Data Loading...

The Fifteen Ebook Flipbook PDF

The Fifteen Ebook


135 Views
6 Downloads
FLIP PDF 2.02MB

DOWNLOAD FLIP

REPORT DMCA

The Fifteen

The Fifteen

The Fifteen

Disclaimer This book contains boyxboy especially Yunjae. This is just a work of fiction, don’t take it seriously. This story is just a product of the author's imagination and only for entertainment purposes. Be a wise reader.

Peringatan! Dilarang menyalin dan memperjual belikan e-book ini tanpa izin untuk alasan apapun

The Fifteen

Daftar Isi ★

Red String of Fate



The One and Only



Please, Don’t Remember Me



One of These Night



Malam Dimana Kita Semua Hilang

The Fifteen

Authors ★

Blavkhaert



tohoshinkijeje



Vilove-jj



nyangiku



Connoiseanrs Initiated by

Pawrude

The Fifteen

Red String of Fate Written by Blavkhært

“Mari kita bercerai.” Ucapan darinya membuat suasana di antara mereka hening untuk sesaat. Suhu ruangan di mana mereka berada seketika berubah menjadi sangat dingin. Dirinya merasa bahwa cepat atau lambat laki-laki yang berada di hadapannya ini akan mengucapkan kalimat perceraian. “Baiklah... mari kita bercerai.”

The Fifteen

Oleh karena itu, dirinya tidak akan menolak, tidak ada gunanya untuk membuat keributan untuk sesuatu hal yang sudah pasti hasil akhirnya akan seperti apa. Tetapi… Entah mengapa ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh laki-laki yang berada di hadapannya ini terlihat seperti seseorang yang telah dicampakkan, walau pun dirinya lah yang harusnya terluka bukan laki-laki yang berada di hadapannya ini. “Aku… akan pergi sekarang…” Laki-laki

yang

telah

mengucapkan

kalimat perceraian itu kemudian mulai beranjak dari tempatnya.

The Fifteen

“Tidak perlu, rumah ini adalah milikmu, jika ada yang harus pergi, maka orang itu adalah aku. Untuk

sesaat,

setelah

mendengar

ucapannya, suaminya terlihat seperti orang yang telah dibuang. Ah tidak, mungkin lebih tepatnya suami yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya. Dirinya

kemudian

mulai

merapikan

pakaiannya yang mulai terlihat berantakan. “Kita

akan

membicarakan

masalah

perceraian ini secara lebih detail dengan Pengacara besok.” Tidak seperti laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya, dirinya

The Fifteen

dengan tenang mengucapkannya seolah-olah itu bukanlah hal yang mengejutkan. Tetapi… Berbanding terbalik dengan laki-laki yang memiliki mata serupa musang itu. Wajahnya terlihat seketika memucat. “Bagus… Sungguh bagus sekali.” Mendengar jawaban yang keluar dari bibir berbentuk hati itu membuat dirinya tidak ingin berada di dalam rumah itu lebih lama lagi, terlebih berada dekat dengannya. Dirinya kemudian berpaling dan mulai beranjak pergi. Namun…

The Fifteen

Ucapan dari laki-laki yang sebentar lagi akan

menjadi

mantan

suaminya

itu

menghentikan langkahnya. “Barang-barangmu…” “Jika barang-barang itu mengganggumu dan membuat matamu iritasi…” Dengan

nada

yang

datar

dirinya

kemudian melanjutkan ucapannya. “Bakar saja semuanya.” Dirinya

kemudian

melangkahkan

kakinya dengan mantap. Berlalu tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya. Melihat pasangannya yang pergi begitu saja tanpa ekspresi apa pun di wajahnya, tanpa

memohon

sekali

pun,

membuat

The Fifteen

tubuhnya

seketika

terasa

kehilangan

tenaganya. Tubuhnya seketika terasa akan limbung bila dirinya tidak bersandar pada dinding. Mengapa…? Mengapa…? Mengapa terjadi seperti ini…? Harusnya tidak seperti ini… ***** Ketika Jaejoong berjalan menuju luar rumah melalui garasi yang merupakan jalan satu-satunya menuju luar rumah mereka, ah tidak, rumah Yunho.

The Fifteen

Di

dalam

garasi,

Jaejoong melihat

koleksi mobil-mobil mahal yang berjejer rapi. Ketika

Jaejoong

hendak

mengambil

kunci mobil dari saku celananya, seketika Jaejoong mengurungkan niatnya. Mobil yang

selalu dikendarai oleh

Jaejoong merupakan hadiah yang dibelikan oleh Yunho. Dan Jaejong jelas tidak akan menggunakan mobil tersebut. Dan semua koleksi mobil-mobil mahal yang berjejer rapi itu juga merupakan mobilmobil yang dibeli oleh Yunho untuk dirinya. Jaejoong kemudian menghela napas sebelum

akhirnya

berlalu

pergi

The Fifteen

meninggalkan kunci mobil di atas kap mesin mobil yang selama ini selalu dikendarainya. Udara malam terasa begitu dingin. Terlebih di musim dingin di bulan Desember ini. Salju yang turun mulai menumpuk menutupi jalanan. Dengan mengenakan pakaian seadanya, Jaejoong kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel dan merapatkan

pakaian

yang

membalut

tubuhnya untuk menghalau rasa dingin yang menyerang tubuhnya. Tetapi… Tidak dengan hatinya yang seakan membeku.

The Fifteen

***** Melihat salju yang turun, membuat Jaejoong

teringat

pertemuan

pertama

mereka. Hari ini adalah tanggal 15 Desember, yang mana merupakan hari pertama kali mereka bertemu. Harusnya hari ini menjadi hari perayaan peringatan 15 tahun pertemuan mereka. Bagaimana mungkin Jaejoong bisa lupa, bila setiap tahun Yunho akan memaksanya untuk

melakukan

perayaan

peringatan

pertemuan mereka untuk yang pertama kali.

The Fifteen

Jaejoong

kemudian

menengadahkan

tangannya dan membiarkan butiran salju yang turun memenuhi telapak tangannya. Jaejoong teringat pertemuan pertama mereka. Saat itu, tepat 15 tahun yang lalu, sebuah mobil Audi type A6 berwarna hitam yang Yunho kendarai mengalami mogok, pada malam itu, dengan keadaan dan suasana yang sudah terlalu larut, Jaejoong yang melihatnya kemudian turun dari mobilnya dan menghampiri Yunho dan mencoba untuk membantunya. Melihat bahu dan kepala Yunho yang hampir

dipenuhi

oleh

tumpukan

salju

The Fifteen

membuat Jaejoong kemudian mengambil payung dan memayungi tubuh Yunho. Jaejoong melihat ekspresi Yunho yang terlihat kaget ketika dirinya melihatnya, namun dengan cepat ekspresi kaget itu berubah menjadi senyuman. Senyuman

yang

seakan

mampu

yang

akhirnya

melelehkan butiran salju. Senyuman

itu

pula

mampu meluluhkan hati Jaejoong yang beku. Namun… Sayangnya orang-orang akan berubah. Ada orang yang dengan cepat berubah. Dan… Ada pula orang-orang yang akan berubah secara perlahan.

The Fifteen

Tetapi… Mereka semua pasti akan berubah. Begitu pun dengan Jaejoong yang secara perlahan namun pasti akhirnya jatuh ke dalam senyuman Yunho. Dan… Begitu pun dengan Yunho yang akhirnya kehilangan cintanya untuk Jaejoong. Mengingat perilaku Yunho yang berubah dengan cepat membuat Jaejoong tertawa pada dirinya sendiri. Jaejoong

kemudian

menyenderkan

bahunya ke dinding, Dirinya terlihat begitu lemah dan seolaholah dirinya akan menghilang ke dalam gelapnya malam.

The Fifteen

Sebenarnya, sudah lama Jaejoong telah melihat tanda-tanda itu. Secara tiba-tiba Yunho menjadi berubah. Selama beberapa bulan terakhir, Yunho selalu pulang larut malam dan bersikap semakin dingin. Hari demi hari. Yunho yang dulu selalu mencairkan suasana. Yunho yang dulu selalu membuka pembicaraan dan membuat lelucon untuknya. Yunho yang selalu tahu suasana hati Jaejoong dan akan selalu menghiburnya. Kini... Yunho nyaris tidak berbicara kepadanya, sedangkan Jaejoong yang sedari awal adalah

The Fifteen

seorang pendiam tidak dapat menemukan topik untuk dibicarakan. Membuat mereka hanya bisa diam dalam keheningan. Hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Namun… Tidak ada seorang pun yang mengatakan sepatah kata pun. Lalu, memangnya apa lagi yang bisa dirinya lakukan? Di dunia ini… Perasaan adalah sesuatu hal yang paling tidak bisa diandalkan. Mereka datang secara tidak terduga. Dan sebaliknya… Mereka juga bisa hilang tanpa sebab.

The Fifteen

Dulu... Jaejoong tidak mengerti, bagaimana bisa Yunho menyukai orang yang membosankan seperti dirinya. Dan kini... Jaejoong juga tidak mengerti, mengapa Yunho tidak menyukai dirinya lagi. Mengingat kata perceraian yang keluar dari bibir Yunho membuat Jaejoong tersadar. Perceraian sebenarnya tidaklah seburuk itu. Lagipula... Sejak

dulu

dirinya

sendirian. *****

memang

selalu

The Fifteen

Hari ini adalah tanggal 15 Desember, yang mana merupakan hari pertama kali mereka bertemu. Harusnya hari ini menjadi hari perayaan peringatan 15 tahun pertemuan mereka. Kim Jaejoong dan Jung Yunho telah menikah selama 10 tahun, masing-masing dari mereka merupakan orang-orang yang sukses dalam karir mereka. Dan mereka adalah pasangan yang sempurna di mata semua orang. Dengan cantik

dan

penampilan tatapannya

Jaejoong yang

yang dingin,

dipadukan dengan penampilan Yunho yang

The Fifteen

tampan namun memiliki pandangan mata yang terasa hangat. Mereka adalah pasangan yang bertolak belakang namun saling melengkapi. Tetapi… Tidak ada seorang pun yang tahu, suatu kejadian kecil telah menjadi bencana dan telah merubah kehidupan sempurna mereka. Pada sore itu… Yunho mengatakan kepada Jaejoong bahwa dirinya akan pulang terlambat karena ada pekerjaan yang harus diselesaikannya. Tetapi… Ketika Jaejoong datang ke dalam bar yang

merupakan

tempat

yang

selalu

didatangi oleh Jaejoong dan Yoochun

The Fifteen

bersama, Jaejoong melihat Yunho berada di dalam bar namun dengan seorang laki-laki manis dan imut. Dengan bokongnya yang berisi,

menjadikannya

seorang

laki-laki

populer yang akan menjadi incaran bagi para Seme. Jaejoong

yang

datang

bersama

sahabatnya, Yoochun, hanya bisa termangu untuk sesaat. “Bukankah itu suamimu?” Melihat

Jaejoong

yang

bergeming

membuat Yoochun kembali bersuara. “Mereka terlihat… dekat, apa kau tidak mau menghampiri mereka?” Melihat membuat

Jaejoong Yoochun

yang

bergeming

mencoba

memecah

The Fifteen

keheningan, walau pun mereka berada di dalam bar dengan suara hiruk pikuk musik yang berdentum, namun tempat di mana mereka berada terasa sunyi. Untuk sesaat Jaejoong terdiam, namun Jaejoong mencoba menyakinkan dirinya sendiri. “Mereka sedang bekerja.” ***** Jaejoong berjalan menyusuri jalan, dan terus berjalan. Langkah demi langkah menjauh dari tempat yang telah memberikan kenangan

The Fifteen

indah

selama

hampir

sepuluh

tahun

kebersamaan mereka. Tempat yang dulu disebutnya… Rumah. Tetapi kini… Jaejoong akan mencari tempat untuk dirinya tinggal untuk sementara waktu. Dengan wajah yang dingin, Jaejoong bersikap seolah-olah dirinya tidak pernah mengalami kejadian besar yang baru saja akan mengubah hidupnya kembali. Dulu… Ketika Yunho mengejar Jaejoong, semua orang mengatakan bahwa Yunho sudah gila. Mereka

semua

mengatakan

bahwa

Jaejoong adalah orang yang sangat dingin.

The Fifteen

Bahkan orang tua Jaejoong sendiri pun mengatakan bahwa Jaejoong tidak akan jatuh cinta kepada siapa pun. Dan Yunho sendiri pun mengakuinya. Bahwa dirinya sudah gila. Hanya dalam sepersekian detik di malam pertemuan mereka di tengah hujan salju yang turun mampu membuat dirinya benarbenar jatuh cinta kepada Jaejoong. “Kau tidak akan tahu seberapa besar kau akan menyukai seseorang sampai kau benar-benar bertemu dengannya.” “Hanya butuh sepersekian detik untuk menyakinkan

dirimu bahwa

orang itu

adalah orang yang tepat untukmu.”

The Fifteen

Itulah yang selalu Yunho katakan setiap kali orang-orang menanyakan kewarasan diri Yunho yang menyukai seorang Jaejoong yang membosankan. Ketika Yunho pertama kali bertemu dengan Jaejoong. Ketika

pandangan matanya bertemu

dengan mata bulat yang nampak dingin itu. Di saat itu pula Yunho sadar. Yunho ingin mencium bibir penuh berwarna merah itu. Dan Yunho ingin membuat mata yang dingin itu memancarkan cinta yang hanya ditujukan kepada dirinya seorang. *****

The Fifteen

Hampir lima tahun lamanya Yunho mengejar Jaejoong. Dua tahun Yunho berusaha melakukan apa pun yang dirinya bisa untuk sekedar bisa mendekatkan dirinya dengan Jaejoong. Dua tahun berikutnya, Yunho berusaha menjadi lebih dekat dengan keluarga dan sahabatnya. Dan pada tahun yang kelima... Jaejoong

akhirnya

bertanya

kepada

Yunho. “Apa yang sebenarnya kau inginkan?” Dan Yunho yang selalu mampu berbicara sepanjang hari, tiba-tiba menjadi terdiam. Lidah Yunho seolah-olah menjadi kelu.

The Fifteen

Dirinya tidak bisa berkata sepatah kata pun. Membuat

Jaejoong

mengerutkan

keningnya. “Aku menyukaimu.” Dengan wajah yang memerah, hingga telinganya pun turut berwarna merah, Yunho mengucapkannya dari lubuk hatinya yang terdalam. Ucapan

Yunho

membuat

Jaejoong

membelalakkan matanya. “Aku tidak bercanda. Aku mengejarmu karena aku benar-benar menyukaimu dan aku ingin menikah denganmu.” Ucapan membeku.

Yunho

membuat

Jaejoong

The Fifteen

Mata Jaejoong yang berwarna coklat dan selalu terlihat dingin itu terlihat kebingungan. Dan entah bagaimana, Jaejoong terlihat menggemaskan. “Kau… ingin menikah denganku?” “YA!” Dengan

sungguh-sungguh

Yunho

mengangguk meyakinkan. “Kau… menyukaiku?” Jaejoong

kembali

bertanya

kepada

Yunho dengan ekspresi bingung. “Aku sangat menyukaimu. Semakin hari aku semakin menyukaimu. TIDAK. Aku sangat-sangat mencintaimu.” Kalimat yang keluar dari bibir Yunho adalah murni dari lubuk hatinya. Tidak ada

The Fifteen

kepura-puraan di dalamnya. Dirinya benarbenar mencintai Jaejoong. “Aku seorang laki-laki.” “Aku tahu.” “Kau juga seorang laki-laki.” “Tentu saja. Aku bisa pastikan hal itu. Jika kau tidak percaya, aku bisa melepaskan pakaianku dan membuktikannya.” Yunho kemudian memegang kancing kemejanya dan bersiap mulai melepas pakaiannya

kapan

pun

Jaejoong

memerintahkannya. Membuat Jaejoong

tercengang akan

ucapan dan tindakan yang akan Yunho lakukan. “Baiklah.”

The Fifteen

Jaejoong sambil

kemudian

tersenyum

mengucapkannya simpul

setelah

meyakinkan dan mendapatkan jawaban dari Yunho. Mendapatkan sepatah kata lirih nyaris berbisik dari Jaejoong membuat Yunho berpikir bahwa dirinya telah berhalusinasi karena selama hampir lima tahun dirinya telah mengharapkan sesuatu yang nyaris mustahil karena mengejar Jaejoong. “A-apa?” “Bisakah kau ulangi lagi?” Yunho kemudian bertanya kembali dan meminta Jaejoong mengucapkan kembali kalimat yang telah diucapkannya.

The Fifteen

“Lupakan

saja

bila

kau

tidak

melangkah

pergi

mendengarnya.” Jaejoong

bersiap

meninggalkan Yunho. Dengan

gerakan

cepat

Yunho

menangkap tangan Jaejoong. “Aku dengar… Aku dengar.” Yunho tidak akan melepaskan Jaejoong. Dengan sifat Yunho yang seperti itu, tentu saja dirinya tidak akan melepaskan kesempatan yang sudah diberikan. “Kalau

begitu

ayo

sekarang.” “WHAT?!!” *****

kita

menikah

The Fifteen

Setelah menikah, Yunho merasa bahwa dirinya telah hidup di dalam dunia mimpi setiap hari. Ketika dirinya membuka matanya, orang yang

pertama

kali

dilihatnya

adalah

Jaejoong. Dan orang yang terakhir kali dilihatnya ketika dirinya menutup matanya adalah Jaejoong. Segalanya

terasa

begitu

sempurna,

membuat Yunho merasa ini semuanya hanyalah mimpi. Dan bila apa yang dialaminya hanyalah mimpi, Yunho berharap bahwa dirinya tidak akan pernah terbangun dari mimpi indahnya.

The Fifteen

Membuat Yunho selalu terbangun di tengah malam. Dirinya takut bahwa itu semua hanyalah sekedar bunga tidur. Dirinya

takut

bilamana

tidak

ada

Jaejoong di sampingnya, mereka tidak pernah menikah dan Jaejoong bukanlah miliknya. Untungnya, ketika dirinya terbangun, Yunho

melihat

Jaejoong

berada

di

sampingnya. Yunho bisa menyentuh dan memeluknya. Jaejoong yang turut terbangun akibat Yunho pun dengan tegas menyuruh Yunho untuk tidur, selayaknya perintah di dalam kemiliteran.

The Fifteen

Dan Yunho, yang melihat tatapan mata Jaejoong yang dingin seperti itu akan membuatnya dadanya berdesir. Dan dengan cepat dirinya akan menekan Jaejoong dan menciumnya hingga membuat Jaejoong kelelahan. Dan kehidupan sempurna yang seperti itu, yang telah berlangsung hampir sepuluh tahun lamanya. Yang Yunho pikir kehidupan sempurna mereka akan berlangsung untuk selamanya. Ternyata tidak. Hingga kejadian itu terjadi. Ternyata kehidupan yang selama ini berlangsung hanyalah sebuah ilusi.

The Fifteen

Hal itu dimulai setengah tahun yang lalu, ketika Yunho mendengar percakapan antara Jaejoong dan sahabatnya, Yoochun. “Tidak terasa, ternyata sudah hampir sepuluh tahun kalian menikah.” Tangan Yunho yang awalnya hendak memegang gagang pintu ruangan Jaejoong pun terhenti di udara. Jaejoong yang mendengar ucapan dari Yoochun pun tersadar. ‘Ah, ternyata sudah selama itu ya.” Yunho yang awalnya ingin bertemu dengan kekasihnya, yang biasanya akan menerobos masuk, entah mengapa kali ini dirinya

mengurungkan

niatnya

dan

menunggu di depan pintu ruangan Jaejoong.

The Fifteen

“Waktu berlalu begitu cepat, dan tanpa kau sadari ternyata kau sudah bertahan dengannya hingga sepuluh tahun lamanya. Ah tidak. Lebih tepatnya 15 tahun berlalu sejak kau mengenalnya. Dan kau tahu, suamimu itu masih saja terlihat sama konyolnya seperti 15 tahun yang lalu.” Mendengar

ucapan

dari

Yoochun

membuat Jaejoong tersenyum simpul. Harus Jaejoong akui, Yunho masih terlihat sama konyolnya seperti saat pertama kali Jaejoong melihatnya. “Tapi… apa kau tahu? Di dalam masa 10 tahun pernikahan, biasanya akan sering bermunculan masalah-masalah.” “Masalah?”

The Fifteen

Mendengar ucapan Yoochun membuat Jaejoong mengulangi ucapan Yoochun tidak mengerti. Karena selama ini hidup mereka baik-baik saja. “Ketika dua orang yang telah bersama untuk waktu yang sangat lama, biasanya akan timbul rasa kebosanan. Salah satu penyebabnya adalah karena rutinitas yang dijalankan sehingga hidup mereka menjadi monoton dan cenderung membosankan. Banyak pasangan yang merasa bahwa hubungan mereka menjadi hambar, dan menjelma menjadi awal dari masalah.” Mendengar ucapan Yoochun membuat Jaejoong mengernyitkan keningnya.

The Fifteen

“Laki-laki biasanya menyukai sesuatu yang segar dan menantang, yah biasanya hal itu akan membuat mereka berselingkuh.” “Aku tidak membutuhkan penyegaran dan aku juga tidak menyukai tantangan.” Yoochun yang mendengar jawaban dari Jaejoong kemudian menyeringai. “Baiklah, karena aku sangat mengenalmu, katakanlah seperti itu. Lalu… bagaimana dengan Yunho?” Mendengar pertanyaan dari Yoochun membuat Jaejoong terdiam beberapa saat. “Aku tidak peduli.” Yunho yang masih berada di depan ruangan Jaejoong pun terdiam. Mendengar tiga patah kata yang Jaejoong ucapkan

The Fifteen

membuat Yunho seakan-akan dirinya telah jatuh ke dalam lubang es. Kepalanya seakan telah dihantam menggunakan palu besar yang berkekuatan 100 Kilogram. Yunho yang selama ini hidup di dunia mimpi akhirnya terbangun. Ternyata

kehidupan

sempurna

yang

selama ini berlangsung selama hampir 10 tahun pernikahan mereka hanyalah sebuah ilusi. “Aku tidak peduli.” Tiga patah kata yang Jaejoong ucapkan itu terus terngiang di telinga Yunho. Apa maksud dari kalimat ‘Aku tidak peduli’ yang Jaejoong ucapkan?

The Fifteen

Apakah Jaejoong tidak peduli dengan apa yang Yunho lakukan? Apakah selama hampir sepuluh tahun pernikahan mereka… Jaejoong tidak pernah peduli pada Yunho? Yunho yang terdiam pun menyandarkan punggungnya ke dinding. Otaknya serasa berputar. Adegan demi adegan berputar di dalam kepala Yunho. AH…! Dan Yunho pun kemudian tersadar. Selama hampir sepuluh tahun pernikahan mereka, tidak pernah sekali pun Jaejoong mengucapkan kata cinta kepada Yunho. Tidak pernah!

The Fifteen

Satu kali pun! Selama hampir sepuluh tahun pernikahan mereka, Yunho lah orang yang selalu mengambil inisiatif. Dan Yunho lah yang selalu melakukan tindakan terlebih dahulu. Sedangkan Jaejoong… Tidak

sekali

pun

Yunho

melihat

Jaejoong terlihat resah atau pun gelisah, Jaejoong selalu terlihat tenang dan acuh. Selama hampir lima belas tahun dirinya mengenal Jaejoong, Yunho lah yang selama ini menunjukkan semangat, gairah dan antusiasnya.

The Fifteen

Yunho lah orang yang selama ini terus menerus mengungkapkan cintanya kepada Jaejoong tanpa henti. Yunho pula lah yang selama ini selalu menunjukkan hatinya yang ditujukan kepada Jaejoong seorang bagaikan sebuah buku yang terbuka. Semakin lama Yunho mengenal Jaejoong, semakin Yunho memahami Jaejoong. Jaejoong adalah orang yang pasif dan tidak menyukai perubahan. Begitu Jaejoong melakukan sesuatu, dirinya akan terus melakukannya. Tidak peduli hal itu baik atau buruk, ketika Jaejoong telah memulainya, Jaejoong akan melakukannya hingga selesai.

The Fifteen

Yunho tahu bahwa Jaejoong sebenarnya tidak menyukai pekerjaannya, tetapi selama lebih dari 15 tahun Yunho mengenalnya, Jaejoong telah bekerja dengan sungguhsungguh hingga menjadi orang yang seperti sekarang ini. Sejak pertama kali Yunho mengenal Jaejoong yang saat itu berusia 20 tahun, Yunho akhirnya mengetahui dengan pasti, bahwa Jaejoong adalah orang yang tidak menyukai keramaian. Dan sudah pasti Jaejoong juga tidak menyukai acara-acara yang meriah. Tetapi… Karena

sahabat

Jaejoong,

Yoochun,

membuat Jaejoong akhirnya sedikit terbiasa

The Fifteen

dengan keramaian dan terbiasa untuk pergi ke salah satu bar langganan Yoochun pada hari tertentu. Dan dari bar yang sering didatangi oleh Jaejoong itulah yang akhirnya memberikan Yunho kesempatan untuk bisa mendekati Jaejoong. Jaejoong

adalah

orang

yang

tidak

menyukai perubahan, tetapi karena dirinya telah terbiasa, pada akhirnya Jaejoong tidak pernah mengubah apa pun yang telah berubah. Jadi… Apakah Jaejoong menyukai Yunho? Ataukah…

The Fifteen

Itu

karena

mereka

hidup

bersama

sehingga hal itu telah menjadi kebiasaan? Yunho kemudian meyakinkan dirinya sendiri, bahwa dirinya tidak akan mencari tahu, sehingga mereka bisa terus hidup seperti sebelumnya Selamanya. Tetapi… Hati manusia itu bagaikan sebuah kotak Pandora. Sekali saja benda itu dibuka, maka apa yang berada di dalamnya akan menjadi sesuatu yang rumit dan akan sulit sekali untuk diselesaikan. Sekali berbuat kesalahan, semuanya tidak akan bisa dikembalikan seperti sedia kala. Banyak konsekuensi yang harus diterima sebagai akibatnya. Sungguh

The Fifteen

ironis, hanya karena satu kesalahan saja, maka kehidupan mereka akan menjadi jauh lebih berbeda dari sebelumnya. Itulah kotak Pandora. Tidak

semua

keingintahuan

harus

dilampiaskan dengan mencari tahu Karena di dalam hati manusia, terdapat keceriaan, cinta, kasih sayang dan juga kebahagiaan. Tetapi terkadang manusia lupa, bahwa di dalam hati juga terdapat kesedihan, keresahan, kegalauan, dan juga kegundahan. Ketika diri kita menyadarinya, maka hal itu bisa menjadi sesuatu yang lebih baik, atau akan menjadi sesuatu yang buruk. Begitu pun juga dengan Yunho.

The Fifteen

Dengan tiga patah kata yang Jaejoong ucapkan mampu membuka kotak Pandora yang selama ini tersembunyi jauh di dalam lubuk hati Yunho. Bagaimana

jika

Jaejoong

bertemu

dengan seseorang yang disukainya… Bagaimana

jika

Jaejoong

bertemu

dengan seseorang yang mampu membuat Jaejoong berubah… Apakah Jaejoong akan meninggalkan dirinya? Yunho yakin… Jaejoong pasti akan meninggalkannya. Yunho yang tersadar akan keraguan yang selama ini tersimpan jauh di dalam lubuk hatinya, tersadar akan apa yang ada di dalam

The Fifteen

benaknya kemudian dengan tanpa basa-basi bertanya kepada Jaejoong ketika mereka tiba di rumah. “Apa kau mencintaiku?” Seketika

Yunho

takut

akan

kebenarannya. Dirinya begitu resah akan jawaban apa yang akan keluar dari bibir merah kesukaan Yunho itu. Oleh karena itu, Yunho merasa bahwa dirinya ingin… Walau pun hanya sekali saja, Yunho ingin mendengar kata cinta keluar dari bibir berwarna merah itu.

The Fifteen

Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba dari Yunho itu membuat Jaejoong menjadi bingung. “Apa kau baik-baik saja?” Tetapi… Bukannya menjawab akan pertanyaan yang telah dilontarkan oleh Jaejoong, Yunho kembali mengulang pertanyaannya. “Jika kau begitu bosan dan tidak ada kerjaan, lebih baik kau pergi mencuci piring.” Jaejoong kemudian menghela napas sambil menggelengkan kepalanya. Namun… Yunho mendorong tubuh Jaejoong dan menahan kedua tangannya ke dinding

The Fifteen

sehingga membuat Jaejoong tidak bisa bergerak. “Aku bertanya padamu, apakah kau mencintaiku?” Mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Yunho untuk yang ketiga kalinya akhirnya membuat Jaejoong memicingkan matanya. “Lepaskan.” Namun Yunho tidak melepaskannya, dan cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Jaejoong menjadi semakin kuat. Hingga Jaejoong merasa yakin bahwa pergelangan tangannya memerah.

The Fifteen

Yunho

yang

tidak

menggubrisnya

membuat Jaejoong kemudian memanggil nama lengkap Yunho. “Jung Yunho.” Membuat Yunho seketika kehilangan tenaganya. Yunho kemudian melihat ke dalam mata coklat Jaejoong. Terlihat kemarahan di dalam mata bulat yang dingin itu. Membuat Yunho merasa bahwa dirinya begitu konyol. Apa yang telah Yunho lakukan? Apa yang sebenarnya ingin Yunho pastikan?

The Fifteen

Dari awal, bukankah dirinya yang telah mengejar Jaejoong? Dengan tubuh yang seakan kehilangan tenaganya, Yunho melepaskan Jaejoong dan berjalan dengan langkah terseret. Dan untuk pertama kalinya, Yunho berinisiatif untuk tidur di dalam kamar tamu. Dan untuk pertama kalinya, Yunho benar-benar tidur terpisah dengan Jaejoong. Sedangkan Jaejoong… Jaejoong tetap bersikap tenang seperti biasanya. Dirinya tidak mengatakan sepatah kata pun, tidak ada ucapan yang keluar dari bibir Jaejoong untuk mencegah Yunho. Bahkan tidak ada satu pun ucapan yang

The Fifteen

keluar dari bibir Jaejoong untuk sekedar mengucapkan ‘selamat malam’. Dan Jaejoong… Masih

bersikap

sama

seperti

hari

sebelumnya seakan-akan tidak pernah terjadi suatu kejadian apa pun. Dulu, ketika Yunho masih awal-awal mencari tahu tentang Jaejoong, Yunho mendengar

orang-orang

sekitarnya

memanggil Jaejoong dengan sebutan Ice Prince. Saat itu… Yunho menganggap apa yang Jaejoong lakukan adalah sesuatu yang menggemaskan, dan nama panggilan itu adalah sesuatu yang sangat manis.

The Fifteen

Tetapi kini… Yunho akhirnya mengerti. Jaejoong sama seperti julukan namanya Ice

Prince,

karena

Jaejoong

adalah

seseorang yang berhati dingin, dan seperti layaknya seorang Pangeran Es, Jaejoong tidak akan pernah tergerak hatinya, karena hatinya yang dingin terbuat dari es. Dan Yunho tidak bisa mencairkan hati seorang Pangeran Es. Tidak peduli seberapa banyak upaya yang telah dirinya lakukan, tidak peduli seberapa

lama

dicurahkannya

waktu untuk

seorang Pangeran Es. Dan kini…

yang

mencairkan

telah hati

The Fifteen

Yunho tersadar. Selama ini Yunho bagaikan seorang badut yang konyol. Untuk pertama kalinya di lima belas tahun dirinya mengenal Jaejoong, baru kali ini Yunho yang biasanya adalah seorang yang optimis kini terlihat begitu gusar dan gelisah. Dirinya tidak bisa tidur sepanjang malam. Untuk bisa hidup bahagia sama seperti hari-hari

sebelumnya,

tidak

seharusnya

Yunho mencoba mencari jawaban atau pun menyelidikinya. Harusnya dirinya tidak boleh terlalu serakah,

dirinyalah

orang

yang

telah

The Fifteen

mengejar Jaejoong, memangnya apa lagi yang bisa dirinya harapkan? Dirinya telah berhasil membuat Jaejoong berada di sisinya selama sepuluh tahun. Jika Jaejoong

masih

tidak

mencintainya,

memangnya apa lagi yang bisa dirinya lakukan? Oleh karena itu... Jaejoong harusnya sudah terbiasa dengan dirinya dan kehidupan pernikahan mereka sekarang. Asalkan dirinya bersikap dan bertindak sama seperti sebelumnya, Yunho yakin bahwa Jaejoong akan bersikap dan bertindak sama seperti sebelumnya. Memangnya kenapa?

The Fifteen

Toh selama ini hidup mereka selalu dipenuhi dengan cinta. Walau pun hanya dari sebelah pihak. Itu adalah sesuatu yang mudah untuk diucapkan. Walau bukanlah

pun

pada

sesuatu

kenyataannya

yang

mudah

itu

untuk

dilakukan. Semakin lama Yunho mencoba, semakin terlihat jelas bahwa pada kenyataannya realita begitu kejam kepadanya. Kim Jaejoong… Tidak mencintainya. Oleh untuk yang terakhir kalinya, Yunho mencoba untuk mengelak kenyataan dan

The Fifteen

mencoba

peruntungannya

dengan

mempertaruhkan hatinya. Pada sore hari itu… Untuk

pertama

kalinya

Yunho

berbohong kepada Jaejoong. Yunho mengatakan kepada Jaejoong bahwa dirinya akan pulang terlambat karena ada pekerjaan yang harus diselesaikannya. Walau pun pada kenyataannya… Sebenarnya Yunho sengaja pergi ke dalam bar yang biasa dikunjungi oleh Jaejoong dan Yoochun bersama. Dan Yunho tahu pasti jadwal Jaejoong. Selama

15

tahun,

Yunho

telah

mengetahui semua jadwal Jaejoong dengan pasti di luar kepalanya.

The Fifteen

Dan hari ini adalah hari di mana Jaejoong dan Yoochun akan mendatangi bar itu. Dan

Yunho

peruntungannya

ingin dan

mencoba

mempertaruhkan

semuanya. Yunho

kemudian

melihat

cincin

pernikahan mereka di jari manisnya. Setiap kali melihat cincin itu, Yunho merasa sebagai orang yang paling beruntung bisa

mengenakan

cincin

yang

sama

dikenakan oleh Jaejoong. Setiap kali seseorang mencoba untuk mendekati

dan

menggodanya

dan

menunjukkan ketertarikan mereka kepada Yunho,

dengan

bangga

Yunho

akan

The Fifteen

menunjukkan

cincin

pernikahannya

di

hadapan mereka dan mengatakan kepada mereka betapa sempurnanya pasangannya. Jaejoongnya. Dan setiap kali Yunho mengatakannya, semua orang yang mencoba untuk merebut hatinya akan merasa malu pada diri mereka sendiri dan akan mundur secara teratur meninggalkan Yunho. Tetapi… Kali ini… Untuk pertama kalinya… Yunho

tidak

menunjukkan

pernikahannya. Untuk pertama kalinya…

cincin

The Fifteen

Yunho tidak mengatakan kepada mereka betapa

bangganya

dirinya

memiliki

pasangan seperti Jaejoong. Namun sebaliknya… Yunho hanya duduk diam di sana membiarkan orang-orang mendekatinya dan mendengarkan

orang

lain

berbicara

kepadanya dan menunjukkan ketertarikan mereka kepada Yunho. Walau pun pada kenyataannya… Sebenarnya Yunho tidak mendengarkan apa yang orang di sebelahnya katakan. Yunho hanya duduk diam di sana. Apa yang ada di dalam hati dan benaknya

hanya

memikirkan

sambil terus bertanya-tanya.

Jaejoong

The Fifteen

Memikirkan

apa

reaksi

yang

akan

ditunjukkan Jaejoong padanya. Apakah Jaejoong akan peduli padanya. Walau pun bukan karena cinta. Walau pun itu hanya karena takut dirinya akan pergi meninggalkannya. Walau hanya sekali… Yunho ingin melihat Jaejoong peduli padanya. Yunho

ingin

melihat

reaksi

dan

perubahan pada Jaejoong ketika melihatnya. Walau pun hanya sedikit. Namun… Sayangnya tidak ada apa pun yang terjadi. Jaejoong tidak menghampiri Yunho

The Fifteen

Tidak ada panggilan telepon atau pun pesan masuk yang dikirimkan oleh Jaejoong. Jaejoong jelas melihat Yunho bersama seseorang dan duduk dengan begitu dekat. Jaejoong juga tahu bahwa Yunho telah berbohong dan tidak bekerja lembur. Tetapi… Jaejoong bahkan tidak bertanya padanya. Hanya ada tiga patah kata yang terus terngiang di benak Yunho. Yunho mendengarkan suara Jaejoong mengucapkan tiga patah kata itu dengan nada yang dingin. “Aku tidak peduli.” Jaejoong tidak peduli dengan apa yang Yunho lakukan.

The Fifteen

Yunho mencintai Jaejoong. Namun Jaejoong tidak peduli. Dan bila… Yunho tidak mencintai Jaejoong. Maka Jaejoong juga tetap tidak peduli. Memikirkan

tiga

kata

yang

terus

terngiang di benak Yunho membuat Yunho ingin melupakan semuanya. Membuat Yunho larut dalam kesedihan yang mendalam. Yunho

kemudian

terus

menenggak

alkohol hingga membuat dirinya mabuk. Dan Yunho ingin membuat Jaejoong kesal. Membuat Jaejoong kesal padanya karena telah melakukan sesuatu yang dibencinya.

The Fifteen

Aroma alkohol dan rokok yang melekat di tubuh Yunho sudah pasti akan membuat Jaejoong kesal. Sesuatu yang dibenci oleh Jaejoong. Ketika larut malam telah tiba, Yunho akhirnya pulang. Tercium aroma rokok dan alkohol yang menguar dari seluruh tubuhnya. Melihat Jaejoong yang masih terlihat tenang, membuat Yunho tidak bisa lagi menahannya. Yunho tidak ingin Jaejoong terlihat tenang. Yunho tidak ingin melihat Jaejoong yang bersikap seolah tidak ada sesuatu hal yang telah terjadi.

The Fifteen

Yunho tidak ingin Jaejoong tidak peduli sama sekali. Mengetahui

dengan

pasti

bahwa

Jaejoong tidak menyukai aroma rokok dan alkohol, dengan sengaja Yunho mencium Jaejoong. Namun… Ketika

Yunho

akan

menciumnya,

Jaejoong mendorong tubuh Yunho. Jaejoong menolaknya. Itu adalah aroma yang Jaejoong tidak bisa tahan. Sebenarnya Jaejoong ingin menyuruh Yunho untuk mandi. Tetapi

mendapatkan

penolakan

Jaejoong membuat Yunho marah.

dari

The Fifteen

Yunho kemudian memaksa Jaejoong dan menciumnya. Dan tindakan yang Yunho lakukan begitu kasar. Namun… Jaejoong bukanlah seseorang yang bisa dianggap enteng. Dengan

tubuh

kurusnya

Jaejoong

meninju Yunho dan mengumpat. “Berhenti kau sialan!” Akibat Jaejoong

tinju membuat

yang

diberikan

sudut

bibir

oleh Yunho

berdarah, dan seketika Yunho pun tersadar dari mabuknya. Yunho kemudian menatap Jaejoong.

The Fifteen

Setelah lama terdiam menatap Jaejoong untuk waktu yang lama, tiba-tiba semua tenaga

yang

Yunho

miliki

seakan

serak

Yunho

menghilang dari tubuhnya. “Mari kita bercerai.” Dengan

suara

yang

mengucapkan kata perceraian. Ucapan dari Yunho membuat suasana di antara mereka hening untuk sesaat. Jaejoong

kemudian

teringat

akan

kejadian di bar tadi. Kejadian di mana Jaejoong melihat Yunho berada di dalam bar namun dengan seorang laki-laki manis dan imut. Dengan bokongnya

yang

berisi,

menjadikannya

The Fifteen

seorang laki-laki populer yang akan menjadi incaran bagi para Seme. Jaejoong bahkan masih mengingat lakilaki yang imut itu tersenyum manis kepada Yunho sambil menggodanya. Mendengar ucapan dari Yunho membuat Jaejoong

kemudian

menutup

matanya

sejenak. Napas Jaejoong terasa tercekat. “Baiklah, mari kita bercerai.” Jaejoong kemudian mengiyakan ucapan Yunho setelah membuka matanya kembali. Menatap Yunho dengan pandangan yang dingin dan tenang.

The Fifteen

Dirinya merasa bahwa cepat atau lambat laki-laki yang berada di hadapannya ini akan mengucapkan kalimat perceraian. “Baiklah... mari kita bercerai.” Oleh karena itu, dirinya tidak akan menolak, tidak ada gunanya untuk membuat keributan untuk sesuatu hal yang sudah pasti hasil akhirnya akan seperti apa. ***** Jaejoong telah pergi. Tidak ada kata penolakan yang keluar dari bibir Jaejoong.

The Fifteen

Bahkan

tidak

berselang

lama

dari

persetujuan perceraian itu Jaejoong tidak segan untuk pergi. Jaejoong pergi. Begitu saja. Sedangkan Yunho masih berdiri di posisi yang sama. Merasa bahwa tempat yang sebelumnya merupakan tempat yang telah menberikan semua kenangan indah selama hampir sepuluh

tahun

kebersamaan

mereka…

membuat napasnya tercekat. Jaejoongnya pergi. Dan Yunho… Yunho tidak akan pernah bisa melihat Jaejoong kembali.

The Fifteen

Sejak detik itu… Yunho benar-benar telah kehilangan Jaejoong. Dirinya telah memberikan hatinya. Mencurahkan segalanya untuk orang yang yang dirinya cintai. Dan

Jaejoong

telah

menggenggam

hatinya. Dan ketika Jaejoong pergi… Di saat itu pula Yunho merasa bahwa Jaejoong telah membawa pergi hatinya. Membuat Yunho merasakan kehampaan. Dan pada detik itu pula… Yunho merasakan penyesalan yang amat sangat.

The Fifteen

Mengapa dirinya memutuskan untuk mencari tahu? Mengapa dirinya memutuskan untuk menguji Jaejoong? Mengapa dirinya memutuskan untuk mencari

jawaban

yang

sudah

pasti

jawabannya. Mengetahui dengan pasti hasil akhirnya yang akan membuat segalanya berakhir? Perceraian… TIDAK! Dirinya tidak akan bercerai! Entah dari mana, tiba-tiba Yunho seakan mendapatkan kekuatannya kembali.

The Fifteen

Yunho kemudian mendorong tubuhnya menjauh dari dinding dan bergegas keluar dari pintu. Yunho kemudian menuju garasi dan menemukan

kunci

mobil

yang

biasa

Jaejoong kendarai berada di atas kap mesin mobil. “SIAL!” Yunho yang khawatir kepada Jaejoong dengan segera keluar dari rumahnya dan berusaha mengejar Jaejoong. Dengan

hanya mengenakan pakaian

seadanya yang melekat di tubuhnya. Bahkan tanpa mengenakan mantel. Yunho

menerobos

dinginnya

malam bersalju mencari Jaejoong.

udara

The Fifteen

Dengan pikiran yang dipenuhi oleh Jaejoong, Yunho berjalan cepat dan tidak merasakan kedinginan sama sekali. Yunho harus mengejar Jaejoong. Yunho harus membawa Jaejoongnya kembali. Yunho tidak akan menceraikan Jaejoong. Yunho tidak akan pernah menceraikan Jaejoong! TIDAK AKAN! Yunho yang telah berjalan sejauh 200 meter dari rumahnya tiba-tiba berhenti. Yunho melihat Jaejoong yang meringkuk di sudut jalan, dengan tubuhnya yang gemetar.

The Fifteen

Dan Yunho merasakan hatinya terasa perih. Setelah

mengatur

napasnya,

Yunho

kemudian berjalan menghampiri Jaejoong. Hatinya terasa bergetar. Yunho memegang

kemudian kedua

pipi

berjongkok

dan

Jaejoong

yang

menunduk. Namun… Melihat keadaan Jaejoong membuat hati Yunho terasa sangat sakit. Wajah Jaejoong basah dipenuhi oleh air mata. Tidak ada suara tangisan. Hanya air mata yang terus mengalir dari mata bulat berwarna coklat yang dingin itu.

The Fifteen

Ini

adalah

pertama

kalinya

Yunho

melihat Jaejoong menangis. Melihat keadaan Jaejoong membuat hati Yunho seakan tercabik-cabik. “Jangan… jangan…” Belum

selesai

Yunho

mengucapkan

kalimat untuk meminta Jaejoong menangis, Jaejoong kemudian memotong kalimatnya. “Apa salahku?” Mendengar

pertanyaan

Jaejoong

membuat Yunho membeku. Bibir Jaejoong bergetar hebat, dirinya terlihat sangat kacau. Wajah Jaejoong dipenuhi oleh air mata yang

terus

mengalir

dari

mata

berwarna coklat yang menggenang itu.

bulat

The Fifteen

Pupil matanya tampak terus bergerak ke sana kemari tanpa arah pandangan yang pasti. Tetapi… Kontras dengan keadaannya. Suara yang keluar dari bibir yang sebelumnya

berwarna

merah

dan

kini

berubah menjadi pucat itu terdengar sangat tenang. “Mengapa kau tidak menepati janjimu?” Yunho masih terus memegang kedua pipi Jaejoong dan memanggil namanya berulang kali dengan cemas. Namun… Jaejoong seakan tidak mendengar suara Yunho yang terus memanggil namanya.

The Fifteen

“Mengapa kau menyukai orang lain?” “Mengapa kau ingin bercerai?” Yunho hanya ingin Jaejoong peduli padanya. Tetapi… Ketika Yunho melihat keadaan Jaejoong yang seperti itu, seketika Yunho merasa dirinya ingin membunuh dirinya sendiri karena telah membuat keadaan Jaejoong menjadi seperti itu. Jaejoong akhirnya menatap lurus ke arah Yunho. “Mengapa kau tidak menginginkanku?” *****

The Fifteen

Ketika Jaejoong berusia dua tahun, ayah kandungnya meninggalkan dirinya dan ibu kandungnya. Lalu… Dua tahun kemudian… Ketika Jaejoong berusia empat tahun, ibu kandungnya

juga

tidak

menginginkan

Jaejoong dan meninggalkan Jaejoong di panti asuhan. Membuat Jaejoong kecil sadar bahwa dirinya adalah anak yang tidak diinginkan siapa pun. Hingga… Ketika Jaejoong berusia enam tahun, sebuah keluarga bermarga Kim mengadopsi dirinya.

The Fifteen

Jaejoong kecil yang telah dewasa jauh sebelum waktunya itu selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik. Berusaha untuk menjadi orang yang sempurna dan membuat Keluarga Kim bangga dan tidak akan pernah menyesal karena telah mengadopsinya. Namun… Satu-satunya

‘kesalahan’

dalam

hidupnya adalah Jung Yunho. Yunho masuk ke dalam kehidupannya begitu cepat, tanpa bisa dijelaskan olehnya. Bagaikan sebuah cahaya dengan sinarnya yang

menyilaukan

yang

menyinari

kehidupannya yang gelap dan dingin.

The Fifteen

Jaejoong belum pernah melihat orang yang begitu mempesona seperti Yunho. Dan Jaejoong juga belum pernah melihat orang yang seakan tidak pernah kehabisan energi seperti Yunho. Jaejoong

dan

Yunho

benar-benar

berbeda. Jaejooong dan Yunho memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. BIla Jaejoong adalah hitam, maka Yunho adalah putih. Bila Jaejoong adalah orang yang berada di kegelapan, maka Yunho adalah orang yang berada di sisi terang. Jaejoong menyukai Yunho.

The Fifteen

Dirinya menyukai segala sesuatu tentang Yunho. Karena itu… Jaejoong mendambakan sesuatu yang tidak bisa dirinya miliki. Namun… Ketika Yunho mengaku padanya. Mengucapkan

kata

cinta

pada

Jaejoong… Untuk pertama kali dalam hidupnya Jaejoong merasakan perasaan yang disebut dengan kata kebahagiaan. Setelah menikah, Jaejoong merasa bahwa dirinya telah hidup di dalam dunia mimpi setiap hari.

The Fifteen

Ketika dirinya membuka matanya, orang yang pertama kali dilihatnya adalah Yunho. Dan orang yang terakhir kali dilihatnya ketika dirinya menutup matanya adalah Yunho. Segalanya

terasa

begitu

sempurna,

membuatnya merasa ini semuanya hanyalah mimpi. Dan bila apa yang dialaminya hanyalah mimpi, Jaejoong berharap bahwa dirinya tidak akan pernah terbangun dari mimpi indahnya. Cinta yang Yunho berikan bagaikan sinar mentari yang menyilaukan namun memberikan kehangatan yang tak bisa dibayangkannya.

The Fifteen

Jaejoong

yang

dulu

terbiasa

akan

kesendirian, kini harus menyesuaikan diri dengan adanya Yunho. Kebersamaan mereka yang begitu tibatiba membuat Jaejoong harus melakukan berbagai perubahan dan penyesuaian di dalam hidupnya. Bila Jaejong yang dulu tidak terbiasa berbicara basa basi, namun sejak dirinya hidup bersama Yunho, maka Jaejoong akan mencoba untuk merespon dan membalas topik pembicaraan yang sedang Yunho bicarakan kepadanya. Walau

pun

membicarakan

Jejoong tentang

hanya

obrolan

pekerjaan yang membosankan.

bisa seputar

The Fifteen

Jaejoong tidak terbiasa bersikap mesra di depan orang lain, tetapi ketika mereka hanya berdua saja, Jaejoong akan membiarkan Yunho

melakukan

apa

pun

yang

diinginkannya. Jaejoong tidak pernah menyangka bahwa ada orang yang bisa hidup seperti yang Yunho lakukan. Melakukan hal-hal yang diinginkan oleh hatinya. Melakukan

hal-hal

yang

hatinya

inginkan tanpa mempedulikan orang sekitar atau pun khawatir akan konsekuensi dari tindakannya itu. Melakukannya apa pun sesuka hati. Terkadang…

The Fifteen

Jaejoong merasa bahwa Yunho bersikap selayaknya anak kecil yang nakal dan manja. Tetapi… Melihat tingkah Yunho yang seperti itu membuat Jaejoong tidak bisa menahan senyumnya. Jaejoong berharap bahwa Yunho akan selalu bersikap seperti itu. Dan Jaejoong juga berharap Yunho akan selalu bahagia dan bisa melakukan apa pun yang diinginkan sepanjang usianya. Namun… Jaejoong tidak pernah menyangka… Karena Yunho selalu melakukan apa pun yang diinginkannya, Jaejoong tidak pernah

The Fifteen

menyangka bahwa akan tiba saatnya Yunho tidak menginginkan dirinya lagi. Jaejoong tidak tahu apa yang yang terjadi dan mengapa. Jaejoong dan Yunho telah hidup bersama selama hampir sepuluh tahun lamanya. Jaejoong

dan

Yunho

tidak

pernah

bertengkar. Mereka juga tidak pernah berselisih paham. Bahkan mereka pun tidak terpisahkan. Jaejoong dan Yunho tidak pernah berpisah untuk waktu lebih dari sehari. Jaejoong

telah

kebersamaan mereka.

terbiasa

dengan

The Fifteen

Jaejoong telah terbiasa dengan sikap Yunho

selama

hampir

sepuluh

tahun

pernikahan mereka. Tetapi… Dan kehidupan sempurna yang seperti itu, yang telah berlangsung hampir sepuluh tahun lamanya secara tiba-tiba lenyap. Secara tiba-tiba kebiasaan yang selalu Yunho lakukan menghilang. Tidak ada percakapan konyol yang selalu Yunho lontarkan padanya. Tidak ada senyuman selamat pagi yang Yunho tunjukkan setiap kali Jaejoong membuka matanya.

The Fifteen

Tidak ada dekapan dan ucapan selamat malam dan mimpi indah yang biasanya Yunho ucapkan setiap malam. Jaejoong tidak tahu kapan pastinya, tetapi Yunho telah berubah. Jaejoong merasakan sikap Yunho yang terasa asing. Jaejoong merasakan pandangan mata serupa musang itu berubah. Jaejoong merasakan tatapan matanya setiap kali Jaejoong memunggunginya. Jaejoong merasa seakan-akan ada ratusan jarum

yang

menghujam

melalui

punggungnya, membuat sarafnya menjadi sangat tegang.

The Fifteen

Seolah-olah ada seseorang yang sedang mengawasinya dan menatapnya dengan tatapan menusuk. Membuat Jaejoong teringat akan masa lalunya. Dan Jaejoong membenci perasaan itu. Membuatnya ingin berbicara dengan Yunho. Tetapi… Yunho

yang

biasanya

selalu

menjemputnya untuk pulang bersama, kini tidak pernah lagi menjemput Jaejoong. Membuat Jaejoong akhirnya hanya bisa menunggu Yunho di rumah. Namun…

The Fifteen

Semakin lama waktu berlalu, Yunho pulang ke rumah semakin malam, dan semakin larut. “Apa yang harus aku lakukan?” Jaejoong merasakan ketakutan mulai memenuhi hatinya dan menyeretnya kembali ke dalam kegelapan. Sampai akhirnya… Jaejoong melihat Yunho berada di dalam bar bersama dengan seorang laki-laki manis dan imut. Jaejoong melihat bagaimana laki-laki imut itu tersenyum manis kepada Yunho sambil

menggodanya

tersenyum membalasnya.

dan

Yunho

pun

The Fifteen

Pada detik itu juga, Jaejoong akhirnya mengerti. Yunho tidaklah berubah. Yunho masih sama seperti Yunho yang dulu. Yunho yang masih mengikuti apa yang hatinya inginkan. Yunho mengikuti hatinya untuk tidak mencintai Jaejoong lagi. Mengikuti hatinya untuk mencintai lakilaki lain. Dan ketika Yunho memintanya untuk bercerai… Bohong bila Jaejoong tidak terkejut. Walau pun Jaejoong sudah bisa menebak bahwa cepat atau lambat laki-laki yang

The Fifteen

berada di hadapannya itu akan mengucapkan kalimat perceraian terlebih dahulu. Tetapi kini Jaejoong telah lebih siap. Oleh karena itu, dirinya tidak akan menolak, tidak ada gunanya untuk membuat keributan untuk sesuatu hal yang sudah pasti hasil akhirnya akan seperti apa. Dan setelah Jaejoong berhasil menguasai dirinya

dan

kembali

bersikap

tenang,

Jaejoong kemudian mengiyakan permintaan perceraian dari Yunho. Jaejoong tidak ingin memaksanya. Lagipula… Jaejoong juga adalah seorang laki-laki sama sepertinya, dan dirinya tidak perlu

The Fifteen

merengek

dan

menjadi

orang

yang

menjengkelkan. Paling tidak… Jaejoong ingin agar dirinya tetap menjadi pribadi yang tenang di mata Yunho. Dan tak berselang lama… Jaejoong pun pergi. Pergi meninggalkan tempat yang telah memberikan kenangan indah selama hampir sepuluh tahun kebersamaan mereka. Berjalan di dunia yang dipenuhi oleh es dan salju… Berjalan kembali ke dalam di dunia yang diliputi kegelapan… Dan tiba-tiba… Langkah Jaejoong terhenti.

The Fifteen

Jaejoong

kemudian

menyenderkan

bahunya ke dinding, Dirinya terlihat begitu lemah dan seolaholah dirinya akan menghilang ke dalam gelapnya malam. Mengapa…? Mengapa…? Mengapa terjadi seperti ini…? Jika kau tidak bisa setia sampai akhir hayatmu, mengapa kau mengucapkan janji dan bersumpah ‘hingga akhir hayat’…? Dan

selama

ini

Jaejoong

mempercayainya. Tetapi… Pada akhirnya… Yunho telah mengingkarinya.

selalu

The Fifteen

Udara

dingin

tiba-tiba

menusuk

menembus hatinya. Seakan-akan dirinya telah kembali ke masa lalu. Kembali ke masa di mana pada malam bersalju ketika ibu kandungnya dengan tanpa perasaan meninggalkan dirinya. Walau pun sekuat tenaga dirinya telah menahan kaki ibunya. Walau pun dirinya telah memohon dan terus berteriak histeris memanggil ibunya dengan air mata yang terus menggenang membasahi seluruh wajahnya. Tetapi pada akhirnya… Ibunya tetap pergi dengan kejamnya tanpa

menoleh

ke

arahnya

dan

The Fifteen

menghempaskan pelukan Jaejoong pada kakinya. Tidak peduli seberapa banyak dirinya memanggil ibunya… Tidak

peduli

bagaimana

dirinya

memanggilnya… Tidak peduli bagaimana cara dirinya mencoba menahannya… Semua itu menjadi hal yang sia-sia. Dan kini… Dirinya telah dewasa. Dirinya bukanlah anak kecil yang dulu. Seorang anak kecil yang tidak berdaya dan terus memohon agar tidak ditinggalkan. Kini…

The Fifteen

Dirinya memohon

tidak untuk

akan

meminta

sesuatu

yang

dan bukan

miliknya. Tetapi… Hatinya menolak. Walau pun Jaejoong tahu hal itu adalah sesuatu yang sia-sia… Walau pun dirinya tahu hal itu akan membuatnya terlihat buruk… Walau pun dirinya tahu hal itu akan membuatnya

kehilangan

martabat

terakhirnya… Namun… Ketika Jaejoong melihat Yunho yang berdiri di depannya…

The Fifteen

Melihat Yunho yang turut berjongkok dan memegang kedua pipinya membuat hatinya terasa begitu sesak. Hanya air mata yang menggenang dan memenuhi wajahnya. Dirinya menangis dalam diam. Tanpa ada suara tangisan. Hanya air mata yang terus mengalir membasahi

wajahnya

dan

membuat

pandangannya mengabur. “Apa salahku?” Bibirnya bergetar hebat, dirinya yakin bahwa saat ini penampilan dirinya terlihat sangat kacau.

The Fifteen

Pandangan matanya terus bergerak ke sana kemari tanpa arah pandangan yang pasti. “Mengapa

kau

tidak

menepati

sumpahmu?” Jaejoong

merasakan

kedua

telapak

tangan Yunho memegang kedua pipinya. Jaejoong mendengar suara Yunho yang terdengar samar terus memanggil namanya berulang kali. Namun… Otaknya seakan tidak bisa merespon suara dari Yunho yang terus memanggil namanya. “Mengapa kau menyukai orang lain?” “Mengapa kau ingin bercerai?”

The Fifteen

Jaejoong akhirnya menatap lurus ke arah Yunho. “Mengapa kau tidak menginginkanku?” Mendengar ucapan Jaejoong membuat tubuh Yunho gemetar. Ketika Yunho melihat keadaan Jaejoong yang seperti itu, seketika Yunho merasa dirinya ingin membunuh dirinya sendiri karena telah membuat keadaan Jaejoong menjadi seperti itu. “Jangan menangis…” Hatinya hancur. Akibat perbuatannya membuat Jaejoong menjadi seperti itu. Dengan cepat Yunho memeluk Jaejoong dan menciumnya.

The Fifteen

“Jangan menangis, Jae…” “Aku tidak menyukai laki-laki lain. Bagaimana bisa aku menyukai laki-laki lain. Aku hanya mencintaimu. Dalam kehidupan ini, tidak, dalam setiap kehidupan aku hanya mencintaimu seorang.” “Hanya

kaulah

satu-satunya,

Kim

Jaejoong.” Yunho terus menyalahkan dirinya sendiri. “Ini adalah kesalahanku, aku sangat brengsek.” “Bagaimana bisa aku mengatakan itu?” “Bagaimana

bisa

aku

mengucapkan

perceraian seperti itu? “Bagaimana bisa aku berpisah darimu?”

The Fifteen

“Bahkan

jika

kau

menendangku,

mematahkan kakiku, bahkan bila aku harus merangkak…” “Aku

tidak

akan

pernah

meninggalkan…” Belum selesai Yunho menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Jaejoong mencium Yunho. Walau pun ciuman Jaejoong terasa kasar, namun itu adalah kali pertama Jaejoong berinisiatif untuk menciumnya. Yunho merasakan rasa asin yang berasal dari air mata Jaejoong yang terus mengalir. Yunho juga merasakan bibirnya yang bergetar hebat ketakutan.

The Fifteen

Membuat

Yunho

mengerti

bahwa

Jaejoongnya dalam keadaan putus asa dan hancur. Yunho belum pernah melihat Jaejoong yang seperti ini. Dan itu semua adalah akibat dari perbuatannya. Satu patah kata yang keluar dari bibirnya membuat Jaejoongnya hancur. Dan Yunho bersumpah, dirinya tidak akan pernah membiarkan Jaejoong seperti itu lagi. Yunho bersumpah, dirinya tidak akan pernah ingin melihat Jaejoongnya menjadi seperti itu lagi selama sisa hidupnya.

The Fifteen

“Aku mencintaimu…aku mencintaimu… Aku mencintaimu…” Tiga kalimat yang terus diucapkan Yunho secara berulang kali itu, bagaikan sebuah mantra, yang secara ajaib mampu menenangkan Jaejoong. Tubuh Jaejoong secara tiba-tiba berhenti bergetar. “Aku

sangat

mencintaimu,

Kim

Jaejoong.” ***** Ketika

Yunho

membawa

Jaejoong

kembali ke dalam rumah, begitu pintu tertutup, Jaejoong kembali mencium Yunho.

The Fifteen

“Aku akan menyiapkan air hangat, kalau tidak maka kau akan masuk angin.” Hati

Yunho

yang

telah

melembut

seutuhnya pun berkata dengan lembut untuk menenangkan Jaejoong yang bertingkah bagaikan anak kecil yang takut untuk ditinggalkan. Tetapi Jaejoong memeluk Yunho dengan erat dan enggan membiarkan Yunho pergi. Dengan

suara

yang

sedikit

serak

Jaejoong berbisik di telinga Yunho. “Di sini… aku menginginkanmu…” Kalimat yang Jaejoong ucapkan itu bagaikan

api

yang

secara

tiba-tiba

membakar dan melenyapkan akal sehat Yunho seketika.

The Fifteen

Membuat mereka berdua kelelahan. Dan sebagai akibatnya mereka tidak masuk kerja pada keesokan harinya. Ketika

hari

sudah

siang,

Jaejoong

akhirnya terbangun. Dengan tubuh yang terasa seakan remuk. Tetapi… Tidak ada seorang pun di sampingnya. Membuat

tubuh

Jaejoong

tiba-tiba

terlonjak kaget. Dirinya pun terduduk di atas tempat tidur dengan wajah yang menunjukkan rasa ketakutan ketika tidak menemukan Yunho di sampingnya. Mengabaikan rasa sakit yang dirasa tubuhnya.

The Fifteen

Namun… Ketika

Jaejoong

mengembalikan

mulai

kesadarannya,

bisa dirinya

mencium aroma masakan yang hangus. Membuat tubuh Jaejoong menjadi rileks. “Ah, kau sudah bangun?” Yunho yang membuka pintu kamar mereka

kemudian

tersenyum

melihat

Jaejoong yang sudah bangun. “Aku baru selesai memasakkan bubur untukmu. Makanlah dulu. Semalam kau tidak makan apa-apa, apalagi tubuhmu berada di tempat yang dingin untuk waktu yang lama ditambah aktivitas semalam, jadi pasti saat ini perutmu sedang keroncongan.”

The Fifteen

Yunho kemudian melangkah mendekati tempat tidur di mana Jaejoong masih dalam posisi setengah duduk di atas tempat tidur. Aku tahu aku tidak bisa memasak, tapi aku sudah mengikuti resep, dan aku sudah mencicipinya, aku rasa harusnya bubur ini masih layak untuk dimakan.” Melihat Jaejoong yang tidak bereaksi membuat meyakinkan

Yunho

kemudian

Jaejoong

untuk

mencoba memakan

masakan yang telah dibuatnya itu. Namun Jaejoong masih bergeming. “Ayo, biar suamimu ini menyuapimu.” Yunho kemudian mengambil kursi dan menariknya ke dekat tempat tidur di mana

The Fifteen

Jaejoong berada dan kemudian duduk di atas kursi tersebut. Yunho kemudian mulai menyendokkan bubur

hasil

meniupinya

masakannya untuk

dan

mulai

menghilangkan

uap

panasnya. “Aku… mu…” Sambil

menutup

matanya

Jaejoong

mengucapkan kalimat dengan samar. Membuat

Yunho

yang

tercengang

terlihat bodoh. Jaejoong

kemudian

menggigit

bibir

bawahnya. Pipi

Jaejoong

terlihat

memerah…

menjalar hingga ke leher dan telinganya. “Aku… mencintaimu.”

The Fifteen

Nada suara yang Jaejoong ucapkan begitu kaku dan terdengar lirih, walaupun sedikit lebih nyaring bila dibandingkan dengan

ucapan

sebelumnya

yang

kini

terdengar jelas di telinga Yunho. Prang! Mangkuk yang berisi bubur itu pun jatuh ke lantai. Mengotori

karpet

bulu

kesukaan

Jaejoong. Tetapi Yunho tidak peduli. Dengan gerakan cepat Yunho bergegas mendekati

tempat

tidur

dan

Jaejoong. “Katakan sekali lagi.” Namun Jaejoong bungkam.

memeluk

The Fifteen

“Ah, kau tidak perlu mengatakannya! Sekali sehari sudah cukup! Aku akan menelpon Eomonim dan Abeoji. Saudaramu juga. Ah Tidak. Aku akan menelpon Eomma dan Appa juga!” Yunho mulai meracau dan berkata tidak jelas. Saat ini otak Yunho bagaikan terkena sengatan listrik dan membuat otaknya korslet. Hatinya membuncah. Dan saat ini Yunho terlihat sangat sangat konyol. Ketika Yunho hendak beranjak pergi mencari handphonenya, Jaejoong menahan tangannya.

The Fifteen

Melihat

tangan

Jaejoong

yang

memegang pergelangan tangannya membuat Yunho mengembalikan kesadarannya. Sambil tersenyum Yunho kemudian naik ke atas tempat tidur dan memeluk Jaejoong. “Terima kasih!” “Terima kasih, Jae.” Setelah

sepuluh

tahun

pernikahan

mereka, Jaejoong dan Yunho akhirnya berbicara secara terbuka satu sama lainnya. Jaejoong pun bertanya, mengapa Yunho tiba-tiba berubah. Yunho

pun

memberitahu

Jaejoong

tentang apa yang dirinya dengar pada hari itu dan kemudian bertanya balik kepada Jaejoong.

The Fifteen

“Mengapa kau mengatakan ‘Aku tidak peduli’?” Untuk beberapa saat Jaejoong pun tertegun, dan kemudian mengatakan yang sebenarnya kepada Yunho. “Apakah hal itu penting jika aku peduli? Jika kau tidak mencintaiku, maka aku…” “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Aku tidak tahu apalagi yang bisa kulakukan…” Pada

kenyataannya,

jika

mereka

mengetahui sifat Jaejoong dengan pasti, maka tiga patah kata ‘Aku tidak peduli’ adalah jawaban yang paling menggambarkan Jaejoong.

The Fifteen

Mengatakan kata ‘Aku tidak peduli’ adalah ungkapan dari Jaejoong bahwa dirinya tidak akan tahu apa yang akan terjadi padanya bila hal itu terjadi. Dunia Jaejoong akan

menjadi

hampa

dan

akan

mengembalikan dirinya ke dalam kegelapan. Dan Yoochun sangat mengerti hal itu. Tetapi tidak dengan Yunho. Yunho yang hanya mendengar separuh dari percakapan mereka telah menafsirkan lain dari ucapan Jaejoong tersebut. Walau pun itu adalah reaksi yang wajar ketika mendengar seseorang yang mereka cintai mengatakan hal seperti itu, namun Yunho lupa, Jaejoong tidaklah sama seperti orang kebanyakan.

The Fifteen

Ucapan dari Jaejoong saat itu membuat Yunho lupa bagaimana sifat Jaejoong yang berbeda dengan orang kebanyakan. Menyadari

kebodohannya

membuat

Yunho kembali memeluk Jaejoong erat. “Aku salah! Aku salah! Aku adalah orang terbodoh di dunia!” “Jangan katakan kalau selama ini kau berpikir bahwa aku tidak mencintaimu?” Jaejoong kemudian bertanya kepada Yunho. “Kau

tidak

pernah

mengatakannya

sebelumnya.” Mendengar

pertanyaan

Jaejoong

membuat wajah Yunho terasa panas.

The Fifteen

“Aku

mengatakannya

saat

kita

mengucapkan sumpah di hari pernikahan kita. Setiap kata yang aku ucapkan pada saat itu adalah benar-benar keluar dari lubuk hatiku.” Yunho pun tertegun. Janji pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Tetapi hal itu pula yang paling sering dilupakan oleh orang-orang. Sedangkan Jaejoong… Ketika

dirinya

mengucapkan

janji

pernikahan, maka dirinya akan menepatinya untuk seumur hidupnya. Itu adalah pernyataan yang paling kuat yang berasal dari lubuk hatinya yang

The Fifteen

terdalam,

bahkan

lebih

kuat

daripada

banyaknya kata-kata “Aku mencintaimu” yang sering diucapkan. Karena

Jaejoong

telah

menjanjikan

segalanya dalam hidup ini, menyerahkan seluruh cinta dan hatinya, seluruh jiwanya, dan seluruh hidupnya hanya untuk Yunho. Sedangkan Yunho… Malah melupakan atau mungkin malah menganggap angin lalu janji pernikahan yang telah diucapkan oleh Jaejoong di hari pernikahan mereka yang telah diucapkannya dari lubuk hatinya yang terdalam. “Jangan

katakan

mengingatnya?”

bahwa

kau

tidak

The Fifteen

Jaejoong

kemudian

memicingkan

matanya menatap Yunho dengan pandangan matanya yang dingin. DEG! Sebenarnya darah Yunho berdesir setiap kali melihat pandangan mata Jaejoong yang dingin itu, tetapi untuk kali ini Yunho merasa sedikit takut karena tidak ingin Jaejoong mengetahui kesalahan terbodohnya. “Aku tidak…” “Benarkah?” “Haruskah aku menghukummu?” Akal sehat Yunho seakan menghilang, membayangkan hukuman apa yang akan Jaejoong berikan kepadanya, entah mengapa malah membuat Yunho semakin bergairah.

The Fifteen

Apakah

mungkin

dirinya

berubah

menjadi masochist? Jaejoong kemudian mengalungkan kedua lengannya di leher Yunho sambil berbisik di telinga Yunho. “Katakan, hukuman apa yang harus kuberikan padamu?” Hilang sudah kewarasannya. Dengan cepat diri Yunho menyambar bibir merah kesukaannya itu hingga membengkak dan menekan tubuhnya hingga membuat lakilaki yang paling dicintainya di dunia ini kembali kelelahan. FIN

The Fifteen

The One and Only Written by tohoshinkijeje

Trigger warning: car accident, blood, ableism, bullying

***** Yunho

membuang

napas

sambil

memasuki kelasnya. Anak laki-laki dengan mata serupa manik rubah itu merupakan pindahan dari Gwangju. Sudah hampir satu bulan ia berada di Seoul dan ia masih kesulitan mencari teman. Yunho adalah anak

The Fifteen

yang pendiam dan agak tertutup, ia juga malu saat akan berbicara karena logat Gwangjunya yang kental. Oleh karena itu, ia sangat irit dalam mengeluarkan kalimat, membuatnya agak sulit didekati oleh teman sekelasnya. Yunho duduk di bangku paling belakang, persis dekat jendela. Ia beruntung mendapat bangku itu karena tersembunyi dan bonus semilir angin yang selalu menyapu wajahnya. Hal pertama yang ia lakukan pagi itu adalah mengeluarkan buku pelajaran untuk jam pertama. “Ini dia bintang kebanggaan kita!” Terdengar suara gaduh teman sekelasnya yang

bersorak-sorai,

ia

menoleh

dan

The Fifteen

mendapati bintang kelas ini, tidak, tepatnya bintang sekolah bernama Kim Jaejoong masuk ke dalam kelas dengan sambutan luar biasa. Jaejoong mendapatkan beberapa buket bunga dari penghuni kelas ini, ucapan selamat dan tepuk tangan yang meriah mengiringi

langkahnya

sambil

sibuk

mengucap terima kasih dan membalas pelukan-pelukan dari teman-temannya. Sementara Yunho hanya memerhatikan di tempatnya. Kim Jaejoong. Bukan tanpa alasan ia mendapat julukan bintang sekolah. Tidak hanya

karena

wajahnya

yang

tampan

menawan, sifatnya yang baik, dan pandai

The Fifteen

bergaul, tapi juga karena prestasinya di bidang olahraga. Jaejoong adalah atlet figure skating atau seluncur indah. Dan katanya ia baru saja memenangkan medali perunggu di kejuaraan nasional. Dari yang Yunho dengar, Jaejoong sudah beberapa kali mengikuti kompetisi di tingkat nasional maupun internasional. Tidak heran, Jaejoong

menjadi

kebanggaan

sekolah.

Yunho memandang Jaejoong lamat-lamat dari bangkunya. “Katanya, kalau masuk tiga besar di kejuaraan nasional, kau bisa mengikuti kejuaraan

dunia.”

berkomentar.

Salah

satu

anak

The Fifteen

Jaejoong tersenyum lalu mengangguk malu. “Doakan aku.” Semua anak kembali heboh. Tak sengaja Yunho mengulum senyum tipis. Sedikit banyak, ia juga bangga dengan pencapaian Jaejoong yang cemerlang di usia yang masih muda. Gosipnya Jaejoong sudah menekuni olahraga seluncur indah sejak kecil. Tidak heran, prestasinya di bidang itu begitu mentereng. ***** “Hasil ulangan dengan nilai terbaik kali ini diraih oleh Jung Yunho!” Yunho berdiri dari tempat duduknya untuk menerima

The Fifteen

kertas ulangan dari wali kelasnya, diiringi riuh tepuk tangan dari teman-temannya. “Selamat, Yunho.” “Terima kasih, Saem.” Yunho kembali ke tempat duduknya. “Siwon, sepertinya posisimu berhasil direbut,” kata wali kelas pada Siwon, sang ketua kelas yang langganan juara pertama, sebelum akhirnya ia harus merelakan titel itu pada si murid baru. “Dan Jaejoong, selamat atas kemenanganmu.” “Terima kasih, Saem.” “Tapi

kau

harus

perbaiki

nilai

akademikmu. Kau bisa belajar bersama Siwon atau Yunho.”

The Fifteen

“Ne, Saem.” Jaejoong menjawab malu bersama dengan suara tawa murid lainnya. Karena kesibukannya berlatih dan mengikuti kompetisi, Jaejoong sering kali ketinggalan pelajaran dan itu berimbas pada nilai akademiknya. Jam memasuki waktu istirahat. Wali kelas pun meninggalkan kelas. Seluruh murid

berhamburan

keluar,

sementara

Yunho tetap memilih diam di kelas sebab ibunya sudah menyiapkan bekal makan siang. “Hai, jadi kau si murid baru?” Yunho urung menyuapkan nasi ke mulutnya, ia mendongak

dan

menemukan

Jaejoong

berdiri tepat di depannya sambil tersenyum

The Fifteen

ramah. Tangan pemuda itu terulur. “Salam kenal, aku Kim Jaejoong. Kita belum sempat berkenalan.” Yunho menyambut uluran tangan itu dan membalas seadanya, “Aku Jung Yunho, salam kenal.” Pemuda asal Gwangju itu menyuapkan nasi ke dalam mulutnya yang sempat tertunda. Sekonyong-konyong Jaejoong kemudian duduk

di

depan

bangku

Yunho

dan

menghadapnya. Dari dekat, Yunho bisa melihat fitur wajah Jaejoong dengan jelas. Ditatapnya anak itu lekat-lekat. Ternyata selain tampan, kata cantik juga pantas disematkan padanya.

The Fifteen

Jaejoong adalah definisi dari keindahan yang nyata. Bahkan ketika helaian surainya yang tertiup sepoy angin, Yunho seakan dibuat tersihir olehnya. Sehingga selama beberapa detik tadi, otak Yunho sempat lumpuh. “Kau mau menemaniku belajar dan mengajariku?

Satu-satunya

keahlianku

hanya seluncur indah, kalau kau buka otakku sekarang isinya pasti kopong, kau hanya akan menemukan skating di sana.” Bibir Yunho

berkedut

nyaris

tersenyum

mendengar lelucon Jaejoong. “Jadi ajari aku, yah?”

Jaejoong

makin

wajahnya yang jenaka.

mendekatkan

The Fifteen

“Kau bisa minta bantuan pada Siwon.” Dengan

dagu

Yunho

menunjuk

ketua

kelasnya yang sedang membaca buku. Jaejoong mengembuskan napas. “Oh, Siwon itu menyebalkan.” “Lalu dari mana kau tahu aku tidak akan sama

menyebalkannya

seperti

Siwon?”

Yunho mengunyah makan siangnya dengan santai. “Hanya

menebak,”

jawab

Jaejoong

sambil mengedikkan bahu. “Jaejoong!

Fans-fansmu

datang!”

Seorang teman berteriak dari ambang pintu, Jaejoong

dan

Yunho

mengalihkan

perhatiannya pada sumber suara. Sudah ada

The Fifteen

sekelompok gadis yang berkerumun di depan kelas Jaejoong. “Merepotkan

sekali

punya

banyak

penggemar. Aku permisi dulu, nanti kita bicara lagi yah. Yun-oh.” Jaejoong lantas melesat meninggalkan Yunho setelah ia mencolek dagu si murid baru dengan cepat. “Yunho. Yunho

Namaku

menatap

datar

Yunho,” Jaejoong

gumam yang

menghampiri para penggemarnya dengan antusias. ***** Meskipun Jaejoong bilang ia ingin belajar bersama Yunho, setelah mereka

The Fifteen

berkenalan untuk pertama kalinya waktu itu, Jaejoong terus menunda niatnya tersebut. Yunho pun juga tidak bertanya, jadi kegiatan belajar

bersama

itu

sampai

seminggu

kemudian belum juga terlaksana. Bertemu pelatih, latihan, istirahat, dan urusan dengan teman serta fans-fansnya selalu

menjadi

alasan

Jaejoong

terus

mengulur-ulur janjinya. Tapi sebetulnya Yunho juga tidak terlalu peduli, ia malah senang, bagi seorang introvert seperti Yunho tidak mudah baginya untuk beradaptasi dengan orang yang baru ia kenal. “Yun-oh! Aku pulang duluan, aku ada janji. Nanti saja belajarnya!” kata Jaejoong

The Fifteen

dengan gerak cepat menggendong tasnya lalu berlari keluar kelas. “Sudah kubilang namaku Yunho,” ucap Yunho kesal karena Jaejoong terus salah sebut namanya. “Bye. Yun-oh!” Suara Jaejoong yang menggema di lorong terdengar di telinga Yunho, membuatnya mendesah berat. Entah Jaejoong

sengaja

atau

tidak

tentang

penyebutan namanya yang selalu keliru itu. … … Usai pulang sekolah, Yunho sempat mampir sebentar ke toko buku. Tadinya ia hendak pergi ke hagwon tapi orang tuanya menelpon dan memberitahu bahwa sang

The Fifteen

nenek yang hidup sendiri di Gwangju jatuh sakit, jadi malam itu juga mereka akan langsung pergi ke sana. Di tengah jalan sambil menunggu orang tuanya

menjemput,

Yunho

mendengar

seseorang memanggil namanya. “Yunho!” Yunho menoleh dan mendapati bintang sekolahnya sedang bersama dengan empat orang lainnya. Sang atlet muda setengah berlari

mendekati

Yunho.

“Jaejoong?”

Kening pemuda Gwangju itu mengerut saat menilik penampilan Jaejoong yang agak berantakan. Nampak ada noda kotor di seragam putihnya.

The Fifteen

“Hai, kau teman Jaejoong?” Salah satu orang yang bersama Jaejoong juga ikut menghampiri

mereka

berdua.

Ia

lalu

merangkul Jaejoong dengan akrab, tidak, sok akrab mungkin lebih tepatnya. “Aku

sekelas

dengannya.”

Yunho

menjawab tenang, ia memerhatikan satu per satu teman-teman Jaejoong yang sama sekali tidak memberinya tatapan ramah. Jaejoong

melepas

paksa

rangkulan

temannya lalu mendekati Yunho. “Yunho, bukankah kita ada janji belajar bersama? Aku hampir saja lupa. Ayo kita belajar di rumahmu saja.” Kedua tangan Jaejoong menggamit lengan Yunho erat-erat. Keringat nampak

membasahi

wajah

pemuda

The Fifteen

menawan itu, sementara rautnya nampak cemas dan takut. Namun begitu, Jaejoong mati-matian untuk tetap bisa tersenyum. Namun sayang, ekspresi Jaejoong itu tak sampai bisa dimengerti oleh Yunho. “Sejak kapan kau belajar, Jaejoong?” tanya laki-laki yang merangkul Jaejoong tadi dan disambut tawa oleh kawan-kawannya yang lain. Nada suara mereka sama sekali tak terdengar seperti candaan, sebaliknya, mereka justru terdengar seperti sedang meremehkan. “Ayo, Yunho.” Jaejoong menarik lengan Yunho namun suara klakson menghentikan langkah

mereka

berdua

dan

membuat

The Fifteen

mereka menoleh pada sebuah mobil yang berhenti di sisi jalan. “Yunho!” Seorang wanita paruh baya berteriak dari kursi depan. “Eoh, Eomma!” sahut Yunho. “Jaejoongah, maaf. Aku sudah dijemput orang tuaku untuk pergi, kau tadi bilang kita belajarnya nanti saja karena ada janji. Bukankah sekarang kau bersama teman-temanmu? Aku pergi dulu.” Yunho pun melepas tangan Jaejoong di lengannya. “Benar, Jaejoong ada janji bersama kami. Jaejoong-ah, kita belum selesai bermain. Ayo kita pergi.” Laki-laki kawan Jaejoong tadi menarik tubuh Jaejoong dan memiting lehernya, mencegah si bintang sekolah kabur.

The Fifteen

“Yunho!” panggil Jaejoong lagi. “Sampai jumpa Jaejoong.” Agak ragu Yunho melambaikan tangan pada Jaejoong sebelum ia memasuki mobil. Dari kursi belakang Yunho terus melihat ke arah Jaejoong yang terus menatapnya seiring berjalannya mobil. Entah kenapa Yunho berat hati dan cemas meninggalkan Jaejoong. “Tadi siapa? Temanmu?” tanya sang ibu. “Iya kami sekelas.” “Maaf

kami

menjemputmu

malam-

malam. Karena besok hari libur jadi kita sekalian menginap saja di sana, Eomma khawatir jika meninggalkanmu sendiri di rumah….” Padahal Yunho sudah besar. Ia tidak akan kenapa-kenapa jika orang tuanya

The Fifteen

meninggalkannya sehari tapi toh Yunho juga ingin melihat neneknya, neneknya juga pasti senang jika mereka bertemu. Yunho kemudian kembali melihat ke arah tempat Jaejoong dan teman-temannya. Kebetulan jalanan sedang macet, ia masih bisa melihat mereka dari kejauhan. “Apa yang

sedang

mereka

lakukan…?”

gumamnya sambil mengerutkan kening saat ia melihat satu per satu mereka memukuli Jaejoong. melawan

Jaejoong dan

kemudian memberontak

pertengkaran itu berlangsung sengit. “Sialan, mereka merundungnya!” “Kenapa?” tanya sang ayah.

nampak tapi

The Fifteen

“Temanku dipukuli. Eomma aku turun saja.” Tanpa tendeng aling-aling Yunho kemudian membuka pintu mobil dengan cepat. “Yunho!”

Yunho

tak

memedulikan

teriakan ibunya, pemuda itu berlari kencang untuk kembali pada Jaejoong, ia melesat bak meteor. Jaejoong

Seharusnya pergi.

tadi

ia

Seharusnya

mengajak ia

sadar

Jaejoong tengah meminta bantuannya. Mata rubah Yunho tak bisa lepas pada sang atlet muda yang masih bergumul dengan teman-temannya. Tak ada satupun yang menolongnya. Sedikit lagi. Sebentar lagi, Jaejoong. Tunggu Yunho, ia akan sampai.

The Fifteen

Kemudian

detik

selanjutnya,

dunia

Yunho seakan berhenti. Waktu seolah membeku ketika seseorang di antara mereka mendorong Jaejoong dengan keras hingga ia terhempas ke jalanan, lalu sebuah mobil yang melaju cepat menghantam

tubuh

kurusnya

dengan

kencang, membuat tubuhnya terlempar ke jalanan. Yunho nyaris kehilangan napas saat tubuh Jaejoong tergeletak di aspal dengan darah bersimbah. Sekuat tenaga Yunho menggerakan kakinya sementara tubuhnya gemetar hebat. Telinganya berdengung.

The Fifteen

Hingga bunyi sirene ambulans dan pelukan sang ibu kembali menyadarkan Yunho. ***** Jaejoong koma. Luka berat yang dialaminya membuat kondisinya jatuh kritis, ia bahkan nyaris tak tertolong. Dokter bilang hanya mukjizat yang dapat menolongnya dan waktu yang kelak akan memberi jawaban. Pelaku perundungan Jaejoong sudah ditangkap. Mereka adalah teman SMP Jaejoong. Yunho tidak tahu detail lainnya seperti apa. Yunho yang saat itu juga terlibat,

The Fifteen

ikut memberikan kesaksian pada pihak kepolisian, didukung oleh rekaman kamera pengawas, pengadilan.

kasus Anak

itu

diproses

yang

tak

oleh sengaja

mendorong Jaejoong dikenai sanksi penjara empat tahun, sisanya mendapat hukuman dua tahun dan masa percobaan. Lebih ringan dari seharusnya karena para perundung itu masih di bawah umur. Berita

kecelakaan

Jaejoong

tentu

membuat semua orang terutama pihak sekolah bersedih, pun dengan dunia olahraga yang seakan kehilangan atlet muda potensial. Kejuaraan dunia yang sudah ada di depan mata Jaejoong, kini harus pupus. Entah

The Fifteen

bagaimana perasaannya saat ia mengetahui hal itu. Yunho tidak mau memikirkannya. Hari demi hari dari selesai waktu sekolah, Yunho terus menyempatkan diri untuk menjenguk Jaejoong. Ia memang tidak terlalu dekat dengan Jaejoong tapi sebagai orang terakhir yang Jaejoong temui sebelum kejadian nahas itu terjadi, membuat Yunho merasa bersalah dan ikut bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Kalau saja Yunho saat itu langsung membawa Jaejoong pergi, anak itu masih akan tertidur di kelas karena lelah berlatih lalu ia lagi-lagi akan salah memanggil nama Yunho. Itu yang Yunho pikirkan saat ia menatap sosok Jaejoong yang terbaring

The Fifteen

lemah dibantu dengan alat-alat medis di sekujur tubuhnya. “Yunho, ini sudah malam. Kau harus pulang, besok kau harus sekolah.” Ibu Jaejoong menyentuh pundak Yunho yang terus

berdiri

di

depan

ruangan

kaca

bertuliskan ICU, tempat Jaejoong dirawat. “Eomonie, beri tahu aku jika Jaejoong bangun.” Itu adalah kalimat yang selalu diulang-ulang oleh Yunho hampir setiap hari pada ibu Jaejoong. Membesuk Jaejoong sudah

jadi

rutinitasnya

selama

nyaris

setahun belakangan ini. Ya, Jaejoong sudah koma selama itu. Sebentar lagi harusnya ia dan Jaejoong lulus

The Fifteen

bersama kemudian meraih mimpi masingmasing. Ibu

Jaejoong

mengembuskan

napas

kencang. Ia menggandeng lengan Yunho dan menuntunnya menjauh dari bangsal Jaejoong. Dibawanya anak seumuran putranya tersebut ke taman rumah sakit dan memberinya coklat hangat. “Yunho, aku sudah bilang, kejadian yang menimpa

Jaejoong

bukanlah

salahmu.

Mereka yang membulinya lah yang salah. Kau tidak perlu merasa bersalah.” Yunho harusnya

menggeleng. menolong

“Tidak.

Jaejoong

saat

Aku itu.

Perbuatanku juga sama buruknya dengan para perundung itu.”

The Fifteen

Wanita tua tersenyum meringis. “Kau tidak perlu merasa begitu, Yunho. Aku mengerti kau juga pasti tidak tahu kalau mereka bukan teman-teman Jaejoong. Kau murid baru dan belum mengenal Jaejoong terlalu dekat.” Ia meraih tangan Yunho dan menggenggamnya erat, setiap hari bertemu dengannya membuatnya merasa memiliki putra kedua. “Dengar, sebentar lagi kau akan lulus dan menghadapi ujian masuk universitas. Jadi, mulai sekarang fokus pada dirimu sendiri,

kau

juga

harus

memikirkan

kehidupanmu. Karena itu, jangan datang ke sini lagi. Bermain sepuasmu dan belajarlah dengan giat. Jangan cemaskan Jaejoong, dia

The Fifteen

anak yang kuat. Suatu hari aku yakin dia pasti akan bangun. Dan saat ia bangun nanti, aku ingin kau jadi orang sukses supaya kelak kau bisa menyombongkannya pada Jaejoong. Kau mengerti?” Yunho

tidak

berkaca-kaca.

menjawab,

matanya

Menghentikan

kegiatan

rutinnya yang sudah seperti kebiasaan tentu sulit bagi Yunho, sebab dalam dirinya ia merasa bahwa itu sudah seperti kewajiban, Yunho merasa bertanggung jawab. Tidak mudah bagi Yunho untuk melepasnya begitu saja. “Yunho? Kau mengerti ‘kan? Janji padaku, hmm?” Yunho masih bergeming.

The Fifteen

“Yunho, jawab aku.” “Eomonie, aku tidak mau. Aku masih mau menjenguk Jaejoong.” “Tidak. Kau harus berhenti. Tolong turuti ucapanku.” Perlahan akhirnya Yunho mengangguk. Ia lalu mendapatkan pelukan hangat dari ibu Jaejoong. “Oh anakku. Terima kasih sudah jadi teman Jaejoong. Aku yakin kau akan jadi pria yang luar biasa.” ***** 15 tahun kemudian… Sudah belasan tahun berlalu, waktu melesat seperti cahaya yang melintasi ruang.

The Fifteen

Langkah tegap seorang pria dengan mantap memasuki ruangan paling luas di puncak tertinggi sebuah gedung pencakar langit, tepat di jantung Kota Seoul. Setelah lama tinggal di Kanada, Yunho akhirnya memutuskan untuk pulang dan meneruskan usaha ayahnya. Usai tamat SMA, Yunho melanjutkan studi di negeri daun maple tersebut dan setelah lulus kuliah, ia pun bekerja di sana. Dan panggilan ayahnya untuk menggantikan posisinya sebagai direktur utama di perusahaan yang telah dirintisnya sejak lama, makin menguatkan alasan Yunho untuk kembali ke Korea.

The Fifteen

Laki-laki yang sewaktu muda bertubuh kurus itu kini menjelma menjadi sosok gagah dengan fisik sempurna. Tubuhnya kokoh dengan otot-otot yang menyembul di lengan, dada, dan perutnya. Wajahnya terpahat begitu rupawan. Garis rahangnya

afdal

membingkai

parasnya.

Sementara mata rubahnya nampak makin tajam dan tegas. Yunho

mendongak

sewaktu

suara

ketukan di pintu ruangan kantornya berbunyi. “Masuk.” Shim Changmin, sekretarisnya masuk ke ruangan. “Tim legal sudah membuatkan kontrak dengan Haeshin, Anda dijadwalkan untuk rapat dengan pihak mereka besok

The Fifteen

siang.”

Ia

menyerahkan

satu

bundel

dokumen pada Yunho. “Terima kasih, nanti kupelajari. Ada lagi?” “Mengenai permintaan Anda.” Yunho yang tadinya hendak fokus ke pekerjaannya yang

menumpuk

seketika

langsung

mengalihkan perhatiannya. “Bagaimana? Kau sudah menemukannya?” ucapnya tak sabaran, ia bahkan mencampakkan dokumen yang akan ia baca untuk mendekati Changmin. Changmin

tersenyum.

Ia

kembali

menyerahkan satu berkas kepada Yunho. “Tidak sulit menemukannya. Anda bisa membacanya di sini.”

The Fifteen

Yunho lantas membuka dokumen itu dan membacanya dengan seksama. “Kalau

begitu

aku

permisi

dulu,

Sajangnim.” Changmin pun meninggalkan atasannya yang khusyuk dengan laporannya. Dengan serius Yunho membaca halaman demi halaman laporan berisi informasi tentang seseorang. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir ia menatap wajahnya yang masih terbaring di ruang ICU rumah sakit. Kim Jaejoong. Kejadian itu tidak pernah sekalipun Yunho lupakan. Peristiwa nahas itu masih segar diingatan Yunho. Sudah bertahuntahun semenjak ia mengetahui kabar terakhir Jaejoong. Setelah menginjakkan kaki di

The Fifteen

Kanada, hanya berita kecelakaan itu yang muncul saat ia mengetik nama Jaejoong di kolom pencarian internet. Sisanya tak ada lagi. Ibu Jaejoong juga tidak memberikan kontak dan ia tidak punya teman dekat di Seoul. Barulah saat ia kembali ke Korea, ia melakukan pencarian soal Jaejoong. Kaki Yunho kehilangan kekuatan, ia terjatuh

lemas

ketika

potret

bintang

sekolahnya dulu kini hidup dengan bantuan kursi roda. Kim Jaejoong. Atlet seluncur indah kebanggaan sekolahnya dulu ternyata mengalami kelumpuhan. Tiba-tiba hatinya serasa dirobek paksa mengetahui kenyataan yang terjadi. Rasa

The Fifteen

bersalah itu kembali muncul ke permukaan, menghantamnya dengan begitu keras. ***** Yunho menyusuri jalanan sepi sebuah kompleks

perumahan

yang

alamatnya

didapatkan dari laporan yang diberikan oleh Changmin. Benar, ia tengah mencari rumah Jaejoong.

Dari

dokumen

yang

telah

dihimpun sekretarisnya tersebut, tercatat Jaejoong pindah ke rumah ini beberapa tahun yang lalu. Mobil listrik yang dikendarai Yunho tiba-tiba berhenti saat ia menemukan ibu Jaejoong beserta dengan putranya keluar

The Fifteen

dari salah satu rumah, hati Yunho pun berdegup

tak

keruan.

Ibu

Jaejoong

membantu Jaejoong untuk memasuki mobil, melipat kursi rodanya, lalu masuk ke kursi kemudi. Mata Yunho mengekori gerak mobil yang melaju melewatinya lalu menghilang dari

pandangannya.

Degup

jantungnya

masih berdebar kembali melihat Jaejoong. Ada sesak yang menghimpit dadanya saat ia memandang

pria

dengan

paras

indah

tersebut. Yunho kemudian menjalankan kembali mobilnya

menuju

suatu

tempat

yang

alamatnya sudah ia dapat dan hafal dari dokumen

hasil

pencarian

Changmin.

The Fifteen

Beberapa saat kemudian, ia sampai di sebuah toko bunga. Tempat di mana Jaejoong bekerja. Ibu Jaejoong lalu terlihat keluar dari mobil, ia mengeluarkan kursi roda dari bagasi sebelum kembali membantu Jaejoong berpindah ke kursi roda. Pasangan ibu dan anak itu bekerja sama untuk bersiap membuka

toko.

Sesekali

mereka

bercengkrama dan berbagi tawa. Senyum Jaejoong membuat Yunho tak bisa menahan rindu yang berkecamuk dalam benaknya. Kapan terakhir kali ia melihat Jaejoong tersenyum? Jaejoong sangat indah dengan senyum

membingkai

wajahnya,

bunga-

The Fifteen

bunga cantik di sekitarnya bahkan kalah indah darinya. “Jaejoong-ah,” gumam Yunho pelan. Ia ingin turun dari mobil dan menghampiri si bintang sekolah tapi keberaniannya tak cukup banyak. Ia tidak pernah setakut ini menghadapi seseorang, Yunho jauh lebih berani menghadapi Presiden atau bahkan bos mafia

sekalipun

daripada

menghadap

Jaejoong secara langsung. Mungkin nanti. Begitu pikir Yunho sehingga ia dengan berat hati kembali menjalankan mobil dan meninggalkan toko bunga bernama Halcyon tersebut. Yunho terlalu pengecut untuk bertemu dengan Jaejoong.

The Fifteen

Besok. Semoga

besok

ia

sudah

bisa

menghimpun keberanian dan mengentaskan ketakutannya. Ya. Ia bisa. Ia pasti bisa. Sudah ada di ambang batas hasratnya untuk menemui Jaejoong. ***** Siang ini, Yunho kembali lagi ke Halcyon seperti janjinya pada diri sendiri kemarin itu. Semalaman kepalanya penuh dengan

segala

macam

skenario

pertemuannya dengan Jaejoong. Menyusun kalimat yang kemungkinan akan terjadi. Menyiapkan segala rencana dari A sampai Z.

The Fifteen

Yunho sudah siap. Bahkan

jika

Jaejoong

memakinya,

menamparnya, memukulnya, atau bahkan meludahinya sekalipun Yunho akan terima. Ia juga siap untuk menurunkan kedua lututnya, bersimpuh di depan kaki Jaejoong untuk meminta maaf secara langsung. “Yunho?!” mendapati

Pria seorang

itu

menoleh

dan

wanita

tua

menghampirinya. “Omonaa! Ini kau Yunho? Astaga, lama sekali tidak bertemu. Kau sudah jadi pria tampan sekarang. Senang bertemu denganmu lagi.” Wanita dengan rambut yang sudah memutih itu memeluk Yunho dengan antusias.

The Fifteen

“Apa

kabar,

Eomonie?”

Yunho

membalas pelukan ibu Jaejoong tersebut. Rasanya seperti mendekap tubuh ibunya, kerinduan itu nyaris membuat hati Yunho perih. “Bagaimana dengan kabarmu sendiri? Oh Tuhan, kau sudah jadi pria dewasa yang gagah dan menawan,” puji ibu Jaejoong begitu ia melepas pelukannya. “Aku tidak menyangka Eomonie masih ingat aku.” Wanita itu memukul lengan Yunho. “Tentu saja aku ingat! Aku tidak mungkin lupa padamu. Bagaimana kalau kita minum kopi di kafe itu?” Ibu Jaejoong menunjuk

The Fifteen

kafe tepat di depan toko bunganya. Yunho mengangguk dan mengikutinya. “Jadi di mana kau selama ini?” tanyanya pada Yunho setelah mereka duduk di salah satu meja dan memesan dua es kopi. Keriput di wajah wanita itu tak bisa menghapus kecantikannya yang berseri. “Aku kuliah di luar negeri, Eomonie. Aku menetap selama beberapa tahun. Belum lama sejak aku kembali ke Seoul.” “Aku ikut senang melihatmu sekarang.” Hening

lantas

menjadi

pengantar

keduanya. Yunho sibuk memainkan sedotan es kopinya sambil memikirkan sesuatu, sementara sang wanita di depannya nampak

The Fifteen

menatap ke arah luar, tepat ke toko bunganya. “Jaejoong….” Yunho bergumam pelan penuh keraguan demi memulai perbincangan kembali. Ibu Jaejoong mendesah berat. Binar matanya nampak redup namun senyuman menghiasi bibirnya. “Jaejoong harus dibantu kursi

roda

selamanya.

Ia

mengalami

kelumpuhan setelah kecelakaan itu. Jaejoong koma selama dua tahun. Ia ikut ujian persamaan dan tidak melanjutkan kuliah. Di awal

tahun-tahun

pasca

kecelakaan,

Jaejoong mengalami trauma berat. Kondisi mentalnya terganggu.

The Fifteen

“Berat baginya untuk melewati hari demi hari. Jaejoong bahkan pernah beberapa kali mencoba melakukan bunuh diri.” Tak sampai hati rasanya mengisahkan kembali masa-masa kelam itu. Ia bahkan berkacakaca mengingat betapa pahitnya kenyataan menghantam sang putra. “Bagaimana kondisinya sekarang?” “Dia sudah jauh lebih baik sekarang. Dia melakukan terapi dan rutin meminum obat dengan baik. Dia sudah bisa melanjutkan hidup

dan

melakukan

aktifitas

meski

terbatas. Membuka toko bunga adalah idenya. Jaejoong jauh lebih tenang dan stabil saat melihat bunga-bunga, merangkai bunga, dan merawatnya.”

The Fifteen

Yunho mengembuskan napas. “Aku lega mendengarnya.” Ibu Jaejoong menyentuh tangan Yunho. “Yunho, aku pernah bilang. Jangan pernah merasa bersalah, kecelakaan itu bukan salahmu.” Yunho menggeleng. “Sulit bagiku untuk tidak merasa bersalah. Eomonie tahu sendiri, sedikit banyak kecelakaan Jaejoong juga disebabkan olehku. Aku justru akan merasa lebih baik jika kalian menyalahkanku.” Wanita paruh baya itu terkekeh kering. “Dunia sangat lucu. Kau hanya melakukan kesalahan kecil tapi terus-terusan meminta maaf

hingga

aku

harus

menyuruhmu

berhenti, tapi mereka, pelaku sebenarnya

The Fifteen

yang merundung Jaejoong dan menyebabkan Jaejoong harus kehilangan impian dan kemampuan berjalan, sama sekali tidak pernah menemui kami dan meminta maaf.” “Mereka

tidak

pernah

mendatangi

kalian?” Kepala ibu Jaejoong tertunduk dan menggeleng lemas. “Sekalipun.” Bahkan ketika mereka bertemu di kantor polisi pun, para pelaku perundungan itu sama sekali tidak meminta maaf pada mereka berdua, jangankan meminta maaf, menoleh saja tidak. Setelah dinyatakan bebas pun, tidak ada itikad baik dari mereka. “Brengsek!” rahang

hardik

mengetat.

Yunho

Gigi-giginya

dengan saling

The Fifteen

menekan dengan kuat, tangannya terkepal erat. Amarah menggelora dalam hatinya walaupun

dalam

laporan

yang

dibuat

Changmin mereka semua kini mendapat karmanya masing-masing. Pelaku utama yang mendorong Jaejoong kini berada di penjara lagi setelah terlibat penganiayaan yang berujung pada kematian yang tidak disengaja. Sementara tiga lainnya, ada yang sudah meninggal karena mengidap suatu penyakit, menghilang, dan jatuh miskin akibat hutang. “Sudahlah.

Tidak

perlu

dipikirkan.

Lagipula, mereka pasti mendapat balasan masing-masing. Omong-omong, kau mau bertemu dengannya? Tapi hari ini jadwal

The Fifteen

Jaejoong check up ke rumah sakit. Mungkin besok kau bisa datang lagi.” “Ah begitu.” Perbincangan mereka terus berlanjut dan berakhir menyenangkan, mereka keluar dari kafe dengan senyum terlukis di wajah. Namun Yunho belum bisa menghilangkan kegundahan di sudut hatinya saat esok akan bertemu dengan Jaejoong. ~...~ Esoknya, Yunho kembali ke tempat yang sama. Sudah beberapa menit semenjak ia tiba namun sama sekali belum keluar dari mobilnya. Kedua tangannya terasa dingin karena gugup. Dari mobilnya ia melihat

The Fifteen

sosok Jaejoong tengah merangkai bunga untuk seorang pelanggan. Setelah menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali—untuk yang kesekian kalinya—Yunho turun dari mobil lalu membuka pintu ka toko yang berbunyi. Kedua netranya tak lepas menatap sosok di depannya yang menoleh ke arahnya. Lidah Yunho mendadak kelu. Tubuhnya terasa membeku. Sementara Jaejoong di depannya juga sama terperangahnya. Di kursi rodanya, Jaejoong memandangnya dengan wajah tertegun. Yunho tak bisa menebak isi kepala pria itu. Ia pun menelan ludah dengan susah payah.

The Fifteen

Jaejoong tak pernah lupa dengannya. Ia hafal betul dengan pria dengan postur tinggi, mengenakan jas mahal, dan berparas tampan di

depannya.

Masih

terasa

jernih

bayangannya sewaktu laki-laki itu duduk di bangku paling belakang, wajahnya tenang melihat anak-anak bermain bola di lapangan dengan surai tertiup angin. Pria bernama Jung Yun-oh. Seutas

senyum

tersimpul

di

bibir

Jaejoong. “Hai, apa kabar Jung Yun-oh?” Suara lembut Jaejoong mengalun menyapa pendengaran Yunho. Air mata merembes di kedua mata Yunho namun bibirnya melengkungkan senyuman. Semua perasaan yang ia pendam

The Fifteen

belasan

tahun

menyeruak

ini

seakan

berlari-lari

keluar.

Yunho

kewalahan

menahan tangisnya hingga kakinya lemas lalu terjatuh. ... … Terhitung

sudah

sekian

menit

keheningan memerangkap keduanya. Kepala Yunho tertunduk sembari menggenggam cangkir teh yang diberikan oleh ibu Jaejoong. Wanita itu membantu Yunho berdiri dan membawanya ke sebuah ruangan, diikuti oleh Jaejoong. Sekarang hanya ada mereka berdua di sana. “Sampai kapan kau akan terus diam? Kau sama sekali tidak mau bicara?” tanya

The Fifteen

Jaejoong yang sudah mulai habis kesabaran menunggu laki-laki itu bersuara. “Kau tidak suka

melihatku?

Kau

pasti

terkejut

melihatku seperti ini. Siapa yang mengira, atlet seluncur indah itu kini berakhir di kursi roda.” Jaejoong tersenyum sendu. Yunho lantas menoleh dan menggeleng cepat. “Tidak. Aku… aku… tidak pernah berpikir buruk seperti itu. Jaejoong-ah aku… aku minta maaf… aku minta maaf atas kejadian itu… andai saja aku membawamu waktu itu… kecelakaan itu—” “Stop,” sela Jaejoong. “Aku tidak mau mendengarnya.

Aishh,

kau

membuatku

mengingat kejadian itu lagi padahal aku sudah mulai lupa,” gerutunya.

The Fifteen

“Jaejoong-ah, aku tidak keberatan jika kau membenciku, kau pantas membenciku. Aku minta maaf.” Yunho sudah pasrah. Kalaupun

Jaejoong

mau

memakinya,

meneriakinya, menyiramnya dengan teh panas, atau bahkan melemparinya dengan vas bunga keramik itu, Yunho sudah siap. Jaejoong mendesah berat. “Aku sempat membencimu. Aku sempat menyalahkanmu, aku juga berpikiran sama denganmu. Kenapa kau tidak membawaku saat itu? Kenapa kau tidak

berpura-pura

saja?

Kenapa

kau

membiarkanku bersama mereka? Kau tidak akan pernah bisa membayangkan apa yang kurasakan. Kau tidak tahu apa yang kulalui. Rasanya sungguh seperti di neraka hingga

The Fifteen

aku ingin mati saja. Percayalah, aku sudah mencobanya. Tapi sepertinya semesta tidak bisa membiarkanku mati secepat itu. “Walau begitu, kini aku sudah menerima keadaanku. Memang berat dan sulit sekali rasanya. Bukan hal yang mudah bagiku berdamai dengan kondisi seperti ini. Namun aku juga tidak mungkin terus-menerus terpuruk. Saat rehabilitasi pasca kecelakaan, aku melihat banyak orang dengan kondisi yang jauh lebih parah dariku. Saat itu aku bisa lebih bersyukur. Aku hanya kehilangan dua kaki, sementara anggota tubuhku yang lain masih lengkap. Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Aku bahkan bisa menyetir

The Fifteen

sendiri dan sudah punya SIM,” pamer Jaejoong bangga. “Tapi impianmu….” Impian untuk ikut kompetisi kejuaran dunia saat itu ada di depan

mata

Jaejoong,

tapi

gara-gara

kecelakaan itu akhirnya Jaejoong terpaksa merelakan Jaejoong

mimpinya adalah

tersebut,

atlet

yang

padahal sangat

menjanjikan. “Biar orang lain yang meneruskan impianku.

Tidak

apa-apa.”

Jaejoong

menjawab enteng. Oh percayalah setiap musim dingin tiba, Jaejoong rasanya ingin berseluncur di atas es, melakukan lompatan dan

putaran

seperti

ketika

ia sedang

berkompetisi tapi keinginan itu tak pernah

The Fifteen

sekalipun membebaninya atau membuatnya mengasihani diri sendiri. Jaejoong sudah ikhlas melepaskan mimpi itu. “Aku minta maaf.” Yunho tak punya kalimat lain yang tersisa selain meminta maaf. “Jangan minta maaf. Kau tidak salah. Eomma banyak bercerita tentangmu. Saat itu kita

baru

saja

mengenal…

mungkin

seminggu? Aku lupa, pokoknya kita baru kenal sebentar, wajar jika kau masih segan denganku dan menolak ajakanku, kita tidak terlalu dekat. Lagipula bukan kau juga yang mendorongku.” “Tapi…”

The Fifteen

Lagi-lagi Jaejoong mendesah panjang. “Yun-oh, bisakah kita tidak membahas soal ini lagi? Aku sungguh baik-baik saja. Bahkan kau juga tidak punya kewajiban untuk menjengukku seperti ini, kau bisa bebas dengan hidupmu. Sudah bagus hidup di

luar

negeri

bertahun-tahun

kenapa

sekarang kau kembali lagi ke Seoul dan malah menemuiku?” pandangan Yunho teralih padanya. “Jangan menatapku begitu.” Kedua

alis

Yunho

terangkat.

“Memangnya tatapanku seperti apa?” “Kau seperti sedang mengasihaniku. Jangan kasihani aku, itu membuatku terlihat jauh lebih menyedihkan. Aku tidak suka,” ujar Jaejoong terus terang.

The Fifteen

Yunho

kemudian

mengerjap

dan

menundukkan kepalanya. “Maaf. Aku tidak menyadarinya.

Ingatkan

aku

jika

aku

melakukannya lagi.” “Tentu saja! Kalau perlu aku akan mencubitmu seperti ini!” Tanpa ampun Jaejoong mencubit lengan Yunho dengan keras, membuat pria itu mengaduh kesakitan. “Aahhhh! Sakit!” pekik Yunho. Tawa renyah Jaejoong lantas berderai memenuhi seisi ruangan, tawa itu nampak sempurna terpahat di wajah cantik Jaejoong, membuat

laki-laki

bermata

rubah

itu

terpesona. Kedua ainnya tak lepas terpatri pada pemandangan di depannya.

The Fifteen

“Senang bertemu denganmu lagi, Yunoh.” “Yunho! Namaku Yunho! Jung Yunho,” ralat Yunho, menyadari sedari tadi Jaejoong terus salah menyebut namanya, seperti kebiasaannya saat sekolah dulu. Dia masih saja memanggilnya Yun-oh “Memangnya iya? Sejak kapan kau ganti nama?” Yunho terhenyak sesaat, mulut melongo, tak habis pikir dengan ucapan Jaejoong. Entah apa dia bercanda atau serius. “Sejak aku lahir namaku sudah Yunho! Kau yang salah terus!” “Benarkah?”

Pria

manis

mengedikkan bahu tak acuh.

itu

hanya

The Fifteen

Dalam

hati,

Jaejoong

tersenyum.

Sungguh, rasanya memang menyenangkan bertemu dengan Yunho kembali. Walaupun dulu mereka baru berkenalan kurang lebih seminggu atau lebih, Jaejoong merasa jauh lebih dekat dengannya. Bertemu teman lama yang sudah sangat lama ia kenal, seperti itulah

rasanya.

Teman-teman

Jaejoong

sekolah dulu bahkan tak ada lagi yang pernah menjenguknya. Hanya Yunho. Satu-satunya. *****

The Fifteen

“Jaejoong-ah!” seru Yunho sewaktu ia membuka pintu Halcyon yang berbunyi. “Oh? Yun—” “Yunho!”

tegas

Yunho

menyebut

namanya, takut Jaejoong salah memanggil namanya lagi. Jaejoong terkekeh. “Iya Yunho. Aku sudah

ingat

namamu,

tahu!

Omong-

omong kenapa kau senang sekali datang ke sini?” tanya pria itu di balik meja. Ini mungkin sudah hampir seminggu Yunho rutin setiap hari datang ke toko ini hanya untuk menumpang makan siang bersama. “Yunho, kau sudah datang?” kata Ibu Jaejoong yang baru saja mengeluarkan ember penuh dengan bunga dari sebuah

The Fifteen

ruangan, Yunho tergopoh untuk membantu wanita itu. “Eomonie, hari ini aku menumpang makan siang lagi. Kali ini biar aku saja yang traktir.” “Kalau begitu kita pesan saja, aku ingin makan jajjangmyeon. Jaejoong, kau mau makan apa?” “Aku jjampong saja.” “Baiklah.

Aku

pesan

makanannya

sekarang—eh tunggu, bagaimana caranya pesan

makanan

di

Seoul?”

Jaejoong

memutar bola matanya, akhirnya ia yang memesan makanan. Yunho berdalih karena belum terbiasa hidup kembali di Seoul.

The Fifteen

“Jaejoong-ah,

aku

ingin

Halcyon

mengirim bunga ke kantorku tiap tiga hari sekali, bisa kan?” kata Yunho saat mereka menyantap makan siang mereka. “Tentu saja. Kau mau aku mengantarnya langsung ke sana?” “Kau bisa? Apa tidak merepotkan? Pakai jasa kurir saja nanti simpan di resepsionis.” Yunho menyeka noda makanan di bibir Jaejoong, membuat Jaejoong agak berjengit. “Tidak apa-apa, nanti aku ke sana. Aku juga ingin melihat kantormu.” “Baiklah.” … …

The Fifteen

“Jaejoong-ah,

buatkan

aku

sebuket

bunga,” kata Yunho ketika ia bersiap untuk kembali lagi ke kantor. Mata Jaejoong memicing menggoda. “Ooohhh… kau pasti mau memberikannya untuk kekasihmu yah? Kau mau bunga apa? Mawar? Lily? Atau krisan?” Jaejoong mendorong kursi rodanya menghampiri deretan berbagai macam bunga. “Menurutmu apa bunga yang paling cantik?” tanya Yunho dengan mata yang terus mengikuti pergerakan Jaejoong. “Kalau aku suka bunga lily, buatku ini bunga yang paling cantik.” Jaejoong meraih setangkai lily dari vas, mencium wanginya

The Fifteen

yang lembut sambil tersenyum sebelum kembali meletakkannya di vas. Tahukah

ia

mengaguminya?

betapa Di

Yunho

penglihatannya,

Jaejoong terlihat seperti adegan-adegan di televisi. Ketika cahaya matahari berpendar masuk melalui kaca jendela, wajahnya yang rupawan berpadu dengan eloknya bunga. Senyumnya

lantas

menggenapi

pemandangan luar biasa tersebut. “Yunho?

Kenapa

kau

melamun?”

Kesadaran Yunho kembali ditarik. Lihat, hanya

dengan

menatap

Jaejoong

saja,

otaknya nyaris tak berfungsi. “Kalau begitu buatkan aku sebuket bunga lily yang cantik.” Yunho menjawab

The Fifteen

masih sambil memerhatikan setiap gerakan Jaejoong mulai dari mengambil bunga dan pelengkapnya, serta bahan lainnya sampai ke tahap

ia

merangkai

bunga

lalu

membungkusnya. Semuanya tak luput dari pandangan Yunho. “Ini dia! Kekasihmu pasti menyukainya.” Jaejoong menunjukkan buket bunga yang sudah jadi dan telah ia rangkai dengan sangat indah. “Aku tidak punya kekasih,” balas Yunho. Raut wajah Jaejoong berubah bingung. “Oh? Lalu ini untuk siapa?” “Untukmu.” Jaejoong

terhenyak,

terangkat. “Aku?”

kedua

alisnya

The Fifteen

Yunho mengangguk sambil tersenyum. “Bunga itu untukmu, Jaejoong.” “Kenapa?” tanya Jaejoong setelah sekian detik lidahnya terasa kelu. “Kenapa?” Yunho mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Bunga itu cantik sepertimu. Semoga harimu menyenangkan, Jaejoong-ah. Sampai jumpa besok.” Dan begitu saja Yunho

meninggalkan

Halcyon

setelah

menaruh beberapa lembar uang. Meninggalkan Jaejoong yang nyaris tak bisa lagi berkata-kata dengan sebuket bunga lily di tangannya. Wajahnya terasa hangat karena rona merah yang menjalarinya. Ia tatap lekat-lekat bunga dalam dekapannya. Selama menjadi florist, belum pernah ada

The Fifteen

satupun yang memberikan bunga untuknya seperti ini. Jaejoong selalu memberi bunga pada

pelanggan-pelanggannya,

tapi

menerimanya dari seorang pelanggan? Ini baru pertama kali. Hanya Yunho. Satu-satunya. ***** Tiga hari berikutnya sesuai permintaan Yunho, Jaejoong pun membawakan sebuket bunga untuk dikirimkan langsung ke kantor Yunho di Yeoui-do. Buket bunga lily seperti yang Yunho berikan padanya kemarin lalu itu sudah tersimpan cantik di kursi belakang.

The Fifteen

Dengan melajukan

menyetir mobilnya

sendiri

Jaejoong

yang

sudah

dimodifikasi tanpa hambatan. GPS di dalam mobil Jaejoong memberitahunya bahwa 50 meter lagi ia akan sampai. Ia melihat sebuah gedung kantor berdesain modern dan megah. Jadi Yunho bekerja di sini? Jaejoong memarkirkan mobil di area parkir

luar.

Diturunkannya

kursi

roda

lipatnya yang ada di kursi sebelahnya, ia pasang kedua rodanya sebelum berpindah, setelah itu ia ambil buket bunga di kursi belakang. Mendorong kursi rodanya, Jaejoong memasuki lobi gedung perkantoran tanpa kesulitan. Dihampirinya meja resepsionis

The Fifteen

dan berpesan pada seorang wanita di sana untuk memberikan bunga tersebut pada Yunho. “Maksudmu Jung Yunho Sajangnim?” tanya wanita tersebut. “Sajang?” sahut Jaejoong agak bingung. Yunho belum pernah memberitahunya soal jabatannya di kantor. Jaejoong kira Yunho hanya seorang pegawai biasa. Ibunya hanya bilang bahwa Yunho bekerja di perusahaan logistik. Ternyata Yunho seorang CEO? “Ne, nama CEO kami Jung Yunho. Apa bunga

ini

pesanan

untuk

kantornya?

Kebetulan kami memang diberitahu bahwa kantor CEO dijadwalkan menerima bunga hari ini.”

The Fifteen

“O-oh, ne. Jung Yunho Sajangnim,” jawab Jaejoong agak kaku, tak menyana bahwa teman sekolahnya dulu itu kini menyandang

gelar

CEO.

Samar-samar

Jaejoong tersenyum, ikut bangga dengan pencapaian laki-laki itu. “Ne, kalau begitu nanti bunganya akan diberikan pada kantornya di atas.” “Terima

kasih.”

Jaejoong

kemudian

memutar kursi rodanya dan mendorongnya kembali menuju pintu. “Jadi dia seorang CEO?” gumamnya. Namun karena pikirannya tengah disita oleh Yunho, Jaejoong jadi tidak fokus mendorong kursi rodanya. Sehingga sebuah insiden terjadi saat seorang pegawai pria

The Fifteen

yang sedang menenteng cup kopi dan berjalan dengan cepat, menabrak kursi rodanya

hingga

Jaejoong

tersungkur

bersama dengan kursi rodanya, ia meringis saat kopi panas di tangan pegawai itu tumpah ke bahunya. Kejadian itu lantas menarik perhatian banyak orang karena tepat pada jam masuk kantor. “Aisshhh shibal!” maki pegawai itu yang juga ikut terjatuh dan pakaiannya terkena cipratan kopi. Ia melirik Jaejoong dan tersenyum penuh ejek. “Kenapa ada orang cacat di sini?! Pantas saja kau tidak bisa berjalan dengan baik! Ahjussi, sudah tahu cacat, harusnya kau di rumah saja dan

The Fifteen

berbaring

di

tempat

tidur.

Aiishh

menyusahkan saja.” Jaejoong yang hendak meraih kursi roda menghentikan

gerakannya

mendengar

ucapan penuh hinaan dari pegawai tersebut. Seketika hatinya sakit bagai disayat sembilu. Jaejoong bahkan tak berani mengangkat wajahnya karena malu. Sudah

cukup

memalukan

baginya

terjatuh seperti ini kini ia harus mendengar cemoohan menyakitkan itu di depan banyak orang. Ia juga manusia, bukankah ia tidak pantas menerima perlakuan seperti ini? “Jaejoong-ah!”

Semua

mata

lantas

mengalihkan perhatian mereka pada sosok pria yang baru saja memasuki lobi. Semua

The Fifteen

orang pun lantas membungkukkan tubuhnya dengan sopan, karena ia adalah Jung Yunho. Pemilik perusahaan ini. “S-Sa-Sajangnim.”

Pegawai

yang

menabrak Jaejoong tadi nampak gelagapan melihat bos besarnya mendekati mereka berdua.

Ia

buru-buru

membungkukkan

badan namun Yunho mengabaikannya. Laki-laki

itu

melangkah

cepat

menghampiri Jaejoong. Agak panik melihat laki-laki dengan paras cantik itu terjatuh dari kursi roda dan tubuhnya telungkup di lantai. “Jaejoong-ah, ini aku Yunho. Kau baikbaik

saja?”

Yunho

menyentuh

bahu

Jaejoong dan saat pria itu menoleh, air mata telah membasahi wajahnya, membuat hati

The Fifteen

Yunho calar. “Ayo, sebaiknya kita pergi dari sini.” Yunho lalu menggendong Jaejoong yang lantas menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sang CEO. Yunho menatap tajam ke arah pegawai yang menghina Jaejoong barusan. “Seselamat pagi, Sajangnim.” Ditatap tak ramah oleh

bos

besarnya,

membuat

pegawai

tersebut menyapa dengan terbata-bata. “Changmin, urus pemecatan orang ini. Perusahaan kita tidak bisa menerima seorang ableisme,” kata Yunho yang lantas berjalan melewati karyawan tersebut, mengabaikan tatapan bawahan-bawahannya. Yunho tidak peduli. Yang ia pedulikan hanya laki-laki yang ada dalam dekapannya sekarang ini.

The Fifteen

“Ne,

Sajangnim,”

jawab

Changmin

sebelum ia mengambil kursi roda Jaejoong dan mengikuti bosnya. “T-tapi. S-Sajangnim!” … … Yunho menurunkan Jaejoong ke atas sofa

di

dalam

ruangannya.

Changmin

menaruh kursi roda sebelum ia kembali keluar,

meninggalkan

kedua

laki-laki

tersebut, memberikan mereka privasi. Kepala Jaejoong tertunduk dengan sisa isak tangis yang masih terdengar. Selama di dalam lift menuju kantor Yunho di lantai atas, Jaejoong sama sekali tak bersuara, ia

The Fifteen

hanya terus mendekap tubuh Yunho dengan tangan bergetar. Yunho lalu mengambil sepotong kemeja dan membawa kotak P3K sebelum kembali pada Jaejoong. “Jaejoong-ah, boleh aku lihat punggungmu? Kita ganti pakaianmu dulu sekalian kita obati.” Agak ragu Jaejoong membuka jas yang disampirkan oleh Yunho ketika pria itu memberikan pertolongan pertama di toilet lobi untuk mendinginkan kulit Jaejoong yang tersiram air panas. Bahu dan sebagian punggung Jaejoong nampak memerah. “Aku akan mengoleskan salep, bilang kalau sakit.” Yunho pun memberikan salep di sekujur bahu dan punggung Jaejoong

The Fifteen

yang terlihat memerah, sesekali Jaejoong akan berjengit dan meringis karena terasa perih. “Jaejoong-ah,” belakang

Jaejoong.

panggil “Pasti

Yunho

di

menyakitkan

bagimu saat mendengarnya. Kalau kau masih mau menangis, menangislah. Jika kau ingin marah, kau bisa marah padaku. Jangan dipendam, keluarkan isi hatimu.” Jaejoong masih diam membisu. Ia tak bisa memungkiri bahwa hatinya terasa sakit sekali, lebih sakit dan perih dibandingkan luka di bahunya. Memang itu bukan kali pertama ia mendapatkan hinaan semacam itu, Jaejoong hafal sekali, tapi mengalaminya

The Fifteen

kembali, sekuat apapun Jaejoong tetap saja itu terasa menyakitkan. “Yunho, menurutmu aku menyusahkan?” Yunho menemukan wajah Jaejoong yang menatapnya dengan mata sembab sehingga ia tidak bisa menahan tangannya untuk menyeka basah di wajah Jaejoong. “Salepnya

sudah.”

Yunho

menaruh

kembali salep itu ke dalam kotak P3K. “Kau sama sekali tidak menyusahkan. Kau selalu melakukan semuanya sendiri sampai aku ingin sekali saja kau meminta bantuanku” ucap Yunho sambil memberikan kemeja untuk Jaejoong setelah ia membuka satu per satu kancingnya.

The Fifteen

“Karena

aku

memang

tidak

butuh

bantuan, selama aku bisa melakukannya sendiri, aku akan melakukannya sendiri. Kalaupun aku butuh bantuan, aku juga pasti bilang. Aku tidak sakit, Yunho. Aku sehat. Lumpuh yang aku alami bukan penyakit. Aku bisa melakukan aktivitas sehari-hari tanpa hambatan. “Kenapa aku harus berbaring di rumah seperti yang pegawai tadi bilang? Kenapa orang-orang selalu berpikir aku lemah, tidak berdaya, menyusahkan, dan patut dikasihani? Aku tidak minta untuk dikasihani. Aku benci melihat tatapan iba dari orang lain seolaholah aku tidak berguna dan tidak bisa melakukan apa-apa. Bukan keinginanku aku

The Fifteen

menjadi seperti ini. Kaki ini, aku juga ingin kaki ini kembali tapi aku tidak bisa!” “Aku tahu,” ucap Yunho tenang seraya memasang

kembali

kancing

kemeja

Jaejoong. “Maafkan aku, aku menyesal kau harus mengalami kejadian tadi. Aku tidak bisa mengerti perasaanmu karena aku tidak ada dalam posisimu. Kau berhak marah. Kau boleh sedih. Pasti sulit dan menyakitkan buatmu, tapi aku yakin kau pasti kuat, kau lebih kuat dariku. Aku bangga padamu. Terima kasih sudah bertahan. Bagiku kau tetap Kim Jaejoong si bintang.” “Kadang aku lelah, Yunho. Kadang aku juga merasa kalau ini terlalu berat buatku.”

The Fifteen

“Wajar, wajar jika kau lelah. Tidak apaapa. Kalau lelah, istirahat dan berikan waktu untuk dirimu sendiri, tapi jangan menyerah. Kau bisa bertahan sampai sekarang, artinya kau hebat. Kau luar biasa.” Yunho kemudian menarik

pelan

tubuh

Jaejoong

ke

pelukannya. “Terima kasih sudah berbagi keluh kesahmu denganku. Kau harus tahu jika kau butuh seseorang di sisimu, hubungi aku

kapanpun.

Aku

akan

langsung

menghampirimu di manapun aku berada.” Jaejoong tersenyum tipis. Hangat tubuh Yunho yang mendekapnya sedikit banyak memberikan kenyamanan dan ketenangan baginya. “Bagaimana kalau kau sedang di luar negeri?”

The Fifteen

“Aku akan pesan tiket penerbangan pertama.” “Kalau di hutan?” “Aku akan berlari sekencang mungkin. Tapi, buat apa aku ke hutan?” Jaejoong

terkekeh.

“Terima

kasih

Yunho.” Yunho

memundurkan

tubuhnya,

tangannya

terangkat

merangkum

Jaejoong,

membuat

Jaejoong

tak

wajah bisa

mengantisipasi gerakan tersebut. “Wajahmu terlihat lebih indah dengan senyuman.” puji Yunho dengan senyum terlukis di wajahnya yang tampan. Jaejoong berdeham dan memalingkan muka demi menyembunyikan wajahnya

The Fifteen

yang sudah dipastikan merona merah. “Aku harus pulang.” “Kau sudah merasa lebih baik? Apa tidak ada lagi yang sakit?” Jaejoong menggeleng, sibuk meredakan debar jantungnya yang tadi sempat

berdegup

kencang..

“Baiklah.”

Yunho pun mengangkat tubuh Jaejoong untuk

didudukkan

di

kursi

rodanya.

“Kuantar sampai parkiran, yah.” “Tidak perlu. Aku sendiri saja.” “Biar

kuantar,

sekalian

aku

mau

mengambil bungamu di resepsionis. Yah?” Jaejoong membuang napas. “Araseo” ~...~ “Pesta?” tanya Jaejoong dengan wajah kaget bercampur bingung. Siang itu ketika

The Fifteen

mereka makan siang hanya berdua di sebuah restoran, sebuah

Yunho pesta

mengundangnya yang

diadakan

pada oleh

keluarganya. Yunho

mengangguk

sambil

menyerahkan piring milik Jaejoong usai mengiris steak di sana. “Nanti dekorasi pestanya dari Halcyon saja. Aku akan mengenalkanmu pada orang tuaku. Aku sudah banyak bercerita soal dirimu, dan mereka ingin bertemu.” “Kenapa kau bercerita soal diriku pada mereka?” “Karena kau teman pertamaku saat sekolah dulu dan… mereka juga tahu saat

The Fifteen

kecelakaan yang menimpamu terjadi. Mau yah? Hmm?” Jaejoong mengembuskan napas pelan. Akhirnya ia mengangguk karena tak tega menolak undangan Yunho. “Omong-omong, sejak kapan kau jadi berubah begini?” tanya Jaejoong sekonyongkonyong. Yunho mengernyit. “Berubah bagaimana maksudmu?” “Dulu kau sulit sekali diajak bicara, sering menyendiri, susah didekati, minim ekspresi, dan dingin. Sekarang kau terlihat lebih hmm… ceria? Atau lebih hidup?” Yunho tertawa. “Manusia bisa berubah. Mungkin karena aku jadi lebih dewasa dan

The Fifteen

bertambah umur? Sepertinya dulu aku terlalu sok keren.” “Memang,

karena

itu

Siwon

menyukaimu.”

Tawa

mereka

tidak

mengalun

bersama. Percakapan itu dilanjutkan dengan cerita-cerita

masa

lalu.

Yunho

betah

mendengar Jaejoong bercerita. ***** Saat Jaejoong datang ke rumah Yunho untuk mendekorasi acara pesta yang akan diselenggarakan

malam

ini,

Jaejoong

terpesona dengan rumah itu. Memang tidak megah seperti di drama-drama televisi. Rumah itu hanya terdiri dari satu lantai

The Fifteen

memanjang seperti huruf L dengan desain modern minimalis dan dilengkapi dengan taman yang cukup luas, apalagi rumah itu juga

nampak

ramah

dengan

difabel

sepertinya. “Jaejoong-ah! Yunho

Kau

menghampiri

sudah Jaejoong

datang?” dengan

pakaian kasual yang baru kali ini ia lihat dan tetap saja tampan. Otot-otot lengannya tampak

kekar

rambutnya

di

yang

balik tak

kausnya

ditata

dan

membuat

penampilannya tampak lebih muda. “Jadi ini Jaejoong?” Seorang wanita yang ada di belakang Yunho tersenyum ramah pada Jaejoong. “Perkenalkan aku ibunya Yunho. Senang bertemu denganmu,

The Fifteen

Yunho banyak bercerita soalmu. Akhirnya aku

bisa bertemu

denganmu.” Wanita

dengan beberapa helai uban di kepalanya itu menurunkan

tubuhnya

untuk

memeluk

Jaejoong, membuat Jaejoong agak tertegun dengan gestur tersebut. “Salam kenal, Eomonie. Senang bertemu denganmu

juga.”

Jaejoong

membalas

pelukan itu. Ia melirik Yunho karena bingung tiba-tiba dipeluk akrab, tapi Yunho hanya terkekeh-kekeh. Usai berbincang akrab sebentar dengan Yunho dan ibunya, Jaejoong lalu kembali ke pekerjaannya memantau dekorasi bungabunga itu tertata dengan baik agar tampak

The Fifteen

indah dan berkelas sesuai dengan keinginan kliennya. “Jaejoong, jangan pulang. Tetaplah di sini, repot kalau harus bolak-balik. Yunho sudah mengundangmu ke pesta nanti kan?” kata ibu Yunho saat Jaejoong baru saja mau berpamitan. “Tapi aku tidak membawa pakaian ganti untuk ke pesta, Eomonie.” “Tidak perlu khawatir. Nanti kusuruh Yunho membawakan jas untukmu kalau dia pulang sebentar lagi.” Kebetulan Yunho memang pergi dulu sebentar untuk suatu urusan. “Sebaiknya aku pulang saja, Eomonie. Nanti merepotkan.”

The Fifteen

“Sama

sekali

tidak

merepotkan.

Sekarang kau istirahat dulu saja di kamar Yunho. Aku masih harus mengurus pestanya. Ayo kuantar kau ke sana.” Jaejoong tidak bisa lagi protes saat ibu Yunho mengambil alih kursi rodanya dan mendorongnya ke sebuah kamar. “Aku tinggal dulu yah. Nanti kusuruh pelayan untuk memberikan camilan untukmu. Kalau lelah di kursi roda, kau boleh pindah ke sofa. Jangan sungkansungkan.” “Terima kasih, Eomonie.” Memasuki kamar Yunho, seketika wangi yang biasa Jaejoong cium dari pria itu kini menguar menyapa penciumannya. Di kamar

The Fifteen

itu terdapat tempat tidur ukuran besar, sofa, meja dan kursi di sudut dan rak besar. Setelah Jaejoong kenyang memakan hampir setengah camilan yang dibawakan pelayan,

Jaejoong

memutuskan

untuk

berpindah ke sofa. Lama kelamaan kantuk mulai menyerangnya, matanya mulai berat ditambah udara sejuk dari pendingin udara dan rasa letihnya seharian ini, Jaejoong akhirnya terjatuh dalam lelap. ***** Mata

Jaejoong

mengerjap

saat

ia

mendengar sayup-sayup namanya dipanggil. Ia membuka mata dan menemukan Yunho di

The Fifteen

sampingnya memanggil namanya. Jaejoong baru saja sadar ia ketiduran dan terbaring di sofa. “Aku

sebenarnya

membangunkanmu

tidak

karena

kau

mau nampak

sangat lelap, tapi pesta akan segera dimulai, sebentar lagi para tamu juga akan datang. Kau harus bersiap.” “Maaf aku ketiduran,” ucap Jaejoong dengan

suara

parau

sambil

mengucek

matanya, Yunho tersenyum karena Jaejoong terlihat menggemaskan. “Tidak apa-apa. Aku sudah menyiapkan jas untukmu. Sekarang kau mau mandi? Biar kubantu.”

Jaejoong

mengangguk,

ia

memindahkan tubuhnya ke kursi roda

The Fifteen

sementara Yunho bantu menyiapkan segala yang Jaejoong butuhkan selama di kamar mandi. Yunho

lalu

mendorong

kursi

roda

Jaejoong ke kamar mandi, untungnya kamar mandi

Yunho

luas

jadi

memudahkan

pergerakan kursi roda, dan terdapat railing juga untuk pegangan. “Maaf, kamar mandiku seperti ini.” “Tidak apa-apa, ini sudah lebih dari cukup. Kamar mandiku bahkan tidak seluas punyamu. Aku bisa sendiri, Yunho. Jika aku butuh bantuan aku pasti bilang.” “Baiklah. Ingat, sekecil apapun jika kau membutuhkan sesuatu bilang padaku.”

The Fifteen

Kurang

lebih

satu

jam

berikutnya

Jaejoong akhirnya keluar dari kamar Yunho setelah

mandi

dan

berpakaian

dengan

dibantu oleh Yunho beberapa kali. Kalau saja pergerakan Jaejoong tidak terbatas, ia bisa melakukan semuanya sendiri dalam waktu singkat. Hal tersulit buatnya justru saat Jaejoong harus mengendalikan detak jantungnya yang berdebar kencang karena terus berdekatan dengan Yunho. Penampilan Jaejoong kini sudah rapi dan wangi dengan rambut yang ditata apik, membuatnya

tampak

berbeda

dari

penampilannya sehari-hari. Di mata Yunho, ia menjadi lebih luar biasa. Lebih memesona. Lebih menawan.

The Fifteen

“Ini dia. Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Jaejoong. Aku ayahnya Yunho. Senang bertemu denganmu.” Jaejoong tidak menyangka akan disambut oleh keluarga Yunho begitu ia keluar dari kamar itu. Yunho dan orang tuanya berdiri tepat di depan

kamar,

tersenyum

lebar

menyambutnya keluar. “A-annyeonghaseyo,

Abeonim.

Kim

Jaejoong imnida. Anda tidak perlu repotrepot menungguku seperti ini.” Jaejoong membungkukkan tubuhnya. “Tidak apa-apa aku sudah tidak sabar melihat

orang

yang

selalu

diceritakan

Yunho.” Ayah Yunho tertawa lebar dengan

The Fifteen

ramah.

Kedua

matanya

nampak

tulus

menepuk bahu Jaejoong. “Terima kasih sudah menyambutku.” “Pesta akan dimulai. Sebaiknya kita ke sana.” Yunho

mengambil

alih

kursi

roda

Jaejoong dan mendorongnya menuju ruang tengah yang disulap jadi tempat pesta, ruang tengah itu nampak cantik dihiasi oleh lampulampu dan dekorasi bunga hasil rangkaian dari Halcyon. Begitu mereka keluar. Beberapa orang menyambut kedatangan mereka. Beberapa juga ada yang menghampiri. Yunho dan keluarganya meladeni setiap orang yang

The Fifteen

menyapa mereka dengan ramah. Karena tak mau mengganggu, Jaejoong pun menyingkir. “Yunho Oppa!” Perhatian Jaejoong dan keluarga Jung, tidak, bahkan hampir semua tamu di pesta itu teralih pada seorang perempuan cantik yang baru saja datang. Wanita itu mengenakan gaun indah dengan sepatu hak, perhiasan, riasan, serta rambut yang juga sama indahnya. Tidak heran perhatian semua orang tertuju padanya. “Soyeon-ah, kapan kau pulang dari New York?”

Yunho

menghampiri

wanita

bernama Soyeon tersebut lalu memeluknya dengan senyum lebar. Mereka nampak akrab dan berbagi tawa bersama, pun dengan seluruh keluarga Jung.

The Fifteen

Melihat pemandangan itu, ada perasaan asing yang meruak dari dalam hati Jaejoong. Jaejoong merasa tak nyaman melihatnya. Sehingga ia memalingkan wajah demi menghindarinya. Cemburu. Jaejoong baru menemukan nama untuk perasaan itu. Jaejoong akhirnya meninggalkan mereka dan mendorong kursi rodanya ke area makanan.

Ia

mengambil

minum

dan

memakan potongan cake di sudut yang agak sepi. Di tempatnya, ia bisa melihat Yunho dan keluarga masih berbincang asyik dengan wanita bernama Soyeon tersebut.

The Fifteen

“Kudengar pesta kali ini diadakan karena Tuan

Muda

seseorang.”

Yunho Tak

akan

sengaja

melamar Jaejoong

mendengar percakapan dari dua pelayan di balik tembok yang tengah bergosip. Jaejoong melamar

terperangah.

seseorang?

Yunho

Senyum

akan

Jaejoong

terulas pahit. Seharusnya ia tahu betul, Yunho tak akan pernah bisa bersama seseorang sepertinya. Yunho tak punya tempat untuknya di sisinya, apalagi di hatinya. Jaejoong merasa malu karena berpikir Yunho menaruh rasa untuknya. Ada perih yang menyengat di dadanya. “Sepertinya dia akan melamar Nona Soyeon. Dia sangat cantik. Dia cocok

The Fifteen

bersanding dengan Tuan Yunho. Yang satu tampan, kaya, pintar, dan baik. Yang satunya lagi anggun, cantik, berpendidikan tinggi, dan sukses.” Jaejoong melirik Soyeon dan Yunho yang masih akrab bercakap-cakap. “Benar. Mereka terlihat serasi. Mereka pasti akan jadi pasangan yang sempurna.” Mereka benar, Yunho dan Soyeon terlihat sempurna ketika berdiri berdampingan. “Eh kau tahu pria yang bersama Tuan Yunho seharian ini? Yang pakai kursi roda itu.” Jaejoong tertegun saat dirinya disebut. Sudah pasti hanya ia yang berkursi roda di pesta

itu,

jadi

membicarakannya.

mereka

pasti

tengah

The Fifteen

“Ahh maksudmu pegawai dari toko bunga yang cacat itu? Kenapa Tuan Yunho mengenal

orang

sepertinya?”

Jaejoong

kepayahan menelan liurnya, jantungnya berdegup tak nyaman. Bahkan sebelum terjadi pun, Jaejoong sudah bisa menebak apa yang selanjutnya akan ia dengar. “Pasti merepotkan berteman dengan orang cacat.” “Kalau aku pasti malu.” Mereka lantas tertawa bersama seolah apa

yang

mereka

ucapkan

merupakan

sesuatu yang lucu. Sementara di satu sisi, mereka tak tahu bahwa ucapan mereka telah menyakiti seseorang.

The Fifteen

“Berbeda sekali dengan Nona Soyeon, benar ‘kan?” “Tentu

saja.

Mereka

tidak

bisa

dibandingkan, kau sudah gila? Mereka berada di level yang sangat berbeda.” Telinga

Jaejoong

berdengung,

pun

dengan kepalanya yang terasa berat. Kalau ia diberikan kesempatan meminta satu permintaan, Jaejoong tak akan meminta kakinya kembali, ia hanya ingin hatinya kebas terhadap rasa sakit dan sedih. Jaejoong

memutar

kursi

rodanya.

Saatnya untuk pulang. Di sini bukan tempatnya. Ia tidak cocok berada di tempat seperti ini.

The Fifteen

“Jaejoong-ah!” Suara panggilan dari Yunho menghentikan tangannya mendorong roda. Ia melihat sosoknya yang tegap menghampiri Jaejoong dengan riang. “Aku mau pulang, Yunho.” Yunho mengernyit. “Kenapa? Acara puncaknya bahkan dimulai.” “Aku mau pulang! Aku tidak mau berada di sini.” Jaejoong menggeleng kencang. Berada di sini lebih lama membuat dadanya semakin sesak. “Jaejoong-ah, katakan padaku apa yang terjadi?” “Tidak apa-apa. Lanjutkan saja pestamu, aku mau pulang sekarang.” Jaejoong hendak kembali memutar roda kursinya.

The Fifteen

Namun

Yunho

mencegahnya.

“Kau

bohong. Pasti terjadi sesuatu ‘kan? Katakan padaku. Kau tidak bisa pulang sebelum pestanya selesai.” “Aku tidak peduli! Masa bodoh dengan pesta ini. Aku mau pulang! Kenapa kau tidak

mendengarku?

Aku

tidak

mau

bergabung dengan pesta ini lagi! Ini pestamu, kau saja dan keluargamu yang menikmati pesta ini.” Jaejoong tidak mengerti mengapa Yunho sangat memedulikan pesta bodoh ini. “Pesta ini tidak akan berjalan tanpamu! Kau! Kaulah alasan pesta ini dibuat!” Suara Yunho yang meninggi membuat hampir seluruh tamu mengalihkan perhatiannya, termasuk keluarganya.

The Fifteen

“Mwo?” “Aku membuat pesta ini untukmu. Untuk kita.”

Yunho

perlahan.

mengembuskan

Kedua

lututnya

napasnya jatuh

dan

bersimpuh di depan Jaejoong. “Jaejoong-ah, aku menyukaimu.” Lalu seuntai kalimat itu rasanya

sanggup

menjatuhkan

jantung

Jaejoong dari tempatnya. Yunho akhirnya mengatakannya. Butuh keberanian baginya untuk menghimpun kalimat tersebut, pada saat ini di pesta yang sengaja dibuat hanya untuk mengungkapkan perasaannya pada Jaejoong, laki-laki indah yang telah mencuri hatinya entah sejak kapan.

The Fifteen

“Apa kau bilang?” gumam Jaejoong tak mau mempercayai indera pendengarannya sendiri. Jaejoong sedang tidak mimpi ‘kan? Yunho kembali berdiri, tangannya terulur menggenggam

tangan

Jaejoong.

Di

hadapannya, seluruh tamu undangan fokus melihatnya.

“Hadirin

sekalian.

Aku

mengundang kalian datang ke pesta ini karena

aku

ingin

memberitahu

kalian

tentang laki-laki ini. Pria yang kusukai. Aku mengenalnya saat SMA, kami sempat berpisah

bertahun-tahun

lalu

bertemu

kembali. Kebersamaan kami selama ini ternyata membuatku sadar bahwa aku menyukainya. Sekarang di hadapan kalian, aku ingin melamarnya menjadi pasanganku

The Fifteen

seumur hidup. Aku akan menjaganya dan mencintainya setulus hatiku. Sehat atau sakit. Sampai maut memisahkan. Maukah kau menikah denganku, Kim Jaejoong?” Yunho kembali

berlutut,

dikecupnya

tangan

Jaejoong seraya disambut tepuk tangan dan sorak-sorai para tamu yang riuh. Sekian detik Yunho menanti Jaejoong mengeluarkan suara. Perangkai bunga itu masih bergeming. Tatapannya tertuju pada Yunho. “Jaejoong-ah?” panggil Yunho. “Kupikir kau akan melamar Soyeonsshi.” Yunho

terbeliak.

“Soyeon?

Dia

sepupuku, untuk apa aku melamarnya?”

The Fifteen

Jaejoong

terperangah

dengan

jawaban

Yunho. Wajahnya merona karena malu atas kesalah pahamannya. “Aku menikah dengan Yunho Oppa? No way!” celetuk Soyeon diiringi tawa orang tua Yunho. “Jaejoong-ah,

maukah

kau

menghabiskan sisa umurmu bersamaku?” ulang Yunho lagi. Jantungnya berdebar dan matanya berbinar menatap pria paling indah di matanya itu. “Yunho, kau serius?” “Tentu saja,” jawab Yunho mantap. Tanpa ragu.

The Fifteen

Jaejoong

mengembuskan

napasnya

perlahan. Dengan berat hati ia berkata, “Aku tidak bisa. Maafkan aku Yunho.” Yunho tergugu dengan jawaban Jaejoong. Tak menyana lamarannya ditolak. “Kkenapa? Kenapa kau tidak bisa?” Yunho tentu menuntut penjelasan sebab selama ini ia

sepenuhnya

yakin

Jaejoong

akan

menerimanya. Tangan Jaejoong terangkat menyentuh pipi Yunho. “Lihat aku. Lihat aku baik-baik. Aku tidak bisa menjadi pasangan yang sempurna untukmu. Aku cacat, Yunho. Aku sudah rusak. Aku tidak ingin menjadi kekuranganmu. Suatu hari kau mungkin

The Fifteen

akan menyesali keputusan dan perasaanmu padaku. “Menghabiskan hari bersama seseorang sepertiku pasti akan sangat melelahkan bagimu. Aku tidak ingin kau kesulitan. Kau bisa

mencari

denganmu.

pasangan

Yang

kekuranganmu.

tidak Yang

mempermalukanmu.

Aku

yang

sepadan

akan

menjadi

tidak tidak

akan bisa

memberikanmu jaminan kebahagiaan. Aku juga tidak memiliki kepercayaan diri untuk bahagia di sisimu. “Aku sudah cukup senang kau menaruh perasaan untukku. Ketahuilah, aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu. Aku juga menyukaimu. Tapi aku tidak

The Fifteen

cukup

berani

denganmu.

melangkah

Menikah

adalah

lebih

jauh

komitmen

seumur hidup, Yunho. Kau yakin mau menghabiskan sisa umurmu bersamaku, bersama seseorang sepertiku?” Kelak, jika Yunho lelah bersamanya, Jaejoong tidak ingin melihat wajahnya yang kecewa. Jaejoong tidak ingin melihat sesal terlukis di wajahnya. Jaejoong tidak akan sanggup melihatnya, karena sesungguhnya gambaran tersebut akan membuat hati Jaejoong makin ripuk. Oleh karena itu, sebaiknya ia hentikan dari sekarang. Jaejoong tak pernah punya keberanian untuk membayangkan masa depan bersama Yunho, pria paling sempurna yang pernah ia

The Fifteen

kenal. Ia layak mendapatkan pendamping yang lebih baik darinya. Sungguh pedar hati Yunho mendengar pengakuan Jaejoong. Ia pegang tangan Jaejoong yang ada di wajahnya. “Jaejoong, aku sedang tidak mencari pasangan yang sempurna apalagi secara fisik. Aku sendiri juga

tidak

sempurna.

Kau

akan

menyempurnakanku dan aku yang akan menyempurnakanmu. Kalau aku melihatmu hanya dari fisik, jangankan melamarmu aku mungkin tidak akan pernah menemuimu lagi. “Aku tidak peduli dengan pendapat orang-orang tentang kita. Tapi jika mereka menyakitimu, aku yang akan maju paling depan untuk membalas mereka. Tidak akan

The Fifteen

kubiarkan

siapapun

melukaimu.

Kebahagiaan itu bisa kita raih bersama seperti halnya sepeda, harus ada dua roda yang berputar bersama agar sepeda itu berjalan. “Kesulitan itu akan kita lalui bersama. Letih dan sedih kita akan kita bagi dua. Dan bahagia

kita

menyukaimu

akan

kita

karena

itu

kalikan. kau.

Aku Aku

melamarmu karena hanya kau yang aku mau. Aku mencintaimu, Jaejoong. Tak perlu alasan lain. Hanya kau. Satu-satunya.” Orang

tua

Yunho

kemudian

menghampiri keduanya. Ibu Yunho lantas mengusap bahu Jaejoong. “Jaejoong, kami sudah

merestui

kalian.

Kami

akan

The Fifteen

mendukung kalian, tidak perlu khawatir. Kami dengan senang hati menerimamu menjadi menantu kami. Iya kan, Yeobo?” Ayah Yunho mengangguk. “Jaejoong

Oppa,

cepat

terima

lamarannya!” pekik Soyeon. “Kau yakin?” tanya Jaejoong sekali lagi, air matanya sudah menggenang di sudut matanya. Senyum Yunho mengembang seraya meremas kedua tangan Jaejoong. “Tidak pernah seyakin ini selama aku hidup. Kau adalah pilihan terbaik. Di mataku, kau sempurna. Aku tak butuh siapapun. Cukup dirimu. Jaejoong-ah… ayo kita menua bersama.”

The Fifteen

Yunho pun memeluk Jaejoong. “Jangan lagi memandang dirimu dengan nilai rendah. Kau lebih dari apa yang kau bayangkan. Kau layak mendapat semua cinta di dunia ini. Kau layak bahagia dengan orang yang kau cintai. Dan orang itu adalah aku.” Pada akhirnya ada dua anak sungai mengalir di wajah Jaejoong. Sudah lama sejak terakhir ia merasa sebahagia ini. “Terima

kasih.

Terima

kasih

sudah

mencintaiku dan terima kasih sudah hadir dalam hidupku.” Dan ketika keduanya bertukar cincin, semua orang menyambut bahagia pasangan tersebut dengan suka cita. Beberapa di

The Fifteen

antaranya bahkan sibuk menyeka air mata menyaksikan kisah haru tersebut. “Yunho,”

gumam

Jaejoong kembali

memeluk Yunho. “Aku malu dilihat banyak orang.” Yunho terkekeh. “Tidak apa-apa. Biar mereka iri dengan kita.” FIN

The Fifteen

Please, Don't Remember Me Written by Vilove_jj

"Joongie, apa tidak sebaiknya kau mulai bekerja setengah hari saja? tidak perlu full day" Bujuk Mr. Kim pada putra sulungnya. Ayah dan anak itu baru saja selesai rapat dengan para Manager di Kim Corporation. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang retail dan dimiliki oleh Mr. Kim sendiri. Begitu keluar dari ruang rapat, pria berusia di atas 50 an itu memutuskan untuk mampir ke ruangan anaknya sebelum kembali ke ruangannya sendiri.

The Fifteen

Berbeda dari kebanyakan ayah yang ingin anaknya menjadi seorang pekerja keras ayah dari Kim Jaejoong itu justru ingin anak sulungnya menikmati hari dengan bersenang-senang. Bahkan ia tidak keberatan bila anak lelakinya itu ingin berfoya-foya dengan kekayaan yang ia meiliki. Bukan bekerja dari pagi sampai malam seperti hari-hari biasanya. Intinya, Mr. Kim hanya ingin anaknya itu bahagia. "Aku tahu Appa hanya ingin aku bahagia tapi Appa tidak perlu khawatir” Sahut Jaejoong yang seolah tahu isi pikiran ayahnya, “Apa yang aku kerjakan sekarang ini membuatku senang. Aku senang bisa menjalankan aktivitas seperti biasa, setidaknya hal itu membuatku merasa normal. Aku mohon, jangan memperlakukan aku seperti kaca yang mudah pecah. Aku tidak serapuh itu Appa” Dan untuk kesekian

The Fifteen

kalinya pria dengan rambut beruban itu harus mendengar penolakan dari sang anak. Bibir Mr. Kim sudah bergerak siap menjawab namun rupanya obrolan mereka harus terjeda oleh bunyi notifikasi dari ponsel sang putra, "Siapa Joongie?" Tanya Mr. Kim saat melihat Jaejoong membaca pesan di ponselnya sambil tersenyum. "Ini Yunho" Bibir sewarna cherry itu menyunggingkan senyum tipis, "Seperti biasa, dia mengajakku makan siang" Sambil memaksakan senyum Mr.Kim mengamati anaknya yang tengah membereskan berkas-berkas yang berserakan di meja, mematikan laptop, memasukkan ponselnya ke saku jas, kemudian menghampiri sang ayah yang duduk di sofa, "Aku pergi dulu, appa" pamitnya seraya mencium pipi ayahnya. Meski umurnya sudah 27 tahun, dan ia juga

The Fifteen

menjabat sebagai CEO Kim Corporation tapi Jaejoong tidak pernah malu bersikap manis pada kedua orang tuanya. Sepeneninggal anaknya, Mr. Kim menarik napas dalam-dalam. Berusaha meredakan rasa nyeri yang timbul di dada. Ingin rasanya dia meminta Jaejoong untuk berhenti menemui Jung Yunho. Tapi ia tidak bisa melakukan itu. Jung Yunho adalah sumber kebahagiaan Jaejoong sekaligus sumber penderitaannya. Sebagai pemimpin tertinggi di perusahaannya selama ini orang lain selalu memandang dirinya sebagai sosok yang hebat dan berkuasa. Ia tidak pernah gagal melindas para pesaing bisnis untuk mempertahankan perusahaannya. Itu sebabnya ia dikenal sebagai President Director yang kuat.

The Fifteen

Tapi itu tidak berlaku saat dia berpikir tentang Jaejoong. Dia merasa menjadi orang yang paling tidak berdaya dan lemah di dunia. Bahkan kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki nyatanya tidak bisa menolong anak sulungnya itu. *****

Seorang wanita berseragam waiter langsung menyambut begitu Jaejoong masuk ke dalam sebuah restoran mewah di tengah kota Seoul yang penuh oleh pengunjung. Waiter itu mengantarnya sampai ke meja Yunho yang ternyata sudah duduk menunggu, lalu sang waiter pergi setelah mencatat pesanan mereka.

The Fifteen

Setengah dari hatinya merasa senang bertemu Yunho, tapi setengahnya lagi merasa enggan. Karena Jaejoong sudah bisa menebak apa yang akan diobrolkan oleh lelaki bermata musang itu. "Weekend ini aku akan kencan dengan Yeji, akhirnya kemarin dia menerimaku. Kami sudah resmi pacaran sekarang!" Seru Yunho penuh semangat. Nah, benar kan! Untuk selanjutnya Jaejoong harus menyiapkan telinga dan hatinya untuk menerima ocehan Yunho yang jelas-jelas akan membuat hatinya tersayat oleh pisau tak kasat mata. Sudah dua bulan ini Jung Yunho yang berprofesi sebagai CEO itu mengejar Seo Yeji. Yunho dan Seo Yeji adalah anak-anak dari keluarga konglomerat yang berpengaruh di Korea Selatan. Andai keduanya menjalin hubungan, sudah pasti orang tua mereka pun

The Fifteen

akan mendukung hubungan yang dianggap menguntungkan oleh kedua belah pihak berkasta setara ini. Jadi tidak aneh kalau dalam dua bulan terakhir obrolan Yunho tidak jauh-jauh dari Seo Yeji. Sayangnya, lelaki berparas tampan serta berbadan atletis itu tidak peka pada perasaan Jaejoong yang tergerus habis. "Nanti selesai makan temani aku membeli hadiah untuk Yeji ya" Lanjut Yunho berseri-seri, masih tidak menyadari sorot Jaejoong yang berubah redup, "Aku ingin membeli cincin untuk Yeji. Nanti tolong bantu pilihkan ya" Jaejoong menatap Yunho, ingin rasanya berteriak kencang kalau dia tidak menyukai hal ini. Ia benci melihat Yunho mencintai Seo Yeji. Namun yang terjadi selanjutnya justru kepalanya mengangguk. Mengabaikan hatinya yang jelas-jelas menjerit ingin

The Fifteen

menolak, "Baiklah. Tapi apa harus cincin? Ini kan baru awal-awal kalian pacaran, apa hadiahnya harus se-spesial itu?" "Yeji itu wanita spesial, hadiahnya juga harus spesial. Kau tahu berapa banyak yang mengejarnya? Banyak!” Terang Yunho berapi-api, “Jadi aku benar-benar beruntung bisa memiliki Yeji. Dia bukan hanya cantik dan berpendidikan, tapi juga sopan juga lembut. She is the best!” Serunya dengan ekspresi bahagia, “Aku sudah tidak sabar mengenalkan pacarku padamu, Jae" Bibir Jaejoong terangkat menyunggingkan senyum tipis sebelum akhirnya ia menunduk untuk menyembunyikan wajah atau lebih tepatnya… mata yang sudah berkaca-kaca. Jangan menangis…jangan sampai dia melihatmu menangis…semangat Jaejoong pada dirinya sendiri. Beruntung saat itu

The Fifteen

pelayan datang untuk mengantarkan pesanan mereka hingga fokus Yunho bisa teralihkan dari Jaejoong. Cara Yunho berbicara yang terdengar seperti memuja sang wanita membuat hati Jaejoong kembali berdarah untuk kesekian kalinya, "Oh ya, jangan lupa minggu depan juga jadwalmu periksa ke dokter" Jaejoong mengingatkan sekaligus berusaha mengalihkan topik pembicaraan dari Seo Yeji. "Waaaa aku memang beruntung punya sahabat sepertimu!" Seru Yunho, "Aku sendiri lupa kalau tidak diingatkan! Seperti biasa, nanti kau yang temani aku ya!” "Tidak bisa. Mulai sekarang kau harus bisa mengurus dirimu sendiri dengan baik" Tolak Jaejoong.

The Fifteen

"Tidak mau!" Geleng Yunho cepat, "Dari awal selalu kau yang mengantarku periksa ke dokter. Untuk urusan itu aku tidak mau diantar orang lain!" Berengutnya seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan. Setelah mengalami kecelakaan mobil satu tahun yang lalu, Yunho memang wajib memeriksakan kesehatannya ke dokter secara berkala. Terutama untuk bagian kepala. Kecelakaan itu sempat membuatnya koma selama 15 hari. Kecelakaan itu juga sudah merenggut ingatan Yunho. Meski tidak semua, tapi cedera di kepalanya membuat lelaki berusia sebaya dengan Jaejoong itu harus kehilangan ingatan untuk beberapa momen dalam hidupnya. "Sudah punya pacar masih saja merepotkanku! Kau harus belajar pergi sendiri ke dokter dan mengingat jadwal

The Fifteen

periksamu! Belum tentu aku bisa mengantarmu terus!" Meski menjawab dengan nada ketus tapi hati Jaejoong remuk tidak berbentuk mengingat tidak selamanya dia bisa berada di sisi lelaki itu. Dan Yunho terlihat santai menanggapi gerutuan Jaejoong. Dalam ingatannya, mereka sudah bersahabat sejak awal kuliah. Jadi Yunho tidak mudah tersinggung oleh omelannya. Juga, Yunho tahu pasti kalau lelaki bermata coklat itu tidak sungguhsungguh menganggap dirinya merepotkan. Yunho merasa mereka berdua sudah saling memahami satu sama lain. "Pokoknya aku tidak mau periksa kalau bukan kau yang mengantar! Lebih baik tidak usah pergi ke dokter !" Rupanya ancaman Yunho berhasil.

The Fifteen

"Ya, ya. Aku akan mengantarmu!" Desah Jaejoong mengalah, dirinya memang tidak pernah bisa menolak permintaan Yunho. *****

"Kau kenapa, Jae?" Bukan hanya ekspresinya tapi suara Yunho menyiratkan penuh kekhawatiran sejak awal mula masuk ke dalam kamar. Manik hitam legamnya menatap Jaejoong yang tengah duduk bersandar pada kepala ranjang. Satu bantal berukuran besar digunakan untuk mengganjal punggung, serta wajahnya terlihat pucat! Otomatis satu tangan Yunho terulur untuk menyentuh dahi sahabatnya itu. Panas!, "Sejak kapan dia demam, eomeonim?" Tanya Yunho pada Mrs. Kim yang duduk di samping ranjang.

The Fifteen

"Sejak tadi pagi" Jawab wanita paruh baya itu sambil kembali menyuapkan bubur ke mulut anaknya. Pantas saja, Yunho sudah berkali-kali menghubungi ponsel Jaejoong untuk mengajaknya makan siang tapi tidak juga mendapat respon. Hal ini membuat Yunho menelepon ke kantor dan sekretaris Jaejoong mengabarkan kalau hari ini bosnya tidak masuk karena sakit. Jadi tanpa membuang waktu Yunho bergegas datang ke rumah Jaejoong untuk melihat keadaannya. Juga, bukan hal aneh lagi kalau Yunho terlihat berkeliaran di rumah keluarga Kim. Jaejoong dan Yunho sudah berteman baik sejak mereka kuliah. Bahkan Mrs. Kim memperlakukan Yunho seperti anaknya sendiri.

The Fifteen

Setiap akhir minggu dan hari libur Yunho selalu menghabiskan waktunya di rumah keluarga Kim, atau pergi jalan-jalan dengan sahabatnya itu. Entah kenapa Yunho tidak bisa jauh dari Jaejoong. Tapi setelah ini, semua akan berubah. Dia akan lebih banyak menghabiskan akhir minggunya dengan Yeji. "Tidak apa-apa Yunho, ini hanya flu" Jawaban anaknya justru membuat Mrs. Kim menunduk. Wanita paruh baya itu berusaha menyembunyikan wajah sedihnya. Bagaimana tidak sedih? Dalam dua minggu terakhir, Jaejoong sudah pingsan tiga kali. Dan terakhir hari ini pada saat mereka sarapan tiba-tiba hidung bangir anaknya mengucurkan banyak darah. Kemudian anaknya itu pingsan setelah beberapa saat mengerang kesakitan.

The Fifteen

Beruntung saat itu Mr. Kim belum berangkat ke kantor dan langsung memanggil dokter keluarga. Namun keluarga itu juga tahu kalau obat-obatan yang diberikan dokter sudah tidak bisa membantu banyak lagi. Yang paling berguna bagi Jaejoong hanyalah pain killer dosis tinggi untuk membantu menahan rasa sakit di kepalanya.

"Syukurlah kalau hanya flu" Desah Yunho lega. Suapan bubur terakhir yang berhasil ditelan oleh Jaejoong membuat Mrs. Kim tersenyum. Anaknya masih mempunyai nafsu makan yang baik, "Eomma mau menaruh piring ini ke dapur. Yunho, kau temani Jaejoong ya" pesan Mrs. Kim sebelum keluar dari kamar.

The Fifteen

"Eh, Yunho bukannya hari ini kau ada kencan dengan Yeji?" Jaejoong teringat jadwal Yunho hari ini. "Aku mengundur kencan dengan Yeji, aku ingin menemanimu disini"

"Huh? Apa-apaan kau ini!?" Pekikan keras yang masuk ketelinganya membuat Yunho berjengit. Tidak mengira kalau Jaejoong yang sakit masih bisa bersuara sekuat ini. Jaejoong menoleh ke arah jam dinding. Jarum pendeknya menunjuk ke angka enam, "Telepon dia lagi Yunho, sekarang belum terlambat! Kencan saja dengan Yeji. Jangan membatalkannya hanya karena aku flu. Lagian aku juga tidak bisa istirahat kalau kau ada disini!" Sengaja Jaejoong mengusir agar Yunho pergi berkencan saja dengan

The Fifteen

Yeji. Meski hatinya harus berdarah tapi dia mendukung Yunho dan Seo Yeji. "Tidak mau, aku mau disini!" Tegas Yunho sembari melihat-lihat majalah yang bertumpuk di meja kamar. Jaejoong memang suka membaca majalah bisnis "Kencanku bisa diundur minggu depan. Yeji sudah mau mengerti. Tidak salah kan kalau aku memilihnya, dia itu wanita luar biasa yang penuh pengertian.” Penuturan Yunho yang memuji Seo Yeji hanya membuat Jaejoong semakin ingin mengusirnya. Mungkin karena kondisi tubuhnya yang sedang tidak sehat hingga perasaannya ikut menjadi lebih sensitif, “Kau hanya akan mengganggu disini! Pergi saja dengan Yeji!” “Sudah aku bilang aku mau disini!!” Walaupun mulutnya memuji Seo Yeji tapi bagi Yunho menemani Jaejoong yang sakit

The Fifteen

jauh lebih penting daripada berkencan dengan wanita itu. Dia tidak bisa meninggalkan Jaejoong. Andai hari ini dia pergi berkencan, dia tidak akan tenang karena pikirannya akan terus terus tertuju pada Jaejoong yang sakit. "Eh, ini apa?" Yunho membuka-buka album yang ia tarik secara iseng dari tumpukan majalah paling bawah. Isinya penuh dengan foto-foto mereka berdua, "Ini kapan, Jae? Kenapa aku tidak ingat kita pernah pergi ke tempat-tempat ini?" Astaga! darimana dia mendapatkan itu? Rutuk Jaejoong dalam hati. Meskipun tubuhnya lemas, dia memaksa untuk turun dari ranjang, lalu dengan cepat menyambar benda di tangan Yunho dan tidak membiarkan lelaki itu melihat lebih jauh. Untung dia belum sampai pada halaman terakhir, batin Jaejoong.

The Fifteen

"Kau kehilangan ingatanmu, jadi wajar kalau tidak ingat. Ini hanya foto-foto lama waktu kita kuliah" Jaejoong menyimpan album itu ke laci meja paling dalam sebelum kembali ke ranjang. "Yunho, sini" Jaejoong menepuk nepuk kasur meminta Yunho agar duduk disebelahnya sekaligus untuk mengalihkan perhatian lelaki itu dari album yang belum lama ia rebut, "Yunho berjanjilah, kalau suatu hari aku pergi jauh kau harus bisa mengurus dirimu dengan baik. Jangan melewatkan jadwal periksamu. Minta Yeji untuk mengantarmu" "Kau mau pergi kemana?" Tukas Yunho dengan nada tidak senang, "Jangan berpikir untuk pindah dari Seoul. Aku bersumpah akan menyeretmu pulang kalau kau berani meninggalkan aku" dia tidak ragu menunjukkan keposesifannya. Yunho tidak

The Fifteen

suka jauh dari Jaejoong. Dia sendiri tidak mengerti kenapa ia begitu terikat pada Jaejoong. Berada di dekat Jaejoong sudah menjadi kebutuhan tersendiri untuknya. "Jangan begitu kau harus–" Terpaksa Jaejoong menjeda untuk menarik napas sejenak. Kepalanya tiba-tiba berdenyut. Hal ini memang kerap kali dia rasakan sejak setahun terakhir dan semakin hari semakin parah. Dia berharap kali ini intensitas nyerinya tidak meningkat dengan cepat. Tidak saat Yunho berada di dekatnya. "Ingat ini, Yunho. Meski aku pergi jauh, aku tidak akan melupakanmu. Karena kau bukan ada disini" Jaejoong menyentuh kening Yunho dengan ujung telunjuknya,, "Tapi aku menyimpanmu disini" Telunjuknya beralih menunjuk dada sang sahabat.

The Fifteen

"Sekarang aku mau tidur" Selain menahan nyeri yang semakin menjadi di kepala, saat ini Jaejoong juga merasa takut. Takut tidak bisa lagi melihat orang-orang yang dicintainya, takut tidak bangun dan tidak bisa melihat matahari esok pagi. Takut, karena tidak tahu apa yang menantinya dibalik kematian . . . Ingin rasanya Jaejoong berbagi rasa takutnya dengan Yunho. Saat ini dia butuh lelaki itu untuk memeluknya, untuk menghiburnya. Satu pelukan saja itu akan bisa menguatkannya. Tapi sekuat tenaga Jaejoong menahan diri, sekarang dia tidak bisa meminta hal itu dari Yunho. Jaejoong juga tidak bisa memberitahu Yunho jika dirinya tengah sekarat! *****

The Fifteen

"Jae!" Yunho mengguncang pelan bahu Jaejoong yang sekarang terbaring di ranjang rumah sakit, "Jaejoong! Jaejoong!" Ulangnya, kali ini dengan suara lebih keras. Karena Jaejoong tidak juga merespon, Yunho beralih menatap Mr. dan Mrs. Kim yang berdiri di samping ranjang, "Kenapa Jaejoong tidak bangun?" Ketika mendapat telepon dari Mrs. Kim yang memberi kabar kalau Jaejoong ada di rumah sakit, Yunho tidak pernah berpikir akan mendapati pemandangan seperti ini. Mata musangnya menatap miris pada banyaknya jumlah alat-alat medis yang terpasang di tubuh sahabatnya. Kulit yang seputih susu itu kini terlihat semakin pucat. Bibir yang biasanya semerah cherry pun kini tak berwarna. Yunho tidak mengerti kenapa

The Fifteen

kondisi Jaejoong terlihat parah? Bukannya kemarin dia hanya flu? Apa flu bisa separah ini? Mrs. Kim mengelus punggung Yunho yang terlihat bingung. Mata tuanya tampak sembab karena terlalu banyak menangis. Wanita itu menjawab dengan suara bergetar, "Dokter bilang, kemungkinan besar Jaejoong tidak akan bangun lagi. Sebenarnya Jaejoong sudah sakit sejak satu tahun yang lalu" "Huh? Je-Jaejoong tidak akan bangun lagi?" Pekik Yunho kuat. Sulit diterima, Jaejoong yang kemarin masih berbicara dengannya, bahkan masih bisa memekik agar dia berkencan dengan Yeji, sekarang mereka bilang tidak akan bangun lagi? Yunho berharap dia salah dengar. Tapi Mr. Kim mengangguk membenarkan pernyataan istrinya.

The Fifteen

"Sakit!? Jadi bukan flu? Lalu dia sakit apa? Kenapa selama ini tidak ada yang memberitahu aku soal ini?" Matanya mulai terasa panas, cairan bening menggantung dipelupuknya. Kabar tiba-tiba ini sungguh membuat Yunho shock. Mr. Kim tetap bungkam, sementara sang istri hanya kembali terisak. Bukannya tidak mau menjawab, tapi mereka bingung harus menjawab bagaimana. Marah karena tidak mendapat penjelasan Yunho melangkah cepat ke arah pintu keluar lalu membukanya dengan kasar. Sedikitpun Mr. dan Mrs. Kim tidak tersinggung atas sikap kasar Yunho. Karena mereka bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh pemuda itu, sedih, frustasi dan putus asa. Sama seperti mereka saat ini.

The Fifteen

Dan ternyata Yunho bukan pergi ke taman rumah sakit atau tempat lain untuk menenangkan diri seperti perkiraan pasangan paruh baya itu. Mereka tidak menduga Yunho akan pergi mencari dokter yang menangani Jaejoong. *****

"Sebenarnya Jaejoong sakit apa, dok?" “Ada penggumpalan darah di kepalanya akibat kecelakaan satu tahun yang lalu dan dia seharusnya dioperasi tapi Jaejoong-ssi dengan tegas menolak untuk di operasi. Kondisinya sekarang ini sudah sangat buruk" Jawaban Sang dokter membuat Yunho terperanjat., Jaejoong kecelakaan satu tahun yang lalu? Bukannya itu aku? Aku yang

The Fifteen

kecelakaan setahun yang lalu. Kenapa tidak ada yang membahas soal cedera dan kecelakaan Jaejoong ? Kenapa Jaejoong menyembunyikan ini dariku? "Kecelakaan itu, bagaimana kejadiannya?" Tanya Yunho lagi. "Sebuah truk menabrak mobil yang ditumpanginya. Dari kabar yang saya dengar, kecelakaan itu terjadi tepat di hari pernikahannya" Mendengar itu, sontak kedua mata musang Yunho melebar, Pernikahan? Kapan Jaejoong menikah? "Apa anda tidak salah info, dok? Apa infonya tidak tertukar dengan pasien lain?" Sergah Yunho, " Jaejoong belum menikah! Lagipula truk yang menabrak mobil itu adalah kisah saya. Mobil saya yang ditabrak oleh truk setahun yang lalu"

The Fifteen

"Tidak, memang seperti itu info yang saya dapatkan" Pernikahan . . . Menikah . . . Jaejoong, ayo kita menikah . . . . Jaejoong aku mencintaimu. . . . Selanjutnya, Yunho bisa melihat bibir dokter itu bergerak-gerak, tapi hanya suara dengingan yang masuk ke telinganya. Pandangannya juga ikut memburam. Bukan hanya itu, rasa sakit yang sangat ikut menyerang kepalanya. Tubuhnya menjadi ringan dan seolah tersedot ke ruang hampa seiring dengan bayangan yang tiba-tiba muncul melintas dikepalanya. Yunho seperti sedang menonton sebuah film sekarang. Dalam bayangan itu Jaejoong terlihat menawan dalam balutan tuxedo biru serta dasi kupu-kupunya. Sementara dirinya juga mengenakan pakaian senada dan mereka berdiri di depan Altar!

The Fifteen

Aku berjanji, akan menjagamu, selalu bersamamu baik senang ataupun susah sampai maut memisahkan kita. "Apa ini? Kenapa aku berjanji seperti itu pada Jaejoong di depan Altar? Lalu. . . .lalu kenapa kami berciuman?" Yunho bahkan tidak sadar dirinya tengah mengerang kuat. Tubuhnya sudah tergeletak di lantai dengan kedua tangan memegangi kepala yang seperti mau pecah. Saat ini Dirinya seolah tengah berada di dua dunia yang berbeda. "Yunho-ssi! Yunho-ssi!" Dia bahkan tidak bisa menangkap suara dokter yang waktu itu berseru keras dan berusaha menolongnya. Para perawat yang entah sejak kapan masuk ke dalam ruangan dokter pun sibuk memasangkan masker

The Fifteen

oksigen karena Yunho tampak kesulitan bernapas. Belum selesai dengan yang satu, bayangan lain menyusul, menghempas ingatannya. Dalam gambaran itu, mereka sudah tidak berada di depan Altar lagi, tetapi berada di dalam sebuah mobil. Tawa lebar mengiringi di sela-sela obrolan. Saat itu, dia dan Jaejoong terlihat bahagia. Sampai sebuah suara keras menghentikan tawa keduanya. Suara klakson… dari sebuah kendaraan berbadan besar, dan kemudian . . . BRRAAKK! "Yunho-ssi! Yunho-ssi!" Lagi-lagi telinganya tidak bisa menangkap seruan dokter. Yunho juga tidak sadar jika dia sudah dipindah ke ruang UGD. Dia merasa tubuhnya terhempas keras

The Fifteen

sebelum semua gambaran dikepalanya menghilang dan dunianya berubah menjadi gelap. ****

"Maafkan aku, Jae! Maaf kalau aku sudah melupakanmu" Raung Yunho di pinggir ranjang, "Sekarang aku ingat semua, Jae! Ayo bangun. Aku sudah mengingat semua!" Sejak sadar dari pingsan dan bisa mengingat setiap hal yang terjadi dalam hidupnya, Yunho tidak berhenti memaki diri. Bisa-bisanya dia lupa pada separuh jiwanya dan hanya menganggapnya sebagai sahabat. Disisi lain, pasangan Kim bergegas menghampiri Yunho yang belum lama merengsek masuk ke dalam ruangan dan

The Fifteen

langsung menangis keras, "Apa maksudmu, nak? Apa yang kau ingat?" Tanya Mrs. Kim lembut namun raut kaget tetap kentara di wajahnya. "Semua! Aku bisa mengingat semua. Bukan hanya aku yang mengalami kecelakaan, tapi Jaejoong juga ada di mobil itu, dia sedang bersamaku. Itu hari pernikahan kami" Pernyataan Yunho membuat Mrs. Kim terisak. Ingatan menantunya telah kembali, dan hal itu merupakan hal yang paling tidak diinginkan oleh Jaejoong. "Kenapa kalian tidak memberitahu aku tentang penyakit Jaejoong? Kenapa dia menolak operasi? Kenapa kalian tidak membujuknya untuk melakukan operasi" Raung Yunho.

The Fifteen

"Jaejoong meminta kami untuk tidak memberitahumu tentang ini. Jaejoong sadar kalau dia akan segera meninggalkanmu, karena itu dia mendukungmu dengan Seo Yeji. Sebagai ayahnya aku tahu hal itu pasti berat untuk dia lakukan. Melihatmu mencintai orang lain itu pasti menyakiti hatinya tapi Jaejoong ingin ada orang lain yang menghibur dan membuatmu bahagia sewaktu dia harus pergi" Terang Mr. Kim. "Kami sudah berkali-kali membujuknya untuk operasi tapi Jaejoong tetap menolak." Sambung istrinya ditengah isakan. Sekarang mereka tidak perlu menutupi apapun lagi dari Yunho. . "Kenapa Jaejoong menolak operasi?” Tanya Yunho tidak mengerti, “Kalau itu bisa meyelamatkan nyawanya kenapa dia tidak melakukannya?”

The Fifteen

"Karena operasi itu akan membuatnya kehilangan ingatan. Jaejoong tidak mau melupakan semua kenangan bersamamu” Mr. Kim menjeda sejenak sebelum akhirnya bercerita lebih jauh, “ kecelakaan itu membuatmu koma selama 15 hari. Sementara Jaejoong hanya tidak sadar selama 2 hari lalu kondisinya terus membaik. Sesudah sadar, Jaejoong selalu berada di sisimu. Menjagamu sewaktu kau koma. Tapi sehari sebelum kau sadar dia justru pingsan. Awalnya kami mengira dia kelelahan tapi dokter menemukan adanya penggumpalan darah di kepala yang sebelumnya tidak terdeteksi" "Operasi adalah satu-satunya cara untuk menangani penggumpalan darahnya. Tapi risikonya besar. Sedikit kesalahan bisa membuat Jaejoong kritis, koma atau bahkan tidak selamat. Sekalipun dia bisa bertahan,

The Fifteen

dokter bilang kemungkinan besar Jaejoong akan mengalami amnesia. Tapi kalau tidak di operasi, penggumpalan darah itu juga akan semakin besar dan membuat pembuluh darah di otaknya pecah. Waktu itu Jaejoong menghadapi pilihan yang sulit. Tapi akhirnya dia menolak operasi" Beberapa saat Yunho memandangi wajah Jaejoong, lalu sebelah tangannya mengelus kepala lelaki yang dicintainya itu, "Maaf, aku tidak ada disisimu sewaktu kau harus menghadapi pilihan yang sulit" Sesal Yunho yang merasa tidak berguna. Dia tidak ada saat Jaejoong membutuhkannya. "Jaejoong tidak mau melupakan kenangan bersama orang-orang yang dia cintai, terlebih dirimu. Dia tidak mau kehilangan ingatannya, karena itu akhirnya Jaejoong menolak untuk di operasi. Jaejoong tahu tanpa operasi hidupnya tidak bisa

The Fifteen

bertahan lama. Tapi baginya, kenangan bersamamu sangat berharga. Dia memilih pergi dengan semua kenangan itu daripada harus melupakannya" Mr. Kim menjeda sejenak. "Ketika kau sadar dari koma, momen tentang hubungan kalian terhapus dari ingatanmu. Kau hanya mengingat Jaejoong sebagai sahabatmu. Jaejoong merasa dirinya sudah terlupakan dan putus asa karena kehilanganmu. Sedikitnya itu turut menurunkan semangat hidupnya " Saat ini Yunho hanya bisa menyesali kebodohannya. Sewaktu sadar dari koma, orang tuanya, juga orang tua Jaejoong mengingatkan kalau dia dan Jaejoong sudah menikah. Tapi dia menganggap mereka hanya bercanda dan dengan tegas menolak, bersikeras jika Jaejoong hanyalah sahabatnya dan selamanya akan seperti itu.

The Fifteen

Bahkan dia masih ingat kata-kata nya waktu itu, yang sudah pasti menyakiti Jaejoong. Aku belum gila mau menikah dengan Jaejoong! Jaejoong itu laki-laki! Aku lelaki normal, aku masih menyukai dada wanita dibanding batang lelaki! "Sesudah tegas menolak operasi dan sadar kalau waktunya terbatas, Jaejoong meminta kami juga orang tuamu untuk tidak membahas tentang pernikahan kalian. Dia juga menyembunyikan semua barang yang bisa mengingatkanmu tentang hubungan kalian dulu. Dia tidak mau ingatanmu kembali. Jaejoong berusaha mencegah kejadian seperti sekarang ini terjadi. Kau bisa mengingat semua, dan lihat bagaimana sekarang kau terpuruk saat dia harus pergi” "Kenapa membuat keputusan seperti itu, Jaejoong . . ." Yunho meraung. Dia tidak

The Fifteen

berhenti mengelus kepala Jaejoong yang sudah dinyatakan koma, “Kenapa begitu cepat menyerah?" Selama ini Yunho mengenal Jaejoong sebagai orang yang tidak mudah menyerah, dalam hal apapun. Ayah Jaejoong menatap miris pada sang menantu yang menangis tersedu sambil menggenggam kuat tangan anaknya. Mungkin Tuhan melihat mereka terlalu kuat, hingga menganggap mereka sanggup menerima ini semua. Pemandangan itu juga membuat pertahanan Mr. Kim goyah. Pria tua yang sejak tadi terlihat kuat itu kini mulai berkaca-kaca, "Andai waktu itu kau tidak kehilangan ingatanmu dan Jaejoong berhasil melewati operasi, tetap saja dia akan lupa padamu, lupa pada kita semua. Jaejoong menyerah karena dia sudah putus asa dan tidak bisa melihat jalan untuk kalian

The Fifteen

bersama lagi. Jaejoong lebih memilih terkubur dengan semua kenangannya. karena menurutnya hidup tanpa ingatan apapun itu lebih menakutkan dari kematian” Sontak Yunho berbalik menghadap ayah mertuanya, "Bagaimana kalau sekarang Jaejoong dioperasi? Kalau dia lupa, kita yang akan mengingatkannya lagi" "Dengan kondisi yang sudah memburuk seperti sekarang, kemungkinan Jaejoong bisa bertahan di meja operasi sangat kecil" "Kumohon abeonim, eomeonim, restui keputusanku sebagai suaminya agar Jaejoong dioperasi. Walaupun kecil tapi masih ada harapan disana. Aku tidak bisa pasrah dan hanya menunggunya mati seperti sekarang" "Tapi kita juga harus menghormati keputusannya” Ujar Mr. Kim dengan

The Fifteen

perasaan sedih yang tidak bisa digambarkan, “Kami sudah berjanji pada Jaejoong untuk menghormati keputusannya" "Aku mohon . . . aku mohon abeonim, eomeonim " Yunho meraung kencang, dia bahkan tidak malu berlutut di depan kedua mertuanya, " Aku tidak tahu caranya hidup tanpa Jaejoong . . ." Setelah beberapa saat terdiam, Mr. Kim berjalan mendekat ke ranjang. Tubuh rentanya membungkuk, pria tua yang biasanya terlihat kuat itu kini wajahnya penuh air mata. Beliau mencium lembut kening anak lelakinya sebelum berbisik, "Maaf. Maafkan kalau kami mengkhianatimu, Joongie" *****

The Fifteen

Menggunakan handuk kecil, Yunho menyeka area wajah yang tidak tertutup oleh masker oksigen. Usai itu dia lanjut menyeka bagian lengan. Jari-jari tangan yang pucat pun tidak luput dari sapuan kain setengah basah itu. Gerakannya sangat hati-hati, menjaga agar alat-alat medis yang terpasang di tubuh rapuh itu tidak tersenggol olehnya. Selesai dengan lengan, Yunho pindah ke kaki. Dengan telaten dia mengelap kaki kurus itu sampai ke sela-sela jari dengan handuk putih ditangannya. Kegiatan membersihkan tubuh Jaejoong itu sudah Yunho lakukan selama 15 hari, tanpa absen satu hari pun. 15 hari yang lalu, adalah hari yang melegakan. Dimana mereka melihat Jaejoong didorong keluar dari ruang operasi masih dengan nyawa melekat di raga. Tapi

The Fifteen

kondisinya kritis dan kembali dinyatakan koma. Dalam 15 hari terakhir, beberapa kali Yunho dihadapkan pada pemandangan yang paling mengerikan dalam hidupnya. Pemandangan ketika dokter memompa dada pasangannya. Atau ketika melihat tubuh Jaejoong melonjak saat dokter menstimulasi jantungnya dengan alat bertegangan tinggi untuk mengembalikan detaknya yang sempat berhenti beberapa kali. Saat ini kondisi Jaejoong belum pasti. Tidak ada dokter yang bisa memastikan apakah dia akan bangun, atau bisa saja dia tiba-tiba pergi. Hal ini membuat Yunho terus waspada. Dalam 24 jam dia hanya bisa tertidur selama beberapa jam saja. Begitu ingatannya kembali, dia juga segera menyelesaikan urusannya dengan Seo Yeji.

The Fifteen

Beruntung wanita kondisinya.

itu

mau

mengerti

Gerakannya membersihkan kaki Jaejoong itu tiba-tiba terhenti ketika Yunho melihat jari tangan yang bergerak-gerak, dia berpindah ke samping untuk memastikan dan semakin shock ketika melihat bola mata di dalam kelopak yang tertutup itu juga bergerak-gerak. "Eomeonim!Eomeonim! lihat ini!" Yunho yang tiba-tiba berseru keras, jelas membuat Mrs.Kim yang ada di sofa terlonjak, "Ya, Tuhan!" Seru wanita tua itu sambil terus menekan-nekan tombol merah disamping ranjang yang berfungsi untuk memanggil petugas medis. Mata bulat yang sudah tertutup selama sekian hari itu akhirnya terbuka!

The Fifteen

Tanpa dikomando Yunho dan Mrs.Kim langsung bergeser saat dokter diiringi dua orang perawatnya masuk ke dalam ruangan. "Apa kau bisa mengingat namamu?" Itu pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh dokter setelah memeriksa kondisi fisik pasiennya. Masker oksigen juga sudah dilepas. Jaejoong sudah bisa bernapas sendiri tanpa bantuan alat medis. Lelaki yang baru sadar itu tampak berpikir, namun kemudian menjawab dengan tubuh gemetar, "Aku siapa? Kenapa aku tidak bisa mengingat apapun?!" Ruangan yang asing, Orang-orang yang tidak ia kenal, ingatannya yang kosong serta kepala yang berdenyut nyeri, semua itu membuat lelaki yang belum lama sadar itu takut. Dia mencoba untuk bangun, tapi tubuhnya terasa kaku. Hal itu semakin

The Fifteen

membuatnya ketakutan dan tidak mengerti apa yang sudah terjadi pada dirinya. Bulir bulir keringat mulai bermunculan di wajah dan napasnya berubah cepat dan pendekpendek, seperti ikan yang dipindahkan ke darat. Dia panik! Selanjutnya perlu dua orang untuk menahan bahu dan memegangi kedua tangannya. Jaejoong menjerit dan meronta karena panik. Raut ketakutan tergambar jelas di wajahnya. Infus dan alat medis lain yang masih terpasang di tubuhnya terlepas. "Tenanglah, jangan takut. Tidak ada yang ingin menyakitimu. Dengarkan dulu apa kata dokter ya" Entah kenapa suara lelaki yang mengelus pipinya lembut itu bisa membuat Jaejoong sedikit lebih tenang. Hingga akhirnya perawat pun merasa tidak perlu mencekal tangan sang pasien lagi.

The Fifteen

"Namamu Jaejoong" Terang dokter dengan suara lembut, "Kau mengalami kecelakaan mobil dan harus dioperasi karena terjadi penggumpalan darah di kepalamu. Operasi itu berdampak pada ingatanmu. Bisa saja ingatanmu kembali suatu hari nanti tapi kami tidak bisa memastikan hal ini" Dokter pun tersenyum dan melanjutkan, "Ini adalah Mrs. Kim, ibumu" Sang dokter meminta wanita paruh baya itu untuk lebih mendekat ke ranjang. Air mata bercucuran dari mata tua nya. "Aku ibumu, Joongie" Walaupun menangis tapi hati wanita tua itu bahagia. Sungguh bahagia melihat anaknya sadar dari koma, "Namamu sebelum menikah adalah Kim Jaejoong, tapi sesudah menikah margamu berganti menjadi Jung, Jung Jaejoong. Ayah dan adikmu sedang dalam

The Fifteen

perjalanan menuju kesini, kau akan segera melihat mereka" Sekarang giliran lelaki yang tadi mengelus pipi Jaejoong memperkenalkan dirinya, “Aku, Jung Yunho” Tidak perlu ditanya lagi sebesar apa rasa bahagia lelaki itu, "Aku suamimu. Jangan takut, Jaejoong. Sekarang memang kau tidak bisa mengingat apa-apa, tapi kami akan membantumu. Kami akan membantu mengingatkan lagi semua hal yang sudah kau lupakan" *****

"Kenapa melihatku begitu? Memangnya aku terlihat menakutkan ya?" Kekeh Yunho. Suaranya memecahkan suasana sepi yang mencekam, “Aku tidak akan menggigit kok”

The Fifteen

Sudah beberapa menit berlalu, namun tidak ada satupun dari keduanya yang berbicara. Yunho berharap sedikit canda bisa mencairkan atmosfer ruangan yang terasa kaku. Dan bukan tanpa alasan ia mengatakan hal seperti itu. Sedari tadi Jaejoong menatapnya dengan tatapan penuh waspada seolah ia akan menerkamnya. Sakit ternyata dicurigai oleh orang yang dicintai. Di ruang rawat itu sekarang hanya ada mereka berdua. Yunho meminta waktu pada orang tua Jaejoong agar mereka bisa berbicara berdua saja. "Meskipun kau bilang kau itu suamiku tapi sekarang ini aku tidak ingat apapun tentangmu. Aku tidak tahu kau orang yang bagaimana, Tidak tahu bagaimana caramu memperlakukanku dulu, baik? atau sebaliknya. Tidak tahu pernyataanmu itu jujur atau tidak. Maaf bila kau benar

The Fifteen

suamiku, tapi sekarang ini kau hanya orang asing untukku" Mendengar itu, Yunho merasa dadanya dihantam kuat hingga jantungnya berdenyut nyeri. Seperti inikah rasanya terlupakan? Rasa sakit inikah yang dulu Jaejoong tanggung saat dia melupakan hubungan mereka dan hanya menganggapnya sebagai sahabat? "Aku, orang tuamu juga orang tuaku sudah tahu kalau operasi yang kau jalani akan beresiko membuatmu kehilangan ingatan. Dan kami sudah sepakat, bila kau sadar, kami akan menceritakan semua kisah hidupmu dengan jujur. Entah itu hal yang menyenangkan atau menyakitkan, kami akan menceritakan semua dengan jujur. Kami tidak berniat menutupi atau memanipulasimu"

The Fifteen

Yunho mulai membuka album yang ada ditangannya. Album yang diambil dari laci kamar Jaejoong sehari sesudah istrinya itu dioperasi. "Lihat ini" Yunho menunjukkan sebuah foto, membuat Jaejoong merubah posisi berbaringnya menjadi sedikit menyamping agar bisa melihat apa yang ditunjukkan Yunho. "Ini foto bersama teman-teman dekat kita waktu masih kuliah, kita sudah berteman sejak awal masuk kuliah"

The Fifteen

Yunho membuka halaman berikutnya, "Ini adalah foto di Guam Island, Amerika Serikat. Kita berlibur kesana untuk merayakan kelulusan kita"

The Fifteen

"Dan ini foto berlibur kita di Jeju, empat tahun yang lalu” Bibir berbentuk hatinya reflek tersenyum ketika Yunho mengingat sebuah peristiwa bersejarah bagi mereka berdua, “Di Jeju inilah aku menyatakan

The Fifteen

perasaanku dan kau menerimanya” Dan dalam 3 tahun masa pacaran, hubungan mereka membuat iri banyak orang. Mereka dianugerahi cinta yang besar antara satu sama lain.

"Dan ini foto . . ." Mendadak Yunho berhenti. Menelan ludahnya kasar serta wajahnya bersemu merah, "Yang ini aku terangkan nanti saja!" Ujarnya gugup.

The Fifteen

Dengan cepat Yunho membalik halaman, mengabaikan Jaejoong yang membelalak lebar dan terlihat ingin tahu cerita dibalik foto dirinya yang tampak setengah bugil.

"Nah, kalau ini foto perayaan yang diambil di kantormu. Hari itu kau resmi menjabat sebagai CEO di perusahaan ayahmu" Terang Yunho pada foto yang ada di halaman lain.

The Fifteen

Dan masih banyak foto-foto lain yang Yunho tunjukkan sebelum akhirnya dia sampai di halaman terakhir. "Dan ini adalah foto . . .foto yang diambil satu tahun yang lalu" Yunho nyaris tak mampu meneruskan. Air mata jatuh

The Fifteen

meluncur begitu saja meski ia sudah menahannya sekuat tenaga, "Ini foto pernikahan kita. Foto ini diambil sesudah kita mengucap janji suci di depan Altar. Hari yang sama, saat kecelakaan itu terjadi. Waktu itu, kita sedang dalam perjalanan menuju ke gedung pesta setelah menyelesaikan upacara di gereja. Seorang pengemudi truk yang mengantuk menabrak mobil kita"

The Fifteen

Sungguh menyakitkan bagi Yunho saat harus mengingat lagi tragedi yang menimpa mereka berdua dan membuat mereka berada dalam keadaan seperti sekarang ini. "Jadi kita berdua mengalami kecelakaan? Keadaanmu sendiri bagaimana? tidak apaapa?" Meskipun Jaejoong merasa asing dengan Yunho, tapi entah darimana datangnya rasa khawatir untuk lelaki itu. "Sama sepertimu, aku juga sempat kehilangan ingatanku, tapi sekarang sudah sehat, aku bisa mengingat semua" Sedikitpun Jaejoong tidak bisa mengingat Yunho dan bagaimana perangai pria itu. tapi anehnya ada sesuatu di dalam dadanya yang mendorong agar ia menerima dan mencoba percaya pada semua cerita orang yang mengaku sebagai suaminya ini.

The Fifteen

"Hey . . ." Jaejoong sedikit menyentuh tangan Yunho yang tengah menunduk, mencoba berusaha menyembunyikan wajahnya yang basah dengan air mata. "Aku akan berusaha percaya padamu. Kalau memang kita pernah menikah seperti yang kau ceritakan, tolong bantu aku untuk mengingat tentang kita. Bantu aku untuk mengingat lagi seperti apa hubungan kita dulu. Ceritakan lebih banyak, dan aku juga ingin mengenalmu lagi" Sontak kepala Yunho terangkat, air matanya mengalir semakin deras. Tidak menyangka kalau Jaejoong akan menerimanya secepat ini. Tadinya dia takut, takut Jaejoong akan menolak dan mengusirnya. Menganggapnya orang asing lalu jatuh cinta pada orang lain. Sama seperti yang sudah dia lakukan.

The Fifteen

Sekarang Yunho bisa membayangkan bagaimana sakitnya Jaejoong saat dia mengatakan dirinya resmi berpacaran dengan Seo Yeji, bagaimana hancurnya Jaejoong yang harus melihat dirinya mencintai orang lain. Bahkan tega meminta bantuan Jaejoong dalam memilih cincin untuk wanita itu. Selama membantunya di toko perhiasan, sedikitpun Jaejoong tidak memperlihatkan raut bad mood. Dia selalu tersenyum dan sabar saat membantunya mencari cincin terbaik untuk Yeji. Hal yang tidak bisa dia lakukan jika dirinya berada di posisi Jaejoong. Bisa-bisanya dia menyiksa Jaejoong seperti itu! Jaejoong selalu menjaganya, tidak pernah absen mengantarnya ke dokter, selalu

The Fifteen

menuruti semua keinginannya mendukung apapun keputusannya!

dan

Dan Jaejoong . . . Meskipun dia melupakannya, Jaejoong tidak pergi dari sisinya. Sekalipun tahu dirinya sekarat, Jaejoong tidak egois dan hanya memikirkan kebahagiaan seorang Jung Yunho. Tetap mendukungnya dengan Seo Yeji meski itu membuat hatinya hancur. Jaejoong hanya memikirkan Kebahagiaan Jung Yunho yang sudah melupakannya. "Terima kasih, Jaejoong" Ucap Yunho tulus, "Terima kasih kau tidak menolakku. Aku ingat kau pernah bilang tidak akan melupakan aku, karena aku bukan ada disini" Yunho menyentuh kening Jaejoong dengan ujung telunjuknya, persis seperti yang pernah Jaejoong lakukan padanya,

The Fifteen

"Tapi kau menyimpan aku disini" dia beralih menunjuk ke arah dada lelaki yang dinikahinya setahun lalu. Dengan dahi berkerut Jaejoong menatap Yunho. Sejak ia bangun semua terasa asing, namun kata-kata Yunho barusan menjadi satu-satunya hal yang tidak terasa asing untuknya. Mulut Jaejoong sudah terbuka, dia bermaksud meminta Yunho bercerita lebih banyak tentang hubungan mereka. Namun tiba-tiba rasa sakit menyerang kepala. Reflek matanya memejam. Dahinya mengeryit, dia tampak kesakitan. "Kenapa Jae? Kepalamu sakit?" Tanggap dengan situasi, Yunho segera meraih botol berisi pain killer beserta segelas air putih di meja kecil sebelah

The Fifteen

ranjang. Lalu membantu Jaejoong meminum obatnya. Dokter memang sudah memberi peringatan, jika Jaejoong mungkin mengalami sakit kepala sebagai efek samping dari operasi itu. Dia boleh menggunakan pain killer untuk meredakan rasa sakitnya. Dengan dosis yang sudah diatur oleh dokter tentunya. "Sekarang istirahat dulu ya, Jae" Yunho sadar Jaejoong baru saja bangun dari koma dan masih membutuhkan banyak istirahat. Mengangguk, kemudian Jaejoong menutup mata dan membiarkan Yunho membenahi selimutnya. Setelah itu ruang rawat berubah hening. Yunho memandangi wajah Jaejoong lamat-lamat. Tangan kokohnya bergerak menggenggam satu tangan Jaejoong diranjang, tapi dengan cepat Jaejoong menarik lepas tangannya dari

The Fifteen

genggaman Yunho. Penolakan itu membuat hatinya serasa ditusuk-tusuk. Sakit rasanya. Tapi, Yunho bisa memaklumi. Jaejoong perlu waktu untuk mengenalnya lagi. Mirisnya, bahkan sekarang ini Jaejoong tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadapnya. Dia adalah orang asing dan benar-benar terlupakan. Jaejoong tidak lagi mengingat kisah meraka, juga tidak mencintainya lagi! Perasaan itu sudah hilang! Namun, Yunho bersyukur mereka masih diberikan kesempatan untuk bersama. Mengalahkan tragedi yang nyaris membuat keduanya terpisah. Dengan Jaejoong yang kehilangan ingatannya, Yunho tidak tahu kesulitan apa yang menanti mereka di depan sana. Tapi dalam situasi apapun, Yunho berjanji tidak akan meninggalkan Jaejoong. Sama seperti

The Fifteen

Jaejoong yang tidak meninggalkan sisinya ketika dia kehilangan ingatan. Yunho bertekad, akan menjaga dan berjuang membuat Jaejoong jatuh cinta lagi padanya. Karana Yunho yakin, dia tidak akan pernah menemukan cinta yang lebih besar, dari cinta yang pernah diberikan Jaejoong untuknya!

FIN

The Fifteen

One Of These Night Written by nyangiku

Aku terbangun dari mimpi.. Aku menemukanmu diantara bintang dilangit yang sedang bersedih.. Begitu jauh.. Aku masih belum bisa menjangkaumu..

*****

The Fifteen

Namja bermata musang itu menatap layar ponselnya dengan ekspresi datar. Sesekali dahinya berkerut memberikan tanda kalau ia sedang berpikir keras. Tak lama ia pun mendesah kesal. Matanya melirik ke arah lembaran brosur wisata pulau Jeju yang dia ambil dari seorang staff ketika ia sedang mengawasi pekerjaan mereka. “Kenapa aku berpikir begitu keras seperti sedang

meeting?

Padahal

kan

hanya

mengajaknya liburan saja. Jung Yunho pabbo!” setelah mengeluh namja itu pun kembali tersenyum. Tak sabar ingin bertemu sang kekasih untuk memberitahu tentang rencananya.

The Fifteen

“Aku harus pulang cepat sekarang dan menemuinya,” Yunho langsung mematikan laptopnya, mengambil jas yang disimpannya di sofa tamu ketika tadi masuk. Tak lupa mengambil kunci mobilnya dan segera meninggalkan ruangan menuju tempat sang kekasih berada.

*****

“Junsuie-ya aku bosan sekali..” namja berambut

blue

black

itu

menjatuhkan

wajahnya ke atas meja setelah sebelumnya menggeser minumannya agar tidak tumpah tersenggol olehnya sendiri. “Aku ingin pergi

The Fifteen

liburan. Tapi si beruang jelek itu, semenjak salah satu kantor cabang perusahaannya tiba-tiba bermasalah dia semakin sibuk. Bahkan

dia

sudah

jarang

pulang

ke

apartemenku.” keluhnya lagi. “Puk puk puk.. aku tahu persis rasanya. Tidak ada yang bisa kau berbuat lagi selain sabar, oke Jaejoongie?” Jaejoong

memanyunkan

bibirnya,

kekasih sahabatnya ini memang tidak pernah bisa memberikan solusi yang real. Jaejoong ingin saran yang real! Seperti misalnya, nekat pergi liburan sendiri keluar negeri meninggalkan

kekasihnya

yang

disibukkan oleh pekerjaannya itu.

sedang

The Fifteen

Biarkan saja dia dengan tumpukkan kertas pentingnya itu! menikah saja sekalian sana! “Tapi Jaejoongie..” Junsu menggantung kalimatnya membuat Jaejoong hampir saja menjitak kepalanya itu kalau saja ia tidak langsung melanjutkan kalimatnya. “Kenapa kau tidak pergi liburan sendiri saja? kurasa pergi diam-diam tidak akan masalah kan?” saran Junsu. Saran yang sebenarnya sempat singgah dipikiran Jaejoong tadi. “Aku inginnya sih begitu, tapi.. pergi liburan sendiri? Apa enaknya coba? Seperti orang

hilang

saja.

Sebal.”

membuang nafasnya kesal.

Jaejoong

The Fifteen

“Ya~ lalu kau inginnya apa?” Junsu mulai kesal.Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran namja cantik didepannya itu. “Aku ingin liburan!!”

*****

“Benarkah?” mata Jaejoong membulat ketika Yunho memberikannya selembar brosur tentang wisata pulau Jeju padanya. Meski awalnya tidak mengerti maksud Yunho memberikan itu padanya, tapi setelah Yunho bertanya, “Kau mau liburan kan? Bagaimana kalau kesini?” sambil menunjuk sebuah destinasi wisata pada brosur itu.

The Fifteen

“Sungguh kita akan liburan kesini?” Jaejoong mulai antusias. Di tariknya tubuh besar Yunho dan dipeluknya begitu erat. Padahal ini bukan liburan pertama mereka. Mereka sangat sering sekali pergi liburan bahkan hampir setiap hari menikmati hari-hari liburan sebagai sepasang kekasih yang begitu mesra dan membuat orangorang sekitar iri pada mereka. Semua tempat wisata lokal hampir mereka kunjungi bahkan beberapa tempat diluar negeri. Tapi entah kenapa kali ini perasaan Jaejoong amat begitu senang, meski Jeju bukan tempat asing untuknya. Karena Jaejoong pernah menginjakkan kaki disana jauh sebelum tempat itu terkenal

The Fifteen

karena menjadi

tempat

syuting

drama

romantic. Dan yeah Junsu punya hotel—ah, sebuah resort mewah disana. Jeju bukan tempat istimewa, tapi entah kenapa Jaejoong sangat senang sekali. Karena kali ini ia akan pergi bersama Yunho, mereka akan pergi berdua saja. Bukan dengan pesawat tapi menggunakan transportasi laut, bukan kapal pesiar atau bahkan kapal pribadi, namun sebuah kapal penumpang

biasa

dan

itu

merupakan

pengalaman pertama kali yang akan mereka lalui bersama. Mereka akan mengendarai mobil dari Seoul lalu penumpang!

menaiki kapal

The Fifteen

Bukankah itu akan sangat menyenangkan? Sungguh, ini pengalaman pertama bagi Jaejoong. Kapal Byeoul 15 namanya. “Aku sudah membeli tiketnya, tapi kalau kau mau naik pesawat tidak apa-apa akan kuberikan tiket ini pada orang lain. Atau kita gunakan kapal pribadi saja, bagaimana, hm?” tawar Yunho. Ia tak yakin sebenarnya Jaejoong mau menaiki kapal penumpang seperti itu, mengingat Jaejoong bukan orang biasa. Jaejoong memukul kepala Yunho gemas, ck

bahkan

Jaejoong

belum

diberikan

kesempatan untuk menjawab namja itu

The Fifteen

seenaknya saja mau memberikan tiket itu ke orang lain. “Aniii.. aku mau naik kapal itu, aku belum pernah naik kapal penumpang biasa, pasti akan seru bertemu berbagai macam orang. Aku tidak sabar Yunnie!” Jaejoong mencium pipi Yunho gemas. Dan Yunho pun tentu saja gemas dengan tingkah kekasihnya itu. Yunho pun tersenyum senang melihat sang kekasih kembali ceria setelah beberapa hari ini selalu memasang wajah kecewa akibat kesibukannya.

The Fifteen

Jujur saja melihat kekasihnya itu selalu terlihat murung dan sedih seperti itu sempat membuat kinerjanya menurun. Hatinya sakit melihat kesayangannya itu tak seperti biasanya selalu ceria dan menebar energy positif dimana pun ia berada. “Duuh.. kelinci putihku ini kenapa antusias sekali eoh? seperti tidak pernah liburan bersama saja. Ini liburan loh bukan bulan madu kita.” goda Yunho. Wajah Jaejoong seketika memerah mendengar kata ‘bulan madu’ OMO! Apa ini kode juga bahwa Yunho mau melamarnya? Tapi,,

The Fifteen

Tidak. Jangan percaya diri dulu. Bukankah

masih

‘pernikahan’

jauh

sedangkan

sekali

pada

mereka

baru

menjalin hubungan pacaran 2 tahun? Dan lagi..

Ah

sudahlah..

sebentar

jangan

dipikirkan dulu Jae! FOKUS pada liburannya saja! Kapan lagi bisa berdua, dan hanya berdua

bersama

beruangnya

itu

tanpa

gangguan Junsu atau kekasih playboynya itu. “Bagaimana aku tidak senang? Kau kan selalu sibuk akhir-akhir ini dan aku seperti anak

kucing

yang

terbuang,

butuh

kehangatan dan kasih sayang dari seorang

The Fifteen

majikan.

Tadinya

bahkan

aku

sempat

berpikir untuk pindah apartemen diam-diam karena kau bahkan jarang pulang kesini! Menyebalkan!” dengus Jaejoong sebal. “Omo! Anak kucingku sedang marah.. kalau begitu aku tidak jadi memberikannya ini,” Yunho menunjukkan sebuah kotak berwarna merah dengan ukiran lambang diatasnya. Lambang yang sudah Jaejoong hafal diluar kepala. CARTIER! Jerit Jaejoong dalam hati. “Kenapa?? Kau mau memberikannya padaku kan? Jadi itu sudah jadi milikku kenapa

diambil

lagi?!”

kata

Jaejoong

percaya diri. Padahal jelas-jelas Yunho baru

The Fifteen

menunjukkan kotaknya dan bahkan belum memberikannya pada Jaejoong. “Popo..” Yunho menunjuk bibirnya. Tanpa

pikir

panjang

Jaejoong

pun

memajukan bibirnya dan malah mencium pipi kiri Yunho. “Eoh,

kau

menginginkan

benar-benar

ini

hm?”

goda

tidak Yunho.

Kucing manisnya ini sedang ingin bermainmain rupanya. “Aku mau!” “Kalau begitu popo yang benar!” suruh Yunho tegas. Tanpa pikir panjang Jaejoong pun

mencium

bibir

kissable

Yunho.

Menciumnya dengan lembut dan penuh

The Fifteen

kasih sayang sampai namja bermata musang itu mengambil alih dan membuat ciuman itu berubah menjadi panas dan penuh gairah. Setelah

beberapa

saat

Yunho

pun

melepaskan ciuman Jaejoong. Di usapkan bibir

plum

jempolnya.

itu

lembut

Dikeluarkannya

menggunakan lagi

kotak

Cartier tadi dan langsung dibukanya didepan Jaejoong sampai mulut si cantik itu terbuka lebar selebar kedua matanya yang juga terkejut. I-ITUKAN.. Itu kan cincin pernikahan? Jaejoong menjerit dalam hati. Oh sebentar, apakah

The Fifteen

Tuhan baru saja mengabulkan kata-katanya tadi soal pernikahan? “Kau tahu kan cincin ini sayang? Lalu.. masih

perlukah

aku

mengatakan

maksudnya?” tanya Yunho. Namja itu memang selalu saja to the point. Tapi jujur, walau ini mengejutkan tapi ini romantis. Mungkin sebuah

orang

lamaran

lain

yang

mendambakan

sangat

romantis

dengan bunga-bunga yang banyak atau sebuah makan malam privat di tepi pantai, tapi bagi seorang Kim Jaejoong lamaran ini adalah yang paling indah dan romantis sedunia, karena ia tahu, Yunho bukanlah seseorang yang clingy dan penuh rayuan gombal.

The Fifteen

Dan inilah salah satu alasan betapa Jaejoong menyukai—mencintai Yunho yang selalu mengerti Jaejoong dan memberikan apapun yang bahkan tidak Jaejoong minta. Yunho memberikan seluruh dunianya kepada Jaejoong, membuat Jaejoong merasa begitu dicintai dan diberkati. Jaejoong yang masih terkejut akhirnya menitikan air mata. Entah kenapa air mata itu keluar begitu saja dari kedua matanya padahal Jaejoong tidak ingin menangis. TENTU SAJA DIA AMAT BAHAGIA. Tapi kenapa ia malah menangis? Tuhan tolong! Jaejoong ingin tersenyum, bukan menangis jelek seperti ini HUAAA!!

The Fifteen

Yunho mengambil satu cincin itu dari kotaknya, diraihnya tangan kiri Jaejoong dan ia sematkan cincin indah itu di jari manis kekasihnya. “Aku mau kita menghabiskan waktu bersama sampai tubuh ini renta. Tidak ada yang bisa memisahkan kita, bahkan maut sekalipun.. Bahkan jika salah satu diantara kita mati lebih dahulu, aku ingin kita tetap bersama dan setia satu sama lain.. aku mau menjagamu

bukan

sekedar

menjadi

kekasihmu saja. Aku akan melindungimu dalam

situasi

mempertaruhkan

apapun

meski

nyawaku

harus

untukmu.

Kekasihku.. Apa kau mau menjadi milik Jung Yunho seutuhnya, Kim Jaejoong my

The Fifteen

whole world?” tanya Yunho dengan gentle dan mantap tanpa ada keraguan sedikitpun dalam matanya. Matanya

tajam

menatap

Jaejoong,

membuat namja cantik itu bahkan tak sanggup untuk berkedip. Aura Yunho begitu mendominasi seakan membuat Jaejoong terkunci ditempat dan tak bisa berkutik. “Lalu aku akan bangun setiap pagi membuatkan

sarapan

untukmu

dan

menunggu sampai malam tiba untuk tidur bersamamu sampai esok hari lagi. Tentu saja aku akan menemanimu kemanapun dan sampai kapanpun dan apapun yang terjadi. Tentu saja aku mau.. kesayanganku.. Jung Yunho..”

The Fifteen

Yunho

tersenyum

lega.

Diciumnya

tangan Jaejoong juga cincin yang tersemat dijari lentik itu. Sangat pas dan sangat cantik melingkar disana. “Terima kasih, Kim Jaejoong. Jung Yunho mencintaimu.. sangat mencintaimu.. jangan pernah tinggalkan aku.. atau aku bisa mati..” “Aku juga mencintaimu, Jung Yunho pabbo ! haish kau sungguh cringe hari ini, tapi aku sukaaaa. Sangat sukaa!!” Yunho tersenyum lebar sambil memeluk erat Jaejoong. “Aku juga,” “Jadi..kalau kita bulan madu sekarang, apa boleh?”

The Fifteen

“Ya,

apa

maksudmu

bulan

madu

duluan?” “Kita tidur bersama sampai esok pagi!” “YA mesum! lepaskan aku beruang mesum!!” “Aku tidak akan melepaskanmu karena tadi kau sudah berjanji akan menemaniku apapun yang terjadi.” “YAAA!!Tapi aku—aku YA!”

*****

Hari yang Jaejoong tunggu pun tiba. Hari dimana ia akan merasakan pengalaman baru

The Fifteen

dalam hidupnya yaitu naik kapal laut. Junsu terlihat menangis bombay sambil memeluk Jaejoong.

Hidungnya

memerah

dan

mengeluarkan ingus, yeah.. Kim Junsu is crying. Dasar bayi itu memang cengeng. “Aku kan hanya akan naik kapal feri, bukan hendak pergi perang Suie.. oh ayolah hentikan tangisan jelekmu itu,” Jaejoong kembali memeluk Junsu lalu mengelus pelan punggung sahabatnya itu. “YA! enak saja aku tidak jelek! Huhuhu.. tapi Joongie, aku tidak tahu kenapa aku menangis seperti ini huhuhu.. sepertinya aku senang karena akhirnya si beruang jelek itu membawamu liburan juga, tapi sepertinya aku juga sedih karena dia melamarmu

The Fifteen

duluan dibandingkan denganku dan si lakilaki tukang mabuk itu. Huaaaa!” Jaejoong terkekeh geli. “Si tukang mabuk itu kekasihmu loh, jangan seperti itu.” Junsu cemberut dalam pelukan Jaejoong, bukannya melepaskan pelukan itu, ia malah menambah erat pelukannya. Yunho yang melihat tingkah aneh Junsu hanya bisa menghela nafas pasrah, bahkan kekasihnya pun gagal membujuknya. “Oh ayolah Suie sayangku, nanti aku tertinggal kapalnya,” bujuk Jaejoong lagi. Bersamaan rombongan

bus

dengan berisi

itu

terlihat

anak

sekolah

The Fifteen

menengah akhir pun mulai berdatangan, jaejoong tersenyum melihat para siswa itu terlihat begitu cerah dan bersemangat. Setelah beberapa saat akhirnya Junsu mau melepaskan pelukannya. “Maaf ya sudah menyita waktu kalian sebentar, entah kenapa si duckbuttku ini memang sedang manja-manjanya,”` “Hahaha,

mungkin

mengidam?”

Jaejoong

dia

sedang

mengedipkan

matanya jahil kearah Junsu. Junsu yang sadar pun langsung memukul punggung Jaejoong kesal. “YA! JAGA BICARAMU!”

The Fifteen

“Hahaha! Oke aku hanya bercanda. Jadi bisakah

kami

pamit

sekarang?”

tanya

Jaejoong sekali lagi, melihat Junsu seperti ini sebenarnya sedikit membuatnya sedih. Walau kadang Junsu ceplas ceplos dan menyebalkan

tapi

Junsu

tetap sahabat

terbaiknya. Junsu mengangguk dan membiarkan sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta itu masuk kembali ke dalam mobilnya menunggu antrian masuk ke dalam kapal feri dihadapan mereka. Dan Junsu bersama sang kekasih pun ikut berlalu dari sana. “Tumben sekali Junsu bertingkah seperti anak TK begitu hahaha,” Yunho tertawa geli sambil memasang seatbeltnya, kemudian

The Fifteen

membantu

kekasihnya

memasang

seatbeltnya juga. “Aku tidak yakin sih, tapi apa yang kuucapkan tadi bisa jadi benar loh,” Jaejoong tersenyum kecil sambil menatap kagum kapal feri didepannya. “Maksudmu? Apa maksudmu?” tanya Yunho heran. Sebentar.. jangan bilang.. “Junsu hamil begitu?” mata musang itu membulat

seketika

mengangguk

dengan

tersenyum jahil. “Oh astaga..”

ketika mantap

Jaejoong sambil

The Fifteen

“Hahaha! Penasaran sekali bukan reaksi si jidat lebar itu bagaimana nanti saat dia tahu kebenarannya,” “Kita harus mengabadikan ekpresinya kalau begitu. Hahaha!” Gerbang kapal feri bertuliskan nama BYEOL 15 itu pun mulai terbuka perlahan pertanda kalau mobil mereka bisa segera masuk ke dalamnya.

*****

Aku kira suara ribut itu hanyalah mimpi yang menganggu nyenyaknya tidurku malam itu. Tidur kami berdua terusik, suara riuh

The Fifteen

dan panik semakin terdengar tak terkendali hingga suara dari pengeras suara pun terdengar dan membuat kantuk kami hilang detik itu juga. “KEPADA SELURUH PENUMPANG KAPAL BYEOL 15 DIBERITAHUKAN KEPADA SEULURUH PENUMPANG BAHWA

TELAH

TERJADI

KESALAHAN TEKNIS PADA MESIN KAPAL. SELURUH AWAK KAPAL SEDANG

BERUSAHA

MEMPERBAIKINYA

UNTUK SECEPAT

MUNGKIN. KARENA KAPAL AKAN MENGALAMI

SEDIKIT

KEMIRINGAN, JADI DIHARAPKAN KEPADA

SELURUH

PENUMPANG

The Fifteen

UNTUK TIDAK PANIK DAN DIAM DITEMPAT SAMPAI

MASING-MASING KAMI

MEMBERIKAN

INSTRUKSI SELANJUTNYA. TERIMA KASIH.” “Yun, apa yang terjadi? Kenapa diluar malah ribut sekali?” Jaejoong terlihat pucat pasi mendengar pengumunan itu, walau bagaimanapun ini pengalaman pertamanya naik kapal, mendengar seperti itu tentu membuatnya takut. “Sepertinya kapalnya bermasalah, aku akan mengeceknya keluar. Sayang, kau tunggu

disini

sebentar,

oke?”

Yunho

memakai sweaternya buru-buru sebelum

The Fifteen

pergi

ia

sempatkan

mengecup

kening

tunangannya itu untuk membuatnya tenang. Ketika membuka pintu terlihat beberapa orang berlarian dengan wajah panik, kapal bergoyang tiba-tiba dan benar saja kapal mulai miring. Untung saja Yunho bisa menahan beban tubuhnya sehingga ia tidak terjatuh seperti yang lain. Dengan susah payah yunho berjalan sambil menempelkan telapak tangannya pada dinding sebagai tumpuan agar ia tidak terjatuh. Yunho berjalan menyusuri lorong sepi itu, tak terlihat banyak orang yang berlarian di lorong itu, semua pintu tertutup seakan tak tahu apa yang sedang terjadi. Bahkan Yunho samar mendengar tawa dari beberapa

The Fifteen

kamar yang sepertinya di isi oleh rombongan anak sekolah. “Maaf

permisi,

apa

yang

terjadi

sebenarnya?” tanya Yunho kepada salah satu penumpang yang sedang sibuk memakai life jacket digeladak depan. Penumpang itu tak menjawabnya, yang terlihat hanya wajah pucat pasi dan tentunya sambil ia panik sampai memakai pelampung semudah itupun terlihat kesulitan sekali. Bukan hanya orang itu, tapi ternyata lebih banyak orang berlarian panik disini. Yunho mencoba melihat ke bawah laut dari sisi lain, terlihat awak kapal sedang mencoba menurunkan sekoci. Yunho yakin ada yang tidak beres disini. Terdengar suara

The Fifteen

seperti pancuran air yang begitu deras dari sisi lain kapal ini. Beberapa orang yang sudah memakai pelampung malah ada yang mencoba untuk melompat ke laut. “Kapal! Mesin kapal meledak air mulai masuk kedalam kapal ini! cepat selamatkan dirimu!” teriak salah satu awak kapal, yang kemudian menceburkan dirinya ke laut. “Apa?! JAEJOONG!” Yunho tak peduli dengan miringnya kapal yang mulai sedikit terasa.

Tujuannya

saat

ini

adalah

menyelamatkan kekasihnya dari bahaya.

The Fifteen

Sementara

itu

Jaejoong

didalam

kamarnya terlihat cemas, apalagi saat ada guncangan tadi. Perasaannya tidak enak, maka dari itu ia mulai memasukan barangbarang pentingnya ke dalam tasnya untuk berjaga jika benar terjadi sesuatu. Waspada tidak ada salahnya kan? Dan bersamaan dengan itu ia merasakan kapal terasa semakin miring dan pintupun terbuka menampilkan Yunho yang terengahengah dengan keringat mengucur dari dahinya serta wajah yang pucat pasi. “Oh Tuhan! Ada apa sayang?” tanya Jaejoong panik. Yunho menarik tangan Jaejoong lalu memeluknya erat sekali.

The Fifteen

“SEKALI

LAGI

KEPADA

SELURUH

PENUMPANG

TETAP

DIAM

DITEMPAT

MENUNGGU

TIM

PENYELAMAT

TIBA.

KALIAN

MAKA

JIKA

KAPAL

AGAR

BERGERAK

AKAN

SEMAKIN

MIRING. SEKALI LAGI AGAR TETAP DIAM DITEMPAT DENGAN TENANG SAMPAI TIM PENYELAMAT TIBA.” Jaejoong membulatkan kedua matanya ketika Yunho memberitahu kabar yang bahkan

tidak

sebelumnya.

pernah

ia

bayangkan

The Fifteen

“Dengar sayang, kapal ini bocor dan air sudah mulai masuk dengan deras, aku melihatnya

sendiri!

Kita

harus

menyelamatkan diri kita secepat mungkin,” “Tapi Yun, mereka bilang agar tetap diam ditempat?” “TIDAK! orang diluar sana sudah mulai menyelamatkan diri mereka sendiri. Tim penyelamat memang akan datang, tapi dengan air sederas itu aku tidak yakin mereka akan datang tepat waktu—“ “—maksudmu?” “Kita harus segera menyelamatkan diri kita.”

The Fifteen

Jaejoong mengangguk tanpa menjawab Yunho.

Keselamatan

mereka

yang

terpenting, setidaknya jika pun mereka harus menceburkan diri ke

laut, itu lebih baik

daripada mati terbakar dikapal ini. Mereka berdua berjalan susah payah menyusuri lorong yang terlihat sepi dan kemiringan kapal yang semakin curam. Hingga langkah Jaejoong terhenti saat melihat seorang siswa keluar dari salah satu kamar. Ia terlihat sedang berdebat dengan temannya. “YA! mereka bilang kita harus diam disini menunggu bantuan tiba!”

The Fifteen

“Kau mau menunggu sampai mati? Tidak lihat kapal ini semakin miring?” “Lalu kita harus pergi kemana?!” “YA

TENTU

SAJA

MENYELAMATKAN DIRI BODOH!” Yunho menghampiri kedua siswa yang sedang berdebat itu, “Dengar, temanmu ini benar, kalian harus menyelamatkan diri. Bantuan akan tiba lama karena kita berada ditengah mengeratkan

laut!”

Jaejoong

pegangan

tangannya

terlihat pada

Yunho. Jujur saja Jaejoong sangat takut, meski ia yakin kalau ia akan selamat meskipun harus

The Fifteen

menceburkan diri ke laut, setidaknya skill berenangnya bukan skill dasar. “Ikut dengan kami atau tidak sama sekali!” Yunho menarik tangan Jaejoong untuk segera menuju geladak dan memakai jaket pelampung yang tersisa. Semoga saja sekoci pun masih tersedia. Siswa sekolah tadi terlihat mengikuti Yunho dan Jaejoong, hanya seorang dan bisa ditebak temannya yang lain memilih untuk tetap berdiam diri dan menunggu. Siswa itu terlihat terkejut karena beberapa dari temannya yang berada dikelas lain bahkan sudah menaiki sekoci. Bagaimana mungkin temannya yang lain malah memilih untuk berdiam diri saja?

The Fifteen

Mempercayai perkataan kru kapal yang bahkan

mereka

sendiri

pun

sibuk

menyelamatkan diri mereka sendiri. Yunho pun menemukan dua pelampung yang tersisa dan memberikannya kepada siswa tersebut dan juga Jaejoong. Siswa itu tampak ragu, raut wajahnya terlihat sedih dan kesal bercampur menjadi satu. “Bagaimana

mungkin

aku

menyelamatkan diriku sendiri.. sedangkan temanku yang lain—“ Yunho menarik lengan siswa itu sebelum ia nekat lari dan kembali ke dalam kapal. “Selamatkan dirimu dahulu,”

The Fifteen

“Sayang, kau naik duluan oke? aku akan menyelamatkan siswa yang lain,” ucap Yunho kemudian mengecup lama kening kekasihnya yang terliaht sedang berkacakaca menahan tangis. “Tapi Yun..” “Sayang, aku janji akan kembali, aku akan

menyusulmu.

Kita

akan

selamat

bersama, oke?” “Jung Yunho!” “Kim Jaejoong kumohon.. aku tidak mungkin membiarkan mereka berdiam diri disana menunggu tenggelam bersama kapal ini!” “Tapi Yun..”

The Fifteen

Tidak rela, tentu saja. Tapi bahkan seorang Kim Jaejoong pun tidak bisa mencegah seorang Jung Yunho yang selalu mementingkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri, menempatkan dirinya dalam bahaya. Jaejoong menarik tengkuk kekasihnya lalu menciumnya sambil menangis tersedu, melupakan

eksistensi

siswa

dihadapan

mereka yang terpaksa harus menyaksikan adegan romantis namun menyedihkan. Jujur saja Jaejoong tak ingin melepaskan ciumannya, juga si empunya bibir heart shape itu. Tapi Yunho tidak bisa dilawan olehnya yang lemah dimabuk cinta.

The Fifteen

“Yun.. berjanjilah untuk kembali,” “Ya, tentu saja aku akan kembali pada kekasihku ini,” “Yun.. berjanjilah kau akan selamat,” “Tentu saja sayang, kau lupa siapa Jung Yunho? Kau hanya perlu menungguku didaratan. Aku akan menjemputmu disana, dan kita akan kembali bersama. Aku Jung Yunho berjanji,” “Jaga kekasihku,” ucap Yunho pada siswa

itu

sesaat

sebelum

ia

berlari

meninggalkannya bersama Jaejoong. Siswa itu pun dengan sigap menarik lengan Jaejoong untuk menaiki sekoci yang sialnya terakhir ada dikapal itu.

The Fifteen

Tangis Jaejoong kembali pecah melihat punggung Yunho perlahan menjauh. Sekoci yang Jaejoong naiki pun mulai menjauh dari kapal feri tersebut. Namun naas kejadian yang tak terduga pun terjadi didepan matanya. DUAAARRR!! “YUNHOOOOO!!!” “AAAAAAAA!!” Berpasang-pasang menyaksikan kembali

kapal

mata

membulat

tersebut

menghasilkan

asap

meledak yang

membumbung tinggi, sekoci mereka bahkan terhempas ombak dampak dari ledakan itu.

The Fifteen

“JUNG YUNHO KU, LEPASKAN! LEPASKAN AKU!” Jaejoong menangis histeris. Ia tak henti meneriaki nama Yunho, kedua tangannya dipegangi. Ia memberontak dan berusaha untuk melompat dari sekoci hingga beberapa orang pun mencoba untuk menenangkannya. Jaejoong

merasakan

sesak

didada,

hantaman keras menghujam jantungnya, Jung Yunho nya! JUNG YUNHONYA MASIH DISANA!

*****

The Fifteen

‘Hari kelima belas pencarian korban kapal tenggelam Byeol 15. Pencarian diperluas,

tim

penyelam

kembali

melakukan penyelaman untuk mencari kemungkinan korban terjebak didalam bangkai kapal. Bantuan kapal perang Amerika Serikat akan tiba sore ini untuk mengangkat bangkai kapal.’ ‘Daftar korban Kapal Feri Byeol 15 yang tenggelam akibat ledakan bertambah. Sekarang total siswa Shinki High School yang menjadi korban tewas bertambah menjadi 215 orang, 20 orang siswa dan 15 orang dewasa dinyatakan hilang.’ .

The Fifteen

. . “Jaejoongie.. kumohon ayo kembali ke rumah sakit, kondisi kandunganmu.. belum stabil..” Junsu terlihat menghela nafasnya begitu berat. Hatinya bergitu sakit melihat sahabatnya kini seperti mayat hidup, ia enggan makan,

hanya minum sesekali.

Memberontak dan kabur ke tempat ini, menunggu dan menunggu secercah harapan yang mungkin saja hanya sebuah angan belaka.. Junsu tidak tahu lagi bagaimana harus bersikap. Ia pun terluka, ia pun sedih. Bahkan ratusan orang disini pun merasakan

The Fifteen

hal yang sama, kehilangan cahaya hidupnya. Kehilangan seseorang yang amat berarti dalam hidupnya. Kehilangan anak, kakak, adik, ayah, ibu.. dan kekasih.. Bagaimana pun, musibah kecelakaan ini memang diluar kuasa manusia. “Yunho sudah berjanji akan selamat.” ucap Jaejoong lirih. “..ia sudah berjanji padaku.. pada kami.. aku dan anak kami..” Air mata kembali menetes dikedua mata Jaejoong yang telah hilang cahayanya. Junsu kembali menangis terisak meratapi nasib sahabat sekaligus sepupunya ini..

The Fifteen

Kenapa? Kenapa?

*****

Aku tidak akan mengucapkan ‘selamat tinggal’ sebagai salam perpisahan yang canggung. Saat

aku

berbalik

dan

pergi

meninggalkanmu yang terasa jauh.. aku tahu, kau pasti akan pulang kembali padaku.. tentu saja karena kau sudah berjanji padaku.. Dalam waktu yang bersamaan.. hanya sebentar

The Fifteen

Dalam ruang yang sama.. Jung Yunho sayang, apa kau kedinginan disana? Apa kau sedang berenang sangat jauh sehingga lama sampai kesini? Waktu terasa singkat bagiku, semua momen seakan terhenti untukmu dan aku.. mengapa aku tidak menyadarinya, kalau itu adalah keajaiban? Aku tidak ingin menghentikan hari itu dengan cerita lama kita.. Aku ingin kisah kita terus berlanjut bahkan sampai tiada lagi halaman buku yang tersisa untuk kita.. Aku sangat sedih, sakit hati.. lebih lama sakitnya saat jauh darimu. Dibandingkan

The Fifteen

saat kita bersama saling mencintai jauh melewati galaksi. Aku melintasi kenangan putih kita, aku tidak ingin melihatmu dalam mimpi.. Jadi, ayo kita kembali bersama lagi, bertemu di suatu malam.. Lima belas hari kau meninggalkanku tanpa kabar.. aku masih ditempat yang sama bahkan ketika aku mengganti halaman kalenderku. Malam kelima belas ku menantimu ditempat yang sama.. Tentu saja aku tahu, kau akan datang padaku..

The Fifteen

Jaejoong

tersenyum

bahagia

saat

dilihatnya sosok Yunho berdiri sambil tersenyum padanya. Mengulurkan tangannya untuk diraih oleh Jaejoong. Dibawanya Jaejoong berjalan menelusuri lorong yang dipenuhi air namun terang oleh cahaya. Hingga langkah Yunho terhenti disebuah pintu, dan dibukanya pintu itu.. sebuah taman indah dihadapannya. Penuh beragam jenis bunga berwarna warni, banyak orang didalamnya, berpakaian putih sama seperti Yunho dan dirinya. Mereka tertawa riang, tanpa beban. Mereka semua bahagia. Termasuk mereka berdua.

FIN

The Fifteen

Malam Dimana Kita Semua Hilang Written by Connoiseanrs

Malam gelap, sunyi akan suara manusia namun penuh akan nyanyian malam para hewan

kecil.

Dalam

kesunyian semua

pikiran terlintas. Semua hal menjadi sangat konyol, terjebak dalam situasi yang tidak menyenangkan. Di tempat ini, disituasi dan momen yang sama, ia terjebak mengenang

The Fifteen

ingatan paling menyakitkan. Penyesalan selalu datang paling akhir, yang bisa dilakukan hanyalah menyesal dan merintih dalam

kepedihan

melihat

orang

lain

menemukan kebahagiaan. Jaejoong menahan semuanya dalam diam, kira-kira 15 langkah dari tempatnya duduk menatap

kesunyian

basecamp,

Yunho

tampak bahagia dengan Wanitanya yang juga adalah teman Jaejoong. Ia bahagia melihat Yunho bahagia tetapi dia juga merasakan sakit. Mereka sangat sempurna bersama, abaikan wanita itu memiliki rekor hubungan yang tidak terhitung.

The Fifteen

Baik

dia

dan

semua

orang

yang

mengenal wanita itu, sangat tau betapa sifat ularnya memanipulasi dan memanfaatkan laki-laki. "Sayang, kan sudah kubilang jangan mabuk. Lihat dirimu, mabuk seperti orang bodoh." Kata Lena. Memasang wajah marah yang masih saja membuatnya terlihat cantik. Untuk

ke

sekian

kalinya,

jaejoong

merasakan rasa iri yang semakin menjadijadi. Sesaat dia membayangkan berada di posisi itu. Yunho mengerang pelan, "Ini sangat memalukan." kesadaran Ingatan

yang tentang

Mengumpulkan bisa

semua

dikumpulkannya.

perbuatan

memalukan

The Fifteen

masuk beruntun membuat kepalanya sakit. Dia melihat ke arah Yoochun yang tertidur seperti orang mati di atas matras tanpa Kantung

tidur

yang

menghangatkan.

Setidaknya dia tidak muntah-muntah seperti si jidat lebar. "Lain kali jangan minum alkohol, kau benar-benar

sangat

menyebalkan

saat

mabuk." Sambung Jaejoong. Melemparkan senyuman geli yang tidak akan bisa dilihat oleh siapapun. Dia berusaha menekan perasaannya sebaik mungkin. "Le, ikat pacarmu

agar

tidak

mabuk

bodoh."

Lanjutnya. Heechull yang berada dalam tenda menendang pantat Jaejoong, dia teman se-tenda Jaejoong.

The Fifteen

Heechull adalah saksi perasaan Jaejoong pada Yunho, dia adalah saksi bagaimana perasaan yang ditekan sebaik mungkin meluap, mengingat betapa mudahnya yunho berpaling kepada orang lain setelah ada jarak antara dirinya dan Jaejoong. "Dasar bodoh." Keluh Heechull. Dia ingin memukul kepala Jaejoong—jatuh cinta pada Yunho tapi tidak bisa mengatakan yang sebenarnya karena tau Ian teman baik Yunho jatuh cinta pada Jaejoong dengan sangat jelas. Padahal

keduanya

jelas-jelas

berbagi perasaan yang sama. "Diamlah Hee." Desis Jaejoong.

saling

The Fifteen

Dalam pelukan lena, Yunho mencari kehangatan dalam pelukan pasangannya. Sangat jelas mabuk dalam hubungan baru, begitu mudah melupakan sedikit konflik antara dirinya dan Jaejoong. Jaejoong mengambil tempat ditengahtengah Camp yang dibuat, Yoochun tidur tidak jauh dari belakangnya dan didepannya siwon (Pacar Kibum) tertidur sembarangan karena mabuk. Semua karena alkohol, bahkan Kibum tidak peduli bahwa Siwon tidur diluar. Dia dengan jelas tidak peduli, siwon telah melanggar ucapannya. "Yun bisakah kau menyalakan api? Disini sangat dingin." Katanya. "Sepertinya kita masih punya parafin."

The Fifteen

Setidaknya, Yunho masih sama dalam bersikap disekitarnya. Kibum keluar dari tendanya mengambil tempat disamping Jaejoong, mengabaikan pacarnya yang tidur tidak jauh dari posisinya saat ini. Tidak berselang beberapa detik Heechull yang telah lelah akan kebodohan temannya mengambil tempat disamping Jaejoong juga. Ketiganya duduk berdampingan, tidak mencari kemana si cerewet kim Junsu pergi. Biasanya dia akan menyelinap pergi ke tenda lain dan mencari beberapa kenalan. Sehingga Yoochun benar-benar diabaikan. Semua yang datang untuk berkemah adalah

The Fifteen

pasangan kekasih, menyisakan Jaejoong seorang dalam kesendirian romantisme. Jaejoong tidak memeriksa jam, dia terpaku dalam pikirannya. Teman-temannya satu

persatu

Menyisakan

bersama dirinya

pasangannya. sendiri

dalam

kehampaan dan perasaan yang sama untuk satu orang. Tanpa sadar jaejoong mengambil posisi duduk jauh dari Teman-temannya, memasang earpods dan mulai memainkan lagu favoritnya. Dalam

imajinasi

kepalanya,

ia

merenungkan semuanya. Dari semua hal yang pernah terjadi, satu hal selalu menjadi yang terburuk yaitu perasaannya. Ketika hatinya memilih seseorang, waktu antara

The Fifteen

mereka tidak mengijinkan. Ketika seseorang membiarkan seseorang jatuh cinta padanya, waktu kembali mengacaukan semuanya. Tidak ada yang benar-benar memilihnya. Fisiknya tidak sempurna, pipi chubby, perilaku yang biasa saja, membuat orangorang menjauh darinya. Jangan lupakan tubuhnya yang sedikit berisi. Iri adalah sifat alami manusia, itulah yang mendominasi kepala Jaejoong. Ingin menangis tapi air mata telah kering meratapi nasib cintanya yang tidak pernah beruntung. Dia lelah menggunakan perasaan, perasaan selalu mempermainkannya. Entah kapan waktu memberikannya kesempatan untuk merasakan hatinya lengkap. Keping demi

The Fifteen

keping berceceran entah dimana, tidak menyisakan sedikit pun untuk dirinya sendiri. Ah, konyol. Karena sebenarnya tidak pernah

ada

yang

memberikan

cinta

kepadanya, itu sebabnya hatinya terasa hampa, kosong dan tidak memiliki tujuan. Perasaannya menghilang secara perlahan karena dunia dan waktu yang membencinya. Lantunan

melodi

lembut

yang

dinyanyikan oleh Yunho yang berada tidak jauh membuat Jaejoong kembali kehilangan kepingan bahagianya. Lagu yang diputarnya tidak lagi didengarkan dan malah terfokus pada suara lembut Yunho. Ini adalah pengantar

tidur

yang

sempurna.

Dia

bergegas kembali ke tendanya, menarik

The Fifteen

Sleeping Bag, menutup kepala dengan topi dan mulutnya dengan masker. Tidak akan ada satupun yang akan mengenalinya. Bersama dengan lantunan lembut itu, jaejoong meringkuk dalam dingin malam yang menyengat. Tuhan, jika perasaan sama sekali tidak cocok untuk orang sepertiku. Ambil saja semua perasaan dan jangan meninggalkan setitik pun. Karena pada akhirnya hanya diriku sendiri yang dipermainkan oleh waktu. Doa jaejoong sebelum masuk ke dalam tidur tanpa mimpi. Di luar tidak ada satupun yang menyadari Mereka

hilangnya memiliki

hal

sahabat

mereka.

yang

penting

The Fifteen

dibanding teman yang tidak dicintai oleh waktu. ***** Pagi tiba tapi langit menangis dengan lambat, Jaejoong terbangun dari tidur lelap tanpa mimpinya. Udara sangat dingin, kabut terlihat dengan sangat jelas. Dia menyadari satu hal, teman-temannya enggan untuk keluar

dari

kehangatan

Tenda yang

mereka. menahan

Mencari siapapun.

Bagaimana pun mereka harus bangun. Ia mengerutkan dahi dan makian keluar dengan lembut.

The Fifteen

Orang yang pertama keluar dari tenda adalah Yunho, dia hanya menggunakan manset tangan membiarkan dada bidangnya dipamerkan. Celana selutut membingkai pinggang bagian bawahnya. "Oh, J—selamat pagi." Sapanya dengan wajah bantal dan suara serak. Sudah menjadi hal biasa bagi orangorang yang sering berkemah untuk melihat para dominan memamerkan tubuh bagian atas. "Pagi." Jawab Jaejoong singkatnya. Tubuhnya terbalut sweater abu-abu hitam dengan kerah tinggi. "Yunho, apa kau akan turun ke bawah?" Tanyanya. "Ya." Jawab Yunho dengan tangan memeluk

dadanya

setelah

merasakan

The Fifteen

sengatan dingin pada kulitnya. "Mau ikut? Aku akan buang air dan membeli beberapa tisu." Lanjutnya dengan wajah santainya. Dia segera menjulurkan tangan ke dalam tenda, mengambil kaus dan raincoat untuk menghangatkan tubuhnya. "Aku

ikut.

Perutku

sakit

dan

membutuhkan beberapa mie instan serta air minum." Kata Jaejoong. Semalam dia tidur sendirian, Heechull entah terdampar dimana tapi kemungkinan bersama pacarnya. Sial. Hanya dirinya sendiri yang tidak memiliki pasangan, begitu menyebalkan tapi inilah zona ternyamannya. "Ok." Yunho masuk kembali ke dalam tendanya, mengambil dompet

sekaligus

The Fifteen

bertanya kepada pacarnya apakah ada yang perlu dibeli selain tisu. Udara

yang

membentuk

keluar

asap,

dari

dingin

mulut

benar-benar

mencekam. Setelah siap keduanya bergegas untuk menuju area parkir untuk pergi ke perkampungan

terdekat.

Tempat

yang

mereka gunakan untuk berkemah adalah tempat

yang

menenangkan

biasa diri.

digunakan

untuk

Pemandangan

yang

tersaji adalah pengunungan yang mengapit lautan luas. Sekitar camp masih hijau sehingga pemandangan yang begitu alami terpampang nyata. Beberapa kali Jaejoong terpeleset tetapi tidak mengatakan apapun. Butuh 15 menit

The Fifteen

untuk sampai ke lokasi Kendaraan di Parkir. Keduanya segera bergegas, untuk masuk ke dalam mobil Yunho. Hujan, semakin lebat semakin deras hujannya. Keduanya masih tidak mengatakan apapun. Jaejoong sama sekali tidak nyaman tapi dia tidak bisa mengharapkan apapun. Mereka tidak lagi berada disituasi yang menyenangkan. Yunho secara sadar mencuri pandang ke arah Jaejoong, "—sudah lama sejak terakhir kali

kita

bertemu."

Kata

Yunho.

Hubungannya dengan Lena sudah berjalan setidaknya seminggu, mereka melakukannya dengan baik. Rasanya sangat menyenangkan memanggil seseorang dengan panggilan sayang, memeluknya saat bersikap manja

The Fifteen

dan hal lainnya yang membuat hubungan semakin erat. "Huh?" "Uhmmm... yeah." ***** 7 Hari sebelumnya Jaejoong menunggu didepan rumahnya dengan wajah cemberut, malam ini untuk merayakan pesta ulang tahun siwon, semua teman dekat akan berkumpul di pantai. Berkemah dipantai dengan api unggun dan petikan gitar adalah hal menyenangkan yang bisa menghilangkan stres dari pekerjaan. Tidak ada yang lebih baik dari itu.

The Fifteen

Saat ini, ia sedang menunggu Yunho untuk datang menjemput. Dan setelah 30 menit menunggu pria itu tidak kunjung datang. Sangat menyebalkan. Hal paling menyebalkan adalah menunggu. Seperti dirinya yang selalu menunggu Yunho untuk mengerti jika Ian bisa menerima jika mereka benar-benar berkencan. Bunyi klakson terdengar, pemilik mobil menurunkan kaca, Yunho tersenyum lebar seperti biasanya. "Maaf terlambat. Aku harus

mencari

beberapa

barang

yang

dibutuhkan untuk camp." Dia membuka pintu dari dalam, mempersilahkan jaejoong untuk masuk. Omelan Heechull adalah yang paling menyebalkan untuk didengar. Terus

The Fifteen

mengirim pesan beruntun untuk segera menjemput Jaejoong. Tanpa Heechull terus menerus

mengingatkan,

ia

akan

melakukannya dengan senang hati. Hingga saat ini perasaan yang disimpan untuk Jaejoong masih menjadi paling dominan. "Tidak

masalah."

Jawab

Jaejoong.

Menahan semua kekesalannya hanya untuk dirinya sendiri. Obrolan ringan menemani sepanjang perjalanan

menuju

lokasi

yang

telah

ditentukan. Itu akan menghabiskan 1,5 jam. Mereka sampai ke lokasi pada pukul 08.00 malam, lokasi parkir cukup jauh sehingga mereka berdua harus berjalan menuju lokasi camp. Tanpa sadar kedua tangan tertaut,

The Fifteen

berbagi kehangatan tanpa perlu takut ada yang memperhatikan adalah sebuah anganangan. Nyatanya mereka harus melakukan secara diam-diam. Sesampainya langsung

di

memisahkan

lokasi diri,

keduanya sebelum

bergabung dengan yang lainnya, Jaejoong berbalik sebentar untuk melihat Yunho. Dengusan pelan terdengar, Jaejoong terlalu enggan untuk bertanya kepada Yunho bagaimana tentang hubungan mereka. Ia menjadi sangsi, kearah mana hubungan ini akan dibawa pergi. Disinilah mereka sedekat ini tapi tanpa kepastian yang jelas, Jaejoong tidak bisa menunjukan perasaannya secara terang-

The Fifteen

terangan atau Yunho akan menjauh darinya. "Jangan memandangnya seperti itu." Celetuk Heechul. "Tidak memandang siapapun, hanya sedang berpikir." Jawab Jaejoong. "Seperti aku tidak tau apa yang kau pikirkan." Ucap Heechull. Selama ini telah memperhatikan gerak gerik dari kedua temannya, berbagi rasa tapi tidak memiliki kejelasan dalam hubungan. "—bukankah sudah saatnya kalian berdua serius?" Ia sangat

tau

bagaimana

Jaejoong

mendambahkan sebuah hubungan, semua bergantung pada Yunho. Pria itu adalah brengsek yang sesungguhnya. Memberi harapan tanpa kejelasan.

The Fifteen

Api unggun menyala, suara riuh dan nyanyian selamat ulang tahun terdengar dengan

sangat

semakin rahangnya

panas,

jelas.

Semakin

Jaejoong

melihat

malam

mengetatkan

bagaimana

Yunho

dengan mudah mengabaikan keberadaannya. Tanpa disadari siapapun kakinya melangkah pergi

menjauh,

siapapun

yang

keberadaannya.

memastikan

tidak

ada

memperhatikan

dimana

Bersembunyi

dibalik

bayang-bayang lebih baik daripada berpurapura tersenyum. Butuh beberapa saat sebelum dia bisa tidur di ranjang sungguhan, paling tidak yang bisa dia lakukan adalah mencoba menikmati. Menikmati kasur pasir dengan

The Fifteen

bunyi ombak yang perlahan mengalihkan pikirannya.

Ia

berusaha

sekuat

tenaga

menghapus segala pikiran buruk oleh karena itu menatap hamparan bintang di langit hitam sana. "Dia bahkan tidak mencariku." Bisiknya. Padahal pikiran itu saja sudah sulit untuk ditelan. Dia tidak melihat bagaimana dia bisa melewati malam, tidak dengan cahaya sialan itu. Atau kekosongan di dalam dirinya. Tanpa sadar, tangannya di angkat tinggi berusaha mencapai langit. Sudah lama sejak dia sendirian. Bahkan di tengah hiruk pikuk kota yang padat, dia merasakan hal itu tetapi kali ini terasa jelas. Tapi sekarang dia

The Fifteen

tidak punya apa-apa. Tidak ada apa-apa selain omong kosong yang tidak pasti. Seseorang duduk disamping Jaejoong, menatap ke arah lautan luas bertabur bintang di atasnya. Asin yang masuk ke dalam penciuman

mampu

membuat

pikiran

menjadi sedikit tenang. "Menghilang dan tidak memberitahukan kepada siapapun, sangat ciri khas je, sangat ciri khas." Katanya. Pria itu tidak lain adalah Ian, teman baik Yunho yang juga menaruh perasaan pada Jaejoong. Keduanya menjadi dingin dan memiliki jarak ketika mengetahui fakta tersebut. Tembok tebal telah berdiri tinggi,

The Fifteen

tidak ada yang bisa menghancurkan selain orang yang mendirikannya. "Lagipula tidak akan ada yang sadar dengan

kepergianku."

Jawab

Jaejoong.

Sangat mudah menyelinap pergi saat semua orang sibuk dengan dunia mereka masingmasing. Jaejoong menyadari satu hal tentang dirinya sendiri, dia cenderung terpaku dalam lamunan yang menyesatkan. Rasa iri yang kadang datang, rasa ingin merasakan hal baru seperti Teman-temannya begitu besar. Kata orang memperhatikan sudah lebih dari cukup tapi ternyata itu sama sekali tidak cukup. "Selalu berkecil hati." Dengus Ian, dia mengacak

rambut

Jaejoong

sebelum

The Fifteen

berbaring diatas pasir. "....semua begitu sulit untuk ditangani bukan?" "......yeah, terlalu sulit ditangani." Bisik Jaejoong. Telinganya berusaha menangkap suara Yunho tapi tidak sama sekali. Pria itu terlalu menikmati bersenang-senang dengan yang lain, melupakannya adalah hal biasa. Rasanya

menyakitkan

karena

yang

diharapkan untuk menemani bukanlah yang diharapkan. "Bagaimana yang lain? Sudah mulai mabuk pastinya." Lanjutnya berusaha meringankan suasana yang ada. Sejujurnya cinta yang dilemparkan oleh Ian membuat Jaejoong risih, mereka berteman dan kini terungkap fakta perasaan ian. Terlalu berat untuk ditangani.

The Fifteen

Ian terkekeh pelan, "Yups—mabuk dan mulai

mengatakan

hal

penuh

omong

kosong." "Hahahahah," tawa Jaejoong, berpurapura untuk terlihat menikmati percakapan mereka. Pandangan memendam

Ian rasa

dalam, kepada

5

tahun

Jaejoong,

menunggu saat tepat untuk mengungkap tetapi diangap hanya sebuah candaan. Dia masih ingat jelas bagaimana Jaejoong menertawakannya saat memintanya untuk berkencan. "Aku masih menunggu Jae, apa masih ada tempat?" Katanya lembut.

The Fifteen

"Tidak.

Rasanya

aneh

jika

kita

melangkah ke tahap selanjutnya." Jaejoong menyatakan. "—kamu selalu menjadi teman baik, tidak bisa lebih dari itu." Lanjutnya. Jawaban tegas ini sudah cukup bukan untuk membungkam pertanyaan lanjutan ian. Dia tidak bisa memberikan harapan saat hatinya terpaku pada satu orang. Suara tawa terdengar dari jauh, Jaejoong mendengus pelan karena Yunho belum juga datang. Buruk, sangat buruk. Seolah apa yang terjadi diantara mereka tidak pantas diperjuangkan. Jaejoong selalu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menjadi bodoh karena jatuh cinta. Nyatanya, dia

menjadi

bodoh

karena

cinta.

The Fifteen

Mempertahankan Perasaan dan logika untuk tetap seimbang itu sangat sulit. Mengembungkan pipi, Ian mengusap wajahnya lalu menyisir rambut dengan jari. "Bisa kupinjam bahumu." Bisiknya pelan. Jaejoong

tidak

mengatakan

apapun,

membiarkan Ian membenamkan wajahnya di bahunya. Tubuh itu bergetar tanpa suara, tidak ada rasa iba. Baginya sudah cukup dengan

memberikan

menggunakan

ijin

pundaknya.

kepada

ian

Kepalanya

bergerak, melihat ke arah Teman-temannya yang semakin mabuk. Matanya terpaku pada sosok yang berdiri tidak jauh darinya. "Yun,"

The Fifteen

"Aku mencarimu dan ternyata kau disini bersama Ian." Kata Yunho datar. Nada suaranya

cukup

dingin,

mengirimkan

perasaan tidak nyaman kepada Jaejoong. Sebelum

Jaejoong

Yunho melanjutkan

membuka ucapannya.

suaranya, "—kau

sudah memilih ya? Kurasa sudah jelas ya." Oh, tidak. Ini bukan saatnya untuk bertengkar. "Yun," "Sampai Jumpa." Itulah akhir dari percakapan mereka, Yunho meninggalkan jaejoong sendirian. Pulang ke rumah seorang diri, pria itu menghilang penjelasan

dan

tidak

sedikitpun.

mendengarkan Begitu

mudah

The Fifteen

baginya untuk melupakan apa yang susah payah di bangun. Teman-teman bertanya, mereka heran karena Yunho dan Jaejoong yang selalu bersama kini berjalan terpisah dan tidak saling tegur. Nyatanya, tidak ada satu pun yang tau apa yang terjadi. Cerita Yunho dilebih-lebihkan seolah yang paling bersalah adalah Jaejoong. Ian pun merasa bersalah dan berusaha menjelaskan

tetapi

dilakukan,

Yunho

sebelum

penjelasan

mempoklamirkan

hubungannya dengan lena di depan temanteman tanpa rasa malu atau bersalah. *****

The Fifteen

"Tidak perlu membahas yang sudah lewat, waktu tidak bisa diputar kembali." Kata

Jaejoong

dengan

tegas.

Baginya

hubungan antaranya dengan Yunho sudah jelas. Perasaannya masih ada tetapi untuk sesuatu yang berbeda tidak akan terjadi. Baginya sudah cukup jelas. Yunho fokus pada jalanan, "—yeah, lena adalah belahan jiwaku. Aku tidak pernah berpikir bisa menjalin hubungan seperti ini." Menjalin

hubungan

dengan

lena

memberikan kepuasan sendiri. Pandangan orang-orang terhadapnya karena berhasil mendapatkan bunga segar yang diperebutkan oleh banyak pria. Rekor Lena tidak bisa diabaikan, dia mengencani banyak pria dan

The Fifteen

Yunho tidak akan Lena lepas darinya tidak seperti pria lainnya. "Selamat. Kau harus bekerja keras soalnya Lena suka barang mewah dan tidak bisa

makan

ditempat

murah."

Canda

Jaejoong. Begitulah percakapan terakhir antara Yunho dan Jaejoong, keduanya tidak lagi sapa dan berbicara. Mereka kini orang asing. Hanya alasan yang sangat kecil dan semua yang dibangun dengan susah payah hancur. Yunho bahagia dengan hubungan barunya dan Jaejoong bahagia karena melepaskan perasaan dari si brengsek Jung Yunho. Disinilah

Jaejoong,

duduk

menatap

keluar, tidak bisa lebih bahagia lebih dari ini.

The Fifteen

Semua sempurna dengan momen yang sempurna. Tidak butuh orang lain untuk mendapatkan kebahagiaan, cukup menerima diri sendiri dan semua akan baik-baik saja. "J—ada gosip besar." Teriak Heechul yang baru saja tiba. Dahi

Jaejoong

mengerut

bingung,

dibelakang Heechul ada Junsu dan juga Kibum. "Huh? Apalagi?" "Lena hamil anak Inhyun, Yunho marah besar karena mereka sudah bertunangan." Jelas Heechull mengebu-gebu. Sudah biasa membicarakan

kehidupan

orang

lain,

begitulah cara menghilangkan stres walau Teman-temannya sendiri sudah cukup stres.

The Fifteen

"Oh—kupikir hal penting apa. Inhyun 'kan punya banyak Uang, uangnya adalah hal yang disukai Lena." Dia mengendikkan bahu, menyesap tehnya dengan pelan dan tersenyum tipis. FIN