho yang seperti itu membuat Jaejoong tidak bisa menahan senyumnya. Jaejoong berharap bahwa Yunho akan selalu bersikap seperti itu. Dan Jaejoong juga berharap Yunho akan selalu bahagia dan bisa melakukan apa pun yang diinginkan sepanjang usianya. Namun… Jaejoong tidak pernah menyangka… Karena Yunho selalu melakukan apa pun yang diinginkannya, Jaejoong tidak pernah
The Fifteen
menyangka bahwa akan tiba saatnya Yunho tidak menginginkan dirinya lagi. Jaejoong tidak tahu apa yang yang terjadi dan mengapa. Jaejoong dan Yunho telah hidup bersama selama hampir sepuluh tahun lamanya. Jaejoong
dan
Yunho
tidak
pernah
bertengkar. Mereka juga tidak pernah berselisih paham. Bahkan mereka pun tidak terpisahkan. Jaejoong dan Yunho tidak pernah berpisah untuk waktu lebih dari sehari. Jaejoong
telah
kebersamaan mereka.
terbiasa
dengan
The Fifteen
Jaejoong telah terbiasa dengan sikap Yunho
selama
hampir
sepuluh
tahun
pernikahan mereka. Tetapi… Dan kehidupan sempurna yang seperti itu, yang telah berlangsung hampir sepuluh tahun lamanya secara tiba-tiba lenyap. Secara tiba-tiba kebiasaan yang selalu Yunho lakukan menghilang. Tidak ada percakapan konyol yang selalu Yunho lontarkan padanya. Tidak ada senyuman selamat pagi yang Yunho tunjukkan setiap kali Jaejoong membuka matanya.
The Fifteen
Tidak ada dekapan dan ucapan selamat malam dan mimpi indah yang biasanya Yunho ucapkan setiap malam. Jaejoong tidak tahu kapan pastinya, tetapi Yunho telah berubah. Jaejoong merasakan sikap Yunho yang terasa asing. Jaejoong merasakan pandangan mata serupa musang itu berubah. Jaejoong merasakan tatapan matanya setiap kali Jaejoong memunggunginya. Jaejoong merasa seakan-akan ada ratusan jarum
yang
menghujam
melalui
punggungnya, membuat sarafnya menjadi sangat tegang.
The Fifteen
Seolah-olah ada seseorang yang sedang mengawasinya dan menatapnya dengan tatapan menusuk. Membuat Jaejoong teringat akan masa lalunya. Dan Jaejoong membenci perasaan itu. Membuatnya ingin berbicara dengan Yunho. Tetapi… Yunho
yang
biasanya
selalu
menjemputnya untuk pulang bersama, kini tidak pernah lagi menjemput Jaejoong. Membuat Jaejoong akhirnya hanya bisa menunggu Yunho di rumah. Namun…
The Fifteen
Semakin lama waktu berlalu, Yunho pulang ke rumah semakin malam, dan semakin larut. “Apa yang harus aku lakukan?” Jaejoong merasakan ketakutan mulai memenuhi hatinya dan menyeretnya kembali ke dalam kegelapan. Sampai akhirnya… Jaejoong melihat Yunho berada di dalam bar bersama dengan seorang laki-laki manis dan imut. Jaejoong melihat bagaimana laki-laki imut itu tersenyum manis kepada Yunho sambil
menggodanya
tersenyum membalasnya.
dan
Yunho
pun
The Fifteen
Pada detik itu juga, Jaejoong akhirnya mengerti. Yunho tidaklah berubah. Yunho masih sama seperti Yunho yang dulu. Yunho yang masih mengikuti apa yang hatinya inginkan. Yunho mengikuti hatinya untuk tidak mencintai Jaejoong lagi. Mengikuti hatinya untuk mencintai lakilaki lain. Dan ketika Yunho memintanya untuk bercerai… Bohong bila Jaejoong tidak terkejut. Walau pun Jaejoong sudah bisa menebak bahwa cepat atau lambat laki-laki yang
The Fifteen
berada di hadapannya itu akan mengucapkan kalimat perceraian terlebih dahulu. Tetapi kini Jaejoong telah lebih siap. Oleh karena itu, dirinya tidak akan menolak, tidak ada gunanya untuk membuat keributan untuk sesuatu hal yang sudah pasti hasil akhirnya akan seperti apa. Dan setelah Jaejoong berhasil menguasai dirinya
dan
kembali
bersikap
tenang,
Jaejoong kemudian mengiyakan permintaan perceraian dari Yunho. Jaejoong tidak ingin memaksanya. Lagipula… Jaejoong juga adalah seorang laki-laki sama sepertinya, dan dirinya tidak perlu
The Fifteen
merengek
dan
menjadi
orang
yang
menjengkelkan. Paling tidak… Jaejoong ingin agar dirinya tetap menjadi pribadi yang tenang di mata Yunho. Dan tak berselang lama… Jaejoong pun pergi. Pergi meninggalkan tempat yang telah memberikan kenangan indah selama hampir sepuluh tahun kebersamaan mereka. Berjalan di dunia yang dipenuhi oleh es dan salju… Berjalan kembali ke dalam di dunia yang diliputi kegelapan… Dan tiba-tiba… Langkah Jaejoong terhenti.
The Fifteen
Jaejoong
kemudian
menyenderkan
bahunya ke dinding, Dirinya terlihat begitu lemah dan seolaholah dirinya akan menghilang ke dalam gelapnya malam. Mengapa…? Mengapa…? Mengapa terjadi seperti ini…? Jika kau tidak bisa setia sampai akhir hayatmu, mengapa kau mengucapkan janji dan bersumpah ‘hingga akhir hayat’…? Dan
selama
ini
Jaejoong
mempercayainya. Tetapi… Pada akhirnya… Yunho telah mengingkarinya.
selalu
The Fifteen
Udara
dingin
tiba-tiba
menusuk
menembus hatinya. Seakan-akan dirinya telah kembali ke masa lalu. Kembali ke masa di mana pada malam bersalju ketika ibu kandungnya dengan tanpa perasaan meninggalkan dirinya. Walau pun sekuat tenaga dirinya telah menahan kaki ibunya. Walau pun dirinya telah memohon dan terus berteriak histeris memanggil ibunya dengan air mata yang terus menggenang membasahi seluruh wajahnya. Tetapi pada akhirnya… Ibunya tetap pergi dengan kejamnya tanpa
menoleh
ke
arahnya
dan
The Fifteen
menghempaskan pelukan Jaejoong pada kakinya. Tidak peduli seberapa banyak dirinya memanggil ibunya… Tidak
peduli
bagaimana
dirinya
memanggilnya… Tidak peduli bagaimana cara dirinya mencoba menahannya… Semua itu menjadi hal yang sia-sia. Dan kini… Dirinya telah dewasa. Dirinya bukanlah anak kecil yang dulu. Seorang anak kecil yang tidak berdaya dan terus memohon agar tidak ditinggalkan. Kini…
The Fifteen
Dirinya memohon
tidak untuk
akan
meminta
sesuatu
yang
dan bukan
miliknya. Tetapi… Hatinya menolak. Walau pun Jaejoong tahu hal itu adalah sesuatu yang sia-sia… Walau pun dirinya tahu hal itu akan membuatnya terlihat buruk… Walau pun dirinya tahu hal itu akan membuatnya
kehilangan
martabat
terakhirnya… Namun… Ketika Jaejoong melihat Yunho yang berdiri di depannya…
The Fifteen
Melihat Yunho yang turut berjongkok dan memegang kedua pipinya membuat hatinya terasa begitu sesak. Hanya air mata yang menggenang dan memenuhi wajahnya. Dirinya menangis dalam diam. Tanpa ada suara tangisan. Hanya air mata yang terus mengalir membasahi
wajahnya
dan
membuat
pandangannya mengabur. “Apa salahku?” Bibirnya bergetar hebat, dirinya yakin bahwa saat ini penampilan dirinya terlihat sangat kacau.
The Fifteen
Pandangan matanya terus bergerak ke sana kemari tanpa arah pandangan yang pasti. “Mengapa
kau
tidak
menepati
sumpahmu?” Jaejoong
merasakan
kedua
telapak
tangan Yunho memegang kedua pipinya. Jaejoong mendengar suara Yunho yang terdengar samar terus memanggil namanya berulang kali. Namun… Otaknya seakan tidak bisa merespon suara dari Yunho yang terus memanggil namanya. “Mengapa kau menyukai orang lain?” “Mengapa kau ingin bercerai?”
The Fifteen
Jaejoong akhirnya menatap lurus ke arah Yunho. “Mengapa kau tidak menginginkanku?” Mendengar ucapan Jaejoong membuat tubuh Yunho gemetar. Ketika Yunho melihat keadaan Jaejoong yang seperti itu, seketika Yunho merasa dirinya ingin membunuh dirinya sendiri karena telah membuat keadaan Jaejoong menjadi seperti itu. “Jangan menangis…” Hatinya hancur. Akibat perbuatannya membuat Jaejoong menjadi seperti itu. Dengan cepat Yunho memeluk Jaejoong dan menciumnya.
The Fifteen
“Jangan menangis, Jae…” “Aku tidak menyukai laki-laki lain. Bagaimana bisa aku menyukai laki-laki lain. Aku hanya mencintaimu. Dalam kehidupan ini, tidak, dalam setiap kehidupan aku hanya mencintaimu seorang.” “Hanya
kaulah
satu-satunya,
Kim
Jaejoong.” Yunho terus menyalahkan dirinya sendiri. “Ini adalah kesalahanku, aku sangat brengsek.” “Bagaimana bisa aku mengatakan itu?” “Bagaimana
bisa
aku
mengucapkan
perceraian seperti itu? “Bagaimana bisa aku berpisah darimu?”
The Fifteen
“Bahkan
jika
kau
menendangku,
mematahkan kakiku, bahkan bila aku harus merangkak…” “Aku
tidak
akan
pernah
meninggalkan…” Belum selesai Yunho menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Jaejoong mencium Yunho. Walau pun ciuman Jaejoong terasa kasar, namun itu adalah kali pertama Jaejoong berinisiatif untuk menciumnya. Yunho merasakan rasa asin yang berasal dari air mata Jaejoong yang terus mengalir. Yunho juga merasakan bibirnya yang bergetar hebat ketakutan.
The Fifteen
Membuat
Yunho
mengerti
bahwa
Jaejoongnya dalam keadaan putus asa dan hancur. Yunho belum pernah melihat Jaejoong yang seperti ini. Dan itu semua adalah akibat dari perbuatannya. Satu patah kata yang keluar dari bibirnya membuat Jaejoongnya hancur. Dan Yunho bersumpah, dirinya tidak akan pernah membiarkan Jaejoong seperti itu lagi. Yunho bersumpah, dirinya tidak akan pernah ingin melihat Jaejoongnya menjadi seperti itu lagi selama sisa hidupnya.
The Fifteen
“Aku mencintaimu…aku mencintaimu… Aku mencintaimu…” Tiga kalimat yang terus diucapkan Yunho secara berulang kali itu, bagaikan sebuah mantra, yang secara ajaib mampu menenangkan Jaejoong. Tubuh Jaejoong secara tiba-tiba berhenti bergetar. “Aku
sangat
mencintaimu,
Kim
Jaejoong.” ***** Ketika
Yunho
membawa
Jaejoong
kembali ke dalam rumah, begitu pintu tertutup, Jaejoong kembali mencium Yunho.
The Fifteen
“Aku akan menyiapkan air hangat, kalau tidak maka kau akan masuk angin.” Hati
Yunho
yang
telah
melembut
seutuhnya pun berkata dengan lembut untuk menenangkan Jaejoong yang bertingkah bagaikan anak kecil yang takut untuk ditinggalkan. Tetapi Jaejoong memeluk Yunho dengan erat dan enggan membiarkan Yunho pergi. Dengan
suara
yang
sedikit
serak
Jaejoong berbisik di telinga Yunho. “Di sini… aku menginginkanmu…” Kalimat yang Jaejoong ucapkan itu bagaikan
api
yang
secara
tiba-tiba
membakar dan melenyapkan akal sehat Yunho seketika.
The Fifteen
Membuat mereka berdua kelelahan. Dan sebagai akibatnya mereka tidak masuk kerja pada keesokan harinya. Ketika
hari
sudah
siang,
Jaejoong
akhirnya terbangun. Dengan tubuh yang terasa seakan remuk. Tetapi… Tidak ada seorang pun di sampingnya. Membuat
tubuh
Jaejoong
tiba-tiba
terlonjak kaget. Dirinya pun terduduk di atas tempat tidur dengan wajah yang menunjukkan rasa ketakutan ketika tidak menemukan Yunho di sampingnya. Mengabaikan rasa sakit yang dirasa tubuhnya.
The Fifteen
Namun… Ketika
Jaejoong
mengembalikan
mulai
kesadarannya,
bisa dirinya
mencium aroma masakan yang hangus. Membuat tubuh Jaejoong menjadi rileks. “Ah, kau sudah bangun?” Yunho yang membuka pintu kamar mereka
kemudian
tersenyum
melihat
Jaejoong yang sudah bangun. “Aku baru selesai memasakkan bubur untukmu. Makanlah dulu. Semalam kau tidak makan apa-apa, apalagi tubuhmu berada di tempat yang dingin untuk waktu yang lama ditambah aktivitas semalam, jadi pasti saat ini perutmu sedang keroncongan.”
The Fifteen
Yunho kemudian melangkah mendekati tempat tidur di mana Jaejoong masih dalam posisi setengah duduk di atas tempat tidur. Aku tahu aku tidak bisa memasak, tapi aku sudah mengikuti resep, dan aku sudah mencicipinya, aku rasa harusnya bubur ini masih layak untuk dimakan.” Melihat Jaejoong yang tidak bereaksi membuat meyakinkan
Yunho
kemudian
Jaejoong
untuk
mencoba memakan
masakan yang telah dibuatnya itu. Namun Jaejoong masih bergeming. “Ayo, biar suamimu ini menyuapimu.” Yunho kemudian mengambil kursi dan menariknya ke dekat tempat tidur di mana
The Fifteen
Jaejoong berada dan kemudian duduk di atas kursi tersebut. Yunho kemudian mulai menyendokkan bubur
hasil
meniupinya
masakannya untuk
dan
mulai
menghilangkan
uap
panasnya. “Aku… mu…” Sambil
menutup
matanya
Jaejoong
mengucapkan kalimat dengan samar. Membuat
Yunho
yang
tercengang
terlihat bodoh. Jaejoong
kemudian
menggigit
bibir
bawahnya. Pipi
Jaejoong
terlihat
memerah…
menjalar hingga ke leher dan telinganya. “Aku… mencintaimu.”
The Fifteen
Nada suara yang Jaejoong ucapkan begitu kaku dan terdengar lirih, walaupun sedikit lebih nyaring bila dibandingkan dengan
ucapan
sebelumnya
yang
kini
terdengar jelas di telinga Yunho. Prang! Mangkuk yang berisi bubur itu pun jatuh ke lantai. Mengotori
karpet
bulu
kesukaan
Jaejoong. Tetapi Yunho tidak peduli. Dengan gerakan cepat Yunho bergegas mendekati
tempat
tidur
dan
Jaejoong. “Katakan sekali lagi.” Namun Jaejoong bungkam.
memeluk
The Fifteen
“Ah, kau tidak perlu mengatakannya! Sekali sehari sudah cukup! Aku akan menelpon Eomonim dan Abeoji. Saudaramu juga. Ah Tidak. Aku akan menelpon Eomma dan Appa juga!” Yunho mulai meracau dan berkata tidak jelas. Saat ini otak Yunho bagaikan terkena sengatan listrik dan membuat otaknya korslet. Hatinya membuncah. Dan saat ini Yunho terlihat sangat sangat konyol. Ketika Yunho hendak beranjak pergi mencari handphonenya, Jaejoong menahan tangannya.
The Fifteen
Melihat
tangan
Jaejoong
yang
memegang pergelangan tangannya membuat Yunho mengembalikan kesadarannya. Sambil tersenyum Yunho kemudian naik ke atas tempat tidur dan memeluk Jaejoong. “Terima kasih!” “Terima kasih, Jae.” Setelah
sepuluh
tahun
pernikahan
mereka, Jaejoong dan Yunho akhirnya berbicara secara terbuka satu sama lainnya. Jaejoong pun bertanya, mengapa Yunho tiba-tiba berubah. Yunho
pun
memberitahu
Jaejoong
tentang apa yang dirinya dengar pada hari itu dan kemudian bertanya balik kepada Jaejoong.
The Fifteen
“Mengapa kau mengatakan ‘Aku tidak peduli’?” Untuk beberapa saat Jaejoong pun tertegun, dan kemudian mengatakan yang sebenarnya kepada Yunho. “Apakah hal itu penting jika aku peduli? Jika kau tidak mencintaiku, maka aku…” “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Aku tidak tahu apalagi yang bisa kulakukan…” Pada
kenyataannya,
jika
mereka
mengetahui sifat Jaejoong dengan pasti, maka tiga patah kata ‘Aku tidak peduli’ adalah jawaban yang paling menggambarkan Jaejoong.
The Fifteen
Mengatakan kata ‘Aku tidak peduli’ adalah ungkapan dari Jaejoong bahwa dirinya tidak akan tahu apa yang akan terjadi padanya bila hal itu terjadi. Dunia Jaejoong akan
menjadi
hampa
dan
akan
mengembalikan dirinya ke dalam kegelapan. Dan Yoochun sangat mengerti hal itu. Tetapi tidak dengan Yunho. Yunho yang hanya mendengar separuh dari percakapan mereka telah menafsirkan lain dari ucapan Jaejoong tersebut. Walau pun itu adalah reaksi yang wajar ketika mendengar seseorang yang mereka cintai mengatakan hal seperti itu, namun Yunho lupa, Jaejoong tidaklah sama seperti orang kebanyakan.
The Fifteen
Ucapan dari Jaejoong saat itu membuat Yunho lupa bagaimana sifat Jaejoong yang berbeda dengan orang kebanyakan. Menyadari
kebodohannya
membuat
Yunho kembali memeluk Jaejoong erat. “Aku salah! Aku salah! Aku adalah orang terbodoh di dunia!” “Jangan katakan kalau selama ini kau berpikir bahwa aku tidak mencintaimu?” Jaejoong kemudian bertanya kepada Yunho. “Kau
tidak
pernah
mengatakannya
sebelumnya.” Mendengar
pertanyaan
Jaejoong
membuat wajah Yunho terasa panas.
The Fifteen
“Aku
mengatakannya
saat
kita
mengucapkan sumpah di hari pernikahan kita. Setiap kata yang aku ucapkan pada saat itu adalah benar-benar keluar dari lubuk hatiku.” Yunho pun tertegun. Janji pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Tetapi hal itu pula yang paling sering dilupakan oleh orang-orang. Sedangkan Jaejoong… Ketika
dirinya
mengucapkan
janji
pernikahan, maka dirinya akan menepatinya untuk seumur hidupnya. Itu adalah pernyataan yang paling kuat yang berasal dari lubuk hatinya yang
The Fifteen
terdalam,
bahkan
lebih
kuat
daripada
banyaknya kata-kata “Aku mencintaimu” yang sering diucapkan. Karena
Jaejoong
telah
menjanjikan
segalanya dalam hidup ini, menyerahkan seluruh cinta dan hatinya, seluruh jiwanya, dan seluruh hidupnya hanya untuk Yunho. Sedangkan Yunho… Malah melupakan atau mungkin malah menganggap angin lalu janji pernikahan yang telah diucapkan oleh Jaejoong di hari pernikahan mereka yang telah diucapkannya dari lubuk hatinya yang terdalam. “Jangan
katakan
mengingatnya?”
bahwa
kau
tidak
The Fifteen
Jaejoong
kemudian
memicingkan
matanya menatap Yunho dengan pandangan matanya yang dingin. DEG! Sebenarnya darah Yunho berdesir setiap kali melihat pandangan mata Jaejoong yang dingin itu, tetapi untuk kali ini Yunho merasa sedikit takut karena tidak ingin Jaejoong mengetahui kesalahan terbodohnya. “Aku tidak…” “Benarkah?” “Haruskah aku menghukummu?” Akal sehat Yunho seakan menghilang, membayangkan hukuman apa yang akan Jaejoong berikan kepadanya, entah mengapa malah membuat Yunho semakin bergairah.
The Fifteen
Apakah
mungkin
dirinya
berubah
menjadi masochist? Jaejoong kemudian mengalungkan kedua lengannya di leher Yunho sambil berbisik di telinga Yunho. “Katakan, hukuman apa yang harus kuberikan padamu?” Hilang sudah kewarasannya. Dengan cepat diri Yunho menyambar bibir merah kesukaannya itu hingga membengkak dan menekan tubuhnya hingga membuat lakilaki yang paling dicintainya di dunia ini kembali kelelahan. FIN
The Fifteen
The One and Only Written by tohoshinkijeje
Trigger warning: car accident, blood, ableism, bullying
***** Yunho
membuang
napas
sambil
memasuki kelasnya. Anak laki-laki dengan mata serupa manik rubah itu merupakan pindahan dari Gwangju. Sudah hampir satu bulan ia berada di Seoul dan ia masih kesulitan mencari teman. Yunho adalah anak
The Fifteen
yang pendiam dan agak tertutup, ia juga malu saat akan berbicara karena logat Gwangjunya yang kental. Oleh karena itu, ia sangat irit dalam mengeluarkan kalimat, membuatnya agak sulit didekati oleh teman sekelasnya. Yunho duduk di bangku paling belakang, persis dekat jendela. Ia beruntung mendapat bangku itu karena tersembunyi dan bonus semilir angin yang selalu menyapu wajahnya. Hal pertama yang ia lakukan pagi itu adalah mengeluarkan buku pelajaran untuk jam pertama. “Ini dia bintang kebanggaan kita!” Terdengar suara gaduh teman sekelasnya yang
bersorak-sorai,
ia
menoleh
dan
The Fifteen
mendapati bintang kelas ini, tidak, tepatnya bintang sekolah bernama Kim Jaejoong masuk ke dalam kelas dengan sambutan luar biasa. Jaejoong mendapatkan beberapa buket bunga dari penghuni kelas ini, ucapan selamat dan tepuk tangan yang meriah mengiringi
langkahnya
sambil
sibuk
mengucap terima kasih dan membalas pelukan-pelukan dari teman-temannya. Sementara Yunho hanya memerhatikan di tempatnya. Kim Jaejoong. Bukan tanpa alasan ia mendapat julukan bintang sekolah. Tidak hanya
karena
wajahnya
yang
tampan
menawan, sifatnya yang baik, dan pandai
The Fifteen
bergaul, tapi juga karena prestasinya di bidang olahraga. Jaejoong adalah atlet figure skating atau seluncur indah. Dan katanya ia baru saja memenangkan medali perunggu di kejuaraan nasional. Dari yang Yunho dengar, Jaejoong sudah beberapa kali mengikuti kompetisi di tingkat nasional maupun internasional. Tidak heran, Jaejoong
menjadi
kebanggaan
sekolah.
Yunho memandang Jaejoong lamat-lamat dari bangkunya. “Katanya, kalau masuk tiga besar di kejuaraan nasional, kau bisa mengikuti kejuaraan
dunia.”
berkomentar.
Salah
satu
anak
The Fifteen
Jaejoong tersenyum lalu mengangguk malu. “Doakan aku.” Semua anak kembali heboh. Tak sengaja Yunho mengulum senyum tipis. Sedikit banyak, ia juga bangga dengan pencapaian Jaejoong yang cemerlang di usia yang masih muda. Gosipnya Jaejoong sudah menekuni olahraga seluncur indah sejak kecil. Tidak heran, prestasinya di bidang itu begitu mentereng. ***** “Hasil ulangan dengan nilai terbaik kali ini diraih oleh Jung Yunho!” Yunho berdiri dari tempat duduknya untuk menerima
The Fifteen
kertas ulangan dari wali kelasnya, diiringi riuh tepuk tangan dari teman-temannya. “Selamat, Yunho.” “Terima kasih, Saem.” Yunho kembali ke tempat duduknya. “Siwon, sepertinya posisimu berhasil direbut,” kata wali kelas pada Siwon, sang ketua kelas yang langganan juara pertama, sebelum akhirnya ia harus merelakan titel itu pada si murid baru. “Dan Jaejoong, selamat atas kemenanganmu.” “Terima kasih, Saem.” “Tapi
kau
harus
perbaiki
nilai
akademikmu. Kau bisa belajar bersama Siwon atau Yunho.”
The Fifteen
“Ne, Saem.” Jaejoong menjawab malu bersama dengan suara tawa murid lainnya. Karena kesibukannya berlatih dan mengikuti kompetisi, Jaejoong sering kali ketinggalan pelajaran dan itu berimbas pada nilai akademiknya. Jam memasuki waktu istirahat. Wali kelas pun meninggalkan kelas. Seluruh murid
berhamburan
keluar,
sementara
Yunho tetap memilih diam di kelas sebab ibunya sudah menyiapkan bekal makan siang. “Hai, jadi kau si murid baru?” Yunho urung menyuapkan nasi ke mulutnya, ia mendongak
dan
menemukan
Jaejoong
berdiri tepat di depannya sambil tersenyum
The Fifteen
ramah. Tangan pemuda itu terulur. “Salam kenal, aku Kim Jaejoong. Kita belum sempat berkenalan.” Yunho menyambut uluran tangan itu dan membalas seadanya, “Aku Jung Yunho, salam kenal.” Pemuda asal Gwangju itu menyuapkan nasi ke dalam mulutnya yang sempat tertunda. Sekonyong-konyong Jaejoong kemudian duduk
di
depan
bangku
Yunho
dan
menghadapnya. Dari dekat, Yunho bisa melihat fitur wajah Jaejoong dengan jelas. Ditatapnya anak itu lekat-lekat. Ternyata selain tampan, kata cantik juga pantas disematkan padanya.
The Fifteen
Jaejoong adalah definisi dari keindahan yang nyata. Bahkan ketika helaian surainya yang tertiup sepoy angin, Yunho seakan dibuat tersihir olehnya. Sehingga selama beberapa detik tadi, otak Yunho sempat lumpuh. “Kau mau menemaniku belajar dan mengajariku?
Satu-satunya
keahlianku
hanya seluncur indah, kalau kau buka otakku sekarang isinya pasti kopong, kau hanya akan menemukan skating di sana.” Bibir Yunho
berkedut
nyaris
tersenyum
mendengar lelucon Jaejoong. “Jadi ajari aku, yah?”
Jaejoong
makin
wajahnya yang jenaka.
mendekatkan
The Fifteen
“Kau bisa minta bantuan pada Siwon.” Dengan
dagu
Yunho
menunjuk
ketua
kelasnya yang sedang membaca buku. Jaejoong mengembuskan napas. “Oh, Siwon itu menyebalkan.” “Lalu dari mana kau tahu aku tidak akan sama
menyebalkannya
seperti
Siwon?”
Yunho mengunyah makan siangnya dengan santai. “Hanya
menebak,”
jawab
Jaejoong
sambil mengedikkan bahu. “Jaejoong!
Fans-fansmu
datang!”
Seorang teman berteriak dari ambang pintu, Jaejoong
dan
Yunho
mengalihkan
perhatiannya pada sumber suara. Sudah ada
The Fifteen
sekelompok gadis yang berkerumun di depan kelas Jaejoong. “Merepotkan
sekali
punya
banyak
penggemar. Aku permisi dulu, nanti kita bicara lagi yah. Yun-oh.” Jaejoong lantas melesat meninggalkan Yunho setelah ia mencolek dagu si murid baru dengan cepat. “Yunho. Yunho
Namaku
menatap
datar
Yunho,” Jaejoong
gumam yang
menghampiri para penggemarnya dengan antusias. ***** Meskipun Jaejoong bilang ia ingin belajar bersama Yunho, setelah mereka
The Fifteen
berkenalan untuk pertama kalinya waktu itu, Jaejoong terus menunda niatnya tersebut. Yunho pun juga tidak bertanya, jadi kegiatan belajar
bersama
itu
sampai
seminggu
kemudian belum juga terlaksana. Bertemu pelatih, latihan, istirahat, dan urusan dengan teman serta fans-fansnya selalu
menjadi
alasan
Jaejoong
terus
mengulur-ulur janjinya. Tapi sebetulnya Yunho juga tidak terlalu peduli, ia malah senang, bagi seorang introvert seperti Yunho tidak mudah baginya untuk beradaptasi dengan orang yang baru ia kenal. “Yun-oh! Aku pulang duluan, aku ada janji. Nanti saja belajarnya!” kata Jaejoong
The Fifteen
dengan gerak cepat menggendong tasnya lalu berlari keluar kelas. “Sudah kubilang namaku Yunho,” ucap Yunho kesal karena Jaejoong terus salah sebut namanya. “Bye. Yun-oh!” Suara Jaejoong yang menggema di lorong terdengar di telinga Yunho, membuatnya mendesah berat. Entah Jaejoong
sengaja
atau
tidak
tentang
penyebutan namanya yang selalu keliru itu. … … Usai pulang sekolah, Yunho sempat mampir sebentar ke toko buku. Tadinya ia hendak pergi ke hagwon tapi orang tuanya menelpon dan memberitahu bahwa sang
The Fifteen
nenek yang hidup sendiri di Gwangju jatuh sakit, jadi malam itu juga mereka akan langsung pergi ke sana. Di tengah jalan sambil menunggu orang tuanya
menjemput,
Yunho
mendengar
seseorang memanggil namanya. “Yunho!” Yunho menoleh dan mendapati bintang sekolahnya sedang bersama dengan empat orang lainnya. Sang atlet muda setengah berlari
mendekati
Yunho.
“Jaejoong?”
Kening pemuda Gwangju itu mengerut saat menilik penampilan Jaejoong yang agak berantakan. Nampak ada noda kotor di seragam putihnya.
The Fifteen
“Hai, kau teman Jaejoong?” Salah satu orang yang bersama Jaejoong juga ikut menghampiri
mereka
berdua.
Ia
lalu
merangkul Jaejoong dengan akrab, tidak, sok akrab mungkin lebih tepatnya. “Aku
sekelas
dengannya.”
Yunho
menjawab tenang, ia memerhatikan satu per satu teman-teman Jaejoong yang sama sekali tidak memberinya tatapan ramah. Jaejoong
melepas
paksa
rangkulan
temannya lalu mendekati Yunho. “Yunho, bukankah kita ada janji belajar bersama? Aku hampir saja lupa. Ayo kita belajar di rumahmu saja.” Kedua tangan Jaejoong menggamit lengan Yunho erat-erat. Keringat nampak
membasahi
wajah
pemuda
The Fifteen
menawan itu, sementara rautnya nampak cemas dan takut. Namun begitu, Jaejoong mati-matian untuk tetap bisa tersenyum. Namun sayang, ekspresi Jaejoong itu tak sampai bisa dimengerti oleh Yunho. “Sejak kapan kau belajar, Jaejoong?” tanya laki-laki yang merangkul Jaejoong tadi dan disambut tawa oleh kawan-kawannya yang lain. Nada suara mereka sama sekali tak terdengar seperti candaan, sebaliknya, mereka justru terdengar seperti sedang meremehkan. “Ayo, Yunho.” Jaejoong menarik lengan Yunho namun suara klakson menghentikan langkah
mereka
berdua
dan
membuat
The Fifteen
mereka menoleh pada sebuah mobil yang berhenti di sisi jalan. “Yunho!” Seorang wanita paruh baya berteriak dari kursi depan. “Eoh, Eomma!” sahut Yunho. “Jaejoongah, maaf. Aku sudah dijemput orang tuaku untuk pergi, kau tadi bilang kita belajarnya nanti saja karena ada janji. Bukankah sekarang kau bersama teman-temanmu? Aku pergi dulu.” Yunho pun melepas tangan Jaejoong di lengannya. “Benar, Jaejoong ada janji bersama kami. Jaejoong-ah, kita belum selesai bermain. Ayo kita pergi.” Laki-laki kawan Jaejoong tadi menarik tubuh Jaejoong dan memiting lehernya, mencegah si bintang sekolah kabur.
The Fifteen
“Yunho!” panggil Jaejoong lagi. “Sampai jumpa Jaejoong.” Agak ragu Yunho melambaikan tangan pada Jaejoong sebelum ia memasuki mobil. Dari kursi belakang Yunho terus melihat ke arah Jaejoong yang terus menatapnya seiring berjalannya mobil. Entah kenapa Yunho berat hati dan cemas meninggalkan Jaejoong. “Tadi siapa? Temanmu?” tanya sang ibu. “Iya kami sekelas.” “Maaf
kami
menjemputmu
malam-
malam. Karena besok hari libur jadi kita sekalian menginap saja di sana, Eomma khawatir jika meninggalkanmu sendiri di rumah….” Padahal Yunho sudah besar. Ia tidak akan kenapa-kenapa jika orang tuanya
The Fifteen
meninggalkannya sehari tapi toh Yunho juga ingin melihat neneknya, neneknya juga pasti senang jika mereka bertemu. Yunho kemudian kembali melihat ke arah tempat Jaejoong dan teman-temannya. Kebetulan jalanan sedang macet, ia masih bisa melihat mereka dari kejauhan. “Apa yang
sedang
mereka
lakukan…?”
gumamnya sambil mengerutkan kening saat ia melihat satu per satu mereka memukuli Jaejoong. melawan
Jaejoong dan
kemudian memberontak
pertengkaran itu berlangsung sengit. “Sialan, mereka merundungnya!” “Kenapa?” tanya sang ayah.
nampak tapi
The Fifteen
“Temanku dipukuli. Eomma aku turun saja.” Tanpa tendeng aling-aling Yunho kemudian membuka pintu mobil dengan cepat. “Yunho!”
Yunho
tak
memedulikan
teriakan ibunya, pemuda itu berlari kencang untuk kembali pada Jaejoong, ia melesat bak meteor. Jaejoong
Seharusnya pergi.
tadi
ia
Seharusnya
mengajak ia
sadar
Jaejoong tengah meminta bantuannya. Mata rubah Yunho tak bisa lepas pada sang atlet muda yang masih bergumul dengan teman-temannya. Tak ada satupun yang menolongnya. Sedikit lagi. Sebentar lagi, Jaejoong. Tunggu Yunho, ia akan sampai.
The Fifteen
Kemudian
detik
selanjutnya,
dunia
Yunho seakan berhenti. Waktu seolah membeku ketika seseorang di antara mereka mendorong Jaejoong dengan keras hingga ia terhempas ke jalanan, lalu sebuah mobil yang melaju cepat menghantam
tubuh
kurusnya
dengan
kencang, membuat tubuhnya terlempar ke jalanan. Yunho nyaris kehilangan napas saat tubuh Jaejoong tergeletak di aspal dengan darah bersimbah. Sekuat tenaga Yunho menggerakan kakinya sementara tubuhnya gemetar hebat. Telinganya berdengung.
The Fifteen
Hingga bunyi sirene ambulans dan pelukan sang ibu kembali menyadarkan Yunho. ***** Jaejoong koma. Luka berat yang dialaminya membuat kondisinya jatuh kritis, ia bahkan nyaris tak tertolong. Dokter bilang hanya mukjizat yang dapat menolongnya dan waktu yang kelak akan memberi jawaban. Pelaku perundungan Jaejoong sudah ditangkap. Mereka adalah teman SMP Jaejoong. Yunho tidak tahu detail lainnya seperti apa. Yunho yang saat itu juga terlibat,
The Fifteen
ikut memberikan kesaksian pada pihak kepolisian, didukung oleh rekaman kamera pengawas, pengadilan.
kasus Anak
itu
diproses
yang
tak
oleh sengaja
mendorong Jaejoong dikenai sanksi penjara empat tahun, sisanya mendapat hukuman dua tahun dan masa percobaan. Lebih ringan dari seharusnya karena para perundung itu masih di bawah umur. Berita
kecelakaan
Jaejoong
tentu
membuat semua orang terutama pihak sekolah bersedih, pun dengan dunia olahraga yang seakan kehilangan atlet muda potensial. Kejuaraan dunia yang sudah ada di depan mata Jaejoong, kini harus pupus. Entah
The Fifteen
bagaimana perasaannya saat ia mengetahui hal itu. Yunho tidak mau memikirkannya. Hari demi hari dari selesai waktu sekolah, Yunho terus menyempatkan diri untuk menjenguk Jaejoong. Ia memang tidak terlalu dekat dengan Jaejoong tapi sebagai orang terakhir yang Jaejoong temui sebelum kejadian nahas itu terjadi, membuat Yunho merasa bersalah dan ikut bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Kalau saja Yunho saat itu langsung membawa Jaejoong pergi, anak itu masih akan tertidur di kelas karena lelah berlatih lalu ia lagi-lagi akan salah memanggil nama Yunho. Itu yang Yunho pikirkan saat ia menatap sosok Jaejoong yang terbaring
The Fifteen
lemah dibantu dengan alat-alat medis di sekujur tubuhnya. “Yunho, ini sudah malam. Kau harus pulang, besok kau harus sekolah.” Ibu Jaejoong menyentuh pundak Yunho yang terus
berdiri
di
depan
ruangan
kaca
bertuliskan ICU, tempat Jaejoong dirawat. “Eomonie, beri tahu aku jika Jaejoong bangun.” Itu adalah kalimat yang selalu diulang-ulang oleh Yunho hampir setiap hari pada ibu Jaejoong. Membesuk Jaejoong sudah
jadi
rutinitasnya
selama
nyaris
setahun belakangan ini. Ya, Jaejoong sudah koma selama itu. Sebentar lagi harusnya ia dan Jaejoong lulus
The Fifteen
bersama kemudian meraih mimpi masingmasing. Ibu
Jaejoong
mengembuskan
napas
kencang. Ia menggandeng lengan Yunho dan menuntunnya menjauh dari bangsal Jaejoong. Dibawanya anak seumuran putranya tersebut ke taman rumah sakit dan memberinya coklat hangat. “Yunho, aku sudah bilang, kejadian yang menimpa
Jaejoong
bukanlah
salahmu.
Mereka yang membulinya lah yang salah. Kau tidak perlu merasa bersalah.” Yunho harusnya
menggeleng. menolong
“Tidak.
Jaejoong
saat
Aku itu.
Perbuatanku juga sama buruknya dengan para perundung itu.”
The Fifteen
Wanita tua tersenyum meringis. “Kau tidak perlu merasa begitu, Yunho. Aku mengerti kau juga pasti tidak tahu kalau mereka bukan teman-teman Jaejoong. Kau murid baru dan belum mengenal Jaejoong terlalu dekat.” Ia meraih tangan Yunho dan menggenggamnya erat, setiap hari bertemu dengannya membuatnya merasa memiliki putra kedua. “Dengar, sebentar lagi kau akan lulus dan menghadapi ujian masuk universitas. Jadi, mulai sekarang fokus pada dirimu sendiri,
kau
juga
harus
memikirkan
kehidupanmu. Karena itu, jangan datang ke sini lagi. Bermain sepuasmu dan belajarlah dengan giat. Jangan cemaskan Jaejoong, dia
The Fifteen
anak yang kuat. Suatu hari aku yakin dia pasti akan bangun. Dan saat ia bangun nanti, aku ingin kau jadi orang sukses supaya kelak kau bisa menyombongkannya pada Jaejoong. Kau mengerti?” Yunho
tidak
berkaca-kaca.
menjawab,
matanya
Menghentikan
kegiatan
rutinnya yang sudah seperti kebiasaan tentu sulit bagi Yunho, sebab dalam dirinya ia merasa bahwa itu sudah seperti kewajiban, Yunho merasa bertanggung jawab. Tidak mudah bagi Yunho untuk melepasnya begitu saja. “Yunho? Kau mengerti ‘kan? Janji padaku, hmm?” Yunho masih bergeming.
The Fifteen
“Yunho, jawab aku.” “Eomonie, aku tidak mau. Aku masih mau menjenguk Jaejoong.” “Tidak. Kau harus berhenti. Tolong turuti ucapanku.” Perlahan akhirnya Yunho mengangguk. Ia lalu mendapatkan pelukan hangat dari ibu Jaejoong. “Oh anakku. Terima kasih sudah jadi teman Jaejoong. Aku yakin kau akan jadi pria yang luar biasa.” ***** 15 tahun kemudian… Sudah belasan tahun berlalu, waktu melesat seperti cahaya yang melintasi ruang.
The Fifteen
Langkah tegap seorang pria dengan mantap memasuki ruangan paling luas di puncak tertinggi sebuah gedung pencakar langit, tepat di jantung Kota Seoul. Setelah lama tinggal di Kanada, Yunho akhirnya memutuskan untuk pulang dan meneruskan usaha ayahnya. Usai tamat SMA, Yunho melanjutkan studi di negeri daun maple tersebut dan setelah lulus kuliah, ia pun bekerja di sana. Dan panggilan ayahnya untuk menggantikan posisinya sebagai direktur utama di perusahaan yang telah dirintisnya sejak lama, makin menguatkan alasan Yunho untuk kembali ke Korea.
The Fifteen
Laki-laki yang sewaktu muda bertubuh kurus itu kini menjelma menjadi sosok gagah dengan fisik sempurna. Tubuhnya kokoh dengan otot-otot yang menyembul di lengan, dada, dan perutnya. Wajahnya terpahat begitu rupawan. Garis rahangnya
afdal
membingkai
parasnya.
Sementara mata rubahnya nampak makin tajam dan tegas. Yunho
mendongak
sewaktu
suara
ketukan di pintu ruangan kantornya berbunyi. “Masuk.” Shim Changmin, sekretarisnya masuk ke ruangan. “Tim legal sudah membuatkan kontrak dengan Haeshin, Anda dijadwalkan untuk rapat dengan pihak mereka besok
The Fifteen
siang.”
Ia
menyerahkan
satu
bundel
dokumen pada Yunho. “Terima kasih, nanti kupelajari. Ada lagi?” “Mengenai permintaan Anda.” Yunho yang tadinya hendak fokus ke pekerjaannya yang
menumpuk
seketika
langsung
mengalihkan perhatiannya. “Bagaimana? Kau sudah menemukannya?” ucapnya tak sabaran, ia bahkan mencampakkan dokumen yang akan ia baca untuk mendekati Changmin. Changmin
tersenyum.
Ia
kembali
menyerahkan satu berkas kepada Yunho. “Tidak sulit menemukannya. Anda bisa membacanya di sini.”
The Fifteen
Yunho lantas membuka dokumen itu dan membacanya dengan seksama. “Kalau
begitu
aku
permisi
dulu,
Sajangnim.” Changmin pun meninggalkan atasannya yang khusyuk dengan laporannya. Dengan serius Yunho membaca halaman demi halaman laporan berisi informasi tentang seseorang. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir ia menatap wajahnya yang masih terbaring di ruang ICU rumah sakit. Kim Jaejoong. Kejadian itu tidak pernah sekalipun Yunho lupakan. Peristiwa nahas itu masih segar diingatan Yunho. Sudah bertahuntahun semenjak ia mengetahui kabar terakhir Jaejoong. Setelah menginjakkan kaki di
The Fifteen
Kanada, hanya berita kecelakaan itu yang muncul saat ia mengetik nama Jaejoong di kolom pencarian internet. Sisanya tak ada lagi. Ibu Jaejoong juga tidak memberikan kontak dan ia tidak punya teman dekat di Seoul. Barulah saat ia kembali ke Korea, ia melakukan pencarian soal Jaejoong. Kaki Yunho kehilangan kekuatan, ia terjatuh
lemas
ketika
potret
bintang
sekolahnya dulu kini hidup dengan bantuan kursi roda. Kim Jaejoong. Atlet seluncur indah kebanggaan sekolahnya dulu ternyata mengalami kelumpuhan. Tiba-tiba hatinya serasa dirobek paksa mengetahui kenyataan yang terjadi. Rasa
The Fifteen
bersalah itu kembali muncul ke permukaan, menghantamnya dengan begitu keras. ***** Yunho menyusuri jalanan sepi sebuah kompleks
perumahan
yang
alamatnya
didapatkan dari laporan yang diberikan oleh Changmin. Benar, ia tengah mencari rumah Jaejoong.
Dari
dokumen
yang
telah
dihimpun sekretarisnya tersebut, tercatat Jaejoong pindah ke rumah ini beberapa tahun yang lalu. Mobil listrik yang dikendarai Yunho tiba-tiba berhenti saat ia menemukan ibu Jaejoong beserta dengan putranya keluar
The Fifteen
dari salah satu rumah, hati Yunho pun berdegup
tak
keruan.
Ibu
Jaejoong
membantu Jaejoong untuk memasuki mobil, melipat kursi rodanya, lalu masuk ke kursi kemudi. Mata Yunho mengekori gerak mobil yang melaju melewatinya lalu menghilang dari
pandangannya.
Degup
jantungnya
masih berdebar kembali melihat Jaejoong. Ada sesak yang menghimpit dadanya saat ia memandang
pria
dengan
paras
indah
tersebut. Yunho kemudian menjalankan kembali mobilnya
menuju
suatu
tempat
yang
alamatnya sudah ia dapat dan hafal dari dokumen
hasil
pencarian
Changmin.
The Fifteen
Beberapa saat kemudian, ia sampai di sebuah toko bunga. Tempat di mana Jaejoong bekerja. Ibu Jaejoong lalu terlihat keluar dari mobil, ia mengeluarkan kursi roda dari bagasi sebelum kembali membantu Jaejoong berpindah ke kursi roda. Pasangan ibu dan anak itu bekerja sama untuk bersiap membuka
toko.
Sesekali
mereka
bercengkrama dan berbagi tawa. Senyum Jaejoong membuat Yunho tak bisa menahan rindu yang berkecamuk dalam benaknya. Kapan terakhir kali ia melihat Jaejoong tersenyum? Jaejoong sangat indah dengan senyum
membingkai
wajahnya,
bunga-
The Fifteen
bunga cantik di sekitarnya bahkan kalah indah darinya. “Jaejoong-ah,” gumam Yunho pelan. Ia ingin turun dari mobil dan menghampiri si bintang sekolah tapi keberaniannya tak cukup banyak. Ia tidak pernah setakut ini menghadapi seseorang, Yunho jauh lebih berani menghadapi Presiden atau bahkan bos mafia
sekalipun
daripada
menghadap
Jaejoong secara langsung. Mungkin nanti. Begitu pikir Yunho sehingga ia dengan berat hati kembali menjalankan mobil dan meninggalkan toko bunga bernama Halcyon tersebut. Yunho terlalu pengecut untuk bertemu dengan Jaejoong.
The Fifteen
Besok. Semoga
besok
ia
sudah
bisa
menghimpun keberanian dan mengentaskan ketakutannya. Ya. Ia bisa. Ia pasti bisa. Sudah ada di ambang batas hasratnya untuk menemui Jaejoong. ***** Siang ini, Yunho kembali lagi ke Halcyon seperti janjinya pada diri sendiri kemarin itu. Semalaman kepalanya penuh dengan
segala
macam
skenario
pertemuannya dengan Jaejoong. Menyusun kalimat yang kemungkinan akan terjadi. Menyiapkan segala rencana dari A sampai Z.
The Fifteen
Yunho sudah siap. Bahkan
jika
Jaejoong
memakinya,
menamparnya, memukulnya, atau bahkan meludahinya sekalipun Yunho akan terima. Ia juga siap untuk menurunkan kedua lututnya, bersimpuh di depan kaki Jaejoong untuk meminta maaf secara langsung. “Yunho?!” mendapati
Pria seorang
itu
menoleh
dan
wanita
tua
menghampirinya. “Omonaa! Ini kau Yunho? Astaga, lama sekali tidak bertemu. Kau sudah jadi pria tampan sekarang. Senang bertemu denganmu lagi.” Wanita dengan rambut yang sudah memutih itu memeluk Yunho dengan antusias.
The Fifteen
“Apa
kabar,
Eomonie?”
Yunho
membalas pelukan ibu Jaejoong tersebut. Rasanya seperti mendekap tubuh ibunya, kerinduan itu nyaris membuat hati Yunho perih. “Bagaimana dengan kabarmu sendiri? Oh Tuhan, kau sudah jadi pria dewasa yang gagah dan menawan,” puji ibu Jaejoong begitu ia melepas pelukannya. “Aku tidak menyangka Eomonie masih ingat aku.” Wanita itu memukul lengan Yunho. “Tentu saja aku ingat! Aku tidak mungkin lupa padamu. Bagaimana kalau kita minum kopi di kafe itu?” Ibu Jaejoong menunjuk
The Fifteen
kafe tepat di depan toko bunganya. Yunho mengangguk dan mengikutinya. “Jadi di mana kau selama ini?” tanyanya pada Yunho setelah mereka duduk di salah satu meja dan memesan dua es kopi. Keriput di wajah wanita itu tak bisa menghapus kecantikannya yang berseri. “Aku kuliah di luar negeri, Eomonie. Aku menetap selama beberapa tahun. Belum lama sejak aku kembali ke Seoul.” “Aku ikut senang melihatmu sekarang.” Hening
lantas
menjadi
pengantar
keduanya. Yunho sibuk memainkan sedotan es kopinya sambil memikirkan sesuatu, sementara sang wanita di depannya nampak
The Fifteen
menatap ke arah luar, tepat ke toko bunganya. “Jaejoong….” Yunho bergumam pelan penuh keraguan demi memulai perbincangan kembali. Ibu Jaejoong mendesah berat. Binar matanya nampak redup namun senyuman menghiasi bibirnya. “Jaejoong harus dibantu kursi
roda
selamanya.
Ia
mengalami
kelumpuhan setelah kecelakaan itu. Jaejoong koma selama dua tahun. Ia ikut ujian persamaan dan tidak melanjutkan kuliah. Di awal
tahun-tahun
pasca
kecelakaan,
Jaejoong mengalami trauma berat. Kondisi mentalnya terganggu.
The Fifteen
“Berat baginya untuk melewati hari demi hari. Jaejoong bahkan pernah beberapa kali mencoba melakukan bunuh diri.” Tak sampai hati rasanya mengisahkan kembali masa-masa kelam itu. Ia bahkan berkacakaca mengingat betapa pahitnya kenyataan menghantam sang putra. “Bagaimana kondisinya sekarang?” “Dia sudah jauh lebih baik sekarang. Dia melakukan terapi dan rutin meminum obat dengan baik. Dia sudah bisa melanjutkan hidup
dan
melakukan
aktifitas
meski
terbatas. Membuka toko bunga adalah idenya. Jaejoong jauh lebih tenang dan stabil saat melihat bunga-bunga, merangkai bunga, dan merawatnya.”
The Fifteen
Yunho mengembuskan napas. “Aku lega mendengarnya.” Ibu Jaejoong menyentuh tangan Yunho. “Yunho, aku pernah bilang. Jangan pernah merasa bersalah, kecelakaan itu bukan salahmu.” Yunho menggeleng. “Sulit bagiku untuk tidak merasa bersalah. Eomonie tahu sendiri, sedikit banyak kecelakaan Jaejoong juga disebabkan olehku. Aku justru akan merasa lebih baik jika kalian menyalahkanku.” Wanita paruh baya itu terkekeh kering. “Dunia sangat lucu. Kau hanya melakukan kesalahan kecil tapi terus-terusan meminta maaf
hingga
aku
harus
menyuruhmu
berhenti, tapi mereka, pelaku sebenarnya
The Fifteen
yang merundung Jaejoong dan menyebabkan Jaejoong harus kehilangan impian dan kemampuan berjalan, sama sekali tidak pernah menemui kami dan meminta maaf.” “Mereka
tidak
pernah
mendatangi
kalian?” Kepala ibu Jaejoong tertunduk dan menggeleng lemas. “Sekalipun.” Bahkan ketika mereka bertemu di kantor polisi pun, para pelaku perundungan itu sama sekali tidak meminta maaf pada mereka berdua, jangankan meminta maaf, menoleh saja tidak. Setelah dinyatakan bebas pun, tidak ada itikad baik dari mereka. “Brengsek!” rahang
hardik
mengetat.
Yunho
Gigi-giginya
dengan saling
The Fifteen
menekan dengan kuat, tangannya terkepal erat. Amarah menggelora dalam hatinya walaupun
dalam
laporan
yang
dibuat
Changmin mereka semua kini mendapat karmanya masing-masing. Pelaku utama yang mendorong Jaejoong kini berada di penjara lagi setelah terlibat penganiayaan yang berujung pada kematian yang tidak disengaja. Sementara tiga lainnya, ada yang sudah meninggal karena mengidap suatu penyakit, menghilang, dan jatuh miskin akibat hutang. “Sudahlah.
Tidak
perlu
dipikirkan.
Lagipula, mereka pasti mendapat balasan masing-masing. Omong-omong, kau mau bertemu dengannya? Tapi hari ini jadwal
The Fifteen
Jaejoong check up ke rumah sakit. Mungkin besok kau bisa datang lagi.” “Ah begitu.” Perbincangan mereka terus berlanjut dan berakhir menyenangkan, mereka keluar dari kafe dengan senyum terlukis di wajah. Namun Yunho belum bisa menghilangkan kegundahan di sudut hatinya saat esok akan bertemu dengan Jaejoong. ~...~ Esoknya, Yunho kembali ke tempat yang sama. Sudah beberapa menit semenjak ia tiba namun sama sekali belum keluar dari mobilnya. Kedua tangannya terasa dingin karena gugup. Dari mobilnya ia melihat
The Fifteen
sosok Jaejoong tengah merangkai bunga untuk seorang pelanggan. Setelah menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali—untuk yang kesekian kalinya—Yunho turun dari mobil lalu membuka pintu ka toko yang berbunyi. Kedua netranya tak lepas menatap sosok di depannya yang menoleh ke arahnya. Lidah Yunho mendadak kelu. Tubuhnya terasa membeku. Sementara Jaejoong di depannya juga sama terperangahnya. Di kursi rodanya, Jaejoong memandangnya dengan wajah tertegun. Yunho tak bisa menebak isi kepala pria itu. Ia pun menelan ludah dengan susah payah.
The Fifteen
Jaejoong tak pernah lupa dengannya. Ia hafal betul dengan pria dengan postur tinggi, mengenakan jas mahal, dan berparas tampan di
depannya.
Masih
terasa
jernih
bayangannya sewaktu laki-laki itu duduk di bangku paling belakang, wajahnya tenang melihat anak-anak bermain bola di lapangan dengan surai tertiup angin. Pria bernama Jung Yun-oh. Seutas
senyum
tersimpul
di
bibir
Jaejoong. “Hai, apa kabar Jung Yun-oh?” Suara lembut Jaejoong mengalun menyapa pendengaran Yunho. Air mata merembes di kedua mata Yunho namun bibirnya melengkungkan senyuman. Semua perasaan yang ia pendam
The Fifteen
belasan
tahun
menyeruak
ini
seakan
berlari-lari
keluar.
Yunho
kewalahan
menahan tangisnya hingga kakinya lemas lalu terjatuh. ... … Terhitung
sudah
sekian
menit
keheningan memerangkap keduanya. Kepala Yunho tertunduk sembari menggenggam cangkir teh yang diberikan oleh ibu Jaejoong. Wanita itu membantu Yunho berdiri dan membawanya ke sebuah ruangan, diikuti oleh Jaejoong. Sekarang hanya ada mereka berdua di sana. “Sampai kapan kau akan terus diam? Kau sama sekali tidak mau bicara?” tanya
The Fifteen
Jaejoong yang sudah mulai habis kesabaran menunggu laki-laki itu bersuara. “Kau tidak suka
melihatku?
Kau
pasti
terkejut
melihatku seperti ini. Siapa yang mengira, atlet seluncur indah itu kini berakhir di kursi roda.” Jaejoong tersenyum sendu. Yunho lantas menoleh dan menggeleng cepat. “Tidak. Aku… aku… tidak pernah berpikir buruk seperti itu. Jaejoong-ah aku… aku minta maaf… aku minta maaf atas kejadian itu… andai saja aku membawamu waktu itu… kecelakaan itu—” “Stop,” sela Jaejoong. “Aku tidak mau mendengarnya.
Aishh,
kau
membuatku
mengingat kejadian itu lagi padahal aku sudah mulai lupa,” gerutunya.
The Fifteen
“Jaejoong-ah, aku tidak keberatan jika kau membenciku, kau pantas membenciku. Aku minta maaf.” Yunho sudah pasrah. Kalaupun
Jaejoong
mau
memakinya,
meneriakinya, menyiramnya dengan teh panas, atau bahkan melemparinya dengan vas bunga keramik itu, Yunho sudah siap. Jaejoong mendesah berat. “Aku sempat membencimu. Aku sempat menyalahkanmu, aku juga berpikiran sama denganmu. Kenapa kau tidak membawaku saat itu? Kenapa kau tidak
berpura-pura
saja?
Kenapa
kau
membiarkanku bersama mereka? Kau tidak akan pernah bisa membayangkan apa yang kurasakan. Kau tidak tahu apa yang kulalui. Rasanya sungguh seperti di neraka hingga
The Fifteen
aku ingin mati saja. Percayalah, aku sudah mencobanya. Tapi sepertinya semesta tidak bisa membiarkanku mati secepat itu. “Walau begitu, kini aku sudah menerima keadaanku. Memang berat dan sulit sekali rasanya. Bukan hal yang mudah bagiku berdamai dengan kondisi seperti ini. Namun aku juga tidak mungkin terus-menerus terpuruk. Saat rehabilitasi pasca kecelakaan, aku melihat banyak orang dengan kondisi yang jauh lebih parah dariku. Saat itu aku bisa lebih bersyukur. Aku hanya kehilangan dua kaki, sementara anggota tubuhku yang lain masih lengkap. Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Aku bahkan bisa menyetir
The Fifteen
sendiri dan sudah punya SIM,” pamer Jaejoong bangga. “Tapi impianmu….” Impian untuk ikut kompetisi kejuaran dunia saat itu ada di depan
mata
Jaejoong,
tapi
gara-gara
kecelakaan itu akhirnya Jaejoong terpaksa merelakan Jaejoong
mimpinya adalah
tersebut,
atlet
yang
padahal sangat
menjanjikan. “Biar orang lain yang meneruskan impianku.
Tidak
apa-apa.”
Jaejoong
menjawab enteng. Oh percayalah setiap musim dingin tiba, Jaejoong rasanya ingin berseluncur di atas es, melakukan lompatan dan
putaran
seperti
ketika
ia sedang
berkompetisi tapi keinginan itu tak pernah
The Fifteen
sekalipun membebaninya atau membuatnya mengasihani diri sendiri. Jaejoong sudah ikhlas melepaskan mimpi itu. “Aku minta maaf.” Yunho tak punya kalimat lain yang tersisa selain meminta maaf. “Jangan minta maaf. Kau tidak salah. Eomma banyak bercerita tentangmu. Saat itu kita
baru
saja
mengenal…
mungkin
seminggu? Aku lupa, pokoknya kita baru kenal sebentar, wajar jika kau masih segan denganku dan menolak ajakanku, kita tidak terlalu dekat. Lagipula bukan kau juga yang mendorongku.” “Tapi…”
The Fifteen
Lagi-lagi Jaejoong mendesah panjang. “Yun-oh, bisakah kita tidak membahas soal ini lagi? Aku sungguh baik-baik saja. Bahkan kau juga tidak punya kewajiban untuk menjengukku seperti ini, kau bisa bebas dengan hidupmu. Sudah bagus hidup di
luar
negeri
bertahun-tahun
kenapa
sekarang kau kembali lagi ke Seoul dan malah menemuiku?” pandangan Yunho teralih padanya. “Jangan menatapku begitu.” Kedua
alis
Yunho
terangkat.
“Memangnya tatapanku seperti apa?” “Kau seperti sedang mengasihaniku. Jangan kasihani aku, itu membuatku terlihat jauh lebih menyedihkan. Aku tidak suka,” ujar Jaejoong terus terang.
The Fifteen
Yunho
kemudian
mengerjap
dan
menundukkan kepalanya. “Maaf. Aku tidak menyadarinya.
Ingatkan
aku
jika
aku
melakukannya lagi.” “Tentu saja! Kalau perlu aku akan mencubitmu seperti ini!” Tanpa ampun Jaejoong mencubit lengan Yunho dengan keras, membuat pria itu mengaduh kesakitan. “Aahhhh! Sakit!” pekik Yunho. Tawa renyah Jaejoong lantas berderai memenuhi seisi ruangan, tawa itu nampak sempurna terpahat di wajah cantik Jaejoong, membuat
laki-laki
bermata
rubah
itu
terpesona. Kedua ainnya tak lepas terpatri pada pemandangan di depannya.
The Fifteen
“Senang bertemu denganmu lagi, Yunoh.” “Yunho! Namaku Yunho! Jung Yunho,” ralat Yunho, menyadari sedari tadi Jaejoong terus salah menyebut namanya, seperti kebiasaannya saat sekolah dulu. Dia masih saja memanggilnya Yun-oh “Memangnya iya? Sejak kapan kau ganti nama?” Yunho terhenyak sesaat, mulut melongo, tak habis pikir dengan ucapan Jaejoong. Entah apa dia bercanda atau serius. “Sejak aku lahir namaku sudah Yunho! Kau yang salah terus!” “Benarkah?”
Pria
manis
mengedikkan bahu tak acuh.
itu
hanya
The Fifteen
Dalam
hati,
Jaejoong
tersenyum.
Sungguh, rasanya memang menyenangkan bertemu dengan Yunho kembali. Walaupun dulu mereka baru berkenalan kurang lebih seminggu atau lebih, Jaejoong merasa jauh lebih dekat dengannya. Bertemu teman lama yang sudah sangat lama ia kenal, seperti itulah
rasanya.
Teman-teman
Jaejoong
sekolah dulu bahkan tak ada lagi yang pernah menjenguknya. Hanya Yunho. Satu-satunya. *****
The Fifteen
“Jaejoong-ah!” seru Yunho sewaktu ia membuka pintu Halcyon yang berbunyi. “Oh? Yun—” “Yunho!”
tegas
Yunho
menyebut
namanya, takut Jaejoong salah memanggil namanya lagi. Jaejoong terkekeh. “Iya Yunho. Aku sudah
ingat
namamu,
tahu!
Omong-
omong kenapa kau senang sekali datang ke sini?” tanya pria itu di balik meja. Ini mungkin sudah hampir seminggu Yunho rutin setiap hari datang ke toko ini hanya untuk menumpang makan siang bersama. “Yunho, kau sudah datang?” kata Ibu Jaejoong yang baru saja mengeluarkan ember penuh dengan bunga dari sebuah
The Fifteen
ruangan, Yunho tergopoh untuk membantu wanita itu. “Eomonie, hari ini aku menumpang makan siang lagi. Kali ini biar aku saja yang traktir.” “Kalau begitu kita pesan saja, aku ingin makan jajjangmyeon. Jaejoong, kau mau makan apa?” “Aku jjampong saja.” “Baiklah.
Aku
pesan
makanannya
sekarang—eh tunggu, bagaimana caranya pesan
makanan
di
Seoul?”
Jaejoong
memutar bola matanya, akhirnya ia yang memesan makanan. Yunho berdalih karena belum terbiasa hidup kembali di Seoul.
The Fifteen
“Jaejoong-ah,
aku
ingin
Halcyon
mengirim bunga ke kantorku tiap tiga hari sekali, bisa kan?” kata Yunho saat mereka menyantap makan siang mereka. “Tentu saja. Kau mau aku mengantarnya langsung ke sana?” “Kau bisa? Apa tidak merepotkan? Pakai jasa kurir saja nanti simpan di resepsionis.” Yunho menyeka noda makanan di bibir Jaejoong, membuat Jaejoong agak berjengit. “Tidak apa-apa, nanti aku ke sana. Aku juga ingin melihat kantormu.” “Baiklah.” … …
The Fifteen
“Jaejoong-ah,
buatkan
aku
sebuket
bunga,” kata Yunho ketika ia bersiap untuk kembali lagi ke kantor. Mata Jaejoong memicing menggoda. “Ooohhh… kau pasti mau memberikannya untuk kekasihmu yah? Kau mau bunga apa? Mawar? Lily? Atau krisan?” Jaejoong mendorong kursi rodanya menghampiri deretan berbagai macam bunga. “Menurutmu apa bunga yang paling cantik?” tanya Yunho dengan mata yang terus mengikuti pergerakan Jaejoong. “Kalau aku suka bunga lily, buatku ini bunga yang paling cantik.” Jaejoong meraih setangkai lily dari vas, mencium wanginya
The Fifteen
yang lembut sambil tersenyum sebelum kembali meletakkannya di vas. Tahukah
ia
mengaguminya?
betapa Di
Yunho
penglihatannya,
Jaejoong terlihat seperti adegan-adegan di televisi. Ketika cahaya matahari berpendar masuk melalui kaca jendela, wajahnya yang rupawan berpadu dengan eloknya bunga. Senyumnya
lantas
menggenapi
pemandangan luar biasa tersebut. “Yunho?
Kenapa
kau
melamun?”
Kesadaran Yunho kembali ditarik. Lihat, hanya
dengan
menatap
Jaejoong
saja,
otaknya nyaris tak berfungsi. “Kalau begitu buatkan aku sebuket bunga lily yang cantik.” Yunho menjawab
The Fifteen
masih sambil memerhatikan setiap gerakan Jaejoong mulai dari mengambil bunga dan pelengkapnya, serta bahan lainnya sampai ke tahap
ia
merangkai
bunga
lalu
membungkusnya. Semuanya tak luput dari pandangan Yunho. “Ini dia! Kekasihmu pasti menyukainya.” Jaejoong menunjukkan buket bunga yang sudah jadi dan telah ia rangkai dengan sangat indah. “Aku tidak punya kekasih,” balas Yunho. Raut wajah Jaejoong berubah bingung. “Oh? Lalu ini untuk siapa?” “Untukmu.” Jaejoong
terhenyak,
terangkat. “Aku?”
kedua
alisnya
The Fifteen
Yunho mengangguk sambil tersenyum. “Bunga itu untukmu, Jaejoong.” “Kenapa?” tanya Jaejoong setelah sekian detik lidahnya terasa kelu. “Kenapa?” Yunho mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Bunga itu cantik sepertimu. Semoga harimu menyenangkan, Jaejoong-ah. Sampai jumpa besok.” Dan begitu saja Yunho
meninggalkan
Halcyon
setelah
menaruh beberapa lembar uang. Meninggalkan Jaejoong yang nyaris tak bisa lagi berkata-kata dengan sebuket bunga lily di tangannya. Wajahnya terasa hangat karena rona merah yang menjalarinya. Ia tatap lekat-lekat bunga dalam dekapannya. Selama menjadi florist, belum pernah ada
The Fifteen
satupun yang memberikan bunga untuknya seperti ini. Jaejoong selalu memberi bunga pada
pelanggan-pelanggannya,
tapi
menerimanya dari seorang pelanggan? Ini baru pertama kali. Hanya Yunho. Satu-satunya. ***** Tiga hari berikutnya sesuai permintaan Yunho, Jaejoong pun membawakan sebuket bunga untuk dikirimkan langsung ke kantor Yunho di Yeoui-do. Buket bunga lily seperti yang Yunho berikan padanya kemarin lalu itu sudah tersimpan cantik di kursi belakang.
The Fifteen
Dengan melajukan
menyetir mobilnya
sendiri
Jaejoong
yang
sudah
dimodifikasi tanpa hambatan. GPS di dalam mobil Jaejoong memberitahunya bahwa 50 meter lagi ia akan sampai. Ia melihat sebuah gedung kantor berdesain modern dan megah. Jadi Yunho bekerja di sini? Jaejoong memarkirkan mobil di area parkir
luar.
Diturunkannya
kursi
roda
lipatnya yang ada di kursi sebelahnya, ia pasang kedua rodanya sebelum berpindah, setelah itu ia ambil buket bunga di kursi belakang. Mendorong kursi rodanya, Jaejoong memasuki lobi gedung perkantoran tanpa kesulitan. Dihampirinya meja resepsionis
The Fifteen
dan berpesan pada seorang wanita di sana untuk memberikan bunga tersebut pada Yunho. “Maksudmu Jung Yunho Sajangnim?” tanya wanita tersebut. “Sajang?” sahut Jaejoong agak bingung. Yunho belum pernah memberitahunya soal jabatannya di kantor. Jaejoong kira Yunho hanya seorang pegawai biasa. Ibunya hanya bilang bahwa Yunho bekerja di perusahaan logistik. Ternyata Yunho seorang CEO? “Ne, nama CEO kami Jung Yunho. Apa bunga
ini
pesanan
untuk
kantornya?
Kebetulan kami memang diberitahu bahwa kantor CEO dijadwalkan menerima bunga hari ini.”
The Fifteen
“O-oh, ne. Jung Yunho Sajangnim,” jawab Jaejoong agak kaku, tak menyana bahwa teman sekolahnya dulu itu kini menyandang
gelar
CEO.
Samar-samar
Jaejoong tersenyum, ikut bangga dengan pencapaian laki-laki itu. “Ne, kalau begitu nanti bunganya akan diberikan pada kantornya di atas.” “Terima
kasih.”
Jaejoong
kemudian
memutar kursi rodanya dan mendorongnya kembali menuju pintu. “Jadi dia seorang CEO?” gumamnya. Namun karena pikirannya tengah disita oleh Yunho, Jaejoong jadi tidak fokus mendorong kursi rodanya. Sehingga sebuah insiden terjadi saat seorang pegawai pria
The Fifteen
yang sedang menenteng cup kopi dan berjalan dengan cepat, menabrak kursi rodanya
hingga
Jaejoong
tersungkur
bersama dengan kursi rodanya, ia meringis saat kopi panas di tangan pegawai itu tumpah ke bahunya. Kejadian itu lantas menarik perhatian banyak orang karena tepat pada jam masuk kantor. “Aisshhh shibal!” maki pegawai itu yang juga ikut terjatuh dan pakaiannya terkena cipratan kopi. Ia melirik Jaejoong dan tersenyum penuh ejek. “Kenapa ada orang cacat di sini?! Pantas saja kau tidak bisa berjalan dengan baik! Ahjussi, sudah tahu cacat, harusnya kau di rumah saja dan
The Fifteen
berbaring
di
tempat
tidur.
Aiishh
menyusahkan saja.” Jaejoong yang hendak meraih kursi roda menghentikan
gerakannya
mendengar
ucapan penuh hinaan dari pegawai tersebut. Seketika hatinya sakit bagai disayat sembilu. Jaejoong bahkan tak berani mengangkat wajahnya karena malu. Sudah
cukup
memalukan
baginya
terjatuh seperti ini kini ia harus mendengar cemoohan menyakitkan itu di depan banyak orang. Ia juga manusia, bukankah ia tidak pantas menerima perlakuan seperti ini? “Jaejoong-ah!”
Semua
mata
lantas
mengalihkan perhatian mereka pada sosok pria yang baru saja memasuki lobi. Semua
The Fifteen
orang pun lantas membungkukkan tubuhnya dengan sopan, karena ia adalah Jung Yunho. Pemilik perusahaan ini. “S-Sa-Sajangnim.”
Pegawai
yang
menabrak Jaejoong tadi nampak gelagapan melihat bos besarnya mendekati mereka berdua.
Ia
buru-buru
membungkukkan
badan namun Yunho mengabaikannya. Laki-laki
itu
melangkah
cepat
menghampiri Jaejoong. Agak panik melihat laki-laki dengan paras cantik itu terjatuh dari kursi roda dan tubuhnya telungkup di lantai. “Jaejoong-ah, ini aku Yunho. Kau baikbaik
saja?”
Yunho
menyentuh
bahu
Jaejoong dan saat pria itu menoleh, air mata telah membasahi wajahnya, membuat hati
The Fifteen
Yunho calar. “Ayo, sebaiknya kita pergi dari sini.” Yunho lalu menggendong Jaejoong yang lantas menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sang CEO. Yunho menatap tajam ke arah pegawai yang menghina Jaejoong barusan. “Seselamat pagi, Sajangnim.” Ditatap tak ramah oleh
bos
besarnya,
membuat
pegawai
tersebut menyapa dengan terbata-bata. “Changmin, urus pemecatan orang ini. Perusahaan kita tidak bisa menerima seorang ableisme,” kata Yunho yang lantas berjalan melewati karyawan tersebut, mengabaikan tatapan bawahan-bawahannya. Yunho tidak peduli. Yang ia pedulikan hanya laki-laki yang ada dalam dekapannya sekarang ini.
The Fifteen
“Ne,
Sajangnim,”
jawab
Changmin
sebelum ia mengambil kursi roda Jaejoong dan mengikuti bosnya. “T-tapi. S-Sajangnim!” … … Yunho menurunkan Jaejoong ke atas sofa
di
dalam
ruangannya.
Changmin
menaruh kursi roda sebelum ia kembali keluar,
meninggalkan
kedua
laki-laki
tersebut, memberikan mereka privasi. Kepala Jaejoong tertunduk dengan sisa isak tangis yang masih terdengar. Selama di dalam lift menuju kantor Yunho di lantai atas, Jaejoong sama sekali tak bersuara, ia
The Fifteen
hanya terus mendekap tubuh Yunho dengan tangan bergetar. Yunho lalu mengambil sepotong kemeja dan membawa kotak P3K sebelum kembali pada Jaejoong. “Jaejoong-ah, boleh aku lihat punggungmu? Kita ganti pakaianmu dulu sekalian kita obati.” Agak ragu Jaejoong membuka jas yang disampirkan oleh Yunho ketika pria itu memberikan pertolongan pertama di toilet lobi untuk mendinginkan kulit Jaejoong yang tersiram air panas. Bahu dan sebagian punggung Jaejoong nampak memerah. “Aku akan mengoleskan salep, bilang kalau sakit.” Yunho pun memberikan salep di sekujur bahu dan punggung Jaejoong
The Fifteen
yang terlihat memerah, sesekali Jaejoong akan berjengit dan meringis karena terasa perih. “Jaejoong-ah,” belakang
Jaejoong.
panggil “Pasti
Yunho
di
menyakitkan
bagimu saat mendengarnya. Kalau kau masih mau menangis, menangislah. Jika kau ingin marah, kau bisa marah padaku. Jangan dipendam, keluarkan isi hatimu.” Jaejoong masih diam membisu. Ia tak bisa memungkiri bahwa hatinya terasa sakit sekali, lebih sakit dan perih dibandingkan luka di bahunya. Memang itu bukan kali pertama ia mendapatkan hinaan semacam itu, Jaejoong hafal sekali, tapi mengalaminya
The Fifteen
kembali, sekuat apapun Jaejoong tetap saja itu terasa menyakitkan. “Yunho, menurutmu aku menyusahkan?” Yunho menemukan wajah Jaejoong yang menatapnya dengan mata sembab sehingga ia tidak bisa menahan tangannya untuk menyeka basah di wajah Jaejoong. “Salepnya
sudah.”
Yunho
menaruh
kembali salep itu ke dalam kotak P3K. “Kau sama sekali tidak menyusahkan. Kau selalu melakukan semuanya sendiri sampai aku ingin sekali saja kau meminta bantuanku” ucap Yunho sambil memberikan kemeja untuk Jaejoong setelah ia membuka satu per satu kancingnya.
The Fifteen
“Karena
aku
memang
tidak
butuh
bantuan, selama aku bisa melakukannya sendiri, aku akan melakukannya sendiri. Kalaupun aku butuh bantuan, aku juga pasti bilang. Aku tidak sakit, Yunho. Aku sehat. Lumpuh yang aku alami bukan penyakit. Aku bisa melakukan aktivitas sehari-hari tanpa hambatan. “Kenapa aku harus berbaring di rumah seperti yang pegawai tadi bilang? Kenapa orang-orang selalu berpikir aku lemah, tidak berdaya, menyusahkan, dan patut dikasihani? Aku tidak minta untuk dikasihani. Aku benci melihat tatapan iba dari orang lain seolaholah aku tidak berguna dan tidak bisa melakukan apa-apa. Bukan keinginanku aku
The Fifteen
menjadi seperti ini. Kaki ini, aku juga ingin kaki ini kembali tapi aku tidak bisa!” “Aku tahu,” ucap Yunho tenang seraya memasang
kembali
kancing
kemeja
Jaejoong. “Maafkan aku, aku menyesal kau harus mengalami kejadian tadi. Aku tidak bisa mengerti perasaanmu karena aku tidak ada dalam posisimu. Kau berhak marah. Kau boleh sedih. Pasti sulit dan menyakitkan buatmu, tapi aku yakin kau pasti kuat, kau lebih kuat dariku. Aku bangga padamu. Terima kasih sudah bertahan. Bagiku kau tetap Kim Jaejoong si bintang.” “Kadang aku lelah, Yunho. Kadang aku juga merasa kalau ini terlalu berat buatku.”
The Fifteen
“Wajar, wajar jika kau lelah. Tidak apaapa. Kalau lelah, istirahat dan berikan waktu untuk dirimu sendiri, tapi jangan menyerah. Kau bisa bertahan sampai sekarang, artinya kau hebat. Kau luar biasa.” Yunho kemudian menarik
pelan
tubuh
Jaejoong
ke
pelukannya. “Terima kasih sudah berbagi keluh kesahmu denganku. Kau harus tahu jika kau butuh seseorang di sisimu, hubungi aku
kapanpun.
Aku
akan
langsung
menghampirimu di manapun aku berada.” Jaejoong tersenyum tipis. Hangat tubuh Yunho yang mendekapnya sedikit banyak memberikan kenyamanan dan ketenangan baginya. “Bagaimana kalau kau sedang di luar negeri?”
The Fifteen
“Aku akan pesan tiket penerbangan pertama.” “Kalau di hutan?” “Aku akan berlari sekencang mungkin. Tapi, buat apa aku ke hutan?” Jaejoong
terkekeh.
“Terima
kasih
Yunho.” Yunho
memundurkan
tubuhnya,
tangannya
terangkat
merangkum
Jaejoong,
membuat
Jaejoong
tak
wajah bisa
mengantisipasi gerakan tersebut. “Wajahmu terlihat lebih indah dengan senyuman.” puji Yunho dengan senyum terlukis di wajahnya yang tampan. Jaejoong berdeham dan memalingkan muka demi menyembunyikan wajahnya
The Fifteen
yang sudah dipastikan merona merah. “Aku harus pulang.” “Kau sudah merasa lebih baik? Apa tidak ada lagi yang sakit?” Jaejoong menggeleng, sibuk meredakan debar jantungnya yang tadi sempat
berdegup
kencang..
“Baiklah.”
Yunho pun mengangkat tubuh Jaejoong untuk
didudukkan
di
kursi
rodanya.
“Kuantar sampai parkiran, yah.” “Tidak perlu. Aku sendiri saja.” “Biar
kuantar,
sekalian
aku
mau
mengambil bungamu di resepsionis. Yah?” Jaejoong membuang napas. “Araseo” ~...~ “Pesta?” tanya Jaejoong dengan wajah kaget bercampur bingung. Siang itu ketika
The Fifteen
mereka makan siang hanya berdua di sebuah restoran, sebuah
Yunho pesta
mengundangnya yang
diadakan
pada oleh
keluarganya. Yunho
mengangguk
sambil
menyerahkan piring milik Jaejoong usai mengiris steak di sana. “Nanti dekorasi pestanya dari Halcyon saja. Aku akan mengenalkanmu pada orang tuaku. Aku sudah banyak bercerita soal dirimu, dan mereka ingin bertemu.” “Kenapa kau bercerita soal diriku pada mereka?” “Karena kau teman pertamaku saat sekolah dulu dan… mereka juga tahu saat
The Fifteen
kecelakaan yang menimpamu terjadi. Mau yah? Hmm?” Jaejoong mengembuskan napas pelan. Akhirnya ia mengangguk karena tak tega menolak undangan Yunho. “Omong-omong, sejak kapan kau jadi berubah begini?” tanya Jaejoong sekonyongkonyong. Yunho mengernyit. “Berubah bagaimana maksudmu?” “Dulu kau sulit sekali diajak bicara, sering menyendiri, susah didekati, minim ekspresi, dan dingin. Sekarang kau terlihat lebih hmm… ceria? Atau lebih hidup?” Yunho tertawa. “Manusia bisa berubah. Mungkin karena aku jadi lebih dewasa dan
The Fifteen
bertambah umur? Sepertinya dulu aku terlalu sok keren.” “Memang,
karena
itu
Siwon
menyukaimu.”
Tawa
mereka
tidak
mengalun
bersama. Percakapan itu dilanjutkan dengan cerita-cerita
masa
lalu.
Yunho
betah
mendengar Jaejoong bercerita. ***** Saat Jaejoong datang ke rumah Yunho untuk mendekorasi acara pesta yang akan diselenggarakan
malam
ini,
Jaejoong
terpesona dengan rumah itu. Memang tidak megah seperti di drama-drama televisi. Rumah itu hanya terdiri dari satu lantai
The Fifteen
memanjang seperti huruf L dengan desain modern minimalis dan dilengkapi dengan taman yang cukup luas, apalagi rumah itu juga
nampak
ramah
dengan
difabel
sepertinya. “Jaejoong-ah! Yunho
Kau
menghampiri
sudah Jaejoong
datang?” dengan
pakaian kasual yang baru kali ini ia lihat dan tetap saja tampan. Otot-otot lengannya tampak
kekar
rambutnya
di
yang
balik tak
kausnya
ditata
dan
membuat
penampilannya tampak lebih muda. “Jadi ini Jaejoong?” Seorang wanita yang ada di belakang Yunho tersenyum ramah pada Jaejoong. “Perkenalkan aku ibunya Yunho. Senang bertemu denganmu,
The Fifteen
Yunho banyak bercerita soalmu. Akhirnya aku
bisa bertemu
denganmu.” Wanita
dengan beberapa helai uban di kepalanya itu menurunkan
tubuhnya
untuk
memeluk
Jaejoong, membuat Jaejoong agak tertegun dengan gestur tersebut. “Salam kenal, Eomonie. Senang bertemu denganmu
juga.”
Jaejoong
membalas
pelukan itu. Ia melirik Yunho karena bingung tiba-tiba dipeluk akrab, tapi Yunho hanya terkekeh-kekeh. Usai berbincang akrab sebentar dengan Yunho dan ibunya, Jaejoong lalu kembali ke pekerjaannya memantau dekorasi bungabunga itu tertata dengan baik agar tampak
The Fifteen
indah dan berkelas sesuai dengan keinginan kliennya. “Jaejoong, jangan pulang. Tetaplah di sini, repot kalau harus bolak-balik. Yunho sudah mengundangmu ke pesta nanti kan?” kata ibu Yunho saat Jaejoong baru saja mau berpamitan. “Tapi aku tidak membawa pakaian ganti untuk ke pesta, Eomonie.” “Tidak perlu khawatir. Nanti kusuruh Yunho membawakan jas untukmu kalau dia pulang sebentar lagi.” Kebetulan Yunho memang pergi dulu sebentar untuk suatu urusan. “Sebaiknya aku pulang saja, Eomonie. Nanti merepotkan.”
The Fifteen
“Sama
sekali
tidak
merepotkan.
Sekarang kau istirahat dulu saja di kamar Yunho. Aku masih harus mengurus pestanya. Ayo kuantar kau ke sana.” Jaejoong tidak bisa lagi protes saat ibu Yunho mengambil alih kursi rodanya dan mendorongnya ke sebuah kamar. “Aku tinggal dulu yah. Nanti kusuruh pelayan untuk memberikan camilan untukmu. Kalau lelah di kursi roda, kau boleh pindah ke sofa. Jangan sungkansungkan.” “Terima kasih, Eomonie.” Memasuki kamar Yunho, seketika wangi yang biasa Jaejoong cium dari pria itu kini menguar menyapa penciumannya. Di kamar
The Fifteen
itu terdapat tempat tidur ukuran besar, sofa, meja dan kursi di sudut dan rak besar. Setelah Jaejoong kenyang memakan hampir setengah camilan yang dibawakan pelayan,
Jaejoong
memutuskan
untuk
berpindah ke sofa. Lama kelamaan kantuk mulai menyerangnya, matanya mulai berat ditambah udara sejuk dari pendingin udara dan rasa letihnya seharian ini, Jaejoong akhirnya terjatuh dalam lelap. ***** Mata
Jaejoong
mengerjap
saat
ia
mendengar sayup-sayup namanya dipanggil. Ia membuka mata dan menemukan Yunho di
The Fifteen
sampingnya memanggil namanya. Jaejoong baru saja sadar ia ketiduran dan terbaring di sofa. “Aku
sebenarnya
membangunkanmu
tidak
karena
kau
mau nampak
sangat lelap, tapi pesta akan segera dimulai, sebentar lagi para tamu juga akan datang. Kau harus bersiap.” “Maaf aku ketiduran,” ucap Jaejoong dengan
suara
parau
sambil
mengucek
matanya, Yunho tersenyum karena Jaejoong terlihat menggemaskan. “Tidak apa-apa. Aku sudah menyiapkan jas untukmu. Sekarang kau mau mandi? Biar kubantu.”
Jaejoong
mengangguk,
ia
memindahkan tubuhnya ke kursi roda
The Fifteen
sementara Yunho bantu menyiapkan segala yang Jaejoong butuhkan selama di kamar mandi. Yunho
lalu
mendorong
kursi
roda
Jaejoong ke kamar mandi, untungnya kamar mandi
Yunho
luas
jadi
memudahkan
pergerakan kursi roda, dan terdapat railing juga untuk pegangan. “Maaf, kamar mandiku seperti ini.” “Tidak apa-apa, ini sudah lebih dari cukup. Kamar mandiku bahkan tidak seluas punyamu. Aku bisa sendiri, Yunho. Jika aku butuh bantuan aku pasti bilang.” “Baiklah. Ingat, sekecil apapun jika kau membutuhkan sesuatu bilang padaku.”
The Fifteen
Kurang
lebih
satu
jam
berikutnya
Jaejoong akhirnya keluar dari kamar Yunho setelah
mandi
dan
berpakaian
dengan
dibantu oleh Yunho beberapa kali. Kalau saja pergerakan Jaejoong tidak terbatas, ia bisa melakukan semuanya sendiri dalam waktu singkat. Hal tersulit buatnya justru saat Jaejoong harus mengendalikan detak jantungnya yang berdebar kencang karena terus berdekatan dengan Yunho. Penampilan Jaejoong kini sudah rapi dan wangi dengan rambut yang ditata apik, membuatnya
tampak
berbeda
dari
penampilannya sehari-hari. Di mata Yunho, ia menjadi lebih luar biasa. Lebih memesona. Lebih menawan.
The Fifteen
“Ini dia. Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Jaejoong. Aku ayahnya Yunho. Senang bertemu denganmu.” Jaejoong tidak menyangka akan disambut oleh keluarga Yunho begitu ia keluar dari kamar itu. Yunho dan orang tuanya berdiri tepat di depan
kamar,
tersenyum
lebar
menyambutnya keluar. “A-annyeonghaseyo,
Abeonim.
Kim
Jaejoong imnida. Anda tidak perlu repotrepot menungguku seperti ini.” Jaejoong membungkukkan tubuhnya. “Tidak apa-apa aku sudah tidak sabar melihat
orang
yang
selalu
diceritakan
Yunho.” Ayah Yunho tertawa lebar dengan
The Fifteen
ramah.
Kedua
matanya
nampak
tulus
menepuk bahu Jaejoong. “Terima kasih sudah menyambutku.” “Pesta akan dimulai. Sebaiknya kita ke sana.” Yunho
mengambil
alih
kursi
roda
Jaejoong dan mendorongnya menuju ruang tengah yang disulap jadi tempat pesta, ruang tengah itu nampak cantik dihiasi oleh lampulampu dan dekorasi bunga hasil rangkaian dari Halcyon. Begitu mereka keluar. Beberapa orang menyambut kedatangan mereka. Beberapa juga ada yang menghampiri. Yunho dan keluarganya meladeni setiap orang yang
The Fifteen
menyapa mereka dengan ramah. Karena tak mau mengganggu, Jaejoong pun menyingkir. “Yunho Oppa!” Perhatian Jaejoong dan keluarga Jung, tidak, bahkan hampir semua tamu di pesta itu teralih pada seorang perempuan cantik yang baru saja datang. Wanita itu mengenakan gaun indah dengan sepatu hak, perhiasan, riasan, serta rambut yang juga sama indahnya. Tidak heran perhatian semua orang tertuju padanya. “Soyeon-ah, kapan kau pulang dari New York?”
Yunho
menghampiri
wanita
bernama Soyeon tersebut lalu memeluknya dengan senyum lebar. Mereka nampak akrab dan berbagi tawa bersama, pun dengan seluruh keluarga Jung.
The Fifteen
Melihat pemandangan itu, ada perasaan asing yang meruak dari dalam hati Jaejoong. Jaejoong merasa tak nyaman melihatnya. Sehingga ia memalingkan wajah demi menghindarinya. Cemburu. Jaejoong baru menemukan nama untuk perasaan itu. Jaejoong akhirnya meninggalkan mereka dan mendorong kursi rodanya ke area makanan.
Ia
mengambil
minum
dan
memakan potongan cake di sudut yang agak sepi. Di tempatnya, ia bisa melihat Yunho dan keluarga masih berbincang asyik dengan wanita bernama Soyeon tersebut.
The Fifteen
“Kudengar pesta kali ini diadakan karena Tuan
Muda
seseorang.”
Yunho Tak
akan
sengaja
melamar Jaejoong
mendengar percakapan dari dua pelayan di balik tembok yang tengah bergosip. Jaejoong melamar
terperangah.
seseorang?
Yunho
Senyum
akan
Jaejoong
terulas pahit. Seharusnya ia tahu betul, Yunho tak akan pernah bisa bersama seseorang sepertinya. Yunho tak punya tempat untuknya di sisinya, apalagi di hatinya. Jaejoong merasa malu karena berpikir Yunho menaruh rasa untuknya. Ada perih yang menyengat di dadanya. “Sepertinya dia akan melamar Nona Soyeon. Dia sangat cantik. Dia cocok
The Fifteen
bersanding dengan Tuan Yunho. Yang satu tampan, kaya, pintar, dan baik. Yang satunya lagi anggun, cantik, berpendidikan tinggi, dan sukses.” Jaejoong melirik Soyeon dan Yunho yang masih akrab bercakap-cakap. “Benar. Mereka terlihat serasi. Mereka pasti akan jadi pasangan yang sempurna.” Mereka benar, Yunho dan Soyeon terlihat sempurna ketika berdiri berdampingan. “Eh kau tahu pria yang bersama Tuan Yunho seharian ini? Yang pakai kursi roda itu.” Jaejoong tertegun saat dirinya disebut. Sudah pasti hanya ia yang berkursi roda di pesta
itu,
jadi
membicarakannya.
mereka
pasti
tengah
The Fifteen
“Ahh maksudmu pegawai dari toko bunga yang cacat itu? Kenapa Tuan Yunho mengenal
orang
sepertinya?”
Jaejoong
kepayahan menelan liurnya, jantungnya berdegup tak nyaman. Bahkan sebelum terjadi pun, Jaejoong sudah bisa menebak apa yang selanjutnya akan ia dengar. “Pasti merepotkan berteman dengan orang cacat.” “Kalau aku pasti malu.” Mereka lantas tertawa bersama seolah apa
yang
mereka
ucapkan
merupakan
sesuatu yang lucu. Sementara di satu sisi, mereka tak tahu bahwa ucapan mereka telah menyakiti seseorang.
The Fifteen
“Berbeda sekali dengan Nona Soyeon, benar ‘kan?” “Tentu
saja.
Mereka
tidak
bisa
dibandingkan, kau sudah gila? Mereka berada di level yang sangat berbeda.” Telinga
Jaejoong
berdengung,
pun
dengan kepalanya yang terasa berat. Kalau ia diberikan kesempatan meminta satu permintaan, Jaejoong tak akan meminta kakinya kembali, ia hanya ingin hatinya kebas terhadap rasa sakit dan sedih. Jaejoong
memutar
kursi
rodanya.
Saatnya untuk pulang. Di sini bukan tempatnya. Ia tidak cocok berada di tempat seperti ini.
The Fifteen
“Jaejoong-ah!” Suara panggilan dari Yunho menghentikan tangannya mendorong roda. Ia melihat sosoknya yang tegap menghampiri Jaejoong dengan riang. “Aku mau pulang, Yunho.” Yunho mengernyit. “Kenapa? Acara puncaknya bahkan dimulai.” “Aku mau pulang! Aku tidak mau berada di sini.” Jaejoong menggeleng kencang. Berada di sini lebih lama membuat dadanya semakin sesak. “Jaejoong-ah, katakan padaku apa yang terjadi?” “Tidak apa-apa. Lanjutkan saja pestamu, aku mau pulang sekarang.” Jaejoong hendak kembali memutar roda kursinya.
The Fifteen
Namun
Yunho
mencegahnya.
“Kau
bohong. Pasti terjadi sesuatu ‘kan? Katakan padaku. Kau tidak bisa pulang sebelum pestanya selesai.” “Aku tidak peduli! Masa bodoh dengan pesta ini. Aku mau pulang! Kenapa kau tidak
mendengarku?
Aku
tidak
mau
bergabung dengan pesta ini lagi! Ini pestamu, kau saja dan keluargamu yang menikmati pesta ini.” Jaejoong tidak mengerti mengapa Yunho sangat memedulikan pesta bodoh ini. “Pesta ini tidak akan berjalan tanpamu! Kau! Kaulah alasan pesta ini dibuat!” Suara Yunho yang meninggi membuat hampir seluruh tamu mengalihkan perhatiannya, termasuk keluarganya.
The Fifteen
“Mwo?” “Aku membuat pesta ini untukmu. Untuk kita.”
Yunho
perlahan.
mengembuskan
Kedua
lututnya
napasnya jatuh
dan
bersimpuh di depan Jaejoong. “Jaejoong-ah, aku menyukaimu.” Lalu seuntai kalimat itu rasanya
sanggup
menjatuhkan
jantung
Jaejoong dari tempatnya. Yunho akhirnya mengatakannya. Butuh keberanian baginya untuk menghimpun kalimat tersebut, pada saat ini di pesta yang sengaja dibuat hanya untuk mengungkapkan perasaannya pada Jaejoong, laki-laki indah yang telah mencuri hatinya entah sejak kapan.
The Fifteen
“Apa kau bilang?” gumam Jaejoong tak mau mempercayai indera pendengarannya sendiri. Jaejoong sedang tidak mimpi ‘kan? Yunho kembali berdiri, tangannya terulur menggenggam
tangan
Jaejoong.
Di
hadapannya, seluruh tamu undangan fokus melihatnya.
“Hadirin
sekalian.
Aku
mengundang kalian datang ke pesta ini karena
aku
ingin
memberitahu
kalian
tentang laki-laki ini. Pria yang kusukai. Aku mengenalnya saat SMA, kami sempat berpisah
bertahun-tahun
lalu
bertemu
kembali. Kebersamaan kami selama ini ternyata membuatku sadar bahwa aku menyukainya. Sekarang di hadapan kalian, aku ingin melamarnya menjadi pasanganku
The Fifteen
seumur hidup. Aku akan menjaganya dan mencintainya setulus hatiku. Sehat atau sakit. Sampai maut memisahkan. Maukah kau menikah denganku, Kim Jaejoong?” Yunho kembali
berlutut,
dikecupnya
tangan
Jaejoong seraya disambut tepuk tangan dan sorak-sorai para tamu yang riuh. Sekian detik Yunho menanti Jaejoong mengeluarkan suara. Perangkai bunga itu masih bergeming. Tatapannya tertuju pada Yunho. “Jaejoong-ah?” panggil Yunho. “Kupikir kau akan melamar Soyeonsshi.” Yunho
terbeliak.
“Soyeon?
Dia
sepupuku, untuk apa aku melamarnya?”
The Fifteen
Jaejoong
terperangah
dengan
jawaban
Yunho. Wajahnya merona karena malu atas kesalah pahamannya. “Aku menikah dengan Yunho Oppa? No way!” celetuk Soyeon diiringi tawa orang tua Yunho. “Jaejoong-ah,
maukah
kau
menghabiskan sisa umurmu bersamaku?” ulang Yunho lagi. Jantungnya berdebar dan matanya berbinar menatap pria paling indah di matanya itu. “Yunho, kau serius?” “Tentu saja,” jawab Yunho mantap. Tanpa ragu.
The Fifteen
Jaejoong
mengembuskan
napasnya
perlahan. Dengan berat hati ia berkata, “Aku tidak bisa. Maafkan aku Yunho.” Yunho tergugu dengan jawaban Jaejoong. Tak menyana lamarannya ditolak. “Kkenapa? Kenapa kau tidak bisa?” Yunho tentu menuntut penjelasan sebab selama ini ia
sepenuhnya
yakin
Jaejoong
akan
menerimanya. Tangan Jaejoong terangkat menyentuh pipi Yunho. “Lihat aku. Lihat aku baik-baik. Aku tidak bisa menjadi pasangan yang sempurna untukmu. Aku cacat, Yunho. Aku sudah rusak. Aku tidak ingin menjadi kekuranganmu. Suatu hari kau mungkin
The Fifteen
akan menyesali keputusan dan perasaanmu padaku. “Menghabiskan hari bersama seseorang sepertiku pasti akan sangat melelahkan bagimu. Aku tidak ingin kau kesulitan. Kau bisa
mencari
denganmu.
pasangan
Yang
kekuranganmu.
tidak Yang
mempermalukanmu.
Aku
yang
sepadan
akan
menjadi
tidak tidak
akan bisa
memberikanmu jaminan kebahagiaan. Aku juga tidak memiliki kepercayaan diri untuk bahagia di sisimu. “Aku sudah cukup senang kau menaruh perasaan untukku. Ketahuilah, aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu. Aku juga menyukaimu. Tapi aku tidak
The Fifteen
cukup
berani
denganmu.
melangkah
Menikah
adalah
lebih
jauh
komitmen
seumur hidup, Yunho. Kau yakin mau menghabiskan sisa umurmu bersamaku, bersama seseorang sepertiku?” Kelak, jika Yunho lelah bersamanya, Jaejoong tidak ingin melihat wajahnya yang kecewa. Jaejoong tidak ingin melihat sesal terlukis di wajahnya. Jaejoong tidak akan sanggup melihatnya, karena sesungguhnya gambaran tersebut akan membuat hati Jaejoong makin ripuk. Oleh karena itu, sebaiknya ia hentikan dari sekarang. Jaejoong tak pernah punya keberanian untuk membayangkan masa depan bersama Yunho, pria paling sempurna yang pernah ia
The Fifteen
kenal. Ia layak mendapatkan pendamping yang lebih baik darinya. Sungguh pedar hati Yunho mendengar pengakuan Jaejoong. Ia pegang tangan Jaejoong yang ada di wajahnya. “Jaejoong, aku sedang tidak mencari pasangan yang sempurna apalagi secara fisik. Aku sendiri juga
tidak
sempurna.
Kau
akan
menyempurnakanku dan aku yang akan menyempurnakanmu. Kalau aku melihatmu hanya dari fisik, jangankan melamarmu aku mungkin tidak akan pernah menemuimu lagi. “Aku tidak peduli dengan pendapat orang-orang tentang kita. Tapi jika mereka menyakitimu, aku yang akan maju paling depan untuk membalas mereka. Tidak akan
The Fifteen
kubiarkan
siapapun
melukaimu.
Kebahagiaan itu bisa kita raih bersama seperti halnya sepeda, harus ada dua roda yang berputar bersama agar sepeda itu berjalan. “Kesulitan itu akan kita lalui bersama. Letih dan sedih kita akan kita bagi dua. Dan bahagia
kita
menyukaimu
akan
kita
karena
itu
kalikan. kau.
Aku Aku
melamarmu karena hanya kau yang aku mau. Aku mencintaimu, Jaejoong. Tak perlu alasan lain. Hanya kau. Satu-satunya.” Orang
tua
Yunho
kemudian
menghampiri keduanya. Ibu Yunho lantas mengusap bahu Jaejoong. “Jaejoong, kami sudah
merestui
kalian.
Kami
akan
The Fifteen
mendukung kalian, tidak perlu khawatir. Kami dengan senang hati menerimamu menjadi menantu kami. Iya kan, Yeobo?” Ayah Yunho mengangguk. “Jaejoong
Oppa,
cepat
terima
lamarannya!” pekik Soyeon. “Kau yakin?” tanya Jaejoong sekali lagi, air matanya sudah menggenang di sudut matanya. Senyum Yunho mengembang seraya meremas kedua tangan Jaejoong. “Tidak pernah seyakin ini selama aku hidup. Kau adalah pilihan terbaik. Di mataku, kau sempurna. Aku tak butuh siapapun. Cukup dirimu. Jaejoong-ah… ayo kita menua bersama.”
The Fifteen
Yunho pun memeluk Jaejoong. “Jangan lagi memandang dirimu dengan nilai rendah. Kau lebih dari apa yang kau bayangkan. Kau layak mendapat semua cinta di dunia ini. Kau layak bahagia dengan orang yang kau cintai. Dan orang itu adalah aku.” Pada akhirnya ada dua anak sungai mengalir di wajah Jaejoong. Sudah lama sejak terakhir ia merasa sebahagia ini. “Terima
kasih.
Terima
kasih
sudah
mencintaiku dan terima kasih sudah hadir dalam hidupku.” Dan ketika keduanya bertukar cincin, semua orang menyambut bahagia pasangan tersebut dengan suka cita. Beberapa di
The Fifteen
antaranya bahkan sibuk menyeka air mata menyaksikan kisah haru tersebut. “Yunho,”
gumam
Jaejoong kembali
memeluk Yunho. “Aku malu dilihat banyak orang.” Yunho terkekeh. “Tidak apa-apa. Biar mereka iri dengan kita.” FIN
The Fifteen
Please, Don't Remember Me Written by Vilove_jj
"Joongie, apa tidak sebaiknya kau mulai bekerja setengah hari saja? tidak perlu full day" Bujuk Mr. Kim pada putra sulungnya. Ayah dan anak itu baru saja selesai rapat dengan para Manager di Kim Corporation. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang retail dan dimiliki oleh Mr. Kim sendiri. Begitu keluar dari ruang rapat, pria berusia di atas 50 an itu memutuskan untuk mampir ke ruangan anaknya sebelum kembali ke ruangannya sendiri.
The Fifteen
Berbeda dari kebanyakan ayah yang ingin anaknya menjadi seorang pekerja keras ayah dari Kim Jaejoong itu justru ingin anak sulungnya menikmati hari dengan bersenang-senang. Bahkan ia tidak keberatan bila anak lelakinya itu ingin berfoya-foya dengan kekayaan yang ia meiliki. Bukan bekerja dari pagi sampai malam seperti hari-hari biasanya. Intinya, Mr. Kim hanya ingin anaknya itu bahagia. "Aku tahu Appa hanya ingin aku bahagia tapi Appa tidak perlu khawatir” Sahut Jaejoong yang seolah tahu isi pikiran ayahnya, “Apa yang aku kerjakan sekarang ini membuatku senang. Aku senang bisa menjalankan aktivitas seperti biasa, setidaknya hal itu membuatku merasa normal. Aku mohon, jangan memperlakukan aku seperti kaca yang mudah pecah. Aku tidak serapuh itu Appa” Dan untuk kesekian
The Fifteen
kalinya pria dengan rambut beruban itu harus mendengar penolakan dari sang anak. Bibir Mr. Kim sudah bergerak siap menjawab namun rupanya obrolan mereka harus terjeda oleh bunyi notifikasi dari ponsel sang putra, "Siapa Joongie?" Tanya Mr. Kim saat melihat Jaejoong membaca pesan di ponselnya sambil tersenyum. "Ini Yunho" Bibir sewarna cherry itu menyunggingkan senyum tipis, "Seperti biasa, dia mengajakku makan siang" Sambil memaksakan senyum Mr.Kim mengamati anaknya yang tengah membereskan berkas-berkas yang berserakan di meja, mematikan laptop, memasukkan ponselnya ke saku jas, kemudian menghampiri sang ayah yang duduk di sofa, "Aku pergi dulu, appa" pamitnya seraya mencium pipi ayahnya. Meski umurnya sudah 27 tahun, dan ia juga
The Fifteen
menjabat sebagai CEO Kim Corporation tapi Jaejoong tidak pernah malu bersikap manis pada kedua orang tuanya. Sepeneninggal anaknya, Mr. Kim menarik napas dalam-dalam. Berusaha meredakan rasa nyeri yang timbul di dada. Ingin rasanya dia meminta Jaejoong untuk berhenti menemui Jung Yunho. Tapi ia tidak bisa melakukan itu. Jung Yunho adalah sumber kebahagiaan Jaejoong sekaligus sumber penderitaannya. Sebagai pemimpin tertinggi di perusahaannya selama ini orang lain selalu memandang dirinya sebagai sosok yang hebat dan berkuasa. Ia tidak pernah gagal melindas para pesaing bisnis untuk mempertahankan perusahaannya. Itu sebabnya ia dikenal sebagai President Director yang kuat.
The Fifteen
Tapi itu tidak berlaku saat dia berpikir tentang Jaejoong. Dia merasa menjadi orang yang paling tidak berdaya dan lemah di dunia. Bahkan kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki nyatanya tidak bisa menolong anak sulungnya itu. *****
Seorang wanita berseragam waiter langsung menyambut begitu Jaejoong masuk ke dalam sebuah restoran mewah di tengah kota Seoul yang penuh oleh pengunjung. Waiter itu mengantarnya sampai ke meja Yunho yang ternyata sudah duduk menunggu, lalu sang waiter pergi setelah mencatat pesanan mereka.
The Fifteen
Setengah dari hatinya merasa senang bertemu Yunho, tapi setengahnya lagi merasa enggan. Karena Jaejoong sudah bisa menebak apa yang akan diobrolkan oleh lelaki bermata musang itu. "Weekend ini aku akan kencan dengan Yeji, akhirnya kemarin dia menerimaku. Kami sudah resmi pacaran sekarang!" Seru Yunho penuh semangat. Nah, benar kan! Untuk selanjutnya Jaejoong harus menyiapkan telinga dan hatinya untuk menerima ocehan Yunho yang jelas-jelas akan membuat hatinya tersayat oleh pisau tak kasat mata. Sudah dua bulan ini Jung Yunho yang berprofesi sebagai CEO itu mengejar Seo Yeji. Yunho dan Seo Yeji adalah anak-anak dari keluarga konglomerat yang berpengaruh di Korea Selatan. Andai keduanya menjalin hubungan, sudah pasti orang tua mereka pun
The Fifteen
akan mendukung hubungan yang dianggap menguntungkan oleh kedua belah pihak berkasta setara ini. Jadi tidak aneh kalau dalam dua bulan terakhir obrolan Yunho tidak jauh-jauh dari Seo Yeji. Sayangnya, lelaki berparas tampan serta berbadan atletis itu tidak peka pada perasaan Jaejoong yang tergerus habis. "Nanti selesai makan temani aku membeli hadiah untuk Yeji ya" Lanjut Yunho berseri-seri, masih tidak menyadari sorot Jaejoong yang berubah redup, "Aku ingin membeli cincin untuk Yeji. Nanti tolong bantu pilihkan ya" Jaejoong menatap Yunho, ingin rasanya berteriak kencang kalau dia tidak menyukai hal ini. Ia benci melihat Yunho mencintai Seo Yeji. Namun yang terjadi selanjutnya justru kepalanya mengangguk. Mengabaikan hatinya yang jelas-jelas menjerit ingin
The Fifteen
menolak, "Baiklah. Tapi apa harus cincin? Ini kan baru awal-awal kalian pacaran, apa hadiahnya harus se-spesial itu?" "Yeji itu wanita spesial, hadiahnya juga harus spesial. Kau tahu berapa banyak yang mengejarnya? Banyak!” Terang Yunho berapi-api, “Jadi aku benar-benar beruntung bisa memiliki Yeji. Dia bukan hanya cantik dan berpendidikan, tapi juga sopan juga lembut. She is the best!” Serunya dengan ekspresi bahagia, “Aku sudah tidak sabar mengenalkan pacarku padamu, Jae" Bibir Jaejoong terangkat menyunggingkan senyum tipis sebelum akhirnya ia menunduk untuk menyembunyikan wajah atau lebih tepatnya… mata yang sudah berkaca-kaca. Jangan menangis…jangan sampai dia melihatmu menangis…semangat Jaejoong pada dirinya sendiri. Beruntung saat itu
The Fifteen
pelayan datang untuk mengantarkan pesanan mereka hingga fokus Yunho bisa teralihkan dari Jaejoong. Cara Yunho berbicara yang terdengar seperti memuja sang wanita membuat hati Jaejoong kembali berdarah untuk kesekian kalinya, "Oh ya, jangan lupa minggu depan juga jadwalmu periksa ke dokter" Jaejoong mengingatkan sekaligus berusaha mengalihkan topik pembicaraan dari Seo Yeji. "Waaaa aku memang beruntung punya sahabat sepertimu!" Seru Yunho, "Aku sendiri lupa kalau tidak diingatkan! Seperti biasa, nanti kau yang temani aku ya!” "Tidak bisa. Mulai sekarang kau harus bisa mengurus dirimu sendiri dengan baik" Tolak Jaejoong.
The Fifteen
"Tidak mau!" Geleng Yunho cepat, "Dari awal selalu kau yang mengantarku periksa ke dokter. Untuk urusan itu aku tidak mau diantar orang lain!" Berengutnya seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan. Setelah mengalami kecelakaan mobil satu tahun yang lalu, Yunho memang wajib memeriksakan kesehatannya ke dokter secara berkala. Terutama untuk bagian kepala. Kecelakaan itu sempat membuatnya koma selama 15 hari. Kecelakaan itu juga sudah merenggut ingatan Yunho. Meski tidak semua, tapi cedera di kepalanya membuat lelaki berusia sebaya dengan Jaejoong itu harus kehilangan ingatan untuk beberapa momen dalam hidupnya. "Sudah punya pacar masih saja merepotkanku! Kau harus belajar pergi sendiri ke dokter dan mengingat jadwal
The Fifteen
periksamu! Belum tentu aku bisa mengantarmu terus!" Meski menjawab dengan nada ketus tapi hati Jaejoong remuk tidak berbentuk mengingat tidak selamanya dia bisa berada di sisi lelaki itu. Dan Yunho terlihat santai menanggapi gerutuan Jaejoong. Dalam ingatannya, mereka sudah bersahabat sejak awal kuliah. Jadi Yunho tidak mudah tersinggung oleh omelannya. Juga, Yunho tahu pasti kalau lelaki bermata coklat itu tidak sungguhsungguh menganggap dirinya merepotkan. Yunho merasa mereka berdua sudah saling memahami satu sama lain. "Pokoknya aku tidak mau periksa kalau bukan kau yang mengantar! Lebih baik tidak usah pergi ke dokter !" Rupanya ancaman Yunho berhasil.
The Fifteen
"Ya, ya. Aku akan mengantarmu!" Desah Jaejoong mengalah, dirinya memang tidak pernah bisa menolak permintaan Yunho. *****
"Kau kenapa, Jae?" Bukan hanya ekspresinya tapi suara Yunho menyiratkan penuh kekhawatiran sejak awal mula masuk ke dalam kamar. Manik hitam legamnya menatap Jaejoong yang tengah duduk bersandar pada kepala ranjang. Satu bantal berukuran besar digunakan untuk mengganjal punggung, serta wajahnya terlihat pucat! Otomatis satu tangan Yunho terulur untuk menyentuh dahi sahabatnya itu. Panas!, "Sejak kapan dia demam, eomeonim?" Tanya Yunho pada Mrs. Kim yang duduk di samping ranjang.
The Fifteen
"Sejak tadi pagi" Jawab wanita paruh baya itu sambil kembali menyuapkan bubur ke mulut anaknya. Pantas saja, Yunho sudah berkali-kali menghubungi ponsel Jaejoong untuk mengajaknya makan siang tapi tidak juga mendapat respon. Hal ini membuat Yunho menelepon ke kantor dan sekretaris Jaejoong mengabarkan kalau hari ini bosnya tidak masuk karena sakit. Jadi tanpa membuang waktu Yunho bergegas datang ke rumah Jaejoong untuk melihat keadaannya. Juga, bukan hal aneh lagi kalau Yunho terlihat berkeliaran di rumah keluarga Kim. Jaejoong dan Yunho sudah berteman baik sejak mereka kuliah. Bahkan Mrs. Kim memperlakukan Yunho seperti anaknya sendiri.
The Fifteen
Setiap akhir minggu dan hari libur Yunho selalu menghabiskan waktunya di rumah keluarga Kim, atau pergi jalan-jalan dengan sahabatnya itu. Entah kenapa Yunho tidak bisa jauh dari Jaejoong. Tapi setelah ini, semua akan berubah. Dia akan lebih banyak menghabiskan akhir minggunya dengan Yeji. "Tidak apa-apa Yunho, ini hanya flu" Jawaban anaknya justru membuat Mrs. Kim menunduk. Wanita paruh baya itu berusaha menyembunyikan wajah sedihnya. Bagaimana tidak sedih? Dalam dua minggu terakhir, Jaejoong sudah pingsan tiga kali. Dan terakhir hari ini pada saat mereka sarapan tiba-tiba hidung bangir anaknya mengucurkan banyak darah. Kemudian anaknya itu pingsan setelah beberapa saat mengerang kesakitan.
The Fifteen
Beruntung saat itu Mr. Kim belum berangkat ke kantor dan langsung memanggil dokter keluarga. Namun keluarga itu juga tahu kalau obat-obatan yang diberikan dokter sudah tidak bisa membantu banyak lagi. Yang paling berguna bagi Jaejoong hanyalah pain killer dosis tinggi untuk membantu menahan rasa sakit di kepalanya.
"Syukurlah kalau hanya flu" Desah Yunho lega. Suapan bubur terakhir yang berhasil ditelan oleh Jaejoong membuat Mrs. Kim tersenyum. Anaknya masih mempunyai nafsu makan yang baik, "Eomma mau menaruh piring ini ke dapur. Yunho, kau temani Jaejoong ya" pesan Mrs. Kim sebelum keluar dari kamar.
The Fifteen
"Eh, Yunho bukannya hari ini kau ada kencan dengan Yeji?" Jaejoong teringat jadwal Yunho hari ini. "Aku mengundur kencan dengan Yeji, aku ingin menemanimu disini"
"Huh? Apa-apaan kau ini!?" Pekikan keras yang masuk ketelinganya membuat Yunho berjengit. Tidak mengira kalau Jaejoong yang sakit masih bisa bersuara sekuat ini. Jaejoong menoleh ke arah jam dinding. Jarum pendeknya menunjuk ke angka enam, "Telepon dia lagi Yunho, sekarang belum terlambat! Kencan saja dengan Yeji. Jangan membatalkannya hanya karena aku flu. Lagian aku juga tidak bisa istirahat kalau kau ada disini!" Sengaja Jaejoong mengusir agar Yunho pergi berkencan saja dengan
The Fifteen
Yeji. Meski hatinya harus berdarah tapi dia mendukung Yunho dan Seo Yeji. "Tidak mau, aku mau disini!" Tegas Yunho sembari melihat-lihat majalah yang bertumpuk di meja kamar. Jaejoong memang suka membaca majalah bisnis "Kencanku bisa diundur minggu depan. Yeji sudah mau mengerti. Tidak salah kan kalau aku memilihnya, dia itu wanita luar biasa yang penuh pengertian.” Penuturan Yunho yang memuji Seo Yeji hanya membuat Jaejoong semakin ingin mengusirnya. Mungkin karena kondisi tubuhnya yang sedang tidak sehat hingga perasaannya ikut menjadi lebih sensitif, “Kau hanya akan mengganggu disini! Pergi saja dengan Yeji!” “Sudah aku bilang aku mau disini!!” Walaupun mulutnya memuji Seo Yeji tapi bagi Yunho menemani Jaejoong yang sakit
The Fifteen
jauh lebih penting daripada berkencan dengan wanita itu. Dia tidak bisa meninggalkan Jaejoong. Andai hari ini dia pergi berkencan, dia tidak akan tenang karena pikirannya akan terus terus tertuju pada Jaejoong yang sakit. "Eh, ini apa?" Yunho membuka-buka album yang ia tarik secara iseng dari tumpukan majalah paling bawah. Isinya penuh dengan foto-foto mereka berdua, "Ini kapan, Jae? Kenapa aku tidak ingat kita pernah pergi ke tempat-tempat ini?" Astaga! darimana dia mendapatkan itu? Rutuk Jaejoong dalam hati. Meskipun tubuhnya lemas, dia memaksa untuk turun dari ranjang, lalu dengan cepat menyambar benda di tangan Yunho dan tidak membiarkan lelaki itu melihat lebih jauh. Untung dia belum sampai pada halaman terakhir, batin Jaejoong.
The Fifteen
"Kau kehilangan ingatanmu, jadi wajar kalau tidak ingat. Ini hanya foto-foto lama waktu kita kuliah" Jaejoong menyimpan album itu ke laci meja paling dalam sebelum kembali ke ranjang. "Yunho, sini" Jaejoong menepuk nepuk kasur meminta Yunho agar duduk disebelahnya sekaligus untuk mengalihkan perhatian lelaki itu dari album yang belum lama ia rebut, "Yunho berjanjilah, kalau suatu hari aku pergi jauh kau harus bisa mengurus dirimu dengan baik. Jangan melewatkan jadwal periksamu. Minta Yeji untuk mengantarmu" "Kau mau pergi kemana?" Tukas Yunho dengan nada tidak senang, "Jangan berpikir untuk pindah dari Seoul. Aku bersumpah akan menyeretmu pulang kalau kau berani meninggalkan aku" dia tidak ragu menunjukkan keposesifannya. Yunho tidak
The Fifteen
suka jauh dari Jaejoong. Dia sendiri tidak mengerti kenapa ia begitu terikat pada Jaejoong. Berada di dekat Jaejoong sudah menjadi kebutuhan tersendiri untuknya. "Jangan begitu kau harus–" Terpaksa Jaejoong menjeda untuk menarik napas sejenak. Kepalanya tiba-tiba berdenyut. Hal ini memang kerap kali dia rasakan sejak setahun terakhir dan semakin hari semakin parah. Dia berharap kali ini intensitas nyerinya tidak meningkat dengan cepat. Tidak saat Yunho berada di dekatnya. "Ingat ini, Yunho. Meski aku pergi jauh, aku tidak akan melupakanmu. Karena kau bukan ada disini" Jaejoong menyentuh kening Yunho dengan ujung telunjuknya,, "Tapi aku menyimpanmu disini" Telunjuknya beralih menunjuk dada sang sahabat.
The Fifteen
"Sekarang aku mau tidur" Selain menahan nyeri yang semakin menjadi di kepala, saat ini Jaejoong juga merasa takut. Takut tidak bisa lagi melihat orang-orang yang dicintainya, takut tidak bangun dan tidak bisa melihat matahari esok pagi. Takut, karena tidak tahu apa yang menantinya dibalik kematian . . . Ingin rasanya Jaejoong berbagi rasa takutnya dengan Yunho. Saat ini dia butuh lelaki itu untuk memeluknya, untuk menghiburnya. Satu pelukan saja itu akan bisa menguatkannya. Tapi sekuat tenaga Jaejoong menahan diri, sekarang dia tidak bisa meminta hal itu dari Yunho. Jaejoong juga tidak bisa memberitahu Yunho jika dirinya tengah sekarat! *****
The Fifteen
"Jae!" Yunho mengguncang pelan bahu Jaejoong yang sekarang terbaring di ranjang rumah sakit, "Jaejoong! Jaejoong!" Ulangnya, kali ini dengan suara lebih keras. Karena Jaejoong tidak juga merespon, Yunho beralih menatap Mr. dan Mrs. Kim yang berdiri di samping ranjang, "Kenapa Jaejoong tidak bangun?" Ketika mendapat telepon dari Mrs. Kim yang memberi kabar kalau Jaejoong ada di rumah sakit, Yunho tidak pernah berpikir akan mendapati pemandangan seperti ini. Mata musangnya menatap miris pada banyaknya jumlah alat-alat medis yang terpasang di tubuh sahabatnya. Kulit yang seputih susu itu kini terlihat semakin pucat. Bibir yang biasanya semerah cherry pun kini tak berwarna. Yunho tidak mengerti kenapa
The Fifteen
kondisi Jaejoong terlihat parah? Bukannya kemarin dia hanya flu? Apa flu bisa separah ini? Mrs. Kim mengelus punggung Yunho yang terlihat bingung. Mata tuanya tampak sembab karena terlalu banyak menangis. Wanita itu menjawab dengan suara bergetar, "Dokter bilang, kemungkinan besar Jaejoong tidak akan bangun lagi. Sebenarnya Jaejoong sudah sakit sejak satu tahun yang lalu" "Huh? Je-Jaejoong tidak akan bangun lagi?" Pekik Yunho kuat. Sulit diterima, Jaejoong yang kemarin masih berbicara dengannya, bahkan masih bisa memekik agar dia berkencan dengan Yeji, sekarang mereka bilang tidak akan bangun lagi? Yunho berharap dia salah dengar. Tapi Mr. Kim mengangguk membenarkan pernyataan istrinya.
The Fifteen
"Sakit!? Jadi bukan flu? Lalu dia sakit apa? Kenapa selama ini tidak ada yang memberitahu aku soal ini?" Matanya mulai terasa panas, cairan bening menggantung dipelupuknya. Kabar tiba-tiba ini sungguh membuat Yunho shock. Mr. Kim tetap bungkam, sementara sang istri hanya kembali terisak. Bukannya tidak mau menjawab, tapi mereka bingung harus menjawab bagaimana. Marah karena tidak mendapat penjelasan Yunho melangkah cepat ke arah pintu keluar lalu membukanya dengan kasar. Sedikitpun Mr. dan Mrs. Kim tidak tersinggung atas sikap kasar Yunho. Karena mereka bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh pemuda itu, sedih, frustasi dan putus asa. Sama seperti mereka saat ini.
The Fifteen
Dan ternyata Yunho bukan pergi ke taman rumah sakit atau tempat lain untuk menenangkan diri seperti perkiraan pasangan paruh baya itu. Mereka tidak menduga Yunho akan pergi mencari dokter yang menangani Jaejoong. *****
"Sebenarnya Jaejoong sakit apa, dok?" “Ada penggumpalan darah di kepalanya akibat kecelakaan satu tahun yang lalu dan dia seharusnya dioperasi tapi Jaejoong-ssi dengan tegas menolak untuk di operasi. Kondisinya sekarang ini sudah sangat buruk" Jawaban Sang dokter membuat Yunho terperanjat., Jaejoong kecelakaan satu tahun yang lalu? Bukannya itu aku? Aku yang
The Fifteen
kecelakaan setahun yang lalu. Kenapa tidak ada yang membahas soal cedera dan kecelakaan Jaejoong ? Kenapa Jaejoong menyembunyikan ini dariku? "Kecelakaan itu, bagaimana kejadiannya?" Tanya Yunho lagi. "Sebuah truk menabrak mobil yang ditumpanginya. Dari kabar yang saya dengar, kecelakaan itu terjadi tepat di hari pernikahannya" Mendengar itu, sontak kedua mata musang Yunho melebar, Pernikahan? Kapan Jaejoong menikah? "Apa anda tidak salah info, dok? Apa infonya tidak tertukar dengan pasien lain?" Sergah Yunho, " Jaejoong belum menikah! Lagipula truk yang menabrak mobil itu adalah kisah saya. Mobil saya yang ditabrak oleh truk setahun yang lalu"
The Fifteen
"Tidak, memang seperti itu info yang saya dapatkan" Pernikahan . . . Menikah . . . Jaejoong, ayo kita menikah . . . . Jaejoong aku mencintaimu. . . . Selanjutnya, Yunho bisa melihat bibir dokter itu bergerak-gerak, tapi hanya suara dengingan yang masuk ke telinganya. Pandangannya juga ikut memburam. Bukan hanya itu, rasa sakit yang sangat ikut menyerang kepalanya. Tubuhnya menjadi ringan dan seolah tersedot ke ruang hampa seiring dengan bayangan yang tiba-tiba muncul melintas dikepalanya. Yunho seperti sedang menonton sebuah film sekarang. Dalam bayangan itu Jaejoong terlihat menawan dalam balutan tuxedo biru serta dasi kupu-kupunya. Sementara dirinya juga mengenakan pakaian senada dan mereka berdiri di depan Altar!
The Fifteen
Aku berjanji, akan menjagamu, selalu bersamamu baik senang ataupun susah sampai maut memisahkan kita. "Apa ini? Kenapa aku berjanji seperti itu pada Jaejoong di depan Altar? Lalu. . . .lalu kenapa kami berciuman?" Yunho bahkan tidak sadar dirinya tengah mengerang kuat. Tubuhnya sudah tergeletak di lantai dengan kedua tangan memegangi kepala yang seperti mau pecah. Saat ini Dirinya seolah tengah berada di dua dunia yang berbeda. "Yunho-ssi! Yunho-ssi!" Dia bahkan tidak bisa menangkap suara dokter yang waktu itu berseru keras dan berusaha menolongnya. Para perawat yang entah sejak kapan masuk ke dalam ruangan dokter pun sibuk memasangkan masker
The Fifteen
oksigen karena Yunho tampak kesulitan bernapas. Belum selesai dengan yang satu, bayangan lain menyusul, menghempas ingatannya. Dalam gambaran itu, mereka sudah tidak berada di depan Altar lagi, tetapi berada di dalam sebuah mobil. Tawa lebar mengiringi di sela-sela obrolan. Saat itu, dia dan Jaejoong terlihat bahagia. Sampai sebuah suara keras menghentikan tawa keduanya. Suara klakson… dari sebuah kendaraan berbadan besar, dan kemudian . . . BRRAAKK! "Yunho-ssi! Yunho-ssi!" Lagi-lagi telinganya tidak bisa menangkap seruan dokter. Yunho juga tidak sadar jika dia sudah dipindah ke ruang UGD. Dia merasa tubuhnya terhempas keras
The Fifteen
sebelum semua gambaran dikepalanya menghilang dan dunianya berubah menjadi gelap. ****
"Maafkan aku, Jae! Maaf kalau aku sudah melupakanmu" Raung Yunho di pinggir ranjang, "Sekarang aku ingat semua, Jae! Ayo bangun. Aku sudah mengingat semua!" Sejak sadar dari pingsan dan bisa mengingat setiap hal yang terjadi dalam hidupnya, Yunho tidak berhenti memaki diri. Bisa-bisanya dia lupa pada separuh jiwanya dan hanya menganggapnya sebagai sahabat. Disisi lain, pasangan Kim bergegas menghampiri Yunho yang belum lama merengsek masuk ke dalam ruangan dan
The Fifteen
langsung menangis keras, "Apa maksudmu, nak? Apa yang kau ingat?" Tanya Mrs. Kim lembut namun raut kaget tetap kentara di wajahnya. "Semua! Aku bisa mengingat semua. Bukan hanya aku yang mengalami kecelakaan, tapi Jaejoong juga ada di mobil itu, dia sedang bersamaku. Itu hari pernikahan kami" Pernyataan Yunho membuat Mrs. Kim terisak. Ingatan menantunya telah kembali, dan hal itu merupakan hal yang paling tidak diinginkan oleh Jaejoong. "Kenapa kalian tidak memberitahu aku tentang penyakit Jaejoong? Kenapa dia menolak operasi? Kenapa kalian tidak membujuknya untuk melakukan operasi" Raung Yunho.
The Fifteen
"Jaejoong meminta kami untuk tidak memberitahumu tentang ini. Jaejoong sadar kalau dia akan segera meninggalkanmu, karena itu dia mendukungmu dengan Seo Yeji. Sebagai ayahnya aku tahu hal itu pasti berat untuk dia lakukan. Melihatmu mencintai orang lain itu pasti menyakiti hatinya tapi Jaejoong ingin ada orang lain yang menghibur dan membuatmu bahagia sewaktu dia harus pergi" Terang Mr. Kim. "Kami sudah berkali-kali membujuknya untuk operasi tapi Jaejoong tetap menolak." Sambung istrinya ditengah isakan. Sekarang mereka tidak perlu menutupi apapun lagi dari Yunho. . "Kenapa Jaejoong menolak operasi?” Tanya Yunho tidak mengerti, “Kalau itu bisa meyelamatkan nyawanya kenapa dia tidak melakukannya?”
The Fifteen
"Karena operasi itu akan membuatnya kehilangan ingatan. Jaejoong tidak mau melupakan semua kenangan bersamamu” Mr. Kim menjeda sejenak sebelum akhirnya bercerita lebih jauh, “ kecelakaan itu membuatmu koma selama 15 hari. Sementara Jaejoong hanya tidak sadar selama 2 hari lalu kondisinya terus membaik. Sesudah sadar, Jaejoong selalu berada di sisimu. Menjagamu sewaktu kau koma. Tapi sehari sebelum kau sadar dia justru pingsan. Awalnya kami mengira dia kelelahan tapi dokter menemukan adanya penggumpalan darah di kepala yang sebelumnya tidak terdeteksi" "Operasi adalah satu-satunya cara untuk menangani penggumpalan darahnya. Tapi risikonya besar. Sedikit kesalahan bisa membuat Jaejoong kritis, koma atau bahkan tidak selamat. Sekalipun dia bisa bertahan,
The Fifteen
dokter bilang kemungkinan besar Jaejoong akan mengalami amnesia. Tapi kalau tidak di operasi, penggumpalan darah itu juga akan semakin besar dan membuat pembuluh darah di otaknya pecah. Waktu itu Jaejoong menghadapi pilihan yang sulit. Tapi akhirnya dia menolak operasi" Beberapa saat Yunho memandangi wajah Jaejoong, lalu sebelah tangannya mengelus kepala lelaki yang dicintainya itu, "Maaf, aku tidak ada disisimu sewaktu kau harus menghadapi pilihan yang sulit" Sesal Yunho yang merasa tidak berguna. Dia tidak ada saat Jaejoong membutuhkannya. "Jaejoong tidak mau melupakan kenangan bersama orang-orang yang dia cintai, terlebih dirimu. Dia tidak mau kehilangan ingatannya, karena itu akhirnya Jaejoong menolak untuk di operasi. Jaejoong tahu tanpa operasi hidupnya tidak bisa
The Fifteen
bertahan lama. Tapi baginya, kenangan bersamamu sangat berharga. Dia memilih pergi dengan semua kenangan itu daripada harus melupakannya" Mr. Kim menjeda sejenak. "Ketika kau sadar dari koma, momen tentang hubungan kalian terhapus dari ingatanmu. Kau hanya mengingat Jaejoong sebagai sahabatmu. Jaejoong merasa dirinya sudah terlupakan dan putus asa karena kehilanganmu. Sedikitnya itu turut menurunkan semangat hidupnya " Saat ini Yunho hanya bisa menyesali kebodohannya. Sewaktu sadar dari koma, orang tuanya, juga orang tua Jaejoong mengingatkan kalau dia dan Jaejoong sudah menikah. Tapi dia menganggap mereka hanya bercanda dan dengan tegas menolak, bersikeras jika Jaejoong hanyalah sahabatnya dan selamanya akan seperti itu.
The Fifteen
Bahkan dia masih ingat kata-kata nya waktu itu, yang sudah pasti menyakiti Jaejoong. Aku belum gila mau menikah dengan Jaejoong! Jaejoong itu laki-laki! Aku lelaki normal, aku masih menyukai dada wanita dibanding batang lelaki! "Sesudah tegas menolak operasi dan sadar kalau waktunya terbatas, Jaejoong meminta kami juga orang tuamu untuk tidak membahas tentang pernikahan kalian. Dia juga menyembunyikan semua barang yang bisa mengingatkanmu tentang hubungan kalian dulu. Dia tidak mau ingatanmu kembali. Jaejoong berusaha mencegah kejadian seperti sekarang ini terjadi. Kau bisa mengingat semua, dan lihat bagaimana sekarang kau terpuruk saat dia harus pergi” "Kenapa membuat keputusan seperti itu, Jaejoong . . ." Yunho meraung. Dia tidak
The Fifteen
berhenti mengelus kepala Jaejoong yang sudah dinyatakan koma, “Kenapa begitu cepat menyerah?" Selama ini Yunho mengenal Jaejoong sebagai orang yang tidak mudah menyerah, dalam hal apapun. Ayah Jaejoong menatap miris pada sang menantu yang menangis tersedu sambil menggenggam kuat tangan anaknya. Mungkin Tuhan melihat mereka terlalu kuat, hingga menganggap mereka sanggup menerima ini semua. Pemandangan itu juga membuat pertahanan Mr. Kim goyah. Pria tua yang sejak tadi terlihat kuat itu kini mulai berkaca-kaca, "Andai waktu itu kau tidak kehilangan ingatanmu dan Jaejoong berhasil melewati operasi, tetap saja dia akan lupa padamu, lupa pada kita semua. Jaejoong menyerah karena dia sudah putus asa dan tidak bisa melihat jalan untuk kalian
The Fifteen
bersama lagi. Jaejoong lebih memilih terkubur dengan semua kenangannya. karena menurutnya hidup tanpa ingatan apapun itu lebih menakutkan dari kematian” Sontak Yunho berbalik menghadap ayah mertuanya, "Bagaimana kalau sekarang Jaejoong dioperasi? Kalau dia lupa, kita yang akan mengingatkannya lagi" "Dengan kondisi yang sudah memburuk seperti sekarang, kemungkinan Jaejoong bisa bertahan di meja operasi sangat kecil" "Kumohon abeonim, eomeonim, restui keputusanku sebagai suaminya agar Jaejoong dioperasi. Walaupun kecil tapi masih ada harapan disana. Aku tidak bisa pasrah dan hanya menunggunya mati seperti sekarang" "Tapi kita juga harus menghormati keputusannya” Ujar Mr. Kim dengan
The Fifteen
perasaan sedih yang tidak bisa digambarkan, “Kami sudah berjanji pada Jaejoong untuk menghormati keputusannya" "Aku mohon . . . aku mohon abeonim, eomeonim " Yunho meraung kencang, dia bahkan tidak malu berlutut di depan kedua mertuanya, " Aku tidak tahu caranya hidup tanpa Jaejoong . . ." Setelah beberapa saat terdiam, Mr. Kim berjalan mendekat ke ranjang. Tubuh rentanya membungkuk, pria tua yang biasanya terlihat kuat itu kini wajahnya penuh air mata. Beliau mencium lembut kening anak lelakinya sebelum berbisik, "Maaf. Maafkan kalau kami mengkhianatimu, Joongie" *****
The Fifteen
Menggunakan handuk kecil, Yunho menyeka area wajah yang tidak tertutup oleh masker oksigen. Usai itu dia lanjut menyeka bagian lengan. Jari-jari tangan yang pucat pun tidak luput dari sapuan kain setengah basah itu. Gerakannya sangat hati-hati, menjaga agar alat-alat medis yang terpasang di tubuh rapuh itu tidak tersenggol olehnya. Selesai dengan lengan, Yunho pindah ke kaki. Dengan telaten dia mengelap kaki kurus itu sampai ke sela-sela jari dengan handuk putih ditangannya. Kegiatan membersihkan tubuh Jaejoong itu sudah Yunho lakukan selama 15 hari, tanpa absen satu hari pun. 15 hari yang lalu, adalah hari yang melegakan. Dimana mereka melihat Jaejoong didorong keluar dari ruang operasi masih dengan nyawa melekat di raga. Tapi
The Fifteen
kondisinya kritis dan kembali dinyatakan koma. Dalam 15 hari terakhir, beberapa kali Yunho dihadapkan pada pemandangan yang paling mengerikan dalam hidupnya. Pemandangan ketika dokter memompa dada pasangannya. Atau ketika melihat tubuh Jaejoong melonjak saat dokter menstimulasi jantungnya dengan alat bertegangan tinggi untuk mengembalikan detaknya yang sempat berhenti beberapa kali. Saat ini kondisi Jaejoong belum pasti. Tidak ada dokter yang bisa memastikan apakah dia akan bangun, atau bisa saja dia tiba-tiba pergi. Hal ini membuat Yunho terus waspada. Dalam 24 jam dia hanya bisa tertidur selama beberapa jam saja. Begitu ingatannya kembali, dia juga segera menyelesaikan urusannya dengan Seo Yeji.
The Fifteen
Beruntung wanita kondisinya.
itu
mau
mengerti
Gerakannya membersihkan kaki Jaejoong itu tiba-tiba terhenti ketika Yunho melihat jari tangan yang bergerak-gerak, dia berpindah ke samping untuk memastikan dan semakin shock ketika melihat bola mata di dalam kelopak yang tertutup itu juga bergerak-gerak. "Eomeonim!Eomeonim! lihat ini!" Yunho yang tiba-tiba berseru keras, jelas membuat Mrs.Kim yang ada di sofa terlonjak, "Ya, Tuhan!" Seru wanita tua itu sambil terus menekan-nekan tombol merah disamping ranjang yang berfungsi untuk memanggil petugas medis. Mata bulat yang sudah tertutup selama sekian hari itu akhirnya terbuka!
The Fifteen
Tanpa dikomando Yunho dan Mrs.Kim langsung bergeser saat dokter diiringi dua orang perawatnya masuk ke dalam ruangan. "Apa kau bisa mengingat namamu?" Itu pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh dokter setelah memeriksa kondisi fisik pasiennya. Masker oksigen juga sudah dilepas. Jaejoong sudah bisa bernapas sendiri tanpa bantuan alat medis. Lelaki yang baru sadar itu tampak berpikir, namun kemudian menjawab dengan tubuh gemetar, "Aku siapa? Kenapa aku tidak bisa mengingat apapun?!" Ruangan yang asing, Orang-orang yang tidak ia kenal, ingatannya yang kosong serta kepala yang berdenyut nyeri, semua itu membuat lelaki yang belum lama sadar itu takut. Dia mencoba untuk bangun, tapi tubuhnya terasa kaku. Hal itu semakin
The Fifteen
membuatnya ketakutan dan tidak mengerti apa yang sudah terjadi pada dirinya. Bulir bulir keringat mulai bermunculan di wajah dan napasnya berubah cepat dan pendekpendek, seperti ikan yang dipindahkan ke darat. Dia panik! Selanjutnya perlu dua orang untuk menahan bahu dan memegangi kedua tangannya. Jaejoong menjerit dan meronta karena panik. Raut ketakutan tergambar jelas di wajahnya. Infus dan alat medis lain yang masih terpasang di tubuhnya terlepas. "Tenanglah, jangan takut. Tidak ada yang ingin menyakitimu. Dengarkan dulu apa kata dokter ya" Entah kenapa suara lelaki yang mengelus pipinya lembut itu bisa membuat Jaejoong sedikit lebih tenang. Hingga akhirnya perawat pun merasa tidak perlu mencekal tangan sang pasien lagi.
The Fifteen
"Namamu Jaejoong" Terang dokter dengan suara lembut, "Kau mengalami kecelakaan mobil dan harus dioperasi karena terjadi penggumpalan darah di kepalamu. Operasi itu berdampak pada ingatanmu. Bisa saja ingatanmu kembali suatu hari nanti tapi kami tidak bisa memastikan hal ini" Dokter pun tersenyum dan melanjutkan, "Ini adalah Mrs. Kim, ibumu" Sang dokter meminta wanita paruh baya itu untuk lebih mendekat ke ranjang. Air mata bercucuran dari mata tua nya. "Aku ibumu, Joongie" Walaupun menangis tapi hati wanita tua itu bahagia. Sungguh bahagia melihat anaknya sadar dari koma, "Namamu sebelum menikah adalah Kim Jaejoong, tapi sesudah menikah margamu berganti menjadi Jung, Jung Jaejoong. Ayah dan adikmu sedang dalam
The Fifteen
perjalanan menuju kesini, kau akan segera melihat mereka" Sekarang giliran lelaki yang tadi mengelus pipi Jaejoong memperkenalkan dirinya, “Aku, Jung Yunho” Tidak perlu ditanya lagi sebesar apa rasa bahagia lelaki itu, "Aku suamimu. Jangan takut, Jaejoong. Sekarang memang kau tidak bisa mengingat apa-apa, tapi kami akan membantumu. Kami akan membantu mengingatkan lagi semua hal yang sudah kau lupakan" *****
"Kenapa melihatku begitu? Memangnya aku terlihat menakutkan ya?" Kekeh Yunho. Suaranya memecahkan suasana sepi yang mencekam, “Aku tidak akan menggigit kok”
The Fifteen
Sudah beberapa menit berlalu, namun tidak ada satupun dari keduanya yang berbicara. Yunho berharap sedikit canda bisa mencairkan atmosfer ruangan yang terasa kaku. Dan bukan tanpa alasan ia mengatakan hal seperti itu. Sedari tadi Jaejoong menatapnya dengan tatapan penuh waspada seolah ia akan menerkamnya. Sakit ternyata dicurigai oleh orang yang dicintai. Di ruang rawat itu sekarang hanya ada mereka berdua. Yunho meminta waktu pada orang tua Jaejoong agar mereka bisa berbicara berdua saja. "Meskipun kau bilang kau itu suamiku tapi sekarang ini aku tidak ingat apapun tentangmu. Aku tidak tahu kau orang yang bagaimana, Tidak tahu bagaimana caramu memperlakukanku dulu, baik? atau sebaliknya. Tidak tahu pernyataanmu itu jujur atau tidak. Maaf bila kau benar
The Fifteen
suamiku, tapi sekarang ini kau hanya orang asing untukku" Mendengar itu, Yunho merasa dadanya dihantam kuat hingga jantungnya berdenyut nyeri. Seperti inikah rasanya terlupakan? Rasa sakit inikah yang dulu Jaejoong tanggung saat dia melupakan hubungan mereka dan hanya menganggapnya sebagai sahabat? "Aku, orang tuamu juga orang tuaku sudah tahu kalau operasi yang kau jalani akan beresiko membuatmu kehilangan ingatan. Dan kami sudah sepakat, bila kau sadar, kami akan menceritakan semua kisah hidupmu dengan jujur. Entah itu hal yang menyenangkan atau menyakitkan, kami akan menceritakan semua dengan jujur. Kami tidak berniat menutupi atau memanipulasimu"
The Fifteen
Yunho mulai membuka album yang ada ditangannya. Album yang diambil dari laci kamar Jaejoong sehari sesudah istrinya itu dioperasi. "Lihat ini" Yunho menunjukkan sebuah foto, membuat Jaejoong merubah posisi berbaringnya menjadi sedikit menyamping agar bisa melihat apa yang ditunjukkan Yunho. "Ini foto bersama teman-teman dekat kita waktu masih kuliah, kita sudah berteman sejak awal masuk kuliah"
The Fifteen
Yunho membuka halaman berikutnya, "Ini adalah foto di Guam Island, Amerika Serikat. Kita berlibur kesana untuk merayakan kelulusan kita"
The Fifteen
"Dan ini foto berlibur kita di Jeju, empat tahun yang lalu” Bibir berbentuk hatinya reflek tersenyum ketika Yunho mengingat sebuah peristiwa bersejarah bagi mereka berdua, “Di Jeju inilah aku menyatakan
The Fifteen
perasaanku dan kau menerimanya” Dan dalam 3 tahun masa pacaran, hubungan mereka membuat iri banyak orang. Mereka dianugerahi cinta yang besar antara satu sama lain.
"Dan ini foto . . ." Mendadak Yunho berhenti. Menelan ludahnya kasar serta wajahnya bersemu merah, "Yang ini aku terangkan nanti saja!" Ujarnya gugup.
The Fifteen
Dengan cepat Yunho membalik halaman, mengabaikan Jaejoong yang membelalak lebar dan terlihat ingin tahu cerita dibalik foto dirinya yang tampak setengah bugil.
"Nah, kalau ini foto perayaan yang diambil di kantormu. Hari itu kau resmi menjabat sebagai CEO di perusahaan ayahmu" Terang Yunho pada foto yang ada di halaman lain.
The Fifteen
Dan masih banyak foto-foto lain yang Yunho tunjukkan sebelum akhirnya dia sampai di halaman terakhir. "Dan ini adalah foto . . .foto yang diambil satu tahun yang lalu" Yunho nyaris tak mampu meneruskan. Air mata jatuh
The Fifteen
meluncur begitu saja meski ia sudah menahannya sekuat tenaga, "Ini foto pernikahan kita. Foto ini diambil sesudah kita mengucap janji suci di depan Altar. Hari yang sama, saat kecelakaan itu terjadi. Waktu itu, kita sedang dalam perjalanan menuju ke gedung pesta setelah menyelesaikan upacara di gereja. Seorang pengemudi truk yang mengantuk menabrak mobil kita"
The Fifteen
Sungguh menyakitkan bagi Yunho saat harus mengingat lagi tragedi yang menimpa mereka berdua dan membuat mereka berada dalam keadaan seperti sekarang ini. "Jadi kita berdua mengalami kecelakaan? Keadaanmu sendiri bagaimana? tidak apaapa?" Meskipun Jaejoong merasa asing dengan Yunho, tapi entah darimana datangnya rasa khawatir untuk lelaki itu. "Sama sepertimu, aku juga sempat kehilangan ingatanku, tapi sekarang sudah sehat, aku bisa mengingat semua" Sedikitpun Jaejoong tidak bisa mengingat Yunho dan bagaimana perangai pria itu. tapi anehnya ada sesuatu di dalam dadanya yang mendorong agar ia menerima dan mencoba percaya pada semua cerita orang yang mengaku sebagai suaminya ini.
The Fifteen
"Hey . . ." Jaejoong sedikit menyentuh tangan Yunho yang tengah menunduk, mencoba berusaha menyembunyikan wajahnya yang basah dengan air mata. "Aku akan berusaha percaya padamu. Kalau memang kita pernah menikah seperti yang kau ceritakan, tolong bantu aku untuk mengingat tentang kita. Bantu aku untuk mengingat lagi seperti apa hubungan kita dulu. Ceritakan lebih banyak, dan aku juga ingin mengenalmu lagi" Sontak kepala Yunho terangkat, air matanya mengalir semakin deras. Tidak menyangka kalau Jaejoong akan menerimanya secepat ini. Tadinya dia takut, takut Jaejoong akan menolak dan mengusirnya. Menganggapnya orang asing lalu jatuh cinta pada orang lain. Sama seperti yang sudah dia lakukan.
The Fifteen
Sekarang Yunho bisa membayangkan bagaimana sakitnya Jaejoong saat dia mengatakan dirinya resmi berpacaran dengan Seo Yeji, bagaimana hancurnya Jaejoong yang harus melihat dirinya mencintai orang lain. Bahkan tega meminta bantuan Jaejoong dalam memilih cincin untuk wanita itu. Selama membantunya di toko perhiasan, sedikitpun Jaejoong tidak memperlihatkan raut bad mood. Dia selalu tersenyum dan sabar saat membantunya mencari cincin terbaik untuk Yeji. Hal yang tidak bisa dia lakukan jika dirinya berada di posisi Jaejoong. Bisa-bisanya dia menyiksa Jaejoong seperti itu! Jaejoong selalu menjaganya, tidak pernah absen mengantarnya ke dokter, selalu
The Fifteen
menuruti semua keinginannya mendukung apapun keputusannya!
dan
Dan Jaejoong . . . Meskipun dia melupakannya, Jaejoong tidak pergi dari sisinya. Sekalipun tahu dirinya sekarat, Jaejoong tidak egois dan hanya memikirkan kebahagiaan seorang Jung Yunho. Tetap mendukungnya dengan Seo Yeji meski itu membuat hatinya hancur. Jaejoong hanya memikirkan Kebahagiaan Jung Yunho yang sudah melupakannya. "Terima kasih, Jaejoong" Ucap Yunho tulus, "Terima kasih kau tidak menolakku. Aku ingat kau pernah bilang tidak akan melupakan aku, karena aku bukan ada disini" Yunho menyentuh kening Jaejoong dengan ujung telunjuknya, persis seperti yang pernah Jaejoong lakukan padanya,
The Fifteen
"Tapi kau menyimpan aku disini" dia beralih menunjuk ke arah dada lelaki yang dinikahinya setahun lalu. Dengan dahi berkerut Jaejoong menatap Yunho. Sejak ia bangun semua terasa asing, namun kata-kata Yunho barusan menjadi satu-satunya hal yang tidak terasa asing untuknya. Mulut Jaejoong sudah terbuka, dia bermaksud meminta Yunho bercerita lebih banyak tentang hubungan mereka. Namun tiba-tiba rasa sakit menyerang kepala. Reflek matanya memejam. Dahinya mengeryit, dia tampak kesakitan. "Kenapa Jae? Kepalamu sakit?" Tanggap dengan situasi, Yunho segera meraih botol berisi pain killer beserta segelas air putih di meja kecil sebelah
The Fifteen
ranjang. Lalu membantu Jaejoong meminum obatnya. Dokter memang sudah memberi peringatan, jika Jaejoong mungkin mengalami sakit kepala sebagai efek samping dari operasi itu. Dia boleh menggunakan pain killer untuk meredakan rasa sakitnya. Dengan dosis yang sudah diatur oleh dokter tentunya. "Sekarang istirahat dulu ya, Jae" Yunho sadar Jaejoong baru saja bangun dari koma dan masih membutuhkan banyak istirahat. Mengangguk, kemudian Jaejoong menutup mata dan membiarkan Yunho membenahi selimutnya. Setelah itu ruang rawat berubah hening. Yunho memandangi wajah Jaejoong lamat-lamat. Tangan kokohnya bergerak menggenggam satu tangan Jaejoong diranjang, tapi dengan cepat Jaejoong menarik lepas tangannya dari
The Fifteen
genggaman Yunho. Penolakan itu membuat hatinya serasa ditusuk-tusuk. Sakit rasanya. Tapi, Yunho bisa memaklumi. Jaejoong perlu waktu untuk mengenalnya lagi. Mirisnya, bahkan sekarang ini Jaejoong tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadapnya. Dia adalah orang asing dan benar-benar terlupakan. Jaejoong tidak lagi mengingat kisah meraka, juga tidak mencintainya lagi! Perasaan itu sudah hilang! Namun, Yunho bersyukur mereka masih diberikan kesempatan untuk bersama. Mengalahkan tragedi yang nyaris membuat keduanya terpisah. Dengan Jaejoong yang kehilangan ingatannya, Yunho tidak tahu kesulitan apa yang menanti mereka di depan sana. Tapi dalam situasi apapun, Yunho berjanji tidak akan meninggalkan Jaejoong. Sama seperti
The Fifteen
Jaejoong yang tidak meninggalkan sisinya ketika dia kehilangan ingatan. Yunho bertekad, akan menjaga dan berjuang membuat Jaejoong jatuh cinta lagi padanya. Karana Yunho yakin, dia tidak akan pernah menemukan cinta yang lebih besar, dari cinta yang pernah diberikan Jaejoong untuknya!
FIN
The Fifteen
One Of These Night Written by nyangiku
Aku terbangun dari mimpi.. Aku menemukanmu diantara bintang dilangit yang sedang bersedih.. Begitu jauh.. Aku masih belum bisa menjangkaumu..
*****
The Fifteen
Namja bermata musang itu menatap layar ponselnya dengan ekspresi datar. Sesekali dahinya berkerut memberikan tanda kalau ia sedang berpikir keras. Tak lama ia pun mendesah kesal. Matanya melirik ke arah lembaran brosur wisata pulau Jeju yang dia ambil dari seorang staff ketika ia sedang mengawasi pekerjaan mereka. “Kenapa aku berpikir begitu keras seperti sedang
meeting?
Padahal
kan
hanya
mengajaknya liburan saja. Jung Yunho pabbo!” setelah mengeluh namja itu pun kembali tersenyum. Tak sabar ingin bertemu sang kekasih untuk memberitahu tentang rencananya.
The Fifteen
“Aku harus pulang cepat sekarang dan menemuinya,” Yunho langsung mematikan laptopnya, mengambil jas yang disimpannya di sofa tamu ketika tadi masuk. Tak lupa mengambil kunci mobilnya dan segera meninggalkan ruangan menuju tempat sang kekasih berada.
*****
“Junsuie-ya aku bosan sekali..” namja berambut
blue
black
itu
menjatuhkan
wajahnya ke atas meja setelah sebelumnya menggeser minumannya agar tidak tumpah tersenggol olehnya sendiri. “Aku ingin pergi
The Fifteen
liburan. Tapi si beruang jelek itu, semenjak salah satu kantor cabang perusahaannya tiba-tiba bermasalah dia semakin sibuk. Bahkan
dia
sudah
jarang
pulang
ke
apartemenku.” keluhnya lagi. “Puk puk puk.. aku tahu persis rasanya. Tidak ada yang bisa kau berbuat lagi selain sabar, oke Jaejoongie?” Jaejoong
memanyunkan
bibirnya,
kekasih sahabatnya ini memang tidak pernah bisa memberikan solusi yang real. Jaejoong ingin saran yang real! Seperti misalnya, nekat pergi liburan sendiri keluar negeri meninggalkan
kekasihnya
yang
disibukkan oleh pekerjaannya itu.
sedang
The Fifteen
Biarkan saja dia dengan tumpukkan kertas pentingnya itu! menikah saja sekalian sana! “Tapi Jaejoongie..” Junsu menggantung kalimatnya membuat Jaejoong hampir saja menjitak kepalanya itu kalau saja ia tidak langsung melanjutkan kalimatnya. “Kenapa kau tidak pergi liburan sendiri saja? kurasa pergi diam-diam tidak akan masalah kan?” saran Junsu. Saran yang sebenarnya sempat singgah dipikiran Jaejoong tadi. “Aku inginnya sih begitu, tapi.. pergi liburan sendiri? Apa enaknya coba? Seperti orang
hilang
saja.
Sebal.”
membuang nafasnya kesal.
Jaejoong
The Fifteen
“Ya~ lalu kau inginnya apa?” Junsu mulai kesal.Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran namja cantik didepannya itu. “Aku ingin liburan!!”
*****
“Benarkah?” mata Jaejoong membulat ketika Yunho memberikannya selembar brosur tentang wisata pulau Jeju padanya. Meski awalnya tidak mengerti maksud Yunho memberikan itu padanya, tapi setelah Yunho bertanya, “Kau mau liburan kan? Bagaimana kalau kesini?” sambil menunjuk sebuah destinasi wisata pada brosur itu.
The Fifteen
“Sungguh kita akan liburan kesini?” Jaejoong mulai antusias. Di tariknya tubuh besar Yunho dan dipeluknya begitu erat. Padahal ini bukan liburan pertama mereka. Mereka sangat sering sekali pergi liburan bahkan hampir setiap hari menikmati hari-hari liburan sebagai sepasang kekasih yang begitu mesra dan membuat orangorang sekitar iri pada mereka. Semua tempat wisata lokal hampir mereka kunjungi bahkan beberapa tempat diluar negeri. Tapi entah kenapa kali ini perasaan Jaejoong amat begitu senang, meski Jeju bukan tempat asing untuknya. Karena Jaejoong pernah menginjakkan kaki disana jauh sebelum tempat itu terkenal
The Fifteen
karena menjadi
tempat
syuting
drama
romantic. Dan yeah Junsu punya hotel—ah, sebuah resort mewah disana. Jeju bukan tempat istimewa, tapi entah kenapa Jaejoong sangat senang sekali. Karena kali ini ia akan pergi bersama Yunho, mereka akan pergi berdua saja. Bukan dengan pesawat tapi menggunakan transportasi laut, bukan kapal pesiar atau bahkan kapal pribadi, namun sebuah kapal penumpang
biasa
dan
itu
merupakan
pengalaman pertama kali yang akan mereka lalui bersama. Mereka akan mengendarai mobil dari Seoul lalu penumpang!
menaiki kapal
The Fifteen
Bukankah itu akan sangat menyenangkan? Sungguh, ini pengalaman pertama bagi Jaejoong. Kapal Byeoul 15 namanya. “Aku sudah membeli tiketnya, tapi kalau kau mau naik pesawat tidak apa-apa akan kuberikan tiket ini pada orang lain. Atau kita gunakan kapal pribadi saja, bagaimana, hm?” tawar Yunho. Ia tak yakin sebenarnya Jaejoong mau menaiki kapal penumpang seperti itu, mengingat Jaejoong bukan orang biasa. Jaejoong memukul kepala Yunho gemas, ck
bahkan
Jaejoong
belum
diberikan
kesempatan untuk menjawab namja itu
The Fifteen
seenaknya saja mau memberikan tiket itu ke orang lain. “Aniii.. aku mau naik kapal itu, aku belum pernah naik kapal penumpang biasa, pasti akan seru bertemu berbagai macam orang. Aku tidak sabar Yunnie!” Jaejoong mencium pipi Yunho gemas. Dan Yunho pun tentu saja gemas dengan tingkah kekasihnya itu. Yunho pun tersenyum senang melihat sang kekasih kembali ceria setelah beberapa hari ini selalu memasang wajah kecewa akibat kesibukannya.
The Fifteen
Jujur saja melihat kekasihnya itu selalu terlihat murung dan sedih seperti itu sempat membuat kinerjanya menurun. Hatinya sakit melihat kesayangannya itu tak seperti biasanya selalu ceria dan menebar energy positif dimana pun ia berada. “Duuh.. kelinci putihku ini kenapa antusias sekali eoh? seperti tidak pernah liburan bersama saja. Ini liburan loh bukan bulan madu kita.” goda Yunho. Wajah Jaejoong seketika memerah mendengar kata ‘bulan madu’ OMO! Apa ini kode juga bahwa Yunho mau melamarnya? Tapi,,
The Fifteen
Tidak. Jangan percaya diri dulu. Bukankah
masih
‘pernikahan’
jauh
sedangkan
sekali
pada
mereka
baru
menjalin hubungan pacaran 2 tahun? Dan lagi..
Ah
sudahlah..
sebentar
jangan
dipikirkan dulu Jae! FOKUS pada liburannya saja! Kapan lagi bisa berdua, dan hanya berdua
bersama
beruangnya
itu
tanpa
gangguan Junsu atau kekasih playboynya itu. “Bagaimana aku tidak senang? Kau kan selalu sibuk akhir-akhir ini dan aku seperti anak
kucing
yang
terbuang,
butuh
kehangatan dan kasih sayang dari seorang
The Fifteen
majikan.
Tadinya
bahkan
aku
sempat
berpikir untuk pindah apartemen diam-diam karena kau bahkan jarang pulang kesini! Menyebalkan!” dengus Jaejoong sebal. “Omo! Anak kucingku sedang marah.. kalau begitu aku tidak jadi memberikannya ini,” Yunho menunjukkan sebuah kotak berwarna merah dengan ukiran lambang diatasnya. Lambang yang sudah Jaejoong hafal diluar kepala. CARTIER! Jerit Jaejoong dalam hati. “Kenapa?? Kau mau memberikannya padaku kan? Jadi itu sudah jadi milikku kenapa
diambil
lagi?!”
kata
Jaejoong
percaya diri. Padahal jelas-jelas Yunho baru
The Fifteen
menunjukkan kotaknya dan bahkan belum memberikannya pada Jaejoong. “Popo..” Yunho menunjuk bibirnya. Tanpa
pikir
panjang
Jaejoong
pun
memajukan bibirnya dan malah mencium pipi kiri Yunho. “Eoh,
kau
menginginkan
benar-benar
ini
hm?”
goda
tidak Yunho.
Kucing manisnya ini sedang ingin bermainmain rupanya. “Aku mau!” “Kalau begitu popo yang benar!” suruh Yunho tegas. Tanpa pikir panjang Jaejoong pun
mencium
bibir
kissable
Yunho.
Menciumnya dengan lembut dan penuh
The Fifteen
kasih sayang sampai namja bermata musang itu mengambil alih dan membuat ciuman itu berubah menjadi panas dan penuh gairah. Setelah
beberapa
saat
Yunho
pun
melepaskan ciuman Jaejoong. Di usapkan bibir
plum
jempolnya.
itu
lembut
Dikeluarkannya
menggunakan lagi
kotak
Cartier tadi dan langsung dibukanya didepan Jaejoong sampai mulut si cantik itu terbuka lebar selebar kedua matanya yang juga terkejut. I-ITUKAN.. Itu kan cincin pernikahan? Jaejoong menjerit dalam hati. Oh sebentar, apakah
The Fifteen
Tuhan baru saja mengabulkan kata-katanya tadi soal pernikahan? “Kau tahu kan cincin ini sayang? Lalu.. masih
perlukah
aku
mengatakan
maksudnya?” tanya Yunho. Namja itu memang selalu saja to the point. Tapi jujur, walau ini mengejutkan tapi ini romantis. Mungkin sebuah
orang
lamaran
lain
yang
mendambakan
sangat
romantis
dengan bunga-bunga yang banyak atau sebuah makan malam privat di tepi pantai, tapi bagi seorang Kim Jaejoong lamaran ini adalah yang paling indah dan romantis sedunia, karena ia tahu, Yunho bukanlah seseorang yang clingy dan penuh rayuan gombal.
The Fifteen
Dan inilah salah satu alasan betapa Jaejoong menyukai—mencintai Yunho yang selalu mengerti Jaejoong dan memberikan apapun yang bahkan tidak Jaejoong minta. Yunho memberikan seluruh dunianya kepada Jaejoong, membuat Jaejoong merasa begitu dicintai dan diberkati. Jaejoong yang masih terkejut akhirnya menitikan air mata. Entah kenapa air mata itu keluar begitu saja dari kedua matanya padahal Jaejoong tidak ingin menangis. TENTU SAJA DIA AMAT BAHAGIA. Tapi kenapa ia malah menangis? Tuhan tolong! Jaejoong ingin tersenyum, bukan menangis jelek seperti ini HUAAA!!
The Fifteen
Yunho mengambil satu cincin itu dari kotaknya, diraihnya tangan kiri Jaejoong dan ia sematkan cincin indah itu di jari manis kekasihnya. “Aku mau kita menghabiskan waktu bersama sampai tubuh ini renta. Tidak ada yang bisa memisahkan kita, bahkan maut sekalipun.. Bahkan jika salah satu diantara kita mati lebih dahulu, aku ingin kita tetap bersama dan setia satu sama lain.. aku mau menjagamu
bukan
sekedar
menjadi
kekasihmu saja. Aku akan melindungimu dalam
situasi
mempertaruhkan
apapun
meski
nyawaku
harus
untukmu.
Kekasihku.. Apa kau mau menjadi milik Jung Yunho seutuhnya, Kim Jaejoong my
The Fifteen
whole world?” tanya Yunho dengan gentle dan mantap tanpa ada keraguan sedikitpun dalam matanya. Matanya
tajam
menatap
Jaejoong,
membuat namja cantik itu bahkan tak sanggup untuk berkedip. Aura Yunho begitu mendominasi seakan membuat Jaejoong terkunci ditempat dan tak bisa berkutik. “Lalu aku akan bangun setiap pagi membuatkan
sarapan
untukmu
dan
menunggu sampai malam tiba untuk tidur bersamamu sampai esok hari lagi. Tentu saja aku akan menemanimu kemanapun dan sampai kapanpun dan apapun yang terjadi. Tentu saja aku mau.. kesayanganku.. Jung Yunho..”
The Fifteen
Yunho
tersenyum
lega.
Diciumnya
tangan Jaejoong juga cincin yang tersemat dijari lentik itu. Sangat pas dan sangat cantik melingkar disana. “Terima kasih, Kim Jaejoong. Jung Yunho mencintaimu.. sangat mencintaimu.. jangan pernah tinggalkan aku.. atau aku bisa mati..” “Aku juga mencintaimu, Jung Yunho pabbo ! haish kau sungguh cringe hari ini, tapi aku sukaaaa. Sangat sukaa!!” Yunho tersenyum lebar sambil memeluk erat Jaejoong. “Aku juga,” “Jadi..kalau kita bulan madu sekarang, apa boleh?”
The Fifteen
“Ya,
apa
maksudmu
bulan
madu
duluan?” “Kita tidur bersama sampai esok pagi!” “YA mesum! lepaskan aku beruang mesum!!” “Aku tidak akan melepaskanmu karena tadi kau sudah berjanji akan menemaniku apapun yang terjadi.” “YAAA!!Tapi aku—aku YA!”
*****
Hari yang Jaejoong tunggu pun tiba. Hari dimana ia akan merasakan pengalaman baru
The Fifteen
dalam hidupnya yaitu naik kapal laut. Junsu terlihat menangis bombay sambil memeluk Jaejoong.
Hidungnya
memerah
dan
mengeluarkan ingus, yeah.. Kim Junsu is crying. Dasar bayi itu memang cengeng. “Aku kan hanya akan naik kapal feri, bukan hendak pergi perang Suie.. oh ayolah hentikan tangisan jelekmu itu,” Jaejoong kembali memeluk Junsu lalu mengelus pelan punggung sahabatnya itu. “YA! enak saja aku tidak jelek! Huhuhu.. tapi Joongie, aku tidak tahu kenapa aku menangis seperti ini huhuhu.. sepertinya aku senang karena akhirnya si beruang jelek itu membawamu liburan juga, tapi sepertinya aku juga sedih karena dia melamarmu
The Fifteen
duluan dibandingkan denganku dan si lakilaki tukang mabuk itu. Huaaaa!” Jaejoong terkekeh geli. “Si tukang mabuk itu kekasihmu loh, jangan seperti itu.” Junsu cemberut dalam pelukan Jaejoong, bukannya melepaskan pelukan itu, ia malah menambah erat pelukannya. Yunho yang melihat tingkah aneh Junsu hanya bisa menghela nafas pasrah, bahkan kekasihnya pun gagal membujuknya. “Oh ayolah Suie sayangku, nanti aku tertinggal kapalnya,” bujuk Jaejoong lagi. Bersamaan rombongan
bus
dengan berisi
itu
terlihat
anak
sekolah
The Fifteen
menengah akhir pun mulai berdatangan, jaejoong tersenyum melihat para siswa itu terlihat begitu cerah dan bersemangat. Setelah beberapa saat akhirnya Junsu mau melepaskan pelukannya. “Maaf ya sudah menyita waktu kalian sebentar, entah kenapa si duckbuttku ini memang sedang manja-manjanya,”` “Hahaha,
mungkin
mengidam?”
Jaejoong
dia
sedang
mengedipkan
matanya jahil kearah Junsu. Junsu yang sadar pun langsung memukul punggung Jaejoong kesal. “YA! JAGA BICARAMU!”
The Fifteen
“Hahaha! Oke aku hanya bercanda. Jadi bisakah
kami
pamit
sekarang?”
tanya
Jaejoong sekali lagi, melihat Junsu seperti ini sebenarnya sedikit membuatnya sedih. Walau kadang Junsu ceplas ceplos dan menyebalkan
tapi
Junsu
tetap sahabat
terbaiknya. Junsu mengangguk dan membiarkan sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta itu masuk kembali ke dalam mobilnya menunggu antrian masuk ke dalam kapal feri dihadapan mereka. Dan Junsu bersama sang kekasih pun ikut berlalu dari sana. “Tumben sekali Junsu bertingkah seperti anak TK begitu hahaha,” Yunho tertawa geli sambil memasang seatbeltnya, kemudian
The Fifteen
membantu
kekasihnya
memasang
seatbeltnya juga. “Aku tidak yakin sih, tapi apa yang kuucapkan tadi bisa jadi benar loh,” Jaejoong tersenyum kecil sambil menatap kagum kapal feri didepannya. “Maksudmu? Apa maksudmu?” tanya Yunho heran. Sebentar.. jangan bilang.. “Junsu hamil begitu?” mata musang itu membulat
seketika
mengangguk
dengan
tersenyum jahil. “Oh astaga..”
ketika mantap
Jaejoong sambil
The Fifteen
“Hahaha! Penasaran sekali bukan reaksi si jidat lebar itu bagaimana nanti saat dia tahu kebenarannya,” “Kita harus mengabadikan ekpresinya kalau begitu. Hahaha!” Gerbang kapal feri bertuliskan nama BYEOL 15 itu pun mulai terbuka perlahan pertanda kalau mobil mereka bisa segera masuk ke dalamnya.
*****
Aku kira suara ribut itu hanyalah mimpi yang menganggu nyenyaknya tidurku malam itu. Tidur kami berdua terusik, suara riuh
The Fifteen
dan panik semakin terdengar tak terkendali hingga suara dari pengeras suara pun terdengar dan membuat kantuk kami hilang detik itu juga. “KEPADA SELURUH PENUMPANG KAPAL BYEOL 15 DIBERITAHUKAN KEPADA SEULURUH PENUMPANG BAHWA
TELAH
TERJADI
KESALAHAN TEKNIS PADA MESIN KAPAL. SELURUH AWAK KAPAL SEDANG
BERUSAHA
MEMPERBAIKINYA
UNTUK SECEPAT
MUNGKIN. KARENA KAPAL AKAN MENGALAMI
SEDIKIT
KEMIRINGAN, JADI DIHARAPKAN KEPADA
SELURUH
PENUMPANG
The Fifteen
UNTUK TIDAK PANIK DAN DIAM DITEMPAT SAMPAI
MASING-MASING KAMI
MEMBERIKAN
INSTRUKSI SELANJUTNYA. TERIMA KASIH.” “Yun, apa yang terjadi? Kenapa diluar malah ribut sekali?” Jaejoong terlihat pucat pasi mendengar pengumunan itu, walau bagaimanapun ini pengalaman pertamanya naik kapal, mendengar seperti itu tentu membuatnya takut. “Sepertinya kapalnya bermasalah, aku akan mengeceknya keluar. Sayang, kau tunggu
disini
sebentar,
oke?”
Yunho
memakai sweaternya buru-buru sebelum
The Fifteen
pergi
ia
sempatkan
mengecup
kening
tunangannya itu untuk membuatnya tenang. Ketika membuka pintu terlihat beberapa orang berlarian dengan wajah panik, kapal bergoyang tiba-tiba dan benar saja kapal mulai miring. Untung saja Yunho bisa menahan beban tubuhnya sehingga ia tidak terjatuh seperti yang lain. Dengan susah payah yunho berjalan sambil menempelkan telapak tangannya pada dinding sebagai tumpuan agar ia tidak terjatuh. Yunho berjalan menyusuri lorong sepi itu, tak terlihat banyak orang yang berlarian di lorong itu, semua pintu tertutup seakan tak tahu apa yang sedang terjadi. Bahkan Yunho samar mendengar tawa dari beberapa
The Fifteen
kamar yang sepertinya di isi oleh rombongan anak sekolah. “Maaf
permisi,
apa
yang
terjadi
sebenarnya?” tanya Yunho kepada salah satu penumpang yang sedang sibuk memakai life jacket digeladak depan. Penumpang itu tak menjawabnya, yang terlihat hanya wajah pucat pasi dan tentunya sambil ia panik sampai memakai pelampung semudah itupun terlihat kesulitan sekali. Bukan hanya orang itu, tapi ternyata lebih banyak orang berlarian panik disini. Yunho mencoba melihat ke bawah laut dari sisi lain, terlihat awak kapal sedang mencoba menurunkan sekoci. Yunho yakin ada yang tidak beres disini. Terdengar suara
The Fifteen
seperti pancuran air yang begitu deras dari sisi lain kapal ini. Beberapa orang yang sudah memakai pelampung malah ada yang mencoba untuk melompat ke laut. “Kapal! Mesin kapal meledak air mulai masuk kedalam kapal ini! cepat selamatkan dirimu!” teriak salah satu awak kapal, yang kemudian menceburkan dirinya ke laut. “Apa?! JAEJOONG!” Yunho tak peduli dengan miringnya kapal yang mulai sedikit terasa.
Tujuannya
saat
ini
adalah
menyelamatkan kekasihnya dari bahaya.
The Fifteen
Sementara
itu
Jaejoong
didalam
kamarnya terlihat cemas, apalagi saat ada guncangan tadi. Perasaannya tidak enak, maka dari itu ia mulai memasukan barangbarang pentingnya ke dalam tasnya untuk berjaga jika benar terjadi sesuatu. Waspada tidak ada salahnya kan? Dan bersamaan dengan itu ia merasakan kapal terasa semakin miring dan pintupun terbuka menampilkan Yunho yang terengahengah dengan keringat mengucur dari dahinya serta wajah yang pucat pasi. “Oh Tuhan! Ada apa sayang?” tanya Jaejoong panik. Yunho menarik tangan Jaejoong lalu memeluknya erat sekali.
The Fifteen
“SEKALI
LAGI
KEPADA
SELURUH
PENUMPANG
TETAP
DIAM
DITEMPAT
MENUNGGU
TIM
PENYELAMAT
TIBA.
KALIAN
MAKA
JIKA
KAPAL
AGAR
BERGERAK
AKAN
SEMAKIN
MIRING. SEKALI LAGI AGAR TETAP DIAM DITEMPAT DENGAN TENANG SAMPAI TIM PENYELAMAT TIBA.” Jaejoong membulatkan kedua matanya ketika Yunho memberitahu kabar yang bahkan
tidak
sebelumnya.
pernah
ia
bayangkan
The Fifteen
“Dengar sayang, kapal ini bocor dan air sudah mulai masuk dengan deras, aku melihatnya
sendiri!
Kita
harus
menyelamatkan diri kita secepat mungkin,” “Tapi Yun, mereka bilang agar tetap diam ditempat?” “TIDAK! orang diluar sana sudah mulai menyelamatkan diri mereka sendiri. Tim penyelamat memang akan datang, tapi dengan air sederas itu aku tidak yakin mereka akan datang tepat waktu—“ “—maksudmu?” “Kita harus segera menyelamatkan diri kita.”
The Fifteen
Jaejoong mengangguk tanpa menjawab Yunho.
Keselamatan
mereka
yang
terpenting, setidaknya jika pun mereka harus menceburkan diri ke
laut, itu lebih baik
daripada mati terbakar dikapal ini. Mereka berdua berjalan susah payah menyusuri lorong yang terlihat sepi dan kemiringan kapal yang semakin curam. Hingga langkah Jaejoong terhenti saat melihat seorang siswa keluar dari salah satu kamar. Ia terlihat sedang berdebat dengan temannya. “YA! mereka bilang kita harus diam disini menunggu bantuan tiba!”
The Fifteen
“Kau mau menunggu sampai mati? Tidak lihat kapal ini semakin miring?” “Lalu kita harus pergi kemana?!” “YA
TENTU
SAJA
MENYELAMATKAN DIRI BODOH!” Yunho menghampiri kedua siswa yang sedang berdebat itu, “Dengar, temanmu ini benar, kalian harus menyelamatkan diri. Bantuan akan tiba lama karena kita berada ditengah mengeratkan
laut!”
Jaejoong
pegangan
tangannya
terlihat pada
Yunho. Jujur saja Jaejoong sangat takut, meski ia yakin kalau ia akan selamat meskipun harus
The Fifteen
menceburkan diri ke laut, setidaknya skill berenangnya bukan skill dasar. “Ikut dengan kami atau tidak sama sekali!” Yunho menarik tangan Jaejoong untuk segera menuju geladak dan memakai jaket pelampung yang tersisa. Semoga saja sekoci pun masih tersedia. Siswa sekolah tadi terlihat mengikuti Yunho dan Jaejoong, hanya seorang dan bisa ditebak temannya yang lain memilih untuk tetap berdiam diri dan menunggu. Siswa itu terlihat terkejut karena beberapa dari temannya yang berada dikelas lain bahkan sudah menaiki sekoci. Bagaimana mungkin temannya yang lain malah memilih untuk berdiam diri saja?
The Fifteen
Mempercayai perkataan kru kapal yang bahkan
mereka
sendiri
pun
sibuk
menyelamatkan diri mereka sendiri. Yunho pun menemukan dua pelampung yang tersisa dan memberikannya kepada siswa tersebut dan juga Jaejoong. Siswa itu tampak ragu, raut wajahnya terlihat sedih dan kesal bercampur menjadi satu. “Bagaimana
mungkin
aku
menyelamatkan diriku sendiri.. sedangkan temanku yang lain—“ Yunho menarik lengan siswa itu sebelum ia nekat lari dan kembali ke dalam kapal. “Selamatkan dirimu dahulu,”
The Fifteen
“Sayang, kau naik duluan oke? aku akan menyelamatkan siswa yang lain,” ucap Yunho kemudian mengecup lama kening kekasihnya yang terliaht sedang berkacakaca menahan tangis. “Tapi Yun..” “Sayang, aku janji akan kembali, aku akan
menyusulmu.
Kita
akan
selamat
bersama, oke?” “Jung Yunho!” “Kim Jaejoong kumohon.. aku tidak mungkin membiarkan mereka berdiam diri disana menunggu tenggelam bersama kapal ini!” “Tapi Yun..”
The Fifteen
Tidak rela, tentu saja. Tapi bahkan seorang Kim Jaejoong pun tidak bisa mencegah seorang Jung Yunho yang selalu mementingkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri, menempatkan dirinya dalam bahaya. Jaejoong menarik tengkuk kekasihnya lalu menciumnya sambil menangis tersedu, melupakan
eksistensi
siswa
dihadapan
mereka yang terpaksa harus menyaksikan adegan romantis namun menyedihkan. Jujur saja Jaejoong tak ingin melepaskan ciumannya, juga si empunya bibir heart shape itu. Tapi Yunho tidak bisa dilawan olehnya yang lemah dimabuk cinta.
The Fifteen
“Yun.. berjanjilah untuk kembali,” “Ya, tentu saja aku akan kembali pada kekasihku ini,” “Yun.. berjanjilah kau akan selamat,” “Tentu saja sayang, kau lupa siapa Jung Yunho? Kau hanya perlu menungguku didaratan. Aku akan menjemputmu disana, dan kita akan kembali bersama. Aku Jung Yunho berjanji,” “Jaga kekasihku,” ucap Yunho pada siswa
itu
sesaat
sebelum
ia
berlari
meninggalkannya bersama Jaejoong. Siswa itu pun dengan sigap menarik lengan Jaejoong untuk menaiki sekoci yang sialnya terakhir ada dikapal itu.
The Fifteen
Tangis Jaejoong kembali pecah melihat punggung Yunho perlahan menjauh. Sekoci yang Jaejoong naiki pun mulai menjauh dari kapal feri tersebut. Namun naas kejadian yang tak terduga pun terjadi didepan matanya. DUAAARRR!! “YUNHOOOOO!!!” “AAAAAAAA!!” Berpasang-pasang menyaksikan kembali
kapal
mata
membulat
tersebut
menghasilkan
asap
meledak yang
membumbung tinggi, sekoci mereka bahkan terhempas ombak dampak dari ledakan itu.
The Fifteen
“JUNG YUNHO KU, LEPASKAN! LEPASKAN AKU!” Jaejoong menangis histeris. Ia tak henti meneriaki nama Yunho, kedua tangannya dipegangi. Ia memberontak dan berusaha untuk melompat dari sekoci hingga beberapa orang pun mencoba untuk menenangkannya. Jaejoong
merasakan
sesak
didada,
hantaman keras menghujam jantungnya, Jung Yunho nya! JUNG YUNHONYA MASIH DISANA!
*****
The Fifteen
‘Hari kelima belas pencarian korban kapal tenggelam Byeol 15. Pencarian diperluas,
tim
penyelam
kembali
melakukan penyelaman untuk mencari kemungkinan korban terjebak didalam bangkai kapal. Bantuan kapal perang Amerika Serikat akan tiba sore ini untuk mengangkat bangkai kapal.’ ‘Daftar korban Kapal Feri Byeol 15 yang tenggelam akibat ledakan bertambah. Sekarang total siswa Shinki High School yang menjadi korban tewas bertambah menjadi 215 orang, 20 orang siswa dan 15 orang dewasa dinyatakan hilang.’ .
The Fifteen
. . “Jaejoongie.. kumohon ayo kembali ke rumah sakit, kondisi kandunganmu.. belum stabil..” Junsu terlihat menghela nafasnya begitu berat. Hatinya bergitu sakit melihat sahabatnya kini seperti mayat hidup, ia enggan makan,
hanya minum sesekali.
Memberontak dan kabur ke tempat ini, menunggu dan menunggu secercah harapan yang mungkin saja hanya sebuah angan belaka.. Junsu tidak tahu lagi bagaimana harus bersikap. Ia pun terluka, ia pun sedih. Bahkan ratusan orang disini pun merasakan
The Fifteen
hal yang sama, kehilangan cahaya hidupnya. Kehilangan seseorang yang amat berarti dalam hidupnya. Kehilangan anak, kakak, adik, ayah, ibu.. dan kekasih.. Bagaimana pun, musibah kecelakaan ini memang diluar kuasa manusia. “Yunho sudah berjanji akan selamat.” ucap Jaejoong lirih. “..ia sudah berjanji padaku.. pada kami.. aku dan anak kami..” Air mata kembali menetes dikedua mata Jaejoong yang telah hilang cahayanya. Junsu kembali menangis terisak meratapi nasib sahabat sekaligus sepupunya ini..
The Fifteen
Kenapa? Kenapa?
*****
Aku tidak akan mengucapkan ‘selamat tinggal’ sebagai salam perpisahan yang canggung. Saat
aku
berbalik
dan
pergi
meninggalkanmu yang terasa jauh.. aku tahu, kau pasti akan pulang kembali padaku.. tentu saja karena kau sudah berjanji padaku.. Dalam waktu yang bersamaan.. hanya sebentar
The Fifteen
Dalam ruang yang sama.. Jung Yunho sayang, apa kau kedinginan disana? Apa kau sedang berenang sangat jauh sehingga lama sampai kesini? Waktu terasa singkat bagiku, semua momen seakan terhenti untukmu dan aku.. mengapa aku tidak menyadarinya, kalau itu adalah keajaiban? Aku tidak ingin menghentikan hari itu dengan cerita lama kita.. Aku ingin kisah kita terus berlanjut bahkan sampai tiada lagi halaman buku yang tersisa untuk kita.. Aku sangat sedih, sakit hati.. lebih lama sakitnya saat jauh darimu. Dibandingkan
The Fifteen
saat kita bersama saling mencintai jauh melewati galaksi. Aku melintasi kenangan putih kita, aku tidak ingin melihatmu dalam mimpi.. Jadi, ayo kita kembali bersama lagi, bertemu di suatu malam.. Lima belas hari kau meninggalkanku tanpa kabar.. aku masih ditempat yang sama bahkan ketika aku mengganti halaman kalenderku. Malam kelima belas ku menantimu ditempat yang sama.. Tentu saja aku tahu, kau akan datang padaku..
The Fifteen
Jaejoong
tersenyum
bahagia
saat
dilihatnya sosok Yunho berdiri sambil tersenyum padanya. Mengulurkan tangannya untuk diraih oleh Jaejoong. Dibawanya Jaejoong berjalan menelusuri lorong yang dipenuhi air namun terang oleh cahaya. Hingga langkah Yunho terhenti disebuah pintu, dan dibukanya pintu itu.. sebuah taman indah dihadapannya. Penuh beragam jenis bunga berwarna warni, banyak orang didalamnya, berpakaian putih sama seperti Yunho dan dirinya. Mereka tertawa riang, tanpa beban. Mereka semua bahagia. Termasuk mereka berdua.
FIN
The Fifteen
Malam Dimana Kita Semua Hilang Written by Connoiseanrs
Malam gelap, sunyi akan suara manusia namun penuh akan nyanyian malam para hewan
kecil.
Dalam
kesunyian semua
pikiran terlintas. Semua hal menjadi sangat konyol, terjebak dalam situasi yang tidak menyenangkan. Di tempat ini, disituasi dan momen yang sama, ia terjebak mengenang
The Fifteen
ingatan paling menyakitkan. Penyesalan selalu datang paling akhir, yang bisa dilakukan hanyalah menyesal dan merintih dalam
kepedihan
melihat
orang
lain
menemukan kebahagiaan. Jaejoong menahan semuanya dalam diam, kira-kira 15 langkah dari tempatnya duduk menatap
kesunyian
basecamp,
Yunho
tampak bahagia dengan Wanitanya yang juga adalah teman Jaejoong. Ia bahagia melihat Yunho bahagia tetapi dia juga merasakan sakit. Mereka sangat sempurna bersama, abaikan wanita itu memiliki rekor hubungan yang tidak terhitung.
The Fifteen
Baik
dia
dan
semua
orang
yang
mengenal wanita itu, sangat tau betapa sifat ularnya memanipulasi dan memanfaatkan laki-laki. "Sayang, kan sudah kubilang jangan mabuk. Lihat dirimu, mabuk seperti orang bodoh." Kata Lena. Memasang wajah marah yang masih saja membuatnya terlihat cantik. Untuk
ke
sekian
kalinya,
jaejoong
merasakan rasa iri yang semakin menjadijadi. Sesaat dia membayangkan berada di posisi itu. Yunho mengerang pelan, "Ini sangat memalukan." kesadaran Ingatan
yang tentang
Mengumpulkan bisa
semua
dikumpulkannya.
perbuatan
memalukan
The Fifteen
masuk beruntun membuat kepalanya sakit. Dia melihat ke arah Yoochun yang tertidur seperti orang mati di atas matras tanpa Kantung
tidur
yang
menghangatkan.
Setidaknya dia tidak muntah-muntah seperti si jidat lebar. "Lain kali jangan minum alkohol, kau benar-benar
sangat
menyebalkan
saat
mabuk." Sambung Jaejoong. Melemparkan senyuman geli yang tidak akan bisa dilihat oleh siapapun. Dia berusaha menekan perasaannya sebaik mungkin. "Le, ikat pacarmu
agar
tidak
mabuk
bodoh."
Lanjutnya. Heechull yang berada dalam tenda menendang pantat Jaejoong, dia teman se-tenda Jaejoong.
The Fifteen
Heechull adalah saksi perasaan Jaejoong pada Yunho, dia adalah saksi bagaimana perasaan yang ditekan sebaik mungkin meluap, mengingat betapa mudahnya yunho berpaling kepada orang lain setelah ada jarak antara dirinya dan Jaejoong. "Dasar bodoh." Keluh Heechull. Dia ingin memukul kepala Jaejoong—jatuh cinta pada Yunho tapi tidak bisa mengatakan yang sebenarnya karena tau Ian teman baik Yunho jatuh cinta pada Jaejoong dengan sangat jelas. Padahal
keduanya
jelas-jelas
berbagi perasaan yang sama. "Diamlah Hee." Desis Jaejoong.
saling
The Fifteen
Dalam pelukan lena, Yunho mencari kehangatan dalam pelukan pasangannya. Sangat jelas mabuk dalam hubungan baru, begitu mudah melupakan sedikit konflik antara dirinya dan Jaejoong. Jaejoong mengambil tempat ditengahtengah Camp yang dibuat, Yoochun tidur tidak jauh dari belakangnya dan didepannya siwon (Pacar Kibum) tertidur sembarangan karena mabuk. Semua karena alkohol, bahkan Kibum tidak peduli bahwa Siwon tidur diluar. Dia dengan jelas tidak peduli, siwon telah melanggar ucapannya. "Yun bisakah kau menyalakan api? Disini sangat dingin." Katanya. "Sepertinya kita masih punya parafin."
The Fifteen
Setidaknya, Yunho masih sama dalam bersikap disekitarnya. Kibum keluar dari tendanya mengambil tempat disamping Jaejoong, mengabaikan pacarnya yang tidur tidak jauh dari posisinya saat ini. Tidak berselang beberapa detik Heechull yang telah lelah akan kebodohan temannya mengambil tempat disamping Jaejoong juga. Ketiganya duduk berdampingan, tidak mencari kemana si cerewet kim Junsu pergi. Biasanya dia akan menyelinap pergi ke tenda lain dan mencari beberapa kenalan. Sehingga Yoochun benar-benar diabaikan. Semua yang datang untuk berkemah adalah
The Fifteen
pasangan kekasih, menyisakan Jaejoong seorang dalam kesendirian romantisme. Jaejoong tidak memeriksa jam, dia terpaku dalam pikirannya. Teman-temannya satu
persatu
Menyisakan
bersama dirinya
pasangannya. sendiri
dalam
kehampaan dan perasaan yang sama untuk satu orang. Tanpa sadar jaejoong mengambil posisi duduk jauh dari Teman-temannya, memasang earpods dan mulai memainkan lagu favoritnya. Dalam
imajinasi
kepalanya,
ia
merenungkan semuanya. Dari semua hal yang pernah terjadi, satu hal selalu menjadi yang terburuk yaitu perasaannya. Ketika hatinya memilih seseorang, waktu antara
The Fifteen
mereka tidak mengijinkan. Ketika seseorang membiarkan seseorang jatuh cinta padanya, waktu kembali mengacaukan semuanya. Tidak ada yang benar-benar memilihnya. Fisiknya tidak sempurna, pipi chubby, perilaku yang biasa saja, membuat orangorang menjauh darinya. Jangan lupakan tubuhnya yang sedikit berisi. Iri adalah sifat alami manusia, itulah yang mendominasi kepala Jaejoong. Ingin menangis tapi air mata telah kering meratapi nasib cintanya yang tidak pernah beruntung. Dia lelah menggunakan perasaan, perasaan selalu mempermainkannya. Entah kapan waktu memberikannya kesempatan untuk merasakan hatinya lengkap. Keping demi
The Fifteen
keping berceceran entah dimana, tidak menyisakan sedikit pun untuk dirinya sendiri. Ah, konyol. Karena sebenarnya tidak pernah
ada
yang
memberikan
cinta
kepadanya, itu sebabnya hatinya terasa hampa, kosong dan tidak memiliki tujuan. Perasaannya menghilang secara perlahan karena dunia dan waktu yang membencinya. Lantunan
melodi
lembut
yang
dinyanyikan oleh Yunho yang berada tidak jauh membuat Jaejoong kembali kehilangan kepingan bahagianya. Lagu yang diputarnya tidak lagi didengarkan dan malah terfokus pada suara lembut Yunho. Ini adalah pengantar
tidur
yang
sempurna.
Dia
bergegas kembali ke tendanya, menarik
The Fifteen
Sleeping Bag, menutup kepala dengan topi dan mulutnya dengan masker. Tidak akan ada satupun yang akan mengenalinya. Bersama dengan lantunan lembut itu, jaejoong meringkuk dalam dingin malam yang menyengat. Tuhan, jika perasaan sama sekali tidak cocok untuk orang sepertiku. Ambil saja semua perasaan dan jangan meninggalkan setitik pun. Karena pada akhirnya hanya diriku sendiri yang dipermainkan oleh waktu. Doa jaejoong sebelum masuk ke dalam tidur tanpa mimpi. Di luar tidak ada satupun yang menyadari Mereka
hilangnya memiliki
hal
sahabat
mereka.
yang
penting
The Fifteen
dibanding teman yang tidak dicintai oleh waktu. ***** Pagi tiba tapi langit menangis dengan lambat, Jaejoong terbangun dari tidur lelap tanpa mimpinya. Udara sangat dingin, kabut terlihat dengan sangat jelas. Dia menyadari satu hal, teman-temannya enggan untuk keluar
dari
kehangatan
Tenda yang
mereka. menahan
Mencari siapapun.
Bagaimana pun mereka harus bangun. Ia mengerutkan dahi dan makian keluar dengan lembut.
The Fifteen
Orang yang pertama keluar dari tenda adalah Yunho, dia hanya menggunakan manset tangan membiarkan dada bidangnya dipamerkan. Celana selutut membingkai pinggang bagian bawahnya. "Oh, J—selamat pagi." Sapanya dengan wajah bantal dan suara serak. Sudah menjadi hal biasa bagi orangorang yang sering berkemah untuk melihat para dominan memamerkan tubuh bagian atas. "Pagi." Jawab Jaejoong singkatnya. Tubuhnya terbalut sweater abu-abu hitam dengan kerah tinggi. "Yunho, apa kau akan turun ke bawah?" Tanyanya. "Ya." Jawab Yunho dengan tangan memeluk
dadanya
setelah
merasakan
The Fifteen
sengatan dingin pada kulitnya. "Mau ikut? Aku akan buang air dan membeli beberapa tisu." Lanjutnya dengan wajah santainya. Dia segera menjulurkan tangan ke dalam tenda, mengambil kaus dan raincoat untuk menghangatkan tubuhnya. "Aku
ikut.
Perutku
sakit
dan
membutuhkan beberapa mie instan serta air minum." Kata Jaejoong. Semalam dia tidur sendirian, Heechull entah terdampar dimana tapi kemungkinan bersama pacarnya. Sial. Hanya dirinya sendiri yang tidak memiliki pasangan, begitu menyebalkan tapi inilah zona ternyamannya. "Ok." Yunho masuk kembali ke dalam tendanya, mengambil dompet
sekaligus
The Fifteen
bertanya kepada pacarnya apakah ada yang perlu dibeli selain tisu. Udara
yang
membentuk
keluar
asap,
dari
dingin
mulut
benar-benar
mencekam. Setelah siap keduanya bergegas untuk menuju area parkir untuk pergi ke perkampungan
terdekat.
Tempat
yang
mereka gunakan untuk berkemah adalah tempat
yang
menenangkan
biasa diri.
digunakan
untuk
Pemandangan
yang
tersaji adalah pengunungan yang mengapit lautan luas. Sekitar camp masih hijau sehingga pemandangan yang begitu alami terpampang nyata. Beberapa kali Jaejoong terpeleset tetapi tidak mengatakan apapun. Butuh 15 menit
The Fifteen
untuk sampai ke lokasi Kendaraan di Parkir. Keduanya segera bergegas, untuk masuk ke dalam mobil Yunho. Hujan, semakin lebat semakin deras hujannya. Keduanya masih tidak mengatakan apapun. Jaejoong sama sekali tidak nyaman tapi dia tidak bisa mengharapkan apapun. Mereka tidak lagi berada disituasi yang menyenangkan. Yunho secara sadar mencuri pandang ke arah Jaejoong, "—sudah lama sejak terakhir kali
kita
bertemu."
Kata
Yunho.
Hubungannya dengan Lena sudah berjalan setidaknya seminggu, mereka melakukannya dengan baik. Rasanya sangat menyenangkan memanggil seseorang dengan panggilan sayang, memeluknya saat bersikap manja
The Fifteen
dan hal lainnya yang membuat hubungan semakin erat. "Huh?" "Uhmmm... yeah." ***** 7 Hari sebelumnya Jaejoong menunggu didepan rumahnya dengan wajah cemberut, malam ini untuk merayakan pesta ulang tahun siwon, semua teman dekat akan berkumpul di pantai. Berkemah dipantai dengan api unggun dan petikan gitar adalah hal menyenangkan yang bisa menghilangkan stres dari pekerjaan. Tidak ada yang lebih baik dari itu.
The Fifteen
Saat ini, ia sedang menunggu Yunho untuk datang menjemput. Dan setelah 30 menit menunggu pria itu tidak kunjung datang. Sangat menyebalkan. Hal paling menyebalkan adalah menunggu. Seperti dirinya yang selalu menunggu Yunho untuk mengerti jika Ian bisa menerima jika mereka benar-benar berkencan. Bunyi klakson terdengar, pemilik mobil menurunkan kaca, Yunho tersenyum lebar seperti biasanya. "Maaf terlambat. Aku harus
mencari
beberapa
barang
yang
dibutuhkan untuk camp." Dia membuka pintu dari dalam, mempersilahkan jaejoong untuk masuk. Omelan Heechull adalah yang paling menyebalkan untuk didengar. Terus
The Fifteen
mengirim pesan beruntun untuk segera menjemput Jaejoong. Tanpa Heechull terus menerus
mengingatkan,
ia
akan
melakukannya dengan senang hati. Hingga saat ini perasaan yang disimpan untuk Jaejoong masih menjadi paling dominan. "Tidak
masalah."
Jawab
Jaejoong.
Menahan semua kekesalannya hanya untuk dirinya sendiri. Obrolan ringan menemani sepanjang perjalanan
menuju
lokasi
yang
telah
ditentukan. Itu akan menghabiskan 1,5 jam. Mereka sampai ke lokasi pada pukul 08.00 malam, lokasi parkir cukup jauh sehingga mereka berdua harus berjalan menuju lokasi camp. Tanpa sadar kedua tangan tertaut,
The Fifteen
berbagi kehangatan tanpa perlu takut ada yang memperhatikan adalah sebuah anganangan. Nyatanya mereka harus melakukan secara diam-diam. Sesampainya langsung
di
memisahkan
lokasi diri,
keduanya sebelum
bergabung dengan yang lainnya, Jaejoong berbalik sebentar untuk melihat Yunho. Dengusan pelan terdengar, Jaejoong terlalu enggan untuk bertanya kepada Yunho bagaimana tentang hubungan mereka. Ia menjadi sangsi, kearah mana hubungan ini akan dibawa pergi. Disinilah mereka sedekat ini tapi tanpa kepastian yang jelas, Jaejoong tidak bisa menunjukan perasaannya secara terang-
The Fifteen
terangan atau Yunho akan menjauh darinya. "Jangan memandangnya seperti itu." Celetuk Heechul. "Tidak memandang siapapun, hanya sedang berpikir." Jawab Jaejoong. "Seperti aku tidak tau apa yang kau pikirkan." Ucap Heechull. Selama ini telah memperhatikan gerak gerik dari kedua temannya, berbagi rasa tapi tidak memiliki kejelasan dalam hubungan. "—bukankah sudah saatnya kalian berdua serius?" Ia sangat
tau
bagaimana
Jaejoong
mendambahkan sebuah hubungan, semua bergantung pada Yunho. Pria itu adalah brengsek yang sesungguhnya. Memberi harapan tanpa kejelasan.
The Fifteen
Api unggun menyala, suara riuh dan nyanyian selamat ulang tahun terdengar dengan
sangat
semakin rahangnya
panas,
jelas.
Semakin
Jaejoong
melihat
malam
mengetatkan
bagaimana
Yunho
dengan mudah mengabaikan keberadaannya. Tanpa disadari siapapun kakinya melangkah pergi
menjauh,
siapapun
yang
keberadaannya.
memastikan
tidak
ada
memperhatikan
dimana
Bersembunyi
dibalik
bayang-bayang lebih baik daripada berpurapura tersenyum. Butuh beberapa saat sebelum dia bisa tidur di ranjang sungguhan, paling tidak yang bisa dia lakukan adalah mencoba menikmati. Menikmati kasur pasir dengan
The Fifteen
bunyi ombak yang perlahan mengalihkan pikirannya.
Ia
berusaha
sekuat
tenaga
menghapus segala pikiran buruk oleh karena itu menatap hamparan bintang di langit hitam sana. "Dia bahkan tidak mencariku." Bisiknya. Padahal pikiran itu saja sudah sulit untuk ditelan. Dia tidak melihat bagaimana dia bisa melewati malam, tidak dengan cahaya sialan itu. Atau kekosongan di dalam dirinya. Tanpa sadar, tangannya di angkat tinggi berusaha mencapai langit. Sudah lama sejak dia sendirian. Bahkan di tengah hiruk pikuk kota yang padat, dia merasakan hal itu tetapi kali ini terasa jelas. Tapi sekarang dia
The Fifteen
tidak punya apa-apa. Tidak ada apa-apa selain omong kosong yang tidak pasti. Seseorang duduk disamping Jaejoong, menatap ke arah lautan luas bertabur bintang di atasnya. Asin yang masuk ke dalam penciuman
mampu
membuat
pikiran
menjadi sedikit tenang. "Menghilang dan tidak memberitahukan kepada siapapun, sangat ciri khas je, sangat ciri khas." Katanya. Pria itu tidak lain adalah Ian, teman baik Yunho yang juga menaruh perasaan pada Jaejoong. Keduanya menjadi dingin dan memiliki jarak ketika mengetahui fakta tersebut. Tembok tebal telah berdiri tinggi,
The Fifteen
tidak ada yang bisa menghancurkan selain orang yang mendirikannya. "Lagipula tidak akan ada yang sadar dengan
kepergianku."
Jawab
Jaejoong.
Sangat mudah menyelinap pergi saat semua orang sibuk dengan dunia mereka masingmasing. Jaejoong menyadari satu hal tentang dirinya sendiri, dia cenderung terpaku dalam lamunan yang menyesatkan. Rasa iri yang kadang datang, rasa ingin merasakan hal baru seperti Teman-temannya begitu besar. Kata orang memperhatikan sudah lebih dari cukup tapi ternyata itu sama sekali tidak cukup. "Selalu berkecil hati." Dengus Ian, dia mengacak
rambut
Jaejoong
sebelum
The Fifteen
berbaring diatas pasir. "....semua begitu sulit untuk ditangani bukan?" "......yeah, terlalu sulit ditangani." Bisik Jaejoong. Telinganya berusaha menangkap suara Yunho tapi tidak sama sekali. Pria itu terlalu menikmati bersenang-senang dengan yang lain, melupakannya adalah hal biasa. Rasanya
menyakitkan
karena
yang
diharapkan untuk menemani bukanlah yang diharapkan. "Bagaimana yang lain? Sudah mulai mabuk pastinya." Lanjutnya berusaha meringankan suasana yang ada. Sejujurnya cinta yang dilemparkan oleh Ian membuat Jaejoong risih, mereka berteman dan kini terungkap fakta perasaan ian. Terlalu berat untuk ditangani.
The Fifteen
Ian terkekeh pelan, "Yups—mabuk dan mulai
mengatakan
hal
penuh
omong
kosong." "Hahahahah," tawa Jaejoong, berpurapura untuk terlihat menikmati percakapan mereka. Pandangan memendam
Ian rasa
dalam, kepada
5
tahun
Jaejoong,
menunggu saat tepat untuk mengungkap tetapi diangap hanya sebuah candaan. Dia masih ingat jelas bagaimana Jaejoong menertawakannya saat memintanya untuk berkencan. "Aku masih menunggu Jae, apa masih ada tempat?" Katanya lembut.
The Fifteen
"Tidak.
Rasanya
aneh
jika
kita
melangkah ke tahap selanjutnya." Jaejoong menyatakan. "—kamu selalu menjadi teman baik, tidak bisa lebih dari itu." Lanjutnya. Jawaban tegas ini sudah cukup bukan untuk membungkam pertanyaan lanjutan ian. Dia tidak bisa memberikan harapan saat hatinya terpaku pada satu orang. Suara tawa terdengar dari jauh, Jaejoong mendengus pelan karena Yunho belum juga datang. Buruk, sangat buruk. Seolah apa yang terjadi diantara mereka tidak pantas diperjuangkan. Jaejoong selalu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menjadi bodoh karena jatuh cinta. Nyatanya, dia
menjadi
bodoh
karena
cinta.
The Fifteen
Mempertahankan Perasaan dan logika untuk tetap seimbang itu sangat sulit. Mengembungkan pipi, Ian mengusap wajahnya lalu menyisir rambut dengan jari. "Bisa kupinjam bahumu." Bisiknya pelan. Jaejoong
tidak
mengatakan
apapun,
membiarkan Ian membenamkan wajahnya di bahunya. Tubuh itu bergetar tanpa suara, tidak ada rasa iba. Baginya sudah cukup dengan
memberikan
menggunakan
ijin
pundaknya.
kepada
ian
Kepalanya
bergerak, melihat ke arah Teman-temannya yang semakin mabuk. Matanya terpaku pada sosok yang berdiri tidak jauh darinya. "Yun,"
The Fifteen
"Aku mencarimu dan ternyata kau disini bersama Ian." Kata Yunho datar. Nada suaranya
cukup
dingin,
mengirimkan
perasaan tidak nyaman kepada Jaejoong. Sebelum
Jaejoong
Yunho melanjutkan
membuka ucapannya.
suaranya, "—kau
sudah memilih ya? Kurasa sudah jelas ya." Oh, tidak. Ini bukan saatnya untuk bertengkar. "Yun," "Sampai Jumpa." Itulah akhir dari percakapan mereka, Yunho meninggalkan jaejoong sendirian. Pulang ke rumah seorang diri, pria itu menghilang penjelasan
dan
tidak
sedikitpun.
mendengarkan Begitu
mudah
The Fifteen
baginya untuk melupakan apa yang susah payah di bangun. Teman-teman bertanya, mereka heran karena Yunho dan Jaejoong yang selalu bersama kini berjalan terpisah dan tidak saling tegur. Nyatanya, tidak ada satu pun yang tau apa yang terjadi. Cerita Yunho dilebih-lebihkan seolah yang paling bersalah adalah Jaejoong. Ian pun merasa bersalah dan berusaha menjelaskan
tetapi
dilakukan,
Yunho
sebelum
penjelasan
mempoklamirkan
hubungannya dengan lena di depan temanteman tanpa rasa malu atau bersalah. *****
The Fifteen
"Tidak perlu membahas yang sudah lewat, waktu tidak bisa diputar kembali." Kata
Jaejoong
dengan
tegas.
Baginya
hubungan antaranya dengan Yunho sudah jelas. Perasaannya masih ada tetapi untuk sesuatu yang berbeda tidak akan terjadi. Baginya sudah cukup jelas. Yunho fokus pada jalanan, "—yeah, lena adalah belahan jiwaku. Aku tidak pernah berpikir bisa menjalin hubungan seperti ini." Menjalin
hubungan
dengan
lena
memberikan kepuasan sendiri. Pandangan orang-orang terhadapnya karena berhasil mendapatkan bunga segar yang diperebutkan oleh banyak pria. Rekor Lena tidak bisa diabaikan, dia mengencani banyak pria dan
The Fifteen
Yunho tidak akan Lena lepas darinya tidak seperti pria lainnya. "Selamat. Kau harus bekerja keras soalnya Lena suka barang mewah dan tidak bisa
makan
ditempat
murah."
Canda
Jaejoong. Begitulah percakapan terakhir antara Yunho dan Jaejoong, keduanya tidak lagi sapa dan berbicara. Mereka kini orang asing. Hanya alasan yang sangat kecil dan semua yang dibangun dengan susah payah hancur. Yunho bahagia dengan hubungan barunya dan Jaejoong bahagia karena melepaskan perasaan dari si brengsek Jung Yunho. Disinilah
Jaejoong,
duduk
menatap
keluar, tidak bisa lebih bahagia lebih dari ini.
The Fifteen
Semua sempurna dengan momen yang sempurna. Tidak butuh orang lain untuk mendapatkan kebahagiaan, cukup menerima diri sendiri dan semua akan baik-baik saja. "J—ada gosip besar." Teriak Heechul yang baru saja tiba. Dahi
Jaejoong
mengerut
bingung,
dibelakang Heechul ada Junsu dan juga Kibum. "Huh? Apalagi?" "Lena hamil anak Inhyun, Yunho marah besar karena mereka sudah bertunangan." Jelas Heechull mengebu-gebu. Sudah biasa membicarakan
kehidupan
orang
lain,
begitulah cara menghilangkan stres walau Teman-temannya sendiri sudah cukup stres.
The Fifteen
"Oh—kupikir hal penting apa. Inhyun 'kan punya banyak Uang, uangnya adalah hal yang disukai Lena." Dia mengendikkan bahu, menyesap tehnya dengan pelan dan tersenyum tipis. FIN